MAQASHID SYARI’AH SEBAGAI METODE INTERPRETASI TEKS HUKUM: TELAAH FILSAFAT HUKUM ISLAM

Oleh: Ahmad Zaenal Fanani, SHI., M.Si.1 1. PENDAHULUAN Evolusi filsafat hukum, yang melekat dalam evolusi filsafat secara keseluruhan, berputar di sekitar problema tertentu yang muncul berulangulang. Di antara problema ini, yang paling sering menjadi diskursus adalah tentang persoalan keadilan dalam kaitannya dengan hukum. Hal ini dikarenakan hukum atau aturan perundangan harusnya adil, tapi nyatanya seringkali tidak. Keadilan hanya bisa dipahami jika ia diposisikan sebagai keadaan yang hendak diwujudkan oleh hukum. Upaya untuk mewujudkan keadilan dalam hukum tersebut merupakan proses yang dinamis yang memakan banyak waktu. Upaya ini seringkali juga didominasi oleh kekuatankekuatan yang bertarung dalam kerangka umum tatanan politik untuk mengaktualisasikannya.2 Orang dapat menganggap keadilan sebagai sebuah gagasan atau realitas absolut dan mengasumsikan bahwa pengetahuan dan pemahaman tentangnya hanya bisa didapatkan secara parsial dan melalui upaya filosofis yang sangat sulit. Atau orang dapat menganggap keadilan sebagai hasil dari pandangan umum agama atau filsafat tentang dunia secara umum. Jika begitu, orang dapat mendefinisikan keadilan dalam satu pengertian atau pengertian lain dari pandangan ini. Walhasil diskursus tentang keadilan begitu panjang dalam lintasan sejarah filsafat hukum. Hal ini juga terjadi dalam filsafat hukum Islam dimana teori keadilan, atau sering juga disebut dengan teori maslahat, selalu menjadi topik yang tidak hentinya dikaji oleh para ahli
Hakim Pengadilan Agama Martapura. Email: az_fanani@yahoo.com. Carl Joachim Friedrich, Filsafat Hukum Perspektif Historis, Bandung: Nuansa dan Nusamedia, 2004, hal 239.
2 1

1

"4 Teori maslahat di sini menurut Masdar F. terutama terkait dengan masalah keadilan ilahiyah dan tanggung akan jawab manusia yang memunculkan dua kelompok besar yaitu muktazilah dan asy’ariyah. Vol. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.filsafat hukum Islam (ushul fiqh).1977). 3 2 . al-Maidah: 8. al-An’aam:90. 2. yang sudah diterjemahkan dalam bahasa indonesia oleh Uzair Fauzan dan Heru Prasetyo. Mas'udi. A Theory of Justice. an-Nisaa’:135. (Beirut: Mu'assasah ar-Risalah. 1995. khususnya tentang maqhasid syari’ah sebagai alternatif metode interpretasi teks hukum Islam untuk menegakkan nilai-nilai keadilan. Ini diwujudkan dengan banyaknya ayat al-Quran yang berisi tentang kemaslahatan dan keadilan Diantaranaya. 97. Dawabit al-Maslahah fi as-Syariah al-Islamiyah. "Meletakkan Kembali Maslahat Sebagai Acuan Syari'ah" Jurnal Ilmu dan Kebudayaan Ulumul Qur'an No. Penulis mencoba menguraikan persoalan keadilan ini dari perspektif filsafat hukum Islam. yaitu an-Nisaa’:58. di sana terdapat hukum Allah. Pembahasan tentang keadilan sosial dam ranah filsafat hukum dapat dilihat dalam buku John Rawls.3. terutama pada saat membahas tentang persoalan maqashid tasyri’ atau maqashid syari’ah. 4 Muhammad Sa'id Ramdan al-Buti.5 Adapun inti dari konsep maqasid al-syariah adalah untuk mewujudkan kebaikan sekaligus menghindarkan keburukan atau menarik manfaat dan menolak mudarat. 5 Masdar F.3 Bahkan persoalan keadilan ini juga masuk dalam ranah teologi. hlm."Di mana ada maslahat. Konsep ini telah diakui oleh para ulama dan oleh karena itu mereka memformulasikan suatu kaidah yang cukup populer. Masudi sama dengan teori keadilan sosial dalam istilah filsafat hukum. VI Th.tasyri' atau maqasid al-syariah yang menegaskan bahwa hukum Islam disyari'atkan untuk mewujudkan dan memelihara maslahat umat manusia. 2006. 1973. ONTOLOGI MAQASHID SYARIAH Salah satu konsep penting dan fundamental yang menjadi pokok bahasan dalam filasafat hukum Islam adalah konsep maqasid at. hlm. Dalam makalah ini. Teori Keadilan.12. dan asySyura:15. istilah yang sepadan dengan inti dari Kemaslahatan dan keadilan menjadi inti dari hukum Islam. London: Oxford University press.

10 Dari keterangan ini jelaslah bahwa teori maqasid al-syari'ah sudah mulai tampak bentuknya. Al-Gazali menjelaskan maksud syari'at dalam kaitannya dengan pembahasan tema istislah. hajiyat dan makramat (tahsiniyah). al-Gazali. sesuatu yang tidak masuk kelompok daruriyat dan hajiyat.7 Dengan demikian pada prinsipnya al-Juwaini membagi tujuan tasyri' itu menjadi tiga macam. al-hajat al-ammah (sekunder). II: 923-930. hlm.8 Maslahat menurut al-Gazali adalah memelihara agama. karena penetapan hukum dalam Islam harus bermuara kepada maslahat.I:295. 8 Al-Gazali. Imam al-Haramain al-Juwaini dapat dikatakan sebagai ahli teori (ulama usul al-fiqh) pertama yang menekankan pentingnya memahami maqasid al. sekunder dan tersier.9 Kelima macam maslahat di atas bagi al-Gazali berada pada skala prioritas dan urutan yang berbeda jika dilihat dari sisi tujuannya.250 dan seterusnya.maqasid al.syari'ah tersebut adalah maslahat. 10 Ibid. yaitu peringkat primer. 1412). keturunan dan harta. 9 Ibid hlm. jiwa. yaitu: yang masuk kategori daruriyat (primer). Pemikiran al-Juwaini tersebut dikembangkan oleh muridnya. akal. 7 Ibid. yaitu daruriyat. 6 3 . dan sesuatu yang tidak termasuk ketiga kelompok sebelumnya. al-Mustasfa min Ilm al-Usul (Kairo: al-Amiriyah. makramat (tersier).251. Al-Burhan fi Usul al-Fiqh (Kairo: Dar al-Ansar.6 Kemudian al-Juwaini mengelaborasi lebih jauh maqasid al-syari'ah itu dalam hubungannya dengan illat dan dibedakan menjadi lima bagian.syari'ah dalam menetapkan hukum Islam. Abd al-Malik ibn Yusuf Abu al-Ma'ali al-Juwaini. berikut akan diuraikan secara ringkas teori tersebut. Ia secara tegas mengatakan bahwa seseorang tidak dapat dikatakan mampu menetapkan hukum dalam Islam. sebelum ia memahami benar tujuan Allah mengeluarkan perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya.1400 H). Untuk memahami hakikat dan peranan maqasid al-syari'ah.

dan tahsiniyat. yaitu daruriyat. yaitu memelihara lima hal pokok.t). Karena itu.16 Konsep maqasid al. akal.) II:4. keturunan dan harta. 13 Ibid.II:60 dan 62. hajiyat. Dalam kitabnya al-Muwafaqat yang sangat terkenal itu. ia juga membagi urutan dan skala prioritas maslahat menjadi tiga urutan peringkat. 16 Ibid. 12 Ibid.syari'ah. baik di dunia maupun di akhirat. hajiyat. pembahasan tentang maslahat pun menjadi bagian yang sangat penting dalam tulisannya. Ia secara tegas mengatakan bahwa tujuan utama Allah menetapkan hukum-hukum-Nya adalah untuk terwujudnya maslahat hidup manusia. al-Muwafaqat fi Usul al-Syari'ah (Kairo: Mustafa Muhammad. t. ia menghabiskan lebih kurang sepertiga pembahasannya mengenai maqasid al.15 Yang dimaksud maslahat menurutnya seperti halnya konsep al-Gazali. Sudah tentu.syari'ah adalah Izzuddin ibn Abd al-Salam dari kalangan Syafi'iyah. Ia lebih banyak menekankan dan mengelaborasi konsep maslahat secara hakiki dalam bentuk menolak mafsadat dan menarik manfaat. baik di dunia maupun di akhirat. II:5. 11 4 . t. bahwa taklif harus bermuara pada terwujudnya maslahat manusia.14 Seperti halnya ulama sebelumnya. 14 Al-Syatibi.13 Pembahasan tentang maqasid al-syari'ah secara khusus.Pemikir dan ahli teori hukum Islam berikutnya yang secara khusus membahas maqasid al. sistematis dan jelas dilakukan oleh al-Syatibi dari kalangan Malikiyah. Qawaid al-Ahkam fi Masalih al-Anam (Kairo: al-Istiqamat. 15 Ibid. jiwa.syari'ah atau maslahat yang dikembangkan oleh al-Syatibi di atas sebenarnya telah melampaui pembahasan ulama abad-abad sebelumnya. maslahat keduniaan tidak dapat dilepaskan dari tiga tingkat urutan skala prioritas. taklif dalam bidang hukum harus mengarah pada dan merealisasikan terwujudnya tujuan hukum tersebut.I:9.t. dan takmilat atau tatimmat. Konsep maslahat al-Syatibi tersebut melingkupi Izzuddin ibn Abd al-Salam. yaitu: agama. yaitu: daruriyat.11 Menurutnya.12 Lebih jauh lagi ia menjelaskan.

21 Masdar F. Syarh al-Hadis Arba'in an-Nawaiyah dalam Mustafa Zaid.46.21 Hukum haruslah didasarkan pada sesuatu yang harus tidak disebut hukum.34-35. 17 HARMONISASI TEKS HUKUM DAN 5 . pemikiran maslahat al-Syatibi ini tidak seberani gagasan at-Tufi. sepenuhnya mencerminkan maslahat. Akan tetapi keterikatan yang berlebihan terhadap teks (nas / al-qira’ah / al-maqra’) seperti dipromosikan oleh faham ortodoksi. 20 Ibid. Sesuai dengan pernyataan al-Gazali.18 At-Tufi berpendapat bahwa prinsip maslahat dapat membatasi (takhsis) Alquran.seluruh bagian syari'ah dan bukan hanya aspek yang tidak diatur oleh nas. telah membuat prinsip maslahat hanya sebagai jargon kosong. hlm.. duniawi-ukhrawi.. ruang lingkup dan bidang berlakunya maslahat at-Tufi tersebut adalah mu'amalah.1995). al-Maslahat fi at-Tasyri'i al-Islami wa Najmuddin at-Tufi. sunnah dan ijma' jika penerapan nas Alquran.hlm. 1954. 94. keadilan. Fadhil Lubis. Proses pendasaran hukum atas Nur A.20 3. hlm.48. al-Syatibi merangkum bahwa tujuan Allah menurunkan syari'ah adalah untuk mewujudkan maslahat. dan syari'ah-yang pada mulanya adalah jalan-telah menjadi jalan bagi dirinya sendiri. Meskipun begitu. 19 Najmuddin at-Tufi.". Mas'udi. Hukum Islam dalam Kerangka Teori Fikih dan Tata Hukum Indonesia (Medan :Pustaka Widyasarana. MAQASHID SYARI’AH: KEADILAN SOSIAL Sejak awal syari'ah Islam sebenarnya tidak memiliki tujuan lain kecuali kemaslahatan manusia. Yaitu sebuah sistem nilai yang dengan sadar dianut sebagai keyakinan yang harus diperjuangkan: maslahat.17 Pandangan at-Tufi mewakili pandangan yang radikal dan liberal tentang maslahat. "Meletakkan Kembali Maslahat . Ungkapan standar bahwa syari'ah Islam dicanangkan demi kebahagiaan manusia. sunnah dan ijma' itu akan menyusahkan manusia. hlm. 18 Ibid. tetapi lebih mendasar dari hukum. lahir-batin. Mesir: Dar al-Fikr al-Arabi.19 Akan tetapi.

atau. daripada tuntutan maslahat (keadilan). maslahat manusia universal. dalam Islam lebih mengutamakan bunyi harfiyah nas (tekstual) daripada kandungan substansialnya. dalam dunia pemikiran fiqh. tawaran teoritik apa pun dan yang bagaimana pun. Sebagai gantinya. Dengan paradigma di atas. dan umat Islam terikat untuk mengambilnya dan merealisasikannya. baik didukung dengan nas atau pun tidak. khususnya pemikiran hukum. yang bisa menjamin terwujudnya maslahat kemanusiaan.hukum hanya bisa dimengerti dalam konteks formal. kita perlu menegakkan kaidah yang berbunyi: 6 . Kaidah inilah yang secara sistematis telah menggerakkan dunia pemikiran. yang notabene merupakan jiwanya. adalah fasid. Dengan demikian. sesuatu yang lebih merupakan patokan hukum. lebih lebih yang membuka kemungkinan terjadinya kemudaratan. dan umat Islam secara orang perorang atau bersama-sama terikat untuk mencegahnya. itulah mazhabku”. qiyas haruslah dengan illat. dalam kacamata Islam. yang secara meyakinkan tidak mendukung terjaminnya maslahat. secara meyakinkan perlu ditinjau kembali. Akan tetapi. seperti diketahui. dalam kacamata Islam adalah sah."keadilan sosial". bukan hukum itu sendiri. lebih mengutamakan atau bahkan hanya memperhatikan. suatu wajah fiqh yang secara keseluruhan kurang menunjukkan pemihakan (engagement) terhadap kepentingan masyarakat manusia atau keadilan sosial. Tawaran teoritik (ijtihadi) apa pun dan bagaimana pun. Tidak mengherankan apabila wajah fiqh (teks hukum Islam) selama ini tampak menjadi dingin.dalam ungkapan yang lebih operasional. Oleh sebab itu tidak mengherankan apabila dunia pemikiran hukum Islam ditandai oleh ciri dan watak yang sangat patut dipertanyakan. kaidah yang selama ini dipegang oleh dunia fiqh yang berbunyi: “Apabila suatu hadis atau teks hukum telah dibuktikan kesahihannya. Sebaliknya. jelas bahwa yang fundamental dari bangunan pemikiran hukum Islam adalah maslahat.bunyi ketentuan legal-formal. Akan tetapi itulah struktur pemikiran hukum Islam selama ini. misalnya melalui cara qiyas. Atau.

melalui kesepakatan dalam musyawarah. kalau perlu. cita keadilan.22 Dengan tawaran kaidah yang lebih menekankan pada substansi.97. hlm.23 Sesungguhnya. 7 . yang dimaksudkan sebagai upaya yang menerjemahkan yang 22 23 Ibid. harus menjadi acuan tingkah laku manusia dalam kehidupan bersama. Ibid. telah menjadi sah. haruslah selalu terbuka dan atau diyakini terbuka untuk. kalau tidak ingin menjadi anarki.itulah mazhabku”. Ini berarti bahwa ketentuan formal-tekstual. Sedang yang masuk kategori zanni (tidak pasti dan bisa diubah-ubah) adalah seluruh ketentuan batang tubuh atau teks. ambigu dan mengandung pengertian yang bisa berbeda-beda. secara mendasar kita pun perlu meninjau kembali pemahaman kita terhadap konsep usul fiqh tentang apa yang disebut qat'i (yang pasti dan tidak bisa diubah-ubah oleh ijtihad) dan zanni (yang tidak/kurang pasti dan bisa diubah-ubah oleh ijtihad) dalam hukum Islam. diubah atau diperbarui sesuai dengan tuntutan maslahat. yang nota bene merupakan jiwanya hukum. yang qat'i dalam hukum Islam sesuai dengan makna harfiyahnya: sebagai sesuatu yang bersifat pasti. pada saat yang sama. Fiqh selama ini mengatakan bahwa yang qat'i adalah apa-apa (hukum-hukum) yang secara sarih ditunjuk oleh nas Alquran/hadis Nabi. bukan berarti segi formal dan tekstual dari ketentuan hukum harus diabaikan. Akan tetapi. keadilan. Sedangkan yang Zanni adalah apa-apa (hukum) yang petunjuk nasnya kurang/tidak sarih. tidak berubah-ubah dan karena itu bersifat fundamental. haruslah disadari sedalam-dalamnya bahwa patokan legal-formal dan tekstual hanyalah merupakan cara bagaimana cita maslahat. Apabila jalan pikiran di atas disepakati.adalah nilai maslahat atau keadilan itu sendiri. bagaimana pun. ketentuan normatif. itu diaktualisasikan dalam kehidupan nyata. yaitu maslahat-keadilan. yang bagaimana pun dan datang dari sumber apa pun. Ketentuan legal-formal-tekstual yang sah.“jika tuntutan maslahat dan keadilan.

kedua.bahkan juga tidak perlu. Di sini tidak ada keperluan sedikit pun untuk melakukan ijtihad guna menentukan hukumnya menegakkan keadilan sebagaimana dicita-citakan oleh konsep zakat tersebut. Yakni.qat'i (nilai maslahat atau keadilan) dalam kehidupan nyata. atas basis kekayaan apa saja (mahall al-zakah). pertama. kerangka normatif yang memadai sebagai pengejawantahan dari cita maslahatkeadilan dalam konteks ruang dan waktu tertentu.97-98.untuk dilakukan ijtihad guna menentukan kedudukan hukumnya. kedua. definisi tentang maslahat. Untuk mempermudah pemahaman. dalam konteks ruang dan aktu nisbi dimana kita berada. 8 . mendefinisikan keadilan sosial dan pemerataan kesejahteraan dalam konteks ruang dan waktu tertentu. Yang harus diijtihadi dengan seluruh kemampuan mujtahid adalah hal-hal yang zanni. apakah wajib. dalam realitas sosial yang bersangkutan. memang tidak bisa. hlm. kapan harus dibayar (waqt al-ada). Tujuan disyari'atkan zakat adalah jelas: terwujudnya keadilan sosial dan kesejahteraan bersama dengan prinsip yang kuat membantu yang lemah. dapat dikemukakan satu ilustrasi syari'at zakat. misalnya konteks bangsa Indonesia dalam dasawarsa kini dan mendatang. itu memang benar adanya. Sehingga kalau dikatakan bahwa ijtihad tidak bisa terjadi untuk daerah qat'i. seperti dimaksud pada poin pertama dan kedua. keadilan. mubah atau bagaimana. kerangka kelembagaan yang memadai bagi sarana aktualisasi norma-norma maslahat-keadilan. berapa beban yang harus ditanggung oleh mereka yang mampu (miqdar al. yang memang harus diperbarui terus-menerus sesuai dengan tuntutan ruang dan waktu yang juga terus bergerak. dan hanya bisa dilakukan untuk hal-hal yang zanni. yang tidak pasti.24 Yang perlu dilakukan ijtihad adalah dalam hal-hal berikut ini: pertama.zakah). Cita "maslahat dan keadilan" sebagai hal yang qat'i dalam hukum Islam. dan siapa-siapa serta dimana alamatnya yang secara riil dan 24 Ibid. dan ketiga.

Misalnya. kelembagaan apa saja yang seharusnya tersedia dalam realitas sosial politik Indonesia yang bisa mendukung terwujudnya keadilan sosial dengan zakat tersebut. tidak adil kita kenakan beban sedekah wajib atas pendapatan sektor pertanian. dan ketiga. atau keadilan" itu dapat didefinisikan. rakyat cenderung melepaskan mereka dari tuntutan moral. dan 9 . hanya didefinisikan dengan "tentara di medan perang melawan orang kafir". tidak ada yang qat'i. Lalu akibatnya kita semua tahu.adalah maslahat keadilan. keadilan. pertanyaan yang akan segera muncul adalah. yakni syari'at. apel. kapan saja tuntutan maslahat-keadilan menghendaki. kopi. Semuanya zanni. dan sektor apa saja yang secara riil dan definitif harus didukung oleh dana zakat (masraf al-zakah). bagaimana "maslahat.definitif harus diuntungkan oleh zakat. hakim dan pembela hukum. Demikian pula.untuk disesuaikan. sementara dari sektor industri dan jasa justru kita merdekakan. tidaklah adil untuk zaman sekarang. bagaimana mekanisme pembentukannya. jaksa. dan karena itu bisa-bahkan tidak terelakkan. kita bebaskan begitu saja. diubah. yang tidak kalah ekonomisnya. dengan acuan nilai ketuhanan. Juga. Kalau acuan hukum. sebagai salah satu dari mustahik zakat. tidak sesuai lagi dengan maslahat keadilan yang nyata kalau sabilillah. kerjanya dan kontrolnya. tentang amwal zakawi. kita telah memberikan justifikasi dan sekaligus kepedulian (kritik) sosial kita terhadap peran dan aktivitas mereka. Bagaimana ketentuan yang terdapat dalam teks ajaran atau dalam pendapat para ulama mengenai persoalan pada ketiga point tersebut. kita hanya mengenakan pungutan sedekah wajib atas kurma dan anggur. tetap kita letakkan di luar orbit missi ketuhanan untuk tegakkan orde keadilan. sementara "kelapa sawit".juga hukum dalam kacamata Islam. Dengan meletakkan mereka pada barisan sabilillah. Mereka sendiri cenderung merasa bebas dari tuntutan itu. dan sebagainya. tembakau". sementara aparat penegak hukum seperti polisi.

di mana kita merupakan bagian daripadanya. akan kembali berimplikasi untuk memperkatakan bahwa maslahat-keadilan sebagai tujuan syari. dengan kepentingan orang lain. dan terpisah. Jadi. ia 10 . terlebih Maslahat dahulu yang perlu bersifat membedakan antara maslahat yang bersifat "individu subyektif" dengan "sosial-obyektif". Gagal menjawab pertanyaan ini. Apabila kita berhasil membawanya sebagai bagian dari kesepakatan orang banyak. Kesepakatan orang banyak. Dalam hal ini. Maslahat keadilan hanya jargon kosong belaka. otoritas yang berhak memberikan penilaian yang dan sekaligus menjadi hakimnya tidak lain adalah orang banyak yang bersangkutan. melalui mekanisme syura untuk mencapai kesepakatan (ijma'). bukan dengan logika kekuatan atau kepercayaan yang subyektif. pertanyaan ini sangat penting dan menentukan. itulah hukum tertinggi yang mengikat.masih harus dibawa untuk ditentukan statusnya ke dalam lembaga permusyawaratan. Dalam maslahat kategori ini. Untuk maslahat yang menjawab bersifat pertanyaan ini. adalah maslahat yang menyangkut kepentingan seseorang yang secara eksistensial bersifat independen. telah dijadikan tujuan bagi dirinya sendiri. Tidak syak lagi.. apa yang disepakati oleh orang banyak dari proses pendefinisian maslahat melalui musyawarah itulah hukum yang sebenarnya. Tidak ada kekuatan kolektif mana pun yang berhak menentukan apa yang secara personal-subyektif dianggap maslahat oleh seseorang.at (hukum). Kalau dipertanyakan kedudukan hukum atau ketentuan-ketentuan legal-normatif yang ditawarkan oleh wahyu (teks al-Quran atau hadis). Sedangkan maslahat yang bersifat sosial-obyektif adalah maslahat yang menyangkut kepentingan orang banyak. kedudukannya adalah sebagai material yang . yang berhak menentukan dan sekaligus sebagai hakimnya tentu saja adalah pribadi bersangkutan. karena sifatnya yang sangat subyektif.siapa punya otoritas untuk mendefinisikannya. individual-subyektif.juga dengan logika maslahat sosial yang obyektif.

Dan daya ikat seperti ini paling jauh hanya bersifat moral-subyektif. daya ikatnya tentu saja hanya terbatas pada orang-orang yang mempercayainya. apabila gagal memperjuangkannya sebagai kesepakatan. Ahli teori hukum Islam berikutnya yang secara khusus membahas maqasid syari'ah adalah Izzuddin ibn Abd al-Salam dari kalangan Syafi'iyah. Memang. bukan tidak ada kelemahannya. at-Tufi 11 . khususnya dalam pembahasan maqasid al-syariah yang menegaskan bahwa hukum Islam disyari'atkan untuk mewujudkan dan memelihara maslahat umat manusia.secara langsung atau melalui wakilnya. yang sebenarnya adalah juga tantangan bagi rakyat-manusia di mana pun mereka berada. Akan tetapi.berfungsi sebagai hukum yang secara formal-positif mengikat. Teori maqashid syari’ah di sini sama dengan teori keadilan sosial dalam istilah filsafat hukum. bagaimana mereka bisa mengusahakan tumbuhnya satu pranata kesepakatan umat. PENUTUP Sebagai penutup dari pembahasan ini. Yakni. Tidak jarang apa yang disebut kesepakatan lembaga syura. Teori ini pertama kali dikenalkan oleh Imam al-Haramain al-Juwaini lalu dikembangkan oleh muridnya. atau keputusan lembaga parlemen dalam terma ketata-negaraan modern. dengan mempertaruhkan "maslahat dan sekaligus norma hukum yang bersumber padanya" pada ijma' lembaga syura. Akan tetapi inilah tantangan yang harus dihadapi oleh umat Islam. tidak bisa sekaligus formal-obyektif. Di samping itu. al-Gazali.Muwafaqat. di mana rakyat. parlemen. 5. perlu dikemukakan kesimpulan bahwa teori keadilan menjadi landasan utama dalam filsafat hukum Islam. ternyata hanya merupakan hasil rekayasa segelintir elit yang berkuasa. Dan pembahasan secara sistematis dan jelas dilakukan oleh al-Syatibi dari kalangan Malikiyah dalam kitabnya al.dapat mengemukakan pendapat dan pilihannya perihal tata-kehidupan yang menurut mereka lebih mencerminkan cita maslahat dan keadilan.

Muwafaqat fi Usul al. Harmonisasi antara teks dan ruh keadilan sebagaimana dikonsepsikan dalam teori maqhasid syari’ah diatas perlu dikembangkan oleh para Hakim Pengadilan Agama dalam memeriksa.Syari'ah (Kairo: Mustafa Muhammad. Pada akhirnya Kerinduan masyarakat akan putusan yang selalu mencerminkan nilai-nilai keadilan dan maslahat bisa menjadi kenyataan.).juga ikut memberikan pandangan yang radikal dan liberal tentang maslahat. 2004.Burhan fi Usul al. Filsafat Hukum Perspektif Historis. Al-Gazali. DAFTAR PUSTAKA Abd al-Malik ibn Yusuf Abu al-Ma'ali al-Juwaini. Bandung: Nuansa dan Nusamedia.Fiqh (Kairo: Dar al-Ansar.Mustasfa min Ilm al-Usul (Kairo: al-Amiriyah. Akankah hal ini bisa terwujud? Semoga. Al-Syatibi. 12 . 1412).1400 H). t. al. memutus dan menyelesaikan perkara di pengadilan sehingga produk putusannya selalu relevan dan kontekstual dengan semangat zaman dan berpijak pada nilainilai maslahat (keadilan sosial). al. Carl Joachim Friedrich.t. Al.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Izzuddin ibn Abd al-Salam. Najmuddin at-Tufi.Tasyri'i al. Dawabit al-Maslahah fi as-Syariah al-Islamiyah.1995).1977). t. 2006. Teori Keadilan. John Rawls. yang sudah diterjemahkan dalam bahasa indonesia oleh Uzair Fauzan dan Heru Prasetyo. 1954.t). Qawaid al. Nur A. Mesir: Dar al-Fikr al-Arabi. (Beirut: Mu'assasah ar-Risalah.Anam (Kairo: al-Istiqamat. Masdar F. Vol. Mas'udi. "Meletakkan Kembali Maslahat Sebagai Acuan Syari'ah" Jurnal Ilmu dan Kebudayaan Ulumul Qur'an No.3.Maslahat fi at.Ahkam fi Masalih al.Islami wa Najmuddin at. al. Muhammad Sa'id Ramdan al-Buti. 13 . A Theory of Justice. Fadhil Lubis. London: Oxford University press. Syarh al.Tufi. 1973. VI Th. 1995. Hukum Islam dalam Kerangka Teori Fikih dan Tata Hukum Indonesia (Medan :Pustaka Widyasarana.Hadis Arba'in an-Nawaiyah dalam Mustafa Zaid.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful