PENGELOLAAN KELAS DALAM FILM THE RON CLARK STORY DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENANAMAN KEDISIPLINAN SISWA

SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu Pendidikan Islam (S.Pd.I)

Disusun Oleh: AMIN JAENURI NIM: 06470058

JURUSAN KEPENDIDIKAN ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 2011

 

MOTTO

“Anak-anak adalah pengembara di negeri penuh misteri dan kita penunjuk jalannya” ( Robert Fisher)1

                                                            
 Ngainun Naim, Menjadi Guru Inspiratif, Memberdayakan dan Mengubah Jalan Hidup Siswa,(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009) hal. 171 
1

vi   

 

PERSEMBAHAN

Skripsi Ini Penulis Persembahkan Untuk:

Almamater Tercinta Jurusan Kependidikan Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

vii   

ABSTRAK Amin Jaenuri, Pengelolaam Kelas dalam Film The Ron Clark Story dan Implikasinya Terhadap Penanaman Kedisiplinan Siswa. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. 2011. Penelitian ini berangkat dari sering ditemuinya di lingkungan kelas bahwa perilaku bermasalah pada siswa akan muncul. Masalah-masalah yang kerap muncul biasanya mengganggu aktifitas belajar di kelas. Misalnya, murid mungkin ribut sendiri, meninggalkan tempat duduk tanpa ijin, bercanda sendiri, atau memakan permen di kelas. Di dalam film The Ron Clark Story guru yang mengajar di
kelas sekolah Harlem juga dihadapkan seperti pada permasalahan pokok di atas, yaitu pengelolaan kelas. Terhadap masalah tersebut guru harus mempersiapkan hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar dan berusaha untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang kondusif. Untuk mengatasi hal tersebut guru harus menerapkan

teknik yang efektif dalam mengelola kelasnya serta strategi yang tepat dalam menanamkan kedisiplinan. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan dan menganalisis tentang pengelolaan kelas dan kedisiplinan siswa yang efektif yang terdapat dalam film The Ron Clark Story. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (Library Research) yang menggunakan pendekatan seni sastra dengan teori semiotika. Pengumpulan data dilakukan dengan dokumentasi yang didasarkan atas sumber data primer dan sumber data sekunder. Analisis data menggunakan metode deskriptik dengan teknik analisa isi atau teks. Hasil penelitian menunjukkan: 1. Masalah perilaku siswa dalam pengelolaan kelas di dalam film The Ron Clark Story mencakup masalah individu dan masalah kelompok. 2. Teknik pengelolaan kelas ada dua yaitu teknik preventif dan kuratif. 3. Strategi penanaman kedisiplinan siswa munggunakan disiplin cooperatit control yang dibuat kesepakatan kontrak perjanjian berisi aturan-aturan kedisiplinan yang harus ditaati bersama. 4. Hasil penanaman kedisiplinan siswa yaitu anak-anak mengalami perubahan sikap tingkah laku, antara lain: anak-anak sudah bisa mengikuti proses pembelajaran dengan kesadaran penuh, anak-anak mendapat nilai baik pada ujian nasional, Tayshawn berhenti mencuri, anak-anak mau mengerjakan pekerjaan rumah. anak-anak sudah bisa menghormati Mr Clark dengan baik. Kata Kunci: Pengelolaan Kelas, Film The Ron Clark Story, Kedisiplinan Siswa.

viii   

KATA PENGANTAR

‫ﺑﺴﻢ اﷲ اﻟﺮﺣﻤﻦ اﻟﺮﺣﻴﻢ‬ ‫اﻟﺤﻤﺪ ﷲ رب اﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ وﺑﻪ ﻧﺴﺘﻌﻴﻦ ﻋﻠﻰ أﻣﻮر اﻟﺪﻧﻴﺎ واﻟﺪﻳﻦ واﻟﺼﻼة واﻟﺴﻼم ﻋﻠﻰ أﺷﺮف اﻟﻤﺮﺳﻠﻴﻦ ﺳﻴﺪﻧﺎ‬ .‫ﻣﺤﻤﺪ وﻋﻠﻰ أﻟﻪ وﺻﺤﺒﻪ واﻟﺘﺎﺑﻌﻴﻦ أﺟﻤﻌﻴﻦ إﻟﻰ ﻳﻮم اﻟﺪﻳﻦ‬

Puji syukur kepada Allah SWT yang telah mengajari manusia dengan perantara baca tulis tentang segala sesuatu yang belum diketahuinya, tak luput shalawat serta salam tercurah kepada Nabi Muhammad SAW di mana kedatangannya sebagai pembawa kebenaran, dan Al-Qur’an sebagai penuntun manusia menuju jalan keselamatan. Proses penggarapan skripsi ini adalah proses pembelajaran yang berharga bagi penulis sekaligus pengayaan terhadap apa-apa yang telah didapat dari masa perkuliahan yang panjang sebagai mahasiswa. Dengan ini maka telah sampailah penulis menuju gerbang pembelajaran berikutnya yang tentu lebih terjal dan menantang dalam kehidupan. Banyak hikmah dan pelajaran yang dapat diambil selama proses ini, tentu semuanya sangat patut disyukuri. Banyak pihak pula yang patut disebutkan penulis untuk menerima ucapan terima kasih yang bertubi-tubi atas bantuan dan dukungannya selama proses penyelesaian penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, yaitu kepada: 1. Bapak Dr. H. Hamruni, M.Si selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

ix

2. Dra. Nur Rohmah, M.Ag selaku Ketua Jurusan Kependidikan Islam Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sekaligus Pembimbing skripsi, terima kasih banyak atas pembekalan-

pembekalannya selama ini. 3. Dra. Wiji Hidayati, M.Ag selaku Sekretaris Jurusan Kependidikan Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 4. Drs. Edy Yusuf Nur S.S, M.Si selaku Pembimbing Akademik yang telah memberikan arahan-arahan di awal penyusunan skripsi. 5. Bapak-Ibu dosen KI yang telah memberikan pengajaran dan arahanarahan selama proses pembelajaran dalam perkuliahan. Juga BapakIbu TU dan Perpustakaan yang membantu segala urusan administratif skripsi ini. 6. Ayah dan Ibuku tercinta serta adikku Yuliana tersayang yang tak hentihentinya memberikan do’a dan dukungannya, terima kasih atas semua perhatian dan kasih sayang yang telah diberikan selama ini. Jazakumullah Khoiron Katsiro. Penulis menghaturkan banyak terima kasih atas segala bantuan yang diberikan, semoga menjadi amal ibadah yang bermanfaat bagi kita semua. Amin. Yogyakarta, 29 Mei 2011 Penyusun

Amin Jaenuri

x

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ............................................................................................ i SURAT PERNYATAAN ..................................................................................... ii HALAMAN NOTA DINAS................................................................................. iii HALAMAN NOTA KONSULTAN .................................................................... iv HALAMAN PENGESAHAN .............................................................................. v HALAMAN MOTTO .......................................................................................... vi HALAMAN PERSEMBAHAN .......................................................................... vii ABSTRAK ............................................................................................................ viii KATA PENGANTAR .......................................................................................... ix DAFTAR ISI ......................................................................................................... xi DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ xiii BAB I: PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ..................................................................... 1 B. Rumusan Masalah............................................................................... 6 C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ........................................................ 6 D. Telaah Pustaka .................................................................................... 7 E. Landasan Teori ................................................................................... 9 F. Metode Penelitian ............................................................................... 19 G. Sistematika Pembahasan..................................................................... 23 BAB II: GAMBARAN UMUM FILM THE RON CLARK STORY A. Deskripsi Umum Film ..................................................................... 24 1. Pengertian Film.......................................................................... 24 2. Sejarah Film ............................................................................... 27 3. Jenis Film ................................................................................... 29 4. Pemanfaatan Film Sebagai Media Pendidikan .......................... 37 B. Deskripsi Film The Ron Clark Story 1. Gambaran Cerita ........................................................................ 42 2. Harapan dan Tujuan Pembuatan Film ....................................... 49 3. Pesan Utama Film ...................................................................... 52

xi
 

BAB III: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Masalah Perilaku Siswa Di Kelas Dalam Film The Ron Clark Story ............................................................................................... 62 1. Masalah Individual .................................................................... 62 2. Masalah Kelompok .................................................................... 65 B. Teknik Pengelolaan Kelas Yang efektif Dalam Film The Ron Clark Story .................................................................................... 71 1. Teknik Preventif ........................................................................ 71 2. Teknik Kuratif ........................................................................... 79 C. Strategi Penanaman Kedisiplinan Siswa Yang Efektif Dalam Film The Ron Clark Story .............................................................. 91 D. Implikasi Pengelolaan Kelas Dalam Film The Ron Clark Story Terhadap Penanaman Kedisiplinan Siswa ............................ 97 BAB IV: PENUTUP A. Kesimpulan ...................................................................................... 109 B. Saran-saran ...................................................................................... 112 C. Penutup ............................................................................................ 113 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 115 LAMPIRAN-LAMPIRAN .................................................................................. 119

 

xii
 

DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Ron Clark bersama beberapa muridnya .............................................. 49 Gambar 2. Ekspresi Ron Clark selesai pelajaran pertamanya............................... 61 Gambar 3. Ron Clark bermain lompat tali dengan muridnya ............................... 72 Gambar 4. Ron Clark membagikan kertas hasil ujian........................................... 73 Gambar 5. Ron Clark berempati kepada Badriyah ............................................... 75 Gambar 6. Anak-anak mulai berbaris untuk makan siang .................................... 76 Gambar 7. Shameika bertanya kepada Ron Clark ................................................ 78 Gambar 8. Kebiasaan Julio selalu duduk menghadap ke belakang ...................... 81 Gambar 9. Ron Clark menegaskan peraturan kepada siswanya ........................... 83 Gambar 10. Ron Clark membicarakan pelanggaran peraturan ............................. 85 Gambar 11. Ron Clark menyuruh para siswa menyalakan lilin............................ 88 Gambar 12. Ron Clark melerai Tayshawn berkelahi dengan Julio ....................... 90 Gambar 13. Ron Clark sedang menjelaskan ketentuan 1 ...................................... 92 Gambar 14. Ron Clark mengajar dengan menggunakan susu cokelat kotak ........ 103 Gambar 15. Anak-anak belajar dengan media video ............................................ 104 Gambar 16. Ron Clark membantu Tayshawn mengerjaan pekerjaan rumah........ 106

xiii   

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna dan mulia. Berbeda dengan makhluk lain, manusia diberi akal untuk dapat memikirkan dan memahami segala ciptaan Allah Swt dan akallah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Hal ini karena manusia diciptakan oleh Allah Swt, bukan sekedar untuk hidup kemudian mati tanpa ada pertanggungjawaban yang harus dipikulnya. Maka dari itu manusia dan pendidikan tidak dapat dipisahkan, sebab pendidikan merupakan kunci dari masa depan manusia yang dibekali dengan akal dan pikiran. Pendidikan mempunyai peranan penting untuk menjamin perkembangan dan kelangsungan hidup suatu bangsa, karena pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan adalah usaha sadar dan bertujuan untuk mengembangkan kualitas manusia sebagai suatu kegiatan yang sadar akan tujuan.1Aktivitas dalam mendidik yang merupakan suatu pekerjaan memiliki tujuan dan ada sesuatu yang hendak dicapai dalam pekerjaan tersebut, maka dalam pelaksanaannya berada dalam suatu proses yang berkesinambungan di setiap jenis dan jenjang pendidikan, semuanya berkaitan dalam suatu sistem pendidikan yang integral.                                                        
Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif Suatu Pendekatan Teoritis Psikologis, Edisi Revisi cet 3, ( Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2005) hal. 22 
1

1   

2   

Pendidikan pada hakekatnya adalah usaha membudayakan manusia atau memanusiakan manusia. Manusia itu sendiri adalah pribadi yang utuh dan pribadi yang kompleks sehingga sulit dipelajari secara tuntas. Oleh karena itu, masalah pendidikan tak akan pernah selesai, sebab hakekat manusia itu sendiri selalu berkembang mengikuti dinamika kehidupannya. Namun tidaklah berarti bahwa pendidikan harus berjalan secara alami. Pendidikan tetap memerlukan inovasi-inovasi sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa mengabaikan nilai-nilai manusia, baik sebagai makhluk sosial maupun sebagai makhluk religius.2 Dalam kaitannya dengan hal itu, maka kegiatan pendidikan merupakan suatu proses untuk mengubah sikap manusia dari suatu kondisi tertentu terhadap kondisi lainnya. Dengan kata lain, melalui pendidikan itu perubahan akan nampak dalam proses perubahan pikiran manusia, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dari tidak mengetahui menjadi mengetahui. Di dalam buku Dictionary of Education disebutkan bahwa pendidikan adalah: (1) proses di mana seseorang mengembangkan kemampuan, sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya di masyarakat tempat ia hidup; (2) proses sosial di mana orang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (terutama yang datang dari sekolah), sehingga mereka memperoleh atau mengalami perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan individu yang optimal.3                                                        
Nana Sudjana, CBSA Dalam Proses Belajar Mengajar, 1996, (Bandung: Sinar Baru Algensindo) hal. 2  3 Anwar Idochi, Kependidikan Dalam Proses Belajar Mengajar, 1987, (Jakarta: Angkasa) hal. 1 
2

   

3   

Fungsi pendidikan adalah menyiapkan peserta didik. “Menyiapkan” diartikan bahwa peserta didik pada hakekatnya belum siap, tetapi perlu dipersiapkan dan sedang menyiapkan dirinya sendiri. Hal ini menunjuk pada proses yang berlangsung sebelum peserta didik itu siap untuk terjun ke kancah kehidupan yang nyata. Penyiapan ini dikaitkan dengan kedudukan peserta didik sebagai calon warga negara yang baik, warga bangsa dan calon pembentuk keluarga baru, serta mengemban tugas dan pekerjaan kelak dikemudian hari.4 Sekolah adalah salah satu lembaga formal yang bertanggung jawab atas pendidikan siswa. Sekolah mempunyai peranan yang sangat penting untuk mengembangkan potensi siswa agar mampu hidup mandiri di tengahtengah masyarakat. Situasi dan kondisi sekolah mencerminkan keadaan masyarakat yang ada di sekitar lingkungan sekolah tersebut. Guru merupakan pendidik dan pengajar yang menyentuh kehidupan pribadi siswa, oleh siswa sering dijadikan tokoh teladan, bahkan menjadi tokoh identifikasi diri. Di sisi lain, guru harus pula memahami dan menghayati wujud anak lulusan sekolah sebagai gambaran hasil didikannya yang diharapkan oleh masyarakat sesuai dengan filsafat hidup dan nilai-nilai yang dianut oleh bangsa Indonesia. Tidak dapat dipungkiri bahwa peran guru dalam mendidik siswa menjadi salah satu ukuran keberhasilan pendidikan di sekolah. Sistem pendidikan yang baik selalu menempatkan guru sebagai “kurikulum berjalan”.                                                        
4

Oemar Hamalik, Kurikulum Dan Pembelajaran, 1995, (Jakarta : Bumi Aksara) hal. 2

 

   

4   

Artinya, guru tidak hanya dituntut dapat menyampaikan materi saja, tetapi juga menjadi sumber inspirasi, pedoman bersikap sosial dan acuan tingkah laku. Guru menjadi “ hidden curriculum” yang tidak pernah kehabisan akal dan cara untuk mendidik siswa. Dalam kaitan dengan proses belajar mengajar hendaknya guru dapat mengarahkan dan membimbing siswa untuk aktif dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga tercipta suatu interaksi yang baik antara guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa. Hal ini senada seperti yang ditulis Madri M. dan Rosmawati, bahwa terjadinya proses pembelajaran itu ditandai dengan dua hal, yaitu: (1) siswa menunjukkan keaktifan, seperti tampak dalam curahan waktunya untuk melaksanakan tugas ajar, (2) terjadi perubahan perilaku yang selaras dengan tujuan pengajaran yang diharapkan.5 Untuk mewujudkan hal tersebut, perlu diciptakan suasana kelas yang mendukung proses belajar mengajar yang dapat membantu efektifitas proses belajar mengajar, yaitu: memanggil setiap murid dengan namanya, selalu bersikap sopan kepada murid, memastikan bahwa anda tidak menunjukkan sikap pilih kasih terhadap murid tertentu, merencanakan dengan jelas apa yang anda lakukan dalam setiap pelajaran, mengungkapkan kepada murid-murid tentang apa yang ingin anda capai dalam pelajaran ini, dengan cara tertentu melibatkan setiap murid selama pelajaran, berikan kesempatan bagi murid untuk saling berbicara, mengutarakan maksud anda melaksanakan hal yang

                                                       
Madri M. dan Rosmawati, Pemahaman Guru Tentang Strategi Pembelajaran Pendidikan Jasmani di Sekolah Dasar, ( Jurnal Pembelajaran, Desember 2004 ), Vol. 27 No. 03, hal. 274. 
5

   

5   

telah anda katakan kepada murid, bersikaplah konsisten dalam menghadapi murid-murid.6 Mengelola kelas merupakan tugas guru untuk menciptakan kondisi belajar yang optimal dan mengembalikan jika terjadi gangguan selama proses belajar mengajar. Sebagai contoh guru harus menghentikan tingkah laku anak didik yang menyelewengkan perhatian di kelas, memberikan penghargaan kepada siswa yang menyelesaikan tugas atau dapat menjawab pertanyaan guru serta penetapan norma-norma atau aturan kelompok yang produktif. Sering ditemui bahwa di lingkungan kelas perilaku bermasalah pada siswa akan muncul. Masalah-masalah yang kerap muncul biasanya mengganggu aktifitas belajar di kelas. Misalnya, murid mungkin ribut sendiri, meninggalkan tempat duduk tanpa ijin, bercanda sendiri, atau memakan permen di kelas. Guru harus menghadapinya dengan cara efektif dan tepat waktu. Di dalam film The Ron Clark Story guru yang mengajar di kelas sekolah Harlem juga dihadapkan seperti pada permasalahan pokok di atas, yaitu pengelolaan kelas. Terhadap masalah tersebut guru harus

mempersiapkan hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar dan berusaha untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang kondusif. Untuk masalah kedisiplinanpun pada awalnya para siswa sering melakukan keramaian, kericuhan, perkelahian di kelas, keluar masuk kelas, sebab sebagian besar siswa ingin berkuasa dan belum mempunyai kesadaran                                                        
Mary Underwood, Pengelolaan Kelas Yang Efektif Suatu Pendekatan Praktis, (Yogyakarta: Arcan, 2000), hal. 39. 
6

   

6   

diri yang positif serta tidak tanggung jawab terhadap kewajiban yang telah diberikan oleh guru. Kemudian setiap selesai pelajaran, penataan meja, kursi tidak tertata rapi dan sampah-sampah belum terbuang ketempatnya dan siswa sering sibuk bicara sendiri dengan temannya ketika guru menjelaskan materi di depan kelas. Sehingga, guru memberikan peraturan terhadap siswa di kelas agar para siswa tertib dalam proses pembelajaran. Melihat fenomena di atas selanjutnya penulis mencoba mengadakan penelitian tentang pengelolaan kelas yang dilakukan oleh guru dalam film The Ron Clark Story dengan judul “Pengelolaan Kelas Dalam Film The Ron Clark Story Dan Implikasinya Terhadap Penanaman Kedisiplinan Siswa” B. Rumusan Masalah Sebagaimana latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas, maka penulis mencoba mengangkat permasalahan yang perlu dikaji dan dituangkan ke dalam karya ilmiah ini, yaitu: 1. Bagaimana bentuk masalah perilaku siswa di kelas dalam film The Ron Clark Story? 2. Bagaimana teknik guru mengelola kelas dalam film The Ron Clark Story? 3. Bagaimana strategi yang diterapkan untuk penanaman kedisiplinan siswa dalam film The Ron Clark Story? 4. Bagaimana implikasi pengelolaan kelas dalam film The Ron Clark Story terhadap penanaman kedisiplinan siswa? C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian

   

7   

Yang menjadi tujuan dari penulisan karya ilmiah ini adalah: a. Untuk mengetahui masalah perilaku siswa di kelas dalam film The Ron Clark Story b. Untuk memahami dan menganalisis teknik pengelolaan kelas yang efektif dalam film The Ron Clark Story c. Untuk mengetahui strategi penanaman kedisiplinan siswa yang efektif dalam film The Ron Clark Story d. Untuk mengetahui implikasi pengelolaan kelas dalam film The Ron Clark Story terhadap penanaman kedisiplinan siswa 2. Kegunaan Penelitian a. Secara teoritik akademik, dapat menjadi sumbangan pemikiran bagi dunia pendidikan dalam merumuskan pengelolaan kelas yang baik dan efektif khususnya dalam mengelola kelas dari segi pengkontrolan tingkah laku siswa dalam kelas. b. Secara praktis, dapat memberikan masukan kepada para guru tentang pentingnya pengelolaan kelas sebagai penunjang kelancaran kegiatan belajar D. Telaah Pustaka Setelah mengadakan penelusuran, sejauh ini penulis belum

menemukan judul seperti yang penulis susun, sehingga penulis mencoba untuk menelaah film The Ron Clark Story yang berkaitan dengan pengelolaan kelas dalam sebuah karya tulis ilmiah.

   

8   

Tetapi, ada beberapa penelitian terdahulu yang dekat dengan yang dikaji penulis mengenai pengelolaan kelas, yaitu: Skripsi saudari Sri Utami Hadiningsih yang berjudul “Pengelolaan Kelas Yang Efektif Dalam Pembelajaran Qur’an Dan Hadits Di MtsN Prambanan Sleman (Studi Kasus Kelas VIII Semester Genap 2007/2008)” yang mengulas pengelolaan kelas yang efektif dalam pembelajaran Qur’an dan Hadits yang menitik beratkan pada keterampilan guru dalam pengelolaan kelas yang efektif dan pembelajaran bukan penataan dan pengaturan kelas. Skripsi saudari Dian Novitasari yang berjudul “ Efektivitas Pengelolaan Kelas Oleh guru Pendidikan Agama Islam (Studi Kasus Kelas XI Madrasah Aliyah Negeri Yogyakarta II)” yang membahas tentang tujuan pengelolaan kelas, efektivitas pengelolaan kelas XI, serta beberapa faktor pendukung dan penghambat dalam efektivitas pengelolaan kelas yang dilakukan oleh guru PAI MAN Yogyakarta II. Skripsi saudara Lilik Budianto yang berjudul “ Pengelolaan Kelas Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di Madrasah Diniyah Awaliyah Masjid Baitul Makmur Jetis Yogyakarta” yang membahas tentang cara mengelola kelas yang besar dalam proses pembelajaran pendidikan agama islam yang menitik beratkan pada pengelolaan proses pembelajaran. Dari telaah yang dilakukan di atas, memberikan ulasan mengenai efektivitas dan pengelolaan kelas yang dilakukan oleh guru PAI dalam pembelajaran. Namun untuk judul skripsi dengan tema serupa dengan apa yang penulis bahas, sejauh yang penulis ketahui belum ada penelitian yang

   

9   

mengangkat persoalan-persolan dan muatan-muatan yang terkandung dalam film The Ron Clark Story. Selanjutnya penulis akan membahas secara spesifik tentang Pengelolaan Kelas dalam Film The Ron Clark Story dan Implikasinya Terhadap Penanaman Kedisiplinan Siswa. Oleh karena itu penulis berusaha mengadalan penelitian mengenai hal tersebut hingga menjadi karya ilmiah dengan kajian yang komprehensif. E. Landasan Teori 1. Pengelolaan Kelas Pengelolaan kelas adalah salah satu tugas guru yang tidak pernah ditinggalkan. Guru selalu mengelola kelas ketika dia melaksanakan tugasnya. Pengelolaan kelas dimaksudkan untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi anak didik sehingga tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Ketika kelas terganggu, guru berusaha mengembalikannya agar tidak menjadi penghalang bagi proses belajar mengajar.7 Pengertian pengelolan kelas menurut Suharsimi Arikunto adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar mengajar atau yang membantu dengan maksud agar dicapai kondisi optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar seperti yang diharapkan.8 Tujuan pengelolaan kelas menurut Hasibuan dan Moedjiono adalah:

                                                       
Syaiful Bahri Jamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1996) hal. 195-196  8 Suharsimi Arikunto, Pengelolaan Kelas dan Siswa Sebuah Pendekatan Evaluatif, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996) hal. 67-68 
7

   

10   

a. Mendorong siswa mengembangkan tanggung jawab individu terhadap tingkah lakunya. b. Membantu siswa untuk mengerti tingkah laku yang sesuai dengan tata tertib kelas, dan memahami bahwa teguran guru merupakan suatu peringatan, bukan kemarahan. c. Menimbulkan rasa berkewajiban melibatkan diri dalam tugas serta bertingkah laku sesuai dengan aktivitas kelas.9 Dalam menangani tugasnya, guru-guru sering menghadapi

permasalahan dengan kegiatan-kegiatan di dalam kelasnya. Salah satu masalah tersebut yaitu yang menyangkut pengelolaan kelas. Guru-guru harus mampu mengenali permasalahan itu dan menemukan pemecahannya secara tepat. Untuk dapat menangani masalah-masalah pengelolaan kelas secara efektif guru harus mampu: mengenali secara tepat berbagai jenis masalah pengelolaan kelas baik yang bersifat perorangan maupun kelompok, Memahami pendekatan mana yang cocok dan tidak cocok untuk jenis masalah tertentu, memilih dan menetapkan pendekatan yang paling tepat untuk memecahkan masalah yang dimaksud. Ada dua jenis masalah pengelolaan kelas, yaitu yang bersifat perorangan dan yang bersifat kelompok. Disadari bahwa masalah perorangan dan masalah kelompok seringkali menyatu dan amat sukar dipisahkan yang satu dari yang lain. Namun demikian, pembedaan antara                                                        
J. J Hasibuan dan Moedjiono, Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1988), hal. 83 
9

   

11   

kedua jenis masalah itu akan bermanfaat, terutama apabila guru ingin mengenali dan menangani permasalahan yang ada dalam kelas yang menjadi tanggungjawabnya.10 Masalah perorangan didasarkan atas anggapan dasar bahwa tingkah laku manusia itu mengarah pada pencapaian suatu tujuan. Setiap individu memiliki kebutuhan dasar untuk memiliki dan untuk merasa dirinya berguna. Jika seorang individu gagal mengembangkan rasa memiliki dan rasa dirinya berharga maka dia akan bertingkah laku menyimpang. Masalah kelompok akan muncul apabila tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan kelompok, kelas frustasi atau lemas dan akhirnya siswa menjadi anggota kelompok bersifat pasif, acuh, tidak puas dan belajarnya terganggu. Apabila kebutuhan kelompok ini terpenuhi,

anggotanya akan aktif, puas, bergairah dan belajar dengan baik. Adapun cara atau teknik pengelolaan kelas dapat dilakukan dengan tindakan pengelolaan kelas. Tindakan yang dilakukan oleh guru dalam rangka penyediaan kondisi yang optimal agar proses pembelajaran berlangsung efektif. Menurut Nurhadi upaya untuk menciptakan dan mempertahankan suasana kelas yang kondusif dapat dilakukan secara preventif maupun secara kuratif. 11 Teknik preventif adalah teknik untuk mencegah timbulnya tingkah laku anak yang dapat mengganggu kegiatan pembelajaran, sedangkan teknik                                                        
Rulam, Masalah Pengelolan Kelas, http://www.infodiknas.com/bab-2-masalahmasalah-pengelolaan-kelas/ acces 17 Desember 2010  11 Muljani A Nurhadi, Administrasi Pendidikan Di Sekolah, (Yogyakarta: IKIP, 1983), Hal. 163 
10

   

12   

kuratif adalah teknik untuk menanggulangi perilaku anak yang mengganggu kegiatan belajar. Penerapan teknik preventif dilakukan guru adalah dengan maksud tersedianya suatu kondisi yang nyaman dan aman bagi anak untuk beraktivitas di kelas. Teknik kuratif merupakan tindakan korektif yang dilakukan guru terhadap perilaku anak yang menyimpang dan merusak kondisi optimal bagi kelangsungan aktivitas anak di dalam kelas. Dalam teknik kuratif ini tindakan penanggulangan yang dilakukan guru bisa saat terjadi gangguan, dan tindakan penyembuhan terhadap perilaku anak yang menyimpang yang terlanjur terjadi agar penyimpangan tersebut tidak berulang-ulang. Semua rangkaian kegiatan pengelolaan kelas ini dilakukan guru dengan maksud untuk menyediakan kondisi yang optimal bagi proses pembelajaran anak di kelas atau tersedianya kondisi yang kondusif bagi pembelajaran anak sehingga pembelajaran dapat berjalan dengan efektif. Kemampuan pengelolaan kelas sangat menentukan keberhasilan pembelajaran. Tanpa kemampuan pengelolaan kelas yang efektif, segala kemampuan guru yang lain dapat menjadi netral dalam arti kurang memberikan pengaruh atau dampak positif terhadap pembelajaran siswa. Kemampuan pengelolaan kelas sering juga disebut kemampuan menguasai kelas dalam arti seorang guru harus mampu mengontrol atau mengendalikan perilaku para muridnya sehingga mereka terlibat secara aktif dalam proses belajar-mengajar. “Tiada gunanya seorang guru menguasai bahan pelajaran, tidak bermanfaat kemampuannya menciptakan kegiatan-kegiatan belajar

   

13   

yang menarik sesuai dengan pokok bahasan, tiada gunanya dia mengetahui jenis pertanyaan yang perlu ditanyakan atau kemampuannya menjelaskan pelajaran secara gamblangnya jika segala yang diupayakan guru itu tidak diperhatikan muridmuridnya”12 Dalam kegiatan belajar mengajar terdapat dua hal yang turut menentukan berhasil tidaknya suatu proses belajar mengajar, yaitu pengaturan kelas dan pembelajaran itu sendiri.13 Hal ini dikarenakan keberhasilan dalam arti tercapainya suatu tujuan instruksional sangat tergantung pada kemampuan guru mengatur kelas. Kelas yang baik secara kondusif akan selalu menciptakan situasi belajar anak tanpa beban dan selalu merasa menikmati dalam setiap mengikuti proses belajar mengajar tanpa merasa adanya suatu tekanan. Menguasai tidaknya suasana kelas dari seorang guru akan berpengaruh terhadap proses interaksi edukatif yang ada. Banyak terjadi keributan kelas, penuh ketegangan itu semua karena antara lain guru tidak menguasai kelas. Suasana kelas yang baik harus diciptakan oleh guru, agar terwujud interaksi edukatif yang baik. Misalnya dalam menempatkan murid ditempat duduknya, mengarahkan kegiatan belajar, membantu murid, menghargai sikap dan pendapat murid, semuanya ini harus disesuaikan dengan prinsip-prinsip individualitas . Harapan yang tidak pernah sirna dan selalu guru tuntut adalah bagaimana bahan pelajaran yang disampaikan guru dapat dikuasai oleh anak didik secara tuntas. Ini merupakan masalah yang cukup sulit yang dirasakan                                                        
12 13

E. C. Wragg, Pengelolaan Kelas. Pent: Aswan Jasin, (Jakarta: Grasindo, 1996), hal. 1  Sumardi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: CV. Rajawali, 1987), hal. 70 

   

14   

oleh guru. Kesulitan itu dikarenakan anak didik bukan hanya sebagai individu dengan segala keunikannya, tetapi mereka juga sebagai makhluk sosial

dengan latar belakang yang berlainan. Paling sedikit ada tiga aspek yang membedakan anak didik yang satu dengan yang lainnya, yaitu aspek intelektual, psikologis, dan biologis. Ketiga aspek tersebut diakui sebagai akar permasalahan yang melahirkan bervariasinya sikap dan tingkah laku anak didik sekolah. Hal itu pula yang menjadi tugas yang cukup berat bagi guru dalam mengelola kelas dengan baik. Keluhan-keluhan guru sering terlontar hanya karena masalah sukarnya mengelola kelas. Akibat kegagalan guru mengelola kelas, tujuan pengajaran pun sukar untuk dicapai. Hal ini kiranya tidak perlu terjadi, karena usaha yang dapat dilakukan masih terbuka lebar. Salah satu caranya adalah meminimalkan jumlah anak didik di kelas. Mengaplikasikan beberapa prinsip pengelolaan kelas adalah upaya lain yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Pendekatan terpilih mutlak dilakukan guna mendukung pengelolaan kelas. 2. a. Disiplin Menurut Marika Subrata kata disiplin berasal dari bahasa Yunani yang berarti murid mengikuti guru, maka dengan disiplin ini diharapkan peserta didik tunduk dan mengikuti peraturan dan menjauhi larangan tertentu. Menurut Ki Hajar Dewantara bahwa kedisiplinan adalah penerapan tata tertib yang dilakukan dengan tegas.

   

15   

Sedangkan menurut The Liang Gie, mengatakan bahwa dengan berdisiplin akan membuat seseorang memiliki kecakapan cara-cara belajar yang baik, juga disiplin merupakan proses ke arah pembentukan watak yang baik. Disiplin merupakan suatu aturan pendidikan, disiplin menunjuk pada sejenis ketertiban aturan dalam mencapai standar yang tepat atau mengikuti peraturan yang tepat dalam berperilaku atau beraktivitas. Timbulnya sikap perilaku disiplin bukan merupakan peristiwa mendadak yang terjadi seketika. Perilaku disiplin pada diri seorang tidak dapat timbul tanpa adanya intervensi dari pendidik, dan itupun dilakukan secara bertahap sedikit demi sedikit. Disiplin tidak datang begitu saja tanpa perlu adanya pembentukan yang dimulai sejak dini, dengan memberikan tata tertib kepada anak untuk dipatuhi. Dimana aturan-aturan atau tata tertib tersebut disesuaikan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak didik. Sehingga ketika anak tersebut dewasa, maka kedisiplinan itu akan terbentuk dengan sendirinya. Sebab dari semula memang dipersiapkan untuk mentaati perintah atau tata tertib yang sudah ditetapkan. Hendaknya setiap pendidik menyadari bahwa dalam pembinaan pribadi anak sangat diperlukan pembiasaan-pembiasaan dan latihan-latihan yang cocok dan sesuai dengan perkembangan jiwanya.14 Karena pembiasaan dan latihan tersebut akan membentuk sikap tertentu pada anak, yang lambat

                                                       
14

Drs. D. Zakiah Darajat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1993) hal. 61 

   

16   

laun sikap itu akan bertambah jelas dan kuat, akhirnya tidak tergoyahkan lagi, karena telah masuk menjadi bagian dari pribadinya. Tidak saja disiplin itu menghendaki dilaksanakannya segala peraturan dengan murni sampai dalam hal yang kecil-kecil tidak boleh menyimpang sedikitpun, tetapi disiplin menghendaki adanya sanksi, yaitu kepastian atau keharusan dijatuhkan hukuman pada siapapun yang berani melanggar atau mengabaikan peraturan yang sudah ditetapkan. Pada umumnya sanksi itu dilakukan secara keras dan mutlak. b. Disiplin kelas Disiplin kelas dapat diartikan sebagai tingkat ketaatan siswa terhadap aturan kelas dan teknik yang digunakan guru untuk membangun atau memelihara keteraturan dalam kelas. Disiplin kelas perlu diajarkan atau ditanamkan pada siswa karena alasan berikut: 1) Agar siswa mampu mendisiplinkan diri sendiri 2) Disiplin merupakan pusat berputarnya kehidupan sekolah 3) Disiplin yang tinggi akan menuju kepada terciptanya iklim belajar yang kondusif 4) Tingkat ketaatan yang rendah akan menjurus kepada tidak terjadinya belajar yang diharapkan 5) Jumlah siswa dalam satu kelas umumnya banyak 6) Kebiasaan berdisiplin di sekolah diharapkan menghasilkan kebiasaan berdisiplin di masyarakat

   

17   

7) Tingkat ketaatan siswa atau disiplin siswa dipengaruhi oleh faktor-faktor yang cukup kompleks dan saling berkaitan, yang dapat dibedakan atas faktor fisik, sosial dan psikologis Ada beberapa langkah yang dapat dijadikan acuan untuk membantu mengembangkan disiplin yang baik di kelas, yaitu: Pertama adalah perencanaan. Ini meliputi membuat aturan dan prosedur, dan menentukan konsekuen untuk aturan yang dilanggar. Kedua adalah mengajarkan kepada siswa bagaimana mengikuti aturan. Hal ini harus dimulai sejak dini agar dalam mengembangkan pola-pola disiplin yang efektif pada siswa dapat tercapai dengan maksimal. Ketiga adalah merespon secara tepat dan konstruktif ketika masalah timbul. Sehingga masalah yang timbul akan dapat dikurangi dan terselesaikan dengan baik pula.15 Dalam penelitian ini, yang menjadi indikator keberhasilan disiplin kelas siswa adalah sebagai berikut: 1) Mengikuti proses pembelajaran di kelas dengan baik 2) Menghormati dan menghargai guru 3) Mau mengerjakan pekerjaan rumah 4) Melaksanakan perintah-perintah guru 3. Implikasi Dalam Kamus Ilmiah Populer dijelaskan bahwa arti implikasi adalah keterlibatan atau pelibatan.16 Demikian juga dalam Kamus Besar Bahasa                                                        
15

Sri Esti Wuryani Djiwandono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Grasindo, 2002) hal. 303 

   

18    Indonesia, implikasi diartikan dengan “keterlibatan atau keadaan terlibat”.17 Artinya ada proses pengaruh mempengaruhi dari satu sistem terhadap sistem yang lain. Pengertian lain implikasi adalah dampak dan pengaruh. 18 Dalam hal ini yang dimaksud implikasi oleh penulis adalah keterlibatan atau dampak serta pengaruh dari pengelolaan kelas dalam film The Ron Clark Story terhadap kedisiplinan siswa. 4. Film Pengertian film sebagaimana terdapat dalam ensiklopedia umum berarti gambar hidup.19 Film merupakan serangkaian gambar yang diambil dari objek yang bergerak, gambar objek itu memperlihatkan suatu seri gerakan atau moment yang berlangsung secara terus menerus, kemudian diproyeksikan ke sebuah layar dengan memutarnya dalam kecepatan tertentu sehingga menghasilkan suatu gambar.20 Dari penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa film adalah media audio-visual yakni suatu media yang mendayagunakan indera penglihatan (vision) dan juga pendengaran karena menggunakan suara. Harus diakui bahwa film menduduki posisi strategis yang secara disadari atau tidak, sangat dimungkinkan akses yang dihasilkan dari tontonan                                                                                                                                                       
Pius A. Partanto dan M. Dahlan Al-Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Arkola, 1994) hal. 246   17 Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, cet 2, (Jakarta: Balai Pustaka, 1988) hal. 273  18 Peter Salim dan Salim Ninth Collegiate, English Indonesia Dictionary, cet 1, (Jakarta: Modern English Press, 2002) hal. 730  19 Ensiklopedi Umum, cet 91 (Yogyakarta: Kanisius, tt) hal. 328  20 Ensiklopedia Nasional Indonesia, (Jakarta: Cipta Adi Pustaka, 1989) hal. 305 
16

   

19   

film tidak hanya berhenti di situ saja, namun akan terus terbawa. Film bukan hanya menghasilkan fantasi bahkan dapat menjadi sugesti bagi orang-orang yang menontonnya. Film sebagai karya seni budaya yang merupakan media pandangdengar yang pembinaan dan pengembangannya diarahkan nilai-nilai budaya bangsa. Sehingga dalam era globalisasi dan reformasi ini dapat menangkal pengaruh negatif yang dapat merugikan kepentingan perkembangan masyarakat dan bangsa. Pertunjukan film disamping sebagai komoditas ekonomi juga berfungsi sebagai sarana penerangan (entertainment), pendidikan (edukasi), dan hiburan (rekreasi). Oleh karena itu film dapat dimanfaatkan sebagai media publikasi atau penyuluhan untuk menyampaikan pesan-pesan tentang program pembangunan disegala bidang.21 Dalam penelitian ini, film berfungsi sebagai sarana pendidikan (edukasi) yang mana di dalamnya terkandung muatan-muatan pembelajaran. F. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (Library Research) yaitu penelitian yang pengumpulan datanya dilakukan dengan menghimpun data dari berbagai literatur. Literatur yang diteliti tidak hanya terbatas pada buku-buku saja, tetapi dapat juga berupa bahan-bahan dokumentasi, majalah-majalah, jurnal dan surat kabar. Penekanan penelitian                                                        
Suparno Permadi, “Film Keliling Sebagai Sarana Penyuluhan Dan Publikasi”, 1999, Jurnal Penelitian Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi Komunikasi IPTEK-Kom, edisi no 5 hal. 55 
21

   

20   

kepustakaan adalah ingin menemukan berbagai teori, hukum, prinsip, pendapat, gagasan, dan lain-lain dalam suatu hal.22 Penelitian kepustakaan digunakan untuk memecahkan masalah penelitian yang bersifat konseptual-teoritis, baik tentang tokoh pendidikan atau konsep pendidikan tertentu seperti tujuan, metode, dan lingkungan pendidikan.23 Penelitian ini terutama dilakukan melalui media audio visual yaitu DVD film The Ron Clark Story. 2. Pendekatan Penelitian Pendekatan yang digunakan oleh penulis adalah pendekatan semiotik, yaitu pendekatan yang memperhatikan tanda tersirat maupun tersurat dalam karya sastra. Tanda tersebut dianggap mewakili objek secara representatif. Tanda sekecil apapun dalam semiotik tetap diperhatikan. Tanda-tanda tersebut akan tampak pada tindak komunikasi manusia lewat bahasa, baik lisan maupun isyarat. Dalam penelitian ini, komunikasi yang dimaksud yaitu komunikasi antara guru (Ron Clark) dengan siswanya maupun antara siswa dengan siswa lainnya yang terdapat dalam film The Ron Clark Story. Pada prinsipnya melalui pendekatan ini, karya sastra akan mudah dipahami arti yang tersirat di dalamnya. Namun, arti dalam pandangan semiotik adalah meaning of meaning atau disebut juga makna (signifinance). Roman Jocobson juga berpendapat bahwa komunikasi sastra diawali oleh addresser (pengirim) mengirimkan pesan (message) kepada addresee                                                        
Sarjono, dkk, Panduan Penulisan Skripsi, (Yogyakarta: Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, 2008) hal. 20  23 Ibid, hal. 21 
22

   

21   

(penerima pesan). Agar komunikasi lebih efektif, pesan tersebut memerlukan konteks.24 Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendekatan semiotik merupakan pendekatan dalam karya sastra yang diharapkan mampu memberikan gambaran manfaat sehingga mengubah penonton sampai kepada efek komunikasi yang memberi ajaran dan kenikmatan serta menggerakkan audience melakukan kegiatan yang bertanggung jawab sesuai dengan tanda-tanda (semiotik) baik itu secara lisan (dialog film The Ron Clark Story) maupun isyarat (adegan film The Ron Clark Story) yang mereka lihat melalui tayangan film tersebut. 3. Metode Pengumpulan Data Untuk mempermudah dalam pengumpulan data, maka penelitian ini menggunakan metode dokumentasi, yaitu cara mengumpulkan data dengan mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda, dan sebagainya.25 Dalam penelitian ini teknik yang digunakan adalah pengumpulan data yang didasarkan atas data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumbernya yang diamati dan dicatat untuk pertama kalinya. Sedangkan data sekunder adalah data yang diusahakan sendiri pengumpulannya oleh peneliti.26

                                                       
  Suwardi Endraswara, Metodologi Penelitian Sastra; Epistemologi Model Teori dan Aplikasi, (Yogyakarta: Pustaka widyatama, 2003), hal. 67  25 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Bina Usaha 1980) , hal.202  26 Marzuki, Metodologi Riset, (Yogyakarta: PT Hamidi Offset, 1997), hal. 55-56 
24

   

22   

Adapun sumber data yang digunakan penulis meliputi: a. Sumber Data Primer yaitu DVD film The Ron Clark Story b. Sumber Data Sekunder yaitu : 1) Ahmad Rohani H. M, dan H Abu Ahmadi, Pengelolaan Pengajaran, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1995)  2) J. J Hasibuan, dkk, Proses Belajar Mengajar Keterampilan Dasar Mikro, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 1994) 3) Lary J Koenig, Smart Dicipline : Menanamkan Disiplin dan Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Pada Anak, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2003) 4) Syaiful Bahri Djamarah & Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1997)  5) Tulus Tu’u, Peran Disiplin Pada Perilaku dan Prestasi Siswa, (Jakarta: Grasindo, 2004)   4. Analisis Data Dalam studi ini analisis yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik analisa isi atau teks.27 Secara terperinci, langkah-langkah analisa yang dimaksud adalah: a. Merekam dan memutar film yang dijadikan penelitian. b. Mentransfer rekaman kedalam bentuk tulisan.                                                        
27

Lexy J. Molcong, Metode Penelitian kualitatif, (Bandung: remaja Rosdakarya, 2002)

hal 163 

   

23   

c. Mentransfer gambar kedalam tulisan. d. Menganalisa isi dan metode, untuk diklasifikasikan berdasarkan pembagian yang telah ditentukan. e. Mengkomunikasikan dengan buku-buku yang relevan. G. Sistematika Pembahasan Untuk memberikan gambaran pembahasan secara menyeluruh dan sistematis dalam skripsi ini, akan disusun sistematika sebagai berikut: Bab I, sebagai pentingnya jawaban ilmiah dalam penulisan skripsi, maka pada bab ini berisi latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, telaah pustaka, kerangka teori, metode penelitian yang menerangkan cara-cara yang ditempuh dalam penelitian, setelah itu dilanjutkan dengan sistematika pembahasan. Pada Bab II, merupakan pintu gerbang untuk memasuki penelitian tentang film The Ron Clark Story. Di sini dibahas tentang deskripsi secara umum film The Ron Clark Story, sekilas pengertian film, sejarah pembuatan film, jenis film, pemanfaatan film sebagai media pendidikan, gambaran cerita, tujuan pembuatan film, dan pesan utama dari film The Ron Clark Story. Bab III mendeskripsikan tentang hasil penelitian serta pembahasan mengenai pengelolaan kelas dalam film The Ron Clark Story serta implikasinya terhadap penanaman kedisiplinan siswa. Bab IV, merupakan bab terakhir berisi kesimpulan yang merupakan intisari dari keseluruhan pembahasan skripsi ini, dengan beberapa pesan dan penutup.

   

24   

BAB II DESKRIPSI UMUM FILM THE RON CLARK STORY A. Deskripsi Umum Film 1. Pengertian Film Kehadiran film sebagai media komunikasi untuk menyampaikan informasi, pendidikan dan hiburan adalah salah satu media visual auditif yang mempunyai jangkauan yang sangat luas, mengingat sifatnya yang terbuka, cakupan pemirsanya yang tidak mengenal usia dan meliputi seluruh lapisan mesyarakat mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Luas jangkauan siaran dan cakupan pemirsanya bukan saja menjadikan film sebagai media alat untuk mempengaruhi (to influence) terhadap perkembangan pengetahuan dan tingkat penyerapan pesan-pesan yang disampaikan melalui media ini jauh lebih intensif jika dibandingkan dengan media komunikasi lain. Film dapat dikatakan sebagai suatu penemuan teknologi modern paling spektakuler yang melahirkan berbagai kemungkinan. Pertama, dalam pengertian kimia fisik dan teknik, film berarti selaput halus. Pengertian ini dapat dicontohkan, misalnya pada selaput tipis cat atau pada lapisan tipis yang biasa dipakai untuk melindungi benda-benda seperti dokumen (laminasi). Dalam fotografi dan sinematografi film berarti bahan yang dipakai untuk segala sesuatu yang berkaitan dengan foto. Kedua, film juga mempunyai pengertian paling umum, yaitu untuk menamakan serangkaian gambar yang diambil dari obyek yang bergerak. Gambar

   

25   

obyek itu memperlihatkan suatu serial gerakan atau momen yang berlangsung secara terus-menerus, kemudian diproyeksikan ke dalam sebuah layer dengan memutarnya dalam kecepatan tertentu sehingga menghasilkan sebuah gambar hidup.28 Film atau gambar hidup merupakan gambar-gambar dalam frame di mana frame demi frame diproyeksikan melalui lensa proyektor secara mekanis sehingga pada layer terlihat gambar itu hidup. Film itu bergerak dengan cepat dan bergantian sehingga memberikan visual yang kontinyu.29 Film juga merupakan serangkaian gambar-gambar yang diambil dari obyek yang bergerak memperlihatkan suatu serial peristiwa-peristiwa gerakan yang berlaku secara berkesinambungan, yang berfungsi sebagai media hiburan, pendidikan, dan penerangan. Sebagai salah satu media informasi maka film secara otomatis akan membawa dampak (side effect), baik itu positif maupun negatif kepada penontonnya.30 Menurut Dr. Phil Astrid Susanto, film adalah gambar yang bergerak dikenal dengan gambar hidup dan memang gerakan itu merupakan unsur pemberi hidup kepada suatu gambar, namun betapapun sempurnanya dan modernnya teknik yang dipergunakan belum mendekati kenyataan hidup sehari-hari sebagaimana film. Untuk meningkatkan kesan dan dampak dari film, suatu film diiringi suara yang dapat berupa dialog                                                        
28

Ensiklopedi Nasional Indonesia, (Jakarta: PT. Cipta Adi Pustaka, 1990). Jld. V, hal. Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), Hasan Shadily, Ensiklopedi Indonesia, (Jakarta: Ikhtisar Baru –Van Hoeve: 1980), hal.

305 
29

hal.48 
30

1007 

   

26   

atau musik sehingga dialog atau musik merupakan alat bantu penguat ekspresi, di samping suara musik, warna yang mempertinggi tingkat nilai kenyataan pada film sehingga unsur sungguh-sungguh terjadi sedang dialami oleh khalayak pada saat film diputar makin terpenuhi.31 Film juga dimasukkan ke dalam kelompok komunikasi massa. Selain mengandung aspek hiburan, juga memuat pesan edukatif. Namun aspek sosial kontrolnya tidak sekuat pada surat kabar atau majalah serta televisi yang memang menyiarkan berita berdasarkan fakta yang terjadi. Fakta di dalam film ditampilkan secara abstrak, di mana tema cerita bertitik tolak dari fenomena yang terjadi di tengah masyarakat. Bahkan dalam film, cerita dibuat secara imajinatif. Film sebagai alat komunikasi massa baru dimulai pada 1901, ketika Ferdinand Zecca membuat film “The Story of Crime” di Perancis dan Edward S. Porter membuat film “The Life of An American Fireman” tahun 1992.32 Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa film pada dasarnya merupakan serangkaian gambar yang diambil dari obyek bergerak, yang kemudian menghasilkan serial peristiwa-peristiwa secara kontinyu dan berfungsi sebagai media komunikasi, media hiburan, pendidikan dan penerangan serta diiringi dengan unsur ekspresi penguat seperti musik, dialog dan juga warna sehingga mampu membuat film itu menjadi serealistis mungkin. Tema cerita dalam film biasa berangkat dari fenomena sosial yang terjadi di tengah masyarakat.                                                        
Phil Astrid Susanto, Komunikasi Teori dan Praktek, (Bandung,1992) hal. 247  Mafri Amir, Etika Komunikasi Massa: Dalam Pendangan Islam, (Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 1999), cet II, hal. 27 
32 31

   

27   

2. Sejarah Film Sejak awal abad ke-19 dilakukan berbagai percobaan untuk menciptakan sebuah pesawat yang dapat memancarkan gambar yang dapat bergerak. Langkah pertama ke arah cinematografi dilakukan oleh E. Muybridge, seorang petualang Inggris yang berimigrasi ke California pada tahun 1849. Awalnya adalah kegemaran bertaruh balapan kuda. Pada tahun 1977, Muybridge menempatkan 12 kamera sepanjang jalur lapangan, dan melewatinya merentangkan tali-tali menyeberangi jalur. Setiap kuda diabadikan oleh satu kamera. Muybridge

merealisasikan semua gerakan asli dan memproyeksikannya dengan lentera ajaib. Selama 20 tahun sejak itu, Muybridge meneruskan pengambilan gambar bergerak. Pada tahun 1882 seorang Perancis bernama Etienne Jules Marey, mengambil gambar bergerak dengan satu kamera. Ide ini diambil dari ide Muybridge. Marey membuat sebuah senapan yang dapat menampilkan 12 gambar dalam satu detik.33 Perkembangan film bergerak dan berlanjut dengan cepat, apalagi setelah penemuan film negatif transparan. Perkembangan terus berlanjut dengan ditemukannya mesin-mesin sinema pertama. Pada tahun 1888, Thomas A. Edison menemukan kamera gambar bergerak yang bernama kinematografi. Kemudian tahun 1985 dua bersaudara Perancis, Auguste dan Louis Lumiere (dikenal dengan Lumiere bersaudara),

mengembangkan penemuan Edison sehingga ditemukan peralatan yang                                                        
33

Ensiklopedi Nasional Indonesia, (Jakarta: PT. Cipta Adi Pustaka, 1990) Jld. V, hal 308-

309 

   

28   

dapat

mengambil

gambar

bergerak

(film),

memperbanyak,

serta

memproyeksikan ke layer (screen play). Penemuan-penemuan terus berkembang, apalagi setelah penemuan Lumiere mengundang banyak peminat produser film kerena

keberhasilannya menyajikan film yang baik saat itu. Pada awal abad ke20, produksi film Perancis mempunyai peranan di dunia, bahkan merupakan pembuat film kolosal pertama hasil karya Charles Pathe. Pada Perang Dunia I, banyak sekali indrustri perfilman Eropa dan pasaran internasional mengalami kehancuran, dan memungkinkan perfilman Amerika Serikat mencapai keberhasilan. Ketika perang berakhir, Hollywood mendominasi perfilman dunia. Teknologi perfilmanpun mencapai kesempurnaan, sampai kemudian ditemukan teknologi yang mampu memadukan gambar dan suara (1926-1930), suatu penemuan yang menandakan berakhirnya periode film bisu. Kemudian teknologi film berwarna semakin memacu gairah para masyarakat film. Juga

berkembangnya film-film untuk siaran televisi dan film-film tiga dimensi. Dalam teknologi suara muncul teknologi dolby stereo yang membuat suara film bermunculan di semua sisi gedung bioskop. Perkembangan dunia perfilman memacu masyarakat film untuk membuat festival-festival film yang umumnya diadakan secara periodik. Di Amerika serikat misalnya diadakan kompetisi piala Oskar, Academy

   

29   

Award, di Perancis Festival Film Cannes, dan di Indonesia Festifal Film Indonesia yang memperebutkan piala citra.34 3. Jenis Film Film dalam batasan sinematografi sepanjang sejarahnya

memberikan keluasan tema bila dilihat dari isi dan sasaran tujuannya. Di dalam pedoman pelaksanaan FFI (Festifal Film Indonesia) yang ditetapkan oleh Menteri Penerangan dengan SK 27/A/Kep/Menpen/83 pada tanggal 14 Maret 1983 ada beberapa jenis film, diantaranya: 1) Film dokumenter 2) Film ilmu pengetahuan/pendidikan 3) Film kartun 4) Film yang tidak digolongkan sebagi film cerita.35 Terlepas dari empat jenis film di atas, di bawah ini penulis akan menguraikan secara detail bebagai jenis film, diantaranya: a) Film Instruktif Film instruktif dibuat dengan isi berupa pengarahan yang berkaitan dengan sebuah pekerjaan atau tugas. Bentuk film bisa berupa animasi, boneka atau film yang diperankan oleh aktor atau aktris.36

                                                       
Ibid, hal. 310  Amura, Perfilman di Indonesia dalam Era Orde Baru, (Jakarta: Lembaga Komunikasi Massa Islam Indonesia, 1989), hal. 10  36 Ensiklopedi Nasional Indonesia, (Jakarta: PT. Cipta Adi Pustaka, 1990) Jld. V, hal 305 
35 34

   

30   

b) Film Penerangan Film penerangan merupakan film yang memberi kejelasan suatu hal, misalnya film yang mengisahkan pentingnya program keluarga berencana atau film pembangunan lainnya. Biasanya film ini diperankan oleh para pemain dengan imbuhan dialog yang berisi penjelasan. Atau dapat juga filmnya ditampilkan dalam bentuk gambar-gambar dengan tambahan keterangan berupa narasi (cerita) yang dibacakan.37 c) Film Gambar (Animasi) Film gambar atau animasi dibuat dari gambar-gambar tangan (ilustrasi). Gambar ini dibuat satu-persatu dengan memperhatikan kesinambungan gerak sehingga ketika diputar rangkaian gerak dalam gambar itu muncul sebagai satu gerakan dalam film. Film animasi yang popular adalah film-film Walt Disney, seperti Donal Duck, dan Sleeping Beauty.38 d) Film Boneka Film boneka biasanya ditampilkan dengan pemain berupa boneka. Kadang-kadang beberapa boneka dimainkan oleh seorang “dalang” sekaligus di atas panggung. Panggung dapat bercitra realistis (suatu kenyataan) bisa pula fantasi (khayalan). Pelopor film boneka adalah Emile Cole. Contoh tayangan film ini misalnya film seri TVRI si Unyil dan produk Muppet show. Atau ada juga                                                        
37 38

Ibid, hal. 305  Ibid, hal 305 

   

31   

sekarang acara wayang kulit dan wayang golek yang disiarkan oleh salah satu stasiun suasta setiap sabtu malam.39 e) Film Iklan (TV Commersial) Film iklan merupakan film yang mempropagandakan produk-produk tertentu. Yang ditawarkan produk benda atau jasa. Film iklan semua dimainkan oleh bintang-bintang ternama untuk menarik minat penontonnya sehingga diharapkan dapat menaikkan omset produk itu. Misalnya Jackie Chan mengiklankan produk Hitachi, Andi Matalata mengiklankan susu Dancow.40 Film ini dapat pula berupa animasi atau film boneka. Di Indonesia penayangan film iklan banyak dilakukan pada gedung bioskop. Pada tahun 1970-an TVRI mempunyai program penanyangan iklan, tetapi kemudian acara tersebut dihentikan. Para pengusaha tidak perlu khawatir untuk mempropagandakan produknya, karena selain bioskop sekarang telah muncul stasiun swasta yang sebagian acaranya memang diperuntukkan bagi penayangan iklan. Selain itu, film ini diproduksi untuk penyebaran informasi, baik tentang produk (iklan produk) maupun layanan masyarakat atau jenis (public service announcement/SPA). Iklan produk biasanya menampilkan produk yang diiklankan ‘secara eksplisit’. Artinya ada stimulus audio-visual yang jelas tentang produk                                                        
39 40

Ibid, hal. 305  Ibid, hal 306 

   

32   

tersebut. Sedangkan iklan layanan masyarakat menginformasikan kepedulian produsen suatu produk terhadap fenomena sosial yang diangkat sebagai topik iklan tersebut. Dengan demikian, iklan layanan masyarakat umumnya menampilkan produk secara implisit.41 f) Program Televisi (TV Programme) Program ini diproduksi untuk komsumsi masyarakat televisi. Secara umum, program televisi dibagi menjadi dua jenis yakni cerita dan non cerita. Jenis cerita terbagi menjadi dua kelompok yakni kelompok fiksi dan kelompok non fiksi. Kelompok fiksi memproduksi film serial (tv series), film televisi/FTV (popular lewat saluran televisi SCTV) dan film cerita pendek. Kelompok non fiksi menggarap aneka program

pendidikan, film dokumenter atau profil tokoh dari daerah tertentu. Sedangkan program non cerita sendiri menggarap variety show, TV quiz, talkshow, dan liputan/berita.42 g) Video Klip (Music Video) Sejatinya video klip adalah sarana bagi produser musik untuk memasarkan produknya lewat medium Televisi.

Dipopulerkan pertama kali lewat saluran MTV tahun 1981. Di Indonesia, video klip ini kemudian berkembang sebagai bisnis yang menggiurkan seiring dengan pertumbuhan televisi swasta.                                                        
Heru Effendy, Mari Membuat Film: Panduan Untuk Menjadi Produser, (Yogyakarta: Panduan, 2004),cet. II, hal. 14  42 Ibid, hal. 14 
41

   

33   

Akhirnya video klip tumbuh sebagai aliran dan industri tersendiri. Beberapa rumah produksi mantap memilih video klip menjadi bisnis utama (core bisnis) mereka. Di Indonesia, tak kurang dari 60 video klip diproduksi tiap tahunnya.43 h) Film Cerita Pendek (Short Films) Durasi film cerita pendek biasanya dibawah 60 menit. Di banyak Negara seperti Jerman, Australia, Kanada dan Amerika Serikat, film cerita pendek dijadikan laboratorium eksperimen dan batu loncatan bagi seseorang atau kelompok orang untuk kemudian memproduksi film cerita panjang. Jenis film ini banyak dihasilkan oleh para mahasiswa jurusan film atau orang/kelompok yang menyukai dunia film dan juga yang memang mengkhususkan diri untuk memproduksi film pendek, umumnya hasil produksi ini dipasok ke rumah-rumah produksi atau saluran Televisi.44 i) Film Cerita Panjang (Feature-Length Films) Film cerita panjang adalah film yang berisi kisah manusia (roman) yang dari awal sampai akhir merupakan suatu keutuhan cerita dan dapat memberikan kepuasan emosi kepada penontonnya. Film cerita dapat diputar di gedung bioskop atau dibuat untuk acara televisi. Sebuah film cerita biasanya dimainkan oleh sejumlah pemeran (aktor atau aktris) dengan dukungan pemain lain. Film

                                                       
43 44

Ibid, hal. 14  Ibid, hal. 13 

   

34    cerita dapat berupa satu film dengan satu masa putar,45 dengan durasi dari 60 menit dan lazimnya berdurasi 90-100 menit. Bahkan ada juga yang berdurasi hingga 180 menit, seperti halnya film-film produksi India.46 Feature-Length Films biasanya dapat pula berupa film serial dengan masa putar lebih dari satu kali. Film serial misalnya ditujukan untuk penayangan film Televisi, seperti film-film sinetron yang disiarkan oleh berbagai televisi suasta saat ini. j) Film Dokumenter (Film Jurnal) Film jurnal biasanya dibuat untuk mendukung sebuah cerita. Film ini juga bisa diartikan sebagai film dokumenter, misalnya film-film yang ditayangkan dalam acara “Dunia dalam Berita TVRI”.47 Dokumenter adalah sebutan yang diberikan untuk film pertama karya Lumeire bersaudara yang berkisah tentang perjalanan (travelogues) yang dibuat sekitar tahun 1890-an. Tiga puluh enam tahun kemudian, kata ‘dokumenter’ kembali digunakan oleh pembuat film dari kritikus film asal Inggris John Grierson untuk film Moana tahun 1926 karya Robert Flaherty, Grierson berpendapat mempresentasikan                                                        
45

dokumenter merupakan cara kreatif Sekalipun Grierson mendapat

realitas.

Ensiklopedi Nasional Indonesia, (Jakarta: PT. Cipta Adi Pustaka, 1990) Jld. V, hal 306-

307  Heru Effendy, Mari Membuat Film: Panduan Untuk Menjadi Produser, (Yogyakarta: Panduan, 2004),cet. II, hal. 13  47 Ensiklopedi Nasional Indonesia, (Jakarta: PT. Cipta Adi Pustaka, 1990) Jld. V, hal 305 
46

   

35   

tantangan dari berbagai pihak, pendapatnya tetap relevan sampai saat ini. Film dokumenter menyajikan realita melalui berbagai cara dan dibuat untuk berbagai macam tujuan. Namun harus diakui, film dokumenter tak pernah lepas dari tujuan penyebaran informasi, pendidikan, dan propaganda bagi orang atau kelompok tertentu.48 Intinya, film dokumenter tetap berpijak pada hal-hal senyata mungkin. Film dokumenter juga berisikan segala sesuatu sesuai aturan dengan apa yang dilihat. Biasanya film ini berupa peristiwa penting yang diperkirakan tak akan terulang kembali. Film dokumenter dibuat dengan perhitungan matang, dengan editing, dengan credit title (daftar para pembuat film), dan sebagainya. Seiring dengan berjalannya waktu, muncul berbagai aliran dari film dokumenter misalnya Dokudrama (docudrama). Dalam dokudrama terjadi reduksi realita demi tujuan estetis, agar gambar dan cerita menjadi lebih menarik. Sekalipun demikian, jarak antara kenyataan dan hasil yang tersaji lewat dokudrama biasanya tak berbeda jauh. Dalam dokudrama realita tetap jadi konsep pegangan. Kini dokumenter menjadi trend tersendiri dalam perfilman dunia. Para pembuat film bisa bereksperimen dan belajar tentang banyak hal ketika terlibat dalam produksi film dokumenter. Tak                                                        
Heru Effendy, Mari Membuat Film: Panduan Untuk Menjadi Produser, (Yogyakarta: Panduan, 2004),cet. II, hal. 11-12  
48

   

36   

hanya itu, film dokumenter juga membawa keuntungan dalam jumlah yang cukup memuaskan. Ini bisa dilihat dari banyaknya film dokumenter yang bisa kita saksikan melalui saluran televisi seperti program National Geographic dan Animal Planet. Bahkan saluran Televisi Discoveri Channel mantap mentasbihkan diri sebagai saluran televisi yang hanya menayangkan program dokumenter tentang keragaman alam dan budaya. Selain untuk komsumsi televisi, film dokumenter juga lazim diikutsertakan dalam berbagai festival film di dalam dan luar negeri. Sampai nafas penghabisannya di tahun 1992, Festival Film Indonesia (FFI) memiliki kategori untuk penjurian jenis film dokumenter. Di Indonesia produksi film dokumenter untuk televisi dipelopori oleh stasiun pertama yaitu, Televisi Republik Indonesia (TVRI). Beragam film dokumenter tentang kebudayaan, flora dan fauna di Indonesia telah banyak dihasilkan TVRI. Memasuki era televisi suasta tahun 1990, pembuatan film dokumenter untuk televisi tidak lagi dimonopoli oleh TVRI. Semua televisi melihat banda-benda di sekililingnya seakan-akan ikut sedih. Juga sebaliknya, bila manusia sedang dalam kegembiraan bungabungapun ikut gembira seperti dia. Secara logis sebenarnya hal itu tidak mungkin, yang perlu adalah seniman itu memberi sugesti kepada pembaca untuk mentafsirkan ke arah maksudnya. Jadi kenyataan dalam seni adalah kenyataan yang mungkin ada, bukan

   

37   

sesuatu yang harus pernah terjadi. Untuk mengetahui dan mengatakan segalanya itu memerlukan alat yang berupa bahasa, yang dijadikan sedemikian rupa kenyataan itu menjadi intensif. Segala yang hendak diungkapkan seniman/penyair baik cita-cita, perasaan serta tafsir pengarang terhadap kejadian-kejadian dan sebagainya, baik diungkapkan secara terang-terangan atau

tersembunyi dinamakan isi sastra. 3. Pemanfaatan Film Sebagai Media Pendidikan Dalam proses pembelajaran, media telah dikenal sebagai alat bantu mengajar yang seharusnya dimanfaatkan oleh pengajar, namun kerap terabaikan. Tidak dimanfaatkannya media dalam proses pembelajaran, pada umumnya disebabkan oleh berbagai alasan, seperti waktu persiapan mengajar terbatas, sulit mencari media yang tepat, biaya tidak tersedia, atau alasan lain. Hal tersebut sebenarnya tidak perlu muncul apabila pengetahuan akan ragam media, karakteristik, serta kemampuan masingmasing diketahui oleh para pengajar. Media sebagai alat bantu mengajar berkembang demikian pesatnya sesuai dengan kemajuan teknologi. Ragam dan jenis mediapun cukup banyak sehingga dapat dimanfaatkan sesuai dengan kondisi, waktu, keuangan, maupun materi yang akan disampaikan. Setiap jenis media memiliki karakteristik dan kemampuan dalam menayangkan pesan dan informasi.49

                                                       
49

H. Hamzah B. Uno, Profesi Kependidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008) hal. 109 

   

38   

Pemilihan

media

pembelajaran

sekurang-kurangnya

dapat

mempertimbangkan lima hal yaitu: a. Tingkat kecermatan representasi b. Tingkat interaksi yang mampu ditimbulkan c. Tingkat kemampuan khusus yang dimilikinya d. Tingkat motivasi yang mampu ditimbulkan, dan e. Tingkat biaya yang diperlukannya50 Brunner mengemukakan dalam bahwa pengembangan suatu pembelajaran teori harus pembelajarannya bergerak dari

pengalaman langsung ke representasi ikon (seperti dalam gambar, dan film) selanjutnya ke representasi simbolik (seperti kata atau simbolsimbol).51 Banyak hal yang dapat dijelaskan melalui film, antara lain tentang: proses yang terjadi dalam tubuh manusia atau dalam suatu industri, kejadian-kejadian alam, tata cara kehidupan di negara asing,

pertambangan, mengajarkan keterampilan, sejarah orang-orang besar, dan lain sebagainya.52 Pentingnya pemanfaatan film dalam pendidikan sebagian didasari oleh pertimbangan bahwa film memiliki kemampuan untuk menarik perhatian orang, dan sebagian lagi didasarkan oleh alasan bahwa film memiliki kemampuan penyampaian pesan secara unik. Ringkasnya                                                        
50

Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2002),

hal. 152  Ibid, hal. 153  Asnawir dan M. Basyirusin Usman, Media Pembelajaran, (Jakarta: Ciputat Press, 2002) hal. 95 
52 51

   

39   

terlepas dari dominasi penggunaan film sebagai alat hiburan dalam sejarah film, tampaknya ada semacam aneka pengaruh yang menyatu dan mendorong kecenderungan sejarah film menuju ke penerapannya yang bersifat deduktif propagandanis, atau dengan kata lain bersifat manipulatif.53 Film merupakan suatu media yang mempunyai beberapa keuntungan-keuntungan antara lain: 1) Film sangat baik menjelaskan suatu proses, bila perlu menggunakan “Slow Motion” 2) Setiap murid dapat belajar sesuatu dari film, baik yang pandai maupun yang kurang pendai. 3) Film dapat menampilkan kembali masa lalu dan menyajikan kembali kejadian-kejadian yang telah lalu. 4) Film dapat mengembara dengan lincahnya dari satu negara ke negara yang lain, horizon menjadi amat lebar, dunia luas dapat dibawa masuk ke kelas. 5) Film dapat menyajikan teori ataupun praktek dari yang bersifat umum ke khusus atau sebaliknya. 6) Film dapat mendatangkan seorang ahli dan memperdengarkan suaranya. 7) Film dapat menggunakan teknik-teknik seperti warna, gerak lambat, dan sebagainya untuk menampilkan butir-butir tertentu.                                                        
53

Denis Mc Quil, Teori Komunikasi Massa: Suatu Pengantar, (Jakarta: Erlangga, 1996)

hal. 14 

   

40   

8) Film dapat memikat perhatian anak didik. 9) Film lebih realistis, dapat diulang-ulang, dihentikan, dan sebagainya sesuai dengan kebutuhan, hal-hal yang abstrak menjadi jelas. 10) Film dapat mengatasi keterbatasan daya indra kita. 11) Film dapat merangsang atau memotivasi kegiatan anak didik.54 Sebuah film sebaiknya harus dipilih terlebih dahulu agar sesuai dengan pelajaran yang diajarkan, untuk pendidik harus menyeleksi film yang tersedia dan lebih dulu melihatnya untuk mengetahui manfaatnya bagi pelajaran. Ada kalanya film tertentu perlu diputar dua kali atau lebih untuk memperhatikan aspek-aspek tertentu. Agar penonton jangan memandang film itu sebagai hiburan, sebelumnya pada mereka ditugaskan untuk memperhatikan hal-hal tertentu sesudah itu dapat dites berapa banyak yang dapat mereka serap dari film itu. Penggunaan film dalam pendidikan benyak memberikan manfaat, antara lain: a) Dalam film terpadu antara “gerak pandang dengar” yaitu kegiatan melihat benda dan obyek yang bergerak dan kegiatan mendengar berbagai suara dari padanya berlaku secara serempak atau sekaligus pada saat yang bersamaan.

                                                       
Arief S Sadiman dkk, Media Pendidikan Pengembangan dan Pemanfaatannya, (Jakarta: PT Raja Grapindo Persada, 1993), hal. 71 
54

   

41   

b) Film dapat menarik perhatian melalui penggunaan gerak dan mengarahkan pandang kepada gambar-gambar seraya menyimak suara yang dikeluarkan. c) Dapat membantu mengatasi hambatan intelek untuk mempelajari sesuatu. Misalnya, bagi murid yang kurang pandai membaca atau sulit memahami konsep yang rumit, maka melalui film pengertianpengertian itu lebih jelas dan mudah dipahami atau

dikomunikasikan secara efisien. d) Dapat membantu menghadirkan atau menciptakan kembali masa lampau. Sejarah masa lampau, kini, atau sedang berlangsung menjadi lebih hidup dan dapat meyakinkan melalui penggambaran film, penonton seolah-olah turut menjadi pelaku sejarah dan sering kali menimbulkan kenangan emosional. e) Dapat membentuk pengalaman kebersamaan dengan menjebatani latar belakang yang berbeda daripada anggota kelompok. Misalnya, sebuah film yang mengisahkan dramatis, dibuat sedemikian rupa sehingga menimbulkan dan menjadi masalah bersama untuk didiskusikan. Komunikasi antara kelompok biasanya membuktikan adanya pengaruh dari pengalaman bersama yang diperoleh dari film yang ditontonnya tadi. f) Merupakan “garis depan” untuk berbagi pengalaman belajar murid. Demonstrasi yang diperhatikan dalam film oleh seorang ahli secara teliti, cermat dan meyakinkan akan dirasakan murid seolah-olah ia

   

42   

sendiri yang mengalami dan melakukannya, padahal itu hanya dilihat dalam film. g) Mengatasi keterbatasan-keterbatasan jasmaniah dalam belajar, melalui film murid dapat mempelajari dan mengalami hal-hal yang berada di luar kemampuan jasmaniahnya. Misalnya. Mempelajari kehidupan di dasar laut, mempelajari kehidupan keras di padang pasir dan di tambang-tambang atau kehidupan di rimba yang seram dan menakutkan. h) Beberapa film tertentu dapat digunakan sebagai alat penilaian, karena fleksibilitas film, yaitu dapat dipertunjukkan sebagian atau menghentikan putarannya pada saat-saat yang dikehendaki. Film dapat dijadikan alat yang baik dalam menilai beberapa aspek belajar siswa.55 B. Deskripsi Film The Ron Clark Story 1. Gambaran Cerita (sinopsis) Film yang disutradarai Randa Haines ini berdasarkan kisah nyata tentang seorang guru yang gigih dan sabar menghadapi murid-muridnya yang super nakal dan susah untuk diatur. Ron Clark (dibintangi oleh Matthew Perry) adalah seorang guru bantu dari pinggiran kota asalnya, North Carolina. Empat tahun dia mengajar di North Carolina dan menjadi guru berprestasi yang mengantar anak-anaknya mendapat nilai baik. Setelah empat tahun mengajar, Ron Clark diberhentikan karena dia hanya                                                        
Zakiyah Daradjat, dkk, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), hal. 225-229 
55

   

43   

sebagai guru bantu dan pihak sekolah mulai mengurangi tenaga pengajarnya. Ron Clark memutuskan untuk mencari pekerjaan mengajar di sebuah sekolah di kota New York karena menurutnya New York sangat membutuhkan guru sekolah dasar. Setelah dia pindah ke New York, dia tinggal di sebuah hotel sederhana. Dari penjaga hotel tersebutlah dia meminta buku daftar sekolah di kota New York. Satu persatu dia mendatangi sekolah tersebut, namun beberapa kali ditolak karena mereka sudah tidak membutuhkan guru lagi. Untuk mengisi waktu sambil mencari sekolah lain, Ron Clark bekerja sebagai pramusaji restoran makanan dimana mereka harus mengenakan kostum artis film. Perjalanan selanjutnya dia diterima di sekolah Inner Harlem Elementary School (IHES). dimana siswa dipisahkan sesuai dengan potensi mereka. Sebenarnya kepala sekolah Mr Turner ingin

menugaskannya di kelas terbaik, terutama karena keamanan kerja Mr Turner tergantung pada nilai tes yang bagus. Namun, Mr Clark bagaimanapun ingin mengambil kelas yang paling dirugikan. Dia cepat belajar bahwa itu akan menjadi tantangan bagi dirinya untuk dapat memperbaiki para siswanya. Tetapi harus belajar pula bahwa dia harus memahami siswanya, baik secara individu maupun kolektif, pada tingkat permasalahannya untuk bisa sampai diterima mereka sebelum dia dapat mengajarnya dengan bahan standar. Kelas yang dipegang Mr Clark adalah kelas yang siswanya super nakal dengan keinginan belajar yang rendah.

   

44   

Sebagian anak di kelas Mr Clark berasal dari keluarga tidak mampu dan bermasalah. Mr. Clark adalah seorang guru muda yang energik, kreatif, dan idealistik dalam mengajar di sekolah. Langkah awal sebelum mulai mengajar, dia mendatangi rumah siswa-siswanya dan berbicara dengan orang tua serta melihat kondisi untuk mengetahui latar belakang dari siswanya. Dan ternyata dari hal tersebut dapat diketahui bahwa kebanyakan para orang tua tidak menaruh perhatian terhadap pendidikan anak-anaknya. Hari pertama mengajar di kelas, dia begitu keheranan melihat siswa-siswanya yang tingkah lakunya kurang baik. Baru masuk kelas disorakin, diajak belajar tidak mau, tingkah laku seperti preman, sampah bertebaran di mana-mana, dinding dicorat-coret, bahkan mobilnyapun juga ikut dicoret menggunakan cat. Mr Clark kemudian memperbaiki kondisi kelasnya,

menghilangkan coretan-coretan, dan sedikit merubah tatanan menjadi lebih baik. Namun justru kepala sekolah melarang hal tersebut, karena menurutnya kelas hanya bisa ditata menurut keinginannya. Di akhir pelajaran dia pergi ke luar mengejar siswa membawa lodong dan menyuruh anak-anak untuk membuang permen karetnya di tempat tersebut dan tidak di sembarang tempat. Pada pertemuan selanjutnya Mr Clark mulai membuat peraturanperaturan agar anak merubah sikapnya. Namun para siswa

   

45   

mengacuhkannya dan papan tulisan peraturan tersebut dilempari buku hingga terjatuh di bawah. Setelah istirahat beberapa siswa sedang bertaruh terhadapnya bahwa dia tidak akan lama lagi berhenti mengajar dan keluar dari sekolah. Saat para siswa makan siang, mereka mulai dibiasakan dengan tertib untuk berbaris mengambil antrian makanan. Salah satu siswa mengacuhkan hal tersebut dan langsung menuju tempat makanan berada, sedangkan Shameika memotong barisan dan menuju ke barisan paling depan agar dia mendapat giliran paling awal. Menghadapi ini, Mr Clark tidak memarahinya tetapi memberikan nasehat kepadanya bahwa perbuatan tersebut tidak baik supaya anak-anak terbisa dengan kedisiplinan. Tidak mudah untuk mengambil hati anak-anak yang selalu kompak ingin mengusir guru yang mengajar di kelasnya. Bahkah Mr Clark pernah kehilangan kendali memarahi seorang muridnya dan karena hal tersebut dia merasa begitu bersalah sampai memutuskan untuk berhenti mengajar. Namun, seorang teman Marissa Vega menganjurkan agar Clark tidak menyerah. Sehingga dia tersadarkan akan amanah yang sedang dia pegang, dia tidak boleh melalaikannya. Karenanya, dia memulai kembali lembaran baru dan melupakan lembaran lamanya yang dirasa gagal dalam mendidik. Di lembaran barunya, dia menggunakan kreativitasnya dalam mengajar. Berbagai ide muncul di otaknya, awalnya dia menegaskan kalau

   

46   

seisi kelas itu adalah keluarga dan harus saling menghormati. Dia juga menambahkan peraturan dan hukuman yang diterapkan di kelas. Meskipun pertama kalinya selalu ditolak murid-muridnya, dia tetap memberlakukan peraturan dan hukuman itu hingga tidak ada satupun yang berani melanggar. Pada kesempatan lain Mr Clark menyediakan minuman coklat dalam jumlah yang sangat banyak yang akan dihabiskannya di dalam kelas jika murid-muridnya yang selama ini tidak bisa diam di kelas, ataupun bercerita panjang lebar yang tak ada kaitannya dengan mata pelajaran sekolah bisa diam dan memperhatikan penjelasan pelajaran tata bahasanya. Di mana resiko yang harus diterima Mr Clark adalah kemungkinan muntah di hadapan murid-muridnya karena terlalu banyak minum coklak, setiap penjelasan pelajaran lima belas detik dan anak-anak mau diam mendengarkannya maka Mr Clark meminum satu kotak susu coklatnya. Tekad yang sudah kuat dan ketulusan hati seorang Clark ternyata menjadikannya mampu bertahan hingga kotak minuman terakhir, dan tentu saja hal ini menjadikan murid-muridnya menyimak pelajaran dengan baik dan salah satu murid bisa menjawab pertanyaan mengenai pelajaran tersebut. Mr Clark juga masuk ke dalam dunia murid-muridnya. Di waktu istirahat, dia ikutan main lompat tali bersama mereka. Dia bertaruh pada anak-anak jika dia bisa melakukannya maka para murid harus mempelajari sesuatu darinya. Ternyata Mr Clark berhasil melakukan lompat tali dari

   

47   

beberapa kegagalan diawalnya dan murid-murid bertepuk tangan untuk itu. Dia juga memasukkan metode baru dalam menghafal, yaitu dengan musik. Materi sejarah presiden Amerika dibawakan Mr Clark dengan

menyanyikan menggunakan irama Rap. Murid-murid tampak suka dan mengikuti nyanyiannya dan Mr Clark telah berhasil mengambil hati mereka. Mr Clark siap membantu anak-anak dalam menyelesaikan tugas. Bahkan dia sampai memberikan no telp dan bisa dihubungi kapanpun waktunya 24 jam setiap hari kepada siswa yang menemui kesulitan dalam mengerjakan tugasnya. Shemaika adalah salah satu siswa yang dibantu mengerjakannya. Dia mendatangi rumahnya agar dia menunjukan pekerjaan rumah karena di sekolah dia belum menyerahkannya. Setelah diperlihatkan ternyata ada beberapa yang perlu diperbaiki dan Shemeika harus melakukannya. Baru saja mulai mengerjakan, kedua adik-adiknya telah datang dari penitipan anak-anak. Maka tugas untuk membuat makanan adik-adiknya dikerjakan oleh Mr Clark sementara Shemeika melanjutkan menyeleseikan tugas pekerjaan rumahnya. Namun ibu Shemeika kembali kerja malah mengusirnya dan tidak menyukai campur tangann Mr Clark. Keesokan hari dia melaporkan kepada kepala sekolah bahwa perbuatan itu telah meresahkannya, dia meminta kepala sekolah agar diperhentikan. Mr Clark berhasil meyakinkan Ibu Shemeika bahwa

anaknya seorang yang berpotensi dan dia berjanji bisa meluluskannya agar

   

48   

dia bisa melanjutkan ke sekolah favorit kelak. Sehingga Ibu Shemeika sudah bisa menerimanya. Dalam perjuangannya mengubah sikap murid-muridnya yang bertingkah laku buruk dan tidak antusias dalam belajar menjadi murid yang pintar dan berakhlak baik, tentu saja tidak mudah baginya. Banyak sekali tekanan-tekanan yang datang kepadanya, dicaci maki murid, orang tua siswa, sampai kepala sekolah. Rintangannyapun tidak kalah banyaknya, ketika dia sakit parah, dia bertekad harus tetap mengajar. Namun baru sebentar menjelaskan pelajaran, dia jatuh pingsan dan di bawa ke rumah sakit. Kata dokter dia menderita penyakit pneumonia dan harus beristirahat selama dua minggu. Waktu ujian nasional kurang sebulan lagi, maka Mr Clark tidak bisa tinggal diam, dia meminta bantuan temannya merekamnya untuk pembelajaran anak-anak di kelas. Sehingga murid-muridnya belajar di kelas dari Mr Clark yang ada di dalam rekaman video. Begitulah dia berupaya dengan pikiran dan usaha fisiknya untuk menghadapi berbagai kemungkinan. Atas perjuangannya yang dia korbankan dengan jiwa dan tenaganya itu, dia berhasil mengubah sikap murid-muridnya. Semula sikap muridnya tidak suka kepadanya, sekarang mereka sudah menerima dengan baik. Setelah masuk kelas dari kesembuhannya, terjadi dialog yang cukup menarik antara Mr Clark dengan anak-anak. Dialog ini menunjukkan bahwa sebenarnya anak-anak hanya kurang percaya diri saja

   

49   

dalam menghadapi ujian nasional. Mr Clark juga mengatakan bahwa apa yang telah mereka capai pada titik itu, terutama perubahan sikap mental, jauh lebih berharga dari ujian nasional. Keberhasilan anak-anak dalam memperbaiki perilakunya membuat ujian nasional bukan masalah yang terlalu besar. Ujian nasionalpun berjalan, para siswa mengikuti ujian tersebut dengan sebaik-baiknya. Dan para guru merasa cemas, khawatir jika murid mereka ada yang tidak lulus termasuk Mr Clark. Namun setelah diumumkan hasil ujiannya, ternyata semuan murid Mr Clark lulus dengan nilai baik. Bahkan kelas Mr Clark diberitahukan langsung oleh Mr Turner berhasil menjadi kelas dengan nilai tertinggi dari kelas-kelas yang lain.

Gambar 1. Ron Clark bersama beberapa muridnya 2. Harapan dan Tujuan Pembuatan Film Setiap produser film dan penulis skenario, ketika membuat film serta menayangkannya baik dalam bentuk film di televisi, bioskop, kepingan cakram padat (VCD/DVD) dan sejenisnya, mempunyai harapan

   

50    dan tujuan yang hendak dicapai,56 sebagaimana pembuatan The Ron Clark Story ini, berdasarkan pada salah satu kelas Inner Harlem Elementary School dan Ron Clark sebagai pengampunya mempunyai tujuan yang hendak dicapai, adapun yang menjadi tujuan dibuatnya film ini selain untuk menghasilkan materi ada hal lain yang dapat diambil pelajaran yaitu sebagai seorang pelajar, dapat lebih menghormati dan menghargai antara satu dengan yang lainnya terlebih kepada gurunya, tidak hanya mementingkan dan memikirkan diri sendiri. Untuk seorang guru dapat lebih memahami permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh masingmasing peserta didik sehingga tahu akan keragaman bentuk perilakunya, dan juga sebagai pendidik hendaknya bisa menanamkan kedisiplinan para siswanya yang bisa membentuk perilaku yang baik, sehingga bisa menjalani kehidupan di sekolah, di rumah dan di masyarakat dengan baik. Setelah diketahui akar permasalahan yang dihadapi masingmasing murid, sebagai seorang guru hendaknya mampu memilah jalan mana yang layak ditempuh untuk ikut atau berperan serta dalam menyeleseikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh muridmuridnya, untuk menghadapi itu semua diperlukan pemikiran yang cerdas dan tepat guna, jika di dalam kelas terdapat masalah antar murid, yang menjadi kunci penengahnya (mediator) adalah pendidik itu sendiri. Atas dasar inilah, maka merupakan sebuah amanah yang cukup berat bagi seorang pendidik untuk dapat mengatasi segala permasalahan                                                        
Adnan,CommersialBreak,http://adnanscript.blogspot.com/2008_12_01_archive.html.G oogle acces 05 Januari 2011 
56

   

51   

yang ada di kelas, guna terciptanya pembelajaran yang baik, meski guru bukanlah satu-satunya orang yang dapat menentukan berhasil atau tidaknya para murid, tetapi setidaknya sebagai seorang guru dapat ikut serta memperlancar para murid untuk menuju masa depan yang lebih cerah, meski hanya sekedar membantu dan membimbing para murid setiap saat, ketika para murid membutuhkan. Seperti telah disebutkan sebelumnya, guru bukanlah satu-satunya faktor penentu sukses atau tidaknya para murid, melainkan hanya sebagai fasilitator untuk peserta didiknya, yang menentukan berhasil atau tidaknya para murid itu ditentukan oleh masing-masing murid tersebut. Seberapa besarkah keinginan para murid untuk menggapai cita-citanya atau seberapa besarkah ia mempunyai tekad dan melakukan perubahan lebih baik di masa depannya. Itu semua tergantung dengan kemauan dan keinginan (kembali) pada masing-masing individu.57 Dalam gambaran film The Ron Clark Story jelas tersampaikan bahwa bukan saja fungsi hiburan dan penerangan saja yang ditonjolkan tetapi lebih kuat pada proses pendidikan dan pengajaran, yaitu pentingnya mengelola kelas dengan efektif. Dan jelas sekali bahwa film The Ron Clark Story juga menunjukkan bahwa guru adalah orang yang terpercaya untuk mengubah kesadaran dan memulihkan tingkah laku para peserta didik.

                                                       
57

http://www.psb-psma.org/content/blog/peran-guru-sebagai-fasilitator acces 15 Januari

2011 

   

52   

3. Pesan Utama Film a. Jiwa pengajar sebagai karakter guru Tugas guru sebagai pengajar merupakan suatu pekerjaan yang tidak sederhana dan mudah. Sebaliknya, mengajar sifatnya sangat kompleks karena melibatkan aspek pedagogis, psikologis dan didaktis secara bersamaan. Aspek pedagogis menunjuk pada kenyataan bahwa mengajar di sekolah berlangsung dalam suatu lingkungan pendidikan. Oleh karena itu, guru harus mendampingi para siswanya menuju kesuksesan belajar atau kedewasaan. Aspek psikologis menunjuk pada kenyataan bahwa para siswa yang belajar pada umumnya memiliki taraf perkembangan yang berbeda satu dengan lainnya, sehingga menuntut materi, metode, dan pendekatan yang berbeda antara satu siswa dengan siswa lainnya. Demikian pula halnya dengan kondisi para siswa, kompetensi, dan tujuan yang harus mereka capai juga berbeda. Selain itu, aspek psikologis menunjuk pada kenyataan behwa proses belajar itu mengandung variasi. Cara penangkapan siswa terhadap materi pelajaran tidak sama. Cara belajar juga beragam. Belajar sendiri dipengaruhi oleh beragam aspek yang saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Rumitnya aspek yang harus dipertimbangkan ketika

melaksanakan tugas mengajar, menjadikan tidak semua orang mau dan mampu untuk menjadi guru. Hanya orang yang memenuhi kriteria yang

   

53   

tepat saja yang seharusnya tepat untuk menduduki posisi sebagai seorang guru.58 Ron Clark adalah sosok yang tepat mengemban tugas guru sebagai pengajar. Dia mendedikasikan kehidupannya untuk membantu anak-anak supaya menjadi siswa yang berhasil. Indikasi dari keberhasilan itu selain nilai ujian nasional siswanya terbaik diantara siswa kelas lainnya, dia juga mampu merubah sikap para siswanya menjadi lebih bermoral dan disiplin. Tidak seperti guru lain yang memilih menyerah ketika menghadapi para siswa sekolah dasar Harlem yang bertingkah laku buruk, Ron Clark justru tertantang untuk menghadapi dan berusaha merubahnya supaya menjadi siswa yang berhasil. Ron Clark adalah guru yang penuh semangat, tidak mudah menyerah untuk mengajari siswa-siswanya. walaupun kondisi para siswanya sungguh sangat di luar dugaan, mereka kurang menaruh perhatian terhadap pembelajaran di kelas. Untuk itu, Ron Clark melakukan usaha dengan berbagai cara untuk mengatasi hal tersebut. Pada mulanya ia datangi orang tua siswa. Hal itu bertujuan untuk memperoleh gambaran latar belakang para siswanya satu persatu. Usaha selanjutnya yaitu menata dan membuat ruang kelas serapi mungkin. Hal itu dilakukan setelah para siswa mengacak-acak kelas yang menunjukkan sikap tidak suka dan ingin mengusir guru yang                                                        
Ngainun Naim, Menjadi Guru Inspiratif,Memberdayakan dan Mengubah Jalan Hidup Siswa, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hal. 16 
58

   

54   

mengajarnya. Namun Mr Clark tidak lantas diam diri, ia rela meluangkan waktunya untuk memperbaiki kelas tersebut hingga membuatnya lebih rapi dari sebelumnya. Karena pengajarannya belum sekalipun berhasil pada awal pembelajaran, maka usaha Mr Clark yaitu merubah metode konvensional yang biasa guru lakukan pada kelasnya namun tidak membuat siswa tertarik untuk belajar tersebut dengan metode baru yang mungkin tidak biasa, namun mampu membuat siswa belajar dengan baik di kelas. Metode baru tersebut mungkin agak aneh, akan tetapi sungguh sangat efektif dilakukan untuk menghadapi para murid yang berlaku buruk sebab pembelajaran lebih menarik dan menantang. Setelah pembelajaran berlangsung dengan baik ia menolong murid yang nilainya kurang baik ketika diadakan ujian. Ron Clark sampai memberikan no telp dan menyuruh siswa menghubunginya ketika para siswa menemui kesulitan dalam belajarnya kapanpun waktunya. Usaha-usaha Ron Clark sungguh sangat luar biasa, ia bekerja keras demi anak-anak didiknya. Bahkan sempat ia jatuh sakit hingga harus beristirahat. Namun ia tidak lantas bersantai dalam peristirahatan, ia sempatkan mengajarnya dengan menggunakan rekaman video. Begitulah, usaha Ron Clark patut untuk diapresiasi, ia sungguh menaruh perhatian penuh terhadap siswanya. Guru senantiasa dihadapkan pada peningkatan kualitas pribadi dan sosialnya. Jika hal ini dapat dipenuhi maka keberhasilan lebih cepat diperoleh, yaitu mampu melahirkan peserta didik yang berbudi luhur,

   

55   

memiliki karakter sosial dan profesional sebagaimana yang menjadi tujuan pokok pendidikan itu sendiri. Karakter pribadi dan sosial bagi seorang guru dapat diwujudkan sebagai berikut: 1. 2. 3. Guru hendaknya pandai, mempunyai wawasan luas Guru harus selalu meningkat keilmuannya Guru meyakini bahwa apa yang disampaikan itu benar dan bermanfaat 4. 5. 6. Guru hendaknya berpikir obyektif dalam menghadapi masalah Guru hendaknya mempunyai dedikasi, motivasi dan loyalitas Guru harus bertanggung jawab terhadap kualitas dan kepribadian moral 7. 8. 9. Guru harus mampu merubah sikap siswa yang berwatak manusiawi Guru harus menjauhkan diri dari segala bentuk pamrih dan pujian Guru harus mampu mengaktualisasikan materi yang

disampaikannya 10. Guru hendaknya banyak inisiatif sesuai perkembangan iptek59 b. Pentingnya Mengenal Masalah Perilaku Anak Berbagai bentuk perilaku anak akan ditemui oleh guru di sekolah, seperti anak agresif, tidak bisa tenang dan suka bertengkar, pemalu dan lebih suka menyendiri, suka menangis, dan suka memukul. Perilaku-perilaku tersebut merupakan tanda bagi guru bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada diri anak, atau dengan kata lain mereka                                                        
59

Thoifuri, Guru Inisiator, (Semarang: Rasail Media group, 2008), hal. 4 

   

56   

sedang menghadapi masalah. Guru perlu mengerti bahwa perilaku tersebut ada sebab atau latar belakangnya. Oleh karena itu guru perlu mengetahui penyebab dari masalah-masalah yang dihadapi anak tersebut. Demikian halnya dengan berbagai bentuk perilaku anak tersebut juga terdapat dalam film The Ron Clark Story. Jason adalah siswa yang agresif, tidak suka tenang dan selalu mencari perhatian dari seorang guru. Ia selalu menjadi siswa yang pertama yang mencoba melanggar peraturan yang diberikan oleh seorang guru. Ia suka duduk di atas kursi dan menghadap kebelakang dalam kelas ketika guru menjelaskan pelajaran pada siswa-siswanya. Sedangkan Shameika adalah siswi yang berpengaruh cukup kuat diantara para siswasiswinya. Ia suka berkelompok dengan beberapa orang siswi dan

menjadi ketua darinya. Ketika tidak menyenangi seseorang siswa yang lain ataupun guru maka teman-teman anggotanya itu juga akan mengikuti sikap sepertinya. Dalam kegiatan belajar mengajar di kelaspun, hanya Shameikalah yang paling gemar melawan dan menentang apa yang menjadi kehendak gurunya. Lain halnya dengan hal tersebut, Badriyah adalah siswi yang pemalu. Ia lebih suka menghabiskan waktu bermainnya sendirian di kala istirahat daripada bermain kelompok dengan teman-temannya. Kadang malah ia suka diganggu oleh teman-temannya dengan diambil tasnya dan dikeluarkan semua barang-barangnya, namun ia sama sekali tidak melawannya. Dan

   

57   

Tayshawn adalah siswa yang suka berkelahi dengan teman yang tidak disukainya. Perilaku anak di kelas, di depan guru, teman-temannya atau di depan orang lain disebabkan oleh pengalaman-pengalaman yang telah diperoleh anak, kondisi yang dihadapinya saat itu, dan dapat pula disebabkan oleh berbagai keinginannya. Hal ini telah berkembang dalam diri anak atau dapat pula merupakan hasil interaksi antara dirinya dengan semua aspek lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat umumnya. Tingkah laku anak di dalam kelas merupakan pencerminan dari keadaan keluarganya. Bagi keluarga yang kurang stabil dapat menimbulkan ketegangan pada diri anak dan membuat mereka kurang berhasil dengan baik untuk memenuhi tuntutan akademik dan tuntutan sosial di sekolah. Setelah diselidiki latarbelakang keluarga beberapa siswa dalam film The Ron Clark Story, ternyata banyak diantaranya yang tidak stabil. Orang tua Jason adalah orang tua yang sudah cerai, dan Jason diasuh oleh ibunya. Sehingga ibunya tidak bisa mengontrol dengan optimal perilaku-perilaku putranya tersebut yang nota bene dia suka mencuri. Ketika guru Clark berkunjung di rumahnya Ia mendapati Jason sedang mencuri tas milik Ibunya yang ditaruh diruang tamu. Setelah beberapakali pertemuan dalam kelas dan Mr Clark meminta Jason mengeluarkan apa yang ada disakunya, beberapa barang curian

   

58   

seperti CD walkman, yang ternyata adalah barang curian masih saja ada. Hal itu mengindikasikan bahwa perilaku mencuri Jason tersebut adalah sudah menjadi kebiasaan. Badriyah, orang tuanya adalah kawin silang antar Negara, ayahnya seorang Amerika dan ibunya seorang India. Sehingga dia berasal dari dua budaya yang berbeda yang membuat dia kadang kesulitan mencapai titik temu antara keduanya. Shemeika diasuh tunggal oleh ibunya. Saudaranya tiga orang yang kesemuanya adik-adik dibawah umurnya. Ibunya mempunyai dua pekerjaan sekaligus, sehingga pulang larut malam. Dan adik-adiknya setelah pulang sore diantarkan pengasuh anak, menjadi tanggungjawab Shameika untuk memasakkan makan malam dan menemaninya hingga ibunya pulang rumah. Sedang Tayshawn, kondisi orang tuanya juga sudah bercerai namun dia diasuh oleh ayahnya. Kadangkala, sang ayah tidak mau memahami keinginan sang anak, sehingga ketika kamar Tayshawn digambar grafity ia marah dan menghajarnya hingga ia berdarah dan diusir oleh ayahnya. Sehingga kepala sekolah Mr Turner mencarikan tempat tinggal sementara buatnya. Ada suatu anggapan bahwa masalah-masalah anak tidak dapat ditinggalkan di rumah. Bagaimanapun anak akan membawanya ke sekolah sehingga dapat mengganggu proses pembelajaran di kelas. Bahkan mungkin proses pembelajaran menjadi tidak terjadi sama sekali, apabila anak mengalami tekanan batin karena keamanannya terancam, dan kebutuhan psikologisnya tidak terpenuhi, merasa

   

59   

terkucilkan, merasa tidak dihargai, dan merasa tidak disenangi. Dalam kondisi seperti itu, kemampuan anak untuk belajar menjadi terhalangi sehingga usaha guru untuk melaksanakan proses pembelajaran menjadi sia-sia saja. Seperti halnya dalam film The Ron Clark Story, kegiatan belajar-mengajar tidak terjadi sama sekali ketika Mr Clark mulai mengajar pertama kalinya. Berikut cuplikan dialog filmnya: Clark Julio Shameika Clark Lolita Shameika Clark : (menempelkan kertas “mimpi besar, ambil resiko”). : “pikirkan cara itu! “ : “aku bermimpi tentang ibumu” : “silahkan duduk!” : “hey guru, Shameika sakid hari ini” : “ya sakit kepada guru” : “oke, karena hari ini adalah hari pertama mengajar,aku punya kejutan untuk kalian semua” Julio Clark Julio Clark Shameika Clark Shameika Clark : “apa?” : “aku katakan padamu Julio jika kau berputar!” : (baru berputar menghadap ke depan) : “hari ini tidak ada pekerjaan rumah” : (membanting buku) : “Shameika jangan lakukan itu!” : (membanting buku lagi) : “Shameika jangan atau….”

   

60   

Shameika

: “atau apa…..” “Apa yang akan kau lakukan? Skor?” “Lakukan!”

Julio Clark

: “dia seperti orang bodoh” : (menggebrak pintu), “Duduk!”

(Sebagian siswa yang tadinya duduk diatas meja terus duduk di kursi) Clark : (menunjukkan kertas kita adalah keluarga) “Kalian lihat ini, itu berarti tahun ini akan berbeda, tahun ini kita akan menjadi keluarga” Julio Clark : “sepertinya kau berbeda” : “aku akan menjadi keluarga kalian, dan kalian akan menjadi keluargaku, itu berarti aku tidak akan pergi dan kau tidak akan pergi” (menaruhkan buku di meja Shameika) Shameika : (mengambil buku itu dan melemparnya berbalik ke belakang dan mengobrol sama teman di

belakangnya, diikuti teman-teman yang lainpun juga beraktifitas ada yg memutar mutar benda berlubang, ada yang melempar bola tennis ke atas, dan sebagian siswa ramai mengobrol dengan siswa yang lain).

   

61   

Tampak bahwa keadaan kelas tersebut sangat kacau, Mr Clark tidak dapat menguasai kelas sama sekali. Anak-anak berperilaku sesuka hatinya sendiri dan menunjukkan bahwa mereka tidak mau diajar. Bahkan Shameika dengan terang-terangan melawan guru dan tidak mematuhi apa yang dikatakan.

Gambar 2. Ekspresi Ron Clark selesai pelajaran pertamanya Pekerjaan guru tidak akan berhasil dengan baik apabila ia tidak atau kurang memahami anak. Apabila guru ingin sukses dalam melaksanakan pembelajaran, maka pengelolaan kelas yang dilakukan hendaknya mencakup usaha guru untuk memahami masalah-masalah anak dan dapat mengambil langkah penyelesaiannya dengan tepat dan benar.

   

62   

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Masalah Perilaku Siswa Di Kelas Dalam Film The Ron Clark Story Masalah pengelolaan kelas yang bersumber dari anak dapat dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu masalah individual dan masalah kelompok. Untuk melakukan pengelolaan kelas yang efektif diperlukan kehatihatian dalam mengidentifikasi suatu masalah, apakah masalah ini bersifat individual atau kelompok. Kekurang hati-hatian guru dalam memahami masalah dapat menyebabkan kekeliruan dalam menentukan jenis masalah yang muncul. Misalnya, bisa saja terjadi masalah kelompok dilihat sebagai masalah individual atau sebaliknya. 1. Masalah individual Masalah individual dalam film The Ron Clark Story sesuai dengan pendapat Syaiful B Djamarah. Masalah Individual adalah masalah pengelolaan kelas yang sumber penyebabnya adalah individu anak. Ada empat kategori masalah individual dalam kelas, yaitu: a. Tingkah laku yang ingin mendapatkan perhatian orang lain Siswa yang mempunyai perasan yang ingin diperhatikan, berusaha mencari kesempatan pada waktu yang tepat untuk melakukan perbuatan yang dikiranya dapat menarik perhatian orang lain. Apabila perilaku tersebut tidak dapat menarik perhatian orang lain (temannya),

   

63   

maka ia mencari cara lain yang lebih brutal. Tingkah laku tersebut misalnya membadut dalam kelas atau berbuat serba lamban, sehingga harus diberi bantuan ekstra. Sejumlah sikap sebagai wujud dari bentuk perilaku tersebut di antaranya: 1) Anak sering menunjukkan gerak tubuh atau perilaku yang tampak kebodoh-bodohan atau berbuat aneh yang semata-mata untuk menarik perhatian kelas 2) Anak tertawa lebih keras dibandingkan teman-temannya 3) Anak suka bercanda dan sering menggoda teman sebelahnya 4) Anak pura-pura sakit b. Tingkah laku untuk menguasai orang lain Tingkah laku yang ditunjukkan oleh siswa untuk menguasai orang lain ada yang bersifat aktif dan ada pula yang bersifat pasif. Perilaku yang bersifat aktif misalnya selalu mendebat atau kehilangan kendali emosional (marah-marah, menangis). Sedangkan perilaku yang bersifat pasif umpamanya selalu lupa pada peraturan-peraturan kelas yang sudah disepakati sebelumnya. Sejumlah sikap sebagai wujud dari bentuk perilaku tersebut di antaranya: 1) Anak sering mendebat dan kehilangan kontrol 2) Anak cenderung menunjukkan perilaku yang selalu ingin

mengalahkan orang lain

   

64   

3) Anak marah-marah (tindakan aktif) dan melakukan tindakan agresif 4) Anak melakukan tindakan-tindakan fisik yang dapat menyakiti orang lain c. Perilaku untuk membalas dendam Siswa yang berperilaku seperti ini biasanya siswa yang merasa lebih kuat, dan yang menjadi sasarannya biasanya adalah orang yang lebih lemah. Tingkah laku seperti ini diantaranya mengatai, mengancam, mencubit, memukul, menendang dan sebagainya. Sejumlah sikap sebagai wujud dari bentuk perilaku tersebut di antaranya: 1) Anak pura-pura tidak mengerti sehingga selalu bertanya 2) Anak menarik diri sama sekali dan tidak mau melaksanakan kewajiban-kewajibannya 3) Anak selalu lupa pada aturan-aturan penting dalam kelas 4) Anak memiliki rasa permusuhan atau menentang kepada semua peraturan d. Peragaan ketidakmampuan. Siswa yang termasuk kedalam kategori ini biasanya sangat apatis (masa bodoh) terhadap pekerjaan apapun, misalnya menolak mentah-mentah untuk melakukan suatu pekerjaan, karena ia yakin akan menemui kegagalan. Kalaupun mau juga melakukan, tetapi ia

   

65   

melakukannya tidak dengan sepenuh hati. Bahkan ada kecenderungan berusaha mencontek hasil pekerjaan teman yang ada disampingnya.60 Sejumlah sikap sebagai wujud dari bentuk perilaku tersebut di antaranya: 1) Anak selalu menunjukkan kegiatan yang lamban 2) Anak tidak mau sama sekali menerima tugas yang diberikan kepadanya dan selalu mengatakan tidak bisa 3) Anak merasa pesimis atau putus asa terhadap semua keadaan 4) Anak pasif atau potensi rendah serta datang ke sekolah tidak teratur Bentuk-bentuk perilaku tersebut menimbulkan masalah dalam kelas dan dapat mengganggu kelancaran pembelajaran. 2. Masalah Kelompok Masalah kelompok dalam film The Ron Clark Story sesuai dengan pendapat Lois V Johnson & Mary A Bani. Masalah kelompok adalah masalah pengelolaan kelas yang sumber penyebabnya adalah kelompok. Lois V Johnson & Mary A Bani mengemukakan enam kategori masalah kelompok dalam pengelolaan kelas, yaitu: a. Kelas kurang kohesif, misalnya perbedaan jenis kelamin, suku, dan tingkatan sosio-ekonomi. Kelas yang kurang kohesif ditandai dengan lemahnya hubungan interpersonal di dalam kelas. Hal ini dapat disebabkan karena perbedaan jenis kelamin, suku dan tingkat sosial ekonomi. Sering                                                        
Syaiful Bahri Djamarah & Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1997), hal 225 
60

   

66   

terlihat adanya permusuhan sekelompok anak perempuan dengan sekelompok anak laki-laki. Lemahnya hubungan ini terlihat pula karena perbedaaan suku, kota asal, kampung atau tempat tinggal. Di dalam kelas sekelompok anak ini bisa menampakkan hubungan yang sangat jarak dan tidak akrab dan terkadang bisa menimbulkan pertentangan-pertantangan di dalam kelas. Pertentangan itu bahkan ditambah pula oleh faktor pemicu lain seperti berbedanya tingkat sosial ekonomi mereka. Setiap kelompok anak membangun suatu kekuatan atas dasar persamaan-persamaan yang dimiliki. Dalam hal ini masing-masing kelompok bisa saling menutup diri dalam pergaulannya, sehingga sulit jika guru menugaskan suatu tugas kerjasama. Dalam kelas Mr Clark hal tersebut juga terjadi, anak-anak berkelompok menurut persamaan yang dimiliki. Mereka misalnya Shameika, Lolita dan Raquel suka lagu Rap dan berkelompok memusuhi siswa yang lain yang bukan kelompok mereka. Terlebih mereka sangat memusuhi Badriyah yang memang ia berasal dari kampung dan berbeda suku. Badriyah berasal dari keturunan India yang ada dalam darah Ibunya. Mereka juga mengusir siswa yang lain dalam bermain yang memang bukan kelompoknya. Keadaan ekonomi juga ikut menjadi faktor pemicu terjadinya pertentangan dalam kelas. Sebagian siswa berasal dari keluarga tidak mampu, sehingga terjadi

   

67   

jarak yang bertentangan dengan siswa yang orang tuanya tidak mengalami permasalahan ekonomi. b. Kelas mereaksi negatif terhadap salah satu orang anggotanya, misalnya mengejek anggota kelas dalam menyanyi karena suaranya sumbang. Kelas mereaksi negatif terhadap salah seorang siswa dapat pula menimbulkan masalah dalam kelas, misalnya dengan mentertawakan, menghina secara bersama-sama, yang menyebabkan kelas menjadi ribut dan tidak kondusif untuk belajar. Biasanya anak yang diketawakan anak yang pemalu, cengeng, suaranya sumbang kalau bernyanyi dan berpenampilan kurang menarik. Badriyah adalah siswa pemalu dan penyendiri. Ia ditertawakan dan beri sorakkan yang tidak diharapkan saat Ia memberikan komentar mengenai materi pelajaran saat pembelajaran berlangsung. Ia tidak berani memberikan komentar balik kepada teman-temannya tersebut. Ia lebih bersikap berdiam saat temannya mencoba memberikan penilaian buruk padanya. Hal tersebut adalah permasalahan yang perlu diperbaiki agar kelas menjadi efektif. c. Membesarkan hati anggota kelompok kelas yang justru melanggar norma kelompok, misalnya pemberian semangat kepada badut kelas. Dukungan kepada badut kelas mengakibatkan pula makin berlarutnya masalah di dalam kelas. Anak yang membadut makin menunjukkan kebolehannya melucu dan berperilaku yang aneh-aneh.

   

68   

Hal ini menimbulkan sorak-sorai dan tertawaan anak yang berlebihan sehingga dapat mengalihkan perhatian anak untuk belajar. Julio adalah siswa yang paling sering melakukan kegiatan membadut. Perbuatan tersebut justru didukung sebagian besar siswa yang lain. Ketika Mr Clark meletakkan tulisan “mimpi besar”, Julio menanggapinya dengan berkata “pikirkan cara itu” sambil berjalan dan menggoyangkan pantatnya, sedangkan Shameika menanggapinya dengan berkata “aku bermimpi tentang Ibumu” dan seluruh siswa yang lain bersorak “ow” dengan serempak. Keadaan kelas menjadi gaduh dan pembelajaranpun menjadi terganggu. d. Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah dikerjakan. Mudahnya teralihkan perhatian anak selain karena anak yang membadut juga karena hal-hal lain yang dengan cepat memancing perhatian anak, seperti melihat peralatan belajar dan mainan kawan yang baru, tindakan-tindakan iseng dari kawan, dan situasi lingkungan sekolah yang kurang mendukung kegiatan belajar. Dalam kelas Mr Clark, sebagian besar siswa memakan permen karet dalam kelas ketika pelajaran telah berlangsung. Dan sebagian kadang memainkannya dengan membuat balon dengan meniupkannya hingga berbunyi agak keras ketika balon meletus. Hal tersebut bahkan dilakukan di sela-sela guru menjelaskan materi pelajaran. Sehingga kegiatan pembelajaran bisa terganggu dan tidak efektif.

   

69   

e. Semangat kerja rendah, misalnya semacam aksi protes kepada guru karena menganggap tugas yang diberikan kurang adil. Masalah anak secara kelompok juga terjadi karena semangat kerja rendah sebagai akibat perlakuan yang tidak adil dari guru, seperti ketidakadilan dalam menentukan jenis tugas yang dikerjakan, dan peralatan atau bahan yang ditentukan guru. Semangat kerja para siswa Mr Clark juga sangat rendah. Ketika mereka diberikan tugas untuk membuat jurnal mengenai impian besar tentang Dr King, hampir seluruhnya tidak mengerjakannya. Bahkan Badriyah satu-satunya yang membuat, Ia terlihat malu dan tidak berani menunjukkan hasilnya karena melihat siswa yang lain tidak antusias dan mengabaikan tugas tersebut. Ia buru-buru memasukkan buku pekerjaannya ke dalam laci mejanya sebelum Mr Clark menyuruh menunjukkan hasil pekerjaan tersebut, karena Ia merasa tidak enak dan takut kepada siswa yang lain. f. Kelas kurang mampu menyesuaikan diri dengan keadaan baru, misalnya gangguan jadwal, atau guru kelas terpaksa diganti sementara oleh guru lain.61 Terkadang anak merasa lebih tertarik dengan tugas yang dikerjakan anak yang lain yang sudah ditentukan, atau anak lebih tertarik dengan benda atau alat-alat yang digunakan anak lain yang sudah ditentukan guru. Jika situasi ini tidak ditanggapi guru maka akan                                                        
Ahmad Rohani H. M, dan H Abu Ahmadi, Pengelolaan Pengajaran, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1995), hal. 119 
61

   

70   

menimbulkan masalah, seperti anak malas dan tidak bersemangat untuk meneruskan pekerjaannya. Adanya hal-hal baru menurut anak, seperti pertukaran jadwal dan guru, sering pula menimbulkan masalah bagi anak. Jika jadwal bertukar, guru berganti, ini diartikan sebagai sesuatu yang tidak berjalan seperti biasanya, seperti jam masuk atau istirahat atau pulang yang sudah berganti, dan ibu guru lain yang belum sepenuhnya dikenali. Hal ini cenderung membuat anak-anak resah dan cemas dalam mengikuti kegiatan di dalam kelas, karena biasanya mereka seharusnya sudah istirahat atau pulang, tapi dengan pertukaran jadwal mereka belum bisa istirahat atau belum pulang. Atau yang seharusnya mereka harus belajar dengan guru yang manis dan ramah, sekarang mereka dihadapkan dengan guru yang pemarah. Kenyataankenyataan ini berpengaruh pada anak dalam belajar dan dapat menjadi masalah besar dalam pengelolaan kelas, karena anak dirundung rasa takut dan cemas untuk belajar. Dalam kelas Mr Clark, semua siswa pada dasarnya sangat membenci gurunya. Mereka berusaha keras dengan berperilaku yang membuat guru tidak tahan menghadapinya sehingga menyerah dan berhenti mengajar. Dan mereka selalu berhasil melakukan hal tersebut sebelum Mr Clark datang pada kelas mereka. Sehingga guru kelas selalu berganti setiap mereka tidak tahan menghadapi perilaku siswa tersebut. Hal tersebut yang membuat masalah dalam kelas karena sikap dan metode setiap guru berbeda, sehingga para siswa harus beradaptasi

   

71   

dengan hal itu. Biasanya para siswa tidak mau diajar ketika guru baru pertama kali melakukan kegiatan pembelajaran, dan mereka berusaha agar guru tidak bisa melakukan atau menyuruh siswa apapun di kelasnya. B. Teknik Pengelolaan Kelas Yang Efektif Dalam Film The Ron Clark Story Teknik pengelolaan kelas yang dilakukan Mr Clark dalam film The Ron Clark Story sesuai dengan pendapat Hasibuan, yaitu: 1. Teknik preventif Sikap dan tindakan guru yang preventif adalah: a. Sikap terbuka Sikap terbuka dalam pencegahan perilaku siswa yang tidak diharapkan dalam kelas merupakan sikap guru yang penting untuk menunjukkan keakraban hubungannya dengan anak. Dengan

menciptakan suasana keterbukaan, anak-anak benar-benar merasa bebas dan leluasa untuk mengemukakan pendapatnya serta penuh keyakinan bahwa guru akan selalu mendengarkan dan memperhatikan

pendapatnya. Untuk menyatakan keterbukaan ini guru menyatakan kebaikannya kalau sekiranya anak-anak juga baik atau sebaliknya. Waktu para siswa bermain lompat tali, Mr Clark menghampiri dan ingin mencoba belajar kegiatan tersebut dan membuat kesepakatan bersama. Berikut cuplikan dialognya: Clark : “kalian dapat mengajarkan aku melakukan itu?”

   

72   

Semua siswa Clark Beberapa siswa Clark

: (tertawa) : “kalian pikir aku tidak dapat?” : “tidak” : “ok, kita buat kesepakatan, jika aku mempelajari itu, kalian harus belajar sesuatu dariku”

Shameika Clark

:” apa?” : “semua yang perlu kau ketahui”

Gambar 3. Ron Clark bermain lompat tali dengan muridnya b. Sikap menerima dan menghargai siswa sebagai manusia Untuk pencegahan perilaku anak yang tidak menunjang kegiatan pembelajaran adalah sikap menerima dan menghargai siswa sebagai manusia, akan berpengaruh baik juga kepada perkembangan anak. Sikap menerima apa adanya merupakan pernyataan sayang, merasa diterima berarti merasa disayang. Anak tidak akan merasa

   

73   

rendah diri dan malu, karena guru memperlakukannya dengan cara yang tidak membeda-bedakan. Ketika membagikan kertas hasil ujian Mr Clark bisa menerima seluruh siswanya bagaimanapun hasil ujian tersebut. Berikut cuplikan dialognya: Clark Siswa : “siswa” (mengulurkan lodong permen) : “terima kasih Mr Clark, ini A ku yang pertama” (mengambil satu permen) Clark : “Shameika” (mengasih kertas hasil ujian)

Shameika : “terima kasih Mr Clark” Clark : “berikan tepuk tangan untuk diri kalian!” “tidak apa, kalian harus bangga pada diri kalian sendiri”

Gambar 4. Ron Clark membagikan kertas hasil ujian

   

74   

c. Sikap empati Sikap empati, merupakan upaya yang dapat dilakukan dalam dimensi pencegahan. Sikap empati mencegah timbulnya rasa malu dan takut pada anak, dan dapat pula membangun keberanian anak, jika diminta untuk melakukan sesuatu kegiatan yang berhubungan dengan pembelajaran. Ketika try out menghadapi ujian nasional dilakukan dan hasilnya seluruh siswa mendapat nilai jelek, Badriyah memberikan komentar bahwa semua berpikir kami pecundang Mr Clark. Dan Mr Clark mensupport seluruh siswanya agar tidak menyerah bahwa sebenarnya kalian semua mampu melewati ujian nasional tersebut dengan baik. Hingga selesei pelajaran ia meminta Badriyah untuk tinggal sebentar dan berbicara padanya. Berikut cuplikan dialognya: Clark : “Badriyah, dapatkah aku bicara sebentar?” “aku tahu sangat sulit untukmu, tapi kau dapat menjadi pintar dan hebat. Sebenarnya kau sangat pintar. Kau dapat lakukan yang ingin kau lakukan!” Badriyah Clark Badriyah Clark : “aku ingin menjadi dokter” : “ok, bagus. Lebih baik kau mencobanya dokter” : “terima kasih Mr Clark” : “semoga beruntung”

   

75   

Gambar 5. Ron Clark berempati kepada Badriyah d. Sikap demokratis Sikap demokratis, dapat pula ditunjukkan guru untuk teknik pencegahan. Dalam pembinaan suasana demokratis hendaknya terlihat dari sikap guru yang berusaha menempatkan perannya sebagai pengarah, dan pembimbing dalam proses pembelajaran. Berbicara dengan suara yang ramah, membimbing anak, menggunakan kata-kata ajakan, menolong anak dan membagi tanggung jawab secara bersama, adalah beberapa contoh upaya guru untuk menciptakan suasana demokratis di dalam kelas. Pentingnya suasana demokratis ini bagi anak, karena dalam tindakan pengelolaan kelas anak diajarkan untuk bertanggung jawab, diperlakukan sebagai manusia yang dapat secara bijaksana mengambil keputusan disamping memberikan kesempatan untuk menanggung konsekuensi perbuatannya sendiri.

   

76   

Upaya Mr Clark untuk memecah tanggung jawab pada anak di dalam kelas, waktu pembelajaran sedang berlangsung, Mr Clark minta tolong pada anak-anak untuk membersihkan papan tulis dan membagikan kertas hasil ujian hari lalu dengan berkata ramah, "Siapa anak-anak, yang bisa membersihkan papan tulis? "Kemudian berkata lagi, "Siapa yang bisa menolong membagikan kertas hasil ujian ini?" e. Mengarahkan anak pada tujuan kelompok Mengarahkan anak pada tujuan kelompok penting pula dilakukan guru untuk pencegahan perilaku anak. Usaha yang dapat dilakukan guru untuk mengarahkan anak pada tujuan kelompok adalah mengarahkan anak ke tujuan kelas, khususnya tujuan pengajaran. Oleh karena itu guru perlu merumuskan tujuan pembelajaran yang realistis serta mengkomunikasikan pada anak secara jelas. Mr Clark mulai membiasakan berbaris pada anak-anak untuk masuk, keluar kelas, dan juga ketika mau makan siang bersama tujuannya supaya anak-anak nanti dapat mengikuti kegiatan

pembelajaran dengan tertib.

Gambar 6. Anak-anak mulai berbaris untuk makan siang

   

77   

f. Memperjelas komunikasi Memperjelas komunikasi, guru diharapkan dapat memperjelas komunikasi yang dilakukan anak, karena tidak semua anak dapat berkomunikasi dengan baik. Dalam hal ini guru dapat mengulangi apa yang diucapkan anak dengan maksud mempertegas maksud anak. Mr Clark membantu penegasan Shameika ketika bertanya padanya. Berikut penggalan dialognya: Shameika : “Mr Clark, kami harus mendapatkan nilai besar untuk lulus, benar? Jadi bagaimana kami gagal?” Clark : “jadi bagaimana kalian gagal? Kalian sudah bekerja selama setahun dan siap untuk tes. Setiap hari di ruangan ini. Kita belajar sesuatu yang lebih berharga dari yang kalian dapatkan di buku. Aku mengajar kalian. Dan kau mengajarkan aku. Dan bersama kita belajar mencintai dan belajar. Jadi, minggu depan kalian akan mengambil tes itu. Kalian melakukan yang terbaik. Dan kalian akan keluar dari ruangan itu dan melakukan yang ingin kalian lakukan.”

   

78   

Gambar 7. Shameika bertanya kepada Ron Clark g. Menunjukkan kehadiran62 Menunjukkan kehadiran perlu dilakukan guru sebagai teknik pencegahan perilaku anak yang tidak diinginkan. Dalam hal ini guru perlu menunjukkan pada anak bahwa ia hadir di kelas, tidak hanya secara fisik tetapi juga mental. Berkaitan dengan hal ini, guru hendaknya sadar serta tanggap terhadap perhatian anak, keterlibatan anak sehingga dapat diketahui mana anak yang acuh atau kurang berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Sikap guru yang demikian dapat dirasakan oleh anak bahwa gurunya hadir bersama dengan mereka dan mengetahui apa yang mereka perbuat. Memandang anak secara seksama dapat mengundang dan melibatkan anak dalam kontak pandang serta interaksi antar pribadi yang dapat dilakukan guru dalam bercaka-cakap, bekerjasama, dan                                                        
J. J Hasibuan, dkk, Proses Belajar Mengajar Keterampilan Dasar Mikro, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 1994) hal. 180 
62

   

79   

bersahabat dengan anak. Selain gerak mendekati anak, guru dapat pula menandakan kesiagaan guru, minat dan perhatian yang diberikan terhadap tugas serta aktivitas anak dalam belajar, sedangkan memberikan pernyataan dan reaksi terhadap gangguan dan

ketidakpedulian anak merupakan tanda bahwa guru ada bersama mereka. Tindakan Mr Clark dalam kelas untuk menunjukkan kehadirannya adalah: mengangkat bahu, menggelengkan kepala, mengerutkan dahi, dan memberikan komentar-komentar terhadap perilaku-perilaku anak atau kejadian-kejadian yang diamatinya di dalam kelas. 2. Teknik kuratif Dengan menggunakan teknik kuratif guru dapat melakukan beberapa hal, yaitu: a. Penguatan negatif Dalam menangulangi tingkah laku anak yang menganggu kegiatan belajar, maka pemberian penguatan negatif merupakan suatu cara yang dapat ditempuh guru. Guru yang melakukan penguatan negatif akan berusaha untuk mengurangi atau selanjutnya

menghilangkan suatu stimulus yang tidak menyenangkan, agar anak terdorong kembali untuk berperilaku yang sama sebagai akibat dari pengurangan atau penghilangan stimulus tersebut.

   

80   

Mr Clark menginginkan Badriyah yang pemalu berani membaca ke depan, untuk itu ia selalu menunjuk langsung Badriyah yang kurang berani membaca ke depan sendiri (stimulus tidak menyenangkan), tetapi suatu saat Badriyah mulai berani membaca ke depan tanpa ditunjuk oleh Mr Clark, maka Mr Clark mulai mengurangi secara beranggsur-angsur cara menunjuk langsung tersebut (penguatan negatif). b. Penghapusan Penghapusan dapat pula dilakukan guru dalam menanggulangi perilaku anak yang mengganggu kegiatan belajar. Kegiatan ini kebalikan dari penguatan, khususnya penguatan positif. Dalam penguatan positif tingkah laku anak dipertahankan, sedangkan dalam penghapusan, tingkah laku anak dikurangi atau dihilangkan sama sekali. Kebiasaan Julio selalu duduk menghadap ke belakang selama kegiatan belajar mengajar telah berlangsung. Untuk setiap perilaku itu, Mr Clark mengatakan secara langsung kepada Julio agar tidak menghadap ke belakang ketika kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung. Setelah itu Julio dapat menghentikan perilaku itu dan Mr Clark memberikan respon. Kemudian Mr Clark untuk seterusnya tidak memperdulikan lagi Julio yang duduk menghadap ke belakang tersebut, dengan harapan Julio mengurangi dan bahkan menghilangkan perilaku itu.

   

81   

Gambar 8. Kebiasaan Julio selalu duduk menghadap ke belakang c. Penghukuman Hukuman merupakan tindakan yang dapat pula diterapkan guru untuk anak yang berperilaku mengganggu kelancaran

pembelajaran. Pemberian hukuman secara bijaksana terhadap hal-hal tertentu secara terbatas dapat menimbulkan akibat yang baik secara tepat, tetapi guru harus dengan hati-hati mencatat akibat-akibat dari hukuman itu. Sedapat mungkin pemberian hukuman hendaklah dihindarkan sekiranya masih ada alternatif yang lebih tepat untuk menghilangkan tingkah laku anak yang tidak diinginkan tersebut, sehingga tidak menimbulkan akibat-akibat sampingan baik tehadap anak maupun guru. Hukuman lebih banyak memberikan pengaruh psikologis yag negatif pada diri anak. Namun pemberian hukuman yang cocok dengan situasi dan perilaku anak, ada kemungkinan hukuman dapat meningkatkan proses pembelajaran anak.

   

82   

Pada

awal

pembelajaran,

sebetulnya

Mr

Clark

telah

membicarakan aturan tentang pemberian hukuman bagi anak-anak yang melanggar peraturan, namun ia tidak serta merta menghukum para siswanya dengan sekehendak hatinya, karena kondisi anak-anak memang dalam tahap pemulihan kesadaran agar mau mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan baik. Ia lebih banyak melakukan pencatatan hal-hal buruk yang dilakukan oleh anak-anak. penggalan dialognya: Clark Shemeika Clark : “Shameika terima kasih” : “untuk apa?” : “mengingatkan aku tentang peraturan no. 4 “Jangan putar mata dan majukan bibirmu!”. “Jika kalian melanggarnya nama kalian akan masuk papan tulis”. Shameika Clark : “sangat bodoh” : “jika melanggar peraturan yang lain akan mendapatkan cek’ Semua siswa : “ayolah!” (mengeluh) Berikut

   

83   

Gambar 9. Ron Clark menegaskan peraturan kepada siswanya d. Pembicaraan situasi pelanggaran dan bukan pelaku pelanggaran Bentuk tindakan lain yang dapat dilakukan guru dalam penanggulangan masalah anak adalah dengan cara membicarakan situasi pelanggaran, bukan pelaku pelanggaran. Dalam hal ini guru dalam menghadapi masalah perilaku anak, tidak bersikap marah atau tidak menyalahkan anak, tetapi memelihara situasi yang telah diciptakan. Ketika para siswa pergi untuk makan bersama dan membentuk barisan, Shameika memotong barisan agar berdiri di depan dan segera mendapatkan antrian paling awal. Maka Mr Clark mengendalikan situasi tersebut dengan rasa hormat pada shemeika. Berikut penggalan dialognya: Clark Shameika : “Shameika apa kau memotong barisan?” : “tidak pak, aku tidak melakukannya”

   

84   

Clark Shameika Clark

: “kau tahu aku punya mata di belakang” : “Tanya dia!”. (menunjuk Badriyah) : “kita akan berdiri di sini sampai Shameika mengatakan yang sebenarnya!”

Semua siswa : (mengeluh) “ayo Mr Clark!” Shameika Clark : “aku tidak memotong barisan” : “terserah padamu kita makan atau tidak”. “Shameika ini adalah keluarga. Dan keluarga saling menghormati, mereka tidak pernah saling garis?”. “Kami semua menunggu pada dirimu!”. Shameika Clark : “ya” : “terima kasih, sekarang apa peraturan no. 5?” berbohong. Apa kau memotong

Semua siswa : “jangan memotong barisan!” Clark : “bagus”

Semua siswa : (masuk ke ruang makan) Clark :“aku bangga padamu”. (memandang Shameika)

   

85   

Gambar 10. Ron Clark membicarakan pelanggaran peraturan e. Pemasabodohan terhadap pelanggaran anak Guru dapat pula bersikap masa bodoh terhadap pelanggaran yang dilakukan anak yang berperilaku menguasai, kemudian memberikan respons positif jika anak bertingkah laku positif. Bersikap masa bodoh dimaksudkan tidak membedakan respon dari perilaku anak yang ingin menguasai. Saat pembelajaran telah berlangsung, Jason melemparkan gumpalan kertas pada salah seorang siswa yang lain, melihat hal itu Mr Clark tidak mananggapi hal tersebut karena ia tahu jika hal itu ditanggapi maka proses pembelajaran akan terhenti karena Jason adalah siswa yang suka membantah. Ia memilih melanjutkan pembelajarannya sehingga hal tidak mengenakkan tersebut bisa terlewatkan. f. Pemberian tugas yang menuntut kekuatan fisik (bagi anak yang menunjukkan tingkah laku menguasai)

   

86   

Kemudian guru dapat pula memberikan tugas yang bersifat memimpin, memerlukan keberanian, menuntut kekuatan fisik, anak yang menunjukkan tingkah laku menguasai tersebut. Hal ini dilakukan guru agar anak yang berperilaku menguasai merasa dipandang dan dihargai karena kekuatan dan keberaniaannya, dengan demikian anak merasa puas dan tidak mencari perhatian lain yang bisa mengganggu proses pembelajaran. Tugas yang bisa diberikan Mr Clark seperti: menunjuk Shameika menjadi ketua kelas, menyuruh Julio memindahkan kursi, menyuruh Devina membagikan buku kepada teman-temannya. g. Penyalahan anak secara tidak langsung, dan menunjukkan segi-segi keberhasilan (bagi anak yang menunjukkan tingkah laku ketidak mampuan) Bagi anak yang menunjukkan tingkah laku ketidakmampuan, teknik penanggulangan yang dapat dilakukan guru adalah dengan cara tidak menyalahkan anak secara langsung, melainkan dengan jalan menunjukkan segi-segi keberhasilan anak. Dalam hal ini guru harus menyadari bahwa anak punya potensi. Anak butuh dorongan dan kesempatan untuk mewujudkan kemampuannya. Tidak selamanya anak akan gagal dan salah. Oleh karena itu guru sebaiknya tidak menyalahkan anak secara langsung, jika anak berbuat salah. Berikan penghargaaan jika anak menunjukkan suatu keberhasilan, dengan

   

87   

demikian anak diharapkan terdorong untuk lebih meningkatkan usahanya dalam mewujudkan kemampuannya dalam pembelajaran. Dalam permainan kucing tikus, Doretha bermain curang, karena tidak mau mengakui kalau ia sebagai tikus sudah tertangkap kawannya. Menghadapi situasi ini Mr Clark menegur Doretha supaya tidak bermain curang lagi. Tetapi dalam kegiatan bermain di bak pasir, Doretha dapat membuat taman yang bagus. Usaha Doretha ini dihargai Mr Clark dan berkata," Anak-anak coba lihat yang di buat Doretha di bak pasir! taman yang indah, kalian bisa mencontohnya” sambil Mr Clark tersenyum dan menganggukan kepala pada Doretha. h. Meratakan partisipasi anak Dalam hal ini guru menyadari bahwa dalam kegiatan pembelajaran dapat saja ditemui anak yang kurang berpartisipasi, dan pada sisi lain ada pula anak yang dengan segala kemampuannya aktif berpartisipasi dalam pembelajaran. Menghadapi ini guru perlu memberikan dorongan kepada anak yang kurang berpartisipasi, sedangkan bagi anak yang terlalu aktif berpartisipasi, guru perlu membatasinya dengan cara yang tidak mematikan motivasi anak untuk berpartisipasi aktif. Disela-sela pembelajaran, Mr Clark menceritakan

pengalamannya kepada anak-anak, bahwa dalam kehidupan keseharian pasti dijumpai kesulitan. Namun dia meminta kepada siswanya agar berusaha keras untuk menghadapinya. Setelah itu dia menyalakan

   

88   

salah satu lilin dalam kue dan meminta kepada semua siswanya maju ke depan untuk ikut menyalakan lilinnya. Dia menginginkan siswanya menikmati ujian kesulitan itu dengan diawali menyalakan lilin tersebut. Jadi mulai detik itu semua bergabung bersama-sama menjalani agar kegiatan pembelajaran berjalan dengan baik.

Gambar 11. Ron Clark menyuruh para siswa menyalakan lilin i. Pengurangan ketegangan Mengurangi ketegangan merupakan tindakan penanggulangan masalah anak yang disebabkan oleh adanya perbedaan-perbedaan dalam kelompok yang dapat melahirkan ketegangan dalam kelas. Guru diharapkan dapat menurunkan ketegangan bahkan menghilangkan ketegangan tersebut. Raquel merasa jengkel kepada Julio yang bertingkah buruk dan mengejeknya, hingga menjadi tontonan beberapa siswa yang lain. Menghadapi situasi ini, Mr Clark mendatangi Raquel dan menyuruh para siswa kembali duduk pada tempatnya masing-masing agar kelas

   

89   

menjadi normal. Dia menenangkan Raquel dengan memberitahu siswa yang lain bahwa berbuat seperti itu adalah tidak baik.:Adakah yang mau diperbuat seperti itu?” dan semua menjawab “tidak”, sehingga suasana menjadi tenang kembali. j. Penyelesaian pertentangan antar pribadi atau antar kelompok. 63 Untuk mengatasi masalah anak yang bersumber dari pertentangan anak baik individu, maupun kelompok, guru diharapkan dapat mengamati secara seksama kondisi hubungan antar anak dan berusaha mengatasi pertentangan-pertentangan yang ditemukan. Pertentangan itu bisa terjadi sesaat di dalam kelas, tetapi juga kadang kala sudah terjadi diluar kelas sampai terbawa ke dalam kelas. Ketika perkelahian terjadi antara Julio dengan Tayshawn, Mr Clark berusaha melerai dan menyerahkan kepada Shameika dalam aktivitas kelasnya. Berikut cuplikan dialognya: Clark : (memisah pertengkaran Julio dan

Tayshawn) “Pergi dan duduk!” Tayshawn Clark Tayshawn : “kembali ke kelasmu Julio!” : “siapa yang bicara padamu?” :“aku bicara padamu? Kau akan

memukulku?” Clark : “tidak, tapi kau melanggar peraturan no 3. kau tidak memanggilku pak”.                                                        
J. J Hasibuan, dkk, Proses Belajar Mengajar Keterampilan Dasar Mikro, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 1994) hal. 180 
63

   

90   

Semua siswa Tayshawn Clark

: (tertawa) : “kau pikir itu lucu” (keluar kelas) : “Shameika kau yang berwenang”

Beberapa siswa : “apa?” Clark : (mengejar tisha) “Jangan lakukan ini!. Dengar aku tahu itu, kembali ke kelas!”. Tayshawn Clark : “mengapa?” :”karena aku Aku Kau akan tahu merindukan kau harus

kepribadianmu. melakukan itu.

dapat

merubah

kepribadianmu”. Tayshawn : (balik arah dan kembali ke kelas)

Gambar 12. Ron Clark melerai Tayshawn berkelahi dengan Julio

   

91   

C. Strategi Penanaman Kedisiplinan Siswa Yang Efektif Dalam Film The Ron Clark Story Masalah disiplin kaitannya dengan konsep pengelolaan kelas yaitu berkenaan dengan usaha-usaha dalam menciptakan iklim kelas yang kondusif agar terjadi proses kegiatan belajar mengajar yang efektif. Sehingga siswa dapat belajar dengan baik dan pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Karena disiplin dapat menjadikan seseorang memiliki kecakapan mengenai cara belajar yang baik dan ke arah pembentukan mental yang luhur. Kedisiplinan untuk menciptakan iklim kelas kondusif tersebut dalam hal ini guru menggunakan disiplin cooperatit control. Menurut strategi tersebut, antara guru dan peserta didik harus saling bekerja sama dengan baik dalam menegakkan disiplin. Guru dan peserta didik lazimnya membuat semacam kontrak perjanjian yang berisi aturan-aturan kedisiplinan yang harus ditaati bersama-sama. Kontrak perjanjian seperti ini sangat penting, oleh karena hanya dengan cara demikianlah guru dan peserta didik dapat bekerja sama dengan baik. Dalam suasana demikian, maka peserta didik juga merasa dihargai. Inisiatif yang berasal dari dirinya biarpun itu berbeda dengan inisiatif guru, asalkan baik juga diterima oleh guru dan peserta didik lainnya. Kontrak perjanjian dalam film The Ron Clark Story yang dibuat bersama-sama sesuai dengan kesepakatan antara lain dibuat ketentuan sebagai berikut:

   

92   

1. Kita adalah keluarga (kita saling membantu, melindungi dan berdiri bersama) Hal itu berarti para siswa dilarang keras agar tidak saling bermusuhan apalagi berkelahi. Tidak diperkenankan mengejek temannya yang lain dan juga tidak boleh mengganggu aktifitas temannya yang sedang belajar. Sebaliknya, para siswa berkewajiban untuk membantu tatkala ada siswa yang sedang mengalami kesulitan. Melindunginya dari berbagai gangguan yang bisa meresahkannya.

Gambar 13. Ron Clark sedang menjelaskan ketentuan 1 2. Kita saling menghormati. (kamu tidak akan bicara jika aku tidak menyuruhmu). Dengan adanya aturan tersebut diharapkan para siswa menjaga sikapnya ketika berhubungan dengan orang lain, khususnya kepada guru

   

93   

dan teman-temannya yang lain. Sehingga, perilaku sopan kepada orang lain bisa terbentuk dengan baik. Para siswa tidak diperkenankan bicara kepada temannya pada waktu kegiatan pembelajaran sedang berlangsung, yang dapat mengganggu proses belajar-mengajar. Sebaliknya, apabila ada yang ditunjuk oleh guru untuk menjawab pertanyaan ataupun berkomentar maka ia harus melakukan kewajiban tersebut dengan sebaik-baiknya. Penerapan aturan itu sesuai dengan fungsi disiplin yang diutarakan oleh Tulus Tu’u bahwa disiplin berguna untuk menyadarkan seseorang bahwa dirinya perlu menghargai orang lain dengan cara mentaati dan mematuhi peraturan yang berlaku, sehingga tidak akan merugikan pihak lain dan hubungan menjadi baik dan lancar.64 3. Kita akan membentuk barisan untuk masuk, keluar kelas dan juga ketika hendak makan. Sebelum masuk ke ruang kelas anak diajak berbaris di depan kelas. Jika pekarangan sekolah memungkinkan, maka sebelum memasuki ruang kelas anak dianjurkan bersenam dan berolahraga kecil sambil menyanyi, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian beberapa pesan yang bersifat membimbing dan mengarahkan anak ke perilaku yang diharapkan. Beberapa bentuk perilaku yang diharapkan dari anak dalam aktivitas ini adalah: a. untuk selalu tertib dan patuh pada peraturan b. tenggang rasa terhadap keadaan orang lain                                                        
Tulus Tu’u, Peran Disiplin Pada Perilaku dan Prestasi Siswa, (Jakarta: Grasindo, 2004) hal 38 
64

   

94   

c. sabar menunggu giliran d. mau menerima dan menyelesaikan tugas e. berani dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar f. berpakaian bersih dan rapi g. datang tepat waktu atau tidak terlambat h. berbaris dengan rapi i. bediri tegap pada saat berbaris, dan j. tolong menolong sesama teman dalam keefektifan makan bersama 4. Jangan memotong barisan Siswa dilarang keras agar tidak memotong barisan tatkala sedang berbaris. Hal ini bertujuan agar siswa bisa belajar disiplin untuk menahan diri agar tidak tergesa-tegas ingin mendapatkan sesuatu dengan cepat sekehendak kemauannya. Siswa agar bersabar menunggu gilirian dengan berbaris rapi diantrean. 5. Tatap orang yang berbicara Ketika sedang melakukan percakapan, para siswa harus menatap orang yang berbicara. Tidak diperkenankan bercakap di iringi dengan aktifitas lainnya, misal mengomentari perkataan orang yang mengajak bicara sambil menulis di buku sehingga tidak bisa konsentrasi pada sesuatu yang dibicarakan. Hal tersebut juga dimaksudkan untuk menghormati orang yang mengajaknya berbicara.

   

95   

6. Ikuti bacaan ketika pelajaran menggunakan buku Saat pelajaran membaca bersama-sama dilaksanakan, para siswa harus mengikuti bacaan tersebut. Ketika siswa yang membaca berhenti dan guru menunjuk siswa yang lain untuk melanjutkan, siswa itu harus sudah siap dan bergegas melanjutkan. Hal tersebut mencegah agar siswa tidak melakukan aktifitas lain yang tidak berhubungan dengan kegiatan

pembelajaran atau berbicara dengan siswa disekitarnya yang bisa mengganggu proses pembelajaran yang sedang berlangsung. 7. Hormati siswa lain dalam memberikan komentar, pendapat atau ide dalam suatu bahasan. Pada saat dilakukan pembahasan suatu hal dalam kelas, para siswa diharapkan agar menghormati siswa yang sedang memberikan

pendapatnya. Tidak diperkenankan menganggap remeh ataupun memotong pembicaraan dan tidak memberi kesempatan padanya. Hal tersebut dimaksudkan agar para siswa tidak egois dan mau menangnya sendiri. Bahwa suatu hasil dicapai dengan baik apabila diambil dari berbagai pendapat para siswa. 8. Jangan meninggalkan tempat duduk tanpa ijin Siswa dilarang berpindah tempat atau meninggalkan tempat duduk pergi ke luar kelas dengan sesukanya. Apabila ada keperluan dan ingin pergi ke luar kelas, maka harus meinta izin terlebih dahulu.

   

96   

9. Jangan mengeluh saat diberi pekerjaan rumah Pekerjaan rumah adalah alat untuk mengevaluasi sejauh mana pelajaran yang disampaikan bisa dipahami oleh siswa. Maka siswa harus menerima tugas tersebut dengan lapang dada. Tidak diperkenankan mengeluh atau mengeluarkan kata tidak baik bila guru memberikan tugas tersebut. Apalagi sangat tidak diperkenankan jika siswa tidak

mengerjakannya. Hal tersebut melatih siswa agar selalu menyempatkan belajar di rumah, selain juga mengulang materi yang telah diajarkan agar tidak terlupakan. Dengan mengerjakan pekerjaan rumah, siswa belajar bagaimana memperoleh pengetahuan. Dengan secara mandiri mengerjakan pekerjaan rumahnya, siswa akan membangun keyakinan bahwa ia akan berusaha keras dalam belajar. Itu adalah keyakinan yang luar biasa yang dapat membawa siswa mencapai prestasi hebat dalam kehidupannya. Keyakinan ini akan memberi siswa rasa kompeten yang diperlukan untuk meraih sukses.65 10. Jangan sombong jika menuai kelancaran & jangan marah jika menuai kegagalan. Siswa tidak diperkenankan menyombongkan diri pada siswa yang lain jika menuai hasil yang bagus dalam melakukan kegiatan

pembelajaran atau mendapat nilai bagus hasil ujiannya. Hal itu adalah menjaga perasaan siswa yang lain yang mungkin mendapat hasil yang                                                        
Lary J Koenig, Smart Dicipline, Menanamkan Disiplin dan Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Pada Anak, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2003), hal. 129 
65

   

97   

tidak sebaik dia. Sebaliknya tidak diperkenankan juga marah-marah atau melakukan hal buruk di dalam kelas jika menuai kegagalam dalam kegiatan pembelajaran. 11. Ucapkan terima kasih saat orang memberikan sesuatu Siswa dibiasakan untuk mengucapkan terima kasih pada orang yang telah memberikan sesuatu padanya. Itu akan membuat orang yang mengasihkan sesuatu itu merasa senang dan dihargai. 12. Selalu jujur dalam berkata Siswa diwajibkan untuk selalu berkata jujur, bagaimanapun keadaannya. Walau berbuat salah siswa harus tetap berkata jujur. Bahwa berbohong itu suatu bentuk sikap yang tidak terpuji yang mungkin akan menjadi masalah kelak jika tidak mulai dihilangkan. 13. Jadilah orang terbaik sedapat mungkin Walaupun para siswa masih relatif anak kecil, namun untuk membentuk pribadi yang bagus maka mereka dilatih agar dalam keseharian melakukan sesuatu yang baik dan berguna, misalkan membantu guru membawakan buku pelajaran ke kelas, menyirami tanaman sekolah, membantu orang tua memasak dan sebagainya. D. Implikasi Pengelolaan Kelas Dalam Film The Ron Clark Story Terhadap Penanaman Kedisiplinan Siswa Keadaan siswa pada waktu awal Ron Clark mulai mengajar menggantikan guru yang keluar karena tidak bisa mengendalikan sikap siswanya adalah sangat buruk. Anak-anak secara keseluruhan tidak ada yang

   

98   

memperdulikan proses pembelajaran. Semua siswa bersikap yang menunjukan keengganannya bahwa mereka tidak mau di ajar. Beberapa siswa duduk di meja, ada yang makan permen karet, ada yang tiduran di meja tak menatap guru sekalipun ketika menjelaskan pelajaran. Hingga selalu ada yang membantah perkataan guru dengan tujuan membuat merasa kesal dan tidak meneruskan pembelajaran. Setelah selesai pembelajaran, ruang kelas dibuat berantakan. Meja dan kursi di balik dan di geser letaknya tak beraturan. Sampah-sampah dari kertas bertaburan di setiap sudut kelas. Dinding-dinding dan papan tulis di corat-coret menggunakan spidol dan cat dan diberi tulisan pulang ke rumah guru, selamat tinggal, dan juga tulisan-tulisan lain yang bernada sinis tidak menyenangi guru. Bahkan mobil Mr Clarkpun tidak terlewatkan dari aksi coretan cat hasil perbuatan siswa tersebut. Ketika diberi pekerjaan rumah, tidak ada satu siswapun yang mengerjakannya. Berikut penggalan dialognya: Clark Raquel Clark Lolita Clark : “Raquel apa jurnalmu?” : (bersandar pada meja dan menggelengkan kepala) : “Lolita Sanches?” : (menggelengkan kepala) : “Shameika Wallace, apa kau membuat jurnal dr King?” Shameika Clark : “tidak, tidak ada mimpi” : “Julio?”

   

99   

Julio Clark Shameika

: “maaf, aku tidak bisa” : “mengapa kalian semua melakukan ini?” : “banyak hal yang harus dilakukan, ups salahku. Aku lupa mengatakan, Pak. Aku pikir mendapatkan cek”.

Clark Shameika

: “kalian mau mendapatkan hukuman?” : (berputar ke belakang kepada Lolita) “Aku sungguh suka itu” (menunjuk benda Lolita)

Lolita Clark Shameika Clark Shameika Clark

: “sungguh? Terima kasih” : “tatap aku ketika aku bicara padamu!” : “bukan cek yang itu cek yang lainnya” : “tatap aku!” (membalikkan kursi Shameika) : (kaget) “pergi ke neraka!” : (menggedor-gedor kursi Shameika dan pergi ke luar)

Lolita Semua siswa

: “kau melakukannya!” : (bersorak senang)

Setelah Mr Clark ke luar pergi meninggalkan kelas, tampak bahwa para siswa menyambut gembira. Hal tersebut menunjukan bahwa mereka belum mempunyai kesadaran bahwa tujuan mereka di kelas adalah untuk belajar. Mereka hanya menginginkan bersenang-senang sekehendak hatinya tanpa memperdulikan aktivitas belajar yang sesungguhnya.

   

100   

Bahkan mereka menginkan agar Mr Clark segera putus asa dan pergi meninggalkan kelas seperti guru-guru dahulu yang mengajarnya. Julio sampai melakukan taruhan dengan temannya terkait waktu bertahan Mr Clark di kelasnya. Berikut penggalan dialognya: Clark : “apa yang dilakukan Julio?”

Badriyah : “bertaruh untukmu” Clark : “untukku?”

Badriyah : “kapan kau akan keluar” Julio : (membawa kertas dan spidol). “Pasti sampai hari jum’at”. Clark : (mengambil kertas dan spidol). “Judi adalah ilegal, khususnya ketika kau berumur 12. Dan juga aku tidak akan pergi”. Julio : “ayolah, aku memasang taruhan kepadamu”.

(menggurutu) Mr Clark selanjutnya melakukan upaya dengan meninggalkan metode konvensionalnya ketika mengajar dan menggantinya dengan yang lebih seru yang membuat anak merasa memperhatikan karena keanehan dan

tantangannya. Dan usaha tersebut berhasil, berikut petikan dialognya: Clark : “Semua orang lihat!. Kau dapat menjadi orang asing atau keluarga. Mungkin ini akan menjadi akhir ceritamu atau kau dapat membuat permulaan. Permulaan yang lebih baik dari apapun yang dapat

   

101   

kau bayangkan.

Sejak aku di sini kalian tidak

pernah sekalipun mendengarkan aku sekali” Lolita Clark : “yeah” (mencubit kecil Shameika sambil tertawa) : “jadi ini perjanjiannya, hari ini kita akan belajar tata bahasa”. Semua siswa : (mengeluh) “oh” Clark : “jika kau tenang dan mendengarkan setiap 15 detik aku akan minum 8 gelas susu cokelat. Jika kalian melakukannya, kalian dapat melihatku muntah”. Semua siswa : (tertawa) Clark : “jadi, apa kita setuju?”

Semua siswa : “yeah” Clark Julio Clark : “ok, bagus. Julio?” : “ya” : “ini bukan untuk kau makan (menyerahkan lodong permen). Aku ingin kau melihat jam dan setiap 15 detik bunyikan sekali. (memukul lodong). Seperti itu!” Julio Clark : “baik” : “ketika aku mendengar gongnya, aku akan meminum salah satu dari ini (mengambil satu kotak susu). Waktu dimulai sekarang!” “Setiap kalimat ada subjek dan kata kerja”

   

102   

Lolita

: “sangat membosankan”

Seluruh siswa : “ssttt, diam!” (memandang Lolita) Clark : “aku pikir kalian tidak mau melihatku minum susu cokelat? Kata kerja mengekspresikan aksi dalam kalimat” Julio Clark Julio Clark Julio Clark : (membunyikan lodong) “ting, ting,ting” : (meminum susu cokelat) (menulis di papan tulis) : (membunyikan lodong) : (meminum susu cokelat). “Dan kalimat ini..” : (membunyikan lodong) : (meminum susu cokelat)

(kegiatan tersebut berulang-ulang beberapa kali) Semua siswa : “muntah, muntah, muntah!” Julio Clark : “ayo, ayo, ayo!” : (menghabiskan minum susu cokelat) “Sekarang apa yang ada dapat mengatakan

kepadaku kata kerja dari kalimat ini?” (menulis di papan tulis) Lolita Clark : (mengacungkan jari telunjuk). “Perasaan” : “ya”. (berjalan ke siswa sambil memegang perut)

Semua siswa : ( menjauhi Mr Clark) Clark : (memuntahkan angin kosong di depan Badriyah)

Semua siswa : (tertawa)

   

103   

Gambar 14. Ron Clark mengajar dengan memakai susu cokelat kotak Dari dialog tersebut dapat diketahui bahwa anak-anak sudah mulai dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik, walaupun masih ada sedikit yang agak menyepelekannya. Namun di akhir pembelajaran salah satu siswa bisa menjawab pertanyaan dari guru sehingga dapat diketahui bahwa tujuan pembelajaran itu sudah berhasil. Setelah usaha di atas tersebut berhasil, maka Mr Clark melakukan pendekatan perlahan-lahan kepada siswa. Dalam pertemuan pembelajaran berikutnya Ia terapkan peraturan-peraturan semacam perjanjian kontrak bersama agar perilaku disiplin dalam kelas bisa terwujud dengan baik. Seiring berjalannya waktu sikap para siswa sudah berubah menjadi lebih baik dan ramah terhadap guru. Perubahan-perubahan yang terjadi yaitu: 1. Anak-anak sudah bisa mengikuti proses pembelajaran dengan kesadaran penuh.

   

104   

Walau tidak ada gurunyapun mereka tetap bisa belajar dengan tertib. Hal itu bisa dilihat ketika Ron Clark sedang sakit dan melakukan kegiatan pembelajaran dibantu dengan menggunakan media video rekaman. Berikut petikan dialognya: Clark : “ok, bukan berarti di video tape aku tidak dapat melihatmu” Clark : “baik, apa semuanya siap?”

Semua siswa : “ya pak” Clark : “gravitasi, tekanan dua objek” (menjatuhkan telur ke lantai). “Itu adalah gravitasi” Lolita Clark : (tertawa kecil) : “sekarang buka buku kalian dan catat apa yang akan saya katakan” Semua siswa : (mengambil buku, membuka dan bersiap menulis) Mr Turner : (keheranan mengawasi dari luar)

Gambar 15. Anak-anak belajar dengan media video

   

105   

2. Anak-anak sudah bisa menghormati Mr Clark dengan baik. Setelah Mr Clark sembuh dari sakitnya dan mulai masuk kelas kembali, para siswa telah membersihkan kelas dan menata serapi mungkin serta di papan tulis diberi selembaran kertas ucapan “selamat datang kembali Mr Clark”. Dan saat pembagian hasil ujian, para siswa mendapat nilai bagus dan menyerahkannya mereka dengan tanggap tidak lupa mengucapkan terima kasih pada Mr Clark. 3. Anak-anak mau mengerjakan pekerjaan rumah. Semua siswa sudah mau mengerjakan pekerjaan rumah. Bila mereka menemui kesulitan, maka mereka akan langsung di bantu oleh Mr Clark. Berikut petikan dialog ketika Mr Clark membantu Shameika dan Thaysawn mengarjakan pekerjaan rumahnya: Clark : “kau harus tunjukan pekerjaan rumahmu agar aku bisa membantumu!” Shameika : (masuk rumah) Clark : (masuk rumah Shameika). “Ini sangat mendekati, kita dapat memperbaikinya” Shameika : “oh ya? sungguh?” Clark : “ya, kita kerjakan sekarang. Jika beberapa ejaannya salah” Shameika : ”aku melakukan seperti yang kau katakan, aku

memindahkan paragraf tiga dan sepertinya bagus” Juga Mr Clark membantu mengerjakan pekerjaan rumah Thaysawn:

   

106   

Clark

:” ingat itu jadi x =..., ayo kau dapat melakukannya!”

Thaysawn : “kau tidak tahu tentang diriku” Clark : (kaget dan berjalan ke belakang)

Thaysawn : “aku berhasil menyelesaikannya” Clark : “ya, hebat. Teruslah seperti itu”

Gambar 16. Ron Clark membantu Tayshawn mengerjaan pekerjaan rumah 4. Tayshawn berhenti mencuri Saat Thaysawn diajak oleh kedua temannya, dan dalam waktu yang bersamaan Mr Clark mengetahuinya maka Mr Clark mengajaknya kembali ke kelas untuk mengikuti ujian. Berikut petikan dialognya: Teman Thaysawn : “apa khabar T? hey darimana saja kau? Kau lupa kita harus bergerak sekarang. Thaysawn Teman Thaysawn : (diam menatap Mr Clark) : “hey, kau tidak boleh masuk ke dalam sana. Aku dapat menjadi seperti itu” Ayo!”

   

107   

Clark

: “hai Thaysawn, kita dapat ke luar dari sekolah bersama. Kita dapat membahas ulang tesnya”

Teman Thaysawn Thaysawn Clark Thaysawn

: “kau mau yang ini atau yang itu? Ayo!” : ”yang itu” (mendekat dan melangkah ke Mr Clark) : “ok, jadi kau ke sana. Siap, kejar mereka!” : (masuk ruang mengerjakan tes)

5. Anak-anak mendapat nilai baik pada ujian nasional. Sikap disiplin pada anak membawa prestasi yang luar biasa, karena anak-anak berhasil mendapat nilai baik seluruhnya. Berikut petikan dialognya: Clark : “untuk penghargaan di bidang sains, Badriyah”

Badriyah : (maju ke depan dan mengambil tropi). “Terima kasih Mr Clark” Clark :“sama-sama. penghargaan di bidang matematika, Julio Vasques” Julio : (maju ke depan dan mengambil tropi). “Terima kasih Mr Clark” Clark : “untuk bidang seni, Thaysawn Michell”

Thaysawn : (maju dan mengambil tropi ) Clark : “dan yang terakhir, Shameika…”

Mr Turner : (membuka pintu dan masuk kelas). “Maaf, mengganggu pesta anda Mr Clark, tapi aku baru menerima surat dari departemen pendidikan, menurut itu aku pikir penting untuk memberikannya sendiri. Ada kemungkinan nilai

   

108   

yang tidak kau harapkan. (menyerahkan surat kepada Mr Clark). Kelas enam ini tertinggi dari kelas lainnya!” (Semua siswa dan wali siswa bertepuk tangan) Mr Turner : “bahkan lebih tinggi dari kelas unggulan. Selamat. Selamat Mr Clark, sangat mengesankan”. (bersalaman). Clark : “Shameika penghargaan untukmu dalam bahasa inggris. Aku khawatir harus menggantinya karena melihat nilaimu sangat berbeda dengan murid dari distrik lain. Kau mendapat nilai sempurna di inggris dan matematika “ Shameika : (senang dan memeluk Mr Clark). “Mr Clark, untuk selalu di sana bahkan ketika kami tidak menginginkannya. Kau memberi kami inspirasi”. Julio : “ya Mr C”

Shameika : “kami memberikan kau penghargaan guru terbaik” Julio Semua : (membuka gambar Mr Clark di papan tulis) : “bertepuk tangan”

   

109   

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Setelah diadakan telaah dari hasil penelitian dan hasil penganalisaan terhadap seluruh pembahasan pada bab terdahulu, maka peneliti dapat menyimpulkan sebagai berikut: 1. Jenis masalah perilaku siswa dalam pengelolaan kelas di dalam film The Ron Clark Story, yaitu: a. Masalah individual 1) Tingkah laku yang ingin mendapatkan perhatian orang lain 2) Tingkah laku yang ingin menunjukkan kekuatan 3) Tingkah laku yang bertujuan menyakiti orang lain dan 4) Peragaan ketidakmampuan b. Masalah kelompok 1) Kelas kurang kohesif, misalnya perbedaan jenis kelamin, suku, dan tingkatan sosio-ekonomi 2) Kelas mereaksi negatif terhadap salah satu seorang anggotanya, misalnya mengejek anggota kelas dalam menyanyi karena suaranya sumbang 3) Membesarkan hati anggota kelompok kelas yang justru melanggar norma kelompok, misalnya pemberian semangat kepada badut kelas

   

110   

4) Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah dikerjakan 5) Semangat kerja rendah, misalnya semacam aksi protes kepada guru karena menganggap tugas yang diberikan kurang adil. 6) Kelas kurang mampu menyesuaikan diri dengan keadaan baru, misalnya gangguan jadwal, atau guru kelas terpaksa diganti sementara oleh guru lain 2. Teknik pengelolaan kelas yang efektif dalam film The Ron Clark Story yaitu: a. Teknik preventif 1) Sikap terbuka 2) Sikap menerima dan menghargai siswa sebagai manusia 3) Sikap empati 4) Sikap demokratis 5) Mengarahkan anak pada tujuan kelompok 6) Memperjelas komunikasi 7) Menunjukkan kehadiran b. Teknik kuratif 1) Penguatan negatif 2) Penghapusan 3) Penghukuman 4) Pembicaraan situasi pelanggaran dan bukan pelaku pelanggaran, 5) Pemasabodohan terhadap pelanggaran anak

   

111   

6) Pemberian tugas yang menuntut kekuatan fisik (bagi anak yang menunjukkan tingkah laku menguasai) 7) Penyalahan anak secara tidak langsung, dan menunjukkan segisegi keberhasilan (bagi anak yang menunjukkan tingkah laku ketidak mampuan) 8) Meratakan partisipasi anak 9) Pengurangan ketegangan 10) Penyelesaian pertentangan antar pribadi atau antar kelompok 3. Strategi penanaman kedisiplinan siswa yang efektif dalam film The Ron Clark Story adalah dengan kesepakatan kontrak perjanjian yang dibuat bersama, yaitu: a. Kita adalah keluarga b. Kita saling menghormati c. Kita akan membentuk barisan untuk masuk dan keluar kelas dan juga ketika mau makan d. Jangan memotong barisan e. Tatap orang yang berbicara f. Ikuti bacaan ketika pelajaran menggunakan buku g. Hormati siswa lain dalam memberikan komentar, pendapat atau ide dalam suatu bahasan h. Jangan meninggalkan tempat duduk tanpa ijin i. Jangan mengeluh saat diberi pekerjaan rumah

   

112   

j. Jangan sombong jika menuai kelancaran & jangan marah jika menuai kegagalan. k. Ucapkan terima kasih saat orang memberikan sesuatu l. Selalu jujur dalam berkata m. Jadilah orang terbaik sedapat mungkin 4. Implikasi pengelolaan kelas dalam film The Ron Clark Story terhadap penanaman kedisiplinan siswa yaitu: 1. Anak-anak sudah bisa mengikuti proses pembelajaran dengan kesadaran penuh 2. Anak-anak mendapat nilai baik pada ujian nasional 3. Tayshawn berhenti mencuri

4. Anak-anak mau mengerjakan pekerjaan rumah 5. Anak-anak sudah bisa menghormati Mr Clark dengan baik B. Saran-saran 1. Bagi para orang tua Hendaknya bisa meluangkan waktu untuk mendampingi anak membantu mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru. Dengan begitu anak akan merasa disayangi dan diperhatikan benar sudah sejauh mana pencapaian pembelajarannya. Sehingga ia bisa bersikap wajar, karena bila tidak mendapatkan perhatian tersebut anak bisa saja akan merasa kecewa dan melampiaskannya dengan melakukan tindakan yang buruk di kelas.

   

113   

2. Bagi guru Hendaknya memahami keragaman tingkah laku anak dan juga menguasai teknik-teknik untuk mengatasi persoalan yang terjadi dalam kelas. Semisal jika ada anak yang menangis karena diperlakukan buruk oleh siswa yang lain, maka teknik yang tepat untuk mengatasinya yaitu menggunakan teknik kuratif dengan cara pengurangan ketegangan. Sehingga masalah yang muncul dalam kelas yang dapat mengganggu

proses pembelajaran bisa segera diatasi dan menjadi lebih kondusif C. Kata Penutup Sebagai kata penutup dalam skripsi penulis memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas kehendak-Nyalah penulis dapat

menyeleseikan penulisan skripsi berjudul “Pengelolaan Kelas Dalam Film The Ron Clark Story dan Implikasinya Terhadap Penananaman Kedisiplinan Siswa” dengan lancar. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih terlampau sederhana dan masih banyak kekurangan di dalamnya, karena keterbatasan kemampuan dan pengetahuan dalam diri penulis semata. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca. Harapan penulis kedepan semoga para guru yang mendidik para siswanya di kelas tidak mengalami kesulitan apapun untuk mengelola kelasnya dengan baik dikarenakan beragamnya kondisi para siswanya. Terlebih perkembangan jaman semakin melaju pesat sehingga menciptakan beragam permasalahan para siswanya.

   

114   

Akhirnya hanya kepada Allah SWT penulis memohon do’a, semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi semua yang mempelajarinya.

   

115   

DAFTAR PUSTAKA Adnan,CommmersialBreak,http://adnanscript.blogspot.com/2008_12_01_archive. html.Google Ahmad Rohani H. M, dan H Abu Ahmadi, Pengelolaan Pengajaran, Jakarta: PT Rineka Cipta, 1995. Amura, Perfilman di Indonesia dalam Era Orde Baru, Jakarta: Lembaga Komunikasi Massa Islam Indonesia, 1989. Alex Sobur, Analisis Teks Media, Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana , Analisis Semiotika dan Analisis Framing, cet 4, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2006. Anwar Idochi, Kependidikan Dalam Proses Belajar Mengajar, Jakarta: Angkasa, 1987. Arief S Sadiman dkk, Media Pendidikan Pengembangan dan Pemanfaatannya, Jakarta: PT Raja Grapindo Persada, 1993. Asnawir dan M. Basyirusin Usman, Media Pembelajaran, Jakarta: Ciputat Press, 2002. Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003. Denis Mc Quil, Teori Komunikasi Massa: Suatu Pengantar, Jakarta: Erlangga, 1996. Drs. D. Zakiah Darajat, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: Bulan Bintang, 1993. E. C. Wragg, Pengelolaan Kelas. Pent: Aswan Jasin, Jakarta: Grasindo, 1996. Ensiklopedi Nasional Indonesia, Jld. V, Jakarta: PT. Cipta Adi Pustaka, 1990. Ensiklopedi Umum, cet 91, Yogyakarta: Kanisius, tt Hasan Shadily, Ensiklopedi Indonesia, Jakarta: Ikhtisar Baru –Van Hoeve, 1980. Heru Effendy, Mari Membuat Film: Panduan Untuk Menjadi Produser, cet. II, Yogyakarta: Panduan, 2004. H. Hamzah B. Uno, Profesi Kependidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2008. http://www.psb-psma.org/content/blog/peran-guru-sebagai-fasilitator

   

116   

J.J Hasibuan dan Moedjiono, Proses Belajar Mengajar, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1988. J.J Hasibuan, dkk, Proses Belajar Mengajar Keterampilan Dasar Mikro, Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 1994. Karys dan Ki Hajar Dewantara, Bagian Pertama Pendidikan, Yogyakarta: Majlis Luhur Persatuan Taman Siswa, 1997. Lary J Koenig, Smart Dicipline, Menanamkan Disiplin dan Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Pada Anak, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2003. Lexy J. Molcong, Metode Penelitian kualitatif, Bandung: remaja Rosdakarya, 2002. Madri M. dan Rosmawati, “Pemahaman Guru Tentang Strategi Pembelajaran Pendidikan Jasmani di Sekolah Dasar” Jurnal Pembelajaran, Vol. 27 No. 03, Desember, 2004. Mafri Amir, Etika Komunikasi Massa: Dalam Pendangan Islam, cet II, Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 1999. Marika Subrata, Proses Belajar Mengajar Pendidikan Luar Biasa, Surakarta: FIP. IKIP, tt. Mary Underwood, Pengelolaan Kelas Yang Efektif Suatu Pendekatan Praktis, Yogyakarta: Arcan, 2000. Marzuki, Metodologi Riset, Yogyakarta: PT Hamidi Offset, 1997. Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2002. Muh. Agus Nuryatno,dkk, Pedoman Penulisan Skripsi, Yoyakarta: Jurusan KI Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, 2009. Muljani A Nurhadi, Administrasi Pendidikan Di Sekolah, Yogyakarta: IKIP, 1983. Nana Sudjana, CBSA Dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1996. Nana Syaodih, Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2005.

   

117   

Ngainun Naim, Menjadi Guru Inspiratif, Memberdayakan dan Mengubah Jalan Hidup Siswa, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.

Oemar Hamalik, Kurikulum Dan Pembelajaran, Jakarta : Bumi Aksara, 1995. Peter Salim dan Salim Ninth Collegiate, English Indonesia Dictionary, cet 1, Jakarta: Modern English Press, 2002. Phil Astrid Susanto, Komunikasi Teori dan Praktek, Bandung, 1992. Pius A. Partanto dan M. Dahlan Al-Barry, Kamus Ilmiah Populer, Surabaya: Arkola, 1994. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, cet 2, Jakarta: Balai Pustaka, 1988. Rulam, Masalah Pengelolan Kelas, http://www.infodiknas.com/bab-2-masalahmasalah-pengelolaan-kelas/ Sarjono, dkk, Panduan Penulisan Skripsi, Yogyakarta: Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, 2008. Suharsimi Arikunto, Pengelolaan Kelas dan Siswa Sebuah Pendekatan Evaluatif, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996. Sumardi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, Jakarta: CV. Rajawali, 1987. Suparno Permadi, “Film Keliling Sebagai Sarana Penyuluhan Dan Publikasi”, Jurnal Penelitian Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi Komunikasi IPTEK-Kom, edisi no 5, 1999. Sutrisno Hadi, Metodologi Research I, Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM, 1987. Sri Esti Wuryani Djiwandono, Psikologi Pendidikan, Jakarta : Grasindo, 2002. Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif Suatu Pendekatan Teoritis Psikologis, Edisi Revisi cet 3, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2005. Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: PT Rineka Cipta, 1996. The Liang Gie, Cara Belajar Yang Efisien, Yogyakarta: Pusat Kemajuan Study, 1988.

   

118   

Thoifuri, Guru Inisiator, Semarang: Rasail Media Group, 2008. Tulus Tu’u, Peran Disiplin Pada Perilaku dan Prestasi Siswa, Jakarta: Grasindo, 2004) Zakiyah Daradjat, dkk, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1996.

   

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful