You are on page 1of 18

PENENTUAN HARGA POKOK BERDASARKAN AKTIVITAS ( ACTIVITY BASED COSTING) Pendahuluan Keterbatasan penentuan harga pokok konvensional terletak

pada pembebanan overhead. Dalam system biaya tradisional ada dua system yaitu job order costing dan process costing. Dimana dalam kedua system tersebut gagal menentukan biaya produk secara akurat. Pembebanan biaya overhead secara individual menimbulkan masalah, yang dalam system tradisional pembebanannya dengan menggunakan metode berdasar unit ( unit based) dapat menghasilkan informasi biaya yang terdistorsi. Penentuan harga pokok secara konvensional untuk produk tunggal ketepatan pembebanan biaya overhead berdasarkan unit menjadi masalah hanya jika berbagai jenis produk diproduksi dengan menggunakan 1 fasilitas. Jika hanya 1 produk yang diproduksi, seluruh biaya overhead yang terjadi disebabkan karena produk tersebut dapat dilacak pada produk itu sendiri.
Contoh peraga 5.2 Perhitungan biaya satuan : produk tunggal Biaya produksi Rp 600.000 100.000 300.000 1.000.000 Unit produksi 10.000 10.000 10.000 10.000 Biaya / unit Rp 60 10 30 100

Biaya bahan baku Biaya tenaga kerja langsung Biaya overhead Total

Page

1 Bertylink2002

000 Page 2 Bertylink2002 .000 30 1.Pembebanan produk ganda dengan cost drivers berdasar unit Masalah yang timbul: bagaimana mengidentifikasi jumlah overhead yang ditimbulkan atau dikonsumsi oleh masing-masing jenis produk.000 50 2. Masalah ini dapat diselesaikan dengan mencari cost drivers atau driver biaya.3 Data penentuan harga pokok produk Kertas Produksi / tahun Biaya utama Jam kerja langsung Jam mesin Produksi berjalan Jam inspeksi Putih 20.000 Rp 500.000 20. Cost driver berdasarkan unit dibebankan pada produk melalui penggunaan tariff overhead tunggal untuk seluruh pabrik atau tariff overhead tiap departemen.000 Rp 100. kertas pembungkus warna putih 2.000 20 800 Data Pembung kus Biru 100. diasumsikan konsumsi overhead berhubungan erat dengan jumlah unit yang diproduksi yang diukur dalam jam kerja langsung.000 100.000 10.000 60. Pemakaian cost driver berdasarkan unit ini mempunyai keterbatasan karena mengakibatkan informasi biaya terdistorsi. jam mesin atau jumlah harga bahan. kertas pembungkus warna biru Peraga 5.000 Rp 600.000 50.000 120. Cost driver adalah factorfaktor penyebab yang menjelaskan konsumsi overhead dalam penentuan HP konvensional.200 departem total 120. Contoh PT kertasjaya memproduksi 2 macam produk 1.

000 40.000 Total 20.000 88.000 = Rp 10.000 120.000 60.000 74.000 6.4 Rp 10.000 50.8 x10.000 40.000 Pembungkus Jumlah 20.000 16.000 148. Rp 648.000 Rp 108.000 en Dept 2 16.Dept 1 Jam kerja langsung Putih Biru Total Jam mesin Putih biru BOP Biaya penyetelan Biaya inspeksi Biaya listrik Biaya kesejahteraan 4.000 4.000 Rp 208.000 24.000 88.8 / jam Perhitungan biaya per unit : tariff tunggal satu pabrik Elemen biaya Biaya utama BOP Rp 10.000 140.000 28.000 34.4 Page 3 Bertylink2002 .000 74.000 76.000 jm Jumlah Kertas Biaya total Rp 100.000 648. maka tariff overhead pabrik untuk tiap jam mesin adalah total BOP dibagi dengan jam mesin.000 20.000 104.000 52.000 Tarif overhead tunggal untuk satu pabrik Jika cost driver tunggal yang dipilih adalah jam mesin.000 10.000 80.000 20.000 168.000 156.000 354.000 Biaya/unit Rp 5 Rp 5.000 100.000 176.000 294.000 60.

000 Biaya/unit Rp 5 Rp 5.000 Pembungku s biru Jumlah 100.100 167.000 jm = Rp 8.000/80.390 Page 4 Bertylink2002 .4 Rp 10.000 20.000 Jumlah Biaya total 100.85 x 6.655 8.040.Kertas Elemen biaya Biaya utama BOP Rp 10. Sesuai sifat departemen tersebut departemen 1 lebih baik jika menggunakan jam kerja langsung ( JKL) dan departemen 2 menggunakan jam mesin ( JM Perhitungan tariff tiap departemen: Tariff departemen 1 : Rp 294.000 Rp 1.85/jm Kertas Elemen biaya Biaya utama Dept 1 Rp 3675 x4.000 14.000/40.8 x10.000 Rp 540.700 53.000 jkl = Rp 3675/ jkl tariff departemen 2 Rp 354.000 20.800 Kertas Pembungk us Jumlah 20.000 Pembung kus biru Biaya/unit 5 0.4 Tarif overhead setiap departemen Dengan menggunakan tariff departemen setiap departemen dapat dibebankan biaya produksi yang lebih akurat.000 Dept 2 Rp 8.735 2.000 100.000 jm Jumlah Biaya total Rp 500.

Elemen biaya Biaya utama Dept 1 Rp 3.000/6000) Kegagalan cost driver berdasarkan unit Ada 2 faktor utama menyebabkan cost driver berdasarkan unit tidak mampu membebankan BOP secara tepat.300 300.000 Biaya/unit 5 2. Page 5 Bertylink2002 .802 Rp 10.793 3.000 279.3 menyarankan bahwa bagian biaya overhead yang signifikan tidak dipengaruhi oleh banyaknya unit.200 Rp 1.080.5 kali ( 1200/800) jam inspeksi Dengan tariff tiap departemen : Kertas biru mengkonsumsi 19 kali lipat jumlah jam tenaga kerja langsung ( 76.900 1.4 Pengujian data dalam peraga 5.000 Jumlah 100.040. Contoh :  Biaya penyetelan (setup) : berhubungan dengan jumlah produksi berjalan  Biaya inspeksi berhubungan dengan banyaknya jumlah jam yang dipakai dalam inspeksi  Perlu diketahui :  kertas warna biru : 30/20 = 1.85 x 3.  Kertas warna biru : 1.5 kali produksi berjalan dibandingkan yang putih.000/4000) dari putih dan 5.000 100.675 x 76.000 100.009 10.67 kali lipat jam mesin ( 34.400 Jumlah Biaya total 500.000 Dept 2 Rp 8.

kesejahteraan.000 324. o Intensitas distorsi tergantung dari berapa proporsi dari biaya yang tidak berdasarkan unit terhadap total biaya overhead. o Penggunaan cost driver yang berdasarkan unit saja untuk membebankan biaya overhead yang tidak berhubungan dengan unit dapat menimbulkan distorsi pada biaya produk. adalah fungsi dari jumlah produksi berjalan ( production run).000=50% ( peraga 5. Produksi berjalan merupakan cost driver yang tidak berdasarkan unit o Cost drivers tidak berdasarkan unit ( non unit based cost drives) adalah faktor-faktor penyebab selain jumlah unit yang diproduksi yang menjelaskan konsumsi biaya overhead.3) jika biaya overhead yang tidak berdasarkan unit hanya merupakan prosentase yang kecil dari total Page 6 Bertylink2002 . proposi biaya overhead yang tidak berhubungan dengan unit terhadap total biaya overhead 2. setup.000 + 148. o Biaya setup misalnya. tingkat diversitas produk BOP tdk berhubungan dengan unit o Pada contoh sebelumnya ada 4 aktivitas overhead yaitu : inspeksi.000 = 324. tenaga listrik.1.000) / 648.000/648. Dalam contoh : Biaya setup dan inspeksi menunjukkan bagian substantial yaitu sebesar 50 % dari total biaya overhead pabrik yaitu: (176.

Ratio konsumsi adalah proporsi dari setiap aktivitas yang dikonsumsi oleh suatu produk.17 (c) 0.biaya overhead. maka biaya produk dapat terdistorsi jika cost driver yang digunakan hanya berdasarkan unit.83 Jam kerja Page 7 Bertylink2002 . distorsi pada biaya produk juga akan kecil.83 Jam mesin Kesejahteraa 0. waktu setup. Karena biaya overhead yang tidak berdasarkan unit merupakan proporsi yang signifikan dari total biaya overhead dan ratio konsumsi berbeda antara kategori masukan dengan dasar unit dan masukan dengan dasar non unit. Pemecahan dari masalah penentuan harga pokok ini adalah dengan menggunakan pendekatan penentuan harga pokok berdasarkan aktivitas.6 Diversitas produk : proporsi konsumsi Aktivitas Pembungkus Pembungkus Ukuran overhead putih biru konsumsi Setup 0. Peraga 5. kerumitan produk.6 Jam inspeksi Listrik 0. Ada beberapa alasan suatu produk mengkonsumsi overhead dalam proporsi yang berbeda : berbeda ukuran.4( b) 0. Diversitas produk Terjadi jika dalam suatu perusahaan menghasilkan berbagai jenis produk yang mengkonsumsi aktivitas overhead dalam proporsi yang berbeda-beda. ukuran batch Untuk menggambarkan pemakaian aktivitas oleh setiap jenis produk digunakan ratio konsumsi.4 ( a) 0.6 Produksi berjalan Inspeksi 0.17 (d) 0.

Pengetahuan atas biaya dari berbagai aktivitas tersebut memungkinkan para manajer untuk menfokuskan diri pada aktivitas-aktivitas yang memberikan peluang untuk melakukan penghematan biaya dengan cara: menyederhanakan aktivitas. Sebagai hasilnya. Baik pada system konvensional maupun system ABC. namun pada tahap pertama.83 Putih : 20.17 dan biru 100.200/2.000 = 0. biaya.17dan biru 50. Page 8 Bertylink2002 .6 Putih : 1. metode ini meningkatkan ketelitian.4 dan biru 1.6 langsung Putih : 800/2.000/120.000/60.000=0.83 Penentuan harga pokok berdasar aktivitas Adalah system yang terdiri atas dua tahap yaitu pertama melacak biaya pada berbagai aktivitas.n Putih : 20/50 =0. tahap ke dua meliputi pelacakan biaya ke berbagai produk. Namun ditinjau dari sudut manajerial.000=0. Perbedaan prinsip perhitungan diantara kedua metode tersebut adalah jumlah cost driver yang digunakan.000=0.4 dan biru 30/50=0.000/60.000/120. Penentuan harga pokok produk secara konvensional juga melibatkan dua tahap.biaya tidak dilacak ke aktivitas melainkan ke suatu unit organisasi misalnya pabrik atau departemendepartemen. dan kemudian ke berbagai produk. Sistem penentuan harga pokok secara ABC menggunakan cost driver dalam jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan dalam system konvensional yang hanya menggunakan satu atau dua cost driver berdasarkan unit.000=0. bagaimanapun juga sisten ABC menawarkan lebih dari hanya ketelitian informasi tentang biaya dari berbagai aktivitas.000=0.

melaksanakan aktivitas dengan lebih efisien. Rasio konsumsi yang sama menunjukkan eksistensi dari sebuah cost driver. D. Penentuan tariff kelompok ( pool rate ) Tarif kelompok ( pool rate) adalah tariff biaya overhead per unit cost driver yang dihitung Page 9 Bertylink2002 . Penentuan kelompok-kelompok biaya ( cost pools) yang homogen. aktivitasaktivitas overhead harus dihubungkan secara logis dan mempunyai rasio konsumsi yang sama untuk semua produk. Mengasosiasi berbagai biaya dengan berbagai aktivitas Menghubungkan berbagai biaya dengan setiap kelompok-kelompok biaya yang homogen ditentukan C. meniadakan aktivitas yg tak bernilai tambah. Penggolongan biaya Berbagai aktivitas diklasifikasikan ke dalam beberapa kelompok yang mempunyai suatu interpretasi fisik yang mudah dan jelas serta cocok dengan segmen-segmen proses produksi yang dapat dikelola B. Jadi agar dapat dimasukkan ke dalam suatu kelompok biaya yang homogen. Tahap-tahap dari penentuan harga pokok produk: PROSEDUR TAHAP PERTAMA Meliputi empat langkah: A. dsb. Kelompok biaya homogen ( homogenius cost pool) : adalah sekumpulan biaya overhead yang terhubungkan secara logis dengan tugas-tugas yang dilaksanakan dan berbagai macam biaya tersebut dapat diterangkan oleh cost driver tunggal.

Jadi overheas ditentukan dari setiap kelompok biaya ke setiap produk dengan perhitungan sebagai berikut: Page 10 Bertylink2002 . Peraga 5.000 148.000 Rp 5. Hal ini dilaksanakan dengan menggunakan tariff kelompok yang dikonsumsi oleh setiap produk.000 60.000 156.7 Prosedur tahap pertama : Activity based costing Kelompok 1 o Biaya penyetelan o Biaya inspeksi Biaya total kelompok 1 Produksi berjalan ( production run) Tariff kelompok 1 ( biaya per produksi berjalan Kelompok 2 o Biaya listrik o Kesejahteraan karyawan Biaya total kelompok 2 Jam mesin Tariff kelompok 2 ( biaya per jam mesin) 176.000 324.dengan rumus total biaya overhead untuk kelompok aktivitas tertentu dibagi dasar pengukur aktivitas kelompok tersebut.000 324.000 50 Rp 6. Ukuran ini merupakan penyederhanaan kuantitas cost driver yang digunakan oleh setiap produk.4 PROSEDUR TAHAP KE DUA Biaya untuk setiap kelompok biaya overhead dilacak ke berbagai jenis produk.480 168.

000 100.4 x 10.64 Rp 9.400 Putih Kuantit as 20.18 Biaya utama Overhead Kelompok 1 = Rp 6.000 129.000 464.600 54.000 20.400 Rp 964.Overhead yang dibebankan = tariff kelompok x unitunit cost driver yang digunakan Peraga 5.600 Pembungk us Total biaya Rp 500.000 20.000 183.8 Biaya per unit : Activity based costing Pembungk us Total biaya 100.94 2.64 Per unit Rp 5 Rp 6.4 x 50.000 100.000 100.000 Per unit Rp 5 1.18 Rp 14.000 Biru Kuantit as 100.480 x 20 PB Kelompok 2 = Rp 5.70 Rp 9.000 JM Jumlah overhead Jumlah biaya PERBANDINGAN BIAYA-BIAYA PRODUK Peraga 5.000 20.600 283.000 jm Jumlah overhead Jumlah biaya Biaya utama Overhead : Kelompok 1 = Rp 6.48 RP 2.400 270.000 100.70 Rp 4.000 194.480 x 30 PB Kelompok 2 = Rp 5.9 Perbandingan biaya per unit System biaya Pembungku Pembungkus Sumber Page 11 Bertylink2002 .000 20.

biaya bahan baku.s putih Konvensional Tariff tunggal satu pabrik Tariff setiap departemen Berdasarkan aktivitas Rp 10.8 IDENTIFIKASI AKTIVITAS DAN KLASIFIKASI a. biaya tenaga kerja langsung ( tetapi biaya bahan baku dan tenaga kerja langsung tidak termasuk overhead) b.80 Rp 9.5 Peraga 5. namun tidak termasuk ke dalam overhead . Aktivitas. o Bahan baku dan tenaga kerja langsung juga dikelompokkan sebagai aktivitas berlevel unit. Aktivitas berlevel batch Page 12 Bertylink2002 . jam mesin.18 biru Rp 10.39 Rp 14. jam listrik ( energi ) digunakan setiap saat satu unit produk dihasilkan. o Contoh : biaya listrik.aktivitas berlevel unit o Aktivitas ber level unit ( unit level activities) adalah aktivitas yang dikerjakan setiap kali satu unit produk di produksi.64 Peraga 5.4 Peraga 5. Sebagai contoh tenaga kerja langsung.40 Rp 10.. biaya yang timbul karena aktivitas berlevel unit dinamakan biaya aktivitas berlevel unit .Biaya aktivitas berlevel unit ( unti level activities cost) adlah biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh jumlah unit produk yang diproduksi.40 Rp 8. biaya operasi mesin.

o Contoh: biaya aktivitas setup. Biaya yang timbul karena aktivitas berlevel batch dinamakan biaya aktivitas berlevel bacth. besar kecilnya aktivitas ini dipengaruhi oleh jumlah batch produk yang diproduksi. o Biaya aktivitas berlevel batch ( batch level activities cost) adalah biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh jumlah batch produk yang diproduksi. namun bersifat tetap jika dihubungkan dengan jumlah unit produk yang diproduksi. Aktivitas ini dapat dilacak pada produk secara individual. Biaya ini bervariasi dengan jumlah batch produk yang diproduksi. aktivitas pengelolaan bahan ( gerakan bahan dan order pembelian). Aktivitas ini mengkonsumsi masukan untuk mengembangkan produk atau memungkinkan produk diproduksi dan dijual. biaya pengelolaan bahan ( gerakan bahan dan order pembelian). aktivitas penjadwalan produksi. Aktivitas berlevel produk o aktivitas berlevel produk ( produk level activities) atau aktivitas penopang produk ( produk sustaining activities ) adalah aktivitas yang dikerjakan untuk mendukung berbagai produk yang diproduksi oleh perusahaan. aktivitas inspeksi. biaya penjadwalan produksi.o Aktivitas berlevel batch ( batch level activities) adalah aktivitas yang dikerjakan setiap kali suatu batch produk di produksi. namun bersifat tetap jika dihubungkan dengan jumlah unit produk yang diproduksi dalam setiap batch. namun Page 13 Bertylink2002 . Contoh aktivitas yang termasuk dalam kelompok ini adalah aktivitas setup. c. dan biaya inspeksi.

o Contoh aktivitas yang termasuk dalam kelompok ini adalah aktivitas penelitian dan pengembangan produk. namun biaya ini tidak dipengaruhi oleh jumlah produk atau bacth produk yang diproduksi o Contoh biaya yang termasuk dalam kelompok ini adalah biaya penelitian dan pengembangan produk. Biaya berlevel fasilitas o Aktivitas berlevel fasilitas ( facility level activities) atau aktivitas penopang fasilitas ( facility-sustaining activities) adalah meliputi aktivitas untuk menopang proses pemanufakturan secara umum yang diperlukan untuk menyediakan fasilitas atau kapasitas Page 14 Bertylink2002 . d. biaya spesifikasi produk. Biaya ini timbul karena aktivitas tersebut mengkonsumsi masukan untuk mengembangkan produk atau memungkinkan produk diproduksi dan dijual. biaya perekayasaan proses. Biaya aktivitas berlevel produk ( product level activities cost ) atau biaya aktivitas penopangan produk ( produk sustaining activities cost) adalah biaya atas aktivitas yang dikerjakan untuk mendukung berbagai produk yang diproduksi oleh perusahaan. biaya perubahan perekayasaan. dan peningkatan produk. Biaya yang timbul karena aktivitas berlevel produk dinamakan biaya aktivitas berlevel produk.sumber-sumber yang dikonsumsi oleh aktivitas tersebut tidak dipengaruhi oleh jumlah produk atau batch produk yang diproduksi. Biaya ini dapat dilacak pada produk secara individual. dan biaya peningkatan produk. perekayasaan.

dan akuntansi untuk pabrik. biaya keamanan. o Contoh biaya aktivitas ini mencakup : biaya manajemen pabrik. pemeliharaan bangunan. Contoh aktivitas ini mencakup misalnya : manajemen pabrik.pabrik untuk memproduksi produk namun banyak sedikitnya aktivitas ini tidak berhubungan dengan volume atau bauran produk yang diproduksi. Aktivitas ini dimanfaatkan secara bersama oleh berbagai jenis produk yang berbeda. Biaya ini merupakan biaya bersama bagi berbagai jenis produk yang berbeda. o Biaya aktivitas berlevel fasilitas ( facility-level activities cost) atau biaya aktivitas penopang fasilitas ( produk sustaining facilities cost adalah meliputi biaya aktivitas untuk menopang proses pemanufakturan secara umum yang diperlukan untuk menyediakan fasilitas atau kapasitas pabrik untuk memproduksi produk namun banyak sedikitnya biaya ini tidak berhubungan dengan volume atau bauran produk yang diproduksi. pajak bumi dan bangunan ( PBB). kebersihan. kebersihan. PERBANDINGAN ABC DENGAN KONVENSIONAL COST Page 15 Bertylink2002 . biaya pajak bumi dan bangunan ( PBB). karyawan. biaya pemeliharaan bangunan. Aktivitas manajemen pabrik bersifat administrative misalnya aktivitas pengelolaan pabrik. pertamanan ( landscaping). baiay pertamanan ( landscaping). keamanan. biaya depresiasi pabrik. serta depresiasi pabrik. biaya penerangan pabrik. penerangan pabrik.

Pemilihan ini akan meminimumkan biaya pengukuran. dan dapat memilih menggunakan jam inspeksi atau Page 16 Bertylink2002 . PEMILIHAN COST DRIVER Paling tidak ada dua factor utama yang harus diperhatikan dalam pemilihan cost driver ( penyebab biaya) yaitu: a. Misalnya pada contoh PT kertajaya biaya inspeksi dan biaya setup ditempatkan pada kelompok biaya yang sama. dan akibatnya akan meningkatkan biaya system informasi perusahaan. Untuk keadaan ini. maka penggolongannya hanya biaya variable dan biaya tetap. adalah sangat penting untuk memilih cost driver yang menggunakan informasi yang siap tersedia. ABC Sistem ABC memandang bahwa biaya overhead variable dapat dilacak dengan tepat pada berbagai produk secara individual. Jika memungkinkan. biaya pengukuran dan b. cost driver yang dapat digunakan pada system informasi yang ada sebelumnya hendaknya dipilih. Dalam system ABC. tingkat korelasi antara cost driver dengan konsumsi overhead sesungguhnya. Informasi yang tidak tersedia pada system yang ada sebelumnya berarti harus dihasilkan. sejumlah besar cost driver dapat dipilih dan digunakan. Biaya variable jumlah total bervariasi berdasarkan produk.Konvensional Overhead hanya disebabkan oleh cost drivers berdasarkan unit. Kelompok biaya ( cost pool) yang homogen dapat menawarkan sejumlah kemungkinan cost driver.

Dalam kasus ini indirect cost driver yang mempunyai korelasi tinggi dan dapat digunakan. dengan syarat bahwa kuantitas dari aktivitas yang digunakan setiap transaksi kira-kira sama untuk setiap produk.jumlah produksi berjalan sebagai cost driver. maka produksi berjalan yang digunakan sbg cost driver. Peraga 5. Ingat bahwa dimungkinkan untuk menggantikan suatu cost driver yang secara langsung mengukur konsumsi dengan cost driver yang secara tidak langsung mengukurnya tanpa kehilangan akurasi. dan data produksi berjalan untuk kedua jenis produk tersedia. Namun jika dianggap bahwa jam inspeksi untuk setiap jenis produk tidak dapat dilacak.13 cost driver yang secara tidak langsung mengukur konsumsi suatu aktivitas biasanya mengukur jumlah transaksi yang dihubungkan dengan aktivitas tersebut.13 Cost driver potensial Jumlah setup Jumlah perpindahan bahan Jumlah unit yang dikerjakan kembali Jumlah jam tenaga kerja langsung Jumlah pemasok Jumlah subperakitan Page 17 Bertylink2002 . maka cost driver mana yang dipilih dari antara keduanya tidak jadi masalah. PENGUKURAN TIDAK LANGSUNG DAN TINGKAT KORELASI Sejumlah cost driver yang potensial disajikan dalam peraga 5. Jika informasi mengenai jam inspeksi dan produksi berjalan yang digunakan untuk kedua jenis produk yang dihasilkan perusahaan sudah tersedia dari system yang ada sebelumnya.

BPFE.Jumlah order yang ditempatkan Jumlah order yang diterima Jumlah inspeksi Jumlah perubahan jadwal Jumlah kerja Jumlah Jumlah Jumlah transaksi tenaga unit sisa komponen jam mesin Pustaka : Supriyono. 1994 Page 18 Bertylink2002 . Akuntansi Biaya dan Akuntansi Manajemen untuk Teknologi Maju dan Globalisasi.