BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Fiqih islam merupakan kumpulan hukum islam yang berkenaan
dengan amal perbuatan, yang digali dari sumber/dalilnya secara terperinci.
Dalil pokok yang merupakan sumber fiqih itu adalah wahyu Tuhan. Satu-
satunya pemilik dan penguasa hukum.
Pengertian wahyu sebagai satu-satunya sumber hukum, ialah
bahwa dialah yang berhak menetapkan adanya sumber lain yang dapat
dijadikan dasar bagi fiqih islam, di antaranya dinyatakan adalah : Qur‟an ,
Hadist dan sumber hukum pelengakap islam lainnya.
Sedangkan saat ini kita tidak hanya menggunakan 3 hukum
tersebut. Kita menggunakan hukum yang dibuat oleh pemimpin negara
Indonesia yang berupa Undang-Undang. Akan tetapi di Indonesia muncul
Undang-Undang Islam yang terbaru sampai saat ini adalah KHI
(Kompilasi Hukum Islam).
Semoga tulisan kami ini bisa membantu pembaca dalam
mempelajari hukum islam.













BAB II
SUMBER HUKUM ISLAM
YANG DISEPAKATI PARA ULAMA
A. Al-Qur’an
1. Pengertian Al-Qur’an
Menurut bahasa (etimologi) kata Al-Qur‟an berasal dari kata “qara-yaqrau-
qur anan” artinya bacaan atau yang dibaca. Sedangkan menurut istilah
(terminologi) Al-Qur‟an adalah Kalmullah sebagai mu‟jizat yang diturunkan
kepada nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril, dengan bahasa Arab,
ditulis dimushhaf, disampaikan secara mutawatir, dibaca bernilai ibadah.
Diawali dengan surat Al-Fatihan dan diakhiri dengan surat An-Nas.
2. Pokok-pokok isi Al-Qur’an
Pokok-pokok isi Al-Qur‟an ada lima yaitu :
a. Tauhid
b. Ibadah
c. Janji dan ancaman
d. Jalan mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat
e. Riwayat dan ceritera ( qishah umat terdahulu).
3. Dasar Kehujjahan Al-Qur’an dan Kedudukannya sebagai Sumber
Hukum
Sebagimana kita ketahui Al-Qur'an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW
dan disampaikan kepada umat manusia adalah untuk wajib diamalkan semua
perintah-Nya dan wajib ditinggalkan segala larangan-Nya. Firman) Allah
SWT :




Artinya : "Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu
dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara
manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu,
dan janganlah kamu menjadi penantan karena membela orang-
orang yang khianat". (An-Nisa :105).


Artinya : "Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka
menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu
mengikuti hawa nafsu mereka (Al-Maidah: 49).
Al-Qur'an merupakan number hukum utama dalam islam dan menempati
kedudukan pertama dari sumber- sumber hukum islam yang lain, ia merupakan
aturan dasar yang paling tinggi. Semua sumber hukum dan ketentuan norma
yang ada tidak boleh bertentangan dengan isi Al-Qur'an.
4. Pedoman AI-Qur'an dalam Menetapkan Hukum.
Pedoman Al-Qur'an dalam menetapkan hukum sesuai dengan perkembangan
dan kemampuan manusia, baik secara fisik maupun rohani. manusia
selalu berawal dari kelemahan dan ketidak mampuan. Untuk itu Al Qur'an
berpedoman kepada tiga hal, yaitu :
a. Tidak memberatkan ( ) Firman Allah SWT :

Artinya : "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai
dengan kesanggupannya..." (Al-Bagarah : 286).


Artinya : "...Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak
menghendaki kesukaran bagimu". (Al-Bagarah : 185)
Contoh :Azimah (ketentuan-ketentuan umum Allah) misal sholat
wajib dll
b. Meminimalisir beban ( )
Dasar ini merupakan konsekwensi logis dari dasar yang pertama. Dengan
dasar ini kita dapati rukhshah (keringanan) dalam beberapa jenis
ibadah, seperti Menjama‟ dan mengqashar sholat apabila dalam
perjalanan dengan syarat yang telah ditentukan.

c. Berangsur-angsur dalam menetapkan hukum ( )
Al-Qur'an dalam menetapkan hukum adalah secara bertahap, hal ini
bisa kita telusuri dalam hukum haramnya meminum-minuman keras,
berjudi serta perbuatan-perbuatan yang mengandung judi ditetapkan
dalam AlQur'an (QS. Al-Baqarah: 219, QS. An-Nisa‟ : 43 dan QS. Al-
Maidah : 90).

B. Al- Hadits
1. Pengertian Al-Hadits
Menurut bahasa (etimologi) Al-Hadits berarti ”yang baru”, ”yang dekat”,
atau ”warta” yaitu sesuatu yang dibicarakan. Sedangkan menurut istilah
(terminologi) Al-Hadits adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada
Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan maupun taqrir (persetujuan)
beliau.
2. Bentuk-bentuk Al-Hadits
Berdasarkan definisi istilah diatas, maka bentuk hadits dapat dibedakan
menjadi 3 macam yaitu :
a. Qauliyah ( ucapan )
b. Fi‟liyah ( perbuatan )
c. Taqririyah ( keputusan/ketetapan )

3. Dasar Kehujjahan Al-Hadits dan Kedudukannya sebagai Sumber
Hukum
Banyak kita jumpai ayat - ayat Al-Qur'an dan Hadits-hadits yang
memberikan pengertian bahwa hadits merupakan sumber hukum Islam
selain Al-Qur'an yang wajib diikuti, dan diamalkan baik dalam bentuk
perintah maupun larangannya. Uraian di bawah ini merupakan penjelasan
secara rinci tentang dasar kehujjahan hadits sebagai sumber hukum
Islam dengan mengambil beberapa dalil, baik naqli maupun aqli.
a. DaliI Al-Qur'an
Banyak kita jumpai ayat Al-Qur'an yang menjelaskan tentang kewajiban
mempercayai dan menerima segala yang disampaikan oleh Rasul
kepada umatnya untuk dijadikan pedoman hidup sehari -hari . Di
antara ayat-ayat dimaksud adalah:
Firman Allah SWT :






Artinya: Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang
beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia
menyisihkan yang buruk (munafiq) dari yang baik (mukmin).
Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada
kamu hal-hal yang gaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang
dikehendaki-Nya di antara Rasul-rasul-Nya. Karena itu
berimanlah kepada Allah dan Rasul-Rasul-Nya; dan jika
kamu beriman dan bertaqwa, maka bagimu pahala yang besar.
(QS. Ali lmran (3): 179).
Dalam ayat lain Allah SWT berfirman :



Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada
Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan
kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan
sebelumnya. Bagi siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-
malaikat-Nya, Rasulrasul-Nya, dan hari kemudian, maka
sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh jauhnya. (QS. Al-
Nisa' (4): 136).

Ayat-ayat diatas Allah menyuru kaum Muslimin agar mereka
tetap beriman kepada Allah, Rasul-Nya (Muhammad SAW), Al-
Qur'an, dan kitab yang diturunkan sebelumnya. Kemudian Allah
mengancam orang-orang yang mengingkari dan menentang seruan-
Nya.
Di samping itu, Allah juga memerintahkan kepada kaum
muslimin agar menaati dan melaksanakan segala bentuk perundang-
undangan dan peraturan yang dibawa oleh Rasul-Nya, baik berupa
perintah maupun larangan. Tuntutan taat dan patuh kepada Rasul-Nya
sama halnya tuntutan taat dan patuh kepada Allah SWT. Banyak ayat
Al-Qur'an yang berkenaan dengan masalah ini. Firman Allah SWT:



Artinya: Katakanlah ! Taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya;
jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang kafir". (QS. Ali lmran (3): 32).
Dalam firman-Nya yang lain:






Artinya : Hai orang-orang yang beriman ! Taatilah Allah, Rasul, dan
Ulil Amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan
pendapat tentang sesuatu, akan kembalilah kepada Allah
dan Rasul, jika kamu benar-benar kepada Allah dan hari
Kemudian. Yang demikian ini lebih utama dan lebih baik
akibatnya. (QS. AN-Nisa (4): 59).
Kemudian dalam ayat yang lain, Allah juga berfirman:




Artinya : Apa yang diberikan Rasul kepadamu, terimalah dan apa-apa
yang dilarangnya, maka tinggalkanlah. Dan bertaqwalah
kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-
Nya. (QS. AI-Hasyr (59): 7).



Artinya: Dan taatlah kamu kepada Allah dan kepada Rasul -Nya,
dan berhati-hatilah. (QS. Al-Maidah (5): 92).



Artinya: Katakanlah: Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada
Rasul; dan jika kamu berpaling, maka sesungguhnya
kewajiban Rasul SAW itu adalah apa yang dibebankan
kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-
mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat
kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk (QS. A1-Nur
(24): 54).

Dari ayat- ayat Al-Qur'an di atas tergambar bahwa setiap ada
perintah taat kepada Allah SWT dalam Al-Qur'an selalu diikuti dengan
perintah taat kepada Rasul-Nya. Demikian pula mengenai peringatan
(ancaman) karena durhaka kepada Allah, sering disejajarkan atau
disamakan dengan ancaman karena durhaka kepada Rasul Muhammad
SAW.
b. Dalil Al-Hadits
Mari kita pahami Dalam salah satu pesan Rasulullah SAW
berkenaan dengan kewajiban menjadikan hadits sebagai pedoman
hidup, disamping Al-Qur'an sebagai pedoman utamanya, beliau
bersabda:


Artinya: "Aku tinggalkan dua pusaka untukmu sekalian, yang kalian
tidak akan tersesat selagi kamu berpegang teguh pada
keduanya, yaitu berupa kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya".
(HR. Malik).
Saat Rasulullah ingin mengutus Mu'adz bin Jabal untuk
menjadi penguasa di Negeri Yaman, terlebih dahulu dia diajak dialog
oleh Rasulullah SAW.










Artinya: "(Rasul bertanya), bagaimana kamu akan menetapkan hukum
bila dihadapkan padamu sesuatu yang memerlukan penetapan
hukum? Mu'az menjawab: saya akan menetapkannya
dengan kitab Allah. Lalu Rasul bertanya; seandainya kamu
tidak mendapatkannya dalam kitab Allah, Mu'az menjawab:
dengan Sunnah Rasulullah. Rasul bertanya lagi, seandainya
kamu tidak mendapatkannya dalam kitab Allah dan juga tidak
dalam Sunnah Rasul, Mu'az menjawab: saya akan berijtihad
dengan pendapat saya sendiri. Maka Rasulullah menepuk-
nepuk belakangan Mu'az seraya mengatakan "segala puji bagi
Allah yang telah menyelaraskan utusan seorang Rasul
dengan sesuatu yang Rasul kehendaki". (HR. Abu Daud dan
Al-Tirmidzi).
Dalam hadits lain Rasul bersabda:



Artinya: "Wajib bagi sekalian berpegang teguh dengan Sunnahku
dan Sunnah Khulafa Ar-Rasyidin (khalifah yang mendapat
petunjuk), berpegang teguhlah kamu sekalian dengannya.
(HR. Abu Daud dan Ibun Majah).
Hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa berpegang teguh
kepada hadits atau menjadikan hadits sebagai pegangan dan
pedoman hidup itu adalah wajib, sebagaimana wajibnya berpegang
teguh kepada Al-Qur'an.

c. Kesepakatan Ulama (Ijma')
Seluruh Umat Islam telah sepakat menjadikan hadits sebagai
salah satu dasar hukum Syari'at Islam yang wajib diikuti dan
diamalkan; karena sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah.
Penerimaan mereka terhadap hadits sama seperti penerimaan mereka
terhadap Al-Qur'an, karena keduanya sama-sama dijadikan sebagai
sumber hukum Syariat Islam.
kesepakatan umat Islam dalam mempercayai, menerima dan
mengamalkan semua ketentuan yang terkandung di dalam hadits
ternyata sejak Rasulullah masih hidup hingga sekarang tidak ada yang
mengingkarinya. Banyak diantara mereka yang tidak hanya
memahami dan mengamalkan isi kandungannya, akan tetapi bahkan
mereka menghafal, memelihara, dan menyebarluaskan kepada generasi-
generasi selanjutnya.
Mari kita menengok peristiwa-peristiwa yang menunjukkan
adanya kesepakatan menggunakan hadits sebagai sumber hukum Islam
pada masa sahabat, antara lain dapat diperhatikan peristiwa di bawah ini :
a. Pada saat Abu Bakar Ra. dibaiat menjadi Khalifah, ia dengan
tegas berkata “Saya tidak meninggalkan sedikitpun sesuatu yang
diamalkan / dilaksanakan oleh Rasulullah, sesungguhnya saya
takut menjadi orang bila meninggalkan perintahnya".
b. Pada saat Khalifah Umar Ibnu Khattab ada di depan Hajar
Aswad is berkata: “Saya tahu bahwa engkau adalah batu.
Seandainya saya sendiri tidak melihat Rasulullah menciummu,
maka saya tidak akan menciummu".
c. Pada suatu saat pernah ditanyakan kepada Abdullah bin Umar
(Ibnu Umar) masalah ketentuan shalat safar dalam Al-Qur'an. la
menjawab: "Allah SWT telah mengutus Nabi Muhammad SAW
kepada kita dan kita tidak mengetahui sesuatu. Maka sesungguhnya
kami berbuat sebagaimana duduknya Rasulullah SAW, saya
makan sebagaimana makannya Rasulullah dan saya shalat
sebagaimana shalatnya Rasul".
d. Diceritakan dari Sa'id bin Musayyab bahwa Khalifah Usman bin
Affan berkata: “Saya duduk sebagaimana mengikuti duduknya
Rasulullah SAW, saya juga makan sebagaimana makannya
Rasulullah, dan saya mengerjakan shalat sebagaimana shalatnya
Rasul”.
Sebenarnya Masih banyak lagi contoh-contoh yang dilakukan
oleh para sahabat yang menunjukkan bahwa apa yang
diperintahkan, dilakukan, dan diserukan, niscaya diikuti oleh
umatnya, dan apa yang dilarang selalu ditinggalkan oleh mereka.
d. Sesuai dengan Petunjuk Akal
Muhammad SAW, sebagai Nabi dan Rasul Allah telah diakui
dan dibenarkan oleh seluruh umat Islam. Di dalam mengemban misinya
itu, kadang-kadang beliau hanya sekedar menyampaikan apa yang
diterima dari Allah SWT, baik isi maupun formulasinya dan kadang
kala atas inisiatif sendiri dengan bimbingan wahyu dari Allah. Namun
juga tidak jarang beliau membawakan hasil ijtihad semata-mata
mengenai suatu masalah yang tidak ditunjuk oleh wahyu dan juga
tidak dibimbing oleh ilham. Hasil ijtihad beliau ini tetap berlaku
sampai ada dalil yang menghapuskannyanya
Dan apabila kerasulan Muhammad SAW telah diimani dan
dibenarkan, maka konsekwensi logisnya segala peraturan dan
perundang-undangan serta inisiatif beliau, baik yang beliau ciptakan
atas bimbingan ilham atau hasil ijtihad semata, ditempatkan sebagai
sumber hukum dan pedoman hidup. Di samping itu secara logika
kepercayaan kepada Muhammad SAW sebagai Rasul Allah
mengharuskan umatnya mentaati dan mengamalkan segala ketentuan
yang beliau sampaikan.
Semua umat Islam telah sepakat dengan bulat bahwa Hadits
Rasul adalah sumber dan dasar hukum Islam setelah Al -Qur'an, dan
umat Islam diwajibkan mengikuti dan mengamalkannya sebagaimana
diwajibkan mengikuti dan mengamalkan Al-Qur'an.
Al-Qur'an dan Hadits merupakan dua sumber hukum pokok syariat
Islam yang tetap, dan orang Islam tidak akan mungkin bisa memahami
syariat Islam secara mendalam dan lengkap tanpa kembali kepada
kedua sumber Islam tersebut. Seorang mujtahid dan seorang ulama'
pun tidak diperbolehkan hanya mencukupkan diri dengan mengambil
salah satu dari keduanya.
Berdasarkan uraian di atas bisa diketahui bahwa hadits
merupakan salah satu sumber hukum Islam dan menduduki urutan
kedua setelah Al-Qur'an. Sedangkan bila dilihat dari segi
kehujjahannya, hadits melahirkan hukum zhanny, kecuali hadits yang
mutawatir.
4. Fungsi Al-Hadits terhadap Al-Qur’an
Dalam Al-Qur‟an masih banyak ayat bersifat umum dan global yang
memerlukan penjelasan. Dan penjelasan itu diberikan oleh Rasulullah SAW.
Yang berupa Al-Hadits. Tanpa penjelasan dari beliau banyak ketentuan Al-
Qur‟an yang tidak bisa dilaksanakan. Maka dari itu Al-Hadits memiliki beberapa
fungsi terhadap Al-Qur‟an antara lain :
a. Bayanut Tafsir yaitu sebagai penjelas atau merinci ayat-ayat Al-Qur‟an
yang masih global dan memberikan batasan terhadap ayat Al-Qur‟an yang
dalam pelaksanaannya belum ada batasannya. Misal hadits tentang tata cara
ibadah sholat, tata cara ibadah haji dan lain-lain.
b. Bayanut Taqrir yaitu sebagai penguat ketentuan-ketentuan yang telah
ditetapkan dalam Al-Qur‟an. Misal hadits tentang rukun Islam dan lain-lain.
c. Bayanut Tasyri’ yaitu menetapkan hukum suatu perkara yang tidak ada
ketentuan nashnya dalam Al-Qur‟an. Misal hadits tentang penyembelehan janin
dalam perut induknya sama dengan penyembelehan induknya dan lain-lain.
C. Ijma'
1. Pengertian Ijma'
Ditinjau dari segi bahasa (etimologi), kata Ijma' merupakan masdar (kata
benda verbal) dari kata yang artinya memutuskan dan
menyepakati sesuatu. Ia juga bisa berarti kesepakatan bulat (konsensus).
Menurut Abdul Wahhab Khalaf, secara istilah Ijma' adalah :




Artinya : "Ijma' adalah kesepakatan (konsensus) seluruh mujtahid
pada suatu masa tertentu sesudah wafatnya Rasul atas
hukum syara' untuk satu peristiwa (kejadian) ".
Dari rumusan di atas dapat diambil beberapa penjelasan sebagai berikut :
1. Kesepakatan adalah kesamaan pendapat baik disampaikan secara
tegas melalui lisan maupun tulisan atau dengan beramal sesuai
dengan hukum yang disepakati itu. Kesepakatan seperti itu disebut
Ijma' yang sebenarnya atau ijma' bayani atau disebut juga Ijma'
Qauli. Jika kesepakatan itu ditunjukkan dengan diam yaitu tidak
memberikan tanggapan maka dinamakan ijma' sukuti, karena
diam itu tidak memberikan tanggapan dipandang sebagai telah
menyetujui terhadap hukum yang sudah sampai kepadanya.
2. Seluruh mujtahid berarti masing-masing mujtahid menyatakan
kesepakatannya. Jika seorang saja tidak menyetujuinya maka tidak
terjadi ijma'. Demikian pula jika pada suatu masa hanya ada pada
seorang mujtahid saja, maka tidak ada ijma' sebab tidak terjadi
kesepakatan.
3. Pada zaman Rasulullah SAW tidak ada ijma' sebab setiap terjadi
ketiadaan hukum, para sahabat bertanya kepada Rasul, lalu
beliau menetapkan hukumnya.
4. Atas hukum syara' ijma' hanya terjadi bagi masalah yang
berhubungan dengan hukum. Syara' dan berdasar kepada hukum
syara' pula ; baik berupa nash yang qoth'i yaitu Al-Qur'an dan
hadits mutawatir, sebab ijma' bukanlah dalil syar'i yang berdiri sendiri.
2. Dasar Kehujjahan Ijma’ dan Kedudukannya sebagai sumber
hukum
Ijma' sebagai dasar hukum walaupun terjadi perbedaan, namun
mayoritas ulama' telah sepakat sebagai sumber hukum Islam yang ke
tiga setelah Al-Qur'an dan AI-Hadits. Apabila sudah terjadi ijma' maka
hukum tersebut menjadi dasar beramal yang tidak boleh diingkari.


Artinya : "Apa-apa yang menurut pendapat kaum muslimin baik,
maka baik (pula) di sisi Allah (HR. Ahmad di dalam Kitab Sunnah-nya)".

Artinya : "Umatku tidak bersepakat atas kesesatan". (H. R. Ibnu
Majah

3. Macam dan Tingkatan Ijma’
a. Ijma' Sharih, (Sharih dari segi bahasa artinya jelas) yaitu Ijma'
yang memaparkan pendapat banyak Ulama' secara jelas dan
terbuka, baik dengan ucapan maupun perbuatan. Pada saat semua
Ulama' memaparkan pendapatnya, ternyata mereka menghasilkan
pendapat yang sama atas hukum suatu perkara. ljma' jenis ini kita
akui sangat langka karena sangat sulit dicapai darim sekian
banyak Ulama' memberikan sebuah paparan yang sama. Oleh
karena itu, sebagian Ulama' berpendapat bahwa Ijma' semacam ini
hanya dapat terlaksana pada zaman sahabat ketika jumlah mujtahid
masih sedikit dan tempat mereka berdekatan. Ijma' Sharih ini
menempati peringkat Ijma' tertinggi. Hukum yang ditetapkannya
bersifat qat'i, sehingga umat wajib mengikutinya. Maka seluruh
Ulama' sepakat dan menerima untuk menjadikan ijma Sharih ini
sebagai dalil yang sah dan kuat dalam penetapan hukum syari'at
Islam.
b. ljma' sukuti, (Sukuti dari segi bahasa artinya diam) yaitu sebagian
mujtahid memaparkan pendapat-pendapatnya secara terang dan jelas
mengenai suatu hukum suatu peristiwa melalui perkataan atau
perbuatan, sedangkan mujtahid yang lain tidak memberikan
komentar apakah ia menerima atau menolak. ljma' sukuti ini
bersifat dzan dan tidak mengikat. Oleh seabab itu, tidak ada
halangan bagi para mujtahid untuk memaparkan pendapat yang
berbeda setelah Ijma' itu diputuskan. Bagi Imam Syafi'i dan Imam
Malik berpendapat bahwa ljma' sukuti ini tidak dapat dijadikan
dasar hukum. Namun Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad bin
Hambal berpendapat lain yaitu menjadikannya sebagai dasar
hukum. Mereka yang menerima ljma' sukuti sebagai hujah sebab
menurut kedua Imam tersebut, diamnya mujtahid sebagai tanda setuju.
D. Qiyas
1. Pengertian Qiyas
Qiyas menurut bahasa berarti menyamakan atau mengukurkan sesuatu
dengan yang lain. Para ahli Ushul Fiqih merumuskan qiyas dengan:



Artinya : "Menyamakan atau mengukur satu kejadian yang tidak ada
nash tentang hukumnya dengan kejadian yang ada nash
tentang hukumnya di dalam hukum yang disebutkan di dalam
nash karena ada kesamaan antara dua kejadian itu di
dalam ilat hukum tersebut".
2. Rukun Qiyas
Dari rumusan diatas dapat dijelaskan beberapa rukun qiyas sebagai berikut :
a. Kejadian adalah peristiwa, perbuatan, tindakan yang
tidak ada hukumnya atau belum jelas hukumnya baik di dalam Al-
Qur'an maupun As-Sunnah. Dalam ilmu Ushul Fiqih hal ini
disebut "Far'un" Suatu peristiwa dapat disebut far'un
apabila : adanya kemudian, ada kesamaan illat dengan peristiwa
yang akan disamainya.
b. Kejadian yang telah ada ketentuan hukumnya baik di dalam Al-
Qur'an maupun sunnah disebut ashal atau disebut juga
"maqiis'alaih" yaitu sesuatu yang akan diqiyaskan
kepadanya, atau "musyabbah bih" yaitu sesuatu yang
akan diserupakan dengannya.

Suatu kejadian dapat disebut ashl apabila :
1) Hukumnya adalah hukum syari'ah amali dan berdasar nash.
2) illat hukumnya dapat Diketahui secara aqli
3) Hukumnya bukan merupakan cabang (far'un) dari ashal
mansukh
4) Nash hukum ashal tidak meliputi hukum far'un.
5) Hukum ashal adalah hukum yang disepakati dan tidak mansukh
6) Hukum pada ashal tidak mempunyai qiyas rangkap.
c. Illat yaitu suatu sifat yang menjadi dasar hukum pada ashal.
Sifat ini pula yang harus ada pada “far'un". Haramnya minum
khamr adalah ashal karena ada nash yang menyatakan itu, yaitu
firman Allah SWT :
(maka jauhilah) karena sifatnya yang memabukkan.
Perasan anggur adalah "far'un" yang tidak disebutkan
hukumnya tetapi sifatnya saja yaitu memabukkan. Karena
sifatnya sama maka rasa anggur dan semua makanan dan
minuman yang memiliki sifat memabukkan hukumnya disamakan
dengan khamar yaitu haram.
Kata „illah : penggunaannya sering tumpang tindih dengan sebab
dalam hukum wadh'i sebab biasanya berhubungan dengan suatu
asalan yang tidak bisa dipahami akal. Jadi, setiap sabab pastilah
'illah, tetapi tidak semua 'illah merupakan sabab.
d. Hukum ashal yaitu hukum suatu kejadian yang sudah
disebutkan dan akan ditetapkan bagi far'un karena sama sifatnya
(illatnya). Suatu sifat dapat dijadikan sebagai illat, apabila : jelas
atau dzonni (dapat dibuktikan), dapat dibatasi secara pasti
sama antara ashal dengan far'un serta munasabah
yaitu dugaan kuat bahwa sifat tersebut merupakan alasan hukum
pada ashal, sehingga adanya menyebabkan adanya hukum dan
tidak adanya mengakibatkan tidak adanya hukum.
Al-Ashlu Al-Far’u ‘Ilah Hukum
Khamar Narkoba Memabukkan Haram

3. Dasar Kehujjahan Qiyas dan Kedudukannya sebagai Sumber Hukum
Sebagian Ulama' Sunni berpendapat bahwa qiyas adalah salah satu
sumber hukum Islam. Ulama' yang menjadikan qiyas sebagai
sumber hukum atau disebut (musbitul qiyas) dan mereka mempunyai
dasar yang kuat baik dari nas maupun dari akal. Dalam Al-Qur'an
terdapat banyak ayat yang menyuruh manusia menggunakan akalnya
semaksimal mungkin. Tidak kurang dari 50 ayat Al-Qur'an yang
mendorong manusia menggunakan akalnya. Di antaranya dapat dilihat
dalam Surat al-Hasyr ayat 2 berikut ini :


Artinya: Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai
orang-orang yang mempunyai pandangan.
Dasar qiyas sebagai sumber hukum adalah sebuah.hadits dari Ibnu Abbas



Artinya: Dari Ibnu Abbas, seorang perempuan dari kabilah Juhainah
telah datang kepada Nabi. la bertanya, "sesungguhnya
ibuku telah bernazar akan pergi haji tapi ia tidak
melaksanakannya sampai wafat". Apakah saya boleh
mengerjakan haji untuk ibuku?" Nabi menjawab, "Ya
boleh, kerjakanlah haji untuknya. Bagaimana
pendapatmu kalau ibumu sewaktu wafat meninggalkan
utang, bukankah engkau yang membayarnya? Hendaklah
kamu bayar hak Allah sebab hak Allah lebih utama
untuk dipenuhi". (HR. Bukhari).
Dari hadits di atas, dapat dijelaskan bahwa membayar hutang kepada
Allah disamakan dengan hutang kepada manusia. Kalau hutang kepada
manusia saja wajib dibayar, maka hutang kepada Allah juga harus
dibayar.
4. Macam-macam Qiyas
Qiyas mempunyai tingkatan yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut
didasarkan pada tingkat kekuatan hukum karena adanya `illah yang ada
pada asal dan furu', adapun tingkatan tersebut pada umumnya dibagi
menjadi tiga yaitu :
a. Qiyas aula, yaitu qiyas yang apabila 'illahnya mewajibkan adanya
hukum. Hukum cabang memiliki nilai yang lebih utama dari pada
hukum yang ada pada al-ashal. Misalnya berkata kepada kedua orang
tua dengan mengatakan "ah", "eh", "busyet" atau kata-kata lain yang
semakna dan menyakitkan itu hukumnya haram, sesuai dengan
firman Allah QS. Allsra' (17): 23.


