BAB V Keselamatan Pelayaran

Halaman 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Penarapan .................................................................... 401 401 402 405 407 407 409 409 411

Berita-Berita Bahaya ...................................................... Informasi yang disyaratkan dalam Berita-Berita Bahaya Layanan meteorologi ...................................................... Layanan patroli es ......................................................

Patroli es : pengelolaan & pembiayaan ...................... Kecepatan di dekat es. ................................................... Pengaturan rute kapal .......................................... 8.1. Sistem pelaporan kapal ....................................

9.

Penyalahgunaan isyarat darurat ................................. 413

10.

Berita-berita bahaya : Kewajiban

dan pro sed ur ...... ...... ...... ...... ...... ...... ...... .....

414 10.1. Kebijakan Nahkoda dalam pengambilan keputusan tindakan keselamatan ...... 415 11.
12. 13. 14. 15.

Lampu -lampu isyarat ................................................... 415
Perlengkapan navigasi di kapal ................................... Pengawakan ................................................................. Alat bantu navigasi...................................................... Pencarian dan pertolongan (SAR)................................. 15.1. Tata susunan penarikan darurat pada kapal tangki................................. .............. 406 411 411 412

412 413 413 417 417 417 417 419 419 419 419

16. 17. 18. 19.

Sinyal keselamatan ...................................................... Susunan pengalihan pandu .......................................... Radio telepon VHF ..................................................... Penggunaan pemandu otomatis...................................... 19.1. Pengoperasian peralatan kemudi ..................... 19.2. Peralatan kemudi : Pengujian dan peragaan ....................................

20. 21. 22. 23.

Publikasi maritim ......................................................... Kode internasional tentang sinyal ............................... Kesiagaan anjungan ..................................................... Pembatasan pengoperasian ..........................................

Peraturan 1 Penerapan
Kecuali yang dengan tegas ditentukan lain bab ini, berlaku bagi semua kapal di semua perjalanan pelayaran, kecuali kapal-kapal perang dan kapal-kapal yang khusus melayari Great Lakes di Amerika Utara dan perairan-perairan penghubung dan terusan-terusannya sejauh ke Timur sampai jalan keluar hulu dan St. Lambert Lock di Montreal di Provinsi Quebec, Kanada.

Peraturan 2 Berita-berita Bahaya
(a) Nakhoda tiap kapal yang menjumpai es berbahaya, kerangka yang berbahaya atau bahaya langsung lain yang membahayakan navigasi atau badai tropis atau menjumpai suhu-suhu udara dibawah titik beku disertai dengan angin-angin kencang yang mengakibatkan bertambahnya jumlah es secara luar biasa pada bangunan-bangunan atas atau angin-angin yang berkekuatan 10 atau lebih pada skala Beaufort yang mana sebelumnya tidak diterima peringatan-peringatan badai wajib memberi informasi tersebut dengan segala sarana yang tersedia kepada semua kapal yang berada di sekitarnya, dan juga kepada pejabat yang berwenang di darat yang dapat dihubungi pada kesempatan pertama.Bentuk pengiriman informasi tidak mengikat. Informasi boleh disampaikan dalam bahasa sederhana dan mudah dimengerti (disukai dalam bahasa Inggris) atau menggunakan kode isyarat internasional. Informasi harus disiarkan kepada semua kapal disekitarnya dan dikirimkan ke tempat pertama di darat ke mana dapat diadakan hubungan dengan permintaan untuk dipancarkan kepada pejabat berwenang.

(b) Masing-masing Pemerintah Penandatangan akan mengambil semua langkah yang perlu untuk menjamin bahwa pemberitahuan dari bahaya apapun yang dapat dirinci dalam paragraf (a) peraturan ini dapat diterima, akan diberitahukan dengan segera kepada yang bersangkutan dan menghubungi negara-negara lain yang berkepentingan. (c) Penyiaran berita-berita tentang bahaya-bahaya tersebut adalah cuma-cuma kepada kapal-kapal yang bersangkutan. (d) Semua berita radio yang dikeluarkan berdasar paragraf (a) peraturan ini harus diawali dengan isyarat keselamatan, menggunakan prosedur yang ditetapkan oleh Peraturan-peraturan Radio sebagaimana didefinisikan dalam Peraturan 2 Bab IV.

Peraturan 3 Informasi yang disyaratkan dalam berita-berita bahaya
Dalam berita-berita bahaya disyaratkan informasi berikut ini : (a) Es, kerangka-kerangka kapal dan bahaya-bahaya langsung lain untuk navigasi (i) (ii) B (b) Jenis es, kerangka kapal atau bahaya yang dilihat Posisi es, kerangka-kerangka kapal atau bahaya ketika terakhir dilihat Waktu dan tanggal (waktu menengah internasional, Greenwich) bahaya tersebut terakhir dilihat.

Badai tropis ((harikan di Hindia Barat, taifun di Laut Cina Selatan, siklun di Samudera Hindia dan badai serupa di daerah lain) (i) Pernyataan bahwa telah dijumpai badai tropis. Kewajiban ini harus ditafsirkan secara luas dan informasi disiarkan bilamana nahkoda memiliki alasan yang kuat untuk memastikan bahwa suatu badai sedang berlangsung atau ada di sekitarnya. Waktu dan tanggal (waktu menengah, Greenwich) dan posisi kapal ketika pengamatan dilakukan. Sebanyak yang dapat dilaksanakan dari informasiinformasi berikut yang harus dimasukkan dalam berita-

(ii) (iii)

berita; S tekanan barometris*, lebih baik yang telah dikoreksi(dalam milibar, milimeter atau inci dan apakah telah dikoreksi atau belum) ; kecenderungan barometris(perubahantekanan barometris selama tiga jam yang beru berlalu) arah angin sejati kekuatan angin (skala Beaufort) keadaan laut (tenang, berombak sedang, berombak besar, bergelombang) alun (rendah, sedang atau panjang)dan arah sejati dari mana alun tersebut datang. Periode atau panjang alun (pendek,sedang, panjang) hendaknya juga disertakan dengan nilainya haluan sejati dan kecepatan kapal

S S S S S

S (c)

Pengamatan beruntun

Bilamana seorang nahkoda telah melaporkan suatu badai tropis atau badai berbahaya yang lain sebaiknya tetapi tidak diharuskan melakukan pengamatan-pengamatan lebih lanjut dan menyiarkannya tiap jam jika mungkin, tetapi bagaimanapun juga dengan selang waktu tidak lebih dari tiga jam selama kapal tetap ada di dalam pengaruh badai itu. (d) Angin berkekuatan 10 atau lebih dalam skala Beaufort untuk mana tidak diterima peringatan badai.

Hal dimaksud berkenaan dengan badai-badai tropis yang ditunjukkan di dalam paragrap (b) Peraturan ini; bila mana badai demikian dejumpai berita itu hendaknya berisi informasi serupa dengan yang termaktub dalam paragrap tersebut, tetapi tidak melipuri perincianperincian tentang keadaan laut dan alun. (e) Suhu-suhu udara dibawah titik beku yang disertai dengan angin kencang yang menyebabkan terjadinya penimbunan es yang luar biasa pada bagunan atas.

*

Standar internasional untuk unit tekanan barometris dalam hektopascal (hPa) yang setara dengan milibar (mbar)

(i) (ii) (iii) (iv)

Waktu dan tanggal (Waktu menengah Greenwich) Suhu udara Suhu laut (jika mungkin) Kekuatan dan arah angin

Contoh-contoh Es TTT ES., TAMPAK GUNUNG ES BESAR DI 4506 U., 4410 B., PUKUL 0800 WMG., 15 MEI Kerangka Kapal TTT KERANGKA KAPAL., NAMPAK KERANGKA KAPAL HAMPIR TENGGELAM DI 4006 U., 1243 b., PUKUL 1630 WMG., 21 APRIL Bahaya Navigasi TTT NAVIGASI., KAPAL SUAR ALPHA TIDAK ADA DI POSISINYA., PUKUL 1800 WMG., 3 JANUARI Badai Tropis TTT BADAI., 0030 WMG., 18 AGUSTUS., 11354 t., 2004 U., BAROMETER DIKOREKSI 994 MILIBAR., CENDERUNG TURUN 6 MILIBAR., ANGIN BL., KEKUATAN 9., ANGIN KENCANG TIBA-TIBA DISERTAI HUJAN DAN SALJU ALUN TIMUR BESAR., HALUAN 067.5 KNOT TTT BADAI., GEJALA MENUNJUKKAN ADA HARIKAN YANG MENDEKAT0200WMG. 14 SEPTEMBER., 2200 U., 7236 B., BAROMETER DIKOREKSI 29.64 INCI., CENDERUNG TURUN 0.015 INCI., ANGIN TL.,KEKUATAN 8., SERING HUJAN DISERTAI ANGIN TIBA-TIBA ., HALUAN 035,9 KNOT TTT. BADAI., KEADAAN YANG MENUNJUKKAN SIKLUN YANG KUAT TERJADI., 0200WMG.,4MEI., 1620 U., 9203 T., BAROMETER BELUM DIKOREKSI 753 MILIMETER, CENDERUNG TURUN 5 MILIMETER., ANGIN SELATAN KE BARAT., KEKUATAN 5., HALUAN 300.8 KNOT TTT BADAI. TAIFUN DI ARAH TENGGARA., 0300 WMG, 12 JUNI., 1812 U., 12605 T. BAROMETER TURUN DENGAN CEPAT., ANGIN BERTAMBAH KENCANG DARI U TTT BADAI., KEKUATAN ANGIN 11., TIDAK DITERIMA PERINGATAN BADAI., 0300WMG., 4 MEI., 4830 U., 70 B.,

BAROMETER DIKOREKSI 983 MILIBAR., CENDERUNG TURUN 4 MILIBAR., ANGIN BD., KEKUATAN 11 BERPUTAR KE ARAH JARUM JAM., HALUAN 260.6 KNOT Pembentukan es TTT MENGALAMI PEMBENTUKAN ES YANG DAHSYAT., 1400 WMG., 2 MARET ., 67 U., 10 B., SUHU UDARA 18., SUHU AIR LAUT 29., ANGIN TL., KEKUATAN 8

Peraturan 4 Layanan Meteorologi
(a) Pemerintah penandatangan mengambil langkah untuk menganjurkan pengambilan cuaca oleh kapal-kapal di laut dan menata penelitian penyebaran dan pertukaran data-data dengan cara yang paling sesuai dengan tujuan membantu kegiatan naviga ***. Badan Pemerintah hendaknya menganjurkan atas permintaan digunakannya peralatan-peralatan dengan ketelitian tinggi dan harus menyediakan kemudahan pengujian peralatan peralatan demikian. (b) Secara khusus pemerintah penandatangan mangambil langkah bekerja sama dalam pelaksanaan sejauh dapat dilaksanakan peraturan meteorologis berikut : (i) memperingatkan kapal-kapal tentang adanya angin-angin kencang, badai dan badai tropis, baik dengan siaran berita-berita radio maupun isyarat-isyarat yang sesuai pada stasiun-stasiun radio pantai. menyiarkan tiap hari dengan buletin cuaca yang sesuai bagi pelayaran berisikan data-data cuaca yang ada, ombak dan es, ramalan dan bila memungkinkan informasi tambahan yang cukup untuk memungkinkan disiapkannya peta-peta cuaca sederhana di laut dan juga mengambil langkah memancarkan faksimili peta cuaca yang sesuai menyiapkan dan menyiarkan terbitan-terbitan demikian sebagaimana yang diperlukan untuk melakukan meteorologi yang efisien di laut dan merata, jika dapat dilaksanakan penerbitan dan menyediakan peta-peta cuaca harian untuk informasi bagi kapal-kapal yang berangkat mengatur kapal-kapal terpilih untuk dilengkapi dengan

(ii)

(iii)

(iv)

*Mengacu pada resolusi A.528(13), Rekomendasi tentang rute cuaca

peralatan-peralatan teruji (seperti barometer, barograf, psikrometer dan alat yang sesuai untuk mengukur suhu laut) untuk dugunakan dalam pelayaran ini, dan mengadakan pengamatan meteorologis pada waktu-waktu tolok untuk pengamatan-pengamatan sinopsis pada permukaan air (paling kurang empat kali sehari, bilamana keadaan memungkinkan) dan menganjurkan kapal-kapal lain mengadakan pengamatan dalam bentuk yang diubah, terutama di tempat-tempat yang pelayarannya tidak ramai; kapal-kapal ini supaya menyiarkan pengamatanpengamatan mereka dengan radio untuk kepentingan berbagai layanan meteorologi resmi dengan mengulangulang informasi itu demi kepentingan kapal-kapal di sekitarnya. Bilamana ada di dekat suatu badai tropis atau yang diperkirakan badai tropis kapal-kapal hendaknya digalakkan untuk mengadakan dan menyiarkan pengamatannya dengan selang waktu yang pendek bilamana memungkinkan dengan memperhatikan tugastugas navigasi perwira kapal dalam keadaan badai. (v) menata penerimaan dan penyiaran berita-berita cuaca dari dan ke kapal dengan menggunakan stasiun radio pantai. Kapal-kapal yang tidak mampu mengadakan komunikasi langsung dengan daratan harus dianjurkan untuk memancar-teruskan berita-berita cuacanya melalui kapalkapal cuaca atau melalui kapal lain yang sedang berhubungan dengan pantai. menggalakkan semua nahkoda untuk membantu kapalkapal di dekatnya dan juga stasiun-stasiun pantai bilamana mereka mengalami angin dengan kecepatan 50 knot atau lebih (kekuatan 10 skala Beaufort) berusaha memperoleh prosedur yang seragam berkaitan dengan layanan-layanan meteorologi internasional yang telah dirinci dan sejauh memungkinkan memenuhi peraturan teknis dapat dan rekomendasi yang dibuat oleh Badan Meteorologi Dunia yang akan dijadikan acuan bagi pemerintah penandatangan untuk studi dan saran atas setiap pertanyaan meteorologi yang muncul dalam melaksanakan konvensi ini.

(vi)

(vii)

(c) Informasi yang ditetapkan di dalam peraturan ini harus diadakan dalam bentuk untuk penyiaran dan dipancarkan sesuai urutan tingkat prioritas yang ditetapkan oleh Peraturan Radio dan selama penyiaran Akepada semua stasiun@ tentang informasi prakiraan dan peringatan meteorologi, semua stasiun-stasiun di kapal harus memenuhi persyaratan tentang Peraturan Radio.

(d) Prakiraan,peringatan, laporan sinopsis dan laporan cuaca lain yang diperuntukkan bagi kapal-kapal harus diberikan dan disebarluaskan oleh Badan Meteorologi Nasional di tempat yang paling baik untuk melayani berbagai zona dan daerah selaras dengan persetujuan bersama yang diadakan oleh pemerintah penandatangan yang bersangkutan.

Peraturan 5 Layanan Patroli Es
(a) Pemerintah-pemerintah penandatangan mengambil langkah melanjutkan untuk patroli es dan layanan untuk studi dan mengamati keadaan es di Atlantik Utara. Selama seluruh musim es, batas-batas daerah gunung es Tenggara, Selatan dan Barat Daya di dekat Grand Banks of Newfoundland harus diawasi dengan tujuan untuk dapat memberitahu kapal-kapal yang sedang lewat agar menjauh dari kawasan bahaya ini; untuk dapat mempelajari keadaan es pada umumnya; dan dengan maksud untuk memberi pertolongan di dalam batas daerah operasi kapal-kapal patroli itu. Selama waktu-waktu diluar musim es, studi dan pengamatan terhadap keadaan es harus dijalankan terus sebagaimana yang dianjurkan. (b) Kapal dan pesawat terbang yang digunakan oleh Pemerintah untuk ronda es dan mempelajari serta mengamati kondisi es dapat dibebani tugas-tugas lain oleh pemerintah pengelola dengan ketentuan bahwa tugas-tugas lain tersebut tidak akan mengganggu tugas pokok mereka atau menambah besarnya jumlah biaya layanan ini.

Peraturan 6 Patroli es : Pengelolaan dan Pembiayaan
(a) Pemerintah Amerika Serikat setuju melanjutkan patroli es dan studi serta pengamatan keadaan es, termasuk penyebarluasan informasi yang diperoleh dari kesemuanya itu. Pemerintah penandatangan yang secara khusus berminat dalam tugas ini berkewajiban menyumbangkan biaya perawatan dan pengoperasian ini; masing-masing sumbangan didasarkan pada tonase kotor total kapal dari masing-masing pemerintah penandatangan yang melewati kawasan-kawasan gunung es yang dikawal oleh kapal patroli es itu; khususnya, masing-masing pemerintah penandatangan yang berminat secara khusus wajib menyumbang setiap tahun untuk pembiayaan, untuk pemeliharaan dan pengoperasian tugas ini yang jumlahnya ditentukan berdasarkan perbandingan terhadap tonase kotor keseluruhan kapal-kapal dari pemerintah penandatangan yang selama musim es melewati kawasan gunung es yang dikawal oleh patroli es digabung dengan seluruh tonase kotor kapal semua negara penyumbang yang selama musim es melewati kawasan-kawasan gunung es yang dikawal oleh patroli es. Pemerintah yang bukan penandatangan yang berminat secara khusus boleh membayar untuk biaya-biaya yang dikeluarkan untuk

pemeliharaan dan pengoperasian ini berdasarkan ketentuan-ketentuan yang sama. Pemerintah pengelola setiap tahun akan menyerahkan kepada masing-masing pemerintah penyumbang suatu laporan seluruh biaya pemeliharaan dan pengoperasian ronda es dan bagian-bagian yang sebanding bagi masing-masing pemerintah penyumbang. (b) Masing-masing pemerintah penyumbang mempunyai hak untuk mengubah atau menghentikan iurannya, sedangkan pemerintahpemerintah penyumbang lain yang berminat boleh mengambil bagian untuk menymbang atas pembiayaan yang dikeluarkan. Pemerintah penyumbang yang menggunakan hak ini akan terus bertanggunag jawab terhadap sumbangan yang masuh berlaku baginya sampai tanggal 1 September setelah tanggal pemberitahuan tentang maksud untuk mengubah atau menghentikan sumbangannya itu. Untuk dapat menggunakan hak tersebut, pemerintah tersebut harus memberikan kehendaknya itu kepada pemerintah pengelola sekurang-kurangnya enam bulan sebelum tanggal 1 September tersebut. (c) Jika sewaktu-waktu Pemerintah Amerika Serikat hendak menghentikan tugas layanan ini, atau jika salah satu dari pemerintahpemerintah penyumbang ingin menyatakan kehendaknya untuk menanggalkan tanggung jawabnya atas iuran wajibnya atau agar sumbangannya diubah atau pemerintah penandatangan lain berkeinginan memikul biaya, pemerintah penyumbang harus menyelesaikan persoalannya untuk kepentingan mereka bersama. (d) Pemerintah-pemerintah penyumbang harus mempunyai hak atas mufakat untuk mengadakan perubahan-perubahan tersebut sewaktuwaktu di dalam ketentuan-ketentuan peraturan ini dan peraturan 5 dalam bab ini jika ternyata dikehendaki. (e) Jika peraturan ini menetapkan bahwa suatu tindakan dapat diambil setelah ada kesepakatan antara Pemerintah penyumbang, usulusul di ajukan oleh Pemerintah penandatangan yang manapun untuk memberlakukan peraturan tersebut harus disampaikan kepada pemerintah pengelola yang harus mendekati pemerintah penyumbang yang lain dengan maksud untuk memastikan apakah mereka menerima usul-usul tersebut, dan hasil-hasil dari pertanyaan-pertanyaan yang dibuat demikian itu harus dikirimkan kepada pemerintah penyumbang lainnya dan pemerintah penandatangan yang mengajukan usul-usul tersebut. Teristimewa, pengaturan-pengaturan yang berkenaan dengan sumbangan-sumbangan atas biaya pelayanan itu harus ditinjau kembali oleh pemerintah penyumbang dengan kurun waktu tidak lebih dari tiga tahun. Pemerintah pengelola harus memprakarsai tindakan yang dianggap perlu untuk maksud ini.

Peraturan 7 Kecepatan di dekat es

Bilamana dilaporkan adanya es di lintasan yang sedang dilalui atau didekatnya pada malam hari , nahkoda setiap kapal harus wajib melanjutkan pelayarannya dengan kecepatan sedang atau mengubah haluannya sehingga benar-benar bebas dari zona bahaya itu.

Peraturan 8 Pengaturan rute kapal
(a) Sistem pengaturan rute kapal memberikan andil dalam keselamatan kapal di laut, keselamatan dan efisiensi navigasi, dan/atau perlindungan bagi lingkungan laut. Sistem pengaturan rute kapal direkomendasikan untuk digunakan dan dibuat sebagai perintah, seluruh kapal dengan kategori tertentu atau yang mengangkut muatan tertentu ketika di adopsi dan diberlakukan sesuai dengan pedoman dan kriteria yang dikembangkan oleh Organisasi* *. (b) Organisasi dikenal sebagai satu-satunya badaninternasional yang mengembangkan pedoman, kriteria dan peraturan pada tingkat internasional untuk sistem pengaturan rute kapal. Pemerintah penandatangan harus mengajukan usulan penetapan sistem pengaturan rute kapal pada Organisasi. Organisasi akan memeriksa dan menyebarkan pada pemerintah penandatangan seluruh informasi yang diperlukan dengan memperhatikan setiap sistem pengaturan kapal yang ditetapkan. (c) Peraturan ini, beserta pedoman dan kriterianya, tidak berlaku tidak berlaku bagi kapal perang, kapal perang bantu atau kapal lain yang dimiliki atau dioperasikan oleh pemerintah penandatangan dan digunakan untuk sewaktu-waktu hanya oleh pemerintah untuk pelayanan non komersial; namun kapal tersebut di anjurkan untuk mendukung sistem pengaturan rute yang ditetapkan sesuai dengan peraturan ini. (d) Inisiatif tindakan untuk menetapkan sistem pengaturan rute kapal merupakan tanggung jawab pemerintah yang bersangkutan. Dalam pengembangan sistem tersebut untuk ditetapkan oleh Organisasi, pedoman dan kriteria yang dikembangkan oleh Organisasi harus dipertimbangkan. (e) Sistem pengaturan rute kapal harus dikirimkan kepada Organisasi untuk penetapan. Namun,pemerintah atau pemerintah yang memberlakukan sistem pengaturan rute kapal yang tidak ditujukan untuk dikirimkan ke organisasi untuk pengesahan atau yang belum

*

Mengacu pada Ketentuan Umum tentang pengaturan rute kapal yang disyahkan oleh Organisasi melalui resolusi A.572(14), sebagaimana telah ditambah dan diubah

disahkan oleh organisasi diminta untuk mengikuti sejauh memungkinkan petunjuk dan kriteria yang dikembangkan oleh Organisasi**. (f) Apabila dua pemerintah atau lebih mempunyai kepentingan bersama dalam daerah khusus, mereka harus merumuskan usulan bersama untuk menggambarkan dan menggunakan sistem pengaturan rute di tempat tersebut atas dasar persetujuan antar mereka. Setelah penerimaan proposal tersebut dan sebelum meneruskannya untuk ditetapkan, organisasi harus menjamin bahwa rincian proposal disebarkan pada pemerintah yang mempunyai kepentingan bersama dalam daerah tersebut, termasuk negara disekitar daerah sistem pengaturan rute kapal yang diusulkan. (g) Pemerintah penandatangan harus tunduk pada usaha-usaha yang ditetapkan oleh Organisasi yang menyangkut pengaturan rute kapal. Mereka harus mengumumkan seluruh informasi yang perlu untuk keamanan dan efektifitas penggunaan sistem tata pengaturan rute kapal yang ditetapkan. Satu pemerintah atau pemerintah yang bersangkutan boleh memantau lalu litas dalam sistem itu. Pemerintah penandatangan akan melakukan sesuatu dalam kekuasaannya untuk mengamankan pengguanaan yang sesuai bagi sistem pengaturan rute kapal yang ditetapkan oleh Organisasi. (h) Suatu kapal harus menggunakan sistem pengaturan rute kapal yang berlaku yang dusahkan oleh organisasi sesuai kebutuhan untuk jenis kapal atau muatan yang diangkut dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku kecuali terdapat alasan yang memaksa untuk tidak menggunakan sistem pengaturan rute kapal khusus tersebut.Setiap alasan harus dicatat dalam Buku Catatan Kapal (Log Book). (i) Sistem pengaturan rute kapal yang berlaku harus dikaji ulang oleh Pemerintah penandatangan atau Pemerintah yang bersangkutan sesuai dengan petunjuk dan kriteria yang dikembangkan oleh Organisasi*. (j) Seluruh sistem pengaturan rute kapal yang ditetapkan dan tindakan yang diambiluntuk menerapkan pemenuhan sistem tersebut harus sesuai dengan hukuminternasional termasuk konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut tahun 1972.

*

Mengacu pada ketentuan umum tentang pengaturan rute kapal yang ditetapkan oleh Organisasi sesuai resolusi A.572(14) sebagaimana telah ditambah dan diubah.

**Mengacu

pada ketentuan umum tentang pengaturan rute kapal yang ditetapkan oleh Organisasi sesuai resolusi A.572(14) sebagaimana telah ditambah dan diubah.

(k) Tidak ada satupun dalam peraturan ini atau pedoman dan kriterianya yang merugikan atas hak dan kewajiban Pemerintah sesuai hukum internasional atau peraturan kawasan dari selat internasional.

Peraturan 8-1 Sistem pelaporan kapal
(a) Sistem pelaporan kapal memberikan sumbangan yang besar bagi keselamatan jiwa di laut, keselamatan dan efisiensi navigasi dan perlindungan lingkungan laut. Suatu sistem pelaporan kapal, apabila ditetapkan dandilaksanakan menurut pedoman dan kriteria yang dikembangkan oleh Organisasi mengikuti peraturan ini, harus digunakan oleh seluruh kapal atau kategori kapal tertentu atau kapal yang mengangkut muatan tertentu sesuai dengan persyaratan tiap sistem yang ditetapkan itu. (b) Organisasi diakui sebagai satu-satunya badan internasional yang mengembangkan pedoman, kriteria dan peraturan pada tingkat internasional untuk sistem pelaporan kapal. Pemerintah penandatangan harus mengacu pada proposal untuk pengesahan sistem pelaporan kapal pada Organisasi. Organisasi akan memeriksa dan menyebarkan pada pemerintah penandatangan seluruh informasi yang diperlukan dengan memperhatikan setiap sistem pelaporan kapal yang ditetapkan. (c) Peraturan ini beserta petunjuk dan kriterianya tidak berlaku untuk kapal perang, kapal perang bantu atau kapal lain yang dimiliki atau dioperasikan oleh pemerintah penandatangan dan digunakan untuk sewaktu-waktu hanya oleh pemerintah untuk pelayanan non komersial; namun kapal tersebut di anjurkan untuk ikut serta dalam sistem pelaporan kapal yang telah ditetapkan sesuai dengan peraturan ini. (d) Inisiatif tindakan untuk menetapkan suatu sistem pelaporan kapal menjadi tanggung jawab pemerintah yang bersangkutan.Dalam pengembangan sistem tersebut persyaratan pedoman dan kriteria yang dikembangkan oleh organisasi harus dipertimbangkan. (e) Sistem pelaporan kapal yang tidak diserahkan kepada Orginisasi untuk pengesahan tidak perlu memenuhi peraturan ini.Namun Pemerintah yang menerapkan sistem tersebut diminta untuk mengikuti semaksimal mungkin, pedoman dan kriteria yang dikembangkan oleh Organisasi*. Pemerintah penandatangan dapat menyerahkan sistem

*

Mengacu pada pedoman dan kriteria tentang sistem pelaporan kapal yang ditetapkan Komite Keselamatan Maritim Organisasi dalam resolusi MSC.43(64). Menunjuk juga pada prinsip umum tentang sistem pelaporan kapal dan persyaratan pelaporan kapal, termasuk

tersebut dapat menyerahkan kepada Organisasi untuk mendapatkan pengakuan. (f) Bilama dua pemerintah atau lebih memiliki kepentingan pada daerah yang sama mereka harus menyusun proposal untuk sistem pelaporan kapal yang terkoordinasi berdasarkan pada persetujuan diantara mereka. Sebelum meneruskan proposal menjadi ketetapan sistem pelaporan kapal Organisasi harus menyebarkan rincian proposal kepada pemerintah yang mempunyai kepentingan yang sama di daerah yang dicakup dalam sistem yang diusulkan.Apabila sistempelaporan kapal yang terkoordinasi ditetapkan dan diberlakukan sistem tersebut harus memiliki prosedur dan pengoperasian yang seragam. (g) Setelah penetapan sistem pelaporan kapal sesuai dengan peraturan ini, maka pemerintah atau pemerintah yang bersangkutan harus mengambil semua upaya yang perlu untuk pengumuman atas informasi yang diperlukan untuk penggunaan sistem yang efisien dan efektif.Setiap sistem pelaporan yang ditetapkan harus mempunyai kemampuan untuk berinteraksi dan untuk membantu dengan informasi pada saat diperlukan. Sistem tersebut harus dioperasikan sesuai dengan pedoman dan kriteria yang dikembangkan oleh Organisasi mengikuti peraturan ini. (h) Nakhoda kapal harus memenuhi persyaratan sistem pelaporan kapal yang ditetapkan dan melaporkan pada pihak berwenang seluruh informasi yang diperlukan dengan ketentuan setiap sistem. (i) Seluruh sistem pelaporan kapal yang ditetapkan dan tindakan yang diambil untuk melaksanakan pemenuhan sistem tersebut harus taas pada hukum internasional termasuk persyaratan yang sesuai dari Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut. (j) Tidak satupun dari peraturan ini beserta pedoman dan kriteria yang akan merugukan atas hak dan kewajiban Pemerintah yang tunduk pada hukum internasional atau peraturan kawasan dari selat internasional. (k) Keikut-sertaan kapal sesuai ketentuan sistem pelaporan kapal yang ditetapkan harus harus bebas biaya bagi kapal-kapal yang bersangkutan. (l) Organisasi harus memastikan bahwa sistem pelaporan kapal yang ditetapkan ditinjau ulang sesuai dengan pedoman dan kriteria yang dikembangkan oleh Organisasi.

pedoman untuk pelaporan kejadian yang membahayakan, bahan-bahan bahaya dan atau pencemar laut yang disahkan oleh Organisasi dalam resolusi A.648(16)

Peraturan 9 Penyalahgunaan Isyarat Bahaya
Pemakaian isyarat bahaya internasional, selain dengan maksud untuk menyatakan bahwa kapal, pesawat terbang, atau orang dalam keadaan bahaya dan menggunakan isyarat yang yang dapat terkacaukan dengan isyarat bahaya internasional, dilarang digunakan.

Peraturan 10 Berita-berita bahaya : Kewajiban dan prosedur

(a) Nakhoda kapal di laut, jika memungkinkan harus memberi bantuan ketika menerima isyarat dari sumber manapun bahwa terdapat orang-orang dalam marabahaya di laut, harus berusaha untuk meningkatkan kecepatan untuk membantu mereka, jika memungkinkan memberi informasi pada mereka atau badan pencarian dan penyelamatan (SAR) bahwa kapalnya sedang melakukan pemberian bantuan.Jika kapal yang menerima berita marabahaya tidak bisa atau berada pada suatu kondisi;menganggap tidak memungkinkan atau tidak perlu untuk memberikan bantuan mereka, nakhoda harus mencatatnya dalam buku catatan kapal alasan mengapa tidak dapat memberikan bantuan pada orang-orang yang berada dalam marabahaya dan memperhatikan rekomendasi dari Organisasi* serta menginformasikan pada dinas layanan pencarian dan pertolongan (SAR) yang sesuai. (b) Nahkoda kapal yang dalam keadaan bahaya atau Badan Pencarian dan Pertolongan yang bersangkutan setalah berkonsultasi dengan nakhoda

sejauh memungkinkan dengan nakhoda yang menjawab berita marabahaya mempunyai hak untuk memnita satu atau lebih dari kapal itu sebagai mana yang dipertimbangkan yang terbaik oleh nakhoda yang dalam bahaya atau badan pencarian dan pertolongan (SAR) untuk memberi bantuan dan hal ini harus menjadi kewajiban nakhodanakhoda kapal yang diminta untuk memenuhi permintaan dengan cara meningkatkan kecepatan kapal untuk segera memberikan bantuan pada orang-orang yang dalam bahaya.

Peraturan ini berlaku mulai 1 Juli 1997, selain itu mengacu pada SOLAS Edisi Gabungan 1992

 (c)

Nakhoda kapal dapat terbebas dari kewajiban yang dibebankan sesuai paragraf (a) peraturan ini, bilamana ia mengetahui bahwa satu atau atau beberapa kapal lain dari kapalnya sendiri telah terpanggil dan

*

Mengacu pada tindakan segera yang diambil oleh kapal pada saat menerima berita marabahaya dalam Petunjuk MERSAR sebagaimana telah ditambah dan diubah.

sedang memenuhi panggilan itu.Keputusan ini jika mungkin dikomunikasikan dengan kapal yang terpanggil dari Badan SAR.

 (d)

Nahkoda kapal akan dibebaskan dari kewajiban yang dibebankan oleh paragrap (a) peraturan ini, dan jika kapalnya telah dipanggil dari kewajiban yang dibebankan oleh paragrap (b) peraturan ini, jika ia diberitahu oleh orang-orang yang dalam bahaya atau oleh nahkoda kapal lain yang telah mencapai orang-orang demikian bahwa pertolongan tidak diperlukan lagi. Persyaratan dari peraturan ini tidak bertentangan dengan Konvensi Internasional untuk Penyatuan Aturan-Aturan Tertentu yang berkaitan dengan Pertolongan dan Penyelamatan di laut yang ditandatangani di Brussel pada tanggal 23 September 1910, khususnya kewajiban untuk memberi pertolongan yang di bebankan oleh artikel 11 Konvensi tersebut. Keputusan ini, jika mungkin akan dikomunikasikan dengan kapal yang diundang yang lain untuk pertolongan dan pencarian.

 (e)

Peraturan 10-1 Kebijakan Nakhoda dalam mengambil tindakan keselamatan navigasi
Nahkoda kapal tidak dapat dipengaruhi oleh nahkoda kapal, penyewa atau pihak lain dalam pengambilan keputusan dalam pengadilan profesional yang diperlukan dalam tindakan keselamatan navigasi, khususnya dalam cuaca buruk dan di laut yang keras.

Peraturan ini berlaku mulai 1 Juli 1997

Peraturan 11 Lampu-lampu Isyarat
Semua kapal dengan tonase kotor 150 atau lebih, bilamana digunakan dalam pelayaran internasional, harus dipasang sebuah lampu isyarat siang hari yang efisien yang tidak boleh semata-mata tergantung pada sumber listrik utama dari kapal.

Peraturan 12 Perlengkapan navigasi di kapal*
(a) Untuk maksud dalam peraturan ini sehubungan dengan kapal yang dibangun, berarti pada tahap pembangunan dimana :

* Lihat resolusi A.156(ES.IV), Rekomendasi tentang perlengkapan posisi elektronik dan
resolusi A.815(19), sitem navigasi radio seluruh dunia.

(i) (ii) (iii)

peletakan lunas kapal; atau pembangunan dapat diidentifikasi secara khusus sebagai permulaan pembangunan kapal; dan perakitan kapal telah dimulai mencapai minimal 50 ton atau 1% dari perkiraan berat seluruh material struktur, diambil yan lebih kecil. Kapal dengan tonase kotor 150 GT atau lebih harus dilengkapi dengan : (1) sebuah kompas magnit standar, selain dari yang dinyatakan dalam subparagraf (iv); (2) sebuah kompas magnit kemudi, kecuali jika informasi utama yang diberikan oleh kompas standar yang dipersyaratkan menurut (1) telah tersedia dan mudah dibaca dengan jelas oleh juru mudi yang berada pada posisi kemudi utama (3) peralatan komunikasi yang memadai antara posis kompas standar dan posisi kontrol navigasi yang dapat diterima oleh Badan Pemerintah; dan (4) peralatan untuk mengambil baringan sejauh memungkinkan mendekati pada sudut cakrawala 360°.

(b)

(i)

(ii)

Setiap kompas magnit yang ditunjukkan pada subparagraf (i) harus dilakukan penyesuaian dan tabel atau kurva simpangan sisa yang harus tersedia setiap saat. Sebuah cadangan kompas magnit, yang mampu ditukar pakai dengan kompas standar harus selalu dibawa, kecuali jika kompas kemudi yang disebutkan dalam subparagrap (i)(2) atau kompas giro dipasang. Badan Pemerintah jika mempertimbangkan tidak ada alasan atau tidak perluk untuk mensyaratkan kompas magnit standar, dapat memberikan pengecualian pada suatu kapal atau sekelompok kapal dari persyaraan ini jika kondisi pelayaran,jaraknya dengan daratan atau suatu jenis kapal tidak perlu menyediakan sebuah kompas standar, dengan catatan bahwa kompas kemudi yang sesuai terpasang setiap saat.

(iii)

(iv)

(c)

Kapal yang kurang dari 150 sejauh memungkinkan harus

dilengkapi dengan kompas kemudi dan mempunyai peralatan untuk melakukan baringan, sejauh Badan Pemerintah mempertimbangkan alasan dan keperluan tersebut. (d) Kapal dengan tonase kotor 500 atau lebih yang dibangun pada atau setelah 1 September 1984 harus dipasang sebuah kompas giro yang memenuhi persyaratan berikut ini ; (i) (ii) kompas giro utama atau giro pengulang harus terbaca dengan jelas oleh juru mudi pada posisi kemudi utama; pada kapal 1600 GT atau lebih sebuah atau beberapa giro pengulang harus disediakan dan dipasang dengan tepat untuk mengambil baringan sejauh memungkinkan mendekati pada sudut cakrawala 360°.

(e) Kapal 1600 GT atau lebih yang dibangun sebelum 1 September 1984, bilamana melakukan pelayaran internasional harus dilengkapi sebuah kompas giro untuk memenuhi persyaratan paragraf (d) (f) Kapal yang dilengkapi dengan posisi kemudi darurat harus dilengkapi sekurang-kurangnya dengan sebuah telepon atau alat komunikasi yang lain untuk memancar-teruskan informasi diatas pada posisi tersebut. Sebagai tambahan, kapal 500 GT keatas yang dibangun pada atau setelah 1 Februari 1992 harus dilengkapi dengan tata susunan untuk memberikan visualisasi bacaan pada posisi pengemudian darurat. (g) Kapal 500 GT keatas yang dibangun pada dan setelah 1 September 1984 dan kapal 1600 GT keatas yang dibangun sebelum 1 September 1984 harus dilengkapi dengan instalasi radar. Mulai 1 Februari 1995, instalasi radar harus mampu dioperasikan pada frekuensi gelombang 9 GHz. Sebagai tambahan, setelah 1 Februari 1995, kapal penumpang tanpa memandang ukuran dan kapal barang 300 GT ke atas apabila melakukan pelayaran internasional harus dilengkapi sebuah instalasi radar yang mampu dioperasikan pada frekuensi gelombang 9 GHz. Kapal penumpang dibawah 500 GT dan kapal barang 500 GT atau lebih namun kurang dari 500 GT bisa diberikan pengecualian dari kewajiban persyaratan dari paragraf (r) dengan pertimbangan Badan Pemerintah, dengan catatan bahwa perlengkapan sepenuhnya sesuai dengan transponder radar untuk pencarian dan penyelamatan. (h) Kapal dengan tonase kotor 10000 ke atas harus dilengkapi dengan dua buah instalasi radar, yang satu sama lain memiliki kemampuan dapat dioperasikan secara independen *. Mulai 1 Februari

*

1995, paling kurang satu buah instalasi radar harus mampu beroperasi pada frekuensi gelombang 9 GHz (i) Fasilitas untuk pembacaan radar dengan pencetak harus dipasang pan anjungan navigasi kapal yang terkena persyaratan (g) dan (h) dilengkapi dengan instalasi radar.Pada kapal 1600 GT atau lebih yang dibangun pada atau setelah 1 September 1984, fasilitas pencetak harus sama efektifitasnya dengan suatu pencetak bayangan. (j) (i) Sebuah radar dengan alat bantupencetak otomatis harus dipasang pada ; (1) Kapal dengan tonase kotor 10.000 atau lebih yang dibangun pada atau setelah 1 September 1984; (2) Kapal tangki minyak yang dibangun sebelum 1 September 1984 mengikuti hal berikut : (aa) (bb) (3) Jika 40.000 GT sejak 1 Januari 1985; Jika 10.000 GT atau lebih sampai 40.000 GT sejak 1 Januari 1986;

Kapal yang dibangun sebelum 1 September 1984, yang bukan kapal tangki minyak , seperti berikut: (aa) (bb) (cc) Jika 40.000 GT atau lebih sejak 1 September 1986; Jika tonase kotornya 20.000 atau lebih sampai 40.000 sejak 1 September 1987; Jika tonase kotornya 15.000 atau lebih dan kurang dari 20.000 GT sejak 1 September 1988.

(ii)

Radar dengan alat bantu pencetak otomatis yang dipasang sebelum 1 September 1984 yang tidak sepenuhnya dapat memenuhi standar kemampuan yang disyahkan oleh Organisasi* bisa mendapatkan pertimbangan dari Badan Pemerintah yang dipertahankan sampai 1 Januari 1991.

* Mengacu pada seksi 4 dari Rekomendasi tentang standar kinerja untuk perlengkapan radar yang disyahkan oleh Organisasi dengan resolusi A.477(XII) * Mengacu pada standar kinerja radar dengan * disahkan oleh Organisasi dalam resolusi A.823(19)
alat bantu pencetak otomatis yang

(iii)

Badan Pemerintah bisa memberikan pengecualian persyaratan dalam paragraf ini, apabila dipertimbangkan tidak ada alasan atau tidak perlu untuk melengkapi dengan peralatan tersebut atau apabila lapal tersebut akan ditarik dari pengoperasian dua tahun sejak tanggal pelaksanaan.

(k) Apabila digunakan dalam pelayaran internasional dari kapal 1600 GT dan ke atas yang dibangun sebelum 1 Mei 1980 dan kapal 500 GT ke atas yang dibangun pada atau setelah 25 Mei 1980 harus dilengkapi dengan peralatan echo sounder. (l) Kapal dengan tonase kotor 500 atau lebih yang dibangun sejak 1 September 1984 yang melakukan navigasi internasional harus dilengkapi dengan peralatan pengukur jarak dan kecepatan. Kapal yang dikenai persyaratan paragraf (j) agar dilengkapi sebuah radar dengan alat bantu pencetakan otomatis harus dilengkapi dengan suatu alat untuk mengetahui kecepatan dan jarak tempuh selama pelayaran di laut. (m) Kapal dengan tonase kotor 1600 atau lebih yang dibangun sebelum 1 September 1984 dan seluruh kapal 500 GT atau lebih yang dibangun pada atau setelah 1September 1984 harus dilengkapi dengan indikator penunjuk sudut daun kemudi, kecepatan putaran setiap baling-baling dan sebagai tambahan apabila dipakai baling-baling dengan langkah terkontrol atau gaya dorong baling-baling, langkah dan moda operasi baling-baling. Semua indikasi ini harus dapat dari posisi. (n) Kapal dengan tonase kotor 100.000 atau lebih yang dibangun pada atau setelah 1 September 1984 harus dilengkapi dengan indikator pengukur kecepatan pembelokan. (o) Selain yang ditentukan dalam peraturan I/7(b)(ii), I/8 dan I/9 ketika seluruh langkah yang dapat dipertanggungjawabkan harus dilakukan untuk mempertahankan peralatan yang ditunjukkan dalam paragrap (d) sampai (n) bekerja secara efisien,kegagalan fungsi dariperlengkapan tidak boleh dianggap menjadikan kapal menjadi tidak laik laut atau sebagai alasan untuk menahan kapal dipelabuhan dimana fasilitas perbaikan tidak tersedia* *. (p) Apabila digunakan dalam pelayaran internasional kapal dengan tonase kotor 1.600 atau lebih harus dilengkapi dengan sebuah peralatan radio pencari arah. Badan Pemerintah boleh memberikan pengecualian kepada sebuah kapal dari persyaratan ini jika hal ini dipertimbangkan

* Mengacu pada Rekomendasi tentang penggunaan dan pengujian perlengkapan navigasi * kapal yang disyahkan oleh Organisasi dalam resolusi A.157(ES.IV) di

tidak ada alasan atau tidak perlu untuk membawa peralatan tersebut di atas kapal dengan catatan dilengkapi dengan perlengkapan navigasi radio lainnya yang cocok untuk digunakan untuk semua tujuan pelayaran. (q) Sampai 1 Februari 1999 kapal dengan tonase kotor 1.600 atau lebih yang dibangun pada atau setelah 25 Mei 1980 dan sebelum 1 Februari 1995, apabila digunakan melakukan pelayaran internasional harus dilengkapi dengan perlengkapan radio yang selalu sedia dalam frekuensi telepon radio darurat. (r) Seluruh pelengkapan yang dipasang untuk memenuhi Peraturan ini harus disetujui oleh Badan Pemerintah. Perlengkapan yang dipasang di atas kapal pada atau setelah 1 September 1984 harus memenuhi standar kinerja yang sesuai, tidak dibawah mutu dari yang telah ditetapkan oleh Organisasi **. Perlengkapan yang dipasang yang sebelum penetapan dari standar kinerja yang bersangkutan boleh diberikan pengecualian untuk menerapkan secara penuh terhadap standar yang menurut pertimbangan dari Badan Pemerintah, dengan memperhatikan rekomendasi tentang kriteria yang mungkin diterapkan oleh organisasi berkaitan dengan standar yang bersangkutan. (s) Suatu kapal gabungan yang dihubungkan secara tegar pada unit kapal pendorong dan kapal yang didorong, apabila dirancang sebagai

*

* Mengacu pada rekomendasi berikut yang telah disyahkan oleh Organisasi sesuai resolusi yang berikut : Rekomendasi tentang persyaratan umum perlengkapan radio sebagai bagian dari GMDSS dan bagi alat bantu navigasi elektronik (resolusi A.694(17)); Rekomendasi tentang standar kinerja kompas magnit (resolusi A. 382(X)); Rekomendasi tentang standar kinerja kompas giro (resolusi A 424(XI)); Rekomendasi tentang standar kinerja perlengkapan radar (resolusi A.477(XII) dan A.278(VIII)); Standar kinerja tentang radar dengan alat bantu pencetak otomatis (resolusi A.823(19)); Rekomendasi tentang standar kinerja perlengkapan pengukur kedalaman (resolusi A.224(VII)); Rekomendasi tentang standar kinerja peralatan pengukur kecepatan dan jarak (resolusi A.824(19)); Standar kinerja tentang indikator saat berbelok (resolusi A.526 (XIII) Rekomendasi tentang penyeragaman standar kinerja perlengkapan navigasi (resolusi A.575(14)); Standar kinerja sistem radio pencari arah (resolusi A.665(16)); Rekomendasi tentang standar kinerja perlengkapan pesawat penerima darurat yang menggunakan diffrensi OMEGA (resolusi A.479(XII) Rekomendasi tentang metode pengukuran tingkat kebisingan pada tempat tertentu (resolusi A.343(IX). Memperhatikan penyeragaman atas isyarat ARPA, lihat MSC / Sirkular No. 563 dan Publikasi IEC No. 872.

suatu gabungan kapal tunda dan tongkang yang menyatu, harus dianggap sebagai suatu kapal tunggal dalam peraturan-peraturan ini. (t) Jika penerapan persyaratan dalam peraturan ini diperlukan perubahan struktur pada kapal yang dibangun sebelum 1 September 1984, Badan Pemerintah boleh memberikan peluang perpanjangan batas waktu untuk pemasangan perlengkapan yang disyaratkan tidak melebihi 1 September 1989 dengan memperhatikan jadwal pengedokan pertama kapal tersebut sebagaimana disyaratkan dalam peraturan yang berlaku. (u) Selain seperti yang dipersyaratkan di semua tempat dalam peraturan ini Badan Pemerintah dapat memberikan pembebasan sebagian persyaratan pada masing-masing kapal atau kondisi pelayaran kapal dengan jarak terjauh dari darat.Jarak dan kondisi pelayaran, tidak adanya ancaman terhadap navigasi secara umum dan kondisi lain yang mempengaruhi keselamatan sehingga menyebabkan bahwa penerapam peraturan ini secara penuh tidak beralasan dan tidak dibutuhkan.Dalam memutuskan apakah memberikan pengecualian atau tidak pada masing-masing kapal, Badan Pemerintah harus mempertimbangkan bahwa suatu pembebasan mungkin memiliki dampak pada keseluruhan kapal yang lain.pun tidak perlu. Pada saat memutuskan apakah tidak perlu memberikan pengecualian pada kapal tertentu, Badan Pemerintah harus memperhatikan pengaruh pengecualian atas keselamatan dari seluruh kapal yang lain.

Peraturan 13 Pengawakan
a) Pemerintah-pemerintah penandatangan berkewajiban masingmasing untuk kapal-kapal nasionalnya, untuk mempertahankan atau jika perlu, untuk menetapkan usaha-usaha dengan maksud untuk menjamin bahwa dari sisi pandang keselamatan jiwa di laut, semua kapal harus diawaki secara memadai dan efisien*. b) Setiap kapal yang terkena Bab I dari Konvensi ini harus dilengkapi dokumen pengawakan kapal yang baik atau yang setara yang diterbitkan oleh Badan Pemerintah sebagai bukti-bukti dari dokumen pengawakan minimum yang perlu dipertimbangkan untuk memenuhi ketentuan paragraf (a).

c) Pada tiap kapal penumpang terkena Bab I, untuk menjamin kinerja efektif ABK dalam masalah keselamatan, suatu bahasa kerja harus ditentukan dan dicatat dalam Buku Catatan kapal. Perusahaan **atau Nakhoda, seharusnya menentukan bahasa kerja sebagaimana mestinya.
* Sesuai prinsip dari pengawakan yang aman dikutip dari Organisasi pada resolusi A.481(XII) dan ke MSC/Circ.242 pada pelayaran satu tanggung jawab

Setiap pelaut akan disyaratkan untuk memahami dan, bila perlu, memberikan pesan dan perintah dan melaporkan kembali dalam bahasa kerja. Jika bahasa kerja bukan bahasa resmi dari negara yang benderanya dikibarkan di kapal semua rancangan daftar-daftar yang diperlukan untuk dipampangkan harus mencakup terjemahannya dalam bahasa kerja.

Peraturan 14 Alat Bantu Navigasi
Pemerintah penandatangan berkewajiban mengatur pemasangan dan perawatan alat bantu navigasi, sesuai dengan pertimbangan mereka, volume lalu lintas yang ada dan tingkat resiko yang mungkin timbul dan untuk informasi yang berkaitan dengan alat bantu tersebut yang harus

Paragrap ini berlaku sejak 1 Juli 1997

harus tersedia pada semua yang terkait * .

Peraturan 15 Pencarian dan Penyelamatan (SAR)
a) Masing-masing Pemerintah Penandatangan berkewajiban menjamin bahwa diperlukan pengaturan-pengaturan untuk penjagaan pantai dan untuk penyelamatan orang-orang dalam keadaan bahaya dilaut disekitar pantai-pantainya.Pengaturan-pengaturan ini hendaknya meliputi pembentukan, pengoperasian dan perawatan fasilitas keselamatan maritim sebagaimana yang dianggap dapat dilaksanakan dan diperlukan dengan memperhatikan kepadatan lalu-lintas laut dan bahaya navigasi dan hendaknya sejauh dapat dilaksanakan, dilengkapi dengan sarana untuk menentukan posisi dan menyelamatkan orang-

* Perusahaan berarti pemilik kapal atau organisasi lain atau seseorang yang bertindak

sebagai manajer, atau pencarter kapal, yang dianggap bertanggung jawab untuk mengoperasikan kapal dari pemilik kapal dan siapa, yang dianggap bertanggung jawab, telah disetujui mengambil alih tugas-tugas dan bertanggung jawab sebagaimana ditentukan oleh International Safety Management (ISM) Code

* Mengacu pada resolusi berikut yang disahkan oleh Organisasi :

Standar Akurasi untuk Navigasi (resolusi A.529(13)) Wadah Radar pantai dan transponder (resolusi A.615(15)) Standar kinerja untuk koreksi stasiun pemancar diffrensi OMEGA (resolusi A.425(XI) Pengumpul dan pengisian dari data hydrograhik (resolusi A.532(13))

orang demikian* **. b) Masing-masing Pemerintah Penandatangan berkewajiban menyusun informasi yang ada yang berkaitan dengan fasilitas penyelamatannya yang ada dan rencana perubahan jika ada.

c) Kapal Penumpang yang terkena ketentua dalam Bab I, berlayar dalam rute tetap, di kapal harus tersedia rencana kerja sama dngan badan yang melayani pencarian dan penyelamatan dalam keadaan bahaya. Rencana tersebut harus dikembangkan dalam kerjasama antara kapal dengan badan SAR yang disetujui oleh Badan Pemerintah. Rencana tersebut harus mencakup ketentuan untuk latihan periodik yang dilaksanakan sebagaimana disetujui oleh pihak kapal penumpang dan badan layanan pencarian dan penyelamatan (SAR) yang terkait untuk menguji apakah berfungsi secara efektif.

Paragrap ini berlaku mulai 1 Juli 1997

Peraturan 15 - 1 Tata Susunan SPenarikan Darurat pada kapal tangki
a) Untuk maksud dalam peraturan ini, kapal tangki termasuk kapal tangki minyak sebagaimana dijelaskan dalam peraturan II-1/2.12, Kapal tangki kimia sebagaimana dijelaskan dalam peraturan VII/8.2 dan kapal pengangkut gas sebagaimana dijelaskan dalam peraturan VII/11.2 b) Suatu tata susunan penarikan darurat harus dipasang pada kedua ujung pada semua kapal tangki dengan bobot mati tidak kurang dari 20.000 ton sebagaimana ditentukan dalam peraturan II-1/3.21, dibangun pada atau setelah 1 Januari 1996.Untuk kapal tangki yang dibangun sebelum 1 Januari 1996 tata susunan tersebut harus dipasang pada jadwal pengedokan pertama setelah 1 Januari 1996 tetapi tidak melampaui dari 1 Januari 1999. Desain dan konstruksi dari tata susunan penarikan harus disetujui oleh Badan Pemerintah, berdasarkan petunjuk * yang dikembangkan oleh Organisasi  .

Peraturan 16 Isyarat-Isyarat Penyelamatan
*Mengacu pada resolusi berikut yang disahkan oleh Organisasi Kemampuan pos dari pencari dan penyelamatan pesawat udara (resolusi A.225(VII)) Pedoman pencari dan penyelamat IMO (IMOSAR)(resolusi A.439(XI)) Pemakaian transponder radar untuk tujuan pencarian dan penyelamatan (resolusi A.530(13)).

*Sesuai petunjuk tata susunan

penarikan darurat untukkapal tangki yang ditetapkan oleh Komite Keselamatan Mritim Organisasi pada resolusi MSC.35 (63)

Isyarat-isyarat penyelamatan * harus dipakai oleh satuan penyelamatan , unit penyelamatan maritim dan pesawat udara yang terlibat operasioperasi pencarian dan penyelamatan bila berkomunikasi dengan kapalkapal atau orang-orang dalam marabahaya atau langsung kapal dan oleh kapal atau orang-orang dalam marabahaya bila berkomunikasi dengan stasiun penyelamat, unit penyelamat maritim dan pesawat udara dikaitkan dalam operasi pencarian dan penyelamatan. Suatu tabel berupa ilustrasi yang menggambarkan isyarat-isyarat penyelamatan harus senantiasa tersedia pada perwira jaga setiap kapal yang terkena Bab ini.

Peraturan 17 Tata Susunan Pemindah Pemandu
a)

Penerapan (i) Kapal-kapal yang berada pada pelayaran dalam suatu lintasan dimana dibutuhkan pandu harus dilengkapi dengan tata susunan pemindahan pandu .

(ii) Perlengkapan dan tata susunan pemindah pandu yang dipasang pada atau setelah 1 Januari 1994 harus memenuhi persyaratan peraturan ini dan sehubungan dengam itu harus dibayar pada standar yang dikutip oleh Organisasi*. (iii) Perlengkapan dan tata susunan untuk pemindah pandu yang tersedia dikapal sebelum tanggal 1 Januari 1994 harus memenuhi persyaratan peraturan 17 yang berlaku sebelum tanggal tersebut dan sehubungan dengan jasa tersebut harus dibayar sesuai standar yang ditetaokan oleh Organisasi sebelum tanggal itu** *
Isyarat penyelamatan semacam itu diuraikan dalam Pedoman pencarian dan penyelamatan kapal niaga (MERSAR)(resolusi A.229(VII), sebagaimana ditambah dan diubah dengan publikasi IMO - 963 E) dan Petunjuk Pencarian dan Penyelamatan IMO(IMOSAR) (resolusi A.439(XI), sebagaimana ditambah dan diubah dengan publikasi IMO - 974 E) dan digambarkan dalam International Code of Signals ( publikasi IMO - 994 E) sebagaimana ditambah dan diubah sesuai dengan resolusi A.80(IV).

* Sesuai rekomendasi pada peraturan pemindah pandu yang ditetapkan oleh Organisasi dengan resolusi A.667(16)

(iv) Perlengkapan dan tata susunan yang diganti setelah tanggal 1 Januari 1994, haru sejauh dapat dipertanggung jawabkan dan dapat dilaksanakan , memenuhi persyaratan peraturan ini
b)

Umum (i) Seluruh tata susunan yang dipakai untuk pemindahan pandu harus secara efisien memenuhi fungsinya untuk memungkinkan pandu embarkasi dan debarkasi dengan aman.Peralatan harus dijaga kebersihannya, dirawat dan ditempatkan dengan baik dan harus diperiksa secara berkala untuk menjamin bahwa peralatan tersebut harus dipakai semata-mata untuk embarkasi dan debarkasi personil. (ii) Perlengkapan dari tata susunan pemindah pandu dan embarkasi dan debarkasi pandu harus diawasi oleh seorang perwira yang bertanggung jawab yang memiliki peralatan komunikasi dengan anjungan navigasi yang juga harus mengatur pandu pada rute aman ke dan dari anjungan navigasi. Personil yang terlibat dalam pemasangan dan pengoperasian setiap perlengkapan mekanis harus diinstruksikan untuk mematuhi prosedur yang aman dan perlengkapan harus dites sebelum digunakan.

c)

Tata Susunan Pemindahan (i) Tata susunan harus dilengkapi sarana untuk memungkinkan pandu naik dan turun secara aman pada setiap sisi dari lambung kapal. (ii) Pada semua kapal apabila jarak dari permukaan laut sampai ke jalan masuk ke luar dari kapal lebih dari 9 meter, dan bila hal ini dimaksudkan untuk

*Mengacu pada rekomendasi tentang standar kinerja untuk sarana pengangkat pandu

yang ditetapkan oleh organisasi dengan resolusi A.275(VIII) dan untuk rekomendasi tentang tata susunan untuk embarkasi dan debarkasi pandu pada kapal-kapal besar yang ditetapkan oleh Organisasi dengan resolusi A.426(XI)

menaikkan dan menurunkan pandu dengan tangga akomodasi, atau dengan peralatan pengangkat pandu mekanik atau dengan sarana lain yang aman dan memenuhi syarat yangberkaitan dengan tangga pandu,kapal harus membawa peralatan semacam itu pada tiap sisi, kecuali jika perlengkapan tersebut mampu dipindahkan untuk pemakaian pada salah satu sisinya. (iii) Jalan masuk ke dan jalan keluar dari kapal yang aman dan memadai ; (1) Tangga pandu dengan suatu, panjatan yang tidak kurang dari 1,5 m dan tidak lebih dari 9 m diatas permukaan air harus ditempatkan dan diikat sedemikian rupa sehingga : terbebas dari kemungkinan adanya setiap pembuangan dari kapal. berada di daerah badan kapal yang sejajar dan sejauh dapat dilaksanakan, berada di tengah-tengah dari panjang kapal. setiap anak tangga menempel pada lambung kapal, apabila konstruksi anak tangga tersebut,diberi semacam lapisan karet,yang mengakibatkan penyimpangan peraturan ini, maka tata susunannya harus disetujui oleh Badan Pemerintah agar menjamin orang-orang dapat dinaikan dan diturunkan secara aman. panjang dari tangga pandu tunggal mampu mencapai air dari tempat masuk atau keluar dari dan ke kapal dan berkorelasi dengan kelonggaran yang diberikan untuk semua keadaan pemuatan dan trim kapal danuntuk suatu kemiringan kapal yang mencapai 15

(aa) (bb)

(cc)

(dd)

derajat; pengikatan dari tempat penguatan dan tali pengikat harus sama kuatnya seperti tali samping. (2) suatu tangga akomodasi digunakan sebagai tangga pandu atau sarana lain yang aman dan memadai, apabila terjadi jaraknya dari permukaan air ke tempat masuk melebihi 9 meter, tangga akomodasi harus diletakkan mengarah ke belakang, ujung terendah dari tangga akomodasi akan sandar ketika digunakan pada sisi kapal, dalam daerah badankapal yang sejajar arah memanjang kapal dan sejauh memungkinkan berada di tengah-tengah panjang kapal dan terhindar dari semua pembuangan dari kapal. (3) pengangkat pandu mekanik ditempatkan sedemikian rupa sehingga berada di daerah yang sejajar arah memanjang kapal dan sejauh memungkinkan berada di tengah-tengah dari panjang kapal dan bebas dari semua pembuangan dari kapal.
d)

Jalan menuju ke geladak kapal Harus tersedia sarana untuk menjamin keamanan, kenyamanan, pembebasan jalanpintas dari perintangperintang untuk orangyang embarkasi dan debarkasi dari kapal antara ujung atas dari tangga pandu, atau tiap tangga akomodasi atau alat angkut lainnya ke geladak kapal. Jalan semacam itu dapat berupa : (i) pintu pada pagar atau kubu-kubu dengan dilengkapi pegangan tangan yang memadai. (ii) tangga kubu-kubu, dua pegangan tangan berupa penumpu tegak yang tegar yang diikat terhadap badan kapal pada atau dekat dengan bagian bawahnya dan pada tempat yang lebih tinggi.Tangga, kubu-kubu harus diikat dengan

aman ke kapal agar tidak terbalik. e) Pintu lambung kapal Pintu lambung kapal dipakai untuk pemindah pandu tidak dapat dibuka keluar. Pengangkat Pandu Mekanik (i) Pengangkat pandu mekanik dan alat bantunya, harus dari tipe yang disetujui oleh BadanPemerintah.Pengangkat pandu harus didesain untuk beroperasi sebagai tangga berpindah untuk mengangkat dan menurunkan satu orang pada sisi kapal, atau sebagai bidang datar untuk mengangkat dan menurunkan satu orang atau lebij pada sisi kapal. Peralatan tersebut harus didesain dan dibuat sedemikian rupa sehingga menjamin bahwa pandu dapat diangkat dan diturunkan dengan selamat termasuk jalan yang aman dari pengangkat ke geladak dan secara ulang-alik. Jalan masuk semacam itu harus dicapai secara langsung oleh suatu penyangga yang dijamin kuat oleh pegangan tangan. Tuas tangan harus dipasang untuk menurunkan atau mengangkat orang atau sejumlah orang, dan dalam keadaan siap untuk dipakai saat kegagalan pasokan tenaga listrik. Pengangkat harus dapat dengan aman pada bagian konstruksi kapal. Pengangkatannya tidak semata-mata pada pagar di sisi kapal.Pengikatan yang benar dan kuat harus disiapkan untuk jenis pengangkat yang dapat dipindahkan pada tiap sisi kapal. Jika sabuk dipasang pada tempat pengangkatan, sabuk tersebut harus dapat dipendekkan

f)

(ii)

(iii)

(iv)

secukupnya untuk memudahkan pengoperasian pengangkat di sekitar lambung kapal. (v) Tangga pandu harus dipsang berdekatan dengan pengangkat pandu dan siap untuk digunakan dengan segera sehingga jalan masuk dari alat angkat tersedia pada setiap tempat pada lintasannya.Tangga pandu harus mampu mencapai permukaan laut dari jalan masuknya ke kapal. Posisi dari lambung kapal dimana pengangkat akan diturunkan harus diindikasikan.

(vi)

g)

(vii) Perlindungan secara memadai dari tempat penyimpanannya harus disiapkan untuk pengangkat yang dapat dipindahkan.Pada cuaca yang sangat dingin, untuk menghindari bahaya pembentukan es, pengangkat yang dapat dipindahkan tidak boleh dipasang sampai menjelang penggunannya. Perlengkapan pendukung (i) Perlengkapan pendukung berikut harus dijaga dalam keadaan siap dipakai segera ketika orangorang sedang dipindahkan. (1) Dua tali-awak dengan diameter yang tidak kurang dari 28 mm harus diikat dengan baik ke kapal bila disyaratkan oleh pandu. (2) Suatu pelampung pelampung dilengkapi dengan lampu yang dapat menyala sendiri (3) Sebuah tali penarik

h)

Penerangan Penerangan yang mencukupi harus disediakan untuk menerangi tata susunan di sebelah luar, posisi geladak

dimana seseorang diangkat atau diturunkan dan kontrol dari pengangkat pandu mekanik.
Peraturan 18 Stasiun-stasiun Telepon Radio Frekuensi Sangat Tinggi (VHF) (Teks dari peraturan ini telah dihapus (lihat peraturan IV/4 1(b)))

Peraturan 19 Penggunaan Kemudi Otomatis
(a) Didaerah-daerah yang lalu-lintasnya padat, dalam keadaan penglihatan terbatas dan dalam semua keadaan pelayaran yang berbahaya jika digunakan kemudi otomatis, harus memungkinkan pengemudian kapal dilakukan dibawah pengendalian langsung oleh orang*. (b) Dalam hal-hal seperti diatas, harus memberi kemungkinan kepada perwira jaga untuk menggunakan pelayanan juru mudi yang cakap tanpa penangguhan tugas dalam keadaan siap pada setiap saat untuk mengambil alih pengendalian kemudi. (c) Pengalihan dari pengemudian otomatis ke pengemudian tangan dan sebaliknya itu harus dilakukan dibawah pengawasan perwira yang bertanggung jawab. Pengemudian tangan harus diuji setelah pemakaian yang lama dari kemudi otomatis, dan sebelum memasuki wilayah-wilayah dimana pelayaran memerlukan perhatian khusus.

(d)

Peraturan 19 - 1 Pengoperasian peralatan pengemudian
Didaerah-daerah pelayaran yang memerlukan perhatian khusus, kapal harus mempunyai lebih dari satu unit pemasok tenaga pengemudian yang mampu beroperasi secara serentak.

Peraturan 19 - 2

*

Mengacu rekomendasi tentang standar kinerja kemudi otomatis yang ditetapkan oleh Organisasi dengan resolusi A.342(IX)

Peralatan kemudai : pengujian dan pelatihan
(a) Dalam waktu 12 jam sebelum keberangkatan, peralatan kemudi kapal harus diperiksa dan diuji oleh ABK sejauh dapat dilaksanakan. Prosedur pengujian meliputi hal berikut : (i) (ii) (iii) (iv) (v) (vi) (vii) (viii) (ix) (b) Peralatan kemudi utama Peralatan kemudi bantu Sistem kontrol kemudi jarak jauh Posisi kemudi di anjungan navigasi Pasokan tenaga listrik darurat Penunjuk sudut kemudi yang berkaitan pada posisi sebenarnya dari kemudi. Alarm sistem kontrol jarak jauh dan kesiapan tenaga listrik untuk kemudi, dan Alarm kerusakan dari unit tenaga listrik untuk kemudi

Tata susunan isolasi otomatis dan perlengkapan otomatis lainnya Pemeriksaan dan pengujian harus meliputi (i) (ii) (iii) Gerakan penuh dari kemudi sesuai kemampuan yang disyaratkan dari peralatan kemudi Pemeriksaan visual dari peralatan kemudi; dan Cara kerja dari peralatan komunikasi antara anjungan navigasi dan ruang kemudi Petunjuk kerja sederhana dengan diagram blok yang menunjukan prosedur pengalihan untuk sistem kontrol kemudi jarak jauh dan unit pemasok tenaga peralatan kemudi harus ditampilkan secara permanen di anjungan navigasi dan ruang kemudi. Semua perwira kapal yang terkait dengan pengoperasian atau pemeliharaan dari peralatan kemudi harus terbiasa dengan cara kerja dari sistem kemudi yang dipasang di kapal serta prosedur untuk perubahan dari satu sistem ke sistem lain.

(c)

(i)

(ii)

(d)

Sebagai tambahan pemeriksaan rutin dan pengujian rutin

dijelaskan dalam paragraf (a) dan (b), latihan kemudi darurat harus dilaksanakan paling tidak sekali tiap 3 bulan untuk melaksanakan prosedur kemudi darurat, Latihan ini harus meliputi kontrol langsung dari dalam ruang kemudi, prosedur komunikasi dengan anjungan navigasi dan, dimana perlu, cara kerja tenaga cadangan alternatif. (e) Badan Pemerintah dan membebaskan persyaratan untuk melaksanakan pemeriksaan dan pengujian sebagaimana dijelaskan dalam paragraf (a) dan (b) untuk kapal-kapal yang berlayar tetap pada pelayaran jarak pendek.Kapal semacam ini harus melaksanakan pemeriksaan dan pengujian paling tidak sekali setiap minggu. (f) Tanggal dimana pemeriksaan dan pengujian sebagaimana dijelaskan dalam paragraf (a) dan (b) dilaksanakan dan tanggal dari rincian latihan kemudi darurat yang dilaksanakan menurut paragraf (d), harus dicatat dalam buku catatan kapal sebagaimana ditetapkan oleh Badan Pemerintah.

Peraturan 20 Publikasi Nautika
Semua kapal harus membawa peta-peta terbaru; buku kepanduan bahari; buku daftar suar, buku berita pelaut, daftar pasang surut dan semua publikasi lain yang memadai, diperlukan untuk pelayaran yang hendak ditempuh.

Peraturan 21 Buku Kode Isyarat Internasional
Semua kapal yang menurut konvensi ini disyaratkan untuk membawa perangkat instalasi radio, harus membawa buku kode isyarat internasional. Penerbitan ini harus juga dibawa oleh kapal lain manapun yang menurut pendapat Badan Pemerintah perlu menggunakannya.

 Peraturan 22
Penglihatan anjungan navigasi (teks dari peraturan ini muncul dalam annex 2 pada resolusi MSC.31(63))

 Peraturan 23

Peraturan ini harus dianggap akan berlaku pada 1 Januari 1998 kecuali jika ada keberatan-keberatan yang disampaikan ke Sekretaris Jenderal Organisasi, dan akan mulai berlaku 1 Juli 1998

Pembatasan Operasional (peraturan ini berlaku pada semua kapal-kapal penumpang yang terkena persyaratan Bab 1)
1 Pada kapal-kapal penumpang dibangun sebelum 1 Juli 1997, persyaratan dari peraturan ini harus berlaku tidak melebihi tanggal survey periodik pertama setelah 1 Juli 1997 2 Suatu daftar dari semua pembatasan pada operasi dari suatu kapal penumpang meliputi pengecualian dari tiap peraturan ini, batas wilayah operasi, batas cuaca, batas laut negara, batas muatan yang diizinkan, trim, kecepatan dan setiap pembatasan lain yang ditentukan oleh Badan Pemnerintah atau ditetapkan selama desain atau tahap pembangunan, harus disusun sebelum kapal penumpang dioperasikan. Daftar, bersama-sama dengan penjelasan yang perlu, harus didokumentasikan dalam suatu bentuk yang dapat diterima oleh Badan Pemerintah, yang harus tersedia di kapal yang senantisa disiapkan bagi nakhoda. Daftar harus dijaga pemutakhirannya. Jika bahasa yang dipakai bukan bahasa Inggris atau Perancis , daftar harus disediakan dalam salah satu atau dari kedua bahasa tersebut.

Peraturan ini berlaku mulai 1 Juli 1997

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful