P. 1
HOTD-10hr-jelang-R

HOTD-10hr-jelang-R

|Views: 411|Likes:
Published by api-3725701
Hadist riwayat Aisyah ra., ia berkata:
\
Adalah aku mempunyai tanggungan puasa Ramadan, aku tidak dapat membayarnya kecuali pada bulan Syakban, karena kesibukan dari Rasulullah saw. atau kesibukan bersama Rasulullah saw.
Hadist riwayat Aisyah ra., ia berkata:
\
Adalah aku mempunyai tanggungan puasa Ramadan, aku tidak dapat membayarnya kecuali pada bulan Syakban, karena kesibukan dari Rasulullah saw. atau kesibukan bersama Rasulullah saw.

More info:

Published by: api-3725701 on Oct 15, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/09/2014

pdf

text

original

[HOTD] 10hr jelang R September 13th, 2006 Hadist riwayat Aisyah ra.

, ia berkata: Adalah aku mempunyai tanggungan puasa Ramadan, aku tidak dapat membayarnya kecuali pada bulan Syakban, karena kesibukan dari Rasulullah saw. atau kesibukan bersama Rasulullah saw. Links: [keutamaan bulan syakban] http://www.suaramerdeka.com/harian/0609/04/ragam03.htm [meneliti bebeRapa amalan di bulan sya’ban] http://baiturrahmah.blogsome.com/2006/08/25/meneliti-beberapa-amalan-dibulan-syaban/ [keutamaan bulan sya’ban] http://batampos.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=4061&It emid=75 [hadis dilaRang puasa sebelum Ramadhan] http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/15/cn/21486 [19 tanda gagal Ramadan] http://www.alirsyad.or.id/comments.php?id=P849_0_17_0_C [Ramadhan di indonesia: ciRi khas dan ikhtilaf] http://www.kompas.com/kompas-cetak/0502/02/Bentara/1530657.htm [panduan mengqadha puasa Ramadan dan pelaksanaan puasa sunnah enam haRi bulan Syawal] http://www.bharian.com.my/Misc/RamadanAlMubarak/Puasa/Hari/Fadilat/200 41012142917/Article/ [Ramadhan akan menjelang] http://www.brunet.bn/gov/mufti/alhadaf/dis97/h_br12.htm -perbanyakamalmenujusurga-

http://www.suaramerdeka.com/harian/0609/04/ragam03.htm Senin, 04 September 2006 RAGAM

TASAWUF INTERAKTIF Keutamaan Bulan Syakban Tanya : Ada beberapa pertanyaan yang perlu saya sampaikan, sehubungan datangnya bulan Syakban, yakni banyak orang yang melakukan upacara tertentu pada bulan ini: 1.Apa keutamaan bulan Syakban dan nisfu Syakban. 2. Adakah dasarnya dalam hadis Nabi saw.? Karena ada masyarakat yang menganggap bid'ah. Terima kasih. Rahmah, di Purwodadi. Jawab : Saudari Rahmah, seseorang tidak boleh memutlakkan pendapatnya dan tidak boleh menganggap bid'ah terhadap amalan tertentu, masing-masing mempunyai dasar. Kalau dilihat dari akar kata, syakban berasal dari akar kata sya'aba(cabang), yang berarti amal kebaikan dalam bulan ini dilipatgandakan. Sedang ditinjau dari dasar normatifnya, Rasulullah saw, pernah bersabda, "Keutamaan bulan Syakban dibanding dengan bulan-bulan lainnya adalah bagaikan aku dibanding dengan umatku, perbandingan keutamaan bulan Ramadan dengan bulan-bulan lainnya adalah ibarat keutamaan Allah SWT dengan hamba-Nya". Ada yang menyatakan bahwa bulan Rajab untuk membersihkan badan, Syakban untuk membersihkan hati, Ramadan untuk membersihkan ruh. Logikanya ialah orang yang membersihkan badan pada bulan Rajab, maka akan bersih pula hatinya pada bulan Syakban, barang siapa yang membersihkan hati di bulan Syakban, maka akan bersih pula ruhnya di bulan Ramadan. Oleh karena itu yang mengotori badan dan hatinya pada kedua bulan itu, kemungkinan pada bulan Ramadan tidak bisa membersihkan ruhnya. Bagi orang Mukmin disunahkan berpuasa 3 hari di awal, 3 hari di pertengahan, dan 3 hari di akhir Syakban. Orang yang menjalankan puasa tersebut mempunyai bobot seperti 70 nabi, atau sama dengan nilai orang yang beribadah selama 70 tahun, dan apabila mati, dicatat mati sahid. Nabi saw juga menyatakan barang siapa yang mengagungkan bulan Syakban dan menjaga diri, senantiasa taat dan mencegah dari perbuatan ma'shiat (durhaka), Allah akan mengampuninya dan dia akan aman dari bahaya dan sakit. Berkaitan dengan keutamaan Nisfu Syakban, Nabi saw, menyatakan bahwa "Jibril datang kepadaku pada malam Nisfu Syakban. Dia berkata: "Wahai Muhammad, malam ini pintu-pintu langit dibuka, maka berdirilah dan tegakkan shalat serta tengadahkan muka dan tanganmu ke atas. Kemudian aku bertanya kepadanya, 'Malam apakah ini wahai Jibril?' Jibril

http://baiturrahmah.blogsome.com/2006/08/25/meneliti-beberapa-amalan-dibulan-syaban/ 25 August 2006 Meneliti Beberapa Amalan di Bulan Sya’ban Dear Friends, Kalo ga salah hari ini kita dah masuk bulan Sya’ban ya. Fhuiih.. bentar lagi Ramadhan. Duu.. du.. du.. pengen rasanya cepet sampe ke Rahadhan. Pengen cepet-cepet bales dandam, memaksimalkan kemampuan meraup banyak keuntungan akhirat di bulan itu. Oiya sebelum sampai bulan Ramadhan, biasanya terdapat diantara saudarasaudara kita yang melaksanakan ibadah-ibadah khusus di bulan Sya’ban. Kita teliti sedikit yuk masalah ibadah-ibadah khusus itu. BULAN SYA’BAN Antara Yang Disyari’atkan dan Yang Tidak Disyari’atkan Perkara-Perkara Yang Disyari’atkan 1. Siapa yang memasuki bulan Sya’ban sementara dia punya qadha puasa Ramadhan, wajib baginya untuk segera menggantinya jika dia mampu, tidak boleh baginya untuk menundanya hingga setelah Ramadhan berikutnya jika tidak ada halangan. Siapa yang tidak mengganti qadha puasanya hingga berakhir bulan Sya’ban maka wajib baginya bertaubat atas kelalaiannya dan dia tetap diwajibkan mengganti puasanya tersebut ditambah membayar kafarat setiap hari yang ditinggalkan dengan memberikan kepada orang miskin satu mud beras (atau makanan pokok lainnya). 2. Disunnahkan untuk memperbanyak shaum (puasa) pada bulan Sya’ban, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dahulu selalu melakukannya. Dalam kitab As-Shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim) terdapat hadits ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dia berkata: “Aku belum pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyempurnakan shaum selama satu bulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan, dan aku belum pernah melihat beliau memperbanyak shaum dalam satu bulan kecuali pada bulan Sya’ban.” Hikmah diperintahkannya untuk memperbanyak shaum pada bulan Sya’ban –wallahu a’lam- adalah

sebagai pembukaan bagi bulan Ramadhan yang diwajibkan shaum padanya, agar terlatih untuk melakukan shaum pada bulan tersebut. 3. Tidak boleh menyambung shaum pada bulan Sya’ban hingga bulan Ramdhan. Sehari atau dua hari terakhir pada bulan Sya’ban harus dihentikan, kecuali jika pada hari itu berbarengan dengan hari biasa dia melakukan shaum padanya, seperti hari Senin atau Kamis, maka dia boleh melakukannya. Terdapat dalam kitab Ash-Shahihain dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam beliau bersabda: “Jangan kalian dahulukan Ramadhan dengan shaum sehari atau dua hari, kecuali (pada hari) yang dia (biasa) shaum, maka shaumlah.” Para ulama menyebutkan hikmahnya dalam masalah ini yaitu: “Agar puasa bulan Ramadhan tidak ditambah dengan puasa selainnya sebagaimana untuk tujuan yang sama dilarang shaum pada hari raya (hari ‘Ied). Begitu juga – hikmah yang lainnya – sebagaimana diketahui bahwa antara perbuatan sunnah (nafl) dan perbuatan wajib (fardhu) hendaknya ada pemisah (jeda) waktu pelaksanaannya, sebagaimana antara shalat nafilah (sunnah) dan shalat fardhu.” Perkara-Perkara Yang Tidak Disyari’atkan 1. Mengkhususkan hari dan malam Nisfu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban) dengan melakukan shaum dan shalat, semua perbuatan tersebut tidak ada riwayat yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, juga dari para sahabatnya. Hal tersebut merupakan perkara yang diada-adakan. Terdapat hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Jika datang malam Nisfu Sya’ban maka beribadahlah pada malam harinya dan puasalah pada siang harinya, sesungguhnya Allah Ta’ala turun pada hari itu saat matahari terbenam di langit dunia seraya berfirman: “Siapa yang meminta ampun akan Aku ampuni, siapa yang minta rizki akan Aku beri rizki, siapa yang sakit akan Aku sembuhkan.” Hadits ini dilemahkan oleh Imam Bukhari dan lainnya. Adapun mengenai keutamaan malam nisfu Sya’ban, maka berkatalah Al-hafidz Ibn Rajab Rahimahullah: “Mengenai keutamaan malam nisfu Sya’ban terdapat sejumlah hadits yang diperselisihkan kedudukannya, sebagian besar ulama melemahkannya, sedangkan Ibnu Hibban menyatakan shahih sebagiannya dan menempatkannya dalam kitab Shahihnya.” (Latha’iful Ma’arif: 143). Perlu diketahui bahwa Ibnu Hibban dikenal oleh ulama hadits sebagai orang yang menggampangkan dalam men-shahihkan hadits. 2. Di sebagian tafsir disebutkan bahwa: Malam mulia yang padanya diturunkan Al-Qur’an yang termasuk dalam firman Allah Ta’ala: “inna anzalnahu fi lailatil qadr” adalah malam Nisfu Sya’ban. Pendapat ini keliru dan menyimpang dari kandungan Al-Qur’an itu sendiri, dan para ulama telah membantahnya. Al-Qurthubi seraya mengutip Abu Bakar bin

Arabi berkata dalam tafsirnya: “Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa malam tersebut (maksudnya Lailatul qadar) terjadi pada malam Nisfu Sya’ban, itu adalah pendapat yang keliru, karena Allah Ta’ala tatkala berfirman dalam kitab-Nya (syahru romadhonalladzi unzila fihilqur’an) menjelaskan bahwa waktu turunnya Al-Qur’an adalah pada bulan Ramadhan dan kemudian menetapkan waktu malamnya dalam ayat ini: (fi lailati mubarokah) maka siapa yang menyangka bahwa hal tersebut terjadi pada waktu selainnya maka itu merupakan dusta yang sangat besar terhadap Allah Ta’ala.”

Download juga : Perayaan Nisfu Sya’ban dalam Sorotan Ulama

http://batampos.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=4061&It emid=75 Keutamaan Bulan Sya’ban Jumat, 08 September 2006 Oleh: Mahmudi Asyari* Di beberapa desa di Indonesia ada suatu tradisi menarik yang dilakukan setiap malam pertengahan bulan Syakban (Nisf Sya’ban). Tradisi itu adalah adanya suatu kegiatan masyarakat untuk menyemarakkan malam itu dengan berbondong-bondong ke musalla atau masjid, untuk menunaikan shalat sunnah di malam. Nisf Sya‘ban yang diikuti kemudian dengan pembacaan Surah Yasin sebanyak tiga kali. Tujuannya, menurut imam yang memimpin acara itu adalah; pembacaan Surah Yasin pertama dimaksudkan agar diberi keselamatan baik du dunia dan akhirat, kedua agar diberikan panjang umur, dan ketiga agar diberikan rizki yang halal. Saya tidak tahu apakah apakah yang dilakukan mempunyai sandaran nas yang kuat (sahih) atau tidak, yang jelas fenomena itu merupakan sebuah bentuk antusiasme umat di pedesaan khususnya, untuk menyambut serta memeriahkan malam pertengahan bulan Syakban dalam rangka mencapai (dari ketiga tujuan membaca Yasin itu) ridha Allah swt. Terlepas beberapa kalangan, khususnya intelektual perkotaan menganggap persoalan itu merupakan sesuatu yang tidak ada sandarannya, atau bahkan

masuk dalam kategori bid‘ah, ada suatu nilai yang mesti dicermati, yaitu adanya suatu anggapan bahwa bulan Sya‘ban khususnya malam pertengahannya, mempunyai nilai keutamaan di mana mereka merasa perlu untuk mendapatkan hal tersebut. Dalam beberapa hadis memang disebutkan, keutamaan bulan Syaban termasuk pertengahannya. Hanya saja, ketika kemudian usaha mencapai ridha Allah swt direduksi dengan membaca Yasin, itu yang mungkin perlu diberikan pengarahan lebih lanjut. Ibn Rajab dan Imam Nawawi menegaskan tidak ada amalan tertentu berkaitan dengan malam Nisf Sya‘ban. Bahkan, Ibn Rajab dengan nada lebih tegas perayaan (haflah) malam Nisf Sya‘ban merupakan praktik yang dipengaruhi Israiliyyah (bentuk ritual yang biasa dilakukan Bani Israil). Namun tidak semua sepakat dengan pendapat dengan kedua ulama tersebut sebagaimana tidak semua ualam tidak sepakat dengan yang mendukung haflah Nisf Sya‘ban dan masing-masing merasa mendapatkan pembenaran dari dalil. Berkaitan dengan masalah keutamaan bulan Syakban, Nabi Muhammad dalam sebuah kesempatan pernah bersabda, “Keutamaan bulan Sya’ban di atas semua bulan, sebagaimana keutamaanku di atas seluruh Nabi, dan keutamaan bulan Ramadan rnengatasi semua bulan, sebagaimana halnya keutamaan Allah swt di atas semua hamba-Nya.” Persoalannya, apakah bentuk meramaikan Sya`ban di atas sesuai dengan keutamaan itu? Dalam rangka mencermati lebih lanjut apa yang dimaksudkan oleh Nabi dalam hadisnya itu, seorang ulama berusaha mengungkapkan misteri bulan Syalban dengan mengurai satu persatu huruf yang merangkainya. Huruf syin sebagai huruf pertama pada kata Sya‘ban, diasosiasikan dengan kata syarafun yang berarti kemuliaan, atau dengan kata syafa‘ah yang berarti syafaat, yaitu suatu bentuk perantaraan yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad untuk memberikan pertolongan kepada seseorang di akhirat kelak. Huruf ain diartikan dengan kata al-izzah wal karamah atau kemulyaan, yaitu suatu bentuk perlindungan Allah yang berupa kekuatan dan keajaiban yang diberikan kepada para wali-Nya. Huruf ba’ dimaknai dengan al-birr atau kebaikan. Huruf ’alif dimaknai dengan ulfah atau belas kasihan, dan nun dimaknai dengan al-nur atau cahaya. Tradisi yang berkembang di kalangan para sahabat, menjadikan bulan Rajab dan Syakban sebagai bulan persiapan dalam rangka mencapai spiritualitas yang tinggi dalam bulan Ramadhan. Sebab itu, mereka memperbanyak ibadah dan puasa, sehingga ketika bulan Ramadhan tiba, mereka sudah merasa siap dengan segala sesuatu di bulan Ramadhan. Apa yang dilakukan sahabat tersebut, tidak serta merta merupakan inisiatif mereka; melainkan sudah ada sandarannya dalam hadis Nabi. Nabi Muhammad

saw dalam sebuah sabdanya menyatakan: “Siapa saja yang berpuasa 3 hari pada awal. Pertengahan, dan akhir bulan Syakban, akan mendapatkan pahala 70 orang Nabi yang tingkatannya seperti beribadah kepada Allah selama 70 tahun dan jika yang bersangkutan meninggal pada tahun itu akan tergolong syahid”. Namun, dari tiga keutamaan (awal, pertengahan, dan akhir) yang sangat populer di kalangan masyarakat, adalah pertengahan Syakban (Nisf Sya‘ban). Hal ini disebabkan, karena sebagian kalangan meyakini pertengahan bulan Syakbanlah sebagai inti keberkahan bulan itu. Sebab itu, bisa dipahami, jika banyak kalangan yang secara khusus memperbanyak ibadah dan ritual lainnya pada pertengahan bulan Syakban. Adanya fokus khusus kepada pertengahan bulan Syakban tersebut, mungkin karena adanya sedikit kesalahan sehingga mengabaikan anjuran Nabi agar memperbanyak ibadah di awal, pertengahan, dan akhir bulan Syakban. Atau bisa jadi, karena mereka terlalu antusias dalam memaknai hadis Nabi, “Pada malam Pertengahan Syakban Jibril datang kepadaku. Ia berkata, Wahai Muhammad, pada malam itu pintu-pintu langit dan pintu-pintu rahmat dibuka, maka dari itu tunaikanlah salat dan angkatlah kepala dan kedua tanganmu ke langit”. Aku bertanya, “Hai Jibril, malam apakah ini?” Jawabnya, “Pada malam ini 300 pintu rahmat telah dibuka, Allah mengampuni semua orang yang tidak musyrik kepada Allah, bukan ahli sihir, bukan dukun, bukan orang yang suka bermusuhan, bukan peminum arak, bukan pelacur, bukan pemakan harta riba, bukan pendurhaka terhadap kedua orang tua, bukan yang suka mengadu domba dan bukan orang yang suka memutus tali persaudaraan” Sesudah mendengar penuturan Malaikat Jibril itu, Nabi bergegas keluar untuk menunaikan salat dan bersujud dengan khusu’ sehingga pada saat mengucapkan doa beliau meneteskan air. Adapun doa yang dibaca beliau, Allahumma inni a’uzu bi‘afwika min iqabika wa a‘uzu biridhaka min sukhtika wa a‘uzu minka jall wajhika la uhsi tsanaan alaika (Ya Allah, dengan ampunan-Mu aku berlindung dari siksa-Mu dan dengan ridha-Mu akau berlindung dari murkaMu, dan aku tidak sanggup menghitung-hitung pujiku kepada-Mu). Mencermati hadis tersebut, memang tidak diragukan bahwa pertengahan bulan Sya‘ban memang mempunyai keutamaan, yaitu dibukanya lebar-lebar pintu taubat di sisi Allah dan itu, merupakan kesempatan bagi siapa saja yang berharap ampunan dan ridha-Nya untuk memberbanyak ibadah di malam itu. Dan, apa yang dilakukan masyarakat dalam menyemarakkan malam pertengahan bulan Syakban, memang tidak ada salahnya. Hanya saja, kesemarakan itu perlu ditekankan agar sesuai dengan anjuran Nabi,

sehingga arti menyemarakkan malam itu tidak sebatas menunaikan salat sunnah dan membaca surah Yasin tiga kali. Di samping itu, perlu diluruskan anggapan di sejumlah kalangan bahwa malam pertengahan bulan Sya‘ban merupakam malam pergantian rapor, sehingga memperbanyak ibadah hanya sebatas malam itu guna mendapatkan rapor yang baik. Padahal anjuran menyemarakkan malam pertengahan malam itu, tidak terlepas dari keutamaan di keseluruhan bulan Syakban itu sendiri dalam rangka mempersiapkan kedatangan bulan Ramadhan. Sebab itu, sudah selayaknya pada malam pertengahan bulan Syakban yang akan yang akan datang, setiap muslim yang meyakini keutamaan Malam Nisf Sya‘ban menyemarakkannya—tidak hanya dengan membaca surah Yasin—dengan melakukan shalat malam dan berbagai bentuk amalan lainnya. Sedangkan bagi yang tidak meyakini tidak perlu merasa gerak dengan fenomena perayaan malam Nisf Sya‘ban. Anggap saja perbedaan seputar masalah itu sebagai sebuah fenomena masyarakat yang senantiasa berusaha mencari kebenaran. Semoga semarak Nisf Sya‘ban memotivasi seluruh umat Islam untuk meningkatkan pengamalan ajaran agama mereka dalam rangka mencapai ridha Allah.*** *)Mahmudi Asyari, pemerhati masalah sosial keagamaan.

http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/15/cn/21486 Konsultasi : Puasa Hadis dilarang puasa sebelum ramadhan Pertanyaan: Assalamu'alaikum Pak Ustadz, mohon beri penjelasan tentang hadis tentang pelarangan puasa 1 hari atau 2 hari menjelang Ramadhan. Jzk amir Jawaban: Assalamu alaikum wr.wb. Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada kita semua. Saudara Amir, hadis yang melarang berpuasa sehari atau dua hari menjelang Ramadhan di antaranya disebutkan dalam kitab hadis Sahih Bukhari yang berbunyi, ‫َ ق م ل ّ َ ه لم‬ َ َّ‫َنْ َا َ يَوْ َ الش ّ فقدْ عصَى أبَا الْ َاسِ ِ صَّى ا ُ عَليْ ِ وَس‬ ‫ل‬ َ َ َ ‫م ص م م ّك‬

“Siapa yang berpuasa pada hari syak (yang diragukan), berarti ia telah mendurhakai Nabi saw.” ‫ْه‬ ُ ‫َ تَ ُو ُوا ح ّى تَرَوْا ال ِلَ َ و َ ُفْطِ ُوا ح ّى تَرَو‬ ‫ْه ل َل ت ر َت‬ ‫ل ص م َت‬ “Janganlah kalian berpuasa sebelum melihat hilal dan jangan kalian berbuka sebelum melihat hilal.” Dalam memberikan penjelasan terkait dengan hadis di atas para ulama menegaskan bahwa puasa pada hari tersebut dilarang bagi mereka yang secara sengaja memulai puasanya pada hari yang masih diragukan (sehari atau dua hari sebelum Ramadhan) dengan maksud berhati-hati karena khawatir hari tersebut sudah masuk Ramadhan. Adapun kalau sebelumnya ia memang sudah biasa berpuasa sunah di bulan Sya’ban, tidak ada salahnya untuk meneruskan puasa sunah itu hingga akhir Sya’ban. Dan ia baru memulai puasa Ramadhan ketika telah melihat hilal. Wallahu a’lam bish-shawab. Wassalamu alaikum wr.wb.

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0502/02/Bentara/1530657.htm Ramadhan di Indonesia: Ciri Khas dan Ikhtilaf André Möller BEBERAPA waktu lalu cendekiawan Islam Tariq Ramadam mengunjungi Swedia dan berbicara tentang topik kesukaannya: bagaimana orang Islam dapat mewujudkan kehidupan Islami di negara-negara sekuler dan non-Muslim. Yang terdengar jelas dari pembicaraannya dan yang dapat dibaca di karya-karyanya ialah bahwa bentuk Islam tidak sama di seluruh dunia. Selain itu, Islam juga berubah sesuai dengan zaman. Itu tidak berarti bahwa Islam terpecah-belah atau bahwa orang-orang Islam tidak mengerti agamanya sampai diwujudkan berbeda-beda oleh kelompok-kelompok tertentu. Sebaliknya, itu berarti bahwa kekreatifan dan pengetahuan lokal mengambil bagian aktif dalam perwujudan Islam di suatu tempat tertentu dalam suatu saat historis tertentu. MAKA, kita dapat berbicara tentang Islam-Islam tanpa mengurangi kesatuan atau ketauhidan Islam itu sendiri. Itu sudah dikemukakan dengan matang oleh Aziz al-Azmeh lebih dari sepuluh tahun yang lalu (1993). Beberapa tahun lalu Jaringan Islam Liberal di Indonesia juga menyebarkan iklan tentang "Islam berwarna-warni". Gagasannya sama, meskipun tidak diterima begitu baik oleh kalangan yang berbau sedikit radikal di Indonesia. Menurut mereka, Islam tetap satu dan oleh karenanya tidak dapat berwarna- warni. Pada hemat saya, pemikiran mereka gagal antara lain karena tidak berhasil membedakan ibadah

dan muamalah, dan juga tidak berhasil membedakan agama dan budaya. Lagi pula, warna-warni lebih asyik daripada abu-abu. Namun, masalah itu tidak akan dijadikan pokok inti dalam pembicaraan ini. Sebagai pengantar saya hanya mau menunjukkan bahwa wujud Islam itu lebih dari satu meskipun Islam sendiri dapat dianggap tunggal. Dengan demikian, kita tidak perlu heran jika menemukan bahwa beberapa bagian dari Islam juga dapat berbeda-beda, sesuai dengan lokasi geografis dan saat historis. Maka, Ramadhan di Maroko tidak sama dengan Ramadan di Palestina. Ramadhan di Jawa juga tidak sama dengan Ramadhan di Jerman. Di bawah ini akan saya uraikan beberapa ciri khas Ramadhan di Indonesia, khususnya Jawa. Tentu saja kebanyakan pembaca sudah kenal dengan tradisi Ramadhan di Indonesia, tapi tidak pasti semua dapat melihat apa saja yang membuat Ramadhan di Indonesia berbau Indonesia. Sudah jelas bahwa Ramadhan di Jawa tidak bau Mesir, tapi inti dari bau Jawa sendiri itu kira-kira apa? Saya juga akan membahas masalah ikthilaf berhubungan dengan ibadah Ramadhan di Indonesia dan menyentuh masalah (usang) abangan-santri. Ciri khas Menurut kebanyakan orang non-Islam, khususnya orang Barat, puasa selama bulan Ramadhan merupakan suatu penderitaan tak terhingga yang hanya menindas dan menyusahkan yang berpuasa. Tanpa pengetahuan lebih dalam, pandangan ini mungkin dapat dimengerti. Menghindari makanan, minuman, rokok, hubungan suami-istri, gosip dan lain-lain selama satu bulan penuh memang cukup berat (apalagi di iklim tropis). Hanya saja, menurut pandangan orang Islam, ada imbalan yang jauh melebihi penderitaan pendek itu. Setidaknya begitu menurut orang Islam di Indonesia. Ternyata, banyak orang Islam di negara-negara lain yang memunyai pandangan mirip dengan pandangan orang Barat berhubungan dengan masalah ini. Maka, ketika saya berbicara tentang minat orang Indonesia menyambut bulan suci dan menjalankan ibadah-ibadah yang dianjurkannya, teman-teman saya di Swedia yang punya pengalaman dari negara-negara Islam lainnya cukup heran. Lebih lagi ketika saya menceritakan kehebohan yang terjadi saban tahun ketika saat salat tarawih datang, mereka hanya dapat senyum dan menggelenggelengkan kepala. Jadi, ciri khas Ramadhan Indonesia pertama di sini ialah minat dan rasa gembira yang mengiringi bulan puasa. Minat ini sudah dapat dilihat di bulan Syakban ketika orang- orang Islam membuat berbagai acara untuk menyambut bulan penuh berkah ini. Sekolah-sekolah dan TK-TK membuat arak-arakan keliling kota, pusat belanja memberikan tawaran menarik, di rumah-rumah diadakan ritus khusus berupa ruwahan, dan kuburan-kuburan padat dikunjungi orang. Semua kegiatan ini berdasarkan kegembiraan atas izinNya ketemu bulan suci ini lagi.

Beberapa kata tentang ruwahan patut dikemukakan di sini sebab ritus ini sangat aktif memberikan "warna Jawa" kepada Ramadhan di Jawa. Kata ruwahan tentu berasal dari nama Jawa yang diberikan pada bulan Syakban, yaitu Ruwah. Nama ini sendiri terkait dengan kata ruh (jamak dari arwah) dan memberikan gambaran tentang tujuan ritus ini yang tak lain selain ngirim donga ’mengirim doa’ kepada ruh-ruh yang telah meninggal dunia. Orang-orang yang nyekar selama bulan Syakban memunyai tujuan yang sama. Dari dua contoh ini dapat dilihat bahwa Ramadhan di Jawa tidak hanya bagi yang masih hidup. Sebaliknya, ruh-ruh yang sudah tidak ada di tengah-tengah kita tetap harus diperhitungkan. Sewaktu menghadiri satu ruwahan di Jawa Tengah, saya diberitahu oleh salah satu peserta bahwa ritus ruwahan ini "tidak ada dalam Islam". Meskipun begitu dan meskipun orang ini seorang haji, ia tetap memilih mengikuti ruwahan. Hanya karena satu kegiatan "tidak ada dalam Islam" tidak berarti bahwa kegiatan tersebut bersifat kurang Islami. Negara-negara Islam lain tentu tidak kenal ruwahan (meskipun kegiatan berkumpul untuk memberkati makanan tidak terbatas pada Indonesia) dan memadati kuburan sebelum Ramadhan juga jarang terjadi di luar Indonesia. Di pihak lain, banyak orang Islam lain mengunjungi kuburan pada hari-hari terakhir Ramadhan. Dan ini, tentunya, berbeda lagi dengan kebiasaan orang Indonesia yang sering mengunjungi kuburan setelah salat id, yaitu pada hari Lebaran. Sebuah ciri khas lain yang terdapat pada Ramadhan di Indonesia ialah peranan perempuan. Saya sudah mengemukakan bahwa salat tarawih merupakan ibadah sunah yang sangat populer di Indonesia. Jika memasuki sebuah masjid pada waktu malam di Indonesia selama bulan suci ini, kita akan menemukan sof-sof rapi yang menunaikan ibadah yang sangat dianjurkan ini. Meskipun hanya sejam lewat sejak diperbolehkannya buka puasa selama seharian tanpa makanan dan minuman, umat Islam sepertinya tidak bosan mengikuti tarawih ini (setidaknya tidak pada awal dan akhir Ramadhan). Yang lebih mengherankan lagi, sebagian besar dari para jemaah ini adalah perempuan. Terkadang bisa dikatakan bahwa lima puluh persen ialah perempuan, meskipun angka ini pada umumnya terlalu tinggi. Namun, yang pasti, kita akan menemukan perempuan yang mengikuti salat tarawih di masjid-masjid selama Ramadhan. Keadaan ini berbeda sekali dengan keadaan di beberapa negara Islam lainnya. Studi tentang Ramadhan memang tidak banyak jumlahnya, tapi salah satu terpenting dan terlengkap ialah studinya Buitelaar tentang Ramadhan di Maroko (1993). Studi ini juga didukung oleh artikel ïstergaard (1994, 1996). Buitelaar mengatakan bahwa ia tidak kenal satu pun perempuan di Marrakech yang mengikuti salat tarawih. Keadaan ini terikat dengan pandangan bahwa perempuan seharusnya tidak menghadiri masjid sama sekali (selama bulan Ramadhan dan pada waktu lain). Sebagai lanjutan dari pandangan ini, perempuan di Maroko menurut Buitelaar juga tidak menghadiri salat id. Jelas bahwa keadaan ini berbeda sama sekali dengan keadaan di Indonesia.

Perempuan merupakan bagian penting dari jamaah salat tarawih dan ketika diadakan salat id pada Lebaran, dapat dipastikan bahwa umatnya terdiri dari sekitar 50 persen perempuan. Ini sesuai dengan hadis Nabi yang mengatakan bahwa semua orang Islam hendaknya menghadiri salat id. Malah, dalam hadis ini dikemukakan bahwa perempuan yang sedang haid juga dianjurkan menghadiri tempat salat. Dengan demikian, salat id harusnya bersifat pesta, dan di Indonesia memang begitu. Perempuan juga ikut berperanan dalam situasi lain selama Ramadhan. Acara ruwahan-dan slametan-slametan lain-yang disebutkan di atas sering digambarkan (terutama oleh peneliti-peneliti Barat) sebagai acara untuk lelaki saja, sebab hanya lelaki yang berkumpul untuk ritusnya sendiri. Pandangan demikian salah. Perempuan berperan aktif dalam penentuan mengadakan acara ini dan segala persiapan ada di tangan perempuan. Acara masak yang sering melibatkan tetangga-tetangga juga dapat dikatakan memberikan rasa selamat untuk para perempuan (sebagaimana ritusnya sendiri dianggap memberikan pada para lelaki). Dengan demikian, ruwahan bukan ritus lelaki saja dan salah satu ciri khas Ramadhan di Jawa dan Indonesia ialah keikutsertaan perempuan dalam segala hal, baik yang bersifat ibadah maupun yang bersifat muamalah. Di Indonesia agama Islam bukan agama lelaki saja. Tambahan lagi, Ramadhan di Indonesia tidak saja dimiliki lelaki dan perempuan dewasa. Ramadhan juga dimiliki anak- anak. Dosen pembimbing saya (profesor dalam sejarah agama di Lund, Swedia) banyak melakukan riset di Turki dan Afrika Barat. Pada suatu saat ia sempat pergi ke Indonesia. Kebetulan pas Ramadhan dan ketika dia pergi ke masjid untuk mengikuti salat tarawih, ia kaget dengan kehadiran semua anak yang lari sini, lari sana, lari entah ke mana. Menurut dia, keadaan seperti ini tidak mungkin terjadi di beberapa negara Islam lain yang pernah dikunjunginya. Kita lihat anak-anak di Indonesia agak dibebaskan selama Ramadhan. Mereka dapat mengawali hari mereka dengan ikut tek-tekan untuk membangunkan para tetangga, dan mengakhiri hari yang sama dengan salat tarawih dengan teman-teman di masjid atau mungkin malah ikut pengajian setelah salatnya usai. Semuanya tercatat dengan baik di buku-buku Ramadhan mereka, yang nanti akan ditunjukkan kepada guru-guru agama. Pada hari-hari biasa (di luar Ramadhan) kita jarang dapat melihat anak keluar (sendiri) setelah beduk magrib berbunyi. Namun, selama Ramadhan kita melihat anak di mana saja, juga lepas isya. Salah satu alasan orangtua membiarkan anak mereka keluar, saya kira, berhubungan dengan hadis populer yang mengatakan bahwa setan-setan dibelenggu selama bulan Ramadhan. Kalau setan terbelenggu, anak-anak dapat main beramai-ramai dengan aman. Suatu alasan lain ialah, saya kira, bahwa para orangtua di Jawa hendak memberikan kesan Ramadhan yang baik dan membekas kepada anaknya. Secara pendek dapat dikatakan bahwa salah satu ciri khas Ramadhan di Indonesia ialah bahwa

Ramadhan ini merupakan ritus kekeluargaan, bukan ritus lelaki (seperti diberitakan dari beberapa negara Islam lainnya). Sebuah ciri khas lain dengan Ramadhan di Indonesia ialah perayaan Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar. Di Indonesia, Nuzulul Quran umumnya dirayakan pada tanggal 17 Ramadhan, sedangkan Lailatul Qadar dirayakan pada tanggal 27. Padahal, ada beberapa ayat Al Quran yang sepertinya mengisyaratkan bahwa Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar ini merupakan kejadian yang sama, atau setidaknya terjadi pada hari (malam) yang sama (QS 44:1-4, 97:1-5, 2:185). Meskipun demikian, di Indonesia terdapat dua perayaan. Saya pernah bertanya mengenai masalah ini kepada banyak orang, tapi tidak pernah ada yang bisa memberikan jawaban memuaskan. Malah, kebanyakan tidak menjawab sama sekali. Sejauh yang saya tahu, tidak banyak pula ulama atau cendekiawan yang menulis tentang masalah ini. Yang saya tahu hanya Nurcholish Madjid yang pernah menulis beberapa artikel singkat mengenainya. Menurut Cak Nur, perayaan Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar merupakan tradisi khas Indonesia. Beliau pun memuji tradisi ini karena orang Indonesia dapat diingatkan tentang kemampuan Allah mengintervensi atau campur tangan dalam sejarah Indonesia olehnya. Maksudnya dengan pernyataan ini ialah bahwa Hari Kemerdekaan Indonesia, yaitu 17 Agustus 1945, kebetulan pas jatuh pada tanggal 17 Ramadhan 1364. Menurut hitungan saya, 17 Agustus 1945 tidak jatuh pada 17 Ramadhan 1364, tapi lebih tepat pada tanggal 8 atau 9 Ramadhan 1364. Namun, ini tidak begitu penting. Yang penting, angka 17 sudah "disucikan" di Indonesia dan kesucian ini disebabkan baik oleh 17 Agustus maupun oleh 17 Ramadhan. Jelas memusingkan, tapi jelas juga ini merupakan salah satu ciri khas Ramadhan di Indonesia. Ciri khas Ramadhan di Indonesia lainnya tentu saja masih banyak. Artikel pendek ini tidak mungkin membahasnya semua, tapi mari kita setidaknya sebutkan beberapa: pentingya musyawarah (baik dengan yang hidup maupun yang sudah mati), ramainya tradisi mudik (kegiatan satu-satunya yang sepertinya tidak kena dampak krisis moneter), asyiknya pesta Lebaran (dengan makan-makan, minta maaf, main salam tempel, dan sebagainya), dan pentingya puasa enam hari Syawal yang sangat diutamakan di beberapa daerah (kota Rembang, misalnya). Ikhtilaf Menurut penelitian sebelumnya, salah satu ciri khas Islam di Indonesia ialah ikhtilaf atau perbedaan pendapat dan pemikiran di antara beberapa golongan yang terdapat di umat Islam Nusantara. Di bawah ini akan saya bahas masalah ikhtilaf ini berhubungan dengan bulan suci Ramadhan dan menunjukkan bahwa wujud Islam di Indonesia tidak seantagonistis yang sering dikemukakan.

Sudah barang tentu bahwa semua orang Islam di Indonesia tidak memiliki pendapat yang persis sama. Maka, terjadi ikhtilaf. Pada hemat saya, perkembangan ini pada hakikatnya positif walaupun ia dapat menimbulkan pertentangan dan adu mulut. Dalam konteks Ramadhan, kita dapat membahas dua hal yang diwarnai oleh perbedaan pendapat: cara menentukan tanggal 1 Ramadhan dan 1 Syawal dan jumlah rakaat pada salat tarawih. Pada minggu terakhir bulan Syakban biasanya sudah terlihat apakah seluruh umat Islam di Indonesia akan mengawali puasanya pada hari yang sama atau tidak. Pada tahun-tahun tertentu, orang modernis (yang lazimnya diwakili ormas Muhammadiyah dan juga Persatuan Islam) dan orang tradisionalis (yaitu yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama) berbeda pendapat dalam masalah ini. Maka, kadang-kadang sebagian umat Islam puasa pada Rabu (misalnya), sedangkan sebagian lainnya menunggu Kamis. Jelas sekali bahwa keadaan seperti ini dapat mengganggu umat Islam di Indonesia. Betapa tidak, saya puasa, tapi tetangga saya baru besok akan puasa, padahal kita sama-sama orang Islam dan bagian dari umat Islam sedunia yang sama. Pada dasarnya Nahdlatul Ulama berpendapat bahwa bulan baru harus dapat dilihat dengan mata telanjang pada malam terakhir bulan Syakban jika Ramadhan akan dimulai pada esok hari. Maka, di seluruh Indonesia diadakan sesi rukyatul hilal. Jika ada yang sempat merukyat hilal baru, Jakarta akan dikasih tahu dan Departemen Agama akan mengadakan sidang itsibat di mana segala informasi dipertimbangkan dengan matang sebelum mereka mengeluarkan pernyataan resmi tentang hal ini. Di pihak lain, jika hilal tak dapat dirukyat, sidang itsibat akan menentukan bahwa bulan Syakban akan disempurnakan menjadi 30 hari dan puasanya harus tunggu dulu. Lain halnya dengan Muhammadiyah dan organisasi sejenisnya. Mereka berpendapat bahwa posisi bulan zaman sekarang dapat dihitung secara matematika. Dengan teknologi baru kita tidak perlu mencari-cari bulan baru dengan mata telanjang sebab kehadirannya sudah dapat dipastikan secara ilmiah. Pada tahun 2001 (1422 H), Muhammadiyah menyatakan bahwa Ramadhan akan dimulai pada 16 November karena hilal sudah di atas ufuk dengan 0,2 sampai 2,1 derajat. Yang juga menggunakan metode hisab atau hitung tidak setuju dengan pernyataan ini sebab mereka berpendapat bahwa ketinggian bulan tidak cukup. Setelah mengadakan sesi rukyatul hilal, Nahdlatul Ulama dan pemerintah memutuskan bahwa Ramadhan akan dimulai pada 17 November. Tentu saja, penentuan tanggal 1 Syawal mengalami masalah yang sama. Perlu dikemukakan bahwa baik NU maupun Muhammadiyah memiliki hadis-hadis yang memperkuat pandangan mereka masing-masing. Dengan demikian, menganggap satunya salah dan satunya benar tidak mungkin dari segi fikih ataupun teologi. Di negara-negara lain, metode rukayatul hilal paling biasa, sejauh yang saya mengerti.

Jumlah rakaat dalam salat tarawih juga sempat mengundang kontroversi terkadang. Seperti sudah dikemukakan di atas, orang Indonesia menunjukkan minat yang amat besar soal mengikuti salat tarawih. Hanya saja, keasyikan dan kekhusyukan di masjid dapat diganggu oleh perbedaan pendapat mengenai jumlah rakaat. Nadhlatul Ulama dan orang tradisionalis cenderung mengerjakan 23 rakaat tarawih (20 rakaat tarawih dan tiga rakaat witir), sedangkan anggota Muhammadiyah dan orang-orang modernis lainnya bakal mengerjakan 11 rakaat saja (delapan tarawih ditambah tiga witir). Maka, di masjid-masjid tradisionalis sebagian umat meninggalkan acara salat setelah delapan rakaat dan mengerjakan salat witirnya di rumah saja. Dan di masjid-masjid modernis ada orang tradisionalis yang pergi setelah delapan rakaat sebab mereka mau mengerjakan 12 rakaat lagi di rumah sebelum menutupnya dengan tiga rakaat witir. Yang mengerjakan delapan rakaat saja sering mengutip hadis dari Aisyah yang mengatakan bahwa Nabi tidak pernah mengerjakan lebih dari delapan rakaat pada malam apa saja (termasuk Ramadhan). Yang memilih mengerjakan 20 rakaat, di pihak lain, mendasarkan kegiatannya pada kebiasaan khalifah kedua, yaitu Umar bin al-Khattab, yang selalu mengerjakan 20 rakaat tarawih. Dengan demikian, jelaslah bahwa kedua kubu memiliki dalil kuat untuk pemikirannya masing-masing. Seperti halnya dengan penentuan tanggal 1 Ramadhan, salah satunya tidak dapat disalahkan begitu saja. Islam di Nusantara Nah, melihat keadaan seperti yang saya gambarkan secara singkat di atas, para peneliti Barat (dan juga Indonesia) menyimpulkan bahwa Islam di Indonesia (khususnya Jawa barangkali) dapat dilukiskan dengan kata-kata seperti antagonisme, pertentangan, polemik, kritik, dan perpecahan. Maka, gambar yang muncul di benak orang ketika dengar Islam Indonesia ialah gambar yang terpecah-belah. Apakah gagasan seperti ini memiliki landasan yang kuat di Indonesia kontemporer? Terus terang, saya kira tidak. Alasan adanya gambar seperti ini lebih dari satu. Yang pertama saya kira berasal dari keinginan para peneliti mengamati perpecahan dan polemik. Jelas sekali bahwa hasil penelitian terlihat lebih menarik jika diwarnai antagonisme dan pertentangan. Maka, tidak mengherankan jika ada peneliti yang saking terfokus pada masalah seperti ini tidak dapat (atau tidak mau) melihat segala instansi yang tidak diwarnai polemik atau antagonisme. Alasan kedua dapat berhubungan dengan perubahan yang terjadi di masyarakat Indonesia dalam beberapa dasawarsa terakhir ini. Mungkin saja (saya tidak tahu karena tidak mungkin mengunjungi Indonesia pada masa itu), masyarakat lebih susah menerima perbedaan pendapat dan perbedaan pemikiran pada tahun 1960-an dan 1970-an daripada dewasa ini. Jika gagasan ini benar, berarti para

peneliti dahulu tidak "salah" dalam riset mereka. Hanya saja, hasil riset yang demikian tak dapat diaplikasikan begitu saja pada Indonesia awal milenium ketiga. Dewasa ini, pada hemat saya, umat Islam di Indonesia dengan cukup mudah dapat menerima perbedaan. Malah ada kecenderungan menganggap ikhtilaf ini sebagai rahmat bagi umat. Para ulama dan tokoh agama sering mengemukakan pandangan demikian dan orang-orang biasa sepertinya sudah menerimanya. Maka, tidak perlu menimbulkan kontroversi besar jika sebagian umat mengawali puasanya sehari sebelum saudara-saudara mereka, atau jika ada yang tidak mau mengerjakan semua rakaat saat salat tarawih di masjid. Para peneliti perlu memberikan fokus pada keadaan ini dan tidak dengan gampang terjebak pada atraksi persengketaan yang tidak mewakili umat Islam secara garis besar. Jika mencoba melihat ke depan, saya yakin anggapan bahwa perbedaan itu merupakan rahmat bagi umat Islam di Indonesia akan semakin kuat. Pasalnya, umumnya orang terdidik dan/atau generasi muda dengan mudah menerima gagasan ini. Sebelum mengakhiri artikel ini, beberapa kata tentang golongan orang Islam di Indonesia juga perlu dikemukakan. Sebelumnya (dan masih dalam penelitian janggal), umatnya di Jawa sering digambarkan dengan kata abangan dan santri. Dalam penelitian ini, kebanyakan orang Jawa digambarkan sebagai "orang Islam heterodoks" atau malah sebagai orang Hindu-Buddha dengan ditambah ciri-ciri animisme. Pandangan ini sudah sering dikritik sejak tahun 1980-an dan salah satu kritik terbaik akhir-akhir ini terdapat dalam disertasi Saiful Mujani dari Ohio State University. Dengan jelas ia menunjukkan bahwa setidaknya 80 persen dari umat Islam di Indonesia dapat digambarkan sebagai santri, sedangkan kurang dari lima persen dapat dijuluki abangan. Pandangan saya tentang Islam di Jawa dan Indonesia sesuai dengan temuan Saiful Mujani. Saya kira lebih tepat menggambarkan Islam di Nusantara dengan kata modernis (Muhammadiyah khususnya) dan tradisionalis (NU khususnya). Selain ini juga ada Islam liberal, Islam radikal, Islam neomodernis, dan lainlain, tapi kesan saya "versi-versi" Islam ini terlalu dihebohkan dan dibesarbesarkan oleh penelitian mutakhir, yang umumnya dilakukan oleh para penganutnya sendiri. Kesan saya, Islam di Indonesia (di luar beberapa golongan kecil di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya) tetap patut digambarkan dengan perbedaan (tidak secara otomatis merupakan polemik, antagonisme, dan pertentangan) antara para modernis dan para tradisionalis. André Möller Disertasi penulis dengan judul tentatif Ramadan in Java: Approaches to the Islamic Month of Fasting in an Indonesian Context akan selesai dan dicetak pada tahun ini

http://www.bharian.com.my/Misc/RamadanAlMubarak/Puasa/Hari/Fadilat/200 41012142917/Article/ Panduan Mengqadha puasa Ramadan dan pelaksanaan puasa sunnah enam hari bulan Syawal

PANDUAN MENGQADHA PUASA RAMADAN DAN PELAKSANAAN PUASA SUNNAH ENAM HARI BULAN SYAWAL 1. Diriwayatkan dari Aisyah (R.A.), ia berkata: Adalah seorang di antara kami tidak puasa pada bulan Ramadan pada zaman Rasulullah (S.A.W.). maka ia tidak sanggup mengqadhanya (membayar puasa yang ditinggalkan) sehingga datang bulan Syaban (yakni pada bulan Syaban baru bisa membayar puasanya). (H.R.: Muslim)

2. Diriwayatkan dari Aisyah (R.A.) ia berkata: Saya mempunyai hutang puasa bulan Ramadan, saya tidak mampu membayarnya sampai datang bulan Syaban. (H.R. Bukhary)

3. Diriwayatkan dari Abu Ayyub al-Anshariy (R.A.): Sesungguhnya Rasulullah (S.A.W.). bersabda: Barang siapa yang puasa pada bulan Ramadan, kemudian diikuti puasa enam hari pada bulan Syawal adalah seperti puasa setahun penuh. ( H.R.: Muslim)

KESIMPULAN Hadits-hadits di atas memberi pelajaran kepada kita bahawa :

Barangsiapa yang mempunyai hutang puasa bulan Ramadan, hendaklah segera diqadha (di bayar) secepat mungkin jangan di tunda-tunda kecuali karena ada uzur dan terpaksa di tunda meskipun sampai bulan sya'ban. (Dalil : 2)

Disunnahkan puasa enam hari pada bulan Syawal dengan syarat puasa Ramadannya sudah lengkap, tidak ada hutang.

Pengamalan puasa enam hari pada bulan Syawal ini dapat dikerjakan secara berurutan ( enam hari berturut-turut) atau berselang-seling (tidak berurutan). Yang penting pelaksanaanya adalah selama bulan Syawal.

http://www.brunet.bn/gov/mufti/alhadaf/dis97/h_br12.htm RAMADHAN AKAN MENJELANG Apa Persediaan Kita?

Bulan Ramadhan hampir tiba. Ramadhan adalah tetamu agung umat Islam, yang membawa keampunan, rahmat, kebajikan dan berkat. Kelebihannya mendorong minat menambah amal ibadat. Biasanya kita akan gembira menyambut mana-mana tetamu yang akan mengunjungi kita, bahkan akan terlebih dahulu membuat persiapan sambutan yang selayaknya. Begitulah dengan ketibaan bulan Ramadan ini. Umat Islam yang sebenar pasti akan gembira menyambutnya, dan akan mengalu-alukan dengan membuat berbagai persediaan yang bersesuaian sebagaimana amalan Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam dan amalan para ulama salafussalih ketika menyambut kedatangan tetamu mulia itu. Berikut ini dicatatkan beberapa perkara yang perlu diketahui dan diamalkan berhubung dengan bulan Sya'ban sebagai persediaan menyambut bulan Ramadhan yang akan menjadi tetamu kita. 1. Bergembira dan Berdoa Bulan Rejab, Sya'ban dan Ramadhan merupakan bulan-bulan agung. Bulan Rejab disebut baginda Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam sebagai bulan Allah, Sya'ban sebagai bulan baginda dan Ramadhan sebagai bulan umat Islam.

Sabda baginda:

Maksudnya: 'Rejab adalah bulan Allah, Sya'ban bulanku dan Ramadhan bulan umat ku'. (AI Jami'al-Shaghir: 2-9) Salah satu daripada ketiga-tiga bulan itu, ialah bulan Sya'aban telah dinisbahkan baginda kepada diri baginda dan ini membawa pengertian bahawa keagungan bulan Sya'ban bertambah kerana ia disandarkan kepada manusia yang paling agung dan mulia. Bahkan dalam satu riwayat Nasa'i dari Aisyah disebutkan bahawa bulan Sya'ban termasuk bulan yang paling disukai Nabi. Dalam bulan ini Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam, memperbanyak puasa sunat. Manakala bulan Ramadhan adalah bulan yang dinisbahkan kepada umat baginda, iaitu umat Islam, penisbahan Ramadhan kepada umat Islam adalah sebagai simbolik kepada masa dan peluang umat Islam untuk beramal dan melipat-gandakan usaha yang berkebajikan di dalamnya. Dalam bulan Ramadhan al-Quran diturunkan, di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan dan lain-lain kelebihan lagi. Maka tujuan dari simbolik ini, umat Islam melipat-gandakan ibadah di dalamnya dan supaya menyambut ketibaannya dengan suka dan gembira, berdoa dan mengharap supaya sampai ke Ramadhan yang mulia. Sehubungan dengan kegembiraan menyambut Ramadhan ini, At-Thabrani dan lain-lain meriwayatkan dari Anas Radiallahu'Anh, bahawa Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam sebelum tiba bulan Ramadhan, mulai dari masuk bulan Rejab, baginda sering berdoa. Diantara doa baginda itu ialah:

Maksud: 'Ya Allah berilah keberkatan kepada kami di bulan Rejab dan Sya'ban dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan'. Rasulullah Sallallahu'Alaihi Wasallam juga mengembirakan para sahabatnya sempena menyambut ketibaan bulan Ramadhan mulia ini. Perkara ini pernah diceritakan oleh Salman al-Farisi sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah dan lain-lain, bahawa apabila tiba akhir bulan Sya'ban Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam memberikan khutbah kepada para

sahabat yang antara lain mengandungi beberapa panduan dan dorongan untuk memperbanyak amal ibadah dalam bulan Ramadhan. Panduan dan dorongan yang diberikan Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam ini membuatkan para sahabat merasa gembira menyambut ketibaan bulan Ramadhan mulia ini. 2. Puasa Sunat Salah satu kegiatan ibadah yang perlu dilakukan dalam bulan Sya'ban ialah memperbanyak puasa sunat, sama ada puasa sunat khas Sya'ban, puasa sunat lsnin dan Khamis ataupun puasa sunat kadha. Perkara ini telah dipraktikkan sendiri oleh Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam sebagaimana hadis'Aisyah:

Maksudnya : 'Daripada 'Aisyah Radiallahu 'anh, katanya : Aku tidak pernah melihat Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam menyempurnakan puasa dalam satu bulan, melainkan bulan Ramadhan, dan aku tidak melihat baginda dalam mana-mana bulan lain lebih banyak berpuasa melainkan dalam bulan Sya'ban. (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)'. Banyak lagi hadis-hadis yang memperkatakan bahawa puasa sunat yang paling banyak dilakukan baginda ialah dalam bulan Sya'ban. Di samping sebagai menyambut ketibaan bulan Ramadhan, baginda pernah ditanya oleh Usamah bin Zaid tentang hikmat puasa yang dilakukan baginda dalam bulan Sya'ban. Baginda bersabda:

Maksudnya: 'Bulan Syaban yang berada diantara Rejab dan Ramadhan adalah bulan yang dilupakan manusia dan ia adalah bulan yang diangkat padanya amal ibadah kepada Tuhan seru sekalian alam, maka aku suka supaya amal ibadah saya diangkat ketika saya berpuasa'. Di antara puasa sunat yang dilakukan Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam termasuklah puasa sunat kadha yang tidak sempat dilakukan baginda sempena sesuatu yang sudah lepas masanya. Berkata lbnu Hajar, ketika mengulas perkara ini: Ertinya: Adalah baginda Sallallahu Alaihi sallam apabila luput daripadanya mana-mana amalan sunatnya, baginda akan mengkadhanya, seperti sunatsunat yang ada dalam sembahyang dan sembahyang malam. Begitu juga apabila masuk bulan Syaban dan baginda mempunyai baki puasa sunat yang belum dilakukan, baginda akan mengkadhanya dalam bulan Syaban itu'. Dalam perkara puasa sunat di dalam bulan Sya'ban ini, mengikut pendapat yang muktamad adalah boleh berpuasa sunat walaupun sudah pertengahan bulan Sya'ban tetapi puasanya itu bersambung dengan hari-hari sebelumnya, yakni dia telah berpuasa sunat mulai sebelum masuk pertengahan Sya'ban. Adapun berpuasa sunat sebelum masuk pertengahan bulan Sya'ban saja tidak dipertikai keharusannya. 3. Mengkadha Puasa Wajib Puasa Ramadhan yang tertinggal tetap wajib dikadha pada bila-bila masa, tetapi bulan Sya'ban pada tahun berkenaan merupakan masa atau pcluang terakhir buat tahun itu untuk mengkadha puasa Ramadhan yang tertinggal. Maksud peluang terakhir disini ialah bagi mengelakkan membayar fidyah, kerana jika sudah masuk bulan Ramadhan kedua, sedangkan puasa Ramadhan tahun yang sebelumnya belum dikadha, maka disamping kewajipan mengkadanya, wajib pula mengeluarkan fidyahnya. Bagi sesiapa yang masih belum mengkadha puasa Ramadhan tahun lepas, eloklah mengambil kesempatan mengkadhanya pada bulan Sya'ban ini agar tidak terkena wajib membayar fidyah. Sehubungan dengan perkara wajib mengkadha puasa Ramadhan bagi wanita wanita yang sedang berhaid di bulan Ramadhan, 'Aisyah Radiallahu'anh pemah memberi keterangan kepada Mu'azah al'Adawiah yang antara lain berbunyi:

Maksudnya: 'Maka kita diperintahkan mengkadhapuasa (kerana kedatangan haid) tidak disuruh mengkadha sembahyang yang tertinggal semasa

kedatangan haid)'. (Hadis riwayat Muslim). Dan bagi 'Aisyah sendiri yang' tidak sunyi dari menerima tabiat semulajadi wanita itu, mengambil inisiatif mengkadha puasanya yang tertinggal di bulan Sya'ban sebagaimana dalam hadis :

Maksudnya: 'Daripada 'Aisyah, katanya: Saya mempunyai puasa Ramadhan yang tertinggal, dan saya tidak berupaya menggantinya melainkan dalam bulan Sya'ban". (Hadis disepakati Bukhari dan Muslim). Dalam satu keterangan disebutkan 'Aisyah tidak berupaya mengkadha puasanya dengan segera kerana kesibukannya melayan baginda Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam sebelum masuk bulan Sya'ban. Bagaimanapun apabila bulan Sya'ban muncul barulah dia berkesempatan mengkadha puasanya, kerana pada bulan (Sya'ban ini baginda Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam sudah mulai sibuk hendak menyambut bulan Ramadhan dengan berpuasa sunat. Fidyah Di antara makna Fidyah dalam hal puasa ialah bayaran denda kerana tidak berpuasa Ramadhan dengan sebab-sebab tertentu atau kerana melambatlambatkan mengkadha puasa Ramadhan sehingga masuk Ramadhan berikutnya. Diantara sebab-sebab wajib mengeluarkan Fidyah puasa ialah: 1. Tidak berupaya berpuasa iaitu seseorang yang wajib berpuasa, tetapi tidak sanggup lagi mengerjakannya disebabkan tua, lemah dan sekiranya dia berpuasa tidak akan dapat menanggung kepayahannya. 2. Orang yang sakit yang tidak ada harapan sembuh dan tidak berupaya melakukan puasa. 3. Perempuan hamil atau yang sedang menyusukan anak, iaitu jika sekiranya mereka ini berpuasa, maka takut akan mendatangkan mudarat kepada anak yang dikandung atau bolch mengurangkan air susu yang akan memberi kesan kurang baik kepada anak yang menyusu. 4. Sesiapa tidak mengkadha Ramadhan pada tahun berkenaan sehingga masuk Ramadhan berikutnya tanpa 'uzur syar'i. Khusus bagi sebab yang keempat ini, maka bagi sesiapa yang telah

terlanjur melambat-lambatkan kadha puasa Ramadhan, padahal ia boleh mengkadha puasanya itu dengan tiada 'uzur sehingga masuk Ramadhan lain, maka tetaplah juga wajib ke atasnya mengkadhanya sebanyak harihari Ramadhan yang ditangguhnya itu disamping itu wajib pula mengeluarkan fidyah mengikut kadar hari-hari berkenaan, iaitu sebanyak satu mud atau 15 tahil atau 566.99 gram beras untuk satu hari. Ertinya satu hari puasa Ramadhan yang ditinggalkan maka fidyahnya satu mud, jika dua hari, fidyahnya dua mud, jika tiga hari, fidyahnya tiga mud begitulah seterusnya. Walau bagaimanapun, kadar jumlah satu, dua atau tiga mud itu boleh berganda. Umpamanya sehari puasa Ramadhan yang ditinggalkan fidyahnya ialah satu mud, tetapi jika masuk tahun kedua belum dikadha fidyahnya berganda menjadi dua mud. Masuk tahun ketiga menjadi tiga mud sehinggalah dikadha dan begitulah seterusnya. Jadi bagi sesiapa yang belum mengkadha puasa Ramadhannya, eloklah mengkadhanya dalam bulan Sya'ban ini bagi mengelakkan fidyahnya berganda lagi. Perlu juga di ingat bahawa disamping kewajipan membayar fidyah, dan mengkadha puasa Ramadhan,adalah wajib bertaubat tidak akan meninggalkan puasa Ramadhan lagi atau melambatkan mengkadhanya jika tidak ada 'uzur syar'i, kerana meninggalkan puasa Ramadhan tanpa'uzur adalah haram, dan jika ditinggalkan juga tanpa, 'uzur, wajiblah dikadha dengan segera, dan jika dilambat lambat mengkadha nya tanpa 'uzur hukumnya adalah haram.

Orang Yang Sudah Meninggal Orang yang meninggalkan puasa Ramadhan kerana 'uzur syar'i seperti sakit atau dalam musafir sama ada satu hari atau lebih, kemudian dia mati sebelum berkesempatan mengkadhanya, maka tidak wajib dikeluarkan fidyah puasa yang ditinggalkannya itu. Dia juga tidak berdosa kerana dia dikira tidak dapat melakukan yang wajib atasnya disebabkan suatu 'uzur atau halangan yang dibenarkan syara'.

Bagaimana jika dia mati setelah berkeupayaan dan berpeluang mengkadhanya, namun dia tidak mengkadhanya, maka pihak walinya tidak perlu mengganti puasanya dan tidak sahhukumnya,kerana puasa itu dikira ibadah peribadi yang tidak dapat diwakilkan semasa hidup. Berkata Imam Nawawi: Ertinya: 'Sesiapa yang meninggalkan puasa Ramadhan (kerana 'uzur syara'), kemudian dia mati sebelum berkesempatan mengkadhanya, maka dia tidak wajib membayar fidyahnya dan tidak berdosa. Dan jikalau dia mati selepas berupaya mengkadhanya, walinya tidak perlu mengganti puasanya mengikut Kaul Jadid, yang perlu ialah membayar fidyah puasanya bagi setiap hari satu mud makanan yang diambil dari harta peninggalannya'. (Minhaj at-Thalibin: 77).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->