Pemanfaatan Limbah Bahan Padat Sebagai Agregat Kasar Pada Pembuatan Beton Normal

1

Hendy Febriyatno

1 Jurusan

Teknik Sipil Fakultas Tekik Sipil dan Perencanaan, Universitas Gunadarma (hendyfebriyatno@yahoo.co.id) ABSTRAK

Pengunaan material recycle untuk digunakan dalam campuran beton di Indonesia masih belum umum namun sudah mulai banyak digunakan antara lain untuk pengurukan, lapisan pondasi jalan dll. Hal ini mungkin disebabkan bahan baku seperti semen dan agregat kasar maupun halus mudah didapat. padahal cepat atau lambat material akan semakin habis sehingga menyebabkan material dari tahun ke tahun akan semakin mahal. Terutama agregat kasar atau kerikil yang hampir 78 % menjadi bahan pengisi utama campuran beton Melihat dari fenomena di atas maka disini perlu untuk melakukan pemanfaatan kembali atau daur ulang material bekas bongkaran bangunan atau puing-puing. Maka dari itu perlu dilakukan suatu penelitian dari berbagai jenis material seperti ubin, genteng, dan batu alam yang sudah digunakan sebagai pengganti agregat kasar. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui karakteristik kualitas beton yang dibuat dengan memanfaatkan bahan-bahan recycle agregat yaitu; pecahan ubin, pecahan genteng, pecahan batu alam andesit sebagai agregat kasar kemudian juga untuk memberikan pemahaman dan informasi kepada masyarakat mengenai pemanfaatan limbah konstruksi yang ternyata bisa digunakan lagi sebagai pengganti agregat kasar yang umum digunakan yaitu kerikil untuk pembuatan beton normal. Beton campuran agregat kerikil dan pecahan batu alam andesit mencapai kuat tekan karakteristik yang diisyaratkan yaitu 225 kg/ cm2. Beton dengan campuran pecahan ubin dan pecahan genteng tidak mencapai kuat tekan karakteristik yang telah di isyaratkan. Dari 2 (dua) perbandingan yang digunakan yaitu perbandingan volume dan perbandingan mix design, ternyata kuat tekan yang dihasilkan lebih besar perbandingan volume untuk pembuatan beton normal. Kata Kunci : recycle, beton, pecahan, kuat tekan, agregat, PENDAHULUAN Dalam perkembangan dunia yang semakin maju dan serba canggih, teknologi beton mempunyai potensi yang luas dalam bidang konstruksi. Hal ini menyebabkan beton banyak digunakan untuk konstruksi bangunan gedung, jembatan, dermaga dan lain-lain. Banyaknya jumlah penggunaan beton dalam konstruksi tersebut mengakibatkan peningkatan kebutuhan material beton, sehingga memicu penambangan batuan sebagai salah satu bahan pembentuk beton secara besara-besaran yang menyebabkan turunnya jumlah sumber alam yang tersedia untuk keperluan pembetonan. (Suharwanto, 2005)

Pengunaan material recycle untuk digunakan dalam campuran beton di Indonesia masih belum umum namun sudah mulai banyak digunakan antara lain untuk pengurukan, lapisan pondasi jalan dll. Hal ini mungkin disebabkan bahan baku seperti semen dan agregat kasar maupun halus mudah didapat. padahal cepat atau lambat material akan semakin habis sehingga menyebabkan material dari tahun ke tahun akan semakin mahal. Terutama agregat kasar atau kerikil yang hampir 78 % menjadi bahan pengisi utama campuran beton (Astanto, 2001). Beton normal adalah beton yang mempunyai kuat tekan berkisar antara 200 – 500 kg/cm2, beton ini mempunyai porsi terbesar produksi beton di Indonesia dan sering dijumpai misalkan, di pabrik beton precast dan balok-balok beton pratekan, serta pembuatan gedung bertingkat (Hanafiah, 2003) Fungsi penggunaan agregat dalam beton adalah;, menghasilkan kekuatan yang besar pada beton, mengurangi susut pengerasan beton dan dengan gradasi yang baik maka akan didapatkan beton yang baik. Agregat yang digunakan dalam beton berfungsi sebagai bahan pengisi, namun karena prosentase agregat yang besar dalam volume campuran, maka agregat memberikan kontribusi terhadap kekuatan beton (Mulyono, 2003). Maka dari itu agregat kasar pada campuran beton mempunyai peranan penting, walaupun hanya sebagai pengisi akan tetapi agregat kasar sangat berpengaruh terhadap sifat-sifat mortar/ beton. Sehingga pemilihan agregat merupakan suatu bagian penting dalam pembuatan mortar/ beton ( Triwidati,2002). Limbah secara umum didefenisikan sebagai substansi atau suatu objek dimana pemilik punya keinginan untuk membuang. Sedangkan limbah konstruksi didefenisikan sebagai material yang sudah tidak digunakan yang dihasilkan dari proses konstruksi, perbaikan atau perubahan (Franklin,1998). Data dari Bappeda DKI Jakarta pada tahun 2004, limbah padat yang dihasilkan setiap hari mencapai 10.220 ton. Limbah tersebut berupa limbah padat yang dihasilkan dari aktifitas industri, perumahan dan pertanian dimana didalamnya termasuk limbah hasil dari pelaksanaan pembangunan konstruksi. Melihat dari fenomena di atas maka disini perlu untuk melakukan pemanfaatan kembali atau daur ulang material bekas bongkaran bangunan atau puing-puing. Maka dari itu perlu dilakukan suatu penelitian dari berbagai jenis material seperti ubin, genteng, dan batu alam andesit yang sudah digunakan, sebagai pengganti agregat kasar kerikil. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui kuat tekan karakteristik beton yang dibuat dengan memanfaatkan bahan-bahan recycle agregat yaitu; pecahan ubin, pecahan genteng, pecahan batu alam andesit sebagai campuran agregat kasar. TINJAUAN PUSTAKA Beton Beton merupakan bahan bangunan yang dihasilkan dari campuran atas semen Portland, pasir, kerikil dan air. Beton ini biasanya di dalam praktek dipasang bersama-sama dengan batang baja, sehingga disebut beton bertulang (batang baja berada di dalam beton). Pada saat ini sebagian besar bangunan dibuat dari beton bertulang, disamping kayu dan baja.

2001). Material Penyusun Beton Agregat Agregat ialah butiran mineral alami yang berfungsi sebagai bahan pengisi dalam campuran mortar atau beton. beton yang tampaknya mudah dibuat bila tidak dikerjakan atau direncanakan dengan teliti akan menghasilkan bahan yang kurang baik. Kekuatan tarik beton relatif rendah. e. dan tahan lama karena tidak busuk atau berkarat. Dalam keadaan segar. Tahan terhadap temperatur yang tinggi. d. Walaupun hanya sebagai bahan pengisi akan tetapi agregat sangat berpengaruh terhadap sifat-sifat mortar/betonnya sehingga pemilihan agregat merupakan suatu bagian penting dalam pembuatan mortar/beton. yang dapat mempengaruhi ikatannya dengan pasta semen. 2003). . d. Selain tahan terhadap serangan api. Sifat yang paling penting dari suatu agregat (batu-batuan. antara lain karena harganya relatif lebih murah daripada baja. Bentuk yang telah dibuat sulit untuk dirubah.Beton mempunyai kelebihan daripada bahan yang lain. c. Beton mempunyai beberapa kelebihan. beton juga tahan terhadap serangan korosi (Mulyono. sehingga nampak jelas pada permukaan betonnya). sehingga dapat digunakan untuk membentuk seni arsitektur atau semata-mata untuk tujuan dekoratif . karena beberapa ada daerah sumber material yang terpaksa ditutup (Astanto. Daya pantul suara yang besar. beton juga mempunyai beberapa kekurangan antara lain yaitu (Mulyono. Biaya pemeliharaan yang kecil. Hal semacam ini banyak dialami oleh beberapa daerah yang kesulitan mendapatkan material untuk bangunan.2003) : a. antara lain yaitu (Mulyono. Dalam keadaan yang mengeras. 2003) : a. Dapat dengan mudah dibentuk sesuai dengan kebutuhan konstruksi. pasir dan lainlain) ialah kekuatan hancur dan ketahanan terhadap benturan. karena kondisi pada saat ini agregat mulai berkurang dan harganya melambung tinggi. Mampu memikul beban yang berat. Agregat ini kira-kira menempati sebanyak 78 % volume mortar atau beton. Seperti dengan alternatif pemanfaatan pecahan beton yang terbakar sebagai agregat kasar. Selain kelebihan. Beton juga akan memberikan hasil akhir yang bagus jika pengolahan akhir dilakukan dengan cara khusus. b. serta ketahanan terhadap penyusutan (Murdock dkk. tidak memerlukan biaya perawatan seperti baja (baja harus selalu dicat pada setiap jangka waktu tertentu untuk mencegah karat). Oleh karena itu cara-cara membuat beton harus dipelajari dengan baik (Astanto. beton dapat diberi bermacam bentuk. c. 1991). Pelaksanaan pekerjaan membutuhkan ketelitian yang tinggi. Akan tetapi. misalnya diekspose agregatnya (agregat yang mempunyai bentuk yang bertekstur seni tinggi diletakkan dibagian luar. b. 2001). kerikil. beton memiliki kekuatan tinggi. atau kurang kuat.. Nilai kekuatan dan daya tahan (durability) beton adalah relatif tinggi. porositas dan karakteristik penyerapan air yang mempengaruhi daya tahan terhadap proses pembekuan waktu musim dingin dan agresi kimia.

1989:3. Kekekalan Bentuk Yang dimaksud dengan kekekalan bentuk adalah sifat dari bubur semen yang telah mengeras.1985. 3. Pada umumnya. Kekuatan Semen Kekuatan mekanis dari semen yang mengeras merupakan sifat yang perlu diketahui di dalam pemakaian. dimana bila adukan semen dibuat suatu bentuk tertentu bentuk itu tidak berubah. . Makin halus butiran semen. makin banyak pula air yang dibutuhkan bagi persenyawaannya. yaitu : Tipe I : Semen Portland untuk penggunaan umum yang tidak memerlukan persyaratan-persyaratan khusus. Makin besar luas permukaan butir ini .2-8) Sifat Sifat Semen Portland Menurut (Samekto dan Candra. pengukuran kekuatan daya rekat ini dilakukan dengan menentukan kuat lentur. Buka benda dari adukan semen yang telah mengeras. Cara yang paling sederhana dan mudah dilakukan ialah dengan mengayaknya.0013-8 1 atau Standar Uji Bahan Bangunan Indonesia 1986 dan harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam standar tersebut (PB. Kekuatan semen ini merupakan gambaran mengenai daya rekatnya sebagai bahan perekat/pengikat. Kehalusan Butir Pada umumnya semen memiliki kehalusan sedemikian rupa sehingga kurang lebih 80 % dari butirannya dapat menembus ayakan 44 mikron. Makin halus butiran semen. kuat tarik atau kuat tekan (desak) dari campuran semen dengan pasir. 2003). yang umumnya mengandung satu atau lebih bentuk kalsium sulfat sebagai bahan tambahan yang digiling bersama-sama dengan bahan utamanya (Mulyono. 2. 2001). Menurut ASTM C-150. makin cepat pula persenyawaannya. Semen portland adalah bahan konstruksi yang paling banyak digunakan dalam pembuatan beton. melengkung. dengan batu gips sebagai bahan tambahan (Samekto dan Candra. Apabila benda menunjukkan adanya cacat (retak. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menentukan kehalusan butir semen. Klasifikasi Semen Portland Sesuai dengan tujuan pemakaiannya semen Portland dibagi menjadi 5 (lima) tipe. 2001) semen portland memiliki beberapa sifat yang diantaranya dijelaskan sebagai berikut: 1. semen portland didefinisikan sebagai semen hidrolik yang dihasilkan dengan menggiling klinker yang terdiri dari kalsiumsilikat hidrolik. berarti semen itu tidak baik atau tidak memiliki sifat tetap bentuk. maka luas permukaan butir untuk suatu jumlah berat semen akan semakin menjadi besar.Semen Portland Semen portland atau biasa disebut semen adalah bahan pengikat hidrolis berupa bubuk halus yang dihasilkan dengan cara menghaluskan klinker ( bahan ini tertuma terdiri dari silika-silika kalsium yang bersifat hidrolis). Semen portland yang digunakan di Indonesia harus memenuhi syarat SII. membesar atau menyusut).

Tidak mengandung lumpur lebih dari 2 gram/liter b. dalam pemakaian air untuk beton itu sebaiknya air memenuhi syarat sebagai berikut: a. gula atau bahan kimia lainnya . Air yang mengandung senyawa-senyawa yang berbahaya. Tidak mengandung senyawa sulfat lebih dari 1 gram/liter Kandungan zat-zat tersebut apabila terlalu banyak dapat berpengaruh jelek terhadap beton. Mempengaruhi proses reaksi kimia dari semennya b. tetapi justru perbandingan air dengan semen atau yang biasa disebut sebagai Faktor Air Semen (water cement ratio). : Semen Portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan panas hidrasi rendah. Dapat juga membuat beton mengembang. Air yang berlebihan akan menyebabkan banyaknya gelembung air setelah proses hidrasi selesai.Tipe II Tipe III Tipe IV Tipe V : Semen Portland yang dalam penggunaannya memerlukan ketahanan terhadap sulfat dan panas hidrasi sedang. bahkan dapat mengubah sifat-sifat beton yang dihasilkan (Mulyono. Mempengaruhi lekatan antara pasta semen dan butiran batuan c. Mengurangi kekuatan atau keawetan beton d. Tidak mengandung khlorida (Cl) lebih dari 0.5 gram/liter d. Tidak mengandung garam-garam yang dapat merusak beton lebih dari 15 gram c. 2003). Air yang dapat diminum umumnya dapat digunakan sebagai campuran beton. 1998). yang tercemar garam. bila dipakai dalam campuran beton akan menurunkan kualitas beton. Air Air diperlukan pada pembuatan beton beton untuk memicu proses kimiawi semen. : Semen Portland yang dalam penggunaannya menuntut kekuatan awal yang tinggi. antara lain: a. sehingga terjadi retak-retak Secara umum air yang dapat dipakai untuk bahan pencampur beton ialah air yang bila dipakai akan dapat menghasilkan beton dengan kekuatan lebih dari 90% kekuatan beton yang memakai air suling. Menurut (Pramono dan Suryadi. sedangkan air yang terlalu sedikit akan menyebabkan proses hidrasi tidak tercapai seluruhnya. maka bukan perbandingan jumlah air terhadap total berat campuran yang penting. . : Semen Portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan sangat tahan terhadap sulfat. minyak. kekuatan beton pada umur 7 hari atau 28 hari tidak boleh kurang dari 90 % jika dibandingkan dengan kekuatan beton yang menggunakan air standar/suling (PB 1989:9). membasahi agregat dan memberikan kemudahan dalam pekerjaan beton. Untuk air yang tidak memenuhi syarat mutu. Karena pasta semen merupakan hasil reaksi kimia antara semen air. sehingga akan mempengaruhi kekutan beton.

begitu juga sebaliknya. Karena bahan batuan tidak susut. Ketahanan terhadap panas . Menghasilkan kekuatan yang besar pada beton. maka agregat memberikan kontribusi terhadap kekuatan beton (Mulyono. maka susut pengerasan hanya disebabkan oleh adanya pengerasan pasta semen. Gradasi f. Pengaruh agregat kasar terhadap kualitas beton Selain kekuatan pasta semen. semakin berkurang susut pengerasan betonnya. Dengan gradasi agregat yang baik. Mengontrol workability atau sifat dapat dikerjakan aduk beton. Adapun fungsi penggunaan agregat dalam beton adalah untuk : a. Reaksi kimia g. hal ini yang perlu menjadi perhatian adalah agregat. proporsi campuran agregat dalam beton 70-80 %. b. 2003): a. maka akan didapatkan beton yang mudah dikerjakan atau memiliki workability yang baik. sehingga pengaruh agregat akan menjadi besar. Tentu saja dalam penggunaan agregat tersebut ada batasnya. Semakin banyak agregat. Susunan beton yang padat dapat menghasilkan beton dengan kekuatan yang besar. Gradasi yang baik pada agregat dapat menghasilkan beton yang padat sehingga volume rongga berkurang dan penggunaan semen Portland berkurang pula. c. Workability adukan beton plastis dapat diusahakan dengan menggunakan gradasi agregat yang baik. Semakin baik mutu agregat yang digunakan. 2003). Semakin banyak bahan batuan yang digunakan dalam beton. sehingga butir-butir tidak dapat saling bersinggungan.Fungsi agregat terhadap beton Dalam beton agregat (agregat kasar dan agregat halus) mengisi sebagian besar volume beton yaitu berkisar antara 60% sampai 80% sehingga sifat-sifat dan mutu agregat sangat berpengaruh terhadap sifat dan mutu beton (Samekto dan Candra. Bentuk dan ukuran d. Dengan gradasi yang baik maka akan didapatkan beton yang padat. 2001). Seperti yang telah dijelaskan. Tetapi gradasi untuk mobilitas yang baik memerlukan butir-butir berlapis pasta semen untuk dapat memudahkan gerak adukan betonnya. Agregat yang digunakan dalam beton berfungsi sebagai bahan pengisi. Tekstur permukaan e. namun karena prosentase agregat yang besar dalam volume campuran. baik dari sisi ekonomi maupun dari sisi tekniknya. sebab pasta semen diperlukan untuk pelekatan butir-butir dalam pengisian rongga-rongga halus dalam beton. secara linier dan tidak langsung akan menyebabkan mutu beton menjadi baik. Perbandingan agregat dan semen campuran b. Faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan beton terhadap agregat adalah sebagai berikut (Mulyono. maka semakin hemat penggunaan semen Portland sehingga semakin murah harganya. Kekuatan agregat c.

kuat tekan paving block yang menggunakan pecahan genteng keramik lebih baik daripada paving block yang menggunakan agregat pasir alam (Handiyanto. kapur. Benda uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah silinder beton dengan diameter 15 cm . sisa pembangunan suatu rumah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah Lumpur dapat menggantikan agregat halus sampai 50% berat. ( Amir. dengan atau tanpa semen Portland. Paving block pada saat ini sudah banyak dipergunakan sebagai bahan pelapis permukaan jalan. Perbandingan volume yang dilakukan adalah 1:6.2001) Penggunaan sekam padi untuk pembuatan batu cetak dan papan semen. Proses solidifikasi/stabilisasi (S/S) biasanya digunakan untuk merubah limbah cair atau padat yang berpotensi berbahaya menjadi berkurang sifat bahayanya sebelum diurug dalam sebuah landfill. dengan menggunakan bahan perekat yang terdiri dari campuran tras.2002). jenis dan ukurannya. oleh karenanya pengurugan ke dalam landfill dibutuhkan. Perencanaan campuran paving block dilakukan dengan sistem perbandingan volume. ataupun kayu-kayu dari jenis “ lesser known species”. limbah tersebut dapat menimbulkan masalah pencemaran. Untuk memanfaatkan limbah genteng keramik dari pabrik pembuatan genteng. Perencanaan campuran beton menggunakan SK SNI T-15-1990-03. Pecahan genteng menjadi bahan alternatif sebagai agregat kasar untuk beton.Pemanfaatan Limbah Konstruksi Sebagai Agregat Limbah logam berat berbahaya dalam banyak hal tidak dapat dimusnahkan dan dimanfaatkan kembali. Campuran beton meminimalkan pelindian logam berat dari limbah yang diindikasikan dengan nilai TCLP dan uji durabilitas yang rendah dibandingkan batasan standar. Terjadi penurunan kuat tekan bila proporsi yang digantikan berada di atas nilai tersebut. dengan menggunakan bahan perekat seperti urea-formaldehid atau tanin formaldehid. Kendala yang membatasi penimbunan limbah. 2004). serta bongkaran rumah maka digunakan agregat pecahan genteng keranik sebagai pengganti agregat penyusun paving block. 1:4 serta menggunakan agregat kasar pecahan genteng keramik 1:2:3. Makalah ini menyajikan ringkasan sebuah penelitian yang dilaksanakan dalam area pemanfaatan limbah dari sebuah industri baja untuk menggantikan sebagian segmen Portland atau agregat dalam campuran beton. menimbulkan upaya untuk mengkonversi limbah menjadi bahan yang bermanfaat. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti kuat tekan beton dengan pecahan genteng sebagai agregat kasar dan mencari faktor air semen optimum. Penggunaan semen memainkan peran penting dalam pengendalian pelindian jangka panjang dari struktur monolitik yang terbentuk ( Damanhuri. Puslitbang Permukiman telah membuat rumah contoh pada tahun1967( Amir. setelah dianalisis. untuk diolah menjadi papan partikel. sisa-sisa industri kayu. dan limbah debu dapat menggantikan semen Portland sampai 15% berat. 1:5.2002 ) Penggunaan ampas tebu. disertai dengan desakan untuk konservasi sumber daya alam. Penelitian ini bertujuan mengetahui kuat tekan paving block dan membandingkan kekuatannya dengan paving block pasir alam yang ada dipasaran. Terbatasnya lahan untuk penimbunan. Tidak setiap daerah memiliki macam agregat yang sama baiknya dari segi kekuatan.

Tahap Laboratorium: 1. 3.5 tetapi kuat tekan masih mempunyai kecenderungan untuk meningkat jika nilai faktor air semen lebih kecil (Sutanto. genteng dan batu alam andesit kemudian dipecahkan untuk memenuhi syarat ukuran butiran agregat yaitu maks.6 dan 0. Analisa Hubungan Penyusutan.7. Nilai optimum faktor air semen pada penelitian ini adalah 0. Pengumpulan Data Pengumpulan data diambil dari pengujian beton baik pada saat proses pengadukan/pengecoran maupun setelah beton mengeras yaitu: Tahap Analisis 1. Pengujian sample agregat dan pengujian di laboratorium Pada tahap melakukan pengujian semua agregat yang akan digunakan dalam campuran beton mengacu pada pedoman modul percobaan Teknologi Bahan Konstruksi. 2. Pengujian kuat tekan dilakukan pada umur 7. Analisa Kuat Tekan Beton Analisa yang dilakukan dengan membandingkan hasil data kuat tekan beton masing-masing jenis campuran melalui grafik sehingga kita dapat mengetahui peningkatan yang dihasilkan pada tiap-tiap umur rencana. 0.84 kg/cm2 mendekati kuat tekan rencana beton.dan tinggi 30 cm dengan mutu kuat tekan 200 kg/cm2.5 pada umur 28 hari kuat tekan sebesar 192. perlu adanya kontrol terhadap kualitas dan berbagai prilaku agar diperoleh beton dengan mutu baik 2. karena tidak setiap agregat dapat langsung digunakan. Landasan Teori Pengumpulan literatur/ tinjauan serta jurnal-jurnal/ artikel dari internet yang berkaitan dengan recycle agregat untuk dipakai sebagai bahan acuan. Dari analisa ini kita dapat mengetahui karakteristik kualitas beton masing-masing jenis agregat yang dipengaruhi oleh sifat dari bahan campuran agregat tersebut 2. Penentuan Agregat Memilih jenis agregat yang diteliti. 14 dan 28 hari. 2001) METODE PENELITIAN Tahap Persiapan: 1. Hasil penelitian ini memperlihatkan penggunaan pecahan genteng sebagai pengganti agregat kasar dengan faktor air semen 0. 40 mm. yakni 27 buah untuk beton agregat kasar pecahan genteng dan 27 buah untuk beton agregat kasar batu pecah biasa sebagai perbandingan pada masing-masing pengujian hari dan faktor air semen. nilai faktor air semen divariasi 0. Air Content dan Slump Test dengan Beton yang dihasilkan . Identifikasi Masalah Menentukan topik yang menarik untuk dibahas yaitu tentang pemanfaatan limbah bahan padat sebagai agregat kasar pada pembuatan beton normal. puing-puing ubin.5. dilihat dari segi kemudahan pencarian bahan material yaitu. Benda uji yang dibuat 54 buah.

kemudian sebelum beton mengeras dan dimasukkan kedalam cetakan juga dilakukan pengujian. 1981). Sedangkan syarat-syarat susunan besar butir untuk agregat kasar atau kerikil menurut PBI 197 1-NI-2 adalah jika agregat kasar diayak dengan ayakan standar ISO. 2000 ppm. DATA HASIL PENELITIAN Setelah melakukan perhitungan mix design. genteng. batu alam dan kerikil). kadar tersuspensi dalam air maks.25 mm antara 80 persen dan 95 persen. kadar organik maks. 4. 200 maks 22%. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah bahan-bahan yang digunakan untuk pembentuk beton dalam penelitian ini mempunyai nilai-nilai yang sesuai dengan standar persyaratan yang sudah ditentukan. agregat halus (pasir) dan air. 4 mm harus berkisar antara 90% dan 98% berat.5. Dalam hal ini pengujian yang dilakukan adalah mencari nilai kuat tekannya dengan cara memberikan tekanan (stress) pada beton keras sesuai dengan umur rencana yang telah ditentukan kemudian dilakukan juga pengukuran terhadap penyusutan yang terjadi akibat pembebanan pada permukaan benda uji beton. 2000 ppm.5 mm harus 0% berat. lalu dilakukan pencampuran bahanbahan penyusun beton dengan menggunakan concrete mixer. untuk kadar bahan padat dalam air maks. Pengujian yang dilakukan diantaranya air content test.Analisa ini dilakukan dengan membandingkan nilai masing-masing data yang didapat dengan umur rencana melalui grafik. Evaluasi Karakteristik Bahan Evaluasi dilakukan terhadap bahan/material penyusun beton yaitu semen. Dari analisa ini kita dapat mengetahui pengaruh nilai masing-masing percobaan terhadap kualitas beton yang dihasilkan.0% dan tertahan saringan No. bagian yang tertinggal di atas ayakan adalah 31. 3. . 1 mm tidak kurang dari 10 persen berat. untuk analisa Slump hanya membandingkan nilai Slump yang didapat dengan workability. serta memiliki kandungan lumpur < 1 % dan kandungan klorida-nya < 0. 2001). Syarat susunan besar butir untuk agregat halus atau pasir menurut Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBI) 197 1-NI-2 adalah jika agregat halus diayak dengan ayakan standar ISO. serta memiliki kandungan lumpur < 5 %. 0. Sedangkan persyaratan yang ditentukan oleh SNI-03xxxx-2002 untuk air adalah pH air antara 4. Analisa Keruntuhan Analisa dilakukan dengan melihat secara visual jenis keruntuhan yang terjadi pada saat pengujian kuat tekan.5 sampai 8. Dari analisa ini kita dapat mengetahui jenis keruntuhan dan kualitas bahan campuran.15 % (Samekto dan Candra. slump test dan setelah pembuatan benda uji dilakukan. 2000 ppm (Mindness and Young. maka langkah selanjutnya adalah melakukan pengujian pada benda uji yang telah dibuat. 100 sama dengan 0. agregat kasar (ubin. bagian yang tertinggal di atas ayakan 4 mm tidak kurang dari 2 persen berat. Untuk semen persyaratan yang ditentukan menurut SNI adalah semen yang diayak tertahan saringan No.

89 126.44 213.67 148.56 224.44 Sumber: Hasil pengujian Ket * : Dianggap sebagai invalid data .88 164.6 % 1.0 % 55 mm 1.7 % Volume Slump Test Air Content Test 45 mm 2.44 168.11 21 hari 146.Data Slump Test dan Air Content Test Dalam penelitian ini dilakukan pula pengujian nilai slump test dan air content test.56 153.3 % 45 mm 2.33 211. Hasil penelitian kuat tekan kubus beton dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 2 Data Kuat Tekan Campuran Volume Benda Uji Pecahan Ubin Berat beton (Gram) 7 hari 7043 7105 7118 6793 Pecahan Genteng Pecahan Batu alam Pecahan Kerikil 6687 6890 7493 7853 7952 7662 7729 7615 14 hari 7129 7264 7052 6856 6859 6825 7973 8018 7866 7596 7859 7729 21 hari 7340 7260 7334 6985 6940 6840 8029 7901 7978 7770 7718 7790 7 hari 250 270 275 290 285 275 415 330* 435 370 380 370 Beban (KN) 14 hari 310 320 270* 350 345 375 495 510 480 505 480 475 21 hari 330 335 320 300* 360 385 510 530 505 495 490 505 Kuat Tekan (Kg/cm2) 7 hari 111.78 224.22 133.89 142.22 128.11 120 122.78 142.4 % 1.44 14 hari 137.67 213.33 166.67 235.9 % 40 mm 40 mm 1.33* 160 171. pengujian nilai slump test dimaksudkan untuk mengetahui nilai kekentalan adukan yang akan berpengaruh pada kemudahan dalam pengerjaan (workability) dan pengujian air content test dimaksudkan untuk mengetahui nilai persentase kandungan udara yang terdapat dalam beton segar.67 122.44 220 217. dan 28 hari.22 120* 155.7 % Data Kuat Tekan Beton Kubus Dalam penelitian ini digunakan benda uji berbentuk kubus 15x15x15 cm dengan umur rencana 7.67* 193.44 146.33 164.11 226.33 224.22 184.0 % 1. 14.67 220 226. setelah itu dicari berat kering dan nilai kuat tekan dari masing-masing kubus beton. Adapun hasil dari kedua penelitian tersebut dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Tabel 1 Nilai Slump Test dan Air Content Test Jenis Agregat Pecahan Ubin Pecahan Genteng Pecahan Batu Alam 40 mm Andesit Pecahan Kerikil 40 mm Sumber: Hasil pengujian Mix Design Slump Test Air Content Test 35 mm 2.

26 190.92 241.44 111.15 122.78* 106.56 151. M : Mix Design V : Volume .50 249. karena sudah ada hasil pengujian pada umur 28 hari.33 93. Tabel 6 Konversi Kuat Tekan Rata-Rata ke Umur 28 hari Umur 7→ 28 14→ 28 21→ 28 Pecahan Ubin M V 128.56 155.92 140 158.15 158.56 142.44 Sumber: Perhitungan Ket* : untuk perbandingan mix design tidak dikonversi.67 144.11 128.93 188.92 216.89 114.78 128.Tabel 3 Data Kuat Tekan Campuran Mix Design Benda Uji Pecahan Ubin Berat beton (Gram) 7 hari 7341 7410 7325 6953 Beban (KN) 7 hari 190 182 192 210 250 260 340 373 365 Kuat Tekan (Kg/cm2) 7 hari 84.08 174.22 120.29 145.00 28 hari 95.44 80.02 Kerikil M/V 255.89 165.11 165.78 125.93 165.55 106.78 144.89 177.11 115.56 184.53 290.89 157.18 245.33 115.52 220 216.56 228.78* 160.44 159.56* 113.00 151.06 193.29 232.71 232.45 139.66 Pecahan Genteng M V 164.44 14 hari 7383 7569 7432 6920 6895 6983 8074 8121 7836 28 hari 7522 7496 7515 7155 7098 6976 8337 7981 8240 14 hari 245 400* 240 325 250 290 355 265* 360 28 hari 215* 255 260 350 320 270 340* 440 415 14 hari 108.00 Kerikil 165.89 85.44 Pecahan Genteng Pecahan Batu alam 6821 6750 8152 7875 7967 Sumber: Hasil pengujian Ket * : Dianggap sebagai invalid data Tabel 4 Kuat Tekan Rata-Rata Campuran Volume Umur 7 14 21 Kuat Tekan Rata-Rata Tiap Jenis Agregat Kasar (kg/cm2) Pecahan Pecahan Genteng Pecahan Batu alam andesit Kerikil Ubin 117.78 107.78 117.89 220.67 153.33 111.51 180.74 Sumber: Perhitungan Tabel 5 Kuat Tekan Rata-Rata Campuran Mix Design Umur 7 14 28 Kuat Tekan Rata-Rata Tiap Jenis Agregat Kasar (kg/cm2) Pecahan Ubin Pecahan Genteng Pecahan Batu alam andesit 83.50 181.58 180.11* 195.04 153.68 145.44* Sumber: Perhitungan Ket* : hasil konversi pada umur 21 hari.33 Pecahan Batu Alam M V 236.

hal ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar penyusutan yang terjadi pada beton keras.5 1.3 1.5 0.1 0.5 1.1 1.9 0.9 1.5 1.9 0.136 Sumber: PBI 71 21 hari 1.5 2 2 1.6 0.5 28 hari 1.5 0.7 1 1 0.3 1.5 1. Adapun hasil pengujian tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 8 Data Penyusutan Campuran Volume Benda Uji Pecahan Ubin 7 hari 0.5 0.8 21 hari 1.5 1.3 Pecahan Genteng Pecahan Batu Alam Andesit Kerikil Sumber: Hasil pengujian Tabel 9 Data Penyusutan Campuran Mix Design Benda Uji Pecahan Ubin 7 hari 1. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan jangka sorong.4 1.5 1.1 1.2 1.7 1.538 1.2 1.5 1.1 1 1.5 1.4 1.3 1.8 1.5 1.9 1.1 Penyusutan (mm) 14 hari 1.1 1.6 1.Tabel 7 Faktor Pengali Nilai Konversi ke 28 Hari Umur Beton 7 hari 14 hari Ke Umur 28 Hari 1.1 0.2 1.5 0.9 0.7 1.7 1 Penyusutan (mm) 14 hari 1.5 0.3 1.4 1.053 Data Penyusutan Dalam penelitian ini dilakukan juga pengukuran tinggi penurunan benda uji kubus beton setelah melalui pengujian kuat tekan.9 1.7 1.4 1.4 0.8 1.4 1.8 0.7 Pecahan Genteng Pecahan Batu Alam Andesit Sumber: Hasil pengujian .7 1 0.

8 1.78 114.Dapat kita lihat kuat tekan yang terjadi pada masing-masing jenis agregat kasar pada baik perbandingan volume maupun perbandingan mix design terjadi peningkatan untuk semua jenis agregat.3 1.67 83.89 139.07 0.3 Tabel 11 Data Penyusutan Rata-rata Campuran Mix Design Benda Uji Pecahan Ubin Pecahan Genteng Pecahan Batu alam andesit Sumber: Perhitungan 7 Hari 1.55 165.6 1.Tabel 10 Data Penyusutan Rata-rata Campuran Volume Benda Uji Pecahan Ubin Pecahan Genteng Pecahan Batu alam andesit Kerikil Sumber: Perhitungan 7 Hari 0.26 190 232. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik dibawah ini: 250 225 200 175 150 125 100 75 50 25 0 0 0 7 1 4 28 106.3 1.2 1.47 PEMBAHASAN Analisa Kuat Tekan Setelah melakukan pengujian beton masing-masing jenis agregat dan mendapatkan hasil kuat tekan.2 0.93 1. maka kita dapat melakukan analisa.63 1.47 0. namun untuk perbandingan volume beton batu alam andesit yang memiliki kuat tekan paling besar.29 128.93 1.15 107. Terlihat beton campuran kerikil memiliki kuat tekan paling besar untuk perbandingan mix design.57 1.4 0.53 1.83 0.9 1.87 Penyusutan Rata-Rata (mm) 14 Hari 28 Hari 1.45 Umur (hari) Pecahan Ubin Pecahan Batu Alam Andesit Pe ca ha n G e nt e ng Kerikil Grafik 1 Kuat Tekan Rata-Rata Tiap Jenis Agregat Kasar Perbandingan Mix Design .44 216.53 0.78 158.87 Penyusutan Rata-Rata (mm) 14 Hari 21 Hari 1.92 153.

namun semakin lama semakin melambat atau menurun sampai pada umur 28 hari.56 220 216.3 159.78 100 75 50 25 0 0 0 0 7 1 4 21 140 145. Hal ini menunjukan bahwa peningkatan kuat tekan cukup besar pada umur 7 hari. 08 174. 51 255.52 165.89 220.04 153.68 245. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 3 Kuat Tekan Rata-Rata Beton Perbandingan Volume Konversi ke 300 275 249.89 175 165. 232.15 150 125 100 75 50 25 0 0 Pecahan Ubin Pecahan Batu Alam Andesit 290.250 225 200 188.4 4 180.29 228.93 125 117. 66 0 7 Umur (hari) 14 Pecahan Genteng Kerikil 21 28 hari Tiap Jenis Agregat Kasar Pengaruh Jenis Agregat Kasar Untuk Masing-Masing Umur Rencana terhadap Kuat Tekan Beton Pengaruh kuat tekan dari masing-masing jenis agregat kasar untuk masing-masing umur rencana dapat dilihat pada grafik 1. Fenomena yang terjadi adalah semakin menurunnya nilai kuat tekan konversi yang dihasilkan.74 Umur (hari) Pecahan Ubin Pecahan Batu Alam Andesit Pecahan Genteng Keri kil Grafik 2 Kuat Tekan Rata-Rata Tiap Jenis Agregat Kasar Perbandingan Volume Konversi Kuat Tekan Rata-rata Beton Perbandingan Volume ke Umur 28 Hari Untuk mendapatkan kuat tekan rencana pada umur 28 hari maka dilakukan konversi kuat tekan rata-rata ke umur 28 hari. 2 dan 3 Bisa kita lihat pada agregat .18 193.93 158. 71 02 241.92 250 225 200 175 181.92 150 125.

hal ini membuktikan bahwa setiap agregat kasar mempunyai karakteristik yang berbedabeda yang pastinya akan berpengaruh terhadap kualitas. Hal ini disebabkan dari beberapa faktor antara lain dari tekstur permukaan yang kasar.pecahan ubin kuat tekan yang didapat relatif kecil dibanding dengan agregat lainnya. Fenomena ini menunjukan semakin meningkatnya nilai air content maka penyusutan yang terjadi semakin besar dan juga semakin besar kandungan udara dalam beton akan menyebabkan kekuatan tekan beton berkurang. terlihat bahwa beton dengan agregat pecahan batu alam andesit lebih padat daripada yang lainnya karena susunan beton yang padat dapat menghasilkan beton dengan kekuatan yang besar. Hal ini disebabkan karena adanya tambahan gesekan antara pasta semen dan permukaan butir-butir agregat. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik dibawah ini: . Hubungan Penyusutan Dengan Nilai Air Content Test. keawetan dan yang terpenting adalah daya dukung atau kuat tekan dari beton yang dihasilkan. Kita lihat disini tekstur pecahan genteng lebih baik dari pada ubin walaupun ada sisi yang halus dengan gradasi sudah baik dengan bentuk butiran yang bervariasi. Secara umum dapat dilihat dari 2 perbandingan yang digunakan menghasilkan kuat tekan yang bervariatif kemudian adanya perbedaan hasil kuat tekan pada masing-masing umur dari masing-masing jenis agregat kasar. Kuat tekan yang relatif kecil dapat dilihat dari beberapa faktor antara lain tekstur permukaan yang licin dapat mempengaruhi daya ikat dengan pasta semen sehingga dapat mengurangi kuat tekan beton. walaupun begitu kita lihat bahan dasar genteng adalah tanah sehingga jelas dapat mengurangi kuat tekan beton. Kemudian bentuknya yang pipih juga ikut mempengaruhi gradasi sehingga mempengaruhi kepadatan beton. kemudian pada saat penimbanganan kubus beton lebih berat daripada kubus beton dengan campuran agregat lainnya. Pada agregat pecahan batu alam andesit terlihat kuat tekan yang dihasilkan ternyata dapat melebihi kerikil untuk perbandingan volume besar. karena faktor kekasaran permukaan agregat dapat menambah kekuatan tarik maupun kekuatan lentur beton. workability. Pada agregat pecahan genteng terlihat kuat tekan yang dihasilkan lebih besar daripada agregat pecahan ubin namun lebih kecil dari agregat batu alam dan kerikil. Beton campuran pecahan ubin ternyata mempunyai penyusutan paling besar diantara yang lainnya begitu juga dengan nilai air content.

2 1 0.2 1 0.07 0.83 1.93 0.8 1.3 ` Umur (hari) Pecahan Ubin (2. 9%) Kerikil (1.93 ` 0 7 Umur (hari) 14 Pecah an G en teng (1.4 1.4 0.87 0.8 1.4 1.2 0 0 1.8 0.6 1.8 1.Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik dibawah ini: .8 7 0.47 1.9 1.6 1.4%) beton perbandingan Volume Hubungan Berat Beton Dengan Umur rencana Untuk hubungan berat beton dan umur rencana dapat dilihat bahwa berat beton semakin meningkat seiring dengan peningkatan umur beton.6% ) Grafik 4 Hubungan Penyusutan dengan Nilai Air Content Test Campuran beton perbandingan Mix design Grafik 5 Hubungan Penyusutan dengan Nilai Air Content Test Campuran 2 1. 7%) 21 Pecah an Ubi n (2.8 0. 0%) Pecahan Batu Alam Andesit (1.47 1.4 1.2 0 0 7 14 28 0.6 0.63 1.2 1.2 0.2 1.4 0.3% ) Pecahan Genteng (2.6 0.6 1.53 0.3 1.53 1 .57 1.0%) Peca ha n Ba tu Ala m Ande sit (1.3 1.

8250 7998 8000 7750 7461. genteng dan batu alam ande sit pertama-tama dipecahkan untuk dapat digunakan sebagai campuran beton dengan syarat ukuran maksimum 40 mm.67 7952.67 7000 6750 6500 6250 6000 0 7 Umur (hari) 14 6841.33 75 1 1 7076 . Untuk kadar lumpur pecahan ubin sebesar 0 %.33 7311.33 Kuat Tekan Pecahan Ubin Genteng batu alam Kerikil Grafik 7 Hubungan Berat beton dengan Kuat Tekan Campuran Volume Evaluasi Bahan Penyusun Beton Agregat Kasar Agregat kasar yang digunakan dalam penelitian adalah puing-puing sisa bongkaran bangunan atau yang biasa disebut dengan limbah konstruksi. Limbah konstruksi yang digunakan dalam penelitian ini adalah ubin.33 7766 7 668.33 7759. ubin.33 7969 . genteng dan batu alam andesit kemudian digunakan kerikil sebagai perbandingan.33 7500 7250 6932.33 6846. pecahan batu alam .49 %.67 6921.33 7178 8010. pecahan genteng sebesar 0.67 7728 7969.33 21 Kuat Tekan Pecahan Ubin Genteng batu alam Grafik 6 Hubungan Berat beton dengan Kuat Tekan Campuran Mix Design 8250 8000 7750 7500 7250 7000 6750 6500 6250 6000 0 7 Umur (hari) 14 21 71 78 6790 71 48.

1 % sudah memenuhi syarat mutu kekuatan agregat untuk beton K 225 maksimal 40 % (data terlampir).67 %. Agregat Halus Agregat halus yang digunakan dalam penelitian mempunyai bentuk butiran yang berwarna agak kuning ini berasal dari daerah Cilengsi.0% . pecahan genteng sebesar 0. pecahan batu alam andesit sebesar 0.Kadar organik : Maks. 2000 ppm Dari evaluasi hasil yang telah diperoleh dari penelitian air ini.Kadar tersuspensi dalam air : 100 ppm .Tertahan saringan No. pecahan batu alam andesit 22. 2000 ppm .59 %.masing agregat telah memenuhi syarat bagian yang hancur atau hilang maksimum 12 % (data terlampir).92 % dan kerikil 20. Semen Evaluasi untuk penelitian semen yang dilakukan di laboratorium adalah sebagai berikut : .pH air : 4. pecahan genteng 35.Jenis semen : Portland Cement tipe I Tiga Roda Sedangkan persyaratan yang ditentukan menurut SNI adalah : .Kadar bahan padat dalam air : Maks.9 %. 100 : 0.pH air :8 . Air Evaluasi hasil penelitian air yang dilakukan di laboratorium adalah sebagai berikut : .54 % telah memenuhi syarat maksimum 5% (data terlampir).Kadar tersuspensi dalam air : Maks. kerikil 1. semen dinyatakan memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan dan dapat digunakan sebagai bahan penyusun beton.Tertahan saringan No.12 %. Untuk keausan/pelapukan agregat akibat pengaruh cuaca dan iklim dengan percobaan Soundness Test pecahan ubin sebesar 0.5 . 100 : 0.Tertahan saringan No. dari semua agregat sudah memenuhi syarat kadar lumpur maksimum 1 % (data terlampir).76 %. masing. .0 % . 2000 ppm . Jawa Barat yang pada umumnya banyak di jual di toko bahan bangunan. 200 : 9.54 % .Tertahan saringan No.19 %.Kadar organik : 1500 ppm Sedangkan persyaratan yang ditentukan oleh SNI adalah : . 200 : Maks 22% Dari evaluasi hasil yang telah diperoleh dari penelitian semen ini. air dinyatakan memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan dan dapat digunakan sebagai bahan penyusun beton.Kadar bahan padat dalam air : 1000 ppm .andesit sebesar 0 %.5 – 8.11 %. Untuk Abration Test bagian yang hancur masing-masing pecahan ubin sebesar 26. Untuk kadar lumpur sebesar 3. kerikil 0.

karena kekerasan atau kekuatan butir-butir agregat tergantung dari bahannya dan tidak dipengaruhi oleh lekatan antara butir satu dengan lainnya (Mulyono. genteng dan batu alam andesit serta kerikil adalah bahan material yang kuat. Jenis runtuhan yang terjadi memanjang arah horizontal dari atas kebawah atau sebaliknya. 1999) Gamb ar 3 Runtu han kubus beton Gambar 5 Runtuhan kubus beton Batu alam . Gambar 1 Keruntuhan tekan kubus beton Gambar 2 Runtuhan kubus beton Sumber: (Tumilaar. Runtuhan yang terjadi hanya menghancurkan pasta semen sebagai pengikat namun tidak menghancurkan agregat kasar sebagai 70 % lebih pengisi campuran beton. Hal ini menunjukan bahwa pecahan ubin. 2003).Analisa Keruntuhan Jenis retakan atau runtuhan yang terjadi sama untuk semua jenis agregat pada saat pengujian kuat tekan beton dengan mesin hidrolik.

Dari 2 (dua) perbandingan yang digunakan yaitu perbandingan volume dan perbandingan mix design. Departemen Pekerjaan Umum. Untuk hubungan berat beton terhadap umur. Metode Pembuatan dan Perawatan Benda Uji Beton di Laboratorium.KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Dari hasil penelitian maka dapat ditarik kesimpulan: 1.. SK SNI T-15-1990-03 2.1971 4.. Beton campuran agregat kerikil dan pecahan batu alam andesit mencapai kuat tekan karakteristik yang diisyaratkan yaitu 225 kg! cm 2. 3. 5. Departemen Pekerjaan Umum. Untuk kontribusi ke masyarakat pecahan ubin dan genteng dapat digunakan sebagai bahan lapis pondasi bawah atau base course untuk pembangunan jalan lingkungan. Untuk mendapatkan hasil kuat tekan yang lebih besar lagi.. Universitas Gunadarma 2003 . Beton dengan campuran pecahan ubin dan pecahan genteng tidak mencapai kuat tekan karakteristik yang telah di isyaratkan. Diktat Praktikum Beton Teknik Sipil. DAFTAR PUSTAKA 1. SK SNI M-62. Peraturan Beton Bertulang Indonesia. N. Saran 1. Semakin lama beton tersebut direndam dalam air maka semakin optimal penyerapan air oleh semen selama proses hidrasi!pengerasan berlangsung. 2. ternyata kuat tekan yang dihasilkan lebih besar perbandingan volume untuk pembuatan beton normal. Hubungan air content dan penyusutan Nilai yang didapat rata-rata tidak terlalu besar karena semakin meningkatnya nilai air content maka penyusutan yang terjadi semakin besar dan juga semakin besar kandungan udara dalam beton akan menciptakan pori-pori atau rongga udara yang besar pula sehingga menyebabkan kekuatan tekan beton berkurang. Departemen Pekerjaan Umum.I – 2 . Laboratorium Teknologi Bahan Konstruksi.1990-03 3. Dari analisa keruntuhan ke-4 jenis campuran beton sudah menunjukan keruntuhan tekan kubus yang baik dan tidak menghancurkan agregat namun hanya menghancurkan pasta sebagai bahan pengikat. Tata Cara Pembuatan Beton Normal. semakin lama umur beton maka berat beton semakin meningkat pula hal ini dipengaruhi oleh perawatan beton setelah dicetak. maka jenis agregat cukup aman untuk digunakan sebagai campuran beton. 2. Dalam proses pemadatan agar diperhatikan lagi agar nilai air content yang didapat semakin kecil sehingga mengurangi rongga udara pada beton yang dapat menambah kekuatan beton. 4. pada penelitian selanjutnya diharapkan menggunakan pasir yang lebih halus lagi kemudian pecahan agregat diperhalus! diperkecil lagi untuk mendapatkan gradasi butiran yang lebih baik lagi.

Teknologi Beton. Didiek. Penerbit Universitas Gunadarma. 2001 . Jakarta. Pramono. Samekto. Total Bangun Persada.. Istimawan. Tumilaar. Rahmadiyanto. Yogyakarta. Teknologi Beton. SK SNI T-15-1991-03 Departemen Pekerjaan Umum RI 6. Steffie.. Penerbit Andi. 1998 7. Candra. Suryadi HS. Tri. Wuryati. Struktur Beton Bertulang. Mulyono.5. Penerbit Kanisius. Diklat pelatihan PT. Dipohusodo. 2003 9. Bahan Konstruksi Teknik.. Jakarta. Pengendalian Mutu Pelaksanaan Beton Struktrur. 1999 8.