LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA

PERCOBAAN XI KOROSI

NAMA NIM KELOMPOK HARI/TANGGAL PERC. ASISTEN

:AKBAR : H 311 09 263 : V (LIMA) : KAMIS/ 13 OKTOBER 2011 : NATALIA SHINTADEVI

LABORATORIUM KIMIA FISIKA JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGEAHUAN ALAM UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2011

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Dalam kehidupan sehari-hari korosi dapat terjadi pada berbagai jenis logam. Peralatan yang menggunakan komponen logam seperti seng, tembaga, besi, baja dan sebagainya menjadi sasaran korosi. Korosi dapat terjadi karena beberapa faktor,

diantaranya air dan kelembapan udara, elektrolit, adanya oksigen, permukaan logam yang tidak rata, serta nilai potensial reduksi logam. Korosi dapat dicegah dengan beberapa cara seperti perlindungan katodik. Besi adalah salah satu dari sekian banyak jenis logam yang penggunaannya sangat luas dalam kehidupan sehari-hari. Namun salah satu kekurangan dari besi adalah sifatnya yang sangat mudah mengalami korosi. Besi yang telah mengalami peristiwa korosi akan kehilangan nilai jual dan fungsi komersialnya. Ini tentu saja sangat merugikan sekaligus membahayakan. Logam banyak digunakan untuk bahan bangunan, maka logam tersebut harus diproteksi terhadap kondisi-kondisi yang dapat menyebabkan terjadinya korosi dengan cepat. Pengecatan dan pelapisan permukaaan lainnya merupakan metode untuk pengecetan, galvanisasi, elektroplating, serta dengan

menghindari korosi. Berdasarkan pada asumsi diatas, penting kiranya dilakukan penelitian yang serius dalam upaya pencegahan terhadap peristiwa korosi khususnya pada besi. Oleh karena itu melalui percobaan korosi yang dilakukan ini dapat ditentukan logam-logam yang dapat menghambat korosi sesuai dengan sifat kimia logam tersebut serta logam yang tidak dapat mencegah korosi malah dapat mempercepat proses korosi.

1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan 1.2.1 Maksud Percobaan Untuk mempelajari peristiwa korosi dengan menggunakan paku tanpa dan kontak dengan berbagai logam misalnya logam Cu dan Al.

1.2.2 Tujuan Percobaan Untuk menentukan logam yang mempercepat korosi besi dan yang menghambat korosi.

1.3 Prinsip Percobaan Mengamati proses terjadinya korosi pada besi dengan membandingkan besi yang tidak dilapisi dan dilapisi Al dan Cu dengan bantuan larutan indikator PP dimana akan menghasilkan warna merah muda yang menunjukkan tempat terjadinya reaksi reduksi dan menghasilkan warna biru yang menunjukkan tempat terjadinya reaksi oksidasi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Korosi adalah proses redoks dimana logam yang teroksidasi oleh oksigen, O2, dan kelembaban. Secara teori masalah korosi dengan pencegahannya cukup praktis. Produk logam banyak kehilangan bahkan miliaran dolar akibat korosi. Mekanisme korosi telah dipelajari secara ekstensif. Sekarang diketahui bahwa oksidasi logam sering terjadi pada titik-titik regangan (logam yang paling "aktif") (Whitten dkk., 1981). Beberapa metode mencegah korosi. Yang paling banyak digunakan adalah (Whitten, dkk., 1981) : 1. Pelapisan logam dengan lapisan tipis dari logam teroksidasi. 2. Menghubungkan logam langsung ke "anoda korban," sepotong logam lain yang lebih aktif dan karena itu preferentially teroksidasi. 3. Memungkinkan film pelindung, seperti oksida logam, untuk membentuk dia alami pada permukaan logam. 4. Galvanisasi, atau lapisan baja dengan seng, logam yang lebih aktif. 5. Menerapkan lapisan pelindung seperti cat. Pencegahan korosi merupakan salah satu masalah penting dalam ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Jika logam digunakan untuk bangunan, maka logam tersebut harus diproteksi terhadap kondisi-kondisi yang dapat menyebabkan terjadinya korosi dengan cepat. Pengecatan dan pelapisan permukaan lainnya

merupakan metode untuk menghindari terjadinya korosi. Penggunaan sifat-sifat kimia logam juga merupakan salah satu metode untuk pencegahan korosi (Taba, dkk., 2011).

Metode perlindungan yang lainnya adalah mengubah potensial objek dengan memompakan elektron, yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan reduksi oksigen, tanpa melibatkan oksidasi logam. Dalam perlindungan katoda, objek dihubungkan dengan logam yang mempunyai potensial elektroda lebih negatif. Dalam perlindungan katoda arus terpasang, sel luar menyediakan electron, sehingga menghilangkan kebutuhan besi untuk mentransfer elektronnya sendiri (Atkins, 1996). Semua reaksi yang tergolong ke dalam reaksi elektronik melibatkan perpindahan elektron. Oksidasi adalah suatu proses, dimana suatu senyawa kimia melepaskan elektron. Reduksi merupakan kebalikan dari proses oksidasi, yaitu suatu proses dimana suatu senyawa kimia menerima elektron. Seringkali istilah oksidasi dan reduksi berturut-turut disingkat menjadi “oks” dan “red”. Karena reaksi oksidasi

selalu disertai dengan reaksi reduksi, demikian pula sebaliknya, maka reaksi oksidasi sering dinamakan sebagai reaksi redoks (Bird, 1993). Berbagai logam kurang reaktif daripada yang diharapkan karena adanya lapisan oksida yang bersifat melindungi, seperti aluminium. Logam lain dapat dilindungi dari korosi dengan menggunakan elektroda-elektroda pelindung. Dengan immobilisisasi paku besi, yang berhubungan dengan logam lain, dalam gel agar, memungkinkan untuk menentukan tempat-tempat reaksi anoda dan katoda. Pada tiap reaksi yang dipelajari, reduksi melibatkan O2 dan H2O : O2 + 2 H2O + 4e 4OHOksidasi dapat

Oksidasi yang terjadi adalah perubahan logam menjadi ionnya. melibatkan Fe : Fe Fe2+ + 2e

Logam lain yang berhubungan dengan besi.

Logam mana yang

teroksidasi akan bergantung pada reaktivitas relative dari besi dan logam yang dipelajari (Taba, dkk., 2011).

Tembaga dapat digunakaan melapisi permukaan besi untuk melindungi permukaan besi dari korosi. Perlindungan pada pelapisan besi dicapai hanya

sepanjang lapisan itu tetap utuh. Bila lapisan itu pecah, korosi besi akan terjadi karena besi lebih aktif dibanding tembaga, sehingga lebih mudah teroksidasi (Petrucci, 1999). Bentuk lain pelapisan permukaan, dilakukan dengan galvanisasi, yaitu pelapisan benda besi dengan seng. Karena potensial elektroda seng yang lebih negatif dari pada besi, maka korosi seng dipermudah secara termodinamika, sehingga besi itu bertahan (Atkins, 1996). Metode perlindungan katodik meliputi penyambungan objek, secara langsung atau melalui suatu kawat, dengan gumpalan magnesium atau logam aktif lainnya. Oksidasi terjadi pada logam aktif dan lambat laun akan larut. Besi bertindak sebagai katoda da menyokong reduksi setengah reaksi. Selama logam aktif masih ada, besi itu akan terlindungi (Petrucci, 1999). Reaksi yang terjadi dalam sel volta (baterai) merupakan sumber penting dari electricality. diinginkan. Reaksi serupa mendasari proses korosi, tapi di sini mereka tidak Pertama, kita mempertimbangkan dasar elektromikal korosi, dan

kemudian kita melihat bagaimana prinsip-prinsip elektrokimia juga dapat diterapkan untuk mengendalikan korosi (Petrucci dan Harwood, 1999). Laju korosi diukur dengan arus ion logam yang meninggalakan permukaaan logam dalam daerah anoda. Fluks ion ini menghasilkan arus korosi Ikor, yang dapat disamakan dengan arus anoda Ig, karena setiap arus yang keluar dari daerah anoda harus mencari jalan ke daerah katoda, maka arus katoda Ic juga harus sama dengan korosi (Atkins, 1996). Proses dasar dalam korosi sebuah paku besi. Kuku tertanam dalam gel agaragar dalam air. Tergabung dalam gel adalah asam-basa indikator fenolftalein dan

K3Fe substansi (CN)6 (ferricyanide kalium). Berikut percobaan: di kepala dan ujung paku bentuk endapan biru. Sepanjang tubuh kuku gel Agr memperoleh warna merah muda. Dikenal sebagai biru Turnbull, menetapkan adanya besi (II). Warna merah muda adalah bahwa indicator PP dalam larutan dasar (Petrucci dan Harwood, 1999).

BAB III METODE PERCOBAAN

3.1 Bahan Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah akuades, agar-agar, NaCl, indikator Phenolphtalein (PP), larutan K3Fe(CN)6 0,1 M, larutan H2SO4 2 M, kertas amplas, tissue rol, paku, foil Cu, foil Al, dan kertas label. 3.2 Alat Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah gelas kimia 250 mL, tabung reaksi, batang pengaduk, rak tabung, kaki tiga, kasa asbes, pembakar gas, neraca digital, pipet tetes, pinset, dan tang. 3.3 Prosedur Percobaan Dilarutkan 2 g agar-agar ke dalam 50 mL akuades, kemudian dipanaskan sampai mendidih. Ditambahkan 5 g NaCl ke dalam larutan panas dan larutan diaduk.

Ditambahkan 2 mL indikator PP dan 1,5 mL K3Fe(CN)6 0,1 M, larutan diaduk dengan baik dan pemanasan dihentikan. Larutan di diamkan sampai hangat sebelum

digunakan (campuran harus berwarna kuning, bukan hijau, biru atau tidak berwarna). Kemudian ditempatkan 3 paku besi yang sebelumnya telah dibersihkan menggunakan kertas amplas dalam gelas piala yang berisi H2SO4 2 M selama ± 5 menit. Setelah itu air didihkan dalam gelas kimia 250 mL, dekantasi asam dari paku dengan membilas paku-paku tersebut dengan air kemudian dengan hati-hati dimasukkan ke dalam air panas. Dengan menggunakan pinset, paku-paku dipindahkan. Pada tabung reaksi I, dimasukkan 1 paku bersih. Pada tabung 2 – 3masing-masing dimasukkan paku yang dililit foil logam Cu dan Al. Gel indikator dituangkan ke dalam tiap-tiap tabung

sampai seluruh paku tertutupi oleh gel. Setelah itu, tabung reaksi ditempatkan pada rak tabung dan diamati daerah yang berwarna yang muncul dalam gel.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan Tabel pengamatan Keberadaan dan lokasi warna Sistem Merah muda Ujung dan kepala paku Pada temabaga foil Biru Sepanjang paku Reaksi Anoda Fe(s) Al(s) Fe2+(aq) + 2e Reaksi Katoda Persamaan ion reaksi

Fe Fe/Al

O2(aq) + 2H2O(l) + 4e 4 OH3+ Al (aq) + 3e O2(aq) + 2H2O(l) + 4e 4 OHFe2+(aq) + 2e O2(aq) + 2H2O(l) + 4e 4 OH-

Fe/Cu

Ujung dan kepala paku

Fe(s)

4.2 Reaksi a. Sistem Fe Anoda : Fe → Fe2+ + 2e E0 = 0,44 V E0 = 1,23 V E0 = 1,67 V

Katoda :

O2 + 2H2O + 4e → 4OH-

Reaksi lengkap 2Fe + O2 + 2H2O → 2Fe(OH)2 c. Fe / Cu Anoda : Fe → Fe2+ + 2e

E0 = 0,44 V E0 = 1,23 V E0 = 1,67 V

Katoda :

O2 + 2H2O + 4e → 4OH-

Reaksi lengkap 2Fe + O2 + 2H2O → 2Fe(OH)2 d. Fe / Al Anoda : Al → Al3+ + 3e → 4OH-

E0 = 1,66 V E0 = 1,23 V

Katoda :

O2 + 2H2O + 4e

Reaksi lengkap 4Al + 3O2 + 6H2O → 4Al(OH)3 E0 = 1,89 V

4.3 Pembahasan Salah satu pencegahan korosi pada besi dapat dilakukan dengan perlindungan katodik terhadap besi tersebut. Besi diberi kontak atau dihubungkan dengan logam yang lebih aktif. Agar-agar yang digunakan pada percobaan ini berfungsi sebagai medium terjadinya reaksi redoks, juga sebagai media yang mempermudah pengamatan. Digunakan indikator PP yang berfungsi sebagai zat yang dapat menunjukan reaksi reduksi yang terjadi dan K3Fe(CN)6 yang berfungsi sebagai zat yang dapat menunjukan reaksi oksidasi terjadi. Penggunaan larutan asam sulfat (H$SO4)

berfungsi untuk mempercepat terjadinya korosi dan mengendapkan sisa-sisa pengotor yang terdapat pada paku, akuades panas untuk membersihkan sisa-sisa asam sulfat yang melekat pada paku, NaCl berfungsi sebagai jembatan garam untuk melangsungkan reaksi elektrokimia. Foil-foil Al dan Cu digunakan untuk mengamati manakah di antara ketiga foil tersebut yang dapat menghambat terjadinya korosi dan yang dapat meningkatkan korosi besi. Perlakuan pertama membuat medium agar-agar yang mengandung NaCl, indikator PP dan K3Fe(CN)6 yang akan menjadi media berlangsungnya reaksi elektrokimia serta media untuk mengamati terjadinya reaksi oksidasi dan reduksi yang terjadi. Paku-paku yang digunakan terlebih dahulu dibersihkan permukaannya dengan kertas amplas untuk meghilangkan kotoran-kotoran pada paku-paku tersebut. Paku yang telah dibersihkan kemudian direndam dalam larutan asam sulfat. Perendaman ini dimaksudkan untuk merangsang atau mempercepat terjadinya korosi pada paku-paku tersebut, karena korosi dapat terjadi dalam kondisi asam, setelah direndam menggunakan asam sulfat, paku-paku tersebut dibilas dengan air dan dimasukkan dalam air panas dan air dingin untuk membersihkan paku dari sisa-sisa asam. Proses

ini dinamakan proses dekantasi. Setelah dekantasi, paku-paku tersebut dibuat berbeda dengan membungkuskan foil Al dan Cu pada paku dan satunya lagi tidak ada foil yang melindunginya. Paku-paku tersebut kemudian diamati proses korosinya dengan

memberikan gel pada masing-masing tabung reaksi untuk mengamati perubahan warna pada gel yang menendakan terjadinya reaksi reduksi dan oksidasi. Hasil yang diperoleh dari pengamatan yang dilakukan didapatkan pada paku yang tidak diberi foil mengalami oksidasi yang ditandai dengan adanya warna merah muda pada ujung dan kepala paku. Paku yang dililitkan foil Cu menunjukan

terjadinya reduksi pada paku dengan warna merah muda pada ujung dan kepala paku. Menunjukan bahwa logam Cu bisa melindungi paku dari korosi dan menghambat terjadinya korosi besi, akan tetapi menyimpang dengan teori sebab Cu mempercepat korosi bukan memperlambat korosi. Paku yang dililitkan foil Al mengalami oksidasi, hal ini dapat ditunjukan dengan adanya warna biru yang terdapat pada bagian ujung dan kepala paku. Menunjukan bahwa logam Al dapat mempercepat atau meningkatkan terjadinya proses korosi besi. Hal ini sesuai dengan teori bahwa logam aluminium mampu melindungi besi dari korosi, walaupun sebenarnya dipercobaan yang dilakukan logam Al mengalami sedikit reaksi oksidasi, namun sebenarnya logam Al cenderung mengalami reaksi reduksi, karena warna biru yang ditunjukkan hanya pada bagian kepala paku saja, sementara logam Cu sedikit mengalami reraksi reduksi

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini ialah bahwa logam Al dan Cu dapat melindungi besi dari korosi.

5.2 Saran Saran pada laboratorium, agar kedepannya dapat menggunakan logam yang lain sehingga dapat lebih jelas dalam memahami peristiwa korosi. Saran untuk asisten, agar tetap mempertahankan caranya membimbing sebab sejauh ini cara membimbingnya sudah baik.

DAFTAR PUSTAKA

Atkins, P. W., 1999, Kimia Fisika edisi keempat jilid 2, diterjemahkan oleh Irma I. Kartohadiprodjo, Erlangga, Jakarta. Bird, T., 1993., Kimia Fisika Untuk Universitas, Erlangga, Jakarta. Petrucci, R. H.,1999, Kimia Dasar edisi keempat jilid 3, diterjemahkan oleh Suminar Achmadi, Erlangga, Jakarta. Petrucci, R. H., dan harwood, William s, 1999, General Chemistry Six Edition, Macmillan Publshing Company, New York. Taba, P., Zakir, M., Kasim, H., dan Fauziah, St., 2011, Penuntun Praktikum Kimia Fisika, Universitas Hasanuddin Makassar. Whitten, Kenneth W., Gailey, Kenneth, D., Davis, Raymond E., 1981, General Chemistry With Qualitative Analysis Fourth Edition, Saunders College Publishing, United States Of America.

LEMBAR PENGESAHAN

Makassar, 17 Oktober 2011 Asisten Praktikan

NATALIA SHINTADEVI H311 08 008

AKBAR H311 09 263

Bagan Prosedur Kerja

1 g Agar - Dimasukkan ke dalam

Paku Besi - Dimasukkan ke dalam gelas kimia dan ditambahkan

gelas kimia yang berisi 50 larutan H2SO4. mL air, lalu dipanaskan. - Dibilas - Ditambahkan 5 g NaCl dan sebelumnya telah dipanaskan diaduk sampai merata sambil diaduk. - Ditambahkan indikator PP 2 mL - Dilapisi dengan foil Al dan dan foil Cu dan ada yang tidak K3Fe(CN)6 0,1 M. dilapisi. - Diaduk dengan baik dan - Dimasukkan ke dalam tabung dihentikan pemanasan. reaksi yang berbeda. dengan air yang

-

Masing-masing tabung reaksi ditambahkan dengan larutan gel indikator sampai seluruh paku tertutup oleh gel.

- Ditempatkan tabung reaksi tersebut dalam rak tabung. - Diamati daerah yang berwarna yang muncul dalam gel. Hasil

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful