You are on page 1of 13

TUGA8 KELOMPOK A8UHAN KEPERAWATAN 818TEM INTEGUMEN

OLEH: RAIMI HIDAYAT RATNA NOORIDHA RE8TY PRATIWI RIANNOOR RIATUL JANNAH RONI RURIYAN81 RU8MAWATI 8ANTY FER81NA 81TI RAFI'AH 8RI WAHYUNI 8EKOLAH TINGGIILMU NPM NPM NPM NPM NPM NPM NPM NPM NPM NPM NPM 10202B 10203B 10204B 10205B 10206B 10207B 10208B 10209B 10210B 10211 B 10213B 81 81 81 81 81 81 81 81 81 81 81

KE8EHATAN M

Dv~

PROGRAM PENDIDIKAN 81 KEPE

REGISTERED VERSION

i?0' ~

%

ASUHAN KEPERAWATAN INFEKSI VIRUS PADA SISTEM INTEGUMEN PROSES KEPERAWATAN PASIEN HERPES ZOSTER

A. Pendahuluan Herpes zoster (shingls, eaearmonyet) merupakan kelainan

inflamatorik viral dimana virus penyebabnya menimbulkan erupsi vesikuler yang terasa nyeri disepanjang distribusi saraf sensorik dari satu atau lebih ganglion posterior. Infeksi ini disebabkan oleh virus varisela, yang dikenal sebagai sebagai virus varisela-zoster. Virus ini merupakan anggota

kelompok virus DNA. Virus eaear air dan herpes zoster tidak dapat dibedakan sehingga diberi nama virus varisela-zoster. Patogenesis herpes zoster belum seluruhnya diketahui. Selama terjadi varisela, virus varisela zoster berpindah tempat dari lesi kulit dan permukaan mukosa ke ujung saraf sensorik dan ditransportasikan seeara sentripetal melalui serabut saraf sensorik ke ganglion sensorik. Pada ganglion terjadi infeksi laten, virus tersebut tidak lagi me bermultiplikasi, tetapi tetap mempunyai ke

menjadi infeksius. Herpes zoster pada umu sesuai dengan lokasi raum varisela yang zoster laten diduga karena keadaan te

imunosupresi dan imunitas selular yang merupakan faktor penting untuk mempertahankan pejamu terhadap infeksi endogen. Komplikasi herpes zoster dapat terjadi pada 10 - 15% kasus, komplikasi yang terbanyak adalah neuralgia pasca-herpetik yaitu berupa rasa nyeri yang persisten setelah krusta terlepas. Komplikasi jarang terjadi pada usia di bawah 40 tahun tetapi hampir % kasus terjadi pada usia di atas 60 tahun. Penyebaran dari ganglion yang terkena secara langsung geralisata. atau lewat aliran darah sehingga terjadi herpes zoster

Hal ini dapat terjadi oleh karena defek imunologi karena

keganasan atau pengobatan imunosupresi.

B. Etiologi Herpes zoster disebabkan oleh infeksi virus varisela zoster (VVZ) dan tergolong virus berinti DNA. Virus ini berukuran 140 - 200 nm, yang termasuk subfamily alfa herpes viridae. Berdasarkan sifat

biologisnya

seperti siklus replikasi, penjamu, sifat sitotoksik dan sel

tempat hidup laten diklasifikasikan ke dalam 3 subf dan gamma. VVZ dalam subfamily

menyebabkan

infeksi primer pada sel

vascular. Selanjutnya setelah infeksi prim biasanya menetap dalam bentuk laten

Virus yang laten ini pada saatnya akan menimbulkan kekambuhan secara periodic. Secara in vitro virus herpes alfa mempunyai jajaran penjamu yang relative luas dengan siklus pertumbuhan yang pendek, serta

mempunyai enzim yang penting untuk replikasi meliputi virus spesifik DNA polymerase dan virus spesifik deoxypridine (thymidine) kinase yang

disentesis di dalam sel yang terinfeksi.

c.

Patofisiologi Sesudah seseorang menderita cacar air, virus varisela zoster yang diyakini sebagai pnyebab terjadinya penyakit ini hidup secara inaktif (dormant) di dalam sel-sel saraf di dekat otak dan medulla spinalis. Kemudian hari ketika virus yang laten ini mengalami reaktivasi, virus tersebut berjalan lewat saraf perifer ke kulit. Virus varisela yang dormant diaktifkan dan timbul vesikel-vesikel meradang unilateral di sepanjang

satu dermatom. Kulit di sekitarnya mengalami edema dan perdarahan. Keadaan ini biasanya didahului atau disertai nyeri hebat dan/atau rasa terbakar. Meskipur setiap saraf dapat terkena, atau kranial agaknya paling sering te
I

erpes

zoter

dapat

~

berlangsung selama kurang lebih tiga ming

REGISTERED VERSION

%

Adanya

keterlibatan

saraf perifer secara local memberikan

responnyeri, kerusakan integritas jaringan terjadi akibat adanya vesikula. Respon perasaan psikologis sistemik memberikan manifestasi peningkatan suhu tubuh, Respon respon

tidak enak badan dan gangguan pada kondisi adanya

gastrointestinal.

lesi pada kulit memberkan

kecemasan dan gangguan gambaran diri.

D. Pengkajian Pengkajian keperawatan yang didapat biasanya sesuai dengan fase dari Herpes zoster, yang terdiri atas fase prodromal dan fase erupsi kulit. Fase Prodomal 1. Keluhan basnya diawali dengan gejala prodromal yang berlangsung selama 1 - 4 hari. 2. Gejala yan mempengaruhi tubuh demam, sa kit kepala, fatigue,

malaise, nausea, kemerahan, nyeri, (rasa terbakar atau tertusuk) gatal dan kesemutan. 3. Nyeri bersifat segmental dan dapat berlangsung hilang timbul. Nyeri juga bias terjadi selama e 4. Gejala yang mempengaruhi mata;

terhadap cahaya, pembengkakan pandangan kabur, penurunan sensasi

Fase Eruspsi Kulit 1. Kadang terjadi limfadenopati regional. 2. Erupsi kulit hampir selalu unilateral dan biasanya terblit yang beratatas pada daerah yang dipersarafi oleh satu ganglion sensorik. Erupsi dapat terjadi di seluruh bag ian tubuh yang terserang ganglion torakalis. 3. Lesi dimulai dengan macula eritroskuamosa, kemudian terbentuk di daerah

papul papul dan dalam waktu 12 - 24 jam lesi berkembang menjadi vesikel. Pada hari ketiga berubah menjadi pastul yang akan mongering menjadi krusta dalam 7 - 10 hari. Krusta dapat bertahan sampai 2 - 3 minggu kemudian mengelupas. Pada saat ini nyeri segmental juga menghilang. 4. Lesi baru dapat terus munul samapi hari ke 4 dan kadang-kadang sampai hari ke 7 5. Erupsi kulit yang berat dapat meninggalkan macula hiperpigmentasi dan jaringan parut (pitted scar) 6. Pada lansia biasanya mengalami lesi yang lebih lebih sensitive terhadap nyeri yang dialami.

Pengkajian Diagnostik

§

g;;

~S\E.RED ~0

v~

~

REGISTERED VERSION

~

%

Tujuan dari pengkajian diagnostic adalah dilakukan untuk membedakan dari impetigo, kontak dermatitis dan herpes simpleks. Pengkajian

diagnostic yang bias dilakukan, meliputi hal-hal berikut : 1. Tzanck Smear : mengidentifikasi virus herpes tetapi tidak dapat

membedakan herpes zoster dan herpes simpleks. 2. Kultur dari cairan vesikel dan tes antibody; digunakan untuk

membedakan diagnosis herpes virus. 3. Immunoflurorescent; mengidentifikasi varisella di sel kulit. 4. Pemeriksaan histopatologi 5. Pemeriksaan mikroskop electron 6. Kultur virus. 7. Identifikasi antigen/asam nukleat VVZ 8. Deteksi antibody terhadap infeksi virus.

Pengkajian Penatalaksanaan Medis Tujuan tatalaksana herpes zoster adalah untuk meredakan rasa nyeri dapat mngurangi atau menghindari komplikasi. dengan pemberian analgesic karena pengend selama fase akut akan membantu men yang persisten. ntuknya pola nyeri ~

REGISTERED VERSION

%

Bila saraf oftalmikus cabang dari saraf trigemenus terkena, maka harus dirujuk pada seorang dokter ahli penyakit mata karena dapat terjadi perforasi sistemik kornea akibat infeksi tersebut. mencegah Pemberian timbulnya kortikosteroid neuralgia post

dini dapat

membantu

hepertika. Asiklovir oral 800 mg 5 kali sehari selam 10 hari dapat mempersingkat lama infeksi herpes zoster.

DiagnosaKeperawatan 1. Nyeri b.d. Respon inflamasi lokal sekunder dari kerusakan saraf perifer kulit. 2. Ketidakseimbangan pemenuhan nutrisi;kurang dari kebutuhan b.d. Intake nutrisi tidak adekuat sekunder dari mual, muntah, anoreksia. 3. Gangguan gambaran diri (citra diri) b.d. Perubahan struktur kulit,

perubahan peran keluarga. 4. Gangguan pemenuhan isirahat dan tidur b.d. Respon nyeri, prognosis penyakit dan ketidaktahuan 5. Kebutuhan Pemenuhan informasi b.d. Tidak adeku ketidaktahuan program perawatan dan peng

~~ § REGISTERED %
VERSION

1-'0

~S\E.RED

v~

Rencana Keperawatan Ketidakseimbangan pemenuhan nutrisi; kurang dari kebutuhan b.d intake nutria tidak adekuat sekunder dari mual muntah anoreksia Tujuan : Dalam waktu 3 x 24 jam setelah diberikan asupan nutrisi pasien terpenuhi Kriteria evaluasi : • Pasien dapat mempertahankan status nutrisi yang adekuat • Pernyataan motivasi kuat untuk memenuhi kebutuhan nutrisnya • Tidak iadi nurunan berat badan lebih dari % dalam 3 hari Kaji status nutris pasien, turgor kulit, berat badan, dan derajat penurunan berat badan, integritas mukosa oral, kemampuan menelan, riwayat mual/muntah dan diare Fasilitasi pasien memperoleh diet biasa yang disukai pasien (sesuai indikasi Pantau intake dan output, timbang berat badan secara priodik (sekali semin Lakukan dan ajarkan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan, serta sebelum dan sesudah intervensi/pemeriksaan per oral Fasilitasi pemberian diet TKTP, berikan dalam porsi kecil tapi sering Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menetapkan komposisi dan jenis diet yang tepat Memvalidasi dan menetapkan derajat masalah untuk menetapkan pilihan intervensi yang tepat.

Memperhitungkan keinginan individu dapat memperbaiki asupan nutrisi Berguna dalam mengukur keefektifan nutrisi dan dukungan cairan Menurunkan rasa tak enak karena sisa makanan, sisa sputum atau obat untuk pengobatan system respirasi yang dapat merangsang pusat muntah Memaksimalkan asupan nutrisi tanpa kelelahan dan energy besar, serta menurunkan iritasi saluran cerna. Merencanakan diet dengan kandungan ekuat untuk meme kebutuhan

Kolaborasi multivitamin

untuk

pemeberian

ketidaktahuan atan Tujuan: terpenuhinya pengetahuan pasien tentang kondisi penyakitnya Kriteria evaluasi : • Mengungkapkan pengetian tentang proses infeksi, tindakan yang dibutuhkan dengan kemungkinan komplikasi • Mengenal perubahan gaya hidup/tingkah laku untuk mencegah terjadinya kom likasi Beritahukan pasien/orang terdekat mengenai dosis, aturan dan efek pengobatan, diet yang dianjurkan, serta pembatasan aktivitas yang dilakukan Jelaskan tentang pentingnya pengobatan antivirus Meningkatkan cara hidup sehat seperti intake makanan yang baik, keseimbangan antara aktivitas dan istirahat, monitor status kesehatan dan ada infeksi Beritahu pasien bahwa mereka dapat menulari orang lain Identifikasi sumber-sumber pendukung yang memungkinkan untuk mempertahankan perawatan di rumah dibutuhkan Ajarkan cara menggunakan obat Informasi untuk menigkatkan perawatan diri, untuk menambahkan kejelasan efektivitas pengobatan dan mencegah ikasi Pemberian antivirus di rumah dibutuhkan untuk mengurangi invasi virus a kulit Meningkatkan system imun dan pertahanan terhadap infeksi

Dengan mengetahui kondisi ini, maka perlu diperhatikan tindakan higienis rutin makaian alat ribadi Keterbatasan aktivitas dapat mengganggu kemapuan pasien untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari Pada stadium vesikel diberi bedak salicyl 2% atau bedak kocok khusus untuk kelamin bertujuan mencegah

Tujuan : dalam waktu 1 x 24 jam nyeri berkurangl.hilang atau teradaptasi Kriteria evaluasi : • Secara subjektif melaporkan nyeri berkurang atau dapat diadaptasi. Skala nyeri 0 - 1 (0 - 4 ) • Dapat mengdentifikasi aktivitas yang meningkatkan atau menurunkan nyeri • Pasien tidak isah Intervensi Rasional Kaji nyeri dengan pendekatan Menjadi parameter dasar untuk PQRST mengetahui sejauh mana intervensi yang diperlukan dan sebagai evaluasi keberhasilan dari intervensi man ri ke n Jelaskan dan bantu pasien dengan Pendekatan dengan menggunakan tindakan pereda nyeri nonfarmakologi relaksasi dan nonfarmakologi lainnya dan non invasif telah menunjukkan keefektifan dalam men ura in ri. Lakukan manajemen nyeri Posisi fisiologis akanmeningkatkan asupan oksigen ke jaringan yang mengalami iskemia is Istirahat akan menurukan kebutuhan oksigen jaringan perifer dan akan meningkatkan suplai darah pada jaringan yang mengalami da an Lingkungan tenang akan • Manajemen lingkungan: lingkungan tenang dan batasi menurunkan stimulus nyeri eksternal dan pembatasan pengunjung akan pengunjung membantu meningkatkan kondisi oksigen berkurang • Ajarkan teknik pernafasan dalam relaksasi

Ajarkan teknik distraksi pada saat nyeri

Lakukan manajemen sentuhan

Tingkatkan pengetahuan tentang sebab~ebab nyeri dan menghubungkan berapa lama nyeri akan berlangsung

tidak dikirimkan ke korteks serebri area nyeri dan menurunkan sensasi ri Manajemen sentuhan pada saat nyeri berupa sentuhan dukungan psikologis dapat membantu menurunkan nyeri. Masase ringan dapat meningkatkan aliran darah dan dengan otomatis membantu suplai darah dan oksigen ke area nyeri dan menurunkan sensasi eri Pengetahuan yang akan dirasakan membantu mengurangi nyerinya dan dapat membantu mengembangkan kaptuhan pasien terhadap rencana tera k

Tujuan : dalam waktu 1 x 24 jam citra diri pasien meningkat Kriteria evaluasi: • Mampu menyatakan atau mengomukasikan dengan tentang situasi dan perubahan yang sedang terjadi • Mam u me takan erimaan diri terhad situasi Kaji perubahan dari gangguan persepsi dan hubungan dengan dera t ketidakmam an Indentifikasi arti dari kehilangan atau disfungsi pada pasien

orang terdekat

Menentukan bantuan individual dalam menyusun rencana perawatan atau lihan intervensi Beberapa pasien dapat menerima secara efktif kondisi perubahan fungsi yang dialaminya, sedangkan yang lain mempunyai kesulitan dalam perubahan . yang sehi

Anjurkan orang yang terdekat ntuk mengizinkan pasien melakukan halhal sebanyak-banyaknya untuk diri Dukung perilaku atau usaha seperti peningkatan minat atau partisipasi dalam aktivitas rehabilitasi Monitor uan tidur

kesulitan withdrawl

konsentrasi,

letargi

dan

depresi yang umumnya terjadi di mana keadaan tru memerlukan intervensi dan evaluasi lebih lanjut

Evaluasi 1. Terjadi penurunan respons nyeri 2. Asupan nutrisi terpenuhi 3. Peningkatan gambaran diri 4. Terpenuhinya informasi kesehatan

~~ § REGISTERED %
VERSION

1-'0

~S\E.RED

v~