You are on page 1of 1
khazanah REPUBLIKA 21
khazanah
REPUBLIKA 21

Jumat, 4 September 2009

STAMP-SEARCH.COM

REPUBLIKA 21 Jumat, 4 September 2009 STAMP-SEARCH.COM AHMED ZEWAIL KisahBapakFemtokimia BERKAT JASANYA ILMU KIMIA

AHMED ZEWAIL

KisahBapakFemtokimia

BERKAT JASANYA ILMU KIMIA MEMILIKI CABANG BARU YANG DISEBUT FEMTOKIMIA. ATAS JASANYA ITU, ZEWAIL DIDAPUK SEBAGAI ‘’BAPAK FEMTOKIMIA’‘.

P ara sejarawan sains Barat mengakui bahwa ilmu kimia merupakan warisan peradaban Islam pada era kekha- lifahan. Will Durant dalam The Story of Civilization IV: The

Age of Faith, mengatakan, para kimia- wan Muslim di zaman kekhalifahan telah meletakkan fondasi ilmu kimia modern. ‘’Kimia merupakan ilmu yang hampir seluruhnya diciptakan oleh peradaban Islam,’‘ papar Durant. Tak heran jika ki- miawan Muslim di era keemasan berna- ma Jabir Ibnu Hayyan ditabalkan seba- gai ‘’Bapak Kimia Modern’‘. Kontribusi kimiawan Muslim tak hanya diakui di era keemasan, pada zaman globalisasi pun kimiawan Muslim masih berprestasi. Salah seorang penerus jejak Jabir Ibnu Hayyan di era modern bernama Ahmed Hassan Zewail atau Ahmed Zewail. Ia merupakan ahli kimia Muslim yang pernah meraih hadiah Nobel Kimia pada 1999. Penghargaan bergengsi itu diraih- nya setelah berhasil spektroskopi femto laser. Berkat jasanya ilmu kimia memiliki cabang baru yang disebut femtokimia. Atas jasanya itu, Zewail didapuk sebagai ‘’Bapak Femtokimia’‘. Zewail terlahir pada 26 Februari 1946 di Damanhur — yang terletak 60 Km dari kota Alexandria, Mesir. Ayahnya seorang pegawai negeri sipil, sedangkan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga.

ZEWAL.CAALTECH.EDU

ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. ZEWAL.CAALTECH.EDU Sejak remaja, Zewail sangat mencintai ilmu kimia. Bahkan,

Sejak remaja, Zewail sangat mencintai ilmu kimia. Bahkan, dia sering meng- habiskan waktu berhari-hari untuk melakukan berbagai macam penelitian kimia kecil-kecilan. Kecintaannya ter- hadap kimia mendorongnya untuk men- dalami ilmu itu dengan sangat serius. Menurut Zewail, kimia sangat meme- sona dan memberinya pengalaman-peng- alaman yang menakjubkan. ‘’Kimia menyediakan fenomena laboratorium yang ingin dicoba ulang dan dipahami- nya secara terus menerus,’‘ tuturnya. Tanpa sepengetahuan orang tuanya, di dalam kamar tidur sendiri, Zewail kecil,

sempat merakit sebuah peralatan kecil yang terbuat dari kompor ibunya serta beberapa tabung gelas milik keluarganya untuk mengamati bagaimana sebatang kayu diubah menjadi asap dan cairan. Selama masa SMA, kegiatan Zewail tak pernah terlepas dari berbagai macam percobaan kimia. Rupanya kimia telah mendarah daging dan menjadi bagian hidupnya. Setamat SMA, Zewail memu- tuskan kuliah di Fakultas Sains Universitas Alexandria, jurusan kimia. Pada 1967, Zewail lulus dari Fakultas Sains Universitas Alexandria sebagai seorang sarjana kimia dengan meraih

predikat cum laude. Melihat prestasinya yang sangat cemerlang di bidang pen- didikan, terutama kimia, Zewail akhirnya diangkat sebagai asisten dosen

di fakultasnya.

Setelah itu, dia mendapatkan bea- siswa S-2 guna mengasah bakat dan ilmunya lebih lanjut. Sebagai seorang asisten dosen dia sangat disukai oleh para mahasiswanya. Sebab selain baik budi pekertinya, dia mampu memberikan penjelasan-penjelasan tentang kimia kepada mahasiswanya dengan baik. Sehingga para mahasiswa mampu me- nyerap ilmu yang disampaikannya. Pada 1969, ia mendapat beasiswa pada prgram doktoral Universitas Pensylvania, Philadelphia, Amerika Serikat. Pertama kali menginjakkan kaki dan belajar di Amerika Serikat membuat Zewail merasa sangat kesulit- an. Maklum saja, budaya antara Mesir dan Amerika sangat jauh berbeda. Selain itu, kemampuan berbahasa Ing- grisnya masih pas-pasan. Meski begitu, Zewail berbekal tekad baja, ia akhirnya mampu belajar di negara tersebut. Berbekat otak yang encer, Zewail mampu menyelesaikan disertasinya da- lam waktu yang singkat, yakni delapan bulan. Topik penelitian yang dikajinya dalam disertasinya itu tentang interaksi molekul dengan cahaya atau disebut spektroskopi pasangan molukeul (dimer). Pada 1974, Zewail meraih gelar doktor. Begitu menyelesaikan studinya,

wilayah Timur Tengah dilanda peperang- an dan mengalami pergolakan hebat. Zewail pun memutuskan kembali ke tanah kelahirannya, Mesir. Ia akhirnya bekerja sebagai peneliti pascadoktoral di Universitas Barkeley selama dua tahun dan melamar posisi dosen ke universitas- universitas ternama di Amerika Serikat. Setelah menerima beberapa tawaran,

ia memutuskan memilih berkarir pada

California Institute of Technology di California. Di universitas tersebut, Zewail melakukan penelitian keadaan transisi reaksi kimia. Keadaan transisi reaksi kimia adalah waktu yang harus dilalui molekul atau atom saat bereaksi. Keadaan ini sangat sulit diamati sebab terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Waktu keadaan transisi yaitu dalam rentang femtodetik (sepuluh pangkat minus 15 detik). Seba- gai gambaran, satu femtodetik setara dengan satu detik dibagi 32 juta tahun. Seperti para ahli kimia yang sudah melakukan penelitian sebelumnya, Zewail menghadapi berbagai macam masalah teknis dalam melakukan penelitian keadaan transisi ini. Bahkan beberapa ilmuwan mengatakan, apa yang dilakukan Zewail itu tidak akan berhasil. Zewail tak seperti ahli kimia lainnya yang pesimistis. Ia justru tertantang dan semakin intensif dalam penelitiannya. Saking bersemangatnya, ia sering berada di laboratorium sampai pukul 4 pagi dan menghabiskan bergelas-gelas kopi. Dia terus saja fokus terhadap peneli- tiannya. Hingga akhirnya, pada akhir1980-an, Zewail berhasil menga- mati keadaan transisi reaksi kimia garam natrium iodida dengan spektotrofotome- ter baru ciptaannya, yang sumber cahayanya berasal dari laser berdurasi femtodetik. Meski berhasil dalam penelitiannya, Zewail belum merasa puas. Dia menggu- nakan alatnya itu untuk meneliti reaksi- reaksi kimia lain dari cairan, padatan, gas, dan bahkan reaksi-reaksi kimia hayati (reaksi kimia yang terjadi pada makhluk hidup). Penelitian-penelitian Zewail tersebut diakui dan dipuji sebagai terobosan oleh komunitas ilmiah. Beberapa tahun kemudian, penelitian- penelitan Zewail dan koleganya melahirkan cabang baru ilmu kimia yang disebut femtokimia. Tidak hanya itu, pada 1999, Zewail pun dianugerahi Hadiah Nobel Kimia. Dengan demikian, Zewail adalah peletak dasar pengembangan femtokimia, sehingga ia layak disebut sebagai Bapak Femtokimia. Bahkan Zewail pernah dinominasikan menjadi salah satu anggota Presidential Council of Advisors on Science and Technology (PCAST) bagi kepemimpinan Presiden Amerika Serikat yang baru, Barack Obama. PCAST berbicara panjang lebar mengenai edukasi, ilmu pengetahuan, pertahanan, energi, ekonomi, serta teknologi. dya

AMAZON.COM Prestasi dan Karya Penerus Jabir Ibnu Hayyan A tas penemuannya terhadap ilmu femtokimia, Zewail
AMAZON.COM
Prestasi dan Karya Penerus Jabir Ibnu Hayyan
A tas penemuannya terhadap ilmu
femtokimia, Zewail mendapatkan
berbagai macam penghargaan.
Selain mendapatkan Nobel
Cambridge University juga meng-
anugerahinya gelar Honorary Doctorate
in Science pada 2006. Dua tahun kemu-
dian, tepatnya Mei 2008, Zewail juga
menerima menerima PhD Honoris Causa
dari Complutense University of Madrid.
Setahun kemudian, ia juga diberikan
honorary PhD dalam seni dan ilmu
pengetahuan dari University of Jordan.
Kecintaan Zewail terhadap ilmu
pengetahuan, terutama kimia membuat-
nya tak pernah lelah untuk menuliskan
berbagai macam cara dia melakukan per-
cobaan kimia, termasuk prosesnya, hing-
ga akhirnya mendapatkan hasil reaksi
kimia yang mengagumkan.
Dia terus menerus menulis berbagai
macam karya yang berkaitan dengan
ilmu kimia untuk membagikan penge-
tahuannya terhadap kimia kepada
semua orang. Sejumlah karya-karya
Kimia, ia juga meraih penghargaan Wolf
Prize dalam bidang kimia pada 1993
dari Wolf Foundation. Tolman Medal dan
Robert A Welch Award juga sempat
dianugerahkan kepadanya pada 1997.
Pada 1999, dia mendapatkan gelar
penghormatan tertinggi di Mesir yaitu
Grand Collar of the Nile. Zewail juga
sempat menerima gelar kehormatan
PhD Honoris dari Lund University di
Swedia pada Mei 2003. Ia juga tercatat
sebagai salah seorang anggota Royal
Swedish Academy of Sciences.
besar Zewail dalam ilmu kimia antara
lain: Advances in Laser Spectroscopy I,
Advances in Laser Chemistry, Photo-
chemistry and Photobiology, Volume 1
dan 2, Ultrafast Phenomena VII, The
Chemical Bond: Structure and Dynamics,
Ultrafast Phenomena VIII, serta Ultrafast
Phenomena IX.
gan peristiwa Zewail mendapatkan Nobel
ini diterjemahkan ke dalam 17 bahasa
antara lain Inggris, Prancis, Jerman,
Spanyol, Romania, Hungaria, Rusia,
Arab, Cina, Korea, Indonesia, India
Ia juga menulis buku bertajuk Age of
Science, Time (Al Zaman), Dialogue of
Civilizations 2007, Physical Biology:
From Atoms to Medicine, serta 4D
Electron Microscopy.
Selain itu, dia juga menulis karya lain-
nya bertajuk, Femtochemistry: Ultrafast
Dynamics of the Chemical Bond, serta
Voyage Through Time: Walks of Life to
the Nobel Prize. Buku yang terkait den-
Selain menulis berbagai macam buku
tersebut, Ahmad Zewail juga menjadi edi-
tor Encyclopedia of Analytical Chemistry.
Hal itu dilakukannya supaya tidak ada
kesalahan dalam menuliskan ensiklope-
dia kimia tersebut.
■ dya