Pengaturan Data Perancangan untuk aplikasi Field Programmable Gate Array (FPGA) dan Application Spesific Integrated Circuit

(ASIC)
Ferry Wahyu Wibowo1 Jurusan Teknik Informatika, STMIK AMIKOM Yogyakarta, Jl. Ring Road Utara, Condong Catur, Sleman, Yogyakarta – Indonesia
1

ferrywahyu@gmail.com

Setiap perancangan selalu berurusan dengan data perancangan yang terkadang rumit. Jumlah data perancangan diperlukan untuk menjelaskan, mengimplementasikan, dan

memverifikasi perancangan yang besar. Sehingga, sangat perlu memiliki banyak file data dari berbagai jenis, termasuk HDL, simulasi testbench, sintesis, dan regresi script untuk mengkategorikan masalah dalam perancangan. Proyek perancangan khusus harus ditangani menggunakan berbagai keahlian yang diperlukan dan sesuai waktu pemasaran. Tanpa perancangan yang sesuai, sulit bagi perancang untuk berbagi dan mengubah file perancangan dengan menjaga integritas dan konsistensi data. Pengubahan dan penambahan file baru menyebabkan hubungan antar file menjadi lebih lengkap. Berbagai jenis proses, termasuk pembaruan, simulasi, sintesis, dan jenis lainnya, harus dilakukan puluhan atau bahkan ratusan kali selama pengembangan perancangan. Perancang harus selalu mengintegrasikan dan menguji model-model rancangan, untuk memastikan bahwa perubahan dalam salah satu bagian, tidak menyebabkan masalah di bagian lain. Sehingga, penting untuk memiliki perancangan yang baik dan pengelolaan data dalam proses perancangan yang efektif dan efisien. Untuk itu, perlu menekankan tujuan di daerah rancangan pengorganisasian data, pengawasan data, pengelolaan konfigurasi, proses otomatisasi, perevisian, dan pelacakan.  Pengaturan Perancangan Data Ada beberapa cara yang efektif untuk dapat mengatur perancangan data :

1. Menyediakan logika dan metode yang tepat untuk menyimpan semua tipe data perancangan termasuk file, konfigurasi file, library, proses dan hasil. 2. Memberikan akses rancangan terbaru kepada perancang data. 3. Mengisolasi perancang dari hasil yang belum teruji dan yang belum stabil, agar tidak mengganggu kemajuan perancangan.

Gambar 1 Pergerakan file dalam tiga pohon perancangan (Browy dkk., 1997) Data perancangan, biasanya diatur secara rapi atau disimpan dalam sebuah trees. Pengembangan produk pada umumnya terdiri dari tiga trees perancangan: 1. Archive tree (pohon arsip) Pohon arsip adalah pengaturan direktori dalam sebuah disk, yang difungsikan menjadi tempat penyimpanan file dan diatur dalam pengawasan data. Perintah pengecekan menyalin secara tepat sebuah file dari arsip direktori ke dalam local tree milik perancang. 2. Local tree (pohon lokal) Pengaturan direktori dibuat oleh perancang untuk mengisolasi suatu rancangan dari rancangan lain yang dikerjakan oleh perancang lain. Masing-masing perancang membuat modifikasi untuk mengecek keberadaan file dalam pohon lokal. Perancang menguji modifikasi yang telah dilakukan dan mengecek file yang telah dimodifikasi ke dalam pohon arsip. 3. Release Tree (pohon pelepasan) Pengaturan dari direktori ini dikenal sebagai versi yang terbaik dari seluruh perancangan. Karena, file dalam pohon ini telah diuji dengan sangat teliti dibandingkan dengan file

yang terdapat dalam pohon arsip. Perancang harus menerapkan hirarki ini untuk mendapatkan rancangan yang lebih stabil dan dapat dicek keseluruhannya.  Pengawasan data Pengawasan data adalah suatu sistem yang digunakan untuk menyimpan versi-versi file di dalam sebuah lokasi pusat. Tujuan hasil dari sistem ini adalah untuk:   Mengizinkan akses lebih dari satu perancang ke suatu data yang sama untuk menjaga integritas data. Mengizinkan perancang untuk mundur ke sebuah versi perancangan sebelumnya dengan mudah. Sebuah sistem pengawasan data secara khusus mengizinkan perancang untuk:   Mengeluarkan sebuah file untuk dilihatnya, ciri-cirinya adalah mengizinkan lebih dari satu perancang untuk melihat file pada waktu bersamaan. Mengeluarkan sebuah file untuk dimodifikasi, ketika perancang telah mengeluarkan sebuah file untuk dimodifikasi, sistem akan mencegah perancang yang lain untuk mengeluarkan dan memodifikasinya.  Memasukkan file yang sudah dimodifikasi, ketika seorang perancang memasukkan sebuah file yang sudah dimodifikasi, maka versi sebelumnya akan disimpan di tempat penyimpanan file, dan versi modifikasi yang sudah dimasukkan kembali akan dapat digunakan oleh perancang lain. Versi sebelumnya dari file tersebut, juga masih dapat dikeluarkan.  Pengelolaan konfigurasi Pengelolaan konfigurasi adalah pengelompokan dari beberapa file yang berbeda dan tergabung membentuk satuan umum. Ada dua tujuan utama mengelola konfigurasi pengalamatan:  Ada rancangan pengelolaan abstraksi Dalam perancangan top-down, sebuah model diuraikan dalam sebuah abstraksi tingkat tinggi, kemudian disaring ke dalam gambaran yang terperinci. Konfigurasi merupakan kunci penting, karena langkah-langkah proses yang berbeda memerlukan satuan file yang

berbeda pula untuk dijadikan sebagai masukan. Sehingga, dapat mendefinisikan dan mereferensikan konfigurasi. Konfigurasi ini harus sederhana dan jelas, sehingga dapat digunakan sebagai sumber informasi dalam suatu perancangan.  Ada pengelolaan versi file Metode untuk pengelolaan konfigurasi, juga akan dibutuhkan sebagai penentuan ketika versi masing-masing file digunakan. Sehingga, sistem perancangan yang dibuat harus mendukung pemecahan masalah yang akan mempertemukan kedua tujuan hasil ini.  Proses otomatisasi Untuk membuat, menguji, dan melaksanakan sebuah rancangan, perancang harus mengulang beberapa prosedur, puluhan atau bahkan ratusan kali. Prosedur-prosedur ini melibatkan simulasi, perpaduan, ataupun pewaktuan peralatan dengan konfigurasi perancangan data yang teliti. Prosedur ini, mungkin juga mencakup beberapa tempat pemrosesan hasil untuk memudahkan dalam penganalisaan. Hasil untuk otomatisasi tipe prosedur ini bertujuan untuk mengurangi waktu yang diperlukan untuk mengulang prosedur secara manual, dan untuk mengurangi kesalahan yang sering terjadi pada saat pengulangan prosedur. Ada beberapa keadaan saling ketergantungan antara file yang satu dengan file yang lain. Misalkan sebagai gambaran untuk memodifikasi, jika salah satu bagian dari sebuah perancangan perlu diperbaharui, maka secara otomatis, prosedur utama pembaruan perlu dilakukan untuk menjaga integritas dan konsistensi perancangan.  Perevisian Perevisian merupakan penggunaan dan pengujian file untuk dikeluarkan, baik oleh perancang ataupun, bahkan vendor ASIC. Proses ini bertujuan untuk menjaga keutuhan dan kestabilan desain secara umum, menyediakan sarana pelacakan terhadap proyek penting, dan menguji prosedur file yang akan dikeluarkan ke vendor. Seorang perancang mempunyai tanggung jawab untuk menjaga keutuhan chip, dan secara rutin memeriksa arsip dari file terbaru untuk seluruh rancangan. Sebelum mengeluarkan file, perancang harus menjalankan uji regresi. Jika hasilnya memuaskan, maka file siap dilepaskan.

Pada saat pengujian, perlu pertimbangan rancangan sebelum sebuah file dimasukkan ke arsip dan prosesnya harus tidak berlangsung otomatis. Minimal perancang harus melakukan pengujian, apakah modifikasi sesuai dengan yang dikehendaki agar file tersebut tetap stabil.  Pelacakan Sistem pelacakan tidak selalu dibutuhkan pada setiap proyek. Perancang bertanggung jawab menguji rancangannya, kemudian melakukan pengujian pada tingkat sistem/chip. Pelaporan pelacakan memerlukan pendekatan yang lebih formal. Tujuan sistem pelacakan, adalah untuk memberikan cara pelaporan bug untuk perbaikan, memberikan cara untuk mengetahui status bug tertentu, dan menyediakan sarana untuk pelacakan bug baru dan laporan status perbaikan bug. Manfaat sistem pelacakan bug adalah agar perancang dapat menggunakan bug baru dan memperbaiki statusnya, sebagai sarana untuk mengukur kemampuan terhadap program yang lebih besar. Manfaat ini harus diseimbangkan dengan biaya pelaksanaan dan pemeliharaan.

Daftar Pustaka Browy, C., Gullikson G., Indovina M., 1997, A Top-Down Approach Design to IC Design, Free published. Pratt, G. and Jarett, J., 2001, Top-Down Design Methods Bring Back The Useful Schematic Diagram, Mentor Graphics Corp. Stan, M., Cabe, A., Ghosh, S., Qi Z., 2007, Teaching Top-Down ASIC/SoC Design vs Bottom-Up Custom VLSI, IEEE International Conference on Microelectronic Systems Education (MSE’07)

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.