ASUHAN KEPERAWATAN KEHILANGAN DAN BERDUKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Lahir, kehilangan, dan kematian adalah kejadian yang unuiversal dan kejadian yang sifatnya unik bagi setiap individual dalam pengalaman hidup seseorang. Kehilangan dan berduka merupakan istilah yang dalam pandangan umum berarti sesuatu kurang enak atau nyaman untuk dibicarakan. Hal ini dapat disebabkan karena kondisi ini lebih banyak melibatkan emosi dari yang bersangkutan atau disekitarnya. Dalam perkembangan masyarakat dewasa ini, proses kehilangan dan berduka sedikit demi sedikit mulai maju. Dimana individu yang mengalami proses ini ada keinginan untuk mencari bentuan kepada orang lain. Pandangan-pandangan tersebut dapat menjadi dasar bagi seorang perawat apabila menghadapi kondisi yang demikian. Pemahaman dan persepsi diri tentang pandangan diperlukan dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif. Kurang memperhatikan perbedaan persepsi menjurus pada informasi yang salah, sehingga intervensi perawatan yang tidak tetap (Suseno, 2004). Perawat berkerja sama dengan klien yang mengalami berbagai tipe kehilangan. Mekanisme koping mempengaruhi kemampuan seseorang untuk menghadapi dan menerima kehilangan. Perawat membantu klien untuk memahami dan menerima kehilangan dalam konteks kultur mereka sehingga kehidupan mereka dapat berlanjut. Dalam kultur Barat, ketika klien tidak berupaya melewati duka cita setelah mengalami kehilangan yang sangat besar artinya, maka akan terjadi masalah emosi, mental dan sosial yang serius. Kehilangan dan kematian adalah realitas yang sering terjadi dalam lingkungan asuhan keperawatan. Sebagian besar perawat berinteraksi dengan klien dan keluarga yang mengalami kehilangan dan dukacita. Penting bagi perawat memahami kehilangan dan dukacita. Ketika merawat klien dan keluarga, parawat juga mengalami kehilangan pribadi ketika hubungan klienkelurga-perawat berakhir karena perpindahan, pemulangan, penyembuhan atau kematian. Perasaan pribadi, nilai dan pengalaman pribadi mempengaruhi seberapa jauh perawat dapat mendukung klien dan keluarganya selama kehilangan dan kematian (Potter & Perry, 2005). 1.2 Permasalahan Adapun permasalahan yang kami angkat dari makalah ini adalah bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan kehilangan dan berduka disfungsional. 1.3 Tujuan Penulisan

bisa tanpa kekerasan atau traumatik.1 Kehilangan 2. BAB II LANDASAN TEORI 2.ngan dan berduka disfungsional Tujuan khusus Mengetahui jenis-jenis kehilangan.1 Definisi kehilangan Kehilangan dan berduka merupakan bagian integral dari kehidupan. Sosial budaya 3. sebagian atau total dan bisa kembali atau tidak dapat kembali. kepercayaan / spiritual 4. Status social ekonomi 6. adalah: Tujuan umum Mengetahui konsep kehilangan dan berduka. Kehilangan merupakan suatu kondisi dimana seseorang mengalami suatu kekurangan atau tidak ada dari sesuatu yang dulunya pernah ada atau pernah dimiliki. Mengetahui asuhan keperawatan pada kehila. baik sebagian atau seluruhnya. Kehilangan merupakan suatu keadaan individu berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada menjadi tidak ada. diantisispasi atau tidak diharapkan/diduga.h. baik terjadi sebagian atau keseluruhan (Lambert dan Lambert.1. Kehilangan mungkin terjadi secara bertahap atau mendadak. tergantung: 1.1985. Peran seks 5. Kehilangan adalah suatu kondisi yang terputus atau terpisah atau memulai sesuatu tanpa hal yang berarti sejak kejadian tersebut. Kehilangan adalah suatu keadaan individu yang berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada. Menjelaskan konsep dan teori dari proses berduka. Arti dari kehilangan 2. Sejak lahir individu sudah mengalami kehilangan dan cenderung akan mengalaminya kembali walaupun dalam bentuk yang berbeda. kemudian menjadi tidak ada.35). Kehilangan merupakan pengalaman yang pernah dialami oleh setiap individu dalam rentang kehidupannya. Mengetahui faktor yang mempengaruhi reaksi kehilangan.Adapun tujuan dari penulisan makalah ini. Faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi kehilangan. kondisi fisik dan psikologi individu .

dan dampaknya. usia muda. ingatan. kematian pasangan suami/istri atau anak biasanya membawa dampak emosional yang luar biasa dan tidak dapat ditutupi. sebagian atau komplit. Kehilangan yang ada pada diri sendiri (loss of self) Bentuk lain dari kehilangan adalah kehilangan diri atau anggapan tentang mental seseorang. diri sendiri. intensitas dan ketergantungan dari ikatan atau jalinan yang ada. Karena keintiman. 2. misalnya.3 Jenis-jenis Kehilangan Terdapat 5 katagori kehilangan. Kehilangan dari aspek diri mungkin sementara atau menetap. Anggapan ini meliputi perasaan terhadap keatraktifan. kemampuan fisik dan mental. menyebabkan perasaan kemandirian dan kebebasannya menjadi menurun. Persepsi Hanya dialami oleh seseorang dan sulit untuk dapat dibuktikan. Beberapa aspek lain yang dapat hilang dari seseorang misalnya kehilangan pendengaran. uang atau pekerjaan. yang mana harus ditanggung oleh seseorang.1. misalnya amputasi. Kehilangan kehidupan/ meninggal . Kematian juga membawa dampak kehilangan bagi orang yang dicintai.2 Tipe Kehilangan Kehilangan dibagi dalam 2 tipe yaitu: 1. yaitu: Kehilangan seseorang seseorang yang dicintai Kehilangan seseorang yang dicintai dan sangat bermakna atau orang yang berarti adalah salah satu yang paling membuat stress dan mengganggu dari tipe-tioe kehilangan. seseorang yang berhenti bekerja / PHK. Kehilangan objek eksternal Kehilangan objek eksternal misalnya kehilangan milik sendiri atau bersama-sama.2. fungsi tubuh. peran dalam kehidupan. Kedalaman berduka yang dirasakan seseorang terhadap benda yang hilang tergantung pada arti dan kegunaan benda tersebut. Aktual atau nyata Mudah dikenal atau diidentifikasi oleh orang lain. Kehilangan lingkungan yang sangat dikenal Kehilangan diartikan dengan terpisahnya dari lingkungan yang sangat dikenal termasuk dari kehidupan latar belakang keluarga dalam waktu satu periode atau bergantian secara permanen. 2. maka akan memiliki tetangga yang baru dan proses penyesuaian baru. Misalnya pindah kekota lain. kematian orang yang sangat berarti / di cintai.1. perhiasan.

3. tidak mempercayai kenyataan b. menangis.4 Rentang Respon Kehilangan Denial—–> Anger—–> Bergaining——> Depresi——> Acceptance 1. gelisah. objek atau ketidakmampuan fungsional sebelum terjadinya kehilangan. NANDA merumuskan ada dua tipe dari berduka yaitu berduka diantisipasi dan berduka disfungsional. 4. a. Marah diproyeksikan pada orang lain c. gangguan pernafasan. Berduka diantisipasi adalah suatu status yang merupakan pengalaman individu dalam merespon kehilangan yang aktual ataupun yang dirasakan seseorang. b. gelisah. Perilaku agresif. Verbalisasi . Verbalisasi. 2. . letih. Fase acceptance a. akhirnya saya harus operasi “ 2. gelisah. dorongan libido menurun. pucat.menawar. mual. Pikiran pada objek yang hilang berkurang. 5. Perubahan fisik. b. “ yah. diare. detak jantung cepat. susah tidur. Gejala . c.” apa yang dapat saya lakukan agar saya cepat sembuh”.2. tidak mau bicara atau putus asa. nadi cepat. susah tidur. Fase denial a. dan lain-lain. Fase anger / marah a. Menunjukan sikap menarik diri. Reaksi fisik. sampai pada kematian yang sesungguhnya. Verbalisasi. muka merah. hubungan/kedekatan. Mulai sadar akan kenyataan b. “ saya tidak percaya itu terjadi ”. 2. Fase bergaining / tawar. lemah. d.2 Berduka 2.Seseorang dapat mengalami mati baik secara perasaan. menolak makan.1 Definisi berduka Berduka adalah respon emosi yang diekspresikan terhadap kehilangan yang dimanifestasikan adanya perasaan sedih. Sebagian orang berespon berbeda tentang kematian. tangan mengepal. “ kenapa harus terjadi pada saya ? “ kalau saja yang sakit bukan saya “ seandainya saya hati-hati “.1. pikiran dan respon pada kegiatan dan orang disekitarnya. Reaksi pertama adalah syok. susah tidur. sesak nafas. Berduka merupakan respon normal pada semua kejadian kehilangan. Fase depresi a. Tipe ini masih dalam batas normal.” itu tidak mungkin”. cemas. letih.

dan kekosongan jiwa tiba-tiba terjadi. Sehingga pada fase ini diharapkan seseorang sudah dapat menerima kondisinya. diaporesis. objek dan ketidakmampuan fungsional. Fase II (berkembangnya kesadaran) Seseoarang mulai merasakan kehilangan secara nyata/akut dan mungkin mengalami putus asa. Kemarahan. Reaksi secara fisik termasuk pingsan. insomnia dan kelelahan. Fase I (shock dan tidak percaya) Seseorang menolak kenyataan atau kehilangan dan mungkin menarik diri. Fase III (restitusi) Berusaha mencoba untuk sepakat/damai dengan perasaan yang hampa/kosong. Peran perawat adalah untuk mendapatkan gambaran tentang perilaku berduka. Konsep dan teori berduka hanyalah alat yang hanya dapat digunakan untuk mengantisipasi kebutuhan emosional klien dan keluarganya dan juga rencana intervensi untuk membantu mereka memahami kesedihan mereka dan mengatasinya. Bisa merasa bersalah dan sangat menyesal tentang kurang perhatiannya di masa lalu terhadap almarhum. Fase IV Menekan seluruh perasaan yang negatif dan bermusuhan terhadap almarhum. karena kehilangan masih tetap tidak dapat menerima perhatian yang baru dari seseorang yang bertujuan untuk mengalihkan kehilangan seseorang. diare. Fase V Kehilangan yang tak dapat dihindari harus mulai diketahui/disadari. detak jantung cepat. Teori Kubler-Ross . atau kesalahan/kekacauan. frustasi. hubungan. Tipe ini kadang-kadang menjurus ke tipikal. perasaan bersalah. Teori Engels Menurut Engel (1964) proses berduka mempunyai beberapa fase yang dapat diaplokasikan pada seseorang yang sedang berduka maupun menjelang ajal. 2. atau pergi tanpa tujuan. mual. abnormal. duduk malas.2 Teori dari Proses Berduka Tidak ada cara yang paling tepat dan cepat untuk menjalani proses berduka. tidak bisa istirahat.2. depresi. mengenali pengaruh berduka terhadap perilaku dan memberikan dukungan dalam bentuk empati. Kesadaran baru telah berkembang.Berduka disfungsional adalah suatu status yang merupakan pengalaman individu yang responnya dibesar-besarkan saat individu kehilangan secara aktual maupun potensial.

c) Penawaran (Bargaining) Individu berupaya untuk membuat perjanjian dengan cara yang halus atau jelas untuk mencegah kehilangan. e) Penerimaan (Acceptance) Reaksi fisiologi menurun dan interaksi sosial berlanjut. Konfrontasi . Pada fase ini orang akan lebih sensitif sehingga mudah sekali tersinggung dan marah. Teori Martocchio Martocchio (1985) menggambarkan 5 fase kesedihan yang mempunyai lingkup yang tumpang tindih dan tidak dapat diharapkan. menyangkal dan tidak percaya. d) Depresi (Depression) Terjadi ketika kehilangan disadari dan timbul dampak nyata dari makna kehilangan tersebut. klien sering kali mencari pendapat orang lain. Pada tahap ini. Hal ini merupakan koping individu untuk menutupi rasa kecewa dan merupakan menifestasi dari kecemasannya menghadapi kehilangan. Kubler-Ross mendefinisikan sikap penerimaan ada bila seseorang mampu menghadapi kenyataan dari pada hanya menyerah pada pengunduran diri atau berputus asa.Kerangka kerja yang ditawarkan oleh Kubler-Ross (1969) adalah berorientasi pada perilaku dan menyangkut 5 tahap. Reaksi yang terus menerus dari kesedihan biasanya reda dalam 6-12 bulan dan berduka yang mendalam mungkin berlanjut sampai 3-5 tahun. tidak mungkin seperti itu.” atau “Tidak akan terjadi pada saya!” umum dilontarkan klien. Teori Rando Rando (1993) mendefinisikan respon berduka menjadi 3 katagori: Penghindaran Pada tahap ini terjadi shock. yaitu sebagai berikut: a) Penyangkalan (Denial) Individu bertindak seperti seolah tidak terjadi apa-apa dan dapat menolak untuk mempercayai bahwa telah terjadi kehilangan. Tahap depresi ini memberi kesempatan untuk berupaya melewati kehilangan dan mulai memecahkan masalah. Durasi kesedihan bervariasi dan bergantung pada faktor yang mempengaruhi respon kesedihan itu sendiri. Pernyataan seperti “Tidak. b) Kemarahan (Anger) Individu mempertahankan kehilangan dan mungkin “bertindak lebih” pada setiap orang dan segala sesuatu yang berhubungan dengan lingkungan.

pola tidur. Kesulitan mengekspresikan perasaan e. b. menangis. i. Konfrontasi disorganization and despair Identification in bereavement Reorganization and akomodasi restitution Restitusi Tawar-menawar Idealization Depresi Reorganization / the out come Penerimaan BAB III ASKEP BERDUKA DISFUNGSIONAL Pengkajian Data yang dapat dikumpulkan adalah: a. PERBANDINGAN EMPAT TEORI PROSES BERDUKA ENGEL (1964) KUBLER-ROSS (1969) MARTOCCHIO (1985) Menyangkal Marah RANDO (1991) Shock dan tidak percaya Berkembangnya kesadaran Shock and disbelief Penghindaran Yearning and protest Anguish. Reaksi emosional yang lambat j. Kemarahan yang berlebihan g. Akomodasi Pada tahap ini terjadi secara bertahap penurunan kedukaan akut dan mulai memasuki kembali secara emosional dan sosial dunia sehari-hari dimana klien belajar untuk menjalani hidup dengan kehidupan mereka. Merenungkan perasaan bersalah secara berlebihan. Mengingkari kehilangan d. kesepian c. Konsentrasi menurun f.Pada tahap ini terjadi luapan emosi yang sangat tinggi ketika klien secara berulang-ulang melawan kehilangan mereka dan kedukaan mereka paling dalam dan dirasakan paling akut. Perasaan sedih. Adanya perubahan dalam kebiasaan makan. h. tingkat aktivitas . Perasaan putus asa. Tidak berminat dalam berinteraksi dengan orang lain.

Kemungkinan Etiologi (“yang berhubungan dengan”) Kehilangan yang nyata atau dirasakan dari beberapa konsep nilai untuk individu Kehilangan yang terlalu berat (penumpukan rasa berduka dari kehilangan multiple yang belum terselesaikan) Menghalangi respon berduka terhadap suatu kehilangan Tidak adanya antisipasi proses berduka Perasaan bersalah yang disebabkan oleh hubungan ambivalen dengan konsep kehilangan. pola tidur. Sasaran/Tujuan Sasaran jangka pendek Pasien akan mengekspresikan kemarahan terhadap konsep kehilangan dalam 1 minggu. atau gejala berduka yang normal menjadi berlebih-lebihan untuk suatu tingkat yang mengganggu fungsi kehidupan. pola mimpi. Regresi perkembangan Gangguan dalam konsentrasi Kesulitan dalam mengekspresikan kehilangan Afek yang labil Kelainan dalam kebiasaan makan. tingkat aktivitas.Diagnosa keperawatan: Berduka disfungsional Definisi: sesuatu respon terhadap kehilangan yang nyata maupun yang dirasakan dimana individu tetap terfiksasi dalam satu tahap proses berduka untuk suatu periode waktu yang terlalu lama. diekspresikan secara tidak tepat ü Obsesi-obsesi pengalaman-pengalaman masa lampau ü Merenungkan perasaan nersalah secara berlebihan dan dibesar-basarkan tidak sesuai dengan ukuran situasi. libido. Batasan Karakteristik (“dibuktikan dengan”) Idealisasi kehilangan (konsep) Mengingkari kehilangan ü Kemarahan yang berlebihan. Sasaran jangka panjang .

bola voli. Kembangkan hubungan saling percaya dengan pasien. Rasional Pengkajian data dasar yang akurat adalah penting untuk perencanaan keperawatan yang efektif bagi pasien yang berduka.Pasien akan mampu menyatakan secara verbal perilaku-perilaku yang berhubungan dengan tahaptahap berduka yang normal. Bantu pasien untuk mengeluarkan kemarahan yang terpendam dengan berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas motorik kasar (mis. Bantu pasien untuk mengeksplorasikan perasaan marah sehingga pasien dapat mengungkapkan secara langsung kepada objek atau orang/pribadi yang dimaksud. Identifikasi perilaku-perilaku yang berhubungan dengan tahap ini. . Dorong pasien untuk mengekspresikan rasa marah. Intervensi dengan Rasional Tertentu Tentukan pada tahap berduka mana pasian terfiksasi.dll) Rasional Latihan fisik memberikan suatu metode yang aman dan efektif untuk mengeluarkan kemarahan yang terpendam. joging. Perlihatkan sikap menerima dan membolehkan pasien untuk mengekspresikan perasaannya secara terbuka Rasional Sikap menerima menunjukkan kepada pasien bahwa anda yakin bahwa ia merupakan seseorang pribadi yang bermakna. Perlihatkan empati dan perhatian. Pasien akan mampu mengakui posisinya sendiri dalam proses berduka sehingga ia mampu dengan langkahnya sendiri terhadap pemecahan masalah. Rasa percaya meningkat. Jangan menjadi defensif jika permulaan ekspresi kemarahan dipindahkan kepada perawat atau terapis. Rasional Pengungkapan secara verbal perasaan dalam suatu lingkungan yang tidak mengancam dapat membantu pasien sampai kepada hubungan dengan persoalan-persoalan yang belum terpecahkan. Jujur dan tepati semua janji Rasional Rasa percaya merupakan dasar unutk suatu kebutuhan yang terapeutik.

Ajarkan tentang tahap-tahap berduka yang normal dan perilaku yang berhubungan dengan setiap tahap. menunjukkan realita situasi dalam area-area dimana kesalahan presentasi diekspresikan. Pasien tidak terlalu lama mengekspresikan emosi-emosi dan perilaku-perilaku yang berlebihan yang berhubungan dengan disfungsi berduka dan mampu melaksanakan aktifitas-aktifitas hidup sehari-hari secara mandiri. Dorong pasien untuk menjangkau dukungan spiritual selama waktu ini dalam bentuk apapun yang diinginkan untuknya. Pasien mampu mengidentifikasi posisinya sendiri dalam proses berduka dan mengekspresikan perasaan-perasaannya yang berhubungan denga konsep kehilangan secara jujur. Rasional Pengetahuan tentang perasaan-perasaan yang wajar yang berhubungan dengan berduka yang normal dapat menolong mengurangi beberapa perasaan bersalah menyebabkan timbulnya responrespon ini. Rasional Pasien harus menghentikan persepsi idealisnya dan mampu menerima baik aspek positif maupun negatif dari konsep kehilangan sebelum proses berduka selesai seluruhnya. Bantu pasien untuk mengerti bahwa perasaan seperti rasa bersalah dan marah terhadap konsep kehilangan adalah perasaan yang wajar dan dapat diterima selama proses berduka. Dengan dukungan dan sensitivitas. Hasil Pasien yang Diharapkan/Kriteria Pulang Pasien mampu untuk menyatakan secara verbal tahap-tahap proses berduka yang normal dan perilaku yang berhubungan debgab tiap-tiap tahap. Dorong pasien untuk meninjau hubungan dengan konsep kehilangan. Bantu pasien dalam memecahkan masalahnya sebagai usaha untuk menentukan metoda-metoda koping yang lebih adaptif terhadap pengalaman kehilangan. Berikan umpan balik positif untuk identifikasi strategi dan membuat keputusan. Menggunakan sentuhan merupakan hal yang terapeutik dan tepat untuk kebanyakan pasien. Kaji kebutukan-kebutuhan spiritual pasien dan bantu sesuai kebutuhan dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu. BAB IV . 10. Komunikasikan kepada pasien bahwa menangis merupakan hal yang dapat diterima. Rasional Umpan balik positif meningkatkan harga diri dan mendorong pengulangan perilaku yang diharapkan.

stikes. kehilangan yang ada pada diri sendiri/aspek diri. atau kesalahan/kekacauan. kehilangan lingkungan yang sangat dikenal. Elizabeth Kubler-rose. tawar-menawar. yaitu:Kehilangan seseorang seseorang yang dicintai. ed. Pemenuhan Kebutuhan Dasar Manusia: Kehilangan. hubungan/kedekatan. Mary C. 2004. Diagnosa Keperawatan pada Keperawatn Psikiatri. objek atau ketidakmampuan fungsional sebelum terjadinya kehilangan. Jakarta: ECG. Kematian dan Berduka dan Proses keperawatan. Tipe ini kadang-kadang menjurus ke tipikal. 1998. abnormal. Jakarta: Sagung Seto. dan kehilangan kehidupan/meninggal.h. Kehilangan dibagi dalam 2 tipe yaitu: Aktual atau nyata dan persepsi. Berduka merupakan respon normal pada semua kejadian kehilangan. Fundamental Keperawatan volume 1. objek dan ketidakmampuan fungsional. Suseno.3. kehilangan objek eksternal. Jakarta: EGC.51. hubungan. mengenali pengaruh berduka terhadap perilaku dan memberikan dukungan dalam bentuk empati.ac. membagi respon berduka dalam lima fase. NANDA merumuskan ada dua tipe dari berduka yaitu berduka diantisipasi dan berduka disfungsional. Berduka diantisipasi adalah suatu status yang merupakan pengalaman individu dalam merespon kehilangan yang aktual ataupun yang dirasakan seseorang.1969. 2005. Kehilangan merupakan suatu keadaan individu berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada menjadi tidak ada. Tipe ini masih dalam batas normal. .1 Kesimpulan Kehilangan merupakan suatu kondisi dimana seseorang mengalami suatu kekurangan atau tidak ada dari sesuatu yang dulunya pernah ada atau pernah dimiliki. Buku Saku Keperawatan Jiwa. marah. Terdapat 5 katagori kehilangan.id Stuart and Sundeen. Pedoman Untuk Pembuatan Rencana Perawatan Edisi 3. Jakarta: EGC. DAFTAR PUSTAKA Potter & Perry. Townsend. Tutu April.PENUTUP 4. baik sebagian atau seluruhnya. depresi dan penerimaan. Peran perawat adalah untuk mendapatkan gambaran tentang perilaku berduka.fortdekock. Berduka disfungsional adalah suatu status yang merupakan pengalaman individu yang responnya dibesar-besarkan saat individu kehilangan secara aktual maupun potensial. yaitu : pengikaran. 1998.

  %%  WZ SZYS S^S .

  .

 %%  [UVSZ`VS\W^US S W^WTSZYZ SW_SVS^SZ [USZVV_TWWX WZYZVS^SZ WS^ZZYSZV \^[`W_`  W_``a_ ScS^WZScS^ ZYa_ [ZX^[Z`S_ V_[^YSZ S`[ZSZV VW_\S^ VWZ`XUS`[ZZ TW^WSbWWZ`  VWS S`[Z W\^W_ W[^YSZ S`[ZÈ`W[a`U[W WZW^SSZ W[^YSZ S`[ZSZV S[[VS_ ^W_``a`[Z          .

  WZYSSZ S`S SZYVS\S`Va\aSZSVSS S W^S_SSZ_WVWZSZY_ T W^S_SSZ\a`a_S_SW_W\SZ U WZYZYS^WSZYSZ V W_a`SZWZYW_\^W_SZ\W^S_SSZ W [Z_WZ`^S_WZa^aZ X WS^SSZ SZYTW^WTSZ YVSTW^ZS`VSSTW^Z`W^S_VWZYSZ[^SZYSZ  W^WZaZYSZ\W^S_SSZTW^_SS_WUS^STW^WTSZ WS_W[_[ZS SZYSTS` VSZ S\W^aTSSZVSSWTS_SSZSSZ\[S`Va^`ZYS`S`b`S_ .

SYZ[_SW\W^ScS`SZW^VaSV_XaZY_[ZS WXZ__W_aS`a^W_\[Z`W^SVS\WSZYSZ SZYZ S`SSa\aZ SZYV^S_SSZVSZSZVbVa `W`S\`W^X_S_VSS_S`a`SS\\^[_W_TW^VaSaZ`a_aS`a\W^[VWcS`a SZY`W^SaSSS`Sa YWSSTW^VaS SZYZ[^SWZSVTW^WTWTSZaZ`a_aS`a`ZYS` SZYWZYYSZYYaXaZY_ WVa\SZ WaZYZSZ`[[Y SZYTW^aTaZYSZVWZYSZ WSZYSZ SZYZ S`SS`SaV^S_SSZVS^TWTW^S\S[Z_W\ZSaZ`aZVbVa WSZYSZ SZY`W^SaTW^S`\WZa\aSZ^S_STW^VaSVS^WSZYSZa`\W SZYTWa `W^_WW_SSZ WZYSSZY^W_\[ZTW^VaS`W^SVS\_aS`aWSZYSZ VSSVSZ SSZ`_\S_\^[_W_TW^VaS W^S_SSZTW^_SS SZYV_WTSTSZ[WaTaZYSZSTbSWZVWZYSZ[Z_W\WSZYSZ S`S_SZ S^S`W^_`VTa`SZVWZYSZ VWS_S_WSZYSZ[Z_W\ WZYZYS^WSZYSZ  WS^SSZ SZYTW^WTSZVW_\^W_SZ_WUS^S`VS`W\S` .

T_W_[T_W_\WZYSSSZ\WZYSSSZS_SS\Sa  W^WZaZYSZ\W^S_SSZZW^_SS_WUS^STW^WTSZVSZVTW_S^TS_S^SZ`VS_W_aSVWZYSZ aa^SZ_`aS_ WY^W_\W^WTSZYSZ SZYYaSZVSS[Z_WZ`^S_ W_a`SZVSSWZYW_\^W_SZWSZYSZ XW SZYST WSZSZVSSWTS_SSZSSZ\[S`Va^\[S\`ZYS`S`b`S_TV[ S_S^SZÈaaSZ S_S^SZSZYS\WZVW S_WZSSZWZYW_\^W_SZWS^SSZ`W^SVS\[Z_W\WSZYSZVSS ZYYa S_S^SZSZYS\SZSZY .

S_WZSSZS\aWZ S`SSZ_WUS^SbW^TS\W^Sa\W^Sa SZYTW^aTaZYSZVWZYSZ`SS\ `SS\TW^VaS SZYZ[^S S_WZSSZS\aWZYSa\[__Z S_WZV^VSS\^[_W_TW^VaS _WZYYSSS\aVWZYSZSZYSZ S_WZV^`W^SVS\\WWUSSZS_SS Z`W^bWZ_VWZYSZS_[ZSW^`WZ`a WZ`aSZ\SVS`SS\TW^VaSSZS\S_SZ`W^X_S_ VWZ`XS_\W^Sa\W^Sa SZY TW^aTaZYSZVWZYSZ`SS\Z S_[ZS WZYSSZVS`SVS_S^ SZYSa^S`SVSS\WZ`ZYaZ`a\W^WZUSZSSZW\W^ScS`SZ SZYWXW`X TSY\S_WZ SZYTW^VaS WTSZYSZaTaZYSZ_SZY\W^US SVWZYSZ\S_WZ W^S`SZW\S`VSZ\W^S`SZ aa^VSZ `W\S`_WaSSZ S_[ZS S_S\W^US SW^a\SSZVS_S^aZa`_aS`aWTa`aSZ SZY`W^S\Wa` W^S`SZ_S\WZW^SVSZWT[WSZ\S_WZaZ`aWZYW_\^W_SZ\W^S_SSZZ S_WUS^S `W^TaS S_[ZS S\WZW^SWZaZaSZW\SVS\S_WZTScSSZVS SZTScSSW^a\SSZ_W_W[^SZY \^TSV SZYTW^SZSS_S\W^US SWZZYS` [^[ZY\S_WZaZ`aWZYW_\^W_SZ^S_SS^S SZYSZWZSVVWXWZ_XS\W^aSSZ W_\^W_WS^SSZV\ZVSSZW\SVS\W^ScS`S`Sa`W^S\_SZ`a\S_WZaZ`a WZYW_\[^S_SZ\W^S_SSZS^S_WZYYS\S_WZVS\S`WZYaZYS\SZ_WUS^SSZY_aZY W\SVS[TWS`Sa[^SZYÈ\^TSV SZYVS_aV S_[ZS WZYaZYS\SZ_WUS^SbW^TS\W^S_SSZVSS_aS`aZYaZYSZ SZY`VSWZYSZUSVS\S` WTSZ`a\S_WZ_S\SW\SVSaTaZYSZVWZYSZ\W^_[SSZ\W^_[SSZ SZYTWa`W^\WUSSZ SZ`a\S_WZaZ`aWZYWaS^SZWS^SSZ SZY`W^\WZVSVWZYSZTW^\S^`_\S_VSS S`b`S_S`b`S_[`[^S_S^_[YZYT[Sb[V S_[ZS S`SZX_WTW^SZ_aS`aW`[VW SZYSSZVSZWXW`XaZ`aWZYWaS^SZWS^SSZ SZY`W^\WZVS .

S^SZ`WZ`SZY`SS\`SS\TW^VaS SZYZ[^SVSZ\W^Sa SZYTW^aTaZYSZVWZYSZ_W`S\ `SS\SZ`a\S_WZaZ`aWZYW^`TScS\W^S_SSZ_W\W^`^S_STW^_SSVSZS^S`W^SVS\ [Z_W\WSZYSZSVSS\W^S_SSZ SZYcSS^VSZVS\S`V`W^S_WSS\^[_W_TW^VaS S_[ZS WZYW`SaSZ`WZ`SZY\W^S_SSZ\W^S_SSZ SZYcSS^ SZYTW^aTaZYSZVWZYSZTW^VaS SZY Z[^SVS\S`WZ[[ZYWZYa^SZYTWTW^S\S\W^S_SSZTW^_SSWZ WTSTSZ`TaZ S^W_\[Z ^W_\[ZZ [^[ZY\S_WZaZ`aWZZSaaTaZYSZVWZYSZ[Z_W\WSZYSZWZYSZVaaZYSZVSZ _WZ_`b`S_WZaZaSZ^WS`S_`aS_VSSS^WSS^WSVSZSW_SSSZ\^W_WZ`S_ VW_\^W_SZ S_[ZS S_WZS^a_WZYWZ`SZ\W^_W\_VWS_Z SVSZS\aWZW^STSS_\W\[_`XSa\aZ ZWYS`XVS^[Z_W\WSZYSZ_WTWa\^[_W_TW^VaS_WW_S_Wa^aZ S [aZS_SZW\SVS\S_WZTScSWZSZY_W^a\SSZS SZYVS\S`V`W^S WZYYaZSSZ _WZ`aSZW^a\SSZS SZY`W^S\Wa`VSZ`W\S`aZ`aWTSZ SSZ\S_WZ SZ`a\S_WZVSSWWUSSZS_SSZ S_WTSYSa_SSaZ`aWZWZ`aSZW`[VSW`[VS [\ZY SZYWTSVS\`X`W^SVS\\WZYSSSZWSZYSZW^SZa\SZTS\[_`XaZ`a VWZ`XS__`^S`WYVSZWTaS`W\a`a_SZ S_[ZS \SZTS\[_`XWZZYS`SZS^YSV^VSZWZV[^[ZY\WZYaSZYSZ\W^Sa SZY VS^S\SZ [^[ZY\S_WZaZ`aWZSZYSaVaaZYSZ_\^`aS_WSScS`aZVSSTWZ`aS\S\aZ SZYVZYZSZaZ`aZ S SWTa`aSZWTa`aSZ_\^`aS\S_WZVSZTSZ`a_W_aSWTa`aSZ VSSWWZaWTa`aSZWTa`aSZ`a S_ S_WZ SZYS^S\SZÈ ^`W^S aSZY S_WZS\aaZ`aWZ S`SSZ_WUS^SbW^TS`SS\`SS\\^[_W_TW^VaS SZYZ[^SVSZ \W^Sa SZYTW^aTaZYSZVWTYST`S\`S\`SS\ S_WZS\aWZYVWZ`XS_\[__Z S_WZV^VSS\^[_W_TW^VaSVSZWZYW_\^W_SZ \W^S_SSZ\W^S_SSZZ S SZYTW^aTaZYSZVWZYS[Z_W\WSZYSZ_WUS^Saa^ S_WZ`VS`W^SaSSWZYW_\^W_SZW[_W[_VSZ\W^Sa\W^Sa SZYTW^WTSZ SZYTW^aTaZYSZVWZYSZV_XaZY_TW^VaSVSZS\aWS_SZSSZS`X`S_S`X`S_Va\ _WS^S^_WUS^SSZV^   .

     W_\aSZ WSZYSZW^a\SSZ_aS`a[ZV_VSZS_W_W[^SZYWZYSS_aS`aWa^SZYSZS`Sa`VS SVSVS^_W_aS`a SZYVaaZ S\W^ZSSVSS`Sa\W^ZSV WSZYSZW^a\SSZ_aS`a WSVSSZZVbVaTW^\_SVWZYSZ_W_aS`a SZY_WTWaZ SSVSWZSV`VSSVSTS_WTSYSZ S`Sa_Wa^aZ S W^VaSW^a\SSZ^W_\[ZZ[^S\SVS_WaSWSVSZWSZYSZ  W^aa_SZSVSVaS `\WVS^TW^VaS S`aTW^VaSVSZ`_\S_VSZTW^VaSV_XaZY_[ZS W^VaSVSZ`_\S_SVSS_aS`a_`S`a_ SZYW^a\SSZ\WZYSSSZZVbVaVSSW^W_\[Z WSZYSZ SZYS`aSS`Sa\aZ SZYV^S_SSZ_W_W[^SZYaTaZYSZÈWVWS`SZ[TWS`Sa W`VSS\aSZXaZY_[ZS_WTWa`W^SVZ SWSZYSZ\WZS_VSSTS`S_Z[^S W^VaSV_XaZY_[ZSSVSS_aS`a_`S`a_ SZYW^a\SSZ\WZYSSSZZVbVa SZY^W_\[ZZ S VTW_S^TW_S^SZ_SS`ZVbVaWSZYSZ_WUS^SS`aSSa\aZ\[`WZ_SaTaZYSZ[TWVSZ W`VSS\aSZXaZY_[ZS\WZSVSZYSVSZYWZa^a_W`\SSTZ[^SS`Sa W_SSSZÈWSUSaSZ W^SZ\W^ScS`SVSSaZ`aWZVS\S`SZYSTS^SZ`WZ`SZY\W^SaTW^VaSWZYWZS \WZYS^aTW^VaS`W^SVS\\W^SaVSZWTW^SZVaaZYSZVSSTWZ`aW\S` WSZYSZVTSYVSS `\W S`a`aSS`SaZ S`SVSZ\W^_W\_W^VS\S` S`SY[^ WSZYSZ S`a WSZYSZ_W_W[^SZY_W_W[^SZY SZYVUZ`SWSZYSZZYaZYSZ SZY _SZYS`VWZSWSZYSZ[TWW_`W^ZSWSZYSZ SZYSVS\SVSV^_WZV^ÈS_\WV^VSZ WSZYSZWVa\SZÈWZZYYS  STW` aTW^^[_W % % WTSY^W_\[ZTW^VaSVSSSXS_W S`a\WZYS^SZ S^S`ScS^WZScS^VW\^W_VSZ\WZW^SSZ     [``W^ W^^   aZVSWZ`S W\W^ScS`SZb[aW  SS^`S  a_WZ[a`a\^  WWZaSZ WTa`aSZS_S^ SZa_S WSZYSZ WS`SZVSZW^VaS VSZ ^[_W_W\W^ScS`SZ SS^`SSYaZYW`[ [cZ_WZV S^  %%%SYZ[_S W\W^ScS`SZ\SVS W\W^ScS`Z _S`^ WV[SZZ`a WTaS`SZWZUSZS W^ScS`SZV_  SS^`S  _`W_X[^`VW[USUV `aS^`SZVaZVWWZ %%%aaSa W\W^ScS`SZ cSWV  SS^`S   .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful