P. 1
Ibrahim

Ibrahim

|Views: 478|Likes:
Published by yhelhidamopolii

More info:

Published by: yhelhidamopolii on Oct 28, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/14/2013

pdf

text

original

Sections

  • I. PENDAHULUAN
  • II.1. Model Dasar Perdagangan Internasional
  • II.2. Teori Kerjasama Perdagangan Internasional
  • II.3. Kerjasama ASEAN Cina Free Trade Area (ACFTA)
  • III.1. Model Computable General Equilibrium
  • III.2. Alur Analisis
  • III.3. Setting Simulasi Model GTAP
  • III.4.1.Revealed Comparative Advantage (RCA)
  • III.4.2.Intra Industry Trade (IIT)
  • III.4.3.Index of Export Overlap (IEO)
  • III.4.4.Index of Export Similarity (IES)
  • III.5. Data
  • IV.1. Hasil Perhitungan dengan Model GTAP
  • IV.2. Hasil Analisis Indikator Perdagangan Internasional
  • V.1. Kesimpulan
  • V.2. Saran

Dampak Pelaksanaan ACFTA Terhadap Perdagangan Internasional Indonesia

23

DAMPAK PELAKSANAAN ACFTA TERHADAP PERDAGANGAN INTERNASIONAL INDONESIA

Ibrahim Meily Ika Permata Wahyu Ari Wibowo1
Abstract

This study analyze the impact of the implementation of trade agreements within the framework of ACFTA on Indonesia»s export by using the GTAP model; a Multi Regional Computable General Equilibrium Model. Results shows that ACFTA provide opportunities for increased export from Indonesia; Indonesia obtained a net trade creation of international trade amounted to 2% and total exports growth increased by 1.8. However, the export performance of Indonesia in the period showed a decrease of competitiveness, as shown by the decline in share of Indonesian export commodities which are highly competitive and high intra-industry linkage. This paper also find that because the commodity structure of China and the non compeeting behavior of ASEAN countries including Indonesia (tends to complement), China is relatively easier to penetrate export to the ASEAN market. The entering products from China should provide opportunities for domestic producers to increase production capacity in ASEAN, due to wider choice of relatively cheap capital goods imports.

Classification: JEL Classification C67, F14, R12

Keywords: ACFTA, trade, export, GTAP, Revealed Comparative Advantage, CGE.

1 Penulis adalah para peneliti di BRE-DKM Bank Indonesia serta bertanggung jawab atas hasil riset dan segala opininya. Ucapan terima kasih ditujukan kepada Pimpinan DKM Bp. Perry Warjiyo dan Bp. Iskandar Simorangkir, dan seluruh peneliti lainnya yang telah mendukung penelitian ini.

24

Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Juli 2010

I. PENDAHULUAN
Perkembangan perdagangan internasional mengarah pada bentuk perdagangan yang lebih bebas yang disertai dengan berbagai bentuk kerjasama bilateral, regional dan multilateral. Salah satu tujuan utama perjanjian perdagangan internasional adalah berupaya mengurangi atau menghilangkan hambatan perdagangan. Liberalisasi perdagangan dunia dengan pola kerjasama internasional memberikan implikasi yang positif terhadap pertumbuhan ekonomi dunia. Nilai perdagangan dunia tumbuh lebih dari dua kali lipat dari pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) riil dunia (Krueger, 1999). Pada pertengahan 1980an, preferential trading arrangements (PTA) berkembang sebagai pelengkap dari kerjasama internasional. Berbeda dengan kerjasama internasional, PTA melibatkan dua atau beberapa negara. Berdasarkan teori PTA, sebagaimana dipaparkan oleh Kemp (1964) and Vanek (1965), dampak dari dua atau beberapa negara yang membentuk

custom unions (common external tariff) adalah meningkatnya kesejahteraan dari negara-negara
yang tergabung dalam union tersebut dan tidak menyebabkan turunnya kesejahteraan negaranegara di luar union tersebut. Hal ini dibuktikan dalam studi yang dilakukan oleh Ohyama (1972) dan Kemp dan Wan (1976). Ketimbang menetapkan common external tariff, pola PTA yang lebih banyak berkembang adalah penghilangan hambatan dagang intra atau dikenal sebagai Free Trade Agreement (FTA). Beberapa FTA yang telah berjalan yaitu North American

Free Trade Area (NAFTA), European Economic Area (EEA), African Free Trade Zone (AFTZ) dan South Asia Free Trade Agreement (SAFTA).
Demikian juga dengan Indonesia yang telah melakukan kerjasama perdagangan baik yang bersifat bilateral, regional maupun internasional. Meskipun keterlibatan Indonesia dalam berbagai kerjasama perdagangan tersebut memberikan tantangan terhadap produk dalam negeri, tujuan dari semua perjanjian tersebut adalah adanya dampak positif bagi perekonomian negara-negara yang terlibat dan ekonomi Indonesia pada khususnya. Terkait dengan kawasan regional, Indonesia tergabung dalam ASEAN Free Trade Area (AFTA) yang ditandatangani pada tanggal 28 Januari 1992. Dalam perkembangannya, kerjasama diperluas dengan melibatkan berbagai negara lainnya termasuk dengan Cina yang dikenal sebagai ACFTA. Secara khusus, keterlibatan Indonesia dalam ACFTA perlu untuk dicermati lebih lanjut. Hal ini terkait dengan banyak faktor seperti kesiapan produk dalam negeri menghadapi serangan barang impor dari Cina, serta potensi pasar ASEAN yang menjadi berkurang. Dari berbagai literatur studi yang ada, telah banyak diulas dampak ACFTA dari berbagai dimensi dan alat analisis. Penelitian ini diharapkan menjadi salah satu pelengkap studi dampak ACFTA dengan nilai tambah baru. Dengan demikian, informasi yang terkait dengan studi perdagangan pasar ACFTA semakin lengkap.

Dampak Pelaksanaan ACFTA Terhadap Perdagangan Internasional Indonesia

25

Tujuan dari paper ini adalah (i) Memberikan sumbangan bagi kajian sektor eksternal khususnya perdagangan internasional Indonesia, (ii) Memberikan pemahaman terhadap struktur perdagangan Indonesia khususnya dalam lingkup kawasan regional ASEAN Cina, (iii) Mengukur dampak pelaksanaan perjanjian ACFTA terhadap perdagangan internasional negara anggota pada umumnya, dan bagi Indonesia pada khususnya, dan (iv) Pemetaan peluang dan tantangan yang ditunjukkan oleh karakteristik ekspor Indonesia. Peluang terkait dengan terbukanya pasar Cina bagi komoditas ekspor Indonesia. Tantangan terkait dengan masuknya Cina dalam persaingan di pasar ASEAN. Dampak dari perdagangan ACFTA terhadap perekonomian Indonesia mencakup banyak aspek yang dapat menjadi pengembangan analisis lebih lanjut seperti PDB, tenaga kerja, investasi, inflasi dan perdagangan internasional. Untuk memberikan nilai tambah topik bahasan ACFTA yang telah ada sebelumnya, penelitian ini lebih difokuskan dampak ACFTA terhadap ekspor Indonesia. Analisis berbagai indikator kinerja dan karakteristik ekspor Indonesia secara khusus diarahkan pada cakupan pasar ACFTA. Dari sisi alat analisis, hasil model GTAP yang diulas hanya terkait dengan dampak perdagangan khususnya ekspor Indonesia dengan partner dagang negara-negara kawasan ACFTA. Atas dasar hasil model GTAP tersebut, dilakukan analisis lebih lanjut baik dengan menggunakan alat analisis indikator perdagangan internasional seperti RCA, IIT, IES, IEO. Bagian kedua dari paper ini mengulas tentang landasaan empiris dan studi literatur tentang perdagangan dan keseimbangan perekonomian, bagian ketiga mengulas tentang metodologi yang digunakan, bagian keempat membahas hasil dan analisis sementara kesimpulan dan implikasi menjadi penutup.

II. LANDASAN EMPIRIS DAN STUDI LITERATUR II.1. Model Dasar Perdagangan Internasional
Perekonomian suatu negara merupakan agregasi dari perilaku setiap individual. Keseimbangan barang di suatu negara dapat dijelaskan berdasarkan interaksi dari perilaku maksimisasi profit produsen dan maksimisasi utilitas konsumen. Dalam suatu perekonomian yang tertutup (autarky), pada kondisi keseimbangan (titik A), komposisi jumlah barang dan harga barang yang tercipta merupakan hasil mekanisme interaksi dari agregat demand dan

agregat supply dalam negeri (Grafik III.1).

26

Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Juli 2010

Y

Y

A Ua p a X
Sumber : Markusen et al, International Trade and Evidence

X

Grafik III.1: Model Keseimbangan Perekonomian Tertutup (Autarky)

Agregat supply sangat dipengaruhi oleh faktor produksi (endownment) yang tersedia
dan besarnya tingkat produksi yang diwakili oleh fungsi produksi dan teknologi. Sementara

agregat demand sangat dipengaruhi oleh tingkat kurva utilitas konsumen (U) dan keranjang
konsumsi yang tersedia. Tingkat produksi, konsumsi dan tingkat utilitas konsumen sangat tergantung dengan endownment dan jenis produk yang tersedia di perekonomian tersebut. Produsen hanya mempunyai pilihan untuk memproduksi kumpulan jenis produk tertentu dan berusaha memaksimalkan profit berdasarkan endownment dan fungsi produksi yang dimilikinya. Di lain pihak, konsumen hanya dapat memaksimasi utilitasnya dengan mengkonsumsi kombinasi jenis produk yang diproduksi dalam negeri saja dan secara tidak langsung, tingkat utilitasnya pun akan menjadi sangat terbatas. Perbedaan endownment antar negara, serta perbedaan tingkat produksi dan teknologi serta jenis produk yang dihasilkan menyebabkan besarnya variasi jenis produk yang dihasilkan antar negara. Sementara perbedaan selera dan tingkat utilitas individu antar negara berimplikasi pada tingginya variasi keranjang konsumsi yang diinginkan konsumen antar negara. Dalam lingkup yang lebih luas dan sejalan dengan era globalisasi, perekonomian tidak lagi terbatas hanya pada lingkup suatu negara namun telah berkembang dan melewati lintas batas negara. Perilaku maksimisasi profit perusahaan dan maksimisasi utilitas konsumen pun tidak lagi terbatas pada lingkup negara namun dapat bersifat antar batas. Pada model keseimbangan perekonomian terbuka, terdapat peluang untuk memaksimisasi profit dengan melebarkan pasar ke luar dan berproduksi melebihi demand dalam negeri. Di sisi lain konsumen juga memiliki peluang untuk memaksimisasi utilitas dengan mengkonsumsi

Dampak Pelaksanaan ACFTA Terhadap Perdagangan Internasional Indonesia

27

Y

Y Yp Q

Yc

C

p* Xp X Xc

X

Sumber : Markusen et al, International Trade and Evidence

Grafik III.2: Model Keseimbangan Perekonomian Terbuka

suatu jenis produk tertentu melebihi supply dalam negeri ataupun mengkonsumsi jenis produk yang lebih beragam, tidak hanya terbatas pada jenis produk dalam negeri. Kedua hal tersebut di atas pada akhirnya akan mendorong terjadinya pertukaran barang antar negara. Hasil dari interaksi individu di suatu negara dengan individu di negara lainnya tersebut menyebabkan terjadinya pertukaran barang, jasa, dan faktor yang lazim disebut dengan perdagangan internasional yang menyebabkan pergeseran keseimbangan awal (titik A) ke arah keseimbangan berdasarkan perdagangan internasional (titik C) (Grafik III.2). Excess demand produk x (xc-xp) dapat dipenuhi dengan melakukan impor dari negara lain sehingga konsumen dapat memilih keranjang konsumsi yang menghasilkan tingkat utilitas yang lebih tinggi yaitu titik C. Sementara produksi produk y yang melebihi demand dalam negeri dan mengekspor kelebihan (excess supply) produk y tersebut (yc-yp) di pasar internasional. Dengan kata lain, perdagangan internasional adalah pertukaran barang, jasa dan faktor yang terjadi antar negara atau telah melewati batasan nasional/bersifat internasional. Secara teoritis paling tidak terdapat 5 keuntungan dengan adanya perdagangan. Keuntungan pertama yaitu keuntungan dari adanya pertukaran. Dengan adanya perdagangan, suatu negara dapat memproduksi suatu produk melebihi demand dalam negerinya dan mengekspor kelebihan (excess supply) tersebut di pasar internasional yang pada akhirnya akan memperluas pasar dan meningkatkan tingkat keuntungan. Di sisi lainnya, excess demand terhadap suatu produk dapat dipenuhi dengan melakukan impor dari negara lain sehingga konsumen dapat memilih keranjang konsumsi yang menghasilkan tingkat utilitas yang lebih tinggi.

Sementara kebutuhan akan produk yang tidak dapat diproduksi dalam negeri secara efisien dapat dilakukan dengan melakukan impor produk tersebut dari negara lainnya. Hambatan tersebut mengakibatkan harga yang lebih tinggi yang mengakibatkan menurunnya permintaan terhadap barang dari luar negeri. Sementara model Ricardian memprediksi bahwa suatu negara akan fokus berproduksi pada jenis produk yang memiliki keunggulan komparatif tertinggi. suatu negara dapat lebih fokus pada suatu jenis produk dimana mereka dapat berproduksi dengan tingkat efisiensi yang relatif tinggi. dengan adanya perdagangan maka pemenuhan kebutuhan atas jenis produk tersebut akan dapat dipenuhi. Literatur menyebutkan bahwa suatu negara akan cenderung mengekspor suatu produk yang ketersediaannya berlimpah di negara tersebut atau dengan kata lain akan cenderung mengekspor produk yang bersifat excess supply. sesuai mekanisme permintaan-penawaran. Dengan adanya perdagangan internasional membuka peluang suatu negara untuk mempelajari suatu teknik produksi yang lebih efisien dan modern. Keuntungan keempat terkait dengan keragaman endownment yang dimiliki oleh suatu negara. Suatu negara yang dapat berproduksi secara relatif lebih efisien di suatu jenis produk akan cenderung menjadi pengekspor produk tersebut. Keuntungan yang kelima yang mungkin diraih yaitu transfer teknologi modern. Penetapan besaran tarif mempunyai pengaruh terhadap keseimbangan output dan harga. suatu negara dengan tingkat labor yang berlimpah namun dengan tingkat kapital yang terbatas akan cenderung mengekspor produk yang bersifat labor intensif dan akan cenderung mengimpor produk yang bersifat kapital intensif. Keuntungan ketiga yang dapat diraih dari perdagangan terkait dengan keragaman preferensi individu. Dengan adanya perdagangan. Sebagai contoh. . Dalam kenyataannya. Hambatan pedagangan dapat berbentuk tarif dan non-tarif. Perbedaan fungsi produksi di suatu negara juga akan turut menentukan arah perdagangan negara tersebut. Dengan adanya perdagangan suatu negara yang sebelumnya adanya perdagangan tidak memiliki ataupun sangat terbatas akses terhadap suatu jenis produk. Adanya perdagangan memberikan lebih banyak pilihan produk kepada konsumen yang akan semakin membantu dalam pemenuhan dan bahkan dapat menaikkan tingkat utilitas konsumen. Teorema Heckscher-Ohlin menyebutkan bahwa suatu negara akan cenderung mengekspor komoditas yang secara intensif memanfaatkan faktor produksinya yang berlimpah. perdagangan bebas berlangsung tidak secara bebas. Juli 2010 Keuntungan kedua yaitu keuntungan yang didapat dari terjadinya spesialisasi.28 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Dampak Pelaksanaan ACFTA Terhadap Perdagangan Internasional Indonesia 29 Sebagai ilustrasi. hambatan-hambatan perdagangan dapat kurangi dan bahkan dihilangkan. Ekspor dengan dengan daya saing tinggi akan meningkat. . Disamping meningkatkan kesejahteraan (Kindleberger dan Lindert. Pengurangan bahkan penghapusan tarif dan hambatan non tarif akan mempercepat terjadinya integrasi ekonomi regional seiring lancarnya lalu lintas barang. Teori Kerjasama Perdagangan Internasional Dengan liberalisasi perdagangan baik yang bersifat internasional maupun regional. Stephenson. juga meningkatkan kuantitas perdagangan dunia dan efisiensi (Hadi. Perdagangan bebas ataupun kerjasama regional diharapkan dapat menimbulkan efisiensi dan meningkatkan kesejahteraan. Pada akhirnya akan tercipta keseimbangan harga yang lebih murah dan output yang lebih banyak sehingga memberikan kesejahteraan lebih besar terhadap negara-negara yang terlibat. Haryadi et al. Tak dapat dipungkiri bahwa kerjasama perdagangan juga akan meningkatkan kompetisi antar anggota. kapital dan tenaga kerja. Urata dan Kiyota (2003) menemukan bahwa FTA di Asia Timur memberi pengaruh positif pada ekonomi. 1978). kapital dan tenaga kerja tersebut. Namun apabila hal tersebut disikapi dengan bijak maka manfaat yang dapat dipetik antara lain adalah peningkatan spesialisasi dan peningkatan perdagangan itu sendiri. (2007) menunjukkan penurunan subsidi ekspor di negara maju berdampak pada peningkatan produksi pertanian Indonesia.2. Integrasi ekonomi regional adalah suatu proses dimana beberapa ekonomi dalam suatu wilayah bersepakat untuk menghapus hambatan dan mempermudah arus lalu lintas barang. Berbeda dengan hasil studi yang secara umum memberikan dampak positif. 1994). Dengan keunggulan komparatif dari masing-masing negara. setiap negara dapat berfokus pada produksi barang yang mempunyai keunggulan komparatif sehingga akan terjadi realokasi faktor produksi. II. Studi Saktyanu et al. subsidi ekspor mengakibatkan harga barang produksi dalam negeri menjadi relatif lebih murah dan meningkatkan permintaan dari pasar luar negeri. Hal ini memberikan insentif terhadap barang produksi dalam negeri. jasa. jasa. Di sisi lain. (2008) memperlihatkan bahwa liberalisasi perdagangan dengan cara menghapus semua hambatan perdagangan berdampak pada penurunan PDB Indonesia dan Australia-Selandia Baru. peningkatan tarif impor mengakibatkan harga barang impor menjadi relatif lebih mahal dan menurunkan permintaan terhadap barang tersebut. Banyak studi yang berkesimpulan bahwa perdagangan bebas berimplikasi positif bagi negara-negara yang terlibat. 2003.

Manfaat perdagangan bebas atau kerjasama regional sangat ditentukan oleh salah satu efek yang lebih dominan. Perdagangan antara ASEAN dan Cina mempunyai kecenderungan untuk . Pangsa impor Cina dari Singapura mencatat 35% dari total impor dari ASEAN atau merupakan pangsa tertinggi di antara negara ASEAN lainnya (Grafik III. perdagangan antara negara anggota dan non-anggota justru mengalami peningkatan. tidak ditemukan penurunan perdagangan antara anggota RTA dengan nonanggota yang bersifat signifikan.30 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. tergantung dari besarnya magnitude dari trade creation dan trade diversion. II. Namun demikian.3. 1990). Vietnam sebagai negara yang menempatkan Cina sebagai mitra dagang utama dengan pangsa tertinggi mencapai 9%. Efek positif yaitu trade creation adalah terjadinya perdagangan akibat beralihnya konsumsi dari produk domestik yang bersifat high-cost ke produk impor dari luar negeri yang bersifat low-cost (Vinerian. negara ASEAN menjadi mitra dagang penting terutama untuk pasokan bahan baku. yang merujuk kepada perpindahan dari produk impor yang bersifat low-cost dari negara non anggota dengan produk impor yang bersifat high-cost dari negara partner (Vinerian.3). dengan kata lain terjadi perdagangan yang mengikat intra negara partner. Krueger. Bahkan pada beberapa RTA. Sementara pangsa impor barang dari Indonesia sebesar 13% dari total impor dari ASEAN. perbedaan tarif yang diberlakukan untuk partner dan non-partner. 1950. secara keseluruhan RTA memberikan dampak perdagangan yang positif. Meskipun terjadi trade creation dan trade diversion. Cina termasuk mitra dagang penting sebagai negara tujuan ekspor. Rata-rata pangsa ekspor ke Cina oleh negara ASEAN dari 2001-2008 bervariasi namun secara umum cukup tinggi. Dari sisi ASEAN. Namun demikian. 1950). Trade diversion akan menurunkan efek kesejahteraan sehubungan dengan terjadinya perubahan orientasi suplai ke sumber yang relatif lebih mahal. negatif ataupun netral. Juli 2010 Salah satu indikator untuk mengukur dampak kerjasama perdagangan internasional adalah dengan melihat terjadinya trade diversion dan trade creation (Vinerian. Efek secara keseluruhan dapat bersifat positif. Dari sisi Cina. Perdagangan bebas ataupun PTA akan sangat menguntungkan apabila dampaknya terhadap trade creation lebih besar dibandingkan dampaknya terhadap trade diversion. Kerjasama ASEAN Cina Free Trade Area (ACFTA) Perdagangan antara negara-negara ASEAN dengan Cina terus menunjukkan peningkatan dari tahun ketahun. merubah arah kecenderungan perdagangan sehingga menimbulkan efek negatif yaitu trade diversion. sementara bagi Indonesia pangsa ekspor ke Cina mencatat 7% (Grafik III. 1950). Studi yang dilakukan Lee and Shin (2006) mengkonfirmasi bahwa RTA akan meningkatkan perdagangan antar anggota. dengan kata lain terjadi perdagangan yang menurun dengan negara non-partner.4).

Malaysia. Meskipun Cina dan ASEAN telah berupaya meliberasikan perdagangannya. Didalam framework tersebut disepakati pentahapan pembentukan perdagangan bebas untuk barang pada tahun 2004. terjadi kesepakatan kerangka kerjasama yang sering disebut dengan ≈Framework Agreement on Comprehensive Economic Cooperation∆. dan investasi tahun 2009. sektor jasa tahun 2007.Dampak Pelaksanaan ACFTA Terhadap Perdagangan Internasional Indonesia 31 terus meningkat yang semakin menunjukkan relatif pentingnya perdagangan ASEAN-Cina bagi keduanya. Singapura. Beberapa isu yang terkait perkembangan ACFTA. Philipina. Vietnam. potensi keuntungan dari penghapusan hambatan perdagangan kawasan ASEAN-Cina akan menjadi relatif besar. sangat memungkinkan untuk menjadi suatu kawasan kerjasama ekonomi yang efektif. . dan Myanmar. antara lain seperti terlihat dalam Tabel III. Thailand. Kesadaran atas pentingnya peranan masing-masing pihak menumbuhkan kesadaran untuk merintis kesepakatan kerjasama ekonomi. Pada tanggal 4 November 2002.1. khususnya di Indonesia seperti terlihat dalam Diagram III. Namun tak dapat dipungkiri bahwa selain peluang terdapat pula tantangan dengan berlakunya ACFTA. Yue (2004) mencontohkan peningkatan perdagangan intra industri pada produk mesin dan perlengkapan elektrik sebagai contoh dari dampak ACFTA terhadap peningkatan perdagangan yang cukup berhasil. tarif yang diberlakukan negara ASEAN terhadap barang dari Cina secara rata-rata hanya sebesar 2. Dari studi literatur antara lain oleh Park et al (2008) menganalisa keunggulan dan prospek ACFTA dan mengungkapkan bahwa ACFTA. Terdapat berbagai penelitian yang telah membahas dampak perdagangan ACFTA. yang terdiri dari 11 ekonomi dengan total populasi dan GDP yang cukup besar. Laos. Relatif besarnya level tarif intra wilayah juga merupakan potensi yang dapat meningkatkan trade creation. Ketakutan akan ketidakmampuan untuk bersaing produk dalam negeri menghadapi serangan produk impor dari Cina maupun ketakutan akan ketidakmampuan produk ekspor untuk masuk ke potensi pasar Cina yang terbuka lebar merupakan tantangan yang apabila dikelola dengan bijaksana maka dapat menjadi peluang yang cukup potensial. Cina memberlakukan tarif rata-rata sebesar 9. Perdagangan bebas mulai berlaku tahun 2010 antara Cina dengan ASEAN-6 yaitu untuk Indonesia. Sementara tahun 2015 berlaku bagi Cina dengan ASEAN-4 yaitu Kamboja.1. sehingga memungkinkan untuk terciptanya trade creation. Sementara dari sisi kesiapan perdagangan bebas bagi ASEAN juga berlaku bertahap.3%.4% untuk barang dari ASEAN. Sebaliknya. Tantangan terbesar yaitu peningkatan kompetisi produk. dan Brunei . Dengan demikian. pada kenyataannya tingkat tarif dan hambatan antara keduanya ternyata masih cukup tinggi.

355/KMK/01/2 004 tentang Penetapan Tarif BM atas impor barang dalam Kerangka Early Harvest Package (EHP) AC-FTA.56/PMK. dan Depdag. Kadin.04/20 07 tentang perpanjangan SK Menkeu No.Permenkeu No.Permenkeu No. 01/2004 2008 23 Des Terbit: Permenkeu No.32 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.04/20 07 tentang perpanjangan SK Menkeu No.355/2004 . 235/PMK. Juli 2010 Cambodia Lao Brunei Myanmar Indonesia Malaysia Thailand Philipina Singapura Vietnam 0 1% 4% 4% China Sbg Tujuan Ekspor Utama Cambodia Lao Myanmar Brunei 0% 0% 1% 1% 6% 7% 13% 18% 21% Pangsa Impor China dari negara Asean 6% 7% 7% 8% 8% 8% 9% 2 4 6 8 10 % Vietnam Philipina Indonesia Thailand Malaysia Singapura 0 35% 10 20 30 40 % Grafik III. 25 Des Dibentuk tim bersama unt. 07/KMK. ACFTA yang dipimpin Menko.1: Road Map Perjanjian ACFTA .48/2004 21 Juli Terbit: .21/PMK.010/2 005 tentang Penurunan / Penghapusan Tarif BM dl Rangka Normal Track ASEANChina 2006 15 Maret Terbit: Permenkeu No. 08/PMK.011/200 8 tentang Penetapan Tarif BM dalam rangka ACFTA 2009 29 Jan Depperin meminta penundaan ACFTA dari 2010 hingga 2012 akibat krisis 2 Des 10 Asosiasi industri meminta penundaan ACFTA ke DPR.SK Menkeu No. dg melibatkan Apindo.SK Menkeu No.3: Pangsa Ekspor ke Cina Grafik III.356/KMK.010/ 2006 tentang Penetapan Tarif BM dlm Rangka Normal Track ACFTA thn 2006 2007 6 Feb Terbit: .4: Sumber Impor Cina dari Negara-Negara ASEAN 2002 4 November Kepala negara ASEAN dan Cina menandatangani kerangka persetujuan Comprehensive Economic di Cooperation Pnom Penh 2003 6 Oktober Menteri Ekonomi ASEAN dan Cina menandatanga ni protokol perubahan kerangka persetujuan di Bali 2004 15 Juni Indonesia meratifikasi kerangka persetujuan AC FTA melalui Kepres No. . Diagram III.356/KMK/01/2 004 tentang Penetapan Tarif BM atas Impor Barang dl Kerangka EHP Bilateral Indonesia-China FTA 2005 7 Juli Terbit: Permenkeu No.

Laos dan Myanmar. serta industri lainnya.PDB ASEAN meningkat 0.Optimis mengenai prospek penerapan ACFTA. . juga akan terjadi trade diversion dengan non member yang signifikan.Tekanan kompetisi dari China akan membawa dampak negatif dalam jangka pendek namun akan berdampak positif berupa peningkatan produktivitas dan efisiensi di jangka panjang Jiang & McKibbin 2008 GTAP Studi ini membandingkan dampak dari berbagai kerjasama perdagangan yang diikuti oleh China.ASEAN merupakan potensi pasar yang besar bagi ekspor China sekaligus alternatif sumber impor . .Peningkatan Ekspor ASEAN ke China dan sebaliknya . Peningkatan ekspor terbesar akan dialami oleh Indonesia.Keuntungan yang besar untuk negara seperti Singapura. Terdapat peningkatan yang signifikan untuk perdagangan intra industri. mesin dan perlengkapan elektrik. Singapura dan Thailand.China merupakan pasar potensial bagi produk ekspor ASEAN terutama barang intermediate dan kapital . output dan welfare regional .Manfaat ekonomi : peningkatan speasialisasi dan perdagangan. . Singapura dan Thailand .Dampak terhadap PDB : PDB ASEAN akan meningkat 0.3%. Malaysia.9% sementara PDB China meningkat 0. Hasil temuan untuk kasus ACFTA menyatakan bahwa China akan mendapatkan keuntungan dari keikutsertaannya dalam ACFTA .Keuntungan non-ekonomi : peningkatan hubungan poilitik dan sosial.Kompetisi terhadap produk impor dari China . Malaysia.3% Universal Acces to Compititiveness and Trade (UACT) GTAP Yue 2004 GTAP .Dampak perdagangan : peningkatan eskpor ASEAN ke China dan sebaliknya.ACFTA akan memberikan keuntungan ekonomi yang signifikan terhadap perekonomian ASEAN dan China .Singapura dan Malaysia memperoleh keunggulan dari spesialisasi inter dan intra industri sementara Thailand memperoleh keunggulan dari spesialisasi intra industri. Secara sektoral.Secara keseluruhan akan meningkatkan net trade.Dampak masing-masing negara sangat beragam .Manfaat terbesar dari sisi ekspor dirasakan Indonesia. .Terjadi trade creation dari ASEAN-China yang cenderung lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan intra trade antar negara ASEAN Tambunan 2005 Indikator Perdagangan Okamoto 2005 Indikator Perdagangan . keuntungan terbesar akan dinikmati oleh produk tekstil dan pakaian. Sementara Indonesia akan mengalami penurunan PDB. Malaysia. . Namun demikian. Park 2007 Kulaitatif .Dampak Pelaksanaan ACFTA Terhadap Perdagangan Internasional Indonesia 33 Table III.Komoditi ekspor andalan ASEAN merupakan barang intermediate China sehingga peningkatan ekspor China akan mendorong peningkatan ekspor ASEAN . Namun Indonesia dan Filipina tidak banyak memperoleh keuntungan .1 Penelitian-Penelitian Terdahulu Terkait dengan ACFTA Peneliti Park et al Tahun 2008 Metode Analisis Indikator Perdagangan dan GTAP Temuan . Vietnam akan mengalami peningkatan terbesar.Peningkatan ekspor ASEAN ke China .9% dan China 0. Indonesia dan Thailand dibandingkan negara anggota yang relatif lebih miskin seperti Kamboja.

Keseimbangan umum dalam model CGE dicerminkan dalam bentuk nominal (kuantitas dikalikan dengan harga) yang mewakili aliran dana. Selain itu. dimana seluruh agen dalam perekonomian tidak memiliki kemampuan untuk mempengaruhi harga atau bertindak sebagai price taker sehingga harga yang terbentuk sepenuhnya merupakan interaksi antara permintaan dan penawaran.1. Dalam model ini. kondisi pasar faktor produksi dan pasar hasil produksi berada pada kondisi keseimbangan. 2 Working Paper 2009. perdagangan dan fiskal2 . Secara implisit. Semar 2009: Suatu Model Financial Computable General Equilibrium. Dasar utama dari model CGE adalah pemahaman bagaimana ekonomi bekerja dan selanjutnya menggunakan data sesuai dengan model yang dikembangkan. model CGE ini secara eksplisit memodelkan perilaku rasional agen-agen perekonomian baik produsen yang memaksimalkan keuntungan. Teori keseimbangan umum menjelaskan adanya mekanisme keterkaitan antara seluruh pasar sebagai suatu sistem yang saling berinteraksi secara simultan. . serta persamaan-persamaan lain yang mendefinisikan pembentukan harga dan kuantitas. rumah tangga yang memaksimalkan kepuasan (utility). Apabila pasar dalam kondisi keseimbangan mengalami perubahan atau terdapat gangguan pada suatu pasar secara parsial. Secara keseluruhan. Dalam model GTAP ini. maka akan ada penyesuaian pada pasar yang bersangkutan dan di pasar lainnya.34 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Termasuk dalam model CGE ini adalah spesifikasi persamaan menyangkut arus dana antar agen. Model CGE seringkali digunakan untuk sektoral industri. ini mengasumsikan bahwa setiap pasar berada dalam kondisi pasar persaingan sempurna (competitive) dan pendekatan ini seringkali dikenali sebagai konsep Walrasian General Equilibrium. model CGE merupakan sekumpulan persamaan matematis yang simultan dapat diselesaikan. baik disertai dengan aliran barang (transaksi) maupun tidak (transfer). Model CGE terdiri dari persamaan-persamaan yang mewakili keseimbangan seluruh pasar mulai dari pasar input sampai pasar output untuk keseluruhan sektor yang dianalisis. Model Computable General Equilibrium Terdapat beberapa pendekatan dalam studi perdagangan dunia. perekonomian dunia diasumsikan telah berada pada kondisi keseimbangan umum. sebuah model computable general equlibrium (CGE) yang dikembangkan oleh Purdue University. dan agen lain dalam perekonomian. Salah satu model yang sering digunakan pada berbagai studi adalah General Trade Analysis Project (GTAP). BRE DKM. salah satu jenis pengelompokannya yaitu pendekatan model keseimbangan umum dan parsial. Juli 2010 III. METODE PENELITIAN III.

2). dan (ii) kenyataan empiris. Masahiko Tsutsumi. konsumsi minimum. dan perusahaan di masing-masing ekonomi3 (Diagram III. Rumah Tangga Regional TAXES PRIVEXP SAVE TAXES GOVEXP Rumah Tangga Swasta XTAX VDPA VIPA TAXES Global Saving NET INV VOA Pemerintah MTAX VDGA Produsen VIGA VDFA VIFA VXMD Dunia / ROW Sumber: A Graphical Exposition of GTAP Model. 3 TSQ Discussion Paper. maka penggunaannya ƒkatakan untuk konsumsiƒ juga akan mengalami perubahan untuk mempertahankan proporsi nominalnya sesuai dengan besaran parameter yang telah ditentukan sebelumnya (relative share). dan tingkat pendapatan .Dampak Pelaksanaan ACFTA Terhadap Perdagangan Internasional Indonesia 35 Model GTAP merupakan model CGE multi sector dan multi region. Social welfare function diasumsikan terdiri dari belanja swasta. August 2001. maka setiap principal agents memaksimalkan welfarenya. . (i) kesesuaian teori. Tabungan (Savings) dianggap sebagai proksi dari konsumsi yang ditunda. Brockmeier. Rumah tangga menentukan permintaannya untuk masing-masing komoditas berdasarkan tiga faktor. Dengan kendala pendapatan pada masing-masing region (regional income constraint). Sementara itu. Jika harga relatif dari suatu komoditas berubah. Sebagaimana model CGE lainnya. Sistem permintaan ini disebut sebagai Constant Difference Elasticity (CDE). 1996 Diagram III. Salah satu bentuk fungsi (untuk selanjutnya kita sebut nesting) yang sering digunakan adalah bentuk fungsi Cob-Douglas dimana parameter yang menunjukkan proporsi dari komponen pementuknya diasumsikan tetap.2: Blok-Blok Agen Dalam Model GTAP Pengeluaran konsumsi terdiri dari berbagai macam komoditas tradable dalam model. Standar model GTAP terdiri dari rumah tangga. model standar GTAP memberikan spesifikasi dari berbagai teori dan perilaku agen secara eksplisit dalam bentuk persamaan matematis. How Will the Regional FTAs Shape the Indonesian Economy? Evaluation by the Computable General Equilibrium Model. serta (iii) kebutuhan penelitian. yaitu: harga relatif . pemerintah. dan belanja pemerintah. pengeluaran pemerintah untuk individual komoditas tetap berdasarkan fungsi Cob-Douglas. Pemilihan bentuk fungsi mengacu pada 2 hal utama. national savings.

pergerakan endowment lintas negara (international mobility) tidak diperbolehkan. Dalam model GTAP. Setting simulasi ini sangat menentukan dan salah satu komponen yang penting adalah closure. Tanah bersifat immobile sementara itu labor dan modal bersifat mobile dalam industri. Hal ini sesuai dengan teori dan kenyataan empiris dimana suatu sektor dapat beralih dari padat karya ke padat modal atau sebaliknya. Alur Analisis Penelitian ini bertujuan untuk mengukur dampak ACFTA bagi perdagangan internasional Indonesia serta bagaimana dampaknya terhadap komoditas ekspor Indonesia. kapital. Sistem import-domestic demand ini dikemukakan oleh Armington (1969) memungkinkan modeler untuk merubah elastisitas substitusi antara produk domestik dan imnpor bergantung dari eksperimennya. III. Dalam model GTAP standar ini. Terkait dengan . yakni pembagian variabel untuk ditempatkan sebagai variabel endogen atau eksogen. Secara umum. Spesifikasi ini jelas diharuskan untuk mempertahankan komplementaritas antara input primer dengan input antara sebab sulit untuk membayangkan jika tenaga kerja dapat digantikan oleh katakan minyak goreng dalam proses produksi sektor hotel dan restoran misalnya. Dalam proses produksi. Komposit input primer ini kemudian digabungkan dengan input antara dalam nesting yang berbentuk fungsi Leontief. Implikasi dari closure ini sangat besar terhadap kepentingan dan hasil simulasi.2. dan tanah membentuk komposit input primer mengikuti bentuk nesting CES. yaitu global bank dan dialokasikan sebagai sumber pembiayaan bagi investasi. tenaga kerja. Perusahaan diasumsikan akan memaksimalkan keuntungannya. salah satunya dalam merestriksi apakah simulasi berdimensi jangka pendek (salah satunya ditandai dengan fixed sectoral capital) atau berjangka panjang. Bagaimana menghubungkan savings dengan investasi tergantung kepada teori dan kenyataan empiris yang dapat diubah sesuai dengan tujuan penelitian. setiap pertanyaan penelitian yang diajukan harus diterjemahkan kedalam bentuk simulasi model. Juli 2010 Komoditas diproduksi baik oleh produsen dalam negeri dan luar negeri. sehingga memungkinan terjadinya substitusi antara ketiga input primer tersebut.36 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. komposisi kedua asal produk ini mengikuti fungsi Constant Elasticity Substitute (CES). Keduanya selanjutnya dikombinasikan dalam bundel komoditas yang merupakan komposit dari produk domestik dan impor. Tabungan di masing-masing negara dilakukan (dikumpulkan) oleh suatu lembaga fiksi.

Selanjutnya melakukan running model CGE. dengan menggunakan model GTAP yang merupakan model CGE untuk melakukan simulasi terkait dengan perdagangan internasional. Adapun data yang digunakan adalah data perdagangan negara-negara dunia tahun 2004 yang merupakan data standar dalam model GTAP versi 7 tahun 2008. hasil simulasi model GTAP ini akan dikonfrontasikan dengan analisis indikatorindikator perdagangan internasional atas data ekspor dan impor dari UNCOMTRADE periode 2001-2008. Hasil simulasi berdasarkan model CGE selanjutnya dianalisis untuk melihat peluang dan tantangan yang dihadapi secara riil dalam perekonomian sebagaimana yang disimulasikan. Lebih rinci. Setelah memberikan shock. . dalam hal ini terhadap tarif. dalam bagian ini diuraikan mengenai alur analisis yang dilakukan sebagaimana ditunjukkan dalam Diagram III. Proses agregasi dan di sagregasi negara & sektor Run GTAP (CGE Model) Shock Tarif 0% Eksekusi Indikator RCA Indikator IIT Indikator Overlap Indikator Similarity Peta daya saing komoditas RI Indikator Spearman RC Hasil Simulasi Peluang Tantangan Pasar China Peluang Tantangan Pasar ASEAN Indonesia vs Negara ASEAN Indonesia vs China Diagram III. maka dilakukan running model.Dampak Pelaksanaan ACFTA Terhadap Perdagangan Internasional Indonesia 37 hal tersebut.3.3: Diagram Alur Analisis Tahapan pertama adalah melakukan proses agregasi dan disagregasi negara dan komoditas dari masing-masing sektor.

3. Seluruh variabel kebijakan. 2. Konversi kelompok komoditas dari SITC ke GTAP menggunakan referensi utama yang disajikan dalam website GTAP. shock yang diterapkan adalah: 1. Pengujian Korelasi Indikator Perdagangan Internasional Berangkat dari hasil simulasi model GTAP sebelumnya. produktivitas (technical changes) dan populasi ditempatkan sebagai variabel eksogen. terutama terkait dengan ekspor. Dalam melakukan simulasi untuk melihat dampak implementasi ACFTA terhadap perdagangan internasional terhadap ASEAN secara umum dan Indonesia secara khusus. III. ROW mengenakan tarif terhadap negara-negara anggota ACFTA. closure yang digunakan dalam simulasi mengikuti closure standar GTAP yakni: 4 1. Data yang dipergunakan ini merupakan data SITC-3 digit (ver.. Setting Simulasi Model GTAP Secara umum. ditempatkan sebagai variabel endogen. analisis dibagi menjadi dua periode yaitu Periode I tahun 2001-2004 yang bisa dipandang sebagai periode sebelum implementasi ACFTA. 2. Juli 2010 Untuk periode 2001-2008. Pendapatan setiap region adalah endogen. Sementara itu. untuk mengekuivalenkan kode komoditas antara versi GTAP dengan versi SITC maka dilakukan re-grouping untuk memperoleh kompatibilitas diantara keduanya. untuk melihat peta daya saing komoditas Indonesia serta tantangan dan peluang yang dihadapi sebagai dampak terbentuknya forum ACFTA bagi perdagangan internasional Indonesia. Yang berikutnya adalah Periode II tahun 2005-2008 yang dianggap sebagai periode implementasi ACFTA.38 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. 3. Tarif yang berlaku antara negara-negara ASEAN dengan Cina menjadi 0% (tidak berlaku).4. Variabel harga dan kuantitas dari komoditas yang dapat diperdagangkan lintas negara dan tidak termasuk dalam kategori endowment commodities. ROW). maka analisis dilanjutkan dengan menggunakan beberapa indikator perdagangan yakni (i) Revealed Comparative Advantage 4 Setting simulasi secara lengkap tersedia pada penulis. Anggota ACFTA tetap mengenakan tarif kepada negara non ACFTA (rest of the world.3) yang diagregatkan menjadi 2 digit. Begitu pula sebaliknya. III. . 3.

Revealed Comparative Advantage (RCA) Untuk melihat daya saing produk ekspor. Tanda dari SRC menunjukkan arah hubungan antara variabel independen X dan variabel dependen Y. dimana untuk RCA > 1 menunjukkan adanya keunggulan komparatif.1.4. maka SRC menjadi 1.2.Dampak Pelaksanaan ACFTA Terhadap Perdagangan Internasional Indonesia 39 (RCA). indikator tersebut berada pada ukuran nilai antara 0 dan 1. (ii) Intra Industry Trade (IIT). Indikator perdagangan juga menjadi pelengkap hasil riset karena dapat memberikan informasi kinerja komoditas ekspor Indonesia secara lebih rinci.1) Pengujian ini diperlukan untuk melihat apakah terdapat persamaan peringkat daya saing komoditas pada dua negara secara berpasangan yang diamati. Intra Industry Trade (IIT) Untuk melihat alur perdagangan internasional digunakan indikator Intra-Industry Trade atau seringkali juga disebut Grubel-Lloyd index (IIT). III. Berdasarkan formula. indikator yang digunakan adalah indikator revealed comparative advantage (RCA). dan (iv) Index of Export Similarities (IES). Besaran SRC ini terletak antara 0 dan 1 dimana ketika X dan Y perfectly monotonically related.4. dilakukan Spearman»s rank correlation coefficient (SRC) yang merupakan ukuran statistik non-parametrik dan dapat dihitung dengan formula berikut: ρ = Σi (x i x ) ( yi y) Σi (x i x ) 2 Σi ( y i y) 2 (III. IIT yang mendekati 0 mencerminkan alur perdagangan . Indikator perdagangan internasional digunakan untuk memberikan klarifikasi dan tambahan informasi hasil temuan hitungan dengan menggunakan GTAP. (iii) Index of Export Overlap (IEO). RCA = (Xij / Xj) / (Xiw / Xw) di mana: Xij = ekspor komoditas i negara j Xj = total ekspor negara j Xiw = ekspor komoditas i dunia Xw = total ekspor dunia III. Terhadap indikator RCA tersebut.

j. atau perdagangan yang bersifat inter-industry. indikator tersebut menjelaskan bahwa.j. Persamaan overlapping index dinyatakan oleh persamaan: IEO ( j1. suatu komoditas dari suatu negara cenderung mempunyai ikatan mata rantai dalam suatu perdagangan internasional apabila memiliki nilai yang mendekati 1. t ) = 100 x Σ min (X (i. Di sisi lain. j.40 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. X (i.t ) = Σi ( X ( i. sedangkan IIT yang mendekati 1 mencerminkan alur perdagangan yang bersifat intra-industri.4. Dalam perhitungan GLI terdapat kecenderungan semakin detail data komoditas maka nilai GLI semakin kecil. t ) − M ( i. dipergunakan ukuran Index of Export Overlap (IEO). j2. Mengacu kepada penelitian-penelitian sebelumnya penelitian ini juga digunakan 2 digit dengan pertimbangan sudah mencukupi untuk mengidentifikasi proses IIT dalam negara-negara ACFTA. j . t). Untuk mengukur tingkat IIT maka digunakan indeks Grubel dan Lloyd sebagai berikut: GLI ( j.2) Di mana: X(i. t ) ) (III. j. j .j. Secara umum. t ) − M ( i. j. t ) − X ( i. t ) + M ( i.t) adalah nilai komoditas impor i oleh negara j pada tahun t Perhitungan di sini menggunakan klasifikasi data SITC-3 digit komoditas i yang kemudian diagregatkan menjadi 2 digit. Juli 2010 yang bersifat inter-industri. perdagangan untuk jenis komoditas tertentu misalnya komoditas berbasis SDA seperti minyak dan gas. Suatu negara dapat melakukan ekspor komponen elektronik dan pada saat yang sama melakukan impor barang elektronik.t) adalah nilai dari komoditas ekspor i oleh negara j pada tahun t M(i. t) / Σ X ( i. j. t ) Σi ( X ( i. III. Hal ini dapat digambarkan dengan perdagangan ekspor dan impor suatu negara untuk jenis industri manufaktur dalam kelompok barang yang sama (biasanya mengacu pada kelompok barang menurut SITC).3. suatu negara cenderung bertindak sebagai eksportir dan sedikit atau bahkan tidak melakukan impor. j . j. Index of Export Overlap (IEO) Untuk mengukur tingkat kompetisi masing-masing negara ASEAN dengan Cina dalam perdagangan ACFTA dan juga tingkat kompetisi antar negara-negara ASEAN dalam memanfaatkan peluang ekspor ke Cina. nilai IIT komoditas minyak dan gas tersebut mendekati 0. Apabila ini terjadi maka. t ) t t 1 2 1 .

III.j.4: Kompetisi Antara Ekonomi A dan B Dengan Ukuran Ekspor Overlap III. j .t) adalah share komoditas ekspor i terhadap total ekspor ekonomi j tahun t Nilai indeks IES berkisar antara 0 sd.0 dengan benchmark data tahun 2004. j . Oct 2007 Diagram III. Indeks tersebut berada diantara nilai 100 yang berarti full overlap dan 0 berarti tidak overlap. data yang dipergunakan untuk model GTAP bersumber dari data GTAP versi 7.4. j . Semakin besar area yang overlap (daerah b).5. analisis IES selalu disandingkan dengan indikator IEO.. j . Persamaan similarity index dinyatakan oleh persamaan berikut: IES ( j1. sedangkan 0 jika share komposisi produk ekspor dari dua perekonomian tersebut sangat berbeda. Index of Export Similarity (IES) Index of Export Similarity digunakan untuk mengukur sejauh mana tingkat kemiripan komposisi produk ekspor dari dua perekonomian. t ) i i 1 2 1 2 Σ s ( i.Dampak Pelaksanaan ACFTA Terhadap Perdagangan Internasional Indonesia 41 Ukuran IEO dipergunakan untuk mengukur tingkat kompetisi yang diindikasikan dengan share ekspor yang overlap antara total ekspor dua perekonomian . 100 di mana nilai 100 menunjukkan bahwa komposisi ekspor dari dua perekonomian tersebut identik. t ) i 2 2 di mana: s(i. Data Sebagaimana disebutkan sebelumnya.4. t) / Σ s ( i. Oleh karena IES mengabaikan efek ukuran ekspornya. Nilai Ekspor Ekonomi A IEO untuk ekonomi A = b/(a+b) IEO untuk ekonomi B = b/(c+b) Ekonomi B a c b Higher value added Komoditas (i) Lower value added Sumber : Regional Economic Outlook: Asia and Pasific. t ) = 100 x Σ s (i. maka semakin besar tingkat kompetisi antar kedua negara tersebut. j2. Cakupan negara . t) s (i.

HASIL DAN ANALISIS Hasil simulasi yang dihasilkan dari model GTAP mencakup berbagai indikator yang dimungkinkan untuk dikembangkan lebih lanjut. Periode data yang diolah adalah mulai tahun 2001-2008. untuk analisis dengan indikator perdagangan internasional menggunakan sumber data UNCOMTRADE terutama meliputi data ekspor impor untuk negara-negara dalam lingkup pengamatan yaitu ACFTA. maka dampak perjanjian perdagangan tidak membawa keuntungan secara keseluruhan. proses terjadinya trade diversion merupakan proses pengalihan perdagangan yang semula dilakukan . Kenaikan volume perdagangan diantara anggota ACFTA terutama disebabkan oleh bergabungnya pasar Cina dan berlakunya tarif yang lebih rendah. diperoleh gambaran umum bahwa dampak perdagangan antara negara dalam anggota blok perdagangan akan meningkat. Untuk melihat dampak keseluruhannya. Juli 2010 dalam database GTAP mencapai 113 negara dengan 57 rincian sektor komoditas. Dengan demikian. Demikian juga dengan rincian komoditas ekspor yang mengalami peningkatan perlu pendalaman lebih lanjut apakah merupakan komoditas generik secara umum negara anggota atau cenderung dikuasai oleh beberapa negara.1. Meski demikian analisis penelitian lebih difokuskan kepada analisis komoditas ekspor negara anggota ACFTA. Hasil analisis bagian pertama dilakukan untuk melihat bagaimana perimbangan dampak trade diversion dan trade creation sebagai akibat dari implementasi FTA. sementara bagian kedua mengarah pada hasil kuantitatif dampak perdagangan menurut rincian komoditas. Namun perdagangan dengan negara dengan bukan anggota akan menurun. dengan membandingkan besaran masing-masing dari kedua efek perdagangan tersebut. IV. IV. Analisis dampak perdagangan dalam suatu blok suatu perdagangan sering dikenal dengan analisis trade divertion dan trade creation. maka secara umum perjanjian perdagangan membawa keuntungan secara keseluruhan. pertama adalah melihat efek shock yang diberikan terhadap perdagangan negara-negara anggota ACFTA. khususnya Indonesia. Apabila dampak trade creation yang lebih besar. Sementara itu. perlu pengamatan lebih lanjut apakah hasil positif secara umum tersebut dinikmati secara merata oleh negara anggota atau tidak. Meskipun ditemukan dampak trade creation yang lebih menonjol dari trade divertion. Demikian sebaliknya apabila dampak trade creation yang lebih rendah. Secara umum terdapat dua bagian fokus analisis. Hasil Perhitungan dengan Model GTAP Dari berbagai studi literatur.42 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Tinggi rendahnya net trade creation tersebut dipengaruhi oleh besaran tarif impor saat simulasi dilakukan.0 0 5 10 15 20 25 Trade Creation 30 35 40 1 Grafik III.0 THA VIE 2. Indonesia. sedangkan Singapura memperoleh hasil yang minimal yaitu 0. Proses perubahan tersebut dapat dianalogikan dengan adanya sejumlah nominal dana yang dimiliki oleh agen ekonomi (negara) menjadi dapat dibelanjakan dengan barang yang lebih banyak sebagai akibat turunnya harga barang.1 1.0 Other ACFTA. 2. 0.2 2.0 Vietnam.0 -2.4% dan penurunan trade diversion berupa penurunan perdagangan dengan negera bukan anggota (rest of the world) sebesar 1. tarif impor komposit barang dari Cina di Vietnam dan Thailand 5 Hasil lengkap perhitungan dampak perdagangan disajikan dalam lampiran 1. ASEAN. 9.4% (Grafik III.0 4.6. 2. Malaysia.5 China. Net Trade creation Dampak ACFTA Dari individu negara anggota ACFTA.8% 5 . maka terjadi penurunan perdagangan dengan negera non member atau terjadi trade divertion.4 -4. masing-masing sebesar 9.02 2.0 0.Dampak Pelaksanaan ACFTA Terhadap Perdagangan Internasional Indonesia 43 dengan partner dagang negara bukan anggota ACFTA bergeser menuju kepada sesama anggota ACFTA.1% dan 2.3 PHI IND ACFTA CHI 6.0 Singapura.1 Thailand.5 Dampak Perdagangan di ASEAN Atas Kebijakan ACFTA (%) Grafik III.0 OTHERS ASEAN 10. 2. ASEAN. 1. Total net trade creation di kawasan ACFTA adalah sebesar 2.5%. Hasil simulasi GTAP untuk mengukur dampak perdagangan (trade effect) secara keseluruhan (net effect) untuk negara anggota ACFTA tercermin dalam Grafik III.5).0 Persen (%) Net Trade 8.32 2.1% yang bersumber dari adanya trade creation diantara negara anggota ACFTA sebesar 18. Apabila penurunan tarif impor menyebabkan harga menjadi lebih murah dibandingkan dengan harga barang yang bersumber dari negara non member (asumsi kualitas barang sama).5 dan Grafik III. . Trade Diversion 0. Berdasarkan data awal GTAP yang digunakan.9 Filipina.6. Rata-rata tarif impor dinegara Vietnam dan Thailand masih relatif tinggi sedangkan di Singapura telah mencatat 0%.0 ASEAN MAL -3.0 SIN -1. Vietnam dan Thailand mempunyai trade creation terbesar. Preferensi importir juga mengalami perubahan menghadapi dinamika perubahan harga impor sebagai akibat penurunan tarif.

Dampak Perubahan Ekspor dan Impor dengan China (%) Grafik III. growth (%) Grafik III.3%). Philipina (5.0 Import from World. Pasangan bilateral Vietnam dan Cina sebelum penerapan ACFTA juga menerapkan struktur tarif yang tinggi secara timbal balik.5 dan III. Tinggi rendahnya tarif masuk barang tersebut secara umum sejalan dengan tarif masuk yang dikenakan oleh Cina atas barang yang bersumber dari negara-negara tersebut.3%. hasil simulasi menunjukkan perubahan total ekspor dan impor yang besar masing-masing 6.0 VIE THA 4. growth (%) 140 110 80 50 20 -10 0 10 20 30 40 50 Export to China. . Untuk negara lainnya berturut-turut Indonesia (11.8%). growth (%) THA 11.4 others ASEAN ASEAN ACFTA MAL IND PIL SIN 0 1 2 3 CHI Export to world. Impor barang Vietnam dan Thailand yang bersumber dari Cina mengalami lonjakan masing-masing sebesar 147% dan 101%. Juli 2010 masing-masing 18.44 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Malaysia (7.8.7.3% dan trade diversion -1. Pasca penerapan ACFTA.5 VIE 6. Perhitungan trade creation dan trade diversion tersebut diatas berdasarkan total perdagangan internasional yaitu 6 Nilai pertumbuhan ekspor dan impor hasil dari model GTAP tersebut dicatat sebagai perubahan dari nilai dasar (base value) yang dipakai dalam data base model GTAP.0 MAL ASEAN IND 2.0% yang bersumber dari trade creation 10. Dampak Perubahan Total Ekspor dan Impor (%) Bagi Indonesia. Hal ini sejalan dengan penjelasan sebelumnya bahwa sensitifitas perubahan impor sejalan dengan kondisi tarif impor yang sebelumnya tinggi dan di-shock menjadi 0% pasca ACFTA.2%. sedangkan Singapura justru mencatat penurunan impor sebesar 1.5% (Grafik III. serta other ASEAN (7.3%).2% (Grafik III. dampak net creation adalah sebesar 2.7).0 6.6 Import from China.8.5%.5%).4% dan 11. growth (%) others ASEAN PIL SIN 0.0 dan 11. Dengan dinamika perubahan ekspor dan impor sebagai akibat dari perubahan tarif dalam lingkup ACFTA tercermin dalam Grafik III. perkembangan ekspor impor antara negara ASEAN dengan Cina mengalami perubahan. Dengan berlakunya kesepakatan perdagangan ACFTA. Kecuali barang dari Singapura dimana Cina masih mengenakan tarif komposit 4.6).

3% atau sebesar USD247 juta (Grafik III.3 -3.9. terdapat kenaikan total impor sebesar 2.0 -2. Hal ini disebabkan oleh pangsa perdagangan Indonesia dengan ROW yg lebih dominan dbandingkan dengan kawasan ACFTA.5 10. Juta USD 600 400 200 0 -200 -247 -400 -600 -499 China Asean ACFTA WOR Total growth % 8.3 -4.10).3% atau lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan ekspor 1. Dari hasil simulasi diperoleh hasil perubahan ekspor impor Indonesia dengan keseluruhan mitra dagang sesama anggota ACFTA masing-masing tumbuh 11. . Sementara itu. Sebagai gambaran. transaksi ekspor dan impor Indonesia dengan partner dagang dari ROW mencatat penurunan masing-masing sebesar -1.5% atau USD253 (Grafik III. Pangsa Ekspor Indonesia √ Data GTAP (%) Meskipun surplus neraca perdagangan Indonesia negara di kawasan ACFTA mencatat peningkatan. Sementara itu.3 6.0 8.0 0.Dampak Pelaksanaan ACFTA Terhadap Perdagangan Internasional Indonesia 45 penjumlahan total nilai ekspor dan impor Indonesia dengan seluruh negara partner dagangnya. secara keseluruhan surplus neraca perdagangan Indonesia turun 2.1%. Dampak Net Ekspor Indonesia Pemberlakuan ACFTA (%) Grafik III.9).0 -6.8%. dampak terhadap surplus neraca perdagangan Indonesia mencatat kenaikan 6. Dengan hasil peningkatan ekspor yang lebih besar dari impor. Dengan demikian.5% atau USD499 juta.7% dan -1.3%.0 4. dampak keseluruhan terhadap total neraca perdagangan masih mencatat penurunan surplus.10. atau jauh lebih besar dibandingkan dengan partner dari sesama anggota ACFTA sebesar 26% (Grafik III.0 Mutasi Trade Balance (USD) Mutasi Trade Balance (%) China Asean ACFTA WOR Total 268 253 -15 ROW 74% ACFTA 26% ASEAN 16% CHINA 10% -8. ekspor Indonesia (data base level-GTAP) dengan partner dagang ROW mencapai 74%.5 -2. apabila perhitungan net creation dengan pendekatan total nilai ekspor dikurangi dengan total impor (net ekspor) dihitung untuk melihat dampaknya pada neraca pembayaran.0 -2.0 6. sehingga neraca perdagangan turun 3.0 Grafik III.7% dan 9. Dari simulasi dampak ke neraca pembayaran Indonesia.0 -10.0 2.9 dan lihat lampiran 1 untuk hasil lengkap net creation dengan perhitungan total ekspor impor dan net ekspor).

12 dan tabel 4.3 57 Sektor Komodiitas 42 Sektor komoditas 0.9 di atas. Juli 2010 Import growth (%) 50 INDONESIA 'S TRADE 40 30 4 20 10 ROW 0 -10 -10 ASEAN -5 0 5 10 15 20 25 Export growth (%) 30 35 40 45 TOTAL ACFTA 0 CHINA 8 12 % 9.5%. telah ditunjukkan bahwa hasil simulasi pada pertumbuhan neraca perdagangan turun 2. Sementara itu.4% sehingga secara keseluruhan ekspor . Dampak Perubahan Ekspor Impor Indonesia atas Kebijakan ACFTA Grafik III. Secara keseluruhan perubahan dampak net ekspor Indonesia terhadap 42 komoditas disajikan dalam lampiran 2. Hasil simulasi komoditas tradable lainnya adalah ekspor Indonesia ke Cina meningkat cukup besar 41. hasil simulasi ekspor impor yang bersumber dari GTAP dapat kita rinci lebih lanjut untuk kepentingan analisis yang lebih detil. Sebagaimana diketahui. salah satunya dengan menganalisis komoditas tradable.3 Grafik III. dalam analisis sektor riil dalam konteks PDB.2 dan III. Namun untuk memudahkan tabulasi. statistik ekspor impor dalam perdagangan internasional pada berbagai publikasi termasuk UNCOMTRADE. Dari grafik III.3%.2 terlihat bahwa hasil simulasi total net ekspor pada 42 komoditas (tradable) berubah menjadi tumbuh 0.3 (Tabel konversi menjadi 6 jenis komoditas utama tradable dan 1 komoditas jasa terdapat di lampiran 5).3 6.5 -0.5 -2.6 -4 -8 -2.46 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.11. Simulasi dalam model GTAP atas ekspor dan impor tersebut dihasilkan dari rincian 57 komoditas yang terdiri dari 42 komoditas ekspor dan impor (tradable). pembahasan komoditas terdiri dari komoditas tradable dan non-tradable.12.5 8. Pemisahan kelompok barang tersebut diperlukan untuk memudahkan dalam analisis selanjutnya yang menggunakan data ekspor impor yang bersumber dari UNCOMTRADE. merupakan komoditas yang dapat diperdagangkan (tradable). Oleh karena itu. sementara 15 komoditas lainnya berupa komoditas jasa atau non-tradable (services) (Tabel Pengelompokkan 42 sektor tradable dan tabel konversi terdapat di lampiran 2 s/d 5). Terdapat perbedaan hasil simulasi apabila kita bandingkan hasil simulasi total 57 komoditas dan 42 komoditas yang bersifat tradable.3 -6. Dampak ACFTA terhadap Net Eskpor Sektoral Komoditas (%) Berdasarkan Grafik III. terhadap 42 komoditas tradable tersebut dapat di agregasi lebih lanjut menjadi 6 jenis komoditas utama tradable seperti pada terlihat pada tabel III.2 China ACFTA ASEAN ROW Dunia -3.5 8.

8 -1.3 -3.7 2. Hasil Analisis Indikator Perdagangan Internasional Berdasarkan output yang dihasilkan dari model GTAP.Dampak Pelaksanaan ACFTA Terhadap Perdagangan Internasional Indonesia 47 ke ACFTA naik 11.3 70.9 Produk Makanan -4.7 3.5 Produk Pertanian -10.4 48.9 2. terdapat dua sumber utama rincian komoditas berdasarkan GTAP dan SITC 3-digit (ver.7 Industri Ekstraktif -0.4 -0.3 Dampak Pertumbuhan Net Ekspor Komoditas Indonesia pasca Kebijakan ACFTA (Dalam %) 7 Sektor Komoditas ASEAN ACFTA China ROW Dunia -49.8 -0.9 9. sementara positif berarti memberikan kenaikan neraca perdagangan.5 -30.5 4.3 0.6 -3.9 8. .6 1.9 33. Cakupan data yang masuk dalam periode I 7 Pertumbuhan negatif berarti memberikan sumbangan penurunan neraca perdagangan. Sumber utama penyusunan konversi bersumber dari forum diskusi dalam diskusi model GTAP di website Universitas Purdue.1 41.7 Industri Teknologi intensive 27.7 -2.3 Produk Makanan -37.11 Total -4.3 Industri Ringan -21.2 -43. 8 Sementara itu.3 -6. 8 Tabel lengkap konversi ini tersedia dan dapat diminta pada penulis atau redaksi BEMP. dilakukan pembagian periode pengamatan atas indikator yang disusun.1 -0.8 Industri Ekstraktif 2.2 0. Sementara itu. Oleh karena itu perlu dilakukan konversi dari rincian komoditas SITC yang berjumlah 261 menjadi rincian komoditas sesuai dengan GTAP sejumlah 42 komoditas. Pengembangan analisis dilakukan dengan mendasarkan hasil simulasi model GTAP yang dikombinasikan dengan analisis indikator perdagangan.7 -1. Dari sejumlah komoditas ekspor yang meningkat tersebut.3 11.3).2 -7.2 -1.2 Industri Berat 27.7 Total 9. Pada tahap pemrosesan data. kemudiaan dipetakan lebih lanjut dengan melihat daya saing komoditas tersebut dalam pasar ACFTA.5 Industri Ringan -32.2.2 Industri Teknologi intensive -3. telah dihasilkan rincian komoditas yang memiliki peluang dengan adanya sumbangan positif pada neraca perdagangan pada sejumlah 42 komoditas dalam kelompok barang perdagangan (tradable).9 16. untuk memberikan hasil analisis yang lebih baik.7 63.2 -256.0 -1.1 -0.5 -1.5 IV.9% (Tabel III.2 60.2 2.2 4.6 -1.3 4. Berdasarkan hasil temuan model pada bagian sebelumnya.2 Dampak Pertumbuhan Ekspor Komoditas Indonesia pasca Kebijakan ACFTA (Dalam %) Sektor Komoditas ASEAN ACFTA China ROW Dunia -5.1 0.3 79.7 -20.7 -3.8 1. pengembangan analisis diarahkan kepada arah adanya peluang dan tantangan pengembangan produk ekspor Indonesia. dampak net ekspor (neraca perdagangan) yang negatif terjadi dengan mitra dagang Cina dan ROW (Tabel III.3). Pemisahan perrode tersebut yang disebut sebagai periode I dan II juga dimaksudkan untuk melihat dampak perdagangan internasional sebelum dan setelah penerapan kebijakan ACFTA.2.2 17.4 Produk Pertanian -14.3 Industri Berat -3.7 20.2 -0. Tabel III.5 5.6 18.9 -1.1 -90.3 15.0 -0.).1 Tabel III.8 -1.9 -9.

3% 25. Dengan menggunakan kombinasi dua indikator tersebut.8% 2.306 622 33 3 95 48 278 123 19 39 172 8.0% 0.2% 0.2% 1.4% 0.639 3.38% 6.0% 100.2% 1.218 86 1.537 269 318 39 538 11.5% 1.702 18 1.6% 34.5% 3.4% 0.57% 6.5% 3.6% 1.3% 4.857 pos tarif tercatat 0% pada tahun 2005 (Tabel III.5% 1.709 2.8% 0. sejalan dengan pentahapan yang telah diatur dalam skema pentahapan early harvest program.888 25.83% 2.8% 1.4 Perkembangan Penurunan Tarif Bea Masuk Tarif Bea Masuk TAHUN 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Persentase Persentase Persentase Persentase Persentase Persentase Persentase Persentase Pos Tarif Pos Tarif Pos Tarif Pos Tarif Pos Tarif Pos Tarif Pos Tarif Pos Tarif 2.48/2004 . Kesamaan daya saing komoditas dari pengukuran yang dihasilkan oleh indikator RCA kemudian di uji lebih lanjut dengan menggunakan spearman rank correlation (SRC).4% 0.0% 100.732 30.6% 7.8% 100.4% 0.2% 0.8% 100. Penggunaan indikator RCA dan IIT secara bersama-sama antara lain terdapat dalam paper Yumiko (2005).2% 13.738 2.738 2.6% atau sebanyak 2.1% 0.0% 0.1% 0.4% 0.1% 0.2% 36.2% 0.0% 0.2% 0. Dasar pemilahan menjadi dua periode tersebut.5% 3.0% 9.8% 2.5% 3.4% 1.6% 34.3% 4.4% 2. Berdasarkan data dari Kementerian Perdagangan RI.173 9.737 30.866 131 90 48 304 123 20 39 173 8.0% 1.0% 1.702 18 1.0% 1.306 622 33 3 95 48 278 123 19 39 172 8.738 65.2% 0. Demikian juga untuk pendekatan indikator pengukuran IIT digunakan data ekspor impor dengan cakupan mitra dagang di kawasan ACFTA.4% 1. RCA dalam penghitungan analisis dibagian ini menggunakan data mitra dagang pasar di kawasan ACFTA sebagai total ekspor Indonesia.1% 0.0% 1. normal track dan sensitive/highly sensitive list.7% 0.219 85 1.0% 21.0% 100.0% 5.92% 83.4% 0. Pencapaian tarif menuju 0% bagi anggota ACFTA.5% 3.850 131 90 48 315 126 20 39 170 8.2% 1.1% 0.48 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.1.2% 13.65% 89.864 3.537 269 318 39 538 11.0% 2.8% 2.0% 100.2.4% 0.2% 36.4% 2.4% 2.2% 1.4% 2.738 83.92% IV.4% 0. Juli 2010 adalah data dari tahun 2001-2004.0% 7.893 25.8% 0. adalah saat implementasi kebijakan ACFTA tahun 20049 .49% 15.0% 0.0% 21.9% 1.0% 100.4% 0.857 3.4% 0.38% 3.2% 0.6% atau sebanyak 7.0% 1.171 15.8% 2. Lingkup cakupan tersebut untuk memberikan gambaran kekuatan daya saing RCA komoditas Indonesia dalam pasar ACFTA. Pengujian SRC ini antara lain pernah digunakan dalam penelitian yang dilakukan oleh Shafaeddin (2002).306 pos tarif di tahun 2010.0% 0.4% 2.4% 0.4% 2.0% 0% 5% 8% 8% 10% 12% 13% 15% 20% 25% 30% >30% : TOTAL BEA MASUK RATA-RATA 1. Perkembangan tarif 0% terus bertambah menjadi 83.5% 3.9% 100.6% 7.2% 1.639 3.778 150 33 3 95 48 278 123 19 39 172 8.2% 0.0% 7. 9 Ratifikasi kerangka persetujuan ACFTA melalui Keppres No.1% 0. sementara data periode II untuk tahun 2005-2008.219 33 3 95 48 278 123 19 39 172 8.4). Pendekatan Analisis Daya Saing RCA dan Keterkaitan Produk IIT Terdapat dua indikator utama dalam penyusunan analisis di bagian berikut ini.0% 1. implementasi ACFTA dengan pemberlakuan tarif impor secara bertahap telah berjalan adanya 25.0% 7.2% 0.4% 2.5% 1.0% 0. Table III.

6 0.5 3.5.13 .5 2.13. Sementara kuadran III merupakan kuadran pengembangan karena mempunyai indikator RCA dan IIT yang rendah.5 2. Secara umum. Beberapa komoditas utama Indonesia yang bertahan dalam 1. komoditas dengan IIT tinggi dan RCA tinggi berpotensi mempunyai peluang yang lebih besar bertahan dan melakukan penetrasi dalam persaingan pasar yang kompetitif. batasan tengah indikator IIT adalah 0.Dampak Pelaksanaan ACFTA Terhadap Perdagangan Internasional Indonesia 49 langkah pertama yang dilakukan adalah identifikasi sebaran komoditas ekspor Indonesia berdasarkan keunggulan komparatif dan indikator IIT.5 Kwadran IV 4.13 √ III. diperoleh gambaran perkembangan pergeseran pangsa ekspor per kuadran.6 0.2 Kwadran III IIT 1.5 1.5 4. terhadap Grafik III. Sementara itu.8 0. batasan komoditas berdaya saing tinggi dan rendah ditentukan dengan pembagian nilai RCA dibawah dan diatas 1.14.5 -0.2 Kwadran IV -0. Kuadran II dan IV menjadi kuadran potensial karena salah satu indikator baik RCA atau IIT mempunyai kelebihan yaitu berupa RCA atau IIT yang tinggi.5 1.5 Grafik III.14.4 Kwadran II IIT Kwadran I RCA RCA Kwadran III 0.14. Kwadran RCA dan IIT Periode II . Untuk RCA.5 0.16 diperoleh gambaran umum bahwa terjadi kecenderungan penurunan kualitas daya saing komoditas ekspor Indonesia dikawasan ACFTA. Indikator IIT yang tinggi memberikan tingkat keyakinan daya saing ekspor yang ditunjukkan dari RCA mempunyai peluang yang lebih meyakinkan. Pangsa nilai ekspor dikuadran I mengalami penurunan dari 33% menjadi 19% dengan jumlah komoditas yang masih tetap sama yaitu 9 (dengan komposisi atau jenis berbeda). Kuadran I disebut juga sebagai kuadran utama dimana komoditas mempunyai RCA di atas 1 serta mempunyai keterkaitan tinggi dalam mata rantai perdagangan dengan mitra negara-negara dari kawasan ACFTA berdasarkan indikator IIT.0 Kwadran I 0.III. Dalam dua periode pengamatan yaitu periode I dan II. Berdasarkan hasil peta kuadran seperti tercermin pada Grafik III. Kwadran RCA dan IIT Periode I Grafik III.5 0.13 dan III. Berdasarkan pola sebaran komoditas dalam dua periode yang digambarkan dalam Grafik III.5 3.0 Kwadran II 0.4 0. Dari hasil pengolahan data dilakukan pemetakan berdasarkan batasan tertentu.8 0.

Teknis analisis dilakukan dengan membandingkan karakteristik ekspor masingmasing negara di ASEAN secara bilateral dengan Cina. termasuk didalamnya komoditas pada tiap-tiap kwadran.10 untuk 42 jenis komoditas tradable. Sementara itu. Kondisi yang relatif ideal terjadi apabila perkembangan menunjukkan peningkatan pangsa ekspor yang lebih besar di kuadran I. Kwadran II.2. 3% 31% Kwadran IV. tahap selanjutnya adalah membandingkan hasil yang diperoleh antara dua periode pengamatan yaitu periode I (2001-2004) dan periode II (2005-2008). Untuk hasil lengkap berupa komposisi dan cakupan komoditas per kuadran yang diukur dalam matrik RCA dan IIT disajikan dalam lampiran 6. hasil yang lebih pesimis ditunjukkan apabila komoditas minyak dan gas dikeluarkan dalam perhitungan indikator RCA dan IIT. di sajikan dalam bentuk grafik 4. Hasil lengkap untuk analisis bagian ini disajikan dalam lampiran 7. kendaraan bermotor. Kwadran I. dan minuman. penelitian ini juga memberikan gambaran tantangan dan peluang terhadap komoditas ekspor Indonesia di era pasar ACFTA.50 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Dengan menggunakan data pada periode II. Untuk menyederhanakan tabel matrik pada lampiran 6 tersebut.16. pangsa komoditas ekspor dalam kuadran I semakin berkurang dari 19% menjadi 12%. Setelah dihasilkan indikator IES dan IEO masing-masing negara. 41% 4% Grafik III. Dengan . 43% 12% 19% 37% 3% Kwadran III. sementara tantangan pengembangan komoditas nonmigas masih dihadapkan pada berbagai kendala.15. Kwadran IV. Pendekatan Analisis Intensitas Kompetisi Untuk memberikan hasil yang lebih lengkap.9 dan 4. 19% 37% 18% 33% 19% Kwadran II. 41% 41% Kwadran III. Analisis dilakukan dengan menggunakan indikator index of export similarity (IES) dan index of export overlap (IEO).2. Perkembangan tersebut menjadi penting untuk dicermati mengingat peranan komoditas migas semakin berkurang. Perkembangan Pangsa Ekspor per Kuadran dari Periode I ke II Grafik III. Juli 2010 kuadran utama adalah minyak. Kwadran I. Pangsa Ekspor Kuadran Periode II dengan dan tanpa Migas IV. tekstil.

sedangkan untuk kode digit 0 s/d 4 merupakan bukan industri.18)11 . . Dari hasil pengukuran intensitas kompetisi produk ekspor masing-masing negara di ASEAN dengan Cina diperoleh gambaran umum perkembangan intensitas kompetisi yang cenderung menurun dalam dua periode pengamatan (Grafik III. Perkembangan Pangsa Ekspor Komoditas Industri 10 Periode pertama digambarkan dengan warna biru dan periode kedua dengan warna merah 11 Pangsa ekspor komoditas industri diturunkan dari penjumlahan nilai ekspor dalam SITC dengan kode digit awal dari 5 s/d 9. Malaysia. Philipina. negara dengan skala ekonomi relatif kecil memiliki nilai indeks yang relatif tinggi seperti Brunei. dan Thailand memiliki indeks yang relatif tinggi. komposisi ekspor Cina yang cenderung mengarah produk industri (Grafik III. Tingginya indeks IES beberapa negara yang relatif maju di negara ASEAN dengan Cina sejalan juga dengan perkembangan proporsi ekspor Cina yang relatif tinggi pada produk industri. negara yang relatif maju seperti Singapura.17)10 . Menurunnya intensitas kompetisi produk Indonesia dengan Cina sejalan dengan kenaikan pangsa ekspor produk ekspor dari Indonesia yang berbasis sumber daya alam seperti hasil pertambangan dan produk alam lainnya seperti migas. Perkembangan Intensitas Kompetisi dengan China dalam 2 Periode Pengamatan Grafik III. % 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 40 50 60 70 80 90 100 IEO VIE CAM IND BRN IES SIN MAL PIL THA 100 80 60 40 20 0 Indonesia Singapura Thailand Philipin Malaysia Vietnam Cambodia Brunei China Periode I (2001-2004) Periode II (2005-2008) Grafik III.Dampak Pelaksanaan ACFTA Terhadap Perdagangan Internasional Indonesia 51 pengamatan dua periode tersebut dinamika yang terjadi dapat lebih menarik untuk di ulas lebih lanjut.17. Dengan bergabungnya negara Cina kedalam pasar ASEAN. Berdasarkan pengamatan indikator IEO. Disisi lain. dan Vietnam.18. terdapat ancaman terjadinya penurunan ekspor Indonesia dengan partner dagang sesama anggota ASEAN yang telah terjalin selama ini. Chambodia. Sementara dari sisi IES. Intensitas kompetisi yang cenderung meningkat apabila kedua indikator tersebut menunjukkan kenaikan. Dari dua periode pengamatan kedua indikator tersebut diperoleh petunjuk perkembangan produk Indonesia yang cenderung berkurang intensitas kompetisi dengan produk ekspor Cina. dan karet sejalan dengan kenaikan harga dan permintaan dunia. CPO.

46 Hasil yang sama dan mirip dengan Indonesia juga ditemukan di negara ASEAN lainnya.02 67 0.31 67 0.20 67 0.00 -0.90 -0.28 48 0.57 48 0.18 67 0.53 -0.32 -0.00 10. Juli 2010 Untuk memberikan dukungan kesimpulan analisis tersebut diatas.46 -0.56 -0.00 0. dimana intensitas kompetisi komoditas ekspor.19 48 0.00 0.20 0.09 0.2004) Cina IND Semua Komoditas (69 Komoditas) Spearman»s rho: degrees of freedom: P-value: 50 Komoditas Spearman»s rho: degrees of freedom: P-value: RCA >1 Spearman»s rho: degrees of freedom: P-value: SING THAI PHI MAL VIET CAMB BRU IND SING Periode II (2005 .82 0.10 31 18 0.34 0.26 -0.14 48 0.69 11 0.01 0.28 7 0.79 0.37 29 0.07 -0.08 67 0. Uji SRC atas RCA Indonesia dan Cina menghasilkan kesimpulan hubungan negatif dengan level signifikan 1% untuk kriteria 50 komoditas dan RCA > 1 (Tabel III.61 19 0.00 -0. Sedangkan untuk pengujian keseluruhan komoditas berdasarkan SITC 2digit sejumlah 69 komoditas menghasilkan hubungan negatif namun tidak signifikan.14 48 0. Dengan demikian diperoleh gambaran bahwa komoditas ekspor Cina ke ASEAN bukan merupakan komoditas unggulan dari negara ASEAN lainnya.5).07 30 0.08 67 0.28 48 0.04 67 0.21 67 0.05 -0.2008) Periode I (2001 . Secara umum.00 0. Koefisien spearmans»s rho yang bernilai negatif dapat diartikan adanya struktur daya saing yang berbeda pada komoditas ekspor Indonesia dengan Cina. dengan pengujian terhadap 50 komoditas dan komoditas dengan RCA tinggi menunjukkan hubungan negatif dan siginifikan.02 48 0.54 -0.20 0.03 0.02 67 0.51 28 0.5 Uji Spearman Rank Correlation RCA Periode I (2001 .03 67 0.00 0.00 2 1.52 -0.00 -0. Hasil ini dapat juga diartikan bahwa komoditas ekspor unggulan Indonesia bukan merupakan ekspor unggulan Cina.00 -0.3 dengan level signifikan 5% 12 .52 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.00 0.67 -0.18 0.34 67 0.05 -0.7 17 0.75 0. Pengujian terhadap dua periode pengamatan menunjukkan hasil yang konsisten untuk Indonesia yaitu tetap dengan koefisien negatif dan signifikan.05 -0.08 -0.36 23 24 0.01 -0.62 -0.00 -0. Pengujian dilakukan dengan melakukan uji spearman rank correlation (SRC) atas indikator RCA.13 0.25 48 48 0. 12 Pengujian berdasarkan 50 komoditas terbesar berdasarkan pangsa yang berkisar 90 persen.07 48 48 0.47 48 0.69 -0.00 48 1.01 -0. Table III.31 67 0.28 48 0.29 -0.04 67 0.04 -0.54 level signifikan 1%.03 67 0. dilakukan uji dengan alat analisis tambahan.16 48 0.00 -0.86 -0.34 67 0.10 0.01 -0.19 48 0.53 0. Demikian juga untuk pengujian atas komoditas yang mempunyai daya saing tinggi atau RCA > 1 menghasilkan koefisien -0. Dengan kategori pengujian pada 50 komoditas terbesar diperoleh koefisien -0. khususnya Indonesia dengan Cina yang semakin menurun.90 0.28 7 0.2004) THAI PHI MAL VIET CAMB BRU -0.71 0. .59 18 0.30 -0.16 67 0.23 21 0.

Hal ini mengindikasikan tingkat persaingan produk antara negara ASEAN ke Cina relatif berkurang.20. yang didukung oleh indikator IES dan IEO yang turun (Grafik 4. produk ekspor negara Vietnam relatif mempunyai indeks IES yang paling tinggi.3% (Lampiran 1).1% dan tertinggi adalah ekspor Thailand 43. Diantara negara ASEAN.19). Analisis peluang terbukanya pasar Cina dapat juga dilakukan dengan indikator IES dan IEO.20. mencerminkan adanya derajat homogenitas antara produk ekspor Indonesia dengan masing-masing negara ASEAN di pasaran dunia yang lebih tinggi dibandingkan ekspor untuk pasaran ACFTA13 . .1% dengan kisaran terendah oleh ekspor Philipina 16. Secara bilateral antara Indonesia dengan masing-masing negara ASEAN. Dari hasil kuantitatif model GTAP juga ditunjukkan peningkatan ekspor Cina ke ASEAN mencapai 50. terdapat pola hubungan kompetisi yang semakin menurun. Berbeda dengan pengukuran indikator IES dan IEO pada bagian sebelumnya. dan bidang warna merah untuk pasar ACFTA. Dari Grafik 4. Perbandingan Perkembangan Intensitas dipasar Dunia dan ACFTA 13 Bidang warna biru merupakan ukuran indeks untuk tujuan ekspor pasar dunia.19. Berbeda halnya apabila dengan komoditas ekspor yang dipakai adalah total ekspor masing-masing negara. Hasil ini memberikan gambaran adanya hubungan yang lebih bersifat komplementer sehingga ekspor Cina ke ASEAN menjadi relatif mudah. kita dapat menggunakan Indonesia sebagai titik pusat perhatian. Perkembangan Intensitas Kompetisi Indonesia dg ASEAN ke Pasar Cina Grafik III. 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 0 20 40 60 80 100 PIL CAM SIN IEO BRN THA MAL VIE IES 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 0 IES VIE THA MAL SIN IEO 20 40 60 80 100 PIL Grafik III. Dari hasil simulasi GTAP ditunjukkan juga bahwa keseluruhan ekspor dari Asean ke Cina meningkat 31.5% (Lampiran 1). Demikian juga terhadap komoditas ekspor anggota ASEAN lainnya. dimana Cina menjadi titik pusat perhatian.Dampak Pelaksanaan ACFTA Terhadap Perdagangan Internasional Indonesia 53 Dengan indikator intensitas kompetisi dan pengujian SRC untuk indikator RCA diperoleh penguatan kesimpulan bahwa penurunan intensitas kompetisi antara Cina dengan Indonesia disertai dengan struktur komoditas ekspor yang tidak saling bersaing.

5%. barang-barang ekspor dari Indonesia dan ASEAN pada umumnya lebih mudah dapat melakukan ekspansi. Dari hasil model GTAP. komoditas dari Indonesia berpeluang meningkat 2.5%. Berdasarkan data historis yang dibagi dalam dua periode. Mitra dagang Indonesia dari kawasan ASEAN yang selama ini terjalin berpotensi mengalami penurunan. Meskipun perjanjian kerjasama ACFTA berdampak negatif terhadap penurunan neraca perdagangan Indonesia secara keseluruhan sebesar 2. Kesimpulan Kerjasama perdagangan dalam kerangka ACFTA memberikan peluang bagi peningkatan ekspor Indonesia.1.1% terutama bersumber dari peningkatan ekspor ke Cina. Dari hasil model GTAP. Kesimpulan tersebut di dukung juga dengan derajat homogenitas komoditas ekspor ke ACFTA yang lebih rendah dibandingkan ekspor keseluruhan ke pasar dunia. Juli 2010 V. Namun demikian. ekspor Indonesia menghadapi tantangan baru dengan masuknya barang-barang impor Cina dikawasan ASEAN. Hal ini sejalan dengan perkembangan ekspor barang dari Cina yang bergerak ke arah ekspor barang industri. tingkat persaingan dengan sesama negara ASEAN ke pasar Cina relatif berkurang.3% dan trade diversion dengan mitra dagang ROW sebesar -1. derajat intensitas kompestisi barang ekspor Indonesia ke kawasan ACFTA secara bilateral dengan masing-masing negara ASEAN menurun. KESIMPULAN DAN SARAN V. termasuk penuruan ekspor indonesia sebesar 4. Hasil analisis indikator IES dan IEO dalam dua periode pengamatan menghasilkan kesimpulan bahwa.54 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Peluang perluasan pasar ke Cina didukung oleh karakteristik komoditas ekspor Indonesia dan negara ASEAN lainnya yang mempunyai derajat persaingan yang relatif rendah.9%. Dengan demikian. diperoleh penurunan kelompok komoditas utama dari yang semula mempunyai pangsa .5%. Dari sisi ekspor. Hasil penelitian paper ini menunjukkan bahwa komoditas barang ekspor Cina dan negara ASEAN cenderung menunjukkan arah yang berkurang tingkat persamaan komoditasnya.4%. Tantangan peningkatan ekspor Indonesia di era ACFTA semakin bertambah dengan menurunnya daya saing ekspor Indonesia. Dengan tingkat homogenitas barang ekspor yang lebih rendah. Dari hasil pengujian sprearman rank correlation atas indikator RCA secara umum menunjukkan hubungan yang lebih bersifat komplementer antara barang ekspor Cina dengan negara ASEAN.3%. diperoleh perkiraan ekspor negara ASEAN ke kawasan ASEAN mengalami penurunan 4. secara keseluruhan Indonesia mempunyai net trade creation sebesar 2% yang bersumber dari dampak trade creation dari anggota ACFTA 10. Disisi lain ekspor Cina ke ASEAN mengalami peningkatan 50. hasil analisis lebih lanjut terhadap komoditas ekspor internasional (tradable) menunjukkan dampak positif sebesar 0.

pangsa ekspor komoditas utama yang semula mencapai 19% tersebut turun menjadi 12%. peralatan elektronik. Dengan demikian. industri kimia. Tantangan tersebut semakin besar mengingat salah satu komponen ekspor dalam pembentukan pangsa tersebut bersumber dari sektor migas. Sementara untuk komoditas potensial dengan RCA tinggi namun perlu nilai tambah tinggi pada umumnya adalah komoditas berbasis sumber daya alam namun belum banyak diolah lebih lanjut dalam bentuk diversifikasi produk maupun produk bernilai tinggi. Sementara itu. arah kerjasama ACFTA yang kita harapkan dapat meningkatkan kesejahteraan di kawasan dan khususnya bagi Indonesia dapat kita optimalkan. Dengan demikian. Dari hasil penelitian ini komoditas potensial dengan indikator IIT tinggi dan perlu penguatan daya saing adalah mesin & peralatan.Dampak Pelaksanaan ACFTA Terhadap Perdagangan Internasional Indonesia 55 33% menjadi 19% terhadap total ekspor Indonesia. terbuka pilihan yang lebih besar bagi produsen untuk melakukan investasi mesin-mesin dan peralatan dengan pilihan barang dari Cina dengan harga yang lebih kompetitif.2. dan industri logam & besi. V. perlu strategi untuk menggerakkan basket komoditas khususnya ekspor nonmigas dari kuadran II dan IV menuju kuadran I. Saran Untuk dapat memanfaatkan peluang pengembangan ekspor dari kesepakatan ACFTA. saran terkait dengan tantangan yang dihadapi dengan maraknya produk Cina adalah dengan memanfaatkan impor barang dari Cina dengan teknologi menengah dan tinggi yang selama ini bersumber dari negara diluar kawasan. . Apabila kita keluarkan komoditas ekspor migas dalam perhitungan. Pengembangan komoditas ekspor yang mempunyai daya saing tinggi perlu memperhatikan juga karakteristik komoditas yang mempunyai keterkaitan tinggi dalam mata rantai perdagangan internasional.

N. Yumiko (2005). Rina Oktaviani. (1995). April 2008. Modeling dan Applications. . dan Justina Adamanti (2009): ≈ Semar 2009: Suatu Model Financial Computable General Equilibrium∆. Endy Tjahjono. ≈Trade creation and Trade Diversion under NAFTA∆. Okamoto. 176-177. Thomas W. Frankel. Analisis Dampak Penurunan Subsidi Ekspor Negara Maju terhadap Produksi Pertanian Indonesia.Jr. Desember 2007. Joseph F.56 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. ≈ASEAN. WP 7429. Krueger. ≈Economic perspectives for Central America after CAFTA. Oct 2007. Global Trade Analysis. 3773. A GTAP-based analysis∆.J. NBER. Haryadi. Manuel dan Karp. (1964): The Pure Theory of International Trade. Juli 2010 DAFTAR PUSTAKA Deardorff. (1976). Kemp. ≈Trade and Welfare in General Equilibrium∆. Saktyanu K. Hertel. Cambridge University Press 1997. Barik Bathaluddin. Anne O (1999)..∆ NBER Working Paper Series 4050. ≈Determinants of Bilateral Trade: Does Gravity Work in a Neoclassic World?∆ NBER Working Paper No. Murray C.Wan. The impacts of an East Asia FTA on Foreign Trade in East Asia. V. 5377. February 2008. A. IMF (2007): World Economic Financial Surveys: Regional Economic Outlook Asia and Pacific. Kemp. Nathaniel (2000). Jeffrey (1997): ≈Regional Trading Blocs in The World Economic System. Keio Economic Studies 9. ≈Dampak Penghapusan Hambatan Perdagangan Sektor Pertanian Terhadap Kinerja Ekonomi Negara Maju dan Berkembang∆. C.. WP/ / 2009 (Desember 2009). Sanchez. Luis Rivera dan Hugo Rojas-Romagosa. Ohyama. Englewood Cliffs. and Henry Y. ≈An Elementary Proposition Concerning the Formation of Customs Unions.∆Journal of International Economics 6 (1976): 95-97. (1972). dan Budiman Hutabarat. Prentice-Hall. M. ≈NAFTA»s Economic Effects on Mexico∆. Francois. Murray. Shujiro Urata dan Kozo Kiyota. M. Dermoredjo. and India: Are they more competitive or complementary to each other?∆. Wahida. China. National Bureau of Economic Research. Desember 2003. Mangara Tambunan dan Noer Azam Achsani.

(August 2001). Masahiko (2001): ≈How Will the Regional FTAs Shape the Indonesian Economy? Evaluation by the Computable General Equilibrium Model∆. Yose Rizal Damuri. Jacob (1950). Viner. The Customs Union Issue. Tubagus Feridhanusetyawan. MA: Harvard University Press. New York. Cambridge. Economic Crisis and Trade Liberalization: A CGE Analysis On The Forestry Sector. 2. Jaroslav (1965). General Equilibrium of International Discrimination: The Case of Customs Unions. . February 2004. TSQ Discussion Paper 2001/02No.Dampak Pelaksanaan ACFTA Terhadap Perdagangan Internasional Indonesia 57 Tsutsumi. Vanek. Carnegie Endowment for International Peace.

9 51.5 50.1 27.0 92.7 778.196.341.3 -2.4 54.6 -1.1 20.263.1 -5.085.058.2 -2.601.285.631.0 13.2 3.712.4 1.5 12.554.4 6.150.696.390.554.913.6 919.1 439.0 160.422.718.672.265.756.7 273.194.0 25.8 37.335.736.322.0 0.9 694.9 11.0 26.068.3 1.804.1 -5.110.8 539.5 32.9 6.4 5.328.462.984.6 81.683.571.4 11.659.3 101.1 9.1 50.074.7 1.078.4 76.500.3 40.580.5 51.736.8 17.765.9 -0.485.184.0 183.6 150.692.7 18.9 14.4 2.1 -195.3 11.122.0 0.418.1 -1.6 0.1 6.3 16.1 8.4 26.2 197.3 1.4 -1.7 618.5 612.5 2.465.988.9 50.557.2 7.107.099.9 155.343.022.8 2.2 2.2 89.7 12.135.581.307.496.6 14.6 1.7 1.521.9 14.3 1.183.440.988.6 3.4 -4.8 21.712.9 .785.8 -2.1 369.2 680.0 34.688.814.4 152.598.9 491.465.134.1 732.6 26.2 43.063.3 20.6 33.0 21.682.2 51.6 -5.511.516.8 5.2 25.600.206.6 -1.4 86.0 0.5 27.8 3.146.560.136.7 13.4 -2.5 37.327.885.075.904.0 16.1 0.429.395.1 50.494.3 25.171.5 -9.3 -1.4 76.046.4 27.0 92.7 7.0 64.2 21.3 562.2 6.033.6 -643.4 18.0 2.9 -2.9 96.245.976.3 -7.4 50.1 9.6 -0.581.4 50.767.135.9 104.6 1.0 119.3 99.7 9.5 -1.0 25.060.597.243.7 180.3 28.964.1 4.687.054.305.2 415.5 110.4 630.7 3.7 -5.7 -4.7 -187.627.0 31.3 16.5 1.3 13.9 1.3 55.471.5 5.057.4 180.6 33.5 -20.5 63.281.8 154.7 2.492.7 -23.2 14.529.7 42.4 3.435.6 3.126.4 7.436.4 583.58 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.1 -2. Juli 2010 Lampiran 1 Hasil Running Model GTAP EKSPOR Total Trade dengan dunia Sebelum Sesudah Trade Antar Anggota Sebelum Sesudah Trade dengan Cina Sebelum Sesudah Trade dengan ASEAN Sebelum Sesudah Trade dengan non Anggota (ROW) Sebelum Sesudah ekspor ke Dunia Value % ekspor ke ACFTA Value % ekspor ke Cina Value % ekspor ke Asean Value % ekspor ke ROW Value % Indonesia Malaysia Singapura Thailand Filipina Vietnam Other ASEAN ASEAN China ACFTA 87.767.415.853.6 22.8 22.0 31.086.096.8 34.729.7 1.7 -11.1 5.7 119.083.979.0 1.1 -2.464.479.976.123.6 -4.4 2.8 12.0 70.130.4 -169.8 0.495.3 4.0 231.636.5 5.164.834.579.5 8.232.915.680.7 2.447.3 151.3 70.8 99.7 0.2 7.0 604.862.1 26.5 424.5 6.691.437.5 21.3 1.3 10.812.743.1 38.8 -4.

806.451.1 -1.155.2 147.223.6 10.636.947.0 762.7 32.5 21.389.6 -1.4 6.9 36.6 .0 4.1 33.2 51.2 -5.0 -5.751.2 98.567.5 3.5 10.7 113.040.2 75.2 1.668.140.0 53.1 0.2 74.890.4 116.027.2 51.4 -14.928.7 31.1 5.8 15.1 4.9 -5.841.8 -5.112.3 98.2 -168.1 289.624.854.053.862.0 881.534.1 17.412.8 17.4 524.580.416.068.8 27.0 1.841.9 33.1 896.743.9 80.4 -13.641.6 8.141.668.9 16.0 -7.951.4 614.1 -2.683.5 27.9 8.211.1 -627.170.874.0 31.4 -1.443.0 23.266.5 -1.346.8 -5.1 0.9 2.0 52.7 23.6 5.8 -160.7 78.4 47.539.4 1.412.9 599.268.6 3.2 114.346.5 15.4 110.8 15.0 -1.1 3.9 2.2 46.5 7.6 -8.339.8 20.5 -1.1 74.5 25.438.7 45.042.204.743.151.2 37.1 160.142.5 68.5 0.6 5.166.013.4 5.1 208.7 17.6 -2.5 1.946.0 0.258.1 -5.150.8 161.524.0 -679.3 5.074.2 -299.803.0 49.378.8 -3.1 11.601.Dampak Pelaksanaan ACFTA Terhadap Perdagangan Internasional Indonesia 59 Lampiran 1 Hasil Running Model GTAP Lanjutan 1 IMPOR Total Trade dengan Dunia Sebelum Sesudah Trade Antar Anggota Sebelum Sesudah Trade dengan Cina Sebelum Sesudah Trade dengan ASEAN Sebelum Sesudah Trade dengan non Anggota (ROW) Sebelum Sesudah Impor dari Dunia Value % Impor dari ACFTA Value % Impor dari Cina Value % Impor dari Asean Value % Impor dari ROW Value % Indonesia Malaysia Singapura Thailand Filipina Vietnam Other ASEAN ASEAN China ACFTA 76.6 694.214.5 3.834.783.8 53.784.9 295.236.658.585.371.030.3 3.777.2 2.1 7.235.220.534.2 -703.3 34.1 1.342.9 80.448.859.6 20.3 13.723.076.815.947.533.918.575.693.017.568.7 1.7 8.5 17.856.010.771.434.855.9 13.1 9.2 106.0 0.626.4 40.708.3 2.8 -1.0 15.1 -5.3 29.8 2.9 2.9 7.4 8.8 -5.6 69.1 -1.0 14.2 5.6 47.657.6 12.9 9.8 -1.238.8 365.0 7.828.4 -863.956.8 100.780.353.4 8.640.8 55.307.2 191.3 9.116.171.297.2 -1.6 1.267.6 541.188.3 190.8 -997.1 1.558.444.9 515.8 12.6 50.2 27.5 7.017.874.034.0 371.2 77.023.2 10.8 27.1 48.4 1.2 557.1 109.3 6.673.6 -2.6 32.9 -911.1 13.8 -12.186.245.2 463.0 108.3 2.616.6 169.9 49.5 102.824.3 244.8 26.3 37.088.434.2 25.167.8 9.5 3.339.994.180.330.721.806.5 755.463.2 23.0 8.777.6 -425.2 15.3 33.0 30.3 -1.0 18.639.593.202.0 13.5 40.431.562.371.7 2.

657.3 39.154.0 0.0 -1.9 8.130.315.1 351.749.2 14.9 29.0 19.9 389.6 7.8 .326.2 21.899.308.8 52.803.3 -6.0 780.1 17.923.568.772.490.115.9 11.1 2.6 215.7 33.0 2.044.9 263.212.513.6 125.5 11.563.4 0.3 5.8 30.547.6 29.0 63.6 -4.9 66.311.0 38.2 -2.5 39.261.2 113.215.6 1.4 5.7 -6.819.270.2 10.895.1 22.818.866.3 1.1 2.084.056.0 1.5 9.5 17.298.2 -1.002.512.039.4 -2.2 -3.234.851.134.7 -2.0 -1.1 35.3 2.9 2.1 7.7 -11.166.5 -0.753.5 124.317.638.7 96.9 312.560.518.870.149.478.0 350.013.0 27.900.4 -20.204.4 1.4 211.0 125.053.3 171.426.458.554.6 163.6 -538.1 68.323.169.2 39.2 11.5 44.193.361.234.9 2.547.501.605.3 226.2 491.9 14.8 -35.833.7 227.908.1 2.3 174.4 99.687.285.6 311.249.915.6 31.5 222.3 2.8 3.8 563.463.315.249.190.0 39.351.3 27.9 24.489.2 0.1 100.5 814.7 1.2 2.0 49.135.460.5 167.8 -1.7 -1.5 39.7 1.2 32.8 6.983.146.0 -5.382.950.298.1 72.5 795.9 173.270.173.222.0 71.529.011.7 167.279.7 -12.669.2 39.3 1.3 49.572.289.905.7 38.355.036.632.6 99.082.4 49.765.886.822.640.1 23.9 6.5 10.271.8 -849.7 2.1 1.8 47.966.3 212.871.0 -1.776.613.264.586.7 58.3 6.4 114.586.9 36.784.5 -4.022.6 9.3 -3.535.588.1 -2.670.0 0.8 12.882.6 9.8 4.1 173.3 2.2 68.8 105.4 388.158.347.7 -3.4 32.623.6 1.124.4 8.102.8 157.127.668.334.084.6 -322.547.9 36.262.551.1 49.8 -0.256.6 54.9 1.116.3 174.5 -11.8 475.8 1.693.437.0 -3.550.585.5 39.7 18.1 124.136.250.4 1.4 49.1 87.4 15. Juli 2010 Lampiran 1 Hasil Running Model GTAP Lanjutan 2 TOTAL TRADE (EKSPOR + IMPOR) Total Trade dengan dunia Sebelum Sesudah Trade Antar Anggota Sebelum Sesudah Trade dengan Cina Sebelum Sesudah Trade dengan ASEAN Sebelum Sesudah Trade dengan non Anggota (ROW) Sebelum Sesudah Total Net Trade Creation Value % Trade Creation Antar Anggota Value % Trade Creation dengan Cina Value % Trade Creation dengan ASEAN Value % Trade Diversion Value % Indonesia Malaysia Singapura Thailand Filipina Vietnam Other ASEAN ASEAN Cina ACFTA 164.385.9 49.218.8 1.3 8.7 20.7 1.8 -3.2 11.1 6.3 22.5 10.229.399.778.2 13.162.4 100.5 -1.6 70.2 34.0 10.388.1 87.9 23.6 12.0 5.7 2.206.314.9 9.8 0.9 479.5 4.652.571.4 75.2 51.2 -1.764.0 -14.877.409.1 16.8 -1.913.60 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.5 54.6 258.6 -4.692.8 -612.507.808.

3 -22.6 151.0 -16.6 -27.0 -5.736.5 11.5 -1.2 17.276.208.487.582.5 -14.3 -499.9 -30.6 -940.792.684.1 14.635.3 -1.0 49.4 -6.5 6.564.1 -246.9 323.1 17.2 -45.4 0.234.6 102.3 -6.5 -5.6 1.0 -968.458.1 81.1 -9.7 -10.0 0.4 105.5 45.087.4 2.3 91.837.288.2 6.5 -31.760.9 -3.1 -3.5 -10.4 -72.725.9 -212.8 720.3 -1.3 6.887.9 -2.5 509.8 -193.6 -284.9 5.3 267.217.1 9.8 -8.5 ASEAN Cina ACFTA 10.877.071.2 -2.3 -22.3 -634.152.2 158.7 -3.5 -4.054.3 -10.3 -24.2 -31.242.178.8 -2.183.3 -2.466.0 -24.2 5.8 -12.1 1.4 -5.658.0 6.2 440.232.1 -13.931.459.9 -1.2 -7.932.586.866.655.0 145.016.995.5 45.8 52.3 22.175.9 31.492.363.6 -3.043.739.795.2 -3.5 966.752.2 -3.725.920.2 16.093.163.2 -3.3 -26.0 63.500.3 17.3 -4.176.810.3 -442.5 -1.9 -6.9 1.2 -6.087.8 -26.5 5.7 974.5 0.099.844.3 -104.3 6.932.9 .2 -443.3 1.524.8 -17.3 159.3 -2.2 -60.994.301.6 -517.637.363.9 7.4 -112.5 135.440.6 230.4 -2.598.098.1 -3.4 -487.1 11.0 -1.614.266.765.8 32.0 12.8 -1.7 2.837.157.6 -48.5 11.4 5.7 -2.7 237.2 8.178.8 280.9 7.184.1 1.360.3 3.728.2 -6.5 -3.087.5 -29.Dampak Pelaksanaan ACFTA Terhadap Perdagangan Internasional Indonesia 61 Lampiran 1 Hasil Running Model GTAP Lanjutan 3 NET EKSPOR Total Trade Sebelum Sesudah Trade Antar Anggota Sebelum Sesudah Trade dengan Cina Sebelum Sesudah Trade dengan ASEAN Sebelum Sesudah Trade dengan non Anggota (ROW) Sebelum Sesudah Total Net Trade Creation Value % Trade Creation Antar Anggota Value % Trade creation Trade Cina Value % Trade Creation ASEAN Value % Trade Diversion Value % Indonesia Malaysia Singapura Thailand Filipina Vietnam Other ASEAN 3.5 -755.445.886.399.9 -4.201.0 -3.506.1 7.3 13.3 55.431.107.275.1 11.260.3 -649.635.2 4.276.948.9 -27.9 -1.6 3.5 -711.5 275.9 -4.3 252.2 7.8 31.867.4 -13.649.395.5 12.5 -2.1 832.388.0 63.0 -111.2 368.123.4 18.5 1.9 -115.654.825.1 -28.7 -24.241.670.2 80.9 14.5 -3.195.7 8.8 -16.0 -1.317.3 -2.741.222.497.617.5 3.4 3.344.082.241.3 -1.2 2.8 6.1 13.6 1.657.4 -435.1 7.3 -10.0 -6.939.966.1 -702.7 4.0 -1.9 7.910.2 -31.8 -2.6 -6.2 10.483.4 1.201.1 4.490.254.2 -12.187.918.6 -1.6 -154.965.0 8.8 -5.321.5 -1.810.

5 33.0 0.0 -20.04 -0.0 -4.0 -10.00 0.9 Daging 0.05 0.668.3 0.074.6 0.4 -0.3 2.1 4.5 0.0 0.2 894.1 16.0 Sayuran 89.0 -6.4 0.0 1.0 ProdukHewan 106.6 2.1 -0.00 0.0 0.24 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.5 SusuMurni 0.20 0.2 0.0 0.4 0.0 -0.2 0.00 0.4 0.29 0.00 0.6 47.1 364.1 2.0 27.3 39.0 0.7 128.0 3.0 -68.2 0.7 29.4 -8.02 792.3 1.0 Wheat 2.0 7..0 0.6 0.7 0.2 4.00 0.25 -0.202.0 12.2 27.0 0.00 0.479.0 4.7 1.00 0.01 0.14 0.1 48.4 Gas 0.5 0.1 116.1 10.4 0.4 -0.2 6.1 54.2 519.00 0.5 4.00 0.1 428.00 -0.9 87.00 0.2 0.5 394.6 -1.6 447.5 551.5 470.3 0.1 0.8 1.4 3.0 133.4 0.7 0.468.4 0.0 3.3 31.8 3.6 -40.0 0.0 -1.8 -16.1 0.7 0.3 126.06 0.2 167.5 -0.3 -1.0 48.00 0.8 0.6 3.6 25.2 1.6 0.3 4.0 64.3 13.1 11.00 0.7 19.0 -3.0 -0.2 -2.01 -0.1 0.0 -0.0 -18.5 340.06 0.3 -0.2 PakaianJadi 120.00 0.784.1 0.00 0.0 9.0 2.0 104.4 5.0 0.00 0.20 531.2 0.2 70.07 0.766.00 0.00 0.2 -2.06 0.07 -0.1 -0.01 0.9 0.3 0.810.8 0.6 0.0 0.4 3.5 1.00 0.1 5.8 0.0 0.3 -2.5 -0.0 -11.6 3.0 4.0 0.0 -1.1 258.0 DairyProduk 28.4 0.0 0.8 235.2 16.2 0.09 0.0 0.2 Gula 3.00 0.3 6.02 0.2 177.4 -4.1 -12.2 0.00 0.4 20.6 -26.00 -0.4 4.7 -47.6 4.2 166.00 0.0 0.848.1 -0.4 0.00 0.0 0.00 0.9 2.0 0.810.04 0.0 0.01 4.2 0.0 -0.0 46.00 -0.476.1 -1.047.00 0.439.7 7.62 Lampiran 2 Perbandingan Dampak ACFTA Ke Indonesia (Komoditas) Komoditas Ekspor ke ASEAN Ekspor ke CINA Ekspor ke DUNIA share % pre post chg % share % pre post 0.2 0.1 0.3 2.5 46.0 1.5 309.0 0.2 0.0 23.0 0.8 0.00 0.7 CerealGrain 10.2 -7.7 76.0 60.1 4.404.8 0.6 -26.0 2.0 31.00 0.905.4 11.7 -0.1 0.5 -22.419.2 0.0 -2.8 ProdukMakan 408.4 0.4 120.1 -1.6 2.7 157.3 4.831.180.532.0 26.4 -94.4 -0.2 11.85 -0.00 0.5 1.4 3.1 -1.00 0.0 3.12 -0.11 76.3 -3.0 36.3 0.0 10.0 165.4 4.4 116.9 193.6 23.3 -0.7 68.9 0.823.6 0.2 1.1 -40.6 1.0 Wol 0.0 8.13 0.14 0.3 74.4 32.0 0.725.2 4.0 0.1 12.00 1.00 0.9 3.0 4.0 0.146.0 2.0 -2.5 1.2 -0.2 108.2 OilSeeds 20.12 0.9 -2.5 0.1 33.3 6.00 0.8 0.3 68.0 0.6 -50.6 467.3 2.8 0.0 -0.2 -34.0 1.2 -1.0 27.01 0.2 2.2 -1.01 0.1 -24.0 -0.37 13.1 0.06 -0.0 0.073.5 -0.3 -0.0 0.0 100.0 19.2 4.0 25.024.0 0.0 -19.2 0.2 3.9 0.0 1.08 0.01 0.01 1.4 0.6 0.6 3.7 269.6 593.0 0.00 0.00 -0.7 0.1 12.5 4.7 -32.4 115.05 23.2 0.4 4.0 0.5 119.0 -0.2 -8.7 0.3 582.3 0.00 0.9 59.0 0.49 0.4 -144.2 MinyakSayur 1.8 1.00 0.2 1.02 0.0 -10.00 -0.1 -2.2 0.476.00 0.6 31.00 0.0 1.3 9.8 23.0 HewanTernak 1.107.16 4.0 0.5 0.0 0.019.3 0.9 896.5 -0.1 16.6 14.5 2.0 0.2 1.0 0.0 102.00 0.3 6.2 15.0 0.0 0.005.2 50.1 -0.0 46.6 295.1 0.03 1.381.0 0.6 0.0 29.0 0.9 138.0 -53.6 28.45 0.2 101.0 4.00 0.5 -0.6 2.8 4.00 0.2 Ekspor ke ROW chg % share % -0.6 584.3 4.0 -2.5 0.06 136.9 0.14 -0.1 3.7 2.12 -0.7 3.2 7.7 -29.7 0.01 -0.9 57.21 1.2 -82.9 20.00 0.4 -30.1 -1.7 20.2 0.00 0.00 0.8 ProdukDaging 3.4 -1.5 -0.1 -30.7 -13.5 -0.00 0.4 0.0 35.6 188.1 0.04 -0.7 9.3 -23.9 0.0 -0.7 2.4 70.0 13.1 -18.6 0.5 143.00 0.66 0.7 -5.0 7.9 0.0 0.4 37.0 -13.00 0.4 3.0 2.7 453.8 -0.00 -0.0 0.7 648.8 4.0 -0.29 -0.5 0.5 0.6 5.7 -29.2 0.9 97.7 0.6 4.1 307.6 0.333.7 0.4 -0.4 384.5 -0.3 1.0 42.2 10.6 -50.7 0.459.00 0.00 0.00 0.4 0.01 0.0 -1.3 2.00 0.3 Minyak 1.05 0.3 -21.0 0.4 -2.00 0.0 16.0 0.46 .976.2 Kehutanan 46.0 4.4 -10.8 BerasOlahan 2.00 0.7 -0.6 -5.3 454.2 2.15 41.00 0.025.5 103.9 308.9 328.0 2.2 -2.0 -3.867.05 0.5 38. Juli 2010 42 pre post chg % share % 0.0 596.5 45.140.6 1.4 -1.2 -2.16 0.9 4.2 ProdukKulit 131.00 0.2 0.00 0.0 13.02 0.00 0.1 0.00 0.5 -0.04 0.433.3 0.3 3.00 0.9 0.0 0.032.7 311.0 0.2 2.0 0.5 16.0 16.02 -0.00 0.1 92.0 1.00 0.3 2.0 -2.1 1.3 6.6 -4.6 20.3 973.6 0.3 1.5 -0.09 -0.8 -0.10 0.1 -18.784.8 -26.9 0.00 0.00 0.056.8 0.20 0.8 326.6 0.2 0.0 90.04 0.0 12.8 Perikanan 135.4 2.5 0.4 228.8 0.05 0.9 Batubara 547.079.6 MineralNec 604.4 0.1 -3.0 0.0 0.00 -0.0 0.0 -2.997.0 -0.0 0.0 70.4 -2.1 -3.01 0.6 -1.0 4.1 109.5 187.00 34.535.4 -1.2 -0.4 -2.377.3 0.85 1.00 42.4 0.1 66.00 0.00 0.0 125.93 319.4 -0.6 1.844.00 0.1 3.0 6.6 -0.5 20.00 0.1 0.003.5 2.4 2.8 -135.0 0.0 -0.8 -1.5 -0.7 -3.4 -1.00 0.5 199.00 0.1 -0.2 20.4 257.4 -0.7 94.5 665.00 0.7 0.0 Fiber 2.00 0.2 969.5 ProdukKayu 790.9 8.0 0.5 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 VIMS Beras 0.00 -0.0 0.2 0.9 100.8 5.4 613.1 0.7 Ekspor ke ACFTA pre post chg % share % pre post chg % 0.0 4.9 -3.5 0.01 20.7 -0.7 0.2 0.03 -0.5 25.2 -0.1 0.5 229.0 1.3 0.13 81.6 475.4 0.3 104.1 9.931.6 -19.2 3.03 0.7 28.0 1.8 Tekstil 839.9 -0.5 42.3 11.7 10.8 -2.6 3.1 -44.075.2 253.4 SugarCane 0.0 32.01 -0.3 27.1 -11.670.071.00 0.0 64.4 -1.8 -0.9 -0.0 CropsNec 408.3 -2.6 -0.6 -59.0 0.1 0.8 Minuman 158.0 0.

2 -60.7 share % -0.6 613.010.8 144.9 31.5 -0.1 41.517.9 -0.8 210.0 30.645.27 0.3 555.1 423.3 5.3 1.8 1.1 490.7 1.4 -9.5 926.8 179.68 0.7 5.9 0.6 5.6 -0.186.31 -0.2 117.1 310.6 -7.7 -70.2 623.2 93.012.1 5.789.0 -3.10 -0.372.22 337.20 1.2 9.5 7.1 -1.814.7 1.829.12 34.88 1.0 -1.01 2.3 402.175.50 13.32 211.238.91 0.3 145.5 -4.1 1.9 -2.374.9 14.7 73.463.9 94.0 1.9 1.06 0.5 2.7 -3.09 2.25 0.5 -0.71 0.6 3.612.4 25.090.4 8.110.4 651.9 63 .0 -2.1 7.4 371.4 0.9 652.5 83.949.9 -0.1 41.1 10.04 0.3 42 pre post chg % share % % -2.1 192.7 -2.7 903.2 4.9 481.7 10.4 2.4 1.48 0.6 -2.154.5 -9.081.2 14.8 -1.3 226.0 271.0 230.9 0.5 11.4 -4.9 185.01 -0.8 -19.01 0.8 -0.14 0.8 14.19 65.722.91 0.5 1.8 179.4 0.6 2.4 11.5 -0.1 3.6 Ekspor ke ROW post chg 2.3 -10.1 413.491.4 175.2 -0.2 344.977.04 23.043.6 581.8 21.8 -22.8 81.265.3 -10.6 282.509.667.02 -0.5 1.1 -27.7 -0.6 1.219.682.02 -0.4 1.2 -6.0 38.60 1.3 444.4 314.2 125.7 1.9 880.6 -1.3 388.8 21.974.191.8 202.6 406.019.322.8 4.590.7 355.685.2 -84.7 Dampak Pelaksanaan ACFTA Terhadap Perdagangan Internasional Indonesia 31 ProdukKertas 32 Petroleum 33 Kimia 34 ProdTambang 35 LogamBesi 36 LogamNec 37 ProdukMetal 38 KendBermotor 39 PerTransport 40 Elektronik 41 MesinPerl 42 IndustriNec Total 1.4 33.8 1.0 -1.6 -1.2 23.11 0.3 272.17 4.0 363.5 211.9 5.696.4 -3.6 5.348.7 12.3 -24.7 1.2 7.7 61.83 0.14 11.6 0.8 -28.6 -1.3 11.7 -46.5 22.307.10 -0.1 -23.6 -31.04 1.373.4 32.8 -182.293.8 118.Lampiran 2 Perbandingan Dampak ACFTA Ke Indonesia (Komoditas) Lanjutan 1 Komoditas Ekspor ke ASEAN Ekspor ke CINA Ekspor ke DUNIA share % pre post chg % share % pre 2.4 3.8 28.01 171.3 1.2 58.5 2.15 0.6 355.1 223.155.1 591.04 -1.6 206.5 -16.07 0.3 -58.3 31.743.4 13.10 -0.4 111.4 557.3 38.4 -5.159.7 305.2 -5.8 415.6 -13.328.6 -0.5 -4.06 9.4 1.1 1.01 0.3 176.4 39.2 -8.3 12.983.3 70.8 9.3 3.09 0.14 972.9 -12.5 -1.02 -0.17 3.1 -0.75 0.2 126.6 -3.5 11.2 -92.3 739.338.6 6.6 52.5 5.9 2.8 3.0 332.1 1.674.1 32.2 913.09 9.5 12.2 -8.52 41.6 -32.6 153.233.9 2.3 3.091.09 -0.76 0.8 211.9 -643.902.9 -0.14 -0.795.398.8 4.6 63.005.5 300.0 1.1 56.7 578.19 3.6 1.52 0.766.3 166.5 -2.1 6.1 11.1 137.7 2.1 9.550.3 -1.356.0 1.3 59.7 -2.1 209.5 1.16 -0.02 -0.00 0.4 -3.1 -1.066.4 Ekspor ke ACFTA pre post chg % share % pre post chg % 14.02 -0.0 -11.386.5 4.6 -0.4 -0.5 -20.9 1.1 1.0 -1.275.7 -10.8 842.01 -0.546.577.8 1.5 4.0 3.7 3.04 -0.7 60.9 2.01 -0.6 836.9 -3.5 2.242.415.5 -9.07 21.036.8 -3.6 907.119.505.280.5 1.6 13.9 8.6 317.4 -0.2 -87.7 586.177.0 559.

0 0.5 0.2 0.6 58.1 -15.7 -0.0 -17.5 24 Gula 291.4 25.3 7.64 Lampiran 2 Perbandingan Dampak ACFTA Ke Indonesia (Komoditas) Lanjutan 2 Komoditas Ekspor ke ASEAN Ekspor ke CINA Ekspor ke DUNIA share % pre post chg % share % pre post 0.00 438.1 0.0 10.8 66.00 0.4 2.00 -0.3 0.9 -3.1 519.5 4.01 0.2 0.01 0.00 0.9 0.3 6.6 24.00 0.0 0.6 8 CropsNec 97.2 16.9 0.2 0.7 408.5 -6.8 1.9 0.00 0.2 0.8 0.1 0.0 -5.4 0.7 0.6 11.4 0.7 0.6 364.5 0.4 13.09 -0.00 0.0 4.00 75.8 0.8 0.4 Ekspor ke ROW chg % share % 1.10 0.0 -0.144.02 847.3 6.01 832.9 7.4 -3.00 0.2 0.071.5 3.01 0.04 2.17 326.3 0.5 6 SugarCane 0.0 6.6 -0.00 6.1 -1.0 0.3 -0.3 66.6 0.7 0.8 89.01 0.5 -1.4 223.3 536.3 466.0 -0.5 4.4 1.00 0.3 16.5 0.8 0.3 156.0 -2.00 0.28 0.4 0.9 0.00 0.00 -0.8 109.00 0.7 47.2 0.0 10.8 1.0 -3.3 70.07 594.9 1.5 25 ProdukMakan 592.1 32.3 -11.5 74.4 41.00 486.0 -5.5 -0.0 -1.6 254.3 1.1 1.8 0.1 0.1 7 Fiber 3.7 0.5 22.00 0.1 0.7 66.0 10.0 -1.3 0.4 0.8 41.7 -32.6 12.01 70.2 11.2 84.6 0.8 -2.1 0.01 -0.00 0.1 -4.0 0.02 196.1 0.00 0.0 0.6 77.0 10 ProdukHewan 16.0 0.3 1.3 -11.1 2.6 0.2 89.06 -0.00 159.3 71.8 20 ProdukDaging 10.5 0.643.4 8.7 17 Gas 0.00 527.0 1.0 0.00 0.6 0.2 0.0 45.9 20.0 2.8 1.5 85.7 3.4 333.0 1.00 0.1 0.8 275.1 0.2 0.02 84.0 -0.00 -0.1 0.4 37.6 .36 445.7 301.1 0.8 1.00 1.0 0.00 0.00 159.1 0.01 0.3 -0.3 31.7 482.34 1.06 121.6 0.4 -0.0 0.2 312.3 14 Perikanan 8.0 0.01 515.03 908.00 0.770.3 0.0 0.21 0.9 82.4 24.0 -0.0 6.6 -4.4 -16.5 192.1 0.07 0.9 1.00 0.2 0.1 0.0 7.1 8.9 -3.4 21 MinyakSayur 55.9 0.514.2 3.01 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.1 0.3 472.9 166.0 45.1 0.0 -1.5 0.0 0.5 1.9 160.0 1.8 53.7 7.2 27.5 -0.2 0.7 330.3 844.7 -57.8 3.4 27.3 6.4 2.1 -5.6 2.0 0.5 11 SusuMurni 0.8 0.4 -1.0 0.1 7.0 -6.5 1.05 -0.01 59.6 1.4 0.1 13 Kehutanan 11.0 3.6 6.0 0.0 0.7 0.00 0.0 0.00 53.01 0.6 0.2 2.9 0.07 -0.0 62.4 0.0 3.0 6.0 -0.0 0.4 -233.3 -50.00 0.1 0.2 0.9 303.1 38.0 0.0 0.5 -9.0 41.1 -3.00 0.0 0.3 157.1 0.5 5.00 98.64 -0.01 0.7 18.8 2.00 0.5 -26.8 96.1 32.9 -6.6 -1.0 -1.0 6.9 0.5 11.00 0.1 -5.00 -0.00 -0.0 0.00 0.1 4.9 0.0 -1.1 0.9 0.2 920.01 0.6 549.8 1.00 0.4 0.2 -4.0 0.7 209.3 0.6 2.02 535.7 46.2 -14.4 2.760.2 0.00 18.01 1.2 387.2 0.1 4.0 -0.5 47.05 241.0 22.2 9.6 3 CerealGrain 37.00 0.997.3 442.0 7.7 0.1 0.7 0.2 0.615.0 0.2 13.00 47.4 4.4 20.8 43.9 0.01 400.127.09 0.4 500.2 638.00 0.0 0.00 0.00 -0.0 12 Wol 0.07 0.0 126.0 0.0 -0.9 80.1 30.8 84.03 3.00 2.3 3.00 2.6 6.2 -23.4 15.4 -9.0 499.00 0.2 15.01 0.9 0.4 19 Daging 6.4 0.5 1.0 0.0 0.4 0.1 0.8 3.4 28.1 6.9 1.7 100.1 59.8 15 Batubara 0.0 0.2 100.4 4.0 0.8 51.0 1.8 0.7 50.9 140.0 10.6 0.8 0.1 23 BerasOlahan 106.01 227. Juli 2010 42 pre post chg % share % 3.2 0.0 0.8 440.9 VIMS 1 Beras 3.6 0.5 0.0 8.00 -0.5 1.0 0.7 20.1 0.9 160.67 1.3 0.0 827.1 5.1 2.00 0.05 -0.03 0.4 0.00 19.00 0.9 -1.0 0.1 104.0 -2.2 0.8 0.0 0.1 -0.1 -15.9 9.8 327.7 71.5 0.788.0 0.9 3.6 209.00 0.1 0.4 0.0 0.8 0.7 7.3 0.2 14.7 -0.5 2 Wheat 15.6 250.8 0.2 27 Tekstil 1.04 0.4 7.186.5 9.9 369.2 0.29 318.2 335.1 0.8 113.00 0.02 126.03 0.6 2.0 539.0 -17.6 54.3 2.0 0.00 0.1 0.3 -0.6 1.0 18 MineralNec 107.0 0.00 0.1 0.0 -1.3 2.8 0.1 0.3 98.7 -1.0 4 Sayuran 302.9 0.0 70.6 113.1 108.1 -0.8 -13.8 0.6 10.1 28 PakaianJadi 204.00 -0.7 11.00 -0.3 4.0 0.0 25.8 19.3 -5.0 0.0 30.8 46.3 106.01 0.4 16 Minyak 1.0 10.7 5.0 -1.29 376.4 -0.2 9 HewanTernak 0.6 -1.1 2.15 -0.0 702.00 912.1 0.03 142.00 0.4 7.08 0.02 0.00 0.3 1.0 1.1 895.8 1.1 0.8 52.6 9.02 546.5 -1.4 -0.4 3.6 405.5 0.9 221.00 10.227.3 0.00 0.01 9.00 1.0 -1.0 0.5 105.00 0.8 8.03 0.7 218.1 905.6 0.01 0.00 0.0 -0.7 4.00 -0.7 166.3 107.5 205.3 0.00 0.7 344.0 0.0 -0.4 0.8 10.5 0.2 10.1 0.1 3.04 121.0 0.2 -0.0 0.5 -1.716.0 6.4 589.3 34.5 0.4 -5.00 0.05 208.2 0.00 0.3 10.1 493.0 -0.3 1.9 6.0 1.0 0.3 30 ProdukKayu 121.8 Ekspor ke ACFTA pre post chg % share % pre post chg % 0.1 -0.8 7.04 0.2 271.5 60.1 24.80 441.2 13.01 110.3 891.3 1.7 0.00 0.2 0.00 0.3 223.3 55.5 17.1 -2.0 0.4 85.2 9.1 3.9 2.2 0.0 0.5 -6.5 1.4 0.5 0.1 0.0 0.3 247.5 0.9 49.4 285.5 96.4 4.2 29 ProdukKulit 199.1 1.8 47.6 107.2 3.3 1.1 1.1 155.0 0.13 324.3 1.5 -1.0 -0.202.9 0.8 0.6 26 Minuman 163.4 76.00 44.3 0.5 1.0 2.00 -0.0 0.5 0.0 126.6 2.7 1.0 87.4 0.9 0.02 2.4 0.00 105.1 0.6 -26.73 0.2 0.5 0.8 2.4 0.0 0.6 0.4 220.00 112.1 0.18 0.01 -0.5 4.1 -2.4 0.33 -0.5 0.3 0.6 -27.6 -0.9 5 OilSeeds 19.1 22 DairyProduk 85.6 15.0 -0.01 -0.02 471.4 54.0 8.0 0.4 1.08 -0.1 0.9 0.6 -0.0 -1.6 -2.1 65.483.0 61.2 0.8 0.5 138.

1 10.0 2.2 -39.2 2.5 163.5 -139.8 27.3 313.5 227.0 1.20 -0.0 291.1 2.12 451.4 -6.8 2.6 16.0 35.4 337.8 2.614.983.7 -21.8 -1.2 2.05 0.4 -200.6 2.6 42 0.2 0.23 336.08 0.8 866.7 42.2 8.045.7 1.083.8 252.4 365.470.7 73.0 % 0.03 0.3 21.0 -5.3 4.2 614.7 61.530.7 2.308.095.4 4.3 -9.318.3 99.23 1.2 1.512.9 1.8 10.8 -3.2 806.595.69 4.77 0.47 9.1 25.0 2.72 1.6 65 .192.536.5 -25.566.8 717.9 6.4 2.259.24 0.4 Ekspor ke ACFTA pre post chg % share % pre post chg % 29.4 1.8 -1.5 6.4 1.265.31 0.0 0.8 3.39 -0.1 6.9 72.2 739.3 1.22 1.6 3.9 -0.53 0.788.04 0.9 383.9 2.3 11.3 2.2 6.4 -16.8 -0.9 -73.7 -71.423.3 512.4 93.2 82.3 3.2 337.319.4 189.4 Dampak Pelaksanaan ACFTA Terhadap Perdagangan Internasional Indonesia 31 ProdukKertas 32 Petroleum 33 Kimia 34 ProdTambang 35 LogamBesi 36 LogamNec 37 ProdukMetal 38 KendBermotor 39 PerTransport 40 Elektronik 41 MesinPerl 42 IndustriNec Total 287.357.366.77 1.1 -0.07 -0.4 0.2 1.280.3 163.2 63.1 173.8 49.36 1.586.521.7 699.3 1.6 73.8 -901.4 1.655.12 2.6 -43.1 362.6 274.2 11.1 9.8 -3.2 5.5 -5.3 101.2 17.6 36.81 922.3 1.5 -4.6 3.55 -0.793.8 4.6 21.8 319.271.54 3.8 -0.345.0 555.09 -0.3 1.2 1.4 -0.5 5.9 -0.6 221.18 0.4 24.1 40.1 -19.2 870.7 844.342.93 0.6 9.9 12.1 -47.2 -0.2 197.4 76.4 78.447.9 97.52 0.9 38.9 -2.8 299.7 -0.05 144.1 Ekspor ke ROW post 1.3 319.0 -0.5 213.5 166.4 667.9 982.272.9 -13.2 238.0 -1.8 -21.7 -0.972.441.13 -0.02 -0.12 0.955.5 9.30 0.1 30.831.5 147.1 1.0 6.05 -0.4 4.760.9 39.4 -3.343.4 627.5 -37.5 -20.0 -0.120.20 -0.13 0.7 342.5 79.74 357.Lampiran 2 Perbandingan Dampak ACFTA Ke Indonesia (Komoditas) Lanjutan 3 Komoditas Ekspor ke ASEAN Ekspor ke CINA Ekspor ke DUNIA share % pre post chg % share % pre 1.6 36.356.1 391.6 191.4 4.044.5 6.1 1.7 11.9 119.98 40.530.4 3.6 0.786.84 0.721.2 383.5 41.2 -6.8 33.6 1.22 4.3 394.7 31.414.7 5.844.5 9.27 0.2 548.425.1 -4.3 2.259.25 175.0 2.4 17.7 217.888.4 -40.39 1.5 2.871.873.183.04 60.7 30.12 0.8 2.8 393.8 3.0 -24.609.4 646.95 1.0 -48.0 -0.4 911.7 666.4 45.3 -2.07 6.7 -6.6 46.3 -9.8 157.1 0.0 301.0 -5.9 3.5 63.0 512.418.6 211.06 162.6 -1.7 10.1 646.370.8 12.0 3.0 1.1 -5.6 -5.733.5 227.3 2.5 4.02 0.2 95.0 10.13 4.381.346.3 -9.1 526.4 3.6 -875.1 11.6 -164.8 2.4 -2.854.2 5.103.9 10.2 35.9 4.634.441.905.203.3 6.5 1.128.2 154.8 -128.4 4.958.6 pre post chg % share % chg 10.15 0.5 286.4 679.5 835.5 1.22 138.0 -17.068.207.714.25 0.7 1.5 33.8 -0.5 6.685.13 -2.03 -0.9 139.14 0.05 0.4 108.7 339.639.047.7 149.3 1.0 277.6 -140.63 924.1 1.2 239.1 326.899.01 0.873.0 1.4 share % 0.59 1.

Kyrgyztan. Peru. Spain. Canada. Juli 2010 Lampiran 3 Tabel Agregasi Data 14 Region Dan 42 Sektor I. Rest of North America. Region Aggregation No. Greece. Slovakia. Malta. Argentina. Rest of Europe. Morocco. Lao PDR. Myanmar. Madagascar. Georgia. Ireland. Azerbaijan. Central Africa. Luxemborg. Albania. Malawi. France. Nicaragua. Brunei Darussalam USA Austria. Ukraine. Belarus. Sri Lanka. Rest of Eastern Europe. Brazil. Rest of North Africa. Senegal. Kazakhstan. Bulgaria. Denmark. Portugal. Rest of EFTA. Rest of Oceania. Rest of East Asia. Ethiopia. Uganda. UK Australia. Belgium.66 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Latvia. Rest of Former Soviet Union. Russian Federation. Germany. Netherlands. Iran. Mozambique. Venezuela. Poland. Egypt. Chile. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Regional Aggregation Japan Korea Cina India Indonesia Malaysia Singapore Thailand Philippines Vietnam Other ASEAN USA EU 25 Member Japan Korea Cina India Indonesia Malaysia Singapore Thailand Philippines Vietnam Cambodia. Turkey. Norway. Finland. Ecuador. Mauritius. Pakistan. Taiwan. Czech Republic. Switzerland. Mexico. Romania. Zambia. Rest of Central America. Paraguay. Estonia. New Zealand. Bangladesh. Rest of Western Asia. Nigeria. Rest of Western Africa. Lithuania. Rest of Eastern Africa. South Central Africa. Sweden. Colombia. Costa Rica. Bostwana. Guatemala. Rest of South America. Cyprus. Italy. Rest of South African Customs 14 Rest of The World . Hongkong. Tunisia. Caribbean. Armenia. Slovenia. South Africa. Panama. Hungary. Rest of South Asia. Uruguay. Tanzania. Zimbabwe. Croatia. Bolivia.

plastic prods Mineral products nec Ferrous metals Metals nec Metal products Motor vehicles and parts Transport equipment nec Electronic equipment Machinery and equipment nec Manufactures nec Electricity. Water. sheep. Trade. publishing Petroleum. Recreation and other services. Gas manufacture.Dampak Pelaksanaan ACFTA Terhadap Perdagangan Internasional Indonesia 67 I. distribution. Business services nec. goats. horse Meat products nec Vegetable oils and fats Dairy products Processed rice Sugar Food products nec Beverages and tobacco products Textiles Wearing apparel Leather products Wood products Paper products. Financial services nec. goats. sugar beet Plant-based fibers Crops nec Cattle. coal products Chemical. Transport nec. Air transport. fruit. Insurance. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 Sectoral Aggregation PDR WHT GRO V_F OSD C_B PFB OCR CTL OAP RMK WOL FRS FSH COA OIL GAS OMN CMT OMT VOL MIL PCR SGR OFD B_T TEX WAP LEA LUM PPP P_C CRP NMM I_S NFM FMP MVH OTN ELE OME OMF OTHERS Member Paddy rice Wheat Cereal grains nec Vegetables. horses Animal products nec Raw milk Wool. Communication. silk-worm cocoons Forestry Fishing Coal Oil Gas Minerals nec Meat: cattle. Construction. Dwellings . Sea transport. nuts Oil seeds Sugar cane. Region Aggregation No.rubber. Public Administration/Defence/Health/Education. sheep.

fruit. beverages and tobacco products Forestry. plastic products. animal product. nuts. horse. dairy products. mineral products nec. coal products Textiles. gas. Juli 2010 Lampiran 4 Tabel Konversi 7 Sektor Komoditas Sector Agricultural Product Commodities Paddy rice. ferrous metals. sheep and goats. fishing. transport equipment nec. machinery and equipment nec. financial. wheat. wool silk-worm cocoons. crops nec. bovine cattle. distribustion. petroleum. oil seeds. cereal grains nec. sugar. leather product. recreational services. metals nec Metal products. vegetable. bovine cattle. water. sugar beet. coal. processed rice. raw milk. chemical. WP No 130. 2008 nec : not elsewhere classified . gas manufacturing. electronic. food products nec. plant-based. minerals nec. transport. motor vehicle and parts. business. wearing apparel. construction trade. publishing. wood products Paper products. vegetable oil and fats. oil.68 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. rubber. education. health. dwellings and services Food Product Extractive Industry Light Manufacturing Heavy Manufacturing Technology-intensive Manufacturing Services Source : ADB. manufacturing nec Electronic. sugar cane. sheep and goats. public administrayion and defense. horse meat product Meat product nec.

40% 0.02% 0.537 251.04% 1.361 534.30 1.885.08% 0.39% 1.461 119.64 0.00% 0.110 2.01 0.00% 32.466.45 0.984 4.561 177.00 0.30 0.604.26% 0.82 0.20 IIT 0.502.11 1.94 0.00 0.60 0.85% 0.777 11.16% 0.204 332.946.77 0.42 0.00 0.943.04 1.88% 0.09 IIT 0.00 0.00% 17.782 1.014.91% .78 0.00 Nilai Ekspor 1.961.79% 0.503.31 0.79 0.398.85 0.73 0.83 0.51 0.89 0.043 163.346.562 414.18 0.00% 0.87 0.03% 0.919 0 0 0 0 2.69 0.045.64 0.49 0.120.663.546.68 Nilai Ekspor 1.830.22 0.833.69% Periode I (Rata-rata 2001-2004) Kuadran Jumlah III 14 Kode 40 32 42 28 39 3 24 2 10 23 1 6 7 12 Klasifikasi Komoditas Utama Elektronik Petro leum Industri Nec Pakaian Jadi Per Transport Cereal Grain Gula Wheat Produk Hewan Beras Olahan Beras Sugar Cane Fiber Wol Total RCA 0.62% 9.93% 1.87 0.85 0.185 588.88 0.54% Periode I (Rata-rata 2001-2004) Kuadran Jumlah II 8 Kode 41 37 4 25 29 20 5 19 Klasifikasi Komoditas Utama Mesin Perl Produk Metal Sayuran Produk Makan Produk Kulit Produk Daging Oil Seeds Daging Total RCA 0.56 0.35% 1.016 80.990.840.73 0.78% 1.77% 4.203.16% 2.619.03 0.274.89 0.22 0.537.68 0.88 0.09 0.01% 2.00 IIT 0.141 228.798 125.231 2.849 71.25% 0.01% 0.62 1.362 Share Ekspor 11.34 0.52 Nilai Ekspor 1.05 0.82 0.00% 0.970 Share Ekspor 14.106.675.986.48 0.00% 18.181 36.317.39 0.11 2.037 30.788 111.339.659.61% 0.12 1.071 1.01 0.02% 0.437.21% 0.26 1.711 196.98 0.523 3.00% 0.619 56.Dampak Pelaksanaan ACFTA Terhadap Perdagangan Internasional Indonesia 69 Lampiran 5 Tabel Peta Kwadran Rca Dan Iit (Total) Periode I (Rata-rata 2001-2004) Kuadran Jumlah I 9 Kode 33 16 27 38 35 34 26 11 22 Klasifikasi Komoditas Utama Kimia Minyak Tekstil Kend Bermotor Logam Besi Prod Tambang Minuman Susu Murni Dairy Produk Total RCA 1.856 2.823 Share Ekspor 13.00 0.644.288.51% 0.382.48 1.850 503.00 0.614.77 0.

07 0.14 0.69 0.936.27 0.716.82 3.33% 1.869.072.82 0.165 5.10% 0.759.27% 2.828 685.15 4.60 2.83% 3.974 Share Ekspor 3.101.47% 4.860 179.94% 7.74 0.05 1.492 2.62 0.549 27.23 1.810 2.454 859.98 7.55% 4.630 261.596 683.554.56 0.04 0.57 2.318 427.06 0.784.301.486.82 0.399 4.450.12 0.36 1.244 10.122.650 207.24 0.185 1.533 684.01 1.267.776.706.913. Periode II (Rata-rata 2005-2008) Kuadran Jumlah I 9 Kode 16 38 27 30 26 25 29 5 22 Klasifikasi Komoditas Utama Minyak Kend Bermotor Tekstil Produk Kayu Minuman Produk Makan Produk Kulit Oil Seeds Dairy Produk Total RCA 2.47 IIT 0.59 3.366.34 0.439.122 344.459.58 Nilai Ekspor 3.01% 2.370.677 493.00 1.61% 0.51% 3.58 0.420 148.678 Share Ekspor 12.81 0.01% 18.249 Share Ekspor 9.82 0.215.365 285.79% 0.366.619.75% 0.64 0.147 3.808.201.127.00% 0.44% 0.49% 6.45 1.21% 0.284 379.43% 1.57 5.74 0.46 0.82 0.92% 0.16 2.515.70 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.303.927.388.974.10 1.19 4.072.861 697.03% 1.86% Catatan : Perhitungan berdasarkan konversi data SITC dari UNCOMTRADE menjadi 42 komoditas tradable dalam GTAP.339.71 0.66 0.396. Juli 2010 Periode I (Rata-rata 2001-2004) Kuadran Jumlah IV 11 Kode 8 9 13 14 15 17 18 21 30 31 36 Klasifikasi Komoditas Utama Crops Nec Hewan Ternak Kehutanan Perikanan Batu bara Gas Mineral Nec Minyak Sayur Produk Kayu Produk Kertas Logam Nec Total RCA 2.67 0.11% 8.42 0.40% 1.030.48 0.289 214.094.33 Nilai Ekspor 510.15 0.87 0.55 0.79 0.01% 36.031.78% Periode II (Rata-rata 2005-2008) Kuadran Jumlah II 11 Kode 41 33 40 35 42 39 37 4 34 28 10 Klasifikasi Komoditas Utama Mesin Perl Kimia Elektronik Logam Besi Industri Nec Per Transport Produk Metal Sayuran Prod Tambang Pakaian Jadi Produk Hewan Total RCA 0.31 1.28 IIT 0.830 224.83 Nilai Ekspor 2.05% 2.96 0.805 179.93% 30.958.68 1.61 0.47 0.49% 1.79 IIT 0.73% 0.956 360.64 0.54% .281 916.866.926 151.90 0.101 410.25% 2.63% 0.53% 0.757.86 0.14 0.706.40% 1.657 29.472 2.71 0.

20 0.11 0.00 Nilai Ekspor 935.00 0.666 1.679 27.443 11.13 4.429.12 Catatan : Perhitungan berdasarkan konversi data SITC dari UNCOMTRADE menjadi 42 komoditas tradable dalam GTAP.846 25.40 0.09% 0.01 0.778.319.498.156.00 0.63 0.952.06 1.06% 0.91 0.35 709.33 0.12 0.854.38 0.08 0.644 2.736 5.846.145.619.00 0.159.10% 0.46% 5.55 0.29 5.170.71% 0.014.10% 0.692 1.37 1. .78 0.317.798.705 330.442.05 0.860 1.00% 0.00 0.594 1.80% 0.39 0.32 5.00% 0.36 0.02% 0.48% 229.381 203.482.Dampak Pelaksanaan ACFTA Terhadap Perdagangan Internasional Indonesia 71 Periode II (Rata-rata 2005-2008) Kuadran Jumlah III 10 Kode 32 11 24 3 23 19 1 6 7 12 Klasifikasi Komoditas Utama Petro leum Susu Murni Gula Cereal Grain Beras Olahan Daging Beras Sugar Cane Fiber Wol Total RCA 0.00% 0.956.02% 41.176.25 2.480.22% 3.279.11 0.27% 0.05% 4.27 0.325 0 0 0 0 987.983 8.00% 0.400 1.296.77 0.551 2.89 0.618.03% 0.00% 0.24% 5.452.55% 6.39 Perikanan Produk Daging Hewan Ternak Wheat Kehutanan Total RCA IIT Nilai Ekspor 2.05 2.304 6.01 0.00 IIT 0.389.00 0.00 0.037 7.03 6.275 Share Ekspor 3.19 0.380 17.69% 7.45 0.67 0.46% Periode II (Rata-rata 2005-2008) Kuadran Jumlah IV 12 Kode 36 21 17 8 31 15 18 14 20 9 2 13 Klasifikasi Komoditas Utama Logam Nec Minyak Sayur Gas Crops Nec Produk Kertas Batu bara Mineral Nec5.00% 3.00 0.37 7.950 Share Ekspor 8.

51 0.990.00 0.11 1.503.379.466.110 2.00 0.961.95 0.09% 0.106.99% 0.77 0.00 0.02% 0.619 56.64% 2.87 0.81% 0.89 0.45 0.619.72 1.52 Nilai Ekspor 1.00% 26.777 80.03 0.675.071 1.01 0.05 0.18 1.361 11.537 251.850 503.016 534.00% 0.95% 0.39 1.523 3.782 588.204 332.68 Nilai Ekspor 1.85 0.22 0.00% 18.644.461 119.00 IIT 0.00 0.03% 4.203.00% 0.984 3.00% 0.014.833.346.856 2.04 1.02% 0.85 0.288.21 IIT 0.398.317.69 0.19 0.00 0.52 0.231 2.82 0.18 1.00 1.73 0.09 0.69 0.34 0.66% 2.849 30.01% 0.043 163.00% 1.057 Share Ekspor 13.946.045.30% 0.85 0.73 0.57% 0.561 177.788 71.48 0.181 36.03% 0.339.59 0.437.24% 0.00% 21.39 0.037 111.72 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.537.83 0.83 0.562 414.343.75% 1.663.614.82 0.57 1.86% Periode I (Rata-rata 2001-2004) Kuadran Jumlah III 14 Kode 40 32 42 28 39 3 24 2 10 23 1 6 7 12 Klasifikasi Komoditas Utama Elektronik Petro leum Industri Nec Pakaian Jadi Per Transport Cereal Grain Gula Wheat Produk Hewan Beras Olahan Beras Sugar Cane Fiber Wol Total RCA 0.830.20% .77 0.274.919 0 0 0 0 2.00% 0.106 Share Ekspor 15.29% 0.840.30 0.88 0.141 228.31 0.88 0.60 0.798 125. Juli 2010 Lampiran 6 Tabel Peta Kwadran Rca Dan Iit (Non Migas) Periode I (Rata-rata 2001-2004) Kuadran Jumlah I 10 Kode 33 27 38 35 34 26 25 11 5 22 Klasifikasi Komoditas Utama Kimia Tekstil Kend Bermotor Logam Besi Prod Tambang Minuman Produk Makan Susu Murni Oil Seeds Dairy Produk Total RCA 1.818.41% 0.943.55% 1.45 0.00 0.16 IIT 0.45% 0.659.01 0.823 Share Ekspor 14.19 1.24 0.59% 3.429.986.50% Periode I (Rata-rata 2001-2004) Kuadran Jumlah II 6 Kode 41 37 4 29 20 19 Klasifikasi Komoditas Utama Mesin Perl Produk Metal Sayuran Produk Kulit Produk Daging Daging Total RCA 0.93 0.88% 0.64 0.00 Nilai Ekspor 1.28% 1.711 196.

67 0.04 Catatan : Perhitungan berdasarkan konversi data SITC (non-migas) dari UNCOMTRADE menjadi 42 komoditas tradable dalam GTAP.583.420 179.52 0.Dampak Pelaksanaan ACFTA Terhadap Perdagangan Internasional Indonesia 73 Periode I (Rata-rata 2001-2004) Kuadran Jumlah IV 10 Kode 31 36 21 8 30 18 15 14 9 13 Klasifikasi Komoditas Utama Produk Kertas Logam Nec Minyak Sayur Crops Nec Produk Kayu Mineral Nec5.87 0.072.92 0.281 2.284 379.37 0.515.85% 1.78 0.02 1.869.11 0.74 0.39 1.657 493.14 1.974.89 1.752 Share Ekspor 14.619.365 285.533 684.094.39 0.913.92 0.53 0.26% 5.54 0.96 Batu bara Perikanan Hewan Ternak Kehutanan Total RCA IIT Nilai Ekspor 916.318 427.01% 11.122.828 685.86% 1.860 4.450.630 261.94% 0.776.958.73% 1.15 3.215.857.32 IIT 0.41% 10.127.65 1.18 1.64 0.53% 5.757.549 27.927.79 0.11% 0.49 1.56 0.303.805 207.14 4.399 683.63% 2.759.58% 2.101.58 0.77 0.67 IIT 0.82 0.244 10.554.89% 0.98 0.147 3.926 179.31 2.810 2.47 0.42% 0.01% 42.04% 3.101 410.29 0.82 0.07 0.185 1.91% 2.122 29.71 0.64% 8.63% 0.64 0.808.07 2.83 Nilai Ekspor 859.33 4.58% 1.09% 0.78% 1.62 0.267.472 2.71% 1.27 2.596 7.34 360.396.74 0.677 510.90% Periode II (Rata-rata 2005-2008) Kuadran Jumlah II 10 Kode 41 33 40 35 42 39 37 4 28 10 Klasifikasi Komoditas Utama Mesin Perl Kimia Elektronik Logam Besi Industri Nec Per Transport Produk Metal Sayuran Pakaian Jadi Produk Hewan Total RCA 0.449.492 2.165 2.388.96 0.218.86 0.61 0.301.825.232.42% 4.289 214.12 0.71 0.830 224.018 Share Ekspor 7.339.861 697.721 Share Ekspor 3.23% 0.24 2.98 0.06 2.62% .706.072.030.58 Nilai Ekspor 3.66 0.03% 33.459.75% 0.650 151.706.19% 0.43% 4.86% 0.86% 344. Periode II (Rata-rata 2005-2008) Kuadran Jumlah I 9 Kode 38 27 30 26 25 34 29 5 22 Klasifikasi Komoditas Utama Kend Bermotor Tekstil Produk Kayu Minuman Produk Makan Prod Tambang Produk Kulit Oil Seeds Dairy Produk Total RCA 1.62 0.45 0.866.486.

551 2.176.95% 229.952.13 4.62 0.317.20 0.296.40 0. Juli 2010 Periode II (Rata-rata 2005-2008) Kuadran Jumlah III 10 Kode 32 11 24 3 23 19 1 6 7 12 Klasifikasi Komoditas Utama Petro leum Susu Murni Gula Cereal Grain Beras Olahan Daging Beras Sugar Cane Fiber Wol Total RCA 0.78 0.380 17.037 7.90% 0.284 Share Ekspor 10.96 0.40 0.09 Perikanan Produk Daging Hewan Ternak Wheat Kehutanan Total RCA IIT Nilai Ekspor 2.846 25.32 6.96% 0.03% 0.03 3.325 0 0 0 0 987.619.87% 0.00% 0.480.00 0.29 5.06 1.00% 0.304 6.482.170.19 0.442.07 0.00% 0.76 0.37 8.85% 0.07% 0.498.159.860 1.389.66 0.00 0.429.00 0.594 1.31 0.02% 41.692 2.014.381 203.01 0.00 0.74 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.854.931.145.11% 0.00 0.00 0.679 27.00 IIT 0.400 1.956.03% 0.443 9.983 8.37% 4.01 0.618.11% 0.00% 0.705 330.12 Catatan : Perhitungan berdasarkan konversi data SITC (non-migas) dari UNCOMTRADE menjadi 42 komoditas tradable dalam GTAP .98% 6.156.35 709.736 5.34% 8.29 0.00% 4.644 2.24% 6.11 0.521.43 0.01% 4.11% Periode II (Rata-rata 2005-2008) Kuadran Jumlah IV 11 Kode 36 21 8 31 15 18 14 20 9 2 13 Klasifikasi Komoditas Utama Logam Nec Minyak Sayur Crops Nec Produk Kertas Batu bara Mineral Nec6.26 0.25 2.01 0.279.33 0.00 Nilai Ekspor 935.00% 0.05 0.37 1.452.00 0.14 0.275 Share Ekspor 3.84 0.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->