1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut peningkatan
pengetahuan dan pendidikan agar dapat memberi kemudahan bagi anak didik
dalam mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam hal ini
usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia yaitu dengan
melakukan perbaikan-perbaikan, perubahan-perubahan, dan pembaharuan
dalam segala aspek yang mempengaruhi keberhasilan pendidikan.
Pendidikan adalah usaha untuk mengembangkan potensi Sumber Daya
Manuasia (SDM) melalui kegiatan pembelajaran. kegiatan tesebut
diselenggarakan pada semua jenjang pendidikan yang dimulai dengan tingkat
pendidikan Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP),Sekolah
Menengah Atas (SMA), dan Pergururan Tinggi berguna untuk membekali
peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, kritis dan kreatif. Untuk
membekali Sumber Daya Manusia (SDM) peserta didik hendaknya
mempunyai perhatian khusus dari pemerintah khususnya tenaga pendidik
dalam hal ini adalah guru.
Guru sebagai tenaga pengajar dan pendidik mempunyai tujuan utama
dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, yaitu menciptakan suasana belajar
yang menyenangkan, nyaman, dapat menarik minat, dan memotivasi siswa
untuk senantiasa belajar lebih giat lagi. Sebab dengan suasana belajar yang
menyenangkan dan nyaman maka siswa akan lebih mudah mengerti dan
1
2

menerima materi pelajaran yang di sampaikan, sehingga berdampak positif
dalam pencapaian hasil belajar dan prestasi siswa dengan optimal. Prestasi
belajar siswa merupakan suatu akibat dari perubahan-perubahan yang terjadi
pada diri siswa setelah mengalami proses belajar mengajar sehingga dapat
dilihat keberhasilan siswa dalam memahami materi pelajaran.
Disamping itu juga guru berkewajiban memilih dan menentukan
kedalaman suatu materi yang akan disajikan kepada siswa. Guru tidak hanya
memberi konsep kepada siswa untuk menghafal, tetapi yang lebih penting
adalah bagaimana konsep-konsep tersebut dapat bertahan lama dalam pikiran
siswa sehingga dapat mempengaruhi proses belajar siswa. Salah satu faktor
yang mempengaruhi guru dalam memperluas dan memperdalam suatu materi
adalah rancangan pembelajaran yang dibuatnya. Guru harus mampu
merancang suatu pendekatan pengajaran yang menunjang dalam tercapainya
keberhasilan belajar siswa. Indikator ketercapaian itu dapat dilihat hasil
belajar siswa.
Dari observasi awal di MTs NW Mataram terhadap pembelajaran
yang dilakukan dikelas, ditemukan kemampuan dan kecerdasan siswa-siswi
yang berbeda-beda merupakan faktor utama sebagai penghambat Ketuntasan
Belajar Minimal (KBM) sehingga guru kesulitan dalam menerangkan atau
menyajikan materi pembelajaran dan menentukan metode yang tepat pada
proses belajar dikelas. Hal ini terlihat dari tabel 1.1 yaitu data hasil belajar
fisika siswa di kelas VII
A
di MTs NW Mataram tahun pelajaran 2010/2011
dibawah ini.

3

Tabel 1.1
Data Nilai Fisika Ulangan Harian Kelas VII MTs NW Mataram
Tahun Pelajaran 2010/2011
No
Kelas Jumlah siswa
Nilai Ketuntasan
Klasikal
KKM
Tertinggi Terendah
1 VII
A
28 75 54 39 % 60
2 VII
B
25 78 57 58 % 60
3 VII
C
24 80 60 65 % 60
Sumber: Guru Mata Pelajaran Fisika
Berdasarkan data di atas, nilai ketuntasan yang paling rendah yakni di
kelas VII
A
dengan presentase ketuntasan belajar sebesar 39% dari 28 siswa
berdasarkan pada Standar Ketuntasan Belajar Minimal (SKBM) yang
ditetapkan yakni 60. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh penulis
selama kegiatan PPL berlangsung yakni dari tanggal 5 Juni 2010 sampai
dengan 5 September 2010, kelas VII
A
kesulitan dalam menyelesaikan
masalah-masalah fisika yang diberikan karena siswa cenderung terpaku pada
cara penyelesian masalah yang diberikan oleh guru tanpa berani mencoba
inisiatif lain untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Hal tersebut tidak lepas dari faktor guru sebagai fasilitator dalam
proses pembelajaran. Adapun pengaruh yang diberikan oleh guru terhadap
rendahnya hasil belajar fisika siswa adalah salah satunya karena kurang
tepatnya metode dan pendekatan pembelajaran yang digunakan. Sebagian
besar pembelajaran fisika selama ini metode mengajar IPA/fisika di sekolah
dasar dan sekolah menengah bahkan juga di perguruan tinggi ialah metode
mengajar secara informatif yaitu guru berbicara atau bercerita dan siswa
mendengarkan dan mencatat. Secara tradisional, pengajaran IPA/fisika
ditekankan pada penghafalan rumus-rumus atau bentuk-bentuk problem
4

tertentu. Pengajaran IPA lebih menekankan pada produk-produk daripada
proses-proses.
Untuk itu harus ada pendekatan dan metode pembelajaran yang efektif
dalam menyampaikan materi fisika pada siswa. Untuk meningkatkan cara
belajar yang efektif perlu diperhatikan kondisi internal, eksternal serta strategi
dan model pembelajaran yang digunakan. Pembelajaran yang efektif akan
terlaksana jika guru dapat memilih strategi dan model pembelajaran yang tepat
sehingga tercapai hasil yang semaksimal mungkin. Dalam pembelajaran guru
harus mengajar secara efektif dan mengajar bagaimana peserta didik belajar.
Dalam pembelajaran yang efektif, guru harus banyak memberi kebebasan
kepada peserta didik untuk dapat menyelidiki, mengamati, belajar, dan
mencari pemecahan masalah secara mandiri.
Berdasarkan hasil observasi di atas peneliti mencoba menerapkan
model pembelajaran yang mampu meningkatkan hasil belajar siswa salah
satunya dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe pair checks.
Model pembelajaran kooperatif pair checks merupakan metode pembelajaran
siswa berpasangan. Berdasarkan uraian diatas sehingga peneliti tertarik untuk
mengambil judul “Pengaruh Metode Pembelajaran Pair Checks
(Kelompok Sebangku) terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa Kelas VII
Pada Pokok Bahasan Besaran Dan Satuan MTs NW Mataram Tahun
Pelajaran 2011/2012”.



5

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah “Apakah penerapan metode pembelajaran pair checks
berpengaruh terhadap hasil belajar fisika siswa kelas VII pada pokok bahasan
besaran dan satuan di MTs NW Mataram tahun pelajaran 2011/2012 ?”
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan dalam penelitian ini
yaitu untuk mengetahui pengaruh metode pembelajaran pair checks terhadap
hasil belajar fisika siswa kelas VII pada pokok bahasan besaran dan satuan di
MTs NW Mataram tahun pelajaran 2011/2012.
D. Batasan Masalah
Untuk mengatasi luasnya penelitian ini, peneliti membatasi
penelitiannya dalam hal sebagai berikut:
1. Metode yang digunakan adalah pair checks.
2. Masalah yang diteliti adalah hasil belajar fisika siswa pada ranah
kognitif.
3. Penelitian ini dilakukan di kelas VII semester I di MTs NW Mataram
tahun pelajaran 2011/ 2012.
4. Materi ajar yang dibahas adalah besaran dan satuan ( selengkapnya pada
silabus pada lampiran)




6

E. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagi Mahasiswa
Mengembangkan pola berpikir mahasiswa IKIP sebagai calon guru
dalam mengembangkan pembelajaran yang inovatif, kreatif dan efektif
sebagai salah satu upaya peningkatan mutu pendidikan.
2. Bagi Guru
Sebagai bahan masukan bagi guru fisika agar dapat menggunakan
metode pair checks sebagai salah satu metode pembelajaran yang efektif
dan dapat meningkatkan kektifan serta kemampuan berfikir siswa dalam
upaya meningkatkan hasil belajar fisika siswa.
3. Bagi Siswa
Meningkatkan motivasi belajar siswa serta keaktifan siswa
sehingga prestasi belajarnyapun meningkat.
4. Bagi Sekolah
Bertambahnya variasi metode pembelajaran dalam upaya
peningkatan hasil belajar fisika siswa disekolah serta mutu pendidikan
pada umumnya.
F. Definisi Operasional
Untuk mendapat kejelasan tentang arti yang terkandung dalam
penelitian ini yang berjudul “pengaruh metode pembelajaran pair checks
(kelompok sebangku) terhadap hasil belajar fisika siswa kelas VII pada pokok
bahasan besaran dan satuan di MTs NW Mataram tahun pelajaran 2011/2012“
maka perlu untuk menjelaskan beberapa istilah sebagai berikut :
7

1. Pengaruh
Pengaruh adalah tingkat keberhasilan atau ketercapaian tujuan
metode yang telah diterapkan dilihat dari hasilnya, dalam hal ini proses
pembelajaran dengan menggunakan metode pair checks pada materi
besaran dan satuan.
2. Pair Checks
Pair checks adalah salah satu metode pembelajaran yang
menekankan kepada siswa untuk belajar berpasangan. Metode
pembelajaran ini bertujuan untuk melatih rasa sosial siswa, kerja sama,
dan kemampuan memberi nilai.
3. Hasil Belajar Fisika
Hasil belajar fisika yang dimaksud dalam penelitian ini adalah
hasil yang diperoleh siswa setelah proses pembelajaran dalam materi
Besaran dan Satuan.
G. Ruang Lingkup Penelitian
Untuk membatasi ruang lingkup penelitian ini, perlu dibuat batasan-
batasan penelitian yaitu sebagai berikut :
1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan di MTs NW Mataram tahun
pelajaran 2011/2012, yang beralamat Jln. Kaktus No. 1-3 Telp. (0370)
648827.
2. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII (tujuh) semester
I MTs NW Mataram Tahun Pelajaran 2011/2012.
8

3. Objek Penelitian
Adapun objek dalam penelitian ini yaitu metode pembelajaran pair
checks (kelompok sebangku), dan hasil belajar fisika pada pokok bahasan
besaran dan satuan.




















9

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Deskripsi Teori
1. Teori Belajar dan Pembelajaran
Menurut Arikunto dalam Syaiful Sagala (2009:166) ”belajar
diartikan sebagai suatu proses yang terjadi karena adanya usaha untuk
melakukan perubahan terhadap diri manusia, dengan maksud memperoleh
perubahan dalam dirinya baik berupa pengetahuan, keterampilan, ataupun
sikap”.
Belajar adalah “proses berfikir”. Belajar berfikir menekankan pada
proses mencari dan menemukan pengetahuan melalui interaksi anatara
individu dan lingkungannya. Dalam pemebelajaran berfikir proses
pendidikan disekolah tidak hanya menekankan pada akumulasi
pengetahuan materi pelajaran, tetapi yang diutamakan adalah kemampuan
siswa untuk memperoleh pengetahuannya sendiri (Sanjaya, 2008).
Menurut peneliti belajar adalah proses perubahan pada individu
yang terjadi melalui pengalaman, bukan karena pertumbuhan atau
perkembangan tubuhnya atau karakteristik seseorang sejak lahir.
“Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar
dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan
oleh peserta didik mempelajari keterampilan dan pengetahuan tentang
materi-materi pelajaran” (Syaiful Sagala, 2009:164).
Pembelajaran atau pengajaran menurut Dangeng adalah “upaya
untuk membelajarkan siswa. Dalam pengertian ini secara implisit dalam
9
10

pembelajaran terdapat kegiatan memilih, menetapkan, mengembangkan
metode untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan. Pemilihan,
penetapan, dan pengembangan metode ini didasarkan pada kondisi
pembelajaran yang ada” (Hamzah B. Uno, 2008:83).
Jadi kalau disimpulkan dari kedua pendapat diatas, pembelajaran
merupakan proses komunikatif-interaktif antara sumber belajar, guru, dan
siswa yaitu saling bertukar informasi.
2. Pembelajaran Kooperatif
“Belajar kooperatif menunjuk kepada pada berbagai macam
metode pengajaran dimana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok
kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi
pelajaran” (Slavin, 2005:4).
Menurut Deutsch dalam Slavin (2005:34) mengidentifikasikan tiga
struktur tujuan: kooperatif, dimana usaha-berorientasi-tujuan dari tiap
individu member kontribusi pada pencapaian tujuan anggota yang lain;
kompetitif, dimana usaha-berorientasi-tujuan dari tiap individu
mengahalagi pencapaian tujuan anggota lainnya; dan individualistik
dimana usaha-berorientasi-tujuan dari tiap individu tidak memiliki
konsekuensi apapun bagi pencapaian tujuan anggota lainnya.
Menurut Davidson dan Warsham dalam Isjoni (2010:27)
pembelajaran kooperatif adalah “kegiatan belajar mengajar secara
kelompok-kelompok kecil, siswa belajar dan bekerja sama untuk sampai
kepada pengalaman belajar yang berkelompok pengalaman individu
maupun pengalaman kelompok”.
11

Menurut Sanjaya (2008:240) Pembelajaran kooperatif adalah
rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok –
kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah
dirumuskan. Ada empat unsur penting dalam pembelajaran kooperatif
yaitu : (1) adanya peserta dalam kelompok; (2) adanya aturan kelompok;
(3) adanya upaya belajar dalam setiap anggota kelompok; (4) adanya
tujuan yang harus dicapai.
Bertolak dari pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa
belajar kooperatif merupakan suatu metode pembelajaran umum yang
menghimpun perbedaan pembelajaran di dalam kelompok-kelompok kecil
untuk memecahkan masalah dan menyelesaikan tugas dengan adanya
tanggung jawab individual untuk mencapai tujuan bersama.
Menurut Wina Sanjaya (2008 : 249), Beberapa keunggulan dari
penggunaan pembelajaran kooperatif yaitu sebagai berikut :
1. Menambah kepercayaan dan kemampuan berfikir siswa, menemukan
2. informasi dari berbagai sumber, dan belajar dari siswa yang lain.
3. Mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan
dengan kata – kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide –
ide orang lain.
4. Membantu anak untuk respek pada orang lain dan menyadari akan
keterbatasannya serta menerima segala perbedaan.
5. Siswa lebih bertanggung jawab dalam belajar.
6. Meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampuan sosial,
termasuk mengembangkan rasa harga diri, hubungan interpersonal
12

yang positif dengan yang lain, mengembangkan keterampilan
mengefektifkan waktu, dan sikap positif terhadap sekolah.
7. Mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan
pemahamnnya sendiri, menerima umpan balik.
8. Meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan untuk berfikir.
Menurut sanjaya (2008:250), pembelajaran kooperatif memiliki
beberapa kelemahan, yaitu:
1. Guru khawatir bahwa akan terjadi kekacauan dikelas. Kondisi seperti
ini dapat diatasi dengan guru mengkondisikan kelas atau pembelajaran
dilakukan di luar kelas seperti di laboratorium, aula atau di tempat
yang terbuka.
2. Perasaan was-was pada anggota kelompok akan hilangnya
karakteristik atau keunikan pribadi mereka karena harus menyesuaikan
diri dengan kelompok. Karakteristik pribadi tidak luntur hanya karena
bekerjasama dengan orang lain, justru keunikan itu semakin kuat bila
dibandingkan dengan orang lain.
3. Banyak siswa takut bahwa pekerjaan tidak akan terbagi rata atau
secara adil, bahwa satu orang harus mengerjakan seluruh pekerjaan
tersebut. Dalam model pembelajaran kooperatif pembagian tugas rata,
setiap anggota kelompok harus dapat mempresentasikan apa yang telah
didapatnya dalam kelompok sehingga ada pertanggung jawaban secara
individu.


13

3. Metode Pembelajaran Pair Checks
Metode pembelajaran pair checks (kelompok sebangku) merupakan
metode pembelajaran siswa berpasangan.
“Menurut Moody & Gifford dalam Slavin (2005:91)
menemukan bahwa sementara tidak ada perbedaan dalam
perolehan pencapaian dari kelompok-kelompok yang homogen
dan heterogen, pembagian siswa berpasangan menunjukkan
pencapaian yang jauh lebih besar dalam bidang ilmu
pengetahuan dari pada kelompok yang terdiri atas empat atau
lima orang, dan kelompok dengan jenis kelamin homogen
kinerjanya lebih baik dari pada kelompok campuran”.

Menurut Sanjaya, Wina : 2007 (online) yaitu pembelajaran pair
checks adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang berpasangan
(kelompok sebangku) yang bertujuan untuk mendalami atau melatih
materi yang telah dipelajarinya. salah satu keunggulan metode ini adalah
siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep / topik
dalam suasana yang menyenangkan, metode ini bisa digunakan dalam
semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia.
Jadi metode pembelajaran pair checks (kelompok sebangku)
merupakan salah satu metode pembelajaran siswa berpasangan. Model
pembelajaran ini bertujuan untuk melatih rasa sosial siswa, kerja sama,
dan kemampuan memberi nilai (Widodo, Rachmat. 2009) (online).
4. Langkah-Langkah Pembelajaran Pair Checks
Model pembelajaran pair checks ini cocok untuk menyampaikan
semua level materi, termasuk dalam pembelajaran IPA fisika pada pokok
bahasan besaran dan satuan. Sintaknya adalah: sajian informasi
kompetensi, mendemontrasikan pengetahuan dan keterampilan prosedural,
14

membimbing pelatihan-penerapan, pair checks siswa berkelompok
berpasangan sebangku, salah seorang menyajikan persoalan dan temannya
mengerjakan, pengecekan kebenaran jawaban, bertukar peran,
penyimpulan dan evaluasi, refleksi.
Adapun langkah-langkah pembelajarannya adalah sebagai berikut:
a. Sajian informasi kompetensi, guru menyampaikan inti materi dan
kompotensi yang harus dicapai
b. Guru mendemontrasikan pengetahuan dan keterampilan secara
prosedural
c. Siswa diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (kelompok 2
orang)
d. Siswa diminta untuk menyimak dan berfikir tentang materi atau
permasalahan yang disampaikan oleh guru
e. Salah seorang kelompok menyajikan persoalan dan teman kelompok
lainya mengerjakannya
f. Pengecekan kebenaran jawaban, kelompok yang memberikan
persoalan kepada teman kelompok lainya tadi mengecek kebenaran
jawaban atas kelompok lainya
g. Bertukar peran, kelompok yang memberikan persoalan kepada
kelompok lainnya tadi, mendapatkan giliran untuk mengerjakan
persoalan yang diberikan oleh salah satu kelompok pasangan lainya
h. Penyimpulan, guru menyimpulkan apa yang menjadi hasil diskusi dari
semua pasangan kelompok tersebut
15

i. Evaluasi, guru memberikan evaluasi kepada semua kelompok
pasangan tersebut dengan memberikan post test
j. Refleksi, hasil yang diperoleh pada tahap pengamatan kemudian
dikumpulkan, dianalisis dan dievaluasi oleh peneliti untuk mengetahui
berhasil tidaknya tindakan yang dilakukan. Hasil analisis dari tahap ini
digunakan untuk mengambil kesimpulan apakah pembelajaran fisika
melalui pair checks sudah sesui dengan tujuan yang diinginkan atau
belum.
Sanjaya, Wina. 2007. Metode pembelajaran pair checks (online).
5. Kelebihan dan Kekurangan Metode Pembelajaran Pair Checks
Adapun kelebihan dan kekurangan metode pembelajaran
kooperatif tipe pair checks ini adalah sebagai berikut :
a) Kelebihan
1) Meningkatkan kemandirian siswa
2) Meningkatkan partisipasi siswa untuk menyumbangkan pemikiran
karena merasa leluasa dalam mengungkapkan pendapatnya.
3) Membentuk kelompoknya lebih mudah dan lebih cepat
4) Melatih kecepatan berpikir siswa
b) Kelemahan
1) Tidak selamanya mudah bagi siswa untuk mengatur cara berpikir
sistematik
2) Lebih sedikit ide yang masuk
16

3) Jika ada perselisihan, tidak ada penengah dari siswa dalam
kelompok yang bersangkutan sehingga banyak kelompok yang
melapor dan dimonitor.
6. Hasil Belajar Fisika Siswa
Hasil belajar fisika merupakan “pekerjaan bertingkat dari
pengukuran dan penilaian yang berkaitan dengan: Pengukuran hasil belajar
fisika. Penilaian hasil belajar fisika. Penyimpulan hasil belajar fisika”
(Supriyadi, 2005:10)
Menurut Sudjana (2006) hasil belajar adalah “kemampuan–
kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman
belajarnya”. Selanjutnya beliau mengatakan faktor yang mempengaruhi
hasil belajar di pengaruhi oleh 2 faktor yakni faktor dari luar diri siswa
atau faktor lingkungan dan faktor yang datang dalam diri siswa terutama
kemampuan yang di milikinya.
Faktor – faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa antara lain:
a. Faktor dalam diri siswa
Faktor intern adalah faktor yang ada pada diri siswa yakni : faktor
jasmani, bakat, konsentrasi, minat, dan alat indera.
b. Faktor luar diri siswa
Faktor ekstern adalah faktor yang berada di luar pelajar atau siswa
dalam hal ini berupa faktor: Guru, keluarga, teman sebaya,
masyarakat, sarana belajar dan lingkungan belajar.
17

Jadi dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah suatu kinerja
(performance) yang diindikasikan sebagai suatu kapabilitas (kemampuan)
yang telah diperoleh siswa.
Dalam mengukur kemampuan seorang siswa maka para guru harus
memperhatikan ketiga ranah yakni :
a. Ranah kognitif
Ranah kognitif memiliki enam tahap mulai pengetahuan sampai
evaluasi yaitu :
1) Menghapal mencakup ingatan dan pengenalan.
2) Pemahaman mencakup interpretasi, pemberian contoh, klasifikasi,
meringkas, menyimpulkan, membandingkan, menjelaskan.
3) Aplikasi mencakup melakukan, implementasi.
4) Analisis mencakup membedakan, mengorganisasikan dan
memberikan atribut.
5) Mengevaluasi mencakup pengecekan, memberi kritik.
6) Mencipta mencangkup ,merencanakan,mereproduksi.
b. Ranah afektif
Ranah afektif dibagi menjadi lima tahap, yaitu:
1) Memperhatikan, taraf ini mengenai kepekaan siswa terhadap
fenomena-fenomena dan perangsang-perangsang tertentu, yaitu
menyangkut kesediaan siswa untuk memperhatikannya.
2) Merespons, Pada taraf ini siswa memiliki motivasi yang cukup
untuk merespon.
3) Menghayati nilai, siswa sudah menghayati nilai tertentu.
18

4) Mengorganisasikan, siswa menghadapi situasi yang mengandung
lebih dari satu nilai.
5) Memperhatikan nilai atau seperangkat nilai, siswa sudah dapat
digolongkan sebagai orang yang memegang nilai atau seperangkat
nilai tertentu.
c. Ranah psikomotorik, meliputi hal-hal:
Ranah psikomotorik, meliputi hal-hal:
1) Persepsi, langkahnya melakukan kegiatan yang bersifat motoris
ialah menyadari objek, sifat atau hubungan-hubungan melalui
indera.
2) Persiapan, kesiapan untuk melakukan suatu tindakan atau bereaksi
terhadap suatu kejadian menurut.
3) Respon terbimbing, pada tahap ini penekanan pada kemampuan-
kemampuan yang merupakan bagian dari keterampilan yang lebih
kompleks.
4) Respons mekanis, siswa sudah yakin akan kemampuannya dan
sedikit banyak terampil melakukan suatu perbuatan
5) Respons kompleks, taraf ini individu dapat melakukan perbuatan
motoris yang dianggap kompleks, karena pola gerakan yang
dituntut sudah kompleks.
Dalam belajar dihasilkan berbagai macam tingkah laku yang
berlainan seperti pengetahuan, sikap, keterampilan, kemampuan, informasi
dan nilai. Berbagai macam tingkah laku yang berlainan inilah yang disebut
kapabilitas sebagai hasil belajar. Perubahan dalam menunjukkan kinerja
19

(perilaku) berarti belajar menentukan semua keterampilan, pengetahuan dan
sikap yang juga didapat oleh setiap siswa dari proses belajarnya.
Tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pelajaran
fisika di sekolah dapat diukur dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil
tes, ini nantinya dapat digunakan untuk menilai hasil proses belajar
mengajar dalam jangka waktu tertentu. Pemberian tes dilakukan dengan
mengacu pada indikator dan keterampilan berpikir tertentu.
B. Hasil Penelitian yang Relevan
Berikut ini adalah salah satu hasil penelitian yang relavan yang
telah menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe pair checks
terhadap hasil belajar siswa yaitu :
“Nanik Irawati (2009) “metode pembelajaran kooperatif tipe pair
checks, dapat meningkatkan aktivitas dan kreatifitas siswa,
sedangkan prestasi belajar menggunakan ketuntasan belajar
berdasarkan SKBM yang telah ditetapkan sekolah dan
DEPDIKNAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pembelajaran dengan metode pembelajaran kooperatif tipe Pair
Checks dapat meningkatkan aktivitas dan kreativitas, serta
prestasi belajar matematika siswa, dimana (a) persentase rata-rata
aktivitas belajar siswa pada siklus tindakan I sebesar 58.84%
dengan kualitas 32.46% dan pada siklus tindakan II sebesar
96.04% dengan kualitas 75.51%, (b) tingkat kreativitas siswa
dalam satu kelas pada siklus tindakan I sebesar 60.22% dan pada
siklus tindakan II mencapai 70.73%, (c) ketuntasan belajar
klasikal pada siklus tindakan I yaitu 60.71% dan pada siklus
tindakan II mengalami peningkatan menjadi 85.71%”.

Hasil penelitian yang relevan diatas merupakan hasil penelitian dengan
menggunakan metode pembelajaran pair checks pada mata pelajaran
matematika. Sehingga dalam hal ini peneliti berinisiatif untuk meneliti
kembali tentang pengaruh metode pembelajaran pair checks (kelompok
20

sebangku) dalam mata pelajaran fisika terhadap hasil belajar fisika pada siswa
kelas VII di MTs NW Mataram tahun pelajaran 2011/2012.
C. Kerangka Berpikir
Menurut Uma Sekaran dalam Sugiyono (2009:91) kerangka berfikir
merupakan “model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan
berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting”.
Oleh karena itu, pembelajaran fisika berkaitan dengan cara mencari tahu
dan memahami alam semesta secara sistematis, dalam pembelajaran fisika
siswa tidak hanya diharapkan mampu menguasai fakta-fakta, konsep-konsep
maupun prinsip-prinsip saja melainkan merupakan suatu proses penemuan,
sehingga dalam mengembangkan pembelajaran fisika dikelas hendaknya ada
keterlibatan aktif siswa dalam pembelajaran untuk menemukan sendiri
pengetahuan melalui interaksinya dalam lingkungan.
Sehingga untuk hal itu dalam proses pembelajaran seorang guru harus
dapat mengembangkan berbagai kemampuan siswa, seperti dengan
menerapkan proses belajar pair checks. Pembelajaran pair checks merupakan
proses pembelajaran yang menekankan kepada siswa untuk belajar
berpasangan dengan teman sebangkunya.
Dengan menerapkan pendekatan pembelajaran kooperatif (cooperative
learning) dalam proses pembelajaran di kelas, siswa diberi kesempatan
bersama dengan teman-teman sekelompoknya untuk saling belajar secara
berkelanjutan, mereka dibiasakan saling bekerjasama dalam proses belajar.
Pada pendekatan pembelajaran kooperatif dengan metode pair checks
pada penelitian ini siswa lebih diberi kesempatan untuk menemukan ide
21

pokok, untuk saling berpikir kemudian dibahas bersama kelompok sebangku,
siswa juga diberi kesempatan untuk saling berbagi mengajarkan kepada teman
kelompok sebangku lainya dan untuk saling mentransfer ilmu
pengetahuannya. Sedangkan pada metode yang tidak diberi perlakuan sebagai
kelas kontrolnya yaitu metode konvensinal atau metode yang sering di
gunakan pada saat proses belajar seperti, ceramah, diskusi, tanya jawab,
memberikan tugas, siswa diberi kesempatan untuk menemukan ide dan
gagasanya untuk belajar seperti biasa, tetapi pada materi yang sama antara
kelas eksperimen dan kelas kontrol. Sedangkan peran guru pada kedua metode
ini disamping sebagai pengajar, guru sebagai fasilitator, katalisator, motivator,
memberi penguatan dan bimbingan pada siswa dalam berdiskusi, sehingga
siswa tidak hanya berpikir sendiri dan mempertanggung jawabkannya tapi
juga berbagi dalam pengetahuannya.
Dengan demikian diprediksi bahwa antara hasil pembelajaran dengan
menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe pair checks dan dengan
menggunakan metode konvensional memiliki perbedaan pengaruh terhadap
hasil belajar fisika siswa.
D. Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah “suatu jawaban sementara terhadap rumusan masalah
penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk
kalimat pernyataan” (Sugiyono, 2009:96).
Jadi berdasarkan deskripsi teoritis dan kerangka berfikir yang
diajukan dalam penelitian ini maka hipotesis penelitiannya dirumuskan
sebagai berikut :
22

Ha : Ada pengaruh metode pembelajaran pair checks (kelompok sebangku)
terhadap hasil belajar fisika siswa kelas VII pada pokok bahasan
besaran dan satuan di MTs NW Mataram.
Ho : Tidak ada pengaruh metode pembelajaran pair checks (kelompok
sebangku) terhadap hasil belajar fisika siswa kelas VII pada pokok
bahasan Besaran dan Satuan di MTs NW Mataram.


















23

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Metode dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Metode
penelitian eksperimen dapat diartikan ”sebagai metode penelitian yang
digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain
dalam kondisi yang terkendalikan” (Sugiyono, 2009:107). Dengan demikian
peneliti membagi kelompok dalam penelitian ini menjadi dua kelompok
eksperimen, yaitu kelompok pertama adalah kelompok eksperimen yang
belajar dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe pair checks
dan kelompok kedua adalah kelompok eksperimen yang belajar dengan
metode ceramah.
B. Variabel Penelitian
Variabel adalah objek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian
suatu penelitian. Variabel yang diamati terdiri dari dua yaitu variabel yang
mempengaruhi disebut variabel penyebab atau variabel bebas, sedangkan
variabel akibat disebut variabel tidak bebas atau variabel terikat
Jadi variabel yang di gunakan dalam penelitian ini oleh peneliti dibagi
menjadi dua yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Adapun variabel-
variabel itu yaitu :
1. Variabel bebas
Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi
sebab timbulnya variabel terikat. Dalam penelitian ini, yang menjadi
23
24

variabel bebas adalah metode pembelajaran yang diterapkan di kelas
eksperimen dan kelas kontrol yang menjadi variable bebas dalam
penelitian ini adalah metode pair checks dan metode ceramah yang
digunakan dalam pembelajaran físika.
2. Variabel terikat
Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat
adanya variabel bebas. Variabel terikat di dalam penelitian ini adalah hasil
belajar fisika siswa.
3. Variabel yang di Kontrol
Variabel kontrol adalah variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan
sehingga hubungan variabel bebas dan variabel terikat tidak dipengaruhi
oleh faktor luar yang tidak diteliti. Variabel kontrol di dalam penelitian ini
berupa kemampuan awal kelas eksperimen dan kelas kontrol dianggap
sama, guru, materi, tujuan pembelajaran, instrumen yang digunakan, dan
cara penilaian.
C. Tempat dan Waktu Penelitan
1. Tempat Penelitan
Penelitian ini telah dilaksanakan di MTs NW Mataram tahun
pelajaran 2011/2012.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan mulai tanggal 4 Agustus s/d 24 Agustus
pada semester I tahun pelajaran 2011/2012.


25

D. Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian ini merupakan suatu cara untuk mencari
jawaban dari rumusan masalah. Rancangan penelitian tergantung dari gejala
yang akan diteliti. Apakah gejala itu dirancang secara khusus untuk diselidiki
atau telah ada secara wajar. Oleh karena itu, di dalam penelitian eksperimen
ini terdapat kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pretest-Posttest Control
Group Design merupakan desain penelitian yang akan digunakan oleh
peneliti di dalam penelitian ini.
Tabel 3.1
Perlakuan Terhadap Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol
Kelas Pre-test Perlakuan Pos-test
Eksperimen T-1 X T-2
Kontrol T-1 - T-2
Keterangan:
X = Perlakuan eksperimen
T-1

= Hasil belajar fisika fre-test
T-2 = Hasil belajar fisika post-test

Kelompok eksperimen dan kelompok kontrol masing-masing akan
diberikan pre-test (T-1) dan post-test (T-2) secara bersamaan. Kelas
eksperimen dan kelas kontrol umumnya menggunakan metode ceramah.
Yang membedakan dalam penelitian ini adalah kelompok eksperimen diberi
perlakuan (X) yaitu pembelajaran dengan metode pair checks, sedangkan
kelompok kontrol tidak diberi perlakuan atau tetap menggunakan metode
konvensional atau biasa. Hasil tes pada kelas eksperimen dan kontrol akan
dibandingkan. Untuk mengetahui pengaruh peningkatan dan perbedaan hasil
belajar dengan menggunakan uji t.
26

E. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas;
obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang di
tetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
kesimpulannya. (Sugiyono, 2009:117). Populasi dalam penelitian ini
adalah seluruh siswa kelas VII MTs NW Mataram tahun pelajaran
2011/2012 yang terdiri dari 3 kelas. Distribusi selengkapnya dapat dilihat
dalam tabel berikut.
Tabel 3.2
Distribusi siswa kelas MTs NW Mataram Tahun Pelajaran 2010/2011
No Kelas Laki-laki Perempuan Jumlah
1 VII
A
19 6 25
2 VII
B
16 9 25
3 VII
C
16 8 24
Jumlah keseluruhan populasi 74

2. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki
oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2009:118).
Adapun teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu claster
sampling, dari jumlah populasi yang ada pada siswa kelas VII MTs NW
Mataram yang terdiri dari kelompok eksperimen. Maka diambil 1 kelas
sebagai sampel dalam penelitian ini, yaitu kelas VII
A
dipilih sebagai
kelas eksperimen dan VII
B
sebagai kelas kontrol.

27


F. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah cara-cara yang dapat digunakan oleh
peneliti untuk mengumpulkan data. Untuk memperoleh data-data yang
diperlukan dalam penelitian ini, berdasarkan pendekatan yang digunakan
dalam penelitian ini yaitu pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif
yaitu pendekatan penelitian dengan berbentuk angka-angka dan analisis
menggunakan statistik. Maka teknik atau metode pengumpulan data yang
digunakan dalam penelitian ini yaitu berbentuk tes.
Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang
digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan inteligensi,
kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Tes yang
digunakan dalam penelitian ini memuat tentang materi Besaran dan Satuan.
G. Instrumen Penelitian
Data hasil belajar siswa dalam penelitian ini untuk mengukur data
mengenai hasil belajar siswa menggunakan pembelajaran kooperatif. Adapun
bentuk tes yang maksud adalah berupa tes pilihan ganda berjumlah 30 item
soal.






28


Tabel 3.3
Kisi-Kisi Soal Uji Instrumen

Keterangan :
C1 = Soal Ingatan C4 = Soal Analisa
C2 = Soal Pemahaman C5 = Soal Sintesis
C3 = Soal aplikasi C6 = Soal Evaluasi

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa uji instrumen yang akan
digunakan adalah tes hasil belajar fisika siswa yaitu tes, yang digunakan
untuk mengukur sejauh mana siswa menguasai materi yang telah diberikan.
Tes hasil belajar ini dalam bentuk tes objektif atau dalam bentuk pilihan
ganda sebanyak 30 soal dengan 4 option (pilihan). Sebelum tes diberikan
kepada siswa terlebih dahulu dilakukan uji validitas, realibilitas, indeks
kesukaran, dan daya beda soal. Selanjutnya, dilakukan uji coba terhadap tes
Aspek Yang
Dinilai
Materi
Pokok & Indikator

(C
1
)

(C
2
)

(C
3
)

(C
4
)

(C
5
)

(C
6
)


Besaran (50%)
- Mengidentifikasi besaran-
besaran fisika dalam
kehidupan sehari-hari
kemudian mengelompokkan
dalam besaran pokok dan
turunan
5 soal
(1, 2, 3,
4, 5)
8 soal
(6, 7, 8,
9, 10,
11, 12,
13)
2
soal
(14,
15)



_



_



_




15
soal
Satuan (50%)
- Menggunakan satuan
internasional dalam
pengukuran
- Mengkonvensi satuan
panjang, massa, dan waktu
secara sederhana.
- Mengkonvensi satuan
besaran turunan
7 soal
(16, 17,
18, 19)

(20,21)


(22)
5 soal
(23,
24)

(25,26)


(27)
3
soal
(28)

(29)


(30)




_







_




_



15
soal
29

yang akan digunakan. Uji coba ini dilakukan di MTs NW Mataram pada
kelas VIII
A
. Uji coba ini bertujuan untuk mengetahui apakah tes yang akan
digunakan dapat dikatakan baik atau tidak, maka perlu dilakukan analisis
meliputi :
1. Uji Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat
kevalidan dan kesahihan instrument. Untuk menghitung koefisien
korelasi antara skor item digunakan rumus korelasi product moment
dengan angka kasar (Arikunto, 2009:73).
( )( )
( ) { } ( ) { }
2 2 2 2
Y Y N X X N
Y X XY N
R
XY
E ÷ E E ÷ E
E E ÷ E
= ..............................................(3.1)
Keterangan:
R
XY
= Koofisien korelasi antar variable X dan Y
X = Skor item
Y = Jumlah skor
N = Jumlah sample
2. Uji Reliabilitas
Untuk mengetahui reliabel atau tidaknya suatu soal maka dapat
menggunakan rumus KR- 20 (Arikunto, 2009:100)
.
Adapun rumusnya
adalah sebagai berikut :
( )
|
|
.
|

\
| E ÷
|
|
.
|

\
|
÷
=
2
2
11
1 s
pq s
n
n
r ….............................................................................................
(3. 2)
Dimana:
r
11
= Realibilitas tes secara keseluruhan
n = Banyaknya item
S = Standar deviasi dari tes (standar deviasi adalah akar
varians).
30

p = Proporsi subjek yang menjawab item dengan benar.
q = Proporsi subjek yang menjawab item dengan salah
(q= 1- p).
Σpq = Jumlah hasil perkalian antara p dan q.
3. Indeks Kesukaran
Persamaan yang digunakan dalam indeks kesukaran adalah
(Arikunto, 2009:208).
JS
B
= P
……………………………………………...………….…(3. 3)
Dengan:
P = Indeks kesukaran
B = Banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan betul
JS = Jumlah seluruh siswa peserta tes
Kriteria indeks kesukaran:
P = 1,00 – 0,30 = Sukar
P = 0,30 – 0,70 = Sedang
P = 0,70 - 1,00 = Mudah
4. Daya Beda
Uji daya beda dimaksudkan untuk menyisihkan butir tes yang
mempunyai daya beda rendah. Rumus yang digunakan adalah (Arikunto,
2009:213).
B A
B
B
A
A
P P
J
B
J
B
D ÷ = ÷ =
………………………………….…………(3. 4)
Di mana:
J = Jumlah peserta tes.
J
A
= Banyak peserta kelompok atas.
J
B
= Banyak peserta kelompok bawah.
31

B
A
= Banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal
itu dengan benar.
B
B
= Banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal
itu dengan benar.
P
A
= Proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar.
P
B
= Proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar.
Kriteria daya pembeda:
D : 0,00 – 0,20 : Jelek (poor)
D : 0,20 – 0,40 : Cukup (satisfactory)
D : 0,40 – 0,70 : Baik (good)
D : 0,70 – 1,00 : Baik sekali (excellent)
Instrumen tes hasil belajar fisika yang disusun peneliti untuk
meneliti tingkat keberhasilan sampel setelah diberi perlakuan. Instrumen
tes hasil belajar fisika diberikan setelah kedua kelompok mendapat
perlakuan.
H. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini, analisis data dilakukan dengan teknik statistik
yaitu dengan menggunakan uji t. Sebelum uji t dilakukan terlebih dahulu
dilakukan uji prasyarat yaitu uji normalitas dan uji homogenitas. Setelah uji
prasyarat dilakukan maka langkah selanjutnya adalah menguji hipotesis yang
diaujkan dengan menggunakan rumus uji t.
1. Uji Normalitas
Uji ini diperlukan untuk mengetahui apakah data yang diperoleh
dari gejala yang diselidiki terdistribusi normal atau tidak, rumus yang
digunakan (Riduwan, 2010).
( )
2
1
2
e
e o
k
i
f
f f
x
÷
=
¿
=

………………………………………...………..(3. 5)
32

Dimana:
X
2
= Chi kuadrat
f
o
= Frekuensi hasil pengamatan
f
e
= Frekuensi hasil harapan
Kriteria hipotesis terdistribusi normal jika x
2
hitung
< x
2
tabel
.
2. Uji Homogenitas
Uji ini dilakukan untuk mengetahui apakah populasi dan sampel
memiliki variasi yang sama atau tidak, rumus yang digunakan (Riduwan,
2010).
( )
( ) Terkecil Varians
Terbesar Varians
= F ......................................................................(3. 6)
Dimana:
Sd
1
= Simpangan baku kelompok eksperimen
Sd
2
= Simpangan baku kelompok kontrol.
Homogen jika F
hitung
< F
tabel
3. Uji Hipotesis
Sesuai dengan desain penelitian ynag digunakan control group pre-
test-post-test design, maka di gunakan t-test. Dalam hal ini t-test yang
digunakan untuk menguji signifikan perbedaan mean (Arikonto, 2009).
............................................................(3.7)
Keterangan :
M
y
= Mean kelompok eksperimen dari perbedaan pre-test dengan
post- test.
M
y
=

Mean kelompok eksperimen dari perbedaan pre-test dengan
post- test.
X = Deviasi setiap nilai x
2
dan x
1

Y = Deviasi setiap nilai y
2
dan y
33

Dengan = - dan = - . Derajat
kebebasan (db) = N
x
+ N
y
– 2. Kriteria pengujian t
hit
> t
tab
maka H
a

diterima dan H
o
ditolak, sebaliknya apabila t
hit
< t
tab
maka H
o
diterima
dan H
a
di tolak, dengan α = 0,05.




















34



BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
1. Hasil Pre-test
Berdasarkan hasil pre-test siswa diperoleh nilai rata-rata kelas
eksperimen yaitu 39,4 sedangkan kelas kontrol 37,2. Dimana skor tertinggi
pada kelas eksperimen 55 dan nilai terendahnya 20 sedangkan pada kelas
kontrolskor tertinggi yakni 55 dan skor terendah 25.
Tabel 4.1
Hasil pre-test
Kelompok
Nilai
tertinggi
Nilai
terendah
Jumlah
nilai
Rerata
Eksperimen 55 20 985 39,4
Kontrol 55 25 930 37,2

Hasil pre-test untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol
selengkapnya ditunjukkan pada lampiran.
Langkah selanjutnya yaitu hasil uji normalitas masing - masing kelompok
dan uji homogenitas tes awal ditunjukkan pada (lampiran 14 dan 15)
sebagai berikut.
Tabel 4.2
Hasil Uji Normalitas dan Uji Homogenitas

Kelas

Varians


(taraf
kepercayaan
5%)
Uji
Normalita
s



(taraf
kepercayaan
5%)
Uji
Homogen
Eksperi Terdistribu
35

men 92,33 9,74
11,7

si Normal
1

1, 98
Data
Homogen
Kontrol

96

809,47
Tidak
Terdistribu
si Normal
2. Hasil Post-test
Hasil post-test siswa pada kelas VII MTs NW Mataram dapat
dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 4.3
Hasil post-test
Kelompok
Nilai
Tertinggi
Nilai
Terendah
Jumlah
Nilai
Rerata
Eksperimen 95 55 1910 76. 4
Kontrol 85 40 1735 69,4

Hasil post – test untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol selengkapnya
ditunjukkan pada lampiran.
a. Uji Normalitas dan Uji Homogenitas
Hasil uji normalitas masing - masing kelompok dan uji homogenitas
tes akhir ditunjukkan pada tabel 4.4 sebagai berikut :
Tabel 4.4
Hasil Uji Normalitas dan Uji Homogenitas

Kelas

Varians


(taraf
kepercayaan
5%)
Uji
Normalitas


(taraf
kepercayaan
5%)
Uji
Homogen
Eksperi
men
105,25 6,12

11,7


Terdistribus
i Normal

1

1, 98

Data
Homogen Kontrol
985,83

6,5

b. Uji Hipotesis
Setelah melakukan uji normalitas dan uji homogenitas (data post-test)
selanjutnya dilakukan uji hipotesis untuk mengetahui tingkat
kemampuan siswa . Adapun hasil uji hipotesis (pihak kanan) dapat
dilihat pada tabel 4.5 di bawah ini.
34
36



Tabel 4.5
Hasil Uji t Nilai Post-Tes
hitung
t
tabel
t
(taraf kepercayaan 5%

tabel
t (taraf kepercayaan 5%)
Keterangan
2,66 1,684

hitung
t >
tabel
t


Karena t
hitung
> t
tabel
maka Ho ditolak dan Ha diterima. Perhitungan uji
hipotesis secara lengkap ditunjukkan pada lampiran. Hal ini
mengandung pengertian bahwa hasil belajar fisika siswa kelas VII
MTs NW Mataram yang mengikuti pembelajaran dengan metode pair
checks lebih efektif dari pada siswa yang mengikuti pembelajaran
dengan metode konvensional.
B. Pembahasan
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen.
Penelitian eksperimen ini meneliti tentang ada tidaknya pengaruh perlakuan,
dengan cara memberi perlakuan tertentu pada kelas eksperimen dan
menyediakan kelas kontrol sebagai pembandingnya.
Setelah menentukan kelas eksperimen dan kontrol, maka pada kelas
eksperimen diberikan perlakuan yaitu pembelajaran dengan model
pembelajaran kooperatif metode pair checks. Setelah diberikan perlakuan,
maka siswa diberikan post-test untuk mengetahui efektif atau tidaknya
perlakuan yang diberikan terhadap hasil belajar fisika siswa.
Pada hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan perolehan nilai
siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hal ini terlihat pada rekap
37

nilai siswa, dimana diperoeh nilai rata-rata siswa kelas eksperimen 76,4
dengan nilai tertinggi 95 dan nilai terendah 55. Sedangkan dari hasil post-test
pada kelas kontrol diperoleh nilai tertinggi 85 dan terendah 40 dengan rata-
rata 68,4. Berdasarkan uji statistik (uji-t) yang telah dilakukan, harga
66 , 2 =
hitung
t . Harga ini lebih besar dari harga 684 . 1 =
tabel
t . Hal ini
menunjukkan bahwa hasil belajar siswa yang mengikuti metode pair checks
sangat berpengaruh dan lebih efektif dari pada siswa yang belajar dengan
menggunakan metode konvensoinal. Dengan kata lain, metode pembelajaran
pair checks lebih konperhensif digunakan untuk meningkatkan hasil belajar
fisika siswa dari pada metode konvensional.
Hal ini terjadi karena adanya pengaruh pemberian perlakuan antara
kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Pada kelas eksperimen siswa dilatih
untuk bekerja sama dengan teman-teman untuk berdiskusi tentang materi yang
dipelajarinya dengan cara berpasangan. Disamping itu juga metode pair
checks ini proses pembagian kelompoknya sangat mudah karena sistemnya
duduk berpasangan sehingga pada saat proses pembelajaran berlansung siswa
tidak canggung lagi dan lebih leluasa untuk berfikir baik dalah hal berdiskusi,
pertanyaan maupun jawaban yang mereka dapatkan, selain itu juga siswa
dilatih untuk menanggapi pendapat dari siswa yang lainnya, siswa juga
diberikan kesempatan dan motivasi untuk selalu bertanya jika mendapatkan
kesulitan dalam belajar, sehingga para siswa mendapatkan informasi lebih
banyak, bukan hanya yang berasal dari guru saja. Sedangkan pada kelas
kontrol diterapkan pembelajaran konvensional, sehingga kreativitas ataupun
38

antusias siswa kurang nampak, karena dalam proses pembelajaran selalu
monoton karena guru yang medominasi kelas.
Temuan di dalam penelitian ini, memperkuat teori yang mendukung
bahwa pembelajaran kooperatif merupakan kegiatan pembelajaran kelompok
yang terarah, terpadu, efektif, dan efisien, ke arah mencari atau mengkaji
sesuatu melalui proses kerja sama dan saling membantu sehingga tercapainya
proses dan hasil belajar yang produktif (Isjoni, 2010).
Adapun hasil belajar fisika siswa yang diperoleh secara analisis
kuantitatif dapat dilihat pada tabel 4.6 dibawah ini :
Tabel 4.6
Data Hasil Pembelajaran Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Data Kelas Eksperimen Kelas Kontrol
pre - test
Jumlah siswa 25
Nilai tertinggi 55 55
Nilai terendah 20 25
Rata-rata 39.4 37.2
Standar deviasi 9.609 9.798
post - test
Nilai tertinggi 95 85
Nilai terendah 55 40
Rata-rata 76.4 69.4
Standar deviasi 10.529 9.929

39
















40

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian ini maka, hasil
analisa data dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode pembelajaran pair
checks berpengaruh terhadap hasil belajar fisika siswa terutama pada pokok
bahasan besaran dan satuan di kelas VII MTs NW Mataram tahun pelajaran
2011/2012.
B. Saran
Beberapa saran dapat dikemukakan oleh peneliti berdasasarkan hasil
penelitian antara lain:
1. Bagi siswa; diharapkan lebih meningkatkan minat dalam belajar fisika
dengan menggali kemampuan yang dimiliki.
2. Bagi guru fisika; diharapkan untuk menerapkan metode pembelajaran pair
checks terhadap hasil belajar fisika sebagai salah satu metode
pembelajaran dalam mengajar.
3. Bagi peneliti lain; yang berminat untuk melaksanakan penelitian dengan
metode pembelajaran pair checks disarankan memilih materi fisika yang
berbeda dan waktu yang lebih memadai agar hasil perlakuan betul-betul
dirasakan oleh siswa sendiri.
4. Bagi sekolah: diharapkan menambah variasi pembelajaran dalam upaya
meningkatkan proses belajar dan hasil belajar siswa di sekolah serta mutu
pendidikan pada umumnya.

39
41

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2009. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (edisi revisi).
Jakarta : PT. Rineka Cipta.

Irawati, Nanik. 2009. Pengaruh Pembelajaran Matematika dengan Menggunakan
Metode Pair Checks Terhadap Prestasi Belajar Pada Siswa Kelas VII.
Surakarta : SMP 4 Muhammadiyah.

Isjoni, Haji. 2010. Pembelajaran Kooperatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Sagala, Syaiful. 2009. Kepamampuan Profesional Guru dan Tenaga
Kependidikan, Bandung: Alfabeta

Sanjaya, Wina. 2007. Metode Pembelajaran Pair Checks (oline).
http://www.fisikaonline.webnode.com

Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan, Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Slavin. Robert. 2005. Cooperative Learning Teori, Riset dan Praktek. Bandung
:Nusa Media

Spencer, Kagen.1993. Model Pembelajaran Pair Checks (online).
http://www.wyw1d.wordpress.com20091114model-pembelajaran-pair-
checks-spencer-kagen1993

Sudjana, Nana. 2006. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sina
Baru Algensindo

Sugiyono, 2009. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif, dan R & D). Bandung : CV. Alfabeta

Supriyadi. 2005. Kajian Penilaian Pencapaian Hasil Belajar Fisika. Malang:
Universitas Negeri Malang (UM PRESS)

Uno, Hamzah. 2008. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar
Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara

41
42

Widodo, Rahman. 2009. Metode pembelajaran pair checks (online).
(http://www.v3a.co.cc//2010/05/model-pembelajaran-pair
checks.html)

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful