BebasBanjir2015

Konservasi Tanah dan Air

Konservasi Tanah dan Air
Konservasi tanah dalam arti yang luas adalah penempatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah. Dalam arti yang sempit konservasi tanah diartikan sebagai upaya mencegah kerusakan tanah oleh erosi dan memperbaiki tanah yang rusak oleh erosi. Konservasi air pada prinsipnya adalah penggunaan air hujan yang jatuh ke tanah untuk pertanian seefisien mungkin, dan mengatur waktu aliran agar tidak terjadi banjir yang merusak dan terdapat cukup air pada waktu musim kemarau. Konservasi tanah mempunyai hubungan yang sangat erat dengan konservasi air. Setiap perlakuan yang diberikan pada sebidang tanah akan mempengaruhi tata air pada tempat itu dan tempattempat di hilirnya. Oleh karena itu konservasi tanah dan konservasi air merupakan dua hal yang berhuibungan erat sekali; berbagai tindakankonservasi tanah adalah juga tindakan konservasi air. Sumber: Sitanala Arsyad (2006). Konservasi Tanah dan Air. Bogor: IPB Press.

TEKNOLOGI DAN STRATEGI KONSERVASI TANAH DALAM KERANGKA REVITALISASI PERTANIAN
Oleh: Abdurachman Adimihardja; Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Jalan Ir. H. Juanda No. 98, Bogor 16123, Pengembangan Inovasi Pertanian 1(2), 2008: 105-124 (Naskah disarikan dari bahan Orasi Profesor Riset yang disampaikan pada tanggal 19 Desember 2007 di Bogor. PENDAHULUAN Salah satu bagian penting dari budi daya pertanian yang sering terabaikan oleh para praktisi pertanian di Indonesia adalah konservasi tanah. Hal ini terjadi antara lain karena dampak degradasi tanah tidak selalu segera terlihat di lapangan, atau tidak secara drastis menurunkan hasil panen. Dampak erosi tanah dan pencemaran agrokimia, misalnya, tidak segera dapat dilihat

seperti halnya dampak tanah longsor atau banjir badang. Padahal tanpa tindakan konservasi tanah yang efektif, produktivitas lahan yang tinggi dan usaha pertanian sulit terjamin keberlanjutannya. Praktek pertanian yang buruk ini tidak hanya ditemui di Indonesia, tetapi juga di negara-negara berkembang lainnya. Hal ini tercermin dari pernyataan Lord John Boyd Orr (1948), Dirjen FAO pertama, dalam (Dudal 1980) sebagai berikut: “If the soil on which all agriculture and all human life depends is wasted away, then the battle to free mankind from want cannot be won”. Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya konservasi tanah untuk memenangkan perjuangan kemanusiaan dalam memenuhi kebutuhan dasar manusia. Sebagai gambaran yang mengkhawatirkan di Indonesia, khusus di Pulau Jawa saja, kerugian akibat erosi tanah mencapai US$341-406 juta/tahun (Margrath dan Arens 1989). Data lain menunjukkan bahwa selama periode 1998-2004, terjadi 402 kali banjir dan 294 kali longsor di Indonesia, yang mengakibatkan kerugian materi sebagai tangible product senilai Rp668 miliar (Kartodihardjo 2006). Nilai intangible products yang hilang sulit dikuantifikasi, baik dalam aspek ekologis, lingkungan maupun sosial dan budaya, sebagai bagian dari multifungsi pertanian. Namun dapat dipastikan bahwa nilai intangible tersebut sangat besar, baik secara material maupun immaterial. Tingkat laju erosi tanah pada lahan pertanian berlereng antara 3-15% di Indonesia tergolong tinggi, yaitu berkisar antara 97,5-423,6 t/ha/tahun. Padahal, banyak lahan pertanian yang berlereng lebih dari 15%, bahkan lebih dari 100%, sehingga laju erosi dipastikan sangat tinggi. Hal ini terjadi terutama karena curah hujan yang tinggi dan kelalaian pengguna lahan dalam menerapkan kaidah-kaidah konservasi tanah dan air. Pemerintah melalui Departemen Pertanian terus mengupayakan peningkatan produksi pertanian nasional khususnya bahan pangan dengan melaksanakan dua program utama, yaitu intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian. Kedua program yang untuk mensukseskannya tidak mudah dan memerlukan biaya besar ini, pada implementasi di lapangan tidak selalu disertai penerapan tindakan konservasi tanah, yang sebenarnya sangat penting untuk menjamin keberlanjutannya. Peran dan kebijakan pemerintah sangat penting dan menentukan keberhasilan upaya konservasi tanah, guna mewujudkan pembangunan pertanian berkelanjutan, yang dicirikan dengan tingkat produktivitas tinggi dan penerapan kaidah-kaidah konservasi tanah. Upaya konservasi tidak akan berhasil apabila dipercayakan hanya kepada pengguna lahan, karena terkendala oleh berbagai keterbatasan, terutama lemahnya modal kerja. Mengingat makin luas dan cepatnya laju degradasi tanah, dan masih lemahnya implementasi konservasi tanah di Indonesia, maka perlu segera dilakukan upaya terobosan yang efektif untuk menyelamatkan lahan-lahan pertanian. Upaya konservasi tanah harus mengarah kepada terciptanya sistem pertanian berkelanjutan yang didukung oleh teknologi dan kelembagaan serta mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan melestarikan sumber daya lahan dan

lingkungan. Upaya ini selaras dan mendukung Revitalisasi Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (RPPK), yang salah satu sasaran utamanya adalah optimalisasi dan pelestarian lahan. DEGRADASI TANAH DI INDONESIA Degradasi tanah di Indonesia yang paling dominan adalah erosi. Proses ini telah berlangsung lama dan mengakibatkan kerusakan pada lahan-lahan pertanian. Jenis degradasi yang lain adalah pencemaran kimiawi, kebakaran hutan, aktivitas penambangan dan industri, serta dalam arti luas termasuk juga konversi lahan pertanian ke nonpertanian. Jenis-jenis Degradasi Tanah Erosi Tanah Hasil penelitian mengindikasikan laju erosi tanah di Indonesia cukup tinggi dan telah berlangsung sejak awal abad ke-20 dan masih berlanjut hingga kini. Beberapa data dapat dikemukakan sebagai berikut: a. Sedimentasi di DAS Cilutung, Jawa Barat, memperlihatkan kenaikan laju erosi tanah dari 0,9 mm/tahun pada 1911/1912 menjadi 1,9 mm/tahun pada 1934/1935, dan naik lagi menjadi 5 mm/ tahun pada 1970-an (Soemarwoto 1974). b. Laju erosi di DAS Cimanuk, Jawa Barat, mencapai 5,2 mm/tahun, mencakup areal 332 ribu ha (Partosedono 1977). c. Pada tanah Ultisols di Citayam, Jawa Barat yang berlereng 14 % dan ditanami tanaman pangan semusim, laju erosi mencapai 25 mm/tahun (Suwardjo 1981). d. Di Putat, Jawa Tengah, laju erosi mencapai 15 mm/tahun, dan di Punung, Jawa Timur, sekitar 14 mm/tahun. Keduanya pada tanah Alfisols berlereng 9-10 % yang ditanami tanaman pangan semusim (Abdurachman et al. 1985). e. Di Pekalongan, Lampung, laju erosi tanah mencapai 3 mm/tahun pada tanah Ultisols berlereng 3,5 % yang ditanami tanaman pangan semusim. Pada tanah Ultisols berlereng 14 % di Baturaja, laju erosi mencapai 4,6 mm/tahun (Abdurachman et al. 1985). Data di atas mengindikasikan bahwa sekitar 40-250 m3 atau 35-220 ton tanah/ha lahan tererosi setiap tahun, dengan laju peningkatan 7-14% atau 3-28 ton tanah/ ha/tahun, dibanding di Amerika Serikat yang hanya 0,7 ton/ha/tahun. Data menunjukkan bahwa luas lahan kritis di Indonesia terus meningkat, yang diperkirakan telah mencapai 10,9 juta ha. Bahkan Departemen Kehutanan mengidentifikasi luas lahan kritis mencapai 13,2 juta ha. Penyebab utamanya adalah erosi dan longsor. Pencemaran Tanah dan Kebakaran Hutan Selain terdegradasi oleh erosi, lahan pertanian juga mengalami penurunan kualitas akibat penggunaan bahan agrokimia, yang meninggalkan residu zat kimia dalam tanah atau pada bagian tanaman seperti buah, daun, dan umbi. Hasil penelitian menunjukkan adanya residu insektisida pada beras dan tanah sawah di Jawa, seperti organofosfat, organoklorin, dan karbamat (Ardiwinata et al. 1999; Harsanti et al., 1999; Jatmiko et al. 1999). Pencemaran tanah juga terjadi

di daerah pertambangan, seperti pertambangan emas liar di Pongkor, Bogor, yang menyebabkan pencemaran air raksa (Hg) dengan kadar 1,27-6,73 ppm sampai jarak 7-10 km dari lokasi pertambangan. Pencemaran tanah juga ditemukan di kawasan industri, seperti industri tekstil, kertas, baterai, dan cat. Bahan-bahan kimia yang sering menimbulkan pencemaran tanah antara lain adalah Na, NH4, SO4, Fe, Al, Mn, Co, dan Ni (Tim Peneliti Baku Mutu Tanah 2000). Proses degradasi tanah sebagai akibat kebakaran hutan terjadi setiap tahun, terutama di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, dan Papua. Menurut Bakornas-PB dalam Kartodihardjo (2006), pada tahun 1998-2004 di Indonesia terjadi 193 kali kebakaran hutan, yang mengakibatkan 44 orang meninggal dan kerugian harta-benda senilai Rp647 miliar. Menurut Bappenas (1998), sekitar 1,5 juta ha lahan gambut di Indonesia terbakar selama musim kering 1997 dan 1998. Parish (2002) melaporkan terjadinya kebakaran gambut seluas 0,5 juta ha di Kalimantan pada musim kering 1982 dan 1983. Selain tanaman dan sisa-sisa tanaman yang ada di permukaan tanah, berbagai material turut hangus terbakar, seperti humus dan gambut. Menurut Jaya et al. (2000), kebakaran hutan mengakibatkan hilangnya serasah dan lapisan atas gambut. Kerugian lainnya berupa gangguan terhadap keanekaragaman hayati, lingkungan hidup, kesehatan manusia dan hewan, serta kelancaran transportasi (Musa dan Parlan 2002). Banjir, Longsor, dan Konversi Lahan Degradasi lahan pertanian juga sering disebabkan oleh banjir dan longsor, yang membawa tanah dari puncak atau lereng bukit ke bagian di bawahnya. Proses ini menimbulkan kerusakan pada lahan pertanian baik di lokasi kejadian maupun areal yang tertimbun longsoran tanah, serta alur di antara kedua tempat tersebut. Proses degradasi lahan pertanian (dalam makna yang sebenarnya), yang tergolong sangat cepat menurunkan bahkan menghilangkan produktivitas pertanian adalah konversi ke penggunaan nonpertanian. Pada tahun 1981-1999, di Indonesia terjadi konversi lahan sawah seluas 1,6 juta ha; dan sekitar 1 juta ha di antaranya terjadi di Jawa (Irawan et al. 2001). Winoto (2005) menyatakan sekitar 42,4% lahan sawah beririgasi (3,1 juta ha) telah direncanakan untuk dikonversi. Kondisi terburuk terjadi di Jawa dan Bali, karena 1,67 juta ha atau 49,2% dari luas lahan sawah berpotensi untuk dikonversi. Dampak Degradasi Tanah Degradasi tanah tidak hanya berdampak buruk terhadap produktivitas lahan, tetapi juga mengakibatkan kerusakan atau gangguan fungsi lahan pertanian. Produksi dan Mutu Hasil Pertanian Erosi tanah oleh air menurunkan produktivitas secara nyata melalui penurunan kesuburan tanah, baik fisika, kimia maupun biologi. Langdale et al. (1979) dan Lal (1985) melaporkan bahwa hasil jagung menurun 0,07-0,15 t/ha setiap kehilangan tanah setebal 1 cm. Hal ini terjadi karena tanah lapisan atas memiliki tingkat kesuburan paling tinggi, dan menurun pada lapisan di bawahnya. Penyebab utama penurunan kesuburan tersebut adalah kadar bahan organik dan hara tanah makin menurun, tekstur bertambah berat, dan struktur tanah makin padat.

dan (4) menetapkan lahan pertanian abadi (Abdurachman 2006a). tetapi juga daerah hilirnya. Fungsi sosial-ekonomi dan budaya pertanian juga sangat besar. dan konversi lahan. terutama terkait dengan genesa tanah Data BMG (1994) menunjukkan bahwa sekitar 23.000 mm. serta konversi lahan pertanian ke nonpertanian. dan pengendapan partikel-partikel tanah yang tererosi di daerah cekungan. antara lain mitigasi banjir. Dengan demikian bukan saja lahan yang terkena dampak. curah hujan merupakan faktor pendorong terjadinya erosi berat. Fungsi-fungsi tersebut dapat terkikis secara gradual oleh erosi dan pencemaran kimiawi. seperti penyedia lapangan kerja dan ketahanan pangan. tetapi juga kondisi sumber daya air menjadi buruk. baik kuantitas maupun intensitasnya. pemelihara pasokan air tanah. penyegar udara. antara lain berupa pendangkalan dam-dam penyimpan cadangan air dan saluran irigasinya. . antara lain dengan strategi sebagai berikut: (1) meningkatkan citra pertanian beserta multifungsinya. (2) lereng yang curam. Lahan datar (lereng < 3%) hanya sekitar 42. dan (3) tanah yang peka erosi. lahan berlereng (> 3%) di setiap pulau di Indonesia lebih luas dari lahan datar (< 3%). terutama tiga faktor berikut: (1) curah hujan yang tinggi. Permasalahan Konservasi Tanah Faktor Alami Penyebab Erosi Kondisi sumber daya lahan Indonesia cenderung mempercepat laju erosi tanah. dan hanya 17. dan pemelihara keanekaragaman hayati (Agus dan Husen 2004). pendangkalan sungai. agak berombak.000-3.1% luas wilayah Indonesia memiliki curah hujan tahunan > 3. dan dapat berlangsung lebih cepat lagi dengan terjadinya longsor. 2000).500 mm. Dengan demikian. berbukit sampai bergunung. penambat gas karbon atau gas rumah kaca. dan mencakup areal yang luas. Selain berfungsi sebagai penghasil produk pertanian (tangible products) yang dapat dikonsumsi dan dijual.7% antara 2. Eom dan Kang (2001) dalam Agus dan Husen (2004) mengidentifikasi 30 jenis fungsi pertanian di Korea Selatan. (2) mengubah kebijakan produk pertanian harga murah. Secara umum.2% yang memiliki curah hujan tahunan < 2. Multifungsi Pertanian Lahan pertanian memiliki fungsi yang besar bagi kemanusiaan melalui fungsi gandanya (multifunctionality). Multifungsi tersebut perlu dilindungi. Lereng merupakan penyebab erosi alami yang dominan di samping curah hujan. Sebagian besar (77%) lahan di Indonesia berlereng > 3% dengan topografi datar. bergelombang.Penurunan produktivitas dan produksi pertanian juga dapat terjadi akibat proses degradasi jenis lain seperti kebakaran hutan (lahan) dan longsor.6 juta ha. pengendali erosi.500 mm. pertanian memiliki fungsi lain yang berupa intangible products. banjir. sekitar 59. (3) meningkatkan upaya konservasi lahan pertanian. pendaur ulang sampah organik. Sumber Daya Air Erosi tanah bukan hanya berdampak terhadap daerah yang langsung terkena. kurang dari seperempat wilayah Indonesia (Subagyo et al.

Konversi lahan pertanian sering disebabkan oleh faktor ekonomi petani. hambatan yang lebih besar adalah masalah politik. Laju erosi tanah meningkat dengan berkembangnya budi daya pertanian yang tidak disertai penerapan teknik konservasi. PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI KONSERVASI TANAH . Namun. Kondisi seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia. baik dari segi kelembagaan maupun pendanaan. yang seharusnya digunakan untuk tanaman tahunan atau hutan. sehingga pertanian terdesak ke lahanlahan berlereng curam. namun penggunaannya diperebutkan oleh pertanian. sosial. penerapan teknik konservasi tanah belum merupakan kebiasaan petani dan belum dianggap sebagai bagian penting dari pertanian. daya saing petani dan pertanian lahan kering jauh lebih rendah dibanding sektor lain. tetapi juga di negara-negara lain. yang memaksa mereka menjual lahan walaupun mengakibatkan hilangnya sumber mata pencaharian (Abdurachman 2004). tetapi lebih kuat disebabkan oleh masalah nonteknis. seperti sistem kepemilikan dan hak atas lahan. Kebijakan dan perhatian pemerintah sangat menentukan efektivitas dan keberhasilan upaya pengendalian degradasi tanah. berbagai kebijakan yang ada belum memadai dan efektif. Selaras dengan tantangan yang dihadapi. pemukiman. industri. Selain faktor alami. Faktor Kebijakan dan Sosial. seperti pada sistem perladangan berpindah yang banyak dijumpai di luar Jawa. masalah sosial juga sering menghambat penerapan konservasi tanah.Praktek Pertanian yang Kurang Bijak Tingginya desakan kebutuhan terhadap lahan pertanian menyebabkan tanaman semusim tidak hanya dibudidayakan pada lahan datar. lahan kering datarberombak meliputi luas 31. sehingga aspek keberlanjutan dan kelestarian sumber daya lahan agak tertinggalkan. Padahal aspek tersebut berdampak jangka panjang bagi pembangunan pertanian di masa mendatang. Kondisi ekonomi petani yang umumnya rendah sering menjadi alasan bagi mereka untuk mengabaikan konservasi tanah. dan ekonomi. Secara keseluruhan. Selain kurangnya dukungan kebijakan pemerintah. selama ini prioritas utama pembangunan pertanian lebih ditujukan pada peningkatan produksi dan pertumbuhan ekonomi secara makro. faktor teknis dan ekonomi juga menjadi pemicu utama kebakaran hutan dan lahan dengan alasan mudah dan murah. Bahkan pada sistem pertanian menetap pun. terjadinya kebakaran hutan dan lahan terutama terkait dengan lemahnya peraturan dan sistem perundangundangan. fragmentasi lahan.Ekonomi Rendahnya adopsi teknologi konservasi bukan karena keterbatasan teknologi. dan tekanan penduduk. Pada umumnya.5 juta ha (Hidayat dan Mulyani 2002). dan sektor lainnya. Selain itu. sempitnya lahan garapan petani. pertambangan. tetapi juga pada lahan yang berlereng > 16%. Hudson (1980) menyatakan bahwa walaupun masih ada kekurangan dalam teknologi konservasi dan masih ada ruang untuk perbaikan teknis.

1984-1994. (2) Proyek Penelitian Lahan Kering dan Konservasi Tanah (P3HTA/ UACP) di DAS Jratunseluna dan Brantas. Secara kronologis. Periode 1970-1980 Dalam periode ini pengembangan iptek dan penelitian konservasi tanah didominasi oleh kegiatan di laboratorium dan rumah kaca. Namun. dan didukung dengan penelitian rumah kaca dan laboratorium. bertepatan dengan berdirinya Laboratorium voor Vermeerdering de Kennis van den Bodem (Laboratorium untuk Perluasan Pengetahuan tentang Tanah). (5) teknologi pengelolaan bahan organik. 1982-1988. Dalam periode ini juga dikembangkan teknik simulasi dan pemodelan.Degradasi tanah diartikan sebagai suatu proses. Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) tentang konservasi tanah di Indonesia terus berkembang sesuai dengan makin bervariasinya jenis dan intensitas degradasi. kimia atau biologi tanah menjadi kurang sesuai untuk pertanian (Arshad et al. Departemen Pertanian. 1984). (3) Proyek Penelitian Terapan . (7) teknologi pengendalian erosi. didukung dengan beberapa kegiatan penelitian lapangan. dan RUSLE (Revised USLE) (Abdurachman et al. Universal Soil Loss Equation (USLE). penelitian konservasi tanah yang lebih terprogram dan terorganisasi baru dikembangkan pada tahun 1969/1970 dengan dibentuknya Bagian Konservasi Tanah pada Lembaga Penelitian Tanah. 2005) : (1) Proyek Penyelamatan Hutan Tanah dan Air di DAS Citanduy. (4) tingkat erosi tanah pada berbagai lahan pertania. fenomena atau transformasi yang menurunkan kualitas tanah. konservasi tanah dimaksudkan untuk melindungi tanah dari pengrusakan oleh proses degradasi tersebut. Beberapa inovasi iptek utama yang dihasilkan dalam periode ini adalah: (1) nilai faktor erodibiltas tanah-tanah Indonesia (Kurnia dan Suwardjo 1984). Perkembangan Penelitian Konservasi Tanah Sejarah perkembangan iptek dan penelitian tanah di Indonesia diawali pada tahun 1905. Kegiatan pengembangan ilmu tanah waktu itu mencakup pula penelitian erosi dan konservasi tanah. Abdurachman 1989. Oleh karena itu. Kegiatan penelitian diarahkan untuk mengkompilasi berbagai data fisika dan konservasi tanah serta menguji berbagai metode dan teknologi dasar konservasi tanah dan air. karena didukung oleh berbagai kerja sama dalam dan luar negeri. (2) nilai faktor pertanaman dan tindakan pengendalian erosi (Abdurachman et al. Abdurachman dan Kurnia 1990). (3) penggunaan soil conditoner. Periode 1980-2002 Dalam periode ini. Agus et al. iptek dan penelitian konservasi tanah lebih diarahkan pada kegiatan lapangan dengan melibatkan petani. 1998). 1984. seperti rainfall simulator. termasuk penggunaan soil conditioner. (6) teknologi pengolahan tanah. Kegiatan penelitian dan pengembangan konservasi tanah pada masa ini cukup aktif dan luas. garis besar sejarah perkembangan penelitian konservasi tanah dapat dipilah dalam beberapa kurun waktu sebagai berikut. Kegiatan utamanya antara lain (Abdurachman dan Agus 2000. yang menyebabkan sifat-sifat fisika. dan (8) teknologi rehabilitasi tanah. yang sekarang menjadi Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian.

seperti lahan bekas tambang. (5) Penelitian Peningkatan Produktivitas dan Konservasi Tanah untuk Mengatasi Peladangan Berpindah. dan (9) Penelitian Multifungsi Pertanian. termasuk lahan yang tergenang lumpur di Sidoarjo. kegiatan penelitian konservasi tanah berkurang karena tidak banyak lagi penelitian konservasi yang melibatkan petani pada areal yang luas. dan SUT lahan kering beriklim kering. Beberapa percobaan lapangan yang dilakukan sejak tahun 1970-an telah menghasilkan nilai C untuk berbagai jenis tanaman (Abdurachman et al. dan faktor panjang dan kemiringan lereng (LS) yang dihitung menggunakan rumus Morgan. (7) Kelompok Kerja Penelitian dan Pengembangan Sistem Usahatani Lahan Kering. 47/2006 tentang Pedoman Budidaya pada Lahan Pegunungan. Kegiatan penelitian dan pengembangan tersebut menghasilkan berbagai teknologi dan sistem usaha tani konservasi (SUT). bekas longsor. sehingga tingkat bahaya erosi pun berbeda-beda antara satu wilayah dengan lainnya. termasuk model kelembagaan dan sistem diseminasinya. Pada periode ini juga diupayakan pengembangan dan diseminasi iptek Prima Tani di berbagai lokasi.Sistem DAS Kawasan Perbukitan Kritis di Yogyakarta (YUADP). Kalimantan Tengah. 1986-1995. (8) Managing of Soil Erosion Consortium (MSEC) di Jawa Tengah. Kegiatan lebih banyak berupa desk-work. antara lain penghitungan nilai erosivitas (Abdurachman 1989). Wischmeier dan Smith1978). data dan informasi tentang jenis dan besaran faktorfaktor penyebab erosi sangat penting sebagai dasar perencanaan konservasi tanah yang efektif dan efisien. dan Nusa Tenggara Timur. SUT pada wilayah pegunungan. memanfaatkan data yang telah terkumpul untuk menyusun baku mutu tanah. 1990-1993. 1992-1996. pemodelan konservasi tanah. Nilai faktor P dan CP hasil percobaan Lembaga Penelitian . Oleh karena itu. buku petunjuk konservasi tanah. Bahkan Permentan No. Secara umum. di DAS Cimanuk. 1984). 2000-2005. 1993-2000. nilai faktor erosi dapat dihitung dengan rumus-rumus yang ditemukan dari hasil penelitian di berbagai stasiun percobaan. pada hakekatnya merupakan kristalisasi. 1995-2004. Faktor tindakan konservasi tanah dihitung de-ngan rumus 5 (Tabel 1). antara lain untuk memformulasikan kebijakan pembangunan pertanian dan tata guna lahan. dan sebagainya. Periode 2002-2007 Pada periode ini. dan aplikasi dari hampir seluruh kegiatan atau program penelitian dan pengembangan konservasi tanah pada periode ini. Untuk wilayah Indonesia. (4) Proyek Pembangunan Penelitian Pertanian Nusa Tenggara. Beberapa rekomendasi pengelolaan lahan juga dihasilkan. Perencanaan Konservasi Tanah Wilayah Indonesia yang terbentang luas dari Sabang sampai Merauke memiliki tanah dan unsurunsur iklim yang sangat beragam. seperti formulasi dan pemilihan jenis tanaman sesuai kemiringan lereng. faktor-faktor penyebab erosi dapat digambarkan dengan persamaan umum erosi (USLE. lahan tercemar. nilai erodibilitas (Abdurachman 1989). 1995-2000. (6) Proyek Penelitian Usahatani Lahan Kering-UFDP (Upland Farmers Development Project) di Jawa Barat. Kegiatan lain diarahkan pada upaya perakitan teknologi dan rehabilitasi lahan-lahan terdegradasi. penjabaran. terutama pada lahan kering beriklim basah.

Untuk keperluan perencanaan konservasi tanah atau perluasan areal pertanian. 1984) dan digunakan dalam penelitian dan perencanaan konservasi tanah. Penilaiannya adalah dengan membandingkan jumlah tanah tererosi dengan batas ambang erosi atau tolerable soil loss. metode prediksi erosi USLE dapat digunakan dengan hasil yang baik (Abdurachman 1997).Tanah telah dipublikasikan (Abdurachman et al. .

.

Keduanya menimbulkan hambatan besar bagi pembangunan pertanian. 2004). di samping kerugian besar bagi keluarga tani. dan pemerintah daerah. prosiding. 2004). Teknik pengendalian degradasi tanah telah dipublikasikan dalam buku. mulsa. Degradasi tanah sudah merambah ke proses pencemaran residu bahan-bahan agrokimia dan limbah industri. 1995. kebakaran hutan. Prospek ke Depan Pengetahuan dan teknologi konservasi tanah yang lebih komprehensif makin diperlukan sejalan dengan meningkatnya kompleksitas permasalahan degradasi tanah dan lahan sebagai konsekuensi pesatnya pembangunan nasional yang terkait dengan pemanfaatan dan pengelolaan lahan. Teknologi konservasi yang diterapkan antara lain adalah teras bangku. berupa penurunan produksi pertanian nasional. 2005). Teknik pertanaman lorong banyak diteliti dan didiseminasikan antara lain untuk menguji berbagai jenis tanaman yang cocok untuk tanaman pagar. Pembakaran hutan yang masih terus berlangsung belum mampu dicegah dengan pelarangan penggunaan api untuk pembukaan lahan. namun diseminasinya perlu ditingkatkan agar dapat diterima dan diadopsi oleh pengguna lahan (Abdurachman dan Hidayat 1999). masyarakat. Informasi tersebut di atas mengindikasikan bahwa ke depan. strip rumput. dan petunjuk teknis. Abdurachman 2003). aktivitas penambangan. karena dewasa ini degradasi tanah tidak hanya diakibatkan oleh erosi. Teknik konservasi yang paling banyak diadopsi adalah teras bangku. karena sejak tahun 1975 teknik konservasi ini telah menjadi bagian dari kegiatan penghijauan setelah diterbitkannya Inpres Penghijauan (Mangundikoro 1985). dan pertanaman lorong (alley cropping). teknologi konservasi tanah pada budi daya sayuran dataran tinggi (Kurnia et al. peredaran.Diseminasi dan Pemanfaatan Teknologi Pada kurun waktu 1982-2005. seperti halnya pada 40-50 tahun yang lalu. Teknologi pengendalian erosi sudah tersedia. teknologi dan kebijakan konservasi tanah dalam arti luas masih perlu dicari dan dikembangkan lebih lanjut. teras gulud. dan penggunaan senyawa kimiawi. teknologi pengendalian erosi saja tidak cukup. Oleh karena itu. dan mempelajari kontribusi serta kompetisi tanaman pagar terhadap tanaman lorong (Haryati et al. teknologi konservasi tanah vegetatif (Santoso et al. . telah dilaksanakan berbagai kegiatan diseminasi dan pemanfaatan teknologi konservasi pada proyek-proyek konservasi seperti tersebut di atas. penggunaan bahan-bahan agrokimia terus meningkat dari tahun ke tahun (Soeyitno dan Ardiwinata 1999). Di lapangan. Upaya lain yang mendesak untuk segera ditangani adalah pengendalian degradasi daerah tangkapan hujan (water catchment area) dan pengendalian konversi lahan pertanian. dan teknologi pengendalian erosi lahan berlereng (Abdurachman et al. meskipun pemerintah telah mengeluarkan regulasi pengadaan (impor). 2004). dan konversi lahan pertanian. Teknologi konservasi tanah yang telah dipublikasikan dalam bentuk buku antara lain adalah teknologi konservasi tanah mekanik (Dariah et al. Pencemaran tanah oleh bahan-bahan agrokimia belum sepenuhnya dapat diatasi.

Peningkatan daya saing. 1985). tata ruang dan keagrariaan. Demikian juga . (3) degradasi sumber daya pertanian. produktivitas. fasilitasi pengembangan kesempatan kerja dan berusaha di luar usaha tani. serta pengembangan infrastruktur dan kelembagaan usaha tani. serta penegakan hukum. pertanahan. dan kemandirian produksi dan distribusi PPK. Dalam butir (3). Tanpa konservasi tanah. tata ruang dan keagrariaan. serta praktek usaha pertanian yang baik. Jawa Timur (Abdurachman et al. Pelestarian dan pemanfaatan lingkungan hidup dan sumber daya alam secara berkelanjutan. terutama lahan dan air.KONSERVASI TANAH DALAM KERANGKA REVITALISASI PERTANIAN Konservasi tanah sangat penting untuk mengatasi degradasi lahan yang merupakan salah satu dari empat ancaman utama terhadap pelaksanaan RPPK. sehingga sistem pertanian menjadi berkelanjutan dan masyarakat lebih sejahtera . infrastruktur. yaitu terkendalinya proses degradasi lahan. dan di Punung. 2. serta (4) konversi lahan pertanian. Dalam RPPK ditetapkan tiga butir kebijakan dan strategi umum. serta menjaga kelestarian sumber daya alam (Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2005). dan kemandirian produksi dan distribusi. terutama melalui pengelolaan pertanahan. dapat terjadi erosi pada lahan tanaman pangan sampai 14-15 mm/tahun. Peran Konservasi Tanah Peran konservasi tanah dalam RPPK antara lain dinyatakan dalam butir (3) dan (2) tersebut di atas. Kebijakan dan Strategi Revitalisasi Pertanian RPPK yang dicanangkan oleh Presiden pada Juni 2005 merupakan strategi umum untuk meningkatkan kesejahteraan petani. seperti di Putat. nilai tambah. (2) ketidakstabilan produksi padi akibat cekaman hama dan penyakit serta iklim. kelembagaan usaha tani. terutama melalui praktek pertanian yang baik (good agriculture practice). Ketiga butir kebijakan dan strategi tersebut terkait erat dengan aspek konservasi tanah. yaitu: 1. produktivitas. jelas dinyatakan bahwa pengelolaan konservasi merupakan strategi utama dalam upaya pelestarian dan pemanfaatan lingkungan hidup dan sumber daya alam secara berkelanjutan. pengelolaan konservasi tanah menjadi komponen utama yang perlu diperhatikan agar tercapai tingkat produktivitas yang tinggi dan berkelanjutan. Keempat ancaman tersebut adalah: (1) pelandaian dan stagnasi produktivitas padi akibat kemandegan implementasi inovasi teknologi. nilai tambah. 3. pengembangan usaha baru dan multiproduk. serta mendorong pengembangan usaha. agroindustri pedesaan. Selanjutnya pada butir (2) ditegaskan strategi utama dalam peningkatan daya saing. terutama melalui pengelolaan konservasi. diversifikasi kegiatan produksi. penerapan teknologi dan kelembagaan yang ramah lingkungan. serta perlindungan usaha atas persaingan tidak adil. Pengurangan kemiskinan dan kegureman. Jawa Tengah. serta pencapaian skala ekonomi usaha PPK. Dalam usaha ini. pengembangan agroindustri pedesaan. pengurangan pengangguran. pengembangan akses terhadap berbagai hambatan usaha dan sumber ekonomi biaya tinggi. nelayan dan petani hutan. khususnya pada sektor pertanian di mana ketahanan pangan menjadi salah satu pilar utama.

STRATEGI KONSERVASI TANAH DI INDONESIA Upaya konservasi tanah tidak dapat diserahkan hanya kepada inisiatif dan kemampuan petani saja.pada lahan tanaman pangan yang berlereng 14% di Baturaja. Penetapan ini merupakan salah satu strategi operasional. berupa teknologi pengendalian erosi dan longsor. terutama pada lahan pertanian.6 juta ha (BPS 2004). dan status irigasi. indeks pertanaman. terutama permodalan.2 juta ha). dan penegakan hukum bagi tersedianya lahan pertanian abadi. Strategi tersebut meliputi lima hal sebagai berikut. Mengingat pentingnya konservasi tersebut dalam RPPK khususnya dan pembangunan pertanian pada umumnya. yang terdiri atas 15 juta ha lahan beririgasi dan 15 juta ha lahan kering. yaitu 39. lahan sawah yang layak dijadikan sawah abadi hanya 3. seperti regulasi dan instansi pemerintah yang diberi mandat untuk melaksanakan program konservasi. Sementara ini. penegasan. serta lahan terlantar (10. Oleh karena itu.6 juta ha). serta dilakukan secara bertahap. areal pertanian lahan kering cukup luas. pekarangan (5.6 mm/tahun (Abdurachman et al. Penetapan lahan abadi merupakan manifestasi dari kebijakan pemerintah dalam pengelolaan konservasi lahan pertanian Penetapan lahan sawah abadi 15 juta ha harus didasarkan atas kriteria yang jelas. Beberapa di antaranya telah dipublikasikan dalam berbagai media cetak berupa buku. produktivitas. cukup dengan memilih lahan pertanian yang sudah ada saat ini. Keberadaan lahan abadi tersebut dipandang akan mampu mendukung pemantapan ketahanan pangan dan peningkatan volume ekspor hasil pertanian. sudah tersedia. Strategi 1 Penyiapan Teknologi Konservasi Teknologi konservasi tanah yang tepat guna. menemukan lahan kering abadi 15 juta ha tidak sulit. selain kurang memahami pentingnya konservasi. Penetapan Lahan Pertanian Abadi RPPK mengamanatkan perlunya penetapan. Dengan demikian.3 juta ha (Abdurachman 2004). Namun jelas. lahan kayu-kayuan (10. dan prosiding. 1985).7 juta ha). Demikian juga strategi yang dipilih untuk mensukseskan implementasinya di lapangan sangat menentukan keberhasilan.4 juta ha). perkebunan (18. Sekarang ini luas sawah baku di Indonesia hanya 7. karena berbagai keterbatasan.3 juta ha). sehingga dapat diakses dengan mudah oleh penyuluh dan calon pengguna lainnya. dengan kualitas bervariasi dari sawah irigasi teknis sampai sawah tadah hujan. maka selain aspek teknis di lapangan juga perlu didukung sistem kelembagaan yang tegas. terdiri atas tegalan (15. budaya dan sosial. peran pemerintah sangat penting dan menentukan. dengan tujuan utama untuk mengendalikan konversi lahan pertanian. laju erosi mencapai 4. Yang perlu dilakukan adalah mengumpulkan dan menyusunnya dalam buku teknologi atau menyediakan file elektronis. Teknologi untuk mengendalikan pencemaran . jurnal.78 juta ha (BPS 2003). Dengan menggunakan kriteria biofisik lahan. baik dari aspek teknis maupun aspek hukum. lahan abadi tersebut harus dilengkapi dengan instrumen konservasi tanah yang efektif agar tidak berubah menjadi lahan tidur dan terbengkalai.

melalui Prima Tani. di samping penelitian teknologinya sendiri. Menteri Pertanian menganggap Prima tani sebagai suatu model pembangunan pertanian yang berawal dari desa. teknologi konservasi tanah berpeluang diterapkan di lahan petani sebagai percontohan. 299 tahun 2005. Mandat konservasi tanah di Departemen Pertanian seyogianya dilaksanakan oleh suatu kelembagaan setingkat eselon II (Direktorat Konservasi Tanah).kimiawi. bahkan lebih baik lagi dibentuk Direktorat Jenderal . polusi oleh limbah pertambangan dan industri. Makin cepatnya laju degradasi lahan pertanian. Prima Tani merupakan model pembangunan pedesaan yang mengintegrasikan berbagai program pertanian. Lebih jauh. Oleh karena itu. menuntut adanya politik pemerintah yang lebih tegas. Konservasi. sedangkan konservasi wilayah pertanian hanya terbatas pada penghijauan lahan pertanian di DAS hulu. Salah satu program Departemen Pertanian yang dapat dijadikan wadah percepatan diseminasi teknologi konservasi adalah Prima Tani. Strategi 3: Reformasi Kelembagaan Konservasi Tanah Pada tahun 2005. Strategi 2 Percepatan Diseminasi Upaya penelitian konservasi tanah selama ini belum didukung oleh sistem diseminasi yang handal. dalam struktur organisasi Departemen Pertanian dibentuk kelembagaan eselon I baru. terutama pada DAS bagian hulu. semangat Prima Tani sangat dekat dengan semangat konservasi sumber daya. yang mengancam keberlanjutan dan tingkat produksi pertanian. yaitu Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air. penelitian konservasi tanah perlu diarahkan kepada pencarian metode diseminasi teknologi yang tepat. Oleh karena itu. Hal ini memberikan harapan akan lebih tertibnya pengelolaan lahan dan air. dengan Permentan No. program. antara lain dengan meninjau ulang posisi kelembagaan konservasi tanah. di bawah Ditjen PLA. walaupun mandat konservasi tanah masih diletakkan pada tingkat jabatan yang relatif rendah (eselon III). yang juga bertujuan untuk mengoptimalkan pendayagunaan potensi desa berupa sumber daya manusia dan lahan. seperti dengan penetapan Permentan 47 tahun 2006 tentang Pedoman Umum Budidaya Pertanian pada Lahan Pegunungan. dan kelembagaan penyuluhan pertanian di tingkat pusat dan daerah. Teknologi pengendalian erosi lebih banyak diterapkan pada proyek reboisasi dan penghijauan yang dikelola oleh Departemen Kehutanan. serta konversi lahan masih perlu diteliti dan dikembangkan lebih lanjut. yaitu Subdit Rehabilitasi. Dalam Permentan tersebut dengan tegas ditetapkan strategi dan teknologi konservasi tanah dan air menurut karakteristik lahan dan iklim secara spesifik lokasi. Sasaran utaman proyek tersebut adalah kawasan hutan. kebakaran hutan. Secara substansial. Jadi secara filosofis. dan Reklamasi Lahan. yang salah satu tujuannya adalah mempercepat diseminasi inovasi pertanian (Abdurachman 2006b. Untuk mendukung pembenahan ini. diperlukan pembenahan terhadap materi. penanggulangan kemiskinan dan pengangguran secara sinergis. Teknologi konservasi dapat pula didiseminasikan melalui peraturan. Permentan tersebut disusun dan merupakan kristalisasi serta sari pati hasil pembelajaran dari berbagai program penelitian dan pengembangan konservasi sejak puluhan tahun yang lalu. 2006c). dan merupakan tonggak baru sejarah pembangunan pertanian (Abdurachman 2007).

dan penyedia lapangan kerja. sehingga dampak program tersebut tampaknya belum cukup berarti. yang meliputi seluruh wilayah Indonesia. Peningkatan Kesadaran Masyarakat Hasil penelitian di DAS Citarum dan DAS Kaligarang menunjukkan bahwa masyarakat pedesaan baru mengenal 2-4 jenis fungsi lahan pertanian. Hingga tahun 2006. seperti teras dan saluran drainase. Namun dengan diterbitkannya UU No 16/2006 tentang penyuluhan diharapkan fungsi penyuluhan akan lebih baik. konservasi lahan pertanian akan mendapat perhatian lebih besar.Konservasi Tanah. untuk merehabilitasi lahan 2. Kemudian pada tahun 2003 digalakkan gerakan masyarakat yang disebut Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan Nasional (Gerhan). Dengan demikian. Strategi 4: Relokasi Program Konservasi Tanah Program konservasi tanah selama ini dilaksanakan oleh Departemen Kehutanan. pengendali banjir. Padahal fungsi lahan pertanian bagi kemanusiaan mencapai 30 jenis. penggalakan konservasi tanah harus meliputi pula advokasi pentingnya pertanian beserta fungsi gandanya. Berdasarkan kenyataan tersebut. dan . dengan nama Reboisasi dan Penghijauan hingga tahun 2002. lebih-lebih untuk pengembangan konservasi tanah. Hal ini terjadi terutama setelah diberlakukannya UU No. sasaran advokasi bukan saja masyarakat umum. Dalam jangka pendek. Sehubungan dengan hal tersebut. 32/2004 tentang otonomi daerah. Strategi 5: Pelaksanaan Program Pendukung Upaya konservasi lahan pertanian perlu didukung perbaikan perencanaan dan implementasi programnya.1 juta ha digunakan anggaran Rp8.1% dari anggaran tersebut yang digunakan untuk pembuatan konstruksi teknis konservasi mekanis. Namun. promosi dapat dilakukan melalui seminar dan simposium serta media cetak dan elektronis. yaitu penghasil produk pertanian. Dalam jangka panjang. tetapi juga pelajar dan mahasiswa melalui kurikulum pokok dan ekstra-kurikuler. terutama untuk konservasi lahan pertanian. seyogianya program konservasi lahan pertanian dikelola oleh kelembagaan konservasi di Departemen Pertanian yang dikoordinasikan dengan program Dinas Pertanian di provinsi dan kabupaten. Penguatan Kelembagaan Penyuluhan Kondisi kelembagaan penyuluhan saat ini kurang kondusif untuk pembangunan pertanian secara umum. pemelihara pasokan air tanah. yang bersumber dari dana reboisasi (Kartodihardjo 2006). hanya 2. apalagi dengan digabungnya penyuluhan pertanian.586 triliun atau Rp4 juta/ha. dan Departemen Kehutanan dapat memfokuskan programnya pada penanganan konservasi kawasan hutan. yang antara lain mengalihkan pengelolaan urusan penyuluhan pertanian dari Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Kabupaten. antara lain berupa program sebagai berikut. Dengan demikian akan ada kelembagaan khusus yang bertugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang konservasi tanah. perkebunan.

Jenis degradasi tanah yang dominan adalah erosi yang disebabkan oleh tingginya faktorfaktor pendorong. dan hukum. Perikanan dan Kehutanan (RPPK). 3. dan kebiasaan bertani tanpa teknik pengendalian erosi. Keputusan Menteri. masalah yang perlu diatasi adalah yang berkaitan dengan aspek sosial-ekonomi. kepekaan tanah terhadap erosi. namun diseminasi dan adopsinya oleh pengguna belum terlaksana dengan baik. yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani. budaya. dan kelestarian lingkungan. Masalah yang mengemuka adalah lemahnya penegakan hukum terutama karena penerapan law-enforcement yang kurang tegas. serta menjaga kelestarian sumber daya alam. Penegakan Hukum RUU Konservasi Tanah masih dalam proses ke arah pengesahan menjadi undang-undang. sudah banyak diberlakukan dalam bentuk Peraturan Pemerintah. kesejahteraan petani. Dalam kerangka mendukung RPPK khususnya dan pembangunan pertanian pada umumnya. Namun sebenarnya berbagai peraturan/perundangan yang berkaitan dengan masalah kerusakan lahan pertanian. Advokasi Penanggung Jawab Konservasi Perlu dilakukan advokasi intensif kepada masyarakat luas untuk menjelaskan bahwa penyelamatan sumber daya lahan dan lingkungan bukan hanya tugas pemerintah. sementara petani belum mampu mengatasinya sendiri. masalah utama yang dihadapi adalah lemahnya kelembagaan dan program konservasi tanah di Departemen Pertanian. 2. yang mengancam keberlanjutan sistem pertanian. nelayan dan petani hutan. terutama konversi lahan ke nonpertanian. Pada tataran kebijakan pemerintah. dan konversi lahan pertanian. curah hujan. yaitu kemiringan lahan. Pada tataran lapangan.peternakan dalam satu wadah. Teknologi pengendalian erosi cukup tersedia. 4. Iptek konservasi tanah berkembang sejalan dengan perkembangan penelitian dan meningkatnya jenis dan intensitas degradasi tanah. Lahan pertanian di Indonesia telah dan terus mengalami degradasi. Proses degradasi juga mengancam keberhasilan Revitalisasi Pertanian. Jenis degradasi lain adalah pencemaran kimiawi. kebakaran hutan. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN Dari uraian di atas dapat ditarik beberapa butir kesimpulan sebagai berikut: 1. Namun upaya pemerintah dalam pengendalian degradasi lahan pertanian belum optimal. longsor. tetapi juga tanggung jawab bersama seluruh generasi bangsa Indonesia. yang seyogianya memiliki kemampuan tinggi untuk mengatasi meningkatnya masalah degradasi lahan pertanian. diperlukan strategi dan implikasi kebijakan sebagai berikut: . Salah satu hal yang perlu diupayakan adalah pengadaan tenaga penyuluh konservasi tanah lapangan yang terlatih dan dibekali pengetahuan dan teknologi konservasi yang memadai. dan Peraturan Daerah. ketahanan pangan.

Hal ini telah diperingatkan pada 14. kebakaran hutan.dan (d) advokasi intensif kepada masyarakat luas untuk memberikan penjelasan bahwa penyelamatan sumber daya lahan dan lingkungan bukan hanya tugas pemerintah. Meningkatkan posisi kelembagaan konservasi tanah di Departemen Pertanian dari Subdirektorat (Eselon III) menjadi Direktorat Jenderal Konservasi Tanah dan Air. DAFTAR PUSTAKA . agar mereka kembali (ke jalan yang benar) “. sering ditujukan hanya untuk memperoleh keuntungan jangka pendek semata. dan ke depan seyogianya kita lebih waspada dan bijak dalam mengelola sumber daya alam yang dititipkan kepada kita sekalian. terutama untuk mengendalikan pencemaran tanah. tetapi juga tanggung jawab bersama seluruh generasi bangsa Indonesia. Di sisi lain. Hal ini menimbulkan dampak buruk berupa penurunan produktivitas pertanian. masalah degradasi kawasan hutan akan dapat diatasi dengan lebih efektif oleh Departemen Kehutanan. (c) penegakan hukum dalam perkara yang berkaitan dengan perlindungan lahan pertanian. akan ada kelembagaan yang kuat untuk memberikan bahan-bahan pertimbangan kepada Menteri Pertanian. yaitu program pembangunan pertanian yang berawal dari desa. Melaksanakan program-program pendukung. tanah longsor. Namun. Di satu sisi. kenyataan menunjukkan bahwa sumberdaya lahan pertanian dan kawasan hutan digunakan secara tidak rasional. Meningkatkan program penelitian dan pengembangan teknologi konservasi. Mengalihkan program konservasi dan rehabilitasi lahan pertanian dari Departemen Kehutanan ke Departemen Pertanian. yaitu: (a) peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya pertanian dengan multifungsinya. melaksanakan penyiapan rumusan dan bimbingan teknis serta evaluasi di bidang konservasi tanah. Semoga peringatan keras ini menggugah kesadaran dan kearifan kita semua. antara lain melalui Prima Tani. 4. yang antara lain bertujuan memasyarakatkan inovasi pertanian. 5. termasuk pengadaan tenaga khusus penyuluh konservasi tanah. lahan-lahan pertanian akan dapat dibina dan ditingkatkan produktivitasnya melalui kebijakan dan fasilitasi satu kelembagaan saja. 2. bencana banjir.5 abad yang lalu.1. supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka. dalam Alqur’an: QS 30: 41: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh tangan-tangan manusia. dan konversi lahan pertanian. PENUTUP Sumber daya lahan Nusantara merupakan anugerah dan amanat dari Tuhan Yang Maha Pemurah kepada seluruh bangsa Indonesia. yaitu Departemen Pertanian. Dengan demikian. bangsa Indonesia. Mempercepat diseminasi teknologi pengendalian erosi dan longsor. (b) penguatan kelembagaan penyuluhan pertanian. Amanat ini seharusnya dipertanggungjawabkan dengan cara memelihara dan mengoptimalkan pendayagunaannya untuk kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan. dan kekeringan berkepanjangan Apabila cara-cara mengelola sumber daya lahan tersebut tidak diperbaiki sesuai karakteristik masing-masing lahan maka ancaman malapetaka pasti akan bertambah besar. 3.

Abdurachman. Jakarta 26-27 Juli 1999. Kurnia. 2006a. 2004. Pengelolaan sumber daya lahan dan air untuk mendukung pembangunan pertanian. (Eds). hlm. 101-140 . A. 2003. Opini: 32-33. Pemberitaan Penelitin Tanah dan Pupuk 9: 38-45. Strategi dan arah ke depan penelitian dan pengembangan sumber daya lahan. A. Sinar Tani edisi 23-29/08. 25-38. Hidayat. S. Abdurachman. Teknologi Pengelolaan Lahan Kering: Menuju Pertanian Produktif dan Ramah Lingkungan. 195 hlm. Bogor. No. Seminar Nasional Sektor Pertanian sebagai Andalan Ekonomi Nasional.. Doctorate Thesis. Kurnia. A. Makalah pada Round Table Pengendalian Konversi dan Pengembangan Lahan Pertanian. Edisi Agustus. 2006b. . A.14 Desember 2004. Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk 3: 7-11. dan U. dan F. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. A.2006. Pengendalian konversi lahan sawah secara komprehensif. Prima Tani: Membangun agroindustri pedesaan dengan inovasi teknologi dan kelembagaan agribisnis. 1999. 2006c. A. 1990. Abdurachman. U. University of Ghent. Abdurachman. Prosiding Lokakarya Nasional Pembahasan Hasil Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Abdurachman. Strategi mempertahankan multifungsi pertanian di Indonesia. Prima Tani: Peluang emas bagi pemanfaatan iInovasi pertanian. Teknologi pengendalian erosi lahan kering berlereng. Bogor. dan U. Abdurachman. A. A. A.. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. dan Sudirman. Dalam Abdurachman et. 1985. Bogor.September 2006. Belgium. Peranan pola tanam dalam usaha pencegahan erosi pada lahan pertanian tanaman semusim. 14-15 Oktober 2003. Sutono. Agrotek. 1997. Kurnia. Penggunaan RUSLE untuk menduga erosi tanah pada lahan pertanian di Indonesia. Estimasi indeks erodibilitas tanah dengan menggunakan teknik simulasi hujan di laboratorium.. Abdurachman. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian 24 (5): 99-105. A. Pengelolaan tanah dan tanaman untuk usaha konservasi tanah. 1989. dan N. Abdurachman. Sutrisno 2005. A. Abdurachman. Barus. Prosiding Seminar Nasional Inovasi Teknologi Sumberdaya Tanah dan Iklim. Pengembangan teknologi konservasi tanah pasca NWMCP. Agus. Abdurachman. Abuyamin. Abdurachman. A. Rainfall Erosivity and Soil Erodibility in Indonesia: Estimation and Variation with Time.Abdurachman. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Abdurachman. A. A. 1984. 2-3 September 1999. Lokakarya Penetapan Model Pendugaan Erosi Tanah. al. dan A. 2000. hlm. Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk 4: 41-46. 3164 Tahun XXXVI.

hlm. 2004. Degraded soils and organic matter. Jatmiko dan A. Bogor. S.. A. Khalid. Bogor. Haryati.P. Watung. Tahun XXXVII.Abdurachman. hlm. Tinjauan umum multifungsi pertanian. 1995. dan A. John Wiley & Sons. p. N. Lahan kering untuk pertanian. Teknologi Pengelolaan Lahan Kering. Ardiwinata. dan E..A. 5-12. Univ of Agriculture.. Bogor. M. Zahir. Abdurachman. Tonggak sejarah pembangunan pertanian. Ardiwinata. USA. Dalam Abdurachman. Monitoring residu insektisida di Jawa Barat. Haryati. 1994. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Jakarta. Harsanti.S. 20. dan A. 12 Oktober 2004. Jawa Tengah. dan T. Edisi 2007.Y. W.C. Report of Phase I: Evaluation of Multifunctionality of Paddy Farming and Its Effects in ASEAN Countries. John Wiley & Sons. Assessment of the multifunctionality of agriculture. R. and S. BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika). Arshad.S. A. Dalam Kurnia et.L. Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional). Agus.N. F. Hidayat. hlm. Agus. Statistik Indonesia. Political and economics aspects of soil conservation. Bogor. and Z.. al. Badan Pusat Statistik. In P. Teknologi konservasi tanah mekanik. 93-154. dan E. . Husen 2004. 1998. (Ed. Irawan. 2007. Dariah. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Haryono. 19-24 October1998. A. Morgan (Ed). 2003-2004. A. No. 109132. Faisalabad. Morgan (Ed). 2005. 1-34. Seminar Nasional Multifungsi Pertanian dan Ketahanan Pangan. Budiastoro. Bogor. Sutono. APO Seminar on Soil Degradation. Mulyani. Dalam Risalah Seminar Hasil Penelitian Emisi GRK dan Peningkatan Produksi Padi di Lahan Sawah Menuju Sistem Produksi Padi Berwawasan Lingkungan. Planning for Fire Prevention and Drought Management Project. Hudson.Y. Teknologi Konservasi Tanah pada Lahan Kering Berlereng. BMG. USA. Jatmiko. Sinar Tani. 1999. 45-54. Social. Pemberitaan PenelitianTanah dan Pupuk 13: 40-50. Pakistan.R.). S.N. Dudal..). A. A. 15. R. Tala’ohu. Irawan. 1998. Wahyuno. Soil Conservation Problems and Aspects. 1999. p. 1980. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. U.. Jakarta BPS (Badan Pusat Statistik). E. Nurmanaf. Soil Conservation. Problems and Aspects. 1980. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. F. Pengendalian erosi dan aliran permukaan serta produksi tanaman pangan dengan berbagai teknik konservasi pada Typic Eutropept di Ungaran. Rainfall types in Indonesia. Harsanti. In R. An evolution of conservation needs p. U. Mappaona dan Saleh (Ed. dalam Risalah Seminar Hasil Penelitian Emisi GRK dan Peningkatan Produksi Padi di Lahan Sawah Menuju Sistem Produksi Padi Berwawasan Lingkungan. Residu insektisida pada ekosistem lahan sawah irigasi di Jawa Timur. Environmental aspects and community evaluation. Jakarta.C. 2002. p.

In S. Kepekaan erosi beberapa jenis tanah di Jawa menurut metode USLE. 2000. Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk 17-20.S. Kuala Lumpur. Suganda. operasionalisasi dan gagasan baru. U. 8. S. 2004.A. 133-150. Langdale. 113: 53-54. Rieley. Anugrah.V. Environment Dep. Publ. Corn yield reduction on eroded Southern Piedmont Soils. W. Peat- . dan B. Makalah pada Diskusi Terbuka Rehabilitasi Hutan dan Lahan: Kebijakan.P. Lal. Impact of forest fire on carbon storage in tropical peat lands.Rochefort and J. W. Fleming. dan Kehutanan. 2001. 56. ElSwaifi. and A. H. 19-21 March 2002. Perikanan. Erfandi. Jatmiko.). Kirom. (Ed. Lo (Eds. I. Bogor. College. Sustaining Our Peatlands. Dalam Kurnia et. Teknologi Konservasi Tanah pada Lahan Kering Berlereng. Teknologi konservasi tanah pada budi daya sayuran dataran tinggi. S. B.. Eriyatno. R. 2006. 2002. Masalah dan kebijakan rehabilitasi hutan dan lahan.. Working Paper 18. 1985. Box Jr. Kurnia. Mangundikoro. Daigle (Eds). F. 2005. of the Symposium on Watershed and Conservation for Productive and Protective Uplands in ASEAN Region. World Bank. dan H. Page. The 1997/1998 forest fire experience in Peninsular Malaysia. 1984.. 1977. 25-29 June 1984. Dalam Risalah Seminar Hasil Penelitian Emisi GRK dan Peningkatan Produksi Padi di Lahan Sawah Menuju Sistem Produksi Padi Berwawasan Lingkungan. dan I. hlm.D. USA.Y. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. A. Workshop on Prevention and Control of Fire in Peatland.E. Institut Pertanian Bogor. Supriyatna..B. Revitalisasi Pertanian. Quebec.A.W. 237. 1979. J. Margrath. 106-113. dan Suwardjo.S.O. G. and P. In L. Philippines. Canada. 2002. Proc. H. U. Soil Erosion and Conservation. J. and W. Bogor. p. Kurnia.G. R. Kartodihardjo. Pencemaran pestisida pada agroekoistem lahan sawah irigasi dan tadah hujan di Jawa Tengah. p. IAHS AISH. Harsanti. Kusnadi. Musa. Proc.. S. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. A. Limin. E. Paris. Effects of Man’s Activity on Erosion in Rural Environments and Feasibility Study for Rehabilitation. Wiryono.N. 1989.A. of the 11th International Peat Congress. 1989. 1985. Leonard. Laguna. Soil erosion and its relation to productivity in tropical soils. N. Partosedono. Bohn. Parish. Soil and Water Conservation 34(1): 226-228. hlm. A. D. 1999. Jaya. al. A. S. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Rachman. p. S.Y.S.B. and H.). Watershed management in Indonesia. Bogor. Perumusan model kelembagaan konversi lahan pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. J.E. dan A. Moldenhauer. R.C. Barnet. The Cost of Soil Erosion in Java: A natural resources accounting approach. Jakarta. Malaysia. Ardiwinata.247. Arens. Parlan.

Laporan Akhir kerja sama antara Proyek Pengembangan Penataan Lingkungan Hidup Bappeldada Jakarta dan Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Pengkajian Baku Mutu Tanah pada Lahan Pertanian. Dalam Kurnia et. 11. 2166. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Purnomo. Santoso. Suharta dan A. Smith.P. The Hague. Bogor. Wischmeier. Kebijakan pengendalian alih fungsi tanah pertanian dan implementasinya. and D. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Washington DC. Hand Book 537. Winoto. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. 361-364.Siswanto 2000. al. Teknologi konservasi tanah vegetatif. Sumberdaya Lahan Indonesia dan Pengelolaannya.al. 1974. 8. Predicting Rainfall Erosion Losses. Bogor.N. Petunjuk Teknis Teknologi Konservasi Tanah dan Air . Disertasi. N. 77-108. J. Dalam Abdurachman et. an overview. Seminar Penanganan Konversi Lahan dan Pencapaian Lahan Pertanian Abadi.. 50/Puslittanak. Bogor. hlm.. hlm. Tanah-tanah pertanian di Indonesia. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Subagyo.B. Tim Peneliti Baku Mutu Tanah. hlm. Wigena dan E. (Eds): Teknologi Konservasi Tanah pada Lahan Kering Berlereng. (Ed. Kuala Lumpur. dan A. A Guide to Conservation Planning. 1981 Peranan Sisa-sisa Tanaman dalam Konservasi Tanah pada Usahatani Tanaman Semusim.). Tuherkih. J. Malaysia. The soil erosion problem in Java. Soemarwoto. I. p. 19-21 March 2002. Suwardjo. Residu pestisida pada agroekosistem tanaman pangan. Dalam Risalah Seminar Hasil Penelitian Emisi GRK dan Peningkatan Produksi Padi di Lahan Sawah Menuju Sistem Produksi Padi Berwawasan Lingkungan. No. USDA Agric. Ardiwinata. Workshop on Prevention and Control of Fire in Peatlands. 2005. H. J. 1978.G. O.lands. Proc. Soeyitno. First International Congress of Ecology. biodiversity and climate change in SE Asia. W. D. 1999.H. 2000. p. 2004.

.

.

.

.

.

.

.

.

2010 @ 10:57 pm 3. 2011 @ 3:47 pm 6. sangat membantu buat tugas kul… lebih banyak lagi tentang pertanian di Indonesia kalau bisa Komentar oleh rizki ramadhani — Mei 26. 2010 @ 8:08 pm 4. Tq banget ya…lengkap dg gambarnya…jangan berhenti tuk berbagi ilmu…ok Komentar oleh intan — Juni 1. BPK BAGAIMNA CRA MENGDAKAN PUNYULUHAN PERTNAHAN DAN PERTANIAN SECARA KELOMPOK…………………? Komentar oleh mashudi — Maret 29. . artikel nya lumayan lengkap thanks. tq. 2010 @ 3:30 pm 5. 2010 @ 8:32 pm 2.8 Komentar » 1. Komentar oleh SariF — Desember 28. aku suka artikel yang di tulis namun jika ada yang lebih menarik dari ini tolong di tampilkan karena ini sangat bermanfaat untuk masyarakat pulau maitara. info sangat menarik Komentar oleh asier laode — Juni 9.

I want more and more information. komprehensif sekali Komentar oleh Arie Kuncoro — September 1. URI Lacak Balik Tinggalkan Balasan Enter your comment here... 2011 @ 1:02 pm RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini.Sajian mengenai Konservasi T dan air sudah bagus. 2011 @ 8:38 pm 8. Komentar oleh darmawi — Mei 22. Interesting.     Guest Masuk Masuk Masuk Email (Belum diterbitkan) Nama Situs web . 2011 @ 3:58 pm 7.mudah2an penanganan mengenai konservasi di daerah semakin baik lewat mahasiswa kehutanan. Komentar oleh Daud Sanda Layuk — April 12.

  Blog Stats o o o o 343.742 hits 01 Tentang Kami 02 Mimpi Kami tentang DAS 03 Bebas Banjir. Mungkinkah?  2010  2011  2012  2012  2025  Angan-Angan  Baru Sebatas Janji  Bisa  Bukan Mustahil. Beritahu saya tulisan baru lewat surat elektronik.Beritahu saya balasan komentar lewat surat elektronik. bukan mimpi  Bukan Utopi  Impian Seumur Hidup  Itu Bohong  Jangan Mimpi  Mimpi  Mitos  Mustahil  Optimistis  Perlu Langkah Spektakuler  Ragu  Sulit  Tak Bisa 100%  Tak Bisa Jamin  Terbukti Bisa  Tidak Bisa  Tidak Jamin  Tidak Mungkin  Tidak Yakin  Tunggu 20 Tahun 04 Konsep-Konsep Dasar  Adaptive Collaborative Management (ACM)  Aksi Kolektif Lokal  Appreciative Inquiry  Asset-Based Community Development  Civic Entrepreneur Halaman o .

o o DAS dan Pengelolaannya (1) DAS dan Pengelolaannya (2) DAS dan Pengelolaannya (3) Das dan Pengelolaannya (4) DAS dan Pengelolaannya (5) DAS dan Pengelolaannya (6) DAS dan Pengelolannya (7) Ekodrainase Ekowisata Eksternalitas Fiqih Lingkungan (1) Fiqih Lingkungan (2) Imbal Jasa lingkungan Infiltrasi Institusi (Kelembagaan) Institusi (Kelembagaan) (2) Klasifikasi Kemampuan Lahan Koefisien Aliran Permukaan (C) Konsep Relawan Konservasi Tanah dan Air Konservasi Tanah dan Air (2) Low Impact Development Modal Sosial (1) Partisipasi Masyarakat Penanganan Sungai Pendekatan Persil Lahan Perencanaan Banjir Perencanaan Mitigasi Banjir Perilaku Warga DAS Periode Ulang Permakultur Property Right Riset Aksi Ruang Terbuka Hijau (1) Ruang Terbuka Hijau (2) Siklus Hidrologi Sistem Pendukung Negosiasi Stakeholder Analysis Stakeholder Analysis Teknik Perundingan dan Mediasi Zero Delta Q Policy 05 Pengorganisasian Aksi Kolektif Lokal  Forum DAS  Pokja DAS Desa / Kelurahan  RW Hijau 06 Teknologi Pengendalian Banjir                                          .

Kolam Retensi Lubang Galian Tanah Lubang Resapan Biopori Modifikasi Lansekap Mulsa Mulsa Vertikal (Slot Mulch) Pemanfaatan Air Hujan Penampungan Air Hujan (1) Penampungan Air Hujan (2) Penanaman Dalam Strip Pengolahan Tanah Minimum Pengolahan Tanah/Penanaman Menurut Kontur Polder Rain Gardens Retarding Basin Revitalisasi Danau. Telaga.                                              Agroforestry Areal Peresapan Air Hujan Artificial Recharge Bendungan Bawah Tanah Bioretensi Budidaya Lorong (Alley Cropping) Daerah Konservasi Air Tanah Dam Parit Dam Pengendali (Check Dam) Deep Tunnel Reservoir System Embung Guludan Kolam / Balong Kolam Konservasi Air Hujan. atau Situ Rorak / Parit Buntu Rumah Panen Hujan Sabuk Resapan Saluran / Parit Resapan Sawah Stormwater Detention Pond Strip Penyangga Riparian Strip Rumput Sumur Injeksi Sumur Resapan Taman Hujan Tanaman Penutup Tanah Tanggul / Pagar Pekarangan Teknologi Modifikasi Cuaca Teras Tirta Sangga Jaya (TSJ) .

Arief Ilyas dan Dedih Setiadi  M. Nanlohy. Syarifuddin Karama  Abdul Hamid  Adeline Narwastu dan Eri Prasetyo W  Ahmad Tusi  Anik Sarminingsih  Anthony Raymond Kemur  B.J. Istiarto. Joko Sujono  Dirjen Penataan Ruang – Dept Kimpraswil  Djoko Luknanto  Dyah Indriana Kusumastuti  Edi Purwanto  Firdaus Ali  Gindo Maraganti Hasibuan  Hidayat Pawitan  Hunggul Yudono Setio Hadinugroho  Ismail Saud  Isnugroho  Ligal Sebastian  M. Pratondo  Benjamin J.B. Setiawan et al  Corri E. dkk.o o o o Waduk Pengendali Banjir Waduk Resapan 07 Perlu Contoh dari Istana 08 Bagaimana Memulai? 09 Riset Aksi menuju Bebas Banjir  DAS Ciliwung  DAS Limboto 10 Makalah tentang Banjir  A. Fakhrudin  Maman Djumantri  Mark Caljouw et.al.  Menteri Kimpraswil  Moehansyah  Mohammad Imamuddin dan Trihono Kadri  Naik Sinukaban  Nana Mulyana  Nani Heryani  Pitoyo Subandriyo. dkk  Budi I..  Sigit Setiyo Pramono  Siswoko  Sri Legowo Wignyo Darsono  Suntoro Wongso Atmojo.  Supriyanto  Suroso dan Hery A Susanto   .

Putuhena dkk 11 Artikel Tentang Banjir  A Syarifuddin Karama  Adi Yusuf Muttaqin  Agus Maryono  Ahmad Heryawan  Amos Neolaka  Aprizal  AR Soehoed  Arif Satria  Chay Asdak  Darrundono  Deddy Supriadi  Dwiatmo Siswomartono  Eko Priyo Utomo  Emil Salim  Fatchy Muhammad  Gatot Irianto  Hadi S Alikodra  Hariadi Kartodihardjo  Hartarto Sastrosoenarto  Kasdi Subagyono  Khudori  Lutfi Andrian  Marco Kusumawijaya  Marwan Ja’far  Muh. Sutjahjo    .o Sutopo Purwo Nugroho Trihono Kadri William M. Nur Sangadji  Naik Sinukaban  Nyoto Santoso  Otto Soemarwoto  Peter Karl Bart Assa  Purwanti Sri Pudyastuti  Ris Sukarma  Robert J Kodoatie  Rokhmin Dahuri  Sahid Susanto  Sahroel Polontalo  Siswoko  Sobirin  Subandono Diposaptono  Sudariyono  Suparmono  Suripin AR  Surjono H.

Satori 12 Aspek-Aspek tentang Banjir  Aspek Biaya  Aspek Birokrasi  Aspek Ekologi  Aspek Ekonomi  Aspek Filsafat  Aspek GIS / Perpetaan  Aspek Hukum  Aspek Kerugian  Aspek Kesehatan  Aspek Komunikasi  Aspek Mitigasi  Aspek Moral  Aspek Politik  Aspek Psikologis  Aspek Sejarah  Aspek Sosial  Aspek Teknologi  Aspek Teologi 13 Aturan Terkait Banjir  Perda DAS NTT  PP 43 / 2008  Undang-Undang 14 Presiden / Wapres dan Banjir  Presiden Susilo Bambang Yudhoyono  Wapres Jusuf Kalla 15 Konsep / Kebijakan Pemerintah  Bappeda DKI Jakarta  Bappenas  BBWS Ciliwung Cisadane  BPDAS Citarum Ciliwung (1)  BPDAS Citarum Ciliwung (2)  BTP DAS Surakarta              .o o o o Sutiyoso Sutopo Purwo Nugroho Tarsoen Waryono Transtoto Handadhari Tri Jaka Kartana Urban Poor Consortium Veronica Kumurur Wartawan Kompas Wicak Sarosa Yayat Supriatna Yoyon Indrayana zPenulis lain Zunan Farid dan Moch.

Kimpraswil Ditjen RLPS Dephut Kementerian Lingkungan Hidup Kesepakatan Tiga Menteri Pem Prov DKI Jakarta Sekretariat TKPSDA 16 Wawancara tentang Banjir 17 Pengendalian Banjir di Mancanegara  Jepang  Thailand 18 Profil  Kamir R Brata 19 Konsep / Gagasan Ornop tentang Banjir  FAO dan CIFOR  UNESCO  Yayasan IDEP 20 Banjir dan Kampus  ITB  Unas  Unmul 21 Peta DAS / Bagian DAS  DAS Cisadane  Kelurahan Kalimulya 22 Pengendalian Banjir  Donggala  Gorontalo  Surabaya 23 Presentasi tentang Banjir  Agus Maryono  Dinas Kimpraswil Kota Malang  Istiarto Dinas PU DKI Jakarta              Pencarian untuk:  Blogroll o Mountain Forum . PU Ditjen Penataan Ruang.o o o o o o o o o  Departemen Kehutanan Departemen Pekerjaan Umum Departemen Pertanian Dinas PU DKI Jakarta (1) Dinas PU DKI Jakarta (2) Dinas PU DKI Jakarta (3) Ditjen Penataan Ruang Dept. Dep.

Blog pada WordPress. Mungkinkah? 10 Makalah tentang Banjir Konservasi Tanah dan Air Sumur Resapan Agroforestry Tanaman Penutup Tanah 11 Artikel Tentang Banjir Embung DAS dan Pengelolaannya (2) Fiqih Lingkungan (1) Pengolahan Tanah/Penanaman Menurut Kontur Top Posts  Komentar Terakhir Ulil Amri Minkum on Bendungan Bawah Tanah yohanis mustamu on Agroforestry .o o o o Pengembangan Diri waterehds's online training Blog pada WordPress.com.com.   September 2011 S S R K J S M « Sep 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30   Tulisan Terkini o o o o o o o o o o o Bebas Banjir.

com.files.files. bukan mim… Andewane on Sumur Resapan  Top Clicks o o o bebasbanjir2025. Follow Ikuti Blog ini Get every new post on this blog delivered to your Inbox.Anonymous on Embung Anonymous on Bukan Mustahil.wor… Tema: Shocking Blue Green.wor… bebasbanjir2025.com .wor… bebasbanjir2025. Join 9 other followers Enter email Powered by WordPress.files. Blog pada WordPress.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful