Daftar Isi

Sambutan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Sambutan Kepala Desa Kebondalem Kidul Kata Pengantar Peta Lokasi Sejarah Candi Sojiwan yang Terlupakan Cerita Binatang pada Relief Candi Sojiwan Proses Pemugaran Candi Sojiwan Candi-Candi di Sekitar Candi Sojiwan Asal-Mula Nama Dusun di Kebondalem Kidul Sarana dan Prasarana Umum Tim Penyusun ii iii v 1 2 4 13 17 29 31 35

i

Sambutan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala
Selamat atas terbitnya buku panduan Candi Sojiwan, semoga buku ini berguna bagi pengembangan sektor kepariwisataan dan sekaligus mendukung pelestarian warisan budaya khususnya Candi Sojiwan. Pelestarian disini bukan saja yang berhubungan dengan fisiknya saja, melainkan juga pelestarian atau pewarisan nilai-nilai yang ada. Usaha ini membutuhkan peran aktif dari berbagai pihak baik pemerintah, akademisi, sektor swasta, sekolah serta masyarakat luas pada umumnya. Tak lupa kami mengucapkan terima kasih atas kepedulian para mahasiswa KKNPPM UGM dengan penerbitan buku ini.

Prambanan, Agustus 2008 Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala

ii

Sambutan Kepala Desa
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Rasa syukur yang mendalam kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena limpahan rahmat, hidayah dan inayah-Nya tersusunlah buku panduan pariwisata yang menggambarkan candi Sojiwan yang berada di Desa Kebondalem Kidul, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Buku panduan pariwisata Candi Sojiwan tersebut terdiri dari 10 bagian, yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Cover buku Sambutan-sambutan Kata pengantar Daftar isi Bab I: Sejarah Candi Sojiwan, cerita-cerita dari relief candi dan fotofoto yang berkaitan dengan bangunan Candi Sojiwan Bab II: Ringkasan data-data 10 candi yang berada di sekitar Candi Sojiwan Bab III : Tentang gambaran kondisi wilayah Desa Kebondalem Kidul dan kehidupan masyarakatnya Bab IV : Data penunjuang untuk candi dan Desa Kebondalem Kidul Tim penyusun KKN-PPM UGM 2008 Penutup

Buku panduan ini sangatlah penting untuk dibuat karena orang akan tahu sejarah dan bentuk Candi Sojiwan yang sebenarnya. Masyarakat Desa Kebondalem Kidul sendiri yang berada di sekitar Candi Sojiwan tidaklah mengetahui sejarah Candi Sojiwan itu sendiri. Masyarakat Desa Kebondalem Kidul hanya tahu kalau ada candi, tetapi kapan dibuat, bentuk

iii

yang sebenarnya bagaimana dan siapa yang membuatnya masyarakat tidak tahu. Dengan adanya buku panduan pariwisata tentang Candi Sojiwan diharapkan akan membantu turis domestik maupun mancanegara yang berkunjung untuk mengetahui secara lengkap mengenai Candi Sojiwan. Sebab itu, perlu kiranya buku panduan ini dibuat dengan beragam bahasa. Dengan berkembangnya Candi Sojiwan menjadi tempat wisata, akan membantu pula perekonomian masyarakat di lingkungan candi. Masyarakat bisa berjualan souvenir (cinderamata), jualan makanan, parkir dan sebagainya. Untuk menumbuhkembangkan Candi Sojiwan menjadi tempat wisata yang handal tidaklah mudah, diperlukan banyak pihak untuk menangani masalah ini, yakni dari purbakala, pariwisata, masyarakat, lingkungan, dan sebagainya. Kami percaya, bahwa bila Candi Sojiwan digarap dengan baik akan mendatangkan turis baik domestik maupun turis mancanegara, yang otomatis akan menyumbang pendapatan bagi negara dan masyarakat. Begitu pula Candi Sojiwan yang letaknya begitu dekat dengan candi-candi yang lain (10 candi), dekat dengan pemerintah (kantor pemerintah) Desa Kebondalem Kidul, dekat dengan Kraton Yogyakarta dan dekat dengan jalan umum Yogya-Solo akan memudahkan para turis itu datang berwisata di Candi Sojiwan. Selain mendatangkan pendapatan, para turis juga akan mengetahui adat istiadat dan budaya masyarakat yang berada di sekitar Candi Sojiwan. Demikian kiranya, semoga dengan adanya buku panduan pariwisata yang dibuat oleh mahasiswa KKN-PPM UGM Yogyakarta tersebut akan bermanfaat sesuai dengan harapan masyarakat Desa Kebondalem Kidul dan bagi turis domestik maupun turis mancanegara yang ingin tahu tentang sejarah dan keberadaan Candi Sojiwan. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Kebondalem Kidul, Agustus 2008 Kepala Desa Susilo Utomo, S.H

iv

Kata Pengantar
Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan izin dan rahmat dari-Nyalah kami, tim KKN-PPM UGM Unit 80 Periode Antar Semester 2008, dapat menyelesaikan pembuatan buku ini. Semoga buku panduan pariwisata ini dapat bermanfaat sesuai dengan tujuan pembuatan itu sendiri. Pembuatan buku panduan pariwisata ini mempunyai tujuan utama untuk lebih mengekspos keberadaan Desa Kebondalem Kidul dan Candi Sojiwan kepada khalayak ramai. Dengan melakukan observasi nyata selama kurang lebih 2 bulan di Desa Kebondalem Kidul dan sekitarnya, kami berharap isi buku ini benar-benar mencerminkan kehidupan Desa Kebondalem Kidul dari berbagai sisi, sehingga para wisatawan baik lokal maupun mancanegara dapat mengetahui seluk-beluk desa Kebondalem Kidul dan Candi Sojiwan secara lebih mendetail. Masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki dalam penyusunan buku panduan pariwisata ini. Untuk itu, kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun agar buku ini pun menjadi lebih baik lagi. Kami ucapkan banyak terima kasih kepada seluruh pihak yang secara langsung maupun tidak langsung mempunyai andil dalam pembuatan buku ini. Terutama kepada seluruh masyarakat Kebondalem Kidul yang telah bersedia bekerjasama dengan kami selama kami berada di desa ini. Penyusun Tim KKN-PPM UGM Unit 80 Periode Antar Semester 2008

v

Peta Lokasi

1

Sejarah Candi Sojiwan yang Terlupakan
Candi Sojiwan terletak kira-kira 2 kilometer sebelah selatan jalan kereta api, sebelah selatan dari Candi Prambanan. Candi Sojiwan merupakan salah satu diantara sekian banyak bangunan candi yang terdapat di sekitar kompleks Candi Prambanan. Secara administratif Candi Sojiwan termasuk kedalam wilayah Provinsi Jawa Tengah, tepatnya di Dusun Sojiwan, Kelurahan Kebondalem Kidul, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten. Penelitian Candi Sojiwan pertama kali dilakukan oleh J. R. van Blom dan dituliskan dalam disertasinya di Universitas Leiden. J. R. van Blom yang membahas tentang hiasan pada Candi Sojiwan. Pada tahun 1813 penelitian dilanjutkan oleh Mackenzie yang menemukan pagar keliling pada jarak kurang lebih 40 meter yang mengelilingi candi utama. Kemudian J. F. G. Brumund mengadakan kunjungan dan penelitian pada bagian dalam candi dan menyebutnya sebagai Candi Kalongan. Pada tahun 1893 dibawah pimpinan Dorrepaal dilakukan penyusunan reruntuhan batu Candi Sojiwan. Di Indonesia, candi-candi didirikan pada masa Hindu-Buddha sehingga dapat dikatakan bahwa candi merupakan kebudayaan dari masa HinduBuddha. Candi Sojiwan sendiri merupakan Candi yang berlandaskan agama Buddha dan merupakan tempat pendarmaan (berdoa umat Buddha). Candi Sojiwan berdiri kira-kira pada pertengahan abad ke-9 dan dibangun oleh Rakai Pikatan. Pada prasasti Canggal yang merupakan satu-satunya peninggalan dari Dinasti Sanjayawamca (beragama Hindu yang memuja Siwa) yang saat itu terdesak oleh Dinasti Syailendrawamca (beragama Buddha aliran Mahayana yang condong kepada Tantrayana. Tidak diketahui secara pasti bagaimana pergeseran kekuasaan antara 2 dinasti besar tersebut karena tidak ditemukan di dalam prasasti-prasasti

2

peninggalan mereka. Tetapi menilik dari kenyataan bahwa sejumlah candi di Jawa Tengah bagian utara merupakan candi yang bersifat Hindu, sedangkan candi di bagian selatan Jawa Tengah bersifat Buddha. Bisa disimpulkan bahwa daerah kekuasaan keluarga Sanjayawamca berada di wilayah bagian utara Jawa Tengah dan daerah keeuasaan keluarga Syailendrawamca berada di sebelah selatan Jawa Tengah. Pada pertengahan abad ke-9 kedua dinasti ini bersatu dengan pernikahan Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjayawamca dengan Pramodawardhani dari Dinasti Syailendra. Pramodawardhani atau nama lainnya Rakriyan Sanjiwana (yang bergelar Sri Kahulunnan) merupakan anak dari Samaratungga. Akibat dari pernikahan ini terjadi persatuan antara agama Buddha dan agama Hindu. Sehingga banyak terdapat bangunan-bangunan Candi yang dibangun pada masa dinasti Syailendrawamca tetapi bersifat Hindu seperti Candi Prambanan dan Candi Sojiwan.
Sumber Pustaka: • • Timbul Harjana, Prof. Dr., Laporan Pelaksanaan Ekskavasi Pemugaran Candi Sajiwan 1988. tidak diterbitkan (Jurusan Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya, UGM, 1998). Candi-candi Kuno di Indonesia

3

Cerita Binatang pada Relief Candi Sojiwan
Pada Candi Sojiwan kita dapat membaca relief dengan cara Pradaksina yaitu sikap yang selalu meletakkan candi pada sebelah kanan kita sehingga kita dapat membaca semua relief yang dipahatkan di Candi Sojiwan. Relief pada Candi Sojiwan bukanlah cerita binatang yang saling bersambung, tetapi merupakan penggalan-penggalan cerita binatang yang bersumber pada cerita-cerita kuno bertokoh binatang yang berasal dari India. Ada 16 relief cerita binatang di Candi Sojiwan, berarti ada 16 cerita binatang yang dapat kita baca. Cerita binatang tersebut sebenarnya sebuah cerminan tentang kehidupan manusia. Banyak sekali hikmah yang dapat dipetik dari cerita binatang tersebut, tetapi poin pentingnya adalah barang siapa yang berbuat jahat akan terkena karmanya sendiri. Berikut beberapa cerita menarik dibalik relief di Candi Sojiwan.

1. Seorang Prajurit dengan Seorang Pedagang
Relief ini bercerita tentang seorang punggawa raja yang mempunyai dua orang kawan, yaitu seorang prajurit dan seorang saudagar. Si prajurit siap melindungi bila punggawa dapat gangguan, demikian juga Saudagar siap memberi pertolongan dengan hartanya sewaktu-waktu bila punggawa itu memerlukan. Pada suatu hari persaudaraan mereka bertiga ingin ditunjukkan kepada istri Punggawa, maka dengan persetujuan isterinya ia berpurapura mengatakan kepada kedua temannya itu bahwa ia sedang dalam keadaan tidak terampuni oleh raja. Mendengar cerita tersebut si saudagar mengatakan tidak dapat berbuat apa-apa dan si prajurit mengatakan bahwa dia siap membela si punggawa dengan tameng dan pedangnya.

4

Cerita ini mempunyai point penting yaitu bahwa persahabatan antara punggawa, prajurit dan saudagar dapat dilihat dari siapakah yang sanggup menyatakan sikapnya kepada sahabatnya.

2. Dua Ekor Angsa Menerbangkan Kura-Kura
Relief ini bercerita tentang persahabatan dua ekor angsa dengan kura-kura. Cerita ini terdapat dalam Pali-Jataka, dengan judul KacchapaJataka, terdapat pula Pancatantra, pada Hitopadeca dan juga pada Tantri. Relief ini menceritakan tentang seekor kura-kura yang ingin pindah ke tempat yang berair maka, ia meminta tolong pada dua ekor angsa agar diterbangkan hingga mencapai tempat yang berair. Angsa menetapkan syarat jika ingin diterbangkan nanti kura-kura jangan membuka mulutnya karena mulut kura-kura digunakan untuk memegang sayap angsa ketika terbang. Di tengah perjalanan banyak orang berbicara mengenai apa yang diterbangkan oleh kedua angsa tersebut. Tidak tahanlah kura-kura mendengar apa yang orang-orang perbincangkan mengenai dirinya. Kura-kura lupa mematuhi syarat yang tadi diajukan oleh dua ekor angsa tadi sehingga ketika mulut kura-kura terbuka sedikit saja terlepaslah dia dari sayap angsa kemudian jatuh dan ditangkap oleh orang-orang desa untuk disantap.

3. Garuda Berlomba dengan Kura-Kura
Relief ketiga pada Candi Sojiwan sudah agak kabur tetapi masih bisa ditafsirkan cerita mengenai Burung Garuda yang sombong ingin melawan kura-kura yang lemah (penggambarannya). Dikisahkan bahwa burung Garuda merupakan pemangsa kura-kura. Burung Garuda ini purapura berbaik hati mengajak kura-kura untuk berlomba lari. Jika burung Garuda menang dalam perlombaan ini, maka kura-kura harus rela menjadi makanannya sampai anak cucunya. Seandainya kura-kura yang menang, maka burung Garuda tidak akan mengganggu hidup kura-kura selamanya.

5

Kura-kura mengetahui akal busuk burung Garuda sehingga mereka mencari akal bagaimana mengalahkan burung Garuda. Ketika perlombaan dimulai burung Garuda tidak pernah bisa mendahului kura-kura dan diakhir perlombaan kura-kuralah yang memenangkan perlombaan lari tersebut. Ternyata kura-kura memakai akal agar bisa mengalahkan burung Garuda, yaitu dengan menyiapkan kura-kura di setiap jalur perlombaan, dari tempat tersembunyi mereka akan keluar satu per satu sesuai dengan kode dari temannya sehingga kelihatannya kura-kura selalu terdepan dalam perlombaan itu.

4. Buaya dan Kera Duduk di Atas Punggung Buaya
Cerita tentang Buaya dan Kera ini hampir mirip dengan cerita Kancil dan Buaya (cerita tradisional Indonesia). Cerita ini bermula dari Sang Bodhisatwa yang menjelma menjadi kera kemudian duduk di tepi sungai Gangga. Seekor buaya betina melihatnya dan berkeinginan untuk makan hati kera tersebut dan meminta buaya jantan untuk menangkapnya. Buaya jantan akhirnya mendekati kera dan menawarkan untuk menyeberangkan kera keseberang sungai. Kera menyetujuinya kemudian duduk di punggung buaya, di tengah perjalanan buaya mengatakan kepada kera bahwa sebenarnya dia ingin membunuh kera dan hati kera akan diberikan kepada buaya betina. Kera tidak panik dan berpikir bagaimana meloloskan diri dari buaya jantan ini. Kera mendapatkan sebuah ide untuk meloloskan diri diajaknya buaya berbicara. Kera mengatakan bahwa hati miliknya tertinggal di pohon mangga dan apabila buaya sudi mengantarkan dia kembali ke tepi dengan suka rela kera akan menyerahkan hatinya untuk buaya. Sampai di tepi sungai, kera yang ada di punggung buaya langsung lompat ke tanah dan pergi menjauhi buaya jantan. Hilanglah kesempatan buaya jantan untuk menagkap kera.

6

5. Perkelahian Banteng dan Singa
Cerita ini merupakan sebuah cerita binatang yang menggambarkan bagaimana kejamnya sebuah fitnah. Sebab, jika sudah ada yang termakan oleh fitnah, maka akan menimbulkan korban. Seperti cerita banteng dan singa yang pada akhirnya saling bertarung sampai mati karena keduanya termakan fitnah dimnah. Dimnah di cerita ini digambarkan oleh binatang serigala yang menebarkan fitnah sehingga menyebabkan banteng dan singa bertarung.

6. Gajah dan Setangkai Kayu pada Belalainya
Relief ini bercerita tentang seekor gajah yang merusak sarang burung gereja (ada juga versi yang mengatakan burung beo). di dalam sarang burung tersebut ada telur-telur yang siap dierami induknya. Sepasang burung gereja sangat sedih karena kehilangan calon anak mereka, kesedihan mereka didengar oleh burung pelatuk, lalat, dan raja katak mereka ingin membalaskan dendam mereka kepada gajah. Cerita ini ditutup dengan akhir gajah mati dikalahkan makhluk-makhluk yang lebih kecil dibandingkan oleh gajah. Cerita ini menceritakan bagaimana jika bersatu makhluk kecil pun dapat mengalahkan makhluk yang lebih besar dari mereka.

7. Seorang Laki-laki dan Seekor Singa
Cerita dalam relief ini kurang begitu popular di masyarakat. Relief ini ternyata berasal dari cerita binatang pada Kathasaritsagara yang berjudul Mrigankadatta, yang menggambarkan mimpi menteri Bhimaparakrama. Di dalam mimpinya ia melihat ada seekor singa datang dan

7

akan menyerangnya. Mengetahui hal ini ia langsung berdiri dan menyiapkan pedang dan tameng, dipegangnya dan siap menghadapi bahaya di depannya. Singa mengetahui akan mendapatkan perlawanan segera singa tersebut lari pergi, yang terus dikejar oleh Bhimaparakrama.

8. Seorang Perempuan, Beberapa Ekor Ikan, dan Serigala
Cerita relief berikut ini mengenai seorang perempuan yang bersuamikan petani tua yang amat kaya raya. Perempuan ini merasa tidak bahagia dengan hidupnya, ketika perempuan ini sedang berjalan-jalan ia bertemu dengan seorang penyamun. Perempuan ini terbuai oleh pujian yang dilontarkan oleh penyamun itu, ia langsung mengatakan akan senang dan bahagia sekali jika bisa hidup bersama penyamun tersebut. Perempuan ini juga berjanji akan membawa serta harta suaminya ketika pergi bersama penyamun tersebut. Akhirnya mereka pergi bersama, ketika di tengah perjalanan mereka harus melalui sebuah sungai yang aliran airnya deras. Muncul ide licik penyamun yang sedari tadi memang hanya menginginkan harta yang dibawa perempuan itu. Penyamun mengatakan akan menyeberangkan harta perempuan itu terlebih dahulu kemudian akan kembali lagi untuk menyeberangkan perempuan itu. Sesampainya di seberang sungai penyamun itu tidak kembali untuk menjemput perempuan tetapi, langsung pergi membawa lari harta tersebut.

9. Seorang Pemburu, Busur, Anak Panah dan Serigala
Di negeri Kalyanakataka tinggallah seorang pemburu yang bernama Bhairawa. Pada suatu ketika Bhairawa berburu ke hutan di pegunungan Windhya. Dia mendapatkan seekor buruan kijang, maka dipikulnya untuk dibawa pulang.

8

Di tengah jalan ia bertemu dengan seekor babi hutan yang amat menakutkan, maka diturunkannya kijang yang dipikulnya itu, diambilnya panah dan ditembakannya mengenai babi hutan itu. Di penghujung nyawanya, melompatlah si babi hutan dan menerjang perut sang pemburu. Sang pemburu jatuh dan mati tersandar pada pohon. Di hutan itu terdapat seorang pemburu, seekor kijang, dan seekor babi hutan yang semuanya telah mati. Sementara itu, seekor serigala yang kelaparan dan sedang mencari makan singgah ke tempat itu. Ia menemukan makanan yang amat banyak. Namun serigala tidak langsung memakan menyantapnya, tetapi lebih memilih memakan usus pada busur pemburu. Perbuatannya itu tanpa sengaja melepaskan anak panah yang sudah terpasang pada busur dan mengenai langit-langit mulut serigala. Matilah serigala itu.

10. Pendeta, Ketam, Ular dan Seekor Burung
Seorang Brahmana dari negeri Patala, bernama Dwijaiswara. Ia pecinta binatang. Pada suatu ketika ia sedang berada di gunung, dilihatnya seekor ketam yang akan mati kekeringan. Ketam itu bernama Astapada. Dipungutlah ketam itu kemudian dibawa ke suatu sungai dan dilepaskan disana, maka terselamatkanlah si Astapada. Karena lelah berjalan, Brahmana berhenti di dekat sungai dan bersandar pada sebatang pohon, lalu ia tertidur. Ada seekor ular yang bersahabat dengan seekor burung gagak. Mereka sedang merencanakan untuk memakan Brahmana. Ketam mendengar percakapan mereka dan ingin menyelamatkan Brahmana sebagai balas budi. Kemudian ketam berpura-pura menjadi sahabat ular dan gagak. Ketam menyuruh ular dan gagak untuk memanjangkan leher mereka agar mudah memangsa Brahmana. Tetapi ternyata ketam menjepit leher mereka dengan capitnya, sehingga ular dan gagak itu mati dan sang Brahmana terselamatkan.

9

11. Seekor Burung dengan Dua Kepala
Relief ini mengisahkan seekor burung yang bernama Bharanda, ia berbadan satu tetapi mempunyai dua buah kepala. Pada suatu ketika kepala yang satu mendapat makanan yang enak, kepala yang lain meminta sedikit, tetapi kepala yang mendapat makanan enak tidak mau memberinya dengan alasan nanti juga masuk ke dalam perut yang sama juga. Perbuatan itu terjadi berulang-ulang, maka kepala yang tidak mendapat makanan yang tidak enak itu akhirnya memakan makanan yang beracun, kepala yang lain mengingatkan bahwa bila makanan itu dimakan maka mereka akan mati, tetapi nasehat itu tidak didengarkan dan makanan beracun itu tetap dimakan, akhirnya matilah si Bharanda.

12. Seorang Laki-Laki Tidur di Paha Perempuan
Pada relief tersebut menggambarkan seorang laki-laki dengan amat santai tidur pada paha perempuan. Tangan kanan si laki-laki menopang kepalanya, sedangkan tangan kirinya tertekuk dan diletakkan diperutnya. Kedua kakinya tertekuk ke atas, kelihatannya si laki-laki sedang mendengarkan sesuatu. Laki-laki itu tidur diatas tikar dan hanya memakai kain penutup badan bagian bawah. Perempuan tersebut duduk dengan menekuk kaki sebelah kanan, ujung telapak kaki kiri dibawah kaki kanannya. Tangan kanan perempuan itu dipakai untuk menumpu badannya, sedang tangan kirinya terangkat seakan-akan menunjukkan gerak sesuatu. Kelihatannya si perempuan tidak memakai pakaian, hanya memakai tali pinggang, gelang pada pergengan tangan, dan gelang pada tangan bagian atas. Belum diketahui arti cerita tersebut.

10

13. Kambing dan Gajah
Ada seekor kambing jantan yang terpisah dari kelompoknya,kemudian bertemulah dia dengan seekor gajah. Karena siasat kambing, akhirnya gajah bersedia menolongnya. Kambing itu digendong gajah kemudian diantar pulang ketempat kelompok kambing. Dengan akalnya binatang yang kecil bisa memperdaya binatang yang lebih besar.

14. Orang Berkepala Singa
Terlihat seorang laki-laki seolah-olah sedang terbang, ia hanya berpakaian penutup bagian badan bawah, sedangkan bagian badan atas terbuka. Rambut dan jambangnya amat panjang seperti singa, lidahnya dijulurkan keluar, tangan serta kakinya memakai gelang. Belum diketahui arti cerita tersebut.

15. Lembu Jantan dan Seekor Serigala
Relief tersebut menggambarkan seekor lembu jantan berjalan, dibelakangnya berjalan pula seekor serigala jantan. Meskipun serigala hidup disuatu padang yang penuh dengan tikus, sehingga memudahkan serigala mencari makan, tetapi atas desakan istrinya ia mengikuti juga dengan setia seekor lembu jantan. Ini terjadi karena istrinya ingin makan kantung zakar sapi jantan itu, sampai 15 tahun serigala itu mengikuti lembu jantan, dan mengharapkan agar jatuhlah zakar lembu jantan, tetapi ternyata tidak juga jatuh.

11

Setelah 15 tahun memenuhi permintaan istrinya itu, ia pulang memberitahu istrinya bahwa yang diinginkan istrinya tidak berhasil dibawa pulang karena tetap menggantung pada sapi jantan tersebut.

16. Kinnara
Pada jaman dahulu kala hiduplah sepasang suami istri Kinnara dan Kinnari di hutan dengan damai dan bahagia. Suatu hari datanglah musibah karena seorang Raja menembak Kinnara sampai mati, Raja sengaja menembak Kinnara agar bisa memperistri Kinnari. Kinnari menolak maksud Raja tersebut, Kinnari terus menerus berdoa kepada Dewa Caka, agar dipertemukan kembali dengan suaminya. Dewa mengabulkan doa Kinnari, maka dihidupkannya kembali Kinnara dan mereka hidup bahagia kembali.
• Asdi S. Dipodjojo, Drs., Cerita Binatang Dalam Beberapa Relief Pada Candi Sojiwan Dan Mendut. (Yogyakarta: Penerbit Lukman Offset, 1983): 23.

12

Proses Pemugaran Candi Sojiwan
Berbagai persepsi tentang sebuah candi lahir dalam pemikiran setiap orang. Prinsip sederhana yang diyakini oeh para ahli sejarah (arkeologi) dan ilmu bangunan (sipil dan arsitektur) dari berbagai pengamatan, penelitian, dan percobaaan yang dilakukan telah merumuskan bahwa kekuatan utama berdiri kokohnya sebuah candi hingga ratusan tahun adalah proses pemilihan material dan proses kontruksi dengan perhitungan yang sangat cermat, yakni menitik-beratkan pada teori proporsional (keseimbangan) dan bentuk yang sangat simetris, serta didukung dengan pengetahuan ilmu bangunan di mana banyak ditemukan sistem sambungan material (batu) yang merupakan cikal bakal dari teknologi bangunan yang masih digunakan hingga saat ini. Candi dibangun dari susunan bongkahan batu-batu andesit tanpa menggunakan zat tertentu dalam usaha penyusunannya. Akan tetapi prinsip dan kekuatan utamanya terletak pada teori proporsional yang

Kondisi Candi Sojiwan saat proses pemugaran di bulan Agustus 2008.

Batu-batu candi diberi penomeran saat disusun.

13

diterapkan. Di mana keseimbangan dan simetrisme sangat diutamakan sehingga dipandang dari sudut manapun sebuah candi akan terlihat sangat simetris dan seimbang. Penelitian terhadap gugusan Candi Sojiwan pertama kali dilakukan pada tahun 1813 oleh Mackenzie. Pada saat itu Mackenzie masih menyaksikan adanya pagar keliling dengan jarak radius sekitar 40 M dari pusat candi. Penelitian selanjutnya oleh Baker yang hasilnya dimuat dalam tulisan Rafles pada tahun 1830 namum Baker dalam penelitiannya tidak lagi menemukan tembok keliling tersebut dan menganggap tembok tersebut telah disingkirkan. Pada tahun 1893 Jogjasche Archaelogische Vereeniging (Perkumpulan Arkelogi Yogyakarta) di bawah pimpinan H.E Dorrepaal mulai mengadakan pembentukan dan pembersihan candi Sojiwan. Tahun 1913 Dinas Kepurbakalaan Indonesia telah memindahkan arcaarca dan batu bertulis ke lapangan yang terletak disebelah selatan Kompleks candi Roro Jonggrang.

Semen digunakan untuk merekatkan batu agar tidak mudah goyah. Pada proses pembangunan candi di masa lampau, tidak digunakan bahan perekat apapun.

Selain semen digunakan pula besi untuk memperkokoh susunan batu.

14

Pada tahun 1934 oleh pengawas penggambaran ditemukan pondasi batu kali disisi utara candi Sojiwan pada jarak sekitar 40 M dan berdasarkan hasil tersebut dibuat peta lapangan yang dimuat dalam buku van Blom yang diterbitkan pada tahun 1935. Pada tahun 1950 s/d tahun 1995 dimulai perintisan pemugaran candi Sojiwan dengan kondisi pada saat itu sebagian besar telah runtuh. Pada tahun 1996 kegiatan pemugaran candi Sojiwan dimulai secara resmi. Pada tanggal 27 Mei 2006 gempa bumi tektonik 5,9 SR yang melanda daerah Yogyakarta dan sekitarnya telah menyebabkan runtuhnya susunan batuan candi Sojiwan yang sementara dalam proses pinising sehingga memerlukan suatu kajian ulang untuk suatu recovery (pemulihan) sebagai usaha recontruksi kembali candi Sojiwan pasca gempa.

Para petugas dari BP3 Jawa Tengah sedang meneliti batuan candi yang sudah terpasang.

Cetak biru proses pemugaran Candi Sojiwan. Bagian yang berwarna menunjukkan proses yang kini sedang atau telah dikerjakan.

15

Proses pemugaran dilaksanakan dalam bentuk analisis di atas kertas berdasarkan gambar-gambar yang telah dibuat dalam kegiatan penggambaran candi. Analisis dilakukan dengan cara menggabungkan gambar sisa bangunan dan gambar susunan percobaan dalam bentuk gambar dua dimensi dan dari analisis tersebut dapat diperkirakan bentuk candi.

1. Penggambaran
Kegiatan penggambaran sebagai proses dokumentasi obyek serta memberi gambaran bentuk bangunan yang dapat dipakai sebagai pedoman teknis dalam kegiatan pemugaran yang akan dilaksanakan.

2. Pengukuran
Kegiatan pengukuran bertujuan agar posisi candi dalam pemugaran yang akan dilaksanakan dapat diletakan pada tempat dan kedudukan semula: • Pembuatan titik poligon • Pengukuran detail candi utama.

3. Pembongkaran Bangunan
Sampai tahun 2000 kegiatan pemugaran Candi Sojiwan masih melaksanakan pembongkaran bangunan utama, di mana pada kondisi bangunan ketika akan dibongkar yang masih tersisa secara insitu adalah bagian pondasi dan kaki candi.

4. Pencarian Batu dan Penyusunan Ulang
Kegiatan pencarian batu dan penyusunan percobaan telah dimulai pada saat pra pemugaran dan diteruskan selama proses pemugaran.

16

Candi-Candi di Sekitar Candi Sojiwan
1. Candi Banyunibo

Candi Banyunibo yang berarti air jatuh-menetes (dalam bahasa Jawa) adalah candi Buddha yang berada tidak jauh dari Candi Ratu Boko, yaitu di bagian sebelah timur dari kota Yogyakarta ke arah kota Wonosari. Candi ini dibangun pada sekitar abad ke-9 pada saat zaman Kerajaan Mataram Kuno. Pada bagian atas candi ini terdapat sebuah stupa yang merupakan ciri khas agama Buddha.

17

Candi Banyunibo berada di sekitar komplek reruntuhan Kraton Ratu Boko, tepatnya di dataran rendah di Dusun Cepit, Bokoharjo, Prambanan. Setelah mengunjungi Ratu Boko, Anda dapat dengan mudah menemukan candi ini. Terletak kurang lebih 2 kilometer sebelah barat daya dari Ratu Boko. Lokasinya terlihat menyendiri di antara kawasan pertanian dengan latar belakang bukit Gunung Kidul di arah selatan.

2. Candi Kalasan
Candi Kalasan atau Candi Tara dibangun sekitar akhir abad ke 8 M atau awal abad ke 9 M di atas bangunan candi kuno. Sebuah prasasti kuno yang dibuat pada tahun 778 M atas perintah Rakai Panangkaran dan ditemukan tidak jauh dari candi dan memberikan penjelasan bahwa candi dibangun untuk menghormati Bodhisattya wanita, Tara. Pada awalnya, hanya ditemukan satu candi pada situs yaitu candi Kalasan, tetapi setelah digali lebih dalam maka ditemukan lebih banyak lagi bangunan pendukung di sekitar candi.

18

Candi ini memiliki tinggi 6 meter dan 52 stupa.Prasasti ini juga menyatakan bahwan candi ini dibuat oleh dua raja secara bersama-sama yaitu raja dari Wangsa Syailendra dan raja dari Mataram Hindu yang tidak diketahui namanya di jaman Wangsa Syailendra. Candi yang berada kira-kira 2 km di sebelah barat dari candi Prambanan, yaitu di sisi jalan raya antaraYogyakarta dan Solo ini dikategorikan sebagai candi umat Buddha. Meskipun belum diketahui dewa apa yang dijadikan simbol sebagai patung di ruang utama candi, tetapi patung ini mempunyai tinggi lebih dari 6 meter dan terbuat dari perunggu.

3. Candi Plaosan
Kompleks Candi Plaosan secara administratif berada di wilayah Dusun Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten. Batas-batas wilayah yang mengelilingi Kompleks Candi Plaosan adalah Desa Kebondalem Lor di sebelah utara, Desa Kemuda di sebelah timur, Desa Taji di sebelah selatan, dan Desa Bugisan di sebelah barat, di sebelah utara dan timur kompleks mengalir Sungai Dengok. Kompleks Candi Plaosan letaknya berdakatan dengan candi-candi besar seperti Candi Prambanan yang beragama Hindu dan Candi Sewu yang beragama Buddha serta dengan candi-candi kecil, misalnya Candi Gana, lokasi di mana candi-candi tersebut berada sering disebut dengan istilah Dataran Prambanan atau terkenal dengan Siwa Plateau. Kompleks Candi Plaosan berlatar belakang agama Buddha. Hal ini diketahui dari arca-arca yang terdapat di dalam bilik-bilik Candi Induk maupun arca yang terdapat pada Mandapa. Selain itu atap candi yang berbentuk stupa juga mencirikan latar belakang agama candi tersebut. Kompleks Candi Plaosan didirikan sekitar abad IX Masehi oleh Sri Kehulunan atau Pramodawarddhani, ratu yang menganut agama Buddha dengan dibantu oleh suaminya Rakai Pikatan, raja yang menganut agama

19

Hindu. Dari segi arsitektur, Kompleks Candi Plaosan memiliki arsitektur unik dan berbeda dengan candi-candi pada umumnya. Ciri khusus terutama dapat dilihat pada candi induknya yang terdiri dari dua tingkat.

Masing-masing Candi Induk dikelilingi dengan candi dan stupa perwara. Di sebelah utara kedua candi induk terdapat sebuah bangunan terbuka yang disebut Mandapa, bangunan tersebut juga dikelilingi oleh perwara. Pada beberapa candi ditemukan prasasti dan tulisan singkat yang memuat gelar dan nama tokoh. Prasasti lain ditemukan pada lempengan emas atau perak yang berisi mantra-mantra untuk memuja dewa yang dituliskan dalam bahasa Sansekerta.

20

4. Candi Prambanan

Candi Loro Jonggrang yang sering disebut Candi Prambanan terletak persis di perbatasan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Propinsi Jawa Tengah, kurang lebih 17 km ke arah timur dari kota Yogyakarta atau kurang lebih 53 km sebelah barat Solo. Kompleks Percandian Prambanan ini masuk kedalam 2 wilayah yakni komplek bagian barat masuk wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan bagian timur masuk wilayah Propinsi Jawa Tengah. Nama “Loro Jonggrang” berkaitan dengan legenda yang menceritakan tentang seorang dara yang jonggrang atau gadis jangkung putri Prabu Boko. Candi Prambanan adalah kelompok percandian Hindu yang dibangun oleh raja-raja Dinasti Sanjaya pada abad IX. Ditemukannya tulisan nama Pikatan pada candi ini menimbulkan pendapat bahwa candi ini dibangun

21

oleh Rakai Pikatan yang kemudian diselesaikan oleh Rakai Balitung berdasarkan prasasti berangka tahun 856 M “Prasasti Siwargrha” sebagai manifest politik untuk meneguhkan kedudukannya sebagai raja yang besar.

5. Candi Sambisari

Candi Sambisari adalah candi Hindu (Shiwa) yang berada kira-kira 12 km di sebelah timur kota Yogyakarta ke arah kota Solo atau kira-kira 4 km sebelum kompleks candi Prambanan. Candi ini dibangun pada abad ke 9 pada masa pemerintahan raja Rakai Garung di zaman kerajaan Mataram Kuno. Posisi candi Sambisari terletak 6,5 meter di bawah tanah, kemungkinan besar karena tertimbun lahar dari gunung Merapi yang meletus secara besar-besaran pada awal abad 11 (circa tahun 1006). Hal ini terlihat dari banyaknya batu material volkanik di sekitar candi. Candi ini ditemukan pada tahun 1966 oleh seorang petani di desa Sambisari yang diabadikan menjadi nama candi tersebut, dan dipugar pada tahun 1986 oleh Dinas Purbakala.

22

6. Candi Sari

“Sari” berarti ” indah” atau “cantik” sesuai bentuknya yang ramping. Mungkin karena keindahannya yang menarik perhatian maka dinamakan emikian. Puncak atapnya berhiaskan 9 stupa yang sama sebangun dan tersusun dalam 3 deret. Di bawah masing-masing stupa terdapat ruanganruangan bertingkat 2 yang digunakan sebagai tempat tinggal, tempat meditasi dan mengajar. Arca-arca bodhisatwa terpahat pada dinding luarnya. Dinding ini dihias dengan amat indahnya. Biara Buddha yang dibangun pada abad 8 Masehi ini terletak pada sisi kiri Jalan Raya YogyaSolo, masuk 500 meter ke arah utara. Berdasarkan arca dan relief dewa yang terpahat dapat diketahui bahwa latar belakang keagamaan Candi Sari adalah Buddha. Adanya pembagian ruang mengindikasikan bahwa Candi Sari digunakan sebagai wihara (asrama pendeta). Tahun pendirian candi belum dapat ditentukan,

23

akan tetapi berdasarkan keterangan tentang keberadaan wihara dalam Prasasti Kalasan dapat diperkirakan bahwa candi ini satu zaman dengan Candi Kalasan, yaitu dari abad 8 Masehi.

7. Candi Sewu
Candi Sewu terletak di Dukuh Bener, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan Kabupaten Klaten Propinsi Jawa Tengah. Candi Sewu dapat ditempuh dari Yogyakarta sejauh lebih kurang 17 km ke arah timur sampai kompleks Candi Prambanan kemudian berjalan ke utara lebih kurang 1 km. Sedangkan secara geografis terletak pada 110o 29’29’’ BT dan 7o44’40’’ LS dengan ketinggian 160,793 m di atas permukaan laut. Candi Sewu berada dalam lngkungan TWC Prambanan yang menjadi satu kawasan dengan candi Prambanan, Candi Lumbung dan Candi Bubrah. Candi Sewu Lumbung, Bubrah, dan Gana berlatar belakang agama Buddha.

24

8. Keraton Ratu Boko

Situs Keraton Ratu Boko berada di kawasan Wisata Budaya, 3 km sebelah selatan Candi Prambanan secara Administratif situs ini terletak di dua wilayah dusun yaitu sebelah timur masuk dusun Sumberwatu, Desa Sambirejo. Kesemuanya masuk dalam wilayah kecamatan Prambanan, Kabupaten Dati II Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sumber prasasti yang dikeluarkan oleh Rakai Panangkaran tahun 746-784 Masehi, pada awalnya bangunan yang ada di kawasan Wisata Kraton Ratu Boko disebut Abhayagiri Wihara. Abhaya berarti tidak ada bahaya, Giri berarti bukit/ gunumg, wihara berarti tempat/asrama. Dengan demikian Abhayagiri berarti asrama/wihara para biksu agama Buddha yang terletak di atas bukit penuh kedamaian. Pada masa berikutnya antara tahun 856- 863 Masehi. Abhayagiri Wihara berganti nama menjadi Kraton Walaing yang diproklamirkan oleh Raja Vasal bernama Rakai Walaing Pu Kumbayoni. Prasasti Mantyasih yang berangka tahun 898-908 Masehi

25

yang dikeluarkan oleh Rakai Watukara Dyah Balitung masih nama Walaing sebagai asal-usul Punta Tarka sang pembuat prasasti Mantyasih. Dari awal abad 10 hingga akhir abad 16 tidak ada berita sedikitpun yang sampai kepada kita ini, mengenai bagaimana nasib Kraton Walaing ini.

9. Candi Ijo

Candi Ijo merupakan salah satu jenis candi bercorak Hindu. Dinamakan Candi Ijo karena candi ini terletak di sebuah lereng bukit padas yang bernama Gunung Ijo yang ketinggiannya sekitar 410 m di atas permukaan laut. Secara administratif, kompleks candi ini terletak pada Dusun Groyokan,Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman.

26

Untuk ke lokasi candi ini, diperlukan waktu kurang lebih 30 menit dari Candi Sojiwan dengan menggunakan kendaraan bermotor. Situs Candi Ijo merupakan kompleks percandian yang berteras-teras yang semakin meninggi ke belakang dengan bagian belakang sebagai pusat percandian. Pola semacam ini berbeda dengan pola-pola percandian yang berada di dataran Prambanan. Adapun pola yang semakin meninggi ke belakang seperti halnya pada Candi Ijo adalah suatu keunikan, karena pola semacam ini lebih banyak dijumpai pada candi-candi dari masa Jawa Timur.

10. Candi Barong

Secara administratif, Candi Barong terletak di dusun Candisari, kelurahan Bokoharjo, Prambanan, Yogyakarta. Posisi Candi Barong berada dekat dengan Candi Ratu Boko. Untuk menuju ke sana dibutuhkan waktu kurang lebih 30 menit dari Candi Sojiwan.

27

Candi Barong diperkirakan dibangun sekitar abad IX-X Masehi. Latar belakang keagamaan candi ini adalah Hindu. Hal ini diketahui dari adanya temuan arca yang diidentifikasikan sebagai Dewi Sri, istri Dewa Wishnu yang merupakan dewi kesuburan, adanya hiasan kerang bersayap (sankha) yang merupakan salah satu simbol (laksana) dewa Wishnu, dan bagian puncak bangunan (kemuncak) yang berbentuk permata (ratna).

28

Asal-Mula Nama Dusun di Kebondalem Kidul
Daerah Kebondalem Kidul merupakan suatu daerah yang unik. Kaya akan sejarah dan juga peradaban. Hanya saja belum begitu terekspos oleh masyarakatnya. Sehingga semua yang seharusnya bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan, tak terolah. Daerah Kebondandalem Kidul terdiri dari 11 RW/Kampung dengan beberapa RT mempunyai nama sendiri - sendiri, dengan setiap kampung mempunyai nama nama yang unik. Diantaranya Ngangkruk, Tegalharjo, Sri Mulyo, Koplak, Tloyo, Kentheng, Ngentak, Kadipaten Kidul, Kadipaten Lor. Dalangan, Watutumpeng, Sentul, Bero, Kebondalem, Kalongan, Sojiwan, Kwaron, Banjarsari, Bendo, Gempol, Tegal Sakti, Manunggal Sakti. Namun di sini hanya akan disampaikan beberapa saja mengenai asal mula pemberian nama tersebut. Yaitu Koplak, Gempol, dan Banjarsari.

Koplak
Sebelum dinamakan Koplak, daerah ini merupakan tempat permberhentian kereta kuda atau dalam bahasa jawa dikenal dengan Koplak. Dengan sejarah demikian, akhirnya daerah ini dinamakan Koplak yang artinya terminal delman

Gempol
Daerah Gempol ada di sebelah selatan daerah Koplak. Karena daerah ini saling berdekatan, maka imbasnya setiap memasuki daerah ini, orang mencium bau tak sedap yang disebabkan oleh timbunan kotoran kuda. Yang istilahnya Gempol. Jadilah daerah ini dinamai dengan Gempol yang artinya kotoran kuda

29

Banjarsari
Awalnya daerah ini terdiri dari tiga dusun dengan nama Bendo, Pudak Sari, dan Tegal Bendo. Kemudian pada tahun 1964 terjadilah peristiwa yang menggemparkan seluruh warga ketiga dusun itu yaitu dengan tewasnya empat warga Pudak sari secara beruntun. Suatu malam ada tiga orang anak yang bermain jalangkung, sebuah boneka buatan yang digunakan untuk mengundang arwah, yang diyakini bisa menuruti apa yang diperintahkan oleh pembuatnya. Malam itu telah larut. Sesaat kemudian nenek mereka, mbah Harjo membuatkan singkong rebus untuk mereka. Keesokan harinya sang nenek meninggal, beberapa jam kemudian cucu pertama meninggal. Setelah itu diperiksakan pada seorang perawat. Dia mengindikasikan bahwa keduanya keracunan. Setelah itu dua anak yang lain juga meninggal. Setelah kejadian itu, gemparlah seluruh desa. Singkat cerita, dipanggilah orang pintar (dukun). Dengan melihat keanehan di samping kejadian itu, yaitu dengan hanya layunya setengah dari semua daun di pohon kelor, sang dukun mengira bahwa daerah itu telah menerima adanya bencana atau biasa disebut pageblug dengan indikasi adanya teluh brojo (semacam sinar yang turun dari langit) yang menjatuhi daerah tersebut. Kemudian ia memerintahkan seluruh warga untuk mengungsi dengan warga pria tinggal di tempat dan diperintahkkan untuk ronda mengelilingi kampung dengan telanjang bulat. Atas alasan itu, akhirnya ketiga kampong, Bendo, Pudak Wari dan Tegal Bendo disatukan dengan nama Banjarsari. Dimana Banjar artinya panjang dan sari artinya kebaikan. Dengan demikian tujuan daerah itu dinamakan Banjarsari dengan harapan kebaikannya pada daerah tersebut dapat berlangsung lama.

Sojiwan
Sama halnya dengan nama Prambanan, yang sebenarnya Brambanan karena tempat tinggalnya Brahmana, nama Sojiwan juga diambil dari nama sesepuh di daerah tersebut yaitu Kyai Sojiwo. Sehingga dinamakan Sojiwan.

30

Sarana dan Prasarana Umum
1. Kantor Pemerintahan
a) Kantor Kecamatan Prambanan Pimpinan : Bambang Sujarwa, S.E, M.M Alamat : Jln. Raya Yogya-Solo Km. 13 Telepon : (0274) 496004 b) Kantor Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah Alamat : Jalan Manisrenggo Km. 1, Prambanan, 57454 Telepon : (0274) 496413, 497912 Fax : (0274) 496413 c) d) Kantor PT. Taman Wisata Candi (Unit Prambanan) Alamat : Jl. Raya Jogja - Solo Km.16, Prambanan, Klaten Telepon : (0274) 496401 Fax : (0274) 496403 Kantor PT. Taman Wisata Candi (Ratu Boko) Alamat : Jl. Piyungan, Prambanan, Jogjakarta Telepon : (0274) 496510 Fax : (0274) 496510

e) Polsek Prambanan Alamat : Jl. Manisrenggo No. 2 Telepon : (0274) 496905

31

2. Perbankan
a) Bank Jateng Capem Prambanan Alamat : Jl. Raya Yogya-Solo Km.13, No. 999, Tlogo, Prambanan, Klaten : (Pusat) Jl. Pemuda 142, Semarang Telepon : (0274) 498300-498400 b) PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Prambanan Alamat : Kranggan, Bokoharjo, Prambanan, Sleman Telepon : (0274) 487450 c) Bank Danamon Unit Prambanan Alamat : Jl. Barat Pasar Prambanan, Prambanan, Sleman Telepon : (0274) 7467056 d) BPR-BPR dan Bank terdekat 1) BPR Shinta Daya 2) BPR Danagung Ramulti 3) BPR Sinar Enam Permai 4) Bank Pasar Klaten e) ATM Terdekat ATM BCA, ATM BRI, ATM Mandiri

C. Rumah Makan dan Pusat Oleh-oleh
a) RM. Sendang Ayu Alamat : Jl. Yogya-Solo Km. 15, Kalasan, Yogyakarta Telepon : (0274) 6991310 b) Grafika Restoran Pimpinan : Evilsiana Alamat : Jl. Yogya Solo KM 15, Gampar, Tamam Martani, Sleman, Yogyakarta Telepon : (0274) 498410 Info lain : Juga memiliki toko pusat oleh-oleh

32

c) Toko Family Agung Group Prambanan Alamat : Tlogo Kidul, Prambanan Telepon : (0274) 6625148 d) Toko Enggal Rasa Alamat : Jl. Yogya-Solo Km. 18 Sidodadi, Prambanan Telepon : (0274) 6812953

4. Informasi dan Telekomunikasi
a) PT. Pos Cabang Prambanan Alamat : Jl. Yogya-Solo Kios Prambodo Harjo, Prambanan Telepon : (0274) 496626 Info lain : Juga melayani Tabungan Shar-e (Muamalat) dan Tabungan BataraPos (BTN) b) Radio Roro Jonggrang Alamat : Jl. Pamukti Baru No. 9 Telepon : (0274) 496163 Info lain : Frekuensi AM 648 Khz

5. Penginapan
a) Poeri Devata Resort Hotel Alamat : Klurak, Taman Martani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta, 55571 Telepon : (0274) 496453, 496435 Fax : (0274) 496354 b) Candi View Hotel Alamat : Jl. Candi Sewu, Prambanan Telepon : (0274) 496305, 7151222

33

1) Hotel Ny.Muharti, Ngangkruk Kebondalem,Telp. 0274-496103 2) Hotel Sari, Ngangkruk Kebondalem Kidul, Telp 0274-496595 3) Hotel Prambanan Indah, JL.Candi Sewu Prambanan 4) Hotel Ramayana, Jl.Candi Sewu Prambanan 5) Hotel Kenanga II, Jl.Candi Sewu Prambanan 6) Hotel Srikandi, Jl.Candi Sewu Prambanan, Telp 0274-497831 7) Hotel Kenanga I, Jl.Candi Sewu Prambanan, Telp 0274-496370 8) Hotel Mawar I, Jl.Candi Sewu Prambanan, Telp 0274-496707 9) Hotel Mawar II, Jl.Candi Sewu Prambanan 10) Hotel Dewi Sinta, Jl.Candi Sewu Prambanan 11. Hotel Asri, JL.Candi Sewu Prambanan, Telp 0274-496941 12. Restu Ibu, Jl.Candi Sewu Prambanan 13. Hotel Puri Jonggrang, Jl.Candi Sewu Prambanan, Telp 0274-496708 14. Astha Graha, Bugisan Prambanan 15. Botan Hotel, JL.Manisrenggo Prambanan 16. Hotel Galuh, Jl.Manisrenggo Prambanan, Telp 0274-496855 17. Hotel Puri Indah, Sunggingan Pereng Prambanan 18. Hotel Prima, Karang Putih Tlogo Prambanan, Telp 0274-496579 19. Hotel Mawar II, Jontakan Taji Prambanan

6. Transportasi
a) Terminal Trans Jogja (Jalur 1A) b) Stasiun Prambanan

34

Tim Penyusun
Tim KKN-PPM UGM, Unit 80, Klaten, Jawa Tengah Periode Antar Semester 2008             Abi Stanza Andi Krismawan Anggara Indra Putra Arifiani Catur Atmaji Fatur Rachman Ferry Purwantoro Gunawan Saputra Hamidah Irsyad Ardhi Monna Rozana Muhammad Hasanudin            M. Rezki Hermansyah Ni Wayan Primanovenda Rezalino Zaini Rindita Anggarini Santosa Syamsuardi Alpat Teguh Mardiyanta Tika Dewi Listiarini Wahyu Rahmaniar Wulan Fitria Suryaningsih Wihikanwijna Zulfria Nanda

35

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.