You are on page 1of 24

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan YME karena berkat dan karuniaNya kami dapat menyelesaikan makalah ini. Kami juga berterima kasih kepada para dosen kami yang telah memberikan tugas makalah ini dan membimbing kami dalam penyelesaian tugas ini. Tujuan dibuatnya tugas ini adalah agar kami dapat mengidentifikasi masalah masalah pedagang kaki lima di Indonesia dan mencari solusinya. Akhir kata tiada gading yang tak retak begitu pula dengan makalah ini, sehingga kritik dan saran sangat kami harapkan dari masyarakat teman-teman sekalian dan yang terutama dari para dosenkami.

Sekian dan terima kasih

Surabaya, Oktober 2011

Makalah Pengantar Bisnis “Pedagang Kaki Lima: Permasalahan dan Solusinya. |

1

DAFTAR ISI

●KATA PENGANTAR………………………………………..……..1 ●DAFTAR ISI…………………………………………………..…….2 ●BAB I PENDAHULUAN…………………………………..……....3-5 -Latar Belakang………………………………………................3 -Rumusan Masalah…………………………………..……..…...4 -Tujuan Penulisan……………………………………..…..….....5 -Manfaat Penulisan………………………………….....…......…5 ●BAB II KERANGKA BERPIKIR ………………………..…....….6 ●BAB III PEMBAHASAN………………………………..…….11-15 -Keberadaan Pedagang Kaki Lima…………………..….....…11 - Persoalan yang dihadapi oleh PKL………………….......….14 - Persoalan yang dihadapi oleh Pemkot Surabaya……....…....16 ● BAB IV PENUTUP………………………………………….…22-23 -Kesimpulan……………………...……………………..……..22 -Saran…………………………………………………..….......23 ●DAFTAR PUSTAKA……………………………………..………...24

Makalah Pengantar Bisnis “Pedagang Kaki Lima: Permasalahan dan Solusinya. |

2

selain itu krisis ekonomi dan moneter juga menyebabkan kelumpuhan ekonomi nasional terutama pada sektor riil yang berakibat terjadinya PHK secara besar. Sebagai kota metropolitan yang memiliki pelabuhan Tanjung perak. Gangguan pada prasarana jalan tersebut menimbulkan kesemerawutan dan kemacetan kota. Dikawasan jalan pahlawan misalnya kehadiran PKL menempati separuh badan jalan sehingga sangat menganggu ketertiban lalu lintas. pasar Turi dan terminal Purabaya. Oleh karenanya. Dari tahun ke tahun jumlah PKL di Surabaya terus bertambah. Latar Belakang Kota Surabaya merupakan kota yang besar dengan penduduk hampir tiga juta jiwa dan merupakan terbesar kedua setelah Jakarta. kota ini memang layak disebut sebagai salah satu gerbang perdagangan utama di wilayah Indonesia timur.BAB I PENDAHULUAN A. Hal ini mengakibatkan munculnya pengangguran dikota – kota besar termasuk kota Surabaya. Sulitnya perekonomian yang dialami masyarakat membuat mereka memilih suatu alternatif usaha di sektor informal dengan modal yang relatif kecil untuk menunjang kebutuhannya. Banyaknya jumlah pendatang dari luar kota Surabaya yang tidak diimbangi dengan jumlah lapangan pekerjaan yang memadai menyebabkan masalah kota di Surabaya bertambah. pemerintah mengalami kesulitan dalam penataan dan pemberdayaan guna mewujudkan kota yang bersih dan rapi. Hal ini dibuktikan dengan bertambahnya jumlah penduduk yang meningkat dar tahun ke tahun. | 3 . Pada tahun 2005 saja diperkirakan jumlah PKL mencapai 18 000 dan berada di 615 titik. Stasiun kereta api Gubeng. Salah satu usaha disektor informal dengan modal relatif kecil adalah menjadi pedagang kaki lima. bandara internasional Juanda. Permasalahan PKL bukan hanya permasalahan pemerintah kota Surabaya dan Makalah Pengantar Bisnis “Pedagang Kaki Lima: Permasalahan dan Solusinya.besaran dari perusahaan swasta nasional. Yang pastinya memiliki potensi yang dapat menarik pendatang dari daerah sekitar maupun kota lain. Di samping itu PKL sebagai bagian dari usaha sektor informal memiliki potensi untuk menciptakan dan memperluas lapangan kerja yang kurang memiliki kemampuan dan keahlian yang memadai serta rendahnya tingkat pendidikan.

B.pedagang kaki lima saja tetapi juga merupakan masalah masyarakat umum. Mengacu uraian diatas. kriminal dan konflik baik konflik vertikal dan horizontal. Namun bila pedagang kaki lima digusur begitu saja. Konflik vertikal misalnya konflik antara pedagang kaki lima dan pemerintah kota menyangkut masalah kebijaksanaan pemerintah kota untuk melakukan penertiban sedangkan konflik horizontal misalnya konflik sesama pedagang kaki lima menyangkut masalah lahan. Tujuan untuk menciptakan sebuah kota yang indah. asri dapat terwujud sekaligus tujuan pemberdayaan ekonomi masyarakat kecil khususnya PKL pun dapat tercapai. Hal ini dikarenakan keberadaan PKL telah mengganggu ketertiban lalu lintas yang dapat menyebabkan kecelakaan. Dengan adanya upaya yang sungguh-sungguh dari semua pihak diharapkan penyelesaian permasalahan ini membawa segi positif berupa tercapainya tujuan yang diharapkan pemerintah untuk mewujudkan kota yang tertib. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dalam penulisan karya tulis ilmiah ini adalah: 1. | 4 . Upaya yang telah dijalankan semua pihak diharapkan pula dapat mengurangi masalah sosial seperti kemiskinan. masyarakat pun akan sulit memenuhi kebutuhan mereka yang biasanya disediakan oleh pedagang kaki lima tersebut. kebijakan yang dikeluarkannya belum dapat diterapkan dengan baik. penting kiranya agar semua pihak untuk melakukan upaya penyelesaian permasalahan ini. indah.Apa dan bagaimana solusi untuk masalah Pedagang Kaki Lima ini? Makalah Pengantar Bisnis “Pedagang Kaki Lima: Permasalahan dan Solusinya. misal jalan–jalan strategis Surabaya.Bagaimana persoalan Pedagang Kaki Lima dewasa ini di kota Surabaya ? 2. Sedangkan bagi pemerintah kota Surabaya. sedangkan pemerintah sendiri belum dapat memberikan solusi yang tepat bagi persoalan pedagang kaki lima. fasilitas umum tidak dapat digunakan secara optimal. Jalan Tunjungan kini disesaki kaum PKL yang menimbulkan kesemerawutan kota. tertib dan teratur belum dapat terpenuhi karena keberadaan mereka.

Makalah Pengantar Bisnis “Pedagang Kaki Lima: Permasalahan dan Solusinya.Dapat memberi masukan bagi pemerintah kota Surabaya dalam upaya mengatasi persoalan pedagang kaki lima 2 Memberikan wawasan dan masukan bagi para pedagang kaki lima dalam mengatasi masalah pedagang kaki lima. | 5 . Tujuan Penulisan Berdasarkan rumusan masalah tersebut maka tujuan penelitian ini adalah : 1.C. Untuk mencari solusi terkait permasalahan Pedagang Kaki Lima D. Untuk mengetahui gambaran masalah yang terkait Pedagang Kaki Lima 3.Untuk memenuhi Tugas Makalah mata kuliah Pengantar Bisnis kami 2. Manfaat Penulisan Adapun manfaat dari penulisan karya tulis ilmiah ini adalah: 1 .

tercatat dan telah berbadan hukum . pedagang kaki lima dan pemulung. belum tercatat dan belum berbadan hukum. dan memerlukan surat-surat izin serta modal yang besar untuk memproduksi barang dan jasa. Richardson (1991) berpendapat bahwa keputusan-keputusan penentuan Makalah Pengantar Bisnis “Pedagang Kaki Lima: Permasalahan dan Solusinya. | 6 . dimasuki oleh penduduk kota terutama bertujuan untuk mencari kesempatan kerja dan pendapatan daripada memperoleh keuntungan. 3. adalah suatu bidang ekonomi yang untuk memasukinya tidak selalu memerlukan pendidikan formal dan keterampilan yang tinggi. industri rumah tangga. 2. Selanjutnya Sethurahman (1985) memberi batasan sektor informal ini sebagai unit-unit usaha berskala kecil yang terlibat dalam proses produksi dan distribusi barang-barang. Usaha kecil formal adalah usaha yang telah terdaftar. PKL. di satu sisi merupakan salah satu penggerak dalam perekonomian masyarakat pinggiran. Pedagang kaki lima (PKL) merupakan usaha informal yang bergerak dalam distribusi barang dan jasa. anatar lain petani penggarap. Adapun usaha kecil meliputi : 1. Usaha kecil informal adalah usaha yang belum terdaftar. Suatu kegiatan informal pada dasrnya harus memiliki suatu lokasi yang tepat agar dapat memperoleh keuntungan (profit) yang lebih banyak dari tempat lain dan untuk mencapai keuntungan yang maksimal. Usaha kecil tradisional adalah usaha yang menggunakan alat produksi sederhana yang digunakan secara turun temurun dan/atau berkaitan dengan seni dan budaya. suatu kegiatan harus seefisien mungkin. Hutajulu (1985) memberikan batasan tentang sektor informal. pedagang asongan. pedagang keliling.BAB II KERANGKA BERPIKIR (TELAAH PUSTAKA) Krisis moneter dan ekonomi yang dialami Indonesia berdampak pada semakin sulitnya perekonomian masyarakat menengah ke bawah dan dengan hal itu masyarakat pun harus memilih alternative usaha dengan modal relative kecil untuk menunjang kebutuhannya.

lapangan kerja. pengangguran. 2. tapi selagi pemerintah belum dapat mengatasi masalah kemiskinan.Undang-undang yang bisa digunakan untuk melindungi para PKL dan masyarakat miskin pada umumnya : ●Pasal 11 UU nomor 39/199 mengenai Hak Asasi Manusia : “ setiap orang berhak atas pemenuhan kebutuhan dasarnya untuk tumbuh dan berkembang secara layak. sehingga pemerintah menertibkan mereka dengan cara menggusurnya. pertokoan ataupun lokasilokasi strategis lainnya.Belum lagi tingginya angka pengangguran dan semakin sedikitnya lowongan kerja bagi mereka berpendidikan rendah memaksa mereka untuk membuat sebuah usaha si pinggir-pinggir jalan yang pada prakteknya memang sedikit banyak mengganggu ketertiban jalan dan merusak pemandangan kota .lokasi yang memaksimumkan penerimaan biasanya diambil bila memenuhi kriteria-kriteria pokok : 1. dengan menetapkan peraturan perundangundangan dan kebijaksanaan. Sedangkan PKL pun dalam hal ini hanyalah masyarakat dengan tingkat perekonomian rendah yang tidak memiliki modal besar untuk membuka bisnis besar dan juga menyewa ataupun membeli ruko-ruko. Tempat yang memberi kemungkinan pertumbuhan jangka panjang yang menghasilkan keuntungan yang layak. Tempat yang luas lingkupnya untuk kemungkinan perluasan unit produksi. Jadi artinya sektor informal adalah sektor yang memiliki ruang lingkup yang sangat luas dan kegiatan yang paling besar dijalankan oleh penduduk berpendapatan rendah yang memiliki modal materi dan pendidikan yang rendah.. Makalah Pengantar Bisnis “Pedagang Kaki Lima: Permasalahan dan Solusinya. Tapi keberadaan mereka kebanyakan dapat mengganggu ketertiban jalan dan penataan kota. | 7 . Dalam prakteknya pedagang kaki lima pun menempati prasarana prasana umum. ●Pasal 27 ayat (2) UUD 45 : “ Tiap-tiap warga Negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. seperti trotoar dan pinggiran jalan yang tidak dapat dipungkiri dilewati banyak pengguna jalan yang memang merupakan lokasi yang strtegis buat mereka.” ● Pasal 13 UU nomor 09/1995 tentang usaha kecil : “ Pemerintah menumbuhkan iklim usaha dalam aspek perlindunga.

Perda Surabaya No. Menurut William Dum (2004). Namun melalui Perda tersebut para pedagang kaki lima justru merasa terancam kepentingannya yaitu kebutuhan dalam menjalankan usahanya. (3) Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak ●Pasal 38 UU nomor 39/1999 mengenai Hak Asasi Manusia : (1) “ Setiap warga Negara.nilai yang ada dalam masyarakat yang tidak sesuai dengan nilai hukum yang berlaku. Dan PKL sebagai salah satu kaum minoritas yang bergelut dalam sektor informal merupakan bagian dari masyarakat Surabaya. internalization. identification.●Pasal 34 UUD 45 : (1) Fakir miskin dan anak terlantar di pelihara oleh Negara (2) Negara mengembangkan system jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan. | 8 .” Pemerintah membuat Peraturan Daerah (Perda) Surabaya No 17 tahun 2003 yang mengatur tentang PKL merupakan keabsahan dari pemerintah kota Surabaya sebagai kelompok penguasa terhadap kelompok bawah diantaranya adalah para pedagang kaki lima. Kepatuhan terhadap hukum bukan hanya karena faktor kesadaran hukum tetapi dapat juga karena suatu imbalan atau sekedar menjaga hubungan baik dengan pihak berwenang seperti yang dikatakan Pospisil dalam (Salman. sesuai dengan bakat. kebijakan yang dibuat guna kepentingan public itu didasarkan pada kepentingan masyarakat yang diimbangi dengan atensi terhadap kaum minoritas dalam masyarakat. Secara nyata kepatuhan ini sama dengan kepatuhan yang diakibatkan oleh kesadaran hukum Makalah Pengantar Bisnis “Pedagang Kaki Lima: Permasalahan dan Solusinya. 17 Tahun 2003 merupakan produk dari kelompok penguasa yakni Pemerintah Kota Surabaya. kecakapan dan kemampuan. berhak atas pekerjaan yang layak. Kebijakan tersebut bersifat publik dan membentuk suatu hukum yang harus dipatuhi oleh mereka yang dikuasai (dalam hal ini yakni PKL). (2) Setiap orang berhak dengan bebas memilih pekerjaan yang di sukainya dan ………. Peraturan tersebut dikeluarkan karena adanya suatu kebijakan penguasan terhadap yang dikuasai. Complience adalah bentuk kepatuhan masyarakat pada hukum. 2004) yang mengatakan bahwa ada beberapa faktor manusia mematuhi hukum yaitu complience. Namun diperlukan kesadaran hukum masyarakat untuk membuat masyarakat mematuhi hukum dikarenakan adanya sistem nilai .

pemahaman hukum. Pada taraf ini masyarakat tidak hanya sekedar tahu tentang adanya suatu hukum saja tetapi paham tentang isinya termasuk tujuan yang hendak dicapai dari hukum tersebut. Kepatuhan pada taraf ini tidak hanya sekedar menghindarkan diri dari hukuman dan atas dasar imbalan saja tetapi lebih pada kesadarn untuk tetap menjaga hubungan baik dengan pihak yang membuat kaidah hukm. Identification adalah kepatuhan masyarakat pada hukum dalam taraf yang lebih tinggi dari complience. Mereka telah memiliki empat indikator kesadaran hukum yaitu pengetahuan hukum. Pemahaman hukum dapat dimiliki masyarakat apabila masyarakat mengetahui terlebih dahulu adanya hukum tersebut. pengetahuan hukum khususnya tentang UU No 17 th 2003 perlu diketahui untuk menghasilkan kesadaran hukum. Dengan adanya pengetahuan hukum setidaknya seseorang tahu apa yang seharusnya boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Taraf ini menyaratkan seseorang tidak hanya paham isi hukum tersebut tetapi juga menyadari Makalah Pengantar Bisnis “Pedagang Kaki Lima: Permasalahan dan Solusinya. dikemukakan oleh Soekanto bahwa terdapat 4 indikator kesadaran hukum yaitu : 1. Hal ini karena complience merupakan bentuk kepatuhan yang hanya didasarkan pada harapan akan suatu imbalan dan usaha untuk menghindarkan sanksi. Sikap hukum yaitu kecenderungan untuk menerima hukum karena adanya penghargaan terhadap hukum sebagai sesuatu yang bermanfaat atau menguntungkan jika hukum tersebut ditaati. | 9 . Dalam taraf inilah proses sosialisasi dari Pemkot Surabaya harus berperan aktif supaya PKL paham tentang isi UU No 17 tahun 2003 yang telah dikeluarkan oleh Pemkot Surabaya. 3. Pemahaman hukum ini dapat diperoleh bila isi peraturan tersebut mudah dimengerti oleh masyarakat. sikap hukum. pola perilaku hukum(Soekanto dalam Salman. Pengetahuan hukum yaitu pengetahuan seseorang mengenai beberapa perilaku tertentu yang diatur oleh hukum (hukum tertulis). 2. Seperti pada pedagang kaki lima Surabaya. Pemahaman hukum yaitu sejumlah informasi yang dimiliki seseorang mengenai isi peraturan dari suatu hukum tertentu.2004:56). Internalization. pada taraf ini masyarakat sudah mematuhi hukum karena kesadaran hukum karena nilai – nilai hukum telah terinternalisasi dalam dirinya.namun hal ini akan terlihat jika imbalan dan fungsi hukuman atau sanksi tidak berjalan dengan baik.

penertiban atau semacamnya karena mereka sudah tahu apa yang seharusnya mereka lakukan dan seharusnya tidak. Hal ini dikarenakan nilai-nilai hukum tersebut telah terinternalisasi dalam nilainilai pada individu tersebut.1959:173). Sikap hukum yang dapat diejawantahkan oleh pedagang kaki lima adalah mematuhi peraturan yang berlaku walaupun nilai-nilai dalam hukum tersebut belum sama dengan nilai-nilai yang ada dalam individu tersebut. | 10 .bahwa nilai-nilai yang ada dalam hukum tersebut memang bermanfaat dan menguntungkan jika hukum tersebut ditaati. Kelas atasan adalah kelas yang menguasai sedangkan kelas bawahan adalah kelas yang dikuasai yang tidak memiliki kekuatan dan harus tunduk pada kelas atasan (Poloma. Bukan hanya karena tahu manfaatnya saja tetapi didasarkan pula pada kesadaran yang benar-benar dari hati. Jika masyarakat telah mencapai taraf ini maka mereka khususnya PKL tidak perlu selalu mendapat teguran. Seperti yang dikatakan oleh dahrendorf bahwa dalam sebuah struktur selalu ada pembentukan kelas yang terdiri dari kelas atasan dan kelas bawahan. Makalah Pengantar Bisnis “Pedagang Kaki Lima: Permasalahan dan Solusinya. Konflik antara pedagang kaki lima dan pemerintah kota Surabaya terjadi karena salah satu pihak memiliki kekuasaan dan perbedaan kepentingan. Pola perilaku hukum yaitu kesadaran individu sudah diejawantahkan melalui perilaku hukum. 4. Konflik yang terjadi antara pedagang kaki lima dan pemerintah kota Surabaya tersebut merupakan konflik vertikal yang biasanya menyangkut masalah ketertiban kota dan kebijakan yang telah dibuat oleh Pemkot Surabaya selain konflik vertikal dapat juga terjadi konflik horizontal misalnya konflik antar pedagang kaki lima yang satu dengan yang lain menyangkut masalah lahan.

Kepemilikan tanda daftar usaha (TDU) dengan ketentuan sebagai berkut (sebagaimana tercantum dalam pasal 5 dan 6. Modal yang digunakan relative tidak terlalu besar dan terbagi atas modal tetap berupa peralatan dan modal kerja. Pedagang kaki lima telah menjadi mata pencaharian utama sebagian warga Surabaya. biasanya berasal dari sumber dana illegal atau supplier yang memasok barang dagangan. | 11 .BAB III PEMBAHASAN 1.. mall atau grosir maupun indogrosir yang banyak tersebar di kota Suarabaya. Sehingga pedagang kaki lima telah menjadi salah satu system yang tidak dapat dipinggirkan masalahnya oleh pemerintah kota Surabaya. Keberadaan Pedagang Kaki Lima PKL umumnya adalah self employed artinya mayoritas pedagang kaki lima hanya terdiri dari satu tenaga kerja. Kegiatan pedagang kaki lima yang merupakan usaha perdagangan sector informal perlu diberdayakan guna menunjang pertumbuhan ekonomi masyarakat dan sekaligus salah satu pilihan dalam menyediakan barang dagangan yang di butuhkan oleh masyarakat dengan harga yang relatif murah. Keberadaan pedagang kaki lima bagi masyarakat Surabaya sangat penting sebagai penyediaan barang dagangan yang dibutuhkan oleh masyarakat Surabaya. Pedangan kaki lima sangat mempengaruhi pola pasar dan sosial di Surabaya. Mereka lebih memilih membeli pada pedagang kaki lima daripada membeli di supermarket. Pedagang kaki lima yang berada dalam naungan paguyupan pada umumnya telah mentaati peraturan yang di buat oleh pemerintah kota Surabaya. dikarenakan harga yang mereka tawarkan lebih rendah. Hal ini dapat dibuktikan dengan : 1. Tidak membangun tempat usaha secara Makalah Pengantar Bisnis “Pedagang Kaki Lima: Permasalahan dan Solusinya. Dana tersebut jarang sekali dipenuhi dari lembaga keuangan resmi. 17 Tahun 2003) yakni : Tidak memperjualbelikan tempat usaha atau lokasi kepada orang lain. Dalam bidang perekonomian pedagang kaki lima hanya berpengaruh sebagai produsen yang penting bagi masyarakat Surabaya mengingat akan banyaknya manyarakat menengah maupun menengah ke bawah. Tidak memperdagangkan barang ilegal menurut ketentuan undang-undang baik disengaja maupun tidak disengaja. Perda No.

Pada umumnya kesadaran hukum memang dikaitkan dengan ketaatan hukum sehingga hukum dapat benar-benar berfungsi dalam penyelenggaraannya. Tidak mengalihkan tanda daftar usaha kepada pihak lain dalam bentuk apa pun 2. 4 Seorang pedagang kaki lima dapat mengaktualisasikan penerimaan mereka dengan cara melaksanakan isi dari Perda tersebut karena nilai-nilai dalam Perda tersebut sudah terinternalisasi dalam dirinya. Tidak menggunakan tempat usaha sebagai tempat tinggal dan kegiatan terlarang seperti judi dll.. Membayar iuran kebersihan sebesar Rp.. 2 Seorang pedagang kaki lima memahami isi dari Perda yang No 17 tahun 2003 yang dan memahami tujuan dikeluarkannya Perda tersebut. Dapat diartikan tingkat kepatuhan PKL hanya pada taraf identification Makalah Pengantar Bisnis “Pedagang Kaki Lima: Permasalahan dan Solusinya.( Soekanto dalam Salman dan Susanto. mengembalikan dan menyerahkan kepada pemerintah apabila lokasi yang dimaksud sewaktu-waktu dibutuhkan oleh pemerintah serta tidak akan menuntut apapun pada pemerintah.1000. Pada kenyetaannya banyak pedagang kaki lima yang belum mengetahui adanya Perda No 17 tahun 2003 yang telah dikeluarkan Pemerintah kota Surabaya. Sanggup mengosongkan.3. Seorang pedagang kaki lima dapat dikatakan sadar hukum dengan indikatorindikator sebagai berikut : 1 Seorang pedagang kaki lima mengetahui adanya Perda No 17 tahun 2003 yang telah dikeluarkan pemerintah kota Surabaya.Namun jika ditelusuri lebih lanjut ternyata hanya sedikit saja yang mengetahui dan memahami akan isi Perda tersebut . Namun ketaatan tersebut belum bisa dikatakan bahwa seseorang telah memiliki kesadaran hukum. Bersedia menyeragamkan tenda sebagai identitas dari paguyupan pedagang kaki lima hanya yang ada di Surabaya.permanen maupun semi permanen... Tidak meninggalkan alat peraga setelah selesai berjualan. | 12 . Seorang pedagang kaki lima belum dapat dikatakan sadar hukum bila salah satu dari empat indikator di atas ada yang belum terpenuhi. Sanggup membersihkan lokasi usaha setelah selesai berjualan dan membuang sampah langsung ke tempat pembuangan sampah terdekat.. 2004 : 53). 3 Seorang pedagang kaki lima menerima Perda No 17 th 2003 tersebut karena mengetahui bahwa Perda tersebut bermanfaat dan menguntungkan bagi dirinya.

yaitu mematuhi suatu peraturan hanya karena ingin menjaga hubungan baik dengan pihak penguasa. | 13 . Sosialisasi bukan hanya untuk menginformasikan hal-hal yang harus dipatuhi dan tidak boleh di langgar namun harus lebih mengarah pada pemahaman hukum tersebut. Melihat kasus kesadaran hukum PKL seperti itu. Sosialisasi pemahaman hukum dapat dilakukan misalnya Pemerintah kota Surabaya menjelaskan apa tujuan dibuatnya hukum tersebut dan akibat-akibat apa yang mungkin terjadi apabila hukum tersebut dilanggar. Padahal yang diharapkan adalah kesadaran hukum dengan indikator kepatuhan terhadap hukum karena nilai–nilai hukum yang berlaku sudah terinternasisasi dengan nilai-nilai yang ada pada dirinya. Sesuai dengan Indikator kesadaran hukum bahwa orang yang sadar hukum adalah harus tahu terlebih dahulu keberadaan hukum tersebut dengan kata lain harus memiliki pengetahuan hukum. Akibat tersebut tentunya akan membawa dampak buruk juga bagi PKL dan masyarakat umum. Sosialisasi pemahaman hukum secara intensif diharapkan akan merubah sikap hukum pedagang kaki lima dan nilai-nilai hukum akan cepat terinternalisasi dalam diri PKL. Namun perlu disadari bahwa penyebab dari rendahnya kesadaran hukum pada kalangan PKL disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan sebagian besar PKL.. Makalah Pengantar Bisnis “Pedagang Kaki Lima: Permasalahan dan Solusinya. Ketidaktahuan PKL akan adanya Perda menyebabkan PKL tidak paham hukum dan secara otomatis tidak akan terbentuk sikap hukum yang diharapkan. Dengan adanya kesadaran hukum tersebut akan semakin mudah penerapan kebijakan pada pedagang kaki lima. Pemerintah kota surabaya sudah seharusnya merancang strategi untuk melakukan pembenahan dalam bidang sosialisasi.

Pada dasarnya suatu kegiatan sector informal yakni pedagang kaki lima harus memiliki lokasi yang tepat agar dapat memperoleh keuntungan yang maksimal. Selama ini lokasi yang menjadi pilihan bagi pedagang kaki lima adalah daerah fasilitas umum padahal tempat tersebut telah dilarang oleh pemkot Surabaya sehingga sering terjadi konflik antara pihak pedagang kaki lima dengan pihak pemkot Surabaya. Tempat yang memberi kemungkinan pertumbuhan jangka panjang yang menghasilkan keuntungan yang layak 2. Penanganan persoalan pedagang kaki lima hanya yang dilakukan secara parsial bisa memunculkan persoalan baru yang lebih rumit. kesulitan yang dihadapi oleh para pedagang kaki lima hanya berkisar antara peraturan pemkot Surabaya mengenai penataan pedagang kaki lima hanya yang belum bersifat membangun atau kontruktif. | 14 .Sedangkan untuk membeli atau menyewa ruko –roko atau stand-stand di mall pastinya mereka tidak mempunyai modal. Persoalan yang dihadapi Pedagang kaki lima Persoalan pedagang kaki lima hanya merupakan persoalan structural yang berkaitan dengan persoalan sosial lainnya. Adapun persoalan yang dihadapi oleh pkl adalah : ● Lokasi pedagang kaki lima Para pedagang kaki lima biasanya memanfaatkan terotoar dan pinggir-pinggir jalan raya dimana banyak masyarakat lalu lalang . Dengan kata lain.padahal dengan begitu dapat mengganggu pejalan kaki dan pelintas dan meyebabkan kemacetan tetapi tidak dapat dipungkiri lokasi pedagang kaki lima sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan kelangsungan usaha para pedagang kaki lima . yang pada gilirannya akan mempengaruhi pula jumlah penjualan dan tingkat keuntungan. sedangkan pemerintah biasanya hanya melarang bahkan menggusur pedagang Makalah Pengantar Bisnis “Pedagang Kaki Lima: Permasalahan dan Solusinya. Richardson ( 1991) berpendapat bahwa penentuan lokasi yang memaksimumkan penerimaan bila memnuhi criteria pokok: 1. Tempat yang luas lingkupnya untuk kemungkinan perluasan unit produksi.2.

sering kali dikatakan sebagai pedagang kaki lima liar dan mereka sering digusur oleh satpol PP karena tidak memiliki tanda daftar usaha tersebut. Padahal pedagang kaki lima kebanyakan berasal dari luar kota Surabaya. Jadi dalam hal ini para PKL sendiri yang harus memiliki kesadaran hukum untuk mematuhi aturan Pemkot Surabaya agar kota Surabaya menjadi kota yang lebih indah . Hal ini dikarenakan syarat untuk memiliki TDU harus melampirkan Kartu Tanda Penduduk (KTP ) Surabaya serta jangka waktu TDU hanya 6 bulan. Karena kejadian selama ini biasanya Pemkot hanya memberikan kompensasi yang kurang untuk mereka mencari tempat lain. | 15 . ●Identitas dagang pedagang kaki lima Identitas dagang pedagang kaki lima yang masih kurang jelas. Selain itu jangka waktu yang ditentukan sangat pendek sebelum mereka harus membokar lagi. atau memindahkan mereka ke tempat yang tidak strategis. Pemkot juga harus memikirkan cara caraa seefisien dan efektif mungkin untuk pengurusan Tanda Daftar Usaha ( TDU). tertata rapi dan tertib. Selain itu para pkl yang tidak memiliki identitas dagang yang dibuktikan dengan kepemilikan TDU atau Tanda Daftar Usaha. Syarat tersebut memberikan ruang gerak yang sempit bagi pedagang kaki lima yang berasal dari luar kota Surabaya. Jadi seharusnya Pemerintah harusnya dapat menyediakan ruang kota yang juga tempat umum seperti taman kota. dan Pemkot Surabaya harus terus melakukan sosialisasi agar para PKL semakin perduli dan sadar hukum akan identitas mereka. Adanya TDU yang ditentukan oleh pemkot Surabaya dianggap menyulitkan pedagang kaki lima. dikarenakan adanya ketidakpedulian para pedagang kaki lima terhadap pengakuan dagang mereka sehingga tidak adanya kekuatan hukum yang mengikat.kaki lima tanpa menyediakan lahan yang strategis buat mereka melanjutkan bisnis kecil mereka . Makalah Pengantar Bisnis “Pedagang Kaki Lima: Permasalahan dan Solusinya. alun alun dsb yang strategis untuk mereka berjualan dan Pemkot dapat menata mereka dengan rapi dan tertib bila perlu ada uang iuran.

yang selanjutnya dibawa ke pengadilan yang mengarah pada denda sesuai dengan Perda No17 Tahun 2003 dan pemberitahuan secara tegas agar tidak berjualan di lokasi tersebut. Namun penaganan dan penertiban tersebut tidak diindahkan oleh para PKL tersebut Makalah Pengantar Bisnis “Pedagang Kaki Lima: Permasalahan dan Solusinya. 3. Persoalan yang dihadapi oleh Pemerintah Kota Surabaya Persoalan Pemerintah Kota Surabaya dalam menangani PKL di surabaya yakni penertiban dan penataan PKL. Sulitnya penertiban dan penangananyang dilakukan karena kurangnya kesadaran PKL terhadap aturan dan terganggunya fasilitas umum karena adanya aktivitas dagang mereka. yang dilakukan di daerah tersebut. Penertiban dilakukan dengan melalui pemberitahuan kepada PKL terhadap lokasi yang mereka tempati sebagai lokasi sarana umum. Penanganan dengan cara pemberian surat teguran dari Pemkot kepada kecamatan / kelurahan dimana PKL tersebut menempati lokasi dagang mereka namun penaganan dan penertiban tersebut kurang dihiraukan sehingga Pemkot melalui satpol PP Kodya Surabaya melakukan penggusuran secara tegas. jika pun ada pemerintah menyediakan lahan-lahan yang letaknya kurang strategis yang secara pasti menurunkan dan mematikan profit yang mereka dapatkan dan akhirnya mereka harus gulung tikar dan menjadi pengangguran yang semakin menambah permasalahan bangsa ini. Satpol PP Kodya sebagai eksekutor dalam Penertiban dan Penanganan mengaku sangat lelah dalam penertiban secara terus-menerus. hampir setiap minggu ada saja penggusuran yang hanya selalu tentang penggusuran tanpa ada solusi yang di tawarkan padahal Pedagang kaki lima merupakan salah satu solusi akan masalah tingginya angka pengangguran dan sedikitnya lapangan kerja bagi masyarakat berpendidikan rendah seperti mereka.●Penggusuran Penggusuran terhadap pedagang kaki lima yang berada di tempat tempet umum kota bukan berita yang mengejutkan lagi. Pemerintah harus mencari cara dan tempat yang baik untuk mereka berdagang ditengah modal mereka yang kecil. Pemerintah dalam hal ini tidak dapat menyediakan lahan pengganti bagi mereka melanjutkan usaha mereka . | 16 .

Untuk itu Pemkot mengambil kebijakan untuk mengeluarkan Perda No 17 Tahun 2003 tentang penataan dan pemberdayaan pedagang kaki lima. Berikut model-model penanganan yang dilakukan Pemkot dalam upaya menertipkan pedagang kaki lima yaitu sebagai berikut : 1. di satu sisi pemerintah kota bertanggung jawab atas warganya dan di sisi lain pemerintah kota Surabaya juga harus tetap menjaga kebersihan dan kenyamanan kota. Penangan dan penertiban tersebut dirasa kurang dapat menyelesaikan permaslahan PKL. Oleh karena itu pemerintah kota Surabaya dituntut untuk memiliki strategi yang efektif dalam merumuskan kebijakannya agar tidak merugikan semua pihak. karena dengan adanya indikasi PKL tetap kembali pada lokasi yang dilarang untuk dilakukan transaksi jual beli. bangunan tanpa ijin. Sehingga penangana dan penertiban PKl yang dilakukan oleh Pemkot kurang dapat memberikan jalan keluar bagi PKL di Surabaya. Pola penanganan pedagang kaki lima yang ada di perkotaan hendaknya tidak menggunakan pola politik karena penanganan pedagang kaki lima ini jika tidak berhasil akan menimbulkan efek yang besar bagi tatanan kota Surabaya. Dengan adanya hal tersebut pula dapat menimbulkan bertambahnya jumlah PKL mengigat lokasi tersebut padat akan daya beli. Memberikan penyuluhan atau kampanye penaataan PKL Makalah Pengantar Bisnis “Pedagang Kaki Lima: Permasalahan dan Solusinya. reklame liar. oleh karena itu kebijakan ini cenderung dinilai oleh beberapa pihak sebagai kebijakan yang kontraproduktif dan cenderung sepihak. Persoalan tersebut menjadi persoalan yang dilematis. Kebijakan ini bertujuan untuk mengembalikan ketertiban dan keindahan kota dengan konsekuensi harus menertibkan pedagang kaki lima.sehingga alat dagang dan alat peraga dagang PKL dimusnahkan / dibakar oleh Pemkot yang dilakukan oleh satpol PP Kodya Surabaya. anak jalanan merupakan fenomena sosial pada setiap kota besar. | 17 . ● Kebijakan Pemkot dalam menangani permasalahan pedagang kaki lima Pedagang kaki lima.

Jika dikaji dengan teori dahrendorf adanya perbedaan kepentingan antar pemerintah kota Surabaya yang ingin mempertahankan kekuasaan melalui keabsahan perda no 17 tahun 2003 dengan pedagang kaki lima yang tidak memiliki kewenangan terhadap aturan tersebut dapat memberikan ketegangan diantara keduanya sehingga untuk mempertemukan titik penyelesaian permasalahan tersebut mengalami berbagai kesulitan 2. Bratang.Dalam hal ini seharusnya pemkot lebih memanfaatkan paguyuban-paguyuban PKL yang ada di Surabaya. yakni paguyuban PKL yang ada di daerah Rungkut. Maka pihak pemerintah kota Makalah Pengantar Bisnis “Pedagang Kaki Lima: Permasalahan dan Solusinya. | 18 . Sehingga dikhawatirkan akan menimbulkan suatu konflik internal kelomopok maupun eksternal kelompok. Setelah Surat Teguran tersebut diterima oleh pihak PKL dan terdapat respon dari pihak PKL (dalam penurunan Surat Teguran ini dilakukan hingga 3 kali berturutturut sampai terdapat respon dari pihak PKL). Jumlah paguyuban PKL yang ada di Surabaya Kurang lebih 50 paguyuban atau lebih dan diperkirakan jumlah tersebut akan terus bertambah. penanganan tersebut tidak akan pernah terselesaikan karena hanya mengacu pada beberapa kepentingan yang ada pada kelompok paguyubanpaguyuban tertentu. Kemudian dalam komunikasi tersebut dilakukan selama 3 kali berturut-turut dengan salah satu PKL tersebut. Kebon Bibit. Pemberian toleransi yang diberikan oleh pemerintah kota melalui suatu lembaga yakni Satuan Pol PP Kotamadya Surabaya yang mengalami proses sebagai berikut: Satuan Pol PP Kotamadya Surabaya melakukan komunikasi dengan salah satu pihak PKL yang akan digusur. Namun. Dan kemudian apabila dalam komunikasi tersebut dapat dihasilkan jalan keluarnya dan salah satu setuju untuk dilakukan suatu tindakan tegas melalui Surat Teguran yang mengetahui Walikota Surabaya. Darma Husada dan Delta. Diberi toleransi untuk membereskan dagangannya sampai batas waktu yang ditentukan dan bila tiba waktunya harus dipindah atau penggusuran tiba-tiba. Selama kampanye yang dilakukan oleh pemkot hanya berkisar pada beberapa paguyuban PKL yang sudah mempunyai nama dimata pemkot.

Sehingga keefektifan kerja dan kebijakan sosial dapat terlaksana secara berkesinambungan. Dan Makalah Pengantar Bisnis “Pedagang Kaki Lima: Permasalahan dan Solusinya. Satuan pol PP tidak akan melakukan penggusuran terhadap pedagang kaki lima apabila tidak ada surat pemberitahuan terlebih dahulu . Dalam hal ini salah satu pengakuan dari pihak PKL yakni sebagai berikut : “Saya setuju. nilai-nilai dan praktek-praktek yang langsung terarah. akan tetapi lokasinya harus strategis yakni memnuhi daya beli yang tinggi “(tutur salah satu pedagang kaki lima di Surabaya). Sehingga pada normalnya suatu kebijakan yang dilakukan pemkot seharusnya mengacu pada pencapaian tujuan yang maksimal. Namun dalam hal pembongkaran dapat pula dilakukan oleh pihak PKL itu sendiri dengan tanpa adanya suatu perlawanan. yang diwakilkan oleh masing-masing peguyuban PKL yang bersangkutan (bukan salah satu pihak namun satu pihak secara keseluruhan). Identifikasi dan tujuan yang ingin dicapai Dalam hal ini identifikasi pada permasalahan PKL dan kepentingan PKL. Minimal 3 hari paling lama 7 hari setelah surat teguran terakhir turun).melalui Satuan Pol PP memberikan toleransi untuk membereskan daganggannya sampai batas waktu yang ditentukan (pemberian batas waktu sesuai dengan keputusan dari pemerintah kota melalui surat teguran tersebut. 3. Pada dasarnya kebijakan publik memiliki tiga elemen yaitu : a. Dalam hal merelokasi pedagang kaki lima pemerintah kota Surabaya seharusnya memperhatikan letak lokasi dan kesejahteraan rakyat. Dan bila tiba waktunya akan dilakukan suatu tindakan tegas yakni penanganan atau pembongkaran langsung oleh Satuan Pol PP. Sehingga terdapat kesepakatan diantara keduanya. dengan relokasi yang dilakukan oleh pemerintah kota Surabaya. Pemindahan atau relokasi pada daerah yang baru. Namun dalam hal penyelesaian diatas. pihak pemkot hanya memberitahukan pada salah satu pihak PKL saja. Seharusnya dapat dilakukan melalui suatu paguyuban PKL yang berdiri dalam lokasi PKL yang akan digusur tersebut. | 19 . Dalam hal pemindahan atau relokasi PKL seharusnya dimusyawarahkan bersamasama.

| 20 .2004:25) Dalam penyediaam penyuluhan secara efektif dan menyeluruh. Jadi antara hukum dan kebijakan publik adalah pemahaman bahwa pada dasarnya kebijakan publik umumnya harus didelegasikan dalam bentuk hukum dan pada dasarnya sebuah hukum adalah hasil dari kebijakan publik. Dan penunjukkan leader/agent dari internal kelompok mereka yakni anggota dari paguyuban mereka sendiri. Pemberian reward bagi PKL yang dalam pola perilakunya mencerminkan kedisiplinan terhadap aturan maupun aturan yang berlaku. Taktik atau strategi dan berbagai langkah untuk mencapai tujuan yang diinginkan Dalam hal ini mengacu pada kesadaran hukum PKL terhadap Perda No. Sehingga dalam proses pendisiplinan diri dapat terlaksana dengan baik. Dan pemkot juga dapat mengakomodasi komunikatif diantara kedua belah pihak dengan baik melalui peguyuban-paguyuban yang ada.17 Tahun 2003 yang telah dibuat dan diimplementasikan pada mereka. Namun diharapkan seluruh PKL mempunyai lembaga yang menaunginya berupa paguyuban PKL. jika pemkor mampu mengakomodasi seluruh PKL yang ada di Surabaya dengan cara pengidentifikasian PKL secara legal sehingga seluruh PKL yang ada mendapatkan penyuluhan tersebut. Taktik dan strategi yang digunakan melalui pemberian penyuluhan yang efektif dan menyeluruh bagi para PKL. c. Bantuan dana Revitalisasi di lokasi PKL merupakan program lanjutan yang telah dilakukan Makalah Pengantar Bisnis “Pedagang Kaki Lima: Permasalahan dan Solusinya.tujuan yang ingin dicapai adalah menyelesaikan persoalan PKL b. Penyediaan berbagai input untuk memungkinkan pelaksanaan secara nyata dan taktik maupun strategi di atas.( Harold dalam Wibowo. diharapkan lebih merangsang PKL untuk lebih berdisiplin diri dalam proses kegiatannya sehari-hari sehingga tujuan PKL dan tujuan Pemkot terhadap lingkungan kota dapat terjaga dengan baik. Dalam hal penunjukkan leader/agent dibentuk melalui paguyuban PKL yang ada. Dalam pemberian reward disini. 4.

Sehingga pada dasarnya suatu kebijakan harus melalui suatu prosedur kebijakan yang berorientasi pada masalah. Namun syarat lokasi yang menjadi obyek revitalisasi dan memperoleh pinjaman yaitu telah memiliki lokasi tetap dan tidak berpindahpindah lokasi serta telah mendapat penyuluhan dari pemerintah kota dan dinas koperasi kota Surabaya. pelaksanaan revitalisasi dilaksanakan melalui program padat karya yang melibatkan masyarakat setempat. mereka mendapat pinjaman sebesar Rp. Makalah Pengantar Bisnis “Pedagang Kaki Lima: Permasalahan dan Solusinya. dan masa depan kebijakan tersebut. yang dimana kebijakan beroirentasi pada masalah PKL yang sadar maupun tak sadar hukum (tanpa adanya ketumpangan kepentingan) melalui proses komunikasi kebijakanSehingga diharapkan pemerintah kota dapat mengaktualisasikan proses kebijakan tersebut sesuai prosedor kebijakan. ternasuk para pedagang sendiri.000.hingga Rp. 2. Mengenai pengembalian modal tergantung kesepakatan. 1. Seperti halnya.. menurut pengakuan salah pedagang di Ampel).0000. hasil..sejak tahun 2006.500. Dan diharapkan pemerintah kota surabaya juga memperhatikan komunikasi publik guna kepentingan publik. | 21 . Suatu kebijakan berorientasi dari suatu rumusan masalah yang menjadi masalah kebijakan. Bantuan lunak diberikan seperti peminjaman modal kepada para PKL. kemudian diorientasikan dengan kinerja.(belum dipotong uang adminisntrasi. guna perkembangan dan pemberdayaan PKL sebagai sektor perdagangan di Surabaya.000.. Dalam hal ini kebijakan terhadap PKL di surabaya. aksi. PKL di daerah Ampel.

Guna menangani kendala-kendala tersebut perlu dilakukan suatu upaya dalam menangani persoalan PKL dan Pemkot Surabaya. Pemindahan atau relokasi pada daerah yang baru.BAB IV PENUTUP A. Pemberian penyuluhan atau kampanye penaataan PKL yang kurang efektif. 3. 3. Kesimpulan Pada umumnya kendala-kendala yang ditemui oleh pihak PKL yang ada di Surabaya yakni sebagai berikut : 1. Modal bagi usaha mereka. Pemberikan toleransi untuk membereskan dagangannya sampai batas waktu yang ditentukan dan bila tiba waktunya harus dipindah atau penggusuran tiba-tiba. Makalah Pengantar Bisnis “Pedagang Kaki Lima: Permasalahan dan Solusinya. 2. Dan pada umumnya pula kendala-kendala yang dihadapi oleh pihak Pemerintah Kota Surabaya yakni sebagai berikut : 1. yang mengalami misscominication dengan pihak PKL. 3. Memberikan penyuluhan atau kampanye penaataan PKL 2. Tempat Usaha (Lokasi PKL) yang sesuai dengan daya pembeli sehingga PKL meraut keuntungan yang sesuai. | 22 . yakni dengan cara sebagai berikut : 1. 2. Diberi toleransi untuk membereskan dagangannya sampai batas waktu yang ditentukan dan bila tiba waktunya harus dipindah atau penggusuran tiba-tiba. Identitas Dagang PKL sebagai perdagangan yang harus dikembangkan dan diberdayakan dalam sektor informal yang tumbuh kembang di Kota Surabaya. Pemindahan atau relokasi pada daerah yang baru yang juga dapat tetap mendukung usaha dari pedagang kaki lima tersebut yakni daerah daerah yang strategis.

Wibowo. tidak menerapkan kebijakan penggusuran kecuali jika ada keluhan yang disampaikan secara resmi ke kantor walikota atau instansi pemerintah lainnya. Jakarta.html ●Harsiwi M. | 23 .2004. PT Raja Grafindo Persada. warna.2004.2004. YPAPI. ●http://infid. Sosiologi Kontemporer. Margaret. ●Poloma. Masalah PKL juga telah coba diatasi oleh kota-kota di negara berkembang yang berniat mengubah kebijakan terhadap sektor informal dari yang sifatnya “melecehkan” (harassment) kepada “penerimaan” (acceptance). serta menerapkan transparansi dalam penarikan retribusi. secara informal menerapkan “Maximum Tolerance Policy” terhadap PKL. misalnya. atau mengizinkan PKL beroperasi pada jam-jam tertentu.pdf Makalah Pengantar Bisnis “Pedagang Kaki Lima: Permasalahan dan Solusinya.Hukum dan Kebijakan Publik. Yogyakarta. 3 tahun 2002 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Surabaya. menjaga agar kebersihan dan sanitasi terjaga baik. Volume 14:1. Bandung. organisasi PKL pun mulai mengubah strateginya dari politik konfrontasi menjadi strategi lobbying dan keterlibatan. Pemerintah Kota Cebu mengizinkan PKL berjualan di satu sisi jalan di area-area tertentu. Agung 2003. Edi dkk. ●Perda Kota Surabaya No. Beberapa Aspek Sosiologi Hukum. PT Alumni. DAFTAR PUSTAKA ●"http://ummuathiyya. Pemerintah Kota Cebu di Filipina.Dampak Krisis Ekonomi Terhadap Keberadaan Pedagang Kaki Lima.B. ●Perda Kota Surabaya No 17 tahun 2003 tentang Penataan dan Pemberdayaan PKL. dan bentuk lapak PKL sehingga terlihat rapih. Saran Pemerintah Kota Surabaya dalam membuat kebijakan tentang penataan dan pemberdayaan Pedagnag Kaki Lima diharapkan lebih memahami persoalan Pedagang Kaki Lima sehingga dalam kebijakannnya bersifat adil. Otje dkk.com/pedagang-kaki-lima-di. ●Jurnal Ekonomi dan bisnis. ●Salman. menyeragamkan ukuran. Dan tidak ada salahnya Indonesia belajar dari Negara-negara berkembang lainnya.Masalah PKL bukan hanya menjadi masalah bangsa Indonesia saja tapi juga Negara berkembang lainnya.blogspot.be/fka. Selain itu PKL dan Pemkot dapat menfungsikan komunikasi diantara mereka melalui lembaga PKL yakni paguyuban PKL secara keseluruhan.

●http://hetifah.com/artikel/penyebab-gagalnya-pengelolaan-pkl-di-perkotaan.com/2007/08/01/melihat-fenomena-pedagang-kakilima-melalui-aspek-hukum Makalah Pengantar Bisnis “Pedagang Kaki Lima: Permasalahan dan Solusinya. | 24 .html ●http://hmibecak.wordpress.

9: .:..38.5.202507.5. 8.38:340$.82.3 $03.3/0391.:.9.3!. 8.7.990:7..503008.9:..907/.00203.3:9./..38.9/.20.!../2:8.8!.393 9:9:7 8.850/..7../.:704./. $03.3 -:.3/.$:7. .5. .7.380-.3$4:83.39./.2:3/.:8:.9:..203.3/.3.809:: /03..307.7. .:704.9. ..9..3 ..39.8..2-:3.25..2..3! .85.9 0805.7:83.3907.503...309.85.:..3909..:.5072.8.3-078. 5020739.3  $..-.!03.-0./.3.8 5.9./..95:./.83.8:.2.9907..3!4!! .7.7:83.3050393.9:.390780-:9 32.9.2.9:5.././$:7.9.354!!9/..3.3..75.8./.3-.3    !023/.38:39:202-0708..5.2..!8.3.550/.7 5.3.38:.9  .-.2..333/.0-..9:503.8!80.20.  !..::-.49.7.. 502-43.$:7. $0..3-07/7/.2.8:7.9502-079.20704.3.3/.54.9:5. 3.2..5. /0391..320.9:3.2.9:93/.:5.3.8.3402.3.3503:8:7.3-.3405..3/.39::.8./..3. 001091..5.:8:7..3 502-07....908.9:50/.35:-2029.49..3-.3.!9:803/7/03.3848./.37.:.3..357.33.::  .9:507./03.3..3...9:. 8./.7.-./.3/:8:790780-:9 $03./.-07083.8.32.39070-/.0/:.9.3 .3/.39.3!/.3 05:9:8.90./.3405020739.07.3 !.5.35.:$.7:  .3503.3.   $  .3/.90 57.35..:.3-078....4..3.8:7.8.080:7:.83 2.3 .49.8:.2.9/.50249.:. ..990:7.79:7:3  .3/.7:83.73. 3.5023/.907.80.3/.7:8897...8350::-.35024980.3704.3/.8/..80..75020739.3907.7838 !0/.39::.8.3!4!!202-07.2.3 080.2:3/.32023:/.2.390...2:38.9-.38:3907.3/9039:.3.-.9.78090.:.39407.24.3.9: 0-..3/./.9:5.3/.-07:9 $.8.3.5.2.-..9:808:.:.3472.3.9:5.320.30-.80.  .2.202-079.!072.8/.3..7:83.8.8.3.8.:502-43.

5.3 .90/.9.0723./.:3.9::.7/-.7.9:7.3-07-.507.3../.! !02-07.3503::.3.: .3 /33.9.3/.3/2502039.5!07/.32.!.203008.4 %..3-07./07.3! - %..9/. 203. 5.390.9:7.3907.9/./-:.:5:3.:502-07.5.32030:7:-./.9::.3/:3..8.:897.90 .7.5.3../.30/853..254.3::2!907./..35.3897. %.3...30.350784.333/.2.301091/.370.:3  .../.:39:203.:5.2070.3 503:3:..3203.3.08.320.

3-.503:3:.350.25748080.9.3!0249907...5.2-44    .3 9::.3 9.25:203./$:7.80:7:!.803.53:3./07.90/.424/.0...32070.7.380..33.2503::.380./..5.880:7:!.7//83 /.9.:5:3897..7./.3.01091/.80./03.349.7..3!:39:0- -07/853/7/.8.38./.8 .74//.039/.370./03.30-207.3.25030/.349.3!/.3.-..3./.042542070.3.::-.7.92./...3 503::.9907.3!80.803/7  .9::.203/.5../...30.9.7. 503/0391..9.  .2502-07.3. !030/.7 .390780-:9  .3-07-..7803.32030:7: .739073.35:9:39:202:33.8..7 5.50247 2.2.

9203.5.9.39.::-.5. /.35:-.9907.2-039:::2/.0/:.20..3!.::2/.!072..8.2:3/...3:9.2...390..3-.5.::-.3.3! $03.8/.3 5.:50::-.-07:5.91/..2.2574808503/853./.   $  .3/.  .3/.5.!03./.39.3 ./.8..::-. ../..02-.502..../.:5.::2.70-.7..73..30-./.350249:. #0.80-:.3.3.3-./. /03.8.8/4.35747.3.7:8//00.39.3/.2./.424/. 0-.380:7:!2025:3.3$4:83.8!207:5./.3.8.35.. 5.3-.8. -0..7..7838 !0/..3./.039/-039:20.5.:33.3.35:-:2:23.35:-     .73.:.39:.842:3.8.  .3203./03.3/7/.7./.

.9:0-.7838 !0/.3 5020739./.49../.3.8./././...3$4:83.73.07.8/..!072.:5747.3 307...3-0747039.   $  .3203.3.88079.953./..9. .8.3.202507.8.3/.203/.72..8:.32..8.3.8909.324/.9:90.2.3/..! $05079 .3-0747039.2./.3.#5   -0:2/54943:.8.3 2.:.5.7#5    3.7:820.8.3 02:/.38.7 ::2 9.8.3.320..7.49.30-.8.9809025.3/250 0303.7.8.:8:..90.3 2025074053.2024.39:.38050795023.2.8.8.7.75020739.:./.9 9073.8 ./.39/./2.8 0-.3.0-.35020739.8...3/03.80.7.5.9203./.8/.25./.38.3/..370.3:3.8 /.2.85.2./05..3 502-07/. .09:25...4.50/.!03..3. 53/..39:30805.85:-:3.35...324/.:57480842:3.39.-..3/.  $03.3 :3..849../4-070. $:..9.3.85..380-08.3$03.8:7. 050393.94.5!/8:7.9 .30-.9:0-.3/$:7.3.50702-.5.9.7..8.3/47039..8/.5.250 2070.-0753/.8  203:7:9503.9.8.         .57480/470-..9:7:2:8.3907.3 .-.2.0-.3/3../.3803/7  .9503::.7. 907.5.32.8.!.3203..5..78:.35:- .49..50302-.-.3-0747039.8.5/.3 .-..05..50/./-07./..320-.9:.9.7.3!80-.80947507/.3.$:7.9:57480/:70-.:3  50..390780-:9 .8:5.390780-:9808:.3.3574808 0-.3050393.2.9.8 4507./238397.8. !//.:5:39.5.203/.342:3.2:38.3 /2.3 20.

908     .   .:.90780-:9507:/.07.39-.$:7.39:2-:02-.9:3.3808:. 49.38:39:202-0708.3/..7:8/02-.! 207..-..3.3-.35.3.-.8..9-.8.03/..39407..39.3-.3503::.3 /-07/..3!0249$:7.85....5405../..9.3/.:704.3/.8..-..9: . 03/.9909..5..-.380-.3$4:83.8.3.07.3.' !&%&!  0825:.3...9. -07:9  02-07.!   :3.9:3.5 203/::3:8.7:8/53/..7838 !0/..8.3!  -079407.7..80-. .423.:.-07:9  !02-07.   !023/.9.3/.3.3/.33./.350784..90780-:9..502-0803.03/.$:7.38:39:202-0708.7: .3/..   /0399.3.943/03.9::5.3..5:..25..301091   !02-07..3.:8./.:503:8:7.9-.9.   $  .!072..35./..:2:23.!.3/.3  !.:90:39:3.85.3!.3:.3-. 9-.-.38:.3 /9039:. 4.7:8/53/..30503.07.   %025.25.3/902:405..!03. 03/./.39-.8..3808:./.2.2 203../.2 288.9.3503::..3:7..7:.28094731472.3!/.3!80-...203../.3/.9.9.3 897.9:.2070.3./ $:7..!020739.   !023/.3../..30503.3.33.507/.:2:23.3/9039:.3..:.3/49././03.380-.3/.3-.9.-.25.9.25.9&8.. 03/./..3.. 9-.:704.3..-.-07:9  4/.:503:8:7./....07.9..3..750/.3....3203...303/.2.3/03.3/.8! .

59/..!-:... 503072.0-.:.38.9.3!-074507.7.3!-07:.20307.-../30.-..97.7.3/8..7.3/./.5..93.  .903...0 !4.3/4308.9.3!0249/.882039 05. !.2202-:..92031:38./. .8 907.2 .38. 0-:/53.20307.5! 47.90-.9:88.9.333.7. 200.9.3. 0-:2033./.397.3  .-0.29079039:20307. 49.39.907..3/4308..3::7.3  .3-039:.70..:02-...2.8079.:389.3/8.49.0:.0 !020739..20307.-0781. 28.904--3/. 203.7.381.3 .73...7/..0.9../897..70820.3 !0/./.2070..9079039:..7.5.8..3.$:7.7..3 -073.3  .5.3   !020739.9.7.3.3 .3.380.3503..90.2:2%407.8!5:32:.385020739.30907-..3/.7../.58094731472.25.70.059.8/./2.49.803.39/.3.33.-0702-.3.: 2033..::-./.3.49.-0702-.3 503:8:7.49.37097-:8 .9203:-.3947 .5:.30-202././.-.2503..250784.3907.30-.85.3.84049.203:-..342:3..897..    %#!&$%    Â995.!:.7 5494317439..7.5..!803..-0702-.2.3..39:! /.7.7.9./.7.   $.3 502-07/.3.8.39039.38..31472./..8.8203.30./ $0.3!0/.33.080:7:. 80./.70.20. 907.5.5./.7.39.203.3 !020739.3.8.3!80..35.33.4-.0.3/. ..20-.38/.385.2. /.8. 30.70-078..3.

.

:22:.42.9. -48549 .

2.4342/.  Â:73.$:7.7. 49.3.25..3 !  Â$.709   $48444390254707 ..9.3.50-07.3!:- 4.3!02-07/.3/.  Â!07/.3!03.:3 9039. / 92 Â.-.13/4 !078./...:3 9039...3 .4 9.3  90/   0-07.49.3.3#03. 2.79. !!  Â995..3 !0/./.850$4844::2 .7.5.78 :3  .%. .30-..$:7.3/:3 !% :23  -44 //   ::2/.-.3-838 '4:20  Â!442..79.7884342%07.-.#:./.50/...$:7....9. !%#.49.  Â!07/.49.2..

.

31/ -0.

.   $  .3.7838 !0/.8..!03..2.!072.3$4:83.1.39. 5/1 ...3/.

 Â995.

.

 .42.091.

.790.

- . 50304.3..3 5 / 50749.5030-.3 92 Â995...

.

. 47/57088 .2-0.42.

 .

.

.

.7838 !0/.: .3 .3$4:83.9 1034203.   $  .20..3..2... 50/. 2.39. 20.850 ::2  .!03.!072..3/.8.