MULTIKULTURALISME

:
Menuju Pendidikan Berbasis Multikultur

MULTIKULTURALISME:
Menuju Pendidikan Berbasis Multikultur

Editor: Nurdin Hasan

2011
Yayasan Anak Bangsa (YAB) Aceh, bekerjasam dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Banda Aceh dan didukung oleh Yayasan TIFA

MULTIKULTURALISME: Menuju Pendidikan Berbasis Multikultur Penerbitan ini terlaksana berkat kerjasama Yayasan Anak Bangsa (YAB) Aceh dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Banda Aceh, serta dukungan dari Yayasan TIFA.

Diterbitkan pertama kali pada Okober 2011, hasil dari sayembara penulisan artikel tentang Multikulturalisme di Aceh untuk Guru SMU dan sederajat: Dra. Erni Bulkisi, M.Sc; Eli Nurliza, S.Pd; Erlawana, S.Pd, M.Pd; Farizal Hadi, S.Pd.I; Hammaddin; Hizqil Apandi, S.Pd; Ismail; Makhdalena, S.Pd.I; Mukhtar AG, S.Pd.I, M.Pd; Nizariah, S.Sos; Oma Arianto, S.Pd; Rahmi Fhonna, MA; Suhartina, S.Pd., M.Pd; Teuku Mukhlis; Zulfadli, ST. Disunting oleh Nurdin Hasan.

© 2011, Yayasan Anak Bangsa (YAB) Aceh Jl. Balai Desa No. 55, Ateuk Munjieng Kec. Baiturrahman, Banda Aceh Telepon/Faks. +62 651 8052700 E-mail: yayasan_anak_bangsa@yahoo.com bekerjasama dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Banda Aceh Jl. Angsa No. 23, Batoh Kec. Lueng Bata, Banda Aceh Telepon/Faks. +62 651 637708 Email: sekretariat@ajibanda.org (ed.) Hasan, Nurdin-MULTIKULTURALISME: Menuju Pendidikan Berbasis Multikultur/Nurdin Hasan x + 180 h. 14 cm x 20 cm isbn: 00000000 Hak cipta dilindungi Undang-undang.

Sampul dan isi dirancang dengan huruf Lucida oleh Khairul Umami.

KATA PENGANTAR

Pendidikan multikultur masih baru dan belum menjadi isu yang menarik di Aceh. Meski sebenarnya pendidikan multikultur sangat penting hadir di tengah kondisi mewabahnya sikap intoleran terhadap sesama di semua lapisan masyarakat. Ini terlihat dari konflik SARA yang terjadi, perusakan balai pengajian karena dianggap sesat dan berbagai kasus lain yang mengacu pada hilangnya rasa dan sikap saling menghargai keragaman dan perbedaan yang hidup dalam masyarakat. Dalam Multikultur beberapa adalah literature, pendidikan yang yang dimaksud Pendidikan pada menekankan

penghormatan pada keragaman, persamaan hak, dan tidak membedakan manusia atas warna kulit, bahasa, agama, etnis, dan jenis kelamin. Pendidikan multikultur ini mengajak kita untuk menerima perbedaan sebagai sesuatu yang alamiah pada manusia. Dari defenisi singkat di atas, menjadi penting untuk mempromosikan isu pendidikan multikultur ini ke tengah masyarakat. Untuk itulah, Yayasan Anak Bangsa (YAB) Aceh bekerjasama dengan AJI Banda Aceh dengan dukungan Yayasan Tifa menyelenggarakan sayembara penulisan artikel tentang Multikulturalisme di Aceh untuk Guru SMU dan sederajat. Tak disangka ternyata antusiasme guru untuk mengikuti sayembara ini

vi

I Kata Pengantar

cukup tinggi dan tulisan artikelnya pun sangat menarik untuk di baca karena mengandung ide ide kreatif dalam mengembangkan pendidikan multikultur di Aceh. Dari puluhan artikel yang masuk, terpilihlah 15 buah artikel yang terbaik. Dan selanjutnya ke 15 artikel terbaik itu dibukukan untuk dapat disebar luaskan. Jika disimak dengan baik, 15 tulisan guru ini memberikan gambaran yang cukup jelas tentang keragaman yang telah hidup dan berkembang di Aceh. Misalnya, tulisan tentang keragaman suku bangsa, bahasa, dan adat istiadat di Aceh. Sampai saat ini keragaman suku bangsa dan etnik penduduk di Aceh masih dapat dilihat, yaitu Gayo, Alas, Tamiang, Kluet, Aneuk Jame, Singkil, Pasee, Simeulu, Tionghoa, Karo, Haloban dan lain sebagainya. Mereka memiliki kekhasan budaya sendiri yang tidak boleh digeneralisasi menjadi “Aceh”. Kekhasan itu harus dihormati sebagai sebuah kekayaan dan keunikan bersama. Masih banyak tulisan lain yang menarik untuk di baca dan tidak membosankan karena tulisannya pun tersistematis dengan baik. Akhirnya, kami berharap agar buku ini dapat memberikan wawasan baru bagi pembaca tentang Multikulturalisme sehingga akan menumbuhkan kesadaran baru betapa pentingnya membangun kebersamaan meski dilahirkan berbeda. Semoga. Wassalam,

JEHALIM BANGUN, SH Koordinator Badan Pekerja Yayasan Anak Bangsa (YAB) Aceh
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

DAFTAR ISI

AgAmA 1 15 Al-Quran dan Pendidikan Multikultural Multikultural dalam Perspektif Islam

BudAyA 31 45 55 Internalisasi Nilai-nilai Multikultural Pewarisan Nilai-Nilai Budaya Lokal Pembelajaran Nilai Keberagaman

PendidikAn 69 81 89 99 Memotivasi Belajar Siswa Multikultural di Sekolah Multikulturalisme dalam Pembelajaran Strategi Belajar Kelompok

PerdAmAiAn 115 Mengembalikan Kosmopolitan Aceh 129 Menjaga Perdamaian Aceh 137 Multikultural untuk Aceh Damai 147 Pembelajaran Usai Konflik

viii

I Daftar Isi

SejArAh 157 Historis Budaya Aceh 171 Multikultur dalam Pendidikan Sejarah

m u l t i k u l t u r a l i s m e­

menuju pendidikan berbasis multikultur

Multikulturalisme:

Al-Quran dan Pendidikan Multikultural
Makhdalena, S.Pd.I Guru SMA Negeri 1 Peukan Baro, Lampoihsaka, Pidie.

Pendidikan multikultural adalah gejala baru dalam pergaulan umat manusia yang mendambakan persamaan hak, termasuk hak untuk mendapatkan pendidikan bagi semua orang. Pendidikan multikultural berjalan seiring proses demokratisasi di tengah kehidupan masyarakat. Demokratisasi dipicu oleh pengakuan terhadap hak asasi manusia yang tidak membedakan manusia atas warna kulit, bahasa, agama, ideologi, dan gender. Pendidikan multikultural sudah menjadi kebutuhan masyarakat modern karena dapat menata dunia yang aman dan sejahtera, di mana suku bangsa dalam suatu negara atau bangsabangsa dunia dapat duduk bersama, saling menghargai, dan membantu. Pendidikan multikultural diperlukan untuk meluaskan pandangan seseorang bahwa kebenaran tidak dimonopoli oleh dirinya sendiri atau kelompoknya tetapi kebenaran dapat pula dimiliki oleh kelompok lain. Tujuan pendidikan multikultural berupaya mengajak kita untuk menerima perbedaan yang ada pada sesama manusia sebagai hal-hal alamiah. Menanamkan kesadaran keragaman (plurality), kesetaraan (equality), kemanusiaan (humanity), keadilan (justice) 1

2

I Al-Quran dan Pendidikan Multikultural

dan nilai-nilai demokrasi (democration values) yang diperlukan dalam beragam aktivitas sosial. Al-Qur’an dan Pendidikan Mutikultural Pendidikan multikultural pada dasarnya tidak bertentangan dengan ajaran Islam, khususnya al-Qur’an yang menjadi sumber syariat Islam. Keanekaragaman yang ada justru menjadi kekayaan intelektual untuk dikaji, sebagaimana beberapa ayat al-Qur’an yang menjelaskan hal tersebut. Melalui pendidikan multikultural diharapkan setiap individu atau kelompok bisa menerima dan menghargai setiap perbedaan, hidup berdampingan secara damai dan tenang. Sehingga akan terbentuk sebuah negara dan bangsa yang damai dan sejahtera. Kitab suci al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. adalah landasan pokok agama Islam dalam semua sisi kehidupan umatnya. Al-Qur’an memberikan hujjah dan bukti penjelasan tentang prinsip-prinsip Islam yang menjadi intisari dakwah. Dengan redaksi yang jelas dan akurat, memberi petunjuk kepada manusia tentang kekuasaan Allah, agar manusia menjadi masyarakat ideal di dunia. Islam merupakan agama universal yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, persamaan hak dan mengakui keragaman latar belakang budaya dan kemajemukan. Multikultural, menurut Islam, adalah aturan Tuhan (sunnatullah) yang tidak akan berubah, juga tidak mungkin dilawan atau diingkari. Setiap orang akan menghadapi kemajemukan di manapun dan dalam
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Makhdalena, S.Pd.I I

3

hal apapun. Ungkapan ini menggambarkan bahwa Islam sangat menghargai multikultural karena Islam adalah agama yang dengan tegas mengakui perbedaan setiap individu untuk hidup bersama dan saling menghormati satu sama lain. Allah SWT. menciptakan manusia dengan bermacammacam perbedaan agar bisa saling berinteraksi mengenal antara satu dengan yang lain. Perbedaan bangsa dan suku tentu akan melahirkan bermacam budaya di masyarakat. Berangkat dari perbedaan tersebut, maka setiap budaya mempunyai norma atau standar-standar tingkah laku dalam masyarakat bermacammacam. Sedikit banyak norma-norma itu berlainan antara satu individu atau kelompok dengan individu atau kelompok yang lain, karena sistem nilai dan keyakinan yang berkembang di tengah masyarakat tertentu. Ditinjau dari sudut kebudayaan, memisahkan masyarakat-masyarakat itu dari masyarakat-masyarakat lain sehingga berkembang nilai-nilai dan keyakinan yang berbeda. Ini menjadi kenyataan yang melatarbelakangi timbulnya bermacam perbedaan dan keragaman budaya. Kita perlu kembali merenung berbagai ajaran yang telah disampaikan Allah melalui para Rasul-Nya, yang terdapat dalam kitab Suci Al-Qur’an. Kita hendaknya mampu mengoptimalkan peran agama sebagai faktor integrasi dan pemersatu. Al-Qur’an, misalnya, memuat banyak sekali ayat yang bisa dijadikan referensi untuk menghormati dan melakukan rekonsiliasi di antara sesama manusia. Al Qur’an menyatakan bahwa; dulu manusia adalah umat yang
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

4

I Al-Quran dan Pendidikan Multikultural

satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para Nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan. Allah menurunkan kitab yang benar, untuk memberikan keputusan di antara manusia tentang perkara yang diperselisihkan. “Tidak berselisih tentang kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendakNya. Dan Allah selalu memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki kepada jalan yang lurus,” (QS Al-Baqarah: 213). Dalam ayat ini, Al-Qur’an menegaskan konsep kemanusiaaan universal Islam yang mengajarkan bahwa umat manusia pada mulanya adalah satu. Perselisihan terjadi karena timbul berbagai vested interest masing-masing kelompok manusia. Masing-masing mereka mengadakan penafsiran yang berbeda tentang suatu hakekat kebenaran menurut keinginannya sendiri. Meskipun asal mereka adalah satu, pola hidupnya menganut hukum tentang kemajemukan, antara lain karena Allah menetapkan jalan dan pedoman hidup yang berbeda untuk berbagai golongan manusia. Perbedaan itu seharusnya tidak menjadi penyebab perselisihan dan permusuhan, melainkan pangkal tolak bagi perlombaan untuk melakukan berbagai kebaikan. Al Qur’an menyebutkan:
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Makhdalena, S.Pd.I I

5

“….. Untuk tiap-tiap manusia di antara kamu, Kami berikan jalan dan pedoman hidup. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikannya satu umat saja. Tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberianNya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebaikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semua, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.” Dari kedua ayat itu dapat ditarik kesimpulan bahwa betapapun perbuatan manusia di bumi ini, namun hakekat kemanusiaan tetap dan tidak akan berubah. Yaitu fitrahnya yang hanif, sebagai wujud perjanjian primordial (azali) antara Tuhan dan manusia. Responsi atau timbal balik manusia pada ajaran tentang kemanusiaan universal adalah kelanjutan dan eksisitensialisme dari perjanjian primordial dalam hidup di dunia. Pada proses interaksi yang berlangsung baik secara individu atau kelompok ternyata banyak menimbulkan masalah tersendiri. Permasalahan yang muncul di tengah kehidupan mempunyai latar belakang beraneka ragam. Orang-orang yang berkompeten dalam bidangnya, semisal pemuka agama, tokoh masyarakat bahkan birokrasi pemerintah telah berupaya dengan berbagai cara agar tercipta harmonisasi kehidupan baik dalam tataran mikro maupun makro melalui saling menghargai dan menghormati setiap perbedaan. Tapi, fakta yang terjadi di masyarakat ternyata belum sesuai dengan harapan. Acap kali terjadi gesekan karena perbedaan yang
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

6

I Al-Quran dan Pendidikan Multikultural

mengakibatkan permasalahan tidak mudah diselesaikan. Banyak faktor yang melatarbelakangi permasalahan muncul ke permukaan, menjadi konflik yang bermuara pada perbedaan individu dan kelompok. Pendidikan adalah wahana paling tepat untuk membangun kesadaran multikulturalisme. Melalui pendidikan yang terintegrasi dalam kurikulum, maka pemahaman masyarakat terhadap setiap perbedaan menjelma menjadi perilaku untuk saling menghargai dan menghormati keragaman identitas dalam kerangka penciptaan harmonisasi kehidupan. Berdasarkan konflik yang terjadi, keberadaan pendidikan multikultural sangat diperlukan. Pendidikan multikultural adalah strategi pendidikan yang diterapkan pada semua jenis mata pelajaran dengan cara menggunakan perbedaan-perbedaan kultural yang ada pada diri siswa seperti perbedaan etnis, agama, bahasa, gender, klas sosial, ras, kemampuan, dan umur agar proses belajar menjadi lebih efektif dan mudah. Hal tersebut sekaligus juga untuk melatih dan membangun karakter siswa agar terbiasa bersikap demokratis, humanis dan pluralis dalam lingkungannya. Selanjutnya akan terbentuk masyarakat bangsa yang lebih berbudaya dengan banyak keanekaragaman. Keberadaan dan asal usul manusia yang multikultural menjadi kekayaan ilmu pengetahuan bagi umat Islam untuk dikaji lebih mendalam. Perbedaan-perbedaan yang ada di sekitar kehidupan manusia telah tertulis dalam al-Qur’anul Karim sebagaimana firman Allah SWT:
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Makhdalena, S.Pd.I I

7

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa–bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. al-Hujurat, 49: 13). Kurangnya pemahaman dan penerapan secara praktis firman Allah SWT itu menyebabkan orang Islam terjebak dalam hal-hal merugikan. Hal tersebut menjadi penyebab terjadinya konflik yang tidak pernah berhenti. Makanya, konsep pedidikan multikultural perlu secara terus-menerus untuk disampaikan kepada masyarakat melalui berbagai forum atau media. Hal tersebut bertujuan agar tumbuh dalam diri setiap orang kesadaran hidup dalam satu bangsa yang mempunyai keragaman budaya, sehingga akhirnya bisa saling menghargai dan menghormati setiap perbedaan. Namun, multikulturalisme dalam pengertian yang lebih sesuai dan diterima untuk kebutuhan kontemporer adalah bahwa orang-orang dari berbagai kebudayaan secara permanen dapat hidup berdampingan satu dengan yang lain. Banyak versi multikulturalisme menekankan pentingnya belajar tentang kebudayaan-kebudayaan lain, mencoba memahami mereka secara penuh dan empatik. Multikulturalisme juga mengimplikasikan suatu keharusan untuk mengapresiasi kebudayaan-kebudayaan lain. Multikulturalisme muncul kapan dan dimanapun ketika
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

8

I Al-Quran dan Pendidikan Multikultural

perdagangan dan kaum diaspora yang hidup darinya menjadi penting, dan ini menghendaki saling adaptasi sehingga semua kelompok memperoleh kemajuan dari pertukaran yang sifatnya material dan manufaktural maupun kultural berupa gagasangagasan dari berbagai penjuru dunia. Karekteristik pendidikan multikultural itu meliputi tujuh komponen yaitu belajar hidup dalam perbedaan, membangun tiga aspek mutual (saling percaya, pengertian, dan menghargai), terbuka dalam berfikir, apresiasi dan interdependensi, serta resolusi konflik dan rekonsiliasi nirkekerasan. Dari beberapa karakteristik itu, diformulasikan dengan ayat-ayat al-Qur’an sebagai dalil, bahwa konsep pendidikan multikultural ternyata selaras dengan ajaran Islam dalam mengatur tatanan hidup manusia di muka bumi ini, terutama dalam konteks pendidikan. 1. Belajar Hidup dalam Perbedaan. Pendidikan selama ini lebih diorientasikan pada tiga pilar, yaitu menambah pengetahuan, pembekalan keterampilan hidup (life skill), dan menekankan cara menjadi orang sesuai kerangka berfikir peserta didik. Realitasnya dalam kehidupan yang terus berkembang, ketiga pilar tersebut kurang berhasil menjawab kondisi masyarakat yang semakin mengglobal. Makanya, diperlukan satu pilar strategis yaitu belajar saling menghargai akan perbedaan, sehingga akan terbangun relasi antara personal dan intra personal. Dalam terminologi Islam, realitas akan perbedaan tak dapat dipungkiri lagi, sesuai Q.S. Al-Hujurat, 49 :13 yang menekankan
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Makhdalena, S.Pd.I I

9

bahwa Allah SWT menciptakan manusia yang terdiri dari berbagai jenis kelamin, suku, bangsa, dan interpretasi berbeda-beda dengan tujuan lita’arafu – untuk saling mengenal. 2. Membangun Tiga Aspek Mutual. Ketiga hal itu yaitu membangun saling percaya (mutual trust), memahami saling pengertian (mutual understanding), dan menjunjung sikap saling menghargai (mutual respect). Ketiga hal tersebut sebagai konsekuensi logis akan kemajemukan dan kehegemonikan, maka diperlukan pendidikan berorientasi kepada kebersamaan dan penanaman sikap toleran, demokratis, serta kesetaraan hak. Implementasi menghargai perbedaan dimulai dari sikap saling menghargai dan menghormati dengan tetap menjunjung tinggi rasa persatuan dan persaudaraan. Hal tersebut dalam Islam lazim disebut tasamuh (toleransi). Banyak ayat al-Qur’an yang menekankan tentang pentingnya saling percaya, pengertian, dan menghargai orang lain. Di antaranya ayat yang menganjurkan untuk menjauhi sifat berburuk sangka dan mencari kesalahan orang lain seperti terdapat dalam Q.S. al-Hujurat, 49: 12 yaitu “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain.” Tidak mudah menjatuhkan vonis dan mengedepankan klarifikasi (tabayyun) termaktub dalam Q.S. al-Hujurat, 49: 6 yakni
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

10

I Al-Quran dan Pendidikan Multikultural

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain, QS. alBaqarah (1): 256 yang berbunyi: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah.” 3. Keterbukaan dalam Berpikir. Pendidikan seyogyanya memberikan pengetahuan baru tentang bagaimana berfikir dan bertindak, bahkan mengadopsi dan beradaptasi terhadap kultur baru yang berbeda, lalu direspons dengan fikiran terbuka dan tak terkesan eksklusif. Peserta didik didorong untuk mengembangkan kemampuan berfikir sehingga tidak terkekang dalam berfikir. Penghargaan al-Qur’an bagi mereka yang mempergunakan akal, bisa dijadikan bukti representatif bahwa konsep ajaran Islam sangat responsif terhadap konsep berfikir. Salah satunya ayat yang menerangkan betapa tingginya derajat orang yang berilmu yaitu Q.S. al-Mujaadillah, 58: 11 yaitu “Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orangm u l t i k u l t u r a l i s m e­

Makhdalena, S.Pd.I I

11

orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Ayat yang menjelaskan Islam tidak mengenal kejumudan dan dogmatisme, dijelaskan dalam Q.S. al-Baqarah (1):170 yang berbunyi: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?”. 4. Apresiasi dan Interdependensi. Karakteristik ini mengedepankan tatanan sosial yang care (peduli), dimana semua anggota masyarakat dapat saling menunjukkan apresiasi dan memelihara relasi, keterikatan, kohesi, dan keterkaitan sosial yang rekat, karena bagaimanapun juga manusia tidak bisa survive tanpa ikatan sosial yang dinamis. Konsep seperti ini banyak termaktub dalam al-Qur’an. Salah satunya terdapat dalam Q.S. al-Maidah, 5: 2 yang menerangkan betapa pentingnya prinsip tolong menolong dalam kebajikan, memelihara solidaritas dan ikatan sosial (takwa), dan menghindari tolong menolong dalam kejahatan. “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolongmenolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa tolong menolong dapat
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

12

I Al-Quran dan Pendidikan Multikultural

mengantarkan manusia, baik sebagai individu atau kelompok, kepada sebuah tatanan masyarakat yang kokoh dalam bingkai persatuan dan kebersamaan dalam kebaikan, kejujuran dan ketaatan. 5. Resolusi Konflik dan Rekonsiliasi. Konflik dalam berbagai hal harus dihindari. Pendidikan harus memungsikan diri sebagai satu cara dalam resolusi konflik. Adapun resolusi konflik belum cukup tanpa rekonsiliasi, yakni upaya perdamaian melalui pengampunan atau memaafkan (forgiveness). Pemberian ampun atau maaf dalam rekonsiliasi adalah tindakan tepat dalam situasi konflik komunal. Dalam ajaran Islam, seluruh umat manusia harus mengedepankan perdamaian, cinta damai dan rasa aman bagi seluruh makhluk. Al-Qur’an secara tegas menganjurkan untuk memberi maaf, membimbing ke arah kesepakatan damai dengan cara musyawarah, duduk satu meja dengan prinsip kasih sayang. Hal tersebut terdapat dalam Q.S. asy-Syuura, 42: 40 yang berbunyi “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang lalim.” Apabila terjadi perselisihan, Islam menawarkan jalur perdamaian melalui dialog untuk mencapai mufakat dengan tidak membedakan ras, warna kulit, etnik, kebudayaan dan bahkan agama. Kesadaran terhadap kehidupan multikultural pada akhirnya akan menjelma menjadi suatu kesatuan harmonis yang memberikan corak persamaan dalam spirit dan mental. Untuk merealisasikan
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Makhdalena, S.Pd.I I

13

tujuan mulia itu yaitu perdamaian dan persaudaraan abadi di antara orang-orang yang pada realitasnya memang memiliki agama dan iman berbeda, perlulah kiranya ada keberanian untuk mengajak pihak-pihak berkompenten melakukan perubahan di bidang pendidikan, terutama melalui kurikulumnya yang berbasis keanekaragaman. Paradigma pendidikan multikultural dan upaya-upaya untuk menerapkannya di Indonesia kini mendapat perhatian serius karena relevansi dan urgensinya yang tinggi. Pengembangan pendidikan multikultural itu diharapkan dapat mewujudkan masyarakat multikultural, yaitu suatu masyarakat majemuk dari latar belakang etnis, budaya, agama dan sebagainya, namun mempunyai tekad dan cita-cita yang sama dalam membangun bangsa dan negara. Dari uraian di atas, menjadi jelas bagi kita betapa keanekaragaman budaya merupakan keniscayaan dalam hidup. Kehidupan yang tenang dan damai di antara bermacam perbedaan dalam bermasyarakat perlu disosialisasikan agar benar-benar terwujud, salah satunya melalui pendidikan multikultural. Pendidikan multikultural pada intinya tak bertentangan dengan ajaran Islam. Keanekaragaman justru menjadi kekayaan intelektual untuk dikaji, sebagaimana beberapa ayat al-Qur’an yang menjelaskan hal itu. Melalui pendidikan multikultural diharapkan setiap individu atau kelompok bisa menerima dan menghargai perbedaan, hidup berdampingan secara damai dan tenang meski banyak perbedaan, sehingga akan terbentuk sebuah negara dan bangsa yang damai dan sejahtera.[]
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

Multikultural dalam Perspektif Islam
Ismail Guru SMAN 1 Seunuddon, Aceh Utara

Pendidikan multikultural pada dasarnya tidak bertentangan dengan syariat Islam. Keanekaragaman yang ada justru menjadi kekayaan intelektual untuk dikaji, sebagaimana beberapa ayat al-Qur’an yang menjelaskan hal tersebut. Dengan pendidikan multikultural, diharapkan setiap individu atau kelompok menerima dan menghargai setiap perbedaan, hidup berdampingan dengan damai dan tenang. Sehingga terbentuk sebuah negara dan bangsa yang damai dan sejahtera. A. Pendahuluan kebudayaan oleh masyarakat lazim disebut

Keragaman

multikultural. Indonesia adalah salah satu negara multikultural terbesar di dunia, ditinjau dari kondisi sosio-kultural maupun geografis yang begitu beragam dan luas.1 Wilayahnya luas terdiri dari ribuan pulau, keragaman budaya, suku, ras dan agama adalah kekayaan tak ternilai yang dimiliki bangsa ini. Kitab suci al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad
Ainul Yaqin, Pendidikan Multikultural; Cross-Cultural Understanding untuk Demokrasi dan Keadilan, cet. ke-1 (Yogyakarta: Pilar Media, 2005), hlm. 4.
1

15

16

I Multikultural dalam Perspektif Islam

SAW. adalah landasan pokok agama Islam dalam semua sisi kehidupan umatnya. Al-Qur’an memberikan hujjah dan bukti penjelasan tentang prinsip-prinsip Islam yang menjadi intisari dakwah.2 Dengan redaksi yang jelas dan akurat, memberi petunjuk pada orang Islam tentang kekuasaan Allah, agar manusia menjadi masyarakat yang ideal di dunia. Islam adalah agama universal yang menjunjung tinggi nilainilai kemanusiaan, persamaan hak dan mengakui keragaman latar belakang budaya dan kemajemukan. Multikultural, menurut Islam, adalah aturan Tuhan (sunnatullah) yang tidak akan berubah, juga tidak mungkin dilawan atau diingkari. Setiap orang akan menghadapi kemajemukan di manapun dan dalam hal apapun.3 Ungkapan ini menggambarkan bahwa Islam sangat menghargai multikultural karena Islam adalah agama yang dengan tegas mengakui perbedaan setiap individu untuk hidup bersama dan saling menghormati satu dengan yang lainnya. B. Latar Belakang Masalah.

Allah SWT. menciptakan manusia dengan berbagai perbedaan supaya bisa saling berinteraksi untuk mengenal antara satu dengan yang lainnya. Perbedaan bangsa dan suku tentu akan melahirkan bermacam budaya di tengah masyarakat.
Shafiyyur Rahman, Sirah Nabawiyah, terj. Kathur Suhardi, cet. ke-30 (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2009), hlm. 131.
2 3 Mundzier Suparta, Islamic Multicultural Education: Sebuah Refleksi atas Pendidikan Agama Islam di Indonesia, cet. ke-1 (Jakarta: Al-Ghazali Center, 2008), hlm. 5.

m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Ismail I

17

Berangkat dari perbedaan itu, maka setiap budaya akan mempunyai norma atau standar tingkah laku yang terdapat di dalam masyarakat.4 Sedikit banyak norma-norma itu berlainan antara satu individu atau kelompok dengan individu atau kelompok lain, karena sistem nilai dan keyakinan yang berkembang dalam masyarakat tertentu. Ditinjau dari sudut kebudayaan, memisahkan satu kelompok masyarakat dari kelompok masyarakat yang lain sehingga berkembang nilai-nilai dan keyakinan yang berbeda.5 Ini menjadi kenyataan yang melatarbelakangi timbulnya bermacam perbedaan dan keragaman budaya. Pada prosesnya, interaksi yang berlangsung baik secara individu maupun kelompok ternyata banyak menimbulkan masalah tersendiri. Permasalahan yang muncul di tengah kehidupan mempunyai latar belakang yang beraneka ragam. Orang-orang yang berkompeten dalam bidangnya, semisal pemuka agama, tokoh masyarakat bahkan birokrasi pemerintah telah berupaya dengan berbagai cara agar tercipta harmonisasi kehidupan baik dalam tataran mikro ataupun makro melalui saling menghargai dan menghormati setiap perbedaan yang ada. Upayapaya tersebut melalui banyak cara yang ditempuh seperti lewat tulisan dan dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan. Tetapi, kenyataan yang terjadi di masyarakat, khususnya masyarakat Aceh, saat ini belum sesuai harapan. Masih sering
4

Sanapiah Faisal, Sosiologi Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, tt), hlm.

379.
5

Ibid., hlm. 381.
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

18

I Multikultural dalam Perspektif Islam

terjadi gesekan-gesekan karena suatu perbedaan mengakibatkan permasalahan yang tidak mudah untuk diselesaikan. Banyak faktor yang melatarbelakangi permasalahan yang muncul ke permukaan, menjadi konflik yang bermuara pada perbedaan individu atau kelompok. Bila kelompok kemasyarakatan yang obyektif mengalami disorganisasi sosial, manusia akan kehilangan bimbingan, kontrol sosial, dan sanksi sosial. Pola kehidupan banyak diwarnai keliaran dan konflik-konflik internal dan eksternal yang semakin intensif.6 Permasalahan atau konflik yang muncul berakibat menjadi sebuah tindakan yang terkadang membahayakan kehidupan dalam berbangsa dan bernegara yang memecah persatuan dan kesatuan republik ini. Dalam lingkup keagamaan, menjadi konflik horisontal antar umat seagama maupun beda agama (keyakinan). Konflikkonflik berlatarbelakang agama sekarang intensitasnya semakin meningkat. Dari konflik tersebut tak sedikit melahirkan kelompokkelompok yang bersikap radikal dan anarkhis. Seringnya konflik dan permasalahan yang muncul dari sisi keagamaan telah merebaknya aksi-aksi terorisme, anarkhisme terhadap individu atau kelompok dan tempat ibadah yang akhirnya mengganggu perdamaian dan ketenangan masyarakat. Terkadang perilaku tersebut tidak hanya merugikan diri sendiri atau kelompoknya, bangsa dan negara juga turut dirugikan.
Kartini Kartono, Hygiene Mental, cet. ke-7 (Bandung: Mandar Maju, 2000), hlm. 196.
6

m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Ismail I

19

Kerusuhan demi kerusuhan yang terjadi juga menjadi bukti bahwa bangsa yang mayoritas rakyatnya beragama Islam ini belum atau bahkan tak menghargai perbedaan, lebih suka memaksakan kehendak diri atau kelompoknya sendiri. C. Pentingnya Pendidikan Multikultural

Pendidikan dapat diartikan sebagai sebuah proses dengan metodemetode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan.7 Akar kata multikulturalisme adalah kebudayaan. Secara etimologis, multikulturalisme dibentuk dari kata multi (banyak), kultur (budaya), dan isme (aliran/paham).8 Dalam kata tersebut, terkandung pengakuan akan kehidupan manusia yang mempunyai kebudayaan beraneka ragam dengan segala keunikannya. Pendidikan merupakan wahana yang paling tepat untuk membangun kesadaran multikulturalisme.9 Melalui pendidikan yang terintegrasi dalam kurikulum, maka pemahaman masyarakat terhadap setiap perbedaan yang ada menjelma menjadi perilaku untuk saling menghargai dan menghormati keragaman identitas dalam kerangka penciptaan harmonisasi kehidupan. Berdasarkan konflik-konflik yang terjadi maka keberadaan
7 Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan, cet. ke-7 (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 10. 8 Choirul Mahfud, Pendidikan Multikultural, cet. ke-1 (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), hlm. 75. 9

Ibid, hlm. 79.
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

20

I Multikultural dalam Perspektif Islam multikultural sangat diperlukan. Pendidikan

pendidikan

multikultural adalah strategi yang diterapkan pada semua jenis mata pelajaran dengan cara menggunakan perbedaan-perbedaan kultural pada siswa, seperti perbedaan etnis, agama, bahasa, gender, klas sosial, ras, kemampuan, dan umur agar proses belajar menjadi lebih efektif dan mudah.10 Hal tersebut sekaligus juga untuk melatih dan membangun karakter siswa agar terbiasa bersikap demokratis, humanis, dan pluralis dalam lingkungannya. Selanjutnya akan terbentuk masyarakat bangsa yang lebih berbudaya dengan banyak keanekaragaman. D. Pendidikan Multikultural dalam Perspektif Islam

Keberadaan dan asal manusia yang multikultural menjadi kekayaan ilmu pengetahuan bagi umat Islam untuk dikaji lebih mendalam. Perbedaan-perbedaan yang ada di sekitar kehidupan manusia telah tertulis dalam al-Qur’anul Karim sebagaimana Allah SWT. telah berfirman : “Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. al-Hujurat (49): 13).11
10 11

Ainul Yaqin, Pendidikan, hlm. 25.
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya,

Ismail I

21

Kurangnya pemahaman dan penerapan secara praktis firman Allah SWT. dalam QS. al-Hujurat (49): 13 tersebut menyebabkan orang Islam terjebak dalam hal-hal yang merugikan. Hal itu menjadi penyebab terjadinya konflik yang tidak pernah berhenti. Maka, konsep pedidikan multikultural di Aceh perlu terusmenerus disampaikan kepada masyarakat melalui berbagai forum atau media. Hal itu bertujuan agar tumbuh dalam diri setiap orang Aceh kesadaran hidup dalam sebuah bangsa yang mempunyai keragaman budaya, sehingga akhirnya bisa saling menghargai dan menghormati setiap perbedaan. Namun, multikulturalisme dalam pengertian yang lebih sesuai dan diterima untuk kebutuhan kontemporer adalah bahwa orang-orang dari berbagai kebudayaan yang beragam secara permanen hidup berdampingan satu dengan yang lainnya. Banyak versi multikulturalisme yang menekankan pentingnya belajar tentang kebudayaan lain, mencoba memahami mereka secara penuh dan empatik. Multikulturalisme mengimplikasikan suatu keharusan untuk mengapresiasi kebudayaan-kebudayaan lain, dengan kata lain menilainya positif. Multikulturalisme muncul kapan dan dimanapun ketika perdagangan dan kaum diaspora yang hidup darinya menjadi penting, dan ini menghendaki saling adaptasi (mutual adaption) sehingga semua kelompok memperoleh kemajuan dari pertukaran yang sifatnya material dan manufaktural maupun kultural berupa gagasan-gagsan dari
(Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an Departemen Agama, 1978/1979), hlm. 847.
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

22

I Multikultural dalam Perspektif Islam

berbagai penjuru dunia.12 Karakteristik pendidikan multikultural ditinjau dari perspektif Islam meliputi tujuh komponen, yaitu belajar hidup dalam perbedaan ideologi, membangun tiga aspek mutual (saling percaya, pengertian, dan menghargai), terbuka dalam berfikir, apresiasi dan interdependensi, serta resolusi konflik dan rekonsiliasi nirkekerasan. Dari beberapa karakteristik tersebut, diformulasikan dengan ayat-ayat al-Qur’an sebagai dalil, bahwa konsep pendidikan multikultural ternyata selaras dengan ajaran Islam dalam mengatur tatanan hidup manusia di muka bumi ini, terutama sekali dalam konteks pendidikan.13 1. Karakteristik belajar hidup dalam perbedaan ideologi. Pendidikan selama ini lebih diorientasikan pada tiga pilar pendidikan, yaitu menambah pengetahuan, pembekalan keterampilan hidup (life skill), dan menekankan cara menjadi “orang” sesuai dengan kerangka berfikir peserta didik. Realitasnya dalam kehidupan yang terus berkembang, ketiga pilar itu kurang berhasil menjawab kondisi masyarakat yang semakin mengglobal. Maka dari itu, diperlukan satu pilar strategis yaitu belajar saling menghargai akan perbedaan ideologi, sehingga akan terbangun relasi antara personal dan intra personal. Dalam terminologi Islam, realitas akan perbedaan tak dapat dipungkiri lagi, sesuai Q.S. Al12 Zakiyuddin Baidhawy, Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural, cet. ke-1 (Jakarta: Erlangga, 2005), hlm. 5. 13

Ibid., hlm. 74-84.
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Ismail I

23

Hujurat (49) :13 yang menekankan bahwa Allah SWT menciptakan manusia yang terdiri dari berbagai jenis kelamin, suku, bangsa, serta interprestasi yang berbeda-beda. 2. Karakteristik membangun tiga aspek mutual. Ketiga hal tersebut yaitu membangun saling percaya (mutual trust), memahami saling pengertian (mutual understanding), dan menjunjung sikap saling menghargai (mutual respect). Tiga hal ini sebagai konsekuensi logis akan kemajemukan dan kehegemonian, maka diperlukan pendidikan yang berorientasi kepada kebersamaan dan penanaman sikap toleran, demokratis, serta kesetaraan hak. Implementasi menghargai perbedaan dimulai dengan sikap saling menghargai dan menghormati dengan tetap menjunjung tinggi rasa persatuan dan persaudaraan. Hal tersebut dalam Islam lazim disebut tasamuh (toleransi).14 Ayat-ayat al-Qur’an yang menekankan akan pentingnya saling percaya, pengertian, dan menghargai orang lain, di antaranya ayat yang menganjurkan untuk menjauhi berburuk sangka dan mencari kesalahan orang lain yaitu Q.S. al-Hujurat (49), 12: "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain."15
14 15

Mundzier Suparta, Islamic, hlm. 55-57.
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an, hlm. 847.

24

I Multikultural dalam Perspektif Islam Tak mudah menjatuhkan vonis dan selalu mengedepankan

klarifikasi (tabayyun) dalam Q.S. al-Hujurat (49), 6: "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu."16 Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain, QS. alBaqarah (1), 256 : "Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah."17 3. Karakteristik terbuka dalam berpikir. Pendidikan seyogyanya memberi pengetahuan baru tentang bagaimana berfikir dan bertindak, bahkan mengadopsi dan beradaptasi terhadap kultur baru yang berbeda, kemudian direspons dengan fikiran terbuka dan tidak terkesan eksklusif. Peserta didik didorong untuk mengembangkan kemampuan berfikir sehingga tidak ada kejumudan dan keterkekangan dalam berfikir. Penghargaan al-Qur’an terhadap mereka yang mempergunakan akal, bisa dijadikan bukti representatif bahwa konsep ajaran Islampun sangat responsif terhadap konsep berfikir secara terbuka. Salah
16 17

Ibid., hlm. 846.
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Ibid., hlm. 63.

Ismail I

25

satunya ayat yang menerangkan betapa tingginya derajat orang yang berilmu yaitu Q.S. al-Mujaadillah (58), 11: "Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."18 Ayat yang menjelaskan bahwa Islam tidak mengenal kejumudan dan dogmatisme, hal ini dijelaskan dalam Q.S. al-Baqarah (1), 170 : "Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?”19 4. Karakteristik apresiasi dan interdependensi Karakteristik ini mengedepankan tatanan sosial yang care (peduli), dimana semua anggota masyarakat dapat saling menunjukkan apresiasi dan memelihara relasi, keterikatan,
18 19

Ibid., hlm. 910.
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

Ibid., hlm. 41.

26

I Multikultural dalam Perspektif Islam

kohesi, dan keterkaitan sosial yang rekat, karena bagaimanapun juga manusia tidak bisa survive tanpa ikatan sosial yang dinamis. Konsep seperti ini banyak termaktub dalam al-Qur’an, salah satunya Q.S. al-Maidah (5), 2 yang menerangkan betapa pentingnya prinsip saling tolong-menolong dalam kebajikan, memelihara solidaritas dan ikatan sosial (takwa), dengan menghindari tolong menolong dalam kejahatan. "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (Q.S. al-Maidah (5): 2)."20 Redaksi ayat tersebut mengisyaratkan bahwa tolong-menolong yang dapat mengantarkan manusia, baik sebagai individu atau kelompok, kepada tatanan masyarakat yang kokoh dalam bingkai persatuan dan kebersamaan adalah tolong menolong dalam hal kebaikan, kejujuran dan ketaatan.21 5. Karakteristik resolusi konflik dan rekonsiliasi. Konflik dalam berbagai hal harus dihindari, dan pendidikan harus memungsikan diri dalam resolusi konflik. Adapun resolusi konflik belum cukup tanpa rekonsiliasi, yakni upaya perdamaian melalui sarana pengampunan atau memaafkan (forgiveness).
20 21

Ibid., hlm. 157.
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Mundzier Suparta, Islamic, hlm. 64.

Ismail I

27

Pemberian ampun atau maaf dalam rekonsiliasi adalah tindakan tepat dalam situasi konflik komunal. Dalam ajaran Islam, seluruh umat manusia harus mengedepankan perdamaian, cinta damai dan rasa aman bagi seluruh makhluk. Juga secara tegas al-Qur’an menganjurkan untuk memberi maaf, membimbing ke arah kesepakatan damai dengan cara musyawarah, duduk satu meja dengan prinsip kasih sayang. Hal itu terdapat dalam Q.S. asy-Syuura (42), 40 yang berbunyi: "Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka Barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang lalim."22 Bila terjadi perselisihan, maka Islam menawarkan jalur perdamaian melalui dialog untuk mencapai mufakat. Hal ini tidak membedakan ras, warna kulit, etnik, kebudayaan dan bahkan agama.23 Kesadaran terhadap kehidupan yang multikultural pada akhirnya akan menjelma menjadi kesatuan harmonis yang memberi corak persamaan dalam spirit dan mental.24 Untuk memperoleh keberhasilan bagi terealisasinya tujuan mulia yaitu perdamaian dan persaudaraan abadi di antara orang-orang yang pada realitasnya memang memiliki agama dan iman berbeda, perlulah kiranya
22 23

Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an, hlm. 789.

Mundzier Suparta, Islamic, hlm. 59.

Asma Hasan Fahmi, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, cet. ke-1 (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), hlm. 11.
24

menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

28

I Multikultural dalam Perspektif Islam

ada keberanian mengajak pihak-pihak berkompenten melakukan perubahan di bidang pendidikan terutama melalui kurikulumnya yang berbasis keanekaragaman. Paradigma tentang pendidikan multikultural dalam menjaga perdamaan di Aceh dan upaya-upaya penerapannya di Indonesia kini mendapat perhatian semakin besar karena relevansi dan urgensinya yang tinggi. Pengembangan pendidikan multikultural diharapkan dapat mewujudkan masyarakat multikultural, yaitu suatu masyarakat yang majemuk dari latar belakang etnis, budaya, agama dan sebagainya, namun mempunyai tekad dan cita-cita yang sama dalam membangun bangsa dan negara. E. Kesimpulan

Dari paparan di atas, keanekaragaman budaya adalah keniscayaan dalam hidup. Kehidupan yang tenang dan damai di antara bermacam perbedaan dalam bermasyarakat perlu disosialisasikan agar benar-benar terwujud, salah satunya melalui pendidikan multikultural. Pendidikan multikultural pada dasarnya tidak bertentangan dengan ajaran Islam, khususnya al-Qur’an yang menjadi sumber syariat Islam. Keanekaragaman yang ada justru menjadi kekayaan intelektual untuk dikaji, sebagaimana beberapa ayat al-Qur’an yang menjelaskan hal tersebut. Melalui pendidikan multikultural diharapkan setiap individu atau kelompok bisa menerima dan menghargai setiap perbedaan, hidup berdampingan dengan damai dan tenang walaupun berbedam u l t i k u l t u r a l i s m e­

Ismail I

29

beda ideologi. Sehingga terbentuk sebuah negara dan bangsa yang damai dan sejahtera.[]

menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

Internalisasi Nilai-nilai Multikultural
Rahmi Fhonna, MA Guru Honorer MAN Darussalam Tungkop, Aceh Besar
Pendahuluan Indonesia belakangan ini menghadapi berbagai tantangan terkait aspek multikultural. Kurangnya pemahaman terhadap aspek tersebut hampir terjadi pada seluruh komunitas warga negara. Maka tak mengherankan jika kondisi sosial kemasyarakatan dari hari ke hari semakin diwarnai dengan berbagai masalah. Hadirnya sikap intoleran terhadap sesama seakan mewabah dan menyentuh semua lapisan masyarakat. Ini terlihat dari munculnya terorisme, konflik SARA (suku, agama, dan ras), tawuran pelajar, tidak menghargai perbedaan, diskriminasi serta berbagai kasus lain yang mengacu kepada hilangnya rasa dan sikap saling menghargai terhadap keanekaragaman yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Permasalahan ini merupakan tantangan besar bagi seluruh stakeholder untuk mencari alternatif penyelesaian agar setiap anak bangsa dapat menghargai keberagaman. Karena keberagaman itu dilihat dari konteks historis merupakan modal besar bangsa Indonesia dalam meraih cita-cita kemerdekaan. Tapi, modal besar itu apabila tak dikelola dengan baik akan 31

32

I Internalisasi Nilai-nilai Multikultural

menciptakan lingkungan bangsa yang disorientasi kebhinekaan sehingga dapat memunculkan fanatisme etnis, agama, kelompok dan budaya yang mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara serta hilangnya ikatan emosional sosial dalam berbagai lapisan masyarakat yang multikultural (Yaqin, 2005:4). Karena itu prinsip kesetaraan, keadilan, keterbukaan, pengakuan terhadap perbedaan adalah nilai-nilai yang dibutuhkan dalam kehidupan negara yang multikultur serta perlu dilestarikan di tengah himpitan budaya global agar tercabut dari pola pikir dan watak anak bangsa pada masa mendatang. Salah satu upaya dan alternatif penyelesaian masalah itu adalah melalui pengenalan lebih mendalam dan komprehensif terhadap makna multikultural. Konsep multikulturalisme menjadi penting untuk dikembangkan dan diinternalisasikan dalam proses transformasi nilai-nilai bagi masyarakat. Prinsip-prinsip dasar multikulturalisme mengakui dan menghargai keberagaman kelompok masyarakat demi terwujudnya perubahan pola perilaku sosial yang kondusif tanpa diskriminatif, sehingga terbentuknya bangsa yang lebih berbudaya dengan keanekaragaman. Makanya, untuk mencegah dan meminimalkan berbagai konflik dan menghilangkan sikap diskriminatif perlu dikembangkan pendidikan multikultural. Urgensi Multikultural adalah suatu paham atau situasi kondisi masyarakat yang tersusun dari banyak kebudayaan. Menurut Liliweri (2005:
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Rahmi Fhonna, MA I

33

68), multikulturalisme dua perbedaan

merupakan konsep yang menjelaskan makna saling berkaitan. Pertama,

dengan

multikulturalisme sebagai kondisi kemajemukan kebudayaan dari suatu masyarakat, kondisi ini diasumsikan dapat membentuk sikap toleransi. Kedua, multikulturalisme merupakan seperangkat kebijakan pemerintah yang dirancang agar seluruh masyarakat dapat memberikan perhatian kepada kebudayaan dari semua etnik atau suku bangsa karena mereka telah memberi kontribusi bagi pembentukan pembangunan suatu bangsa. Bila dikaitkan dengan pendidikan, multikuklturalisme merupakan strategi pendidikan yang memanfaatkan keragaman latar belakang kebudayaan siswa sebagai salah satu kekuatan untuk membentuk sikap multikultural. Hal ini sesuai dengan UndangUndang Sistem Pendidikan Nasional pada Bab 3 Pasal 4 Ayat 1 bahwa pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa. Upaya ini dapat diwujudkan melalui pendidikan, karena pendidikanlah yang dapat membentuk watak dasar, intelektual dan emosional seseorang dalam melihat realitas yang ada di sekelilingnya. Ini dapat diartikan bahwa pendidikan merupakan proses mentransmisikan kebudayaan dan sekaligus pembelajaran norma-norma kemasyarakatan (Chakim, 2005: 106), melalui metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan (Syah, 2002: 10).
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

34

I Internalisasi Nilai-nilai Multikultural Karenanya, implementasi pendidikan multikultural harus

dapat membentuk watak dasar dan sikap siswa agar dapat hidup dengan berbagai keanekaragaman melalui penerimaan terhadap keunikan manusia tanpa membedakan ras, budaya, jenis kelamin, kondisi jasmaniah dan status ekonomi seseorang (Ibrahim, 2008: 121). Asy’arie (2008: 1-2) menambahkan bahwa pemahamann multikulturalisme penting diwujudkan sejak dini karena berkaitan dengan proses penanaman cara hidup menghormati, tulus, dan toleran terhadap keanekaragaman budaya yang hidup di tengah masyarakat plural. Atas dasar itu, diharapkan adanya kelenturan mental bangsa dalam menghadapi berbagai benturan konflik sosial sehingga dapat menjaga keutuhan dan persatuan bangsa. Lebih jauh, Gollnick (dalam Banks, 1993: 29) menyebutkan, pentingnya pendidikan multikultural dilatarbelakangi oleh tiga faktor. Pertama, setiap budaya dapat berinteraksi dengan budaya lain yang berbeda. Kedua, keadilan sosial dan kesempatan yang setara bagi semua orang merupakan hak bagi semua warga negara. Ketiga, sistem pendidikan dapat memberikan fungsi kritis terhadap kebutuhan kerangka sikap dan nilai demi kelangsungan masyarakat demokratis. Faktor-faktor itu dapat dijadikan landasan untuk mengembangkan konsep pendidikan multikulturalisme yang sangat penting karena dapat meningkatkan pemahaman terhadap keberagaman budaya serta dapat mewujudkan kesempatan yang sama bagi semua orang dalam rangka menghilangkan stereotip yang telah melekat pada seseorang terhadap budaya orang lain.
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Rahmi Fhonna, MA I

35

Selaras dengan hal itu, pendidikan multikulturalisme tidak hanya penting pada suatu negara atau daerah tertentu, tetapi ia telah menjadi komitmen secara global. Hal ini sesuai dengan rekomendasi yang dikeluarkan UNESCO pada Oktober 1994 di Jenewa. Rekomendasi tersebut memuat empat hal. Pertama, pendidikan hendaknya mengembangkan kemampuan untuk mengakui dan menerima nilai-nilai yang ada dalam kebhinnekaan. Kedua, pendidikan hendaknya meneguhkan jati diri dan mendorong konvergensi gagasan dan penyelesaian yang dapat memperkokoh perdamaian, serta solidaritas antara pribadi dan masyarakat. Ketiga, pendidikan hendaknya meningkatkan kemampuan mengelola konflik secara damai tanpa kekerasan. Keempat, pendidikan hendaknya meningkatkan pengembangan kedamaian dalam pikiran siswa sehingga mereka mampu membangun lebih kokoh kualitas toleransi, kesabaran, kemauan untuk berbagi dan memelihara (Sanusi, 2009: 3). Lalu, kenapa internalisasi nilai-nilai multikultural perlu diwujudkan sejak dini melalui pendidikan? Setidaknya terdapat empat alasan yang dapat dikemukakan. Pertama, pendidikan multikulturalisme dapat memberikan terobosan baru pembelajaran yang mampu meningkatkan empati dan mengurangi prasangka siswa sehingga terciptanya warga negara yang mampu mengelola konflik tanpa kekerasan (nonviolent). Kedua, penerapan pendekatan dan strategi pembelajaran potensial dalam mengedepankan proses interaksi sosial memiliki afeksi yang kuat. Ketiga, model pembelajaran multikultural membantu pendidik dalam mengelola
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

36

I Internalisasi Nilai-nilai Multikultural

proses pembelajaran menjadi lebih efisien dan efektif, sehingga memberikan kemampuan siswa dalam membangun kolaboratif dan memiliki komitmen nilai tinggi dalam kehidupan masyarakat yang beragam. Keempat, memberikan kontribusi bagi bangsa Indonesia dalam penyelesaian dan mengelola konflik bernuansa SARA yang timbul dalam masyarakat dengan cara meningkatkan empati dan mengurangi prasangka. Melihat pentingnya penanaman konsep multikulturalisme, maka sudah seharusnya sekolah, pendidik, dan berbagai pengambil kebijakan mempersiapkan berbagai aspek yang mencakup materi, metode, serta sarana dan prasarana dalam menunjang proses pembelajaran multikulturalisme di lembaga pendidikan. Upaya Internalisasi Tujuan pendidikan multikultural adalah untuk mengubah seluruh lingkungan atau suasana pendidikan, sehingga dapat meningkatkan perhatian terhadap kelompok-kelompok budaya yang luas atau berbeda untuk mendapatkan pendidikan yang sama. Pendidikan multikultural juga merupakan tujuan utama pembelajaran seumur hidup (life long learning) (Ibrahim, 2008:121-122). Oleh karena itu, penanaman nilai-nilai yang dapat mendukung terwujudnya sikap saling menghargai dan dapat hidup berdampingan secara damai perlu ditanamkan sejak dini dalam berbagai jenjang pendidikan, karena pendidikan tak hanya sebagai transfer of knowledge dan transfer of skill, namun juga perlu memprioritaskan pada pengembangan transfer of social
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Rahmi Fhonna, MA I

37

values yang dapat mendukung kehidupan harmonis antara seluruh masyarakat, tanpa membedakan etnis, ras, suku dan agama (Abdullah, 2005: 121). Pola penerapan pendidikan multikultural di tingkat nasional maupun lokal perlu dikaji secara lebih mendalam, mengingat pemahaman konsep multikulturalisme masih terbatas hanya pada beberapa golongan tertentu dan belum menyentuh semua lapisan masyarakat, termasuk pendidik dan pengambil kebijakan dalam bidang pendidikan. Untuk itu, ada beberapa aspek yang dapat dijadikan acuan untuk mengembangkan pendidikan multikultural. Pertama, menyusun rancangan pembelajaran berbasis multikultural. Penyusunan rancangan pembelajaran bernuansa multikultural dapat dilakukan melalui lima tahapan utama, yaitu analisis isi (content analysis), analisis latar kultural (setting analysis), pemetaan materi (maping contents), pengorganisasian materi (contents organizing), dan menuangkan dalam format pembelajaran ketika tahapan proses tindakan dilakukan dalam mengembangkan pembelajaran berbasis multikultural. Kedua, perlu adanya sebuah kurikulum yang dapat dijadikan pegangan bagi pendidik dalam mengajarkan konsep multikulturalisme. Kurikulum ini perlu dikembangkan sebagai bagian dari pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dan Pendidikan Agama. Saat ini kurikulum pada dua mata pelajaran tersebut belum terintegrasi secara utuh dengan nilai-nilai multikulturalisme yang sangat dibutuhkan untuk memberikan
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

38

I Internalisasi Nilai-nilai Multikultural

pemahaman kepada anak didik tentang penghargaan terhadap keanekaragaman di sekitarnya. Dalam hal ini, pemerintah lokal (daerah) tidak harus menunggu adanya kurikulum tingkat nasional, tetapi dapat menyusun kurikulum berdasarkan konteks lokal yang lebih dinamis dan sesuai pola kehidupan daerah yang penuh dengan nilai-nilai kearifan lokal (local value) untuk dikembangkan dalam sebuah materi yang utuh sehingga menjadi bahan ajar dalam memberikan pemahaman tentang konsep multikulturalisme kepada siswa. Dengan begitu, mereka dapat memahami keanekaragaman di sekelilingnya dalam konteks lokal yang berdimensi global. Dan ini dapat menjadi salah satu materi untuk mengisi kurikulum muatan lokal. Perspektif lokal penting diwujudkan, karena inti konsep multikulturalisme bukan suatu paksaan dengan menghilangkan keanekaragaman budaya lokal tetapi upaya memahami berbagai keanekaragaman sebagai sebuah bangsa yang dapat hidup saling berdampingan dengan berbagai perbedaan tersebut. Ketiga, multikultural, perlu adanya lain strategi melalui pembelajaran penerapan berbasis antara pembelajaran

bersama-sama (cooperative learning) yang dipadu dengan strategi pencapaian konsep (concept attainment), analisis nilai (value analysis), dan analisis sosial (social investigation). Strategi ini bisa diterapkan pada semua mata pelajaran, tidak hanya terbatas pada mata pelajaran tertentu yang hanya memperkenalkan konsep multikulturalisme. Penggunaan strategi ini diharapkan mampu meningkatkan partisipasi siswa dalam melakukan rekomendasi nilai-nilai lokal serta membangun cara pandang kebangsaan yang
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Rahmi Fhonna, MA I

39

multikultur. Dari kemampuan ini, siswa akan memiliki ketrampilan dalam mengembangkan kecakapan hidup untuk menghormati dan empati yang tinggi terhadap perbedaan budaya, toleransi pada perbedaan serta mampu mengelola konflik tanpa kekerasan. Keempat, adanya sistem pemberdayaan budaya sekolah dan struktur sosial (empowering school culture and social structure). Hal ini penting dalam memberdayakan budaya siswa untuk berpartisipasi dalam kegiatan olahraga, berinteraksi dengan seluruh staf dan siswa yang berbeda etnis dan ras dalam upaya menciptakan budaya akademik. Interaksi non-formal ini diharapkan akan terwujudnya pemahaman terhadap keanekaragaman melalui kegiatan-kegiatan bersifat ekstrakulikuler yang dapat diikuti oleh semua siswa dengan latar belakang agama, budaya, dan etnis yang berbeda. Kelima, untuk mengembangkan model pendidikan multikultural dibutuhkan berbagai sarana dan prasarana yang mendukung. Salah satunya adalah audio visual untuk menonton film-film bertema multikultural, dan berbagai media pembelajaran lain yang dapat meningkatkan minat siswa untuk memahami konsep multikulturalisme. Penggunaan media pembelajaran seperti audio visual sepeti telah dikembangkan di Madrasah Pembangunan UIN cukup menarik minat belajar serta sangat menyenangkan siswa, karena tak hanya mendengar teori dari pendidik tapi sekaligus melihat dan melakukan praktik selama proses pembelajaran berlangsung. Upaya ini akan berdampak terhadap semakin meningkatnya sikap toleransi, solidaritas dan penyelesaian konflik tanpa kekerasan serta menempuh jalan musyawarah.
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

40

I Internalisasi Nilai-nilai Multikultural Dalam rangka mengimplementasikan hal-hal itu, baik

pemerintah pusat, pemerintah daerah dan seluruh stakeholder pengambil kebijakan terhadap pengembangan pendidikan perlu mengkaji secara teliti dan lebih mendalam untuk menerapkan konsep pendidikan multikultural di lingkungan sekolah. Harus ada kebijakan yang tepat dan terarah mulai dari pengembangan materi, metode pengajaran, penciptaan kondisi lingkungan yang kondusif dan berbasis budaya serta pembinaan terhadap pendidik-pendidik yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam upaya internalisasi nilai-nilai multikultural tersebut. Dalam penerapannya, pendidikan multikultural bukanlah mata pelajaran yang berdiri sendiri, tapi terintegrasi ke dalam mata pelajaran lain, sehingga dalam implementasinya perlu dilakukan oleh pendidik sebagai salah satu komponen pembelajaran. Karena itu, pendidikan multikultural tidak hanya menjadi tanggung jawab pendidik mata pelajaran tertentu, tetapi perlu diimplementasikan secara integral ke dalam berbagai materi pembelajaran relevan dengan mata pelajaran bersangkutan. Tapi, melihat materi dari konsep multikulturalisme, peran guru mata pelajaran PKn dan Pendidikan Agama menjadi titik sentral untuk pengembangan konsep multikulturalisme. Sehingga dalam implementasinya, para pendidik perlu lebih kreatif, inovatif serta mampu mengelola dan menciptakan desain pembelajaran yang sesuai, termasuk memberikan dan membangkitkan motivasi belajar siswa. Tetapi fakta yang ada berbicara lain, hasil penelitian baru-baru ini yang dilakukan di Jakarta dan Tangerang menemukan
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

yang

Rahmi Fhonna, MA I

41

fakta bahwa kebanyakan guru mata pelajaran PKn tidak terlalu mengerti tentang multikulturalisme (Harian Republika, 14 Juni 2011). Untuk menjawab problema itu, kebijakan khusus mengenai peningkatan kapasitas dan kualitas pendidik harus segera diwujudkan. Peran pendidik dalam mengimplementasikan pendidikan multikultural sangat penting, di mana pendidik harus mampu mengelola dan mengorganisir isi, proses, situasi dan kegiatan sekolah secara multikultural di mana setiap siswa dengan latar belakang yang berbeda berkesempatan untuk mengembangkan dirinya dan saling menghargai perbedaan yang tidak mungkin dihindari di lingkungan sekolah. Dengan kapasitas pendidik yang kreatif dan inovatif serta adanya dukungan dari seluruh komponen sekolah diharapkan akan muncul pemahaman dan afeksi siswa akan nilai-nilai multikultural yang dikembangkan seperti toleransi, solidaritas, musyawarah, dan pengungkapan diri. Akhirnya, pendidikan multikultural seyogyanya mampu menfasilitasi proses belajar mengajar yang mengubah perspektif monokultural, penuh prasangka dan diskriminatif ke perspektif multikulturalis menghargai keragaman dan perbedaan, toleran dan sikap terbuka terhadap orang lain. Perubahan paradigma ini menuntut transformasi yang tidak terbatas pada dimensi kognitif belaka. Dunia pendidikan tidak boleh terasing dari perbincangan realitas multikultural. Dengan demikian, sudah saatnya menginternalisasikan nilai-nilai multikultural dalam pendidikan, khususnya pada proses pembelajaran dengan tanpa mengabaikan
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

42

I Internalisasi Nilai-nilai Multikultural

realitas kebudayaan yang beragam, sehingga melahirkan suatu generasi masa depan yang cerdas, terbuka, toleran, saling menghargai, mandiri dan tidak gamang menghadapi masa depan. []

m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Rahmi Fhonna, MA I

43

Daftar Pustaka
Abdullah, M. Amin. 2005. Pendidikan Agama Era Multikultural Multi Religious. Cet 1. Jakarta: PSAP. Asy’ary, Musa. Pedidikan Multikultural dan Konflik Bangsa. www. kompas,co.id Banks, J.A. 1993. “Multicultural Educatian: Historical Development, Dimentions and Practice” In Review of Research in Education, vol. 19, edited by L. Darling-Hammond. Washington, D.C.: American Educational Research Association. Chakim, Abdullah. 2005. Pendidikan Multikultural, Jurnal Ta’allum. STAIN Tulungagung vol 28. No 2. Hal 99-109. Ibrahim, Ruslan. 2008. Pendidikan Multikultural; Upaya Meminimalisir Konflik Dalam Era Pluralitas Agama. Jurnal Pendidikan Islam el Tarbawi. No 1. Vol 1 tahun 2008. Hal 115-127. Liliweri, Alo. 2005. Prasangka dan Konflik; Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultural, cet I. Yogyakarta: Lkis. Harian Republika, 14 Juni 2011. Redaksi Sinar Grafika. 2005. UU SISDIKNAS (Siatem Pendidikan Nasional)2003 (UU RI NO 20 Tahun 2003), cet II. Jakarta: Sinar Grafika. Sanusi, A. Effendi. 2009. Pendidikan Multikultural dan Implikasinya http://blog.unila.ac.id/effendisanusi/?p=412 Syah, Muhibbin. Psikologi Pendidikan, cet. VII. Bandung: Remaja Rosdakarya. Yaqin, Ainul. 2005. Pendidikan Multikultural; Cross-Cultural Understanding untuk Demokrasi dan Keadilan, cet I. Yogyakarta: Pilar Media.

menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

Pewarisan Nilai-nilai Budaya Lokal
Suhartina, S.Pd., M.Pd. Guru SMA Muhammadiyah 1 Banda Aceh

Kultur atau kebudayaan, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah (1) hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat; (2) keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan menjadi pedoman tingkah lakunya. Sedangkan, multi merupakan imbuhan awalan yang bermakna banyak, beragam. Dengan demikian, multikultur bermakna budaya yang beragam, bervariasi, sebagai akibat adanya keragaman etnik, suku bangsa, dan bangsa yang mendiami suatu wilayah tertentu. Kultur berperan penting untuk melahirkan hasil seperti diinginkan. Pendidikan yang mengadopsi budaya Barat bisa jadi akan melahirkan manusia-manusia berkultur Barat. Begitu juga pendidikan yang mengadopsi kultur Indonesia, akan melahirkan manusia-manusia berkultur Indonesia. Itu sebabnya, Pemerintah Indonesia memberi otonomi seluas-luasnya kepada setiap daerah untuk melaksanakan proses pendidikan berdasarkan pengenalan kultur atau budaya nasional dan lokal sebagai pengakuan keragaman budaya dan nilai-nilai yang dianut atau diwariskan 45

46

I Pewarisan Nilai-nilai Budaya Lokal

suatu suku bangsa yang tinggal atau hidup di Indonesia. Hal itu menyebabkan setiap daerah memanfaatkan kesempatan ini dengan memperkaya khasanah pendidikan dengan memasukkan kultur lokal. Aceh melegalkan hal itu dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, Pasal 17 ayat c tentang penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas serta menambah materi muatan lokal sesuai syariat Islam. Undang-undang ini memberi kesempatan pada pemerintah dan masyarakat Aceh untuk menciptakan pendidikan berkultur keacehan, sehingga adalah apakah masyarakat Aceh masih dapat mengakomodasi pendidikan dengan kearifan lokal. Pertanyaannya memiliki dan menjunjung tinggi kultur Aceh? Barangkali jangankan melaksanakan budaya yang beragam di Aceh, multikultur pun mereka tidak kenal. Masyarakat kita semakin terlena dengan kultur asing. Sungguh sangat disayangkan. Jika ada anak yang tahu di negara mana letak Menara Eiffel, tetapi dia tidak tahu di daerah mana letak Indrapatra, Indrapurwa, Indrapuri, dan makam T.Nyak Arief. Penulis pernah menanyakan pada siswa tempat-tempat penting di daerahnya dan tokoh-tokoh Aceh. Hasilnya luar biasa, secara umum tak ada yang tahu. Siapakah yang harus disalahkan? Penulis sebagai guru bahasa Indonesia pun berkali-kali mengeluh perihal sulitnya mengajarkan sastra daerah pada siswa. Jangankan mengenal penyair-penyair nasional, penyair-penyair Aceh saja siswa tidak tahu. Bagaimana mau mengajarkan apa yang telah dihasilkan, mengenal orangnya saja tidak? Kondisi ini semakin memperkuat asumsi bahwa kurikulum sekolah haruslah mengakar
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Suhartina, S.Pd., M.Pd. I

47

dari kebutuhan-kebutuhan riil di lapangan. Materi pendidikan tidak boleh hanya berada di menara gading, hanya mempelajari sesuatu yang jauh dari kehidupan nyata. Memang agar otak dan pikiran terasah, pikiran dipertajam. Tetapi bukan berarti siswa kita, anak-anak kita, generasi penerus kita lebih banyak dijejali dengan materi-materi yang membuat dia malah terasing dari kehidupannya. Pendidikan multikultur akan membuat seseorang memahami dan apresiatif terhadap kehidupan di sekelilingnya. Selain itu, membuat mereka bisa menyelesaikan persoalan-persoalan aktual. Sehingga akan melahirkan generasi yang memiliki cukup bekal untuk terjun dalam masyarakat. Mulai saat ini kita harus membangun asumsi bahwa pendidikan multikultur perlu untuk masa depan anak-anak dalam menghadapi arus globalisasi. Mereka harus mengenali diri sendiri sebelum mengenal orang lain. Mereka harus mengenal lingkungan sendiri sebelum mengenal lingkungan orang lain, sehingga mereka tidak merasa minder dan mengalami keterkejutan budaya (cultural shock) dengan mencintai budaya sendiri. Karena, menurut ahli, globalisasi mempunyai berbagai bentuk, tergantung pada pandangan suatu negara dalam merespon fenomena itu. Salah satu manisfestasi globalisasi dalam bidang ekonomi, misalnya pengalihan kekayaan alam suatu negara ke negara lain, yang telah diolah dengan nilai tambah yang tinggi, kemudian menjual produk-produk tersebut ke negara asal sehingga rakyat harus “membeli jam kerja” bangsa lain. Ini penjajahan dalam bentuk baru.
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

merupakan

48

I Pewarisan Nilai-nilai Budaya Lokal konstitusi, Indonesia dibangun untuk mewujudkan dan

mengembangkan bangsa yang religius, humanis, bersatu dalam kebhinnekaan. Sampai saat ini memang demokrasi dan keadilan sosial belum sepenuhnya tercapai. Akibatnya adalah keharusan melanjutkan proses membentuk kehidupan sosial budaya yang maju dan kreatif, memiliki sikap budaya berwawasan dan pengetahuan luas, serta keadaan masyarakat majemuk, tatanan sosial politik demokratis dan struktur sosial ekonomi masyarakat yang adil dan bersifat kerakyatan. Dengan demikian, kita melihat bahwa semboyan “satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa” dan ‘Bhinneka Tunggal Ika’ masih jauh dari kenyataan sejarah. Ia masih merupakan simbol yang perlu didekatkan dengan realitas sejarah. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang kokoh, beranekaragam budaya, etnik, suku, ras dan agama. Semuanya akan menjadikan Indonesia menjadi sebuah bangsa yang mampu mengakomodasi kemajemukan itu menjadi sesuatu yang tangguh. Bila hal ini terwujud, ancaman disintegrasi dan perpecahan bangsa dapat dihindari. Kebijakan strategi kebudayaan nasional penting dalam membangun kehidupan berbangsa. Hal ini karena latar belakang bangsa Indonesia yang merupakan bangsa multikultural dan pluralistik. Multikultural ditandai dengan melihat setiap suku bangsa sebagai kesatuan budaya dan kearifan lokal yang dimilikinya karena dalam dekade ini perbincangan tentang kearifan lokal di Indonesia, khususnya Aceh kian menghangat. Hal ini seiring dengan makin jauhnya rasa keadilan yang dicapai masyarakat
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Suhartina, S.Pd., M.Pd. I

49

dalam menjaga keseimbangan hidup. Selanjutnya pluralistik ditandai dengan keanekaragaman suku-suku bangsa dengan adat istiadatnya masing-masing, bahasa, tradisi, keragaman agama, dan kepercayaan tradisional. Secara khusus dapat dilihat dalam kehidupan masyarakat multikultur di Aceh. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999 tentang Keistimewaan Aceh dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh telah memberi perhatian cukup besar terhadap kerukunan antarumat beragama di daerah Aceh. Undang-undang itu mewajibkan Pemerintah Aceh dan kabupaten/kota untuk menjamin kebebasan, membina kerukunan, menghormati nilai-nilai agama yang dianut oleh umat beragama dalam menjalankan ibadah sesuai agama yang dianutnya, tetapi tidak mengakomodir serta mengakui adanya aliran agama atau kepercayaan yang baru. Apalagi aliran-aliran baru merusak ajaran agama-agama lain, yang jelas-jelas bertentangan dengan undangundang tersebut. Fenomena yang telah terjadi, aliran-aliran baru bisa merusak tatanan kehidupan umat beragama di bumi Serambi Mekkah. Di daerah lain di Indonesia sering terjadi suasana ketidakrukunan antarumat beragama sehingga pecahnya konflik yang bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab untuk mereguk keuntungan di tengah pusaran konflik seperti menciptakan instabilitas politik, adanya pemusnahan suatu umat agama, dan sebagainya. Hal ini juga disebabkan situasi politik nasional dan internasional yang cenderung menjadikan konflik agama sebagai komoditas.
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

50

I Pewarisan Nilai-nilai Budaya Lokal Dalam konteks multikultur, Islam memiliki ekspresi berbeda

ketika menghadapi perbedaan internal umat Islam. Terhadap perbedaan internal, Nabi Muhammad SAW menyatakan, “Perbedaan pendapat di kalangan umatku merupakan rahmat”. Hadis itu memberikan landasan bahwa Islam memberikan toleransi perbedaan yang terjadi di kalangan muslim. Sedangkan perbedaan eksternal, Islam mengajarkan umatnya untuk bertoleransi atau saling tenggang rasa, hidup rukun, dan memupuk rasa persaudaraan. Begitu juga toleransi terhadap budaya berbeda, karena setiap suku bangsa memiliki keunggulan maupun kelemahan budayanya. Kelebihan bisa digunakan seluas-luasnya dalam pembangunan masyarakat pemilik aktif budaya itu, sedangkan hambatan budaya diminimalisasi melalui pendekatan kultural. Jika kita merujuk perjalanan sejarah bangsa ini, terlihat bahwa kekhawatiran yang berkaitan dengan persatuan dan kesatuan sudah berada pada titik nadir. Bangsa Indonesia sepertinya telah melupakan nilai-nilai yang terdapat dalam Pancasila. Karena itu, prinsip menjaga persatuan dan kesatuan dan mencapai keadilan memerlukan penguatan untuk mencegah disintegrasi bangsa. Kesetaraan dan keadilan tidak hanya selalu berada pada tingkat gagasan, tetapi dapat diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat. Diskriminasi harus dihilangkan. Walaupun alasan etnis, ras, agama, gender, maupun identitas kebudayaan lain karena itu perlu menghilangkan kesenjangan. Itulah cita-cita kita, sehingga keutuhan bangsa tetap terjaga. Makanya, pendidikan berbasis multikultur perlu dikembangkan dan
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Suhartina, S.Pd., M.Pd. I

51

diimplementasikan. Dengan demikian, apa yang disebut pendidikan berkarakter makin kuat. Karena, pendidikan berkarakter bukan hanya pendidikan yang sarat ajaran moral, tapi juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengapresiasi dan menghargai kehidupan di sekelilingnya. Itulah sebenarnya tujuan penting pendidikan, mencetak manusia yang mampu menghadapi zaman. Lalu, siapakah yang harus bertanggung jawab untuk memecahkan persoalan sangat kompleks ini? Salah satu institusi penting adalah sekolah. Sekolah merupakan sebuah organisasi yang bekerja sama terdiri dari guru, siswa, orang tua, masyarakat, dan birokrat pendidikan. Jadi perlu diupayakan untuk menciptakan kurikulum sekolah yang mendukung dan mengembangkan masyarakat multikultural. Lembaga pendidikan yaitu sekolah harus mampu memutuskan rantai diskriminasi dan konflik yang terjadi di dalam masyarakat. Perbedaan budaya harus dihargai, pendidikan multikultural harus berusaha mempelajari orang atau sekelompok orang secara sistematis di masyarakat baik karena karakteristik gender, ras, suku etnis, agama, dan lain sebagainya. Namun, kita tak menafikan peran keluarga karena landasan awal sebenarnya harus dimulai dari unit masyarakat terkecil yaitu keluarga. Artinya, harus ada upaya penguatan dan pengokohan pemahaman pada keluarga. Keluarga memiliki fungsi dan peran penting dalam mentransformasikan nilai-nilai kultur berbagai bentuk nilai. Selanjutnya peran masyarakat juga penting. Masyarakat mampu merefleksikan dalam kehidupan mereka. Indikatornya dengan melihat tatanan kehidupan bermasyarakat,
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

52

I Pewarisan Nilai-nilai Budaya Lokal

dalam suatu wilayah tidak banyak terjadi masalah, keributan, berbagai kasus kriminal dan aktifitas yang meresahkan. Selain itu kita dapat melihat hubungan harmonis antara satu dengan yang lainnya, saling menghargai, kerja sama, tidak saling memojokkan sehingga kita dapat berasumsi bahwa masyarakat demikian masih menjunjung norma-norma dalam suatu wilayah. Dalam masyarakat Aceh memiliki 13 lembaga adat yang diakui yaitu Majelis Adat Aceh, imum mukim, imum chik, keuchik, tuha peuet, tuha lapan, imum meunasah, keujruen blang, panglima laot, pawang gle, pawang uteuen, petuha seuneubok, hari peukan, dan syahbanda. Dalam masyarakat sebuah desa atau gampong dipimpin oleh seorang keuchik, juga memiliki lembaga adat yaitu tuha peuet, tuha lapan, dan imum meunasah. Tak bisa dipungkiri bahwa peran masyarakat tidak bisa dilihat sebelah mata. Karena nilai-nilai yang berlaku dalam suatu komunitas menjadi tolak ukur dalam masyarakat itu sendiri. Dalam masyarakat tumbuh dan berkembang suatu tradisi yang mengakar, sehingga menjadi budaya lokal. Di Aceh khususnya memiliki adat istiadat seperti peusijuek, baju adat pengantin, kenduri laot, kenduri turun sawah, mawaih, dan gade. Demikian juga di daerah-daerah lain di Indonesia yang memiliki kekayaan kultur yang luar biasa, baik itu seni, suku, bahasa, dan lain-lain. Berdasarkan hal-hal itu, kita harus meyakini bahwa keberhasilan sebuah cita-cita luhur, yaitu terciptanya sebuah negeri yang baldatun thaiyyibatun warabbul ghafur (negeri yang aman, damai, dan saling memaafkan) adalah menjadi tanggung
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Suhartina, S.Pd., M.Pd. I

53

jawab kita bersama. Untuk itu kita bertanggung jawab untuk menciptakan, mewujudkan, dan melestarikan norma-norma yang ada di tengah masyarakat majemuk dan multikultural sehingga cita-cita bangsa kita bukan hanya berwujud mimpi, tetapi menjadi kenyataan. Pendidikan adalah salah satu wadah yang perlu kita beri ruang bagi usaha mewujudkan mimpi-mimpi itu.[]

menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

Pembelajaran Nilai Keberagaman
Teuku Mukhlis Guru SMAN I Baktiya Barat, Aceh Utara
Prolog: Sebuah Kondisi Pendidikan, meski memiliki multimakna dalam berbagai konteks, secara khas merupakan kegiatan manusiawi. Kegiatan yang berlangsung di dalamnya adalah kegiatan untuk memperoleh pelajaran, wawasan, atau ilmu pengetahuan sehingga proses penyempurnaan manusia dapat terjadi. Pada hakikatnya proses penyempurnaan diri manusia terus-menerus akan berlangsung dari satu generasi ke generasi yang lain. Horatius – penyair Kekaisaran Romawi – pernah menyatakan bahwa kita semua berutang pada kematian manusia lain sebelum kita yang telah menjadi pendidik bagi kita. Kita memang tak bisa menyangkal bahwa ada peran manusia lain terhadap pembentukan kepribadian seseorang. Immanuel Kant, filsuf asal Jerman, juga pernah menegaskan bahwa manusia hanya dapat menjadi sungguh-sungguh manusia melalui pendidikan dan pembentukan diri yang berkelanjutan. Manusia hanya dapat dididik oleh manusia lain yang juga telah dididik oleh manusia yang lain1. Salah satu cara yang dilakukan manusia untuk memperoleh pendidikan melalui manusia lain adalah dengan bersekolah. 55

56

I Pembelajaran Nilai Keberagaman Sekolah yang secara umum diketahui sebagai lembaga

pendidikan yang di dalamnya terdapat aturan-aturan, manajemen, tenaga pendidik, peserta didik, dan sarana prasarana penunjang pendidikan. Sebagai lembaga pendidikan formal, tentu saja sekolah memiliki kurikulum, metode pengajaran, maupun teknik-teknik pembelajaran. Ada target yang hendak dicapai dalam setiap mata pelajaran yang diajarkan. Target itu berlaku bagi semua pihak yang terlibat dalam proses belajar mengajar. Namun, mampukah sekolah membentuk pengembangan manusia secara menyeluruh dalam berbagai kondisi dan situasi? Apalagi saat ini perubahan zaman makin dinamis. Di manamana terjadinya transformasi sosial budaya yang mengakibatkan terjadinya pergeseran bahkan perubahan tata nilai dalam kehidupan masyarakat. Pola kehidupan kita kini sedang berubah dari masyarakat agraris menuju industrial, dari tradisional menuju modern, dari nilai lokal menuju nilai global. Inilah zaman globalisasi. Zaman di mana semua manusia dari berbagai bangsa dan daerah dapat hidup dan saling berinteraksi. Terjadinya proses transformasi sosial budaya tak jarang menimbulkan konflik sosial. Beberapa kasus yang dapat menyebabkan perpecahan bangsa adalah konflik terkait SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan). Selanjutnya konflik penistaan agama, penyebaran aliran sesat, perbedaan pandangan politik, diskriminasi terhadap kelompok tertentu, dan pelanggaran HAM adalah contoh-contoh kasus yang pernah terjadi di negara kita. Dan masih banyak contoh kasus-kasus lain akibat tidak saling
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Teuku Mukhlis I

57

pengertian kelompok-kelompok yang terlibat konflik. Jika kasuskasus tersebut tidak diantisipasi, maka ancaman disintegrasi bangsa tak dapat dihindari. Karenanya menanamkan generasi nilai-nilai muda kita perlu dididik yaitu dengan nilai-nilai keberagaman,

multikulturalisme. Dan sekolah melalui pendidik perlu menanam nilai-nilai ini dalam pembelajarannya. Ia juga dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga nantinya, peserta didik dapat lebih jernih dalam menanggapi isu-isu sosial yang terjadi di lingkungan mereka. Tidak mudah terprovokasi oleh masyarakat yang telah kehilangan akal sehatnya, dapat menerima perbedaan tanpa harus menyakiti, dan menghormati hak-hak asasi orang lain. Pendekatan Multikulturalisme Pendekatan multikulturalisme dalam pembelajaran sekolah sangat cocok digunakan di era globalisasi. Pendekatan ini melihat perbedaan sebagai fitrah bagi manusia sebagai makhluk Tuhan yang bersosial. Tidak boleh ada diskriminasi bagi siapapun dan di manapun. Di sisi Tuhan, manusia sama semuanya, hanya ketakwaan saja yang membedakannya. Sebagaimana firman Allah SWT: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”2.
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

58

I Pembelajaran Nilai Keberagaman Dalil ini menjadi pijakan sebagai dasar aplikasi

multikulturalisme dalam berbagai aspek kehidupan. Lalu, apa itu multikulturalisme? Multikulturalisme merupakan gabungan dari beberapa kata, yaitu multi (beragam), kultural (budaya), dan isme (paham). Secara sederhana dapat diartikan sebagai paham atau ideologi keberagaman budaya. Munculnya istilah multikulturalisme dilatarbelakangi antara lain oleh adanya tiga teori sosial yang menjelaskan hubungan antar individu dalam masyarakat dengan beragam latar belakang agama, etnik, bahasa, dan budaya. Ricardo L. Garcia (1982) menyatakan bahwa teori sosial itu adalah pertama, melting pot I: anglo conformity, yaitu individuindividu yang beragam latar belakang seperti agama, etnik, bahasa, dan budaya disatukandalam satu wadah yang dominan. Kedua, melting pot II: ethnic synthesis, yakni individu-individu yang beragama latar belakangnya disatukan dalam satu wadah baru. Dan ketiga, cultural pluralism: mosaic analogy, yaitu individuindividu yang beragam latar belakang agama, etnik, bahasa, dan budaya memiliki hak untuk mengekspresikan identitas budayanya secara demokratis dengan tidak meminggirkan budaya kelompok minoritas3. Misalnya masyarakat yang warganya berlatar belakang budaya Gayo, Jamee, Batak, Padang, atau Aceh dan lainnya berhak untuk menunjukkan identitas budayanya dan mengembangkannya tanpa saling mengganggu. Dalam dunia pendidikan – biasanya sering disebut pendidikan multikultural – nilai-nilai multikulturalisme menawarkan alternatif melalui penerapan strategi dan konsep pendidikan berbasis
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Teuku Mukhlis I

59

pemanfaatan keberagaman yang ada di masyarakat. Khususnya bagi lingkungan sekolah yang memiliki keragaman etnis, budaya, bahasa, agama, status sosial, gender, kemampuan umur, dan perbedaan fisik. Cherry A. McGee Banks dan James A. Banks (2005) mendefinisikan pendidikan multikultural adalah pendidikan yang bertujuan untuk menciptakan kesempatan pendidikan yang sama untuk semua siswa dari berbagai ragam ras, suku, kelas sosial, dan kelompok budaya. Salah satu tujuannya adalah membantu semua siswa menguasai pengetahuan, sikap dan keterampilan yang dibutuhkan (agar berfungsi secara efektif) dalam masyarakat demokrasi yang pluralistik dan agar dapat berinteraksi, bernegosiasi dan berkomunikasi dengan orang-orang dari berbagai kalangan untuk menciptakan komunitas warga dan komunitas moral yang bekerja untuk kebaikan4. Sedangkan, Hilda Hernandez dalam Multicultural Education: A Teacher Guide to Linking Context, Process, and Content (1989), mengartikan pendidikan multikultural sebagai perspektif yang mengakui realitas politik, sosial, dan ekonomi yang dialami oleh masing-masing individu dalam pertemuan manusia yang kompleks dan beragam secara kultur, dan merefleksikan pentingnya budaya, ras, seksualitas dan gender, etnisitas, agama, status sosial, ekonomi, dan pengecualian-pengecualian dalam proses pendidikan. Atau dengan kata lain bahwa ruang pendidikan sebagai media transformasi ilmu pengetahuan hendaknya mampu memberikan nilai-nilai multikulturalisme dengan cara saling menghargai dan
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

60

I Pembelajaran Nilai Keberagaman

menghormati atas realitas yang beragam, baik latar belakang maupun basis sosio budaya yang melingkupinya5. Dari pengertian-pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan berbasis multikulturalisme adalah pendidikan yang melihat keberagaman sebagai sebuah persamaan yang berkaitan dengan isu-isu sosial, politik, ekonomi, agama, budaya (termasuk di dalamnya ras dan etnisitas), dan gender. Selanjutnya juga dapat dipahami bahwa pendidikan model ini adalah pendidikan yang melihat hubungan persamaan dan kesederajatan antara sesama peserta didik secara vertikal. Ia juga berlaku hubungan secara horizontal antara peserta didik dengan pendidik dan lingkungan sekolahnya. Meskipun di Indonesia belum ada mata pelajaran yang khusus mengajarkan multikulturalisme, tapi secara legalitas, prinsip pendidikan multikultural secara tersirat terdapat dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Undang-undang itu menegaskan bahwa pendidikan harus diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa. Pandangan-pandangan itu setidaknya memberikan suatu alternatif penting, yaitu pendidikan multikultural perlu segera diimplementasikan dalam pembelajaran di sekolah-sekolah. Adapun tujuan yang diharapkan adalah untuk membantu peserta didik agar: (1) memahami latar belakang diri dan kelompok dalam masyarakat; (2) menghormati adanya perbedaan budaya, suku,
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Teuku Mukhlis I

61

bahasa, agama, dan kedudukan; (3) mengapresiasikan diri terhadap budaya lokal; (4) memahami perbedaan yang terjadi di lingkungan sekitarnya; (5) mampu mencari solusi dalam permasalahan yang terjadi; (6) mengembangkan jati diri yang bermakna bagi semua orang; dan (7) dapat meningkatkan kepekaan sosial. Implementasi Multikulturalisme Lantas bagaimana mengimplementasikan pendidikan multikultural di sekolah-sekolah? Agaknya sangat tepat jika kita mengacu pada James A. Banks. Ia menjelaskan bahwa dalam pelaksanaannya, pembelajaran nilai-nilai multikultural harus mencakup lima dimensi. Pertama, integrasi konten, adanya integrasi pendidikan dalam kurikulum yang di dalamnya melibatkan keragaman dalam satu kultur pendidikan yang tujuan utamanya adalah menghapus prasangka. Kedua, konstruksi ilmu pengetahuan yang diwujudkan dengan mengetahui dan memahami secara komprehensif keberagaman yang ada. Ketiga, reduksi (pengurangan) prasangka yang lahir dari interaksi antar keragaman dalam kultur pendidikan. Keempat, pedagogik kesetaraan manusia yang memberi ruang dan kesempatan yang sama kepada setiap elemen yang beragam. Dan kelima, pemberdayaan kebudayaan sekolah6. Sedangkan, H.A.R Tilaar mengungkapkan bahwa untuk menerapkan model pendidikan ini juga harus diperhatikan enam hal, yaitu pertama, pendidikan multikultural harus berdimensi right to culture dan identitas lokal. Kedua, kebudayaan Indonesia yang menjadi, maksudnya adalah mengoptimalkan budaya lokal yang
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

62

I Pembelajaran Nilai Keberagaman

beriringan dengan apresiasi budaya nasional. Ketiga, pendidikan multikultural normatif yaitu model memperkuat identitas nasional yang terus menjadi tanpa harus menghilangkan budaya lokal yang ada. Keempat, pendidikan multikultural merupakan suatu rekonstruksi sosial, tidak boleh terjebak pada fanatisme suku, agama, atau ras. Kelima, pendidikan multikultural merupakan pedagogik pemberdayaan dan pedagogik kesetaraan dalam kebudayaan yang beragam. Dan keenam, pendidikan multikultural bertujuan untuk mewujudkan visi Indonesia masa depan serta etika bangsa7. Dari kedua pandangan di atas, yang menjadi kunci pelaksanaan pendidikan multikultural adalah sekolah dan pendidik. Sekolah harus merancang program pembelajaran yang menunjukkan nilainilai multikulturalisme. Sekolah perlu menganalisis pengembangan model pembelajaran berbasis multikultural. Misalnya, tuntutan kompetensi mata pelajaran yang harus dibekalkan kepada peserta didik berupa pengetahuan, keterampilan, dan etika. Sekolah juga harus melihat kompetensi pendidik dalam menerapkan nilai-nilai multikulturalisme, memperhatikan latar belakang kultural kondisi peserta didik, dan menganalisis karakteristik mata pelajaran yang bernuansa multikultural. Mata pelajaran yang relevan dan berpeluang besar diajarkan nilai-nilai ini, seperti agama, pendidikan kewarganegaraan, ilmu pengetahuan sosial, dan muatan lokal, harus dirancang untuk memberikan kesan mendalam bagi peserta didik. Sedangkan mata pelajaran yang tidak memiliki materi ini, proses integrasi nilai-nilai multikulturalisme bisa dilakukan dalam pembelajaran.
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Teuku Mukhlis I

63

Dalam proses integrasi nilai multikulturalisme terhadap mata pelajaran yang tidak relevan dituntut kecakapan dan kemampuan dari pendidik. Maka, apa yang telah disebutkan James A. Banks di atas, sangat perlu diperhatikan oleh pendidik agar mampu menerapkan pendidikan multikultural. Pertama, proses integrasi pendidikan nilai-nilai multikultural. Di sini pendidik harus berupaya untuk memberikan atau menggunakan contoh dan materi dari berbagai budaya dan kelompok untuk mengajarkan konsep kunci, prinsip, generalisasi, teori, dan lain-lain ketika mengajar satu topik atau mata pelajaran tertentu. Kedua, dalam proses pembentukan pengetahuan, pendidik berupaya untuk membantu peserta didik dalam memahami, mencari tahu, dan menentukan bagaimana suatu pengetahuan atau teori pada dasarnya secara implisit tercipta karena adanya pengaruh budaya tertentu, kalangan tertentu, kelompok dengan status sosial tertentu yang terjadi pada saat itu. Ketiga, reduksi prasangka adalah upaya pendidik untuk membantu peserta didik dalam mengembangkan sikap positif terhadap perbedaan. Keempat, kesetaraan pedagogik adalah upaya pendidik untuk memperlakukan secara sama tanpa pandang bulu dalam proses pembelajaran di kelas. Hal ini akan terlihat dari metode yang digunakan, cara bertanya, penunjukan peserta didik, dan pengelompokkan peserta didik. Dan terakhir adalah pemberdayaan budaya sekolah dan struktur sosial harus diperlihatkan pendidik agar peserta didik
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

64

I Pembelajaran Nilai Keberagaman

dapat merasakan pemberdayaan dan persamaan budaya. Dengan demikian, semangat multikulturalisme harus tercermin dalam segala aktifitas sekolah8. Jadi, pendidikan multikultural memang harus memberikan sebuah pencerahan. Ia harus memberikan kearifan untuk melihat keberagaman budaya sebagai realitas fundamental dalam kehidupan masyarakat. Konflik yang timbul di tengah masyarakat salah satunya dipicu karena tidak bisa menerima perbedaan dan ketidaksepahaman terhadap suatu masalah. Dengan pendidikan yang berbasis multikulturalisme diharapkan akan dapat mendidik generasi muda yang demokratis, toleran, dan peka terhadap isuisu keberagaman dengan menawarkan solusi konstruktif. Epilog: Sebuah Konklusi Dari pemaparan di atas, bisa ditarik kesimpulan bahwa pendidikan multikultural sangat penting diterapkan di sekolah. Pendidikan ini diyakini mampu menanamkan nilai-nilai demokrasi, toleransi, saling menghargai, dan dapat menerima perbedaan dalam suatu lingkungan. Sebagai bangsa yang memiliki keanekaragaman budaya, bahasa, suku, dan adat-istiadat, yang rentan menimbulkan konflik sebagaimana yang pernah terjadi di beberapa daerah, pendidikan multikultural akan berupaya untuk mengantisipasi terjadinya konflik. Karenanya untuk menerapkan pendidikan multikultural butuh peran besar dari seorang pendidik. Pendidik yang membelajarkan model ini harus benar-benar pendidik yang memiliki wawasan
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Teuku Mukhlis I

65

tentang nilai-nilai keberagaman. Dalam konteks Aceh, tidak ada kendala besar dalam pembelajaran model ini. Kendala yang dihadapi barangkali sikap fanatisme dan fundamentalisme yang masih mengakar pada kelompok-kelompok tertentu. Namun, jika ada peserta didik kita yang masih terikat dengan kelompok-kelompok ini, pendidik harus memberikan pencerahan bahwa pendidikan multikultural tidak melihat perbedaan dalam sekolah. Karenanya sikap fanatisme harus dibuang jauh-jauh dalam pendidikan ini dan setiap orang harus saling menghargai perbedaan yang ada. Pendidikan multikultural juga harus didukung oleh semua pihak. Alasannya karena keanekaragaman dalam realitas kehidupan manusia adalah suatu keniscayaan yang tidak bisa dipungkiri. Ia juga mampu menciptakan harmonisme sosial dalam sebuah kehidupan masyarakat yang beragam secara kultur. Akhirnya kita semua memang mengharapkan terciptanya suatu tatanan sosial masyarakat yang aman, damai, dan bisa hidup saling berdampingan. Saatnya kita jadikan multikulturalisme sebagai paradigma dalam pendidikan kita.[]

menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

66

I Pembelajaran Nilai Keberagaman

Catatan Akhir:
1 Doni Koesoema A, Pendidikan Karakter, Strategi Mendidik Anak di Zaman Global, Jakarta: Grasindo, 2010, hal. 312 2 Surat Al-Hujurat: 13. Adapun sebab turun (asbabun nuzul) ayat ini, dalam suatu riwayat dikemukakan, ketika penaklukan Kota Mekkah, Bilal naik ke atas Ka’bah untuk mengumandangkan azan. Beberapa orang berkata: “Apakah pantas budak hitam ini azan di atas Ka’bah?” Maka berkatalah yang lainnya: “Sekiranya Allah membenci orang ini, pasti Dia akan menggantinya. Lalu ayat ini turun sebagai penegasan bahwa dalam Islam tidak ada diskriminasi, yang paling mulia ialah yang paling bertakwa (diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Abi Mulaikah). Dalam riwayat lain, ayat ini turun berkenaan dengan Abu Hind yang dikawinkan oleh Rasulullah kepada seorang wanita Bani Bayadhah. Bani Bayadhah berkata: “Wahai Rasulullah, pantaskah kalau kami mengawinkan putri-putri kami kepada bekas budak-budak kami?” Ayat ini menegaskan bahwa dalam Islam tidak ada perbedaan antara bekas budak dan orang merdeka (diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir yang bersumber dari Abu Bakar bin Abi Dawud di dalam tafsirnya). Lihat H.A.A. Dahlan dan M. Zaka Alfarisi (ed), Asbabun Nuzul, Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-ayat AlQur’an, Bandung: Penerbit Diponegoro, 2002, hal. 581 3 Dari ketiga teori sosial tersebut, teori ketiga yang dipandang paling sesuai dengan pengembangan masyarakat global yang pluralistis. Jadi, multikulturalisme mengakui hak individu untuk tetap mengekspresikan identitas budayanya sesuai dengan latar belakang masing-masing – termasuk di dalamnya gender – dengan bebas. Inilah esensi multikulturalisme dalam masyarakat modern yang heterogen. Lihat Ali Imron A.M, Nilai Pendidikan Multikultural dalam Novel Burung-burung Rantau: Kajian Semiotik, dalam Jurnal Varidika, Volume 19, Nomor 1, Juni 2007 4 Uwes A. Chairuman dan Ruslan Pasari, Menerapkan Pendidikan Multikultur di Sekolah, dalam www.teknologipendidikan.net, diakses pada tanggal 21 Januari 2011 5 Memahami Cakrawala Pendidikan Multikultural, dalam www. pmiikomfaksyahum.wordpress.com/, diakses pada tanggal 26 Januari 2011 6 Dimensi yang kelima ini nantinya akan menjadi tujuan dari pendidikan
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Teuku Mukhlis I

67

multikultural menurut James A. Banks. Tujuan tersebut adalah agar sekolah menjadi elemen pengentas sosial (transformasi sosial) dari struktur masyarakat yang timpang kepada struktur yang berkeadilan. Lihat Agos Moh. Najib dkk, Multikulturalisme dalam Pendidikan Islam, diunduh dalam http://ern.pendis. kemenag.go.id/DokPdf/ern-II-06.pdf, diakses pada tanggal 26 Januari 2011 7 H.A.R. Tilaar, Multikulturalisme; Tantangan-tantangan Global Masa Depan dalam Transformasi Pendidikan Nasional, Jakarta: Grasindo, 2002, hal 185-190 8 Uwes A. Chairuman dan Ruslan Pasari, Menerapkan Pendidikan Multikultur di Sekolah…

menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

Memotivasi Belajar Siswa
Nizariah, S.Sos

A.

Pendahuluan

Secara geografis Indonesia terletak antara 6º 08' LU - 11º 15' LS dan 94º 45' BT - 141º 05' BT atau dengan kata lain antara Samudera Pasifik dan Benua Australia, antara Benua Asia dan Australia (Wardiatmoko:25). Letak yang demikian menempatkan Indonesia pada posisi sangat strategis untuk lalu lintas perdagangan dunia. Dulu, Indonesia banyak dilewati oleh pedagang-pedagang dunia. Sementara itu, Aceh pada masa kejayaan Sultan Ali Mughayatsyah memberi izin kepada pedagang-pedagang mancanegara untuk melakukan transaksi secara baik, tanpa memandang keyakinan yang dianut para pedagang tersebut. Pedagang-pedagang ini bahkan ada yang menikahi penduduk pribumi sehingga terjadi amalgamasi. Lama kelamaan Aceh mengalami akulturasi dan asimilasi dalam kebudayaannya. Etnis yang ada di daerah ujung Sumatera ini antara lain ialah Aceh, Gayo, Kluet, Tamiang, Aneuk Jamee, dan Alas. Sedangkan berbagai kepercayaan penduduknya adalah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha. Peradaban Aceh mengalami berbagai asimilasi dan akulturasi seiring berlangsungnya peperangan 69 melawan penjajahan.

70

I Memotivasi Belajar Siswa

Pascaperang, Aceh mengalami perubahan baik kebudayaan maupun amalgamasi yang dilakukan penjajah, sehingga sampai sekarang banyak kita lihat beraneka ragam raut wajah yang berbeda-beda. Ada yang kulit putih dengan mata biru seperti orang Eropa, ada yang sipit matanya seperti orang Cina, dan ada pula yang kulit hitam seperti orang Hindia. Perubahan pada nilai-ritual, bahasa serta sistem panutan yang berbeda antara satu kawasan dengan kawasan yang lain di Aceh mencerminkan sejarah multikultural. Multikultul berasal dari dua suku kata yaitu; multi berarti banyak dan kultul berarti kebudayaan. Multikultural merupakan bentuk dari masyarakat modern yang anggotanya terdiri dari berbagai macam golongan, etnis, ras, agama, dan budaya, (Taupan:158). Multikulturalisme adalah kemauan dan kemampuan untuk menerima kelompok lain secara sama sebagai satu kesatuan, tanpa memperdulikan perbedaan budaya, etnik, jender, bahasa, ataupun agama. Apabila pluralitas sekadar merepresentasikan adanya kemajemukan, maka multikulturalisme memberikan penegasan bahwa dengan segala perbedaannya itu mereka adalah sama dalam ruang publik. Multikulturalisme menjadi semacam respons kebijakan baru terhadap keragaman. Dengan kata lain, adanya komunitaskomunitas yang berbeda saja tidak cukup; sebab yang terpenting adalah bahwa komunitas-komunitas itu diperlakukan sama oleh negara. Karena itu, multikulturalisme sebagai sebuah gerakan menuntut pengakuan (politics of recognition) terhadap semua
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Nizariah, S.Sos I

71

perbedaan sebagai entitas dalam masyarakat yang harus diterima, dihargai, dilindungi serta dijamin eksistensinya. Keberagaman agama, etnik, dan budaya sangat berpotensi terjadinya konflik jika masyarakat tidak memahami dan tak menghargai perbedaan-perbedaan itu. Sebagai contoh munculnya berbagai persoalan yang sekarang ini dihadapi bangsa ini, seperti KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme), premanisme, perseteruan politik, kemiskinan, kekerasan, separatisme, perusakan lingkungan dan hilangnya nilai-nilai kemanusiaan untuk selalu menghargai hakhak orang lain adalah bentuk nyata dari multikulturalisme itu. Contoh kongkrit terjadinya tragedi pembunuhan besar-besaran terhadap para pengikut Partai Komunis Indnesia (PKI) tahun 1965, kekerasan terhadap etnis China di Jakarta pada Mei 1998, dan bentrokan antara umat Islam dan kaum Kristen di Maluku sejak 1999 hingga 2003, pecahnya perang antara Suku Melayu dan Suku Dayak di Kalimantan, pengusiran orang Jawa dari Takengon dan Saree di Aceh. Selain itu, kerusuhan berbau SARA yang merebak di banyak tempat di Indonesia seperti di Ambon, Poso, dan Sampit. Untuk itu, paham multikulturalisme perlu ditanamkan kepada masyarakat melalui sejak pendidikan dini, sehingga akan tumbuh sifat dan watak multikultur di dalam jiwa setiap masyarakat. Hal ini akan memperkecil konflik yang bersifat negatif, bahkan akan mempererat nasionalisme dan integrasi bangsa. Berdasarkan permasalahan di atas, maka diperlukan strategi khusus untuk memecahkan persoalan tersebut melalui berbagai bidang; sosial, ekonomi, budaya, dan pendidikan. Karena sekolah
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

72

I Memotivasi Belajar Siswa

merupakan agen sosialisasi formal bagi manusia “peserta didik” dalam menuntut berbagai ilmu pengetahuan dan peserta didik dapat hidup layak dalam masyakarat sehingga mampu mengembangkan ketrampilan dan kemampuannya dengan baik, maka penulis tertarik menuliskan opini dengan judul, “Implementasi Multikultural dalam Pembelajaran di Sekolah Untuk Menumbuhkan Motivasi Belajar Siswa”. B. Metode Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitan ini adalah pendekatan deskriptif dan metode kualitatif. Menurut Sugiyono (2007:25), metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berdasarkan pada filsafat positif digunakan untuk meneliti pada objek alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti sebagai isntrumen kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowboal, teknik pengumpulan dengan triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/ kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi. Judul dalam penelitian kualitatif umumnya disusun berdasarkan masalah yang telah ditetapkan. Dengan demikian, judul penelitinya harus sudah spesifik dan mencerminkan permasalahan dan variable yang akan diteliti, Sugiyono (2009:211). Penelitian ini diklasifikasikan ke dalam penelitian opini karena membahas tentang “Implimentasi Multikultural dalam Pembelajaran di Sekolah Untuk Menumbuhkan Motivasi Belajar Siswa”.
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Nizariah, S.Sos I

73

C.

Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 10 Fajar Harapan, Banda Aceh. Pemilihan sekolah ini sebagai tempat pengumpulan data penelitian didasarkan atas pertimbangan bahwa SMA itu adalah salah satu SMA di Banda Aceh yang telah mendapat pengakuan Kementerian Pendidikan Republik Indonesia sebagai sekolah yang dinilai baik dalam penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran, memiliki guru-guru berkompeten di bidangnya serta fasilitas belajar mengajar yang relatif lengkap. Selain pengakuan Kementerian Pendidikan Republik Indonesia, sekolah ini juga mendapat pengakuan dari masyarakat Aceh umumnya dan warga Banda Aceh khususnya sebagai sekolah yang menghasilkan siswasiswa berprestasi, baik tingkat kota, provinsi, nasional, bahkan sampai tingkat internasional. D. Pembahasan Modul Pelatihan Guru Penguatan Perspektif dan

Menurut

Metodologi Pembelajaran Multikultural, pendidikan multikultural adalah praktik pembelajaran untuk membangun kesadaran dan penghargaan terhadap kebhinekaan dalam kehidupan masyarakat, serta komitmen untuk menciptakan masyarakat yang lebih toleran, saling memperkaya satu sama lain dan lebih adil bagi semua anggota masyarakat. Pendidikan multikultural adalah strategi pendidikan yang memanfaatkan keberagaman latar belakang kebudayaan dari para peserta didik sebagai salah satu kekuatan untuk membentuk sikap
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

74

I Memotivasi Belajar Siswa

multikultural. Strategi ini sangat bermanfaat, sekurang-kurangnya bagi sekolah sebagai lembaga pendidikan dapat membentuk pemahaman bersama atas konsep kebudayaan, perbedaan budaya, keseimbangan, dan demokrasi dalam arti yang luas (Liliweri, 2005). Berdasarkan teori itu, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa pendidikan multikultural amat penting untuk dapat menghargai adanya perbedaaan. Pendidikan multikultural merupakan proses penanaman cara hidup menghormati, tulus dan toleran terhadap keanekaragaman budaya yang ada di tengah masyarakat plural, sehingga berbanding terbalik dengan pendidikan monokultural yang selama ini dijalankan dengan mengabaikan keunikan dan pluralitas sehingga berakibat pada terpasungnya pribadi kritis dan kreatif. Konsep kemaknaan pendidikan multiktural adalah perbedaan yang unik pada setiap orang dan masyarakat. Pendidikan multikultural mengandalkan sekolah dan kelas dikelola sebagai suatu simulasi arena kehidupan nyata yang plural, yang terus berubah dan berkembang mengikuti perubahan zaman. Institusi sekolah dan kelas adalah wahana hidup dengan pemeran utama peserta didik dan guru serta seluruh tenaga kependidikan sebagai fasilitator. Sanjaya (2010:23) mengatakan bahwa sebagai fasilitator, guru berperan memberi pelayan untuk memudahkan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran. Melalui usaha yang sungguh, guru ingin agar ia mudah menyajikan bahan pelajaran dengan baik, agar siswa dapat mempelajari bahan pelajaran sehingga tujuan
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Nizariah, S.Sos I

75

belajar tercapai secara optimal. Untuk melaksanakan perannya, guru perlu mempunyai ketrampilan dalam merancang suatu media. Perkembangan teknologi dan informasi menuntut guru untuk dapat mengikuti perkembangan teknologi mutakhir dalam menggali berbagai sumber ilmu pengetahuan. Kegiatan belajar-mengajar dikembangkan sebagai wahana dialog dan belajar bersama serta membuang paradigma bahwa guru merupakan gudang ilmu dan nilai yang setiap saat diberikan kepada peserta didik, melainkan sebagai teman dialog dan partner dalam menciptakan suasana harmonis. Selain itu praktik penerapan keagamaan juga akan mempertajam rasa kepekaan dan solidaritas antar pemeluk agama. Guru dituntut lebih kreatif dan inovatif dalam pembelajaran sehingga bisa mendesain bahan ajar dengan berbagai media yang ada untuk membangkitkan motivasi belajar siswa. Siswa diperkenalkan dan diajak megembangkan nilai-nilai dan sikap toleransi, solidaritas, empati, dan musyawarah sehingga mereka juga memahami kearifan lokal yang merupakan bagian dari budaya bangsa. Dan ini bisa menghambat terjadinya konflik. Pendidikan dengan wawasan multikultural dalam rumusan James A. bank adalah konsep ide atau falsafah sebagai suatu rangkaian kepercayaan (set of believe) dan penjelasan yang mengakui dan menilai pentingnya keragaman budaya dan etnis dalam membentuk gaya hidup, pengalaman social, identitas pribadi, kesempatan-kesempatan pendidikan dari individu, kelompok maupun negara.
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

76

I Memotivasi Belajar Siswa Sementara menurut Sonia Nieto, pendidikan multikultural

merupakan proses pendidikan komprehensif dan mendasar bagi semua peserta didik. Jenis pendidikan menentang bentuk rasisme dan segala bentuk diskriminasi di sekolah, masyarakat dengan menerima serta mengimformasikan prularitas (etnik, ras, bahasa, agama, ekonomi, gender, dan lain sebagainya) yang terefleksikan di antara peserta didik, komunitas mereka, dan guruguru. Menurutnya, pendidikan multikultur ini haruslah melekat dalam kurikulum dan strategi pengajaran, termasuk juga dalam setiap interaksi yang dilakukan di antara para guru, murid, dan keluarga serta keseluruhan suasana belajar mengajar. Karena jenis pendidikan ini merupakan pedagogik kritis, refleksi dan menjadi basis aksi perubahan dalam masyarkat, pendidikan multikulral mengembangkan prinsip-prinsip demokrasi dalam berkeadilan sosial. SMA Negeri 10 Fajar Harapan Banda Aceh sebagai sekolah boarding yang mengharuskan anak-anak untuk tinggal di asrama sekolah. Di sini banyak peserta didik berasal dari berbagai daerah yang ada di Aceh, bahkan ada yang dari luar Aceh dengan membawa berbagai perbedaan kultur dan adat istiadat. Pembelajaran di SMA Negeri 10 Fajar Harapan dapat berjalan dengan harmonis, tidak terjadi diskriminasi, dan siswapun tidak terkotak-kotak dalam pembelajaran maupun dalam pembelajaran di asrama. Pendidikan multikultural di SMA Negeri 10 Fajar Harapan sudah lama diaplikasikan dalam pembelajaran. Ini terbukti dalam penilaian para peserta didik seadanya tanpa memperhatikan anak
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Nizariah, S.Sos I

77

siapa, berasal dari daerah mana, baik laki-laki maupun perempuan. Semua berkesempatan meraih berbagai prestasi, Malah, yang ada di antara mereka sikap saling membantu dalam belajar sesama temannya namun tidak dalam evaluasi sehingga peserta didik yang malas dan kurang berusaha akan tertinggal dari peserta lain. Mereka berlomba-lomba meraih prestasi, sehingga SMA Negeri 10 Fajar Harapan yang masih berumur “seumur jagung” telah banyak mengukir prestasi di kancah nasional dan internasional. Keberhasilan ini juga didukung oleh perangkat penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran baik, adanya keharmonisan berinteraksi dan komunikasi, saling menyayangi seperti layaknya sebuah keluarga dan memiliki guru-guru berkompeten di bidangnya serta fasilitas belajar mengajar yang relatif lengkap, adanya dukungan kepala sekolah dalam setiap mendukung program. Selain itu, para pengajar juga mau menerima pembaharuan dan sekolah sudah terbiasa mengembangkan kurikulum sendiri di samping kurikulum dari Departemen Pendidikan Nasional. Sementara, alat lain yang mendukung adalah adanya audio visual. Karena ini menjadi penting untuk menyaksikan film-film bertema multikultural, serta free internet yang memudahkan peserta didik menggali dan membagi informasi dalam ilmu pengetahuan, sehingga memudahkan mereka mengembangkan potensi dan kreatifitas yang dimilikinya dalam mencapai tujuan pendidikan.

menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

78 E.

I Memotivasi Belajar Siswa Kesimpulan

Pendidikan multikultural merupakan realitas sosial yang terdapat dalam masyarakat Aceh. Pasca terjadinya bencana alam gempa dan tsunami tahun 2004 yang menarik simpati dan empati masyarakat berbagai penjuru dunia untuk datang ke Aceh, akan memperkaya kultural dan nilai-nilai kemasyarakatan. Hal ini harus dikoordinir sebaik mungkin untuk meminimalisir adanya perbedaan yang bersifat negatif dan tidak munculnya konflik antar kultur. Makanya sangat dituntut kemauan dan komitmen semua masyarakat untuk saling menghormati dan menghargai perbedaan yang ada, sehingga perbedaan ini akan membuat kita makin maju dan mempererat persaudaraan dalam integrasi bangsa dan negara tercinta ini. Sikap menghargai keberagaman, juga harus ditanamkan di sekolah. Karena sekolah adalah agen sosialisasi formal dalam menumbuhkembangkan potensi dan kreatifitas peserta didik dan dapat menghapuskan berbagai jenis prasangka yang bertujuan untuk membuat siswa terkotak-kotak. Lembaga pendidikan harus bebas diskriminasi, untuk menghindari berbagai konflik. Pemerintah dan penyelenggara pendidikan sedang mencari solusi preventif yang tepat dan efektif, dimana salah satunya adalah dengan mengimplementasikan pendidikan multikultural di sekolah dalam setiap mata pelajaran yang relevan. Untuk itu, guru dituntut kreatif dan kemampuan dalam mengembangkan kompetensi profesionalnya. SMA Negeri 10 Fajar Harapan adalah salah satu sekolah favorit di Aceh yang telah mengimplementasikan pendidikan
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Nizariah, S.Sos I

79

multikulturalisme. Sekolah berasrama ini bisa dikatakan hampir tidak pernah terjadinya konflik yang bersifat negatif, tapi kalau positif sangat banyak. Dengan perbedaan itu, SMA Negeri 10 Fajar Harapan dapat mengukir prestasi gemilang baik nasional maupun internasional. Itu terbukti bahwa tahun 2011 telah mengharumkan Aceh sebagai juara nasional nilai tertinggi ujian nasional. Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa implementasi pendidikan ke setiap mata pelajaran sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Pendidikan multikultural sebagai pembina nilai dan moral agar siswa tidak tercabut dari akar budayanya selain sebagai sarana alternatif perpecahan konflik. Pendidikan multikultural juga signifikan membina siswa agar mereka tidak tercabut dari akar budaya yang dimilikinya tatkala berhadapan dengan realitas lingkungan globalisasi dan perkembangan dunia dalam berbagai bidang baik sosial, budaya, ekonomi, budaya dan politik serta tekknologi dan informasi. []

menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

Multikultural di Sekolah
Oma Arianto, S.Pd Guru SMAN 2 Meureubo, Aceh Barat

Pendahuluan Multikultural atau keberagaman dalam kehidupan sosial terbentuk dari lingkungan masyarakat yang terbangun dari individu-individu lain yang menyatu dalam satu lingkungan, adapun latar belakang multikultural yang beragam bahasa dan kebangsaan (nationality), suku (race or etnicity), agama (religion), budaya (culture) dan kelas sosial (social class). Terkadang keberagaman dalam lingkungan masyarakat dapat juga memicu konflik ketika tidak diimbangi dengan nilai-nilai HAM, agama, nilai kultural dan kemajemukan bangsa di tengah lingkungan tersebut. Ada beberapa hal yang melatarbelakangi konflik sosial atau yang lebih dikenal dengan konflik horizontal, yaitu perbedaan agama, suku, serta ras yang dimulai dari saling melecehkan dalam satu kelompok masyarakat yang menyulut konflik. Terkadang persoalan dalam melemahkan maupun mengucilkan mencegah kelompok terjadinya minoritas juga dapat menghilangkan nilai-nilai keberagaman lingkungan masyarakat. Untuk eskalasi konflik yang terjadi, maka dibutuhkan langkah awal dengan mengintegrasikan pendidikan multikultural dalam sistem 81

82

I Multikultural di Sekolah

pendidikan melalui kurikulum pendidikan. Berbicara tentang pendidikan multikultural dimana ide awalnya dibahas dan diwacanakan pertama kali di Amerika Serikat dan negara-negara Eropa Barat pada tahun 1960-an oleh gerakan yang menuntut diperhatikannya hak-hak sipil (civil right movement). Tujuan utama gerakan ini adalah untuk mengurangi praktik diskriminasi di tempat-tempat publik, di rumah, di tempattempat kerja, dan di lembaga-lembaga pendidikan, yang dilakukan oleh kelompok mayoritas terhadap kelompok minoritas. Golongan-golongan lain yang ada dalam masyarakat-masyarakat tersebut dikelompokkan sebagai minoritas dengan pembatasan hak-hak mereka (Pardi Suparlan, 2002: 2-3). Gerakan hak-hak sipil ini, menurut James A. Bank (1989: 4-5), berimplikasi pada dunia pendidikan, dengan munculnya beberapa tuntutan untuk melakukan reformasi kurikulum pendidikan yang sarat diskriminasi. Pada awal tahun 1970-an, muncullah sejumlah kursus dan program pendidikan yang menekankan pada aspek-aspek yang berhubungan dengan etnik dan keragaman budaya (cultural diversity). Dalam konteks Indonesia, perbincangan tentang konsep pendidikan multikultural semakin memperoleh momentum pasca runtuhnya rezim otoriter-militeristik Orde Baru karena hempasan badai reformasi. Era reformasi ternyata tidak hanya membawa berkah bagi bangsa kita, namun juga memberi peluang meningkatnya kecenderungan primordialisme. Untuk itu, dirasakan kita perlu menerapkan paradigma pendidikan multikultur untuk menangkal semangat primordialisme tersebut.
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Oma Arianto, S.Pd I

83

Aceh yang merupakan salah satu bagian dari Indonesia juga memiliki multikultur atau latar belakang keberagaman yang berbeda. Misalnya, dari segi agama, Aceh merupakan wilayah yang 90 persen penduduknya lebih beragama Islam sehingga jelas akan mempengaruhi masyarakat minoritas di luar Muslim dimana masyarakat non-Muslim mengikuti aturan yang telah dibuat di daerah (PERDA/Qanun) ini. Dari segi etnik misalnya dimana Aceh merupakan dominan suku Aceh sehingga dilihat dari aspek psikologi membuat masyarakat minoritas harus mengikuti segala tatanan budaya, serta bahasa. Timbulnya perbedaan dari latar belakang masyarakat yang berbeda harus dilakukan mulai dari sekolah dengan memberi pendidikan multikultur. Sekolah adalah tempat untuk mendorong keadilan dan keseimbangan guna mencegah perpecahan dalam lingkungan masyarakat. Namun yang masih menjadi permasalahan saat ini jika ditinjau dari segi budaya, agama, serta etnik terlihat sedikit mencolok. Misalnya dalam kurikulum pendidikan, mata pelajaran Agama yang hanya mendapat kesempatan hanyalah mereka yang beragama Islam karena kurikulum agama yang ditawarkan di setiap sekolah di Aceh hanya pelajaran Agama Islam. Ini dilatarbelakangi oleh siswa Muslim yang dominan di Aceh serta para guru yang disediakan hanya guru mata pelajaran agama Islam. Padahal jika kita runut kembali dalam UUD 1945 serta ideologi negara ini yaitu Pancasila, jelas setiap warga negara berhak mendapat tempat serta kedudukan yang sama dari segala bidang.
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

84

I Multikultural di Sekolah Seharusnya, mereka yang non-Muslim juga diberikan

kesempatan yang sama. Apalagi, paradigma multikultural secara implisit juga menjadi salah satu concern dari Pasal 4 UU N0. 20 Tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional. Dalam pasal itu dijelaskan, bahwa pendidikan diselenggarakan secara demokratis, tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi HAM, nilai keagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa. Dalam pengembangan budaya juga masih terlihat mencolok dimana perkenalan budaya Aceh lebih dominan dibanding budaya etnis lain. Hal ini bisa dilihat ketika pembentukan sanggar tari, dimana tarian atau seni budaya Aceh yang dominan dipelajari dan ditampilkan daripada budaya dari etnik di luar Aceh. Kondisi ini secara tidak langsung memberikan dampak negatif bagi peserta didik di luar etnik Aceh. Seharusnya keseimbangan dalam memperkenalkan pendidikan serta budaya haruslah seimbang. Penutup Melihat kondisi yang terjadi selama ini dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara, dapat disimpulkan bahwa pendidikan multikultur sebagai respon terhadap perkembangan keragaman populasi sekolah perlu diterapkan. Apalagi tuntutan persamaan hak bagi setiap kelompok, untuk menjawab permasalahan, maka dibutuhkan startegi baru dalam membangun pendidikan multikultural yang terarah sehingga adanya keseimbangan. Selain itu tujuan utama dari pendidikan multikultural adalah menanamkan kesadaran kepada siswa akan keragaman (plurality),
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Oma Arianto, S.Pd I

85

kesetaraan (equality), kemanusiaan (humanity), keadilan (justice) dan nilai-nilai demokrasi (democration values) yang diperlukan dalam beragam aktivitas sosial. Menurut James Banks dalam bukunya tentang pendidikan multikultural (1994), ada lima dimensi yang saling berkaitan dalam pendidikan multikultural, yaitu: 1. Content integration, mengintegrasikan berbagai budaya dan kelompok untuk mengilustrasikan konsep mendasar, generalisasi dan teori dalam mata pelajaran/disiplin ilmu. 2. The knowledge construction process, membawa siswa untuk memahami implikasi budaya ke dalam sebuah mata pelajaran (disiplin). 3. An Equity Paedagogy, menyesuaikan metode pengajaran dengan cara belajar siswa dalam rangka memfasilitasi prestasi akademik siswa yang beragam baik dari segi ras, budaya ataupun sosial. 4. Prejudice Reduction, mengidentifikasi karakteristik ras siswa dan menentukan metode pengajaran mereka 5. Melatih kelompok untuk berpartisipasi dalam segala kegiatan ektra kurikuler (seni budaya, olahraga, keagamaan, maupun kegiatan lain) agar mampu berinteraksi antara peserta didik maupun pendidik (guru) dalam menciptakan budaya akademik. Strategi yang digunakan Guna mengindentifikasi hal ini, dibutuhkan beberapa pendekatan
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

86

I Multikultural di Sekolah

yang baik sehingga terciptanya sistem pembelajaran yang efektif dalam membangun kehidupan multikultural yang terarah dan saling menghargai, harus dilakukan oleh pendidik dengan melihat ciri-ciri peserta didik sebagai subyek, di antaranya: 1. Peserta didik dalan keadaan sedang berdaya, maksudnya ia dalam keadaan berdaya untuk menggunakan kemampuan, kemauan dan sebagainya. 2. Membangun kohesifitas, soliditas dan intimitas di antara keragamannya etnik, ras, agama, budaya dan kebutuhan di antara kita. 3. Peserta didik mempunyai latar belakang yang berbeda. 4. Peserta didik melakukan penjelajahan terhadap alam sekitarnya dengan potensi-potensi dasar yang dimiliki secara individu.[]

m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Oma Arianto, S.Pd I

87

Daftar Pustaka
Banks, J (1993), Multicultural Eeducation: Historical Development,Dimension, and Practice. Review of Research in Education. ——, (1994), An Introduction to Multicultural Education, Needham Heights, MA Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Pendidikan Nasional. (UU SISDIKNAS)

menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

Multikulturalisme dalam Pembelajaran
Dra. Erni Bulkisi, M.Sc Guru Madrasah Aliyah Darul ‘Ulum, Banda Aceh

Multikulturalisme ialah suatu alat untuk meningkatkan derajat manusia. Secara alami atau kodrati, manusia diciptakan Tuhan dalam keanekaragaman budaya. Karena itu, pembangunan manusia harus memperhatikan keanekaragaman yang ada di tengah masyarakat. Hal itu tergambar secara nyata dan jelas dalam al-Qur’an, seperti firman Allah SWT, ”Sekiranya Allah menghendaki niscaya ia menjadikan kamu (sekalian) satu umat, tetapi Dia hendak menguji kamu atas pemberianNya. Maka berlombalah kamu dalam kebaikan. Kepada Allah tempat kamu kembali, maka ditunjukkan kepadamu apa yang kamu perselisihkan”. (QS, Al-Maidah, 5:64) Ayat itu memberi gambaran pada manusia bagaimana keanekaragaman dapat dikembangkan, bukan menjadikannya sebagai perbedaan yang harus diperlebar antara sesama manusia, Said Agil (2003: 122). Selanjutnya mantan Menteri Pendidikan Nasional, Malik Fajar (2004) pernah mengatakan betapa pentingnya pendidikan multikulturalisme di Indonesia. Menurutnya, pendidikan multikulturalisme perlu ditumbuhkembangkan, karena potensi yang dimiliki Indonesia secara kultural, tradisi dan lingkungan geografi serta demografis sangat luar biasa. 89

90

I Multikulturalisme dalam Pembelajaran Pendidikan yang dilaksanakan di sekolah dengan melibatkan

peserta didik, terdiri dari siswa-siswa yang sebagian besar berasal dari perkotaan dan sebagian kecil dari pedesaan, tentunya dengan ragam budaya, etnis dan bahasa yang berbeda beda. Dewasa ini, banyak kita saksikan kekerasan di sekolah. Guru menampar siswa sebagai hukuman seperti baru-baru ini terjadi di Aceh, pelecehan antara guru dan siswa, antara siswa dan siswa, bahkan antara siswa sekolah satu dan siswa sekolah lain terjadi tawuran, seperti sering yang terjadi di Jakarta, sehingga memperoleh produk siswa yang kurang berakhlak, mudah disulut emosi dan menjadi hilang kepribadian. Kejadian lain dapat kita lihat di televisi. Malah, penulis melihat dan mendengar langsung pelecehan sesama siswa di salah satu sekolah menengah yang terjadi di Aceh. Sungguh menyedihkan kondisi generasi muda yang akan meneruskan cita-cita bangsa. Dalam sudut pandang eksistensi yang tidak setara dan tak egaliter saat mendidik siswa, guru atau orang tua biasanya memposisikan diri sebagai subjek, sementara anak didik (siswa) diposisikan sebagai objek. Dalam relasi seperti ini sudah barang tentu banyak terjadi proses dehumanisasi, yaitu pelanggaran kemanusian (Arief Hakim: 13). Jika ditelusuri akar masalah, berkaitan dengan pendidikan masih diskriminatif yang artinya pembelajaran belum menghargai keberagaman sikap, penerimaan siswa tentang rendahnya keadilan, tingginya kemiskinan, hilangnya rasa kemanusiaan untuk menghormati hak-hak orang lain dan proses belajar
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Dra. Erni Bulkisi, M.Sc I

91

mengajar belum mengakomodasi kebutuhan siswa, lingkungan pendidikan yang belum ramah anak. Sebagian besar guru, kepala sekolah dan komite belum mengetahui tentang multikultural pembelajaran. Hal ini adalah bentuk nyata sebagai bagian dari multikulturalisme tersebut. Harapan ingin mentransformasikan dan mengenalkan perspektif multikultur dalam pembelajaran sekolah, agar mereka mengenali keberagaman dan ramah terhadap perbedaan sebagai sebuah kegiatan yang menyenangkan. Dengan demikian, pembelajaran akan mampu meningkatkan rasa empati dan mengurangi prasangka siswa sehingga tercipta manusia yang mampu menyelesaikan konflik tanpa kekerasan. Melalui multikulturalisme dapat membantu guru dalam proses pembelajaran menjadi lebih efesien dan efektif, terutama memberikan kemampuan peserta didik dalam membangun kolaboratif. Berdasarkan masalah itu, diperlukan strategi dan konsep untuk memecahkan persoalan tersebut dalam bidang pendidikan di sekolah, terutama pada kurikulum dan manajemen sekolah serta guru yang merupakan ujung tombak pembelajaran. Berikut beberapa strategi dan konsep yang diperlukan pada pembelajaran multikulturalisme di sekolah: 1. Kurikulum Sekolah Kurikulum dikembangkan dengan melihat keragaman karakteristik anak didik seperti kondisi daerah, jenjang dan jenis pendidikan, serta menghargai dan tidak diskriminatif terhadap
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

92

I Multikulturalisme dalam Pembelajaran

perbedaan agama, suku, budaya, adat istiadat, status social ekonomi, dan jender (KTSP MA, 2009). Pendidikan multikultural dapat diintegrasikan dalam kurikulum, diarahkan kepada proses pengembangan pembelajaran di kelas. Sementara rancangan dan unit pembelajaran di kelas tak perlu diubah, namun ditambah dengan memberikan materi berbagai budaya, prinsip, teori dan lain-lain. Sebagai contoh, kurikulum sekolah dapat memasukkan materi dan bahan ajar yang berorientasi pada penghargaan kepada orang lain, bentuk penghargaan ini mencakup tiga ranah pembelajaran yang selama ini sudah kita terapkan secara teori dan praktik yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik, namun belum cukup mendalam penerapannya pada afektif. Contoh lain dalam strategi pembelajaran multikultural, misalnya melalui mata pelajaran PPKn, Agama, Sosiologi, Biologi, Antropologi dan dapat juga melalui model pembelajaran yang lain seperti menggunakan sarana audio visual, pendekatan lingkungan, kegiatan ekstrakurikuler dan sebagainya. Disampaikan melalui bahan ajar yang dapat kita lakukan di dalam kelas maupun di luar kelas. Salah satunya dari alam berkembang permainan multikultural, yaitu gelembung udara biasanya diperoleh dari mainan air sabun atau sampho yang dijual dalam paket kecil. Kita bisa mengajak siswa ke alam terbuka untuk memetik tangkai dan daun jarak yang langsung dipatahkan tapi patahan dipertahankan, kemudian ditiup perlahan-lahan, terbentuklah gelembung udara. Melalui metode ini dapat menghidupkan imajinasi siswa, kecerian, ramah lingkungan dan kedamaian. Strategi ini tentunya perlu dilakukan oleh gurum u l t i k u l t u r a l i s m e­

Dra. Erni Bulkisi, M.Sc I

93

guru kreatif dan inovatif. Untuk itu, guru dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif sehingga mampu mengolah dan menciptakan desain pembelajaran yang sesuai. 2. Manajemen Sekolah Manajemen sekolah yang telah ditetapkan bersama kepala sekolah tidak boleh dilangkahi. Contohnya, untuk penerimaan siswa yang masuk berdasarkan urutan nilai tes terbaik tentunya lebih diutamakan, namun dalam pelaksanaan di lapangan terjadi keberagaman. Ini akrab terjadi di sekolah yaitu penyimpangan karena adanya kolusi dan nepotisme (kalangan mayoritas) sehingga kalangan minoritas terabaikan untuk bisa masuk ke suatu sekolah (favorit). Kejadian itu karena rendahnya keadilan dalam menentukan kebijakan, belum mengenali dan tak memahami keberagaman. Peran kepala sekolah dan komite harus konsekuen menempatkan keadilan dengan benar sesuai kode etik yang telah ditetapkan. Di sisi lain guru juga harus mendukung kebijakan-kebijakan yang telah disepakati bersama. Multikultural pada manajemen sekolah merupakan unsur penunjang pendidikan. Makanya mari gerakkan multikulturalisme untuk disosialisasikan lebih awal kepada sekolah-sekolah atau lembaga-lembaga pendidikan lain. 3. Pendekatan Komunikasi di Sekolah Dalam proses belajar mengajar di sekolah, berbagai pendekatan digunakan oleh guru untuk mendidik para pelajar. Ada guru yang senang mengarah dan memerintah siswa menurut kehendaknya,
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

94

I Multikulturalisme dalam Pembelajaran

ada juga guru yang mengajak siswa bersama-sama menyelesaikan topik bahasan, namun semua ada manfaatnya sesuai dengan keadaan. Tanpa komunikasi yang baik, hasil yang dituai juga tidak memuaskan (Pupuh, Sobry: 41). Strategi pendekatan dengan komunikasi harus diawali dengan rasa saling menghargai antara kepala sekolah dan guru, sesama guru dan guru dengan siswa. Demikian pula kepala sekolah dan siswa. Adanya penghargaan kepada siswa, maka siswapun akan melakukan hal yang sama saat berkomunikasi dengan guru. Seperti kata pepatah “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Kemudian kemampuan guru menempatkan diri pada situasi dan kondisi di lingkungan belajar, tak hanya melibatkan indra tapi juga mata hati dan perasaannya dalam memahami kondisi siswa. Untuk melaksanakan tugas secara profesional, guru memerlukan wawasan dan ide bagaimana memberikan keterangan pada pembelajaran yang merupakan kunci utama dalam masalah ini. Guru harus mampu menanamkan nilai-nilai akhlak di setiap mata pelajaran yang mereka ajarkan. Seorang guru IPA misalnya tidak hanya sekadar mengajar materi pengetahuan alam, tetapi bagaimana para guru IPA mengintegrasikan nilai-nilai akhlakul karimah dalam mata pelajaran yang diajarkan. Bagaimana cara menerapkan ke siswa agar dapat memanjakan emosi anak, belajar dengan nyaman sehingga disadari atau tidak, mereka akan memotret apa yang mereka lihat dan rasakan, sehingga mempengaruhi emosi positif dan mempermudah untuk tercapainya tujuan belajar.

m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Dra. Erni Bulkisi, M.Sc I

95

Menurut James A.Banks (1993 - 1994), ada lima dimensi pendidikan multikultur yang dapat membantu guru dalam mengimplementasikan perbedaan pelajar (siswa), yaitu: 1. Dimensi integrasi isi/materi 2. Dimensi konstruksi pengetahuan. 3. Dimensi pengurangan prasangka. 4. Dimensi pendidikan yang sama /adil. 5. Dimensi pemberdayaan sekolah. Berdasarkan pendapat itu, pendidikan multikultural saling berkesinambungan antara guru dan siswa, baik itu guru dalam menciptakan struktur dan proses. Setiap pengetahuan budaya bisa melakukan ekspresi sehingga pandangan multikulturalisme pembelajaran sekolah banyak digunakan sebagai media untuk membangun empati, sikap rendah hati dan tidak memandang rendah dalam menerima perbedaan nilai-nilai budaya. Muslim Ibrahim menjelaskan bahwa dalam sidang tanggal 20 februari 2009 di Maroko, Unesco menyepakati orientasi pendidikan ke depan harus diarahkan pada dua hal secara seimbang yaitu education for work dan education for life. Education for work diarahkan pada kemampuan memahami berbagai teori dan ketrampilan sebagai bekal untuk mengelola sumber daya alam. Sedangkan, education for life diarahkan pada pendidikan moral, etika dan estetika untuk mencapai kebahagiaan dalam menjalani kehidupan. Dengan melibatkan seluruh siswa, pendidikan ramah dan penuh kasih sayang tanpa pandang bulu, kemudian mengkondisikan sekolah pada pengembangan model pembelajaran berbasis
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

96

I Multikulturalisme dalam Pembelajaran

multikultural sehingga bisa menjadi salah satu metode efektif untuk meredam konflik sekaligus mengubah pemikiran siswa yang benar-benar tulus menghargai keberagaman, mencerminkan praktik dari nilai-nilai demokrasi. Dengan begitu, pelajar akan berbicara tentang rasa hormat di antara mereka dan menjunjung tinggi nilai-nilai kerjasama daripada membicarakan persaingan dan prasangka di antara mereka yang berbeda dalam hal ras, etnik budaya dan kelompok status sosialnya. Melalui pembelajaran multikulturalisme juga diharapkan akan dicapai suatu kehidupan siswa yang damai, harmonis, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan sehingga tercipta manusia yang mampu menyelesaikan konflik tanpa kekerasan. Kemudian mampu menerapkan strategi pembelajaran yang mengedepankan interaksi sosial. Agar tujuan multikulturalisme dalam pembelajaran sekolah ini dapat dicapai, pemerintah dan para pengambil kebijakan pendidikan lainnya hendaknya memikirkan secara serius realitas multikultural di Indonesia, dengan memasukkan kurikulum yang berdasarkan pada semangat multikulturalisme. Kepada guru dan staf pengajar agar menanamkan nilai-nilai multikulturalisme dalam proses belajar mengajar dengan cara memberikan materi terkait multikultural dan mempraktikkan dalam kehidupan nyata, sehingga siswa memiliki kompetensi tentang nilai-nilai multikulturalisme.[]

m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Dra. Erni Bulkisi, M.Sc I

97

DAFTAR PUSTAKA
Almunawar, Said Agil Husin. 2003. Aktualisasi Nilai-Nilai Qur’ani. Jakarta : Ciputat Press. Banks, James A. 2007. Pembelajaran Berbasis Multikultural, http:// lubisgrafura, word press.com. diakses tanggal 22 juni 2011. Hakim Arief, M. 2002. Mendidik Anak Secara Bijak.Bandung : Marja. Kementrian Agama. 2009. Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran. Banda Aceh : Madrasah Aliyah, Ibrahim, Muslim. 2010. Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-raniry. Dari makalah Pembentukan Karakter Guru Berbasis Syari’at Islam. Fathurrohman, Pupuh dan Sutikno, Sobry. 2007. Strategi Belajar Mengajar. Bandung : Aditama.

menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

Strategi Belajar Kelompok
Erlawana, S.Pd., M.Pd.

Pendidikan adal salah satu kebutuhan manusia. Pendidikan tidak diperoleh begitu saja dalam waktu singkat, namun memerlukan proses pembelajaran sehingga menimbulkan hasil sesuai dengan proses yang telah dilalui. Sumber daya manusia berpendidikan akan mampu mengikuti perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Usaha pemerintah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia antara lain dengan menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sesuai Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 22, 23, dan 24 tahun 2005. Kurikulum pendidikan nasional tersebut menetapkan prinsip pelaksanaan kurikulum didasarkan pada potensi, karakteristik, perkembangan dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya. Dalam hal ini siswa harus mendapatkan pelayanan pendidikan, memberi kesempatan untuk mengekspresikan dirinya secara bebas, dinamis dan menyenangkan dengan menegakkan pilar belajar hidup dalam kebersamaan dengan saling berbagi dan saling menghargai karena Indonesia adalah salah satu negara multikultural terbesar di dunia. Kenyataan ini dapat dilihat dari kondisi sosio-kultural maupun 99

100 I Strategi Belajar Kelompok geografis yang begitu beragam dan luas. Pendidikan multikultural menawarkan alternatif melalui penerapan strategi dan konsep pendidikan berbasis pada keragaman di tengah masyarakat, khususnya yang ada pada siswa seperti keragaman etnis, budaya, bahasa, agama, status sosial, gender, kemampuan, umur, dan lain-lain. Pendidikan multikultural didefinisikan sebagai kebijakan sosial yang didasarkan pada prinsip-prinsip pemeliharaan budaya dan saling memiliki rasa hormat antara seluruh kelompok budaya dalam masyarakat. Pendidikan multikultural pada dasarnya merupakan program pendidikan bangsa agar komunitas multikultural dapat berpartisipasi dalam mewujudkan kehidupan demokrasi yang ideal bagi bangsanya (Banks, 1993). Dalam konteks lebih luas, pendidikan multikultural coba membantu menyatukan bangsa secara demokratis, dengan menekankan pada perspektif pluralitas masyarakat di berbagai bangsa, etnik, kelompok budaya yang berbeda. Dengan demikian sekolah dikondisikan untuk mencerminkan praktik dan nilai-nilai demokrasi. Kurikulum menampakkan aneka kelompok budaya yang berbeda dalam masyarakat, bahasa dan dialek. Disamping itu, para siswa lebih baik berbicara tentang rasa hormat di antara mereka dan menjunjung tinggi nilai-nilai kerjasama, daripada membicarakan persaingan dan prasangka di antara sejumlah siswa yang berbeda dalam ras, etnik, budaya dan kelompok status sosialnya. Hakekat pendidikam multikultural mempersiapkan seluruh siswa untuk bekerja secara aktif menuju kesamaan struktur
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Erlawana, S.Pd., M.Pd. I

101

dalam organisasi dan lembaga sekolah. Pendidikan multikultural bukanlah kebijakan yang mengarah pada pelembagaan pendidikan dan pengajaran iklusif oleh propaganda pluralisme lewat kurikulum yang berperan bagi kompetisi budaya individual. Pendidikan multikultural juga membantu siswa untuk mengakui ketepatan dari pandangan-pandangan budaya yang beragam, membantu siswa dalam mengembangkan kebanggaan terhadap warisan budaya mereka, menyadarkan siswa bahwa konflik nilai sering menjadi penyebab konflik antar kelompok masyarakat. Pada dasarnya tujuan pendidikan multikultural: 1) memungsikan peranan sekolah dalam memandang keberadaan siswa yang beraneka ragam; 2) membantu siswa dalam membangun perlakuan yang positif terhadap perbedaan kultural, ras, etnik, kelompok keagaamaan; 3) memberikan ketahanan siswa dengan cara mengajar mereka dalam mengambil keputusan dan keterampilan sosialnya; 4) membantu peserta didik dalam membangun ketergantungan lintas budaya dan memberi gambaran positif

kepada mereka mengenai perbedaan kelompok (Banks, dalam Skeel 1995). Disamping itu, pendidikan multikultural dibangun atas dasar konsep pendidikan untuk kebebasan yang bertujuan untuk: 1) membantu siswa dan mahasiswa mengembangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan untuk berpartisipasi dalam demokrasi dan kebebasan masyarakat dan 2) memajukan kebebasan, kecakapan, keterampilan terhadap lintas batas-batas etnik dan budaya untuk berpartisipasi dalam beberapa kelompok dan budaya orang lain.

menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

102 I Strategi Belajar Kelompok Pendekatan dalam Pembelajaran Pendekatan yang dapat dipakai dalam proses pembelajaran multikultur adalah pendekatan kajian kelompok tunggal (Single Group Studies) dan pendekatan perspektif ganda (Multiple Perspectives Approach). Pendidikan umumnya memakai pendekatan multikultural di Indonesia kajian kelompok tunggal.

Pendekatan ini dirancang untuk membantu siswa dalam mempelajari pandangan-pandangan kelompok tertentu secara mendalam. Oleh karena itu, harus tersedia data-data tentang sejarah kelompok itu, kebiasaan, pakaian, rumah, makanan, agama yang dianut, dan tradisi lainnya. Data tentang kontribusi kelompok itu terhadap perkembangan musik, sastra, ilmu pengetahuan, politik dan lainlain harus dihadapkan pada siswa. Pendekatan ini terfokus pada isu-isu yang sarat dengan nilai-nilai kelompok yang sedang dikaji. Sedangkan pendekatan perspektif ganda adalah pendekatan yang terfokus pada isu tunggal yang dibahas dari berbagai perspektif kelompok-kelompok berbeda. Umumnya, menyarankan guru-guru agar memiliki perspektif dalam pembelajarannya. Dalam kaitan ini, Bannet dan Spalding (1992) pembelajaran menggunakan pendekatan perspektif ganda, karena lebih efektif. Pendekatan perspektif ganda membantu siswa untuk menyadari bahwa suatu peristiwa umum sering diinterpresikan secara berbeda oleh orang lain, dimana interpretasinya sering didasarkan atas nilai-nilai kelompok yang mereka ikuti. Solusi yang dianggap baik oleh suatu kelompok, sering tidak dianggap baik oleh kelompok lain karena tidak cocok
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Erlawana, S.Pd., M.Pd. I

103

dengan nilai yang diikutinya. Keunggulan pendekatan perspektif ganda terletak pada cara berpikir kritis terhadap isu yang sedang dibahas sehingga mendorong siswa untuk menghilangkan prasangka buruk. Interaksi dengan pandangan kelompok yang berbeda memungkinkan siswa untuk berempati. Hasil penelitian (Byrnes,1988) membuktikan bahwa siswa yang rendah prasangkanya menunjukkan sikap lebih sensitif dan terbuka terhadap pandangan orang lain. Mereka juga mampu berpikir kritis, karena lebih bersikap terbuka, fleksibel, dan menaruh hormat pada pendapat yang berbeda. Bahan pelajaran dan aktifitas belajar yang kuat aspek efektifnya tentang kehidupan bersama dalam perbedaan kultur terbukti efektif untuk mengembangkan perspektif yang fleksibel. Siswa yang memiliki rasa empati yang besar memungkinkan dia untuk menaruh rasa hormat terhadap perbedaan cara pandang. Tentu saja hal itu akan mampu mengurangi prasangka buruk terhadap kelompok lain. Pendekatan perspektif ganda mengandung dua sasaran yaitu meningkatkan empati dan menurunkan prasangka. Pengembangan Pembelajaran Multikultural Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan pembelajaran multikultural, yaitu sebagai berikut: 1. Melakukan multikultural. a. Tuntutan kompetensi mata pelajaran yang harus dibekalkan kepada peserta didik berupa pengetahuan,
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

analisis

faktor

potensial

bernuansa

104 I Strategi Belajar Kelompok keterampilan, dan etika atau karakter. b. Tuntutan belajar dan pembelajaran, terutama berfokus membuat orang untuk belajar dan menjadikan kegiatan belajar sebagai proses kehidupan. c. Kompetensi guru dalam menerapkan pendekatan referensi multikultural. Guru sebaiknya menggunakan metode mengajar efektif, dengan memperhatikan latar budaya siswanya. Guru harus bertanya dulu pada diri sendiri, apakah ia sudah menampilkan perilaku dan sikap yang mencerminkan jiwa multikultural. d. Analisa kondisi siswa. Secara alamiah siswa sudah menggambarkan masyarakat belajar yang multikutural. Latar belakang kultural siswa akan mempengaruhi gaya belajarnya. Agama, suku, ras/etnis dan golongan serta latar ekonomi orang tua, bisa menjadi stereoipe siswa ketika merespon stimulus di kelasnya, baik berupa pesan pembelajaran maupun pesan lain yang disampaikan teman di kelasnya. Siswa bisa dipastikan memiliki pilihan menarik terhadap potensi budaya di daerah masing-masing. e. Karakteristik materi pembelajaran bernuasa multikultural. Analisis materi potensial yang relevan dengan pembelajaran multikultural meliputi: 1. 2. Menghormati perbedaan antar teman (gaya pakaian, mata pencaharian, suku, agama, etnis dan budaya). Menampilkan perilaku yang didasari keyakinan
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Erlawana, S.Pd., M.Pd. I

105

ajaran agama masing-masing. 3. 4. Kesadaran bernegara. Membangun kehidupan atas dasar kerjasama umat beragama kesatuan. 5. 6. 7. 8. 9. Mengembangkan sikap kekeluargaan antar suku bangsa. Tanggung jawab daerah (lokal) dan nasional. Menjaga kehormatan diri dan bangsa. Mengembangkan sikap disiplin nasional. Mengembangkan perilaku adil dalam kehidupan. nasional. 11. Membangun kerukunan hidup. 12. Menyelenggarakan pemahaman dan proyek sosialisasi budaya terhadap dengan simbol10. Mengembangkan kesadaran budaya daerah dan diri, sosial, dan untuk mewujudkan persatuan dan bermasyarakat, berbangsa dan

simbol identitas nasional seperti bahasa Indonesia, lagu Indonesia Raya, bendera Merah Putih, lambang Garuda Pancasila, bahkan budaya nasional yang menggambarkan daerah. 2. Menetapkan strategi pembelajaran berkadar multikultural. Pilihan strategi yang digunakan dalam mengembangkan peembelajaran berbasis multikultural antara lain strategi
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

puncak-puncak

budaya di

106 I Strategi Belajar Kelompok kegiatan belajar bersama (cooperative learning), yang dipadu dengan strategi pencapaian konsep (concept attainment) dan strategi analisis nilai (value analysis), strategi analisis sosial (social analysis). 3. Menyusun Rancangan pembelajaran berbasis multikultural. Cooperative Learning Model cooperative learning adalah salah satu model pembelajaran yang mendukung konstektual. sistem Cooperative atau learning dapat didefinisikan sebagai kerja belajar kelompok

terstruktur. Yang termasuk dalam struktur ini adalah lima unsur pokok: saling ketergantungan positif, tanggung jawab individual, interaksi personal, keahlian bekerja sama, dan proses kelompok. Falsafah yang mendasari cooperative learning (pembelajaran gotong-royong) dalam pendidikan adalah ”homo homini socius” yang menekankan manusia sebagai makluk sosial. Ini merupakan sistem pengajaran yang memberikan kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sesama siswa dalam tugas-tugas terstruktur. Pembelajaran kooperatif juga dikenal pembelajaran kelompok. Tetapi belajar kelompok ini lebih dari sekadar belajar kelompok karena dalam belajar kooperatif ada struktur dorongan tugas yang bersifat kooperatif sehingga terjadinya interaksi secara terbuka atau memungkinkan

dan hubungannya yang anggota kelompok.

bersifat interdepedensi efektif di antara

Hubungan kerja seperti itu memungkinkan timbulnya persepsi positif tentang apa yang dapat dilakukan siswa untuk mencapai
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Erlawana, S.Pd., M.Pd. I

107

keberhasilan belajar bersama. Pada awal

berdasarkan kemampuan dirinya secara

individu dan andil dari anggota kelompok lain selama belajar pengembangannya, pembelajaran kooperatif

bertujuan untuk mengembangkan nilai-nilai demokrasi, aktivitas siswa, perilaku kooperatif dan menghargai pluralisme. Sebenarnya aspek akademis juga masuk di dalamnya walaupun tidak tersirat. Arends (1989) menyatakan, setidaknya terdapat tiga tujuan yang dapat dicapai dalam pembelajaran kooperatif, yaitu : a. Peningkatan kinerja prestasi akademik. b. Penerimaan terhadap keragaman (suku, sosial, budaya, kemampuan, dan lain-lain). c. Keterampilan Pembelajaran berikut: 1. Siswa bekerja dalam kelompok kooperatif untuk menguasai materi akademis. 2. Anggota-anggota dalam kelompok diatur terdiri dari siswa siswa yang berkemampuan rendah, sedang, dan tinggi. 3. Jika memungkinkan, masing-masing anggota kelompok kooperatif berbeda suku, budaya, dan jenis kelamin. 4. Sistem penghargaan yang berorientasi kepada kelompok daripada individu. Selain itu terdapat empat tahapan ketrampilan kooperatif yang harus ada dalam model pembelajaran kooperatif, yaitu:
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

bekerja

sama

atau

kolaborasi

dalam sebagai

pemecahan masalah. kooperatif memiliki karakteristik

108 I Strategi Belajar Kelompok a. Forming (pembentukan) (pengaturan) yaitu yaitu keterampilan keterampilan untuk untuk

membentuk kelompok dan sikap sesuai dengan norma. b. Functioning mengatur aktivitas kelompok dalam menyelesaikan tugas dan membina hubungan kerja sama di antara anggota kelompok. c. Formating (perumusan) yaitu keterampilan untuk pembentukan pemahaman yang lebih dalam terhadap

bahan-bahan yang dipelajari, merangsang penggunaan tingkat berpikir lebih tinggi, dan menekankan penguasaan serta pemahaman materi yang diberikan. d. Fermenting (penyerapan) yaitu keterampilan untuk merangsang pemahaman konsep sebelum pembelajaran, konflik kognitif, mencari lebih banyak informasi, dan mengkomunikasikan kesimpulan. Model pembelajaran kooperatif telah sering digunakan para guru selama bertahun-tahun dalam bentuk kelompok laboratorium, kelompok tugas, kelompok diskusi dan sebagainya. Namun, penelitian terakhir di Amerika dan beberapa negara lain telah menciptakan model-model pembelajaran kooperatif yang sistematis dan praktis untuk dipakai sebagai elemen utama dalam pola pengaturan di kelas. Menurut Slavin (2008), pembelajaran kooperatif merupakan strategi efektif untuk meningkatkan prestasi tim atau kelompok terutama jika dan tanggung disediakan penghargaan pemikiran untuk memperoleh

m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Erlawana, S.Pd., M.Pd. I

109

jawab individual. Penghargaan

atau pengakuan

diberikan

kepada kelompok sehingga anggota kelompok dapat memahami bahwa membantu orang lain adalah demi kepentingan mereka juga. Sedangkan tanggung jawab individual merupakan bentuk akuntabilitas individu, dimana setiap orang memiliki kontribusi penting bagi tim atau kelompok. Suatu strategi pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan. Demikian pula dengan pembelajaran kooperatif. Kelebihan dari pembelajaran kooperatif, menurut Hill & Hill (dalam Luddy, 2004 : 21) antara lain sebagai berikut: 1. Meningkatkan prestasi siswa. 2. Memperdalam pemahaman siswa. 3. Menyenangkan siswa. 4. Mengembangkan sikap positif siswa. 5. Mengembangkan sikap kepemimpinan. 6. Mengembangkan sikap menghargai diri sendiri. 7. Mengembangkan rasa saling memiliki. 8. Mengembangkan keterampilan untuk masa depan. Menurut Slavin (dalam Ratumanan, 2002), keuntungan lain yang diperoleh dari penerapan pembelajaran kooperatif adalah: 1. Siswa bekerja sama dalam mencapai tujuan dengan menjunjung tinggi norma- norma kelompok. 2. Siswa aktif membantu dan memotivasi semangat untuk berhasil bersama. 3. Aktif berperan sebagai tutor supaya untuk lebih meningkatkan keberhasilan kelompok.
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

110 I Strategi Belajar Kelompok 4. Interaksi antar siswa seiring dengan peningkatan

kernampuan mereka dalam berpendapat. Selain kelebihan, pembelajaran kooperatif juga memiliki kekurangan. Menurut Dees (dalam Luddy, 2004 : 22), kekurangannya antara lain ialah: 1. Membutuhkan waktu yang lebih lama untuk siswa sehingga sulit mencapai target kurikulum. 2. Membutuhkan waktu yang lama untuk guru sehingga pada umumnya guru tidak mau menggunakan pembelajaran kooperatif. 3. Membutuhkan kemampuan khusus guru sehingga tidak semua guru dapat melakukan atau menggunakan pembelajaran kooperatif. 4. Menuntut sifat tertentu dari siswa, misalnya sifat suka bekerja sama. Dalam pembelajaran kooperatif sangat ditekankan hakekat sosial. Berdasarkan teori Dess, siswa akan lebih mudah memecahkan masalah dan tugas-tugas yang kompleks, serta mudah menemukan dan memahami konsep-konsep sulit jika mereka saling mendiskusikan masalah tersebut bersama temannya. Untuk mudah memecahkan permasalahan, seorang guru harus pandai dan jeli memilih tipe-tipe model pembelajaran kooperatif seperti tipe Jigsaw, STAD, TGT, TPS, NHT, Role Playing, kancing gemerincing, bertukar pasangan, debat, dan lain-lain. Strategi cooperative learning digunakan untuk menandai adanya perkembangan kemampuan siswa dalam belajar bersama,
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Erlawana, S.Pd., M.Pd. I

111

mensosialisasikan konsep dan nilai budaya lokal dari daerahnya dalam komunitas belajar bersama teman. Dalam tataran belajar dengan pendekatan multikultural, penggunaan strategi cooperative learning, diharapkan mampu meningkatkan kadar partisipasi siswa dalam melakukan rekomendasi nilai-nilai lokal serta membangun cara pandang kebangsaan. Dari kemampuan ini, siswa memiliki pengembangan kecakapan hidup dalam menghormati budaya lain, toleransi terhadap perbedaan, akomodatif, terbuka dan jujur dengan teman dalam berinteraksi (orang lain) yang berbeda suku, agama, etnis,

budaya, memiliki empati yang tinggi terhadap perbedaan budaya lain, dan mampu mengelola konflik dengan tanpa kekerasan (conflict non-violent). Selain itu, penggunaan strategi cooperative learning dalam pembelajaran dapat meningkatkan kualitas dan efektifitas proses belajar siswa, suasana belajar yang konduksif, membangun interaksi aktif antara siswa dan guru, siswa dengan siswa dalam pembelajaran. Bertolak dari strategi pembelajaran ini, pola pendidikan multikultural dilakukan untuk meningkatkan kesadaran siswa terhadap nilai-nilai perbedaan dan keberagaman yang melekat pada kehidupan siswa sebagai faktor sangat potensial dalam membangun cara pandang kebangsaan. Dengan adanya kesadaran diri siswa terhadap nilai-nilai lokal, siswa disamping memiliki ketegaran dan ketangguhan secara pribadi, juga mampu melakukan pilihan-pilihan rasional saat berhadapan dengan isu-isu nasional dan global.
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

lokal,

112 I Strategi Belajar Kelompok Siswa juga mampu menatap perspektif global sebagai suatu realitas yang tak selalu dimaknai secara emosional, tetapi juga rasional serta tetap sadar akan jati diri bangsa dan negaranya. Kemampuan ditampakkan akademik tersebut, salah satu indikasinya siswa dalam perolehan hasil pembelajaran yang

dialami. Kriteria yang dapat digunakan untuk mengetahui keberhasilan kegiatan belajar siswa adalah laporan kerja, unjuk kerja, dan partisipasi yang ditampilkan siswa dalam pembelajaran dengan cara berdiskusi dan curah pendapat, yang meliputi rasional berpendapat, toleransi, dan empati dalam menatap nilainilai budaya teman, serta perkembangan prestasi belajar siswa setelah mengikuti tes di akhir pembelajaran.[]

m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Erlawana, S.Pd., M.Pd. I

113

DAFTAR PUSTAKA
Ali, Muhammad. 2003. Teologi Fluralis-Multikultural: Menghargai Kemajemukan Menjalin Kebersamaan. Jakarta : Penerbit Buku Kompas. Banks, J.A. 1993. Multicultural Education. Historical Development Dimention And Practice. In Review Of Research In Education, Vol 19. edited by L, Darling –Hammond. Washington, D.C : American Educational Research Association.. Bambang, Luddy.S. 2004. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Pada Materi Relasi Fungsi dan Grafiknya di Kelas VIII SLTP. Surabaya: UNS Surabaya. Ratumanan, R. Gerson.2002. Belajar dan Pembelajaran. UNESA University Press, Surabaya. Slavin, R. 2008. Cooperative Learning: Theory Research and Practice. Boston: Allyn and Bacon Publisher.

menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

Mengembalikan Kosmopolitan Aceh
Farizal Hadi, S.Pd.I Guru SMAN 1 Geumpang, Pidie

A.

Pendahuluan

Sejak dulu, Aceh menjadi magnet bagi berbagai bangsa dunia. Tercatat dalam sejarah bahwa pengembara dari Italia, Marco Polo, datang ke Aceh sekitar tahun 1292 (M. Zainuddin, 1961: 28), Ibnu Batutah, pelancong Timur Tengah berlabuh di Aceh pada 1346 dan panglima laut Laksamana Cheng Ho dari Cina mendarat di Aceh tahun 1405-1407 (K. Yuangzhi, 2000: 258). Sebagai wilayah kaya hasil alam, Aceh secara geografis juga memiliki posisi sangat strategis karena berada pada perlintasan Selat Malaka yang menjadi persimpangan antara Samudera Hindia dan Laut Cina Selatan. Berbagai bangsa yang bermigrasi dan kemudian menetap di Aceh, membuat masyarakatnya menjadi kosmopolit dan multikultural. Masyarakat multikultural dibentuk dari berbagai latar belakang suku bangsa dan budaya. Misalnya; dari Arab, India, Turki, Portugis, Persia dan kawasan Asia lainnya terutama Campa dan Indo Cina. Menurut Junus Melalatoa (2005; 1), perbedaan latar belakang tersebut menyebabkan Aceh menjadi masyarakat sangat heterogen dan majemuk, karena hasil konfigurasi berbagai bangsa. Realitas inilah yang berhasil membentuk identitas budaya 115

116 I Mengembalikan Kosmopolitan Aceh dan peradaban Aceh masa lalu. Sehingga dapat dikatakan bahwa peradaban Aceh adalah hasil akulturasi dan asimilasi bahkan konfigurasi berbagai komunitas budaya yang kemudian berdiaspora menjadi entitas budaya baru. Inilah yang dimaksud dengan sifat komospolitan dan mulitikultural Aceh yang kemudian berpadu secara baik dengan nilai-nilai keislaman. Sejarawan banyak menulis bahwa Aceh bukanlah sebagai suku atau etnis, tetapi lebih banyak dikenal sebagai bangsa. Karena bangsa merupakan kumpulan dari suku dan etnis, seperti Bangsa Indonesia, Bangsa Arab, Bangsa Amerika yang berasal dari puluhan suku. Namun ketika Aceh bergabung dengan Indonesia, daerah ini kemudian dilekatkan dengan istilah suku, karena tidak mungkin memakai bangsa Aceh di samping Bangsa Indonesia. Karena itu, tak mengherankan jika Anthony Reid, pakar sejarah Aceh, mengakui bahwa karakter dan sifat masyarakat Aceh sangat heterogen, kosmopolitan dan multikultural (Serambi Indonesia, 9/4/2006). Karakter ini yang kemudian menghasilkan sifat toleran, egalitarian dan inklusif. Sifat-sifat dan karakter inilah yang melatarbelakangi budaya Aceh kemudian dibalut dengan Islam sebagai fondasi utama. Islam berhasil menyatukan, memajukan dan menemukan warna lain dari berbagai suku bangsa di Aceh, termasuk yang paling spesifik dan unik Indonesia. Terkait dengan hal itu, tulisan ini akan membahas tentang pentingnya pendidikan multikultur dalam menjaga perdamaian di Aceh. Kajian ini diarahkan pada urgensi dan strategi pendidikan multikultural dalam menjaga perdamaian di Aceh.
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Farizal Hadi, S.Pd.I I

117

B.

Konflik Meruntuhkan Multikultur

Ketika terjadi penetrasi bangsa Barat terhadap dunia ketiga, Indonesia dalam hal ini Aceh menjadi bagian imperealisasi dan kolonialisasi. Tercatat beberapa bangsa pernah melakukan kolonialisasi di Aceh, misalnya; Portugis (1511), Belanda (1874), dan Jepang (1942). Perlawanan terus dikobarkan dengan menguras energi yang mengorbankan air mata, harta bahkan nyawa. Perang atau lebih tepatnya konflik terus melanda hingga pascakemerdekaan mulai dari Perang Cumbok antara ulama dan uleebalang, (1945-1946), DI/TII (1953), deklarasi GAM (1976), DOM (1989-1990) dan Darurat Militer (1998-2003). Perang dimanapun terjadi pasti merugikan semua pihak dan merusak sendi-sendi kehidupan. Perang menimbulkan korban, merusak tatanan masyarakat dan bahkan meruntuhkan peradaban yang telah bersusah payah dibangun generasi sebelumnya. Konflik Aceh dapat digolongkan sebagai konflik sangat kompleks (multidimensi), karena sumbernya tidak semata persoalan separatisme, tapi telah mengalami tumpang tindih dengan sumbersumber konflik lain baik faktor historis seperti kekecewaan politis, dendam, kebencian, ketidakpercayaan, lemahnya penegakan hukum dan penyelesaian masalah yang keliru dan tidak tuntas. Konflik inilah yang telah menyumbangkan saham paling banyak dalam mengikis nilai-nilai multikultural dan kosmopolit masyarakat Aceh. Meski nilai-nilai tersebut masih ada yang tersisa dalam sanubari masyarakat Aceh, tapi hanya sedikit saat konflik berlangsung. Untuk itu, nilai-nilai multikultur di tengah masyarakat
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

118 I Mengembalikan Kosmopolitan Aceh Aceh perlu terus dibangun dan direvitalisasi terutama setelah penandatanganan Memorandum of Understanding MoU Helsinki pada 15 Agustus 2005 dan ditetapkannya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. C. Urgensi Pendidikan Multikultural

Multikultural, menurut Kamus Besar Bahasa Indonensia, berarti keragaman budaya (Tim penyusun, 2008: 1051). Kata ini berasal dari “multi” yang berarti plural, dan “kultural” berarti kultur atau budaya. Selain itu juga dikenal istilah multikulturalisme yang secara sederhana adalah paham atau aliran tentang budaya plural. G.I. Marjani (2009; 1) memberikan, pengertian lebih mendalam istilah multikulturalisme bukan hanya sekedar pengakuan terhadap budaya (kultur) yang beragam, melainkan pengakuan yang memiliki implikasi-implikasi politis, sosial, ekonomi dan lainnya. Dalam perkembangannya, gagasan multikulturalisme menjadi sebuah gagasan yang dipandang perlu untuk dipromosikan sehingga menjadi bagian dalam tradisi masyarakat global. Tidak mengherankan jika gagasan tersebut terus menggelinding ke arah munculnya pendidikan multikulturalisme dengan berbagai variannya. Pendidikan multikultural didasarkan pada landasan yuridis seperti disebutkan bahwa pendidikan multikultural dilaksanakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa (UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 4 ayat 1).
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Farizal Hadi, S.Pd.I I

119

Pembentukan masyarakat multikultural Indonesia tidak dapat secara taken for granted (apa adanya) atau trial and error (cobacoba salah), tapi harus diupayakan secara sistematis, programatis, integrated (menyeluruh) dan berkesinambungan, dan bahkan perlu percepatan. Salah satu strategi penting dalam mengakselerasikannya adalah pendidikan multikultural yang diselenggarakan melalui seluruh lembaga pendidikan, baik formal maupun non-formal, dan bahkan informal dalam masyarakat luas. (A. Azra, 2007). A. Abdullah (2005: 3) menegaskan bahwa pendidikan merupakan langkah paling efektif dan tepat untuk mempertahankan tradisi dan identitas agama. Karena pendidikan akan mampu meneruskan, melanggengkan, mengawetkan, dan mengonservasi tradisi dari satu generasi ke generasi selanjutnya dari abad yang satu ke abad lain. Selain itu permasalahan pokok yang dihadapi para pendidik dan penggerak sosial-keagamaan pada era kemajemukan dan era multikultural adalah bagaimana agar masing-masing tradisi keagamaan tetap dapat mengawetkan, mengalihgenerasikan serta mewariskan kepercayaan dan tradisi yang diyakini sebagai suatu kebenaran yang mutlak. Selanjutnya, istilah “pendidikan multikultural” dapat digunakan pada tingkat deskriptif atau normatif, yang menggambarkan isu-isu dan masalah-masalah pendidikan berkaitan dengan masyarakat multikultur. Dalam konteks ini, kurikulum pendidikan multikultural harus mencakup subjek-subjek pembahasan yang dapat membawa peserta didik pada pemahaman dan sikap yang mencerminkan multikulturalisme dan pluralisme (A. Azra, 2007).
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

120 I Mengembalikan Kosmopolitan Aceh Selanjutnya, pendidikan multikulturalisme menitikberatkan pada pemahaman dan upaya untuk bisa hidup dalam konteks perbedaan agama dan budaya, baik secara individual maupun kelompok dan tidak terjebak pada primordialisme dan eklusifisme kelompok agama dan budaya yang sempit. Pada saat yang sama, masyarakat menggali kembali nilai-nilai budaya yang dapat mendukung terwujudkan perdamaian dan kesejahteraan. D. Strategi Menjaga Perdamaian

Strategi multikultural dalam menjaga perdamaian dapat dilakukan dengan menggali nilai-nilai budaya Aceh yang menjadi fondasi dalam merajut bangunan perdamaian. Pendidikan multikultural dapat juga disebut sebagai strategi atau pendekatan budaya dalam resolusi konflik. Sebagai contoh proses penyelesaian konflik yang berkembang dalam masyarakat diselesaikan melalui kerangka adat yang berkoherensi dengan nilai-nilai agama. Pelaksanaan di’iet, sayam, suloh, dan peumat jaroe adalah proses penyelesaian konflik berbasis adat yang sudah lama mengakar dalam masyarakat di Aceh. Tradisi ini merupakan proses penyelesaian konflik yang sangat demokratis tanpa terjadinya pertumpahan darah dan dendam antara kedua pihak yang berseteru, baik vertikal maupun horizontal. Semua proses upaya damai melibatkan institusi adat dan budaya dalam penyelesaian kasus pidana, bertujuan untuk menghilangkan dendam antara pihak yang bertikai (S. Abbas dan A. Arida, 2006).
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Farizal Hadi, S.Pd.I I

121

Penyelesaian konflik dengan pola di’iet ditujukan untuk menghilangkan dendam dan rasa permusuhan berkepanjangan antara para pihak bertikai yang telah mengakibatkan kekerasan dan bahkan pembunuhan. Sedangkan sayam bagi masyarakat Aceh bersumber dari adagium yang sudah dikenal lama yaitu “luka disipat, darah disukat”. Makna adagium ini adalah luka akibat penganiayaan atau kekerasaan harus diperhitungkan, demikian pula tumpahnya darah juga harus diperhitungkan. Pandangan ini mengindikasikan bahwa masyarakat Aceh betul-betul memberikan penghargaan dan perlindungan yang tinggi terhadap tubuh manusia, sebagai ciptaan Allah. Sedangkan suloh, menurut R. A. Muhammad (2005; 335), lebih diarahkan sebagai upaya perdamaian di luar kasus-kasus pidana, tetapi mengarah kepada kasus perdata yang tidak melukai anggota tubuh manusia. Kasus-kasus perdata yang diselesaikan melalui suloh umumnya berkaitan dengan perebutan sentra-sentra ekonomi seperti batas tanah, tali air di sawah, lapak tempat berjualan, daerah aliran sungai tempat menangkap ikan (seuneubok) dan lainlain. Penyelesaian seperti ini biasanya untuk kasus-kasus sangat ringan dan cukup dengan bersalam-salaman (peumat jaroe). Proses implementasi dan sosialisasi penanaman nilai-nilai multikultur dalam budaya Aceh untuk menjaga perdamaian dapat dilakukan pada dua lembaga. Pertama, pendidikan formal, yaitu pendidikan mulai dari Sekolah Dasar (SD) sampai Perguruan Tinggi (PT). Yakni dengan memasukkan kurikulum pendidikan damai di sekolah-sekolah sejak dari SD sampai PT, sebagaimana Siaga Bencana
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

122 I Mengembalikan Kosmopolitan Aceh telah menjadi bagian dari kurikulum sebagian sekolah di Aceh. Pendidikan multikultur atau pendidikan damai yang terintegralkan dalam kurikulum, dapat dimasukkan dalam muatan lokal atau bidang studi tambahan. Sejalan dengan itu untuk memajukan kajian konflik dan perdamaian, di Perguruan Tinggi juga dapat dibuka strata dua (S2) atau Magister Resolusi Konflik di Unsyiah atau IAIN Ar-Raniry sebagaimana telah dilakukan di Universitas Gajah Mada, Universitas Indonesia dan beberapa perguruan tinggi lain di Indonesia. Di bawah ini akan dipaparkan tema-tema pokok yang dapat diadaptasi dan diajarkan dalam kurikulum pendidikan multikultural untuk menjaga perdamaian. Tema-tema tersebut tentunya harus disesuaikan dengan tingkat pendidikan dari yang paling rendah sampai paling tinggi. Untuk mendukung proses implemensi sudah waktunya Dinas Pendidikan Aceh bekerjasama dengan Kementerian Agama untuk membuat semacam buku ajar atau modul tentang pendidikan multikultural terutama yang terkait dengan perdamaian. Tema-Tema Pokok Pendidikan Multikultural No 1 2 3 4 5 Tema-Tema Perkuliahan Syariat Islam dan Multikultural Kosmopolitanisme dan Egalitarianisme Toleransi, Demokrasi dan HAM Keragaman, budaya, suku, bahasa dan agama Perdamaian dalam budaya Aceh; di’iet, sayam, suloh dan peumat jaroe Keterangan

Sumber : Diadaptasi dari berbagai sumber.
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Farizal Hadi, S.Pd.I I

123

Kedua, lembaga adat yang ada di Aceh. Lembaga-lembaga yang dapat berperan aktif antara lain Majelis Adat Aceh, Imum Mukim, Imum Chik, Keuchik, Tuha Peut, Tuha Lapan, Imum Meunasah, Keujreun Blang, Panglima Laot, Pawang Glee, Peutua Seuneubok, Haria Peukan, Syahbandar (UU No. 11 Tahun 2006). Lembagalembaga adat ini memiliki wewenang untuk menyelesaikan masalah sosial kemasyarakatan dan menyelesaikan sengketa atau mendamaikan para pihak yang bersengketa di wilayahnya (sebagai hakim perdamaian), (Himpunan Undang-Undang, 2004; 77-78). Ketiga, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Pascatsunami, peran LSM cukup signifikan dalam mensosialisasikan nilai-nilai perdamaian pada masyarakat baik LSM lokal, nasional maupun internasional. Proses sosialisasi ini dapat dilakukan melalui workshop, pelatihan, Focus Group Diskusi dan sebagainya. Sejalan dengan hal itu, pendidikan multikultural ini selanjutnya akan memberi pengaruh yang besar bagi langgengnya perdamaian yang telah lama didambakan oleh seluruh masyarakat. Terwujudnya kondisi damai di Aceh akan memberikan efek positif bagi kemajuan dan pembangunan sektor-sektor lainnya seperti pendidikan, ekonomi, sosial, hukum, budaya dan sebagianya. Dengan begitu, masa kejayaan dan kompolitan Aceh seperti pernah ditoreh di masa lalu akan kembali terwujud di Aceh. Sebaliknya jika perdamaian tidak dapat dipertahankan, maka Aceh akan kembali menjadi wilayah menakutkan dan memilukan yang mengantarkan masyarakatnya ke jurang kehancuran.

menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

124 I Mengembalikan Kosmopolitan Aceh E. Penutup

Patut dicatat bahwa multikultural tidak akan dapat dipahami dan dijalankan di tengah masyarakat kecuali melalui proses pendidikan. Karena pendidikan adalah cara efektif dan tepat untuk meneruskan, melanggengkan, mengawetkan, dan mengonservasi tradisi multikultur dari satu generasi ke generasi berikutnya dari abad satu ke abad yang lain. Pendidikan multikultur akan melahirkan peserta didik yang menghargai keberagaman, menghormati perbedaan etnis, bahasa, agama, penghargaan terhadap nilai-nilai egalitarian, kosmopolit, toleransi. Perdamaian akan tercipta dalam masyarakat karena didukung oleh nilai-nilai tersebut. Perdamaian Aceh akan berkesinambungan karena muncul dari bawah, tidak dipaksakan dari atas. Sejalan dengan itu, masyarakat Aceh sejak dulu telah memiliki sifat dan nilai-nilai multikultural yang tertanam begitu kuat. Perang dan konflik telah mengoyak dan mengikis sifat tersebut. Pasca MoU Helsinki, babak baru perdamaian Aceh kembali dirajut dalam bingkai NKRI. Budaya multikultural di Aceh yang terkikis akibat konflik, saat ini semua pihak harus merevitalisasi nilai-nilai egalitarian, toleran, demokratis dan sebagainya. Pada konteks ini masyarakat akan merasakan betapa pentingnya pendidikan multikultural. Untuk mewujudkan hal tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan, tetapi dibutuhkan strategi dan instrumen yang tepat yakni melalui pendidikan formal, lembaga adat dan LSM. Karena pendidikan merupakan lokomatif paling kuat dan

m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Farizal Hadi, S.Pd.I I

125

efektif untuk menarik gerbong-gerbong masyarakat dan seluruh komponennya kepada rel perdamaian sejati. Kemudian lembaga adat bisa melakukan pendekatan budaya dalam masyarakat. Sedangkan, LSM dapat mentransformasi masyarakat ke arah kesejahteraan secara cepat tanpa harus melalui kendala birokrasi yang terkadang berbelit-belit. Selanjutnya, tidak lupa pula diingatkan bahwa seluruh elemen pemerintah dan masyarakat untuk saling bersinergis untuk mewujudkan perdamaian tersebut. Apabila itu semua dilaksanakan, kejayaan yang pernah ditoreh para indatu bangsa Aceh dulu akan tercapai. []

menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

126 I Mengembalikan Kosmopolitan Aceh

Kepustakaan
Azyumardi Azra,”Keragaman Indonesia: Pancasila dan Multikulturalisme”, makalah yang disampaikan pada Semiloka Nasional “Keragaman Suku, Agama, Ras, Gender sebagai Modal Sosial untuk Demokrasi dan Masyarakat Madani: Resiko, tantangan dan Peluang”. Diselenggaran oleh Fakultas Psikologi UGM dengan Institute for Community Behavioral Change (ICBC) dan Konrad Adenauer Stiftung (KAS) di Yogyakarta 13 Agustus 2007. Gustiana Isya Marjani, Multikulturalisme dan Pendidikan: Relevansi Pendidikan dalam Membangun Wacana Multikulturalisme di Indonesia, Makalah pada Annual Conference on Islamic Studies (ACIS) IX, di Surakarta, tanggal 2-5 Nopember 2009. Junus Melalatoa, Memahani Aceh dari Perspektif Budaya dalam Sardono W. Kusumo dkk., Aceh Kembali ke Masa Depan, Jakarta: IKJ Press, 2005. Kong Yuangzhi, Muslim Tionghoa Cheng Ho: Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara, Jakarat: Pustaka Populer Obor, 2000. Muhammad Zainuddin, Tarich Atjeh dan Nusantara, Jilid I, Cet. I; Medan: Iskandarmuda, 1961. M. Amin Abdullah, Pendidikan Agama Era MultikulturalMultireligius, Jakarta: PSAP Muhammadiyah, 2005.

Rusjdi Ali Muhammad, Peranan Budaya dalam Merajut Kedamaian dan Silaturrahmi, dalam Darni Daud dkk. (Editor), Budaya Aceh, Dinamika Sejarah dan Globalisasi, Banda Aceh: Unsyiah Press, 2005. Serambi Indonesia, Edisi, 9 April 2006. Syahrizal Abbas dan Agustina Arida, Pola Penyelesaian Konflik dalam Tradisi Masyarakat Gampong, Jurnal Sumike, Volume II, 2006.
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Farizal Hadi, S.Pd.I I

127

Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonensia, Jakarta: Balai Pustaka, 2008. Undang-Undang Republik Indonesia, Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Undang-Undang Republik Indonesia, Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

Menjaga Perdamaian Aceh
Hammaddin

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu seorang laki–laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa–bangsa dan bersuku–suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujaraat: 13).

Aceh adalah bagian wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang terletak di ujung paling barat Pulau Andalas (baca; Pulau Sumatra). Presiden pertama Indonesia, Soekarno, menyebutnya, sebagai “daerah modal perjuangan rakyat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan republik ini”. Sejarah perjuangan Indonesia telah dicatat dengan tinta emas, bagaimana besarnya peranan rakyat Aceh dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan republik ini. Aceh dalam konteks ini bukanlah suku, tapi bangsa yang di dalamnya terdapat beberapa suku dengan 11 dialek bahasa (Aceh, Gayo, Alas, Tamiang, Aneuk Jamee, Kluet, Singkil, Haloban, Simeulue, Devayan dan Sigulai). Selain itu ada juga suku–suku pendatang yang telah lama menetap di wilayah Aceh. Penduduk Aceh adalah masyarakat majemuk dan dikenal 129

130 I Menjaga Perdamaian Aceh dengan berbagai corak dan warna suku bangsa, memiliki latar belakang sejarah, budaya yang beraneka ragam antara satu suku dan suku lain. Namun, semua itu punya satu arti, yaitu kesatuan, tidak terpecah–belah antara satu suku dan suku lain. Perbedaan tersebut ditambah dengan keindahan alam yang mempesona, berbeda antara satu daerah dan daerah lain. Potensi Konflik Keberagaman suku (multikultur) rentan terjadi konflik bila tak diantisipasi sejak dini. Tetapi sejarah telah mencatat, sebagian besar pemicu konflik yang terjadi bukan karena pertarungan antarsuka bangsa yang ada, melainkan ketidakadilan yang diperoleh masyarakat. Aceh telah melewati berbagai konflik sejak zaman penjajahan Belanda dan Jepang, masa perang kemerdekaan, DI/ TII, Peristiwa G30S/PKI, Daerah Operasi Militer (DOM), dan kondisi yang tidak kondusif pascaDOM, pemberlakuan Darurat Militer I dan II, Darurat Sipil I dan II sampai akhirnya bencana dahsyat gempa bumi dan tsunami melanda pada 26 Desember 2004. Aceh pascatsunami menjadi perhatian dari masyarakat dunia. Aceh yang semula secara politik daerah tertutup menjadi terbuka. Hikmah di balik bencana itu melahirkan perdamaian dengan ditandatanganinya Memorandum of Understanding (MoU) antara Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Helsinki, ibukota Finlandia, pada 15 Agustus 2005. Dampak goresan sejarah itu telah mengubah tatanan kehidupan sosial, ekonomi, budaya dan lingkungan masyarakat Aceh. Puncak
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Hammaddin I

131

perubahan itu terjadi ketika proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascatsunami di Aceh. Dalam kondisi itu, rakyat Aceh tak lagi kritis dan analitis melihat berbagai perubahan perkembangan yang begitu cepat terjadi, munculnya prinsip serba boleh (permisif) dan serba bebas (liberalis) di tengah kehidupan masyarakat. Perdamaian Anugerah terbesar bagi masyarakat Aceh adalah perdamaian, yang merupakan implementasi MoU Helsinki antara RI dan GAM. MoU itu disepakati untuk mengakhiri konflik bersenjata yang selama ini sangat menghantui kehidupan masyarakat Aceh yang diperkirakan puluhan ribu jiwa manusia meninggal dunia selama hampir 30 tahun masa konflik itu. Perdamaian bisa saja nanti hanya menjadi sebuah kenangan indah di daerah ini bila tidak adanya keadilan dan kesejahateraan dalam lingkungan pergaulan rakyat Aceh sendiri. Harus diakui sejujurnya, bahwa masih banyak masalah dan tantangan dihadapi rakyat Aceh. Yang paling akut adalah munculnya budaya mau menang sendiri dan ingin terus berkuasa yang berimbas kepada kentalnya budaya korupsi, kolusi dan nepotisme tanpa mementingkan keadilan dan kesejahteraan rakyat Aceh yang terdiri dari berbagai etnis (baik pendatang maupun suku asli menetap lama di wilayah Aceh). Hal tersebut sudah merasuki tidak hanya pada grass root level, tapi juga menggejala pada middle dan elit level. Akhirnya, rasa sakit hati yang semakin menumpuk, sangat berbahaya bagi keutuhan perdamaian di Aceh.

menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

132 I Menjaga Perdamaian Aceh Pendidikan Multikultur Bila kondisi di atas terus berkembang dalam tatanan pergaulan sosial, budaya, politik dan ekonomi, maka perdamaian yang sekarang sedang dinikmati rakyat Aceh akan tinggal sebuah kenangan manis. Mungkin kasus di Kalimantan (Dayak vs Madura) atau konflik Bosnia - Serbia akan terjadi di Aceh. Nauzubillahminzalik… Untuk mengantispasi hal itu terjadi, jalur dunia pendidikan sangat efektif dan efesien meredamnya. Pendidikan merupakan persoalan yang sangat primer bagi anak manusia. Wajar bila pendidikan sebagai sebuah harapan untuk mengembangkan potensi individu dan masyarakat. Tingkat dan cara pendidikan akan memengaruhi cara anak manusia dalam berinteraksi, baik dengan sesama mahluk hidup, alam dan Sang Khalik penciptanya. Pendidikan dalam hal ini bukan menekankan pada kecerdasan intelek semata, tapi lebih menekankan kecerdasan sosial. Harus diakui bahwa orientasi pendidikan kita lebih menekankan pada kemampuan intelek yang menjurus kepada sistem pendidikan barat, dimana lebih banyak diadopsi oleh seluruh negera di dunia, hanya mengajarkan manusia berkompetensi (bersaing) dan mengejar materialistic superiority (superioritas materialistis). Dalam sistem ini, manusia digiring untuk berlomba mencapai posisi superior dalam bidang ekonomi dan teknologi. Maka akan berlaku hukum rimba, siapa yang kuat dialah yang berkuasa. Akhirnya, rentan terjadi konflik dalam mendapatkan impian atau harapan dengan menghalalkan segala cara untuk meraihnya. Pendidikan yang berorientasi kecerdasan sosial, secara tak
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Hammaddin I

133

langsung telah menekankan pada kecerdasan intelek. Karena kita mengetahui bahwa kecerdasan sosial adalah ukuran kemampuan diri seseorang dalam pergaulan di tengah masyarakat dan kemampuan berinteraksi sosial dengan orang–orang di sekitarnya. Orang yang punya kecerdasan sosial lebih humanis dibandingkan orang yang hanya memiliki kemampuan intelek dalam memulai berinteraksi dengan seseorang atau kelompok etnis tertentu. Karena kecerdasan sosial dibangun antara lain atas kemampuan inti untuk mengenal perbedaan. Secara khusus perbedaan besar dalam suasana hati, temperamen, motivasi, dan kehendak. Dalam dimensi lebih maju, kecerdasan sosial ini memungkinkan orang membaca kehendak dan keinginan orang lain, bahkan keinginan itu disembunyikan. Kecerdasan sosial juga mencakup kemampuan bernegoisasi, mengatasi segala konflik, kesalahan dan situasi yang timbul dalam proses negoisasi. Orang yang memiliki kecerdasan sosial yang tinggi juga sanggup berperan sebagai teman bicara, sekaligus pendengar yang baik, bukan hanya sekedar bicara tapi lebih kental dalam aksinya. Dalam pendidikan yang menekankan kecerdasan sosial kata hati sangat penting karena hati adalah aset paling berharga. Sedangkan paradigma ibarat kacamata yang memengaruhi cara kita melihat atau bertindak. Mengacu pada kefitrahan hati, manusia dilahirkan dalam kondisi kejernihan hati (fitrah). Namun, pendidikan yang menekankan keintelekan semata dan pengalaman telah begitu kuat berperan dalam menciptakan bayangan paradigma. Belenggu atau
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

134 I Menjaga Perdamaian Aceh bayangan paradigma itu menutup penglihatan kita yang murni, sehingga seringkali tak mampu melihat sesuatu secara obyektif. Kurikulum Pendidikan Keberagaman etnis di Aceh sangat potensial untuk terjadi benturan (konflik). Dalam hal ini bisa terjadi konflik horizontal (antar suku), yang lebih dahsyat dibanding konflik vertikal. Maka sangat diperlukan pengetahun tentang multikultural dimasukkan dalam kurikulum pendidikan muatan lokal di Aceh, mulai dari sekolah dasar sampai ke perguruan tinggi. Pendidikan tentang itu tidak hanya harus dijenjang formal tapi juga di jalur pendidikan informal. Secara umum kurikulum tersebut mengisyaratkan bahwa semua suku itu adalah sama. Artinya tak ada diskriminasi dalam memberlakukan keberadaan etnis tertentu yang ada di wilayah pemerintahan Aceh, dan semua suku yang ada di Aceh berhak mewarnai dinamika sosial, budaya, politik dan ekonomi untuk mencapai Aceh yang bermartabat. Penerapan pendidikan multikultural dalam kurikulum pendidikan formal dan informal di Aceh secara otomatis akan memunculkan sikap tidak mentolerir kekerasan atas nama budaya apapun bentuknya, karena pada setiap kebudayaan mengajarkan dan menyuruh menghindari kekerasan. Selanjutnya, akan menumbuhkan toleransi dengan menyikapi perbedaan karena semua suku itu adalah sama. Akhirnya mengembangkan budaya damai.
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Hammaddin I

135

Penutup Semua ini kembali pada Pemerintahan Aceh sebagai pemegang oteriter tertinggi kekuasaan, dengan didukung seluruh komponen rakyat Aceh tanpa melihat baju etnis yang pakai. Selain itu, adanya kemauan yang besar untuk menjaga perdamaian di Aceh. Secara khusus, semua itu akan bermuara kepada kebijakan pemerintah untuk menindak tegas siapa pun yang menimbulkan masalah dan menyelesaikan akar masalah. Sehingga tidak memunculkan masalah seperti bola salju atau seperti api dalam sekam yang bisa meledak kapan saja. Untuk membawa perdamaian Aceh ke masa depan yang penuh tantangan, hanya dapat diatasi dengan selamat, sebesar mungkin sikap ilmiah, rasional, keterbukaan, kesediaan menerima kritikan dan koreksi, dengan pola yang horizontal dan egaliter agar terbuka, kemungkinan mengeluarkan pikiran alternatif lewat proses kreatif yang bebas oleh sebanyak mungkin orang dalam struktur demokrasi dan tak mengenyampingkan hak asasi manusia.[]

menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

Multikultural untuk Aceh Damai
Eli Nurliza, S.Pd Guru Madrasah Aliyah Darul ‘Ulum, Banda Aceh
Pasca penandatanganan perjanjian perdamaian antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), telah mengubah wajah Aceh. Benih-benih konflik melunak seiring terciptanya kepercayaan kedua pihak. Win-win solution yang ditawarkan memberikan secercah harapan untuk memajukan Aceh ke arah lebih baik. Seiring berjalannya proses perdamaian, membuat Aceh bangkit dari keterpurukan. Bayangkan saja, hampir 30 tahun Aceh larut dalam konflik, ditambah lagi bencana gempa dan tsunami yang meluluhlantakkan sendi-sendi kehidupan masyarakat. Banyak yang menjadi korban dari kejadian ini. Tidak hanya infrastruktur, tapi juga multikultur sebagai imbas dari beberapa deret tragedi. Maka selayaknya generasi penerus menjaga dan mempertahankan serta melestarikannya, agar perdamaian tumbuh subur untuk selamanya di Aceh. Dengan begitu, perdamaian tidak hanya dinikmati oleh orangorang yang tinggal pada masa sekarang, tapi juga bisa dirasakan oleh anak cucu di kemudian hari. Menjaga dan memelihara perdamaian bukanlah perkara mudah. Bekas luka-luka konflik 137

138 I Multikultural untuk Aceh Damai bisa mengancam langgengnya perdamaian apabila tidak bisa disikapi secara bijaksana. Langkah-langkah strategis yang dilakukan pemerintah sudah diterapkan, untuk meredam perasaan ketidaksenangan masyarakat Aceh kepada pemerintah pusat. Hal ini dapat dilihat dari pengalaman sejarah pemberontakan Aceh yang dilandasi oleh ketidakseriusan pemerintah dalam menangani permasalahan yang terjadi. Catatan sejarah membuktikan bahwa pendekatan militer ternyata gagal memberikan solusi yang tepat untuk penyelesaian menyuruh masalah di Aceh, tapi malah melahirkan konflik baru. Terkait multikultur menjadi bahan perbincangan menarik untuk menjaga perdamaian. Aceh terkenal dengan culture (budaya) yang jamak sehingga tepat dijadikan alat untuk merawat perdamaian. Multikultural berasal dari dua kata; multi (banyak/ beragam) dan cultural (budaya atau kebudayaan), yang secara etimologi berarti keberagaman budaya yang meliputi semua sisi kehidupan manusia dan melahirkan banyak wajah seperti sejarah, pemikiran, budaya verbal, bahasa, karakter, adat dan lain-lain. Aceh yang terletak di ujung Pulau Sumatra, adalah bagian paling utara dan paling barat dari Kepulauan Indonesia atau antara 95° 13’ dan 98° 17’ Bujur Timur dan antara 2° 48’ dan 5° 40’ Lintang Utara. Di sebelah Barat, terbentang Lautan Hindia, sementara di sebelah utara dan timurnya terletak Selat Malaka. Dalam posisi geografisnya demikian atau sebagai gerbang sebelah barat untuk masuk ke Nusantara, menjadikan Aceh sarat dengan kontak budaya dan pengaruh luar (Nyakpha dan Sufi, 2000:2).
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Eli Nurliza, S.Pd I

139

Luas Aceh yang mencapai 55.390 km² dan berpenduduk 4.010.865 (Sensus 2000 dalam Harun, 2010:1) yang dihuni berbagai etnis semakin menambah keragaman khasanah budaya, tak sebatas kesenian dan bahasa yang sering digunakan dalam upacaraupacara adat, bahkan lebih dari itu. Pengenalan multikultur sudah sepatutnya dipahami secara luas, bukan secara sempit. Pascaperdamaian dan tsunami telah melahirkan budayabudaya baru di lingkungan masyarakat Aceh. Banyaknya Lembaga Swadaya Masyarakat baik yang bertaraf lokal, nasional bahkan internasional secara tidak sengaja turut mempengaruhi perubahan budaya. Disadari atau tidak pola pikir masyarakat yang bersifat gotong royong, musyawarah dan demokratis terasa mulai luntur seiring terkontaminasinya kehidupan budaya Aceh. Menurut analisa penulis, lunturnya kebudayaan disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, konflik berkepanjangan. Aceh telah mengalami peperangan sejak invansi Belanda. Hasil bumi yang melimpah membuat mata dunia “ngiler” akan kondisi alam di Aceh. Tidak hanya itu, letak Aceh yang sangat strategis menjadikannya sebagai tempat hilir mudiknya kapal-kapal yang melintas di kawasan itu. Sehingga negara-negara luar ingin “mempersunting” Aceh sebagai daerah ekspansi kekuasaannya. Pengalaman sejarah membuktikan butuh pengorbanan luar biasa untuk menaklukan kedaulatan Aceh. Bermacam cara digunakan mulai dari yang bersifat hard power (kekerasan) sampai soft power (lunak/lembut). Tujuannya hanya satu: memiliki Aceh. Namun, itu tidak bisa menaklukkan Aceh.
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

140 I Multikultural untuk Aceh Damai Tercatat dalam sejarah bahwa wilayah Aceh hanya bisa diduduki oleh bangsa luar sekitar 50 tahun saja. Bayangkan dengan daerah lain di Nusantara yang mencapai 350 tahun lebih pendudukan penjajah. Konflik Aceh tak cukup sampai di situ. Konflik pascakemerdekaan yang notabene didalangi oleh orang-orang negeri sendiri telah memberikan luka sendiri bagi para korbannya. Hak-hak yang seharusnya menjadi milik masyarakat telah dikebiri oleh pemerintah pusat sehingga akhirnya pemberontakan pun terjadi. Menurut para ahli sejarah, konflik yang terjadi bukan didasari tabiat kegemaran masyarakat Aceh akan peperangan, tetapi hak-haknya selaku daerah yang kaya tidak terpenuhi. Kedua, bencana gempa dan tsunami. Kejadian 26 Desember 2004, memberi dampak luar biasa bagi kelangsungan hidup dan bermasyarakat di Aceh. Kehancuran infrastruktur tak terhingga kerugiannya. Korban jiwa hampir mencapai 200.000 orang, rumah yang menjadi tempat tinggal musnah disapu arus tsunami. Tapi, ada setitik keberkahan dari teguran alam itu yaitu terwujudnya perdamaian di Aceh. Memperoleh sesuatu jauh lebih mudah daripada mempertahankan. Ini ungkapan yang sering dilontarkan untuk mengingat kembali bahwa begitu berartinya perdamaian yang telah dicapai pada 15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia. Mempertahankan perdamaian bukan tugas segelintir orang, namun tugas dan kewajiban seluruh lapisan masyarakat. Salah satu usaha yang harus dilakukan agar perdamaian dapat terus dinikmati sepanjang masa adalah dengan membimbing
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Eli Nurliza, S.Pd I

141

generasi muda melalui pendidikan. Tolak ukur keadaan bangsa ke depan dapat dilihat dari keadaan generasi saat ini. Pentingnya menanamkan nilai pendidikan karena, menurut Said Hamid dan dkk (2010: 3), pendidikan merupakan upaya terencana dalam mengembangkan potensi, sehingga punya sistem berpikir, nilai, moral, dan keyakinan yang diwariskan masyarakatnya dan mengembangkan warisan tersebut ke arah yang sesuai untuk kehidupan masa kini dan mendatang. Salah satu yang harus dilaksanakan adalah pendidikan multikultur. Secara tidak langsung kita memang sudah berada dalam kehidupan masyarakat yang multikultur. Kesadaran ini harus ditumbuhkan secara khusus dalam upaya melanggengkan perdamaian Aceh. Artinya, diberikan pendidikan berencana baik secara formal atau informal. Namun, sangat disayangkan berdasarkan survei yang dilakukan peneliti Institute for Education Reform (IER) Universitas Paramadina, Retno Listyarti terhadap 21 buku teks PKn SMA Kelas 1-3, tidak terdapat satu kata pun yang menyebut multikultur. Beragam konflik multikultural baik kasus nasional atau internasional hendaknya menjadi keprihatinan bagi para pendidik sehingga pembelajaran multikultur penting diterapkan sejak dini untuk meminimalkan atau mencegah konflik serupa. Sekolah adalah satu tempat memberikan pemahaman multikultur terhadap peserta didik yang akan menjadi generasi penerus ke depan. Hal ini karena sekolah sebagai sarana belajar yang kompleks. Di sekolah, peserta didik belajar berinteraksi
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

142 I Multikultural untuk Aceh Damai dengan teman yang berbeda bahasa, budaya, latar belakang keluarga, pola pikir, dan banyak perbedaan lain. Ketika perbedaan ini tidak diarahkan ke arah positif maka akan timbul benih-benih perselisihan. Perumpamaan suatu luka kecil yang ganas kalau tidak diobati akan menjadi luka besar sangat cocok dalam hal ini. Contoh halhal sederhana dalam lingkungan sekolah dapat menyebabkan perselisihan. Peserta didik yang berasal dari Meulaboh atau Aceh Besar, ketika bertutur dalam dialeg Aceh, konsonan ‘r’ pengucapannya tidak sesuai dengan fonologi dalam bahasa Indonesia. Tidak jarang banyak peserta daerah lain yang terlibat memperolok-olok ketika mendengar ucapan tersebut. Ungkapan tersebut misalnya, blo bôh grambot sigreube (beli rambutan seribu). Seharusnya pemahaman yang dimiliki oleh peserta didik adalah kebanggaan karena Aceh kaya budaya berupa bahasa. Pendidikan multikultur dapat menyadarkan mereka bahwa begitu indahnya perbedaan bahasa yang dapat menambah wawasan. Dalam dunia pendidikan formal, sekolah merupakan tempat berkumpulnya siswa dari berbagai latar belakang. Peserta didik yang berlatar belakang konflik atau tsunami biasanya memiliki trauma yang tinggi. Misalnya, trauma di kepala dan pencekikan atau tenggelam, yang dapat mempengaruhi fungsi kognitif, labilitas emosional, dan perilaku. Dengan berbagai macam latar belakang seperti itu sehingga di sekolah tak semua peserta didik berkemampuan sama atau standar. Secara psikologi sosial dikenal istilah disability, artinya
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Eli Nurliza, S.Pd I

143

terdapat kondisi fisik dan mental yang membuat seseorang kesulitan mengerjakan sesuatu yang orang kebanyakan dapat mengerjakannya dengan mudah. Pendidik mempunyai peran besar dalam meningkatkan motivasi terhadap peserta didik yang memiliki kemampuan di bawah standar. Ketika berada di kelas sebagai pendidik jangan terus menonjolkan siswa yang pandai saja, sehingga lupa memberikan apresiasi terhadap peserta didik yang di bawah standar. Sikap ini akan berefek terhadap peserta didik. Peserta didik yang pandai akan merasa dirinya paling bisa sehingga dia lalai dan tak dapat berprestasi secara optimal, sementara siswa di bawah standar semakin tidak termotivasi untuk belajar. Keadaan ini akan menjalar ke arah perbedaan sosial. Peserta didik yang pandai hanya akan berkawan dengan peserta didik lain yang pandai juga, yang kaya akan berteman dengan sesama kaya, yang kurang pandai akan berkawan dengan sesamanya. Ketika sudah adanya kabilah/kasta-kasta sosial dalam pergaulan maka ini adalah awal perpecahan yang dapat menimbulkan konflik baru. Untuk itu, sebagai pendidik tidak menciptakan perbedaan sehingga setiap peserta didik sadar bahwa ketidakmampuan sesorang dalam bidang tertentu bukan berarti gagal dalam hal lain. (Rohidi menegaskan, dan Tilaar, 2002) dengan dalam artikel supramono multikultural pendidikan pendekatan

sangat tepat diterapkan di Indonesia untuk pembentukan karakter generasi bangsa yang kokoh berdasarkan pengakuan keragaman. Dalam penerapannya harus luwes, bertahap, dan tidak indoktriner. Implementasinya menyesuaikan dengan situasi dan
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

144 I Multikultural untuk Aceh Damai kondisi sekolah. Pendekatan multikulturalisme erat dengan nilainilai dan pembiasaan sehingga perlu wawasan dan pemahaman untuk diterapkan dalam pembelajaran, tauladan, maupun perilaku harian. Proses itu diharapkan mampu mengembangkan kepekaan rasa, apresiasi positif, dan daya kreatif. Kompetensi guru, orang tua dan masyarakat menjadi sangat penting sebagai motor pendidikan dengan pendekatan multikulural. Uraian di atas sebagai referensi bahwa pendidikan multikultur sangat penting diberikan kepada peserta didik sebagai generasi penerus masa depan Aceh dalam mewarisi perdamaian. Pendidikan multikultur perlu diperkenalkan sejak dini agar perdamaian Aceh tetap terjaga.[]

m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Eli Nurliza, S.Pd I

145

DAFTAR PUSTAKA
Harun, Mohd. 2009. Memahami Orang Aceh. Bandung: Citapustaka Media Perintis. Hasan, Said Hamit. Dkk. 2010. Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum. Nyakpha, M. Hakim & Rusdi Sufi. 2000. Adat dan Budaya Aceh. Banda Aceh: PT. Diprotama Selaras. Margaret Puspitarini. 2011. Buku PKn SMA Tak Membahas Multikultural. Indonesia News dan Entertainment Online, (http://www.okezone.com., diakses 27 Juni 2011) Supramono. 2010. Guru dalam Pendidikan Multikultural (2). Dalam Majalah Merah Putih. 3 Januari 2010

menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

Pembelajaran Usai Konflik
Zulfadli, ST Guru SMA Negeri 1 Peulimbang

Aceh adalah satu daerah yang berada dalam ketidakpastian ketika terjadinya konflik bersenjata antara GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dan Indonesia. Hampir semua aktifitas masyarakat lumpuh. Masyarakat saat itu hanya bisa berdiam diri dan berdoa agar konflik cepat berakhir. Ketakutan dan tekanan pada masa konflik berefek pada kegiatan ekonomi, pendidikan, keagamaan dan hampir semua sektor terganggu. Kala itu, perbedaan etnik jadi masalah besar. GAM menganggap suku Jawa sebagai penjajah dan pengkhianat bangsa Aceh. Sehingga sebagian besar masyarakat beretnis Jawa harus hengkang dari Aceh. Banyak perusahaan di Aceh terpaksa menghentikan kegiatan industrinya. Ladang yang dikelola warga transmigran bersuku Jawa terbengkalai karena ditinggal pemiliknya. Dunia pendidikan juga carut marut saat itu. Ratusan sekolah dibakar, banyak anak- anak Aceh putus sekolah. Sebagian sekolah, proses belajar mengajar wajib dilaksanakan dalam bahasa Aceh dan diharamkan berbahasa Indonesia. Tak ada upacara bendera setiap Senin. Banyak lagi aturan lain yang membuat kegiatan belajar mengajar menjadi vakum. Kebencian terhadap suku lain khususnya 147

148 I Pembelajaran Usai Konflik etnis Jawa terus ditanamkan oleh orang yang tak bertanggung jawab. Banyak anak-anak usia sekolah yang terpengaruh sehingga akhirnya membenci suku dan agama lain. Setelah Memorandum of Understanding (MOU) antara Pemerintah Indonesia dan GAM ditandatangani di Helsinki, ibukota Finlandi, pada 15 Agustus 2005, barulah warga Aceh merasa agak lega. Perekonomian dan pendidikan berangsur-angsur mulai membaik. Masyarakat secara perlahan sudah dapat beraktifitas seperti sedia kala. Masyarakat Aceh sangat berharap konflik jangan pernah terulang lagi. Perdamaian yang telah terwujud diharapkan bisa berlangsung untuk selamanya. Pendidikan di Aceh harus segera dibangkitkan kembali pascakonflik. Sudah saatnya pendidikan multikultural diintegrasikan dalam pembelajaran sekolah-sekolah di Aceh. Hal ini dipandang perlu agar peserta didik memiliki kepekaan dalam menghadapi gejala- gejala dan masalah sosial yang berakar pada perbedaan suku, ras, agama, dan tata nilai yang terjadi pada lingkungan masyarakat. Secara teknis dapat diimplementasikan pada substansi, bahan ajar maupun model pembelajaran yang ada di sekolah. Wacana pendidikan multikultural pada awalnya muncul di Amerika Serikat (AS) yang memiliki akar sejarah dengan gerakan Hak Asasi Manusia (HAM) dari berbagai kelompok tertindas di negara tersebut. Banyak pendidikan multikultural yang merujuk pada gerakan sosial orang Amerika keturunan Afrika dan kelompok kulit berwarna lain yang mengalami praktik diskriminasi
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Zulfadli, ST I

149

di lembaga-lembaga publik pada masa perjuangan hak asasi era 1960-an. Di antara organisasi yang secara khusus disorot karena bermusuhan dengan ide persamaan ras saat itu adalah lembaga pendidikan. Pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, suara-suara yang menuntut lembaga-lembaga pendidikan konsisten dalam menerima dan menghargai perbedaan semakin gencar dikumandangkan aktivis, tokoh, dan orang tua. Mereka menuntut adanya persamaan kesempatan di bidang pekerjaan dan pendidikan. Momentum ini yang dianggap sebagai dari konseptualisasi pendidikan multikultural. Tahun 1980-an, dianggap sebagai kemunculan lembaga sekolah yang berlandaskan pendidikan multikultural yang didirikan para peneliti dan aktivis pendidikan progresif. Salah satu pioner pendidikan multikultural adalah James Bank. Pada 1990-an, pendidikan multikultural jadi slogan sangat populer. Konsep ini diterima sebagai strategi penting dalam mengembangkan toleransi dan sensitifitas terhadap sejarah dan budaya kelompok etnis yang beraneka ragam di negara ini. Pada Oktober 1994, UNESCO merekomendasikan ide pendidikan multikulturisme menjadi komitmen global di Jenewa. Rekomendasi itu memuat empat pesan. Pertama, pendidikan hendaknya mengembangkan kemampuan untuk mengakui dan menerima nilai-nilai yang ada dalam kebhinekaan pribadi, jenis kelamin, masyarakat dan budaya serta mengembangkan kemampuan untuk berkomunikasi, berbagi dan bekerja sama dengan yang lain. Kedua, pendidikan hendaknya meneguhkan
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

150 I Pembelajaran Usai Konflik jati diri dan mendorong konvergensi gagasan dan penyelesaianpenyelesaian yang memperkokoh perdamaian, persaudaraan dan solidaritas antara pribadi dan masyarakat. Ketiga, pendidikan hendaknya meningkatkan kemampuan menyelesaikan konflik secara damai tanpa kekerasan. Keempat, pendidikan hendaknya juga meningkatkan pengembangan kedamaian dalam pikiran peserta didik sehingga dengan demikian mereka mampu membangun secara lebih kokoh kualitas toleransi, kesabaran, kemauan untuk berbagi dan memelihara. Di Indonesia, pendidikan multikultural telah dituangkan dalam Pasal 4 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam pasal itu dijelaskan bahwa pendidikan diselenggarakan secara demokratis, tidak diskriminatif, dengan menjunjung tinggi HAM, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa. Integrasi pendidikan multikultural pada pembelajaran sekolah di Aceh pascakonflik sangat tepat. Imbas pendidikan dan pemahaman masa konflik telah banyak meracuni pemikiran peserta didik di Aceh. Dengan adanya pendidikan multikultural seyogyanya telah mampu mengubah mindset peserta didik di Aceh dalam menerima keberagaman perbedaan sosial di masyarakat. Integrasi pendidikan multikultural bisa dilakukan pada tingkat dasar dan menengah dengan mengimplementasikan pendidikan multikultural ke bahan ajar seperti ke dalam pelajaran agama, sosiologi, dan antropologi, dan dapat melalui model pembelajaran, seperti diskusi kelompok atau kegiatan ekstrakurikuler. Sekolah perlu diciptakan sebagai wahana simulasi terhadap berbagai
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Zulfadli, ST I

151

fenomena hidup dan kehidupan Indonesia yang serba plural dengan mengajarkan peserta didik bagaimana cara hidup saling menghormati, tulus, dan toleran terhadap keanekaragaman budaya di tengah masyarakat plural. Proses integrasi pendidikan multikultural pada sekolah di Aceh pascakonflik tidak mudah. Diperlukan koordinasi pihakpihak berkompeten seperti kementerian pendidikan, pemerintah daerah melalui dinas pendidikan untuk menyusun kurikulum dengan menambahkan materi-materi pembelajaran pendidikan multikultural apalagi masyarakat Indonesia yang heterogen, sistem pemerintahan secara demokrasi sangat memungkinkan untuk mengarahkan pendidikan multikultural ke dalam kurikulum pendidikan Indonesia. Ada beberapa pendekatan dalam proses pendidikan multikultural. Pertama, pandangan lebih luas mengenai pendidikan sebagai transmisi kebudayaan membebaskan pendidik dari asumsi bahwa tanggung jawab primer mengembangkan kompetensi kebudayaan di kalangan anak didik semata-mata berada di tangan mereka dan justru semakin banyak pihak yang bertanggung jawab karena program-program sekolah seharusnya terkait dengan pembelajaran informal di luar sekolah. Kedua, menghindari pandangan yang menyamakan kebudayaan-kebudayaan dengan kelompok etnik adalah sama. Artinya, tak perlu lagi mengasosiasikan kebudayaan semata-mata dengan kelompok-kelompok etnik sebagaimana yang terjadi selama ini. Secara tradisional, para pendidik mengasosiasikan kebudayaan
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

152 I Pembelajaran Usai Konflik hanya dengan kelompok-kelompok sosial yang relatif self sufficient, ketimbang dengan sejumlah orang yang secara terus menerus dan berulang-ulang terlibat satu sama lain dalam satu atau lebih kegiatan. Dalam konteks pendidikan multikultural, pendekatan ini diharapkan dapat mengilhami penyusun program-program pendidikan multikultural untuk melenyapkan kecenderungan memandang anak didik secara stereotip menurut identitas etnik mereka dan akan meningkatkan eksplorasi pemahaman yang lebih besar mengenai kesamaan dan perbedaan di kalangan anak didik dari berbagai kelompok etnik. Ketiga, karena pengembangan kompetensi dalam suatu kebudayaan baru biasanya membutuhkan interaksi inisiatif dengan orang-orang yang sudah memiliki kompetensi, bahkan dapat dilihat lebih jelas bahwa upaya-upaya untuk mendukung sekolah-sekolah yang terpisah secara etnik adalah antitesis terhadap tujuan pendidikan multikultural. Mempertahankan dan memperluas solidaritas kelompok adalah menghambat sosialisasi dalam kebudayaan baru. Pendidikan bagi pluralisme budaya dan pendidikan multikultural tidak dapat disamakan secara logis. Keempat, pendidikan multikultural meningkatkan kompetensi dalam beberapa kebudayaan. Kebudayaan mana yang akan diadopsi ditentukan oleh situasi. Pendidikan meningkatkan kesadaran tentang kompetensi dalam beberapa kebudayaan. Kesadaran seperti ini kemudian akan menjauhkan kita dari konsep dwi budaya atau dikotomi antara pribumi dan nonpribumi. Dikotomi semacam ini bersifat membatasi individu untuk sepenuhnya mengekpresikan
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Zulfadli, ST I

153

diversitas kebudayaan. Pendekatan ini meningkatkan kesadaran multikulturalisme sebagai pengalaman normal manusia. Ini mengandung makna bahwa pendidikan multikultural berpotensi untuk menghindari dikotomi dan mengembangkan apresiasi yang lebih baik melalui kompetensi kebudayaan pada diri anak didik. Kelima, pendekatan pendidikan multikultural di atas harus dikondisikan dengan masyarakat Indonesia. Masyarakat adalah kumpulan manusia atau individu-individu yang membentuk kelompok sosial dengan suatu tantangan budaya atau tradisi tertentu. Masyarakat tak ada dengan sendirinya. Masyarakat adalah ekstensi yang hidup, dinamis, dan selalu berkembang. Masyarakat bergantung pada upaya setiap individu untuk memenuhi kebutuhan melalui hubungan dengan individu lain yang berupaya memenuhi kebutuhan. Setiap masyarakat bertanggung jawab atas pembentukan pola tingkah laku antara individu dan komunitas yang membentuk masyarakat. Integrasi pendidikan multikultural pada pembelajaran sekolah di Aceh pascakonflik diperlukan juga dukungan masyarakat Aceh yang memiliki peranan dan pengaruh besar terhadap perkembangan intelektual dan kepribadian individu peserta didik. Jangan hanya menjadi tanggung jawab guru semata. Guru dalam fungsinya sebagai fasilitator dan mediator pembelajaran yang hanya memberikan penguatan agar pengalaman belajar yang diperoleh peserta didik bisa dikonstruksikan menjadi pengetahuan baru tentang nilai-nilai multikultural. Penyampaian materi pembelajaran pendidikan multikultural dalam proses pembelajaran dikemas
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

154 I Pembelajaran Usai Konflik secara menarik dan menyenangkan. Tidak menutup kemungkinan kelak generasi Aceh jadi generasi yang sadar budaya sehingga mampu menyandingkan keberagaman sebagai kekayaan budaya bangsa yang perlu dihormati dengan sikap toleran, tulus, dan jujur. Masa konflik telah cukup menjadi sejarah pahit penciptaan diskriminatif yang menyebabkan kehancuran cara berfikir generasi Aceh. Pendidikan multikultural sebagai salah satu solusi penyegaran kembali terhadap generasi Aceh sangat perlu diintegrasikan dalam pembelajaran sekolah di Aceh. Pascakonflik merupakan babak baru bangkitnya Aceh dari keterpurukan berfikir perbedaan. Pendidikan multikultural salah satu cara pendekatan progresif untuk melakukan transformasi pendidikan secara menyeluruh membongkar kekurangan, kegagalan, dan praktik-praktik diskriminatif dalam proses pendidikan. Pendidikan multikultural sangat menjunjung gagasan keadilan sosial dan persamaan hak dalam pendidikan. Dalam agama Islam yang hampir semua penduduk Aceh menganutnya tidak pernah membeda-bedakan etnik, ras, dan lain sebagainya dalam pendidikan. Manusia semuanya adalah sama, yang membedakan adalah ketakwaan mereka kepada Allah. Pendidikan multikultural mencerminkan bagaimana tingginya penghargaan Islam terhadap ilmu pengetahuan dan tidak ada perbedaan di antara manusia dalam bidang ilmu. Integrasi pendidikan multikultural pada pembelajaran sekolah di Aceh diharapkan dapat terwujud demi kelangsungan perdamaian sehingga Aceh bisa menapaki masa depan tanpa
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Zulfadli, ST I

155

kekerasan, teror, penindasan, dan diskriminatif terhadap etnik, ras, dan lainnya. Dukungan semua pihak secara tulus salah satu dasar penting cepat lambatnya integrasi pendidikan multikultural dapat diterapkan dalam pembelajaran sekolah di Aceh.[]

menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

Historis Budaya Aceh
Mukhtar AG, S.Pd.I, M.Pd

Aceh Multikultural Dari sebutan nama dan asal usulnya saja Aceh sudah beraroma “multikultural”. Peristilahan kosa kata “Aceh” memiliki keragaman sumber, sebutan dan makna. Beberapa sumber yang berhasil penulis himpun menunjukkan, bahwa Aceh (bahasa Belanda: Atchin atau Acheh, bahasa Inggris: Achin, bahasa Perancis: Achen atau Acheh, bahasa Arab: Asyi, bahasa Portugis: Achen atau Achem, bahasa Tionghoa: A-tsi atau Ache) yang sekarang dikenal sebagai Provinsi Aceh memiliki akar budaya bahasa dari keluarga bahasa Monk Khmer proto bahasa Melayu, dengan pembagian daerah bahasa lain seperti bagian Selatan menggunakan bahasa Aneuk Jame, sedangkan bagian Tengah, Tenggara, dan Timur menggunakan bahasa Gayo, untuk bagian tenggara menggunakan bahasa Alas, seterusnya bagian timur lebih ke timur lagi menggunakan bahasa Tamiang. Demikian pula dengan kelompok etnis Kluet yang berada bagian selatan menggunakan bahasa Kluet, sedangkan di Simeulue menggunakan bahasa Simeulue. Tapi, masing-masing bahasa setempat dapat dibagi pula menjadi dialek. Bahasa Aceh, misalnya, ketika berbicara terdapat 157

158 I Historis Budaya Aceh sedikit perbedaan antara Aceh Besar, Pidie, dan Aceh Utara. Begitu juga dalam bahasa Gayo, dimana terdapat Gayo Lut, Gayo Deret, dan dialek Gayo Lues. Kelompok etnis lain seperti Singkil yang berada bagian tenggara (Tanoh Alas) menggunakan bahasa Singkil. Sumber sejarah lain dapat diperoleh antara lain dari hikayat Aceh, hikayat rajah Aceh dan hikayat prang sabii yang berasal dari sejarah narasi yang kemudian umumnya ditulis dalam naskahnaskah aksara Jawi (Jawoe). Seorang ulama Aceh pada abad XIX, yaitu Teungku Kutakarang yang popular dengan sebutan Teungku Chik Kutarakarang (meninggal 1895) dalam karyanya Tadhkirat al Radikin menyebutkan bahwa orang Aceh terdiri atas tiga percampuran darah yaitu Arab, Persi, dan Turki. Teungku Chik Kutakarang tidak menyebutkan adanya pencampuran dengan suku-suku bangsa lain, seperti India. Pendapat lebih masuk akal dikemukakan oleh Julius Jacob, seorang sarjana Belanda dalam karyanya Het Familie en Kampongleven Op Groot Atjeh atau Kehidupan Kampung dan Keluarga di Aceh Besar (1894). Menurut Jacob, orang Aceh adalah suatu anthropologis mixtum, percampuran darah yang berasal dari berbagai suku bangsa pendatang. Ada yang berasal dari Semenanjung Melayu, Melayu-Minangkabau, Batak, Nias, India, Arab, Habsyi, Bugis, Jawa, dan sebagainya. Dapat disebutkan pula bahwa sultan-sultan terakhir yang memerintah di Kerajaan Aceh secara berturut-turut semenjak Sultan Alaidin Ahmadsyah (1727) sampai dengan Sultan Alaidin Mahmudsyah (1870-1874) dan yang
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Mukhtar AG, S.Pd.I, M.Pd I

159

terakhir Sultan Muhammad Daudsyah (1874-1903) adalah berasal dari Bugis. Sumber lain menyebutkan bahwa berdasarkan asal-usulnya, etnis Aceh dibagi ke dalam empat kawom (kaum) atau sukee (suku). Pembagian ini mulai dilakukan pada masa pemerintahan Sultan Alaaidin Al-Kahar (1530-1552). Keempat kawom atau sukee tersebut, yaitu: 1. Kawom atau sukee lhee reutoh (kaum atau suku tiga ratus). Mereka berasal dari orang-orang Mante-Batak sebagai penduduk asli. 2. Kawom atau sukee imum peut (kaum atau suku imam empat). Mereka berasal dari orang-orang Hindu atau India sebagai pendatang. 3. Kawom atau sukee tol Batee (kaum atau suku yang mencukupi batu). Mereka berasal dari berbagai etnis, pendatang dari berbagai tempat. 4. Kawom atau sukee Ja Sandang (kaum atau suku penyandang). Mereka adalah para imigran Hindu yang telah memeluk agama Islam. Akibat asal usul yang berbeda, keempat kaum ini seringkali terlibat konflik internal. Kaum-kaum ini sampai sekarang masih merupakan dasar masyarakat Aceh dan solidaritas sesama mereka cukup tinggi. Mereka loyal kepada pimpinannya. Semua keputusan atau tindakan yang akan diambil selalu melibatkan pimpinan dan orang-orang yang dituakan dalam kaum-kaum tersebut.

menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

160 I Historis Budaya Aceh Multikulturalime dalam Budaya Aceh 1. Keragaman Bahasa Aceh Bahasa Aceh Di antara bahasa-bahasa daerah yang ada di Aceh, bahasa Aceh merupakan bahasa terbesar dan yang paling banyak penuturnya, yakni sekitar 70 persen dari total penduduk Aceh. Penutur bahasa Aceh tersebar di wilayah pantai Timur dan Barat Aceh. Penutur asli bahasa Aceh adalah mereka yang mendiami Aceh Besar, Banda Aceh, Pidie, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Barat dan Sabang. Penutur bahasa Aceh juga terdapat di beberapa wilayah dalam Kabupaten Aceh Selatan, terutama di Kuala Batee, Blang Pidie, Manggeng, Sawang, Tangan-tangan, Meukek, Trumon dan Bakongan. Malah di Aceh Tengah, Aceh Tenggara dan Simeulue, kita dapati juga sebahagian kecil masyarakatnya yang berbahasa Aceh. Di luar provinsi Aceh, yaitu di daerah-daerah perantauan, masih ada juga kelompok-kelompok masyarakat Aceh yang tetap mempertahankan bahasa Aceh sebagai bahasa ibu mereka. Hal ini dapat kita jumpai pada komunitas masyarakat Aceh di Medan, Jakarta, Kedah dan Kuala Lumpur di Malaysia serta Sydney di Australia. Bahasa Gayo Bahasa ini diyakini sebagai suatu bahasa yang erat kaitannya dengan bahasa Melayu kuno meski kini cukup banyak kosakata bahasa Gayo yang telah bercampur dengan bahasa Aceh. Bahasa Gayo merupakan bahasa ibu bagi warga Aceh yang mendiami Aceh Tengah, sebagian kecil wilayah Aceh Tenggara, dan wilayah Lokop
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Mukhtar AG, S.Pd.I, M.Pd I

161

di Aceh Timur. Bagi kebanyakan orang di luar masyarakat Gayo, bahasa ini mengingatkan mereka akan alunan-alunan merdu dari syair-syair kesenian didong. Bahasa Alas Bahasa ini kedengarannya lebih mirip dengan bahasa yang digunakan masyarakat etnis Karo di Sumatera Utara. Masyarakat yang mendiami Aceh Tenggara, di sepanjang wilayah kaki Gunung Leuser, dan penduduk di sekitar hulu sungai Singkil merupakan masyarakat penutur asli dari bahasa Alas. Warga Aceh Tenggara yang menggunakan bahasa ini adalah mereka yang berdomisili di lima kecamatan, yaitu Lawe Sigala-Gala, Lawe Alas, Bambel, Babussalam, dan Bandar. Bahasa Tamiang Bahasa Tamiang (dalam bahasa Aceh disebut bahasa Teumieng) merupakan variant atau dialek bahasa Melayu yang digunakan masyarakat Aceh Tamiang (dulu wilayah Aceh Timur), kecuali di Kecamatan Manyak Payed (yang merupakan wilayah bahasa Aceh) dan Kota Kuala Simpang (wilayah bahasa campuran, yakni bahasa Indonesia, bahasa Aceh dan bahasa Tamiang). Hingga kini cita rasa Melayu masih terasa sangat kental dalam bahasa Tamiang. Bahasa Aneuk Jamee Bahasa ini sering juga disebut (terutama oleh penutur bahasa Aceh) dengan bahasa Jamee atau bahasa Baiko. Di Aceh Selatan dan Aceh Barat Daya, bahasa ini merupakan bahasa ibu bagi penduduk yang mendiami wilayah-wilayah kantong suku Aneuk Jamee. Di Aceh Barat Daya, bahasa ini dituturkan di Susoh, sebagian Blang
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

162 I Historis Budaya Aceh Pidie dan Manggeng. Aceh Selatan merupakan daerah yang paling banyak dituturkan sebagai lingua franca, antara lain Labuhan Haji, Samadua, Tapaktuan, dan Kluet Selatan. Di luar wilayah Aceh Selatan dan Aceh Barat Daya, bahasa ini juga digunakan oleh kelompok-kelompok kecil masyarakat di Singkil dan Aceh Barat, khususnya di Kecamatan Meureubo (Desa Peunaga Rayek, Ranto Panyang, Meureubo, Pasi Meugat, dan Gunong Kleng), serta di Kecamatan Johan Pahlawan (khususnya di Desa Padang Seurahet). Bahasa Aneuk Jamee adalah bahasa yang lahir dari asimilasi bahasa sekelompok masyarakat Minang yang datang ke wilayah pantai barat-selatan Aceh dengan bahasa daerah masyarakat tempatan, yakni bahasa Aceh. Sebutan Aneuk Jamee (secara harfiah bermakna ‘anak tamu’, atau ‘bangsa pendatang’) dinisbahkan pada suku/bahasa ini adalah refleksi sikap keterbukaan dan budaya memuliakan tamu masyarakat Aceh. Bahasa Kluet Bahasa Kluet adalah bahasa ibu bagi masyarakat yang mendiami daerah Kecamatan Kluet Utara dan Kluet Selatan di Aceh Selatan. Informasi tentang bahasa Kluet, terutama kajian-kajian yang bersifat akademik, masih sangat terbatas. Masyarakat Aceh secara luas, terkecuali penutur bahasa Kluet sendiri, tidak banyak mengetahui tentang seluk-beluk bahasa ini. Bahasa Singkil Seperti halnya bahasa Kluet, informasi tentang bahasa Singkil, terutama dalam bentuk penerbitan, masih sangat terbatas. Bahasa ini adalah bahasa ibu bagi sebagian masyarakat di Singkil. Dikatakan
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Mukhtar AG, S.Pd.I, M.Pd I

163

sebahagian karena kita dapati ada sebagian lain masyarakat Singkil yang memakai bahasa Aceh, bahasa Aneuk Jamee, bahasa Minang, dan ada juga menggunakan bahasa Dairi (atau disebut juga bahasa Pakpak) khususnya di kalangan pedagang dan pelaku bisnis di wilayah Subulussalam. Selain itu, masyarakat Singkil yang mendiami Kepulauan Banyak, mereka menggunakan bahasa Haloban. Jadi sekurang-kurangnya ada enam bahasa daerah yang digunakan sebagai bahasa komunisasi sehari-hari di antara sesama anggota masyarakat Singkil, selain bahasa Indonesia. Dari sudut pandang ilmu linguistik, masyarakat Singkil adalah satu-satunya kelompok masyarakat di Aceh yang paling pluralistik dalam hal penggunaan bahasa. Bahasa Haloban Bahasa Haloban adalah salah satu bahasa daerah di Aceh yang digunakan masyarakat Singkil, khususnya mereka yang mendiami Kepulauan Banyak, terutama di Pulau Tuanku. Bahasa ini kedengarannya sangat mirip dengan bahasa Devayan yang digunakan masyarakat di Pulau Simeulue. Jumlah penutur bahasa Haloban sangat sedikit dan jika uapaya-upaya untuk kemajuan, pengembangan serta pelestarian tidak segera dimulai, dikhawatirkan suatu saat bahasa ini hanya tinggal dalam catatancatatan kenangan para peneliti bahasa daerah. Bahasa Simeulue Bahasa Simeulue merupakan bahasa ibu bagi masyarakat di Pulau Simeulue dengan jumlah penuturnya sekitar 60.000 orang. Dalam penelitian Morfologi Nomina Bahasa Simeulue, menemukan
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

164 I Historis Budaya Aceh bahwa kesamaan nama pulau dan bahasa ini telah menimbulkan salah pengertian bagi kebanyakan masyarakat Aceh di luar pulau Simeulue: mereka menganggap bahwa di pulau Simeulue hanya terdapat satu bahasa daerah, yakni bahasa Simeulue. Padahal di kabupaten ini, kita jumpai tiga bahasa daerah, yaitu bahasa Simeulue, bahasa Sigulai (atau disebut juga bahasa Lamamek), dan bahasa Devayan. Bahasa Simeulue memiliki dua dialek, yaitu dialek Devayan yang digunakan di kecamatan Simeulue Timur, Simeulue Tengah dan Tepah Selatan, sementra dialek Sigulai digunakan masyarakat kecataman Simeulue Barat dan Salang. 2. Karya Seni Salah satu tradisi turun temurun yang dilakukan masyarakat Aceh adalah aktifitas lewat kesenian. Seni yang dimaksud di sini adalah kemampuan seorang atau sekelompok orang untuk menampilkan satu hasil karya di hadapan orang lain. Dalam konteks masyarakat Aceh dulu, seseorang yang mempunyai nilai seni, maka ia akan menjadi sosok yang akan menjadi perhatian. Dalam literatur keacehan, dikenal beberapa jenis kesenian Aceh di antaranya zikee, seudati, rukon, rapa’i geleng, rapa’i daboh, biola (mop-mop), saman, laweut dan sebagainya. Sepintas lalu, kegiatan seni yang dilakukan tersebut bertujuan untuk menghibur diri atau kelompok tertentu. Hal ini dilakukan seperti dalam kegiatan resmi di istana raja, atau dalam dalam perayaan acara tertentu. Mengutip pendapat Prof. Ismuha dalam buku “Bunga Rampai Budaya Nusantara”, kesenian Aceh secara umum terbagi dalam
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Mukhtar AG, S.Pd.I, M.Pd I

165

seni tari, seni sastra dan cerita rakyat. Adapun ciri-ciri tari tradisional Aceh antara lain; bernafaskan Islam, ditarikan oleh banyak orang, pengulangan gerak serupa relatif banyak, memakan waktu penyajian yang relatif panjang, kombinasi tari musik dan sastra, pola lantai yang terbatas, pada masa awal pertumbuhannya disajikan dalam kegiatan khusus berupa upacara-upacara dan gerak tubuh terbatas (dapat diberi variasi). Kesenian Aceh dibalut dengan nilai-nilai agama, sosial dan politik. Kenyataan ini dapat dilihat dalam seni tari, seni sastra, seni teater dan seni suara. Selain itu seni tari atau seni tradisional Aceh dipengarungi oleh sosial budaya Aceh sendiri. Seni Aceh dipengaruhi oleh latar belakang adat agama, dan latar belakang cerita rakyat (mitos legenda). Seni tari yang berlatarbelakang adat dan agama seperti tari saman, meuseukat, rapai uroh maupun rapai geleng, rampoe Aceh dan seudati. Sementara seni yang berlatar belakang cerita rakyat (mitos legenda) seperti tari phom bines dan ale tunjang. Contoh Kesenian Aceh 1. Seni Lukis: Kaligrafi Arab Seni kaligrafi Arab adalah salah satu kesenian yang ada dalam suku Aceh. Melukis kaligrafi ini biasanya dilakukan di atas kanvas yang bertujuan sebagai hiasan dinding di dalam rumah atau masjid dengan melukiskan Asmaul Husna dan sebagainya. Kesenian ini banyak terlihat pada berbagai ukiran masjid, rumah adat, alat upacara, perhiasan, dan sebagainya.
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

166 I Historis Budaya Aceh 2. Seni Pahat: Memahat Rumah Adat dan Nisan Seni pahat adalah memahat hiasan pada rumah adat atau nisan. Seni pahat yang diaplikasikan pada rumah adat menunjukkan kepemilikan dan status sosial pemiliknya. Sedangkan seni pahat yang diaplikasikan pada nisan menunjukkan status sosial yang dikuburkan, dan juga memberikan informasi nama dan tahun serta tanggal wafat dari tokoh yang dikuburkan. 3. Seni Musik: Rapa’i Geleng Rapai geleng adalah seni musik yang dilakukan oleh tiga belas laki-laki/perempuan yang duduk berbanjar, seperti duduk di antara dua sujud ketika melaksanakan shalat. Masing-masing memegang alat tabuh sambil bernyanyi bersama. Antara musik dan gerak yang dimainkan bersenyawa. Awalnya lambat, sedang, setelah beberapa detik berubah cepat diiringi dengan gerakan kepala yang digelengkan ke kiri dan ke kanan. Mereka menepuknepuk tangan dan dada, juga menepuk tangan dan paha. Ada yang bertindak sebagai pemain biasa, syech dan aneuk dhiek. 4. Seni Tari: Tari Saman Tarian ini ialah salah satu media untuk pencapaian dakwah. Tarian ini mencerminkan pendidikan, keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan dan kebersamaan. Saman dilakukan dalam posisi duduk berbanjar dengan irama dan gerak yang dinamis. Suatu tari dengan syair penuh ajaran kebajikan, terutama ajaran agama Islam.

m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Mukhtar AG, S.Pd.I, M.Pd I

167

3.

Media Budaya a. Serune Kalee/seruling Aceh Serune Kalee merupakan instrumen tradisional Aceh

yang telah lama berkembang dan dihayati oleh masyarakat Aceh. Biasanya alat musik ini dimainkan bersamaan dengan rapa’i dan geundrang pada acara-acara hiburan, tarian, penyambutan tamu kehormatan. Bahan dasar Serune Kalee berupa kayu, kuningan dan tembaga. Bentuknya menyerupai seruling bambu. Warna dasarnya hitam yang fungsi sebagai pemanis atau penghias musik tradisional Aceh. Serune Kalee bersama geundrang dan rapa’i merupakan suatu perangkatan musik yang dari sejak jayanya Kerajaan Aceh Darussalam sampai kini tetap menghiasi/mewarnai kebudayaan tradisional Aceh di sektor musik. b. Rapai/rebana Rapai terbuat dari bahan dasar berupa kayu dan kulit binatang. Bentuknya seperti rebana dengan warna dasar hitam dan kuning muda. Sejenis instrumen musik pukul (percussi) yang berfungsi pengiring kesenian tradisional. c. Geundrang/gendang Geundrang adalah unit instrumen dari perangkatan musik Serune Kalee. Geundrang termasuk jenis alat musik pukul dan memainkannya dengan memukul dengan tangan atau memakai kayu pemukul. Fungsi Geundrang nerupakan alat pelengkap tempo dari musik tradisional etnik Aceh. d. Tambo/tambur Sejenis gendang yang termasuk alat pukul. Tambo dibuat
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

168 I Historis Budaya Aceh dari bahan bak iboh, kulit sapi dan rotan sebagai alat peregang kulit. Tambo di masa lalu berfungsi sebagai alat komunikasi untuk menentukan waktu shalat dan mengumpulkan masyarakat ke meunasah guna membicarakan masalah-masalah kampung. Sekarang jarang digunakan (hampir punah) karena fungsinya telah terdesak olah alat teknologi microphone. e. Taktok Trieng Taktok trieng juga sejenis alat pukul yang terbuat dari bambu. Alat ini berfungsi untuk mengusir burung ataupun serangga lain yang mengancam tanaman padi. Jenis ini biasanya diletakkan di tengah sawah dan dihubungkan dengan tali sampai ke dangau (gubuk tempat menunggu padi di sawah). f. Bereguh Bereguh nama sejenis alat tiup terbuat dari tanduk kerbau. Bereguh mempunyai nada yang terbatas, banyaknya nada yang dapat dihasilkan Bereguh tergantung dari teknik meniupnya. Fungsi Bereguh sebagai alat komunikasi terutama bila berada di hutan/ berjauhan tempat antara seorang dengan orang lainnya.Bereguh telah jarang dipergunakan orang saat ini. Malah, diperkirakan telah mulai punah penggunaannya. Walhasil, kebudayaan Aceh yang berbasis multikultur sangat dipengaruhi oleh ajaran dan budaya Islam. Tarian, musik, syair, kerajinan, ragam hias, adat istiadat, dan lain-lain semuanya berakar pada nilai-nilai keislaman. Contoh ragam hias Aceh misalnya, banyak mengambil bentuk tumbuhan seperti batang, daun, dan bunga atau bentuk obyek alam seperti awan, bulan, bintang, ombak,
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Mukhtar AG, S.Pd.I, M.Pd I

169

dan lain sebagainya. Hal ini karena menurut ajaran Islam tidak dibenarkan menampilkan bentuk manusia atau binatang sebagai ragam hias. Dengan begitu, watak masyarakat Aceh dari dulu adalah masyarakat yang memiliki identitas budaya “multikultur” dan pendidikan multikultural yang sedang dimasyarakatkan bukan sesuatu yang asing bagi masyarakat Aceh – bila bercermin pada kesadaran sejarah budaya Aceh.[]

menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

Multikultur dalam Pendidikan Sejarah
Hizqil Apandi, S.Pd

Sebuah realitas bahwa Negara Indonesia terkonstruksi dari berbagai latar belakang suku bangsa, agama dan budaya. Diakui atau tidak, proses terbentuknya bangsa Indonesia tidak terlepas dari upaya dan kerja keras penjajah Belanda. Demi kepentingan penjajahan, satu persatu wilayah di Nusantara dipersatukan oleh penjajah Belanda dalam satu negara yang bernama Nederland Indies atau Hindia Belanda. Berkat perjuangan para pahlawan bangsa, akhirnya wilayah cukup luas ini bisa terbebas dari belenggu penjajahan dan merdeka pada 17 Agusutus 1945. Sejak itu, lahirlah bangsa baru yang bernama Indonesia. Masyarakat dari Sabang sampai Meurauke dengan berbagai latar belakang telah mengikrarkan dirinya dalam satu bangsa Indonesia. Proses sejarah menuju terbentuknya bangsa ini merupakan perjuangan panjang yang dilakukan oleh hampir semua kelompok masyarakat yang ada di wilayah Indonesia. Pada periode prapergerakan nasional, di Aceh kita mengenal sosok pejuang Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien serta sejumlah pejuang lain. Begitupun dari daerah lain, seperti Pangeran Diponegoro 171

172 I Multikultur dalam Pendidikan Sejarah di Jawa, Pangeran Antasari di Kalimantan, Pattimura di Ambon dan masih banyak lagi pejuang bangsa yang mewakili kelompok masyarakat di seluruh daerah Indonesia. Peranan mereka tentu sangat besar dalam terbentuknya bangsa ini. Kemudian pada periode pergerakan, proses menuju terbentuknya bangsa Indonesia semakin mengerucut dengan lahirnya sejumlah organisasi pergerakan nasional. Adalah fakta sejarah bahwa organisasi-organisasi tersebut, digerakkan oleh tokoh-tokoh pejuang yang berasal dari berbagai latar belakang etnis, status sosial budaya dan agama. Sumpah pemuda 28 Oktober 1928 adalah bukti nyata betapa bergeloranya semangat kebangsaan yang dimiliki semua kalangan bangsa di wilayah Nusantara. Proklamasi kemerdekaan 1945 menjadi puncak dari semua upaya membangun bangsa Indonesia. Dengan demikian, merupakan fakta yang tiada terbantahkan bahwa bangsa Indonesia dibangun oleh semua kelompok etnis dan agama yang ada. Dengan modal sejarah yang sungguh sangat meyakinkan, semestinya semua kalangan masyarakat Indonesia saat ini, memiliki kesadaran sejarah yang memadai dalam melihat sisi-sisi perbedaan dalam kehidupannya. Sejarah panjang terbentuknya bangsa Indonesia sesungguhnya bisa menjadi perekat efektif dalam membangun bangsa pada masa kini dan masa depan. Kenyataan yang terjadi belakangan ini, modal sejarah itu ternyata belum cukup mengatasi berbagai masalah sosial yang bermunculan dalam kehidupan kita. Pertikaian dalam masyarakat
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Hizqil Apandi, S.Pd I

173

yang didorong perbedaan etnis, agama dan budaya masih saja terjadi di Indonesia. Mulai kasus Ambon, Poso, Sampit dan yang baru-baru ini di Cikeusik Pandeglang, membuktikan bahwa kesadaran warga masyarakat akan pentingnya menghormati perbedaan dalam berbagai sisi sangat lemah. Masih sering terjadi sekelompok masyarakat tertentu berupaya memaksa keyakinannya pada kelompok lain, menyalahkan kelompok lain dan sebagainya. Semboyan Bhineka Tunggal Ika semakin hari seolah semakin tidak berarti. Hal-hal seperti inilah yang pada akhirnya memicu berbagai masalah sosial dalam masyarakat. Jika kita melihat akar sejarah bangsa ini, sesungguhnya masalah-masalah sosial tersebut tidak perlu terjadi. Sungguh tidak bisa kita terima jika kondisi ini terus-menerus terjadi pada bangsa besar bernama Indonesia. Maka dalam kondisi seperti ini, idealnya ada upaya solutif dari berbagai pihak terutama negara, untuk mengokohkan kembali semangat kebersamaan seperti dilakukan para pahlawan bangsa dalam membangun bangsa ini. Perkembangan masyarakat yang sangat dinamis dengan beragam masalah tentunya tidak cukup diselesaikan dalam meja diskusi. Namun perlu ada langkah konkrit dalam pelaksanaannya. Dunia seharusnya pendidikan diberikan merupakan ruang dan bagian peran strategis signifikan yang untuk

memperkokoh semangat kebersamaan ini. Sebagai agent of change dalam masyarakat, pendidikan sangat potensial untuk membangun semangat kebersamaan dan memberikan pemahaman kepada peserta didik bahwa perbedaan adalah rahmat. Perbedaan
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

174 I Multikultur dalam Pendidikan Sejarah bukanlah fanatisme. Melalui pendidikan diharapkan akan lahir kesadaran secara utuh bahwa perbedaan adalah sunnatullah yang hadir di tengah masyarakat Indonesia yang multikultur. Dalam konteks membangun kesadaran multikultur, dunia pendidikan sudah seharusnya memuat bahan pembelajaran yang berhubungan dengan sikap saling menghargai perbedaan, berfikir terbuka, rekonsiliasi, kerjasama, sikap apresiatif dan lain sebagainya. Berkaitan dengan peranan dunia pendidikan dalam membangun kesadaran multikultur, setidaknya ada dua cara dapat dilakukan untuk mengimplementasikan pendidikan multikultur di sekolah. 1. Secara Substantif Materi/substansi kurikulum yang secara langsung berhubungan dengan semangat kesadaran multikultur. Salah satu bagian pendidikan multikultur di sekolah dapat dilakukan dalam pembelajaran bidang studi sejarah, betapapun sangat potensial dilakukan dalam bidang studi lainnya seperti seni budaya. Namun, dalam fungsinya untuk membangun karakter dan semangat kolektif bangsa, pendidikan sejarah dapat didorong dalam membangun energi kolektif tersebut. Proses panjang terbentuknya bangsa Indonesia yang dilakukan para pejuang bangsa dari berbagai kalangan suku, agama dan status sosial bisa menjadi poin penting dalam memahamkan semangat kebersamaan. Dalam hal ini, guru sejarah harus mampu menyampaikan materi pembelajaran sejarah bukan hanya sebagai sebuah kisah semata, namun dituntut untuk menggali
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Hizqil Apandi, S.Pd I

175

dan menyampaikan pesan-pesan sangat kaya dan mendalam dari setiap peristiwa sejarah yang disampaikannya di dalam kelas. Dalam konteks membangun kesadaran multikultur, maka perlu ditanamkan pengertian bahwa Indonesia terbentuk melalui perjuangan semua kalangan. Indonesia terdiri dari berbagai suku, ras, agama dan budaya yang beragam, dan semuanya memiliki peranan dalam sejarah terbentuknya bangsa Indonesia. Penekanan pada bagian seperti ini tentu sangat penting, karena akan memberi apresiasi dan semangat kebersamaan di antara siswa yang berbeda latar belakang suku, agama dan budaya. Semua siswa akan terbangun rasa kebangsaannya, terbangun sense of belonging kepada tanah air Indonesia, dan yang terpenting semua siswa akan merasa menjadi bagian penting dari bangsa ini. Dengan demikian, hegemoni suku tertentu yang acapkali merasa punya aset sejarah lebih besar dalam terbentuknya bangsa ini dapat kita hindari. Poin penting selanjutnya dari penanaman pesan-pesan sejarah ini, bahwa siswa diajarkan untuk menghargai perbedaan dengan siswa lainnya, belajar saling menghargai dan lain sebagainya, sehingga semangat untuk menumbuhkan kesadaran multikultur ini dapat secara perlahan diterapkan oleh peserta didik. 2. Model Pembelajaran Melalui pemilihan model pembelajaran yang menarik siswa dapat diajak menerapkan aspek-aspek dari karakteristik pendidikan multikultur. Sebagai contoh, dalam model pembelajaran diskusi kelompok. Dari mulai pengelompokan siswa, proses diskusi
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

176 I Multikultur dalam Pendidikan Sejarah sampai kesimpulan, banyak hal bisa diterapkan guru dalam konteks pendidikan multikultur. Sebutlah konsep berfikir terbuka, saling menghargai, mengapresiasi dan interdependensi sebagai bagian karakteristik pendidikan multikultur, dapat dengan mudah kita terapkan dalam proses diskusi kelompok. Proses menerima perbedaan dapat kita mulai dari proses grouping atau pengelompokan siswa. Dalam proses ini, siswa mulai diajarkan untuk bersedia bekerjasama dengan siswa lain dari berbagai latar belakang yang berbeda dengan dirinya. Selanjutnya dalam proses diskusi, konsep-konsep pendidikan multikultur seperti saling menghargai, berbeda pendapat, berfikir terbuka dan mengapresiasi orang lain akan terimplementasikan dengan jelas selama proses berlangsung. Para siswa dengan bimbingan guru, dilatih untuk mengemukakan pendapat, menghargai pendapat siswa lain, bekerjasama dalam kelompok dan sejumlah aktivitas yang sangat erat kaitan dengan konteks pendidikan multikultur. Terakhir dalam proses mengambil kesimpulan, di sini siswa akan belajar melakukan resolusi konflik. Berbagai perbedaan pendapat dalam proses diskusi akan dicarikan benang merah menjadi sebuah kesimpulan yang dapat diterima oleh semua siswa. Proses penyusunan kesimpulan dapat kita ibaratkan sebagai sebuah miniatur rekonsiliasi yang dilakukan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Siswa akan dilatih untuk menyelesaikan perbedaan pendapat dengan berdiskusi dan berargumentasi tanpa memaksakan kehendak kepada pihak lain.
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Hizqil Apandi, S.Pd I

177

Proses seperti ini sangat bermanfaat sebagai bekal bagi para siswa dalam kehidupannya, agar terlatih untuk menyelesaikan sebuah perbedaan pendapat dalam suatu masyarakat tanpa harus memaksakan kehendak dan memakai jalan kekerasan. Satu hal yang penting digarisbawahi dalam rangkaian kegiatan ini ialah inovasi dan kreativitas guru dalam mengelola proses diskusi kelompok. Kenyataannya adalah masih ada masalah yang dihadapi dunia pendidikan khususnya bidang studi sejarah dalam menerapkan pembelajarannya. Dari awal, bidang studi sejarah diharapkan mampu membangun energi kolektif bangsa. Tapi, kebijakan pemerintah masih terasa memarjinalkan bidang studi sejarah yang masih ditempatkan sebagai bidang studi pelengkap. Untuk tingkat SMA, di kelas X bidang studi sejarah hanya diberikan porsi satu jam pelajaran atau 45 menit dalam seminggu, kelas XI dan XII program IPA satu jam pelajaran dan tiga jam pelajaran untuk program IPS dikelas XI dan XII. Konstruksi kurikulum seperti ini tentu agak menyulitkan bagi guru sejarah di sekolah berbuat lebih banyak terutama dalam konteks pendidikan multikultur. Hal ini adalah sebuah anomali, di tengah harapan tumbuhnya dan terbentuknya karakter bangsa yang kuat, kebersamaan dan nasionalisme, namun satu elemen strategis ini justru terpinggirkan. Jika seperti ini, maka harapan agar tumbuhnya kesadaran bersama melalui penggalian pengalaman kolektif bangsa akan lebih sulit tercapai. Yang terjadi adalah terbangunnya masyarakat ahistoris di masa depan. Jelas kondisi ini sangat membahayakan
menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

178 I Multikultur dalam Pendidikan Sejarah kehidupan kita sebagai sebuah bangsa. Ketika bangsa ini lupa akan asal-usulnya, lupa sejarah bangsanya, maka identitas kita sebagai bangsa akan lenyap dan semangat kebersamaan semakin pudar. Bahkan, tidak menutup kemungkinan sentimen-sentimen yang berlatar belakang suku, budaya dan agama semakin tumbuh subur di negeri ini. Menyadari kondisi seperti ini, seharusnya pemerintah mulai berfikir untuk mencari solusi, terutama merekonstruksi kurikulum sejarah di sekolah. Langkah minimal yang sangat memungkinkan dilakukan pemerintah setidaknya menambah porsi belajar bidang studi sejarah. Ini langkah penting dan strategis, karena dengan porsi belajar yang memadai para guru akan lebih leluasa mengelola kelas. Dengan demikian, kualitas pembelajaran akan lebih baik dan tujuan belajar lebih mudah tercapai. Langkah selanjutnya yang dapat dilakukan ialah meningkatkan kualifikasi keahlian guru sejarah melalui berbagai training dan kegiatan sejenisnya. Faktor kualitas guru di sekolah acapkali menjadi bagian dari problem ketidakberhasilan pembelajaran. Karena itu, program-program pelatihan bagi guru-guru sejarah juga merupakan bagian langkah penting untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sejarah di sekolah. KESIMPULAN Dunia pendidikan memiliki peran penting dalam membangun kesadaran multikultur. Pendidikan adalah wahana strategis untuk mewujudkan kesadaran tersebut. Adalah bidang studi sejarah yang
m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Hizqil Apandi, S.Pd I

179

menurut penulis memiliki sisi sangat strategis dalam membentuk kesadaran multikultur ini. Proses sejarah terbentuknya bangsa ini merupakan poin terpenting yang wajib disampaikan dan dipahamkan kepada peserta didik dalam rangka membangun semangat kebersamaan. Pada tataran model pembelajaran, kegiatan diskusi kelompok sangat tepat dalam mendorong tumbuhnya semangat bekerjasama, menghargai perbedaan pendapat, mencari resolusi dan rekonsiliasi konflik sebagaimana karakteristik dari pendidikan multikultur. Yang terakhir, dunia pendidikan dan pemerintah harus cepat berbenah diri untuk meningkatkan kualitas pembelajarannya.[]

menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful