POTENSI BAKTERI PEMBENTUK BIOFILM DALAM MENDEGRADASI LINIAR ALKILBENZEN SULFONAT PADA BERBAGAI UKURAN BATU

SKRIPSI

oleh: ROMUALDUS NUGRAHA CATUR UTOMO 0610910050-91

JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2010

POTENSI BAKTERI PEMBENTUK BIOFILM DALAM MENDEGRADASI LINIAR ALKILBENZEN SULFONAT PADA BERBAGAI UKURAN BATU

SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains di dalam bidang Biologi oleh: ROMUALDUS NUGRAHA CATUR UTOMO 0610910050-91

JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2010

i

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI POTENSI BAKTERI PEMBENTUK BIOFILM DALAM MENDEGRADASI LINIAR ALKILBENZEN SULFONAT PADA BERBAGAI UKURAN BATU

oleh: Romualdus Nugraha Catur Utomo 0610910050-91 Telah dipertahankan di depan Majelis Penguji pada tanggal 21 April 2010 dan dinyatakan memenuhi syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains dalam bidang Biologi

Pembimbing I

Pembimbing II

Dr. Suharjono, M.Si NIP. 19630223 198802 1 001

Drs. Sutrisno, M.Si NIP. 19620318 199002 1 001

Mengetahui, Ketua Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Brawijaya Dr. Sri Rahayu, M.Kes. NIP 19620528 198701 2 001

ii

LEMBAR PERNYATAAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama NIM Jurusan Penulisan Skripsi berjudul : Romualdus Nugraha Catur Utomo : 0610910050-91 : BIOLOGI :

Potensi Bakteri Pembentuk Biofilm Dalam Mendegradasi Liniar Alkilbenzen Sulfonat Pada Berbagai Ukuran Batu Dengan ini menyatakan bahwa: 1. Isi dari skripsi yang saya buat adalah benar-benar karya sendiri dan tidak menjiplak karya orang lain, selain nama-nama yang termaktub di isi dan tertulis di daftar pustaka dalam skripsi ini. 2. Apabila dikemudian hari ternyata skripsi yang saya tulis terbukti hasil jiplakan, maka saya akan bersedia menanggung segala risiko yang akan saya terima. Demikian pernyataan ini dibuat dengan segala kesadaran.

Malang, 21 April 2010 Yang menyatakan

Romualdus Nugraha Catur Utomo NIM 0610910050-91

iii

PEDOMAN PENGGUNAAN SKRIPSI Skripsi ini tidak dipublikasikan namun terbuka untuk umum dengan ketentuan bahwa hak cipta ada pada penulis. Daftar pustaka diperkenankan untuk dicatat, tetapi pengutipannya hanya dapat dilakukan seijin penulis dan harus disertai kebiasaan ilmiah untuk menyebutkannya.

iv

POTENSI BAKTERI PEMBENTUK BIOFILM DALAM MENDEGRADASI LINIAR ALKILBENZEN SULFONAT PADA BERBAGAI UKURAN BATU Romualdus Nugraha 1, Suharjono 1, Sutrisno. 2 1) Jurusan Biologi, 2) Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya Malang, 2009 ABSTRAK Ekosistem air sungai di kota-kota besar Indonesia pada saat ini sudah tercemar oleh limbah deterjen. Limbah deterjen tersebut mengandung surfaktan yang dominan berupa Liniar Alkilbenzen Sulfonat (LAS). Bakteri pembentuk biofilm di sedimen air sungai tercemar deterjen mampu mendegradasi dan tumbuh dengan menggunakan LAS sebagai sumber nutrisi dan energi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh ukuran batu terhadap potensi biofilm dalam mendegradasi LAS. Penelitian ini menurut Rancangan Acak Kelompok (RAK) dalam sistem batch culture dan continous culture. Perlakuan dalam penelitian ini adalah lama inkubasi dan ukuran batu. Parameter yang diamati yaitu densitas sel bakteri dan konsentrasi residu Linear Alkylbenzene Sulfonate (LAS). Pada sistem batch culture menunjukkan semakin lama waktu inkubasi menyebabkan penurunan konsentrasi residu LAS dan penurunan densitas sel konsorsium bakteri. Pada batu kecil dan sedang persentase biodegradasi LAS lebih tinggi jika dibandingkan pada batu ukuran besar. Persentase biodegradasi LAS oleh konsorsium bakteri dengan batu ukuran sedang, kecil, campuran, dan besar selama inkubasi tujuh hari dalam sistem batch culture secara berurutan adalah 61,63 %; 61,47 %; 48,76 %; dan 44,47 %, sedangkan dalam sistem continous culture dengan debit media 80 ml/jam dan waktu retensi 10 jam persentase biodegradasi LAS adalah 60,37 %; 59,85 %; 46,73 %; dan 44,47 %.

Kata Kunci: Batu, biofilm, inkubasi, LAS, MBAS, persentase.

v

POTENCY OF BIOFILM BACTERIA FOR BIODEGRADATION LINEAR ALKYLBENZENE SULFONATE ON VARIOUS SIZE OF STONE Romualdus Nugraha 1, Suharjono1, Sutrisno2 1) Biology Department, 2) Chemistry Department, Matematics and Natural Science Faculty, Brawijaya University Malang ABSTRACT Rivers ecosystem of large society in Indonesia were contaminated by detergent waste. Detergent waste consist of dominan anionic surfactan Linier alkylbenzene sulfonat (LAS). Biofilm bacteria of detergent-polluted river able to degrade and grow with using LAS as nutrition source and energy source. The aim of research is to know about influence of size of stone as living place of biofilm bacteria for degrading LAS. This research according to Group Randomized Design within batch culture and continous culture. The variable of this research are time of incubation and size of stone. The parameters are cell density of bacteria and residue consentration of LAS. In batch culture, increasing of time incubation causes decreasing of residue concentration LAS and decreasing of cell dencity. Small stone and medium stone cause more effective biodegradation percentage of LAS than large stone. Biodegradation percentage of LAS by bacteria consortia on small, medium, large, and combination stones during seven days incubation were 61,63 %; 61,47 %; 48,76 %; and 44,47 % respectively. Biodegradation percentage of LAS by bacteria consortia on small, medium, large, and combination stones in continous culture system with 80 ml/hour flow rate and 10 hours retention were 60,37 %; 59,85 %; 46,73 %; dan 44,47 % respectively.

Keywords: Biofilm, incubation, LAS, MBAS, percentage, stone.

vi

KATA PENGANTAR Puji syukur atas segala berkat dan karunia yang telah diberikan Tuhan Yesus Kristus sehingga penulis memperoleh kesabaran dan ketekunan dalam menyelesaikan skripsi yang berjudul “Potensi Bakteri Pembentuk Biofilm dalam mendegradasi Liniar Alkilbenzen Sulfonat pada Berbagai Ukuran Batu.” Skripsi ini dapat diselesaikan tidak terlepas atas bantuan dan bimbingan berbagai pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Bapak Dr. Suharjono, M.Si, selaku pembimbing pertama yang membimbing proses pelaksanaan dan penyelesaian skripsi, serta membantu biaya penelitian. 2. Bapak Drs. Sutrisno, M.Si, selaku pembimbing kedua yang turut membimbing penyempurnaan skripsi ini. 3. Ibu Tri Ardiyati, MAgrSc.PhD dan Ibu Zulfaidah Penata Gama, S.Si., M.Si. selaku dosen penguji yang turut membantu dalam menyempurnaan skripsi ini. 4. Bapak Dr. Bagyo Yanuwiadi (Penguji) terima kasih atas nasihat dan sarannya untuk perbaikan penulisan skripsi ini. 5. Ibu Umi Marwati, Pak Irfan, mbak Nanik, dan pak Yusuf yang senantiasa memberi masukan dan bantuan selama penelitian. 6. Bapak Suitbertus Sutrisno D.U. B.A. dan Ibu Maria Th. Murniningtyas (Alm.) tercinta yang telah mengasuh, mendidik dengan penuh kasih sayang, mendoakan, dan mermberikan pengorbanan yang tidak terhingga. 7. Teman-teman mikrobiologi 2006 (Eva Rinayanti W., Riza Arifiani, dan Kalvin) yang telah memberi banyak dukungan. 8. Agnesia Berlian Nirwana Sari yang senantiasa memberi semangat dikala suka dan duka. 9. Teman-teman Biologi Angkatan 2006 atas kebersamaan, dukungan, dan kesetiaannya selama ini. Skripsi ini masih belum sempurna, maka diharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sekalian. Semoga skripsi ini dapat memberi manfaat bagi semua pihak. Malang, 21 April 2010 Penulis

vii

DAFTAR ISI Halaman Halaman Judul................................................................................... i

Halaman Pengesahan ........................................................ .....ii Halaman Pernyataan ............................................................. iii Pedoman Penulisan Skripsi ...................................................iv Abstract ...................................................................................vi Kata Pengantar ..................................................................... vii
Abstrak .............................................................................................. v

Daftar Isi.........................................................................................viii Daftar Tabel ...................................................................................... x Daftar Gambar ............................................................................... xi Daftar Lampiran............................................................................ xii Daftar Istilah ................................................................................. xiii Daftar Rumus..................................................................................xv BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ............................................................................ 1 1.2 Rumusan Masalah ........................................................................ 4 1.3 Tujuan Penelitian ......................................................................... 4 1.4 Manfaat Penelitian ....................................................................... 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pencemaran Air Sungai oleh Deterjen .......................................... 5 2.2 Detejen dan Komposisinya ........................................................... 6 2.3 Surfaktan Linear Alkylbenzene Sulfonate (LAS) .......................... 8 2.4 Biofilm .......................................................................................... 9 2.5 Berbagai Bakteri Pembentuk Biofilm Pendegradasi LAS .......... 14 2.6 Mekanisme Biodegradasi LAS ................................................... 16 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian..................................................... 19 3.2 Cara Kerja ................................................................................... 19 3.2.1 Pembuatan stok kultur inokulum konsorsium ......................... 19 3.2.2 Pembuatan kurva standar jumlah sel konsorsium .................... 20 3.2.3 Penentuan fase pertumbuhan logaritmik konsorsium bakteri .. 20 3.2.4 Uji potensi biodegradasi LAS dalam sistem batch culture dan continous culture.................................................................... .21

viii

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Fase Logaritmik Konsorsium Bakteri ........................................ 23 4.2 Pengaruh Ukuran Substrat Batu terhadap Potensi Konsorsium Bakteri dalam Mendegradasi LAS ............................................. 25 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan................................................................................. 42 5.2 Saran ........................................................................................... 42 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................... 43 LAMPIRAN .................................................................................... 49

ix

DAFTAR TABEL Tabel Halaman 7.1 Analisis ragam konsentrasi residu LAS antar waktu dan ukuran batu pada sistem batch culture............................... 55 7.2 Analisis ragam densitas sel konsorsium bakteri antar waktu dan ukuran batu pada sistem batch culture............. 55 7.3 Analisis ragam persentase biodegradasi LAS antar waktu dan ukuran batu pada sistem batch culture........................ 55 7.4 Rata-rata konsentrasi residu LAS antar waktu dengan batu berbagai ukuran pada sistem batch culture................................................................................ 56 7.5 Rata-rata densitas sel konsorsium bakteri antar waktu dengan menggunakan batu berbagai ukuran pada sistem batch culture....................................................................... 57 7.6 Rata-rata persentase biodegradasi LAS oleh konsorsium bakteri antar waktu dengan menggunakan batu berbagai ukuran pada sistem batch culture....................................... 58 7.7 Korelasi antar waktu dengan konsentrasi residu LAS dan densitas sel konsorsium bakteri pada sistem batch culture................................................................................. 59 7.8 Korelasi antar ukuran batu dengan konsentrasiresidu las dan densitas sel konsorsium bakteri pada sistem batch culture................................................................................. 59 7.9 Korelasi antar waktu dengan persentase biodegradasi.... 59 7.10 Analisis ragam konsentrasi residu LAS antar ukuran batu dalam sistem continous culture.......................................... 60 7.11 Analisis ragam densitas sel konsorsium bakteri pendegradasi las antar ukuran batu dalam sistem continous culture................................................................ 60 7.12 Analisis ragam persentase biodegradasi LAS antar ukuran batu dalam sistem continous culture...................... 60

x

DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 2.1 Struktur kimia LAS.......................................................... 9 2.2 Mekanisme pembentukan biofilm..................................... 10 2.3 Waktu yang diperlukan untuk terbentuknya biofilm di perairan............................................................................. 12 2.4 Saluran pembuangan limbah dengan menggunakan biofilm............................................................................... 14 2.5 Mekanisme biodegradasi LAS.......................................... 17 4.1 Kurva pertumbuhan konsorsium Bakteri......................... 23 4.2 Konsentrasi residu LAS antar waktu pada sistem batch culture dengan menggunakan berbagai macam ukuran batu.................................................................................... 27 4.3 Densitas sel konsorsium bakteri pendegradasi LAS antar waktu pada sistem batch culture dengan menggunakan berbagai macam ukuran batu............................................. 30 4.4 Persentase biodegradasi LAS oleh konsorsium bakteri pendegradasi LAS antar waktu pada sistem batch culture dengan menggunakan batu berbagai ukuran...................... 33 4.5 Persentase biodegradasi LAS oleh konsorsium bakteri pendegradasi LAS antar ukuran batu pada sistem continous culture dalam waktu retensi 10 jam.................. 36 8.1 Batu ukuran kecil yang menjadi substrat biofilm ............. 61 8.2 Batu ukuran sedang yang menjadi substrat bagi biofilm .. 61 8.3 Batu ukuran besar yang menjadi substrat bagi biofilm .... 61 8.4 Batu ukuran sedang yang ditempeli biofilm ..................... 61 8.5 Batu ukuran besar yang ditempeli biofilm......................... 61 8.6 Batu ukuran kontrol yang ditempeli biofilm..................... 61 8.7 Sistem Batch culture dengan berbagai ukuran batu.......... 62 8.8 Peneliti melakukan perlakuan dalam sistem continous culture................................................................................ 62

xi

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman 1 Alur penelitian....................................................................... 49 2 Pembuatan kurva standar Linear Alkylbenzene Sulfonate (LAS).................................................................................... 50 3 Komposisi media mineral sederhana dalam 1L akuades...... 52 4 Petunjuk penggunaan spektrofotometer UV Mini 1240...... 53 5 Kurva standar konsentrasi Linear Alkylbenzene Sulfonate (LAS)..................................................................................... 54 6 Kurva standar densitas sel konsorsium sepuluh isolat bakteri pendegradasi LAS.................................................... 54 7 Analisis statistik................................................................... 55 8 Foto-foto penelitian............................................................... 61

xii

DAFTAR ISTILAH Istilah Absorbansi Amphiphilic Keterangan serapan cahaya terhadap panjang gelombang pada cahaya jatuh (Abercrombie et al., 1993) suatu kondisi yang menggambarkan suatu komponen kimia dipengaruhi kondisi hidrofilik (menyukai air) dan lipofilik (menyukai lemak) (the free dictionary, 2010). organisme bersel tunggal (prokariotika), berfilamen, dan dapat berkembang biak dengan kecepatan luar biasa dengan jalan membelah diri (Kashiko, 2004). sistem kultur tertutup Suatu zat yang terbentuk dari agregasi mineral yang terjadi secara alami dan beberapa bahan non mineral seperti fosil atau kaca (Abbott, 2000) Pemecahan senyawa kimia dari suatu bahan oleh kondisi fisiologi dari lingkungan (Diaz, 2008). biodegradasi yang menunjukkan hilangnya sifat-sifat molekul dasar, aktivitas interfasial serta toksisitas dari suatu komponen (Swisher, 1987). biodegradasi lanjutan dari biodegradasi primer yang ditandai dengan terdegradasi total suatu komponen dan biasanya ditandai dengan pecahnya bagian utama, misalnya cincin aromatik (Swisher, 1987). lapisan yang bersifat gelatin yang terdiri atas sel mikroorganisme yang diselubungi matriks polimer organik (Bukhari, 2009). sistem kultur terbuka campuran berbagai bahan, yang digunakan untuk membantu pembersihan dan terbuat dari bahan-bahan turunan minyak bumi (Fresh Patens, 2009).

Bakteri

Batch culture Batu

Biodegradasi Biodegradasi primer Biodegradasi sempurna

Biofilm Continous Culture Deterjen

xiii

Flagella Inokulasi Inokulum

Ion Isolat Kometabolisme

Konsorsium Mikro niche

Surfaktan

Surfaktan anionik Surfaktan kationik Surfaktan nonionik

struktur yang panjang dan halus serta menonjol keluar dari permukaan sel bakteri (Kashiko, 2004). pembiakan bakteri pada suatu perbenihan (Kashiko, 2004). biakan yang mengandung jasad renik tertentu yang memiliki kegiatan atau sifat yang khas untuk dibiakkan pada suatu media atau bahan tertentu (Kashiko, 2004). partikel yang bermuatan listrik (Kashiko, 2004) satu jenis mikroorganisme yang telah murni (Kashiko, 2004). reaksi bersama-sama antara dua komponen dimana hasil dari degradasi komponen kedua bergantung pada keberadaan komponen yang pertama (Ryoo, 2000). suatu komunitas mikroorganisme yang terdiri atas beberapa isolat yang saling menguntungkan (Donlan, 2002). suatu peran mikroorganisme dalam suatu komunitas yang dijalankan secara ekivalen oleh jenis yang berbeda dalam komunitas yang berbeda (Kashiko, 2004). zat aktif permukaan yang mempunyai ujung berbeda yaitu hidrofil (suka air) dan hidrofob (suka lemak) yang dapat menurunkan tegangan permukaan senyawa pelarutnya (Pohan, 2004) Surfaktan yang bermuatan negatif (Pohan, 2004). Surfaktan yang bermuatan positif (Pohan, 2004). Surfaktan yang tidak bermuatan atau netral (Pohan, 2004).

xiv

DAFTAR RUMUS Rumus Halaman 3.1 Laju pertumbuhan pada fase logaritmik............................... 20 3.2 Persentase biodegradasi LAS............................................... 21

xv

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan sumber daya alam yang umumnya digunakan untuk keperluan pertanian, industri dan domestik. Air sebagai sumber daya alam sangat berperan penting dalam mewujudkan kondisi masyarakat yang sehat (Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup, 2009). Seiring dengan semakin meningkatnya pembangunan dan bertambahnya jumlah penduduk, maka kebutuhan air sungai semakin meningkat dan selain itu juga menambah beban pencemaran yang menurunkan kualitas air sungai (Adi, 2007 cit Suharjono, 2008). Salah satu bahan pencemar dari limbah cair pemukiman dan industri yang secara nyata menyebabkan pencemaran adalah deterjen (Romdhoni, 2009). Pencemaran air sungai disebabkan adanya surfaktan di dalam deterjen yang mampu menurunkan tegangan permukaan dan bersifat basa. Surfaktan merupakan bahan aktif dari deterjen yang sulit diuraikan. Salah satu jenis surfaktan yang sering digunakan adalah LAS (Linear Alkylbenzene Sulfonate). Senyawa LAS tersebut relatif resisten untuk didegradasi oleh mikroorganisme dibandingkan dengan sabun, sehingga limbah surfaktan anionik menjadi penyebab utama pencemaran air dan konsentrasinya meningkat seiring waktu (Marchesi et al., 1994). Permasalahan ini diperparah dengan kondisi instalasi pengolahan air milik Perusahaan Air Minum (PAM) dan instalasi pengolahan air limbah industri yang belum mempunyai teknologi yang mampu mengolah limbah deterjen secara sempurna (Aahabib, 2009). Produksi deterjen Indonesia rata-rata per tahun sebesar 380 ribu ton sedangkan tingkat konsumsinya, menurut hasil survei yang dilakukan oleh Pusat Audit Teknologi di wilayah Jabotabek pada tahun 2002, per kapita rata-rata sebesar 8,232 kg (Aahabib, 2009). Peningkatan konsumsi LAS sebagai surfaktan yang dominan pada deterjen dan pembuangan limbahnya ke lingkungan secara terusmenerus akan menyebabkan ekosistem sungai pada umumnya tercemar limbah tersebut (Jerabkova et al., 1999). Menurut Nilai Baku Mutu Air Sungai berdasarkan SK Gubernur Kepala Daerah TK I Jawa Timur No.413 tahun 1987, kandungan deterjen dalam air

1

golongan B maksimum 0,5 mg/L dan golongan C adalah 0,2 mg/L (Sekwilda Tingkat I Jawa Timur, 1988). Pencemaran ekosistem sungai oleh LAS mempengaruhi kualitas air dan viabilitas organisme yang hidup di dalamnya, yaitu menurunkan penetrasi cahaya dan kelarutan oksigen dalam air. Liniar Alkilbenzen Sulfonat (LAS) yang merupakan salah satu surfaktan anionik bersifat toksik terhadap berbagai organisme akuatik, antara lain menghambat pertumbuhan mikroorganisme, seperti Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Saccharomyces cerevisiae dan Chlorella sp. (Marwati, 1994 cit Suharjono, 2008). Surfaktan LAS mempunyai nilai LC50 96 jam terhadap makrozoobentos anggota spesies Melanoides granifera, Lymnea rubiginosa, dan Belamya javanica secara berturut-turut adalah 6,17 mg/L, 11,96 mg/L, dan 18,86 mg/L. Surfaktan LAS berbahaya bagi makrozoobentos tersebut. (Retnaningdyah, 1999 cit Suharjono, 2008). Berdasarkan permasalahan pencemaran air akibat deterjen maka diperlukan suatu metode atau cara untuk mengatasi hal tersebut. Metode untuk mengatasi pencemaran air lebih mengarah kepada peran mikroorganisme dalam mendegradasi deterjen sebagai bahan pencemar. Mikroorganisme yang toleran terhadap LAS konsentrasi tinggi diharapkan mampu mengatasi pencemaran tersebut. Strain bakteri indigenous khususnya strain-strain anggota Genus Pseudomonas telah beradaptasi dengan zat pencemar seperti deterjen dan memiliki potensi yang tinggi dalam mendegradasi LAS. Strainstrain bakteri anggota Genus Pseudomonas tersebar luas di alam dan kelimpahannya predominan yang ditunjukkan dari isolasi pada penelitian-penelitian sebelumnya. Beberapa strain anggota Genus tersebut berperan dalam biodegradasi dan mereduksi toksisitas limbah deterjen yang mengandung bahan aktif LAS (Jerabkova et al., 1999). Marchesi et al. (1994) menemukan Pseudomonas sp. BPS-D indigenous berasal dari perairan tercemar deterjen. Potensi bakteri tersebut dalam mendegradasi surfaktan anionik lebih kuat jika dibandingkan dengan bakteri yang berasal dari air yang tidak tercemar. Potensi bakteri dalam mendegradasi surfaktan LAS akan maksimal jika berada dalam suatu lingkungan kehidupan khusus yang berupa biofilm (Van Beilen, 2001)

2

Biofilm terbentuk karena adanya interaksi antara bakteri dan permukaan yang ditempeli. Interaksi ini terjadi dengan adanya faktor-faktor yang meliputi kelembaban permukaan, nutrisi yang tersedia, pembentukan matriks ekstraselular yang terdiri dari polisakarida, faktor-faktor seperti interaksi muatan permukaan dengan bakteri, ikatan ion, ikatan Van Der Waals, pH dan tegangan permukaan serta pengkondisian permukaan. Bakteri yang membentuk biofilm pada umumnya lebih toleran terhadap kondisi lingkungan yang ekstrim atau faktor lain dibandingkan yang planktonik. Komunitas bakteri tersebut juga banyak ditemui tumbuh subur di sedimen ekosistem sungai yang tercemar deterjen (Donlan, 2002). Berdasarkan penelitian sebelumnya oleh Widyakusuma (2007) konsorsium strain-strain bakteri anggota Pseudomonas dalam sistem kultur kontinyu dengan debit media 40 mL/jam dan 60 mL/jam secara berturut-turut mampu mendegradasi LAS sebesar 44,92% dan 61,30% sedangkan pada sistem kultur tertutup mampu mendegradasi LAS sebesar 44,25% selama waktu inkubasi 96 jam. Menurut penelitian Suharjono (2008) Sungai Sawojajar I tercemar oleh deterjen dan di dalam sungai tersebut terdapat bakteri Genus Pseudomonas yang mampu mendegradasi surfaktan anionik LAS. Dari penelitian tersebut ditemukan keterkaitan antara dinamika komunitas bakteri indigenous Genus Pseudomonas dengan dinamika konsentrasi deterjen. Dalam penelitian Ashari (2009) konsorsium sepuluh isolat bakteri mampu mendegradasi LAS dengan sistem biakan kontinyu dengan debit media 40 mL/jam dan 60 mL/jam secara berturut-turut sebesar 51,06 % dan 67, 23 % Salah satu cara yang memungkinkan untuk tumbuhnya biofilm pendegradasi LAS di sungai atau di pengolahan limbah adalah dengan menggunakan substrat padat yaitu batu. Ukuran batu sangat berpengaruh terhadap jumlah biofilm yang menempel karena akan mempengaruhi luas permukaan yang terbentuk. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian mengenai potensi bakteri pembentuk biofilm dalam mendegradasi Liniar Alkilbenzen Sulfonat pada berbagai ukuran batu.

3

1.2 Rumusan Masalah Dari latar belakang yang telah diuraikan, maka dapat dirumuskan suatu permasalahan yaitu bagaimana potensi bakteri pembentuk biofilm dalam mendegradasi Liniar Alkilbenzen Sulfonat pada berbagai ukuran batu? 1.3 Tujuan Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mempelajari potensi bakteri pembentuk biofilm dalam mendegradasi Liniar Alkilbenzen Sulfonat pada berbagai ukuran batu. 1.4 Manfaat Penelitian Hasil dari penelitian ini diharapkan mampu menjadi salah satu solusi untuk mengurangi pencemaran di ekosistem sungai dan menjadi masukan bagi pemerintah dalam rangka pengelolaan ekosistem sungai yang tercemar limbah deterjen. Selain itu hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan bagi para pengelola unit pengolahan limbah cair yang mengandung deterjen.

4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pencemaran Air Sungai oleh Deterjen Konsentrasi deterjen di ekositem sungai meningkat karena meningkatnya jumlah limbah dari pemukiman dan industri. Deterjen sintetik yang digunakan secara luas di rumah tangga dan industri menyebabkan pencemaran pada ekosistem perairan dimana konsentrasinya meningkat dari tahun ke tahun. Sebagian besar penghuni pemukiman di sekitar Sungai Sawojajar I (91,2%) membuang limbah air deterjen ke saluran drainase karena kurang memahami dampak negatif limbah tersebut terhadap lingkungan hidup (Suharjono, 2008). Berdasarkan fakta lain, Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta menyebutkan bahwa pada tahun 2005 sekitar 77 persen aliran sungai di seluruh Jakarta mengalami pencemaran tingkat berat. Pada tahun sebelumnya tingkat pencemaran sebesar 71 persen. Sungai-sungai di Jakarta mengalami penurunan kualitas tiap tahunnya. Perairan pantai Jakarta juga mengalami pencemaran berat akibat limbah cair dan padat yang dialirkan 13 sungai dari seluruh Jakarta (BPLDH DKI Jakarta, 2010). Data BPLHD Jakarta menyebutkan dari 84 perusahaan yang beroperasi di kawasan Ancol dan Tanjung Priok, Jakarta Utara, hanya 20 perusahaan yang sudah memiliki kesiapan mengolah limbah. Menurunnya kualitas air baku Jakarta yang dicatat BPLHD Jakarta dengan perbandingan data tahun 1989 yaitu terdapat 31 persen pasokan air baku mengalami penurunan menjadi 28,1 persen pada tahun 1996. Penyebab pencemaran sungai di Jakarta, perairan Teluk Jakarta, dan penurunan kualitas air baku Jakarta terletak pada faktor limbah rumah tangga yang banyak mengandung deterjen (BPLDH DKI Jakarta, 2010). Dampak pencemaran limbah deterjen sintetik yang relatif resisten terhadap biodegradasi oleh mikroorganisme adalah timbulnya busa dalam jumlah yang banyak di berbagai tempat perairan yang menerima limbah tersebut. Pada unit pengolahan limbah cair dan jeram-jeram sungai sering ditemukan busa yang menyebabkan mikroorganisme patogen menempel pada busa jika ada tiupan angin (Nielsen et al., 1980). Proses penguraian deterjen akan menghasilkan sisa benzena yang apabila bereaksi dengan khlor akan membentuk

5

senyawa klorobenzena yang sangat berbahaya. Kontaminasi benzena dan khlor sangat mungkin terjadi pada pengolahan air minum, mengingat digunakannya kaporit (dimana di dalamnya terkandung khlor) sebagai pembunuh kuman pada proses khlorinasi (Aahabib, 2010). 2.2 Deterjen dan Komposisinya Deterjen adalah campuran berbagai bahan, yang digunakan untuk membantu pembersihan dan terbuat dari bahan-bahan turunan minyak bumi. Deterjen dibandingkan dengan sabun, mempunyai keunggulan antara lain mempunyai daya cuci yang lebih baik serta tidak terpengaruh oleh kesadahan air (Fresh patens, 2009). Deterjen merupakan salah satu pencemar air yang bersifat basa dan memiliki kandungan kimia yaitu alkil sulfonat liniar dan alkil benzena sulfonat (Chahaya, 2003). Pada umumnya deterjen mengandung berbagai bahan. Bahanbahan penyusun formula deterjen sebagai berikut: a) Surfaktan (surface active agent) merupakan zat aktif permukaan yang mempunyai ujung berbeda yaitu hidrofilik (suka air) dan hidrofobik (suka lemak). b) Senyawa fosfat (bahan pengisi) atau Filler adalah bahan tambahan deterjen yang tidak mempunyai kemampuan meningkatkan daya cuci, tetapi menambah kuantitas. c) Aditif sebagai bahan suplemen atau tambahan untuk membuat produk lebih menarik, misalnya pewangi, pelarut, pemutih, dan pewarna, serta zat natrium karbonat (Na2CO3) dimana tidak berhubungan langsung dengan daya cuci deterjen. d) Senyawa pembentuk busa yang sebenarnya tidak diperlukan dalam proses pencucian dan tidak ada hubungan antara daya bersih dengan busa yang melimpah. e) Flurorescent yang berguna untuk membuat pakaian putih cemerlang (Pohan, 2004). Surfaktan sebagai bahan aktif berfungsi menurunkan tegangan permukaan air sehingga dapat melepaskan kotoran yang menempel pada permukaan bahan. Unsur kunci dari deterjen adalah surfaktan atau bahan aktif permukaan yang mampu menjadikan air menjadi basa dan sebagai bahan pencuci yang lebih baik. Surfaktan terkonsentrasi pada batas permukaan antara air dengan gas (udara), padatan-padatan (debu), dan cairan-cairan yang tidak dapat

6

bercampur (minyak). Hal ini terjadi karena struktur amphiphilic yang berarti bagian yang satu dari molekul adalah bersifat polar atau gugus ionik (sebagai kepala) dengan afinitas yang kuat untuk air dan bagian lainnya suatu hidrokarbon (sebagai ekor) yang tidak suka air. Salah satu jenis dari surfaktan anionik adalah alkil sulfat, suatu jenis yang banyak digunakan untuk berbagai keperluan seperti sampo, kosmetik, pembersih, dan laundry (Pohan, 2004). Berdasarkan bahan dasarnya, surfaktan dapat dibedakan menjadi tiga kelompok besar yaitu surfaktan anionik, kationik, dan nonionik. Surfaktan anionik adalah derivat dari natrium sulfonat atau sulfat dari senyawa alifatis maupun aromatis. Terdapat beberapa golongan surfaktan anionik yaitu (Pohan, 2004): a) Sulfat dari alkohol tinggi, misalnya natrium lauril sulfat yang bersifat stabil dalam suasana asam, alkali, maupun sadah. b) Alkil aril sulfonat. Senyawa ini kurang stabil dibandingkan dengan natrium lauril sulfat tetapi lebih murah sehingga banyak digunakan dalam industri dan rumah tangga. c) Bermacam-macam sulfat dan sulfonat, misalnya alkil sulfonat, sulfat dari karbon tinggi atau ester, sulfat dan sulfonat dari amida, sulfat dan sulfonat dari minyak atau lemak. Adapun contoh surfaktan anionik ini yaitu: LAS (Linear Alkylbenzene Sulfonate), SDS (Sodium Dodecyl Sulphate), ABS (Alkyl Benzene Sulfonate), dan Ammonium Lauryl Sulfate. Hasil uji deteksi kadar surfaktan anionik di perairan yang tercemar langsung limbah domestik sekitar 10-20 mg/L dan di air sungai yang sudah mengalami pengenceran biasanya masih melampaui nilai ambang 0,5 mg/L. Surfaktan tersebut dapat menyebabkan kerusakan dan hilangnya fungsi insang yang akhirnya menyebabkan kematian ikan. Surfaktan tersebut membentuk kompleks protein bilamana terjadi kontak dengan protein akan menyebabkan kegagalan fungsi ginjal, defisiensi oksigen, dan mengganggu mekanisme respirasi dalam epitelium, serta menghambat dilatasi pembuluh darah di insang (Suharjono, 2008). Surfaktan kationik adalah garam dari amonium hidroksida dan ion hidrogen dari amonium diganti dengan alkil. Kemampuan sebagai zat aktif permukaan disebabkan oleh kationnya. Surfaktan kationik dapat digunakan sebagai zat anti bakteri dan pencuci bahan yang tidak dapat dicuci dengan air panas. Macam-macam surfaktan kationik antara lain cetamium (Cetylpydium Chloride) dan CTAB

7

(Cetyltrimethyl Ammonium Bromide). Senyawa CTAB diproduksi secara komersial sebagai alkil amonium bromida. Zat ini aktif sebagai zat anti bakteri pada pH alkali baik untuk bakteri gram negatif maupun gram positif. Senyawa CTAB dapat merusak organisasi membran sel, melepaskan asam, membebaskan asam amino, purin, pirimidin, dan molekul-molekul kecil lainnya. Surfaktan ini juga dapat mendenaturasi protein. Surfaktan nonionik mempunyai sifat tidak mengion dalam air. Selain itu surfaktan tersebut juga memiliki kemampuan polaritas yang tinggi dan merupakan poli alkohol yang larut dalam air. Surfaktan jenis ini tidak digunakan sebagai bahan pencuci tetapi digunakan dalam industri kosmetik dan produksi zat pengemulsi lainnya. Salah sau contoh surfaktan jenis ini adalah LDAO (Lauril Dimethil Amin Oksida) (Tersiawan, 2001 cit. Widyakusuma, 2007). 2.3 Surfaktan Linear Alkylbenzene Sulfonate (LAS) Sampai tahun 1960-an surfaktan anionik yang paling umum digunakan adalah Alkyle Benzene Sulfonate (ABS). Surfaktan anionik ini sangat tidak menguntungkan karena ternyata sangat lambat terurai oleh bakteri pengurai disebabkan oleh adanya rantai bercabang pada strukturnya. Oleh kerena itu ABS kemudian digantikan oleh surfaktan yang dapat dibiodegradasi yang dikenal dengan Linier Alkilbenzen Sulfonat (LAS) (Lutfi, 2004). Sejak LAS menggantikan ABS dalam deterjen, masalah-masalah yang timbul seperti penutupan permukaan air oleh gumpalan busa dan toksisitasnya terhadap ikan di air telah banyak dikurangi. Senyawa Linear alkylbenzene Sulfonate (LAS) (Gambar 2.1) lebih mudah terurai secara alami sehingga di negara-negara yang melindungi kelestarian lingkungan secara ketat, ABS telah dilarang dan diganti dengan LAS. Akan tetapi penggunaan LAS masih menimbulkan pencemaran air (Lutfi, 2004).

8

Hidrofobik Hidrofilik Gambar 2.1 Struktur Kimia LAS (European Chemical Industry Council, 2005) Berdasarkan Gambar 2.1 LAS memiliki gugus alkil yang bersifat hidrofobik, gugus sulfonat yang bersifat hidrofilik, dan cincin aromatik. Cincin aromatik merupakan bagian yang paling sulit untuk didegradasi oleh mikroorganisme. Mikroorganisme yang diharapkan mampu mengatasi pencemaran adalah yang toleran terhadap konsentrasi tinggi LAS di ekosistem sungai. Strain bakteri indigenous khususnya strain-strain anggota Genus Pseudomonas yang sudah beradaptasi dengan pencemaran deterjen memiliki potensi yang tinggi dalam mendegradasi LAS. Potensi bakteri tersebut akan maksimal jika berada dalam suatu lingkungan kehidupan khusus yang berupa biofilm (Donlan, 2002). 2.4 Biofilm Biofilm adalah suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan suatu lingkungan kehidupan yang khusus dari sekelompok mikroorganisme, yang melekat ke suatu permukaan padat dalam lingkungan perairan. Hal ini menjadi mikrolingkungan yang unik dimana mikroorganisme dalam biofilm berbeda secara struktural maupun fungsional dengan yang hidup bebas (planktonik) (Donlan, 2002). Biofilm dapat terbentuk dengan tiga cara (Center for Biofilm Engineering, 2009): 1. Terbentuk di atas substrat padat yang berhubungan dengan suatu kelembaban tertentu. Substrat padat dapat berupa berbagai macam batu, pipa, makanan dan alat-alat medis.

9

Jaringan tersebut antara lain adalah gigi, intestinal mucosa, dan pada organ akar tanaman. 3. Biofilm juga dapat terbentuk pada ruang antara zat cair dengan udara. Ruang yang dimaksud adalah permukaan benda cair. Biofilm dapat terbentuk pada permukaan air laut atau air sungai namun mudah rusak akibat gelombang air karena tidak menempel pada substrat. Biofilm memberi dampak terhadap kehidupan sehari-hari, oleh sebab itu riset mengenai biofilm menjadi penting. Biofilm dapat untuk memurnikan air dengan cara menguraikan senyawa-senyawa berbahaya dalam perairan. Biofilm mempunyai keunggulan dibandingkan sel planktonik dimana dia lebih tahan terhadap bahan antiseptik, temperatur, pH sampai beberapa ribu kali. Pengendalian pencemaran di air dengan memanfaatkan bakteri pembentuk biofilm akan menjadi sangat efektif (Donlan, 2002). Bakteri di habitat alami biasanya membentuk biofilm. Beberapa tahun terakhir, banyak dipelajari mengenai pembentukan biofilm. Motilitas dari flagela dan pili tipe IV pada Pseudomonas aeroginosa berperan dalam pelekatan dan pembentukan biofilm (Deziel et al., 2000).

2. Terbentuk di atas permukaan jaringan dari makhluk hidup.

Gambar 2.2 Mekanisme pembentukan biofilm (Donlan, 2002)

10

Mekanisme pembentukan biofilm (Gambar 2.2) terdiri atas beberapa tahap: 1. Keadaan permukaan substrat. Pipa atau batu yang terkena air akan menyebabkan sejumlah molekul menempel pada permukaan pipa atau batu. Bahan organik tersebut menetralkan kondisi permukaan dimana kondisi ini menolak keberadaan bakteri yang mendekat. 2. Pelekatan bakteri yang berperan sebagai perintis (pioneer). Bakteri yang secara bebas mengapung di permukaan selanjutnya melekatkan dirinya dengan gaya tarik elektrostatik dan energi fisik. Beberapa dari sel akan melekat secara permanen pada permukaan. Pelekatan disebabkan adanya zat polimer ekstraselular atau polimer melekat yang dihasilkan bakteri tersebut. 3. Penumpukan bakteri pada substrat. Polimer ekstraselular yang mengandung polisakarida tidak hanya mempererat sel dengan permukaan substrat tetapi juga melakukan sistem pertukaran ion untuk mengikat dan menyamakan konsentrasi dengan nutrisi yang berasal dari air. Sel perintis akan tumbuh dan berkembang ketika nutrisi mulai terakumulasi. Sel baru selanjutnya memproduksi eksopolimer dan akan meningkatkan volume dari pertukaran ion di permukaan. Kondisi yang stabil akan menyebabkan koloni bakteri tetap melekat. Biofilm yang dewasa sebagian besar volume (75-95%) ditempati oleh matrik polisakarida dengan air. Lumpur atau kotoran yang sangat encer membuat permukaan biofilm menjadi seperti agar-agar dan licin. 4. Koloni sekunder. Eksopolimer tidak hanya mengikat molekul nutrisi melainkan juga mampu mengikat sel mikroorganisme strain yang lain secara fisik dan interaksi elektrostatik. Koloni sekunder yang terikat dan melekat pada substrat melakukan metabolisme terhadap produk hasil pendegradasian dari koloni primer dan sama baiknya menghasilkan produk yang akan didegradasi sel yang lain. Metabolisme yang demikian disebut kometabolisme. Kometabolisme berarti reaksi bersama-sama dalam proses pendegradasian yang dilakukan dua komponen dimana hasil pendegradasian yang dilakukan oleh komponen kedua bergantung pada hasil pendegradasian yang dilakukan komponen pertama (Ryoo et al., 2000).

11

5. Biofilm berfungsi secara maksimal. Dalam kondisi dewasa, biofilm berfungsi secara maksimal dan seperti jaringan hidup yang melekat pada substrat. Kerja sama dalam metabolisme yang dilakukan antar spesies yang berbeda pada mikro-niche merupakan hal yang kompleks. Lapisan anaerobik dapat terbentuk di bawah biofilm aerobik. Biofilm akan tumbuh dan menebal pada zona yang tenang alirannya. Pada zona yang beraliran deras sel akan banyak yang lepas dari substrat. Pseudomonas aeruginosa merupakan spesies yang sering berperan sebagai bakteri perintis (pioneer) (Edstrom, 2009).

Gambar 2.3 Waktu yang diperlukan untuk terbentuknya biofilm di perairan (Center of Biofilm Engineering, 2009) Proses pembentukan biofilm (Gambar 2.3) melalui waktu-waktu tertentu. Pada hitungan detik awal, bakteri mengalami pengendapan yang berubah-ubah. Terdapat bakteri yang mengendap di dasar sungai dan ada pula yang terbawa arus. Dalam hitungan detik hingga menit, bakteri yang terbawa arus selanjutnya melekat pada substrat dan tidak dapat berpindah karena terdapat ikatan yang kuat dengan substrat. Dalam hitungan jam hingga hari terjadi pertumbuhan dan pembelahan sel bakteri. Dalam hitungan jam hingga hari selanjutnya terjadi produksi eksopolimer dan mulai terbentuknya biofilm. Dalam hitungan hari hingga bulan, terjadi pelekatan organisme lain pada biofilm (Center of Biofilm Engineering, 2009).

12

Biofilm terdiri dari sel-sel bakteri yang melekat erat ke suatu permukaan sehingga berada dalam keadaan diam (sesil) dan tidak mudah lepas atau berpindah tempat (irreversible). Pelekatan ini seperti pada bakteri disertai oleh penumpukan bahan-bahan organik yang diselubungi oleh matriks ekstraselular (exopolimer) yang dihasilkan oleh bakteri tersebut. Matriks ini berupa struktur benangbenang bersilang satu sama lain yang dapat berupa perekat bagi biofilm (Donlan, 2002). Bakteri di habitat alamiah umumnya dapat hidup dalam dua lingkungan fisik yang berbeda (Donlan, 2002): a) Keadaan planktonik, berfungsi secara individu dan dapat tumbuh pada keadaan bebas (free-living). b) Keadaan diam (sesil) dimana sel melekat ke suatu permukaan membentuk biofilm dan berfungsi sebagai komunitas yang bekerjasama dengan erat. Secara umum bakteri pembentuk biofilm melekat ke suatu permukaan dengan menghasilkan polisakarida ekstraselular. Biofilm terbentuk karena adanya interaksi antara bakteri dan permukaan yang ditempeli. Interaksi ini terjadi dengan adanya faktor-faktor yang meliputi kelembaban permukaan, makanan yang tersedia, pembentukan matriks ekstraselular (exopolimer) yang terdiri dari polisakarida, faktor-faktor fisikokimiawi seperti interaksi muatan permukaan dan bakteri, ikatan ion, ikatan Van Der Waals, pH, dan tegangan permukaan serta pengkondisian permukaan. Muatan elektron, ikatan Van Der Waals, dan daya tarik elektrostatik paling berpengaruh terhadap pelekatan bakteri meskipun interaksi di alam secara tepat masih diperdebatkan (Donlan, 2002). Biofilm terdiri atas dua komponen utama yaitu sel dari mikroorganisme dan Extracelluler Polymeric Substance (EPS). Extracelluler Polymeric Substance terdiri atas 50 % hingga 90 % dari total karbon organik dari biofilm dan merupakan bahan matriks utama dari biofilm. Extracelluler Polymeric Substance terdiri atas komponen kimia dan fisika tetapi komponen utamanya adalah polisakarida. Senyawa EPS berperan penting dalam kohesi pada biofilm dan adhesi antara biofilm dengan permukaan substrat. Mikroorganisme memiliki kemampuan untuk merespon perubahan lingkungannya untuk mengubah komposisi dari EPS untuk mempertahankan adhesi dengan permukaan. Kation-kation

13

multivalensi seperti kalsium dan magnesium berperan penting dalam mekanisme kohesi pada biofilm. (PubMed Central, 2007).

Gambar 2.4 Saluran Pembuangan Limbah dengan Menggunakan Biofilm (Ashraf dan Naqvi, 2001) Dalam pengolahan limbah suatu pabrik (Gambar 2.4) dapat digunakan proses filtrasi dengan menggunakan biofilm. Filter ini mengandung biofilm. Biofilm tidak hanya diaplikasikan pada media filter (filter media) tetapi juga pada saluran pipa (biofilm on pipe). Hal ini memungkinkan limbah menjadi aman ketika kembali ke lingkungan karena telah berhasil didegradasi oleh biofilm. 2.5 Berbagai Bakteri Pembentuk Biofilm Pendegradasi LAS Linear Alkylbenzene Sulfonate (LAS) dapat didegradasi secara sempurna oleh mikroorganisme yang berperan dalam proses mineralisasi dan mendegradasi setiap bagian dari molekul tersebut. Pada suatu konsorsium bakteri, beberapa bakteri mendegradasi pada sisi rantai alkil dan anggota yang lain mendegradasi pada bagian aromatik (Garcia et al., 1999). Bakteri anggota Genus Pseudomonas diketahui memiliki kemampuan mendegradasi LAS. Strain bakteri anggota Genus Pseudomonas dalam mendegradasi LAS dikode oleh gen-gen yang

14

berada dalam DNA plasmid. Bakteri tersebut mampu mendegradasi LAS karena menggunakan senyawa tersebut yang terdiri dari gugus alkil, gugus benzene, dan gugus sulfonat sebagai sumer karbon, sulfur, dan energi untuk pertumbuhannya. Bakteri dalam formasi konsorsium akan lebih efektif memineralisasi LAS dibandingkan oleh satu spesies. Hal ini dikarenakan pada konsorsium bakteri terdapat beberapa spesies bakteri yang dapat mendegradasi gugus sulfonat maupun cincin aromatik LAS. Jimenez et al. (1991 cit. Suharjono 2008) membuktikan bahwa konsorsium empat isolat bakteri aerob yang berkarakteristik anggota Genus Pseudomonas dan Aeromonas mampu mendegradasi 10 mg/L LAS sebesar 29,1% dalam waktu inkubasi 13 hari. Sigoillot dan Nguyen (1992 cit. Suharjono 2008) menunjukkan bahwa konsorsium 11 strain bakteri yang diisolasi dari laut dan berkarakteristik anggota Genus Pseudomonas, Alcaligenes, Oceanospirillum, dan Aquaspirillum mampu mendegradasi LAS sebesar 92,9% selama 28 hari inkubasi. Konsorsium strain bakteri anggota Pseudomonas fluorescens, Pseudomonas putida, Pseudomonas aeruginosa, dan Aeromonas sp. mampu mendegradasi 90% LAS dalam waktu delapan hari (Widyakusuma, 2007). Bakteri Parvibaculum lavamentivorans mampu mendegradasi LAS dan mampu memanfaatkan LAS sebagai substrat untuk tumbuh. Organisme ini tumbuh pada biofilm di partikel kaca. Pada biofilm tersebut juga terdapat spesies Delftia acidovorans dimana dua fase dari kurva pertumbuhannya dapat diamati. Pada fase pertama LAS dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk pertumbuhan dan 4-C6Sulphophenyl Carboxylate (SPC) dikeluarkan. Pada fase kedua SPC baru dimanfaatkan dalam pertumbuhan bakteri (Schleheck, 2004). Beberapa penelitian juga menunjukkan adanya komunitas bakteri yang mampu mendegradasi surfaktan anionik dalam limbah deterjen sintetik. Strain-strain anggota spesies dari Staphylococcus aureus, S. epidermis,dan Enterobacter gergoviae dalam waktu 40 hari mampu mendegradasi LAS 43,08% (Harijati dkk, 1994), dan strain anggota Klebsilla pneumonia mampu menguraikan LAS 91% dalam 30 hari (Megadutha, 1996 cit. Suharjono, 2008). Kombinasi strain anggota S. auerus dan S. epidermis dalam media sintetik kondisi optimum pH 7,2 dan suhu 30oC dalam waktu 28 hari mampu memecah LAS 98,57% (Putriavisty, 1997).

15

Berdasarkan penelitian Widyakusuma (2007) konsorsium Pseudomonas sp. dalam sistem kultur kontinyu dengan debit media 40 mL/jam dan 60 mL/jam secara berturut-turut mampu mendegradasi LAS sebesar 44,92% dan 61,30% sedangkan pada sistem kultur tertutup mampu mendegradasi LAS sebesar 44,25% selama waktu inkubasi 96 jam. Dari penelitian Suharjono (2008) menunjukkan bahwa semakin tinggi suhu, pH, konduktivitas, dan oksigen terlarut di ekosistem sungai maka semakin tinggi densitas komunitas bakteri dan menyebabkan berkurangnya konsentrasi deterjen. Terdapat dua strain bakteri Pseudomonas sp. yang mampu mendegradasi LAS secara optimum hingga 97,75% dengan suplai media mineral cair 60 mL/jam dalam waktu 10 jam pada sistem biakan kontinyu. Strain bakteri tersebut memiliki plasmid OCT yang menyandikan sistem enzim pendegradasi rantai alkil pada surfaktan dan plasmid TOL yang menyandikan enzim-enzim pengatalisis pemecahan cincin benzene. Menurut Ashari (2009) potensi konsorsium bakteri pembentuk biofilm dalam mendegradasi LAS dengan sistem kultur kontinyu dengan debit media 40 mL/jam dan 60 mL/jam secara berturut-turut sebesar 51,06% dan 67,23%. Penambahan batu dalam bioreaktor sebagai substrat pembentukan biofilm dapat meningkatan persentase degradasi LAS. 2.6 Mekanisme Biodegradasi LAS Biodegradasi didefinisikan sebagai proses pemecahan senyawa organik oleh mikroorganisme menjadi unsur-unsur yang lebih sederhana sehingga dapat dimanfaatkan oleh organisme yang lain. Biodegradasi LAS dibagi menjadi dua tahapan yaitu biodegradasi primer dan biodegradasi sempurna. Biodegradasi LAS adalah transformasi yang disebabkan oleh mikroorganisme terhadap Sulphophenyl Carboxylate (SPC) sebagai hasil biodegradasi awal. Fase biodegradasi ini menunjukkan hilangnya sifat-sifat molekul dasar, aktivitas interfasial, dan toksisitasnya terhadap organisme akuatik. Biodegradasi lanjutan ditandai dengan pecahnya cincin aromatik LAS dan SPC ke dalam air. Tahap ini disebut biodegradasi sempurna (Swisher, 1987).

16

Gambar 2.5 Mekanisme Biodegradasi LAS (European Chemical Industry Council, 2005) Peristiwa biodegradasi LAS (Gambar 2.5) terjadi karena adanya oksidasi pada ujung rantai alkil yang menghasilkan asam karboksiklik-sulfofenil, kemudian dilanjutkan dengan peristiwa βoksidasi yang menyebabkan terurainya senyawa tersebut, dilanjutkan terjadinya pemecahan cincin benzene dan sulfonat sehingga menghasilkan CO2, H2O, SO4, dan biomassa bakteri. Proses biodegradasi sempurna LAS ini pada umumnya membutuhkan aksi beberapa spesies bakteri atau konsorsium bakteri. Proses biodegradasi LAS pada kondisi anaerob terbukti lebih lambat dibandingkan dalam kondisi aerob (Schleheck, 2004). Ciri-ciri dari jenis produk senyawa kimia yang terbentuk adalah tertentu dan khusus meskipun struktur bergantung pada senyawa kimia sebelum didegradasi oleh mikroorganisme tertentu. Senyawa yang mengandung cincin benzene atau aromatik dan gugus alkil atau separuh alifatik dapat mengalami β-oksidasi. Perubahan ini menghasilkan produk berupa alkana dan asam alifatik (Alexander, 1999). Pada β-oksidasi terjadi pemotongan dua unit karbon secara bertahap dan berkesinambungan menghasilkan asetil-CoA. Reaksi ini dikatalisis enzim konstitutif bakteri yang dapat menstimulasi βoksidasi asam lemak (Schleheck, 2004). Produk oksidasi rantai alkil

17

LAS melalui β-oksidasi dilanjutkan desulfonasi membentuk benzoat. Benzoat melalui sistem oksidase dikonversi menjadi katekol yang kemudian dikatabolisme melalui jalur meta atau ortho. Bakteri dapat mengoksidasi benzoat menjadi katekol dan cincin benzene dipecah melalui dua jalur metabolisme yang berbeda, yaitu menghasilkan asetat dan suksinat atau asetaldehid dan piruvat (Wren, 1998 cit. Suharjono, 2008). Enzim yang berperan dalam proses biodegradasi tersebut antara lain (Suharjono, 2008): 1. Enzim oksigenase. Enzim tersebut mampu mengkatalisis hidrokarbon pertama kali dimana telah disisipkan oksigen molekuler oleh mikroorganisme pendegradasi. Enzim ini yang berperan penting pada proses Ω oksidasi 2. Enzim Acyl-Coa dehidrogenase, 2,3-enoil-Coa hidratase, 3hidroksiacyl-CoA dehidrogenase, dan 3-oksoacyl-CoA thiolase. Kelompok enzim tersebut berperan dalam mendegradasi asam lemak-CoA menjadi asetil-CoA pada proses β-oksidasi. 3. Sistem kompleks enzim yang mengandung dioksigenase yang berperan pada proses desulfonasi. Pada proses pendegradasian sangat tergantung pada unsur N dan P sebagai nutrisi bagi mikroorganisme pendegradasi. Suplai N dan P jauh lebih pendek dibandingkan suplai unsur C. Hidrokarbon dan senyawa yang mengandung C menggunakan O2 sebagai electron acceptor. Peran dari N dan P dalam biodegradasi adalah sebagai stimulator sehingga proses berjalan dengan cepat. Hal ini sangat penting untuk dipertimbangkan dimana konsentrasi N dan P yang tinggi dalam air mampu mendukung kemampuan mikroorganisme dalam mendegradasi molekul organik dan menghasilkan biomassa dari level rendah menjadi level biomassa yang tinggi (Alexander, 1999).

18

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian mengenai “ Potensi Bakteri Pembentuk Biofilm Dalam Mendegradasi Liniar Alkilbenzen Sulfonat Pada Berbagai Ukuran Batu” dikerjakan di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Brawijaya Malang. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus 2009 hingga bulan Januari 2010. 3.2 Cara Kerja 3.2.1 Pembuatan stok kultur inokulum konsorsium Sepuluh isolat bakteri (B1, B2, BD1, BD2, BD3, BDF1, BDF2, BDF3, BDF4, dan BF) yang telah diuji karakter fenotipnya pada penelitian sebelumnya oleh Ashari (2009) diremajakan dalam media mineral sederhana Agar miring. Satu oose hasil peremajaan ini diinokulasikan ke dalam media mineral sederhana yang mengandung 10 mg/L LAS, selanjutnya diinkubasi dalam inkubator gojog merk Kuhner Shaker pada kecepatan 120 rpm, 30oC selama 24 jam. Lima mililiter kultur dari masing-masing isolat diukur nilai OD (Optical density). Nilai OD yang paling rendah dijadikan acuan sedangkan yang nilai OD yang tinggi dapat diencerkan dengan media MMS dengan volume sesuai yang dibutuhkan. Nilai OD terendah pada tera absorbansi dengan menggunakan spektrofotometer Genesys 10uv adalah isolat dengan label BD3 sebesar 0,185 pada panjang gelombang 500 nm dan densitas sel sebesar 1,86 x 108 sel/ml. Nilai OD tertinggi dimiliki isolat dengan label B2 sebesar 0,236 pada panjang gelombang 500 nm dengan densitas sel sebesar 2,37 x 108 sel/ml. Masing-masing isolat yang telah disesuaikan nilai OD diinokulasikan ke dalam media mineral sederhana sebagai stok inokulum konsorsium. Stok kultur inokulum ini diinkubasi selama 24 jam, digojog pada kecepatan 120 rpm, pada suhu 30oC, selama 24 jam. Hasil inkubasi ini selanjutnya digunakan untuk membuat kurva standar dan untuk membuat stok inokulum selanjutnya (Widyakusuma, 2007).

19

3.2.2 Pembuatan kurva standar jumlah sel konsorsium Stok inokulum yang telah dibuat sebelumnya dilakukan pengenceran dalam media yang sama untuk mendapatkan suspensi bakteri dengan perbandingan antara media mineral sederhana (MMS) dan stok inokulum adalah 0:8; 1:7; 2:6; 3:5; 4:4; 5:3; 6:2; 7:1 dan 8:0. Masing-masing suspensi bakteri dihitung jumlah selnya dengan haemocytometer sedangkan optical density diukur dengan metode spektrofotometri menggunakan spektrofotometer Genesys 10uv pada panjang gelombang 500 nm. Kurva standar bakteri diperoleh dengan membuat persaman regresi liniar dengan nilai OD pada sumbu y dan jumlah sel pada sumbu x. Kurva standar ini digunakan untuk menentukan jumlah sel bakteri berdasarkan nilai OD yang diperoleh pada uji potensi biodegradasi LAS (Widyakusuma, 2007). 3.2.3 Penentuan fase pertumbuhan logaritmik konsorsium Bakteri

Stok konsorsium yang telah berumur 24 jam diambil sebanyak 30 ml dan diinokulasikan ke dalam 270 ml media MMS dan diinkubasi dengan digojog pada kecepatan 120 rpm pada suhu 30oC selanjutnya dilakukan sampling sebanyak 12 titik setiap dua jam sekali. Langkah berikutnya yaitu hasil sampling diukur OD (Optical density) dengan menggunakan spektrofotometer Genesys 10 uv dengan panjang gelombang 500 nm. Nilai OD kemudian dikonversi ke densitas sel konsorsium bakteri. Parameter densitas sel (sumbu y) waktu inkubasi (sumbu x) digambar dan ditentukan fase-fase pertumbuhannya dan ditentukan fase logaritmik dari pertumbuhan konsorsium bakteri tersebut. Konsorsium bakteri yang berada dalam fase pertumbuhan logaritmik tersebut digunakan sebagai starter dalam percobaan uji potensi biodegradasi LAS. Dari data pertumbuhan sel konsorsium bakteri pada media MMS selanjutnya dihitung laju pertumbuhan pada fase logaritmik dengan rumus 3.1. k = (log Nt – log No) / (0, 301. t) ................. (3.1)
dengan k = konstanta kecepatan pertumbuhan rerata (generasi/jam), Nt = jumlah sel bakteri pada jam ke-t pada fase logaritmik, No = jumlah sel bakteri pada awal fase logaritmik, t = waktu inkubasi ke t, dan to = waktu awal pertumbuhan dalam fase logaritmik (Atlas, 1989 cit Suharjono, 2008).

20

3.2.4 Uji potensi biodegradasi LAS dalam sistem batch culture dan continous culture Uji Biodegradasi sistem batch culture. Percobaan ini dilakukan menurut rancangan acak kelompok dengan perlakuan ukuran batu dan waktu inkubasi serta diulang tiga kali. Berdasarkan kondisi di alam bahwa biofilm dominan melekat pada batu kerikil dan kasar maka empat macam ukuran yaitu kecil (diameter = 13,5 mm; volume = 1,17 ml), sedang (diameter = 38,5 mm; volume = 17,5 ml), besar (diameter = 94,2; volume = 260 ml), dan campuran (kontrol). Waktu inkubasi yang digunakan selama tujuh hari inkubasi. Percobaan dilakukan ulangan sebanyak tiga kali dengan parameter yang diamati yaitu densitas sel bakteri dan konsentrasi residu Linear Alkylbenzene Sulfonate (LAS). Percobaan dilakukan dengan cara starter konsorsium strain bakteri diambil 80 ml dengan nilai OD sebesar 0,233 dan densitas sel sebesar 2,34.108 sel/ml dan diinokulasikan ke dalam 720 ml media mineral sederhana cair yang mengandung 10 mg/L LAS dalam kultur tertutup yang mengandung batu yang telah disterilkan terlebih dahulu. Suspensi bakteri selanjutnya diinkubasikan dalam sistem kultur tertutup (batch culture) pada suhu 30oC yang diberi aerasi dengan waktu inkubasi tujuh hari. Parameter yang diamati setiap 24 jam yaitu densitas sel bakteri dan konsentrasi residu LAS dalam bioreaktor. Densitas sel bakteri ditentukan secara spektrofotometri dengan menggunakan spektrofotometer Genesys 10uv. Konsentrasi LAS diukur dengan metode Methylene Blue Actived Substance (MBAS). Dari data parameter konsentrasi residu LAS dapat diperoleh persentase biodegradasi LAS dengan rumus 3.2
Biodegradasi LAS (%) = [LAS] awal – [LAS] akhir [LAS] awal 100 % .... (3.2)

Data densitas sel bakteri, konsentrasi residu Linear Alkybenzene Sulfonate (LAS), dan persentase biodegradasi LAS selanjutnya dilakukan analisis ragam, korelasi, dan dilanjutkan dengan analisis Beda Nyata Jujur (BNJ) dengan derajat kepercayaan 95%. Analisis data diolah secara statistik dengan program SPSS for Windows Release 13.

21

Uji Biodegradasi sistem continous culture. Percobaan ini juga dilakukan menurut rancangan acak kelompok dengan perlakuan ukuran batu yang diulang tiga kali. Setelah dilakukan pengujian potensi degradasi LAS dengan sistem kultur tertutup maka dilanjutkan dengan pengujian potensi degradasi LAS dengan sistem kultur kontinyu (continous culture). Kultur konsorsium bakteri yang sudah diinkubasikan tujuh hari dalam sistem kultur tertutup kemudian ditambahkan media mineral sederhana baru yang mengandung 10 mg/L LAS yang dihubungkan melalui selang yang diatur alirannya dengan debit medium 80 mL/jam dengan waktu retensi 10 jam. Suspensi bakteri sebanyak 800 ml dalam bioreaktor diinkubasi pada suhu 30oC. Suspensi yang keluar dari bioreaktor setelah 24 jam inkubasi dan mengandung suspensi bakteri dan hasil metabolisme LAS ditampung dalam erlenmeyer 1000 ml. Suspensi tersebut dilakukan penghitungan jumlah sel bakteri dan konsentrasi residu LAS. Densitas sel bakteri diukur secara spektrofotometri dengan menggunakan spektrofotometer Genesys 10uv pada panjang gelombang 500 nm. Konsentrasi residu LAS diukur dengan metode Methylene Blue Actived Substance (MBAS) (Clesceri et al., 1989). Data densitas sel bakteri, konsentrasi residu Linear Alkybenzene Sulfonate (LAS), dan persentase biodegradasi LAS selanjutnya dilakukan analisis ragam dan dilanjutkan dengan analisis Beda Nyata Jujur (BNJ) dengan derajat kepercayaan 95%. Analisis data diolah secara statistik dengan program SPSS for Windows Release 13.

22

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pertumbuhan Konsorsium Bakteri Pendegradasi LAS Pertumbuhan sel bakteri adalah meningkatnya jumlah sel dengan ditandai terbentuknya sel-sel baru. Terjadinya proses pertumbuhan bergantung pada kemampuan sel dalam membentuk protoplasma baru dari nutrien yang tersedia di lingkungan. Pada bakteri, pertumbuhan dilakukan secara aseksual disebut dengan pembelahan biner. Pembelahan biner berlangsung dengan interval yang teratur dengan penambahan atau kelipatan secara eksponensial. Pada setiap pertumbuhan bakteri dalam suatu media terdapat fase-fase atau tahapan pertumbuhan, tahapan tersebut antara lain fase lag, eksponensial, stasioner dan kematian (Volk dan Wheeler, 1993).

4,5 4

sel/ml) Densitas sel (10
8

3,5 3 2,5 2 1,5 1 0,5

0

2

4

6

8

10

12 Jam ke-

14

16

18

20

22

24

Gambar 4.1 Kurva Pertumbuhan Konsorsium Bakteri

23

Berdasarkan kurva pertumbuhan konsorsium bakteri (Gambar 4.1) menunjukkan bahwa pada jam pertama hingga ke-4 konsorsium bakteri berada pada fase lag. Bakteri mengalami fase lag karena bakteri baru saja diinokulasikan atau dibiakkan dalam media MMS. Berdasarkan Gambar 4.1 menunjukkan bahwa bakteri belum melakukan pembelahan secara keseluruhan, tetapi terjadi peningkatan massa volume, sintesis enzim, protein, RNA dan peningkatan aktivitas metabolik. Pada fase tersebut bakteri lebih banyak melakukan adaptasi dengan lingkungan. Fase lag pada bakteri sangat bervariasi, bergantung pada komposisi media, pH, suhu, aerasi, jumlah sel pada inokulum awal dan sifat fisiologis mikroorganisme pada media sebelumnya. Ketika sel telah menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru maka sel mulai membelah hingga mencapai populasi yang maksimum. Fase ini disebut fase logaritmik atau fase eksponensial (Volk dan Wheeler, 1993). Pada jam ke-4 hingga jam ke-12 konsorsium bakteri berada pada fase eksponensial. Fase eksponensial adalah fase dimana bakteri melakukan pembelahan secara biner secara deret ukur (eksponensial). Pada fase ini, terjadi peningkatan jumlah biomassa sel, sehingga dapat diketahui pertumbuhan optimum dan tingkatan produktivitas biomassa sel. Variasi derajat pertumbuhan bakteri pada fase eksponensial ini sangat dipengaruhi oleh sifat genetiknya. Selain itu, derajat pertumbuhan juga dipengaruhi oleh kadar nutrien dalam media, suhu inkubasi, kondisi pH dan aerasi. Ketika derajat pertumbuhan bakteri telah menghasilkan populasi yang maksimum, maka akan terjadi keseimbangan antara jumlah sel yang mati dan jumlah sel yang hidup (Volk dan Wheeler, 1993). Pada jam ke-12 hingga jam ke-22 konsorsium bakteri berada pada fase stasioner. Fase stasioner adalah fase dimana terjadi keseimbangan antara jumlah bakteri yang mati dengan yang masih tumbuh. Ada tiga penyebab utama terjadinya fase tersebut, yaitu: 1. ketidaktersediaan nutrien. 2. penumpukan metabolit penghambat dan produk akhir. 3. kekurangan ruang gerak. Fase stasioner terjadi pada saat laju pertumbuhan bakteri sama dengan laju kematiannya, sehingga jumlah bakteri keseluruhan bakteri akan tetap. Keseimbangan jumlah keseluruhan bakteri ini terjadi karena adanya pengurangan derajat pembelahan sel. Hal ini

24

disebabkan oleh kadar nutrisi yang berkurang dan terjadi akumulasi produk toksik sehingga menggangu pembelahan sel. Fase stasioner ini dilanjutkan dengan fase kematian yang ditandai dengan peningkatan laju kematian yang melampaui laju pertumbuhan, sehingga secara keseluruhan terjadi penurunan populasi bakteri (Volk dan Wheeler, 1993). Pembelahan bakteri dapat ditentukan dalam hitungan waktu. Pembelahan bakteri bergantung pada jenis dan strain bakteri serta faktor lingkungan, seperti nutrien, pH, temperatur dan lain sebagainya. Ada beberapa contoh bakteri yang mampu membelah dalam hitungan menit, seperti Escherichia coli 17 menit, Staphylococcus aureus 27-30 menit dan Treponema pallidum 1980 menit (Volk dan Wheeler, 1993). Fase logaritmik dari konsorsium sepuluh isolat bakteri tersebut sangat penting untuk tujuan mendapatkan pertumbuhan optimum dari konsorsium bakteri tersebut. Konsorsium bakteri memiliki laju pertumbuhan tercepat pada fase logaritmik. Konsorsium bakteri mulai diperlakukan pada sistem kultur tertutup (batch culture) untuk mendegradasi LAS ketika mencapai fase logaritmik. Pada penelitian ini digunakan konsorsium bakteri pada jam ke-10 dengan densitas sel 2,34.108 sel/ml dengan alasan konsorsium bakteri masih berada dalam fase pertumbuhan logaritmiknya. Titik maksimum dari fase logaritmik berada pada jam ke-12. Penelitian ini tidak menggunakan jam ke-12 karena sangat dekat dengan fase stasioner dimana pertumbuhan konsorsium bakteri mulai menurun sehingga jumlah sel yang mati dan yang hidup hampir sama. Pada fase logaritmik, konsorsium bakteri memiliki laju pertumbuhan sebesar 0,36 generasi/jam. 4.2 Pengaruh Ukuran Substrat Batu terhadap Konsorsium Bakteri dalam Biodegradasi LAS Potensi

Penelitian ini dilakukan dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua perlakuan dan dua parameter uji dalam kultur tertutup (batch culture) dan satu perlakuan dan dua parameter uji dalam sistem kontinyu (continous culture). Pada sistem batch culture perlakuan yang digunakan adalah ukuran substrat batu dan waktu inkubasi. Parameter yang diamati adalah konsentrasi residu LAS

25

dan densitas sel konsorsium bakteri. Pada sistem continous culture perlakuan yang digunakan ukuran batu dan parameter yang diamati adalah konsentrasi residu LAS dan densitas sel konsorsium bakteri. Berdasarkan analisis ragam pada sistem batch culture menunjukkan adanya pengaruh yang nyata (p<0,05) waktu inkubasi dan ukuran batu terhadap konsentrasi residu LAS (Tabel 7.1 dan Gambar.4.2). Pengaruh yang nyata juga ditunjukkan waktu inkubasi dan ukuran batu terhadap densitas sel konsorsium bakteri (Tabel 7.2 dan Gambar 4.3). Waktu inkubasi dan ukuran batu juga berpengaruh secara nyata terhadap persentase biodegradasi (Tabel 7.3 dan Gambar 4.4). Hasil analisis korelasi pada sistem batch culture menunjukkan bahwa konsentrasi residu LAS memiliki korelasi positif yang sangat signifikan dengan densitas sel konsorsium bakteri (Tabel 7.7). Hal itu berarti ketika konsentrasi residu LAS mengalami penurunan yang signifikan, densitas sel juga mengalami penurunan yang signifikan. Densitas sel mengalami penurunan karena sebagian besar sel telah menempel di permukaan batu untuk membentuk biofilm. Waktu inkubasi memiliki korelasi negatif yang signifikan dengan densitas sel dan konsentrasi residu LAS (Tabel 7.7). Waktu inkubasi yang digunakan pada penelitian ini adalah selama tujuh hari. Semakin lama waktu inkubasi akan menyebabkan densitas sel planktonik semakin menurun. Waktu inkubasi ini memberikan pengaruh terhadap penurunan konsentrasi residu LAS. Semakin lama waktu inkubasi akan menyebabkan konsentrasi residu LAS semakin kecil. Waktu inkubasi memiliki korelasi positif yang sangat signifikan terhadap persentase biodegradasi LAS (Tabel 7.9). Semakin bertambahnya waktu inkubasi menyebabkan persentase biodegradasi LAS semakin meningkat.

26

10 K o n s e n tra s i R e s id u L A S (m g /L ) 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 0 1 2 3 4 5 6

batu kecil batu sedang batu besar batu kontrol

7

8

Waktu Inkubasi (hari ke-)

Gambar 4.2 Konsentrasi residu LAS antar waktu pada sistem batch culture dengan menggunakan berbagai macam ukuran batu Berdasarkan Gambar 4.2, konsentrasi residu LAS terendah antar ukuran batu terdapat pada batu kecil dan sedang pada hari ketujuh. Hal ini ditunjukkan saat waktu inkubasi hari kedua sebesar 4,39 mg/L hingga hari ketujuh sebesar 3,31 mg/L, grafik berada di bawah grafik ukuran batu besar dan kontrol. Secara umum konsentrasi residu LAS pada batu kecil dan sedang relatif sama dari awal inkubasi hingga akhir inkubasi. Hal tersebut dibuktikan pada konsentrasi residu LAS yang mendekati sama pada hari kedua (batu kecil 4,39 mg/L dan batu sedang 4,56 mg/L), hari keenam (batu kecil 3,62 mg/L dan batu sedang 3,70 mg/L), dan hari ketujuh (batu kecil 3,31 mg/L dan batu sedang 3,37 mg/L). Pada titik-titik tersebut kedua ukuran batu memiliki nilai yang hampir sama dan tidak

27

berbeda nyata. Konsentrasi residu LAS pada batu kontrol memiliki nilai yang mendekati batu kecil dan sedang sedangkan konsentrasi residu LAS pada batu besar memiliki nilai yang cukup berbeda dengan ketiga ukuran batu. Pada batu kecil dan sedang terjadi penurunan konsentrasi residu LAS secara drastis dari awal inkubasi hingga hari kedua dan setelah itu dari hari kedua hingga hari ketujuh penurunan tidak terlalu besar dan cenderung stagnan. Konsentrasi residu LAS antara batu kecil dengan batu sedang memiliki pola yang sama. Pada batu kontrol terjadi penurunan konsentrasi residu LAS secara drastis dari awal inkubasi hingga hari ketiga dan setelah itu hingga hari ketujuh cenderung stagnan. Pada batu besar, konsentrasi residu LAS mengalami penurunan secara gradual dari awal inkubasi hingga hari ketujuh dan jika dibandingkan dengan ketiga perlakuan yang lain mengalami penurunan yang paling kecil. Pada substrat batu ukuran kecil, konsentrasi LAS awal sebesar 8,87 mg/L tidak berbeda nyata (p>0,05) dengan waktu inkubasi hari pertama namun berbeda nyata dengan hari kedua hingga hari ketujuh. Konsentrasi LAS sebesar 6,72 mg/L pada waktu inkubasi hari pertama berbeda nyata dengan waktu inkubasi hari ketujuh. Konsentrasi LAS pada waktu inkubasi hari kedua hingga hari ketujuh tidak berbeda nyata (p>0,05). Hal tersebut menunjukkan bahwa konsentrasi residu LAS pada batu kecil mengalami penurunan secara drastis pada hari kedua dan setelah itu konsentrasi residu LAS cenderung stagnan dan mengalami penurunan yang tidak terlalu besar hingga hari ketujuh. Konsentrasi LAS pada awal inkubasi pada substrat batu ukuran sedang sebesar 8,99 mg/L dan kemudian berkurang menjadi 6,41 mg/L pada inkubasi hari pertama. Konsentrasi LAS awal inkubasi dengan konsentrasi residu LAS hari pertama tidak berbeda nyata. Konsentrasi LAS awal inkubasi dengan konsentrasi residu LAS pada inkubasi hari kedua hingga hari ketujuh berbeda nyata. Konsentrasi residu LAS pada inkubasi hari pertama tidak berbeda nyata dengan konsentrasi LAS pada inkubasi hari kedua hingga ketujuh. Hal tersebut menunjukkan bahwa konsentrasi residu LAS mengalami penurunan drastis dari awal inkubasi hingga hari kedua dan stagnan mulai hari kedua hingga hari ketujuh.

28

Konsentrasi LAS pada awal inkubasi pada substrat batu ukuran besar sebesar 9,21 mg/L dan menurun menjadi 7,34 pada hari pertama serta pada akhir inkubasi menjadi 5,1 mg/L. Konsentrasi LAS pada awal inkubasi dengan konsentrasi residu LAS pada hari pertama hingga hari ketiga tidak berbeda nyata. Konsentrasi residu LAS pada awal inkubasi berbeda nyata dengan konsentrasi residu LAS pada hari keempat hingga ketujuh. Berdasarkan hasil di atas, penurunan konsentrasi residu LAS pada batu besar terjadi secara gradual. Penurunan konsentrasi residu LAS antar waktu terjadi dalam jumlah yang relatif kecil. Pada batu ukuran besar, konsorsium bakteri membutuhkan waktu yang lebih lama untuk melekat. Pada batu besar, konsorsium bakteri hanya mampu melekat pada permukaan atas saja karena luasan permukaan yang terbentuk tidak seluas dengan yang dibentuk oleh kumpulan batu kecil atau batu sedang. Konsentrasi LAS pada awal inkubasi dengan menggunakan substrat berbagai ukuran batu atau campuran (kontrol) sebesar 8,35 mg/L. Konsentrasi LAS tersebut menurun menjadi 6,22 mg/L pada inkubasi hari pertama. Konsentrasi LAS berangsur-angsur menurun hingga menjadi 4,28 mg/L pada akhir inkubasi (hari ketujuh). Konsentrasi LAS pada awal inkubasi tidak berbeda nyata dengan konsentrasi residu LAS pada hari pertama namun berbeda nyata dengan konsentrasi residu hari kedua hingga hari terakhir inkubasi. Penurunan secara drastis konsentrasi residu LAS terjadi pada awal inkubasi hingga hari ketiga. Konsentrasi residu LAS cenderung stagnan pada hari ketiga hingga hari ketujuh dan penurunan konsentrasi residu LAS tidak terlalu besar. Persentase biodegradasi LAS pada batu ukuran kecil dan sedang lebih besar daripada batu besar dan kontrol karena mampu membentuk luas permukaan yang lebih besar. Hal ini memungkinkan banyak biofilm yang menempel di permukaan batu ukuran kecil dan sedang. Konsentrasi residu LAS pada hari ke-2 hingga hari ke-7 cenderung stagnan karena tidak ada asupan nutrisi yang baru sehingga menyebabkan viabilitas konsorsium bakteri menurun.

29

16 14 D e n s ita s S e l (1 0 7 s e l/m l) 12 10 8 6 4 2 0 0 1 2 3 4 5 Waktu Inkubasi (hari ke-) 6 7 8

batu kecil batu sedang batu besar batu kontrol

Gambar 4.3 Densitas sel konsorsium bakteri pendegradasi LAS antar waktu pada sistem batch culture dengan menggunakan berbagai macam ukuran batu Berdasarkan Gambar 4.3 pola densitas sel konsorsium bakteri pada batu ukuran kecil, sedang, dan besar adalah sama. Densitas sel yang diukur merupakan densitas sel yang berada di kolom air dimana pada kolom air, sel bakteri bersifat planktonik. Secara keseluruhan densitas sel pada batu kecil, sedang, dan besar pada hari pertama terjadi penurunan densitas sel konsorsium bakteri planktonik kurang lebih sebesar 83,6 %. Densitas sel pada awal inkubasi hingga hari pertama mengalami penurunan yang drastis. Hal ini kemungkinan disebabkan konsorsium bakteri membentuk biofilm dan melekat di batu sehingga densitas konsorsium bakteri planktonik sedikit. Hal ini ditunjukkan densitas sel yang planktonik sedikit namun terjadi penurunan kadar residu LAS yang signifikan sampai pada hari kedua inkubasi. Pada hari pertama hingga hari ketujuh densitas sel mengalami penurunan yang tidak terlalu besar dan cenderung

30

stagnan karena pada batu besar jumlah biofilm yang menempel tidak terlalu banyak karena luas permukaan yang terbentuk kecil. Berdasarkan Gambar 4.3 diketahui bahwa densitas sel pada batu ukuran kecil, sedang, dan besar relatif sama. Hal ini ditunjukkan dengan saling berhimpitnya titik-titik grafik pada batu kecil, batu sedang, dan batu besar. Densitas sel pada batu kontrol relatif berbeda dengan ketiga jenis ukuran batu. Hal ini ditunjukkan dengan terpisahnya titik-titik pada grafik batu ukuran kontrol pada awal inkubasi hingga hari kedua dan hari kelima hingga hari keenam. Pada substrat batu ukuran kecil, densitas sel konsorsium bakteri pada awal inkubasi sebanyak 1,15 x 108 sel/ml dan berkurang menjadi 1,48 x 107 sel/ml pada inkubasi hari pertama. Selama tujuh hari inkubasi, densitas sel terendah terjadi pada inkubasi hari kelima yaitu terdapat 8,77 x 106 sel/ml. Densitas sel konsorsium bakteri pada awal inkubasi berbeda nyata (p<0,05) dengan densitas sel pada inkubasi hari kedua, keempat, kelima dan hari ketujuh serta tidak berbeda nyata dengan hari pertama, ketiga, dan hari keenam. Berdasarkan hasil di atas, konsorsium bakteri melekat secara optimum pada substrat pada hari kelima dan dibuktikan dengan densitas sel konsorsium bakteri planktonik sebesar 8,77 x 106. Konsorsium bakteri di awal inkubasi masih terlalu banyak di kolom air sehingga memiliki densitas sel yang tinggi. Densitas sel yang semakin berkurang menunjukkan bahwa sel bakteri melekat pada substrat dan bukan disebabkan oleh kematian sel bakteri. Pada substrat batu ukuran sedang, densitas sel konsorsium bakteri pada awal inkubasi sebesar 1,06 x 108 sel/ml berbeda nyata dengan densitas sel pada inkubasi hari kelima sebesar 9,43 x 106. Densitas sel konsorsium bakteri pada awal inkubasi tidak berbeda nyata dengan densitas sel pada inkubasi hari pertama, kedua, ketiga, keempat, keenam, dan ketujuh sedangkan densitas sel pada inkubasi hari pertama hingga ketujuh tidak berbeda nyata. Berdasarkan hasil tersebut, konsorsium bakteri melekat secara stabil pada batu ukuran sedang. Pada batu ukuran sedang, konsorsium bakteri mampu melekat di seluruh permukaan batu. Pada substrat batu ukuran besar, densitas sel konsorsium bakteri pada awal inkubasi sebesar 1,11 x 108 sel/ml mengalami penurunan pada hari pertama menjadi 2,01 x 107 sel/ml dan terus menurun hingga hari ketiga menjadi 8,43 x 106 sel/ml. Jumlah tersebut meningkat menjadi 1,04 x 107 sel/ml pada hari keempat. Penurunan

31

densitas sel planktonik pada batu besar terjadi secara drastis dari awal inkubasi hingga hari pertama. Faktor yang menyebabkan hal tersebut adalah luas permukaan tidak seluas dan serapat pada substrat batu kecil atau sedang sehingga hanya sedikit konsorsium bakteri yang menempel pada batu dan membentuk biofilm. Ketidakstabilan densitas sel ditunjukkan dengan menurunnya densitas sel pada hari kelima dan keenam kemudian densitas sel meningkat kembali pada hari ketujuh. Densitas sel meningkat pada hari ketujuh karena masih terdapat cukup banyak bakteri planktonik dimana bakteri tersebut masih tumbuh. Pada substrat batu ukuran campuran (kontrol), densitas sel konsorsium bakteri pada awal inkubasi sebesar 1,34 x 108 sel/ml. Penurunan densitas sel planktonik pada batu kontrol lebih lambat jika dibandingkan dengan ketiga batu. Penurunan drastis densitas sel terjadi dari awal inkubasi hingga hari ketiga. Densitas sel konsorsium bakteri pada awal inkubasi dengan hari pertama inkubasi tidak berbeda nyata karena substrat batu telah ditumbuhi banyak biofilm (diambil dari sungai di Sawojajar) dan cenderung stabil. Densitas sel pada hari pertama tidak berbeda nyata dengan densitas sel pada inkubasi hari kelima. Batu yang telah ditumbuhi biofilm jika kemudian ditambah dengan konsorsium sepuluh isolat maka densitas sel konsorsium bakteri akan meningkat. Komunitas bakteri yang telah menempel pada batu belum tentu berasosiasi positif dengan konsorsium bakteri yang diinokulasikan pada media. Akibat dari hal tersebut adalah dimungkinkan terjadinya kompetisi antara kedua kelompok bakteri tersebut.

32

p e r s e n ta s e b io d e g ra d a s i L A S (% )

140 120 100 80 60 40 20 0 1 2 3 4 5 6 7 waktu inkubasi (hari ke-) batu kecil batu sedang batu besar batu kontrol

Gambar 4.4 Persentase biodegradasi LAS oleh konsorsium bakteri pendegradasi LAS antar waktu pada sistem batch culture dengan menggunakan batu berbagai ukuran Berdasarkan Gambar 4.4, konsorsium bakteri yang terdiri atas sepuluh isolat mampu mendegradasi LAS hingga 61,47 % selama tujuh hari inkubasi dalam sistem batch culture dengan menggunakan batu kecil sebagai substrat. Persentase biodegradasi LAS pada awal inkubasi sebesar 0 % berbeda nyata dengan inkubasi hari kedua sebesar 48,44 % hingga hari ketujuh sebesar 61,47 %. Persentase biodegradasi hari pertama sebesar 23,82 % tidak berbeda nyata dengan hari kedua sebesar 48,44 % hingga hari ketujuh sebesar 61,47 %. Berdasarkan Gambar 4.4 diketahui bahwa konsorsium bakteri mampu mendegradasi LAS hingga 61,63 % selama tujuh hari dengan menggunakan batu ukuran sedang sebagai substrat. Persentase biodegradasi pada awal inkubasi sebesar 0 % dengan inkubasi hari pertama sebesar 27,34 % tidak berbeda nyata. Perubahan persentase biodegradasi secara nyata mulai terjadi pada hari kedua dan terjadi pendegradasian LAS hingga 48,32 % terhadap konsentrasi LAS pada

33

awal inkubasi. Hal tersebut juga terjadi pada sistem batch culture dengan menggunakan substrat batu ukuran kecil. Berdasarkan Gambar 4.4 diketahui bahwa konsorsium bakteri mampu mendegradasi LAS hingga 44,47 % selama tujuh hari dengan menggunakan batu besar sebagai substrat. Persentase biodegradasi ini lebih kecil dibanding dengan menggunakan substrat batu ukuran kecil dan sedang. Persentase biodegradasi LAS ini hampir sama dengan persentase Biodegradasi LAS oleh konsorsium enam strain anggota Pseudomonas sp. sebesar 44,25 % pada penelitian Widyakusuma (2007). Persentase biodegradasi LAS dengan menggunakan substrat batu ukuran besar ini berbeda nyata dari awal inkubasi dengan hari kedua hingga akhir inkubasi. Hari kedua terjadi peningkatan aktivitas enzim dalam mendegradasi LAS. Hal tersebut ditunjukkan dengan kenaikan persentase biodegradasi LAS secara signifikan dari awal inkubasi hingga hari kedua. Persentase biodegradasi LAS selama tujuh hari waktu inkubasi pada batu ukuran campuran (kontrol) adalah 48,76 %. Perubahan persentase biodegradasi secara nyata mulai terjadi pada hari pertama inkubasi terhadap konsentrasi LAS awal inkubasi. Persentase biodegradasi LAS oleh konsorsium bakteri pada sistem batch culture dengan menggunakan substrat batu ukuran campuran (kontrol) dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor yang mempengaruhi adalah : (a) ukuran batu beraneka macam yaitu ukuran kecil, sedang, dan besar. (b) batu sudah ditumbuhi banyak biofilm sebelum perlakuan (diambil dari ekosistem sungai Sawojajar). (c) mekanisme asosiasi, antagonis, dan kompetisi dimungkinkan terjadi karena biofilm terdiri atas beragam bakteri pendegradasi LAS. Berdasarkan uji Beda Nyata Jujur dari parameter konsentrasi residu LAS dengan perlakuan waktu inkubasi dan ukuran batu (Tabel 7.4) terdapat beda nyata antara awal inkubasi dengan hari kedua hingga akhir inkubasi pada ukuran batu kecil, sedang, dan kontrol. Perbedaan itu jelas ditunjukkan dari konsentrasi residu LAS yang terukur. Berdasarkan hasil persentase biodegradasi LAS dari ketiga ukuran batu, aplikasi sistem kontinyu seharusnya dimulai pada hari kedua karena setelah hari kedua penurunan konsentrasi residu tidak signifikan.

34

Berdasarkan uji Beda Nyata Jujur dari parameter densitas sel dengan perlakuan waktu inkubasi dan ukuran batu (Tabel 7.5) terdapat beda nyata antara awal inkubasi dengan hari kedua pada batu ukuran kecil dan besar. Hal ini menunjukkan bahwa konsorsium bakteri bekerja optimum juga ditandai dengan adanya penurunan densitas sel. Penurunan densitas sel tersebut disebabkan adanya pelekatan konsorsium bakteri terhadap substrat. Proses yang demikian akan menyebabkan terbentuknya biofilm yang mampu mendegradasi LAS. Berdasarkan uji Beda Nyata Jujur dari parameter presentase biodegradasi LAS dengan perlakuan waktu inkubasi dengan ukuran batu (Tabel 7.6) terdapat beda nyata antara awal inkubasi dan hari kedua hingga akhir inkubasi dari semua ukuran batu. Hal ini menunjukkan bahwa pendegradasian berlangsung optimum dari awal inkubasi hingga hari kedua. Selanjutnya, persentase biodegradasi berlangsung stagnan dari hari kedua hingga hari ketujuh. Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya, biofilm yang mampu mendegradasi LAS didominasi oleh bakteri dari Genus Pseudomonas beberapa contohnya adalah Pseudomonas aeruginosa, Pseudomonas putida, Pseudomonas fluorescens dan Pseudomonas dengan strain-strain lainnya. Hasil penelitian Marchesi et al. (1994) menunjukkan bahwa beberapa strain anggota Pseudomonas memiliki peran dominan dan berpotensi tinggi dalam mendegradasi LAS. Hasil penelitian Marques et al. (1997) menunjukkan bahwa bakteri Pseudomonas strain CCMI507 dari perairan tercemar deterjen mampu mendegradasi hingga 77 % LAS dalam konsentrasi 5 mg/L. Jerabkova et al. (1999) membuktikan bahwa Pseudomonas sp. strain C12B pembentuk biofilm pada kultur terbuka dengan debit media 18 mL/jam mampu mendegradasi SDS hingga 92 %. Berdasarkan penelitian di atas Pseudomonas sp. strain C12B tergolong bakteri berpotensi biodegradasi tinggi jika dibandingkan penelitian yang dilakukan penulis. Namun biodegradasi tersebut dilakukan terhadap SDS sedangkan penelitian yang dilakukan penulis terhadap LAS. Berdasarkan penelitian Nastiti (2004) Pseudomonas sp. strain J mampu mendegradasi LAS 52,76 %, Pseudomonas sp. strain R 48,90%, dan Pseudomonas putida FNCC 071 34,97 % selama waktu inkubasi 96 jam. Jika dibandingkan dengan penelitian penulis,

35

potensi biodegradasi LAS yang dilakukan konsorsium sepuluh isolat lebih tinggi dari penelitian tersebut. Waktu inkubasi yang dilakukan juga lebih lama yaitu tujuh hari. Berdasarkan penelitian Mahardika (2005) Pseudomonas strain A memiliki potensi biodegradasi LAS 40,94 % dan Pseudomonas strain B 46,34 % dalam waktu inkubasi sembilan hari. Jika dibandingkan dengan penelitian penulis, potensi biodegradasi LAS yang dilakukan konsorsium sepuluh isolat lebih baik daripada Pseudomonas strain A dan strain B. Hal ini dikarenakan biodegradasi LAS dilakukan oleh konsorsium bakteri. Hal ini menyebabkan biodegradasi lebih optimum karena antar bakteri saling berasosiasi secara sinergis.
90 p e rs e n t a s e b io d e g ra d a s i ( % ) 80 70 60 50 40 30 20 10 0 batu kecil batu sedang batu besar batu kontrol ukuran batu 59,85 60,37 44,47 46,73

Gambar 4.5 Persentase biodegradasi LAS oleh konsorsium bakteri pendegradasi LAS antar ukuran batu pada sistem continous culture dalam waktu retensi 10 jam.

36

Berdasarkan analisis ragam pada percobaan sistem kontinyu (continous culture) (Tabel 7.10) menunjukkan tidak adanya pengaruh yang nyata (p>0,05) ukuran batu terhadap konsentrasi residu LAS. Ukuran batu juga tidak memberi pengaruh yang nyata terhadap densitas sel konsorsium (Tabel 7.11) dan persentase biodegradasi (Tabel 7.12). Namun demikian ukuran batu kecil dan sedang memberikan dampak terhadap potensi biodegradasi yang lebih besar daripada ukuran batu besar dan kontrol. Persentase biodegradasi LAS dengan sistem continous culture terbukti lebih efektif dibandingkan dengan sistem batch culture. Persentase biodegradasi LAS dengan menggunakan continous culture dengan debit medium 80 mL/jam (volume 800 ml dengan waktu retensi 10 jam) hampir menyamai persentase biodegradasi dengan sistem batch culture selama tujuh hari inkubasi. Berdasarkan Gambar 4.5 kemampuan mendegradasi tertinggi dimiliki oleh konsorsium bakteri yang menggunakan substrat batu ukuran sedang berikutnya oleh batu ukuran kecil, kontrol, dan yang terendah batu ukuran besar. Persentase biodegradasi yang tinggi pada sistem continous culture disebabkan adanya asupan nutrisi dan adanya aliran keluar untuk LAS yang terdegradasi. Hal ini menyebabkan viabilitas dari bakteri menjadi lebih baik dan menjaga kondisi bakteri tetap dalam fase logaritmik. Berdasarkan hasil penelitian Widyakusuma (2007) potensi biodegradasi LAS enam strain bakteri anggota Genus Pseudomonas sebesar 44,92% dan 61,30% pada sistem kultur kontinyu dengan debit media 40 mL/jam dan 60 mL/jam. Potensi enam strain bakteri anggota Genus Pseudomonas dengan debit media 40 mL/jam masih lebih rendah jika dibandingkan dengan potensi sepuluh isolat bakteri pendegradasi LAS pada batu ukuran kecil, sedang, dan kontrol dengan debit media 80 mL/jam. Hal ini membuktikan bahwa debit media berpengaruh terhadap biodegradasi LAS. Semakin besar debit media akan menyebabkan semakin banyak asupan nutrisi yang masuk sehingga dapat digunakan bakteri sebagai sumber energi. Berdasarkan hasil penelitian (Ashari, 2009) potensi konsorsium bakteri pembentuk biofilm dalam mendegradasi LAS dengan sistem kultur kontinyu dengan debit media 40 mL/jam dan 60 mL/jam secara berturut-turut sebesar 51,06% dan 67,23%. Sepuluh isolat bakteri yang diisolasi oleh Ashari (2009) tersebut diperlakukan pada sistem kultur kontinyu dengan debit media 80 mL/jam pada

37

penelitian yang dilakukan penulis. Potensi biodegradasi LAS oleh sepuluh isolat bakteri dengan debit media 80 mL/jam pada batu kecil, sedang, besar, dan kontrol secara berturut-turut adalah 59,85%, 60,37%, 44,47%, dan 46,73%. Berdasarkan hasil di atas potensi biodegradasi dengan debit media 60 mL/jam dan 80 mL/jam lebih baik jika dibandingkan dengan debit media 40 mL/jam. Hal ini dapat disebabkan pada debit media 40 mL/jam masih terdapat akumulasi senyawa intermediet hasil metabolisme LAS yang dimungkinkan bersifat toksik pada beberapa isolat bakteri penyusun konsorsium bakteri. Senyawa tersebut dapat menghambat proses biodegradasi primer LAS tersebut (Ashari, 2009). Debit media 60 mL/jam lebih efektif jika dibandingkan dengan debit media 80 mL/jam. Debit media yang terlalu cepat dapat menyebabkan bakteri kesulitan dalam mendegradasi LAS karena LAS terlalu cepat keluar dari sistem kultur sebelum mengalami mekanisme biodegradasi. Perlakuan dengan debit media 60 mL/jam menghasilkan kondisi bioreaktor yang baik karena suplai nutrisi yang ditambahkan lebih cepat dibandingkan debit media 40 mL/jam dan tidak terlalu cepat seperti debit media 80 mL/jam sehingga sel-sel bakteri juga dapat tumbuh lebih baik dan potensi biodegradasi terhadap LAS juga tinggi. Ukuran batu sangat berpengaruh terhadap biodegradasi LAS. Semakin kecil ukuran batu menyebabkan proses biodegradasi LAS semakin maksimal. Pada penelitian sebelumnya oleh Nam et al. (2000) diketahui bahwa pasir yang memiliki diameter yang lebih kecil justru mampu membentuk biofilm yang lebih tebal. Pada penelitian tersebut digunakan dua macam pasir dengan diameter 0,23 mm dan 0,60 mm dan pasir tersebut diletakkan di dalam air kemudian biofilm yang terbentuk diamati dengan laser scanning confocal microscopy dan analisis gambar tiga dimensi yang dihasilkan selanjutnya digunakan untuk menghitung volume biofilm per unit area pasir, area permukaan biofim per unit area pasir, dan area permukaan biofilm per volume biofilm. Biofilm pada reaktor yang menggunakan diameter pasir berukuran 0,23 mm lebih tebal dibandingkan dengan menggunakan pasir dengan diameter 0,60 mm. Terbentuknya biofilm yang tebal pada reaktor yang berisi pasir berdiameter 0,23 mm menyebabkan zona turbulansi menjadi tinggi. Zona turbulansi berarti ruang yang berisikan udara yang kaya oksigen. Zona turbulansi yang tinggi

38

menyebabkan jumlah oksigen banyak sehingga memudahkan bakteri pendegradasi LAS bermetabolisme. Bakteri pendegradasi LAS seperti kelompok Pseudomonas merupakan bakteri aerob sehingga oksigen merupakan hal yang penting. Penelitian oleh Nam et al. (2000) ini berkaitan erat dengan penelitian yang dilakukan penulis karena persentase biodegradasi yang tertinggi terjadi pada batu yang berdiameter kecil yaitu pada batu sedang dan batu kecil serta secara pengamatan morfologi terbentuk biofilm yang tebal. Di ekosistem sungai dimana kecepatan arus sungai yang beraneka macam, setiap ukuran batu memegang peranan yang penting. Sel-sel bakteri saling berinteraksi dan beragregasi secara kuat ke dalam biofilm yang melekat kuat pada permukaan batu di dasar sungai. Pada arus sungai dengan kecepatan tinggi, sel-sel bakteri pendegradasi LAS mampu melekat pada batu dengan ukuran besar namun seiring dengan semakin tenangnya arus sungai maka sel-sel bakteri melekat pada batu dengan ukuran yang lebih kecil. Di daerah yang didominasi batu ukuran sedang, biofilm mampu melekat di seluruh permukaan batu dan antar batu membentuk permukaan yang luas. Di daerah yang didominasi batu kecil, terbentuk permukaan yang luas tetapi karena terlalu rapat biofilm tidak dapat melekat di seluruh permukaan batu. Di daerah yang didominasi batu ukuran besar, terbentuk luas permukaan yang kecil sehingga hanya sedikit biofilm yang menempel pada batu. Lama waktu inkubasi juga berperan penting dalam proses biodegradasi. Proses terbentuknya biofilm membutuhkan waktu berhari-hari hingga berbulan-bulan bergantung dengan jenis bakteri. Interaksi bakteri dengan substrat juga memerlukan waktu terkait dengan adaptasi terhadap faktor-faktor yang meliputi kelembaban permukaan, makanan yang tersedia, pembentukan matriks ekstraselular (exopolimer) yang terdiri dari polisakarida, faktorfaktor fisikokimiawi seperti interaksi muatan permukaan dan bakteri, ikatan ion, ikatan Van Der Waals, pH, dan tegangan permukaan serta pengkondisian permukaan (Center of Biofilm Engineering, 2009). Waktu inkubasi yang terlalu lama juga memiliki dampak negatif. Pada sistem kultur tertutup (batch culture) ketersediaan nutrisi pada media cenderung akan menurun seiring dengan bertambahnya waktu inkubasi. Selain itu pada sistem tertutup akan terjadi akumulasi senyawa toksik yang dihasilkan oleh bakteri tersebut, sehingga bila substansi toksik ini tidak dibuang maka akan dapat menghambat

39

pertumbuhan bakteri tersebut serta dapat menurunkan tingkat biodegradasi LAS oleh bakteri tersebut. Ketersediaan nutrisi yang semakin menurun seiring bertambahnya waktu inkubasi menyebabkan diperlukan sistem kultur kontinyu (continous culture). Pada sistem kultur kontinyu, diharapkan agar densitas sel bakteri berada dalam keadaan konstan atau berada pada fase eksponensial. Hal ini dikarenakan pada sistem ini selalu diberi aliran media steril yang dapat menambah nutrisi untuk pertumbuhan bakteri dan juga pengeluaran media yang mengandung sisa-sisa metabolisme bakteri dari dalam media produksi (Todar, 2002). Peningkatan persentase biodegradasi LAS oleh sepuluh isolat bakteri pendegradasi LAS ini dipengaruhi oleh adanya perlakuan aerasi. Strain-strain bakteri pendegradasi LAS ini merupakan bakteri aerob. Biodegradasi LAS tersebut melibatkan sistem enzim yang memerlukan oksigen. Hal ini dikarenakan molekul oksigen merupakan kebutuhan vital yang harus tersedia untuk memulai dan selama proses biodegradasi LAS. Persentase biodegradasi LAS yang semakin tinggi menunjukkan bakteri memiliki aktivitas yang tinggi dalam memanfaatkan LAS sebagai sumber karbon. Kondisi di alam telah memberikan contoh yang jelas kepada kita mengenai kondisi lingkungan yang memungkinkan bakteri mampu mendegradasi LAS. Berdasarkan kondisi yang demikian dapat diaplikasikan dengan manipulasi habitat sungai buatan yang menciptakan kondisi yang sesuai dengan pertumbuhan komunitas bakteri tersebut. Air sungai yang arusnya cepat dengan sedimen berkerikil atau berbatu dan banyak terdapat jeram-jeram, dapat meningkatkan difusi oksigen dari udara ke dalam kolom air, sehingga kandungan oksigen terlarut juga meningkat. Manipulasi habitat juga diperlukan pada kolam penampungan limbah di pabrikpabrik dan di rumah-rumah penduduk sehingga ketika limbah dibuang ke ekosistem sungai tidak mencemari organisme di dalamnya. Extracelluler Polimeric Substances (EPS) atau yang dikenal eksopolisakarida memiliki peran penting dalam penempelan biofilm terhadap substrat. Jenis eksopolisakarida yang dihasilkan oleh biofilm yang didominasi Pseudomonas aeruginosa adalah alginate. Gen yang mampu mengkode untuk dihasilkan alginate adalah algC. Transkripsi dari algC mampu meningkatkan sel dalam biofilm hingga empat kali. Berdasarkan penelitian Garret et al.(1999)

40

Pseudomonas aeruginosa yang termutasi hingga berlendir mampu menghasilkan banyak alginate. Pada mutan ini tidak ditemukan flagella. Analisa dari mutasi ini menyebutkan bahwa produksi alginate dalam jumlah banyak diatur oleh regulasi positif dari faktor sigma alternatif σ22 . Regulasi negatif dari faktor sigma ini menyebabkan disintesisnya flagella. Ketika sintesis eksopolisakarida (alginate) ditingkatkan maka sintesis dari flagella menurun. Komunitas biofilm akan menjadi produktif jika bakteri di dalamnya mampu bekerja sama untuk menekan dan menghambat sintesis dari flagella. Hal ini akan menstabilkan kondisi biofilm dan meningkatnya produksi eksopolisakarida sehingga terbentuk struktur biofilm yang kokoh. Eksopolisakarida ini sangat penting dalam pendegradasian deterjen oleh biofilm karena dengan adanya eksopolisakarida akan memperkuat kemampuan menempel biofilm pada substrat. (Watnick dan Kolter, 2000)

41

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Konsorsium sepuluh isolat bakteri pembentuk biofilm dari ekosistem sungai tercemar deterjen dalam media mineral sederhana (MMS) yang mengandung 10 mg/L LAS sebagi satu-satunya sumber karbon dalam sistem kultur tertutup dengan batu ukuran kecil, sedang, besar, dan kontrol secara berturut-turut mampu mendegradasi LAS sebesar 61,47 %; 61,63 %; 44,47 %; dan 48,76 % dalam waktu tujuh hari. Biakan bakteri tersebut dalam sistem kontinyu pada batu ukuran kecil, sedang, besar, dan kontrol secara berturut-turut mampu mendegradasi LAS sebesar 59,85 %; 60,37 %; 44,47 %; dan 46,73 % dengan debit medium 80 ml/jam dan waktu retensi 10 jam. 5.2 Saran Hasil dari penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi untuk pengolahan limbah cair deterjen dengan bahan aktif LAS untuk memanipulasi kondisi dasar kolam limbah. Pada penelitian selanjutnya perlu dilakukan identifikasi isolat secara genetis, perlu diketahui potensi isolat dalam media air sungai, dan sebaiknya sistem kontinyu dilakukan setelah dua hari inkubasi dalam sistem tertutup.

42

DAFTAR PUSTAKA Aahabib. 2009. Bahaya Deterjen Bagi Kesehatan. http://aahabib.co.cc/info-kesehatan/bahaya-detejen-bagikesehatan/. Tanggal akses 8 Maret 2010. Abercrombie, M., M. Hickman, M. L. Johnson, dan M. Thain. 1993. Kamus Lengkap Biologi. Penerbit Erlangga. Jakarta Abbott, R. N. 2000. Klasifikasi Batuan : Beku, Sedimen, dan Metamorf. http: //www. Appstate. Edu/ ~ abbotta/ rck.id. Alexander, M. 1999. Biodegradation and Bioremediation. Second Edition. Academic Press. San Diego. Page 198-278 Ashari, A. 2009. Potensi konsorsium bakteri Pembentuk biofilm dalam mendegradasi Linear alkylbenzene sulfonate (LAS). Jurusan Biologi. Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Brawijaya. Malang. Ashraf, M. dan M. H. Naqvi. 2001. Microbial Biofilm For Environmental Waste Management. Soil Biology Division, Nuclear Institute for Agriculture and Biology (NIAB). Jhang Road. Faisalabad. BPLDH DKI Jakarta. 2010. 77 % Aliran Sungai Jakarta Alami Pencemaran Berat. http://bplhd.jakarta.go.id/. Tanggal akses 8 Maret 2010. Bukhari, A. 2009. Biological Biofilm Processes. Centre for Encironment and Water Research Institute. KFUPM Chahaya, I. 2003. Ikan Sebagai Alat Monitor Pencemaran. Bagian Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Center for Biofilm Engineering. 2009. A Biofilm Primer. Center for Biofilm at Montana State University.Montana.

43

Clesceri, L.S., E. G. Arnold, R. R. Trussel dan A. H. F Mory. 1989. Standard Methods for the Examination of Water and Wastewater.17th edition, APHA, AWWA, and WPLF. Washington. Deziel, E., Y. Comeau, dan R. Villemur. 2000. Initiation of Biofilm Formation by Pseudomonas aeruginosa 57RP Correlates with Emergence of Hyperpiliated and Highly Adherent Phenotypic Variants Deficient in Swimming, Swarming, and Twitching Motilities. Journal of Bacteriology. 183 (4): 11951204. Diaz, E. 2008. Microbial Biodegradation: Genomics and Molecular Biology (1st ed.). Caister Academic Press Donlan, R. 2002. Biofilm: Microbial Life on http://www.medscape.com/viewartticle/441355 Tanggal akses 4 Maret 2009 Surfaces. print .

Edstrom. 2009. Biofilm. Key to Understanding and Controlling Bacterial Growth in Automated Drinking Water System. Edstrom Industries.Inc (800)-558-5913.USA. European Chemical Industry Council. 2005. Aquatic Toxicity. http: //www. lasinfo.org/ life_environ_aquatoxicity. Html. Fresh Patens. 2009. Detergent Composition or component therefor.www.fresh patens.com. Tanggal akses 4 Maret 2009.

Garcia, J. C, A. Esteve, dan R. V. Duhalt. 1999. The BranchedChain Dodecylbenzene Sulfonate Degradation Pathway of Pseudomonas aeruginosa W51D Involves a Novel Route for Degradation of the Surfactant Lateral Alkyl Chain. Applied and Environmental Microbiology. 65 (8): 37303734. Garrett, E. S., D. Perlegas, dan D. J. Wozniak. 1999. Negative control of flagella synthesis in Pseudomonas aeruginosa is

44

modulated by the alternative sigma factor AlgT (AlgU). J. Bacteriol. 181:7401-7404 Harijati, N., Suharjono dan T. H. Kurniati. 1994 Studi Komunitas Bakteri Pemecah Deterjen Jenis Alkil Benzen Sulfonat (ABS) dan Linear Alkil Benzen Sulfonat (LAS). Fakultas MIPA, Universitas Brawijaya, Malang He, W., T. Weidong, Z. Guang, Guo-Qiang dan Z. Zengming. 1998. Production of Novel Polyhydroxyalkanoates by Pseudomonas stutzeri 1317 from Glucose and Soybean Oil. http:// microbes. Biosci. Tsinghua.edu. cn:8002/ lunwen/ SCI/9.He%20WN.pdf. Jerabkova, H., B. Kralova dan J. Nahlik. 1999. Biofilm of Pseudomonas C12B on Glass Suport as Catalitic Agent for Continuous SDS Removal. International Biodeterioration and biodegradation. 44 (1999): 233-241 Kashiko, T. 2004. Kamus Lengkap Biologi. Kashiko Press. Surabaya Lutfi, A. 2004. Pencemaran Lingkungan. Bagian Proyek Pengembangan Kurikulum Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional.

Mahardika, F. 2005. Potensi Strain Anggota Pseudomonas di Ekosistem Sungai Sumbersekar, Dau, Kabupaten Malang dalam Mendegradasi Linear Alkylbenzene Sulfonate (LAS). Jurusan Biologi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Brawijaya Malang. Skripsi. Marchesi, S. R., S. A. Owen, G. F. White, W. A. House dan N. J. Russel. 1994. SDS-degrading Bacteria Attach to Riverine Sediment in Response to the Surfactant or its Primary Biodegradation Product Dodecan-1-ol. http:// mic. sgmjournals. org/ cgi/ content/ abstract/140/11/2999.

45

Marques, M. L., J. Silva dan J. C. Roseiro. 1997. Co-Metabolism and Microbial Growth in the Biodegradation of Alkylbenzenesulphonates. Roseiro:// www.blackwellsynergy.com/links/doi/10.1046/j.1472765X.1997.00070.x/ abs/.tanggal akses 25 November 2005. Menteri Kependudukan Lingkungan Hidup. 2009. Pencemaran. SK.Menteri Kependudukan Lingkungan Hidup No.02/MENKLH/1988.Tanggal akses 4 Maret 2009. Jakarta Nam, K., M. B.Timmons., C. D. Montemagno, dan S. M. Tsukuda. 2000. Biofilm Characteristics As Affected By Sand Size And Location In Fluidized Bed Vessels. Aquacultural Engineering. Vol. 22 (3), pages 213-224. Nastiti, H. 2004. Potensi Biodegradasi Beberapa Strain Anggota Genus Pseudomonas terhadap LAS. Jurusan Biologi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Brawijaya. Malang. Skripsi. Nielsen, A. M., C. A. Bleckmann, and R. L. Huddleston. 1980. LAS Biodegradation : Ultimate Fate of Alkyl and Ring Carbon. Research and Development Department Conoco Inc. Ponca City, Okla. Pohan, N. 2004. Pengaruh Bahan– Bahan Kimia Buangan Industri Terhadap Lingkungan .Fakultas Teknik Jurusan Teknik Mesin Universitas Sumatera Utara. Sumatera Utara PubMed Central. 2007. Effect of Protein, Polysaccharide, and Oxygen Concentration Profiles on Biofilm Cohesiveness. Apllied and Environmental Microbiology. Vol. 73 (9) Putriavisty, L. 1997. Pengaruh pH dan Suhu terhadap Efektivitas Biodegradasi ABS oleh Staphylococcus aureus dan S.epidermis.Skripsi.Fakultas MIPA, Universitas Brawijaya, Malang.

46

Romdhoni. 2009. KimiaLingkungan. http://romdhoni.staff.guna darma.ac.id.Tanggal akses 4 Maret 2009 Ryoo, D., H. Shim, K. Canada, P. Barbieri, dan T. K. Wood. 2000 Aerobic Degradation of Tetrachloroethylene by Toluene-oxylene Monooxoygenase of Pseudomonas Stutzeri OX1, Nat Biotechnol, 18: 775-778. Schleheck, D. 2004. Mineralization of Individual Congeners of Linear Alkylbenzenesulfonate by Defined Pairs of Heterotrophic Bacteria Sekwilda Tingkat I Jawa Timur. 1988. Baku Mutu Lingkungan di Jawa Timur. Biro Bina Kependudukan dan Lingkungan Hidup. Sekwilda Tingkat I Jawa Timur. Surabaya. Suharjono. 2008. Keanekaragaman dan Potensi Pseudomonas Strain iindigenous Pendegradasi Surfaktan Anionik Di Ekosistem Sungai Tercemar Deterjen. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Disertasi. Swisher, R. D. 1987. Surfactant Biodegradation. http://www.lasinfo .org /las _ environment.html.Tanggal akses 23 Juni 2009 The free dictionary. 2010. Amphiphilic. http : // www. thefreedictionary.com/amphiphilic. Tanggal akses 22 Maret 2010 Todar, K. 2002. Growth of Bacterial Population. textbookofbacteriology. net/ growth. html. http://

Van Beilen, J. 2001. Analysis of Pseudomonas putida alkanedegradation gene clusters and flanking insertion sequences:evolution and regulation of the alk genes. Journal of Microbiology vol.147 page 1621-1630 Volk dan M. F. Wheeler. 1993. Mikrobiologi Dasar, Jilid I, Ed ke5, Erlangga, Jakarta.

47

Watnick, P dan R. Kolter. 2000. Biofilm, City of Microbe. Journal of Bacteriology Vol. 182, No. 10 page 2675-2679. Widyakusuma, D. 2007. Potensi Konsorsium Strain-Strain Bakteri Anggota Pseudomonas Pembentuk Biofilm Dalam Mendegradasi Linear Alkylbenzene Sulfonate (LAS). Jurusan Biologi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Brawijaya. Malang. Skripsi.

48

Lampiran Lampiran 1. Alur Penelitian Konsorsium Bakteri Pendegradasi LAS

Fase Logaritmik Densitas sel 2,34.108 sel/ml

Uji Potensi pada Sistem Batch Culture

Uji Potensi pada Sistem Continous Culture

Inkubasi selama tujuh hari pada substrat batu berbagai ukuran

Debit media 80 mL/jam pada substrat batu berbagai ukuran

Pengukuran konsentrasi residu LAS, densitas sel konsorsium bakteri, dan persentase biodegradasi LAS

Dibandingkan kemampuan biodegradasi konsorsium bakteri pada berbagi ukuran batu

49

Lampiran 2. Pembuatan Kurva Standar Linear Alkylbenzene Sulfonat (LAS) A. Pembuatan Larutan Stok LAS 10000 mg/L LAS teknis 96% sebanyak 10,4 mL dimasukkan ke dalam labu ukur dan dilarutkan dengan akuades sampai mencapai 1000 mL. Larutan tersebut dipindahkan ke dalam botol yang selanjutnya digunakan sebagai larutan stok LAS 10000 mg/L. B. Pembuatan Larutan Standart 10 mg/L Diambil 1 mL larutan stok LAS 10000 mg/L dan dimasukkan ke dalam labu ukur kemudian diencerkan dengan akuades sampai volume mencapai 50 mL. Larutan tersebut diambil lagi sebanyak 2,5 mL dan dimasukkan ke dalam labu ukur kemudian diencerkan dengan akuades sampai volume mencapai 50 mL. Larutan tersebut dipindahkan ke dalam botol yang selanjutnya digunakan sebagai larutan standart LAS 10 mg/L. C. Pembuatan Reagen Methylene Blue Methylene Blue sebanyak 100 mg dilarutkan dengan 50 mL akuades sehingga menjadi larutan Methylene Blue. Larutan tersebut diambil sebanyak 30 mL dan dimasukkan ke dalam labu ukur kemudian ditambah dengan 50 g NaH2PO4, 6,8 mL H2SO4 pekat serta 500 mL akuades. Campuran diaduk dan dikocok sampai homogen kemudian ditambah dengan akuades sampai volume mencapai 1000 mL. Larutan tersebut dipindahkan ke dalam botol dan selanjutnya digunakan sebagai reagen Methylene Blue. D. Pembuatan Larutan Pencuci (Wash Solution) Akuades sebanyak 500 mL di dalam labu ukur ditambah dengan 50 g NaH2PO4.H2O kemudian diaduk. Campuran tersebut kemudian ditambah dengan 6,8 mL H2SO4 pekat dan selanjutnya dilarutkan sampai homogen. Campuran yang telah homogen kemudian ditambah dengan akuades sampai volume mencapai 1000 mL. Larutan tersebut dipindahkan ke dalam botol dan selanjutnya digunakan sebagai Wash Solution.

50

E. Pembuatan Kurva Kalibrasi Detergen (LAS Pembuatan kurva kalibrasi deterjen (LAS) mula-mula dilakukan dengan membuat variasi larutan standar LAS 10 mg/L yang diambil masing-masing 0; 2,5; 5; 7,5; 10; 12,5; 15; 17,5; 20; 22,5 dan 25 ml. Masing-masing variasi volume LAS tersebut ditambahkan akuades sampai volume mencapai 25 ml. Selanjutnya masing-masing larutan tersebut diambil sebanyak 5 ml dan ditambahkan akuades sampai mencapai 25 ml. Larutan tersebut meruppakan larutan sampel yang selanjutnya diekstraksi. Sampel tersebut diekstraksi dengan menggunakan metode Methylene Blue Active Substance (MBAS) (Clesceri et al., 1989). Sampel diambil sebanyak 5 ml dan dimasukkan ke dalam botol 100 ml kemudian ditambahkan akuades sampai volume 25 ml. Selanjutnya larutan ditambah dengan tiga tetes phenolphtalin dan dikocok. Apabila larutan tidak berwarna maka ditambahkan NaOH 1 N. Penambahan larutan NaOH 1N dilakukan dengan meneteskan larutan ke dalam botol sambil digoyang perlahan sampai larutan berwarna merah muda. Warna merah muda dihilangkan dengan penambahan satu tetes H2SO4 1 N. Larutan tersebut selanjutnyya ditambah dengan 10 ml Methylene Blue. Apabila warna larutan menjadi hilang atau pucat berarti pengenceran kurang dan larutan tidak dipakai sehingga dilakukan pengenceran ulang. Pengenceran ulang dilakukan dengan memasukkan 2,5 ml sampel ke dalam botol 100 ml pertama kemudian ditambah akuades sampai volume mencapai 25 ml kemudian ditambah dengan 5 ml CHCl3. Selanjutnya larutan dikocok dalam shaker dengan kecepatan 50 rpm selama dua menit kemudian dipindahkan ke dalam labu pisah 100 ml dan dibiarkan hingga terbentuk dua fase (dua lapisan). Lapisan bawah (CHCl3) dikeluarkan dan ditampung ke dalam botol kedua sedangkan lapisan atas ditampung ke dalam botol pertama untuk diekstraksi kembali. Ekstraksi diulang sebanyak dua kali dengan penambahan 5 ml CHCL3. Hasil ekstraksi yang mengandung CHCL3 kemudian dicampurkan ke dalam botol kedua. Selanjutnya ditambahkan 25 ml larutan pencuci (wash solution). Larutan tersebut dikocok dengan menggunakan shaker berkecepatan 50 rpm selama dua menit. Larutan yang telah dikocok dimasukkan ke dalam labu ukur 25 ml setelah disaring dengan menggunakan glass wool. Pada corong pisah sehingga didapatkan ekstrak CHCL3. Botol pertama yang berisi

51

lapisan air diekstrak kembali dengan menambahkan 5 ml CHCL3 kemudian dikocok menggunakan shaker berkecepatan 50 rpm selama dua menit. Lapisan CHCL3 yang diperoleh selanjutnya dikeluarkan dan dilakukan pengulangan kembali sebanyak satu kali. Ekstrak yang diperoleh diencerkan dengan penambahan CHCL3 sampai volume mencapai 25 ml kemudian ditentukan nilai asorbansinya. Penentuan nilai absorbansi dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer Genesys 10uv pada panjang gelombang 652 nm. Larutan blanko yang digunakan adalah CHCL3. Nilai absorbansi yang didapat selanjutnya dimasukkan ke dalam persamaan regresi linier untuk menentukan konsentrasi deterjen (LAS). Lampiran 3. Komposisi Media Mineral Sederhana (MMS) dalam 1L akuades (He et al., 1998) a) b) c) d) e) f) (NH4)2SO4 : 0,5 g : 0,4 g MgSO4.7H2O KH2PO4 : 2,65 g Na2HPO4.12H2O : 9,65 g LAS : 10 mg/L Trace Element 1 mL dari 1 L 0,5 N HCl yang mengandung: FeCl3.6H2O : 20 g CaCl2.H2O : 10 g CuSO4.5H2O : 0,03 g MnCl2.4H2O : 0,05 g ZnSO4.7H2O : 0,1 g

52

Lampiran 4. Petunjuk Penggunaan Spektrofotometer UV Mini 1240 Langkah-langkah penggunaan spektrofotometer UV Mini 1240 yang digunakan dalam tera absorbansi pada penelitian kali ini adalah sebagai berikut: 1. tekan tombol “ON” 2. dibiarkan dalam tahap inisialisasi berlangsung (untuk mengecek bagian dalam alat) sekitar 8 menit hingga bunyi “BEEP”. 3. pilih menu pada layar sesuai angka: 1. Photometric : untuk mengetahui absorbansi pada λ tertentu (λ diketahui) o Tekan go to WL dan masukkan angka λ o Masukkan blanko lalu autozero o Masukkan sampel 2. Spectrum : untuk mencari rentang λ tertentu atau λ maksimum spectrum 3. Quantisasi : untuk membuat deret standar, kurva standar, dan kurva kalibrasi 4. Optional program pack : untuk program pack 5. Utilities : untuk pengaturan printer, jam, dan lainlain.

53

Lampiran 5. Kurva Standar Konsentrasi Linear Alkylbenzene Sulfonate (LAS)
y = 0.0291x
0.35 0.3 2

R = 0.9656

A b s o rb a n s i (6 5 2 n m )

0.25 0.2 0.15 0.1 0.05 0 0 2 4 6 8 10 12

Konsentrasi LAS (mg/L)

Lampiran 6. Kurva Standar Densitas Sel Konsorsium Sepuluh Isolat Bakteri Pendegradasi LAS
0.09 0.08 0.07

y = 0.0105x - 0.0011 R2 = 0.9877

ab s o rb a n s i (5 0 0 n m )

0.06 0.05 0.04 0.03 0.02 0.01 0 -0.01 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Densitas sel (10 7 sel/ml)

54

Lampiran 7. Analisis Statistik Tabel. 7.1
Sumber Waktu Ukuran Waktu x Ukuran Galat Total

JK 227,328 37,872 8,688 81,371 355,258

Analisis ragam konsentrasi residu LAS antar waktu dan ukuran batu pada sistem batch culture
db 7 3 21 KT 32,475 12,624 0,414 F.hit 25,543 9,929 0,325 Sig.F 0,000 0,000 0,997

64 95

1,271

Tabel 7.2
Sumber Waktu Ukuran Waktu x Ukuran Galat Total

Analisis ragam densitas sel konsorsium bakteri antar waktu dan ukuran batu pada sistem batch culture
JK 10,232 1,311 1,255 6,779 19,577 db 7 3 21 64 95 KT 1,462 0,437 0,060 0,106 F.hit 13,799 4,127 0,564 Sig.F 0,000 0,001 0,928

Tabel 7.3
Sumber Waktu Ukuran Waktu x Ukuran Galat Total

JK

Analisis Ragam Persentase Biodegradasi LAS Antar Waktu dan Ukuran Batu pada Sistem Batch Culture
db KT F.hit Sig.F 7 3 21 4062,833 1071,903 44,661 25,078 6,616 0,276 0,000 0,001 0,999

28439,832 3215,708 937,889

10368,302 42961,731

64 95

162,005

55

Tabel 7.4

Rata-rata konsentrasi residu LAS antar waktu dengan menggunakan batu berbagai ukuran pada sistem batch culture Waktu inkubasi (hari ke-) 0 8,87 (Ac) 8,99 (Ab) 9,21 (Ab) 1 6,72 (Abc) 6,41 (Aab) 7,34 (Aab) 6,22 (Aab) 2 4,39 (Aab) 4,56 (Aa) 6,74 (Aab) 5,33 (Aa) 3 3,95 (Aab) 4,25 (Aa) 6,14 (Aab) 4,55 (Aa) 4 3,88 (Aab) 4,16 (Aa) 5,93 (Aa) 4,46 (Aa) 5 3,76 (Aab) 4,00 (Aa) 5,46 (Aa) 4,41 (Aa) 6 7 3,62 3,31 (Aab) (Aa) 3,70 (Aa) 5,26 (Aa) 4,31 (Aa) 3,37 (Aa) 5,10 (Aa) 4,28 (Aa)

Ukuran batu
kecil sedang besar

campuran 8,35 (kontrol) (Ab)

Keterangan: 1. Huruf kapital atau huruf besar yang sama menunjukkan tidak ada beda nyata (p > 0,05) antar ukuran batu dalam kolom yang sama. 2. Huruf kecil yang sama menunjukkan tidak ada beda nyata (p>0,05) antar waktu dalam baris yang sama

56

Tabel 7.5

Rata-rata densitas sel konsorsium bakteri (sel/ml) antar waktu dengan menggunakan substrat batu berbagai ukuran pada sistem batch culture Waktu inkubasi (hari ke-) 0 1 2 3 4 5 6 7

Ukuran batu
kecil sedang besar kontrol
1,15x108 (Ab) 1,06x108 (Ab) 1,11x108 (Ab) 1,34x108 (Ac) 1,48x107 (Aab) 1,94x107 (Aab) 2,01x107 (Aab) 6,18x107 (Abc)

9,43x106 (Aa) 1,48x107 (Aab) 1,31x107 (Aa) 2,88x107 (Aab)

1,84x 107 (Aab) 1,28x107 (Aab) 8,43x106 (Aa) 1,01x107 (Aa)

9,43 x 106 (Aa) 1,14x107 (Aab) 1,04x107 (Aa) 1,18x107 (Aa)

8,77x 106 (Aa) 9,43x 106 (Aa) 8,10x 106 (Aa) 1,64x 107 (Aab)

2,18x107 (ABab) 2,18x107 (ABab) 7,43x106 (Aa) 3,28x107 (Babc)

1,08 x 107 (Aa) 1,64x1 07 (Aab) 1,98x1 07 (Aab) 2,24x 107 (Aab)

Keterangan: 1. Huruf kapital atau huruf besar yang sama menunjukkan tidak ada beda nyata (p > 0,05) antar ukuran batu dalam kolom yang sama. 2. Huruf kecil yang sama menunjukkan tidak ada beda nyata (p>0,05) antar waktu dalam baris yang sama

57

Tabel 7.6

Rata-rata persentase biodegradasi LAS (%) oleh konsorsium bakteri antar waktu dengan menggunakan substrat batu berbagai ukuran pada sistem batch culture Ukuran batu Waktu inkubasi (hari ke-) 0 0,00 (Aa) 0,00 (Aa) 0,00 (Aa) 1 23,82 (Aab) 27,34 (Aab) 20,61 (Aab) 23,97 (Ab) 2 48,44 (Ab) 48,32 (Ab) 26,69 (Bbc) 35,70 (Bbc) 3 53,74 (Ab) 51,85 (Ab) 33,25 (Bbc) 45,87 (Abc) 4 54,53 (Ab) 52,76 (Ab) 35,73 (ABbc) 46,78 (Abc) 5 56,02 (Ab) 54,47 (Ab) 40,44 (ABbc) 47,35 (Abc) 6 57,65 (Ab) 57,83 (Ab) 7 61,47 (Ab) 61,63 (Ab)

kecil sedang besar

42,51 44,47 (Abc) (Ac) 48,53 (Ac) 48,76 (Ac)

campuran 0,00 (kontrol) (Aa)

Keterangan: 1. Huruf kapital atau huruf besar yang sama menunjukkan tidak ada beda nyata (p > 0,05) antar ukuran batu dalam kolom yang sama. 2. Huruf kecil yang sama menunjukkan tidak ada beda nyata (p>0,05) antar waktu dalam baris yang sama

58

Tabel 7.7

Variabel Waktu

Korelasi Antar Waktu dengan Konsentrasi Residu LAS dan Densitas Sel Konsorsium Bakteri pada Sistem Batch Culture
Waktu Korelasi Signifikansi N Korelasi Signifikansi N Korelasi Signifikansi N Konsentrasi LAS Densitas Sel 0,450(**) 0,000 96 0,428(**) 0,000 96 1 96

1 96 -0,692(**) 0,000 96 -0,450(**) 0,000 96

-0,692(**) 0,000 96 1 96 0,428(**) 0,000 96

Konsentrasi LAS Densitas Sel

Tabel 7.8

Variabel Ukuran Konsentrasi LAS Densitas Sel

Korelasi Antar Ukuran Batu dengan Konsentrasi Residu LAS dan Densitas Sel Konsorsium Bakteri pada Sistem Batch Culture
Ukuran Korelasi Signifikansi N Korelasi Signifikansi N Korelasi Signifikansi N 1 96 0,159 0,121 96 0,188 0,67 96 Konsentrasi LAS 0,159 0,121 96 1 96 0,428(**) 0,000 96 Densitas Sel 0,188 0,067 96 0,428(**) 0,000 96 1 96

Tabel 7.9

Variabel Waktu Persentase Biodegradasi

Korelasi Antar Biodegradasi.
Korelasi Signifikansi N Korelasi Signifikansi N

Waktu
Waktu

dengan

Persentase

1 96 0,706(**) 0,000 96

Persentase Biodegradasi 0,706(**) 0,000 96 1 96

59

Tabel 7.10

Analisis ragam konsentrasi residu LAS antar ukuran batu dalam sistem continous culture
JK 5,817 9,606 15,424 db 3 8 11 KT 1,939 1,201 F.hit 1,615 Sig.F 0,261

Sumber Ukuran Galat Total

Tabel 7.11

Analisis ragam densitas sel konsorsium bakteri pendegradasi LAS antar ukuran batu dalam sistem continous culture
JK 0,582 1,568 2,150 db 3 8 11 KT 0,194 0,196 F hit. 0,989 Sig. F 0,445

Sumber Ukuran Galat Total

Tabel 7.12

Analisis ragam persentase biodegradasi LAS antar ukuran batu dalam sistem continous culture

Sumber Ukuran Galat Total

JK 639.772 1569,520 2209,242

db 3 8 11

KT 213,241 196,190

F hit. 1,087

Sig. 0,408

60

Lampiran 8. Foto-Foto Penelitian

Gambar 8.1 Batu ukuran kecil yang menjadi substrat biofilm.

Gambar 8.2 Batu ukuran sedang yang menjadi substrat biofilm.

Gambar 8.3 Batu ukuran besar yang menjadi substrat biofilm.

Gambar 8.4 Batu ukuran sedang yang ditempeli biofilm.

Gambar 8.5 Batu ukuran besar yang ditempeli biofilm

Gambar 8.6 Batu ukuran kontrol yang ditempeli biofilm

61

Gambar 8.7 Sistem Batch culture dengan berbagai ukuran batu

Gambar 8.8 Peneliti melakukan perlakuan dalam sistem continous culture

62

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful