SUPPLY CHAIN MANAGEMENT BEST PRACTICES

Dari Sektor Bisnis Tradisional di Indonesia

Supply Chain Management (SCM) didefinisikan sebagai pengintegrasian bisnis secara efisien sejak dari pemasok (suppliers), pembuat (manufacturers), gudang (warehouse), dan toko (stores) sampai ke pelanggan akhir, sehingga barang-barang diproduksi dan didistribusikan tepat sesuai jumlah yang dibutuhkan, menuju ke lokasi yang tepat, dan waktu yang tepat, guna meminimalisasi biaya dengan tetap mempertahankan tingkat layanan yang dituntut oleh para pelanggan. Konsep SCM telah menjadi topik hangat di kalangan pelaku bisnis dan manajemen. Konsep ini telah diterapkan di perusahaan-perusahaan besar nan modern (terutama bisnis multinasional); sementara penerapan konsep SCM di perusahaan-perusahaan kecil dan menengah domestik nan “tradisional” masih sangat sedikit dipelajari. Namun, ini ternyata tidak berarti bahwa SCM tidak dipraktekkan di sektor tradisional ini.

Supply Chain Management: Efisien atau Fleksibel? Marshall Fisher dalam artikelnya di Harvard Business Review menjelaskan bahwa langkah pertama agar SCM efektif adalah dengan mempertimbangkan permintaan suatu produk yang dipasok oleh perusahaan. Ada banyak aspek penting yang perlu diperhatikan: siklus hidup produk, prediksi permintaan, keragaman produk, dan standar ‘lead time’ dan pelayanan. Namun jika produk diklasifikasikan berdasarkan pola permintaan, maka dapat dikategorikan menjadi dua: produk fungsional atau produk inovatif. Produk fungsional adalah produk dengan siklus hidup yang relatif panjang, memiliki pola permintaan yang dapat diprediksi, produk kurang beragam, margin yang relatif rendah, dan lead time yang panjang dari permintaan sampai dengan pengirimannya. Sebaliknya, produk inovatif adalah produk dengan siklus hidup yang pendek, pola permintaan tidak dapat diprediksi, produk beragam, margin yang relative tinggi, namun membutuhkan respon yang cepat terhadap perubahan pasar atau produk tersebut menjadi barang usang. ‘Trade off’ yang paling mendasar dalam supply chain adalah antara efisiensi dan fleksibilitas (kecepatan merespons). Rantai pasok yang efisien menggunakan kapasitasnya untuk meminimalkan persediaan di setiap lokasi, melancarkan sistem operasi untuk mencapai nilai yang paling irit. Sebaliknya, rantai pasok yang fleksibel harus mengatur kapasitas dan persediaan agar dapat merespon permintaan secara cepat, juga harus dapat memproduksi dan mengirimkan produk yang beragam dengan lead time yang pendek. Namun harus tetap efisien di dalam operasionalnya. Pilihan antara efisiensi dan fleksibilitas tidaklah harus keduanya atau bukan keduanya sama sekali, namun lebih ke arah tingkatan, dimana setiap perusahaan akan menemukan keseimbangan yang terbaik diantara keduanya.

Sebagian penjualan dilakukan melalui grossir (wholesaler) untuk menjangkau daerah-daerah yang tidak dapat dijangkau dengan efisien oleh si distributor secara langsung (lihat Gambar 1). para profesional dalam sales atau marketing di perusahaan-perusahaan besar nan modern tadi secara berkala merasa perlu melakukan berbagai promosi termasuk promosi dagang (trade promotions) pada para grossir (wholesalers) yang tergolong sektor bisnis tradisional. dan tekanan memenuhi target penjualan. bukan hanya untuk meningkatkan jangkauan sesuai “teori”nya. Situasi semacam ini menjadikan para grossir mengantongi “komisi” lebih dari normal. Perpaduan antara SCM dengan promosi dagang ini oleh Prof. justru menjadi biang terjadinya ”bullwhip”. Transporter/ Logistics Co. yang dipelajari melalui interview dari sisi wholesaler B. namun harus menanggung pasok barang yang berlebihan pula. Sedangkan para grossir sederhana nan tradisional pada akhirnya justru berperan sebagai penetralisir bahkan dibayar menjadi ”pengendali” bullwhip yang ditimbulkan para profesional nan modern. yang seharusnya memahami prinsip SCM. End Customer Manufacturers Merchandiser Wholesaler Gambar 1. bagaimana para profesional di sektor nan modern. Model SCM Untuk Perusahaan Makanan dan Minuman Stores/Retailers Dalam dunia nyata. padahal pasok berlebihan akibat promosi dagang semacam itu justru akan memicu ‘bullwhip’ dalam supply chain. misalnya dengan menawarkan diskon khusus. Dengan adanya tekanan persaingan. Kasus transaksi antara wholesaler A dan wholesaler B diambil dari praktek lapangan di Indonesia. Distributor . bonus barang. dan mencari segala cara agar mereka secepatnya bisa menetralisir sang “bullwhip” namun tetap mempertahankan komisi ekstra yang telah mereka terima. atau pembayaran kredit yang diperpanjang. dimana pabrik menunjuk distributor kemudian distributor tersebut menjual produk melalui cabang-cabangnya yang kemudian menjual ke pengecer atau pelanggan.Kasus Supply Chain Makanan dan Minuman (Produk Fungsional) Pola supply chain dari produk makanan dan minuman kemungkinan adalah sama atau mempunyai banyak kemiripan di seluruh dunia. Panos Kouvelis disebut sebagai taktik pemasaran yang paling tolol (the dumbest marketing ploy ever)!. supply chain tidaklah berjalan ideal seperti gambar di atas. Mereka harus memutar otak dengan keras. karena SCM bertujuan untuk menghindari efek ‘bullwhip’ (ketidak-stabilan) di dalam supply chain. Ilustrasi pada Gambar 2 di bawah ini menggambarkan suatu ”paradox”.

2007. Akhirnya wholesaler B mendapatkan pembeli. Makalah ini diterima sebagai salah satu interactive paper pada Academy of Management (AOM) Meetings di Philadelphia.Wholesaler A Retailer A Manufacturers Distributor / Importer End Customer Retailer B Information Exchange Gambar 2. Di akhir cerita. wholesaler B meminta waktu untuk memastikan apakah masih ada cukup ruang di gudangnya. Pada saat yang sama wholesaler B juga seringkali melakukan hal sebaliknya. No. Bagi yang berminat memiliki soft-copy makalah aslinya silakan menghubungi penulis (per e-mail) di ks@pqm-iris. Disadur oleh Kartika INDRIASARI. 1. 2008. Wholesaler A mengimpor ’branded whisky’ satu kontainer penuh. dan mendapat barang lain dengan harga khusus. Vol 4. Wholesaler B sebenarnya adalah saingan terberat mereka. namun dia mengatakan akan membantu wholesaler A (pesaingnya). yang mengatakan bahwa mereka End Customer memiliki persediaan lebih ’branded whisky’ yang baru saja dibelinya. wholesaler B dalam waktu kurang dari 30 menit mendapatkan 5% dari penjualan ’branded whisky’nya bahkan tanpa melihat barang tersebut. namun mereka ’terlahir’ efisien agar dapat bertahan hidup dalam percaturan bisnis.co. Wholesaler B berpura-pura seakan dia memiliki persediaan yang cukup. Ini dikenal dengan praktek ”barter”.id . Namun sekarang dia memiliki persediaan berlebih dan harus menjualnya secepat mungkin. dari makalah: Uche OKONGWU dan Kristanto SANTOSA: “Supply Chain Management Practices in Two Different Cultural and Business Environments”. wholesaler B menghubungi pelangan-pelanggan besarnya dan mengatakan bahwa dia memiliki persediaan lebih ’branded whisky’ yang akan dijual dengan harga khusus dan dengan waktu pembayaran yang panjang. karena dengan cara ini mereka mendapatkan diskon khusus yang besar. Setelah mendapatkan harga khusus dari wholesaler A.USA. Apa yang dapat kita pelajari dari supply chain para grossir (wholesalers) nan tradisional? Mereka barangkali tidak pernah diajarkan untuk efisien. Dia juga telah membuat wholesaler A (pesaingnya) senang karena persediaan berlebihnya bisa terjual. dan telah dimuat pada International Journal of Integrated Supply Management . Kemudian wholesaler B menelpon wholesaler A dan memberikan alamat kemana ’branded whisky’ tersebut harus dikirim (yang sebenarnya adalah alamat gudang pelanggan dari wholesaler B). yaitu menawarkan barang lain kepada wholesaler A dengan harga khusus. Bukannya menghubungi pihak gudang. namun berarti juga bahwa dia dapat membantu. ’Best Practices Perdagangan’ Diantara Wholesalers Logistics Exchange Wholesaler B Wholesaler B menerima telepon dari wholesaler A.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful