Pelanggaran Etika Iklan : Iklan Yang Menjatuhkan Iklan/Produk Pesaingnya

Di jaman sekarang ini kita sering melihat iklan-iklan baik itu di televisi, surat kabar, radio maupun di sekeliling kita yang sangat melanggar etika dan sangat rendah kadar tanggung jawab publiknya. Banyak iklan yang tak lebih dari kemasan kebohongan dan sesat pikir untuk memanipulasi kebutuhan pemirsa, menawarkan janji-janji palsu, berlebihan, dan sering menjatuhkan produk saingannya. Akhir-akhir ini sering sekali kita lihat banyak sekali iklan yang saling menjatuhkan satu sama lain. Banyak iklan yang mempromosikan sebuah produk dengan menbandingkan produknya itu dengan produk saingannya yang sejenis dengan cara merendahkan, menjatuhkan bahkan mengejek produk lain. Ada beberapa iklan yang dianggap mengejek produk lain yang sejenis dengan produk mereka dengan cara menyindir (berupa kata-kata), menampilkan merendahkan gambar iklan produk produk lain(dengan sedikit disamarkan),

saingannya(dangan cara mengutip kata-kata dari iklan produk tersebut). Bahkan ada beberapa iklan yang merendahkan produk saingannya secara terang – terangan dengan menampilkan produk, logo atau merk produk saingannya secara jelas pada iklan mereka. Sebagai contoh yang masih hangat di benak kita perang iklan televisi antara operator selular AS milik Telkomsel dengan operator seluler XL milik Exelcomindo Pratama. secara vulgar. Bintang iklan yang jadi kontroversi itu adalah SULE, pelawak yang sekarang sedang naik daun. Awalnya Sule adalah bintang iklan XL. Di XL, Sule bermain satu frame dengan bintang cilik Baim dan Putri Titian.Di situ, si Perang 2 kartu yang sudah ternama ini kian meruncing dan langsung tak tanggung-tanggung menyindir satu sama lain

Biasanya. sudah ada iklan lain yang “menjatuhkan” iklan lain dengan menggunakan bintang iklan yang sama. kartu AS meluncurkan iklan baru dengan bintang iklannya sule.Baim disuruh Sule untuk ngomong. jangan mau diboongin anak kecil. tapi dengan kepolosan dan kejujuran (yang tentu saja sudah direkayasa oleh sutradara ) si Baim ngomong. jujur. Tapi tetap saja si Baim ngomong. Perang iklan antar operator sebenarnya sudah lama terjadi. “om Sule ganteng” tapi kali ini si Baim dikasih es krim sama Sule. tapi di iklan tersebut sudah membalas iklan XL tersebut dengan kata-katanya yang kurang lebih berbunyi seperti ini.”.Setelah itu. Sule sekarang memakai kartu AS yang katanya murahnya dari awal. Awalnya. tidak ada bintang iklan yang pindah ke produk kompetitor selama jangka waktu kurang dari 6 bulan. “om Sule jelek. bintang iklannya bukan Sule.. “sejujur Baim. “om Sule ganteng”.!!!” Nggak cukup di situ. tergolong parah. Namun pada perang iklan yang satu ini. Namun pada kasus ini. Sule juga berkata bahwa dia kapok diboongin anak kecil sambil tertawa dengan nada mengejek. “om Sule jelek”. Iklan ini dibalas oleh TELKOMSEL dengan meluncurkan iklan kartu AS. Di iklan tersebut. sejujur XL”.XL membuat sebuah slogan.. Selain di televisi persaingan tidak sehat yang dilakukan kedua operator tersebur berlanjut sampai ke media cetak hingga ke jalanan seperti yang terlihat di bawah ini . “makanya. Sule diwawancara oleh banyak wartawan dan menyatakan kepada wartawan bahwa dia sudah tobat. Sule kemudian membujuk Baim untuk ngomong lagi. saat penayangan iklan XL masih diputar di Televisi.

Pepsi secara terang – terangan menjelekkan dan merendahkan dengan menampilkan produk. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja. dan iklan-iklan lainnya. iklan Campina vs Walls. . logo atau merk produk Coca-cola secara jelas pada iklannya. Begitu juga sebaliknya Coca-cola melakukan hal yang sama untuk membalas iklan pepsi tersebut.Selain itu masih banyak juga iklan-iklan yang saling menjatuhkan bahkan cenderung menjelekkan saingannya seperti iklan Esia versi Ade Rai. bahkan di Negara maju seperti amerika serikat terjadi perang iklan yang sangat frontal antara Pepsi vs Coca-cola. iklan mizone vs vitazone.

SJ. Garret. atau untuk melakukan tindakan-tindakan ekonomi secara positif terhadap ide-ide. iklan dipahami sebagai aktivitas-aktivitas melalui pesan-pesan visual atau oral yang disampaikan kepada masyarakat dengan maksud menginformasikan atau mempengaruhi mereka untuk membeli barang dan jasa yang diproduksi.Fenomena seperti ini jelas-jelas sangat melanggar etika bisnis dan melanggar makna iklan yang sesungguhnya. Menurut Thomas M. institusi-institusi atau pribadi-pribadi yang .

Sehingga iklan harus memiliki etika. Iklan dikomunikasikan kepada khalayak luas (melalui media massa komunikasi iklan akan diterima oleh semua orang: semua usia.Bersikap Diplomatis dengan Pesaing Anda . golongan. Hal terakhir ini yang justru menegaskan sekali lagi pendapat bahwa iklan bisa menghasilkan keuntungan-keuntungan bagi masyarakat. baik moral maupun bisnis. Untuk membuat konsumen tertarik. yang dengan bebas menentukan untuk membeli. iklan harus dibuat menarik bahkan kadang dramatis. tetapi justru menjadi tuan atas diri serta uangnya.Area Pembeli Lebih Penting daripada Area Penengah 4. menunda atau menolak sama sekali barang dan jasa yang ditawarkan.terlibat di dalam iklan tersebut. Iklan sejak semula tidak bertujuan memperbudak manusia untuk tergantung pada setiap barang dan jasa yang ditawarkan.Produktivitas Jauh Lebih Penting Daripada Keuntungan 2. suku.Konsumen Bukan Domba yang Dapat Dipotong 3. Tapi iklan tidak diterima oleh target tertentu (langsung). Tindakan iklan-iklan di atas tersebut sangat melanggar prinsip-prinsip dasar etika bisnis. Salah satu prinsip etika bisnis Neil Valentine D’Silva menyatakan bahwa : 1. dan menjadi semata-mata bersifat propaganda barang dan jasa demi profit yang semakin tinggi dari para produsen barang dan jasa maupun penyedia jasa iklan. dsb). Masalah etika dan moral dalam iklan muncul ketika iklan kehilangan nilai-nilai informatifnya.

salah. bersangkutan.Selain itu ada juga Prinsip-prinsip Etika Bisnis Sony Keraf (1991) : 1. bahan. d. atau tidak tepat mengenai barang dan/atau jasa. kegunaan dan harga barang dan/atau tarif jasa serta ketepatan waktu penerimaan barang dan/atau jasa.Prinsip Kejujuran 3.Prinsip Otonomi 2. iklan-iklan tersebut juga melanggar “Etika Pariwara Indonesia (EPI)” tahun 2005 pada bagian tata karma isi iklan yang menyatakan bahwa “Iklan tidak boleh merendahkan produk pesaing secara langsung maupun tidak langsung”.Prinsip Keadilan 5. Melanggar etika dan/atau ketentuan peraturan perundang-undangan . Mengeksploitasi kejadian dan/atau seseorang tanpa seizin yang berwenang atau persetujuan yang mengenai periklanan. f. c. kuantitas. Mengelabui konsumen mengenai kualitas.Prinsip Berbuat Baik dan Tidak Berbuat Jahat 4.Prinsip Hormat pada Diri Sendiri Selain melanggar etika bisnis. b. Mengelabui jaminan/garansi terhadap barang dan/atau jasa. Tidak memuat informasi mengenai risiko pemakaian barang dan/atau jasa. Iklan-iklan tersebut juga melanggar Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 Tanggal 20 April 1999 tentang PERLINDUNGAN KONSUMEN terutama pasal 17 yang menyatakan : Pelaku usaha periklanan dilarang memproduksi iklan yang: a. Memuat informasi yang keliru. e.

sinis dan tidak respek karena perilaku yang ditunjukkan di iklan tersebut dianggap tidak baik. Jika hal ini terus dibiarkan maka kedepannya mental dunia periklananan kita akan semakin bobrok. Kemudian dari kedua iklan provider telekomunikasi menyatakan bahwa produk-produk mereka adalah yang terbaik telah mengakibatkan para konsumen merasa bingung dan cenderung menyesatkan. stasiun TV. model iklan. YLKI). dan akan mengakibatkan persaingan yang tidak sehat dan ujung-ujungnya konsumen yang bakal dirugikan. P3I. .Tidak ada tujuan lain dari pembuatan iklan-iklan tersebut selain hanya untuk mendapatkan profit yang sebesar-besarnya dengan cara yang tidak beretika dan tidak bermoral untuk mempengaruhi persepsi masyarakat. agar masyarakat menganggap produk tersebut jauh lebih bagus daripada produk pesaingnya. diantaranya informasi tarif harga yang tidak secara jelas ditulis. mengakibatkan banyak konsumen tertipu dan kecewa. Konsumen merupakan pihak yang paling dirugikan dengan persaingan yang tidak sehat ini. . perusahaan yang beriklan. radio. KPI. iklan yang provokatif dan cenderung menyesatkan itu berdampak pada kerugiankerugian yang dialami oleh masyarakat. contohnya pada kasus “AS vs XL”. pengamat dan praktisi komunikasi maupun masyarakat/konsumen untuk mengawasi dan mengontrol masalah ini. mereka menjadi skeptis. Pada akhirnya konsumen akan meninggalkan produk tersebut. perusahaan pembuat iklan (advertising agencies). Karena bingung. konsumen akan berpandangan negatif terhadap produk yang diiklankan tersebut.media cetak. Untuk mengatasi hal ini butuh keterlibatan semua pihak baik dari Pihak yang berwenang (Depkominfo. beralih ke produk lain yang sejenis bahak mungkin saja mereka akan pindah ke produk yang dijelekkan oleh iklan tersebut. Masalah ini harus segera ditangani secepat mungkin. Bahkan dengan adanya iklan-iklan yang saling menjelekkan itu akan bisa menjadi bumerang tersendiri bagi produk dan perusahaan tersebut. dan mungkin saja kelanjutannya akan semakin banyak iklan-iklan yang saling menjatuhkan satu dengan lainnya.

logis dan bertumpu pada bukti-bukti yang dapat diverifikasi mengenai produk/jasa mereka.A. • Pihak yang berwenang dapat memberikan Penghargaan secara rutin kepada iklan-iklan kreatif yang tidak menjatuhkan iklan pesaingnya sehingga dapat memotivasi insan periklanan agar lebih baik lagi kedepannya. • Perusahaan yang beriklan dan advertising agencies harus mampu memberi informasi secara benar. YLKI) • Pihak yang berwenang menangani masalah periklanan harus bersikap lebih tegas dan memberikan sangsi bagi mereka yang melanggar kode etik periklanan misalnya mulai dari melarang semua iklan yang menjelekkan perusahaan yang beriklan dan advertising penayangan untuk pesaingnya sampai melarang agencies mengiklankan semua produk dan iklannya jika masih membandel. . B. P3I. Perusahaan Yang Beriklan dan Advertising Agencies • Perusahaan yang beriklan dan advertising agencies sebaiknya dapat memikirkan dan membuat iklan dengan ide yang lebih kreatif untuk mempromosikan produk/jasa mereka tanpa harus menjatuhkan produk/jasa saingannya. • Pihak yang berwenang mengatur kode etik periklanan yang jelas dan tegas dan harus lebih mensosialisasikan kode etik periklanan kepada semua insan periklanan diseluruh tanah air. Pihak Yang Berwenang (Depkominfo. KPI.

Pengamat dan praktisi Komunikasi juga dituntut lebih kritis menyimak tayangan iklan. Besarnya tekanan eksternal (antara lain dalam bentuk curahan perhatian. Jangan hanya mencermati nilai kontrak iklan saja. superlative. diputar dan dipasang.C. Model Iklan • Model Iklan atau para pemeran yang terlibat dalam iklan tersebut hendaknya juga bersikap hati-hati dalam mencermati skenario. D. menawarkan janji-janji palsu dan iklan-iklan yang menjelekkan iklan pesaingnya sehingga akan membantu terciptanya persaingan yang sehat. • Melarang iklan-iklan yang bohong. Stasiun Televisi.kritik-kritik atau protes atas tayangan iklan) secara pasti akan mampu memperbaiki perilaku negatif advertising . diputar. dan dipasang sehingga hanya iklan-iklan yang bermutu dan kreatif saja yang bisa ditayangkan. Media Cetak dan Radio • Stasiun Televisi. E. Pengamat dan Praktisi Komunikasi • Masyarakat secara umum. Mereka juga harus sadar dampak positif dan negative yang akan timbul bagi masyarakat/konsumen jika mereka memerankan tokoh yang ada di suatu iklan. story board atau artikulasi pesan dari iklan yang mereka bintangi. media cetak dan radio harus bisa membuat aturan yang jelas tentang iklan-iklan yang layak ditayangkan. Bila perlu menanyakan data-data ilmiah yang ada yang digunakan untuk mendukung materi yang diiklankan. Masyarakat/Konsumen.

agencies dan perusahaan yang beriklan dalam memproduksi iklannya. Pilih yang mana? TUGAS Etika bisnis Pelanggaran Etika Iklan : Iklan Yang Menjatuhkan Iklan/Produk Pesaingnya . Iklan yang baik bisa menjadi sarana pendidikan bagi masyarakat. sementara iklan yang buruk bisa membodohi masyarakat.

Disusun oleh : Deddy Sandrananta 120820100534 FAKULTAS EKONOMI MAGISTER MANAJEMEN UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful