You are on page 1of 10

STOCKHOLM CONVENTION ON PERSISTENT ORGANIC POLLUTANTS

SELASA, 19 APRIL 2011 ZULKIFLI

Latar belakang

Konvensi Stockholm berkaitan sekali dengan bahan pencemar organik persisten, yaitu senyawa kimia yang memiliki sifat-sifat persisten atau tidak mudah mengalami degradasi, bio-akumulatif atau cenderung mengalami akumulasi pada sistem lingkungan terestrial dan akuatik serta dapat berpindah lintas batas negara dan benua (long-range transboundary movement) Materi pokok Konvensi stockholm disusun berdasarkan prinsip Hukum internasional, yaitu bahwa setiap negara mempunyai hak berdaulat dan mengeksploitasi SDA nya sesuai dengan kebijakan lingkungan hidup n pembangunannya serta bertanggung jawab untuk menjamin bahwa kegiatan didalam yurisdiksi/pengendaliannya tidak mengakibatkan kerugian bagi lingkungan hidup negara lain/diluar wilayah diluar batas yurisdiksi nasional. Ditetapkan di Stockholm 23 Mei 2001 Ditandatangani 151 negara; 118 Pihak Mulai berlaku 17 Mei 2004

TUJUAN DAN DEFINISI


Konvensi stockholm memiliki 30 article dan 6 Annex Article 1 Tujuan Memahami pendekatan kehati-hatian sebagaimana dinyatakan dalam Prinsip 15 Deklarasi Rio tentang Lingkungan Hidup dan Pembangunan, tujuan Konvensi ini adalah melindungi kesehatan manusia dan lingkungan hidup dari bahan pencemar organik yang persisten. Article 2 Definisi Untuk maksud Konvensi ini: (a) Pihak berarti suatu Negara atau organisasi integrasi ekonomi regional yang telah menyetujui untuk terikat oleh Konvensi ini dan untuk itu Konvensi ini berlaku; (b) Organisasi integrasi ekonomi regional berarti suatu organisasi yang dibentuk oleh Negara yang berdaulat dari suatu wilayah tertentu yang kepadanya Negara anggotanya telah mengalihkan kewenangan mengenai masalah yang diatur oleh Konvensi ini dan yang telah dikuasakan secara sah, sesuai prosedur internalnya, untuk menandatangani, meratifikasi, menerima, menyetujui, atau mengaksesi Konvensi ini;

(c) Para Pihak yang hadir dan memberikan suara berarti Para Pihak yang hadir dan memberikan suara setuju atau menolak. Secara garis besar isi Konvensi Stockholm yang penting adalah :

Article 3, 5 dan 6 mencakup mengenai ketentuan pengedaran POPs

Article 7 tentang kewajiban negara-negara peserta untuk menyusun Rencana Pelaksanaan Nasional (RPN) atau National Implementation Plan dalam jangka waktu 2 tahun setelah pemberlakuan prioritas kegiatan. Negara-negara lain, misalnya, Singapura, Filipina, Cina, dan sebagainya sudah meratifikasi dan membuat Rencana Pelaksanaan Nasional (RPN), sedangkan Indonesia hingga saat ini masih memproses RPN tersebut.

Sattlement of disputes Article 18

Forum Penyelesaian Sengketa diatur pada ayat 2, meliputi;


Arbitrase sesuai dengan prosedur yang akan diadopsi oleh Konferensi Para Pihak dalam suatu lampiran sesegera mungkin dilaksanakan; Penyampaian sengketa tersebut kepada Mahkamah Internasional. Ayat 6, Apabila belum dapat menyelesaikan dalam waktu dua belas bulan maka setelah notifikasi salah satu pihak kepada pihak lain bahwa telah terjadi sengketa diantara mereka maka sengketa tersebut wajib diserahakan kepada komisi konsiliasi..

Ketentuan Akhir

Article 24 Penandatanganan Article 25 Ratifikasi, Penerimaan, penyetujuan, atau aksesi Article 26 Pemberlakuan Article 27 Pensyaratan (pada konvensio ini menegaskan tidak adanya pensyaratan). Article 28 Penarikan Diri Article 29 Depositori Article 30 Naskah Otentik

IMPLEMENTASI
(PERATURAN NASIONAL BERKAITAN KONVENSI STOCKHOLM)
Beberapa diantaranya: 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian 2. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman 3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 juncto UU nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan 4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 juncto UU nomor 32 Tahun tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup 5. Peraturan menteri negara lingkungan hidup nomor 02 tahun 2010 tentang penggunaan sistem elektronik registrasi bahan berbahaya dan beracun dalam kerangka indonesia national single Window di kementerian lingkungan hidup 6. Peraturan menteri perindustrian Nomor 41/M-IND/PER/6/2008 Tentang ketentuan dan tata cara pemberian izin usaha industri, izin perluasan dan tanda daftar industri 7. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun juncto Peraturan Pemerintah Nomor 85 Tahun 1999 tentang Perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun 8. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun.

PENUTUP
Manfaat Ratifikasi Konvensi Stockholm, diperoleh dari keanggotaan ini diantarnya adalah sebagai berikut. Pada aspek keamanan, sebagai negara kepulauan yang terletak pada lintasan di antara dua benua, Indonesia dinilai rawan sebagai jalur transit perpindahan bahan POPs dengan sengaja. Ratifikasi Konvensi Stockholm akan meningkatkan status Indonesia menjadi negara pihak. Status Indonesia sebagai negara pihak akan memberikan kesempatan kepada Pemerintah untuk berpartisipasi aktif dalam menentukan kebijakan di tingkat internasional mengenai POPs sesuai dengan kepentingan nasional. Sebagai negara pihak, Indonesia dapat memanfaatkan programprogram bantuan teknis dan bantuan finansial dari Konvensi Stockholm.

Dengan diratifikasinya Konvensi Stockholm, secara teknis dan ekonomis tidak akan mempengaruhi berjalannya dunia industri nasional, karena sepuluh bahan POPs telah dilarang penggunaannya sejak tahun 2001, sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Baracun. Adapun bahan POPs yang dihasilkan secara tidak sengaja, terutama dioxin dan furan, pengurangan dan penghapusannya tidak akan diterapkan secara langsung atau serta merta melainkan secara bertahap sesuai dengan kondisi dan berdasarkan teknologi yang tersedia serta dapat diterapkan (best available technique and best environmental practices).

=SEKIAN DAN TERIMA KASIH=