P. 1
MAKALAH TAFSIR ((Tafsir surah at-tiin (1-6), surah al-a’raaf (175-176), surah al-mukminun (ayat 23), surah al-isra’ (ayat 70))

MAKALAH TAFSIR ((Tafsir surah at-tiin (1-6), surah al-a’raaf (175-176), surah al-mukminun (ayat 23), surah al-isra’ (ayat 70))

|Views: 2,863|Likes:
Published by Tanzil Al Khair

More info:

Published by: Tanzil Al Khair on Oct 28, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/07/2014

pdf

text

original

1

A. SURAH AT-TIIN ( AYAT 1 – 6)
Diturunkan Di Mekkah

Pengantar
Hakikat pokok yang dipaparkan surah ini adalah hakikat fitrah yang lurus yang
Allah menciptakan manusia atas fitrah ini. Istiqamah tabiatnya bersama tabiat Iman,
dan sampainya fitah itu bersama iman kepada kesempurnaannya yang ditakdirkan
untuknya. Hakikat tentang jatuhnya manusia dan kerendahannya ketika ia menyimpang
dari fitrah yang benar dan iman yang lurus.
Malik dan Syu‟bah telah meriwayatkan dari adiy ibnu Sabit, dari Al-Barra Ibnu
Azib, bahwa Nabi SAW, acapkali membaca surat Wal Tiini Wazzaituun dalam salat
perjalanannya, dan aku belum pernah mendengar seseorang yang lebih indah suara dan
bacaannya daripada beliau SAW. Hadits ini diketengahkan oleh Jamaah didalam
kitabnya masing-masing.
÷×-gÞ-¯-4Ò ÷pO+-uCEO¯-4Ò ^¯÷
1. Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun[1587],
[1587] yang dimaksud dengan Tin oleh sebagian ahli tafsir ialah tempat tinggal nabi
Nuh, yaitu Damaskus yang banyak pohon Tin; dan Zaitun ialah Baitul Maqdis yang
banyak tumbuh Zaitun.
Dari ayat diatas, ulama tafsir berbeda pendapat sehubungan dengan tafsir surat ini, ada
beberapa pendapat yang cukup benyak dikalangan mereka mengenainya. Menurut suatu
pendapat, yang dimaksud dengan at-tiin adalah sebuah masjid di kota Dimasyq.
Menurut pendapat yang lainnya adalah buah tin. Dan menurut pendapat yang lainnya
lagi adalah nama sebuah gunung penuh dengan buah tin.
Al-Qurtubi mengatakan bahwa Tiin adalah masjid As-Habul Kahfi. Dan telah
diriwayatkan dari Ibnu Abbas oleh Al-Aufi, bahwa Tiin disini adalah masjid Nabi Nuh
yang ada dipuncak Bukit Al-Judi. Nujahid mengatakan bahwa makna yang dimaksud
adalah pohon tin kalian ini.
2

Sedangkan mengenai Zaitun – menurut Ka‟bul Ahbar, Qatadah, Ibnu Zaid, dan
yang lainnya – hal ini adalah nama sebuah mesjid yang terletak di kota Yerussalem
(Baitul Maqdis). Mujahid dan Ikrimah mengatakan bahwa makna yang dimaksud adalah
buah Zaitun yang kalian peras ini.
1

Dalam Kitab Tafsir fi Zhilalil Quran karya Sayyid Quthb, mengenai zaitun ada
yang mengatakan bahwa ia adalah isyarat yang menunjuk kepada Gunung Zaita di
Baitul Maqdis. ada yang mengatakan bahwa ia mengisyaratkan kepada Baitul Maqdis
itu sendiri. ada yang mengatakan bahwa ia mengisyaratkan kepada ranting pohon zaitun
yang dibawa pulang kembali oleh burung merpati yang dilepas oleh Nabi Nuh dari
bahtera untuk memberi pertanda telah surutnya banjir. Maka, ketika burung itu kembali
dengan membawa ranting pohon ini, tahulah Nabi Nuh bahwa bumi telah surut airnya
dan telah menampakkan tumbuhan-tumbuhannya.
Pohon zaitun yang diisyaratkan di dalam Al-Quran berada di suatu tempat
didekat Gunung Sinai. Lalu, dikatakan. “Pohon yang tumbuh dari kawasan Gunung
Sinai yang menghasilkan minyak dan dijadikan lauk pauk bagi orang yang hendak
makan”, sebagaimana di dalam Al-Quran disebutkan Zaitun dalam firman Allah,
L^O+-uCEe4Ò 1E^Cº±4Ò ^g_÷
“Zaitun dan Pohon kurma.” („Abasa : 29)
Oleh karena itu, kita tidak dapat memastikan sesuatupun dalam persoalan ini.
Paling-paling kita hanya dapat mengatakan, dengan bersandar pada persamaan bingkai
ini dalam surah-surah Al-Quran, bahwa kemungkinan terdekat adalah bahwa
penyebutan tiin dan zaitun mengisyaratkan kepada tempat-tempat atau kenangan-
kenangan yang ada hubungannya dengan persoalan agama dan keimanan. Atau,
memiliki hubungan dengan pertumbuhan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya
(boleh jadi hal itu terjadi di surga tempat dimulainya kehidupan di sana). sehingga, ada
relevansi antara isyarat dan hakikat pokok yang tampak dalam surah ini. dan selaras
pula antara bingkai dan hakikat yang ada didalamnya. Semuanya disampaikan menurut
metode Al-Quran.
2


1
Al-Imam Abul Fida Isma’il Ibnu katsir Ad-Dimasyq, TAFSIR IBNU KATSIR. Hal : 427
2
Sayyid Quthb, TAFSIR FI ZHILALIL QUR’AN. Hal :298
3

Ka‟bul ahbar dan yang lainnya yang bukan hanya seorang mengatakan bahwa ini
adalah nama bukit yang ditempat itu Allah Berbicara langsung kepada musa.
-EOE-4Ò g·-4l^¯- --g`·-
^@÷
3. Dan demi kota (Mekah) Ini yang aman,
Makna yang dimaksud adalah kota makkah, menurut Ibnu Abbas, Mujahid,
Ikrimah, Al-hasan, Ibrahim An-Nakha‟I, Ibnu Zaid, dan ka;bul Ahbar; tiada perbedaan
pendapat diantara mereka dalam hal ini.
Sebagian para imam mengatakan bahwa ketiganya merupakan nama tiga tempat
yang pada masing-masingnya Allah telah mengutus seorang nabi dari kalangan Ulul
„Azmi para pemilik syariat-syariat yang besar.
Yang pertama ialah tempat yang dipenuhi dengan tin dan zaitun, yaitu Baitul
Maqdis. Allah telah mengutus Isa Putra Maryam padanya. Yang kedua adalah Tur
Sinai,. yakni nama bukit yang padanya Allah berbicara langsung kepada Musa Ibnu
Imran. Dan yang ketiga ialah Mekkah alias kota yang aman; yang barang siapa
memasukinya, pasti dia dalam keadaan aman; di tempat inilah Allah SWT mengutus
Nabi Muhammad SAW.
Mereka mengatakan bahwa pada akhir kitab taurat nama ketiga tempat ini
disebutkan, “Allah datang dari Bukit Sinai – yakni tempat yang padanya Allah berbicara
langnsung kepada Musa a.s Ibnu Imran – .dan muncul Saa‟iir, nama sebuah bukit di
Baitul maqdis, yang padanya Allah mengutus Isa. Dan tampak di bukit-bukit faaraan,
yakni bukit-bukit Mekkah yang darinya Allah SWT, mengutus Nabi Muhammad SAW.
Maka Allah SWT. menyebutkan nama-nama ketiga tempat ini seraya
memberitakan tentang mereka yang diutus-Nya secara tertib dan menurut urutan
zamannya. Untuk itulah hal ini berarti Allah bersumpah dengan menyebut yang mulia,
lalu yang lebih mulia darinya, kemudian yang lebih mulia dari keseluruhannya.
3

;³·³·¯ 4L^³ÞUE· =}=Oee"- EO)×
^}=O;OÒ¡ ±¦C÷O^³·> ^j÷ O¦¬¦

3
Sayyid Quthb, TAFSIR FI ZHILALIL QUR’AN. Hal :299
4

+O4^u1E14O ºE¼¯cÒ¡ 4×-)-g¼Ec
^)÷ ·º)³ 4ׯg~-.- W-ONL4`-47
W-O¬Ug·E×4Ò geE·)UO¯- ¯¦÷_ÞU··
vO;_Ò¡ +O¯OEN ±pON4^¼E¯ ^g÷
4. Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .
5. Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),
6. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka
pahala yang tiada putus-putusnya.
dari ayat-ayat ini, tampak bagaimana perhatian Allah dalam menciptakan
manusia didalam bentuk yang sebaik-baiknya. memang Allah SWT menciptakan segala
sesuatu dengan sebaik-baiknya, tetapi dikhususkannya penyebutan manusia di sini dan
di tempat-tempat lain dalam Al-Quran dengan susunan yang sebaik-baiknya, bentuk
yang sebaik-baiknya, dan keseimbangan yang sebaik-baiknya. hal ini menunjukka
perhatian yang lebih dari Allah kepada makhluk yang bernama manusia.
Perhatian Allah terhadap manusia, meskipun pada diri mereka juga terdapat
kelemahan dan adakalanya penyimpangan dari fitrah dan kerusakan, mengisyaratkan
bahwa mereka memiliki urusan tersendiri di sisi Allah, dan memilki timbangan sendiri
di dalam sistem semesta. Perhatian ini tampak di dalam penciptaannya dan susunan
tubuhnya yang bernialai dibandingkan dengan makhluk lain, baik dalam susunan
fisiknya yang sangat cermat dan rumit, susunan akalnya yang unik, maupun susunan
ruhnya yang menakjubkan.
Kemudian pembicaraan di sini ditekankan pada khususiah ruhiahnya. Karena,
ialah yang menjadikannya jatuh ke tempat yang serendah-rendahnya ketika
menyimpang dari fitrah dan menyeleweng dari iman yang lurus, karena sudah jelas
bahwa wujud badaniahnya tidak akan menjatuhkannya ke derajat yang serendah-
rendahnya.
Didalam khususiah ruhiyah ini, tampaklah keunggulan wujud manusia. maka,
mereka diberi potensi untuk mencapai tingkatan yang tinggi melebihi kedudukan
malaikat muqarrabin, sebagaimana dibuktikan dengan adanya peristiwa Isra Mi‟raj.
5

ketiak itu malaikat Jibril berhenti pada suatu tempat, sedang Nabi Muhammad bin
Abdullah-yang manusia itu terus naik ke tempat yang lebih tinggi.
Akan tetapi, manusia juga potensial untuk mencapai derajat terendah yang tidak
ada makhluk lain mencapai derajat kerendahan seperti itu, “Kemudian Kami kembalikan
dia ke tempat yang se rendah-rendahnya.” ketika itu makhluk binatang pun masih lebih
tinggi dan lebih lurus daripadanya. Karena, binatang masih istiqamah pada fitrahnya,
masih melaksanakan ilham bertasbih menyucikan Tuhannya, dan menunaikan tugasnya
dibumi menurut petunjuk yang digariskan Allah. Sedangkan, manusia yang diciptakan
dalam bentuk yang sebaik-baiknya, mengingkari Tuhannya dan memperturutkan hawa
nafsunya. Sehingga, ia jatuh ke lambah kahinaan terendah yang binatang pun tidak
sampai terjatuh serendah itu.
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-
baiknya” dalam fitrah dan potensinya. “Kemudian Kami kembalikan dia ketempat yang
serendah-rendahnyaa” ketika ia sudah menyimpang dengan fitrahnya dari garis yang
telah ditunjuki dan dijelaskan oleh Allah. kemudian dibiarkan-Nya ia untuk memilih
salah satu dari dua jalan kehidupan.
4

Adapun dalam kitab tafsir ibnu katsir menyatakan, bahwasanya tempat yang
serendah-rendahnya itu adalah neraka. menurut Mujahid, Abul Aliyah, Al-Hasan, Ibnu
Zaid, dan lain-lainya. Yakni kemudian sesudah penciptaan yang paling baik lagin paling
indah itu, tempat kembali mereka adalah ke neraka, jika mereka tidak taat kepada Allah
dan tidak mengikuti rasul-rasul-Nya.
5

“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh.” Maka,
merekalah yang btetap berada diatas fitrah yang lurus, dan menyempurnakannya dengan
iman dan amal saleh, serta meningkatkan derajatnya ke tingkat kesempuranaan sesuai
dengan ukuran yang ditetapkan untuknya. Sehingga, mencapai kehidupan yang
sempurna di nergeri kesempurnaan. “Maka, bagi mereka pahal yang tiada putus-
putusnya”, yang kekal abadi tidak akan pernah berhenti.

4
Sayyid Quthb, TAFSIR FI ZHILALIL QUR’AN. Hal :300
5
Al-Imam Abul Fida Isma’il Ibnu katsir Ad-Dimasyq, TAFSIR IBNU KATSIR. Hal :428
6

Adapun orang-orang yang terbalik dengan fitrahnya ke tingkatan yang serendah-
rendahnya, maka kelak akan menempati tempat yang paling rendah di akhirat nanti, di
neraka jahannam. Disana kemanusiaanya sia-sia, berkubang dalam kehinaan.
Inilah dua akibat yang logis sesuai dengan titik awalnya. Adakalanya bermula
dari komitmennya pada fitrah yang lurus dan mnyempurnakannya dangan iman, serta
meninggikannya dengan amal saleh. Kemudian pada akhirnya ia akan sampai pada
lesempurnaan yang ditetapkan dan berada dalam kehidupan yang penuh kenikmatan.
Namun, adakalanya menyimpang dari fitrah yang lurus, terbalik, dan terputus dari
tiupan Ilahiah. Sehingga, pada akhirnya ia sampai ke tempat paling rendah, di neraka
yang menyala-nyala.
Oleh Karena itu, tampak jelaslah nilai iman didalam kehidupan manusia. Iman
inilah yang meningkatkan dan menyampaikan fitrah yang lurus untuk mencapai puncak
kesempurnaannya. Ia adalah tali yang membentang antara fitrah dan Penciptaannya. Ia
adalah cahaya yang menerangi langkah-langkahnya untuk mendaki kepada kahidupan
orang-orang dalam kemuliaan yang kekal.
Apabila tali ini putus dan cahaya itu padam, maka hasil yang pasti adalah
keterjatuhan ke tempat yang serendah-rendahnya. Sehingga, terabaikan kemanusiaannya
secara total, ketika tanah liat berlumuran pada wujud manusia. Dengan demikian, ia
menjadi bahan bakar api neraka bersama bebatuan.
Asbabun Nuzul
Imam Ibnu Jarir telah mengetengahkan sebuah hadits melalui jalur Al-Aufi
bersumber dari Ibnu Abbas, sehubungan dengan firman Allah :
“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya”(Q.S. 95
At-Tiin, 5).
Ibnu Abbas r.a telah menceritakan bahwa mereka yang disyariatkan oleh ayat ini
adalah segolongan orang-orang yang dituakan umurnya hingga tua sekali pada zaman
Rasulullah SAW. Karena itu, ditanyakanlah perihal mereka sewaktu mereka sudah
pikun. maka Allah menurunkan firman-Nya yang menjelaskan tentang pemaafan bagi
7

mereka, lalu dinyatakan-Nya bahwa bagi mereka pahala dari amal baik yang dahulu
mereka lakukan mereka pikun.
6


B. SURAH AL-A’RAAF (AYAT 175 – 176)
Di Turunkan Di Mekkah

Pengantar
Surah Al-A‟raaf adalahj surah yang turun sebelum Nabi Muhammad saw
berhijrah ke Mekkah. ia terdiri dari 206 ayat, keseluruhannya turun di mekkah. ada
sementara ulama mengecualikan ayat-ayat 163-170, tetapi pengecualian ini dinilai
lemah.
Nama al-A‟raaf telah di kenal sejak masa Nabi saw. Pakar hadits an-Nasa‟I
meriwayatkan, bahwa Urwah ibn Zaid ibn Tsaabit berkata kepada Marwan Ibn Al-
Hakam; “Mengapa saya melihat anda membaca surah-surah pendek pada waktu
maghrib, sedang saya melihat Rasulullah saw membaca yang terpanjang dari dua surah
jang?” Marwan bertanya: „Apakah surah terpanjang dari dua yang panjang?‟ Urwah
menjawab: Al-A‟raaf” Aisyah r.a juga meriwayatkan bahwa rasul saw, membaca surah
al-a‟raaf ketioka sholat maghrib. Beliau membagi bacaannya dalam dua rakaat. (H.R.
Nasa‟i)
kandungan surah ini merupakan rincian dari sekian banyak persoalan yang
diuraikan oleh surah al-An‟am, khususnya menyangkut kisah beberapa nabi. Al-biqa‟I
berpendapat, bahwa tujuan utamanya adalah peringatan terhadap yang berpaling dari
ajakan yang disampaikan oleh surah al-an‟am, yakni ajakan kepada tauhid, kebajikan
dan kesetiaan pada janji serta ancaman terhadap siksa duniawi dan ukhrawi. bukti yang
terkuat menyangkut tujuan tersebut – tulis al-Biqa‟I – adalah nama surah ini “al-A‟raf”.
menurut al-Biqa‟I, al-A‟raaf adalah tempat yang tinggi disurag. mempercayai al-A‟raaf
mengantar seseorang berada di tempat yang hakikat itu dimana ia mengamati surga dan
mereka dan mengetahui hakikat apa yang terdapat di sana.

6
Imam Jalaluddin Al-Mahalli & Imam jalaluddin As-Suyuti, TAFSIR JALALAIN. Hal :1352
8

N^>-4Ò ¯ª)_^1ÞU4× Ò4:4^ -Og~-.-
+OE4^O·>-47 E4g4C-47
ECÞU=Oe·· E_u4g` +OE¬4l^>Ò··
÷}·C^OO=¯- 4p~·¯·· =}g`
¬-¯jÒ4¯^¯- ^¯_)÷ ¯O·¯4Ò E4^Og-
+O4Lu¬··4O·¯ Ogj± ¼+OEL´¯·¯4Ò
4·-u=Ò¡ ©Þ¯)³ ^·¯O·-
E74lE>-4Ò +O.4OE- _ N¡q-·VE©··
÷·VE©E ´U·UE:^¯- p)³ ¯g©^4Ò`
gO^OÞU4N ;+E_·U4C uÒÒ¡ +O-±+O^¨·>
+E_·U4C _ Elg¯-O N·V4` g¬¯O·³^¯-
¬-¯g~-.- W-O+OOE
4Lg-4C4*) _ +÷O^~··
"÷=·³^¯- ¯ª÷_^UE¬·¯ 4pÒNO-¯E¼44C
^¯_g÷
175. Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang Telah kami berikan kepadanya
ayat-ayat kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), Kemudian dia melepaskan diri dari
pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), Maka jadilah dia
termasuk orang-orang yang sesat.
176. Dan kalau kami menghendaki, Sesungguhnya kami tinggikan (derajat)nya
dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa
nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu
menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan
lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-
ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.
Ini adalah pemandangan yang menakjubkan, baru, dan serius, yang terkandung
di dalam lukisan dan pelukisan bahasa ini. seorang manusia yang Allah memberikan
kepadanya ayat-ayat-Nya (pengetahuan tentang isi Al-Kitab), memberikan karunia
kepadanya, memberinya pengetahuan, dan memberinya kesempatan yang sempurna
untuk menggunakan petunjuk. berhubungan dengan tuhan dan meninggikan derajatnya.
9

akan tetapi, ia melepaskan dari semua ini. ia melepaskan diri seakan-akan ayat-ayat
Allah itu sebagai kulit yang membungnkus dagingnya. lantas, ia melepaskannya dengan
keras dan susah payah, sepereti halnya makhluk hisup melepaskan dirinya dari kulit
yang melekat pada dirinya. Bukankah keberadaan manusia itu lekat dengan rasa iman
kepada Allah seperti melekatnya kulit pada tubuh?
Nah, inilah ia melepaskan diri dari ayat-ayat Allah, melepaskan diri dari penutup
yang melindungi, dan baju besi pelindung hawa nafsu, turun dari petunjuk untuk
mengikuti hawa nafsu, turun dari ufuk yang bersinar cemerlang lantas belepotan dengan
tanah lumpru. sehingga, jadilah ia sebagai buruan setan yang tidak ada seorang pun
yang dapat melindunginya dari setan itu. Karen itu, ia menjadi pengikut setan dan
dikuasai olehnya.
Kemudian, inilah kita berada di depan pemandangan yang menakutkan dan
mengerikan. yaitu, berada di depan makhluk yang lekat ke bumi, berlumuran dengan
lumpur, dan tiba-tiba keadaannya berubah seperti anjing, yang mengulurkan lidahnya
kalau dihalau dan mengulurkan lidahnya meski pun tidak dihalau. pemandangan-
pemandangan ini bergerak dengan beruntun, dan bayangan tentang kesan-kesannya
tampak jelas. tiba-tiba kita berada pada pemandangan terakhir. yaitu, menjulurkan lidah
yangn tiada henti. Terdengar lah komentar yang menakutkan dan mengesankan terhadap
semua pemandangan itu.
7

Begitulah perumpamaan mereka! ayat-ayat yang mambawa petunjuk dan
mengisyaratkan serta memicu keimanan melekat pada fitrah mereka dan keberadaan
mereka serta seluruh wujud semesta yang ada di sekelilingnya, akan tetapi, kemudian
mereka melepaskan diri darinya. Tiba-tiba mereka merubah eksistensinya, turun
derajatnya dari posisi “manusia” ke posisi binatang…. posisi anjing yang
bergelimang debu. Padahal, mereka memiliki sayap iman yang dapat digunakan terbang
ke “Illiyyiin” posisi orang-orang yang tinggi dan terhormat. Fitrah mereka yang
pertama adalah dalam bentuk yang seindah-indahnya. akan tetapi, mereka jatuh darinya
ke derajat yang serendah-rendahnya.


7
Sayyid Quthb, TAFSIR FI ZHILALIL QUR’AN. Hal :57
10





C. SURAH AL-MUKMINUN ( AYAT 23 )
di turunkan di Mekkah

Pengantar
Ini adalah surat al-Mu‟minun. Nama surah ini menunjukkan hakikat dan
membatasi tema-temanya. Ia diawali dengan bahasan tentang sifat orang-orang
mukmin. kemudian arahan redaksi ayat mmulai membahas tentang tanda-tanda iman
dalam jiwa dan alam semesta. kemudian beralih ke dalam bahasan tentang hakikat iman
sebagaimana yang dipaparkan oleh rasul-rasul Allah, dari sejak Nabi Nuh hingga
Muhammad SAW. sebagai penutup para nabi dan rasul.
;³·³·¯4Ò E4·UEc¯OÒ¡ ~ÞO+^ _OÞ¯)³
·gOg`¯O·~ 4··³·· ´¬¯O·³4C W-Ò÷³+l;N-
-.- 4` 7¯·¯ ;}g)` ·O·¯)³
¼+Þ+O¯OEN W ºE··Ò¡ 4pO¬³+-·> ^g@÷
23. Dan Sesungguhnya kami Telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata:
"Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu
selain Dia. Maka Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?"
Pada ayat diatas, bahasan beralih dari bahasan tentang tanda-tanda iman pada
jiwa dan alam semesta kepada hakikat iman yang dibawa oleh para rasul seluruhnya. Ia
menjelaskan bagaimana respon manusia atas hakikat satu ini yang tidak akan pernah
berubah sepanjang zaman. padaha, banyak risalah dan pengutusan rasul-rasul yang
berturut-turut, mulai sejak Nabi Nuh.
kita akan saksikan bahwa setiap kendaraan para rasul atau umatnya ketika
menyampaikan kalimat yang satu kepada seluruh manusia, pasti mengandung satu
maksud dan satu arah. Bahkan, hingga terjemahnya menyatu dalam bahasa arab.
11

padahal dinyatakan dalam berbagai bahasa ketika para rasul diutus kepada kaumnya.
ternyata kalimat yang dinyatakan oleh Nuh. a.s itulah kalimat yang dinyatakan oleh
setiap rasul yang datang setelahnya. kemudian manusia meresponnya dengan satu
jawaban pula, hampir kalimatnya sama dan menyatu sepanjang zaman.
“hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena0 sekali-kali tidak ada tuhan
bagimu selain dia…”
Kalimat ini merupakan kalimat haq yang tidak akan pernah berubah. Diatasnya
berdiri seluruh benda yang ada, dan semua yang ada menyaksikan kaumnya.
“Maka, menmgapa kamu tidak bertaqwa (kepadanya)?? (al-Mu’minuun : 23)
Mengapa kalian tidak takut terhadap akibat yang timbul dari pengingkaran
kalian terhadap hakikat ini, yang diatasnya berdiri segala kebenaran? kemudian kalian
berpura-pura merasakan dalam pengingkaran itu bahwa ada kegilaan dalam kebenaran
yang nyata tersebut.? kalian pun tidak takut terhadap konsekuensi yang menanti kalian
dari kegilaan ini, yaitu azab yang sangat pedih??
Namun para pembesar kaum Nuh tidak mau mendiskusikan kalimat ini dan tidak
mau merenungkan bukti-buktinya. Mereka pun tidak mampu keluar dari pandangan
sempit yang berkaitan dengan pribadi-pribadi mereka dan dari pribadi orang yang
mengajak mereka kepada kebenaran. Mereka tidak naik ke tingkat yang independen
sehingga dapat memandang kepada hakikat agung ini yang diatasnya berdiri semua
yang ada dan disaksikan oleh semua yang ada. Mereka malah lebih tertarik membahas
tentang pribadi Nuh.
“Maka, pemuka-pemuka orang kafir diantara kaumnya menjawab, “Orang ini
tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang
yang lebih tinggi dari kamu…”
Dari sisi yang sempit ini, kaum Nuh melihat dakwah yang besar itu. Maka, mana
mungkin mereka bisa mnegetahui tabiatnya dan tidak munkin pula melihat hakikatnya.
Mereka menolak kemuliaan dari Allah bagi manusia, dan membesar-besarkan
masalah bila seorang rasul diutus dari jenis manusia, seandainya dia benar-benar harus
diutus.
“…. Kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat….”
12

Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa mereka tidak menemukan dalam roh-
roh mereka. tiupan yang menjadikannya berkedudukan tinggi yang menyampaikan
manusia ketingkat kedudukan yang paling tinggi dari malaikat (Al-malaul A‟la). Roh
membuat manusia pilihan dapat mencapai kedudukan yang paling tinggi itu dan bisa
mendudukinya. Orang-orang pilihan ini kemudian membawanya kepada saudara-
saudara mereka sesama manusia. Kemudian menuntun mereka kepada sumbernya yang
bersih.
Kaum itu mengalihkan perkara itu kepada peristiwa-peristiwa terdahulu yang
dikenal bukan kepada akal yang mampu merenung dan memikirkannya.
8


D. SURAH AL-ISRA’ (AYAT 70)
Di turunkan di Mekkah

Pengantar
Surah al-Isra‟ ini adalah sural makkiyyah. Dimulai dengan tasbih
(memahasucikan) kepada Allah dan diakhiri dengan tahmid (memuji) kepada-Nya.
Surah ini berisi berbagai tema yang umumnya berkaitan dengan masalah akidah.
Sebagian dari tema-tema itu berkaitan dengan prilaku individu atau kolektif serta
etikaetikanya yang berdiri atas landasan akidah tersebut. Di samping itu, surah ini juga
berisi kisah bani israil dalam kaitannya dengan Masjidil Aqsha sebagai tempat tujuan
Isra Nabi SAW. dan sepenggal kisah Nabi Adam dan iblis serta kemuliaan yang
diberikan Allah kepada manusia.
¯ ;³·³·¯4Ò E4^`·OE ×/j_4 4¯E1-47
¯ª÷_E4·U4·EO4Ò O)× )´OE¯^¯-
@O¯·4l^¯-4Ò ª÷_E4^~Ee4O4Ò ¬;g)`
ge4lj´1-C¯- ¯¦÷_4L·U·_··4Ò
_OÞ>4N ¯OOgVº± ;}O©g)` E4^³ÞUE=
1E1´_^¼·> ^_´÷

8
Sayyid Quthb, TAFSIR FI ZHILALIL QUR’AN. Hal : 172
13

70. Dan Sesungguhnya Telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di
daratan dan di lautan[862], kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami
lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan makhluk yang
Telah kami ciptakan.
[862] Maksudnya: Allah memudahkan bagi anak Adam pengangkutan-pengangkutan di
daratan dan di lautan untuk memperoleh penghidupan.
Allah memuliakan manusia melebihi makhluk-Nya yang lain. Allah
memuliakannya dengan bentuk penciptaan yang indah dan dengan fitrah yang
menggabungkan antara tanah dengan roh yang ditiupkan padanya. Artinya, manusia
adalah makhluk yang menggabungkan antara unsur bumi dan unsur langit dalam
eksistensi dirinya.
Allah juga memuliakan manusia dengan berbagai potensi yang diberikan dalam
fitrahnya. Sehingga, membuatnya berpotensi untuk menjadi khalifah dimuka bumi,
untuk mengadakan perubahan-perubahan dan perbaikan padanya. berproduksi dan
membangun dunia. Dengan demikian, ia akan membawa kehidupan dunia ini sampai
pada kesempurnaan, sebagaiamana takdir yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.
Allah juga memuliakan manusia dengan menundukkan semua kekuatan alam
untuk kehidupannya di muka bumi. Kemudian diberinya bantuan berupa kekuatan yang
dimiliki alam lainnya seperti binatang-binatang dan benda angakasa lainnya.
“kami angkut mereka di daratan dan di lautan…”
mengangkut mereka didaratan dan di lautan ini terjadi dengan tabiat kehidupan
manusia beserta semua potensi yang dimilikinya. Seandainya hukum alam ini tidak
harmonis dengan tabiat kemanusiaan, niscaya tidak akan tegak kehidupan manusia.
Karena, ia sangat lemah dan kerdil jika dibandingkan dengan fenomena-fenomena alam
yang ada di lautan dan di daratan. Tetapi manusia dibekali Allah dengan kemampuan
menguasai kehidupan di alam raya, sekaligus dibekali dengan berbagai potensi agar ia
dapat memanfaatkan alam ini. semua itu merupakan anugerah Allah yang amat besar.
“Kami beri mereka reszeki yang baik-baik,,”
Biasanya manusia mudah melupakan rezeki yang baik-baik yang diberikan oleh
Allah SWT padanya, karena ia terbiasa dalam hidup dalam kemewahan. Sehingga,
14

banyak orang yang tak merasakan nikmatnya rezeki yang itulah manusia menyadari
nilai yang selama ini ia nikmati. Tetapi manusia cepat sekali lalai dan lupa akan segala
hal dan bentuk kenikmatan yang berupa matahari, udara, air, kesehatan, kemampuan
untuk bergerak, panca-indera, akal pikiran dan berbagai bentuk makanan dan minuman
serta pemandangan. Juga alam raya yang luas yang dikuasakan kepadanya, yang
didalamnya terdapat berbagai rezeki yang baik dengan jumlah yang yak terhingga.
“….. dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas
kebanyakan makhluk yang kami ciptakan.”
Kami utamakan manusia dengan kami jadikan mereka sebagai khalifah yang
menguasai bumi seluas-luasnya. Juga dengan kami berikan di dalam fitrah manusia
berbagai potensi yang mendudukannya sebagai makhluk yang unik dan istimewa di
tengah-tengah makhluk yang lain.
9















9
Sayyid Quthb, TAFSIR FI ZHILALIL QUR’AN. Hal : 276
15



“Tafsir surah at-tiin (1-6), surah al-a’raaf (175-176), surah al-mukminun
(ayat 23), surah al-isra’ (ayat 70)”
DI
S
U
S
U
N
OLEH
1. SARIANTI
2. FIKA SARI
3. M. THAIB


Dosen Pembimbing : Muhammad Jalil, MA
SEMESTER III UNIT B
STAIN ZAWIYAH COT KALA LANGSA
TAHUN 2007-2008

16

PENDAHULUAN





Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita nikmat
kesehatan dan nikmat keimanan, semoga kita semua mendapat hidayah dari-Nya di
Akhirat kelak.
Shalawat beserta kita curah ke baginda Nabi Muhammad SAW. Yang telah
menerangi dunia ini menjadi terang-benderang dengan budi pekertinya, perjuangannya,
untuk menjauhkan umat manusia dari kegelapan/kejahiliyahan.
Sebelumnya penyusun ucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing yang
telah menyampaikan ilmu pengetahuan kepada kami, sehingga kami dapat
mengembangkan ilmu yang telah diberikan kepada kami selaku mahasiswa.
Adapun isi makalah ini membahas tentang “Tafsir surah at-tiin (1-6), surah al-
a‟raaf (175-176), surah al-mukminun (ayat 23), surah al-isra‟ (ayat 70)” yang ini semua
tidak akan terlaksana tanpa adanya bantuan dari teman-teman mahasiswa sekalian. Dan
kami selaku penyusun sangat mengharap kritikan dan saran apabila terdapat kesalahan
dan kekurangan dalam ketikan ataupun hal-hal lainnya. Hanya kepada Allah lah kami
mohon ampun. Sekian dan terima kasih.
Tanggal 5 November 2008

TIM PENYUSUN

17

DAFTAR ISI

I. PENDAHULUAN
II. DAFTAR ISI
III. SURAH AT-TIN (AYAT 1 – 6)……………………………..1
IV. SURAH AL-A‟RAAF (AYAT 175-176)...…………………... 7
V. SURAH ALMUKMINUN (AYAT 23)…………… …….…10
VI. SURAH AL-ISRA‟ (AYAT 70)………………..……………... 12
VII. DAFTAR PUSTAKA
18


19


DAFTAR PUSTAKA

1. SHIHAB, M. Quraish. Tafsir Al Mishbah : Pesan, kesan dan keserasian Al-
Quran / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002
2. Al-Mahalli, Imam Jalaluddin. Terjemahan Tafsir Jalalain berikut Asbabun Nuzul
Jilid 1. Bandung : Penerbit Sinar Baru Algensindo, cet. 4. 2007
3. QUTHB, Sayyid. Tafsir fi Zhilalil Quran dibawah naungan Al-Quran jilid 10.
Jakarta : Gema Insani Press, cet. 1. 2004

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->