P. 1
58095099-Hasil-Diskusi

58095099-Hasil-Diskusi

|Views: 1,742|Likes:
Published by Jung So Min

More info:

Published by: Jung So Min on Oct 12, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/21/2013

pdf

text

original

kurangnya ketahanan pangan keluarga, kualitas perawatan ibu dan anak,

16

pelayanan kesehatan serta sanitasi lingkungan. Ketahanan pangan dapat

dijabarkan sebagai kemampuan keluarga untuk menghasilkan atau mendapatkan

makanan. Sebagai tambahan, perlu diperhatikan pengaruh produksi bahan

makanan keluarga terhadap beban kerja ibu dan distribusi makanan untukanggota

keluarga. Sanitasi lingkungan berpengaruh terhadap kesehatan, produksi serta

persiapan makanan untuk dikonsumsi serta kebersihan. Pelayanan kesehatan

bukan hanya harus tersedia, namun juga harus dapat diakses dengan mudah oleh

ibu dan anak. Status pendidikan dan ekonomi perempuan yang rendah

menyebabkan kurangnya kemampuan untuk memperbaiki status gizi keluarga.

Adapun penyebab dasar berupa kondisi sosial, politik dan ekonomi negara.

Malnutrisi, yang dapat berupa gizi kurang atau gizi buruk, dapat bermanifestasi

bukan hanya di tingkat individual namun juga di tingkat rumah tangga,

masyarakat, nasional dan internasional sehingga upaya untuk mengatasinya perlu

dilaksanakan secara berkesinambungan di berbagai tingkatan dengan melibatkan

berbagai sektor. Dengan demikian, penting untuk mengenali penyebab gizi kurang

dan gizi buruk di tingkat individu, masyarakat, maupun negara agar selanjutnya

dapat dilakukan tindakan yang sesuai untuk mengatasinya.

UNICEF memperkenalkan pendekatan ³Assessment, Analysis and Action´ dalam

penanganan malnutrisi. Setelah adanya penilaian (assessment) mengenai adanya

malnutrisi, selanjutnya perlu dilakukan analisis mengenai penyebabnya.

Berdasarkan analisis penyebab dan penilaian sumber daya yang tersedia, tindakan

(action) dirancang dan dilaksanakan untuk mengatasi masalah. Malnutrisi

merupakan manifestasi dari serangkaian penyebab yang saling berkaitan. Namun

demikian, identifikasi penyebab langsung malnutrisi pada kasus-kasus individual

ataupun pada masyarakat dengan prevalensi malnutrisi yang tinggi tetap relevan

untuk dilakukan agar dapat dilakukan penanganan yang sesuai konteks kasus

maupun masyarakat.

Secara klinis, malnutrisi dinyatakan sebagai gizi kurang dan gizi buruk. Gizi

kurang belum menunjukkan gejala khas, belum ada kelainan biokimia, hanya

17

dijumpai gangguan pertumbuhan. Gangguan pertumbuhan dapat terjadi dalam

waktu singkat dan dapat terjadi dalam waktu yang cukup lama. Gangguan

pertumbuhan dalam waktu yang singkat sering terjadi pada perubahan berat badan

sebagai akibat menurunnya nafsu makan, sakit seperti diare dan ISPA, atau karena

kurang cukupnya makanan yang dikonsumsi. Sedangkan gangguan pertumbuhan

yang berlangsung lama dapat terlihat pada hambatan pertambahan panjang badan.

Pada gizi buruk disamping gejala klinis didapatkan pula kelainan biokimia yang

khas sesuai bentuk klinis. Pada gizi buruk didapatkan 3 bentuk klinis yaitu

kwashiorkor, marasmus,dan marasmus kwashiorkor.Kwashiorkor adalah

gangguan gizi karena kekurangan protein biasa sering disebut busung lapar.

Gejala yang timbul diantaranya adalah edema di seluruh tubuh terutama punggung

kaki, wajah membulat dan sembab, perubahan status mental: rewel kadang apatis,

menolak segala jenis makanan (anoreksia), pembesaran jaringan hati, rambut

kusam dan mudah dicabut, gangguan kulit yang disebut crazy

pavement,pandangan mata tampak sayu. Pada umumnya penderita sering rewel

dan banyak menangis. Pada stadium lanjut anak tampak apatis atau kesadaran

yang menurun.

Marasmus adalah gangguan gizi karena kekurangan karbohidrat. Gejala yang

timbul diantaranya tampak sangat kurus (tinggal tulang terbungkus kulit), muka

seperti orangtua (berkerut), tidak terlihat lemak dan otot di bawah kulit, perut

cekung, kulit keriput, rambut mudah patah dan kemerahan, gangguan pencernaan

(sering diare), pembesaran hati dan sebagainya. Anak tampak sering rewel dan

banyak menangis meskipun setelah makan, karena masih merasa lapar. Pada

stadium lanjut yang lebih berat anak tampak apatis atau kesadaran yang menurun.

Untuk menentukan status gizi menggunakan beberapa langkah. Langkah pertama

adalah dengan melihat berat badan dan umur anak disesuaikan dengan grafik

KMS (Kartu Menuju Sehat). Bila dijumpai berat badan di bawah garis merah

(BGM) maka dilanjutkan dengan langkah menentukan status gizi balita dengan

menghitung berat badan terhadap tinggi badan (BB/TB) berdasarkan standar

WHO-NCHS. Dinyatakan gizi buruk bila BB/TB <-3 SD standar WHO-NCHS.

18

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->