Artinya: "Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada
keduanya perkataan "ah".
Lalu diqiyaskan memukul dengan perkataan "ah", "busyet" dan
sebagainya hukumnya Iebih utama. Rasionalnya, berkata "ah" saja
dilarang, apalagi memukulnya. Memukul tentu lebih menyakitkan
dibanding berkata "ah" bukan?
b. Qiyas musawi, yaitu qiyas yang apabila 'illahnya mewajibkan adanya
hukum. Hukum yang ada pada ashal dan hukum yang ada pada
cabang nilainya sama. Contohnya, keharaman memakan harta
anak yatim berdasarkan firman Allah Surah an-Nisa' (4): 10.




Artinya: Sebenarnya orang-orang yang memakan harta anak yatim
secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam
perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang
menyala-nyala (neraka).
Dari ayat di atas, kita dapat mengqiyaskan bahwa segala bentuk
kerusakan atau kesalahan pengelolaan atau salah menejemen
yang menyebabkan hilangnya harta tersebut juga dilarang seperti
memakan harta anak yatim tersebut.
c. Qiyas adna yaitu qiyas yang apabila 'illahnya mewajibkan adanya
hukum. Hukum cabang nilainya lebih lemah dari pada hukum ashal.
Sebagai contoh, mengqiyaskan hukum apel kepada gandum dalam hal
riba fadl (riba yang terjadi karena adanya kelebihan dalam tukar-
menukar antara dua bahan kebutuhan pokok atau makanan). Dalam
kasus ini, `illah hukumnya adalah baik apel maupun gandum
merupakan jenis makanan, yang bisa dimakan dan ditukar. Namun ada
segi yang lain dari 'illah gandum yang tidak terdapat pada apel, apa itu
? apel tidak makanan pokok. Oleh karenanya, 'illah yang ada pada
apel lebih lemah dibandingkan dengan illat yang ada pada
gandum yang menjadi makanan pokok.
5. Sebab-sebab dilakukan Qiyas
Diantara sebab-sebab dilakukan qiyas adalah :
a. Adanya persoalan-persoalan yang harus dicarikan status hukumnya,
sementara di dalam nash Al-Qur‟an dan As-Hadits tidak ditemukan
hukumnya dan mujtahid pun belum melakukan ijma‟
b. Nash baik yang berupa Al-Qur‟an maupun Al-Hadits telah berakhir dan
tidak turun lagi
c. Adanya persamaan illat antara peristiwa yang belum ada hukumnya
dengan peristiwa yang hukumnya telah ditentukan oleh nash.

E. FUNGSI HUKUM ISLAM
1. Fungsi Ibadah : sebagai alat untuk menegakkan ibadah.
2. Fungsi amar ma‟ruf nahi munkar : perintah kebaikan dan pencegah
kemunkaran.
3. Fungsi zawajir : sebagai alat penjeraan .
4. Fungsi tandzim wa ishlah al-ummah: penataan organisasi dan
rehabilitasi masyarakat .
5. Fungsi Jawabir : sebagai penebus dosa.













BAB III
SUMBER HUKUM ISLAM
YANG DIPERSELISIHKAN PARA ULAMA
A. Istihsan
1. Pengertian
Menurut pengertian bahasa, istihsan berarti "menganggap baik". Sedang
menurut istilah ahli Ushul yang dimaksud dengan istihsan ialah
berpindahnya seorang mujtahid dari hukum yang dikehendaki oleh qiyas
jaly (jelas) kepada hukum yang dikehendaki oleh qiyas khafy (samar-
samar), atau dari hukum kully (umum) kepada hukum yang bersifat
istisna'y (pengecualian), karena ada dalil syara' yang menghendaki
perpindahan itu. Dari pengertian di atas jelas bahwa istihsan itu ada dua, yaitu :
1. Menguatkan qiyas khafy atas qi yas jaly dengan dalil. Misalnya
menurut ulama Hanafiyah bahwa wanita yang sedang haid boleh
membaca Al-Qur'an berdasarkan istihsan tetapi haram menurut qiyas.
Qiyas : Wanita yang sedang haid itu diqiyaskan kepada orang junub
dengan illat sama-sama tidak suci. Orang junub haram membaca
Al-Qur'an, maka orang yang haid juga haram membaca Al-Qur'an.
Istihsan : Haid berbeda dengan junub, karena haid waktunya lama.
Karena itu, wanita yang sedang haid diperbolehkan membaca Al-Qur'an,
sebab bila tidak, maka haid yang panjang itu wanita tidak memperoleh
pahala ibadah apa pun, sedang laki-laki dapat beribadah setiap saat.
2. Pengecualian sebagian hukum kully dengan dalil. Misalnya jual beli
salam (pesanan) boleh berdasarkan istihsan tetapi haram menurut
hukum kully. Hukum kully (syara') : melarang jual beli yang
barangnya tidak ada pada waktu akad.
Istihsan : membolehkan jual beli salam karena manusia berhajat kepada
akad tersebut dan sudah menjadi kebiasaan mereka.

2. Kedudukannya Sebagai Sumber Hukum Islam
Para ulama berbeda pendapat tentang kehujjahan istihsan :
a. Jumhur ulama menolak berhujjah dengan istihsan, sebab berhujjah
dengan istihsan berarti menetapkan hukum berdasarkan hawa nafsu.
b. Golongan Hanafiyah membolehkan berhujjah dengan istihsan.
Menurut mereka, berhujjah dengan istihsan hanyalah berdalilkan qiyas
khafy yang dikuatkan terhadap qiyas jaly atau menguatkan satu qiyas
terhadap qiyas lain yang bertentangan dengannya berdasarkan dalil yang
menghendaki penguatan itu. Atau berdalilkan maslahat untuk
mengecualikan sebagian dari hukum kully. Imam Malik dan
pengikutnya juga menggunakan istihsan tapi dikalangan mereka
populer dengan istilah masholihul mursalah.

B. Istishhab
1. Pengetian
Yang dimaksud dengan istishab ialah mengambil hukum yang telah ada
atau ditetapkan pada masa lalu dan tetap dipakai hingga masa-masa
selanjutnya, sebelum ada hukum yang mengubahnya. Misalnya
seseorang ragu-ragu, apakah sudah wudhu atau belum? Dalam keadaan
seperti ini, ketentuan hukumnya berpegang kepada "belum wudhu",
karena hukum yang asal adalah belum wudhu.
2. Macam-macam Istishhab
a. Bara’ah Ashliyah, yaitu bahwa pada asalnya suatu hukum itu
dianggap tidak ada sehingga ada dalil yang menyebutkan
ketentuannya. Misalnya seorang tidak bisa menuduh sembarangan
bersalah pada seseorang sebelum ditemukan bukti-bukti yang
menunjukkan secara meyakinkan bahwa ia bersalah. Karena
sebelumnya ia adalah seorang yang bebas.
b. Istishhab Ash-Shifah, yaitu menguatkan tetap berlakunya suatu sifat,
dimana sifat itu berlaku pada suatu ketentuan hukum sampai sifat itu
mengalami perubahan yang konsekwensi logisnya juga akan
menyebabkan berubahnya hukum. Misalnya sifat tanggung jawab
seseorang untuk membayar hutang nya kepada seseorang, beban
kewajiban untuk membayar itu akan tetap ada pada diri orang yang
berhutang sampai ia membayar lunas atau dibebaskan oleh orang
yang menghutangi.
c. Istishhab Al-Hukmi, yaitu menguatkan tetap berlakunya suatu
hukum boleh atau larangan. Hukum boleh pada sesuatu perbuatan
atau barang harus tetap berlangsung sampai ada dalil yang
mengharamkannya. Sebaliknya hukum haram pada sesuatu perbuat an
atau barang harus tetap berlangsung sampai ada dalil yang
membolehkannya. Misalnya seorang suami tidak boleh ( haram )
menikahi adik isterinya kecuali isterinya telah dicerai atau meninggal
dunia.
3. Kedudukannya Sebagai Sumber Hukum Islam
Para ulama berbeda pendapat tentang kehujjahan Istishhab :
a. Menjadikan istishhab sebagai pegangan dalam menentukan hukum
sesuatu peristiwa yang belum ada hukumnya, baik dalam Al -Qur'an,
As-Sunnah maupun ijma'. Ulama yang termasuk kelompok ini adalah
Syafi'iyah, Hanabillah, Malikiyah, Dhahiriyah, dan sebagian kecil dari ulama
Hanafiyah dan ulama Syiah. Dalil yang mereka jadikan alasan, antara lain ialah
Firman Allah dalam surat Yunus ayat 36 sebagai berikut :
Artinya : "...sesungguhnya persangkaan itu sedikit pun tidak berguna
untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui apa yang mereka kerjakan."
Berdasarkan kepada prinsip di atas, ulama ushul menetapkan kaidah-
kaidah fiqih sebagai berikut :

Artinya : “Pada dasarnya yang dijadikan dasar adalah sesuatu yanq
terjadi sebelumnya. "


Artinya : "Asal hukum sesuatu adalah boleh"
b. Menolak Istishhab sebagai pegangan dalam menetapkan hukum.
Ulama golongan kedua ini kebanyakan adalah ulama Hanafiyah. Mereka
menyatakan bahwa istishhab dengan pengertian seperti di atas adalah
tanpa dasar.

C. Mashalihul Mursalah
1. Pengertiannya
Mashalih bentuk jama‟ dari mashlahah, artinya kemaslahatan, kepentingan.
Mursalah berarti terlepas. Dengan demikian mashalihul mursalah berarti
kemaslahatan yang terlepas. Maksudnya ialah penetapan hukum berdasarkan
kepada kemaslahatan, yaitu manfaat bagi manusia atau menolak
kemadharatan atas mereka. Al-Khawarizmi menyatakan bahwa mashlahah
ialah menjaga tujuan syara' dengan jalan menolak mafsadat (kerusakan)
atau madharat dari makhluk.

2. Kedudukannya sebagai sumber hukum
Para ulama berbeda pendapat mengenai kedudukan mashalihul mursalah
sebagai sumber hukum.
a. Jumhur ulama menolak nya sebagai sumber hukum dengan alasan :
1). Nash-nash, ijma, dan qiyas yang ada telah disepakati pasti
mempertimbangkan kemaslahatan umat, karena itulah syariat yang ada
selalu memperhatikan kemaslahatan umat. Tak ada satupun
kemaslahatan umat yang tidak diperhatikan oleh syariat melalui
petunjuknya.
2). Pembentukan hukum Islam yang semata-mata didasarkan kepada
kemaslahatan umat berarti membuka pintu bagi keinginan hawa nafsu.
b. Imam Malik membolehkan berpegang kepada mashalihul mursalah secara
mutlak. Sedangkan Imam Syafi'i boleh berpegang kepada mashalihul
mursalah apabila sesuai dengan dalil kully atau dalil juz'iy dari syara‟.
Pendapat kedua ini berdasarkan :
1). Kemaslahatan umat selalu berubah-ubah dan tidak ada habis-
habisnya. Jika pembentukan hukum dibatasi hanya pada
maslahat-maslahat yang ada petunjuknya dari syari' (Allah), tentu
banyak kemaslahatan yang tidak ada status hukumnya pada
masa dan tempat yang berbeda-beda.
2). Para sahabat dan tabi'in serta para mujtahid banyak menetapkan
hukum untuk mewujudkan maslahat yang tidak ada petunjuknya
dari syari'. Misalnya membuat penjara, mencetak uang,
mengumpulkan dan membukukan ayat-ayat Al-Qur'an dan
sebagainya.
3. Syarat-syarat Berpegang kepada Mashalihul Mursalah
a. Maslahat itu harus jelas dan pasti, bukan hanya berdasarkan kepada
prasangka.
b. Maslahat itu bersifat umum, bukan untuk kepentingan pribadi.
c. Hukum yang ditetapkan berdasarkan maslahat itu tidak bertentangan
dengan hukum atau prinsip yang telah ditetapkan dengan Nash atau ijma‟.
D. Al-'Urf
1. Pengertiannya
Yang dimaksud dengan Al-'Urf ialah segala sesuatu yang sudah saling
dikenal dan dijalankan oleh suatu masyarakat dan sudah menjadi adat
istiadat, baik berupa Qauly (perkataan) maupun Amaly (perbuatan).
Menurut ahli syar'i bahwa antara adat-istiadat dengan „Urf Amali itu tidak
ada bedanya. Contoh ‘Urf Qauly ialah orang telah mengetahui bahwa
kata ar-rajul itu untuk laki-laki, bukan untuk perempuan. Contoh 'Urf
Amaly ialah jual beli yang dilakukan berdasarkan saling pengertian dan
tidak mengucapkan sighat akad jual beli.
2. Macam-macam AI-'Urf dan Hukumnya
Secara garis besar, 'urf itu dibagi menjadi dua, yaitu :
a. 'Urf Shahih, yaitu apa yang telah dikenal orang tersebut tidak
bertentangan

dengan syari'at, tidak menghalalkan yang haram, dan tidak
menggugurkan kewajiban. Misalnya orang telah mengerti bahwa orang
yang melamar itu menyerahkan sesuatu kepada perempuan yang
dilamar, berupa emas dan pakaian. Urf jenis ini diperbolehkan dan
bahwa harus dilestarikan, sebab sesuatu yang baik itu pasti mendatangkan
maslahat bagi manusia.
b. 'Urf Fasid, yaitu apa yang dikenal itu bertentangan dengan syara‟.
Contoh orang mengetahui bahwa untuk menduduki suatu jabatan itu
dengan memberikan uang sogokan (risywah). 'Urf jenis ini hukumnya
haram, sebab bertentangan dengan ajaran agama. Dalam suatu kaidah
dinyatakan yang artinya : "Tidak boleh taat kepada makhluk dalam
bermaksiat kepada Khaliq".

E. Syar'u Man Qablana
1. Pengertiannya
Yang dimaksud dengan syar'u man qablana ialah syari'at yang diturunkan
kepada orang-orang sebelum kita, yaitu ajaran agama sebelum datangnya
agama Islam.
Pada dasarnya syari'at yang diturunkan untuk dijadikan pedoman hidup
manusia, sejak dahulu hingga masa-masa selanjutnya bersumber dari satu
yaitu Allah. Namun karena masa turun dan keadaan pemakainya
berbeda, maka ketentuan-ketentuan dalam syariat itu juga mengalami
penyesuaian. Karenanya, di antara isi syari'at tersebut ada yang berlaku
terus untuk umat selanjutnya dan ada yang tidak.
Dalam surat Al-Maidah ayat 48 Allah berfirman :



Artinya : Dan Kami telah menurunkan kepadamu kitab Al-
Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya,
yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan menjadi ujian
terhadap kitab-kitab yang lain itu. Karena itu, putuskanlah perkara mereka
menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa
nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang
kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu Kami berikan aturan dan
jalan yang terang. ( QS. Al-Maidah : 48 ).


2. Pembagian dan Hukumnya
Secara garis besar syar‟u man qablana dapat dikelompokkan menjadi dua,
yaitu :
a. Istimror yaitu apa yang disyari'atkan kepada mereka juga
disyari‟atkan kepada kita ( umat Nabi Muhammad ), baik
penetapannya itu melalui perintah melaksanakan, seperti puasa, maupun
melalui kisah, seperti gishash.
b. Jumud yaitu apa yang disyari'atkan kepada mereka tidak
disyari'atkan kepada kita ( umat Nabi Muhammad ). Misalnya yang
disyari'atkan kepada Nabi Musa, seperti “Dosa orang jahat itu tidak
akan terhapus selain membunuh dirinya sendiri” dan “pakaian yang
terkena najis itu tidak suci kecuali harus dipotong bagian yang terkena
najis tersebut". Terhadap syari'at jenis kedua ini pada ulama sepakat
untuk ditinggalkan, karena syari'at kita telah menghapusnya.
F. Saddudz Dzari'ah
1. Pengertiannya
Kata saddu artinya tutup sedangkan kata dzari'ah artinya jalan. Berarti
Saddudz dzari'ah adalah menutup jalan. Menurut istilah ulama Ushul Fiqh
bahwa yang disebut dengan saddudz dzari'ah ialah :


Artinya : "Masalah yang lahirnya boleh (mubah) tetapi dapat membuka
jalan untuk melakukan perbuatan yang dilarang"
Dengan demikian, saddudz dzari'ah berarti melarang perkara-perkara yang
lahirnya boleh, karena ia membuka jalan dan menjadi pendorong
kepada perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama. Seperti melarang
permainan judi tanpa uang.
2. Kedudukannya Sebagai Sumber Hukum
Para ulama‟ berbeda pendapat mengenai kedudukan saddudz dzari'ah
sebagai sumber hukum, yaitu :
a. Diterima. Menurut Imam Malik bahwa saddudz dzari'ah dapat
dijadikan sumber hukum, sebab sekalipun mubah akan tetapi dapat
mendorong dan membuka perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh
agama.
Al-Qurtubi, seorang ulama Madzhab Maliki menyatakan; "Sesunggunya
apa-apa yang dapat mendorong terjerumus kepada perkara yang dilarang
(maksiat) adakalanya secara pasti menjerumuskan dan tidak pasti
menjerumuskan. Yang pasti menjerumuskannya bukan termasuk
suddudz dzari'ah tetapi harus dijauhi, sebab perbuatan maksiat wajib
ditinggalkan. Yang tidak pasti menjerumuskannya termasuk suddudz
dzari'ah. Guna menjauhkan diri dari terjerumus kepada perbuatan-
perbuatan yang dilarang oleh agama, maka kita wajib menjauhkan diri
dari perkara-perkara yang lahirnya mubah, tetapi lambat laun dapat
membawa dan mendorong kita kepada perbuatan maksiat.
b. Ditolak. Menurut Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi'i, bahwa
saddudz dzari'ah tidak dapat dijadikan sumber hukum, karena sesuatu
yang menurut hukum asalnya mubah, tetap diperlakukan sebagai yang
mubah. Dalam sebuah hadits Nabi Saw. Dikatakan :

Artinya : "Tinggalkan apa yang meragukan bagimu kepada apa yang
tidak meragukan".

Artinya : "Bagi siapa yang berputar-putar di sekitar larangan (Allah)
lama kelamaan dia akan melanggar larangan tersebut".

G. Mazhab Shahaby
1. Pengertiannya
Yang dimaksud dengan Mazhab Shahaby ialah fatwa-fatwa para sahabat
mengenai berbagai masalah yang dinyatakan setelah Rasulullah SAW wafat.
fatwa-fatwa para sahabat di atas bisa terjadi pada dua masa yaitu :
Pertama, ketika Rasulullah SAW masih hidup dan selanjutnya
dijadikan ketetapan ( taqrir ) Rasulullah SAW dengan sebutan Hadits
Taqrir. Kedua, setelah Rasulullah SAW wafat berarti berdasarkan ijtihad
mereka sendiri, hal ini terbagi menjadi dua, yaitu hasil ijtihad yang
mereka sepakati (Ijma‟ Sahaby) dan hasil ijtihad yang tidak mereka
sepakati.
2. Kedudukannya sebagai sumber hukum
Sesuai dengan sifat fatwa sahabat tersebut, maka kedudukan mazhab
sahabat ini dapat dikategorikan menjadi 3 macam, yaitu :
a. Mazhab sahabat yang berdasarkan kepada ketetapan Rasulullah SAW
wajib ditaati, sebab hakekatnya ia merupakan hadits Rasulullah SAW..
b. Mazhab sahabat yang berdasarkan hasil ijtihad tetapi telah mereka
sepakati (Ijma‟ Sahaby) dapat dijadikan hujah dan wajib ditaati,
sebab
mereka di samping dekat dengan rasul, mereka mengetahui rahasia
rahasia tasyri' dan mengetahui perbedaan pendapat mengenai peristiwa
yang sering terjadi. Contoh mazhab sahabat yang telah mereka
sepakati,
antara lain ialah mengenai bagian harta waris bagi nenek, yaitu seperenam.
c. Mazhab sahabat yang tidak mereka sepakati tidak dijadikan hujah dan
tidak
wajib diikuti. Abu Hanifah dan Imam Syafi'i menyatakan : “Tidak
melihat seorang pun ada yang menjadikan perkataan sahabat untuk
dijadikan hujjah”, sebab perkataan sahabat tersebut didasarkan kepada
ra'yu dan di antara sahabat sendiri juga berbeda pendapat, dan mereka
tidak luput dari kesalahan.
H. Dalalatul Igtiran
1. Pengertiannya
Yang dimaksud dengan dalalatul iqtiran ialah dalil -dalil yang
menunjukkan kesamaan hukum terhadap sesuatu yang disebutkan
bersamaan dengan sesuatu yang lain.
2. Kedudukannya Sebagai Sumber Hukum
a. Jumhur ulama berpendapat bahwa dalalatul iqtiran tidak dapat
dijadikan hujjah, sebab bersamaan dalam satu susunan tidak mesti
bersamaan dalam hukum.
b. Abu Yusuf dari golongan Hanafiyah, Ibnu Nashar dari golongan
Malikiyah, dan Ibnu Hurairah dari golongan Syafi'iyah menyatakan
dapat dijadikan hujjah. Alasan mereka bahwa sesungguhnya athaf itu
menghendaki musyarakah.
Contoh : firman Allah dalam surat Al-Baqarah : 196

Artinya : "Sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah".
Berdasarkan ayat di atas, Imam Syafi'i, menyamakan hukum umrah
dengan haji, yaitu fardhu, sebab kedua ibadah ini disebutkan dalam satu
ayat.
Contoh lain : firman Allah dalam surat An-Nahl : 8


Artinya : "Dan Dia (jadikan) kuda, bighal, dan keledai untuk kamu
jadikan kendaraan dan untuk perhiasan".
Berdasarkan ayat di atas Imam Malik tidak mewajibkan zakat atas kuda,
lantaran disebut beriringan dengan harta yang tidak dikenai zakat.
BAB IV
PELENGKAP SUMBER HUKUM ISLAM
A. Ijtihad dalam hukum Islam
1. Pengertian Ijtihad
Ijtiha menurut bahasa berasal dari kata
yang artinya mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Para ahli
Ushul Figih merumuskan pengertian ijtihad.


Artinya : Pencurahan segala kemampuan untuk mendapatkan hukum
syara' melalui dalil-dalil syara' pula"
Jadi dengan demikian, ijtihad adalah mencurahkan seluruh kemampuan untuk
menetapkan hukum syara‟ dengan jalan istinbath ( mengeluarkan hukum )
dari Al-Qur‟an dan Al-Hadits. Orang yang melakukan ijtihad disebut
Mujtahid.
Imam Al-Ghazali mendefinisikan ijtihad adalah usaha sungguh-sungguh dari
seorang mujtahid dalam upaya mengetahui atau menetapkan hukum syariat.
Berdasarkan definisi di atas, maka ijtihad hanya dibenarkan bagi
peristiwa atau hal-hal yang tidak ada dalilnya yang qoth'i, atau tidak
ada dalilnya sama sekali.
1. Hukum ijtihad
Menurut Syeikh Muhammad Khudlari, bahwa hukum ijtihad itu dapat
dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu :
a. Wajib ‘Ain, yaitu bagi seseorang yang ditanya tentang sesuatu masalah
dan masalah itu akan hilang sebelum hukumnya diketahui. Atau ia sndiri
mengalami suatu peristiwa yang ia seniri juga ingin mengetahui
hukumnya.
b. Wajib kifayah, yaitu apabila seseorang ditanya tentang sesuatu dan
seseuatu itu tidak hilang sebelum diketahui hukumnya, sedangkan selain
dia masih ada mujtahid lain. Apabila seorang mujtahid telah
menyelesaikan dan menetapkan hukum sesuatu tersebut, maka kewajiban
mujtahid yang lain telah gugur. Namun bila tak seorang pun mujtahid
melakukan ijtihadnya, maka dosalah semua mujtahid tersebut.
c. Sunnah, yaitu ijtihad terhadap suatu masalah atau peristiwa yang belum
terjadi.
3. Peranan dan kedudukan hasil ijtihad
a. Peranan ijtihad
Ijihad sangat diperlukan dan memiliki peranan yang sangat penting dalam
mencari sandaran hukm yang benar, mengingat banyak masalah yang
secara jelas belum ditentukan hukumnya baik dalam Al-Qur‟an maupun
Al-Hadits. Karenanya, Islam memberikan peluang kepada umatnya yang
mempunyai kemampuan untuk melakukan ijtihad. Sebagaimana
dianjurkan dalam Al-Qur‟an Surat Al-Hasyr ayat 2 yang berbunyi :
_4- W-Ò+O´¯4;N·· Oj¯Òq^4C
O=¯·- ^g÷
Artinya: Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai
orang-orang yang mempunyai pandangan. ( QS. Al-Hasyr : 2
).
Hadits Nabi MuhammadSAW :



Artinya : "Jika seorang hakim menghukum, lalu ia berijtihad kemudian
ijtihadnya itu benar, maka is mendapatkan dua pahala,
apabila ia menghukum, dan berijtihad dan ternyata
ijtihadnya salah, maka mendapat satu pahala". (HR.
Bukhori dan Muslim) .

Dengan demikian, ijtihad merupakan salah satu alat penggali hukum
syara‟ untuk dapat mengaplikasikan setiap hukum yang terkandung
dalam nash-nash tersebut, agar relevan dengan permaslahan hukum yang
ada di masyarakat.
b. Kedudukan hasil ijtihad
Hasil ijtihad merupakan pendapat yang bersifat zanni ( dugaan kuat ).
Hasil ijtihad itu mempunyai akibat hukum, baik bagi orang yang
bertanya maupun bagi mujtahidnya sendiri. Sedangkan bagi kaum
muslimin, hasil ijtihad itu tidak mengikat dan tidak mengharuskan orang
lain untuk mengikutinya. Bahkan pendapat hasil ijtihad seseorang, tidak
menghalangi orang lain untuk berijtihad dan menghasilkan pendapat
yang berbeda.
Kecuali seorang gadli atau hakim yang telah memutuskan hukum
berdasarkan ijtihadnya sendiri tidak boleh membatalkan keputusan
selama keputusan pertama tidak menyalahi nash atau dalil qath'i.
Sifat dasar ijtihad yang demikian itu, membolehkan seorang mujtahid
atau orang lain untuk meninjau ulang atau melakukan ijtihad baru untuk
menetapkan hukum baru.

4. Syarat-syarat mujtahid
Seseorang diperbolehkan melakukan ijtihad bila syarat-syarat ijtihad
dipenuhi. Syarat-syarat tersebut terbagi menjadi tiga, yaitu :
a. Syarat umum
1). Beriman
2). Mukallaf
3). Memahami masalah
b. Syarat khusus
1). Mengetahui ayat-ayat Al-Qur‟an yang berhubungan dengan masalah
yang dianalisis, dalam hal ini ayat-ayat ahkam, termasuk asbabul nuzul,
musytarak, dan sebagainya.
2). Mengetahui sunnah-sunnah Nabi yang berkaitan dengan masalah
yang dianalisis, mengetahui asbabul wurud, dan dapat mengemukakan
hadit-hadits dari berbagai kitab hadits seperti Shahih Bukhori, Shahih
Muslim, Sunan Abu Daud dan lain-lain.
3). Mengetahui maksud dan rahasia hukum islam, yaitu kemaslahatan
hidup manusia di dunia dan akhirat.
4). Mengetahui kaidah-kaidah kulliyah, yaitu kaidah-kaidah yang
diistinbathkan dari dalil-dalil syara‟.
5). Mengetahui kaidah-kaidah Bahasa Arab, yaitu nahwu, sharaf,
balaghah, dan sebagainya.
6). Mengetahui ilmu ushul fiqih, yang meliputi dalil-dalil syar‟I dan
cara-cara mengistinbathkan hukum.
7). Mengetahui ilmu mantiq.
8). Mengetahui penetapan hukum asal berdasarkan bar‟ah ashliyah.
9). Mengetahui soal-soal ijma‟, sehingga hukum yang ditetapkan tidak
bertentangan dengan ijma‟.

c. Syarat pelengkap
1). Mengetahui bahwa tidak ada dalil qath‟I yang berkaitan dengan
masalah yang akan ditetapkan hukumnya.
2). Mengetahui masalah-masalah yang diperselisihkan oleh para
„ulama‟dan yang akan mereka sepakati.
3). Mengetahui bahwa hasil ijtihad itu tidak bersifat mutlak.
5. Tingkatan-tingkatan mujtahid
Tingkatan ini sangat bergantung pada kemampuan, minat dan aktivitas yang
ada pada mujtahid itu sendiri. Secara umum tingkatan mujtahid ini dapat
dikelompokkan menjadi empat macam, yaitu :
a. Mujtahid Muthlaq atau Mustaqil, yaitu seorang mujtahid yang telah
memenuhi persyaratan ijtihad secara sempurna dan ia melakukan ijtihad
dalam berbagai hukum syara‟, dengan tanpa terikat kepada madzhab apa
pun. Seperti madzahibul arba‟ ( Imam Hanafi, Syafi‟i, Maliki, dan
Ahmad bin Hambal ).
b. Mujtahid Muntasib, yaitu mujtahid yang memiliki syarat-syarat ijtihad
secara sempurna, tetapi dalam melakukan ijtihad dia menggabungkan diri
kepada suatu madzhab dengan mengikuti jalan yang ditempuh oleh
madzhab itu. Sekalipun demikian, pendapatnya tidak mesti sama dengan
pendapat imam madzhab tersebut.
c. Mujtahid Fil Mazhabih, yaitu mujtahid yang dalam melakukan
ijtihad ia mengambil metode yang digunakan oleh Imam Mazhab
tertetu dan ia juga mengikuti Imam Mazhab dalam masalah furu'.
Terhadap masalah-masalah yang belum ditetapkan hukumnya oleh
Imam Mazhabnya, terkadang ia melakukan ijtihad sendiri.
d. Mujtahid Murajjih, atau dalam istilah lain orang yang mentarjih,
yaitu mujtahid yang dalam menggali dan menetapkan hukum suatu perkara
didasarkan kepada hasil tarjih (memilih yang lebih kuat) dari pendapat
imam-imam mazhabannya tentunya dengan mengambil dasar hukum
yang lebih kuat.
4. Penerapan hasil ijtihad
Pada garis besarnya ayat-ayat Al-Qur'an dapat dibedakan atas Ayat
Muhkamat dan Ayat Mutasyabihat. Ayat Muhkamat adalah ayat yang
sudah jelas dan terang maksudnya hukum yang dikandungnya sehingga tidak
memerlukan penafsiran atau interpretasi. Pada umumnya ayat muhkamat ini
bersifat perintah seperti perintah menegakkan sholat, puasa, menunaikan
zakat, ibadah haji. Sedangkan Ayat Mutasyabihat adalah ayat yang
memerlukan penafsiran lebih lanjut walaupun dalam bunyinya sudah jelas
mempunyai arti, seperti ayat-ayat mengenai gejala-gejala alam yang terjadi
setiap hari. Dengan ayat-ayat mutasyabihat mengisyaratkan kepada kita
bahwa Al-Qur'an mergajarkan kepada manusia mempergunakan akalnya,
mengamati dengan benar, harus berpikir dan bertanya secara tuntas tentang
segala sesuatu yang diamatinya.
Demikian juga dalam Al-qur'an dijumpai dalil-dalil yang bersifat Qoth'i dan
dzonni. Dalil Qoth’i adalah dalil yang sudah jelas hukumnya dan tidak
diperlukan penafsiran. Sedangkan Dalil dzonni adalah belum jelas hukumnya
untuk itu dibutuhkan penjelasan dan penafsiran, hal demikian bermuara untuk
menggunakan akal untuk memecahkannya dan yang tidak kalah penting
munculnya peristiwa baru yang sebelumnya belum pernah terjadi dan
membutuhkan status hukum. Misalnya : Bagaimana hukumnya bayi tabung,
cangkok mata, cloning manusia, donor Darah dll.
Dasar menggunakan akal untuk menetapkan hukum adalah :
1. Ketetapan Al-Qur'an mengenai landasan musyawarah dalam menetapkan
sesuatu:
Firman Allah SWT :
Artinya : ". ... Sedangkan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah
antara mereka (As-Syura : 38).
2. Allah memerintahkan dalam Al-Qur'an untuk mengembalikan segala
pertentangan dan silang pendapat kepada ulil amri, yaitu orang-orang yang
memiliki tingkat pemahaman syari‟ah yang tinggi dan menguasai tata cara
menetapkan hukum.
3. Adanya ketegasan Nabi kepada para sahabatnya agar berijtihad dan
merumuskan ketetapan hukum melalui pemikiran dalam masalah yang
tidak terdapat hukumnya dalam Al-Qur'an maupun as-sunnah. Seperti
dalam hadits saat terjadi dialog antara nabi dengan Mu'adz bin jabal cukup
memperkuat mengenai kedudukan akal itu.
Di dalam menerapkan hasil ijtihad ada beberapa macam, yaitu tarjih,
talfiq, ittiba‟, taqlid, dan fatwa. Masing-masing penerapannya memiliki
perbedaan dan persamaan. Para ‟ulama‟ berbeda pendapat mengenai
penerapan beberapa jenis hasil ijtihad tersebut sebagai berikut :
B. Tarjih dan Talfiq
1. Tarjih
a. Pengertian tarjih
Menurut bahasa, tarjih adalah ”melebihi” sesuatu, sedangkan menurut
istilah tarjih menguatkan salah satu dalil atas dalil lainnya. Maksudnya
memilih dalil yang kuat diantara dalil-dalil yang tampak berlawanan atau
tidak sama terhadap satu hukum yang sama. Dalil yang lebih kuat disbut
rajih dan dalil yang lemah disebut marjuh.
Berdasarkan uraian di atas, para ahli Ushul Fiqih memberikan
rumusan Tarjih sebagai berikut :



Artinya : "Tarjih adalah menguatkan salah satu dalil dari dua dalil
yang bertentangan terhadap yang lain sehingga dapat
diketahui mana yang lebih kuat kemudian diamalkan dan
dikesampingkan (ditinggalkan) yang lainnya (yang Iemah)".
Tarjih dibenarkan dalam menetapkan hukum syar'i berdasarkan
ijma' sahabat. Misalnya wajib berpuasa bagi orang yang junub sampai
shubuh walaupun ada hadits yang menerangkan bahwa orang yang
junub sampai shubuh puasanya batal. Kedua hadits itu adalah sebagai berikut :



Artinya : "Sesungguhnya Nabi SAW pernah dalam keadaan junub pada
waktu shubuh" (HR. Bukhori dan Muslim).


Artinya : "Telah bersabda Rasulullah SAW barang siapa pada waktu
subuh dalam keadaan junub, maka tidak sah puasanya".
(HR. Ahmad dan lbnu Habban).
Hadits yang pertama diriwayatkan dari isteri-isteri Nabi sedang
hadits kedua diriwayatkan dari Abu Hurairah. Hadits pertama Iebih
kuat, sehingga ditetapkan sebagai dasar hukum karena diriwayatkan
dari istri-istri Nabi yang menyaksikan sendiri apa yang diriwayatkannya
itu.
b. Dalil-dalil yang ditarjihkan
1) Dalil yang ditarjih itu sama kepastian kekuatannya, seperti : Al-
Qur'an dengan Al-Qur'an, Al-Qur'an dengan Hadits mutawatir, hadits
ahad dengan hadits ahad.
2) Dalil yang berlawanan sama dalam hukumnya, waktunya, tempatnya
dan arah yang dimaksudnya.
2. Talfiq
a. Pengertian talfiq
Menurut bahasa talfiq adalah menyambung dua tepi yang bebeda.
Seperti mempertemukan dua tepi kain kemudian menjahitnya. Sedangkan
menurut istilah talfiq adalah mengikuti suatu hukum dengan mengambil
pendapat dari berbagai madzhab dengan tujuan agar hukum tersebut dapat
lebih ringan. Talfiq dalam rumusan ushul fiqih berarti mengambil
beberapa hukum sebagai dasar beramal dari berbagai madzhab atau
pendapat yang berbeda.
Contoh, seseorang berwudlu dengan tidak menggosok anggota wudlu,
menurut Imam Syafi'i wudlunya sah sedangkan menurut Imam Malik
tidak sah, kemudian ia menyentuh wanita, menurut Imam Syafi'i
wudlunya batal sementara menurut Imam Malik tidak batal. Jika
kemudian ia sholat tidak sah. Menurut Imam Syafi'i karena
wudlunya batal dengan menyentuh wanita, sedangkan menurut Imam
Malik tidak sah karena wudlunya batal dengan tidak menggosok
anggota wudlu.
b. Hukum talfiq
1). Contoh di atas memberikan gambaran bahwa penggabungan
pendapat sebagai dasar beramal mengakibatkan amalannya batal /
tidak sah. Maka talfiq tidak dibenarkan dalam ajaran syari'at Islam.
2). Talfiq dibenarkan sepanjang tidak berakibat batalnya amaliah,
demikian pula perpindahan madzhab yang lain dalam masalah
yang berbeda tetap dibenarkan, seperti wudlu mengikuti pendapat
Imam Syafi'i. Sholatnya mengikuti pendapat Imam Malik sedang
ketentuan halal dan haramnya makanan mengikuti pendapat
Imam Hambali.
3. Perbandingan antara tarjih dan talfiq
Di antara tarjih dan talfiq terdapat persamaan dan perbedaan, yaitu :
a. Persamaan keduanya adalah masalah yang hukumnya akan ditetapkan
mencakup masalah-masalah yang masih dalam lingkup perbedaan
pendapat ‟ulama‟, baik dikarenakan terdapatnya nash lebih dari satu
atau perselisihan pendapat ‟ulama‟. Dan termasuk dalam bagian
ijtihad.
b. Perbedaan keduanya adalah kalau tarjih menetapkan salah satu dalil
yang paling kuat dan tidak ada kemungkinan mencari yang lebih
ringan dari dalil-dalil yang ada, sedangkan talfiq menggabungkan
beberapa pendapat madzhab dan ada kecendrungan mencari yang
lebih ringan dari beberapa pendapat madzhab.

C. Ittiba’ dan Taqlid
1. Pengertian ittiba’ dan taqlid
a. Ittiba‟
Menurut bahasa ittiba‟ adalah mengikuti atau menurut. Sedangkan
menurut istilah ittiba‟ adalah mengikuti semua yang diperintahkan atau
yang dilarang dan yang dibenarkan oleh Rasulullah SAW. Salah satu
‟ulama‟ berpendapat bahwa ittiba‟adalah :


Artinya : "Menerima atau mengikuti pendapat perbuatan seseorang
dengan mengetahui dasar pendapat atau perbuatannya itu".
b. Taqlid
Menurut bahasa taqlid adalah meniru. Sedangkan menurut istilah
Taqlid adalah :


Artinya : "Menerima atau mengikuti pendapat perbuatan seseorang
tanpa mengetahui dasar pendapat atau perbuatannya itu".
2. Hukum ittiba’ dan taqlid
Ittiba' dalam agama adalah wajib. Firman Allah SWT :


Artinya : "Katakanlah jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah
aku, niscaya Allah mengampuni dosa-dosamu". (Ali Imran : 31)
Taqlid adalah perbuatan yang tercela dalam agama (Islam) terutama bagi
orang yang mempunyai kemampuan beristidlal.
Firman Allah SWT :




Artinya : "Dan apabila telah dikatakan kepada mereka : ikutilah apa
yang diturunkan Allah, mereka menjawab : "(tidak) akan tetapi
kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari
(perbuatan) nenek moyang kami". (Apakah mereka akan
mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka itu tidak
mengetahui sesuatu apapun dan tidak mendapat petunjuk".
(Al-Bagarah : 170).
3. Perbandingan antara ittiba’ dan taqlid
Secara khusus dapat diketahui bahwa ittiba‟ dan taqlid memiliki
persamaan dan perbedaan sebagai beikut :
a. Persamaannya keduanya perbuatan mengikuti.
b. Perbedaannya kalau ittiba‟ seseorang yang mengikuti itu mengetahui
sumber yang dijadikan dasar oleh mujtahid yang diikutinya. Sedangkan
kalau taqlid seseorang yang meniru itu tidak mengetahui sumber yang
dijadikan daras oleh mujtahid yang ditirunya.

D. Fatwa
1. Pengertian fatwa
Yang dimaksud dengan fatwa adalah jawaban berdasarkan ijtihad terhadap
pertanyaan mengenai hukum suatu peristiwa yang belum jelas hukumnya.
Orang yang menyampaikan fatwa disebut mufti dan biasanya merupakan
tokoh agama dan ‟ulama‟.
2. Syarat-syarat mufti
Mufti menjadi panutan masyarakat kaum muslimin, karenanya harus
memiliki syarat-syarat sebagai berikut :
a. Menguasai hukum dalam Al-Qur‟an dan Al-Hadits
b. Niyatnya semata-mata mencari ridlo Allah SWT.
c. Berakhlak mulia, sabar, mampu menguaisai diri, bijaksana, dan berwibawa
d. Mengetahui ilmu sosial.
3. Perbandingan hakim dan mufti
Ada beberapa persamaan dan perbedaan antara hakim dan mufti sebagai
berikut :

a. Persamaan
1). Hakim dan mufti sama-sama mujtahid
2). Hakim dan mufti orang yang mengetahui dan memahami masalah
yang diselesaikan
3). Hakim dan mufti adalah orang yang mengetahui kondisi sosial
masyarakat yang dihadapi.
b. Perbedaan
1). Persoalan yang dihadapi hakim telah dibatasi oleh berbagai ketentuaan
yang sudah ditetapkan oleh undang-undang, sedangkan persoalan yang
dihadapi mufti bebas
2). Keputusan hakim harus dilaksanakan oleh penggugat dan tergugat,
sedangkan fatwa mufti boleh dilaksanakan boleh tidak diserahkan
kepada orang yang meminta fatwa tersebut
3). Keputusan hakim dapat membatalkan fatwa, sedangkan fatwa tidak
dapat membatalkan keputusan hakim.













BAB V
KONSTRIBUSI UMAT ISLAM
DAN HUKUM ISLAM DI INDONESIA
B. Kontribusi umat Islam dalam Perumusan Sistem Hukum Nasional
1. Konstribusi Umat Islam Dalam Perumusan Sistem Hukum Islam.
a. Sejarah Kemerdekaan Republik Indonesia
Kemerdekaan indonesia tidak lepas dari orang-orang islam juga.
Dapat dilihat dari organisasi-organisasi kemerdekaan jaman dahulu
seperti oraganisasi serikat islam dan organisasi islam lainnya.
b. Perumusan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945
Pada saat sidang BPUPKI dulu sebagin besar orang yang mengikuti
sidang tersebuat adalah orang islam seperti M. Yamin
Dan pada saat sidang PPKI juga banyak sekali orang islam yang
ikut rapat tersebut
C. Lahirnya Undang-Undang Perkawinan, Peradilan Agama, Zakat, dll
1. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1946
2. Undang-undang Nomor 19 Tahun 1948 & Undang-undang Darurat
Nomor 1 Tahun 1951
3. Undang-undang Darurat Nomor 1 Tahun 1951
4. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974
5. KHI (Kompilasi Hukum Islam)






BAB VI
KESIMPULAN

Dalam menentukan hukum, islam sangatlah sistematis yang pertama
dalam menentukan hukum islam menggunakan Al-Qur‟an terlebih dahulu. Al-
Quran dalam menetapkan hukum tidak memberatkan, memminimalisisr beban
dan berangsur-angsur dalam menetapkan hukum. Kemudian Al-Hadist dan yang
terakhir adalah sumber hukum pelengkap yang salah satunya ijtihad.















DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Dr. H. Sulaiman, Sumber Hukum Islam Permasalahn dan
Fleksibilitasnya, Jakarta, Sinar Grafika, 1995.
Abdul Wahhab Khallaf, Kaidah-kaidah Hukum Islam, Arrisalah,
Bandung, 1985
Acara Peradilan Agama dan Zakat Menurut Hukum Islam, Jakarta, Sinar
Grafika, 1995
A.Hanafi, Ushul Fiqih, Bumirestu, Jakarta, 1981
A.Syafi‟i Karim, Ushul Fiqih, Pustaka Setia, Bandung, 2006
Dedi Supriyadi, Perbandingan Fiqih Syiyasah, Pustaka Setia, Bandung,
2007
Dedi Supriyadi, Perbandingan Mazhab dengan Pendekatan Baru,
Pustaka Setia, Bandung, 2008
Idris Ramulyo, Mohammad, Hukum Perkawinan, Hukum Kewarisan, Hukum
Mahrus As‟ad dkk, Memahami Fiqih Kelas III Madrasah Aliyah, Armico,
Bandung, 2006
Muzilanto dkk, Modul Fiqih Kelas XII Madrasah Aliyah, Akik Pusaka,
Solo, 2009

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful