1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Rinosinusitis telah dikenal luas oleh masyarakat awam dan merupakan salah
satu penyakit yang sering dikeluhkan dengan berbagai tingkatan gejala klinik.
Hidung dan sinus paranasal merupakan bagian dari sistem pernaIasan sehingga
inIeksi yang menyerang bronkus, paru dapat juga menyerang hidung dan sinus
paranasal.
3,17,18.

Rinosinusitis adalah penyakit peradangan mukosa yang melapisi hidung dan
sinus paranasalis.
17.
Rinosinusitis ini merupakan inIlamasi yang sering ditemukan
dan akan terus meningkat prevalensinya. Rinosinusitis dapat mengakibatkan
gangguan kualitas hidup, sehingga penting bagi dokter umum atau dokter spesialis
lain untuk memiliki pengetahuan yang baik mengenai deIinisi, gejala dan metode
diagnosis dari penyakit rinosinusitis ini.
19.
Rinosinusitis ini sendiri di
klasiIikasikan dalam 3 kriteria, yaitu rinosinusitis akut, rinosinusitis subakut dan
rinosinusitis kronis.
19.

Data dari DEPKES RI tahun 2003 menyebutkan bahwa penyakit hidung dan
sinus berada pada urutan ke-25 dari 50 pola penyakit peringkat utama atau sekitar
102.817 penderita rawat jalan di rumah sakit.

Survei Kesehatan Indera Penglihatan
dan Pendengaran 1996 yang diadakan oleh Binkesmas bekerja sama dengan
PERHATI dan Bagian THT RSCM mendapatkan data penyakit hidung dari 7
propinsi. Data dari Divisi Rinologi Departemen THT RSCM Januari-Agustus
2
2005 menyebutkan jumlah pasien rinologi pada kurun waktu tersebut adalah 435
pasien, 69°nya adalah sinusitis. Dari jumlah tersebut 30° mempunyai indikasi
operasi BSEF (Bedah sinus endoskopik Iungsional). Karena berbagai kendala dari
jumlah ini hanya 60°nya (53 kasus) yang dilakukan operasi. Di Bagian THT RS
Dr. Wahidin Sudirohusodo Makasar, dilaporkan tindakan BSEF pada periode
Januari 2005-Juli 2006 adalah 21 kasus atas indikasi rinoinusitis, 33 kasus pada
polip hidung disertai rinosinusitis dan 30 kasus BSEF disertai dengan tindakan
septum koreksi atas indikasi rinosinusitis dan septum deviasi.
Sinusitis pada anak lebih banyak ditemukan karena anak-anak mengalami
inIeksi saluran naIas atas 6 8 kali per tahun dan diperkirakan 5° 10° inIeksi
saluran naIas atas akan menimbulkan sinusitis.Menurut Rachelevsky 1994, 37°
anak dengan rinosinusitis kronis didapatkan tes alergi positiI sedangkan Van der
Veken dkk 1997 mendapatkan tidak ada perbedaan insiden penyakit sinus pada
pasien atopik dan bukan atopik.

Menurut Takahasi dan Tsuttumi 1990 sinusitis
sering di jumpai pada umur 6-11 tahun. Sedangkan menurut Gray 1995 terbanyak
di jumpai pada anak umur 5-8 tahun dan mencapai puncak pada umur 6-7 tahun.


Saat ini di RSUP NTB belum dilakukan studi epidemiologi mengenai data
pasti dari kasus rinosinusitis, padahal rinosinusitis salah satu penyakit yang sering
dijumpai di poli THT RSUP NTB, sehingga sangat diperlukan data yang akurat
untuk mengetahui angka kejadian rinosinusitis, termasuk karaktristik subjek
berdasarkan usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, keluhan
utama dan Iaktor predisposisi dari rinosinusitis.
3
Dari uraian diatas dengan berbagai hal yang melatarbelakanginya, maka
penulis bermaksud mengangkat judul ¨Angka Kejadian Rinosinusitis di Poli
THT RSUP NTB Periode 1 1anuari - 31 Desember 2009¨. Di NTB khususnya
RSUP NTB yang merupakan pusat rujukan dari berbagai kabupaten/kodya di
NTB.

1.2. Rumusan Masalah
Bagaimanakah angka kejadian rinosinusitis yang terjadi di bagian Poli
THT RSUP NTB periode 1 Januari 31 Desember 2009?

1. 3. Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan umum
Mengetahui angka kejadian rinosinusitis yang terjadi di bagian
poli THT RSUP NTB periode 1 Januari 31 Desember 2009.
1.3.2. Tujuan Khusus
1. Mengetahui rentang usia pasien rinosinusitis.
2. Mengetahui jenis kelamin pasien rinosinusitis.
3. Mengetahui tingkat pendidikan terakhir pasien rinosinusitis.
4. Mengetahui jenis pekerjaan pasien rinosinusitis
5. Mengetahui Iaktor predisposisi pasien rinosinusitis.


4
1.4. Manfaat Penelitian
1.4.1. Bagi peneliti:
1. Mengetahui secara lebih mendalam angka kejadian rinosinusitis
yang terjadi di bagian Poli THT RSUP NTB periode 1 Januari 31
Desember 2009.
2. Sebagai sarana menambah pengalaman dalam melakukan
penelitian.

1.4.2. Bagi RSUP NTB:
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai reIerensi pihak RSUP
NTB dalam mengambil kebijakan guna meningkatkan kualitas pelayanan
kesehatan di NTB.
1.4.3. Bagi para pembaca:
Diharapkan bahwa hasil Karya Tulis Ilmiah ini nantinya dapat
menjadi sumber inIormasi dan bahan bacaan tambahan yang dapat
memperluas wawasan pengetahuan, khususnya bagi mahasiswa
kedokteran, tenaga kesehatan, maupun masyarakat pada umumnya






5
BAB II
TIN1AUAN PUSTAKA



2.1. Definisi Rinosinusitis

Rinosinusitis adalah suatu peradangan pada sinus yang terjadi karena alergi
atau inIeksi virus, bakteri maupun jamur. Secara klinis, rinosinusitis dapat
dikategorikan sebagai rinosinusitis akut bila gejalanya berlangsung dari beberapa
hari sampai 4 minggu, rinosinusitis subakut bila berlangsung dari 4 minggu
sampai 3 bulan dan rinosinusitis kronis bila berlangsung lebih dari 3 bulan.
2,17

2.1.1. Sinus Frontalis
Sinus Irontalis terdiri dari 2 sinus yang terdapat di setiap sisi pada
daerah dahi, di os Irontal. Ukuran sinus Irontal adalah 2,8 cm tingginya, lebar
2,4 cm dan dalamnya 2 cm. Sinus Irontal berkembang dari sinus etmoid
anterior pada pada usia 8 tahun dan mencapai ukuran maksimal pada usia 20
tahun.
1.

Dinding medial sinus merupakan septum sinus tulang interIrontalis
yang biasanya berada dekat garis tengah, tetapi biasanya berdeviasi pada
penjalarannya ke posterior, sehingga sinus yang satu bisa lebih besar daripada
yang lain. Sinus Irontalis bermuara ke dalam meatus medius melalui duktus
nasoIrontalis. kedua sinus Irontalis tidak terbentuk atau yang lebih lazim tidak
terbentuk salah satu sinus.
1.
Sinus Irontal dipisahkan oleh tulang yang relatiI
tipis dari orbita yang disebut dengan tulang compacta dan Iosa serebri
6
anterior, sehingga inIeksi dari sinus Irontal mudah menjalar ke daerah ini.
1,10

(Gambar 2.1)

2.1.2. Sinus Maksilaris
Sinus maksilaris disebut juga antrum Highmore, yang telah ada
saat lahir. Saat lahir sinus bervolume 6-8 ml, sinus kemudian berkembang
dengan cepat dan akhirnya mencapai ukuran maksimal yaitu 15 ml saat
dewasa
18
. Sinus Maksilaris merupakan sinus terbesar dan terletak di maksila
pada pipi yang berbentuk segitiga. Dinding anterior sinus adalah permukaan
Iasial os maksilaris yang disebut Iosa kanina, dinding posteriornya adalah
permukaan inIra-temporal maksilaris, dinding medialnya adalah dinding
lateral rongga hidung, dinding superiornya adalah dasar orbita dan dinding
inIeriornya adalah prosesus alveolaris dan palatum. Ostium sinus maksilaris
berada disebelah superior dinding medial sinus dan bermuara ke hiatus
semilunaris melalui inIundibulum etmoid.
1,17.

Letak ostium Sinus maksilaris lebih tinggi dari dasar sehingga aliran sekret
tergantung dari gerakan silia, dasar dari anatomi sinus maksila sangat
berdekatan dengan akar gigi rahang atas,caninus. Akar-akar gigi dapat
menonjol ke dalam sehingga inIeksi gigi geligi mudah naik ke atas
menyebabkan sinusitis dan ostium sinus maksila terletak di meatus medius,
disekitar hiatus semilunaris yang sempit sehingga mudah tersumbat.
1,17

(Gambar 2.1)
7
2.1.3. Sinus Etmoidalis
Sinus etmoidalis berongga-rongga, terdiri dari sel-sel yang menyerupai
sarang tawon, yang terdapat di dalam massa bagian lateral os etmoid, yang
terletak diantara konka media dan dinding medial orbita. Sama halnya
dengan sinus maksilaris, bahwa sinus etmoidalis ini telah ada saat lahir.
Ukurannya dari anterior ke posterior 4-5 cm, tinggi 2,4 cm dan lebarnya 0,5
cm di bagian anterior dan 1,5 ml cm dibagian posterior. Berdasarkan
letaknya, sinus etmoid dibagi menjadi sinus etmoid anterior yang bermuara di
meatus medius dan sinus etmoid posterior yang bermuara di meatus superior
dengan perlekatan konka media.
2

Di bagian terdepan sinus etmoid anterior ada bagian yang sempit,
disebut resesus Irontal, yang berhubungan dengan sinus Irontal. Sel etmoid
yang terbesar disebut bula etmoid.
2
Di daerah etmoid anterior terdapat suatu
penyempitan yang disebut inIundibulum, tempat bermuaranya sinus ostium
sinus maksila. Pembengkakan atau peradangan di resesus Irontal dapat
menyebabkan sinusitis Irontal dan pembengkakan di inIundibulum dapat
menyebabkan sinusitis maksila.
7

Atap sinus etmoid yang disebut Iovea etmoidalis berbatasan
dengan lamina kribrosa. Dinding lateral sinus adalah lamina papirasea yang
sangat tipis dan membatasi sinus etmoid dari rongga orbita. Di bagian
belakang sinus etmoid posterior berbatasan dengan dinding anterior sinus
sIenoid.
2,5

8
Berhubungan dengan orbita, sinus etmoid dilapisi dinding tipis
yakni lamina papirasea. Jika melakukan operasi pada sinus ini kemudian
dindingnya pecah maka darah akan masuk ke daerah orbita sehingga terjadi
Brill Hematoma.
10,19,11
(Gambar 2.2)
2.1.4. Sinus Sfenoidalis
SIenoidalis terletak di dalam os sIenoidalis dibelakang sinus
etmoid posterior. Ukurannya adalah 2 cm tingginya, dalamnya 2,3 cm dan
lebarnya 1,7 cm. Volumenya bervariasi dari 5 sampai 7,5 ml. Pneumatisasi
sinus spenoidalis dimulai pada usia 8-10 tahun. Biasanya berbentuk tidak
teratur dan sering terletak di garis tengah. Sinus sIenoid dibagi dua oleh
sekat yang disebut septum intersIenoid. Saat sinus berkembang, pembuluh
darah dan nervus dibagian lateral os sIenoid akan menjadi sangat
berdekatan dengan rongga sinus dan tampak sebagai indentasi pada
dinding sinus sIenoid.
1,17

Batas sinus sIenoidalis adalah sebelah anterior dibentuk oleh
resesus sIenoetmoidalis di medial dan oleh sel-sel etmoid posterior di
lateral. Dinding posterior dibentuk oleh os sIenoidale. Sebelah lateral
berkontak dengan sinus kavernosus, arteri karotis interna, nervus optikus
dan Ioramen optikus. Penyakit-penyakit pada sinus sIenoidalis dapat
mengganggu struktur-struktur penting ini, dan pasien dapat mengalami
gejala-gejala oItalmologi akibat penyakit sinus primer. Dinding medial
dibentuk oleh septum sinus tulang intersIenoid yang memisahkan sinus
9
kiri dari yang kanan. Superior terdapat Iosa serebri media dan kelenjar
hipoIisa dan sebelah inIeriornya atap nasoIaring.
1,4

Rinosinusitis bisa terjadi pada salah satu dari keempat sinus yang
ada yaitu maksilaris, etmoidalis, Irontalis atau sIenoidalis. Bila mengenai
beberapa sinus disebut multisinusitis, sedangkan bila mengenai semua
sinus paranasal disebut pansinusitis. Yang paling sering terkena dalah
sinus etmoidalis dan maksila, sedangkan sinus Irontal lebih jarang dan
sinus sphenoid lebih jarang lagi. Sinus maksila disebut juga antrum
highmore, letaknya dekat akar gigi rahang atas, maka inIeksi gigi mudah
menyebar ke sinus, disebut sinus dentogen. Sinusitis dentogen merupakan
salah satu penyebab penting sinusitis kronik.
2,17

Sinusitis dapat menjadi berbahaya karena menyebabkan
komplikasi ke orbita dan didalam rongga kepala , serta menyebabkan
peningkatan serangan asma yang sulit diobati.
2,17
(Gambar 2.2)
10

Gambar 2.1. Anatomi hidung dan sinus.
1



1. Sinus frontal
2. Sinus etmoid
anterior
3. Aliran dari sinus frontal
4. Aliran dari
ethmoid
5. Sinus etmoid
posterior
6. Konka media
7. Sinus
sphenoid
8. Konka
Inferior
9. Hard palate

Gambar 2.2. Dinding lateral hidung.
16

11
2.2. Angka Kejadian Sinusitis pada berbagai tempat di Indonesia dan di
Dunia
Prevalensi sinusitis di Indonesia cukup tinggi. Hasil penelitian tahun 1996
dari sub bagian Rinologi Departemen THT FKUI-RSCM, dari 496 pasien rawat
jalan ditemukan 50 persen penderita sinusitis kronik. Pada tahun 1999, penelitian
yang dilakukan bagian THT FKUI-RSCM bekerjasama dengan Ilmu Kesehatan
Anak, menjumpai prevalensi sinusitis akut pada penderita InIeksi Saluran NaIas
Atas (ISNA) sebesar 25°. Angka tersebut lebih besar dibandingkan data di
negara-negara lain.
12,16

Rinosinusitis mempengaruhi sekitar 35 juta orang per tahun di Amerika
dan jumlah yang mengunjugi rumah sakit mendekati 16 juta orang Menurut
National Ambulatory Medical Care Survey (NAMCS), kurang lebih dilaporkan 14
° penderita dewasa mengalami rinosinusitis yang bersiIat episode per tahunnya
dan seperlimanya sebagian besar didiagnosis dengan pemberian antibiotik. Pada
tahun 1996, orang Amerika menghabiskan sekitar $3.39 miliyar untuk pengobatan
rinosinusitis Sekitar 40 ° rinosinusitis akut merupakan kasus yang bisa sembuh
dengan sendirinya tanpa diperlukan pengobatan. Penyakit ini terjadi pada semua
ras, semua jenis kelamin baik laki-laki maupun perempuan dan pada semua
kelompok umur.
12,16

Rinosinusitis kronik mempengaruhi sekitar 32 juta orang per tahunnya dan
11,6 juta orang mengunjungi dokter untuk meminta pengobatan. Penyakit ini
bersiIat persisten sehingga merupakan penyebab penting angka kesakitan dan
12
kematian. Adapun penyakit ini dapat mengenai semua ras, semua jenis kelamin
dan semua umur.
22,18

2.2.1. Angka kejadian berdasarkan umur
Penelitian William et al (1992) pada rekam medis dan staI ahli
radiologi, ahli radiologi dengan pelatihan khusus radiologi tulang, dan
residen radiologi senior menyimpulkan bahwa Ioto Waters dapat diterima
untuk mendiagnosis sinus maxillaries. Pada penelitian ini ditemukan
bahwa gambaran sinusitis relatiI meningkat dari kelompok usia 10-20
tahun sampai usia 50-60 tahun; relatiI rendah pada usia 0-10 . Hal in
sesuai dengan Sharma (2006) yang menyatakan bahwa prevalensi tertinggi
sinusitis adalah pada usia dewasa, 18-75 tahun, setelah itu anak-anak
kurang dari 15 tahun dan pada anak usia 5-10 tahun.
16,22

Penelitian tentang gambaran sinusitis maksila dengan Iaktor
predisposisi inIeksi gigi rahang atas (dentogen) tidak banyak yang telah
dilaporkan. Pada penelitian Hasibuan (Medan 1992) di dapatkan dari 25
penderita sinusitis yang di telitinya rata-rata umur yang terbanyak adalah
20-29 tahun (32°). Yoshiura et al (Jepang 1993) dari 68 penderita
sinusitis yang ditelitinya rata-rata umur yang terbanyak adalah 46 tahun.
Soedarmi dan Islam (Semarang 1999) mendapatkan umur terbanyak 30-40
tahun. Nishimura dan Iizuka (jepang, 2001) mendapatakan rata-rata umur
yangterbanyak adalah 41-47 tahun. Suzanne at al (New York,2001) dari
sampel dengan umur antara 21-80 tahun mendapatkan rata-rata umur yang
terbanak adalah 32 tahun.
16,22

13
Berdasarkan data diatas dapat terlihat bahwa sinusitis maksila lebih
banyak menyerang pada orang muda perbedaan umur oleh masing-masing
peneliti lebih didasari oleh pengelompokan umur yang berbeda-beda pada
masing- masing peneliti.
2,16


2.2.2. Angka Kejadian berdasrkan jenis kelamin
Pada penelitian sinusitis yang dilakukan oleh departemen THT-KL
FK USU/RSUP H. Adamalik Medan ini adalah perempuan sebanyak 26
pederitan (74,28°) dan laki-laki- 9 pederita (25.72°). Dari 91 sampel,
51° (46 orang) menunjukkan gambaran sinusitis pada pemeriksaan Ioto
Waters - 53° (25 orang) wanita dan 47° (21 orang) laki-laki. Hal ini
sesuai dengan penelitian Ramanan (2007) yang menyatakan bahwa wanita
mempunyai lebih banyak episode sinusitis karena cenderung mempunyai
hubungan lebih dekat dengan anak-anak.
2,17

. Peneliti-peneliti seperti mangain Hasibun (Medan,1992) yang
meneliti tentang gambaran sinusitis maksila dengan Iactor predisposisi
inIeksi gigi rahang atas (dentogen) mendapatkan dari 25 penderita yang
dieriksanya terdapat 13 perempuan (25°) dan 12 laki-laki (48°).
Yoshioura et al (Jepang,1993) mendapat kan dari 68 pendrita yang
diperiksanya terdapat 36 perempuan (52,95°) dan 32 laki-laaki(47,05°).
Soedarme dan Islam (Semarang,1999) mendapatakan 19 perempuan
(47,50°) dan 21 laki-laki (52,50°). Zuzanni at al (Wew York,2001)
mendapatakan 14 kasus yang terdiri dari 10 perempuan (71,4°) dan 4
14
laki-laki (28,6°). Paada penelitian Nishimura dan Iizuka (Jepang,2001)
medapat kan dari 15 penderita sinusitis dengan Iactor predisposisi rahang
atas (dentogen) terdapat 5 perempuan (33,33°) dan 10 laki-laki (66,67°).
Primartono dan Suprihati (Semarang,2003) mendapatkan 70 penderita
sinusitis yang terdiri dari 32 perempuan ( 45,7°) dan 38 laki-laki (54,3°).
Gambaran sinusitis maxillaris merupakan yang terbanyak - 52° (24
orang) ipsilateral, 28° (13 orang) bilateral
9
. Sisanya 20° (9 orang),
menunjukkan gambaran sinusitis maxillaris bersamaan dengan gambaran
sinusitis lain, yakni 1 orang bersama sinusitis frontalis, 5 orang bersama
sinusitis ethmoidalis, dan 3 orang pansinusitis. Hal ini sesuai penemuan
Mangunkusumo dan RiIki (2006). paling sering sinusitis maxillaris dan
sinusitis ethmoidalis.
2,16,17


2.2.3. Angka Kejadian Berdasarkan Pekerjaan
Dari hasil penelitian Mangunkusumu dan RiIki (2006) didapat
jenis pekerjaan terbanyak dari kelompok belum/tidak bekerja dan
kelompok swasta yang memiliki jumlah pasien yang sama sebanyak 32
(26,66°) pasien. Kelompok belum/tidak bekerja ini terdiri dari anak usia
·5 tahun yang belum bersekolah, IRT dan pensiunan, sedangkan
kelompok swasta antara lain terdiri dari petani, buruh, montir bengkel,
sopir dan tukang ojek.
22
Dan yang merupakan kelompok terkecil adalah
kelompok pelajar sebanyak 15 (12,50°) pasien.
3,17

15
Kelompok belum/tidak bekerja memiliki kasus tertinggi pada
rentang usia 26-35 tahun sebanyak 13 pasien, sedangkan kelompok swasta
memiliki kasus tertinggi pada rentang usia 36-45 tahun sebanyak 11
pasien. Untuk kelompok belum/tidak bekerja yang diketahui 26 dari 33
pasiennya adalah IRT, dimana mereka lebih banyak melakukan aktivitas di
rumah, sehingga hal ini berhubungan erat dengan paparan yang terus-
menerus dari alergen yang berada dalam rumah dan lingkungan sekitarnya,
seperti debu rumah, apalagi di daerah urban terdapat banyak pemukiman
padat penduduk yang biasanya di huni oleh kalangan menengah bawah,
dengan lingkungan yang buruk pada tempat tinggal mereka, karena pada
umumnya rumah-rumah tersebut memiliki sedikit ventilasi sehingga
sirkulasi udara berjalan tidak lancar.
16
Namun Iaktor resiko non alergi
seperti udara dingin, kerja berat, inIeksi virus dan lain-lain dapat juga
berperan dalam mencetuskan rinosinusitis kronis penghuni rumah tersebut.
Kemudian untuk kelompok swasta dengan rata-rata penghasilan rendah
seperti yang telah dijelaskan diatas, dimana mereka lebih banyak
melakukan aktivitasnya di luar rumah yang boleh diprediksikan bahwa
kondisi lingkungan kerja mereka kurang baik, karena mereka akan lebih
sering terpapar oleh polusi udara dari kendaraan bermotor, apalagi
masyarakat Indonesia kita ini yang sebagian besar penduduknya
merupakan perokok aktiI, sehingga perokok pasiI pun akan terpapar juga
oleh asap rokok yang merupakan salah satu alergen yang dapat
mencetuskan rinosinusitis kronis.
4
Kasus rinosinusitis kronis pada PNS
16
juga cukup banyak, dimana kelompok ini menempati urutan kedua setelah
kelompok belum/tidak bekerja dan kelompok swasta. Jumlah PNS yang
tinggi dikarenakan RSUP NTB menerima pelayanan ASKES, sehingga
banyak dari mereka yang memanIaatkan Iasilitas pelayanan kesehatan
gratis dari ASKES
15,16


2.2.4. Angka Kejadian berdasarkan tingkat pendidikan
Tingkat pendidikan terakhir penderita rinosinusitis kronis tertinggi
pada kelompok SMA sebanyak 51 (42,5°) pasien dan terendah pada
kelompok TK sebanyak 3 (3,33°) pasien. Kelompok SMA terbanyak
pada rentang usia 16-25 tahun dengan jumlah kasus tertinggi yaitu
sebanyak 22 pasien. Untuk distribusi rentang usia dan tingkat. Namun
demikian, belum ada penjelasan yang pasti mengenai hubungan antara
tingkat pendidikan dengan kejadian sinusitis.
2,17


2.3. Etiologi dan faktor predisposes rinosinusitis
Beberapa Iaktor etiologi dan Iaktor predisposisi antara lain ISPA akibat
virus, bermacam rhinitis terutama renitis alergi, rhinitis hormonal pada wanita
hamil, polip hidung, kelainan anatomi seperti deviasi septum atau hipertroIi
konka, sumbatan kompleks osteomeatal (KOM), inIeksi tonsil, inIeksi gigi,
kelainan imunologi, diskinesia silia seperti pada sindrom kartagener dan diluar
negri adalah penyakit Iibrosis kistik
7
. Pada anak hipertroIi adenoid merupakan
Iaktor penting penyebab sinusitis sehingga perlu dilakukan adenoidektomi untuk
17
menghilangkan sumbatan dan menyembuhkan rinosinusitisnya. HipertroIi
adenoid dapat didiagnosis dengan Ioto polos leher posisi lateral.
23

Faktor lain yang juga berpengaruh adalah lingkungan berpolusi, udara
dingin, serta kebiasaan merokok. Keadaan ini lama-lama menyebabkan perubahan
mukosa dan merusak silia.
3,16

Etiologi rinosinusitis pada anak adanya Peradangan yang disebabkan
inIeksi saluran naIas atas dan alergi
21
. Mekanikal terdapat deIormitas septum /
nasal, obstruksi kompleks osteo meatal (KOM), konka hipertropi, polip, tumor,
adenoid hipertropi, benda asing dan cleft palate. Sistemik terbentuk Iibrosis
kistik, sindroma Kartagener, imunodeIisiensi.
23

Bakteri aerob yang sering ditemukan antara lain staphylococcus aureus,
streptococcus viridians, haemuphilus influen:a, neisseria flavus, staphylococcus
epidermidis, streptococcus pneumonia, dan escherichia coli. Sedangkan bakteri
anaerob antara lain peptostreptococcus, corynebacterium, bacteroides, dan
veillonella. InIeksi campuran antara organisme aerob dan anaerob sering kali juga
terjadi.
1,14

.






18
2.4. Patofisiologi Rinosinusitis







Gambar 2.3 Omplek Ostiomeatal.
16

Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan
lancarnya klirens mukosiliar didalam sumbatan kompleks osteo meatal (KOM).
Mukus juga mengandung substansi antimikrobial dan zat-zat yang berIungsi
sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap kuman yang masuk bersama udara
pernapasan.
1,9

Organ-organ yang membentuk uumbatan kompleks osteo meatal (KOM)
letaknya berdekatan dan bila terjadi edema, mukosa yang berhadapan akan saling
bertemu sehingga silia tidak dapat bergerak dan ostium tersumbat. Akibatnya
terjadi tekanan negative didalam rongga sinus yang menyebabkan terjadinya
transudasi, mula-mula serous. Kondisi ini bisa dianggap sebagai rinosinusitis yang
19
tidak disebab kan oleh bakteri dan biasanya sembuh dalam beberapa hari tanpa
pengobatan.
1

Bila kondisi ini menetap, sekret yang terkumpul dalam sinus merupakan
media yang baik untuk pertumbuhan bakteri. Sekret menjadi purulen. Keadaan ini
disebut sebagi rinosinusitis akut yang disebab kan oleh bakteri dan memerlukan
terapi anti bakteri.
1

Jika terapi tidak berhasil, inIlamasi berlanjut, terjadi hipoksia dan bakteri
anaerob berkembang. Mukosa makin membengkak dan ini merupakan rantai
siklus yang terus berputar. Sampai akhirnya perubahan mukosa menjadi kronik
yaitu hipertriIi, polipoid atau pembentukan polip dan kista. Pada keadaan ini
mungkin diperlukan tindakan operasi.
2,17

PatoIisiologi rinosinusitis pada anak berbeda dengan orang dewasa.
Rinosinusitis pada anak biasanya merupakan sisa inIeksi saluran naIas atas akut.
Insiden inIeksi saluran naIas akut lebih tinggi pada anak-anak akibat sistem imun
yang menurun yang menimbulkan inIeksi virus pada saluran naIas atas dan juga
karena seringnya terpapar dengan lingkungan seperti sekolah, di mana sering
kontak dengan anak-anak yang lain sebagai transIer inIeksi. InIeksi saluran naIas
atas menyebabkan edem mukosa sehingga menyebabkan obstruksi aliran sinus
sehingga menimbulkan inIeksi. Pada anak-anak, dengan anatomi perkembangan
sinus yang berukuran kecil dan pendeknya jarak antara permukaan mukosa dari
ostio memainkan peranan pada perkembangan rinosinusitis.
1,21

20
Perubahan sekresi kelenjar pada kistik Iibrosis menghasilkan mukus yang
kental sehingga menyulitkan pembersihan sekret serta gangguan gerakan silia
seperti pada silia imotil sindroma. Kedua hal ini menimbulkan stase mukus yang
selanjutnya akan terjadi kolonisasi kuman dan timbul inIeksi.
12

Peranan alergi pada sinusitis adalah akibat reaksi anti gen anti bodi yang
menimbulkan pembengkakan mukosa sehingga menimbulkan obstruksi pada
ostium sinus dan menghambat aliran mukus. Selanjutnya terjadi vakum di rongga
sinus sehingga terjadi transudasi cairan ke rongga sinus
8
. Menumpuknya cairan di
rongga sinus merupakan media pertumbuhan bakteri sebagai hasil obstruksi
ostium sinus yang lama. Faktor kelainan anatomi seperti septum deviasi,
hipertropi atau paradoksal konka media dan konka bulosa juga dapat
mempengaruhi aliran ostium sinus.
20,17

Menurut Messerklinger, yang di kutip oleh Kenedy 1995, bila dua lapisan
mukosa yang berdekatan saling kontak karena edema akan terjadi gangguan
Iungsi silia di tempat tersebut sehingga terjadi retensi sekret. Kontak mukosa pada
kompleks osteo meatal terjadi pada celah antara prosesus unsinatus dengan
konkha media, antara bula etmoid dan konkha media serta di atas dan belakang
bula etmoid. Pada keadaan ini pertukaran udara atau ventilasi terganggu,
perubahan pH sinus akan menurun, oksigen akan di serap dan mukosa akan
mengalami hipoksia dan kematian sel mukosa sinus yang memudahkan terjadinya
inIeksi.
12.22


21
2.5. Klasifikasi Rinosinusitis
2,17

Berdasarkan konsensus tahun 2004, sinusitis dibagi menjadi tiga
berdasarkan waktunya, yaitu:
2.5.1. Rinosinusitis akut: gejala terjadi selama 4 minggu atau kurang dari
4 minggu
2.5.2. Rinosinusitis subakut: gejala terjadi lebih dari 4 minggu dan kurang
dari 12minggu
2.5.3. Rinosinusitis kronik: gejala lebih dari 12 minggu
Berdasarkan penelitian, Bakteri utama pada sinusitis akut adalah
Streptococcus pneumonia merupakan penyebab terbanyak dari inIeksi sinussitis
akut yaitu 30 ° sampai 50 °, Haemophylus inIluenzae mencapai 20° sampai
40 ° sedangakan Moraxella catarrhalis hanya 4°.
17,23

Sedangkan Bakteri utama pada sinusutis kronik tergantung pada Iaktor
predisposisi, namun bakteri yang ada lebih condong ke arah bakteri gram negatiI
dan anaerob.
17

2.6. Gejala klinis rinosinusitis
Keluhan utama sinusitis ialah hidung tersumbat disertai nyeri/ rasa
tekanan pada muka dan ingus purulen yang seringkali turun ke tenggorok(post
nasal drip). Dapat disertai gejala sistemik seperti demam dan lesu.
2,17

22
Gejala rinosinusitis pada anak bervariasi sesuai umur karena pada anak yang
kecil, sulit untuk menceritakan keluhannya dengan jelas, sedangkan pada anak
yang lebih besar dapat memberikan keluhan yang jelas sehingga akan lebih tepat
seperti keluhan pada rinosinusitis dewasa. Gejala yang berat dan komplikasi
sering terjadi pada rinosinusitis akut.
20

Menurut Wald, terdapat 2 maniIestasi klinik, yaitu :

1. InIeksi Saluran NaIas Atas (ISNA) yang tampak berat dengan demam
lebih dari 39
0
C, sekret purulen dan nyeri wajah.
2. ISNA yang lama dengan batuk dan sekret hidung menetap lebih dari 10
hari.
Muntz dan Lusk 1994, menyatakan, bahwa demam jarang ditemukan pada
rinosinusitis anak-anak, meskipun pada keadaan akut. Demam biasanya
menandakan adanya komplikasi. Kadang-kadang terjadi muntah pada saat batuk,
mual atau rasa tercekik karena sekresi yang mengalir di belakang hidung ke
tenggorok. Rinosinusitis kronis banyak dilaporkan terjadi pada anak dengan
riwayat rinitis alergi dan asma. Batuk pada waktu siang maupun malam hari
merupakan gejala yang paling sering terjadi dan tidur sering terganggu
11


2.6.1. Sinusitis maksila
Pada peradangan aktiI sinus maksila atau Irontal, nyeri biasanya sesuai
dengan daerah yang terkena. Pada sinusitis maksila nyeri terasa di bawah
kelopak mata dan kadang menyebar ke alveolus hingga terasa di gigi. Nyeri
alih dirasakan di dahi dan depan telinga. Wajah terasa bengkak, penuh dan
gigi nyeri pada gerakan kepala mendadak, misalnya sewaktu naik atau turun
23
tangga. Seringkali terdapat nyeri pipi khas yang tumpul dan menusuk.
Sekret mukopurulen dapat keluar dari hidung dan terkadang berbau busuk.
Batuk iritatiI non produktiI seringkali ada.
2,17

Gejalanya demam, pusing, ingus kental di hidung, hidung tersumbat, nyeri
pada pipi terutama sore hari, ingus mengalir ke nasoIaring, kental kadang-
kadang berbau dan bercampur darah.
11


2.6.2. Sinusitis etmoid
Gejala berupa nyeri yang dirasakan di pangkal hidung dan kantus medius,
kadang-kadang nyeri dibola mata atau belakangnya, terutama bila mata
digerakkan. Nyeri alih di pelipis dan sumbatan hidung. Ingus kental di
hidung dan nasaIaring, nyeri di antara dua mata, dan pusing.
2,19


2.6.3. Sinusitis Irontal
Gejala subyektiI terdapat nyeri kepala yang khas, nyeri berlokasi di atas
alis mata, biasanya pada pagi hari dan memburuk menjelang tengah hari,
kemudian perlahan-lahan mereda hingga menjelang malam. Pasien biasanya
menyatakan bahwa dahi terasa nyeri bila disentuh dan mungkin terdapat
pembengkakan supra orbita. Demam,sakit kepala yang hebat pada siang
hari,tetapi berkurang setelah sore hari, ingus kental dan penciuman
berkurang.
2,19

2.6.4. Sinusitis sphenoid
Pada sinusitis sIenodalis rasa nyeri terlokalisasi di vertex, oksipital, di
belakang bola mata dan di daerah mastoid. Namun penyakit ini lebih lazim
menjadi bagian dari pansinusitis, sehingga gejalanya sering menjadi satu
24
dengan gejala inIeksi sinus lainnya. Gejalanya nyeri di bola mata, sakit
kepala, ingus di nasoIaring.
2,19

2.7. Diagnosis rinosinusitis
Kriteria rinosinusitis akut dan kronis pada penderita dewasa dan anak
berdasarkan gambaran klinik, yaitu:
Tabel 2.5. Kriteria rinosinusitis akut dan kronik pada anak dan dewasa menurut
nternational Conference on Sinus Disease 1993 & 2004.
15

No Kriteria Rinosinusitis akut Rinosinusitis
Kronis
Dewasa Anak Dewasa Anak
1 Lama gejala dan tanda · 12
minggu
· 12
minggu
~ 12
minggu
~ 12
minggu
2 Jumlah episode serangan
akut, masing-masing
berlangsung minimal 10 hari

· 4 kali /
tahun
· 6 kali /
tahun
~ 4 kali /
tahun
~ 6 kali /
tahun
3 Jumlah episode serangan
akut, masing-masing
berlangsung minimal 10 hari
Dapat sembuh
sempurna dengan
pengobatan
medikamentosa
Tidak dapat
sembuh sempurna
dengan pengobatan
medikamentosa
Berdasarkan gambaran klinik ini, dapat ditentukan langkah diagnosis dari
rinosinusitis. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis,pemeriksaan Iisik, dan
pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan Iisik dengan rinoskopi anterior dan
posterior, pemeriksaan nasoendoskopi sangat dianjurkan untuk diagnosis yang
lebih tepat dan dini. Tanda khas adalah adanya pus dimeatus medius atau didaerah
meatus superior.
2,17

25
Kriteria Rinosinusitis menurut American Academy oI Otolaringology &
American Rhinologic Society 1996 adalah sebagai berikut:
1. Gejala mayor dapat berupa terasa sakit daerah muka, hidung tersumbat,
terjadi post nasal drip puru.
2. Gejala minor dapat berupa pasien batuk, terdapat lendir di tenggorok,
terasa nyeri dikepala, nyeri geraham, halitosis. Rinosinusitis akut didiagnosis jika
terdapat 2 kriteria mayor atau lebih, atau 1 gejala mayor dan 2 gejala minor.
5,6,22.

Pemeriksaan penunjang yang penting adalah Ioto polos atau CT scan.
Foto polos posisi waters, PA atau lateral , umumnya hanya mampu menilai
kondisi sinus-sinus besar. Kelainan akan terlihat berupa perselubungan, batas
udara cairan atau penebalan mukosa. CT scan sinus merupakan standar utama
untuk mendiagnosis sinusitis karena mapu menilai anatomi hidung dan sinus,
adanya penyakit dalam hidung dan sinus secara keseluruhan dan perluasannya.
Namun, karena mahal hanya dikerjakansbagai penunjang diagnosis sinusitis
kronik yang tidak membaik dengan pengobatan atau praoperasi sebagai panduan
operator saat melakukan operasi sinus.
12,19

Pada pemeriksaan transiluminasi sinus yang sakit akan menjadi suram atau
gelap. Pemeriksaan mikrobiologi dan tes resistensi dilakukan dengan mengambil
sekret dari meatus medius/superior, untuk mendapat antibiotika yang tepat guna.
Lebih baik lagi bila diambil dari Iungsi sinus maksila.
15




26
2.8. Terapi Rinosinusitis
Tujuan terapi sinusitis adalah mempercpat penyembuhan, mencegah
komplikasi dan mencegah perubahan menjadi kronik. Prinsip pengobatan adalah
membuka sumbatan di sumbatan kompleks osteomeatal (KOM) sehingga drainase
dan ventilasi sinus-sinus pulih secara alami.
24

Antibiotika dan dekongestan merupakan terapi pilihan pada sinusitis akut
bacterial, untuk menghilangkan inIeksi dan pembengkakan mukosa serta
membuka sumbatan ostium sinus. Antibiotika yang dipilih adalah golongan
penisilin seperti amoksisilin. Jika diperkirakan kuman telah resisten atau
memproduksi beta laktamase, maka dapat diberikan amoksisilin klavulanat atau
jenis seIalosporin generasi 2. Pada sinusitis antibiotika diberikan selama 10-14
hari meskipun gejala klinik sudah hilang.
8,19

Pada sinusitis kronik diberikan antibiotika yang sesuai untuk kuman
negative gram dan anaerob. Elain dekongestan hidung, terapi lain dapat diberikan
seperti analgetik, mukolitik, steroid oral/topikal, pencucian rongga hidung dengan
NaCl atau pemanasan. Imunoterapi dapat dipertimbangkan jika pasien menderita
kelainan alergi yang berat.
2,19

Penatalaksanaan sinusitis pada anak terdiri dari dua jenis yaitu :
konservatiI dan operatiI.

Terapi konservatiI merupakan terapi utama pada
rinosinusitis anak dan terapi operatiI dilakukan bila dengan konservatiI gagal atau
terjadi komplikasi ke orbita atau intra kranial.
24


27
Adapun antibiotika yang dapat dipilih pada terapi rinosinusitis, diantaranya dapat
dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 2.6. Antibiotika yang dapat dipilih pada terapi rinosinusitis.
24

SINUSITIS AKUT

Lini Pertama

Antibotik Dosis
Amoksisilin
Anak: 20-40mg/kg/hari terbagi dalam 3 dosis
Dewasa: 3 x 500 mg
Kotrimoxazol
Anak: 6 - 12 mg TMP/ 30 60 mg SMX/ kg/hari
terbagi dlm 2 dosis
Dewasa: 2 x 2 tab dewasa
Eritromisin
Anak: 30-50mg/kg/hari terbagi setiap 6 jam
Dewasa: 4 x 250-500mg
Doksisiklin Dewasa: 2 x 100 mg
Lini kedua
Amoksi-clavulanat
Anak: 25-45mg/kg/hari terbagi dlm 2 dosis
Dewasa: 2 x 875 mg
CeIuroksim 2 x 500 mg
Klaritromisin
Anak: 15 mg/kg/hari terbagi dlm 2 dosis
Dewasa: 2 x 250 mg
Azitromisin
1 x 500 mg, kemudian 1x250 mg selama 4 hari
berikutnya.
LevoIloxacin Dewasa: 1 x 250-500 mg
SINUSITIS KRONIK
Antibiotika Dosis
Amoksi-clavulanat Anak: 25-45mg/kg/hari terbagi dlm 2 dosis
28
Dewasa: 2 x 875 mg
Azitromisin
Anak: 10 mg/kg pada hari 1 diikuti 5mg/kg selama
4 hari berikutnya
Dewasa: 1 x 500 mg, kemudian 1 x 250mg selama
4 hari
LevoIloxacin Dewasa: 1 x 250-500mg

2.9. Tindakan operasi
Bedah sinus endoskopi Iungsional (BSEF/FESS) merupakan operasi
terkini untuk sinusitis kronik yang memerlukan operasi. Indikasinya berupa
sinusitis kronik yang tidak membaik setelah terapi adekuat, sinusitis kronik
disertai kista, atau kelainan yang irreversible, polip ekstensiI, adanya komplikasi
sinusitis serta sinusitis jamur.
2,19

2.10. Komplikasi
Komplikasi sinusitis telah menurun secaranyata sejak ditemukannya
antibiotik. Komplikasi berat biasanya terjadi pada sinusitis akut atau sinusitis
kronik dengan eksaserbasi akut, berupa komplikasi orbita atau intracranial.
1,7

2.10.1. Kelainan pada Orbita
Sinusitis ethmoidalis merupakan penyebab komplikasi pada orbita
yang tersering. Pembengkakan orbita dapat merupakan maniIestasi
ethmoidalis akut, namun sinus Irontalis dan sinus maksilaris juga terletak
29
di dekat orbita dan dapat menimbulkan inIeksi isi orbita juga. Pada
komplikasi ini terdapat lima tahapan
1
:
a. Peradangan atau reaksi edema yang ringan.
Terjadi pada isi orbita akibat inIeksi sinus ethmoidalis
didekatnya. Keadaan ini terutama ditemukan pada anak, karena
lamina papirasea yang memisahkan orbita dan sinus
ethmoidalis sering kali merekah pada kelompok umur ini.
1,12

b. Selulitis orbita
Edema bersiIat diIus dan bakteri telah secara aktiI
menginvasi isi orbita namun pus belum terbentuk
1

c. Abses subperiosteal
Pus terkumpul diantara periorbita dan dinding tulang orbita
menyebabkan proptosis dan kemosis.
1,2

d. Abses orbita
Pus telah menembus periosteum dan bercampur dengan isi
orbita. Tahap ini disertai dengan gejala sisa neuritis optik dan
kebutaan unilateral yang lebih serius. Keterbatasan gerak otot
ekstraokular mata yang tersering dan kemosis konjungtiva
merupakan tanda khas abses orbita, juga proptosis yang makin
bertambah.
2,19


30
e. Thrombosis sinus kavernosus
Akibat penyebaran bakteri melalui saluran vena kedalam sinus
kavernosus, kemudian terbentuk suatu tromboIlebitis septik.
1

2.10.2. Kelainan intrakranial
a. Meningitis akut
Salah satu komplikasi sinusitis yang terberat adalah
meningitis akut, inIeksi dari sinus paranasalis dapat menyebar
sepanjang saluran vena atau langsung dari sinus yang berdekatan,
seperti lewat dinding posterior sinus Irontalis atau melalui lamina
kribriIormis di dekat sistem sel udara ethmoidalis.
1

b. Abses dura
Kumpulan pus diantara dura dan tabula interna kranium,
sering kali mengikuti sinusitis Irontalis. Proses ini timbul lambat,
sehingga pasien hanya mengeluh nyeri kepala dan sebelum pus
yang terkumpul mampu menimbulkan tekanan intrakranial.
2,19

c. Abses subdural
Kumpulan pus diantara duramater dan arachnoid atau
permukaan
otak. Gejala yang timbul sama dengan abses dura.
2,19




31
d. Abses otak
Setelah sistem vena, dapat mukoperiosteum sinus terinIeksi,
maka dapat terjadi perluasan metastatik secara hematogen ke
dalam otak.
1

2.10.3. Osteitis dan Osteomylitis.
Penyebab tersering osteomielitis dan abses subperiosteal pada
tulang Irontalis adalah inIeksi sinus Irontalis. Nyeri tekan dahi setempat
sangat berat. Gejala sistemik berupa malaise, demam dan menggigil.
1,21

2.10.4. Mukokel
Suatu kista yang mengandung mukus yang timbul dalam sinus,
kista ini paling sering ditemukan pada sinus maksilaris, sering disebut
sebagai kista retensi mukus dan biasanya tidak berbahaya
2
. Dalam sinus
Irontalis, ethmoidalis dan sIenoidalis, kista ini dapat membesar dan
melalui atroIi tekanan mengikis struktur sekitarnya. Kista ini dapat
bermaniIestasi sebagai pembengkakan pada dahi atau Ienestra nasalis dan
dapat menggeser mata ke lateral. Dalam sinus sIenoidalis, kista dapat
menimbulkan diplopia dan gangguan penglihatan dengan menekan saraI
didekatnya.
1

2.10.5. Pyokokel.
Mukokel terinIeksi, gejala piokel hampir sama dengan mukokel
meskipun lebih akut dan lebih berat.
1

32
2.11. Kerangka Konsep Penelitian
Berdasarkan uraian di atas, dapat disusun kerangka konsep penelitian sebagai
berikut:














Gambar 2.4. Kerangka konsep penelitian







Frekuensi
Tingkat
Pendidikan
Frekuensi
Jenis
Pekerjaan
Faktor
predisposisi

Rinosinusitis
Frekuensi
Jenis
Kelamin
Frekuensi
Usia
33

BAB III
METODE PENELITIAN


3.1. 1enis Penelitian
Penelitian ini dirancang secara deskriptiI, dengan pengumpulan data
bersiIat retrospektiI yaitu melakukan tinjauan terhadap rentang usia, jenis
kelamin, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan dan Iaktor predisposisi pada pasien
rinosinusitis yang berobat di Poli THT RSUP NTB periode 1 Januari 31
Desember 2009.

3.2. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan di RSUP NTB pada bulan September 2010. Data
dalam penelitian ini diambil dari kartu rekam medis pada pasien rinosinusitis akut
yang menjalani pemeriksaan di bagian Poli THT di RSUP NTB periode 1 Januari
31 Desember 2009.

3.3. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh rekam medis pasien
rinosinusitis akut yang menjalani pemeriksaan di poli THT RSUP NTB periode 1
Januari 31 Desember 2009. Jumlah sampel dihitung denga rumus sebagai
berikut :
34

Rumus Slovin

N
n ÷
N(e)
2
¹ 1
Keterangan:
n ÷ ukuran sampel
N ÷ ukuran populasi
1 ÷ konstanta
e ÷ persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan
pengambilan sampel yang masih dapat ditolerir atau diinginkan,
misalnya 10°.
Berdasarkan rumus slovin tersebut, jumlah sampel yang diambil
dari populasi sebanyak 112 orang adalah :

÷÷ ÷


3.4. Definisi Operasional
1. Angka Kejadian Rinosinusitis ditentukan berdasarkan diagnosis yang
diteggakkan oleh dr. Spesialis THT. Yaitu: Rinosinusitis akut,
rhinosinusitis sub akut, rhinosinusitis kronik.
2. Karakteristik Rhinosiusitis merupakan gambaran umum penderita
yang terdiri dari rentang usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan
52,83 - 53 orang.
112
112 (0,1)
2
¹ 1
N
N (e)
2
¹ 1
35
terakhir, jenis pekerjaan, keluhan utama, dan Iaktor predisposisi
rinosinusitis yang disajikan dalam bentuk tabel, gambar atau ikhtisar
lainnya yang mewakili serangkaian karakteristik secara kuantitatiI.
3. Usia pasien rinosinusitis merupakan waktu hidup pasien sejak
dilahirkan sampai datang ke poli THT dengan penyakit rinosinusitis.
4. Jenis kelamin adalah laki laki dan perempuan.
5. Tingkat pendidikan merupakan pendidikan Iormal yang telah
diselesaikan
6. Pekerjaan merupakan mata pencaharian dari pasien rinosinusitis
7. Faktor predisposisi merupakan hal-hal yang menjadi penyebab
terjadinya rinosinusitis kronis, seperti: obstruksi mekanik seperti
deviasi septum, hipertropi konka media, benda asing di hidung, polip
serta tumor di dalam rongga hidung yang dibiarkan terus menerus,
rangsangan menahun dari lingkungan berpolusi, udara dingin serta
kering, Iaktor Iisik, kimia, saraI, hormonal ataupun emosional.
3.5. Alat dan Cara Pengumpulan Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah inIormasi yang tertulis dalam
rekam medis pasien rinosinusitis. Pengumpulan data dilakukan dengan mencatat
inIormasi-inIormasi yang penting dalam kartu rekam medis pasien. Data yang
dicatat meliputi:
1. Nomor rekam medis.
2. Tanggal masuk rumah sakit.
36
3. Nama, umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan dan alamat
pasien.
4. Faktor predisposisi timbulnya rinosinusitis.
5. Keluhan utama.
6. Hasil pemeriksaan penunjang.

3.6. Prosedur Penelitian
Dalam penelitian ini, digunakan prosedur penelitian yang sesuai dengan
langkah-langkah berikut:
1. Melakukan pencatatan pasien rinosinusitis dari buku registrasi di poli
THT RSUP NTB periode 1 Januari 31 Desember 2009.
2. Melakukan pencarian rekam medik pasien rinosinusitis di RSUP NTB
periode 1 Januari 31 Desember 2009.
3. Mencatat proIil semua pasien rinosinusitis di RSUP NTB periode 1
Januari 31 Desember 2009.
4. Mengumpulkan data dan melakukan pengentrian data.
5. Melakukan analisa data dengan metode analisis deskriptiI sederhana
terhadap data yang sudah terkumpul dalam bentuk tabel dan gambar.
6. Membahas dan menginterprestasikan hasil data yang diperoleh yang
dikaitkan dengan variable-variabel penelitian yang digunakan.

3.7. Analisis Data
37
Data yang diperoleh disusun dan ditabulasi serta disajikan dalam bentuk
tabel dan graIik.

3.8. Rencana Kegiatan
Tabel 2.3 Jadwal penelitian berdasarkan kegiatan yang dilaksanakan
Tabel 2.3 Jadwal penelitian berdasarkan kegiatan yang dilaksanakan
Rencana
kegiatan
Juni Juli Agts Sept Okt
Penyusunan
judul
X
Penyusunan
proposal
X X X
Pengumpulan
data
X
Analisis data X
Laporan
penelitian
X











38






BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam penelitian ini pengumpulan data hanya berdasarkan inIormasi-
inIormasi yang tertera di lembaran rekam medis pasien rhinosinusitis yang
menjalani pemeriksaan di poli THT RSUP NTB periode 1 Januari 31 Desember
2009. Adapun inIormasi yang dicatat yaitu nomor rekam medis, tanggal masuk
rumah sakit, nama, umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, Iaktor
predisposisi dan hasil pemeriksaan penunjang.
Penelitian mengenai proIil rhinosinusitis ini dilakukan selama satu bulan
yaitu pada bulan november dan berdasarkan hasil pengumpulan data rekam medis
yang dilakukan, maka didapatkan data-data pasien rhinosinusitis yang menjalani
pemeriksaan di poli THT RSUP NT B, yakni sebanyak 112 pasien rhinosinusitis
yang diperiksa di poli THT RSUP NTB periode 1 Januari 31 Desember 2009,
dan diantaranya terdapat 53 pasien yang dijadikan sampel dan terdiagnosa
rhinosinusitis.
Berikut merupakan gambaran karakteristik subjek penelitian sebanyak 53
kasus yang dijabarkan dalam bentuk tabel dan graIik berdasarkan rentang usia,
jenis kelamin, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, dan Iaktor predisposisi pasien
39
rhinosinusitis yang diperiksa di poli THT RSUP NTB periode 1 Januari 31
Desember 2009.


4.1. Distribusi pasien Rhinosinusitis berdasarkan rentang usia
Tabel 4.1.1 Distribusi pasien rhinoinusitis berdasarkan rentang usia
No Umur Frekuensi Persen (°)
1 ·5 tahun 4 7,5
2 6 - 15 tahun 2 3,8
3 16 - 25 tahun 10 18,9
4 26 - 35 tahun 13 24,5
5 36 - 45 tahun 14 26,4
6 ~46 tahun 10 18,9
Total 53 100,0



4
2
10
13
14
10
0
2
4
6
8
10
12
14
<5 tahun 6 - 15
tahun
16 - 25
tahun
26 - 35
tahun
36 - 45
tahun
>46
tahun
40
Gambar 4.1.1 Distribusi pasien rhinoinusitis berdasarkan rentang usia

Sumber : rekam medik RSUP NTB

Dari tabel dan gambar 4.1. didapatkan bahwa usia pasien rhinonusitis paling
banyak pada kelompok usia 36 45 tahun yaitu sebanyak 14 orang (26,4°),
sedangkan paling sedikit dalam rentang usia 6 15 tahun yaitu sebanyak 2 orang
(3,8°). Dimana pada rentang usia sebelumnya Massudi (Semarang, 1991)
mendapatkan usia terbanyak adalah 21-25 tahun (38,16°), NW Nizar (Jakarta,
1994) usia terbanyak 26-30 tahun (47,21°), Moerseto (Jakarta, 1995) usia
terbanyak 21-30 tahun (38,95°). Di RS Adam Malik Medan, Rizal A. Lubis
(1998) usia terbanyak 18-27 tahun (60°), AlIian Taher (1999) usia terbanyak 15-
24 tahun (36,85°), ElIahmi (2001) usia terbanyak adalah 35-44 tahun (30°) dan
Usu (2003) mendapat usia terbanyak adalah 25-34 tahun. Menurut Hilger (1997)
anak-anak cenderung lebih rentan mengalami inIeksi virus dan alergi pada saluran
naIas atas dibanding usia dewasa. Namun, berbeda halnya dalam penelitian ini,
dimana jumlah pasien anak yang berkunjung di poli THT RSUP NTB dalam
jumlah yang kecil jika dibandingkan dengan usia dewasa 16-45 tahun. Penurunan
jumlah kunjungan anak ini bisa terjadi dikarenakan sikap dan perilaku orang tua
untuk memilih usaha preventiI terhadap dampak kesehatan, didukung dengan
peningkatan tingkat pengetahuan orang tua yang lebih baik sehingga dapat
dilakukan penanganan sedini mungkin agar tidak mengakibatkan dampak kronis.
Pasien anak usia 0-14 tahun lebih banyak datang ke poli anak. Tingginya kasus
sinositis pada usia dewasa 16-45 tahun terjadi akibat aktivitas sosial yang lebih
41
banyak dilakukan diluar rumah dengan polutan atmosIer termasuk asap rokok dan
kendaraan bermotor, sehingga resiko untuk tertular dengan virus dan bakteri
pembawa penyakit sinositis ini sangat besar dan umumnya mereka memiliki
keterbatasan merawat kebugaran tubuh sehingga mereka rentan terhadap penyakit
terutama ISPA.
16,23
Faktor perilaku kaum dewasa ini yang mempunyai kebiasaan
merokok yang dapat meningkatkan resiko terjadinya rhinosinusitis.
16



4.2. Distribusi pasien rhinosinusitis berdasarkan jenis kelamin
Tabel 4.2.1. Distribusi pasien rhinosinusitis berdasarkan jenis kelamin

No Jenis Kelamin Frekuensi Persen (°)
1 Laki-laki 25 47,2
2 Perempuan 28 52,8
Total 53 100,0











25
28
24
24
25
25
26
26
27
27
28
28
Laki-laki Perempuan
42
Gambar 4.2.1. Distribusi pasien rhinosinusitis berdasarkan jenis kelamin

Sumber : rekam medik RSUP NTB

Tabel 4.2.2. Distribusi rentang usia dan jenis kelamin pasien rinosinusitis

No Umur
Jenis Kelamin
Total
Laki-laki Perempuan
N ° N ° N °
1 ·5 tahun 3 6 1 2 4 8
2 6 - 15 tahun 0 0 2 4 2 4
3 16 - 25 tahun 4 8 6 11 10 19
4 26 - 35 tahun 7 13 6 11 13 25
5 36 - 45 tahun 5 9 9 17 14 26
6 ~46 tahun 6 11 4 8 10 19

Total
25 47 28 53 53 100

43

Tabel 4.2.2. Distribusi rentang usia dan jenis kelamin pasien rinosinusitis

Sumber : rekam medik RSUP NTB
Dari tabel dan gambar 4.2.1. didapat jenis kelamin terbanyak adalah wanita
sebanyak 28 (52,5°) pasien dan laki-laki sebanyak 25 (47,2°) pasien dengan
perbandingan kasus laki-laki : wanita ÷ 1,1 : 1. Hal ini berbeda dengan penelitian
yang dilakukan oleh Usu (2003) dimana jumlah pasien laki-laki 22 orang dan
wanita 19 orang dengan perbandingan kasus laki-laki : wanita ÷ 1,2 : 1 dan
ElIahmi (Medan, 2001) dari 40 penderita maksila kronis didapat laki-laki 21
(52,5°) orang dan wanita 19 (47,5°) orang dengan perbandingan kasus laki-laki :
wanita ÷ 1,1:1. Sedangkan pada penelitian lainnya, Massudi (Semarang, 1991)
mendapatkan laki-laki 48,5° dan wanita 51,5°. Beninger MS (1996) dari 100
penderita sinusitis maksila kronis didapat laki-laki 45 orang dan wanita 55 orang
dan Pramono (Semarang, 1999) mendapatkan 34 laki-laki dan 37 wanita. Jika
disesuaikan dengan teori hasil yang didapat pada peneltian yang di lakukan di Poli
THT RSUP NTB tidak jauh berbeda, seperti dikutip dalam Falagas ME (2007)
menyatakan bahwa wanita biasanya lebih banyak terkena inIeksi saluran naIas
3
1
0
2
4
6
7
6
5
9
6
4
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
<5
tahun
6 - 15
tahun
16 - 25
tahun
26 - 35
tahun
36 - 45
tahun
>46
tahun
Laki-laki
Perempuan
44
atas yaitu sinusitis, tonsilitis dan otitis eksterna dan laki-laki sebagian besar
menderita otitis media, batuk dan beberapa inIeksi saluran naIas bawah. Schachter
J, Higgins MW (1976) juga melaporkan bahwa ISPA pada anak perempuan lebih
sering berkembang pada saat dewasa dibandingkan dengan anak laki-laki, mugkin
pengaruh hormonal. Namun dalam hal ini tidak dapat dipungkiri juga bahwa
struktur anatomi, gaya hidup, kebiasaan dan perbedaan sosial ekonomi antara
wanita dan laki-laki sangat berperan penting.
Dari distribusi rentang usia dan jenis kelamin pada tabel dan graIik 4.2.2.
diatas didapat paling banyak penderita rhinosinusitis adalah dari kelompok wanita
dengan rentang usia 36-45 tahun yaitu sebanyak 9 pasien dan pada laki-laki usia
6-15 tahun tidak ditemukan kasus. Pada kelompok rentang usia 26-35 tahun kasus
sinusitis terbanyak ditemukan pada laki-laki yaitu sebanyak 7 pasien.

4.3. Distribusi pasien rhinosinusitis berdasarkan tingkat pendidikan
terakhir
Tabel 4.3.1. Distribusi pasien rhinosinusitis berdasarkan tingkat pendidikan
terakhir

No Pendidikan Frekuensi Persen (°)
1 Blm sekolah 4 7,5
2 SD 4 7,5
3 SMA 20 37,7
4 SMP 10 18,9
5 Tamatan Universitas 15 28,3
Total 53 100,0
45















Gambar 4.3.1. Distribusi pasien rhinosinusitis berdasarkan tingkat pendidikan
terakhir

Sumber . Rekam Medik RSUP NTB
Tabel 4.3.2. Distribusi rentang usia dan tingkat pendidikan terakhir pasien
rhinosinusitis

No Umur
Pendidikan
Total
Blm sekolah SD SMA SMP
Tamatan
Universitas
N % N % N % N % N % N %
1 <5 tahun 4 8 0 0 0 0 0 0 0 0 4 8
2 6 - 15 tahun 0 0 2 4 0 0 0 0 0 0 2 4
3 16 - 25 tahun 0 0 0 0 4 8 4 8 2 4 10 19
4 26 - 35 tahun 0 0 0 0 5 9 1 2 7 13 13 25
5 36 - 45 tahun 0 0 1 2 5 9 4 8 4 8 14 26
6 >46 tahun 0 0 1 2 6 11 1 2 2 4 10 19
Total 4 8 4 8 20 38 10 19 15 28 53 100
4 4
20
10
15
0
2
4
6
8
10
12
14
16
18
20
Blm
sekolah
SD SMA SMP Tamatan
Universitas
46

Gambar 4.3.2. Distribusi rentang usia dan tingkat pendidikan terakhir pasien
rhinosinusitis
Sumber . Rekam Medik RSUP NTB
Dari tabel dan gambar 4.3.1. terlihat bahwa tingkat pendidikan terakhir
penderita rhinosinusitis tertinggi pada kelompok SMA sebanyak 20 (37,7°)
pasien dan terendah pada kelompok Belum sekolah dan SD sebanyak 4 (7,5°)
pasien. Kelompok SMA terbanyak pada rentang usia ~ 46 tahun dengan jumlah
kasus tertinggi yaitu sebanyak 6 pasien. Untuk distribusi rentang usia dan tingkat
pendidikan terakhir lainnya dapat dilihat pada tabel dan gambar 4.3.2 diatas.
Namun demikian, belum ada penjelasan yang pasti mengenai hubungan antara
tingkat pendidikan dengan kejadian rhinosinusitis.

4.4. Distribusi pasien rhinosinusitis berdasarkan jenis pekerjaan
Tabel 4.4.1. Distribusi pasien rhinosinusitis berdasarkan jenis pekerjaan

4
0000 0
2
000 00
44
2
00
5
1
7
0
1
5
44
0
1
6
1
2
0
1
2
3
4
5
6
7
<5 tahun 6 - 15
tahun
16 - 25
tahun
26 - 35
tahun
36 - 45
tahun
>46 tahun
Blm sekolah
SD
SMA
SMP
Tamatan Universitas
47
No Pekerjaan Frekuensi Persen (°)
1 Belum/ tidak bekerja 4 7,5
2 IRT 11 20,8
3 Mahasiswa 2 3,8
4 Pelajar 8 15,1
5 Pensiunan 1 1,9
6 PNS 10 18,9
7 Swasta 17 32,1
Total 53 100,0


Gambar 4.4.1. Distribusi pasien rhinosinusitis berdasarkan jenis pekerjaan
Sumber . Rekam Medik RSUP NTB
Tabel 4.4.2. Distribusi rentang usia dan jenis pekerjaan pasien rhinosinusitis

No Umur
Pekerjaan
Total
Belum
bekerja ÌRT Mahasiswa Pelajar Pensiunan PNS Swasta
1
<5 tahun 4 0 0 0 0 0 0 4
2
6 - 15 tahun 0 0 0 2 0 0 0 2
3
16 - 25 tahun 0 1 2 5 0 1 1 10
4
26 - 35 tahun 0 3 0 0 0 4 6 13
4
1
11
2
8
1
10
176
0
2
4
6
8
10
12
14
16
Belum bekerja
IRT
Mahasiswa Pelajar Pensiunan PNS
Swasta
48
5
36 - 45 tahun 0 3 0 1 0 3 7 15
6
>46 tahun 0 4 0 0 1 2 3 10
Total
4 11 2 8 1 10 17 53
Gambar 4.4.2. Distribusi rentang usia dan jenis pekerjaan pasien rhinosinusitis
Sumber . Rekam Medik RSUP NTB
Pada tabel dan gambar 4.4.1. didapat jenis pekerjaan terbanyak dari kelompok
kelompok swasta yang memiliki jumlah pasien sebanyak 17 (32,1°) pasien.
Kelompok belum/tidak bekerja ini terdiri dari anak usia ·5 tahun yang belum
bersekolah, IRT dan pensiunan, sedangkan kelompok swasta antara lain terdiri
dari petani, buruh, montir bengkel, sopir dan tukang ojek. Dan yang merupakan
kelompok terendah adalah kelompok pensiunan sebanyak 1 (1,9°) pasien.
Dalam tabel dan gambar 4.4.2. diatas terlihat bahwa pasien rhinosinusitis
yang berkunjung ke poli THT dengan kelompok swasta memiliki kasus tertinggi
pada rentang usia 26-45 tahun sebanyak 6 pasien. Pada pensiunan kasus tertinggi
pada rentang usia ~ 45 tahun sebayak 1 pasien. Pada pasien kelompok swasta
dengan rata-rata penghasilan rendah seperti yang telah dijelaskan diatas, dimana
mereka lebih banyak melakukan aktivitasnya di luar rumah yang boleh
diprediksikan bahwa kondisi lingkungan kerja mereka kurang baik, karena mereka
4
00000 0 000
1
0 0 0
1
33
4
0 0
2
000 0
2
5
0
1
0 0 000 0
1
0 0
1
4
3
2
0 0
1
6 6
3
0
1
2
3
4
5
6
Belum bekerja Buruh
swasta
ÌRT Mahasisw a Pelajar Pensiunan PNS Swasta
<5 tahun
6 - 15 tahun
16 - 25 tahun
26 - 35 tahun
36 - 45 tahun
>46 tahun
49
akan lebih sering terpapar oleh polusi udara dari kendaraan bermotor, apalagi
masyarakat Indonesia kita ini yang sebagian besar penduduknya merupakan
perokok aktiI, sehingga perokok pasiI pun akan terpapar juga oleh asap rokok
yang merupakan salah satu alergen yang dapat mencetuskan sinositis. Kasus
sinositis pada PNS juga cukup banyak, dimana kelompok ini menempati urutan
kedua setelah kelompok belum/tidak bekerja dan kelompok swasta. Jumlah PNS
yang tinggi dikarenakan RSUP NTB menerima pelayanan ASKES, sehingga
banyak dari mereka yang memanIaatkan Iasilitas pelayanan kesehatan gratis dari
ASKES.
16,25



4.5. Distribusi pasien rhinosinusitis berdasarkan faktor Predisposisi

Tabel 4.5.1. Distribusi pasien rhinosinusitis berdasarkan Iaktor predisposisi
No Faktor Predisposisi Frekuensi Persen (°)
1 Belum diketahui 3 5,7
2 Ca nasi 2 3,8
3 Ca nasoIaring 1 1,9
4 Faringitis akut 1 1,9
5 Hipertropi konka 3 5,7
6 Hipertropi konka dextra 1 1,9
7 Kelainan geligi 2 3,8
8 Kelainan gigi 1 1,9
9 OE Dextra 1 1,9
10 OMSK 1 1,9
50
11 Polip 23 43,4
12 Rinitis akut 1 1,9
13 Rinitis alergi 9 17,0
14 Rinitis kronis 3 5,7
15 RinoIaringitis kronis 1 1,9
Total 53 100,0



Gambar 4.5.1. Distribusi pasien rhinosinusitis berdasarkan Iaktor predisposisi

Sumber . Rekam Medik RSUP NTB

Tabel 4.5.2. Distribusi rentang usia dan Iaktor predisposis pasien rhinosinusitis

No
Faktor
Predisposisi
Umur
Total <5 tahun
6 - 15
tahun
16 - 25
tahun
26 - 35
tahun
36 - 45
tahun
>46
tahun
1
A 0 0 0 1 2 0 3
2
B 0 0 0 1 1 0 2
3
C 0 0 0 0 0 1 1
4
D 0 0 0 0 1 0 1
5
E 0 0 1 1 0 1 3
6
F 1 0 0 0 0 0 1
7
G 0 1 0 0 1 0 2
8
H 0 0 0 1 0 0 1
9
Ì 1 0 0 0 0 0 1
10
J 0 0 0 0 1 0 1
3
2
1 1
3
1
2
1 1 1
23
1
9
3
1
0
5
10
15
20
25
Belum
diketahui
Ca
nasof aring
Hipertropi
konka
Kelainan
geligi
OEDextra Polip Rinitis alergi Rinof aringitis
kronis
51
11
K 2 1 6 4 7 3 23
12
L 0 0 0 1 0 0 1
13
M 0 0 2 2 1 4 9
14
N 0 0 0 2 0 1 3
15
O 0 0 1 0 0 0 1
Total
4 2 10 13 14 10 53

Gambr 4.5.2. Distribusi rentang usia dan Iaktor predisposis pasien rhinosinusitis

Sumber . Rekam Medik RSUP NTB

Keterangan :

A ÷ Belum diketahui
B ÷
Ca nasi
C ÷
Ca nasoIaring
D ÷
Faringitis akut
E ÷ Hipertropi konka
F ÷
Hipertropi konka
dextra
G ÷
Kelainan geligi
H ÷
Kelainan gigi
I ÷ OE Dextra
J ÷ OMSK
K ÷
Polip
L ÷
Rinitis akut
M ÷ Rinitis alergi
N ÷ Rinitis kronis
000
1
2
0000
11
000000
1
0000
1
000
11
0
11
000000
1
00
1
0000
1
00
1
000000000
1
0
2
1
6
4
7
3
000
1
0000
22
1
4
000
2
0
1
00
1
000 0
1
2
3
4
5
6
7
A B C D E F G H Ì J K L M N O
<5 tahun
6 - 15 tahun
16 - 25 tahun
26 - 35 tahun
36 - 45 tahun
>46 tahun
52
O ÷
RinoIaringitis
kronis




Pada tabel dan gambar 4.5.2. terlihat Iaktor predisposisi terbanyak adalah
polip sebanyak 23 (43,4°) pasien, diikuti dengan rinitis alergi sebanyak 9
(17,0°) kemudian rinitis kronis, hipertropi konka, dan belum diketahuinya Iaktor
predisposisi penyakit pasien yang memiliki jumlah yang sama yaitu masing-
masing sebanyak 3 (5,7°) . Dan Iaktor predisposisi terendah adalah renitis akut,
rinoIaringitis kronis, OMSK, OE dektra dan kelainan gigi masing-masing
sebanyak 1 (1,9°) pasien.
Polip merupakan Iaktor predisposisi terbesar dari sekian banyak Iaktor
pencetus sinusitis yang ada pada data yang telah diteliti, ini dikarenakan sebagian
besar pasiennya mengalami sumbatan hidung yang berlangsung terus-menerus.
Polip dapat timbul pada penderita laki-laki maupun perempuan, dari usia anak-
anak sampai usia lanjut, ini terbukti didapatkannya polip dalam semua rentang
usia kecuali pasien ·5 tahun. Polip dapat timbul pada hidung yang tidak terinIeksi
kemudian menyebabkan sumbatan yang mengakibatkan sinositis, tetapi polip
dapat juga timbul akibat iritasi kronis yang disebabkan oleh hidung dan sinus.
Secara makroskopik polip merupakan massa lunak yang tumbuh didalam rongga
hidung dengan permukaan licin, berbentuk bulat atau lonjong, berwarna pucat
keabu-abuan, dapat tunggal atau multiple dan bilateral serta tidak sensitiI, bila
ditekan atau ditusuk tidak terasa sakit. Warna polip yang pucat tersebut
disebabkan oleh sedikitnya aliran darah ke polip
27
. Bila terjadi iritasi kronis atau
53
proses peradangan warna polip dapat berubah menjadi kemerah-merahan dan
polip yang sudah menahun warnanya dapat menjadi kekuning-kuningan karena
banyak mengandung jaringan ikat.
25

Begitu juga dengan Iaktor predisposisi rinitis alergi yang cukup banyak
kasusnya, Meskipun penyebabnya bukan radang, kadang-kadang rinitis alergi
dimasukkan juga dalam rinitis kronis. Aliran udara hidung dapat terganggu oleh
kongesti hidung dan rinore yang terjadi pada rinitis alergi. Penyebab yang paling
sering adalah alergen inhalan, terutama pada orang dewasa, yang masuk bersama
dengan udara pernaIasan, baik yang didapatkan dari dalam rumah maupun diluar
rumah seperti debu rumah, bulu binatang, kain yang terlalu sering dipakai serta
polen dan jamur, dan juga alergen ingestan yang sering merupakan penyebab pada
anak-anak yang masuk ke saluran cerna berupa makanan seperti susu, telur, coklat
ikan, udang. Seorang perokok mungkin alergi terhadap tembakau serta juga
mengalami iritasi kimia oleh asap rokok
25,26
.
Selain itu, banyaknya pasien yang belum diketahui Iaktor predisposisinya
secara jelas dengan jumlah kasus sebanyak 3 pasien ini dikarenakan pada pasien
tersebut belum dilakukan pemeriksaan penunjang sebagai anamnesis lanjutan,
seperti pemeriksaan radiologik berupa posisi waters, PA dan bilateral, begitu juga
dengan pemeriksaan mikrobiologiknya yang dilakukan di laboratorium, ini
kemungkinan karena pertimbangan biaya, atau mungkin juga pada saat dilakukan
anamnesis, riwayat pasien tidak ditanyakan secara lengkap sehingga sedikit
inIormasi yang di dapatkan, padahal ini merupakan hal yang paling penting dalam
54
membantu menentukan Iaktor-Iaktor yang dapat mencetuskan atau memperhebat
gambaran klinis dari penyakit rhinosinusitis tersebut
25
.


BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

5.1. Simpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa angka
kejadian rhinosinusitis di poli THT RSUP NTB periode 1 Janurai 31 Desember
2009 adalah 53 kasus (49,79°) dari 112 kasus rhinosinusitis dan proIil pasien
rhinosinusitis yang berkunjung ke poli THT tersebut antara lain sebagai berikut:
1. Pada proIil rhinusinositis berdasarkan rentang usia, kasus tertinggi pada
kelompok usia 36-45 tahun yang memiliki jumlah pasien yang sama yaitu
sebanyak 14 (26,14°) pasien terendah pada kelompok usia 6-15 tahun
sebanyak 2 (3,8°) pasien.
2. Kasus rhinusinositis berdasarkan jenis kelamin, terbanyak ditemukan pada
kelompok wanita sebesar 28 (52,5°) pasien sedangkan pada laki-laki
sebanyak 25 (47,2°) pasien dengan perbandingan kasus laki-laki : wanita ÷
1,1 : 1. Dan bila dihubungkan antara rentang usia dan jenis kelamin didapat
wanita terbanyak pada rentang usia 36-45 tahun sebanyak 9 pasien dan laki-
laki lebih banyak dijumpai pada rentang usia 26-35 tahun.
55
3. Kasus rhinosinusitis berdasarkan tingkat pendidikan terakhir, terbanyak
didapatkan pada kelompok SMA yaitu sebanyak 20 (37,7°) pasien dan
paling sedikit pada kelompok belum sekolah dan kelompok SD masing-
masing sebanyak 4 (7,5°) pasien. Bila dihubungkan antara rentang usia dan
tingkat pendidikan didapat SMA terbanyak pada rentang usia ~ 46 tahun
yaitu sebanyak 6 pasien.
4. Kasus rhinosinusitis berdasarkan jenis pekerjaan, terbanyak dari kelompok
swasta sebanyak 17 (32,1°) pasien dan terendah adalah kelompok pensiunan
sebanyak 1 (1,9°) pasien. Dan bila dihubungkan antara rentang usia dan jenis
pekerjaan maka didapat kelompok swasta memiliki kasus tertinggi pada
rentang usia 26-45 tahun sebanyak 6 pasien, sedangkan kelompok pensiunan
memiliki kasus tertinggi pada rentang usia ~ 45 tahun sebanyak 1 pasien.
5. Kasus berdasarkan Iaktor predisposisi, terbanyak adalah polip yaitu 23
(43,4°) pasien dan terkecil adalah renitis akut, rinoIaringitis kronis, OMSK,
OE dektra dan kelainan gigi masing-masing sebanyak 1 (1,9°) pasien. Polip
didapatkan dalam semua usia.
5.2. Saran
1. Diperlukan penelitian lanjutan agar hasilnya lebih maksimal sehingga
didapatkan gambaran yang lebih luas tentang Angka Kejadian rhinosinusitis.
2. Setiap pasien rhinosinusitis yang berkunjung ke poli THT RSUP NTB
sedapat mungkin untuk dilakukan pencatatan data rekam medik selengkap-
lengkapnya untuk memudahkan dilakukannya penelitian selanjutnya.
3. Untuk para mahasiswa
56
Diharapkan supaya mentaati peraturan-peraturan yang ada di RSUP NTB
dan lebih aktiI untuk mencoba melakukan tindakan dan tentunya dengan
bimbingan pembimbing yang ada di tempat praktek.



DAFTAR PUSTAKA

1. Hilger, Peter, A., penyakit sinus paranasalis BOES Buku Afar Penyakit
THT (BOES Fundamentals of Otolaryngology), Edisi 6,Jakarta : Penerbit
Buku Kedokteran EGC,1997
2. Mangunkusumo, E., Soetjipto, D. Sinusitis. Dalam: Soepardi EA, Iskandar
N, Ed.Buku Afar lmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala
Leher. Edisi keenam. Jakarta. FKUI, 2007.
3. Herawati sri, Rukmini s. Buku hafar ilmu penyakit THT, Jakarta: Buku
kedokteran EGC .2004
4. Gillon VM, StaIIor N . Segipraktis THT, Jakarta: Binarupa aksara.1991
Hal 110-114
5. MB ,HR, FRCS. Petunfuk penting pada penyakit THT, Jakarta:
Hipokrates. 1996
6. Thaller SR, Granick M. Diagram diagnostic penyakit THT, Jakarta: Buku
kedokteran EGC. 1995 Hal 111
7. Adam GL, 1996. Penyakit-penyakit Nasofaring dan Orofaring. Dalam :
Boies Buku Ajar Penyakit THT. Edisi bahasa Indonesia. EGC Jakarta. Hal
: 335-336
57
8. Rusmarjono, Soepardi E. A., 2003. ' Penyakit serta Kelainan Faring dan
Tonsil ', Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala
Leher. Gaya Baru. Jakarta. Hal : 178 184
9. Fiegler. R.P.J, Pelafaran ringkas telinga hidung tenggorok, jakarta: PT
Gramedia pustaka utama. 1983
10. Ballengger, John, Jacob. Pelafaran telinga hidung tenggorok kepala dan
leher, Jakarta: Binarupa Aksara. 1994, edisi 13
11. Wald ER. Rhinitis Acute & Chronic Sinusitis. Dalam : Bluestone C.D.
Stool SE, Scheetz MD (ED). Pediatric Otolaryngology. 2
nd
Ed. Volume 1.
Philadelphia: WB Saunders Company, 1990.729-43.
http://www.Utmb.edu/otoreI/Grnds/Pedisinus.htm. ( Accesed: 28 Oktober,
2010).
12. Levinson MR, Sidman JD, Brown AC. Sinusitis in Children Diagnosis and
treatment. Dalam: http://www.allina.com/Allina Journal/Winter
1996/Lovinson.html . ( Accesed: 28 Oktober, 2010).
13. O`Hollaren. TM. Chronic rhinosinusitis and Asthma : Common connected
conditions. 57
th
Annual Meeting oI the American Academy oI Allergy,
Asthma and Immunology. http://www.Medscope.
com/medscape/cno/2001/AAAAI/Story.CIm?story.id÷2168. ( Accesed: 28
Oktober, 2010).
14. Lazar MR. Functional Endonasal Sinus Surgery (FESS) Dalam : Pediatrics
in Practical Endoscopy Sinus Surgery. Toronto : Mc. Grawhill, Inc, 1990,
107-117.
58
15. http://www.rnzegp.org.nz/nzip/ISSUES/Ieb99/bartley.htm. ( Accesed 29
Oktober, 2010).
16. Depkes RI. (2006), Functional Endoscopic Sinus Surgery di
ndonesia,*hlm /52, HTA Indonesia, Available Irom: http://www.
yanmedik depkes. net/hta/ Hasil° 20Kajian° 20HTA/ 2006/ Functional°
20Endoscopic°20 Sinus° 20Surgery° 20di° 20Indonesia. doc.
(Accessed: 28 Otober, 2010).
17. HazenIield, Hugh N., M.D., F.A.C.S., (2009), Endoscopic Sinus Surgery
by the American Board oI Otolaryngology, Available Irom:
www.dochazenIield.com/sinus*surgery.htm (Accesed: 30 Oktober, 2010)
18. PIT, PERHATI. (2001), Penatalaksanaan Baku Rinosinusitis,
dipresentasikan di Palembang, Available Irom: http://www.yanmedik-
depkes.net/ hta/ Hasil° 20
Kajian°20HTA/2006/Functional°20Endoscopic°20Sinus°20Surgery °
20di°20Indonesia.doc. (Accessed: 1 November, 2010).
19. Purnaman dan RiIki, Nusyirwan. (1990), Sinusitis, dalam Nurbaiti
Iskandar, EIiaty AS, eds. Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga, Hidung
Tenggorok, edisi pertama, FKUI, Jakarta, Available Irom:
http://www.kalbe.co.id/Iiles/cdk/ Iiles/cdk*155*THT.pdI. (Accessed: 1
November 2010).
20. Roos, K. (1999), The Pathogenesis of nfective Rhinosinusitis, In
Rhinosinusitis: Current Issues in Diagnosis and Management. Lund V.
Corey J (Eds). The Royal Society oI Medicine Press Limited, London,
59
UK, Round Table Series 67: 3-9, Available Irom: http://www.yanmedik-
depkes.net/ hta/ Hasil° 20 Kajian° 20HTA/ 2006/ Functional° 20
Endoscopic° 20 Sinus° 20 Surgery ° 20 di ° 20Indonesia.doc.
(Accessed: 2 november 2010).
21. Kapita Selekta Kedokteran. (2002), Sinusitis Kronis, Ilmu penyakit
Telinga Hidung dan Tenggorok, edisi ketiga, Media Aesculapius, Fakultas
Kedokteran UI, Jakarta.
22. Kennedy, DW. (1995), nternational Conference On Sinus Disease,
Terminology, Staging, Therapy, Ann Otol Rhinol Laryngol; (Suppl.
167):7-30, dalam HTA Indonesia 2006 Functional Endoscopic Sinus
Surgery di Indonesia hlm /52; 104, Available Irom: http://www. yanmedik
depkes. net/hta/ Hasil° 20Kajian° 20HTA/ 2006/ Functional°
20Endoscopic°20 Sinus° 20Surgery° 20di° 20Indonesia. doc.
(Accessed: 2010, September 17).
23. Munir, DelIitri dan Kurnia, Beny. (2007), Pola Kuman Aerob Penyebab
Sinusitis Maksila Kronis, Cermin Dunia Kedokteran, No. 155, Poliklinik
THT-KL Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara/ Rumah Sakit
Umum Pusat H. Adam Malik Medan, Sumatera Utara, Indonesia,
Available Irom: http:// www. kalbe. co.id/ Iiles/ cdk/ Iiles/ cdk*155*THT.
pdI. (Accessed: 2010, July 31).
24. Piccirillo. (2004), Faktor-Faktor Prognosis Kesembuhan Rinosinusitis
Kronis Yang Dengan Terapi Medikamentosa, Available Irom:
http://www.google. com/search?q÷ cache: l5m**5v9 WEJ: puspasca.ugm.
ac.id/ Iiles(1021-H2004).
pdI¹rhinosinusitis&hl÷id&ct÷clnk&cd÷3&gl÷id&client÷IireIox-a
(Acessed: 2010, July 31).
60
25. TauIik, M., Kusno., dan Suprihati. (1986), Faktor Alergi Pada Sinusitis
Kronis. Lab/UPF THT/FK UNDIP, RS Kariadi Semarang Dalam
Kumpulan Naskah Ilmiah Konas VIII Perhati Ujung Pandang, 927-31.
26. USU digital library. (2003), ProIil Sinusitis Maksila Kronis di Poliklinik
THT RSUP H. Adam Malik Medan periode Juni 2000 Februari 2001.
(Accessed: 2010, January 10).
27. Wiadyana, I.G.P. et al. (1998), Pedoman Upaya kesehatan Telinga dan
Pencegahan Gangguan pendengaran untuk Puskesmas, Departemen
Kesehatan RI, Jakarta.













61









Sign up to vote on this title
UsefulNot useful