Naskah Publikasi PEMANFAATAN KOMPLEKS GUA PRASEJARAH BELLAE Oleh : Supriadi No. Mahasiswa : 21733/IV-4/1625/04 A.

Pendahuluan Kompleks Gua Prasejarah Bellae terletak di Kampung Bellae, Kelurahan Biraeng, Kecamatan Minasa Te’ne, Kabupaten Pangkep dengan posisi astronomis 04049’20” – 04050’10” LS dan 1190 45” - 1190 36’50” BT. Kompleks gua prasejarah Bellae terdiri atas 21 gua dengan posisi berjejer di sepanjang bukit kars yang berada tidak jauh dari permukiman penduduk Kampung Bellae. Bukit kars yang melintasi Bellae dan merupakan tempat beradanya gua-gua prasejarah yakni Bulu1 Matojeng dan Bulu Matanre. Bulu Matojeng dan Bulu Matanre termasuk gugusan kars yang membentang antara Maros-Pangkep yang sering disebut sebagai kawasan kars Maros-Pangkep. Sebagai sumber data prasejarah di Sulawesi Selatan, Kompleks Gua Prasejarah Bellae mempunyai tinggalan arkeologis yang lengkap. Berbagai tinggalan arkeologis baik berupa artefak batu, sisa makanan maupun lukisan dinding (rock art) masih banyak dijumpai. Temuan artefak batu terutama adalah alat serpih dan bilah yang sebarannya hampir merata di semua gua, selain itu juga ditemukan lancipan maros (maros point) dan mikrolit geometris yang hanya

1

Bulu merupakan bahasa Bugis yang berarti gunung. Dalam bahasa Bugis istilah bulu mencakup istilah gunung dan bukit. Dalam tulisan ini, penggunaan kata bulu untuk menyebut Bulu Matojeng dan Bulu Matenre lebih mengarah pada istilah bukit.

2

ditemukan di beberapa situs tertentu. Lukisan dinding yang terdapat di Bellae berupa lukisan figuratif dan non figuratif. Keberadaan Kompleks Gua Prasejarah Bellae yang kini dekat dengan pemukiman dan areal persawahan, mengakibatkan gua-gua ini tidak terlepas dari ancaman kerusakan yang diakibatkan oleh aktivitas manusia. Beberapa aktivitas pertanian baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mengancam kelestarian kompleks gua prasejarah Bellae. Tidak jarang beberapa gua dimanfaatkan oleh penduduk sebagai tempat menyimpan jerami padi dan alat-alat pertanian. Bahkan kadangkala masyarakat menggali tanah pada bagian depan gua sehingga bagian depan gua semakin cekung dan dapat menghilangkan tinggalan arkeologis yang terdapat pada gua tersebut. Coretan-coretan baru pada dinding ditemukan bercampur dengan lukisan dinding yang terdapat pada gua. Selain kelestarian Kompleks Gua Prasejarah yang semakin terancam oleh aktivitas masyarakat setempat, pemanfaatan Kompleks Gua Prasejarah Bellae oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pangkep ternyata membawa permasalahan tersendiri. Tidak terjalinnya koordinasi antara Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pangkep dengan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Makassar telah memicu konflik menyangkut perlakuan dan kewenangan terhadap Kompleks Gua Prasejarah Bellae. Beragamnya kepentingan dari berbagai pihak dalam pemanfaatan sumberdaya budaya merupakan permasalahan tersendiri yang dapat berujung pada benturan kepentingan. Benturan kepentingan dalam pemanfaatan sumberdaya budaya umumnya disebabkan oleh ketidaksamaan persepsi dan pemberian makna terhadap benda warisan budaya (Anom, 1996). Pemanfaatan sumberdaya budaya sering memberi dua dampak yaitu dampak positif dan negatif. Dampak positif adalah munculnya keinginan masyarakat untuk memberi perhatian kepada sumberdaya budaya sehingga muncul kesadaran untuk melestarikan dan memanfaatkannya. Dampak negatif akan muncul seiring dengan pemanfaatan sumberdaya yang sangat eksploitatif (Prasodjo, 2004: 4).

Cultural Resource Mangement itu pada dasarnya adalah tatacara mengelola situs atau kawasan sumberdaya arkeologi dengan mengakomodasi beberapa kepentingan yang seringkali bertentangan. Secara garis besar. Pendapat lain menyatakan. Kedua ada kesadaran bahwa tidak semua sumberdaya arkeologis dapat diselamatkan dari ancaman . 1998: 16). baik yang disebabkan oleh aktivitas manusia maupun dari faktor alam. Cultural Resource Management menekankan pada lima aspek. terbatas. dalam pemanfaatan sumberdaya budaya perlu ada asas keseimbangan sehingga tidak terjadi konflik antara pihak-pihak yang berkepentingan dengan sumberdaya tersebut (Haryono. Di samping itu.3 Agar pemanfaatan sumberdaya budaya tidak hanya bertujuan untuk eksploitasi dan ekonomis saja. Landasan Konseptual CRM atau pengelolaan sumberdaya budaya adalah proses mengelola sumberdaya budaya pada lansekap dari segala sesuatu yang terjadi pada sumberdaya budaya (Pearson & Sullivan. maka diperlukan pemahaman terhadap aspek yuridis. B. Permasalahan Berdasarkan kenyataan yang dijelaskan di atas. Cultural Resource Management harus dilihat sebagai manajemen konflik (Tanudirjo. Pertama adalah sifat dari sumberdaya arkeologi yang tidak dapat diperbaharui. Penyelamatan yang dimaksud adalah penyelamatan dari ancaman kerusakan. perlu ada ada kesamaan pemahaman antara stakeholder terkait dengan bentuk pemanfaatan yang berwawasan pelestarian. Dengan demikian. Permasalahan yang muncul adalah bagaimana model pemanfaatan yang tepat terhadap Kompleks Gua Prasejarah Bellae yang dapat mengakomodasikan keinginan dan kepentingan pihak-pihak yang terkait? C. tidak bisa diganti dan kontekstual. 2005: 5). aspek arkeologis serta aspek manajerial (Haryono. maka diperlukan usaha untuk tetap mempertahankan dan menyelamatkan Kompleks Gua Prasejarah Bellae yang memiliki beberapa keunikan ini. 1995: 4). Oleh karena itu. 2003:2).

Sullivan. Pengelolaan terhadap sumberdaya arkeologi dilakukan bukan untuk kepentingan sesaat. 1989: 43). Sekali sumberdaya arkeologi tersebut hilang maka tidak mungkin akan dimunculkan kembali. Kepentingan di luar arkeologi yaitu masyarakat luas (publik). peluang dan hambatan yang sesuai dengan prinsip-prinsip konservasi. masyarakat. Tata Cara Penelitian Sehubungan dengan studi pemanfaatan sumberdaya budaya. 2003). pariwisata.4 kerusakan ataupun musnah baik karena proses alam maupun faktor yang disebabkan oleh manusia. Dalam penelitian ini jenis data yang dikumpulkan berupa data hasil wawancara dan pengamatan. Cultural Resource Management. 3) Perencanaan dan pembuatan keputusan berdasarkan nilai penting. D. tetapi lebih pada bagaimana agar pengelolaan tersebut dapat berjalan secara terus menerus. 1995: 8-9). antara lain : ekonomi. generasi mendatang (Tanudirjo. pemerintah dan masyarakat harus ada keterkaitan dari aspek hukum dan politik. sumber data tertulis dan foto. 2) penilaian nilai penting terhadap kawasan. identifikasi dan dokumentasi sumberdaya baik sumberdaya budaya maupun kawasannya. 4) implementasi dari perencanaan dan kebijakan. Hal ini sebagaimana yang diutarakan oleh Lipe (1970) bahwa usaha penyelamatan tidak fokus pada satu masalah dan mengabaikan masalah yang lainnya (Lipe 1970 dalam Schaafsma. Antara akademisi. Aspek keempat yang menjadi penekanan Cultural Resource Management adalah pembangunan atau pengembangan yang berkelanjutan. dan 5) evaluasi (Pearson and . Kelima adalah aspek hukum dan politis. Begitupun dengan konteksnya. dalam penerapannya mencakup lima langkah utama yakni : 1) Lokasi. jika benda arkeologis kehilangan konteks maka tidak dapat memberikan informasi apa-apa. Ketiga adanya berbagai kepentingan diluar dari kepentingan arkeologi itu sendiri. pengumpulan data mencakup semua semua data tentang objek yang akan dikelola.

Tanudirjo. dimodifikasi atau dibiarkan begitu saja (Pearson & Sullivan. Wawancara yang dilakukan adalah wawancara bebas terstruktur terhadap beberapa stakeholder untuk mendengar jawaban mereka tentang nilai penting. nilai penting ilmu pengetahuan. Penentuan nilai penting suatu sumberdaya arkeologi merupakan tahap penting karena pada dasarnya tujuan CRM adalah melestarikan nilai penting sumberdaya budaya. 2002: 5. 1995: 8). Pengamatan dilakukan dengan cara menggabungkan kegiatan melihat.5 Pengumpulan data antara lain dilakukan dengan cara wawancara serta pengamatan. 5 tahun 1992. persepsi.2004a: 2). di Indonesia pedoman baku tentang penilaian nilai penting sumberdaya budaya belum ada (Tanudirjo. 2004a: 1) dan akan menghasilkan rekomendasi apakah suatu sumberdaya budaya akan dikonservasi. Konsep Nilai Penting Proses pelaksanaan Cultural Resource Management ada beberapa tahap dan salah satunya adalah penentuan nilai penting. E. pengetahuan. Walau demikian. serta keinginan dan jenis pengelolaan terhadap keberadaan Kompleks Gua Prasejarah Bellae. Penilaian terhadap peluang dan hambatan pengelolaan diukur dari persepsi stakeholder dan perangkat perundangan. kriteria yang digunakan adalah nilai penting sejarah. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis untuk mengetahui nilai penting sumberdaya budaya di Kompleks Gua Prasejarah Bellae dan menilai hambatan dan peluang dalam pengelolaannya. mendengar dan bertanya. dan nilai penting kebudayaan. Tanudirjo (2004b) mengusulkan pedoman penentuan nilai penting yang terdapat dalam UU No. Penentuan Nilai Penting Sumberdaya Budaya di Kompleks Gua Prasejarah Bellae 1. Dalam pengukuran nilai penting. . dihancurkan. Nilai penting yang kuat dan dominan akan menjadi dasar dalam pengambilan keputusan terhadap sumberdaya budaya (Mason. Oleh karena itu.

semakin kuno semakin tinggi nilainya (hukum entropi) d. kelangkaan. atau menjadi bukti perkembangan penting dalam bidang tertentu. 2004b: 6-8). nasional (negara). Nilai etnik dapat memberikan pemahaman latar belakang kehidupan sosial. untuk memahami nilai penting sumberdaya budaya maka perlu diadakan pembobotan.6 a. Nilai Penting Kebudayaan. Tataran. nilai penting sumberdaya dirasakan dan diakui oleh komunitas atau masyarakat pada tingkat lokal (Kabupaten/Kota). apabila sumberdaya budaya tersebut dapat menjadi bukti yang berbobot dari peristiwa yang terjadi pada masa prasejarah dan sejarah. atau internasional (dunia). apakah sumberdaya budaya yang dinilai sangat khas di antara sumberdaya sejenis c. . Umur/pertanggalan. ada beberapa kriteria yang dapat digunakan sebagai berikut. Nilai Penting Ilmu Pengetahuan. berkaitan erat dengan tokoh-tokoh sejarah. Hal ini bertujuan untuk membandingkan nilai penting suatu sumberdaya budaya dibanding sumberdaya budaya yang lain. atau menjadi jati diri (cultural identity) bangsa atau komunitas tertentu. Lebih lanjut Tanudirjo (2004b) menambahkan. regional (provinsi). Keunikan. Nilai Penting Sejarah. apabila sumberdaya budaya itu mempunyai potensi untuk diteliti lebih lanjut dalam rangka menjawab masalah-masalah dalam bidang keilmuan tertentu. mendorong proses penciptaan budaya. Untuk melakukan pembobotan. c. a. dan mitologi yang semuanya merupakan jati diri suatu bangsa atau komunitas tertentu. apakah jumlah sumberdaya budaya yang termasuk jenis ini jarang atau mudah ditemukan (jumlahnya banyak) b. b. sistem kepercayaan. merupakan bagian dari jati diri suatu bangsa atau komunitas tertentu (Tanudirjo. apabila sumberdaya budaya tersebut dapat mewakili hasil pencapaian budaya tertentu.

temuan mikrolit yang berasosiasi dengan lukisan dinding. maupun kompleks (tersebar tetapi merupakan kesatuan). 1972: 106. Di Kompleks Gua Prasejarah Bellae. f. 1988 Dalam Sumantri. . 2004b: 8). 2001: 1). pengurangan. 2004: 156). Leang Cammingkana dan Leang Bubbuka (Said. Integritas (termasuk keutuhan). Nilai Penting Sejarah Istilah Toalean menurut Bulbeck (2001) hanya digunakan pada kumpulan mikrolit yang terdapat di Sulawesi Selatan yang berlangsung antara 8000 BP – 1500 BP (Bulbeck 2001: 1). 1975: 147. nilai sumberdaya budaya semakin tinggi jika bahan belum mengalami penggantian. Secara garis besar. Soejono. Secara ringkas. nilai sumberdaya akan semakin tinggi apabila masih menunjukkan kesatuan yang utuh dengan konteksnya. kesesuaian antara ciri artefaktual lapisan budaya Toalean dengan tinggalan artefak batu di Kompleks Gua Prasejarah Bellae sebagaimana yang terlihat pada tabel dibawah ini. dan tipologi artefaktualnya. Temuan mikrolit yang berasosiasi dengan lukisan dinding dapat dijumpai pada Leang Kajuara. atau percampuran (Tanudirjo.7 e. 2. seperti Leang Kassi. Keaslian. Nilai Penting Sumberdaya Budaya di Kompleks Gua Prasejarah Bellae 1. Bulbeck. Periode ini ditandai dengan mulainya manusia bertempat tinggal di gua-gua yang tidak jauh dari sumber air dan lahan yang dicirikan dengan produksi/kumpulan alat mikrolit yang berasosiasi dengan lukisan dinding (Heekeren. beberapa gua di Kompleks Gua Prasejarah Bellae mengindikasikan pernah dijadikan sebagai hunian manusia pendukung budaya Toalean. baik itu sebagai benda tunggal. berbagai temuan arkeologi menunjukkan tipologi yang sama dengan artefak batu Toalean. berkelompok (compound). Dari tinggalan artefaktualnya. ciri kebudayaan Toalean dapat dibedakan atas tiga ciri utama yakni penghunian gua.

dapat ditegaskan bahwa . lancipan maros (maros point). temuan artefak seperti serpih. dan mikrolit menunjukkan tipologi yang sama dengan typology artefak lapisan budaya Toalean.8 No. Jenis Artefak Batu di Kompleks Gua Prasejarah Bellae Berdasarkan pada tabel di atas. Dengan demikian. serpih. Oleh karena itu. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Nama Leang Lessang Bubbuka Caddia Buto Tinggia Lompoa Kassi Kajuara Patennung Jempang Tanarajae Sakapao Bawie Buluribba Cammingkana Bungung Carawalie Ujung Sassang Batanglamara Sapiria Bilah √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Serpih √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Jenis Artefak Batu Mata Maros Panah √ √ √ Point √ √ - Mikrolit Geometris √ √ - Tabel 1. maka dapat dikatakan bahwa Kompleks Gua Prasejarah Bellae merupakan bukti dan representasi tentang keberadaan lapisan budaya Toalean di Sulawesi Selatan.

Arkeologi. 1994 dan 1995). sumberdaya Hal ini budaya mempunyai sumberdaya nilai penting ilmu disebabkan budaya merupakan representasi dari budaya dan lingkungan. penelitian yang pernah dilakukan bertujuan untuk mengungkap cara-cara hidup manusia masa lampau ketika manusia bertempat tinggal di gua. Oleh karena itu. berbagai disiplin ilmu yang berpotensi memanfaatkan Kompleks Gua Prasejarah Bellae untuk kepentingan ilmu pengatahuan yaitu. tercatat tidak kurang 16 penelitian yang dilakukan oleh peneliti orang Indonesia maupun yang dari luar. Sejak tahun 1987 hingga tahun 2000. Kompleks Gua Prasejarah Bellae . Ilmu Kebumian dan Biologi. Nilai Penting Ilmu Pengetahuan Banyak pengetahuan. 1993. Melihat tingginya minat peneliti arkeologi terutama yang berkecimpung dalam arkeologi prasejarah terhadap komples gua prasejarah bellae. Nilai penting arkeologi dapat dilihat dengan banyaknya penelitian yang pernah dilakukan di Kompleks Gua Prasejarah Bellae. 2003: 90). maka jelas bahwa wilayah ini mempunyai peranan tersendiri dalam mentubangkan data prasejarah. Secara umum. Pearson and Sullivan.9 situs Bellae merupakan situs-situs masa prasejarah yang penting bagi penyusunan sejarah kebudayaan Indonesia pada umumnya. 1995 dalam Timothy dan Boyd. Antropologi. Berdasarkan hasil identifikasi. secara individu maupun kelembagaan (lihat Bab I). 2. 1993. Bahkan satu orang/tim peneliti tidak jarang melakukan penelitian lebih dari satu kali seperti yang pernah dilakukan oleh Said (1988 dan 2000) dan Puslit Arkenas (1991. sumberadaya budaya mempunyai potensi tinggi untuk kegiatan penelitian. Nilai penting ilmu pengetahuan adalah manfaat atau kegunaan kompleks gua prasejarah sebagai media atau wahana pembelajaran terhadap berbagai disiplin ilmu terkait (Hall and McArthur.

Hal ini diperkuat dengan tinggalan lain berupa kerang-kerang habitat air tawar maupun air payau. ekofak.10 menyediakan data yang tergolong cukup lengkap untuk penelitian arkeologis seperti artefak. Dari sisi ilmu geologi. Dari sisi ilmu geografi. hal yang menarik menjadi objek penelitian yakni cap tangan. Dalam disiplin ilmu antropologi. Kars juga mempunyai kandungan mineral utama untuk pertambangan batu . Kompleks Gua Prasejarah Bellae merupakan laboratorium dalam mengkaji kehidupan manusia prasejarah yang memanfaatkan gua sebagai tempat tinggal ataupun kegiatan ritual. Lukisan perahu yang berada pada dinding gua mengisyaratkan bahwa lingkungan di sekitarnya merupakan daerah perairan baik yang berupa rawa maupun laut dangkal. peluang penelitian arkeologi masih memungkinkan terus berlanjut di masa mendatang. dan lukisan dinding. berkaitan erat dengan letak Kompleks Gua Prasejarah Bellae di kawasan kars Maros-Pangkep. Sebelum diperlebar dan diperluas oleh proses pelarutan atau karstifikasi. Kawasan kars MarosPangkep dicirikan dengan bukit-bukit berlereng terjal yang sebagian besar genesanya dipengaruhi oleh struktur geologi. Kenyataan ini menjadi menarik apabila dikaji dari sisi antropologi. lukisan dinding juga merupakan salah satu instrumen untuk mengungkap lingkungan purba dimana lukisan tersebut berada. Walaupun Kompleks Gua Prasejarah Bellae ada keterputusan hubungan dengan budaya masyarakat sekarang di Sulawesi selatan. Oleh karena itu. namun penggunaan simbol cap tangan yang dianggap sebagai penolak bala masih dapat ditemukan di Kabupaten Barru dan Kabupaten Soppeng. keberadaan cap tangan di dinding-dinding berpeluang menjadi objek penelitian. Dalam ilmu-ilmu kebumian disiplin ilmu yang terkait adalah geografi dan geologi. struktur ini membentuk bangunan menara yang sangat khas (kars tower) (Samodra. 2003: 28-116).

Ini mengindikasikan bahwa Kompleks Gua Prasejarah Bellae mempunyai potensi penelitian biologi di masa yang akan datang. maka ilmu biologi memegang peranan penting. Nilai estetik juga terlihat pada lingkungan alam . Cangkang kerang yang sering dinterpretasikan sebagai sisa makanan. untuk mengetahui kandungan gizinya. Nilai penting kebudayaan di Kompleks Gua Prasejarah mencakup nilai estetik dan nilai publik.11 kapur yang merupakan hasil pengangkatan dari jaman Miosen. 1963: 127). Bagaimana peran seni terhadap kehidupan. Nilai Penting Kebudayaan. 3. Dalam survei bersama yang dilakukan oleh mahasiswa Jurusan Biologi dan mahasiswa Jurusan Arkeologi Universitas Hasanuddin pada tahun 2006. 1987: 1-14). Lukisan dinding yang merupakan refleksi dari kehidupan masyarakat yang membuatnya bisa jadi menjadi data primer untuk kepentingan bagi mereka yang menggeluti seni. Merujuk pada sumberdaya arkeologi Kompleks Gua Prasejarah Bellae. Dalam disiplin ilmu Biologi. Berbagai jenis flora dan fauna endemik yang terdapat di Bellae (lihat Bab II) merupakan objek penelitian biologi yang potensial. termasuk juga kontribusinya dalam penyusunan sejarah geologi Sulawesi (Whitten. maka Kompleks gua prasejarah Bellae berdasarkan tinggalan artefaktualnya bisa dikategorikan sebagai hasil pencapaian budaya masyarakat prasejarah di Sulawesi Selatan. keberadaan berbagai flora dan fauna yang terdapat di Kompleks Gua Prasejarah Bellae merupakan objek penelitian. Nilai estetik terlihat pada temuan lukisan dinding yang dibuat sekitar 5. di Kompleks Gua Prasejarah Bellae ditemukan flora (sejenis pakis) dan fauna (sejenis lipan) spesies baru.000 tahun yang lalu. bagaimana seni berperan terhadap masyarakatnya dan bagaimana seni itu berperan terhadap dirinya sendiri baik ketika lukisan itu dibuat maupun ketika secara fisik masih hadir di jaman sekarang (Ackerman. Mustafa dan Haederson.

Kompleks Gua Prasejarah Belae memiliki kekayaan dan kekhasan temuan arkeologi. Dari segi kepariwisataan.. 2006: 10). Sebagai media pembelajaran. Sampai saat ini. alat batu dan sisa-sisa makanan serta hubungan antar gua dalam satu kawasan tertentu dapat dijadikan sebagai sarana pembelajaran bagi generasi mendatang untuk melihat satu periode tertentu dalam prasejarah di Sulawesi Selatan. Keserasian antara dengan bukit karst denganm hamparan hijau di persawahan merupakan lanskap budaya yang mempunyai nilai estetika tinggi. Salah satu objek purbakala yang menjadi sasaran dari program kerja tersebut adalah Leang Caddia yang berada di Kompleks Gua Prasejarah Bellae. Program kerja tersebut adalah pembuatan jalan dan tangga berupa beton menuju mulut gua serta pembuatan dua gardu . Tata cara pembelajaran bukan hanya sebatas membaca laporan penelitian. Temuan arkeologi yang berupa lukisan dinding. penelitian prasejarah di Bellae hanya dilakukan oleh mereka yang berkecimpung dalam disiplin ilmu arkeologi saja. Salah satu program kerja Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pangkep adalah pengadaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana objek wisata purbakala dengan sasaran terwujudnya pembangunan objek dan daya tarik wisata (Laporan Program Kerja Dinas Pariwisata Kabupaten pangkep. Pemandangan bukit/tower kars yang rimbun dan asri serta hamparan padi yang menghijau pada saat musim tanam merupakan salah satu aspek nilai penting estetika. Pada tahun 2006 pemerintah Kabupaten Pangkep mulai memanfaatkan Kompleks Gua Prasejarah Bellae sebagai objek wisata. Nilai publik yang terdapat di Kompleks Gua Prasejarah Bellae mencakup sarana pembelajaran dan kepariwisataan.12 Kompleks Gua Prasejarah Bellae. Kompleks Gua Prasejarah Bellae mempunyai potensi untuk dimanfaatkan. tetapi masyarakat dapat mengetahui proses pengungkapan masa lampau melalui penelitian.

Bagi sebagian masyarakat yang bermukim di sekitar gua-gua prasejarah. Ada satu kebanggaan tersendiri dengan profesi sebagai penjaga situs terlebih yang sering menerima dan mengantar pengunjung dari luar (baik secara individu maupun kelembagaan). kehadiraan gua-gua prasejarah membawa dampak baik secara ekonomi maupun sosial. Di samping potensi untuk dikembangkan sebagai objek wisata. kars di Kompleks Gua Prasejarah Bellae mengandung nilai ekonomi untuk pertambangan. Berdasarkan hasil wawancara dengan Dinas Pertambangan . Data kunjungan hanya bisa ditemukan dalam bentuk catatan buku tamu dari penjaga situs. Pekerjaan sebagai penjaga situs baik yang masih berstasus sebagai tenaga honorer terlebih yang berstatus pegawai negeri sipil menurut pengamatan penulis membawa dampak tidak hanya hanya dari segi ekonomi tetapi juga segi sosial. Walau Kompleks Gua Prasejarah Bellae telah dimanfaatkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta BP3 Makassar. Beberapa penduduk oleh BP3 Makassar dijadikan sebagai tenaga honorer yang bertugas sebagai penjaga situs. data resmi jumlah pengunjung sampai sekarang belum ada. Bahkan beberapa dari mereka telah diangkat menjadi pegawai negeri sipil. tempat duduk daro beton dan tangga kayu untuk menjangkau mulut gua telah dibangun.13 Pemanfaatan juga dilakukan oleh BP3 Makassar di Leang Sakapao. Pemanfaatan Leang Sakapao oleh BP3 Makassar didasarkan atas pertimbangan bahwa Leang Sakapao mempunyai jenis tinggalan lukisan dinding yang bervariasi dan mempunyai panorama alam yang paling indah. Hal ini diakibatkan kompleks gua prasejarah bellae belum dikomersilkan (belum dipungut biaya dari pangunjung) sebagaimana di beberapa daerah tujuan wisata. Beberapa fasilitas bagi pengunjung seperti tangga beton. Sebagian besar jumlah pengunjung mempunyai tujuan jalan-jalan serta penyaluran hobby baik yang berupa panjat tebing maupun susur gua tercatat 141 orang selama kurun waktu 1999 – 2005.

tidak tua.14 Kabupaten Pangkep. tapi juga tidak terlalu muda. 2004b: 7). Hal ini mengingat unsur umur sering menjadi variable penelitian dalam ilmu pengetahuan (Tanudirjo. dan keunikan Kompleks Gua Prasejarah Bellae. Penting jika sumberdaya tersebut walaupun bukan satu-satunya tetapi jarang ditemukan. Untuk menentukan nilai bobot dari nilai penting sejarah digunakan unsur kelangkaan. Pembobotan dimaksudkan untuk menentukan prioritas pengelolaan dan pelestarian (Tanudirjo. Padahal. Kriteria tidak penting jika nilai penting sumberdaya budaya tidak langka. tidak tua. Hal ini untuk melihat apakah Kompleks Gua Prasejarah Bellae sebagai satu-satunya bukti keberadaan budaya Toalean di Sulawesi Selatan atau tidak. kars ini dilarang untuk ditambang (lihat Bab V) karena dianggap dapat menyebabkan kerusakan kawasan kars yang membentang antara Maros dan Pangkep. dan tidak unik berdasarkan kriteria pembobotan. dan mempunyai keunikan yang dapat ditemukan di daerah lain. umur. sangat penting apabila . 2006: 5-6). 200b: 9). penting dan sangat penting. walau mempunyai nilai ekonomi yang tinggi tetapi dapat mengakibatkan kerusakan pada kars secara permanen. Walau demikian. Untuk memahami nilai penting sumberdaya budaya maka perlu diadakan pembobotan. Unsur keunikan untuk menentukan nilai bobot nilai penting kebudayaan. Unsur umur digunakan untuk menentukan nilai bobot dari nilai penting ilmu pengetahuan. dimana Kompleks Gua Prasejarah Bellae termasuk kars kelas I sehingga merupakan kars yang sangat potensial untuk bahan baku semen dan marmer. Pembobotan dilakukan dengan melihat unsur kelangkaan. selain bentukan alam yang unik dan khas. kars mempunyai potensi sebagai resapan air yang mampu mengatasi ketersediaan air di permukaan di samping potensi gua-gua prasejarah yang terdapat di dalamnya (Suryatmojo. Pemanfaatan kars sebagai bahan tambang. Kriteria nilai bobot nilai penting dibagi atas tiga nilai yakni tidak penting.

No. Kompleks Gua Prasejarah Bellae tidak hanya diteliti oleh peneliti Indonesia. Nilai Bobot 1 Sejarah Penting 2 Ilmu Pengetahuan Sangat Penting 3 Kebudayaan Kompleks Gua Prasejarah Bellae tidak hanya mempunyai nilai estetik sumberdaya arkeologi. tetapi juga peneliti luar negeri. Nilai Penting Pembobotan Sebagai bukti bahwa pernah berlangsung kebudayaan Toalean di Sulawesi Selatan. serta mempunyai keunikan yang khas.15 sumberdaya budaya bersifat langka. Kompleks Gua Prasejarah Bellae bukan sebagai bukti tunggal. Sebagai sumberdata penelitian. Mempunyai potensi Sangat Penting . Kompleks Gua Prasejarah Bellae mempunyai rentang waktu yang panjang baik dari pertanggalan arkeologi maupun pertanggalan geologi. Pada tataran pengakuan. sangat tua dan mempunyai berbagai lapisan budaya.tetapi juga seni dan lingkungan alamnya. Ada beberapa sumberdaya budaya sejenis yang tersebar di kawasan karst maros-pangkep. Secara sederhana pembobotan dan nilai bobot nilai penting sumberdaya budaya di Kompleks Gua Prasejarah Bellae terlihat pada tabel dibawah ini. terutama jika hanya satu.

maka perlu ada strategi pengelolaan yang tepat untuk melestarikan nilai penting yang tinggi tersebut. Bobot Nilai Penting Kompleks Gua Prasejarah Bellae Berdasarkan pada hasil pembobotan nilai penting Kompleks Gua Prasejarah Bellae. sumberdaya alam dan kesatuan antara sumberdaya budaya dan sumberdaya alam (lanskap budaya) untuk kepentingan pariwisata. maka pemanfaatan Kompleks Gua Prasejarah Bellae harus diarahkan untuk kepentingan ilmu pengetahuan.16 sumberdaya budaya. Dalam pemanfaatan Kompleks Gua Prasejarah Bellae. perlu ada keleluasan akses penelitian untuk pengembangan ilmu pengetahuan mengingat sumberdaya budaya di Kompleks Gua Prasejarah Bellae tidak . Dapat menjadi media pembelajaran yang lengkap untuk generasi selanjutnya Tabel 2. Oleh karena itu. Model Pengelolaan Sumberdaya Budaya di Kompleks Gua Prasejarah Bellae 1. a. bobot nilai penting ilmu pengetahuan dan nilai penting budaya yang sangat tinggi. kepentingan kebudayaan dan kesejahteraan masyarakat lokal. Kepentingan ilmu pengetahuan. Rekomendasi Pemanfaatan Berdasarkan hasil analisa nilai penting dan peluang pemanfaatan Kompleks Gua Prasejarah Bellae. D. maka dapat disimpulkan bahwa Sumberdaya budaya di Kompleks Gua Prasejarah Bellae mempunyai bobot nilai penting sejarah yang penting.

Kepentingan kebudayaan. Sumberdaya budaya yang merupakan penyusun nilai estetika tidak . tetapi dapat juga mengetahui dan berpartisipasi dalam proses penelitian sehingga masyarakat dapat mengerti bagaimana sebuah persoalan ilmu pengetahuan dipecahkan. salah satu bentuk akses masyarakat adalah terlibat dalam kegiatan penelitian. tetapi mencakup antropologi. Penafsiran juga sangat tergantung pada konteks sosial budaya sang penafsir. b. 2002: 146-147). Masyarakat tidak hanya sekedar menjadi konsumen dari hasil penelitian.17 hanya sebagai objek penelitian arkeologi. biologi. Situs ini didesain dengan model wisata pendidikan dimana pengunjung yang datang dapat berpartisipasi sebagai peneliti dalam aktivitas penelitian arkeologis. Dalam pemanfaatan untuk kepentingan ilmu pengetahuan harus tetap mempertahankan informasi yang asli sehingga selalu membuka peluang untuk penelitian selanjutnya. Sebagai contoh pemanfaatan sumberdaya budaya yang berdasarkan pada nilai penting ilmu pengetahuan adalah pemanfaatan situs Mount Vernon di Sungai Potomac dekat Washington.C. Akibat pelibatan publik dalam kegiatan penggalian. menjadikan situs ini selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan (White. Pemanfaatan untuk kepentingan kebudayaan berdasarkan pada estetik adalah tetap mempertahankan unsur estetika yang mencakup lukisan dinding dan keserasian antara sumberdaya budaya dan lingkungannya. Dalam pengembangan ilmu pengetahuan. D. Amerika. Pengetahuan atau tafsiran tentang masa lampau bersifat relatif dan terus berubah dari waktu ke waktu. Keleluasan akses tidak hanya ditujukan pada peneliti. seperti kegiatan penggalian (ekskavasi). tetapi keleluasan akses mencakup masyarakat untuk bebas menafsirkan sumberdaya budaya tersebut menurut mereka sendiri. Dalam pemanfaatan Kompleks Gua Prasejarah Bellae untuk kepentingan kebudayaan mencakup dua nilai yakni nilai estetika dan nilai publik. dan ilmu-ilmu kebumian.

pemanfaatan Kompleks Gua Prasejarah Bellae harus direncanakan secara bersama oleh stakeholder sehingga dapat menciptakan keadilan. Pelestarian tidak sekedar melestarikan fisik. Perlu ada penyamaan visi antara stakeholder bahwa Kompleks Gua Prasejarah Bellae merupakan sumberdaya yang mempunyai nilai ilmu pengetahuan yang tinggi sehingga dalam pemanfaatannya aspek pelestarian harus menjadi kerangka kerja. Proses pembelajaran dalam arti luas tidak terbatas hanya di ruang kelas tetapi juga mencakup pendidikan di luar sekolah. Dari sisi pariwisata. Begitu juga dengan masyarakat yang mempunyai rumah yang berasitektur tradisional diarahkan untuk dijadikan sebagai penginapan yang khas di Petra. tetapi juga melestarikan nilai penting itu sendiri. Bentuk pemanfaatan ini terkait dengan bentuk pemanfaatan pada nilai ilmu pengetahuan. tetapi juga peran dan fungsinya dalam konteks masyarakat sekarang. Usaha penginapan dalam skala kecil hanya ditujukan untuk masyarakat lokal. Masyarakat berperan aktif dalam usaha pemanfaatan petra dengan cara berpartisipasi pada usaha pelayanan dalam tingkat wisata mikro. ± 230 km selatan kota Amman ibu kota Jordania Petra dimanfaatkan sebagai daerah tujuan wisata dengan nama Petra National Park. Pendidikan di ruang kelas dilakukan setiap hari di sekolah. Terletak di barat daya Yordania. Sebagai contoh bentuk pemanfaatan yang berdasarkan pada nilai kebudayaan dapat kita lihat pada pemanfaatan situs Petra di Yordania. Pemanfaatan untuk kepentingan kebudayaan berdasarkan pada nilai publik adalah menjadikan Kompleks Gua Prasejarah Bellae sebagai media/sarana pembelajaran untuk generasi mendatang. sedang cakupan pendidikan di luar sekolah antara lain berupa kunjungan ke objek maupun praktek. baik peran dalam pelestarian maupun pemanfaatan.18 ditafsirkan hanya sebatas keindahan produk masa lalu. Hal ini mendorong peningkatan standar hidup masyarakat serta membangun kesadaran publik untuk mengapresiasi dan .

dapat melibatkan masyarakat dalam proses penelitian sebagaimana pelibatan masyarakat pada situs Mount Vernon. khususnya disiplin ilmu arkeologi. fungsi maupun proses penafsirannya. Kompleks Gua Prasejarah Bellae berfungsi sebagai pusat penelitian dari berbagai disiplin ilmu.19 melindungi Petra (Najjar. Kompleks Gua Prasejarah Bellae memiliki data baik secara kuantitas maupun kualitas yang memungkinkan untuk dilakukan penelitian baik arkeologi maupun disiplin ilmu lainnya. Hasil penelitian menjadi rekomendasi untuk mengatasi persoalan masyarakat yang hidup dalam keterbatasan sumber air bersih. Bahkan situs Petra dijadikan sebagai pilot project penelitian bagaimana masyarakat dapat bertahan hidup dengan sumberdaya air terbatas. Kedua. Dengan demikian. pemanfaatan sebagai laboratorium alam berarti memanfaatkan Kompleks Gua Prasejarah Bellae sesuai dengan nilai pentingnya yakni nilai ilmu pengetahuan. Dalam penerapannya. untuk tetap memberi akses pada . Sebagai laboratorium alam. Ketiga. serta menjadi solusi dalam pemanfaatan sumberdaya air oleh manusia demi menjaga kestabilan ekosistem. kegiatan penelitian di laboratorium alam dapat melibatkan masyarakat dalam proses penelitian sehingga masyarakat dapat memahami sumberdaya budaya baik bentuk. Oleh karena itu. ada kesan pemanfaatan hanya diperuntukkan oleh ilmuwan atau peneliti. dalam penerapannya. Sebagai laboratorium alam. Pertama. 1997: 36-40). Salah satu alternatif bentuk pemanfaatan yang dapat diterapkan di Kompleks Gua Prasejarah Bellae adalah menjadikan Kompleks Gua Prasejarah Bellae menjadi Laboratorium alam. pemanfaatan Kompleks Gua Prasejarah Bellae sebagai laboratorium alam tentunya mempunyai konsekuensi-konsekuensi. Ada berbagai alasan pemanfaatan Kompleks Gua Prasejarah Bellae sebagai laboratorium alam. pemanfaatan sebagai laboratorium alam. Keempat. proses pemberian pemahaman tentang pentingnya sumberdaya budaya akan berjalan semakin efektif.

pemanfaatan Kompleks Gua Prasejarah Bellae yang menggabungkan antara laboratorium alam dan museum terbuka dapat mencerminkan dan tetap mempertahankan nilai penting yang terdapat di Kompleks Gua Prasejarah Bellae. Berdasarkan pada kualitas dan kuantitas sumberdaya arkeologi serta potensi lingkungannya. dimungkinkan untuk menerapkan bentuk pemanfaatan berupa laboratorium alam dan museum terbuka. Leang Sakapao dan Leang Caddia mempunyai potensi untuk dimanfaatkan sebagai museum terbuka. Model Pengelolaan Untuk melaksanakan pengelolaan Kompleks Gua Prasejarah Bellae yang efektif. akademik. Jika selama ini kebijakan pelestarian dan pemanfaatan menjadi otoritas negara. maka perlu ada koordinasi antara stakeholder terkait. 2.20 masyarakat luas perlu ada penyediaan lahan tersendiri untuk dimanfaatkan sebagai museum terbuka yang terbebas dari kegiatan penelitian arkeologis. tetapi perlu mengakomodasi kepentingan stakeholder yang lain sehingga pemanfaatan bisa bermanfaat bagi semua pihak. Hal ini juga untuk lebih memfokuskan jenis pemanfaatan pada Leang tersebut yang telah dilakukan oleh Dinas Pariwisata dan BP3 Makassar menjadi pemanfaatan yang berdasarkan pada nilai penting kebudayaan. Peluang pemanfaatan sebagaimana yang diuraikan sebelumnya. saatnya kebijakan pelestarian dan pemanfaatan tidak lagi diputuskan sepihak oleh instansi pemerintah. akomodatif dan berkelanjutan. Museum terbuka juga merupakan pusat informasi yang berkaitan dengan Kompleks Gua Prasejarah Bellae dan berfungsi sebagai wahana pembelajaran bagi generasi muda. dan ekonomik yang dapat mewakili berbagai kepentingan stakeholder yang terkait sehingga potensi konflik dapat dimiminalisir. Berbagai kepentingan stakeholder dapat terakomodasi baik untuk kepentingan ideologik. Kompleks . Dengan demikian. Stakeholder harus bersama-sama menentukan kebijakan pemanfaatan dan menegosiasikan kepentingan-kepentingan mereka.

Rencana strategis yang berdasarkan pada nilai penting. implementasi. organisasi pencinta alam.21 Gua Prasejarah Bellae tidak lagi dimanfaatkan untuk kepentingan pelestarian semata menurut perspektif negara. akademisi. peluang dan hambatan pengelolaan mencakup strategi pelestarian. Jika selama ini peran pelestarian . setiap stakeholder melaksanakan perannya sesuai dengan kewenangan yang dimilikinya. Sebagai lembaga yang bertujuan menegosiasikan kepentingan stakeholder. Pemerintah setempat. Selain stakeholder tersebut. Selanjutnya mengimplementasikan rencana strategi tersebut dan memonitoring pelaksanaannya. Dinas Pertambangan Kabupaten Pangkep. strategi pemanfaatan dan strategi lain yang dianggap perlu. Dinas Pariwisata Kabupaten Pangkep. maka perlu dibentuk lembaga pengelola. tetapi juga bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. lembaga ini juga beranggotakan LSM yang bergerak baik di bidang pelestarian budaya maupun yang bergerak di bidang lingkungan. monitoring dan evaluasi sebagaimana langkah kerja CRM. maka anggota lembaga bersama merupakan wakil-wakil dari stakeholder yakni BP3 Makassar. Melihat beragamnya kepentingan dari anggota lembaga bersama tersebut. Penyamaan visi sangat penting untuk lebih memudahkan menegosiasikan kepentingan sehingga rencana pemanfaatan yang dihasilkan dapat mengakomodasi kepentingan semua stakeholder. Untuk menjalankan pengelolaan yang akomodatif dan berkelanjutan secara operasional. Pada tataran implementasi. Peran LSM ikut mengontrol pemanfaatan kompleks gua prasejarah Bellae sehingga pemanfaatan tersebut bersifat berkelanjutan tidak bersifat eksploitatif. Tugas utama lembaga bersama itu sendiri adalah membuat rencana stategis. LSM juga diharapkan dapat menyuarakan kepentingan masyarakat yang selama ini tidak pernah terlibat dalam pemanfaatan kompleks gua prasejarah Bellae. langkah awal yang harus dilakukan oleh lembaga bersama adalah menyamakan visi tiap stakeholder. dan masyarakat.

maka pelaksanaan rencana strategi akan dievaluasi bersama oleh stakeholder dengan melihat sisi positif dan negatifnya. Oleh karena itu. serta tetap memperhatikan aspek pelestarian. memanfaatkan potensi sumberdaya alam. maka dalam pemanfaatan Kompleks Gua Prasejarah Bellae merupakan tanggung jawab bersama stakeholder. Pengawasan secara internal dilakukan oleh pengelola Kompleks Gua Prasejarah sendiri. tetapi juga melestarikan sumberdaya budaya. Agar saat implementasi dari rencana strategis berjalan sesuai dengan rencana dan tidak keluar dari koridor kesepakatan. tetapi juga melestarikan. Pengawasan diperlukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan pengelolaan Kompleks Gua Prasejarah Bellae. Dinas Pariwisata tidak sekedar memanfaatkan. Organisasi pencinta alam tidak hanya mencintai alam dan. maka tidak tertutup kemungkinan kepentingan stakeholder pada suatu saat akan berubah sesuai perkembangan jaman. rencana strategis pemanfaatan kompleks gua prasejarah Bellae harus merupakan proses dinamis dan bukan sebagai produk final. Sebagai sebuah proses. Penilaian kembali terhadap kompleks gua prasejarah Bellae harus dilakukan untuk melakukan perencanaan kembali sesuai dengan konteks sosial masyarakat.22 hanya dilakukan oleh BP3 Makassar. maka perlu ada monitoring atau pengawasan. Peran masyarakat tidak sebatas memberikan usulan dalam penyusunan rencana strategis. Berangkat dari pemikiran bahwa pemanfaatan sumberdaya budaya disesuaikan dengan konteks sosial masyarakat. Pemaknaan masyarakat tentang kompleks gua prasejarah Bellae tentunya akan ikut berubah. tetapi mencakup pelestarian dan ikut menikmati hasil dari pemanfaatan. Dengan demikian. dan pengawasan eksternal dilakukan oleh akademisi dan LSM. tidak . model pemanfaatan kompleks gua prasejarah Bellae yang diajukan akan mampu menjaga kelestarian sumberdaya arkeologi. Pengawasan ada dua macam yakni pengawasan secara internal dan pengawasan secara eksternal.

maka konsep ini bisa dijadikan rujukan dan dapat diadaptasi untuk pemanfaatan sumberdaya arkeologi yang sejenis. tetapi harus mencakup berbagaai kepentingan stakeholder yang terkait. dalam upaya pemanfaatan kompleks gua prasejarah Bellae perlu ada suatu konsep pemanfaatan dalam kerangka Cultural Resource Management (CRM). Konsep dasar yang diajukan tidak . Perlu ada kesamaan visi dari tiap stakeholder bahwa pemanfaatan kompleks gua prasejarah Bellae bukan hanya pada aspek kebendaan saja tetapi mencakup nilai penting yang terdapat di Kompleks Gua Prasejarah Bellae. Pemanfaatan yang dapat menjembatani kepentingan stakeholder yang terkait. 3. Pengembangan selanjutnya yang sesuai dengan tuntutan serta teknis pelaksanaan menjadi wewenang dari stakeholder yang terkait.23 bersifat eksploitatif dan berkelanjutan. Jika dalam perkembangan selanjutnya model ini berhasil pada tahap pelaksanaan. Pemanfaatan Kompleks Gua Prasejarah tentunya harus tetap mengacu pada nilai penting sehingga sehingga pemanfaatan Kompleks Gua Prasejarah Bellae tidak bersifat eksploitatif yang bahkan dapat menurunkan bahkan menghilangkan nilai penting tersebut. Model pemanfaatan sebagaimana yang dijelaskan dalam tulisan ini hanya pada tataran konsep. Pemanfaatan bukan berdasarkan satu kepentingan tertentu. serta pemanfaatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Menyangkut pelaksanaan konsep pada tataran aplikatif merupakan tanggungjawab stakeholder lewat lembaga bersama yang diusulkan. Akhirnya tulisan ini hanya sebatas memberi konsep dasar pengelolaan dan rekomendasi pemanfaatan Kompleks Gua Prasejarah Bellae. Oleh karena itu. Penutup Tingginya nilai penting Kompleks Gua Prasejarah Bellae tentunya harus dipertahankan dan dilestarikan untuk kepentingan bersama saat ini maupun untuk kepentingan generasi selanjutnya.

Perlu ditambahkan daftar pustaka dan kalau perlu gambar/foto yang relevan. Selalu perlu ada penyesuaian-penyesuaian antara konsep pemanfaatan dengan konteks sosial masyarakat. Dengan demikian pemanfaatan kompleks gua prasejarah Bellae adalah pemanfaatan dalam kerangka pelestarian. . berkelanjutan dan tetap memperhatikan keselarasan lingkungan serta daya dukung sumberdaya budaya.24 tertutup kemungkinan suatu saat perlu dievaluasi kembali sesuai dengan tuntutan kepentingan tiap stakeholder.

25 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful