BAHAN AJAR PERKULIAHAN KIMIA FISIKA 1

TERMODINAMIKA DAN KESETIMBANGAN KIMIA



Nama Perguruan Tinggi : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin
Mata Kuliah : Kimia Fisika I
Semester : IV (Genap)
Waktu : 3 x 50 menit

A. Kompetensi Dasar
Mendeskripsikan hukum pertama, kedua dan ketiga termodinamika, serta
kesetimbangan kimia.

B. Standar Kompetensi
1. Memahami hukum termodinamika pertama
2. Mengaplikasikan hukum termodinamika pertama
3. Menguasai hukum termodinamika kedua
4. Mengaplikasikan hukum termodinamika kedua
5. Menguasai hukum termodinamika ketiga
6. Mengaplikasikan hukum termodinamika ketiga
7. Menguasai konsep kesetimbangan kimia
8. Mengaplikasikan kesetimbangan kimia pada kondisi tertentu.


C. Indikator
1. Menjelaskan hukum termodinamika pertama
2. Menjelaskan hubungan antara energi dalam dengan kalor dan kerja
3. Menghubungkan perubahan jumlah mol gas pada persamaan reaksi dengan
besaran entalpi dan energi dalam
2
4. Memprediksikan nilai entropi dan entalpi sistem pada suatu reaksi
5. Meramalkan arah reaksi dari nilai entalpi dan entropi
6. Menerapkan hukum Hess untuk menentukan kalor reaksi (entalpi reaksi)
7. Menghitung kalor reaksi (entalpi reaksi) dari data entalpi pembentukan
standar dan data energi ikatan
8. Menafsirkankan diagram lingkar Carnot
9. Menghitung perubahan entropi pada suatu reaksi
10. Menjelaskan hubungan antara energi bebas Gibbs dengan entalpi dan entropi.
11. Menentukan nilai tetapan kesetimbangan pada temperatur dan tekanan
tertentu
12. Menggunakan besaran energi bebas Gibbs untuk menentukan kedudukan
kesetimbangan dari suatu reaksi.
13. Menjelaskan hubungan antara K
p
, dan K
c


D. Pendekatan Model dan Metode Pembelajaran
Pendekatan pembelajaran yang digunakan dalam perkuliahan ini adalah
pendekatan konstruktivistik. Model pembelajaran yang digunakan adalah problem
solving-kooperatif. Metode pembelajaran yang digunakan adalah think-aloud
pair, yaitu mendiskusikan dengan teman yang menjadi pasangannya untuk
menyelesaikan soal/tugas yang diberikan.
E. Media Pembelajaran
Seperangkat komputer dan LCD serta bahan ajar perkuliahan kimia fisika I,
buku-buku teks yang mendukung seperti;
3
1. Atkins, PW, 1999. Kimia Fisika (terjemahan) edisi keempat. Jakarta.
2. Bahl, B.S, Tuli, G.D, & Arum, B, 2004. Essential of Physical Chemistry, Two
colour edition, Longman , New Delhi.
3. Dogra, S.K & Dogra, S. 1997. Kimia Fisik dan Soal-soal. Penerbit UI Press
Jakarta
4. Mark, M & Foster, A. R, 1979. Thermodynamics : Principles and Aplication.
Allyn and Bacon, Inc. Boston.
5. Rahayu, S. I, 2006. Termodinamika (Azas Dasar dan Terapan Kimia). Penerbit
ITB Bandung.
6. Sukardjo, 1997. Kimia Fisika. Penerbit Rineka Cipta Jakarta.

















4
TERMODINAMIKA

Termodinamika adalah ilmu yang mempelajari transformasi dari berbagai
bentuk energi, pembatasan-pembatasan dalam transformasi energi serta
penggunaannya. Termodinamika didasarkan atas dua postulat pokok yang dikenal
sebagai hukum pertama dan hukum kedua. Hukum pertama menyangkut masalah
pertukaran energi, sedangkan hukum kedua membahas arah dari pertukaran tersebut.
Bab ini berisi tentang konsep-konsep dasar termodinamika, kalor dan kerja,
perumusan hukum pertama termodinamika, fungsi entalpi, kapasitas kalor dan
aplikasi hukum pertama termodinamika (termokimia), serta kesetimbangan kimia.
A. KONSEP-KONSEP DASAR TERMODINAMIKA
1. Sistem dan Lingkungan
Sistem adalah sejumlah zat atau campuran zat-zat yang dipelajari sifat-sifat dan
perilakunya. Segala sesuatu di luar sistem disebut lingkungan. Suatu sistem terpisah
dari lingkungannya dengan batas-batas tertentu yang dapat nyata atau tidak nyata.
Sebagai contoh, bila dalam botol yang tertutup terdapat air yang terisi setengah, maka
yang menjadi sistem adalah air. Dinding dan tutup botol merupakan batas-batas
sistem dan segala yang berada disekeliling botol adalah lingkungan.
Antara sistem dan lingkungan dapat terjadi pertukaran energi dan materi, namun
ada pula yang tidak dapat mempertukarkan energi dan materi. Berdasarkan
5
pertukaran ini dapat dibedakan tiga jenis sistem, yaitu sistem tersekat, sistem
tertutup, dan sistem terbuka.
Sistem tersekat merupakan sistem yang tidak dapat melakukan pertukaran materi
maupun energi dengan lingkungannya. Sistem tersekat memiliki jenis energi yang
tetap. Contoh untuk sistem tersekat adalah botol termos ideal.
Sistem tertutup adalah sistem yang hanya dapat melakukan pertukaran energi
dengan lingkungannya. Contoh untuk sistem tertutup ini adalah sejumlah gas dalam
silinder tertutup.
Sistem terbuka adalah sistem yang dapat mempertukarkan materi dan energi
dengan lingkungannya. Akibatnya komposisi dari sistem terbuka tidak tetap
(berubah). Contoh untuk sistem terbuka ini adalah sejumlah zat-zat dalam wadah
terbuka.
2. Keadaan sistem dan Fungsi keadaan
Keadaan sistem ditentukan oleh sejumlah parameter atau variabel, misalnya suhu,
tekanan, volume, massa dan konsentrasi. Variabel sistem dapat bersifat intensif,
artinya tidak bergantung pada ukuran sistem (tekanan, suhu, massa jenis, dan sebagai-
nya), atau bersifat ekstensif yang berarti bergantung pada ukuran sistem (massa,
volume, energi, entropi, dan sebagainya).
6
Setiap besaran atau variabel yang hanya bergantung pada keadaan sistem dan
tidak bergantung pada bagaimana keadaan sistem itu tercapai, disebut fungsi
keadaan. Fungsi keadaan, misalnya suhu, tekanan, volume, energi dalam, entropi,
dan lain-lain. Sebagai contoh fungsi keadaan, bila kita melakukan pendakian puncak
gunung yang tingginya 1500 meter dari permukaan laut. Saat mula-mula di kaki
gunung memulai mendaki hingga mencapai puncak gunung di ketinggian 1500 meter
di atas permukaan laut, tidak bergantung pada cara kita mendaki atau arah pendakian
kita. Ketinggian puncak gunung dari permukaan air laut inilah yang dinamakan
fungsi keadaan
Kalor dan Kerja
Kalor dan kerja adalah dua konsep penting dalam termodinamika. Oleh karena itu
pengertian tentang kedua konsep ini harus dipahami dengan baik. Kalor, q,
didefinisikan sebagai energi yang dipindahkan melalui batas-batas sistem sebagai
akibat langsung dan perbedaan temperatur antara sistem dan lingkungannya. Menurut
perjanjian, q dihitung positip bila kalor masuk sistem dan negatip bila kalor ke luar
dan sistem.
Kerja, w, adalah energi yang bukan kalor, yang dipertukarkan antara sistem dan
lingkungannya dalam suatu perubahan keadaan. Menurut perjanjian, w dihitung
positip, bila lingkungan melakukan kerja terhadap sistem (misalnya pada proses
pemampatan gas), dan negatip bila sistem melakukan kerja terhadap lingkungan
(misalnya bila gas memuai terhadap tekanan atmosfir).
7
Kerja memiliki berbagai bentuk (misalnya, kerja ekspansi, kerja listrik, kerja
mekanik, kerja permukaan, dan sebagainya). Salah satu bentuk kerja yang penting
adalah kerja yang berhubungan dengan perubahan volume sistem yang disebut kerja
ekspansi. Kerja ini dapat ditentukan sebagai berikut. Perhatikan sejumlah gas yang
berada dalam sebuah silinder yang dilengkapi dengan pengisap (lihat gambar.1).



Gambar 1. Proses ekspansi gas dalam sebuah silinder
Bila Penghisap bergerak sepanjang jarak dx terhadap tekanan luar p, maka kerja yang
dilakukan oleh gas adalah,
kerja = gaya x jarak
δw = - p A dx..…………………………………………………………. ……..(1)
di mana A dx merupakan perubahan volume dV, sehingga
δw = - p dV..…………………………………………………………………...(2)
Tanda minus dalam persamaan (1) adalah sesuai dengan perjanjian bahwa
kerja yang dilakukan oleh gas dihitung negatip. Kerja yang dilakukan oleh gas
bila volume berubah dan V
1
ke V
2
dapat mengintegrasikan persamaan (2),
sehingga diperoleh persamaan berikut ini
δw = - P ∆V………………………………………………………..………… (3)
Untuk perubahan yang berlangsung secara reversibel, akan berlaku:
dx

gas
8
..…………………………..……………………………………....(4)
.…………………………………………………….…..(5)
.…………………………………………………….… ..(6)
dV
V
nRT
v
v
|
.
|

\
|
}
2
1

w
rev
= -

Dengan p adalah tekanan gas. Harga integral ini dapat dihitung bila persamaan
keadaan dari gas yang bersangkutan diketahui. Misalnya untuk gas ideal pada
temperatur tetap,

w
rev
= -


= -nRT






B. PERUMUSAN HUKUM PERTAMA TERMODINAMIKA

Keseluruhan energi potensial dan energi kinetik zat-zat yang terdapat dalam
suatu sistem, disebut energi dalam, U. Energi dalam merupakan fungsi keadaan
karena besarnya hanya bergantung pada keadaan sistem. Bila dalam suatu perubahan
sistem menyerap sejumlah (kecil) kalor, δq, dan melakukan kerja (kecil), δw, maka
sistem akan mengalami perubahan energi dalam, dU, sebesar
dU = δq + δw...………………………………………………………………………(7)
untuk perubahan yang besar pada suatu sistem dari keadaan 1 (energi dalam U
1
) ke
keadaan 2 (energi dalam U
2
), maka akan terjadi perubahan energi dalam (∆U),
sebesar
∆U = U
2
- U
1
…………………………………………...……………………………(8)
V
dV
v
v
}
2
1
}
2
1
v
v
pdV
|
|
.
|

\
|
÷ =
1
2
ln
V
V
nRT w
rev
9
sehingga diperoleh
U
2
- U
1
= q + w...……………………………….……………………………………(9)
∆U = q + w…………………………………………………………………………..(10)
Persamaan (10) merupakan bentuk matematik dari hukum pertama termodinamika.
Menurut ungkapan ini, energi suatu sistem dapat berubah melalui kalor dan kerja.
Bila kerja yang dilakukan oleh sistem hanya terbatas pada kerja ekspansi (misalnya
pada kebanyakan reaksi kimia), maka persamaan (10) dapat diubah menjadi
dU = δq – p dV.…….. ..……………………………………………………………(11)
pada volume tetap, dV = 0, maka
dU = δq..….……………………………………………………………………….. (12)
atau untuk perubahan besar,

∆U = q.....…………………………………………………………………………. (13)
Menurut persamaan (13) perubahan energi dalam adalah kalor yang diserap oleh
sistem bila proses berlangsung pada volume tetap.

1. Fungsi Entalpi dan Perubahan Entalpi
Kebanyakan reaksi-reaksi kimia dilakukan pada tekanan tetap yang sama
dengan tekanan atmosfir. Dalam hal ini, bila pada persamaan (11)
dU = δq – p dV diintegrasikan (di mana p ialah tekanan sistem) akan diperoleh
U
2
– U
1
= q - p(V
2
-

V
1
)……………………………………………………………..(14)
dan karena p
1
= p
2
= p,
(U
2
+ p
2
V
2
) - (U
1
+ p
1
V
1
) = q……………………………………………………… (15)
10
oleh karena U, p dan V adalah fungsi keadaan, maka (U + pV) juga merupakan fungsi
keadaan. Fungsi ini disebut entalpi, H,
H=U+pV . Jadi, menurut persamaan (15),
H
2
- H
1
= q
∆H = q……………………………………………………………………………...(16)
Berdasarkan hasil ini dapat dikatakan bahwa, kalor yang dipertukarkan antara
sistem dan lingkungan pada tekanan tetap besarnya sama dengan perubahan entalpi
sistem.Mengingat entalpi, H merupakan fungsi keadaan, maka perubahan entalpi,
∆H, hanya bergantung pada keadaan awal dan keadaan akhir sistem. Pada reaksi-
reaksi kimia, ∆H adalah kalor reaksi pada tekanan tetap.
2. Kapasitas Kalor
Kapasitas kalor suatu sistem didefinisikan sebagai jumlah kalor yang diperlukan
untuk menaikkan temperatur sistem sebanyak satu derajat. Secara matematik
diungkapkan,



Karena δq hanya bergantung pada jalannya perubahan, maka sistem mempunyai
banyak harga-harga untuk kapasitas kalor. Dua diantaranya yang paling penting, yaitu
kapasitas kalor pada volume tetap (C
v
) dan pada tekanan tetap (C
p
). Apabila kerja
yang dapat dilakukan oleh sistem terbatas pada kerja ekspansi, maka δq = dU + pdV,
sehingga persamaan (17) dapat diubah menjadi,

……….………………………………..…………………….….(18)
dT
q
C
o
= ……………………………………………………………………….(17)
dT
pdV dU
q
+
= o
11
Pada volume tetap, C = C
v
dan dV = 0, maka,




……...…………………………………………………..…………..(19)
Kapasitas kalor pada tekanan tetap dapat diturunkan sebagai berikut,


Pada p tetap, dH = dU + pdV dan


sehingga,

…………………………………………………………(20)


Jadi, kapasitas kalor pada tekanan tetap adalah sama dengan penambahan entalpi
sistem perderajat kenaikan temperatur pada tekanan tetap. Baik kapasitas kalor pada
volume tetap maupun kapasitas kalor pada tekanan tetap biasanya dinyatakan per mol
zat.
Pada umumnya kapasitas kalor merupakan fungsi dan temperatur, fungsi ini
biasanya dinyatakan secara empiris sebagai
C
p
= a + bT + cT
2
..………………………………………………………………...(21)
dengan a, b, c adalah tetapan.

C. APLIKASI HUKUM PERTAMA PADA REAKSI KIMIA (TERMOKIMIA)
Termokimia mempelajari efek panas yang terjadi baik dalam perubahan
secara kimia (reaksi kimia) maupun secera fisika (proses penguapan, peleburan, dsb.).
Efek panas dapat bersifat eksoterm, yaitu bila terjadi pelepasan kalor, dan endoterm,
yaituu bila proses disertai dengan penyerapan kalor. Jum!ah kalor yang bersangkutan
v
v
T
U
C |
.
|

\
|
c
c
=
dT
pdV dU
dT
q
C
p
p
+
= =
o
p p p
U
V
p
T
U
T
H
|
.
|

\
|
c
c
+ |
.
|

\
|
c
c
= |
.
|

\
|
c
c
p p
V
T
H
T
q
C |
.
|

\
|
c
c
= |
.
|

\
|
c
c
=
12
dalam suatu reaksi bergantung pada jenis dan jumlah zat-zat yang béreaksi,
wujud/fasa keadaan fisik zat-zat pereaksi dan hasil reaksi, temperatur dan tekanan
(terutama pada reaksi gas). Oleh karena itu kalor reaksi dari suatu reaksi hendaknya
dinyatakan bersama-sama dengan persamaan reaksinya, di mana kondisi-kondisi
reaksi tertera dengan jelas.

1. Kalor reaksi pada Volume Tetap dan pada Tekanan Tetap
Dalam termokimia ada dua kondisi perubahan khusus yang penting, yaitu
perubahan pada volume tetap dan tekanan tetap, oleh karena pada kedua kondisi ini
kalor reaksi dapat dikaitkan dengan fungsi-fungsi termodinamika tertentu. Bila reaksi
dikerjakan pada volume tetap (misalnya dalam kalorimeter bom), maka kalor
reaksinya sama dengan perubahan energi dalam sistem, q
p
= ∆U, sedangkan pada
tekanan tetap, kalor reaksi sama dengan perubahan entalpi, q
v
= ∆H. Hubungan
antara kedua besaran ini dapat diturunkan sebagai berikut,
H= U+pV
dH =dU + d(pV) atau
∆H = ∆U + ∆(pV) ………..……………………………………………………….. (22)
Bila semua zat-zat pereaksi dan hasil reaksi sebagai cairan atau padatan, maka harga
∆(pV) sangat kecil (kecuali bila tekanan sangat tinggi) dibandingkan terhadap ∆H
atau ∆U sehingga dapat diabaikan, dalam hal ini ∆H ≈ ∆U. Dalam reaksi yang
menyangkut gas, harga ∆(pV) bergantung pada perubahan jumlah mol gas yang
terjadi dalam reaksi. Dengan pengandaian gas bersifat ideal, ∆(pV) = ∆n(RT),
sehingga persamaan (22) menjadi;
13
∆H = ∆U + ∆n(RT) (T tetap) ..………………………………………………...(23)
di mana ∆n = jumlah mol gas hasil reaksi — jumlah mol gas pereaksi. Persamaan ini
berlaku apabila sistem hanya dapat melakukan kerja volume.
2. Penentuan Kalor Reaksi Secara Eksperimen (Kalorimetri)
Hanya reaksi-reaksi berkesudahan yang berlangsung dengan cepat dapat
ditentukan kalor reaksinya secara eksperimen, seperti reaksi pembakaran, reaksi
penetralan dan reaksi pelarutan. Penentuan ini biasanya menyangkut pengukuran
perubahan suhu dari larutan atau dari air dalam kalorimeter.
3. Perhitungan Kalor Reaksi
Reaksi kimia kebanyakan dikerjakan pada tekanan tetap, sehingga pada
perhitungan kalor reaksi hanya diperhatikan entalpi reaksi, ∆H.
Perhitungan kalor reaksi ini dapat dilaksanakan dengan cara;
1) Perhitungan dengan menggunakan Hukum Hess.
2) Perhitungan dari data Entalpi Pembentukan Standar.
3) Perkiraan Entalpi Reaksi dari data Energi Ikatan.

4. Kebergantungan Entalpi Reaksi pada temperatur.
Pada umumnya entapi reaksi merupakan fungsi dari temperatur dan tekanan.
Karena pengaruh tekanan cukup rumit, maka disini hanya akan diturunkan pengaruh
temperatur pada ∆H.
Perhatikan reaksi,
v
1
A
1
+ v
2
A
2
→ v
3
A
3
+ v
4
A
4

Perubahan entalpi reaksi diberikan oleh,
14
∆H = H
hasil reaksi
— H
pereaksi

∆H = ∑ v
i
H
i
..……………………………………………………………………...(24)
Perubahan ∆H dengan temperatur diperoleh dengan cara mendeferensialkan
persamaan (24) terhadap temperatur pada tekanan tetap,


....…………………………………………………………….(25)
Persamaan ini dikenal sebagai persamaan Kirchhoff. Persamaan (25) dapat
diintegrasi apabila C
p
, sebagai fungsi temperatur diketahui. Kalau C
p
, dapat dianggap
tetap antara T
1
dan T
2
, misalnya kalau perbedaan antara kedua temperatur ini tidak
besar, maka integrasi dan persamaan (25) menghasilkan,
∆H
2
- ∆H
1
= ∆H (T
2
– T
1
) ..……………………………………………………. (26)
Kalau C
p
tidak dianggap tetap, maka

………..……………………………………………...…(27)

untuk dapat memudahkan perhitungan ∆H pada berbagai temperatur, pada tekanan
tetap, sebaiknya terlebih dahulu ditentukan ∆H = f(T). Hal ini dapat dilakukan
dengan,
...……….…………………………………………………..(28)

dengan I adalah tetapan integrasi.



p
p
C
T
H
A =
(
¸
(

¸

|
.
|

\
|
c
A
c
}
A = A ÷ A
1
2
1 2
T
T
p
dT C H H
}
+ A = A I dT C H
p T
15


RANGKUMAN

Termodinamika merupakan ilmu yang mengkaji berbagai bentuk energi dan
hubungannya satu dengan yang lain. bersifat mendasar untuk semua ilmu. Ruang
lingkup termodinamika kimia ialah hubungan antara berbagai energi jenis tertentu
dengan sistem kimia. Hukum pertama termodinamika adalah suatu pernyataan hukum
pelestarian energi. Energi total suatu sistem adalah energi dalamnya yang merupakan
suatu fungsi keadaan. Suatu perubahan energi dalam, ∆U, dilaksanakan dengan
transfer kalor ataupun perlakuan kerja.
Termokimia menangani pengukuran dan penafsiran perubahan kalor yang
menyertai proses kimia. Kebanyakan pengukuran semacam itu dilakukan dengan
sebuah kalorimeter.

SOAL-SOAL LATIHAN
Petunjuk: Jawablah pertanyaan berikut dengan singkat dan benar
1. Berikan definisi dari ; sistem, lingkungan, fungsi keadaan, kapasitas kalor molar,
kapasitas kalor jenis, keadaan standar, perubahan isoterm, perubahan adiabat.
2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan; fungsi keadaan, proses spontan, proses
reversibel, proses lingkar.
3. Berapakah energi dalam yang dimiliki pada reaksi
N
2
(g) + 3H
2
(g)

→ 2NH
3
(g) ∆H
298
= - 46,1 kJ
16
4. Berapakah energi dalam yang dimiliki pada reaksi pembakaran karbon secara
sempurna bila C(s) + O
2
(g) → CO
2
(g) ∆H = -393,5 kJ ?
5. Kalor penguapan air pada 25
0
C ialah 43,9 kJ/mol. Hitung q, w, dan ∆U, jika satu
mol air diuapkan pada 25
0
C dan tekanan tetap.
6. Suatu cuplikan n-heptana (C
7
H
16
) sebanyak 0,500 gram dibakar dengan oksigen
berlebih dalam kalorimeter-bom (volume tetap) secara sempurna menjadi CO
2
(g)
dan H
2
O(l). Suhu air yang mengelilingi wadah pembakaran meningkat sebanyak
2,934
0
C. Jika kapasitas kalor kalorimeter dan perlengkapannya ialah 8175 J/K dan
suhu rata-rata kalorimeter ialah 25
0
C, hitung ∆U dan ∆H permol heptana, bagi
proses ini.
7. Sebanyak 150 mL larutan HCl 0,40 M yang dinetralkan dengan NH
4
OH dalam
labu Dewar menimbulkan kenaikan suhu larutan sebesar 2,36
0
C. Bila diketahui
bahwa kapasitas kalor labu Dewar dan isinya sesudah reaksi ialah 1318 J/K.
Tentukanlah kalor penetralan HCl.
8. Dalam sebuah kalorimeter dicampurkan 250 mL NaOH 0,400 M dengan 250 mL
HCl 0,400 M. suhu awal kedua larutan dan kalorimeter adalah 17,50
0
C. Massa
kalorimeter 500 g dan kalor jenisnya 400 J K
-1
kg
-1
. Jika suhu akhir ialah 19,55
0
C
dan kalor jenis larutan ialah 4200 J K
-1
kg
-1
, hitung entalpi penetralan.
9. Tentukan entalpi pembentukan standar C
2
H
2
(g) bila diketahui entalpi pembakaran
standar dari : C
2
H
2
(g), C(s), H
2
(g) berturut-turut ialah : -1300, -394, dan -286
kJ/mol.

17
10. Reaksi N
2
(g) + 3H
2
(g)

→ 2NH
3
(g) ∆H
298
= - 46,1 kJ, bila diketahui kapasitas
kalor antara 250 – 450 K untuk masing-masing gas berikut ini adalah :
C
p
(N
2
) = 27,9 + 0,00418 T
C
p
(H
2
) = 29,6 + 0,00231 T
C
p
(NH
3
) = 29,9 + 0,00261 T
Maka berapakah entalpi pembentukan NH
3
(g) pada 400 K ?

















18
HUKUM KEDUA DAN KETIGA TERMODINAMIKA

Pada umumnya perubahan yang terjadi di alam disertai dengan perubahan
energi. Dalam proses perubahan energi ini ada dua aspek penting, yaitu arah
pemindahan energi dan pengubahan energi dari satu bentuk ke bentuk yang lain.
Walaupun hukum pertama termodinamika menetapkan hubungan antara kalor yang
diserap dengan kerja yang dilakukan oleh sistem, tetapi hukum ini tidak menunjukkan
batas-batas mengenai sumber maupun arah aliran energi.
Hukum kedua termodinamika dirumuskan untuk menyatakan pembatasan-
pembatasan yang berhubungan dengan pengubahan kalor menjadi kerja, dan juga
untuk menunjukkan arah perubahan proses di alam. Dalam bentuknya yang paling
umum, hukum kedua termodinamika dirumuskan dengan mempergunakan suatu
fungsi keadaan yang disebut entropi.

A. PROSES LINGKAR CARNOT
Proses lingkar ialah deretan perubahan yang dqalankan sedemikian rupa
sehingga pada akhirnya sistem kembali lagi ke keadaan semula. Dari pengalaman
diketahui bahwa mesin kalor yang bekerja secara berkala menurut suatu proses
lingkar hanya dapat mengubah sebagian dari kalor yang diserap menjadi kerja,
pengubahan ini hanya mungkin dengan adanya suatu perbedaan temperatur.
Sadi Cannot (1824) berhasil menghitung kerja maksimum yang dapat
diperoleh dan suatu mesin yang bekerja secara reversibel. Pada mesin Carnot,
sejumlah gas ideal menjalani suatu proses lingkar yang terdiri atas empat langkah
19
d
ekspansi
isotermal


Pemampatan
isotermal
isoterm


p
pemampatan
adiabatik


ekspansi
adiabatik


perubahan reversibel, yaitu pemampatan isotermal, pemampatan adiabatik, ekspansi
isotermal, dan ekspansi adiabatik.







Gambar 2. Diagram proses lingkar Carnot
Dari diagram di atas, 4 langkah perubahan reversibel pada lingkar Carnot
adalah sebagai berikut :
1. Ekspansi isotermal
Lingkar dimulai dengan sistem mula-mula berisi n mol gas pada tekanan p
a
dan
Volume V
a
. Saat katup dibuka gas mengalami ekspansi dari volume V
a
menjadi
Volume V
b
, akibatnya tekanan sistem menjadi berkurang dari p
a
menjadi p
b
.
Dalam proses ekspansi ini, sistem memiliki suhu yang sama dengan
lingkungannya sehingga tidak terjadi pertukaran kalor.
2. Ekspansi adiabatik
Langkah kedua, katup ditutup dan gas dibiarkan mengembang secara adiabatik
akibatnya volume naik dari Vb menjadi Vc dan tekanan semakin turun dari pb
menjadi pc.

a
b
c
V
20
3. Pemampatan isotermal
Langkah ketiga, gas dimampatkan dari volume Vc hingga volume Vd, di mana
suhu sistem sama dengan lingkungannya sehingga tidak terjadi pertukaran kalor.
4. Pemampatan adiabatik
Langkah keempat, gas kembali dimampatkan secara adiabatik (tanpa penambahan
kalor, q = 0). Pemampatan adiabatik ini mengakibatkan volume sistem menjadi
berkurang dari Vc menjadi Vd, akibatnya tekanan sistem naik dari Pc menjadi Pd
atau kembali ke tekanan mula-mula.
Kerja maksimum diungkapkan secara matematik adalah sebagai berikut ;
T
1
– T
2

w =- q
1
……………………..………………………………...(29)
T
1


dapat dilihat bahwa kerja yang dihasilkan dalam proses selalu lebih kecil dan
kalor yang diserap.
B. FUNGSI ENTROPI DAN PERUBAHAN ENTROPI
Entropi adalah suatu fungsi keadaan yang secara matematis didefinisikan sebagai,
dS = δq
rev
/ T …..………………………………………………………………….. (30)
dalam ungkapan ini δq
rev
ialah kalor yang dipertukarkan antara sistem dan lingkungan
secara reversibel. Karena dS merupakan diferensial total, maka perubahan entropi
yang terjadi dalam setiap proses atau reaksi diberikan oleh,
dS = S
2
- S
1
.………………………………………………………………………..(31)
dengan S
1
dan S
2
berturut-turut ialah entropi sistem dalam keadaan awal dan akhir.


21
C. PERHITUNGAN PERUBAHAN ENTROPI
Perhitungan perubahan entropi dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu
a. Proses fisis, di mana merupakan :
1) Proses yang tidak disertai dengan pengubahan fasa.
2) Proses pengubahan fasa secara revorsibel
3) Proses pengubahan fasa secara tak-reversibel
b. Reaksi kimia

D. PERUMUSAN HUKUM KEDUA TERMODINAMIKA
Menurut hukum ini : Semua proses atau reaksi yang terjadi di alam semesta,
selalu disertai dengan peningkatan entropi. Jika ∆S
as
ialah perubahan entropi yang
terjadi di alam semesta, maka bagi setiap proses spontan berlaku, ∆S
as
> 0.
Dengan memandang alam semesta itu sebagai sistem dan lingkungan, maka dapat
pula dikatakan bahwa untuk semua proses spontan berlaku,
∆S
sistem
+ ∆S
lingkungan
> 0 ..………………………………………………………...(32)
dengan ∆S
sistem
ialah perubahan entropi sistem dan ∆S
lingkungan
ialah perubahan entropi
lingkungan.

1. Perubahan Entropi Sebagai Persyaratan Kesetimbangan
Telah diuraikan bahwa setiap proses yang berlangsung secara spontan dalam
sistem tersekat selalu disertai dengan peningkatan entropi. Bila entropi sistem
mencapai harga yang maksimum, maka entropi tidak akan dapat berubah lagi
(∆S = 0), keadaan ini akan tercapai apabila proses berjalan reversibel atau apabila
22
sistem mencapai kesetimbangan. Jadi bagi setiap perubahan dalam ‘sistem tersekat’
berlaku:
∆S ≥ 0 ..…………………………………………………………………………….(33)
dengan tanda > untuk proses spontan dan tanda = untuk reversibel dan sistem dalam
kesetimbangan.

2. Kebergantungan Entropi pada Temperatur
Entropi reaksi (S) bergantung pada suhu. Kebergantungan ini dapat
diturunkan sebagai berikut:
misalnya pada reaksi berikut,
α A + β B → γ C + δD maka,
∆S = γ S
C
+ δ S
D
- α S
A
- β S
B

diferensiasi entropi terhadap suhu pada tekanan tetap memberikan ,maka

…..……………………………………………………..………(34)


ungkapan di atas dapat diubah menjadi,

……..…………………………………………………………..(35)

jika pada kurun suhu tertentu C
p
, tidak banyak bergantung pada temperatur, sehingga
dapat dianggap tetap, maka persamaan (35) dapat diintegrasi menjadi,

…………..…………………...………………………. (36)


dengan ∆S
1
dan ∆S
2
berturut-turut ialah perubahan entropi pada suhu T
1
dan T
2
.
T
dT
C
T
dH
T
q
dS
p
rev
= = =
o
T
dT
Cp
T
S
p
= |
.
|

\
|
c
c
( )
p
p
C
T
S
A =
(
¸
(

¸

c
A c
|
|
.
|

\
|
A = A ÷ A
1
2
1 2
ln
T
T
Cp S S
23
E. HUKUM KETIGA TERMODINAMIKA
1. Entropi zat mumi pada titik not absolut
Entropi dapat dipandang sebagai besaran makroskopis yang mengukur
ketidakteraturan sistem, yang berarti suatu sifat menyangkut sejumlah besar molekul
yang tersusun secara tidak teratur dalam ruangan termasuk distribusi energinya.
Sebagai ilustrasi, dua buah balon yang sama besar dan saling berhubungan melalui
sebuah kran. Satu balon berisi N molekul gas ideal, sedangkan balon yang satu hampa
udara. Jika kran dibuka, maka gas akan berdifusi ke dalam balon yang kosong secara
secara spontan, sehingga distribusi gas dalam dua buah balon menjadi merata.
Kebolehjadian untuk menemukan sebuah molekul gas pada salah satu balon
adalah ½. Kebolehjadian untuk menemukan dua buah molekul dalam balon yang
sama adalah (½)
2
, dan kebolehjadian untuk menemukan N molekul berada dalam
balon yang sama adalah (½)
N
. Kebolehjadian semakin kecil dan praktis mendekati nol
apabila harga N sangat besar (misalnya sebesar tetapan Avogadro). Gas yang
berdifusi secara spontan dan mengisi stiap ruang yang ada dalam balon merupakan
keadaan dengan kebolehjadian yang paling tinggi, atau keadaan yang paling
memungkinkan.
Jika W menyatakan besarnya kebolehjadian sistem untuk mencapai suatu
keadaan tertentu, maka menurut Boltzmann dan Planck hubungan antara entropi dan
keboleh jadian diberikan oleh ungkapan
S = k lnW (k = tetapan Boltzmann) ……………………………….…… (37)
Entropi dapat dihubungkan dengan ‘kekacauan’ atau ketidakteraturan sistem.
Keadaan sistem yang kacau ialah keadaan di mana partikel-partikel (molekul, atom
24
atau ion) tersusun secara tidak teratur. Makin kacau susunan keadaan sistem, makin
besar kebolehjadian keadaan sistem dan makin besar entropi. Oleh karena itu zat
padat kristal pada umumnya mempunyai entropi yang relatif rendah dibandingkan
dengan cairan atau gas. Gas mempunyai entropi yang paling tinggi karena keadaan
sistem paling tidak teratur.
Seperti telah diuraikan di atas bahwa makin kacau atau tidak teratur susunan
molekul, makin tinggi harga W dan entropi. Sebaliknya makin teratur susunan
molekul sistem, makin rendah harga W dan entropi. Kalau suatu zat murni
didinginkan hingga dekat 0 K, semua gerakan translasi dan rotasi terhenti dan
molekul-molekul mengambil kedudukan tertentu dalam kisi kristal. Molekul hanya
memiliki energi vibrasi yang sama besar sehingga berada dalam keadaan kuantum
tunggal. Ditinjau dan kedudukan dan distribusi energi, penyusunan molekul-molekul
dalam suatu kristal yang sempurna pad 0 K hanya dapat dilaksanakan dengan satu
cara. Dalam hal ini W = 1 dan ln W = 0, sehingga menurut persamaan boltzmann S =
0. Jadi, entropi suatu kristal murni yang sempurna ialah nol pada 0 K. Pernyataan ini
terkenal sebagai Hukum Ketiga Temomedinamika. Ungkapan matematik hukum
termodinamika ketiga adalah

0
S
T=0
= 0 …………………………..………………………………………….(38)









25
2. Perhitungan Entropi Mutlak
Entropi zat murni, pada temperatur T, dapat dihitung dengan dua cara, yaitu
dengan menggunakan hukum ketiga termodinamika dan data termokimia dan dengan
metoda mekanika statistik dari data spektroskopi. Disini hanya dibicarakan cara yang
pertama.
Dari persamaan (34),

(p tetap) jika diintegrasi persamaan ini menghasilkan,


……………….……………………………………….…………(39)


Secara eksperimen, kapasitas kalor C
p
hanya dapat ditentukan hingga 15 K. Untuk
memudahkan ektrapolasi hingga 0 °C biasanya dipergunakan ‘hukum pangkat tiga’
Debye, C
p
= α T
3
..………………………………………………..………………(40)
Substitusi dari persamaan ini ke dalam persamaan (39) menghasilkan,
dS
0
= α T
2
dT ( p tetap) ..………………………………………………………….(41)
yang dapat diintegrasi dari temperatur 0 hingga T menjadi
dS° = 1/3 α T
3
..……………………………………………………………………(42)
persamaan (42) mengungkapkan bahwa, pada temperatur rendah, entropi standar
sama dengan sepertiga harga C
p
.

3. Fungsi Energi Bebas Helmholtz
Bagi suatu perubahan kecil yang berlangsung tak reversibel pada temperatur T
berlaku:
dS > δq/T atau δq - TdS <0 ..……………………………………………………….(43)
T
dT
Cp
T
S
p
= |
.
|

\
|
c
c
}
=
T
p T
T d C S
0
0
ln
26
kalau sistem hanya dapat melakukan kerja volume, maka persamaan (43) dapat
diubah menjadi
dU + pdV -TdS < 0 ..……………………………………………………………….(44)
pada volume tetap, dV = 0, sehingga
dU - TdS < 0 atau d(U —TS)
T,p
< 0 ………………………………………………(45)
fungsi U - TS, yang merupakan fungsi keadaan, disebut energi bebas Helmholtz,A,
A=U-TS ………………………………………..…………………………………..(46)
Bila persamaan (46) dideferensiasi, diperoleh
dA = dU - TdS - SdT
bagi proses yang berjalan reversibel dan isoterm,
dA = δW ..………………………………………………………………………….(47)
jadi penurunan energi bebas helmholtz, - ∆A, ialah kerja maksimum yang dapat
dihasilkan dan suatu proses yang dikerjakan secara isoterm.

4. Fungsi Energi Bebas Gibbs
Kebanyakan proses biasanya dikerjakan pada temperatur dan tekanan tetap.
Pada kondisi ini, persamaan (44) dapat ditulis dalam bentuk,
d(U — pV — TS)
T,p
< 0 .……………………………………………………………(48)
besaran U + PV — TS merupakan fungsi keadaan, disebut energi bebas Gibbs, G.
G =U+PV—TS =H -TS =A + PV ………………………………………………..(49)
Jadi, suatu proses yang berlangsung pada temperatur dan tekanan tetap disertai
dengan penurunan energi bebar Gibbs,
27
(dG)
T,p
< 0 (hanya kerja volume) ………………………………………………...(50)
Suatu persamaan penting yang mengkaitkan ∆H, ∆S dan ∆G dapat diturunkan sebagai
berikut,
∆G = ∆H - T ∆S …………………………………………………………………(51)



















28
RANGKUMAN


Kespontanan suatu reaksi kimia tertentu dapat terjadi tidak hanya bergantung
pada perubahan entalpi, ∆H, tetapi juga pada temperatur dan perubahan entropi, ∆S,
yang mengukur perubahan dalam derajat ketidakteraturan suatu sistem. Entropi
cenderung mencapai harga maksimum yang dimungkinkan oleh besarnya energi
dalam sistem. Hal ini diungkapkan dalam hukum kedua termodinamika. Pada 0 K
(suhu mutlak) nilai entropi pada semua zat nyata adalah nol, dan ini merupakan
hukum ketiga termodinamika.
Dalam suatu proses yang berlangsung pada temperatur dan tekanan konstan,
komponen perubahan entalpi total yang dihubungkan dengan perubahan entropi
sistem dianggap sebagai energi yang tak dapat digunakan untuk melakukan kerja
yang berguna. Komponen sisanya, yang dianggap sebagal energi yang dapat
melakukan kerja yang berguna, adalah perubahan energi bebas Gibbs, ∆G, dari
sistem. Perubahan energi bebas suatu reaksi dapat dihitung dari selisih harga energi
bebas pembentukan standar dari pereaksi dan produk.






29
SOAL-SOAL LATIHAN
Petunjuk: Jawablah pertanyaan berikut ini dengan singkat dan benar
1. Diskusikan perubahan manakah dibawah ini yang menimbulkan peningkatan
entropi sistem?
a. kenaikan suhu
b. pembentukan produk gas dari pereaksi berupa padatan
c. pembentukan endapan dalam larutan
d. peningkatan volume sistem
e. pengembunan uap air
2. Diskusikan tanda untuk ∆S bagi reaksi berikut ini:
a. HCl(g) → H(g)

+ Cl(g) c. H
2
(g) + O
2
(g) → H
2
O(l)
b. C(s) + O
2
(g) → CO
2
(g) d. CO
2
(g) + CaO(s) → CaCO
3
(s)
e. NH
3
(g) + HCl(g) → NH4Cl(s)
f. CaO(s) + 2NH
4
Cl(s) → CaCl
2
(s) + NH
3
(g) + H
2
O(g)

3. Satu mol gas ideal dimuaikan secara isotermal dan reversibel dari 1 liter hingga 10
liter pada 300 K. Jika diketahui bahwa energi dalam gas ideal hanya bergantung
pada suhu, hitung q, w, ∆U, ∆H, ∆S, dan ∆G bagi proses ini.
4. Diskusikan kemungkinan mereduksikan kadmium sulfida menjadi logam dengan
menggunakan hidrogen pada suhu 1100
°
C. Gunakan data berikut (pada 1100
°
C)
Cd(g) + ½ S
2
(g) → CdS(g) ∆G
°
= -127 kJ
H
2
(g) + ½ S
2
(g) → H
2
S(g) ∆G
°
= - 50 kJ


30
KESETIMBANGAN KIMIA

Studi tentang peristiwa kimia menyangkut tiga aspek penting, yaitu mengapa
suatu reaksi dapat berjalan pada kondisi tertentu, bagaimana dan dengan kecepatan
berapa suatu reaksi berjalan dan bilamana reaksi itu selesai. Suatu reaksi akan
mencapai kesetimbangan apabila memiliki kecepatan reaksi yang sama besar dalam
kedua arah. Dalam hal ini reaksi masih berjalan terus sampai konsentrasi hasil reaksi
dan pereaksi tidak berubah dengan waktu.
Kesetimbangan kimia merupakan suatu kesetimbangan dinamik. Suatu aspek
penting dalam kesetimbangan kimia ialah kedudukan kesetimbangan. Kedudukan
kesetimbangan menentukan jumlah hasil reaksi yang dapat diperoleh dari suatu reaksi
dan dinyatakan secara kuantitatif dengan tetapan kesetimbangan.
1. Reaksi Kimia sebagai suatu Sistem dengan Komposisi yang Berubah-ubah
a. Koordinat reaksi
Dalam sistem di mana terjadi reaksi kimia, komposisi selalu berubah-ubah
oleh karena ada zat yang berkurang (pereaksi) dan ada yang bertambah (produk).
Pada setiap saat, jumlah mol dan tiap zat dalam campuran reaksi bergantung pada
jumlah reaksi yang terjadi
Perhatikan reaksi umum, v
a
A + v
b
B v
c
C + v
d
D
dengan A dan B ialah zat-zat pereaksi, C dan D ialah zat-zat hasil reaksi, dan v
a
, v
b
,
v
c
dan v
d
adalah koefisien reaksi. Bila v
a
mol A bereaksi dengan v
b
mol B, maka akan
terbentuk v
c
mol C dan v
d
mol D.

31
b. Syarat bagi Kesetimbangan Kimia
Sistem berada dalam kesetimbangan, bila ∆G = ∑ v
i
μ
i
= 0 ..……………. (52)
contoh reaksi,
N
2
(g)

+ 3H
2
(g)

2NH
3
(g)
mencapai kesetimbangan pada T dan P tetap, kalau
∆G = 2 μ - 2 μ + 3 μ = 0

NH
3

N
2

H
2


di mana μ = potensial kimia

c. Isotermal Reaksi
Dalam raksi kimia yang dilakukankan pada P dan T tetap, energi bebas Gibbs
ditentukan oleh konsentrasi atau keaktifan zat-zat dalam campuran reaksi. Kaitan
antara ∆G reaksj dengan keaktifan dapat diturunkan sebagai berikut.
Perhatikan kembali reaksi umum,
v
a
A + v
b
B v
c
C + v
d
D
∆G = v
c
μ
C
+ v
d
μ
D
- v
a
μ
A
+ v
b
μ
B

karena μ
i
= μ
i
o
+ RT ln v
i
, maka pada tekanan dan temperatur tetap, berlaku



……………………………………. ……………(53)

Persamaan ini terkenal sebagai reaksi isotermal van’t Hoff yang menyatakan
perubahan energi bebas Gibbs, pada setiap saat, sebagai fungsi dan keaktifan zat-zat
dalam reaksi, bila reaksi berjalan pada T dan P tetap. ∆G ° ialah perubahan energi
babas Gibbs standar, yaitu harga ∆G pada keaktifan zat, a
i
, = 1.
|
|
.
|

\
|
+ A = A
a
a
a
a
VB
B
vd
D
Va
A
vc
C
RT G G ln
0
32
Untuk reaksi antara gas-gas ideal, a
i
, = p
i
, sehingga persamaan (53) mengambil
bentuk:

…..……………………………………... ……….(54)

Dalam persamaan ini ∆G° ialah perubahan energi bebas Gibbs pada tekanan parsial
dan semua gas sama dengan 1 atm.

2. Tetapan Kesetimbangan
a. Berbagai Bentuk Tetapan Kesetimbangan
Pada bagian terdahulu sudah dijelaskan bahwa reaksi akan mencapai
kesetimbangan, jika
∆G = ∑ v
i
μ
i
= 0 pada kondisi ini,

atau,


..…………………………………………(55)

∆G° hanya fungsi temperatur, jadi pada temperatur tetap harganya tetap. ini berarti
bahwa pada temperatur tetap, besaran dibelakang tanda ln dalam persamaan (55) juga
tetap. Besaran ini disebut sebagai tetapan kesetimbangan termodinamika, K.

……………………..…………………………………………(56)

|
|
|
.
|

\
|
+ A = A
p p
p p
vb
B
va
A
vd
D
vc
C
RT G G ln
0
0 ln
0
=
|
|
.
|

\
|
+ A = A
gan kesetimban
vb
B
va
A
vd
D
vc
C
a a
a a
RT G G
0 ln
0
=
|
|
.
|

\
|
÷ = A
gan kesetimban
vb
B
va
A
vd
D
vc
C
a a
a a
RT G
|
|
.
|

\
|
=
a a
a a
vb
B
va
A
vd
D
vc
C
K
33
Substitusi dari persamaan (56) ke dalam persamaan (55) memberikan suatu
persamaan yang mengkaitkan tetapan kesetimbangan dengan perubahan energi bebas
Gibbs standar
∆G° = - RT ln K ..………………………………………………………………….(57)
Persamaan ini dapat digunakan untuk menghitung tetapan kesetimbangan kalau ∆G°
diketahui.
Untuk reaksi antara gas-gas ideal, persamaan (57) mengambil bentuk;
∆G° = - RT ln K
p
….……………………………………………………………….(58)
dengan K
p
ialah tetapan kesetimbangan yang dinyatakan dalam tekanan parsial.
Untuk gas ideal,

, sehingga :

∑v
i

K
p
= K
c
(RT) ..……………………………………………………………………...(59)
Dengan K
p
ialah tetapan kesetimbangan, dinyatakan dalam konsentrasi molar.
Tekanan parsial suatu komponen dalam campuran gas ideal dapat dihubungkan
dengan fraksi molnya melalui hukum Dalton,
p
i
= x
i
p
Dengan p ialah tekanan total campuran gas. Jika persamaan ini disubstitusikan ke
dalam persamaan (56) diperoleh:
∑v
i

K
p
= K
x
p ..……...………………………………………………………………...(60)
di mana K
x
ialah tetapan kesetimbangan, dinyatakan dalam fraksi mol. K menjadi
sama dengan K
p
kalau ∑v
i
= 0.
RT
v
n
p
i
i
|
.
|

\
|
=
34
3. Sifat-sifat Tetapan Kesetimbangan
Pada perhitungan kesetimbangan ada beberapa hal tentang tetapan kesetimbangan
yang perlu diperhatikan.
a. Dari berbagai bentuk tetapan kesetimbangan yang dibahas di atas, hanya tetapan
kesetimbangan termodinamika, K, yang benar-benar merupakan tetapan. K hanya
bergantung pada temperetur dan tidak bergantung pada tekanan atau konsentrasi.
K
p
atau K
c
hanya merupakan tetapan pada sistem ideal.
b. Prinsip tetapan kesetimbangan hanya berlaku pada sistem dalam kesetimbangan.
c. Tetapan kesetimbangan bergantung pada temperatur. Kalau temperatur berubah, K
akan berubah pula.
d. Besarnya tetapan kesetimbangan menentukan sampai seberapa jauh reaksi telah
berlangsung. Harga K yang besar menunjukkan konsentrasi hasil reaksi yang lebih
besar dari pada konsentrasi pereaksi dalam sistem. Jadi K yang besar
menguntungkan pembentukan hasil reaksi.
e. Besarnya tetapan kesetimbangan bergantung pada cara menuliskan reaksinya.
f. Tetapan kesetimbangan menyatakan secara kuantitatif pengaruh konsentrasi
pereaksi dan hasil reaksi terhadap tingkat selesai reaksi.

4. Pengaruh Temperatur terhadap Tetapan Kesetimbangan
Persamaan (57) dapat disusun ulang menjadi,

kalau persamaan ini didiferensiasikan terhadap T pada tekanan tetap

diperoleh,
d ln K
=
- 1 d( ∆G°)

sehingga,
dT R RT
RT
G
K
°
A ÷
= ln
35
d ln K
=
∆H°

(p tetap) ..………………………..…………………(61)
dT RT
2

untuk reaksi gas dan dengan pengandaian bahwa gas bersifat ideal, K = K
p
, dan
persamaan (61) menjadi,
d ln K
p

=
∆H°

(p tetap) ..…………………………………...…..……………(62)
dT RT
2

Persamaan (61) dan (62) terkenal sebagai isobar reaksi van’t Hoff. Kedua persamaan
ini digunakan untuk menghitung kesetimbangan sebagai fungsi dari temperatur. Pada
selang temperatur yang cukup kecil, ∆H° dapat dianggap tetap dan integrasi dari
persamaan (62) memberikan,
ln K
p

=
∆H°

+ I (p tetap) ..………………………………...…..……………(63)
RT
di mana I adalah tetapan integrasi yang dapat dievaluasi kalau harga K
p
pada suatu
temperatur diketahui.
Persamaan (61) dapat pula diintegrasikan antara dua temperatur T
1
dan T
2
. Hasilnya,
dengan pengandaian bahwa AH° antara kedua temperatur ini bukan fungsi dari
temperatur, ialah
ln K
2

=
∆H°

(T
2
– T
1
)......…………………………………...…..……………(64)
K
1
R T
1
T
2

di mana K
1
dan K
2
masing-masing ialah harga K
p
pada T
1
dan T
2
. Persamaan ini
digunakan untuk menghitung ∆H° rata-rata antara T
1
dan T
2
atau untuk menghitung
K
p
pada T
2
kalau harganya pada T
1
dan ∆H° diketahui.





36
5. Kesetimbangan pada Sistem Serbasama (Homogen)
a. Kesetimbangan dalam Fasa Gas
Sebagai contoh reaksi dalam fasa gas, perhatikan reaksi pembentukan
amoniak dari nitrogen dan hidrogen berikut,
½N
2
(g)

+
3
/
2
H
2
(g)

NH
3
(g)
tetapan kesetimbangan reaksi ini diberikan oleh,
a
K =
NH
3
..………………………………………………………..(65)
a
1/2
a
3/2


N
2
H
2

Atau, karena untuk gas, keaktifan, a
i
, sama dengan fugasitas, fi
f
K =
NH
3
……………………………………………..…………..(66)
f
1/2
f
3/2


N
2
H
2

b. Kesetimbangan dalam Fasa Cair
Pembahasan ini terbatas pada reaksi antara zat-zat bukan elektrolit yang
terlarut dalam pelarut tertentu. Perhatikan reaksi umum,
v
a
A + v
b
B v
c
C + v
d
D



Evaluasi dari keaktifan (a) dalam persamaan di atas memerlukan pengetahuan tentang
keadaan standar yang digunakan, karena keaktifan merupakan ukuran dari selisih
antara potensial kimia dalam keadaan tertentu dan dalam keadaan standar.
Jika konsentrasi dinyatakan dalam mol per liter, a
i
= χ
i
Ci, dan persamaan (65) dapat
diubah menjadi,
K =K
χ
.K
C
…………………………………………..………………………...…....(67)
|
|
.
|

\
|
=
a a
a a
vb
B
va
A
vd
D
vc
C
K
37
dengan K
c
ialah tetapan kesetimbangan yang dinyatakan dalam konsentrasi molar,


..……….……………..………………………………………(68)

6. Kesetimbangan dalam Sistem Serbaneka (heterogen)
Sistem serbaneka (heterogen) ialah menyangkut fasa padat dan fasa gas.
Perhatikan reaksi penguraian kalsium karbonat berikut,
CaCO
3
(s) → CaO(s) + CO
2
(g)
Perubahan energi bebas reaksi mi diberikan oleh isoterm reaksi van’t Hoff;
∆G = ∆G° + RT ln (a
CaO
. a
CO2
)/( a
CaCO3
) …………………………………………(69)
Seperti pada cairan, sebagai keadaan standar padatan diambil padatan murni pada
tekanan 1 atm dan temperatur percobaan. Jadi untuk padatan murni pada 1 atm, a = 1.
Pada umumnya pengaruh tekanan terhadap keaktifan padatan dapat diabaikan
sehingga keaktifan padatan sama dengan satu pada semua tekanan. Karena dalam
reaksi di atas CaO dan CaCO
3
berada sebagai padatan murni, a
CaO
= 1 dan a
CaCO3
= 1,
sehingga persamaan (69) dapat diubah menjadi,
∆G = ∆G° + RT ln a
CO2
………………...…………………………………………(70)
kesetimbangan akan tercapai jika AG = 0, jadi
∆G° + RT ln ( a
CO2
)
kstb
= 0 atau
∆G° + RT ln ( a
CO2
)
kstb
= - RT ln K .………………………………………………(71)
dengan tetapan kesetimbangan K, diberikan sebagai tetapan kesetimbangan yang
dinyatakan dalam tekanan parsial, karena tekanan gas dalam sistem biasanya rendah
|
|
.
|

\
|
=
C C
C C
vb
B
va
A
vd
D
vc
C
K
C
38
maka, keaktifan dapat disamakan dengan tekanan, sehingga persamaan (72) berubah
menjadi,

……………………………….……………………………..(72)




















( )
gan kesetimban
CO
p K
2
=
39
RANGKUMAN

Perubahan kimia disebut reversibel jika membentuk produk-produk yang
diperoleh dapat menghasilkan zat asal kembali. Dalam suatu sistem reversibel
kesetimbangan kimia tercapai bila reaksi maju dan balik memiliki laju yang sama.
Kesetimbangan yang melibatkan hanya satu fasa homogen disebut
kesetimbangan homogen. Sedangkan kesetimbangan yang melibatkan dua atau lebih
fasa yang berbeda adalah kesetimbangan heterogen.

LATIHAN SOAL
Petunjuk: Berilah penjelasan dengan singkat dan benar
1. Suatu reaksi kimia mempunyaikalor reaksi AH = + a J pada suhu T
1
dengan
tetapan kesetimbangan K
1
. Bila suhu dinaikkan menjadi T
2
, tetapan
kesetimbangan menjadi K
2
. dalam hal ini
a. K
2
> K
1

b. K
2
< K
1

c. K
2
= K
1

d. K
2
= AH / (RT
2
)
e. K
2
= AH / (RT
2
2

)

2. Untuk reaksi, H
2
(g) + CO
2
(g) H
2
O(g) + CO(g), bila temperatur reaksi
tersebut diperbesar, maka
a. tekanan akan tetap, karena jumlah tetap
b. tekanan akan lebih kecil
c. tekanan akan lebih besar
d. reaksi bergeser ke arah reaksi yang eksoterm
e. tidak mengelami pergeseran reaksi

3. Diketahui reaksi, 2 SO
2
(g) + O
2
(g)

2 SO
3
(g), pernyataan manakah yang
benar
a. tetapan kesetimbangan bertambah jika suhu diturunkan
b. tetapan kesetimbangan bertambah jika ditambahkan katalis
c. tetapan kesetimbangan berkurang jika tekanan dinaikkan
40
d. K
p
= K
c
(RT)
e. K
c
= K
x
p
-1


4. Untuk reaksi kesetimbangan, 2 H
2
(g) + O
2
(g) 2 H
2
O(g), harga tetapan
kesetimbangan akan bertambah jika
a. suhu dinaikkan
b. tekanan dinaikkan
c. tekanan diturunkan
d. H
2
dikurangi
e. H
2
O ditambah

5. Jika suatu sistem pada P dan T konstan mencapai kesetimbangan, maka
a. AH = 0
b. AS = 0
c. AU = 0
d. Aq = 0
e. AG = 0

6. Untuk reaksi N
2
(g) + 2 O
2
(g) 2 NO
2
(g), harga K
p
pada 2000 dan 2500 K
masing-masing 4, 08 x 10
-4
dan 36 x 10
-4
tentukan harga AH
°
.

7. Hitung K
p
untuk reaksi, CO(g) + H
2
O(g) CO
2
(g) + H
2
(g) pada 25
°
C,
Harga AG
°
= - 6,816 kkal.











41
PETA KONSEP TERMODINAMIKA

dihitung
dengan
AG = - RT ln K
maka
maka
jika jika
jika jika jika
AG < 0 AG = 0 AG > 0
maka maka
spontan setimbang tak spontan
dinyatakan oleh
TERMODINAMIKA
Luas reaksi Arah reaksi
hubungan
Bentuk lain dari energi Panas
Hukum kekekalan energi
dijelaskan oleh
Hukum pertama
termodinamika
ditunjukkan oleh ditunjukkan oleh
Perubahan energi
bebas, AG
Konstanta
Kesetimbangan, K
Mempelihatkan
peningkatan
Ketidakteraturan
molekuler
Entropi, S
Dijelaskan dengan
probabilitas
S < 0 AS > 0
Penurunan
ketidakteraturan
melibatkan
meramalkan
Hukum kedua dan ketiga
Termodinamika
maka
Peningkatan
ketidakteraturan
diukur dengan

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful