You are on page 1of 11

A.

Metode Valuasi Nilai (value) merupakan persepsi seseorang, yaitu harga yang diberikan oleh seseorang terhadap sesuatu pada suatu tempat dan waktu tertentu. Kegunaan, kepuasaan, dan kesenangan merupakan istilah-istilah lain yang diterima dan berkonotasi nilai atau harga. Ukuran nilai atau harga ditentukan oleh waktu, barang, atau uang yang akan dikorbankan seseorang untuk memiliki atau menggunakan barang atau jasa yang diinginkannya (Johansson, 1987). Valuasi adalah kegiatan yang berkaitan dengan pembangunan konsep dan metodologi untuk menduga nilai barang dan jasa (Johansson, 1987). Valuasi merupakan suatu aktivitas yang berusaha untuk mencapai tujuan dengan cara melakukan prediksi atas hasil yang akan didapat (Turner, 2000). Valuasi berguna dalam analisis pendahuluan (portfolio), pendanaan,

pengembangan bisnis, dan gabungan serta kegiatan akuisisi. Menurut Turner (2000) terdapat enam metode valuasi teknologi, yaitu: 1. Discounted Cash flow (DCF), merupakan suatu teknik pembuatan model keuangan yang didasarkan pada asumsi prospek arus kas suatu properti atau usaha. Sebagai metode yang dapat diterima dalam pendekatan pendapatan, analisis DCF melibatkan proyeksi arus kas untuk suatu periode baik untuk menilai properti operasional, properti dalam pengembangan atau bisnis. Proyeksi arus kas tersebut memerlukan diskonto pasar yang berlaku saat ini untuk mendapatkan indikasi nilai kini dari arus kas dalam kaitannya dengan properti atau bisnis. Dalam hal penilaian properti operasional, arus kas secara berkala pada umumnya diestimasikan sebagai pendapatan kotor dikurangi kekosongan dan piutang tak tertagih, serta biaya operasional. Pendapatan operasional bersih dalam suatu periode bersama dengan estimasi nilai akhir (terminal value/exit value) pada akhir periode proyeksi, kemudian didiskonto. Dalam hal penilaian properti dalam pengembangan, estimasi modal, biaya pengembangan dan pendapatan penjualan diestimasikan untuk mencapai sejumlah pendapatan bersih yang kemudian didiskonto selama periode pengembangan dan periode pemasaran. Dalam hal penilaian bisnis, estimasi arus kas dalam suatu periode

dan nilai dari bisnis pada akhir periode proyeksi, didiskontokan. Aplikasi analisis DCF yang paling sering digunakan adalah Nilai Kini (Present Value), Nilai Kini Bersih (Net Present Value) dan Tingkat Pengembalian Internal (Internal Rate of Return) dari arus kas. Nilai DCF sangat bergantung pada besarnya nilai Risk-Adjusted Hurdle Rate (RAHR) atau nilai k. Terdapat tiga faktor yang menentukan DCF, yaitu: pemilihan waktu, besarnya nilai dan resiko untuk pembayaran masa depan. Secara umum, metode discounted cash flow dirumuskan sebagai berikut:

2. Monte Carlo dan Real Option, yaitu metode valuasi teknologi berdasarkan pada aliran kas dengan berbagai macam asumsi dari penerimaan dan biaya. Pada metode Monte Carlo, satu perhitungan tidak dibatasi untuk menghasilkan satu nilai perkiraan dari variabel-variabel utama seperti penerimaan, biaya atau resiko. Perkiraan dibuat berdasarkan pada rentang pengeluaran dengan berbagai macam kemungkinannya, sedangkan pada metode real option digunakan ketika berhadapan dengan perhitungan proyek berjangka waktu panjang. Pada proyek ini, pengeluaran dihitung pada awal proyek dengan umur proyek yang lama dantingkat pengembalian proyek berada di akhir proyek, maka penggunaan satu nilai Risk-Adjusted Hurdle Rates (RAHR) atau nilai k akan membuat semua proyek bernilai ekonomi menguntungkan karena adanya faktor B/(1+k) n, yaitu nilai n yang besar. Metode ini akan mengevaluasi semua investasi dan penerimaan dalam berbagai macam kemungkinan. Selama ini metode Real Options (RO) sering dianggap merupakan alternatif bagi metode DCF dengan memasukkan unsur fleksibilitas manajemen dalam menghadapi uncertainty kedepan. Secara teori sebenarnya ada perbedaan yang mendasar antara DCF dan RO. Perbedaan mendasar dari dua metode ini adalah

bagaimana pendekatannya dalam mempertimbangkan faktor risiko terhadap cash flow suatu project. Dalam DCF, pendekatannya adalah dengan menggunakan satu discount factor yang merupakan gabungan antara faktor risiko atas uncertainty dan waktu, dimana discount factor ini yang akan digunakan untuk menghitung Net Present Value dari cash flow suatu project. Sedangkan dalam RO, pendekatan ini berusaha memisahkan faktor-faktor diatas yaitu risiko atas uncertainty dan waktu. Risiko atas uncertainty tersebut akan diaplikasikan ke setiap sumber (variabel) sehingga akan didapat cash flow yang sudah diberi faktor risiko, sebelum akhirnya cash flow ini diberi faktor risiko atas waktu untuk mendapatkan NPV versi RO ini. 3. Standarisasi industri (Industry Standards), yaitu mendesain sebuah database dari kesepakatan-kesepakatan kerjasama komersialisasi teknologi baru yang sudah pernah dilakukan oleh investor dan inventor. Metode standarisasi industri merupakan sebuah panduan untuk membandingkan nilai teknologi satu dengan lainnya. Metode ini dapat digunakan dengan baik ketika teknologi yang sudah dijual atau dilisensikan tersebut dapat dikategorikan ke dalam dua faktor, yaitu berdasarkan jenis dan kualitasnya. 4. Perankingan (Rating/Ranking), yaitu membandingkan kesepakatan perjanjian komersialisasi teknologi yang sudah pernah dilakukan. Metode ini memerlukan identifikasi kesepakatan teknologi yang sudah terdokumentasikan. Ketika kesepakatan teknologi-teknologi sudah terdokumentasikan, maka kesepakatan teknologi yang mempunyai ke miripan dapat dibandingkan dengan kesepakatan yang sudah pernah dilakukan, sehingga dalam penggunaannya metode ini sangat berhubungan dengan metode standarisasi industri. 5. Pelelangan (Auctions), yaitu menilai teknologi berdasarkan kesepakatan yang sedang dilakukan sekarang untuk menawarkan perjanjian kerjasama

komersialisasi teknologi. Hal ini yang membedakan dengan metode industry standards yang menggunakan informasi pasar dari kesepakatan-kesepakatan yang sudah pernah dilakukan dan mempunyai kemiripan dengan teknologi yang sedang dinilai.

6. Ibu jari (Rules of Thumb), yaitu mengidentifikasikan dan menggunakan data pemasaran yang sesuai sebagai acuan dalam penilaian. Rules of thumb merupakan panduan yang sangat berguna bagi pengambil keputusan berdasarkan pada berbagai macam pengalaman seseorang dalam menilai teknologi. Metode ini mengembangkan prinsip valuasi yang dapat secara tepat dan cepat diaplikasikan ke berbagai macam situasi yang berbeda. Ide dasar dari metode ini adalah negosiasi antara sejumlah pembeli dan penjual memiliki pemikiran yang sama sehingga dapat ditimbulkan dan diaplikasikan. Valuasi dapat menjadi tidak akurat apabila nilai hasil valuasi tidak mewakili dari waktu yang diperlukan dan jumlah uang yang telah diinvestasikan untuk menghasilkan suatu teknologi. Nilai itu juga bergantung pada tingkat aksesibilitas teknologi tersebut. Semakin sulit untuk ditiru maka akan semakin baik posisinya dalam mendapatkan keuntungan. Masa hidup dan nilai dari teknologi dapat dipengaruhi pada munculnya suatu teknologi baru yang dapat menggantikan teknologi tersebut sehingga penetapan harga menjadi sangat sulit dilakukan bila melihat daur hidup dari teknologi baru tersebut. Metode valuasi rules of thumb adalah penggunaan dari formula sederhana yang mengestimasi nilai dari bisnis tertentu dengan membuat sebuah petunjuk harga dari bisnis yang pasti. Metode valuasi rules of thumb mengacu kepada beragam karakteristik unik dari setiap target bisnis yang akan divaluasi. Setiap aset memiliki sebuah nilai. Kunci sukses dari investasi dan mengatur aset adalah mengetahui dan mengerti bagaimana menilai suatu aset dan juga mengetahui asal/sumber dari nilai aset tersebut. Metode valuasi dapat digunakan untuk mengetahui nilai dari suatu aset. Penilaian bisnis (valuasi) merupakan suatu proses kegiatan yang harus dilakukan untuk sampai pada suatu pendapat atau perkiraan tentang nilai dari suatu perusahaan atau dari suatu penyertaan dalam perusahaan. Tujuan dilakukannya valuasi adalah untuk bermacam kepentingan dan tujuan, antara lain adalah dalam melakukan aktivitas merger dan akuisisi. Kesalahan dalam melakukan penilaian dan penentuan nilai pasar wajar dari suatu perusahaan akan

menimbulkan dampak negatif bagi kedua belah pihak, baik bagi pembeli ataupun penjual. Pada industri cat gambir ini, metode valuasi yang digunakan yaitu metode standarisasi industri dan metode Discounted Cash Flow (DCF). Metode standarisasi industri adalah metode yang menjadi sebuah panduan untuk membandingkan nilai antara teknologi satu dengan teknologi lainnya. Metode ini dapat digunakan dengan baik ketika teknologi yang sudah dijual atau dilisensikan tersebut dapat dikategorikan ke dalam dua faktor, yaitu berdasarkan jenis dan kualitasnya. Pada metode Discounted Cash Flow (DCF), yaitu penentuan nilai sekarang dari semua aliran kas masa depan berdasarkan pada pendapatan atau Net Present Value (NPV). Terdapat tiga faktor yang menentukan DCF, yaitu : pemilihan waktu, besarnya nilai, dan resiko untuk pembayaran masa depan.

B. Metode Komersialisasi Komersialisasi merupakan serangkaian upaya dari pengembangan dan pemasaran sebuah produk atau proses dan penerapan proses dalam kegiatan produksi. Kegiatan ini merupakan rangkaian yang cukup kompleks dengan melibatkan berbagai aspek yang mencakup kebijakan ekonomi, sumberdaya manusia, investasi, waktu, lingkungan pasar, dan sebagainya. Tahapan-tahapan komersialisasi sebuah produk umumnya seperti yang terlihat pada Gambar 1. (Goenadi, 2000).

Invensi (Ide)

Aplikasi Paten

Pengembangan Produk

Produksi Produk

Pemasaran Produk Gambar 1. Tahapan umum komersialisasi produk (Goenadi, 2000) Invensi adalah suatu upaya untuk menciptakan atau membuat sesuatu yang baru dan bermanfaat sehingga dapat memecahkan secara teknis persoalan yang dihadapi oleh manusia, masyarakat, atau lingkungan. Kegiatan ini meliputi aktivitas imajinasi ide, pengamatan, formulasi invensi, dan uji coba. Sebuah invensi pada dasarnya merupakan ide atau solusi bagi sebuah masalah teknis, oleh karena itu sangat penting untuk memperoleh perlindungan hukum sebelum mengkomersialkannya. Pada beberapa kasus, penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan sebelum sebuah invensi dapat diwujudkan dalam bentuk produk yang dapat dipasarkan atau proses yang dapat diterapkan dalam produksi komersial, bahkan setelah produksi dari invensi baru dilaksanakan, upaya lebih lanjut masih dibutuhkan untuk memasarkannya, yang juga memerlukan dukungan sumberdaya manusia, investasi, waktu, dan kerja kreatif. Komersialisasi invensi merupakan serangkaian upaya dari pengembangan dan pemasaran sebuah hasil invensi. Kegiatan ini cukup kompleks dengan melibatkan berbagai aspek yang mencakup kebijakan ekonomi, sumberdaya manusia, investasi, waktu, lingkungan pasar, dan sebagainya (Goenadi, 2000). Komersialisasi invensi

tidak selalu mudah karena melibatkan berbagai pelaku dan mekanisme yang cukup rumit. Tahapan utama yang sering sulit untuk dilakukan adalah melakukan valuasi (penetapan nilai) terhadap invensi yang akan dikomersialkan. Presentasi ini selanjutnya menyajikan secara singkat beberapa langkah strategis dalam proses komersialisasi invensi bernilai ekonomis (Turner, 2000). Komersialisasi dari sebuah invensi adalah sebuah bentuk inovasi teknis yang merupakan sebuah kegiatan kreatif yang dapat diterapkan dengan mengubah suatu ide invensi menjadi produk yang dapat dipasarkan atau proses yang dapat diterapkan dalam produksi. Faktor-faktor yang mempengaruhi komersilisasi invensi, yaitu: infrastruktur untuk fasilitas alih teknologi, kebijakan keuangan, dan pajak (Goenadi, 2000). Inovasi adalah kegiatan untuk membawa invensi ke pasar atau komersialisasi, yang memerlukan perencanaan dan tidak dapat terjadi begitu saja. Kekayaan Intelektual (KI) telah menjadi unsur sangat penting dalam strategi modern untuk promosi dari inovasi dan invensi. oleh karena itu kekayaan intelektual merupakan alat penting bagi pembangunan. Menurut Ducker (1985), inovasi adalah tindakan yang memberi sumberdaya kekuatan dan kemampuan baru untuk menciptakan kesejahteraan. Empat hal yang berkaitan dengan inovasi yaitu sebagai berikut: 1. Inovasi mempunyai tujuan dan sistematis,dimulai dari menganalisis peluang 2. Inovasi bersifat konseptual dan perceptual 3. Agar efektif sebuah inovasi harus sederhana dan harus fokus 4. Inovasi yang efektif dimulai dari yang kecil 5. Inovasi harus mengarah pada kepemimpinan Terdapat juga persyaratan-persyaratan dalam sebuah inovasi. Tiga persyaratan sebuah inovasi adalah sebagai berikut: 1. Inovasi adalah karya sehingga membutuhkan pengetahuan 2. Agar berhasil, inovator harus membina kekuatannya. Inovator yang berhasil harus melihat peluang dalam jajaran yang luas 3. Inovasi adalah dampak dalam perekonomian dan masyarakat, suatu perubahan dalam perilaku pelanggan, guru, para petani, dan sebagainya.

Terdapat upaya dalam pemberdayaan kekayaan intelektual (KI) dengan cara komersialisasi investasi melalui teknologi, yaitu dengan cara pengalihan secara gratis, penjualan KI, dan lisensi KI. Berikut penjelasan tiap-tiap upaya dalam pemberdayaan KI tersebut: 1. Pengalihan secara gratis Penemu dapat memberikan temuannya secara gratis dalam rangka pertukaran dengan temuan lain. Cara tersebut sering dilakukan oleh industry perangkat lunak computer. Beberapa perusahaan perangkat lunak computer memberikan produknya secara gratis dalam versi yang kecil dan terbatas untuk mengikat konsumen agar menggunakannya secara lengkap. Penyerahan KI secara gratis dimaksudkan sebagai bagian dari pemasaran produk untuk memberikan jaminan pasar bagi lisensi komersial. 2. Penjualan KI Cara tersebut sulit dilakukan karena tidak mudah menentukan tingkat harga jual produk KI. Bila harga terlalu tinggi, tidak akan ada pembeli. Sementara itu, bila harga rendah maka penemu akan rugi. Kesulitan lainnya adalah penemu tidak mempunyai hak lagi untuk menggunakan hasil temuannya tanpa izin pemilik baru. 3. Lisensi KI Lisensi adalah hak pakai dari suatu temuan dalam periode tertentu di wilayah tertentu sebagai pengganti uang atau kompensasi lainnya. Lisensi bersifat kontrak sehingga dilindungi oleh UU. Kekayaan Intelektual yang dapat dilisensikan adalah paten, merek dagang, hak cipta, rahasia dagang, dan lainnya. Keuntungan lisensi adalah si penemu tetap memiliki temuannya dan penemu tetap dapat menggunakan temuannya untuk tujuan non-komersial. Pemasaran adalah satu fungsi organisasi dan seperangkat proses untuk menciptakan, mengkomunikasikan, dan menyerahkan nilai kepada pelanggan dan mengelola hubungan pelanggan dengan cara yang menguntungkan organisasi dan para pemilik sahamnya. Menurut Kotler (2003), dari segi sosial pemasaran adalah suatu proses sosial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang

mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain. Bauran pemasaran adalah seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk mengejar tujuan pemasarannya. Menurut Kotler (2003), alat bauran pemasaran dikelompokkan menjadi empat kelompok besar yang disebut empat P yaitu produk (product), harga (price), tempat (place), dan promosi (promotion). Tujuan pemasaran adalah mengetahui dan memahami pelanggan sedemikian rupa sehingga produk atau jasa itu cocok dengan pelanggan dan selanjutnya menjual produk atau jasa tersebut. Idealnya, pemasaran hendaknya menghasilkan seorang pelanggan yang siap untuk membeli dan selanjutnya perusahaan menyediakan semua produk atau jasa yang diinginkan (Kotler, 2003) Analisis terhadap keseluruhan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman disebut analisis SWOT. Analisis ini mencakup pemantauan lingkungan pemasaran secara internal maupun eksternal. Lingkungan eksternal mencakup analisis peluang dan ancaman sedangkan lingkungan internal mencakup analisis kekuatan dan kelemahan (Kotler, 2003). Analisis pasar terdiri dari segmentasi, targetting dan positioning. Segmentasi pasar merupakan suatu aktivitas membagi atau mengelompokkan pasar yang heterogen menjadi pasar yang homogen atau memiliki kesamaan dalam hal minat, daya beli, geografi, perilaku pembelian maupun gaya hidup (Kotler,2003). Segmentasi tersebut memiliki peran penting karena beberapa alasan; pertama, segmentasi memungkinkan perusahaan untuk lebih fokus dalam mengalokasikan sumber daya. Kedua, segmentasi merupakan dasar untuk menentukan komponenkomponen strategi. Ketiga, segmentasi merupakan faktor kunci untuk mengalahkan pesaing, dengan memandang pasar dari sudut yang unik dan cara yang berbeda dari yang dilakukan pesaing (Kotler, 2003). Ada tiga kriteria yang harus dipenuhi perusahaan pada saat mengevaluasi dan menentukan segmen mana yang akan dijadikan target, yaitu: perusahaan harus memastikan bahwa segmen pasar yang dibidik itu cukup besar dan akan cukup menguntungkan bagi perusahaan, strategi targetting didasarkan pada keunggulan kompetitif perusahaan yang bersangkutan,

segmen pasar yang dibidik harus didasarkan pada situasi persaingannya (Kotler, 2003). Positioning adalah suatu metode untuk membuat sebuah produk yang berbeda dengan produk pesaing dalam bentuk brand image, menyatakan positioning sebagai ”the strategy for leading your cutomers credibly” yaitu suatu strategi untuk membangun kepercayaan, keyakinan dan kompetensi bagi konsumen. Positioning adalah mengenai cara perusahaan mendapatkan kepercayaan pelanggan untuk dengan sukarela mengikuti perusahaan (Kotler, 2003). Dalam mengkomersialisasi produk cat berbasis gambir ini salah satu metode yang digunakan adalah market oriented. Market oriented merupakan pendekatan yang digunakan dalam mengembangkan usaha-usaha bisnis yang

dikomersialisasikan berdasarkan kebutuhan pasar, terutama pengenalan cat gambir kepada para pengguna cat seperti industri meubel, konstruksi bangunan dll. Produk cat gambir ini menggunakan teknologi yang ramah lingkungan dan mampu menawarkan produk ini pada harga yang layak. Di samping aspek teknologi yang digunakan, dalam hal mengkomersialisasikan produk ini, terlebih dahulu dibuat segmen-segmen pasar yang akan mengkonsumsi produk ini. Hal ini penting untuk menentukan segmen mana yang akan menjadi target pasar yang utama dari produk cat gambir ini. Strategi penguasaan pasar sangat oenting untuk dikuasai untuk mengharmonisasikan perusahaan sebagai produsen dan konsumen. Selain metode komersialisasi diatas, ada 6 metode komersialisasi lain yang digunakan perusahaan kami dalam memasarkan produk cat gambir ini antara lain: 1. Penentuan Target Pasar Penetepan target pasar merupakan langkah pertama dalam strategi pemasaran produk cat gambir. Target pasar dipilih berdasarkan segmen-segmen pasar yang telah ditentukan sebelumnya. Segmen pasar tersebut diantaranya adalah…….. 2. Identifikasi Alternatif-Alternatif Basis Untuk Segmentasi Pada tahap ini diperlukan peran manajemen pemasaran perusahaan dalam mengidentifikasi segmen-segmen pasar yang paling berpotensi untuk dimasuki oleh produk cat gambir. Manajemen perusahaan kemudian memutuskan dan menetapkan beberapa segmen pasar yang berpeluang menjadi konsumen produk

cat gambir dan mendesain tawaran-tawaran yang terpisah bagi masing-masing segmen yang akan dimasuki oleh produk ini. 3. Memilih Basis Terbaik Untuk Segmentasi Peranan manajemen perusahaan harus mempertimbangkan faktor-faktor yang penting dalam penentuan segmen pasar yang akan dipilih. 4. Mengidentifikasi Dan Memilih Segmen Pasar Segmen-segmen yang diidentifikasi dipersempit untuk mendapatkan segmen yang tepat kemudian perusahaan menetetapkan segmen mana yang dipilih. 5. Mengembangkan Positioning Bagi Pasar Sasaran segmen yang dipilih merupakan target pasar utama tempat produk akan dijual. Sebelum itu manajemen pemasaran harus mengembangkan positioning terhadap agar produk memiliki keistimewaan di benak konsumen dan membangun kesan konsumen terhadap produk tersebut. 6. Menyusun Bauran Pemasaran Bauran pemasaran meliputi price, product, place, dan promotion. Bauran pemasaran ini harus ditentukan agar pasar sasaran menjadi lebih jelas dan terstruktur.