REFERAT

Ortokeratologi

Pembimbing: dr. Mulia Sitepu Sp.M
Disusun Oleh : Erliana Fani Monika Teresa Prasetyo Hendrawan Ariwibowo Ricky Fernando Gerry Wonggo Kusuma Ido Genesio (2009-61-258) (2009-61-260) (2009-61-264) (2009-61-266) (2009-61-272) (2009-61-273)

SMF ILMU KESEHATAN MATA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIKA ATMA JAYA JAKARTA Periode : 19 September 2011-21 Oktober 2011

1

DAFTAR ISI
BAB I. PENDAHULUAN...................................................................................... 1.1Latar belakang.......................................................................................1 1.2 Rumusa masalah...................................................................................2 1.3 Tujuan...................................................................................................3 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi ortokeratologi..........................................................................4 2.2 Refrraksi................................................................................................6 2.2.1 Miopia....................................................................................6 2.2.2 Klasifikasi miopia...................................................................8 2.2.3 Faktor resiko miopia..............................................................9 2.3 Ortokeratologi...................................................................................... 2.3.1 Rancangan lensa reverse geometri........................................10 2.3.2 Keamanan pengobatan ortokeratologi...................................12 2.3.3 Perubahan kornea pada ortokeratologi..................................13 2.3.4 Prediksi perubahan kornea................................................... 14 2.3.5 Indikasi pemakaian................................................................15 2.3.6 Kontraindikasi.......................................................................16 2.3.7 Prosedur.................................................................................16 2.3.8 Keuntungan dan kerugian......................................................17 2.3.9 Efek samping.........................................................................18 2.3.10 Faktor resiko ulserasi kornea .............................................19 2.3.11 Resiko dan komplikasi ortokeratologi ................................21 2.3.12 Pencegahan efek samping 22 2.4 Penggunaan.......................................................................................... 2.4.1 Persiapan penggunaan...........................................................23 2.4.2 Penempatan ..........................................................................23 2.4.3 Melepas ................................................................................23 2.4.4 Membersihkan lensa ............................................................24 BAB III. Kesimpulan.................................................................................................25 Daftar pustaka

2

DAFTAR GAMBAR DAN TABEL

Tabel 1 : Panjang axis terhadap refraksi ..............................................7 Gambar 1 : Lensa ortokeratologi..........................................................5 Gambar 2 : Topografi...........................................................................5 Gambar 3 : Refraksi.............................................................................6 Gmabar 4 : Koreksi refraksi ................................................................6 Gambar 5 : Filosofi ortokeratologi .....................................................11 Gamabr 6 : Lensa ortokeratologi .......................................................12

3

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah

Miopia diderita sekitar 25% dari populasi dunia. Prevalensi miopia termasuk miopi tinggi (minimal –6.0 dioptre) meningkat proporsinya di Asia. Singapura adalah salah satu negara yang tertinggi tingkat miopianya di dunia dan menjadi masalah kesehatan publik yang mempunyai dampak sosioekonomi dan risiko kehilangan penglihatan berhubungan dengan komorbid yang lain karena itulah menarik untuk menemukan solusi untuk mencegah onset dan progresivitas miopia.1,2 Peningkatan insiden miopia terjadi pada negara maju dengan tingkat pendidikan yang meningkat. Persentase bervariasi dari satu negara ke negara lain, dari 25% di Amerika Serikat sampai 90% di beberapa bagian Cina. Beberapa cara untuk mengurangi miopia yang pertama metode fitting lensa kontak (ortokeratologi) untuk mengurangi miopia secara temporer dan metode kedua menggunakan teknik operasi (lasik) untuk membentuk kornea secara permanen dan mengurangi miopia.7

Faktor etiologi yang berbeda akan mempengaruhi onset dan progresitas miopia, seperti peningkatan tekanan intra okuler, anomali daya akomodasi dan defokus pada retina. Tergantung mekanisme yang terjadi, dapat dilakukan beberapa pendekatan klinis seperti menurunkan tekanan intra okuler, relaksasi akomodasi dengan atropin atau pirenzepine, monofokal, bifokal atau multifokal lensa, atau geometri konvensional, atau lensa kontak reverse geometry rigid gas-permeable.1 Ortokeratologi adalah prosedur untuk mengurangi atau menghilangkan miopia (rabun jauh) dan astigmatisme (iregularitas kornea) dengan menggunakan lensa kontak rigid gas permeable. Konsep lensa ini adalah dipakai pada malam hari untuk memperbaiki visus dan tidak perlu memakai lensa kontak sepanjang hari. Koreksi miopia ini disarankan untuk orang yang melakukan olahraga dimana tidak mungkin memakai kacamata dan menggunakan lensa kontak konvensional yang memungkinkan untuk hilang (sebagai contoh pada berenang atau menyelam).3

4

Pasien ideal untuk memakai ortokeratologi adalah miopi ringan antara - 0.75 sampai - 4.00 dioptre dan dengan astigmatisme sampai - 1.50 dioptre. Pasien dengan ammetropia antara - 0.25 sampai - 0.50 dioptre dapat diterapi juga namun lebih sulit. Bila rabun jauhnya lebih dari - 4.00 dioptre, melalui pemeriksaan mata diperlukan untuk memastikan apakah ortokeratologi dapat dikerjakan atau tidak. Berita buruk untuk pasien dengan miopia lebih dari - 5.50 dioptre, ortokeratologi tidak dapat dilakukan. Syarat tambahan untuk pemakaian lensa kontak konvensional, seperti tidak ada penyakit segmen anterior mata, lensa ortokeratologi tidak dapat digunakan ketika pasien telah operasi kornea (operasi refraktif, operasi transplantasi kornea) atau menderita keratoconus (penonjolan yang tidak teratur dan penipisan kornea).3

1.2

Rumusan Masalah 1) Mengetahui tentang miopia a. Faktor resiko miopia

2) Mengetahui tentang ortokeratologi a. Definisi Ortokeratologi b. Reverse geometry lens c. Keamanan pengobatan d. Perubahan kornea pada ortokeratologi e. Indikasi penggunaan f. Kontraindikasi penggunaan g. Prosedur penggunaan h. Keuntungan dan kerugian i. Efek samping j. Faktor resiko ulserasi kornea k. Resiko dan komplikasi ortokeratologi l. Pencegahan efek samping

5

1.3

Tujuan Tujuan penulis adalah dengan adanya referat ini diharapkan agar dapat memberikan pengetahuan dan informasi tentang ortokeratologi secara tepat, sehingga dapat berguna untuk kepentingan bersama dalam mencapai kesehatan mata yang lebih baik.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

6

2.1 Definisi Ortokeratologi Ortokeratologi (atau bisa disebut OK, ortho-k, corneal reshaping, corneal refractive therapy, dan vision shaping treatment) adalah teknik yang digunakan untuk merubah atau menghilangkan sementara gangguan refraktif dengan cara membentuk ulang permukaan kornea dengan lensa kontak yang secara khusus disiapkan. Saat ini penggunaan yang paling sering dari ortokeratologi (OK) adalah untuk menurunkan ukuran miopi melalui pendataran kornea.4,5,6 Proses dari orthokeratologi menggunakan lensa kontak keras yang secara sementara membentuk ulang permukaan bagian tengah kornea. Tujuannya untuk menurunkan miopi atau astigmat dengan menggunakan lensa rigid gas permeable (RGP) yang memiliki lengkungan lebih rata dibandingkan kornea. Setelah didapatkan lengkungan yang diinginkan, ukuran miopi akan menurun dan penglihatan membaik. Setelah tercapai dipasangkan lensa tambahan untuk menjaga efeknya. 6 Prinsip pendataran dari kornea pertama kali ditemukan pada tahun 1950an. Dokter memperhatikan bahwa kornea pasien secara perlahan mendatar dengan penggunaan Poly(methyl methacrylate (PMMA). Kemudian pada tahun 1960an, George Jessen memperkenalkan teknik yang dia sebut orthofocus. Dia menyusun lensa kontak yang lebih rata dari kornea, hal ini membuat efek pendataran dari kornea. Namun teknik ini memiliki banyak kendala antara lain lensa yang digunakan sulit diletakkan ditengah dan dibutuhkan waktu minggu hingga bulanan untuk terjadinya penurunan refraksi. Pada tahun 1970an, orthofocus diubah menjadi orthokeratology. Mulai dicari perubahan dari lensa hingga tahun 80 dan 90. Pada awal 1990an, beberapa perubahan pada lensa kontak keras terjadi. Bahan baru yang dapat menyediakan pasokan oksigen lebih banyak diperkenalkan. Bahan ini lebih aman untuk mata dan dapat digunakan semalaman. Lensa baru yaitu lensa geometri diperkenalkan. 4,5,6,7

7

Gambar 1 Lensa ortokeratologi

Gambar 2 : Topografi

8

2.2 Refraksi 2.2.1 Miopia Miopi terjadi ketika fokus obyek jatuh pada bagian depan dari retina pada mata yang tidak berakomodasi. Jika mata tersebut lebih panjang dari rata – rata maka disebut miopi axial. (Untuk setiap penambahan millimeter dari jarak axial, maka mata tersebut akan lebih miopi 3 dioptri). Jika elemen refraksi lebih berbelok dibandingkan rata – rata maka disebut miopi kurvatur atau miopi refraktif. Ketika obyek dibawa pada jarak kurang dari 6 meter maka obyek akan jatuh lebih dekat ke retina dan mendapatkan fokus yang lebih baik. Ukuran miopi yang tinggi kemungkinan terdapat kelainan degeneratif pada retina termasuk lepasnya retina. Lensa konkaf (minus) digunakan untuk mengkoreksi gambaran pada pasien miopi. Lensa ini membuat gambaran jatuh di retina. 4

Gambar 4 : Koreksi refraksi

Gambar 3 : Refraksi

9

Cahaya adalah suatu bentuk radiasi elektromagnetik yang terdiri dari paket - paket individual energi seperti partikel yang disebut foton yang berjalan menurut cara-cara gelombang. Gerakan ke depan suatu gelombang cahaya dalam arah tertentu dikenal sebagai berkas cahaya. Pembelokan suatu berkas cahaya, refraksi, ketika suatu berkas berpindah dari suatu medium dengan kepadatan (densitas) tertentu dengan medium yang berbeda. 4 Struktur-struktur refraksi pada mata harus membawa bayangan cahaya terfokus di retina agar penglihatan jelas. Apabila suatu bayangan sudah terfokus sebelum mencapai retina atau belum terfokus sewaktu mencapai retina, bayangan tersebut tampak kabur. Berkas-berkas cahaya yang berasal dari benda dekat lebih divergen sewaktu mencapai mata, daripada berkas-berkas dari sumber jauh. Berkas dari sumber sejajar yang terletak lebih dari 6 meter (20 kaki) dianggap sejajar saat mencapai mata.
4

Mata normal (emetropi memiliki titik dekat 25 cm dan titik jauh tak terhingga di depan mata. Mata yang jangkauan penglihatannya tidak terdekat di titik dekat 25 cm dan titik jauh tak terhingga disebut cacat mata. Cacat mata dapat ditanggulangi dengan menggunakan kaca mata, lensa kontak, atau operasi. 4

Tabel 1 : Panjang axis terhadap refraksi

10

Meskipun mata terdiri dari 14 komponen, refraksi total mata hanya berasal dari 6 komponen yaitu: lekukan kornea, kedalaman bilik anterior, tebal dari lensa, lekukan anterior dan posterior dari lensa, dan panjang axial. 4 Banyak pendapat mengatakan lekukan kornea, kekuatan dari lensa, dan panjang axial memegang peran paling penting pada ametropia. Beberapa studi menunjukkan bahwa nilai dari tiap komponen mata tersebut berada pada jarak yang normal, tetapi variasi yang bermakna terlihat pada kombinasi dari tiap komponen yang ada. 4 Meskipun terdapat kecendrungan axis yang lebih panjang pada miopi dan axis yang lebih pendek untuk hipermetropi, tetapi axis tersebut bervariasi pada jarak yang sama. Walaupun berada pada jarak yang sama namun ketiga jenis komponen ini bisa menghasilkan total refraksi yang bervariasi antara +6 hingga -9 dioptri. 4

2.2.2 Klasifikasi miopia Miopia adalah salah satu jenis dari kelainan refraksi pada mata. Miopia terjadi pada saat gambaran objek yang jauh terletak di depan dari retina pada mata yang tidak pada saat mengalami akomodasi. Apabila sumbu bola mata lebih panjang daripada yang seharusnya, sedangkan kelengkungan kornea dan lensa dalam keadaan normal maka disebut miopia aksial. Sedangkan apabila indeks bias media refraksi bertambah, seperti misalnya pada katarak intumesen dimana lensa menjadi lebih cembung sehingga pembiasan menjadi lebih kuat, maka disebut miopia refraktif. 8 Menurut perjalanan penyakitnya, miopia dibagi dalam bentuk: 9,10 1. Miopia Sederhana (Simple Myopia) Miopia yang paling sering dari jenis miopia yang lain dengan minus kurang dari 6.00 D. Umumnya muncul saat masa kanak-kanak (disebut miopia juvenile). Penelitian menunjukkan bahwa laju progresifitas dari miopia onset kanak-kanak dari 0 hingga lebih dari 1.00 D pertahun namun laju progresifitas paling sering adalah 0.3 hingga 0.5 D per tahun. Progresifitas ini biasanya melambat atau bahkan berhenti pada saat pertengahan atau akhir usia remaja. Progresifitas miopia sederhana dapat muncul pada saat dewasa disebut miopi onset dewasa. Laju progresifitas pada jenis ini

11

lebih rendah daripada progresifitas jenis stasioner dan tingkat keparahan dari miopia akan berkurang pada usia 45 tahun. 2. Miopia Nokturnal Miopia yang terjadi pada keadaan gelap. Hal ini akibat akomodasi yang berlebihan yang menyebabkan terganggunya proses pemasukan cahaya. 3. Pseudomiopia Pseudomiopia merupakan hasil dari peningkatan kekuatan refraksi akibat stimulasi berlebihan pada daya akomodasi mata. Dinamakan demikian karena kondisi ini hanya muncul setelah respons akomodasi yang tidak seharusnya. Umumnya pada pasien dengan usia lebih muda akibat melakukan pekerjaan seperti membaca dan menulis pada jarak dekat yang berlebihan. 4. Miopia maligna atau miopia degeneratif: miopia yang berjalan progresif dan lebih rentan terhadap terjadinya perubahan retina degeneratif yang dapat mengakibatkan ablasio retina atau bahkan kebutaan. Hal ini terjadi apabila miopia lebih dari 6 dioptri disertai kelainan pada fundus okuli dan pada panjang bola mata hingga terbentuknya stafiloma postikum yang terletak pada bagian temporal papil disertai dengan atrofi korioretina Atrofi retina terjadi setelah atrofi sklera dan apabila terjadi ruptur membran Bruch, dapat menimbulkan rangsangan untuk terjadinya neovaskularisasi subretina. 5. Induced Myopia Disebut juga miopia yang didapat, sebagai akibat dari obat-obatan, variasi dari kadar gula dalam darah, sklerosis nuclear dari lensa, atau kondisi-kondisi lainnya. Miopia jenis ini bersifat sementara dan reversible.

2.2.3 Faktor Resiko Miopia Faktor resiko utama terjadinya miopia adalah faktor keturunan miopia. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa prevalensi terjadinya miopia pada anak dengan kedua orang tuanya menderita miopia adalah 33 - 60%. Pada anak yang salah satu orang tuanya menderita miopia memiliki prevalensi sebesar 23 - 40%. Hampir seluruh penelitian itu menemukan bahwa prevalensi pada anak yang kedua orang tuanya tidak menderita miopia adalah 6 – 15%.

12

Miopia yang diketahui dari pemeriksaan dengan menggunakan retinoskopi nonsikloplegi pada bayi dan tidak mengalami perbaikan seiring dengan pertambahan usia, menjadikannya faktor resiko timbulnya miopia pada usia kanak-kanak. Terdapat penelitian yang mengatakan bahwa miopia yang diketahui pada usia sekolah memiliki prognosis yang lebih baik daripada miopia yang timbul sejak bayi atau miopia pada anak-anak yang orangtuanya menderita miopia. Pada anak-anak yang diketahui menderita hiperopia lebih dari 0,50 D memiliki faktor resiko yang lebih rendah untuk menjadi miopia pada usia yang lebih lanjut daripada anak-anak yang menderita hiperopia sama dengan atau kurang dari 0,50 D. Resiko terjadinya miopia juga diketahui tinggi pada penderita astigmatisme jenis against-the-rule, fungsi akomodasi yang menurun atau esoforia jarak dekat. Kebiasaan membaca dan bekerja pada jarak dekat juga diketahui sebagai salah satu faktor resiko dari miopia. Hal ini menyebabkan peninggian tekanan pada badan silia sehingga pada orang dengan mata normal dapat menjadi miopi. Kelengkungan kornea yang lebih curam dan perbandingan panjang aksial dengan radius kornea yang lebih dari 3 juga menjadi salah satu faktor terjadinya miopia. Kondisi pada anak-anak yang mengganggu pembentukan gambaran objek okular yang normal seperti antara lain hemangioma pada kelopak mata, penutupan kelopak mata pada neonatal, kekeruhan kornea, fibroplasias retrolental yang menyebabkan retinopati prematur, dan pendarahan vitreus, seringkali menyebabkan terjadinya degeneratif miopia. 9,10

2.3.1 Rancangan lensa reverse geometri Pada desain lensa reverse geometri, permukaan belakang daripada lensa dimodifikasi menjadi empat zona yang berbeda. Zona sentral lensa disebut juga zona optik belakang dan bertanggung jawab untuk mendatarkan bagian sentral daripada kornea. Berjalan dari sentral ke perifer, area selanjutnya disebut zona pengembalian (return zone). Daerah ini berperan untuk mengumpulkan air mata di bagian kornea. Zona selanjutnya disebut zona perbatasan (alignment zone) dan lebih datar daripada kurva pengembalian (reverse zone). Area ini penting untuk menjaga posisi lensa agar

13

tetap berada di tengah kornea. Zona perifer daripada lensa disebut juga kurvatura periferal dan berperan untuk pertukaran nutrisi daripada air mata.8 Lensa geometri reversal, dibuat dari bahan lensa baru, dan disetujui untuk pemakaian sewaktu malam sejak 2002. Dengan desain baru, lensa ini menjadi jauh lebih mudah untuk ditempatkan di bagian tengah kornea. Disamping itu, lensa ini didapatkan mampu mereduksi kesalahan refraktif terutama sewaktu malam. Efek penggunaan secara keseluruhan mulai dirasakan dalam waktu lima sampai sepuluh hari sejak pemakaian inisial. Metode ini dikenal dengan nama ortokeratologi akselerasi karena kecepatannya mendatarkan lensa dalam waktu yang singkat. Saat ini, kebanyakkan pasien menggunakan lensa geometri reversal setiap malam. 8

Gambar 5 : Filosofi ortokeratologi Lensa ortokeratologi di pasang menggunakan dasar nilai flat keratometri dan kesalahan refraksi sferikal. Lensa dipasang sedikit lebih datar daripada nilai flat keratometri. Dengan melakukan ini, lensa akan menginduksi korneal menjadi lebih datar pada bagian sentralnya. Sebagai hasilnya, kekuatan refraktif daripada kornea dapat berkurang dan kesalahan refraktif miopia dapat berkurang atau bahkan menghilang. Lensa-lensa dibuat berdasarkan set fitting diagnostik dan pilihan lensa inisial didasarkan nilai keratometri dan kesalahan refraktif. Nilai pemasangan dilihat dengan menggunakan fluoresen. Setelah dilihat pola fluoresennya barulah dilakukan pemasangan lensa tersebut. Seringkali, beberapa lensa dipakai untuk percobaan sementara sebelum lensa yang cocok ditemukan. Secara umum, memasang lensa yang sesuai agar berada di tengah mengikuti pola karakteristik fluoresen. Pola ini berupa 3-4 mm bagian sentral di kelilingi oleh 1mm lingkaran untuk pengumpulan air mata. Di bagian mid perifer dapat terlihat adanya perbatasan (alignment) dan bagian

14

perifer harus memperlihatkan adanya tepi yang bagus dan jernih. Diagnostik penyesuaian lensa merupakan suatu metode yang sering digunakan, pemasangan lensa secara empiris juga menunjukkan suatu metode yang efektif. 8

Gambar 6 : Lensa ortokeratologi Lensa tersebut dikenakan setiap malam untuk beberapa bulan pertama pengobatan. Rata-rata, kebanyakkan pasien telah mengalami koreksi secara sempurna sekitar 1 minggu pertama semenjak mulai menggunakan lensa. Setelah melewati 1 minggu, tidak ada perubahan kornea yang signifikan pada pasien. Kebanyakkan pasien mengalami regresi dalam efek pengobatan saat jam terbangun, bisa bergeser sebanyak 0.25-0.75 D. Karena alasan ini, pasien dilakukan overkoreksi secara umum menggunakan Diopter setengah untuk menghitung regresi ini. Sebagai tambahan, regresi ini ternyata lebih banyak terjadi pada hari pertama dibandingkan hari ke delapan. 8

2.3.2 Keamanan pengobatan ortokeratologi Ortokeratologi secara umum sudah menjadi suatu pengobatan dengan metode yang aman dan efektif untuk pasien miopia. Ada sedikit peningkatan resiko infeksi berhubungan dengan lensa yang dipakai ketika tidur, terlepas dari tipe apapun juga. Beberapa laporan kasus menunjukkan adanya keratitis mikrobial dalam

ortokeratologi. Kebanyakkan pasien yang terkena keratitis bakterialis ini adalah anak-

15

anak berusia 9-15 tahun dan berwarga negara asia. Di Amerika, ortokeratologi digunakan untuk mencegah perkembangan miopia pada anak-anak remaja. Masih belum jelas, apakah ras berperan untuk keratitis atau karena banyaknya pasien-pasien yang mengenakan ortokeratologi adalah ras asia. 8 Peningkatan minat penggunaan lensa ortokeratologi pada anak-anak telah dilaporkan dalam beberapa literatur. Hal ini disebabkan karena banyaknya anak-anak dan remaja yang menggunakan kontak lensa akhir-akhir ini. Pada suatu studi kelompok kecil, koreksi miopia menggunakan lensa ortokeratologi ditemukan aman dan efektif pada anak-anak dan remaja. Sebagai tambahan, minimal terjadinya korneal staining, dan tidak ditemukan adanya keratitis mikrobial. 8 Secara keseluruhan ortokeratologi merupakan suatu pilihan yang efektif untuk mengkoreksi miopia dengan efek samping yang minimalis. Salah satu efek samping yang paling sering ditemukan adanya fotofibia atau lingkaran halo pada lingkungan dengan penerangan yang baik. Efek samping ini dapat dikurangi dengan meningkatkan ukuran zona sentral. 8

2.3.3 Perubahan kornea dalam ortokeratologi Sebagai hasil dari ortokeratologi, didapatkan bagian sentral dan midperifer kornea akan mengalami pendataran. hal itu disebabkan karena lensa ortokeratologi bekerja terutama di daerah anterior jaringan kornea, bagaimanapun masih belum jelas apakah efeknya pada epitelium, stroma atau keduanya. Sebagai tambahan, ada beberapa teori yang memicu timbulnya perubahan kornea dalam ortokeratologi. Teori yang satu mengatakan adanya tekanan ke arah bawah pada bagian tengah kornea membuat permukaan korneal bagian sel epitel menjadi lebih datar. Teori yang lain mengatakan hal itu terjadi karena adanya tekanan tarikkan di midperifer kornea. Adanya perubahan tekanan ini dapat menarik sel epitel di bagian perifer, sehingga membuat sel epitel kornea ter-redistribusi. Sebagai hasil dari redistribusi ini, akan terdapat perdataran relatif pada bagian sentral kornea dibandingkan di daerah mid perifer. Beberapa teori lainnya mengatakan adanya perubahan stroma kornea pun ikut terjadi bersamaan dengan perubahan epitelium kornea.8

16

Beberapa studi histologi dan morfologi telah mengungkapkan efek daripada ortokeratologi terhadap lapisan-lapisan kornea yang diduga memiliki peranan dalam pendataran kornea. Beberapa studi akhir-akhir ini terhadap primata menunjukkan

adanya perubahan selular pada tingkat epitel dan stroma kornea setelah periode singkat penggunaan lensa dengan mata tertutup. Secara spesifik, sel epitel korneal menunjukkan adanya kompresi fokal daripada redistribusi atau kehilangan lapisan sel di bagian zona sentral. Perubahan yang utama dalam morfologi sel dapat dilihat pada sel basal dan sel sayap (wing cell). Pada studi ini juga diungkapkan adanya penipisan sentral stroma dan penebalan stroma bagian mid perifer. Kedua kompresi mekanik dan tekanan air mata ternyata berpotensi untuk mengubah bentuk kornea. 8 Beberapa studi histologi terbaru pada kornea kucing mengungkapkan adanya penipisan epitel kornea bagian sentral dan penebalan epitel kornea bagian midperifer. Pada studi ini juga didapatkan adanya penggunaan lensa secara singkat memicu kompresi sel-sel epitelial. Bagaimanapun, dengan pengunaan waktu yang lebih panjang (14 hari), proliferasi sel-sel epitelial dapat terlihat di bagian mid perifer.
1

Diduga penempelan kornea terhadap benda asing dapat memicu pertumbuhan daripada sel epitelial daripada kornea. 2 Mekanisme yang tepat untuk menerangkan ini dihipotesiskan karena adanya perubahan metabolik selular, tekanan yang diinduksi oleh lensa atau edema korneal. 8 Studi yang lain menunjukkan adanya bagian epitel korneal bagian sentral yang menipis dan bagian midperifer yang menebal pada manusia yang mengenakan lensa ortokeratologi pada satu jam pertama. Peruahan ini terjadi terutama setelah lima belas menit pemasangan lensa. Bagaimanapun, perubahan kornea ini bervariasi tergantung pada tiap-tiap pasien, dan malleabilitas kornea. Studi histologikal dan morfologikal menunjukkan adanya perubahan kornea karena penggunaan lensa ortokeratologi. 8

2.3.4 Memprediksi perubahan kornea pada ortokeratologi Secara umum, pasien dengan kesalahan refraktif antara -1.00D dan -5.00 D merupakan pasien yang paling efektif untuk memulai pengobatan ortokeratologi. Ortokeratologi tidak dapat mengkoreksi astigmatisma secara sempurna, dan pasien dengan astigmatisma yang parah biasanya tidak dapat mendapatkan hasil yang

17

sempurna untuk pengobatan gangguan refraksinya. Sebenarnnya, tidak ada satu metode pun yang dapat memprediksi kapan kornea akan mengalami perubahan. Namun, beberapa perhitungan gangguan refraksi dapat digunakan untuk menghitung kapan kira-kira kornea pasien mulai mengalami perubahan semenjak dipasang lensa ortokeratologi. Secara spesifik, pasien-pasien dengan kesalahan refraksi yang

semakin besar tentu akan mengalami pengobatan yang lebih lama. Pasien dengan minimal kelainan refraktif akan mengalami penyembuhan secara sempurna. 8 Ada beberapa catatan yang mengatakan bahwa perubahan kornea pada anak kecil lebih cepat terjadi daripada pada orang dewasa. Pada studi yang lain, didapatkan pasien dengan umur yang lebih tua mengalami perubahan kornea yang lebih lama seperti pendataran kornea, hasil refraktif yang kurang baik, dan baru terjadinyya penipisan lensa bagian sentral kornea setelah satu jam pemakaian. Hal ini diduga adanya proses penyembuhan kornea yang lebih lama pada orang tua dibandingkan anak-anak. Rigiditas okular dan kornea juga diperiksa sebagai prediktor dalam

perubahan kornea di ortokeratologi. Pada jaman dulu, rigiditas dihitung menggunakan persamaan matematika yang melibatkan pengukuran tekanan intraokular. 8

2.3.5 Indikasi pemakaian Tidak ada indikasi khusus terhadap penggunaan CRT, namun CRT dapat menjadi jalan keluar yang baik bagi orang-orang yang merasa terganggu dengan penggunaan lensa kontak maupun kacamata namun tidak ingin atau memiliki kontraindikasi tertentu untuk melaksanakan tindakan operasi refraktif. CRT juga disarankan pada anak-anak yang miopinya masih bertambah dengan harapan menghemat biaya pembuatan kacamata yang harus diganti setiap jangka waktu tertetu. CRT dapat digunakan secara efektif pada:     Miopia ringan sampai sedang (-0,75 ke-5.00D) Hiperopia ringan, hingga +3,00 D Presbiopia - koreksi monovision Individu aktif atau orang-orang dengan tuntutan pekerjaan yang tidak dapat

menggunakan alat bantu penglihatan standar atau lensa kontak sekali pakai.

18

 kontak.  

Sering kehilangan lensa kontak atau menderita alergi dari beberapa jenis lensa

Tidak memiliki kontraindikasi bedah refraktif namun khawatir mengenai

risiko tindakannya. Memiliki keluhan mata kering karena penyejuk udara, menggunakan

komputer atau lingkungan berdebu sehingga kurang nyaman menggunakan lensa kontak. Penggunaan lensa kontak tidak memenuhi tuntutan kenyamanan gaya hidup yang diinginkan Saat ini terdapat berbagai merk lensa CRT yang memiliki rentang efektifitas yang dinyatakan dapat mencapai koreksi miopia hingga -10,00 D, hiperopia hingga +5,00 D dan presbiopia hingga +3,00 D.11

2.3.6 Kontraindikasi Secara teoritis terdapat beberapa faktor anatomi dan fisiologis yang harus dipertimbangkan, walaupun demikian faktor-faktof tersebut umumnya tidak langsung menjadi kontraindikasi. Kelainan pada mata dan kelopak mata yang abnormal mungkin akan lebih lebih menjadi pertimbangan apabila kelainana tersebut mempengaruhi topografi kornea. Mata kering yang berat juga dapat menyebabkan gangguan topografi kornea dikarenakan terjadinya peningkatan penumpukan debris. Namun, pada mata kering marjinal justru dapat menjadi keuntungan dari penggunaan CRT karena pada siang hari tidak ada lensa yang harus digunakan sehingga kekeringan marjinal bukan menjadi kontraindikasi melainkan sering menjadi indikasi. Kontraindikasi absolut terhadap penggunaan CRT antara lain kondisi patologis seperti keratokonus dan penyakit kornea lainnya. 11,12

2.3.7 Prosedur Sebelum pasien menggunakan lensa CRT, harus dilakukan pemeriksaan mata menyeluruh untuk menilai kesehatan dan kondisi mata secara keseluruhan. Kemudian bentuk yang tepat dari permukaan mata akan dinilai menggunakan Scan Komputer
19

Topografi kornea. Scan hanya membutuhkan beberapa detik namun menimbulkan rasa kurang nyaman hingga nyeri. Pemeriksaan ini menghasilkan peta topografi mata sehingga memungkinkan penilaian secara akurat menilai CRT yang sesuai serta menentukan jenis lensa yang diperlukan. Untuk sebagian besar pasien lensa kemudian dapat segera dipasang, meskipun dalam beberapa kasus kita perlu untuk memesan lensa yang dibuat khusus. Scan Komputer Topografi kornea harus dilaksanakan sebelum dan sesudah pemasangan CRT. 12,13 Setelah lensa CRT telah tersedia, pertemuan berikutnya harus dilaksanakan untuk melakukan pemeriksaan mata lainnya yang dianggap perlu dan scan topografi ulang untuk memastikan bahwa lensa akan bekerja seperti yang diharapkan. Perubahan visual paling bermakna terjadi dalam dua sampai tiga minggu pertama sehingga akan diperlukan kontrol sesering mungkin untuk memantau perubahan bentuk kornea. Sebagian besar pasien mengalami perubahan signifikan dalam beberapa hari pertama, meskipun dalam beberapa kasus dapat memakan waktu antara 2-3 minggu untuk visi yang diinginkan tercapai sepenuhnya. Setelah CRT dimulai, penggunaan kacamata ataupun lensa kontak yang sebelumnya digunakan tidak akan lagi bekerja secara efektif. Penglihatan normal dapat dipertahankan sepanjang periode ini baik melalui penggunaan lensa CRT siang hari atau dengan bantuan lensa kontak. 12,13 Setelah penglihatan pada siang hari telah stabil, maka hanya akan diperlukan memakai lensa di malam hari atau beberapa jam dari satu hari. Beberapa orsng hanya menggunakan lensa satu malam setiap dua hingga tiga malam. Jika ingin menghentikan penggunaan CRT, hanya perlu menghentikan penggunaan lensa CRT dan penglihatan akan kembali ke keadaan sebelumnya setelah 72 jam. 12,13

2.3.8 Keuntungan dan Kerugian Ortokeratologi Perbaikan visus dengan ortokeratologi sebaik dengan metode koreksi konvensional. Tidak sepenuhnya mengoreksi astigmatisme. Keuntungan terbesar dari ortokeratologi dibandingkan dengan operasi laser refraktif adalah reversibel. Ketika pasien memilih untuk berhenti memakai lensa ortokeratologi, korneanya akan kembali ke bentuk semula dalam satu minggu dan kacamata atau lensa kontak lama dapat dipakai kembali. 13

20

Satu risiko mayor untuk mata adalah asupan oksigen; selama tidur mata menerima kurang oksigen dibandingkan saat siang yang menyebabkan kornea bengkak setiap malam. Lensa kontak merupakan penghalang yang akan mengurangi asupan oksigen dan bengkak kornea lebih dari normal. Pembengkakan ini akan meningkatkan risiko untuk neovaskularisasi kornea (ikatan kornea tidak sekuat saat normal dan membuat pembuluh darah tumbuh ke dalam kornea). Ketika pasien memiliki mata kering, kemungkinan lensa akan lengket ke kornea saat pagi harinya. Ketika hal ini terjadi tidak perlu terlalu dikhawatirkan, tetapi pasien diberitahukan untuk membasahi lensa sebelum melepasnya, atau epitelium akan rusak. Kerusakan permukaan kornea adalah sangat sering untuk inflamasi karena epitelium adalah satusatunya lapisan untuk menjaga terhadap mikroorganisme. Ketika bakteri atau virus mampu untuk menginvasi kornea yang menghasilkan keratitis. Inflamasi kornea menjadi komplikasi yang serius; mata menjadi merah dan sakit. Visus akan menurun secara permanen jika inflamasinya sangat dalam dan sembuh dengan jaringan parut. 13

2.3.9 Efek Samping Ortokeratologi Beberapa masalah yang mungkin muncul : 14 1. Mata terbakar, gatal (iritasi), atau nyeri mata. 2. Kurang nyaman ketika lensa pertama kali ditempatkan pada mata. 3. Berasa sesuatu yang mengganjal pada mata seperti benda asing atau area tergores. 4. Lakrimasi yang berlebihan dari mata 5. Sekresi mata yang tidak biasa 6. Mata merah 7. Berkurangnya tajam penglihatan (visus jelek) 8. Pandangan kabur, pelangi, atau halo di sekitar objek 9. Sensitivitas cahaya (fotofobia)

Jika ada tanda di atas : Segera lepas lensa. Jika rasa tidak nyaman atau masalah sudah teratasi, lihat secara seksama lensanya. Ketika lensanya rusak, jangan gunakan lensa pada mata. Taruh lensa pada tempat penyimpanan dan hubungi dokter mata. Ketika lensanya kotor, atau terdapat benda asing, dan lensa tampak tidak rusak, pasien seharusnya membersihkan dan diinfeksi lensa; lalu memasukan kembali ke tempat penyimpanan. Jika masalah berlanjut, pasien seharusnya segera melepas lensa kontak dan

21

pergi ke dokter mata. Ketika beberapa masalah di atas timbul, kondisi yang serius seperti infeksi, ulkus kornea, neovaskularisasi, atau iritis mungkin akan muncul. Pasien seharusnya tetap melepas lensa dari mata dan menemui dokter mata untuk menemukan masalahnya dan mendapat terapi yang adekuat untuk mencegah kerusakan mata yang serius.14,15 Beberapa efek samping ortokeratologi seperti pigmentasi cincin kornea

asimptomatik berhubungan dengan pemakaian ortokeratologi dan cincinnya reversibel. Ortokeratologi akan meningkatkan aberasi, terutama aberasi spherical. Komplikasi parah, seperti ulserasi kornea. 16 2.3.10 Faktor Risiko untuk Ulserasi Kornea pada Pemakaian Ortokeratologi16

1. Kebersihan Umum 2. Merokok 3. Keadaan mata kering 4. Kepatuhan merawat lensa 5. Menyimpan atau membilas

8. Umur 9. Kesalahan refraksi 10. Jenis kelamin 11. Etnis 12. Status sosial ekonomi 13. Bahan lensa kontak 14. Umur lensa kontak / siklus penggantian lensa

dengan air keran 6. Lama pemakaian 7. Ketipisan epitel

Satu dari efek samping yang paling sering adalah visus tidak optimal karena penentuan lensa yang tidak baik, zona terapinya tidak berada tepat di tengah pupil dan aksis optikal mata. Penting untuk observasi bentuk lensa, pergerakan, visus dan topografi kornea serta harus mengevaluasi pasien beberapa jam saat terbangun di pagi hari setelah malam pertama pemakaian ortokeratologi sepanjang malam. Pasien harus menghentikan pemakaian lensa bila ada kesalahan lensa. 17 Perlengketan lensa selalu mungkin ketika lensa dipakai sepanjang malam. Pasien dianjurkan untuk membasahi tiap mata sebelum tidur. Setelah bangun pagi, beberapa tetes diperlukan untuk membasahi mata atau jangan melepas lensa segera setelah bangun pagi, teteskan dulu tetes mata dan beberapa menit berkedip, baru dilepaskan. Pasien seharusnya

22

menghubungi dokter mata untuk petunjuk melepas lensa bila tidak mau lepas setelah 30 menit. 17 Pewarnaan kornea, pasien dengan kekurangan jumlah air mata dan atau kualitas air mata tidak baik menggunakan ortokeratologi, akan mencapai efek pewarnaan kornea yang tidak dapat diterima oleh pasien. Harus dibedakan dengan pewarnaan epitel kornea yang sebenarnya akibat menempelnya mukus pada permukaan kornea. 17 Corneal epithelial fluorescein staining mungkin muncul pada tengah kornea karena iritasi mekanik (tertinggalnya sisi posterior lensa) atau fisiologi kornea (kebutuhan kornea akan oksigen yang tinggi). Pewarnaan pada tengah kornea tidak akan terjadi bila desain dan ukuran lensa yang tepat. Komplikasi lain seperti iritasi atau infeksi yang berhubungan dengan kurangnya pengetahuan pasien dan atau kepatuhan untuk mengikuti petunjuk pemakaian dan perawatan. 17 Efek samping paling sering kedua adalah edema kornea dan pewarnaan kornea. Efek samping lain yang mungkin muncul adalah ketidaknyamanan ekstrim, merah, berair, iritasi, discharge, abrasi kornea atau pandangan yang terdistorsi. Kondisi ini biasanya sementara jika lensa dilepas dengan benar dan segera dirawat oleh dokter. Pasien sebaiknya segera melepas lensa dan tidak memasukan lensa lagi jika terdapat gejala dan segera hubungi dokter mata. 17 Pada kasus yang jarang dapat timbul sikatrik kornea permanen, penurunan penglihatan, dan infeksi mata, ulserasi kornea, iritis, atau neovaskularisasi. Efek samping ini dapat diminimalisasikan atau dihilangkan jika dilakukan perawatan lensa yang teratur dan adekuat serta kontrol ke dokter mata dengan teratur. 17 Ortokeratologi umumnya aman dan terapi yang efektif untuk miopia. Risiko infeksi meningkat sedikit berhubungan dengan pemakaian lensa sepanjang malam pada jenis lensa tertentu. Beberapa studi kasus menunjukan keratitis mikrobial pada pemakaian lensa ortokeratologi. 18

23

Koreksi miopia menggunakan lensa ortokeratologi ditemukan aman dan efektif pada anak dan remaja. Pewarnaan kornea yang minimal dan tidak ada kasus keratitis mikrobial yang dilaporkan. Ortokeratologi adalah pilihan yang efektif untuk koreksi miopia dengan efek samping yang minimal. Pasien ortokeratologi tidak menunjukan pengurangan visus koreksi terbaik mereka. Tidak ada perubahan yang signifikan dari baseline terhadap sensitifitas kontras. Salah satu efek samping yang terbanyak dari terapi ini adalah sensasi silau atau halo disekitar cahaya pada kondisi yang remang-remang. Efek samping ini berkurang dengan meningkatkan ukuran zona terapi. 18

2.3.11 Risiko dan Komplikasi Ortokeratologi

Kebanyakan reaksi atau limitasi setelah ortokeratologi biasanya sementara dan akan berkurang setelah tiga bulan prosedur atau dengan penghentian penggunaan lensa kontak. Mungkin menjadi kronis atau permanen jika melanjutkan penggunaan lensa kontak. 15

1. Lensa terasa mengganjal selama beberapa jam, hal ini normal dan akan berkurang dalam dua sampai enam minggu. Lensa di desain khusus untuk menempel pada mata sehingga terasa mengganjal ketika terbangun. 15

2. Pandangan buram normal selama minggu pertama, perbaikan penglihatan biasanya membutuhkan 2-7 hari sampai pandangan menjadi cukup jelas untuk mengemudi. 15

3. Over-Koreksi / Under-Koreksi. Pada terapi awal terapi ortokertologi mungkin akan over-koreksi atau under-koreksi yang cukup signifikan untuk menyebabkan gejala. Bila hal ini terjadi perlu mendesain ulang lensa untuk menguranginya. Jika dokter merasa perbaikan tidak akan memperbaiki hasil, kacamata mungkin menjadi pilihan sementara. 15

24

4. Presbiopia/Monovision. Presbiopia, perubahan karena usia tua yang normal untuk melihat dekat karena perubahan struktur mata, secara alami menyebabkan orang untuk membutuhkan kacamata baca pada usia 40 tahun. Ketika pasien tidak memerlukan kacamata bifokal atau kacamata baca sekarang, pasien akan membutuhkannya sesuai usia walaupun tidak menggunakan ortokeratologi. Ortokeratologi tidak menghentikan proses penuaan. Hal ini mungkin pada beberapa pasien yang dikoreksi penglihatan jauhnya dengan ortokeratologi akan membutuhkan kacamata baca juga, waktu membutuhkannya lebih cepat ketika pasien tidak diterapi dengan ortokeratologi. Satu pilihan yang mungkin adalah monovision. Pada monovision, mata yang tidak dominan di under-correction (tidak sepenuhnya terkoreksi untuk penglihatan jauh) diperlukan untuk membantu pandangan saat membaca. Monovision membantu tugas jarak dekat seperti membuka surat, membaca label harga, atau melihat jam tangan. 15

5. Infeksi. Risiko infeksi selama memakai ortokeratologi adalah sangat jarang. Risikonya akan meningkat oleh organisme kecil yang disebut acanthamoeba. Prosedur disinfeksi lensa kontak yang baik akan mengurangi risiko infeksi. Infeksi kornea yang serius akan menghasilkan jaringan parut, penurunan penglihatan permanen, dan kehilangan penglihatan total. 15

6. Abrasi Epitel. Pasien suatu saat akan merasakan abrasi superfisial untuk lapisan terluar dari kornea yang disebut epitelium. Hal ini dapat terjadi jika terdapat kotoran antara lensa dan mata atau jika permukaan lensa perlu untuk diubah. Abrasi epitel adalah komplikasi yang jarang dan akan hilang dalam 3-24 jam. Jika pasien mengalami rasa tidak nyaman yang mendadak pada mata, mata merah dan sensitif terhadap cahaya, lepas lensa kontak dan hubungi dokter mata. 15

25

7. Regresi / perubahan lain dari mata. Kebanyakan ahli ortokeratologis sependapat bahwa ortokeratologi memperlambat proses miopia.

Ortokeratologi tidak menghentikan proses penuaan. Ortokeratologi tidak mencegah timbulnya masalah mata seperti glaukoma, katarak atau degenerasi atau lepasnya retina. 15

8. Peringatan Setelah Terapi : Sama seperti prosedur operasi refraktif, pasien mungkin merasakan gambar seperti bintang atau halo di sekitar cahaya setelah terapi ortokeratologi, persepsi menilai jarak akan terganggu dan ukuran gambar mungkin terlihat sedikit berbeda. Beberapa keadaan akan berpengaruh pada kemampuan pasien untuk mengemudi dan memperkirakan jarak. Mengemudi hanya dilakukan jika pandangan pasien adekuat. 15 2.3.12 Pencegahan Efek Samping Ortokeratologi7 Untuk meminimalkan potensi komplikasi pemakaian seperti iritasi mata atau infeksi serius, pasien harus diajarkan cara yang benar untuk memakai dan merawat lensa ortokeratologi, dan menggunakan metode higiene yang baik ketika pasien menggunakannya. 17 2.4.1 Persiapan Penggunaan Lensa17 Kebersihan menyentuh lensa. 17 a. Selalu cuci, bilas dan keringkan tangan sebelum memegang lensa. b. Hindari sabun yang mengandung krim dingin, lotion atau kosmetik yang berminyak sebelum menyentuh lensa. Bahan ini dapat menempel ke permukaan lensa dan susah untuk dibersihkan. c. Pegang lensa dengan ujung jari, hindari penggunaan kuku jari yang dapat menggores lensa. sangat penting untuk perawatan yang baik lensa

ortokeratologi. Tangan harus bersih dan bebas dari substansi asing ketika

26

d. Selalu mulai dari lensa yang sama untuk menghindari pencampuran. e. Keluarkan lensa dari tempat penyimpanan dan periksa, pastikan bersih, dan bebas dari kerusakan. 2.4.2 Penempatan Lensa pada Mata17 Setelah mencuci dan mengeringkan tangan, ikuti langkah ini untuk memasukan lensa pada mata. a. Keluarkan lensa dari tempat penyimpanan. b. Cuci lensa dengan cairan pembersih. c. Lihat apakah lensa sudah bersih, tidak basah dan tidak berdebu. d. Hilangkan beberapa cairan pembersih pada permukaan lensa. e. Tempatkan lensa di ujung jari telunjuk tangan yang dominan. f. Tahan kebawah kelopak mata atas dan bawah dengan tangan yang lain. g. Secara perlahan tempatkan lensa di tengah mata. Tidak perlu untuk menekan lensa pada mata. h. Perlahan lepaskan kelopak mata dan berkedip. Lensa akan berada di tengah secara otomatis. i. Gunakan cara yang sama untuk menempatkan lensa yang lain. j. Pasien harus meneteskan dua atau tiga tetes cairan tetes mata sebelum memakai lensa. 2.4.3 Melepas Lensa17 Sebelum melepas lensa, pasien sangat penting untuk memastikan lensa dapat digerakan. Bila lensa tidak dapat digerakan, teteskan dahulu lima tetes cairan yang direkomendasikan. Biasanya lensa akan bergerak spontan setelah beberapa menit penetesan dan berkedip. Tunggu sampai lensa dapat bergerak bebas dengan berkedip sebelum melepasnya. Pasien diinstruksikan untuk : 17 Melihat ke atas, jari ditaruh di kelopak mata bagian bawah, di pinggir lensa bagian bawah untuk menekan secara perlahan dan lembut. Melihat ke bawah, proses diulang seperti tadi, menaruh ujung jari di kelopak mata atas dan menekan lensa bagian atas. Pasien diminta untuk melihat ke depan dan berkedip

27

beberapa saat. Ketika lensa mulai bergerak, lensa dapat dilepas dengan metode ini : Lensa dapat dilepas secara manual menggunakan metode berkedip atau metode “scissor” bila lensa GP biasa. Melepas lensa ortokeratologi yang berdiameter besar mungkin membutuhkan soft silicone rubber removal device. 17 2.4.4 Membersihkan dan Menyimpan Lensa17 Lensa sebaiknya digosok perlahan selama 20 detik pada tiap sisi menggunakan pembersih yang direkomendasikan, diikuti dengan pembilasan menggunakan cairan yang direkomendasikan pula. Sebaiknya tidak menekan lensa terlalu kuat selama memegangnya. Lensa ortokeratologi mudah rusak. 17 Lensa yang telah dibersihkan sebaiknya ditempatkan pada tempat yang baik dan di tutupi cairan penyimpan. Lensa ortokeratologi dibuat berbeda antara kanan dan kiri untuk menghindari tertukar. Red di desain untuk digunakan pada mata Right, dan yeLlow digunakan untuk mata Left. 1`7

28

BAB III KESIMPULAN
Miopia diderita sekitar 25% dari populasi dunia, menjadi masalah kesehatan publik yang mempunyai dampak sosioekonomi dan risiko kehilangan penglihatan. Ortokeratologi merupakan salah satu teknik untuk menurunkan ukuran miopi melalui pendataran kornea. Lensa tersebut dikenakan setiap malam untuk beberapa bulan pertama pengobatan. Rata-rata, kebanyakkan pasien telah mengalami koreksi secara sempurna sekitar 1 minggu pertama semenjak mulai menggunakan lensa. Keuntungan terbesar dari ortokeratologi dibandingkan dengan operasi laser refraktif adalah reversibel. Ketika pasien memilih untuk berhenti memakai lensa ortokeratologi, korneanya akan kembali ke bentuk semula dalam satu minggu dan kacamata atau lensa kontak lama dapat dipakai kembali. 13

Risiko mayor untuk mata adalah asupan oksigen; selama tidur mata menerima kurang oksigen. Kebanyakan reaksi atau limitasi setelah ortokeratologi biasanya sementara dan akan berkurang setelah tiga bulan prosedur atau dengan penghentian penggunaan lensa kontak. Mungkin menjadi kronis atau permanen jika melanjutkan penggunaan lensa kontak.
15

Lensa terasa

mengganjal selama beberapa jam, pandangan buram, over-Koreksi / Under-Koreksi, infeksi, abrasi Epitel. Beberapa keadaan akan berpengaruh pada kemampuan pasien untuk mengemudi dan memperkirakan jarak.

29

Ortokeratologi tidak menghentikan proses penuaan. Ortokeratologi tidak mencegah timbulnya masalah mata seperti glaukoma, katarak atau degenerasi atau lepasnya retina. 15

Untuk meminimalkan potensi komplikasi pemakaian seperti iritasi mata atau infeksi serius, pasien harus diajarkan cara yang benar untuk memakai dan merawat lensa ortokeratologi, dan menggunakan metode higiene yang baik ketika pasien menggunakannya. Ortokeratologi bisa dianggap sebagai salah satu pilihan yang cukup baik untuk mengoreksi kelainan refraksi.

30

Daftar Pustaka

1. Queirós A., González-Méijome J.M., Jorge J., Villa-Collar C., Gutiérrez A.R. Peripheral Refraction in Myopic Patients after Orthokeratology. Optometry and Vision Science. 2010;87(5): 323-329. 2. Seo-Wei Leo, Yvonne Ling, Tien-Yin Wong, Boon-Long Quah. Report of the National Myopia Prevention and Control Workgroup 2006: A Summary. Ann Acad Med Singapore 2007;36(Suppl):65-71 3. Lars Hartmann. Orthokeratology, New findings in correcting vision overnight. Berlin 4. Michael G. Glasspool. Atlas berwarna oftalmologi. Edisi 1 : 1990 5. Eva PR, Whitcher JP. Vaughan & Asbury's General Ophthalmology. Ed ke16. California: McGraw-Hill; 2004. 6. Swarbrick HA. Orthokeratology and update. Clin Exp Optom 2006; 89: 3: 124–143 7. Glavine KA. Using Corneal Characteristics to Predict Corneal Change in Overnight Orthokeratology. New England College of Optometry 2009. 8. Riordan-Eva, Paul. Optics and Refraction. Vaughan and Asbury’s: General Ophthalmology 17th edition. 2008. USA: Lange Medical Books/ McGrawHill. 9. Goss, et all. Care of the Patient with Myopia. 2006. St. Louis: American Optometric Association. 10. Ilyas, Sidharta. Tajam Penglihatan dan Kelainan Refraksi Penglihatan Warna. Ilmu Penyakit Mata edisi ketiga. 2004. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 11. Worp, Eef van der. Orthokeratology: An Update. University of Maastricht, Maastricht, the Netherlands. Optometry in Practice Vol 7 (2006) 47–60. 7 December 2005

31

12. Glavine, Kristin Ann. Using corneal characteristics to predict corneal change in overnight orthokeratology. New England College of Optometry. April, 2009 13. Rosengarten,Elliott M. OD. Orthokeratology and ophthalmic assistant. Assosiation of technical personel in ophtalmology. Louisville, Kentucky. September 1999. 14. U.S. Department of Health and Human Services, Food and Drug Administration, Center for Devices and Radiological Health. Guidance for Orthokeratology, Rigid Gas Permeable

Premarket Submissions of

Contact Lenses. April 10, 2000 15. Dr. Janice L. Glaser. Informed Consent Night Wear Orthokeratology. 16. Jeffrey J. Walline, dkk. The Current State of Corneal Reshaping. Eye & Contact Lens. 31(5): 209–214, 2005

17.Polymer Technology, a Bausch & Lomb company. A Guide to Overnight Orthokeratology. Second Edition, 2004, North America. 18. Kristin Ann Glavine. Using Corneal Characteristics to Predict Corneal Change in Overnight Orthokeratology. New England College of Optometry. April, 2009

32

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful