PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BIDANG STUDI BIOLOGI (PG 5102

)

Oleh:

M. Noviar Darkuni
Editor Dr. Hadi Suwono, M.Si

Universitas Negeri Malang Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Jurusan Biologi 2010
PENGANTAR Proses pembelajaran khususnya dikelas yang mentargetkan pencapaian kompetensi dasar seperti yang dipersyaratkan oleh kurikulum, menuntut ketersediaan berbagai fasilitas akademis dan non akademis (sarana dan prasarana). Profesionalisme seorang guru (juga calon guru) salah satunya adalah kemampuan untuk membuat bahan ajar. Pembuatan bahan ajar melalui kemampuan guru sangat terkait dengan pengetahuan guru terhadap pengenalan siswanya, artinya bahan ajar yang dibuat oleh guru (juga calon guru?) dianggap sudah mengakomodasi tingkat kognitif siswanya, sehingga bahan ajar yang disusun gurunya, tentu akan “mudah” dipahami oleh siswanya. Tidak dapat dipungkiri, bahwa ketersediaan bahan ajar sangat membantu dalam banyak proses pembelajaran, terlebih–lebih dengan usaha pencapaian dan penguasaan kompetensi dasar. Oleh karena terkait dengan pencapaian kompetensi dasar, maka bahan ajar yang disusun haruslah

menjamin tercapainya kompetensi tersebut. Bahan ajar yang baik, tentu disusun berdasarkan kaidahkaidah penyusunan bahan ajar. Banyak ragam bahan ajar yang dapat dipilih dan membantu pelaksanaan pembelajaran. Pemilihan bahan ajar itu haruslah mempertimbangkan efesiensi dan efektifitas bilamana digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Tidak semua bentuk bahan ajar dapat membantu pencapaian kompetensi dasar yang dipersyaratkan. Dalam bahan ajar Pengembangan Bahan Ajar ini, disajikan berbagai informasi yang berkaitan dengan penyusunan bahan ajar yang tepat. Diawali dengan tujuan, target, macam bahan ajar, cara penyusunan bahan ajar sampai dengan mengevaluasi bahan ajar yang disusun disajikan dengan cukup layak dalam bahan ajar ini. Akan tetapi buku ini akan lebih efesien dan efektif manakala pengembangan bahan ajar ini diekmabngkan dengan produk nyat yang disusun secara riel. Tentu buku pengembangan bahan ajar ini masih terlalu “kecil” untuk memberikan kontribusi optimal, dan maksimal, dalam kegiatan pembelajaran. Karena itu perlu ada tambahan wawasan lain yang relevan dari berbagai sumber lain. Namun demikian, mudah-mudahan buku ini ada

manfaatnya, sekecil apapun. Penyempurnaannya berupa saran perbaikan sangat kami harapkan. Untuk itu disampaikan terima kasih. Malang, 2010 Penulis

Daftar Isi halaman Pengantar BAB I : Pendahuluan A. Target Kompetensi………………………………………………… B. Tujuan ………………………………………………………..…… C. Manfaat Pengembangan Bahan Ajar …..………………………… BAB II : Sumber ealajar, Bahan Ajar dan Materi Ajar A. Sumber Belajar…………………….………………………….….. B. Bahan Ajar …………………………………….……….………… C. Materi Ajar…………………………………………..…………… D. Pentingnya Pengembangan Bahan Ajar……….………………… 1 2 2 4 6 7 10

BAB III : Prinsip Pengembangan Bahan Ajar A. Prinsip Pengembangan bahan ajar….…………..……………… B. Jenis Bahan Ajar …………………………………………..…… C. Bahan Ajar Cetak………………………………………..……… D. Bahan Ajar Dengar (Audio) ..……………………………..…… E. Bahan Ajar Pandang (Audio Visual) ……….…………..…….. F. Bahan Ajar Interaktif…………………………………..……….. BAB IV : Penyusunan Bahan Ajar A. Analisis Kebutuhan Untuk Bahan Ajar……….………..………. B. Penyusunan Peta Bahan Ajar …………………………………... C. Struktur Bahan Ajar……………………………………………… D. Penyusunan Bahan Ajar Cetak……………………….…………. a. Penyusunan Handout …………………….……...………….. b. Penyusunan Buku ……………………..………..….……….. c. Penyusunan Modul …………………………………………. d. Penyusunan Lembar Kerja Siswa (LKS)………………….... e. Penyusunan Brusor…………………………………………. f. Penyusunan Leaflet…………………………………………. g. Penyusunan Wallchart………………………………………. h. Penyusunan Foto/Gambar…………………………………… i. Penyusunan Model/Maket…………………………………… BAB V : Evaluasi dan Revisi ………………………..…………………………

12 15 16 21 21 23

25 28 29 30 30 32 33 36 38 39 39 40 41 42

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………........................

46

BAB I Pendahuluan

Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP), Pemerintah dalam hal ini Menteri Pendidikan Pendidikan Nasional,

menerbitkan berbagai peraturan yang menyangkut penyelenggaraan pendidikan disemua wilayah Indonesia dengan tujuan agar pendidikan di Indonesia paling tidak memenuhi standar minimal tertentu yang diharapkan. Ada 8 (delapan) standar yang ditetapkan yaitu,: (1) standar isi; (2) standar kompetensi lulusan (SKL); (3) standar proses, (4) standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5) standar sarana dan prasarana, (6) standar pengelolaan, (7) standar pembiayaan, dan (8) standar penilaian pendidikan. Berkaitan dengan standar isi, ditetapkan berbagai kompetensi yang harus dicapai peserta didik, yaitu standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) dengan melalui serangkaian proses pembelajaran pada berbagai jenjang. Kompetensi dasar yang ditetapkan, harus dicapai siswa melalui berbagai kegiatan dan proses pembelajaran dalam berbagai tahapan waktu dan jenjang pendidikan. Mulai dari sekolah dasar sampai sekolah lanjutan dalam kurun waktu tertentu. Pada akhir pencapaian semua KD pada muaranya akan tercapai standar kompetensi lulusan (SKL). Agar pencapaian SK, KD dan SKL tercapai oleh siswa, maka mutlak ada dukungan dari berbagai standar yang lainnya (yang ditetapkan) khususnya standar isi dan standar pendidik dan tenaga kependidikan. Pada PP nomor 19 tahun 2005 pasal 20, diisyaratkan guru diharapkan mengembangkan materi pembelajaran. Isyarat ini kemudian dipertegas lagi dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) No. 41 tahun 2007 tentang standar proses. Dalam peraturan ini diatur tentang perencanaan proses pembelajaran. Ini berarti tiap satuan pendidikan (baca: sekolah) harus mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Salah satu elemen dalam RPP itu adalah sumber belajar. Dengan demikian guru diharapkan mengembangkan bahan ajar sebagai salah satu sumber belajar.

1

Dalam lampiran Permendiknas No.16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademis dan Kompetensi Guru, diatur tentang kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru, baik kompetensi inti maupun kompetensi mata pelajaran. Kompetensi ini merupakan tuntutan yang meliputi kompetensi pedagogik maupun kompetensi profesional. Kompetensi ini berkaitan erat dengan kemampuan guru mengembangkan sumber belajar dan bahan ajar. Oleh karena itu seorang guru professional diharapkan mempunyai kemampuan untuk menyusun bahan ajar. A. Target kompetensi Kompetensi yang ditargetkan dalam pengembangan bahan ini ajar adalah: (1) Mampu menentukan materi biologi secara tepat sebagai bahan ajaruntuk pembelajaran Biologi (2) Mampu menyusun bahan ajar untuk pembelajaran Biologi (3) Mampu melakukan validasi bahan ajar Biologi (4) Mampu melakukan evaluasi kelayakan bahan ajar untuk pembelajaran Biologi

B. Tujuan Tujuan pengembangan bahan ajar adalah: (1) Dapat menjelaskan pentingnya bahan ajar dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran Biologi (2) Mampu menujukkan bahan ajar yang baik untuk pembelajaran Biologi (3) Dapat menjelaskan langkah-langkah penyusunan bahan ajar Biologi (4) Mampu menyusun bahan ajar yang baik untuk pembelajaran Biologi (5) Mampu melakukan validasi bahan ajar (6) Mampu melakukan evaluasi kelayakan bahan ajar.

C. Manfaat Pengembangan Bahan Ajar Sebagai implementasi dari lampiran Permendiknas No.16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademis dan Kompetensi Guru diatur tentang kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru (kompetensi inti maupun kompetensi mata pelajaran), maka pengembangan bahan ajar oleh guru merupakan langkah yang sangat strategis dalam kegiatan proses pembelajaran. Melalui bahan ajar guru akan lebih mudah melaksanakan kegiatan pembelajaran, sedangkan siswa akan terbantu dan mudah dalam belajar. Sebab seorang guru akan menjadikan bahan ajar ini sebagai rujukan dalam kegiatan pembelajaran sebagai sumber belajar, ditengah
2

beranekaragamnya sumber-sumber belajar. Dengan demikian guru akan terbantu dalam mengembangkan dan melaksanakan kegiatan pembelajaran. Pada akhirnya pembelajaran diharapkan dapat berjalan dengan efesien dan efektif. Pengembangan bahan ajar tidak hanya bermanfaat dalam kegiatan pembelajaran, tetapi juga bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan dengan pengembangan bahan ajar, misalnya kepala sekolah, pengawas sekolah. Bagi Kepala sekolah bahan ajar dapat digunakan sebagai bahan pembinaan bagi guru yang mengalami kesulitan dalam mengembangkan bahan ajar. Sebab pengembangan bahan ajar merupakan tanggung jawab guru sebagai pengajar bagi peserta didik disekolah.

3

BAB II Sumber Belajar, Bahan Ajar, dan Materi Ajar Pada jenjang pendidikan tertentu selain buku-buku teks atau buku pelajaran dikenal juga adanya lembar-lembar pembelajaran dengan nama yang bermacam-macam, misalnya lembar tugas (instruction sheet), lembar kerja (work sheet), lembar informasi (information sheet), dan bahan ajar lainnya baik teks maupun non teks. Lembar-lembar tersebut di atas semuanya digunakan untuk menunjang kegiatan pembelajaran, membantu siswa belajar menemukan

wawasan pengetahuan. Semua lembar ini disebut dengan bahan ajar (teaching material). Untuk mencapai kompetensi yang dipersyaratkan bagi siswa, maka diperlukan kemampuan guru untuk mengembangkan pencapaian kompetensi itu dengan tepat. Salah satunya adalah mengembangkan/menyusun bahan ajar untuk membantu agar siswa lebih aktif dalam kegiatan belajar dalam rangka mencapai kompetensi dasar tersebut. Kegiatan pencapaian

kompetensi dasar ini juga dibantu oleh sarana pencapaian kompetensi (pengetahuan) melalui berbagai fasilitas dan sumber belajar. Berkaitan dengan bahan ajar dan sumber belajar, kedua istilah ini mempunyai maksud dan tujuan yang sama, yaitu berkenaan dengan “penyediaan” materi pelajaran/materi ajar sesuai dengan kompetensi yang dipersyaratkan, keduanya mempunyai fungsi membantu siswa belajar. Oleh karena itu penting dipahami lebih dulu hakekat dan pengetian atau terminologi dari kedua istilah tersebut. A. Sumber Belajar Sumber belajar atau learning resource sering diketahui orang adalah perpustakaan dan buku yang dianggap sebagai sumber belajar. Padahal bukan seperti itu saja. Sumber belajar dapat berbentuk orang atau benda tertentu bahkan apa saja yang mereka gunakan sebagai sumber informasi untuk belajar. Sumber belajar sebenarnya adalah pesan yang ditetapkan sebagai informasi yang disimpan dalam bentuk media. Karena itu bentuknya tidak terbatas. Bisa saja berbentuk cetakan, video, perangkat lunak (soft ware), orang, benda, pesan, bahan, teknik, dan

sebagainya. Semua bentuk tersebut biasa digunakan sebagai sumber belajar pada kegiatan
4

pembelajaran. Bentuk tersebut dapat dimanfaatkan secara sendiri-sendiri atau dengan cara penggabungan beerbagai bentuk untuk kepentingan belajar mengajar, agar terlaksana efesiensi dan efektivitas dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Sadiman mendefinisikan sumber belajar sebagai sesuatu yang dapat digunakan untuk belajar, yakni dapat berupa orang, benda pesan, bahan, tehnik, dan latar (Sadiman, Arief S., dalam Perangkat pembelajaran KTSP SMA, Depdiknas, 2008). Sumber belajar diartikan juga sebagai tempat atau lingkungan (sekitar), benda atau orang yang mengandung pesan atau wahana untuk belajar bagi peserta didik. Sumber belajar (mengacu pada Perangkat pembelajaran KTSP SMA, Depdiknas, 2008) dikategorikan sebagai berikut: 1. Tempat atau lingkungan alam sekitar yaitu dimana saja seseorang dapat melakukan belajar atau proses perubahan tingkah laku maka tempat itu dikategorikan sebagai tempat belajar yang berarti sumber untuk belajar, misalnya, perpustakaan, pasar, museum,

sungai, tempat pembuangan sampah, kolam ikan, gunung, hutan, hortikultura, kebun raya, sawah, taman, rumah sakit, berbagai laboratorium, green house, light house, kebun percobaan, pusat penelitian, berbagai macam pabrik yang relevan dan lain sebagainya. 2. Benda, yaitu segala benda yang memungkinkan terjadinya perubahan tingkah laku bagi peserta didik, maka benda itu dapat dikategorikan sebagai sumber belajar. Misalnya torso, rangka, berbagai macam model organ, tempat/bak pembuangan sampah, tempat penampungan limbah pabrik, alat-alat laboratorium (thermometer, stestekop, otoklaf, lensa dan segala macam), hewan, tumbuhan, dan sebagainya. 3. Orang, yaitu siapa saja yang mempunyai keahlian tertentu dimana siswa dapat belajar sesuatu kepadanya, maka yang bersangkutan dapat dikategorikan sebagai sumber belajar, misalnya guru, dokter, apoteker, ahli geologi, biologiwan, peneliti, petani, nelayan, pengrajin alat peraga, dan sebagainya. 4. Bahan, yaitu segala sesuatu yang berupa teks tertulis, cetak, rekaman elektronik, web, dan lain-lain yang dapat digunakan untuk belajar. Misalnya, makalah, jurnal ilmiah, karya ilmiah, leaflet, brosur, majalah ilmiah, bahan kimia tertentu (reagen, air raksa, HCl), dan sebagainya.

5

5. Buku, yaitu segala macam buku yang dapat dibaca secara mandiri oleh peserta didik dapat dikategorikan sebagai sumber belajar. Misalnya buku pelajaran, buku teks, kamus, ensiklopedi, petunjuk praktikum, dan lain sebagainya. 6. Peristiwa atau fakta yang sedang terjadi, misalnya banjir, tanah longsor, letusan gunung berapi, angin ribut, suhu dingin, temperatur suhu yang tinggi, kekeringan, dan peristiwa lain yang oleh guru dapat dijadikan sebagai peristiwa atau fakta berupa sumber belajar. Sumber belajar seperti yang disebutkan di atas akan bermakna bagi guru dan siswa sebagai sumber belajar bila semua itu diorganisir melalui suatu rancangan yang jelas dan baik. Sehingga siswa dapat memanfaatkannya sebagai sumber untuk belajar untuk membantu dalam pencapaian kompetensi yang disyaratkan. Jika hal itu tidak didapatkannya maka, tempat, lingkungan, benda, orang dan buku serta peristiwa itu tidak berarti apa-apa, ia hanya berlaku sebagai informasi biasa yang kurang bermakna untuk pencapaian kompetensi. B. Bahan Ajar Bahan ajar merupakan bagian dari sumber belajar. Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang dipergunakan untuk membantu guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Ia dapat berupa bahan tertulis atau tidak tertulis. Bahan ajar atau teaching material terdiri dari teaching dan material. Teaching adalah mengajar, dan material adalah bahan. Jadi bahan ajar adalah bahan untuk mengajar. Paul S. Ache, mengemukakan tentang teaching material, yaitu “book can be used as reference material, or the can be used as paper weights, but the cannot teach”. Buku dapat digunakan sebagai bahan rujukan, atau dapat digunakan sebagai bahan ajar yang tertulis. Dalam website Dikmenjur, dikemukakan pengertian bahwa bahan ajar merupakan seperangkat materi/substansi pembelajaran (teaching material) yang disusun secara sistematis, menampilkan sosok yang utuh dari kompetensi yang akan dikuasai siswa dalam kegiatan pembelajaran. Karena dengan bahan ajar inilah siswa dapat mempelajari suatu kompetensi dasar atau KD secara runtut dan sistematis sehingga secara akumulatif mampu menguasai semua kompetensi secara utuh dan padu. Berkaitan dengan kegiatan pembelajaran, maka bahan ajar berfungsi sebagai: (1) acuan atau pedoman bagi guru untuk mengarahkan semua yang berkaitan dengan kegiatan pembelajaran (termasuk substansi yang diberikan kepada siswa untuk mencapai kompetensi);
6

(2) alat evaluasi terhadap penguasaan materi pembelajaran yang berkaitan dengan kompetensi yang dipersyaratkan. Ada pendapat lain berkaitan dengan terminologi bahan ajar ini, bahan ajar adalah informasi, alat, dan teks yang diperlukan guru untuk perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran. Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang dipergunakan untuk membantu guru dalam melaksanakan pembelajaran. Bahan ini bisa berupa bahan tertulis atau tidak tertulis (National Center for Vocational Education Research Ltd/National Center for Competency Based Training). Jadi, bahan ajar adalah seperangkat materi yang disusun secara sistematis sehingga tercipta lingkungan/suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar. Oleh karena itu bahan ajar paling tidak mencakup antara lain: 1. Petunjuk belajar (bagi guru dan siswa); dengan demikian maka dalam pembelajaran akan ada acuan yang digunakan untuk mencapai kompetensi dasar, 2. Kompetensi yang akan dicapai, ditentukan dalam kurikulum 3. Contens atau isi materi, yang sesuai dan selaras dengan kurikulum dan kompetensi yang akan dasar dicapai 4. Informasi pendukung pembelajaran; misalnya petunjuk, acuan atau wawasan yang relevan dengan materi pembelajaran yang akan diajarkan 5. Latihan-latihan; yang berfungsi untuk melatih pemahaman dan penguasaan konsepkonsep yang harus dikuasai dan sesuai dengan KD 6. Petunjuk Kerja (misalnya LKS); yang akan menuntuk pencapaian kompetensi 7. Evaluasi; yang digunakan sebagai acuan untuk menilai pencapaian kompetensi oleh siswa, selain itu digunakan juga untuk menilai pencapaian tujuan pembelajaran 8. Respon atau balikan terhadap evaluasi, agar didapat masukkan atau informasi berbagai kelemahan (juga kelebihan) yang memerlukan perbaikan atau peningkatan. C. Materi Ajar Dalam PP 19 tahun 2005 pasal 20 dinyatakan bahwa “ perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, dan penilaian hasil belajar. Berdasarkan PP 19 ini materi ajar merupakan bagian/komponen dari rencana pelaksanaan pembelajaran atau lebih dikenal dengan RPP.
7

Materi ajar adalah materi atau substansi pembelajaran yang harus dipelajari siswa sebagai sarana pencapaian kompetensi dan yang akan dinilai dengan menggunakan indikator penilaian yang disusun berdasarkan indikator pencapaian belajar. Ada beberapa jenis materi ajar, yaitu; 1. Materi ajar yang sesuai dengan ranah kognitif, adalah materi ajar yang ditentukan berdasarkan perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti fakta, konsep, prinsip dan prosedur yang relevan. Fakta adalah asosiasi antar objek, peristiwa atau simbol yang ada atau mungkin ada dalam lingkungan nyata atau imajinasi. Kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa berupa “mengingat”. Materi ajar jenis fakta adalah materi berupa nama-nama objek, nama tempat, nama orang, lambang, peristiwa, nama bagian atau komponen suatu benda. Misalnya, komposisi sitoplasma, komponen fotositesis, struktur sel, nukleus, asam amino esiensial, fungsi sel, berbagai macam jaringan penyusun tubuh dan sebagainya. Konsep adalah sekelompok objek, atau peristiwa atau simbol yang memiliki karakteristik yang sama dan diidentifikasikan dengan nama yang sama pula, kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa adalah kemampuan untuk menyatakan suatu difinisi, menuliskan ciri khas sesuatu, mengklasifikasikan atau mengelompokkan beberapa contoh objek sesuai dengan difinisi, misalnya konsep manusia, substansi postulat Koch, teori sel, proses fotosintesis, transport aktif, difusi dan osmose, pembentukan protein, transport makanan sari akar ke daun yang melibatkan daya tarik akar, daya isap daun, dan sebagainya. Prinsip adalah hubungan sebab akibat antara konsep. Kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa adalah kemampuan menentukan hubungan antar beberapa konsep, atau menerapkan hubungan antar berbagai konsep. Jadi materi prinsip berupa dalil, rumus, postulat, adagium, dan paradigma. Misalnya hubungan yang terjadi apabila bahan polutan dalam lingkungan melebihi ambang batas toleransi daya dukungan lingkungan maka akan terjadi pencemaran yang pada akhirnya akan menjadi pemusnah makhluk hidup dilingkungan tersebut, atau daya dukung alam berkurang akibat pengrusakan lingkungan yang menyebakan hilanganya berbagai makhluk hidup dilingkungan itu, berjangkitnya berbagai penyakit akibat lingkungan yang kotor dan tidak sehat, tumpahnya minyak bumi kedalam lingkungan perairan yang berakibat rusaknya ekosistem, dan sebagainya. Prosedur adalah urutan langkah untuk mencapai suatu tujuan, memecahkan masalah tertentu, atau membuat sesuatu. Kompetesi dasar yang harus dikuasai siswa adalah
8

kemampuan menjelaskan atau melakukan langkah-langkah atau prosedur secara urut. Misalnya melalukan langkah-langkah dalam menentukan golongan darah seseorang. Melakukan pengamatan struktur daun dengan menggunakan mikroskop, penggunaan thermometer suhu tubuh, cara pembuatan nata de coco, pembuatan tempe, pembuatan tape, dan sebagainya. 2. Materi ajar sesuai ranah sikap atau nilai atau afektif. Aspek kompetensi yang harus dikuasai siswa adalah kemampuan memilih berbuat atau memilih tidak berbuat berdasarkan pertimbangan baik atau buruk, suka atau tidak suka, indah atau tidak indah. Contoh penerapan ranah afektif adalah, misalnya kasus pada seorang siswa bernama Budi yang memilih terlambat datang kesekolah karena ikut membantu memelihara kebersihan lingkungan rumah dahulu, dari pada tidak terlambat datang kesekolah tapi membiarkan lingkungan rumah kotor dan berpotensi menimbulkan penyakit. Atau sikap memilih membuang sampah ketempat sampah yang agak jauh dengan tujuan agar lingkungan tetap bersih dan sehat, dari pada membuang sampah sembarangan pada tempat yang dekat, tetapi menyebabkan lingkungan jadi kotor dan tidak sehat. 3. Materi ajar sesuai ranah psikomotor. Adalah aspek yang menuntut kompetensi siswa untuk melakukan perbuatan secara fisik. Jadi disini dituntut untuk melakukan aktivitas fisik berupa keterampilan tertentu yang sesuai dengan kpmpetensi dasarnya. Misalnya prosedur yang benar dalam menggunakan mikroskop, membuat irisan daun, menyusun kerangka manusia, dan sebagainya. Aspek keutuhan kompetensi yang disajikan pada kegiatan penyajian materi ajar yang harus dikuasai siswa harus ditentukan apakah standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa termasuk ranah kognitif, psikomotor ataukah afektif. Ranah kognitif jika kompetensi yang ditetapkan meliputi pengetahuan, pemahaman, aplikasi, sintesis dan penilaian. Ranah psikomotor jika kompetensi yang ditetapkan meliputi gerak awal, semirutin dan rutin, sedang ranah afektif jika kompetensi yang ditetapkan meliputi pemberian respon, apresiasi, penilaian dan internalisasi. Dalam kegiatan pembelajaran, strategi urutan penyampaian materi ajar ini dapat dilakukan dengan (1) dengan cara simultan (materi disajikan secara serentak), dan (2) dengan cara suksesif (disampaikan secara berurutan satu demi satu secara mendalam, baru kemudian diberikan lagi materi berikutnya secara mendalam pula, demikan seterusnya)
9

D. Pentingnya pengembangan bahan ajar Pengembangan bahan ajar oleh guru sangatlah penting dalam membantu kegiatan pembelajaran. Ada berbagai manfaat yang bisa dipetik dari adanya bahan ajar ini, diantaranya: 1. ketersediaan materi/bahan sesuai dengan tuntutan kurikulum. Dengan demikian hal ini akan membantu mempermudah proses pembalajaran. Tentu bahan yang disediakan ini harus sesuai dengan kompetensi dasar yang dipersayaratkan serta sesuai dengan kondisi dan heterogenitas kemampuan inteletual (kogniti) siswanya; 2. menambah ketersediaan bahan ajar sebagai alternatif sumber belajar; dengan demikian akan tersedia berbagai ragam sumber belajar dari berbagai sudut pandang atau tinjuan. 3. membantu guru dalam pelaksanaan pembelajaran terutama dengan pengembangan materi yang menurut guru sesuai dengan pembentuk kompetensi; dengan demikian kegiatan pembelajaran akan lebih efesien dan efektif, 4. keberadaan bahan ajar akan menambah nuansa referensi dengan versi yang lain, yang tentu akan dengan kondisi dan situasi pembelajaran yang ada dan suasana pembelajaran yang disusun dan dirancang guru; 5. bahan ajar ini akan membangun komunikasi yang lebih pas antara guru dengan siswanya (berkaitan pola interaksi pembelajarannya); sebab dengan bahan ajar yang ada akan mambtnu guru membuat acuan, kesepakatan tentang bahan ajar yang digunakan dalam pembelajaran, dengan demikian maka akan terbangun komunikasi yang ideal dan nyaman selama kegiatan belajar 6. bagi guru sendiri, pengembangan bahan ajar yang dibuatnya akan mempunyai manfaat tersendiri yaitu sebagai karya ilmiah guru yang dapat digunakan untuk segala keperluan termasuk bukti keprofesionalannya dan lain sebagainya; 7. ketersediaan bahan ajar, bagi siswa akan menjadikan pembelajaran lebih menarik, membantu siswa untuk banyak kesempatan dalam belajar mandiri, dengan tidak banyak menjadikan ketergantungan pada kehadiran guru, pencapaian kompetensi yang dipersyaratkan akan lebih mudah dan terbantu dengan demikian akan membantu

10

kelacaran dan kecepatan siswa mencapai dan menguasai kompetensi yang dipersyaratkan untuknya.

Tugas (1): Carilah informasi dan diskusikan dengan teman sejawat: dalam kegiatan pembelajaran, sumber belajar manakah (lihat kategori sumber belajar) yang lebih sering digunakan sebagai sumber belajar? Mengapa? Tugas (2) : Dari ketiga terminologi (sumber belajar, materi ajar dan bahan ajar) kemukakan spesifik masing-masing meliputi (kesamaan dan perbedaan, manfaat, dan sebagainya) Tugas (3): 1. Carilah Sumber Belajar, Bahan Ajar dan Materi Ajar, yang pernah Saudara ketahui/ lihat, atau pernah dibuat. 2. Lakukan analisis kritis (menyangkut manfaat, relevansi, signifikan bahan tersebut, karakter, jenis materi ajar dll) dari sumber belajar, materi ajar dan bahan ajar tersebut 3. Buatlah portofolio yang berisi sumber belajar, materi ajar dan bahan ajar beserta analisis yang membantu Saudara dalam mengajar (berdasarkan pengalaman sebagai guru)

11

BAB III Pengembangan Bahan Ajar A. Prinsip Pengembangan Bahan Ajar Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pengembangan bahan ajar (mengacu pada Perangkat Pembelajaran KTSP SMA, Diknas, 2008) sebagai berikut, yaitu 1. Mulailah dari yang mudah untuk memahami yang sulit, dan dari yang kongkrit untuk memahami yang abstrak. Sama dengan keterampilan menjelaskan, penyajian materi bahan ajar, sebaiknya dimulai dari yang mudah dipahami. Siswa biasanya akan lebih memahami suatu konsep tertentu apabila penjelasannya dimulai dari yang mudah atau yang kongkrit, kemudian berangsurangsur berpindah kepada yang cukup sulit atau yang abstrak. Pada penyusunan bahan ajar, juga berlaku seperti ini. Mulailah dengan menyusun materi ajar dari hal-hal yang kongkrit (dikongkritkan?) kemudian kebagian yang abstrak atau sebaliknya. Misalnya dalam menjelaskan konsep keanekaragamn tumbuhan, maka mulailah dengan pengenalan tanaman yang ada dilingkungan sekitar sekolah. Kemudian secara berangsur-angsur melebar kelingkungan yang lebih jauh, yang lebih banyak macam tanamannya, lalu dibawa berimajinasi ke lingkungan hutan, semak dan sebagainya. Pada akhirnya siswa dapat

menyimpulkan bahwa banyak jenis, spesies tumbuhan dialam ini. Contoh lain, misalnya pembelajaran/penjelasaan materi tentang sifat genetik pada berbagai makhluk hidup yang melibatkan peranan gen, tentu akan relatif lebih mudah bila materi itu dimulai dengan pengamatan tentang berbagai variasi, sifat, bakat yang ada pada manusia/teman sejawat sekolah, atau pada berbagai macam tumbuhan (bentuk daun, macam tumbuhan, rasa buah yang dihasilkan, dan sebagainya), setelah itu secara berangsur-angsur dibawa kepada konsep penyebab variasi itu (sifat genetic pada gen) Demikan juga dengan penjelasan hal yang abstrak. Setelah dijelaskan hal yang abstrak kemudian siswa dibawa kepada hal yang kongkrit dari materi itu. Misal dalam pembelajaran variasi manusia (genotif dan fenotif), jelaskanlah apa itu genotif dan apa itu fenotif. Setelah penguasaan konsep ini dipahami, selanjutnya berikanlah hal yang kongkrit tentang genotif
12

dan fenotif, yaitu dengan menunjukkan tanda-tanda yang terdapat pada masing-masing siswa, bentuk dari struktur organ luar seperti telinga, hidung, mata dan lainnya. Kemudian siswa diajak untuk mencari adanya sebab perbedaan ini, dan seterusnya. 2. Pengulangan dan memperkuat pemahaman, Pemahaman konsep, fakta, prinsip dari materi pembelajaran tentu akan lebih diingat siswa jika diberikan dengan berulang-ulang. Pengulangan perlu diberikan agar siswa lebih memahami konsep itu. Sebab dengan pengulangan itu maka informasi itu akan lebih membekas pada ingatan siswa. Pengulangan pada penulisan pada bahan ajar harus disajikan secara tepat dan bervariasi sehingga tidak membosankan. Misalnya dalam pembelajaran tentang materi pemahaman terhadap perbedaan antara sel hewan dengan sel tumbuhan. Dalam penjelasan pada waktu kegiatan belajar dijelaskan bahwa perbedaan itu terletak pada dinding sel. Sel hewan mempunyai dinding yang tipis, sementara sel tumbuhan mempunyai dinding yang tebal. Pada bagian lain (halaman lain?) disampaikan lagi bahwa karena dinding tumbuhan relatif tebal maka sel relatif kuat, berbeda dengan sel hewan yang dindingnya tipis, tentu tidak sekuat sel tumbuhan yang dindingnya tebal itu, dan seterusnya. Ada pengulangan (kata di atas yang ditulis dengan cetak miring) tentang dinding sel tumbuhan yang tebal dan sel hewan tipis. Tapi hal itu disajikan dan diulang pada konteks yang berbeda. Dengan demikian maka siswa akan “mendapatkan materi” itu secara berulangulang secara “tidak disadarinya” yang diharapkan akan berdampak pada kemampuan mengingatnya akan lebih mantap. Demikian seterusnya. 3. Motivasi belajar yang tinggi merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan belajar Motivasi yang muncul dari dalam diri siswa akan menentukan keberhasilan belajar. Salah satu faktor yang menentukan munculnya motivasi ini adalah keberhasilan siswa memahami pelajaran dengan baik. Karena itu tugas guru dalam kegiatan pembelajaran adalah mendorong siswa untuk selalu meningkatkan motivasi pembelajaran. Pengembangan bahan ajar yang merangsang atau menantang motivasi siswa akan meningkatkan keberhasilan belajar. Karena itu pengembangan bahan ajar hendaknya tidak melupakan faktor pembangkit motivasi ini. Keberhasilan siswa menguasai materi pelajaran dengan baik akan menjadi pendorong munculnya keinginan atau motivasi baru untuk menguasai materi yang diberikan selanjutnya, demikian seterusnya akan saling
13

berkesinambungan. Misalnya pada penyajian tentang susunan tubuh manusia yang terdiri dari berbagai system organ. Bila siswa sudah mengetahui atau menguasai dengan mudah dan baik tentang pengertian organ, maka langkah selanjutnya pada pemberian materi tentang system organ akan terasa “mudah” bagi siswa. Demikian juga pada penyajian materi ajar pada pembahasan topik keanekaragaman hewan, yang dimulai dengan “penyajian” berbagai macam jenis hewan disekitar lingkungan kehidupan siswa, yang sudah dikenal dengan baik oleh siswa. Penyajian ini tentu akan lebih “menarik” perhatian siswa karena mereka sudah mengenal hewan tersebut, selanjutnya ditugaskan untuk menyebatkan ciri-ciri morfologi hewan tersebut atau yang lainnya. Pembelajaran ini tentu akan lebih bermakna dari

menyajikan contoh hewan-hewan lain (misal Pinguin) yang ada di tempat nun jauh disana. Hal ini tentu akan menyebabkan siswa menjadi “malas” dan tidak tertarik untuk “membayangkan” hewan tersebut, apalagi untuk mempelajarinya. Pada penyusunan bahan ajar, sebaiknya dimulai dengan sajian materi yang menarik, ringan, mudah, tidak memulai dengan sajian materi yang memberatkan (pikiran) siswa. Sangat dianjurkan memulai sajian materi secara kontekstual. 4. Mencapai tujuan ibarat naik anak tangga, setahap demi setahap, akhirnya akan mencapai ketinggian tertentu, Dalam proses pembelajaran, penyajian atau pemberian materi pelajaran hendaklah diberikan atau disajikan secara bertahap. Sebab pembelajaran adalah proses yang bertahap dan berkelanjutan. Sehingga perlu adanya terminal-terminal berupa tujuan-tujuan antara, ibaratnya seperti anak tangga. Jika jarak antar anak tangga ini terlalu lebar, akan menyulitkan dalam melangkah, semakin lebar jarak anak tangga, akan semakin sulit melangkahinya, sebaliknya jika jarak anak tangga terlalu dekat, akan sangat mudah melewatinya, sepertinya tidak tantangan atau hambatan dalam melewati anak tangga tersebut. Untuk itu maka perlu disusun jaak anak tangga yang pas, sesuai dengan karakter siswa. Bahan ajar yang disusun terlalu sulit akan menyulitkan siswa untuk memahami materi ajar yang disajikan, sebaliknya bila bahan ajar disusun terlalu mudah, bahan ajar tersebut kurang menarik bagi siswa, bahan ajar itu seolah-olah tidak ada tantangan bagi siswa untuk mempelajarinya. Bagi siswa bisa saja bahan ajar itu seperti “tidak berarti atau tidak bermakna”. Oleh karena itu dalam pengembangan bahan ajar “anak tangga” tersebut perlu dirumuskan dalam bentuk indikatorindikator kompetensi yang serasi, sesuai dan disajikan secara bertahap. Indikator-indikator
14

yang disusun dan ditetapkan ini sebaiknya disampaikan kepada siswa agar siswa mengetahui tentang tahap-tahap pencapaian tujuan tersebut. Misalnya penguasan tentang konsep golongan darah pada manusia, akan membantu pemahaman tentang proses transfusi darah yang selama ini terjadi, bahaya yang ditimbulkan akibat transfusi yang tidak baik, seperti penularan berbagai penyakit lewat darah, dan sebagainya. 5. Mengetahui hasil yang telah dicapai akan mendorong siswa untuk terus mencapai tujuan Pembelajaran ibarat menempuh perjalanan jauh untuk mencapai tujuan akhir. Dalam perjalanan itu akan melewati tempat-tempat tertentu, tempat-tempat inilah yang diibaratkan dengan tujuan-tujuan pembelajaran. Proses pembelajaran dilakukan untuk mencapai tujuantujuan yang ditetapkan. Guru akan memfasilitasi siswanya untuk mencapai tujuan-tujuan antara tersebut, yaitu kompetensi dasar. Kompetensi dasar yang ditetapkan itu harus dicapai oleh semua siswa, walaupun dengan “kecepatan” yang berbeda-beda. Pengembangan bahan ajar hendaklah dilakukan dengan memperhatikan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Setiap tujuan hendaknya dapat dicapai, dipahami dan dikuasai dengan baik oleh semua siswa. Bahan ajar yang baik adalah ibarat “peta” yang baik dan jelas yang memandu pencapaian tujuan tertentu. Misalnya, bila kita akan membelajarkan siswa tentang materi jaringan pada manusia, maka sebelum sampai ke materi itu (jaringan sebagai tujuan akhir), siswa kita beri materi tentang konsep sel terlebih dahulu. Bila siswa telah menguasai tentang konsep tentang sel, maka pembelajaran tentang jaringan akan relatif lebih mudah dipahami siswa, dibandingkan bila siswa belum memahami atau menguasai tentang teori sel, atau konsep penunjang lainnya. Keberhasilan siswa memahami dan menguasai materi yang diberikan dengan baik akan menjadi motivasi tersendiri bagi siswa untuk mempelajari materi selanjutnya (mencapai tujuan berikunya). B. Jenis Bahan Ajar Berdasarkan teknologi yang digunakan, bahan ajar dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu: 1. bahan cetak (printed) seperti antara lain, handout, buku, modul, lembar kerja siswa (LKS), leaflet, wallchart, foto/gambar, model/maket; 2. bahan ajar dengar (audio), seperti kaset,radio, compact disk audio; 3. bahan ajar pandang dengar (audio visual) seperti, film, video compact disk;

15

4. bahan ajar multimedia interaktif (interactiive teaching material), seperti CAI (Computer Assisted Instruction), compact disk (CD), multimedia pembelajaran interaktif, dan bahan ajar berbasis web (web based learning materials).

C. Bahan Ajar Cetak (Printed) Bahan ajar cetak dapat ditampilkan dalam berbagai bentuk. Bahan ajar ini mengandung beberapa keuntungan, selain pembuatannya tidak begitu rumit, biaya relatif murah bahan ajar bentuk ini biasanya menampilkan daftar isi, sehingga memudahkan guru untuk menunjukkan tentang sesuatu kepada siswa. Bahan ajar cetak yang biasa dibuat oleh guru misalnya, buku pelajaran, handout, Lembar kerja Siswa (LKS), modul, berbagai macam gambar/foto, dapat juga berupa leaflet. Bahan ajar jenis ini (yang baik dan layak) dapat digunakan untuk membantu siswa belajar mandiri. Beberapa macam bahan ajar cetak yang dapat digunakan sebagai bahan ajar ditampilkan sebagai berikut: Handout merupakan bahan ajar cetak tertulis yang disiapkan oleh seorang guru untuk memperkaya pengetahuan siswa. Handout biasanya diambil dari beberapa literatur yang memliki relevansi dengan materi yang diajarkan atau dengan kompetensi dasar dan materi pokok yang harus dikuasai siswa. Handout dapat diperoleh dari cara antara lain down-load dari internet, atau menyadur dari sebuah buku dan sumber lainnya. Bahan ini akan membantu guru dalam melaksanakan pembelajaran, sebab handout bisanya dibuat sebagai “ rancangan/planning” kegiatan belajar kedepan. Oleh karena iu handout bermanfaat sebagai “garis” menuju kegiatan akhir kegiatan belajar Buku, adalah bahan tertulis yang menyajikan ilmu pengetahuan. Isi buku dapat berupa hasil penelitian, hasil pengamatan, aktualisasi pengalaman, otobiografi, atau hasil imajinasi sesorang yang disebut juga dengan fiksi. Buku bahan ajar merupakan buku yang berisi suatu ilmu pengetahuan hasil analisis terhadap kurikulum dalam bentuk tertulis. Buku yang baik biasanya merupakan buku yang ditulis dengan bahasa yang baik, mudah dipahami, tampilan dan sajian menarik, dan kadangkala dilengkapi dengan gambar atau foto untuk memperjelas isi substansi. Buku pelajaran, substansinya berisi pengetahuan yang digunakan siswa untuk belajar. Misalnya buku pelajaran Biologi, adalah bahan ajar tertulis yang menyajikan pengetahuan tentang biologi,substansi ini akan membawa atau mengarahkan siswa
16

untuk mencapai kompetensi. Buku pelajaran biologi, juga berisi bahan ajar mengenai biologi, atau fenomena alam. Buku ini akan menjadi acuan dan sebagai sumber belajar bagi siswa untuk mencapai kompetensi dasar. Buku ajar yang baik selalu mengalami perbaikan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan terbaru. Oleh karena itu buku pelajaran Biologi juga harus selalu mengalami revisi, penyempurnaan sesuai dengan jamannya. Jangan biarkan buku yang kalau sudah dibuat dibiarkan tidak “terurus” padahal ilmu biologi sedang dan selalu berkembang dengan pesat dan cepat. Modul, adalah bahan ajar yang ditulis dengan tujuan agar peserta didik dapat belajar mandiri tanpa atau dengan bimbingan guru. Oleh karena itu sebuah modul harus memenuhi segala kriteria sebagai bahan ajar. Modul yang baik adalah modul yang memungkinkan siswa dapat menggunakanya dengan mudah, materi yang disajikan memenuhi keinginan membantu siswa mencapai kompetensi yang harus dicapainya. Karena modul dipergunakan untuk kegiatan pembelajaran, maka modul harus menggambarkan kompetensi dasar yang akan dicapai siswa. Modul sebaiknya disajikan dengan menggunakan bahasa yang menarik dan baik (agar pada materi yang disajikan tidak terjadi multitafsir), untuk ini dapat dilengkapi dengan ilustrasi untuk memperjelas isi yang disajikan dalam modul itu. Pembelajaran dengan modul membuka peluang dan memungkinkan siswa untuk dapat belajar dengan “kecepatan tinggi”, juga memungkinkan siswa untuk dapat menyelesaikan beberapa kompetensi sekaligus sesuai dengan kemampuannya. Lembar Kegiatan Siswa (LKS), atau student worksheet, adalah lembar-lembar yang berisi tugas yang harus dikerjakan siswa untuk menguasai kompetensi yang dipersyaratkan. LKS biasanya berisi petunjuk atau langkah-langkah penyelesaian tugas. Karena itu petunjuk dan tugas yang disampaikan lewat LKS ini harus jelas kompetensi dasar yang akan dicapai siswa. Agar supaya tugas-tugas dalam LKS dapat dikerjakan siswa dengan baik, maka LKS perlu dilengkapi/ditunjang dengan buku lain (yang terkait dengan tugasnya) sebagai referensi. Subtansi tugas dalam LKS terdiri dari tugas teori dan tugas-tugas praktis. Tugas teori misalnya meminta siswa untuk mempelajari atau membaca suatu materi ajar dan memahami substansi tertentu. Misalnya tugas untuk membaca materi tentang struktur jaringan pernapasan, fungsi dan hubungangannya dengan bentuk, gejala atau gangguan pernapasan, dan sebagainya. Agar tugas itu memenuhi pencapaian kompetensi yang dipersyaratkan, maka tugas ini dikembangkan lagi dengan meminta siswa untuk membuat resume. Lebih baik jika diminta pula
17

untuk mempresentasikannya lisan atau tertulis. LKS yang memuat tugas praktis, misalnya tugas berupa kerja laboratorium. Misalnya tugas kerja laboratorium mengamati struktur sel hewan dan tumbuhan, tugas melakukan pengamatan hasil fermentasi, dan sebagainya. LKS yang baik adalah LKS yang dapat mengantarkan siswa mencapai tuntutan kompetensi dasar. LKS jangan hanya semacam “memindahkan” soal-soal yang ada dibuku kedalam lembaran LKS. Tetapi benar-benar menuntun siswa untuk memahami materi untuk mencapai kompetensi yang dipersyaratkan. Karena itu membuat LKS hendaknya LKS yang menantang siswa untuk mengembangkan kognitif, afektif dan psikomotornya. Karena itu LKS harus memuat materi, petunjuk, jalan untuk membantu siswa mencapai kompetensi. Bagi guru LKS yang baik akan memudahkan dalam dan membantu dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Sedangkan untuk siswa keberadaan LKS akan membantu mereka dalam belajar secara mandiri. Oleh karena itu penyiapan LKS oleh guru harus dilakukan dengan cermat. LKS yang disusun harus menuntun siswa dengan kegiatan yang berkaitan dengan pencapaian kompetensi dasar. Brosur, adalah bahan informasi tertulis mengenai suatu masalah yang disusun bersistem, terbuat dari cetakan yang hanya terdiri dari beberapa halaman dan dilipat tanpa dijilid. Brosur biasanya berisi keterangan singkat tetapi lengkap. Karena itu brosur dapat dijadikan sebagai bahan ajar dengan syarat tertentu misalnya antara lain memuat materi/substansi yang berkaitan dengan kompetensi. Beberapa contoh brosur, misalnya brosur yang dikeluarkan oleh laboratorium medis atau klinik mengenai berbagai macam penyakit pencerrnaan (berkaitan dengan materi gangguan sistem pencernaan), penyakit yang berhubungan dengan penglihatan (materi sistem indera penglihat), brosur berbagai jenis bibit unggul tanaman budidaya, brosur manfaat pupuk, dan sebagainya. Leaflet, adalah bahan cetak tertulis berupa lembaran yang dilipat tapi tidak dimatikan atau dijahit. Penulisan substansinya harus padat, singkat serta mudah dipahami. Sebagai bahan ajar yang baik dan memenuhi kriteria sebagai bahan ajar, leaflet harus memuat materi yang menggiring siswa untuk menguasai satu atau lebih kompetensi dasar yang ditentukan dan diambil dari kurikulum. Wallchart, adalah bahan cetak yang biasanya berupa bagan atau siklus atau proses atau grafik yang bermakna menunjukkan posisi tertentu. Kadang wallchart dimasukkan sebagai alat bantu mengajar atau media penbelajaran. Bila wallchart didisain sebagai bahan ajar, maka
18

wallchart harus memenuhi kriteria sebagai bahan ajar, antara lain, memiliki kejelasan tentang kompetensi dasar dan materi pokok yang harus dikuasai siswa, diajarkan untuk berapa lama, bagaimana menggunakannya. Banyak materi atauy informasi biologi yang bias disajikan dengan wallchart ini, misalnya berbagai macam siklus hidup ular, siklus hidup belalang, siklus hidup kupu-kupu, siklus air, siklus mineral, informasi singkat tentang berbagai macam penyakit lengkap dengan pola penyebaranya, cara pencegahanya, dan sebagainya. Foto atau Gambar. Sebagai bahan ajar, foto atau gambar harus disain dengan baik agar siswa setelah melihat dan mengamati sebuah atau serangkaian foto atau gambar , mereka dapat memahami maksud yang terkandung dalam foto atau gambar itu. Dan pada akhirnya mereka akan menguasai satu atau lebih kompetensi dasar melalui foto atau gambar tersebut. Berbagai macam informasi biologi dapat disajikan melalui foto atau gambar, misalnya foto kerusakan ekosistem, foto atau gambar tumbuhan dan hewan-hewan yang dilindungi, lingkungan yang tercemar dan sebagainya. Gambar atau foto dapat disajikan dalam bentuk “gambar ilustrasi”, skema/siklus atau suatu materi (yang asli) kemudian digambar. Gambar tentang hewan yang telah punah adalah contoh gambar “ilustrasi”, Gambar terjadinya siklus hujan adalah gambar skema, dan gambar tentang bentuk-bentuk daun tumbuhan adalah gambar dari daun tumbuhan yang asli.gambar grafik atau siklus adalah gambar skema. Foto berasal dari benda/lingkungan yang difoto untuk menujukkan sesuatu pada benda atau lingkungan tersebut. Foto organ seseorang yang rusak/cacat akibat penyakit adalah foto yang dibust (difoto) untuk menujukkan dampak dari penyakit itu, foto tentang liungkungan kotor adalah foto yang dibuat untuk menunjukkan lingkungan yang kotor, dan sebagainya. Menurut Weidenmann, melihat sebuah foto atau gambar lebih tinggi maknanya dari pada membaca atau mendengar. Melalui membaca yang dapat diingat hanya 10%, dan dari mendengar hanya 20%. Dengan melihat maka dapat diingat 30%. Jadi foto atau gambar yang didisain dengan baik dapat memberikan pemahaman yang lebih baik. Sebagai bahan ajar, maka foto atau gambar harus dibantu dengan bahan tertulis. Bahan ini dapat berupa petunjuk cara menggunakan atau bahan tes. Sebuah foto atau gambar yang bermakna paling tidak mempunyai kriteria sebagai berikut: (1) memiliki sesuatu yang dapat dilihat dan penuh dengan informasi atau data. Jadi foto atau gambar tidak hanya sekadar foto atau gambar yang tidak bermakna atau tidak dapat
19

dipelajari. Misalnya pada foto terjadinya banjir, ruasknya lingkungan, kondisi sungai yang tercemar, gambar manusia yang cacat salah satu organnya atau orang yang terserang oleh suatu penyakit, posisi tubuh manusia yang tidak baik akibat kebiasaan duduk yang salah, foto kondisi gigi seorang perokok, dan sebagainya (2) Foto atau gambar dapat dimengerti. Sipembaca benar-benar mengerti, tidak mengalami salah pengertian. Gambar atau foto orang yang kena penyakit dermatosis, akibat jamur. Foto atau gambar mulut dan kuku tangan dari seorang perokok, serangan penyakit cacar pada manusia, tubuh seorang pencandu narkoba, dan sebagainya. (3) Foto atau Gambar harus lengkap, rasional dan logis dan bahannya benar-benar diambil dari sumber yang benar, yang dapat dipertanggung jawabkan, sehingga foto yang dipajang betulbetul layak digunakan sebagai bahan ajar. Foto atau gambar jangan sampai miskin informasi yang berakibat penggunaanya tidak belajar apa-apa. Misalnya foto atau gambar bunga kembang sepatu yang diambil dari jauh, kondisi dari suatu lingkungan yang tercemar dengan penampilan foto atau gambar yang fokus ingin menampakkan sesuatu. Model, yang didesain secara baik akan memberikan makna yang hampir sama dengan aslinya. Wedermann mengemukan bahwa dengan melihat benda aslinya yang berarti dapat dipegang, maka siswa akan lebih mudah dalam mempelajarinya. Model atau bahan ajar seperti ini tidak dapat berdiri sendiri, melainkan harus dibantu dengan bahan tertulis agar memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran. Pemanfaatan model ini harus menggunakan kompetensi dasar dalam kurikulum sebagai acuannya. Misalnya model organ manusia (untuk menjelaskan materi sistem organ), model jantung untuk menjelaskan sistem peredaraan darah manusia), model sistem pencernaan makanan, model reproduksi dan sejenisnya. Beberapa bahan ajar cetak yang ditampilkan di atas, perlu ada penyempurnaan apa bila akan digunakan sebagai bahan ajar untuk pembelajaran. Sebab tidak semua bahan tersebut mengandung komponen yang dipersyaratkan untuk membantu kegiatan pembelajaran dalam usaha pencapaian kompetensi. Selain buku, modul dan LKS, bahan ajar lainnya masih belum memadai untuk digunakan sebagai bahan ajar. Bahkan sebagian bahan ajar tersebut masih dianggap sebagai “media” pembelajaran Bahan ajar yang dikatergorikan sebagai bahan ajar, haruslah memenuhi kriteria yang dipersyaratkan, misalnya memuat SK, KD, petunjuk belajar, isi materi/contens, informasi pendukung, instrumen untuk latihan-latihan, petunjuk kerja (untuk LKS), evaluasi dan respon
20

balikan. Oleh karena itu bahan ajar (yang disebutkan di atas) perlu dilengkapi dengan tambahan komponen yang menyangkut “strategi” atau panduan, bahan pengayaan atau tugas-tugas dan sejenisnya, yang semuanya menyangkut usaha pencapaian kompetensi yang dipersyaratkan. Tambahan komponen itu dapat disampaikan oleh guru baik secara lisan maupun tertulis berupa pertanyaan, tugas yang harus diselesaikan, cara kerja dan sebagainya, Semua ini tergantung pada tujuan pembelajaran yang akan dicapai.

D. Bahan Ajar Dengar (Audio) Beberapa peralatan atau bahan ajar dengar yang dapat digunakan sebagai bahan ajar, berkenaan bantuan dalam kegiatan pembelajaran adalah: Kaset, piringan hitam atau compak disk, yang diprogram sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah program yang dapat dijadikan bahan ajar. Bahan kaset, CD dan lainnya mempunyai kelebihan dapat menyimpan suara yang dapat diperdengarkan secara berulang-ulang kepada siswa. Dengan demikian siswa mempunyai kesempatan yang banyak untuk dapat menyimak materi yang ada. Bahan ajar dengar ini memerlukan bantuan perlatan lain untuk dapat dipergunakan misalnya alat penggeraknya (tape recorder, dsb) dan lembar skenario dari guru. Radio, radio broadcasting adalah media dengar yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan ajar. Dengan radio siswa dapat belajar sesuatu. Program radio dapat dirancang sebagai bahan ajar, misalnya pada jam tertentu guru merencanakan sebuah program pembelajaran melalui radio. Misalnya ulasan materi pengetahuan tentang lingkungan hidup, peristiwa pencemaran lingkungan yang membawa dampak terhadap kesehatan, dampak lingkungan kotor, dan sebagainya. Beberapa kekurangan akan muncul bila bahan ajar dengar (audio) ini digunakan sebagai bahan ajar. Sama seperti beberapa bahan ajar cetak, dalam bahan ajar dengar ini sulit diidentifikasi komponen-komponen kriteria suatu bahan ajar. Oleh karena itu bila bahan ajar dengar akan digunakan sebagai bahan ajar, maka peran guru sangat dominan untuk “membantu/melengkapi” bahan ajar dengar ini menjadi suatu bahan ajar yang dapat membantu siswa mencapai kompetensi yang dipersyaratkan.

E. Bahan Ajar Pandang (Audio Visual)

21

Video atau Film, juga alat bantu yang dapat didisain sebagai bahan ajar. Umumnya program video telah dibuat dalam rancangan lengkap, sehingga setiap akhir dari penayangan video diharapkan siswa dapat menguasai satu atau lebih kompetensi dasar. Video atau film sebagai bahan ajar yang baik tergantung pada disain awalnya, mulai dari analisis kurikulumnya, penentuan media, skema yang menunjukkan sequensi (skenario), skrip, pengambilan gambar dan proses editingnya. Beberapa keuntungan pada pemanfaatan video bila digunakan sebagai bahan ajar, antara lain: 1. Memudahkan siswa untuk dapat belajar sendiri. Misalnya memudahkan siswa untuk belajar berbagai materi kognitif (konsep, fakta, prinsip, prosedur, proses) suatu materi biologi tertentu . Belajar materi ranah psikomotor, misalnya prosedur menggunakan mikroskop. 2. Sajian yang ditampilkan dengan video, memberikan situasi yang komunikatif (dengan siswa) dan dapat diulang-ulang, sehingga memudahkan siswa untuk kembali menyimak, mempelajarinya. Misalnya dalam materi penyusunan protein, dampak yang timbul akibat peristiwa banjir, dsb. 3. Dapat menampilkan sesuatu yang detil dari benda yang bergerak, kompleks, sulit dilihat dengan mata. Misalnya pada materi bagaimana proses gigitan nyamuk, bagaimana gerakan suatu bakteri, seperti apa gerakan spesifik flagella hewan mikro, bentuk-bentuk sel darah pada manusia dan sebagainya. 4. Sajian dapat dipercepat atau diperlambat sesuai keinginan. Dapat diulang pada bagian tertentu yang perlu lebih diperjelas dan bahkan dapat diperbesar. Misalnya pada materi pengamatan dari letak stomata pada daun, struktur sel hewan dan tumbuhan, letak vakoula, letak klorofil, bentuk khas ribosom dan seterusnya. 5. Memungkinkan pula untuk membandingkan antara dua adegan yang diputar pada waktu bersamaan. Misalnya bagaimana proses gerak yang membuka dan menutup pada daun tumbuhan Putri malu, gerakan insang dan masuknya air kedalam insangnya sehingga bisa terjadi pengambilan udara untuk pernapasan pada ikan, dan sebagainya. 6. Dapat digunakan untuk tampilan nyata, mengangkat suatu situasi diskusi, dokumentasi, promosi suatu produk dan interview serta menampilkan suatu percobaan yang berproses. Misalnya terjadinya proses pembuahan pada tumbuhan’ diskusi kegiatan mencari paradigma pembelajaran biologi yang ideal, optimal. Dan sebagainya.
22

Kelemahan dari program video ini adalah pada proses pembuatannya yang memerlukan waktu relatif lama dan biaya yang relatif besar. Film juga dapat digunakan sebagai bahan ajar, namun saat ini film mulai jarang digunakan dibanding dengan program video. Orang/nara sumber, dapat dikategorikan sebagai bahan ajar, karena dapat dipandang dan didengar. Dengan orang tersebut siswa dapat belajar, misalnya karena orang tersebut mempunyai keahlian tertentu, seperti seorang dokter, yang mempunyai keahlian memberi pertolongan terhadap orang sakit, petani tanaman budi daya yang mempunyai keahlian membudidayakan tanaman tertentu, ahli peternakan yang mempunyai keahlian melakukan inseminasi buatan, dan sebagainya. Bahkan seorang gurupun dapat dijadikan bahan ajar. Agar orang dapat dijadikan sebagai bahan ajar maka rancangan tertulis yang mengacu pada kompetensi dasar harus dibuat terlebih dahulu. Rancangan yang baik akan mendapat hasil belajar yang baik pula. Jadi bila menggunakan orang sebagai bahan ajar harus dikombinasikan dengan bahan tertulis. Sama dengan beberapa bahan ajar sebelumnya bahan ajar ini memerlukan tambahan informasi untuk layak dijadikan sebgai bahan ajar.

F. Bahan Ajar Interaktif Menurut Guidelines for Bibliographic Description of Interactive Multimedia, multimedia interaktif adalah kombinasi dua atau lebih media (audio, teks, gambar, grafik, animasi dan video) yang oleh penggunanya dimanupulasi untuk mengendalikan perintah dan atau perilaku alami dari suatu presentasi. Bahan ajar model begini sudah mulai banyak penggunanya. Karena disamping menarik juga memudahkan penggunanya dalam mempelajari suatu bidang tertentu. Bahan seperti ini dirancang secara lengkap mulai dari petunjuk penggunaannya sampai penilaian. Untuk menyiapkan bahan ajar ini diperlukan pengetahuan dan keterampilan pendukung yang memadai, terutama dalam mengoperasikan peralatan seperti komputer, kamera video dan kamera foto. Bahan ajar ini disajikan dalam bentuk compak disk (CD). Pemanfaatan bahan ajar interaktif menjadi bahan ajar yang layak, mempunyai fungsi untuk membantu siswa untuk mencapai kompetensi yang dipersyaratkan, haruslah memenuhi kriteria sebagai bahan ajar, sebab tidak semua bahan ajar interaktif secara langsung dan otomatis berfungsi sebagai bahan ajar. Oleh karena itu peran guru untuk mengarahkan pencapaian kompetensi melalui bahan ajar interaktif (salah satu bahan ajar) sangat penting.
23

Tugas: A. Carilah dan buat laporan hasil pengamatan/analisis tentang: (1) LKS, (cermati substansinya, kompetensi dasar (apa saja) yang dikembangkan dalam LKS itu)? (2) Brosur dan Leaflet (lampirkan), apa bisa dijadikan sebagai bahan ajar? (3) Wallchart, Gambar atau Foto (lampirkan), berikan komentar Anda, adakah informasi yang dapat diperoleh dari gambar atau foto, dan dijadikan sebagai bahan ajar? B. Antara Buku dan Modul, (a) apa perbedaannya (jika digunakan dalam kegiatan pembelajaran), (b) bagaimana tentang subsatansinya? Penyusunannya? Sistematikanya? C. Diskusikan secara kelompok: (1) bahan ajar dengar, bahan ajar pandang, dan bahan interaktif yang berkaitan dengan pemanfaatan, kelebihan dan kelemahan apabila digunakan sebagai sumber belajar. (2) diantara jenis-jenis bahan ajar dengar, bahan ajar pandang dan bahan ajar inetraktif, mana yang lebih tepat digunakan sebagai media dan mana yang lebih tepat digunakan sebagai bahan ajar. wallchart tersebut, untuk dapat

24

BAB IV Penyusunan Bahan Ajar Untuk menyusun bahan ajar yang baik diperlukan persiapan yang baik pula, yang meliputi tahapan berikut: A. Analisis Kebutuhan untuk Bahan Ajar. Agar bahan ajar yang dihasilkan mempunyai manfaat dan sesuai dengan tuntutan kompetensi yang harus dikuasai siswa, maka perlu dilakukan analisis terhadap Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi dasar, sumber belajar yang diperlukan, dan penentuan jenis serta judul bahan ajar yang sesuai. 1. Analisis SK dan KD, dilakukan dengan menelaah dan menganalisis kompetensi yang dipersyaratkan harus dikuasai oleh siswa. Analisis SK dilakukan dengan mengacu pada Standart Isi, dalam Peraturan Menteri no.22 tahun 2006, tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah Didalam Permen No. 22 Tahun 2006 ini telah ditetapkan Standar Kompentensi dan Kompetensi Dasar pada tiap-tiap jejang pendidikan. Kompentensi dasar yang ditetapkan oleh peraturan itu, harus ditindaklanjuti lagi oleh masing-masing satuan pendidikan. Pengembangan dilakukan dengan “menguraikan’ kompetensi menjadi indikator-indikator yang secara bertahap akan dicapai dan dikuasai oleh siswa. Indikator-indikator yang dikembangkan pada masing-masing satuan pendidikan bisa sangat bervariasi. Hasil dari pengembangan dan analisis KD inilah yang akan dipergunakan guru untuk menyusun bahan ajar. Jadi bahan ajar yang disusun pada tingkat satuan pendidikan bisa berbeda. Berikut diberikan contoh hasil analisis SK dan KD ( kelas XII, semester I ) dalam penyusunan RPP yang juga dipergunakan acuan untuk menyusunan bahan ajar.

25

SK: Memahami penerapan konsep dasar dan prinsip-prinsip hereditas serta implikasinya pada Salingtemas. Mata pelajaran Kelas Semester Standar Kompetensi Kompetensi Dasar : Biologi : X : 2 : memahami manfaat keanekaragaman hayati Materi pembelajaran Keanekaragaman makhluk hidup Kegiatan pembelajaran Dengan membaca literatur tentang keanekaragaman, maka siswa akan memahami konsep tentang keanekaragaman jenis, ekosistem, dan sekaligus dapat menjelaskan tentang konsep keanekaragaman Jenis bahan ajar yang akan disusun Buku atau modul

Indikator

3.1. • mampu menjelasmendiskripsi kan arti keanekakan keanekaragaman ragaman gen, • mampu menjelasjenis, ekokan arti keanekasistem meragaman gen lalui kegiatan • mampu menjelaspengamatan kan arti keanekaragaman jenis • mampu menjelaskan arti keanekaragaman ekosistem

• dapat menunjukkan keanekaragaman jenis • dan seterusnya

Melakukan observasi terhadap lingkungan untuk lebih memahami secara nyata tentang keaneka ragaman

LKS

Berdasarkan tabel diatas maka setidaknya ada dua bahan ajar yang harus/bisa disusun atau dibuat yaitu Buku/modul dan Lembar Kerja Siswa (LKS). Dalam penyusunan bahan ajar, unsur pembentuk kompetensi hasil analisis KD dipergunakan untuk menyusun materi ajar danacuan sistematika penulisan. Kebutuhan

26

bahan ajar dapat dilihat dari analisis kebutuhan KD bahan ajar dan jenis bahan ajar yang diturunkan dari pengalaman belajarnya. Semakin jelas pengalaman belajar diuraikan akan semakin mudah guru menentukan jenis bahan ajarnya. Misalnya dalam pembelajaran tentang Gen, DNA dan Kromosom. Bila kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan untuk memperoleh pengetahuan tentang gen, DNA dan Kromosom diperoleh dengan mengamati model atau pengamatan preparat, maka jenis bahan ajarnya merupakan hasil pengamatan, dan seterusnya. Jika analisis SK dilakukan secara menyeluruh, maka akan diketahui berapa banyak ajar yang harus disiapkan guru. Dalam contoh di atas, dari satu SK yang disusun komponen penyusun kompetensinya, (lihat indikator) maka akan diperoleh sedikitnya ada 3 (tiga) jenis bahan ajar (buku, atau modul, dan LKS) yang dapat disusun, demikian seterusnya. . 2. Analisis sumber belajar Kegiatan tahap ini adalah menganalisis ketersediaan sumber belajar. Dalam tahap ini sebaiknya diinventaris sebanyak mungkin sumber belajar yang relevan dan layak dipergunakan. Analisis meliputi ketersediaan dan kemudahan memperoleh dan

memanfaatkan sumber belajar tersebut. Yang lebih penting adalah substansi dari sumber belajar itu, yaitu keakuratan informasi yang disajikan. Termasuk juga apakah materi atau substansinya masih tergolong informasi baru (up todate) atau sudah lama. Sedapat mungkin diusahakan menggunakan informsi yang terbaru. Sumber belajar bisa berupa buku pelajaran biologi yang sudah ada, informasi yang diambil internet, atau majalah ilmiah bahkan jurnal ilmiah. Sumber ajar dapat didapatkan dari berbagai hasil penelitian ilmiah, kesimpulan hasil seminar dan lain sebagainya yang relevan dengan kompetnsi dasar yang harus dicapai siswa. Pemilihan sumber belajar harus memperhatikan keterkaitan dengan kompetensi yang akan dicapai siswa. Oleh karena itu analisis substansi harus lebih mendominasi dalam tahap analisis sumber belajar. 3. Pemilihan dan Penetuan bahan ajar Pemilihan dan penentuan bahan ajar adalah untuk memenuhi kriteria bahwa bahan ajar ini menarik dan dapat membantu siswa nmencapai kompetensi. Bahan ajar yang ditentukan dan dipilih benar-benar sesuai dengan kebutuhan siswa, mudah digunakan

27

siswa, dan menarik dilihat dari substansi dari penampilan. Jenis dan bentuk bahan ajar ditetapkan berdasarkan analisis kurikulum dan analisis sumber belajar sebelumnya.

B.

Penyusunan Peta Bahan Ajar Peta kebutuhan bahan ajar disusun berdasarkan analisis kebutuhan bahan ajar. Terutama berapa banyak ajar yang harus dipersiapkan. Dari analisi bahan ajar (terutama KD dengan unsur pembentuk kompetensi) penyusun sudah dapat memperkirakan kira-kira seperti apa dan bagaimana bahan ajar akan ditulis. Bagaimana urutan atau sistematiknya, semuanya disusun dalam peta agar memudahkan dalam penggarapannya. Dalam tahap ini sekuens bahan ajar juga dibuat, agar bisa disajikan prioritas urutan penyajian dan penulisannya. Peta bahan ajar juga bermanfaat untuk menentukan sifat bahan ajar, apakah bersifat independen (berdiri sendiri) atau dependen (tergantung). Bahan ajar independen adalah bahan ajar yang berdiri sendiri yang dalam penyusuannya tidak harus memperhatikan keterikatan dengan bahan ajar lainnya. Bahan ajar dependen, adalah bahan ajar yang penyusunannya ada keterkaitannya antara bahan ajar yang satu dengan bahan ajar yang lainnya. Dalam penulisannya harus saling memperhatikan satu sama lain. Berikut disajikan contoh peta kebutuhan untuk pembuatan bahan ajar Biologi SMA semester I yang diambil dari Perangkat Pembelajaran Kurikulum KTSP SMA. (Peta diambil dari SK nomor 2, KD nomor 1, materi pokok ditentukan sebagai judul bahan ajar)

Rencana materi untuk pembuatan judul bahan ajar
1. Objek Biologi 2. Persoalan Biologi 3. Tingkat organisasi kehidupan 4. Permasalahan biologi 5. Manfaat Biologi bagi manusia/ lingkungan 28

Standar Kompetensi
Memahami hakikat biologi sebagai ilmu, menemukan objek dan ragam persoalannya

Kompetensi Dasar
Mempelajari ruang lingkup, biologi, manfaat dan bahayanya

C. Struktur Bahan Ajar Penyusunan bahan ajar dengan berbagai macam model, juga berkaitan pada beragamnya struktur dari berbagai macam bahan ajar tersebut. Berikut ini disajikan perbedaan struktur/ komponen pada berbagai macam bahan ajar (khusus bahan ajar cetak) sebagai berikut: No. 1. 2 Komponen Judul Petunjuk Belajar. 3 4 KD/MP Informasi Pendukung 5 6 Latihan Tugas/langkah kerja 7 Penilaian Hand. Out Buku Modul LKS Brosur Leaflet Foto/ Gambar Model

Pada tabel di atas, terlihat adanya perbedaan struktur pada masing-masing bahan ajar yang merupakan karakter dari bahan ajar tersebut. Struktur ini dapat dijadikan acuan untuk menyusun bahan ajar.

A.

Latihan/tugas (penyusunan dan analisis struktur bahan ajar): (a) Pilih satu KD. Dengan analisis KD tersebut, tentukan (lihat contoh table, analisis kebutuhan bahan ajar): berapa banyak bahan ajar yang perlu dipersiapkan. (b) Tentukan struktur yang akan dipergunakan (lihat tabel di atas)

B. Tugas: a. Pilih 1 (satu) Standar Konpetensi (SK)

29

b. Ambil 1 (satu) Kompentenasi Dasar (KD) dari tugas (a) dan buat/susun/tentukan unsur penunjang kompetensi c. Buat bahan ajar (judul dan materi ajar) dari 1 atau 2 unsur penunjang (tugas b)

D. Penyusunan Bahan Ajar Cetak Bahan ajar cetak berupa handout, buku, LKS, modul, brosur, leaflet, foto atau gambar, wallchart, dan model atau maket. Dalam penyusunan semua bahan ajar ini yang perlu diperhatikan adalah judul materi. Judul ini harus mempunyai KD atau materi pokok yang harus dicapai siswa. Menurut Steffen-Peter Ballstaedt bahan aja cetak harus memperhatikan beberapa hal seperti berikut: (Perangkat Pembelajaran Kurikulum KTSP SMA: 2008): 1. Susunan tampilan, yang menyangkut: urutan yang mudah, judul yang singkat, terdapat daftar isi, struktur kognitif yang jelas, rangkuman dan tugas pembaca. 2. Bahasa yang mudah, menyangkut: mengalirnya kosa kata, jelasnya kalimat, jelasnya hubunan kalimat, dan kalimat yang tidak terlalu panjang. 3. Menguji pemahaman, yang menyangkut: menilai melalui orangnya dan chek list untuk pemahaman. 4. Stimulan, yang menyangkut: enak tidaknya dilihat, tulisan mendorong pembaca untuk berpikir, menguji stimulan. 5. Kemudahan dibaca, yang menyangkut: keramahan terhadap mata (huruf yang digunakan tidak terlalu kecil dan enak dibaca), urutan teks terstruktur, mudah dibaca. 6. Materi instruksional, yang menyangkut: pemilihan teks, bahan kajian, lembar kerja (worksheet). Berikut disajikan tentang cara penyusunan berbagai bahan ajar cetak. (a) Penyusunan Handout Handout memang belum ada padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Namun handoud biasanya ditulis dengan maksud mendukung pembelajaran berupa bahan ajar tertulis. Sebagai bahan ajar handout diharapkan mendukung bahan lainnya atau penjelasan guru. Oleh karena itu handout mempunyai fungsi sebagai berikut: 1. Membantu siswa untuk tidak perlu selalu mencatat. Sekaligus sebagai dokumen bahan ajar untuk kegiatan pembelajaran.
30

2.

Sebagai “pendamping” penjelasan guru. Dengan demikian pokok-pokok penting materi pembelajaran telah terekam dengan benar. Sehingga materi tersebut akan mudah diingat.

Sebagai bahan ajar handout harus memuat paling tidak: 1. Menuntun pembicara/penyusun materi secara teratur dan jelas (terutama pokok-pokok yang akan disampaikan). 2. Berpusat pada pengetahuan hasil atau produk ilmiah dan disusun berupa pernyataan atau kalimat yang padat. 3. Grafik dan atau tabel yang sulit digambarkan oleh pendengar/siswa dapat dengan mudah didapat atau disampaikan. Karena handout digunakan sebagai bahan ajar, maka handout harus disusun dengan dasar acuan KD yang sesuai, yang akan dicapai siswa. Handout biasanya merupakan bahan tertulis tambahan yang dapat memperkaya peserta didik dalam belajar untuk mencapai kompetensinya. Oleh karena itu handout yang disusun harus selalu memperhatikan dan mengacu pencapaian kompetensi ini. Karena itu handout harus selalu mengacu pada kurikulum yang berlaku . Langkah-langkah menyusun handout. 1. Kegiatan awalnya adalah melakukan analisis kurikulum, untuk memahami SK,KD dan materi ajar, yang diperlukan untuk pencapaian kompetensi dasar. 2. Kegiatan berikutnya, menentukan judul yang sesuai dengan KD dan materi pokok yang telah dianalisis dari kurikulum. Judul yang baik mencerminkan kompetensi dasar yang akan dicapai. 3. Mengumpulkan referensi untuk bahan penulisan. Referensi yang ditentukan adalah referensi yang telah dianalisis dan ditentukan pada awal akan menyusun bahan ajar. Usahakan untuk sedapat mungkin menggunakan referensi yang terkini/mutakhir. 4. Saat mengerjakan penulisan handout, gunakan kalimat yang tidak terlalu panjang, sebab kalimat yang seperti ini justeru akan mempersulit pemahaman siswa. Sedapat mungkin menggunakan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar.

31

5. Selama, setelah pengerjaan penulisan , lakukan evaluasi dengan cara dibaca berulangulang, apakah kalimat ini mudah dipahami dan membawa pesan yang tepat. 6. Perbaiki handout yang dibuat sesaui dengan kekurangannya. Terutama berkaitan dengan penguasaan kompetensi dasar yang akan dikuasai siswa. 7. Gunakan berbagai macam sumber belajar yang banyak dan bervariasi untuk memperkaya wawasan, materi handout. Sumber belajar dapat diambil dari buku pelajaran lain, internet, majalah ilmiah dan berbagai macam jurnal ilmiah hasil penelitian. (b) Penyusunan Buku Buku adalah bahan ajar cetak yang pada dasarnya mudah dikenal. Buku biasanya berisi substansi buah pikiran dari pengarangnya. Jika seorang guru menyiapkan sebuah buku yang digunakan sebagai bahan ajar, maka buah pikirannya tersebut harus diturunkan dari KD yang ada dalam kurikulum. Dengan demikian buku tersebut akan memberi makna sebagai bahan ajar bagi siswa yang mempelajarinya. Sebuah buku biasa dimulai dari latar belakang penulisan, definisi dan/atau dari judul buku yang dikemukakan, penjelasan ruang lingkup pembahasan dalam buku, hukum atau aturan-aturan yang akan dibahas, contoh-contoh atau ilustrasi yang dikemukakan, hasil penelitian, data dan interpretasinya dan berbagai argumen yang sesuai dan relevan untuk dikemukakan. Langkah-langkah yang dilakukan dalam kegiatan membuat buku adalah sebagai berikut: 1. Mempelajari kurikulum, dengan cara menganalisisnya. Kegiatan dilakukan untuk memahami substansi kurikulum. Dengan demikian bahan ajar buku yang ditulis sinkron dengan substansi dalam kurikulum. 2. Menentukan judul buku yang akan ditulis sesuai dengan standar kompetensi yang akan disediakan bukunya. 3. Merancang outline buku agar isi buku lengkap mencakup seluruh aspek yang diperlukan untuk mencapai kompetensi. 4. Mengumpulkan referensi sebagai bahan penulisan. Kegiatan ini diupayakan

menggunakan referensi terkini, up to date, relevan dengan bahan kajiannya. 5. Mulailah menulis buku jika kegiatan 1 sampai 4 terpenuhi. Penyajian kalimat perlu disesuaikan dengan usia dan pengalaman pembacanya. Untuk siswa perlu perhatian

32

tentang panjang kalimat yang disajikan. Umumnya maksimal 25 kata per-kalimat dan dalam satu paragraf kurang lebih 3 – 7 kalimat. 6. Mengevaluasi dan/atau mengedit hasil tulisan dengan cara membaca ulang. Kegiatan ini dilakukan sebelum tahap evaluasi buku secara menyeluruh pada konsumen (siswa, atau kolega) Pada tahap ini jika ada hal-hal yang dirasa kurang atau sejenisnya segera disempurnakan. 7. Gunakan banyak sumber untuk memperkaya materi misalnya berbagai macam buku yang relevan, majalah-majalah yang terkait, jurnal hasil penelitian, dan sejenisnya. (c) Penyusunan Modul Modul adalah seperangkat bahan ajar yang disajikan sistematis sehingga penggunanya dapat belajar dengan atau tanpa seorang fasilitator/guru. Dengan demikian maka sebuah modul harus dapat dijadikan sebuah bahan ajar sebagai pengganti fasilitator/guru. Kalau guru memiliki fungsi menjelaskan, maka modul harus mampu menjelaskan suatu substansi dengan bahasa yang mudah diterima siswa sesuai dengan tingkat pengetahuan, kemampun, dan usianya. Penulisan bahan ajar modul dilakukan dengan melalui tahapan berikut: 1. Analisis Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) Analsis ini dilakukan dengan maksud untuk menentukan materi mana yang memerlukan bahan ajar. Pada kegiatan menentukan ini materi dipilah dan dianalisis dengan cara melihat inti dari materi yang akan diajarkan, kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa, hasil belajar kritis (critical learning outcomes) yang harus dimiliki siswa itu seperti apa. 2. Menentukan judul-judul modul Judul dari modul ditentukan atas dasar KD-KD atau materi pembelajaran yang terdapat dalam silabus. Satu kompetensi dapat dijadikan sebagai judul apabila kompetensi itu tidak terlalu besar atau luas, sedangkan basarnya kompetensi dapai dideteksi antara lain dengan cara apabila diuaraikan ke dalam materi pokok mendapatkan maksimal empat materi pokok (MP), maka kompetensi itu telah dapat dijadikan sebagai satu judul modul. Namun apabila diuarikan mendapat lebih dari empat materi pokok, maka perlu pemikiran kembali apakah perlu dipecah menjadi dua judul modul. 3. Pemberian kode modul

33

Kode modul sangat diperlukan guna memudahkan dalam pengelolaan modul. Biasanya kode modul dipergunakan angka-angka yang diberi makna. Misalnya angka satu (1) berarti IPA, (2) matematika, dan seterusnya. Kemudian dua digit merupakan klasifikasi/ kelompok utama kajian atau aktivitas atau spesifikasi pada jurusan yang bersangkutan. Misalnya IPA, nomor 1, digit kedua berarti fisika, nomor 2 biologi, dan seterusnya. Langkah-langkah Penulisan Modul Untuk menulis modul yang baik dilakukan langkah-langkah berikut ini: 1. Perumusan kompetensi dasar (KD) yang harus dikuasai siswa Rumusan KD pada suatu modul merupakan spesifikasi kualitas yang seharusnya dimiliki oleh siswa setelah ia berhasil menyelesaikan modul tersebut. Kompetensi Dasar yang dicantumkan dalam modul haruslah berdasarkan dan diambil kurikulum. Apabila siswa tidak berhasil memiliki atau mencapai indikator sebagaimana yang dirumuskan dalam KD itu, maka KD dalam pembelajaran modul itu harus dirumuskan kembali. Dalam hal ini barangkali bahan ajar yang gagal, bukan siswa yang gagal. Jika tingkah laku diindetifikasikan secara tepat, maka apa yang harus dikerjakan untuk mencapainya dapat ditentukan secara tepat pula. Berikut ini diberikan contoh rumusan indikator yang harus dikuasai siswa.

SK: Memahami penerapan konsep dasar dan prinsip-prinsip hereditas implikasinya pada Salingtemas. No. Kompetensi Dasar 1. 3.1 Menjelaskan konsep gen, DNA dan Kromosom

serta

Rumusan Kompetensi Dasar (yang harus dikuasai siswa) (Pengalaman belajar) dengan berdiskusi/ membaca literatur/ pengamatan pada model/pengamatan preparat,dan kegiatan lain, siswa akan : 1. mampu menemukan ciri-ciri Gen 2. mampu menemukan ciri-ciri DNA 3. mampu menemukan ciri-ciri kromosom 4. dapat menjelaskan fungsi struktur/ciri gen, DNA, kromosom 5. mampu membedakan antara gen, DNA dan kromosom 6. mampu menemukan hubungan antara struktur ciri dengan fungsi dari ciri-ciri tersebut 7. mampu menjelaskan tentang gen, DNA dan kromosom 8. mampu mengaplikasikan manfaat pengetahuan tentang gen, DNA dan kromosom pada kehidupanan sehari-hari

34

2.

dst

dan seterusnya.

2.

Menentukan alat evaluasi/penilaian Dalam membuat modul dilakukan evaluasi penguasaan materi yang disajikan lewat modul tersebut. Oleh karena itu perlu dibuat alat dan instrumen penilaian unuk menilai keberhasilan penguasaan suatu KD. Criterion items, adalah sejumah pertanyaan atau tes yang digunakan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam menguasai suatu KD dalam bentuk tingkah laku. Karena pendekatan pembelajarannya yang digunakan adalah kompetensi , dimana sistem evaluasinya didasarkan pada penguasaan kompetensi, maka alat evaluasinya menggunakan Peniaian Acuan Patokan (PAP) atau Creterion Referenced Assesment. Evaluasi dapat segera disusun setelah ditentukan KD yang akan dicapai sebelum menyusun materi dan lembar kerja/tugas-tugas yang harus dikerjakan siswa. Hal ini dimaksudkan agar evaluasi yang dikerjakan benar-benar sesuai dengan apa yang dikerjakan oleh siswa. Berikut contoh evaluasi KD.

No. 1. 2.

75 % Kriteria Keberhasilan Mampu menemukan ciri-ciri gen, DNA dan kromosom Dapat menjelaskan fungsi struktur/ciri gen, DNA dan koromosom

Ya

Terpenuhi

3. 4.

Mampu membedakan antara gen, DNA dan kromosom Mampu menemukan hubungan antara struktur ciri dengan fungsi ciri-ciri tersebut

5.

Mampu mengaplikasikan manfaat pengetahuan tentang gen, DNA dan kromosom pada kehidupan sehari-hari *) jika 75% dari ke 5 kriteria terpenuhi, maka dinyatakan lulus

3.

Penyusunan materi

35

Materi isi modul sangat tergantung pada KD yang akan dicapai. Materi modul sangat baik jika berisi informasi-informasi mutakhir/terkini dan memiliki relevansi dari berbagai sumber , misalnya buku, jurnaln hasil penelitian, substansi dari internet dan majalah ilmiah. Materi modul tidak harus ditulis seluruhnya, dapat saja dalam modul itu ditunjukkan referensi yang digunakan agar siswa dapat membaca lebih jauh tentang materi itu. Tugas-tugas harus ditulis secara jelas guna mengurangi pertanyaan dari siswa tentang hal-hal yang seharusnya siswa dapat melakukannya. Misalnya tentang tugas diskusi. Judul diskusi diberikan secara jelas dan didiskusi dengan siapa, berapa orang dalam kelompok diskusi dan berapa lama. Dalam menulis modul, kalimat yang dipergunakan jangan terlalu panjang, kirakira maksimal 75 kata tiap kalimat, dalam satu paragraf berisi kira-kira 3 – 7 kalimat. Gambar-gambar yang mendukung isi materi sangat diperlukan, karena disamping memperjelas penjelasan kuga menambah daya tarik bagi siswa untuk mempelajarinya. 4. Urutan pembelajaran Urutan pembelajaran dapat diberikan dalam petunjuk menggunakan modul. Misalnya dibuat petunjuk bagi guru yang akan mengajarkan materi tersebut dan petunjuk bagi siswa. Petunjuk siswa diarahkan pada hal-hal yang harus dikerjakan dan yang tidak boleh dikerjakan siswa, sehingga siswa tidak perlu banyak bertanya, guru juga tidak

perlu terlalu banyak menjelaskan atau dengan kata lain guru hanya berfungsi sebagai fasilitator. 5. Struktur bahan ajar modul Struktur modul dapat bervariasi tergantung pada karakter materi yang akan disajikan, ketersediaan sumberdaya dan kegiatan belajar yang dilakukan. Secara umum modul harus memuat paling tidak: • • • • • • • Judul Petunjuk belajar (Petunjuk siswa/guru) Kompetensi yang akan dicapai Informasi pendukung Latihan-latihan Petunjuk kerja, dapat berupa Lembar Kerja (LK) Evaluasi/Penilaian
36

(d) Penyusunan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) Lembar Kerja Siswa (student work sheet) adalah lembaran-lembaran yang berisi tugas yang harus dikerjakan siswa. Lembar Kegiatan Siswa harus memuat paling tidak: judul, KD yang akan dicapai, waktu penyelesaian, peralatan atau bahan yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas, informasi singkat tentang langkah kerja tugas, yang harus dikerjakan dan laporan yang harus dikerjakan. Kegiatan menyiapkan LKS dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Analisis Kurikulum Analisis kurikulum dimaksudkan untuk menentukan materi-materi mana yang memerlukan bahan ajar LKS. Biasanya dalam menentukan materi dianalisis dengan cara melihat materi pokok dan pengalaman belajar dan materi yang akan diajarkan, kemudian kompetensi yang harus dicapai oleh siswa. 2. Menyusun Peta Kebutuhan LKS Peta kebutuhan LKS sangat diperlukan guna mengetahui jumlah LKS yang harus ditulis dan sekuensi atau urutan LKSnya juga dilihat sumber belajarnya. Sekuens LKS ini sangat diperlukan dalam menentukan prioritas penulisan. Diawali dengan analisis kurikulum dan analisis sumber belajar. 3. Menentukan Judul-judul LKS Judul LKS ditentukan atas dasar KD-KD, materi pokok atau pengalaman belajar yang terdapat dalam kurikulum. Satu KD dapat dijadikan sebagai judul apabila kompetensi itu tidak terlalu besar, sedangkan besarnya KD dapat dideteksi dengan cara apabila diuarikan kedalam materi pokok (MP) mendapatkan maksimal 4 (empat) MP, maka kompetensi itu telah dapat dijadikan sebagai satu judul modul LKS. Namun apabila uraian menjadi lebih dari 4 materi pokok, maka perlu dipikirkan kembali apakah perlu dipecah menjadi 2 judul LKS. 4. Penulisan LKS Penulisan LKS dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: a. Perumusan KD yang harus dikuasai Rumusan KD pada sutau LKS langsung diturunkan dari Standar Isi (SI) b. Menentukan alat penilaian

37

Penilaian dilakukan terhadap proses kerja dan hasil kerja siswa. Karena pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah kompetensi, dimana penilaiannya didasarkan pada penguasaan kompetensi, makaalat penilaian yang cocok adalah menggunakan pendekatan Penilaian Acuan Patokan (PAP) atau Criterion Referency Assesment. Dengan demikian guru dapat menilainya melalui proses dan hasil kerjanya.

c. Penyusunan materi Materi LKS sangat tergantung pada KD yang akan dicapai siswa. Materi LKS dapat berupa informasi pendukung, yaitu ganbaran umum atau ruang lingkup substansi yang akan dipelajari. Materi dapat diambil dari berbagai sumber seperti buku, majalah ilmiah, substansi yang diambil dari internet, dan jurnal hasil penelitian. Agar pemahaman siswa terhadap materi lebih kuat, maka dapat saja dalam LKS ditunjukkan referensi yang digunakan agar siswa dapat membaca lebih jauh tentang materi itu. Tugas-tugas harus ditulis secara jelas guna mengurangi pertanyaan siswa tentang hal-hal yang seharusnya siswa dapat melakukannya, misalnya tentang tugas diskusi. Judul diskusi harus jelas dan didiskusikan dengan siapa, berpa orang dalam satu kelompok dan berapa lama. d. Struktur LKS Struktur LS secara umum adalah sebagai berikut: • Judul • Petunjuk Belajar (guru dan/atau siswa) • Kompetensi yang akan dicapai • Informasi pendukung • Tugas-tugas dan langkah kerja • Penilaian (e) Penyusunan Brosur Brosur adalah bahan informasi tertulis mengenai suatu masalah yang disusun secara bersistem atau cetakan yang terdiri dari beberapa halaman yang dilipat tanpa dijilid atau selebaran cetakan yang berisi keterangan singkat tetapi lengkap.
38

Dalam menyusun brosus sebagai bahan ajar, maka brosur paling tidak memuat antara lain: a. Judul yang diturunkan dari KD atau materi pokok sesuai dengan besar kecilnya materi. b. KD/materi pokok yang akan dicapai, diturunkan dari Standar Isi dan SKL c. Informasi pendukung dijelaskan secara jelas, padat, menarik, memperhatikan penyajian kalimat yang disesuaikan dengan usia dan pengalaman siswa. d. Tugas-tugas dapat berupa tugas membaca buku tertentu yang terkait dengan materi ajar dan membuat resumenya. Tugas dapat diberikan secara individu atau kelompok dan ditulis dalam kertas lain. e. Penilaian dapat dilakukan terhadap hasil karya dari tugas yang diberikan f. Gunakan berbagai sumber belajar yang dapat memperkaya materi misalnya, buku, majalah, internet, jurnal hasil penelitian. (f) Penyusunan Leaflet Leaflet adalah bahan cetak tertulis berupa yang dilipat tapi tidak dimatikan/dijahit. Agar terlihat menarik leaflet biasanya didesian secara cermat dilengkapi dengan ilustrasi dan menggunakan bahasa yang sederhana, singkat serta mudah dipahami. Leaflet sebagai bahan ajar harus memuat materi yang dapat menggiring siswa menguasai satu atau lebih KD. Dalam membuat leaflet secara umum sama dengan membuat brosur, bedanya hanya pada penampilan fisiknya saja, sehingga isi leaflet dapat dilihat pada penyusunan brosur. Leaflet biasanya ditampilkan dalam bentuk dua kolom kemudian dilipat. (g) Penyusunan Wallchart Wallchart adalah bahan cetak, biasanya berupa bagan siklus atau proses atau grafik yang bermakna menentukan posisi tertentu. Misalnya tentang siklus makhluk hidup binatang kupu-kupu, belalang, atau siklus mineral, siklus nitrogen, siklus hujan dan sebagainya. Wallchart bisa juga berupa proses dari kegiatan laboratorium. Dalam mempersipakannya wallchart paling tidak berisi tentang: a. Judul diturunkan dari KD atau materi pokok sesuai dengan besar kecilnya materi. b. Petunjuk penggunaan wallchart, dimaksudkan agar wallchart tidak terlalu banyak tulisan. c. Informasi pendukung dijelaskan secara jelas, padat, menarik dalam bentuk gambar, bagan atau siklus.
39

d. Tugas-tugas ditulis dalam lembar kertas kain, misalnya berupa tugas membaca buku tertentu yang terkait dengan materi belajar dan membuat resumenya. Tugas lain misalnya menugaskan siswa untuk menggambar atau membuat bagan ulang. Tugas dapat diberikan secara individu atau kelompok. e. Penilaian dapat dilakukan terhadap hasil karya dari tugas yang diberikan. f. Gunakan berbagai sumber belajar yang dapat memperkaya materi, misalnya : buku, majalah, internet, jurnal hasil penelitian. (h) Penyusunan Foto/Gambar Foto/gambar terkadang memiliki makna yang lebih baik dibandingkan dengan tulisan. Foto/gambar sebagai bahan ajar tentu saja memerlukan satu rancangan yang baik agar setelah selesai melihat/mengamati/menelaah sebuah atau serangkaian foto/gambar siswa dapat melakukan “sesuatu” yang pada akhirnya menguasai satu atau lebih KD. Dalam menyiapkan sebuah foto/gambar dalam bahan ajar dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut: a. Judul diturunkan dari KD atau materi pokok sesuai dengan besar kecilnya materi. Jika foto, maka judulnya dapat ditulis dibaliknya b. Buat desain tentang foto/gambar yang diinginkan dengan membuat storyboard. Storyboard foto tidak akan sebanyak untuk video /film c. Informasi pendukung diambilkan dari storyboard secara jelas, padat, menarik ditulis dibalik foto. Gunakan sumber lain yang dapat memperkaya materi misalnya foto, internet, buku. Agar foto enak dilihat dan memuat cukup informasi, maka sebaiknya foto/gambar berukuran paling tidak 20R. d. Pengambilan gambar dilakukan atas dasar storyboard. Agar hasilnya baik dikerjakan oleh orang yang menguasai penggunaan foto, atau kalau gambar digambar oleh orang yang terampil menggambar. e. Editing terhadap foto/gambar dilakukan oleh orang yang menguasai substansi/ isi materi video/film. f. Agar hasilnya memuaskan sebaiknya seelum digandakan dilakukan penilaian terhadap progam secara keseluruhan baik secara substansi, edukasi maupun sinematografi.

40

g. Foto/gambar biasanya tidak interaktif, namun tugas-tugasnya dapat diberikan pada akhir penampilan gambar, misalnya penampilan gambar sebuah sel hewan dan tumbuhan, siswa diminta menyebutkan struktur yang ada dan perbedaan antara keduanya. Tugas-tugas dapat juga ditulis pada kertas lain dan diberikan secara individu atau kelompok. h. Penilaian yang dilakukan terhadap penampilan siswa dalam menceritakan kembali foto atau gambar yang telah dicermati dan dianalisis atau dilihatnya.

(i) Penyusunan Model/Maket Model/maket yang didesaian secara baik akan memberikan makna yangb hampir sama dengan benda aslinya. Dengan melihat benda aslinya maka siswa akan mudah dalam mempelajarinya, misalnya dalam mengamati bagian-bagian tubuh manusia dengan melalui model. Biasanya model semacam ini dibuat dengan skala 1 : 1. Artinya benda yang dilihat memiliki besar yang sama dengan aslinya. Model dapat juga dibuat dengan perbandingan yang lebih lagi. Bahan ajar semacam model tidak bisa berdiri sendiri, dia harus didampingi dengan bahan tertulis agar memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran dan siswa dalam belajar. Dalam memanfaatkan model atau maket sebagai bahan ajar harus menggunakan KD dalam kurikulum sebagai acuan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan atau pemanfaatan model/maket adalah sebagai berikut: a. Judul diturunkan dari kompetensi dasar atau materi pokok sesuai dengan besar kecilnya materi. b. Merancang sebuah model yang akandibuat baik substansinya maupun bahan yang akan digunakan sebagai model. c. Informasi pendukung dijelaskan secara jelas, padat, menarik pada selembar kertas. Karena tidak mungkin sebuah model memuat informasi tertulis kecuali keteranganketerangan singkat saja. Gunakan berbagai sumber untuk memperkaya informasi. Misalnya buku, jurnal ilmiah, jurnal hasil penelitian dan sebagainya. d. Tugas dapat diberikan pada akhir penjelasan model, dengan memberikan pertanyaanpertanyaan oral atau ditulis pada selember kertas, misalnya berupa tugas menjelaskan

41

secara tertulis tentang fungsi jantung bagi kehidupan manusia. Tugas dapat diberikan secara individu atau kelompok. e. Penilaian dapat dilakukan terhadap jawaban secara lisan atau tertulis dari pertanyaan yang diberikan.

Tugas/latihan. Dengan memperhatikan penyusunan bahan ajar di atas, buatlah satu LKS untuk satu KD (lengkapi dengan petunjuk untuk guru, untuk siswa, langkah kerja, tujuan, indikator, dan instrumen evaluasi, referensi penunjang, dan lainnya) BAB V Evaluasi dan Revisi Setelah selesai menulis bahan ajar, selanjutnya yang perlu dilakukan adalah evaluasi terhadap bahan ajar tersebut. Evaluasi ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah bahan ajar telah digunakan dengan baik atau ada hal-hal yang masih perlu diperbaiki atau disempurnakan. Evaluasi juga dapat menilai apakah bahan ajar ini dapat bisa atau dapat digunakan untuk menuntun, memfasilitasi atau membantu siswa untuk mencapai komnpetensi dasar. Instrumen penilaian yang digunakan untuk menilai bahan ajar harus dapat menjaring berbagai hal atau aspek yang berkaitan dengan “kesempurnaan” bahan ajar. Dengan demikian maka usaha “perbaikan” yang menjadi target dapat terpenuhi. Perkembangan ilmu pengetahuan alam (fisika dan biologi) yang saat ini begitu cepat berkat penemuan-penemuan peralatan untuk riset, penyebaran pengetahuan yang sangat cepat, berdampak pada penyusunan bahan ajar yang terus-menerus harus di-up to date sesuai dengan pengetahuan yang baru, maka kondisi ini “memaksa” penyusun bahan ajar (baca: guru) untuk selalu mengevaluasi materi ajar yang ada dalam bahan ajar yang disusun, memutakhirkan pengetahuannya untuk memperlancar pembelajaran. Oleh karena itu bahan ajar yang disusun harus selalu disesuaikan dengan kondisi “terkini”. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk melaksanakan evaluasi ini, yaitu evaluasi dengan teman sejawat guru (satu bidang studi) atau yang terkait dengan bahan ajar ini untuk meminta masukkan misalnya, kritik, dan saran (yang konstruktif). Selain itu evaluasi dapat juga dilakukan dengan uji coba kepada siswa secara terbatas. Uji coba ini misal dilakukan untuk melihat kemanfaatan bahan ajar untuk mencapai kompetensi dasar yang harus
42

dikuasainya, untuk melihat kemudahan siswa dalam memahami materi yang ada dalam bahan ajar ini, untuk menemukan kesulitan materi yang terdapat dalam bahan ajar, dan sebagainya, sesuai dengan “kebutuhan”. Pemilihan responden untuk keperluan tahap evaluasi ini bisa ditentukan secara bertahap mulai dari individu, group atau kelas. Banyak aspek/komponen yang bisa disusun/dipakai untuk mengevaluasi bahan ajar ini, berikut ini disajikan komponen evaluasi yang dipoergunakan untuk mengevaluasi bahan ajar. Komponen evaluasi mencakup kelayakan isi, kebahasaan, sajian dan kegrafikan. Aspek ini dijabarkan sebagai berikut.

Komponen kelayakan isi mencangkup, antara lain: 1. Kesesuian dengan SK, KD 2. Kesesuian dengan perkembangan anak 3. Kesesuian dengan kebutuhan bahan ajar 4. Kebenaran substansi materi pembelajaran 5. Manfaat untuk penambahan wawasan 6. Kesesuian dengan nilai moral, dan nilai-nilai sosial Komponen kebahasaan antara lain mencangkup: 1. Keterbacaan 2. Kejelasan informasi 3. Kesesuaian dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar 4. Pemanfaatan bahasan secara efektif dan efisien (jelas dan singkat) Komponen penyajian antara lain mencakup: 1. Kejelasan tujuan (indikator) yang ingin dicapai 2. Urutan sajian 3. Pemberian motivasi, daya tarik 4. Interaksi (pemberian stimulus dan respon) 5. Kelengkapan informasi Komponen kegrafikan antara lain mencakup: 1. Penggunaan font, jenis dan ukuran huruf 2. Lay out atau tata letak 3. Ilustrasi, gambar, dan foto
43

4. Disain tampilan Komponen penilain diatas dapat dikembangkan kedalam instrumen format evaluasi, dengan contoh sebagai berikut.

Contoh: Judul bahan ajar Mata pelajaran Penulis Evaluator Tanggal Petunjuk pengisian.

Format Instrumen Evaluasi Formatif Bahan Ajar : …………………………… : …………………………… : …………………………… : …………………………… : ……………………………

Berilah tanda Chek (V) pada kolom yang paling sesuai dengan penilaian Anda. 1. 2. 3. 4. 5. = sangat tidak sesuai = kurang sesuai = cukup = baik = sangat baik Komponen KELAYAKAN ISI 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kesesuaian dengan SK, KD Kesesuaian dengan kebutuhan siswa Kesesuaian dengan kebutuhan bahan ajar Kebenaran substansi materi Manfaat untuk penambahan wawasan pengetahuan Kesesuaian dengan moralitas sosial KEBAHASAAN 7. Keterbacaan 1 2 3 4 5

No.

44

8. 9.

Kejelasan informasi Kesesuaian dengan kaidah bahasa Indonesia

10. Penggunaan bahasa secara efektif dan efesien SAJIAN 11. Kejelasan tujuan 12. Urutan penyajian 13. Pemberian motivasi 14. Interaktivitas (stimulus dan respon) 15. Kelengkapan informasi KEGRAFISAN 16. Penggunaan font (jenis dan ukuran) 17. Lay out, tata letak 18. Ilustrasi, grafis, gambar, dan foto 19. Disain tampilan Skor Komentar/saran evaluator: ……………………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………………………….. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, selanjutnya dilakukan revisi atau perbaikan terhadap bahan ajar yang dikembangkan. Setelah itu bahan ajar siap untuk dimanfaatkan dalam proses pembelajaran.

Tugas: A. Carilah sebuah buku pelajaran biologi 1. Sebutkan identitasnya (judul, pengarang, penerbit, jenjang sekolah, dan sebagainya)
45

2. Evaluasi dengan menggunakan format evaluasi di atas. 3. Buat laporan (berisi a.l kesimpulan, saran perbaikan, komentar/tanggapan Anda, dan sebagainya) B. Buat sebuah buku ajar (untuk satu KD) dan mintalah teman sejawat Anda untuk memvalidasi, lakukan juga evaluasi/uji coba dikelas, lakukan revisi (sertakan bukti substansi yang revisi, dsb)

Daftar Pustaka

Abdul Majid. 2008. Perencanaan Pembelajaran, Mengembangkan Standar Kompetensi Guru. Penerbit PT. Rosdakarya, Bandung. Buchari Alma. H. 2008. Guru Profesional (Menguasai Metode dan Terampil Mengajar). Penerbit CV. Alfabeta. Bandung. BSNP. 2006. Standar Isi. Badan Standar Nasional Pendidikan. Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Departemen Pendidikan Nasional, Dirjen Dikdasmen, Dir. Pembinaan SMA. 2008. Perangkat Pembelajaran Kurikulum KTSP SMA. M. Noviar Darkuni. 2008. Kata Kerja/Operasional. Pra-Acuan Untuk Menyusun Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (Biologi). Suplemen untuk Guru di Sekolah Unggulan YSN-KPS Balikpapan, Riau, Lumajang dan Pasuruan. Udin Saefudin Sa’ud. 2008. Inovasi Pendidikan. Penerbit Alfabeta. Bandung.

46

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful