1

©2003 Digitized by USU digital library ASUHAN KEPERAWATAN ASMA BRONKIAL DUDUT TANJUNG, S.Kp. Fakultas Kedokteran Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Sumatera Utara Pengertian Asma bronkhial adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermitten, reversible dimana trakeobronkial berespon secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu. Asma bronchial adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respon trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan jalan nafas yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah baik secara spontan maupun hasil dari pengobatan ( The American Thoracic Society ). Klasifikasi Berdasarkan penyebabnya, asma bronkhial dapat diklasifikasikan menjadi 3 tipe, yaitu : 1. Ekstrinsik (alergik) Ditandai dengan reaksi alergik yang disebabkan oleh faktor-faktor pencetus yang spesifik, seperti debu, serbuk bunga, bulu binatang, obat-obatan (antibiotic dan aspirin) dan spora jamur. Asma ekstrinsik sering dihubungkan dengan adanya suatu predisposisi genetik terhadap alergi. Oleh karena itu jika ada faktor-faktor pencetus spesifik seperti yang disebutkan di atas, maka akan terjadi serangan asma ekstrinsik. 2. Intrinsik (non alergik) Ditandai dengan adanya reaksi non alergi yang bereaksi terhadap pencetus yang tidak spesifik atau tidak diketahui, seperti udara dingin atau bisa juga disebabkan oleh adanya infeksi saluran pernafasan dan emosi. Serangan asma ini menjadi lebih berat dan sering sejalan dengan berlalunya waktu dan dapat berkembang menjadi bronkhitis kronik dan emfisema. Beberapa pasien akan mengalami asma gabungan. 3. Asma gabungan Bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai karakteristik dari bentuk alergik dan non-alergik. Etiologi Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi timbulnya serangan asma bronkhial. a. Faktor predisposisi Genetik Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit alerg biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita penyakit alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan foktor pencetus. Selain itu hipersentifisitas saluran pernafasannya juga bisa diturunkan. b. Faktor presipitasi Alergen Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :

2

©2003 Digitized by USU digital library 1. Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan ex: debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi 2. Ingestan, yang masuk melalui mulut

ex: makanan dan obat-obatan 3. Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit ex: perhiasan, logam dan jam tangan Perubahan cuaca Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma. Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan asma. Kadang-kadang serangan berhubungan dengan musim, seperti: musim hujan, musim kemarau, musim bunga. Hal ini berhubungan dengan arah angin serbuk bunga dan debu. Stress Stress/ gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala asma yang timbul harus segera diobati penderita asma yang mengalami stress/gangguanemosi perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika stressnya belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati. Lingkungan kerja Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma. Hal ini berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang bekerja di laboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu lintas. Gejala ini membaik pada waktu libur atau cuti. Olah raga/ aktifitas jasmani yang berat Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan aktifitas jasmani atau aloh raga yang berat. Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena aktifitas biasanya terjadi segera setelah selesai aktifitas tersebut. Patofisiologi Asma ditandai dengan kontraksi spastic dari otot polos bronkhiolus yang menyebabkan sukar bernafas. Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas bronkhioulus terhadap benda-benda asing di udara. Reaksi yang timbul pada asma tipe alergi diduga terjadi dengan cara sebagai berikut : seorang yang alergi mempunyai kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibody Ig E abnormal dalam jumlah besar dan antibodi ini menyebabkan reaksi alergi bila reaksi dengan antigen spesifikasinya. Pada asma, antibody ini terutama melekat pada sel mast yang terdapat pada interstisial paru yang berhubungan erat dengan brokhiolus dan bronkhus kecil. Bila seseorang menghirup alergen maka antibody Ig E orang tersebut meningkat, alergen bereaksi dengan antibodi yang telah terlekat pada sel mast dan menyebabkan sel ini akan mengeluarkan berbagai macam zat, diantaranya histamin, zat anafilaksis yang bereaksi lambat (yang merupakan leukotrient), faktor kemotaktik eosinofilik dan bradikinin. Efek gabungan dari semua faktor-faktor ini akan menghasilkan adema lokal pada dinding bronkhioulus kecil maupun sekresi mucus yang kental dalam lumen bronkhioulus dan spasme otot polos bronkhiolus sehingga menyebabkan tahanan saluran napas menjadi sangat meningkat. Pada asma , diameter bronkiolus lebih berkurang selama ekspirasi daripada selama inspirasi karena peningkatan tekanan dalam paru selama eksirasi paksa

3

©2003 Digitized by USU digital library menekan bagian luar bronkiolus. Karena bronkiolus sudah tersumbat sebagian, maka sumbatan selanjutnya adalah akibat dari tekanan eksternal yang menimbulkan obstruksi berat terutama selama ekspirasi. Pada penderita asma biasanya dapat melakukan inspirasi dengan baik dan adekuat, tetapi sekali-kali melakukan ekspirasi. Hal ini menyebabkan dispnea. Kapasitas residu fungsional dan volume residu paru menjadi sangat meningkat selama serangan asma akibat kesukaran mengeluarkan

udara ekspirasi dari paru. Hal ini bisa menyebabkan barrel chest. Manifestasi Klinik Biasanya pada penderita yang sedang bebas serangan tidak ditemukan gejala klinis, tapi pada saat serangan penderita tampak bernafas cepat dan dalam, gelisah, duduk dengan menyangga ke depan, serta tanpa otot-otot bantu pernafasan bekerja dengan keras. Gejala klasik dari asma bronkial ini adalah sesak nafas, mengi ( whezing ), batuk, dan pada sebagian penderita ada yang merasa nyeri di dada. Gejala-gejala tersebut tidak selalu dijumpai bersamaan. Pada serangan asma yang lebih berat , gejala-gejala yang timbul makin banyak, antara lain : silent chest, sianosis, gangguan kesadaran, hyperinflasi dada, tachicardi dan pernafasan cepat dangkal . Serangan asma seringkali terjadi pada malam hari. Pemeriksaan laboratorium 1. Pemeriksaan sputum Pemeriksaan sputum dilakukan untuk melihat adanya: Kristal-kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi dari kristal eosinopil. Spiral curshmann, yakni yang merupakan cast cell (sel cetakan) dari cabang bronkus. Creole yang merupakan fragmen dari epitel bronkus. Netrofil dan eosinopil yang terdapat pada sputum, umumnya bersifat mukoid dengan viskositas yang tinggi dan kadang terdapat mucus plug. 2. Pemeriksaan darah Analisa gas darah pada umumnya normal akan tetapi dapat pula terjadi hipoksemia, hiperkapnia, atau asidosis. Kadang pada darah terdapat peningkatan dari SGOT dan LDH. Hiponatremia dan kadar leukosit kadang-kadang di atas 15.000/mm3 dimana menandakan terdapatnya suatu infeksi. Pencetus : Allergen Olahraga Cuaca Emosi Imun respon menjadi aktif Pelepasan mediator humoral Histamine SRS-A Serotonin Kinin Bronkospasme Edema mukosa Sekresi meningkat inflamasi Penghambat kortikosteroid

4
©2003 Digitized by USU digital library

dan pneumoperikardium. Pemeriksaan spirometri tidak saja penting untuk menegakkan diagnosis tetapi juga penting untuk menilai berat obstruksi dan efek pengobatan. SVES. Terdapatnya tanda-tanda hipertropi otot jantung. maka kelainan yang didapat adalah sebagai berikut: Bila disertai dengan bronkitis. Spirometri Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas reversible. 5. Scanning paru Dengan scanning paru melalui inhalasi dapat dipelajari bahwa redistribusi udara selama serangan asma tidak menyeluruh pada paru-paru. 2. Tanda-tanda hopoksemia. yakni terdapatnya RBB ( Right bundle branch block). Status asmatikus 2. 3. maka gambaran radiolusen akan semakin bertambah. serta diafragma yang menurun. Pemeriksaan radiologi Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. yakni pada umumnya terjadi right axis deviasi dan clock wise rotation. maka terdapat gambaran infiltrate pada paru Dapat pula menimbulkan gambaran atelektasis lokal. Komplikasi Berbagai komplikasi yang mungkin timbul adalah : 1. Akan tetapi bila terdapat komplikasi.Pada pemeriksaan faktor-faktor alergi terjadi peningkatan dari Ig E pada waktu serangan dan menurun pada waktu bebas dari serangan. maka bercak-bercak di hilus akan bertambah. yakni terdapatnya sinus tachycardia. Atelektasis 3. Pneumothoraks 5. Emfisema 5 ©2003 Digitized by USU digital library . Pemeriksaan penunjang 1. Bila terdapat komplikasi. maka dapat dilihat bentuk gambaran radiolusen pada paru-paru. Tidak adanya respon aerosol bronkodilator lebih dari 20%. cara yang paling cepat dan sederhana diagnosis asma adalah melihat respon pengobatan dengan bronkodilator. Hipoksemia 4. dan disesuaikan dengan gambaran yang terjadi pada empisema paru yaitu : perubahan aksis jantung. Pada waktu serangan menunjukan gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni radiolusen yang bertambah dan peleburan rongga intercostalis. Bila terjadi pneumonia mediastinum. Peningkatan FEV1 atau FVC sebanyak lebih dari 20% menunjukkan diagnosis asma. Pemeriksaan spirometer dilakukan sebelum dan sesudah pamberian bronkodilator aerosol (inhaler atau nebulizer) golongan adrenergik. Bila terdapat komplikasi empisema (COPD). Pemeriksaan tes kulit Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergen yang dapat menimbulkan reaksi yang positif pada asma. Elektrokardiografi Gambaran elektrokardiografi yang terjadi selama serangan dapat dibagi menjadi 3 bagian. dan VES atau terjadinya depresi segmen ST negative. 4. pneumotoraks. Benyak penderita tanpa keluhan tetapi pemeriksaan spirometrinya menunjukkan obstruksi.

brivasma serts Ventolin) yang oleh alat khusus diubah menjadi aerosol (partikel-partikel yang sangat halus ) untuk selanjutnya dihirup. Cara pemakaian : Bentuk suntikan teofillin / aminofilin dipakai pada serangan asma akut. 2. Simpatomimetik/ andrenergik (Adrenalin dan efedrin) Nama obat : . Deformitas thoraks 7. suntikan dan semprotan. b. Kromalin 6 ©2003 Digitized by USU digital library Kromalin bukan bronkodilator tetapi merupakan obat pencegah serangan asma. baik pengobatannya maupun tentang perjalanan penyakitnya sehingga penderita mengerti tujuan penngobatan yang diberikan dan bekerjasama dengan dokter atau perawat yang merawatnnya. Menghilangkan obstruksi jalan nafas dengan segara. Ada juga yang berbentuk bubuk halus yang dihirup (Ventolin Diskhaler dan Bricasma Turbuhaler) atau cairan broncodilator (Alupent. Supositoria ini digunakan jika penderita karena sesuatu hal tidak dapat minum teofilin (misalnya muntah atau lambungnya kering). 2. Pengobatan farmakologik : Bronkodilator : obat yang melebarkan saluran nafas. Karena sering merangsang lambung bentuk tablet atau sirupnya sebaiknya diminum sesudah makan. Yang berupa semprotan: MDI (Metered dose inhaler). dan disuntikan perlahan-lahan langsung ke pembuluh darah.Aminofilin (Euphilin Retard) . tetapi cara kerjanya berbeda.Fenoterol (berotec) . Memberikan penerangan kepada penderita ataupun keluarganya mengenai penyakit asma. Pengobatan pada asma bronkhial terbagi 2. .6. sirup. Sehingga bila kedua obat ini dikombinasikan efeknya saling memperkuat. yaitu: 1. Pengobatan non farmakologik: Memberikan penyuluhan Menghindari faktor pencetus Pemberian cairan Fisiotherapy Beri O2 bila perlu. Gagal nafas Penatalaksanaan Prinsip umum pengobatan asma bronchial adalah : 1.Orsiprenalin (Alupent) . Itulah sebabnya penderita yang mempunyai sakit lambung sebaiknya berhati-hati bila minum obat ini. Mengenal dan menghindari fakto-faktor yang dapat mencetuskan serangan asma 3. Manfaatnya adalah untuk penderita asma alergi terutama anakanak.Aminofilin (Amicam supp) . Terbagi dalam 2 golongan : a.Terbutalin (bricasma) Obat-obat golongan simpatomimetik tersedia dalam bentuk tablet. Santin (teofilin) Nama obat : . Berotec. Teofilin ada juga dalam bentuk supositoria yang cara pemakaiannya dimasukkan ke dalam anus.Teofilin (Amilex) Efek dari teofilin sama dengan obat golongan simpatomimetik.

Pengkajian Hal-hal yang perlu dikaji pada pasien asma adalah sebagai berikut: Riwayat kesehatan yang lalu: Kaji riwayat pribadi atau keluarga tentang penyakit paru sebelumnya. Adanya peningkatan frekuensi jantung. melebarkan hidung. Sirkulasi Adanya peningkatan tekanan darah. Penurunan berat badan karena anoreksia. Adanya penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan bantuan melakukan aktivitas sehari-hari. Aktivitas Ketidakmampuan melakukan aktivitas karena sulit bernapas. Susah bicara atau bicara terbata-bata. Hubungan sosal Keterbatasan mobilitas fisik. 7 ©2003 Digitized by USU digital library Seksualitas Penurunan libido Diagnosa dan Intervensi Keperawatan Diagnosa 1 : Tak efektif bersihan jalan nafas b/d bronkospasme. misalnya: meninggikan bahu. Hasil yang diharapkan: mempertahankan jalan nafas paten dengan bunyi bersih dan jelas. Pernapasan Dipsnea pada saat istirahat atau respon terhadap aktivitas atau latihan. Integritas ego Ansietas Ketakutan Peka rangsangan Gelisah Asupan nutrisi Ketidakmampuan untuk makan karena distress pernapasan.Kromalin biasanya diberikan bersama-sama obat anti asma yang lain. Biasanya diberikan dengan dosis dua kali 1mg / hari. Adanya bunyi napas mengi. INTERVENSI RASIONAL Mandiri Auskultasi bunyi nafas. Keuntungnan obat ini adalah dapat diberika secara oral. dan efeknya baru terlihat setelah pemakaian satu bulan. Ketolifen Mempunyai efek pencegahan terhadap asma seperti kromalin. Menggunakan obat bantu pernapasan. Kaji riwayat reaksi alergi atau sensitifitas terhadap zat/ faktor lingkungan. Kemerahan atau berkeringat. Warna kulit atau membran mukosa normal/ abu-abu/ sianosis. Napas memburuk ketika pasien berbaring terlentang ditempat tidur. Adanya ketergantungan pada orang lain. Kaji riwayat pekerjaan pasien. catat . Adanya batuk berulang. Tidur dalam posisi duduk tinggi.

mengi. Disfungsi pernafasan adalah variable yang tergantung pada tahap proses akut yang menimbulkan perawatan di rumah sakit. Hidrasi membantu menurunkan kekentalan sekret. contoh : meninggikan kepala tempat tidur. Pencetus tipe alergi pernafasan dapat mentriger episode akut. penggunaan cairan hangat dapat menurunkan spasme bronkus. Catat adanya derajat dispnea. Kolaborasi Berikan obat sesuai dengan indikasi bronkodilator. penggunaan cairan hangat dapat menurunkan kekentalan sekret. contoh: debu. ex: mengi Kaji / pantau frekuensi pernafasan. Tempatkan posisi yang nyaman pada pasien. distress pernafasan. catat rasio inspirasi / ekspirasi. asap dll Tingkatkan masukan cairan sampai dengan 3000 ml/ hari sesuai toleransi jantung memberikan air hangat. Peninggian kepala tempat tidur memudahkan fungsi pernafasan dengan menggunakan gravitasi. Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan nafas dan dapat/tidak dimanifestasikan adanya nafas advertisius. dan produksi . penggunaan obat bantu.adanya bunyi nafas. Merelaksasikan otot halus dan menurunkan spasme jalan nafas. Tachipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada penerimaan atau selama stress/ adanya proses infeksi akut. ansietas. duduk pada sandara tempat tidur Pertahankan polusi lingkungan minimum.

Rasa tak enak. Sering lakukan perawatan oral. perbaikan ventilasi dan oksigen jaringan edukuat. masukan makanan saat ini. Catat derajat kerusakan makanan. Kolaborasi Berikan oksigen tambahan selama makan sesuai indikasi. Palpasi fremitus Awasi tanda vital dan irama jantung Kolaborasi Berikan oksigen tambahan sesuai dengan indikasi hasil AGDA dan toleransi pasien. berikan wadah khusus untuk sekali pakai. Pasien distress pernafasan akut sering anoreksia karena dipsnea. dan perubahan tekanan darah . disritmia. meningkatkan masukan. Menurunkan dipsnea dan meningkatkan energi untuk makan. INTERVENSI RASIONALISASI Mandiri Kaji/awasi secara rutin kulit dan membrane mukosa. Penurunan getaran vibrasi diduga adanya pengumplan cairan/udara. bau menurunkan nafsu makan dan dapat menyebabkan mual/muntah dengan peningkatan kesulitan nafas. Diagnosa 3 : Kerusakan pertukaran gas b/d gangguan suplai oksigen (spasme bronkus) Hasil yang diharapkan .mukosa. Tachicardi. Sianosis mungkin perifer atau sentral keabu-abuan dan sianosis sentral mengindikasi kan beratnya hipoksemia. buang sekret. 8 ©2003 Digitized by USU digital library Diagnosa 2: Malnutrisi b/d anoreksia Hasil yang diharapkan : menunjukkan peningkatan berat badan menuju tujuan yang tepat. INTERVENSI RASIONALISASI Mandiri Kaji kebiasaan diet.

9 ©2003 Digitized by USU digital library Diognasa 4: Risiko tinggi terhadap infeksi b/d tidak adekuat imunitas. Diskusikan kebutuhan nutrisi adekuat Kolaborasi Dapatkan specimen sputum dengan batuk atau pengisapan untuk pewarnaan gram. Demam dapat terjadi karena infeksi dan atau dehidrasi. Menurunkan ansietas dan dapat menimbulkan perbaikan partisipasi pada rencana pengobatan.Perubahan ola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang nyaman. Hasil yang diharapkan : . INTERVENSI RASIONALISASI Jelaskan tentang penyakit individu Diskusikan obat pernafasan. Tunjukkan tehnik penggunaan inhakler. efek samping dan reaksi yang tidak diinginkan.mengidentifikasikan intervensi untuk mencegah atau menurunkan resiko infeksi. Malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan tahanan terhadap infeksi untuk mengidentifikasi organisme penyabab dan kerentanan terhadap berbagai anti microbial Diagnosa 5: Kurang pengetahuan b/d kurang informasi .dapat menunjukan efek hipoksemia sistemik pada fungsi jantung. INTERVENSI RASIONALISASI Mandiri Awasi suhu. Pemberian obat yang tepat .salah mengerti.kultur/sensitifitas. Dapat memperbaiki atau mencegah memburuknya hipoksia. . Penting bagi pasien memahami perbedaan antara efek samping mengganggu dan merugikan. Hasil yang diharapkan : menyatakan pemahaman kondisi/proses penyakit dan tindakan.

C. (1995) “Asma . dikutip dari Ilmu Penyakit Dalam.meningkatkan keefektifanya. J.STIKES-MUHAMMADIYAHPEKAJANGAN MARI KITA MAJUKAN KEPERAWATAN INDONESIA JANGAN ENGKAU DIAM JANGAN ENGKAU TERLENA PROFESI KITA SANGAT MEMBUTUHKAN PERAN SERTA DAN KARYA KITA Selasa. F. Roux. M. Apa dan Bagaimana Pengobatannya”. R. Jakarta : Info Medika. R. T. Jakarta : Hipokrates. Jakarta : AGC. (1995) “Pulmonary Disease”. Staff Pengajar FK UI (1997) “Ilmu Kesehatan Anak”. Jakarta : Hipocrates. Moorhouse. T. A.. (1996) “Ilmu Penyakit Paru”. Guyton & Hall (1997) “Buku Ajar Fisiologi Kedokteran”. DAFID. Maret 11. Sundaru. Crockett. Jakarta : FK UI. E. 2008 askep bronkhitis BRONCHITIS By. (1998) “Agenda Gawat Darurat”. L. L. Reeves. (1995) “Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit”. Rab. Doenges. Buku Satu. S & Wilson. Rab. Jakarta : EGC. Volume 1. (2000) “Rencana Asuhan Keperawatan”. Jakarta : EGC. G & Lockhart. Jakarta : EGC. Crompton. M. Jakarta : Salemba Medika. 10 ©2003 Digitized by USU digital library DAFTAR PUSTAKA Baratawidjaja. & Geissler. Jakarta : Hipokrates. Philadelpia : Lea & Febiger. Pullen. (1997) “Penanganan Asma dalam Penyakit Primer”. Dafid Arifiyanto . H.. G. Jakarta : EGC. (1999) “Keperawatan Medikal Bedah”. C. (1980) “Diagnosis and Management of Respiratory Disease”. Price. Hudak & Gallo (1997) “Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik”. Blacwell Scientific Publication. K. Brunner & Suddart (2002) “Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah”. (1990) “Asma Bronchiale”. M. A. Jakarta : FK UI.

Kenyataannya penyakit ini sering ditemukan di klinik-klinik dan diderita oleh laki-laki dan wanita. bronkiektasis sering bersamaan dengan kelainan congenital berikut : tidak adanya tulang rawan bronkus. Kelainan didapat Kelaianan didapat merupakan akibat proses berikut : Infeksi Bronchitis sering terjadi sesudah seseorang menderita pneumonia yang sering kambuh dan berlangsung lama. Bronchitis yang timbul congenital ini mempunyai ciri sebagai berikut : Bronchitis mengenai hampir seluruh cabang bronkus pada satu atau kedua paru. ETIOLOGI Penyebab bronchitis sampai sekarang masih belum diketahui dengan jelas. Pada kenyataannya kasus-kasus bronchitis dapat timbul secara congenital maupun didapat. pneumonia ini merupakan komplikasi pertusis maupun influenza yang diderita semasa anak. karsinoma bronkus atau tekanan dari luar terhadap bronkus PERUBAHAN PATOLOGIS ANATOMIK . misalnya : mucoviscidosis ( cystic pulmonary fibrosis ).PENDAHULUAN Bronchitis adalah suatu penyakit yang ditandai adanya dilatasi ( ektasis ) bronkus lokal yang bersifat patologis dan berjalan kronik. Di Indonesia belum ada laporan tentang anka-angka yang pasti mengenai penyakit ini. Obstruksi bronkus Obstruksi bronkus yang dimaksud disini dapat disebabkan oleh berbagai macam sebab : korpus alineum. Bronkus yang terkena umumnya bronkus kecil (medium size ). sinusitis paranasal dan situs inversus ). Factor genetic atau factor pertumbuhan dan factor perkembangan fetus memegang peran penting. Penyakit ini dapat diderita mulai dari anak bahkan dapat merupakan kelainan congenital. hipo atau agamaglobalinemia. Perubahan bronkus tersebut disebabkan oleh perubahan-perubahan dalam dinding bronkus berupa destruksi elemen-elemen elastis dan otot-otot polos bronkus.3% diantara populasi. Di Inggris dan Amerika penyakit paru kronik merupakan salah satu penyebab kematian dan ketidak mampuan pasien untuk bekerja. kifoskoliasis konginetal. Bronchitis kronis dan emfisema paru sering terdapat bersama-sama pada seorang pasien. Kelainan congenital Dalam hal ini bronchitis terjadi sejak dalam kandungan. dalam keadaan lanjut penyakit ini sering menyebabkan obstruksi saluran nafas yang menetap yang dinamakan cronik obstructive pulmonary disease ( COPD ). Kekerapan setinggi itu ternyata mengalami penurunan yang berarti dengan pengobatan memakai antibiotik. ternyata saudara kembarnya juga menderita bronkiektasis ). Bronchitis konginetal sering menyertai penyakit-penyakit konginetal lainya. sedangkan bronkus besar jarang terjadi. penyakit jantung bawaan. tuberculosis paru dan sebagainya. Dinegara barat. bronkiektasis pada anak kembar satu telur ( anak yang satu dengan bronkiektasis. sindrom kartagener ( bronkiektasis konginetal. kekerapan bronchitis diperkirakan sebanyak 1.

Patogenesis pada kebanyakan bronchitis yang didapat melalui dua mekanisme dasar : 1. kemudian timbul bronchitis. Bronchitis merupakan penyakit paru yang mengenai paru dan sifatnya kronik. 3. silia pada sel epitel menghilang. Keluhankeluhan yang timbul juga berlangsung kronik dan menetap . pada mukosa akan terjadi pengelupasan. Jaringan paru peribronchiale Pada keadaan yang hebat. Bentuk ini merupakan komplikasi dari pneumonia. Perubahan morfologis bronkus yang terkena Dinding bronkus Dinding bronkus yang terkena dapat mengalami perubahan berupa proses inflamasi yang sifatnya destruktif dan irreversibel. keluhan-keluhan yang timbul . baik mengenai jumlah atau luasnya bronkus yang terkena maupun beratnya penyakit : Tempat predisposisi bronchitis Bagian paru yang sering terkena dan merupakan predisposisi bronchitis adalah lobus tengah paru kanan. PATOGENESIS Apabila bronchitis kongenital patogenesisnya tidak diketahui diduga erat hubungannya dengan genetic serta factor pertumbuhan dan perkembangan fetus dalam kandungan. Bentuk kantong Ditandai dengan adanya dilatasi dan penyempitan bronkus yang bersifat irregular. Bronkus yang terkena Bronkus yang terkena umumnya yang berukuran sedang. Variasi kelainan anatomis bronchialis Telah dikenal 3 variasi bentuk kelainan anatomis bronchitis. jaringan paru distal akan diganti jaringan fibrotik dengan kistakista berisi nanah. Pada bronchitis yang didapat patogenesisnya diduga melelui beberapa mekanisme : factor obstruksi bronkus. 2. factor infeksi pada bronkus atau paru-paru. Infeksi bacterial pada bronkus atau paru.. ulserasi. dan factor intrinsik dalam bronkus atau paru.Terdapat berbagai macam variasi bronchitis. Apabila terjadi eksaserbasi infeksi akut. 2. Bentuk ini berbentuk kista. Jaringan bronkus yang mengalami kerusakan selain otot-otot polos bronkus juga elemen-elemen elastis. segmen basal pada lobus bawah kedua paru. Bentuk tabung Bentuk ini sering ditemukan pada bronchitis yang menyertai bronchitis kronik. Bentuk antara bentuk tabung dan kantong (Pseudobronchitis) Pada bentuk ini terdapat pelebaran bronkus yang bersifat sementara dan bentuknya silindris. pada bagian distal obstruksi dan terjadi infeksi juga destruksi bronkus. Infeksi pada bronkus atau paru akan diikuti proses destruksi dinding bronkus daerah infeksi dan kemudian timbul bronchitis. fibrosis paru. Obstruksi bronkus akan diikuti terbentuknya bronchitis. yaitu : 1. terjadi perubahan metaplasia skuamosa. bagian lingual paru kiri lobus atas. bronkus yang terkena dapat hanya satu segmen paru saja maupun difus mengenai bronki kedua paru. Mukosa bronkus Mukosa bronkus permukaannya menjadi abnormal.

misalnya pada saccular type bronchitis. Bronchitis yang mengenai bronkus pada lobis atas sering dan memberikan gejala : Keluhan-keluhan Batuk Batuk pada bronchitis mempunyai ciri antara lain batuk produktif berlangsung kronik dan frekuensi mirip seperti pada bronchitis kronis. dan sebagainnya ). tampak terpisah menjadi 3 bagian Lapisan teratas agak keruh Lapisan tengah jernih. treponema vincenti. dan dapat tidak nyata atau tanpa gejala pada penyakit yang ringan. Kuman yang erring ditemukan dan menginfeksi bronkus misalnya : streptococcus pneumonie. Infeksi sekunder Tiap pasien bronchitis tidak selalu disertai infeksi sekunder pada lesi. puruen. Mengenai infeksi dan hubungannya dengan patogenesis bronchitis. akibat komplikasi. sedangkan infeksi virus tidak dapat ( misalnya adenovirus tipe 21. dapat memberikan bau yang tidak sedap. keluhan-keluhan yang timbul umumnya sebagai akibat adanya beberapa hal : adanya kerusakan dinding bronkus. dan ada tidaknya komplikasi lanjut. 2. Infeksi pertama ( primer ) Kecuali pada bentuk bronchitis kongenital. terdiri atas saliva ( ludah ) Lapisan terbawah keruh terdiri atas nanah dan jaringan nekrosis dari bronkus yang rusak ( celluler debris ). apabila sputum pasien yang semula berwarna putih jernih kemudian berubah warnanya menjadi kuning atau kehijauan atau berbau busuk berarti telah terjadi infeksi sekunder oleh kuman anaerob misalnya : fusifomis fusiformis. sedang apabila terjadi infeksi sekunder sputumnya purulen. GAMBARAN KLINIS Gejala dan tanda klinis yang timbul pada pasien bronchitis tergantung pada luas dan beratnya penyakit. dan apabila ditampung beberapa lama. ada atau tidaknya komplikasi lanjut. Gejala dan tanda klinis dapat demikian hebat pada penyakit yang berat. Infeksi yang mendahului bronchitis adalah infeksi bacterial yaitu mikroorgansme penyebab pneumonia.. data dijelaskan sebagai berikut . haemophilus influenza. klebsiella ozaena. umumnya jumlahnya banyak terutama pada pagi hari sesudah ada perubahan posisi tidur atau bangun dari tidur. Dikatakan bahwa hanya infeksi bakteri saja yang dapat menyebabkan kerusakan pada dinding bronkus sehingga terjadi bronchitis. lokasi bronkus yang terkena. pada kasus yang sudah berat. Masih menjadi pertanyaan apakah infeksi yang mendahului terjadinya bronchitis tersebut disebabkan oleh bakteri atau virus. akan menimbulkan sputum sangat berbau. campak. sputum jumlahnya banyak sekali. lokasi kelainannya. jumlah seputum bervariasi. Apabila terjadi infeksi sekunder oleh kuman anaerob. tingkatan beratnya penyakit. 1. virus influenza. . Ciri khas pada penyakit ini adalah adanya batuk kronik disertai produksi sputum. adanya kerusakan fungsi bronkus.erat dengan : luas atau banyaknya bronkus yang terkena. adanya haemaptoe dan pneumonia berulang. Kalau tidak ada infeksi skunder sputumnya mukoid. anaerobic streptococci.

Pada kasus yang berat dan lebih lanjut dapat ditemukan tandatanda korpulmonal kronik maupun payah jantung kanan. Perdarahan yang timbul bervariasi mulai dari yang paling ringan ( streaks of blood ) sampai perdarahan yang cukup banyak ( massif ) yaitu apabila nekrosis yang mengenai mukosa amat hebat atau terjadi nekrosis yang mengenai cabang arteri broncialis ( daerah berasal dari peredaran darah sistemik ) Pada dry bronchitis ( bronchitis kering ). sering disertai dengan silia bronkus imotil Situs inversus pembalikan letak organ-organ dalam dalam hal ini terjadi dekstrokardia. right-sided spleen. Timbul dan beratnya sesak nafas tergantung pada seberapa luasnya bronchitis kronik yang terjadi dan seberapa jauh timbulnya kolap paru dan destruksi jaringan paru yang terjadi sebagai akibat infeksi berulang ( ISPA ). drainasenya baik. Kelainan ini bukan merupakan tanda . left-sided liver. Bila terjadi komplikasi pneumonia akan ditemukan kelainan fisis sesuai dengan pneumonia. Sesak nafas ( dispnue ) Pada sebagian besar pasien ( 50 % kasus ) ditemukan keluhan sesak nafas. Pada tuberculosis paru. Demam berulang Bronchitis merupakan penyakit yang berjalan kronik. Apabila bagian paru yang diserang amat luas serta kerusakannya hebat. bronchitis ( sekunder ) ini merupakan penyebab utama komplikasi haemaptoe. Kadang ditemukan juga suara mengi ( wheezing ). Wheezing dapat local atau tersebar tergantung pada distribusi kelainannya. yang biasanya menimbulkan fibrosis paru dan emfisema yang menimbulkan sesak nafas. Ditemukan ronchi basah yang jelas pada lobus bawah paru yang terkena dan keadaannya menetap dari waku kewaktu atau ronci basah ini hilang sesudah pasien mengalami drainase postural atau timbul lagi diwaktu yang lain. akibat adanya obstruksi bronkus. Wheezing sering ditemukan apa bila terjadi obstruksi bronkus. sputum tidak pernah menumpuk dan kurang menimbulkan reflek batuk. haemaptoe justru gejala satu-satunya karena bronchitis jenis ini letaknya dilobus atas paru..Haemaptoe Hemaptoe terjadi pada 50 % kasus bronchitis. Kelainan ini merupakan klasifikasi kelenjar limfe yang biasanya merupakan gejala sisa komleks primer tuberculosis paru primer. sehingga sering timbul demam (demam berulang) Kelainan fisis Tanda-tanda umum yang ditemukan meliputi sianosis. Bagaimana asosiasi tentang keberadaanya yang demikian ini belum diketahui dengan jelas. left sided gall bladder. manifestasi klinis komplikasi bronchitis. kelainan ini terjadi akibat nekrosis atau destruksi mukosa bronkus mengenai pembuluh darah ( pecah ) dan timbul perdarahan. dapat menimbulkan kelainan berikut : terjadi retraksi dinding dada dan berkurangnya gerakan dada daerah yang terkena serta dapat terjadi penggeseran medistenum kedaerah paru yang terkena. pasien tanpa batuk atau batukya minimal. Sinusitis paranasal atau tidak terdapatnya sinus frontalis. Sindrom ini terdiri atas gejala-gejala berikut : Bronchitis congenital. Bronchitis. Semua elemen gejala sindrom kartagener ini adalah keleinan congenital. jari tubuh. Sindrom kartagenr. sering mengalami infeksi berulang pada bronkus maupun pada paru.

karena terjadinya obstruksi airan udara pernafasan. foto dada normal. Dapat terjadi perubahan gas darah berupa penurunan PaO2 ini menunjukan abnormalitas regional ( maupun difus ) distribusi ventilasi. pasien mudah timbul pneumonia. multiple cysts containing fluid levels. Seing ditemukan anemia. adanya haemaptoe. Tingkatan beratnya penyakit Bronchitis ringan Ciri klinis : batuk-batuk dan sputum warna hijau hanya terjadi sesudah demam. mirip seperti gambaran sarang tawon pada daerah yang terkena. Pada pemeriksaan paru sering ditemukannya ronchi basah kasar pada daerah paru yag terkena. Bronchitis berat Ciri klinis : batuk produktif dengan sputum banyak. yang berpengaruh pada perfusi paru. amiloidosis. Umumnya pasien mempunyai keadaan umum kurang baik. Pada gambaran foto dada ditemukan kelianan : bronkovascular marking. Bila penyakitnya ringan gambaran darahnya normal. Bila ada obstruksi nafas akan ditemukan adanya dispnea. ada haemaptoe ringan. ditemukan juga bercak-bercak pneumonia. abses metastasis. Gambaran bronchitis akan jelas pada bronkogram. umumnya pasien masih Nampak sehat dan fungsi paru normal. sputum timbul setiap saat. pasien tampak sehat dan fungsi paru norma. Pada keadaan lanjut dan mulai sudah ada insufisiensi paru dapat ditemukan polisitemia sekunder. Sering ditemukannya pneumonia dengan haemaptoe dan nyeri pleura.klinis bronchitis. Kelainan radiologist Gambaran foto dada ( plain film ) yang khas menunjukan adanya kista-kista kecil dengan fluid level. Dan pada pemeriksaan fisis ditemukan ronchi basah kasar pada daerah yang terkena. Kelainan laboratorium. Urin umumnya normal kecuali bila sudah ada komplikasi amiloidosis akan ditemukan proteiuria. septikemi. dan bau mulut meyengat). (umumnya warna hijau dan jarang mukoid. Erosi dinding bronkus oleh bronkolit tadi dapat mengenai pembuluh darah dan dapat merupakan penyebab timbulnya hemaptoe hebat. atau ditemukan leukositosis yang menunjukan adanya infeksi supuratif. Kelainan faal paru Pada penyakit yang lanjut dan difus. Pemeriksaan kultur sputum dan uji sensivitas terhadap antibiotic. kapasitas vital ( KV ) dan kecepatan aliran udara ekspirasi satu detik pertama ( FEV1 ). kelainan ini sering menimbulkan erosi bronkus didekatnya dan dapat masuk kedalam bronkus menimbulkan sumbatan dan infeksi. perlu dilakukan bila ada kecurigaan adanya infeksi sekunder. sianosis atau tanda kegagalan paru. Bronchitis sedang Ciri klinis : batuk produktif terjadi setiap saat. terdapat tendensi penurunan. berwarna kotor dan berbau. selanjutnya terjadilah bronchitis. sering ditemukan infeksi piogenik pada kulit. infeksi mata . fibrosis atau kolaps. yang menunjukan adanya infeksi kronik. . gambaran foto dada masih terlihat normal.

Kor pulmonal kronik pada kasus ini bila terjadi anastomisis cabang-cabang arteri dan vena pulmonalis pada dinding bronkus akan terjadi arterio-venous shunt. terjadi gangguan oksigenasi darah. Kegagalan pernafasan merupakan komlikasi paling akhir pada bronchitis yang berat da luas . Komplikasi ini dapat timbul bersama dengan timbulnya pneumonia. antara lain : 1. kor pulmoner kronik. Hal ini sering terjadi pada mereka drainase sputumnya kurang baik. akibat septikemi oleh kuman penyebab infeksi supuratif pada bronkus. karena terikat adanya indikasi. Pneumonia dengan atau tanpa atelektaksis. Sinusitis merupakan bagian dari komplikasi bronchitis pada saluran nafas 8. timbul sianosis sentral. Oleh karena pasien bronchitis umumnya memberikan gambaran klinis yang dapat dkenal. Pada keadaan lanjut akan terjadi hipertensi pulmonal. selanjutnya terjadi hipoksemia. Umumnya pleuritis sicca pada daerah yang terkena. Bronkografi tidak selalu dapat dikerjakan pada tiap pasien bronchitis. Bronchitis kronik 2. kontraindikasi.DIAGNOSIS Diagnosis pasti bronchitis dapat ditegakan apabila telah ditemukan adanya dilatasi dan nekrosis dinding bronkus dengan prosedur pemeriksaan bronkografi dan melihat bronkogram yang didapat. Komplikasi haemaptoe hebat dan tidak terkendali merupakan tindakan beah gawat darurat. Haemaptoe terjadi kerena pecahnya pembuluh darah cabang vena ( arteri pulmonalis ) . Sering menjadi penyebab kematian 6.. Selanjutnya akan terjadi gagal jantung kanan. 7. meliputi: Anamnesis Pemeriksaan fisis Pemeriksaan penunjang DIAGNOSIS BANDING Beberapa penyakit yang perlu diingat atau dipertimbangkan kalau kita berhadapan dengan pasien bronchitis : · Bronchitis kronis ( ingatlah definisi klinis bronchitis kronis ) · Tuberculosis paru ( penyakit ini dapat disertai kelainan anatomis paru berupa bronchitis ) · Abses paru ( terutama bila telah ada hubungan dengan bronkus besar ) · Penyakit paru penyebab hemaptomisis misalnya karsinoma paru. Abses metastasis diotak. 9. Efusi pleura atau empisema 5. bronchitis sering mengalami infeksi berulang biasanya sekunder terhadap infeksi pada saluran nafas bagian atas. 3. Pleuritis. penegakan diagnosis bronchitis dapat ditempuh melewati proses diagnostik yang lazim dikerjakan dibidang kedokteran. cabang arteri ( arteri bronchialis ) atau anastomisis pembuluh darah. adenoma paru ) · Fistula bronkopleural dengan empisema KOMPLIKASI Ada beberapa komplikasi bronchitis yang dapat dijumpai pada pasien. 4. syarat-syarat kaan elakukannya.

udara ruangan kering. Posisi tubuh saat dilakukan drainase postural harus disesuaikan dengan letak kelainan bronchitisnya. Antibiotik diberikan jika terdapat aksaserbasi infeki akut. apabila telah ada infeksi perlu adanya antibiotic yang sesuai agar infeksi tidak berkelanjutan. Mengontrol infeksi saluran nafas. Pengelolaan khusus. pemkaian antibiotic antibiotic sebaikya harus berdasarkan hasil uji sensivitas kuman terhadap antibiotic secara empiric. PENATALAKSANAAN Pengelolaan pasien bronchitis terdiri atas dua kelompok : Pengobatan konservatif. Memperbaiki drainase secret bronkus. Amiloidosis keadaan ini merupakan perubahan degeneratif. Pengelolaan umum Pengelolaan umum ditujukan untuk semua pasien bronchitis. terdiri atas : 1. Prinsip drainase postural ini adalah usaha mengeluarkan sputum ( secret bronkus ) dengan bantuan gaya gravitasi. Walaupun kemotherapi jelas kegunaannya pada pengelolaan bronchitis. Mencegah / menghentikan rokok Mencegah / menghindari debu. 2. Mencairkan sputum yang kental Dapat dilakukan dengan jalan. Kemotherapi pada bronchitis Kemotherapi dapat digunakan : secara continue untuk mengontrol infeksi bronkus ( ISPA ) untuk pengobatan aksaserbasi infeksi akut pada bronkus/paru atau kedua-duanya digunakan Kemotherapi menggunakan obat-obat antibiotic terpilih. sebagai komplikasi klasik dan jarang terjadi. Tiap kali melakukan drainase postural dilakukan selama 10 – 20 menit. dan dapat dibantu dengan tindakan memberikan ketukan pada pada punggung pasien dengan punggung jari. Adanya infeksi saluran nafas akut ( ISPA ) harus diperkecil dengan jalan mencegah penyebaran kuman. meliputi : Menciptakan lingkungan yang baik dan tepat untuk pasien : Contoh : Membuat ruangan hangat. misalnya inhalasi uap air panas. cara yang baik untuk dikerjakan adalah sebagai berikut : Melakukan drainase postural Pasien dilelatakan dengan posisi tubuh sedemikian rupa sehingga dapat dicapai drainase sputum secara maksimum. Mengatur posisi tepat tidur pasien Sehingga diperoleh posisi pasien yang sesuai untuk memudahkan drainase sputum. Pada pasien yang mengalami komplikasi ini dapat ditemukan pembesaran hati dan limpa serta proteinurea. mengguanakan obat-obat mukolitik dan sebagainya.10. tiap hari dilakukan 2 sampai 4 kali. tidak pada setiap pasien harus diberikan antibiotic. antibiotic diberikan selama 7-10 hari dengan therapy tunggal atau dengan beberapa .asap dan sebagainya.

lebih-lebih kalau terjadi septikemi. Tindakan yang perlu segera dilakukan adalah upaya menghentikan perdarahan. Kontra indikasi Pasien bronchitis dengan COPD Pasien bronchitis berat Pasien bronchitis dengan koplikasi kor pulmonal kronik dekompensasi. sampai terjadi konversi warna sputum yang semula berwarna kuning/hijau menjadi mukoid ( putih jernih ). Pengobatan simtomatik Pengobatan ini diberikan jika timbul simtom yang mungkin mengganggu atau mebahayakan pasien. Pada pasien yang mengalami hipoksia perlu diberikan oksigen. . Indikasi pembedahan : Pasien bronchitis yang yang terbatas dan resektabel. Kelainan ( bronchitis ) harus terbatas dan resektabel Daerah paru yang terkena telah mengalami perubahan ireversibel Bagian paru yang lain harus masih baik misalnya tidak ada bronchitis atau bronchitis kronik. Keperluannya antara lain : Menentukan dari mana asal secret Mengidentifikasi lokasi stenosis atau obstruksi bronkus Menghilangkan obstruksi bronkus dengan suction drainage daerah obstruksi. tetapi keadaan ini hanya bersifat sementara. Pengobatan haemaptoe. Pengobatan pembedahan Tujuan pembedahan : mengangkat ( reseksi ) segmen/ lobus paru yang terkena. Pengobatan demam. Pengobatan hipoksia. Dari berbagai penelitian pemberian obat-obatan hemostatik dilaporkan hasilnya memuaskan walau sulit diketahui mekanisme kerja obat tersebut untuk menghentikan perdarahan. Kemotherapi dengan antibiotic ini apabila berhasil akan dapat mengurangi gejala batuk. Pasien dengan haemaptoe massif seperti ini mutlak perlu tindakan operasi. Pada pasien yang mengalami eksaserbasi inhalasi akut sering terdapat demam. yang tidak berespon yang tidak berespon terhadap tindakan-tindakan konservatif yang adekuat. Pengobatan obstruksi bronkus Apabila ditemukan tanda obstruksi bronkus yang diketahui dari hasil uji faal paru (%FEV 1 < 70% ) dapat diberikan obat bronkodilator. Cara operasi.antibiotic. jumlah sputum dan gejala lainnya terutama pada saat terjadi aksaserbasi infeksi akut. Drainase secret dengan bronkoskop Cara ini penting dikerjakan terutama pada saat permulaan perawatan pasien. Pada kasus ini selain diberikan antibiotic perlu juga diberikan obat antipiretik. Syarat-ayarat operasi. Pasien perlu dipertimbangkan untuk operasi Pasien bronchitis yang terbatas tetapi sering mengaami infeksi berulang atau haemaptoe dari daerakh tersebut.

Pemilihan pengobatan secara tepat ( konservatif atau pembedahan ) dapat memperbaiki prognosis penyakit. Operasi paliatif : ditujukan pada pasien bronchitis yang mengalami keadaan gawat darurat paru. kecuali dalam bentuk congenital tidak dapat dicegah. haemaptoe dan lainnya. misalnya terjadi haemaptoe masif ( perdarahan arterial ) yang memenuhi syarat-syarat dan tidak terdapat kontra indikasi operasi. yang gagal dalam pengobatan konservatif dipersiapkan secara baik utuk operasi. PROGNOSIS Prognosis pasien bronchitis tergantung pada berat ringannya serta luasnya penyakit waktu pasien berobat pertama kali. Menurut beberapa literature untuk mencegah terjadinya bronchitis ada beberapa cara : Pengobatan dengan antibiotic atau cara-cara lain secara tepat terhadap semua bentuk pneumonia yang timbul pada anak akan dapat mencegah ( mengurangi ) timbulnya bronchitis Tindakan vaksinasi terhadap pertusis ( influenza. Kematian pasien karena pneumonia. prognosisnya jelek. kedalaman. Umumnya operasi berhasil baik apabila syarat dan persiapan operasinya baik. Asuhan keperawatan Data Fokus Anamnesa :è Faktor Predisposisi Aktifitas Gaya hidup Keadaan lingkungan Aspirasi Penyakit pernapasan lain Pemeriksaan Fisik : fokus dada Inspeksi :è Irama.Operasi elektif : pasien-pasien yang memenuhi indikasi dan tidak terdaat kontra indikasi. pneumonia ) pada anak dapat pula diartikan sebagai tindakan preventif terhadap timbulnya bronchitis. Persiapan operasi : Pemeriksaan faal paru : pemeriksaan spirometri. empiema. frekuensi pernapasan Kesimetrisan dinding dada saat bernapas Penggunaan otot bantu pernapasan Cuping hidung. cyanosis pada ekstremitas . pemeriksaan broncospirometri ( uji fungsi paru regional ) Scanning dan USG Meneliti ada atau tidaknya kontra indikasi operasi pada pasien Memperbaiki keadaan umum pasien PENCEGAHAN Timbulnya bronchitis sebenarnya dapat dicegah. Pada kasus-kasus yang berat dan tidak diobati.analisis gas darah. payah jantung kanan. survivalnya tidak akan lebih dari 5-10 tahun.

2008 06:19 Poskan Komentar Posting Lebih Baru Posting Lama Halaman Muka Langgan: Poskan Komentar (Atom) Web Tautan • • indah nursing.Stikes-Muhammadiyah-Pekajangan di 21:06 1 komentar: Anonim mengatakan.. fotonya itu lho Pd banget he. Diposkan oleh Dafid. Intoleransi aktifitas Tujuan : Klien menunjukan peningkatan aktifitas da kekuatan fisik Rencana keperawatan : Monitor toleransi klien terhadap aktifitas Jelaskan penyebab penurunan aktifitas Berikan/pegaturan waktu untuk istirahat yang baik Ajarkan manejemen tenaga pada klien Kolaborasi : oksigenasi. Ketidak efektifan bersihan jalan napas Tujuan : Jalan Napas Efektif Rencana Keperawatan : Kaji Kemampuan klien mengeluarkan sputum Kaji suara pernapasan (paru) Ajarkan teknik batuk efektif Laksanakan fisioterapi dada dan inhalasi manual Kolaborasi : ekspektoran.he..com .s1 slankers 30 Oktober. dulness Masalah keperawatan 1...by. antibiotik 2..blogspot youtube. vokal fremitus Perkusi : è Resonance.Palpasi : è Kesimetrisan dinding dada Taktil fremitus Letak trakhea Auskultasi è Ronkhi..

love Nayla Berenang Di Laut .love Reina my.my.

Dengarkan Suara Alam Info keperawatan ini apakah membantu tugas anda Arsip Blog • ► 2009 (3) o ► Juli (3)  Metabolisme protein  Metabolisme Lemak  Metabolisme Karbohidrat ▼ 2008 (27) o ► November (1)  Askep Bronkhitis o ► Mei (1)  Self Concept o ▼ Maret (12)  Gangguan Miksi  Askep Stroke Non Hemoragic  Askep Hipertensi  Askep Aids  Konsep Diri  Konsep Berubah  askep bronkhitis  Infeksi Saluran Kencing  Askep Urolithiasis  Askep Klien BPH  Askep Trauma Saluran Kemih  Air Susu Ibu Vs Susu Bayi Sapi o ► Februari (13) • .

1 Kebidanan (4 org) Lihat profil lengkapku DANO TOBA ANAK BOSS DARI DUSUN « ASKEP DHF ASKEP PNEUMONIA LAPORAN PENDAHULUAN PNEUMONIA 1.Stikes-Muhammadiyah-Pekajangan Info Lowongan Kerja Dibutuhkan Dosen S. DEFINISI Pneumonia adalah suatu peradangan atau inflamasi pada parenkim paru yang umumnya disebabkan oleh agent infeksi .2 Keperawatan (4 org) Dosen d IV atau S.             Kelainan Jantung : VSD Oksigenasi Osteomyelitis Askep Limfadenopaty Askep Fraktur GBPP STIKES Konsep manusia dan kebutuhan dasar Komunikasi Umum Konsep dasar keperawatan I Askep Hernia sehat-sakit Range Of Motion NERS PEKAJANGAN About me Dafid.

Partikel infeksius difiltrasi di hidung. partikel tersebut akan berhadapan dengan makrofag alveoler. virus herpes simpleks ) dapat terjadi melalui penyebaran hematogen baik dari sumber terlokalisir atau bakteremia/viremia generalisata. • Nyeri dada yang ditusuk-tusuk yang dicetuskan oleh bernafas dan batuk. Hal ini menyebabkan lepasnya sel-sel epitel ke dalam saluran napas. Perubahan pada mekanisme protektif ini dapat menyebabkan anak mudah mengalami pneumonia misalnya pada kelainan anatomis kongenital. Jamur: candida albicans 5. Virus tersebut dapat menyebar ke saluran napas bagian bawah dan menyebabkan pneumonia virus.2 Setelah mencapai parenkim paru.5 ºC sampai 40. Aspirasi: lambung 3. deposit fibrin. dan juga dengan mekanisme imun sistemik. aeruginosa. dan klamidia menyebabkan inflamasi dengan dominasi infiltrat mononuklear pada struktur submukosa dan interstisial. adenovirus 3. . seperti yang terjadi pada bronkiolitis. dan infiltrasi leukosit polimorfonuklear di alveoli yang diikuti infitrasi makrofag. dan humoral. streplokokus. atau kelainan neurologis yang memudahkan anak mengalami aspirasi dan perubahan kualitas sekresi mukus atau epitel saluran napas. Kadang-kadang pneumonia bakterialis dan virus ( contoh: varisella.2. virus Epstein-Barr. Micoplasma pneumonia 4. rubella.2 Kemungkinan lain. ETIOLOGI Pneumonia dapat disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti: 1. Virus: virus influenza. eneterobacter 2. partikel infeksius dapat mencapai paru melalui perubahan pada pertahanan anatomis dan fisiologis yang normal. atau terperangkap dan dibersihkan oleh mukus dan epitel bersilia di saluran napas. CMV. kerusakan yang disebabkan virus terhadap mekanisme pertahan yang normal dapat menyebabkan bakteri patogen menginfeksi saluran napas bagian bawah. Bakteri ini dapat merupakan organisme yang pada keadaan normal berkolonisasi di saluran napas atas atau bakteri yang ditransmisikan dari satu orang ke orang lain melalui penyebaran droplet di udara.5 ºC). Ada beberapa mekanisma yang pada keadaan normal melindungi paru dari infeksi. Bakteri: stapilokokus. defisiensi imun didapat atau kongenital. campak. Bayi pada bulan-bulan pertama kehidupan juga memiliki antibodi maternal yang didapat secara pasif yang dapat melindunginya dari pneumokokus dan organismeorganisme infeksius lainnya. MANIFESTASI KLINIK • Secara khas diawali dengan awitan menggigil. PATOFISIOLOGI Sebagian besar pneumonia didapat melalui aspirasi partikel infektif. Cairan eksudatif di alveoli menyebabkan konsolidasi lobaris yang khas pada foto toraks. Bila suatu partikel dapat mencapai paru-paru. Ini paling sering terjadi akibat virus pada saluran napas bagian atas. demam yang timbul dengan cepat (39. Virus. bakteri menyebabkan respons inflamasi akut yang meliputi eksudasi cairan.2 4. Pada anak tanpa faktor-faktor predisposisi tersebut. mikoplasma.

PENGKAJIAN Data dasar pengkajian pasien: • Aktivitas/istirahat Gejala : kelemahan. . Pemeriksaan gram/kultur. Pemeriksaan fungsi paru: untuk mengetahui paru-paru. • Amantadine. 4. derivat tetrasiklin: untuk infeksi pneumonia mikroplasma. KOMPLIKASI • Efusi pleura • Hipoksemia • Pneumonia kronik • Bronkaltasis • Atelektasis (pengembangan paru yang tidak sempurna/bagian paru-paru yang diserang tidak mengandung udara dan kolaps). 5. • Nadi cepat dan bersambung • Bibir dan kuku sianosis • Sesak nafas 5. menetapkan luas berat penyakit dan membantu diagnosis keadaan. • Menganjurkan untuk tirah baring sampai infeksi menunjukkan tanda-tanda • Pemberian oksigen jika terjadi hipoksemia. rimantadine: untuk infeksi pneumonia virus • Eritromisin. diberikan nutrisi dengan kalori yang cukup. bronchial). • Bila terjadi gagal nafas. tetrasiklin. kelelahan. dapat juga menyatakan abses) 2. sputum dan darah: untuk dapat mengidentifikasi semua organisme yang ada. Spirometrik static: untuk mengkaji jumlah udara yang diaspirasi 7. PENATALAKSANAAN Pengobatan diberikan berdasarkan etiologi dan uji resistensi tapi karena hal itu perlu waktu dan pasien pneumonia diberikan terapi secepatnya: • Penicillin G: untuk infeksi pneumonia staphylococcus. Bronkostopi: untuk menetapkan diagnosis dan mengangkat benda asing 7. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. 8. pernafasan cuping hidung. Biopsi paru: untuk menetapkan diagnosis 6. Sinar X: mengidentifikasikan distribusi struktural (misal: lobar. insomnia Tanda : letargi. penurunan toleransi terhadap aktivitas. Pemeriksaan serologi: membantu dalam membedakan diagnosis organisme khusus. 3.• Takipnea (25 – 45 kali/menit) disertai dengan pernafasan mendengur. • Komplikasi sistemik (meningitis) 6.

Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan kapasitas pembawa oksigen darah. muntah. Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan inflamasi trachea bronchial.premikus: taksil dan vocal bertahap meningkat dengan konsolidasi . gemetar • Penyuluhan/pembelajaran Gejala : riwayat mengalami pembedahan. artralgia. 2. takipnea (sesak nafas). tugas pemeliharaan rumah 9. menggigil berulang. atau pucat • Makanan/cairan Gejala : kehilangan nafsu makan. 4. penyakit kronis. 6. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. pembentukan edema. penampilan kemerahan. Resiko tinggi terhadap infeksi (penyebaran) berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder (adanya infeksi penekanan imun). 5. demam. nyeri dada (meningkat oleh batuk).sputum: merah muda. mual.Warna: pucat/sianosis bibir dan kuku • Keamanan Gejala : riwayat gangguan sistem imun misal: AIDS.Bunyi nafas menurun . dispnea. riwayat diabetes mellitus Tanda : sistensi abdomen. malnutrisi. berkarat . penggunaan alkohol kronis Tanda : DRG menunjukkan rerata lama dirawat 6 – 8 hari Rencana pemulangan: bantuan dengan perawatan diri. Resiko tinggi terhadap nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan peningkatan . batuk menetap. Tanda : melindungi area yang sakit (tidur pada sisi yang sakit untuk membatasi gerakan) • Pernafasan Gejala : adanya riwayat ISK kronis. peningkatan produksi sputum. imralgia. penampilan kakeksia (malnutrisi) • Neurosensori Gejala : sakit kepala daerah frontal (influenza) Tanda : perusakan mental (bingung) • Nyeri/kenyamanan Gejala : sakit kepala.• Sirkulasi Gejala : riwayat adanya Tanda : takikardia. Tanda : . 3.perpusi: pekak datar area yang konsolidasi . Nyeri (akut) berhubungan dengan inflamasi parenkim paru. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen. kulit kering dengan turgor buruk. Tanda : berkeringat. penggunaan steroid.

analgetik diberikan untuk memperbaiki batuk dengan menurunkan ketidaknyamanan tetapi harus digunakan secara hati-hati. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan pembawa oksigen darah.Hipoksia . Rasional: alat untuk menurunkan spasme bronkus dengan mobilisasi sekret. eks.Biarkan teknik batuk efektif Rasional : batuk adalah mekanisme pembersihan jalan nafas alami untuk mempertahankan jalan nafas paten.Bunyi nafas tak normal . peningkatan produksi sputum ditandai dengan: .Kaji frekuensi/kedalaman pernafasan dan gerakan dada Rasional : takipnea.Dispnea.Batuk efektif . Jalan nafas efektif dengan kriteria: .kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi.Perubahan frekuensi.Auskultasi area paru. . penurunan masukan oral. catat area penurunan 1 kali ada aliran udara dan bunyi nafas Rasional: penurunan aliran darah terjadi pada area konsolidasi dengan cairan. Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan inflamasi trachea bronchial.Batuk efektif atau tidak efektif dengan/tanpa produksi sputum. 10. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan berlebihan. pernafasan dangkal dan gerakan dada tak simetris sering terjadi karena ketidaknyamanan. 7. .Takikardia .Dispnea.Nafas normal .Berikan cairan sedikitnya Rasional: cairan (khususnya yang hangat) memobilisasi dan mengeluarkan sekret . . sianosis . RENCANA KEPERAWATAN 1.Bunyi nafas bersih . kedalaman pernafasan .Gelisah/perubahan mental . . gangguan pengiriman oksigen ditandai dengan: . karena dapat menurunkan upaya batuk/menekan pernafasan.Sianosis Intervensi: . 2.Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat sesuai indikasi: mukolitik.Penghisapan sesuai indikasi Rasional: merangsang batuk atau pembersihan jalan nafas suara mekanik pada faktor yang tidak mampu melakukan karena batuk efektif atau penurunan tingkat kesadaran. sianosis .

Gelisah Intervensi: . Tingkatkan masukan nutrisi adekuat. nafas dalam dan batuk efektif. amantadin.Sianosis . membran mukosa dan kulit sekitar mulut menunjukkan hipoksemia sistemik.Hipoksia . Resiko tinggi terhadap infeksi (penyebaran) berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder (adanya infeksi penekanan imun). eritromisin. Rasional: sianosis kuku menunjukkan vasokontriksi respon tubuh terhadap demam/menggigil namun sianosis pada daun telinga. Rasional: menurunkan penularan terhadap patogen infeksi lain .Kaji frekuensi/kedalaman dan kemudahan bernafas Rasional: manifestasi distress pernafasan tergantung pada indikasi derajat keterlibatan paru dan status kesehatan umum. . potensial untuk fatal dapat terjadi. membran mukosa dan kuku. meningkat pengeluaran sekret untuk memperbaiki ventilasi tak efektif. O2 diberikan dengan metode yang memberikan pengiriman tepat dalam toleransi pe.Kolaborasi Berikan terapi oksigen dengan benar misal dengan nasal plong master. Rasional: mempertahankan PaO2 di atas 60 mmHg.waktu perbaikan infeksi/kesembuhan cepat tanpa . Rasional: tindakan ini meningkat inspirasi maksimal. amikalin.penularan penyakit ke orang lain tidak ada Intervensi: . .Pantau tanda vital dengan ketat khususnya selama awal terapi Rasional: selama awal periode ini. Catat adanya sianosis perifer (kuku) atau sianosis sentral. sepalosporin. master venturi.Gangguan gas teratasi dengan: . Rasional: memudahkan proses penyembuhan dan meningkatkan tekanan alamiah . tetrasiklin.Batasi pengunjung sesuai indikasi.Tunjukkan teknik mencuci tangan yang baik Rasional: efektif berarti menurun penyebaran/perubahan infeksi. . 3. . Tujuan: Infeksi tidak terjadi dengan kriteria: .Observasi warna kulit. Rasional: Obat digunakan untuk membunuh kebanyakan microbial pulmonia.Kolaborasi Berikan antimikrobial sesuai indikasi dengan hasil kultur sputum/darah misal penicillin.Kaji status mental. malnutrisi.Potong keseimbangan istirahat adekuat dengan aktivitas sedang. bingung dan somnolen dapat menunjukkan hipoksia atau penurunan oksigen serebral. . Rasional: gelisah mudah terangsang.Nafas normal .Tinggikan kepala dan dorong sering mengubah posisi. .Sesak . penyakit kronis. .

4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen ditandai dengan: - Dispnea - Takikardia - Sianosis Intoleransi aktivitas teratasi dengan: - Nafas normal - Sianosis - Irama jantung Intervensi - Evaluasi respon pasien terhadap aktivitas Rasional: merupakan kemampuan, kebutuhan pasien dan memudahkan pilihan interan. - Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai indikasi. Rasional: menurunkan stress dan rangsangan berlebihan, meningkatkan istirahat. - Jelaskan perlunya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat. - Bantu pasien memilih posisi nyaman untuk istirahat atau tidur. Rasional: pasien mungkin nyaman dengan kepala tinggi, tidur di kursi. - Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan Rasional: meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen. 5. Nyeri berhubungan dengan inflamasi parenkim varul, batuk menetap ditandai dengan: - Nyeri dada - Sakit kepala - Gelisah Nyeri dapat teratasi dengan: - Nyeri dada (-) - Sakit kepala (-) - Gelisah (-) Intervensi: - Tentukan karakteristik nyeri, misal kejan, konstan ditusuk. Rasional: nyeri dada biasanya ada dalam seberapa derajat pada pneumonia, juga dapat timbul karena pneumonia seperti perikarditis dan endokarditis. - Pantau tanda vital Rasional: Perubahan FC jantung/TD menu bawa Pc mengalami nyeri, khusus bila alasan lain tanda perubahan tanda vital telah terlihat. - Berikan tindakan nyaman pijatan punggung, perubahan posisi, musik tenang / berbincangan. Rasional: tindakan non analgesik diberikan dengan sentuhan lembut dapat menghilangkan ketidaknyamanan dan memperbesar efek derajat analgesik. - Aturkan dan bantu pasien dalam teknik menekan dada selama episode batuk. Rasional: alat untuk mengontrol ketidaknyamanan dada sementara meningkat keefektifan upaya batuk.

- Kolaborasi Berikan analgesik dan antitusik sesuai indikasi Rasional: obat dapat digunakan untuk menekan batuk non produktif atau menurunkan mukosa berlebihan meningkat kenyamanan istirahat umum. 6. Resiko tinggi terhadap nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses inflamasi ditandai dengan tujuan: Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dapat diatasi dengan: - Pasien menunjukkan peningkatan nafsu makan - Pasien mempertahankan meningkat BB Intervensi - identifikasi faktor yang menimbulkan mual/muntah, misalnya: sputum, banyak nyeri. Rasional: pilihan intervensi tergantung pada penyebab masalah - Jadwalkan atau pernafasan sedikitnya 1 jam sebelum makan Rasional: menurun efek manual yang berhubungan dengan penyakit ini - Berikan makan porsi kecil dan sering termasuk makanan kering (roti panggang) makanan yang menarik oleh pasien. Rasional: tindakan ini dapat meningkat masukan meskipun nafsu makan mungkin lambat untuk kembali. - Evaluasi status nutrisi umum, ukur berat badan dasar. Rasional: adanya kondisi kronis keterbatasan ruangan dapat menimbulkan malnutrisi, rendahnya tahanan terhadap inflamasi/lambatnya respon terhadap terapi. 7. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan berlebihan, demam, berkeringat banyak, nafas mulut, penurunan masukan oral. Kekurangan volume cairan tidak terjadi dengan kriteria: Pasien menunjukkan keseimbangan cairan dibuktikan dengan parameter individual yang tepat misalnya membran mukosa lembab, turgor kulit baik, tanda vital stabil. Intervensi: - Kaji perubahan tanda vital contoh peningkatan suhu demam memanjang, takikardia. Rasional: peningkatan suhu/memanjangnya demam meningkat laju metabolik dan kehilangan cairan untuk evaporasi. - Kaji turgor kulit, kelembapan membran mukosa (bibir, lidah) Rasional: indikator langsung keadekuatan volume cairan, meskipun membran mukosa mulut mungkin kering karena nafas mulut dan O2 tambahan. - Catat laporan mual/muntah Rasional: adanya gejala ini menurunkan masukan oral - Pantau masukan dan keluaran catat warna, karakter urine. Hitung keseimbangan cairan. Ukur berat badan sesuai indikasi. Rasional: memberikan informasi tentang keadekuatan volume cairan dan keseluruhan penggantian.

- Tekankan cairan sedikit 2400 mL/hari atau sesuai kondisi individual Rasional: pemenuhan kebutuhan dasar cairan menurunkan resiko dehidrasi. - Kolaborasi Beri obat indikasi misalnya antipiretik, antimitik. Rasional: berguna menurunkan kehilangan cairan Berikan cairan tambahan IV sesuai keperluan Rasional: pada adanya penurunan masukan banyak kehilangan penggunaan dapat memperbaiki/mencegah kekurangan 11. IMPLEMENTASI Dilakukan sesuai dengan rencana tindakan menjelaskan setiap tindakan yang akan dilakukan sesuai dengan pedoman atau prosedur teknik yang telah ditentukan. 12. EVALUASI Kriteria keberhasilan: - Berhasil Tuliskan kriteria keberhasilannya dan tindakan dihentikan - Tidak berhasil Tuliskan mana yang belum berhasil dan lanjutkan tindakan. 13. DAFTAR PUSTAKA 1. Doenges, Marilynn, E. dkk. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, 2000. EGC, Jakarta. 2. Bare Brenda G, Smeltzer Suzan C. Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, Vol. 1, EGC, Jakarta. 3. Price Anderson Sylvia, Milson McCarty Covraine, Patofisiologi, buku-2, Edisi 4, EGC, Jakarta. 4. Tim Penyusun. Ilmu Penyakit Dalam, Edisi 3. Volume II, 2001, FKUI.
This entry was posted on Saturday, April 18th, 2009 at 2:55 am and is filed under Uncategorized. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

þÿ

Name (required) Mail (will not be published) (required) Website

þÿ

þÿ

lesi mengalami kolaps dan membentuk ruang.2009 Askep Abses paru merupakan lesi nekrotik setempat pada parenkim paru .16. 16 Askep Abses paru AKPER PPNI SOLO. þÿ Submit Comment Powered by Blog. Try again.com Entries (RSS) and Comments (RSS).bahan purulen. ETIOLOGI .Type the two words:Type what you hear:Incorrect. 8. B.

Batuk dan nyeri pleuritik (jawa: kemeng) 3. termasuk aerob dan aerob seperti Streptokokus. dll) 2. Perkusi: pekak b. D. PEMERIKSAAN DIAGNOSIS 1.napas dengan akibat timbulnya atelektasis dengan infeksi. C. Sputum berupa pus dengan pengecatan gram terdapat dengan leukosit dan ditentukan . Darah: LED meningkat. Malaise dengan panas badan disertai menggigil 2. embolisme paru atau trauma dada PASIEN YANG BERISIKO: 1.1. mungkin juga berbau busuk (infeksi basil anaerob) E. bila yang masuk basil saja maka akan timbul pneumonia. hidung. Dengan selang nasogastrik 5. Dispnea 4. Dengan kerusakan reflek batuk dan tidak mampu menutup glotis 2. benda asing atau stenosis bronkial) 3. Pemeriksaan fisik dada a. PATOLOGI Proses dimulai di bronki/bronkioli. Abses timbul bila organisme yang masuk ke paru bersama-sama dengan material yang terhirup yang akan membuntu sal. Dalam keadaan berbaring menuju ke subsegmen apikal lobus superior atau segmen superior lobus inferior. TANDA DAN GEJALA Gejala timbul satu sampai tiga hari setelah aspirasi. Penurunan berat badan Bila tidak diobati gejala akan terus meningkat sampai kurang lebih hari ke sepuluh. Dengan kerusakan kesadaran karena anestesi.Tuberkulosis. gangguan saraf pusat (kejang. Anoreksia 6. stroke) 4. Obstruksi mekanik atau fungsional bronki (tumor. 1. Nekrotisasi pneumonia. menyebar ke parenkim paru dikelilingi oleh jaringan granulasi. Auskultasi: penurunan sampai tidak terdengarnya bunyi napas atau krekles 2. Sianosis 5. Drainase dan pengobatan yang tidak memadai akan menyebabkan abses menjadi menaun. Yang mengalami kesulitan mengunyah 3. Perluasan ke pleura sering terjadi. Laboratorium a. Hubungan dengan bronkus dapat terjadi sehingga pus atau jaringan nekrotik dapat dikeluarkan. tenggorokan. penderita mendadak batuk pus bercampur darah dalam jumlah banyak. Infeksi karena aspirasi dari saluran napas. Dengan pneumonia TEMPAT ABSES Berhubungan dengan pengumpulan akibat gaya gravitasi yang ditentukan oleh posisi klien pada waktu terjadinya aspirasi. spiroketa. Leukosit 20-30rb/mm3 b. Mikroorganisme penyebab dapat berasal dari bermacam-macam basil dari flora mulut.

2. PENATALAKSANAAN MEDIS 1. perbaikan gmbrn rontgen. tekankan istirahat.bermacam-macam basil. Pertahankan kebersihan gigi dan mulut scr adekuat 3. pentingnya penyelesaian regimen antibiotik . Latih batuk efektif agar pengembangan paru max. Antibiotik oral utk mengganti IV setelah ada tanda perbaikan (suhu tbh normal. batuk efektif. 1. napas dalam. Gangguan tidur 5. kemudian setelah kira-kira hari ke sepuluh. Dorong asupan diet:TKTP 6. Beri dukungan secara emosional b. Drainase adekuat abses paru (drainase postural dan fisioterapi dada) 3.d lamanya waktu penyembuhan 7. hitung Leukosit menurun. fisioterapi dada). Rontgen dada: pada mulanya memberi gambaran konsolidasi seperti pada pneumonia. Terapi antimikroba intravena berdasar kultur dan sensitivitas pd sputum. A: AIRWAY Ketidakefektifan bersihan jalan napas b. PROSES KEPERAWATAN Diagnosa yang mungkin muncul: 1.d lamanya waktu pengobatan Intervensi keperawatan: 1. Kelemahan (fatigue) 6. nutrisi. 3. Ketidakefektifan manajemen regimen terapeutik b. Ketidakefektifan pola napas b. Reseksi paru (lobektomi) Tindakan yg akan mengurangi risiko terjadinya abses. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh 4.d penumpukan sekret 2. Terapi antimikroba yg sesuai dg resep pd pasien dg pneumonia G. jaringan nekrotik di dalamnya dikeluarkan dan meninggalkan kavitas dengan “air fluid level” yang berkarateristik. Gangguan pertukaran gas 3. Fisioterapi dada utk memudahkan drainase abses 3. Penkes jika klien menjalani pembedahan (prwtn luka. Awasi terapi antibiotik yg diberikan pd klien: sesuai resep dan awasi efek samping yg merugikan (Pastikan klien menyelesaikan seluruh dosis terapi) 2. B: BREATHING a. F. PK: Infeksi 7. Ajarkan napas dalam 4. 5. 5. Diet tinggi protein dan kalori utk katabolik pd infeksi kronik dan mempercepat penyembuhan 4. Dosis IV yg banyak diperlukan karena antibiotik harus menembus jaringan nekrotik dan cairan dlm abses. Bedah jarang dilakukan. Terapi antibiotik pd pasien yg mengalami infeksi (pd gigi dan gusi) saat pencabutan gigi 2.

penurunan mekanisme pertahanan tubuh atau virulensi kuman yang tinggi. Abses timbul karena aspirasi benda terinfeksi. Pada negara-negara maju jarang dijumpai kecuali penderita dengan gangguan respons imun seperti penyalahgunaan obat. epilepsi tak terkontrol. penyakit sistemik atau komplikasi dari paska obstruksi.Baca Juga Artikel Dibawah askep medikal • • • • • • askep ARDS ( Acute Respiratory Distress Syndrome) Askep Pneumonia Askep Bronchopneumonia Askep TBC Paru Askep Hipertensi Askep Gastritis di 7:35 AM Label: askep medikal 0 komentar: Post a Comment BSES PARU Agustus 7. Pada beberapa studi didapatkan bahwa . kerusakan paru sebelumnya dan penyalahgunaan alkohol. Abses besar atau abses kecil mempunyai manifestasi klinik berbeda namun mempunyai predisposisi yang sama dan prinsip diferensial diagnose sama pula. Bila diameter kavitas < 2 cm dan jumlahnya banyak (multiple small abscesses) dinamakan “necrotising pneumonia”. Pada umumnya kasus Abses paru ini berhubungan dengan karies gigi. 2008 OLeh : Hendra Arif Abses paru adalah suatu kavitas dalam jaringan paru yang berisi material purulent berisikan sel radang akibat proses nekrotik parenkim paru oleh proses terinfeksi .

kuman aerob maupupn anaerob dari koloni oropharing yang sering menjadi penyebab abses paru. terapi kombinasi masih memberikan beberapa permasalahan sebagai berikut : (4) 1. Terapi ideal harus berdasarkan penemuan kuman penyebabnya secara kultur dan sensitivitas. metronidazole dan golongan aminoglikosida pada abses paru. Bakteri mengadakan multiplikasi dan merusak parenkim paru dengan proses . 8). PATHOFISIOLOGI 1. Dengan rasio jenis kelamin laki-laki banding wanita adalah 1. 2. yang menimbulkan nekrosis dan likuifikasi. Merupakan proses lanjut pneumonia inhalasi bakteria pada penderita dengan faktor predisposisi. Suatu saat abses pecah. 4. terapi dan prognosa sebagai penyegaran teori yang sudah ada. 2. Walaupun masih efektif. Mendorong terjadinya resistensi antibiotika. infeksi kemudian proses supurasi dan nekrosis. 3. Potensi reaksi keracunan obat tinggi 3. Adanya super infeksi bakteri yang mengakibatkan Nosokonial Pneumoni. melokalisir proses abses dengan jaringan fibrotik. 10). Sedangkan penelitian dengan teknik biopsi perkutan atau aspirasi transtrakeal ditemukan terbanyak adalah kuman anaerob.000 penderita yang masuk rumah sakit hampir sama dengan angka yang dimiliki oleh The Children’s Hospital of eastern ontario Kanada sebesar 0. Sputumnya biasanya berbau busuk. Penelitian pada penderita Abses paru nosokonial ditemukan kuman aerob seperti golongan enterobacteriaceae yang terbanyak. Waktu perawatan di RS yang lama 2. 1. PATHOLOGI Abses paru timbul bila parenkim paru terjadi obstruksi. Pembentukan jaringan granulasi terjadi mengelilingi abses. PATHOFISIOLOGI Garry tahun 1993 mengemukakan terjadinya abses paru disebutkan sebagai berikut : (5) a. lalu jaringan nekrosis keluar bersama batuk.6 : 1 (1. kadang terjadi aspirasi pada bagian lain bronkus terbentuk abses baru. bila abses pecah ke rongga pleura maka terjadi empyema (2.000 penderita anak-anak yang MRS. Pada umumnya para klinisi menggunakan kombinasi antibiotik sebagai terapi seperti penisilin. Etiologi Kuman atau bakteri penyebab terjadinya Abses paru bervariasi sesuai dengan peneliti dan teknik penelitian yang digunakan. Finegolal dan fisliman mendapatkan bahwa organisme penyebab abses paru lebih dari 89 % adalah kuman anaerob. Asher dan Beandry mendapatkan bahwa pada anak-anak kuman penyebab abses paru terbanyak adalah stapillococous aureus (1). Perubahan reaksi radang pertama dimulai dari suppurasi dan trombosis pembuluh darah lokal. Pada makalah ini akan dibahas Abses paru mulai patogenesis.7 dari 100. 3. Angka kematian yang disebabkan oleh Abses paru terjadi penurunan dari 30 – 40 % pada era preantibiotika sampai 15 – 20 % pada era sekarang (7). Insidens Angka kejadian Abses Paru berdasarkan penelitian Asher et al tahun 1982 adalah 0.67 tiap 100.

penurunan nafsu makan dan berat badan. Obstruksi bronkus dapat menyebabkan pneumonia berlajut sampai proses abses paru. Pada pemeriksaan dijumpai tanda-tanda proses konsolidasi seperti redup. 5) a. 25% kasus)± Batuk darah ( f. 4.φ tunggal dengan ukuran Gambaran ini sering dijumpai pada paru kanan lebih dari paru kiri. 9) Pada foto torak terdapat kavitas dengan dinding tebal dengan tanda-tanda konsolidasi disekelilingnya. c. Ditentukan leukositosis.nekrosis. Batuk. d. Pertumbuhan massa kanker bronkogenik yang cepat tidak diimbangi peningkatan suplai pembuluh darah. Pembentukan kavitas pada kanker paru. 1.000/mm3 (90% kasus) bahkan pernah dilaporkan peningkatan sampai dengan 32. akibat inhalasi bakteri mengalami proses keradangan supurasi. Pada hitung jenis sel darah putih didapatkan pergeseran shit to the left b. sehingga terjadi likuifikasi nekrosis sentral. sering dijumpai adanya jari tabuh serta takikardi. Bila berhubungan dengan bronkus. maka terbentuklah air fluid level bakteria masuk kedalam parenkim paru selain inhalasi bisa juga dengan penyebaran hematogen (septik emboli) atau dengan perluasan langsung dari proses abses ditempat lain (nesisitatum) misal abses hepar. Pemeriksaan kultur bakteri dan test kepekaan antibiotikan merupakan cara terbaik . Kavitas ini bisa multipel atau 2 – 20 cm. Laju endap darah ditemukan meningkat > 58 mm / 1 jam. suara nafas yang meningkat. Gejala yang sama juga terlihat pada aspirasi benda asing yang belum keluar. MANIFESTASI KLINIS. Bila terjadi infeksi dapat terbentuk abses. 3. pada stadium awal non produktif. Gambaran Radiologis (1. d. 50% kasus)± Nyeri dada ( e. Pemeriksaan sputum dengan pengecatan gram tahan asam dan KOH merupakan pemeriksaan awal untuk menentukan pemilihan antibiotik secara tepat. b. meningkat lebih dari 12. Pada pemeriksaan darah rutin. 4. Kadang dijumpai dengan temperatur > 400C. 2. Bila terjadi hubungan rongga abses dengan bronkus batuknya menjadi meningkat dengan bau busuk yang khas (Foetor ex oroe (4075%). Gejala klinis : (1. c. Pemeriksaan laboratorium (2. 6) Gejala klinis yang ada pada abses paru hampir sama dengan gejala pneumonia pada umumnya yaitu: a. 2. b. Panas badan Dijumpai berkisar 70% – 80% penderita abses paru. Hal ini sering terjadi pada obstruksi karena kanker bronkogenik.700/mm3. 5. c. Pada penderita emphisema paru atau polikisrik paru yang mengalami infeksi sekunder. 3. Produksi sputum yang meningkat dan Foetor ex oero dijumpai berkisar 40 – 75% penderita abses paru. Pada beberapa penderita tuberkolosis dengan kavitas. 3. Bila terdapat hubungan dengan bronkus maka didalam kavitas terdapat Air fluid level. 2. Gejala tambahan lain seperti lelah. Kavitas yang mengalami infeksi. Kadang-kadang dijumpai juga pada obstruksi karena pembesaran kelenjar limphe peribronkial. Tetapi bila tidak ada hubungan maka hanya dijumpai tanda-tanda konsolidasi (opasitas).

Diagnosa harus ditegakkan berdasarkan : (1. 5. Kista paru yang terinfeksi. IV. Riwayat penyalahgunaan obat yang mungkin teraspirasi asam lambung waktu tidak sadar atau adanya emboli kuman diparu akibat suntikan obat. Pneumokoniosis yang mengalami kavitasi. kultur darah yang dapat mengarah pada organisme penyebab infeksi. Hematom paru. Pada tuberkulosis didapatkan BTA dan pada infeksi jamur ditemukan jamur. Diagnosis pasti dengan pemeriksaan barium foto. Dindingnya tipis dan tidak ada reaksi di sekitarnya. adanya air fluid level yang berubah posisi sesuai dengan gravitasi. 4. 6. Pekerjaan penderita jelas di daerah berdebu dan didapatkan simple pneumoconiosis pada penderita. Ada beberapa modalitas terapi yang diberikan pada abses paru : (2. Di sekitar bula tidak ada atau hanya sedikit konsolidasi. Letak di basal kiri belakang. 5. penurunan berat badan. 4. 3. 2. 3. Tidak ada gejala paru. 9. Keluhan penderita yang khas misalnya malaise. Ada riwayat trauma. Hiatus hernia. Bronkoskopi Fungsi Bronkoskopi selain diagnostik juga untuk melakukan therapi drainase bila kavitas tidak berhubungan dengan bronkus. trauma atau serangan epilepsi. Hasil pemeriksaan fisik yang mendukung adanya data tentang penyakit dasar yang mendorong terjadinya abses paru. Tuberkulosis paru atau infeksi jamur 3. Adanya riwayat penurunan kesadaran berkaitan dengan sedasi. Pemeriksaan laboratorium sputum gram. Nyeri restrosternal dan heart burn bertambah berat pada waktu membungkuk. 10) 1. Diagnosa Banding (2) : 1. Gejala klinisnya hampir sama atau lebih menahun daripada abses paru. 7. DIAGNOSA Diagnosa abses paru tidak bisa ditegakkan hanya berdasarkan kumpulan gejala seperti pneumonia dan pemeriksaan phisik saja.dalam menegakkan diagnosa klinis dan etiologis. Gambaran radiologis yang menunjukkan kavitas dengan proses konsolidasi disekitarnya. biasanya dinding kavitas tebal dan tidak rata. Riwayat penyakit sebelumnya. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan Abses paru harus berdasarkkan pemeriksaan mikrobiologi dan data penyakit dasar penderita serta kondisi yang mempengaruhi berat ringannya infeksi paru. Karsimoma bronkogenik yang mengalami kavitasi. Maka bisa dipikrkan untuk memilih kombinasi antibiotika antara golongan . Sekuester paru. V. tampak air fluid level. 8. 5. Diagnosis pasti dengan bronkografi atau arteriografi retrograd. 2. 4. 9. Batuk hanya sedikit. 2. Diagnosis pasti dengan pemeriksaan sitologi/patologi. dan batuk yang produktif. 4. Pilihan pertama antibiotika adalah golongan Penicillin pada saat ini dijumpai peningkatan Abses paru yang disebabkan oleh kuman anaerobs (lebih dari 35% kuman gram negatif anaerob). 6) 1. Bula yang terinfeksi. Medika Mentosa Pada era sebelum antibiotika tingkat kematian mencapai 33% pada era antibiotika maka tingkat kkematian dan prognosa abses paru menjadi lebih baik. panas badan yang ringan. 5.

Lesi obstruksi d. Gangguan intelegensia h. Waktu pemberian antibiotika tergantung dari gejala klinis dan respon radiologis penderita. Abses otak c. pada penderita dengan pneumonia nosokomial yang berkembang menjadi Abses paru. Bedah Reseksi segmen paru yang nekrosis diperlukan bila: a. Immune Compromised f. RINGKASAN Abses paru adalah suatu kavitas dalam jaringan paru yang berisi material purulent dan sel . VI. b.penicillin G dengan clindamycin atau dengan Metronidazole. Adanya gangguan drainase karena obstruksi. jadi diberikan antibiotika minimal 2-3 minggu. Drainage Drainase postural dan fisiotherapi dada 2-5 kali seminggu selama 15 menit diperlukan untuk mempercepat proses resolusi Abses paru. Prognosa Abses paru masih marupakan penyebab morbiditas dan mortalitas yang signifikan.4% angka kematian Abses paru karena CAP dibanding 66% Abses paru karena HAP. 2. Alternatif lain adalah kombinasi Imipenem dengan B Lactamase inhibitase. 5) a. Pada penderita Abses paru yang tidak berhubungan dengan bronkus maka perlu dipertimbangkan drainase melalui bronkoskopi. Penderita diberikan terapi 2-3 minggu setelah bebas gejala atau adanya resolusi kavitas. φ Abses yang besar ( > 5-6 cm) c. Angka kematian Abses paru berkisar antara 15-20% merupakan penurunan bila dibandingkan dengan era pre antibiotika yang berkisar antara 30-40% (7). Muri et al melaporkan 2. Perawatan yang terlambat VII. Pada penderita dengan beberapa faktor predisposisi mempunyai prognosa yang lebih jelek dibandingkan dengan penderita dengan satu fakktor predisposisi. atau kombinasi clindamycin dan Cefoxitin. Anemia dan Hipo Albuminemia b. 3. Beberapa komplikasi yang timbul adalah : (4. KOMPLIKASI DAN PROGNOSA 1. Bakteri aerob e. Usia tua g. Respon yang rendah terhadap therapi antibiotika. Empyema b. Beberapa faktor yang memperbesar angka mortalitas pada Abses paru sebagai berikut : (7) a. Abses yang besar sehingga mengganggu proses ventilasi perfusi c. Perlman et al menemukan bahwa 2% angka kematian pada penderita dengan satu faktor predisposisi dibandingkan 75% pada penderita dengan multi predisposisi. Sepsis 2. Atelektasis d. Infeksi paru yang berulang d.

Finegold SM. 4 . Phildelphia . 1997 . The Ethiology and Anti Microbial Susceptibility Patterns of Microorganism in acute Commuity – Acquired Lung Abscess . 3 . Garry et al . 581 – 88. Lung Abscess in a Lange Clinical Manual : Internal Medicina : Diagnosis and Therapy 3rd . Lung Abscess Caused by Legionella micdadei . Hirshberg B et al . in Fishman’s pulmonary Diseases and disorders 3rd ed . 2021 – 32. Interventional Radiology of The Chest : Image Guided Percutaneons Drainage of Pleural Effusions. disertai malaise. AJR . Pemberian antibiotika merupakan pilihan utama disamping terapi bedah dan terapi suportif fisio terapi. Abses paru timbul karena faktor predisposisi seperti gangguan fungsi imun karena obat-obatan. . 413 – 15. Diagnosis pasti bila didapatkan biakan kuman penyebab sehingga dapat dilakukan terapi etiologis. 108 . Abses Paru dalam Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru . Beadry PH . 1995 . Huseby JS . Klein JS et al . Barlett JG . Chest . 937 – 41. 1999 . 1992 . 746 – 52. epilepsi). Factors predicting mortality of patients with lung Abscsess . dkk . tanda-tanda konsolidasi. gangguan kesadaran (anestesi. 136 – 41. 1998 . sputum purulen dan berbau. 164 . Chest . DAFTAR PUSTAKA Asher MI. 119 – 120. Philadelphia . Pada pemeriksaan foto polos dada didapatkan gambaran kavitas dengan air fluid level atau proses konsolidasi saja bila kavitas tidak berhubungan dengan bronkus. 115 . Surabaya . Empyema and Lung Abscess . Lung Abscess. batuk. Pada pemeriksaan fisik didapatkan takikardia. Pada abses paru memberikan gejala klinis panas. 1993 . Fishman JA . 1990 : 429 – 34. Assegaff H. Hammond JMJ et al . Chest 111 . 109 – 13. naspu makan dan berat badan yang turun. Johnson KM. AUP .radang akibat proses nekrotik parenkim paru oleh proses infeksi. 1 . and Pneumothorax . Lung Abscess in infections of Respicatory tract . oral higine yang kurang serta obstruksi dan aspirasi benda asing. Oklahoma . Lung Abscess in : Cecil text book of Medicine 19th ed . Canada . 1995 .

238 – 40. joutnal of allergy and clinical imonoligy . TB luar paru-paru dan TB yang berat terutama ditemukan pada usia < 3 tahun. namun usia paling umum adalah antara 1-4 tahun. Pengkajian a. Biasanya timbul pada lingkungan rumah dengan kepadatan tinggi yang tidak memungkinkan cahaya matahari masuk ke dalam rumah.1. 2009 at 5:03 am emang w nnya Leave a Comment Name Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan TBC Paru Posted By irman somantri on May 28. TB pada anak dapat terjadi pada usia berapa pun. Bio Data Penyakit Tuberkulosa dapat menyerang dari mulai anak sampai dengan dewasa dengan komposisi antara laki-laki dan perempuan yang hampir sama menderita. Allergic broucho pulumonary aspergillosis with multiple Streptococceus pneumonie Lung Abscess : an unussual insitial case presentation . kemudian meningkat setelah masa remaja di mana TB paru-paru menyerupai kasus pada pasien dewasa (sering disertai lubang/kavitas pada paru-paru). . 1 Comment Add your own • 1. INDRA | Mei 25. Entry Filed under: Kesehatan. Angka kejadian (prevalensi) TB paru-paru pada usia 5-12 tahun cukup rendah. .. 2008 Proses keperawatan pada pasien dengan Tuberculosa dengan pendekatan 5 langkah proses keperawatan sebagai berikut : 1.Ricaurte KK et al . 1 1999 . Anak lebih sering mengalami TB luar paru-paru (extrapulmonary) dibanding TB paru-paru dengan perbandingan 3:1. 104 .

keringat malam. karena biasanya penyakit ini muncul bukan karena sebagai penyakit keturunan tetapi merupakan penyakit infeksi menular. Bagian dada klien tidak bergerak pada saat bernafas dan jantung terdorong ke sisi yang sakit. Vollmer Patch) : reaksi positif (area indurasi 10 mm atau lebih. Pemeriksaan Fisik • Pada tahap dini sulit diketahui. sesak nafas. dimulai dari batuk kering sampai dengan batuk purulen (menghasilkan sputum). deposit kalsium pada lesi primer yang membaik atau cairan pada effusi. nafsu makan menurun. c. nyeri timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis. 4) Chest X-Ray : dapat memperlihatkan infiltrasi kecil pada lesi awal di bagian paru-paru bagian atas. . Perubahan mengindikasikanTB yang lebih berat dapat mencakup area berlubang dan fibrous. 5) Malaise : ditemukan berupa anorexia.°1) Demam : subfebris. Tine. Mantoux. kolaps. Pemeriksaan Tambahan 1) Sputum Culture : Positif untuk mycobacterium tuberkulosa pada stadium aktif. • Ronchi basah. febris (40-41 2) Batuk : terjadi karena adanya iritasi pada bronchus. 4) Nyeri dada : ini jarang ditemukan. 6) Pada atelektasis terdapat gejala berupa : cyanosis. 2) Ziehl Neelsen (Acid-fast Staind applied to smear of body fluid) : positif untuk BTA 3) Skin Test (PPD. sakit kepala. • Hipersonor/timpani bila terdapat kavitas yang cukup dan pada auskultasi memberikan suara umforik. • Pada keadaan lanjut Atropi dan retraksi interkostal dan fibrosis • Bila mengenai pleura terjadi effusi pleura (perkusi memberikan suara pekak) d. 7) Perlu ditanyakan dengan siapa pasien tinggal. kasar dan nyaring. Pada foto thorax tampak pada sisi yang sakit bayangan hitam dan diafragma menonjol ke atas. batuk ini terjadi untuk membuang/mengeluarkan produksi radang. berat badan menurun. timbul 48 – 72 jam setelah injeksi antigen intradermal) mengindikasikan infeksi lama dan adanya antibodi tetapi tidak mengindikasikan penyakit sedang aktif. Riwayat Kesehatan Keluhan yang sering muncul antara lain : C) hilang timbul. nyeri otot. 3) Sesak nafas : bila sudah lanjut dimana infiltrasi radang sampai setengah paru.b.

TLC meningkat dan menurunnya saturasi oksigen yang merupakan gejala sekunder dari fibrosis/infiltrasi parenchim paru dan penyakit pleura. biopsi kulit) : positif untu mycobacterium tuberkulosa.2009 Askep TBC Paru atau sering dikenal dengan TB paru adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tubeculosis. tergantung lokasi. Etiologi Tuberkulosis paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh basil mikrobakterium tuberkulosis tipe humanus. 6) Needle Biopsi of Lung Tissue : positif untuk granuloma TB.3-0.12. Dead Space meningkat. 8. misalnya hiponatremia mengakibatkan retensi air. 9) Bronchografi : merupakan pemeriksaan khusus untuk melihat kerusakan bronchus atau kerusakan paru karena TB.6/mm. ABGs : mungkin abnormal. 7) Elektrolit : mungkin abnormal tergantung dari lokasi dan beratnya infeksi. Lipid inilah yang membuat kuman lebih tahan terhadap asam dan lebih tahan terhadap . berat dan sisa kerusakan paru. adanya sel-sel besar yang mengindikasikan nekrosis. 11) Test Fungsi Paru : VC menurun. Askep TBC Paru AKPER PPNI SOLO. urine dan CSF.Gambar 15 : Foto Rontgen Klien Tuberkulosa Paru (Sumber : www.org/irp/imint/docs/rst/Intro/Part2_26b. mungkin ditemukan pada TB paru kronik lanjut. Sebagian besar kuman terdiri atas asam lemak (lipid). 10) Darah : lekositosis.html) 5) Histologi atau Culture jaringan (termasuk kumbah lambung.fas. LED meningkat. sejenis kuman yang berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4/mm dan tebal 0.

Tuberkulosis paru primer. Penularan umumnya terjadi di dalam ruangan dimana droplet nuclei dapat tinggal di udara dalam waktu lebih lama. . Diperkirakan 95 % penyakit tuberkulosis berada di negara berkembang. 1997). sehingga bagian apikal ini merupakan tempat predileksi penyakit tuberkulosis. Dalam hal ini tekanan bagian apikal paru-paru lebih tinggi dari pada bagian lainnya. Tuberkulosis juga telah menyebabkan kematian lebih banyak terhadap wanita dibandingkan dengan kasus kematian karena kehamilan.gangguan kimia dan fisik. meskipun sejak tahun 1993 telah dicanangkan kedaruratan global penyakit tuberkulosis. peradangan terjadi sebelum tubuh mempunyai kekebalan spesifik terhadap basil mikobakterium. Di bawah sinar matahari langsung basil tuberkel mati dengan cepat tetapi dalam ruang yang gelap lembab dapat bertahan sampai beberapa jam. Sifat ini menunjukkan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya. hal ini disebabkan banyak penderita yang tidak berhasil disembuhkan. diperkirakan setiap tahun terjadi sekitar sembilan juta penderita dengan kematian tiga juta orang (WHO. penyakit tuberkulosis tidak terkendali. Tuberkulosis yang kebanyakan didapatkan pad usia 1-3 tahun. terutama penderita menular (BTA positif). keduanya dinamakan tuberkulosis primer. Kegelisahan global ini didasarkan pada fakta bahwa pada sebagian besar negara di dunia. Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi penting saluran pernapasan. Proses Penularan Tuberkulosis tergolong airborne disease yakni penularan melalui droplet nuclei yang dikeluarkan ke udara oleh individu terinfeksi dalam fase aktif. Dari sifat dormant ini kuman dapat bangkit kembali dan menjadikan tuberkulosis aktif kembali. Insiden Penyakit tuberkulosis adalah penyakit yang sangat epidemik karena kuman mikrobakterium tuberkulosa telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia. yang dalam perjalanannya sebagian besar akan mengalami penyembuhan. tuberculosis juga dapat masuk ke dalam tubuh melalui saluran pencernaan dan luka terbuka pada kulit (lebih jarang). Di samping penularan melalui saluran pernapasan (paling sering). Setiapkali penderita ini batuk dapat mengeluarkan 3000 droplet nuclei. Hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat dormant. M. Di negara-negara berkembang kematian karena penyakit ini merupakan 25 % dari seluruh kematian. maka terjadilah infeksi primer (ghon) selanjutnya menyebar kekelenjar getah bening setempat dan terbentuklah primer kompleks (ranke). Program penaggulangan secara terpadu baru dilakkan pada tahun 1995 melalui strategi DOTS (directly observed treatment shortcourse chemoterapy). 75 % adalah kelompok usia produktif (15-50 tahun). yang sebenarnya dapat dicegah. Basil mikrobakterium tersebut masuk kedalam jaringan paru melalui saluran napas (droplet infection) sampai alveoli. Sifat lain kuman adalah aerob. Pada tahun 1995. Kuman ini tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat tahan bertahun-tahun dalam lemari es). Sedangkan yang disebut tuberkulosis post primer (reinfection) adalah peradangan jaringan paru oleh karena terjadi penularan ulang yang mana di dalam tubuh terbentuk kekebalan spesifik terhadap basil tersebut. Dua faktor penentu keberhasilan pemaparan Tuberkulosis pada individu baru yakni konsentrasi droplet nuclei dalam udara dan panjang waktu individu bernapas dalam udara yang terkontaminasi tersebut di samping daya tahan tubuh yang bersangkutan.

disebut bronckus lobus bawah. dan bronkiolus. WHO memperkirakan setiap tahun menjadi 583. Laringx (tenggorok) terletak di depan bagian terendah farinx yang mernisahkan dari columna vertebrata.000 kasus baru tuberkulosis dengan kematian sekitar 140. Maka ‘letaknya di belakang larinx (larinx-faringeal). yaitu saluran udara terkecil yang tidak mengandung alveoli (kantong udara). dan berjalan di bawah arteri pulmonalis sebelurn di belah menjadi beberapa cabang yang berjalan kelobus atas dan bawah. secara kasar diperkirakan setiap 100. Anatomi dan Fisiologi Saluran penghantar udara hingga mencapai paru-paru adalah hidung.20 lingkaran tak. Alveolus yaitu tempat pertukaran gas assinus terdiri dari bronkhiolus dan respiratorius . bronkus. Bronkus kiri lebih panjang dan lebih langsing dari yang kanan. (rongga) hidung. Seluruh saluran udara ke bawah sampai tingkat bronkbiolus terminalis disebut saluran penghantar udara karena fungsi utamanya adalah sebagai penghantar udara ke tempat pertukaran gas paru-paru. Farinx (tekak) . rongga hidung. selain itu juga membuat beberapa jaringan otot. dan bersambung dengan lapisan farinx dan dengan selaput lendir sinus yang mempunyai lubang masuk ke dalam. Trachea tersusun atas 16 .lengkap yang berupan cincin tulang rawan yang diikat bersama oleh jaringan fibrosa dan yang melengkapi lingkaran disebelah belakang trachea. Hidung . dan nomor satu dari golongan penyakit infeksi. Bronckus kanan lebih pendek dan lebih lebar daripada yang kiri. Percabangan ini berjalan terus menjadi bronchus yang ukurannya semakin kecil. Trachea atau batang tenggorok kira-kira 9 cm panjangnya trachea berjalan dari larynx sarnpai kira-kira ketinggian vertebrata torakalis kelima dan di tempat ini bercabang mcnjadi dua bronckus (bronchi). berjalan dari farinx.persalinan dan nifas. Bronkhiolus tidak diperkuat oleh cincin tulang rawan. adalah pipa berotot yang berjalan dari dasar tengkorak sampai persambungannya dengan oesopagus pada ketinggian tulang rawan krikoid. Rongga hidung dilapisi sebagai selaput lendir yang sangat kaya akan pembuluh darah. larinx trachea. Tetapi dikelilingi oleh otot polos sehingga ukurannya dapat berubah. farinx. Bronkhiolus terminalis memiliki garis tengah kurang lebih I mm. Cabang utama bronchus kanan dan kiri bercabang lagi menjadi bronchus lobaris dan kernudian menjadi lobus segmentalis. Saluran-saluran itu bermuara ke dalam bagian yang dikenal sebagai vestibulum. sedikit lebih tinggi darl arteri pulmonalis dan mengeluarkan sebuah cabang utama lewat di bawah arteri. Larynx terdiri atas kepingan tulang rawan yang diikat bersama oleh ligarnen dan membran. Nares anterior adalah saluran-saluran di dalam.000 penduduk Indonesia terdapat 130 penderita baru tuberkulosis dengan BTA positif. Di indonesia pada tahun yang sama. sampai ketinggian vertebrata servikals dan masuk ke dalarn trachea di bawahnya. mempunyai struktur serupa dengan trachea dan dilapisi oleh.jenis sel yang sama.000. Bronchus yang terbentuk dari belahan dua trachea pada ketinggian kira-kira vertebrata torakalis kelima. Bronkus-bronkus itu berjalan ke bawah dan kesamping ke arah tampuk paru. sampai akhirnya menjadi bronkhiolus terminalis. rongga hidung. hasil survey kesehatan rumah tangga (SKRT) menunjukkan bahwa penyakit tuberkulosis merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan penyakit infeksi saluran pernapasan pada semua kelompok usia.

Paru kanan dibagi atas tiga lobus yaitu lobus superior. Alveolus dipisahkan oleh dinding yang dinamakan pori-pori kohn. sehingga mempunyai permukaan yang cukup luas untuk tempat permukaan/pertukaran gas. dan C02 terbentuk sebagai sampah proses metabolisme sel dan dikeluarkan oleh paru-paru (4) Transportasi.mendapatkan energi.-sel jaringan (2) Distribusi darah dalam sirkulasi pulmonal dan penyesuaiannya dengan distribusi udara dalam alveolus. medius dan inferior sedangkan paru kiri dibagi dua lobus yaitu lobus superior dan inferior. Setelah berada dalam ruang alveolus biasanya di bagian bawah lobus atau paru-paru. Stadium pertama adalah ventilasi yaitu masuknya campuran gas-gas ke dalam dan keluar paruparu. karena ada selisih tekanan yang terdapat antara atmosfer dan alveolus akibat kerja mekanik dari otot-otot. ductus alveolar. kebanyakan infeksi tuberculosis terjadi melalui udara (air borne). .kadang disebut lobolus primer memiliki tangan kira-kira 0. dan C02 dikeluarkan keudara ekspirasi dapat dibagi menjadi tiga stadium. Ductus alveolaris seluruhnya dibatasi oleh alveoilis dan sakus alveolaris terminalis merupakan akhir paru-paru. transportasi yang terdiri dan beberapa aspek yaitu : (1) Difusi gas antara alveolus dan kapiler paru-paru (respirasi eksternal) dan antara darah sistemik dan sel. Diperkirakan bahwa stiap paru-paru mengandung 150 juta alveoli. arteriola. atau di bagian atas lobus bawah. yaitu. Tiap lobus dibungkus oleh jaringan elastik yang mengandung pembuluh limfe. (3) Reaksi kimia dan fisik dari 02 dan C02 dengan darah respimi atau respirasi interna menipak-an stadium akhir dari respirasi. bronchial venula. venula. dan luka terbuka pada kulit. Basil tuberkel yang mencapai permukaan alveolus biasanya diinhalasi terdiri dari satu sampai tiga gumpalan basil yang lebih besar cenderung tertahan di saluran hidung dan cabang besar bronkus dan tidak menyebabkan penyakit. Secara garis besar bahwa Paru-paru memiliki fungsi sebagai berikut: (1) Terdapat permukaan gas-gas yaitu mengalirkan Oksigen dari udara atmosfer kedarah vena dan mengeluarkan gas carbondioksida dari alveoli keudara atmosfer. tahap kcdua dari proses pemapasan mencakup proses difusi gas-gas melintasi membran alveolus kapiler yang tipis (tebalnya kurang dari 0. saluran pencernaan. Kekuatan mendorong untuk pemindahan ini adalah selisih tekanan parsial antara darah dan fase gas. Di dalam rongga pleura terdapat cairan surfaktan yang berfungsi untuk lubrikai. alveolus dan kapiler paruparu membutuhkan distribusi merata dari udara dalam paru-paru dan perfusi (aliran darah) dalam kapiler dengan perkataan lain ventilasi dan perfusi. yaitu melalui inhalasi droppet yang mengandung kuman-kuman basil tuberkel yang berasal dari orang yang terinfeksi. sakkus alveolar dan alveoli.5 urn). dari unit pulmonary harus sesuai pada orang normal dengan posisi tegak dan keadaan istirahat maka ventilasi dan perfusi hampir seimbang kecuali pada apeks paru-paru. Dilapisi oleh pleura yaitu parietal pleura dan visceral pleura. (2) menyaring bahan beracun dari sirkulasi (3) reservoir darah (4) fungsi utamanya adalah pertukaran gas-gas Patofisiologi Port de’ entri kuman microbaterium tuberculosis adalah saluran pernafasan.yang terkadang memiliki kantong udara kecil atau alveoli pada dindingnya. asinus atau. Stadium kedua. yaitu pemindahan gas secara efektif antara.0 cm. Paru-paru terdapat dalam rongga thoraks pada bagian kiri dan kanan.5 s/d 1. (5) Perfusi. yaitu sel dimana metabolik dioksida untuk. Terdapat sekitar 20 kali percabangan mulai dari trachea sampai Sakus Alveolaris. Proses fisiologi pernafasan dimana 02 dipindahkan dari udara ke dalam jaringan-jaringan.

Gejala sistemik. Gambaran klinik TB paru dapat dibagi menjadi 2 golongan. atau proses dapat juga berjalan terus. akan tetapi penampilan akut dengan batuk. Demam Merupakan gejala yang sering dijumpai biasanya timbul pada sore dan malam hari mirip demam influenza. hilang timbul dan makin lama makin panjang serangannya sedang masa bebas serangan makin pendek. sesak napas walaupun jarang dapat juga timbul menyerupai gejala pneumonia. 2. Sesak napas Gejala ini ditemukan bila kerusakan parenkim paru sudah luas atau karena ada hal-hal yang menyertai seperti efusi pleura. b. Manifestasi Klinik Tuberkulosis sering dijuluki “the great imitator” yaitu suatu penyakit yang mempunyai banyak kemiripan dengan penyakit lain yang juga memberikan gejala umum seperti lemah dan demam. Pada sejumlah penderita gejala yang timbul tidak jelas sehingga diabaikan bahkan kadang-kadang asimtomatik.Basil tuberkel ini membangkitkan reaksi peradangan. penurunan berat badan serta malaise. Mula-mula bersifat non produktif kemudian berdahak bahkan bercampur darah bila sudah ada kerusakan jaringan. Batuk darak terjadi karena pecahnya pembuluh darah. b. yang dikelilingi oleh fosit. Batuk darah Darah yang dikeluarkan dalam dahak bervariasi. Makrofag yang mengadakan infiltrasi mcajadi lebih panjang dan sebagian bersatu sehingga membentuk sel tuberkel epiteloit. Pneumonia seluler ini dapat sembuh dengan sendirinya sehingga tidak ada sisa yang tertinggal. Batuk Gejala batuk timbul paling dini dan merupakan gangguan yang paling sering dikeluhkan. pneumothorax. gejala respiratorik dan gejala sistemik: 1. Gejala klinis Haemoptoe: Kita harus memastikan bahwa perdarahan dari nasofaring dengan cara membedakan ciri- . Berat ringannya batuk darah tergantung dari besar kecilnya pembuluh darah yang pecah. Sesudah hari-hari pertama maka leukosit diganti oleh makrofag. mungkin tampak berupa garis atau bercak-bercak darak. c. Alveoli yang terserang akan mengalami konsolidasi dan timbul gejala pneumonia akut. panas. anoreksia. Gejala sistemik lain Gejala sistemik lain ialah keringat malam. dan bakteri terus difagosit atau berkembang biak di dalam sel. d. Gejala ini timbul apabila sistem persarafan di pleura terkena. Basil juga menyebar melalui getah bening menuju ke kelenjar bening regional. Gejala respiratorik. Nyeri dada Nyeri dada pada TB paru termasuk nyeri pleuritik yang ringan. anemia dan lain-lain. gumpalan darah atau darah segar dalam jumlah sangat banyak. Reaksi ini biasanya membutuhkan waktu 10 sampai 20 hari. meliputi: a. meliputi: a. Leukosit polimorfonuklear tampak pada tempat tersebut dan memfagosit bacteria namun tidak membunuh organisme tersebut. Timbulnya gejala biasanya gradual dalam beberapa minggu-bulan.

Benzidin test negatif 2. Darah berwarna hitam karena bercampur asam lambung d. Ditemukannya kuman micobakterium TBC dari dahak penderita memastikan diagnosis tuberculosis paru. Uji resistensi harus dilakukan apabila ada dugaan resistensi terhadap pengobatan. terutama bila terdapat di lapangan atas paru d. Darah dimuntahkan dengan rasa mual b. Karakteristik radiology yang menunjang diagnostik antara lain : a. Anemia kadang-kadang terjadi f.ciri sebagai berikut : 1. Pengambilan dahak yang benar sangat penting untuk mendapatkan hasil yang sebaik-baiknya. Batuk pelan kadang keluar c. Darah bersifat alkalis e. oblik. Pemeriksaan sputum adalah diagnostik yang terpenting dalam prograrn pemberantasan TBC paru di Indonesia. Bayangan lesi radiology yang terletak di lapangan atas paru. Darah menetes dari hidung b. Anemia seriang terjadi f. Darah berbuih bercampur udara c. Test Diagnostik Foto thorax PA dengan atau tanpa literal merupakan pemeriksaan radiology standar. radiologik dan riwayat pengobatan sebelumnya. Jenis pemeriksaan radiology lain hanya atas indikasi Top foto. Darah dibatukkan dengan rasa panas di tenggorokan b. Muntah darah a. Batuk darah a. Anemia jarang terjadi 6. Dengan atau tanpa gejala klinik 2. mikroskopik positif 1 kali disokong biakan . Kelainan yang bilateral. Sesuai dengan program Gerdunas P2TB klasifikasi TB Paru dibagi sebagai berikut: a. tomogram dan lain-lain. Darah bersifat asam e. sebaiknya 3 kali pemeriksaan dahak. TB Paru BTA Positif dengan kriteria: 1. BTA positif: mikroskopik positif 2 kali. Bayang yang menetap atau relatif menetap setelah beberapa minggu e. Benzidin test positif 3. bakteriologik. Bayangan yang berawan (patchy) atau berbercak (noduler) c. Klasifikasi ini penting karena merupakan salah satu faktor determinan untuk menetapkan strategi terapi. Darah segar berwarna merah muda d. b. Darah berwarna merah segar d. Darah bersifat alkalis e. Pemeriksaan biasanya lebih sensitive daripada sediaan apus (mikroskopis). Klasifikasi Klasifikasi TB Paru dibuat berdasarkan gejala klinik. Bayangan bilier Pemeriksaan Bakteriologik (Sputum) . Epistaksis a. Pada pemeriksaan pertama. Darah bercampur sisa makanan c.

Pencatatan dan pelaporan yang baku. Gejala klinik dan gambaran radilogik sesuai dengan TB Paru aktif 2. hasil pemeriksaan bakteriologik. takipnea/dispnea saat kerja. Ada riwayat pengobatan OAT yang adekuat (lebih mendukung). sesak (nafas pendek). biakan negatif tetapi radiologik positif. Sedang jenis obat tambahan adalah Kanamisin. d. lanjut. Riwayat PerjalananPenyakit a.positif satu kali atau disokong radiologik positif 1 kali. b. mencegsah kekambuhan atau resistensi terhadap OAT serta memutuskan mata rantai penularan. Gejala klinik tidak ada atau ada gejala sisa akibat kelainan paru. Kesinambungan ketersediaan paduan OAT jangka pendek yang cukup. berkeringat pada malam hari. sesak (tahap. c. Pengkajian Data-data yang perlu dikaji pada asuhan keperawatan dengan Tuberkulosis paru (Doengoes. berat ringannya penyakit. demam. hapusan dahak dan riwayat pengobatan sebelumnya. TB Paru BTA Negatif dengan kriteria: 1. 3. Makrolide dan Amoksisilin + Asam Klavulanat. 2. Kuinolon. Pengobatan TB dengan paduan OAT jangka pendek dengan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO) khususnya dalam 2 bulan pertama dimana penderita harus minum obat setiap hari. menggigil. Gambaran radiologik sesuai dengan TB paru. aktivitas berat timbul. 4. sulit tidur. 2000) ialah sebagai berikut : 1. Pola aktivitas dan istirahat Subjektif : Rasa lemah cepat lelah. INH. Adanya komitmen politis berupa dukungan pengambil keputusan dalam penanggulangan TB. BTA negatif. Streptomisin dan Etambutol. Diagnosis TB melalui pemeriksaan dahak secara mikroskopik langsung sedang pemeriksaan penunjang lainnya seperti pemeriksaan radiologis dan kultur dapat dilaksanakan di unit pelayanan yang memiliki sarana tersebut. infiltrasi . c. Paduan obat yang digunakan terdiri dari obat utama dan obat tambahan. 3. Untuk keperluan pengobatan perlu dibuat batasan kasus terlebih dahulu berdasarkan lokasi tuberkulosa. Pirasinamid. PROSES KEPERAWATAN 1. B. Penanganan Medik Tujuan pengobatan pada penderita TB Paru selain untuk mengobati juga mencegah kematian. irritable. Radiologik menunjukkan gambaran lesi TB inaktif. Objektif : Takikardia. menunjukkan serial foto yang tidak berubah. 5. Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu fase intensif (2-3 bulan) dan fase lanjutan (4-7 bulan). Bekas TB Paru dengan kriteria: a. Di samping itu perlu pemahaman tentang strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai Directly Observed Treatment Short Course (DOTS) yang direkomendasikan oleh WHO yang terdiri dari lima komponen yaitu: 1. Jenis obat utama yang digunakan sesuai dengan rekomendasi WHO adalah Rifampisin. Bakteriologik (mikroskopik dan biakan) negatif b. derivat Rifampisin/INH.

tidak enak diperut. Obiektif : Berhati-hati pada area yang sakit. c. Respirasi Subjektif : Batuk produktif/non produktif sesak napas. deviasi trakeal (penyebaran bronkogenik). Riwayat Penyakit Sebelumnya: a. Nutrisi. Jenis. d. menarik diri. kebiasaan merokok. minum alkohol. Riwayat pekerjaan. dosis obat yang diminum. demam subfebris (40 -410C) hilang timbul. takipneu (penyakit luas atau fibrosis parenkim paru dan pleural). 6. masalah berhubungan dengan kondisi ekonomi. untuk sembuh perlu waktu yang lama dan biaya yang banyak. 2. pembengkakan kelenjar limfe. . biasanya pada keluarga yang kurang marnpu. Pernah berobat tetapi tidak teratur. b. c. mudah tersinggung. Pernah sakit batuk yang lama dan tidak sembuh-sembuh. ketakutan. b. Merasa dikucilkan.radang sampai setengah paru). warna. jumlah penghasilan. Pemeriksaan Diagnostik: a. sesak napas. waktu dan tempat bekerja. terdengar bunyi ronkhi basah. 5. b. Faktor Pendukung: a. Tingkat pengetahuan/pendidikan pasien dan keluarga tentang penyakit. Pola nutrisi Subjektif : Anoreksia. tidak bersemangat dan putus harapan. d. gelisah. Kapan pasien mendapatkan pengobatan sehubungan dengan sakitnya. Objektif : Mulai batuk kering sampai batuk dengan sputum hijau/purulent. pasien menjalani pengobatan sehubungan dengan penyakitnya. perasaan tak berdaya/tak ada harapan. Riwayat lingkungan. kasar di daerah apeks paru. mual. Berapa lama. penurunan berat badan. d. Riwayat Pengobatan Sebelumnya: a. Objektif : Turgor kulit jelek. c. Riwayat vaksinasi yang tidak teratur. mukoid kuning atau bercak darah. sakit dada. perkusi pekak dan penurunan fremitus (cairan pleural). Tes Tuberkulin: Mantoux test reaksi positif (area indurasi 10-15 mm terjadi 48-72 jam). Integritas ego Subjektif : Faktor stress lama. e.). c. pengobatan dan perawatannya. kehilangan lemak sub kutan. Kapan pasien mendapatkan pengobatan terakhir. 4. pengembangan pernapasan tidak simetris (effusi pleura. masalah keuangan. 3. Pernah berobat tetapi tidak sembuh. Aspek psikososial. masalah tentang masa depan/pekerjaan pasien. kebersihan diri. Daya tahan tubuh yang menurun. b. b. Objektif : Menyangkal (selama tahap dini). Pola hidup. pola istirahat dan tidur. nyeri bisa timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga timbul pleuritis. Rasa nyaman/nyeri Subjektif : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang. pencegahan. Riwayat kontak dengan penderita Tuberkulosis Paru. e. Riwayat Sosial Ekonomi: a. ansietas. tidak dapat berkomunikisi dengan bebas. Kultur sputum: Mikobakterium Tuberkulosis positif pada tahap akhir penyakit. prilaku distraksi. kulit kering/bersisik. b. Jenis pekerjaan. f.

pencegahan berhubungan dengan: Tidak ada yang menerangkan. sekret yang inenetap. Informasi yang didapat tidak lengkap/tidak akurat. adanya produksi sputum. catat karakter. Mengidentifikasi potensial komplikasi dan melakukan tindakan tepat. adanya hemoptisis. ronki indikasi akumulasi secret/ketidakmampuan membersihkan jalan napas sehingga otot aksesori digunakan dan kerja pernapasan meningkat. Berpartisipasi dalam program pengobatan sesuai kondisi. Kerusakan membran alveolar kapiler. e. Terbatasnya pengetahuan/kognitif 4. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan: Sekret kental atau sekret darah. Edema trakeal/faringeal. berupa cincin . Intervensi: a. Batuk yang sering. Mengeluarkan sekret tanpa bantuan. Kurang pengetahuan tentang infeksi kuman. Bersihan jalan napas tidak efektif Tujuan: Mempertahankan jalan napas pasien. jumlah sputum. Kelemahan. 3. Kerusakan jaringan akibat infeksi yang menyebar. Interpretasi yang salah. upaya batuk buruk. pengobatan. Sekret yang kental. 4. 2. c.c. Terkontaminasi oleh lingkungan. kedalaman dan penggunaan otot aksesori. Kurang pengetahuan tentang kondisi. 5. d. Rasional: Meningkatkan ekspansi paru. b. kecepatan. Anoreksia. Penurunan kemampuan finansial. Berikan pasien posisi semi atau Fowler. Malnutrisi. Pada kalsifikasi tampak bayangan bercak-bercak padat dengan densitas tinggi. Menunjukkan prilaku untuk memperbaiki bersihan jalan napas. Rasional: Penurunan bunyi napas indikasi atelektasis. Dispnea. kurang dari kebutuhan berhubungan dengan: Kelelahan. ventilasi maksimal membuka area atelektasis dan peningkatan gerakan sekret agar mudah dikeluarkan . Rencana Keperawatan Adapun rencana keperawatan yang ditetapkan berdasarkan diagnosis keperawatan yang telah dirumuskan sebagai berikut: 1. Poto torak: Infiltnasi lesi awal pada area paru atas . Catat kemampuan untuk mengeluarkan secret atau batuk efektif. Perubahan kebutuhan nutrisi. atelektasis. 3. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan yang lazim terjadi pada klien dengan Tuberkulosis paru adalah sebagai berikut: 1. Resiko tinggi infeksi dan penyebaran infeksi berhubungan dengan: Daya tahan tubuh menurun. f. Spirometri: penurunan fuagsi paru dengan kapasitas vital menurun. fungsi silia menurun. Rasional: Pengeluaran sulit bila sekret tebal. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan: Berkurangnya keefektifan permukaan paru. Bantu/ajarkan batuk efektif dan latihan napas dalam. imma. Bronchografi: untuk melihat kerusakan bronkus atau kerusakan paru karena TB paru. Kaji fungsi pernapasan: bunyi napas. sputum berdarah akibat kerusakan paru atau luka bronchial yang memerlukan evaluasi/intervensi lanjut. Pada tahap dini tampak gambaran bercak-bercak seperti awan dengan batas tidak jelas . Edema bronchial. Pada kavitas bayangan. Darah: peningkatan leukosit dan Laju Endap Darah (LED).

Rasional: Tuberkulosis paru dapat rnenyebabkan meluasnya jangkauan dalam paru-pani yang berasal dari bronkopneumonia yang meluas menjadi inflamasi. Rasional: Menurunnya saturasi oksigen (PaO2) atau meningkatnya PaC02 menunjukkan perlunya penanganan yang lebih. aman. Rasional: Meningkatnya resistensi aliran udara untuk mencegah kolapsnya jalan napas. dan warna kuku. Review patologi penyakit fase aktif/tidak aktif. bersin. pleural effusion dan meluasnya fibrosis dengan gejala-gejala respirasi distress. e. Gangguan pertukaran gas Tujuan: Melaporkan tidak terjadi dispnea. meludah. keterbatasan ekspansi dada dan kelemahan. kortikosteroid sesuai indikasi. Pertahankan intake cairan minimal 2500 ml/hari kecuali kontraindikasi. d. dengan edema laring atau perdarahan paru akut. Berikan obat: agen mukolitik.. Rasional: Diperlukan pada kasus jarang bronkogenik. Suction dilakukan bila pasien tidak mampu mengeluarkan sekret. takipnea. Rasional: Mencegah obstruksi/aspirasi. b. Evaluasi perubahan-tingkat kesadaran. h. Rasional: Akumulasi secret dapat menggangp oksigenasi di organ vital dan jaringan. Bersihkan sekret dari mulut dan trakea. c. Rasional: Mencegah pengeringan membran mukosa. f. Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal. ciuman atau menyanyi. Resiko tinggi infeksi dan penyebaran infeksi Tujuan: Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko penyebaran infeksi. Intervensi a. Rasional: Mengurangi konsumsi oksigen pada periode respirasi. suction bila perlu. Rasional: Menurunkan kekentalan sekret. g. membran mukosa. e. 2. Demonstrasikan/anjurkan untuk mengeluarkan napas dengan bibir disiutkan. tertawa.d. adekuat atau perubahan terapi. Rasional: Membantu pasien agar mau mengerti dan menerima terapi yang diberikan . Menunjukkan/melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang. berguna jika terjadi hipoksemia pada kavitas yang luas. nekrosis. Intervensi a. terutama pada pasien dengan fibrosis atau kerusakan parenkim. Monitor GDA. catat tanda-tanda sianosis dan perubahan warna kulit. Lembabkan udara/oksigen inspirasi. Kaji dispnea. penyebaran infeksi melalui bronkus pada jaringan sekitarnya atau aliran darah atau sistem limfe dan resiko infeksi melalui batuk. Bantu inkubasi darurat bila perlu. Bebas dari gejala distress pernapasan. Peningkatan upaya respirasi. bunyi pernapasan abnormal. Rasional: Membantu mengencerkan secret sehingga mudah dikeluarkan f. Rasional: Membantu mengoreksi hipoksemia yang terjadi sekunder hipoventilasi dan penurunan permukaan alveolar paru. lingkaran ukuran lumen trakeabronkial. batasi dan bantu aktivitas sesuai kebutuhan. Berikan oksigen sesuai indikasi. bronkodilator. Anjurkan untuk bedrest. 3.

untuk mencegah komplikasi. b. Identifikasi orang-orang yang beresiko terkena infeksi seperti anggota keluarga, teman, orang dalam satu perkumpulan. Rasional: Orang-orang yang beresiko perlu program terapi obat untuk mencegah penyebaran infeksi. c. Anjurkan pasien menutup mulut dan membuang dahak di tempat penampungan yang tertutup jika batuk. Rasional: Kebiasaan ini untuk mencegah terjadinya penularan infeksi. d. Gunakan masker setiap melakukan tindakan. Rasional: Mengurangi risilio penyebaran infeksi. e. Monitor temperatur. Rasional: Febris merupakan indikasi terjadinya infeksi. f. Identifikasi individu yang berisiko tinggi untuk terinfeksi ulang Tuberkulosis paru, seperti: alkoholisme, malnutrisi, operasi bypass intestinal, menggunakan obat penekan imun/ kortikosteroid, adanya diabetes melitus, kanker. Rasional: Pengetahuan tentang faktor-faktor ini membantu pasien untuk mengubah gaya hidup dan menghindari/mengurangi keadaan yang lebih buruk. g. Tekankan untuk tidak menghentikan terapi yang dijalani. Rasional: Periode menular dapat terjadi hanya 2-3 hari setelah permulaan kemoterapi jika sudah terjadi kavitas, resiko, penyebaran infeksi dapat berlanjut sampai 3 bulan. h. Pemberian terapi INH, etambutol, Rifampisin. Rasional: INH adalah obat pilihan bagi penyakit Tuberkulosis primer dikombinasikan dengan obat-obat lainnya. Pengobatan jangka pendek INH dan Rifampisin selama 9 bulan dan Etambutol untuk 2 bulan pertama. i. Pemberian terapi Pyrazinamid (PZA)/Aldinamide, para-amino salisik (PAS), sikloserin, streptomisin. Rasional: Obat-obat sekunder diberikan jika obat-obat primer sudah resisten. j. Monitor sputum BTA Rasional: Untuk mengawasi keefektifan obat dan efeknya serta respon pasien terhadap terapi. 4. Perubahan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan Tujuan: Menunjukkan berat badan meningkat mencapai tujuan dengan nilai laboratoriurn normal dan bebas tanda malnutrisi. Melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan mempertahankan berat badan yang tepat. Intervensi: a. Catat status nutrisi paasien: turgor kulit, timbang berat badan, integritas mukosa mulut, kemampuan menelan, adanya bising usus, riwayat mual/rnuntah atau diare. Rasional: berguna dalam mendefinisikan derajat masalah dan intervensi yang tepat. b. Kaji pola diet pasien yang disukai/tidak disukai. Rasional: Membantu intervensi kebutuhan yang spesifik, meningkatkan intake diet pasien. c. Monitor intake dan output secara periodik. Rasional: Mengukur keefektifan nutrisi dan cairan. d. Catat adanya anoreksia, mual, muntah, dan tetapkan jika ada hubungannya dengan medikasi. Awasi frekuensi, volume, konsistensi Buang Air Besar (BAB). Rasional: Dapat menentukan jenis diet dan mengidentifikasi pemecahan masalah untuk

meningkatkan intake nutrisi. e. Anjurkan bedrest. Rasional: Membantu menghemat energi khusus saat demam terjadi peningkatan metabolik. f. Lakukan perawatan mulut sebelum dan sesudah tindakan pernapasan. Rasional: Mengurangi rasa tidak enak dari sputum atau obat-obat yang digunakan yang dapat merangsang muntah. g. Anjurkan makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein dan karbohidrat. Rasional: Memaksimalkan intake nutrisi dan menurunkan iritasi gaster. h. Rujuk ke ahli gizi untuk menentukan komposisi diet. Rasional: Memberikan bantuan dalarn perencaaan diet dengan nutrisi adekuat unruk kebutuhan metabolik dan diet. i. Konsul dengan tim medis untuk jadwal pengobatan 1-2 jam sebelum/setelah makan. Rasional: Membantu menurunkan insiden mual dan muntah karena efek samping obat. j. Awasi pemeriksaan laboratorium. (BUN, protein serum, dan albumin). Rasional: Nilai rendah menunjukkan malnutrisi dan perubahan program terapi. k. Berikan antipiretik tepat. Rasional: Demam meningkatkan kebutuhan metabolik dan konsurnsi kalori. 5. Kurang pengetahuan tentang kondisi, pengobatan, pencegahan. Tujuan: Menyatakan pemahaman proses penyakit/prognosis dan kebutuhan pengobatan. Melakukan perubahan prilaku dan pola hidup unruk memperbaiki kesehatan umurn dan menurunkan resiko pengaktifan ulang luberkulosis paru. Mengidentifikasi gejala yang mernerlukan evaluasi/intervensi. Menerima perawatan kesehatan adekuat. Intervensi a. Kaji kemampuan belajar pasien misalnya: tingkat kecemasan, perhatian, kelelahan, tingkat partisipasi, lingkungan belajar, tingkat pengetahuan, media, orang dipercaya. Rasional: Kemampuan belajar berkaitan dengan keadaan emosi dan kesiapan fisik. Keberhasilan tergantung pada kemarnpuan pasien. b. Identifikasi tanda-tanda yang dapat dilaporkan pada dokter misalnya: hemoptisis, nyeri dada, demam, kesulitan bernafas, kehilangan pendengaran, vertigo. Rasional: Indikasi perkembangan penyakit atau efek samping obat yang membutuhkan evaluasi secepatnya. c. Tekankan pentingnya asupan diet Tinggi Kalori Tinggi Protein (TKTP) dan intake cairan yang adekuat. Rasional: Mencukupi kebutuhan metabolik, mengurangi kelelahan, intake cairan membantu mengencerkan dahak. d. Berikan Informasi yang spesifik dalam bentuk tulisan misalnya: jadwal minum obat. Rasional: Informasi tertulis dapat membantu mengingatkan pasien. e. jelaskan penatalaksanaan obat: dosis, frekuensi, tindakan dan perlunya terapi dalam jangka waktu lama. Ulangi penyuluhan tentang interaksi obat Tuberkulosis dengan obat lain. Rasional: Meningkatkan partisipasi pasien mematuhi aturan terapi dan mencegah putus obat. f. jelaskan tentang efek samping obat: mulut kering, konstipasi, gangguan penglihatan, sakit kepala, peningkatan tekanan darah Rasional: Mencegah keraguan terhadap pengobatan sehingga mampu menjalani terapi.

g. Anjurkan pasien untuk tidak minurn alkohol jika sedang terapi INH. Rasional: Kebiasaan minurn alkohol berkaitan dengan terjadinya hepatitis h. Rujuk perneriksaan mata saat mulai dan menjalani terapi etambutol. Rasional: Efek samping etambutol: menurunkan visus, kurang mampu melihat warna hijau. i. Dorong pasien dan keluarga untuk mengungkapkan kecemasan. Jangan menyangkal. Rasional: Menurunkan kecemasan. Penyangkalan dapat memperburuk mekanisme koping. j. Berikan gambaran tentang pekerjaan yang berisiko terhadap penyakitnya misalnya: bekerja di pengecoran logam, pertambangan, pengecatan. Rasional: Debu silikon beresiko keracunan silikon yang mengganggu fungsi paru/bronkus. k. Anjurkan untuk berhenti merokok. Rasional: Merokok tidak menstimulasi kambuhnya Tuberkulosis; tapi gangguan pernapasan/ bronchitis. l. Review tentang cara penularan Tuberkulosis dan resiko kambuh lagi. Rasional: Pengetahuan yang cukup dapat mengurangi resiko penularan/ kambuh kembali. Komplikasi Tuberkulosis: formasi abses, empisema, pneumotorak, fibrosis, efusi pleura, empierna, bronkiektasis, hernoptisis, u1serasi Gastro, Instestinal (GD, fistula bronkopleural, Tuberkulosis laring, dan penularan kuman. 5. Evaluasi a. Keefektifan bersihan jalan napas. b. Fungsi pernapasan adekuat untuk mernenuhi kebutuhan individu. c. Perilaku/pola hidup berubah untuk mencegah penyebaran infeksi. d. Kebutuhan nutrisi adekuat, berat badan meningkat dan tidak terjadi malnutrisi. e. Pemahaman tentang proses penyakit/prognosis dan program pengobatan dan perubahan perilaku untuk memperbaiki kesehatan.

askep ARDS ( Acute Respiratory Distress Syndrome)
AKPER PPNI SOLO, 8.15.2009 Askep ARDS atau Acute Respiratory Distress Syndrome, Sering merupakan kelanjutan dari shock paru-paru, kongesti atelektasis, post traumatic paru-paru, post infusion paru, dan ventilasi paru. Kondisi akut paru-paru yang mengakibatkan macam-macam perubahan patofisiologi dalam paru. Menyerupai perubahan pada IRDS, perbedaannya terletak pada penurunan surfaktan akibat dari kerusakan paru. Kliennya umumnya masih muda yang sebelumnya dia sehat. Jenis ketidakstabilan akut, baik langsung atau tidak langsung berperan dalam menimbulkan syndrom. Keadaan yang langsung : Menghirup racun iritan Infeksi diffusi alveolar

seolah-olah dipengaruhi oleh aktifitas surfaktan.Darah yang beracun. kimia corrosive. Keadaan yang tidak langsung : Trauma dan shock karena pembedahan Sepsis dengan pelepasan endotoksin Pembekuan darah intravaskuler Transfusi darah massive Reaksi transudasi Penyakit Yang Dapat Menyebabkan ARDS : Pulmonary : Virus pneumonia Fungi pneumonia Pneumocystis carinii Military tuberculosis Legionaire’s pneumonia Radiation pneumonitis Contusio paru Cairan aspirasi (gastric. Aspirasi virus pneumonia. amniotic fluid embolic. Akibatnya terjadi tanda-tanda atelektasis. Adanya peningkatan permeabilitas kapiler dan akibat masuknya cairan ke dalam ruang interstitial. ethylene glycol) Inhalasi racun (rokok. pneumonia septic) Emboli lemak Trauma kepala Trauma non thoraks Pancreatitis Uremia Drug overdose (heroin. tenggelam. Non pulmonary : Shock (traumatic. Banyak teori yang menerangkan patogenesis dari syndrom yang berhubungan dengan kerusakan awal paru-paru yang terjadi dimembran kapiler alveolar. O2 konsentrasi meningkat. Hampir tenggelam dan trauma dada. methadone barbiturat). bacterial. hydrocarbon. Cairan juga masuk dalam alveoli dan mengakibatkan oedema paru. Massive blood transfusion Reaksi transfusi Pembekuan darah intravaskuler By pass cardiopulmonary Penambahan tekanan intrakranial Cairan overload Eclampsia Gejala defisiensi autoimmune Patofisiologi. oleh karena itu . hemorrhagic. Plasma dan sel darah merah keluar dari kapiler-kapiler yang rusak.

mungkin perdarahan merupakan manifestasi patologi yang umum. Radiografi Difusi pulmonal menyebar Infiltrasi interstitial (awal) Infiltrasi alveoli (lanjut/akhir) Fisiologi Hipoksemia refractory. keadaan abnormal ventrikel kiri. 4. 3. 6. 5. Diagnosa Keperawatan 1.→ O2 C →Hypoksimia. Hypotensia/bradicardia atau hipertension/tachicardia. Dysritmia Tanda-tanda adanya asidosis metabolic dan respiratorik ⇓ menegakkan diagnosis: Status adanya kesulitan memperoleh pemenuhan ventilasi yang→klinik klien adekuat (sehingga penurunan pemenuhan ventilasi yang meningkatkan menurunkan kapasitas vital paru-paru infiltrasi→kekakuan paru-paru) alveolar. pada orang muda yang biasa mempunyai riwayat sakit paru-paru. Distress pernafasan : Tachypnea > 20 x/menit.Kurangnya cardiac output berhubungan dengan tingginya PEEP (Positive End mengetahui atau berguna untuk memenuhi kebutuhan→Expiratory Pressure) ventilasi paru. Kriteria untuk diagnosa ARDS : Klinik Keadaan katastropik : paru atau bukan paru Eksklusi : Penyakit paru kronis. Pa O2 60 % Kompliance paru rendah 1000 gr) Congestive atelektasis Membran hyaline Fibrosis PENGKAJIAN Gejala terjadi tiba-tiba dalam 2 – 3 hari sesudah trauma atau kesakitan.Potensial injury berhubungan dengan barotrauma atau tidak aktifnya aliran ventilator. 2. susah bernafas.Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan penambahan shunt dan ventilasi – perfusi terganggu.Tidak efektifnya jalan napas berhubungan dengan immobilisasi dan jalan napas buatan.Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penambahan (peningkatan) permiabilitas . Tanda-tanda utama manifestasi klinik: Dyspnea Tachicardia Cyanosis dengan atau tanpa retraksi intercostals refractory hypoxemia.Tidak efektifnya pola napas berhubungan dengan kurangnya complain paru dan kecemasan.

membran pulmonal dan kelebihan sekresi ADH. Pelaksanaan 1.→Kegagalan mempertahankan O2 Meningkatkan keperluan O2 dengan mempertahankan suhu klien pada tingkat normal. HR) stabil. lebih dari pada intake berhubungan dengan perubahan metabolisme dan ketidakmampuan intake makanan melalui oral. kurang dari atau sama dengan 40 % Fi O2. 13.Kelemahan berhubungan dengan ketergantungan dalam pemakaian alat. Membran mukosa mulut baik.Perubahan nutrisi. 9. 11. shunt friction kurang atau sama dengan 20 % Jalan napas tetap.Mempertahankan oksigenasi secara adekuat.Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan jalan napas buatan dan kelumpuhan. mengurangi rasa nyeri dan menjaga ketenangan klien. BP. Integritas kulit baik.Perubahan membran mukosa mulut berhubungan dengan jalan napas buatan. Hemodinamic parameter (CO. Berguna terpenuhinya kebutuhan→untuk memenuhi kebutuhan ventilasi paru ventilasi .Gangguan integritas kulit berhubungan dengan perfusi dan immobilisasi. PaO2 lebih dari atau sama dengan 60 mmHg. Pencegahan dengan meminimalkan komplikasi dan stressor untuk klien dan keluarganya merupakan hal yang penting. Berat badan stabil.Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelumpuhan dan bedrest. 10. Perencanaan Dan Pelaksanaan Perawatan klien dengan ARDS perencanaannya yaitu perbaikan pola napas dan kestabilan hemodinamic.Tidak efektifnya koping keluarga berhubungan dengan mengatasi stress dan kecemasan dalam kondisi kritis. Tekanan maximum jalan napas 50 – 70 mmHg. utuh. untuk mempertahankan tekanan O2 arteri sekitar 20 mmHg (William. 14. Kelemahan dan penyakit respirasi merupakan indikasi untuk menggunakan ventilasi mekanic. PEEP (Positive End Expiratory Pressure) Digunakan untuk memberi tekanan inflasi yang tinggi. Oksigenasi jaringan secara adekuat dilakukan dengan pemberian O2 konsentrasi tinggi. 8. 7. 12. Tekanan kapiler paru normal.Gangguan pola tidur berhubungan dengan lingkungan yang kritis dan kebutuhan akan bantuan perawat. Kriteria tujuan untuk klien: Stabil dan sinkronnya antara pernapasan dengan ventilator dengan slow rate yang cukup dalam level yang normal ventilasi Pa CO2 35 – 45 mmHg. Keseimbangan intake dan output. Komunikasi nonverbal dapat diartikan. 1982) tingkat rasa nyaman.

Vena bercampur (mengalir dari kiri ke kanan) dan hypoxemia dikurangi. Mempertahankan tekanan jalan napas di atas tekanan atmosfer melalui siklus respirasi. Sekresi sebaiknya dihisap dengan suction sesuai kebutuhan Posisi pasien sering diubah-ubah dan pentingnya dilakukan gerakan/latihan pasif. Mempertinggi distribusi O2 ke seluruh paru-paru dengan mempertahankan expansi alveoli. Kemungkinan kecenderungan terjadi retensi cairan dan edema paru selama ventilasi (intake dan output).→Ketepatan pemeriksaan gas darah. Perawat harus memonitor perfusi pada organ vital : CNS : Tingkat kesadaran Pergerakan Sensasi Ginjal : Urine output Blood urine nitrogen (BUN) Serum kreatinin Myocardium : Heart rate Rhytm 2. . alat monitor khusus (CVP. Pemberian O2.→ 3. atau swan-Ganz cateter). 4.Individu dan family coping.Nutrisi: resiko terjadi malnutrisi. Keefektifan dari PEEP dimonitor dengan seringnya analisa gas darah. cardiac output PEEP kemungkinan besar menurunkan cardiac output karena lemahnya aliran denyut nadi dan tekanan darah→darah vena yang kembali ke jantung harus sering dimonitor.Pencegahan cedera paru berlanjut.paru ditandai dengan adanya elastisitas paru dan dada. Karena peningkatan metabolisme dan gangguan oral intake. Pemberian albumin dan dextran dengan molekul tinggi Mungkin juga mengurangi permeabilitas kapiler Untuk menjaga paru tetap kering Antibiotik Mencegah infeksi bakteri. kortikosteroid.→Untuk mengurangi peradangan dari membran alveoli Kortikosteroid Mungkin juga meningkatkan kontraktilitas jantung dan perfusi sirkulasi periferal serta organ-organ vital. Jika keadaan ini tidak terpenuhi paru-paru akan kolaps.→Klien dengan ARDS TKTP diberikan. Lingkungan sekitar klien harus tenang dan rileks. menurun-kan permeabilitas kapiler paru-paru.

Allergen terbanyak adalah airborne dan seasonal (musiman). Idiopathic atau Nonallergic Asthma/Intrinsik. ETIOLOGI Sampai saat ini etiologi asthma belum diketahui dengan pasti. emfisema paru-paru dan asthma bronchiale. beta-adrenergic antagonist dan agent sulfite (penyedap makanan) juga dapat sebagai faktor. ketombe. infeksi dan sebagainya. Asthma merupakan penyakit yang kompleks yang dapat diakibatkan oleh faktor biochemical. kimia. b. ASTHMA BRONCHIALE 1. Bentuk asthma ini biasanya dimulai saat kanak-kanak. debu. Rangsangan atau pencetus . idiopatik. TIPE ASTHMA Asthma terbagi menjadi alergi. Pasien dengan asthma alergik biasanya mempunyai riwayat penyakit alergi pada keluarga dan riwayat pengobatan exzema atau rhinitis alergik. 3. Beberapa pasien berkembang menjadi asthma campuran. emosi dan polusi lingkungan akan mencetuskan serangan. infeksi saluran nafas atas. metabolik. Dikarakteristikkan dengan bentuk kedua jenis asthma alergi dan idiopatik atau nonalergi. suatu hal yang menonjol pada semua penderita asthma adalah fenomena hiperreaktivitas bronchus. Paparan terhadap alergi akan mencetuskan serangan asthma. otonomik dan psikologi. alergen. Bentuk asthma ini biasanya dimulai pada saat dewasa (> 35 tahun). bronchus penderita asthma sangat peka terhadap rangsangan imunologi maupun non-imunologi. makanan dll). tidak berhubungan secara langsung dengan allergen spesifik. infeksi. 2. kegiatan. non alergik atau campuran (mixed) : a. endokrin. Sering juga penyakit ini disebut dengan “Chronic Airflow Limitation (CAL)” dan “Chronic Obstructive Lung Diseases (COLD)” A. Asthma Alergik /Ekstrinsik. Asthma Campuran (Mixed Asthma). merupakan bentuk asthma yang paling sering. Karena sifat inilah maka serangan asthma mudah terjadi akibat berbagai rangsangan baik fisis. c.Asuhan keperawatan Pada Klien Dengan Chronic Obstructive Pulmonary Diseases (COPD) Penyakit Paru Obstruktif Kronik (COPD) merupakan suatu istilah yang sering digunakan untuk sekelompok penyakit paru-paru yang berlangsung lama dan ditandai oleh peningkatan resistensi terhadap aliran udara sebagai gambaran patofisiologi utamanya. merupakan suatu bentuk asthma dengan penyebab allergen (missal : bulu binatang. Beberapa agent pharmakologi. tepung sari. Ketiga penyakit yang membentuk satu kesatuan yang dikenal dengan COPD adalah : Bronchitis kronis. DEFINISI Asthma adalah suatu gangguan pada saluran bronchial yang mempunyai ciri bronchospasme periodik (kontraksi spasme pada saluran nafas). Serangan dari asthma idiopatik atau nonalergik menjadi lebih berat dan seringkali dengan berjalannya waktu dan dapat berkembang menjadi bronchitis dan emfisema. Faktor-faktor seperti common cold.

Baru kemudian muncul asthma progresif. Objektif • Sesak nafas yang berat dengan ekspirasi memanjang disertai wheezing. Akan tetapi sekali sensitisasi telah terjadi pasien akan memperlihatkan respon yang sangat baik sehingga sejumlah kecil alergen yang mengganggu sudah dapat menghasilkan eksaserbasi penyakit yang jelas. spora jamur dan tepung sari rerumputan b. Sindroma pernafasan sensitif-aspirin khusus terutama mengenai orang dewasa. gelisah. Iritan seperti asap. Masalah ini biasanya berawal dari rhinitis vasomotor perennial yang diikuti oleh rhinosinusitis hiperplastik dengan polip nasal. alergen tersebut harus tersedia dalam jumlah banyak untuk periode waktu tertentu. Alergen utama : debu rumah. f. Psikososial • Cemas. walaupun keadaan ini juga dapat dilihat pada masa kanak-kanak. bau-bauan. Antagonis beta-adrenergik biasanya menyebabkan obstruksi jalan nafas pada pasien asthma demikian juga dengan pasien lain dengan peningkatan reaktifitas jalan nafas dan . Perubahan cuaca yang ekstrim. 5. gejala yang disebutkan terakhir sering dianggap sebagai gejala yang harus ada (“sine qua non”). GAMBARAN KLINIS Gejala asthma terdiri dari triad : dispnea. bahan pewarna seperti tartazin. sesak. Obat yang paling sering berhubungan dengan induksi episode akut asthma adalah aspirin. Lingkungan kerja g. Emosi i. toleransi silang juga akan terbentuk terhadap agen anti-inflamasi non-steroid lain. PATOFISIOLOGI Asthma akibat alergi bergantung kepada respon IgE yang dikendalikan oleh limfosit T dan B dan diaktifkan oleh interaksi antara antigen dengan molekul IgE yang berikatan dengan sel mast. Pasien yang sensitif terhadap aspirin dapat didesentisasi dengan pemberian obat setiap hari. pollutan c. Obat-obatan.yang sering menimbulkan asthma perlu diketahui dan sedapat mungkin dihindarkan. batuk dan mengi. 4. takut dan mudah tersinggung • Kurangnya pengetahuan klien terhadap situasi penyakitnya. Mekanisme dengan aspirin dan obat lain dapat menyebabkan bronkospasme tidak diketahui tetapi mungkin berkaitan dengan pembentukan leukotrien yang diinduksi secara khusus oleh aspirin. h. Setelah menjalani bentuk terapi ini. e. anoreksia. Faktor-faktor tersebut adalah : a. Infeksi saluran nafas terutama yang disebabkan oleh virus d. • Fase ekspirasi memanjang disertai wheezing (di apex dan hilus) Subjektif • Klien merasa sukar bernafas. pulsus paradoksus. antagonis beta-adrenergik dan bahan sulfat. tachicardia. • Bernafas dengan menggunakan otot-otot nafas tambahan • Cyanosis. sulit dikeluarkan. Sebagian besar alergen yang mencetuskan asthma bersifat airborne dan supaya dapat menginduksi keadaan sensitivitas. • Dapat disertai batuk dengan sputum kental. Lain-lain : seperti reflux gastro esofagus. Kegiatan jasmani yang berlebihan.

kentang. Obat sulfat. emosi/stress. kalium dan natrium bisulfit.harus dihindarkan pada pasien ini. Respirasi rate permenit e. bradikinin dan anafilatoksin. Pencetus serangan (alergen. Tabel 2 :Pengkajian Untuk menentukan beratnya Asthma Manifestasi Klinis Skor 0 Skor 1 a. yang secara luas digunakan dalam industri makanan dan farmasi sebagai agen sanitasi dan pengawet juga dapat menimbulkan obstruksi jalan nafas akut pada pasien yang sensitif. kerang dan anggur. obat-obatan. Hasil dari hal tersebut timbul 3 gejala yaitu berkontraksinya otot polos. Wheezing d. salad. anafilatoxin) ↑ Permeabilitas Kapiler • Kontraksi Otot Polos • Edema mukosa • Hipersekresi Obstruksi Saluran Nafas Hipoventilasi Distribusi ventilasi tak merata dengan sirkulasi darah paru Gangguan difusi gas di alveoli Hipoxemia Hiperkapnia Gambar 13 : Skema Patofisiologi Asthma Bronchiale Untuk melihat derajat beratnya asthma biasanya dilakukan pemeriksaan secara komprehensif dengan menggunakan alat ukur seperti pada tabel 2. adanya retraksi interkostal. Pajanan biasanya terjadi setelah menelan makanan atau cairan yang mengandung senyawa ini. Pencetus-pencetus serangan di atas ditambah cetusan lainnya dari internal pasien akan mengakibatkan timbulnya reaksi antigen dan antibodi yang mengakibatan dikeluarkan substansi pereda alergi yang sebetulnya merupakan mekanisme tubuh dalam menghadapi serangan yang dapat berupa dikeluarkannya histamin. Penggunaan otot nafas tambahan. Teraba pulsus paradoksus g. natrium sulfit dan sulfat klorida. bradikinin. peningkatan permeabilitas kapiler dan peningkatan sekresi mukus seperti terlihat pada gambar berikut ini. seperti kalium metabisulfit. Puncak Expiratory Flow Rate (L/menit) Ya Tidak ada Tidak ada < 25 . infeksi) Reaksi Antigen dan Antibodi Release Vasoactive Substance (histamin. c. Penurunan toleransi beraktifitas b. Pulse rate permenit f. buah segar. misal.

PENATALAKSANAAN Prinsip-prinsip penatalaksanaan asthma bronchial : a. Konstriksi Otot Polos Bronchospasme ↑ Sekresi Mukus ↑ Produksi Mukus Bersihan jalan nafas tak efektif Kerusakan Pertukaran Gas Ketidakseimbangan Nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh (Risiko/aktual) Tabel 3 : Perubahan Dalam Arteri Blood Gas yang berhubungan dengan Asthma Ringan Sedang Berat Status Asmatikus PaO2 PaCO2 pH Elevasi Menurun Alkalosis Normal sampai hipoxemia ringan Menurun sampai Normal Alkalosis Hipoxemia Elevasi Alkalosis Hipoxemia berat Elevasi Jelas Asidosis 6.< 120 Tidak ada > 100 Tidak Ada Ada > 25 > 120 ada < 100 Keterangan : Skor 4/lebih disangkakan asthma berat. klien harus diobservasi untuk menentukan adakah respon dari terapi atau segera dikirim ke rumah sakit. Diagnosis status asmatikus. Faktor penting yang harus diperhatikan : 1) Saatnya serangan 2) Obat-obatan yang telah diberikan (macam dan dosis) .

Obat-obatan bronchodilator golongan simpatomimetik bentuk selektif terhadap adrenoreseptor (Orsiprendlin. Kortikosteroid Pemberian obat–obat bronchodilatator tidak menunjukkan perbaikan. Pertimbangan terhadap pemberian kortikosteroid. OBAT-OBATAN a. Efedrin. Jika sebelumnya telah digunakan obat golongan simpatomimetik. Pada dewasa dicoba dengan 0.3 ml larutan epinefrin 1 : 1000 secara subkutan. sesuai dengan prinsip rehidrasi. berbahaya pada penyakit hipertensi. Anak-anak 0. d. Penilaian terhadap perbaikan serangan. b. Untuk dosis penunjang 0. Efek sampingnya tekanan darah menurun bila dilakukan tidak secara perlahan. Mula-mula diberikan 2 sedotan dari Metered Aerosol Defire (Afulpen Metered Aerosol). Jika menunjukkan perbaikan dapat diulang tiap 4 jam. • Obat-obat Bronchodilatator simpatomimetik memberi efek samping tachicardia. Pemberian Oksigen Melalui kanul hidung dengan kecepatan aliran O2 2-4 liter/menit dan dialirkan melalui air untuk memberikan kelembaban. c. dengan diikuti pemberian 30 – 60 mg prednison atau dengan dosis 1 – 2 mg/Kg BB/hari secara oral dalam dosis terbagi. Salbutamol. Isoprendlin) • Obat-obat bronchodilatator serta aerosol bekerja lebih cepat dan efek samping sistemik lebih kecil. 2) Modifikasi pengobatan penunjang selanjutnya. bila sebelumnya telah digunakan obat golongan Teofilin oral maka sebaiknya diberikan obat golongan simpatomimetik secara aerosol atau parenteral.01 mg/Kg BB subkutan (1 mg permil) dapat diulang tiap 30 menit untuk 2–3x sesuai kebutuhan. disuntikkan perlahan dalam 5-10 menit. maka intake cairan peroral dan infus harus cukup. e. jika tidak ada perbaikan sampai 10-15 menit berikan Aminophilin intravena. tetapi dipakai secara inhalasi atau parenteral. antibiotik . kemudian dosis dikurangi secara bertahap. • Pemberian Aminophilin secara intravena dosis awal 5 – 6 mg/Kg BB dewasa/anak-anak. maka sebaiknya diberikan Aminophilin secara parenteral sebab mekanisme yang berlainan. penggunaan parenteral pada orang tua harus hati-hati. Fenoterol) mempunyai sifat lebih efektif dan masa kerja lebih lama serta efek samping kecil dibandingkan dengan bentuk non-selektif (Adrenalin. kardiovaskuler dan serebrovaskuler. Bronchodilator Tidak digunakan bronchodilator oral. Setelah serangan mereda : 1) Cari faktor penyebab.9 mg/KgBB/Jam secara infus. Pemberian obat bronchodilator. Baik digunakan untuk sesak nafas berat pada anak-anak dan dewasa.b. dilanjutkan dengan pengobatan kortikosteroid 200 mg hidrokortison secara oral atau dengan dosis 3 – 4 mg/Kg BB intravena sebagai dosis permulaan dan dapat diulang 2 – 4 jam secara parenteral sampai serangan akut terkontrol. Obat ekspektoran seperti Gliserolguaiakolat dapat juga digunakan untuk memperbaiki dehidrasi. demikian sebaliknya. c. 7. Ispenturin. Terbutalin.

baik yang berasal dari luar bronchus maupun dari bronchus itu sendiri. Walaupun demikian. pertusis. yang dapat menimbulkan kelumpuhan bulu getar selaput lendir bronchus sehingga drainase lendir terganggu. isoetharine dan terbutaline. Bronchitis kronis dapat merupakan komplikasi kelainan patologik yang mengenai beberapa alat tubuh. Adrenergic Agent juga meningkatkan pergerakan cilliary. merupakan sumber bakteri yang dapat menyerang dinding bronchus. menurunkan mediator kimia anaphylaxis dan dapat meningkatkan efek broncholasi dari kortikosteroid. sterptokokus. BRONCHITIS KRONIS 1. Infeksi sinus paranasalis dan Rongga mulut. Kumpulan lendir tersebut merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri. DEFINISI Bronchitis akut adalah radang mendadak pada bronchus yang biasanya mengenai trachea dan laring. Kongesti menahun pada dinding bronchus melemahkan daya tahannya sehingga infeksi bakteri mudah terjadi. ETIOLOGI Terdapat 3 jenis penyebab bronchitis akut. B. asap rokok dll. 3. misalnya pada morbili. yaitu : a.diberikan bila ada infeksi. d. Infeksi : stafilokokus. Agent adrenergic yang sering digunakan antara lain epinephrine. Penyakit Jantung Menahun. Bronchitis kronis bukanlah merupakan bentuk menahun dari bronchitis akut. difteri dan typhus abdominalis. b. menyebabkan gangguan susunan dan fungsi dinding bronchus sehingga infeksi bakteri mudah terjadi. Beta Agonists Beta agonists (β -adrenergic agents) merupakan pengobatan awal yang digunakan dalam pengobatan asthma dikarenakan obat ini bekerja dengan jalan mendilatasikan otot polos. b. pada perjalanan penyakit bronchitis kronis dapat ditemukan periode akut. haemophilus influenzae. Infeksi sekunder oleh bakteri ini menimbulkan kerusakan yang lebih banyak sehingga akan memperburuk keadaan. merupakan keadaan yang berkaitan dengan produksi mukus takeobronkial yang berlebihan sehingga cukup untuk menimbulkan batuk dengan ekspektorasi sedikitnya 3 bulan dalam setahun untuk lebih dari 2 tahun secara berturut-turut. Rokok. baik pada katup maupun myocardium. metaproterenol. Radang ini dapat timbul sebagai kelainan jalan nafas tersendiri atau sebagai bagian dari penyakit sistemik. yaitu : a. albuterol. Biasanya diberikan secara parenteral atau inhalasi. Rangsang : misal asap pabrik. PATOFISIOLOGI . Istilah bronchitis kronis menunjukkan kelainan pada bronchus yang sifatnya menahun (berlangsung lama) dan disebabkan oleh berbagai faktor. Jalan inhalasi merupakan jalan pilihan dikarenakan dapat mempengaruhi secara langsung dan mempunyai efek samping yang lebih kecil. isoproterenol. Alergi c. asap mobil. pneumokokus. d. sehingga sering dinamai juga dengan “laringotracheobronchitis”. c. Dilatasi Bronchus (Bronchiectasi). 2. yang menunjukkan adanya serangan bakteri pada dinding bronchus yang tidak normal.

produksi sputum seperti kopi. MANIFESTASI KLINIK BRONCHITIS KRONIS a. Jika masalah tersebut tidak ditanggulangi. dimana terjadi penurunan PaO2. diproduksi sejumlah sputum yang hitam. b. 4. Hematokrit > 60% . Cor Pulmonal. Kerusakan ventilasi dapat juga meningkatkan nilai PaCO2. kongesti. Peningkatan ukuran dan jumlah kelenjar mukus pada bronchi besar.Bronchitis akut dapat timbul dalam serangan tunggal atau dapat timbul kembali sebagai eksaserbasi akut dari bronchitis kronis. Pada infeksi saluran nafas bagian atas. maka terjadi polisitemia (overproduksi eritrosit). dyspnea dalam beberapa keadaan. hipoxemia akan timbul yang akhirnya menuju penyakit cor pulmonal dan CHF. cyanosis akibat pengaruh sekunder polisitemia. biasanya virus. Klien terlihat cyanosis. Aliran udara dapat atau mungkin juga tidak mengalami hambatan. ratio ventilasi perfusi abnormal timbul. Tidak seperti emfisema. Dokter akan mendiagnosa bronchitis kronis jika klien mengalami batuk atau produksi sputum selama beberapa hari + 3 bulan dalam 1 tahun dan paling sedikit dalam 2 tahun berturut-turut. Bronchitis kronis mula-mula mempengaruhi hanya pada bronchus besar. seringkali merupakan awal dari serangan bronchitis akut. kelenjar mukus akan menjadi hipertropi dan hiperplasia sehingga produksi mukus akan meningkat. d. Jalan nafas mengalami kollaps. Ketika infeksi timbul. Pada saat penyakit memberat. Gejala biasanya timbul pada waktu yang lama. Obstruksi ini menyebabkan penurunan ventilasi alveolar. biasanya karena infeksi pulmonary. bronchitis lebih mempengaruhi jalan nafas kecil dan besar dibandingkan pada alveolinya. edema mukosa dan bronchospasme. Kerusakan fungsi cilliary sehingga menurunkan mekanisme pembersihan mukus. terutama selama ekspirasi. Dinding bronchial meradang dan menebal (seringkali sampai dua kali ketebalan normal) dan mengganggu aliran udara. b. Pengkajian : Batuk persisten. Usia : 45 – 65 tahun c. Sebagai kompensasi dari hipoxemia. yang mana akan meningkatkan produksi mukus. variabel wheezing pada saat ekspirasi. barrel chest. Klien dengan bronchitis kronis akan mengalami : a. tetapi biasanya seluruh saluran nafas akan terkena. Jantung : pembesaran jantung. Selama infeksi klien mengalami reduksi pada FEV dengan peningkatan pada RV dan FRC. “mucocilliary defence” dari paru mengalami kerusakan dan meningkatkan kecenderungan untuk terserang infeksi. sering infeksi pada sistem respirasi. Oleh karena itu. Mukus yang kental dan pembesaran bronchus akan mengobstruksi jalan nafas. Klien mengalami kekurangan oksigen jaringan . edema (akibat CHF kanan). Mukus lebih kental c. Penampilan umum : cenderung overweight. Bronchitis timbul sebagai akibat dari adanya paparan terhadap agent infeksi maupun non-infeksi (terutama rokok tembakau). Mukus kental ini bersama-sama dengan produksi mukus yang banyak akan menghambat beberapa aliran udara kecil dan mempersempit saluran udara besar. hipoxia dan asidosis. dan udara terperangkap pada bagian distal dari paru-paru. Iritan akan menyebabkan timbulnya respon inflamasi yang akan menyebabkan vasodilatasi.

Postural Drainage c. Bronchodilator d. Sesuai dengan definisi tersebut. Aerosolized Nebulizer e. yaitu : a. Riwayat merokok ⊕ 5. EMFISEMA PARU 1. Terbentuknya Bullae Dinding alveolar membengkak dan berhubungan untuk membentuk suatu bullae (ruangan tempat udara) yang dapat dilihat pada pemeriksaan X-ray. melainkan hanya sebagai “overinflation”. menghasilkan kerusakan bronchiolus. timbul sangat sering pada seorang perokok. Surgical Intervention C.e. b. c. Hilangnya elastisitas paru. TIPE EMFISEMA Terdapat tiga tipe dari emfisema : a. Bentuk ini bersama disebut centriacinar emfisema. Hyperinflation Paru Pembesaran alveoli mencegah paru-paru untuk kembali kepada posisi istirahat normal selama ekspirasi. Panacinar timbul pada orang tua dan klien dengan defisiensi . Pengobatan yang diberikan : a. d. Kollaps jalan nafas kecil dan udara terperangkap Ketika klien berusaha untuk ekshalasi secara kuat. Protease (enzim paru) merubah atau merusakkan alveoli dan saluran nafas kecil dengan jalan merusakkan serabut elastin. MANAGEMENT MEDIS BRONCHITIS KRONIS Pengobatan yang utama ditujukan untuk mencegah dan mengontrol infeksi dan meningkatkan drainase bronchial menjadi jernih. c. Antimikrobial b. Akibat hal tersebut. biasanya pada region paru atas. 2. tekanan positif intratorak akan menyebabkan kollapsnya jalan nafas. Inflamasi berkembang pada bronchiolus tetapi biasanya kantung alveolar tetap bersisa. PATOGENESIS Terdapat 4 perubahan patologik yang dapat timbul pada klien emfisema. Emfisema Centriolobular Merupakan tipe yang sering muncul. kantung alveolar kehilangan elastisitasnya dan jalan nafas kecil menjadi kollaps atau menyempit. Emfisema Paraseptal Merusak alveoli pada lobus bagian bawah yang mengakibatkan isolasi dari blebs sepanjang perifer paru. maka jika ditemukan kelainan berupa pelebaran ruang udara (alveolus) tanpa disertai adanya destruksi jaringan maka keadaan ini sebenarnya tidak termasuk emfisema. DEFINISI Emfisema merupakan gangguan pengembangan paru-paru yang ditandai oleh pelebaran ruang udara di dalam paru-paru disertai destruksi jaringan (WHO).. 3. b. Emfisema Panlobular (Panacinar) Merusak ruang udara pada seluruh asinus dan biasanya termasuk pada paru bagian bawah. Paraseptal emfisema dipercaya sebagai sebab dari pneumothorax spontan. Beberapa alveoli rusak dan yang lainnya mungkin dapat menjadi membesar.

terjadi peningkatan dyspnea dan infeksi pulmoner. tetapi jika hal ini timbul pada awal kehidupan (usia muda). udara akan tertahan diantara ruang alveolar (disebut blebs) dan diantara parenkim paru (disebut bullae).enzim alpha-antitripsin. Proses ini akan menyebabkan peningkatan ventilatory pada “dead space” atau area yang tidak mengalami pertukaran gas atau darah. PATOFISIOLOGI Emfisema merupakan kelainan dimana terjadinya kerusakan pada dinding alveolar. MEKANISME PENYAKIT Asap tembakau Polusi Udara Gangguan pembersihan paru-paru Peradangan bronchus dan bronchiolus Obstruksi jalan nafas akibat peradangan Hipoventilasi alveolar Bronchiolitis kronik Predisposisi Genetik (defisiensi alfa antitripsin) Sekat & jaringan penyokong hilang Saluran nafas kecil kollaps saat ekspirasi PLE (Emfisema Panlobular) Dinding bronchiolus melemah dan alveoli pecah Saluran nafas kecil kolaps sewaktu ekspirasi Faktor-faktor yang tidak diketahui Seumur hidup PLE asimptomatik pada orang tua CLE dan PLE . Emfisema juga menyebabkan destruksi kapiler paru. seringkali timbul Cor Pulmonal (CHF bagian kanan) timbul. Pada saat alveoli dan septa kollaps. biasanya berhubungan dengan bronchitis kronis dan merokok. 4. Pada keadaan lanjut. Kesulitan selama ekspirasi pada emfisema merupakan akibat dari adanya destruksi dinding (septum) diantara alveoli. Kerja nafas meningkat dikarenakan terjadinya kekurangan fungsi jaringan paru untuk melakukan pertukaran oksigen dan karbon dioksida. Pada beberapa tingkat emfisema dianggap normal sesuai dengan usia. Perjalanan udara terganggu akibat dari perubahan ini. yang mana akan menyebabkan overdistensi permanen ruang udara. lebih lanjut terjadi penurunan perfusi oksigen dan penurunan ventilasi. kollaps jalan nafas sebagian dan kehilangan elastisitas recoil. 5.

Riwayat merokok • Biasanya didapatkan. normal ditemukan saat periode remisi (asthma) . memperlambat perkembangan proses penyakit dan mengobati obstruksi saluran nafas yang berguna untuk mengatasi hipoxia. • Hematokrit < 60% e. 7. 1996) 6. S. flattened hemidiafragma • Tidak ada tanda CHF kanan dengan edema dependen pada stadium akhir. warna kulit pucat. MEDICAL MANAGEMENT Penatalaksanaan utama pada klien emfisema adalah untuk meningkatkan kualitas hidup.. d. • Wheezing ekspirasi tidak ditemukan dengan jelas.M. Pendekatan terapi mencakup : • Pemberian terapi untuk meningkatkan ventilasi dan menurunkan kerja nafas. Cor Pulmonal timbul pada stadium akhir. Chest X-Ray : dapat menunjukkan hiperinflation paru. b. • Produksi sputum dan batuk jarang. • Support psikologis • Patient education and rehabilitation. Jenis obat yang diberikan : • Bronchodilators • Aerosol therapy • Treatment of infection • Corticosteroids • Oxygenation D. & Wilson. Pengkajian fisik • Nafas pendek persisten dengan peningkatan dyspnea • Infeksi sistem respirasi • Pada auskultasi terdapat penurunan suara nafas meskipun dengan nafas dalam. Usia 65 – 75 tahun.A. PENGKAJIAN DIAGNOSTIK COPD 1. • Mencegah dan mengobati infeksi • Teknik terapi fisik untuk memperbaiki dan meningkatkan ventilasi paru • Memelihara kondisi lingkungan yang memungkinkan untuk memfasilitasi pernafasan. c. penurunan tanda vaskular/bulla (emfisema). tapi tidak selalu ada riwayat merokok.. flattened diafragma.CLE Bronchiolitis kronik CLE (Emfisema Centriolobular) Gambar 14 : Mekanisme Timbulnya Emfisema (Sumber : Price. Pemeriksaan jantung • Tidak terjadi pembesaran jantung. peningkatan ruang udara retrosternal. L. peningkatan bentuk bronchovaskular (bronchitis). MANIFESTASI KLINIK a. Penampilan Umum • Kurus.

Bronchogram : dapat menunjukkan dilatasi dari bronchi saat inspirasi. atrial disritmia (bronchitis). seringkali PaO2 menurun dan PaCO2 normal atau meningkat (bronchitis kronis dan emfisema) tetapi seringkali menurun pada asthma. alkalosis respiratori ringan sekunder terhadap hiperventilasi (emfisema sedang atau asthma). penyakit jantung lain. Asidosis Respiratory Timbul akibat dari peningkatan nilai PaCO2 (hiperkapnia). gel. pembesaran kelenjar mukus (bronchitis) 8. 2. ABGs : menunjukkan proses penyakit kronis. kollaps bronchial pada tekanan ekspirasi (emfisema). 3. tetapi klien dengan emfisema berat juga dapat mengalami masalah ini. KOMPLIKASI COPD 1. Infeksi Respiratory Infeksi pernafasan akut disebabkan karena peningkatan produksi mukus. P pada Leads II. dizzines. tachipnea. III. mengevaluasi keefektifan obat bronchodilator. tinggi (bronchitis. Gagal jantung Terutama kor-pulmonal (gagal jantung kanan akibat penyakit paru). 3. E. Stress Test : menolong mengkaji tingkat disfungsi pernafasan. menurun pada emfisema. penurunan konsentrasi dan pelupa. Hipoxemia Hipoxemia didefinisikan sebagai penurunan nilai PaO2 kurang dari 55 mmHg. menentukan abnormalitas fungsi tersebut apakah akibat obstruksi atau restriksi. Tanda yang muncul antara lain : nyeri kepala. Pada tahap lanjut timbul cyanosis. Pemeriksaan Fungsi Paru : dilakukan untuk menentukan penyebab dari dyspnea. gelombang P tinggi (asthma berat). FEV1/FVC : ratio tekanan volume ekspirasi (FEV) terhadap tekanan kapasitas vital (FVC) menurun pada bronchitis dan asthma. peningkatan eosinofil (asthma). lethargi. pemeriksaan sitologi untuk menentukan penyakit keganasan atau allergi. Darah Komplit : peningkatan hemoglobin (emfisema berat). Kimia Darah : alpha 1-antitrypsin dilakukan untuk kemungkinan kurang pada emfisema primer. Terbatasnya aliran udara akan meningkatkan kerja nafas dan timbulnya dyspnea. 10. peningkatan rangsangan otot polos bronchial dan edema mukosa. 4. merencanakan/evaluasi program. mengidentifikasi patogen. Exercise ECG.2. dengan nilai saturasi Oksigen <85%. Cardiac Disritmia Timbul akibat dari hipoxemia. emfisema). 11. 9. Pada awalnya klien akan mengalami perubahan mood. memperkirakan tingkat disfungsi dan untuk mengevaluasi efek dari terapi. 6. fatique. Status Asmatikus . axis QRS vertikal (emfisema) 12. AVF panjang. pH normal atau asidosis. Sputum Kultur : untuk menentukan adanya infeksi. 6. harus diobservasi terutama pada klien dengan dyspnea berat. 5. 7. Kapasitas Inspirasi : menurun pada emfisema 5. TLC : meningkat pada bronchitis berat dan biasanya pada asthma. 4. Komplikasi ini sering kali berhubungan dengan bronchitis kronis. ECG : deviasi aksis kanan. misal : bronchodilator. efek obat atau asidosis respiratory.

Bersihan jalan nafas tak efektif yang berhubungan dengan : Bronchospasme Peningkatan produksi sekret (sekret yang tertahan. (1 – 5) setelah diberikan perawatan selama……. Hari. kental) Menurunnya energi/fatique Data-data Klien mengeluh sulit untuk bernafas Perubahan kedalaman/jumlah nafas. potensial mengancam kehidupan dan seringkali tidak berespon terhadap therapi yang biasa diberikan. dengan kriteria : • Tidak ada demam • Tidak ada cemas • RR dalam batas normal • Irama nafas dalam batas normal • Pergerakan sputum keluar dari jalan nafas . crackles Batuk (persisten) dengan/tanpa produksi sputum.Merupakan komplikasi mayor yang berhubungan dengan asthma bronchial. ronchi. Status Respirasi : Kepatenan Jalan nafas # dengan skala…….. Penggunaan otot bantu pernafasan dan distensi vena leher seringkali terlihat. penggunaan otot bantu pernafasan Suara nafas abnormal seperti : wheezing. Penyakit ini sangat berat. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN COPD Intervensi dan rasional pada penyakit ini didasarkan pada konsep Nursing Intervention Classification (NIC) dan Nursing Outcome Classification (NOC) Tabel 4 : Rencana Asuhan keperawatan Klien COPD No Diagnosa Keperawatan Perencanaan (NANDA) Tujuan (NOC) Intervensi (NIC) 1.

lemah. Destruksi alveoli Data-data : Dyspnea Confusion. Tidak mampu mengeluarkan sekret Nilai ABGs abnormal (hipoxia dan hiperkapnia) Perubahan tanda vital. Aspiration precautions d. bronchospasme. Status Respirasi : Pertukaran gas # dengan skala ……. Penurunan kecemasan c. Surveillance j. Manajemen jalan nafas b. Manajemen asam dan basa . air trapping). (1 – 5) setelah diberikan perawatan selama……. Hari dengan kriteria : • Status mental dalam batas normal • Bernafas dengan mudah • Tidak ada cyanosis • PaO2 dan PaCO2 dalam batas normal • Saturasi O2 dalam rentang normal a. Terapi oksigen g. Monitoring tanda vital 2. Monitoring respirasi i. Kerusakan Pertukaran gas yang berhubungan dengan : Kurangnya suplai oksigen (obstruksi jalan nafas oleh sekret. Menurunnya toleransi terhadap aktifitas. Latih batuk efektif f.• Bebas dari suara nafas tambahan a. Pemberian posisi h. Fisioterapi dada e.

Monitoring tanda vital 3. Ketidakseimbangan nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan Status Nutrisi : Intake cairan dan makanan gas # dengan skala ……. (1 – 5) setelah diberikan a. Status diet No Diagnosa Keperawatan Perencanaan (NANDA) Tujuan (NOC) Intervensi (NIC) dengan : Dyspnea. fatique Efek samping pengobatan Produksi sputum Anorexia. nausea/vomiting. Manajemen cairan b. Tingkatkan keiatan e. Data : Penurunan berat badan Kehilangan masa otot.tubuh b. Monitoring respirasi g. Manajemen jalan nafas c. Latih batuk d. Terapi oksigen f. Monitoring cairan c. Hari dengan kriteria : • Asupan makanan skala (1 – 5) (adekuat) • Intake cairan peroral (1 – 5) (adekuat) • Intake cairan (1 – 5) (adekuat) Status Nutrisi : Intake Nutrien gas # dengan skala ……. (1 – 5) . tidak tertarik makan perawatan selama……. tonus otot jelek Dilaporkan adanya perubahan sensasi rasa Tidak bernafsu untuk makan.

Kontroling nutrisi i. Manajemen gangguan makan e. Monitoring tanda vital k. Hari dengan kriteria : • Intake kalori (1 – 5) (adekuat) • Intake protein. Manajemen nutrisi f. (1 – 5) setelah diberikan perawatan selama……. Manajemen berat badan Keterangan : Untuk intervensi secara kronologi dapat dilihat dari aktifitas tindakan yang dapat anda temukan dalam buku Nursing Intervention Classification (NIC) dan Nursing Outcome Classification (NOC) Kanker paru-paru . Bantuan untuk peningkatan BB l. Konseling nutrisi h. Hari dengan kriteria : • Mampu memeliharan intake kalori secara optimal (1 – 5) (menunjukkan) • Mampu memelihara keseimbangan cairan (1 – 5) (menunjukkan) • Mampu mengontrol asupan makanan secara adekuat (1 – 5) (menunjukkan) d. Terapi nutrisi g. karbohidrat dan lemak (1 – 5) (adekuat) Kontrol Berat Badan gas # dengan skala …….setelah diberikan perawatan selama……. Terapi menelan j.

Dari Wikipedia bahasa Indonesia. ensiklopedia bebas Langsung ke: navigasi. The white area in the upper lobe is cancer. Frequency of histological types of lung cancer[3] Histological type Frequency (%) . 162 7616 007194 med/1333 med/1336 emerg/335 radio/807 radio/405 radio/406 D002283 Kanker paru-paru adalah pertumbuhan sel kanker yang tidak terkendali dalam jaringan paru yang dapat disebabkan oleh sejumlah karsinogen lingkungan. terutama asap rokok [1] .-C34. Bantulah Wikipedia untuk melanjutkannya. cari Kanker paru-paru Klasifikasi dan bahan-bahan eksternal Cross section of a human lung. kanker paru merupakan penyebab kematian utama dalam kelompok kanker baik pada pria maupun wanita[2]. Halaman ini belum atau baru diterjemahkan sebagian dari bahasa Inggris. Sebagian besar kanker paru-paru berasal dari sel-sel di dalam paru-paru. Lihat panduan penerjemahan Wikipedia. tetapi kanker paru-paru bisa juga berasal dari kanker di bagian tubuh lainnya yang menyebar ke paru-paru. the black areas indicate that the patient was a smoker. ICD-10 ICD-9 DiseasesDB MedlinePlus eMedicine MeSH C33. Menurut World Health Organization (WHO).

1 1. tulang dan kulit. yang bisa berasal dari paru-paru atau merupakan penyebaran dari organ lain. tiroid. prostat. rektum. leher rahim.8 0. Karsinoma sel skuamosa Karsinoma sel kecil atau karsinoma sel gandum Karsinoma sel besar Adenokarsinoma Karsinoma sel alveolar berasal dari alveoli di dalam paru-paru. Adenoma (bisa ganas atau jinak) 2. 2.8 0. 4. ginjal. Biasanya kanker ini berasal dari payudara. lambung.Non-small cell lung carcinoma Small cell lung carcinoma Carcinoid[4] Sarcoma[5] Unspecified lung cancer 80. tetapi seringkali menyerang lebih dari satu daerah di paru-paru. Kanker ini bisa merupakan pertumbuhan tunggal. [sunting] Penyebab utama Sub-types of non-small cell lung cancer in smokers and never-smokers[6] Frequency of nonsmall cell lung cancers (%) Histological sub-type Smokers 42 39 4 Squamous cell lung carcinoma Adenocarcinoma (not otherwise specified) Adenocarcinoma Bronchioloalveolar carcinoma Neversmokers 33 35 10 . Sarkoma (ganas) Limfoma merupakan kanker dari sistem getah bening. buah zakar.4 16. yang terdiri dari: 1. Hamartoma kondromatous (jinak) 3. Banyak kanker yang berasal dari tempat lain menyebar ke paru-paru. Tumor paru-paru yang lebih jarang terjadi adalah: 1. usus besar. 3. kanker ini disebut karsinoma bronkogenik.9 Lebih dari 90% kanker paru-paru berawal dari bronki (saluran udara besar yang masuk ke paru-paru).

Kelelahan kronis Kehilangan selara makan atau turunnya berat badan tanpa sebab yang jelas. Gejala pada kanker paru umumnya tidak terlalu kentara. Hanya sebagian kecil kanker paru-paru (sekitar 10%-15% pada pria dan 5% pada wanita) yang disebabkan oleh zat yang ditemui atau terhirup di tempat bekerja. Pengobatan kanker paru dapat dilakukan dengan cara-cara seperti . gas mustard dan pancaran oven arang bisa menyebabkan kanker paru-paru. Pembengkakan di wajah atau leher. semakin besar resiko untuk menderita kanker paru-paru. 2. kromat. arsen. Napas sesak dan pendek-pendek. seperti tuberkulosis dan fibrosis. dan USG Abdomen. nikel. Suara serak/parau. 5. Bekerja dengan asbes. Beberapa kasus terjadi karena adanya pemaparan oleh gas radon di rumah tangga. 8. 4. radiasi. 3. 7. CT Scan Toraks. 6. [sunting] Gejala kanker paru Gejala paling umum yang ditemui pada penderita kanker paru adalah: 1. Kadang kanker paru (terutama adenokarsinoma dan karsinoma sel alveolar) terjadi pada orang yang paru-parunya telah memiliki jaringan parut karena penyakit paru-paru lainnya. nyeri atau retak tulang dengan sebab yang tidak jelas. Dahak berdarah. Batuk yang terus menerus atau menjadi hebat. [sunting] Diagnosis dan pengobatan Beberapa prosedur yang dapat memudahkan diagnosa kanker paru antara lain adalah foto X-Ray. Sakit kepala. Biopsi Jarum Halus. Bronkoskopi. Kasuskkasus stadium dini/ awal sering ditemukan tanpa sengaja ketika seseorang melakukan pemeriksaan kesehatan rutin.Carcinoid Other 7 8 16 6 Merokok merupakan penyebab utama dari sekitar 90% kasus kanker paru-paru pada pria dan sekitar 70% pada wanita. Semakin banyak rokok yang dihisap. berubah warna dan makin banyak. sehingga kebanyakan penderita kanker paru yang mencari bantuan medis telah berada dalam stadium lanjut. klorometil eter. meskipun biasanya hanya terjadi pada pekerja yang juga merokok. Peranan polusi udara sebagai penyebab kanker paru-paru masih belum jelas.

. kanker leher rahim. Bra Home Lung Cancer 101 Lung Cancer 101 Tuesday. Pada beberapa kondisi tidak semua gangguan itu berkembang cepat namun dapat berhenti sebelum berubah menjadi ganas itulah yang kita kenal dengan tumor jinak. kanker darah dan kanker paru. Pembedahan dengan membuang satu bagain dari paru . Kanker yang paling banyak dikenal orang pada orang dewasa adalah kanker payudara. Kesimpulan : Kanker adalah penyakit yang berhubungan dengan proses pertumbuhan dan perkembangan sel yang tidak terkontrol..kadang melebihi dari tempat ditemukannya tumor dan membuang semua kelenjar getah bening yang terkena kanker. • • • Radioterapi atau radiasi dengan sinar-X berintensitas tinggi untuk membunuh sel kanker. Mekanisme itu penting sebagai pengganti sel sel tubuh yang rusak dan perlu peremajaan. Jika gangguan itu lebih berat dan gangguan pertumbuhan berlangsung terus dan menyebar ke tempat lain (metastasis) kita sebut dengan tumor ganas atau kanker. penghambat pertumbuhan dan gen pengkontrol proses lain dalam sel agar berjalan baik. ^ (id) Roche Indonesia: Kanker paru 2. kanker nasofaring. Kanker dapat terjadi pada siapa saja.1. Kemoterapi Meminum obat oral dengan efek samping tertentu yang bertujuan untuk memperpanjang harapan hidup penderita. Pertumbuhan sel yang berjalan dalam beberapa tahapan dan dikontrol oleh gen (pembawa informasi) yang sebagian bertindak sebagai pemicu. [sunting] Refensi 1. ^ (en) Ferlay J. 13 June 2006 Kanker Paru Kanker Dalam keadaan normal sel akan tumbuh sesuai kebutuhan tubuh dengan melalui tahapan tahapan dalam prosesnya. kanker prostat. Gangguan pada gen atau proses pertumbuhan itu dapat menyebabkan sel tumbuh tidak terkendali. kanker usus. umur berapa saja dan dimana saja dalam tubuh manusia. Besar kecilnya kemungkinan seseorang untuk menderita kanker jenis tertentu tergantung faktor risiko yang dimilikinya.

gangguan di saluran napas/paru. kantung udara Paru adalah organ tubuh yang berperan dalam sistem pernapasan (respirasi) yaitu proses pengambilan oksigen (O2) dari udara bebas saat menarik napas. antara lain udara berpolusi sehingga kadar O2 sedikit.Kanker paru merupakan jenis kanker yang paling sulit diobati. Mengapa kanker paru sulit diobati. melalui saluran napas (bronkus) dan sampai di dinding alveoli (kantong udara) O2 akan ditranfer ke pembuluh darah yang di dalamnya mengalir anatara lain sel sel darah merah untuk dibawa ke sel-sel sel di berbagai organ tubuh lain sebagai energi dalam proses metabolisme. saluran napas b. PARU Keterangan Gambar a. banyak diderita lakilaki dewasa ( usia > 40 tahun) dan perokok. Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu dipahami dahulu tentang fungsi organ paru. Pada tahap berikutnya setelah metabolisme maka sisa-sisa metabolisme itu terutama karbondioksida (CO2) akan dibawa darah untuk dibuang kembali ke udara bebas melalui paru pada saat membuang napas. Berbagai kelainan dapat menganggu sistem pernapasan itu. jantung atau gangguan pada darah. jantung c. Karena fungsinya itu dapat dipahami bahwa paru paling terbuka dengan polusi udara yang diisap termasuk asap rokok yang dihisap dengan penuh kesengajaan itu. Secara khusus dikatakan paru adalah tempat tubuh mengambil darah bersih (kaya O2) dan tempat pencucian darah yang berasal dari seluruh tubuh( banyak mengandung CO2) sebelum ke jantung untuk kembali diedarkan ke seluruh tubuh .

seperti arsenik Beberapa zat kimia organik Radiasi dari pekerjaan. tidak semua perokok akhirnya menderita kanker paru. Berhenti dari merokok akan mengurangi dengan sangat berarti risiko seseorang terkena kanker paru. Cairan di rongga pleura yang sering ditmukan pada kanker paru juga menganggu fungsi paru. Tumor yang menekan dinding dada dapat menyebabkan kerusakan/destruksi tulang dinding dada dan menimbulkan nyeri. Kanker paru paling banyak ditemukan pada laki-laki dewasa dan perokok.Secara umum gangguan pada pada saluran napas dapat merupa sumbatan pada jalan napas (obstruksi) atau gangguan yang menyebabkan paru tidak dapat kembang secara sempurna (restriktif). Faktor lain yang dapat menjadi faktor risiko terutama berkaitan dengan udara yang dihirup. antara lain • • • • • Sesak napas dengan atau suara mencicit (mengi) Rasa berat di dada jika bernapas Batuk Batuk darah Nyeri dada Kanker Paru Kanker Paru dalam arti luas adalah semua penyakit keganasan di paru. Risiko pada bekas perokok lebih besar daripada orang-orang yang tidak pernah merokok. obat-obatan. sedangkan tumor yang terdapat dalam saluran napas dapat menyebabkan sumbatan pada saluran napas. Keluhan yang sering timbul pada penyakit paru disebut keluhan respirasi dapat terjadi hanya satu dan terkadang lebih dari satu. lingkungan . Faktor Risiko Kanker Paru • • • • • • • • • Laki-laki Usia lebih dari 40 tahun Pengguna tembakau (perokok putih. kretek atau cerutu) Hidup atau kontal erat dengan lingkungan asap tembakau (perokok pasif) Radon dan asbes Lingkungan industri tertentu Zat kimia. Definisi khusus untuk kanker paru primer yakni tumor ganas yang berasal dari epitel (jaringan sel) saluran napas atau bronkus. mencakup keganasan yang berasal dari paru sendiri (primer) atau penyebaran (metastasis) tumor dari organ lain. Tumor yang besar di paru dapat menyebabkan sebagian paru dan/saluran napas kolaps. Bagaimanapun. Lebih dari 80% kanker paru berhubungan dengan perokok.

Misalnya vitamin. nyeri dada. tetapi juga untuk mengurangi kesempatan akan berulangnya kanker (relapps). Berhenti merokok akan mengurangi dengan sangat berarti risiko seseorang terkena kanker paru. Risiko pada bekas perokok lebih besar daripada orang-orang yang tidak pernah merokok. Jadi cara utama untuk seseorang mengurangi risiko terkena kanker paru adalah berhenti merokok. Faktor utama keberhasilan untuk program berhenti merokok adalah niat dan diikuti dengan bantuan lingkungan sekitarnya agar usaha itu berhasil dengan sukses. Program berhenti merokok. metode diet tertentu dan zat kimia sintetis untuk mencegah perkembangan penyakit. Usaha pencegahan kanker yang lain dikenal dengan istilah kemopreventif (Chemoprevention). Hasilnya uji coba kemopreventif masih belum telralu mengembirakan berbeda denngan program berhenti merokok yang secara nyata telah menurunkan jumlah penderita kanker paru laki laki di Amerika karena meningkatnya jumlah orang yang berhenti merokok. cara ini sepertinya hal yang mudah tapi tidak untuk perokok. Banyak cara dan bahan yang sedang diuji cobakan dengan tujuan bukan hanya mengurangi resiko kanker. sebaiknya segera meneriksakan diri dan dirujuk ke dokter spesialis paru Pencegahan Kanker Paru Penelitian telah membuktikan bahwa lebih dari 80 % kanker paru berhubungan dengan merokok. Untuk bukan perokok. Kasus kasus staging awal (dini) sering ditemukan tanpa sengaja ketika seseorang melakukan pemeriksaan kesehatan rutin (check-up kesehatan). sesak napas. diet. Setelah datang ke dokter akan dicari kelainan pada seluruh tubuh atau fisik diagnostik dan .• Polusi udara Seseorang yang termasuk golongan risiko tinggi (GRT) jika mempunyai keluhan napas (gangguan respirasi) seperti batuk. Ini barangkali catatan kenapa banyak sekali perokok berusaha untuk berhenti namun gagal. tetapi jika kanker masih terlalu kecil sering belum menimbulkan gejala dan tanda. Bagaimanapun banyak perokok yang telah mencoba berhenti merokok dan mengatakan usaha untuk berhenti merokok adalah hal luar biasa sulit. Diagnosis Kanker Paru Seseorang dapat didiagnosis karena ada gejala atau tanda. bahkan boleh jadi kadang kadang lebih keras lagi. Seseorang perokok yang telah berhasil berhenti 10 tahun lamanya berarti telah dapat menurunkan risiko 30 -50 persen untuk terkena kanker paru. dan terapi hormone. Kemopreventif adalah penggunaan bahan alami. Tidak heran jika kebanyakan penderita kanker paru datang setelah staging atau tingkatan penyakitnya lanjut. Kecanduan nikotin pada perokok dapt disamakan dengan sakau pada pengguna heroin.

Hal itu disebabkan tumor masih dengan volume kecil dan belum menyebar sehingga tidak menimbulkan . • • • • • • • Kelelahan kronis Kehilangan nafsu makan Sakit kepala.selanjutnya akan dilakukan pemeriksaan tambahan agar didapat kepastian tentang penyakitnya. sakit yang menyertainya Retak tulang yang tidak berhubungan dengan luka akibat kecelakaan Gejala-gejala pada saraf (seperti: cara berjalan yang goyah dan atau kehilangan ingatan sebagian) Bengkak pada leher dan wajah Kehilangan berat badan yang tidak diketahui penyebabnya Pemeriksaan fisis Dokter terkadang tidak mendapatkan kelainan pada pemeriksaan fisis penderita kanker paru staging awal penyakitnya. • • • • • • • • • • • • Batuk pada perokok yang terus menerus atau menjadi hebat Batuk pada bukan perokok yang menetap sampai dengan lebih dari dua minggu Dada. bahu atau nyeri punggung yang tidak berhubungan terhadap nyeri akibat batuk yang terus menerus Perubahan warna pada dahak Meningkatnya jumlah dahak Dahak berdarah Bunyi menciut-ciut saat bernafas pada bukan penderita asma Radang yang kambuh Sulit bernafas Nafas pendek Serak Suara kasar saat bernafas Selain dari itu juga barangkali tanda-tanda dan gejala-gejala disebabkan oleh penyebaran kanker paru pada bagian tubuh lainnya. Tanda dan gejala mungkin tidak kelihatan sampai penyakit telah mencapai tahap lanjut. nyeri tulang. Tanda dan gejala Tanda dan gejala kanker paru membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dapat diketahui dan seringkali dikacaukan dengan gejala dari kondisi yang kurang serius. Tergantung pada organ-organ yang dirusak.

Hal itu disebabkan tumor masih dengan volume kecil dan belum menyebar sehingga tidak menimbulkan gangguan di tempat lain. Dokter akan selalu meminta persetujuan pasien dan keluarganya untuk setiap pemeriksaan yang dilakukan. ketiak. misal pasien datang dengan sesak napas yang hebat dan muka/leher dan lengan bengkak karena tumor menekan pembulu darah balik (sindrom vena kava superior) atau nyeri yang hebat terutama jika kanker telah merusak tulang. Penting diingat tidak semua jenis pemeriksaan harus dilakukan pada pasien tetapi berdasarkan kondisi umum dan penyakit pada saat datang ke dokter. misalnya benjolan di leher. Kelainan yang didapat tergantung letak dan besar tumor sehingga menimbulkan gangguan. Kelainan yang dapat ditemukan berkaitan penyebaran kanker. dll. Kanker paru juga dapat menyebabkan timbulnya tumpukan cairan di rongga pleura atau menekan pembuluh darah balik (vena). Kelainan yang dapat ditemukan berkaitan penyebaran kanker. Pada kasus dengan staging lanjut akan dapat ditemukan kelainan tergantung pada gangguan yang ditimbulkan oleh tumor primer atau penyebarannya. Pemeriksaan (prosedur diagnosis) Ditemukannya jenis sel (histologis) kanker adalah syarat utama untuk mengatakan seseorang menderita kanker dan selanjutnya dapat ditentukannya staging (tingkatan) penyakitnya secepat mungkin untuk menentukan pengobatan terbaik.gangguan di tempat lain. Pada kasus dengan staging lanjut akan dapat ditemukan kelainan tergantung pada gangguan yang ditimbulkan oleh tumor primer atau penyebarannya. dll. Tidak jarang juga pasien datang dengan kelumpuhan akibat penyebaran di otak atau tulang belakang (vetebra). Jenis sel kanker paru Beberapa pemeriksaan yang dilakukan dokter spesialis paru untuk mendapatkan jenis sel kanker paru antara lain : Dokter terkadang tidak mendapatkan kelainan pada pemeriksaan fisis penderita kanker paru staging awal penyakitnya. Kanker paru juga dapat menyebabkan timbulnya tumpukan cairan di rongga pleura atau menekan pembuluh darah balik (vena). Pada kondisi umum yang buruk terkadang dokter akan memutuskan memberi pengobatan sebelum diagnosis pasti muncul. ketiak. . Kelainan yang didapat tergantung letak dan besar tumor sehingga menimbulkan gangguan. misalnya benjolan di leher. Tidak jarang juga pasien datang dengan kelumpuhan akibat penyebaran di otak atau tulang belakang (vetebra).

jika volume cairan dikit dokter paru akan melacak lokasi yang tepat dengan bantuan USG toraks. Tetapi perlu diingat terkadang hasilnya meski positif tapi bukan berupa sebaran kanker paru. Tehnik ini sangan sederhana dan jarang menimbulkan komplikasi berat. Dokter akan selalu meminta persetujuan pasien dan keluarganya untuk setiap pemeriksaan yang dilakukan. Pada kondisi umum yang buruk terkadang dokter akan memutuskan memberi pengobatan sebelum diagnosis pasti muncul. misal pasien datang dengan sesak napas yang hebat dan muka/leher dan lengan bengkak karena tumor menekan pembulu darah balik (sindrom vena kava superior) atau nyeri yang hebat terutama jika kanker telah merusak tulang. Bahan hasil pemeriksaan ini akan diletakkan dalam gelas objek dansegera direndam dalam alkohol 98% dan dikirim ke patologi anatomi untuk di proses. Pada saat melakukan terkadang dibutuhkan anestesi (bius) lokal saja. Jenis sel kanker paru Beberapa pemeriksaan yang dilakukan dokter spesialis paru untuk mendapatkan jenis sel kanker paru antara lain : • Sitologi sputum: menemukan sel kanker pada sputum atau dahak penderita. Dahak yang diperiksa harus dahak segar pagi hari dan segera dibawa ke laboratorium patologi anatomi untuk diproses. Hasil positif tidak selalu didapt dengan tehnik ini tetapi harus dilakukan. Misalnya untuk tumor yang ditemukan di leher. Jika volume cairan cukup banyak dokter spesialis paru akan sekaligus mengeluarkan sampai 1. Kepositfan pemeriksaan ini < 10% dan sangat bergantung pada tehnik pasien membantukkan dahak yang akan diperiksa. Penting diingat tidak semua jenis pemeriksaan harus dilakukan pada pasien tetapi berdasarkan kondisi umum dan penyakit pada saat datang ke dokter. ketiak atau dinding dada yang dapat diraba. hasil punksiini akan dianalisa dan dikirim ke laboratorium patologi anatomi untuk di proses. Jika pasien merasa tidak enak. Punksi ini menggunakan jarum infus ukuran 14. hasil positif biasanya ditemukan jika kanker ada di dalam saluran napas. dll. Dokter paru biasanya dapat melakukan dengan cepat dan hasil kepositifannya cukup tinggi.Pemeriksaan (prosedur diagnosis) Ditemukannya jenis sel (histologis) kanker adalah syarat utama untuk mengatakan seseorang menderita kanker dan selanjutnya dapat ditentukannya staging (tingkatan) penyakitnya secepat mungkin untuk menentukan pengobatan terbaik. Punksi pleura yaitu mengambil cairan dari rongga pleura (lapisan paru) jika ditemukan cairan akibat kanker paru. kanker kelenjar getah bening. sesak atau batuk • • . Biopsi jarum halus: yaitu mengambil spesimen jaringan dari tumor yang superfisial menggunakan jarum halus. misalnya tuberkulosis(TBC).500 cc tergantung toleransi pasien.

Pada kasus dengan jumlah cairan yang terus banyak.batuk maka aliran cairan harus segera dihentikan. bersifat lebih agresif tetapi sangat responsif dengan pengobatan. Bronkoskopi adalah tehnik pemeriksaan memakai bronkoskop untuk melihat kelainan dalam saluran napas dan jika ditemukan kelainan akan dilakukan tindakan bilasan. maka dokter spesialis paru akan mengalirkan dengan cara memasang selang dada (WSD) sebagai usaha mengurangi keluhan dan paru dapat mengembang maksimal. Dapat dilakukan dengan berpedoman pada foto toraks atau dengan tuntutan CT-scan dll. Cara lain adalah dengan mengambil bahan atau spesiem yang ada di saluran napas dengan bantuan prosedur bronkoskopi. Bronkoskopi memerlukan persiapan yang teliti.Dokter spesialis paru biasa melakukan ini dengan bius lokal dengan tingkat kepositifan yang besar. Kanker paru jenis karsinoma sel kecil (KPKSK = SCLC) merupakan 20% dari seluruh kanker paru. apkah dsistem perdarahan baik atau komplikasi lain karena tehnik ini dapat menimbulkan komplikasi serius meski angka kejadiannyanya sangat kecil. Kepositifnya juga tidak terlalu besar. Tetapi pada kondisi berat harus dilakukan di kamar operasi dengan bius umum. TTNA ( Transthoracal needle aspiration): yaitu mengambil spesimen jaringan dengan menggunakan jarum halus menembus dinding dada. . Cara ini biasanya dilakukan bersamaan dengan punksi pleura. Punksi pleura dan pemasangan selang dada kebanyakan dilakukan dokter spesialis paru dengan bius lokal. • Biopsi pleura yaitu mengambil sedikit jaringan pleura jika didapat rongga pleura akibat penumpukan cairan. adalah jenis sel kanker terbanyak dan terutama pada perokok Karsinoma sel besar Lain-lain:merupakan jenis yang jarang ditemukan misalnya karsinoid. Ada beberapa jenis KPKBSK yang dapat dikenali diantaranya: • • • • Karsinoma epidermoid (disebut juga karsinoma sel skuamosa) Adenokarsinoma. sikatan dan biopsi dan bahkan TBLB (trans-bronchial lung biopsy). Jika ditemukan kelaianan pada saluran napas itu merupakan poin bahwa tumor di paru itu adalah kanker paru. 2. apakh fungsi jantung baik. Kanker paru jenis karsinoma bukan sel kecil (KBKBSK= NSCLC) yang terbanyak yaitu sekitar 80% dari kanker paru-paru. karsinoma bronkoalveolar. • • Jenis sel kanker paru secara garis besar dibagi atas 2 kelompok 1.

Jika pasien membawa foto yang telah lebih dari 1 minggu maka akan dibuat foto yang baru. Untuk kanker paru pada kondisi tertentu dokter akan melakukan CT-scan ulang jika pasien membawa CT-scan lama yang telah dilakukan > 1 bulan. CT/MRI kepala untuk menilai metastasis di otak. Pemeriksaan lain lebih ditujuan untuk melihat apakah telah terjadi penyebaran (metastasis) jauh :. Tetapi foto toraks hanya dapat metentukan lokasi tumor. Pada pertemuan pertama dokter akan melakukan foto toraks (foto polos dada). Untuk kasus yang duduga staging awal. USG abdomen: dilakukan jika pada pemeriksaan fisik ditemukan pembengkakan hati tetapi dengan CT tehniknya lebih sederhana dan hasilnya lebih informatif. dan sekaligus dapat mengambil spesimen untuk pemeriksaan sel kanker dengan cara bilasan. sikat. Foto toraks belum cukup karena tidak dapat menentukan keterlibatan kelenjar getah bening dan metastasis luar paru. CT-scan toraks : imaging (foto) ini lebih inforamatif karena dapat melihat karakteristik tumor lebih jelas termasuk menentukan ukuran. Pemeriksaan tambaban ini dilakukan jika ada keluhan atau pasien dengan staging awal dan akan dioperasi. paru kolaps luas menutup tumor sehingga tidak terlihat. antara lain MRI toraks kurang bermanfaat untuk menentukan staging kanker paru. ukuran tumor ada tidaknya cairan. untuk kemudahannya maka CT-scan toraks dilakukan sampai kelenjar suprarenal sehingga dapat dipastikan belum terjadi penyebaran ke hati atau oragan perut lainnya. Beberapa pemeriksaan tambahan harus dilakukan dokter spesialis paru untuk menentukan staging penyakit. • Bronkoskopi adalah tehnik pemeriksaan yang menggunakan alat bronkoskop yang dimasukkan ke dalam saluran napas sehingga dapat menilai keaadan saluran napas. keterlibatan kelenjar getah bening (N) dan penyebaran jauh (M).Staging (tingkatan) kanker paru Staging kanker paru ditentukan oleh tumor (T). lokasi dan apakah sudah terjadi keterlibatan kelenjar getah bening di dada serta ada tidaknya penyebaran di paru. Pemeriksaan lain. Bone scan /MRI untuk menilai metastasis di tulang. Bronkoskopi diperlukan untuk menlai apakah akan timbul kegawatan misalnya sumbatan pada saluran napas akibat tumor dalam saluran napas atau penekanan dari luar. • • • . Bahkan pada beberapa kondisi misalnya volume cairan yang banyak. atau biopsi. Sama perti pencarian jenis histologis kanker. CT-scan dilakukan dengan menggunakan kontras dan sebagai persiapannya pasien harus puasa sekitar 4 jam sebelum CT dilakukan dan hanya dapat dilakukan jika fungsi ginjal baik 9craetinine darah normal). pemeriksaan untuk menetukan staging juga tidak mesti sama pada semua pasien tetapi masing masing pasien mempunyai prioriti pemeriksaan yang harus segera dilakukan tergantung kondisinya pada saat datang.

penyebaran kelenjar getah bening (N). keterlibatan organ dalam dada/dinding dada (T). atau penyebaran jauh (M) Kanker Paru Jenis Karsinoma Sel Kecil (KPKSK) Staging kanker paru dibagi berdasarkan jenis histologis kanker paru. Staging ini penting untuk menentukan pilihan terapi yang harus segera diberikan pada pasien. atau di dalam • • • . Staging berdasarkan ukuran dan lokasi tumor primer. apakah KPKSK atau KPKBSK. atau penyebaran jauh (M) Kanker Paru Jenis Karsinoma Sel Kecil (KPKSK) • • • • Staging/Tingkatan Terbatas Tumor ditemukan didalam satu paru dan penjelaran ke kelenjar getah bening dalam paru yang sama Staging/Tingkatan Luas Tumor telah menyebar keluar dari satu paru atau ke organ lain diluar paru. penyebaran kelenjar getah bening (N).Staging (Penderajatan atau Tingkatan) Kanker Paru Staging kanker paru dibagi berdasarkan jenis histologis kanker paru. Staging ini penting untuk menentukan pilihan terapi yang harus segera diberikan pada pasien. Staging berdasarkan ukuran dan lokasi tumor primer. apakah KPKSK atau KPKBSK. Kanker Paru Jenis Karsinoma Bukan Sel Kecil (KPKBSK) • Staging/Tingkat I A/B Satu tumor ukuran kurang atau lebih dari 3 cm pada satu lobus paru Staging/Tingkat II A/B Satu tumor dalam lobus paru melekat ke dinding dada atau menyebar ke kelenjar getah bening di dalam paru yang sama Staging/Tingkat III A Tumor yang menyebar ke kelenjar getah bening didalam area trakeal memasuki dinding dada dan diaphragma Staging/Tingkat III B Tumor yang menyebar ke nodes getah bening pada lawan paru. keterlibatan organ dalam dada/dinding dada (T).

dapat diberikan tunggal untuk mengatasi masalah di paru (terapi lokal) atau gabungan dengan kemoterapi. Akibatnya mungkin saja setelah bedah pasien harus mendapat radiasi atau kemoterapi segera setelah luka operasinya sembuh. gawat napas yang mengancam jiwa. atau nyeri hebat.leher. Dokter harus menjelaskan mengapa pilihan terapi itu ditawarkan kepada pasien dan keluarganya. jumlah sel darah putih atau . Pasien yang diputuskan akan mendapat radioterapi akan dirujuk dokter spesialis paru ke dokter spesialis radioterapi dan akan kembali ke dokter semula jika terapi tidak memberikan respons atau radioterpai telah selesai atau muncul efek samping akibat radioterapi itu. Di Indonesia (Jakarta) telah dapat melakukan terapi tampa pembedahan di kepala dengan menggunakan cyber knife. Radioterapi dapat diberikan jika sistem homeostatik (HB. Radioterapi Radioterapi atau iradiasi diberikan pada staging III dan IV KPKBSK. Hal itu terjadi karena keterbatasan alat bantu diagnosis atau penyakit telah berkembang selama putusan bedah dilakukan. Bedah yang dilakukan adalah dengan membuang 1 lobus paru (kadang lebih) tempat ditemukannya tumor dan juga membuang semua kelenjar getah bening mediastinal. Diagnosis sebelum bedah mungkin saja akan berubah setelah bedah. • Staging/Tingkat IV Tumor yang menyebar kebagian lain paru atau organ lain di luar paru. Pada kasus khusus misal dengan penyebaran kepala dan hanya ditemukan 1 tumor di otak dan mengganggu kualiti hidup pasien dapat dilakukan pembuangan tumor di kepala dengan bedah. Bedah Hanya dilakukan untuk KPKBSK staging I atau II atau untuk pengobatan paliatif yaitu pada kondisi mengancam nyawa misal batuk darah masif. Dokter juga harus menjelaskan kelebihan dan kekurangan adri pilihan terapi itu termasuk kebutuhan biaya. Pilihan pengobatan untuk kanker paru Ada beberapa pilihan untuk pengobatan kanker paru pada masing-masing tingkatan yang dapat ditawarkan jika diagnosis pasti yaitu jenis histologis dan staging penyakit telah dapat ditentukan Mengenai keputusan pilihan pengobatan pasien harus dibuat oleh kedua belah pihak yaitu pasien dan dokter yang merawat.

Pada kemoterapi diberikan lebih dari 1 jenis obat antikanker dan biasanya 2 macam. mencret dan bahkan alergi. tujuannya agar lebih banyak sel kanker yang dapat dibunuh dengan jalur yang berbeda.000/dl. Radioterapi juga dapat diberikan pada lokasi bukan tumor primer. misalnya COBALT atau LINAC Evaluasi efek samping dilakukan setiap setelah pemberian 5x (1. Kemoterapi Kemoterapi adalah memberikan obat anti-kanker pada pasien dengan cara diinfuskan. Efek samping dinilai sejak mulai kemoterapi I diberikan. Radioterapi biasanya diberikan 5 hari dalam seminggu dengan dosis rata rata 200 cGy perhari hingga dosis 5000 – 6000 cGy. Pemberian kemoterapi memerlukan beberapa syarat antar lain kondisi umum pasien baik yaitu masih dapat melakukan aktiviti sendiri. Pemberian kemoterapi harus dilakukan di rumah sakit karena diberikan dalam prosedur tertentu atau ptotokol yang berbeda tergantung pada jenis obat antikanker yang digunakan. Untuk kasus KPKSK radiasi kepala harus diberikan setelah kemoterapi selesai diberikan 6 siklus. . fungsi ginjal dan fungsi hemostatik (HB. Jika pada penelian respons positif (tumor mengecil atau menetap) maka radiasi dapat diteruskan.000 cGy) . Kemoterapi dapat diberikan pada semua jenis kanker paru dan tujuannya bukan hanya membunuh sel kanker pada tumor primer tetapi juga mengejar sel kanker yang menyebar di tempat lain. Efek samping lain yang dapat menganggu proses pemberian adalah gangguan fungsi hemostatik HB < 10 gr%. fungsi hati.leukosit dan trombosit darah) baik. tetapi jika respons negatif (tumor membesar atau tumbuh yang baru) radiasi harus dihentikan. misalnya radiasi kepala jika tumor telah menyebar ke kepala. misal HB < 10 gr %.000/dl atau trombosit < 100. Dokter akan melakukan koreksi dan jika telah memenuhi syarat maka radiasi dapat dilakukan kembali. Efek samping kemoterapi kadang sangat mengganggu. Efek samping itu tidak sama waktu muncul dan berat ringannya pada setiap orang dan juga tergantung pada jenis obat yang digunakan. Leukosit < 3000/dl atau trombosit < 100.000/dl. mual muntah.000 cGy) jika ada gangguan radiasi akan dihentikan sementara. Sinar yang diberikan tergantung pada alat yang ada di rumah sakit. Kemoterapi adalah pilihan terapi untuk KPKSK dan KPKBSK stage III/IV. semutan. jumlah sel darah putih atau lekosit dan jumlah trombosit darah) harus baik. Leukosit < 3. Untuk melihat respons radiasi dokter akan melakukan foto toraks setiap setelah radiasi diberikan 10X (2. misalnya rontoknya rambut s/d botak. Kemoterapi dihitung dengan siklus pemberian yang dapat dilakukan setiap 21 – 28 hari setiap siklusnya. radiasi tulang jika tumor telah menyebar ke tulang.

Dapat terjadi semua memenuhi syarat kecuali kondosi umum maka dokter tidak akan memberikan pilihan terapi apapun lagi. Evaluasi hasil kemoterapi dinilai minimal setelah 2 siklus pemberian (sebelum kemoterapi III diberikan) yang dapat merupa respons subyektif yaitu apkah BB meningkat atau keluhan berkurang dan foto toraks untuk melihat kelainan di paru. CATATAN PENTING • Pengobatan kanker paru bukan hanya tergantung pada jenis dan staging tetapi pada kondoisi umum pasien. Tetapi jika pada evaluasi terjadi perburukan misalnya tumor membesar atau tumbuh tumor yang baru.Efek samping yang berat dapat menghentikan jadwal pemberian. Evaluasi dengan menggunakan CT-scan toraks dilakukan setelah pemberian 3 siklus ( sebelum pemberian kemoterapi IV). Terapi lain Dengan berbagai alasan banyak pasien kanker paru memilih obat alternatif yang belum teruji dan bukan standar untuk pengobatan kanker paru. dokter akan mengkoreksi efek samping yang muncul dengan memberikan obat dan tranfusi darah jika perlu. radioterapi atau kemoterapi maka dapat ditawarkan pemberian obat golongan baru dengan mekanisme kerja yang telah teruji dikenal dengan istilah targeted therapy. Catatan : seringkali biaya untuk pengobatan alternatif itu lebih mahal dari pilihan pengobatan utama misalnya radiasi atau kemoterapi. Targeted therapy Pada banyak kondisi pasien tidak dapat memenuhi syarat untuk dilakukan pembedahan. . Jika diputuskan itu pilihan pasien dan keluarga anjurannya adalah pasien tetap kontroil ke dokter spesialis parunya agar dapat dipantau efek samping obat obatan yang digunakan dan dapat memutuskan kapan obat obat alternatif itu tidak bermanfaat dan sebaiknya dihentikan. Sampai saat ini anjuran penggunaan targeted therapy untuk kanker paru adalah sebaiknya setelah kemoterapi diberikan kecuali pada kasus kasus pilihan terapi utama tidak dapat dilakukan. Jika pada penelian tumor hilang (komplit respons) mengecil sebagian (respons partial) atau tumor menetap tapi respons subyektif baik maka kemoterapi dapat diterudskan samapi 4 – 6 siklus. kemoterapi harus dihentikan dan diganti dengan jenis obat anti-kanker yang lain. Obat golongan ini diberikan 1x perhari dengan cara diminum.

ui. Elisna Syahruddin. Bronkhitis kronis dan bronkietasis ditandai dengan pembentukan mucus bronchial yang berlebihan dan batuk yang disebabkan oleh inflamasi kronis bronkiolus dan hipertropi serta hyperplasia kelenjar mukosa. empisema.id This email address is being protected from spam bots. banyak sayuran dan buahan dalah baik sekali. pada empisema. you need Javascript enabled to view it [ Back ] Home | Contact Us | Disclosure | Privacy 03 Mei 2009 Askep COPD A. • Dr. PPOM paling sering diakibatkan dari iritasi oleh iritan kimia (industri dan tembakau). 1999. obat obatn itu sebaiknya dengan resep dokter spesilais yang merawat karena menerlukan perubahan sesuai kondosi pasien. KONSEP DASAR MEDIS 1. bronkietaksis dan asma. atau infeksi saluran pernapasan kambuh ( Carpernito. Asma ditandai oleh penyempitan jalan napas bronchial. polusi udara. Selama pengobatan standar pasien sangat dianjurkan memakan dengan komposisi seimbang karena tidak ada larangan khusus untuk itu kecuali karena penyakit lain.• Pengobatan lain yang diberikan adalah obat obat penghilang gejala taua simptomatis. Mengkonsumsi vitamin. hal 110 ).P Email: elisnas@fk. Definisi a. Sp.ac. kehilangan elastisitas jaringan paru dan penyempitan jalan napas kecil. obstruksi jalan napas disebabkan oleh hperinflasi alveoli. . PhD. termasuk bronchitis. COPD atau yang lebih dikenal dengan PPOM merupakan suatu kumpulan penyakit paru yang menyebabkan obstruksi jalan napas.

hal 218 ). bagian belakang adalah esofagus sebagai saluran pencernaan. Laring juga melindungi jalan pernapasan bawah dari obstruksi benda asing dan memudahkan batuk. 3) Laring. kedepan berhubungan denga rongga mulut disebut orofaring. dibelakang rongga hidung dan mulut sebelah depan ruas tulang leher. Merupakan tempat persimpangan antara jalan pernapasan dan jalan makanan. membunuh kuman-kuman yang masuk bersama-sama udara pernapasan leukosit yang terdapat di dalam mukosa hidung. Trakea disokong oleh cincin tulang rawan yang berbentuk sepatu kuda dan panjangnya kurang lebih 5 inch. hal. Anatomi Fisiologi a. 1995. mampunyai dua lubang (kavum nasi). debu dan kotoran yang masuk kedalam lubang hidung. kebawah mempunyai dua lubang bagian depan disebut laringofaring. emfisema paru. Pada lengkungan faring terdapat dua buah tonsil atau amandel yang bersimpulkan kelenjar limfe yang banyak mengandung lymfosit dan juga epiglotis yang berfungsi menutupi laring pada saat menelan makanan. ( Kapita selekta. terdapat dibawah dasar tengkorak. (“airways resistance”). 2) Faring. bronkhitis menahun. 1982. Penyakit obstruksi menahun (COPD) merupakan penyakit paru yang jelas secara anatomi memberikan tanda kesulitan pernapasan yang mirip yaitu keterbatasan jalan udara yang kronis. c. fungsi hidung adalah bekerja sebagai saluran udara pernapasan sebagai penyaring udara pernapasan yang dilakukan oleh bulu-bulu hidung dapat menghangatkan udara pernapasan oleh mukosa. COPD atau PPOM merupakan suatu kelompok paru yang mengakibatkan obstruksi yang menahun dan persisten dari jalan napas di dalam paru. Merupakan struktur epitel kartilago berbentuk rangkaian cincin yang meghubungkan faring dengan trakea. Merupakan lanjutan dari trakea ada dua buah yang terdapat pada ketinggian vertebral .b. 137 ). dan fisiologik terdapat “Overlopping“ satu sama lain sehingga penegakan diagnosis pasti dari pada salah satu penyakit sukar di tetapkan. Trakea diliputi oleh selaput lendir yang memiliki silia. Termasuk dalam kelompok ini yaitu : bronkiektasis . Fungsi laring adalah memungkinkan terjadinya vokalisasi. Bagian ini memiliki banyak saraf dan dapat menyebabkan bronkospasme dan batuk yang kuat jika di rangsang. keatas berhubungan dengan rongga hidung disebut nasofaring. terutama beartambahnya resistensi terhadap jalan udara saat ekspirasi. Secara fungsional semuanya akan mengakibatkan peningkataan tahanan saluran napas. ( Robbins. Didalamnya terdapat bulu-bulu yang berguna untuk menyaring udara. Anatomi saluran pernapasan 1) Rongga hidung Merupakan saluran udara yang pertama. 4) Trakea. Karina merupakan tempat percabangan trakea menjadi bronkus utama kiri dan kanan. radiologik. Walaupun masing-masing mempunyai karakteristik tersendiri tetapi sering secara klinis. dan dipisahkan oleh sekat hidung (septum nasi). beberapa batuk dari asma. dan lain-lain. berfungsi untuk mengeluarkan benda asing yang masuk bersama-sama dengan udara pernapasan. 5) Bronkus.

sedangkan selaput yang berhubungan langsung denga rongga dada sebelah dalam adalah selaput fleur parietal. berungsi untuk melucinkan permukaan selaput fleura agar dapat bergerak akibat inspirsi dan ekspirasi.torakalis ke IV dan V. Dalam keadaan noumal kedua paru-paru dapat menampung udara sebanyak kurang lebih5 liter. anak-anak : 24 x/menit. misalnya akibat dari suatu penyakit. ampas dari sisa pembakaran tubuh adalah karbondioksida. Bronkus-bronkus ini berjalan kebawah dan kesamping tumpukan paru-paru. kemudian dialirkan keseluruh tubuh. mempunyai tiga cabang. mempunyai struktur serupa dengan trakea dan dilapisi oleh jenis sel sama. karbon dioksida dikeluarkan melalui ekspirasi sedangkan sisa lainnya dikeluarkan melalui traktus urogenital dalam bentuk air senidan kulit dalam bentuk keringat. Alveoli terdiri dari sel-sel epitel dan endotel. 6) Paru-paru. Jika dibentang luas permukaan kurang lebih 90 m2. Etiologi . 107 ). Didalam sel paru-paru terjadi lagi proses oksidasi. Banyaknya gelembung paru-paru ini kurang lebih 700. Karbondioksida dikangkat oleh sirkulasidarah vena masuk ke atrium dekstra ke vertikel dekstra dan di pompa ke paru-paru melintasi arteri pulmonalis. Sebagai terjadinya proses atmosfir karbondioksida dikeluarkan melalui kapiler-kapiler alveoli dibawa ke atrium sinistra vena purmonalis Yang kemudian diteruskan di vertikel sinestrayang di pomp[a di aorta. Kapasitas paru-paru dapat dibedakan menjadi dua kapasitas yaitu kapasitas total yang mengandung arti jumlah udara dapat mengisi paru-paru pada inspirasi sedalam-dalamnya. ( Sumber : Syaifuddin. 1996. Pada waktu kita bernapas biasa udarayang masuk kedalam paru-paru 2. Bronkus kiri lebih panjang dan lebih kecail atau ramping. Dalam keadaan tertentu keadaan tersebut akan berubah. Bronkus kanan lebih pendek dan lebih besar dari pada bronkus kiri. O2 masuk kedalam darah dan CO2 dikeluarkan dari dalam darah. Diantara pleura ini terdapat sedikit cairan. ( Syarifuddin. b. dan bayi : 30 x/menit. Pada bronkioli terdapat gelambung paru dan gelembunag hawa atau alveoli. Dalam keadaan normal orang dewasa 16-18 x/ menit. 1996. didalam pubuh terjadi proses oksidasi atau pembakaran. Paru-paru dibungkus oleh dua selaput halus yang disebut fleura visceral. terditi dari 9-12 cincin mempunyai 2 cabang.000 buah (paru-paru kiri dan kanan). Waktu ekspirasi di dalam paru-paru dapat masih tertinnggal kurang lebih 3 liter udara. terdiri dari 6-8 cincin.000. Paru-paru merupakan salah satu alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari gelembunggelembung (alveoli). 600 CM3 atau 2 ½ M jumlah pernapasan. Sedangkan kapasitas vital adalah jumalah udara dapat dikeluarkan setelah ekspirasi maksimal. Paru-paru ini dibagi menjadi dua yaitu paru-paru kanan yang terdiri dari 3 lobus dan paru-paru kiri mempunyai 2 lobus. Letak paru-paru adalah pada rongga dada tepatnya pada cavum mediastinum. hal 106 ). bronkus yang bercabang-cabang yang lebih kecil disebut bronkeolus (bronkioli). Fisiologi Pernapasan Bernapas atau respirasi adalah peristiwa menghirup udara luar atau atmosfer kedalam tubuh atau menghembuskan udara yang banyak mengandung karbondioksida sebagani sisa dari oksidasi. paru-paru akan terlindungi dinding dada. pada lapisan inilah terjadi pertukaran udara. hal. pernapasan bisa bertambah cepat atau sebaliknya. udara dihirup masuk melintasi traktus respiratorius sampai alveoli.

sebagian bronkus tertutup oleh secret yang berlebihan.Hipertrofi dari kelenjar-kelenjar mukus. b. tetapi belum diketahui dengan jelad apakah factor-faktor tersebut berperann atau tidak. b. 1982. yaitu karena : a. serta menyebabkan kerusakan paru bertambah. a. Berkurangnya transportasi oksigen dari paru-paru ke jaringan. Rokok Menurut buku report of the WHO expert comitte on smoking control. Akibat infeksi dan iritasi yang menahun pada lumen bronkus. Intraluminer Akibat infeksi dan iritasi yan menahun pada lumen bronkus. Polusi Polusi zat-zat kimia yang dapat juga menyebabkan brokhitis adalah zat pereduksi seperti O2. ( Sumber :Ilmu penyakit dalam. Intramular Dinding bronkus menebal.Edema dan inflamasi (peradangan). Fathofisiologi Walaupun COPD terdiri dari berbagai penyakit tetapi seringkali memberikan kelainan fisiologis yang sama. Secara pisiologis rokok berhubungan langsung dengan hiperflasia kelenjar mukaos bronkusdan metaplasia skuamulus epitel saluran pernapasan. hydrocarbon. umur serta predisposisi genetic. 1996. Ventilasi yang tidak memadai di alveoli. alergi. sering terdapat pada bronkhitis dan asma. rokok adalah penyebab utama timbulnya COPD. b.Kontraksi otot-otot polos bronkus dan bronkiolus seperti pada asma. Ventilasi yang tidak memadai di alveoli karena adanya kelainan yang menambah kerja ventilasi yaitu dengan penambahan tahanan jalan udara. Ekstramular. hal. a. 218 ). yang kemudaian menyebabkan infeksi sekunder oleh bakteri. Ekserbasi bronchitis koronis disangka paling sering diawali dengan infeksi virus. hal ini menimbulkan dinding . Pada umumnya COPD menimbulkan kelainan yang sama. akibatnya : . c. Pengurangan difusi gas melalui membrane pernapasan. zat-zat pengoksidasi seperti N2O. selain itu pula berhubungan dengan factor keturunan. Juga dapat menyebabkan bronkokonstriksi akut. makrofage alveolar dan surfaktan. Mekanisme terjadinya obstruksi. Menurut Crofton & Doouglas merokok menimbulkan pula inhibisi aktivitas sel rambut getar. Infeksi Infeksi saluran pernapasan bagian atas pada seorang penderita bronchitis koronis hamper selalu menyebabkan infeksi paru bagian bawah. . infeksi dan polusi. . sebagian bronkus tertutup oleh secret ang berlebihan. hal. Pada dasarnya ada tiga kelainan fisiologis yang dapat menimbulkan insufiensi atau ketidakcukupan pernapasan. ( Sumber : Kapita Selekta. c.Ada tiga factor yang mempengaruhi timbulnya COPD yaitu rokok. aldehid dan ozon. Kelainan terjadi di luar saluran pernapsan. Destruksi dari jaringan paru mengakibatkan hilangnya kontraksi radial dinding bronkus ditambah dengan hiperinflamasi jeringan paru menyebabkan penyempitan saluran napas. c. 755 ).

Gangguan ventilasi yang berhubungan dengan obstruksi jalan napas mengakibatkan hiperventilasi (napas lambat dan dangkal) sehingga terjadai retensi CO2 (CO2 tertahan) dan menyebabkan hiperkapnia (CO2 di dalam darah/cairan tubuh lainnya meningkat).bronkus menebal. E. lebih jauh lagi hipoksia alveoli menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah paru dan polisitemia. sehingga saluran-saluran pernapasan bagian bawah paru akan tertutup. antara alveoli dan perfusi di alveoli (V/Q rasio yang tidak sama). Pada penderita COPD saluran saluran pernapasan tersebut akan lebih cepat dan lebih banyak yang tertutup. sehingga penyebaran pernapasan udara maupun aliran darah ke alveoli. tekanan yang menarik jaringan paru akan berkurang. biasanya sudah dapat dibuktikan adanya tanda-tanda obstruksi. Akibat cepatnya saluran pernapasan menutup serta dinding alveoli yang rusak. Penyempitan saluran pernapasan terutama disebabkan elastisitas paru-paru yang berkurang. akan menyebabkan ventilasi dan perfusi yang tidak seimbang. Tergantung dari kerusakannya dapat terjadi alveoli dengan ventilasi kurang/tidak ada. sehingga menyebabkan hipertrofi dari kelenjar-kelenjar mucus dan akhirnya terjadi edema dan inflamasi. akibatnya otot-otot polos pada bronkus dan bronkielus berkontraksi. tetapi perfusi baik.). Patoplodiagram Asap tembakau polusi udara Gg pembersihan paru-paru Jalan napas menyempit Bronkus tertutup oleh sekret Dinding bronkus menebal Edema dan inlamasi Terjadi infeksi Penempitan saluran napas Ventilasi terganggu Elastisitas paru menurun Hipertropi pada kelenjar mukus Sekresi lender meningkat Penurunan kerja silia Air way tak bersih Penumpukan dijalan napas Obstruksi . ( Soemardi. 1996. Pada orang noirmal sewaktu terjadi ekspirasi maksimal. Timbul hipoksia dan sesak napas. S. Bila sudah timbul gejala sesak.

hal.biasanya dimulai pada seorang penderita perokok berumur 15-25 tahun produktivitasnya menurun dan timbul perubahan pada saluran pernapasan kecil dan fungsi paru mulai pula berubah. Sering berulang-ulang mendapat infeksi saluran pernapasan bagian atas sehingga sering kali tidak dapat berkerja. Umur 55-65 tahun sudah ada kor pulmonal yang dapat menyebabkan kegagalan pernapasan dan meinggal dunia. 1996. terjadai sedikit demi sedikit. Manifestasi Klinis COPD merupakan penyakit obstruksi saluran napas. 1999. tidur Kerusakan pertukaran gas Gangguan rasa nyaman : nyeri dada ( Sumber : Ilmu Penyakit Dalam. hal.Dispnea/sesak Proses pembersihan yang dilakukan silia tak efektif Hipoventilasi Gangguan istirahat. hiposemia dan perubahannya pada pemeriksaan spirometri. bertahun tahun. 756 ). 756 ) Semua penyakit pernapasan dikaraktaristikan oleh obstruksi koronis pada aliran udara. . Umur 45-55 tahun timbul sesak napas. Umur 35-45 tahun timbul batuk produktif. ( Sumber : Ilmu Penyakit Dalam.

hal 152 ). hal. Pemeriksaan penunjang dalam COPD adalah sebagai berikut : a.. Pemeriksaan Diagnostik. sehingga diharapkan mempunyai efek bronkodilator lebih kuat. sedangkan yang normal PH 7. 1999. Adapun penatalaksanaan yang dapat dilakukan adalah : a. b. Yang sering digunakan gliserilquaiakolat. serta pO2 75-100 mmHg. 757 ). Analisis gas darah. Ekspektoran. Untuk itu dapat dilakukan : Minum air putih yang cukup agar tuidak dehidrasi. Pemeriksaan radiologis Pemeriksaan radiologist sangat membantu dalam menegakan atau menyokong diagnosis dan menyingkirkan penyakit-penyakit lain. 2) Agonis B2 Sebaiknya diberikan scara aerosol atau nebulizer. kalium yodida dan ammonium klorida Nebulizasi dan humidifikasi dengan uap air menurunkan viskositas dan mengencer . Pada pemeriksaan gas darah arteri PH <> 45 mmHg. d. Pemeriksaaan EKG (elektrokardiogram).45 dan PaCO2 35-45 mmHg. Dapat juga diberikan kombinasi obat secara aerosol maupun oral. merupakan pengobatan yang utama dan penting pada pengelalaan COPD.357. 1996. ( Sumber : Ilmu Penyakit Dalam. Pemberian kortikosteroid Pada beberapa penderita pemberian kortikosteroid akan mengurangi obstruksi saluran pernapasan. Penatalaksanaan Penatalaksanaan pada penderita COPD prinsifnya ialah untuk meringankan keluhan simtomatik. memperbaiki serta mempertahankan fungsi paru dan usaha pencegahan harus dilakukan seperti penghentian merokok. c. Mengurangi retraksi usus Usaha untuk mengeluarkan dn mengurangi mukus. b. Inlamasi jalan napas Pelengketan mukosa Penyempitan lumen jalan napas Kerusakan jalan napas Takipnea Ortopnea ( Sumber : Doenges. misalnya .Penyebab utama abstruksi bermacam-macam. Pemberian bronkodilator 1) Teoillin Golongan teofilin biasanya diberikan dengan dosis 10-15 mg/kg berat badan per oral. Pemeriksaan faal paru Pada pemeriksaan fungsi paru FVC (kapasitas vital kuat) dan fev folume ekspirasi kuat mengalami penurunan menjadi kurang ari 20 %. menghindari polusi udara. c.

B. (Nursalam. 1) Kaji terhadap rekuensi. lalu apa saja yang membuat status kesehatan klien menurun.sputum. hal. penggunaan selang enteric. Pengkajian harus dilakukan secara teliti sehingga didapatkan informasi yang tepat. alamat. agama/suku. Kegagalan respirasi yang ditandai dengan sesak napas dengan manifestasi asidosis respirasi. Identitas klien Nama. hal. bahasa yang digunakan. Hematologik : polisitemia e. Mengeluarkan mukus dari saluran pernapasan Memperbaiki efisiensi ventilasi Memperbaiki dan meningkatkan kekiatan fisis. timbang juga berat badan. dimana asukhan keperawatan ini mengguakan pendekatan proses diagnosa keperawatan. Fisioterafi dan rehabilitasi. 1. warga Negara. jenis kelamin. kesulitan/masalah dan juga . 1 ). d. kaji status riwayat kesehatan yang pernah dialami klien. Ukkus peptikum. b. tempat tanggal lahir. komplikasi yang sering terjadi dengan berlanjutnya penyakit. 1996. b. karakteristik. Pengkajian Pengkajian adalah langkah awal yang sangat menentukan keberhasilan dari proses keperawatan tersebut. a. Berguna untuk . lingkaran lengan atas serta hitung berat badan ideal klien untuk memperoleh gambaran status nutrisi. 1). implementasi dan evaluasi. ( nursalam dikutip dari dr iyer. Komplikasi. terjadinya sukar diketahui. Pola nutris metabolik. Kaji selera makan berlebihan atau berkurang. 1996. yang memerlukan ilmu teknik dan ketrampilan intrapersonal ditujukan untuk memenuki kebutuan klien. ukur tinggi badan. frekuensi. d. hubungan dengan klien. Mukolitik. Tanyakan kepada klien tentang jenis. Pada bagian ini penulis akan menguraikan tentang konsep dasar asuhan keperawatan klien dengan COPD. dan jumlah klien makan dan minnum klien dalam sehari. penanggung jawap meliputi : nama. Retensi co2 c. Pola persepsi kesehatan-pemeliharaan kesehatan. yaitu : a. c. apa upaya dan dimana kliwen mendapat pertolongan kesehatan. Hal ini biasa disebut sebagai suatu pendekatan problem solving atau pemecahan masalah. Adapun hal yang perlu dikaji dalam kasus ini antara lain . KONSEP DASAR KEPERAWATAN Proses keperawatan adalah metode dimana suatu konsep diterapkan dalam praktek keperawatan. kaji adanya mual muntah ataupun adanyaterapi intravena. Menurunnya saturasi O2 d. Pola eliminasi. Dapat digunakan asetil sistein atau bromheksin. intervensi keperawatan. umur.

kaji terhadap prekuensi. sesak dan lain-lain. kursi roda dan lain-lain. klien menganut agama apa?. apakah klien pernah mengalami putus asa/frustasi/stress dan bagaimana menurut klien mengenai dirinya. 2) Eliminasi proses. h. penyangkalan/penolakan terhadap diri sendiri. Kaji tingkat orientasi terhadap tempat waktu dan orang. ukur juga intake dan output setiap sift. nyeri dada. badan lemah. Bagaimana suasana tidur klien apaka terang atau gelap. j. Kaji apakah ada nilainilai tentang agama yang klien anut bertentangan dengan kesehatan. minum susu. k. Pola persepsi kogniti Tanyakan kepada klien apakah menggunakan alat bantu pengelihatan. Adapun diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada pasien dengan COPD adalah sebagai berikut : a. gatal. Pola aktivitas dan latihan Kaji kemampuan beraktivitas baik sebelum sakit atau keadaan sekarang dan juga penggunaan alat bantu seperti tongkat. Kaji faktor yang membuat klien marah dan tidak dapat mengontrol diri. i. Pola persepsi dan konsep diri Kaji tingkah laku mengenai dirinya. menonton televise.pemakaian alat bantu seperti folly kateter. pendengaran. f. tidur siang. Pola produksi seksual Tanyakan kepada klien tentang penggunaan kontrasepsi dan permasalahan yang timbul. Berapa jumlah anak klien dan status pernikahan klien. 2. Diagnosa Keperawatan Memberikan dasar-dasar memilih intervensi untuk mencapai hasil menjadi tanggung jawab dan tanggung gugat paerawat. Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stress. Pola peran hubungan dengan sesame Apakah peran klien dimasyarakat dan keluarga. l. kesulitan/masalah defekasi dan juga pemakaian alat bantu/intervensi dalam Bab. tempat klien bertukar pendapat dan mekanisme koping yang digunakan selama ini. memdengarkan musik. bagaimana klien mengatasi tak nyaman : nyeri. Adakah gangguan persepsi sensori seperti pengelihatan kabur. menulis. karakteristik. Tanyakan kepada klien tentang penggunaan waktu senggang. Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan gangguan peningkatan produksi secret. berkemih. . e. ugkapan. g. sekresi tertahan. pendengaran terganggu. Pola system kepercayaan Kaji apakah klien dsering beribadah. tebal dan kental. jantung seperti berdebar. Pola tidur dan istirahat Tanyakan kepada klien kebiasan tidur sehari-hari. Kaji keadaan klien saat ini terhadap penyesuaian diri. Kaji apakah ada gangguan komunikasi verbal dan gangguan dalam interaksi dengan anggota keluarga dan orang lain. Adakah keluhanpada pernapasan. Apakah klien memerlukan penghantar tidur seperti mambaca. jumlah jam tidur. bagaimana hubungan klien di masyarakat dan keluarga dn teman sekerja. Sering bangun saat tidur dikarenakan oleh nyeri. Adakah klien kesulitan mengingat sesuatu.

Rasional : Peninggian kepala tempat tidur mempermudah pernapasan dan menggunakan gravitasi. hal 51 ). Namun pasien dengan distress berat akan mencari posisi yang lebih mudah untuk bernapas. krekels basah (bronchitis). misalnya peninggian kepala tempat tidur. Setelah merumuskan diagnosa keperawatan langkah berikutnya adalah menentukan perencanaan keperawatan yang meliputi pengemabangan strategi desain untuk mencegah. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan proses peradangan pada selaput paru-paru. (obstruksi jalan napas oleh secret. rasa aman. menentukan rencana dan tindakan pelimpahan (medis dan tim kesehatan lainnya). Rasional : Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan napas dan dapat/tidak dimanifestasikan dengan adanya bunyi napas adventisius. harga diri dan aktualisasi diri. spasme bronkus). hal 156 ). atau tidak . tujuan. krokels dan ronki. criteria hasil. 1) Kaji/pantau frekuensi pernapasan. 3) Auskultasi bunyi napas. tebal dan kental. Kurang pengetahuan mengenai proses dan prognosis penyakit berhubungan dengan kurang informasi. 2) Kaji pasien untuk posisi yang nyaman. 1999. Sokongan tangan/kaki dengan meja. Kriteria hasil : Mempertahankan jalan napas paten dan bunyi napas bersih/jelas. Menurut Abraham moslow. Tujuan : Ventilasi/oksigenisasi adekuat untuk kebutuhan individu. dan mengurangi. meletakan kebutuhan fisiologis sebagai kebutuhan paling dasar. Respon : Takipnea biasanya ada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada penerimaan atau selama stress/adanya proses infeksi akut. c. Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan gangguan peningkatan produksi secret. Perencanaan Keperawatan. mencintai dan dicintai. duduk dan sandaran tempat tidur. 3. dan program perintah medis. catat adanya bunyi napas misalnya : mengi. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen berkurang.b. ( Nursalam. Pernapasan dapat melambat dan frekuensi ekspirasi memanjang disbanding inspirasi. Pada dasarnya membuatan prioritas masalah dibuat berdasarkan kebutuhan dasar manusia. bantal dan lain-lain membantu menurunkan kelemahan otot dan dapat sebagai alat ekspansi dada. d. ( Doenges. catat rasio inspirasi/ekspirasi.. Tahap dalam perencanaan meliputi penentuan prioritas masalah. Intervensi. sekresi tertahan. bunyi napas redup dengan ekspirasi mengi (emfisema). misalnya : penyebaran. 2001. Berdasarkan diagnosa keperawatan yang muncul pada klien dengan COPD adalah sebagai berikut : a.

Tujuan : Mempertahankan tingkat oksigen yang adekuat untuk keperluan tubuh. Intervensi : 1) Kaji frekuensi. ansietas. injeksi atau inhalasi. khususnya bila pasien lansia. spasme bronkus). atau kelemahan. Rasional : Merilekskan otot halus dan menurunkan kongesti local. Obat-obatan mungkin per oral. SaO2 95 % dank lien tidan mengalami sesak napas. Cairan selama makan dapat meningkatkan distensi gaster dan tekanan pada diafragma. batuk pendek. bantu tindakan untuk memperbaiki keefektifan jalan napas. ketidakmampuan bicara/berbincang. napas bibir. 8) Bronkodilator. ventolin).Tidak ada tanda-tanda sianosis. Rasional : Hidrasi membantu menurunkan kekentalan secret. isoeetrain (brokosol. terbutalin (brethine. misalnya : keluhan “lapar udara”. . gelisah. mempermudah pengeluaran. dan penggunaan obat bantu. distress pernapasan. albuterol (proventil. Batuk paling efektif pada posisi duduk paling tinggi atau kepala dibawah setelah perkusi dada. Rasional : Memberikan pasien beberapa cara untuk mengatasi dan mengontrol dispnea dan menurunkan jebakan udara. mengi dan produksi mukosa. vavonefrin). 4) Catat adanya /derajat disepnea.Tanda-tanda vital dalam batas normal . 6) Observasi karakteristik batuk. (obstruksi jalan napas oleh sekret. dapat meningkatkan distensi gaster dan tekanan pada diafragma. bronkometer). 1999. misalnya : menetap. Rasional : Sianosis mungkin perifer (terlihat pada kuku) atau sentral (terlihat sekitar bibir atau . β-agonis. ( Doenges. hal 156 ). catat pengguanaan otot aksesorius. Rasional : Batuk dapat menetap tetapi tidak efektif.adanya bunyi napas (asma berat). basah. misalnya infeksi dan reaksi alergi. kedalaman pernapasan. Rasional : Disfungsi pernapasan adalah variable yang tergantung pada tahap proses kronis selain proses akut yang menimbulkan perawatan di rumah sakit. 2) Kaji/awasi secara rutin kulit dan warna membrane mukosa. 7) Tingkatkan masukan cairan sampai 3000 ml/hari sesuai toleransi jantung. brethaire). Respon : Berguna dalam evaluasi derajat distress pernapasan dan kronisnya proses penyakit. sakit akut. Kriteria hasil : . 5) Dorong/bantu latihan napas abdomen atau bibir. misalnya. efinefrin (adrenalin. b. menurunkan spasme jalan napas.Tanpa terapi oksigen. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen berkurang. Penggunaan air hangat dapat menurunkan spasme bronkus.

5) Auskultasi bunyi napas. misalnya . Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan proses peradangan pada selaput paru-paru. selidiki perubahan karakter/intensitasnyeri/lokasi. ( Doenges. catat area penurunan aliran udara dan/atau bunyi tambahan. Rasional : Pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan posisi duduk tinggi dan laithan napas untuk menurunkan kolaps jalan napas. 3. emfisema koronis. 7) Berikan oksigen tambahan yang sesuai dengan indikasi hasil GDA dan toleransi pasien. dan pengisapan dibuthkan bila batuk tak efektif. 1999. 4) Dorong mengeluarkan sputum. c. pijatan punggung. . khususnya bila alasan lain untuk perubahan tanda-tanda vital. disiretmia dan perubahan tekanan darah dapat menunjuak efek hipoksemia sistemik pada fungsi jantung. Krekles basah menyebar menunjukan cairan pada interstisial/dekompensasi jantung. konsisten. Tujuan : Rasa nyeri berkurang sampai hilang. Respon : Nyeri dada biasanya ada dalam beberapa derajat pneumonia. bantu pasien untuk memilih posisi yang mudah untuk bernapas. Rasional : Perubahan frekuensi jantung atau TD menunjukan bahwa pasien mengalami nyeri. Tentukan karakteristik nyeri. pengisapan bila diindikasikan.Ekspresi wajah rileks. 3) Tinggikan kepala tempat tidur.Klien mengatakan rasa nyeri berkurang/hilang. 6) Awasi tanda-tanda vital dan irama jantung. Rasional : . di tusuk. Catatan . mengatur pernapasan pasien ditentikan oleh kadar CO2 dan mungkin dikkeluarkan dengan peningkatan PaO2 berlebihan. Berikan tindakan nyaman. perubahan posisi. juga dapat timbul komplikasi seperti perikarditis dan endokarditis. Keabu-abuan dan dianosis sentral mengindikasikan beratnya hipoksemia. Intervensi : 1. dispnea dan kerja napas. relaksasi/latihan napas. Kriteria hasil : . Rasional : Kental tebal dan banyak sekresi adalah sumber utama gangguan pertukaran gas pada jalan napas kecil. Rasional : Takikardi. Dorong napas dalam perlahan atau napas bibir sesuai dengan kebutuhan/toleransi individu. hal 158 ). Rasional : Dapat memperbaiki/mencegah memburuknya hipoksia. Rasional : Bunyi napas mingkin redup karena penurrunan aliran udara atau area konsolidasi. tajam. miaalnya . musik tenang/perbincangan. Adanya mengi mengindikasikan spasme bronkus/ter-tahannya sekret.danun telinga). 2. Pantau tanda-tanda vital.

dan rasa sehat. misalnya . udara terlalu kering.Melakukan perilaku/perubahan pada hidup untuk memperbaiki kesehatan umum dan menurunkan resiko pengaktifan ulang COPD. hal 171 ). efek samping dan reaksi yang tidak diinginkan/ Rasional : Pasien sering mendapatkan obat pernapasan banyak sekaligus yang mempunyai efek samping hamper sama dan potensial interaksi obat. meningkatkan kenyamanan/istirahat umum. . Respon : Menurunkan ansietas dan dapat menimbulkan perbaikan partisipasi pada rencana pengobatan. dan memberikan indivisu arti untuk mengontrol dispnea. Tujuan : Klien mengerti tentang penyakit. Anjurkan dan bantu pasien dalam teknik menekan dada selama episode batuk. . Rasional : Pernapasan mulut dan terapi oksigen dapat mengiritasi dan mengeringkan memberan mukosa. 4. lingkungan dan suhu ekstrem. serbuk. 1999. potensial ketidaknyamanan umum. Rasional : Napas bibir dan napas abdominalis/diafragmatik menguatkan otot pernapasan. Diskusikan obat pernapasan.Mengidentifikasi gejala yang menerlukan evaluasi intervensi. Penting bagi pasien memahami perbedaan antara efek samping menganggu (obat dilanjutkan) dan efek samping merugikan (obat mungkin dihentikan/diganti). Tawarkan pembersihan mulut dengan sering.Klien memahami proses penyakit dan kebutuhan pengobatan. membantu meinimalkan kolaps jalan napas kecil. Diskusikan faktor individu yang menigkatkan kondisi. perawatan dan program pengobatannya. dan latihan kondisi umum. 6. batuk efektif. 5. Kriteria hasil : . polusi . ( Doenges. Instruksikan/kuatkan rasional untuk latihan napas. Jelaskan/kuatkan penjelasan proses penyakit individu. kekuatan otot. angina. Latihan kondisi umum meningkatkan toleransi aktivitas. Rasional : Alat untuk mengontrol ketidaknyamanan dada sementara meningkatkan keefektifan upaya batuk. asap tembakau. seprai aerosol.Tindakan non-analgetik diberikan dengan sentuhan lembut dapat menghilangkan ketidaknyamanan dan memperbesar efek terapi analgesic. d. Kurang pengetahuan mengenai proses dan prognosis penyakit berhubungan dengan kurang informasi. Intervensi. Rasional : Obat ini dapat digunakan untuk menekan batuk non produktif/proksimal atau menurunkan mukosa berlebihan. Berikan analgesic dan antitusif sesuai indikasi. Dorong pasien/orang terdekat untuk menanyakan pertanyaan.

anjurkan klien untuk : a. diperlukan kelompok pendukung dan pengawas medis. Secara bertahap dalam beraktivitas dan gaya hidup sehari-hari yang harus direncanakan untuk mencegah kekambuhan. Mampu mengendalikan stress dan emosional sebagai faktor pencetus terjadinya sesak c. Mentaati aturan terapi pengobatan dan selalu control ulang. MD. Catatan : penelitian menunjukan bahwa rokok “ side-streams “ atau “second hand’ dapat terganggu seperti halnya merokok nyata.SKp Definisi • Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat cairan berlebihan di rongga pleura. d. Rasional : Penghentian merokok dapat memperlambat/menghambat kemajuan COPD. Memenuhi kebutuhan istirahat yang cukup dan mematuhi terapi. dimana kondisi ini jika dibiarkan akan membahayakan jiwa penderitanya (John Gibson. 2008 September 11 ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN EFUSI PLEURA OLEH : Ns. Namun meskipun pasien ingin menghentikan merokok. foto dada periodik. Meningkatkan nutrisi yang adekuat. hal 162 ). Perencanaan pulang. 1995. ( Doenges. SUMEDI. Kamis. b. Kaji efek bahaya merokok dan nasehatkan menghentikan merokok pada pasien dan/atau orang terdekat. Diskusikan tentang pentingnya mengikuti perawatan medik.udara. Untuk meningkatkan efisiensi pernapasan secara maksimal. Rasional : Faktor lingkungan ini dapat menimbulkan/meningkatkan iritasi bronchial menimbulkan peningkatan produksi sekret dan menjadi hambatan jalan napas. 4. Dorong pasien/orang terdekat untuk mencari cara mengontrol faktor ini dan sekitar rumah. e. 1999. Rasional : Pengawasan proses penyakit untuk membuat program tetapi untuk memenuhi perubahan kebutuhan dan dapat membantu mencegah komplikasi. dan culture sputum. Waspadji Sarwono (1999. 786) • Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat penumpukan cairan .

karena adanya tekanan hidrostatis pleura parietalis sebesar 9 cm H2O. 1994. hipoalbumin dan lain sebagainya. infark paru. adanya neoplasma (carcinoma bronchogenic dan akibat metastasis tumor yang berasal dari organ lain). Kemungkinan penyebab efusi antara lain 1.penghambatan drainase limfatik dari rongga pleura 2. Amin M Saleh. Etiologi • Penyebab efusi pleura bisa bermacam-macam seperti gagal jantung. trauma. tuberculosis paru. 68) Patofisiologi • Dalam keadaan normal hanya terdapat 10-20 ml cairan di dalam rongga pleura. • Jumlah cairan di rongga pleura tetap. 1998. 145).gagal jantung yang menyebabkan tekanan kapiler paru dan tekanan perifer menjadi sangat tinggi sehingga menimbulkan transudasi cairan yang . Mukti A. • Effusi pleura berarti terjadi pengumpulan sejumlah besar cairan bebas dalam kavum pleura. syndroma nefrotik. 111).dari dalam kavum pleura diantara pleura parietalis dan pleura viseralis dapat berupa cairan transudat atau cairan eksudat ( Pedoman Diagnosis danTerapi / UPF ilmu penyakit paru. pneumoni. (Allsagaaf H. bertambahnya tekanan hidrostatis akibat kegagalan jantung dan tekanan negatif intra pleura apabila terjadi atelektasis paru (Alsagaf H. • Akumulasi cairan pleura dapat terjadi apabila tekanan osmotik koloid menurun misalnya pada penderita hipoalbuminemia dan bertambahnya permeabilitas kapiler akibat ada proses keradangan atau neoplasma. 1995.

Pergerakan dada berkurang dan terhambat pada bagian yang terkena 6.berlebihan ke dalam rongga pleura 3. 1997.Dispneu bervariasi 2.Trakea bergeser menjauhi sisi yang mengalami efusi 4. Tanda & Gejala -Manifestasi klinik efusi pleura akan tergantung dari jumlah cairan yang ada serta tingkat kompresi paru.Ruang interkostal menonjol (efusi yang berat) 5. dyspnea • Antibiotik jika terjadi empiema • Pleurodesis .Perkusi meredup di atas efusi pleura 7. -Jika jumlah efusinya sedikit (misalnya < 250 ml). Egc. jadi juga memungkinkan transudasi cairan yang berlebihan 4.Suara nafas berkurang di atas efusi pleura 9. Dengan membesarnya efusi akan terjadi restriksi ekspansi paru dan pasien mungkin mengalami : 1.Nyeri pleuritik biasanya mendahului efusi sekunder akibat penyakit pleura 3.infeksi atau setiap penyebab peradangan apapun pada permukaan pleura dari rongga pleura.Fremitus vokal dan raba berkurang Penatalaksanaan • Drainase cairan jika efusi menimbulkan gejala subyektif seperti nyeri.Egofoni di atas paru-paru yang tertekan dekat efusi 8. 623-624). mungkin belum menimbulkan manifestasi klinik dan hanya dapat dideteksi dengan X-ray foto thorakks.sangat menurunnya tekanan osmotik kolora plasma. yang memecahkan membran kapiler dan memungkinkan pengaliran protein plasma dan cairan ke dalam rongga secara cepat (Guyton dan Hall .

nyeri pleuritik akibat iritasi pleura yang bersifat tajam dan terlokasilir terutama pada saat batuk dan bernafas serta batuk non produktif. asites dan sebagainya. nyeri pleuritik. rasa berat pada dada. Riwayat Penyakit Sekarang • Pasien dengan effusi pleura biasanya akan diawali dengan adanya tandatanda seperti batuk. • Biasanya pada pasien dengan effusi pleura didapatkan keluhan berupa : sesak nafas. TB paru dan lain sebagainya . • Perlu juga ditanyakan mulai kapan keluhan itu muncul. Keluhan Utama • Keluhan utama merupakan faktor utama yang mendorong pasien mencari pertolongan atau berobat ke rumah sakit. Riwayat Penyakit Dahulu • Perlu ditanyakan apakah pasien pernah menderita penyakit seperti TBC paru. pneumoni. umur. alamat rumah. suku bangsa. rasa berat pada dada. bahasa yang dipakai. Hal ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya faktor predisposisi. trauma.• Operatif Pengkajian keperawatan Identitas Pasien Pada tahap ini perawat perlu mengetahui tentang nama. Riwayat Penyakit Keluarga >Perlu ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakitpenyakit yang disinyalir sebagai penyebab effusi pleura seperti Ca paru. agama atau kepercayaan. gagal jantung. status pendidikan dan pekerjaan pasien. berat badan menurun dan sebagainya. Apa tindakan yang telah dilakukan untuk menurunkan atau menghilangkan keluhankeluhannya tersebut. jenis kelamin. asma. sesak nafas.

• Kemungkinan adanya riwayat kebiasaan merokok.Riwayat Psikososial >Meliputi perasaan pasien terhadap penyakitnya. tapi kadang juga memunculkan persepsi yang salah terhadap pemeliharaan kesehatan. pasien dengan effusi pleura keadaan umumnya lemah. Pengkajian Pola Fungsi Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat • Adanya tindakan medis dan perawatan di rumah sakit mempengaruhi perubahan persepsi tentang kesehatan. bagaimana cara mengatasinya serta bagaimana perilaku pasien terhadap tindakan yang dilakukan terhadap dirinya. • Perlu ditanyakan kebiasaan makan dan minum sebelum dan selama MRS pasien dengan effusi pleura akan mengalami penurunan nafsu makan akibat dari sesak nafas dan penekanan pada struktur abdomen. selain akibat pencernaan pada struktur abdomen menyebabkan penurunan peristaltik otot-otot . Pola eliminasi • Dalam pengkajian pola eliminasi perlu ditanyakan mengenai kebiasaan defekasi sebelum dan sesudah MRS. minum alkohol dan penggunaan obat-obatan bisa menjadi faktor predisposisi timbulnya penyakit. kita perlu melakukan pengukuran tinggi badan dan berat badan untuk mengetahui status nutrisi pasien. • Karena keadaan umum pasien yang lemah. • Peningkatan metabolisme akan terjadi akibat proses penyakit. Pola nutrisi dan metabolisme • Dalam pengkajian pola nutrisi dan metabolisme. pasien akan lebih banyak bed rest sehingga akan menimbulkan konstipasi.

• Disamping itu pasien juga akan mengurangi aktivitasnya akibat adanya nyeri dada. nyeri dada. tiba-tiba mengalami sakit. sesak nafas dan peningkatan suhu tubuh akan berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan tidur dan istitahat. sesak nafas. Pola persepsi dan konsep diri • Persepsi pasien terhadap dirinya akan berubah. • Pasien yang tadinya sehat. misalkan pasien seorang ibu rumah tangga. mengurus suaminya. dimana banyak orang yang mondar-mandir. • Dalam hal ini pasien mungkin akan . peran pasien di masyarakatpun juga mengalami perubahan dan semua itu mempengaruhi hubungan interpersonal pasien. • Disamping itu. Pasien mungkin akan beranggapan bahwa penyakitnya adalah penyakit berbahaya dan mematikan.tractus degestivus. pasien tidak dapat menjalankan fungsinya sebagai seorang ibu yang harus mengasuh anaknya. Pola aktivitas dan latihan • Akibat sesak nafas. Pola tidur dan istirahat • Adanya nyeri dada. Pola hubungan dan peran • Akibat dari sakitnya. • Untuk memenuhi kebutuhan ADL nya sebagian kebutuhan pasien dibantu oleh perawat dan keluarganya. kebutuhan O2 jaringan akan kurang terpenuhi • Pasien akan cepat mengalami kelelahan pada aktivitas minimal. berisik dan lain sebagainya. • Selain itu akibat perubahan kondisi lingkungan dari lingkungan rumah yang tenang ke lingkungan rumah sakit. secara langsung pasien akan mengalami perubahan peran.

bagaimana mood pasien untuk mengetahui tingkat kecemasan dan ketegangan pasien. Pendorongan mediastinum ke arah hemithorax kontra lateral yang . Pola penanggulangan stress • Bagi pasien yang belum mengetahui proses penyakitnya akan mengalami stress dan mungkin pasien akan banyak bertanya pada perawat dan dokter yang merawatnya atau orang yang mungkin dianggap lebih tahu mengenai penyakitnya.kehilangan gambaran positif terhadap dirinya Pola sensori dan kognitif • Fungsi panca indera pasien tidak mengalami perubahan. • Perlu juga dilakukan pengukuran tinggi badan berat badan pasien. Pola reproduksi seksual • Kebutuhan seksual pasien dalam hal ini hubungan seks intercourse akan terganggu untuk sementara waktu karena pasien berada di rumah sakit dan kondisi fisiknya masih lemah. demikian juga dengan proses berpikirnya. bagaimana penampilan pasien secara umum. sikap dan perilaku pasien terhadap petugas. iga mendatar. pergerakan pernafasan menurun. ekspresi wajah pasien selama dilakukan anamnesa. Pola tata nilai dan kepercayaan • Sebagai seorang beragama pasien akan lebih mendekatkan dirinya kepada Tuhan dan menganggap bahwa penyakitnya ini adalah suatu cobaan dari Tuhan. • Pemeriksaan Fisik • Status Kesehatan Umum • Tingkat kesadaran pasien perlu dikaji. Sistem Respirasi Inspeksi • Pada pasien effusi pleura bentuk hemithorax yang sakit mencembung. ruang antar iga melebar.

diketahui dari posisi trakhea dan ictus kordis. dan dibaliknya ada kompresi atelektasis dari parenkian paru. • Palpasi untuk menghitung frekuensi jantung (health rate) dan harus diperhatikan kedalaman dan teratur tidaknya denyut jantung. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pembesaran jantung. perlu juga memeriksa adanya thrill yaitu getaran ictus cordis. • Fremitus tokal menurun terutama untuk effusi pleura yang jumlah cairannya > 250 cc. mungkin saja akan ditemukan tandatanda auskultasi dari atelektasis kompresi di sekitar batas atas cairan. normal berada pada ICS – 5 pada linea medio claviculaus kiri selebar 1 cm.79) Sistem Cardiovasculer • Pada inspeksi perlu diperhatikan letak ictus cordis. Disamping itu pada palpasi juga ditemukan pergerakan dinding dada yang tertinggal pada dada yang sakit. Ida Bagus. yang disebut egofoni (Alsagaf H. • Suara perkusi redup sampai pekak tegantung jumlah cairannya. maka akan terdapat batas atas cairan berupa garis lengkung dengan ujung lateral atas ke medical penderita dalam posisi duduk. kurang jelas di punggung. 1994. Bila cairannya tidak mengisi penuh rongga pleura. . Mukty Abdol. Garis ini paling jelas di bagian depan dada. Widjaya Adjis. Pada posisi duduk cairan makin ke atas makin tipis. RR cenderung meningkat dan Px biasanya dyspneu. Garis ini disebut garis Ellis-Damoisseaux. • Ditambah lagi dengan tanda i – e artinya bila penderita diminta mengucapkan kata-kata i maka akan terdengar suara e sengau. • Auskultasi Suara nafas menurun sampai menghilang.

feces). adakah massa (tumor. • Selain itu fungsi-fungsi sensoris juga perlu dikaji seperti pendengaran. apakah hepar teraba. perabaan dan pengecapan. tumor). • Pada palpasi perlu juga diperhatikan. • Auskultasi untuk menentukan suara jantung I dan II tunggal atau gallop dan adakah bunyi jantung III yang merupakan gejala payah jantung serta adakah murmur yang menunjukkan adanya peningkatan arus turbulensi darah. vesika urinarta. adanya massa padat atau cairan akan menimbulkan suara pekak (hepar.• Perkusi untuk menentukan batas jantung dimana daerah jantung terdengar pekak. • Auskultasi untuk mendengarkan suara peristaltik usus dimana nilai normalnya 5-35 kali permenit. turgor kulit perut untuk mengetahui derajat hidrasi pasien. asites. juga apakah lien teraba. Sistem Pencernaan • Pada inspeksi perlu diperhatikan. Adakah composmentis atau somnolen atau comma. • Pemeriksaan refleks patologis dan refleks fisiologisnya. • Perkusi abdomen normal tympani. Hal ini bertujuan untuk menentukan adakah pembesaran jantung atau ventrikel kiri. apakah abdomen membuncit atau datar. Sistem Muskuloskeletal • Pada inspeksi perlu diperhatikan . adakah nyeri tekan abdomen. tepi perut menonjol atau tidak. selain itu juga perlu di inspeksi ada tidaknya benjolan-benjolan atau massa. Sistem Neurologis • Pada inspeksi tingkat kesadaran perlu dikaji Disamping juga diperlukan pemeriksaan GCS. penciuman. umbilicus menonjol atau tidak. penglihatan.

dkk. • Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan metabolisme tubuh. • Pada palpasi perlu diperiksa mengenai kehangatan kulit (dingin. . penurunan nafsu makan akibat sesak nafas sekunder terhadap penekanan struktur abdomen (Barbara Engram. • Cemas berhubungan dengan adanya ancaman kematian yang dibayangkan (ketidakmampuan untuk bernafas). Pemeriksaan Penunjang • Pemeriksaan laboratorium • Darah lengkap dan kimia darah • Bakteriologis • Analisis cairan pleura • Pemeriksaan radiologis • Biopsi Diagnosa Keperawatan • Ketidakefektifan pola pernafasan berhubungan dengan menurunnya ekspansi paru sekunder terhadap penumpukkan cairan dalam rongga pleura (Susan Martin Tucleer. warna ada tidaknya lesi pada kulit. hangat. Sistem Integumen • Inspeksi mengenai keadaan umum kulit higiene. 1998). • Dengan inspeksi dan palpasi dilakukan pemeriksaan kekuatan otot kemudian dibandingkan antara kiri dan kanan. Kemudian texture kulit (halus-lunak-kasar) serta turgor kulit untuk mengetahui derajat hidrasi seseorang. demam).adakah edema peritibial • Palpasi pada kedua ekstremetas untuk mengetahui tingkat perfusi perifer serta dengan pemerikasaan capillary refil time. 1993). pada Px dengan effusi biasanya akan tampak cyanosis akibat adanya kegagalan sistem transport O2.

aturan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan informasi di 03:45 Label: Keperawatan Askep Efusi Pleura Posted by yenichrist under Keperawatan [11] Comments Landasan teori medis diambil dari: 1.com/healthatoz/Atoz/common/standard/transform. http://dokterfoto. faculty. http://www.jsp? requestURI=/healthatoz/Atoz/ency/pleural_effusion.com/2008/06/22/efusi-pleura/ 2. http://dewabenny.wordpress.com/2008/01/09/efusi-pleura/ 3.healthatoz.ksu.jsp 4.edu. NANDA 2007-2008 (keperawatan).• Gangguan pola tidur berhubungan dengan batuk yang menetap dan sesak nafas serta perubahan suasana lingkungan • Defisit perawatan diri berhubungan dengan keletihan (keadaan fisik yang lemah) • Kurang pengetahuan mengenai kondisi.sa/…/ Students’s%20Clinical%20presentations/Zahra’a %20Hussin%20AL5. .

Terdapat empat tipe cairan yang dapat ditemukan pada efusi pleura. It is commonly known as “water on the lungs. Cairan dalam jumlah yang berlebihan dapat mengganggu pernapasan dengan membatasi peregangan paru selama inhalasi. yaitu : 1. Cairan serus (hidrothorax) Darah (hemothotaks) Chyle (chylothoraks) Nanah (pyothoraks atau empyema) Hemotoraks (darah di dalam rongga pleura) biasanya terjadi karena cedera di dada.” It is characterized by shortness of breath. Darah di dalam rongga pleura tidak membeku secara sempurna. gastric discomfort (dyspepsia). and cough. Empiema (nanah di dalam rongga pleura) bisa terjadi jika pneumonia atau abses paru menyebar ke dalam rongga pleura. 3. 4. 2. cairan tersebut mengisi ruangan yang mengelilingi paru. Penyebab lainnya adalah: • • • pecahnya sebuah pembuluh darah yang kemudian mengalirkan darahnya ke dalam rongga pleura kebocoran aneurisma aorta (daerah yang menonjol di dalam aorta) yang kemudian mengalirkan darahnya ke dalam rongga pleura gangguan pembekuan darah. Pleural effusion occurs when too much fluid collects in the pleural space (the space between the two layers of the pleura).Efusi pleura adalah akumulasi cairan yang berlebihan pada rongga pleura. chest pain. sehingga biasanya mudah dikeluarkan melalui sebuah jarum atau selang. Empiema bisa merupakan komplikasi dari: • • Infeksi pada cedera di dada Pembedahan dada .

auskultasi didapatkan suara pernapasan menurun. pada pemeriksaan perkusi didapatkan dullness/pekak. dan vocal fremitus yang menurun. dilakukan pemeriksaan berikut: Rontgen dada Rontgen dada biasanya merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk mendiagnosis efusi pleura. . sehingga bisa dilakukan pengeluaran cairan. biasanya akan menunjukkan gejala klinis seperti penurunan pergerakan dada yang terkena efusi pada saat inspirasi. Apabila cairan yang terakumulasi lebih dari 500 ml. CT scan dada CT scan dengan jelas menggambarkan paru-paru dan cairan dan bisa menunjukkan adanya pneumonia. abses paru atau tumor USG dada USG bisa membantu menentukan lokasi dari pengumpulan cairan yang jumlahnya sedikit.• • • Pecahnya kerongkongan Abses di perut Pneumonia Kilotoraks (cairan seperti susu di dalam rongga dada) disebabkan oleh suatu cedera pada saluran getah bening utama di dada (duktus torakikus) atau oleh penyumbatan saluran karena adanya tumor. Rongga pleura yang terisi cairan dengan kadar kolesterol yang tinggi terjadi karena efusi pleura menahun yang disebabkan oleh tuberkulosis atau artritis rematoid. yang hasilnya menunjukkan adanya cairan. Untuk membantu memperkuat diagnosis. Diagnosis Pada pemeriksaan fisik. dengan bantuan stetoskop akan terdengar adanya penurunan suara pernafasan.

penyebab dari efusi pleura tetap tidak dapat ditentukan. Biopsi Jika dengan torakosentesis tidak dapat ditentukan penyebabnya. Komposisi kimia seperti protein. penyebabnya harus diketahui. Pada foto thoraks posisi AP atau PA ditemukan adanya sudut costophreicus yang tidak tajam. Pada sekitar 20% penderita. amylase. Bronkoskopi Bronkoskopi kadang dilakukan untuk membantu menemukan sumber cairan yang terkumpul. kultur. sedangkan dengan posisi AP atau PA paling tidak cairan dalam rongga pleura sebanyak 300 ml. albumin. pH. Pemeriksaan hitung sel 4.Torakosentesis Penyebab dan jenis dari efusi pleura biasanya dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan terhadap contoh cairan yang diperoleh melalui torakosentesis (pengambilan cairan melalui sebuah jarum yang dimasukkan diantara sela iga ke dalam rongga dada dibawah pengaruh pembiusan lokal). Sitologi untuk mengidentifikasi adanya keganasan . dan glucose 2. Dilakukan pemeriksaan gram. sensitifitas untuk mengetahui kemungkinan terjadi infeksi bakteri 3. Setelah didapatkan cairan efusi dilakukan pemeriksaan seperti: 1. kemudian cairan pleura diambil dengan jarum. meskipun telah dilakukan pemeriksaan menyeluruh. Dengan foto thoraks posisi lateral decubitus dapat diketahui adanya cairan dalam rongga pleura sebanyak paling sedikit 50 ml. dan di konfirmasi dengan foto thoraks. maka dilakukan biopsi. dimana contoh lapisan pleura sebelah luar diambil untuk dianalisa. laktat dehidrogenase (LDH). Bila efusi pleura telah didiagnosis. tindakan ini disebut thorakosentesis. Analisa cairan pleura Efusi pleura didiagnosis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.

sedangkan penyebab efusi pleura eksudatif disebabkan oleh pneumonia bakteri. dan efusi pleura karena adanya tumor ovarium). Efusi pleura jarang pada keadaan rupture esophagus. penyakit pancreas. sirosis hepatis. Selain TBC. Efusi pleura eksudatif biasanya ditemukan pada Tuberkulosis paru. dan sirosis hepatis. infeksi virus.cegukan . keganasan (ca paru. dan lymphoma merupakan 75 % penyebab efusi pleura oleh karena kanker). Sedangkan efusi pleura eksudatif disebabkan oleh faktor local yang mempengaruhi pembentukan dan penyerapan cairan pleura.pernafasan yang cepat . infeksi virus. abses intraabdomen. keadaan lain juga menyebabkan efusi pleura seperti pada penyakit autoimun systemic lupus erythematosus (SLE). pneumonia bakteri. perdarahan (sering akibat trauma). rheumatoid arthritis.batuk . Tuberkulosis paru merupakan penyebab paling sering dari efusi pleura di Negara berkembang termasuk Indonesia. Gejala lainnya yang mungkin ditemukan: . Kadang beberapa penderita tidak menunjukkan gejala sama sekali. Gejala Gejala yang paling sering ditemukan (tanpa menghiraukan jenis cairan yang terkumpul ataupun penyebabnya) adalah sesak nafas dan nyeri dada (biasanya bersifat tajam dan semakin memburuk jika penderita batuk atau bernafas dalam). emboli paru. emboli paru. Efusi pleura transudatif disebabkan oleh faktor sistemik yang mengubah keseimbangan antara pembentukan dan penyerapan cairan pleura. Misalnya pada keadaan gagal jantung kiri. dan keganasan Etiologi Penyebab paling sering efusi pleura transudatif di USA adalah oleh karena penyakit gagal jantung kiri. sindroma Meig (asites.Langkah selanjutnya dalam evaluasi cairan pleura adalah untuk membedakan apakan cairan tersebut merupakan cairan transudat atau eksudat. ca mammae.

and electrolyte levels. give drug in the morning Monitor fluid intake and output. this can be repeated as often as is needed to control the amount of fluid in the pleural space. the effusion will usually resolve. In the most severe cases. dimana kedua permukaan pleura ditempelkan sehingga tidak ada lagi ruangan yang akan terisi oleh cairan. or no effective treatment is at hand. 7. However. If necessary. . Keperawatan 1. rather than treating the effusion itself. if the cause is not known. the fluid can be drained away by placing a large-bore needle or catheter into the pleural space. If heart failure is reversed or a lung infection is cured by antibiotics. even after extensive tests. Nyeri akut/kronis Insomnia Pertukaran gas tidak efektif Kelelahan Intoleransi aktivitas Resiko ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh Koping individu tidak efektif The core responsibilities of nurses: • • To prevent nocturia. This will prevent further effusion by eliminating the pleural space. Penatalaksanaan The best way to clear up a pleural effusion is to direct treatment at what is causing it. 2. weight. 6. 5. Efusi pleura yang berulang mungkin memerlukan tambahan medikamentosan atau dapat dilakukan tidakan operatif yaitu pleurodesis. just as in diagnostic thoracentesis. open surgery with removal of a rib may be necessary to drain all the fluid and close the pleural space. 4. apabila jumlah cairan banyak dapat dilakukan pemasangan drainase interkostalis atau pemasangan WSD. If large effusions continue to recur. Aspirasi cairan menggunakan jarum dapat dilakukan untuk mengeluarkan cairan pleura.nyeri perut. blood pressure. Penatalaksanaan tergantung pada penyakit yang mendasari terjadinya efusi pleura.. a drug or material that irritates the pleural membranes can be injected to deliberately inflame them and cause them to adhere close together–a process called sclerosis. 3.

therapeutic response may be delayed several weeks. dengan bahasa yang masih campur-aduk. ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN EFUSI PLEURA Diarsipkan di bawah: Askep — rofiqahmad @ 12:54 pm A.• • • • • • Watch for signs and symptoms of hypokalemia. Consult to doctor and dietitian about a high-potassium diet. the nurse is responsible for monitoring the system’s function and recording the amount of drainage at prescribed intervals. The nurse role in the care of the patient with a pleural effusion includes: • • • • • • Implementing the medical regimen. Tidak saya tulis. such as muscle weakness and cramps. and the nurse assists the patient to assume positions that are the least painful. Foods rich in potassium include citrus fruits. the nurse is responsible for educating the patient and family regarding management and care of the catheter and drainage system. especially in diabetic patients. Drug may be used with potassium sparing diuretic to prevent potassium loss. If chest tube drainage and a water-seal system is used. Definisi Efusi pleural adalah penumpukan cairan di dalam ruang pleural. tetapi hanya saya susun dari sumber-sumber yang saya gunakan. and apricots. Monitor elderly patients. dates. The nurse prepares and positions the patient for thoracentesis and offers support throughout the procedure. Efusi dapat berupa cairan jernih. Frequent turning and ambulation are important to facilitate drainage the nurse administers analgesics as prescribed and as needed. tomatoes. If a patient is to be managed as an outpatient with a pleural catheter for drainage. Pain management is a priority. bananas. who are especially susceptible to excessive diuresis. Cara saya belajar selagi bosan. atau dapat berupa darah atau pus (Baughman C Diane. yang mungkin merupakan transudat. 2000) . In patients with hypertension. eksudat. proses penyakit primer jarang terjadi namun biasanya terjadi sekunder akibat penyakit lain. ketika “terpaksa” memasuki area yang belum saya jamah sebelumnya. Monitor glucose level. daripada hilang begitu saja….

Pembentukan cairan yang berlebihan. Bila cairan banyak. karena radang (tuberculosis. batuk. virus). subfebril (tuberkulosisi). Hambatan resorbsi cairan dari rongga pleura. proses penyakit primer jarang terjadi tetapi biasanya merupakan penyakit sekunder terhadap penyakit lain.Efusi pleural adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang terletak diantara permukaan visceral dan parietal. ∗ Adanya gejala-gejala penyakit penyebab seperti demam. Ini disebabkan oleh sedikitnya satu dari empat mekanisme dasar : ∗ ∗ ∗ ∗ ∗ Peningkatan tekanan kapiler subpleural atau limfatik Penurunan tekanan osmotic koloid darah Peningkatan tekanan negative intrapleural Adanya inflamasi atau neoplastik pleura Adanya timbunan cairan mengakibatkan perasaan sakit karena pergesekan. C. menggigil. banyak keringat. tromboembolik. penderita akan sesak napas. ruang pleural mengandung sejumlah kecil cairan (5 sampai 15ml) berfungsi sebagai pelumas yang memungkinkan permukaan pleural bergerak tanpa adanya friksi (Smeltzer C Suzanne. bronkiektasis. banyak riak. Kelebihan cairan rongga pleura dapat terkumpul pada proses penyakit neoplastik. karena tumor dimana masuk cairan berdarah dan karena trauma. (Price C Sylvia. tumor mediatinum. 1995) B. Etiologi 1. penyakit ginjal. karena adanya bendungan seperti pada dekompensasi kordis. 2002). Tanda dan Gejala . pneumonia. panas tinggi (kokus). Efusi pleura adalah istilah yang digunakan bagi penimbunan cairan dalam rongga pleura. abses amuba subfrenik yang menembus ke rongga pleura. dan nyeri dada pleuritis (pneumonia). 2. setelah cairan cukup banyak rasa sakit hilang. dan infeksi. Di Indonesia 80% karena tuberculosis. Secara normal. sindroma meig (tumor ovarium) dan sindroma vena kava superior. kardiovaskuler.

∗ ∗

Deviasi trachea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi jika terjadi penumpukan cairan pleural yang signifikan. Pemeriksaan fisik dalam keadaan berbaring dan duduk akan berlainan, karena cairan akan berpindah tempat. Bagian yang sakit akan kurang bergerak dalam pernapasan, fremitus melemah (raba dan vocal), pada perkusi didapati daerah pekak, dalam keadaan duduk permukaan cairan membentuk garis melengkung (garis Ellis Damoiseu).

Didapati segitiga Garland, yaitu daerah yang pada perkusi redup timpani dibagian atas garis Ellis Domiseu. Segitiga Grocco-Rochfusz, yaitu daerah pekak karena cairan mendorong mediastinum kesisi lain, pada auskultasi daerah ini didapati vesikuler melemah dengan ronki.

Pada permulaan dan akhir penyakit terdengar krepitasi pleura.

D. Patofisiologi Didalam rongga pleura terdapat + 5ml cairan yang cukup untuk membasahi seluruh permukaan pleura parietalis dan pleura viseralis. Cairan ini dihasilkan oleh kapiler pleura parietalis karena adanya tekanan hodrostatik, tekanan koloid dan daya tarik elastis. Sebagian cairan ini diserap kembali oleh kapiler paru dan pleura viseralis, sebagian kecil lainnya (10-20%) mengalir kedalam pembuluh limfe sehingga pasase cairan disini mencapai 1 liter seharinya. Terkumpulnya cairan di rongga pleura disebut efusi pleura, ini terjadi bila keseimbangan antara produksi dan absorbsi terganggu misalnya pada hyperemia akibat inflamasi, perubahan tekanan osmotic (hipoalbuminemia), peningkatan tekanan vena (gagal jantung). Atas dasar kejadiannya efusi dapat dibedakan atas transudat dan eksudat pleura. Transudat misalnya terjadi pada gagal jantung karena bendungan vena disertai peningkatan tekanan hidrostatik, dan sirosis hepatic karena tekanan osmotic koloid yang menurun. Eksudat dapat disebabkan antara lain oleh keganasan dan infeksi. Cairan keluar langsung dari kapiler sehingga kaya akan protein dan berat jenisnya tinggi. Cairan ini juga mengandung banyak sel darah putih. Sebaliknya transudat kadar proteinnya rendah sekali atau nihil sehingga berat jenisnya rendah.

E. Pemeriksaan Diagnostik ∗ Pemeriksaan radiologik (Rontgen dada), pada permulaan didapati menghilangnya sudut kostofrenik. Bila cairan lebih 300ml, akan tampak cairan dengan permukaan melengkung. Mungkin terdapat pergeseran di mediatinum. ∗ ∗ Ultrasonografi Torakosentesis / pungsi pleura untuk mengetahui kejernihan, warna, biakan tampilan, sitologi, berat jenis. Pungsi pleura diantara linea aksilaris anterior dan posterior, pada sela iga ke-8. Didapati cairan yang mungkin serosa (serotorak), berdarah (hemotoraks), pus (piotoraks) atau kilus (kilotoraks). Bila cairan serosa mungkin berupa transudat (hasil bendungan) atau eksudat (hasil radang). ∗ Cairan pleural dianalisis dengan kultur bakteri, pewarnaan gram, basil tahan asam (untuk TBC), hitung sel darah merah dan putih, pemeriksaan kimiawi (glukosa, amylase, laktat dehidrogenase (LDH), protein), analisis sitologi untuk sel-sel malignan, dan pH. ∗ Biopsi pleura mungkin juga dilakukan

F. Penatalaksanaan medis  Tujuan pengobatan adalah untuk menemukan penyebab dasar, untuk mencegah penumpukan kembali cairan, dan untuk menghilangkan ketidaknyamanan serta dispneu. Pengobatan spesifik ditujukan pada penyebab dasar (co; gagal jantung kongestif, pneumonia, sirosis).  Torasentesis dilakukan untuk membuang cairan, untuk mendapatkan specimen guna keperluan analisis dan untuk menghilangkan disneu.  Bila penyebab dasar malignansi, efusi dapat terjadi kembali dalam beberapa hari tatau minggu, torasentesis berulang mengakibatkan nyeri, penipisan protein dan elektrolit, dan kadang pneumothoraks. Dalam keadaan ini kadang diatasi dengan pemasangan selang dada dengan drainase yang dihubungkan ke system drainase water-seal atau pengisapan untuk mengevaluasiruang pleura dan pengembangan paru.

 Agen yang secara kimiawi mengiritasi, seperti tetrasiklin dimasukkan kedalam ruang pleura untuk mengobliterasi ruang pleural dan mencegah akumulasi cairan lebih lanjut.  Pengobatan lainnya untuk efusi pleura malignan termasuk radiasi dinding dada, bedah plerektomi, dan terapi diuretic. G. Water Seal Drainase (WSD) 1. Pengertian WSD adalah suatu unit yang bekerja sebagai drain untuk mengeluarkan udara dan cairan melalui selang dada. 2. Indikasi a. b. c. e. Pneumothoraks karena rupture bleb, luka tusuk tembus Hemothoraks karena robekan pleura, kelebihan anti koagulan, pasca bedah toraks Torakotomi Empiema karena penyakit paru serius dan kondisi inflamasi d. Efusi pleura

3. Tujuan Pemasangan ∗ ∗ ∗ ∗ Untuk mengeluarkan udara, cairan atau darah dari rongga pleura Untuk mengembalikan tekanan negative pada rongga pleura Untuk mengembangkan kembali paru yang kolap dan kolap sebagian Untuk mencegah reflux drainase kembali ke dalam rongga dada.

4. Tempat pemasangan a. Apikal  Letak selang pada interkosta III mid klavikula  Dimasukkan secara antero lateral  Fungsi untuk mengeluarkan udara dari rongga pleura

Jenis WSD • Sistem satu botol Sistem drainase ini paling sederhana dan sering digunakan pada pasien dengan simple pneumotoraks • Sistem dua botol Pada system ini. Pengkajian 1. Sirkulasi Tanda : Takikardi. System tiga botol ini paling aman untuk mengatur jumlah penghisapan. Batuk. botol pertama mengumpulkan cairan/drainase dan botol kedua adalah botol water seal. H. . Pernapasan Gejala : Kesulitan bernapas. perilaku distraksi 6. Aktifitas/istirahat Gejala : dispneu dengan aktifitas ataupun istirahat 2. disritmia. abdomen Tanda : Berhati-hati pada area yang sakit. hipertensi/hipotensi. riwayat bedah dada/trauma. Integritas ego Tanda : ketakutan. irama jantung gallop. Basal  Letak selang pada interkostal V-VI atau interkostal VIII-IX mid aksiller  Fungsi : untuk mengeluarkan cairan dari rongga pleura 5. DVJ 3. • System tiga botol Sistem tiga botol. nyeri/kenyamanan Gejala tergantung ukuran/area terlibat : Nyeri yang diperberat oleh napas dalam. kemungkinan menyebar ke leher.b. bahu. botol penghisap control ditambahkan ke system dua botol. gelisah 4. Makanan / cairan Adanya pemasangan IV vena sentral/ infus 5.

retraksi interkostal. e. batas cairan Klem selang pada bagian bawah unit drainase bila terjadi kebocoran Catat karakter/jumlah drainase selang dada. Pola napas tidak efektif b.berkeringat. proses inflamasi. perubahan tanda vital) Auskultasi bunyi napas Catat pengembangan dada dan posisi trakea. b. Bunyi napas menurun dan fremitus menurun (pada sisi terlibat). krepitasi subkutan I. sianosis. Tujuan : pola nafas efektif Kriteria hasil : ∗ ∗ ∗ ∗ ∗ ∗ Menunjukkan pola napas normal/efektif dng GDA normal Bebas sianosis dan tanda gejala hipoksia Identifikasi etiologi atau factor pencetus Evaluasi fungsi pernapasan (napas cepat.d penurunan ekspansi paru (akumulasi udara/cairan). ∗ periksa pengontrol penghisap. Pertahankan posisi nyaman biasanya peninggian kepala tempat tidur Bila selang dada dipasang : a. c. gangguan pengembangan dada. gangguan musculoskeletal. kaji fremitus. penggunaan otot aksesori pernapasan pada dada. Observasi gelembung udara botol penampung d. Kemungkinan dibuktikan oleh : dispneu. Awasi pasang surutnya air penampung Berikan oksigen melalui kanul/masker Intervensi : . sianosis. Kulit : pucat. Perkusi dada : hiperresonan diarea terisi udara dan bunyi pekak diarea terisi cairan Observasi dan palpasi dada : gerakan dada tidak sama (paradoksik) bila trauma atau kemps. penurunan pengembangan (area sakit).Tanda : Takipnea. Diagnosa Keperawatan 1. takipneu. GDA taknormal. penggunaan otot aksesori. sianosis. perubahan kedalaman pernapasan. nyeri/ansietas.

catat kondisi kulit.d proses cidera. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan aturan pengobatan Tujuan : Mengetahui tentang kondisinya dan aturan pengobatan Kriteria hasil : Menyatakan pemahaman tentang masalahnya .d factor-faktor biologis (trauma jaringan) dan factor-faktor fisik (pemasangan selang dada) Tujuan : Nyeri hilang atau berkurang Kriteria hasil : ∗ ∗ ∗ ∗ ∗ Pasien mengatakan nyeri berkurang atau dapat dikontrol Pasien tampak tenang Kaji terhadap adanya nyeri.2. system drainase dada. catat gambaran keamanan Amankan unit drainase pada tempat tidur dengan area lalu lintas rendah Awasi sisi lubang pemasangan selang. Intervensi : 4. Resiko tinggi trauma/henti napas b. Nyeri dada b. ganti ulang kasa penutup steril sesuai kebutuhan Anjurkan pasien menghindari berbaring/menarik selang Observasi tanda distress pernapasan bila kateter torak lepas/tercabut. kurang pendidikan keamanan/pencegahan Tujuan : tidak terjadi trauma atau henti napas Kriteria hasil : ∗ ∗ ∗ ∗ ∗ Mengenal kebutuhan/mencari bantuan untuk mencegah komplikasi Memperbaiki/menghindari lingkungan dan bahaya fisik Kaji dengan pasien tujuan/fungsi unit drainase. skala dan intensitas nyeri Ajarkan pada klien tentang manajemen nyeri dengan distraksi dan relaksasi Amankan selang dada untuk membatasi gerakan dan menghindari iritasi Kaji keefektifan tindakan penurunan rasa nyeri Berikan analgetik sesuai indikasi Intervensi : 3.

Vol. Buku Ajar Keperawatan medical Bedah. Jakarta. Wim de Jong. 1999 3. 5. Hudak. Purnawan J. 6. Jakarta EGC. Vol. EGC. 2002. 1997 4. Jakarta. Buku Ajar Ilmu Bedah. Media Aesculapius.1. 2.EGC. 1997. Smeltzer c Suzanne.1. Ed2. Ed4. 2008 by indonesian nurse in Bahasa Indonesia . latihan Berikan informasi tentang apa yang ditanyakan klien Berikan reinforcement atas usaha yang telah dilakukan klien . Baughman C Diane. istirahat. dkk. Keperawatan kritis : pendekatan holistic.1982. Doenges E Mailyn. nutrisi. dan evaluasi. EGC. 7. Kapita Selekta Kedokteran.- Mengikuti program pengobatan dan menunjukkan perubahan pola hidup untuk mencegah terulangnya masalah Intervensi : ∗ ∗ ∗ ∗ ∗ Kaji pemahaman klien tentang masalahnya Identifikasi kemungkinan kambuh/komplikasi jangka panjang Kaji ulang praktik kesehatan yang baik. FKUI.Carolyn M. Jakarta. Patofisiologi : Konsep klinis proses-pross penyakit. Jakarta. 1998. Syamsuhidayat. Susan Martin Tucker. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. EGC. diagnosis. 1995. EGC. EGC. Ed5. Jakarta. Edisi Revisi. DAFTAR PUSTAKA 1. 2000. Ed3. Standar perawatan Pasien: proses keperawatan. Ed8. Price. Keperawatan medical bedah. WATER SEAL DRAINAGE (WSD) Posted in July 30th. Brunner and Suddarth’s. 8. Jakrta. Sylvia A.

sehingga dapat ditentukan perlu operasi torakotomi atau tidak. ? Dengan WSD/Bullow drainage diharapkan paru mengembang. dan perlu diperhatikan agar kain kassa yang menutup bagian masuknya slang dan tube tidak boleh dikotori waktu menyeka tubuh pasien.1. ? Latihan batuk yang efisien : batuk dengan posisi duduk. Bullow Drainage / WSD Pada trauma toraks. Mengurangi rasa sakit dibagian masuknya slang. . Untuk rasa sakit yang hebat akan diberi analgetik oleh dokter. Slang diatur se-nyaman mungkin. dan pengganti verband 2 hari sekali. 2. Preventive : Mengeluarkan udaran atau darah yang masuk ke rongga pleura sehingga “mechanis of breathing” tetap baik. b. WSD dapat berarti : a. Usahakan agar pasien dapat merasa enak dengan memasang bantal kecil dibelakang. perhatikan juga secara bersamaan keadaan pernapasan. Mencegah infeksi di bagian masuknya slang. c. merubah posisi tubuh sambil mengangkat badan. atau memberi tahanan pada slang. Mendeteksi di bagian dimana masuknya slang. Perdarahan dalam 24 jam setelah operasi umumnya 500 – 800 cc. sehingga rasa sakit di bagian masuknya slang dapat dikurangi. – Pergantian posisi badan. sehingga slang yang dimasukkan tidak terganggu dengan bergeraknya pasien. Jika banyaknya hisapan bertambah/berkurang. Jika perdarahan dalam 1 jam melebihi 3 cc/kg/jam. Mendorong berkembangnya paru-paru. jangan batuk waktu slang diklem. Terapi : Mengeluarkan darah atau udara yang terkumpul di rongga pleura. melakukan pernapasan perut.Penetapan slang. ? Kontrol dengan pemeriksaan fisik dan radiologi. d. Perhatikan keadaan dan banyaknya cairan suction. Mengembalikan tekanan rongga pleura sehingga “mechanis of breathing” dapat kembali seperti yang seharusnya. Diagnostik : Menentukan perdarahan dari pembuluh darah besar atau kecil. Dalam perawatan yang harus diperhatikan : . b. atau menaruh bantal di bawah lengan atas yang cedera. Perawatan WSD dan pedoman latihanya : a. harus dilakukan torakotomi. sebelum penderita jatuh dalam shoks. c. ? Latihan napas dalam.

atau lubang slang tertutup oleh karena perlekatanan di dinding paru-paru. misal : slang terlepas. apakah tekanan negative tetap sesuai petunjuk jika suction kurang baik. dengan memakai sarung tangan. tekanan darah. Login • • This blog post All blog posts Subscribe to this blog post's comments through. slang bengkok atau alat rusak. 4) Setiap penggantian botol/slang harus memperhatikan sterilitas botol dan slang harus tetap steril. diukur berapa cairan yang keluar kalau ada dicatat. Perawatan “slang” dan botol WSD/ Bullow drainage. 3) Penggantian botol harus “tertutup” untuk mencegah udara masuk yaitu meng”klem” slang pada dua tempat dengan kocher. 1) Cairan dalam botol WSD diganti setiap hari . keadaan cairan. ke 1/2 terlentang atau 1/2 duduk ke posisi miring bagian operasi di bawah atau di cari penyababnya misal : slang tersumbat oleh gangguan darah. warna muka. botol terjatuh karena kesalahan dll. • • • • • • . 5) Penggantian harus juga memperhatikan keselamatan kerja diri-sendiri.. d. denyut nadi. Suction harus berjalan efektif : Perhatikan setiap 15 – 20 menit selama 1 – 2 jam setelah operasi dan setiap 1 – 2 jam selama 24 jam setelah operasi.e. keadaan pernapasan. 6) Cegah bahaya yang menggangu tekanan negatip dalam rongga dada. ? Perhatikan banyaknya cairan. ? Perlu sering dicek. coba merubah posisi pasien dari terlentang. keluhan pasien.. 2) Setiap hendak mengganti botol dicatat pertambahan cairan dan adanya gelembung udara yang keluar dari bullow drainage.

.• • RSS Feed Subscribe via email Subscribe Follow the discussion þÿ Comments Logging you in.. Close Login to IntenseDebate Or create an account Username or Email: Password: Forgot login? OpenID Cancel Login Close Login with your OpenID Or create an account using OpenID OpenID URL: Back Cancel Login Dashboard | Edit profile | Logout • þÿ þÿ Logged in as There are no comments posted yet. Be the first one! .

kuman dari focus lain sampai pada pleura visceral. arokreksia . 2000 ). Dicapai dengan drainase yang adekuat. Evaluasi Diagnosis Foto dada dan thoraksintesis. Penatalaksanaan (Medik). III. berkeringat malam. Streptococcus.1997). Komplikasi. Secara hematogen. 3. • • • DASAR EMPIEMA Empiema adalah keadaan terkumpulnya nanah ( pus ) didalam ronggga pleura dapat setempat atau mengisi seluruh rongga pleura( Ngastiyah. pendataran pada perkusi dada. 2. anti biaotika (dosis besar ) dan atau streptokinase. Infeksi darti luar dinding thoraks yang menjalar kedalam pleura misalnya pada trauma thoraks. 1. Baughman. Drainase cairan pleura atau pus tergantung pada tahapan penyakit dengan : . Manisfestasi Klinik. Penyebab. Sasaran penetalaksanaan adalah mengaliran cavitas pleura hingga mencapai ekspansi paru yang optimal. Karena kuman menjalar perkontiniutatum dan menembus pleura visceral . abses dinding thoraks. Pengertian. Demam. VII. Empiema adalah penumpukan cairan terinfeksi atau pus pada cavitas pleura ( Diane C. Perubahan Fibrotik yang tidak dapat sembuh yang menggangu ventilasi paru yang disebabkan terjebaknya paru pada sisi yang terkena. VI. Pnemococcus 3.dan penurunan berat badan. 1. Tidak terdapatnya bunyi nafas. V. Sebagai komplikasi pneumoni dan abses paru. IV. nyeri pleural. Terjadinya empiema dapat melalui tiga jalur: Patogenesis.Post a new comment Askep Empiema KONSEP I. dispneu. Stapilococcus 2. 1997 ) II. Empiema adalah penumpukan materi purulen pada areal pleural ( Hudak & Gallo. penurunan premitus.

Mencegah komplikasi. Gejala . Ketidakmampuan melakukan ADL karena sulit bernapas. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan bronchus spsame. mual muntah nafsu makan menurun . F. Integritas ego. . Makanan/cairan . VIII. Pertahankan jalan nafasa paten dengan bunyi nafas bersih 2. Aspirasi jarum ( Thorasintesis ). Berikan perawatan spesifik terhadap metoda drainase pleural. b. indikasi bila nanah sangat kental. . Dekortikasi. penyakit lama. d. D.a. penurunan kemampuan melakukan ADL. riwayat pneumoni berulang . peningkatan produksi secret. G. Mempertahankan patensi jalan nafas 2. Drainase dada terbuka untuk mengeluarkan pus pleural yang mengental dan debris serta mesekresi jaringan pulmonal yang mendasari penyakit. 1. Dispneu pada saat istirahat. bila dilakukan fungsi plera atau dipasang WSD cara menolong tidak berbeda. pnemothoraks c. penurunan libido. Auskultasi bunyi nafas catat adanya bunyi nafas. Perawatan pada umumnya sama dengan pasien pleuritis. nafas pendek batuk menetap dengan produksi sputum. malaise. B. Pernafasan . Interaksi social . 1. kaji dan pantau suara pernafasan . Bila penyebab adalah kuman TBC maka. kelemahan • Kriteria hasal : 1. Ketidakmampuan untuk tidur. Dasar data pengkajian. instruksi dalam latihan pernafasan (pernafasan bibir dan pernafasan diagpragmatik ) c. pembengkakan pada ekstremitas bawah. Drainase tertutup dengan WSD. memperlambat memburuknya kondisi 5. Bantu pasien mengatasi kondisi. Intervensi Keperawatan. C. setelah empiema sembuh pasien perlu pengobatan TB. Higiene . A. Meningkatkan masukan nutrisi 4. Sirkulasi . H. peningkatan factor resiko. riwayat reaksi alergi atau sensitive terhadap zat / factor lingkungan. jika imflamasi telah bertahan lama. Menunjukkan perilaku batuk efektif dan mengeluarkan secret • Intervensi a. Prioritas Keperawatan. hubungan ketergantungan. INTERVENSI DAN RASIONAL. Seksualitas. 3. ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN EMPIEMA . kurang sistem pendukung. I. perubahan pola hidup. Memberikan informasi tentang proses penyakit / prognosis dan program pengobatan. Membantu tindakan untuk mempermudah pertukaran gas. kelemahan. E. Aktivitas / istirahat. a. Keamanan. episode batuk hilang timbul. keletihan.jika cairan tidak terlalu kental b. DIAGNOSA KEPERAWATAN.

f. Catat adanya atau derajat dispneu. 2. Diagnosa keperawatan : Pertukaran gas. Krekels basah menyebar menujukkan cairan pada dekompensasi jantung. d. Auskultasi bunyi nafas catat area penurunan aliran udara .kedalaman pernapasan Rasional : Berguna dalam evaluasi derajat distress pernapasan dan atau kronisnya penyakit b. c. mempermudah pengeluaran g. gelisah . Bantu latihan nafas abdomen atau bibir. Rasional : Hidrasi membantu menurunkan kekentalan secret . Tinggikan kepala tempat tidur Rasional . kerusakan berhubungan dengan gangguan suplai oksigen .bunyi tambahan Rasional : Bunyi nafas redup karena penurunan aliran udara . misalnya peninggian kepala tempat tidur. Kaji frekwensi. Pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan posisi tinggi dan latihan napas untuk menurunkan kolap jalan napas. Kaji pasien untuk posisi yang nyaman . dan produksi mukosa. tachipneu merupakan derajat yan ditemukan adanya proses infeksi akut. d. Rasional : Peninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi pernafasan dengan menggunakan gravitasi. mengi. Tingkatkan masukan cairan sampai 3000 ml per hari sesuai toleransi jantung. Kriteria hasil Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenisasi jaringan adekuat. Rasional : .mengi . Memberikan obata sesaui indikasi Rasional : Merilekskan otot halus dan menurunkan kongesti lokal. Palpasi primitus.Rasional : Untuk mengetahui adanya obstruksi jalan nafas. indikasi spasme bronchus / tertahannya sekret.ansietas dan distress pernafasan Rasional : Disfungsi pernafasan merupakan tahap proses kronis yang yang dapat menimbulkan infeksi atau reaksi alergi. Rasional : Memberikan pasien berbagao cara untuk mengatasi dan mengontrol dispneu dan menurunkan jebakan udara.berpartisipasi dalam program pengobatan. menurunkan spasme jalan nafas. e. kerusakan alveoli . b. sakit akut. Observasi karakteristik batuk Rasional : Batuk dapat menetap tetapi tidak efektif khususnya bila pasien lansia. c. atau kelemahan. • Intervensi a.

3. Kriteria hasil : Menunjukkan peningkatan berat badan mempertahankan berat badan Intervensi : a. mual muntah. pilihan makanan buruk. menyusun tujuan berat badan dan evaluasi keadekuatan rencana nutrisi.dan minuman karbonat Rasional : Dapat menghasilakan distensi abdomen yang menganggu nafas abdomen dan gerakan diagframa yang dapat meningkatan dispnea. Kolaborasi dengan ahli gizi / nutrisi. kelemahan.catat derajat kesulitan makan Rasional : Pasien distress pernafasan akut sering anoreksia karena dispneu. produksi sputum. c. Hindari makan yang sangat panas dan dingin Rasional : Suhu ekstrim dapat mencetuskan / meningkatkan spasme batuk e. Rasional : Penurunan atau hipoaktif bising usus menunjukkan motilitas gaster dan kostipasi yang berhubungan dengan pembatasan pemasukan cairan. perubahan. . Diagnosa keperawatan : Resiko infeksi Kriteria hasil : • Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah / menurunkan resiko infeksi • Menunjukkan teknik.disritmia. Auskultasi bunyi usus . d. c. f. Timbang berat badan sesuai indikasi Rasional : Berguna untuk menetukan kebutuhan kalori. perubahan tekanan darah dapat menujukkan efek hipoksemia sistemik pada fungsi jantung. Intervensi : a. Hindari makan yang mengandung gas.bau sputum. Diagnosa keperawatan : Nutrisi. Tachikardia . Awasi tanda vital dan irama jantung. kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan dispneu. Awasi suhu Rasional : Demam dapat terjadi karena infeksi dan atau dehidrasi. Dorong kesimbangan antara aktivitas dan istirahat. b. Observasi warna . perubahan pola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang aman. Kaji kebiasaan diit . Rasional : Metode makan dan kebutuhan dengan upaya kalori didasarkan pada kebutuhan individu untuk memberikan nutrisi maksimal dengan upaya minimal pasien /penggunaan energi 4. kuning atau kehijauan menujukkan adanya infeksi paru. Rasional. b. anoreksia.Penurunan getarn fibrasi diduga adanya pengumpulan cairan atau udara terjebak e. penurunan aktivitas dan hipoksemia. Rasional : Sekret berbau.

Keperawatan kritis : suatu pendekatan holistic. Jelaskan proses penyakit individu. DAFTAR PUSTAKA Hudak & Gallo. pendekatan untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Jakarta. EGC. Intervensi : a. Berikan latihan atau batuk efektif Rasional : Pernafasan bibir dan nafas abdomen / diagframatik menguatkan otot pernafasan.Rasional : Menurunkan konsumsi / kebutuhan kesimbangan oksigen dan memperbaiki pertahan pasien terhadapa infeksi. EGC. Patofisiologi. Rasional : Dilakukan untuk mengidentifikasi organisme penyebab dan kerentanan terhadap anti microbial 5. EGC. Rasional : Menurunkan ansietas dan dapat menimbulkan perbaikan b. ( 1997 ). By: HAy_Blue ^_^ Diposkan oleh Hayato Frizi di 17:37 . Kriteria hasil : Nyatakan atau pemahaman kondisi atau proses penyakit. EGC. Kaji efek bahaya merokok dan nasehatkan untuk menghentikan rokok. Perawatan anak sakit . (2000 ). peningkatan penyembuhan . Diskusi masukan nutrisi adekuat.. e. Doengoes. Jakarta. Kolaborasi pemeriksaan sputum. Jakarta Diana C. Jakarta. membantu meminimalkan kolaps jalan nafas. Diagnosa keperawatan : Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakitnya. Rencana asuhan keperawatan. c. Baughman. d. ( 1997 ). Ngastiyah. Kaji kebutuhan / dosis oksigen untuk pasien Rasional : Menurunkan resiko kesalahan penggunaan oksigen dan komplikasi lanjut. Rasional : Penghentian merokok dapat menghambat kemajuan PPOM d. Rasional : Malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan tahanan terhadap infeksi. Marilyn E. Diskusi pentingnya mengikuti perawatan medik ( Foto Thoraks dan kultur sputum ) Rasional : Pengawasan proses penyakit untuk membuata program therapy . e. ( 2000 ).

renjatan dan perdarahan masif. status asmatikus. Fisioterapi dada adalah salah satu dari pada fisioterapi yang sangat berguna bagi penderita penyakit respirasi baik yang bersifat akut maupun kronis. fisioterapi dada KEBUTUHAN DASAR MANUSIA FISIOTERAPI DADA By. perkusi. Fisioterapi dada ini walaupun caranya kelihatan tidak istimewa tetapi ini sangat efektif dalam upaya mengeluarkan sekret dan memperbaiki ventilasi pada pasien dengan fungsi paru yang terganggu. massage dan latihan yang mana penggunaannya disesuaikan dengan batas toleransi penderita sehingga didapatkan efek pengobatan. DEFINISI Fisioterapi adalah suatu cara atau bentuk pengobatan untuk mengembalikan fungsi suatu organ tubuh dengan memakai tenaga alam. Fisioterapi dada ini dapat digunakan untuk pengobatan dan pencegahan pada penyakit paru obstruktif menahun. dan vibrasi Kontra indikasi fisioterapi dada ada yang bersifat mutlak seperti kegagalan jantung. S. Ns. Dalam fisioterapi tenaga alam yang dipakai antara lain listrik. penyakit pernafasan restriktif termasuk kelainan neuromuskuler dan penyakit paru restriktif karena kelainan parenkim paru seperti fibrosis dan pasien yang mendapat ventilasi mekanik. air. Fisioterapi dada ini meliputi rangkaian : postural drainage. dingin.Kp A.Label: Kesehatan 0 komentar: Poskan Komentar Link ke posting ini Buat sebuah Link ASKEP FISIOTERAPI DADA 14 Februari 2009 pada 9:54 am (fisioterapi dada) Tags: askep. panas. Jadi tujuan pokok fisioterapi pada penyakit paru adalah mengembalikan dan memelihara fungsi otot-otot pernafasan dan membantu membersihkan sekret dari bronkus dan untuk mencegah penumpukan sekret. sinar. memperbaiki pergerakan dan aliran sekret. AFIYAH HIDAYATI. sedangkan kontra .

Hemoptisis 3. Edema paru 5. PD dapat dilakukan untuk mencegah terkumpulnya sekret dalam saluran nafas tetapi juga mempercepat pengeluaran sekret sehingga tidak terjadi atelektasis. 2. Cara melakukan pengobatan : 1. Postural drainase Postural drainase (PD) merupakan salah satu intervensi untuk melepaskan sekresi dari berbagai segmen paru dengan menggunakan pengaruh gaya gravitasi. Pasien dengan abses paru 2.2. Waktu yang terbaik untuk melakukan PD yaitu sekitar 1 jam sebelum sarapan pagi dan sekitar 1 jam sebelumtidur pada malam hari. Gangguan sistem kardiovaskuler seperti hipotensi. Longgarkan seluruh pakaian terutama daerah leher dan pinggang.1. Mobilisasi sekret yang tertahan : 2. Pasien neurologi dengan kelemahan umum dan gangguan menelan atau batuk Kontra indikasi untuk postural drainase : 1. 2.3. patah tulang iga atau luka baru bekas operasi. Pasien dengan batuk yang tidak efektif . Terapis harus di depan pasien untuk melihat perubahan yang terjadi selama Postural Drainase. bila dilakukan pada beberapa . Pasien pre dan post operatif 2.4. Pasien dengan pneumonia 2.4. Tension pneumotoraks 2. 4. 3. Pasien dengan atelektasis yang disebabkan oleh sekret 2. Postoral Drainase dilakukan dua kali sehari. tumor paru dengan kemungkinan adanya keganasan serta adanya kejang rangsang. 2. Pasien yang melakukan tirah baring yang lama 1. Terangkan cara pengobatan kepada pasien secara ringkas tetapi lengkap. Pasien yang produksi sputum meningkat seperti pada fibrosis kistik atau bronkiektasis 1. Profilaksis untuk mencegah penumpukan sekret yaitu pada : 1. Apakah pasien mempunyai refleks batuk atau memerlukan suction untuk mengeluarkan sekret. B.5. Indikasi untuk Postural Drainase : 1. 1. 4. Pasien yang memakai ventilasi 1. Mengingat kelainan pada paru bisa terjadi pada berbagai lokasi maka PD dilakukan pada berbagai posisi disesuaikan dengan kelainan parunya.indikasi relatif seperti infeksi paru berat.2. hipertensi. Pada penderita dengan produksi sputum yang banyak PD lebih efektif bila disertai dengan clapping dan vibrating.1. Efusi pleura yang luas Persiapan pasien untuk postural drainase.3.. Periksa nadi dan tekanan darah. infark miokard akutrd infark dan aritmia.

apakah sekret sangat encer atau kental.posisi tidak lebih dari 40 menit. 6. Dilakukan sebelum makan pagi dan malam atau 1 s/d 2 jam sesudah makan. Sambil PD bisa dilakukan clapping dan vibrating 9) Berikan tisu untuk membersihkan sputum 10) Minta pasien untuk duduk. maka prosedur dapat diulangi kembali dengan memperhatikan kondisi pasien C. Foto toraks relative jelas. 3. Bagaimana perasaan pasien tentang pengobatan apakah ia merasa lelah. data klinis. volume. 4. Perkusi dapat dilakukan dengan membentuk . merasa enakan. Tujuan melepaskan sekret yang tertahan atau melekat pada bronkhus. Kriteria untuk tidak melanjutkan pengobatan : 1. Alat dan bahan : 1) Bantal 2-3 2) Tisu wajah 3) Segelas air hangat 4) Masker 5) Sputum pot Prosedur kerja : 1) Jelaskan prosedur 2) Kaji area paru. Minta pasien mempertahankan posisi tersebut selama 10-15 menit. tiap satu posisi 3 – 10 menit. 3. hari. Apakah foto toraks ada perbaikan. Pada inspeksi apakah kedua sisi dada bergerak sama. nafas dalam dan batuk efektif 11) Evaluasi respon pasien (pola nafas. Penilaian hasil pengobatan : 1. 5. 4. Pasien mampu untuk bernafas dalam dan batuk. tanggal. foto x-ray 3) Cuci tangan 4) Pakai masker 5) Dekatkan sputum pot 6) Berikan minum air hangat 7) Atur posisi pasien sesuai dengan area paru yang akan didrainage 8. 2. Bagaimana efek yang nampak pada vital sign. Suara pernafasan normal atau relative jelas. adakah temperatur dan nadi tekanan darah. Apakah batuk telah produktif. 3. Clapping/Perkusi Perkusi adalah tepukan dilakukan pada dinding dada atau punggung dengan tangan dibentuk seperti mangkok. Perkusi dada merupakan energi mekanik pada dada yang diteruskan pada saluran nafas paru. 2. suara pernafasan) 12) Cuci tangan 13) Dokumentasi (jam. sakit. sputum: warna. Pasien tidak demam dalam 24 – 48 jam. respon pasien) 14) Jika sputum masih belum bisa keluar. Pada auskultasi apakah suara pernafasan meningkat dan sama kiri dan kanan.

infeksi kulit 5. Prosedur kerja : 1) Meletakkan kedua telapak tangan tumpang tindih diatas area paru yang akan dilakukan vibrasi dengan posisi tangan terkuat berada di luar 2) Anjurkan pasien napas dalam dengan Purse lips breathing 3) Lakukan vibrasi atau menggetarkan tangan dengan tumpuan pada pergelangan tangan saat pasien ekspirasi dan hentikan saat pasien inspirasi 4) Istirahatkan pasien 5) Ulangi vibrasi hingga 3X. jadi semua indikasi postural drainase secara umum adalah indikasi perkusi. Kontra indikasinya adalah patah tulang dan hemoptisis. .kedua tangan deperti mangkok. Patah tulang rusuk 2. Luka bakar. Vibrasi dilakukan dengan cara meletakkan tangan bertumpang tindih pada dada kemudian dengan dorongan bergetar. Skin graf yang baru 4. Vibrating Vibrasi secara umum dilakukan bersamaan dengan clapping. Aliran terjadi dari cabang-cabang tersebut di atas ke bronki utama. minta pasien untuk batuk Gambar A : Segmen apikal pada lobus kanan atas dan sub segmen apikal dari segmen posterior pada lobus kiri atas. Pneumotoraks tension yang tidak diobati Alat dan bahan : 1) Handuk kecil Prosedur kerja : 1) Tutup area yang akan dilakukan clapping dengan handuk untuk mengurangi ketidaknyamanan 2) Anjurkan pasien untuk rileks. napas dalam dengan Purse lips breathing 3) Perkusi pada tiap segmen paru selama 1-2 menit dengan kedua tangan membentuk mangkok D. Perkusi harus dilakukan hati-hati pada keadaan : 1. lndikasi untuk perkusi : Perkusi secara rutin dilakukan pada pasien yang mendapat postural drainase. Sesama postural drainase terapis biasanya secara umum memilih cara perkusi atau vibrasi untuk mengeluarkan sekret. Vibrasi dengan kompresi dada menggerakkan sekret ke jalan nafas yang besar sedangkan perkusi melepaskan/melonggarkan sekret. Pasien disuruh bernafas dalam dan kompresi dada dan vibrasi dilaksanakan pada puncak inspirasi dan dilanjutkan sampai akhir ekspirasi. Gambar B : Segmen posterior pada lobus kanan atas dan sub segmen posterior dada segmen apikal posterior pada lobus kiri atas. Emboli paru 6. Aliran terjadi dari cabang-cabang tersebut di atas ke bronki utama. Vibrasi dilakukan hanya pada waktu pasien mengeluarkan nafas. Emfisema subkutan daerah leher dan dada 3.

Aliran terjadi dari percabangan bronlms kebonkus kiri. Gambar G : Segmen basal lateral pada lobus bawah kiri. Dengan memiringkan badan ke kiri dari ke kanan secara berganti-ganti aliran dari lobus atas kanan dan kiri ke bronkus utama. oblik kiri) Sasaran : Segmen lingular pada lobus atas kiri. Gambar F : Segmen basal lateral pada lobus bawah kanan. Aliran dari percabangan tersebut ke bronkus kanan. aliran terjadi dari Cabang tersebut ke bronkus utama. Gambar H : (Posisi kepala ke bawah. Dengan sebuah bantal yang diletakkan di bawah perut tubuh dibuat agak dalam posisi menungging. tubuh oblik kanan) Sasaran : Lobus tengah kanan. (Posisi kepala ke bawah. . Aliran terjadi dari percabangan bronkus ke bronkus kanan. Gambar D : Segmen superior pada kedua belah lobus atas. Aliran dari percabangan tersebut ke bronkus kiri.Gambar C : Segmen anterior pada kedua belah lobus atas. Gambar E : Segmen basal posterior pada kedua belah lobus bawah. Aliran terjadi dan percabangan bronkus ke bronkus yang bersangkutan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful