P. 1
PKM-P isolasi Bt dan aplikasinya terhadap ulat grayak -IKRA

PKM-P isolasi Bt dan aplikasinya terhadap ulat grayak -IKRA

|Views: 247|Likes:
Published by Ikra Alma Khudra
program kreativitas mahasiswa ikra alma khudra
program kreativitas mahasiswa ikra alma khudra

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Ikra Alma Khudra on Oct 15, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/16/2015

pdf

text

original

i

USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

PEMANFAATAN Bacillus thuringiensis SEBAGAI BIOINSEKTISIDA HAMA ULAT GRAYAK (Spodoptera litura) PADA TANAMAN PANGAN

BIDANG KEGIATAN: PKM PENELITIAN

Diusulkan oleh:
Ikra Alma Khudra Yakub Hidayatullah Hetti Kurniasih Susana Sagitha R Delvi Riana G34070065/2007 G34070047/2007 G34070064/2007 G34070113/2007 G34080010/2008

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2010

LEMBAR PENGESAHAN 1. Judul Kegiatan : Pemanfaatan Bacillus thuringiensis sebagai Bioinsektisida Hama Ulat Grayak (Spodoptera litura) pada Tanaman Pangan : PKM-P : MIPA : Ikra Alma Khudra : G34070065 : Biologi : Institut Pertanian Bogor : Jalan Babakan Doneng Gg. H. Saidi RT/RW 03/06 Dramaga Bogor/085263515744 : ik_ra89@yahoo.co.id : 5 orang : Dr. Nisa Rachmania Mubarik, M.Si : 196711271993022001 : Jalan Agatis, IPB Dermaga, Bogor 16680 0251-8622833/nrachmania@ipb.ac.id : Rp 10.000.000,00 :: 3 bulan Bogor, Oktober 2010 Menyetujui Ketua Departemen Biologi FMIPA IPB Ketua Pelaksana Kegiatan

2. Bidang Kegiatan 3. Bidang Ilmu 4. Ketua Pelaksana Kegiatan a. Nama Lengkap b. NIM c. Jurusan d. Universitas/ Institut/ Politeknik e. Alamat Rumah dan No. Tel./HP f. Alamat email 5. Anggota Pelaksana Kegiatan/Penulis 6. Dosen Pendamping a. Nama Lengkap dan Gelar b. NIP c. Alamat Rumah dan No Tel./HP 7. a. b. 8. Biaya Kegiatan Total Dikti Sumber lain Jangka Waktu Pelaksanaan

Dr. Ir. Ence Darmo Jaya Supena, M.Si. NIP. 19641002 198903 1 002

Ikra Alma Khudra NIM. G34070065

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan

Dosen Pendamping

Prof. Dr. Ir. Yonny Koesmaryono, MS NIP. 19581228 198503 1 003

Dr. Nisa Rachmania Mubarik, M.Si NIP.196711271993022001

1

A. JUDUL PROGRAM Pemanfaatan Bacillus thuringiensis sebagai Bioinsektisida Hama Ulat Grayak (Spodoptera litura) pada Tanaman Pangan

B. LATAR BELAKANG MASALAH Permasalahan tanaman pangan saat ini cukup menjadi perhatian terutama masalah hama yang dapat mengurangi produktivitas tanaman. Untuk itu, dilakukan berbagai macam cara pengendalian hama salah satunya menggunakan bahan kimia. Namun, menurut Oka dan Sukardi ( 1982) penerapannya di alam sering menimbulkan dampak negatif, yaitu mematikan serangga bukan sasaran, menyebabkan resistensi serangga terhadap bahan aktif insektisida kimia tertentu, menyebabkan terjadinya resurgensi hama, serta dapat menimbulkan pencemaran lingkungan. Mengingat banyaknya dampak negatif yang ditimbulkan, perlu dilakukan pengendalian hama dengan memanfaatkan musuh-musuh alami hama tersebut. Musuhmusuh alami terdiri dari organisme-organisme yang dapat bekerja sebagai predator, predator, atau patogen bagi suatu hama (De Bach 1979). Pengendalian hayati mempunyai keuntungan, di antaranya telah tersedianya musuh-musuh alami di alam, tidak berbahaya bagi manusia dan hewan-hewan berguna, tidak menimbulkan resurgenti dan resistensi hama dalam penggunaannya di lapangan, serta spesivitasnya tinggi dan aman bagi lingkungan (Van Emden 1980). Bacillus thuringiensis (Bt) merupakan salah satu jenis bakteri yang dapat digunakan sebagai bioinsektisida. Bakteri ini dapat menghasilkan senyawa bioaktif yang dapat membunuh hama serangga. Senyawa yang dihasilkan Bt merupakan Kristal protein yang dapat merusak saluran pencernaan hama serangga terutama ulat grayak. Bt merupakan bakteri yang mudah dikulturkan dan diproduksi secara masal sehingga berpotensi untuk dikembangakan dalam pembuatan bioinsektisida secara komersil. Bt mudah diisolasi langsung dari tanah, kotoran, dan bagian tumbuhan. Ulat grayak bersifat polifag atau dapat menyerang berbagai jenis tanaman pangan, sayuran, dan buah-buahan. Hama ini tersebar luas di daerah dengan iklim panas dan lembap dari subtropis sampai daerah tropis. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (1993), serangan ulat grayak di Indonesia mencapai 4.149 ha dengan intensitas serangan sekitar 17,80%. Serangan tersebut menurun pada tahun 1994 menjadi 3.616

2

ha, dengan intensitas serangan 14,40% (Badan Pusat Statistik 1994). Besarnya dampak kerugian yang ditimbulkan akibat hama ulat grayak ini terhadap pertanian, menyebabkan perlunya usaha-usaha yang harus dilakukan untuk menaggulangi masalah ini. Biopestisida yang diproduksi dari isolat Bt merupakan salah satu alternatif yang sanagat menjajikan terhadap ganggguan hama ulat grayak. Biopestisida tidak menyebabkan kerusakan lingkungan dan spesifik membunuh hama ulat grayak.

PERUMUSAN MASALAH 1. Apakah bakteri Bacillus thuringiensis ulat grayak (Spodoptera litura)? 2. Seberapa besar toksisitas senyawa patogen Bacillus thuringiensis terhadap pengendalian hama ulat grayak (Spodoptera litura)? menghasilkan daya insektisida terhadap

C. TUJUAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui toksisitas bakteri Bacillus thuringiensis yang diisolasi dari tanah terhadap hama tanaman pangan ulat grayak (Spodoptera litura).

D. LUARAN YANG DIHARAPKAN Hasil penelitian diperoleh isolat bakteri Bacillus thuringiensis yang potensial sebagai biosisektisida yang dapat diaplikasikan sebagai penghambat pertumbuhan ulat grayak, hama tanaman pangan.

E. KEGUNAAN a. Bagi Perguruan Tinggi Munculnya pengetahuan baru bahwa Bacillus thuringiensis dapat digunakan sebagai agen hayati pengendali hama tanaman ulat grayak. Hal ini dapat memicu jiwa kreatif dan inovatif mahasiswa untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang pemanfaatan agen hayati untuk pengendalian hama tanaman serta mengembangkan produk insektisida ramah lingkungan secara biologi. Kondisi ini dapat menimbulkan iklim kompetitif di kalangan mahasiswa untuk bersaing melalui

3

perkembangan intelektualitas dan kreatifitas dalam melakukan penelitian, sehingga secara tidak langsung dapat meningkatkan kualitas perguruan tinggi. Program ini merupakan perwujudan dari Tridharma Perguruan Tinggi. Program ini dapat meningkatkan khasanah ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat dikembangkan lebih lanjut. Selain itu, pihak perguruan tinggi akan mendapat tambahan koleksi bahan pengendali hama dari bakteri potensial yang ramah lingkungan dan kompetitif. b. Bagi Mahasiswa Pelaksanaan program ini akan merangsang mahasiswa berfikir positif, kreatif, inivatif dan dinamis. Pelaksanaan program ini menuntut mahasiswa untuk dapat bekerja dalam tim yang akan menimbulkan kekompakan dan kekuatan tim. Program ini akan menambah wawasan dan pengalaman mahasiswa dalam melakukan penelitian dan berkarya dalam menerapkan ilmu pengetahuan yang telah didapatkan. c. Bagi Masyarakat Hasil penelitian ini akan menambah pengetahuan masyarakat tentang penggunaan musuh alami bagi pengendalian hama pada tanaman dan membuka pola fikir masyarakat untuk lebih memilih bahan insektisida yang lebih alami dan aman. Produk yang nanti dihasilkan melalui penelitian lebih lanjut diharapkan dapat memenuhi keinginan masyarakat untuk memperoleh insektisida ramah lingkungan yang tidak kalah dengan bahan insektisida kimiawi dalam hal pengendalian hama.

TINJAUAN PUSTAKA

Patogen adalah mikroorganisme infeksious yang membuat luka atau membunuh inangnya. Beberapa patogen menyebabkan penyakit pada tanaman dan hewan, akan tetapi banyak juga mikroorganisme yang berguna : mendegradasi racun, memproduksis nutrien bagi tanaman, beberapa patogen berguna untuk mengendalikana gulma, antagonis terhadap patogen penyakit tumbuhan dan ada juga mikroorganisme yang menyebabkan penyakit pada serangga atau arthropoda lainnya. Patogen serangga memasuki tubuh serangga melalui dua jalan: 1) ketika inang menelan individual

4

pathogen selama proses makan (dikenal sebagai passive entry), dan 2) Ketika patogen masuk melalui bukaan-bukaan alami atau penetrasi langsung ke kurikula serangga (disebut active entry). Patogen pada hama tersebut dapat dimanfaatkan sebagai biopestisida atau bioinsektisida. Menurut Khacatourians (1986), patogen bakteri yang paling banyak digunakan adalah dari genus Bacillus. Berdasarkan asalnya, biopestisida dapat dibedakan menjadi dua yakni pestisida nabati dan pestisida hayati. Pestisida nabati merupakan hasil ekstraksi bagian tertentu dari tanaman baik dari daun, buah, biji atau akar yang senyawa atau metabolit sekunder dan memiliki sifat racun terhadap hama dan penyakit tertentu. Pestisida nabati pada umumnya digunakan untuk mengendalikan hama (bersifat insektisidal) maupun penyakit (bersifat bakterisidal). Pestisida hayati merupakan formulasi yang mengandung mikroba tertentu baik berupa jamur, bakteri, maupun virus yang bersifat antagonis terhadap mikroba lainnya (penyebab penyakit tanaman) atau menghasilkan senyawa tertentu yang bersifat racun baik bagi serangga (hama) maupun nematoda (penyebab penyakit tanaman). Bioinsektisida merupakan salah satu jenis biopestisida. Bioinsektisida adalah mikroorganisme yang dapat digunakan sebagai agen

pengendalian serangga hama. Pemanfaatan bioinsektisida sebagai agen hayati pada pengendalian hama merupakan salah satu komponen pengendalian hama terpadu (PHT). Terdapat enam kelompok mikroorganisme yang dapat dimanfaatkan sebagai bioinsektisida, yaitu cendawan, bakteri, virus, nematoda, protozoa, dan ricketsia (Santoso 1993; Tanada dan Kaya 1993). Empat kelompok pertama merupakan jenis yang sering digunakan dan mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan (Kaaya et al. 1996; Reithinger et al. 1997; Sosa-Gomez dan Moscardi 1997; Kim et al. 2001; Prayogo et al. 2004). Bakteri adalah organisme uniseluler yang tidak mempunyai nukleus, akan tetapi mempunyai dinding sel yang rigid dan secara umum berukuran panjang 1μ - 5 μ. Bakteri patogen serangga dapat dibagi menjadi 2 yaitu non-sprore-forming dan sporeforming bacteria. Meskipun kebanyakan bakteri yang diisolasi dari serangga sakit adalah non-spore-forming bacteria, akan tetapi spore-forming bacteria, seperti genera Bacillus adalah bakteri yang sangat penting di dalam pengendalian hayati. Sporeforming-bacteria diberi namai karena membentuk spora yang resistan terhadap

5

lingkungan ekstrim. Pada dasarnya bakteri ini terdiri atas 3 genera yaitu Bacillus, Paenibacillus yang aerobik dan Clostridium yang anaerobik. Salah satu jenis bakteri yang telah terbukti bermanfaat sebagai bioinsektisida yaitu Bacillus thuringiensis. Isolat Bt yang pertama kali ditemukan adalah subspesies yang aktif membunuh ulat (larva Lepidoptera), dengan subspesies Bt. Var kurstaki (Btk). Subspesies yang aktif pada Diptera ditemukan kemudian pada tahun 1976 yaitu Bt. Israelensis (Bti) yang menginfeksi larva nyamuk di Israel. Bti sekarang tersedia secara komersial untuk membunuh nyamuk dan blackfies yanag merupakan vektor penyakit pada vertebrata. Pada tahun 1986 ditemukan subspesies bakteri yang aktif membunuh larva Coleoptera Bt tenebrio (btt) yang kemudian diganti menjadi Bt morrisoni. Btm ini kemudian dikembangkan untuk mengendalikan hama kumbang. Sampai sekarang telah 60.000 strain Bt telah diisolasi dan telah 60 subspesies telah diberi nama. Bacillus thuringiensis adalah spesies yang kompleks dengan banyaknya subspesies berdasarkan uji serologi. Bakteri ini membentuk spora sekaligus juga membentuk tubuh parasporal dalam sporangium. Tubuh parasporal mengandung satu atau lebih protein protoksin dalam struktur cristalin, yang dikenal sebagai cristal protein. Toksin dalam cristal protein dikenal sebagai δ-endotoksin dan setiap subspesies Bt mempunyai δ-endotoksin yang berbeda yang infektif pada serangga yang berbeda pula. Ketika Bt tertelan oleh serangga yang rentan, cristal protein akan terlarut dalam kondisi basa dalam saluran pencernakan (midgut) dana menghasilkan protoksin yang dengan adanya enzim proteolitik akan membuat protoksin ini aktif. Bagian dari molekul toksin ini akan melekat pada dinding gut untuk membentuk lubang atau pores pada dinding gut. Formasi pores ini akan menyebabkan terganggunya keseimbangan osmotik sepanjang gut yang pada akhirnya sel-sel gut akan membengkak dan beberapa akan meletus menyebabkan bakteri dapat menginvasi haemocol serangga, sehingga bakteri akan cepat memperbanyak diri dan serangga yang rentan akan mati dalam 1-2 hari. Larva yang terinfeksi oleh Bt akan menunjukkan perubahan perilaku dan morfologi. Setelah beberapa jam menelan Bt, maka larva akan berhenti makan, berhenti bergerak, kemudian ditunjukkan dengan gejala perubahan diare, berubah warna menjadi agak gelap, dan akhirnya akan mati. Salah satu larva yang merupakan hama bagi tanaman pangan adalah ulat grayak. Ulat grayak termasuk dalam ordo Lepidoptera, family Noctuidae, genus Spodoptera

6

dan spesies litura. Hama ini bersifat polifag atau mempunyai kisaran inang yang cukup luas atau banyak inang, sehingga agak sulit dikendalikan. Ulat grayak merupakan fase larva dari ngengat Larva mempunyai warna yang bervariasi, memiliki kalung (bulan sabit) berwarna hitam pada segmen abdomen keempat dan kesepuluh. Pada sisi lateral dorsal terdapat garis kuning. Ulat yang baru menetas berwarna hijaumuda, bagian sisi coklat tua atau hitam kecoklatan, dan hidup berkelompok. Beberapa hari setelah menetas (bergantung ketersediaan makanan), larva menyebar dengan menggunakan benang sutera dari mulutnya. Pada siang hari, larva bersembunyi di dalam tanah atau tempat yang lembap dan menyerangtanaman pada malam hari atau padaintensitas cahaya matahari yang rendah.Biasanya ulat berpindah ke tanaman lain secara bergerombol dalam jumlah besar. Ulat berkepompong di dalam tanah, membentuk pupa tanpa rumah pupa (kokon), berwarna coklat kemerahan dengan panjang sekitar 1,60 cm. Siklus hidup berkisar antara 30 - 60 hari (lama stadium telur 2-4 hari). Stadium larva terdiri atas 5 instar yang berlangsung selama 20 - 46 hari. Lama stadium pupa 8 -11 hari. Seekor ngengat betina dapat meletakkan 2.000-3.000 telur. Ulat grayak tersebar luas di Asia, Pasifik, dan Australia. Di Indonesia, hama ini terutama menyebar di Nanggroe Aceh Darussalam, Jambi, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Bali, Nusa

Tenggara Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku, dan Papua. Larva yang masih muda merusak daun dengan meninggalkan sisa-sisa epidermis bagian atas (transparan) dan tulang daun. Larva instar lanjut merusak tulang daun dan kadang-kadang menyerang polong. Biasanya larva berada di permukaan bawah daun dan menyerang secara serentak dan berkelompok. Serangan berat menyebabkan tanaman gundul karena daun dan buah habis dimakan ulat. Serangan berat pada umumnya terjadi pada musim kemarau, dan menyebabkan defoliasi daun yang sangat berat. Tanaman inang dari ulat grayak adalah kedelai, cabai, kubis, padi, jagung, tomat, tebu, buncis, jeruk, tembakau, bawang merah, terung, kentang, kacang-kacangan (kedelai, kacang tanah), kangkung, bayam, pisang, dan tanaman hias. Ulat grayak juga menyerang berbagai gulma, seperti Limnocharis sp., Passiflora foetida, Ageratum sp., Cleome sp., Clibadium sp., dan Trema sp (Marwoto dan Suharsono 2008).

7

F. METODE PELAKSANAAN
a. Waktu dan Tempat Penelitian

Pelaksanaan program ini dilakukan selam 3 bulan dari bulan Januari sampai dengan Maret 2010. Tempat pelaksanaan program ini adalah di Laboratorium Mikrobiologi, Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan, Institut Pertanian Bogor.
b. Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan adalah tanah untuk isolasi bakteri, media pertumbuhan bakteri, daun talas untuk makanan larva ulat grayak, air destilata steril. Alat-alat laboratorium yang digunakan ialah vortek, Laminar, autoklaf, hot plate, mikroskop, pipet mikro, cawan, tabung, serta peralatan umum yang digunakan di laboratorium.
c. Metode Pelaksanaan

Metode penulisan dalam penulisan karya ilmiah ini adalah penelitian di laboratorium. Metode penelitian yang digunakan dalam menyusun karya tulis ini terdiri dari isolasi bakteri Bacillus thuringiensis, pengadaan hama ulat grayak Spodoptera litura, dan pengujian toksisitas kristal isolat bakteri.

Isolasi bakteri Bacillus thuringiensis

Pengadaan hama ulat grayak Spodoptera litura

Pengkulturan isolat bakteri Bt

Pemeliharaan ulat

Pengujian toksisitas bakteri Isolasi Bakteri Bacillus thuringiensis Tahap pertama yang akan dilakukan adalah melakukan isolasi bakteri Bt dari tanah. Prosedur isolasi dilakukan dengan cara mensuspensikan satu gram contoh tanah ke
Sentrifugasi

Sentrifugasi

Sentrifugasi

8

dalam sembilan mililiter air suling steril dalam tabung reaksi. Suspensi tersebut kemudian dikocok dengan alat pengocok selama beberapa menit sampai merata. Untuk mengatasi dormansi endospora diberikan perlakuan panas pada suhu 80o C selama 10 menit. Perlakuan ini dengan sendirinya mematikan sel-sel vegetatif mikroorganisme yang ada di dalam suspensi. Selanjutnya cairan bagian atas dipisahkan ke dalam tabung reaksi dan diencerkan secara serial sampai pengenceran 10-4 dengan air suling steril. Dari masing-masing pengenceran 10-3 dan 10-4 secara aseptik diambil suspensi sebanyak 0,1 ml dengan menggunakan pipet 1 ml dan dicawankan dengan metode cawan sebar pada medium agar nutrient dengan dua kali ualangan. Cawan-cawan tersebut selanjutnya diinkubasikan dengan posisi terbalik pada suhu 280 C selama tiga hari.

Peremajaan Mikrob Target Mikrob yang akan digunakan harus ditumbuhkan dulu pada media Nutrient Broth (NB). Setelah diinkubasi, masing-masing koloni yang tumbuh yang menunjukkan morfologi Bacillus, yaitu penampilan koloni yang kasar dan tidak merata pada permukaan medium, bentuk koloni tidak teratur, menyebar, dan berwarna putih dipindahkan dengan cara menggoreskannya ke permukaan cawan medium agar nutrient steril dengan menggunakan tusuk gigi steril. Setiap cawan berisi sekitar 20-40 goresan koloni. Cawan-cawan ini selanjutnya diinkubasikan dengan posisi terbalik pada suhu 28oC selama tiga hari. Dari setiap koloni yang tumbuh sebagai hasil penggoresan, dibuat lekapan basah. Pengamatan morfologi dilakukan terhadap sel vegetatif, kristal protein, dan spora dengan menggunakan mikroskop. Koloni-koloni yang memperlihatkan sel berbentuk batang, mengandung endospore dan benda lain di sebelah spora yang penampakannya lebih kusam dari endospore tetapi lebih terang dari sel vegetatif diduga adalah kolonikoloni B. thuringiensis. Koloni-koloni tersebut kemudian dimurnikan pada cawan yang berisi agar nutrient segar dengan metode penggoresan kuadran.

Pengadaan Hama Ulat Grayak ( Spodoptera litura) Ulat grayak yang digunakan berasal dari larva. Larva yang sudah didapatkan dipelihara di tempat pemeliharaan di laboratorium. Larva diberi makan daun talas segar

9

setiap satu sampai tiga kali sehari. Sejumlah larva ulat yang seragam selanjutnya dipakai untuk pengujian toksisitas Kristal isolate bakteri Bt. Pengujian Toksisitas Kristal Isolat Bakteri Pengujian dilakukan dengan memberi makan 20 larva S. litura untuk masingmasing isolat uji dengan potongan daun talas segar (5cm x 5cm) yang telah dicelupkan dalam suspensi isolat bakteri selama beberapa menit lalu dibiarkan kering udara. Larva-larva uji ditempatkan pada cawan petri yang dilapisi dengan lap kertas basah untuk menjaga kelembaban udara. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan empat ulangan (Stell & Torrie 1980).
i= j=

Xij = U + Ii + Eij

1, 2, 3, …, 21. 1, 2, 3, 4.

dimana,

Xij = persentase mortalitas larva yang diperoleh pada isolate ke-i dan ulangan ke-j U = rata-rata persentase mortalitas umum Ij = pengaruh isolate ke-i Eij = galat

Pengamatan dilakukan terhadap persentase mortalitas larva setiap hari selama empat hari berturut-turut. Data yang diperoleh kemudian akan dianalisis menggunakan Uji-F dan Uji Beda Nyata Terkecil.

G. JADWAL KEGIATAN Bulan I Kegiatan 1 Studi Pustaka Persiapan alat dan bahan 2 3 4 1 2 3 4 1
2 3 4

Bulan II

Bulan III

10

Penelitian Pendahuluan Penelitian Utama Penelitian Lanjutan Pengelolaan Data Penyusunan Laporan

H. RANCANGAN BIAYA N o Bahan Media/ Reagen 1 Nutrient Agar (NA) 2 Nutrient Broth (NB) 3 Pepton 4 Agar Bakto 5 Gliserol 6 K2HPO4 7 MgSO4.7H2O 8 Kasein Hidrolisat 9 NaCl 10 Glukosa 11 Alkohol 70 % 12 Alkohol absolut Total 1 Bahan Habis Gelas 1 Tabung Reaksi 2 3 Tabung Mikro 4 Rak tabung reaksi 5 Loop inokulasi 6 Cawan petri 7 Batang gelas penyebar Total 2 Bahan Habis Lain Buku Catatan dan Alat tulis Plastik Tahan Panas Kapas Plastik Wrap Biaya Satuan (Rp) 698.000 592.000 900.000 1.350.000 752.000 650.000 950.000 315.000 570.000 754.000 25.000 150.000 Volume 500 gr 500 gr 500 gr 500 gr 1L 500 gr 500 gr 500 gr 500 gr 500 gr 2L 500 ml Jumlah 1 1 1/2 1 1 1 1 1 1 1/2 2 1 Biaya (Rp) 698.000 592.000 450.000 1.350.000 752.000 650.000 950.000 315.000 570.000 377.000 50.000 150.000 6.904.000 400.000 250.000 100.000 300.000 750.000 100.000 2.150.000 14.000 20.000 10.000 15.000

5.000 250.000 100.000 150.000 15.000 50.000

80 1 pak 1 2 50 2

10000 5000 15.000

2 pak 2 pak 1

11

gulung Biaya pemeliharaan ulat grayak Pengambilan dan analisis data Total 3 TOTAL BIAYA PENELITIAN I. DAFTAR PUSTAKA 187.000 700.000 946.000 10.000.00 0

Badan Pusat Statistik. 1993. Survei Pertanian. Luas dan Intensitas Serangan Jasad Pengganggu Padi dan Palawija di Jawa. Jakarta: Badan Pusat Statistik Badan Pusat Statistik. 1994. Survei Pertanian. Luas dan Intensitas Serangan Jasad Pengganggu Padi dan Palawija di Jawa. Jakarta: Badan Pusat Statistik De Bach p. 1979. Biological Control by Natural Enemies. Cambridge: Cambridge University Press Junianto YD. 2000. Penggunaan Beauveria bassiana untuk pengendalian hama tanaman kopi dan kakao. Workshop Nasional Pengendalian Hayati OPT Tanaman Perkebunan, Cipayung, 15−17 Februari 2000. Jember:Balai Penelitian Kopi dan Kakao. Kaaya GP, Mwangi EN, Ouna EA. 1996. Prospects for biological control of livestock ticks Rhipicephalus appendiculatus and Amblyomma variegatum using the entomogenous fungi Beauveria bassiana and Metarhizium anisopliae. J Invertebr Pathol 67: 15−20. Kachatourians GG. 1986. Production and use of biological pest control agents. Tibtech. 5:120-124 Kim JJ, Lee MH, Yoon CS, Kim HS, You JK. 2001. Control of cotton aphid and greenhouse whitefly with a fungal pathogen. Food & Fertilizer Technology Center, An international information center for farmers in the Asia Pacific Region. [terhubung berkala]. http:// www.agnet.org/library/article/eb502.htm [27 Maret 2004]. Marwoto dan Suharsono. 2008. Strategi Dan Komponen Teknologi Pengendalian Ulat Grayak (Spodoptera Litura Fabricius) pada Tanaman Kedelai. Jurnal Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian 27(4) Oka IN dan Sukardi M. 1982. Dampak Lingkungan Penggunaan Pesisida. J Litbang Pertan 1 (2): 49-56 Prayogo Y. 2004. Keefektifan lima jenis cendawan entomopatogen terhadap hama pengisap polong kedelai Riptortus linearis (L.) (Hemiptera: Alydidae) dan dampaknya

12

terhadap predator Oxyopes javanus Thorell (Araneida: Oxyopidae). [tesis]. Bogor:Sekolah Pascssarjana, Institut Pertanian Bogor. Prayogo Y. 2006. Upaya Mempertahankan keefektifan cendawan entomopatogen untuk mengendalikan hama tanaman pangan. Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian Jurnal Litbang Pertanian, 25(2)19-23 Reithinger R, Davies CR, Cadena H, Alexander B. 1997. Evaluation of the fungus Beauveria bassiana as a potential biological control agent against phlebotomine sand flies in Colombian coffee plantations. J. Invertebr. Pathol. 70: 131−135. Santoso T. 1993. Dasar-dasar patologi serangga. Dalam E. Martono, E. Mahrub, N.S. Putra, Y. Trisetyawati, editor. Simposium Patologi Serangga I. Yogyakarta, 12−13 Oktober 1993. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.hlm. 1−15. Sosa-Gomez DR, Moscardi F. 1997. Laboratory and field studies on the infection of stink bugs Nezara viridula, Piezodorus guildini, and Euschistus heros (Hemiptera: Pentatomidae) with Metarhizium anisopliae and Beauveria bassiana in Brazil. J. Invertebr. Pathol. 71: 115−120. Steel RG , Torrie JH. 1980. Principles and Procedure of Statistics. Singapore: McGrawHill Book Company Sudarmadji D. Gunawan S. 1994. Patogenisitas fungi entomopatogen Beauveria bassiana terhadap Helopeltis antoni. Menara Perkebunan 62(1): 11. Tanada Y., Kaya HK. 1993. Insect Pathology. California: Academic Press, Inc. Van Emden HF. 1980. Pest Control and Its Ecology. New York: The Camelot Press Ltd

13

J. LAMPIRAN a. Biodata ketua serta anggota kelompok 1. Biodata Ketua Kelompok Nama NRP Departemen Fakultas Perguruan Tinggi Alamat : Ikra Alma Khudra : G34070065 : Biologi : Matematika dan IPA : Institut Pertanian Bogor : Jalan Babakan Doneng Gg. H. Saidi RT/RW 03/06 Dramaga Bogor Tempat, Tanggal Lahir : Pariaman, 12 November 1989 No Telp/HP : 085263515744 Pekerjaan : Mahasiswa Hobi : Bermain musik Cita- cita : Dosen dan Peneliti di bidang Biologi, Pengusaha Moto Hidup : Nothing’s gonna change my world Riwayat Pendidikan : SDN 16 Pariaman SMPN 1 Pariaman SMAN 1 Pariaman Departemen Biologi, FMIPA, IPB Pengalaman Organisasi : ROHIS SMAN 1 Pariaman Tim Redaksi Majalah Sekolah SMA 1 Pariaman Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Minang (IPMM) IPB 2007- sekarang Pengalaman Kepanitiaan : Panitia Lomba Cepat Tepat Biologi 2009 Panitia SPIRIT FMIPA 2009 Panitia MPF dan MPD “G-FORCE 45” Panitia Biologi Interaktif 2009 Panitia GRAND BIODIVERSITY BIOLOGI 2010 Prestasi : Masuk IPB melalu jalur USMI. 2. Biodata Anggota Kelompok 1 Nama NRP Departemen Fakultas Perguruan Tinggi Alamat : Yakub Hidayattullah : G34070047 : Biologi : Matematika dan IPA : Institut Pertanian Bogor : JL. Cempaka 1 No 11-12 Blok B-24 rt004/rw03 Pondok Permai Kel. Kutabaru. Kec. Pasar Kemis. Kab. Tangerang Banten 15561 Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 5 Nopember 1989 No Telp/HP : 085691212729 Pekerjaan : Mahasiswa Hobi : Membaca, Renang Cita- cita : Dosen Riwayat Pendidikan : SDI Al-Ijtihad Tangerang

14

SMP Negeri 5 Tangerang SMA Negeri 4 Tangerang Departemen Biologi FMIPA IPB Pengalaman Organisasi : Anggota matematika Club SMA Negeri 4 Tangerang Panitia Seminar Nasional Revolusi Sains 2008 Staff Acara Staff divisi PSDM Himpunan Mahasiswa biologi IPB Panitia Biologi Interaktif 2009 Koordinator Acara Panitia Lomba Cepat tepat Biologi Pesta Sains Nasional FMIPA IPB Panitia Seminar PKM Biologi IPB 2009 Koordinator Acara Kepala divisi Internal BEM FMIPA 2010 3. Biodata Anggota Kelompok 2 Nama : Hetti Kurniasih NRP : G34070064 Departemen : Biologi Fakultas : Matematika dan IPA Perguruan Tinggi : Institut Pertanian Bogor Alamat : Komp. Depag Blok IX E 10 Rt 03/07 Bambu ApusPamulang, Kab. Tangerang-Banten 15415 Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 12 Agustus 1989 No Telp/HP : 081384048966 Pekerjaan : Mahasiswa Hobi : Membaca Cita- cita : Dosen dan pengusaha Riwayat Pendidikan : SD Negeri Bambu Apus II Pamulang SLTP Negeri 1 Pamulang SMA Negeri 2 Ciputat Departemen Biologi FMIPA IPB Pengalaman Organisasi : Anggota paskribra SMAN 2 Ciputat 2005-2007 Panitia Jurnalistik Fair BEM KM IPB 2008 Panitia Bedah Tokoh Leadership and Enterpreneurship School 2008 staff Acara Panitia Seminar Nasional Revolusi Sains 2008 staff Dana usaha Staff divisi PPSDM BEM FMIPA IPB 2009 Panitia SPIRIT 2009 BEM FMIPA Koordinator Humas Panitia Leadership Training BEM FMIPA 2009 Koordinator Acara Panitia Journalistrip BEM FMIPA 2009 staff Publikasi dan Dokumentasi Bendahara Umum Himpunan Mahasiswa Biologi 2010

15

4. Biodata Anggota Kelompok 3 Nama NRP Departemen Fakultas Perguruan Tinggi Alamat : Susana Sagitha Raunsay : G3407113 : Biologi : Matematika dan IPA : Institut Pertanian Bogor : Rumah Kost Asyta Graha3 Perwira 44. Darmaga Bogor Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 28 November 1989 No Telp/HP : 085691615427 Pekerjaan : Mahasiswa Hobi : Membaca Cita- cita : Wiraswasta Riwayat Pendidikan : SD Taman Pejuang Bekasi (1996 - 1998) SLTP Negeri 19 Bekasi (2001 - 2004) SMA Negeri 4 Bekasi (2004 – 2007) Pengalaman Organisasi : Pengurus Komisi Literatur PMK IPB (2009 – 2010) Anggota Teater Ketupat SMAN 4 Bekasi (2004-2005) 5. Biodata Anggota Kelompok 3 Nama NRP Departemen Fakultas Perguruan Tinggi Alamat : Delvi Riana : G34080010 : Biologi : Matematika dan IPA : Institut Pertanian Bogor : Jalan Cibanteng Proyek No.2 Belakang Pegadaian Cibanteng Dramaga Kecamatan Bogor Barat, Jawa Barat 16680 Tempat, Tanggal Lahir : Payakumbuh, 3 Desember 1989 No Telp/HP : 081266297669 Pekerjaan : Mahasiswa Hobi : Browsing Internet, mendengar music, nonton dan membaca Cita- cita : Riwayat Pendidikan : 1.SDN 06 Balai Nan Tuo Tiakar Payakumbuh 2.SMPN 1 Kota Payakumbuh 3.SMAN 1 Kota Payakumbuh 4.Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor Pengalaman Organisasi : 1. Anggota Pramuka SMA (2005) 2. Anggota Rohis SMA (2005) 3. Badan Pengawas (BPA) Organisasi daerah IPMM ( Ikatan Pelajar Mahasiswa Minang) Bogor (20092010) 4. Anggota Divisi Olah Raga dan Seni Organisasi daerah IKMP (Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa

16

Payakumbuh ) Bogor (2009-2010) 5. Koordinator Divisi Humas Organisasi Daeran IKMP (Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa Payakumbuh ) Bogor (2010 -sekarang) 6. Anggota divisi Marketing Majalah Chepalos Departemen Biologi IPB (2010-sekarang) Pengalaman Kepanitian : 1. Panitia penyambutan Mahasiswa Payakumbuh Divisi acara (2009) 2. Panitia Pekan Olah Raga Minang Cup IPB Divisi medis (2009) 3. Panitia IKMP cup Divisi acara (2009) 4. Panitia G Force 46 (Masa Perkenalan Fakultas MIPA) Divisi MOD (Master Of Disipliner ) (2010) 5. Panitia MPD 46 (Masa Perkenalan Departemen Biologi) Divisi PDD ( Publikasi dan Dekorasi) (2010) c. Biodata Dosen Pendamping Nama NIP Pangkat/Gol.Ruang Instansi Alamat kantor Telp/Fax/Email Bidang Keahlian : Dr. Nisa Rachmania Mubarik, MSi : 196711271993022001 : IV b/Lektor Kepala : Departemen Biologi, FMIPA, IPB : Jalan Agatis, IPB Dermaga, Bogor 16680 : 0251-8622833/nrachmania@ipb.ac.id : Mikrobiologi

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->