BAB I.

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa dan didorong oleh keinginan luhur untuk berperikehidupan yang bebas, bersatu, adil dan makmur sebagaimana diisyaratkan dalam Pancasila dan UUD 1945, oleh karena itu pembangunan daerah Sulawesi Selatan diwujudkan melalui penyelenggaraan pemerintah daerah yang berkedaulatan rakyat, demokratis dan pengarusutamaan gender untuk meningkatkan kesejahteraan dan keadilan gender. Paradigma pembangunan yang sentralistik dan birokratis, merupakan faktor penyebab hasil-hasil pembangunan menjadi tidak merata antardaerah, antar sektor, antar wilayah dan golongan sehingga diperlukan sebuah pendekatan baru yang mampu menjawab tantangan ke depan, oleh karena itu keberadaan Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) dan PERDA No. 2 Tahun 2010 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah, merupakan peluang sekaligus tantangan di Sulawesi Selatan penyusunan kebijakan program yang berperspektif gender. Meskipun berbagai upaya pembangunan telah banyak dilakukan, namun masih dijumpai berbagai kesenjangan gender, utamanya peluang dan akses terhadap sumberdaya pembangunan. Permasalahan pengarusutamaan gender ditinjau dari aspek manajemen adalah : dalam

1

-

Kurangnya pemahaman dan komitmen para stakeholders, akan

pentingnya data dan indikator gender dimulai dari penyusunan perencanaan sampai pada tahap evaluasi dan berakhir pada penentuan kebijakan. Kurangnya penciptaan akses masyarakat ke input ketersediaan data dan indikator serta analisis gender terhadap pemerintah. Kebijakan pemerintah Sulawesi Selatan diarahkan untuk membangun partisipasi masyarakat dalam mendukung terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender di dalam masyarakat, maka pembangunan pada prinsipnya untuk meningkatkan kualitas hidup manusia tanpa membedakan suku, agama, ras dan jenis kelamin secara terencana, bertahap, komprehensif dan berkesinambungan, dengan melibatkan partisipasi stakeholder yang meliputi pemerintah, dunia usaha dan masyarakat yang menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan pembangunan dalam penyusunan statistik indikator gender baik untuk kepentingan Nasional maupun Daerah. Selanjutnya kebijakan Pembangunan Pemberdayaan Perempuan di dalam RPJMD Provinsi Sulawesi Selatan 2008-2013 diarahkan untuk membangun partisipasi masyarakat dalam mendukung terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender di masyarakat yang diwujudkan beberapa program aksi sebagai berikut : 1). Peningkatan kesempatan bagi kaum perempuan untuk menikmati pendidikan disemua jenjang, sehingga mereka memiliki posisi tawar yang tinggi menuju terciptanya kesetaraan dan keadilan gender; 2). Peningkatan partisipasi masyarakat dalam ikut menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan anak serta peran serta masyarakat dalam menjaga kesehatan reproduksi termasuk dalam keluarga berencana; 3). Peningkatan akses kaum perempuan untuk berusaha di

2

bidang ekonomi produktif, termasuk mendapatkan modal pelatihan usaha, program perluasan kesempatan kerja dan informasi pasar sehingga dapat mendorong lahirnya kemandirian kaum perempuan dalam berwirausaha; 4). Peningkatan partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan dan perumusan kebijakan, sehingga tercipta keseimbangan perempuan diberbagai sektor.; 5). Peningkatan perlindungan terhadap perempuan dan anak guna mencegah terjadinya diskriminasi, eksploitasi, kekerasan dan bahkan tindak perdagangan perempuan dan anak (trafikking) yang dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip keterpaduan dan keseimbangan. Dalam rangka implementasi strategi dan kebijakan pengarusutamaan gender, diperlukan ketersediaan data dan informasi gender sebagai dasar analisis dan bahan perumusan program/kegiatan prioritas yang berperspektif gender. Oleh karenanya ketersediaan data dan informasi gender ini menjadi suatu keharusan dalam perumusan program/kegiatan prioritas yang memperhatikan kebutuhan, pengalaman, dan aspirasi yang berbeda antara laki-laki dan perempuan, sehingga dapat mengoptimalkan akses, partisipasi, control dan manfaat penduduk laki-laki dan perempuan dalam setiap tahapan pembangunan di semua bidang. 1.2. Tujuan Tujuan dari penyusunan statistik gender sebagai berikut : • Meningkatkan ketersediaan data dan informasi statistik gender di Sulawesi Selatan, sebagai bahan analisis gender dalam rangka perumusan program/kegiatan yang berperspektif gender.

3

pelaksanaan. 1. pemantauan. SENSUS PENDUDUK dan SDKI. dan evaluasi kebijakan dan program daerah. Sumber dan Proses Pengolahan Data Untuk penyusunan statistik gender digunakan data sekunder yang utamanya berasal dari hasil registrasi dan pencatatan pada setiap SKPDSKPD yang terkait dan data dasar hasil survei-survei yang dilakukan BPS seperti SUSENAS. SAKERNAS.3. baik data kuantitatif maupun kualitatif dan selanjutnya melalui brain storming. Untuk mendukung data tersebut juga digunakan data hasil penelitian yang dilakukan PSW/PSG/Lemlit di masing-masing wilayah. Proses pengolahan data dilaksanakan secara institusional yaitu dengan mengumpulkan data primer dan sekunder meliputi data kondisi fisik dari studi kepustakaan (berbagai laporan) dan literatur seperti berbagai kebijakan yang dilaksanakan oleh SKPD lingkup Pemeintah Provinsi Sulawesi Selatan. Skema pengolahan data digambarkan dibawah sebagai berikut : 4 .• Meningkatkan pemahaman dan komitmen akan pentingnya data dan indikator gender bagi penyusunan perencanaan.

4. serta landasan Aksi dan deklarasi 5 . 7 Tahun 1984. Landasan Hukum Komitmen Pemerintah Indonesia terhadap upaya mewujudkan kesetaraan dan keadilan Gender dilandaskan atas pasal 27 Undang-undang Dasar 1945 yang menerapkan asas persamaan antara laki-laki dan perempuan di muka hukum. seperti Konvensi Penghapusan segala Betuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women) CEDAW yang diratifikasi ke dalam Undang-undang No. Untuk memperkuat pemerintah RI telah meratifikasi beberapa konvensi International dan menandatangai beberapa kesepakatan International.PROSES PENGOLAHAN DATA U M P A N B A L I K Inventarisasi Data Observasi/wawancara Laporan Dokumen Pengolahan Data/Analisa Indikator Program Pencapaian/Penilaian Tujuan/Sasaran Pengembangan/Rekomendasi Dampak 1.

Bab VI. Penutup. Bab VII. Sektor Publik . 6 . Bab V. Perda No. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Berdasarkan Human Development Index tahun 1997 dan Undang-Undang No. 10 tahun 2008 tentang RPJMD. Bab IV. Bab VIII. Demografi. Perda No. Gambaran Umum Kondisi Wilayah . Bab X. Kesehatan . Bab I. disusun dengan sistimatika meliputi.Beijing tahun 1995. 1. 10 tahun 2008 tentang RPJPD. Masalah Anak . Pendidikan. Kegiatan Ekonomi . Provinsi Sulawesi Selatan.Pendahuluan . Kekerasan Terhadap Perempuan.5. Bab III. Ruang Lingkup Ruang lingkup statistik gender mencakup seluruh aspek pembangunan di bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Bab II. Bab IX.

Danau Towuti dan Danau Mahalona di 7 .1.519. Geografis Secara geografis wilayah darat Provinsi Sulawesi Selatan dilalui oleh garis khatulistiwa yang terletak antara 0012’~80 Lintang Selatan dan 1160 48’~122’ 36’ Bujur Timur. Lima danau besar menjadi rona spesifik wilayah ini. serta berbatasan dengan Selat Makassar di sebelah barat dan Laut Flores di sebelah timur. dan sebahagian merupakan dataran yang berada pada 400 hingga 1000 meter DPL. yang berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Barat di sebelah utara dan Teluk Bone serta Provinsi Sulawesi Tenggara di sebelah timur. Terdapat sekitar 65 sungai yang mengalir di provinsi ini. lebih dari 45 persen tanahnya curam dan bergunung. 2. Wilayah daratan terluas berada pada 100 hingga 400 meter DPL. 3 sampai 8 persen merupakan tanah relatif bergelombang. GAMBARAN UMUM KONDISI WILAYAH 2. 8 sampai 45 persen merupakan tanah yang kemiringannya agar curam. Kondisi Kemiringan tanah 0 sampai 3 persen merupakan tanah yang relatif datar.1. Luas wilayah Provinsi Sulawesi Selatan khususnya wilayah daratan mempunyai luas kurang lebih 45. Topografi Wilayah Sulawesi Selatan membentang mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi. dimana sebagian besar wilayah daratnya berada pada jazirah barat daya Pulau Sulawesi serta sebagian lainnya berada pada jazirah tenggara Pulau Sulawesi. yang tiga di antaranya yaitu Danau Matana. dengan jumlah sungai terbesar ada di bagian utara wilayah provinsi ini.BAB II.1.24 km2.

daerah Pegunungan Salapati (Quarles) sampai Pegunungan Molegraf. di selatan Parepare. dari Makale sampai utara Enrekang. di sekitar Sinjai serta di Rantepao (Tana Toraja) dan Camba (Maros). di deretan pegunungan sebelah barat dan timur Ujung Lamuru sampai Bukit Matinggi. Sungai Cenrana di dataran antara Takalar – Sumpang Binangae (Barru). dijumpai di dataran sepanjang lembah sungai antara Sungai Saddang dan Danau Tempe. Alluvium kwarter. di sekitar Sungai Mamasa.2. Pegunungan Perombengan sampai Palopo. Batuan volkan kwarter. serta dua danau lainnya yaitu Danau Tempe dan Danau Sidenreng yang berada di Kabupaten Wajo. Formasi batuan ini ditemukan di sekitar Limbong (Luwu Utara). Sinjai sampai Tanjung Pattiro. dan di Tanjung Bira (Bulukumba). bagian barat Pulau Selayar. 8 . di Pegunungan Bone Utara sebelah barat Watampone. 2. Geologi Struktur geologi batuan di Provinsi Sulawesi Selatan memiliki karakteristik geologi yang dicirikan oleh adanya berbagai jenis satuan batuan yang bervariasi. di dataran Palopo – Malili.1. Kapur kerang terdapat di sebelah barat memanjang antara Enrekang sampai Rantepao. di selatan Palopo sampai Umpu. utara Parepare. Struktur dan formasi geologi wilayah Provinsi Sulawesi Selatan terdiri dari volkan tersier. Sebaran formasi volkan tersier ini relatif luas mulai dari Cenrana sampai perbatasan Mamuju.Kabupaten Luwu Timur. sekitar Gunung Karua (Tana Toraja) dan di Gunung Lompobatang (Gowa).

konglomerat yang umumnya berwarna merah. biru. Kambung dan di sebelah barat Masamba) batuan terdiri dari serpih. Batuan plutonik basa. batu pasir. Batuan plutonik masam. Di wilayah Luwu terdapat 25 aliran sungai. dan hijau. batu tulis. yaitu di bagian timur Pangkajene sampai di timur Maros. ungu. Batuan sediment paleogen.Sekis hablur. formasi ini ditemukan di beberapa tempat seperti di bagian barat Sabbang (Luwu Utara). dijumpai di bagian timur Malili dan tersebar sebagai intrusi antara lain di bagian utara Palopo. penyebarannya di sekitar Lodong. napal. dari Sengkang ke tenggara sampai Rarek dan ke selatan sampai Sinjai. di Gunung Maliowo dan Gunung Karambon. Batuan sedimen mesozoikum. Hidrologi Pada wilayah Provinsi Sulawesi Selatan.1. dan Pinrang dialiri oleh sungai terpanjang yakni sungai Saddang (150 km). Di antara Masamba dan Leboni. sebelah timur Masamba memanjang dari utara Enrekang sampai Pompanua. sedangkan granodiorit dijumpai di barat laut Sasak. Pegunungan Latimojong. Enrekang. Tersebar di bagian utara Provinsi Sulawesi Selatan. di Pulau Selayar bagian timur dan di selatan Sinjai sampai Kajang. memanjang di bagian timur lembah Walane dan di tenggara Sungai Sumpatu. DAS Jeneberang meliputi wilayah 8 (delapan) 9 .3. ditemukan di sekitar Sungai Mamasa. Kabupaten Tana Toraja. Formasi ini ditemukan di daerah Tana Toraja (Pegunungan. di sebelah tenggara Barru dan di Bukit Tanjung Kerambu di Kabupaten Pangkep. Batuan sedimen neogen. 2. terdapat sekitar 65 sungai mengaliri berbagai kabupaten khususnya yang berada di dataran tinggi.

Berdasarkan klasifikasi tipe iklim menurut Oldeman. Klimatologi Provinsi Sulawesi Selatan terdapat dua musim. sementara di wilayah Luwu terdapat danau Matana dan Towuti. 2.607 Ha dan kawasan hutan seluas 204. Tipe Iklim B. dimana musim hujan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Air tanah bebas dijumpai pada endapan alluvial dan endapan pantai. Wilayah tipe ini terbagi 2 tipe yaitu (B1) meliputi 10 . Sungai Walanae mengalir di kawasan Bone dan Wajo. Formasi Walanae merupakan suatu formasi lapisan batuan pembawa air yang bersifat tertekan dengan debit kecil sampai sedang. Luwu. yaitu Tipe iklim A termasuk kategori iklim sangat basah dimana curah hujan rata-rata 3500-4000 mm/tahun. Wilayah yang termasuk ke dalam tipe ini adalah Kabupaten Enrekang. Luwu Utara dan Luwu Timur. yaitu musim hujan dan musim kemarau. sementara di Gowa dan Makassar mengalir sungai Jeneberang. termasuk iklim basah dimana Curah hujan rata-rata 3000 – 3500 mm/tahun.4.1. mencakup wilayah seluas 825. Provinsi Sulawesi Selatan memiliki 5 jenis iklim. termasuk kota Makassar. November sampai Maret angin bertiup sangat banyak mengandung uap air yang berasal dari Benua Asia dan Samudera Pasifik sehingga pada bulan-bulan tersebut sering terjadi musim hujan. Danau Tempe dan Sidenreng terdapat di Kabupaten Wajo dan sekitarnya. endapan formasi walanae serta pada lembah-lembah yang ditempati oleh endapan batuan formasi Camba.427 Ha.kabupaten di bagian selatan Sulawesi Selatan. Pada wilayah bagian tengah wilayah Sulawesi Selatan.

Iklim C2 meliputi Kabupaten Bulukumba. Luwu Utara. Sinjai dan Kota Makassar Tipe iklim E dengan Curah hujan rata-rata antara 1500 – 2000 mm/tahun dimana tipe iklim ini disebut sebagai tipe iklim kering. 11 . 2. Luwu. Bulukumba. Tipe iklim E1 terdapat di Kabupaten Maros. Tana Toraja. Jeneponto. Luwu. Takalar. Tipe B2 meliputi Gowa. Enrekang. Bulukumba. Pangkep. Parepare. Tipe iklim E2 terdapat di Kabupaten Maros. Tipe iklim ini terbagi 3 yaitu Wilayah yang masuk ke dalam iklim D1 meliputi Kabupaten Wajo. Luwu Timur. Enrekang. Bone. Bone. Mandar dan Toraja. Soppeng. Soppeng. Sejarah Sebelum Proklamasi RI. Makassar. Gowa. Sulawesi Selatan. Sinjai. Barru. dan Tana Toraja. dan Selayar. Sinjai. Bugis. Maros dan Jeneponto. Selayar. terdiri atas sejumlah wilayah kerajaan yang berdiri sendiri dan didiami empat etnis yaitu . Pangkep. Tipe iklim D dengan Curah hujan rata-rata 2000 – 2500 mm/tahun. Tipe iklim C terbagi 3 yaitu Iklim tipe C1 meliputi Kabupaten Wajo. Sedangkan tipe iklim C3 terdiri dari Makassar. Pangkep. Bantaeng. Barru. Luwu. Tana Toraja. Wilayah yang termasuk iklim D3 meliputi Kabupaten Bulukumba. Bantaeng. Enrekang. Jeneponto.Kabupaten Tana Toraja. Tipe iklim C termasuk iklim agak basah dimana Curah hujan ratarata 2500 – 3000 mm/tahun. Wilayah yang termasuk ke dalam iklim D2 terdiri dari Kabupaten Wajo. dan Maros. Maros. dan Bantaeng.2. Bone dan Enrekang. Gowa. dan Enrekang.

J. A. W. Amiruddin (Dua periode) 12 . G. Rivai. Ratulangi 1950 – 1951 B. Periode Gubernur : I. Gubernur Sulawesi Selatan 1966 – 1978 Ahmad Lamo (Dua periode) 1978 – 1983 Andi Oddang 1983 – 1993 A.S.1956 Lanto Dg. Setelah kemerdekaan. Melayu dan Arab. Pasewang 1956 – 1959 A.Ada tiga kerajaan besar yang berpengaruh luas yaitu Luwu. Gubernur Sulawesi Selatan dan Tenggara : 1959 – 1960 A. Pangerang Pettarani II. India. III. Pemisahan Sulawesi Selatan dari daerah otonom Sulawesi Selatan dan Tenggara ditetapkan dengan UU Nomor 13 Tahun 1964. Gowa dan Bone. Sudiro 1953 – A. dikeluarkan UU Nomor 21 Tahun 1950 dimana Sulawesi Selatan menjadi propinsi Administratif Sulawesi dan selanjutnya pada tahun 1960 menjadi daerah otonom Sulawesi Selatan dan Tenggara berdasarkan UU Nomor 47 Tahun 1960. Lapian 1951 – 1953 R. Burhanuddin 1953 . Gubernur Sulawesi 1945 – 1949 DR. Pangerang Pettarani 1960 – 1966 A. sehingga menjadi daerah otonom Sulawesi Selatan. yang pada abad ke XVI dan XVII mencapai kejayaannya dan telah melakukan hubungan dagang serta persahabatan dengan bangsa Eropa. Cina. S.

petani.2008 H. dan Toraja. Selain itu. Komunitas pedesaan terdiri dari nelayan. Sosial Ekonomi dan Budaya Kekayaan dan keragaman budaya dalam tatanan Sulawesi Selatan sangat bervariasi sebagai satu rumpun budaya yang terdiri dari Bugis. Disamping itu berapa komunitas yang berbasis pada aktivitas ekonomi sekunder. yang dapat mendorong dinamika perubahan secara lebih kreatif dalam menanggapi spirit zaman. Rumpun Makassar dominan berada pada Kabupaten di wilayah Selatan Sulawesi Selatan. terdapat pula keragaman sistem nilai dan norma serta adat-istiadat yang spesifik. B. Rumpun Toraja tersebar di Kabupaten Tana Toraja dan Luwu. Gambaran ini menunjukkan keragaman budaya yang tersebar pada wilayah yang beragam pula.Syahrul Yasin Limpo sekarang 2. Amin Syam 2008 . Makassar. terkandung pula potensi berkembangnya interaksi sosial dan komunikasi lintas budaya. petambak. antara lain pengrajin besi di Massepe Sidrap dan pengrajin perahu di Bira Bulukumba 13 .1993 . Z. Di balik keragaman tersebut. Variasivariasi ini terkait pula dengan potensi kearifan lokal yang bisa berkembang dalam tatanan sosial budaya. Rumpun Bugis tersebar di wilayah utara Sulawesi Selatan.3.2003 H. M. Komunitas ini merupakan suatu komunitas berskala kecil namun tetap memiliki kearifan lokal. Komunitas petani adalah komunitas yang terbesar di seluruh wilayah Sulawesi Selatan.Ahmad Tanribali Lamo Pejabat Gubernur Sementara 2008 . dan pengrajin. Palaguna (Dua periode) 2003 .

yang berkaitan dengan sumberdaya alam yang ada disekitarnya. Komunitas petani misalnya. Aluk Todolo di Toraja. 14 . memahami kapan waktu yang tepat untuk mulai menanam serta bagaimana menangani hama. komunitas ini benar-benar merupakan suatu komunitas yang memiliki karakteristik tersendiri. Disamping itu juga terdapat komunitas tradisional yang mampu bertahan di antaranya adalah komunitas Ammatoa di Kajang Bulukumba. Senyatanya. eksistensi keberadaan beberapa komunitas yang terkait dengan sektor pertanian masih ada yang mengalami ketertinggalan akibat dari ketidakmampuan bersaing dengan berbagai produk lainnya yang beredar dipasaran. Pua Cerekang di Luwu. Pada era globalisasi. Tolotang di Sidrap. Disamping itu juga umumnya masih mengalami masalah persyaratan dalam mengakses permodalan pada kelembagaan keuangan seperti Bank Rakyat yang ditawarkan pemerintah melalui berbagai program perkreditan. demikian pula dengan komunitas nelayan yang telah menyatu dengan pantai dan laut. Karangpuang di Sinjai. sehingga mereka dapat memprediksi lebih awal kondisi dan permasalahan yang akan terjadi baik di pantai maupun di laut. Komunitas ini masih tetap eksis walaupun secara sosial dikelilingi oleh berbagai informasi dan iptek namun karakteristik tetap dipertahankan.

Namun bila tidak dimanfaatkan seefektif dan seefisien mungkin. Jumlah Penduduk dan Rasio Jenis Kelamin Penduduk merupakan salah satu sumber daya potensial dalam menunjang aktifitas pembangunan bangsa dan negara. penduduk berfungsi sebagai penyedia tenaga kerja. Keberadaan penduduk sebagai obyek dan subyek pembangunan diharapkan mampu mengembangkan kreatifitasnya dengan segala kemampuan yang dimiliki untuk pencapaian tujuan pembangunan yaitu untuk meningkatkan harkat dan martabatnya agar dapat menikmati hasilhasil pembangunan secara adil dan merata.1. Justru itu. Kedudukannya sebagai Sumber Daya Manusia memegang peranan penting karena berfungsi menggerakkan faktor-faktor produksi dan jasa lainnya. penduduk cenderung menjadi tidak produktif dan bahkan semakin menambah beban bagi negara atau daerah tertentu. Penduduk Sulawesi Selatan berdasarkan DAU Tahun 2009 berjumlah 15 .BAB III. dapat pula menimbulkan pengangguran. Perwujudan hal tersebut. tentunya hanya bisa dicapai melalui peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia serta mengarahkannya secara profesionalisme. Populasi penduduk kadang kala menjadi dilematis karena di samping tersedianya banyak tenaga kerja. Dalam berbagai kegiatan pembangunan atau produksi. DEMOGRAFI 3. Kontribusinya terhadap suatu daerah sangat ditentukan oleh tingkat partisipasi kerja. dimana penduduknya yang teridi dari laki-laki dan perempuan mempunyai peluang yang sama dalam pasar tenaga kerja untuk menempatkan dirinya sebagai tenaga kerja. penduduk termasuk kategori aset atau modal pembangungan yang sifatnya dinamis. Propinsi Sulawesi Selatan sendiri tidak terlepas dari hal tersebut.

jumlah penduduk yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak dari penduduk yang berjenis kelamin Laki-laki.674 05.05 94.35 92.285 233.123 61.71.060 654.094 385. Bantaeng 83. . Bulukumba 188.891 11.99 92.. Enrekang 96. Soppeng 108.640 202.78 93.500 04.548 4.836.294 26.090 206.72 89.27 95.271.73 96. Jeneponto 161.550 12.079 159.146 15.31 92.477 155. Luwu Timur 119.36 97.01 91.519 jiwa yang tersebar di 24 kabupaten/kota. 2008. Tana Toraja 236. Makassar 617. Maros 147.718 Jumlah .. Hanya di daerah Kabupaten Luwu dan Luwu Utara yang menunjukkan angka rasio jenis kelamin lebih besar dari 100.971 2008 3.104 13.501 136. Wajo 178.198 122. yang berarti penduduk Laki-laki di dua daerah tersebut lebih besar dari jumlah penduduk perempuan.44 92. Sidrap 124.659 02.15 87. Tabel. Pinrang 172 607 16. Pare Pare 57.57 101. hal ini tercermin dari angka rasio jenis kelamin yang lebih kecil dari 100.210 09. Palopo 71.90 102. Toraja Utara .7.10 01. Bone 326.895 18.747 72.90 96.764 4. Takalar 121.032 73. dengan jumlah penduduk terbesar yakni 1.Jumlah Penduduk dan Rasio Jenis Kelamin menurut Kabupaten/Kota di Sulawesi Selatan. Barru 77.392 162.2009 Kabupaten/Kota (1) (2) Laki-Laki Male Perempuan Rasio Jenis Kelamin Female Sex Ratio (3) (5) 63.. Pangkep 143.870 jiwa mendiami Kota Makassar.. Sinjai 110.24 93.109 25.337 178. Selayar 58.3.870 118.98 90.Total 2009 3. Luwu Utara 166.563 85.22 101.263 14.676 172.085 Sumber : BPS Provinsi Selatan (DAU 2009) 16 .041. Luwu 165.803 128.031 22. Secara keseluruhan. 057 03.071.53 84.908.435 94.09 93.308 155.763.810 74.73 101.1.110 118.202 07.92 94.225 08.184 17.236 312. Gowa 305.17 106.689 90.77 88.138 10.939 92.738 06.

971 jiwa dan perempuan 4.071.717. maka gejala kependudukan tersebut akan menunjukkan relatif tingginya penyediaan tenaga kerja untuk jenis kelamin perempuan sehingga peluangnya untuk memasuki lapangan kerja yang tersedia terbuka luas. 3.675.836. Jumlah Penduduk menurut Kelompok Umur dan Jenis Menyangkut aspek kependudukan.908. Apabila ditinjau dari aspek ketenagakerjaan.43 persen dan perempuan sebesar 3.893 jiwa yang terdiri dari laki-laki 3. Pertambahan penduduk sekitar 232. Pertumbuhan penduduk di masa yang akan datang diperkirakan terus berlangsung dan membawa dampak terhadap semakin menumpuknya domisili penduduk di daerah perkotaan serta bertambahnya tingkat pengangguran. tetapi dapat pula ditinjau berdasarkan komposisi umur.777 jiwa dan perempuan sebesar 112849 jiwa persen.519 jiwa dengan rincian : lakilaki 3.Penduduk Propinsi Sulawesi Selatan selama periode tahun 2007 – 2008 cenderung mengalami peningkatan. Jika di tahun 2007 jumlah penduduk sebanyak 7. diperlukan langkah-langkah antisipatif dengan jalam membuka lapangan kerja secara luas dan merata ke berbagai daerah Kabupaten. maka kita dapat memahaminya dari beberapa segi dan tergantung pada kualifikasi kebutuhan data.958.699 jiwa atau 51.2. baik untuk jenis kelamin laki-laki maupun perempuan.626 jiwa (periode 2007 – 2009) ditandai dengan meningkatnya penduduk jenis kelamin lakilaki sebanyak 119. Oleh sebab itu.548 jiwa. Kualitas dan kuantitas penduduk tidak semata-mata dinilai dari jumlahnya. Pembagian klasifikasi umur tentunya disesuaikan dengan konsep-konsep ketenagakerjaan karena 17 .57 persen. maka pada tahun 2009 jumlah penduduk mencapai 7.194 jiwa atau 48.

519 7.64 65 + Laki-Laki Male 375 198 447 014 431 498 351 712 291 052 301 980 275 764 296 539 237 824 210 957 168 401 135 327 106 189 207 515 Perempuan Jumlah Rasio Female Sex Ratio Jenis Kelamin (3) (5) (6) 352 040 407 851 409 938 362 508 309 477 343 087 311 959 327 183 266 303 228 271 195 258 144 647 144 438 268 589 727 238 854 865 841 437 714 220 600 529 645 067 587 723 623 722 504 127 439 227 363 660 279 973 250 627 476 104 7.63 89.2 .836.02 94. Tinjauan tenaga kerja berdasarkan kelompok umur. 2008.25 93.071.34 35 .39 40 .58 109.40 90.24 93.763.60 105.52 77.041.085 4.59 60 .26 94.548 2008 3. Sehubungan penjelasan tersebut di atas.14 15 .939 Sumber : BPS Provinsi Selatan (DAU 2009) 18 .10 (2) Jml . Termasuk kategori umur produktif adalah tenaga kerja yang berusia 25 sampai 64 tahun.31 92.Total 2009 3.05 88.29 30 .54 55 .44 45 .sangat erat kaitannya terhadap penyajian data terpilah.24 25 .56 73.2009 Kelompok Umur (1) 0–4 5-9 10 .Penduduk menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Sulawesi Selatan.26 97. dibedakan atas 2 (dua) yaitu umur produktif dan umur tidak produktif.024 106.42 86.19 20 . maka kondisi penduduk Propinsi Sulawesi Selatan ditunjukkan sebagai berikut : Tabel 3.. sedangkan umur tidak produktif terdiri dari kelompok usia 0-14 tahun dan di atas 65 tahun.908.971 4..02 88.805..49 50 .

67 persen.664 jiwa terdiri dari : penduduk usia muda di bawah 15 tahun jumlahnya 1. laki-laki 61.857.80 persen dan usia lanjut yaitu 60 tahun ke atas sebanyak 381.101 jiwa atau 32. penduduk produktif 15-59 tahun 2. nampak sangat jelas bahwa pada keloompok usia 0 -14 tahun jumlah penduduk laki-laki lebih besar dibandingkan perempuan.67 persen lebih kecil dari perempuan yang jumlahnya 62. penduduk jenis kelamin laki-laki yang jumlahnya 3. Sementara pada kelompok usia lanjut. Pengelompokan umur penduduk pada jenis kelamin laki-laki dan perempuan digolongkan dalam 3 (tiga) tingkatan.46 persen.87 persen. Begitu pula halnya dengan penduduk perempuan yang jumlahnya 4. penduduk produktif (15-59 tahun) sebanyak 2.98 persen.473 jiwa atau 28.22 persen.98 persen. Apabila kita melihat grafik.68.084 jiwa secara rinci terdiri atas : penduduk usia muda di bawah 15 tahun sebesar 1. dimana penduduk laki-laki usia muda sebanyak 38.80 persen.46 persen lebih kecil dari perempuan yang besarnya 8.934 jiwa atau 8.918 jiwa atau 61.256. Kenyataan ini menggambarkan pada periode selanjutnya peluang laki-laki untuk memasuki lapangan kerja 19 .672. dan penduduk usia lanjut lanjut yaitu bersuai 60 tahun ke atas sebesar 210. Lebihlanjut dijelaskan perbandingan kedua jenis kelamin berdasarkan kelompok umur. Pada tahun 2008. laki-laki 5.87 persen lebih besar dari perempuan yaitu 28.677 jiwa atau 62.Dalam hal ini penduduk diklasifikasikan menurut kelompok umur dan jenis kelamin degan tujuan agar lebih memahami spesifikasi kependudukan sesuai kepentingannya. Untuk kategori usia produktif.378.22 persen.201.645 jiwa atau 5.

20 . sedangkan riilnya tergantung bagaimana kedua jenis kelamin bisa memanfaatkan peluang kerja yang tersedia. Namun apa yang dijabarkan disini masih sebatas konteks estimasi.lebih potensial ketimbang perempuan.80 persen sedang lakilaki hanya 61. Berbeda halnya dengan kondisi kelompok usia 15 – 59 tahun dan usia 60 tahun ke atas. Selisih jumlah perempuan dengan laki-laki pada komposisi usia produktif sekitar 1.67 persen. dimana jumlah penduduk perempuan lebih tinggi dibandingkan lakilaki sehingga lebih memiliki potensi mengisi lapangan kerja.13 persen karena perempuan mencapai 62.

pemerataan. sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin mutu.BAB IV. terarah dan berkesinambungan. dengan fokus pada kapasitas 21 . Disamping itu. semua anak khususnya anak perempuan. (1) menjelang tahun 2015. nasional dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana. relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal. sebagaimana diamanatkan UUD 1945 merupakan tugas pemerintah untuk mengusahakan dan menyelenggarakan sistim pendidikan nasional guna meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang. (2) mencapai perbaikan 50% pada tingkat keniraksaraan orang dewasa. terutama bagi kaum perempuan. PENDIDIKAN Pendidikan. salah satu kebijakan dalam bidang pendidikan saat ini adalah Pendidikan Untuk Semua (PUS) atau yang lebih dikenal dengan EFA (Education For All). yang menargetkan bahwa . mempunyai akses dan menyelesaikan Pendidikan Dasar yang bebas dan wajib dengan kualitas yang baik. Untuk itu. dan akses yang adil pada pendidikan dasar dan pendidikan berkelanjutan bagi semua orang dewasa. menjelang tahun 2015. (3) penghapusan kesenjangan gender pada pendidikan dasar dan menengah pada tahun 2005 dan mencapai kesetaraan gender dalam pendidikan pada tahun 2015. anak-anak yang dalam keadaan sulit dan mereka yang termasuk etnik minoritas. sesuai kesepakatan internasional yang lebih dikenal dengan Deklarasi DAKAR.

037 2.170 5.430 1.389 2.239 846 3. 4.329 1.395 2.880 6.737 41.250 6.359 246 513 1.720 9.860 4.538 40.700 1.431 4.765 393 1.132 1.050 2.175 1.370 2.821 2.175 1.967 39.955 997 1.230 1.156 26.423 648 189 1.650 2.sepenuhnya bagi anak perempuan terhadap akses dalam memperoleh pendidikan dasar yang bermutu.1 Jumlah Buta Aksara di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008 - No.195 323.325 9.156 1.196 4.735 675 1.311 601 1.181 14. Sul-Sel) Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Sulawsi Selatan.419 3.409 4.290 2.080 2.810 109.876 2.850 1.250 34.407 12.074 1.850 5.139 1.474 5.226 5.1.376 429 896 3.080 1.233 1 Selayar 2 Bulukumba 3 Bantaeng 4 Jeneponto 5 Takalar 6 Gowa 7 Sinjai 8 Maros 9 Pangkep 10 Barru 11 Bone 12 Soppeng 13 Wajo 14 Sidrap 15 Pinrang 16 Enrekang 17 Luwu 18 Tana Toraja 19 Luwu Utara 20 Luwu Timur 21 Makassar 22 Pare-pare 23 Palopo Jumlah (Prov.050 14.073 403 428 619 425 517 109 167 22.910 1.948 Jumlah 1.487 1.813 3.424 300 460 61.429 13.731 5.950 3.846 Tahun 2009 LK 382 989 3.305 684 2.775 1.197 819 571 823 321 2. Kabupaten/ Kota Keaksaran Fungsional (KF) Tahun 2008 LK PR 1. oleh karena salah satu indikator pembangunan manusia atau yang lebih dikenal dengan HDI/IPM adalah pendidikan.049 2.150 3.780 2.950 1.668 356.981 3.740 14.549 4.576 9.285 PR 668 1.199 111.431 33. maka kita dapat memahami pentingnya pendidikan yang responsif gender.085 687 1.093 1. Buta Aksara (Keaksaraan Fungsional/KF) 2009 Tabel 4.877 697 747 1081 750 907 191 293 38.039 1.580 6.420 1.740 3.225 1.370 2. 2010 22 .031 2.350 1.560 42.635 2.650 3.022 441 473 33.645 8. Menyimak kesepakatan Dakar tersebut.415 1.835 23.743 2.479 5.231 819 2.416 Jumlah 2.100 1.

diantaranya laki-laki 517 orang atau 36% dan perempuan sebanyak 907 orang atau 64%. 23 .285 orang atau 36% dan perempuan sebanyak 38. Sementara untuk tahun 2009 mengalami penurunan sehingga yang buta aksara tersisa 61. Sementara untuk tahun 2009 Kota Makassar berhasil mengurangi. Dari 23 kabupaten yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan nampaknya Kota Makassar yang terbanyak dengan jumlah penduduk yang buta aksara sebanyak 111.407 orang atau 98%. Sul-Sel Prov.430 orang atau 9% dan perempuan sebanyak 323.846 orang. jumlah buta huruf (aksara) di Provinsi Sulawesi Selatan untuk tahun 2008 sebanyak 356.430 orang atau 91%.948 orang atau 64%.1. sehingga jumlah penduduk buta aksara tinggal 1.Prov. laki-laki sebanyak 22. Sul-Sel 9% 36% 64% 91% % LK % PR % LK % PR Berdasarkan data Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan seperti terlihat pada Tabel 4.022 orang atau 2% dan perempuan 109.424 orang.233 orang. diantaranya laki-laki sebanyak 33.429 orang pada tahun 2008 diantaranya laki-laki 2.

diantaranya laki-laki sebanyak 601 orang atau 36% dan perempuan sebanyak 1. Untuk tahun 2009 kabupaten yang paling sedikit buta aksaranya adalah Kota ParePare yaitu 300 orang. sehingga apa yang diharapkan sesuai kesepakatan Dakar yaitu mencapai perbaikan 50% pada tingkat keniraksaraan orang dewasa. terdapat dua ukuran partisipasi sekolah yang utama.049 orang atau 64%.2. Keduanya mengukur penyerapan penduduk usia sekolah oleh sektor pendidikan. Perbedaan diantara keduanya adalah penggunaan kelompok usia "standar" di setiap jenjang pendidikan. Partisipasi Sekolah Umumnya. Hal ini juga berlaku bagi kabupaten lain yang sama kondisinya dengan Kabupaten Pangkep. yaitu Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM). yang ditampilkan pada tabel berikut: 24 . Informasi tersebut diatas menunjukkan bahwa Kabupaten Pangkep perlu memperhatikan bagaimana kebijakan di bidang pendidikan agar jumlah penduduk yang buta aksara tidak bertambah tetapi seharusnya berkurang. 4. terutama perempuan. diantaranya laki-laki sebanyak 109 orang atau 36% dan perempuan sebanyak 191 orang atau 64%. Usia standar yang dimaksud adalah rentang usia yang dianjurkan pemerintah dan umum dipakai untuk setiap jenjang pendidikan.Sementara dari 23 kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan yang paling sedikit jumlah penduduk buta aksara pada tahun 2008 adalah Kabupaten Pangkep yaitu 1. menjelang tahun 2015.650 orang. Sementara itu informasi data di Kabupaten Luwu Utara belum ada di tahun 2009.

Tabel 1: Usia standar di setiap jenjang pendidikan Jenjang SD SMP SMA Perguruan tinggi Angka Kelompok usia 7 . sarana dan prasarana yang memadai akan menciptakan lingkungan pendidikan yang berkualitas. Untuk dapat melihat keadaan partisipasi sekolah. maka hal penting yang perlu dikaji sebelumnya adalah ketersediaan fasilitas dan tenaga pengajar sekolah sebagai bagian dari faktor yang menentukan keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Keaktifan masyarakat sangat menentukan tingkat partisipasi sekolah sehingga kesadaran. 25 .15 tahun 16 . motivasi dan semangat masyarakat memanfaatkan fasilitas untuk bersekolah sangat penting.18 tahun 19 tahun keatas partisipasi sekolah sangat erat kaitannya dengan ketersediaan fasilitas pendidikan dan tenaga pengajar serta kesadaran masyarakat untuk aktif dalam bidang pendidikan. Ketersediaan sarana dan prasarana sekolah akan mempermudah para siswa untuk mengakses pendidikan. suasana belajar akan lebih hidup dan minat mencari ilmu pengetahuan bagi siswa akan tinggi. Pemerataan pendidikan bagi masyarakat sebagai wujud pemerataan pendidikan nasional memerlukan dukungan yang besar bagi semua kalangan baik dari pemerintah pusat terlebih lagi dari masyarakat. wujud dari partisipasi ini adalah tersedianya fasilitas pendidikan berupa sarana dan prasarana sekolah.12 tahun 13 .

504 SLTP 34 62 21 54 38 81 39 103 51 55 31 42 55 46 49 37 64 46 34 112 179 24 22 1.202 buah diantaranya sarana sekolah TK sebanyak 202 unit jenjang pendidikan tingkat SD sebanyak 479 unit.2 Jumlah Sarana dan Prasarana Sekolah Menurut Kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten/ Kota Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Makassar Pare-pare Palopo Jumlah (Prov. MI 56 unit. jenjang pendidikan SLTP sebanyak 179 unit.391 SD 159 351 138 253 233 381 248 672 253 340 231 433 259 252 336 212 227 351 150 376 479 100 70 6. RA 22 unit.Tabel 4.2 diatas menunjukkan ketersediaan sarana sekolah di Sulawesi Selatan sebanyak 11. SulSel) Sekolah TK 15 63 16 86 19 60 41 130 38 53 52 134 61 64 33 23 54 42 83 51 202 43 28 1.279 SD LB 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 18 Total SLB 2 1 1 3 1 2 1 2 1 1 0 3 11 3 32 RA 20 29 2 5 1 22 11 11 8 7 10 14 13 9 34 6 3 3 6 22 12 248 MI 13 36 12 15 9 76 26 77 23 11 27 21 33 11 23 20 44 22 15 10 56 8 2 590 MTs 10 42 24 35 18 60 27 54 30 21 16 26 19 17 19 20 34 37 23 5 40 10 3 590 SLTA 7 14 4 12 11 18 8 22 20 14 9 12 9 12 13 10 15 10 15 24 104 7 14 384 MA 1 13 14 12 9 18 15 13 15 12 10 6 8 8 5 10 13 11 7 2 22 8 1 233 SMK 4 7 5 8 7 13 4 5 6 7 3 8 6 6 8 5 4 2 2 36 87 11 26 270 264 620 237 482 347 733 421 1.090 445 522 390 699 465 426 521 344 458 524 329 626 1. Sedangkan kabupaten yang memiliki jumlah sarana sekolah paling sedikit adalah Kota Palopo dengan jumlah 167 unit diantaranya sarana sekolah TK sebanyak 28 unit 26 . sarana sekolah terbanyak di Kota Makassar yang merupakan ibukota provinsi dengan jumlah 1.539 unit. SLB 11 unit.539 Sumber: Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan Tahun 2010 Tabel 4.202 227 167 11. SLTA 104 unit. MTs 40 unit. MA 22 unit dan jenjang pendidikan SMK sebanyak 87 unit.

jenjang pendidikan SLTP sebanyak 22 unit. SLTA 14. MI 2 unit. MTs 3 unit.jenjang pendidikan SD sebanyak 70 buah. Untuk lebih jelasnya mengenai perbandingan jumlah sarana sekolah berdasarkan jenjang pendidikan pada setiap kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan dapat dilihat pada Diagram 4. MA I unit dan jenjang pendidikan SMK sebanyak 26 unit.3. 27 .

Persentase Ketersediaan Sarana Sekolah Menurut Pendidikan di Provinsi Sulawesi Selatan Berdasarkan Tabel 4.399 orang diantaranya guru pada jenjang pendidikan TK sebanyak 7. yang terdiri dari laki-laki hanya 1 orang dan perempuan 7. Diagram 4.3 diatas yang bersumber dari Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan 2010 menunjukkan bahwa jumlah guru di Provinsi Sulawesi Selatan sebanyak 21.3 menujukkan ketersediaan sarana sekolah di Provinsi Sulawesi Selatan yang terlihat bahwa persentase ketersediaan sarana sekolah terbanyak berturut-turut yaitu pada jenjang pendidikan SD sebanyak 57%.3. kemudian TK sebanyak 12 %.Diagram 4. Peningkatan mutu pendidikan bagi murid sekolah selain dengan tersedianya sarana dan prasarana pendidikan juga harus ditunjang oleh tenaga pengajar yang profesional agar program pendidikan berjalan dengan baik. Adanya perbedaan yang mencolok antara jumlah guru laki-laki dan perempuan pada jenjang 28 .226 orang. jenjang pendidikan SLTP sebanyak 11 % dan SLTA sebanyak 3 %.227 orang.

Selanjutnya pada jenjang pendidikan SD/MI sebanyak 54.629 orang yang terdiri dari laki-laki 22.629 orang dan perempuan 8. Untuk melihat perbandingan jumlah guru menurut jenis kelamin dapat dilihat pada Diagram 4. nampak bahwa persentase guru perempuan yang mengajar mulai dari jenjang pendidikan TK sampai SLTP jauh lebih banyak yaitu mencapai 63 % dibanding laki-laki yaitu dengan persentase 37 %.4.397 orang.pendidikan TK ini kemungkinan dipengaruhi oleh minat dari laki-laki untuk menjadi guru TK yang rendah dibanding perempuan.850 yaitu laki-laki 54.232 orang dan perempuan 32. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa peran perempuan 29 . dan pada jenjang pendidikan SLTP/MTs sebanyak 12.4.549 orang.4 tersebut. Untuk jenjang pendidikan SLTA/MA tidak diperoleh data tentang jumlah guru yang ada. dan ini tidak lepas pula dari asumsi dasar masyarakat tentang peran gender. berikut: Diagram 4. Jumlah Guru Menurut Jenis Kelamin pada Jenjang Pendidikan TK SLTP di Provinsi Sulawesi Selatan Pada Diagram 4.

Angka Partisipasi Sekolah Angka partisipasi sekolah merupakan ukuran daya serap sistem pendidikan terhadap penduduk usia sekolah. Selanjutnya untuk itu dapat melihat keadaan partisipasi sekolah di Provinsi Sulawesi Selatan yang terdiri dari Angka Partisipasi Sekolah (APS). bahkan pada kelompok usia 7-12 thn dan 13-15 tahun anak perempuan lebih tinggi dibandingkan anak lakilaki. Angka tersebut memperhitungkan adanya perubahan penduduk terutama usia muda. Data nasional tahun 2006 sampai tahun 2008 menunjukkan bahwa APS berkecenderungan meningkat pada semua kelompok umur baik anak laki-laki maupun anak perempuan. Sementara apabila kita mencermati perbedaan antar wilayah perdesaan 30 .2.1. Tidak ada perbedaan pencapaian yang nyata antara laki-laki dan perempuan disemua jenjang pendidikan. 4. Sehingga. Ukuran yang banyak digunakan di sektor pendidikan seperti pertumbuhan jumlah murid lebih menunjukkan perubahan jumlah murid yang mampu ditampung di setiap jenjang sekolah.dalam memajukan pendidikan di Provinsi Sulawesi Selatan sudah cukup baik. naiknya persentase jumlah murid tidak dapat diartikan sebagai semakin meningkatnya partisipasi sekolah. dan Angka Partisipasi Kasar (APK) berdasarkan kelompok umur. Angka Partisipasi Murni (APM). Kenaikan tersebut dapat pula dipengaruhi oleh semakin besarnya jumlah penduduk usia sekolah yang tidak diimbangi dengan ditambahnya infrastruktur sekolah serta peningkatan akses masuk sekolah sehingga partisipasi sekolah seharusnya tidak berubah atau malah semakin rendah.

dan Jenis Kelamin. wilayah perdesaan perlu mendapatkan perhatian yang lebih baik.4. Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008 Sumber data : BPS. wilayah perkotaan cenderung lebih tinggi pencapaiannya apabila dibanding perdesaan. hal ini terjadi disemua jenjang pendidikan. Artinya didalam rangka meningkatkan angka pencapaian APS nasional.4). Berdasarkan data Susenas 2008 menunjukkan bahwa APS Sulsel untuk usia 16-18 tahun masih dibawah 50% (tabel 4.dan perkotaan. Tabel 4. Angka Partisipasi Sekolah (APS) menurut Usia Sekolah. Susenas 2008 31 .

sehingga ketersediaan sarana prasarana pendidikan di jenjang SLTP diperlukan untuk meningkatkan akses pendidikan lanjutan bagi anak-anak. Tabel 4. Untuk usia 13-15 tahun relative lebih rendah dibandingkan usia 7 -12 tahun. Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 Sumber data : BPS. dari tabel diatas dapat pula dilihat bahwa partisipasi usia sekolah di jenjang pendidikan yang semakin tinggi.5. akses lakilaki maupun perempuan sudah cukup tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa keberlanjutan pendidikan anak-anak usia 7 – 12 tahun ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi perlu mendapatkan perhatian. sehingga arah kebijakan pendidikan kedepan hendaknya lebih ditujukan pada peningkatan kualitas.dan Jenis Kelamin. cenderung menurun.Data diatas menunjukkan bahwa untuk usia sekolah 7 -12 tahun. Selanjutnya. APS menurut Usia Sekolah. Susenas 2009 32 .

Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008 Sumber data : BPS.2. Susenas 2008 33 . sedangkan APM semestinya maksimal 100 persen. Tabel 4. APM menurut Usia Sekolah. sebab APK biasanya digunakan ketika APM-nya masih jauh dari 100 persen.2.6. Indikator APM merupakan indikator yang lebih baik dibanding dengan indikator APK.4.dan Jenis Kelamin. Angka Partisipasi Murni Angka Partisipasi Murni (APM) adalah persentase siswa dengan usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikannya dari jumlah penduduk di usia yang sama. APK dapat mencapai lebih dari 100 persen.

dan Jenis Kelamin. terdapat penurunan APM perempuan di kelompok usia ini. Kecenderungan ini terjadi baik di kelompok laki-laki maupun perempuan. APM menurut Usia Sekolah.7. masih sangat rendah. APMnya semakin rendah. meskipun jika dilihat persentasenya.Berdasarkan tabel 4. artinya kesempatan untuk memperoleh pendidikan bagi laki-laki dan perempuan di jenjang pendidikan menengah atas.6 dan 4. Tabel 4. perempuan sedikit lebih tinggi APMnya dibandingkan laki-laki. Untuk tahun 2009. Suatu hal yang sangat memprihatinkan bahwa APM usia 16-18 tahun masih dibawah 50%. Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 Sumber data : BPS.7 nampak bahwa Angka Partisipasi Murni untuk golongan usia semakin tinggi. Susenas 2009 34 .

645 162.136 16.357 11.360 19.156 33.710 40.112 32.417 39.783 19.808 23.095 77.081 17.289 19.851 36.121 43.046 14.715 8.155 9.772 25.632 16.377 35.860 13.707 17.752 32.681 15.643 63.926 30.257 orang (53.472 82.622 32.804 17.697 28.853 58.530 27.868 1.222 30.12 Thn LK PR 13.257 478.202 12.634 44.756 11.252 21.902 8.992 13.919 39.978 12.884 122.740 14.976 28.829 28.222 16.266 10.937 13.253 30.169 17.114 23.120 29.638 32.194 327.207 55.254 9. Tabel 4.877 21.697 16.265 12.766 30.773 24.148 20.810 29.195 Jml 79.567 23.760 15.274 59.780 32.996 orang atau 46.589 37.970 12.22 % dari total 1.992 14.735 40.383 758.234 10.038 22.031 63.159 31.262 519.473 8.659 96.083 53.642.646 17.273 32.Hal ini sejalan dengan data Dinas Pendidikan yang menunjukkan bahwa jumlah anak sekolah untuk tahun 2008/2009 kelompok umur 07 – 12 tahun di Provinsi Sulawesi Selatan.441 16.643 47.673 44.094 5.743 15.135 14.219 12.377 30.226 26.030 63.822 998.642.568 12.379 55.967 39.458 23.310 31.898 46.620 21.640 24.582 48.576 16.191 65.546 62.925 163.807 14.954 12.808 32.393 23.951 29.191 34. anak perempuan lebih banyak yaitu 883.702 25.616 16.653 98.501 33.311 930.609 16.807 15.996 883.616 32.588 40.355 orang (48.39 %) yang lebih banyak dari pada laki-laki.222 12.832 17.717 41.731 70.340 18.835 23.746 41.694 14.986 24.549 164.601 29.830 86.386 5.422 79.455 34.107 24.311 orang (51.340 18.596 23.792 18.529 13.663 23.248 13.784 15.953 5.494 19.697 16.810 109.502 38.007 70.841 7.879 6.613 11. SulSel) 07 .160 197.243 16 .540 17.61 %) dan perempuan sebanyak 478.418 11.017 12.127 21.072 12.8 Jumlah Peserta Didik Menurut Kelompok Umur Tahun 2008/2009 Kabupaten / Kota Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Ebrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Makassar Pare-pare Palopo Jumlah (Prov.253 orang.78 %) sementara laki-laki sebanyak 758.741 452.394 18.966 7.560 Jml 43.998 6.550 12.475 35.143 29.355 Kelompok Umur 13 .623 81. Untuk kelompok umur 13 – 15 tahun ada 930.371 21.827 27.18 Thn LK PR 6.500 21.162 27.687 11.990 38.336 28.707 Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan 2010 35 .185 8.666 479.087 70.749 8.842 13.15 Thn Jml LK PR 5.248 27.158 51.054 179.828 15.737 41.723 12.666 orang diantaranya laki-laki sebanyak 452.427 25.745 18.407 12.350 87.188 29.307 21.971 20.637 56.032 33.274 42.455 39.278 24.256 25.860 11.950 9.830 8.950 11.395 83.194 16.977 36.612 70.986 10.

Hal ini mencerminkan bahwa makin tinggi tingkat pendidikan partisipasi perempuan makin menurun. Namun. Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin. dan 19-24 tahun. nampaknya APS perempuan lebih tinggi dari APS anak laki-laki. nampak bahwa APK perempuan pada jenjang sekolah SMP sampai PT lebih tinggi dibandingkan laki-laki. untuk usia 7-12 tahun justru mengalami pnurunan. khususnya untuk usia 13-15.950 orang diantaranya laki-laki sebanyak 519. 4. Untuk usia 7-12 tahun terdapat kecendungan penurunan baik laki-laki maupun perempuan.243 orang (51.Sementara untuk kelompok umur 16–18 tahun jumlahnya sebanyak 998. 16-18.3 Angka Partisipasi Kasar (APK) Indikator ini digunakan untuk mengukur proporsi anak sekolah pada suatu jenjang pendidikan tertentu dalam kelompok umur yang sesuai dengan jenjang pendidikan tersebut. Dengan mencermati tingkat APS pada kelompok umur 07 – 12 tahun sederajat SD dan kelompok umur 13– 15 tahun yang sederajat SMP.98 %) dan perempuan sebanyak 479.9 dan 4. Tetapi APS pada kelompok umur 16– 8 tahun yang sederajat SMU nampaknya APS laki-laki lebih tinggi dari pada APS perempuan.10. Untuk mendapatkan gambaran Angka Partisipasi Kasar (APK) di Provinsi Sulawesi Selatan dapat dilihat pada Tabel 4.707 orang (51. Berdasarkan tabel tersebut.2. nampak bahwa secara umum terjadi kenaikan angka partisipasi kasar dari tahun 2008 ke tahun 2009.39 %). dan 36 . Hal ini menunjukkan bahwa partisipasi laki-laki justru menurun di usia sekolah yang semakin tinggi. Angka partisipasi kasar dapat memberikan gambaran tentang banyaknya anak yang menerima pendidikan pada jenjang tertentu.

pada tahun 2009. Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008 Sumber data : BPS.dan Jenis Kelamin. Fenomena ini cukup memprihatinkan. namun justru ada kecenderungan menurunnya partisipasi laki-laki dalam pendidikan. dimana perempuan menjadi lebih tinggi APKnya dibandingkan laki-laki. keadaannya menjadi berbanding terbalik dengan tahun 2008. Susenas 2008 37 . APK menurut Usia Sekolah. ditegah-tengah gencarnya upaya pemberdayaan perempuan dan keseteraan gender.9. Tabel 4.

Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 Sumber data : BPS.dan Jenis Kelamin.Tabel 4. dan menyerap teknologi baru untuk mendukung kehidupannya ke arah yang lebih baik.10. Susenas 2009 4. Selain Tingkat Partisipasi Sekolah (TPS). Semakin tinggi tingkat pendidikan yang 38 . APK menurut Usia Sekolah.3. berinovasi. Pendidikan tertinggi yang ditamatkan penduduk dapat dijadikan sebagai salah satu alat kontrol untuk melihat sejauh mana peningkatan pembangunan bidang pendidikan. Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan Pendidikan yang lebih baik berpengaruh terhadap peningkatan potensi dasar penduduk dalam menerima perubahan-perubahan sosial dan ekonomi.

39 . dan semakin tinggi jenjang pendidikan. secara umum. sehingga partisipasi dan kesempatan laki-laki maupun perempuan untuk memperoleh pendidikan dalam rangka peningkatan kualitas manusia Sulawesi Selatan masih harus ditingkatkan. Persentase perempuan tamat SD masih cukup tinggi dibandingkan laki-laki. persentasenya semakin menurun. untuk D1/2/3 dan sarjana muda. Banyaknya penduduk yang berpendidikan tinggi menunjukkan semakin baik kualitas penduduknya. Tabel tersebut memperlihatkan bahwa masih adanya kesenjangan tingkat pendidikan antara penduduk laki-laki dan perempuan. semakin tinggi jenjang pendidikan. justru laki-laki lebih rendah . Tabel berikut menunjukkan penduduk Sulawesi Selatan yang berumur 10 tahun ke atas menurut pendidikan tertinggi yang ditamatkan.ditamatkan maka kualitas sumberdaya manusia secara umum akan semakin tinggi. Namun disisi lain. persentase perempuan semakin menurun. Meskipun demikian. Salah satu ukuran keberhasilan pembangunan pendidikan dapat dilihat dari kualitas tingkat pendidikan yang ditamatkan.

14 9.89 3.03 32.21 9.28 11.12 17.14 1.74 0.58 2.72 1.73 20.70 25.01 0.09 25.28 10.78 0.66 0.91 13.68 2.42 8.18 27.86 3.48 2.29 3.05 12.28 2.46 3.50 29.28 1.89 1.81 11.96 26.04 0.31 12.21 8.47 0.02 1.88 16.84 1.85 Prp 1.61 0.35 30.35 0.43 2.52 2.82 21.44 Lk 1.55 11.60 4.94 0.65 27.77 1.08 12.91 4.97 1.67 6.75 0.74 0.29 0.49 3.26 1.62 0.70 16.36 3.71 1.48 2.40 3.15 1.19 0.41 16.45 15.45 0.52 21.47 0.66 2.77 3.26 0.39 24.76 4.84 18.04 19.74 11.04 22.47 0.62 0.44 0.85 1.04 1.20 3.54 0.24 15.59 20.08 1.40 27.22 15.68 25.09 4.61 1.46 30.93 2.39 12.95 SD Prp 34.21 0.90 9.35 14.68 20.95 22.42 15.52 0.58 7.25 4.62 12.87 2.89 13.93 12.69 1.92 0.20 10.94 16.89 4.95 13.29 0.84 15.75 11.68 10.91 11.57 1.05 0.94 15.55 11.70 1.43 30.41 0.21 0.86 3.27 4.71 12.45 20.33 20.04 7.56 5.74 4.54 23.91 10.91 9.83 31.21 1.29 0.04 17.51 26.15 0.02 1.70 2.57 1.42 13.39 0.31 32.40 7.46 0.64 25.76 2.25 15.12 27.75 Lk 12.75 2.13 23.38 3.08 11.66 0.20 10.12 4.07 1.88 31.13 28.09 0.29 0.82 18.30 18.12 2.93 0.56 8.60 13.80 9.78 5.11 19.38 16.67 0.24 13.00 15.48 0.69 15.72 1.75 8.29 D III/ Sarmud Lk 0.06 1.53 1.01 4.86 0.52 1. Persentase Penduduk Menurut Jenis Kelamin.53 2.79 1.14 15.38 0.62 31.19 14.53 1.80 2.00 14.16 34.72 1.79 1.84 0.Tabel 4.41 11.82 27.13 0.04 D IV/S 1/S 2/S 3 Lk 4.15 0.62 12.34 1.73 Prp 4.14 32.03 23.42 0.15 13.52 0.93 SMA Kejuruan Lk 1.99 4.72 13.33 23.37 22.57 0.88 0.72 14.92 4.98 21.01 10.86 0.61 27.23 Lk 13.98 3.80 3.43 0.45 21.78 1.38 0.10 0.18 0.74 1.00 3.84 6.31 0.63 36.75 4.66 2.72 1.52 0.26 0.06 1.98 1.61 D I/II Prp 2.56 30.47 1.93 13.73 0.75 0.46 28.68 1.48 3.15 23.21 17.78 0.50 11.90 2.58 0.56 0.96 2.65 0.60 1. Pendidikan yang Ditamatkan dan Kabupaten/Kota Tahun 2008 Kab/Kota Lk 01 Selayar 02 Bulukumba 03 Bantaeng 04 Jeneponto 05 Takalar 06 Gowa 07 Sinjai 08 Maros 09 Pangkep 10 Barru 11 Bone 12 Soppeng 13 Wajo 14 Sidrap 15 Pinrang 16 Enrekang 17 Luwu 18 TanaToraja 22 LuwuUtara 25 LuwuTimur 71 Makassar 72 Parepare 73 Palopo Jumlah 30.85 4.60 Prp 1.57 14.87 14.19 8.12 3.57 4.35 2.87 0.21 1.99 25.69 9. Susenas 2008 40 .78 31.11.59 30.44 6.95 30.76 0.40 10.42 0.36 4.97 17.51 13.79 9.57 0.05 11.55 1.71 13.75 22.33 5.37 5.65 4.80 2.36 0.03 24.46 25.13 17.73 1.20 1.46 14.80 1.11 2.17 0.44 0.59 1.70 10.12 25.75 32.64 2.85 1.76 SMU Prp 8.98 23.09 Sumber data : BPS.47 SLTP Prp 10.92 4.77 9.78 10.97 19.83 1.

33 1.10 17.73 11.08 22.19 12.31 11.70 SMU Lk Prp -6 -6 10.25 17.31 0.70 31.13 2.58 0.49 0.40 0.87 0.98 12.66 2.84 15.49 16.40 2.94 2.08 4.24 1.07 1.02 1.15 2.56 26.02 14.64 15.19 0.12 0.63 9.12 0.98 3.39 12.98 0.51 26.93 0.07 1.62 10.54 13.27 1.18 18.19 3.36 2.05 3.40 2.04 0.96 12.77 2.58 1.93 1.60 8.20 16.22 31.89 8.15 2.80 0.96 2.42 4.21 21.55 10.81 2.11 1.15 14.67 4.69 19.00 0.48 24.72 1.40 18.07 14.47 4.12 12.50 10.87 31.26 3.32 31.31 3.15 0.65 0.03 19.57 0.65 3.02 23.49 0.96 22.71 8.90 2.14 4.59 5.44 2.19 18.68 6.60 19.81 1.90 0.43 12.97 16.57 2.20 7.91 34.99 17.44 0.47 15.31 12.85 0.66 0.77 13.79 15.08 12.70 16.68 2.45 16.81 11.70 10.95 21.57 11.55 0.32 14.47 0.65 15.10 2.03 4.36 4.48 D I/II D III/ Sarmud Lk Prp -9 -9 0.16 4.43 0.40 21.67 0.64 1.27 3.19 0.15 2.87 15.83 4.19 1.43 30.48 2.56 0.76 1.28 30.65 21.53 D IV/S 1/S 2/S 3 Lk Prp -10 -10 3.11 1.21 2.04 0.73 11.93 0.36 1.24 7.63 0.79 16.45 4.13 9.59 0.20 12.60 2.89 0.26 16.84 21.32 29.68 15.97 23.45 1.58 0.85 17.07 6.63 3.19 5.42 0.24 33.64 12.24 24.60 17.38 26.15 2.13 7.54 SMA Kejuruan Lk Prp -7 -7 3.63 2.65 25.07 5.67 17.37 0.66 0.05 7.95 1.49 19.60 1.96 2.26 14.21 30.13 18.21 1.80 1.33 32.84 2.05 2.15 Lk Prp -4 28.25 36.75 1.46 2.55 6.85 1.69 24.75 4.Tabel 2.00 3.79 15.78 1.52 11.47 11.91 29.12 5.74 34.19 26.21 6.53 0.85 33.18 1.86 0.27 1.48 24.82 0.41 2.59 27.85 15.51 2.10 10.10 12.73 3.49 4.72 27.11 2.55 0.22 0.80 2.80 0.31 13.02 0.89 36.54 2.38 4.34 2.4 5 7.37 2.14 10.76 1.10 Sumber data : BPS.84 12.24 20.95 1.40 12.79 4.41 25.47 14.03 10.22 2.97 23.40 0.38 0.53 32.87 3.55 0.60 0.30 3.26 1.58 0.96 0. Pendidikan yang Ditamatkan dan Kab/Kota Tahun 2009 Kab/Kota -1 01 Selayar 02 Bulukumba 03 Bantaeng 04 Jeneponto 05 Takalar 06 Gowa 07 Sinjai 08 Maros 09 Pangkep 10 Barru 11 Bone 12 Soppeng 13 Wajo 14 Sidrap 15 Pinrang 16 Enrekang 17 Luwu 18 TanaToraja 22 LuwuUtara 25 LuwuTimur 71 Makassar 72 Parepare 73 Palopo Jumlah SD -4 SLTP Lk Prp -5 -5 14.74 14.74 1.52 33.10 11.46 28.8.83 0.72 0.70 10.62 6.35 24.64 Lk -8 Prp -8 30.33 18.03 3.23 25.14 28.93 12.57 7.04 31.47 2.07 2.18 1.23 8.02 29.46 0.24 3.83 3.88 0.87 0.76 1.29 14.61 0.24 10.09 16.72 0.30 15.74 3.44 28.24 3.98 0.25 1.25 3.37 21.75 0.78 17.23 1.19 15.35 3.47 1.05 17.43 2.67 4.62 2.89 0.11 27.83 0.39 26.88 2.40 29.41 1.64 0.00 12.81 11. Susenas 2009 41 .48 0.88 3.95 1.72 0.90 3. Persentase Penduduk Menurut Jenis Kelamin.82 10.

Aksesibiltas yang rendah untuk menjangkau sekolah dengan sarana dan prasarana transportasi yang terbatas dan masih sulit dijangkau 42 .Secara umum di Sulawesi Selatan. Persentase penduduk yang berpendidikan rendah masih relatif tinggi. dan anggapan lebih baik bekerja dengan mendapatkan uang. Kemiskinan seringkali menjadi alasan bagi siswa sekolah untuk tidak melanjutkan sekolah. berikut. sementara masyarakat miskin dan rumah tangga miskin tidak memiliki penghasilan yang cukup untuk biaya pendidikan. semakin besar biaya yang diperlukan. Tentunya diharapkan kedepan penduduk Sulawesi Selatan dapat lebih ditingkatkan lagi pendidikan yang ditamatkannya yang akan berpengaruh pada kondisi sosial ekonomi masyarakat akan semakin baik. 4. penduduk yang menamatkan pada jenjang pendidikan SLTA sebesar 28 %. Persentase tertinggi adalah penduduk yang menamatkan pendidikan SD yaitu 46 %.4. Kondisi geografis juga berpengaruh terhadap tingginya angka putus sekolah. karena mereka diharapkan membantu mencari nafkah untuk keluarganya. selanjutnya penduduk yang menamatkan pendidikan SLTP/MTs/Paket B sebesar 23 %. Di Sulawesi Selatan masih cukup banyak dijumpai anak putus sekolah. Putus Sekolah Partisipasi Sekolah dapat dikaitkan dengan keadaan putus sekolah. sebagaimana digambarkan dalam Tabel 2. Hal ini terlihat dari persentase penduduk yang menamatkan pendidikan pada tingkat sekolah dasar masih lebih tinggi dibanding pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.4. disamping anggapan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan.

Angka putus sekolah menurut kelas dan jenjang sekolah. Susenas 2008 43 . merupakan salah satu alasan bagi siswa untuk tidak melanjutkan sekolah.11. tampak mulai terjadi sejak SD. Tabel 4. dan menunjukkan persentase yang meningkat seiring dengan jenjang sekolah. Persentase Penduduk Berdasarkan Status Putus Sekolah Menurut Jenis Kelamin. Hal ini mengindikasikan masih adanya hambatan bagi anak untuk bertahan belajar di sekolah sejak memasuki sekolah dasar. meskipun guru telah memberikan dorongan dan motivasi kepada siswa agar tidak putus sekolah.oleh masyarakat di pelosok pedesaan dan wilayah kepulauan. Usia dan Kabupaten/KotaTahun 2008 Sumber data : BPS.

61 44.93 3.33 12.47 58.60 1.12 45.31 40.18 50.74 Tidak bersekolah lagi Jenis Kelamin 19-24 85.74 91.91 15.28 20.49 94.78 89.72 5.67 12.22 91.76 2.32 92.91 88.83 54.28 4.24 3.24 79.57 1.34 17.80 1.96 83.45 26.27 86.81 2.38 0.11 60.61 49.43 27.07 22.70 3.31 5.33 1.92 42.71 9.15 46. Persentase Penduduk Berdasarkan Status Putus Sekolah Menurut Jenis Kelamin.30 47.25 14.53 7.01 0.84 49.80 81.65 8.23 90.32 0.76 93.81 2.41 60.56 3.82 0.88 2.82 11.10 10.22 3.30 78.12 58.83 84.19 52.38 32.12 3.65 2.81 90.88 39.44 83.66 53.63 1.55 15.01 11.93 86.12.88 35.99 3.61 38.04 33.61 44 .49 83.06 46.45 20.51 63.25 1.00 51.39 14.20 16.79 88.61 79.41 3.32 8.28 52.50 19.34 89.42 86.74 2.56 0.78 Sumber data : BPS.96 1.47 32.77 33.79 22.02 84.29 2.56 2.12 6.72 54.39 87.82 77.90 58.22 91.39 19-24 93.84 3.57 3.86 12.27 37.33 21.64 86.93 33.81 4.97 7-12 1.72 54.05 9.26 66.94 2.15 55.45 1.20 2.31 40.29 40.15 2.85 37.79 37.45 13.26 59.37 88.23 92.64 16.08 35.74 Laki-laki 13-15 16-18 15.21 91.51 0.75 12. Susenas 2009 18.53 31.76 23.45 3.68 1.30 49.78 30.Tabel 4.84 25.88 24.73 28.48 94.27 45.22 95.93 20.92 0.22 82.11 1.10 20.68 61.70 87.50 85.48 4.48 59.02 3.86 Perempuan 13-15 16-18 5.18 28.97 64.19 80. Usia dan Kabupaten/KotaTahun 2009 Kabupaten/ Kota 7-12 01 Selayar 02 Bulukumba 03 Bantaeng 04 Jeneponto 05 Takalar 06 Gowa 07 Sinjai 08 Maros 09 Pangkep 10 Barru 11 Bone 12 Soppeng 13 Wajo 14 Sidrap 15 Pinrang 16 Enrekang 17 Luwu 18 TanaToraja 22 LuwuUtara 25 LuwuTimur 71 Makassar 72 Parepare 73 Palopo Jumlah 3.75 32.16 76.51 89.22 5.39 37.85 12.37 32.13 17.22 44.94 7.05 81.75 15.48 46.17 89.66 91.43 95.97 91.39 29.59 2.08 68.

membantu orangtua mencari nafkah. angka putus sekolah di Sulawesi Selatan menunjukkan persentase laki-laki lebih besar daripada perempuan. sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi. dan informal. dan juga disebabkan oleh factor internal siswa laki-laki. Tabel tersebut juga menunjukkan bahwa keadaan putus sekolah pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi cenderung semakin meningkat persentasenya. yang diselenggarakan pada jalur formal.11 dan 4. daya cipta.5.Berdasar table 4. Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar). Banyaknya laki-laki yang putus sekolah dimungkinkan karena beberapa hal meliputi pergi merantau mencari pekerjaan di daerah lain. sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini. 4. di semua jenjang usia pendidikan. 45 . nonformal. kecerdasan (daya pikir. kecerdasan emosi.12. Pendidikan Anak Usia Dini Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. kecerdasan spiritual).

Sementara menurut kajian rumpun keilmuan PAUD dan penyelenggaraannya di beberapa negara. Rentangan anak usia dini menurut Pasal 28 UU Sisdiknas No. • Tujuan penyerta: untuk membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah.13 Jumlah Siswa PAUD di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 46 .Ada dua tujuan diselenggarakannya pendidikan anak usia dini yaitu: • Tujuan utama: untuk membentuk anak Indonesia yang berkualitas. yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan di masa dewasa. Gambaran PAUD di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel 4.8 berikut: Tabel 4. PAUD dilaksanakan sejak usia 0-8 tahun.20/2003 ayat 1 adalah 0-6 tahun.

273 orang (47.11 %) dan kelompok umur 49 – 72 bulan sebanyak 201. nampak bahwa jumlah murid yang mengikuti PAUD sebanyak 433.787 orang yang terdiri dari laki-laki 48.Berdasarkan Tabel 4.61 %)dan perempuan 111. Selanjutnya pada kelompok umur 24 – 48 bulan.874 orang (44.474 yang terdiri dari laki-laki 10.65 %) dan 47 .252 murid (50.93 %) sedangkan kabupaten yang memiliki jumlah murid PAUD yang paling sedikit pada kelompok umur tersebut adalah di Kabupaten Wajo dengan jumlah 35 murid yaitu laki-laki 14 murid (40.575 orang (55.420 murid (49.00 %) dan perempuan 21 murid (60.775 orang (52.222 murid (49. Jika perbandingan murid PAUD dianalisis menurut kabupaten.284 orang yang terdiri dari umur 0 – 4 bulan sebanyak 101.07 %) dan perempuan 10. maka dapat dilihat bahwa pada kelompok umur 0 – 4 bulan jumlah murid PAUD yang paling banyak adalah di Kabupaten Luwu Utara yaitu sebanyak 20.88%) dan perempuan 67.520 orang (47.048 orang yang terdiri dari laki-laki 62.67%) dan perempuan 53.449 orang yang terdiri dari laki-laki 89.87 %) dan perempuan sebanyak 9.33%).13 %) sedangkan kabupaten yang memiliki jumlah murid PAUD yang paling sedikit pada kelompok umur ini sama pada kelompok umur 0 -4 bulan yaitu Kabupaten Wajo yaitu hanya berjumlah 543 murid yang terdiri dari laki-laki 237 murid (43. Jika dilihat secara cermat nampak bahwa jumlah murid PAUD perempuan pada setiap kelompok umur lebih banyak dibanding laki-laki.267 orang ((52.470 murid (50.00 %).13 diatas yang bersumber dari Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2010. kabupaten yang memiliki jumlah murid PAUD yang lebih banyak dibanding kabupaten lainnya yaitu Kabupaten Pinrang yaitu sebanyak 18.890 murid yang terdiri dari laki-laki 9.38 %). selanjutnya umur 24 – 48 bulan sebanyak 130.

80 %) dan perempuan 590 murid (53.35 %).129 murid (59. 48 .86 %) sedangkan kabupaten yang memiliki jumlah murid PAUD yang paling sedikit pada kelompok umur tersebut adalah di Kabupaten Gowa yaitu 1.109 murid yang terdiri dari laki-laki sebanyak 519 murid (46.perempuan 306 murid (56.20 %). Secara umum kabupaten/kota yang memiliki partisipasi yang paling tinggi dalam melaksanakan PAUD adalah Kabupaten Pinrang dengan jumlah murid PAUD sebanyak 54.814 murid (40. Sementara pada kelompok umur 49 – 72 bulan yang memiliki jumlah murid PAUD yang lebih banyak dibanding kabupaten lainnya yaitu Kota Makassar sebanyak 26.943 murid yang terdiri dari laki-laki sebanyak 10.803 murid.14 %) dan perempuan 16.

BAB V. Angka Kematian Bayi (AKB). Adapun rincian permasalahan yang akan dilihat adalah angka kematian bayi (AKB). AKABA. Angka kematian bayi menunjukkan banyaknya kematian bayi per seribu kelahiran hidup.1. hal tersebut ditandai dengan menurunnya angka kematian bayi (AKB). AKI. Pada Bab ini akan dicoba dilihat atau diungkap kemungkinan adanya kesenjangan antara laki-laki dan perempuan di bidang kesehatan. Di samping itu kejadian kematian juga dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan lainnya. Menurut hasil Surkesnas/Susenas. Partisipasi dalam ber KB. Penolong Persalinan. Secara umum kejadian kematian pada manusia berhubungan erat dengan permasalahan kesehatan sebagai akibat dari gangguan penyakit atau akibat dari proses interaksi berbagai faktor yang secara sendiri-sendiri atau bersama-sama mengakibatkan kematian dalam masyarakat. AKB di Indonesia 49 . 5. dan gerakan sayang ibu. Derajat kesehatan masyarakat di Sulawesi Selatan semakin meningkat.1. cakupan imunisasi dan status gizi balita. Kesehatan Reproduksi. Angka kematian pada umumnya dapat dihitung dengan melakukan berbagai survey dan penelitian. Peristiwa kematian pada dasarnya merupakan proses akumulasi akhir dari berbagai penyebab kematian langsung maupun tidak langsung. KESEHATAN Gambaran perkembangan derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari kejadian kematian dalam masyarakat dari waktu ke waktu.

Sedangkan AKB menurut hasil SDKI 2002-2003 terjadi penurunan yang cukup besar.000 kelahiran hidup. yaitu menjadi 35 per 1.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup. angka ini berada jauh dari yang diproyeksikan oleh Depkes RI yakni sebesar 26.000 kelahiran hidup pada tahun 1971 menjadi 55 pada tahun 1996. 50 . Di Sulawesi Selatan.000 kelahiran hidup sementara hasil SDKI 2007 hasilnya menurun lagi menjadi 34 per 1. Ini berarti rata-rata penurunan AKB selama kurun waktu 1998-2003 sekitar 4 poin.pada tahun 2001 sebesar 50 per 1.000 kelahiran hidup sedangkan hasil Susenas 2006 menunjukkan AKB di Sulsel pada tahun 2005 sebesar 36 per 1. AKB Sulawesi Selatan menunjukkan penurunan yang sangat tajam seperti Tabel 5. sementara itu data proyeksi yang dikeluarkan oleh Depkes RI bahwa AKB di Sulsel pada tahun 2007 sebesar 27. dan hasil SDKI 2007 menunjukkan angka 41 per 1.000 kelahiran hidup. yaitu dari 161 per 1.000 kelahiran hidup. lalu turun lagi menjadi 52 pada tahun 1998 kemudian pada tahun 2003 menjadi 48 (Susenas 2003). menurut hasil Surkesnas/Susenas 2002-2003. Angka Kematian Bayi menunjukkan penurunan yang sangat tajam.89 per 1. Selama tiga puluh tahun terakhir.52 per kelahiran hidup. Fluktuasi ini bisa terjadi oleh karena perbedaan besar sampel yang diteliti. Namun. AKB di Sulawesi Selatan sebesar 47 per 1. pada tahun 2002 sebesar 45 per 1.1.000 kelahiran hidup.

61 per 1.000 kelahiran hidup. atau 4. Penurunan angka kematian bayi merupakan indikasi terjadinya peningkatan derajat kesehatan masyarakat sebagai salah satu wujud keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan dan semakin meningkatnya pendidikan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan.8 Sumber : Susenas dan SDKI.000 kelahiran hidup.31 per 1. Tahun 2008 ini jumlah kematian bayi turun menjadi 638 atau 4. mengalami peningkatan pada tahun 2007 menjadi 709 kematian bayi atau 4.000 kelahiran hidup. Hal tersebut merupakan respon positif dari upaya pemerintah untuk mendekatkan fasilitas kesehatan pada masyarakat. Tanda *) adalah AKB menurut laporan Dinkes Sulawesi Selatan Sementara laporan dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota bahwa jumlah kematian bayi pada tahun 2006 sebanyak 566 bayi. jumlah kematian bayi turun menjadi 495 atau 3.6 69. Adapun nilai normatif AKB yang kurang dari 40 sangat sulit diupayakan penurunannya (hard rock).000 kelahiran hidup.1. Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Harapan Hidup (AHH) Di Sulawesi Selatan Tahun 1971-2009 Tahun AKB AHH (1) (2) (3) 1971 1996 1998 2000 2001 2003 2004 2005 2007 2008 2009 161 55 52 48 47 48 44 36 41 4.32 per 1.Tabel 5. sementara tahun 2009.39*) 3. 51 .4 69.31*) 63 64 68 68 68 69 69 69.39 per 1.

8 (Tabel 5. Sejalan dengan menurunnya AKB. Sejak tahun 2000 hingga tahun 2003 AHH relatif stabil pada usia 68 tahun.8 persen. Tersedianya berbagai fasilitas atau faktor aksesibilitas dan pelayanan kesehatan dari tenaga medis yang terampil. sedangkan dari tahun 2004 – 2005 AHH mencapai angka 69 dan pada tahun 2009. Tabel 5.4 persen dan 23. AHH nya mencapai 69. dan lebih besar dari 70 tergolong mudah untuk diturunkan. Ada banyak faktor yang mempengaruhi tingkat AKB tetapi tidak mudah untuk menentukan faktor yang paling dominan dan faktor yang kurang dominan.2 menunjukkan bahwa penyakit Diarre dan Pneumonia adalah penyebab utama terjadinya kematian pada bayi yaitu masing-masing 31. serta kesediaan masyarakat untuk merubah kehidupan tradisional ke norma kehidupan modern dalam bidang kesehatan merupakan faktor-faktor yang sangat berpengaruh terhadap tingkat AKB.1). Rata-rata usia harapan hidup penduduk Sulawesi Selatan terus meningkat dari 63 pada tahun 1996 menjadi 64 pada tahun 1998. 52 .antara 40-70 tergolong sedang. Angka Harapan Hidup (AHH) juga diharapkan terjadi peningkatan. Menurunnya AKB dalam beberapa waktu terakhir memberi gambaran adanya peningkatan dalam kualitas hidup dan pelayanan kesehatan masyarakat. namun sulit untuk diturunkan.

4 23. Proporsi Penyebab Kematian Bayi No.3 6.Tabel 5. 2. penyakit menular dan kecelakaan. dinyatakan sebagai angka per 1. 5.8 9. Campak Sumber Riskesdas 2007 5. Penyebab Kematian % 31.000 kelahiran hidup.9 2. sehingga kerap dipakai untuk mengidentifikasi kesulitan ekonomi penduduk.2. sanitasi.2 Angka Kematian Balita (AKABA). Indikator ini menggambarkan tingkat kesejahteraan sosial. Tetanus 8.3 1. AKABA menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan anak dan faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan anak Balita seperti gizi. TB 10.1 2. Angka Kematian Balita (AKABA) adalah jumlah anak yang dilahirkan pada tahun tertentu dan meninggal sebelum mencapai usia 5 tahun.2.8 4.1.2 1. 1. Malnutrisi 9. dalam arti besar dan tingkat kemiskinan penduduk. 53 . Sepsis 7. Diare Pneumonia Meningitis/ensefalitis Kelainan Saluran Pencernaan Kelainan jantung Kogenital & Hydrocephalus 6.4 5. 4. 3.

antara 71-140 sedang dan kurang dari 71 rendah.55 44.000 kelahiran hidup. Namun. pada tahun yang sama berada dibawah rata-rata nasional yakni sebesar 42.16 per 1.000 kelahiran hidup.Tabel 5. hasil SDKI 54 . Dilaporkan dari Dinkes Kab. tahun 1995-2008 Tahun 1 1995 1997 1998 1999 2000 2001 2003 2004 2005 2006 2007 2008 AKABA per 1000 KH Nasional Propinsi 2 3 75 19.000 kelahiran hidup. Sumber : Data Sekunder diolah serta Profil Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan Catatan: Adapun nilai normatif AKABA yakni lebih besar dari 140 tergolong sangat tinggi. Menurut hasil SUSENAS 2001 AKABA diperkirakan sebesar 64 per 1. Pada tahun 1986 AKABA diperkirakan sebesar 111 per 1.1 64.3.33 1. Angka Kematian Balita di Indonesia (menurut estimasi SUPAS 1995) dalam beberapa tahun terakhir (kecuali tahun 2001) terlihat mengalami penurunan yang cukup bermakna. Angka Kematian Anak Balita (1-4 th) di Sulawesi Selatan dan Indonesia.4 17. kemudian turun menjadi 81 pada tahun 1993 dan turun lagi menjadi 44.28 59.93 Sumber 4 Estimasi SUPAS 1995 SDKI 1997 Estimasi SUPAS 1995 Estimasi SUPAS 1995 Estimasi SUPAS 1995 Estimasi SUSENAS Estimasi SUSENAS Estimasi SUSENAS Estimasi SUSENAS Dilaporkan dari Dinkes Kab.7 42.7 pada tahun 2000 sementara untuk Sulawesi Selatan.16 64 46 72 51 46 1.13 44 53 1. SDKI 2007 Dilaporkan dari Dinkes Kab.

Sedangkan pada tahun 2007 jumlah kematian balita dilaporkan sebanyak 105 balita atau 1.57% tahun 2007 dari kelahiran hidup). Hal ini karena rancangan sampel diperuntukkan untuk menggambarkan angka kematian bayi dan balita tingkat nasional.83% pada tahun 2006 dan 1.81% pada tahun 2006 dan mengalami penurunan pada tahun 2007 55 . cakupan kunjungan bayi (82.000 kelahiran hidup. Sementara itu.000 kelahiran hidup menurut SDKI 2007. dari hasil penelitian mendalam terhadap semua kasus kematian AKABA yang ditemukan dalam RISKESDAS diperoleh gambaran besarnya proporsi sebab utama kematian Balita dapat dilihat pada tabel 5. menunjukkan bahwa pola penyakit penyebab kematian balita menurut Hasil Riskesdas tahun 2007 masih didominasi oleh penyakit infeksi. antara lain persentase BBLR (0.2002-2003 menunjukkan bahwa AKABA di Sulawesi Selatan mencapai 72 per 1. Angka kematian Bayi dan Balita untuk tingkat kecamatan.93 per 1000 kelahiran hidup. maka untuk menggambarkan angka kematian bayi dan balita di Sulawesi Selatan dapat digambarkan dengan indikator program yang dilaksanakan dalam upaya menurunkan angka kematian bayi dan balita. Pada tahun 2008 jumlah kematian balita dilaporkan mengalami peningkatan menjadi 283 balita atau 1. Sehubungan dengan hal tersebut.4.33 per 1.000 kelahiran hidup.13 per 1. kabupaten maupun provinsi tidak tepat jika diperoleh dari survey yang berskala nasional. Jumlah kematian balita yang dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Kab/Kota di Sulsel pada tahun 2006 sebanyak 148 balita atau 1.000 kelahiran hidup dan menurun menjadi 53 per 1..

8 4.9 2. Meningitis/ensefalitis 3.9 5.4. Kelainan jantung Kogenital & Hydrocephalus 5. Sepsis 6. Malnutrisi 8. kondisi kesehatan lingkungan. Diare 1.39 %. cakupan pemberian ASI eksklusif meningkat menjadi 77.8 5.9 3. Pneumonia 2.2 15. status gizi dan kesehatan ibu. Campak 10. Sumber : Riskesdas 2007 % 25. tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil. Tetanus 7.1. Untuk mengantisipasi masalah ini maka diperlukan terobosan56 . Tabel 5. cakupan kunjungan bayi menurun 71. Untuk data tahun 2008 persentase BBLR 1. Angka Kematian Ibu (AKI) AKI adalah banyaknya wanita yang meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya selama kehamilan. TB 9.8 6. Angka Kematian Ibu (AKI) berguna untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat.5 10. Kelainan Saluran Pencernaan 4.menjadi 75.000 kelahiran hidup.38 % dari kelahiran hidup.9 2. pelayanan kesehatan waktu ibu melahirkan dan masa nifas. Proporsi Penyebab Kematian Balita di Indonesia Hasil Riskesdas Tahun 2007 Penyebab Kematian No.18 %. cakupan pemberian ASI ekslusif (57. melahirkan dan dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan) per 100.05% pada tahun 2007) dan lainlain.2.48% pada tahun 2006 dan 57.7 8.20% dari jumlah kelahiran hidup).

Tabel 5.2007 Untuk melihat kecenderungan AKI di Indonesia secara konsisten. Pada SKRT 2001 tidak dilakukan 57 .5. AKI menurun dari 450 per 100. Menurut SKRT.000 kelahiran hidup pada tahun 1986 menjadi 425 per 100.terobosan dengan mengurangi peran dukun dan meningkatkan peran Bidan.000 kelahiran hidup pada tahun 1992. Publikasi Hasil SKRT 1995 & SDKI 2003. Angka Kematian Ibu (AKI) diperoleh melalui berbagai survey yang dilakukan secara khusus seperti survey di rumah sakit dan beberapa survey di masyarakat dengan cakupan wilayah yang terbatas.000 Kelahiran Hidup di Indonesia. Harapan kita agar Bidan di desa benar-benar sebagai ujung tombak dalam upaya penurunan AKB (IMR) dan AKI (MMR). tahun 1982-2007 Penelitian/Survei Tahun AKI 1 2 3 SDKI 1982 450 SKRT 1986 450 SKRT 1992 425 SKRT 1994 390 SKRT 1995 373 SDKI 1997 334 SDKI 2002-2003 307 SDKI 2007 248 Sumber: Badan Litbangkes.000 kelahiran hidup pada tahun 1995. Angka Kematian Ibu Maternal per 100. maka cakupan wilayah penelitian AKI menjadi lebih luas dibanding survey-survey sebelumnya. Dengan dilaksanakannya Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) dan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI). digunakan data hasil SKRT. kemudian menurun lagi menjadi 373 per 100.

Hal ini menunjukkan AKI cenderung terus menurun. Gambar 5.89 per 100.000 kelahiran hidup.1.67 per 100. Untuk tahun 2008 jumlah kematian ibu maternal mengalami penurunan menjadi 121 orang atau 82. yaitu sebesar 125 per 100. AKI sebesar 307 per 100. Tetapi bila dibandingkan dengan target yang ingin dicapai secara nasional pada tahun 2010.000 kelahiran hidup (SDKI 2007).000 kelahiran hidup diperoleh dari hasil SDKI.000 kelahiran hidup. Angka Kematian Ibu (AKI) di Sulawesi Selatan Tahun 2006.56 per 100. Jumlah kematian ibu maternal yang dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota di Sulawesi Selatan pada tahun 2006 sebanyak 133 orang atau 101. sedangkan pada tahun 2007 sebanyak 143 kematian atau 92. Pada tahun 2002-2003.2007 dan 2008 Sumber : Profil Kesehatan Kab/ Kota tahun 2006-2008 58 .000 kelahiran hidup.survey mengenai AKI. kemudian menjadi 248 per 100.000 kelahiran hidup. maka apabila penurunannya masih seperti tahun-tahun sebelumnya. diperkirakan target tersebut akan sulit tercapai.

atau jarak waktu kelahiran terakhir kurang dari dua tahun akan semakin memperbesar resiko persalinan. Posyandu. Kesadaran masyarakat untuk berperan aktif dalam mengendalikan banyaknya kelahiran belum terlihat nyata. misalnya melalui Puskesmas. Persentase wanita yang 59 . lebih dari 35 tahun. Hal ini berarti pula bahwa penundaan perkawinan mengakibatkan berkurangnya peluang wanita untuk melahirkan anak lebih banyak. Disamping itu juga pengetahuan para ibu rumahtangga tentang kesehatan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan keluarga. Perkawinan yang dilakukan pada usia matang (di atas 20 tahun) bagi perempuan akan membantu mereka menjadi lebih siap untuk menjadi ibu dan mengurangi resiko persalinan.5. Dengan demikian diharapkan akan lahir generasi baru yang lebih handal dan berkualitas untuk kelanjutan pembangunan di masa yang akan datang.2. karena semakin tinggi umur perkawinan. Usia perkawinan pertama merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap tingkat fertilitas. Kesempatan untuk memperoleh pengetahuan tersebut telah tersedia di berbagai tempat-tempat pemukiman penduduk. Sementara jumlah kelahiran yang terbatas (cukup dua saja) membuat perhatian ibu terhadap anakanaknya semakin besar.2. pernah hamil empat kali/lebih. khususnya wanita menyebabkan masa reproduksinya lebih pendek. Kesehatan Reproduksi Persalinan yang dilakukan pada ibu usia kurang dari 20 tahun. Polindes dan saranasarana kesehatan lainnya. Himbauan untuk menunda usia perkawinan pertama dan membatasi jumlah kelahiran merupakan usaha nyata dalam merealisasikan tujuan tersebut.

mengingat usia <16 tahun masih tergolong usia anak (berdasarkan batasan usia anak dalam UU Perlindungan Anak). sehingga upayaupaya perlindungan anak masih harus terus ditingkatkan.26 persen.14 60 . dan pada tahun 2009 persentase ini turun menjadi 21.66 persen.73 40.2008 dan 2009 Umur Perkawinaan Pertama (tahun) (1) ≤ 16 17 . persentase ini masih cukup tinggi apalagi jika diakumulasikan dengan perempuan yang menikah pada usia 17-18 tahun.43 40. menjadi 23.66 22. Hal ini perlu menjadi perhatian tersendiri karena akan mempengaruhi ketahanan rumah tangga. Kondisi ini cukup menggembirakan. Namun demikian.melangsungkan perkawinan pada usia muda (< 16 tahun) dari tahun 2007 – 2009 memperlihatkan persentase yang semakin meningkat.00 15.18 19 .26 23. Pada tahun 2007 proporsi wanita yang usia perkawinan pertamanya di bawah 16 tahun sekitar 22.63 2008 (3) 23. 2008 dan 2009 Tahun 2007 (2) 22.24 25+ Sumber : Susenas 2007.6.76 15.12 2009 (4) 21.16 persen pada tahun 2008.16 21. Tabel 5.22 40.. maka cenderung terjadi perceraian yang pada akhirnya akan bermuara pada kemiskinan warisan bagi anak keturunannya. dimana ketika perempuan belum siap secara mental dan psikis. Persentase Wanita Pernah Kawin Menurut Umur Perkawinan Pertama Sulawesi Selatan Tahun 2007.85 14.

73 persen pada tahun 2008. Untuk wanita yang menikah pada usia 25 tahun ke atas persentasenya memperlihatkan tren meningkat.75 persen. dan pada tahun 2009 naik menjadi 40.63 persen.Persentase penduduk yang menikah pada umur 17-18 tahun cenderung fluktuatif.43 persen.14 persen 5. dan mengalami kenaikan pada tahun 2008 menjadi sekitar 15.85 persen. Hal ini bisa ditempuh antara lain dengan cara pemakaian alat/cara kontrasepsi KB. 61 . partisipasi masyarakat dalam membantu pemerintah menangani masalah kependudukan adalah berupa kesadaran masyarakat untuk mensukseskan program Keluarga Berencana.22 persen. Persentase penduduk yang menikah pada umur 19 – 24 tahun relatif stabil.3. menjadi 40. Partisipasi Dalam ber KB.12 persen. Pada tahun 2007 persentasenya adalah 14. Pada tahun 2009 persentase wanita yang menikah pada usia 25 tahun ke atas menjadi meningkat menjadi 15. turun menjadi 21. dan pada tahun 2009 naik lagi menjadi 22.2.00 persen pada tahun 2008. Salah satu tujuan program ini adalah untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak serta mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera melalui pembatasan dan pengaturan jarak kelahiran. Selain melalui penundaan usia perkawinan pertama. Pada tahun 2007 persentasenya sekitar 23. Pada tahun 2007 persentasenya adalah sekitar 40.

62 .25 Jenis Kontrasepsi Sumber : Susenas 2004. Persentase Akseptor KB Menurut Kontrasepsi yang Sedang Digunakan Tahun 2004.81 3.05 33.7.21 31. bisa dilakukan pada saat yang dikehendaki oleh akseptor. yaitu mencapai sekitar 51. meningkat menjadi 54.73 2005 (3) 1.52 57.40 3. mudah pemakaiannya (tidak membuat akseptor malu/risih pada saat pemasangan seperti misalnya IUD) dan efek sampingnya juga tidak terlalu besar.44 2009 (5) 1.54 5. 2005. 2006 dan 2009 Tahun 2004 (1) MOW/MOP AKDR/IUD Suntikan KB Susuk KB Pil KB Lainnya (2) 1.62 3.59 51.Tabel 5. Tingginya persentase penggunaan alat kontrasepsi Suntikan KB disebabkan alat ini relatif praktis.85 2006 (4) 1.70 29.39 35.73 2.74 persen pada tahun 2005. Kelebihan lain dari alat kontrasepsi ini adalah jika akseptor ingin berhenti.86 persen dan pada tahun 2009 menjadi 57.24 2.71 persen.. Alat/cara ini relatif lebih aman bagi kebanyakan wanita dan relatif lebih murah dan gampang didapatkan.86 4.71 4. cenderung lebih memilih jenis alat kontrasepsi ini. 2005. sehingga untuk wanita-wanita yang sibuk.88 54.54 persen pada tahun 2004.74 4. 2006 dan 2009 Jika dirinci menurut jenis alat/cara KB yang dipakai tampak bahwa akseptor yang menggunakan suntikan KB menempati urutan tertinggi. pada tahun 2006 menjadi 57.95 2.53 2.12 2.10 57.

Meningkatnya

akseptor

KB

yang

menggunakan

metode

kontrasepsi berupa suntikan, diikuti oleh semakin berkurangnya akseptor KB yang menggunakan metode kontrasepsi pil. Hal ini menunjukkan telah terjadi pergeseran pemakaian alat kontrasepsi dari pil KB ke Suntikan KB, kondisi ini kemungkinan disebabkan karena kesibukan para wanita, sehingga lebih memilih suntikan KB yang resiko terjadinya kelainan kecil dibanding dengan pil KB. Sementara itu sisanya menggunakan alat kontrasepsi jenis lain, seperti MOW/MOP, AKDR/IUD, susuk KB, kondom dan metode tradisional. 5.3.1. Penolong Persalinan Penolong persalinan sangat berpengaruh terhadap keselamatan dan kesehatan bayi dan ibu pada saat proses persalinan. Penolong persalinan yang berkualitas tentunya lebih memungkinkan terwujudnya keselamatan/kesehatan bayi dan ibu pada saat persalinan. Tenaga medis sebagai penolong persalinan tentunya lebih baik dibanding tenaga non medis. Bahkan pada periode tahun 2005-2009, penolong persalinan oleh dokter terjadi peningkatan yang cukup signifikan yaitu dari sekitar 8,5 persen pada tahun 2005 dan 8,88 persen pada tahun 2006 meningkat menjadi 11,32 persen pada tahun 2009. Penolong persalinan oleh tenaga medis (dokter dan bidan) di Sulawesi Selatan lebih dari 60 persen, sementara yang ditolong oleh tenaga nonmedis hanya sekitar 30 persen saja. Namun demikian, persentase tersebut cenderung berfluktuasi dari tahun ke tahun. Pada tahun 2005 persentase kelahiran yang ditangani oleh tenaga medis terdapat sekitar 63,73 persen

63

dan pada tahun 2006 turun menjadi sekitar 62,93 persen dan 62,51 persen pada tahun 2009 (Tabel 5.8). Tabel 5.8. Persentase Balita Menurut Penolong Kelahiran Tahun 2005, 2006 dan 2009 Penolong Kelahiran (1) 2005 (2)
8,50 54,37 0,86 36,27 31,21 4,61

Medis : Dokter Bidan

63,73

62,93 8,88 53,05 1,00 37,07 33,39 3,44 0,24

2006 (3)

62,51 11,32 50,83 0,36 37,49 28,48 8,74 0,27

2009 (4)

Lainnya Non.Medis: Dukun Famili

Lainnya 0,45 Sumber: BPS, Susenas 2005, 2006 dan 2009

Terjadinya fluktuasi tersebut, karena penolong persalinan oleh tenaga dukun masih cukup tinggi walaupun cenderung menurun, sehingga perlu pemantauan pengetahuan akan pentingnya kesehatan bagi dukun. Hal ini karena dikhawatirkan terjadinya resiko terhadap keselamatan dan kesehatan ibu dan bayi baik pada saat melahirkan maupun pada pasca kelahiran. Keberadaan Bidan di desa (bidides), diharapkan menjadi penolong persalinan dan mentrasfer pengetahuan tentang kesehatan kepada tenaga dukun. Sehingga kualitas kesehatan anak sejak lahir semakin membaik yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia Sulawesi Selatan khususnya dan Indonesia umumnya dimasa yang akan datang.

64

5.3.2. Lama Pemberian ASI Selama ini pemerintah senantiasa mengaktualisasikan dan mensosialisasikan peningkatan penggunaan air susu ibu (ASI) bagi balita. Hal ini karena dalam pertumbuhan dan perkembangan balita sangat memerlukan air susu ibu (ASI). ASI merupakan zat makanan yang paling ideal untuk pertumbuhan bayi sebab selain bergizi juga mengandung zat pembentuk kekebalan tubuh. Pemberian ASI kepada bayi akan memenuhi kebutuhan gizi dan memberikan kekebalan terhadap beberapa penyakit. Di Sulawesi Selatan, pada periode 2005-2009, paling banyak balita diberi ASI selama 12 sampai 17 bulan yaitu sekitar 32,24 persen walaupun cenderung menurun menjadi 29 persen pada tahun 2009, lalu 24 bulan atau lebih sekitar 24,20 persen dan 18 - 23 bulan sekitar 15,15 persen. Data yang disajikan pada Tabel 5.9 memperlihatkan bahwa ternyata masih ada sekitar 1,35 persen balita yang disusui kurang dari satu bulan dan cenderung meningkat menjadi 4,24 persen. Persentase ini mengalami peningkatan dibanding tahun 2005 dan 2006 yaitu sekitar 0,83 poin dan 2,89 poin. Secara umum, ada kecenderungan seorang ibu memberikan ASI kepada Balitanya sekitar 1 hingga 2 tahun. Persentase balita yang disusui selama dua belas sampai tujuh belas bulan pada tahun 2006 relatif sama jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu dari 32,16 persen pada tahun 2005 menjadi 32,24 persen pada tahun 2006 tetapi menurun lagi menjadi 29,0 persen. Disamping itu, untuk balita yang disusui 6 - 11 bulan mengalami penurunan. Ini berarti, di satu pihak, kesadaran ibu akan arti pentingnya ASI bagi bayi semakin meningkat tetapi seiring dengan meningkatnya peran perempuan dalam kegiatan ekonomi sehingga

65

kecenderungan balita yang disusui 0 bulan cenderung meningkat. Padahal, pemberian ASI kepada bayi juga lebih efisien jika dilihat dari segi ekonomi, sebab ASI jauh lebih murah jika dibandingkan dengan susu formula. Mungkin hal itu menjadi salah satu pertimbangan bagi ibu untuk tetap memberikan ASI kepada bayinya. Tabel 5.9 Persentase Balita Menurut Lamanya Disusui (Bulan) Tahun 2005, 2006 dan 2009 Lama Disusui (Bulan) (1) 0 1-5 6-11 12-17 18-23 24+

2005 (2) 0,52 12,20 18,98 32,16 15,68 20,46

2006 (3) 1,35 8,42 14,26 32,24 17,52 26,20

2009 (3) 4,24 12,11 15,27 29,00 15,15 24,23

Sumber: BPS, Susenas 2005, 2006 dan 2009 5.3.3. Imunisasi Sebenarnya jenis imunisasi cukup beragam baik yang diberikan pada anak-anak maupun pada orang dewasa, tetapi yang jadi focus bahasan disini adalah imunisasi untuk anak balita (bawah 5 Tahun). Sejak tahun 1982, untuk mencegah penyakit yang biasa menyerang anak-anak yang diduga akan mengakibatkan kematian pada bayi, pemerintah

66

2 85.10).8 2009 (4) 95.2 91.5 94.3 92.0 91.3 88. 2007-2009 Daerah/Jenis Kelamin (1) Perkotaan Perempuan Laki-laki Pedesaan Perempuan Laki-laki Total Perempuan Laki-laki 2007 (2) 94.0 94. Oleh karena itu tidak terlihat adanya perbedaan yang 67 .9 90. Sulawesi Selatan.7 85. pemberian imunisasi balita tidak selektif gender atau semua balita ditargetkan menerima imunisasi. Pemantauan pencapaian imunisasi balita ini dapat dilakukan melalui Susenas secara tahunan.6 Sumber: BPS.1 89.7 94. Susenas 2007-2009 Pada dasarnya sebagai salah satu program pemerintah.1 89.3 92. Persentase Balita yang Pernah Diimunisasi menurut Daerah dan Jenis Kelamin.Indonesia telah mengusahakan pemberian 4 macam imunisasi yaitu BCG (pencegahan TBC).2 92.7 93.9 95. tetapi data Susenas tahun 1999 menunjukkan sedikit penurunan persentase balita yang paling tidak pernah menerima salah satu jenis imunisasi (lihat table 5. DPT (pencegahan Dipteri. Polio (pencegahan polio) dan Campak (pencegahan campak) kepada balita. Dari tahun ke tahun pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan cakupan imunisasi dari keempat jenis yang diprogramkan di atas.2 91.8 2008 (3) 94.2 87.8 87.2 88.10.4 92.4 89.0 85. Tabel 5. Partusis dan Tetanus).3 88.

berarti pada cakupan imunisasi antara balita laki-laki dan perempuan. Berikut ini akan disajikan gambaran mengenai indikator-indikator status gizi masyarakat di Sulawesi Selatan antara lain bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan status gizi balita. Hal ini nampaknya terkait dengan kemudahan sarana transportasi untuk menuju tempat pemberian imunisasi. Sayangnya pada kesempatan ini cakupan imunisasi belum dirinci untuk setiap jenis imunisasi yang diterima balita. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) Berat Badan Lahir Rendah (kurang dari 2. Kesadaran masyarakat pedesaan untuk membawa putra putri mereka ke posyandu atau puskesmas untuk mendapatkan imunisasipun nampaknya masih lebih rendah dari masyarakat perkotaan. Yang tentunya hal ini berkaitan juga dengan tingkat pendidikan mereka. karena disamping merupakan faktor predisposisi yang dapat memperparah penyakit infeksi secara langsung juga dapat menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan individual. Tetapi perbedaan itu terlihat antara daerah pekotaan dengan daerah pedesaan. Bahkan status gizi janin yang masih berada dalam kandungan dan bayi yang sedang menyusu sangat dipengaruhi oleh status gizi ibu hamil atau ibu menyusui.1. sebagaimana diuraikan berikut ini: 5. Status Gizi Status gizi seseorang sangat erat kaitannya dengan permasalahan kesehatan secara umum. BBLR dibedakan dalam 2 kategori yaitu BBLR karena prematur 68 .4.500 gram) merupakan salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal dan neonatal. 5. walaupun tak terpaut jauh.4.

tercatat bahwa jumlah bayi dengan berat badan lahir rendah sebanyak 2. sementara kasus tertinggi di Kota Makassar (251 kasus). Persentase Balita Menurut Penolong Kelahiran dan Status BBLR Tahun 2007. dengan kasus tertinggi terjadi di Kab.11.58 %). 69 .11 menunjukkan bahwa di Sulawesi Selatan pada tahun 2007.040 Persentase dari Total Bayi Lahir (3) 1.416 1.451 orang (100%).998 2. Kota ParePare (158 kasus) dan Kab. Tabel 5. yaitu bayi yang lahir cukup bulan tetapi berat badannya kurang. Sidrap (172 kasus). Sidrap (584 kasus) dan Kota Makassar (295 kasus) dan yang terendah di Kota Palopo (8 kasus). banyak BBLR dengan IUGR karena ibu berstatus gizi buruk. menyusul Kab. malaria dan menderita penyakit menular seksual (PMS) sebelum konsepsi atau pada saat hamil. 2008 dan 2009 Penolong Kelahiran 2007 2008 2009 (1) Jumlah Bayi dengan BBLR (2) 2. Sedangkan untuk tahun 2008 jumlah bayi dengan BBLR mengalami penurunan menjadi 1.670 (83.36 % dari total jumlah bayi lahir) dan yang ditangani sebanyak 1. anemia.36 1.36 Sumber : Profil Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2009 Tabel 5.416 (1.56 1.56 % dari total bayi lahir) dan yang tertangani sebanyak 2.(usia kandungan kurang dari 37 minggu) atau BBLR karena Intra Uterine Growth Retardation (IUGR).998 (1. Pangkep (147 kasus) dan terendah di Kab. Di negara berkembang.

gizi kurang (zscore<-2 SD sampai -3 SD) dan gizi buruk (z-score<-3 SD). prevalensi gizi buruk dan kurang pada balita adalah 37.14%. Dari hasil Susenas 2001 di Indonesia. menurut Susenas tahun 1989. 5. Masalah gizi kurang pada anak balita dikaji kecenderungannya menurut Susenas dan survei atau pemantauan lainnya.4. yang berarti mengalami penurunan sekitar 34 %. dan sensitif/peka dibandingkan prevalensi berdasarkan pengukuran berat badan menurut umur seperti hasil dari pengukuran prevalensi gizi kurang menurut BB/TB (wasting) sesudah tahun 1992 berkisar antara 10-14 %.040 (1.2. yang bergizi sedang 21. Kategori yang digunakan adalah: gizi lebih (z-score>+2 SD). Status Gizi Balita Status gizi balita merupakan salah satu indikator yang menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Sejak tahun 1992 untuk mengukur keadaan gizi anak balita digunakan standar WHO-NCHS untuk index berat badan menurut umur.7 % tahun 2000.36 % dari total jumlah bayi lahir).Jeneponto sebanyak 22 kasus. Secara nasional. Pada tahun 2009. Namun dari beberapa studi/survei yang melakukan pengukuran berat badan dan tinggi badan (BB/TB). jumlah bayi dengan BBLR mengalami kenaikan menjadi 2. Salah satu cara penilaian status gizi pada balita adalah dengan anthropometri yang diukur melalui indeks Berat Badan menurut umur (BB/U) atau berat badan terhadap tinggi badan (BB/TB).5 % menurun menjadi 24. gizi baik (z-score-2 SD sampai +2 SD).35 70 . pada umumnya pengukuran BB/TB menunjukkan keadaan gizi kurang yang lebih jelas.51 % dan sisanya 9. persentase Balita yang bergizi baik adalah sebesar 64.

12.73 17.62 8. 11.88 2.03 67.1 % anak yang berstatus gizi lebih. persentase balita perempuan bergizi baik relatif lebih tinggi daripada balita laki-laki.7 % anak yang berstatus gizi baik.% adalah Balita bergizi kurang/buruk atau yang dikenal dengan istilah Kurang Kalori Protein (KKP). Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 5.46 8. 1.04 70.88 18.47 2.89 20.24 69.41 18.3 71.69 2.55 Sumber: Profil Kesehatan Sulawesi Selatan tahun 2008 Di Sulawesi Selatan.46 19.47 71. demikian pula gizi kurang/buruk lebih tinggi pada balita laki-laki dibandingkan balita perempuan.03 2.47 2.73 7.59 19.43 7.18 6. untuk menanggulangi masalah gizi atau untuk memperoleh gambaran perubahan tingkat konsumsi gizi di tingkat rumah tangga dan status gizi masyarakat dilaksanakan beberapa kegiatan seperti Pemantauan Konsumsi Gizi (PKG) dan Pemantauan Status Gizi (PSG) di seluruh kabupaten/kota. Bila dibandingkan menurut jenis kelamin. Sedangkan untuk tahun 2004. Persentase Balita (0-59 bulan) Menurut Status Gizi & Jenis Kelamin di Indonesia Tahun 2002 dan 2003 Status Gizi 2002 LakiLaki Perempuan LakiLaki+Perempuan LakiLaki 2003 Perempuan Laki-laki +Perempuan Lebih Normal Kurang Buruk 2.0 % anak yang berstatus gizi buruk dan 3.3 % anak yang berstatus gizi kurang.58 73. menurut laporan yang diterima oleh Subdin Bina Kesehatan Keluarga 71 .35 7. Hasil Pemantauan Status Gizi yang dilaksanakan pada tahun 2001 menggambarkan 84.

5 % dari kabupaten. wajah membulat dan sembab. empat kabupaten/kota dengan kasus terbanyak antara lain Bone (16 kasus). Kasus gizi buruk yang sebanyak itu terdiri dari marasmus (48 kasus).1 % dan gizi buruk 12. Luwu Timur 7 kasus. Jumlah kasus gizi buruk berdasarkan ketiga jenis tersebut di Sulsel pada tahun 2008 sebanyak 95 kasus. dan Jeneponto sebanyak 6 kasus. Kasus gizi buruk 72 .2004). iga gambang. jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada dan sering disertai penyakit infeksi serta diare. Pada kasus gizi buruk di Sulawesi Selatan pada tahun 2008 dengan adanya gejala klinis terbagi atas 3 jenis. Bone 11 kasus. Marasmus adalah gizi buruk yang disertai tanda-tanda seperti badan sangat kurus (kulit membungkus tulang). kwashiorkor. yaitu marasmus./kota yang diatas angka provinsi dan Sulawesi Selatan sudah mencapai target pencapaian program perbaikan gizi pada RPJM 2015 sebesar 20 %. Kwashiorkor adalah keadaan gizi buruk yang disertai tanda-tanda klinis seperti edema di seluruh tubuh. wajah seperti orang tua (pipi kempot. Menurut hasil survei Gizi Mikro Tahun 2006 balita gizi buruk tercatat sebesar 9 %. dan marasmik-kwashiorkor (22 kasus). dan Jeneponto (8 kasus). rambut tipis. Sulsel tercatat bahwa jumlah KEP sebesar 13. mata terlihat cekung). sedangkan KEP total sebesar 28.48 % (PSG.dan KB Dinkes Prov. dan gabungan marasmik-kwashiorkor.5 %. empat kabupaten/kota terbanyak antara lain Pinrang 12 kasus. perut cekung. Kasus gizi buruk jenis marasmus di Sulawesi Selatan pada tahun 2008 sebanyak 48 kasus. kwashiorkor (25 kasus). Wajo (11 kasus). Secara umum prevalensi gizi buruk di Sulawesi Selatan menurut hasil Riskesdas adalah 5. Pinrang (15 kasus). kulit keriput. cengeng dan rewel./kota tercatat delapan kab. tulang belakang terlihat menonjol.

Selayar.jenis kwashiorkor ditemukan terbanyak pada Kabupaten Wajo (5 kasus). Pinrang.5. Gerakan Sayang Ibu Seorang ibu mempunyai peran yang sangat besar di dalam pertumbuhan bayi dan perkembangan anak. Gangguan kesehatan yang dialami seorang ibu bisa berpengaruh pada kesehatan janin dalam kandungan hingga kelahiran dan masa pertumbuhan bayi dan anaknya. Hal ini dilakukan guna menghindari gangguan sedini mungkin dari 73 .92 persen yang mendapat perawatan). Oleh karena itu pelayanan kesehatan terhadap ibu dan bayi sangat penting yang dikenal dengan gerakan sayang ibu seperti pelayanan berikut: 5. Pelayanan Antenatal (K1 dan K4) Masa kehamilan merupakan masa rawan kesehatan. 5. Sedangkan gizi buruk jenis marasmik-kwashiorkor (M+K) adalah gizi buruk dengan gambaran klinis yang merupakan campuran dari beberapa gejala klinis kwashiorkor dan marasmus dengan BB/U < 60% baku median WHO-NHCS disertai edema yang tidak mencolok. Bulukumba dan Bantaeng masing-masing (3 kasus). Enrekang (7 kasus). Situasi gizi buruk di Sulawesi Selatan pada tahun 2009 berdasarkan profil kesehatan kabupaten/kota tercatat sebanyak 2. Kasus M+K di Sulsel pada tahun 2008 terbanyak di Kab.5.825 orang (24. dan Bone (5 kasus). Soppeng. baik kesehatan ibu yang mengandung maupun janin yang dikandungnya sehingga dalam masa kehamilan perlu dilakukan pemeriksaan secara teratur.1. Pangkep (6 kasus).

segala sesuatu yang membahayakan terhadap kesehatan ibu dan janin yang dikandungnya. Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan profesional (dokter spesialis kandungan dan kebidanan, dokter umum, bidan dan perawat) kepada ibu hamil selama kehamilannya, yang mengikuti pedoman pelayanan antenatal yang ada dengan titik berat pada kegiatan promotif dan preventif. Hasil pelayanan antenatal dapat dilihat dari cakupan pelayanan K1 dan K4. Cakupan K1 atau juga disebut akses pelayanan ibu hamil merupakan gambaran besaran ibu hamil yang telah melakukan kunjungan pertama ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal. Sedangkan cakupan K4 adalah gambaran besaran ibu hamil yang telah mendapatkan pelayanan ibu hamil sesuai dengan standar serta paling sedikit empat kali kunjungan, dengan distribusi sekali pada trimester pertama, sekali pada trimester dua dan dua kali pada trimester ketiga. Angka ini dapat dimanfaatkan untuk melihat kualitas pelayanan kesehatan kepada ibu hamil. Gambaran persentase cakupan pelayanan K1 menurut kab./kota di Sulawesi Selatan tahun 2007 tercatat sebesar 93,55 % dan K4 sebesar 76,45%. Cakupan K1 berada di atas target nasional sedangkan K4 berada di bawah target nasional (78%), namun bila dilihat menurut kab./kota maka terdapat kab./kota yang berada di atas target nasional bahkan berada dibawah rata-rata provinsi. Adapun Kab./Kota yang memiliki cakupan yang masih berada jauh dari rata-rata adalah Kab. Selayar, Pangkep, Bone, Enrekang, Tator, Kota Pare-pare dan Palopo. Sedangkan pelayanan K1 tahun 2008 tercatat sebesar 85,91 % dan K4 sebesar 77,74 %.

74

Secara provinsi, pelayanan K1 di Sulawesi Selatan pada tahun 2008 tercatat sebesar 94,71 %, itu artinya pola pelayanan antenatal sudah cukup aktif. Tiga Kab./Kota dengan cakupan terendah yaitu Kota Parepare (84,53%), Selayar (84,71%), dan Enrekang (88,93%). Sedangkan cakupan pelayanan K4 di Sulawesi Selatan dari tahun 2004 -2009 mengalami peningkatan setiap tahunnya. 5.5.2. Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan dengan Kompetensi Kebidanan Komplikasi dan kematian ibu maternal dan bayi baru lahir sebagian besar terjadi pada masa disekitar persalinan. Hal ini antara lain disebabkan pertolongan tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan yang tidak memiliki kompetensi kebidanan (profesional). Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, termasuk pendampingan, meningkat sekitar 10% yaitu dari 60,75 % pada tahun 1998 menjadi 70,62 % pada tahun 2003. Sementara itu, cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan pada tahun 2005 di Sulawesi Selatan tercatat sebesar 78,69 %, bila dibandingkan dengan target SPM Bidang Kesehatan Tahun 2005 (77%) maka Sulawesi Selatan berada di atas target. Sedangkan cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan pada tahun 2007 (72,68%) dan tahun 2008 mengalami peningkatan sebanyak (82,66%). Sedangkan gambaran cakupan persalinan oleh tenaga medis pada tahun 2009 sudah di atas 64 persen seperti yang disampaikan pada bahasan sebelumnya.

75

5.5.3.

Deteksi Risiko, Rujukan Kasus Risti dan Penanganan Komplikasi Kegiatan deteksi dini dan penanganan ibu hamil

berisiko/komplikasi kebidanan perlu lebih ditingkatkan baik di fasilitas pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) maupun di masyarakat. Risti/komplikasi adalah keadaan penyimpangan dari normal, yang secara langsung menyebabkan kesakitan dan kematian ibu maupun bayi. Risti/Komplikasi kebidanan meliputi Hb < 8 g %. Tekanan darah tinggi (sistole > 140 mmHg, diastole > 90 mmHg). Oedema nyata, eklampsia, perdarahan pervagina, ketuban pecah dini, letak lintang usia kehamilan > 32 minggu, letak sungsang pada primigravida, infeksi berat/sepsis, persalinan prematur. Dalam memberikan pelayanan khususnya oleh bidan di Desa dan Puskesmas, beberapa ibu hamil diantaranya tergolong dalam kasus risiko tinggi (Risti) dan memerlukan pelayanan kesehatan karena terbatasnya kemampuan dalam memberikan pelayanan maka kasus tersebut perlu rujukan ke unit pelayanan kesehatan yang memadai. Persentase cakupan ibu hamil risti yang dirujuk tahun 2008 sebesar 25,24 %. Neonatus risti/komplikasi yang meliputi asfiksia, tetanus neonatorum, sepsis, trauma lahir, BBLR (Berat Badan Lahir < 2.500 gram). Sindroma gangguan pernapasan dan kelainan neonatal. Neonatal risti/Komplikasi yang tertangani adalah neonatus risti/komplikasi yang mendapat pelayanan oleh tenaga kesehatan yang terlatih di Puskesmas perawatan dan RS Pemerintah/swasta dengan fasilitas PONED dan PONEK (Pelayanan Obestetrik dan Neonatal Emergensi Dasar dan Pelayanan Obestetrik dan Neonatal Emergensi Komprehensif).

76

5 % (Nasional 73 %). hal ini ditunjukkan dengan persentase pemeriksaan kehamilan oleh tenaga kesehatan mencapai 92.509 orang (3.51 persen yang tertangani. jumlah ibu hamil risti/komplikasi sebanyak 21. Sementara pada tahun 2009.14 persen dari jumlah neo natal) dan sebanyak 78. persentase cakupan bumil risti di Sulawesi Selatan masih rendah yakni 31. 77 .8 % (Nasional 73 %) dan yang melahirkan pada fasilitas kesehatan sebesar 30.Berdasarkan data hasil SDKI 2007. yang memperoleh imunisasi TT paling sedikit sebesar 1 kali sebesar 82. Pada tahun 2008.3 %). yang melahirkan pada tenaga kesehatan sebesar 58.9 % (Nasional 77.6 % (Nasional 46. Sedangkan jumlah neonatal risti/komplikasi sebanyak 4. yang menerima tablet zat besi selama hamil sebesar 71. pemeriksaan kehamilan di Sulawesi Selatan secara garis besar masih sangat rendah.2 % (Nasional 93.438 IH (11.1%).12 persen yang tertangani.29 %. masih jauh dari target nasional (100 %).86 persen dari ibu hamil) dan hanya 49.2 %).

78 .

748 jiwa. Sebagian perempuan yang “harus bekerja” adalah karena kondisi ekonomi keluarga yang tidak mencukupi. Sedangkan bagi perempuan yang memilih untuk bekerja dan memiliki latarbelakang ekonomi menengah ke atas. sehingga melibatkan diri di dalam kegiatan ekonomi secara aktif. Pembahasan kegiatan ekonomi di provinsi Sulawesi Selatan pada kegiatan ini meliputi: penduduk usia kerja. Penduduk usia kerja yang dimaksud berumur 15 tahun keatas yang merupakan sumber angkatan kerja potensial. Pada tahun 2008. TPAK dan pangangguran.jenis usaha serta status usaha. penduduk usia kerja Sulawesi selatan sebanyak 5.559.660. tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan cenderung semakin tinggi.lapangan usaha. Sehubungan dengan ini dapat dikatakan bahwa semakin rendah tingkat kehidupan social ekonomi rata-rata penduduk di dalam suatu masyarakat.. mereka bekerja tidak lain hanya didorong oleh motivasi tertentu. Jika dilihat dari jenis kelamin. terdapat perbedaan usia kerja dimana penduduk usia kerja perempuan lebih besar dari penduduk usia kerja lakilaki dengan sex rasio 95 (Hasil Sensus Penduduk 2010). jam kerja. dilatarbelakangi oleh keharusan bekerja atau mereka memilih untuk bekerja. 6. KEGIATAN EKONOMI Keterlibatan perempuan dalam sector ekonomi.BAB VI. Berarti setiap 100 79 . jumlah penduduk usia kerja juga mengalami pertambahan.1 Penduduk Usia Kerja Sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk.624 jiwa pada tahun 2009. Kemiskinan dan Pekerja Migran. Upah/gaji. Jumlah ini meningkat menjadi 5.

833 3. Hal yang sama terlihat pada daerah perkotaan dan pedesaan dimana penduduk usia kerja perempuan lebih besar daripada laki-laki (lihat table 6.655 960.lebih banyak dibanding perkotaan. hanya ada 95 laki-laki. Adanya perbedaan ini disebabkan oleh jumlah penduduk di pedesaan lebih besar daripada di perkotaan.986.720.627.2. Sakernas 2008 dan 2009 Jika kita mengamati table 6.766 1.203 Total (5) 2. Akan tetapi perubahan TPAK dapat dipengaruhi oleh factor demografis.421 Pedesaan (4) 1.979. 6. sosial.1 di atas terlihat penduduk usia kerja di pedesaan .660.perempuan.036 5.932.624 Sumber : BPS.559.599 5. dan ekonomi.025 2.1 Banyaknya penduduk usia kerja menurut jenis kelamin dan daerah tempat tinggal Sulawesi Selatan. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) dan Pengangguran TPAK dapat diukur dari perbandingan angkatan kerja dan usia kerja.748 2009 Perkotaan (3) 992..1) Tabel 6.681.953.707. Pengaruh masing-masing faktor tersebut terhadap TPAK berbeda bagi perempuan dan laki-laki.370 1. 2008 dan 2009 Jenis kelamin (1) Perempuan Laki-laki total 2008 (2) 2. 80 . Selain itu penduduk usia kerja laki-laki di Sulawesi selatan banyak yang merantau.712 2. Adanya perbedaan ini disebabkan antara lain jumlah penduduk perempuan memang lebih besar.

00 0.00 20.00 10.00 80. pengaruh faktor-faktor tersebut tidaklah terlalu besar oleh karena umumnya laki-laki pencari nafkah utama keluarga. banyak dipengaruhi oleh factor sosial. Melaksanakan tugas rumah tangga masih dianggap sebagai tugas pokok perempuan.00 30.Bagi TPAK laki-laki.00 70. Sulawesi Selatan. Tahun 2009 90.1 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Menurut Daerah Tempat Tinggal dan Jenis Kelamin. Sakernas 2009 81 .00 40.00 60.00 50. ekonomi dan budaya.00 P erkotaan Laki-Laki P erempuan P edesaan Sumber : BPS. Gambar 6. Lain halnya dengan TPAK perempuan.

Hal ini berkaitan dengan pembagian tugas dalam rumah tangga peranan perempuan semakin signifikan dalam pasar tenaga kerja untuk mendukung ekonomi rumah tangga. Ini berarti partisipasi perempuan di bidang ekonomi belum dapat menyamai partisipasi laki-laki. Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh system pembagian kerja secara seksual dalam masyarakat.2 persen pada tahun 2000 menjadi 44. di mana perempuan mempunyai kegiatan utama di dalam rumah dan laki-laki di luar rumah (mencari nafkah). Kondisi ini masih sama pada tahun 2000 di mana TPAK perempuan hanya sebesar 28.94 persen pada tahun 2009. Kenaikan TPAK tersebut diduga disebabkan oleh kondisi ekonomi yang sudah berangsur membaik yang juga berdampak pada perekonomian rumah tangga.1 di atas terlihat bahwa TPAK perempuan baik di perkotaan maupun di pedesaan pada tahun 2009 selalu lebih rendah dari pada laki-laki. Walaupun demikian.97 persen pada tahun 2009. 82 .94 persen berbanding 81.9 persen.2 persen sedang laki-laki 69. pada periode 2000-2009 terjadi kenaikan TPAK perempuan dari 28.Dari gambar 6. TPAK perempuan dan laki-laki di Sulawesi Selatan memiliki perbedaan yang cukup besar yaitu 44.

Gambar 6.91 persen) dan di pedesaan pada usia 40-44 tahun (57.2 tingkat partisipasi angkatan kerja menurut umur. tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) berbeda menurut umur dan jenis kelamin.000 20.000 60.000 1519 2024 2529 3034 3539 4044 4549 5054 5559 60 + Perkotaan Laki-Laki Perkotaan Perempuan Perdesaan Laki-Laki Perdesaan Perempuan kelamin.000 . Pada daerah yang berbeda.000 40.19 83 . Perbedaan itu di samping dipengaruhi oleh desakan kebutuhan ekonomi.000 80. jenis 100. Sakernas 2009 Secara keseluruhan mereka yang berada di pasar kerja atau yang bekerja itu terdiri atas berbagai kelompok umur.2 terlihat bahwa puncak TPAK perempuan di perkotaan berada pada usia 25-29 tahun (57. dan daerah. juga oleh kondisi lain. Salah satu karakteristik angkatan kerja yang utama adalah umur dan tentunya jenis kelamin. Dari gambar 6. dan seperti telah disinggung sebelumnya partisipasi mereka dalam angkatan kerja dapat berbeda-beda. diantaranya yang utama adalah karakteristik angkatan kerja itu sendiri. Sulawesi selatan 2009 Sumber : BPS.

persen). Hal ini disebabkan oleh lebih kuatnya pengaruh factor ekonomi daripada factor social budaya di pedesaan. yang disebabkan oleh dua kondisi yang berlawanan. terjadi peningkatan TPAK perempuan untuk semua umur. yang kemudian keluar dari pasar kerja selama dan setelah melahirkan anak. Tingkat Pengangguran Timbulnya pengangguran adalah disebabkan oleh banyaknya pencari kerja yang tidak dapat diimbangi oleh penciptaan kesempatan kerja. 6. ternyata memang TPAK laki-laki selalu lebih tinggi di semua kelompok umur baik di perkotaan maupun pedesaan. dibandingkan tahun 2000. Pada tahun 2009 TPAK perempuan perkotaan mempunyai 2 puncak dan di pedesaan mempunyai 3 puncak. maka seharusnya TPAK perempuan di pedesaan akan jauh lebih rendah dari TPAK perempuan di perkotaan. Jika anggapan selama ini yang menyatakan rendahnya TPAK perempuan di Sulsel disebabkan oleh factor social dan budaya benar.3. Lingkungan sosial budaya selama ini tidak terlalu memberikan peluang bagi keikut sertaan perempuan dalam angkatan kerja. Dalam kondisi ekonomi yang sulit. Disatu sisi 84 . Di bandingkan dengan TPAK laki-laki. baik di perkotaan maupun di pedesaan menunjukkan kecenderungan semakin melonggarnya ikatan sosial dan budaya di Sulawesi Selatan. Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun 2009 pola TPAK perempuan di Sulawesi Selatan adalah the early peak yaitu partisipasi sebagian besar adalah pada perempuan belum kawin atau perempuan muda yang telah kawin sebelum melahirkan. Namun demikian. jumlah pengangguran cenderung meningkat. Hal menarik dari kedua gambar di atas adalah secara keseluruhan TPAK perempuan di pedesaan lebih tinggi dari angka di perkotaan.

Sulawesi Selatan.jumlah pencari kerja semakin bertambah. dan jenis kelamin.3 3. TPT perempuan di Sulsel pada tahun 1997 adalah 11. Tabel 6.3 5. Pada tahun 2000 perbandingannya adalah 5.9 Total (7) 11.0 berbanding 1.2).3 9.9 1.4 persen pada tahun 2000.8 Total (4) 7. didapat perbedaan yang sangat besar antara TPT perkotaan dengan TPT pedesaan.7 7.2 Sumber : BPS. baik berupa pendatang baru maupun mereka yang lepas/ keluar dari pekerjaan lama untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Sakernas 2000 dan 2009 Hasil pengolahan Sakernas 2000-2009 Sulawesi Selatan menunjukkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) perempuan lebih tinggi dibandingkan TPT laki-laki.5 10. Jika perbedaan TPT dilihat dari daerah tempat tinggal. dengan TPT perempuan 85 . 2000 dan 2009 Daerah Tempat Tinggal (1) Perkotaan Pedesaan 2000 LakiPerempuan laki (2) (3) 9.9 Total 5.4 7. Namun perbedaan TPT menurut jenis kelamin di dua daerah tesebut relative lebih kecil (lihat table 6.9.9 3. yaitu 7.1 10.4 2.4 terhadap 2.4 6.2 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurut Daerah tempat tinggal.3. Tetapi disisi lain. kesempatan kerja yang tersedia justru menciut karena kontraksi ekonomi atau tumbuh dalam besaran yang sangat terbatas karena minimnya investasi atau investasi yang ada lebih bersifat padat modal.5 persen dan menurun menjadi 5.0 1.0 2009 LakiPerempuan laki (5) (6) 13.6 8.

usaha di sector pertanian dan usaha rumah tangga lebih berperan di bandingkan usaha/kegiatan nonpertannian.1992 dalam Fatmawati). Menurut Effendi (1992). Padahal penduduk usia kerja di pedesaan lebih banyak dari perkotaan. Tingginya TPT perempuan diduga karena berhubungan dengan peningkatan keinginan untuk bekerja diluar rumah tangga. baik dengan jam kerja normal maupun tidak. tahun 2000 maupun pada tahun 2009. Di pedesaan. Dalam keluarga yang mempunyai sedikit anak (misalnya 2) yang sudah bersekolah. termasuk istri dan anak-anak. Perempuan yang belum bekerja atau tidak mempunyai pekerjaan. Hal tersebut terkait dengan sifat-sifat pekerjaan di pedesaan yang lebih mudah menyerap tenaga kerja keluarga. Hal ini merupakan indikasi adanya pergeseran status pekerjaan perempuan dari hanya bekerja sebagai pekerja keluarga tanpa dibayar disektor pertanian. karena mereka yang membantu usaha keluaraga dicatat sebagai pekerja meskipun tidak dibayar. menjadi pekerja public/umum untuk mendapatkan upah. Menarik untuk ditelaah lebih lanjut adalah TPT perempuan di pedesaan lebih rendah dari perkotaan baik pada tahun 1997.yang lebih tinggi dari TPT laki-laki. perbedaan ini berkaitan dengan perbedaan struktur peluang kerja. Tidak mustahil hal ini berkaitan dengan menurunnya angka kelahiran. meskipun dengan produktivitas yang rendah. maka tersedia kesempatan bagi perempuan untuk mencari pekerjaan guna menambah penghasilan keluarga sambil mengisi kekosongan waktu ( effendi. Keadaan ini dapat mempengaruhi TPT. dapat saja bekerja sementara dengan membantu usaha keluarga. 86 .

Jenis Kelamin. Tidak tertutup kemungkinan mereka yang berpendidikan dipedesaan mencari kerja diperkotaan. yang berpendididkan bersedia menunggu beberapa saat untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan. Sulawesi Selatan. Inilah yang menyebabkan TPT di perkotaan relatif lebih tinggi 87 . Sakernas 2009 Rendahnya pengangguran terbuka dipedesaan juga dapat dipakai sebagai indikator migrasi desa-kota. 2009 Sumber : BPS.3 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurut Umur. Sementara di perkotaan.Gambar 6. dan Daerah. Keengganan bekerja di sektor pertanian dan langkahnya peluang kerja non-pertanian dipedesaan diduga mendorong mereka untuk mencari kerja di perkotaan.

dari pedesaan. Mereka yang berasal dari status social ekonomi yang rendah tidak mampu untuk menganggur. Selain itu. Seiring dengan menurunnya penduduk miskin 88 . Pada usia 15-19 tahun sebagian besar masih di bangku sekolah. Namun demikian pada periode 2006-2009. karena itu mereka akan bekerja apa saja untuk memperoleh penghasilan.2 persen (2007). kemudian menurun setelah itu. 10. baik karena terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) maupun karena menurunnya daya beli masyarakat secara umum.9 persen tahun 2009. (Fatmawati 1993). Jika dibandingkan dengan TPT tahun 1997 dapat dikatakan telah terjadi penurunan TPT diseluruh kelompok umur. Hal ini berkaitan dengan dampak krisis ekonomi yang ada. sehingga belum mencari kerja. Pada dasarnya hanya orang yang mampu atau dari status sosial-ekonomi menengah keatas yang dapat tetap menunggu untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. terutama biaya sekolahpun pada jenjeng lebih tinggi telah dirasakan memberatkan beban rumah tangga. tetapi memasuki usia 20-24 sudah semakin jelas untuk memutuskan masuk kepasar kerja.3 menunjukkan TPT mencapai puncaknya pada kelompok usia 20 sampai 24 tahun baik di perkotaan maupun di pedesaan serta baik antara laki-laki dan perempuan. Tabel 6. Pada awal krisis pengangguran meningkat atau berada pada posisi tinggi karena menurunnya kegiatan ekonomi secara umum maka merosot juga peluang kerja. 11. dan mungkin masih berfikir-fikir dulu apakah akan terus sekolah atau bekerja.3 menunjukkan bahwa tingkat pengannguran di Provinsi Sulawesi Selatan cenderung terus menurun dari 12. perluasan kota diduga turut menambah pengangguran terbuka.8 persen (2006).5 persen (2008) dan 8. Gambar 6. walaupun untuk itu mereka mendapatkan upah/penghasilan yang rendah.

2 14. sebenarnya adalah pada subsector industry kecil dan kerajinan rakyat (IKKR). Bagian terbesar dari pekerja sector industri.57 persen (2006).34 persen (2008) dan 12.5 13.3. 14. sehingga produktivitas merekapun tergolong rendah. Tabel 6.4. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT %) 2. Tingkat Kemiskinan 2006 (2) 12. karakteristiknya mirip dengan sector pertanian. Kedua sector ini secara umum. dalam kelompok sector sekunder.34 2009 (5) 8. Pekerja perempuan di luar sektor pertanian (primer) banyak memasuki sector tertier.31 Sumber : Sakernas 2006-2009 dan Susenas 2006-2009 6.9 12. Sebenarnya kesertaan pada sector industri. Lapangan Usaha Lapangan usaha yang dimasuki oleh pekerja perempuan dan lakilaki memperlihatkan adanya perbedaan.8 14. cukup besar.31 persen tahun 2009. Tingkat Pengngguran Terbuka (TPT) dan Tingkat Kemiskinan di Sulawesi Selatan Tahun 2006-2009 Indikator (1) 1.dari 14. terutama jasa dan perdagangan. yaitu mudah dimasuki oleh mereka yang pendidikannya rendah dan sering terjadi income/work sharing. 13.11 persen (2007).57 2007 (3) 11. Industry pengolahan yang berskala besar umumnya berlokasi di Makassar dan sekitarnya dengan kegiatan yang banyak menyerap tenaga 89 .11 2008 (4) 10.

240 72.keuangan.153.276 24.471 352.231 1.pertambangan.569 70.kontruksi Sector tertier= sector perdagangan.542 271. Jika dilihat dari perkembangan data tahun 2007-2009 terlihat adanya pergeseran yang cukup jelas di daerah pedesaan.55 7 45.210 189.495.552 456.863 24.kerja adalah industry pengolahan makanan.424 396. Hal ini menunjukkan adanya penurunan kegiatan ekonomi di kedua kelompok besar lapangan usaha tersebut.552 364.lainnya Sumber: BPS Sakernas 2007.transpotasi. Daerah.010 185.442 1. 2007.091 80.listrik.649 471.00 9 57.729 4.482 64.648 177.274 187.439 281. Sector sekunder= sector industry.197 164. Tampaknya pertanda inilah yang mendorong banyaknya perempuan pedesaan mencari pekerjaan di luar sector pertanian.jasa. 2009 90 1.146 Primer Sekunder Tertier 9.690 22.223. Sulawesi Selatan.4 Penduduk Berumur 10 Tahun Keatas yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha Utama.815 56.713 407.130.92 0 71. kopi. misalnya pengolahan biji coklat.695 10. maupun udang untuk tujuan sector. yaitu dari sector sekunder dan tertier ke sector primer di antara pekerja perempuan.904 187.011 Catatan: sector primer= sector pertanian.441 .240 36.930 95. Dan Jenis Kelamin.295 2007 Perempua Lakin laki (2) (3) 2009 Perempua Lakin laki (4) (5) Perkotaan+Pedesaan Primer Sekunder Tertier 361. 2009 Daerah/Lapangan Usaha (1) Perkotaan Pedesaan Primer Sekunder Tertier 352. Table 6. yang menandakan adanya penurunan kondisi ekonomi pedesaan dalam kurun waktu tahun 2007-2009.24 9 93.

rumah makan dan hotel (29.Tabel 6.33 persen) dan sektor jasa kemasyarakatan (30.06 persen). Sulawesi Selatan.69 persen dan 6. dan itu terjadi baik di perkotaan dan Sumber : BPS.05 persen.03 persen). Daerah. Penduduk Berumur 15 Tahun Keatas yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha Utama. Sakernas 2009 91 .21 persen) adalah sektor perdagangan besar. Table 6.5. 2009 cenderung lebih tinggi dari pekerja laki-laki yaitu masingmasing 7. menunjukkan bahwa pekerja perempuan banyak terserap selain di sektor pertanian (45.5. Dan Jenis Kelamin. eceran. rumah makan dan hotel (47. Bahkan di daerah perkotaan mayoritas pekerja perempuan terserap di sektor sektor perdagangan besar. Yang menarik adalah proporsi pekerja perempuan yang terserap di sektor industri pengolahan perdesaan. eceran.

4 47.2 33.5 23. 2007.6 12.5.9 16.4 14.9 62.5 26.1 22.1 55. Sulawesi Selatan.5 20.6 55.3 72.7 Penduduk Berumur 10 Tahun Keatas yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan.5 22.6 54. pola status usaha pekerja perempuan menunjukkan bahwa sebagian besar mereka bekerja sebagai pekerja keluarga (tak dibayar atau sebagai buruh/ karyawan). Status Pekerjaan Proses pembangunan ekonomi tidak saja dihubungkan dengan distribusi angkatan kerja menurut sector.8 49.2 22. 2009 2007 Status Pekerjaan (1) Perkotaan Pedesaan Total Berusaha Buruh/kar yawan Pekerja Keluarga 26.9 42. Daerah.9 44. tetapi juga distribusi status usaha/pekerjaan (oberay. Table 6. Pengelompokan pekerja menurut status usaha sangat berguna untuk menelusuri sifat usaha (pekerjaan) dan jenis usaha tertentu (Manning.5 32.3 Berusaha Buruh/kar yawan Pekerja Keluarga 22.1 92 .4 22.4 22. Untuk 2 status tersebut.8 52.6. Dan Jenis Kelamin.9 47.8 50.2 12.3 Perempuan (2) Lakilaki (3) 2009 Perempu Lakian laki (4) (5) Di Sulawesi Selatan. 1978).7 Berusaha Buruh/kar yawan Pekerja Keluarga 25.7 35.6 37. dalam Fatmawati 1993).8 30.6 28.1 34.6 23. persentase pekerja perempuan masing-masing sebesar 55.9 13.

lazim terjadi praktek berbagi rejeki/pekerjaan (income/work sharing) dalam usaha rumah tangga. Tingginya persentase pekerja keluarga di pedesaan dimungkinkan karena dengan tingkat pendidikan umumnya rendah.8 persen berbanding 35.9 persen).2 persen. 93 . Di perkotaan pada waktu yang sama. Persentase perempuan yang berusaha (berusaha sendiri/dibantu buruh tidak tetap/dibantu buruh tetap) ternyata tidak banyak berbeda dengan laki-laki yaitu 26. Agaknya hal ini berbeda dengan di pedesaan.4 persen) berstatus buruh atau karyawan. Umumnya kegiatan perekonomian di pedesaan lebih bersifat informal. pekerja perempuan sebagian besar (50. baik dilakukan sendiri maupun dibantu anggota rumah tangga lainnya (anak). Cukup besarnya persentase perempuan pengusaha sejalan dengan lapangan pekerjaan utamanya sebagai pedagang atau jasa dengan skala kecil.8 persen.2 persen). sehingga persentase perempuan yang bekerja sebagai buruh atau karyawan tergolong rendah (12. sebenarnya perempuan pekerja keluarga dapat dikatakan sebagai fenomena pedesaan.6 persen pada tahun 2009 (lihat table 6. Seseorang dapat dikatakan bekerja penuh jika yang bersangkutan bekerja minimal 35 jam dalam seminggu. Jumlah ini melebihi pekerja laki-laki (49.persen dan 22.7).6 Jam Kerja Jam kerja merupakan salah satu variable yang mengukur pemanfaatan seseorang dalam bekerja.3 persen) karena umumnya mereka bekerja sebagai pekerja keluarga (72. 6. Hal ini terlihat dari persentase perempuan yang bekerja sebagai pekerja keluarga adalah 72.

7 840.16 1. Dalam periode tersebut.5 37. Table 6. atau dikenal juga sebagai setengah penganggur kritis.9 4.)) (2) (3) (4) 3. Perbandingan tersebut menjadi lebih mencolok untuk mereka yang bekerja 1-14 jam seminggu.0 20.8 53.8. tetapi bila dibandingkan data tahun 2007 dengan data tahun 2009 nampak ada sedikit peningkatan.5 21. Meskipun jumlah jam kerja perempuan lebih rendah dibanding jumlah jam kerja laki-laki. maka banyak pula ditemukan perempuan yang bekerja dengan jam kerja rendah.0) (100.7 persen.3 9. Dari table 6. 2007-2009 Jumlah Jam Kerja (Jam) (1) 0*) 1-14 15-34 35+ 2007 Perempuan Laki-laki Perempuan 2009 Laki-laki (5) 8.8 terlihat bahwa pekerja yang bekerja di bawah jam kerja normal (35 jam seminggu).574 823.8 persen menjadi 40. lebih banyak perempuan daripada laki-laki.4 1. atau dikenal seminggu setengah penganggur. Data tersebut adalah 59.0) Catatan: *) Sementara tidak bekerja ( ) angka dalam kurung adalah persentase Sumber: BPS Susenas 2007 dan 2009 94 .976.1 32.964.780 Total (100.0 persen pada tahun 2009. proporsi perempuan yang bekerja di atas jam kerja normal (35 jam seminggu) meningkat dari sebesar 37.0 persen berbanding 42.Dengan banyaknya perempuan yang bekerja sebagai pekerja keluarga atau yang hanya berfungsi membantu suami/ayah/KRT. Persentase Pekerja Menurut Kelompok Jam Kerja Dan Jenis Kelamin.188 (100.8 58.7 38.9 40.9 37.0) (100.8 32.

keahlian.82 kali untuk pekerja perempuan. sementara lakilaki hanya 2.7.6. jenis pekerjaan. pengalaman kerja. Upah/Gaji Sebulan Pemberian upah biasanya ditentukan oleh banyak faktor.07 kali. Sehingga gap antara upah/gaji laki-laki dan perempuan semakin mengecil bahkan upah/gaji di perkotaan sudah mencapai di atas satu juta. Kemudian terlihat pula adanya kesenjangan antara tingkat upah di perkotaan dengan tingkat upah di pedesaan. Peningkatan upah/gaji tersebut salah satunya mungkin karena semakin membaiknya perekonomian di Sulawesi Selatan sehingga upah/gaji pekerja sudah di atas UMR. bahkan pada pekerja berpendidikan rendah dan tinggi masing-masing 3. jabatan.39 kali dan 2. Tetapi pada bahasan ini hanya dilihat berdasarkan tingkat pendidikan yang ditamatkan untuk lakilaki maupun perempuan. Bahkan pada pekerja perempuan peningkatannya lebih signifikan yaitu 2. 95 . Peningkatan upah/gaji tersebut terjadi pada perekerja laki-laki maupun perempuan di semua jenjang pendidikan dan daerah. Dari hasil pengolahan data Sakernas 2000 dan 2009 (Tabel 6. dan lain sebagainya.9 juga menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan upah/gaji baik laki-laki maupun perempuan pada periode 2000-2009. Biasanya penentuan tersebut merupakan kombinasi dari beberapa factor sekaligus. seperti latar belakang pendidikan. Tabel 6. jam kerja. yang mengakibatkan adanya arus migrasi dari pedesaan ke perkotaan.9) menunjukkan bahwa tingkat upah pekerja secara umum berhubungan positif dengan tingkat pendidikan pada pekerja laki-laki maupun perempuan.25 kali.

Sulawesi Selatan.Sementara itu terlihat juga kesenjangan tingkat upah antara yang diterima pekerja perempuan dan yang diterima pekerja laki-laki pada seluruh tingkat pendidikan. Table 6. Rata-rata upah/gaji pekerja sebulan Menurut tingkat pendidikan dan jenis kelamin.9. Kesenjangan tersebut sangat nyata di antara mereka yang berpendidikan di atas SLTA baik tahun 2000 maupun 2009. 2000-2009 Sumber: BPS Sakernas 2000 dan 2009 96 .

0 1083. penduduk 97 . Pada tahun 2006 penduduk miskin di Sulawesi Selatan adalah sebanyak 1112.83 persen.5 Desa 944.57 14.79 15. Pada bulan Maret 2008 turun menjadi 1031.4 1031.6 880.10 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Sulawesi Selatan Menurutt daerah.8 152.31 persen).94 Desa 18. 2006-2009 Jumlah Penduduk Miskin (000) Tahun Kota 2006 2007 2008 2009 167. Secara absolut selama periode Maret 2007-Maret 2008. Kemiskinan Jumlah penduduk miskin di Sulawesi Selatan selama periode Maret 2006-Maret 2009 terus mengalami penurunan baik secara absolut maupun relatif. penduduk miskin di daerah perdesaan menurun menjadi 16.2 930.4 orang (14. Pada tahun 2006.8 150.1 Kota+Desa 1112.7 orang (13.8.83 6.0 orang (14.7 963. Tabel 6.79 persen sedangkan di daerah perkotaan turun menjadi 6.18 6.05 persen.6 Persentase Penduduk Miskin Kota 6.8 124. penduduk miskin di perdesaan mencapai 18. Pada periode 2006-2008.34 12.9 839.81 Kota+Desa 14.34 persen) dan pada bulan Maret 2009 turun lagi menjadi di bawah satu juta yaitu 963.87 16.31 Sumber: Diolah dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Penduduk miskin di Provinsi Sulawesi Selatan lebih tinggi di daerah perdesaan.25 persen sementara di daerah perkotaan hanya 6.25 17.6.57 persen) turun menjadi 1083.11 13.05 4.600 jiwa (12.11 persen) pada tahun 2007.

75 persen).47 12. Jumlah penduduk miskin di Indonesia pada periode Maret 2006-Maret 2008 tampak semakin menurun. Persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan tidak banyak berubah.3 ribu orang (16.3 37 168. Tabel 6. dan pada tahun 2008 turun lagi menjadi 34 963.38 persen.miskin di daerah perkotaan berkurang 2.3 Kota 13. sebagian besar (85.90 persen) penduduk miskin berada di daerah perdesaan.81 20. Pada tahun 2006 jumlah penduduk miskin di Indonesia adalah sebesar 39 295.37 18.11 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Indonesia Menurut Daerah.3 ribu orang (17.3 34 963.3 (15.5 Sumber: Diolah dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2006-2008 98 .700 orang.93 Kota+Desa 17.0 13 559. turun menjadi 37 168.8 Persentase Penduduk Miskin Kota+Desa 39 295.0 22 194.000 orang.3 23 609.58) pada tahun 2007. Pada bulan Maret 2007. sementara di daerah perdesaan berkurang 49. sementara pada bulan Maret 2008 persentase ini sedikit mengalami penurunan menjadi 85.65 Desa 21.58 15.52 11. 2006-2008 Tahun Jumlah Penduduk Miskin (000) Kota Desa 24 806.42 2006 2007 2008 14 489.3 12 768.42).75 16.

75 persen sedangkan di Sulawesi Selatan hanya sekitar 14. dan kesehatan).per kapita per bulan pada Maret 2007 menjadi Rp. terlihat bahwa peranan komoditi makanan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan. Garis Kemiskinan mengalami kenaikan. Demikian juga pada tahun 2008.Jika dibandingkan dengan persentase penduduk miskin di Sulawesi Selatan pada periode Maret 2006-Maret 2008 tampak bahwa persentase penduduk miskin di Indonesia masih lebih besar.12 persen. 6. Selain beras. Dengan memperhatikan komponen Garis Kemiskinan (GK). Pada bulan Maret 2007.623.126. yaitu dari Rp. pendidikan. penduduk miskin di Indonesia mencapai 15.56 persen di perkotaan.34 persen.57. karena penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah Garis Kemiskinan. sumbangan pengeluaran beras terhadap Garis Kemiskinan sebesar 28.138. barang-barang kebutuhan pokok lain yang 99 . yang terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan-Makanan (GKBM). peranannya sedikit meningkat menjadi 76. sumbangan GKM terhadap GK sebesar 75.64 persen di perdesaan dan 18.per kapita per bulan pada Maret 2008.334. Pada tahun 2006 persentase penduduk miskin di Indonesia mencapai 17. Perubahan Garis Kemiskinan Besar kecilnya jumlah penduduk miskin sangat dipengaruhi oleh Garis Kemiskinan. tetapi pada bulan Maret 2008.42 sedangkan di Sulawesi Selatan mencapai sekitar 13. Komoditi yang paling penting bagi penduduk miskin adalah beras... Pada bulan Maret 2007. Selama Maret 2007-Maret 2008.78 persen. sandang.9.

Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Sulsel Menurut Daerah.99 persen di perdesaan.82 persen di perkotaan. 0.58 persen di perdesaan. Garis Kemiskinan. Tabel 6.58 persen di perkotaan). 2. telur (1. Untuk komoditi bukan makanan. angkutan dan minyak tanah mempunyai pengaruh yang cukup besar untuk daerah perkotaan. 1.50 persen. 100 .70 persen di perkotaan) dan minyak goreng (1. biaya perumahan mempunyai peranan yang cukup besar terhadap Garis Kemiskinan yaitu 6.berpengaruh cukup besar terhadap Garis Kemiskinan adalah gula pasir (2. dan Maret 2009. Maret 2006-Maret 2009 Sumber: Diolah dari data Susenas Panel Maret 2006-Maret 2008. Biaya untuk listrik.90 persen.90 persen di perkotaan).04 persen di perdesaan dan 7.34 persen di perdesaan. sementara untuk daerah perdesaan pengaruhnya relatif kecil (kurang dari 2 persen).23 persen di perkotaan). mie instan (1. yaitu masing-masing sebesar 2. 2.11 persen di perdesaan. 1.78 persen dan 2.12.

Selain harus mampu memperkecil jumlah penduduk miskin.68 menjadi 0.60 pada keadaan Maret 2007 menjadi 2. 101 . Dimensi lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menunjukkan kecenderungan menurun. kebijakan kemiskinan juga sekaligus harus bisa mengurangi tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan. Indeks Kedalaman Kemiskinan dan Indeks Keparahan Kemiskinan Persoalan kemiskinan bukan hanya sekadar berapa jumlah dan persentase penduduk miskin. Penurunan nilai kedua indeks ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung makin mendekati garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin menyempit.13). Indeks Kedalaman Kemiskinan turun dari 2.44 pada keadaaan Maret 2008.6. Pada periode Maret 2007-Maret 2008. Demikian pula Indeks Keparahan Kemiskinan turun dari 0. 10.67 pada periode yang sama (Tabel 6.

61 0.08 Kota Desa Kota + Desa Sumber: Diolah dari data Susenas Panel Maret 2006-Maret 2009 Nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) di daerah perdesaan jauh lebih tinggi dari pada perkotaan.03 2.22 3.35 sementara di daerah perdesaan mencapai 0.89 0.68 0.60 2. 102 .43 2.00 0.40 3.20 sementara di daerah perdesaan mencapai 3.74 1.91 1.82 0.74 3.13 Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) di Sulawesi Selatan Menurut Daerah. Nilai Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) untuk perkotaan hanya 0.03. nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) untuk perkotaan hanya 1.20 0.15 1. Pada bulan Maret 2008.67 0.77 0.67 4.82.Tabel 6.22 0.22 0.55 2.35 0. Maret 2006.Maret 2008 Tahun Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) Maret 2006 Maret 2007 Maret 2008 Maret 2009 Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) Maret 2006 Maret 2007 Maret 2008 Maret 2009 0.44 2.

Perempuan meningkatkan migrasi internasional bukan saja jumlah perempuannya yang meningkat tetapi juga konstribusi perempuan di bidang sosial ekonomi juga meningkat (Sri Harijati Hatmaji. (Demographic Institut. Seiring berkembangnya era globalisasi pada saat ini. 103 . 1981). 2004). Mobilitas penduduk merupakan salah satu usaha manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dengan mencari dan menemukan sesuatu yang baru (innovative migration) atau mempertahankan apa yang telah dimiliki (conservative migration). Dengan semakin tingginya tingkat mobilitasi baik nasional maupun internasional. telah mendorong banyak peneliti melakukan analisa mengenai apa yang mendorong seseorang melakukan hal ini. Tujuan dan motif utama migrasi yang sering ditemukan adalah untuk memperbaiki keadaan ekonomi dan status sosial.6. Adanya globalisasi informasi menyebabkan mobilitas penduduk semakin meningkat. Pekerja Migran (TKI/TKW) Teori migrasi klasik menyatakan bahwa migran lebih banyak lakilaki daripada perempuan pada usia umur produktif.11. Globalisasi telah merubah banyak jumlah perempuan yang migrasi bukan saja sebagai pengikut tetapi juga sebagai pelaku migrasi. dunia seakan tanpa batas.

Karena dalam proses mobilitas terjadi kontak dengan lingkungan lain.775 85 457 1 3 80 3.401 Persentase 81. perubahan sosial budaya dapat diamati dari perubahan orientasi nilai budaya tradisional. perubahan status sosial ekonomi seperti mata pencaharian serta tingkat pendidikan. dan pola fertilitas. Secara umum. seringkali menjadi pelaku perubahan.0 Sumber: Disnakertrans Provinsi sulawesi Selatan (Data Diolah) Data bulan Januari-September 2010. Mereka membawa berbagai pengetahuan dan nilai-nilai baru ke tempat asal atau ke tempat tujuan sehingga mendorong terjadinya perubahan sosial budaya.0 0.Banyaknya Migrasi Internasional (TKI dan TKW) dari Sulawesi Selatan Menurut Tujuan Negara Tahun 2010 Tujuan Negara Malaysia Arab saudi Brunei Darussalam Hongkong Kuwait Malaysia Timur Jumlah Jumlah 2.1 2.4 100. Tabel menunjukkan bahwa migrasi dari sulawesi Selatan sebagian 104 .4 0.14.Tabel 6. Migran yang telah tersentuh atau dipengaruhi oleh lingkungan yang lain. Mobilitas penduduk dapat mendatangkan perubahan sosial baik bagi daerah asal maupun daerah tujuan.6 2.5 13.

29 persen).401 100.045 Persentase L 77.10 persen) dan Malaysia Timur 14 orang (1.3 persen.80 persen dan 90. Tetapi yang menarik adalah migrasi ke Malaysia dari Sulawesi Selatan yang menjadi TKI dan TKW ke malaysia adalah laki-laki dan perempuan masing masing untuk laki-laki 77.80 0. Tahun 2010 Jenis Kelamin L 1. Bahkan ada yang menuju Hong Kong yaitu 1 orang (0.80 P 90.4 persen) dan Arab Saudi 2.833 0 457 0 0 66 2. Banyaknya Migrasi Internasional (TKI dan TKW) dari Sulawesi Selatan Menurut Tujuan Negara dan Jenis Kelamin.00 Sumber: Disnakertrans Provinsi sulawesi Selatan (Data Data bulan Januari-September 2010. 105 .40 8.775 85 457 1 3 80 3.00 Tujuan Negara Malaysia Arab saudi Brunei Darussalam Hongkong Kuwait Malaysia Timur Jumlah Diolah) Total 2.13 persen).34 100.15.10 0. Tabel 6.34 persen).00 19'40 0.00 0. berikutnya adalah Brunei Darussalam (13.dan Kuwait 3 orang (0.00 2. Sedangkan migrasi yang menuju nega-negara Arab seperti ke Arab Saudi adalah umumnya perempuan yaitu sebanyak 85 orang (8.356 P 942 85 0 1 3 14 1.29 1.besar menuju Malaysia mencapai 81.40 persen.13 0.5 persen.00 0.

106 .

Hambatan bagi partisipasi perempuan dalam kehidupan politik tidak boleh ditolerir. saling menghargai. karena dapat menghambat pertumbuhan kesejahteraan keluarga dan masyarakat dan mempersulit perkembangan potensi perempuan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Eksekutif.1. serasi. Dalam bab ini. 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum memberikan dukungan untuk terlaksananya 107 . 6.BAB VII. SEKTOR PUBLIK Peran aktif perempuan dalam pembangunan pada hakekatnya adalah upaya untuk mengembangkan diri yang dapat dilihat pada bidangbidang yang memberi pengaruh luas disektor publik meliputi politik dan sektor pemerintahan. dan seimbang yang dilandasi saling menghormati. Partisipasi perempuan memberikan kemampuan. Artinya peraturan perundangundangan yang terkait dengan Pemilu wajib menjamin hak yang sama antara laki-laki dan perempuan untuk menikmati hak sipil dan politik. Partisipasi Perempuan dalam Bidang Legislatif. saling membutuhkan dan saling mengisi. kemandirian serta ketahanan mental dan spiritual menuju terwujudnya kemitrasejajaran perempuan dan laki-laki yang selaras. eksekutif dan yudikatif. UU No. hak kewajiban dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan dalam menjalankan peran masing-masing. kedudukan. Dengan demikian akan terdapat persamaan status. akan disajikan data tentang keterlibatan perempuan di Sulawesi Selatan pada sektor publik dalam bidang legislatif. 2 Tahun 2007 tentang Partai Politik dan UU No. Yudikatif Hak untuk dipilih dan memilih berdasarkan persamaan hak merupakan perintah UU yang harus dipatuhi.

Tetapi hal tersebut belum menjamin calon anggota legislatif dari kalangan perempuan akan benar terpilih. Ditentukannya 30% pengurus partai politik di semua tingkatan harus diisi oleh perempuan dan 30% calon anggota legislatif juga diisi oleh perempuan dengan jaminan penempatan pada nomor urut kopiah atau dasi. Hukum sebagai sarana perubahan sosial diharapkan mampu mengubah pola peranan laki-laki dan perempuan dalam masyarakat yang masih diwarnai oleh ciri-ciri suatu masyarakat tradisional paternalistik. menjadi bidan/perawat.affirmative action dalam rangka meningkatkan peranan perempuan di bidang partai politik. memasak. Dalam masyarakat tradisional semacam itu perempuan diberi peran untuk tugas-tugas yang perlu kesabaran. bupati atau pemimpin partai. Artinya bila hal tersebut menjadi keputusan politik calon anggota legislatif dari kalangan kaum hawa harus lebih keras dalam mengumpulkan pemilih. kehalusan perasaan. Ketentuan UU tersebut diperlukan sebagai sarana perubahan sosio cultural menuju persamaan gender dalam kehidupan politik. Sedangkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih menantang dianggap dunianya laki-laki seperti menjadi tentara. sehingga peran mereka terutama mengasuh anak. karena partai politik berubah pikiran dalam penetapan calon terpilih dari berdasar nomor urut ke berdasar suara terbanyak. Secara bertahap sejak reformasi perubahan sosio cultural menuju persamaan peran laki-laki dan perempuan di dunia politik sudah mulai terjadi. Keterlibatan perempuan dalam dunia politik memberikan kecerahan bahwa kaum perempuan bisa menjadi ujung tombak dalam 108 . cukup memberi peluang kepada peningkatan peranan perempuan secara kuantitatif.

advokasi upaya pengarusutamaan serta nilai-nilai kesetaraan gender dalam produk perundang-undangan maupun penciptaan perencanaan pembangunan yang berperspektif gender.1. Partisipasi perempuan dalam bidang legislatif dapat dilihat dari keanggotaan mereka dalam lembaga legislatif. 109 . dalam hal ini sebagai anggota DPR/DPRD. Jumlah anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel 7.

14 3.00 20.33 11.93 88.57 11.57 20.57 76.43 80.1 Jumlah Anggota DPRD Tingkat Kab/Kota & Provinsi Periode 2004-2009 Berdasarkan Jenis Kelamin di Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten/ Kota Jumlah Anggota DPRD Laki-laki Jumlah Anggota DPRD % Perempuan Jumlah Anggot a DPRD % Total No .00 13.11 86.07 12.00 86.06 7 4 7 4 7 13 4 6 3 5 9 4 6 1 4 3 3 5 1 0 7 3 21.00 13.00 84.94 32 40 25 35 30 45 29 35 35 25 45 30 35 30 35 30 35 45 35 30 58 25 25 789 4 110 Sumber : Badan PP dan KB Provinsi Sulawesi Selatan.43 88.86 96.89 97.00 88.67 71.00 11.00 80.00 8.14 100.43 23. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 T o t al Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidenreng Rappang Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Kota Makassar Kota Parepare Kota Palopo 25 36 18 31 23 32 25 29 32 20 36 26 29 29 31 27 32 40 34 30 51 22 21 679 78.33 17.00 72.14 8.57 90.00 28.00 91.Tabel 7.86 91.00 87.88 10.33 28.79 17.00 12.89 13.86 0.00 16.00 86.21 82.43 10.67 88.11 2.67 82. 2010 110 .13 90.

10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum memberikan dukungan untuk terlaksananya affirmative action dalam rangka meningkatkan peranan perempuan di bidang partai politik belum sepenuhnya dapat terlaksana.1 berikut: 111 .1. Selanjutnya kabupaten yang memiliki jumlah anggota DPRD yang banyak adalah Kabupaten Gowa sebanyak 45 orang dengan perbandingan laki-laki sebanyak 32 orang (71. Kabupaten berikutnya yang memiliki jumlah anggota DPRD yang cukup banyak adalah Kabupaten Bulukumba yaitu sebanyak 40 orang dengan perbandingan laki-laki 36 orang (90 %) dan perempuan 4 orang (10 %). Dari data Tabel 7. Hal ini menunjukkan bahwa aturan UU No. jika dianalisis berdasarkan jumlah anggota DPRD pada setiap kabupaten/kota terlihat bahwa dari 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan. Jumlah yang sama juga di Kabupaten Bone yaitu sebanyak 45 orang dengan perbandingan laki-laki 36 orang (80 %) dan perempuan 9 orang (20 %).Berdasarkan Tabel 7. 2 Tahun 2007 tentang Partai Politik dan UU No. yang memiliki jumlah anggota DPRD paling banyak adalah kota Makassar yaitu sebanyak 58 orang diantaranya laki-laki 51 orang (87.89 %).07 %).1 juga terlihat bahwa dari seluruh kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan belum ada satupun kabupaten yang keberadaan anggota DPRD perempuan memenuhi quota 30 %.11 %) dan perempuan 13 orang (28. Untuk melihat perbandingan persentase jumlah anggota DPRD Tingkat II Pemilu 2009 berdasarkan jenis kelamin di Provinsi Sulawesi Selatan dapat dilihat pada Diagram 7.93 %) dan perempuan 7 orang (12.

maka dapat kita simpulkan bahwa baik jumlah anggota DPRD baik di setiap kabupaten maupun di tingkat provinsi belum ada yang memenuhi quota 30%. Peran perempuan dalam kepemimpinan di bidang pemerintahan tidak jauh berbeda dari peran mereka dalam calon anggota legislatif.06 %) dan perempuan 110 orang (13. Peran perempuan dibidang pemerintahan merupakan refleksi dari kualitas peran mereka dalam kepemimpinan partai politik dan dalam lembaga legislatif. diperlukan komitmen.94 %).Diagram 7.1 Persentase Anggota DPRD Tingkat II Provinsi Sulawesi Selatan Berdasarkan Jenis Kelamin di 2009 Jumlah Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2009 berjumlah 789 orang diantaranya laki-laki 679 orang (86. yang kuat dikalangan elit politik untuk secara sungguh-sungguh melaksanakan amanat UUD dan ketentuan undang-undang yang menjamin kedudukan antara laki-laki dan perempuan didepan hukum dan 112 . Jika kita amati data tersebut. Untuk meningkatkan kualitas peran perempuan. sehingga ke depan perlu dilakukan langkah-langkah strategis agar keterlibatan dan peran perempuan di ranah legislative dapat lebih ditingkatkan.

Pegawai Negeri Sipil yang dimaksud adalah semua pegawai yang bekerja pada departemen. Komposisi PNS Pemerintah pada tingkat provinsi dan kabupaten berdasarkan jenis kelamin di Provinsi Sulawesi Selatan pada Tahun 2010 disajikan pada Tabel 7. Partisipasi perempuan dan laki-laki dalam bidang eksekutif dapat dilihat dari jumlah mereka yang terlibat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sementara itu kaum perempuan perlu mengkonsolidasikan potensinya. kapabilitas serta akseptabilitas untuk memainkan peranan lebih besar dalam kancah politik demi kesejahteraan seluruh rakyat.2 berikut : 113 . menggalang dukungan untuk meraih simpati dan secara sistematis menempa diri agar memiliki kapasitas. non departemen.pemerintahan. Urusan politik dalam negara demokratis adalah urusan laki-laki dalam negara demokratis adalah urusan laki-laki dan perempuan. dinas. badan dan lembaga lainnya yang berada di bawah koordinasi pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Laki-laki dan perempuan mempunyai hak dan tanggung jawab yang sama untuk membangun bangsanya.

86%) adalah laki-laki dan perempuan 93.938 3.2.06 48.81 56.97 50.381 4.396 2.790 6.677 7.112 7.35 54.421 8.031 9. diantaranya 82.44 48.455 4.990 15.109 3.14 TOTAL 4.817 3.93 39.964 2.009 4.77 46. Hampir pada setiap kabupaten persentase PNS perempuan lebih banyak dibanding laki-laki.422 93.305 3.653 4.23 53.64 48.389 10.77 52.177 2.176 3.323 3.311 5.23 47.49 51.94 51.366 5.544 % 45.14 45.14%).54 53.199 4.082 4. kecuali di Kabupaten Jeneponto dan Tana Toraja serta persentase PNS di 114 .277 9.412 4.942 4.727 3.94 55.51 48.03 52.07 60.191 176.02 53.46 46.153 Sumber : BKN Provinsi Sulawesi Selatan 2010 Berdasarkan Tabel 7.238 2.55 54.Tabel 7.939 2.52 42.547 6.243 7.494 7.65 45.510 9.415 2.998 3.767 3.769 82.576 5.735 3.91 48.817 2.24 56.719 6.161 4.39 53.093 3.713 5.454 3.409 7.12 57.834 1.153 orang PNS pada tingkat kabupaten dan provinsi.609 % 54.56 51.024 2.86 PR 2.534 2.928 4.550 2.09 51.574 5.61 53.798 3.61 46.13 50.351 5.86 54.98 46.03 49.83 55.19 43.39 46.453 7.501 3.729 6.184 3.079 6.614 2.36 51.45 45.544 orang (46.713 3.222 2.307 5.88 42.890 5.76 43. Jumlah PNS Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Menurut Jenis Kelamin Tahun 2010 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Kabupaten Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Makassar Pare-Pare Palopo Prov Sulawesi Selatan *) Jumlah Jenis Kelamin LK 2.445 12.609 orang (53.97 47.17 44.592 3.48 57.467 2.2 terlihat bahwa dari 176.87 49.06 44.650 4.228 3.

persentase PNS perempuan lebih besar yaitu mencapai 55 % sedangkan laki-laki 45 %.2 berikut : Diagram 7. Pada golongan II dan III.tingkat Provinsi Sulawesi Selatan. Hal ini dapat berarti bahwa perempuan telah diberi kesempatan yang luas dalam bidang eksekutif sehingga diharapkan dapat memberikan peran dalam pembangunan daerah. Pada golongan 115 . kecuali pada golongan I. Selanjutnya untuk mengetahui perbandingan pegawai laki-laki dan perempuan berdasarkan golongan dapat dilihat pada Diagram 7. III dan IV lebih rendah persentasenya dibanding PNS perempuan. Secara rinci dapat diuraikan bahwa pada golongan I laki-laki sebesar 78 % sedangkan perempuan 22 %.2 Persentase PNS Menurut Jenis Kelamin dan Golongan di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2010 Gambaran tentang posisi PNS di Provinsi Sulawesi Selatan perempuan dan laki-laki bila ditinjau dari segi golongannya dapat di lihat pada Diagram 7.2. Dari diagram ini dapat diketahui bahwa secara umum proporsi PNS laki-laki yang berada pada golongan II.

Untuk peningkatan pembangunan khususnya di daerah diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas baik dari segi moral maupun pendidikan sehingga mereka dapat menjadi motor penggerak pembangunan daerah.IV perempuan sebesar 52 % sedangkan 48 %. diharapkan sumber daya manusia berkualitas ini mampu mendatangkan manfaat bagi daerahnya. Dari data-data ini menunjukkan bahwa di Provinsi Sulawesi Selatan ada pergeseran posisi perempuan yang lebih dominan dibanding laki-laki pada setiap golongan.3 berikut: 116 . Hal lain yang perlu diperhatikan dari keberadaan pegawai adalah komposisinya berdasarkan tingkat pendidikan yang dimiliki. Utamanya dalam kerangka Otonomi Daerah. Adapun komposisi pegawai pada tingkat provinsi di Provinsi Sulawesi Selatan berdasarkan Tingkat Pendidikan dapat dilihat pada Diagram 7. Untuk mengetahui secara lebih jelas perbandingan antara laki-laki dan perempuan menurut golongan pada setiap kabupaten dapat dilihat pada Lampiran 1.

092 orang diantaranya laki-laki 31. jumlah pegawai terbanyak berpendidikan S1/DIV/ Akta IV/Akta V/Spesialis yaitu sebanyak 63. dari 176.233 orang diantaranya laki-laki 14. kemudian tingkat pendidikan DI/DII/DIII/Sarjana Muda/Akademik sebanyak 45.3 Jumlah PNS Menurut Jenis Kelamin dan Pendidikan di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2010 \Analisis lebih lanjut berdasarkan tingkat pendidikan.000 orang diantaranya laki-laki 28.075 orang. Untuk mengetahui secara lebih jelas perbandingan antara laki-laki dan perempuan menurut pendidikan pada setiap kabupaten dapat dilihat pada Lampiran 2.917 orang.175 orang dan perempuan 31. kemudian tingkat pendidikan SLTA sebanyak 56.Diagram 7. Pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi yaitu pada S2 dan S3.153 orang PNS di Provinsi Sulawesi Selatan.158 orang dan perempuan 31.590 orang. 117 . jumlah lakilaki jauh lebih banyak dibanding perempuan.410 orang dan perempuan 27.

Pada Tabel 7. hukum yang dilaksanakan atas semua orang tanpa mengistimewakan dan tanpa membedakan seorang individu atas lainnya karena jenis kelamin. Partisipasi perempuan dalam bidang yudikatif dapat dilihat dari keterlibatan mereka dalam segi tugas dan tanggungjawab pekerjaannya. 118 . kemiskinan. jaksa. kekerabatan atau persahabatan. Dalam hal ini. Persamaan hak dalam bidang yudikatif merupakan salah satu manifestasi prinsip persamaan yang dituntut oleh keadilan yang dicanangkan pemerintah. bidang lainnya yang perlu mendapat perhatian adalah yudikatif. kedudukan.3 disajikan data mengenai jumlah Jaksa yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan menurut jenis kelamin. warna kulit. notaris dan advokat/pengacara dan anggota kepolisian. dapat dilihat dari keterlibatan mereka sebagai praktisi hukum yaitu sebagai hakim (negeri dan agama).Selain peran perempuan dalam bidang legislatif dan eksekutif. kekayaan.

50 Jml 1 2 5 1 2 7 2 8 11 4 2 4 2 2 4 2 3 2 1 10 1 3 35 96 PR % 20.00 36.00 23.33 80.00 46.00 63.00 53.96 90.36 28.75 44.00 87.92 57.00 55.50 %) dan 119 .43 72.00 44.64 71.Tabel 7.25 55.84 25.00 25.44 25. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Kabupaten/Kota Kejari Selayar Kejari Bulukumba Kejari Bantaeng Kejari Jeneponto Kejari Takalar Kejari Sungguminasa Kejari Sinjai Kejari Maros Kejari Pangkep Kejari Barru Kejari Watampone Kejari Soppeng Kejari Sengkang Kejari Sidrap Kejari Pinrang Kejari Enrekang Kejari Belopa Kejari Makale Kejari Masamba Kejari Malili Kejari Makassar Kejari Pare-Pare Kejari Palopo Kejati Provinsi Sul-Sel Jumlah Jml 4 6 4 5 8 12 6 7 5 5 5 5 6 6 7 5 8 5 6 7 17 9 10 48 167 LK % 80.56 75.04 10.50 37.00 36.83 63.44 28.00 75.67 31.00 75.43 100.00 63.16 75.33 68.27 28.3 dapat diketahui bahwa jumlah jaksa sebanyak 257 orang diantaranya laki-laki 167 orang (63.43 55.00 76.44 83.00 25.56 71.57 44.17 36.57 12.3 Jumlah Pejabat Strutural Pada Kejaksaan Tinggi Di Kabupaten/Kota dan Provinsi Sulawesi Selatan NO.50 Jumlah 5 8 9 6 10 19 8 15 16 9 7 9 8 8 11 7 11 7 6 8 27 10 13 83 263 Sumber: Kejaksaaan Tinggi Sulawesi Selatan Berdasarkan Tabel 7.67 20.56 16.73 71.57 27.08 42.50 62.

4 berikut disajikan data mengenai jumlah personil polisi menurut pangkat dan jenis kelamin di Provinsi Sulawesi Selatan pada Tahun 2010. Jumlah Personil Polisi Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2010 Sumber : Polda Sulawesi Selatan. Hanya saja tidak didapatkan data tentang jumlah pengacara.50 %) yang tersebar pada 23 Kejari kabupaten/kota dan Kejati Provinsi Sulawesi Selatan. Tabel 7. untuk menegakkan pelaksanaan hukum aparat keamanan dalam hal ini polisi juga memegang peranan penting. 2010 120 .perempuan 96 orang (36. Polisi banyak memainkan peran untuk menciptakan kedamaian dan perlindungan hukum kepada masyarakat. hakim dan notaris.4. Selain praktisi hukum. Pada Tabel 7.

736 orang. Partisipasi Perempuan dalam Partai Politik dan Organisasi Sosial Kemasyarakatan Selain keterlibatan perempuan dalam keanggotaan di DPRD. bendahara atau peran-peran yang terkait dengan konsumsi. sebagian partai politik berusaha memenuhi batas minimum kuota perempuan. dan kesenian.Saat ini di Provinsi Sulawesi Selatan.04 %).96 %) dan perempuan sebanyak 300 orang (2. Soal kualitas calon perempuan masih menjadi tanda tanya. Dalam daftar calon legislatif yang diserahkan kepada KPU. Sedikitnya jumlah perempuan yang menjadi anggota polisi ini disebabkan karena masih kentalnya nilai-nilai budaya yang melekat pada pekerjaan polisi ini yang beranggapan bahwa hanya laki-laki yang paling tepat untuk pekerjaan tersebut. trengginas mampu menangkap aspirasi rakyat dan paham lika-likunya politik.436 orang (97. Sejumlah partai politik memberi peran strategis kepada kaum perempuan dalam kepemimpinan partai politik. Karena langkanya kader perempuan yang dimiliki tidak jarang aroma nepotisme dalam rekrutmen calon anggota legislatif sulit dielakkan. hal lain yang perlu dilihat adalah keterlibatan perempuan di setiap partai politik sebagai langkah awal dalam memasuki dunia politik. Karena secara fisik pekerjaan sebagai polisi dianggap sebagai pekerjaan berat. jumlah aparat kepolisian adalah sebanyak 14. karena tidak sedikit partai politik yang belum sempat menempa kader-kader srikandi yang mempunyai kemampuan untuk ditampilkan sebagai wakil rakyat yang cerdas. terdiri dari laki-laki sebanyak 14. 6. Untuk 121 .2. Tetapi lebih banyak yang memberi peran figuran untuk sekedar memenuhi formalitas yang ditentukan undang-undang perempuan lebih kurang ditempatkan pada posisi sekretaris.

Jumlah Pengurus Partai Politik Tingkat Provinsi Menurut Jenis Kelamin dalam Pemilu Legislatif Tahun 2009 122 .5.5 berikut: Tabel 7.mengetahui keberadaan perempuan dalam kepengurusan partai politik dapat dilihat pada tabel 7.

dan perencanaan akan menjadi terbatas.4 Persentase Pengurus Partai Politik Tingkat Provinsi Menurut Jenis Kelamin dalam Pemilu Legislatif Tahun 2009 Tabel 7. perumusan kebijakan. sehingga pada gilirannya kebijakan-kebijakan partai politik yang ada kurang berperspektif gender. Dari data tersebut terlihat pula bahwa masih banyak partai politik yang tidak melibatkan perempuan dalam kepengurusannya seperti partai. Dari 38 partai politik yang ada hanya 12 partai politik yang melibatkan perempuan. menggambarkan keterlibatan perempuan pada kepengurusan partai politik di Provinsi Sulawesi Selatan. dari 114 orang yang menjadi pengurus partai politik perempuan hanya 16 orang (14 %) saja sementara perempuan mencapai 98 orang (86 %). Oleh karena itu.Diagram 7. seringkali aspirasi perempuan kurang diperhitungkan dalam menyusun kebijakan partai. Kurangnya keterlibatan perempuan dalam partai politik dapat memberikan indikasi bahwa akses perempuan dalam pengambilan keputusan.4. 123 .

Hal ini sangat penting mengingat bahwa duduknya perempuan dalam jabatan/eselon memperlihatkan kontrol perempuan terhadap suatu bidang tertentu dari kebijakan dan program-program publik.6.5 Jumlah dan Persentase PNS Kabupaten/Kota Dan Provinsi Sulawesi Selatan Menurut Jabatan Struktural (Eselon) dan Jenis Kelamin Kondisi Oktober 2010 Berdasarkan Diagram 7. Untuk lebih jelasnya mengenai perbadingan PNS laki-laki dan perempuan di Provinsi Sulawesi Selatan berdasarkan eselon dapat dilihat pada Diagram 7.3.5 berikut : Diagram 7.5 jika dijumlahkan antara PNS laki-laki dan perempuan berdasarkan Eselon dapat diketahui bahwa jumlah pegawai di Provinsi Sulawesi Selatan yang menjabat posisi eselon sebanyak 7.924 124 . Dengan demikian diharapkan setiap kebijakan yang dihasilkan oleh instansi yang mereka pimpin tidak bias gender. Jumlah PNS menurut Eselonisasi Salah satu ukuran keterlibatan perempuan dalam sektor publik adalah banyaknya perempuan yang duduk dalam jabatan-jabatan publik.

682 orang (72 %) dan perempuan 2. 125 .117 orang dan perempuan 232 orang. selain karena keinginan perempuan yang masih setengah-setengah juga karena masih seringnya kodrat perempuan digunakan alasan untuk tidak diikutsertakannya perempuan dalam kegiatan-kegiatan pendidikan tersebut.987 orang .322 orang dan perempuan 1.kemudian eselon III sebanyak 1. Hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh karena sedikitnya perempuan yang dianggap cakap untuk menduduki jabatan-jabatan yang bereselon tinggi karena tidak memadainya tingkat pendidikan mereka. kecuali pada jabatan eselon terendah yaitu eselon V semua yang menjabat adalah perempuan.orang diantaranya laki-laki 5.242 orang (28 %). Pada tingkat eselon II sebanyak 256 orang diantaranya laki-laki 241 orang dan perempuan 3 orang. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa PNS terbanyak pada eselon IV sebanyak 6. Kurangnya perempuan yang memiliki tingkat pendidikan.349 orang diantaranya laki-laki 1. terutama pendidikan penjenjangan karir.309 orang diantaranya laki-laki 4. sementara pada posisi yang tertinggi yaitu eselon I berjumlah 2 orang yang kesemuanya adalah laki-laki. baik pendidikan formal maupun pendidikan-pendidikan penjenjangan karir. Untuk mengetahui secara lebih jelas perbandingan antara laki-laki dan perempuan menurut eselon pada setiap kabupaten dapat dilihat pada Lampiran 3. Terlihat bahwa pada setiap jabatan eselon jumlah laki-laki jauh lebih banyak dibanding perempuan.

126 .

seksual maupun fsikologis (United Nations Depertement of Public Relation 1986) Masalah kekerasan pada dasarnya erat kaitannya dengan kekuasaan. yaitu : 1. memberikan beberapa penjelasan mengenai penindasan terhadap perempuan. sistem kepercayaan gender mengacu pada serangkaian kepercayaan dan pendapat tentang lakilaki dan perempan. yang terjadi baik didalam rumah tangga atau keluarga (privat life). suka mengalah dan pasif (belenggu patriarki). Dominasi pria terhadap wanita menunjukkan adanya kekuasaan pria untuk berbuat sesukanya terhadap wanita.BAB VIII. Pada umumnya laki-laki dianggap sebagai sosok yang lebih kuat. Jagger dan Rottenberg (2002). Hal ini juga di dukung oleh sistem kepercayaan gender yang berlaku dalam masyarakat. pemaksaan atau perampasan hakhak kebebasan. sistem ini mencakup pengertian bagaimana sebenarnya laki-laki dan perempuan itu. dan umumnya tindakan kekerasan dilakukan oleh kaum laki-laki. termasuk ancaman. mempunyai dominasi dan otonomi. Secara historis perempuan merupakan kelompok pertama yang tertindas 127 . KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN Platform For Action and Beijing Declaration menyatakan bahwa kekerasan terhadap perempuan adalah segala bentuk tindakan kekerasan berdasarkan gender. lebih aktif. sebaliknya perempuan di pandang sebagai mahluk lemah. maupun di dalam masyarakat (public life) yang mengakibatkan kesengsaraan atau penderitaan bagi wanita baik secara fisik.

128 . dan faktor ekonomi. berbagai tindak kekerasan telah di alami oleh perempuan dari waktu-kewaktu. Penindasan terhadap perempuan menyebabkan penderitaan yang paling berat bagi korban-korbannya. meskipunpenderitaan ini berlangsung tanpa di ketahui oleh orang lain. Menurut Aguste Comte. Kekerasan terhadap perempuan. yaitu fungsi mereka dalam keluarga. seperti penghapusan kelas masyarakat 4. 3. Perempuan sering di analisis dalam hubungannya dengan kedudukan atau juga dengan kekuasaan yang ada dalam masyarakat. banyak faktor-faktor yang melatar belakangi timbulnya tindak kekerasan terhadap perempuan. dimana mereka cenderung sedikit memperoleh pengakuan kedudukan didalam keluarga maupun dalam masyarakat yang luas. diantaranya faktor budaya. sebagaimana disajikan pada table berikut. faktor social. perempuan secara konstitusional bersifat inferiror. tidak hanya terjadi pada kelompok usia dewasa tetapi juga pada kelompok usia anak-anak dan lanjut usia.2. Penindasan terhadap perempuan terjadi dimana-mana dalam masyarakat Penindasan perempuan adalah bentuk penindasan yang paling sulit di lenyapkan dan tidak akan bisa dihilangkan melalui perubahanperubahan sosial lain. Kekerasan terhadap perempuan merupakan fenomena sosial yang telah berlangsung lama dari masyarakat yang masih primitive sampai pada masyarakat modern sekarang ini.

Rekapitulasi Data Korban Tindak Kekerasan (Ktk) Anak Berdasarkan Jenis Kelamin Di Propinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009-2010 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 PROPINSI SUL-SEL ANAK KORBAN TINDAK KEKERASAN (KTK) P 21 25 45 38 32 71 51 22 35 24 42 44 46 23 43 48 39 32 29 35 39 11 15 JUMLAH 27 28 56 41 39 82 57 27 44 31 47 49 57 23 45 54 46 37 32 38 39 13 18 L 4 2 15 7 9 6 8 2 6 4 7 1 15 1 5 3 9 2 7 5 5 5 9 ANAK P 15 28 36 26 12 71 51 30 17 18 22 19 19 15 29 33 28 25 22 26 25 19 27 JUMLAH 19 30 51 33 21 77 59 32 23 22 29 20 34 16 34 36 37 27 29 31 30 24 26 MAKASSAR GOWA PARE-PARE BANTAENG SOPPENG TANA TORAJA PALOPO MAROS BARRU SIDRAP PINRANG WAJO BONE ENREKANG LUWU LUWU UTARA TAKALAR JENEPONTO BULUKUMBA SINJAI SELAYAR PANGKEP LUWU TIMUR JUMLAH L 6 3 11 3 7 11 6 5 9 7 5 5 11 0 2 6 7 5 3 3 0 2 3 Sumber Data : Dinsos Prov.Tabel 8.1. Sulsel 120 810 930 137 613 750 129 .

dikuatkan dengan banyaknya jumlah kasus yang dilaporkan di Polda Sulselbar sebagaimana table berikut.21 Sidik P. Palopo. maka tindak kekerasan terhadap anak-anak perempuan yang tertinggi di kabupaten Tana Toraja yakni 71 kasus. Data Keseluruhan Kasus Yang Melibatkan Pelaku/Korban Anak Periode Tahun 2009 NO 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 JENIS KASUS 2 Pemerkosaan Pemerkosaan Traficking Pelecehan Seksual UMUR KORBAN 3 14 Thn 13 Thn 15 Thn 16 Thn 16 Thn 13 Thn 3 Thn 13 Thn 15 Thn 14 Thn LAKILAKI 4       √  √  PEREM PUAN 5 √ √ √ √ √ √  √  √ STATUS KASUS 6 P. Tana Toraja.21 Sidik Sidik Proses Proses P. nampak bahwa kekerasan yang terjadi di tahun 2009 dan 2010 pada anak-anak perempuan jauh lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan kekerasan yang menimpa pada anak laki-laki yaitu 8. Tabel 8. namun di beberapa kabupaten/kota menunjukkan kecenderungan naik atau tetap yaitu di kabupaten Gowa.Berdasarkan table diatas. Apabila dilihat berdasarkan kabupaten. Data tersebut diatas. dan Luwu Timur. Secara umum ada kecenderungan penurunan jumlah kasus.4 : 1.21 TERSANGKA 7 LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI PELAKU 8 15 Thn 19 Thn 27 Thn 40 Thn 43 Thn 33 Thn 45 Thn 50 Thn - 130 . Pangkep.2. Jumlah kasus kekerasan pada anak perempuan dari tahun 2009 sampai 2010 berjumlah 1. Maros.423 kasus.5. dan terrendah di kabupaten Pangkep (tahun 2009) dan Soppeng (tahun 2010).

Kecenderungan kasus meningkat pada tahun 2010 yaitu sebanyak 32 kasus dari 34 kasus atau 94%. 131 .11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 Perbuatan cabul Pemerkosaan Penganiayaan Pemerkosaan Pemerkosaan Pernografi Penganiayaan - 6 Thn 16 Thn 17 Thn 14 Thn 17 Thn 15 Thn 10 Thn 17 Thn 15 Thn 16 Thn 7 Thn 16 Thn 15 Thn 16 tHN 17 Thn 17 Thn 11 Thn 14 Thn 60 Thn 16 Thn 37 Thn 16 Thn      √          √    √      √ √ √ √ √  √ √ √ √ √ √ √ √ √ √  √ √ √  √ √ √ √ √ Sidik Sidik P.21 Sidik Lidik Lidik Sidik Cabut Laporan ABH ABH ABH ABH Dalam Lidik ABH ABH Dalam Proses Proses Proses STM STM LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI 50 Thn 19 Thn 20 Thn 33 Thn 21 Thn 15 Thn 17 Thn 40 Thn 17 Thn 20 Thn 17 Thn 21 Thn 35 Thn 17 Thn 17 Thn 35 Thn 30 Thn 23 Thn 25 Thn 18 Thn 19 Thn 17 Thn 15 Thn 50 Thn Data kekerasan terhadap anak perempuan yang dilaporkan pada tahun 2009 sebanyak 26 kasus dari 36 kasus atau 72% dari jumlah keseluruhan.21 Sidik P. korbannya anak perempuan.21 P.21 P.21 Dalam Lidik P.

21 Bekar Proses Limpah Diversi Proses Sidik TERSANGKA 7 LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Dalam LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Dalam Lidik Dalam Lidik LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Dalam Lidik LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI PELAKU 8 30 Thn 42 Thn 40 Thn 18 Thn 16 Thn 20 Thn 22 Thn 15 Thn 35 Thn 17 Thn 20 Thn 20 Thn 20 Thn 17 Thn 23 Thn 24 Thn 15 Thn 40 Thn 26 Thn 132 .21 Diversi Cabut Dalam Lidik Lidik Sidik Proses Sidik Cabut Proses P.Tabel 8.3. Data Keseluruhan Kasus Yang Melibatkan Pelaku/Korban Anak Periode Tahun 2010 NO 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Pencabulan Pencabulan JENIS KASUS 2 UMUR KORBAN 3 19 Thn 13 Thn 15 Thn 13 Thn 17 Thn 16 Thn 16 Thn 17 Thn 16 Thn 15 Thn 14 Thn 16 Thn 13 Thn 17 Thn 17 Thn 19 Thn 14 Thn 4 Thn 18 Thn LAKILAKI 4      √                   PEREM PUAN 5 √ √ √ √ √  √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ STATUS KASUS 6 Sidik Tidak cukup bukti P.19 Tahap I Dalam Lidik Damai Proses Tahap I Proses P.18/P.

28 29 30 31 32 33 34 Pemerkosaan Pemerkosaan - 17 Thn 15 Thn 17 Thn 9 Thn 13 Thn 15 Thn 14 Thn      √  √ √ √ √ √  √ P.21 Sidik Sidik Proses P. Sulsel.21 Cabut Sidik LAKI-LAKI LAKI-LAKI LAKI-LAKI Dalam Lidik LAKI-LAKI Perempuan LAKI-LAKI 56 Thn 16 Thn 16 Thn 20 Thn 17 Thn 16 Thn Sumber data : Polda Sulselbar Kekerasan yang terjadi pada perempuan usia dewasa dan lansia pada tahun 2009 dan 2010 juga menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Berdasarkan data dari Dinas Sosial Prov. Untuk kekerasan yang terjadi pada perempuan lanjut usia mencapai 293 kasus pada kurun waktu tahun 2009 dan 2010 atau 69 % dari total kasus (lihat table dibawah). 133 . jumlah kekerasan pada perempuan dewasa mencapai 980 kasus (tahun 2009) dan 991 kasus (tahun 2010) atau 89% dari total kasus kekerasan yang terdata.

4. Rekapitulasi Data Korban Tindak Kekerasan (KTK Berdasarkan Jenis Kelamin di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009-2010 NO PROPINSI SUL-SEL L 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 MAKASSAR GOWA PARE-PARE BANTAENG SOPPENG TANA TORAJA PALOPO MAROS BARRU SIDRAP PINRANG WAJO BONE ENREKANG LUWU LUWU UTARA TAKALAR JENEPONTO BULUKUMBA SINJAI SELAYAR PANGKEP LUWU TIMUR JUMLAH 5 5 3 15 12 15 21 2 5 0 0 7 4 6 2 2 1 3 0 2 1 2 1 114 KORBAN TINDAK KEKERASAN (KTK) DEWASA TH 2009 P 41 34 40 55 62 70 31 36 39 38 50 53 80 24 56 42 41 51 37 44 28 15 13 980 46 39 43 70 74 85 52 38 44 38 50 60 84 30 58 44 42 54 37 46 29 17 14 1094 JUM LAH L 13 3 7 9 3 18 6 4 8 3 7 4 8 3 5 3 6 2 3 5 2 4 6 132 TH 2010 P 55 38 29 49 66 49 44 38 28 44 51 60 72 28 42 49 42 48 49 36 36 23 15 991 68 41 36 58 69 67 50 42 36 47 58 64 80 31 47 52 48 50 52 41 38 27 21 1.Tabel 8. Sulsel 134 .123 JUM LAH L 2 3 0 6 5 10 3 2 0 0 2 6 6 0 4 3 0 3 0 1 2 0 0 58 KORBAN TINDAK KEKERASAN (KTK) LANJUT USIA TH 2009 P 7 4 1 3 9 21 11 0 3 4 5 3 7 4 8 9 5 6 4 2 7 3 4 130 9 7 1 9 14 31 14 2 3 4 7 9 13 4 12 12 5 9 4 3 9 3 4 188 JUM LAH TH 2010 L 1 5 1 8 0 6 5 7 1 2 4 1 4 4 2 2 3 4 2 3 3 4 1 73 P 4 3 5 4 9 19 11 0 5 4 8 9 9 5 8 11 8 7 9 6 5 6 8 163 JUM LAH 5 8 6 12 9 25 16 7 6 6 12 10 13 9 10 13 11 11 11 9 8 10 9 236 Sumber Data : Dinsos Prov.

dalam hal ini suatu permasalan sosial. tidak dapat di selesaikan hanya melalui pendekatan sosial. mengharuskan kita untuk mengatasi. dan meminimalisir tindak kekerasan terhadap perempuan. dan untuk tahun 2010 mencapai 1767 kasus dari 2109 kasus atau 84 %. tentram. damai. berdasarkan data dari Dinas Sosial. menjadikan masyarakat yang terintegrasi dengan sempurna.Secara keseluruhan. Banyak faktor yang harus di perhatikan dalam usaha untuk menyelesaikan persoalan sosial dalam masyarakat. dan telah menjadi isu gender yang cukup sentral. pada saat salah satu subsistem tidak berfungsi dengan baik maka akan mengakibatkan kerusakan semua sistem. menunjukkan bahwa jumlah kekerasan pada perempuan pada tahun 2009 mencapai angka 1920 kasus dari 2212 kasus atau 87%. karena masyarakat merupakan suatu sistem. 135 . karena semua unsur berpengaruh dalam hal itu. Kekerasan terhadap perempuan sebagai suatu ancaman global terhadap kemanusian. maka sudah menjadi keharusan bahwa setiap bagian dalam masyarakat harus berperan aktif demi terciptanya lingkungan yang adil.

136 .

Kepemilikan Akte Kelahiran Akta kelahiran menjadi dokumen yang sangat penting bagi warga negara Republik Indonesia. hingga administrasi perolehan passport.BAB IX. dokumen akta kealhiran tersebut menjadi dokumen hukum bahwa seseorang memang dilahirkan dari seorang warga Negara Indonesia baik di dalam maupun di luar wilayah jurisdiksi Indonesia.25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil tidak mensyaratkan adanya kewajiban untuk melampirkan akta nikah/buku nikah orangtua anak dalam proses perolehan akta lahir bagi anak.23 Tahun 2002 juga UU No. seperti: pengurusan pendaftaran sekolah. Pasal 27 UU No.1.23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan jo. dimana seseorang ketika tidak memiliki dokumen berupa akta kelahiran akan cukup sulit dalam melakukan proses-proses administasi selanjutnya. administrasi pendaftaran pekerjaan. Hal ini juga dapat dikaitkan dengan kewarganegaraan seseorang. antara lain bahwa dalam memperoleh sebuah akta kelahiran. karena ia dilahirkan oleh seorang ayah dan/atau ibu yang berkewarganegaraan Indonesia. Perpres No. Jika anak 137 . MASALAH ANAK 9. Perihal akta kelahiran menjadi penting untuk dikaji setidaknya disebabkan oleh beberapa hal. maka acapkali pihak pencatat akta kelahiran atau pihak yang berwenang mensyaratkan adanya buku atau akta nikah dari orang tua yang hendak mencatatkan peristiwa kelahiran. Dalam kehidupan lebih lanjut bahwa kepemilikan akta kelahiran berdampak cukup luas.

Bahkan jika tidak diketahui siapa orangtuanya. maka surat tersebut akan menyatakan bahwa anak tersebut dilahirkan dari psangan bapak A dan ibu B. maka anak tersebut tetap mendapatkan haknya untuk memperoleh akta kelahiran cukup dengan keterangan dari orang yang menemukan si anak dan dilengkapi oleh berita acara pemeriksaan dari kepolisian. maka akta tersebut hanya menyatakan hubungan hukum dengan pihak Ibu saja.25 Tahun 2008. Bidan atau dokter yang membantu proses kelahiran si anak cukup memberikan surat keterangan mengenai proses kelahiran tersebut dan itu digunakan untuk mengurus keperluan pembuatan akta kelahiran. maka berdasarkan ketentuan Pasal 52 Perpres No. Tidak wajibnya melampirkan akta/buku nikah dalam hal memperoleh akta kelahiran bagi anak dikuatkan pula oleh Pasal 27 UU No. Pihak yang mengetahui terjadinya perkawinan serta kelahiran dihadirkan menjadi saksi dalam proses pencatatan oleh pihak orangtua anak. pembuatan akta kelahiran 138 . Pada sisi lain jika si Ayah tidak diketahui keberadaannya. dan orangtuanya tidak diketahui keberadaannya.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak: (1) Identitas seorang diri setiap anak harus diberikan sejak kelahirannya (2) Identitas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dituangkan dalam akta kelahiran (3) Pembuatan akta kelahiran didasarkan pada keterangan dari orang yang menyaksikan dan/atau membantu proses kelahiran (4) Dalam hal anak yang proses kelahirannya tidak diketahui.dilahirkan dari sepasang suami-isteri yang tidak dicatatkan perkawinannya.

Sulawesi Selatan Perkotaan Propinsi/Kabupaten Penduduk 0 .911 116.4 Years Memiliki Akte Kelahiran / Have Birth Certificate Banyakn ya / Prose Number ntase Province/District 00.72 72. Selayar 02.808 1.246 17.425 8.24 24.833 3. Soppeng 13.538 5.001 3.00 39.740 17. Gowa 07.986 6.407 1.413 12.96 Sumber data : BPS. Sensus Penduduk 2010 139 .414 1.064 11.907 7.544 57.900 2.190 2.634 4. Tana Toraja 22.23 46.785 23.2 35.678 22. Bantaeng 04.86 34.119 4. Luwu 18.71 31.76 25 42.294 4.825 3.17 75.78 27.44 5.4 Tahun / Population 0 .492 2.626 4.366 1.388 18.201 26.474 1.645 2.33 23.28 11.241 423 1.22 53.752 785 1.286 14.024 20.193 10.16 49.83 52 35.24 19.36 49.438 5. Sinjai 08.759 6. Palopo 240.300 8. Bone 12.961 6. Luwu Timur 71.592 5.27 65.18 20.18 42. Sulawesi Selatan 01.4 10.474 3.901 127.13 63.555 2.918 4. Luwu Utara 25.23 29.262 1. Pinrang 16.098 58.77 23.287 48. Maros 09. Sidenreng Rappang 15.67 34.89 22.846 14.931 21.625 115.944 9. Makasar 72.478 21.044 3.762 1.935 1.48 46.11 506.4 Tahun / Population 0 .252 34.888 25.014 2.371 2.756 2.583 28.1.3 14.657 10.433 7.067 2.8 13. Penduduk 0-4 Tahun yang Memiliki Akte Kelahiran menurut Kabupaten/Kota.35 19.411 5.58 36. Enrekang 17.55 17.13 37.968 6.428 4.177 702 704 405 25.732 18. Tabel 9.452 6. Wajo 14. Takalar 06.688 6.315 17.473 1.086 12.059 4.974 1.4 29. Barru 11.29 84.494 4.untuk anak tersebut didasarkan pada keterangan orang yang menemukan Data kepemilikan akte kelahiran anak usia 0-4 tahun di Sulawesi Selatan sebagaimana table berikut.784 5.897 600 3.572 41.854 5.208 9. Jeneponto 05.41 51.32 58. Bulukumba 03. Pare-Pare 73. Pangkajene Kepulauan 10.4 Years Memiliki Akte Kelahiran / Have Birth Certificate Banyakn ya / Prose Number ntase Perdesaan Penduduk 0 .38 27.808 34.150 3.92 38.16 43.6 20.45 39.5 29.706 690 2.249 2.210 5.297 37.610 4.

71%.6%. menemukan anakanak bekerja di sektor formal dan informal. berkisar setengahnya dari persentase kepemilikan di perkotaan. pasar ikan. tebu). Ersentase kepemilikan di perdesaan masih sangat rendah. nelayan (penangkap ikan dan pembudi daya rumput laut). jangkauan layanan petugas catatan sipil. dan penjual ikan. cokelat. Berdasarkan kab/kota. dan kepedulian pemerintah setempat dalam mewujudkan hak anak. Hal ini terkait erat dengan pengetahuan masyarakat. tidak ada data mengenai pekerja/buruh anak yang tercatat di Dinas Tenaga Kerja. pasar-pasar tradisional. utamanya di wilayah perdesaannya. antara lain di KIMA dan pabrikpabrik lain di daerah. Di TPAS Tamangapa terdapat 380 anak 140 .Berdasarkan data diatas. Adapun persentase kepemilikan tertinggi di kabupaten Enrekang.24 %. 9. pertanian (sawah).2. pemulung. Pekerja Anak Hingga saat ini. yang hanya mencapai 5. baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota. Anak-anak juga ditemukan di sektor kontruksi/bangunan. pencuci kapal. sektor perkebunan (kebun kelapa sawit. terdapat 117 anak umur 8-15 tahun yang aktif bekerja sebagai tukang bongkar dan pengangkut ikan. Namun penelitian LPA Sulawesi Selatan tahun 2008. utamanya di wilayah perkotaan yakni 84. tukang becak. kepemilikan akte terrendah di kabupaten Jeneponto. Di Pelabuhan Paotere. pengangkut air. dapat diketahui bahwa persentase kepemilikan akte kelahiran di Sulawesi Selatan baru mencapai 73.

Kekerasan yang disebut terakhir ini di kenal dengan perlakuan salah terhadap anak atau child abuse 141 .3. sekitar 63 % (239 anak) merupakan pemulung aktif. tidak ada perhatian orang tua. Angka pasti sulit dihitung. Kekerasan pada anak juga sering kali dihubungkan dengan lapis pertama dan kedua pemberi atau penanggung jawab pemenuhan hak anak yaitu orang tua (ayah dan ibu) dan keluarga. Seringkali istilah kekerasan pada anak ini dikaitkan dalam arti sempit dengan tidak terpenuhinya hak anak untuk mendapat perlindungan dari tindak kekerasan dan eksploitasi. 47 % yang masih di bangku sekolah pun rawan putus sekolah. Oleh karena itu. jadwal belajar yang tidak sesuai dengan kegiatan anak. 9. kekerasan pada anak adalah tindakan yang di lakukan seseorang /individu pada mereka yang belum genap berusia 18 tahun yang menyebabkan kondisi fisik dan atau mentalnya terganggu. Tingkat kerawanan putus sekolah dililihat dari : anak sering bolos ke sekolah. Kekerasan Terhadap Anak Secara umum kekerasan didefinisikan sebagai suatu tindakan yang dilakukan satu individu terhadap individu lain yang mengakibatkan gangguan fisik dan atau mental. Yang dimaksud dengan anak ialah individu yang belum mencapai usia 18 tahun. mencapai 70 %.(umur 5-17) tahun yang memulung. Anak-anak yang bekerja 53 % putus sekolah. namun angka yang diperoleh adalah mengenai pendidikan anak-anak yang bekerja. suasana belajar yang tidak cocok untuk anak.

didominasi oleh kasus kekerasan seksual. tukang kebon. supir pribadi.2). berupa perkosaan. seksual. pencabulan. seperti orang tua/keluarga. tukang ojek pengantar ke sekolah. kekerasan terhadap anak masih mendominasi pemberitaan di Media Massa yang terbit di Kota Makassar. dan seterusnya. dan pacar. Demikian juga. Kekerasan masih mendominasi laporan yang masuk ke Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sulawesi Selatan. dengan pelaku utama adalah orang-orang terdekat (Tabel 9. 142 . maupun emosi. tetangga. Kasus kekerasan yang dilaporkan ke LPA Sulawesi Selatan maupun yang diberitakan oleh media massa. teman. kakek. nenek. serta kekerasan fisik.yang merupakan bagian dari kekerasan dalam rumah tangga (domestic violence). ibu dan bapak tiri. Ibu dan bapak kandung. dan pelecehan. paman. Menurut Indra Sugiarno Kekerasan pada anak atau perlakuan salah pada anak adalah suatu tindakan semena-mena yang dilakukan oleh seseorang seharusnya menjaga dan melindungi anak (caretaker) pada seorang anak baik secara fisik. guru. Pelaku kekerasan di sini karena bertindak sebagai caretaker. maka mereka umumnya merupakan orang terdekat di sekitar anak. guru.

Tabel 9.2. Data Kekerasan Anak Di Sulawesi Selatan (2002-2010)
Variabel 200 2 200 3 200 4 200 5 200 6 200 7 200 8 200 9 2010* )

Kekerasa n seksual Kekerasa n fisik Lain-lain*) Total

70 69 60 199

82 77 49 208

92 88 94 274

99 92 90 281

98 96 99 293

99 103 105 307

132 124 92 348

77 110 68 255

82 59 30 171

Keterangan : Kekerasan seksual (pencabulan, pelecehan, perkosaan) Kekerasan fisik (di sekolah, rumah, jalan, dll) Tahun 2008, data juga diperoleh dari beberapa Polres di Sulawesi Selatan Lain-lain : kekerasan non-fisik, penelantaran, eksploitasi, penculikan, penipuan, dan pemalakan. *) Sampai Oktober 2010

Hanya 18 %, pelaku kekerasan adalah orang tidak mempunyai hubungan dengan korban. Artinya sebanyak 82 %, pelaku kekerasan terhadap anak adalah orang-orang dekat dengan korban. Yang perlu mendapat perhatian dari tabel di atas adalah meningkatnya kasus kekerasan seksual di Sulawesi Selatan. Tahun 2010, sampai bulan Oktober terdapat 82 kasus kekerasan seksual. Di samping itu, meningkatnya kasus inses (hubungan seksual dalam lingkungan keluarga) dan bentuk perkosaan terhadap anak. Sepanjang tahun 2010, terdapat 8 143

kasus inses di Sulawesi Selatan dengan korban anak dan pelaku adalah ayah kandung, paman, dan kakek. Sementara angka kekerasan fisik pada tahun 2010, mengalami penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kekerasan fisik terhadap anak masih seputaran di sekolah dan di rumah tangga. Angka kekerasan fisik yang mengalami penurunan menunjukkan kesadaran di tingkat masyarakat. Berdasarkan data Dinas Sosial, untuk tahun 2009 - 2010 tercatat tindak kekerasan pada anak sebagaimana tabel berikut. Jumlah anak korban tindak kekerasan menurun dari tahun 2009 ke tahun 2010, namun bila dicermati maka akan nampak bahwa terjadi peningkatan kasus pada anak laki-laki dari 120 menjadi 137. Jumlah inipun hanya kasus-kasus yang terlaporkan. Kasus kekerasan pada anak seringkali tidak dilaporkan, karena pemahaman masyarakat yang relatif rendah, yang berpendapat bahwa mereka tidak berkepentingan terhadap anak-anak diluar keluarga mereka dan juga faktor budaya malu dan tersinggung jika kasusnya dilaporkan.

144

Tabel 9.3. Rekapitulasi Data Korban Tindak Kekerasan (KTK) Anak Berdasarkan Jenis Kelamin Di Propinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009-2010
PROVINSI SULSEL MAKASSAR GOWA PARE PARE BANTAENG SOPPENG TANA TORAJA PALOPO MAROS BARRU SIDRAP PINRANG WAJO BONE ENREKANG LUWU LUWU UTARA TAKALAR JENEPONTO BULUKUMBA SINJAI SELAYAR PANGKEP LUWU TIMUR JUMLAH KORBAN TINDAK KEKERASAN (KTK) Tahun 2009 ANAK JUMLAH L P 6 3 11 3 7 11 6 5 9 7 5 5 11 0 2 6 7 5 3 3 0 2 3 120 21 25 45 38 32 71 51 22 35 24 42 44 46 23 43 48 39 32 29 35 39 11 15 810 27 28 56 41 39 82 57 27 44 31 47 49 57 23 45 54 46 37 32 38 39 13 18 930 KORBAN TINDAK KEKERASAN (KTK) Tahun 2010 ANAK JUMLAH L P 4 2 15 7 9 6 8 2 6 4 7 1 15 1 5 3 9 2 7 5 5 5 9 137 15 28 36 26 12 71 51 30 17 18 22 19 19 15 29 33 28 25 22 26 25 19 27 613 19 30 51 33 21 77 59 32 23 22 29 20 34 16 34 36 37 27 29 31 30 24 26 750

Sumber Data : Dinsos Prov. Sulsel

145

146 .

sehingga kesetaraan dan keadilan gender dimasa mendatang dapat lebih optimal. Peningkatan kualitas hidup perempuan diharapkan menjadi bagian dari keluarga yang merupakan basis utama terbentuknya generasi sekarang dan masa yang akan datang. Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam kaitan statistik gender bertujuan untuk mengidentifikasi jenis data dan informasi yang diperlukan sebagai bahan penentuan kebijakan masalah sosial. advokasi. baik pembangunan nasional dan daerah maupun antara daerah dan sektor serta mancanegara sebagai alat perjuangan untuk kepentingan nasional.BAB X. diselenggarakan melalui pengarusutamaan gender dalam setiap proses dan tahapan perencanaan pembangunan daerah di rasakan belum sempurna. sekaligus untuk membangun jaringan system informasi yang diperlukan antara lain meningkatkan fungsi koordinasi yang terpadu dalam penyediaan informasi yang benar dan bertanggung jawab serta mendorong peningkatan kualitas pelayanan data dan informasi pembangunan melalui multi media agar proses sosialisasi. PENUTUP 10. oleh karena itu pengkajian kebijakan 147 . strategi pemberdayaan perempuan akan menjadi salah satu instrumen yang penting dalam penyelenggaraan pemerintahan. Kesimpulan Dalam rangka memperoleh efek pengganda.1. dan praktek-praktek terbaik dapat terwujud serta diharapkan tercipta kemampuan masyarakat untuk menyeleksi informasi. agar tercipta rasa saling percaya serta menjaga kesenjangan informasi yang dapat menimbulkan disintegrasi bangsa.

pembangunan diperlukan dalam rangka mencari alternative-alternative kebijakan yang efektif. Kesemuanya saling melengkapi dan masingmasing memberi umpan balik artinya perencanaan yang telah disusun dengan baik. pelaksanaan. dan Monev. 1). Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan Tujuan program ini adalah untuk meningkatkan kedudukan dan peran perempuan sebagai mahluk individu yang merupakan insan dan sumberdaya pembangunan. untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan yakni . selesai (ex-post 148 . tahap pelaksanaan (on-going evaluation) dan saat program/kegiatan evaluation). sebagai bagian dari keluarga yang merupakan basis terbentuknya generasi sekarang dan masa mendatang. mulai tahap perencanaan (ex-ante evaluation. Dengan demikian program di bawah ini merupakan rekomendasi untuk lebih memperkuat peran masyarakat dan kelembagaan dalam pembangunan pemberdayaan perempuan. tidak ada artinya jika tidak dapat dilaksanakan. Demikian juga sebaliknya setiap pelaksanaan tidak akan berjalan lancar jika tidak didasarkan kepada perencanaan yang baik. 10.2. Untuk itu evaluasi menjadi penting. terutama memperkuat dan mendorong kemandirian lembaga-lembaga yang memiliki visi yang sama terhadap pemberdayaan perempuan. Rekomendasi Statistik Gender merupakan kegiatan dari fungsi management yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan dari perencanaan.

Penurunan angka buta huruf. c). Sosialisasi kesetaraan dan keadilan jender dalam pendidikan. b). Pada daerah-daerah terpencil. proses pembelajaran. program ini secara khusus untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam pendidikan. dan evaluasi dari seluruh kebijakan dan program pembangunan pendidikan. terutama bagi para perencana dan pengambil keputusan—termasuk orang tua.Di bertujuan bidang pendidikan. pengawasan. Kegiatan-kegiatan pokok yang akan dipersiapkan adalah: a). baik di lingkungan pendidikan sekolah maupun luar sekolah. tetap dapat berpartisipasi dalam pendidikan. termasuk bidang-bidang kejuruan. dalam situasi konflik. kepala sekolah. dan pendidikan yang selama ini lebih dianggap cocok untuk laki-laki. Evaluasi dan penataan materi bahan ajar agar lebih peka gender di seluruh jenjang dan jenis pendidikan. dan darurat. e). program pendidikan harus dilakukan dengan menggunakan pendekatan khusus yang memungkinkan penduduk usia sekolah. melalui berbagai media. dan pengelolaan pendidikan. Pengembangan metoda dan pendekatan pembelajaran baik intra maupun ekstra kurikuler yang lebih berwawasan jender. pelaksanaan. dan masyarakat.Peningkatan peran aktif perempuan dalam seluruh proses perencanaan. serta pengembangan mata pelajaran atau mata kuliah yang berkaitan dengan jender pada lembaga-lembaga penataran guru dan pendidikan penjenjangan. guru. baik perempuan maupun laki-laki. dan membenahi materi bahan ajar. dan peningkatan partisipasi perempuan pada semua jenis dan jenjang pendidikan. dan f). keahlian. 149 . d).

terutama dalam penyelesaian masalah-masalah khusus perempuan. j). baik dalam hal substansi. seperti bantuan hukum. Tujuan program ini adalah untuk mendukung terciptanya sistem hukum nasional yang tidak diskriminatif dan berkeadilan gender. bantuan pendampingan dan pemulihan/kompensasi bagi korban. pelaksanaan.2. Peningkatan peran aktif perempuan dalam proses perencanaan. Peningkatan akses masyarakat. Pembuatan UU dan peraturan-peraturan yang diperlukan dalam upaya menegakkan hak-hak perempuan. b). Ratifikasi Konvensi PBB tentang Larangan Perdagangan Perempuan dan Anak. seperti UU Anti Kekerasan.Penciptaan sistem perlindungan bagi perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga dan tempat kerja. dana. k) Penciptaan sistem perlindungan dan 150 . struktur maupun budaya hukumnya. f). penciptaan sistem komunikasi dan kerjasama antara institusi penegak hukum dengan organisasi masyarakat. h). i). pengawasan. Perumusan dan penerapan kebijakan dan tindakan khusus bagi upaya promosi aparat penegak hukum perempuan serta penanganan kasus-kasus perempuan. Perbaikan sistem dan perangkat hukum yang dapat menunjang penegakan hak azasi perempuan antara lain melalui pemberian hukuman semaksimal mungkin bagi para pelaku kejahatan serta memberikan pelayanan dan kompensasi bagi para korban kejahatan. Sosialisasi "budaya damai" agar perempuan terhindar dari berbagai bentuk kekerasan. dan evaluasi kebijakan dan program pembangunan hukum dan HAM. e). a). serta menegakkan hak azasi manusia (HAM) yang merugikan perempuan yakni . Penegakan Hukum dan Hak Azasi Manusia bagi Perempuan . g). d). terutama perempuan untuk memperoleh informasi dan sumberdaya hukum. lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan organisasi perempuan dalam rangka penegakan hukum.

termasuk organisasi perempuan. eksekutif. serta masyarakat secara keseluruhan. pelaksanaan. Intensifikasi kegiatan penelitian dan pengembangan tentang masalah-masalah jender. a). dan yudikatif. KIE (Komunikasi. meningkatkan kapasitas dan kemampuan institusi-institusi pemerintah dalam melakukan gender mainstreaming dalam setiap tahap dan proses pembangunan. dan m). Pembentukan tim khusus pelanggaran HAM terhadap perempuan 3. c). dan Edukasi) mengenai kesetaraan dan keadilan jender di lingkungan lembaga-lembaga legislatif. Pembuatan undang-undang dan peraturan-peraturan yang melindungi pekerja kemanusiaan dan pelapor tindak pelanggaran HAM. termasuk pengembangan materi dan bahan KIE untuk gender mainstreaming. Informasi. Pengembangan berbagai alat dan metode. antara lain melalui penyediaan data dan informasi yang dibedakan menurut jenis kelamin. Penguatan Peran Masyarakat dan Pemampuan Kelembagaan Tujuan program ini adalah untuk memperkuat peran aktif masyarakatl. d). Peningkatan kemampuan dan kapasitas institusi-institusi pemerintah untuk melakukan gender mainstreaming dalam proses perencanaan. 151 . termasuk TNI dan Kepolisian RI. 1). pengembangan sistem informasi jender. b). serta mewujudkan hubungan kemitraan yang efektif antara pemerintah dan lembaga-lembaga masyarakat yakni .penanganan khusus bagi perempuan dalam situasi konflik maupun kerusuhan yang bersifat penanganan segera. efektif dan menyeluruh. melalui peningkatan keterampilan dan keahlian serta pembentukan unit gender mainstreaming di setiap instansi pemerintah. e). meningkatkan peran dan kemandirian lembaga-lembaga yang memiliki visi pemberdayaan perempuan. pemantauan dan evaluasi pembangunan.

Peningkatan kemampuan dan kapasitas lembaga-lembaga masyarakat yang memiliki visi pemberdayaan perempuan. serta bersama-sama pemerintah merumuskan kebijakan dan program pembangunan. Penciptaan hubungan kemitraan yang efektif antara pemerintah dengan masyarakat sipil dan lembaga-lembaga masyarakat yang memiliki visi pemberdayaan perempuan. f). dan g). 152 .termasuk pemanfaatan dan pendayagunaan hasilnya. termasuk organisasi-organisasi perempuan yang ada di pusat maupun di daerah. melalui peningkatan keterampilan dan keahlian untuk lebih dapat menemukenali dan mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi perempuan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful