MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT NOMOR â ¦.

TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN BANTUAN PEMBANGUNAN RUMAH SUSUN SEWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT, Menimbang : a. bahwa dalam melaksanakan ketentuan Pasal 53 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 1988 tentang Rumah Susun untuk memenuhi kebutuhan hunian perlu diatur pedoman mengenai bantuan pembangunan rumah susun s ewa; b. bahwa untuk memenuhi kebutuhan hunian pemerintah memberi kan bantuan bagi golongan masyarakat berpenghasilan rendah, mahasiswa/siswa/sant ri, pendidik dan tenaga kependidikan, PNS, TNI/POLRI serta pekerja pada sektor l ainnya yang berbentuk rumah susun; c. bahwa Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 9 Tahun 2008 tentang Pedoman Bantuan Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa Pada L embaga Pendidikan Tinggi dan Lembaga Pendidikan Berasrama sudah tidak sesuai lag i dengan perkembangan pemenuhan kebutuhan hunian rumah susun sewa sehingga perlu diganti; d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dala m huruf a, huruf b dan huruf c perlu menetapkan Peraturan Menteri Negara Perumah an Rakyat tentang Pedoman Bantuan Pembangunan Rumah Susun Sewa; Mengingat : 1. Revisi Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 75, Ta mbahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3317); 2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuang an Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lemb aran Negara Republik Indonesia Nomor 4286); 3. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbend aharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355); 4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemeri ntahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437); 5. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumah an dan Kawasan Permukiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5188); 6. Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 1988 tentang Rumah Susun (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1988 Nomor 7, Tambahan Lem baran Negara Republik Indonesia Nomor 3372); 7. Peraturan Pemerintah No.6 Tahun 2006 tentang Pen gelolaan Barang Milik Negara jo Peraturan Pemerintah No.38 Tahun 2008 tentang Pe rubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang

Milik Negara/Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 78, dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4855); 8. Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang P embentukan dan Organisasi Kementerian Negara Republik Indonesia; 9. Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang K edudukan, Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara Serta Susunan Organisasi, Tugas d an Fungsi Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia; 10. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 96 Tahun 2007 t entang Tata Cara Pelaksanaan Penggunaan, Pemanfaatan, Penghapusan, dan Pemindaht anganan Barang Milik Negara 11. Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 21 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Perumahan Rak yat.

MEMUTUSKAN Menetapkan : PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT TENTA NG PEDOMAN BANTUAN PEMBANGUNAN RUMAH SUSUN SEWA. BAB I KETENTUAN UMUM Bagian Kesatu Pengertian Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Bantuan Pembangunan Rumah Susun Sewa adalah bantuan pembangunan fisik be rupa bangunan baru Rumah Susun Sewa beserta prasarana, sarana dan utilitasnya da n dibiayai oleh Pemerintah melalui APBN pada Kementerian Perumahan Rakyat dan/at au pada Kementerian terkait lainnya; 2. Rumah Susun adalah adalah bangunan gedung bertingkat yang dibangun dalam suatu lingkungan yang terbagi dalam bagian-bagian yang distrukturkan secara fun gsional, baik dalam arah horizontal maupun vertikal, dan merupakan satuan-satuan yang masing-masing dapat dimiliki dan digunakan secara terpisah, terutama untuk tempat hunian, yang dilengkapi dengan bagian bersama, benda bersama, dan tanah bersama. 3. Rumah Susun Sewa adalah rumah susun yang dibangun oleh Kementerian Perum ahan Rakyat yang pemanfaatannya melalui cara sewa. 4. Rumah susun umum adalah rumah susun yang diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah. 5. Rumah susun khusus adalah rumah susun yang diselenggarakan untuk memenuh i kebutuhan khusus. 6. Rumah susun negara adalah rumah susun yang dimiliki negara dan berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian, sarana pembinaan keluarga, serta penunjang pelaksanaan tugas pejabat dan/atau pegawai negeri. 7. Satuan rumah susun yang selanjutnya disebut sarusun adalah unit rumah su sun yang tujuan utamanya digunakan secara terpisah dengan fungsi utama sebagai t empat hunian dan mempunyai sarana penghubung ke jalan umum. 8. Verifikasi adalah kegiatan pemeriksaan kelengkapan dan kebenaran dokumen serta kelayakan teknis terhadap usulan permohonan bantuan. 9. Rancang Bangun Rinci/Detail Engineering Design yang selanjutnya disebut DED adalah dokumen desain teknis bangunan yang terdiri dari gambar teknis, spesi fikasi teknis dan volume pekerjaan. 10. Masyarakat berpenghasilan rendah yang selanjutnya disebut MBR adalah mas yarakat yang mempunyai keterbatasan daya beli sehingga perlu mendapat dukungan p emerintah untuk memperoleh sarusun umum; 11. Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disebut PNS adalah pekerja yang be kerja di lingkungan kementerian, pegawai instansi pemerintah daerah, dan PNS di

lingkungan TNI dan POLRI; 12. Lembaga Pendidikan Tinggi adalah penyelenggara pendidikan setelah pendi dikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spes ialis, dan doktor 13. Lembaga Pendidikan Berasrama adalah penyelenggara pendidikan menengah ya ng berbentuk pendidikan umum, kejuruan dan/atau keagamaan atau pendidikan terpad u (pendidikan Umum dengan pendidikan agama, atau pendidikan umum dengan pendidik an kejuruan atau pendidikan agama dengan pendidikan kejuruan) yang dalam proses pembelajarannya mewajibkan peserta didiknya untuk tinggal di asrama. 14. Pesantren atau pondok pesantren adalah lembaga pendidikan keagamaan Isla m berbasis masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan diniyah atau secara terpa du dengan jenis pendidikan lainnya 15. Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden Republ ik Indonesia yang memegang kekuasaan Pemerintahan Negara Republik Indonesia seba gaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 16. Pemerintah Daerah adalah Gubernur, Bupati atau Walikota beserta perangka t sebagai unsur penyelelenggaraan pemerintah daerah. 17. Menteri adalah Menteri Negara Perumahan Rakyat. Bagian Kedua Maksud dan Tujuan Pasal 2 (1) Pedoman Bantuan Pembangunan Rumah Susun Sewa dimaksudkan sebagai acuan b agi pemohon dalam mengajukan usulan bantuan pembangunan Rumah Susun Sewa. (2) Pedoman Bantuan Pembangunan Rumah Susun Sewa bertujuan agar bantuan pemb angunan rumah susun sewa memenuhi tertib penyelenggaraan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Bagian Ketiga Lingkup Pengaturan Pasal 3 Lingkup pengaturan bantuan pembangunan Rumah Susun Sewa dalam Peraturan Menteri ini meliputi : bentuk bantuan; penerima bantuan dan penerima manfaat; persyarata n pengajuan bantuan; mekanisme; pendanaan; status aset; monitoring, evaluasi dan pelaporan, dan; pembinaan. BAB II BENTUK BANTUAN PEMBANGUNAN Bagian Kesatu Bentuk Bantuan Pembangunan Pasal 4 (1) Bentuk bantuan pembangunan rumah susun sewa berupa: a. DED bangunan beserta prasarana, sarana dan utilitas; b. bangunan rumah susun sewa beserta prasarana, sarana dan utilitas; c. pengurusan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan Sertifikat Laik Fungsi (SL F) (2) DED sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dapat menyesuaikan dengan masukan dari lembaga penerima bantuan. (3) Prasarana, sarana, dan utilitas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri dari: a. prasarana yang meliputi jalan lingkungan beserta trotoar dan saluran tep i jalan, penerangan jalan umum, tempat sampah sementara; b. sarana yang meliputi sarana parkir kendaraan roda dua; c. utilitas yang meliputi jaringan air bersih, jaringan air limbah, dan jar ingan listrik; Bagian Kedua

Bentuk Dukungan Bantuan Pemerintah Daerah Pasal 5 (1) Pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota memberikan dukungan ba ntuan terhadap pembangunan rumah susun sewa yang diselenggarakan oleh Kementeria n Perumahan Rakyat. (2) Bentuk dukungan yang menjadi tanggungjawab pemerintah provinsi sebagaima na dimaksud pada ayat (1) meliputi antara lain: a. pengawasan dan pengendalian dalam perencanaan pembangunan; b. mengalokasikan dana pendamping bantuan pembangunan rumah susun sewa dala m ABPD provinsi c. penyediaan prasarana, sarana, dan utilitas yang menunjang fungsi rumah s usun sewa; (3) Bentuk dukungan yang menjadi tanggungjawab pemerintah kabupaten/kota seb agaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi antara lain: a. kemudahan perizinan dalam proses penerbitan IMB dan SLF; b. mengalokasikan dana pendamping bantuan pembangunan rumah susun sewa dala m ABPD kab/kota c. jaminan ketersediaan daya listrik dan air minum yang memadai oleh PLN da n PDAM; dan/atau d. penyediaan prasarana, sarana, dan utilitas yang menunjang fungsi rumah s usun sewa; e. pendampingan dalam hal pemanfaatan dan pengelolaan; (4) Pemerintah daerah tidak mengenakan retribusi dalam proses pengurusan dan penerbitan IMB pada bangunan rumah susun sewa,. BAB III PENERIMA BANTUAN DAN PENERIMA MANFAAT PEMBANGUNAN RUMAH SUSUN SEWA Bagian Kesatu Umum Pasal 6 (1) Penerima bantuan pembangunan rumah susun sewa adalah instansi pemerintah pusat/daerah atau lembaga penerima bantuan lainnya. (2) Penerima manfaat adalah kelompok sasaran yang akan menghuni rumah susun sewa Bagian Kedua Penerima Bantuan Pasal 7 (1) Instansi Pemerintah Pusat atau daerah sebagaimana yang dimaksud dalam Pa sal 6 ayat (1) merupakan Kementerian/Lembaga atau pemerintah provinsi/kabupaten/ kota (2) Lembaga penerima bantuan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) meliputi: a. TNI; b. POLRI; c. Lembaga Pendidikan Tinggi; d. Lembaga Pendidikan Tinggi Agama; e. Lembaga Pendidikan Berasrama dan Pondok Pesantren; f. Badan usaha milik negara/daerah; g. Institusi penelitian; h. Yayasan dibidang kemanusiaan atau keagamaan; atau i. Koperasi pegawai instansi pemerintah pusat/daerah; Pasal 8 Penerima bantuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 memiliki kesepakatan bersama (MoU) dan/atau perjanjian kerja sama sebagai dasar kesepakatan para pihak dalam pembangunan rumah susun sewa. Bagian Ketiga Penerima Manfaat

Pasal 9 Kelompok sasaran sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) meliputi : a. masyarakat umum yang termasuk MBR untuk bantuan rumah susun umum; b. PNS, anggota TNI, dan anggota POLRI untuk bantuan rumah susun Negara; c. mahasiswa/siswa, santri, pekerja paramedis, tenaga pendidik dan kependid ikan, peneliti, pekerja industri, petugas pada kawasan perbatasan, pekerja di da erah tertinggal, masyarakat sangat miskin, atlet, dan nelayan untuk bantuan ruma h susun khusus BAB IV PERSYARATAN PENGAJUAN USULAN BANTUAN PEMBANGUNAN RUMAH SUSUN SEWA Pasal 10 Bantuan pembangunan rumah susun sewa harus memenuhi persyaratan: a. Persyaratan administrasi b. Persyaratan teknis Bagian Kesatu Persyaratan Administrasi Pasal 11 (1) Persyaratan administrasi berupa : a. surat permohonan; b. proposal (2) Surat permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a ditujukan ke pada Menteri Negara Perumahan Rakyat, sebagaimana tercantum pada lampiran 1 Pera turan Menteri ini. (3) Surat permohonan untuk bantuan pembangunan rumah susun bagi kelompok sas aran: a. PNS di instansi pusat, ditandatangani oleh pimpinan kementerian/lembaga; b. Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), pekerja, PNS di instansi daerah, ditandatangani oleh Gubernur/ Bupati/ Walikota; c. Prajurit di lingkungan TNI ditandatangani oleh Menteri Pertahanan RI; d. Anggota di lingkungan POLRI ditandatangani oleh Kepala Kepolisian RI; e. mahasiswa/siswa dan santri ditandatangani oleh pimpinan lembaga, ketua y ayasan, pimpinan badan usaha atau bupati/walikota f. pekerja paramedis, tenaga pendidik dan kependidikan, peneliti, dan peker ja industri, ditandatangani pimpinan lembaga, ketua yayasan, atau pimpinan badan usaha. g. petugas pada kawasan perbatasan, pekerja di daerah tertinggal, masyaraka t sangat miskin, atlet, dan nelayan ditandatangani pimpinan badan usaha atau bup ati/walikota. (4) Proposal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan gambaran s ecara menyeluruh mengenai lembaga/yayasan/badan usaha dan kabupaten/kota calon p enerima bantuan beserta rencana usulan sebagai dasar pengajuan bantuan pembangun an rumah susun sewa yang dilengkapi: a. Surat dukungan; b. Surat pernyataan; dan, c. Surat kesanggupan penyertaan. (5) Surat dukungan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a adalah : a. Surat dukungan dari pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota me njelaskan bentuk dukungan yang dapat diberikan berupa pernyataan tertulis sebaga imanamana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2). b. Surat dukungan dari pimpinan instansi kementerian/lembaga terkait berupa rekomendasi bantuan pembangunan rumah susun sewa.

(6) Surat dukungan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a ditujukan kepa da Menteri Negara Perumahan Rakyat, sebagaimana tercantum pada lampiran 2 Peratu ran Menteri ini. (7) Surat pernyataan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf b adalah perny ataan dari lembaga/yayasan/badan usaha atau pemerintah daerah calon penerima ban tuan yang memuat beberapa hal antara lain: 1. kepemilikan dan penguasaan tanah berupa tanda bukti penguasaan yang sah; 2. tidak terjadi perubahan lokasi pembangunan; 3. tidak terjadi perubahan disain bangunan; 4. jaminan tidak mengalih-fungsikan bangunan; 5. kesediaan menerima dan mengelola rumah susun sewa; dan 6. lokasi rumah susun sewa tidak mengalami perubahan peruntukan. (8) Dalam hal terjadi perubahan lokasi dan/atau perubahan disain bangunan, p erlu memberitahukan melalui surat yang ditandatangani oleh pimpinan lembaga untu k mendapat persetujuan Kepala Satuan Kerja. (9) Surat pernyataan sebagaimana dimaksud pada ayat (7) sebagaimana tercantu m pada lampiran 3 Peraturan Menteri ini. (10) Surat kesanggupan penyertaan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf c adalah kesanggupan penyertaan dari lembaga/yayasan/badan usaha atau pemerintah d aerah calon penerima bantuan yang memuat beberapa hal: a. menyelesaikan biaya administrasi penyambungan air minum dan listrik; b. menyediakan tanah siap bangun; c. menyediakan meubeler; d. melakukan pemanfaatan dan pengelolaan rumah susun sewa; dan e. menjaga kelestarian lingkungan pada lokasi rumah susun sewa. (11) Surat kesanggupan penyertaan sebagaimana dimaksud pada ayat (9) sebagaim ana tercantum pada lampiran 4 Peraturan Menteri ini. (12) Dalam hal terjadi kelalaian dalam memberikan hal-hal yang dipersyaratka n sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a, huruf b, dan huruf c, maka Menteri dapat melakukan tindakan turun tangan untuk menunda program bantuan pembangunan rumah susun sewa Bagian Kedua Persyaratan Teknis Pasal 12 Persyaratan teknis terdiri dari : a. Lokasi; dan b. Tanah; Pasal 13 (1) Lokasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf a harus memenuhi persya ratan: a. sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kabupaten/kota dinyataka n dengan surat keterangan dari Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD)/Dinas Tekni s Terkait atau master plan kawasan yang sudah ditetapkan oleh pimpinan lembaga, yayasan, badan usaha dan pemerintah daerah calon penerima bantuan; b. bebas dari rawan bencana banjir dan longsor; c. dekat dengan pusat kegiatan penerima manfaat d. tersedia jalan akses dengan lebar jalan sekurang-kurangnya 6m; e. tersedia sumberdaya air minum dan sumberdaya listrik dengan jarak yang t erjangkau; f. memperhitungkan daya tampung dan daya dukung tanah dan lingkungan; (2) Persyaratan teknis terhadap tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 hu

ruf b meliputi: a. tanah yang diperlukan untuk membangun 1 tower rumah susun sewa sekuran g-kurangnya 3000 m2 (tiga ribu meter persegi) berbentuk persegi dengan lebar se kurang-kurangnya 35 m (tiga puluh lima meter); b. tanah yang digunakan untuk pembangunan rumah susun sewa harus jelas stat us hukum kepemilikan dan jenis hak atas tanahnya yang dibuktikan dengan tanda bu kti penguasaan yang sah; c. jenis tanah merupakan tanah keras dan tidak merupakan tanah rawa; d. kondisi tanah siap bangun. (3) Kondisi tanah siap bangun sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d mer upakan kondisi tanah rata yang tidak memerlukan proses pematangan lahan. (4) Dalam hal kondisi tanah memerlukan proses pematangan lahan, maka biaya p ematangan lahan menjadi tanggungjawab penerima bantuan BAB V MEKANISME BANTUAN PEMBANGUNAN RUMAH SUSUN SEWA Bagian Kesatu Pengajuan Usulan Bantuan Pasal 14 (1) Menyusun proposal sesuai dengan ketentuan pedoman penyusunan proposal b antuan pembangunan rumah susun sebagaimana dicontohkan pada lampiran 5 Peraturan Menteri ini. (2) Melakukan koordinasi dengan pemerintah provinsi, kabupaten/kota, untuk m emperoleh surat dukungan. (3) Surat permohonan dan proposal bantuan pembangunan Rumah Susun Sewa diaju kan oleh penerima bantuan kepada Menteri Negara Perumahan Rakyat sesuai dengan k etentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1). (4) Penyampaian Surat Permohonan dan proposal bantuan pembangunan Rumah Susu n Sewa sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diajukan selambat-lambatnya tanggal 31 Maret (T-2). (5) Surat Permohonan dan proposal sebagaimana dimaksud pada ayat (4) memilik i masa berlaku 2 (dua) tahun Bagian Kedua Verifikasi Pasal 15 (1) Verifikasi dilakukan untuk melakukan pemeriksaan kelengkapan dan kebenar an dokumen serta kelayakan teknis terhadap usulan permohonan bantuan pembangunan rumah susun sewa yang diselenggarakan oleh Kementerian Perumahan Rakyat. (2) Ruang lingkup kegiatan verifikasi terdiri dari : a. Verifikasi administrasi b. Verifikasi teknis (3) Kegiatan Verifikasi dilakukan oleh tim verifikasi yang ditetapkan dengan Keputusan Deputi Bidang Perumahan Formal. (4) Dalam melakukan kegiatan verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3), tim verifikasi didampingi oleh tim dari lembaga penerima bantuan. (5) Kegiatan verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilaporkan dalam berita acara verifikasi

Paragraf 1 Administrasi Pasal 16 Verifikasi administrasi dilakukan melalui pengecekan seluruh dokumen usulan bant uan rumah susun sewa sesuai dengan persyaratan administrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 Paragraf 2 Teknis Pasal 17

Verifikasi teknis dilakukan melalui kegiatan survey lapangan terhadap lokasi usu lan calon penerima bantuan rumah susun sewa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 Pasal 18 (1) Ketentuan mengenai tata cara dan penilaian verifikasi administrasi dan v erifikasi teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 dan Pasal 17 diatur melalui Peraturan Menteri/SK Deputi Bidang Perumahan Formal (Standar Operasional Prosed ur/SOP Tata Cara Verifikasi Bantuan Pembangunan Rumah Susun Sewa) (2) Kegiatan Verifikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, Pasal 16, dan P asal 17 dilaksanakan pada bulan April hingga bulan Oktober (T-2). Bagian Ketiga Penetapan Bantuan Pasal 19 (1) Permohonan yang lolos hasil penilaian verifikasi administrasi dan verifi kasi teknis menjadi dasar sebagai usulan program (2) Usulan program sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan kepada Menter i Negara Perumahan Rakyat untuk ditetapkan sebagai penerima bantuan pembangunan Rumah Susun Sewa dengan memperhatikan alokasi anggaran melalui Surat Keputusan M enteri. (3) Menteri dapat menetapkan penerima bantuan diluar sebagaimana dimaksud pa da ayat (1). (4) Surat keputusan Menteri mengenai Penetapan Penerima Bantuan Rumah Susun Sewa akan disampaikan secara tertulis kepada calon penerima bantuan yang ditembu skan kepada pimpinan kementerian/lembaga terkait. (5) Penetapan program bantuan pembangunan rumah susun sewa ditetapkan paling lambat pada bulan Desember (T-2). Bagian Keempat Pelaksanaan Pembangunan Pasal 20 (1) Pelaksanaan pembangunan Rumah Susun Sewa dilakukan setelah proses penyus unan DED selesai (T-0). (2) Penyusunan DED dan/atau pelaksanaan pembangunan dilakukan oleh Pusat Pen gembangan Perumahan atau unit kerja yang ditunjuk untuk itu. (3) Penyusunan DED sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lambat selesai pada bulan November (T-1) (4) Pusat Pengembangan Perumahan atau unit kerja yang ditunjuk untuk itu ber koordinasi dengan: a. Sekretariat Kementerian Perumahan Rakyat; b. Pimpinan kementerian/lembaga terkait; c. Kedeputian Bidang Perumahan Formal; d. Penerima bantuan; e. Pemerintah Daerah. Bagian Kelima Pemanfaatan Hasil Pembangunan Pasal 21 (1) Penerima bantuan wajib mengoperasikan, memelihara, dan merawat sesuai de ngan ketentuan peraturan yang berlaku dan menjamin hingga berfungsinya bantuan y ang diberikan. (2) Penerima bantuan membuat surat pernyataan tertulis untuk melakukan peman faatan dan pengelolaan bangunan rumah susun sewa setelah setelah pembangunan sel esai dilakukan. BAB VI STATUS ASET Pasal 22 (1) Rumah susun sewa yang telah selesai dibangun diserahkan oleh Pusat Penge mbangan Perumahan selaku kuasa pengguna barang kepada Menteri. (2) Status aset bangunan rumah susun sewa yang telah dibangun merupakan bara ng milik negara yang dimohonkan status penggunaannya kepada Kementerian Keuangan

selaku pengelola barang. (3) Bantuan pembangunan rumah susun sewa yang telah selesai proses penetapan status aset akan diserahkan kepada instansi pemerintah daerah kabupaten/kota at au institusi/lembaga/yayasan penerima bantuan sesuai dengan ketentuan dan persya ratan yang berlaku. (4) Alih status pengguna barang milik negara dapat dilakukan pada bangunan r umah susun kepada kementerian/lembaga terkait atau instansi daerah. (5) Barang milik negara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dimanfaatka n atau dipindah tangankan melalui mekanisme antara lain: a. kerjasama pemanfaatan; b. hibah; atau c. penyertaan modal Negara. (6) Kerjasama pemanfaatan barang milik negara dapat dilakukan pada bangunan rumah susun yang diajukan oleh institusi/lembaga/yayasan/badan usaha untuk dilak ukan kerjasama pemanfaatan kepada badan usaha milik negara, badan usaha milik da erah, atau badan hukum lainnya. (7) Hibah barang milik negara dapat dilakukan pada bangunan rumah susun yang diajukan oleh instansi pemerintah pusat/daerah dan institusi/lembaga/yayasan/ba dan usaha yang dari awal pengadaaannya direncanakan untuk dihibahkan sesuai yang tercantum dalam dokumen penganggaran. (8) Hibah barang milik negara sebagaimana dimaksud pada ayat (7) dapat dilak ukan kepada instansi pemerintah daerah, atau dipergunakan untuk fungsi sosial, o rganisasi kemanusiaan, dan kepentingan agama. (9) Mekanisme hibah sebagaimana dimaksud pada ayat (8) harus mendapat perset ujuan dari lembaga yang berwenang. (10) lembaga yang berwenang sebagaimana dimaksud pada ayat (9) meliputi antar a lain: a. Kementerian Agama, bagi rumah susun sewa yang akan dihibahkan kepada pon dok pesantren b. Kementerian Sosial, bagi rumah susun sewa yang digunakan untuk fungsi so sial atau organisasi kemanusiaan (11) Penyertaan modal dapat dilakukan pada bangunan rumah susun kepada BUMN/D atau badan hukum lainnya. (12) Mekanisme pemanfaatan dan pemindahtanganan sebagaimana dimaksud pada aya t (5) dicatat dalam berita acara penyerahan yang memuat hak dan kewajiban para p ihak, termasuk pemeliharaan dan pengelolaan barang milik negara. (13) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan persyaratan mekanisme peng alihan barang milik negara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan sesua i dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

BAB VII PENDANAAN Pasal 23 (1) Sumber pendanaan untuk pembangunan rumah susun sewa didapat dari Pemerin tah Pusat melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada Kementerian Perumahan Rakyat, yang penggunaannya sesuai dengan peraturan yang berlaku. (2) Pengalokasian dana bantuan pembangunan rumah susun sewa pada instansi at au institusi/lembaga/yayasan/badan usaha penerima bantuan berdasarkan surat kepu tusan bantuan pembangunan rumah susun sewa yang telah ditetapkan dan disetujui o leh Menteri. (3) Pengalokasian dana bantuan pembangunan rumah susun sewa dapat dilakukan melalui sistem penganggaran tahun jamak (multi years). (4) Pengalokasian dana melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) terkait dengan dukungan bantuan pembangunan Rumah Susun Sewa sebagaimana dimak sud dalam Pasal 11 ayat (5). (5) Pengalokasian dana lembaga, yayasan, badan usaha, dan pemerintah daerah

calon penerima bantuan pembangunan rumah susun sewa terkait dengan kesanggupan p enyertaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (9). BAB VIII MONITORING, EVALUASI DAN PELAPORAN Bagian Kesatu Monitoring Pasal 24 (1) Monitoring dimaksudkan untuk pemantauan penyelenggaraan bantuan pembangu nan Rumah Susun Sewa. (2) Monitoring sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Kementerian Perumahan Rakyat dan Pemerintah Daerah dengan melibatkan kementerian/lembaga te rkait. Bagian Kedua Evaluasi Pasal 25 (1) Evaluasi dilakukan untuk mengetahui fungsionalisasi dan tingkat kepenghu nian pada bangunan Rumah Susun Sewa yang telah diberikan. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Deputi Menper a Bidang Perumahan Formal Kementerian Perumahan Rakyat. Bagian Ketiga Pelaporan Pasal 26 (1) Pelaporan disusun berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi pemanfaatan bantuan pembangunan Rumah Susun Sewa. (2) Pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Menteri Perumahan Rakyat. BAB IX PEMBINAAN Pasal 27 (1) Pemerintah dan pemerintah daerah melakukan pembinaan di tingkat pusat da n daerah didalam pelaksanaan program bantuan pembangunan rumah susun sewa. (2) Pelaksana pembinaan di tingkat pusat dilakukan oleh: a. Menteri pada kementerian terkait; b. Kepala Kepolisian RI; c. Kepala Badan Nasional Pengelola Perbatasan; atau d. Pimpinan kementerian/lembaga di tingkat pusat. (3) Pelaksana pembinaan di tingkat daerah dilakukan oleh: a. Gubernur pada tingkat provinsi; b. BupatiWalikota pada tingkat kabupaten/kota; dan c. Pimpinan kementerian/lembaga terkait di tingkat daerah (4) Pelaksanaan pembinaan yang dilakukan di tingkat pusat sebagaimana dimaks ud pada ayat (2) meliputi: a. pengaturan dan pemberian pedoman penyelenggaraan pembangunan rumah susun sewa; b. sosialisasi program dan pedoman aturan terkait penyelenggaraan bantuan p embangunan rumah susun sewa; dan c. pelaksanaan monitoring dan evaluasi penyelenggaraan bantuan rumah susun sewa. (5) Pelaksanaan pembinaan yang dilakukan di tingkat daerah sebagaimana dimak sud pada ayat (3) meliputi: a. pendampingan masyarakat kelompok sasaran calon penerima manfaat; b. pelatihan dan penyuluhan kepada institusi/lembaga/yayasan/badan usaha pe nerima bantuan terkait pemanfaatan dan pengelolaan rumah susun sewa; c. pengawasan dan pengendalian dalam pemeliharaan bangunan rumah susun sewa ;

d. pemeriksaan secara berkala terhadap bangunan rumah susun sewa; e. menjamin berfungsinya bangunan rumah susun secara optimal, dan; f. mengawasi pelaksanaan kepenghunian sesuai dengan peruntukkan kelompok sa saran. BAB X KETENTUAN PENUTUP Pasal 28 (1) Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. (2) Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 9 Tahun 2008 dinyatakan dicabut dan sudah tidak berlaku setelah peraturan ini diundangkan (3) Peraturan Menteri ini disebarluaskan kepada para pihak yang berkepenting an untuk diketahui dan dilaksanakan sebagaimana mestinya. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT SUHARSO MONOARFA Diundangkan di Jakarta pada tanggal

MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA PATRIALIS AKBAR BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN ... NOMOR ...

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful