Makna Dienul ISLAM

by: Studi Komprehensif Islam on Tuesday, 09 August 2011 at 18:16

Segala puji bagi Allah, sholawat dan salam kepada Rasulullah, kesejahteraan bagi Muslimin Muslimat.

A. Pengantar
Sesungguhnya Islam itu dien samawi yang befungsi sebagai rahmat dan nikmat bagi manusia seluruhnya. Allah SWT berfirman:

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`matKu, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”. (5:3). Din Islam memiliki nilai kesempurnaan yang tinggi, lagi pula sesuai dengan fitrah manusia dan cocok dengan tuntutan hati nuranimanusia seluruhnya sebagai makhluk ciptaan Allah dalam menerima Dinullah yang hak. Sebagaimana Firman Allah SWT :

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada

ّ ِِ‫ لِلديه‬agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah

yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (30:30). Maka konsekuensi daripada itu, Islam menjadi Din Dakwah, yakni Din yang harus disampaikan kepada seluruh manusia, agar manusia mengimaninya dengan penuh keikhlasan tanpa paksaan, bahwa Islam satu-satunya Din yang hak dan sebaliknya din yang batil harus ditolak, sebab sudah jelas antar din yang lurus “Ar-Rasydu” (Islam) dengan din yang bengkok “Al-Ghayy” (ghairul Islam), sebagaiman ditegaskan dalam surat al-baqarah ayat: 256.

Makna Dienul ISLAM
"Tidak ada paksaan untuk (memasuki)

ّ ِِ‫( فِىِالديه‬Dien)( agama Islam); sesungguhnya telah jelas jalan

yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. " (2:256).

B. Makna Dien
Secara bahasa, kata din mempunyai arti bermacam-macam, terambil dari kata

:

‫ ,دان - ي دي ن - دي نا – دي نة‬yang artinya: tunduk, patuh, taat, pembalasan, nasehat dan
undang-undang. Adapun makna din dalam al-Quran sebagai berikut:

1. Syariah
Arti din dalam al-Quran bermakna syariah

(ِ‫ ) ,شرع‬seperti termaktub dalam surah Syura (42) :13. َ َ َ

Dia telah mensyari`atkan untuk kamu tentang dien apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa ّ dan Isa yaitu: Tegakkanlah ( َِ‫) الديه‬Dien dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama) -Nya orang yang kembali (kepada-Nya). Dan terdapat pula dalam surah yang sama ayat:21.

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yangmensyariatkan untuk mereka dien yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih.

Makna Dienul ISLAM
2. Undang-undang/Hukum Negara
Din juga berarti undang-undang/hukum Negara

( ِِ‫ ),ديهِِِالملِك‬terdapat dalam surat Yusuf (12):76. َ

Maka mulailah Yusuf (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan piala raja itu dari karung saudaranya. Demikianlah Kami atur untuk (mencapai maksud) Yusuf. Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undangundang raja ( ِِ‫ ,),ديهِِِالملِك‬kecuali Allah menghendakinya. Kami tinggikan derajat orang yang Kami َ kehendaki: dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui.

3. Sistem hidup/Way of life
Din juga dapat diartikan sistem hidup/way of life, ideologi (40):26.

ُ ( ‫) دينَكم‬terdapat dalam surat al-Mukmin

Dan berkata Fir`aun (kepada pembesar-pembesarnya): "Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar dien ُ ( ‫ ) دينَكم‬atau menimbulkan kerusakan di muka bumi".

4. Sistem Pengabdian
Din berarti sistem pengabdian, sebagaimana terdapat dalam surat al-Kafirun (109) ayat 1-6.

"Katakanlah: "Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan mengabdi apa yang kamu abdi. Dan kamu bukan pengabdi Tuhan yang aku abdi. Dan aku tidak pernah menjadi pengabdi apa yang kamu abdi. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi pengabdi Tuhan yang aku abdi. Untukmulah din-mu, dan untukkulah, din-ku".

Makna Dienul ISLAM
5. Pembalasan dan Pertanggung-jawaban
Dan dalam surat ash-Shaffat (37)l ayat 53 din jawaban.

َِ‫ مدينون‬diartikan pembalasan atau pertanggung َ

"Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan?" (37:53). Berdasarkan arti ayat-ayat di atas dapat disimpulkan bahwa din berarti syariah, undang-undang, hukum negara, sistem hidup / way of life, ideologi sistem pengabdian dan pembalasan. Adapun berdasarkan sumbernya, bahwa din ada dua, yaitu: din yang bersumber dari Allah dan din yang bersumber dari manusia. Yang bersmber dari manusia ada dua proses, yaitu: (1) Din yang langsung dari raja (diktator, otoriter). (2) Din yang memalui proses parlemen (demokratis).

C. Keberadaan Dien Sebelum Dan Saat Kedatangan Dien Al-Islam
Sebelum Islam lahir, berbagai filsafat dan budaya telah tumbuh bersimpang siur. Dari aspek theologis, mereka memiliki ideologi aba-ana yang berakar dari tradisi nenek moyang dan bertuhan ganda / polytheisme, sinkretisme, talbis dan terpecah belah.

1. Sinkretisme (talbis)
a. Politeisme
Para pemimin jahiliyah dalam berdin hanya dengan sangkaan-sangkaan saja, tidak berkeyakinan, menganggap benar din Allah dan menganggap bagus din ghairullah. Firman Allah dalam surah al-An’am (6) ayat: 136.

Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bahagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: "Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami". Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu. (6:136)

Makna Dienul ISLAM
Mereka membuat peraturan, undang-undang (din) semata-mata untuk menipu rakyatnya dengan cara mencampuradukkan antara hak dan yang batil untuk mengaburkan din, sehingga menganggap baik perbuatan batil dan sebaliknya. Sebagaimana firman Allah dalam surah al-An’am ayat 137.

Dan demikianlah pemimpin-pemimpin mereka telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang yang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan bagi mereka agamanya. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan”. (6:137).

b. Berhalaisme
Orang-orang jahiliyah pra Islam adalah penyembah berhala, sekalipun mereka percaya akan adanya Allah dan dengan tegas mereka tidak mengakui bahwa mereka menyembah berhala, mereka mengaku menyembah Allah. Sedangkan berhala hanya sebagai lambang/simbol untuk memertahankan statusquo serta sarana mendekatkan diri kepada Allah. Hal ini sebagaimana diterangkan dalam surat az-Zumar (39):3.

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.

2. Pecah Belah (Talbis)
Din pada masa jahiliyah terpecah belah menjadi beberapa golongan, masing-masing banggga dengan golongannya. Sebagaimana diterangkan dalam surat ar-Rum (30) ayat 31-32.

Makna Dienul ISLAM
“Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka”. (30:31-32). Dijelaskan pula dalam surat al-Mu’minun (23) ayat 52-53.

Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing)”. (23:52-53).

D. Ruang Lingkup Dien
Sebagaimana makna din (hukum, undang-undang, sistem hidup), maka secara garis besar ruang lingkup din itu meliputi: Rububiyah, Mulkiyah dan Uluhiyah/Ubudiyah. Ruang lingkup tersebut berlaku untuk semua din, baik Islam maupun ghairul Islam.

1. Lingkup Rububiyah
Dien dalam lingkup Rububiyah, berarti suatu konsepsi hukum/ sistem perundang-undangan yang diberlakukan untuk mengatur kehidupan manusia di muka bumi. Perhatikan firman Allah dalam surat al-Syura (42):21.

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih.

2. Lingkup Mulkiyah
Dien dalam lingkup Mulkiyah adalah sistem pemerintahan.

Makna Dienul ISLAM

Maka mulailah Yusuf (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan piala raja itu dari karung saudaranya. Demikianlah Kami atur untuk (mencapai maksud) Yusuf. Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undangundang raja, kecuali Allah menghendakinya. Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki: dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui.

3. Lingkup Uluhiyah
Dien dalam lingkup Uluhiyah/ Ubudiyah adalah pelaksanaan sistem peribadatan yang dilakukan oleh umat/rakyat berdasarkan Rububiyah (sistem perundang-undangan) di dalam Mulkiyah (Pemerintahan). Firman Allah dalam surat al-Kafirun (109): 1-6. Katakanlah: "Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku". Berdasarkan uraian tersebut di atas, dapat difahami bahwa ruang lingkup dien meliputi seluruh aspek kehidupan yang secara intregral meliputi lingkup Rububiyah (perundang-ndangan), lingkup Mulkiyah (sistem pemerintahan) dan lingkup Uluhiyah/Ubudiyah (sistem peribadahan), di mana ketiganya tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya.

E. Dien Al-Islam
Kata Islam adalah yang diberikan oleh Allah sendiri, terdapat di beberapa ayat dalam al -Quran, antara lain QS. 5;3, 3;19,83,85, dan QS. 2;112. Secara bahasa, kata Islam terambil dari asal kata: “menyerahkan diri, tunduk, patuh dan taat. Kata “aslama” itulah menjadi pokok kata Islam yang mengandung segala arti yang terkandung dalam makna pokoknya. Sebab itu orang yang melakukan “aslama” disebut “muslim”. Bererti orang itu telah menyatakan dirinya taat, tunduk dan patuh kepada Allah SWT. Dengan melakukan “aslama” seseorang telah terjamin hidupnya di dunia dan akhirat. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah (2) :112.

‫,ا س الما - ي س لم - ا س لم‬

yang artinya

Makna Dienul ISLAM

(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Dengan demikian, dien Islam berarti ketaatan, ketundukan dan kepasrahan setiap muslim kepada undang-undang/syariat Allah bagai ketundukan dan kepasrahan alam semesta yang tidak pernah menentang/menyimpang dari sunatullah, inilah pokok dari penamaan dien dengan Islam menjadi dienal-Islam (dienullah). Seperti diterangkan dalam surat Ali Imran (3):83.

Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan. Berdasarkan pengertian tersebut di atas, maka hanya dien Islam yang diakui oleh Allah. Sebagaimana firman-Nya surat Ali Imran (3):19.

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang

Nama-Nama Lain Dien Islam Adalah:
DIENULLAH TERDAPAT DIENULHAQ
DALAM

QS. 3:83. QS. 9:33, 61:9
DAN

TERDAPAT DALAM

48:28.

DIENUL QAYYIM, TERDAPAT DIENUL KHALIS ,

DALAM

QS. 30;30, 12;40. QS. 39:2-3,
DAN

TERDAPAT DALAM

98:5.

1. Prinsip-Prinsip Dasar Islam
Dien al-Islam memiliki prinsip-prinsip dasar sebagai berikut:

Makna Dienul ISLAM
a. Tauhid
Tauhid artinya mengesakan Allah, lawan dari isyrak, artinya mensekutukan Allah. Firman Allah dalam surah al-Ikhlash (112):1-4. Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia". Misi setiap rasul adalah “Tauhid” menyeru manusia agar mentauhidkan Allah. Sedangkan perwujudan dari Tauhid adalah ketundukan dan penyerahan secara total hanya kepada Allah. Sebagaimana difirmankan Allah dalam surat al-An’am (6):161-163:

Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik". Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)".

b. Kaffah.
Kaffah artinya lengkap, komplit, menyeluruh (universal). Dien al-Islam bersifat “kaffah” meliputim berbagai aspek, tidak ada satu persoalanpun yang terlupakan dalam Islam. Firman Allah dalam surat al-Baqoroh (2):208.

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

Makna Dienul ISLAM
Dalam surat al-An’am (6):38.

Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.

c. Ikhlash
Ikhlash artinya bersih, murni, tidak bercampur. Dien al-Islam menganut prinsip ikhlash, karena Islam itu bersih dari intervensi manusia dalam corak dan bentuk apapun. Ia semata-mata bersumber dari Allah, serta pengabdiannyapun hanya kepada Allah. Firman Allah dalam surat azZumar (39):2-3.

Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Qur'an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. Serta terdapat dalam surat al-Bayyinat (98):5.

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.

Makna Dienul ISLAM
Yang dimaksud ikhlas (Mukhlis) dalam kandungan ayat tersebut mempunyai dua makna: (a) membersihkan konsepsi dien dari pengaruh manusia, sehingga dien tetap bersih hanya bersumber dari Allah dan kepada Allah. (b) Menuntaskan pengamalan seluruh isi dien al-Islam, sehingga dien tersebut tegak (idhar).

d. Idhar/Iqomah
Dien al-Islam menganut prinsip idhar/iqomah, artinya dien Islam harus tegak dan direalisasikan. Firman Allah dalam at-Taubah (9):33.

Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur'an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. Dan dalam surat asy-Syura (42): 13.

Dia telah mensyari`atkan kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama) -Nya orang yang kembali (kepada-Nya).

e. I’tisham
I’tisham artinya berpegang teguh, lawan dari tafaruq (bercerai-berai). Islam menganut prinsip i’tisham agar umat Islam selalu bersatu. Perhatikan firman Allah dalam surat Ali Imran (3):103.

Makna Dienul ISLAM
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orangorang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

2. Kerangka Sistem Islam
Islam adalah sistem hidup yang kaffah (QS. 2:208) dibangun atas kerangkan Rububiyah, Mulkiyah dan Uluhiyah. Ketiga kerangka tersebut dapat dikorelasikan dengan ayat-ayat amtsal Kalimat Thayyibah sebagaimana dalam QS. 14:24-25.

(24) Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit

(25) pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat Dan dalam ayat-ayat amtsal dalam surat an-Nur (24): 35-37. Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.

Makna Dienul ISLAM
Agar lebih jelas korelasi antara kerangka sistem Islam dengan ayat-ayat amtsal di atar, perhatikan skema berikut ini:

a. Rububiyah Islam (Aslun/Nur)
Islam sebagai sebuah sistem memiliki hukum dan perndang-undangan yang komplit, yang berlaku sepanjang zaman. Lihat QS. 42:13.

b. Mulkiyah Islam (Far’un/Buyut)
Islam sebagai sebuah sistem memiliki pemerintahan Islam sebagai tempat/te ritorial bagi pelaksanaan hukum/perundang-undangan Islam. Firman Allah dalam surat an-Nuur (24):55.

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benarbenar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orangorang yang fasik.

c. Uluhiyah Islam (Ukulun/Rijal)
Kerangka sistem Islam lainnya adalah Uluhiyah Islam, yaitu adanya sebuah sistem pengabdian yang dilaksanakan oleh masarakat Islam (umat, ibadullah) di dalam Mulkiyah Islam. Firman ALLAH dalam surat Thaha (20): 14.

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. Dalam surat al-Furqon (25): 63-64. Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-

Makna Dienul ISLAM
kata yang baik. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. Perhatikan pula firman Allah dalam surat al-Maidah (5):54. Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu'min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendakiNya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. Berdasarkan uraian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa kerangkan sistem Islam meliputi Rububiyah Islam (sistem perundang-undangan), Mulkiyah Islam (sistem Pemerintahan Islam), dan Ulihiyah Islam (sistem pengabdiian). Ketiga kerangka sistem tersebut menjadi satu kesatuan yang utuh dalam sistem Islam, sebagaiman utuhnya akar (aslun), batang (far’un) dan buah (ukulun) dalam sebuah amtsal “Pohon Yang Baik” (Syajarah Thayyibah).

F. Kesimpulan
1. 2. 3. 4. Secara bahasa dien berarti tunduk, patuh, taat, pembalasan, masehat dan undang-undang. Dalam al-Quran, kata dien bermakna syariah, hukum/undang-undang negara, way of life, sistem pengabdian dan pertanggung jawaban. Sebelum Islam lahir, masarakat jahiliyah mengikuti tradisi nenek moyang dan bertuhan ganda/polytheisme, talbis dan terpecah belah. Kerangka sistem Islam meliputi Rububiyah Islam (sistem perundang-undangan), Mulkiyah Islam (sistem pemerintahan Islam) dan Uluhiyah Islam (sistem pengabdian Islam).

al-Hamdu li Allah Rabb al-'Alamin

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful