BAB II TINJAUAN TEORI

A.

Konsep Dasar Medik 1. Definisi Diabetes melitus merupakan suatu penyakit kronik yang melibatkan kelainan metabolisme karbohidrat, protein dan lemak yang berkembangnya koaplikasi makrovaskuler, mikrovaskuler dan neurologis (C. Long Barbara, 1996) Diabetes melitus adalah keadaan hiperglikemia kronik yang disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf dan pembuluh darah, disertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskopik elektron (Mansjoer, Arif, 1999). Diabetes melitus adalah sekelompok kelainan yang ditandai oleh peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia) (Brunner dan Suddarth, 1996). Diabetes melitus adalah penyakit hiperglikemia yang ditandai oleh ketiadaan absolut insulin atau insensitivitas sel terhadap insulin (Elisabeth. J. Corwin, 2000)

2. Anatomi Fisiologi a. Anatomi

b. Fisiologi Pengertian Pankreas Sekumpulan kelenjar yang strukturnya sangat mirip dengan kelenjar ludah panjangnya kira-kira 15 cm, lebar 5 cm dari duodenum sampai ke limfa dan beratnya rata-rata 60-90 gr. Terbentang pada vertebra lumbalis I dan II di belakang lambung. Bagian Dari Pankreas 1. Kepala pankreas; terletak di sebelah kanan rongga abdomen dan di dalam lekukan duodenm yang melingkarnya. 2. Badan pankreas : merupakan bagian utama dari organ ini letaknya di belakang lambung dan di depan vertebrae umbalis pertama. 3. Ekor pankreas : bagian runcing do sebelah kiri yang sebenarnya menyentuh limfa. Fungsi Pankreas 1. elektrolit. Fungsi endokrin; yang membentuk getah pankreas yang berisi enzim dan

2.

Fungsi endokrin; sekelompok kecil del epitelium yang berbentuk pulau-

pulau kecil atau Langerhans yang bersama-sama membentuk organ endokrin yang mensekresikan insulin. 3. Fungsi sekresi eksternal, yaitu cairan pankreas yang dialirkan ke

duodenum yang berguna untuk proses pencernaan makanan di intestinum. 4. Fungsi sekresi internal, yaitu sekresi yang dihasilkan oleh pulau-pulau

Langerhans sendiri langsung dialirkan ke dalam peredaran darah. Hasil Sekresi, berupa : 1. Hormon insulin ini langsug dialirkan dalam darah tanpa melewati duktus.

Kumpulan dari sel-sel ini berbentuk seperti pulau-pulau yang disbeut Pulau Langerhans 2. Getah pankreas Sel-sel yang mereproduksi setelah pankreas ini termasuk kelenjar ensokrin, getah pankreas dikirim ke dalam duodenum melalui duktus pankreatik. Duktus ini bermuara apada papila vateri yang terletak pada dinding duodenum. Pengaturan fisiologis darah sebagian besar tergantung dari : 1.Ekstraksi glukosa 2.Sintesis glukosa 3.Glikogendisis dalam hati Selain itu jaringan perifer otot dan adiposa juga mempergunakan glukosa sebagai sumber energi mereka. Jumlah glukosa yang diambil dan dilepaskan eolh hati dan yang digunakan oleh jaringan-jaringan perifer tergantung dari keseimbangan fisiologis beberapa hormon. Hormon-hormon ini dapat diklasifikasikan sebagai hormon yang merendahkan kadar glukosa darah dan hormon yangmeningkatkan kadar glukosa darah. Insulin merupajan hormon yang menurunkan glukosa darah. Insulin dibentuk oleh sel-sel beta pulau langerhans pankreas. Sebaliknya ada beberapa hormon tertentu yang dapat

meningkatkan kadar glukosa darah antara lain ; glukagon yang disekresi oleh sel-sel alfa pulau langerhans, epinefrin yang disekresi oleh medula adrenal dan jaringan kromafin, glukokortikoid yang disekresi oleh korteks adrenal dan growth hormone yang disekresi oleh kelenjar hipolisis anterior. Glukagon, epinefrin, glukokortikoid dan growth hormone, membentuk suatu mekanisme counter-regulator yang mencegah timbulnya hipoglikemia akibat pengaruh insulin.

3. Patofisiologi Insulin dihasilkan oleh kelenjar pankreas yang dibutuhkan untuk pemanfaatan glukosa sebagai bahan energi seluler dan diperlukan untuk metabolisme karbohidrat proten dan lemak. Insulin membantu tramnsportasi glukosa ke dalam sel dan membantu pergerakan senyawa-senyawa keton ke dalam sel sebagai sumber energi sekunder. Apabila tidak dihasilkan maka akan mengalami gangguan metabolisme karbohidrat, protein dan lemak. Yang mana tanpa insulin glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel dan tetap dalam kompartemen vaskuler yang kemudian terjadilah hiperglikemia dngan dmikian akan meningkatkan konsentrasi osmotik dalam diuresis darah. yang Terjadinya kemudian

hiperglikemi

akan

menyebabkan

menimbulkan perpindahan cairan tubuh dari rongga intraseluler ke dalam rongga interstisial kemudian ke ekstrasel. Terjadinya osmotik diuretik menyebabkan banyaknya cairan yang hilang melalui urine (polyuria) sehingga sel akan kekurangan cairan dan muncul gejala polydipsia (kehausan). Terjadinya polyuria mengakibatkan hilangnya cairan berlebihan potasium dan sodium terjadi gangguan elektrolit. Dengan tidak adanya glukosa yang mencapai sel, maka sel akan mengalami “starvation” (kekurangan makanan atau kelaparan) sehingga menimbulkan gejala polyhagia (kelaparan secara berlebihan atau makan secara berlebihan) fatique dan berat badan menurun.

Dengan adanya peningkatan glukosa dalam darah, glukosa tidak dapat difiltrasi oleh glomerolus karena melebihi ambang renal sehingga menyebabkan lolos dalam urine yang disebut sebagai glikosuria. Pada ketoasidosis, muncul karena sel tidak meperoleh glukosa untuk metabolisme seluler oleh karena tidak adanya insulin. Dengan demikian untuk

memperoleh energi maka lemak di pecah menjadi asam lemak dan gliserol yang kemudian oleh hati dipecah lagi menjadi asam lemak dan gliserol yang kemudian oleh hati dipecah lagi menjadi benda-benda keton. Dan apabila berlebihan muncul sebagai ketonuria.

Etiologi Diabetes Tipe I Diabetes Tipe I ditandai oleh penghancuran sel-sel beta pankreas. Kombinasi faktor genetic, imunologi dan mungkin pula lingkungan (misalnya, infeksi virus) diperkirakan turut menimbulkan destruksi sel beta. Faktor-faktor genetik Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes Tipe I itu sendiri; tetapi, mewarisi suatu prediposisi atau kecenderungan genetik, ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA (human leucocyte antigen) tertentu. HLA merupakan kumpulan gen yang bertanggung jawab atas antigen transplantasi dan proses imun lainnya. Sembilan puluh lima persen pasien berkulit putih. (Caucasian) dengan diabetes tipe I memperlihatkan tipe HLA yang spesifik (DR3 atau DR4). Risiko terjadinya diabetes tipe I meningkat tiga hingga lima kali lipat pada individu yang memiliki tipa HLA DR3 maupun DR4 (jika dibandingkan dengan populasi umum). Faktor-faktor imunologi. Pada diabetes tipe I terdapat bukti adanya suatu respons otoimun. Respon ini merupakan respona abnormal di mana antibody terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolaholah sebagai jaringan asing. Otoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen (internal) terdeteksi pada saat diagnosis dibuat dan bahkan

beberapa tahun sebelum timbulnya tanda-tanda klinis diabetes tipe I. Riset dilakukan untuk mengevaluasi efek preparat imunosupresif terhadap terhadap perkembangan penyakit pada pasien diabetes tipe I yang baru terdiagnosis atau pada pasien pradiabetes (pasien dengan antibody yang terdeteksi tetapi tidak memperlihatkan gejala klinis diabetes). Riset lainnya menyelidiki efek protektif yang ditimbulkan insulin dengan dosis kecil terhadap fungsi sel beta. Faktor-faktor lingkungan Penyelidikan juga sedang dilakukan terhadap kemungkinan faktor-faktor eksternal yang dapat memicu destruksi sel beta. Sebagai contoh, hasil penyelidikan yang menyatakan bahwa virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi sel beta. Interaksi antara faktor-faktor genetik, imunologi dan lingkungan dalam etiologi diabetes tipe I merupakan pokok perhatian riset yang terus berlanjut. Meskipun kejadian yang menimbulkan destruksi sel beta tidak dimengerti sepenuhnya, namun pernyataan dapat diterima. Diabetes Tipe II Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui. Faktor genetik diperkirakan memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin. Selain itu terdapat pula faktor-faktor risko tertentu yang berhubungan dengan proses terjadinya diabetes tipe II. Faktor-faktor ini adalah : 2. Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 tahun) 3. Obesitas 4. Riwayat keluarga 5. Kelompok etnik (di Amerika Serikat, golongan Hispanik serta penduduk asli Amerika tertentu memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk terjadinya diabetes tipe II dibandingkan dengan golongan Afro-Amerika). bahwa kerentanan genetik merupakan faktor dasar yang melandasi proses terjadinya diabetes tipe I merupakan hal yang secara umum

Manifestasi Klinis

Hiperglikemi : polyuria, polydipsia, polyhapgia, fatique, dan kelemahan otot, berat badan menurun, mata kabur, glycosuria, ketonuria, pernafasan kusmaul dapat berlanjut dengan penurunan kesadaran. Hipoglikemi : Tremor, dan palpitasi, diaphoesis (berkeringat banyak) kecemasan, lapar, pucat, pusing kepala, berlanjut pada menurunnya keasadaran dan kejang. Komplikasi 1. Akut a.Koma hipoglikemia b.Ketoasidosis c.Koma hiperosmolar non ketotik

2.

Kronik a. Makroangiopati, mengenai pembuluh darah besar, ,pembuluh darah jantung, pembuluh darah tepi, pembuluh darah otak. b. Mikroangiopati, mengenai pembuluh darah kecil, retinopati diabetik, nefropati diabetik. c. d. Neuropati diabetik Rentang injeksi , seperti tuberkulosis paru, gingivitis dan infeksi saluran kemih e. Kaki diabetik

4. Pemeriksaan Diagnostik     Gula darah puasa (> 120 mg/dl) dan gula darah sewaktu Glycosuria, polyuria dan ketonuria Riwayat hilangnya berat badan Manifestasi asidosis metabolik

Bila ketoasidosis, hiperglikemia (glukosa darah > 330 mg/dl). Ketonemia (positif) asidosis (pH < 4,70 ) dan karbohidrat < 15 mmol/L.

Kaji adanya edema serebral karena DKA.

Penatalaksanaan 2. 3. 4. 5. Terapi insulin Diit Latihan Monitor glukosa darah

B.

Konsep Asuhan Keperawatan 1.Pengkajian Data Dasar Pengkajian Pasien Aktivitas / Istirahat Gejala : Lemah, letih, sulit bergerak/ berjalan, kram otot, tonus otot menurun Tanda : Takikardia, letargi/ disorientasi, koma, penurunan kekuatan otot Sirkuasi Gejala : Adanya riwayat hipertensi, ulkus pada kaki, kesemutan pada ekstremitas Tanda : Takikardia, nadi yang menurun, disritmia, perubahan tekanan darah Integritas ego Gejala Tanda : stress, tergantung pada orang lain : Ansietas, peka rangsang Eliminasi

Gejala

: Perubahan pola berkemih (poliuria), nokturia, rasa nyeri/ terbakar, nyeri tekan abdomen, diare.

Tanda

: urine encer, pucat, kuning, poliuri, abdomen keras, adanya asites, bising usus lemah dan menurun, hiperaktif. Makanan dan cairan

Gejala

: Hilang nafsu makan, mual, muntah, tidak mengikuti diet, haus.

Tanda

: Kulit kering, turgor jelek, distensi/ kekakuan abdomen, muntah.

Neurosensori : Gejala : Pusing/ pening, sakit kepala, gangguan penglihatan, kesemutan. Tanda : Mengantuk, letargi, gangguan memori, kacau mental, aktivitas kejang. Nyeri / kenyamanan Gejala Tanda : Abdomen nyeri/ tegang (sedang/berat) : Wajah meringis dengan palpitasi Pernafasan : Gejala Tanda Keamanan Gejala Tanda : Kulit kering, gatal, ulkus rusak : Demam, diaforesis, lesi, kulit rusak Seksualitas Gejala : Rabas vagina, masalah impoten pada pria : Merasa kekurangan oksigen, batuk dengan /tanpa sputum : Lapar udara, batuk dengan/ tanpa sputum purulen.

2.Diagnosa Keperawatan

a. b.

Kekurangan cairan berhubungan dengan diuresis osmotik Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakcukupan insulin.

c. d.

Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan perubahan sirkulasi Resiko tinggi terhadap perubahan sensori-perseptual berhubungan dengan ketidakseimbangan glukosa/ insulin.

e. f. g.

Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik Ketidakberdayaan berhubungan dengan penyakit jangka panjang. Kurang pengetahuan mengenai penyakit berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi.

3.Perencaan Keperawatan Adapun rencana keperawatan yang dibuat berkaitan dengan diagnosa keperawatan yang timbul antara lain : DP I d. Dapatkan riwayat pasien/ orang terdekat sehubungan dengan lamanya/ intensitas dari gejala seperti muntah. R : Membantu dalam memperkiranan kekurangan voluem total. e. Pantau tanda-tanda vital : R : Hipovolemia dapat dimanifestasikan oleh hipotensi dan takikardia. f. Pantau masukan dan pengeluaran, catat baut jenis urine R : Memberikan perkirakan kebutuhan akan cairan pengganti, fungsi ginjal, dan keefektifan dari terapi yang diberikan. g. Tingkatkan lingkungan yang dapat menimbulkna rasa nyaman R : Menghindari pemanasan yang berlebih terhadap pasien lebih lanjut akan dapat menimbulkan kehilangan cairan. DP II

a.

Tentukan program diet dan pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan yang dapat dihabiskan pasien. R : Mengidentifikasi kekurangan dan penyimpangan dari kebuuhan terapeutik

b.

Identifikasi makanan yang disukai/ dikehendaki termasuk kebutuhan etnik/ kultural. R : Jika makanan yang disukai pasien dapat dimasukkan dalam

perencnaaan makan, kerja sama ini dapat diupayakan setelah pulang. c. Libatkan keluarga pasien pada perencanaan makan ini sesuai dengan indikasi R : Meningkatkan rasa keterlibatannya, memberikan informasi pada keluarga untuk memahami kebutuhan nutrisi pasien. d. Berikan pengobatan insulin secara teratur dengan metode IV secara intermiten atau secara kontinyu R : Insulin reguler memiliki awitan cepat dan karenanya dengan cepat pula dapat membantu memindahkan glukosa ke dalam sel.

DP III a. Observasi tanda-tanda injeksi dan peradangan, seperti emam, kemerahan,

adanya pus pada luka, sputum purulen, ,urine warna keruh atau berkabut. R : Pasien mungkin masuk dengan infeksi yang biasanya telah

amencetuskan keadaan ketoasidosis atau dapat mengalami infeksi nasokomial. b. Tingkatkan upaya pencegahan dengan pasien termasuk pasiennya sendiri. R : Mencegah timbulnya infeksi silang. c. Berikan perawatan kulit dengan teratur dan sungguh-sungguh, jaga kulit

tetap kering, lien kering dan tetap kencang.

R :

Sirkulasi perifer bisa terganggu yang menempatkan pasien pada

peningkatan resiko terjadinya kerusakan pada kulit/ iritasi kulit dan infeksi. DP IV a. Pantau tanda-tanda vital dan status mental R : Sebagai dasar untuk membandingkan temuan abnomal, seperti suhu yang meningkat dapat mempengaruhi fungsi mental. b. paha/ kaki. R : Neuropati perifer dapat mengakibatkan rasa tidak nyaman yang berat, kehilangan sensasi sentuhan/ distorsi yang mempunyai resiko tinggi terhadap kerusakan kulit dan gangguan keseimbangan. c. Bantu pasien dalam ambulansi atau perubahan posisi R : Meningkatkan keamanan pasien terutama ketika rasa keseimbangan dipengaruhi. DP V a..........................Diskusikan dengan pasien kebutuhan aktivitas R : Pendidikan dapat memberikan motivasi untuk meningkatkan tingkat aktivitas meskipun pasien mungkin sangat lemah. b.Diskusikan cara menghemat kelori selama mandi, berpindah tempat dan sebagainya R : Pasien akan dapat melakukan lebih banyak kegiatan dengan Selidiki adanya keluahn parestesia, nyeri atau kehilangan sensori pada

penurunan kebutuhan akan energi pada setiap kegiatan. DP VI a. Kaji bagaimana pasien telah menangani masalahnya di masa lalu

R : Pengetahuan gaya individu membantu untuk menentukan kebutuhan terhadap tujuan penanganan. b. terdekat. R : Tenaga dan pikiran yang konstan diperlukan untuk mengendalikan diabetik yang seringkali memindahkan fokus hubungan. DP VII a. Ciptakan lingkungan saling percaya dengan mendengarkan penuh Tentukan apakah ada perubahan yang berhubungan dengan orang

perhatian dan selalu ada untuk pasien. R : Menanggapi dan memperhatikan perlu diciptakan sebelum pasien bersedia mengambil bagian dalam proses belajar. b. Tinjau ulang pengaruh rokok pada pengguna insulin.

R : Nikotin mengkonstriksi pembuluh darah kecil dan absorbsi insulin diperhatikan selama pembuluh darah ini mengalami konstriksi. c. Rekomendasikan untuk tidak menggunakan obat yang dijual bebas

tanpa konsultasi dengan tenaga kesehatan/ tidak boleh memakai obat tanpa resep. R : Produktivitas mungkin mengandung gula atau berinteraki dengan oatobat yang diresepkan.

4.Implementasi Pada tahap ini dilakukan pelaksanaan dari perencanaan yang telah ditentukan, dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan klien secara optimal. Pelaksanaan adalah melaksanakan tindakan keperawatan berdasarkan rencana keperawatan yang telah disusun.

5.Evaluasi 1. Mendemontrasikan hidrasi adekuat dibuktikan oleh tanda vital stabil, nadi perifer dapat diraba, turgor kulit dan pengisian kapiler baik, haluaran urine tepat secara individu dan kadar elektrolit dalam batas normal. 2. Mencerna jumlah kalori/ nutrien yang tepat, menunjukkan tingkat energi biasanya 3. Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/ menurunkan resiko infeksi. Mendemonstrasikan teknik, perubahan gaya hidup untuk mencegah terjadinya infeksi. 4. Mengungkapkan peningkatan tingkat energi Menunjukkan perbaikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan 5. Mengakui perasaan putus asa Mengidentifikasi cara-cara sehat untuk menghadapi perasaan. 6. Mengidentifikasi hubungan tanda/gejala dengan proses penyakit dan menghubungkan gejala dengan faktor penyebab. Dengan benar melakukan prosedur yang peru dan menjelaskan rasional tindakan.

6.Discharge Planning 1.Berikan penjelasan secara lisan dan tulisan tentang perawatan dan pengobatan yang diberikan. 2.Ajarkan dan evaluasi untuk mengenal gejala syok dan asidosis diabetik dan penanganan kedaruatan. 3.Simulasikan cara pemberian terapi insulin mulai dari persiapan alat sampai penyuntikan dan lokasi. 4.Ajarkan memonitor atau memeriksa glukosa darah dan glukosa dalam urine 5.Perencanaan diit buat jadwal 6.Perencanaan latihan, jelaskan dampak latihan dengan diabetik. 7.Ajarkan bagaimana untuk mencegah hiperglikemia dan hipoglikemi dan informasikan gejala-gejala yang muncul dari keduanya. 8.Jelaskan komplikasi yang mungkin timbul 9.Ajarkan mencegah infeksi, kebersihan kaki, hindari perlukaan pada kuit gunakan pengalas kaki yang lembut dan gunakan sikat gigi yang lunak.

PATOFLOW DIAGRAM

Kekurangan insulin Gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein Menurunkan penggunaan laktosa oleh sel Meningkatnya lipolisis Hiperglikemi Oksidasi asam lemak meningkat Glikosuria dengan osmotik diuresis Glucogenesis dalam hati dan otot meningkat

MK : gangguan nutrisi

Osmolalitas cairan ekstrasel meningkat Ketonemia Ketonuria Asidosis metabolik Menurunnya perfusi Menurunnya eksresi H+ pada renal Hilangnya cairan dan elektrolit Ketoasidosis dalam urine Hilangnya cairan dari intrasel Defisit natrium dan kalium Dehidrasi

Mual dan muntah Hipertensi

HASIL LABORATORIUM Nama / Umur : Tn “Y” / 65 thn Ruang/ kamar : Lukas II/ 23-2 Tgl : 3 April jam 11.15 Jenis Pemeriksaan Darah Rutin Hemoglobin Darah khusus Hematokrit Gol. Darah Rhesus faktor Kimia Darah Faal Ginjal Ureum Creatinie serum Gula darah Hb AIC/ Glikohemoglobin BSS Tgl Urinalisa Microalbumin 200 Mg/dl < 60 : 4 April jam 08.54 95 185 % mg/dl 4.5-6.3 70-110 16 0,9 mg/dl mg/dl 10-50 0,6-1,5 33 “A” positif % 40-48 10,7 g/dl 13,0-18,0

Reg No : 0704150 Result (Hasil ) Out of range With in range Satuan Unit Nilai Rujukan

Tgl : 4 April jam 12.11 Kimia Darah Faal Ginjal SGOT/ ASAT SGPT/ ALAT Lemak Cholesterol total Trygliserida LDL cholesterol 217 161 158 mg/dl mg/dl mg/dl 150-200 < 200 108-188 15 10 u/dl u/dl 10-34 9-43

HDL cholesterol Lipid total PATOFLOW KASUS

27 805

mg/dl mg/dl

41-59 450-1000

DIABETES MELITUS Angiopati Pembuluh darah besar Penyakit makrovaskler Pembuluh darah kecil Arteri kecil Arteriol Penyakit mikrovaskuler Otonom Neuropati Sensoris Motoris

Penurunan presipitasi sensori Hilang

Atrofi otot

Ganggren dengan area Perubahan kulit atrofi kecil Trombosis dengan aklusi pembuluh darah besar

Trauma tak terasa nyeri

Perubahan tulang

Ulserasi

Amputasi minor Infeksi

Kulit kering pecah fisura

Mekanik khemis termal

Deformitas Perubahan kaki cara berjalan

MK : gangguan pemenuhan aktivitas

Infeksi Ulserasi Tittik Tekanan baru

Infeksi

Ganggren luas

Ganggren dengan luas sedang

Amputasi

MK : Kerusakan Integritas kulit

2.

Data Objektif Observasi Ekspresi wajah mengantuk Banyak menguap Palpebrac inferior berwarna gelap : Positif : Negatif : Negatif

VI.

KAJIAN POLA PERSEPSI DAN KOGNITIF a.Data Subjektif  Keadaan sebelum sakit Klien mengatakan tidak ada masalah dalam berkonsentrasi atau daya ingat. Tidak menggunakan alat bantu pendengaran, menggunakan kaca mata, mengerti dan mengetahui bila mempunyai penyakit diabetes melitus dan bila sakit selalu berobat ke dokter.  Keadaan sejak sakit Klien mengatakan tidak ada perubahan dalam berkonsentrasi atau daya ingat baik, mengerti dan mengetahui dirawat di RS. RK. Charitas karena penyakit DM. b. 1. Data Objektif Observasi Klien menggunakan kaca mata tidak menggunakan alat bantu pendengaran, pada saat ditanya klien mampu menjawab pertanyaan, berkonsentrasi dan mengingat dengan baik, klien berbicara singkat dan jelas. 2. Pemeriksaan Fisik  Penglihatan       Cornea Visus Pupil Lensa mata : Tidak ada strobismus : Penglihatan kabur : Isokor, Kiri dan kanan sama 3 mm : Jernih

Tekanan intra ocular (TIO) : Kiri dan kanan teraba sama

Pendengaran

    

Pina Canalis

: Simetris kiri dan kanan : Tidak ada serumen

Membran Tympani : utuh tidak ada robekan Tes pendengaran : Dapat mendengar suara perawat

Pengenalan rasa posisi pada gerakan lengan dan tungkai : Mampu merasakan gesekan waslap NI N II N V Sensorik N VII Sensorik N VIII Pendengaran Tes romberg : Klien mampu menghidu bau minyak kayu putih : Dapat membaca dengan jarak 1 m : Klien mampu mengunyah : Klien mampu menjulurkan lidah : Klien mampu mendengar gesekan jari perawat : Klien mampu mengangkat satu kaki selama 1 menit

   

VII.

KAJIAN POLA PERSEPSI DAN KONSEP DIRI Keadaan sebelum sakit Klien mengatakan menyadari dirinya seorang laki-laki dan berperan sebagai suami dan bapak bagi anak-anaknya, tidak pernah merasa putus asa, tidak mempunyai kelainan bawaan.

Data Subjektif 

Keadaan sejak sakit Klien mengatakan badan terasa lemah, tidak berdaya dan tidak dapat melakukan apa-apa, cemas karena harus meninggalkan keluarganya. Data Objektif 1. Observasi    Kontak mata Rentang perhatian : Langsung : penuh

Suara dan cara berbicara : Jelas dan lancar

Postur tubuh

: Simetris

2. Pemeriksaan Fisik   Kelainan bawaan yang nyata : Tidak ditemukan Abdomen Bentuk Bayangan vena Benjolan massa  Kulit : simetris : tidak ditemukan : tidak ditemukan

Lesi kulit : ditemukan gangren di kaki kiri bagian jari manis dan kelingking

KAJIAN POLA PERAN DAN HUBUNGAN SESAMA Data Subjektif  Keadaan sebelum sakit Klien mengatakan sudah berkeluarga dan mempunyai 5 orang anak perempuan, perannya dalam keluarga sebagai suami dan ayah bagi anak-anaknya. Klien tampak serumah dengan istrinya dan anaknya, hubngan dengan keluarga maupun orang disekitarnya baik. Keadaan sejak sakit Klien mengatakan tidak ada gangguan dalam hubungannya baik dengan keluarga maupun dengan orang di sekitarnya, keluarga sangat mencemaskan keadaannya. Data Objektif 1. Observasi Klien tampak selalu dikunjungi dan dijaga oleh keluarganya, keluarga selalu memberi motivasi dalam pengobatannya. IX. KAJIAN POLA REPRODUKSI – SEKSUALITAS a. Data Subjektif  Keadaan sebelum sakit Klien mengatakan tidak ada gangguan dalam reproduksi dan mempunyai 5 oarng anak.  Keadaan sejak sakit

Klien mengatakan tidak ada gangguan dalam reproduksiseksualitas b. Data Objektif 1. - seksualitas X. KAJIAN MEKANISME KOPING DAN TOLERANSI TERHADAP STRESS a.  Data Subjektif Keadaan sebelum sakit Klien mengatakan bahwa klien dapat mengontrol dirinya jika mendapat suatu masalah, klien selalu cerita kepada istrinya pemecahan masalah bila bukan dengan musyawarah keluarga.  Keadaan sejak sakit Klien mengatakan tidak ada keluhan dengan keluarga, klien tidak menyangkal bila mempunyai riwayat diabetes melitus. Observasi Tidak ada keluhan klien yang mengarah pada sistem reproduksi

b.

Data Objektif Ekspresi wajah klien tenang

1. Observasi

2. Pemeriksaan Fisik  Tekanan darah : Berbaring : Duduk Berdiri  Kulit : Keringat dingin Basah : : 130/90 130/90 mmHg mmHg mmHg

: Tidak ditemukan : Tidak ditemukan

XI. KAJIAN SISTEM NILAI KEPERCAYAAN a.  Data Subjektif Keadaan sebelum sakit Klien mengatakan kepercayaan yang dianutnya adalah agam Khatolik sebagai pedoman hidupnya, klien mengatakan selalu berdoa baik di rumah maupun di gereja.

Keadaan sejak sakit Klien mengatakan sejak sakit klien tidak pergi ke Gereja, klien selalu berdoa bersama keluarganya. b. Data Objektif 1. Observasi Selama dirawat klien berdoa dibantu keluarganya. DAFTAR OBAT YANG DIBERIKAN PADA PASIEN Nama Obat Klasifikasi obat Dosis umum : Ciprofloxacin : Antibiotik : Infeksi saluran kemih ringan sampai sedang 2 x 250 mg sehari Berat : 2 x 500 mg sehari Infeksi saluran pernafasan ringan sampai sedang; 2x500 mg/hari Berat : 2 x 750 mg/hari Prostatitis kronis : 2 x 500 mg/hari Infeksi saluran cerna : 2 x 500 mg/hari Gonore akut : dosis tunggal : 250 mg/hari Dosis untuk klien Mekanisme kerja Kontra indikasi Efek samping : 2 x 500 mg. PC : Mempengaruhi enzim DNA gyrase bakteri : Wanita hamil dan menyusui Anak-anak dibawah usia 12 thn : Mual, muntah, ,diare, kemerahan pada kuit, gagal ginjal, hepatitis, takikardia, nyeri sendi, leukositosis. Cara Pemberian obat : Oral

Nama Obat Dosis umum Dosis untuk klien Mekanisme kerja Indikasi Kontra indikasi Efek samping

: Actrapid : Harus sesuai dengan instruksi dokter : 3 x 10 iV : Injeksi SC : Pasien diabetes melitus : Hypoglycaemia : Ruam kulit, gatal, berkeringat, gangguan gastrointestinal.

ANALISA DATA

DP 1.

DATA DS : Klien mengatakan - tidak nafsu makan ut terasa penuh dah terasa pahit DO : en makan habis ¼ porsi en tampak lemah dan lesu V TD : 130/ 90 mmHg N : 84 x/mnt P : 18 x/mnt S : 37 0 C : 66 kg TB : 165 cm dah kotor

Etiologi Ketidakcukupan insulin dalam tubuh Per Li

Masalah Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan

Kli Kli TT

BB Kelemahan fisik Li Gangguan pemenuhan aktivitas sehari-hari

2.

DS : Klien mengatakan Ba dan lemah, lesu Ti dak mampu beraktivitas biasa DO : Ke adaan umum klien lemah Ek spres wajah klien tampak lesu

nda vital : TD : 130/ 90 mmHg N : 84 x/mnt P : 18 x/mnt S : 37 0 C

Ta

ANALISA DATA

DP 3.

DATA DS : Klien mengatakan K aki kiri sering kesemutan Lu ka di kaki kiri lama sembuh DO : Ta mpak gangren di kaki kiri Ga nggren di kaki kiri belum kering La b , BSS : 185 mg/dl

Etiologi Peningkatan kadar gula

Masalah Kerusakan integritas kulit : gangren

DIAGNOSA KEPERAWATAN Nama / Umur Ruang / kamar No 1. : Tn “Y”/ 65 thn : Pav Lukas II / 23-2 Nama Jelas Rotua Purba

Diagnosa Keperawatan Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ketidakcukupan insulin di dalam tubuh DS : Klien mengatakan - tidak nafsu makan DO : porsi lesu TD : 130/ 90 mmHg N : 84 x/mnt P : 18 x/mnt S : 37 0 C TB : 165 cm

Perut terasa penuh Lidah terasa pahit Klien makan habis ¼ Klien tampak lemah dan TTV

BB : 66 kg

2.

Lidah kotor Rotua Purba

Gangguan pemenuhan aktibitas sehari-hari berhubungan dengan kelemahan fisik DS : Klien mengatakan beraktivitas biasa DO : lemah tampak lesu TD : 130/ 90 mmHg N : 84 x/mnt P : 18 x/mnt S : 37 0 C Badan lemah, lesu Tidak mampu Keadaan umum klien Ekspres wajah klien Tanda vital :

DIAGNOSA KEPERAWATAN Nama / Umur Ruang / kamar No 1. : Tn “Y”/ 65 thn : Pav Lukas II / 23-2 Nama Jelas Rotua Purba

Diagnosa Keperawatan Kerusakan integritas kulit : ganggren berhubungan dengan peningkatan kadar gula DS : Klien mengatakan kesemutan sembuh DO : kiri belum kering Kaki kiri sering Luka di kaki kiri lama

Tampak gangren di kaki Ganggren di kaki kiri Lab , BSS : 185 mg/dl

RENCANA KEPERAWATAN No I Diagnosa Perawatan Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ketidakcukupan insulin di dalam tubuh DS : Klien mengatakan - tidak nafsu makan Perut terasa penuh Lidah terasa pahit DO : Klien makan habis ¼ porsi Klien tampak lemah dan lesu TTV TD : 130/ 90 mmHg N : 84 x/mnt P : 18 x/mnt S : 37 0 C Hasil yang diharapkan Tujuan dalam waktu 3x24 jam kebutuhan nutrisi terpenuhi. Dengan kriteria hasil - Keadaan umum klien membaik - Klien dapat menghabiskan porsi makan yang diberikan - Tidak terjadi penurunan berat badan - TTV dalam batas normal TD : 110/70-130/90 mmHg N : 78-90 x/mnt P : 14-20 x/mnt S : 36.5 – 37.2 0 C Rencana Tindakan 1. 2. 3. 4. Kaji status nutrisi Observasi tanda-tanda vital Anjurkan klien untuk mengikuti dan mentaati program diet Anjurkan klien untuk mengkonsumsi makanan dari rumah sakit Libatkan keluarga klien dalam merencanakan menu makanan sesuai indikasi Rasionalisasi 1. Dengan mengkaji status nutrisi klien, maka akan diketahui pemasukan kebutuhan nutrisi 2. Untuk mengetahui perubahan keadaan umum klien 3. Untuk membantu proses kesembuhan melalui diet yang diberikan 4. Untuk mencegah terjadinya gejala hiperglikemi yang diakibatkan tidak terkontrolnya jumlah kalori pada makanan bebas/ di luar RS. 5. Untuk meningkatkan rasa keterlibatan keluarga dan memberikan informasi pada keluarga untuk memahami kebutuhan nutrisi pasien sebagai metode untuk perencanaan diet antara lain pergantian daftar menu, perhitungan kalori. . Nama Rotua Purba

5.

BB : 66 kg TB : 165 cm Lidah kotor

RENCANA KEPERAWATAN No Diagnosa Perawatan Hasil yang diharapkan Rencana Tindakan Rasionalisasi Nama

2

Gangguan pemenuhan aktibitas sehari-hari berhubungan dengan kelemahan fisik DS : Klien mengatakan Badan lemah, lesu Tidak mampu beraktivitas biasa DO : Keadaan umum klien lemah Ekspres wajah klien tampak lesu Tanda vital : TD : 130/ 90 mmHg N : 84 x/mnt P : 18 x/mnt S : 37 0 C BB : 66 kg TB : 165 cm

Tujuan dalam waktu 2x24 jam keadaan umum klien membaik Dengan kriteria hasil : - Klien beraktivitas sesuai dengan kemampuannya - TTV dalam batas normal TD : 110/70-130/90 mmHg N : 78-90 x/mnt P : 14-20 x/mnt S : 36.5 – 37.2 0 C - Berat badan seimbang

1. Kaji aktivitas klien dan 1. Untuk mengetahui tingkat toleransi kemampuan aktivitas kemampuan aktivitas 2. Observasi tanda-tanda vital 2. Untuk mengetahui keadaan umum klien 3. Anjurkan aktivitas alternatif 3. Mencegah kelelahan yang dan istirahat yang cukup berlebihan yang dapat memicu higlikemi 4. Anjurkan klien melakukan 4. Menurunkan kebutuhan aktivitas secara bertahap energi di setiap kegiatan sesuai kemampuan klien 5. Libatkan keluarga untuk 5. Mendampingi dan membantu aktivitas klien membantu motivasi klien untuk beraktivitas.

Rotua Purba

RENCANA KEPERAWATAN

No 3

Hasil yang diharapkan Tujuan dalam waktu 3x24 jam integritas kulit membaik Dengan kriteria hasil DS : Klien mengatakan - Daerah luka kering - Kaki kiri sering kesemutan - Luka tidak bau - Luka di kaki kiri lama sembuh - Tanda-tanda vital dalam batas normal DO : TD : 110/70-130/90 Tampak gangren di kaki kiri mmHg Ganggren di kaki kiri belum N : 78-90 x/mnt kering P : 14-20 x/mnt Lab , BSS : 185 mg/dl S : 36.5 – 37.2 0 C - BSS dalam batas normal (70-110 mg/dl)

Diagnosa Perawatan Kerusakan integritas kulit : ganggren berhubungan dengan peningkatan kadar gula

Rencana Tindakan 1. Kaji keadaan kulit, tanda peradangan, perubahan warna kulit kemerahan pada kulit, kesemutan, ganggren Observasi tanda-tanda vital dan suhu kulit dan kaki Anjurkan klien untuk menjaga kulit agar tetap bersih Anjurkan klien untuk mengusahakan agar kaki tetap kering Lakukan perawatan luka, ganti balut (ganggren) dengan teknik steril Libatkan keluarga untuk membantu mempertahankan kesehatan klien 1.

Rasionalisasi Mengetahui adanya tingkat peradangan dan infeksi, perubahan sensorik pada ekstremitas bawah. Untuk mengetahui keadaan umum klien dan adanya proses peradangan pada kaki Mengurangi bertambahnya bibit penyakit yang dapat memicu infeksi. Kulit basah dan lembab dapat menambah berkembangnya infeksi pada luka Mencegah terjadinya infeksi lebih lanjut Memotivasi klien untuk mengikuti dan mentaati tindakan keperawatan

Nama Rotua Purba

2. 3. 4. 5. 6.

2. 3. 4. 5. 6.

PELAKSANAAN KEPERAWATAN

Nama / Umur Ruang / kamar Tgl 3-4-07 DP II

: Tn “Y”/ 65 thn : Pav Lukas II / 23-2 Waktu 07.00 Pelaksanaan Keperawatan Klien personal hygiene dibantu perawat, alat tenun klien dirapikan, keadaan umum klien masih lemah. 08.00 Klien makan habis ¼ porsi Klien mendapatkan obat oral Ciprofloxacine 2x500 mg Klien ganti balut dengan salep Salicil zalf dan levertran zalf menganjurkan klien agar kulit tetap kering 09.00 Klien mendapatkan injeksi SC insulin 10 strip (Actrapid) Klien mendapatkan bubur kacang hijau. Menganjurkan klien untuk mengikuti dan mentaati program diet. Nama Jelas Rotua Purba

III

08.30

I

10.00

II

11.00

Klien diukur tanda-tanda vital : TD : 130/90 mmHg. Klien istirahat, tetesan infus lancar Asering 2 20 tts/mnt di tangan kiri.

I

12.00

Melibatkan keluarga klien unutk memotivasi klien mengkonsumsi makanan dari RS. Klien makan habis ¼ porsi.

I,II, III

13.00

Klien istirahat tirah baring, keadaan umum klien masih lemah, aktivitas klien dibantu keluarga TD : 130/90 mmHg, klien mengatakan tidak nafsu makan, lidah terasa pahit, lidah tampak kotor, klien makan habis ¼ porsi

PELAKSANAAN KEPERAWATAN

Nama / Umur Ruang / kamar Tgl 4-4-07 DP II

: Tn “Y”/ 65 thn : Pav Lukas II / 23-2 Waktu 07.00 Pelaksanaan Keperawatan Klien personal hygiene dibantu keluarga, alat tenun dirapikan, keadaan umum klien masih lemah. Menganjurkan aktivitas alternatif dan istirahat yang cukup Nama Jelas Rotua Purba

I III

08.00 08.30

Memotivasi klien untuk menghabiskan makanan. Klien makan habis ¼ porsi Klien mendapatkan obat oral Ciprofloxacine 2x500 mg Klien ganti balut dengan salep Salicil zalf dan levertran zalf menganjurkan klien agar kulit tetap bersih

09.00 II II 10.00 11.00

Klien mendapatkan injeksi SC insulin 10 strip (Actrapid) Menganjurkan klien untuk istirahat, keadaan umum klien masih lemah Klien diukur tanda-tanda vital : TD : 140/90 mmHg. infus Asering 4 20 tts/mnt di tangan kiri. Melibatkan keluarga klien untuk memotivasi klien mengkonsumsi makanan dari RS. Klien makan habis ¼ porsi.

11.30 II 12.00

Kolaborasi dengan timmedik dalam pemberian NaCl Klien mendapat transfusi darah “A” 500 cc, S : 36,5 0 C

PELAKSANAAN KEPERAWATAN

Nama / Umur Ruang / kamar Tgl 4-4-07 DP I I, II, III

: Tn “Y”/ 65 thn : Pav Lukas II / 23-2 Waktu 12.15 13.00 Pelaksanaan Keperawatan Menganjurkan klien untuk mengkonsumsi makanan dari RS. Klien makan habis ½ porsi. Keadaan umum klien masih lemah, klien istirahat, klien mengatakan tidak nafsu makan, aktivitas klien dibantu keluarga. : TD : 140/90 mmHg. S : 36,5 0 C . Klien mendapat transfusi darah “A” 500 cc luka (ganggren) masih belum kering, berwarna kehitaman. Nama Jelas Rotua Purba

5-4-07

II

07.00

Klien personal hygiene dibantu keluarga, alat tenun dirapikan, keadaan umum klien mulai membaik. Menganjurkan klien untuk aktivitas secara bertahap. Melibatkan keluarga untuk membantu aktivitas klien.

I III

08.00 08.30

Memotivasi klien untuk menghabiskan makanan. Klien makan habis ¾ porsi Klien mendapatkan obat oral Ciprofloxacine 2x500 mg Klien ganti balut dengan salep Salicil zalf dan levertran zalf menganjurkan klien agar kulit tetap bersih

09.00 I 10.00

Klien mendapatkan injeksi SC insulin 10 strip (Actrapid) Klien mendapatkan snack, keadan umum klien mulai membaik

PELAKSANAAN KEPERAWATAN Nama / Umur : Tn “Y”/ 65 thn

Ruang / kamar Tgl 5-4-07 DP II, III

: Pav Lukas II / 23-2 Waktu 11.00 Pelaksanaan Keperawatan Klien istirahat tirah baring, tanda-tanda vital : TD : 130/80 mmHg. infus Asering 7 di tangan kanan. Melibatkan keluarga klien untuk memantau mempertahankan kesehatan klien Nama Jelas Rotua Purba

I I, II, III

12.00 13.00

Memotivasi klien menghabiskan makanan dari RS. Klien makan habis 1 porsi. Keadaan umum mulai membaik, klien melakukan aktivitas masih dibantu keluarga. :TD : 130/80 mmHg. infus Asering 20 tts/mnt Klien istirahat. Luka (ganggren) masih belum kering, berwarna kehitaman. Nafsu makan klien mulai membaik

EVALUASI KEPERAWATAN Nama / Umur Ruang / kamar : Tn “Y”/ 65 thn : Pav Lukas II / 23-2

Tanggal 03/04/07

DP I

Waktu 13.00

Evaluasi ( S O A P) S : Klien mengatakan tidak nafsu makan lidah terasa pahit O : Lidah tampak kotor, klien makan habis ¼ porsi A : Kebutuhan nutrisi belum terpenuhi P : Diteruskan

Nama Jelas Rotua

II

13.00

S : Klien mengatakan badan lemah, lesu O : Keadaan umum klien masih lemah, aktivitas dibantu keluarga A : Pemenuhan aktivitas belum teratasi P : Diteruskan

Rotua

III

13.00

S : Klien mengatakan luka di kaki lama sembuh O : Ganggren di kaki belum kering A : Integritas kulit belum teratasi P : Diteruskan

Rotua

EVALUASI KEPERAWATAN Nama / Umur Ruang / kamar Tanggal DP : Tn “Y”/ 65 thn : Pav Lukas II / 23-2 Waktu Evaluasi ( S O A P) Nama Jelas

04/04/07

I

13.00

S : Klien mengatakan tidak nafsu makan O : klien makan habis ½ porsi A : Kebutuhan nutrisi belum terpenuhi P : Diteruskan

Rotua

II

13.00

S : Klien mengatakan badan masih lemah O : Keadaan umum klien masih lemah, aktivitas dibantu keluarga A : Pemenuhan aktivitas belum teratasi P : Diteruskan Rotua

III

13.00

S : Klien mengatakan luka di kaki belum sembuh O : Ganggren di kaki belum kering, berwarna kehitaman A : Integritas kulit belum teratasi P : Diteruskan

Rotua

EVALUASI KEPERAWATAN Nama / Umur Ruang / kamar Tanggal 05/04/07 DP I : Tn “Y”/ 65 thn : Pav Lukas II / 23-2 Waktu 13.00 Evaluasi ( S O A P) Nama Jelas S : Klien mengatakan nafsu makan mulai membaik Rotua O : klien makan habis 1 porsi A : Kebutuhan nutrisi terpenuhi P : Diteruskan II 13.00 S : Klien mengatakan badan mulai membaik O : Keadaan umum klien mulai membaik, aktivitas masih dibantu keluarga A : Pemenuhan aktivitas mulai teratasi P : Diteruskan III 13.00 S : Klien mengatakan luka di kaki belum sembuh O : Ganggren di kaki mulai kering, A : Integritas kulit mulai teratasi P : Diteruskan Rotua Rotua

BAB IV

PEMBAHASAN Pada bab ini penulis secara khusus membahas tentang pencapaian yang telah diperoleh setelah memberikan asuhan keperawatan pada Tn “Y” dengan gangguan sistem endokrin “ Diabetes Melitus”. Bab ini juga terdapat kesenjangan-kesenjangan yang terjadi dilihat dari konteks teori dan hasil penerapan secara nyata pada klien. Adapun pembahasan terhadap asuhan keperawatan pada Tn “Y” dengan gangguan sistem endokrin: Diabetes melitus adalah sebagai berikut : A. Pengkajian Pengkajian merupakan tahap awal dalam proses keperawatan. Dalam pengkajian penulis memperoleh data menggunakan metode wawancara, observasi

pemeriksaan fisik secara sistematik dan melihat data-data penunjang melalui catatan keperawatan dan status klien. Pada pengkajian secara teoritis ditemukan adanya takikardi, lemah, letih, polusi, abdomen keras, kulit kering, demam, lesi kulit rusak, sedangkan pada saat pengkajian langsung pada Tn “Y” yang ditentukan yaitu : lemah, kesemutan pada ekstremitas, abdomen tegang (nyerI0, hilang nafsu makan. B. Diagnosa Keperawatan Keperawatan Berdasarkan teori yang ada perumusan diagnosa keperawatan merupakan proses pemikiran melalui tanda dan gejala klinik menurut perbahan patofisiologi, respon klien maupun kelurga. Diagnosa keperawatan secara teoritis yang mungkin timbul pada kasus diabetes melitus : 1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik 2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakcukupan insulin. 3. Resiko tinggi terhadap injeksi berhubungan dengan perubahan pada sirkulasi 4. Resiko tinggi terhadap perubahan sensori-perseptual berhubungan dengan ketidakseimbangan glukosa / insulin.

5. Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik. 6. Ketidakberdayaan berhubungan dengan penyakit jangka panjang. 7. Kurang pengetahuan mengenai penyakit berhungan dengan tidak mengenal sumber informasi. Sedangkan diagnosa keperawatan ang ditemukan pada klien Tn “Y” adalah : 1. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ketidakcukupan insulin. 2. Gangguan pemenuhan aktivitas sehari0hari berhubungan dengan kelemahan fisik. 3. Kerusakan integritas kulit : ganggren berhubungan dengan peningkatan kadar gula. Dari data tersebut terlihat adanya beberapa diagnosa yang tidak muncul pada kasus yang nyata, hal ini disebabkan oleh respon klien yang berbeda-beda. C. Perencanaan Setelah merumuskan diagnosa keperawatan selanjutnya penulis menyusun perencanaan yang meliputi perumusan tujuan, penentuan kriteria hasil adn rencana tindakan dalam memberikan pedoman tindakan yang akan dilakukan untuk mengatasi masalah klien berdasarkan tinjauan teoritis yang sesuai dengan kondisi klien. Hal ini disebabkan karena tidak semua perencanaan dapat dilakukan.

D.

Pelaksanaan Pelaksanaan keperawatan merupakan perwujudan dari perencanaan keperawatan yang telah disusun. Di dalam pelaksananaan tindakan keperawatan penulis tidak bekerja sendiri melainkan bekerja bersama dengan perawat yang ada di ruangan, tim medis, dan juga keluarga klien, serta didukung dengan adanya fassilitas yang memadai. Pelaksanaan secara teoritis tidak dapat dijabarkan secara rutin sedankan dalam praktek pelaksanaannya tidak seluruhnya dapat dilaksanakan karena keterbatasan waktu yang ada namun dapat dikolaborasikan dengan perawat

ruangan yang merawat Tn “Y” untuk tindak lanjut sesuai rencana yang telah disusun sehingga diharapkan permasalahan kesehatan klien dapat segera teratasi.

E.

Evaluasi Merupakan alat untuk mengetahui perkembangan dan keberhasilan dalam melaksanakan asuhan keperawatan yang telah diberikan dengan demikian dapat ditentukan apakah perencanaan asuhan keperawatan pada klien Tn “Y” dengan Diabetes Melitus selama tiga hari dari tanggal 3-5 April 2007, yaitu : pada diagnosa gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan, gangguan pemenuhan aktivitas sehari-hari, kerusakan integritas kuilt; ganggren dari hasil pertama sampai hari ketiga belum teratasi hal ini disebabkan karena masalah tersebut kadang hilang timbul.

BAB IV PENUTUP

Setelah menguraikan pembahasan kasus pada klien Tn “Y” dengan gangguan sistem endokrin : Diabetes Melitus di Paviliun Lukas II RS. RK. Charitas Palembang, maka pada bab ini ditarik kesimpulan dan saran. A. Kesimpulan Setelah menganalisa kasus Tn “Y” denagn diabetes melitus maka penulis menarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Tanda dan gejala yang ditemukan secara langsung selama pengkajian ternyata tidak selalu sama bila dibandingkan dengan teori yang ada, hal ini dapat terjadi salah satunya karena adanya komplikasi dan berat ringannya kondisi klien. 2. Diagnosa keperawatan yang muncul secara teoritis dalam kenyataan belum tentu sama, hal ini terjadi karena respom setiap individu terhadap penyakit yang sama sangat berbeda-beda. 3. Penyakit diabetes melitus yang terjadi pada klien Tn “Y” disebabkan karena kadar gula dalam darah sangat tinggi sehingga sekresi insulin berkurang atau terhenti akibat hilangnya sel-sel beta. Untuk mengatasi terjadinya penyakit tersebut disusun rencana tindakan yang diantaranya menganjurkan klien mengkonsumsi makanan sesuai diit yang ditentukan. 4. Pada pelaksanaan tindakan keperawatan yang dilakukan pada klien Tn “Y” tidak seluruhnya dapat dilakukan selama 24 jam karena keterbatasan waktu penulis sehingga pelaksanaannya harus berkolaborasi dengan perawat ruangan.

B.

Saran Dari hasil kesimpulan penulis memberikan saran kepada perawat, klien dan keluarga antara lain : 1. Sebagai perawat harus memahami suatu penyakit dari sudut medik maupun keperawatan adalah hal yang mutlak sebelum berhadapan dengan kasus yang nyata seperti pengkajian untuk menemukan masalah dari tanda dan gejala

oleh sebab itu baik sekali bila perawat menumbuhkan minat baca untuk menambah wawasan. 2. Sebagai perawat harus mampu menemukan masalah-masalah yang sungguhsungguh terjadi pada klien untuk menegakkan suatu diagnosa keperawatan yang memerlukan penanganan segera. 3. Klien diharapkan dapat memahami dan melaksanakan anjuran dokter dan perawat untuk menghindari hal-hal yang dapat menyebabkan penyakitnya kambuh lagi seperti menghindari makanan yang manis. 4. Diharapkan perawat ruangan mau diajak kareja sama dalam melakukan tindakan keperawatan untuk bersama-sama membantu mengatasi masalah yang dihadapi klien

DAFTAR PUSTAKA

Barbara. C. Long. Perawatan Medikal Bedah, Bandung: Padjajaran, 1996.

Brunner dan Suddarth, Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8. Jakarta: EGC. 2001. Cambridge Communication Limited. Anatomi Fisiologi Kelenjar Endokrin dan Sistem Persarafan, Jakarta: EGC. 1996. Mansjoer Arif, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jilid I, Jakarta: Media Aesculapius. FKUI. 1982. Marilynn, E. Doenges. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3, Jakarta. EGC, 1993. Sarwono Waspadji, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1, Edisi 3, Jakarta, FKUI, 1993. Sylvia A. Price, Buku Patofisiologi Konsep Klinis Proses Penyakit , Jakarta: EGC, 1994. Suriadi dan Rita Yuliani, Buku Pegangan Praktek Klinik Asuhan Keperawatan Pada Anak, Edisi 1, Jakrta: CV Sagung Seto, 2001. Syaifuddin, Anatomi dan Fisiologi Untuk Siswa Perawat, Jakarta: EGC, 1999.

DAFTAR ISI Hal Halaman Judul................................................................................................................i

Kata Pengantar...............................................................................................................ii Daftar Isi.......................................................................................................................iii BAB I. PENDAHULUAN A. B. C. BAB II. Latar Belakang Tujuan Penulisan Metode Penulisan

TINJAUAN TEORI A. KONSEP DASAR MEDIK 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. B. Pengertian Anatomi Fisiologi Patofisiologi Etiologi Manifestasi Klinik Komplikasi Test Diagnostik Penatalaksanaan

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. Pengkajian Diagnosa Keperawatan Perencanaan Implementasi Evaluasi Rencana Pemulangan

C.

PATOLFOW DIAGRAM

BAB III. TINJAUAN KASUS A. B. C. D. E. Pengkajian Diagnosa Keperawatan Rencana Keperawatan Pelaksanaan Keperawatan Evaluasi Keperawatan Patoflow Kasus BAB IV. BAB V. PEMBAHASAN PENUTUP A. Kesimpulan B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful