TUGAS MATA KULIAH BIOLOGI TANAH ( CACING TANAH

)

Oleh HAYATUN (E1C107014) SHITIE NOOR IFACH (E1C107017) WAHYU KURNIAWAN (E1C107018) MUHAMMAD SAILI ( E1C107022)

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMBUING MANGKURAT BANJARBARU 2011

PENDAHULUAN

Sebagian orang merasa jijik pada cacing tanah. Jangan salah, ternyata dibalik tubuhnya yang licin itu, cacing tanah menyimpan banyak khasiat. Kenyataannya, banyak orang yang mengonsumsinya untuk menyembuhkan beberapa penyakit, tanpa efek, sehingga aman dikonsumsi. Menurut pengalaman orang-orang yang pernah mengalami demam atau suhu badan yang tinggi, dengan mengonsumsi ramuan ekstra cacing tanah gangguan mereka pun membaik. Selain itu cacing juga dapat diolah menjadi macam-macam produk. Selain dalam bentuk hidup,cacing dapat dirubah menjadi tepung, cacing,kosmetika, makanan ternak, dan pupuk. Adapun manfaat cacing dalam untuk mengobati berbagi macam penyakit seperti penyakit exim, typus, batuk, influenza, menurunkan kadar kolestrol, TBC, dan masih banyak lagi penyakit yang bisa di sembuhkan dengan cacing. Tentu saja semua hal diatas jika dikelola dengan sungguh-sungguh akan menghasilkan keuntungan yang sangat besar. Menjadi peternak cacing dengan pemahaman

agribisnis yang mantap sungguh akan menjadi peluang tersendiri. Apalagi kebanyakan dari konsumen dari produk ternak cacing adalah pasar luar negri. Negara tujuan export dari cacing ini adalah Malaysia, China, Korea, dan Negara-negara asia timur lainya. Selain itu kita secara tidak langsung berperan secara aktif dalam rangka pengurangan pengangguran dengan cara menciptakan lapangan pekerjaan.

PEMBAHASAN

Sejarah Singkat Cacing tanah termasuk hewan tingkat rendah karena tidak mempunyai tulang belakang (invertebrata). Cacing tanah termasuk kelas Oligochaeta. Famili terpenting dari kelas ini Megascilicidae dan Lumbricidae. Cacing tanah bukanlah hewan yang asing bagi masyarakat kita, terutama bagi masyarakat pedesaan. Namun hewan ini mempunyai potensi yang sangat menakjubkan bagi kehidupan dan kesejahteraan manusia. Definisi cacing tanah Cacing tanah adalah nama yang umum digunakan untuk kelompok Oligochaeta, yang kelas dan subkelasnya tergantung dari penemunya dalam filum Annelida.

Gambar 1. Cacing tanah. Dalam bahasa Inggris cacing sering disebut dengan istilah worm, vermes, dan helminth. Cacing, dalam kerajaan binatang termasuk hewan invertebrata atau tanpa tulang belakang. Cacing diklasifikasikan kedalam tiga phylum, yaitu

Platyhelminthes, Aschelminthes (Nemathelminthes), dan Annelida. Platyhelminthes merupakan kelompok cacing yang berbentuk pipih, ada yang parasit dan ada yang tidak. Platyhelminthes dibagi dalam tiga kelas yakni Turbelaria, Trematoda dan Cestoda. Kelompok Turbelaria umumnya hidup bebas dan tidak bersifat parasit. Contohnya adalah cacing planaria dan microstomum. Di alam, planaria merupakan hewan indikator perairan yang tidak tercemar. Kelompok Trematoda dan Cestoda umumnya bersifat parasit. Contoh dari kelompok Trematoda adalah cacing Fasciola hepatica (cacing hati), Eurytrema pancreaticum (cacing kelenjar pankreas), dan Schistosoma japonicum (cacing pembuluh darah). Sementara itu contoh dari kelompok Cestoda adalah cacing pita. Phylum Aschelminthes terbagi menjadi dua kelas yaitu Nematoda dan Rotifera. Cacing dari phylum ini berbentuk silindris. Nematoda umumnya bersifat parasit, contohnya adalah cacing yang hidup di usus mamalia seperti Ascharis lumbricoides, A. suum, dan Ancylostoma duodenale (Listyawan, et.al. 1998). Phylum yang terakhir yaitu Annelida, yaitu cacing yang bersegmen seperti cincin. Phylum ini terbagi menjadi tiga kelas yaitu Polychaeta, Hirudinea, dan Oligochaeta. Polycaheta merupakan kelompok cacing yang memiliki banyak seta atau sisir di tubuhnya, contohnya adalah Nereis dan Arenicola. Sedangkan contoh dari kelompok Hirudinea adalah lintah dan pacet (Hirudo medicinalis dan Haemadipsa zeylanica). Kelas terakhir dari phylum Annelida adalah Oligochaeta dimana cacing tanah.

Jenis-jenis Cacing Tanah Cacing tanah oleh beberapa praktisi dikelompokan berdasarkan warnanya yaitu kelompok merah dan kelompok abu-abu. Kelompok warna merah antara lain adalah Lumbricus rubellus (the red woorm), L. terestris (the night crawler), Eisenia foetida (the brandling worm), Dendroboena, Perethima dan Perionix. Sedangkan kelompok abu-abu antara lain jenis Allobopora (the field worm) dan Octolasiu. Pada dasarnya cacing tanah adalah organisme saprofit, bukan parasit dan tidak butuh inang. Ia murni organisme penghancur sampah. Jenis cacing yang umum

dikembangkan di Indonesia adalah L. rubellus.

Cacing ini berasal dari Eropa,

ditemukan di dataran tinggi Lembang - Bandung oleh Ir. Bambang Sudiarto pada tahun 1982. Dilihat dari morfologinya, cacing tersebut panjangnya antara 80 – 140 mm. Tubuhnya bersegmen-segmen dengan jumlah antara 85 – 140. Segmentasi tersebut tidak terlihat jelas dengan mata telanjang. Yang terlihat jelas di bagian tubuhnya adalah klitelum, terletak antara segmen 26/27 – 32. Klitelum merupakan organ pembentukan telur. Warna bagian punggung (dorsal) adalah coklat merah sampai keunguan. Sedangkan warna bagian bawah (ventral) adalah krem. Pada bagian depan (anterior) terdapat mulut, tak bergigi. Pada bagian belakang (posterior) terdapat anus. Morfologi Cacing Tanah Cacing tanah jenis Lumbricus mempunyai bentuk tubuh pipih. Jumlah

segmen yang dimiliki sekitar 90-195 dan klitelum yang terletak pada segmen 27-32. Biasanya jenis ini kalah bersaing dengan jenis yang lain sehingga tubuhnya lebih kecil. Tetapi bila diternakkan besar tubuhnya bisa menyamai atau melebihi jenis lain.

Cacing tanah jenis Pheretima segmennya mencapai 95-150 segmen. Klitelumnya terletak pada segmen 14-16. Tubuhnya berbentuk gilik panjang dan silindris berwarna merah keunguan. Cacing tanah yang termasuk jenis Pheretima antara lain cacing merah, cacing koot dan cacing kalung. Cacing tanah merupakan makhluk yang telah hidup dengan bantuan sistem pertahanan mereka sejak fase awal evolusi, oleh sebab itu mereka selalu dapat menghadapi invasi mikroorganisme patogen di lingkungan mereka. Penelitian yang telah berlangsung selama sekitar 50 tahun menunjukkan bahwa cacing tanah memiliki kekebalan humoral dan selular mekanisme. Selain itu telah ditemukan bahwa cairan selom cacing tanah mengandung lebih dari 40 protein dan pameran beberapa aktivitas biologis sebagai berikut: cytolytic, proteolitik, antimikroba, hemolitik, hemagglutinating, tumorolytic, dan kegiatan mitogenic. Cairan dari selom foetida Eisenia Andrei telah diteliti memiliki sebuah aktivitas antimikroba terhadap Aeromonas hydrophila dan Bacillus megaterium yang dikenal sebagai patogen cacing tanah. Setelah itu diperoleh dua protein, bernama Fetidins, dari cairan selom cacing tanah dan menegaskan bahwa aktivitas antibakteri ini disebabkan karena fetidins. Lumbricus rubellus juga memiliki dua agen antibakteri bernama Lumbricin 1 dan Lumbricin 2. Baru-baru ini, dua jenis faktor antibakteri yang mempunyai aktivitas seperti lisozim dengan aktivitas hemolitik serta pengenalan pola protein bernama selom cytolytic faktor (CCF) telah diidentifikasi dalam foetida Eisenia cacing tanah. Lysenin protein yang berbeda dan Eisenia foetida lysenin-seperti protein memiliki beberapa kegiatan yang diberikan cytolytic hemolitik, antibakteri dan membran-permeabilizing properti. Protein yang dimiliki oleh cacing tanah memiliki mekanisme antimikroba yang berbeda dengan

mekanisme antibiotik. Antibiotik membunuh mikrorganisme tanpa merusak jaringan tubuh. Antibiotik membunuh mikroganisme biasanya dengan dua cara, yaitu dengan menghentikan jalur metabolik yang dapat menghasilkan nutrient yang dibutuhkan oleh mikroorganisme atau menghambat enzim spesifik yang dibutuhkan untuk mmbantu menyusun dinding sel bakteri. Sedangkan, mekanisme yang dilakukan oleh protein yang dimiliki oleh cacing tanah adalah dengan membuat pori di dinding sel bakteri. Hal ini menyebakan sitoplasma sel bakteri menjadi terpapar dengan lingkungan luar yang dapat mengganggu aktivitas dalam sel bakteri dan menyebabkan kematian. Dengan cara ini, bakteri menjadi lebih susah untuk menjadi resisten karena yang dirusak adalah struktur sel milik bakteri itu sendiri. Sifat Cacing Tanah Cacing tanah tidak dapat dibedakan jenis kelaminnya karena cacing bersifat hermaprodit alias dalam satu tubuh terdapat dua alat kelamin, jantan dan betina. Namun cacing tanah tidak dapat melakukan perkawinan sendirian. Untuk kawin ia membutuhkan pasangan untuk pertukaran sperma. Cacing tanah merupakan hewan nokturnal dan fototaksis negatif. Nokturnal artinya aktivitas hidupnya lebih banyak pada malam hari sedangkan pada siang harinya istirahat. Fototaksis negatif artinya cacing tanah selalu menghindar kalau ada cahaya, bersembunyi di dalam tanah. Bernafasnya tidak dengan paru-paru tetapi dengan permukaan tubuhnya. Oleh karena itu permukaan tubuhnya selalu dijaga kelembabannya, agar pertukaran oksigen dan karbondioksida berjalan lancar. Usia cacing tanah bisa mencapai 15 tahun, namun umur produktifnya hanya sekitar 2 tahun. Cacing dewasa yang berumur 3 bulan dapat menghasilkan kokon sebanyak 3 kokon per minggu. Di dalam kokon terdapat telur dengan jumlah antara 2 – 20 butir. Telur tersebut akan menetas menjadi juvenil

(bayi cacing) setelah 2 – 5 minggu. Rata-rata hidup cacing adalah 2 ekor perkokon. Cacing akan menjadi dewasa dan siap kawin wetelah berumur 2 – 3 bulan. Dalam pertumbuhannya, pertambahan berat cacing sampai berumur satu bulan adalah sekitar 400 persen, 1 – 2 bulan 300 persen, dan 2 –3 bulan 100 persen. Dalam satu siklus (3 bulan) 1 kg induk cacing menghasilkan 6 kg cacing. Dalam 1 kg cacing terdapat sekitar 2000 ekor. Sedangkan berat keringnya adalah sekitar 20 persen dari berat basah. Struktur Tubuh Cacing Tanah Cacing tanah memiliki segmen di bagian luar dan dalam tubuhnya. Antara satu segmen dengan segmen lainya terdapat sekat yang disebut septa. Pembuluh darah, sistem ekskresi, dan sistem saraf di antara satu segmen dengan segmen lainnya saling berhubungan menembus septa. Rongga tubuh berisi cairan yang berperan dalam pergerakkan annelida dan sekaligus melibatkan kontraksi otot. Ototnya terdiri dari otot melingkar (sirkuler) dan otot memanjang (longitudinal). Sistem pencernaan cacing tanah sudah lengkap, terdiri dari mulut, faring, esofagus (kerongkongan), kelenjar kalsiferous usus, dan anus. Proses pencernaan dibantu oleh enzim - enzim yang dikeluarkan oleh getah pencernaan secara ekstrasel.

Gambar 2. Struktur tubuh cacing. Makanan cacing tanah berupa daun-daunan serta sampah organik yang sudah lapuk. Cacing tanah dapat mencerna senyawa organik tersebut menjadi molekul yang sederhana yang dapat diserap oleh tubuhnya. Sisa pencernaan makanan dikeluarkan melalui anus. Cacing tanah mempunyai alat peredaran darah yang terdiri atas pembuluh darah punggung, pembuluh darah perut dan lima pasang lengkung aorta. Lengkung aorta berfungsi sebagai jantung. Cacing tanah memiliki sistem peredaran darah tertutup. Darahnya mengandung hemoglobin, sehingga berwarna merah. Pembuluh darah yang melingkari esopagus berfungsi memompa darah keseluruh tubuh. Sistem saraf annelida adalah sistem saraf tangga tali. Ganglia otak terletak di depan faring pada anterior. Ekskresi dilakukan oleh organ ekskresi yang terdiri dari nefridia, nefrostom, dan nefrotor. Nefridia (tunggal – nefridium) merupaka organ ekskresi yang terdiri

dari saluran. Nefrostom merupakan corong bersilia dalam tubuh. Nefrotor merupaka pori permukaan tubuh tempat kotoran keluar. Terdapat sepasang organ ekskresi tiap segmen tubuhnya Habitat Cacing Tanah Cacing ini hidup didalam liang tanah yang lembab, subur dan suhunya tidak terlalu dingin. Untuk pertumbuhannya yang baik, cacing ini memerlukan tanah yang sedikit asam sampai netral atau pH 6-7,2. Kulit cacing tanah memerlukan kelembaban cukup tinggi agar dapat berfungsi normal dan tidak rusak yaitu berkisar 15% - 30%. Suhu yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan antara 15oC-25oC.  Pengaruh pH Cacing tanah memiliki sistem pencernaan yang kurang sempurna, karena sedikitnya enzim pencernaan. Oleh karena itu cacing tanah memerlukan bantuan bakteri untuk merubah/memecahkan bahan makanan. Aktivitas bakteri yang kurang dalam makanannya menyebabkan cacing tanah kekurangan makanan dan akhirnya mati karena tidak ada yang membantu pencernaan senyawa karbohidrat dan protein. Namun bila makanan terlalu asam sehingga aktivitas bakteri berlebihan. Hal ini akan menyebabkan terjadinya pembengkakan tembolok cacing tanah dan berakhir dengan kematian pula. Keadaan makanan atau lingkungan yang terlalu basah,

mengakibatkan cacing tanah kelihatan pucat dan kemudian mati. Untuk pertumbuhan yang baik dan optimal diperlukan pH antara 6,0 sampai 7,2.  Pengaruh kelembaban Sebanyak 85 % dari berat tubuh cacing tanah berupa air, sehingga sangatlah penting untuk menjaga media pemeliharaan tetap lembab (kelembaban optimum

berkisar antara 15 - 30 %). Tubuh cacing mempunyai mekanisme untuk menjaga keseimbangan air dengan mempertahankan kelembaban di permukan tubuh dan mencegah kehilangan air yang berlebihan. Cacing yang terdehidrasi akan kehilangan sebagian besar berat tubuhnya dan tetap hidup walaupun kehilangan 70 - 75 % kandungan air tubuh. Kekeringan yang berkepanjangan memaksa cacing tanah untuk bermigrasi ke lingkungan yang lebih cocok. Kelembaban sangat diperlukan untuk menjaga agar kulit cacing tanah berfungsi normal. Bila udara terlalu kering, akan merusak keadaan kulit. Untuk menghindarinya cacing tanah segera masuk kedalam lubang dalam tanah, berhenti mencari makan dan akhirnya akan mati. Bila kelembaban terlalu tinggi atau terlalu banyak air, cacing tanah segera lari untuk mencari tempat yang pertukaran udaranya (aerasinya) baik. Hal ini terjadi karena cacing tanah mengambil oksigen dari udara bebas untuk pernafasannya melalui kulit. Kelembaban yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan cacing tanah adalah antara 15% sampai 30%.  Pengaruh Suhu Suhu yang terlalu rendah maupun terlalu tinggi akan mempengaruhi prosesproses fisiologis seperti pernafasan, pertumbuhan, perkembangbiakan dan

metabolisme. Suhu rendah menyebabkan kokon sulit menetas. Suhu yang hangat (sedang) menyebabkan cepat menetas dan pertumbuhan cacing tanah setra perkembangbiakannya akan berjalan sempurna. Suhu yang baik antara 15oC-25oC. Suhu yang lebih tinggi dari 25oC masih baik asalkan ada naungan yang cukup dan kelembaban yang optimal.

Prilaku Cacing Tanah Sehari-hari Pada Habitatnya. Penelitian tentang prilaku cacing tanah ini dilakukan pada habitat aslinya

yaitu pada suatu kebun di Banjar Badingkayu, Desa Pengeragoan, Kecamatan Pekutatan Kabupaten Jembrana. Kebun tempat dilakukan penelitian merupakan

kebun yang ditanami beranekaragam tanaman, seperti kakao, pisang, kopi, cabai kelapa dan cengkeh. Cacing tanah biasanya dijumpai ditanah sekitar tumpukan kulitkulit kakao yang mulai membusuk atau pada busukan batang pisang. Proses

pengamatan dilakukan pada libur Galungan-Kuningan pada pertengahan bulan Maret 2009. Waktu pengamatan kira-kira selama 2 minggu. Untuk memperjelas pengamatan, peneliti juga memelihara beberapa ekor cacing tanah pada kotak kaca yang diisi dengan tanah dengan dicampur kulit kakao yang membusuk. Berdasarkan pengamatan peneliti cacing tanah keluar permukaan hanya pada saatsaat tertentu. Pada siang hari, cacing tanah tidak pernah keluar kepermukaan tanah, kecuali jika saat itu terjadi hujan yang cukup menggenangi liangnya. Cacing tanah takut keluar pada siang hari karena tidak kuat terpapar panas matahari terlalu lama. Pemanasan yang terlalu lama menyebabkan banyak cairan tubuhnya yang akan menguap. Cairan tubuh cacing tanah penting untuk menjaga tekanan osmotik koloidal tubuh dan bahan membuat lendir. Lendir yang melapisi permukaan tubuh salah satunya berfungsi memudahkan proses difusi udara melalui permukaan kulit. Cacing tanah akan keluar terutama pada pagi hari sesudah hujan. Hal ini dilakukan karena sesaat setelah hujan, biasanya liang mereka terendam air sehingga aerasi dalam liang tidak bagus sehingga mereka keluar dalam rangka menghindari keadaan kesulitan bernafas dalam liang. Cacing tanah juga tidak kuat bila terendam air terlalu lama sehingga cendrung menghindar dari genangan air yang dalam. Dalam

keadaan normal mereka akan pergi kepermukaan tanah pada malam hari. Pada malam suhu udara tidak panas dan kelembaban udara tinggi sehingga cacing tanah bisa bebas keluar untuk beraktivitas. Dalam keadaan terlalu dingin atau sangat kering cacing tanah segera masuk kedalam liang, beberapa cacing sering terdapat meligkar bersama-sama dengan diatasnya terdapat lapisan tanah yang bercampur dengan lendir. Lendir dalam hal ini berfungsi sebagai isolator yang mempertahankan suhu tubuh cacing tanah agar tidak terlalu jauh terpengaruh oleh suhu lingkungan. Posisi melingkar dalam liang memperkecil kontak kulit dengan udara sehingga memperkecil pengaruh dari suhu udara luar.  Prilaku Makan Cacing Tanah Sistem pencernaan cacing tanah sangat adaptif dengan aktivitas makan dan menggali pori-pori tanah. Makanan utama cacing tanah adalah bahan organik. Bahan-bahan organik tanah dapat berasal dari serasah (daun yang gugur), kotoran ternak atau tanaman dan hewan yang mati. Cacing tanah menyukai bahan yang mudah membusuk karena lebih mudah dicerna oleh tubuhnya. Namun cacing tanah tidak menyukai serasah daun yang mengandung tanin atau minyak seperti daun cengkeh, pinus dan jeruk. Tanin bersifat toksik bagi cacing tanah. Hal ini terlihat dari pengamatan peneliti bahwa tanah di bawah tumpukan serasah daun cengkeh sama sekali tidak dijumpai adanya cacing tanah. Bahkan peneliti juga mencoba menggali tanah samapi 30 cm namun cacing tanah tetap tidak berhasil dijumpai. Makanan cacing tanah diambil melalui struktur organ yang disebut prostomium (setara bibir pada manusia), lalu dimasukkan kedalam mulut, kemudian kedalam faring, ke esophagus lalu ketembolok (pro pentriculus). Disini makanan disimpan untuk sementara kemudian masuk kedalam lambung otot. Didalam

lambung otot makanan dihancurkan oleh gerakan otot lambung. cacing tanah makan pasir atau benda lainnya dengan tujuan membantu menghancurkan makanan dalam lambung. Makanan yag telah halus masuk kedalam usus halus (intestinum). Didalam usus halus makanan dipecahkan dari bentuk kompleks menjadi bentuk sederhana sehingga dapat dipakai oleh tubuh. Aktivitas penghancur makanan menjadi zat makanan sederhana tadi dilakukan oleh enzim-enzim tertentu, aktivitas bakteri dan protozoa yang masuk bersama-sama makanan. Zat makanan kemudian diabsorbsi oleh dinding usus halus masuk kedalam pembuluh darah dan strusnya diedarkan keseluruh tubuh. Sisa-sisa makanan yang tidak dicerna keluar bersama-sama kotoran lainnya dalam bentuk kotoran cacing tanah atau casting. Proses pencernaan cacing tanah sangat terkait dengan siklus nutrisi atau zat organik dalam tanah. Cacing tanah berfungsi menyebarkan kembali zat-zat organik dalam tanah dengan cara mengonsumsi, memecahnya, dan mengeluarkannya kembali. Kebanyakan materi yang dicerna cacing tanah tidak dapat dipecahkan, dan sebagian besar dikeluarkan kembali tanpa dicerna. Kotoran cacing yang banyak mengandung nitrogen. Beberapa mikroorganisme dari saluran pencernaan cacing keluar bersama kotoran cacing untuk meningkatkan proses penguraian di dalam tanah. Selanjutnya, mikroba akan mengubah kotoran cacing tanah menjadi humus yang kaya zat hara yang bisa diserap akar tanaman. Bakteri tanah dan

mikroorganisme tanah berperanan dalam mencerna makanan cacing, dan memperoleh keuntungan dari kotoran cacing. Aktivitas cacing tanah ini secara Ini karena, cacing dapat

konstan dapat meningkatkan pH pada tanah asam.

mengeluarkan kapur dalam bentuk kalsium karbonat (CaCO3) atau dolomit pada

lapisan di bawah permukaan tanah. Cacing juga dapat menurunkan pH pada tanah yang berkadar garam tinggi.  Pergerakan Cacing Tanah Tubuh cacing tanah terdiri dari segmen-segmen dan memiliki struktur organorgan sederhana, yang justru menyebabkan cacing tanah dapat terus beradaptasi dengan lingkungan hidupnya. Cacing tanah tidak memiliki alat gerak seperti kaki dan tangan, otot badannya yang memanjang (longitudinal) dan otot badannya yang melingkar tebal (sirkuler) ternyata sangat berguna untuk pergerakan. Kontraksi otot longitudinal menebabkan tubuh cacing tanah bisa memanjang dan memendek. Sedangkan kontraksi otok sirkuler menyebabkan tubuh cacing tanah mengembang dan mengkerut. Sinkronisasi kontraksi kedua jenis otot ini menimbulkan gaya gerak kedepan. Kalau diperhatikan kelihatan lemah, tetapi sebetulnya tidak demikian, cacing tanah termasuk relatif kuat karena dengan susunan otot yang melingkar dan memanjang cacing tanah dapat menembus tanah. Cacing tanah dapat mendorong suatu benda atau batu kecil yang 60x lebih berat dari tubuhnya sendiri, tetapi bila tidak dapat didorong, tanah itu akan dimakannya dan setelah itu bersama-sama kotoran dikeluarkan atau disembulkan melalui anus. Cacing tanah juga mempunyai struktur pembantu pergerakan yang disebut seta, fungsinya adalah sebagai jangkar supaya lebih kokoh pada tempat bergeraknya. Bila seekor cacing tanah ditarik dari lubangnya, tubuhnya akan putus. Hal ini disebabkan karen daya lekat seta. Alat bantu lainnya adalah lendir yang dihasilkan oleh kelenjar lendir pada epidermisnya. Lendir (mucus) ini terus diproduksi untuk melapisi seluruh tubuhnya, supaya lebih mudah bergerak ditempat-tempat yang kasar, misalnya pada daun-daun dan ranting-ranting tanaman yang gugur. Lendir

dipakai untuk memperlicin saluran atau lubang didalam tanah, sehingga leluasa bergerak didalam lubang.  Prilaku Kawin Cacing Tanah Cacing tanah memiliki alat kelamin jantan dan betina pada satu tubuh (hermaprodite). Tetapi cacing tanah tidak dapat membuahi dirinya sendiri. Dari perkawinan masing-masing cacing tanah akan menghasilkan kokon yang berisi telurtelur. Pada waktu mengadakan perkawinan, kedua cacing tanah saling melekat dibagian anterior, dengan posisi saling berlawanan. Keadaan saling melekat ini diperkuat oleh seta. Dalam posisi demikian klitelum masing-msing cacing akan mengeluarkan lendir. Guna lendir tersebut terutama untuk melindungi spermatozoa yang keluar dari lubang alat kelamin jantan masing-masing. Kedua cacing ini berperan sebagai hewan jantan (keduanya mengeluarkan spermatozoa). Spermatozoa yang keluar kemudian bergerak ke posterior dan masuk kedalam lubang kantong penerimaan sperma (reseptakulum seminalis). Cacing tanah I dan cacing tanah II masing-masing saling menerima spermatozoa setelah itu mereka akan berpisah. Proses berikutnya adalah mula-mula klitelum membentuk selubung kokon, yang bergerak ke arah mulut dan bertemu dengan saluran telur. Telur-telur kemudian keluar dari lubang tersebut dan masuk kedalam kokon. Selubung kokon selanjutnya bergerak kearah mulut. Pada saat melewati lubang penerima sperma, maka sperma ini akan masuk kedalam selubung kokon sehingga terjadi peristiwa pembuahan. Telur yang telah dibuahi dalam selubung kokon terus bergerak kearah mulut, sampai akhirnya selubung kokon itu lepas dari tubuh induknya dan membentuk kokon. Kokon berbentuk lonjong dan besarnya kira-kira 1/3 kali besarnya batang korek api. Kokon diletakkan ditempat yang lembab dan akan menetas dalam waktu

14-21 hari. Setiap kokon akan menghasilkan cacing sebanyak 2-20 ekor, rata-rata secara umum adalah 4 ekor. Diperkirakan 100 ekor cacing dewasa dapat menghasilkan 100.000 cacing dalam waktu 1 tahun. Cacing mulai dewasa setelah berumur 2-3 bulan, setiap cacing dewasa dapat menghasilkan satu kokon setiap 7-10 hari.  Prilaku Membuang Kotoran Cacing Tanah Cairan dalam rongga tubuh cacing tanah mengandung substansi dan zat sisa. Zat sisa ada dua bentuk, yaitu amonia dan zat lain yang kurang toksik, yaitu ureum. Oleh karena cacing tanah hidup di dalam tanah dalam lingkungan yang lembab, anelida mendifusikan sisa amonianya di dalam tanah tetapi ureum diekskresikan lewat sistem ekskresi. Sistem ekskresi Filum Anelida pada umumnya berupa tersusun dari organ nefridium yang sering juga disebut metanefridium. Cacing tanah merupakan salah satu anggota Filum Anelida, setiap segmen dalam tubuhnya mengandung sepasang metanefridium, kecuali pada tiga segmen pertama dan terakhir. Metanefridium memiliki dua lubang. Lubang yang pertama berupa corong, disebut nefrostom (di bagian anterior) dan terletak pada segmen yang lain. Nefrostom bersilia dan bermuara di rongga tubuh (pseudoselom). Rongga tubuh ini berfungsi sebagai sistem pencernaan. Corong (nefrostom) akan berlanjut pada saluran yang berliku-liku pada segmen berikutnya. Bagian akhir dari saluran yang berliku-liku ini akan membesar seperti gelembung. Kemudian gelembung ini akan bermuara ke bagian luar tubuh melalui pori yang merupakan lubang (corong) yang kedua, disebut nefridiofor. Cairan tubuh ditarik ke corong nefrostom masuk ke nefridium oleh gerakan silia dan otot. Saat cairan tubuh mengalir lewat celah panjang nefridium, bahan-

bahan yang berguna seperti air, molekul makanan, dan ion akan diambil oleh sel-sel tertentu dari tabung. Bahan-bahan ini lalu menembus sekitar kapiler dan disirkulasikan lagi. Sampah nitrogen dan sedikit air tersisa di nefridium dan kadang diekskresikan keluar. Sehingga secara singkat dapat dikatakan bahwa metanefridium berlaku seperti penyaring yang menggerakkan sampah dan mengembalikan substansi yang berguna ke sistem sirkulasi.  Prilaku Melindungi Diri Dari Predator/Pemangsa Cacing tanah tidak memiliki alat pertahanan tubuh yang khusus. Mekanisme pertahanan dilakukan dengan mengeluarkan lendir di permukaan tubuhnya. Sekresi lendir ini mengakibatkan permukaan kulit cacing tanah menjadi licin sehingga memudahkan pergerakan dan menyulitkan mangsa memegangnya. Namun yang lebih penting adalah cacing tanah adalah insting hewan ini yang cendrung bersifat menghindari pemangsa. Habitatnya yang berada dalam tanah memungkinkan cacing tanah aman dari predator. Selain itu cacing tanah aktif pada malam hari sehingga hanya sedikit predator yang dijumpai di malam hari. Beberapa pemangsa atau predator yang pengamat amati berpotensi memangsa cacing tanah adalah semut, kumbang, burung, kelabang, lipan, lalat, tikus, katak, tupai, ayam, itik, ular, angsa, lintah, kutu. Selain menghadapi bahaya dari pemangsa, cacing tanah juga berkompetisi dengan semut merah dalam hal memperebutkan senyawa karbohidrat dan lemak dari sisa-sisa bahan organik yang ada di tanah. Semut merah memakan pakan cacing tanah yang mengandung karbohidrat dan lemak. Padahal kedua zat ini bersifat esensial dan diperlukan untuk pertumbuhan cacing tanah.

Manfaat Cacing Tanah untuk Pertanian Di bidang Pertanian, masih ada peluang dikarenakan pemakaian pupuk pabrik digunakan secara terus menerus dan tidak terkontrol pemakaiannya dapat merusak kesuburan tanah. Disinilah fungsi cacing tanah diperlukan, baik berbentuk pupuk

atau disebar hidup. Dalam bidang pertanian, cacing menghancurkan bahan organik sehingga memperbaiki aerasi dan struktur tanah. Akibatnya lahan menjadi subur dan penyerapan nutrisi oleh tanaman menjadi baik. Keberadaan cacing tanah akan meningkatkan populasi mikroba yang menguntungkan tanaman. Selain itu juga cacing tanah dapat digunakan sebagai: 1. Cacing Tanah sebagai Bahan Pakan Bergizi bagi Ternak. Cacing tanah sejak alam ini ada sudah merupakan makanan beberapa jenis hewan sehingga terdapat pada rantai makanan. Cacing tanah merupakan makanan kodok, burung , ayam, bebek, tikus dll. Cacing tanah mengandung protein sangat tinggi dan mengandung asam amino esensial lengkap tidak ada pada binatang yang lain. Hilang cacing tanah dari alam sangat berpengaruh terhadap rantai makanan. Cacing tanah dimanfaatkan oleh hewan-hewan yang memerlukan protein tinggi. Berkat kandungan protein, lemak dan mineralnya yang tinggi, cacing tanah dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak seperti unggas, ikan, udang dan kodok. 2. Bahan Baku Obat dan bahan ramuan untuk penyembuhan penyakit. Secara tradisional cacing tanah dipercaya dapat meredakan demam, menurunkan tekanan darah, menyembuhkan bronchitis, reumatik sendi, sakit gigi dan tipus.

3. Bahan Baku Kosmetik. Cacing dapat diolah untuk digunakan sebagai pelembab kulit dan bahan baku pembuatan lipstick. 4. Makanan Manusia. Cacing merupakan sumber protein yang berpotensi untuk dimasukkan sebagai bahan makanan manusia seperti halnya daging sapi atau ayam. 5. Cacing Tanah sebagai Food Suplement. Cacing tanah sebagai obat sudah banyak dilakukan sejak dulu terutama digunakan untuk penurun panas, yang dilakukan berdasarkan pengalaman menyebar dari satu tempat ketempat lain. Cacing tanah memiliki kekuatan yang sangat tinggi dalam pengobatan karena mengandung enzim lumbricunase yang dapat menormalkan metabolisme sel dalam tubuh. Kandungan cacing tanah dan fungsinya adalah sebagai berikut. • Protein tinggi (80%) dengan asam amino esensial lengkap dan mikronutrien lainnya yang sangat berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh (vitalitas), untuk regenerasi sel, mengganti sel yang rusak, meningkatkan HB darah, meningkatkan trombosit, menyembuhkan penyakit yang kekurangan protein seperti kaki gajah, busung lapar dll. • Enzim Lumbrikinase yang dapat menormalkan metabolisme sel tubuh ( tekanan darah baik yang darah tinggi (hypertensi) maupun darah rendah (hypotensi) dinormalkan, mata yang mines atau plus dinormalkan , HB darah yang turun dinaikan dll). Masalah metabolisme sel yang terjadi didalam tubuh yang tidak normal akan dinormalkan, hal ini yang menyebabkan segala masalah penyimpangan di dalam tubuh dapat diatasi.

• Arachidonic acid yang efektif sebagai penurun suhu tubuh pada deman akibat infeksin. • Enzim peroksidase dan katalase yang sangat efektif dalam penyembuhan penyakit degeneratif seperti diabet, kolesterol tinggi reumatik. • Enzim selulose dan lignase yang sangat membantu proses pencernaan makanan (menormalkan pencernaan yang bermasalah). • Zat antibiotika penghambat berkembangnya kuman seperti Salmonella typhimurium.; Escherichia coli; Staphiylococcus a; Bacillus c. dan Listeria m. sehingga sangat efektif untuk penyembuhan penyakit typhus, diare, dll. Kegunaan cacing tanah mempengaruhi organ-organ penting tubuh. Beberapa sifat dari cacing tanah adalah: Cure Typus. Menurunkan kadar kolesterol. Meningkatkan daya tahan. Menurunkan tekanan darah tinggi. Meningkatkan nafsu makan. Mengobati infeksi saluran pencernaan seperti typus, disentri, diare, dan gangguan perut lainnya seperti bisul. Mengobati penyakit seperti infeksi saluran pernafasan: batuk, asma, influenza, bronchitis dan TBC. Mengurangi sakit karena kelelahan atau karena rematik. Menurunkan kadar gula darah diabetes. Mengobati wasir, exim, alergi, luka dan sakit gigi. Peranan cacing tanah pada sifat fisik, kimia dan biologi tanah Meningkatkan kesuburan tanah antara lain : 1. Memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan hara dalam tanah. Satchell (1983) melaporkan bahwa cacing tanah mempunyai kontribusi yang penting pada struktur tanah dan pembentukan agregat tanah. Hasil uji oleh

Blanchart’s (1992) di lapangan menunjukkan bahwa kerusakan agregat pada padang rumput di daerah tropis dapat diatasi oleh cacing (Megascolecidae): tanah yang

diinokulasi dengan cacing tanah memiliki 12.9% makroagregat

(> 2 mm) setelah 3

bulan; dan makroagregat menjadi 31,7% setelah 6 bulan dan menjadi 60,6% setelah 30 bulan inokulasi cacing. Agregat yang dibentuk oleh cacing memiliki stabilitas terhadap air yang lebih tinggi. Edwards (2004) menemukan bahwa ketika bahan

organik dan tanah masuk ke dalam pencernaan tanah kalsium, asam humat, bahan organik dan polisakarida akan melekat satu dengan lainnya dan membentuk kotoran cacing, dimana kotoran cacing tersebut lebih porous dan remah dan mempunyai banyak kelebihan seperti stabilitas terhadap hantaman air sangat kuat, ketersediaan hara tinggi, dan kemampuan menahan hara yang tinggi. Ketterings et al. (1997) juga menemukan bahwa kebanyakan kompleks organik-mineral dibentuk setelah aktifitas cacing tanah. Sebagai hasilnya, agregat yang tahan air dengan > 1000 μm

meningkat dengan nyata. Bossuyt et al. (2005) juga setuju bahwa karbon terkombinasi dengan agregat tanah yang stabil melalui aktifitas cacing tanah. Dengan meningkatnya stabilitas agregat, bahan organik yang terkombinasi akan lebih tahan lama di dalam tanah dan tidak didekomposisi dengan mudah. Ditambah lagi saluran/ lubang dari cacing penuh dengan kotoran cacing baik. Kotoran-kotoran yang diproduksi terus menerus akan memproduksi pori nonkapiler, selanjutnya memperbaiki ventilasi dan permeabilitas, dan memperbaiki struktur tanah. 2. Meningkatkan dan menstabilkan suplai hara tanah Cacing dapat mengubah sifat fisik dan kimia tanah, memperlancar proses mineralisasi bahan organik, dan menstabilkan siklus hara. Aktivitas cacing tanah meningkatkan ketersediaan hara tanah dan meningkatkan laju siklus hara. Nisbah C/N dari bahan organik berkurang dengan cepat dengan adanya aktifitas cacing tanah. Semua hal tersebut berkontribusi terhadap perubahan bentuk N organik, P dan

K yang terikat menjadi ke bentuk yang tersedia bagi tanaman dan memperpendek masa penyediaan hara. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tanah yang

dipengaruhi oleh cacing tanah selalu memiliki bahan organik, total N, kapasitas tukar kation (KTK), Ca, Mg, dan K yang dapat dipertukarkan, N dan P tersedia yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan karena aktifitas cacing tanah sangat inorganik (terutama NH4 +-N) dalam tanah.

meningkatkan konsentrasi N

Kandungan N mineral (NO3-N+NH4+- N), total karbon, total nitrogen, dan biomasa mikroba meningkat pada lahan yang diinokulasi cacing dan jika dilakukan pengembalian residu tanaman gandum pada sistem rotasi tanam gandum dan padi, hasil ini menunjukkan adanya fungsi ganda dari cacing tanah dengan peningkatan biomassa mikroba dan peningkatan mineralisasi N organic. Aktifitas cacing tanah meningkatkan permeabilitas tanah dan juga memungkinkan meningkatnya

kehilangan nitrogen akibat pencucian. Walaupun inokulasi cacing tanah pada tanah yang mengalami pengembalian bagian atas tanaman di permukaan tanah meningkatkan pencucian nitrogen, namun kehilangan N yang berasal dari pupuk tidak dijumpai dalam jumlah yang cukup berarti. 3. Hara yang dilepaskan ke dalam tanah melalui aktifitas metabolisme cacing tanah. Cacing tanah dan sekresinya kaya akan hara dan dalam bentuk yang tersedia bagi tanaman. Sebagai contoh cairan ekstrak cacing tanah mengandung Mn 1.19

mg kg-1, Zn 3.00 mg kg-1, Ca 1.11 mg kg1, Cu 0.36 mg kg-1, Mg 35.40 mg kg-1, Fe 7.62 mg kg-1, Na 70.80 mg kg-1, K 328.40 mg kg-1, dan Se 0.20 mg kg-1. Namun jenis dan kandungan hara bervariasi tergantung kondisi lingkungan tempat hidupnya. Tubuh cacing juga merupakan sumber hara yang potensial. Tubuh cacing

dapat terdekomposisi secara sempurna hanya dalam 4 hari saja setelah cacing itu mati dan 70% N yang berasal dari tubuh cacing akan diserap tanaman setelah 16 hari. Cacing tanah juga melepaskan hara ke dalam tanah dari aktifitas

metabolismnya.Amador et al. (2003) memperhitungkan N organik yang lepas dari cacing tanah yang mati mencapai 21.1-38.6 ton ha-1 setiap tahun. Sebagai

tambahan, cacing tanah memotong sisa tanaman menjadi ukuran yang kecil, dan selanjutnya akan didekomposisi oleh protozoa dan mikroba tanah. Sementara itu,ada hubungan yang langsung dan tidak langsung antara cacing tanah dan mikroba dalam siklus N dan P di dalam tanah melalui perannya dalam mengubah jumlah, jenis dan struktur mikroba dan meningkatkan pelepasan hasil metabolismenya. 4. Peranan cacing tanah terhadap peningkatan serapan hara oleh tanaman (efektifitas cacing tanah). Kontribusi cacing tanah dalam meningkatkan serapan hara P oleh tanaman Setaria splendida lebih tinggi dibandingkan kontribusi dari jamur mikoriza

arbuskula. Bahkan kehadiran cacing tanah dapat mengurangi besar kontribusi jamur mikoriza dalam meningkatkan serapan P oleh tanaman S.splendida (Hasil penelitian) Kelimpahan cacing tanah dipengaruhi oleh bahan organik, dengan meningkatnya bahan organik maka meningkat pula populasi cacing tanah. Disekitar liang cacing tanah kaya akan N total dan C organik. Cacing tanah jenis pontoscolex corethrurus mempunyai kemampuan untuk mencerna bahan organik kasar dan mineral tanah halus. Cacing tanah memakan kotoran-kotoran dari mesofauna di permukaan tanah yang hasil akhirnya akan dikeluarkan dalam bentuk feses atau kotoran juga yang berperan paling penting dalam meningkatkan kadar biomass dan kesuburan tanah lapisan atas. Cacing tanah merupakan makrofauana yang berperan

dalam pendekomposer bahan organik, penghasil bahan organik dari kotorannya, memperbaiki struktur dan aerasi tanah. Kotoran (feses) cacing tanah mengandung banyak bahan organik yang tinggi, berupa N total dan nitrat, Ca dan Mg yang bertukar, pH, dan % kejenuhan basa dan kemampuan penukaran basa. Disini membuktikan bahwa cacing tanah berpengaruh baik terhadap produktivitas tanah. Karena cacing tanah dalam sifat kimia tanahnya berperan menghasilkan bahan organik, kemampuan dalam pertukaran kation, unsur P dan K yang tersedia akan meningkat. Aktivitas dari makrofauna dapat mempengaruhi struktur tanah sehingga dapat memperbaiki porositas tanah. Makrofauana seperti rayap, semut dan cacing tanah dapat berperan sebagai ecosystem engineers. Makrofauna tersebut dapat menerima makanan dari tanaman dan akan kembali mempengaruhi tanaman melalui perubahan sifat fisik. Sebagai habitat mikrofauna, tanah dihuni oleh lebih dari satu jenis

mikrobia dengan berbagai ragam spesies. Mereka merupakan spesies yang saling mempengaruhi, saling menguntungkan, dan saling bergantung bahkan tidak jarang satu dengan yang lain melakukan persaingan dalam rangka mempertahankan hidupnya. Pola kemitraan dibangun dalam kehidupan bersama antar dua atau lebih spesies mikrobia dapat bersifat mutualistik, asosiatik, netral atau antagonistik.
Didalam tanah, mikrobia tidak saja berinteraksi dengan sesama mikrobia tetapi juga berinteraksi dengan makrofauna, mesofauna bahkan dengan organisme tingkat tinggi yaitu tanaman yang tumbuh disekitarnya. Sejumlah senyawa organik yang bermanfaat sebagai sumber karbon dan energi bagi kehidupan mikrobia, sebaliknya ada juga senyawa yang bersifat toksik bagi salah satu jenis mikrobia tertentu. Aktivitas mikrobia dapat mempengaruhi ketersediaan unsur hara bagi tanaman dan juga penyerapannya. Komponen dari bahan organik tanah yang paling sulit dilapuk adalah asam-asam humik, yang

merupakan hasil pelapukan seresah (substansi organik yang menyerupai lignin). Jadi bisa dikatakan bahwa subsistansi humik adalah produk akhirdekomposisi bahan organik tanah oleh mikrobia. Ketahanan subsistansi humik terhadap proses dekomposisi disebabkan konfigurasi fisik maupun struktur kimia yang sulit dipecahkan oleh mikrobia. Substansi ini secara fisik terikat kuat dengan liat dan koloidal tanah lainnya, atau dapat juga karena letaknya di dalam agregat mikro dan ditambah pula dengan adanya hyphae atau akar-akar halus. Namun mikrobia yang mendekomposisikan komponen bahan organik tanah ini tetep memegang peranan penting dalam pembentukan agregat tanah dan pengikatan kation dalam tanah.

Biomassa mikroba tanah digunakan sebagai bioindikator karena biomassa mikroba tanah sangat peka terhadap penurunan kadar bahan organik yang terkait dengan degradasi berbagai sifat- sifat fisik dan kimia suatu jenis tanah yang akhirnya akan menunjukkan data otentik mengenai kualitas dan kesehatan tanah tersebut. Jadi dapat kita ketahui keadaan jumlah populasi biota tanah dapat dijadikan acuan untuk mengetahui tingkat kualitas dan kesehatan tanah. Jumlah hara tanaman yang dilepaskan tergantung pada medium tanaman. bagian tanaman dan jumlah volume tanaman yang digugurkan . Jumlah volume tanaman yang digugurkan oleh tanaman sangat berpengaruh terhadap kualitas daan kesehatan tanah. Makin sedikit bagian tanaman yang digugurkan, maka makin miskin unsur hara dalam tanah, sebaliknya makin banyak jumlah bagian tanaman sampai batas masih dapat terdekomposisi maka akan tinggilah kualitas dan kesehatan tanah tersebut. Akan muncul masalah baru jika jumlah bagian tanaman yang gugur melewati batas yang dapat didekomposisi maka keadaan ini justru akan mernghambat pertumbuhan tanaman yang akan secara tidak langsung memberikan

pengaruh negatif terhadap kualitas dan kesehatan tanah. Hal ini dapat ditemukan pada tanah hutan humid ( sphagnum ) dan lahan gambut. Secara umum, pemberian bahan organik dapat meningkatkan pertumbuhan dan aktivitas mikroorganisme. Bahan organik merupakan sumber energi dan bahan makanan bagi mikroorganisme yang hidup di dalam tanah. Mikroorganisme tanah saling berinteraksi dengan kebutuhannya akan bahan organik karena bahan organik menyediakan karbon sebagai sumber energi untuk tumbuh. Kegiatan jasad mikro dalam membantu dekomposisi bahan organik meningkat. Bahan organik segar yang ditambahkan ke dalam tanah akan dicerna oleh berbagai jasad renik yang ada dalam tanah dan selanjutnya didekomposisisi jika faktor lingkungan mendukung terjadinya proses tersebut. Dekomposisi berarti perombakan yang dilakukan oleh sejumlah mikroorganisme (unsur biologi dalam tanah) dari senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana. Hasil dekomposisi berupa senyawa lebih stabil yang disebut humus. Makin banyak bahan organik maka makin banyak pula populasi jasad mikro dalam tanah. Tanah yang sehat tentu saja harus memiliki suatu system yang ideal artinya ada keseimbangan komposisi antara faktor- faktor pendukung yang membangun tanah menjadi satu kesatuan yang utuh, faktor- faktor inilah yang kemudian akan sangat menentukan apakah tanah tersebut bisa dikategorikan menjadi tanah yang sehat apa tidak. Kesehatan tanah ini tentu saja akan berpengaruh sangat nyata terhadap kualitas tanah, karena tanah dengan keseimbangan yang dinamis antara komponennya akan dapat menghasilkan produk yang tinggi , memiliki daya dukung yang tinggi pula dan dapat lebih resisten terhadap gangguan dari luar misalnya erosi, banjir, tanah longsor, pengikisan dan krisis hara.

Dalam biologi tanah ini dipelajari berbagai hal yang terkait dengan keadaan tanah dengan fungsi organismenya baik mikrofauna ataupun makrofauna tanah dalam mempengaruhi kualitas dan kesehatan tanah, telah dijelaskan pada paragraf sebelumnya bahwa salah satu fungsi positif yang dapat dilakukan oleh mikrofauna tanah tersebut adalah sebagai indicator kesuburan tanah. Fungsi lain dapat kita ketahui antara lain adalah sebagai berikut : 1. Dalam daur Nitrogen, penambatan oleh mikrobia dan jasad renik yang bersimbiosis dengan tanaman kacang – kacangan (legum) dan non-legume .Mikroorganisme yang dapat membantu proses penambatan N tersebut adalah Azotobacter, Azospirillum, Actinomycetes, Blue gren algae 2. Dalam daur fospor ( P ), P-organik dalam tanah antara lain adalah fosfolipida, asam suksinat, fitin dan inositol fospat. Fospat tersebut dengan mudah diubah atau didekomposisi oleh mikrobia. Kemampuan mikrobia melakukan hidrolisis senyawa itu dengan mengeluarkan enzim sehingga P lepas dan berada dalam larutan tanah sehingga bisa dipergunakan oleh tanaman yang secara tidak langsung meningkatkan kualitas tanah dalam menghasilkan produk. Bakteri yang berperan dalam proses ini adalah BPF contohnya Bacillus sp dan Pseudomonas. Bakteri dan Fungi sebagai bioindikator diantaranya : > Bakteri mempunyai keunikan sifat metabolik seperti respirasi anaerob,

penambatan N2, pemanfaatan metan menunjukkan tentangnya pentingnya bakteri dalam daur berbagai hara khususnya N, P, dan S. > Fungi merupakan mikrobia yang aktif dalam alihrupa (transformation) selulosa dan perombak utama lignin yang dihasilkan tanaman.

Cacing tanah merupakan salah satu fauna tanah yang dijadikan sebagai indicator tingkat kesuburan dan kualitas (kesehatan) tanah. Kehadiran cacing tanah dapat meningkatkan kesuburan tanah dan kehadirannya dipengaruhi kondisi tanah terutanama kandungan bahan organic dan kelembaban tanah. Peranan dan Potensi Cacing Peranan cacing tanah ini sebenarnya telah diketahui sejak dahulu kala. Seorang ahli Yunani, Aristoteles, banyak menaruh perhatian terhadap cacing tanah. Ia menyebut cacing tanah adalah perutnya bumi. Peranan cacing tanah yaitu berupa lubang yang ditinggalkan di tanah akan meningkatkan drainase tanah, hal ini penting dalam perkembangan tanah. Cacing-cacing mengangkut tanah, mencampur, serta menggumpalkan sejumlah bahan organic yang belum terombak seperti daun dan rumput yang digunakan sebagai makanan. Selain itu, secara tegas cacing dengan kotoran dan lendir-lendirnya mampu mengikat partikel-partikel tanah gumpalan tanah yang stabil terutama pada tanah asli. Pada tahun 69-30 Sebelum Masehi, ratu cantik Cleopatra yang saat itu berkuasa di Mesir melarang bangsa Mesir memindahkan cacing tanah ke luar dari Mesir, bahkan petaninya dilarang menyentuh cacing sebab pada zaman itu cacing tanah dianggap sebagai Dewa Kesuburan. Dalam catatan klasik Tiongkok, cacing tanah disebut tilung atau naga tanah. Cacing ini sejak dahulu kala mereka gunakan dalam berbagai ramuan untuk menyembuhkan bermacam-macam penyakit. Seorang cendekiawan terkenal, Charles Darwin, telah menghabiskan waktunya selama hampir 40 tahun untuk mengamati kehidupan cacing tanah. la menyebut cacing tanah sebagai mahluk penentu keindahan alam dan pemikat bumi. menjadi

Para petani pun telah mengetahui secara turun-temurun, bahwa cacing tanah dapat meningkatkan kesuburan tanah pertanian. Di Indonesia, manfaat cacing tanah masih sangat terbatas, yaitu sebagai pakan ternak atau ikan. Akan tetapi, di negara-negara lain cacing tanah juga bermanfaat sebagai bahan obat, bahan kosmetik, pengurai sampah dan sebagai makanan manusia. Lahan pertanian yang mengandung cacing tanah pada umumnya akan lebih subur karena tanah yang bercampur dengan kotoran cacing tanah sudah siap untuk diserap oleh akar tanaman. Cacing tanah yang ada di dalam tanah akan mencampurkan bahan organik pasir ataupun bahan antara lapisan atas dan bawah. Aktivitas ini juga menyebabkan bahan organik akan tercampur lebih merata. Kotoran cacing tanah juga kaya akan unsur hara. Ahli-ahli pertanian di luar negeri dari tahun ke tahun tertarik oleh gerak-gerak cacing tanah. Mereka menyatakam bahwa kadar kimiawi kotoran cacing dan tanah aslinya banyak perbedaannya. Pada tahun 1941 hasil penelitian T.C. Puh menyatakan, bahwa karena aktivitas cacing tanah, maka N, P, K tersedia dan bahan organik dalam tanah dapat meningkat. Unsur-unsur tersebut merupakan unsur pokok bagi tanaman. Tahun 1949 Stockli dalam penelitiannya menjelaskan, bahwa humus dan mikroflora kotoran cacing tanah lebih tinggi dari tanah aslinya. Demikian juga percobaan pada tanah-tanah gundul bekas tambang di Ohio (Amerika Serikat) menunjukan, bahwa cacing tanah dapat meningkatkan kadar K tersedia 19% dan P tersedia 165%. Cacing tanah mempengaruhi kesuburan dan produktivitas tanah. Dengan adanya cacing tanah, kesuburan dan produkvitas tanah akan meningkat. Selain itu cacing tanah juga dapat meningkatkan daya serap air permukaan. Liang cacing tanah

yang ditinggal dalam tanah berfungsi memperbaiki aerasi dan drainase. Keduanya sangat penting dalam pembentukan tanah. Cacing tanah juga membantu

pengangkutan sejumlah lapisan tanah dari bahan organik. Lapisan bawah permukaan dan mencampurkan tanah dari bahan organik dengan bahan organik. Cacing tanah juga dapat memperbaiki dan mempertahankan struktur tanah. Lubang-lubang cacing dan humus secara langsung menjadikan tanah gembur. Di kota-kota besar, sampah merupakan salah satu masalah yang rumit. Untuk memusnahkannya membutuhkan biaya yang sangat besar. Untuk mengatasinya, beberapa kota besar di luar negeri telah mencoba memanfaatkan cacing tanah. Ternyata cacing tanah mempunyai kemampuan yang cukup besar dan cukup mengagumkan untuk memusnahkan bahan organik. Dari hasil penelitian para ahli makanan ternak, ternyata selain tepung ikan, cacing tanah pun bisa digunakan untuk pakan ternak dan ikan. Menurut mereka, kadar protein cacing tanah lebih tinggi dibanding dengan tepung ikan. Selain itu kandungan asam aminonya paling lengkap, tidak berlemak, mudah dicerna dan tidak bertulang sehingga seluruh jasadnya dipakai. Dalam dunia pengobatan tradisional Tiongkok, cacing tanah digunakan dalam ramuan untuk menyembuhkan berbagai penyakit, antara lain meredakan demam, untuk penderita tekanan darah tinggi, bronchitis, reumatik sendi, sakit gigi, dan juga dapat menyembuhkan tifus. Sedangkan di negara-negara industri maju, cacing tanah sudah dimanfaatkan dalam bidang kosmetika. Minyak hasil ekstraksi cacing tanah dapat digunakan sebagai pelembab. Penggunaan cacing tanah sebagai makanan

manusia pada umumnya dicampur dengan makanan lain. Di Filipina, cacing tanah digunakan sebagai bahan untuk membuat perkedel. Di negara itu cacing tanah sudah

mulai disukai sebagai santapan yang lezat. Mungkin saja bagi anda yang belum pernah mencoba hidangan atau pengobatan yang berasal dari cacing tanah ini, ada yang merasa risi atau jijik. Sama halnya dengan mengkonsumsi air kencing, kecoa, cicak, empedu binatang melata, dan sebagainya. Tapi apa salahnya apabila mencobanya, daripada mengkonsumsi obat-obatan kimia, yang tentunya punya risiko terhadap kerusakan/ penyakit ginjal. Peran cacing tanah Eisenia fetida dan

Lumbricus rubellus dalam mengkonsumsi sampah organic. Berbagai bentuk dan jenis sampah dihasilkan oleh masyarakat. Sampah yang terkumpul disekitar rumah, pasar maupun di TPA semakin sulit untuk ditanggulangi. Salah satu cara yang baik untuk mereduksi sampah domestik adalah dengan melakukan vermicomposting. Vermicomposting merupakan proses konsumsi bahan organik dengan melibatkan kerjasama cacing tanah dan mikroorganisme. Hasil akhir dari proses ini adalah vermikompos yang sangat berguna bagi tanaman. Cacing tanah E. fetida dan L. rubellus merupakan dua dari spesies cacing tanah yang sangat berpotensi dalam proses vermicomposting. Cacing Tanah sebagai Bioindikator Cacing tanah mempunyai berperanan penting dalam pembentukan makropori tanah melalui lubang tanah yang ditinggalkan dan penghancuran mineral serta bahan organik. Secara fungsional cacing tanah berperan sebagai decomposer dan “ecosystem engineer” dan berdasarkan tempat tinggalnya dikelompokan menjadi anesik dan endogeik. Cacing tanah membentuk rongga tanah dan meninggalkan kotoran akan meningkatkan produktivitas tanah dengan pencampuran lapisan tanah yang bagian atas, mendistribusikan unsur hara, mengakibatkan infitrasi permukaan lahan meningkat. air

Pada agroekosistem, keberadaannya dapat bersifat

positif (menguntungkan) maupun negatif (merugikan) bagi sistem budidaya. Pada satu sisi cacing tanah berperan menjaga kesuburan tanah berperanmenjaga

kesuburan tanah melalui perombakan bahan organik, distribusi hara, peningkatan aerasi tanah dan sebagainya, tetapi pada sisi lain juga dapat berperan sebagai hama berbagai jenis tanaman budidaya. Dinamika populasi cacing tanah mempunyai peranan yang sangat dalam mendukung produktivitas agroekosistem. Dinamika populasi cacing tanah tergantung pada faktor lingkungan yang mendukungnya, baik berupa sumber makanan, kompetitor, predator maupun keadaan lingkungan fisikakimianya. Menurut Dewi (2001) kelimpahan cacing tanah berkorelasi positif dengan porositas,N total dan kelembaban tanah. Cacing tanah sebagai bagian dari fauna dalam tanah berpotensi sebagai bioindikator kondisi tanah. Biomasa cacing tanah telah diketahui merupakan bioindikator yang baik untuk mendeteksi perubahan pH, keberadaan horison organik, kelembaban tanah dan kualitas. Penentuan bioindikator kualitas tanah diperlukan untuk mengetahui perubahan dalam sistem tanah akibat pengelolaan yang berbeda. Perbedaan penggunaan lahan akan mempengaruhi populasi dan komposisi makrofauna tanah. Pengolahan tanah secara intensif, pemupukan dan penanaman secara monokultur pada sistem pertanian konvensional dapat menyebabkan terjadinya penurunan secara nyata biodiversitas makrofauna tanah. Cacing tanah secara tradisional telah digunakan indikator kualitas tanah (kesuburan tanah). Memberikan indikasi yang baik kesuburan tanah pertanian. Posisi dan bentuk dari klitelum, setae dan

organ/bagian badan mengandung zat perekat spermathecaea. Aktivitas pertanian seperti pembajakan sawah, pengolahan tanah, pemupukan dan aplikasi pestisida mempengaruhi fauna ini.

Cacing Tanah Menyehatkan Tanaman. Cacing tanah adalah sebuah mesin alami mengalahkan kekuatan mesin konvensional karena cacing tanah tidak pernah berhenti bekerja selama mereka hidup dan tidak pernah kekurangan bahan bakar. Tanah normal mengandung bahan organik (5%), air (25%), udara tanah (25%),dan mineral (45%). Bahan organik tanah walaupun persentase terkecil tetapi memiliki peranan sangat penting sebagai pembentuk humus dan sumber energi bagi semua kehidupan ada di dalam tanah termasuk cacing tanah. Kandungan bahan organik tanah sangat berpengaruh

terhadap kehidupan cacing tanah. Cacing tanah sebagai pemakan bahan organik dan mineral yang melalui pencernaan sehingga menjadi sasaran enzim pencernaan dan penghalusan pencernaan. Cacing tanah dapat meningkatkan bahan organik tanah, KTK tanah, pH tanah, N-total ,P-tersedia, K-tersedia, Ca dan Mg dapat tukar. Cacing tanah juga dapat meningkatkan ukuran dan kemantapan agregat tanah. Populasi cacing tanah sangat dipengaruhi oleh bahan organik (pupuk kandang sapi). Berdasarkan hasil penelitian dengan pupuk kandang (1 juta ekor /are) sedangkan tanpa pupuk kandang. Cacing tanah identik dengan pabrik pupuk alami. Kandungan P-tersedia pada pupuk kandang yang diberi cacing tanah (bekas cacing ) 7 kali lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol. Berdasarkan beberapa hasil penelitian bahwa pemberian kotoran cacing tanah yang bercampur dengan media cacing tanah yang sering disebut bekas cacing (kascing) dapat meningkatkan kualitas pupuk organik (N-total, P-tersedia, Ktersedia, KTK, pH, C-organik) dihasilkan lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol.

Pelaksanaan Pemanfaatan Cacing Tanah Di Lapangan Penggunaan cacing tanah sebagai salah satu cara menekan jumlah pemakaian pupuk buatan tidak semudah seperti pemanfaatan kompos untuk mengurangi

pemakaian pupuk. Cacing tanah merupakan makhluk hidup, sementara kompos bukan makhluk hidup. Aktivitas, kematian, reproduksi dari cacing tanah sangat bergantung pada habitatnya. Faktor utama yang sangat mempengaruhi adalah

kandungan bahan organik tanah, air, temperatur tanah, kemasaman tanah (pH), aerasi dan karbon dioksida, bahan organik, suplai makanan, perlakuan praktis pertanian di lapangan (pengolahan tanah, tanaman, pemupukan, bahan kimia, logam berat).

Sehingga aplikasi cacing harus mengikuti aplikasi bahan lainnya terutama bahan organik, mengubah perlakuan praktis di lapangan agar cacing tetap berada pada daerah pertanian dan perkebunan yang dimaksud. Pengamatan selama 10 tahun pada perkebunan kiwi di Selandia Baru menunjukkan bahwa dengan menerapkan

pertanian organik akan meningkatkan populasi cacing tanah dan akan meningkatkan kesuburan tanah. Walaupun produksi buah kiwi dari pertanian organik belum

mampu mengimbangi produksi kiwi pada pertanian dengan menggunakan pupuk buatan (konvensional) namun kondisi tanah pada pertanian organik semakin membaik, sementara kondisi tanah pada pertanian konvensional semakin menurun. Cacing tanah merupakan makrofauna yang banyak manfaatnya bagi mendukung pertanian. Berdasarkan ekologinya maka cacing tanah dapat dibagi atas 3 kelompok yaitu epigeic, yaitu: i. cacing epigeic, ii. cacing endogeic,iii. Cacing yang tergolong pada epigeic terdapat pada tumpukan bahan organik sehingga cacing yang termasuk pada kelompok ini digunakan dalam pembuatan vermikompos. Cacing yang

tergolong pada kelompok endogeic menempati daerah di kedalaman > 10-20 cm dari

permukaan tanah, aktif dalam membuat saluran horizontal di dalam tanah dan mengkonsumsi tanah. Sementara cacing yang tergolong pada anecic mengkonsumsi bahan organik dan tanah, untuk mendapatkan bahan organik maka cacing tanah harus naik ke permukaan tanah maka terbentuklah saluran vertikal (Lee, 1985). Sistem drainase yang dibentuk cacing tanah memiliki ketahanan yang lebih tinggi, karena cacing akan mengeluarkan mucus hasil ekskresi dari permukaan tubuhnya untuk

merekatkan partikel di dinding saluran agar tidak rubuh. Diameter saluran ini berkisar 1-22 mm dan dapat sepanjang 800 m2.. Kesemua sifat tersebut sangat mempengaruhi erosi tanah. Cacing endogeic dapat dibedakan atas 2 kelompok

tergantung pada fungsi pada sifat fisik tanah yaitu ”mengikat” dan ”melonggarkan” sehingga efeknya terhadap erodibilitas tanah berbeda. Pengaruh cacing tanah ini pada erodibilitas tanah dan erosi tanah tergantung pada jenis tanah dan kandungan bahan organik di dalam tanah. Pada tanah berkaolinit, dengan tidak

mempertimbangkan kandungan liat, endogeic sangat mempengaruhi proses agregasi, stabilitas agregat, porositas tanah dan distribusi ukuran pori. Sementara pada tanah berliat smectite (seperti vertisol), cacing tanah kurang mempengaruhi erodibilitas tanah dibandingkan pengaruh bahan organik dan kation. Selain dapat memperbaiki sifat fisik tanah terutama meningkatkan porositas tanah, cacing tanah juga mampu menyebarkan hara (terutama bahan organik) ke lapisan tanah yang lebih dalam, meningkatkan ketersediaan hara melalui casting (kotoran) yang diproduksinya, kapasitas tukar kation, populasi mikroorganisme potensial, dan daya penyangga air.

Budidaya Cacing Tanah Persyaratan Lokasi 1. Tanah sebagai media hidup cacing harus mengandung bahan organik dalam jumlah yang besar. 2. Bahan-bahan organik tanah dapat berasal dari serasah (daun yang gugur), kotoran ternak atau tanaman dan hewan yang mati. Cacing tanah menyukai bahan-bahan yang mudah membusuk karena lebih mudah dicerna oleh tubuhnya. 3. Untuk pertumbuhan yang baik, cacing tanah memerlukan tanah yang sedikit asam sampai netral atau ph sekitar 6-7,2. Dengan kondisi ini, bakteri dalam tubuh cacing tanah dapat bekerja optimal untuk mengadakan pembusukan atau fermentasi. 4. Kelembaban yang optimal untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan cacing tanah adalah antara 15-30 %. 5. Suhu yang diperlukan untuk pertumbuhan cacing tanah dan penetasan kokon adalah sekitar 15–25 derajat C atau suam-suam kuku. Suhu yang lebih tinggi dari 25 derajat C masih baik asal ada naungan yang cukup dan kelembaban optimal. 6. Lokasi pemeliharaan cacing tanah diusahakan agar mudah penanganan dan pengawasannya serta tidak terkena sinar matahari secara langsung, misalnya di bawah pohon rindang, di tepi rumah atau di ruangan khusus (permanen) yang atapnya terbuat dari bahan-bahan yang tidak meneruskan sinar dan tidak menyimpan panas.

Pedoman Teknis Budidaya  Penyiapan Sarana dan Peralatan Pembuatan kandang sebaiknya menggunakan bahan-bahan yang murah dan mudah didapat seperti bambu, rumbia, papan bekas, ijuk dan genteng tanah liat. Salah satu contoh kandang permanen untuk peternakan skala besar adalah yang berukuran 1,5 x 18 m dengan tinggi 0,45 m. Didalamnya dibuat rak-rak bertingkat sebagai tempat wadah-wadah pemeliharaan. Bangunan kandang dapat pula tanpa dinding (bangunan terbuka). Model-model sistem budidaya, antara lain rak berbaki, kotak bertumpuk, pancing bertingkat atau pancing berjajar.  Pembibitan Persiapan yang diperlukan dalam pembudidayaan cacing tanah adalah meramu media tumbuh, menyediakan bibit unggul, mempersiapkan kandang cacing dan kandang pelindung.  Pemilihan Bibit Calon Induk Sebaiknya dalam beternak cacing tanah secara komersial digunakan bibit yang sudah ada karena diperlukan dalam jumlah yang besar. Namun bila akan dimulai dari skala kecil dapat pula dipakai bibit cacing tanah dari alam, yaitu dari tumpukan sampah yang membusuk atau dari tempat pembuangan kotoran hewan.  Pemeliharaan Bibit Calon Induk Pemeliharaan dapat dibagi menjadi beberapa cara: 1. pemeliharaan cacing tanah sebanyak-banyaknya sesuai tempat yang digunakan. Cacing tanah dapat dipilih yang muda atau dewasa. Jika

sarang berukuran tinggi sekitar 0,3 m, panjang 2,5 m dan lebar kurang lebih 1 m, dapat ditampung sekitar 10.000 ekor cacing tanah dewasa. 2. pemeliharaan dimulai dengan jumlah kecil. Jika jumlahnya telah bertambah, sebagian cacing tanah dipindahkan ke bak lain. 3. pemeliharaan kombinasi cara a dan b. 4. pemeliharaan khusus kokon sampai anak, setelah dewasa di pindah ke bak lain. 5. Pemeliharaan khusus cacing dewasa sebagai bibit.  Sistem Pemuliabiakan Apabila media pemeliharaan telah siap dan bibit cacing tanah sudah ada, maka penanaman dapat segera dilaksanakan dalam wadah pemeliharaan. Bibit cacing tanah yang ada tidaklah sekaligus dimasukan ke dalam media tetapi harus dicoba sedikit demi sedikit. Beberapa bibit cacing tanah diletakkan di atas media, kemudian diamati apakah bibit cacing itu masuk ke dalam media atau tidak. Jika terlihat masuk, baru bibit cacing yang lain dimasukkan. Setiap 3 jam sekali diamati, mungkin ada yang berkeliaran di atas media atau ada yang meninggalkan media (wadah). Apabila dalam waktu 12 jam tidak ada yang meninggalkan wadah berarti cacing tanah itu betah dan media sudah cocok. Sebaliknya bila media tidak cocok, cacing akan berkeliaran di permukaan media. Untuk mengatasinya, media harus segera diganti dengan yang baru. Perbaikan dapat dilakukan dengan cara disiram dengan air, kemudian diperas hingga air perasannya terlihat berwarna bening (tidak berwarna hitam atau cokelat tua).  Reproduksi, Perkawinan

Cacing tanah termasuk hewan hermaprodit, yaitu memiliki alat kelamin jantan dan betina dalam satu tubuh. Namun demikian, untuk pembuahan, tidak dapat dilakukannya sendiri. Dari perkawinan sepasang cacing tanah, masing-masing akan dihasilkan satu kokon yang berisi telur-telur. Kokon berbentuk lonjong dan

berukuran sekitar 1/3 besar kepala korek api. Kokon ini diletakkan di tempat yang lembab. Dalam waktu 14-21 hari kokon akan menetas. Setiap kokon akan menghasilkan 2-20 ekor, rata-rata 4 ekor. Diperkirakan 100 ekor cacing dapat menghasilkan 100.000 cacing dalam waktu 1 tahun. Cacing tanah mulai dewasa setelah berumur 2-3 bulan yang ditandai dengan adanya gelang (klitelum) pada tubuh bagian depan. Selama 7-10 hari setelah perkawinan cacing dewasa akan dihasilkan 1 kokon.  Pemeliharaan

1. Pemberian Pakan Cacing tanah diberi pakan sekali dalam sehari semalam sebanyak berat cacing tanah yang ditanam. Apabila yang ditanam 1 Kg, maka pakan yang harus diberikan juga harus 1 Kg. Secara umum pakan cacing tanah adalah berupa semua kotoran hewan, kecuali kotoran yang hanya dipakai sebagai media. Hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian pakan pada cacing tanah, antara lain : 1. pakan yang diberikan harus dijadikan bubuk atau bubur dengan cara diblender. 2. bubur pakan ditaburkan rata di atas media, tetapi tidak menutupi seluruh permukaan media, sekitar 2-3 dari peti wadah tidak ditaburi pakan.

3. pakan ditutup dengan plastik, karung , atau bahan lain yang tidak tembus cahaya. 4. pemberian pakan berikutnya, apabila masih tersisa pakan terdahulu, harus diaduk dan jumlah pakan yang diberikan dikurangi. 5. bubur pakan yang akan diberikan pada cacing tanah mempunyai perbandingan air 1:1. 2. Penggantian Media Media yang sudah menjadi tanah/kascing atau yang telah banyak telur (kokon) harus diganti. Supaya cacing cepat berkembang, maka telur, anak dan induk dipisahkan dan ditumbuhkan pada media baru. Rata rata penggantian media dilakukan dalam jangka waktu 2 minggu. 3. Proses Kelahiran Bahan untuk media pembuatan sarang adalah: kotoran hewan,

dedaunan/Buah-buahan, batang pisang, limbah rumah tangga, limbah pasar, kertas koran/kardus/kayu lapuk/bubur kayu. Bahan yang tersedia terlebih dahulu dipotong sepanjang 2,5 cm. Berbagai bahan, kecuali kotoran ternak, diaduk dan ditambah air kemudian diaduk kembali. Bahan campuran dan kotaran ternak dijadikan satu dengan persentase perbandingan 70:30 ditambah air secukupnya supaya tetap basah. 7. Hama Dan Penyakit Keberhasilan beternak cacing tanah tidak terlepas dari pengendalian terhadap hama dan musuh cacing tanah. Beberapa hama dan musuh cacing tanah antara lain: semut, kumbang, burung, kelabang, lipan, lalat, tikus, katak, tupai, ayam, itik, ular, angsa, lintah, kutu dan lain-lain. Musuh yang juga ditakuti adalah semut merah yang

memakan pakan cacing tanah yang mengandung karbohidrat dan lemak. Padahal kedua zat ini diperlukan untuk penggemukan cacing tanah. Pencegahan serangan semut merah dilakukan dengan cara disekitar wadah pemeliharaan (dirambang) diberi air cukup. 8. Panen Dalam beternak cacing tanah ada dua hasil terpenting (utama) yang dapat diharapkan, yaitu biomas (cacing tanah itu sendiri) dan kascing (bekas cacing). Panen cacing dapat dilakukan dengan berbagai cara salah satunya adalah dengan mengunakan alat penerangan seperti lampu petromaks, lampu neon atau bohlam. Cacing tanah sangat sensitif terhadap cahaya sehingga mereka akan berkumpul di bagian atas media. Kemudian kita tinggal memisahkan cacing tanah itu dengan medianya. Ada cara panen yang lebih ekonomis dengan membalikan sarang. Dibalik sarang yang gelap ini cacing biasanya berkumpul dan cacing mudah terkumpul, kemudian sarang dibalik kembali dan pisahkan cacing yang tertinggal.Jika pada saat panen sudah terlihat adanya kokon (kumpulan telur), maka sarang dikembalikan pada wadah semula dan diberi pakan hingga sekitar 30 hari. Dalam jangka waktu itu,

telur akan menetas. Dan cacing tanah dapat diambil untuk dipindahkan ke wadah pemeliharaan yang baru dan kascingnya siap di panen. Produk dari cacing tanah adalah sebagai berikut :
  

pupuk organik kascing cacing lumbricus rubelus cacing kering

PENUTUP 1. Cacing tanah termasuk hewan tingkat rendah karena tidak mempunyai tulang belakang (invertebrata). 2. Cacing tanah adalah nama yang umum digunakan untuk kelompok Oligochaeta, yang kelas dan subkelasnya tergantung dari penemunya dalam filum Annelida. 3. Cacing tanah oleh beberapa praktisi dikelompokan berdasarkan warnanya yaitu kelompok merah dan kelompok abu-abu. 4. Cacing tanah tidak dapat dibedakan jenis kelaminnya karena cacing bersifat hermaprodit alias dalam satu tubuh terdapat dua alat kelamin, jantan dan betina. 5. Cacing ini hidup didalam liang tanah yang lembab, subur dan suhunya tidak terlalu dingin. Untuk pertumbuhannya yang baik, cacing ini memerlukan tanah yang sedikit asam sampai netral atau pH 6-7,2. 6. Manfaat cacing tanah yaitu sebagai bahan pakan bergizi bagi ternak, sebagai bahan baku obat dan bahan ramuan untuk penyembuhan penyakit, bahan baku kosmetik, makanan manusia, dan sebagai food supplement. 7. Peranan cacing tanah pada sifat fisik, kimia, dan biologi tanah yaitu dapat meningkatkan kesuburan tanah yaitu memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan hara dalam tanah, meningkatkan dan menstabilkan suplai hara tanah, dan peningkatan serapan hara oleh tanaman. 8. Peranan cacing tanah yaitu berupa lubang yang ditinggalkan di tanah akan meningkatkan drainase tanah, hal ini penting dalam perkembangan tanah. Cacing tanah berpotensi sebagai Bioindikator.

9.

Cacing tanah menyehatkan tanaman karena aktifitas yang dilakukannya. Cacing tanah dapat dibudidayakan dan sangat menguntungkan. Produk yang dapat dihasilkan berupa pupuk organik kascing, cacing lumbricus rubelus cacing kering.

DAFTAR PUSTAKA

http://salam.leisa.info/index.php?url=getblob.php&o_id=211154&a_id=211&a_seq= 0. Di akses pada hari senin tanggal 03 oktober 2011. http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/43711. Di akses pada hari senin tanggal 03 oktober 2011. Fitri, 2011. Peran Makrofauan dan Mikrofauna dalam sifat fisik dan kimia tanah. Just another Wordpress.com weblog. Di akses pada hari senin tanggal 03 oktober 2011. Kartini, Luh Ni. 2011. Cacing Tanah Mahluk Lemah yang Perkasa. Contributing Writers. Blog. Di akses pada hari senin tanggal 03 oktober 2011. Wahyono, sri. 2011. Klasifikasi, jenis, dan sifat cacing tanah. Yayasan Pengembangan Bioteknologi. Bogor. Di akses pada hari senin tanggal 03 oktober 2011.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful