P. 1
HOTD-idul-fitRi

HOTD-idul-fitRi

|Views: 1,305|Likes:
Published by api-3725701
Hadist riwayat Umar bin Khathab ra., ia berkata: Bahwa dua hari ini hari yang dilarang Rasulullah saw. untuk berpuasa, yaitu hari raya Idul Fitri setelah kalian berpuasa (Ramadhan) dan hari raya makan (daging kurban) setelah kalian menunaikan ibadah haji.
Hadist riwayat Umar bin Khathab ra., ia berkata: Bahwa dua hari ini hari yang dilarang Rasulullah saw. untuk berpuasa, yaitu hari raya Idul Fitri setelah kalian berpuasa (Ramadhan) dan hari raya makan (daging kurban) setelah kalian menunaikan ibadah haji.

More info:

Published by: api-3725701 on Oct 15, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/09/2014

pdf

text

original

Sections

[HOTD] idul fitRi

October 18th, 2006

Hadist riwayat Umar bin Khathab ra., ia berkata:

Bahwa dua hari ini hari yang dilarang Rasulullah saw. untuk berpuasa, yaitu
hari raya Idul Fitri setelah kalian berpuasa (Ramadhan) dan hari raya makan
(daging kurban) setelah kalian menunaikan ibadah haji

Links:
[shalat-shalat shunnah]
http://www.dzikir.org/b_shalat14.htm
[bagaimana muslimah di haRi Raya]
http://majalah.aldakwah.org/artikel.php?art=keluarga&edisi=007&urutan=01
[yang teRlupa di haRi beRbuka]
http://majalah.aldakwah.org/artikel.php?art=utama&edisi=007&urutan=03
[Hukumnya Puasa 31 hari]
http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?
option=com_content&task=view&id=835&Itemid=14
[pelajaRan daRi Ramadhan]
http://www.cert.or.id/~budi/articles/khutbah-idul-fitri.PDF
[batasan takbiR idul fitRi dan adha]
http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/2/cn/5461
[shOlat ied dua kali]
http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?
option=com_content&task=view&id=818&Itemid=30
[bagaimana tata caRa shOlat ied]
http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/2/cn/3721
[haRi Raya beRsama Rasulullah saw]
http://majalah.aldakwah.org/artikel.php?art=utama&edisi=007&urutan=02
[penyaluRan zakat fitRah]
http://www.fajar.co.id/ramadan/news.php?newsid=114
[ucapan dan jawaban idul fitRi]
http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/11/cn/3851
[idul fitRi dan zakat fitRah]
http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?
option=com_content&task=view&id=987&Itemid=31
[takbiR iedul fitRi dan iedul adha]
http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/2/cn/1758

-perbanyakamalmenujusurga-

http://www.dzikir.org/b_shalat14.htm

Tuntunan Shalat

Shalat-shalat Shunnah.

Selain shalat wajib, juga ada shalat sunnah. Macamnya ada lima belas shalat, yaitu :

1. Shalat Wudhu, Yaitu shalat sunnah dua rakaat yang bisa dikerjakan setiap selesai
wudhu, niatnya :

Ushalli sunnatal wudlu-I rak’ataini lillahi Ta’aalaa” artinya : “aku niat shalat sunnah
wudhu dua rakaat karena Allah

2. Shalat Tahiyatul Masjid, yaitu shalat sunnah dua rakaat yang dikerjakan ketika
memasuki masjid, sebelum duduk untuk menghormati masjid. Rasulullah bersabda
Apabila seseorang diantara kamu masuk masjid, maka janganlah hendak duduk
sebelum shalat dua rakaat lebih dahulu
” (H.R. Bukhari dan Muslim). Niatnya :

Ushalli sunnatal Tahiyatul Masjidi rak’ataini lillahi Ta’aalaa” Artinya : “aku niat
shalat sunnah tahiyatul masjid dua rakaat karena Allah

3. Shalat Dhuha. Adalah shalat sunnah yang dikerjakan ketika matahari baru naik.
Jumlah rakaatnya miimal 2 maksimal 12. Dari Anas berkata Rasulullah “Barang siapa
shalat Dhuha 12 rakaat, Allah akan membuatkan untuknya istana disurga
” (H.R.
Tarmiji dan Abu Majah). Niatnya :

Ushalli sunnatal Dhuha rak’ataini lillahi Ta’aalaa” Artinya : “aku niat shalat sunnah
dhuha dua rakaat karena Allah

4. Shalat Rawatib. Adalah shalat sunnah yang dikerjakan mengiringi shalat fardhu.

Niatnya :

a.

Qabliyah, adalah shalat sunnah rawatib yang dikerjakan sebelum shalat
wajib. Waktunya : 2 rakaat sebelum shalat subuh, 2 rakaat sebelum shalat Dzuhur,
2 atau 4 rakaat sebelum shalat Ashar, dan 2 rakaat sebelum shalat Isya’. Niatnya:

Ushalli sunnatadh Dzuhri* rak’ataini Qibliyyatan lillahi Ta’aalaa” Artinya : “aku
niat shalat sunnah sebelum dzuhur dua rakaat karena Allah

* bisa diganti dengan shalat wajib yang akan dikerjakan.

b.

Ba’diyyah, adalah shalat sunnah rawatib yang dikerjakan setelah shalat
fardhu. Waktunya : 2 atau 4 rakaat sesudah shalat Dzuhur, 2 rakaat sesudah shalat

Magrib dan 2 rakaat sesudah shalat Isya. Niatnya :

Ushalli sunnatadh Dzuhri* rak’ataini Ba’diyyatan lillahi Ta’aalaa” Artinya : “aku
niat shalat sunnah sesudah dzuhur dua rakaat karena Allah

* bisa diganti dengan shalat wajib yang akan dikerjakan.

5. Shalat Tahajud, adalah shalat sunnah pada waktu malam. Sebaiknya lewat tengah
malam. Dan setelah tidur. Minimal 2 rakaat maksimal sebatas kemampuan kita.
Keutamaan shalat ini, diterangkan dalam Al-Qur’an. “Dan pada sebagian malam hari
bershalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan
Tuhanmu mengangkatmu ketempat yang terpuji
” (Q.S. Al Isra : 79 ). Niatnya :

Ushalli sunnatal tahajjudi rak’ataini lillahi Ta’aalaa” Artinya : “aku niat shalat
sunnah tahajjud dua rakaat karena Allah

6. Shalat Istikharah, adalah shalat sunnah dua rakaat untuk meminta petunjuk yang
baik, apabila kita menghadapi dua pilihan, atau ragu dalam mengambil keputusan.
Sebaiknya dikerjakan pada 2/3 malam terakhir. Niatnya :

Ushalli sunnatal Istikharah rak’ataini lillahi Ta’aalaa” Artinya : “aku niat shalat
sunnah Istikharah dua rakaat karena Allah

7. Shalat Hajat, adala shalat sunnah dua rakaat untuk memohon agar hajat kita
dikabulkan atau diperkenankan oleh Allah SWT. Minimal 2 rakaat maksimal 12 rakaat
dengan salam setiap 2 rakaat. Niatnya :

Ushalli sunnatal Haajati rak’ataini lillahi Ta’aalaa” Artinya : “aku niat shalat sunnah
hajat dua rakaat karena Allah

8. Shalat Mutlaq, adalah shalat sunnah tanpa sebab dan tidak ditentukan waktunya, juga
tidak dibatasi jumlah rakaatnya. “Shalat itu suatu perkara yang baik, banyak atau
sedikit
” (Al Hadis). Niatnya :

Ushalli sunnatal rak’ataini lillahi Ta’aalaa” Artinya : “aku niat shalat sunnah dua
rakaat karena Allah

9. Shalat Taubat, adalah shalat sunnah yang dilakukan setelah merasa berbuat dosa
kepada Allah SWT, agar mendapat ampunan-Nya. Niatnya:

Ushalli sunnatal Taubati rak’ataini lillahi Ta’aalaa” Artinya : “aku niat shalat sunnah
taubat dua rakaat karena Allah

10. Shalat Tasbih, adalah shalat sunnah yang dianjurkan dikerjakan setiap malam, jika
tidak bisa seminggu sekali, atau paling tidak seumur hidup sekali. Shalat ini sebanyak
empat rakaat, dengan ketentuan jika dikerjakan pada siang hari cukup dengan satu
salam, Jika dikerjakan pada malam hari dengan dua salam. Cara mengerjakannya

a.

Niat :

Ushalli sunnatan tasbihi raka’ataini lilllahi ta’aalaaartinya “aku niat shalat
sunnah tasbih dua rakaat karena Allah

b.

Usai membaca surat Al Fatehah membaca tasbih 15 kali.

c.

Saat ruku’, usai membaca do’a ruku membaca tasbih 10 kali

d.

Saat ‘itidal, usai membaca do’a ‘itidal membaca tasbih 10 kali

e.

Saat sujud, usai membaca doa sujud membaca tasbih 10 kali

f.

Usai membaa do’a duduk diantara dua sujud membaca tasbi 10 kali.

g.

Usai membaca doa sujud kedua membaca tasbih 10 kali.

Jumlah keseluruhan tasbih yang dibaca pada setiap rakaatnya sebanyak 75 kali.
Lafadz bacaan tasbih yang dimaksud adalah sebagai berikut :

Subhanallah wal hamdu lillahi walaa ilaaha illallahu wallahu akbar” artinya : “Maha
suci Allah yang Maha Esa. Segala puji bagi Akkah, Dzat yang Maha Agung
”.

11. Shalat Tarawih, adalah shalat sunnah sesudah shalat Isya’ pada bulan Ramadhan.
Menegenai bilangan rakaatnya disebutkan dalam hadis. “Yang dikerjakan oleh
Rasulullah saw, baik pada bulan ramadhan atau lainnya tidak lebih dari sebelas
rakaat
” (H.R. Bukhari). Dari Jabir “Sesungguhnya Nabi saw telah shallat bersama-sama
mereka delapan rakaat, kemudian beliau shalat witir.
” (H.R. Ibnu Hiban)

Pada masa khalifah Umar bin Khathtab, shalat tarawih dikerjakan sebanyak 20
rakaat dan hal ini tidak dibantah oleh para sahabat terkenal dan terkemuka. Kemudian
pada zaman Umar bin Abdul Aziz bilangannya dijadikan 36 rakaat. Dengan demikian
bilangan rakaatnya tidak ditetapkan secara pasti dalam syara’, jadi tergantung pada
kemampuan kita masing-masing, asal tidak kurang dari 8 rakaat. Niat shalat tarawih :

Ushalli sunnatan Taraawiihi rak’ataini (Imamam/makmuman) lillahi ta’aallaa

artinya : “Aku niat shalat sunat tarawih dua rakaat (imamam/makmum) karena Allah

12. Shalat Witir, adalah shalat sunnat mu’akad (dianjurkan) yang biasanya dirangkaikan
dengan shalat tarawih, Bilangan shalat witir 1, 3, 5, 7 sampai 11 rakaat. Dari Abu
Aiyub, berkata Rasulullah “Witir itu hak, maka siapa yang suka mengerjakan lima,
kerjakanlah. Siapa yang suka mengerjakan tiga, kerjakanlah. Dan siapa yang suka satu
maka kerjakanlah
”(H.R. Abu Daud dan Nasai). Dari Aisyah : “Adalah nabi saw. Shalat
sebelas rakaat diantara shalat isya’ dan terbit fajar. Beliau memberi salam setiap dua
rakaatdan yang penghabisan satu rakaat“ (H.R. Bukhari dan Muslim)

Ushalli sunnatal witri rak’atan lillahi ta’aalaa”artinya : “Aku niat shalat sunnat witir
dua rakaat karena Allah

13. Shalat Hari Raya, adalah shalat Idul Fitri pada 1 Syawal dan Idul Adha pada 10
Dzulhijah. Hukumnya sunat Mu’akad (dianjurkan).”Sesungguhnya kami telah memberi
engkau (yaa Muhammad) akan kebajikan yang banyak, sebab itu shalatlah engkau dan
berqurbanlah karena Tuhanmu – pada Idul Adha -
”(Q.S. Al Kautsar.1-2)Dari Ibnu Umar
Rasulullah, Abu Bakar, Umar pernah melakukan shalat pada dua hari raya sebelum
berkhutbah.
”(H.R. Jama’ah). Niat Shalat Idul Fitri :

Ushalli sunnatal li’iidil fitri rak’ataini (imamam/makmumam) lillahita’aalaa
artinya : “Aku niat shalat idul fitri dua rakaat (imam/makmum) karena Allah

Niat Shalat Idul Adha :

Ushalli sunnatal li’iidil Adha rak’ataini (imamam/makmumam) lillahita’aalaa” artinya
: “Aku niat shalat idul adha dua rakaat (imam/makmum) karena Allah”

Waktu shalat hari raya adalah setelah terbit matahari sampai condongnya
matahari. Syarat, rukun dan sunnatnya sama seperti shalat yang lainnya. Hanya
ditambah beberapa sunnat sebagai berikut :

a.

Berjamaah

b.

Takbir tujuh kali pada rakaat pertama, dan lima kali pada rakat kedua

c.

Mengangkat tangan setinggi bahu pada setiap takbir.

d.

Setelah takbir yang kedua sampai takbir yang terakhir membaca tasbih.

e.

Membaca surat Qaf dirakaat pertama dan surat Al Qomar di rakaat kedua.
Atau surat A’la dirakat pertama dan surat Al Ghasiyah pada rakaat kedua.

f.

Imam menyaringkan bacaannya.

g.

Khutbah dua kali setelah shalat sebagaimana khutbah jum’at

h.

Pada khutbah Idul Fitri memaparkan tentang zakat fitrah dan pada Idul
Adha tentang hukum – hukum Qurban.

i.

Mandi, berhias, memakai pakaian sebaik-baiknya.

j.

Makan terlebih dahulu pada shalat Idul Fitri pada Shalat Idul Adha

sebaliknya.

14. Shalat Khusuf, adalah shalat sunat sewaktu terjadi gerhana bulan atau matahari.
Minimal dua rakaat. Caranya mengerjakannya :

a.

Shalat dua rakaat dengan 4 kali ruku’ yaitu pada rakaat pertama, setelah
ruku’ dan I’tidal membaca fatihah lagi kemudian ruku’ dan I’tidal kembali setelah
itu sujud sebagaimana biasa. Begitu pula pada rakaat kedua.

b.

Disunatkan membaca surat yang panjang, sedang membacanya pada waktu
gerhana bulan harus nyaring sedangkan pada gerhana matahari sebaliknya.

Niat shalat gerhana bulan :

Ushalli sunnatal khusuufi rak’ataini lillahita’aalaa” artinya : “Aku niat shalat
gerhana bulan dua rakaat karena Allah

15. Shalat Istiqa’,adalah shalat sunat yang dikerjakan untuk memohon hujan kepada Allah
SWT. Niatnya “

Ushalli sunnatal Istisqaa-I rak’ataini (imamam/makmumam) lillahita’aalaa” artinya :
Aku niat shalat istisqaa dua rakaat (imam/makmum) karena Allah”

Syarat-syarat mengerjakana Shalat Istisqa :

a.

Tiga hari sebelumnya agar ulama memerintahkan umatnya bertaobat
dengan berpusa dan meninggalkan segala kedzaliman serta menganjurkan beramal
shaleh. Sebab menumpuknya dosa itu mengakibatkan hilangnya rejeki dan
datangnya murka Allah. “Apabila kami hendak membinasakan suatu negeri, maka
lebih dulu kami perbanyak orang-orang yang fasik, sebab kefasikannyalah mereka
disiksa, lalu kami robohkan (hancurkan) negeri mereka sehancur-hancurnya
”(Q.S. Al
Isra’ : 16).

b.

Pada hari keempat semua penduduk termasuk yang lemah dianjurkan pergi
kelapangan dengan pakaian sederana dan tanpa wangi-wangian untuk shalat Istisqa’

c.

Usai shalat diadakan khutbah dua kali. Pada khutbah pertama hendaknya
membaca istigfar 9 X dan pada khutbah kedua 7 X.

Pelaksanaan khutbah istisqa berbeda dengan khutbah lainnya, yaitu :

a.

Khatib disunatkan memakai selendang.

b.

Isi khutbah menganjurkan banyak beristigfar, dan berkeyakinan bahwa Allah
SWT akan mengabulkan permintaan mereka.

c.

Saat berdo’a hendaknya mengangkat tangan setinggi-tingginya.

d.

Saat berdo’a pada khutbah kedua, khatib hendaknya menghadap kiblat

membelakangi makmumnya.

Tuntunan Shalat

Shalat-shalat Shunnah.

Selain shalat wajib, juga ada shalat sunnah. Macamnya ada lima belas shalat, yaitu :

1. Shalat Wudhu, Yaitu shalat sunnah dua rakaat yang bisa dikerjakan setiap selesai
wudhu, niatnya :

Ushalli sunnatal wudlu-I rak’ataini lillahi Ta’aalaa” artinya : “aku niat shalat sunnah
wudhu dua rakaat karena Allah

2. Shalat Tahiyatul Masjid, yaitu shalat sunnah dua rakaat yang dikerjakan ketika
memasuki masjid, sebelum duduk untuk menghormati masjid. Rasulullah bersabda
Apabila seseorang diantara kamu masuk masjid, maka janganlah hendak duduk
sebelum shalat dua rakaat lebih dahulu
” (H.R. Bukhari dan Muslim). Niatnya :

Ushalli sunnatal Tahiyatul Masjidi rak’ataini lillahi Ta’aalaa” Artinya : “aku niat
shalat sunnah tahiyatul masjid dua rakaat karena Allah

3. Shalat Dhuha. Adalah shalat sunnah yang dikerjakan ketika matahari baru naik.
Jumlah rakaatnya miimal 2 maksimal 12. Dari Anas berkata Rasulullah “Barang siapa
shalat Dhuha 12 rakaat, Allah akan membuatkan untuknya istana disurga
” (H.R.
Tarmiji dan Abu Majah). Niatnya :

Ushalli sunnatal Dhuha rak’ataini lillahi Ta’aalaa” Artinya : “aku niat shalat sunnah
dhuha dua rakaat karena Allah

4. Shalat Rawatib. Adalah shalat sunnah yang dikerjakan mengiringi shalat fardhu.

Niatnya :

a.

Qabliyah, adalah shalat sunnah rawatib yang dikerjakan sebelum shalat
wajib. Waktunya : 2 rakaat sebelum shalat subuh, 2 rakaat sebelum shalat Dzuhur,
2 atau 4 rakaat sebelum shalat Ashar, dan 2 rakaat sebelum shalat Isya’. Niatnya:

Ushalli sunnatadh Dzuhri* rak’ataini Qibliyyatan lillahi Ta’aalaa” Artinya : “aku
niat shalat sunnah sebelum dzuhur dua rakaat karena Allah

* bisa diganti dengan shalat wajib yang akan dikerjakan.

b.

Ba’diyyah, adalah shalat sunnah rawatib yang dikerjakan setelah shalat
fardhu. Waktunya : 2 atau 4 rakaat sesudah shalat Dzuhur, 2 rakaat sesudah shalat
Magrib dan 2 rakaat sesudah shalat Isya. Niatnya :

Ushalli sunnatadh Dzuhri* rak’ataini Ba’diyyatan lillahi Ta’aalaa” Artinya : “aku
niat shalat sunnah sesudah dzuhur dua rakaat karena Allah

* bisa diganti dengan shalat wajib yang akan dikerjakan.

5. Shalat Tahajud, adalah shalat sunnah pada waktu malam. Sebaiknya lewat tengah
malam. Dan setelah tidur. Minimal 2 rakaat maksimal sebatas kemampuan kita.
Keutamaan shalat ini, diterangkan dalam Al-Qur’an. “Dan pada sebagian malam hari
bershalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan
Tuhanmu mengangkatmu ketempat yang terpuji
” (Q.S. Al Isra : 79 ). Niatnya :

Ushalli sunnatal tahajjudi rak’ataini lillahi Ta’aalaa” Artinya : “aku niat shalat
sunnah tahajjud dua rakaat karena Allah

6. Shalat Istikharah, adalah shalat sunnah dua rakaat untuk meminta petunjuk yang
baik, apabila kita menghadapi dua pilihan, atau ragu dalam mengambil keputusan.
Sebaiknya dikerjakan pada 2/3 malam terakhir. Niatnya :

Ushalli sunnatal Istikharah rak’ataini lillahi Ta’aalaa” Artinya : “aku niat shalat
sunnah Istikharah dua rakaat karena Allah

7. Shalat Hajat, adala shalat sunnah dua rakaat untuk memohon agar hajat kita
dikabulkan atau diperkenankan oleh Allah SWT. Minimal 2 rakaat maksimal 12 rakaat
dengan salam setiap 2 rakaat. Niatnya :

Ushalli sunnatal Haajati rak’ataini lillahi Ta’aalaa” Artinya : “aku niat shalat sunnah
hajat dua rakaat karena Allah

8. Shalat Mutlaq, adalah shalat sunnah tanpa sebab dan tidak ditentukan waktunya, juga
tidak dibatasi jumlah rakaatnya. “Shalat itu suatu perkara yang baik, banyak atau
sedikit
” (Al Hadis). Niatnya :

Ushalli sunnatal rak’ataini lillahi Ta’aalaa” Artinya : “aku niat shalat sunnah dua
rakaat karena Allah

9. Shalat Taubat, adalah shalat sunnah yang dilakukan setelah merasa berbuat dosa
kepada Allah SWT, agar mendapat ampunan-Nya. Niatnya:

Ushalli sunnatal Taubati rak’ataini lillahi Ta’aalaa” Artinya : “aku niat shalat sunnah

taubat dua rakaat karena Allah

10. Shalat Tasbih, adalah shalat sunnah yang dianjurkan dikerjakan setiap malam, jika
tidak bisa seminggu sekali, atau paling tidak seumur hidup sekali. Shalat ini sebanyak
empat rakaat, dengan ketentuan jika dikerjakan pada siang hari cukup dengan satu
salam, Jika dikerjakan pada malam hari dengan dua salam. Cara mengerjakannya

a.

Niat :

Ushalli sunnatan tasbihi raka’ataini lilllahi ta’aalaaartinya “aku niat shalat
sunnah tasbih dua rakaat karena Allah

b.

Usai membaca surat Al Fatehah membaca tasbih 15 kali.

c.

Saat ruku’, usai membaca do’a ruku membaca tasbih 10 kali

d.

Saat ‘itidal, usai membaca do’a ‘itidal membaca tasbih 10 kali

e.

Saat sujud, usai membaca doa sujud membaca tasbih 10 kali

f.

Usai membaa do’a duduk diantara dua sujud membaca tasbi 10 kali.

g.

Usai membaca doa sujud kedua membaca tasbih 10 kali.

Jumlah keseluruhan tasbih yang dibaca pada setiap rakaatnya sebanyak 75 kali.
Lafadz bacaan tasbih yang dimaksud adalah sebagai berikut :

Subhanallah wal hamdu lillahi walaa ilaaha illallahu wallahu akbar” artinya : “Maha
suci Allah yang Maha Esa. Segala puji bagi Akkah, Dzat yang Maha Agung
”.

11. Shalat Tarawih, adalah shalat sunnah sesudah shalat Isya’ pada bulan Ramadhan.
Menegenai bilangan rakaatnya disebutkan dalam hadis. “Yang dikerjakan oleh
Rasulullah saw, baik pada bulan ramadhan atau lainnya tidak lebih dari sebelas
rakaat
” (H.R. Bukhari). Dari Jabir “Sesungguhnya Nabi saw telah shallat bersama-sama
mereka delapan rakaat, kemudian beliau shalat witir.
” (H.R. Ibnu Hiban)

Pada masa khalifah Umar bin Khathtab, shalat tarawih dikerjakan sebanyak 20
rakaat dan hal ini tidak dibantah oleh para sahabat terkenal dan terkemuka. Kemudian
pada zaman Umar bin Abdul Aziz bilangannya dijadikan 36 rakaat. Dengan demikian
bilangan rakaatnya tidak ditetapkan secara pasti dalam syara’, jadi tergantung pada
kemampuan kita masing-masing, asal tidak kurang dari 8 rakaat. Niat shalat tarawih :

Ushalli sunnatan Taraawiihi rak’ataini (Imamam/makmuman) lillahi ta’aallaa
artinya : “Aku niat shalat sunat tarawih dua rakaat (imamam/makmum) karena Allah

12. Shalat Witir, adalah shalat sunnat mu’akad (dianjurkan) yang biasanya dirangkaikan
dengan shalat tarawih, Bilangan shalat witir 1, 3, 5, 7 sampai 11 rakaat. Dari Abu

Aiyub, berkata Rasulullah “Witir itu hak, maka siapa yang suka mengerjakan lima,
kerjakanlah. Siapa yang suka mengerjakan tiga, kerjakanlah. Dan siapa yang suka satu
maka kerjakanlah
”(H.R. Abu Daud dan Nasai). Dari Aisyah : “Adalah nabi saw. Shalat
sebelas rakaat diantara shalat isya’ dan terbit fajar. Beliau memberi salam setiap dua
rakaatdan yang penghabisan satu rakaat“ (H.R. Bukhari dan Muslim)

Ushalli sunnatal witri rak’atan lillahi ta’aalaa”artinya : “Aku niat shalat sunnat witir
dua rakaat karena Allah

13. Shalat Hari Raya, adalah shalat Idul Fitri pada 1 Syawal dan Idul Adha pada 10
Dzulhijah. Hukumnya sunat Mu’akad (dianjurkan).”Sesungguhnya kami telah memberi
engkau (yaa Muhammad) akan kebajikan yang banyak, sebab itu shalatlah engkau dan
berqurbanlah karena Tuhanmu – pada Idul Adha -
”(Q.S. Al Kautsar.1-2)Dari Ibnu Umar
Rasulullah, Abu Bakar, Umar pernah melakukan shalat pada dua hari raya sebelum
berkhutbah.
”(H.R. Jama’ah). Niat Shalat Idul Fitri :

Ushalli sunnatal li’iidil fitri rak’ataini (imamam/makmumam) lillahita’aalaa
artinya : “Aku niat shalat idul fitri dua rakaat (imam/makmum) karena Allah

Niat Shalat Idul Adha :

Ushalli sunnatal li’iidil Adha rak’ataini (imamam/makmumam) lillahita’aalaa” artinya
: “Aku niat shalat idul adha dua rakaat (imam/makmum) karena Allah”

Waktu shalat hari raya adalah setelah terbit matahari sampai condongnya
matahari. Syarat, rukun dan sunnatnya sama seperti shalat yang lainnya. Hanya
ditambah beberapa sunnat sebagai berikut :

a.

Berjamaah

b.

Takbir tujuh kali pada rakaat pertama, dan lima kali pada rakat kedua

c.

Mengangkat tangan setinggi bahu pada setiap takbir.

d.

Setelah takbir yang kedua sampai takbir yang terakhir membaca tasbih.

e.

Membaca surat Qaf dirakaat pertama dan surat Al Qomar di rakaat kedua.
Atau surat A’la dirakat pertama dan surat Al Ghasiyah pada rakaat kedua.

f.

Imam menyaringkan bacaannya.

g.

Khutbah dua kali setelah shalat sebagaimana khutbah jum’at

h.

Pada khutbah Idul Fitri memaparkan tentang zakat fitrah dan pada Idul
Adha tentang hukum – hukum Qurban.

i.

Mandi, berhias, memakai pakaian sebaik-baiknya.

j.

Makan terlebih dahulu pada shalat Idul Fitri pada Shalat Idul Adha

sebaliknya.

14. Shalat Khusuf, adalah shalat sunat sewaktu terjadi gerhana bulan atau matahari.
Minimal dua rakaat. Caranya mengerjakannya :

a.

Shalat dua rakaat dengan 4 kali ruku’ yaitu pada rakaat pertama, setelah

ruku’ dan I’tidal membaca fatihah lagi kemudian ruku’ dan I’tidal kembali setelah
itu sujud sebagaimana biasa. Begitu pula pada rakaat kedua.

b.

Disunatkan membaca surat yang panjang, sedang membacanya pada waktu
gerhana bulan harus nyaring sedangkan pada gerhana matahari sebaliknya.

Niat shalat gerhana bulan :

Ushalli sunnatal khusuufi rak’ataini lillahita’aalaa” artinya : “Aku niat shalat
gerhana bulan dua rakaat karena Allah

15. Shalat Istiqa’,adalah shalat sunat yang dikerjakan untuk memohon hujan kepada Allah
SWT. Niatnya “

Ushalli sunnatal Istisqaa-I rak’ataini (imamam/makmumam) lillahita’aalaa” artinya :
Aku niat shalat istisqaa dua rakaat (imam/makmum) karena Allah”

Syarat-syarat mengerjakana Shalat Istisqa :

a.

Tiga hari sebelumnya agar ulama memerintahkan umatnya bertaobat
dengan berpusa dan meninggalkan segala kedzaliman serta menganjurkan beramal
shaleh. Sebab menumpuknya dosa itu mengakibatkan hilangnya rejeki dan
datangnya murka Allah. “Apabila kami hendak membinasakan suatu negeri, maka
lebih dulu kami perbanyak orang-orang yang fasik, sebab kefasikannyalah mereka
disiksa, lalu kami robohkan (hancurkan) negeri mereka sehancur-hancurnya
”(Q.S. Al
Isra’ : 16).

b.

Pada hari keempat semua penduduk termasuk yang lemah dianjurkan pergi
kelapangan dengan pakaian sederana dan tanpa wangi-wangian untuk shalat Istisqa’

c.

Usai shalat diadakan khutbah dua kali. Pada khutbah pertama hendaknya
membaca istigfar 9 X dan pada khutbah kedua 7 X.

Pelaksanaan khutbah istisqa berbeda dengan khutbah lainnya, yaitu :

a.

Khatib disunatkan memakai selendang.

b.

Isi khutbah menganjurkan banyak beristigfar, dan berkeyakinan bahwa Allah
SWT akan mengabulkan permintaan mereka.

c.

Saat berdo’a hendaknya mengangkat tangan setinggi-tingginya.

d.

Saat berdo’a pada khutbah kedua, khatib hendaknya menghadap kiblat

membelakangi makmumnya.

Etika Berhari Raya Laporan: Muhajirin*

[Mimbar]

Oleh Muhajirin*

Hari raya merupakan hari suka cita dan kegembiraan yang telah ditetapkan
Allah SWT. Umat Islam memanfaatkan Idul Fitri dan Idul Adha untuk
mengagungkan assma Allah seraya saling berjumpa, bersilaturahmi antar
sesamanya. Hal ini sudah menjadi budaya yang berakar, khususnya di bumi
pertiwi Indonesia.

Nabi Muhammad SAW telah memberikan tauladan kepada umatnya, bagaimana
hendaknya kedua hari raya tersebut disambut untuk mendapat ridha dan kasih
sayang Allah. Berikut beberapa etika berhari raya:

Niat yang Baik

"Innamal a'malu bin niyah..." kata Nabi dalam sebuah hadis panjang. Sesungguh
amal seseorang itu sesuai dengan niatnya... (HR. Muslim)

Segala pekerjaan haruslah didasari dengan niat yang baik. Karena itu, setiap
muslim selayaknya senantiasa mempunyai niat baik dalam menjalankan segala
aktivitas keseharian, termasuk aktivitas hari raya. Mulai keluar rumah untuk
melaksanakan shalat Id, memakai pakaian yang terbaik, menyediakan berbagai
suguhan untuk para tarnu dan sebagainya, haruslah diniatkan untuk meneladani
perilaku Nabi Muhammad SAW. Memakai pakaian yang baru harus ditujukan
hanya sebagai ekspresi ketaatan terhadap apa yang diperintahkan baginda Nabi
SAW, sekaligus sebagai ungkapan rasa suka cita dalam menyambut suasana
lebaran tersebut. Di samping itu, kegiatan saling berkunjung juga harus
diniatkan untuk menyambung tali siiaturahim, dan untuk membahagiakan orang
yang sedang dikunjungi.

Mandi

Mandi, merupakan kegiatan keseharian rutin yang dilakukan oleh setiap orang.
Hal ini dimaksudkan, selain untuk membersihkan diri dari berbagai kotoran dan
bau badan, juga untuk menjaga kesehatan dan kesegaran. Mandi rutin ini tidak
memiliki indikasi hukum syar'i. Berbeda dengan mandi untuk menghilangkan
hadats besar yang wajib hukumnya dan ada pula beberapa jenis mandi yang
disunnahkan seperti mandi sebelum melaksanakan shalat jurnat.

Demikian pula mandi sebelum shalat Id adalah sunnah hukumnya. Seorang
muslim/muslimah disunnahkan untuk membersihkan diri (mandi) sebelum
berkumpul dengan saudara-saudaranya guna melaksanakan shalat. Hal ini
diharapkan agar para jamaah lainnya tidak merasa terganggu.

Memakai harum-haruman

Seusai mandi, seorang musllm juga dianjurkan memakai harum-haruman
(parfum) sebagai penyempurna dari kebersihan dan aroma tubuh. Ada dua
pendapat mengenai pemakaian parfum yang bercampur alkohol. Ada yang
mengatakan tidak boleh, ada juga yang membolehkannya. Untuk itu seorang
muslim yang baik, hendaknya tidak menggunakan parfum yang terbuat atau
bercampur dengan alkohol dan jugajangan berlebih-lebihan.

Mengeluarkan zakat fitrah

Zakat fitrah merupakan hal wajib yang harus ditunaikan oleh setiap Muslim
yang mampu. Hal ini dimaksudkan sebagai ungkapan berbagi rasa suka cita
dengan kaum fakir miskin dalam menghadapi hari raya tersebut. Lebih dari itu,
juga sebagai sikap taat kepada Allah SWT. Rasulallah SAW pun senantiasa
menganjurkan kepada pengikutnya untuk menunaikan zakat fitrah sebelum
rnereka berangkat ke tempat shalat Id. (HR. Bukhari)

Di Indonesia, pembayaran zakat fitrah biasa dilakukan mulai lima harian
sebelum hari raya tiba. Bahkan di banyak masjid dan mushalla dibentuk panitia
khusus yang menangani zakat tersebut. Kebiasaan ini sudah menjadi sebuah
budaya tersendiri. Bukan tidak mengikuti keafdhaian yang dianjurkan Rasul.
Tetapi lebih melihat azas manfaat, maksudnya jika ia diberikan sebelum shalat
Id, maka kapan lagi ia akan dibagikan kepada yang berhak menerimanya.
Sementara mereka juga ingin menikmati hari yang penuh suka cita itu, Dengan
demikian, sebagian ulama membolehkannya. Selain itu juga diharapkan agar
kaum Musiimin tidak lupa/lalai melaksanakannya.

Makan 'kurma' sebelum shalat Idul fitri

Baginda Nabi SAW telah mencontohkan bahwa beliau sebelum berangkat ke
tempat shalat Idul Fitri, terlebih dulu memakan beberapa buah kurma. (Shah
ٱhal-J ٱmi: 4865) Juga disebutkan dalam riwayat lain bahwa beliau tidak pergi
ke tempat shalat Idul Fitri sebelum beliau makan. Berbeda dengan hari raya
Idul Adha atau Hari Raya Haji, Pada hari raya ini Rasulallah SAW tidak makan
sampai beliau pulang shalat. (HR.Tirmizi)

Bersegera menuju tempat shalat

Rasulallah SAW bersabda "Sesungguhnya pekerjaan yang pertama kali kita
lakukan pada hari raya adalah shalat, kemudian pulang ke rumah untuk
menyembelih hewan kurban. Barang siapa melakukan yang demikian, maka ia
telah menjalankan sunnahku. Dan barang siapa yang menyembelih sebelum
waktu tersebut, maka sembelihan itu dianggap sebagai daging yang disuguhkan
bagi keluarganya, bukan merupakan tuntunanku (tidak dianggap sebagai daging

hewan kurban), (HR. Bukhari)

Ibn Hajar berkomentar dalam kitabnya, Fathal-B

ٱ/

ٱ)

2:530

), "Hadis ini

menunjukkan bahwa tidak selayaknya seorang Muslim pada hari raya
menyibukkan diri dengan hal-hal selain untuk mempersiapkan shalat Id. Dan
barang siapa yang tidak mengerjakan sesuatu apa pun kecuali mempersiapkan
pelaksanaan shalat, maka ia harus bersegera melakukannya.

Menyuruh wanita dan anak-anak pergi ke tempat shalat

Rasulallah SAW juga memerintahkan para wanita agar ikut serta dalam
melaksanakan shalat Id. Dan tidak hanya disibukkan dengan urusan rumah
tangga. Bahkan rnereka yang dalam keadaan haidh sekalipun tetap dianjurkan
untuk mendekati tempat shalat, dengan maksud agar mereka dapat
menyaksikan kebaikan, merasakan kemeriahan, dan kegembiraan bersama yang
lainnya pada hari itu, (HR. Bukhari dari Ummu Athiyah)

Selain para ibu dan wanita lainnya, anak-anak dengan pakaian barunya juga
dianjurkan untuk dibawa ke tempat shalat, agar mereka juga merasakan hal
yang sama, kendatipun mereka belum tergolong mumayyiz. Ibn Abbas berkata
"Saya pergi bersama Rasulullah SAW pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha,
Beliau shalat kemudian berkhutbah, setelah itu beliau menghampiri kaum
wanita dan rnernberikan wejangan dan nasehat kepada mereka, sekaligus
menyuruh mereka untuk bersedekah." (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas)

Di lain riwayat disebutkan "Suatu ketika Ibn Abbas pernah ditanya, 'Apakah
karnu pernah merayakan hari Id bersama Rasulullah SAW?' Beliau berkata,
“Pernah dan ketika Itu aku masih sangat kecil." (HR. Bukhari)

Mengumandangkan Takbir dan Tahlil

Seorang Muslim juga disunnahkan untuk bertakbir dan bertahlil, mulai dari
rumah sampai tiba ke tempat pelaksanaan shalat Id. Sikap ini menunjukkan
syi'ar Islam, seKaligus sebagai ekspresi kegembiraan dalam menyambut hari
raya. Di samping itu, juga untuk menunjukkan kepada sesama Muslim bahwa
hari raya sangat lain dari hari sebelum atau sesudahnya. Rasulallah SAW juga
mengumandangkan takbir pada saat hari raya, sejak beliau keluar dari
rumahnya sampai beliau tiba di tempat shalat. (Shah ٱhal-J ٱmi: 5004).
Adapun mengeraskan suara tahlil dan takbir, dilakukan setelah berkumpul di
tempat shalat.

Tidak Shalat Apapun sebelum Shalat Id

Shalat Id tidak didahului dengan shalat apapun, termasuk tahiyatul masjid.
Nabi Muhammad SAW tidak mengerjakan shalat apapun sebelurn beliau
melaksanakan shalat Id. Setiba di tempat shalat disunnahkan langsung duduk,

berzikir dan mengumandangkan takbir. Akan tetapi setibanya di rumah,
Rasulallah SAW mengerjakan shalat sunnah dua raka'at. (HR. Ibn Majah dari Abi
Sa'id)

Tanpa Azan dan Iqamah

Ini merupakan bagian dari sunnah Nabi SAW, sebagaimana yang telah
disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas dan Jabir,
bahwasannya tidak ada azan dan iqamah dalam pelaksanaan shalat Idul Fitri
maupun shalat Idul Adha. (HR. Bukhari)

Shalat sebelum khutbah

Berbeda dengan shalat Jumat, di mana Khatib menyampaikan khutbah sebelum
shalat, maka khutbah Id dilaksanakan setelah shalat. Keduanya selaras dengan
apa yang telah dicontohkan oleh Rasulallah SAW dan para khalifah setelahnya.
Dalam sebuah riwayat Ibn Abbas berkata, "Aku pernah merayakan hari raya
bersama Nabi SAW, Abu Bakar, Umar, Utsman dan AN. Dan rnereka semuanya
melaksanakan shalat terlebih dahulu sebelum khutbah. (HR. Bukhari)

Pada saat khutbah, imam menghadap ke arah jamaah

Imam yang bertugas menyampaikan khutbah Idul Fitri maupun idul Adha
diharuskan untuk menghadap para hadirin. Sebagaimana tertera dalam hadis
yang diriwayatkan Abi Said al-Khadri, dimana ia berkata "Bahwa pekerjaan yang
pertama kali dilakukan oleh Rasulallah SAW pada hari raya Idul Fitri dan Idul
Adha adalah melaksanakan shalat, kemudian beliau berdiri menghadap ke arah
kaum Muslimin dan menyampaikan berbagai nasehat (tausiyah)."

Menyembelih hewan kurban setelah Shalat

Hal ini disunnahkan pada saat hari raya Idul Adha saja. Rasulullah SAW
bersabda, "Sesungguhnya yang pertama kali harus dikerjakan pada hari ini (hari
raya Idul Adha) adalah shalat, kemudian pulang ke rumah untuk menyembelih
hewan kurban. Barang siapa melakukan yang demikian, rnaka ia telah
menjalankan sunnahku. Dan barang siapa yang menyembelih sebelum waktu
tersebut, maka sembelihan itu dianggap sebagai daging yang disuguhkan bagi
keluarganya, dan bukan merupakan tuntunanku (tidak dianggap sebagai daging
hewan kurban).

Pemotongan hewan kurban juga sunnah dikerjakan di tempat shalat. Bukan
berarti tidak boleh dilakukan di tempat lain (selain tempat shalat Id), sesuai
dengan kondisi dan keadaan daerah setempat.

Saling bersalam-salaman

Hal lumrah yang biasa dilakukan seusai shalat adalah saling bersalam-salaman.
Sikap seperti ini akan menimbulkan kegembiraan pada setiap jiwa orang
Muslim, sekaligus agar dapat merasakan keceriaan, sebagaimana yang telah
disebutkan dalarn kandungan hadis yang menganjurkan untuk saling berjabatan
tangan. Dan tidak ada hadis yang menjelaskan tata cara yang dianjurkan dalam
pemberian ucapan selamat. Akan tetapi, bisa saja seorang Muslim mendoakan
dan memberikan ucapan selamat kepada saudaranya dengan mengatakan
kepadanya "Semoga Allah SWT menerirna segala amal perbuatan kita,"

Saling bersilaturahim

Menyambung tali persaudaraan (silaturahim) merupakan kewajiban seorang
Muslim pada setiap kesempatan, tidak hanya pada suasana hari raya. Akan
tetapi kedua hari raya ini sangat dimanfaatkan oleh banyak kaum Muslimin
untuk saling bersilaturahim guna mendapatkan perasaan damai dan suka cita
dalam diri kita dan keluargaterdekat.

Dalam berbagai sabdanya, Rasulallah SAW sangat menganjurkan silaturahim. Di
antaranya beliau bersabda, "Barang siapa yang ingin panjang umurnya, dan
murah rezekinya hendaklah ia bersilaturahim." Bahkan disinyalir bagi mereka
yang memutus tali silaturrahim tidak akan masuk surga.

Selalu mentaati Allah dan meninggalkan maksiat

Semua aktivitas kedua hari raya ini akan bernilai ibadah jika dilakukan semata-
mata karena taat akan segala perintah Allah SWT dan sunnah rasul-Nya, Baik
mempercantik rumah, menyediakan aneka ragam makanan dan minuman,
memakai baju baru. Juga menyenangkan dan menggembirakan hati putra-putri
kita supaya mereka juga dapat merasakan keceriaan di hari lebaran. Baik
dengan cara membelikan mereka mainan baru yang bisa membahagiakannya,
mengajak mereka berekreasi dan sebagainya.

Adalah naQf jika hari lebaran dijadikan dalih untuk mengerjakan perbuatan
maksiat demi untuk menggembirakan dan menyenangkan hati. Misalnya banyak
kaum wanita memamerkan aurat dan perhiasan. Anak-anak muda diberikan
kebebasan bergaul tanpa melihat waktu, dengan menghabiskan waktu di
gedung bioskop dan sebagainya, Semua hal ini akan menyebabkan Allah SWT
murka. Oleh karena itu, setiap Muslim senantiasa harus dapat menghindarinya.
Seharusnya perasaan gembira di hari lebaran tidak dengan cara menghalalkan
semua cara. Islam memperbolehkan umatnya untuk bersenang-senang, akan
tetapi hal tersebut tidak sampai melampaui batas-batas yang telah digariskan
oleh Allah.

Seorang Muslim yang teguh dalam memegang etika Islam, akan selalu taat
kepada Allah dan mengetahui haknya dalam keadaan suka maupun duka,
sehingga dengan demikian, ia akan menjadi hamba Allah yang shaleh dalam

berbagai kesempatan.

Mudah-mudahan kita dapat melaksanakan hari kebahagian itu dengan baik dan
sempurna, sehingga kita benar-benar kembali kepada kesucian jiwa,
sebagaimana makna Idul Fitri.

(Bahan dari berbagai sumber)
*Penulis adalah Dosen IAIN Raden Fatah Palembang

http://majalah.aldakwah.org/artikel.php?art=utama&edisi=007&urutan=02

HARI RAYA BERSAMA RASULULLAH SAW

Dakwah --- sebelum Rasulullah ` tiba di Madinah, masyarakat jahiliyah
memiliki dua hari raya, hari dimana mereka bermain dan bergembira ria.
Semenjak kedatangan beliau, kedua hari raya itu diganti oleh Allahl
sebagaimana sabda beliau yang berbunyi

"Dahulu kalian memiliki dua hari raya, dimana kalian bermain bersuka ria, kini
Allah telah menggantikan keduanya dengan hari raya yang lebih baik, itulah
hari raya 'idul-fithri dan 'idul adhha" (HR Nasai)

Hari raya dinamakan dengan 'id yang berarti berulang dari waktu ke waktu, bisa
minggu demi minggu, bulan demi bulan atau tahun demi tahun, karena ia selalu
dirayakan berulang-ulang untuk mengenang masa-masa indah dan bahagia.
Setiap ummat tentu memiliki hari raya yang selalu mereka rayakan pada saat-
saat tertentu untuk mengenang masa indah yang pernah terjadi, demikian juga
dengan umat Islam, Allah telah memberikan kepada kita dua hari raya yang
selalu kita rayakan setiap tahunnya, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha,
tidak ada hari raya lain yang dikenal selain kedua hari raya ini. Rasulullah `
memberikan tuntunannya kepada kita bagaimana sebaiknya kita merayakan
hari raya dengan menggabungkan antara ungkapan syukur, zikir, takbir untuk
mengagungkan kebesaran Allah dan bergembiraria dengan bentuk hiburan dan
permainan yang mubah yang tidak bertentangan dengan agama, karena Islam
agama yang sesuai dengan fitrah manusia.

Pertama, mengumandangkan takbir semenjak matahari terbenam pada malam
'idul fitri sampai dilaksanakannya shalat 'id, sebagai ungkapan rasa syukur
kepada Allah atas nikmat ibadah puasa yang telah kita jalankan selama
sebulan, karena melalui ibadah ini dosa-dosa yang pernah kita lakukan selama
sebelas bulan dihapuskan. Allahl berfirman:

"…Agar kalian bertakbir atas apa yang Ia tunjukan kepadamu dan agar kalian
bersyukur" (QS al-Baqarah:185)

Semua kaum muslimin, baik laki-laki, wanita, orang dewasa maupun anak-anak
dianjurkan mengumandangan takbir sejak matahari terbenam sampai
dilaksanakan shalat 'Id , di rumah-rumah, masjid-masjid, jalan-jalan, pasar,
disepanjang perjalanan menuju lokasi shalat dan di tempat-tempat lain dengan
suara keras, sesuai perintah ayat diatas dan sebagaimana yang dilakukan oleh
para sahabat Rasulullah dan para tabi'in.

Ibnu Umar a bertakbir di kemah tempat tinggalnya pada hari Mina (hari raya
Idul Adha dan hari Tasyriq) hingga terdengar oleh orang-orang yang berada di
masjid, merekapun bertakbir dan orang-orang di pasar juga ikut bertakbir
hingga menggoncangkan kota Mina dengan gema takbir. Ibnu Umar juga
bertakbir pada hari Mina setelah shalat, di tempat pembaringannya, tempat
tinggalnya, di tempat duduknya dan di tengah perjalanannya. Maimunah juga
bertakbir pada pada hari raya Idul Adha, dan para wanita bertakbir dibelakang
Abban bin Usman dan Umar bin Abdul Aziz pada malam hari tasyriq di masjid-
masjid. (HR. Bukhari). Imam Bukhari juga meriwayatkan dari Ummu Atiyah,
katanya: "Kami diperintahkan keluar pada hari raya, hingga kami keluarkan
para gadis dari pingitannya dan wanita-wanita yang haid, mereka bertakbir
bersama laki-laki, berdoa bersama mereka dan mengharapkan keberkahan hari
ini serta kesucianya." (HR Bukhari)

Kedua, disunnahkan pada hari raya mandi lalu memakai pakaian yang bagus dan
wangi-wangian sebagai tanda rasa syukur kepada Allah dan untuk
menampakkan nikmat-Nya, karena hari ini merupakan hari yang penuh
kebahagian. Ibnu Qayyim berkata: "Rasulullah ` memakai pakaian terbagus
yang beliau miliki ketika akan pergi melaksakan shalat 'idul fithri dan 'idul
adhha, beliau memiliki baju khusus untuk hari raya" (Zadul Ma'ad:1/425). Imam
Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Amara ia berkata: "Ummar membawa
baju kurung terbuat dari sutra tebal yang dijual di pasar, lalu ia mendatangi
Rasulullah dan berkata kepadanya: "Ya, Rasulullah belilah baju ini untuk
berhias pada hari raya dan menyambut para tamu" Rasulullah menjawab: "Baju
ini adalah milik orang yang tidak mendapatkan bagiannya di akhirat kelak"
Ummar lalu terdiam dalam beberapa lama sampai Rasulullah mengirimkan
kepadanya baju kurung terbuat dari sutra pula, Ummar lalu membawa baju ini
kepada Rasulullah dan berkata: "Wahai Rasulullah engkau mengatakan bahwa
baju ini adalah milik orang yang tak mendapat bagiannya di akhirat kelak, dan
sekarang engkau kirimkan kepada saya baju ini?" Rasulullah menjawab: "Baju ini
engkau jual dan uangnya engkau gunakan untuk membeli kebutuhanmu" (HR.
Bukhari). Rasulullah tidak mengingkari mengenakan pakaian indah untuk
berhari raya, namun yang beliau ingkari adalah memakai baju terbuat dari
sutra.

Ketiga, melaksanakan shalat dua raka'at. Ibnu Abbasa berkata:

"Kami mengikuti shalat 'id bersama Nabi saw, Abi Bakar, Ummar dan Usman
semuanya shalat sebelum khutbah…" (HR. Muslim).
Sifat shalat 'id: Sebagaimana shalat lainnya diwajibkan niat shalat 'id sambil
mengucapkan takbiratul ihram lalu mem baca doa iftitah lalu takbir sebanyak
tujuh kali pada raka'at pertama selain takbiratul ihram dan takbir ruku'dan lima
kali pada raka'at kedua selain takbir bangun dari sujud dan takbir ruku',
disunnahkan mengangkat kedua tangan pada tiap kali takbir dan diantara takbir
disunnahkan membaca tahlil, takbir dan tahmid.

Setelah itu membaca ta'awuz dan surat al fatihah. Jika sesorang tertinggal
beberapa takbir, maka tidak perlu menggantinya tetapi ia harus diam ketika
imam memulai membaca al-fatihah. Shalat 'id disunnahkan secara berjama'ah
sesuai tuntunan Rasulullah ` dan yang dilakukan oleh para sahabat, namun
dibolehkan shalat 'id dilakukan sendiri di rumah (Al-Majmu':5/31). Bagi orang
yang tertinggal shalat 'id dibolehkan shalat empat raka'at atau dua raka'at
seperti shalat biasa tanpa takbir atau dengan takbir. Ibnu Ma'ud berkata:

"Barangsiapa tertinggal shalat 'id hendaklah shalat empat raka'at" (Fathul
Bahri:2/611) dan diriwayatkan dari Anas, jika ia tidak mengikuti shalat 'id
bersama imam di Bashrah, maka ia mengumpulkan keluarganya dan para
budaknya lalu shalat dua raka'at dengan bertakbir.(Al-Mushannaf:2/183)
Keempat, disunnahkan pergi menuju lokasi shalat 'id dengan berjalan kaki
karena Rasulullah ` tidak pernah pergi menuju ke lokasi shalat 'id atau shalat
janazah dengan berkendara (Ibnu Majah). Ali bin Abi Thaliba berkata:

"Disunnahkan mendatangi shalat 'id berjalan kaki" (HR. Turmizi) Turmizi
berkata: Hadis ini hasan dan banyak ulama yang mengamalkannya.

Kelima, sebaiknya shalat 'id dilaksanakan di tanah lapang kecuali jika ada uzur
seperti karena hujan. Ibnu Qoyyim berkata: "Rasulullah ` shalat 'id di lokasi
shalat (bukan masjid), yaitu lokasi yang berada dekat pintu timur Madinah,
tempat ini merupakan tempat para jama'ah haji menyimpan barang mereka,
beliau belum pernah shalat di masjid kecuali sekali ketika hujan turun" (Zadul
ma'ad:1/425). Imam bukhari meriwayatkan dari Abi Sa'id al-khudri, katanya:

"Rasulullah ` keluar pada hari raya 'idul fithri dan 'idul adhha ke lokasi shalat,
dan pertama yang beliau lakukan adalah shalat…." (HR. Bukahri). Mazhab Syafi'i
mensyaratkan pelaksanaan shalat 'id di tanah lapang jika masjid sempit
sehingga tidak dapat menampung jama'ah, namun jika masjid luas, maka
pelaksanaan shalat 'id tanah lapang termasuk menyalahi keutamaan, karena
para imam selalu shalat 'id di Makah di masjid dan masjid adalah tempat yang
paling mulia dan suci. (Al-Majmu':5/6-7)

Keenam, kaum wanita dan anak-anak dianjurkan pergi ke tempat
diselenggarakannya shalat 'id baik gadis, orang tua dan wanita yang haid. Bagi

wanita haid agar menjauh dari lokasi shalat dan ikut mengumandangkan takbir
bersama serta mengharap berkah hari ini. Ummu Atiyah berkata:

"Dari Ummu 'Atiyah, ia berkata: "Rasulullah ` memerintahkan kepada kami agar
mengeluarkan para wanita pada shalat 'idul fitri dan 'idhul adhha, begitu pula
anak-anak perempuan yang mendekati baligh, gadis-gadis yang dipingit dan
wanita yang sedang haid. Mereka yang haid tidak ikut melaksanakan shalat,
namun hanya mengharap kebaikan dan berdoa bersama kaum muslimin" (HR.
Bukhari)

Ketujuh, disunnahkan menyantap makanan sebelum pergi shalat 'idul fithri dan
setelah shalat 'idul adhha. Dari Buraidah, katanya:

"Rasulullah ` tidak pergi untuk shalat 'idul fitri kecuali beliau menyantap makan
terlebih dahulu dan tidak makan pada hari raya 'idul adhha kecuali setelah
kembali dari shalat 'idul adhha" (HR. Turmizi)

Kedelapan, disunnahkan pergi dan pulang pada shalat 'id melalui jalan yang
berbeda. Dari Abu Hurairahakatanya:

"Rasulullah ` jika keluar pada hari raya kembali melalui jalan yang berbeda
dengan jalan yang dilalui ketika pergi" (HR. Turmizi)
Kesembilan, tidak disyari'atkan azan dan iqamah pada shalat 'id. Ibnu Qoyyim
berkata: "Jika Rasulullah ` tiba di lokasi shalat, beliau memulai shalat tanpa
azan dan iqamah atau mengucapkan: as shalatu jami'ah" (Zadul ma'ad:1/427)

Kesepuluh, tidak ada shalat sunnah yang dilakukan sebelum dan sesudah shalat
'id. Imam Bukhari menuliskan bab dalam kitabnya: "Bab shalat sebelum 'id dan
setelahnya" Beliau membawakan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu
Abbasa ia berkata:

"Sesungguhnya Rasulullah ` keluar pada hari raya 'idul fithri kemudian beliau
shalat dua raka'at tanpa shalat sebelumnya maupun setelahnya" (HR. Bukhari).
Jika shalat 'id dilaksanakan di masjid, maka boleh shalat sunnah tahiyyatul
masjid dan tidak boleh melaksanakan shalat sunnah selainnya. Sedangkan jika
dilaksanakan di tanah lapang, maka tidak ada shalat sunnah yang dilakukan
sebelumnya berdasarkan hadis di atas dimana Rasulullah ` setelah tiba di lokasi
shalat 'id beliau tidak melaksanakan shalat sebelum dan setelahnya.

Kesebelas, khutbah 'idul fitri dan 'idul adhha dilakukan setelah shalat dengan
dua kali khutbah. Ibnu Ummar berkata: "Sesunggauhnya Rasulullah `, Abu Bakar
dan Usman a semuanya melaksanakan shalat 'id sebelum khutbah" (HR.
Bukhari). Jabir berkata: "Saya menghadiri shalat 'id bersama Rasulullah `,
beliau memulai shalat sebelum khutbah tanpa azan dan iqamah lalu beliau
berdiri bersandarkan kepada Bilal, memerintahkan (manusia) bertakwa kepada
Allah dan mentaatiNya, memberikan peringatan dan nasehat kepada mereka

lalu beliau menuju ke tempat kaum wanita untuk memberikan peringatan dan
nasehat kepada mereka" (HR Bukhari Muslim).
Mendengarkan khutbah bukanlah syarat sah shalat 'id, karena itu tidak mengapa
jika seseorang pulang setelah melaksanakan shalat, namun mendengarkanya
adalah lebih baik agar seseorang memperoleh ilmu yang disampaikan khatib.
Abdullah al-musayyib berkata:

"Saya mengikuti shalat 'id bersama Rasulullah saw, ketika telah selesai
melaksanakannya, beliau berkata: "Kami akan menyampaikan khutbah, siapa
yang ingin mendengarkannya duduklah dan siapa yang ingin pulang pulanglah"
(HR. Nasai dan Ibnu Majah)

Keduabelas, diperbolehkan mengisi hari raya dengan bentuk hiburan dan
permainan yang mubah dan tidak mengandung kemaksiatan untuk menambah
suasana kegembiraan pada hari ini. Imam Bukhari menulis sebuah bab di dalam
kitabnya dengan judul: "Bab sunnah hari raya 'idul fithri dan 'idul adhha bagi
ummat Islam" dalam bab ini beliau membawakan dua buah hadis, salah satunya
sebuah hadis ang diriwayatkan oleh Aisyaha ia berkata:

"Abu Bakar menemui kami ketika dua orang gadis dari kalangan Anshar sedang
bernyanyi menuturkan peristiwa hari Buak (hari kemenangan suku Aus atas suku
Khazraj) yang menjadi buah bibir kalangan Anshar. Aisyah berkata: "Keduanya
bukan penyanyi". Abu Bakar berkata: "Apakah pantas seruling syetan di rumah
Rasulullah?". Hari itu adalah hari raya. Rasulullah saw berkata: "Wahai Abu
Bakar, sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya dan ini adalah hari raya
kita" (HR. Bukhari). Hadis ini juga dibawakan oleh Imam Muslim di dalam kitab
shahihnya dengan judul: "Bab rukhshah (diperbolehkan) permainan yang tidak
mengandung maksiat pada hari raya"

Ketiga belas, Diperbolehkan mengucapkan selamat hari raya. Ibnu Hajar
berkata dalam Fathul-Bahri: "Kami meriwayatkan dalam Al-Mahamaliyah
dengan isnad yang baik dari Jubair bin Nafir: "Para sahabat Rasulullah jika
bertemu saling mengucapkan kalimat: "Taqabalallahu minna waminkum"
semoga Allah menerima ibadah kita." (Fathul-Bahri 2/575)

Maraji':
1. Ibnu Hajar Al-'Asqalani: Fathul-Bahri Syarhu shahihil-bukhari
2. An-Nawawi: Syarhu shahihi-bukhari
3. Ibnu Shalih Ali Basam: Taisirul'alam
4. An-nawawi: Al-Majmu' syarhul-muhazzab
5. Ibnu-Qoyyim al-jauziyyah: Zadul-Ma'ad fi hadyi khairul-'ibad
6. Sayyid sabiq: Fifhussunnah

http://www.fajar.co.id/ramadan/news.php?newsid=114

Penyaluran Zakat Fitrah

( 30 Oct 2005, 283 kali baca )

Pertanyaan:
1. Mana yang lebih afdal dalam penyaluran zakat fitrah; langsung kepada fakir miskin atau
melalui amil zakat?
2. Apakah amil zakat mendapat pembagian 12,5 persen dari zakat yang dikumpulkan?

Wassalam, Saade, Kabupaten Sidrap

Jawaban:

1. Zakat fitrah merupakan kewajiban umum bagi setiap muslim, baik lelaki, perempuan, kaya,
miskin, dewasa, dan anak-anak. Tidak ada satupun yang bisa terhindar dari kewajiban tersebut,
kecuali orang yang sama sekali tidak memiliki persediaan makanan di rumahnya pada malam
dan hari Idul Fitri.

Pemberian langsung kepada fakir miskin memiliki titik kelemahan, sebab dapat terjadi
ketidakmerataan pembagiannya, sehingga bertumpuk kepada fakir miskin tertentu. Disarankan
diberikan kepada amil zakat yang dapat melakukan pembagian zakat fitrah secara merata dan
membagikannya sebelum salat Idul Fitri berlangsung.

Sebab, apabila dibagikan sesudah salat Idul Fitri, maka hukumnya tidak lagi sebagai zakat
fitrah, melainkan menjadi sedekah biasa (Hadis dari Ibn Abbas).

2. Angka 12,5 persen diambil dari bagian satu per delapan asnaf yang berhak menerima zakat,
seperti tersebut dalam QS al-Tawbah (9): 60. Menurut Yusuf Qardawi, hak amil 12,5 persen
adalah jumlah maksimal, tidak boleh lebih dari itu, agar kepentingan mustahiq lainnya,
terutama hak fakir miskin, tetap terpelihara.

Hak amil yang dimaksud adalah untuk orang yang bekerja sebagai amil, termasuk biaya
operasionalnya. Wallahu ¹alam bissawab.

http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?
option=com_content&task=view&id=987&Itemid=31

Idul Fitri Dan
Zakat Fitrah
Ditulis oleh Dewan Asatidz
Oleh : Arwani Syaerozi, Lc *
Dalam Islam kita mengenal beberapa hari kebesaran, dalam satu minggu kita
akan bertemu dengan hari Jum`at, sebuah hari raya dalam tarf mingguan.
Untuk level tahunan kita pun mengenal Idul fitri dan Idul adha, merupakan dua
hari kebesaran level tahunan bagi komunitas muslim se-dunia.
Oleh : Arwani Syaerozi, Lc *

Dalam Islam kita mengenal beberapa hari kebesaran, dalam satu minggu kita
akan bertemu dengan hari Jum`at, sebuah hari raya dalam tarf mingguan.
Untuk level tahunan kita pun mengenal Idul fitri dan Idul adha, merupakan dua
hari kebesaran level tahunan bagi komunitas muslim se-dunia. Mengenai Ied
yang pertama (Idul fitri) lumrahnya kita lebih perhatian dalam menyambut
kedatangannya dan merasakan lebih semarak dalam setiap kali
memperingatinya.

Idul fitri yang dirayakan pada setiap tanggal 1 Syawal, eksistensinya terasa lebih
sakral jika dibandingkan dengan Idul adha yang terjadi pada tanggal 10
Dzulhijjah, sebab jatuhnya Idul fitri tepat setelah satu bulan penuh kita
melaksanakan ibadah puasa. Sehingga dengan tibanya tanggal 1 Syawal kita
seakan-akan merasakan sebuah kemenangan dalam mengendalikan hawa nafsu.

Ibadah lain yang turut mewarnai setiap datangnya hari raya Idul fitri adalah
zakat fitrah, kewajiban yang bersifat individual ini ikut menghiasi hari raya
sebagai bentuk riil dari asas kebahagiaan bersama dalam ideologi Islam. Zakat
yang secara umum bisa kita artikan sebagai proses pemerataan kepemilikan ini,
pelaksanaannya tidak lain merupakan perpindahan harta yang dimiliki oleh
kalangan orang-orang kaya ke tangan orang-orang yang tidak berdaya, tentunya
dengan beberapa syarat dan catatan yang dikupas secara detail dalam kajian
fiqh. Diantara hikmah disyari`atkannya zakat fitrah menjelang datangnya hari
Idul fitri adalah agar dapat berbagi kebahagiaan antara sesama muslim dari
kalangan mampu dan non mampu. Bagaimana tidak, sebab seorang muslim yang
memiliki kecukupan makanan pada hari itu diharuskan atasnya mengeluarkan
zakat fitrah baik berupa bahan makanan pokok maupun berupa uang.

Dari sini penulis merasa perlu untuk me-reaktualisasi makna penyambutan
datangnya hari raya Idul fitri itu sendiri, yang terkadang tanpa disadari
maknanya telah dicupetkan oleh sebagian kalangan dan atau bahkan disalah
artikan. Saya yakin bahwa essensi Idul fitri itu sendiri bukan hanya sekedar
media penumpahan rasa bahagia bersama anak cucu, kerabat, atau teman-
teman dekat dengan melaksanakan shalat Ied berjamaah di sebuah masjid atau
lapangan, berjabat tangan (ramah tamah), menyantap ketupat serta aneka
macam makanan dan minuman lainnya. Akan tetapi lebih dari itu, rasa
kepekaan sosial semestinya harus lebih dititik beratkan, atau dengan kata lain
perhatian kita pada realisasi zakat fitrah dan proses penyalurannya harus lebih
ditonjolkan Sebab pengurangan penderitaan komunitas miskin akan dapat
menghapus penyakit-penyakit antisosial di antara mereka dan meningkatkan
motivasi kerja, efisiensi, dan juga mereduksi waktu terbuang (kekosongan)
akibat dari konflik.

Di belahan bumi ini masih banyak kita temukan saudara-saudara se-iman yang
hidup di bawah garis kemiskinan. Baik itu disebabkan oleh ketidak stabilan
politik dan perekonomian, maupun dikarenakan faktor minimnya sumberdaya
manusia. Tengoklah misalnya di negara Afganisthan, Irak, dan Bosnia yang

sampai saat ini rakyatnya terus dirundung ketidak jelasan nasib dan keburaman
sosial yang diakibatkan tidak stabilnya kondisi politik dan ekonomi negara.

Di berbagai media massa akan banyak kita temukan gambaran kesengsaraan
mereka, kondisi jauh dari kesejahteraan menjadi topik utama dalam mengisi
harian surat kabar dan layar televisi rumah kita. Realitas buruk ini tidak cukup
dengan membiarkan mereka untuk membangun kembali keterpurukan politik
dan ekonomi negaranya yang selama ini menjadi sumber utama kesengsaraan,
sementara kita yang menjadi saudara se-imannya hanya sibuk dengan urusan
pribadi bahkan dengan kebahagiaan nisbi dalam perayaan-perayaan. Justru
adanya langkah nyata dari kita lah yang akan membantu mengeluarkan mereka
dari belenggu kesengsaraan, tentunya dengan bantuan baik berupa moril
maupun materil. Dan zakat fitrah adalah salah satu dari bentuk bantuan materil
yang bisa kita salurkan kepada mereka. Apalah artinya kalau kita berbahagia
bersama anak cucu, karabat, dan teman-teman dekat kalau mereka yang
notebene saudara se-iman justru merasakan suasana kebalikannnya. Akankah
fenomena kesengsaraan dan kematian akibat kelaparan yang setiap saat
menghantui mereka menjadi sesuatu yang lumrah mengisi hari-hari kita, hingga
sama sekali tidak membangkitan rasa peduli kita ? atau bahkan kita akan
menganggapnya sebagai sebuah konsekuensi dari sikap dan perbuatan mereka
dalam menjalani kehidupan berbangsa ? Sungguh sangat naif kalau dalam diri
kita tersimpan sikap-sikap di atas. Bukankah Rasul saw pernah mengingatkan
umatnya akan efek dari sebuah kemiskinan, “ bahwa kemiskinan akan
menjerumuskan seseorang ke dalam kekufuran “. Apakah kita rela kekufuran
akan mengganti intisari keimanan mereka ? Bukankah Rasul Saw juga pernah
bersabda bahwa “ orang yang tidak peduli dengan kondisi umat Islam maka
dia tidak termasuk darinya “. Dari hadist ini saja sebenarnya dianggap cukup
untuk mencambuk kepasifan kita dalam melihat realitas ketimpangan sosial dan
kondisi tidak meratanya kesejahteraan dalam komunitas kaum muslim.

Di sisi lain komitmen Islam yang mendalam terhadap pesaudaraan dan keadilan
menyebabkan konsep kesejahteraan bagi semua umat manusia sebagai suatu
tujuan pokok Islam.

Para fuqaha (pakar hukum Islam) secara aklamasi telah menyepakati bahwa
adalah fardlu kifayah (kewajiban kolektif) hukumnya bagi masyarakat muslim
untuk memperhatikan kebutuhan-kebutuhan pokok orang miskin Kalau demikian
adanya, mengapa pada kesempatan Idul fitri kali ini nurani kita tidak tergugah
untuk melakukan sesuatu yang berarti bagi saudara-saudara se-iman yang hidup
dalam belenggu kesengsaraan.

Sekali lagi, makna Idul fitri bukan hanya “perayaanâ€‌ sepihak, hari raya ini
bukan milik segelintir orang saja akan tetapi kebahagiaan tersebut harus
dirasakan oleh seluruh elemen masyarakat muslim di seluruh penjuru dunia
lintas profesi dan tingkat strata sosial.

Wallahu A`lam

* Penulis adalah Mahasiswa Program Pasca Sarjana Syari`ah Islamiyah Spesifik
Ushul Fiqh Universitas Ezzitouna Tunis, Peminat masalah-masalah sosial dan
keagamaan

http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/2/cn/5461

Batasan Takbir Idul Fitri Dan Adha

Pertanyaan:

kapan batasan takbir idul adha & fitri, apakah disunnahkan membaca takbir
selesai sholat wajib, kalau disunnahkan apa bacaan setelah takbir, apakah kita
membaca dzikir-dzikir seperti selesai sholat wajib.

Abdullah

Jawaban:

Assalamu `alaikum Wr. Wb.
Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil
Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d

Para fuqaha bersepakat atas disyariatkan takbir pada dua hari raya �Idul Fithri
dan �Iedul Adh-ha ketika berangkat shalat. Begitu juga selesai melakukan
shalat 5 waktu pada hari-hari tasyrik yaitu hingga tanggal 13 Zulhijjah.

Dasar pensyariatan takbir pada dua hari raya �Idul Fithri dan �Iedul Adh-ha
ketika berangkat shalat adalah firman Allah SWT :

Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu
mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan
kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS. Al-Baqarah : 185)

Sedangkan dasar pensyariatan takbir pada tiap-tiap selesai shalat fardhu
selama hari tasyrik adalah firman Allah SWT berikut ini.

Dan berdzikirlah kepada Allah (bertakbir) dalam beberapa hari yang
berbilang . Barangsiapa yang ingin cepat berangkat sesudah dua hari, maka
tiada dosa baginya. Dan barangsiapa yang ingin menangguhkan , maka tidak
ada dosa pula baginya , bagi orang yang bertakwa. Dan bertakwalah kepada

Allah, dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya. (QS.Al-
Baqarah : 203)

Selain itu ada hadits Rasulullah SAW yang menegaskan dasar perintah untuk
bertakbir di hari tasyrik.

Dari Jabir ra bahwa Rasulullah SAW bertakbir pada shalat fajar hari Arafah
hingga shalat Ashar di hari terakhir tasyrik (13 Zulhijjah) yaitu setelah
selesai shalat maktubah . (HR. Ad-Daruquthuny)

Dalam riwayat lainnya juga disebutkan :

Adalah Rasulullah SAW bila shalat shubuh pada hari Arafah mengahdap
kepada para shahabat dan berkata,
Tetaplah di tempat kalian dan ucapkan
(Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha illallah, Wallahu Akbar, Allahu Akbar
Wa lillahilhamd). Maka beliau bertakbir sejak dari pagi hari Arahaf hingga
shalat Ashar di akhir hari tasyrik setiap ba;da shalat).
>

Secara hukum dan rinciannya, para ulama memang berbeda pendapat, baik
secara hukum maupun waktu-waktunya :

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->