BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah Penanggulangan bencana merupakan bagian integral dari pembangunan nasional, yaitu serangkaian kegiatan penanggulangan bencana sebelum, pada saat maupun sesudah terjadinya bencana. Seringkali bencana hanya ditanggapi secara parsial oleh pemerintah. Bahkan bencana hanya ditanggapi dengan pendekatan tanggap darurat (emergency response). Kurang adanya kebijakan pemerintah yang integral dan kurangnya koordinasi antar elemen dianggap sebagai beberapa penyebab yang memungkinkan hal itu dapat terjadi. Realitas tersebut bisa dilihat dalam penanggulangan erupsi Gunung Merapi di Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya. Meski erupsi Merapi sudah berakhir tahun lalu, namun janji-janji yang menyertai selama penanganan kasus tersebut sampai saat ini belum juga terwujud. Kondisi ini membuat para korban jengah dan merasa hanya jadi korban janji-janji pemerintah. Puncak dari kemarahan tersebut ditandai dengan ratusan warga dari Kecamatan Cangkringan yang mendatangi kantor Bupati Sleman untuk meluapkan segala kekesalan dalam bentuk orasi yang muaranya adalah meminta pertanggungjawaban pemerintah1. Pemerintah bertanggungjawab terhadap penyelenggaraan penanggulangan

bencana meliputi fokus rekontruksi dan rehabilitasi dari pasca bencana. Jaminan pemenuhan hak masyarakat dan pengungsi yang terkena bencana secara adil dan

1

Dilansir dalam Harian Surat Kabar Republika, Selasa 1 Maret 2011

1

sesuai dengan standar pelayanan harus segera diupayakan, hal ini untuk mengantisipasi korban yang lebih banyak. Pemulihan kondisi dari dampak bencana dan pengalokasian anggaran penanggulangan bencana dalam anggaran dan belanja negara yang memadai dan siap pakai dalam rekontruksi dan rehabilitasi seharusnya menjadi jaminan bagi korban bencana. Pola penanggulangan bencana mendapatkan dimensi baru dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Perka BNPB) Nomor 3 Tahun 2008 tentang Pedoman Pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 48 tahun 2008 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja BPBD yang diikuti beberapa aturan pelaksana terkait, yaitu Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 8 Tahun 2008 tentang Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2008 tentang

Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2008 tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana, dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 23 tahun 2008 tentang Peran Serta Lembaga Internasional dan Lembaga Asing Non Pemerintah Dalam Penanggulangan Bencana. Dimensi baru dari rangkaian peraturan tersebut adalah (1) Penanggulangan bencana sebagai sebuah upaya menyeluruh dan pro aktif dimulai dari pengurangan risiko bencana, tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi; (2) Penanggulangan bencana sebagai upaya yang dilakukan bersama oleh para

2

pemangku kepentingan dengan peran dan fungsi yang saling melengkapi; (3) Penanggulangan bencana sebagai bagian dari proses pembangunan sehingga mewujudkan ketahanan (resilience) terhadap bencana2. Provinsi dan kabupaten/kota mulai mengembangkan kebijakan, strategi, dan operasi penanggulangan bencana sesuai dengan arah pengembangan kebijakan di tingkat nasional. Upaya penanggulangan bencana di daerah perlu dimulai dengan adanya kebijakan daerah yang bertujuan menanggulangi bencana sesuai dengan peraturan yang ada. Strategi yang ditetapkan daerah dalam menanggulangi bencana perlu disesuaikan dengan kondisi daerah. Operasi penanggulangan bencana secara nasional harus dipastikan berjalan efektif, efisien dan berkelanjutan. Untuk mendukung pengembangan sistem penanggulangan bencana yang mencakup kebijakan, strategi, dan operasi secara nasional mencakup pemerintah pusat dan daerah maka perlu dimulai dengan mengetahui sejauh mana penerapan peraturan terkait dengan penanggulangan bencana di daerah. Sejalan dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, dalam bagian dua tentang Badan Penanggulangan Bencana Daerah pasal 19 ayat 1 menyatakan “Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terdiri atas unsur: a) Pengarah penanggulangan bencana; b) pelaksana penanggulangan bencana. Pada pasal 20 dijelaskan tentang fungsi dari BPBD yaitu: a) Perumusan dan penetapan kebijakan penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi dengan bertindak cepat, tepat, efektif dan efisien; b)

2

Sulis Setyawan, Ironisme Penanganan Bencana di Indonesia, Rimanews.com, diakses pada tanggal 10 Februari 2011

3

Pengkoordinasian pelaksanaan kegiatan bencana secara terpadu, terencana dan menyeluruh. Pasal 21 dijelaskan tentang tugas dari BPBD antara lain: a) Menetapkan pedoman dan pengarahan sesuai dengan kebijakan pemerintah daerah dan badan nasional penanggulangan bencana terhadap usaha penanggulangan bencana yang mencakup pencegahan bencana, penanganan darurat, rehabilitasi, serta rekonstruksi secara adil dan merata; b) Menetapkan standarisasi serta kebutuhan penyelenggaraan penanggulangan bencana berdasarkan peraturan perundang-undangan; c) Menyusun, menetapkan, dan menginformasikan peta rawan bencana; d) Menyusun dan menetapkan prosedur tetap penanganan bencana; e) Melaksanakan penyelenggaraan penanggulangan bencana pada wilayahnya; f) Melaporkan penyelenggaraan penanggulangan bencana kepada kepala daerah setiap sebulan sekali dalam kondisi normal dan setiap saat dalam kondisi darurat bencana; g) Mengendalikan pengumpulan dan penyaluran uang dan barang; h) Mempertanggungjawabkan penggunaan anggaran yang diterima dari anggaran pendapatan dan belanja daerah; serta i) Melaksanakan kewajiban lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Berbicara tentang wilayah rawan bencana di Indonesia, Kabupaten Majalengka merupakan wilayah yang berpotensi terjadi bencana alam yang ditetapkan dalam tiga wilayah pengembangan bencana Selatan, Tengah, dan Utara3. Pertama, wilayah Selatan yang meliputi Kecamatan Maja, Talaga, Bantarujeg, Cikijing dan sekitarnya secara geografis merupakan dataran tinggi dan pegunungan dengan lokasi yang terjal dan berbukit-bukit dengan ketinggian

3

Hasil wawancara dengan Bapak Iyus Kepala Bagian Sosial Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Majalengka, pada tanggal 20 Januari 2011.

4

400-1000 meter dpl, setiap tahunnya daerah ini sering mengalami bencana tanah longsor, terutama pada waktu musim penghujan. Kedua, wilayah Tengah yang meliputi Kecamatan Majalengka Wetan, Majalengka Kulon, Cigasong, Sukahaji, Rajagaluh dan sekitarnya merupakan daerah dataran sedang dengan ketinggian 100-400 meter dpl yang merupakan daerah rawan angin puting beliung. Ketiga, wilayah pengembangan bencana daerah utara dengan ketinggian 20-100 meter dpl yang meliputi Kecamatan Kadipaten, Jatitujuh, Jatiwangi, Ligung dan sekitarnya merupakan wilayah yang rawan bencana tanah longsor, kekeringan dan banjir karena secara struktur tanah, wilayah ini berada di dataran rendah dan dekat dengan sungai-sungai besar sehingga memungkinkan terjadi luapan air sungai dan erosi tanah di daerah sekitarnya. Angka kejadian bencana alam di Kabupaten Majalengka pada tahun 2010 per Agustus telah terjadi 104 kejadian (longsor 44 kali, angin puting beliung 15 kali, kebakaran 18 kali, sambaran petir 4 kali, banjir 10 kali, dan tanggul jebol 1 kali). Sedangkan untuk korban jiwa (luka ringan 7 orang, luka berat 4 orang, dan meninggal 1 orang) dengan resistensi kerusakan rumah (63 KK rusak ringan, 51 KK rusak sedang, dan 82 KK rusak berat). Bulan Januari terjadi 20 kali kejadian (longsor 9 kali, puting beliung 8 kali, kebakaran 1 kali, sambaran petir 1 kali, banjir 1 kali dengan korban luka 1 orang, luka berat 1 orang dan korban tewas 1 orang). Bulan Februari terjadi 19 kali kejadian (longsor 14 kali, tanggul jebol 1 kali, kebakaran 1 kali, banjir 3 kali, dengan korban luka 1 orang). Bulan Maret terjadi 16 kali kejadian (longsor 5 kali, puting beliung 2 kali, kebakaran 4 kali, sambaran petir 3 kali, banjir 2 kali, dengan korban tewas 1 orang dan luka ringan

5

2 orang). April terjadi 12 kali kejadian (longsor 6 kali, puting beliung 4 kali, kebakaran 2 kali). Mei terjadi 18 kali kejadian (longsor 8 kali, banjir 4 kali, pohon tumbang 1 kali, kebakaran 5 kali, dengan korban ringan 3 orang, dan koraban berat 3 orang). Bulan Juni dan Juli stabil hanya terjadi kebakaran 2 kali, 1 kali angin puting beliung, sementara Agustus terjadi 4 kali kejadian (2 kali kebakaran dan 2 kali longsor)4. Tingginya angka kejadian bencana alam di Majalengka menguatkan Kabupaten Majalengka membentuk dan mendirikan Badan Penanggulangan

Bencana Daerah (BPBD) selain empat kabupaten di Jawa Barat (Tasikmalaya, Sukabumi, Kuningan, dan Ciamis). Di satu sisi Kabupaten Majalengka adalah kabupaten yang luas wilayahnya relatif kecil dibandingkan dengan kabupatenkabupaten di daerah Jawa Barat lainnya, namun kerentanan terhadap bencana alam yang terjadi menjadi perhatian yang tidak bisa di hindarkan. Letak geografis Kabupaten Majalengka yang berada dalam sebuah patahan lempeng IndoAustralia, dengan variasi wilayah dataran tinggi yang terletak di bawah kaki Gunung Ciremai, dataran sedang, dan dataran rendah mengakibatkan bencana alam yang terjadi sangat bervariasi. Dalam menyelenggarakan penanggulangan bencana di daerah, pemerintah membentuk BPBD sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 dan Perka BNPB Nomor 3 Tahun 2008. BPBD di Kabupaten Majalengka didirikan sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 10 Tahun 2009 tentang Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang secara resmi berdiri sejak tanggal 4
4

Hasil wawancara dengan Kepala Pelaksana BPBD Ibu Suratih Puspa, SH, MM, M.Si, pada tanggal 21 Januari 2011, sekaligus dilansir dalam Surat Kabar Lokal Radar Majalengka pada tanggal 6 November 2010.

6

Januari 2009. Badan Penanggulangan Bencana Daerah sebagai organisasi perangkat daerah dibentuk dalam rangka melaksanakan tugas dan fungsi penanggulangan bencana5. Inisiatif pemerintah daerah membentuk BPBD menjadi konsentrasi yang menarik, terutama dalam aspek penanggulangan bencana sebelum dan sesudah dibentuknya BPBD. Didirikannya BPBD setidaknya menjadi bukti bahwa Kabupaten Majalengka serius dalam penanganan bencana alam dan menjadi daerah yang sadar akan bencana. Keseriusan tersebut tidak bisa di definisikan dengan didirikannya BPBD. Perlu dicermati adalah bagaimana peran pemerintah daerah bersama stakeholder serius dan konsekuen untuk bersinergis dalam

penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Kebijakan dan strategi dalam penanggulangan bencana, kerentanan dampak bencana, status bencana dan efektifitas kegiatan penanggulangan bencana di daerah menjadi issue yang menarik untuk dikaji dalam mengukur peran pemerintah daerah Kabupaten Majalengka serius atau dalam penanggulangan bencana alam. Sosialisasi penanggulangan bencana harus di upayakan secara integral kepada seluruh elemen pemerintah daerah, non pemerintah dan masyarakat karena sangat dibutuhkan dalam mereduksi manajemen penanggulangan bencana yang efektif, efisien, dan berkelanjutan. Pengkoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana secara terpadu dan menyeluruh menjadi perhatian khusus dalam pola dan manajemen penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Peraturan perundang-

5

Lihat Peraturan Daerah Kabupaten Majalengka Nomor 10 Tahun 2009 tentang Organisasi Perangkat Daerah BAB I Ketentuan Umum, pasal 20.

7

undangan maupun kebijakan penanggulangan bencana yang telah dikeluarkan oleh pemerintah pusat seharusnya bisa diaplikasikan dan dijalankan oleh pemerintah daerah yang bertanggung jawab terhadap penanggulangan bencana di daerahnya sebagaimana yang di amanatkan dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007. Fungsi koordinasi dan komando dalam strategi dan teknis penanggulangan bencana, baik bersifat sektoral maupun terpusat masih menjadi dilema yang menjadi perhatian khusus terhadap fungsi-fungsi lembaga yang saling berbenturan. Ego sektoral dan lembaga dalam penanggulangan bencana, baik di tataran pusat maupun daerah masih di upayakan untuk membentuk sebuah pola sinergitas dan keterpaduan sehingga tidak ada fungsi lembaga, dinas setingkat yang berbenturan dalam penanggulangan bencana. Sinergi pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka menjadi perhatian khusus dalam penelitian ini. Latar belakang tersebut menjadi daya tarik peneliti untuk mengkaji lebih dalam peran pemerintah daerah dan stakeholder dalam upaya penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Pada akhirnya penelitian ini diharapkan menjadi landasan dan evaluasi terhadap peningkatan kapasitas, sinergitas dan peran pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam penanggulangan bencana alam.

8

1.2.

Rumusan Masalah Dalam mempertajam penelitian, peneliti kualitatif menetapkan fokus.

Spradley menyatakan bahwa “ A focused refer to a single cultural domain or a few related domains” maksudnya adalah fokus itu merupakan domain tunggal atau beberapa domain yang terkait dari situasi sosial. Dalam penelitian kualitatif, penentuan fokus didasarkan pada tingkat kebaruan informasi yang akan diperoleh dari situasi sosial (lapangan). Kebaruan informasi itu bisa berupa upaya untuk memahami secara lebih luas dan mendalam tentang situasi sosial, tetapi juga ada keinginan untuk menghasilkan hipotesis atau ilmu baru dari situasi sosial yang diteliti (Sugiyono 2010:208-209). Penelitian ini di fokuskan pada peran pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Aspek yang akan diteliti adalah peran dan sinergi stakeholder dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Sehingga unit analisis yang akan ditelit lebih fokus pada aktor-aktor yang terlibat dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Berdasarkan latar belakang dan fokus penelitian maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Bagaimanakah peran pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka pada tahun 2010? 2. Bagaimanakah sinergi stakeholder dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka?

9

1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3.1. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah tersebut, tujuan dalam penelitian adalah untuk mengetahui peran pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka pada tahun 2010 dan mengkonstruksi model sinergi stakeholder dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka?

1.3.2. Manfaat Penelitian 1.3.2.1. Manfaat Teoritis Memberikan kontribusi bagi perkembangan Ilmu Politik khususnya mengenai kajian birokrasi dan politik dalam penanggulangan bencana daerah. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan rujukan serta tambahan alternatif untuk penelitian selanjutnya yang sejenis. 1.3.2.2. Manfaat Praktis Memberikan informasi, kontribusi, dan masukan kepada para pengamat politik, birokrasi, praktisi, lembaga daerah, pemerintah daerah serta pihak-pihak yang berkepentingan dalam penanggulangan bencana.

10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Penelitian Terdahulu Penelitian tentang birokrasi dan politik dalam penanggulangan bencana, sebelumnya telah dilakukan oleh beberapa peneliti dengan berbagai sub aspek dan fokus penelitian yang berbeda diantaranya adalah:

2.1.1. Manajemen Pemerintah Dalam Penanganan Bencana “Birokratisasi Penyaluran Dana Rekonstruksi” Penelitian ini ditulis oleh Bagas Megantoro pada tahun 2006. Dalam penelitiannya dijelaskan tentang sistem birokrasi penyaluran dana rekonstruksi yang berkelumit dan tersentralisasi. Hal tersebut menjadi salah satu penyebab terjadinya ketidakefektifan dan ketidakefisiensian dalam penanganan bencana gempa Yogyakarta 27 Mei 2006. Dipaparkan pula mengenai solusi penyelesaian terkait dengan birokratisasi yang sentralistis dirubah menjadi desentralistis, agar penyaluran dana rekontruksi tidak harus berkelumit pada tahapan-tahapan birokrasi tanpa adanya realisasi kepada korban bencana, dan tidak menjadikan adanya egosentris dan saling menyalahkan antar lembaga dalam penyaluran dana tersebut.

11

2.1.2. Pentingnya Manajemen Birokrasi Profesional Untuk Mengatasi Kemunduran Birokrasi Dalam Pelayanan Publik Penelitian ini ditulis oleh Agus Suryono pada tahun 2005. Agus Suryono berbicara tentang birokrasi di Indonesia ada kecenderungan berkembang ke arah “parkinsonian”, dimana terjadinya proses pertumbuhan jumlah personil dan pemekaran struktur dalam birokrasi secara tidak terkendali. Pemekaran yang terjadi bukan karena tuntutan fungsi, tetapi semata-mata untuk memenuhi tuntutan struktur. Disamping itu, terdapat pula kecenderungan terjadinya birokrasi “orwellian” yakni proses pertumbuhan kekuasaan birokrasi atas masyarakat, sehingga kehidupan masyarakat menjadi dikendalikan oleh birokrasi. Akibatnya, birokrasi Indonesia semakin membesar (big bureaucracy) dan cenderung tidak efektif dan tidak efisien. Pada kondisi yang demikian, sangat sulit diharapkan birokrasi siap dan mampu melaksanakan kewenangan-kewenangan barunya secara optimal.

2.1.3. Telaah Sistem Terpadu Penanggulangan Bencana di Indonesia (Kebijakan, Strategi, dan Operasi) Penelitian yang ditulis oleh Adi Suhendi pada tahun 2009 dalam ringkasan evaluasi Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Penelitian ini membahas penetapan status bencana (nasional, provinsi, dan kabupaten/kota) serta penyorotan terhadap kelembagaan setingkat menteri yaitu badan nasional penanggulangan bencana (BNPB) dalam alur komando ketika terjadi bencana belum terlaksana secara efektif. Dikarenakan BNPB punya

12

kecenderungan untuk berbenturan dengan fungsi-fungsi kementerian-kementerian teknis lainnya yang terkait dengan penanggulangan bencana. Mekanisme koordinasi antara BNPB dengan BPBD cenderung sulit dilaksanakan secara efektif, karena BPBD sebagai perangkat daerah akan lebih patuh terhadap kepala daerah. Pada kesimpulannya sistem penanggulangan dan koordinasi antar lembaga pusat dan daerah tidak berjalan dengan efektif karena sebuah benturan pelaksanaan teknis yang sama. Penelitian-penelitian terdahulu ini menginspirasi untuk melakukan sebuah penelitian yang berkesinambungan, salah satunya dengan penelitian yang akan peneliti lakukan menyoroti peran dan sinergi stakeholder dalam penanggulangan bencana. Tentunya ini berbeda dengan penelitian terdahulu. Untuk melihat pembanding dan komparasi dengan penelitian terdahulu dapat dilihat dalam tabel berikut ini.

13

Tabel 1. Matriks Analisis Penelitian Terdahulu
No 1. Peneliti Bagas Megantoro Judul Penelitian Manajemen Pemerintah Dalam Penanganan Bencana “Birokratisasi Penyaluran Dana Rekonstruksi” Tahun 2006 Pentingnya Manajemen Birokrasi Profesional Untuk Mengatasi Kemunduran Birokrasi Dalam Pelayanan Publik Tahun 2005 Tujuan Penelitian Mengetahui sejauh mana manajemen penyaluran dana rekonstruksi dalam peanggulangan bencana Metode Kualitatif Studi Kasus Hasil Manajemen pemerintah dalam penanganan [pasca] bencana perlu diperbaiki. salah satu sumber permasalahan tersebut adalah lamanya dan rumitnya pencairan dana rekonstruksi korban bencana dan diperlukan perbaikan dan pembetulan dalam sistem birokrasi Indonesia Merubah persepsi dan paradigma tentang birokrasi Unsur pemerintah, privat dan masyarakat harus all together yang sinergi dengan adanya standar minimal pelayanan publik dan adanya mekanisme pengawasan sosial terhadap birokrat Persamaan dan Perbedaan Penelitian Persamaan Menyoroti sinergisitas lembaga dalam penanggulangan bencana Perbedaan Peneliti lebih menyoroti pada peran dan sinergi stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana, sedangkan penelitian Bagas Megantoro lebih membahas mengenai sinergi penyaluran dana rekonstruksi antar lembaga pusat-daerah dalam penanggulangan bencana. Peneliti lebih menekankan pada aspek birokrasi (institusi atau lembaga daerah) dalam konteks penanganan dan pelayanan penangulangan bencana sedangkan penelitian Agus Suryono memfokuskan pada aspek dan pengkrirtisan terhadap birokrasi yang mengarah ke arah parkinsonian dan orwelian sehingga birokrasi menjadi tidak efektif dan efisien dalam menjalankan tugasnya secara profesional. Peneliti lebih memfokuskan pada peran dan sinergitas stakeholder , sementara penelitian Adi Suhendi lebih memfokuskan pada sinergitas di tataran pusat dan implikasi nya terhadap sinergi dengan daerah dan berbicara tentang aturan dalam pasal-pasal UU No. 24 tahun 2007.

2.

Agus Suryono

Memahami pentingnya manajemen birokrasi profesional

Studi Pustaka

Mencari keefektifan dan sinergitas dalam tubuh birokrasi

3.

Adi Suhendi

Telaah Sistem Terpadu Penanggulangan Bencana di Indonesia (Kebijakan, Strategi, dan Operasi Tahun 2009 Peran Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majalengka Tahun 2011

Melakukan review tentang sistem penanggulangan bencana nasional dan menellaah efektifitas PB di tingkst daerah-pusat Mengetahui sejauh mana peran dan sinergi stakeholder dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka

Studi Pustaka

Kelembagaan penanggulangan bencana harus dapat bertindak lintas sektor dan lintas wilayah serta memiliki rantai komando yang jelas dan efektif

Fokus pada aspek sinergitas lembaga dalam penanggulangan bencana

4.

Asep Deni Jatnika

Kualitatif Studi Kasus -

14

2.2. Kerangka Teori Penelitian ini memfokuskan pada peran pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Sesuai dengan fokus penelitian, maka diperlukan beberapa teori pendukung untuk mempermudah dalam proses penelitian. Beberapa landasan teori yang mendukung dalam penelitian yang akan peneliti lakukan adalah teori dan konsep tentang peran pemerintah daerah dan manajemen kebencanaa (Disaster Management). Berikut penjelasan mengenai teori dan konsep yang menjadi landasan teori dan kerangka berfikir dalam penelitian ini.

2.2.1. Peran Pemerintah Daerah Peran memiliki arti serangkaian perilaku yang diharapkan dilakukan oleh seseorang. Pengharapan yang terdapat dalam peran merupakan suatu norma yang dapat mengakibatkan terjadinya suatu peran. Konsep peran sangat diperlukan untuk mengetahui dan memahami keselarasan atau integrasi antar tujuan dan misi yang ingin dicapai (Nogi 2005: 266). Peran-peran diajarkan melalui sosialisasi dan interaksi. Seseorang harus belajar mengetahui peran yang dijalankannya serta peran yang dijalankan orang lain melalui sebuah interaksi dan sosialisasi. Adanya interaksi dalam masyarakat akan menciptakan hubungan antar peran-peran individu dalam masyarakat. Seseorang menjalankan peran manakala ia menjalankan hak dan kewajibannya dari statusnya (Sunarto 2000: 54). Pemerintah daerah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan DPRD

15

menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluasluasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Pemerintah daerah adalah gubernur, bupati, atau walikota, dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah6. Dengan demikian peran pemerintah daerah adalah segala sesuatu yang dilakukan dalam bentuk cara bertindak baik dalam rangka melaksanakan otonomi daerah sebagai suatu hak, wewenang, dan kewajiban pemerintah daerah untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Bencana alam yang terjadi di Kabupaten Majalengka merupakan rangkaian permasalahan yang perlu dicarikan solusi dan alternatif untuk menyelesaikannya, tentunya hal tersebut membutuhkan peran-peran dari pemerintah daerah dan stakeholder di dalamnya. Secara sederhana, stakeholder sering dinyatakan sebagai para pihak, lintas pelaku, atau pihak-pihak yang terkait dengan suatu issue atau suatu rencana7. Berdasarkan kekuatan, posisi penting, dan pengaruh stakeholder terhadap suatu issue, stakeholder dapat diketegorikan kedalam tiga kelompok. Pertama, stakeholder primer (utama) yang memiliki kaitan kepentingan secara langsung dengan suatu kebijakan, program, proyek, dan sebagai penentu utama dalam proses pengambilan keputusan (masyarakat dan pihak manajer publik:
6

Abdi Projo, Pengertian Tentang Pemerintah Daerah, http//www.bloger.com, diakses pada tanggal 10 Februari 2010 http//www.wikipedia.com, Pemangku Kepentingan, diakses pada tanggal 10 Februari 2010.

7

16

lembaga/badan yang bertanggungjawab dalam pengambilan dan implementasi suatu keputusan). Kedua, stakeholder sekunder (pendukung) adalah stakeholder yang tidak memiliki kaitan kepentingan secara langsung terhadap suatu kebijakan, program, dan proyek, tetapi memiliki kepedulian (concern) dan keprihatinan sehingga mereka turut bersuara dan berpengaruh terhadap sikap masyarakat dan keputusan legal pemerintah (LSM, Perguruan Tinggi, Badan Usaha, dan lembaga pemerintah yang terkait dengan issue tetapi tidak memiliki kewenangan secara langsung dalam pengambilan keputusan). Ketiga, stakeholder kunci yang memiliki kewenangan secara legal dalam hal pengambilan keputusan. Stakeholder kunci yang dimaksud adalah unsur eksekutif sesuai levelnya, legislatif, dan instansi8. Pemerintah daerah sebagai stakeholder kunci, bersama stakeholder lainnya mempunyai peran penting dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Partisipasi aktif dari berbagai elemen untuk menciptakan sebuah manajemen penanggulangan bencana merupakan aspek integral yang sangat penting sehingga dampak resiko bencana bisa ditanggulangi secara terpadu dan menyeluruh. Keberlangsungan pelayanan, strategi, operasi penanggulangan bencana menjadi tanggung jawab lembaga dan dinas-dinas terkait sebagai stakeholder pemerintah daerah yang berperan sebagai agen utama dalam melaksanakan penaggulangan bencana. Tentunya keberlangsungan operasi dari pemerintah sangat ditentukan oleh tiga hal yaitu aparatur pemerintah, organisasi birokrasi, dan

8

Ibid

17

prosedur tata laksananya. Oleh karena itu, apabila operasionalisasi suatu kebijakan ingin dapat berjalan secara optimal dan sebagaimana mestinya perlu dilakukan sosialisasi dan pemberdayaan terhadap aparatur pemerintahan agar prosedur ketatalaksanaan dan bentuk organisasi birokrasinya sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan dari misi yang akan dicapai9. Dalam mengoperasionalkan kebijakan manajemen aset di kabupaten/kota diperlukan peran pemerintah daerah kabupaten/kota. Persepsi atau pemahaman dari pelaksana haruslah sesuai dengan maksud, tujuan, dan sasaran dari kebijakan tersebut, dengan demikian setiap pelaksanan harus mengerti benar tentang konsep persepsi sebagai langkah awal dari motivasi yang akan mewarnai cara bertindak. Agen administrasi pemerintah daerah yang ditujukan menjalankan fungsifungsi dan tujuan lembaga adalah birokrasi. Namun sejarah dan realita yang sekarang menggejala dalam tubuh birokrasi memiliki beberapa kecenderungan, seperti yang dijelaskan Kartasasmita dalam Suryono (2002: 3), pada dasarnya birokrasi lebih mengutamakan kepentingan sendiri (selfserving), mempertahankan status quo dan resisten terhadap perubahan serta memusatkan kekuasaan. Hal inilah yang kemudian memunculkan kesan bahwa birokrasi cenderung lebih mementingkan prosedur daripada substansi, lamban dan menghambat kemajuan. Birokrasi di kebanyakan negara berkembang termasuk Indonesia cenderung bersifat patrimonialistik, tidak efesien, tidak efektif (over consuming and under producing), tidak obyektif, menjadi alergi ketika berhadapan dengan kontrol dan kritik, tidak mengabdi kepada kepentingan umum, tidak lagi menjadi alat rakyat

9

Op Cit

18

tetapi telah menjadi instrumen penguasa dan sering tampil sebagai penguasa yang sangat otoritatif dan represif. Gejala demikian menunjukkan bahwa birokrasi dan birokratisasi tidak pernah tampil dalam bentuk idealnya. Dalam berbagai macam pola hubungan antara birokrasi dan politik, institusi politik terdiri atas orang-orang yang berperilaku politik yang diorganisasikan secara politik oleh kelompok-kelompok kepentingan dan berusaha untuk mempengaruhi pemerintah untuk mengambil dan melaksanakan suatu kebijakan. Sebagaimana perkembangan dari segi perilaku birokrasi maka ada sebuah perkembangan peran antara politisi dan birokrasi seperti dijelaskan dalam tabel berikut. Tabel 2. Perkembangan Peran Politisi-Birokrat
IMAGE Kebijakan/ Administrasi Fakta/ Kepentingan POLITISI Membuat kebijakan Kepentingan/Nilai Kepekaan politik Pertanggungjawaban pada konstituen Artikulasi secara luas Ideologis, partisan, idealistik Energik BIROKRAT Melaksanakan kebijakan Fakta/pengetahuan Keahlian Kemanjuran Artikulasi kepada klien Hati-hati, terpusat, pragmatis Memberi keseimbangan Sama (karakteristik berbaur) EKSPRESI Hirarki otoritas Supremasi politik Partisipan Rasionalitas vs Rasionalitas Administrasi Partisipan Birokrat cenderung politis

Energi/ Equilibrium

Hibrida Murni (Perkawinan Murni)

Sama (karakteristik berbaur)

Mempolitisaasi birokrasi dan membirokrasikan politik

Sumber: Solahuddin Kusumannegara, Model dan Aktor Dalam Proses Kebijakan Publik, Gava Media (2010:58)

Secara mendasar birokrasi sangat erat kaitannya dalam pembuatan sebuah kebijakan dan sebagai agen administrasi yang paling bertanggungjawab dalam implementasi kebijakan. Begitu halnya dengan peran birokrasi pemerintah daerah

19

dan stakeholder di dalamnya mempunyai peran dalam urusan pemerintahan guna menunjang kemakmuran, keamanan, dan kesejahteraan masyarakatnya di Kabupaten Majalengka. Sehingga tidak ada sebuah hirarki antara birokrat dengan masyarakat dan tidak adanya politisasi dalam sebuah birokrasi. Birokrasi harus menjalankan peran dan tugasnya sebagaimana yang telah diamanahkan dalam sebuah peraturan formal, demi terpenuhinya layanan publik yang efektif dan efisien. Berbicara tentang birokrasi, street-level bureaucrats (birokrasi tingkat pelaksana) merupakan pegawai pemerintah yang memberikan layanan masyarakat secara langsung kepada warga, dan memiliki kebijaksanaan substansial dalam pelaksanaan pekerjaan mereka. Guru, polisi, penegak hukum, pegawai kesehatan, pegawai kantor jaminan sosial adalah beberapa contoh dari tingkat birokrat pelaksana. Street-level bureaucrats adalah lembaga layanan publik yang mempekerjakan sejumlah besar tingkat birokrat pelaksana (Lipsky 1980: 3). Peran penting dari street-level bureaucrats sebagai pembuat kebijakan, yang mendirikan kerangka kerja untuk mendukung pesan fundamental. Meskipun dianggap sebagai tingkat karyawan rendah, sebenarnya mereka adalah orangorang yang secara langsung berinteraksi dengan dan menyediakan layanan publik kepada warga negara dalam proses pekerjaan. Street-level bureaucrats menyebabkan kontroversi, karena mereka harus setuju dengan setiap perubahan kebijakan. Alasan street-level bureaucrats sebagai fokus dari kontroversi umum adalah pada aspek interaksi dengan warga negara yang sering menyebabkan

20

benturan

diantara

keduanya.

Kebijaksanaan

mengantarkan

street-level

bureaucrats paling sering menjadi dilema pribadi. (Lipsky 1980: 8-10). Wong dalam Lipsky (2005: 27-28) kondisi kerja, pola praktek dan masa depan tingkat birokrasi jalan, dalam artikel keduanya menyatakan bahwa street level bureaucrats menghadapi dilema antara mendapatkan pada fokus kerja dan memenuhi tujuan organisasi. Penulis menjelaskan apa yang terjadi pada titik dimana kebijakan diterjemahkan dalam praktek, dan bagaimana para pegawai pelayanan publik berperilaku di bawah kondisi dan konteks pekerjaan mereka. Kondisi kerja street-level bureaucrats telah dikategorikan sebagai berikut: 1) Sumber daya tidak memadai relatif kronis dengan tugas pekerja yang dilakukan. 2) Permintaan untuk layanan cenderung meningkat untuk memenuhi pasokan. 3) Tujuan harapan bagi lembaga di mana mereka bekerja cenderung ambigu, kabur atau bertentangan. 4) Kinerja berorientasi pada pencapaian tujuan cenderung sulit dan mustahil untuk di ukur. Dalam rangka reformasi dan merekonstruksi street-level bureaucrats, akuntabilitas, sinergitas dengan arus kebijakan menjadi perhatian utama sebagai landasan untuk memperbaiki situasi tersebut dengan klien dan membantu streetlevel bureaucrats menjadi lebih efektif sebagai pendukung perubahan. Tentunya perubahan pelayanan publik harus di dukung dengan kebijakan yang lebih relevan dan memungkinkan segala pekerjaan dan layanan publik bisa dilaksanakan dengan baik.

21

Dalam merealisasikan kriteria ini pemerintah sudah seharusnya segera menyediakan dan mempersiapkan tenaga kerja birokrasi profesional yang mampu menguasai teknik-teknik manajemen pemerintahan yang tidak hanya berorientasi pada peraturan (rule oriented) tetapi juga pada pencapaian tujuan (goal oriented). Pelayanan publik ini menjadi semakin penting karena senantiasa berhubungan dengan khalayak masyarakat ramai yang memiliki keanekaragaman kepentingan dan tujuan. Birokrasi dalam menyelenggarakan tugas pemerintahan dan pembangunan termasuk di dalamnya penyelenggaraan pelayanan publik dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka tentunya diharapkan cepat tanggap. Apalagi ketika ada sebuah institusi yang profesional dalam penanggulangan bencana yaitu BPBD. Manajemen birokrasi profesional ini sangat relevan dengan penelitian yang akan peneliti lakukan, khususnya lebih menyoroti pada aspek peran dan sinergi stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Kesan pelayanan aparatur pemerintahan selalu lamban dan tidak cepat tanggap. Akibatnya, birokrasi selalu mendapatkan citra negatif yang tidak menguntungkan bagi perkembangan birokrasi itu sendiri khususnya dalam hal pelayanan publik.

2.2.2. Manajemen Kebencanaan (Disaster Management) Dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, dikenal pengertian dan beberapa istilah terkait dengan bencana. Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu

22

kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Bencana dibagi ke dalam tiga kategori diantaranya: 1) Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor. 2) Bencana non alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa non alam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit. 3) Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antar kelompok atau antar komunitas masyarakat dan teror. Penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat, dan rehabilitasi. Kegiatan pencegahan bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan sebagai upaya untuk menghilangkan dan/atau mengurangi ancaman bencana. Penanggulangan bencana merupakan proses integral yang satu sama lain sangat bergantung dalam

23

sebuah manajemen penanggulangan bencana yang terpadu dan menyeluruh meliputi10: 1) Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. 2) Tanggap darurat bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana. 3) Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pasca bencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pasca bencana. 4) Rekonstruksi adalah pembangunan kembali semua prasarana dan sarana, kelembagaan pada wilayah pasca bencana, baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah pasca bencana. Prinsipnya penanggulangan bencana merupakan proses cepat, tepat, prioritas, koordinasi dan keterpaduan, kemitraan, pemberdayaan, non

10

Lihat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, BAB I pasal 2

24

diskriminatif dan berdaya guna. Ditujukan untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat dari ancaman bencana, menghargai budaya lokal, membangun partisipasi dan kemitraan publik serta swasta, mendorong semangat gotong royong dan menciptakan perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat11. Tidak semua bencana alam menimbulkan resiko bencana. Apabila suatu peristiwa yang memiliki potensi bahaya terjadi di suatu daerah dengan kondisi yang rentan, maka daerah tersebut beresiko terjadi bencana. Jadi resiko dipengaruhi oleh faktor-faktor bahaya (hazards), kerentanan (vulnerability). Dalam hal ini faktor kapasitas dapat dianggap sebagai bagaian dari faktor kerentanan, yang dapat mengurangi kerentanan bila kapasitas daerah tersebut tinggi. Sebaliknya apabila kapasitas daerah rendah maka akan meningkatkan faktor kerentanannya12.

Gambar 1. Model Hubungan Antara Resiko Bencana, Kerentanan dan Bahaya

Sumber: Tinjauan umum manajemen bencana. UNDP program pelatihan manajemen bencana edisi ke-2 tahun 1992

11 12

Ibid Dilansir dalam jurnal Imam A Sadisun, “Peran dan Fungsi Standard Operational Procedure dalam Mitigasi dan Peanganan Bencana di Jawa Barat”, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung 2-3 Desember 2004.

25

Pendekatan proaktif dalam pengurangan resiko bencana merupakan salah satu bagian terpenting dalam mitigasi bencana, yang pada akhirnya ditujukan untuk mengurangi tingkat resiko bencana. Kegiatan mitigasi bencana hendaknya menjadi kegiatan rutin dan berkelanjutan. Hal ini berarti kegiatan mitigasi seharusnya sudah dilakukan dalam periode jauh-jauh hari sebelum kejadian bencana, yang seringkali datang tidak terduga dari waktu yang diperkirakan, dan bahkan memiliki intensitas yang lebih besar dari perkiraan semula. Pemerintah hendaknya proaktif untuk memberikan berbagai arahan yang tepat dan berkesinambungan dalam menghadapi peristiwa atau bencana atau dengan kata lain bisa beradaptasi dengan resiko potensi bencana. Perlu diperhatikan bahwa untuk setiap arahan yang ada hendaknya menjaga kesederhanaan sistem dan prosedur. Kletz mengemukakan bahwa ”organizations have no memory: only people have memories and they move on”13. Dengan kesederhanaan sistem dan prosedur, diharapkan masyarakat bisa memahami dengan baik, terutama bagi masyarakat yang terkena bencana, sehingga pada saat kejadian bencana dan dalam kondisi darurat, diharapkan mereka mampu menaggapinya serta mereka mampu melakukan proses pemulihan darurat secara mandiri. Inilah yang sebenarnya merupakan salah satu pengembangan keikutsertaan masyarakat dalam pengelolaan bencana, yang berbasis pada kemampuan pada masyarakat itu sendiri dan bertumpu kepada kemampuan sumberdaya setempat (community ased disaster management).

13 Kletz (1993) Lesson from disaster: how organiations have no memory and accident recur. Institution of Chemical Engineers: Rugby, England

26

Masyarakat yang menghadapi bencana adalah yang menjadi korban dan dan harus menghadapi kondisi akibat bencana. Oleh karena itu, masyarakat harus membuat perencanaan untuk persiapan dalam menghadapi bencana. Selama ini, tindakan dalam penanggulangan bencana dilakukan oleh pemerintah yang pelaksanaannya dilakukan bersama antara pemerintah daerah dengan organisasiorganisasi yang terkait dan masyarakat yang tertimpa bencana. Pada saat menghadapi bencana, masyarakat yang belum mampu untuk menanganinya sendiri harus menunggu bantuan yang kadang-kadang tidak segera datang. Perlu disadari bahwa detik-detik pertama pada saat bencana terjadi adalah saat yang sangat penting dalam usaha mengurangi dampak bencana yang lebih besar. Selain untuk keperluan mitigasi, kajian resiko untuk bahaya dari berbagai jenis potensi bahaya alam lebih lanjut dapat juga digunakan sebagai dasar dalam mengembangkan rencana operasi darurat atau emergency operation plan (EOP), atau dalam bentuk SOP yang terjangkau (achievable/workable), sederhana dan tepat (appropriate). Pada dasarnya EOP dan SOP merupakan kerangka dasar dalam rencana tanggap darurat yang terkoordinasi dan efektif, karena didalamnya telah mendefinisikan peranan dan tanggungjawab seluruh stakeholder seperti pemerintah, organisasi swasta, sukarelawan, dan badan-badan lain yang terdapat di dalam sustu negara14. Dalam hal ini termasuk perencanaan kegiatan sebelum kejadian bencana dan kesiapsiagaan, perencanaan organisasi, dan kehumasan untuk mengatur aliran informasi, atau dengan kata lain bahwa dalam SOP

14

Ibid

27

diperlukan perencanaan terintegrasi, manajemen, dan pendekatan kesiapsiagaan terkait potensi bencana yang ada. Gambar 2. Peran Berbagai Stakeholder Dalam Penanggulangan Bencana

Sumber: Dilansir dalam jurnal Imam A Sadisun, “Peran dan Fungsi Standard Operational Procedure dalam Mitigasi dan Penanganan Bencana di Jawa Barat” Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung 2-3 Desember 2004.

SOP yang efektif akan mencakup berbagai bentuk variasi koordinasi dan cara pengambilan keputusan. Koordinasi sangat penting dilakukan dimana berbagai pihak umumnya akan terlibat dalam penanganan bencana. Selain itu SOP haruslah SMART (Spesific, Measurable, Achievable, Relevant and Time Bound) dengan ketentuan dasar antara lain meliputi15: 1) Mendefinisikan berbagai aktifitas apa saja yang ahrus dilakukan dalam kondisi darurat. 2) Menetapkan tolak ukur untuk menilai suatu pencapaian aktivitas. 3) Menyusun antisipasi faktor-faktor yang paling beresiko dan usaha-usaha menguranginya apabila mungkin.

15 Sadisun, Manajemen bencana: Strategi hidup di wilayah potensi bencana. Key note speaker pada lokakarya Kepedulian Terhadap Kebencanaan Geologi dan Lingkungan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung 2-3 Desember 2004,.

28

4) Membangun jaringan dalam melakukan pertolongan darurat, termasuk di antaranya jaringan informasi. 5) Membuat jadwal dengan cermat dan sistematis keseluruhan kegiatan yang diperlukan selama kondisi darurat.

2.3. Kerangka Berpikir Secara geologis letak wilayah Indonesia yang dilalui oleh dua jalur pegunungan muda dunia yaitu Pegunungan Mediterania di sebelah Barat dan Pegunungan Sirkum Pasifik di sebelah Timur menyebabkan Indonesia banyak memiliki gunung api yang aktif dan rawan terjadi bencana. Bencana alam yang sering terjadi di wilayah Indonesia antara lain banjir, kemarau panjang, tsunami, gempa bumi, gunung berapi dan tanah longsor serta angin puting beliung. Banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat dalam mengantisipasi terjadinya bencana alam. Mulai dari persiapan peralatan untuk mendeteksi terjadinya bencana. Permasalahan rendahnya kualitas pelayanan sistem dan penanganan bencana di daerah merupakan potret buram sistem dan sinergitas antar lembaga yang menaunginya. Dengan adanya otonomi daerah memberikan kesempatan kepada daerah untuk mengembangkan

pemerintahan atau rumah tangganya sendiri dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki. Salah satunya adalah dalam usaha penanganan bencana. Akan tetapi daerah kurang dapat menyelenggarakan hal tersebut dengan baik karena kemampuan dan potensi yang dimiliki daerah sangat terbatas.

29

Sorotan

khusus

adalah

bagaimana

birokrasi

pemerintah

bisa

mengupayakan sebuah kontruksi dan sinergitas di tataran birokrasi dalam penanggulangan bencana alam. Lembaga pemerintah yang mempunyai peran dan tanggungjawab dalam penanggulangan bencana harus bisa memposisikan sebagai fasilitator dalam upaya sinergitas dengan lembaga lain, agar tidak terjadi sebuah ego lembaga dalam penanganan bencana, sehingga terjadi sebuah efektifitas mekanisme kerja. Dengan demikian mau tidak mau pemerintah daerah dituntut untuk mampu mengembangkan pola sinergisitas penanggulangan bencana guna menunjang peningkatan kualitas dan akuntabilitas lembaga. Dalam hal ini peneliti ingin mengkaji peran dan sinergi stakeholder pemerintah daerah di Kabupaten Majalengka dalam penanggulangan bencana alam. Adapun kerangka berpikir dalam penelitian ini adalah: Gambar 3. Kerangka Berfikir
UU No 24/2007 “Penanggulangan Bencana” dan Perka BNPB No 3/2008 “Pedoman Pembentukan BPBD” Bencana alam di Kabupaten Majalengka Pemerintah Daerah Kab. Majalengka (OPD) Organisasi Perangkat Daerah

Studi Kasus

Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majalengka

Peran dan sinergi stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka

Perda Kabupaten MajalengkaNo 10/2009 “Organisai Perangkat Daerah”

(BPBD) Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kab. Majalengka

30

BAB III METODE PENELITIAN

3.1. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Kualitas menunjuk segi alamiah yang dipertentangkan dengan kuantum atau jumlah. Denzin dan Lincoln (1987) dalam Moleong (2005:4) menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar alamiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada. Misalnya perilaku informan, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain secara holistik di Sekretaris Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans), Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (DBMCK), Kecamatan Jatitujuh, Forum Peduli Bencana Abrasi Sungai Cimanuk (FPBAC), dan masyarakat sekitar dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah. Karena menggunakan metode penelitian kualitatif, maka paradigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah non-positivist, khususnya critical theory. Paradigma nion positivist pada intinya merupakan paradigma yang mementingkan pencarian makna dari setiap tindakan sosial aktor. Hal yang sangat penting menurut paradigma ini adalah interpretasi. Paradigma ini menekankan bahwa apa yang disebut laws atau generalisasi (yang

31

bersifat kausal) tidak selamanya diperlukan untuk memahami gejala sosial. Dengan demikian, setiap tindakan (actions) termasuk bahasa mempunyai makna simbolik yang tinggi dan harus dipahami dengan sebaik-baiknya16. Dalam penelitan ini, peneliti mencoba untuk melihat fenomena yang terjadi di Kabupaten Majalengka khususnya dalam pola penanggulangan bencana alam, memfokuskan pada peran pemerintah daerah dan mengkontruksi sinergi stakeholder dalam proses penanggulangan bencana. Dalam penelitian kualitatif metode pengumpulan data yang biasanya dimanfaatkan adalah wawancara, pengamatan, dan pemanfaatan dokumen. Begitu juga dengan metode dalam pengumpulan data, peneliti akan menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi, karena metode tersebut dibutuhkan sesuai dengan tema yang akan dibahas untuk memilih informan maka membutuhkan metode tersebut dalam pengumpulan data agar lebih valid. Bogdan dan Taylor (1975: 5) dalam Moleong (2005: 4) mendefinisikan metodologi penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Menurut mereka, pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu secara holistik (utuh). Jadi, dalam hal ini tidak boleh mengisolasikan individu atau organisasi ke dalam variabel atau hipotesis, tetapi perlu memandangnya sebagai bagaian dari sesuatu yang utuh.

Solahuddin Kusumanegara dan Sofa Marwah, Hand Out Mata Kuliah Metodologi Ilmu Politik (Purwokerto: Jurusan Ilmu Politik FISIP Universitas Jenderal Soedriman, 2006), hal 22-23.

16

32

3.2. Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus. Studi kasus memungkinkan peneliti untuk mempertahankan karakteristik holistik dan bermakna dari peristiwa-peristiwa kehidupan nyata, seperti siklus kehidupan seseorang, proses-proses organisasional dan manajerial, perubahan lingkungan sosial, hubungan-hubungan internasional, dan kematangan industri-industri. Secara umum studi kasus merupakan strategi yang lebih cocok bila pokok pertanyaan suatu penelitian berkenaan dengan how dan why, bila peneliti hanya memiliki sedikit peluang unutk mengontrol peristiwa-peristiwa yang akan diselidiki, dan bilamana fokus penelitiannya terletak pada fenomena kontemporer (masa kini) di dalam konteks kehidupan nyata (Yin 2002: 1-4). Aspek yang akan menjadi fokus penelitian adalah mengenai peran dan sinergi stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencan alam di Kabupaten Majalengka, sehingga membutuhkan metode studi kasus untuk menganalisisnya karena hasilnya merupakan gambaran yang lengkap dan terorganisir, baik mencakup keseluruahn siklus kasusnya atau pun segmen-segmen tertentu saja. Studi kasus cenderung untuk meneliti jumlah unit yang kecil tetapi mengenai variabelvariabel dan kondisi-kondisi yang besar jumlahnya (Suryabrata, 2003: 80-81). Oleh karena itu, pendekatan studi kasus sangat tepat digunakan dalam penelitian ini.

33

3.3. Lokasi Penelitian Penelitian dengan judul “Peran Pemerintah Daerah Dalam

Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majalengka” mengambil lokasi di Kecamatan Jatitujuh Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat. Lokasi selanjutnya adalah di instansi-instansi pemerintah daerah Kabupaten Majalengka yaitu Sekretaris Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Komisi C, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (DBMCK) dan Kantor Kecamatan Jatitujuh.

3.4. Sasaran Penelitian Sasaran penelitian ini adalah Sekretaris Daerah, Dewan Perwakilan Daerah (DPRD) Komisi C yang membidangi tentang kebencanaan, Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Sosial, Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (DBMCK), Dinas Kesehatan, Kepala Kecamatan Jatitujuh, Forum Peduli Bencana Abrasi Sungai Cimanuk (FPBAC), dan masyarakat di lokasi bencana.

3.5. Teknik Pemilihan Informan Teknik pemilihan informan yang digunkan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan tertentu ini, misalnya

34

orang tersebut yang dianggap paling tahu tentang apa yang kita harapkan, atau mungkin dia sebagai penguasa sehingga akan memudahkan peneliti menjelajahi objek dan situasi sosial yang diteliti (Sugiyono 2008: 50). Dengan demikian pemilihan informan tidak berdasarkan kuantitas, tetapi kualitas dari informan terhadap masalah yang akan diteliti. Dalam pelaksanaan di lapangan guna pengumpulan data, pemilihan informan dapat berkembang sesuai dengan kebutuhan dan kemantapan peneliti di dalam memperoleh data. Jadi yang menjadi kepedulian bagi peneliti kualitatif adalah tuntasnya perolehan informasi dengan keragaman variasi yang ada, bukan banyaknya sampel sumber data (Sugiyono 2008:57).

3.6. Teknik Pengumpulan Data 3.6.1. Wawancara Mendalam (Indepth Interview) Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit atau kecil. Teknik pengumpulan data ini mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri atau self-report, atau setidak-tidaknya pada pengetahuan dan atau keyakinan pribadi. Wawancara dapat dilakuakan secara terstruktur maupun tidak terstruktur, dan dapat dilakuakn melalui tatap muka (face to face) maupun dengan menggunakan telepon (Sugiyono 2010: 137-138). Teknik ini dimaksudkan agar peneliti mampu

35

mengeksplorasi data dari informan yang bersifat nilai, makna, dan pemahaman yang tidak mungkin dilakukan dengan teknik survai. Wawancara bisa mengambil beberapa bentuk, yang paling umum, wawancara studi kasus bertipe open-ended, dimana peneliti dapat bertanya kepada informan kunci tentang fakta-fakta suatu peristiwa disamping opini mereka mengenai suatu peristiwa. Pada beberapa situasi peneliti bahkan bisa meminta informan untuk mengetengahkan pendapatnya sendiri terhadap peristiwa tertentu dan bisa menggunakan proposisi tersebut sebagai dasar penelitian selanjutnya. Tipe wawancara yang kedua adalah wawancara yang terfokus, dimana informan diwawancarai dalam waktu yang pendek. Dalam kasus ini, wawancara tersebut bisa tetap open-ended dan mengasumsikan cara percakapan namun pewawancara tidak perlu mengikuti serangkaian pertanyaan tertentu yang diturunkan dari protokol studi kasusnya. Tipe wawancara yang ketiga memerlukan pertanyaanpertanyaan yang lebih terstruktur, sejalan dengan survai (Yin, 2002: 108-110).

3.6.2. Observasi Sutrisno Hadi (1986) dalam Sugiyono (2010: 145) mengemukakan bahwa observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari pelbagai proses biologis dan psikologis. Dua diantaranya yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan. Observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lain, yaitu wawancara dan kuesioner. Kalau wawancara dan kuesioner selalu berkomunikasi dengan orang, maka observasi

36

tidak terbatas pada orang, tetapi juga objek-objek alam yang lain. Teknik pengunpulan data dengan observasi digunakan bila penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila responden yang diamatai terlalu besar. Dari segi proses pelaksanaan pengumpulan data, observasi dapat dibedakan menajdi participant observation (observasi berperan serta) dan non participant observation, selanjutnya dari segi instrumentasi yang digunakan dapat dibedakan menjadi observasi terstruktur dan tidak terstruktur (Sugiyono 2010: 145). Dalam proses pelaksanaan pengumpulan data, peneliti menggunakan metode non participant observation, kemudian untuk memudahkan pengumpulan data maka peneliti memilih instrumen observasi secara terstruktur agar mempermudah dalam penyusunan sub-sub penelitian guna menunjang laporan hasil penelitian.

3.6.3. Rekaman Arsip Rekaman arsip seringkali dalam bentuk komputerisasi seperti peta dan bagan karakteristik geografis suatu tempat, daftar nama dan komoditi lain yang relevan, data survai, data rekaman atau data sensus yang terkumpul, rekaman keorganisasin seperti bagan dan anggaran organisasi periode tertentu. Rekamanrekaman arsip ini dapat digunakan bersama-sama dengan sumber informasi lain dalam pelaksanaan studi kasus. Namun demikian, tidak seperti bukti dokumenter, kegunaan rekaman arsip akan bervariasi pada satu studi kasus lainnnya. Pada beberapa penelitian, rekaman tersebut begitu penting sehingga bisa mejadi obyek perolehan kembali dan data analisis yang luas. Pada penelitian-penelitian lainnya

37

rekaman arsip mungkin hanya sepintas relevansinya. Bilamana bukti arsip relevan, peneliti harus berhati-hati untuk menentukan kondisi yang menghasilkan bukti yang bersangkutan beserta keakuratannya (Yin, 2002: 106-107). Teknik pengumpulan data dengan rekaman arsip ini akan dilakukan oleh peneliti karena pada dasarnya rekaman arsip merupakan sumber data yang memiliki peran sebagi sumber informasi yang sangat berharga bagi pemahaman suatu peristiwa. Rekaman arsip yang digunakan dalam penelitian ini adalah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007, Peraturan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Nasional Nomor 3 Tahun 2008, Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007, Peraturan Daerah Kabupaten Majalengka Nomor 10 Tahun 2009, Majalengka Dalam Angka Tahun 2009 (Data BPS Kabupaten Majalengka), Presentasi Sosialisasi Penanggulangan Bencana dari DBMCK, Harian Republika yang dimuat pada hari Selasa 01 Maret 2011, Dokumen Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Majalengka, Proyeksi Peta Rawan Bencana Kabupaten Majalengka, Hand Out tentang kebijakan dan manajemen

penanggulangan bencana oleh BPBD Kabupaten Majalengka, hasil wawancara dengan informan dan bukti dokumentasi pada saat penelitian.

3.7. Sumber Data 3.7.1. Data Primer Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari informan dan merupakan sumber data yang memiliki keterkaitan langsung dengan masalah yang dibahas. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dan intensif. Untuk

38

mendapatkan informasi yang sesuai dengan permasalahan yang diteliti, maka peneliti menggunakan purposive sampling. Informan dalam penelitian ini adalah Yati Sumiati dan R. Yuarlina dari Sekretaris Daerah, A. Syihabuddin dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Komisi C, Iwan Tundjiawan dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Heri Purbadhi, Hardi, Idit Ruhadi, M. Agus Slamet dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dedi Supriyadi dan Asikin dari Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans), Ida Heriyani dari Dinas Kesehatan, Indrayono dari Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (DBMCK), Kardia dari Kantor Kecamatan

Jatitujuh, Syarifudin Rahmat dari Forum Peduli Bencana Abrasi Sungai Cimanuk (FPBAC), dan Karsa selaku korban abrasi Sungai Cimanuk. 3.7.2. Data Sekunder Data yang diperoleh dari buku-buku, dokumentasi, arsip, media massa, serta berbagai sumber lainnya yang mendukung penelitian. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007, Peraturan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Nasional Nomor 3 Tahun 2008, Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007, Peraturan Daerah Kabupaten Majalengka Nomor 10 Tahun 2009, Majalengka Dalam Angka Tahun 2009 (Data BPS Kabupaten Majalengka), Presentasi Sosialisasi Penanggulangan Bencana dari DBMCK, Harian Republika yang dimuat pada hari Selasa 01 Maret 2011, Dokumen Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Majalengka, Proyeksi Peta Rawan Bencana Kabupaten Majalengka, Hand Out tentang kebijakan dan manajemen penanggulangan bencana oleh BPBD

39

Kabupaten Majalengka, hasil wawancara dengan informan dan bukti dokumentasi pada saat penelitian. 3.8. Analisis Data Dalam hal analisis data kualitatif, Bogdan menyatakan bahwa “Data analysis is the process of systematically searching and arranging the interview transcripts, fieldnotes, and other materials that you accumulate to increase your own understanding of them and to enable you to present what you have discovered to others” Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahanbahan lain, sehingga dapat mudah dipahami, dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan yang dapat diceriterakan kepada orang lain (Sugiyono 2008: 88). Analisis data kualitatif bersifat induktif, yaitu suatu analisis berdasarkan data yang diperoleh, selanjutnya dikembangkan menjadi hipotesis. Miles and Huberman (1984), mengemukakan bahwa katifitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktifitas dalam analisis data yaitu data reduction (reduksi data), data display (penyajian data) dan conclusion drawing/verification (penarikan kesimpulan).

40

3.8.1

Reduksi Data Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu

maka perlu dicatat secara teliti dan rinci. Untuk itu perlu segera dilakukan analisis data melalui reduksi data. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan. Sehingga reduksi data memerlukan proses berfikir sensitif dan kecerdasan, keluasan dan kedalaman wawasan yang tinggi (Sugiyono 2010: 247-249). 3.8.2 Penyajian Data Penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, dan sejenisnya serta penyajian data dalam penelitian adalah dengan sistematis melalui gambaran atau skema. Penyajian data dapat diartikan sekumpulan informasi yang tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. 3.8.3. Penarikan Kesimpulan Proses mengartikan atau penarikan segala hal yang ditemui selama penelitian yang dilakukan secara terus menerus. Kesimpulan yang dihasilkan harus dilakukan verifikasi selama penelitian berlangsung. Berikut gambaran model analisis interaktif Miles dan Huberman.

41

Gambar 4. Model Analisis Interaktif Miles dan Huberman
Data collection Data Display

Data reduction

Conclusions: drawing/verfying

Sumber: Diadaptasi dari Miles dan Huberman (1992: 20)

3.9 Validitas Data Validitas data dalam penelitian ini menggunakan triangulasi. Validitas merupakan derajat ketepatan antara data yang terjadi pada objek penelitian dengan daya yang dapat dilaporkan oleh peneliti. Dengan demikian data yang valid adalah “data yang tidak berbeda” antara data yang dilaporkan oleh peneliti dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek penelitian. Validitas data dibagi menjadi dua yaitu validitas internal dan eksternal. Validitas internal berkenaan dengan derajat akurasi desain penelitian dengan hasil yang dicapai, sedangkan validitas eksternal berkenaan dengan derajat akurasi apakah hasil penelitian dapat digeneralisasi atau diterapkan pada populasi di mana sampel tersebut di ambil (Sugiyono 2010: 267). Untuk penelitian ini akan menggunakan validitas data internal karena lebih menekankan pada akurasi desain penelitian dengan hasil yang akan dicapai bukan menggeneralisasikan pada sebuah sampel. Validitas data ini akan mengeksplor objektifitas dan kesesuaian desain penelitian yaitu peran dan sinergi stakeholder pemerintah daerah dalam menanggulangi bencana alam di

42

Kabupaten Majalengka yang nantinya akan tercipta sebuah laporan hasil penelitian yang tepat dan obyektif. “Triangulation is qualitative cross-validation. It assesses the suffiency of the data accoding to the convergence of multiple data sources or multiple data collection procedures” (Wiliam Wiersma, 1986). Triangulasi dalam pengujian kredibilitas ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai waktu. Dengan demikian terdapat triangulasi sumber, triangulasi teknik pengumpulan data dan waktu (Sugiyono 2010: 273). Patton (1987: 331) dalam Moelong (2005: 33) triangulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif. Hal itu dapat dicapai dengan jalan: 1) Membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara. 2) Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi. 3) Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu. 4) Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang yang memiliki latar belakang yang berlainan. 5) Membandingkan hasil wawancara dengan isi sesuatu dokumen yang berkaitan.

43

Triangulasi data digunakan oleh peneliti karena berkaitan dengan teknik pengumpulan data yang diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Dengan triangulasi sumber data-data yang diperoleh benar-benar dapat teruji keabsahannya.

3.10. Jadwal Penelitian Tabel 3. Jadwal Penelitian BULAN KE NO 1. 2. KEGIATAN Penyusunan Proposal Menyusun instrument dan 1 X 2 X X 3 4 5

revisi proposal 3. Memasuki lapangan, grand X

tour dan minitour question, anlisis domain 4. Pengumpulan data primer dan sekunder 5. 6. Pengolahan dan analisis data Membuat draft laporan X X X X X

penelitian dan diskusi draft laporan 7. Penyempurnaan Laporan dan Seminar Hasil X X

44

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian Deskripsi lokasi penelitian merupakan hal yang penting untuk dituangkan dalam sebuah laporan penelitian. Pembahasan mengenai deskripsi lokasi penelitian bertujuan untuk memahami kondisi wilayah yang ditempati oleh suatu masyarakat, sehingga dapat diketahui pola geografis dan sosial suatu masyarakat. Gambaran umum Kabupaten Majalengka akan dijelaskan dalam hasil penelitian. 4.1.1. Letak dan Keadaan Geografis Secara geografis Kabupaten Majalengka terletak di bagian timur Propinsi Jawa Barat yaitu Sebelah Barat antara 1080 03’ – 1080 19’ Bujur Timur, Sebelah Timur 1080 12’ – 1080 25’ Bujur Timur, Sebelah Utara antara 60 36’ – 60 58’ Lintang Selatan dan Sebelah Selatan 60 43’ – 70 03’ Lintang Selatan, dengan batas-batas wilayahnya : Sebelah Selatan, berbatasan dengan Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Tasikmalaya. Sebelah Barat, berbatasan dengan Kabupaten Sumedang. Sebelah Utara, berbatasan dengan Kabupaten Indramayu. Sebelah Timur, berbatasan dengan Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Kuningan.

45

Gambar Gamba 5. Peta Kabupaten Majalengka

Sumber: Majalengka Dalam Angka 2009

Luas Wilayah Kabupaten Majalengka adalah 1.204,24 Km berarti Km2, Kabupaten Majalengka hanya sekitar 2,71 % dari luas Wilayah Propinsi Jawa Barat (yaitu kurang lebih 44.357,00 Km2) dengan ketinggian tempat antara 19 857 m diatas permukaan laut. Dilihat dari topografinya Kabupaten Majalengka dapat dibagi dalam tiga zona daerah, yaitu : m

46

1) Daerah pegunungan dengan ketinggian 500-857 m di atas permukaan laut dengan luas 482,02 Km2 atau 40,03 % dari seluruh luas wilayah Kabupaten Majalengka. 2) Daerah Bergelombang/berbukit dengan ketinggian 50-500 m diatas

permukaan laut dengan luas 376,53 Km2 atau 31,27 % dari seluruh luas wilayah Kabupaten Majalengka. 3) Daerah dataran rendah dengan ketinggian 19-50 m diatas permukaan laut dengan luas 345,69 Km2 atau 28,70 % dari seluruh luas wilayah Kabupaten Majalengka.

Tabel 4. Luas Wilayah Tiap Kecamatan di Kabupaten Majalengka
LUAS DAERAH (KM) 78,64 111,56 43,54 37,03 43,50 41,98 60,56 65,21 24,17 57,00 56,49 34,37 LUAS DAERAH (KM) 31,76 32,46 38,69 40,03 55,41 22,98 21,86 138,36 73,66 62,25 32,73 1.204,24

NO

KECAMATAN

NO

KECAMATAN

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12.

Lemahsugih Bantarujeg Cikijing Cingambul Talaga Banjaran Argapura Maja Cigasong Majalengka Sukahaji Rajagaluh

13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23.

Sindangwangi Leuwimunding Palasah Jatiwangi Dawuan Panyingkiran Kadipaten Kertajati Jatitujuh Ligung Sumberjaya

Kabupaten Majalengka

Sumber: Registrasi BPS Kabupaten Majalengka Tahun 2005

47

Tabel 5. Letak Geografis Kabupaten Majalengka Dirinci Per Kecamatan

Sumber: Badan Koordinasi Survei Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) dalam Buku Pedoman Majalengka Dalam Angka Tahun 2010

4.1.2. Keadaan Cuaca di Kabupaten Majalengka 4.1.2.1. Suhu dan Kelembaban Udara Suhu udara di suatu tempat antara lain ditentukan oleh tinggi rendahnya tempat tersebut dari permukaan air laut dan jarak dari pantai. Pada tahun 2009 suhu udara di Kabupaten Majalengka rata-rata berkisar antara 25,9 derajat C sampai 29,3 derajat C. Suhu udara maksimum terjadi pada bulan Oktober yaitu 35,9 derajat C, sedangkan suhu udara minimum terjadi pada bulan Juli dengan suhu sebesar 22,2 derajat C.

48

Tabel 6. Keadaan Cuaca di Kabupaten Majalengka

Sumber : Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Stasiun Meteorologi Jatiwangi 2009

4.1.2.2. Curah hujan dan Keadaan Angin Curah hujan disuatu tempat antara lain dipengaruhi oleh keadaan iklim, geografis dan perputaran atau pertemuan arus udara. Curah hujan tertinggi di Kabupaten Majalengka terjadi pada bulan Pebruari 2009 yang mencapai 419 mm dengan jumlah hari hujan 26, sedangkan kemarau terjadi pada bulan Agustus & September. Kecepatan angin di wilayah Kabupaten Majalengka rata-rata berkisar antara 3 knot sampai 5 knot dan kecepatan tertinggi terjadi pada bulan Maret yaitu sebesar 28 knot. Faktor lain yang mempengaruhi hujan dan arah/kecepatan angin

49

adalah perbedaan tekanan udara. Jarak dari Ibukota Kecamatan ke Ibukota Kabupaten berkisar antara 0-37 Km, Kecamatan Lemahsugih merupakan daerah terjauh dari Ibukota Kabupaten. Sedangkan jarak dari Ibukota Kabupaten Majalengka ke Kabupaten-kabupaten di Seluruh Jawa Barat berkisar antara 46 – 239 Km.

Tabel 7. Arah dan Kecepatan Angin di Kabupaten Majalengka

Sumber : Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Stasiun Meteorologi Jatiwangi 2009

4.1.3. Kependudukan Kesejahteraan penduduk merupakan sasaran utama dari pembangunan. Sasaran ini tidak mungkin tercapai bila pemerintah tidak dapat memecahkan permasalahannya. Permasalahan tersebut diantaranya besarnya jumlah penduduk dan tidak meratanya penyebaran penduduk. Jumlah penduduk Kabupaten Majalengka pada tahun 2009 berdasarkan hasil Susenas 2009 adalah 1.206.702 50

jiwa terdiri dari 600.396 jiwa laki-laki dan 606.306 jiwa perempuan atau meningkat 0,82 % bila dibandingkan jumlah penduduk tahun sebelumnya. Dari data tersebut terlihat bahwa jumlah penduduk perempuan masih lebih tinggi dibandingkan jumlah penduduk laki-laki dengan sex ratio 99.02 %. Rata-rata kepadatan penduduk Kabupaten Majalengka pada tahun 2009 adalah 1.002 Jiwa/Km2, kepadatan penduduk tertinggi berada di Kecamatan Jatiwangi dengan kepadatan 2.096 Jiwa/Km2 dan kepadatan terendah berada di Kecamatan Kertajati dengan kepadatan 333 Jiwa/Km2.

Grafik 1. Jumlah Penduduk Kabupaten Majalengka Berdasarkan Kecamatan

Sumber: Majalengka dalam angka tahun 2010

Grafik 2. Jumlah Penduduk Kabupaten Majalengka 10 Tahun Terakhir Berdasarkan Jenis Kelamin

Sumber: Majalengka dalam angka tahun 2010

51

Tabel 8. Jumlah Penduduk Kabupaten Majalengka

Sumber: Susenas 2009

4.1.4. Ketenagakerjaan Tenaga kerja adalah modal bagi geraknya roda pembangunan. Jumlah dan komposisi tenaga kerja akan terus mengalami perubahan seiring dengan berlangsungnya proses demografi. Peningkatan jumlah penduduk umumnya diikuti pula dengan penambahan jumlah angkatan kerja yang tentunya menuntut peningkatan penyediaan lapangan kerja. Pencari kerja terdaftar selama tahun 2009 di Kabupaten Majalengka sebanyak 13.417 Orang, yang terdiri dari 6.897 orang perempuan dan 6.520 orang laki-laki.

52

4.1.5. Transmigrasi Salah satu masalah kependudukan yang dihadapi di Indonesia adalah tidak meratanya penyebaran penduduk, upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut dilakukan dengan program transmigrasi. Jumlah penduduk Kabupaten Majalengka yang diberangkatkan transmigrasi pada tahun 2009 berjumlah 15 Kepala Keluarga atau 60 jiwa. Kecamatan Lemahsugih merupakan kecamatan terbanyak dalam hal jumlah pemberangkatan transmigran. Bila dilihat dari daerah tujuan transmigran dari Kabupaten Majalengka pada tahun 2009 adalah Propinsi Kalimantan Timur yaitu tepatnya di Maloy, Kutai Timur.

4.1.6. Pendidikan Salah satu faktor utama keberhasilan pembangunan disuatu daerah adalah tersedianya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, maka melalui jalur pendidikan pemerintah secara konsisten berupaya meningkatkan SDM penduduk melalui berbagai program. Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk melihat keberhasilan bidang pendidikan adalah tingkat buta huruf artinya dengan rendahnya tingkat buta huruf menunjukan keberhasilan program pengentasan buta huruf dan untuk mencapai program tersebut harus didukung oleh sarana pendidikan yang memadai. Di Kabupaten Majalengka sarana pendidikan yang tersedia meliputi sekolah yang kurang dari 5 (lima) tahun/MD, SD, SLTP, SMA/SMK dan Perguruan Tinggi.

53

4.1.7. Kesehatan dan Keluarga Berencana Pembangunan bidang kesehatan meliputi seluruh siklus atau tahapan kehidupan manusia. Bila pembangunan kesehatan berhasil dengan baik maka secara langsung atau tidak langsung akan terjadi peningkatan kesejahteraan rakyat. Kesejahteraan merupakan bagian yang sangat penting dalam rangka peningkatan SDM penduduk Kabupaten Majalengka, karena itu program-program kesehatan telah dimulai atau diprioritaskan pada calon generasi penerus. Dengan adanya upaya tersebut diharapkan akan tercapai derajat kesehatan masyarakat yang baik, yang akhirnya akan meningkatkan produktivitas. Dan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat antara lain dilakukan dengan penambahan tenaga para medis.

4.1.8. Pemerintahan Secara Administratif pada akhir tahun 2009 Kabupaten Majalengka terdiri dari 26 Kecamatan dan 334 Desa. Dari 334 desa tersebut 321 berstatus desa dan 13 berstatus kelurahan. Bila dilihat dari klasifikasi desanya terdapat 3 desa swadaya mula, 256 desa swadaya madya, 1 desa swakarya mula, 73 desa swakarya madya dan 1 desa swasembada madya. Jumlah Pemerintahan terendah di Kabupaten Majalengka berdasarkan satuan lingkungan setempat terdiri dari 2.072 Rukun Warga/Rukun Keluarga dan 6.441 Rukun Tetangga, dengan rasio RT terhadap RW sebesar 3.11%. Adapun Komposisi Keanggotaan DPRD Kabupaten Majalengka berdasarkan Hasil Pemilu 2009 sebanyak 50 anggota yang merupakan perwakilan dari Partai Persatuan

54

Pembangunan (PPP) 4 orang, Partai Golongan Karya (Golkar) 6 orang, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) 10 orang, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 6 orang, Partai Amanat Nasional (PAN) 5 orang, Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) 1 orang, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 5 orang, Partai Demokrat 4 orang, Partai Bulan Bintang (PBB) 1 orang, Hanura 2 orang, Gerindra 1 orang, PKPB 1 orang , PKNU 1 orang dan Partai Patriot Pancasila 3 orang. Bila dilihat dari tingkat pendidikan anggota Dewan tercatat bahwa 100 % anggota Dewan berpendidikan SLTA keatas. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.4 dan tabel 2.5. Grafik 3. Jumlah Anggota DPRD Kabupaten Majalengka Berdasarkan Partai

Sumber: Majalengka Dalam Angka Tahun 2010

Grafik 4. Jumlah Anggota DPRD Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Sumber: Majalengka Dalam Angka Tahun 2010

55

4.2. Pembukaan Akses Terhadap Informan Perjalanan penelitian mengenai peran pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka bermula ketika peneliti tertarik dengan beberapa fenomena dan kejadian bencana alam di Indonesia, baik dari sumber media cetak, internet, ataupun televisi. Sehingga terlintas dalam benak pikiran peneliti bahwa permasalahan mengenai kebencanaan sepertinya cukup menarik untuk dikaji. Pada waktu itu, peneliti mencoba untuk mendiskusikan dengan teman dan dosen untuk melihat sejauh mana spesifikasi penelitian yang akan peneliti lakukan. Ternyata, melalui beberapa tahap diskusi dan dialog dengan beberapa dosen, kajian yang akan peneliti lakukan disarankan lebih spesifikasi pada lingkup birokrasi dan politik dalam penanggulangan bencana. Pemilihan lokasi penelitian, peneliti memfokuskan di Kabupaten Majalengka. Majalengka dipilih sebagai lokasi penelitian karena secara geografis Kabupaten Majalengka merupakan daerah rawan bencana alam yang kemudian ada sebuah organisasi perangkat daerah yang konsen dalam penanggulangan bencana dan baru didirikan pada tahun 2009 yaitu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka. Selain itu, Kabupaten Majalengka merupakan tempat tinggal atau domisili asli peneliti, sehinga peneliti lebih mudah dalam mengakses sumber informasi dan data dalam mejalankan penelitian. Usulan penelitian ini kemudian peneliti ajukan kepada jurusan untuk menjadi bahan tugas akhir, dan akhirnya dengan beberapa proses, tahapan penyempurnaan dan perbaikan, usulan skripsi dengan judul peran pemerintah

56

daerah dalam penangglangan bencana alam di Kabupaten Majalengka di acc. Setelah itu peneliti dengan semangat dan tekad yang kuat pada hari Minggu tanggal 02 Januari 2010 memutuskan untuk melakukan pra survai agar lebih mengetahui sejauh mana spesifikasi permasalahan kebencanaan di Kabupaten Majalengka khususnya menyoroti pada aspek birokrasi dan politik dalam penanggulangan bencana alam. Berbekal surat izin pra survai yang dibawa dari kampus pada hari Senin tanggal 03 Januari 2011 peneliti langsung mengunjungi Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbang) Kabupaten Majalengka untuk melakukan perizinan dalam pra survai yang akan peneliti lakukan. Lembaga pemerintah menjadi tujuan pokok kunjungan peneliti untuk mendapatka informasi, karena penelitian yang akan peneliti lakukan lebih fokus pada tataran birokrasi, sehingga pada waktu itu untuk mencari informasi tersebut peneliti berkunjung ke beberapa instansi pemerintah yaitu, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Badan Perencanaan Pembangnan Daerah (Bappeda), dan Kantor Kecamatan Bantarujeg. Setelah menunggu beberapa hari akhirnya pada hari Kamis tanggal 06 Januari 2011 surat pra survai mendapat disposisi dari Kantor Kesbang. Pada waktu itu pula dengan berbekal surat izin pra survai dari Kesbang peneliti langsung mengunjungi beberapa informan awal untuk mengetahui sejauh mana permasalahan kebencanaan di Kabupaten Majalengka. Dalam proses perizinan tersebut membutuhkan disposisi dari setiap lembaga maka hari itu peneliti fokus untuk memberikan surat izin pra survai kepada lembaga pemerintah yang akan

57

peneliti kunjungi. Senin tanggal 10 sampai dengan Jum’at tanggal 15 Januari 2011 peneliti langsung bergerak untuk mengunjungi lembaga pemerintah yang menjadi fokus penelitian. Kunjungan pertama untuk dimulai di BPBD, kemudian dilanjutkan ke Dinas Sosial. Selasa peneliti berkunjunjung ke Dinas Kesehatan, kemudian Rabu, Kamis, dan Jum’at masing-masing mengunjungi DPRD, Kantor Kecamatan Bantarujeg, dan Bappeda. Setelah melakukan beberapa proses awal untuk mendapatkan informasi akhirnya peneliti memutuskan untuk kembali ke kampus untuk memperiapkan bimbingan usul penelitian kepada dosen pembimbing17. Pada hari Minggu tanggal 16 Januari 2011 peneliti kembali ke kampus untuk melanjutkan proses bimbingan usul penelitian untuk melalui tahap seminar usul penelitian. Melalui proses bimbingan akhirnya pada hari Rabu tanggal 16 Maret 2011 peneliti melaksanakan seminar proposal usul penelitian. Setelah itu dilakukan revisi proposal tersebut untuk memantapkan fokus penelitian yang akan peneliti lakukan. Setelah proposal usul penelitian selesai dengan membawa surat izin penelitian dari Bapendik FISIP Unsoed peneliti kembali ke Majalengka pada hari Kamis tanggal 24 Maret 2011 dan siap untuk menjalani penelitian. Setibanya di Majalengka peneliti tidak langsung bergerak untuk melakukan penelitian, namun waktu luang dari hari Jum’at sampai dengan Minggu (25-27 Maret 2011) peneliti gunakan untuk berdiskusi dan share terkait penelitian yang akan peneliti lakukan kepada orang tua, kakak, kerabat, dan teman-teman, untuk mengetahui gambaran bencana alam yang sedang terjadi di
Dosen Pembimbing peneliti adalah Adhi Iman Sulaiman, S.IP, M.Si selaku pembimbing I dan Khairuroojiqien Sobandi, S.IP, MA selaku pembimbng II.
17

58

Majalengka dan membuka jaringan di lembaga pemerintahan yang akan dijadikan sumber informasi dalam melakukan penelitian. Berbekal pengetahuan dan jaringan informan maka pada hari Senin tanggal 28 Maret 2011, peneliti langsung mengurus surat izin penelitian ke Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol). Lamanya prosedur penelitian atau disposisi dari Kesbangpol membuat peneliti menjadi jenuh, karena surat izin penelitian baru di keluarkan seminggu kemudian tepatnya pada hari Jum’at tanggal 08 Maret 2011, dan itupun peneliti tidak kemudian langsung terjun untuk melakukan penelitian karena pada hari Jum’at kantor pemerintahan hanya beroperasi setengah hari dan kemudian pada hari Sabtu libur. Sambi menunggu kembali hari aktif kerja kantoran maka pada hari Minggu tanggal 10 April 2011 peneliti terlebih dahulu melakukan penelitian ke masyarakat selaku korban bencana alam di Kecamatan Jatitujuh, Blok Klewih RT/RW 09/12, sekaligus mengunjungi Forum Peduli Bencana Abrasi Sungai Cimanuk (FPBAC), satu hari penuh peneliti menggali informasi tersebut dengan membawa hasil yang cukup memuaskan untuk merepresentasikan pembahasan penelitian. Senin tanggal 11 April 2011 peneliti mulai melakukan penelitian di instasi atau lembaga pemerintahan, dimulai dari Dinas Sosial dan kemudia Dinas lainnya, BPBD, DPRD, Bappeda, dan Kecamatan. Informasi dan data-data bisa terkumpul yang kemudian akan mendukung dalam penyususnan penelitian khususnya konteks peran pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka berakhir pada hari Sabtu, tanggal 23 April 2011.

59

4.3. Hasil Penelitian 4.3.1. Peran Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam Di Kabupaten Majalengka 4.3.1.1. Analisis Potensi Bencana Alam di Kabupaten Majalengka Secara administratif Kabupaten Majalengka yang terletak pada meridian 01 derajat 14’20”BT dan 06 derajat 33’40” – 07 derajat 04’19” LS dengan luas 1.204,24 km persegi atau 2,71% luas total Provinsi Jawa Barat dan terbagi kedalam 27 wilayah kecamatan dan 334 desa/kelurahan memiliki potensi bencana alam (potential hazard) yang cukup tinggi. Potensi bencana alam yang dapat terjadi di wilayah Kabupaten Majalengka terdiri dari ancaman bencana letusan Gunung Ciremai, ancaman gempa bumi, tanah longsor, angin putting beliung, banjir, serta kekeringan. Ancaman-ancaman bahaya bencana alam tersebut dapat dikelompokan menjadi bahaya beraspek geologi (ancaman gempa bumi, tanah longsor dan letusan Gunung Ciremai), dan bahaya beraspek hidrometeorologi seperti ancaman banjir, angin puting beliung, dan kekeringan18. Daerah-daerah yang termasuk ke dalam zona resiko tinggi letusan Gunung Ciremai adalah Kecamatan Argapura dan sebagian wilayah Sukahaji dan Rajagaluh. Daerah resiko tinggi ancaman longsor berada di wilayah bagian selatan diantaranya Kecamatan Argapura, Maja, Banjaran, Talaga, Bantarujeg, Malausma, Lemahsugih, dan sebagian kecil wilayah Kecamatan Cikijing dan Cingambul.Daerah yang rawan gempa di wilayah Kabupaten Majalengka diantaranya Kecamatan Rajagaluh, Sindangwangi, Sukahaji, Maja, Argapura,

18

Laporan dari Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Majalengka

60

Banjaran, serta wilayah Cikijing. Sementara untuk ancaman angin puting beliung berdasarkan sejarah kejadian umumnya berada di wilayah utara yang mencakup Kecamatan Kertajati, Jatitujuh, Ligung, Sumberjaya, Jatiwangi, Palasah, Sindangwangi, Cigasong, Panyingkiran, Kadipaten, dan Sukhaji. Wilayah yang rawan atau berpotensi mengalami kekeringan atau kesulitan air di wilayah selatan diantaranya meliputi Kecamatan Sukahaji, Argapura, Rajagaluh, Banjaran, Maja, Bantarujeg, dan sebagian wilayah Kecamatan Cikijing, Lemahsugih, dan Cingambul. Untuk wilayah utara meliputi Kecamatan Ligung, sebagian Kecamatan Jatitujuh dan Kertajati, sedangkan Desa Dawuan yang berada di wilayah Kecamatan Dawuan merupakan desa yang sulit mendapatkan air bersih sepanjang tahun19. Bencana alam yang terjadi di Kabupaten Majalengka tentunya menjadi perhatian khusus bagi pemerintah daerah. Berdasarkan laporan dari BPBD dan Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Majalengka angka kejadian bencana alam dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Pada tahun 2009 terjadi 67 kejadian sedangkan pada tahun 2010 meningkat menjadi 114 kejadian, dengan kerentanan dan variasi bencana dengan daerah yang berbeda. Berikut tabel kejadian bencana alam di Kabupaten Majalengka pada tahun 2009 dan 2010.

19

Ibid

61

Tabel 9. Angka Kejadian Bencana Alam di Majalengka pada tahun 2009

Sumber: Badan Kesbangpol dan Linmas Kabupaten Majalengka

Tabel 10. Angka Kejadian Bencana Alam di Majalengka pada tahun 2010
BULAN Januari BENCANA YANG TERJADI Tanah Longsor Putting Beliung Kebakaran Banjir Tanah Longsor Tanggul jebol Kebakaran Banjir Tanah longsor Putting beliung Kebakaran Sambaran petir Banjir Tanah longsor Putting beliung Kebakaran Longsor Banjir Pohon tumbang Kebakaran Kebakaran Tanah longsor Kebakaran TOTAL VOLUME LUKA RINGAN 9 kali 8 kali 1 kali 1 kali 14 kali 1 kali 1 kali 3 kali 5 kali 2 kali 4 kali 3 kali 2 kali 6 kali 2 kali 2 kali 8 kali 4 kali 1 kali 5 kali 2 kali 2 kali 2 kali 114 kali JUMLAH KORBAN LUKA TEWAS BERAT

1

1

1

Februari

1

Maret

2

1

April

Mei

3

3

Juni-Juli Agustus

7

4

2

Sumber: BPBD Majalengka dari Radar Majalengka, Sabtu 6 November 2010

62

Angka kejadian bencana alam yang terus meningkat menjadi dasar pertanyaan yang akan peneliti tanyakan kepada pemerintah daerah sebagai akses pembuka dalam penelitian ini. Pertanyaan ini, peneliti ajukan kepada Sekretaris Daerah, yang diwakili oleh Ibu Yati Sumiati20. Hal mendasar adalah berbicara prospek pemerintah daerah dalam menganalisis potensi bencana alam di Kabupaten Majalengka. Informan pun menjawab pertanyaan dengan sebuah argumentasi utama bahwa hal yang mendasar pemerintah daerah dalam menganalisis bencana alam di Kabupaten Majalengka adalah secara geografis berada dalam satu lipatan patahan bumi terdiri dari wilayah dataran tinggi, dataran sedang, dan rendah mengakibatkan bencana yang terjadi lebih bervariasi pula, sehingga atas dasar tersebut bisa dikatakan Majalengka merupakan daerah rawan akan bencana alam, terbukti dengan runtutan kejadian-kejadian bencana alam yang sekarang terjadi. Berikut pemaparan informan dalam sebuah wawancara:

Wilayah Majalengka digolong sebagai wilayah bencana, kemudian daerahnya merupakan patahan lempeng bumi, nah mangkanya daerah kita termasuk daerah rawan bencana21.

Senada dengan infroman lainnya, seperti yang dipaparkan oleh Yuarliana22, yang merupakan rekannya di Sekretaris Daerah Kabupaten Majalengka.

20 Yati Sumiati adalah Kepala Bagian Organisasi Sekretaris Daerah Kabupaten Majalengka yang bertugas sebagai basis konseptual perumusan kebijakan evaluasi dan monitoring Satuan Kerja Perangkat Daerah. 21 Hasil wawancara peneliti dengan Yati Sumiati yang dilaksanakan pada tanggal 20 April 2011 pukul 08.05 WIB di kantor Sekretaris Daerah Kabupaten Majalengka, Bagian Organisasi. 22 Yuarlina adalah Kepala Bagian Kesejahteraan Masyarakat (Kesra) Sekretaris Daerah Kabupaten Majalengka.

63

Secara geografis Majalengka rawan bencana alam, dan bencana sangat bervariasi mulai dari gempa bumi karena daerah kita termasuk wilayah patahan bumi, tanah longsor, angin puting beliung, banjir erosi dan lainnya. Walaupun bencana itu hanya bencana kecil namun ketika dibiarkan akan sangat fatal, maka harus dibutuhkan kesiapsiagaan dalam panggulangannya23. Begitu juga disampaikan oleh A. Syihabuddin24 yang mengindikasikan bahwa Kabupaten Majalengka merupakan daerah yang rawan akan bencana dan tentunya memerlukan sebuah perhatian khusus baik itu bagi pemerintah sebagai agen kebijakan dan masyarakat sebagai penerima kebijakan, sehingga satu sama lainnya bisa saling menguntungkan.

Itu faktor alam, kita kan gak bisa menghindar. Majalengka merupakan rawan bencana (ada bencana banjir, longsor), maka dari itu pemerintah pun konsen terhadap penanggulangan bencana25. Dipertegas oleh Heri Pambudhi26 bahwa Kabupaten Majalengka merupakan daerah rawan akan bencana alam, walaupun skala bencana yang terjadi adalah kecil, tetapi tidak kemudian menganggap remeh hal tersebut, karena bisa saja dampak yang ditimbulkan berfek besar.

Kita melihat potensi Majalengka cukup besar, baik itu di daerah selatan yang merupakan daerah atas rawan dengan

23 Hasil wawancara peneliti dengan Yuarlina yang dilaksanakan pada tanggal 18 April 2011 pukul 09.25 - 10.40 WIB dikantor Sekretaris Daerah Kabupaten Majalengka Bagian Kesejahteraan Masyarakat. 24 A. Syihabuddin adalah Ketua Komisi C (Bidang Pembangunan) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Majalengka Periode 2009-2013. 25 Hasil wawancara peneliti dengan A Syihabuddin yang dilaksanakan pada tanggal 19 April 2011 pukul 09.45 - 10-30 WIB di kantor Komisi D DPRD Kabupaten Majalengka. 26 Heri Pambudhi adalah Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka.

64

longsor dan jalur patahan bumi, sehingga potensi gempa. Kemudian dataran rendah sangat berpotensi kekeringan27.

Kesimpulan dari berbagai argumentasi hasil wawanacara, menyatakan bahwa Kabupaten Majalengka merupakan daerah rawan bencana alam, dengan bencana alam yang terjadi sangat bervariasi. Secara geografis Kabupaten Majalengka berada dalam jalur patahan bumi dengan konstruk wilayah labil yang menyebabkan bencana alam sering terjadi, mulai dari longsor, banjir, abrasi, gempa, sampai puting beliung. Sehingga bisa dinyatakan Kabupaten Majalengka adalah kawasan rawan bencana alam.

4.3.1.2. Kebijakan Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majalengka Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 merupakan landasan kebijakan pemerintah dalam penanggulangan bencana. Pembentukan undang-undang ini berdasarkan pertimbangan bahwa dalam alenia ke IV pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan bahwa pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Sebagai implementasi dari amanat tersebut dilaksanakan pembangunan nasional yang bertujuan untuk mewujudkan masyarakat adil dan sejahtera yang senantiasa memperhatikan hak
27

Hasil wawancara peneliti dengan Heri Pambudhi yang dilaksanakan pada tanggal 18 April 2011 pukul 11.00 - 12.15 WIB di kantor Bagian Kedaruratan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka.

65

atas penghidupan dan perlindungan bagi setiap warga negaranya dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia28. Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki wilayah yang luas dan terletak digaris katulistiwa pada posisi silang antara dua benua dan dua samudera dengan kondisi alam yang memiliki berbagai keunggulan, namun dipihak lain posisinya berada dalam wilayah yang memiliki kondisi geografis, geologis, hidrologis, dan demografis yang rawan terhadap terjadinya bencana dengan frekuensi yang cukup tinggi, sehingga memerlukan penanganan yang sistematis, terpadu, dan terkoordinasi. Mencermati hal tersebut, dalam rangka memberikan landasan hukum yang kuat bagi penyelenggaraan penanggulangan bencana, disusunlah undang-undang tentang penanggulangan bencana yang pada prinsipnya mengatur tahapan bencana meliputi pra bencana, saat tanggap darurat dan pasca bencana. Materi muatan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 berisikan ketentuan-ketentuan pokok sebagai berikut29: a) Penyelenggaraan penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab dan wewenang pemerintah dan pemerintah daerah, yang dilaksanakan secara terencana, terpadu, terkoordinasi, dan menyeluruh. b) Penyelenggaraan penanggulangan bencana dalam tahap tanggap darurat dilaksanakan sepenuhnya oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Badan penanggulangan bencana tersebut terdiri dari unsur pengarah dan unsur

28 29

Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945 alinea ke IV Lihat Undang-undang nomor 24 tahun 2007 tentang penangggulangan bencana

66

pelaksana.

Badan

Nasional

Penanggulangan

Bencana

dan

Badan

Penanggulangan Bencana Daerah mempunyai tugas dan fungsi antara lain pengkoordinasian penyelenggaraan penanggulangan bencana secara terencana dan terpadu sesuai dengan kewenangannya. c) Penyelenggaraan penanggulangan bencana dilaksanakan dengan

memperhatikan hak masyarakat yang antara lain mendapatkan bantuan pemenuhan kebutuhan dasar, mendapatkan perlindungan sosial, mendapatkan pendidikan dan keterampilan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana, berpartisipasi dalam pengambilan keputusan. d) Kegiatan penanggulangan bencana dilaksanakan dengan memberikan kesempatan secara luas kepada lembaga usaha dan lembaga internasional. e) Penyelenggaraan penanggulangan bencana dilakukan pada tahap pra bencana, saat tanggap darurat, dan pasca bencana, karena masing-masing tahapan mempunyai karakteristik penanganan yang berbeda. f) Pada saat tanggap darurat, kegiatan penanggulangan bencana selain didukung dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), juga disediakan dana siap pakai dengan pertanggungjawaban melalui mekanisme khusus. g) Pengawasan terhadap seluruh kegiatan penanggulangan bencana dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat pada setiap tahapan bencana, agar tidak terjadi penyimpangan dalam penggunaan dana penanggulangan bencana.

67

h) Untuk menjamin ditaatinya undang-undang ini dan sekaligus memberikan efek jera terhadap para pihak, baik karena kelalaian maupun karena kesengajaan sehingga menyebabkan terjadinya bencana yang menimbulkan kerugian, baik terhadap harta benda maupun matinya orang, menghambat kemudahan akses dalam kegiatan penanggulangan bencana, dan

penyalahgunaan pengelolaan sumber daya bantuan bencana dikenakan sanksi pidana, baik pidana penjara maupun pidana denda, dengan menerapkan pidana minimum dan maksimum. Penyelenggaraan penanggulangan bencana di daerah dan dalam rangka melaksanakan ketentuan pasal 18 dan pasal 19 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, pemerintah daerah perlu membentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Dalam rangka pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah sesuai ketentuan Pasal 12 huruf h, perlu menetapkan tentang pedoman pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Akhirnya pemerintah pun memutuskan dan mengesahkan Perka BNPB Nomor 03 Tahun 2007 tentang Pedoman Pembentukan BPBD. Dalam rangka memenuhi amanat dari undang-undang tersebut pemerintah daerah Kabupaten Majalengka menyusun sebuah mekanisme untuk

merealisasikan berdirinya BPBD sebagai organisasi perangkat daerah. Pemerintah daerah dalam hal ini adalah kepala daerah Kabupaten Majalengka dalam penyelenggaraan pemerintahannya dibantu oleh perangkat daerah yang terdiri dari unsur staf yang membantu penyusunan kebijakan dan koordinasi, diwadahi dalam sekretariat, unsur pengawas yang diwadahi dalam bentuk inspektorat, unsur

68

perencana yang diwadahi dalam bentuk badan, unsur pendukung tugas kepala daerah dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang bersifat spesifik, diwadahi dalam lembaga teknis daerah, serta unsur pelaksana urusan daerah yang diwadahi dalam dinas daerah. Kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah Kabupaten

Majalengka dalam penanggulangan bencana alam menjadi hal yang menarik dalam melihat sejauh mana kebijakan tersebut diimplementasikan. Pertanyaan tersebut peneliti ajukan kepada Ibu Yuarlina Kepala Bagian Kesejahteraan Masyarakat Sekretaris Daerah Kabupaten Majalengka, namun informan hanya memberikan gambaran secara umum, karena dengan alasan tidak mempunyai kapasitas untuk menjelaskanhal tersebut. Informan hanya menjelaskan bahwa kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam merupakan amanah dari Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007, kemudian di follow up dengan pembentukan Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Majalengka Nomor 10 Tahun 2009 tentang Organisasi Perangkat Daerah, yang di dalamnya mengatur tentang pendirian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Yati Sumiati informan dari Sekretaris Daerah (Sekda) yang menjabat sebagai Kepala Bagian Organisasi Sekretaris Daerah Kabupaten Majalengka memaparkan bahwa kebijakan yang dikeluarkan pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam penanggulangan bencana di dasarkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 41 tentang Pedoman Pembentukan Organisasi Perangkat Daerah dan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan

69

Bencana. Secara mendasar kebijakan tersebut di amanahkan dalam peraturan daerah Kabupaten Majalengka Nomor 10 Tahun 2009 yang di dalamnya mengatur pendirian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), berikut pemaparan beliau:

Bahwa NKRI dan dalam hal ini adalah pemerintah daerah Majalengka bertanggung jawab melindungi segenap masyarakatnya dengan tujuan untuk memberikan perlindungan terhadap kehidupan dan penghidupan termasuk perlindungan atas bencana, dalam rangka mewujudkan kesejahteraan umum yang berlandaskan peraturan dan perundang-undangan yang ada pada UU 24/2007 pasal 630, dan pasal 7 bagian satu31, mungkin seperti itu dasarnya32.

Bukti keseriusan pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana adalah dengan pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Pentingnya pembentukan BPBD di Kabupaten Majalengka karena secara mendasar Kabupaten Majalengka merupakan daerah yang rawan akan bencana

30

Tanggung jawab Pemerintah dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana meliputi: a. pengurangan risiko bencana dan pemaduan pengurangan risiko bencana dengan program pembangunan; b. perlindungan masyarakat dari dampak bencana; c. penjaminan pemenuhan hak masyarakat dan pengungsi yang terkena bencana secara adil dan sesuai dengan standar pelayanan minimum; d. pemulihan kondisi dari dampak bencana; e. pengalokasian anggaran penanggulangan bencana dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang memadai; f. pengalokasian anggaran penanggulangan bencana dalam bentuk dana siap pakai; dan g. pemeliharaan arsip/dokumen otentik dan kredibel dari ancaman dan dampak bencana. 31 (1) Wewenang Pemerintah dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana meliputi: a. penetapan kebijakan penanggulangan bencana selaras dengan kebijakan pembangunan nasional; b. pembuatan perencanaan pembangunan yangmemasukkan unsur-unsur kebijakan penanggulangan bencana; c. penetapan status dan tingkatan bencana nasional dan daerah; d. penentuan kebijakan kerja sama dalam penanggulangan bencana dengan negara lain, badan-badan, atau pihak- pihak internasional lain; e. perumusan kebijakan tentang penggunaan teknologi yang berpotensi sebagai sumber ancaman atau bahaya bencana; f. perumusan kebijakan mencegah penguasaan dan pengurasan sumber daya alam yang melebihi kemampuan alam untuk melakukan pemulihan; dan g. pengendalian pengumpulan dan penyaluran uang atau barang yang berskala nasional. 32 Hasil wawancara peneliti dengan Yati Sumiati Loc. Cit

70

alam. Oleh karena itu, dengan melanjutkan amanat dari Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 dan juga berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007, yang disahkan melalui Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2009 tentang Organisai Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Majalengka maka dibentuklah BPBD.

Pemerintah daerah menjadi penanggungjawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana, jadi bisa dikatakan sebagai rohnya. Kalo sbelum didirikan BPBD kita mempunyai Satkorlak PB, yang dipimpin Kesbangpol, namun setelah didirikan BPBD maka Satkorlak PB dibubarkan. Sehingga sekarang penanggulangan bencana ditanganai tidak secara vertikal lagi,tapi sekarang lebih bersifat koordinasi. Sehingga Pemda membentuk kembali lembaga yang lebih khusus dalam penanggulangan bencana yaitu BPBD. Bisa dilihat alasan kita membentuk BPBD di dalam UU Nomor 24 Tahun 2007 BAB IV di kelembagaannya khususnya di pasal 1833. Jadi tingkat nasional juga harus dibentuk badan peanggulangan bencana, kalo disini kita namakan BPBD. Namun kondisinya di semua kabupaten belum membentuk badan penanggulangan bencana34.

Dibentuknya Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Majalengka Nomor 10 Tahun 2009 tentang Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang di dalamnya mengatur tentang pendirian BPBD atas landasan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penangggulangan Bencana, Peraturan Kepala (Perka) Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) Nomor 03 Tahun 2008 tentang Pedoman Pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD),
33

(1) Pemerintah daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 membentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah. (2) Badan Penanggulangan Bencana Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. badan pada tingkat provinsi dipimpin oleh seorang pejabat setingkat di bawah gubernur atau setingkat eselon Ib;dan b. badan pada tingkat kabupaten/kota dipimpin oleh seorang pejabat setingkat di bawah bupati/walikota atau setingkat eselon IIa. 34 Hasil wawancara peneliti dengan Yati Sumiati Loc. Cit

71

dan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang menjadikan landasan dikeluarkannya kebijakan

penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka, dengan dibentuknya Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) yang bertujuan sebagai landasan lembaga atau organisasi perangkat daerah yang fokus dalam penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka.

Gambar 6. Bagan Struktur Organisasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka

Sumber: Lampiran Peraturan Daerah Kabupaten Majalengka Nomor 10 Tahun 2009 tentang Organisasi Perngkat Daerah

72

Adapun kedudukan, tugas pokok dan fungsi dari BPBD sesuai dengan amanah Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2009 dalam pasal 53 adalah: (1) Badan Penanggulangan Bencana Daerah adalah unsur pendukung tugas Bupati yang dipimpin oleh seorang Kepala Badan yang secara ex-officio dijabat oleh Sekretaris Daerah dan berada di bawah serta bertanggung jawab kepada Bupati; (2) Badan Penanggulangan Bencana Daerah mempunyai tugas pokok: a. Menetapkan pedoman dan pengarahan terhadap usaha penanggulangan yang mencakup pencegahan bencana, penanganan darurat, rehabilitasi serta rekonstruksi secara adil dan setara; b. Menetapkan standarisasi serta kebutuhan penyelenggaraan

penanggulangan bencana berdasarkan peraturan peraturan perundangundangan; c. Menyusun, menetapkan dan menginformasikan peta rawan bencana; d. Menyusun dan menetapkan prosedur tetap penanganan bencana; e. Melaporkan penyelenggaraan penanggulangan bencana kepada Bupati setiap bulan sekali dalam kondisi normal dan setiap saat dalam kondisi darurat bencana; f. Mengendalikan pengumpulan dan penyaluran uang dan barang; g. Mempertanggungjawabkan penggunaan anggaran yang diterima dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah; dan h. Melaksanakan kewajiban lain sesuai dengan peraturan perundangundangan.

73

(3) Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Badan Penanggulangan Bencana Daerah, menyelenggarakan fungsi : a. Perumusan dan penetapan kebijakan penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi dengan bertindak cepat dan tepat, efektif dan efisien; b. Pengkoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana secara terpadu dan menyeluruh; c. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya. Sementara itu, untuk penjelasan terkait struktur organisasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) termaktub dalam pasal 54 sebagai berikut: (1) Susunan Organisasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah, terdiri dari: a. Kepala Badan. b. Unsur Pengarah. c. Unsur Pelaksana. (2) Pengaturan Unsur Pengarah Badan Penanggulagan Bencana Daerah ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (3) Susunan Organisasi Unsur Pelaksana Badan Penanggulangn Bencana Daerah, terdiri dari : a. Kepala Pelaksana. b. Sekretariat, membawahkan : 1. Sub Bagian Umum;

74

2. Sub Bagian Keuangan; 3. Sub Bagian Perencanaan, Evaluasi dan Pelaporan. c. Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan, membawahkan : 1. Seksi Pencegahan Bencana; 2. Seksi Kesiapsiagaan Bencana. d. Bidang Kedaruratan dan Logistik, membawahkan : 1. Seksi Kedaruratan Bencana; 2. Seksi Logistik Bencana. e. Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi, membawahkan : 1. Seksi Rehabilitasi Bencana; 2. Seksi Rekonstruksi Bencana. f. Kelompok Jabatan Fungsional. (4) Bagan Struktur Organisasi Badan Penangulangan Bencana Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) tercantum dalam Lampiran XXVII Peraturan Daerah ini.

4.3.1.3.

Manajemen Majalengka

Penanggulangan

Bencana

Alam

di

Kabupaten

Penanggulangan bencana alam tentunya membutuhkan upaya-upaya yang terorganisir dan sistematis agar tercipta sebuah penanganan yang efektif dan efisien. Pemikiran tersebut mendasari peneliti untuk menanyakan kepada informan, bagaimana manajemen dalam penanggulamgan bencana yang dilakukan. Pertanyaan ini lebih di fokuskan pada Badan Penanggulangan Bencana

75

Daerah (BPBD), karena badan ini merupakan satuan kerja perangkat daerah yang konsen dalam penanggulangan bencana, sedangkan SKPD lainnya merupakan elemen pembantu dan koordinasi dalam pelaksanaan penanggulangan bencana. Dalam melaksanakan penanggulangan bencana di daerah akan

memerlukan koordinasi dengan sektor, secara garis besar dapat diuraikan peran lintas sektor sebagai berikut35: a) Sektor pemerintahan, mengendalikan kegiatan pembinaan pembangunan daerah. b) Sektor kesehatan, merencanakan pelayanan kesehatan dan medis, termasuk obat-obatan dan para medis. c) Sektor sosial, merencanakan kebutuhan pangan, sandang dan kebutuhan dasar lainnya untuk korban atau pengungsi. d) Sektor pekerjaan umum, merencanakan tata ruang daerah, penyiapan lokasi dan jalur evakuasi dan kebutuhan pemulihan sarana prasarana. e) Sektor keuangan, penyiapan anggaran biaya kegiatan penyelenggaraan penanggulangan bencana. f) TNI/POLRI membantu dalam kegiatan SAR dan pengamanan saat darurat termasuk mengungsi. Pada hari Senin tanggal 18 April 2011 peneliti mencoba menggali informasi lebih dalam mengenai manajemen penanggulangan bencana yang dilakuakn oleh pemerintah daerah Kabupaten Majalengka, salah satunya adalah mengamankan lokasi yang ditinggal karena penghuninya

35

Buku panduan penaggulangan bencana Badan Peanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka

76

dengan mengunjungi kantor BPBD. Heri Pambudhi36 pun menjelaskan bahwa dalam manajemen penanggulangan bencana sebenarnya ada tiga hal yang harus diperhatikan yaitu pra bencana, saat bencana, dan setelah bencana. Karena informan membidangi kesiapsiagaan dan darurat maka jawabannya lebih menjelaskan pada konteks penanggulangan bencana sebelum bencana terjadi. Berikut pemaparan informan mengenai hal tersebut.

Kita ada penanganan sebelum bencana, pada saat bencana dan pasca bencana. Atas dasar geografis Majalengka yang rawan akan bencana maka munculah Perda No 10 tahun 2009. Untuk fungsi komando BPBD ini memegang pucuk pimpinan pada saat terjadi bencana, kalo tidak terjadi bencana kita tidak berhak untuk itu. Fungsi Pelaksana misalkan kita mendapatkan alokai dana dari propinsi atau pun APBD kita langsung melaksanakan saja secara administrasi, tetapi pada saat pelakasanaan di lapangan yang secara teknis melaksanakan adalah dinas teknis seperti DBMCK, Dinkes dan lainnya37.

Setelah itu peneliti direkomendasikan untuk mewawancarai kepada bidang tanggap darurat. Pada waktu itu pula peneliti langsung bertemu dengan Hardi. Informan menjelaskan mengenai manajemen penaggulangan bencana pada saat tanggap darurat.

Karena secara makronya ada bencana alam, non alam dan sosial, khusunya yang dilakukan tindakan kedaruratan bencana yang terjadi di Kabupaten kita, kita melakuakn kegiatan-kegiatan ketanggap daruratan seperti memberikan sembako dan fammilly kit, hanya selama ini untuk bantuannya sendiri terbatas. Dimana BPBD mempunyai tiga fungsi yaitu komando, koordinasi dan fasilitasi itu
36 Heri Pambudhi adalah Kepala Bidang Kesiapsiagaan dan Keaduratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Majalengka. 37 Hasil wawancara peneliti dengan Heri Pambudhi Loc. Cit

77

sudah terakumulasi, karena pada saat terajdi bencana, untuk spesifik tugas berada di dinas-dinas lain. Kesehtan bisa meberdayakan Dinkes dan Puskesmas, kemudian dibantu dengan TNI dan dinas lainnya, seperti itulah tapi tetep dengna komando dari BPBD38.

Untuk melihat sejauh mana pelaksanaan dalam rehabilitasi dan rekonstruksi kemudian peneliti mencoba untuk menggali informasi di bidang rehabilitasi dan rekonstruksi BPBD. Peneliti pun langsung to the point menanyakan tentang fungsi dari rehabilitasi dan rekonstruksi kepada Moch Agus Slamet39, dan beliau pun langsung mengulas dan menjelasakan inti dari rehabilitasi dan rekonstruksi, seperti pemaparannya berikut ini.

Rehabilitasi itu ya intinya tugasnya pasca bencana yaitu merehabilitasi akibat bencana nya, kalo rekonstruskinya yaitu memperbaiki dari keadaan rusak menjadi keadaan semula, setelah bencana kita tingkatkan menjadi lebih baik, kalo merehab intinya begitu. Tapi untuk sampai saat ini bantuan fisik kontruksi belum bisa dilaksanakan. Kalo untuk yang sekarang penanganan-penanganan yang terjadi akibat longsor itu belum terealisasi namum tetep kita usulkan. Untuk sampai saat ini belum ada yang kita bantu. Untuk masalah pendanaan kalo berat yang nanganinya pusat 15 juta propoinsi 5 juta, kabupaten 1 juta, karena itu sudah peraturan. Kita cuma dana siap doang, tapi untuk dana anggaran belum dianggarkan40.

Manajemen penanggulangan bencana yang dilakukan oleh BPBD Kabupaten Majalengka meliputi pra bencana, saat bencana (emergency respons), dan pasca bencana. Manajemen ini di dasarkan pada amanah Undang-Undang

Hasil wawancara peneliti dengan Hardi Loc. Cit Agus Slamet adalah Kepala Seksi Rehabilitasi Bencana BPBD Kabupaten Majalengka 40 Hasil wawancara peneliti dengan Agus Selamet yang dilaksanakan pada tanggal 18 April 2001 pukul 12.20 - 13.10 WIB di kantor Bagaian Rehabilitasi dan Rekonstruksi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka.
39

38

78

Nomor 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana. Tentunya langkahlangkah ini harus dilaksaksanakan dengan se-efekitf mungkin dan melihat kapasitas dan orientasi yang dilakukan pada penanganan bencana. Peran dari setiap bidang atau lini yang berada di BPBD sangat diperlukan sebagai langkah dan upaya penanganan bencana yang terintegrasi. Peran dalam penanggulagan bencana tentunya tidak melihat pada satu instamnsi atau aktor saja, namun tentunya berada di stakeholder lainnya, salah satunya adalah Dinas Kesehatan. Pola manajemen penanggulangan bencana pun mereka lakukan, walaupun secara tidak langusng Dinas Kesehatan berada dibawah garis koordinasi dan komando BPBD, secara mendasar Dinas Kesehatan memiliki peran yang sangat besar dalam penanggulangan bencana. Berikut penjelasan hasil wawancara dengan Dinas Kesehatan mengenai manajemen penangggulangan bencana alam.

Pada kejadian bencana khususnya pra bencana kita jelas di semua tahapan salah satunya memberdayakan forum masyarakat, kemudian kita memanfaatkan bidan desa, mereka juga kita bekali dengan pengetahuan bagaimana untuk mengenali peluang dan potensi bencana di desa masing-masing. Kemudian untuk survelian dan MATRA41 sudah jelas akan mengamati terkait potensi bencana di setiap desa, itu di tahap bencana, disamping juga kita menguatkan puskesmas sebagai pos terdepan dalam penanggulangan bencana. Pas bencana kita segera menurukan tim gerak cepat untuk intervensi langsung terjun lapangan. Kemudian pasca benca, itu banyak sekali kan kerusakan akibat bencana, jelas salah satunya adalah

41

MATRA (kondisi normal berubah menjadi tidak normal kemudianm enjadi normal lagi)

79

kondisi kesehatan masyarakat, maka kita mempunyai tanggung jawab dalam memulihkan kondis korban42.

Dari kutipan wawancara tersebut, Dinas Kesehatan mempunyai tupoksi sendiri untuk menjalankan penanganan bencana. Manajemen yang dilakukan setidaknya memberikan sebuah gambaran bahwa Dinas Kesehatan memang sangat fokus dan konsen dalam usaha penanggulangan bencana pra bencana, saat bencana, dan setelah bencana. Tentunya Dinas Kesehatan menjadi mitra kerja bagi BPBD dalam penanggulangan bencana, khususnya dalam bidang kesehatan itu sendiri Bagaimana dengan peran yang dilakukan oleh Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (DBMCK)? Dipaparkan mealalui petikan hasil wawancara peneliti bersama informan dari DBMCK mengenai manajemen penanggulangan bencana alam yang dilakukan oleh dinas tersebut.

Sebelum bencana kita sosialisasi juga ke masayarakat. Pada saat bencana kita turunkan tim untuk menanggulangi bencana dengan kemampuan yang kita miliki. Setelah bencana kita itu ada perencanaan untuk relokasi dan rekonstruksi, itu tergantung dari hasil pas survey pada saaat bencana. Kalau misalkan masih memungkinkan berdiri bangunan, tapi jika kemudian lahan tersebut tidak aman untuk dihuni maka kita akan relokasi43.

Petikan wawancara tersebut menjelaskan bahwa peran Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (DBMCK) dengan manajemen yang dijalankannya lebih pada

Hasil wawancara peneliti dengan Ida Heriyani selaku Kepala Seksi Bagaian Survelian dan Matra Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka. 43 Hasil wawancara peneliti dengan Indriyanto selaku Kepala Seksi Perumahan yang dilaksanakan pada tanggal 13 April 2011 pukul 08.30 – 09.35 WIB di kantor inas Bina Marga dan Cipta Karya (DBMCK) Kabupaten Majalengka.

42

80

penanganan relokasi bagi korban bencana dan penurunan alat-alat berat pada saat bencana alam terjadi. Secara tidak langsung hal ini mengindikasikan bahwa setiap sektor mempunyai tugas dan perannya masing-masing dalam upaya

penanggulangan bencana alam. Komitmen pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana begitu sangat dinantikan oleh masyarakat, melalui kepanjangan tangannya yaitu lembaga daerah yang konsen dan mempunyai tanggungjawab dalam bidang kebencanaan tentunya tidak bisa terelakan lagi untuk memberikan sebuah jawaban itu semua. Dinas sosial merupakan dinas yang mempunyai peran penting dalam penanggulangan bencana. Sebelum dibentuk dan didirikannya BPBD, Dinas Sosial menjadi koordinator dalam Satkorlak PB (Satuan Koordinator Pelaksana Penanggulangan Bencana), dalam penanggulangan bencana peran dan pola manajemen penanggulangan bencana dilakukan Dinas Sosial seperti disampaikan Asikin sebagai berikut:

Sebelum bencana kita melaksanakan penyuluhan ke daerahdaerah reawan bencana yaitu mengingatkan kepada masyarakat biar waspada. Kita kerjasama dengan BPBD, dan sekarang yang lebih konsen adalah BPBD. Pada saat bencana kita terjun langsung dengan bantuan-bantuan logistik seperti pasang tenda, makanan danevakuasi korban. Setelah kita memulihkan kembali kepada korban agar tidak trauma, memberikan pelayanan relokasi ke daerah yang lebih aman. Kita juga melakukan relokasi dengan cara pengajuan proposal ke propinsi dulu, dan kementerian jika memang itu harus memungkinakan harus di relokasi. Kita melakukan fasilitasi dan koordinasi dengan BPBD44.

44 Hasil wawancara peneliti dengan Asikin yang dilaksanakan pada tanggal 19 April 2011 pukul 09.25 – 10.35 WIB di kantor Bagian Sosial, Dinas Sosial, Transmigrasi dan Tenaga Kerja Kabupaten Majalengka.

81

Dalam penanggulangan bencana, Dinas Sosial bersinergi dan berbagi peran dengan BPBD dan dinas lainnya. Koordinasi menjadi hal yang mutlak diperlukan agar setiap lini bersinergis dan bahu-membahu dalam melaksanakan perannya masing-masing. Selain itu tentunya kita melihat pada peran kecamatan, yang merupakan institusi terendah dalam sebuah pemerintahan daerah. Kecamatan mempunyai posisi strategis dalam penanggulangan bencana, seperti hasil wawancara peneliti dengan informan dari kecamatan yaitu Bapak Kardia45. Informan mengatakan bahwa upaya yang dilakukan dalam penanggulangan bencana adalah Pra Bencana, ada kerjasama dengan UPTD dan masyarakat sekitar. Tanggap darurat kecamatan sudah membuat langkah tabungan dari mulai hal yang dibutuhkan korban, mulai dari beras itu sudah dipersiapkan. Pasca bencana kita mengusahakan untuk membuat pelaporan bencana alam kepada pemerintah daerah46.

Posisi stakeholder dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka sangat sentral dan penting. Upaya-upaya yang telah, sedang, dan akan dilakukan menuntut pada sebuah pembagian peran masing-masing stakeholder dalam penanggulangan bencana. Manajemen penanggulangan bencana yang sistematis tentunya akan memudahkan dan memepercepat penanggulangan bencana alam yang efektif dan efisien. Tupoksi yang telah dimiliki masingmasing stakeholder dalam penaggulangan bencana alam setidaknya bisa di aplikasikan secara nyata dalam konteks standarisasi peanggulangan bencana alam

Kardia adalah Sekretaris Camat (Sekcam) Kecamatan Jatitujuh Kabupaten Majalengka. Hasil wawancara peneliti dengan Kardia yang dilaksanakan pada tanggal Rabu 20 April 2011 pukul 09.20 – 10.45 WIB di kantor Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka.
46

45

82

yang tepat, sebagaimana telah di amanahakan dalam konstitusi dan hukum negara kita. Penanggulangan bencana alam adalah tanggungjawab semua elemen, tidak ada sekat atau garis pemisah agar setiap warga negara memiliki kepedulian sosial terhadap warga lainnya.

4.3.2. Sinergi Stakeholder Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majalengka. 4.3.2.1. Distribusi Peran Satuan Kerja Perangkat Daerah Dalam

Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majelengka Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) bersama pemerintah daerah terdiri dari unsur satuan kerja perangkat daerah yang di dalamnya terdiri dari dinas, lembaga, inspektorat, kecamatan, dan kelurahan merupakan unsur vital yang mempunyai peran dan tanggungjawab dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Peneliti pun tertarik untuk menanyakan sejauh mana distribusi peran-peran dari satuan kerja perangkat daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Berikut hasil wawancara peneliti dengan informan terkait distribusi peran stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka dengan Ibu Yuarlina dari Sekretaris Daerah bagian Kesejahteraan Masyarakat:

Kami di bagian Kesra sifatnya hanya memfasilitasi dan mengkoordinasikan jika ada kejadian-kejaidain, karena secara operasional yang menanggulanginya adalah BPBD dan dinas-dinas teknis lainnya. Mekanisme penanganan bencana kalo sifatnya emergency47 sekali maka akan
47

Emergency adalah keadaan darurat

83

diarahkan kepada OPD48 untuk terjun langsung. Jadi sifatnya kami hanya mengkoordinasikan saja, koordinasi dengan dinas-dinas lainnya melalui BPBD. Jadi kami disini menginventarisir kejadian-kejadian juga kami kordinasikan dinas-dinas dalam penanggulangan bencana, dan sifatnya berkelanjutan49.

Petikan wawancara tersebut menjelaskan bahwa fungsi dari Sekretrais Daerah selaku jabatan eselonisasi sekaligus menjabat sebagai ketua dari BPBD hanya melaksanakan fungsi koordinasi dan memfasilitasi kejadian bencana yang ada. Sementara untuk mekanisme teknis dalam penanggulangan bencana dilimpahkan kepada dinas-dinas teknis atau organisasi perangkat daerah yang terlibat langsung dalam penanggulangan bencana secara koordinatif dan berkelanjutan. Begitu halnya dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) selaku lembaga controling eksekutif pemerintah daerah dalam mekanismenya

mempunyai peranan penting untuk menjaga dinamika dalam menyuarakan dan mengaspirasikan kebencanaan di Kabupaten Majalengka, salah satu komisi yang konsen terhadap penanganan bencana yaitu komisi C membidangi pembangunan, berikut hasil wawancara peneliti dengan komisi C DPRD Kabupaten Majalengka.

Iya kita secara aspek politis DPRD konsen terhadap evaluasi dan monitoring terhadap bencana-bencana yang terjadi di Majalengka. Baik itu seperti usulan pembangunan infrastruktur, ekonomi dan lainnya50.

48 49 50

OPD adalah kependekan dari Organisasi Perangkat Daerah Hasil wawancara peneliti dengan Yuarlina Loc. Cit Hasil wawancara peneliti dengan A. Syihabuddin Loc. Cit

84

Dari petikan wawancara di atas DPRD mempunyai andil besar dalam monitoring dan evaluasi dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. Seperti hasil wawancara tersebut, DPRD memberikan sebuah usulan atas pembangunan infrastruktur, ekonomi dan bidang lainnya, agar kerentanan bencana bisa teratasi dan memberikan perlindungan bagi masyarakat dan korban bencana alam. Hal yang lebih spesifik melihat peran pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka, peneliti mewawancarai informan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Berikut petikan wawancara peneliti dengan informan dari BPBD.

Di BPBD ada semacam siklus, termasuk untuk menggali dan melihat potensi kebencanaan, juga dalam bentuk sosialisasi kebencanaan, informasi daerah rawan bencana, memberikan treatment slogan-slogan bencana dengan penyuluhan atau lainya. Termasuk memenuhi kebutuhan pada saat terjadi bencana. Dengan melakukan koordinasi dengan dinas lain yaitu dengan adanya tim kaji cepat. Dimana BPBD mempunyai tiga fungsi yaitu komando, koordinasi dan fasilitasi itu sudah terakumulasi, karena pada saat terjadi bencana, untuk spesifik tugas berada di dinas-dinas lain atau lintas bidang51.

Petikan wawancara di atas memberikan penjelasan bahwa dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka BPBD mempunyai siklus dalam penanganannya, baik pra bencana, saat bencana dan pasca bencana, dengan melakukan koordinasi dengan dinas lainnya. Fungsi BPBD dalam emergency respons mempunyai tiga fungsi dalam penanggulangan bencana yaitu fungsi komando, koordinasi, dan fasilitasi dengan membagi tugas dan tupoksi
51 Petikan wawancara dengan Drs. Hardi, M.Si selaku Kepala Bidang Kedaruratan dan Logisitik BPBD Kabupaten Majalengka. Wawaancara dilakukan pada tanggal 18 April 2011 pukul 13.00-13.45 WIB di kantor bagian Kedaruratan dan Logistik, Badan Peanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka.

85

masing-masing dinas. Berbicara tentang fungsi koordinasi lintas bidang peneliti kembali bertanya, sebenarnya seperti apa fungsi koordinasi yang dijalankan tersebut. Dalam prakteknya BPBD mengkoordinasikan apa yang dibutuhkan oleh korban, karena kita bukan dinas teknis52. Penjelasan tersebut kemudian diperjelas dengan siklus manajemen yang dilakukan BPBD dalam peanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka.

Nanti kita ada penanganan sebelum bencana, pada saat bencana dan pasca bencana. Jadi kiprah kami selama satu tahun, dan masih umum sudah bisa berjalan53.

Setelah mengetahui sejauh mana peran dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), kaena penanggulangan bencanan ini merupakan tanggungjawab bersama dan dilakukan lintas sektor maka untuk mengetahui sejauh mana peran dari lembaga lain dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Peneliti memutuskan untuk mewawancarai informan dari Dinas Kesehatan, karena secara langsung Dinas Kesehatan sangat berhubungan dan mempunyai peran penting dalam penanggulangan bencana alam.

Secara umum jalur komando itu berada di BPBD. Jadi peran Dinas Kesehatan adalah memulihkan kondisi tidak normal karena bencana alam menjadi situasi tidak normal, menjadi normal, baik psikis ataupun psikologis. Contoh kemarin ada bencana banjir di Kertajatai, kita berkoordinasi di bawah BPBD kita bekerjasama dengan TNI kita langsung tanggulangi, karena kita di kecamatan

Hasil wawancara dengan R. Moch Agus Slamet, BE selaku Kepala Seksi Rehabilitasi Bencana BPBD Kabupaten Majalengka. Wawaancara dilakukan pada tanggal 18 April 2011 pukul13.45 – 14.25 WIB di kantor bagian Rehabilitasi dan Rekonstruksi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka. 53 Hasil wawancara dengan Heri Pambudhi, Loc. Cit

52

86

ada puskesmas, jadi kita perankan puskesmas. Jadi yang jelas kita bergerak di dalam bidang kesehatan54.

Dinas Kesehatan mempunyai peran dalam pemulihaan kesehatan korban bencana alam karena dampak bencana tidak hanya pada hancurnya bangunan ataupun rusaknya lingkungan sekitar. Tetapi berdampak pula pada subjek atau korban bencana alam tersebut, dimana hal ini menjadi perhatian khusus agar korban yang lolos dari bencana alam bisa tertangani dan terselamatkan, sehingga tidak memakan korban lebih banyak lagi. Peran Dinas Kesehatan melalui perangkatnya mempunyai efek positif dalam pemulihan atau normalisasi korban bencana alam. Stakeholder lain pun tentunya memiliki peranan khusus dalam penanggulangan bencana alam, salah satunya adalah melihat peran dari Dinas Bina Marga dan Cipta Karya, yang biasanya menjadi pelopor dalam rehabilitasi dan rekonstruksi akibat bencana yang ditimbulkan. Pertanyaan yang diajukan masih seputar peran DBMCK dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka, berikut pemaparannya.

Memberikan sosialisai dan membangun rumah tinggal korban bencana, kalaupun misalkan diminta bantuan kalau misalkan dinas DBMCK jadwalnya kan rutin sewaktuwaktu ada laporan diminta bantuan ada bencana alam kita siap. Kalau misalkan alat berat kita langsung menghubungi bidang alat berat. Disini kita fokus pada pendataan bangunan, kemudian kepada rencana relokasinya55.

Hasil wawancara yang dilakukan dengan informan dari DBMCK, secara tidak langsung peranannya lebih spesifik pada penanganan setelah bencana, yaitu
54 55

Hasil wawancara dengan Ida Heriyani, Loc. Cit. Hasil wawancara dengan Indrayono Loc. Cit.

87

pada tataran rehabilitasi dan rekonstruksi. Peneliti pun ingin mengetahui sejauh mana peranan dari Dinas Sosial dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Seperti petikan wawancara sebagai berikut:

Peran dari Dinsos merancanakan pendataan dan pelaksanaan dalam penanggulangan bencana, dan pelaporan kejadian bencana ke tingkat propinsi maupun pemerintah daerah yang nanti ditidaklanjuti oleh kementerian. Fungsi dan tugas dinasnya adalah langsung melaksanakan kesiapksiasagaan diantaranya melaksanakan keselamatan manusia seperti evakuasi, pembuatan dapur umum, terus memfasilitasi para korban diantaranya memberikan makan, pakaian dan lainnya. Memberikan pelayanan kepada masyarakat korban bencana56.

Sebelum dibentuknya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) peran dari Dinas Sosial memang menjadi sangat vital, karena mengkordinatori Satlak PB (Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana). Seiring dikeluarkannya Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2009 yang didalamnya mengatur pembentukan BPBD maka pada waktu itu pula Satlak PB di bubarkan. Sehingga peran Dinas Sosial dalam penanggulangan bencana berkurang, dan untuk saat ini Dinas Sosial merupakan mitra dari BPBD dalam penanggulangan bencana dalam garis koordinasi. Sudah sangat jelas bahwa fungsi dan peran dari stakeholder sangat dibutuhkan dalam penanggulangan bencana alam agar tercipta sebuah penanggulangan yang efektif, efisien dan terkendali. Salah satu faktor lain yang memiliki peran penting adalah satuan kerja perangkat daerah lainnya yaitu pihak kecamatan, yang tentunya berperan dalam pengendalian bencana alam di

56

Hasil wawancara dengan Asikin, Loc. Cit.

88

daerahnya. Peneliti pun ingin mengetahui sejauh mana peran kecamatan dalam penanggulangan bencana alam. Berikut petikan wawancara dengan pihak kecamatan.

Kesiapan dalam menangani terutama dalam aliran sungai, dan sekarang terjadi longsor merobohkan sekitar 17 rumah. Pihak Kecamatan sudah menyikapi hal tersebut dengan cara melaporkan ke tingkat kabupaten, dan BPBD. Ada penawaran dari tingkat kabupaten untuk direlokasikan. Pas tanggap darurat kecamatan sudah membuat tabungan dari mulai hal yang dibutuhkan korban, mulai dari beras dan sebagainya itu sudah dipersiapkan. Kita juga mengusahakan untuk membuat pelaporan bencana alam kepada pemerintah daerah57.

Melihat gambaran distribusi peran yang dilakukan oleh stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka, menjadi sangat penting untuk mengetahui sejauh mana perencanaan dan pembangunan akibat bencana alam. Peneliti memutuskan untuk menggali informasi tersebut di Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda). Lembaga ini dipilih karena secara langsung mempunyai peran penting dalam proses perencanaan dan strategi terpadu dalam pembangunan khususnya melihat pada proses penanggulangan bencana alam. Berikut hasil wawancara peneliti dengan informan dari Bappeda.

57

Hasil wawancara dengan Kardia, Loc. Cit.

89

Karakteristik daerah dan melihat pengalaman-pengalaman ke belakang bencana apa saja sih bencana yang terjadi di Majalengka. Terus kita siapkan penyusunan dan perencanaan kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan, kita akomodir usulan-usulan tersebut. Kita pilih melalui penyelesaian sesuai RPJMD daerah kemudian dituangkan dalam RKPB. Atas keputusan tim TAPD, dengan lintas sektor, Bappeda bagian keuangan, pembangunan, asisten dinas, BPKAD, Inspektorat. Tim angggaran siapkan rencana RAPBD yang diserahkan ke DPRD untuk dibahas dan disahkan bersama Bupati. Usluan dari tiap dinas termasuk BPBD kita bahas, kemudian melakukan Musrembang tingkat kecamatan, OPD dan setelah itu menjadi dokumen untuk menjadi usulan RKPD58.

Distribusi peran yang telah direncanakan dalam rencana strategis pemerintah daerah Kabupaten Majalengka merupakan mekanisme sinergitas peran dari stakeholder yang satu dengan lainnya saling berkaitan. Tentunya distribusi peran tersebut harus dijalankan sebagaimana mestinya, sesuai dengan koridor kerja dari stakeholder dalam upaya penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka.

4.3.2.2. Alur Sinergi Stakeholder Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 bahwa

penyelenggaraan penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab dan wewenang pemerintah dan pemerintah daerah, yang dilaksanakan secara terencana, terpadu, terkoordinasi, dan menyeluruh. Penyelenggaraan

penanggulangan bencana dilaksanakan dengan memperhatikan hak masyarakat
58 Hasil wawancara dengan Iwan Tundjiawan selaku Kepala Bidang Sosial dan Budaya, Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Majalengka. Wawancara dilakuakn pada tanggal 13 April 2011 pukul 12.35 13.25 WIB.

90

seperti bantuan pemenuhan kebutuhan dasar, mendapatkan perlindungan sosial, mendapatkan penanggulangan pendidikan bencana, dan keterampilan dalam dalam penyelenggaraan keputusan.

berpartisipasi

pengambilan

Penyelenggaraan penanggulangan bencana dilakukan pada tahap pra bencana, saat tanggap darurat, dan pasca bencana, karena masing-masing tahapan mempunyai karakteristik penanganan yang berbeda. Penyelenggaraan penanggulangan bencana secara tidak langsung

membutuhkan sebuah keseriusan dari pemerintah daerah, khususnya dalam koordinasi stakeholder, agar tercipta sebuah penanggulangan bencana yang terkoordinatif. Dasar kerangka berfikir dari penelitian ini yang kemudian mencoba untuk mengetahui sejauh mana alur sinergi stakeholder pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam penanggulangan bencana. Pertanyaan pertama peneliti ajukan kepada Ibu Yati Sumiati sebagai staff dari sekretaris daerah. Berikut pemaparan informan mengenai mekanisme sinergi dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majelngka.

Kalau di Pemda dalam setiap minggu itu ada rapat koordinasi terbatas (Rakortas), di situ akan menanggapi dan membahas trekait dengan pelaporan-pelaporan dan langkah startegi yang akan dilaksanakan, termasuk didalamnya tidak hanya masalah penanggulangan bencana saja namun juga ada pembahasan operasioanl dinas. Setiap hari Senin bersama kepala SKPD Bupati memimpin rapat SKPD59.

59

Wawancara dengan Yati Sumiatai, Loc. Cit

91

Pernyataan tersebut diperkuat oleh Yuarlina selaku rekan kerjanya di sekretaris daerah bagian kesejahteraan masyarakat. Kita bersinergi dengan dinas dalam mekanisme penanggulangan bencana, untuk kemudian mendapatkan fasilitasi dan pelaporan untuk menginstruksikan dinas daerah terjun dalam penanggulangannya yang dikomandoi oleh BPBD60. Mencermati hasil wawancara dengan sekretaris daerah dalam menjaga alur sinergi penanggulangan bencana, setiap pekan pihak pemerintah daerah mengadakan rapat koordinasi rutin dengan OPD untuk melakukan pelaporan dan evaluasi atas kinerja yang akan dan telah dijalankan. Hal ini ditujukan untuk menjaga komunikasi dan koordinasi yang berkesinambungan dan berkelanjutan, agar setiap kinerja yang akan dilaksanakan bisa terinvertarisis dan terkontrol, begitu juga halnya dalam penanggulangan bencana. Peneliti ingin mengetahui sejauh mana pandangan atau perspektif dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) selaku lembaga yang mengawal dan mengontrol pelaksanaan penyelenggaraan pemerintah mengenai sinergi stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majelngka? Berikut petikan wawancara dengan pihak DPRD Kabuapten Majalengka.

Sinerginya bagus, kalau Satkorlak dibawah pemda itu langsung cepet penanganannya, itu sudah bisa dibuktikan, ketika air sungai di desa saya meluap langsung terjun. Kondisi real sekarang Pemda sinergi amat sangat sinergis, kembali lagi kepada batasan kewenangan61.

60 61

Wawancara dengan Yuarlina, Loc. Cit Wawancara dengan A. Syihabuddin. Loc. Cit

92

Kesimpulan sementara mengindikasikan bahwa sinergi stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam memang cukup efektif dan berjalan lancar. Melihat sejauh ini hasil dari informan menyatakan bahwa koordinasi antar leading sector sangat berjalan baik, hal ini dipertegas hasil wawancara peneliti dengan pihak Dinas Sosial, BPBD dan pihak Kecamatan Jatitujuh. Berikut petikan hasil wawancaranya.:

Kita melakukan penataan dan berkoordinasi dengan dinasdinas terkait dengan BPBD, PU, PMI, kita memberikan laporan dan komando dari BPBD, sesuai denga tupoksinya masing-masing, dinas kompak terjun ke lokasi bencana, tapi itu hanya dilaksanakan oleh dinas-dinas tertentu. PMI untuk kesehatan, kalau kita menyediakan tahap darurat menyediakan natira (sandang pangan)62.

Kita tetap ada rapat koordinasi, baik di tingkat kabupaten atau propinsi. Ya bagus, misalkan dalam keadaaan darurat kita langusng koordinasi dengan dinas lain maka langsung ditanganai .63

Alhamdulillah sangat kompak sekali sampai survey kesini, melihat kondisi lapangan, mendata berapa korban baik rumah yang hancur, dan segala macemnya. Alhamdulillah perannya sudah positif dari Kabupaten untuk penanggulangan bencana disini64.

Secara formalitas apa yang diungkapkan oleh informan dari pihak pemerintah daerah Kabupaten Majalengka sejauh ini penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka berlangsung lancar tanpa hambatan, karena dengan pertimbangan sudah terkoordinasi, terintergrasinya lintas sektor atau stakeholder
62 63 64

Wawancara dengan Asikin. Loc. Cit Wawancara dengan Yati. Loc. Cit Wawancara dengan A. Syihabudin. Loc. Cit

93

yang ada. Sehingga bisa dikatakan alur sinergi peran pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam penanggulangan bencana tidak ada kendala dan berjalan lancar. Untuk mencari lebih lanjut berkenaan peran dan sinergi stakeholder pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam penanggulangan bencana alam belum cukup rasanya kalau peneliti hanya melihat sudut pandang dari pihak birokrat saja. Peneliti pun kemudian memutuskan untuk menggali informasi dari korban bencana dan LSM atau semacam paguyuban yang konsen untuk mengaspirasikan dalam kebencanaan.

4.3.3. Aktor Dalam Penanggulangan Bencana di Kabupaten Majalengka Sejauh ini kita melihat peran pemerintah daerah dengan institusi di bawahnya yaitu satuan kerja perangkat daerah bisa membuktikan akan kepeduliannya terhadap penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Namun peneliti menemukan hal yang sangat kontradiktif atas semua pernyataanpernyataan dari stakeholder pemerintah daerah dalam mengatasi kebencanaan di Kabupaten Majalengka. Peneliti mencoba mengkomparasikan atau membandingkan dengan salah satu kasus kejadian bencana alam di Blok Klewih, Kecamatan Jatitujuh yang terkena abrasi aliran Sungai Cimanuk yang mengakibatkan ambruknya 12 rumah warga dan satu Mushola. Ternyata setelah peneliti mencoba menyelidiki dan mencari informasi terkait bencana di Jatitujuh banyak permasalahan yang terjadi dalam penanganannya. Lokasi kejadian yang sangat memprihatinkan dengan kondisi bangunan yang porak poranda akibat terjangan aliran Sungai Cimanuk,

94

sementara korban pun belum di relokasi, dan lantas hanya di biarkan begitu saja tanpa ada penanganan khusus dari pemerintah daerah setempat. Berikut hasil wawancara peneliti dengan Acha selaku korban bencana abrasi Sungai Cimanuk Jatitujuh, berbicara mengenai peran pemerintah dalam penanggulangan bencana alam di daerahnya. Berikut petikan hasil wawancaranya.

Teu aya, bantuan entos tapi eta ge wungkul bantuan sembako bae aya minyak, mie, jeung beas. Abi mah pengena aya kapasitian ti pamarintah, aya relokasi, upami teu janten relokasi nya teu nanaon sok realisasikeun dana bantuan anu tos di janjikeun. Ti kecamatan pun teu aya pisan responna. siga anu lepas tangan wae. Bilangna waktu itu pas gubernur datang ka lokasi bencana, dari kebijakan gubernur sareng bupati saurnamah bade ngarealisasikan bantuan kanggo korban 5 juta/kk, tapi sampai ayeuna teu acan aya realisasi sakedik pun65.

Tidak ada, bantuan yang sudah direalisasikan baru bantuan sembako seperti minyak goreng, mie instant, dan beras. Saya ingin ada kepastian dari pemerintah tentang relokasi, kalau pun tidak jadi di relokasi, ya tidak apa-apa tapi realisasikan saja dana bantuan yang sudah dijanjikan kepada korban. Bilangnya pada waktu itu gubernur bersama bupati katanya akan merealisasikan bantuan untuk korban Rp. 5.000.000,00/KK, tetapi sampai saat ini belum ada realisasi sedikit pun66.

Melihat petikan wawancara tersebut mengindikasikan bahwa pemerintah daerah belum berperan penuh dalam usaha penanggulangan bencana alam yang terjadi di lokasi tersebut. Bantuan pertama hanya sebatas mencukupi kebutuhan pokok saja, sementara untuk proses relokasi sampai saat ini belum terealisasi,
65 Hasil wawancara dengan Aca selaku korban abrasi Sungai Cimanuk, blok Klewih Jatutujuh Majalengka.Wawancara dilaksanakan pada10 April 2011 66 Ibid

95

padahal korban sangat membutuhkan hunian atau tempat tinggal setelah rumahnya porak poranda akibat terjangan arus Sungai Cimanuk. Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan yang disampaikan oleh Syarifudin Rahmat selaku koordinator Forum Peduli Bencana Abrasi Sungai Cimanuk (FPBAC)67. Informan bersama teman-temannya di FPBAC sebagai penyambung lidah antara masyarakat dengan pemerintah daerah berusaha untuk mengaspirasikan dan merealisasikan yang menjadi tuntutan-tuntuan dan hak-hak dari korban bencana. Berikut petikan wawancara dengan informan.

Respon dari Pemda ada, cuma pembuktian dan realitasnya gak ada. Bahkan sampai saat ini pergerakan kita dari Januari sampai April ini gak ada sama sekali. Katakan saja untuk penanganan bencana ini gak ada sama sekali, kemana saja ini?

Hasil wawancara dengan korban dan Syarifudin Rahmat selaku koordinator dari Forum Peduli Abrasi Sungai Cimanuk (FPBAC) ternyata hasil wawancara dengan pihak pemerintah daerah bertolak belakang dengan bukti-bukti di lapangan. Sungguh sangat ironi, ketika pemerintah daerah menjawab bahwa sejauh ini mereka memperhatikan dan bahkan bertanggungjawab penuh terhadap permasalahan bencana alam di daerahnya. Tetapi hasil temuan peneliti di lapangan justeru banyak ketidakpuasan dari masyarakat khususnya yang menjadi korban terhadap pemerintah daerah, dengan alasan tidak ada perhatian terhadap mereka. Bahkan melihat dari stakeholder pemerintah daerah yang terjun langsung dalam penanganan bencana di daerahnya sangat minim, artinya tidak semua

96

elemen terjun langsung dalam penanganannya, walaupun ada hanya sebatas mengontrol lokasi saja tanpa ada realisasi secara menyeluruh untuk membantu korban. Bisa dikatakan perhatian dari pemerintah daerah sangat minim, dan bahkan seperti ada sebuah keacuhan terhadap korban. Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2008 tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana sebagai penjabaran dari Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007 tentang

Penanggulangan Bencana telah memberikan rambu-rambu bahwa bantuan bagi korban bencana antara lain mencakup santunan duka cita pada pasal 2468.

Santunan duka cita diberikan dalam bentuk biaya pemakaman dan/atau uang duka pasal 2569. Bantuan yang tidak tepat akan menimbulkan masalah bagi korban bencana yang menyebabkan mereka tidak berdaya untuk memulihkan fungsi sosial dan ekonomi. Prinsip dari bantuan tersebut adalah70: 1) Penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia, maksudnya bahwa santunan yang diberikan bertujuan untuk melindungi dan menghormati hakhak azasi manusia, harkat dan martabat setiap warga negara.

68

(1) Pemerintah dan pemerintah daerah menyediakan dan memberikan bantuan bencana kepada korban bencana. (2) Bantuan bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: a. santunan duka cita; b. santunan kecacatan; c. pinjaman lunak untuk usaha produktif; dan d. bantuan pemenuhan kebutuhan dasar.
(1)

Santunan duka cita sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (2) huruf a diberikan kepada korban meninggal dalam bentuk: a. biaya pemakaman; dan/atau b. uang duka. (2) Santunan duka cita sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diberikan setelah dilakukan dikoordinasikan oleh BNPB atau BPBD sesuai dengan kewenangannya. (3) Santunan duka cita sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan kepada ahli waris korban. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberian dan besaran bantuan santunan duka cita sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan peraturan Kepala BNPB setelah mendapat persetujuan Menteri Keuangan. 70 Peraturan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Nomor 08 Tahun 2008 tentang Pedoman Pemberian dan Besaran Bantuan Duka Cita

69

97

2) Perlakuan adil, adalah bahwa santunan yang diberikan kepada korban bencana semata-mata atas dasar kebutuhan mereka dalam prinsip ini terkandung kerangka kerja yang berlandaskan HAM, proporsionalitas, dan tidak mendiskriminasi. 3) Cepat dan tepat, maksudnya adalah bahwa dalam pemberian santunan harus dilaksanakan secara cepat dan tepat sesuai dengan tuntutan keadaan. 4) Transparansi dan Akuntabilitas, maksudnya adalah bahwa pemberian santunan dilakukan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan secara etika dan hukum. 5) Nondiskriminatif, maksudnya adalah bahwa dalam pemberian santunan tidak membedakan jenis kelamin, suku, agama, ras, dan aliran politik apa pun. 6) Nonproletisi, maksudnya adalah bahwa dilarang menyebarkan agama atau keyakinan pada saat keadaan darurat bencana, terutama melalui pemberian bantuan dan pelayanan darurat bencana. 7) Kehati-hatian, maksudnya adalah bahwa pemberian santunan harus cermat, teliti, aman, dan tertib sehingga sampai kepada sasaran. Pemerintah daerah seharusnya mempunyai tanggungjawab penuh terhadap permasalahan bencana alam yang terjadi di Blok Klewih, Jatitujuh sebagaimana sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007, baik pra bencana, saat bencana, dan pasca bencana. Perlindungan dan rasa keamanan merupakan hak dari setiap warga dan masyarakat yang menjadi korban bencana agar tercipta sebuah tatanan masayarakat yang selaras, serasi, dan seimbang.

98

Perkembangan penanggulangan bencana alam abrasi Sungai Cimanuk ini, sampai saat ini masih menjadi sebuah permasalahan yang harus dan segera diselesaikan oleh pemerintah daerah selaku stakeholder kunci yang

bertanggungjawab penuh dalam proses penanggulangan bencana, begitu juga stakeholder lainnya utuk bersama-sama mencari solusi terhadap bencana alam yang tyerjadi di daerah tersebut. Tetapi hal yang menarik adalah bagaimana aktoraktor yang terlibat di dalam penanggulangan ini mulai bermain dalam proses pencitraan untuk meraih simpati dari korban. Segala upaya yang dilakukan oleh aktor tersebut menjadi hal yang sangat menarik dalam proses penanganan bencana di Jatitujuh ini. Pertama adalah dengan adanya mandat dari Bupati untuk segera menyelesaikan dan menuntaskan bencana alam tersebut, salah satunya adalah dengan adanya kunjungan langsung dari Bupati ke lokasi kejadian dengan menjanjikan adanya proses ganti rugi dan jaminan kepada para korban. Bupati juga menginterupsikan kepada BPBD dengan menjanjikan ganti rugi kepada korban Rp.1.000.000,00/kepala keluarga. Berikut hasil wawancara dengan Syarifudin Rahmat selaku informan dari FPBAC yang menjelaskan tentang bukti dari janji-janji Bupati kepada para korban.

Dalam lawatannya, Pak Bupati menginterupsikan kepada Pak Kuwu dan warga segera mencari tanah untuk relokasi dengan harga di bawah standar. Bu Ratih selaku ketua BPBD berjanji merealisasikan 1 juta/kk dia menyatakan itu di media. Padahal dalam kebijakan tersebut rumah yang rusak berat 15 juta.

99

Masyarakat pun semakin gembira ketika Bapak Karna Sobahi (Wakil Bupati) dan Bapak Ahmad Heriawan (Gubernur Jawa Barat) berbondongbondong datang ke lokasi kejadian dengan menjanjikan ganti rugi dan jaminan kepada korban sebesar Rp.5.000.000,00/kepala keluarga. Seperti yang

diungkapkan korban kepada peneliti, berikut pemaparannya.

Ngomongnya waktu itu, pas gubernur datang ke lokasi bencana, dari kebijakan gubernur katanya akan merealisasikan bantuan untuk korban Rp. 5.000.000,00/KK, tapi sampai sekarang belum ada realisasinya. Terus Bapak Karna (wakil Bupati) mau merealissikan bantuan dana kepada korban tapi gak tau, entah apa yang terjadi gak ada realisasinya juga.

Sampai saat ini bantuan yang dijanjikan belum terealisasi dan belum sampai kepada tangan para korban, bahkan untuk relokasi korban pun masih mengalami masalah dan ini menjadi permasalahan baru yang muncul. Permasalahan yang timbul adalah adanya pro-kontra antara warga dengan pemerintah daerah mengenai tempat relokasi yang akan ditetapkan, masyarakat selaku korban bencana merasa tempat relokasi yang dijanjikan kurang representatif. Berikut pemaparan hasil wawancara dengan Karsa sebagi korban bencana abrasi Sungai Cimanuk Jatitujuh.

Anu di relokasi baru 10 rumah teh tempatna kurang alus, lokasina di Ronggeng Bokong tempat garong ato rampok jauh dari keramaian. Nya warga teh seuuer nu nolak. Gak maul lah kalo di pencilkeun kitu mah, gak enak gak nyaman. Kalo ngukur-ngukur masalah tanah relokasi pemerintah teh gak bilang heula ka masyarakat anu jadi korban.

100

Yang di relokasi baru 10 rumah, itu pun tempatnya kurang bagus, lokasinya di Ronggeng Bokong tempat perampok dan jauh dari keramaian. Ya akhirnya warga banyak yang nolak. Tidak mau kalau di pencilkan seperti itu, gak enak dan gak nyaman. Kalau rencana pengukuran tanah relokasi kadang pemerintah tidak membicarakan terlebih dahulu kepada masyarakat yang jadi korban.

Petikan wawancara tersebut mengindikasikan bahwa untuk permasalahan relokasi sejatinya pemerintah daerah belum mensosialisasikan terlebih dahulu kepada masyarakat selaku korban. Hal ini menimbulkan penolakan dari korban, karena merasa tempat relokasi tidak representatif dan jauh dari keramaian, dan fasilitas atau pun akses akomodasi dan transportasi pun sangat sulit. Seharusnya instansi atau dinas terkait yang bertanggungjawab dalam masalah kebencanaan bisa mengatasi permasalahan ini, tapi usaha dari mereka belum memberikan solusi bagi korban. Bisa dikatakan tidak ada pergerakan dari instansi pemerintah daerah khususnya BPBD dalam penuntasan dan penanggulangan bencana tersebut baik pra bencana, saat bencana, maupun setelah bencana. Realisasi penangangan pada saat bencana pun sangat minim dan bahkan sampai sekarang penanganan pasca bencana salah satunya adalah relokasi bagi korban masih dalam masalah yang serius. Seperti hasil petikan wawancara berikut ini.

Bahkan ketika kita menelpon beliau71 untuk melaporkan kejadian bencana, kemudian dia respon dan bilang terima kasih, nanti akan saya tinjau dan terima kasih atas informasinya. Tapi realitanya gak ada sama sekali.

71

Ibu Ratih Suratih selaki ketua Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupeten Majalengka

101

Hasil kutipan wawancara di atas sangat jelas, mengindikasikan kurang adanya respon dari BPBD dalam penanggulangan bencana. Seharusnya BPBD bertanggungjawab dalam menyelesaikan permasalahan tersebut, sesuai dengan amanah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007. Bahkan permasalahannya tidak hanya sebatas pada BPBD saja, namun korban pun merasakan bahwa dari

instansi pemerintah daerah lainnya pun kurang begitu respon, hal ini dinyatakan oleh Syarifudi Rahmat, berikut petikan wawancaraya.

Dari dinas-dinas pun gak ada sama sekali, mereka cuman berwisata. Jangankan dinas yang ada, dari Dewan72 aja yg terkait dengan konsen bencana aja tidak ada sama sekali untuk memperjuangkan masalah ini. Pokonya semuanya yang terkait tidak ada tanggungjawab sama sekali, dan semuanya ada kunci di Bupati. Dan Bupati pun belum mengeluarkan SK bahwa Jatitujuh itu termasuk siaga bencana atau daerah bencana, padahal dia sudah datang berkunjung ke lokasi. Padahal ini kan sangat mengerikan, kenapa kok di diamkan73.

Petikan wawancara tersebut bisa dijelaskan, sebenarnya masyarakat sudah begitu mengharap dan menantikan agar mereka bisa mendapatkan jaminan dan kepastian dari pemerintah daerah terhadap nasib mereka, bahkan surat keputusan (SK) bupati pun belum dikeluarkan, padahal status bencana yang terjadi sangat memperihatinkan dan menjadi siaga bencana di lokasi tersbut. Permasalahan yang terjadi mengindikasikan adanya tarik ulur dan kekurang sinergi antara bupati dengan insatansi daerah dalam penanggulangan bencana alam tersebut. Hal tersebut
72

bisa

terlihat

bagaimana

instansi

pemerintah

yang

seharusnya

Dewan merupakan ungkapan anggota legislative untuk Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Majalengka 73 Hasil wawancara dengan Karsa (Aca) selaku korban abrasi Sungai Cimanuk, blok Klewih Jatutujuh Majalengka.Wawancara dilaksanakan pada tanggal 10 April 2011,pukul 11.15-12.25 WIB.

102

bertanggungjawab dalam penanganan bencana ini seperti kaku dan menunggu komando dari bupati. Padahal mereka mempunyai wewenang untuk sesegera mungkin dalam menanggulangi bencana alam yang terjadi, sesuai dengan peraturan yang telah diamanahkan. Berikut hasil wawancara dengan Syarifudin Rahmat selaku koordinator FPBAC yang berargumen bahwa ada sebuah ketidakharmonisan antara bupati dengan instansi di bawahnya.

Kita selalu menahan dan tetap menghargai Pak Lurah, karena yang namanya Pak lurah itu sangat takut sekali sama Bupati. Takutnya bonus atau kebijakan-kebijakan Bupati itu di potong, dan pengekangan terhadap desanya. Padahal sebenarnya tidak akan ada pemecatan, Tapi kalo Pak camat itu jelas bisa diberhentikan oleh Bupati karena termasuk SKPD74.

Petikan wawancara tersebut mengindikasikan bahwa bupati selaku pemimpin daerah merupakan aktor yang sangat berpengaruh bahkan bisa mengintervensi jajaran di bawahnya. Padahal sesuai konstitusi untuk

permasalahan penanggulangan bencana itu menjadi tanggungjawab penuh pemerintah daerah bukan atas nama bupati. Bahkan intervensi-intervensi selanjutnya tidak sebatas kepada jajarannya di pemerintah daerah namun juga langsung kepada masyarakat selaku korban bencana. Seperti petikan wawancara berikut ini dengan Syarifudin Rahmat.

74

SKPD adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah

103

Terus malah ada intervensi-itervensi, temen kita bapaknya PNS, suaranya paling lantang dalam audiensi suaranya paling lantang dan pedas. Besoknya ada cibiran ”suaramu jangan kenceng-kencang kalo misalkan Bapakmu gak mau dimutasi atau diberhentikan”. Padahal mereka hanya menuntut haknya sebagai warga negara yang mempunyai hak perlindugan dan hidup atau jaminan sosial.

Hasil petikan wawancara tersebut memberikan sebuah penjelasan bahwa bupati sangat memegang penuh otoritas dalam permasalahan penaggulangan bencana alam di Blok Klewih, Jatitujuh. Intervensi-intervensi yang dilakukan oleh bupati kepada jajaran begitu juga kepada elemen-elemen masyarakat dan korban sebenarnya merupakan tindakan yang tidak bisa dibenarkan. Sudah sewajarnya mereka mengaspirasikan apa yang menjadi keluhan dan pemenuhan hak-haknya, karena mereka menginginkan adanya sebuah jaminan dan kepastian terhadap permasalahan yang terjadi. Bahkan pergerakan FPBAC dalam mengaspirasikan suara korban kepada pemerintah daerah selalu ditanggapi dengan respon yang kurang baik dan sering menemui jalan buntu. Seperti petikan wawancara berikut ini.

Ketika kita berbicara begini dalam media maka wacana pemerintah pun berubah juga. Tapi ketika kita diam buktinya gak mulus juga. Ketika kita membikin sebuah opini baru pemerintah respon, namun ketika kejar hal tersebut berubah lagi, kurang tau ini karena ada politisasi dan birokrasi memang susah. Saya cerita lagi, dulu ketika ada kunjungan Gubernur, Pak kuwu itu sudah mensetting akan ada audiensi, tapi ternyata baru selesai makan-makan, Pak Bupati berdiri dan langsung dipersingkat untuk segera menyelesaikan acara.

104

Tarik ulur pewacanaan dalam penanggulangan bencana abrasi Sungai Cimanuk di Blok Klewih Jatitujuh ini menjadi sangat rumit, karena berimbas pada pertentangan masyarakat dan FPBAC dengan bupatinya. Bahkan

permasalahannya tidak cukup sampai di situ saja, permasalahan selanjutnya yang timbul adalah adanaya ketidakharmonisan antara warga dengan pemerintah desa dan kecamatan, karena korban menganggap pemerintah desa dan kecamatan tidak respon dalam penanggulangan bencana di daerahnya. Tentunya hal ini akan menimbulkan efek negatif terhadap resistensi kepercayaan terhadap bupati dan pemerintahan daerah. DPRD yang seharusnya bisa mengontrol permasalahan ini pun belum mempunyai andil besar dalam memberikan solusi-solusi nyata, padahal secara tidak langsung DPRD merupakan mitra kerja bupati dan satuan kerja perangkat daerahnya. Seperti kutipan wawancara berikut ini yang dipaparkan oleh Syarifudin Rahmat.

Ya harusnya minimal ada dari DPRD. Kita sebagai penyambung lidah antara korban dengan pemda. Soalnya antara pemerintahan desa dan warga tersebut sudah tidak harmonis, padahal seharusnya yang mengaspirasikan adalah pemerintahan desa.

Pendapat berbeda ditanggapi oleh pihak Kecamatan Jatitujuh, yang menytakan bahwa masyarakat selaku korban kadang salah menafsirkan terhadap itikad baik yang akan dilakukan oleh pihak kecamatan dan pemerintah daerah. Seperti kutipan wawancara berikut ini dengan Kardia selaku Sekretaris Camat Jatitujuh.

105

Itu masyarakat kadangkala salah menafsirkan, padalah dari pemerintah daerah sudah siap utuk menanggulangi, namun karena isue-isue yang tidak bertanggungjawab maka bantuan pun tersendat.

Menganalisis hasil petikan wawancara di atas terjadi sebuah pengalihan masalah antara warga dengan pemerintah, di satu sisi bahwa masyarakatlah yang rewel terhadap apa yang akan dilakukan pemerintah, namuin di sisi lain masyarakat menganggap pemerintah daerah kurang tanggap dalam penanganan bencana di daerahnya. Relokasi pun tidak di sosialisasikan terlebih dahulu kepada korban, sehingga timbul penolakan dari korban terhadap tempat relokasi tersebut, karena tidak representatif. Pihak Kecamatan Jatitujuh menyatakan bahwa semua permasalahan tersebut akan segera ditangani dan dislelesaikan dengan segera, demngan catatan harus ada komitmen antara warga, kuwu dan pemerintah daerah, berikut hasil wawancara dengan Kardia selaku sekretaris camat Jatitujuh.

Pak Bupati akan menerima atau memberikan bantuan harus ada musyawarah antara masyarakat dengan kuwu dan membikin surat persetujuan, nanti di ajukan kepada BPBD. Ketika memang prosesnya sudah dipersiapkan maka akan lebih mudah.

Solusi yang telah ditawarakan pihak kecamatan dan pemerintah daerah dalam petikan wawancara tersebut setidaknya menjadi alternatif dalam penanggulangan bencana dan permasalahan bencana di Blok Klewih Jatitujuh. Permasalahan kesalahfahaman ini menjadi sebuah efek antar domino dikarenakan adanya dan

dan

ketidaksinergian

stakeholder.

Kearifan

kebijaksanaan dari individu dan kelompok, baik pemerintah daerah dan

106

masyarakat untuk bersama-sama memberikan andil terhadap penyelesaian masalah yang terjadi dengan pelurusan kembali terhadap apa yang menjadi tanggungjawab semua pihak terutama dalam penanggulangan bencana alam di Blok Klewih Jatitujuh ini. Aktor yang terlibat dalam penanggulangan bencana di daerah ini setidaknya membutuhkan sebuah komitmen baru dalam memberikan pelayanan terbaik bagi korban, tidak ada politisasi dan kepentingan individu atau kelempok tertentu dalam mengambil keuntungan permaslahan yang terjadi. Solusi nyata dan keberpihakan terhadap korban sangat dibutuhkan dalam

penanggulangan bencana alam abrasi Sungai Cimanuk Jatitujuh ini.

4.4. Matriks Wawancara Terlampir 4.5. Pembahasan 4.5.1. Dasar Hukum Pendirian BPBD Kabupaten Majalengka Bencana sebagaima yang termaktub dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.

107

Penanggulangan bencana merupakan salah satu bagian dari pembangunan nasional yaitu serangkaian kegiatan penanggulangan bencana sebelum, pada saat maupun sesudah terjadinya bencana. Hal tersebut sesuai dengan amanah dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 khususunya pada batang tubuh alinea ke-IV yang berprinsip pada keadilan, perlindungan, kelestarian lingkungan hidup, dan kemanusiaan. Penanggulangan bencana merupakan kewajiban bagi setiap pemerintah pusat ataupun daerah untuk menciptaka perlindungan dan keamaan bagi warganya sehingga membentuk sebuah masyarakat sadar bencana sebagaimana yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 dalam pasal 18 yang menyatakan bahwa pemerintah daerah membentuk Badan Pnanggulangan Becana Daerah (BPBD), dengan dipimpin oleh seorang pejabat setingkat dibawah bupati/walikota atau setingkat eselon IIa. Maka dengan melaksanakan amanah undang-undang tersebut Kabupaten Majalengka membuat kebijakan untuk mendirikan BPBD. Kebijakan tersebut dilalui dengan tahapan dan pertimbangan kondisi Kabupaten Majalengka yang secara geologis memiliki kerentanan terhadap bencana alam dan adanya peningkatan bencana dari tahun ke tahun. Selain itu, menjadi sebuah tuntutan dan hak setiap masyarakat agar tercipta sebuah kerangka hukum dan perlindungan dari bencana. Berdasarkan amanah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 dan Peraturan Kepala Badan Nasioal Penangulanan Bencana (Perka BNPB) Nomor 03 Tahun 2008, Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendari) Nomor 46 Tahun 2008 yang mengatur tentang mekanisme pendirian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan di dasarkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 41 tentang Organisai Perangkat

108

Daerah maka dikelurakanlah kebijakan pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 10 Tahun 2009 yang mengatur tentang Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang di dalamnya termaktub tentang pendirian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten

Majalengka. Sesuai amanah Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 yang mengatur Organisasi Perangkat Daerah (OPD), dasar utama penyusunan perangkat daerah dalam bentuk suatu organisasi adalah adanya urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah, yang terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan, namun tidak berarti bahwa setiap penanganan urusan pemerintahan harus dibentuk ke dalam organisasi tersendiri. Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang bersifat wajib,

diselenggarakan oleh seluruh provinsi, kabupaten, dan kota, sedangkan penyelenggaraan urusan pemerintahan yang bersifat pilihan hanya dapat diselenggarakan oleh daerah yang memiliki potensi unggulan dan kekhasan daerah, yang dapat dikembangkan dalam rangka pengembangan otonomi daerah. Hal ini dimaksudkan untuk efisiensi dan memunculkan sektor unggulan masingmasing daerah sebagai upaya optimalisasi pemanfaatan sumber daya daerah dalam rangka mempercepat proses peningkatan kesejahteraan rakyat. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 memberikan arah dan pedoman yang jelas dalam menata organisasi yang efisien, efektif, dan rasional sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan Kabupaten Majalengka serta adanya koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan simplifikasi serta komunikasi kelembagaan

109

antara pusat dan daerah. Besaran organisasi perangkat daerah sekurang-kurangnya mempertimbangkan faktor keuangan, kebutuhan daerah, cakupan tugas yang meliputi sasaran tugas yang harus diwujudkan, jenis dan banyaknya tugas, luas wilayah kerja dan kondisi geografis, jumlah dan kepadatan penduduk, potensi daerah yang bertalian dengan urusan yang akan ditangani, sarana dan prasarana penunjang tugas. Oleh karena itu kebutuhan akan organisasi perangkat daerah bagi masing-masing daerah tidak senantiasa sama atau seragam. Bahwa dengan ditetapkannya beberapa peraturan perundang-undangan dalam bidang organisasi perangkat daerah serta berdasarkan hasil evaluasi kelembagaan sehingga dipandang perlu melakukan penyesuaian organisasi

perangkat daerah di Kabupaten Majalengka, maka perlu membentuk peraturan daerah tentang organisasi perangkat daerah Kabupaten Majalengka. Atas kesepakatan, pertimbangan, dan evaluasi stakeholder pemerintah daerah melalui Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Majalengka Nomor 10 Tahun 2009 tentang Organisai Perangkat Daerah (OPD) maka dibentuk dan diresmikanlah BPBD Kabupaten Majalengka. Implementasi penataan kelembagaan perangkat daerah berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 menerapkan prinsip-prinsip organisasi, antara lain visi dan misi yang jelas, pelembagaan fungsi staf dan fungsi lini serta fungsi pendukung secara tegas, efisiensi, dan efektifitas, rentang kendali serta tata kerja yang jelas. Melihat pada implementasi pendirian BPBD Kabupaten Majalengka, berdasar pengamatan dan realitas yang ada, baik dari segi efektifitas, efisiensi dan tata kerja dalam penanggulangan bencana mengindikaskan lembaga

110

tersebut kurang berjalan dengan optimal. Hal ini terbukti dengan masih banyaknya penanggulangan bencana yang belum terealisasi secara terkoordinasi dan terpadu baik pra bencana, saat bencana, maupun pasca bencana. Bisa dikatakan untuk pra bencana, manajemen pencegahan bencana dengan serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan risiko bencana, baik melalui pengurangan ancaman bencana maupun kerentanan pihak yang terancam bencana belum maksimal dilakukan. Penyadaran kepada masyarakat terhadap bencana dalam bentuk sosialisai ataupun kegiatan pencegahan lainnya seharusnya menjadi agenda rutin yang harus dilakukan, tapi berdasarkan fakta yang ada kegiatan tersbut belum terjadwal dan tersistematis dengan baik. Sehingga kegiatan tersebut hanya dilakukan ketika bencana sudah terjadi, hal tersebut bisa dilihat dalam kejadian puting beliung dan tanah longsor di Kecamatan Bantarujeg pada tanggal 24 Februari 201175, penyadaran dan sosialisasi akan bencana seharusnya diterapkan dan dilakukan jauh-jauh sebelum bencana melanda atau dalam keadaan normal sekalipun, tidak harus menunggu bencana itu datang, dan akhirnya akan menimbulkan efek pada banyaknya korban jiwa dan kerugian baik materil ataupun non materil. Pada saat bencana terjadi hal yang sama, upaya memberikan bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar pada saat keadaan darurat, terutama pada aspek perlindugan masyarakat dari bencana dan pemenuhan kebutuhan pokok korban sangat memperihatinkan. Bantuan justru baru datang dua hari setelah bencana tejadi, seperti disampaikan oleh Karsa sebagai korban bencana abrasi Sungai

75

Berita dari Harian Radar Majalengka pada hari Kamis, 03 Maret 2011.

111

Cimanuk di Blok Klewih Jatitujuh. Hal tersebut mengindikasikan adanya kurang kesiapsiagaan dan kordinasi dari pemerintah daerah khususya BPBD dalam penanggulangan bencana di daerah tersebut. Pasca bencana, hal yang menarik adalah adanya sebuah permasalahan yang menyebabkan konflik antar warga dengan pemerintah desa begitu juga dengan pemerintah daerah. Kebijakan relokasi dan rehabilitasi di Blok Klewih Jatitujuh akibat terjangan Sungai Cimanuk menyebabkan 13 rumah roboh mejadi sumber utama konflik tersebut. Relokasi yang direncanakan sampai saat ini belum terealisasi akibat adanya ketidaksepakatan dari korban akan lokasi yang telah direncanakan oleh pemerintah daerah, para korban beranggapan bahwa lokasi yang direncanakan terlalu terpencil dan tidak layak, yang akhirnya sampai saat ini belum bisa terselesaikan. Hal tersebut jelas mengindikasikan adanya sebuah ketidaksiapan dan ketidaktegasan dari pemerintah akan kebijakan yang harus ditetapkan dalam penannggulangan bencana alam di daerah tersebut, atau bisa dikatakan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah belum mengakomodir semua kepentingan yang ada. Kerangka hukum pendirian BPBD secara tidak langsung menjadi sebuah landasan utama dalam penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka. Namun kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah sepertinya belum merepresentasikan kepentingan semua elemen dan golongan. Pada dasarnya, setiap agenda kebijakan pemerintah pada tahap agenda setting, sebelum kebijakan tersebut di formulasikan dan kemudian diimplemetasikan seharusnya ada sebuah akomodir dan rangkuman dari setiap pola kepentigan dari aktor dan masyarkat

112

yang terlibat dalam menyepakati kebijakan yang akan dikeluarkan, sehingga menjadi issue bersama yang nantinya akan menjadi agenda yang harus direalisasikan menjadi kebijakan yang populis. Kebijakan yang dikeluarkan tidak parsial atau hanya mengakomodasi kepentingan salah satu pihak, kelompok, atau sebagaian orang saja. Kebijakan penanggulangan bencana menjadi sebuah momentum penting yang harus merepresentasikan akan hak masyarakat dalam perlindugan hukum dan keamanan dari bencana, sehingga kebijakan yang ada harus benar-benar menjamin akan kebutuhan masyarkat dan berjalan sesuai dengan peraturan dan fungsi yang telah ditetapkan. Kebijakan pemerintah daerah dengan mengeluarkan Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2009 dengan adanya pendirian BPBD sampai saat ini belum bisa menjamin kestabilan dan keterpaduan terhadap penanggulangan bencana. Terbukti dengan banyaknya kasus-kasus penanggulangan bencana yang belum terselesaikan yang berujung pada berbagai konflik yang berkepanjangan. Tuntutan akan penanggulangan bencana yang terkordinasi, terpadu, dan menyeluruh belum bisa diwujudkan secara maksimal akibat sektor satu dengan lainnya belum terkordinasi dengan jelas. Kebijakan yang telah dikeluarkan seharusnya bisa dipahami dan di optimalkan agar kerangka penanggulangan pra bencana, saat bencana (emergency respons), dan pasca bencana bisa terakomodasi dan tertanggulangi dengan baik.

113

4.5.2. Peran Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam Di Kabupaten Majalengka Dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, kewenangan dan peran

pemerintah sebagai badan eksekutif dirasakan amat penting dalam rangka upaya perlindungan dan kesejahteraan rakyat. Ada beberapa alasan mengapa diperlukan peran pemerintah dalam penanggulangan bencana. Pemerintah bertanggung jawab penuh untuk mengelola wilayah dan rakyatnya untuk mencapai tujuan dalam bernegara. Bagi Indonesia sendiri, pernyataan tujuan bernegara sudah dinyatakan dengan tegas oleh para pendiri negara dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945), di antaranya melindungi segenap bangsa dan memajukan kesejahteraan umum. Bukan hanya pernyataan tujuan bernegara Indonesia, namun secara mendasar pun gagasan awal lahirnya konsep negara, pemerintah wajib menjamin hak asasi warga negaranya. Pemerintah pun mempunyai kepentingan langsung untuk menciptakan situasi kondusif dalam menjalankan pemerintahannya. Salah satunya adalah pelayanan kepada masyarakat maka akan muncul pula stabilitas yang akan berdampak pada sektor publik. Pemerintah daerah bertanggung jawab melindungi segenap masyarakatnya dengan tujuan memberikan perlindungan terhadap kehidupan dan penghidupan termasuk perlindungan atas bencana, dalam rangka mewujudkan kesejahteraan umum yang berlandaskan peraturan dan perundang-undangan yang ada. Salah satu bukti keseriusan pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam penanggulangan bencana adalah dengan dibentuknya Badan Penanggulangan

114

Bencana Daerah (BPBD) melalui Peraturan Daerah (Perda) Nomor 10 Tahun 2009, yang merupakan realisasi dari amanah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 diikuti dengan Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Perka BNPB) Nomor 03 Tahun 2008, Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendari) Nomor 46 Tahun 2008, dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41 Tahun 2007. Permasalahan kebencanaan yang terjadi di Kabupaten Majalengka tentunya harus mendapatkan perhatian serius dengan adanya peran dari pemerintah daerahnya. Analisis potensi bencana alam seperti diungkapkan oleh Yuarlina dan Yati selaku anggota Sekretaris Daerah bahwa Kabupaten Majalengka sangat berpotensi terhadap bencana alam, hal ini dikarenakan secara geografis wilayah Kabupaten Majalengka merupakan daerah patahan bumi dan konstruk tanah yang labil dengan pembagian tiga wilayah yang bervariasi, mulai dari dataran tinggi, perbukitan, dan dataran rendah. Sehingga bencana yang terjadi pun bervariasi dan tentunya dampak yang di akibatkan bencana alam harus segera ditangani secara khusus, cepat, tepat, dan efisien agar tidak terjadi dampak yang lebih besar. Kerentatanan terhadap potensi bencana alam di wilayah Kabupaten Majalengka meliputi terbangunya kawasan rawan bencana menjadi pemukiman, rusaknya tutupan vegetasi di daerah kawasan rawan bencana, kepadatan penduduk di daerah rawan bencana, serta masih rendahnya pemahaman terhadap bencana khusunya bencana alam. Tingkat kemampuan untuk menghadapi bencana di Kabupaten Majalengka masih rendah, hal ini terkait minimnya pengetahuan,

115

kelembagaan, mekanisme kerja, serta sumberdaya dalam penanggulangan bencana. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Majalengka selama tahun 2009 terjadi 67 kejadian bencana alam sedangkan tahun 2010 sampai dengan akhir Agustus di Kabupaten Majalengka telah terjadi 114 kali bencana, hal tersebut mengindikasikan adanya sebuah peningkatan kejadian bencana alam dari tahun 2009 ke tahun 2010. Melihat sejauh mana peran yang dilakukan oleh pemerintah daerah Kabupaten Majalengka, tentunya tidak lepas dari penilaian publik. Sejauh ini berdasarkan data lapangan hasil wawancara dengan pihak-pihak terkait dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka, khususnya pada tahun 2010 bisa dikatakan baik. Seperti yang di ungkapkan Yati Sumiati dari Sekretaris Daerah bahwa sejauh ini pemerintah daerah sangat memperhatikan dan konsen dalam peanggulangan bencana alam di daerahnya. Salah satu implikasinya adalah dengan dibentuknya Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2009 tentang Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tentang pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Tentunya pembentukan BPBD di Kabupaten Majalengaka tidak lepas dari analisis kebencanaan yang menyatakan bahwa Kabupaten Majalengka merupakan daerah yang rawan bencana, seperti yang diungkapkan oleh beberapa informan. Selain itu menyangkut kebutuhan dan keamanan masyarakatnya agar bisa terlindungi dari ancaman dan kerentanan bencana alam.

116

Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2009 menjadi landasan dalam penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka, tentunya dengan harapan bahwa peraturan ini benar-benar memberikan jaminan mutu bagi efektifitas penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka. Secara legalitas peraturan daerah secara resmi sudah dijalankan dan direalisasikan. Pemerintah daerah bersama satuan kerja perangkat daerah mempunyai tanggungjawab dalam mengemban amanah peraturan daerah ini dengan sebaik-baiknya, terutama fokus pada penanggulangan bencana alam di daerahnya. Praktek dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka sudah dapat terlihat jelas, seperti dalam penanganan kejadian-kejadian bencana yang sudah terjadi. Secara teknis peneliti masih menyangsikan terhadap eksistensi peran pemerintah daerah bersungguh-sungguh dalam penanggulangan bencana alam di daerahnya. Memang secara formal pemerintah daerah melalui satuan kerja perangkat daerahnya mereka mengungkapkan telah melakukan kerja maksimal, dan sangat berperan dalam penanggulangan bencana alam. Tapi pernyataan tersebut berbanding terbalik ketika peneliti bertemu dengan salah seorang korban bencana alam di Kecamatan Jatitujuh, yang diakibatkan oleh abrasi Sungai Cimanuk dengan memporakporandakan 13 bangunan di sekitarnya. Korban menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada perhatian khusus dari pemerintah daerah untuk menanggulangi bencana ini, bahkan bisa dikatakan seperti membiarkan saja tanpa ada perlakuan atau tindakan khusus. Bahkan janjijanji yang disampaian pemerintah daerah kepada korban untuk menjanjikan akan segera datang bantuan baik melalui bantuan materi ataupun relokasi belum

117

terwujud sampai saat ini, padahal kejadian bencana ini sudah cukup lama, tepatnya sekitar bulan Oktober 2010. Pemerintah daerah bertanggungjawab penuh terhadap apa yang terjadi pada masyarakatnya, seperti yang termaktub dalam UUD 1945 maupun UndangUndang Nomor 24 Tahun 2007. Walaupun sudah dibentuk lembaga teknis daerah dalam penanggulangan bencana, tetapi dalam pelaksanaannya jenis dan tingkat bencana masih ditangani oleh mekanisme yang lama (ketanggap daruratan saja). Program-program yang telah di amanhkan dalam konstitusi ataupun undangundang dan peraturan tentang kebencanaan belum dijalankan dan dilaksanakan secara maksimal. Hal tersebut mengindikasikan dengan dibentuknya BPBD belum mampu mengefektifkan dalam penanggulangan bencana di Kabupaten

Majalengka, padahal lembaga ini mempunyai andil besar dalam proses penanggulangan bencana. Aspek yang perlu dicermati bahwa, penanggulangan bencana sebagai sebuah upaya menyeluruh dan pro aktif dimulai dari pengurangan risiko bencana (pra bencana), tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi (pasca bencana) sebagai upaya yang dilakukan bersama oleh para pemangku kepentingan dalam pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dengan peran dan fungsi yang saling melengkapi. Partisipasi aktif masyarakat dan swasta sebagai elemen kunci juga perlu ditingkatkan. Hal ini merupakan sebuah proses yang kontinu dan perlu adanya komitmen kuat dari penentu kebijakan serta mempertimbangkan metode pendekatan-pendekatan khusus terkait budaya dan kultur masyarakat yang rentan bencana tersebut.

118

Bupati sebagai pemegang kepemimpinan daerah dalam hal ini memimpin Kabupaten Majalengka mempunyai andil besar dalam segala tindakan dan keputusan yang menyangkut kesejahteraan masyarakatnya, khususnya dalam penanggulangan bencana alam. Atas dasar banyaknya kejadian bencana yang terjadi di Kabupaten Majalengka dan untuk melindungi seta mensejahterakan masyarakat begitu juga dalam menjalankan amanah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007, bupati bersama DPRD dan atas kesepakatan SKPD memutuskan untuk mengeluarkan peraturan daerah yang di dalamnya ada klausal usulan pembentukan BPBD. Sebagimana penuturan yang diungkapkan oleh Sumiati selaku staf sekretaris daerah mengungkapkan, “Begitu besar kepedulian bupati terhadap masyarakatnya dalam penanggulangan bencana yaitu dengan bukti membentuk BPBD”. Kepedulian bupati terhadap penanggulangan bencana perlu di apresiasi, karena secara tidak langsung Kabupaten Majalengka mendapat citra positif sebagai kabupaten sadar bencana. Keberhasilan bupati untuk menelurkan kebijakan tersebut setidaknya di iringi dengan kerangka kerja dan efektifitas bagi berjalannya SKPD dalam pembantuan kinerja pemerintah daerah dan bupati selaku pimpinan daerah. Konteks kejadian bencana alam yang terjadi di Blok Klewih Jatitujuh yaitu dengan adanya abrasi Sungai Cimanuk yang merobohkan 13 bangunan di daerah sekitarnya memberikan alternatif dan prospek keseriusan pemerintah daerah dalam penanganan bencana alam tersebut. Penanggulangan bencana alam abrasi Sungai Cimanuk di Blok Klewih, Kecamatan Jatitujuh dalam perkembangannya terjadi sebuah permasalahan, di

119

paparkan oleh salah satu korban yang bernama Karsa menyatakan, “Respon pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana di daerahnya kurang dan lamban, bahkan untuk bantuan-bantuan yang di janjikan pun belum ada realisasinya”. Hal ini tentunya berimplikasi pada sebuah kinerja dan tanggung jawab pemerintah daerah yang di dalamnya adalah SKPD bersama bupati untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Bupati selaku orang yang bertanggungjawab dalam penanganan bencana turut andil dalam proses penanggulangan bencana alam abrasi Sungai Cimanuk di Blok Klewih, Kecamatan Jatitujuh. Bahkan dalam lawatannya bupati menjanjikan dan menginterupsikan kepada Kuwu Jatitujuh untuk segera mencarikan tanah relokasi bagi korban. Namun hal yang menarik, tanah yang akan dibelikan tersebut justeru di bawah standar dan kurang memenuhi permintaan dan aspirasi dari masyarakat selaku korban. Akhirnya timbul sebuah permasalahan baru yaitu adanya ke engganan korban untuk di relokasi, karena mereka merasa tempat relokasi kurang representatif. Keputusan bupati selanjutnya adalah dengan adanya janji bahwa bupati akan memberikan bantuan kepada korban dengan nominal Rp.1.000.000,00/kepala keluarga, hal ini disampaikan melalui BPBD, namun sampai saat ini belum terealisasi. Korban berpendapat bahwa pemerintah daerah kurang serius dalam penanggulangan bencana alam di daerahnya, bahkan BPBD yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam penanganan bencana justeru tidak kelihatan perannya, dan seperti lepas tangan begitu saja. Hal tersebut dibuktikan dalam petikan wawancara dengan korban yang menyatkan bahwa tidak ada sama sekali

120

proses dan upaya bantuan dari BPBD, justeru yang banyak berperan adalah bupati. Indikasinya, bupati menjadi aktor tunggal dalam penanganan bencana di daerah tersebut, dengan berbagai intruksi dan keputusannya yang satu arah memberikan efek kepada dinas atau SKPD yang bergerak dalam penanggulangan bencana tidak mempunyai posisi tawar. Padahal BPBD bersama dinas teknis lainnnya mempunyai peran dan tanggungjawab besar dalam menyelesaikan permasalahan bencana di daerah tersebut. Kasus lain terkait lokasi relokasi korban yang seharusnya ada komunikasi dengan pihak Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (DBMCK) dalam penentuan lokasi bersama korban justeru dilakukan satu komando dari bupati. Padahal DBMCK mempunyai wewenang untuk menyelesaikan dan mengambil keputusan terhadap lokasi yang akan dijadikan pembangunan rumah korban. Implikasinya DBMCK pun tidak bisa berbuat apa-apa dan pasrah terhadap putusan bupati. Konsekuensi dari hal tersebut adalah tumbuhnya bibit konflik antar pemerintah daerah dengan korban. Di satu sisi, peran sekretaris daerah selaku kepala BPBD kurang memberikan daya dukung terhadap penanggulangan bencana yang terjadi di Blok Klewih Jatitujuh. Terbukti adanya sebuah asumsi bahwa sekretaris daerah hanya mempunyai wewenang dalam koordinasi dan fasilitasi dalam penanggulangan bencana kepada organisasi perangkat daerah sebagai lembaga teknis untuk terjun langsung dalam penanganannya. Hal tersebut dipaparkan oleh Yuarlina selaku staf sekretaris daerah, dan secara kontekstual sekretaris daerah bisa dikatakan hanya menerima laporan dan kemudian laporan tersebut dipertanggungjawabkan kepada

121

bupati sebagai laporan pertanggungjawaban atas pelaksanaan penanggulangan bencana. Sementara untuk wewenang sekretaris daerah belum merepresentasikan tindakan nyata dalam penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka. DPRD yang diharapkan memberikan fasilitasi dan kontrol dalam proses penanggulangan bencana merasakan hal yang sama, karena dibatasi oleh kewenangan dalam teknis penanggulangan bencana, maka DPRD pun tidak

mempunyai andil dalam penyelesaian permasalahan ini. DPRD seperti tidak mempunyai bargaining power dalam mengontrol pemerintah daerah, padahal dalam tata aturan yang berlaku DPRD mempunyai hak secara legal formal dalam penyelesaian kasus ini. Bupati seperti penguasa tunggal yang mampu mengendalikan kontrol pemerintahan dan menjalankan pemerintahan sesuai dengan wewenangnya, setiap proses kebijakan yang dikeluarkan oleh bupati kadang tidak memberikan sebuah koordinasi dengan staf dibawahnya. Inilah yang kemudian bisa kita katakan adanya penyalahgunaan kekuasaan. Sebenarnya tindakan yang dilakukan bupati yang begitu menghegemoni dalam sebuah keputusan dan dan intruksi dalam penanggulangan bencana merupakan sebuah tanda tanya besar yang harus dijawab. Berdasarkan teori Parsons tentang voluntaristic, tindakan yang dilakukan oleh bupati merupakan perilaku yang disertai oleh adanya upaya subyektif dengan tujuan untuk mendekatkan kondisi-kondisi (situasional) atau isi kenyataan pada keadaan yang ideal atau yang ditetapkan secara normatif. Terutama yang

berkaitan dengan para pelaku (actor) yang berupaya mencapai tujuan (keuntungan) dengan menekankan pada kemampuan melakukan pilihan dari

122

berbagai alat cara (means) yang tersedia. Konsep voluntaristic sebagai sebuah proses pengambilan keputusan subyektif dari para pelaku individual (actor), dan keputusan seperti itu sebagai hasil akhir dari pertimbangan parsial terhadap jenis hambatan tertentu, baik hambatan normatif maupun hambatan situasional. Tindakan voluntaristik menurut konsep Parsons mencakup elemen-elemen dasar dengan adanya pelaku yang merupakan pelaku individual (pelaku perorangan) hal ini aktornya adalah bupati. Diasumsikan sebagai orang yang sedang mengejar tujuan (goal), tentunya tujuan yang akan diraih adalah dengan adanya sebuah pencitraan positif bagi aktor dan penanganan bencana secara cepat dan tepat, sehingga bupati juga dianggap memiliki beberapa alternatif cara atau alat untuk mencapai tujuan tersebut, salah satunya adalah dengan membuat komando satu atap. Intruksi dan wewenang bupati menjadi sebuah mekanisme yang mau tidak mau harus dijalankan dan dipatuhi tanpa ada pertimbangan dan kesepakatan dari stakeholder lainnya. Hal tersebut kemungkina adaya indikasi bahwa bupati

dihadapkan pada berbagai macam kondisi dan situasional yang dengan segera untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Tindakan atau keputusan subyektif yang digunakan oleh bupati untuk meraih tujuan dalam penanggulangan bencana atupun tujuan lainnya dalam memperkuat bargaining powernya sebagai kepala daerah, semuanya itu dipengaruhi oleh value, norms, other idea , kondisi dan situasional tertentu. Bupati sebagai aktor utama dan kunci mempunyai mekanisme tindakan sosial dengan berupaya mencapai tujuan (keuntungan) dengan menekankan pada kemampuan melakukan pilihan dari berbagai cara. Pencitraan seorang aktor dalam

123

meraup kepercayaan dari masyarakat tentunya menjadi titik point permasalahan tersebut. Bupati yang dominan dan berupaya untuk mengedepankan kepentingan pribadi dan kelompoknya menjadi indikasi adanya proses transformasi nilai kekuasaan yang memberikan efek kurang baik terhadap jalannya roda pemerintahan di Kabupaten Majalengka, tentunya dalam kasus penanggulangan bencana di Blok Klewih Jatitujuh yang sampai saat ini belum tuntas. Tindakan sosial yang dilakukan bupati yang bersifat empatik bisa jadi orientasinya berubah menjadi politik pencitraan bagi dirinya. Sebagai sebuah proses yang simultan dan berkelanjutan, penanggulangan bencana menjadi tanggungjawab setiap stakeholder di dalamnya, salah satunya adalah sektor swasta dan masyarakat. Sebagai indikasi konsep good governance seharusnya penanggulangan bencana bisa melibatkan seluruh stakeholder tidak terkecuali sektor swasta dan masyarakat, sebagaimana yang termaktub dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 pasal 28 menyatakan bahwa “Lembaga usaha mendapatkan kesempatan dalam penyelenggaraan penanggulangan

bencana, baik secara tersendiri maupun secara bersama dengan pihak lain”. begitu juga pada pasal 27 point b yang menyatakan bahwa “Setiap orang berkewajiban melakukan kegiatan penanggulangan bencana”. Pola sinergi antar elemen dalam Undang-Undang Nmor 24 Tahun 2007 sebagai sebuah konsep good goverance seharusnya bisa di aplikasikan dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Peran dan potensi masyarakat sebagai pelaku awal penanggulangan bencana sekaligus korban bencana harus mampu dalam batasan tertentu

124

menangani bencana, sehingga diharapkan bencana tidak berkembang ke skala yang lebih besar. Begitu juga dengan peran swasta belum secara optimal diberdayakan. Peran swasta cukup menonjol pada saat kejadian bencana yaitu saat pemberian bantuan darurat justeru tidak kelihatan dalam peran sertanya. Partisipasi yang lebih luas dari sektor swasta ini akan sangat berguna bagi peningkatan ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana. Potensi-potensi dari sektor swasta dan masyarakat seharusnya bisa memberikan sistem penanggulangan bencana yang lebih efketif dan bekelanjutan agar tercipta ketahanan dan kepedulian seluruh elemen dalam penanggulangan bencana.

4.5.2.1. Relasi Kekuasaan Dalam Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majalengka Rentetan bencana alam yang terjadi di Kabupaten Majalengka menuntut banyak pihak berpikir tentang cara penanggulangannya. Semua pihak bahu membahu meringankan beban para korban. Pemerintah, swasta, perorangan, organisasi masyarakat sipil dan masyarakat politik seolah-olah tergerak hatinya membantu para korban. Lepas dari berbagai kepentingan yang muncul, reaksi spontan para relawan paling tidak menunjukkan bahwa masyarakat Majalengka masih memiliki ikatan persaudaraan yang kuat. Kenyataan ini juga menggugurkan tesis bahwa moral kolektif bangsa ini telah hancur akibat berbagai fakta suram di ranah sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang semuanya melemahkan semangat bertahan hidup kita sebagai bangsa.

125

Birokrasi sebagai agen administrasi dan implementator dalam sebuah kebijakan menjadi sangat penting dalam menyelesaikan dan melayani segala kebutuhan masyarakatnya. Namun dalam perkembangannya, kadang terjadi benturan antara birokrasi dengan pengguna jasa layanannya, dirasa birokrasi itu sulit, kaku, lama dan kurang profesional. Hal tersebut setidaknya sudah menjadi permasalahan klasik dalam tubuh birokrasi Indonesia. Penanggulangan bencana alam yang terjadi di Kabupaten Majalengka tentunya membutuhkan akses birokrasi, yaitu pemerintah daerah dan jajarannya bertindak cepat dan terintegrasi dalam melakukan penyelesaian penanggulangan bencana tersebut. Permasalahan yang muncul, kadang birokrasi pun bisa jadi mempunyai kepentingan dan tidak bebas nilai, yang kemudian kita sebut adanya nilai politis dalam tubuh birokrasi dalam penanggulangan bencana. Konsep perkembangan politisi-birokrat sebagaimana yang dikemukakan oleh Kusumanegara dapat dijelaskan pada hirarki otoritas supremasi hukum yang berlandaskan politisi sebagai pembuat kebijakan sedangkan birokrat sebagai pelaksana kebijakan. Politisi maupun birokrat berpartisipasi dalam perumusan kebijakan, namun dengan kontribusi yang berbeda, birokrat didasarkan pada fakta dan pengetahuan, maka politisi berdasarkan kepentingan nilai. Politisi maupun birokrat selalu memperhatikan ada dalam pembuatan aspek-aspek politik, kebijakan, keduanya sama-sama perannya berbeda. Politisi

namun

mengartikulasikan kepentingan secara luas dan para individunya tidak terorganisisir dengan kepentingan yang menyebar, sedangkan birokrat hanya mengartikulasikan kepentingan para klien yang terorganisir. Perpaduan politisi

126

dan birokrat dalam perumusan kebijakansehingga tidak nampak pembedaan peran politisi dan birokrat dalam kebijakan. Tetapi yang terjadi adalah kelahiran fenomena “hibrida murni” antara politisi-birokrat. Secara singkat dapat dikatakan telah terjadi “birokratisasi politik dan politisasi birokrasi”. Birokratisasi-politik maupun politisasi-birokrasi menjadi fenomena yang terjadi dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka, dimana bupati yang memiliki jabatan struktur pemerintah daerah mempunyai otoritas dalam urusan penanggulangan bencana alam tersebut, pada akhirnya

menimbulakn efek posistif dan negatif. Efek positifnya adalah bupati dengan segera bisa menginventarisir kejadian dan mengintruksikan jajarannya namun di satu pihak juga menimbulkan efek negatif, akibat dominasinya bupati dalam masalah tersebut justru mempersulit gerak dan kinerja organisasi perangkat daerah karena kewenangan mereka dibatasi oleh bupati, padahal secara mendasar organisai perangkat daerah mempunyai kewenangan sesuai dengan tupoksinya. Tentunya hal ini menjadi sangat ironi di satu sisi korban memerlukan penanganan segera, namun di sisi lain birokrasi sendiri mengalami dilema yang mengakibatkan proses penanggulangan bencana menjadi terhambat. Hal ini bisa dikatakan hibrida murni, karena sisi politis dan birokrat tidak bisa bedakan lagi, pemangku kepentingan yang menjadi aktor dalam penanggulangan bencana ini menjadi sulit di elakan, dengan adanya ekskalasi politis aktor. Birokrat menjadi tidak memiliki independensi, karena jajaran birokrasi yang ada semuanya mengandung unsur politis.

127

Soal relasi kekuasaan dalam proses penanggulangan bencana penting untuk diperiksa karena dua sebab pokok. Pertama, setiap bencana paling tidak melahirkan berbagai bentuk kebijakan baru dalam hal penanganan bencana. Pertarungan kepentingan antar elemen bisa saja terjadi akibat perbedaan visi, misi dan agenda setting yang dimiliki setiap aktor. Kedua, bencana dan pasca bencana merupakan dua momen yang bisa melahirkan pahlawan dan pecundang sekaligus. Oleh karena itu, memeriksa para aktor yang terlibat menjadi sangat urgen di sini untuk mengetahui motif, kepentingan, dan agenda aksi mereka. Kekuasaan merupakan obyek akhir dalam setiap bentuk kebijakan dan aksi bantuan yang diberikan manakala terjadi bencana. Dalam mencapai kekuasaan itu, setiap aktor membentuk dan membangun relasi. Tarik menarik kepentingan para aktor ini terjadi dalam tegangan relasi kekuasaan. Merujuk pada pandangan di atas, maka bisa dimengerti mengapa dalam setiap bencana aktor-aktor melakukan tindakan penanganan bencana alam di Kabupaten Majalengka. Kesibukan para relawan dan penyuplai bantuan dalam membawa, mengatur dan mendistribusi bantuan menunjukkan kerja sosial. Demikian pun, berbagai bentuk bantuan yang diberi label tulisan lembaga sosial, partai politik, atau atas nama pribadi tertentu di bungkusan luar setiap bantuan merupakan gambaran bekerjanya asosiasi sosial dalam setiap bencana. Dalam pelaksanaannya, tugas penanganan bencana bisa berjalan beriringan mulai dari pemerintah pusat, propinsi, kabupaten/kota maupun pemerintah lokal (kecamatan/desa). Kebijakan tanggap darurat, relokasi, pendirian tenda setidaknya menggambarkan kerja pemerintah daerah dalam setiap bencana.

128

Sebagaimana diterangkan di atas, aktor-aktor tersebut membentuk semacam pola relasi dalam setiap penanggulangan bencana. Problem dasar kemudian adalah aktor tersebut memiliki agenda setting yang eksplisit memiliki visi, yakni memberikan bantuan sosial bagi korban. Setiap aktor yang terlibat mesti diperiksa, tidak untuk mencurigai tetapi sekadar mengingatkan semua pihak bahwa pada setiap momen duka seperti itu setiap aktor sebetulnya sedang membangun relasi kekuasaan. Setiap relasi kekuasaan, jika tidak dikontrol, bisa saja akan membentuk jaringan kekuasaan baru yang justru memancing di air keruh-mencari keuntungan sosial, politik, dan ekonomi sesaat. Inilah yang disebut bahaya relasi kekuasaan dalam penanganan bencana. Fenomena yang berkembang dalam setiap penanganan bencana, termasuk bencana alam yang terjadi di Kabupaten Majalengka. Memang, secara kasat mata dapat dilihat maraknya simbol-simbol politik telah menjadikan lokasi bencana bukan lagi ajang berbakti menolong sesama, tetapi mirip arena kampaye dan promosi, hal ini sangat jelas telah terjadinya perilaku politisasi dan komersialisasi bencana. Pertanyaan yang kemudian mengemuka adalah mengapa setiap kali bencana terjadi di negeri ini, sering diikuti oleh beragam gejala ikutan termasuk politisasi bencana. Dalam perspektif komunikasi politik, maraknya simbol-simbol politik dan hadirnya para aktor politik ke lokasi bencana, tentu dapat dijelaskan. 1) Bagi aktor politik, peristiwa bencana alam tidak saja dimaknai sebagai peristiwa bencana, tetapi juga sebagai peristiwa politik yang tidak boleh dilewatkan begitu saja. Pertimbangannya jelas, sebagai peristiwa yang

129

menarik perhatian masyarakat dan memiliki nilai berita sangat tinggi dapat menjadi media komunikasi politik yang efektif untuk pembentukan citra politik. Pencitraan yang dilakukan bupati dalam penanggulangan bencana alam di Desa Sidamukti Kecamatan Majalengka merupakan bentuk akselerasi politik yang mengindikasikan adanya kepedulian bupati terhadap korban. Seperti yang di ungkapan oleh Mayor Edi Supriadi dari Koramil Siliwangi menyatakan, “Relokasi korban di Desa Sidamukti ini sedang membangun kembali rumah korban sebanyak 258 unit”, tentunya mengindikasikan adanya sebuah kepekaan sosial dari pemerintah daerah atas nama bupati terhadap korban. Hal tersebut menjadi kabar berita baik dengan adanya pemberitaan dari media cetak, seperti dilansir dalam sebuah harian Radar Majalengka yang menyatakan dalam sebuah petian berita bahwa bupati dengan pemerintah daerahnya sadar akan bencana di Kabupaten Majalengka. Padahal sebenarnya yang berperan dalam penanganan bencana tersebut tidak hanya satu aktor, tapi banyak aktor lain yang berperan dalam penanganan bencana alam di Desa Sidamukti. Pemberitaan yang dilansir di media cetak seolah-olah yang berperan besar dalam penanggulangan bencana alam di Desa Sidamukti adalah bupati. Relokasi tersebut sebenarnya atas dasar usulan Dinsosnakertrans kepada Kementerian Sosial yang akhirnya terealisasi dengan membangun 258 rumah korban. Pemberitaan tersebut pada akhirnya menutupi akselerasi atau kontribusi aktor lainnya. Di sinilah, keberadaan dan liputan media berlatar bencana alam dapat menjadi front stage aktor politik menampakkan eksistensi diri. Namun berbeda halnya dengan kasus penanganan bencana di Blok

130

Klewih Jatutujuh yang terkena dampak abrasi Sungai Cimanuk, keberadaan korban bisa dikatakan terlantar akibat tidak adanya kepastian dari pemerintah daerah untuk merealisasikan bantuannya. Tetapi di sisi lain, aktor yang berperan dalam penaggulangan bencana di daerah tersbut lagi-lagi mempunyai berbagai kepentingan dan maksud tersendiri. Mulai dari adanya janji-janji akan menurunkan bantuan, relokasi rumah korban, dan janji-janji bantuan lainnya. Seperti halnya dengan eksistensi pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana di daerah tersebut tidak luput dari sebuah ekskalasi politis. Kunjungan bupati untuk meninjau langsung ke lokasi bencana yang berjanji akan segera merealisasikan bantuan dan relokasi untuk korban menjadikan korban merasa gembira atas perhatian lebih dari buaptinya. Dalam perkembangannya, segala janji-janji yang telah disampaikan sampai saat ini belum ada kejelasan. Padahal sesuai dengan pemberitaan dari media massa mencuplikan terkait kepekaan bupati dan pemerintah daerah dalam penangggulangan bencana di daerah tersebut. Akibat ketidakjelasan penurunan bantuan dan relokasi berdampak pada pertentangan antara korban dengan pemerintah lokal (desa dan kecamatan), yang menganggap bahwa semua permasalahan ini yang berperan aktif seharusnya pemerintah desa dan kecamatan. Sementara FPBAC lambat laun mulai mendesak pemerintah daerah segera merealisasikan janji-janjinya terhadap hak-hak korban. Di sisi lain, pemberitaan media massa justeru mengindikasikan adanya sebuah pemutar balikan fakta, dimana FPBAC ini dianggap sebagai provokator dan hanya menghalangi proses jalannya penanganan bencana di daerah tersebut.

131

Pemberitaan tersebut dibantah oleh Syarifudin selaku kordinator FPBAC, yang menganggap bahwa FPBAC adalah korban sebagai “kambing hitam” oleh media, secara fakta FPBAC justeru sangat membantu korban dalam penyampaian aspirasi kepada pemerintah lokal ataupun daerah. Bahkan FPBAC memberikan bantuan dan donasi atas inisiatifnya dengan mencari dana di luar pemerintahan. Kasus ini menjadikan efek buruk bagi pencitraan aktor yang terlibat ketika fakta-fakta tersbut terungkap. Dalam era globalisasi teknologi sekarang ini, yang memungkinkan pengaruh perkembangan teknologi komunikasi dan informasi begitu deras masuk di setiap bidang kehidupan, aktor politik pun tidak luput untuk memanfaatkan ruang tersebut menjadi medium legitimasi kekuasaan dengan mekanisme baru pada ranah politik. Pencitraan positif seorang aktor akan terus berjalan sebagai strategi yang ampuh dalam meraup dukungan publik secara luas, pola kerjanya mengedepankan peranan media dan kecanggihan teknologi sehingga terbuka pula kesempatan dan peluang bagi praktik kekuasaan yang mengedepankan penguasaan atas simbol. Lokasi bencana dengan cepat menjadi perhatian masyarakat dan sorotan media baik lokal, nasional maupun internasional, sehingga apa pun yang terjadi akan menjadi perhatian publik. Dalam perspektif ini, maka nilai publikasi politik yang menyertai pemberitaan bencana akan sangat tinggi. Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi terbukti turut berpengaruh dalam membuka relasi kekuasaan dan kekerasan tersebut menjadi sebuah ruang yang seolah-olah tidak mengandung kepentingan. Kedua unsur tersebut dikonstruksi sebagai arena yang terpisah

132

dan tidak bersinggungan. Saat ini hubungan antara kekuasaan dan kekerasan tidak lagi dalam bentuk gerak fisikal melainkan bekerja dalam arena representasi, di mana simbol sebagai kekuatan abstrak memiliki sumber daya yang ampuh dalam mencipta kebenaran. 2) Mengacu teori tindakan sosial, tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran para pihak termasuk aktor politik di lokasi bencana adalah suatu tindakan sosial yang tentu memiliki beragam motif. Mulai dari hanya untuk melihat, memberikan bantuan, menyampaikan rasa empati, mondar mandir

mengibarkan bendera, sampai dengan motif sebagai bentuk tanggung jawab atas sebuah musibah yang terjadi pada masyarakatnya. Perang lambang merupakan cermin kemanusiaan yang lekat. Mengacu pandangan yang dikemukakan Hayakawa (1974) bahwa, “Salah satu perbedaan antara manusia dan binatang adalah kalau binatang bersaing dengan sesamanya untuk memperebutkan makanan dan kepemimpinan, sedangkan manusia

memperebutkan lambang dan simbol sebagai wakil dari makanan dan kepemimpinan”. Maraknya simbol-simbol politik di lokasi bencana secara sadar atau tidak, sebenarnya telah terjebak pada perang eksistensi dan dominisasi politik yang pada ujungnya adalah tidak lepas dari soal kepemimpinan. Bagi yang mampu memegang simbol maka ia dapat mengejewantahkan dirinya seperti apa yang disimbolkan. Jika demikian halnya, aktor politik bisa menjalankan praktik kekuasaannya atas nama simbol yang ia ciptakan sendiri. Ia memiliki wewenang untuk menjadikan simbol itu nyata dan mendapatkan pengakuan bahwa aktor politik tersebut memiliki

133

mandat untuk bertindak sesuai dengan karakter yang disimbolkan. Simbol mengandung kekuatan untuk membentuk wajah realitas. Kekuatan itu tersimpan dalam proses kategorisasi, penilaian, dan pemaksaan ide-ide tertentu kepada obyek yang menafsirkan simbol. Dalam dunia politik, operasi kerja kekuatan simbol tak bisa dilepaskan dari struktur atau aktor politik yang berkepentingan mengkonstruksi realitas. Wacana penuntasan bencana di Blok Klewih Jatitujuh, digunakan pemerintah daerah untuk menentukan kelompok mana yang disebut sebagai provokator dan bukan provokator. Dalam wacananya, pemerintah daerah menganggap ada sebagian warga yang dipelopori oleh Forum Peduli Bencana Abrasi Sungai Cimanuk (FPBAC) sebagai profokator dalam penuntasan bencana di daerahnya. Hal tersebut di dasarkan pada hasil penelitian yang menunjukan pemerintah daerah merasa tertekan dengan adanya gugatan-gugatan ataupun aspirasi yang disampaikan FPBAC yang dirasa hanya memperburuk keadaan dalam proses

penanggulangan bencana di daerah tersebut. Sementara FPBAC menyatakan hal itu hanyalah sebatas komitmen mereka terhadap korban untuk menyampaikan apa yang menjadi aspirasi korban terhadap janji-janji pemerintah daerah dalam penuntasan penanganan bencana di daerah Blok Klewih Jatitujuh tersebut. Selain itu, ada sebuah alasan bahwa pemerintah daerah tidak serius dalam penaganan bencana dan hanya berorientasi pada sebuah politk empatik dengan janji-janjinya, namun janji-janji tersbut tidak terbukti di realisasikan kepada korban. Bencana yang terjadi dijadikan ladang politik empatik yang akhirnya akan berubah pada politik kulit. Sikap empatik

134

pemerintah daerah terhadap korban setidaknya menjadi sebuah pencitraan posistif bagi pemerintah daerah dan aktor tertentu dalam meraih empati dari masyarakat dalam menjaga kestabilan kepemimpinan dan kekuasaannya yang legitimate.

4.5.2.2. Sinergi Stakeholder Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majalengka Sistem penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka didasarkan pada kelembagaan yang ditetapkan oleh pemerintah daerah. Sebelumnya, penanggulangan bencana dilaksanakan oleh satuan kerja yang tergabung dalam Satuan Pelaksana (Satlak) penanggulangan bencana. Dalam kondisi tertentu, seperti bencana dalam skala besar pada umumnya pimpinan pemerintah daerah mengambil inisiatif dan kepemimpinan untuk mengkoordinasikan berbagai satuan kerja yang terkait. Rangkaian bencana yang terus terjadi mendorong berbagai pihak termasuk DPRD Kabupaten Majalengka bersama pemerintah daerah untuk lebih jauh mengembangkan kelembagaan penanggulangan bencana dengan mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 10 Tahun 2009 yang berlandaskan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41 tentang Organisasi Perangkat Daerah (OPD), UndangUndang 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana (PB), dan Peraturan Kepala (Perka) BNPB tentang Pedoman Pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Di dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 diamanatkan untuk dibentuk badan baru, yaitu Badan Nasional Penanggulangan

135

Bencana (BNPB) menggantikan Badan Koordinasi Nasional Penanganan Bencana (Bakornas-PB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)

menggantikan Satkorlak dan Satlak di daerah. Hal ini menghasilkan perbedaan yang cukup signifikan seperti yang dijelaskan di bawah ini:

Tabel 11. Matrik Perbandingan Kelembagaan Satkorlak-Satlak & BPBD

Sumber: Ringkasan telaah sistem terpadu penanggulangan bencana di Indonesia

Dalam kaitan dengan pembentukan BPBD seperti yang diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 dan telaah sistem terpadu

penanggulangan bencana, pemerintah daerah mengemukakan beberapa hal yang menjadi faktor penghambat, antara lain, yaitu: a) Pada beberapa daerah, pemerintah daerah telah mengambil inisiatif untuk mengajukan usulan pembentukan BPBD namun dalam proses pengambilan putusan bersama dengan DPRD, usulan tersebut tidak menjadi prioritas. b) Beberapa pengambil kebijakan di daerah tidak merasakan adanya kebutuhan pengembangan kelembagaan penanggulangan bencana baik, karena dianggap bencana besar belum terjadi maupun bila bencana besar sudah terjadi tidak akan terjadi lagi dalam jangka waktu dekat.

136

c) Dengan status lembaga setingkat dinas di daerah (BPBD), banyak dinas yang meragukan pelaksanaan tata komando ketika terjadi bencana dapat terlaksana secara efektif di lapangan, apalagi jabatan “kepala BPBD” dirangkap oleh Sekda yang beban kerjanya sendiri sudah cukup banyak. d) Tidak semua daerah bersedia membentuk BPBD dimana “Sekdanya” merangkap jabatan (benturan eselonisasi). e) Proses seleksi anggota Unsur Pengarah untuk BPBD kabupaten/kota juga memakan waktu lebih lama, karena kualitas SDM yang sangat terbatas, serta sistem penggajian yang belum jelas, dan kewenangan dalam mengintervensi kebijakan Unsur Pelaksana (dan kaitan lembaga teknis lain) yang belum terdeskripsi. f) Fungsi “Pelaksana” dari BPBD punya kecendrungan untuk berbenturan dengan fungsi dinas-dinas teknis lainnya yang terkait dengan bencana. g) Fungsi koordinasi antara BPBD Provinsi dan BPBD Kabupaten/Kota akan cenderung sulit dilaksanakan secara efektif, karena BPBD sebagai perangkat Daerah akan tunduk kepada Kepala Daerah dan Anggaran Daerahnya masingmasing. Dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007, maka terjadi berbagai perubahan yang cukup signifikan terhadap upaya penanggulangan bencana di Indonesia khususnya di Kabupaten Majalengka. Peraturan ini setidaknya mampu memberi keamanan bagi masyarakat dengan cara

penanggulangan bencana dalam hal karakeristik, frekuensi dan pemahaman terhadap kerawanan dan risiko bencana.

137

Pengurangan Risiko Bencana (PRB) mendasarkan pada konsep pikir pengurangan ancaman, pengurangan kerentanan dan penguatan kapasitas. Pemerintah daerah dan seluruh seluruh stakeholder pembangunan di Kabupaten Majalengka bertanggungjawab dalam PRB melalui implementasi peran dan fungsinya masing-masing yang dilakukan pada seluruh siklus penyelenggaraan penanggulangan bencana baik pada tahap pra bencana, saat bencana maupun pasca bencana. Aspek-aspek yang tercakup dalam program kegiatan PRB meliputi kesiapsiagaan, mitigasi, tanggap darurat, pemulihan dan rekonstruksi. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kabupaten Majalengka yang secara umum mempunyai tugas pokok dan fungsi dalam kegiatan penanggulangan bencana wajib mengambil peran dengan mengisi kegiatan dan program yang sesuai dengan urusan kewenangan wajib dan/atau pilihan. Program kegiatan yang tercantum dalam RAD PRB merupakan rencana tindak yang akan dilaksanakan sesuai dengan batasan waktu dan komponen pelaksana yang telah ditetapkan dalam rangka pengelolaan kebencanaan. Grand desain diperlukan dalam rangka penguatan kapasitas kelembagaan dan standar penanganan bencana yang cepat, tanggap, dan profesional sesuai dengan standar internasional. Peningkatan kapasitas SDM (capacity building) guna penguatan kapasitas kelembagaan dan penyiapan daya dukung

penanggulangan bencana harus dilaksanakan secara terukur dan terencana sebagai upaya untuk mengantisipasi dampak bencana yang lebih parah. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 menegaskan penanggulangan bencana bukan sekadar aksi tanggap darurat, akan tetapi meliputi proses yang

138

lebih luas, yaitu mitigasi (prabencana) dan rekontruksi-rehabilitasi. Berbagai stakeholder dan pemerintah daerah yang konsen dalam penanggulangan bencana harus memberikan prioritas yang proporsional terhadap ketiga tahap

penanggulangan bencana tersebut, khususnya pada tahap mitigasi, rekonstruksi, dan rehabilitasi masih sering tersendat bahkan tidak jelas penanganannya. Berkaitan dengan proses mitigasi, pemerintah harus mengoptimalkan peran partisipatif dari seluruh stakeholder bencana. Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian bersama antara lain, pentingnya pemetaan daerah rawan bencana, penerbitan modul dan sistem informasi dalam penanganan bencana, pelatihan penanganan bencana yang berbasis komunitas dan pemulihan sosial pasca bencana. Dengan pola kerjasama yang sinergis, diharapkan peran pemerintah daerah Kabupaten Majalengka dalam menanggulangi bencana secara efektif, efisien dan menyeluruh. Pemerintah daerah dapat lebih berperan pada tahap prabencana dan mampu mengembangkan kesiagaan bencana di daerahnya, khususnya kemampuan pengelolaan bencana. Upaya sinergitas pemerintah dengan seluruh stakeholder kebencanaan juga bisa diarahkan dalam perumusan strategi dan program guna mengantisipasi bencana alam sekaligus membangun jaringan stakeholders yang berperan dalam program antisipasi kebencanaan. Dengan strategi yang tepat, diharapkan program untuk antisipasi bencana alam dapat dilakukan secara efektif, nantinya diharapkan masyarakat dapat lebih berdaya dan antisipatif dalam menyikapi bencana alam. Perlu dicermati bahwa lembaga yang menangani bencana dapat menimbulkan tumpang tindih dan kebingungan menyangkut domain tugas dan

139

tanggung jawab dalam penanggulangan bencana. Koordinasi juga perlu ditingkatkan dengan lembaga-lembaga non-pemerintah yang juga melaksanakan tugas kebencanaan dengan menghimpun dan menyalurkan sumber daya dan bantuan bagi penanggulangan bencana. Hal ini harus dikelola dengan baik dan perlu dibangun format komunikasi dan koordinasi yang efektif sehingga tidak menjadi masalah baru dalam proses penanggulangan bencana. Termasuk di dalamnya kewenangan dan tanggung jawab pemerintah dalam penataan kelembagaan untuk respons bencana, tindakan-tindakan kesiap-siagaan, tindakan tanggap darurat, dan rehabilitasi & rekonstruksi. Dengan demikian memberikan kepastian hukum kepada pemerintah dalam melindungi warganya dari akibat bencana. Jelas terlihat di lapangan bahwa perlunya sinergi antar dinas berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan di berbagai bidang. BPBD harus menggariskan secara jelas tetang tugas dan wewenangnya, baik itu prabencana, pada saat bencana, dan pasca bencana, seperti yang diungkapkan oleh Hardi bahwa sesuai dengan tupoksi BPBD mempunyai tiga fungsi, yaitu fungsi komando, koordinasi, dan pelaksana. Fungsi-fungsi yang dimiliki ini tentunya menjadi landasan dalam operasional dan manajemen penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka lebih terkoordinatif. Peneliti melihat dalam aspek penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka belum ada mekanisme integrasi Rencana Aksi Daerah & Pengurangan Resiko Bencana (RAD-PRB) ke dalam dokumen Rencana Program Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Majalengka, sehingga belum

140

dijadikan acuan dalam menyusun program dan kegiatan terkait

dengan

kebencanaan. Iwan Tundjiawan dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) menyatakan, “Untuk sampai saat ini pengalokasian dan perencanaan penanggulangan bencana di dasarkan atas keputusan musrembang, dan belum ada keputusan dalam dokumen RPJMD mengenai perencanaan penanggulangan bencana”. Masih banyaknya pedoman teknis tersebar di berbagai dinas dan sektor yang belum memiliki kesamaan standarisasi, yang artinya masih menggunakan pedoman lama, ketika proses penanggulangan bencana masih dipimpin oleh Satlak PB. Sehingga mengakibatkan adanya penafsiran yang berbeda dalam standarisasi penanggulangan bencana, hal ini di mengindikasikan belum masifnya sosialisasi tentang standarisasi penanggulangan bencana di dinas-dinas terkait dalam pemerintah daerah Kabupaten Majalengka. Aspek penting lainnya adalah, lembaga legislatif yaitu DPRD Kabupaten Majalengka yang mempunyai wewenang terhadap kontrol penyelenggaraan pemerintahan khususnya dalam penanggulangan bencana seharusnya lebih peka untuk menjalankan fungsinya. Data di lapangan, lembaga legislatif Kabupaten Majalengka masih lemah dalam hal kontrol kebijakan dan penyelenggaraan pemerintahan, tentunya dalam penanggulangan bencana alam. Dengan

memperkuat basis kontrol untuk menjaga alur sinergitas stakeholder pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana bisa memberikan dampak positif terciptanya alur sinergi yang lebih efektif, efisien, dan menyeluruh dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka.

141

Permasalahan

selanjutnya

adalah

pemerintah

dalam

pelaksanaan

penaganan bencana masih mengedepakan konsep pelayanan, sehingga tidak ada gerakan nyata kesinergisan antar elemen stakeholder dalam penanggulangan bencana. Indikasi tersebut bisa dijelaskan dengan pasifnya dan kurangya keterlibatan masyarakat dalam penanggulangan bencana, dan secara otomatis hanya mengandalkan komando dari pemerintah. Keterlibatan masyarakat dalam penanggulangan bencana setidaknya akan merubah paradigma tentang pelayanan publik (public service) oleh birokrasi ke arah pemberdayaan masyarkat (empowerment). Prinsip penanggulangan bencana yang dilakukan di Kabupaten Majalengka masih menjalankan prinsip pelayanan, tanpa kemudian

memberdayakan masyarakatnya. Pada dasarnya prinsip pemberdayaan masyarakat dalam penanggulangan bencana termaktub dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 pada pasal 27 menyatakan bahwa “ Setiap orang berkewajiban: a) menjaga kehidupan sosial masyarakat yang harmonis, memelihara keseimbangan, keserasian, keselarasan, dan kelestarian fungsi lingkungan hidup; b) melakukan kegiatan penanggulangan bencana; dan c) memberikan informasi yang benar kepada publik tentang penanggulangan bencana”. Pemerintah dan masyarakat seharusnya bisa berpadu dalam usaha penaggulangan bencana. Secara sederhana, dari sisi pemerintah dapat dilihat sebagai upaya untuk memberikan kerangka hukum (legal framework) untuk tindakan penanggulangan yang mencakup masa sebelum bencana, saat tanggap darurat serta periode pasca bencana. Termasuk di dalamnya kewenangan dan tanggung jawab pemerintah dalam penataan kelembagaan untuk respons bencana, tindakan-tindakan kesiap-

142

siagaan, tindakan tanggap darurat, dan lain-lain. Dengan demikian memberikan kepastian hukum kepada pemerintah dalam melindungi warganya akibat bencana. Dari sisi masyarakat, sisi pentingnya adalah memberikan pelindungan dan rasa aman kepada masyarakat dari ancaman bencana. Hal ini sejalan dengan pergeseran pendekatan penanggulangan bencana dari perlindungan masyarakat sebagai perwujudan kekuasaan pemerintah kepada perlindungan sebagai hak azasi. Penanggulangan bencana memerlukan keterlibatan masyarakat lewat strategi manajemen resiko bencana berbasis masyarakat (community based disaster risk management).

4.5.3.

Politik Anggaran Dalam Penanggulangan Bencana Alam di Kabupaten Majalengka Majalengka merupakan wilayah yang memiliki potensi serta intensitas

kejadian bencana alam cukup tinggi. Hal demikian tentunya pantas untuk dipedulikan, mengingat akibat yang ditimbulkan oleh suatu kejadian bencana alam memiliki dampak yang luas, baik secara sosial, psikis, ekonomi, bahkan politik. Bencana alam telah menimbulkan korban jiwa, kecacatan dan kerugian harta benda serta merusak sarana dan prasarana publik yang ada, pengungsian, ketidaknormalan kehidupan dan penghidupan masyarakat serta pelaksanaan pembangunan. Ketika bencana muncul, masyarakat yang menjadi korban sangat membutuhkan bantuan dari pihak luar. Terkadang keterlibatan pihak luar di dalam memberikan bantuan kepada masyarakat korban bencana dapat menimbulkan

143

masalah baru berupa ketidaksesuaian bantuan yang diberikan dengan kebutuhan masyarakat ataupun kecemburuan sosial diantara orang-orang yang merasa diperlakukan secara tidak adil. Bantuan yang diberikan kepada masyarakat yang terkena bencana sangat bernilai tinggi dan bermanfaat. Tidak sedikit yang memandang bahwa bantuan memiliki sisi-sisi negatif yang dapat mengganggu keleluasaan (privacy) dan harga diri masyarakat bersangkutan. Persoalan lainnya yang sering terjadi yaitu ketika suatu bencana terjadi, banyak pihak yang terlibat memberikan bantuan tidak terkoordinir dengan baik sehingga menimbulkan kekacauan di lapangan. Berbagai persoalan dan permasalahan di atas disamping membutuhkan organisasi yang mampu mengkoordinasikan dan mengelola bantuan sehingga bermanfaat dan membantu bagi yang membutuhkannya, juga membutuhkan partisipasi aktif masyarakat baik secara individual maupun kolektif. Semua ini secara mendasar membutuhkan arah kebijakan yang jelas dan tegas. Sekelumit paparan di atas adalah indikator pemerintah daerah dalam fungsi anggaran kebencanaan, secara sederhana bahwa pemerintah daerah harus menjalankan politik anggaran yang berpihak kepada rakyat miskin (pro-poor policy) khususnya dalam penanggulangan bencana alam di daerahnya. Dalam konteks ini, sistem penganggaran kebencanaan di Kabupaten Majalengka tidak masuk dalam Rencana Anggaran dan Pendapatan Daerah (RAPBD), sesuai dengan pernyataan Iwan Tundjiawan dari Bappeda Kabupaten Majalengka menyatakan bahwa, “Alokasi anggaran untuk kebencanaan tidak dimasukan dalam APBD dan Rencana Aksi Daerah (RAK)”. Beliau berasumsi, untuk

144

kejadian bencana alam, karena sifatnya situasional dan bisa terjadi kapan saja maka kurang etis ketika ada sebuah penganggaran untuk kebencanaan, dan alternatifnya adalah alokasi untuk kebencanaan dimasukan dalam alokasi dana tak terduga atau dana taktis pemerintah daerah. Terlepas dari penilaian sejumlah pihak bahwa RAPBD tersebut bersifat defensif dan kurang ekspansif, apresiasi yang tinggi tetap harus kita sampaikan kepada pemerintah daerah karena sudah berani untuk mendirikan sebuah lembaga kebencanaan di daerahnya. Demi menjamin kepastian bahwa anggaran untuk kebencanaan dapat diimplementasikan secara nyata dan baik, anggaran tersebut harus dijaga dan dijauhkan dari praktik pengelolaan anggaran yang salah urus dan korupsi. Komitmen yang tinggi dari Dinas Keuangan, Pemda, dan DPRD sangat diperlukan dalam pengalokasian dan pendistribusian anggaran bagi kebencanaan agar tepat guna dan berdaya guna serta tepat sasaran. Selanjutnya, koordinasi, integrasi, dan sinergi yang kuat antara pemerintah daerah beserta instansi di bawahnya dalam pengelolaan Dana Alokasi Umum (DAU), dan Dana Alokasi Khusus (DAK) mutlak diwujudkan. Kompetensi, transparansi, dan akuntabilitas pengelolaan anggaran yang dilakukan segenap aparatur pemerintahan daerah di uji. Jika mampu diwujudkan, korupsi akan dapat dihilangkan dan pelayanan publik kian meningkat. Alokasi dana yang harus segera turun ke tangan korban dalam bencana alam abrasi Sungai Cimanuk di Blok Klewih Jatitujuh sampai saat ini belum terealisasi. Padahal pemerintah daerah sudah menjanjikan kepada korban akan memberikan bantuan Rp.1000.000,00/kepala keluarga, begitu juga dengan

145

menjanjikan adanya relokasi bagi para korban. Tentunya merupakan masalah yang serius untuk segera dicarikan solusinya, karena pada dasarnya korban membutuhkan pertolongan cepat dan tepat untuk segera menanggulangi segala permasalahannya. Selain itu, pemerintah daerah dihadapkan pada polemik yang terjadi antara pemerintah kecamatan dan desa yang bersitegang dengan masyarakat, yang dilatar belakngi kelambanan dan kurang pedulian dalam penanganan bencana di daerahnya. Alokasi belanja daerah ternyata lebih banyak untuk menggerakkan mesin birokrasi daripada untuk kepentingan rakyat. Politik anggaran Kabupaten Majalengka belum berada dalam arah yang benar. Porsi belanja aparatur dalam APBD lebih banyak daripada belanja publik sehingga alokasi anggran untuk kebencanaan masih jauh dari harapan rakyat. Dalam dokumen pelaksanaan anggaran satuan kerja perangkat daerah Kabupaten Majalengka tahun 2010, khususnya untuk pendanaan pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Joyo selaku sekretaris BPBD bahwa untuk anggaran penanggulangan bencana pada tahun 2010 mencapai Rp. 2.479.584.000,00 dengan rincian untuk belanja langsung Rp. 1.129.584.000,00 dan belanja tidak langsung Rp. 1.349.985.000,00. Realisasi dari belanja langsung adalah Rp. 1.057.013.087 dan belanja tidak langsung Rp. 1.309.627.284,00. Sisa dari belanja langsung adalah Rp. 1.129.584.400,00 - Rp. 1.057.013.087 = Rp. 72.571.327,00 dan sisa dari beanja tidak langsung adalah Rp. 1.349.985.000,00 -1.309.627.284,00 = Rp. 40.357.716,00. Seharusnya sisa anggaran dari belanja langsung dan tidak langsung Rp. 72.571.27,00 + Rp.

146

40.357.716,00 adalah Rp. 112.929.043,00 secara tertulis sisa anggaran penanggulangan bencana pada tahun 2010 dimasukan dalam klausal anggaran tahun 2011, hal tersebut menjadi ironi ketika dibandingkan dalam penuntasan kasus bencana abrasi Sungai Cimanuk di Blo Klewih, Kecamatan Jatitujuh yang menyatakan bahwa BPBD dan pemerintah daerah terbatas anggaran dana, sehingga untuk penanganan relokasi dan batuan darurat belum bisa direalisasikan dan dimaksimalkan. Fata yang ada sebenarnya sisa anggaran penanggulangan bencana tahun 2010 mencapai angka ratusan juta yaitu Rp. 112.929.043,00. Seharusnya dengan sisa anggaran tersebut setidaknya bisa merealisaikan tuntutan dari korban untuk meberikan jaminan yang telah dijanjikan oleh pemerintah daerah melalui BPBD yaitu, Rp. 5.000.000,00/Kepala Keluarga, dengan asumsi 13 KK x Rp. 5.000.000,00 = Rp. 65.000.000,00. Bahkan jaminan ganti rugi tersebut direalisasikan, masih ada sisa anggaran yaitu Rp. 112.929.043,00 – Rp. 65.000.000,00 = Rp. 47.929.043,00, dan ini merupakan sisa anggaran dalam jumlah yang masih besar. Transparansi sisa anggaran tersebut, belum tahu keberadaannya yang hingga samapi saat ini menjadi sebuah pertanyaan besar. Kasus lain adalah dalam mekanisme aggaran kegiatan “Peningkatan Keterampilan, Kesiapsiagaan dalam Penangguangan Bencana” yang dilaksanakan pada triwuan I sampai dengan triwulan III, dengan menggunakan sumber dana APBD. Jumlah total anggaran belanja langsung sebesar Rp. 106.425.000,00, namun rincian perhitungan pengeluaran justeru lebih banyak pada belanja pegawai dan honorarium PNS dengan anggaran Rp. 44.850.000,00 dan Rp 24.450.000,00, sangat timpang dengan pengeluaran barang dan jasa hanya

147

mencapai

Rp.

61.575.000,0076.

Padahal

anggaran

untuk

kebutuhan

penanggulangan bencana memerlukan alokasi dana besar. Tentunya proses anggaran tersebut menjadi tanda tanya besar, karena lebih banyak pengeluaran pada belanja pegawai dan honorarium PNS. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah sebagai kapasitas dalam peningkatan keterampilan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam bencana, seharusnya kegiatan tersebut bisa di optimalkan dengan anggaran yang begitu besar, namun realita berkata lain justeru anggaran tersebut lebih banyak tersedot pada ha-hal yang kurang penting. Anggaran kebencanaan yang habis untuk kegiatan penanggulangan pra bencan dengan indikasi-indikasi adanya sebuah belanja kebencanaan yang kurang representatif yaitu habis untuk belanja dan honorarium pegawai, bisa dikatakan komitmen pemerintah daerah masih kurang dalam penanggulangan bencana dan belum terarah dengan jelas terhadap urgensitas atau pentingnya manajemen dan pola penangulangan bencana alam di daerahnya. Pemerintah daerah seakan hanya menjalankan kebijakan pemerintah pusat, dalam hal ini adalah intruksi membentuk BPBD. penanggulangan Sementara akomodasi-akomodasi terhadap implementasi berjalan dengan baik, padahal sistem

bencana belum

penganggaran untuk penanggulangan bencana mempunyai anggaran dengan nominal yang cukup besar. Proses tersebut merupakan hal yang sangat penting untuk mengurangi kerentanan bencana alam baik pra bencana, saat bencana, maupun setelah bencana bisa terakomodasi dengan baik, apalagi ketika melihat anggaran yang sudah direalisasikan cukup besar.
Lihat dokumen pelaksanaan anggaran satuan kerja perangkat daerah Kabupaten Majalengka, tahun anggaran 2010, formulir DPA SKPD 2.2.1
76

148

Sistem anggaran penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka mempunyai indikasi-indikasi adanya ketidaktransparanan dalam pengelolaannya. Anggaran yang dikeluarkan oleh BNPB, APBD Provinsi, maupun daerah justeru disalahgunakan untuk kepentingan sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab. Ketidakjelasan dan kurangnya transparansi dari pemakaian annggaran dana penanggulangan bencana pada tahun 2010 mengindikasikan adanya korupsi di tubuh lembaga, atau pun bisa jadi adanya sebuah kongkalikong antar aktor yang terlibat. Transparansi pengelolaan anggaran seharusnya dipertanggungjawabkan kepada publik terhadap apa yang telah dilakukan dan dikerjakan secara nyata. Hak-hak masyarakat menjadi skala prioritas akan perlindungan dari bencana dan keberpihakan terhadap kesejahteraan terhadap korban. Politik anggaran harus dikendalikan oleh tujuan yang akan dicapai. Dengan kata lain harus ada keterkaitan antara budget dengan arah kebijakan sebagaimana tertuang dalam RPJMD dan RAD. Politik anggaran harus menjadi alat mencapai tujuan pembangunan daerah. Konsekuensi dari politik anggaran ini adalah pemerintah didorong melakukan perubahan secara mendasar terhadap birokrasi. Seluruh lembaga dan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) perlu didorong untuk mengingkatkan penerimaan dan melakukan efisiensi dan efektivitas pengeluaran. Pola belanja APBD juga tidak jauh berbeda. Di hampir semua kabupaten, kota, dan provinsi, ternyata belanja aparatur lebih dominan daripada belanja publik. Dengan relatif kecilnya pendapatan asli daerah (PAD), mayoritas pemda amat bergantung pada dana transfer pusat ke daerah, terutama DAU untuk daerah miskin dan DBH untuk daerah yang kaya dengan sumber daya

149

alam. Porsi terbesar penggunaan DAU lagi-lagi dihabiskan lebih dari 60-90% untuk belanja pegawai. Data Kementerian Dalam Negeri menunjukkan 205 daerah otonom baru meliputi 7 provinsi baru, 164 kabupaten baru, dan 34 kota baru. Akibatnya, Indonesia kini memiliki 33 provinsi, 399 kabupaten dan 98 kota. Daerah otonom baru ini dinilai menimbulkan banyak masalah. Dari sisi APBD dapat dipastikan bahwa alokasi belanja akan banyak dialokasikan untuk belanja aparatur, seperti gaji pegawai, membangun gedung Pemda dan DPRD, dan semua yang berkaitan dengan menghidupkan mesin birokrasi baru di daerah77. Salah satu bentuk terobosan yang bisa dilakukan oleh pemerintah daerah Kabupaten Majalengka adalah bagaimana alokasi anggaran bencana yang dilaksanakan dapat berproses secara partisipatif yang melibatkan partisipasi rakyat dan bersifat responsif serta berpihak kepada hak dan kepentingan korban. Alokasi anggaran daerah diarahkan untuk pengembangan penanggulangan bencana, dengan demikian, akan memberikan jaminan bagi korban dan keberlangsungan penanggulangan bencana. Pemerintah berkewajiban menyiapkan skenario kebijakan anggaran yang bersifat ideologis, yaitu keberpihakan atas korban. Di sisi lain, DPRD konsisten melaksanakan fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan terhadap implementasi kebijakan anggaran yang dilakukan

pemerintah daerah. Adapun sistem peradilan menjamin penegakan hukum atas dugaan penyalahgunaan wewenang dan korupsi.

77

Mudjarad Kuncoro, Politik Anggaran Pro Rakyat atau Birokrat, file:///F:/elitis/t666-politikanggaran-prorakyat-atau-birokrat.htm diakses pada tanggal 26 Juni 2011.

150

BAB V KESIMPULAN DAN IMPLIKASI

5.1. Kesimpulan Berdasarkan penelitian ini, maka dapat dirumuskan kesimpulan sebagai berikut: 1) Kebijakan daerah dalam penanggulangan bencana (Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 dan Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2009), hal ini erat kaitannya dengan dukungan, arah dan komitmen politik legislatif dan eksekutif daerah dalam pembuatan kebijakan publik dan kebijakan-kebijakan sektoral belum dapat dioperasionalkan secara efektif dengan melibatkan semua aktor. 2) Peran pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana di Kabupaten Majalengka belum menunjukan sebuah kontribusi yang maksimal, karena belum adanya kejelasan penataan mekanisme atau tata gerak keseluruhan unsur dalam wadah penanggulangan bencana tersebut, juga terkait dengan bagaimana koordinasi bisa dikembangkan dengan sektor-sektor lain di daerah, sehingga sinergi stakeholder dalam penanggulangan bencana belum terwujud. 3) Keterlibatan aktor politik dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka menjadi beban poltitk karena terjadi proses hibrida murni

“politisasi-birokrasi dan birokratisasi-politik”. Relasi kekuasaan dan adanya politisai anggaran dalam penanggulangan bencana dengan mencari

keuntungan sosial, politik, dan ekonomi justru menimbulkan sebuah konflik secara vertikal maupun horizontal.

151

5.2. Implikasi Menanggapi berbagai permasalahan dalam penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka, maka pemerintah daerah yang mempunyai peran vital dalam hal tersebut bersama stakeholder lain, dan masyarakat perlu duduk bersama dan merumuskan langkah-langkah konkrit. Partisipasi aktif masyarakat sebagai elemen kunci juga perlu ditingkatkan. Hal ini merupakan sebuah proses yang kontinu dan perlu adanya komitmen kuat dari penentu kebijakan serta mempertimbangkan metode pendekatan-pendekatan khusus terkait budaya dan kultur masyarakat yang rentan bencana tersebut. Mencermati hal tersebut maka peneliti merangkum beberapa implikasi dalam penelitian ini, yaitu: 1) Revitalisasi kelembagaan, menjadi kebutuhan saat ini untuk melakukan pengaturan wadah yang mencerminkan tatanan otoritas, fungsi dan tanggung jawab perangkat-perangkat pemerintahan untuk secara komprehensif

menangani bencana. Aspek kelembagaan ini sepatutnya juga didukung dengan penataan mekanisme atau tata gerak keseluruhan unsur dalam wadah penanggulangan bencana tersebut, juga terkait dengan bagaimana koordinasi bisa dikembangkan dengan sektor-sektor lain di daerah. 2) Upaya sinergitas pemerintah dengan seluruh stakeholder kebencanaan juga bisa diarahkan dalam perumusan strategi dan program guna mengantisipasi bencana alam sekaligus membangun jaringan stakeholders yang berperan dalam program antisipasi kebencanaan. Dengan strategi yang tepat, diharapkan program untuk antisipasi bencana alam dapat dilakukan secara

152

efektif, nantinya diharapkan masyarakat dapat lebih berdaya dan antisipatif dalam menyikapi bencana alam. 3) Penanggulangan bencana tidak hanya sebagai tanggung jawab pemerintah semata tetapi memerlukan keterlibatan masyarakat lewat strategi manajemen resiko bencana berbasis masyarakat (community based disaster risk management). Dalam kaitan ini, semua aspek penanggulangan bencana, mulai dari kebijakan, kelembagaan serta mekanisme harus membuka akses untuk peran serta masyarakat luas, serta dunia usaha. 4) Keterlibatan aktor politik dalam penanggulangan bencana hendaknya tidak menjadi beban politik, akan tetapi dilakukan secara alami, humanis dan ikhlas. Dalam konteks demikian keberadaan lambang dan simbol-simbol politik menjadi sangat tidak relevan. 5) Perlunya regulasi yang mengatur keterlibatan para pihak khususnya partai politik dalam penanganan bencana. Hal ini dimaksudkan agar setiap kali terjadi bencana tidak dijadikan sebagai peristiwa dan obyek politik.

153

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful