Datu Parulas adik dari Tanjabau.

Tanjabau seorang yg rajin bekerja dan berbeda dengan Datu Parulas yang lebih sering dan suka berguru untuk menambah ilmunya. Tetapi walaupun begitu Datu Parulas ialah anak kesayangan ibu mereka. Perbedaan perlakuan ibu mereka sangatlah keliatan sekali, kasih sayangnya lebih kepada Datu Parulas. Makanan Datu Parulas pun selalu dikasih yg enak-enak dan sengaja diberikan agak lambat oleh ibunya, agar tidak dilihat oleh abangnya yaitu si Tanjabau. Demikianlah perbedaan diantara dua bersaudara itu. Tanjabau sudah lama mengetahui hal itu, sampailah waktunya Tanjabau sangat kesal dengan perlakuan ibunya itu. Pada Suatu hari dengan sengaja Tanjabau mengintip Datu Parulas makan, dilihat ternyata makanan adiknya itu lebih enak daripada yg diberikan ibu mereka kepadanya. Karena hal itu timbullah sakit hati Tanjabau mengetahui hal itu dan karena emosi tak sengaja ia memukul ibunya. Hal itu diketahui oleh Datu Parulas, lalu katanya: "Perbuatanmu sangatlah keterlaluan Abang, Teganya kau memukul ibu kita. Aku tahu marah dan bencimu sebenarnya untukku. Sebab itu mulai saat ini sampai kita mati, aku tidak akan menemuimu lagi. Biar puas kau!". Pergilah Datu Parulas dari rumahnya dan sampailah ia di Pusuk Barus dan menikah disana dengan gadis setempat. Dari perkawinannya itu lahir 4 orang yaitu: 1.Tuan Ampir Sarmahata dikemudian menjadi leluhur marga Pusuk 2. Mogot Kualu Dormahasi dikemudian menjadi leluhur marga Buaton. 3. Guru Panuju dikemudian menjadi leluhur marga Mahulae, 4. Matatunggal, anak ini cacat hanya lahir dengan 1 mata.

Anaknya yg terakhir, si Matatunggal kelakuannya sangat meresahkan. Ia sering sekali mengganggu gadis-gadis yg kebetulan lewat di dekatnya. Kelakuannya sangat membuat banyak orang kesal tetapi penduduk kampung tidak berani menghardiknya, karena kabarnya ia kebal terhadap peluru dan senjata tajam. Saking kesalnya penghuni kampung waktu itu, mengadulah mereka kepada Datu Parulas dan dijawab oleh Datu Parulas: "Aku tak mau membela kelakuan anakku yg salah, oleh karena itu tangkap kalianlah dia". Penghuni kampung sudah sepakat ingin menangkap si Matatunggal, maka ditangkaplah si Matatunggal dan di ikat dengan tali kemudian dibuang ke anak sungai Pusuk dan mati tenggelam. Versi lain tentang Matatunggal adalah sebagai berikut: Op. Mata Tunggal, bukan ditenggelamkan oleh masyarakat. Tidak ada masyarakat yang sanggup menandingi kesaktian nya. Karena dia yang paling menuruni " Ilmu " dari Datu Parulas. Dia ditenggelamkan oleh abang² nya. Dengan terlebih dahulu abang² nya meminta maaf.

Kisah lain dari Datu Parulas pada suatu ketika tersilap melakukan 'Selingkuh' dengan salah satu anak gadis yg sudah mempunyai tunangan. Dari perselingkuhannya lahirlah satu anaknya, dan hal itu diketahui oleh tunangan si gadis dan orang banyak. Didengarlah kabar bahwa Datu Parulas harus dibunuh. Sebelum hal itu terjadi maka pergilah Datu Parulas membawa anaknya itu, anaknya dibawa didalam Gajut(tas yg terbuat dari kulit) dan diberi nama anaknya itu 'Anakgajut' dan pulanglah ia ke Nainggolan, di Pulau Samosir dibawa juga sebuah tombak dan seekor anjing menjadi temannya. Begitu sampai ia di Harian Nainggolan, ia tinggal di kampung lain dan tidak tinggal di kampung abangnya. Di tepi danau Harian ada sebuah batu yang biasa orang sebut 'Batu Garu', diatas batu itu tumbuh sebuah pohon Beringin dan banyak burung-burung datang ke pohon itu. Banyak juga orang datang ke tempat itu untuk menyumpit burung-burung disitu.

Suatu hari datanglah Datu parulas ke tempat itu dan menurut cerita batu itu selalu terombang-ambing kalau diinjak orang. Kebetulan waktu itu datang juga beberapa orang yg ingin mencari burung dan berkata kepada Datu Parulas: "Kalau kau bisa untuk mendiamkan batu itu, maka batu itu jadi milikmu". Maka dengan kepintaran Datu Parulas maka dibuatlah batu itu berhenti dan diam, tidak terombang-ambing lagi. Maka setelah kejadian itu batu tersebut menjadi miliknya dan tidak ada lagi orang yang datang ke batu itu untuk menyumpit burung. Tak berapa lama Datu Parulas tinggal disitu kemudian dibuka sebuah kampung yang bernama Pinturaja, disana dia menanam sebuah pohon Hariara di kampung baru tersebut

dan biasa disebut orang 'Hariara Panduduan", karena tempat itu sering dipakai untuk margondang. Di Jangga Uluan saat itu sedang terjadi perang saudara antara Raja Sijambang Sirait dengan adiknya yaitu Tuan Sogar, keduanya musuh bebuyutan. Raja Sijambang waktu itu sudah dikepung oleh pasukan adiknya, sampai-sampai ia tidak berani keluar dari kampungnya. Sampailah berita itu kepada Datu Parulas, ada keinginan hatinya untuk membantu Raja Sijambang. Maka dititipkanlah anaknya si Anakgajut kepada keluarga dekatnya dan berangkatlah Datu Parulas ke Jangga. Setibanya ia di Jangga, langsung ia temui Raja Sijambang dan berkata: "Hai Raja Sijambang, nampaknya engkau sedang dalam kesulitan. Adakah kiranya yang dapat kubantu"?. Kemudian Raja Sijambang menjawab, "Kalau bisa kau buat musuhku itu lari(bubar), maka kuhadiahkan anak gadisku untukmu". "Baiklah kalau begitu, jawab Datu Parulas", kemudian Datu Parulas minta agar dibuatkan Lesung(Losung) dengan enam lubang. Setelah lesung itu selesai lalu diterbangkannyalah losung itu untuk menghantam musuh Raja Sijambang, melihat hal itu pasukan Tuan Sogar menjadi takut dan berlarian tunggang langgang. Setelah melihat hal itu senanglah Raja Sijambang dan memberikan anak gadisnya untuk dinikahi oleh Datu Parulas. Menurut cerita Losung itu masih bisa kita lihat di Jangga. Sebelum kembali ke Harian Nainggolan Datu Parulas tinggal bersama dengan istri dan mertuanya di Jangga. Pada suatu hari datanglah seorang Datu ke Jangga, namanya Datu Marhandangdalu. Kabarnya datu Marhandangdalu punya kesaktian yang luarbiasa, hal ini membuat Datu Parulas penasaran dan ingin mencoba mengadu ilmu dengan Datu Marhandangdalu. Kebetulan waktu itu kerbau mertua Datu Parulas ada yang mati dan ia diminta oleh mertuanya untuk menjual kerbau itu ke pasar. Ternyata Datu Marhandangdalu sudah berada di Pasar dan berjumpalah mereka di sana. Dilihatnya Datu parulas memegang kepala seekor kerbau dan Datu Marhandangdalu bertanya: "Berapa kiranya harga kepala kerbau-mu ini lae?" katanya sambil melecutkan sebatang lidi ke kepala kerbau itu dan mengeluarkan suaralah kepala kerbau itu(mar'ue). Lalu Datu Parulas memberitahu harga kepala kerbau itu ke Datu Marhandangdalu dan katanya kepada Datu Parulas: "Ahh, mahal sekali kepala kerbau ini lae". Dan Datu Parulas pun menjawab: "Baiklah, kalau begitu Sekupang(sahupang) saja harganya untuk lae". Datu Marhandangdalu pun setuju, dan kata Datu Parulas: "Bawalah lae kepala kerbau ini".

Tetapi anehnya kepala kerbau itu tidak dapat dibawa oleh Datu Marhandangdalu, Ia tariktarik tanduk kerbau itu tapi tak bergerak sedikitpun. Diam-diam Datu Parulas sudah membuat sesuatu ke kepala kerbau itu, orang-orang yg ada disitu pun bingung dan mencoba untuk membantu Datu Marhandangdalu untuk mengangkat atau menariknya, hasilnya tetap saja kepala kerbau itu seperti lengket dengan tanah. Datu Marhandangdalu tahu bahwa Datu Parulas sudah menggunakan ilmunya, maka katanya kepada Datu Parulas: "Lae, kiranya lae sudi melepaskan kepala kerbau ini aku bawa". Datu Parulas pun setuju dan berkata: " Kalau begitu, bawa kalianlah sekarang" dan barulah kepala kerbau itu bisa diangkat oleh orang suruhan Datu Marhandangdalu. Tak disangka, ternyata kepala kerbau itu seperti hidup dan menanduki orang yg mengangkatnya. Maka kata Datu Marhandangdalu:"Sungguh aku akui kepintaranmu, Datu Parulas", lalu berhentilah kepala kerbau itu menanduki dan barulah orang suruhan Datu Marhandangdalu dapat membawanya dengan aman. Setelah setahun tinggal di kampung mertuanya, maka kembalilah Datu Parulas ke Harian nainggolan dan dibawa juga istrinya ke sana. Dan lahirlah anak mereka yaitu: Raja Talutuk, Toga Sahata dan Sabungan Raja. Di Harian Datu Parulas menikah lagi 2 kali dan mempunyai tiga orang anak lagi yaitu: Raja Simoba, Guru Tinunjungan dan Guru Tinandangan. Tak Berapa lama pergilah ia dengan anaknya si Anak gajut ke Sibisa, Uluan dan tinggalah anaknya itu di Sibisa dan mempunyai keturunan Tuan Rangga. Datu Parulas masih terus merantau sambil menguji ilmu kepandaiannya sampai ke Perdagangan, Tomuan, dan menikah lagi disana dan mempunyai dua orang anak yaitu Raja Bonandolok dan Raja Tomuan. Dengan bertambah tua Datu Parulas maka dimintanya kepada anaknya itu begini katanya: "Hai anakku, sepertinya ajalku sudah dekat. Maka buatkanlah untukku lubang pada pohon Tualang besar itu". Setelah selesai permintaannya itu, masuklah Datu Parulas ke lubang itu. Dan tiap-tiap hari anaknya membawa makanan untuknya, dan sewaktu genap sebulan lamanya ia tinggal di dalam pohon Tualang itu, meninggallah Datu Parulas dan ditutup anaknya kembali lubang yang ia buat itu. Dan pohon itu pun tetap bertumbuh, dan orang banyak menyebutnya "Namartua Perdagangan-tomuan". Begitulah cerita turi-turian Ompu i Datu Parulas. Pustaka: buku Tarombo & Turi-turian ni bangso batak, W.M Hutagalung Adapun keturunan daripada Datuparulas sebagai berikut: 1. Pusuk 2. Buaton

3. Maulae 4. Anak Gadjut 5. Siboro Purba 6. Sitalutuk 7. Togasahata 8. Sabungan Raja 9. Guru Tinadangon 10.Tuan Baringin 11.Guru Junjungan 12.Raja Banandolok 13.Raja Tomuan.

Lalu dimana letak Datuparulas atau keturunannya / Lumbanraja itu didalam marga Nainggolan ?

Coba perhatikan baik~baik Tarombo / silsilah dibawah ini: NAINGGOLAN anaknya ada 2: A. SIBATU B. SIHOMBAR -SIBATU ada 4 Anaknya: A1. Batuara A2. Parhusip A3. Siahaan, A4. Ampapaga - SIHOMBAR ada 5 Anaknya: B1- Lumban Nahor B2- Lumban Tungkup B3- Lumban Radja B4- Lumban Siantar B5- Hutabalian Keterangan tambahan: Anak langsung dari keturunan SIHOMBAR di tulis diatas ada 5, yg benar ada 3, yaitu : Lumban Nahor, Tungkup Radja, Lumban Siantar. Lumbanradja adalah cucu dari Tungkup Radja. Uraiannya seperti ini : Tungkup Radja anaknya Sindar ni Ari. Sindar Ni Ari anaknya SIndar Ni Huta. Sindar Ni Huta anaknya Radja Mogot Pinaungan. Radja Mogot Pinaungan beranak 2 yaitu : anak pertama : Tandja Bau anak kedua : Datu Parulas Parultop. Pada saat Radja Mogot Pinaungan sebelum meninggal, kedua anaknya diberikan marga dengan mengambil dari nama leluhurnya di atas yaitu Tungkup Radja. Untuk Tandja Bau dengan menambahkan Lumban di depannya menjadi Lumban Tungkup. Untuk Datuk Parulas Parultop, nama depannya ditambahkan Lumban menjadi marga Lumban Radja. Untuk Hutabalian itu, berasal dari marga Lumban Siantar. Jadi bukan anak langsung anak dari Sihombar.

Ada juga keterangan tambahan seperti ini: Op. Radja Datuk Parulas Parultop yang resmi tertulis/tercantum dalam tarombo marga Lumbanradja sebenarnya 13 orang. Akan tetapi, sebenarnya di Perdagangan saat Op. Radja Datuk Parulas Parultop ketika usia telah uzur, beliau masih menurunkan keturunan 5 orang dari Op. Boru yang tidak punya marga. Tapi yang 5 orang ini tidak jelas dalam tarombo. Yang jelas hanya 13 orang tersebut

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful