You are on page 1of 336

Komisi Yudisal dan Reformasi Peradilan

i

ii

Kata Pengantar Ketua Komisi Yudisial Republik Indonesia
Pendekatan transdisipliner dalam pelaksanaan pembangunan di Indonesia dipandang penting dan relevan oleh ekonom berkarakter kerakyatan dan egaliter, Prof. Dr. Mubyarto. Dalam pandangannya, koperasi merupakan pilar dan sistem ekonomi yang kompatibel untuk pendemokratisasian ekonomi bangsa yang berpihak pada rakyat sebagai pemegang tunggal kedaulatan rakyat. Jauh sebelumnya, Bung Hatta salah satu penyusun UUD Tahun 1945 adalah Negarawan yang telah berjuang keras memasukkan ekonomi kerakyatan sebagai prinsip dasar penyelenggaraan perekonomian Indonesia. Dalam tulisannya yang berjudul Demokrasi Kita, ia menegaskan pentingnya peranan ekonomi kerakyatan atau demokrasi ekonomi dalam mewujudkan keadilan sosial di Indonesia. Dikatakan selanjutnya, bahwa demokrasi politik saja tidak dapat mewujudkan persamaan dan persaudaraan, maka harus ada demokrasi ekonomi. Jika tidak, manusia belum merdeka dan persamaan serta persaudaraan belum ada. Maka, cita-cita demokrasi Indonesia adalah demokrasi sosial, yang melingkupi seluruh tatanan hidup yang akan menentukan nasib manusia. Dua di antara ekonom langka yang kini amat sulit ditemukan kader penerusnya dengan kepribadian ilmu dan kejelasan serta ketegasan secara lugas dalam sikap pembelaannya terhadap rakyat, memiliki spirit keadilan sosial yang dikaitkan dengan demokrasi sosial. Suatu pandangan kalangan ekonom yang berfikir transdisipliner. Secara elaboratif, kedua almarhum yang kini telah tenang (muthmainnah) di alam kubur karena kesalehan akademiknya menegaskan suatu ”ideologi ekonomi kerakyatan”. Dan keyakinan ideologis inilah yang melekat hingga akhir jabatan dan hayatnya.

iii

Di negeri dengan ribuan kampus yang tersebar di berbagai daerah ini, rasanya, lebih sulit ditemukan akademisi yang beruntung dengan memiliki watak dan kepribadian yang jelas, yang clean dan clear. Entah karena begitu kuatnya main stream pragmatisme dan hedonisme yang sudah mengideologis, atau bahkan sudah setingkat menjadi falsafahnya, teramat langka terdengar suara nyaring, lugas dan kritis dari lembaga kampus ”pencetak” SDM Pemimpin yang iImuan, dalam mengkritisi situasi bangsa yang mengitarinya. Apakah untuk ”mengkloning” frame of thinking konstruksi dan kepribadian ilmiah kedua ekonom kerakyatan di atas, kita harus set back ke masa lalu yang jelas bertentangan dengan watak sejarah itu? Jelas mustahil. Karena, salah satu dimensi sejarah ialah suatu kesadaran untuk melakukan gerakan-gerakan serius dengan misi ”transformation to the future”. Yang pantas diteladani adalah, bahwa keadilan sosial dipandang dan diletakkan sebagai cara pandang untuk menata perekonomian bangsa, untuk mewujudkan persamaan dan persaudaraan antar anak bangsa dan bahkan menentukan nasib manusia Indonesia. Demokrasi ekonomi dipandang penting yang dikaitkan dengan demokrasi sosial. Suatu cara pandang yang begitu luhur, jelas keberpihakannya kepada rakyat dan merefleksikan spirit Pembukaan UUD Tahun 1945. Namun sejarah kehidupan ketatanegaraan dalam era orla dan orba telah tidak menghargai pemikiran di atas. Tentu hal inilah yang kemudian telah melahirkan suatu bencana ketidakadilan ekonomi yang berdampak luas dalam kehidupan sosial budaya lainnya, termasuk dalam bidang hukum dan law enforcement. Politik dan ekonomi sebagai panglima pembangunan pada era rezim-rezim yang lalu, tidak apresiatif dan artikulatif terhadap posisi dasar rakyat sebagai yang paling berhak atas seluruh kekayaan bangsa sebagai anugerah Allah. Mainstream pemikiran ekonomi yang jelas pro rakyat diabaikan dengan kebijakan ekonomi neoliberal yang telah melahirkan birokrasi korup yang ditandai dengan KKN. Di penghujung kejatuhan Soeharto, Indonesia telah dikenal oleh masyarakat internasional sebagai salah satu negara terkorup di level dunia. Anggaran negara Indonesia telah dibocorkan hingga mencapai angka rata-rata 30% pertahun, sebagaima-

iv

na diungkap oleh Prof Sumitro. Meminjam teori korupsi oleh Syed Hussein Alatas, dikenal ada tiga lapis korupsi. Lapis pertama, yang melibatkan warga dengan aparatur negara, berupa suap (bribery) yang prakarsanya datang dari warga, dan pemerasan (extorsion) yang diperankan olah aparatur negara. Lapis kedua, korupsi dalam lingkaran dalam (inner circle) di pusat pemerintahan dalam ketegori nepotisme, dimana ada hubungan darah antara pelayan publik dengan pemangku kepentingan yang menerima berbagai kemudahan; kronis-isme, yang tidak ada hubungan darah antara para pelaku korupsi dan yang diuntungkannya, dan kelas baru, dimana antara pengambil kebijakan dengan yang menerima kemudahan telah menjadi satu kesatuan organik. Meminjam George J Aditjondro, korupsi di Indonesia dibedakan antara korupsi yang didorong oleh faktor kemiskinan (corruption driven by poverty) dan yang di dorong oleh kerakusan (corruption driven by greed). Yang pertama disebut ”korupsi kerah biru” yakni pelakunya mereka yang berseragam dan yang kedua disebut ”korupsi kerah putih” yakni mereka yang berdasi. Apapun kategorisasinya, kita ”berbahagia”, bahwa secara alamiah di negeri ini, kita memperoleh pengayaan tentang puluhan modus dan pelaku korup. Terakhir kita membaca terdapatnya executive corruption, legislative corruption dan judicial corruption. Masing-masing telah memberikan ragaan dan contoh sempurna tentang kualitas dan sejumlah modus kejahatannya yang pasti telah, sedang dan akan terus menerus secara berkesinambungan (sustainable) menciptakan mesin korupsi yang berjalan secara mekanis dan organik. Keganasan dan kekejaman terus berjalan dengan pasti di atas kepatuhan ideologi korupsi para koruptor di negeri yang masih dihuni oleh sekitar 37 juta rakyat miskin, dan puluhan juta mereka yang terbatas mampu memenuhi hajat makan yang tak mampu berpikir masa depan pendidikan para pewarisnya. Dalam situasi mengenaskan dan menyayat ulu hati rakyat miskin inilah, kalangan ahli hukum dan penegak hukum, telah disapa dan diundang oleh kedua ekonom di atas, untuk berbicara dan melangkah atas nama dan untuk keadilan sosial, demokrasi ekonomi dan demokrasi sosial. Suatu ajakan luhur, yang menjadi ranah dan agenda mereka yang terpanggil nurani dan akal budinya untuk agenda ”re-

v

formasi peradilan”. Suatu agenda yang menuntut kesadaran sejarah untuk bersama-sama dalam ketulusan dan kejiwabesaran merintis proses penegakan hukum yang benar, adil, jujur, transparan dan profesional. Kendatipun berdasarkan survey dari Partnership for Governance Reform tahun 2002, terdapat persepsi masyarakat bahwa badan peradilan merupakan badan terkorup dibandingkan badan-badan lainnya, demikian halnya survey dari Transparansi Internasional Indonesia (TII) tahun 2006 yang mengungkapkan bahwa inisiasi dari badan peradilan untuk melakukan praktik suap lebih tinggi daripada lembaga publik lainnya dan laporan dari Global 2007 Transparency International (TI) yang bermarkas di Jerman telah menempatkan badan peradilan Indonesia dalam kategori badan paling korup di antara badan peradilan di beberapa negara (Yunani, Albania, Meksiko, Moldova, Maroko, Peru, Taiwan dan Venezuela), hingga muncul penilaian Syahrir, bahwa badan peradilan telah menjadi black market of justice, namun, di atas semua penilaian ini, kita sebagai bangsa besar, tentu memiliki jiwa besar, dada lebar dan nafas panjang serta emosi yang menep untuk melakukan self correction. Dalam kerangka untuk mendorong terwujudnya hakekat kemerdekaan bangsa dalam usia kemerdekaan ke-62, patut kita memulai lembaran putih baru. Yakni niat dan kesadaran baru untuk menjadikan proses-proses peradilan sebagai pilar moral menuju terdorongnya tatanan kehidupan hukum yang benar-benar berkeadilan, dan membawa dampak konstrukrif bagi terwujudnya persamaan dan persaudaraan antar anak bangsa, terutama yang berkaitan dengan pemenuhan dan perlindungan hukum atas hajat hidup dan hak-hak asasi rakyat. Siapapun, semuanya, sudah saatnya untuk kembali kepada otentisitas diri (fitrah), yang menyadari dan memerlukan pemenuhan hak-hak fitrah sesama. Hak itu antara lain, pada satu sisi memperoleh perlindungan hukum dan keadilan sehingga tidak lagi terdapat kesenjangan yang mencolok di antara sesama, dan pada sisi lain, kita bisa memperoleh hak yang berasal dari dipenuhinya kewajiban dari orang lain karena kita telah memberikan hak kepada mereka. Penegakan hukum adalah proses mewujudkan hak menjadi suatu hukum positif, atau mengurangi dan meniadakan sesuatu yang bukan hak menjadi hukum posi-

vi

Disini. memang harus dimulai dari sekarang. Polisi. Hakim dan Lawyer mati meninggalkan contoh penegakan hukum yang berkeadaban. selalu saja ada pihak-pihak yang melakukan perlawanan. Yaitu. bahwa Amerika Serikat adalah merupakan ”a society designed by the judiciary”. gajah mati meninggalkan gading. Di Indonesia. untuk menuju pada putusan hakim yang mengkarakterkan sebagaian instrument of social engineering atau social reconstruction. yang merupakan nilai (value) yang membedakan apa yang benar dan salah yang haq dan bathil. Tentu. Tak salah jika kita berobsesi. Ini lumrah secara sosiologis dalam masyarakat kita yang untuk sebagian telah terwarisi budaya suap menyuap dalam bentuk dan dalih apapun juga. masih memerlukan pembenahan yang tidak sederhana. Penormaan moral menjadi hukum positif bukan saja masih terkendala dari berbagai faktor penyebabnya. agar dengan putusan hakim dapat diperoleh suatu tatanan baru dimana proses vii . Suatu putusan hakim yang merupakan produk bersama secara etis-profesional dari pemberfungsian suara nurani yang bening dan akal budi yang sehat oleh empat profesi terpuji di atas dalam keseluruhan proses peradilan. terdapat pepatah there is no law without morality. Maka. untuk kedepan. Mendesain putusan yang memenuhi ajakan kedua ekonomi kerakyatan di atas. Putusan semacam inilah yang memenuhi kriteria ranah-ranah ”demi keadilan berdasarkan ke-Tuhanan Yang Maha Esa”. Satjip-to Rahardjo mengutip penelitian Dirk dan Bridwell. seperti ditulis oleh Prof. Putusan yang teruji secara moral dan hukum disertai asupan yurisprudensi dan doktrin hukum yang selektif yang kemudian melahirkan situasi hukum yaitu menyelesaikan sengketa dan tegaknya hukum dan keadilan terhadap siapapun. Senoadji disempurnakan menjadi there is no morality without religion. moral adalah esensi dan ruh dari hukum. yaitu moral. Di antara keduanya terdapat ukuran sebagai patokan. untuk menuju kearah mimpi indah itu. bisa dielaborasikan dalam pandangan yang sedikit filsafati.tif. Yang oleh Prof. dimana pengadilan melahirkan putusan-putusan sedemikian rupa sehingga terjadi perubahan-perubahan penting dalam masyarakat. Namun. akan haknya di Amerika Serikat. Jaksa. Pepatah klasik harimau mati meninggalkan belang.

Maka. Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi dalam satu nafas baru. dalam dan komprehensif serta transdisipliner. anggota DPR. Yaitu terwujudnya proses penguatan dan sekaligus pengawasan terhadap badan peradilan melalui mekanisme undang-undang yang akan diiringi dengan pemeranan seluruh elemen masyarakat madani sebagai bagian terpenting bagi terwujudnya peradilan yang Jujur. langkah untuk mendemokratiskan secara berkeadaban proses-proses peradilan. Dimintakannya para penulis dari berbagai latar belakang akademisi.pendemokratisasian hukum bisa berdampak konstruktif pada terciptanya keadilan sosial. Ia memerlukan pendekatan kemampuan intelektualitas tinggi. berbagai himpunan pemikiran yang menuju pada bagaimana agenda reformasi peradilan dapat dipersepsi dan diusung bersama. para pengamat dan aktivis NGO dalam Buku Bunga Rampai Komisi Yudisial edisi kedua ini. tapi juga memerlukan kondisi psikologis dimana para penegak hukum memiliki dan merasakan makna dari hakekat diri yang fitri. adalah merupakan misi Komisi Yudisial. hendaknya menjadi komitmen dan agenda sistemik dan simultan. Bersih dan Profesional. tokoh agama dan masyarakat. pengefektifan pengawasan yang lebih proporsional viii . dikandung maksud untuk memperoleh pandangan-pandangan yang komprehensif dan komplementer untuk memperoleh pandangan mengenai gagasan dan langkah menuju bagaimana proses reformasi peradilan bisa segera dimulai dengan pemeranan elemen masyarakat madani. yang salah satu penyebabnya bisa datang dari produk legislasi dan kebijakan nasional maupun putusan hakim yang tercerabut dari kesadaran nurani dan akal sehat serta rasa keadilan masyarakat. Dari sisi legislasi di DPR. Dalam kerangka demikian. semua pihak yang pro pembebasan rakyat dari lilitan kemiskinan masif tentu berharap lahirnya revisi Undang-Undang Komisi Yudisial. Kita amat memerlukan kontribusi pemikiran dan aktualisasi komitmen moral bersama menuju kearah terdorongnya proses pencapaian lahirnya putusan hakim yang memiliki utilitas atau kemaslahatan bagi pemerdekaan anak bangsa ini dari himpitan kemiskinan masif. bukan perkara mudah. yang memerlukan asupan spiritualitas dosis tinggi serta lingkungan keluarga dan budaya organisasi di instansi dimana ia berhikmat dengan profesi luhurnya itu.

yang mencerminkan suara dan hakekat keadilan bagi terwujudnya perlindungan hukum terhadap para pencari keadilan tetapi juga sekaligus dalam rangka perubahan tatanan kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih berkeadilan. Semoga tulisan dalam Buku Bunga Rampai ini memberikan wacana yang lebih luas kearah pembenahan peradilan kita kedepan. Kita berkepentingan akan lahirnya putusan-putusan hakim yang berkeadaban. Jakarta. 2 Agustus 2007 M. Busyro Muqoddas ix .baik oleh Komisi Yudisial sebagai wujud amanat reformasi bersama-sama dengan seluruh elemen masyarakat madani.

x .

H.. Soekarno. M.H. S. Bapak Prof..U.. para Tenaga Ahli dan xi . S. Bapak A.H. Penghargaan yang tinggi. S. Banyak pihak yang telah memberikan kontribusi yang sangat berharga dalam proses penyusunan buku ini. S. Bapak-bapak Anggota Komisi Yudisial Republik Indonesia. Secara khusus.H. dukungan dan motivasi.. Ali Zaidan. Bapak Asep Rahmat Fajar. S... Busyro Muqoddas. yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu.H.. Dr. M. Bapak Trimedya Panjaitan.H. Hidayat Nur Wahid. M.H.. Marwan Mas. diucapkan terima kasih kepada: Bapak Prof.H..H. Dr.H. kami menghaturkan terima kasih yang tak terhingga kepada para penulis (kontributor) yang telah memberikan artikel untuk materi buku ini.Hum. S. LL. MS.H. Din Syamsuddin. Satjipto Rahardjo. Andi Djalal Latief.. Bapak Prof. Ermaya Suradinata. Bapak F.. MA.H. Bapak Dr.. Dr. John Pieris.H.. S. M. DR. S. DR. S.. Dr. Bapak Prof. S. S. Moh.. Hatta Ali. Bapak Prof.. S. M.H. Bapak Dr. Bapak M. M.H.H.. S. Bapak Dr.Penghargaan dan Ucapan Terima Kasih Program penyusunan buku Bunga Rampai Dua Tahun Komisi Yudisial Republik Indonesia ini adalah salah satu program yang diamanatkan oleh Rapat Kerja Komisi Yudisial Republik Indonesia pada bulan Februari 2007 di Bandung. MS. Sp. H.. Bapak Arbab Paproeka.H.. Komariah Emong Sapardjaja. Ucapan terima kasih kepada Bapak M... Bapak Firmansyah Arifin. Ibu Prof. dan Bapak Ir.. serta membuat kata pengantar dalam buku ini. Bapak M.H. Ketua Komisi Yudisial Republik Indonesia yang telah memberikan kontribusi pemikiran. S. Untuk itu.. S. Bismar Nasution. S..N. Mahfud MD. Pandupraja.H. S.H. M. M.H.X. juga disampaikan kepada Bapak Wakil Ketua.. atas dukungan dan kontribusi pemikiran dalam proses penyusunan buku ini.M..

Semoga dengan hadirnya buku ini dapat memberi manfaat bagi kita semua. serta dukungan Sekretariat Jenderal Komisi Yudisial.Bapak Sekretaris Jenderal Komisi Yudisial Republik Indonesia. 2 Agustus 2007 Hermansyah Redaktur xii . Jakarta. Buku Bunga Rampai ini dapat diselesaikan adalah tidak terlepas dari dukungan dan dedikasi yang sangat tinggi dari Sekretariat Tim Penyusun Buku Bunga Rampai.

Moh. S.Daftar Isi Prakata Ketua Komisi Yudisial M. M.U. Ali Zaidan. Kontribusi Lembaga Sosial Mendorong Reformasi Peradialn Prof. Mahfud MD. 8. 83 6. S.H. M. Sp. Komisi Yudisial Dalam Mosaik Ketatanegaraan Kita Prof.H. S. S. S... Satjipto Rahardjo. S. Dr. Hatta Ali. 1 21 43 65 5. S.H. 95 107 135 xiii .. LL. Penghargaan dan Ucapan Terima Kasih Daftar Isi iii xi xiii Bagian Kesatu Reformasi Peradilan 1. Kontribusi Komisi Kepolisian Nasional Dalam Mempercepat Reformasi Peradilan A. Kontribusi Lembaga Kejaksaan Dalam Mempercepat Reformasi Peradilan M. Komariah Emong Sapardjaja. Komisi Yudisial Pengawal Reformasi Pengadilan Mendayung diantara Simpati dan Resistensi Firmansyah Arifin. 4.. 7. Pandupraja.H.H.H. Perubahan Bidang Politik dan Pengaruhnya Terhadap Reformasi Peradilan Arbab Paproeka. S. S. DR.N..Hum. Busyro Muqoddas.H.H. 3..H. Dr. Peran Hakim Agung Dalam Penemuan Hukum (Rechtsvinding) dan Penciptaan Hukum (Rechtsschepping) Pada Era Reformasi dan Transformasi M. 2. Hakim Agung dan Penemuan Hukum (Rechtsvinding) Pada Era Reformasi dan Transformasi Hukum Prof.H.M. M.H. S.

Pentingnya Peran Komisi Yudisial Berdasarkan Pendekatan Geopolitik dan Geostrategi Indonesia Prof. M.H.H. Soekarno.H. S. 6. H. M. DR. Memulihkan Kewenangan Komisi Yudisial Dengan Melibatkan Kemitraan (Jejaring) di Daerah Dr. Andi Djalal Latief. Dr. S. Bismar Nasution. 7. Dr. M. 5. Komisi Yudisial Yang dicita-citakan Oleh Masyarakat dan Pencari Keadilan Dr. MA. 8. Urgensi Pembuatan Data Base Hakim Sebagai Media Penunjang Pelaksanaan Wewenang dan Tugas Komisi Yudisial Ir. 4.X. Hidayat Nur Wahid.H. 2.9.H..S. MS. Peran Serta Elemen Masyarakat Sipil Dalam Mendorong Proses Reformasi Peradilan dan Penegakan Hukum Prof. Marwan Mas. M.H. Sinkronisasi Sistem Perundang-undangan Lembaga Peradilan Dalam Menciptakan Peradilan Yang Lebih Baik Trimedya Panjaitan. 155 165 Bagian Kedua Penguatan Kelembagaan 1. S. S. Din Syamsuddin 10. Urgensi dan Fungsi Pembentukan Jejaring di Daerah Oleh Komisi Yudisial Asep Rahmat Fajar.. Ermaya Suradinata. 3.H... John Pieris. S. Gerak dan Langkah Nyata Komisi Yudisial Dalam Mengemban Amanat UUD 1945 Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Dr.H. S.H. M. DPR dan Perubahan Atas Undang-Undang Komisi Yudisial F. S.H. Redaksi 185 197 221 249 259 275 287 301 319 xiv . Reformasi Pendidikan Hukum Untuk Menghasilkan SDM Penegak Hukum Yang Kompeten dan Profesional Prof. M.

Bagian Kesatu Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan xv .

xvi .

sengaja dilakukan tanpa kehadirannya. Itu pun masih menimbulkan kontroversi karena produknya tentang calon hakim agung tahun 2007 banyak yang menilainya tidak berkualitas apalagi Irawady Joenoes. katanya. penulis diminta mengelaborasi lebih lanjut optik politik hukum tentang KY tersebut berkenaan dengan perkembangan-perkembangan baru menyusul putusan MK pada akhir Agustus 2006 yang memangkas hampir seluruh kewenangan KY yang semula diberikan oleh UU No. memprotes karena keputusan KY ditetapkan dalam rapat yang. Mahfud MD Pujian dan cercaan Kehadiran Komisi Yudisial (KY) di Indonesia telah memperkaya khazanah kita tentang pembangun hukum. Meskipun sudah pernah menulis tentang KY dari aspek politik hukum untuk buku peringatan Satu Tahun Komisi Yudisial (2006). 22 Tahun 2004 berdasar atribusi kewenangan legislasi yang sah. praktis pekerjaannya hanya menyeleksi calon hakim agung. salah seorang anggotanya.Komisi Yudisial dalam Mosaik Ketatanegaraan Kita Moh. pengayaan mana dibangun oleh banyaknya kontroversi atas langkah-langkah KY yang begitu dibentuk langsung tancap gas tinggi untuk mengawasi perilaku dan moralitas hakim. Kontroversi sambutan atas kehadiran KY dapat ditelusuri dari latar belakang kehadirannya di dalam sistem Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 1 . Pujian dan cercaan terus bermunculan yang sampai saat ini (Juli 2007) menyebabkan KY berada pada posisi yang menggantung karena setelah wewenangnya untuk melaksanakan fungsi pengawasan dipangkas melalui putusan Mahkamah Konstitusi (MK) pada Agustus 2006.

Pada saat yang sama dirasakan juga bahwa banyak produk UU yang secara substantif bertentangan dengan UUD 1945 sehingga isinya banyak yang lahir dari korupsi politik tetapi tidak ada instrumen hukum dan lembaga yang dapat mengoreksinya melalui pengujian kecuali pengujian legislatif (legislative review) yang sudah pasti sangat bergantung pada kehendak lembaga-lembaga poltik yang korup. 22 Tahun 2004. Gagasan tentang kedua lembaga ini mendapat sambutan posistif baik dari kampus-kampus dan LSM maupun dari parpol dan Fraksi-fraksi di DPR dan MPR.ketatanegaraan kita. untuk mengawasi perilaku hakim agar tidak melakukan judicial corruption harus dibentuk Komisi Yudisial (KY). Secara preventif KY dapat mengusulkan calon hakim agung agar tampil hakim agung- 2 Bunga Rampai . Kedua. untuk menguji UU terhadap UUD dibentuk Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai lembaga negara baru pemegang kekuasaan kehakiman di samping Mahkamah Agung (MA). pada waktu itu memberi dukungan kuat dengan argumen-argumennya yang sangat meyakinkan tentang KY dan segala kewenangannya yang kemudian dituangkan di dalam UU No. Itulah sebabnya dua hal untuk memmperbaiki kinerja hukum kita segera menyeruak ke dalam wacana yang kemudian diterima dengan baik di dalam proses politik yang lahir di awal reformasi. KY diberi tugas melakukan pengawasan terhadap hakim baik secara preventif maupun represif. Bahkan orang-orang yang sekarang duduk di MA maupun MK yang “terkesan” ikut menghantam KY. Pertama. Mafia peradilan (judicial corruption) yang melibatkan hakim-hakim terasa menyengat tetapi tak dapat terlihat atau dibuktikan secara formal karena pelaku-pelakunya terdiri dari orangorang yang pandai memanipulasi hukum untuk saling melindungi. Saat kita melakukan reformasi pada tahun 1998 bermunculan wacana untuk memperbaiki penegakan hukum kita dengan asumsi bahwa terjerumusnya Indonesia ke dalam krisis multidimensi yang sulit disembuhkan disebabkan oleh bobroknya dunia peradilan. Perubahan Positif Ketika gagasan tentang pembentukan KY dan MK ini diproses secara legislasi di DPR kewewenangan yang diberikan kepada keduanya ternyata berkembang secara lebih baik.

Kemajuan nyata Harus diakui secara jujur bahwa mosaik lembaga peradilan. Jakarta. Politik Hukum di Indonesia.hakim agung yang baik melalui seleksi yang ketat dan obyektif. memutus sengketa hasil pemilu. sedangkan secara represif KY dapat mengawasi perilaku hakim dalam pelaksanaan tugas-tugasnya sekaligus memutuskan tindakan yang dapat direkomendasikan kepada MA. Kita mencatat sampai sekarang MK sudah memeriksa dan memutus lebih dari 100 kasus pengujian UU terhadap UUD. memutus pendapat atau dakwaan (impeachment) DPR bahwa Presiden telah melakukan salah satu atau lebih dari lima hal yang ditentukan di dalam UUD yang dapat dijadikan alasan untuk memberhentikan Presiden/Wapres dalam masa jabatannya. terutama kekuasaan kehakiman. 1998. LP3ES. Dalam pada itu pembuat Konstitusi menetapkan juga bahwa pengujian peraturan perundang-undangan di bawah UU terhadap peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dilakukan oleh MA. Begitu pun dengan MK. Sebelum reformasi ketentuan ini oleh beberapa peraturan perundang-undangan memang sudah dijadikan wewenang MA tetapi karena pengaturannya kacau secara teoretis maka ketentuan itu tak pernah dapat diimplementasikan. lembaga kekuasaan kehakiman yang baru ini bukan hanya diberi wewenang melakukan pengujian UU terhadap UUD tetapi juga diberi wewenangwewenang lain yakni memutus sengketa antar lembaga negara yang wewenangnya ditentukan di dalam UUD. menjadi lebih baik setelah perubahan UUD 1945 yang menegaskan fungsi-fungsi konstitusional dengan proliferasi kelembagaan dalam bidang ini.1 Itulah sebabnya ketentuan tentang itu ditegaskan di dalam UUD hasil amandemen sehingga pengaturan operasionalnya dengan atribusi kewenangan legislasi menjadi jelas dan dapat diimplementasikan. apakah kita setuju atau tidak setu- 1 Bahasan meluas tentang ini lihat dalam buku saya. memutus pendapat DPR bahwa Presiden/Wapres tak lagi menuhi syarat. Terlepas dari soal. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 3 . dan memutus pembubaran partai politik.

sebab dengan gebrakannya menyorot dan memeriksa hakimhakim yang dilaporkan dan diduga nakal. meski tak semua laporan itu benar adanya. terutama ketika KY mengundang ketua 2 Denny Indrayana. terbukti sekarang MA telah menguji dan membatalkan beberapa peraturan perundang-undangan yang dinilai bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. 4 Bunga Rampai . MA yang merasa kewibawaannya diobrak-abrik merasa tersinggung.ju dengan sebagian putusan MK.2 Banyak hakim yang kemudian lebih berhati-hati dalam melaksanakan tugasnya. terlepas dari kritik dan kontroversi atas produknya. seorang ahli Hukum Tata Negara dari UGM. Benar juga ketika kita menguatkan wewenang MA untuk melakukan pengujian peraturan perundang-undangan di bawah UU terhadap peraturan perundang-undangan yang derajatnya lebih tinggi. menyatakan bahwa maraknya kontroversi yang muncul dari konflik antara MA dan KY yang disusul dengan putusan MK yang sangat kontroversial yang memangkas wewenang-wewenang KY justru menunjukkan adanya kemajuan dalam sistem ketatanegaraan kita sebab kegiatan saling kontrol menjadi tumbuh. ini harus dicatat sebagai kemajuan karena membuktikan bahwa memang benar banyak UU yang dapat dipermasalahkan konstitusionalitasnya dan MK telah menjadi lembaga yang tepat untuk melakukan itu. Ini sudah tentu jauh berbeda dengan zaman sebelumnya di mana hakim agung diangkat berdasar kontrak politik dan ditengarai kuat hanya berdasar kedekatan dengan pimpinan MA. Kebenaran relatif putusan MK Tetapi langkah-langkah KY yang cukup memberi harapan ternyata telah menjadi bumerang yang sama sekali tidak diharapkan baik oleh KY sendiri maupun oleh masyarakat. mulai dari hakim pengadilan negeri sampai ke hakim agung ternyata meningkatkan gairah masyarakat untuk menyorot dan melaporkan hakim-hakim nakal. KY sudah memberi sumbangan yang cukup baik terutama untuk memilih yang terbaik dari jelek-jelek serta dalam membuat kontrak moral agar kalau sudah menjadi hakim agung seseorang dapat melaksanakan tugasnya dengan penuh integritas. Langkah KY pun sudah mendorong ke arah kemajuan. Dalam melakukan seleksi terhadap calon hakim agung pun.

Bahwa yang menggugat adalah pribadi-pribadi hakim agung itu hanyalah taktik saja. sebab jika dilihat dari suasana dan sikap-sikap petinggi MA tampak jelas bahwa MA memang merasa gerah dengan sepak terjang KY. Kalangan hakim banyak yang mengatakan bahwa KY bukannya menjaga martabat hakim melainkan justru menjatuhkan martabat hakim.3 Argumennya. meminta MK memutus bahwa hakim agung bukanlah bagian dari hakim yang dapat diawasi oleh KY sebab menurut pasal 24B ayat (1) untuk hakim agung sudah disebutkan KY hanya mengusulkan pencalonannya. para penggugat meminta agar hakim konstitusi tidak dijadikan bagian dari pengertian hakim yang dapat diawasi oleh KY karena hakim konstitusi berbeda dari hakim lain dan baru dimasukkan di dalam UUD lebih belakang dari pengaturan tentang KY. Ketiga. sedangkan untuk mengawasi perilaku disebutkan berlaku untuk hakim. ketika KY ditentukan di dalam UUD belum ada gagasan tentang hakim konstitusi. sehingga tak mungkin ketika KY dibentuk sudah terpikir untuk mengawasi hakim konstitusi. 22 Tahun 2004 tentang KY terhadap UUD. Pertama. Kedua. 22 Tahun 2004 yang menyamakan keduanya harus dinyatakan bertentangan dengan konstitusi. Jadi bagi para penggugat harus dibedakan pengertian antara hakim agung dan hakim sehingga isi UU No. wewenang-wewenang KY untuk mengawasi para hakim harus dinyatakan bertentangan dengan UUD karena kriterianya tidak jelas dan bersifat eksesif apalagi dalam prakteknya 3 Seperti diketahui pengaturan tentang KY dicantumkan di dalam pasal 24B sedangkan pengaturan tentang MK dicantumkan dalam pasal 24C.MA untuk dimintai keterangan dan ketika KY mengundang beberapa hakim agung untuk diperiksa berkenaan dengan masuknya beberapa laporan dari masyarakat. 30 orang hakim agung kemudian menggugat judicial review UU No. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 5 . hanya saja karena MA secara institusi tidak mempunyai legal standing atau tidak dapat menjadi pihak dalam sengketa di MK maka yang dimajukan (sekurang-kurangnya dibiarkan dan didorong maju) adalah para hakim agung secara perseorangan. bahkan mengintervensi kemandirian hakim. Isi gugatan itu pada pokoknya berkisar pada tiga hal.

22 Tahun 2004 dipangkas sehingga meskipun boleh mengawasi tetapi terjadi kekosongan hukum dalam operasionalisasi pengawasan itu sendiri. 2 Tahun 1986 sebagaimana telah diubah dengan UU No. Kedua. 14 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan UU No. dinilai kompromistis karena karena menolak gugatan bahwa hakim agung berada di luar subyek yang dapat diawasi oleh KY. Perdebatan Hukum Tata Negara Pasca Amandemen UUD 1945. dinilai ultra petita dan bias karena salah satu dasar pertimbangan pemangkasan wewenang-wewenang KY itu didasarkan pada pertentangan (tidak sinkronnya) ketentuan yang ada antar UU yakni pertentangan UU KY (yang dapat merekomendasikan pemberian sanksi pada hakim) dengan UU lain seperti UU No. LP3ES. Tentang ini dapat dibaca secara lebih rinci di dalam buku saya. 6 Bunga Rampai . 8 Tahun 2004 tentang Peradilan Umum yang menentukan bahwa pemberhentian hakim agung dan hakim dilakukan setelah melalui Majelis Kehormatan Mahkamah Agung dan Majelis Kehormatan Hakim. 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung dan UU No. Persoalan belum adanya ketentuan tentang kriteria pelanggaran moral oleh hakim mestinya tidak dapat dijadikan alasan untuk membatalkan kewenangan KY sebab masalah tersebut merupakan ranah legislatif. 2007. Bias terjadi dan dapat dianggap ultra petita di sini karena MK hanya boleh menguji UU terhadap UUD bukan UU terhadap UU lainnya. Pertama. 22 Tahun 2004 itu memang agak kompromistis tetapi juga dapat dipersoalkan karena selain dianggap mengandung ultra petita5 juga bertentangan dengan asas nemo judex in causa sua sekaligus juga tidak sesuai dengan konsepsi hakim yang dimaksud dalam UUD. Jakarta.4 Putusan judicial review MK pada Agustus 2006 tentang UU No.KY sering memeriksa hakim dengan mempersoalkan isi putusan. namun hampir semua pedoman pengawasan untuk mengawasi para hakim sebagaimana diatur di dalam UU No. Lagi pula jika UU tentang KY bertentangan dengan UU lain mengapa isi 4 5 KY sendiri memberikan argumen yang dapat dipahami ketika menyatakan bahwa sulit untuk tidak membaca dan menilai putusan hakim sebab pengaduan yang masuk pada umumnya menyangkut kejanggalan dalam pemeriksaan perkara dan putusan hakim.

final and binding. tak dapat dilawan lagi secara hukum. 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung dan UU No. menurut pasal 24C ayat (1) putusan MK itu bersifat mengikat. 2 Tahun 1986 sebagaimana telah diubah dengan UU No. Dalam saya catatan sudah dua kali MK memutus hal-hal yang menyangkut dirinya sendiri. 22 Tahun 2004) menghapus hukum yang terdahulu yakni UU No. artinya sebuah putusan MK bisa salah jika yang dipakai untuk memutus adalah perspektif. 14 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan UU No. belum tentu benar tapi mengikat Meskipun begitu harus diingat bahwa. Tegasnya. tergantung pada pilihan perspektif. Putusan MK. Dengan kata lain. dalil. Kebenaran putusan MK itu bersifat relatif. Putusan MK menyatakan bahwa MK boleh menguji semua UU termasuk semua UU yang sudah ada sebelum terbentuknya MK. terlepas dari soal benar atau salah. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 7 . MK juga pernah membatalkan ketentuan UU tentang MK yang menentukan bahwa MK hanya boleh melakukan pengujian atas UU yang lahir setelah terbentuknya MK. putusan MK itu belum tentu benar. tetapi sudah pasti mengikat. atau pasal-pasal yang dipergunakan untuk memutus. Di dalam asas ini ditentukan bahwa hakim tidak boleh memutus perkara yang menyangkut diri-nya sendiri. Selain berbenturan dengan asas nemo judex in causa sua bias putusan MK tidak sesuai dengan ide dan konsep tentang hakim di dalam konstitusi dan tata hukum kita sebab ide dan konsep dasar hakim adalah semua pejabat yang melaksanakan kekuasaan kehakiman. dalil. putusan MK tersebut agak berbenturan juga dengan asas nemo judex in causa sua karena MK memutus hal-hal yang menyangkut kepentingannya sendiri yakni meletakkan hakim konstitusi sebagai subyek yang berada di luar pengawasan KY .UU KY yang dibatalkan? Mengapa tidak diberlakukan ketentuan bahwa hukum yang datang kemudian (UU No. dan pasal-pasal lain. seandainya yang menjadi hakim pada Mahkamah Konstitusi itu adalah hakim lain yang menggunakan atau mengikuti paradigma. Selain memutus bahwa hakim konstitusi bukanlah bagian dari hakim yang dapat diawasi KY. 8 Tahun 2004 tentang Peradilan Umum sesuai dengan asas lex posteriori derogat lex anteriori? Ketiga.

dan teori yang dipergunakan oleh pihak termohon atau pihak terkait langsung.perspektif teori. dalil. Ia adalah lembaga negara yang otonom sebagai lembaga pengawas eksternal. Menurut UUD sendiri dan berdasar latar belakang pembahasannya di PAH I MPR tak pernah ada gagasan KY dijadikan sebagai lembaga penunjang. Dalam bahasa sehari-hari dapatlah dikatakan bahwa putusan MK itu bisa “sesuka-suka MK” dengan kebenaran yang relatif karena logikanya hanya dibangun dari perspektif tertentu yang hanya bisa logis dari perspektif itu sendiri. Tidak sulit untuk mencontohkan ini. Dari perspektif teori tertentu misalnya. Dalam kasus putusan MK yang memangkas hampir semua kewenangan KY seandainya kita memakai perspektif. dan dalil-dalil lain maka putusan bisa berbeda. paradigma apa pun yang dipergunakan pasti bisa dibangun rasionalitas untuk membenarkan pilihan perpspektif dan paradigma. Kalau soal rasionalitas. Begitu juga putusan MK bahwa hakim MK tak bisa diawasi oleh KY karena KY lahir lebih dulu dari MK itu bisa benar dari perspektif tertentu sebab tak mungkin sesuatu yang dipikirkan dan lahir kemudian sudah dicakup untuk diawasi oleh lembaga yang ada lebih dulu. Tim Hukum KY misalnya. 8 Bunga Rampai . Tetapi dari segi lain bisa ditegaskan bahwa tak ada satu pun ketentuan UUD kita maupun dalam sejarah pembahasan ketika membentuk KY bahwa KY adalah lembaga penunjang. bisa benar ketika MK mengatakan bahwa KY adalah auxiliary agent (lembaga negara penunjang) karena ia merupakan lembaga negara yang bukan pemegang kekuasaan kehakiman tetapi memiliki tugas yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman dan karenanya KY tidak bisa dijadikan bandul checks and balances dengan MK maupun MA. Sebagai lembaga negara pengawas eksternal ia bukan penunjang. siapa pun yang melakukan dan kapan pun dibentuk. maka semua dalil yang dipergunakan oleh MK bisa salah. Dengan demikian jika dilihat dari perspektif lain maka KY bukanlah lembaga penunjang lembaga lain. Itu hanya pendapat MK berdasar teori yang dipilihnya sendiri untuk kemudian dijadikan bahan pertimbangan vonis. tetapi bidang tugasnya memang berkaitan dengan kekuasaan lembaga negara yang lain yakni kekuasaan kehakiman. Tetapi jika konsep hakim dilihat dari teori tentang tugas-tugas untuk mengadili.

Berdasar ini. rasa keadilan. maka putusan MK tentang KY lebih merupakan pilihan selera hakim konstitusi yang tentu bisa lain putusannya kalau hakim-hakim dan pilihan perspektifnya juga lain dengan argumen yang juga bisa kuat. tetapi karena hal itu sudah diputuskan oleh lembaga yang diberi wewenang oleh konstitusi untuk memutus sengketa tentang itu. dan apa yang dimainkan hakim-hakim yang memeriksa dan memutus.maka hakim konstitusi pun harus dipandang sebagai hakim yang juga harus diawasi oleh KY. Di sini berlaku prinsip “hukmul haakim yarfa’ul khilaaf. Jika hanya mendasarkan pada asas kepastian hukum. terlepas dari soal kita senang atau tidak senang. salah satu pertimbangan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 9 . Namun agar putusan hakim dapat diterima dan tidak menimbulkan persoalan baru di dalam sistem hukum kita sebenarnya sudah ada penggarisan bahwa penegakan hukum di Indonesia haruslah mengintegrasikan secara padu tiga asas yakni asas kepastian hukum dan asas keadilan sesuai dengan ketentuan pasal 24 ayat (1) dan pasal 28D ayat (1) dan asas kemanfaatan sesuai dengan ketentuan pasal 28H ayat (2). Meskipun begitu. setidak-tidaknya menurut penulis. Oleh sebab itu di dalam konstitusi kita juga dianut asas keadilan dan kemanfaatan yang harus bersumber dari jeritan hati nurani masyarakat serta manfaat bagi masyarakat. tepatnya pada formal dan prosedural semata. Pilihan politik. maka manipulasi bisa dilakukan oleh pihak yang punya otoritas untuk memutus dengan cara memilih perspektif dan teori serta dalil-dalil sesuai dengan selera dan kehendaknya sendiri. Jadi tampak jelas bahwa ini tinggal pilihan paradigma dan perspektif teorianya serta tergantung pada siapa. seperti dikemukakan di atas. dan manfaat bagi masyarakat sebagaimana digagas ketika KY akan dijadikan bagian di dalam mosaik ketatanegaraan kita. Bukan karena benar. putusan MK bersifat final dan mengikat dan harus dilaksanakan.” putusan hakim menyelesaikan semua pertentangan. tak terikat teori Seperti dikemukakan di atas. Untuk banyak pihak putusan MK tentang KY itu memang mengikat tetapi tidak sejalan dengan latar belakang sejarah politik hukum.

melainkan merupakan lembaga pengawas eksternal yang berdiri sendiri. Jadi jika dilihat dari sudut lembaga negara maka KY ini tidak pernah dimaksudkan sebagai lembaga pembantu atau penunjang lembaga lain. Selain itu harus diingat bahwa Hukum Tata Negara itu bukanlah apa yang ada di dalam teori atau yang berlaku di negara lain. sebab di dalam UUD sendiri tidak disebutkan tentang itu. Memang dapat diterima pandangan bahwa KY bukan lembaga pemegang kekuasaan kehakiman yang mempunyai tugas yang berkaitan dengan kekuasaan tersebut. the Modern Constitution. Tidak ada teori Trias Politika asli dan tidak ada sistem pemerintahan yang murni karena hampir semua negara membuat sistem dengan sentuhan 10 Bunga Rampai . Pandangan seperti ini dapat dipertanyakan. Hukum Tata Negara adalah apa yang digagas dan kemudian ditulis di dalam konstitusi oleh bangsa suatu negara.putusan MK ketika memangkas hampir semua wewenang pengawasan KY terhadap hakim adalah karena KY bukan main organ melainkan hanya auxiliary organ. Meminjam ungkapan KC Wheare di dalam bukunya. tetapi jika dilihat dari tugasnya yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman maka bidang tugas KY memang hanya menunjang lembaga yudikatif dalam pelaksanaan kekuasaan kehakiman. Namun sebagai lembaga pengawas eksternal lembaga ini dapat dipandang sebagai lemabaga negara yang sejajar dengan MK maupun MA meski pun kompetensi tugas-tugasnya membantu kekuasaan kedua lembaga tersebut. bukan apa yang ada di dalam teori atau yang berlaku di negara lain betapa pun dianggap sudah mapan. Harus juga diingat bahwa dalam kenyataannya tidak ada satu sistem ketatanegaraan yang benar-benar asli dan tidak ada satu sistem ketatanegaraan yang secara persis dianut oleh lebih dari satu negara karena setiap negara memberikan sentuhan-sentuhan atau warna khusus sesuai dengan kebutuhan dan pilihan politiknya. Jadi Hukum Tata Negara itu adalah apa yang diperdebatkan dan ditulis sebagai pilihan politik di dalam konstitusi. bukan lembaga negara utama seperti MA dan MK melainkan hanya lembaga pembantu atau penunjang. konstitusi adalah resultante atau kesepakatan yang dibuat oleh bangsa yang bersangkutan sesuai dengan kebutuhan tempat dan waktu serta situasi.

dan federatif namun kemudian dimodifikasi oleh Montesquieu menjadi legislatif. Trias Politika yang “dikira” berasal dari Montesquieu itu pun kemudian melahirkan sistem pemerintahan yang berbeda-beda yang juga dapat dipertanyakan keasliannya. sedangkan di Swiss lahir sistem badan pekerja. Amerika. Teori Trias Politika yang selalu dikaitkan dengan Montesquieu misalnya. Amerika Serikat melahirkan sistem Presidensial yang memisahkan secara tegas antara legislatif dan eksekutif dengan mekanisme checks and balances antar poros-porosnya. Juga tulisan saya.dan modifikasinya sendiri-sendiri sesuai dengan kebutuhan domistiknya. Perancis. Swiss. Berbagai contoh kasus6 Antara April dan Juli tahun 2007 ini penulis mengunjungi beberapa negara “demokrasi” di Asia dan Eropa yang ternyata mengatur sistem ketatanegaraannya secara berbeda-beda meskipun mengatakan menganut sistem terten- 6 Lihat dalam tulisan saya. Montesquieu sendiri mengatakan. 2 Mei 2007. Mencontoh Kehidupan Beragama di Lebanon. 2 Mei 2007. Inggris. Perancis. Inggris melahirkan sistem Parlementer yang menganut supremasi parlemen. sedangkan nama dan uraian teoresasi tentang Trias Politika itu selanjutnya diberikan oleh Emmanuel Kant. Tak Ada Sistem Ketatanegaraan Asli. Tampak jelas bahwa sistem ketatanegaraan yang asli atau murni itu tidak ada karena semuanya merupakan penafsiran dan modifikasi sendiri-sendiri. eksekutif. dan yudikatif. eksekutif. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 11 . Harian Seputar Indonesia. dan lain-lain membuat sistem ketatanegaraan berdasar pilihan politiknya sendiri. Uniknya di negara Montesquieu sendiri. dianut hybrid parliamentary-presidential system. penerapan yang benar adalah sistem parlementer seperti yang berlaku di Inggris. dalam Jawa Pos. Hasil modifikasi oleh Montesquieu inilah yang umumnya dianggap sebagai dasar teori Trias Politika padahal Montesquieu sendiri mengambilnya dari John Locke. sebenarnya berasal dari John Locke ketika mengajarkan pemisahan kekuasaan atas legislatif.

Tapi itulah sistem yang dipilih oleh Polandia. Pada umumnya di dalam sistem presidensial kekuasaan membentuk UU hanya ada di parlemen tetapi Presiden mempunyai hak veto (hak menolak) yang kemudian dapat diuji kembali melalui sejumlah dukungan minimal tertentu di parlemen. bukan parlemen. termasuk UU yang sudah dimintakan judicial preview sebelum diundangkan. Sistem presidensial di Indonesia juga tidak mengikuti pola yang umum meski pola umum itu tidak murni juga. Polandia juga menganut sistem parlementer tetapi uniknya Presiden dapat membubarkan parlemen dengan dua alasan yakni jika sampai waktu tertentu parlemen tidak mensahkan anggaran yang diajukan oleh pemerintah atau jika parlemen tidak menyetujui susunan kabinet yang diajukan oleh pemerintah dan sampai waktu tertentu parlemen tidak mengajukan alternatif untuk menggantikan penolakannya itu. tetapi MK juga dapat melakukan judicial review atas UU yang sudah disahkan oleh Presiden jika ada gugatan.tu dari Trias Politika. Di Republik Rakyat Cina (RRC) yang menganut sistem yang agak unik. Namun di Indonesia Presiden mempunyai hak bersama DPR untuk membentuk UU. Di Suriah pemilu untuk 250 kursi parlemen hanya dilakukan untuk memperebutkan 70 kursi karena nama wakil rakyat yang untuk 180 kursi sudah ditentukan lebih dulu oleh pemerintah dari partai yang berkuasa. Yang juga menarik di Polandia adalah kewenangan Mahkamah Konstitusi (MK) untuk melakukan judicial preview atau menilai satu RUU sebelum disahkan oleh (dan atas permintaan) Presiden. Socialist Democratic 12 Bunga Rampai . Libanon yang secara resmi menganut sistem Parlementer ternyata menyerahkan kekuasaan tertentu kepada Presiden yakni kekuasaan bidang pertahanan dan intelijen. Di Yordania juga dianut sistem parlementer tetapi yang sangat menentukan jabatan perdana menteri adalah raja. yakni Puerto Rico. jadi pemerintahan dilakukan oleh kabinet yang dipimpin oleh perdana menteri tetapi untuk masalah pemerintahan tertentu dilakukan oleh Presiden. Ini unik karena berarti MK dapat menilai kembali UU yang telah dinyatakan konstitusional oleh MK sendiri sebelum UU itu disahkan. Sistem Presidensial seperti yang dianut di Indonesia ini hanya dipakai oleh satu negara lain di dunia.

Ternyata konsep ini berjalan efektif karena dictatorship di sana diartikan kekuasan hukum (dikatatorial hukum) secara mutlak. bahkan ada negara yang menempatkan KY sebagai lembaga yang bukan di ranah yuridis melainkan bersifat politis. termasuk ketika kita menempatkan KY di dalam mosaik ketatanegaraan kita. tergantung pada kebutuhan masing-masing. siapa pun harus tunduk kepada hukum. juga agak sulit memahami demokrasi yang dikatatorship. Dewan Yudisial Nasional atau “the National Council of the Judiciary” berfungsi untuk 7 Bagi penulis konsep ini terasa unik. Di berbagai negara pun pemosisian KY bervariasi. Yang menonjol ketika itu adalah pemikiran tentang perlunya lembaga pengawas eksternal yang dapat menyeleksi hakim agung dan mengawasi perilaku hakim sebab lembaga pengawas internal yang ada di lembaga yudikatif sampai saat itu sama sekali tidak efektif. Di Polandia. Dalam kaitan dengan KY ini penulis dapat mengatakan bahwa menurut risalah persidangan-persidangan MPR yang merancang perubahan UUD 1945 tidak muncul sama sekali pemikiran untuk menjadikan KY sebagai supporting atau auxiliary organ. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 13 . bukan sistem yang harus dipaksakan untuk sama atau menganut teori atau sistem yang berlaku di negara lain.Dictatorship. Namun seperti dikenal luas penegakan hukum dan pemerintahan di RRC berjalan sangat efektif.7 Kejaksaan Agung dijadikan lembaga yang sejajar dengan Mahkamah Agung dan lembaga negara yang lainnya. Itu pun merupakan pilihan politik atau resultante bangsa Cina dalam membuat konstitusinya. sebab seperti dikemukakan di atas setiap konstitusi dapat menentukan pilihannya sendiri-sendiri. misalnya. Desain Komisi Yudisial Uraian di atas bermaksud meyakinkan kita bahwa sistem ketatanegaraan kita pun adalah sistem yang dapat kita buat sendiri. Jadi di RRC kejaksaan bukan bagian dari Pemerintah dan bukan bagian dari Mahkamah Agung melainkan dijadikan lembaga yang sejajar dengan kedua lembaga negara itu. sebab pada umumnya agak sulit menyatukan sosialis-komunis dengan demokrasi. Sebagai pilihan politik penempatan posisi KY yang seperti itu sah saja dan mengikat secara konstitusional.

tak ada hal-hal yang bertentangan dengan UUD baik secara semantik maupun secara historik dalam garis politik hukum kita. Menteri Kehakiman. Lembaga ini lebih bersifat politis karena keanggotaannya terdiri dari Ketua I Mahkamah Agung. 22 Tahun 2004 sebagai pilihan politik yang khas Indonesia sebenarnya sudah cukup baik. Yang harus diperhatikan dalam pembentukan UU baru ini adalah bahwa kita harus kembali ke semangat atau garis politik hukum tentang KY itu sebagaimana diperdebatkan di MPR pada saat masalah KY itu dibicarakan dan diputuskan. bukan bertentangan dengan UU lain yang sejajar. MK menyatakan bahwa KY bukan lembaga negara utama padahal ketentuan yang seperti itu hanyalah tafsir teoretis dari MK yang bisa dibantah dengan tafsir teoretis lain. 15 orang hakim. MK juga menyatakan bahwa ketentuan kewenangan KY untuk mengawasi tingkah laku hakim tumpang tindih dengan berbagai UU lain yang terkait dengan kekuasaan kehakiman sehingga karena itu MK membatalkan berbagai kewenangan KY. Setelah terjadi kekosongan hukum dalam bidang pengawasan perilaku hakim oleh KY kini kita dituntut untuk segera membentuk UU baru yang memuat dan mengatur kewenangan KY ini. dan seorang lain yang ditunjuk oleh Presiden. Namun seperti dikemukakan di atas. MK mengatakan bahwa KY hanyalah supporting atau auxiliary organ sehingga tak bisa melakukan peran checks and balances padahal tak ada sama sekali pemosisian yang seperti itu ketika MPR membahas dan merumuskan fungsi KY di dalam konstitusi kita. Jadi posisi konstitusional KY dengan berbagai kewenangan yang kemudian dituangkan ke dalam UU No. putusan MK itu bersifat final dan mengikat yang karenanya harus diterima dan dilaksanakan. Ketua I Mahkamah Tinggi Tata Usaha Negara. 6 orang anggota Parlemen yang masing-masing 4 orang dari Majelis Rendah dan 2 orang dari Majelis Tinggi.menjaga dan melindungi kebebasan/kemandirian pengadilan dan hakim. Tetapi MK dengan pilihan paradigma dan dalil serta pasal-pasal yang dipilihnya sendiri telah memangkas hampir semua kewenangan KY. kita suka atau tak suka. Pada saat itu ada semangat bahwa KY dibentuk un- 14 Bunga Rampai . terlepas dari soal benar atau salah. padahal MK hanya boleh memutus atau membatalkan isi UU jika bertentangan dengan isi UUD.

Berdasar diskusi-diskusi di Badan Legislasi (Baleg) DPRRI8 yang kini sedang menyiapkan RUU tentang KY yang baru ada beberapa hal yang sudah dimasukkan di dalam buram (draft mentah) berkaitan dengan lingkup kewenangan KY di masa depan yang beberapa hal di antaranya dapat dikemukakan seperti di bawah ini: 1. Istilah “menjaga dan menegakkan kehormatan. keluhuran martabat serta perilaku hakim” (pasal 1 butir 6 draft Juli 2007) diartikan sebagai upaya yang meliputi pencegahan dan penindakan atas perbuatan hakim. Terkait dengan ini maka di dalam disain baru nanti harus tetap dibuka kemungkinan KY membaca dan mendalami putusan hakim jika terkait dengan dugaan penyimpangan perilaku hakim. KY hanya boleh membaca dan menilai putusan setelah ada vonis tanpa boleh mengubah putusan hakim. 8 Penulis adalah anggota Badan Legislasi DPR-RI yang saat tulisan ini dibuat sedang menyiapkan tiga RUU yang terkait dengan kekuasaan kehakiman yakni RUU tentang MA. baik di dalam kedinasan maupun di luar kedinasan. Hakim tetap bebas memeriksa dan memutus perkara dan putusannya tetap mengikat. Dalam cakupan pengertian yang seperti ini maka pengawasan atas hakim mencakup pengawasan preventif (misalnya dalam hal seleksi hakim) dan pengawasan represif (misalnya pemeriksaan dan penindakan atau penjatuhan sanksi). Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 15 . Di sini meskipun KY boleh membaca putusan hakim tidaklah dapat diartikan bahwa KY boleh melanggar independensi hakim sebab KY tetap tidak boleh mempengaruhi apalagi mengubah putusan hakim. RUU tentang MK. dan RUU tentang KY.tuk memenuhi kebutuhan akan lembaga pengawas ekternal yang mandiri untuk mengawasi perilaku hakim dan hakim yang dimaksud ketika itu adalah semua hakim yang bekerja di lembaga kekuasaan kehakiman. Adalah sulit untuk tidak membolehkan KY membaca dan menilai suatu kasus pengaduan tentang pelanggaran perilaku oleh hakim sebab pada umumnya pengaduan perilaku hakim itu terkait dengan perkara yang kemudian diputus oleh hakim.

Memang di dalam pasal 22 ayat (2) draft Juli 2007 sudah dicantumkan ketentuan bahwa dalam melaksanakan tugas KY tidak boleh mengurangi kebebasan hakim dalam memeriksa dan memutus perkara. 4. Selain itu perlu juga ditentukan pembacaan rekam jejak (track record) melalui telaah atas semua putusan yang pernah dibuat disertai investigasi secara diam-diam tetapi dapat dipertanggungjawabkan. tetapi ketentuan pasal 22 ayat (2) ini tidak terkait secara spesifik bagi kemungkinan pembacaan dan penilaian putusan hakim oleh KY. Untuk tugas ini KY dapat “melakukan pengawasan” atas perilaku hakim serta “memeriksa dan memutus” terhadap dugaan pelanggaran kode etik dan keharusan perilaku baik atas pengaduan masyarakat maupun atas temuan KY sendiri. dapat mewajibkan calon hakim agung menyusun karya ilmiah dengan topik yang telah ditentukan (pasal 18 ayat (2) draft Juli 2007). serta perilaku hakim. keluhuran martabat. Mungkin perlu ditekankan agar pembuatan karya ilmiah tersebut dilakukan seketika di tempat seleksi. sebab konsep dasar yang dianut adalah “sikap pasif” bagi KY dalam arti KY hanya memproses laporan dari masyarakat tanpa boleh mencari-cari kasus sendiri. Tentang sifat putusan KY yang berupa penjatuhan sanksi tertentu seperti pemberhentian. 3. bukan dibuat di rumah atau diserahkan beberapa hari sebelumnya. antara lain.2. Ini dimaksudkan untuk menjaga orisinalitas dan menyaring kemampuan artikulatif setiap calon hakim agung. Untuk melaksanakan wewenang konstitusional (menurut pasal 20 ayat (1) sampai dengan ayat (3) draft Juli 2007) KY mempunyai tugas “menjaga” dan “menegakkan” kehormatan. Dalam upaya melakukan seleksi atas kualitas dan kepribadian calon hakim agung KY. Dalam kaitan ini perlu dipertimbangkan atau ditegaskan tentang apa yang dimaksud “hasil temuan” KY sendiri. Selain itu perlu juga diperhatikan dalam kaitan ini tentang pemberian peluang bagi KY untuk membaca dan menilai putusan hakim yang diadukan atau dilaporkan oleh masyarakat dengan penekanan bahwa hal itu tak boleh bertendensi intervensif yang dapat mempengaruhi putusan berikutnya apalagi sampai mengubah putusan hakim. sebagaimana dimuat Bunga Rampai 16 .

Pengawasan atas MK Sebenarnya garis politik hukum tentang pembentukan KY menginginkan pengawasan atas perilaku hakim oleh KY mencakup semua hakim yang mempunyai fungsi kehakiman. dan pimpinan badan peradilan dimana hakim yang bersangkutan bertugas. Tetapi ketentuan ini harus disertai dengan pemosisian ketentuan di dalam UU lain yang menyatakan bahwa pemberhentian dilakukan setelah melalui pembelaan dan keputusan Majelis Kehormatan Mahkamah Agung dan Majelis Kehormatan Hakim. sedangkan pemberhentian hakim berdasar hasil pengawasan internal MA sendiri tetap harus melalui Majelis Kehormatan Hakim. Mungkin dapat diatur bahwa dengan adanya KY tidak diperlukan lagi pemberian kompetensi bagi Majelis Kehormatan Mahkamah Agung dan Majelis Kehormatan Hakim untuk memutus/merekomendasikan pemberhentian hakim. Ini penting juga karena dalam praktik selama ini masih banyak hakim yang menangani perkara yang ada kaitan dengan kepentingan dirinya. Meskipun ini sudah menjadi asas di dalam hukum tetapi perlu juga dicantumkan di dalam bagian ketentuan tentang kode etik bahwa hakim tidak boleh atau harus mengundurkan diri dari (penanganan) perkara yang ada kaitan dengan dirinya. serta perilaku hakim (pasal 25B ayat (2) draft Juli 2007) ditentukan beberapa larangan bagi hakim. pimpinan DPR.5. Tetapi ketentuan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 17 . Ketentuan ini sangat penting agar maksud keberadaan KY untuk mengawasi dan menentukan sanksi dan tindakan dapat terpenuhi. keluhuran martabat. tetapi tidak tercantum larangan bagi hakim untuk memeriksa dan memutus perkara yang berkaitan dengan dirinya (asas nemo judex in causa sua). Dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Mungkin juga dapat diatur bahwa keputusan KY tentang pemberhentian dapat dilaksanakan tanpa pemeriksaan ulang di Majelis Kehormatan Mahkamah Agung dan Majelis Kehormatan Hakim. di dalam pasal 22B ayat (4) draft Juli 2007. termasuk semua hakim konstitusi. dinyatakan mengikat dan disampaikan oleh KY kepada Presiden dengan tembusan kepada pimpinan MA.

ada yang ingin segera dan ada yang menghendaki ditunda dulu. Putusan MK tentang cakupan pengertian hakim ini. Contohnya. padahal selain sering berdasar pilihan perspektif sepihak putusan MK itu bisa berlawanan dengan fakta hukum lain yang diputus oleh pengadilan. namun di dalam peradilan umum kecurangan itu terbukti dan pelakunya dijatuhi hukuman pidana. juga menimbulkan komplikasi berkait dengan wewenangnya dalam memutus yang harus diterima secara final dan mengikat. Satu-satunya jalan untuk mengembalikan masalah ini ke garis politik hukum yang benar hanyalah melalui amandemen konstitusi yang harus menegaskan tentang itu secara eksplisit. sebab kita tak bisa membiarkan MK dan hakim-hakimnya menjadi lembaga super yang tak bisa diawasi. selain banyak memberi angin segar bagi kehidupan ketatanegaraan yang lebih sehat. MK pernah menyatakan menolak gugatan permohonan pembatalan hasil perhitungan suara dalam pemilu di suatu daerah karena terjadi kecurangan. 18 Bunga Rampai . sesuai dengan ketentuan pasal 24C UUD 1945.tentang ini yang sudah dimuat dengan tegas di dalam UU tentang KY dibatalkan oleh putusan MK yang menyatakan bahwa hakim dalam pengertian pasal 24B UUD 1945 tidak mencakup hakim konstitusi karena selain konteksnya hanya dengan hakim agung pasal 24B yang menentukan pembentukan KY itu lahir lebih dulu daripada pasal 24C yang menentukan pembentukan MK sebagai lembaga negara. Karena putusan MK bersifat final dan mengikat maka fakta hukum di pengadilan umum itu tidak dapat mengubah lagi putusan MK yang secara substantif nyata-nyata salah. Memang setelah empat tahun perjalanan MK. bersifat final dan mengikat sehingga tak bisa dimasukkan lagi di dalam UU tentang KY yang baru nanti. ada yang ingin partial dan ada yang ingin komprehensif. Itulah sebabnya dalam Amandemen UUD 1945 berikutnya9 kita harus merumuskan dengan cermat tentang pengawasan terhadap hakim konstitusi dan tentang cara mengatasi jika putusan MK yang bersifat final dan mengikat itu ternyata tidak sesuai dengan politik hukum di dalam konstitusi dan bertentangan dengan fakta hukum yang kemudian muncul. 9 Wacana untuk melakukan amandemen kelima atas UUD 1945 pada saat ini sedang gencar.

Bahan Pustaka AV Dicey, An Introduction to Study of the Law of the Constitution, 10th edition, English Language Book Society and Mac Millan, London, 1971. Carl J. Friedrich, Constitutional Government and Democracy: Theory and Practice in Europe and America, Weldham, Mass: Blaisdell Publishing Company, 5th edition, 1967. David Kairys, The Politics of Law, a Progressive Critique, Pantheon Books, New York, 1982. C.F. Strong, Modern Political Constitution, The English Language Book Society, Sidgwick and Jackson Limited, London, 1966. Erwin Chemerinsky, Constitutional Law, Principles and Policies, Aspen Law and Business, New York, 1997. Hans Kelsen, General Theory of Law and State, Russell and Russell, New York, 1973. Jimly Asshiddiqie, ”Telaah Akademis Perubahan Undang-Undang Dasar 1945,” dalam Jurnal Demokrasi dan HAM, Volume 1 No.4 Tahun 2001. K.C. Wheare, the Modern Constitutions, Oxford University Press, London-New York-Toronto, 3rd Impression, 1975. Moh. Mahfud MD, Politik Hukum di Indonesia, LP3ES, Jakarta, 1998. Moh. Mahfud MD, Pergulatan Politik dan Hukum, Gama Media-Ford Foundation, Yogyakarta dan Jakarta, 1999. Moh. Mahfud MD, Hukum dan Pilar-pilar Demokrasi, Gama Media- the Ford Foundation, Yogyakarta dan Jakarta, 1999. Moh. Mahfud MD, Amandemen Konstitusi dalam Rangka ReformasiTata Negara, UII Press, Yogyakarta, 1999. Moh. Mahfud MD, Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia, PT Rinneke Cipta, Jakarta, 2000. Moh. Mahfud MD, Dasar dan Struktur Ketatanegaraan Indonesia, PT Rinneke Cipta, Jakarta, 2001. Moh. Mahfud MD, Membangun Politik Hukum, Menegakkan Konstitusi, LP3ES, Jakarta, 2006. Moh. Mahfud MD, Perdebatan Hukum Tata Negara Pasca Amandemen UUD 1945, LP3ES, Jakarta, 2007.

-

Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan

19

-

Moh. Mahfud MD, Hukum Tak Kunjung Tegak, PT Citra Aditya Bhakti, Bandung. 2007. RM AB Kusuma, Lahirnya Undang Undang Dasar 1945, Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta, 2004. Sri Soemantri M, ”Undang-Undang Dasar 1945, Kedudukan dan Artinya dalam Kehidupan Bernegara,” dalam Jurnal Demokrasi dan HAM, Vol. 1 No. 4 Tahun 2001. Sri Soemantri, Prosedur dan Sistem Perubahan Konstitusi, PT Alumni, Bandung, Edisi Kedua, Cetakan Kesatu, 2006.

20

Bunga Rampai

Perubahan Bidang Politik dan Pengaruhnya Terhadap Reformasi Peradilan
Arbab Paproeka, S.H.
1

Pengantar Semangat egalitarian warga negara – bangsa berdampak signifikan terhadap diskursus-diskursus intelektual dan pembentukan sistem politik Indonesia ketika euforia reformasi dan demokrasi mulai mengemuka di semua ruang publik. Kesadaran diskursif seperti itu menjadi konsensus bersama bagi perwujudan res publica (kepentingan bersama) dalam menata tata kehidupan sosial, politik, ekonomi dan hukum. Atas semua itu, reformasi dan demokrasi dengan ragam pemaknaannya dinilai sebagai tujuan yang harus dicapai ketimbang sekadar menjadi sebuah sarana merebut hasrat kuasa. Dalam banyak pandangan, reformasi dan demokrasi, sejatinya dipahami sebagai imaji ideal kebangsaan yang akan menggiring negara bangsa ke dalam kebajikan dan keadaban. Reformasi dan demokrasi kadang juga diletakkan sebagai nonstrum - obat bagi segala masalah kebangsaan. Kondisi ini memiliki implikasi pada tindakan yang mengarah pada cita ideal tata hidup kebangsaan yang dipandang sebagai ekspresi reformasi dan demokrasi. Namun, dalam sisi yang berbeda, reformasi dan demokrasi sering juga diperspepsikan sebagai imaji yang justru memunculkan sinisme yang tinggi dari entitas negara bangsa. Kondisi ini adalah sebuah refleksi dimana cita ideal mengalami kontradiksi

*

Anggota Komisi III DPR RI

Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan

21

dengan ekspektasi pada situasi faktualnya. Tuntutan untuk melakukan pendalaman demokrasi (a deepening democracy) terhadap negara bangsa yang sementara mengalami masa transisi memang pelik. Terlebih pada sebuah komunitas yang karakter bangsanya cukup heterogen atau plural semisal Indonesia. Sebagaimana Snyder (2000), menjelaskan bahwa sentimen nasionalisme menjadi salah satu faktor yang bisa mengganggu proses demokratisasi. Tesis ini cukup mudah dikenali. Bahwa demokrasi tidak selamanya akan menguntungkan semua kelompok elit politik. Ia bergerak seperti pendulum. Namun biasanya, kelompok elit yang senantiasa berupaya mencegah berlangsungnya proses demokratisasi adalah kelompok elit yang merasa dirugikan dari proses demokratisasi. Modus yang sering digunakan adalah show power melalui pengumpulan kekuat-an inti dengan penguatan isu sentimen nasionalisme. Sentimen nasionalisme ini setidaknya dapat dijelaskan lewat pengkultusan nilai tatanan dalam sebuah komunitas. Atau mungkin juga bisa dijelaskan dalam gugusan negara bangsa. Sentimen nasionalisme dalam gugusan komunitas terpola melalui penuturan klasik, dimana ia terjelma menjadi suatu nilai (value) sebagai suatu bentuk kebaikan umum dalam makna totalitasnya. Lain halnya dengan, Arend Lijphart dalam Latif (2006), justru memberikan ulasan yang optimistik bahwa adalah mungkin untuk mempertahankan pemerintahan demokratis yang stabil dalam sebuah masyarakat plural sepanjang elit-elitnya bersedia bekerja sama. Namun, kerja sama itu tidak akan tercipta dengan sendirinya. Dibutuhkan sebuah kerangka solidaritas bersama yang baru, yang bergantung secara inter alia pada nasionalisme kewargaan (civic nasionalisme). Perspektif ini memang cukup relevan dalam merepresentasikan bahwa demokrasi tidak jatuh dari langit, tetapi melakukan pendalaman demokrasi dibutuhkan konsensus politik dari semua entitas kewargaan untuk membangun komitmen intelektual bagi keberlanjutannya. Nasionalisme yang berakar dari ikatan nation, pada akhirnya begitu untuk didefenisikan. Namun dalam rangka jelajah pemaknaan tentangnya, mungkin dapat dirunut bahwa nation adalah sesuatu yang direkayabayangkan (imagined). Sebagai bentuk direkayabayangkan, maka variannya

22

Bunga Rampai

pun menjadi sangat beragam. Snyder, menyebut ada empat bentuk utama nasionalisme; nasionalisme sipil, nasionalisme SARA, nasionalisme revolusioner dan nasionalisme kontra – revolusioner. Nasionalisme sipil terbentuk jika elite politik yang ada tidak merasa terancam oleh proses demokratisasi, dan kelembagaan negara yang ada cukup kuat untuk menampung proses ini. Ia mendasarkan pada usahanya mempertahankan proses demokratisasi karena dianggap bisa memberikan keadilan. Pada sisi ini, negara menganut prinsip kesetaraan warga negara tanpa memandang suku, warna kulit, agama dan keturunannya. Nasionalisme SARA sebuah solidalitas yang dibangkitkan berdasarkan budaya, agama, bahasa, sejarah dan yang sejenisnya. Nasionalisme SARA terbentuk jika elite politik yang ada merasa terancam oleh proses demokratisasi, dan kelembagaan negara juga masih lemah. Jika terdapat kelompok dominan lebih dari satu maka proses demokratisasi mungkin akan mengakibatkan terjadinya perpecahan di negara tersebut, dan sebagai gantinya akan muncul satu negara federal, atau bahkan beberapa negara baru. Nasionalisme revolusioner merupakan usaha untuk mempertahankan suatu perubahan politik yang melahirkan rezim baru yang dinilai lebih baik dari rezim sebelumnya. Disini terdapat kecenderungan bahwa kekuatan baru mempertahankan perubahan senantiasa menggunakan nasionalisme revolusioner. Nasionalisme terjadi kalau elit politik yang ada tidak dirugikan oleh proses demokratisasi, dan lembaga-lembaga negara yang mau mempertahankan rezim lama lemah. Sedangkan nasionalisme kontra – revolusioner merupakan upaya membangun solidaritas untuk mempertahankan kelembagaan negara yang ada terhadap perubahan. Biasanya nasionalisme kontra – revolusioner digunakan sebagai instrumen untuk mengembalikan militer ke pentas politik dengan mengatakan bahwa di bawah rezim sebelumnya jauh lebih baik dibanding rezim yang ada sekarang. Masalahnya adalah civil society yang dijadikan sebagai gugus konsep paling mondial belakangan bagi pembelajaran sosial secara kolektif dan produksi simbol-simbol politik secara dominan justru disuplai oleh kelompok komunal. Sehingga demikian, Indonesia pada kurun waktu ini masih merupakan sebuah masyarakat komunal, bukan asosiasio-

Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan

23

nal. Padahal ekspektasi mengenai civil society adalah ketika asosiasi-asosiasi ini terbentuk menjadi sebuah komunitas produktif sebagai katalis bagi proses transformasi masyarakat dari semangat komunalisme menuju kewarganegaraan yang lebih beradab. Di sisi lain, intelegensia-politisi yang diharapkan membimbing komunitas politik ke arah keadaban politik (political civility) dalam kenyataannya justru menyuburkan tradisi komunalisme. Kondisi ini kian diperparah dengan eksistensi kaum komunitas epistemik sebagai penyangga dalam melahirkan gagasan orisinalitas tampaknya juga harus terjebak dengan gugusan pragmatisme yang luar biasa. Penuturan Gunawan (2006) mungkin benar bahwa pragmatisme sendiri memang lahir sebagai anak haram dari sebuah pergulatan panjang, untuk menjawab berbagai persoalan yang terjadi di abad lalu. Fundamen pemikirannya yang meletakkan pada benar tidaknya suatu dalil tergantung pada manfaatnya bagi manusia, dan tentu saja manfaat pertama yang menikmatinya adalah diri sendiri. Sebetulnya, pragmatisme tidak memiliki perbedaan yang cukup jauh dengan patron Machiavelli, “the end justifies the means”. Keduanya memiliki konsekuensi bagi lahirnya keserakahan dan pengkhianatan terhadap nilai-nilai moralitas. Bahkan oleh Juliean Benda dalam Gunawan (2006) justru memandang pragmatis lebih radikal. Bahwa pragmatisme merupakan bentuk pengingkaran terhadap nilai-nilai moral yang universal. Pragmatisme dituding sebagai pabrik nilainilai moral yang semu dan artifisial, yang diproduksi sesuai dengan keadaan dan kebutuhan akan kekuasaan. Tak heran juga bila “pelacur-pelacur intelektual” kian marak bermunculan, yang bekerja berdasarkan permintaan pasar. Praktek ini seolah mirip “panggadaian intelektual”, yang menularkan efek cukup luar biasa. Efek yang patut dipelajari tradisi pencerahan yang melekat pada komunitas epistemik sebagai karakter pokoknya pada gilirannya makin absurd. Padahal dalam tataran normatif-etis, masa transisi seperti ini, justru keberadaan komunitas epistemik diharapkan menjadi avantgarde bagi terciptanya tatanan bangsa yang lebih beradab, bukannya harus ikut dengan permainan “kuasa politik”, yang senantiasa berada dalam pusaran seni merekayasa. Kegundahan lain yang kerap juga menjadi mo-

24

Bunga Rampai

Mashab bendaian menilai bahwa intelektual harus merentangkan jarak dengan kekuasaan. keduanya melihatnya dalam sisi yang berlawanan. Yang mungkin dipersalahkan ketika kekuasaan dan intelektual diintegrasikan sebagai perusak nilai tatanan. Dalam Gunawan (2006) antara sisi intelektualitas dengan kekuasaan memang memiliki korelasi. Padahal salah satu prasyarat lahirnya konsolidasi demokrasi adalah perlunya masyarakat sipil yang bebas dan aktif dalam mengontrol tata kerja demokrasi. sementara mashab Gramscian malah melihat dalam sisi yang terbalik. yakni mashab Bendaian dan mashab Gramscian membedahnya seperti berikut. antara intelektualitas dan kekuasaan sebetulnya bukanlah dualisme yang harus dipandang sebagai sesuatu yang berlawanan. yang memberikan sindiran halus bahwa “buat apa sekolah kalau hanya untuk mengeruk uang”. sekadar mendengungkan kebenaran dari pucuk menara gading.mok bagi komunitas epistemik ini adalah ketika tidak mampu menempatkan dirinya sebagai medium perekat bangsa. Baginya cendekiawan harus memihak pada kelas tertentu. Bahkan Ivan Illich dalam Gunawan (2006) menyebut Deschooling Society. Keduanya adalah dualitas yang saling membentuk. tetapi kepicikan. Sehingga yang terjadi bukan lagi kadar pragmatisme. menjadi pelumas dalam mesin pemerintahan. Sehingga demikian. Persekutuan ini dinilai mengkhianati jati diri intelektual (La Trahison Des Clercs). Baginya justru menuding ilmuwan yang steril dari persoalan aktual di masyarakat. Justru soal seperti ini. Pada perspektif yang berbeda. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 25 . Kekuasaan menjadi cukup penting bagi kelompok-kelompok intelektual sebagai medium transformasi dalam membentuk komitmen-komitmen baru bagi kepentingan negara bangsa. adalah para pengkhianat intelektual (La Trahison de la Trahison de clercs). Malah yang muncul justru memperlihatkan gejala sebagai kekuatan yang sangat pasif terhadap isu-isu kebangsaan. dosa terbesar yang tak terampunkan dari seorang cendekiawan adalah bila yang bersangkutan turut berputar. Walau dalam banyak pemikiran. Pergulatan panjang ini tentu saja bukan menjadi sebuah jebakan untuk harus memihak. pada gilirannya juga menggiring kita untuk berpikir dan bertindak secara pragmatis. Dua mashab.

kadang dipahami sebagai fase yang serba “memungkinkan”. Demokrasi dianggap sebagai pemenang karena berhasil melumpuhkan lawan tangguhnya otoritarianisme.Dalam belantara politik. Gagasan demokratisasi senantitasa terikut dengan wacana berkembangnya konsep konsolidasi demokrasi. Ketika rezim otoritarianisme Orde Baru runtuh. sementara di sisi lain. rute perjalanan transisi. Celakanya. ketika politik ditempatkan sebagai sarana agregasi kepentingan personal. sesuatu kualitas yang sangat mulia namun tak menjadikan dirimu apa-apa”. Namun. demokrasi pun tampil sebagai pemenang. Imperium dan kediktatoran telah runtuh. tuturan bahasa ini tidak berlabuh dalam tradisi politisi kita untuk menggiring reformasi peradilan ke dalam laboratorium kehancuran. Transformasi Politik: Sebagai Pelatuk Perubahan Ketika tembok Berlin runtuh pada tahun 1989. maka isu demokratisasi kian marak dibicarakan dan tampil sebagai euphoria politik yang tak tertandingi. kapan suatu negara dikatakan sudah terkonsolidasi? Beberapa sarjana bersepakat bahwa untuk menandai demokrasi telah terkonsolidasi. Sisi lainnya adalah kesetiaan. ketika mengatakan bahwa “pengkhianatan merupakan esensi dari politikus yang sukses. sehingga semakin menjauhkan sisi keadaban publik. Segera setelah itu. Ia kemudian menjelma menjadi leviathan yang teramat beringas karena meleburnya nilai-nilai intelektualitas dalam kekuasaan. Liberalisme telah mengalahkan dua lawan tangguhnya: komunisme dan nasionalisme fasis. Tetapi semoga saja. transisi boleh jadi mengarah pada otoritarianisme baru (re-otoritarianisme). karakter picik bagi seorang politisi kadang ditemukan. ketika terjadi dua kali pergantian kekuasaan (two turnover 26 Bunga Rampai . karakteristik politisi seperti ini malah mendapat pembenaran oleh Richard Smith dalam Gunawan (2006). bayangan indah sempat memukau imajinasi orang Amerika. Dalam menjelaskan gejala ini. Dalam satu sisi. oleh banyak pemikiran menjelaskan dua rumus yang bisa diklasifikasi. Pendulum ke arah demokratisasi terjadi pasca isu reformasi meledak tahun 1998. Isu konsolidasi demokrasi berakar dari sebuah konsep transisi antara berakhirnya rezim otoritarianisme ke demokratisasi. transisi boleh juga mengarah pada lahirnya konsolidasi demokrasi.

Penuturan Latif (2006) meneragkan secara memadai bahwa dari sisi prosedur demokrasi. Praktek demokrasi yang sementara berlangsung. sehingga demokrasi substantif yang sejatinya menjadi “buruan” kaum demokratik masih jauh dari memadai. Lain halnya bila menggunakan ukuran kedua. Alasan lain juga yang relevan dengan itu adalah kualitas partisipasi publik dalam mengakses lembaga politik formal maupun institusi hukum masih terbilang sangat lemah. Kontrol demokratis yang sejatinya menjadi kunci dalam penerapan demokrasi substantif. perkembangan ini hanyalah tahap awal dari proses panjang menuju konsolidasi demokrasi. tetapi demokrasi men- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 27 . Tetapi. memang baru sebatas belajar merangkak. pada kadar tertentu bahkan belum menunjukkan suatu perubahan yang signifikan. mereka menilai bahwa demokrasi dianggap sudah terkonsolidasi apabila kekuasaan sudah dua kali pindah tangan melalui proses pemilihan umum yang luber-jurdil. Bila menggunakan ukuran pertama.rule). maka fase transisi belum dapat disebut telah terkonsolidasi karena prasyarat-prasyarat tersebut belum memenuhi secara memadai. Indikatornya adalah rule of law sebagai syarat mestinya belum dapat diapresiasi secara memadai dalam mengartikulasikan prinsip-prinsip demokrasi dalam melakukan penataan kelembagaan. Namun. Tahap konsolidasi menghendaki perhatian pada segi-segi substantif. transisi demokrasi Indonesia telah siap untuk dikonsolidasikan. maka fase transisi demokrasi dapat dikualifikasi telah terkonsolidasi karena sirkulasi kekuasaan melalui pemilu sudah berlangsung sejak pemerintahan Abdurrachman Wahid – walau dalam perjalanan pemerintahannya berhenti ditengah jalan setelah impeacht oleh MPR – yang kemudian digantikan Megawati Soekarno Putri untuk melanjutkan episode pemerintahan yang tersisa hingga pemilu 2004. Bagi yang menganut rumus ini. Demokrasi bukan hanya sekadar menjadi medium penghapusan institusi – institusi politik yang represif dan sarana pergantian regime yang otoriter. ada pula yang menyebut bahwa demokrasi sudah terkonsolidasi jika ia merupakan permainan satu-satunya (the only game in town) untuk memilih pejabat publik. Fase perjalanannya baru mencapai pada pemenuhan prosedur-prosedur demokrasi formal.

Sehingga demikian. demokrasi harus menjadi jaminan bagi terwujudnya esensi pemberdayaan rakyat (popular empowerment) dan pertanggungjawaban sistemik (systemic responsiveness) (Latif. babakan baru ini patut menjadi referensi awal untuk tidak terjebak pada kepongahan sejarah. Sehingga praktek abuse of power. 2006). menghendaki adanya proses checks and balances terhadap tiga lembaga negara. Prinsip checks and balances ini. Ini adalah sebuah fase sejarah yang patut direkam sebagai memoar penyegaran kembali dalam tata hidup berbangsa dan bernegara. Amendemen konstitusi yang dilakukan. Kepenatan dan kegelisahan yang selama ini hidup dengan belenggu otoritarianisme. Gelombang demokratisasi ini kian menunjukkan perkembangan yang cukup positif dari semua entitas bangsa untuk membangun konsensus-konsensus baru. tentu memiliki karakter fungsi. Konsensus tersebut kemudian diwujudkan melalui sebuah kesepakatan untuk melakukan amandemen konstitusi secara mendasar. yaitu legislatif. amendemen konstitusi telah meletakkan sebuah kerangka pikir untuk beberapa hal. yakni adanya transformasi struktural dan kultural dalam sistem ketatanegaraan di republik ini yang harus segera dikomunikasikan. tugas dan wewenang yang berbeda. eksekutif dan yudikatif. Distribusi kekuasaan (distribution of power) yang disangga oleh tiga lembaga negara berbeda. paling tidak menjadi momentum penting dalam memulai babakan baru dalam menata negara bangsa. Pertama. Sebagai pemantiknya. yang kerap menjadi virus – bila tidak ingin 28 Bunga Rampai . tentu juga menjadi penting untuk mencegah terjadinya sentralisasi kekuasaan pada institusi negara-negara tertentu. Namun disisi yang berbeda. konsolidasi demokrasi mempersyaratkan perlunya dilakukan transformasi struktural dan kultural secara mendasar. kini menjadi pelatuk perubahan dalam menata pola hubungan kelembagaan negara. Rentetan peristiwa ini tentu menjadi kisah menarik untuk dipelajari karena memiliki pesan mulia untuk segera diartikulasikan ke ruang publik. Dan setidaknya. seolah kembali memberi energi baru. Begitulah titahnya bahwa amendemen konstitusi.coba merepresentasikan momentum bagi perbaikan kualitas bangsa yang lebih adil dan beradab.

partai politik yang berfungsi. prinsip rule of law harus terinternalisasi ke dalam institusi-institusi negara sebagai Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 29 . memburu keberadaban publik. Ini pun juga dapat dikonsolidasikan bila transisi demokrasi bertransformasi menjadi satu kerangka institusional mapan yang terinternalisasi mendalam pada para aktor sosial dan politik. yang memiliki kerangka kerja secara berbeda. adanya transformasi sistemik. yang dari sistem pemerintahan sentralistik ke sistem pemerintahan desentralistik. Derajat pemapanan institusi demokrasi dan sekaligus menjadikan institusi demokrasi lebih berwibawa adalah ketika pejabat publik menempatkan rule of law sebagai dasar pijakannya. memungkinkan adanya aksesibilitas publik yang tinggi dalam pencapaianpencapaian demokrasi substantif. yang konsekuensi logisnya berimplikasi pada perubahan pola hubungan kelembagaan pusat – daerah. Bila Mahkamah Konstitusi dibentuk dengan filosofi “penjaga konstitusi”. penciptaan pertanggungjawaban publik yang akuntabel dan transparan serta menghapus segala keserakahan dalam penyelenggaraan tata negara bangsa. dan didukung oleh adanya masyarakat madani yang berdaya. tentu saja muaranya adalah penghormatan nilai-nilai keadilan (justice). dalam wilayah legislatif dimunculkannya Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai perwakilan perseorangan yang dipilih berdasarkan region. Rentetan perubahan ini. dalam hal ini Mahkamah Konstitusi dan Komisi Yudisial. Namun demikian. budaya politik yang independen. Prasyarat dalam memapankan institusi demokrasi.disebut penyakit – tidak menggerogoti praktek penyelenggaraan negara secara bar barian. baru dapat mencapai titik maksimun ketika infrastruktur institusional demokrasi eksis. Bagaimanapun juga. Kelima. maka Komisi Yudisial dihadirkan sebagai “penjaga mafia peradilan” dengan menyandang predikat sebagai lembaga yang hanya sifatnya auxiliary. Keempat. Kedua. pemerintahan yang menjunjung tinggi hukum dan ekonomi yang efisien (Latif. Ketiga. mewujudkan cita ideal ini tentu saja mesti dibarengi dengan pemapanan institusi-institusi demokrasi. munculnya lembagalembaga baru (new institutions) dalam lingkungan kekuasaan kehakiman. 2006). walaupun keberadaannya belum dapat dikualifikasi memiliki hubungan yang sifatnya joint session.

pada konteks kekinian penerapan rule of law sebagai aturan main (rule game) dalam berbangsa dan bernegara. Di negara manapun yang menerapkan prinsip-prinsip demokrasi modern. Aparatur penegak hukum yang terintegrasi dalam konsep criminal justice system (kepolisian. Judicative Power: Sebuah Cermin yang Retak Sebuah pepatah latin kuno. transparan. akuntabel dan responsif di mata publik.kerangka menghadirkan institusi negara yang kuat. Adanya praktek diskriminasi atau tebang pilih dan tebang pesanan serta maraknya praktek mafia peradilan di tubuh kekuasaan kehakiman adalah contoh kecil dari sekian banyak kisah yang dapat disajikan. hakim. tampaknya masih jauh dari memadai. Kekuasaan kehakiman (judicative power) memang asa bagi pencari keadilan. Padahal kegagalan menegakkan prinsip rule of law dalam penegakan hukum dengan gilirannya akan menjadi kerikil-kerikil tajam dalam memapankan institusi – institusi demokrasi. pengacara dan lembaga pemasyarakatan) belum menunjukkan suatu kinerja yang menggembirakan. kejaksaan. Inilah sisi lain yang harus dipertaruhkan sebagai seorang hakim. Sayangnya. demokratis. Tersimpan sejuta harap dari masyara- 30 Bunga Rampai . juga harus dipandang sebagai sebuah kebutuhan dalam mengatur tata laku pejabat publik untuk membedakannya dengan negara bar barian. Pepatah ini sejatinya mencoba merefleksikan eksistensi dunia peradilan yang teramat mulia. rule of law selalu menjadi instrumen khusus dan menjadi indikator utama dalam menilai demokrasi telah dikonsolidasikan. Bahwa pengadilan adalah “nec curia deficeret in justitia exhibenda” (pengadilan adalah istana di mana dewi keadilan bersemayam untuk menyemburkan aroma keadilan tiada henti). Ketika para hakim harus menjelma dan bertindak sebagai “mahluk yang suci” karena menjadi wali Tuhan di muka bumi ini. mungkin cukup relevan menggambarkan mengenai mulianya sebuah lembaga peradilan. Beban moral ini memang cukup berat karena pertanggungjawabannya bukan hanya bersifat horizontal tetapi yang jauh lebih dalam adalah tanggung jawab vertikal kepada Tuhan. berwibawa dan tempat bersemayamnya prinsip – prinsip ke-tauhidan sebagai asas universal yang suci. Prinsip rule of law.

mungkin ada benarnya apa yang dikatakan oleh Jeremy Bentham (Gunawan. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 31 . Moralitas hanya diperlakukan bak jubah untuk melakukan penyusupan dan sekaligus sebagai pembenaran atas putusan-putusannya. 2006) ketika mengatakan bahwa para aparat penegak hukum adalah segerombolan orang yang dapat mengangkangi hukum tanpa konsekuensi hukum. Celakanya. yakni karena adanya hukum yang menjadi refleksi dari kepentingan kelompok elite yang berkuasa (the higher a group’s political and economic position). Sayangnya. Mereka lupa bahwa disisi lain. malah berubah bentuk menjadi sesuatu yang utopis.kat agar keadilan melebur dan menyatu dengan dambaannya. Bahkan keduanya mempertegas bahwa penyimpangan dalam dunia peradilan terjadi karena “judges must rely on their personal values when they make decisions in trouble cases”. kehakiman yang seharusnya menjadi corong bagi terciptanya keadilan bagi semua. Bahkan para pakar kriminolog pernah melakukan penelitian mengenai penyimpangan dalam dunia peradilan. Kegelisahan mengenai tata kerja kekuasaan kehakiman (judicative power) di Indonesia sebetulnya bukan cerita baru. Keprihatinan terhadap sisi gelap penegakan hukum pada ruang publik sudah menjadi momok yang senantiasa terus dipersoalkan. Kegundahan ini sebetulnya sudah lama berlangsung. Order. Pada sisi inilah kekuasaan kehakiman tampil sebagai sebuah cermin yang retak karena belum mampu merekatkan nilai-nilai keadilan masyarakat yang masih berserak. kejaksaan. ekspektasi ini tampaknya akan terkikis dengan sendirinya ketika menyaksikan drama peradilan yang terlalu bobrok. moralitas yang selalu diperdengarkan dengan nyaring oleh penegak hukum dan dipandang cukup mulia. menuliskan bahwa kebengkokan itu sudah dimulai dari segi hukumnya. Sisi lain yang paling potensial melahirkan kejahatan (judicial crime). gilirannya pun tak bisa berbuat banyak menghadapi derasnya “permainan kotor” di dunia institusi hukum. Pada konteks ini. Seidman dalam Gunawan (2006) dalam bukunya yang berjudul “Law. William J. Chamblis dan Robert B. and Power”. Institusi kepolisian. ada celah yang menganga di insitusi peradilan yang bisa disusupi. Sisi keadilan (justice) masyarakat yang terus terbelenggu dengan maraknya praktek mafia yang berlangsung disekitar proses penegakan hukum.

(http:// www.yakni adanya kecenderungan serta upaya hakim meraup kekayaan dan kekuasaan dari pekerjaan yang diembannya. Imigrasi 90%. BPN. Sejalan dengan itu. Bahkan. mereka yang berada di pihak yang benar kehilangan hak didengar sedangkan yang bersalah tidak tersentuh hukum. dan Pajak 76%. Mesir. Dua katagori korupsi peradilan yakni campur tangan politik dan penyuapan juga sangat jelas terlihat. Kolombia. Global Corruption Report 2007 yang diluncurkan oleh Transparency International. Hal ini sangat relevan dengan hasil Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia 2006 yang dirilis oleh Transparency International (TI) Indonesia. sebuah koalisi global antikorupsi memilih tema Corruption in Judicial Systems. Lebih memalukan lagi. Yordania. mereka tidak canggung-canggung dalam meminta suap. Uang serta pengaruh politik dalam hukum memecah sistem keadilan sosial: satu sistem bagi si kaya. Rusia. dan seterusnya. BPN 84%.ti. pada sisi lain bagi si miskin. Turki. 32 Bunga Rampai . Militer dll) masih dipersepsikan sangat korup. mereka yang miskin tidak dapat berkompetisi (http://www. Imigrasi. ketua Transparency International menegaskan dengan adanya korupsi lembaga peradilan. Polisi 78%. hal ini dikonfirmasikan oleh laporan para pelaku usaha bahwa inisiatif suap lebih banyak dilakukan oleh aparat. “Jika uang dan pengaruh politik menjadi dasar keadilan. Huguette Labelle.id). Korupsi dianggap melumpuhkan sistem yudisial di seluruh dunia serta menghalangi hak asasi manusia akan peradilan yang adil dan tidak berpihak. Daniel Kaufman dalam laporan Bureaucarti Judiciary Bribery tahun 1998 menyebutkan.or.id). Pajak.ti. Bea & Cukai. disusul Bea dan cukai 95%. hasil survei nasional tentang korupsi yang dilakukan Partnership for Governance Reform pada 2002 juga menempatkan lembaga peradilan di peringkat lembaga terkorup menurut persepsi masyarakat. Peradilan. Survey IPK itu menemukan bahwa lembaga vertikal (Polisi. Venezeula. korupsi di peradilan Indonesia memiliki ranking paling tinggi di antara negara-negara seperti Ukraina. Pengadilan dilaporkan merupakan lembaga yang paling tinggi tingkat inisiatif meminta suap hingga 100%. Relevansi Indonesia yang dilaporkan Global Corruption Report 2007 telah menunjukkan bahwa sistem peradilan di Indonesia masih sangat korup dan bobrok.or.

yang pada akhirnya membuat praktek hukum diwarnai judicial corruption. 38% tidak ada persamaan di muka hukum (there is no such thing as equality before the law). Fakta-fakta faktual yang telah dibeberkan seperti di atas. 57% sistem hukum masih tetap korup (the legal system is just as corrupt as it has always been problem). Upaya pembenahan dan penataan ini dilakukan. tidak serta merta harus dilakukan pembiaran. setidaknya menjadi unsur korektif bagi Mahkamah Agung untuk menata kembali berbagai sisi gelap yang menyelimuti institusi peradilan. Realita sistem hukum dan peradilan di negeri ini. yakni 45% dibandingkan lembaga lainnya. upaya sistemik mesti dilakukan. http://ahmadirfan.com/ Kondisi ini tentu saja tidak dapat dijadikan sebagai pembenaran dalam menjustifikasi dan terus membiarkan maraknya praktek korupsi dalam dunia peradilan. nampaknya tergambarkan dalam penelitian yang dilakukan oleh The Asia Foundation & AC Nielsen yang antara lain menyatakan: 49% sistem hukum tidak melindungi mereka (the legal system does not protect them).100 hakim dikategorikan bermasalah. Mahkamah Agung sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam dunia peradilan. walau butuh energi banyak untuk menafasinya. bahwa berdasarkan pengaduan masyarakat menyebutkan penyimpangan di lembaga peradilan menempati urutan tertinggi.Hal tersebut diperkuat dengan laporan Komisi Ombudsman Nasional (KON) tahun 2002. Bahkan data terakhir yang dilansir Komisi Yudisial menyebutkan bahwa 2.440 hakim atau sekitar 40 persen dari total 6. Di tengah buruknya kinerja peradilan saat ini. Sehingga demikian. sejatinya mampu menempatkan posisinya pada kerangka yang lebih intensif melakukan pengawasan internal terhadap perilaku koruptif dalam dunia peradilan. terutama dalam kaitan melakukan reformasi peradilan secara komprehensif sebagai upaya mengembalikan keprcayaan masyarakat terhadap sistem peradilan yang sekarang mengalami keterpurukan. wordpress. Episode waktu yang tersisa masih terlalu panjang untuk memperbaikinya. terutama dalam kerangka melakukan harmonisasi dan pembenahan sistem hukum kekuasaan kehakiman menjadi mutlak diprioritaskan. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 33 .

Perubahan UU pokok-pokok kekuasaan kehakiman. Pertama. Pasal 53 UU Nomor 30 Tahun 2002. setidaknya karena beberapa hal. walaupun belum terlalu memadai. Padahal kinerja lembaga ad hoc dinilai cukup memberi nilai lebih bagi kembalinya kepercayaan masyarakat terhadap pemberantasan tindak pidana korupsi. arah untuk melakukan perbaikan sudah mulai ditunjukkan. Dalam laporan korupsi global tahun 2007. Kedua. yang sama kelasnya dengan pencurian.Pada sisi regulasi. pembentukan kedua lembaga ini seperti harus bergerak tanpa amunisi. 72 perkara korupsi dengan 171 terdakwa korupsi (36%) telah divonis bebas oleh pengadilan. UU Peradilan Agama dan sementara berjalan adalah perbaikan UU Peradilan Militer. Kemudian pada aspek kelembagaan. UU Peradilan Tata Usaha Negara. Celakanya. Sebaliknya sepanjang periode tahun 2005-2006 ada kurang lebih 203 perkara yang telah diperiksa dan diputus oleh pengadilan. Timtas Tipikor dengan resmi harus dibubarkan karena masa pembentukannya sudah berakhir hanya dua tahun. Tapi sayangnya. Perjalanan panjang untuk memberantas tindak pidana korupsi pada gilirannya pupus sudah. Sebut saja perubahan berbagai kebijakan yang terkait dengan kekuasaan kehakiman. dibentuklah Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi melalui UU Nomor 30 Tahun 2002 dan Pembentukan Timtas Tipikor melalui Keppres Nomor 11 Tahun 2005. dan sele- 34 Bunga Rampai . Sebagaimana Andi Hamzah berpendapat bahwa korupsi bukanlah extra-ordinary crime artinya. yang menginginkan agar pengadilan tindak pidana korupsi sebaiknya dihilangkan. putusan Mahkamah Konstitusi ini justru diinterpretasi lain oleh pihak-pihak tertentu. Sebab selama dua tahun terakhir (2005-2006) sedikitnya 29 perkara telah diperiksa dan diputus oleh pengadilan tipikor secara lebih cepat. mengenai kehadiran pengadilan tindak pidana korupsi harus dicabut oleh Putusan Mahkamah Konstitusi karena dinilai bertentangan dengan konstitusi. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Undang-Undang Komisi Yudisial. Seluruh kasus korupsi divonis bersalah dan tidak ada satupun yang vonis bebas. eksistensi Pengadilan ad hoc Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) perlu diperkuat. UU Mahkamah Agung. korupsi hanya kejahatan biasa saja.

tetapi pada konteks ini lebih menggambarkan adanya instrumen kelembagaan yang memiliki spirit untuk berbuat kebajikan. Perumpamaan ini bukan ditujukan untuk menyebut Komisi Yudisial “sejenis tentara”. Bahasa semantik ini terinspirasi dari sebuah ilustrasi film. Orang-orang yang terpilih menjadi the musketter adalah mereka yang memiliki keterampilan (skill) khusus. Komisi Yudisial: The Musketter Kekuasaan Kehakiman The musketter sebetulnya sebuah istilah yang digunakan dalam menjelaskan keterkaitan antara keberadaan Komisi Yudisial dengan pelaksanaan kekuasaan kehakiman. Posisinya cukup mulia dan tidak mudah diintervensi oleh pihak mana pun. termasuk oleh raja sendiri. 2007) Dalam sisi yang berbeda. sudah tentu diperlukan dalam memberikan assessment yang lebih obyektif sebagai kerangka mengembalikan kepercayaan publik terhadap dunia kekuasaan kehakiman yang telah kehilangan wibawa. Fakta tersebut menunjukan koruptor lebih banyak dapat dibuktikan kesalahannya di pengadilan ad hoc Tipikor daripada di pengadilan negeri biasa (Lubis. dimana dihadirkannya sebuah institusi baru yang populer dengan Komisi Yudisial.bihnya lebih banyak divonis ringan. Secara imperatif etis. Komisi Yudisial berfungsi sebagai the musketter yang bertugas menjaga kehormatan dan kewibawaan kekuasaan kehakiman. juga ditemukan adanya struktur lembaga baru dalam konstitusi. dimana the musketter ini memiliki tugas pokok dalam menjaga wibawa kekuasaan. Kehadiran Komisi Yudisial dalam struktur ketatanegaraan di Indonesia. Kehadiran Komisi Yudisial dalam lingkaran kekuasaan kehakiman. yang pola kerjanya seolah bertindak seperti spionase dan penjaga raja untuk mencegah terjadinya penyimpangan oleh pejabat-pejabat istana. pada sisi normatif sudah diamini dalam Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 35 . terutama perilaku pejabat kekuasaan kehakiman yang dinilai menyimpang. Sebagai institusi yang memiliki sifat khas state auxiliary. setidaknya membawa spirit baru dalam menyingkap sisi gelap dunia peradilan saat ini. The musketter adalah “sejenis tentara” sebagai pasukan khusus istana kerajaan yang bertugas untuk mencegah adanya bahaya laten dalam kerajaan Perancis di saat itu.

Kehadiran Komisi Yudisial sebetulnya menjadi salah satu jawaban atas gagalnya institusi Mahkamah Agung dalam menjadikan kekuasaan kehakiman lebih berwibawa dan in- 36 Bunga Rampai . tingkat efisiensi dan efektivitas kekuasaan kehakiman (judicial power) akan semakin tinggi dalam banyak hal. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. (3) dengan adanya Komisi Yudisial.konstitusi. Dalam ketentuan Pasal 24B Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan UndangUndang No. argumen utama bagi terwujudnya (raison d’atre) Komisi Yudisial di dalam suatu negara hukum. Menurut Ahsin Thohari (2004). menjadi landasan hukum yang kuat bagi reformasi bidang hukum dengan memberikan kewenangan kepada Komisi Yudisial untuk mewujudkan checks and balances. karena politisasi terhadap perekrutan hakim agung dapat diminimalisasi dengan adanya Komisi Yudisial yang bukan merupakan lembaga politik. (4) terjaganya konsistensi putusan lembaga peradilan. yaitu fungsi pengawasan. Dalam makna ketat walaupun Komisi Yudisial bukan pelaku kekuasaan kehakiman namun fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman. karena setiap putusan memperoleh penilaian dan pengawasan yang ketat dari sebuah lembaga khusus (Komisi Yudisial). kemandirian kekuasaan kehakiman (judicial power) dapat terus terjaga. sehingga diasumsikan tidak mempunyai kepentingan politik. (2) Komisi Yudisial menjadi perantara (mediator) atau penghubung antara kekuasaan pemerintah (executive power) dan kekuasaan kehakiman (judicial power) yang tujuan utamanya adalah untuk menjamin kemandirian kekuasaan kehakiman dari pengaruh kekuasaan apapun juga khususnya kekuasaan pemerintah. baik yang menyangkut rekruitmen dan monitoring hakim agung maupun pengelolaan keuangan kekuasaan kehakiman. Jadi jelaslah bahwa Komisi Yudisial adalah lembaga negara sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang salah satu wewenangnya adalah melakukan pengawasan terhadap hakim. dan (5) dengan adanya Komisi Yudisial. adalah: (1) Komisi Yudisial dibentuk agar dapat melakukan monitoring yang intensif terhadap kekuasaan kehakiman dengan melibatkan unsur-unsur masyarakat dalam spektrum yang seluas-luasnya dan bukan hanya monitoring secara internal.

bahwa pembentukan Komisi Yudisial sebagai lembaga pengawas eksternal didasarkan pada lemahnya pengawasan internal tersebut. secara terbuka mempublikasikan dirinya untuk menjabat ketua Komisi Yudisial secara ex officio. kedua lembaga ini saling berebut terhadap siapa yang lebih berwenang untuk menyusunnya. Begitu juga disaat munculnya isu penyusunan kode etik hakim. Di beberapa negara yang mengakui keberadaan adanya Komisi Yudisial. memantau proses serta hasilnya (ketiadaan akses).id Namun demikian. Sayangnya. Cukup aneh juga ketika Ketua Mahkamah Agung. Sebut saja Mahkamah Agung dalam banyak kisah belakangan ini. bahwa lemahnya pengawasan internal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. soal seperti ini tidak serta Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 37 . Terutama ketika Komisi Yudisial meminta agar putusan pengadilan menjadi objek pengawasannya. (3) belum adanya kemudahan bagi masyarakat yang dirugikan untuk menyampaikan pengaduan. (2) proses pemeriksaan disiplin yang tidak transparan. jabatan ketua Komisi Yudisial memang dijabat secara ex officio oleh Ketua Mahkamah Agung. Menurut Mas Achmad Santosa.transparansi. www. Sehingga tidak terbantahkan.or. Pergulatan ini semakin diperparah.dependen. Umumnya perspektif mereka malah memandang Komisi Yudisial sebagai lembaga yang akan menggerogoti dan mengintervensi institusi peradilan. (4) semangat membela sesama korps (esprit de corps) yang mengakibatkan penjatuhan hukuman tidak seimbang dengan perbuatan. dalam faktanya tidak serta merta dapat diterima oleh pihak-pihak tertentu. Setiap upaya untuk memperbaiki suatu kondisi yang buruk pasti akan mendapat reaksi dari pihak yang selama ini mendapatkan keuntungan dari kondisi yang buruk itu. Masalah pokok hilangnya wibawa kekuasaan kehakiman adalah terutama tidak efektifnya pengawasan internal (fungsional) yang ada di badan peradilan. antara lain: (1) kualitas dan integritas pengawas yang tidak memadai. ketika Komisi Yudisial meminta perluasan kewenangan untuk menjatuhkan sanksi terhadap hakim yang dinilai bermasalah. justru menunjukkan sikap yang sangat resisten terhadap keberadaan Komisi Yudisial. dan (5) tidak terdapat kehendak yang kuat dari pimpinan lembaga penegak hukum untuk menindak-lanjuti hasil pengawasan. kehadiran Komisi Yudisial.

Mahkamah Konstitusi berpendapat bahwa: 1. Di tengah pergulatan panjang ini. tidak jelas dan tegas menentukan siapa subjek yang mengawasi. terutama dalam soal antara yang mengawasi dan diawasi. sehingga menimbul- 2. Pertama. Dan biasanya kekuasaan lembaga yang tersentralisasi sangat rentan mencipta oligarki kekuasaan. UUKY terbukti tidak rinci mengatur mengenai prosedur pengawasan. apa objek yang diawasi. Kedua. Konsepsi pengawasan yang terkandung dalam UUKY didasarkan atas paradigma konseptual yang tidak tepat. justru mengaburkan makna pengawasan secara subtil. dengan sejenak terhenti ketika Mahkamah Konstitusi melalui putusannya Nomor 005/PUU-IV/2006 terhadap judicial review atas Pasal 13 jo Pasal 20 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 Tentang Komisi Yudisial dinyatakan bertentangan dengan UndangUndang Dasar 1945. serta bagaimana proses pengawasan itu dilaksanakan. Perumusan Pasal 13 huruf b juncto Pasal 20 UUKY mengenai wewenang lain sebagai penjabaran dari Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 menggunakan rumusan kalimat yang berbeda sehingga menimbulkan masalah dalam penormaannya dalam UUKY yang menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid). Hal tidak jelas dan tidak rincinya pengaturan mengenai pengawasan dalam UUKY serta perbedaan dalam rumusan kalimat seperti dimaksud pada butir (i) menyebabkan semua ketentuan UUKY tentang pengawasan menjadi kabur (obscuur) dan menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid) dalam pelaksanaannya. punya tradisi cukup buruk dalam soal penyalahgunaan wewenang (abuse of power).merta harus diadopsi secara mentah-mentah mengingat dalam beberapa hal. Ketiga. 38 Bunga Rampai . instrumen apa yang digunakan. dimana aspek kontestasi justru dikebiri sebagai salah satu indikator demokrasi. sangat mencenderai makna demokrasi substantif. 3. karakteristik pejabat negara kita. yaitu seolah-olah hubungan antara MA dan KY berada dalam pola hubungan “checks and balances” antarcabang kekuasaan dalam konteks ajaran pemisahan kekuasaan (separation of powers). memakai logika kuasa.

Undang-Undang Komisi Yudisial segera harus disempurnakan melalui proses perubahan undang-undang sebagaimana mestinya. dan juga MK merupakan lembaga pelaksana undang-undang.mahkamahkonstitusi. terutama dalam pelaksanaannya. bukanlah tugas konstitusional MA. Tugas legislasi ini adalah tugas DPR bersama dengan pemerintah. KY. UUMK. sehingga oleh karenanya harus menyerahkan segala urusan legislasi itu kepada pembentuk undang-undang. KY. DPR dan Presiden dianjurkan pula untuk melakukan perbaikan-perbaikan yang bersifat integral dengan juga mengadakan perubahan dalam rangka harmonisasi dan sinkronisasi atas UUKK.go. Jika hal ini dibiarkan tanpa penyelesaian. kecuali apabila hal itu dimaksudkan hanya sebagai pendukung. Oleh karena itu. www. Untuk mengatasi akibat kekosongan hukum yang terlalu lama berkaitan dengan tugas KY. Bahwa MA. dan undang-undang lain yang terkait dengan sistem peradilan terpadu. segala ketentuan Undang-Undang Komisi Yudisial yang menyangkut pengawasan harus dinyatakan bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat karena terbukti menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid). Mahkamah Konstitusi juga merekomendasikan kepada DPR dan Presiden untuk segera mengambil langkah-langkah penyempurnaan Undang-Undang Komisi Yudisial. Karena itu. ketegangan dan kekisruhan dalam pola hubungan antara KY dan MA akan terus berlangsung dan kebingungan dalam masyarakat pencari keadilan akan terus meningkat. tentu saja merupakan sesuatu yang logis dan tepat.id Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 39 . khususnya yang berkaitan dengan ketentuan mengenai pengawasan perilaku hakim.kan penafsiran yang juga tidak tepat. Bahkan. KY. yang pada gilirannya juga dapat mendelegitimasi kekuasaan kehakiman yang akan dapat menjadikannya semakin tidak dipercaya. Akan tetapi. UUMA. Setiap lembaga negara sudah seharusnya membatasi dirinya masing-masing untuk tidak mengerjakan pekerjaan yang bukan menjadi tugas pokoknya. dan juga MK dapat diikutsertakan dalam proses pembuatan sesuatu undangundang yang akan mengatur dirinya. dan juga MK untuk mengambil prakarsa yang bersifat terbuka untuk mengadakan perubahan undang-undang seperti dimaksud. MA.

apalagi bila objek pengawasannya adalah putusan hakim pengadilan. Ini sangat berpotensial. Menguatkan Komisi Yudisial melalui perluasan wewenang. tetapi perlunya 40 Bunga Rampai . Sehingga demikian. Premis di atas kesannya memang sangat dilematis.Rekomendasi Mahkamah Konstitusi ini tentu saja menjadi pegangan bagi legislatif maupun eksekutif agar melakukan upaya konkret untuk segera merevisi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 Tentang Komisi Yudisial. Sementara. ke depan Komisi Yudisial bukan lagi menjadi sebuah institusi yang sifatnya auxiliary tetapi harus diletakkan sebagai kekuatan inti dalam penyelenggaraan kekuasan kehakiman. Dalam makna ketat bahwa pilihan memperkuat atau memperlemah posisi Komisi Yudisial dalam struktur ketatanegaraan bukan hanya harus mengandalkan perlunya transformasi politik dalam tubuh legislatif maupun eksekutif. Penyempurnaan terhadap ketentuan ini setidaknya diharapkan dapat memberikan penguatan kelembagaan terhadap Komisi Yudisial sebagai the musketter kekuasaan kehakiman di Indonesia. Semua ini akan ditentukan dalam tuturan semantik dari legislatif maupun pemerintah lewat regulasinya. memperlemah keberadaan Komisi Yudisial. justru dikhawatirkan akan menggerogoti independensi kekuasaan kehakiman. Dengan penuh harap semoga gagasan dan bahasa undang-undang dapat menyibakkan tabirnya untuk suatu keadaban dan keadilan bagi semuanya. Menempatkan Komisi Yudisial pada kerangka yang tepat sebagai lembaga pengawas eksternal setidaknya memberi jaminan adanya sisi obyektifitas dan memiliki makna yang subtil bagi reformasi peradilan. antara menguatkan atau memperlemah. pengawasannya terhadap putusan hakim pengadilan justru diinterpretasi atau dipelintir sebagai tindakan intervensi terhadap kemerdekaan hakim. tetapi melemahkan berarti memberi gerak lahirnya “preman tribal atau mafia berdasi” yang akan melahirkan bangsa barbarism atau manusia penghancur dalam dunia kekuasaan kehakiman. Boleh jadi. Semua ini tentu harus disikapi secara simultan. Menguatkan berarti mencipta “oase” untuk menghidupi kekinian dan masa depan. dikhawatirkan justru semakin memperburuk citra dan menghilangkan wibawa kekuasaan kehakiman di mata publik. Nasib Komisi Yudisial memang tengah dipertaruhkan.

Dengan demikian. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 41 . tetapi setidaknya sebagai kerangka untuk evaluasi akan ”makna keberadaannya”di mata publik. Pelintasan ruang dan waktu yang terus terbentang. Dengan segala harap. tetapi yang lebih mendasar adalah perlunya melihat kinerja (performance) kedua institusi negara tersebut. butuh energi banyak untuk selalu menafasinya. Rentetan pemikiran ini. tentu saja tidak dilakukan dengan amburadul. yang sekadar melakukan revisi terhadap sejumlah regulasi terkait dengan kekuasaan kehakiman. Penuturan ini bukan untuk menggiring kedua institusi negara tersebut ke labirin arogansi institusional.sinergitas hubungan antara Komisi Yudisial dan Mahkamah Agung dalam memperbaiki kinerjanya. Walau. Sisi penjelahan akan konsep Komisi Yudisial yang ideal mesti terus diusung. justru tidak melahirkan ”kacung-kacung baru” dalam dunia kekuasaan kehakiman. semoga rute perubahan ini. Atau menjebaknya ke dalam perebutan kredit point terhadap mana yang lebih baik. sudah tentu bukanlah jalan terakhir bagi sebuah perjuangan. Transformasi politik yang berlangsung di legislatif maupun eksekutif. sejatinya cukup penting digunakan untuk membangun ruang-ruang dialogis dalam menemukan makna perubahan yang signifikan dalam dunia kekuasaan kehakiman. isu reformasi peradilan sangat relevan kiranya memperhatikan sisi keterkaitan antara transformasi politik dengan tingkat kinerja pelaksana kekuasaan kehakiman selama ini.

Visi Volume V.or. Stepan Alfred.wordpress. 2006. New Haven Gunawan.ti. Ahsin. XIII – XIV. (http://www. Komisi Yudisial & Reformasi Peradilan.id). Yale University Press. 2006 Linz. hlm. Jhon Hopkins University Press. Budi. Demokrasi Minus. Baltimore Thohari.go. 1961. Jakarta Latif. Kumpulan Analisis di Majalah Forum.transparansi. Koloni Keadilan. No. Who Governs? Democracy and Power in an American City. Yudi. 1996. Juan.mahkamahkonstitusi. Forum Media Utama.or. http://ahmadirfan.Daftar Pustaka Dahl Robert. A.id www.id - 42 Bunga Rampai . 2006. 6. Problems of Democratic Transition and Consolidation.com www.

Karena reformasi peradilan menghendaki lembaga peradilan idealnya dapat dimanfaatkan untuk menjamin perlindungan terhadap kebebasan sipil-politik serta perlindungan sosial-ekonomi rakyat. Sebaliknya. khususnya masyarakat yang pro-reformasi peradilan. Ia bukan lagi sebuah momentum. Sejauh ini reformasi peradilan memang telah menghasilkan berbagai perubahan. tetapi spirit yang terus menggelora ditengah kegalauan publik yang senantiasa mendambakan rasa keadilan. Bisa jadi. Reformasi peradilan menjadi bagian penting yang tidak bisa diabaikan dalam proses demokrasi dan gerakan sosial (social movement) yang lebih luas. baik pada tataran kebijakan * Penulis adalah: Ketua Badan Pengurus Konsorsium Reformasi Hukum Nasional (KRHN) Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 43 . dan gerakan sosial menjadi tertatih-tatih. reformasi peradilan perlu diupayakan agar mampu bersinergi dengan kekuatan/kelompok sosial-politik dalam masyarakat. meninggalkan reformasi peradilan mengakibatkan proses demokrasi berjalan tanpa arah. Pada titik ini.Komisi Yudisial Pengawal Reformasi Peradilan Mendayung Diantara Simpati dan Resistensi Firmansyah Arifin* Pengantar Reformasi peradilan merupakan sebuah keniscayaan. reformasi peradilan akan kehilangan moralitas dan legitimasinya jika mengabaikan issue dan kepentingan hak-hak masyarakat.

muncul pula resistensi terhadap KY yang hendak mendelegitimasi posisi dan peranan KY. atau malah sebaliknya. Sejauh mana upaya yang telah dilakukan. Namun hampir satu dasawarsa. Dalam pengertian yang sederhana. serta bebas dari mafia peradilan (judicial corruption). reformasi peradilan (judicial) berjalan lambat jika dibandingkan proses reformasi pada ranah legislatif dan eksekutif. Kehadiran KY memang memberikan harapan akan institusi peradilan yang bersih dan berwibawa. Termasuk dalam hal ini adalah Komisi Yudisial (KY) yang diperlukan untuk mengawal reformasi peradilan. apakah cukup efektif untuk mendorong dan memperkuat reformasi peradilan. Selanjutnya. Sebagai sebuah sistem politik dan pemerintahan. dan simpati dapat terus diraih dan dikembangkan dalam mengawal reformasi peradilan menuju Negara demokrasi dan rule of law yang dicita-citakan. Hal itu dapat dilihat pada Komisi Yudisial ketika menjalankan tugas dan kewenangannya. gagasan demokrasi dan negara hukum dalam perkembangannya 44 Bunga Rampai . Sepak terjang KY selama 2 tahun terakhir. hingga membubarkan KY. Dengan harapan resistensi dapat dieliminir. mencoba merumuskan kembali peranan dan langkah strategis KY kedepan. Tulisan ini mencoba merefleksikan kembali peranan KY dalam konteks reformasi peradilan.sampai pembentukan mekanisme dan institusi baru. Gagasan negara hukum mempunyai akar historis dalam perjuangan menegakkan demokrasi. setidaknya mampu menuai simpati ketika mengusik eksistensi dan kemapanan para hakim. Namun bersamaan dengan itu. khususnya yang berkenaan dengan hakim. di negara hukum tidak ada warga negara yang berada di atas hukum dan karenanya semua warga negara harus patuh pada hukum. Bahkan dalam beberapa hal mengalami proses maju mundur (back-forward). Misi Penting Reformasi Peradilan Reformasi peradilan mempunyai tujuan dan tugas utama untuk menjamin dan mempertahankan prinsip-prinsip negara hukum yang demokratis. Hukum itu sendiri harus ditentukan oleh warga negara yang tidak lain merupakan pengaturan hubungan di antara sesama warga negara melalui cara dan mekanisme demokrasi (parlemen).

Lebih dari itu. Termasuk pula campur tangan dari unsur-unsur kekuasaan kehakiman itu sendiri serta kekuasaan ekonomi dan politik di luar sistem kekuasaan negara. tak bermakna. Hukum dibutuhkan untuk memastikan adanya jaminan kapasitas kontrol rakyat terhadap berbagai urusan publik. Independensi di sini sekaligus merupakan independensi personal setiap hakim untuk menjalankan tugasnya tanpa ketakutan dan keberpihakan. demokrasi juga mensyaratkan adanya praktek penegakan hukum yang jelas dan tegas. Tanpa kedua hal tersebut. demokrasi bukan hanya soal kebebasan sipil dan politik. Sebab kelengkapan pertama Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 45 . Gagasan negara hukum demokratis tidak hanya menegaskan bahwa kekuasaan kehakiman (judicial power) adalah kekuasaan yang merdeka (independent) dan tidak memihak (impartial). Melalui peranan para hakim sebagai pelaksana utama dari kekuasaan kehakiman. Dengan pengertian lain. Independensi kekuasaan kehakiman sebagai sesuatu hal yang prinsipil di dalam negara hukum yang demokratis. Fokus pada hak asasi itu menjadi dasar normatif bagi gagasan demokrasi dan negara hukum. maka demokrasi hanya akan menjadi sekadar proyek liberalisasi politik. maka tidak ada demokrasi dan negara berdasarkan atas hukum (demokratische rechsstaat). tetapi mutlak mensyaratkan adanya rule of law. dan kehilangan esensi keberadaannya. keadilan yang paling esensiil dapat disentuh berdasarkan atas hak asasi dari warga negara. Independensi atau kebebasan tersebut dimaksudkan tidak adanya campur tangan dari kekuasaan eksekutif dan legislatif terhadap pelaksanaan fungsi peradilan. Tetapi juga ditambah dengan perlunya prosedur perlindungan terhadap hak-hak yang telah dijamin dalam konstitusi. menjadi fungsi utama dari pemerintahan demokratis dan pemerintahan berdasarkan atas hukum untuk menjamin dan melindungi hak asasi manusia.didasari gerakan atau dorongan masalah bagaimana melindungi kebebasan individual atau hak asasi manusia dari tindakan sewenang-wenang para penguasa. Tanpa kehadiran kekuasaan kehakiman yang independen. Dalam pelaksanaannya. Prosedur yang dimaksudkan salah satunya adalah melalui kewenangan judicial review/constitutional review oleh kekuasaan kehakiman.

Akuntabilitas diperlukan untuk memperkuat independensi. Sedangkan akuntabilitas diperlukan sebagai mekanisme kontrol setelah suatu tindakan yudisial diambil. Dalam memutus perkara. dan pada akhirnya bisa menimbulkan masalah-masalah baru.dan utama untuk menegakkan kekuasaan kehakiman yang independen ada pada hakim. Pengawasan sebagai wujud dari akuntabilitas dan bagian dari checks and balances. tetapi juga cara-cara penunjukkan atau pengangkatan hakim dan jaminan keberlangsungan mereka dalam melaksanakan jabatannya (Beetham & Boyle. Hanya saja sebagaimana mulai dirasakan. yaitu sikap independen dan imparsial dalam memutus suatu perkara. didukung keberanian dan pikiran yang dingin dan bebas dari pengaruh luar dan tidak goyah karena simpati dan prasangka. kecuali keinginan besar untuk menegakkan keadilan (Felix Frankfurter. Kedua jenis independensi ini tidak sekedar menuntut jaminan-jaminan konstitusional formal. independensi tanpa akuntabilitas bisa melangkah terlalu jauh. maka akuntabilitas dan legitimasinya menurun. Bahwa lembaga peradilan wajib mempertanggungjawabkan baik pelaksanaan fungsi yudisial maupun penyelenggaraan administrasinya. Sebab bukan mustahil ketika independensi kekuasaan kehakiman meningkat. Kedua prinsip tersebut tidaklah bertentangan secara diametral. misi penting bagi reformasi peradilan tidak hanya sebatas menegakkan independensi dan impar- 46 Bunga Rampai . 2000). justru saling menunjang dan memperkuat. 1993) Oleh karena itu. diperlukan untuk mencapai independensi dan impartialitas peradilan. seorang hakim harus didasarkan pada intelenjensi dan kemauan belajar. Karena mengingat belum semuanya para hakim mempraktikkan judicial discretion. Dalam hal ini dapat dibedakan bahwa independensi merupakan mekanisme kontrol sebelum suatu tindakan yudisial dilakukan yaitu meminimalisir masuknya pengaruh pihak luar terhadap proses pengambilan putusan yang imparsial oleh pengadilan. sebaliknya kewajiban lembaga peradilan untuk mempertanggungjawabkan segala tindakannya kepada publik akan dapat mengurangi kerentanan lembaga peradilan dari tekanan pihak luar. dikontrol oleh prinsip-prinsip hukum.

KRHN-Leip. kebenaran dan keadilan. Beberapa studi (Lev. Tidak adanya jaminan independensi dalam konstitusi. tidak lepas dari praktek sistem pemerintahan otoritarian yang diterapkan. 1999. 2005) telah mendiagnosis. Yang ada adalah cerita sukses intervensi politik yang dimulai ketika urusan organisasi. Tetapi penting juga bagaimana membangun dan menjaga sistem akuntabilitas dan mekanisme kontrol bagi para hakim agar peradilan tidak memunculkan abuse of power baru atau tyrani judicial. managemen dan administrasi peradilan yang tidak transparan. Intervensi politik. Pengadilan hanya menjadi abdi kekuasaan ketimbang berpihak pada rakyat. BK Harman. ICW. 1989). 2001. Peradilan Yang Belum Berubah Mafia peradilan (judicial corruption) menjadi problem besar yang menimbulkan bobroknya institusi peradilan. administrasi Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 47 . 1997. Belakangan disadari bahwa intervensi yang bersifat ekonomi juga menjadi salah satu faktor penyebabnya. Karakter dalam sistem pemerintahan otoritarian selalu menolak adanya checks and balances dan tidak mau mengakui adanya hak asasi manusia. serta putusan yang janggal dan mencederai rasa keadilan. bobroknya institusi peradilan sebagai akibat dari intervensi politik yang begitu panjang yang telah mereduksi independensi dan impartialitas peradilan. Pompe. minimnya hakim yang berkualitas dan berintegritas. Disamping problem lainnya seperti. Sedangkan lembaga peradilan hanya menjadi alat untuk menjustifikasi dan melegitimasi perilaku kekuasaan eksekutif. terutama dari eksekutif. 2004. Sangat jarang pula hakim yang punya keberanian untuk melawan setiap kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan rakyat. Setidaknya akuntabilitas dari segi politik. penumpukan perkara. segi hukum bagi hakim baik pejabat negara maupun secara personal (Mauro Cappeletti. Asrun. Pada masa-masa itu jangan berharap ada banyak putusan-putusan pengadilan yang progresif dan memberi rasa keadilan. 1990. segi sosial/publik. semakin memudahkan intervensi politik yang membuat lemah kekuasaan peradilan ketika harus vis a vis dengan kekuasaan eksekutif.tialitas peradilan sebagai suatu prinsip dalam Negara hukum yang demokratis.

seleksi hakim agung dan Ketua Mahkamah Agung yang sebelumnya sangat tertutup. mulai dilakukan secara terbuka oleh DPR pada 2000 . Selain itu lewat amandemen konstitusi dibentuk lembaga Komisi Yudisial untuk rekruitmen hakim agung dan pengawasan hakim. mulai dari pengadilan negeri (PN). Seperti kasus panitera pengganti dan hakim PN Jakarta Selatan yang memeras saksi dalam kasus korupsi PT Jamsostek. yang telah memberikan jaminan konstitusional prinsip kemerdekaan bagi kekuasaan kehakiman. pengadilan menjadi institusi yang tertutup. Praktik-praktik mafia peradilan disinyalir masih berjalan di setiap tahapan. sampai MA. MA pun kemudian membuat dan merumuskan sejumlah paket rencana pembaruan yang akan dilakukannya (Blue Print MA. Meski berbagai perubahan telah terjadi. Seakan tidak mau ketinggalan. dan para hakim yang lebih disibukkan dengan urusan kesejahteraan dan kepentingan sendiri. Perlahan tapi pasti. korup dan tidak berwibawa. sejumlah hakim agung non karier yang berasal dari kalangan akademi dan praktisi hukum dipilih dan ditetapkan. Revisi terakhir ini dipengaruhi oleh hasil Amandemen UUD 1945. dan kasus advo- 48 Bunga Rampai . 2003). serta Mahkamah Konstitusi.dan finansial peradilan berada dalam kekuasaan eksekutif. Tujuannya bukan hanya sekedar mengisi kekosongan kursi hakim agung. juga dibentuk melalui undang-undang. Dalam seleksi ini. Beberapa kasus hanya sebagian kecil yang berhasil terungkap. pengadilan tinggi (PT). reformasi peradilan dimulai dengan revisi kebijakan satu atap (UU No. dilengkapi dan diimplementasikan melalui revisi paket UU Bidang Hukum (UU Kekuasaan Kehakiman. UU MA. 14/1970) yang menempatkan urusan organisasi. Ketika momentum perubahan datang. Anak. Bersamaan dengan revisi kebijakan. fakta lain memperlihatkan kondisi lembaga peradilan masih ditengarai berbagai persoalan yang sangat kontras dengan spirit dan agenda perubahan. Korupsi.2003. Selanjutnya putusan-putusan pengadilan mesti mengikuti langgam pembangunan pemerintah. tetapi untuk mendorong perubahan di tubuh internal MA. administrasi dan financial menjadi urusan Mahkamah Agung. UU Pengadilan Umum) pada tahun 2004. Sejumlah pengadilan khusus untuk mengadili perkara-perkara seperti pelanggaran HAM. Revisi tersebut selanjutnya dipertegas.

Dari sejumlah kasus yang terungkap nampaknya belum membuat kapok para Mafioso peradilan. Sholeh. Dan itu berarti bahwa lembaga peradilan memang belum mengalami perubahan yang signifikan. Putusan-putusan pengadilan.kat Syaifudin Popon. Ramdhan Rizal dan M. dengan tersangka Harini Wijoso dan beberapa pegawai MA. Serta kasus Probosutedjo yang mencoba menyuap majelis hakim di MA dengan uang milyaran rupiah. terutama dalam kasus korupsi dan HAM. Ketentuan ini menjadi landasan hukum yang kuat bagi KY untuk memainkan peranan yang sangat penting dan strategis dalam usaha mewujudkan kekuasaan kehakiman yang merdeka didalam Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 49 . pengadilan menempati urutan teratas untuk inisiatif melakukan suap. Sementara pengawasan internal oleh MA sudah terbukti tidak efektif memberikan efek jera bagi para hakim dan pegawai pengadilan. serta perilaku hakim. Transparancy International Indonesia (TII) mengeluarkan hasil survey tentang korupsi yang terjadi di lembaga-lembaga pemerintahan. yang masih menunjukkan bobroknya institusi peradilan. Masih terjadi krisis kepercayaan. Pasal 24B UUD 1945 menempatkan KY sebagai Lembaga Negara yang bersifat mandiri. hampir semua terdakwanya kemudian diputus bebas oleh MA. Hasil survey ini melengkapi sejumlah survey atau polling yang telah dilakukan berbagai pihak. yang dilakukan secara rutin setiap tahun. keluhuran martabat. Memaknai Kehadiran Komisi Yudisial Komisi Yudisial (KY) lahir dan dibentuk berdasarkan konstitusi. dua panitera PT Jakarta. Posisi ini nampaknya tidak beranjak jauh dari hasil survey TII sebelumnya. apalagi dilakukan secara tidak transparan. dan memiliki kewenangan mengusulkan calon hakim agung serta kewenangan lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. belum bisa memberikan rasa keadilan karena seringkali dengan mudah memberikan putusan bebas bagi para pelakunya. Fakta-fakta tersebut semakin membuat institusi peradilan terperosok dalam lubang kegelapan yang seakan-akan sulit untuk keluar. Malah dalam kasus-kasus pelanggaran HAM. Dari survey tersebut. Pada Mei 2007. meski berbagai upaya perubahan telah dilakukan sejak reformasi 1998.

konteks negara hukum. Intinya. Meski KY bukan pelaku kekuasaan kehakiman. Jika memperhatikan alasan-alasan pembentukan Komisi Yudisial tersebut di atas. Dapat dikatakan bahwa fungsi pengawasan inilah yang paling sering akan dilakukan oleh KY. mekanisme pengawasan hakim yang ada mengandung sejumlah kelemahan. tidak accountable. 22/2004 tentang KY kemudian menambahkan bahwa. meminta laporan tentang perilaku hakim. Lahirnya KY dari rahim konstitusi dilatarbelakangi oleh adanya kebutuhan untuk membangun sistem pengawasan hakim yang lebih efektif dan konstruktif. namun fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman yaitu fungsi pengawasan. melakukan pemanggilan dan pemeriksaan terhadap hakim. dan memberikan usul pemberian sanksi (punishment) dan penghargaan (reward). KY dapat menerima laporan dari masyarakat. Selain itu dalam konteks wewenang pengawasan. transparan dan partisipatif. dan cenderung mengedepankan esprit de’corps. Pengawasan hakim yang dijalankan MA sangat tertutup. Naskah Akademis RUU Komisi Yudisial. Masyarakat pun dapat terlibat secara aktif untuk memantau dan menilai secara kritis terhadap proses serta track record para calon hakim agung. jelas bahwa Komisi Yudisial memi- 50 Bunga Rampai . 2003. serta hakim Mahkamah Konstitusi. kredible dan dapat memegang teguh prinsip independensi dan imparsial dalam membuat putusan (Blue Print MA. independen dan bertanggungjawab (accountable). Dalam sistem seleksi semacam ini diharapkan dapat dieliminir politisasi dalam penentuan calon hakim agung. Kondisi pengawasan seperti itu diakui sendiri oleh MA. Faktor lain yang mendorong kelahiran KY adalah kebutuhan untuk membangun sistem seleksi hakim agung yang lebih obyektif. obyek pengawasan KY terhadap hakim meliputi hakim agung dan hakim pada badan peradilan di semua lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung. Sehingga hakim agung yang dihasilkan memiliki integritas. 2004). kebutuhan KY dilandasi oleh spirit untuk mendorong dan membangun sistem dan pelaksana kekuasaan kehakiman lebih bersih. UU No. Alasannya. yang pada gilirannya menyuburkan judicial corruption di tubuh institusi pengadilan.

Tidak ada lagi lembaga tertinggi dan tinggi negara. haruslah senantiasa hadir ketika citacita atau ideologi independensi dan imparsialitas peradilan tidak bisa dijaga dan ditegakkan sendiri oleh MA dan MK. 2006). bersama-sama dengan Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. Spirit perubahan ini mengubah paradigma dan praktek kekuasaan negara yang selama ini cenderung executive heavy atau legislative heavy. sang ujung tombak penegakan hukum di lembaga peradilan (A. Tugas dan tanggungjawab tersebut tidaklah berakhir ketika DPR bersama Presiden telah memilih dan menetapkan calon hakim agung.liki dua fungsi penting dalam upaya penegakan hukum dan keadilan di Indonesia: pertama. eksekutif dan yudikatif). Komisi Yudisial diberi tanggung jawab konstitusional untuk mengontrol kinerja dan perilaku para hakim. dan diperlukan dalam menjalankan checks and balances. Yang dilihat adalah fungsi dan kewenangan yang telah diberikan. ataupun keduanya telah membuat UU yang mendukung independensi peradilan. Dalam kerangka perubahan itu. Kedua. Perubahan paradigma konstitusi tersebut. yang tercermin dari sumpah jabatan dan representasi suara rakyat yang telah memilih secara langsung. KY sesungguhnya merupakan mitra strategis dari DPR dan Presiden untuk melakukan dan mem- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 51 . Tugas dan tanggungjawab itu juga menjadi kewajiban DPR bersama Presiden. Dalam hal itu. Komisi Yudisial berperan untuk ‘membentuk’ (reshaping) peradilan di Indonesia. Akan tetapi tugas dan tanggungjawab itu. Spirit perubahan yang hendak memperkuat checks and balances antara cabang-cabang kekuasaan negara (legislatif. kewajiban untuk menjaga dan menegakkan kekuasaan kehakiman yang merdeka (independency of judiciary) bukanlah semata-mata menjadi tugas dan tanggungjawab MA dan MK. Nababan. Mengembalikan rasa percaya publik pada kemampuan lembaga peradilan sebagai benteng terakhir penegakan hukum dan keadilan. telah mendudukan posisi dan kekuasaan lembaga-lembaga negara menjadi setara dan seimbang. Pembentukan KY ini sejalan dengan spirit dari perubahan (amandemen) UUD 1945. Ini adalah sebuah moralitas konstitusi dari kedua lembaga tersebut. Komisi Yudisial berfungsi untuk merepresentasikan kontrol publik ke dalam lembaga peradilan.

Fungsinya adalah untuk memperkuat checks and balances. membangun akuntabilitas dan memperluas partisipasi masyarakat. Dalam batas-batas tertentu. KY harus menjamin judicial discretion bahwa hakim dalam mengambil keputusan harus bebas dari intervensi baik berupa ancaman. janji- 52 Bunga Rampai . Fungsi kontrol yang sedapat mungkin bisa menyeimbangkan terjaganya independensi hakim dengan akuntabilitas yang mesti dibangun. Melalui KY diharapkan pula harkat. pengawasan dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Dalam hal ini KY menjadi lembaga eksternal yang selalu melakukan pengawasan para hakim. professional dan terpuji. martabat dan perilaku para hakim dapat terjaga. KY punya peran sinergis bersama DPR dan Presiden untuk mendapatkan calon hakim agung yang kredibel dan berintegritas. selain rekruitmen bagi hakim agung.perkuat kontrol (checks and balances) terhadap MA dan MK. tekanan. Melalui kewenangannya. harkat martabat dan perilaku hakim oleh KY merupakan bentuk penolakan terhadap pengawasan internal yang sebelumnya dinilai tidak efektif. hanya KY satu-satunya lembaga yang diberi mandat oleh konstitusi untuk melakukan pengawasan terhadap hakim. guna mencegah penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power) oleh institusi peradilan. Jika dijabarkan ‘mosi tidak percaya’ itu. khususnya MA. mosi tidak percaya itu dapat dilihat bahwa pemberian wewenang KY merupakan atribusi kewenangan dari kekuasaan eksekutif dan legislatif dalam menjalankan fungsi kontrol atau checks and balances terhadap kekuasaan yudikatif. KY dimaksudkan untuk memperkuat checks and balances bagi kekuasaan kehakiman. Dalam pengertian lain. kehadiran dan wewenang yang diberikan kepada KY merupakan ‘mosi tidak percaya’ terhadap institusi pelaksana kekuasaan kehakiman. Jelas terlihat bahwa KY memiliki peranan penting untuk mendorong para hakim menjadi lebih bermartabat. Dengan berpijak pada kerangka konstitusional di atas. Pembentukan KY dan juga Komisi-Komisi independen lainnya adalah dimaksudkan sebagai Institutional Watchdog. Mosi tidak percaya itu dapat ditunjukkan pula dari posisi Ketua MA yang bukan sekaligus ex officio Ketua KY sebagaimana Judisial Commission di berbagai negara.

Intinya. bukan suatu hal yang mudah bagi KY ketika menjalankan fungsi dan kewenangannya ataupun mewujudkan visi-misinya. terbuka dan dapat dipercaya. Keberadaan dan kehadiran KY memberikan harapan kembali akan peradilan yang bersih. pembentukan peraturan yang diperlukan sebagai landasan. Setelah terbentuk.janji. Namun demikian. Sebagai landasan bagi pelaksanaan kewenangan dan pengembangan organisasi. (1) Menyiapkan Hakim Agung yang berakhlak mulia. Sedangkan misinya. Dengan legitimasi dari konstitusi. Dan untuk pertama kali. dan simpati. Semua itu bertujuan untuk menegakkan keadilan. berani dan kompeten. sejak tujuh (7) orang anggotanya diangkat dan disahkan oleh Presiden. Setelah sekian lama institusi peradilan mengalami krisis kepercayaan sebagai akibat penyakit judicial corruption yang sudah demikian akut. KY mulai membangun perangkat-perangkat organisasi. (3) Mengembangkan sumber daya hakim menjadi insan yang mengabdi dan menegakkan keadilan. KY Menuai Simpati dan Resistensi Komisi Yudisial terbentuk pada 2 Agustus 2005. KY merumuskan visinya “Menjadikan hakim sebagai insan pengabdi dan penegak keadilan”. Keanggotaan KY terdiri atas unsur akademisi. mantan hakim dan jaksa serta masyarakat. serta pembentukan sekretariat jenderal beserta struktur organisasi maupun personalianya. diantaranya menyusun visi-misi organisasi. bahwa tugas pokok yang akan dijalankan secara rutin oleh KY adalah melakukan pengawasan atau kontrol bagi hakim. Busyro Muqoddas seorang akademisi sekaligus advokat yang mendapat suara terbanyak dalam proses pemilihan di DPR. KY dipimpin oleh M. berwibawa dan memberikan rasa keadilan dengan hakim yang berintegritas dan progressif. KY sudah mulai membangun capacity building yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas dan kewenangannya. praktisi hukum. Disatu sisi langkah-langkah dan kebijakan yang diambil KY dapat memberikan inspirasi dan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 53 . KY memiliki peranan strategis untuk memperkuat proses reformasi peradilan yang belum selesai. jujur. Visi-misi itu nampaknya sejalan dengan mandat yang diberikan konstitusi. (2) Melaksanakan pengawasan peradilan yang efektif.

menilai bahwa ide ini sangat progressif. karena setidaknya ini merupakan terobosan yang harus dilakukan Presiden kemudian disahkan oleh DPR. KY melontarkan ide seleksi ulang (kocok ulang) hakim agung. Bisa 54 Bunga Rampai . akan mendorong presiden menjadi otoriter. Seakan gayung bersambut. Tetapi bersamaan dengan itu. Tentu saja ide kocok ulang ini mengundang pro-kontra. leadership di MA sangat lemah. Ide ini berangkat dari pemikiran KY yang melihat bahwa problem riil mafia peradilan yang menjadi penyebab keterpurukan lembaga peradilan adalah tidak berjalannya managemen kepemimpinan di MA. Oleh karena itu. Simpati dan resistensi ini dapat tergambar dari sejumlah issue atau masalah yang muncul ke publik selama kurang lebih 2 tahun belakangan ini. Dikabarkan presiden menyetujui dan telah memerintahkan Mentri Hukum dan HAM (Menhuk-HAM) Hamid Awaluddin untuk membuatkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) nya sebagai payung hukumnya. Sebagian yang kontra menilai bahwa ide ini tidak mendasar. Dan menyerahkan proses seleksi ulang hakim agung ini melalui Perpu. Ide kocok ulang ini sempat disampaikan kepada Presiden SBY. Atau dengan kata lain. terutama dari kalangan akademisi. Dan melalui Perpu. solusinya adalah perlu ada penguatan kepemimpinan di MA melalui seleksi ulang hakim agung. Sebagian publik. 1. termasuk penulis. Issue “Kocok Ulang” Hakim Agung Pada awal Januari 2006. muncul resistensi yang tidak bisa dihindarkan. Melalui kocok ulang hakim agung ini diharapkan akan ada regenerasi dan refresh kepemimpinan MA. dan mempertanyakan apa alasannya bahwa hakim agung yang ada sekarang ini harus diseleksi ulang. baik yang bersifat individual maupun organisasional.simpati yang mendapat dukungan dari berbagai kalangan. Tidak ada dasar hukum yang cukup kuat untuk melakukan itu. NGO dan sebagian anggota DPR. KY pun menyiapkan pula draft Perpu untuk Seleksi Ulang Hakim Agung. meski para pemimpin ataupun Ketua MA merupakan buah dari proses reformasi. Karena memang sama-sama disadari bahwa tidak ada perubahan yang signifikan dari kepemimpinan MA terhadap problem-problem peradilan. sebagai bagian dari checks and balances terhadap kekuasaan yudisial.

Ide ini pada akhirnya tidak sempat direalisasikan. KY telah memeriksa dan memproses 333 laporan atau pengaduan hakim. Presiden tidak jelas sikapnya dan Menhuk-HAM belakangan membantah bahwa dirinya telah diminta presiden untuk membuat Perpu Seleksi Ulang Hakim Agung. 18 hakim telah direkomendasikan KY kepada Pimpinan/Ketua MA (Laporan Tahunan KY. Dari 333 laporan tersebut.jadi ide kocok ulang ini menjadi bibit awal permusuhan atau resistensi dari kalangan hakim agung. dan ada yang dicabut kembali.Juni 2006 (sebelum putusan MK). KY secara proaktif melakukan penanganan beberapa kasus dugaan pelanggaran perilaku hakim. Dari 754 laporan tersebut. 2. Issue Pengawasan Hakim Sejak KY terbentuk. sedang dalam proses. termasuk para hakim agung yang jelas dan pasti menolak. Sebagian lainnya tidak ditindaklanjuti. masyarakat dengan antusias melaporkan hakim-hakim yang dinilai menyimpang dan tidak sensitif terhadap rasa keadilan. Jumlah Hakim 4 3 1 3 2 2 Asal Pengadilan PN Bogor PT Banten PN Stabat PN Jakarta Selatan PN Jakarta Pusat PT Bandung Tabel: Jumlah Hakim Yang Mendapat Rekomendasi Selain laporan tersebut. Sedangkan sampai Desember 2006 (pascaputusan MK). Meski KY telah menyerahkan draft Perpu ke tangan pemerintah. Ide kocok ulang hakim agung memang sempat membuat kejutan banyak pihak. KY telah menerima 754 laporan dari berbagai kalangan masyarakat. antara lain: • Pemeriksaan terhadap hakim yang mengadili kasus Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 55 . Dari Agustus 2005 . 2006). diinformasikan bahwa KY telah menerima 28 laporan.

bahwa putusan itu dapat menjadi pintu masuk (entry point) untuk melihat ada tidaknya penyimpangan atau tidak. Sepak terjang KY dalam melakukan pengawasan. Kendati demikian. Sukabumi. Para hakim berpendapat bahwa putusan tidak bisa menjadi obyek pengawasan KY. Banyuwangi) Pemeriksaan terhadap majelis hakim Pengadilan Tinggi Banten yang mengadili kasus korupsi di Lingkungan DPRD Propinsi Banten Pemeriksaan terhadap majelis hakim Pengadilan Negeri Denpasar yang mengadili kasus narkoba dengan terdakwa Michellle Leslie. Sedangkan dalam hal cara. Pemeriksaan terhadap majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang mengadili kasus korupsi dengan terdakwa ECW Neloe. Pemeriksaan terhadap majelis hakim PN Semarang yang mengadili kasus korupsi. Setidaknya ada 2 hal yang selalu dipersoalkan para hakim kepada KY dalam melakukan pengawasan ini. Sudah menjadi rahasia umum kalau putusan itu dapat disesuaikan dengan keinginan “yang memesan”. KY tidak berwenang memeriksa putusan hakim. Sedangkan KY bersikap sebaliknya. terutama hakim agung. yang menjatuhkan hukuman di bawah hukuman minimal. Selayar. bisa dikatakan sangat positif. Dalam hal ini KY cukup berhasil meraih simpati dari publik.• • • • • • sengketa Pilkada (Depok. Karena 56 Bunga Rampai . dan mengajak publik untuk senantiasa memusuhi hakim yang berperilaku menyimpang. yaitu obyek yang diperiksa dan cara pemeriksaan yang dilakukan. KY dinilai telah melakukan perbuatan tidak menyenangkan dan mencemarkan nama baik hakim. Pemeriksaan terhadap majelis hakim Pengadilan Tipikor yang mengadili kasus korupsi dengan terdakwa Harini Wijoso Pemeriksaan terhadap hakim Pengadilan Negeri Stabat yang mengadili kasus anak dengan terdakwa Raju. Bandung. Sumbawa. Musi Rawas. dengan memainkan norma-norma hukum dan penafsiran hukum. karena setidaknya bisa menimbulkan shock therapy dikalangan hakim. simpati dari berbagai kalangan juga dibarengi dengan sikap sebaliknya yang secara terang-terangan diperlihakan oleh kalangan hakim.

sempat mengadukan anggota KY ke Kepolisian. Pengajuan judicial review ini dikhawatirkan meniadakan fungsi pengawasan hakim dan jelas menghambat upaya pemberantasan mafia peradilan. membuat laporan hasil pemeriksaan. Putusan MK itu tidak hanya menghambat kerja-kerja KY dalam pengawasan hakim. Para hakim agung itu dengan didampingi sejumlah advokat (OC Kaligis. dll) meminta MK membatalkan sejumlah pasal dalam UU KY terkait dengan fungsi pengawasan hakim karena dianggap bertentangan dengan konstitusi. ICW. Semua rekomendasi yang disampaikan KY kepada MA. dilakukan pertemuan antara KY dengan MA. Akibatnya. MK dalam putusannya mengabulkan hampir semua permohonan. Indriyanto Seno Adji. Namun gesekan antara MA-KY tetap berlanjut.kerapkali nama-nama hakim yang dilaporkan dan sedang dalam proses pemeriksaan terpublikasikan ke media massa. tapi juga merugikan para pencari keadilan. meski pada akhirnya bisa “berdamai”. usul pemberhentian hakim kepada presiden sejak pembelaan diri ditolak oleh Majelis Kehormatan Hakim. dan puncaknya adalah ketika 31 hakim agung mengajukan judicial review terhadap UU KY ke Mahkamah Konstitusi. LBH Jakarta dan Kontras) mengajukan permohonan menjadi pihak terkait tidak langsung. Kekhawatiran ini mengundang sejumlah lembaga swadaya masyarakat (KRHN. Namun nampaknya tidak membawa hasil. Termasuk dalam putusan ini. KY se- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 57 . Setidaknya pasca putusan MK. Bahkan secara terang-terangan pimpinan MA menolak dan mengabaikan rekomendasi dari KY. Sayangnya putusan MK berbicara lain. KY kehilangan kekuatan untuk melakukan pengawasan hakim. Tidak cukup dengan hal itu. Yang terjadi malah konflik terbuka antara MA-KY. memaksa badan peradilan lain atau hakim untuk memberikan keterangan atau data yang diminta. Meski demikian. tidak ada satupun yang ditindaklanjuti oleh MA. sejumlah hakim agung yang merasa nama baiknya tercemar oleh KY. KY untuk sementara tidak bisa lagi melakukan usul penjatuhan sanksi. Untuk mencari titik temu dalam soal obyek dan metode pengawasan. MK juga menolak hakim konstitusi menjadi bagian dari pengawasan KY. putusan MK ini mendorong simpati publik terhadap KY.

Sayangnya sampai saat ini tidak jelas kapan revisi UU KY akan diproses. usul tentang sebaiknya pengawasan KY hanya untuk hakim dan tidak untuk mengawasi hakim agung. ormas. sanksi dari KY bersifat mengikat dan disampaikan langsung kepada Presiden. Namun bisa jadi kemungkinan itu 3. lembaga Negara. Setidaknya itu bisa menjadi kekuatan potensial untuk memperkuat peranan KY. KY sendiri telah menyiapkan usulan pasal-pasal yang harus direvisi. seperti rekomendasi dari Lokakarya Dosen HTN Indonesia Wilayah Barat pada 22 Maret 2007. 22/2004 tentang KY (Buletin KY. lembaga keagamaan. Dalam konteks ini dukungan juga bermunculan. Atau Ketua MA sebaiknya ex officio sebagai Ketua KY. 58 Bunga Rampai . meminta pembentukan KY di daerah-daerah untuk mempercepat reformasi peradilan dan mendukung sepenuhnya percepatan revisi UU No. Setidaknya perintah langsung putusan MK adalah meminta DPR dan Pemerintah untuk melakukan sinkronisasi dan harmonisasi undang-undang tersebut.perti mendapat energi baru untuk menggalang berbagai potensi kekuatan dalam masyarakat. NGO. Usul atau pandangan ini memang terkesan hendak memdelegitimasi posisi dan peranan KY. Vol I No. dan hal ini posititif. lengkap dengan naskah akademisnya. MA sempat beberapa kali mengeluarkan statement atau pernyataan lewat media masa. dan pengawasan KY diintegrasikan dalam pengawasan internal di MA. organisasi profesi). Tercatat sudah lebih dari 100 perjanjian kerjasama yang ditandatangani. UU Kekuasaan Kehakiman. Butir-butir penting dari rekomendasi itu yang dapat memperkuat peranan KY diantaranya adalah. putusan dapat ditelaah oleh KY sebagai entry point ada tidaknya pelanggaran hakim. 5. KY terlihat begitu rajin membuat kegiatan dan perjanjian kerjasama (MoU) dengan berbagai pihak (akademisi/PT. dan UU MK) mesti direvisi. Misalnya. April 2007) Disisi lain. terutama dalam mengawal revisi UU KY. UU KY bersama sejumlah UU lain yang terkait (UU MA. padahal putusan MK telah dijatuhkan sejak Agustus 2006. Revisi UU KY ini bisa menjadi peluang untuk memperbaiki dan memperkuat kembali wewenang pengawasan KY. Issue Revisi UU KY Sebagai akibat dari putusan MK.

berhasil jika tidak ada pengawalan yang baik terhadap revisi UU KY, mengingat tidak semua anggota DPR pro terhadap reformasi peradilan. Sebagaimana pernah diakui sendiri oleh seorang anggota DPR yang menyatakan hampir 80% anggota DPR tidak pro-reformasi peradilan, lainnya menyatakan hanya 50%. (F. Arifin, makalah, 2006). 4. Issue Seleksi Hakim Agung Proses seleksi Hakim Agung diawali dengan surat dari MA yang memberitahukan tentang Hakim Agung yang akan pensiun pada tahun 2006. Dan selanjutnya sesuai kesepakatan dengan pimpinan MA, akan diusulkan sejumlah calon Hakim Agung untuk mengisi formasi 6 orang Hakim Agung. KY harus mengusulkan 3 kali lipatnya kepada DPR, sebagaimana ditentukan dalam UU KY. Kemudian DPR memilih dan memutuskan 6 dari 18 calon hakim agung, dan selanjutnya diserahkan kepada Presiden untuk ditetapkan. Kewenangan dalam menyeleksi Hakim Agung ini merupakan kali pertama dilakukan lewat KY, yang diharapkan dapat lebih baik dari proses seleksi yang sebelumnya dilakukan oleh DPR. Ini tentu saja taruhan besar bagi KY. Jika hasil seleksi hakim agung KY lebih baik, KY tentunya mendapat appreciate yang tinggi. Jika sebaliknya, bisa jadi performance dan kredibilitas KY akan diragukan publik. Berbeda dengan proses sebelumnya, seleksi hakim agung kali ini terdiri dari beberapa tahapan; seleksi administratif, penilaian karya ilmiah, dan kesehatan, seleksi kepribadian/profile assessment, dan seleksi kualitas/wawancara. Kecuali tahap seleksi wawancara, dalam setiap tahapan lainnya, KY melibatkan sejumlah pihak yang dianggap kompeten untuk menangani hal itu. Termasuk dalam hal ini usul dan laporan dari masyarakat tentang track record masing-masing calon. Dengan mengedepankan soal integritas dan kualitas, KY kemudian mengabaikan soal kuantitas dalam menentukan hasilnya. Dari 130 bakal calon yang mendaftar, pada akhirnya KY memutus 6 orang calon yang dinilai layak untuk disampaikan kepada DPR. Hasil ini mengundang kontroversi, karena KY meloloskan Ahmad Ali seorang calon yang dianggap berperilaku tidak terpuji dan diduga kuat terlibat dalam kasus korupsi. Apalagi keputusan meloloskan Ahmad Ali ini dilakukan dengan cara voting, 2 menolak dan 5 meloloskan. Akibatnya KY mendapat banyak kritik yang memperKomisi Yudisial dan Reformasi Peradilan

59

tanyakan metode dan keputusan dalam seleksi hakim agung ini. Hasil itu juga tidak sepenuhnya diterima oleh DPR. DPR meminta KY untuk melengkapi kekurangannya bahwa KY harus mengusulkan 3 kali lipat dari yang dibutuhkan. DPR tidak akan memilih dan memutuskan hasil dari KY sebelum KY melengkapinya. Sikap DPR ini memaksa KY untuk melakukan seleksi hakim agung tahap kedua. Walaupun kemudian KY telah melengkapi jumlah kekurangannya, namun nampaknya DPR tidak cukup puas dengan calon hakim yang dihasilkan KY. Sejumlah anggota komisi hukum DPR yang melakukan fit and proper test calon hakim agung, beranggapan calon hakim agung yang dihasilkan KY tidak berkualitas. Kritik juga terlontar terhadap anggaran sebesar + Rp. 4 miliar yang digunakan dalam seluruh proses seleksi hakim agung. Issue anggaran ini menjadi bola panas, dan menuai kritik dari sejumlah pihak (DPR dan MA). Mereka mempertanyakan besarnya anggaran yang digunakan, dan mengganggap tidak sebanding dengan hasilnya. Meski telah dijelaskan secara terbuka, dan pada seleksi kedua terjadi perubahan metode/tahapan agar bisa mengurangi anggaran yang digunakan, tapi nampaknya tidak cukup berhasil untuk menepis issue anggaran yang dianggap terlalu boros. Bagi sejumlah kalangan, peranan KY dalam melakukan seleksi hakim agung ini memang diluar harapan. Ada sejumlah persoalan yang tidak bisa dijelaskan dan dijawab dengan baik, terutama menyangkut soal konsistensi antara tujuan dengan hasil seleksi. Dalam hal ini KY selalu menyatakan lebih mengedepankan integritas dan kualitas. Namun ternyata, ada beberapa calon Hakim Agung yang kemudian diragukan kapasitas dan integritasnya. Nampaknya peranan KY dalam seleksi Hakim Agung ini, ‘menggoyahkan’ simpati terhadap KY yang sudah terbangun. Mengelola Simpati, Meminimalisir Resistensi Keberadaan dan kehadiran KY dalam sistem hukum dan ketatanegaraan Indonesia, memang memberikan harapan akan perbaikan sistem peradilan. Dalam dua tahun KY menjalankan fungsi, tugas dan kewenangannya, menunjukkan bahwa KY memiliki peranan yang signifikan dan strate-

60

Bunga Rampai

gis untuk mendorong dan memperkuat reformasi peradilan. Dengan kata lain, KY akan menjadi “pengawal setia” reformasi peradilan, khususnya dalam mencari dan memperbaiki kualitas dan integritas para hakim. Meski terbatas, selama ini KY cukup berhasil untuk “meng-entertaint” fungsi dan kewenangannya. Setidaknya hal itu dapat terlihat dari pemberitaan yang muncul mengenai sepak terjang KY lengkap dengan konflik yang terjadi diseputarnya. Ini suatu hal yang positif bagi sebuah lembaga baru, sehingga publik banyak mengenal dan mengetahui tentang KY. Ditambah upaya dari KY sendiri yang memperluas jejaring kelembagaannya dengan banyak lembaga/organisasi. Sehingga KY tidak hanya menuai simpati, tetapi juga dukungan riil dari berbagai kalangan. Simpati dan dukungan itu setidaknya dapat terlihat dari NGO, akademisi, kampus, praktisi/pengamat hukum, tokoh masyarakat/agama, ormas, sebagian anggota DPR, lembaga Negara/pemerintah, organisasi profesi serta pers. Pada saat yang bersamaan upaya perlawanan atau resistensi terhadap KY juga bermunculan. Resistensi muncul terutama dari kalangan hakim dan unsur/pihak MA, yang merasa eksistensi dan “kemapanan”nya terusik dengan kehadiran KY. Sebagaimana tergambar di atas, upaya perlawanan itu dilakukan dalam berbagai bentuk, mulai dari membangun opini, penolakan rekomendasi sampai langkah dan upaya hukum untuk mendelegitimasi keberadaan KY. Dalam hal-hal tertentu, resistensi juga muncul dari sebagian anggota legislatif dan kalangan advokat, yang khawatir dengan peranan KY dapat mengganggu kepentingan mereka. Resistensi dari sejumlah pihak dengan berbagai bentuknya itu, nampaknya sudah menunjukkan watak sesungguhnya yang anti terhadap perubahan. Terhadap resistensi itu, nampaknya KY belum bisa sepenuhnya meng-counter dan menjadikan hal itu menjadi issue publik. Misalnya, penolakan terhadap rekomendasi KY dapat dijadikan issue pejabat Negara yang tidak patuh pada aturan hukum. Lambannya revisi UU KY dapat dikemas menjadi issue hambatan dalam pemberantasan mafia peradilan. Juga terhadap issue anggaran seleksi Hakim Agung, dapat dilawan dengan minimnya anggaran untuk bidang hukum atau peradilan. Karena selama ini terjadi diskriminasi angga-

Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan

61

ran untuk kekuasaan yudisial jika dibandingkan anggaran untuk legislatif dan eksekutif. Pada sejumlah issue-issue tersebut di atas, KY juga tidak memaksimalkan simpati dan jejaring yang telah didapat untuk memberikan dukungan yang diperlukan. Entah dikemanakan banyak pihak yang telah mengikat kerjasama dengan KY. KY belum cukup berhasil mengelola simpati dan jejaring untuk melegitimasi dan memperkuat peranan KY. Disamping itu, nampaknya kondisi internal KY belum cukup kuat dan solid untuk memanage potensi kekuatan dengan tantangan yang ada, dan menjadikannya sebuah peluang yang dapat diambil. Termasuk dalam hal ini dalam memanage potensi konflik, membangun opini publik dan memaksimalkan kapasitas sumber daya manusia yang ada. Sebagai lembaga komisi independen yang baru terbentuk, memang tidak mudah untuk menjalankan fungsi dan kewenangannya. Umumnya hal ini terjadi pada lembagalembaga komisi independen yang telah terbentuk. Apalagi dengan kewenangan yang terbatas, lemahnya komitmen dan political will, serta arus balik anti reformasi yang sudah mulai melakukan konsolidasi dan menguat. Kebanyakan tidak cukup berhasil untuk mengelola kewenangannya dengan baik, bahkan ada beberapa diantaranya mengalami krisis kelembagaan dan terancam bubar. Tetapi hal itu nampaknya tidak demikian bagi KY. Perlu diingat, bahwa KY memiliki legitimasi yang kuat sebagai satu-satunya lembaga komisi independen yang diatur tegas dalam konstitusi. Pengaturan dalam konstitusi membuat keberadaan KY lebih terjamin. Karena itu kecil kemungkinan KY dapat mengalami seperti halnya lembaga komisi independen lainnya. KY harus menghindari itu, dan menjadi lembaga yang “seolah-olah ada”, serta cenderung birokratis. Kedepan KY perlu mengelola simpati lebih baik lagi agar menjadi lebih produktif dan mendukung kerja-kerja KY. Sejalan dengan hal itu, perlu diminimalisir hal-hal yang dapat menuai resistensi dari berbagai kalangan terutama para hakim. Sekalipun terjadi, sedapat mungkin dieliminasi agar tidak mendelegitimasi posisi dan peranan KY Usaha tersebut mengharuskan peran serta dari sejumlah pihak yang punya kewajiban dan kewenangan memperbaiki dan men-support peranan KY. Tidak bisa dilakukan oleh KY

62

Bunga Rampai

sendiri. Oleh karena itu, agar performance KY lebih baik lagi, yang perlu dilakukan kedepan adalah sebagai berikut; 1. 2. mendorong dan menjadikan issue/masalah KY menjadi issue publik, sehingga simpati yang telah diraih dapat lebih konkrit dan diperluas. memaksimalkan peranan jejaring yang telah ada dengan men-desentralisasi kewenangan KY terutama kewenangan mengawasi hakim. Untuk hal ini setidaknya dapat dibentuk segera perwakilan KY di sejumlah daerah yang rawan mafia peradilan, serta terdapat jejaring yang cukup potensial dan mampu menjalankan desentralisasi kewenangan itu. menyiapkan perangkat-perangkat organisasi, terutama regulasi internal yang diperlukan untuk memperlancar pelaksanaan tugas dan kewenangan KY, terlebih penting dapat membuat KY lebih transparan, akuntable dan legitimate dimata publik. menyusun code of conduct yang dapat dijadikan sebagai pedoman dan indikator dalam hal pengawasan hakim. Untuk hal ini ada baiknya disusun secara bersama dengan MA. memperkuat fungsi dan peranan KY di dalam revisi UU KY, terutama menyangkut soal pengawasan hakim dapat dilakukan secara efektif. Dalam hal ini setidaknya KY dapat memberikan sanksi yang bersifat mengikat kepada Presiden tentang hakim yang terbukti melanggar perilaku. melakukan kampaye dan pendidikan kepada publik untuk terus-menerus secara konsisten memerangi dan melawan mafia peradilan. Termasuk dalam hal ini meminta kepada DPR dan Presiden agar sungguh-sungguh melakukan pemberantasan mafia peradilan sebagai bagian dari upaya memberantas korupsi.

3.

4.

5.

6.

Epilog Sungguhpun disadari dan dirasakan bahwa membangun sistem peradilan yang baik dan bersih dengan melawan judicial corruption yang telah berurat akar didalamnya, tidak semudah membalik telapan tangan. Tidak segampang yang telah dibayangkan dan direncanakan, akan tetapi upaya ini harus tetap terus dilakukan. Keberadaan dan kehadiran
Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan

63

Komisi Yudisial memberikan harapan dan arti penting untuk tetap menjaga dan merawat upaya reformasi peradilan. Upaya yang barangkali tidak pernah diketahui kapan akan berhenti, demi tujuan mulia menegakkan kebenaran dan keadilan. Sejauh ini peranan Komisi Yudisial dapat menjadi spirit dan inspirasi dalam melanjutkan reformasi peradilan. Setidaknya melalui pengawasan para hakim dan menyiapkan hakim agar lebih berkualitas, professional, terpuji dan berpihak pada keadilan. Betapapun kemudian upaya yang dilakukan KY tidak mulus, karena adanya resistensi yang menghambat kerja-kerja KY sekalipun simpati dan dukungan juga bermunculan. Terlihat tidak mudah bagi KY untuk mendayung diantara simpati dan resistensi dalam mengawal reformasi peradilan. Namun yang jelas dan pasti para pencari keadilan masih tertindas dan merasakan ketidakadilan. Suatu kondisi yang tidak bisa dibiarkan berlarut-larut dan harus dihentikan. Mengingat KY memiliki peranan strategis dalam mengawal reformasi peradilan, maka sudah sepatutnya peranan KY perlu diperkuat kedepan. Langkah-langkah yang perlu dilakukan tidak hanya ditujukan kepada KY, tetapi juga DPR dan Presiden sebagai penerima langsung mandat rakyat yang sudah rindu akan penegakan hukum dan keadilan. Semoga tidak menjadi sebatas harapan.

64

Bunga Rampai

kapanpun juga. oleh karena institut itu ada untuk melayani publik.Kontribusi Lembaga Sosial Mendorong Reformasi Peradilan Oleh Satjipto Rahardjo Latar Belakang Reformasi Reformasi suatu peradilan tentu memiliki alasan mengapa peradilan harus direformasi. sehingga hampir tidak ada putusan publik yang tidak didemo. serta transparansi. seperti pengadilan sendiri. Di sini peranan publik makin mendapat angin dan terus merangsek maju. kinerja (performance). desentralisasi kekuasaan. maka penilaian berdasar standar internal saja tidaklah cukup. Terdapat interaksi antara institut dan publik. melainkan berada dalam jagat yang lebih luas. Sejak peradilan itu memiliki beberapa komponen. seperti produk. reformasi juga terkait pada masalah sistem. serta tingkat kepuasan publik. menemukan banyak kekurangan dan hal-hal negatif di peradilan. Ini dinamakan standar internal. Sejak suatu institut tidak ada untuk dirinya sendiri. Alasan empirik bergerak pada ranah praksis peradilan sehari-hari. Tuntutan transparansi tersebut membuka keKomisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 65 . Kecuali alasan empirik. Interaksi ada secara laten (latent). kejaksaan dan advokat. Alasan empirik yang didorong oleh keterbukaan tersebut. Tetapi ia menjadi lebih intensif sejak kelahiran apa yang dinamakan Orde Reformasi dengan kredo demokratisasi. Sekalian institut dalam peradilan memiliki standar masing-masing yang digunakan untuk melakukan penilaian. maka reformasi tentunya akan menyangkut pula sekalian komponen dari peradilan.

Bukan pemilihan oleh rakyat yang jujur yang terjadi. Tidak semua berlangsung secara ideal. peran masyarakat atau publik ke dalam urusan kenegaraan dan pemerintahan. bukan ”de opstand der democratie”. melainkan 66 Bunga Rampai . yang memberi alasan kuat untuk melakukan reformasi peradilan. Undang-Undang Dasar memiliki otoritas tertinggi untuk menentukan bagaimana sistem peradilan di negeri ini akan dibangun. berbagai tembok atau bastion dari orde pemerintah lama telah diruntuhkan. masyarakat madani. para ”preman”). untuk kemudian berubah menuju pemerintahan yang lebih bersifat kerakyatan. yaitu suatu tipe pemerintahan yang berbasis kekuasaan hampir-mutlak. atau dalam istilah Indonesia. bahkan mungkin untuk sementara secara jujur harus dikatakan. bahwa tampilan yang buruk dan negatif lebih menonjol daripada yang diidam-idamkan oleh perubahan tersebut. Sejumlah besar kejadian telah berhasil dihimpun oleh institut-institut independen. “civil society”. sekarang bertambah besar dan kuat. melainkan ”opstand der horden” (bangkitnya massa. Dari suatu ”state-based society”. apa yang dikenal sebagai. Pada ranah dan aras sistem. sehingga tidak ada borok yang bagaimana kecilpun yang tidak menerima sorotan dari masyarakat. Meminjam istilah Jose Ortega y Gasset (y Gasset. akibat demokratisasi.sempatan yang luas untuk melakukan eksaminasi terhadap praksis dan jalannya peradilan. seperti ICW. Lembaga Pemantau Peradilan dan Transparensi Internasional. Momentum reformasi peradilan memberi kesempatan kepada kita untuk memikirkan kembali tentang rancangan peradilan menurut Undang-Undang Dasar dan apakah pesan serta amanat dalam Konstitusi itu sudah diselesaikan dengan baik. maka reformasi dikaitkan kepada rancangan sistem atau bangunan peradilan yang berawal dari Undang-Undang Dasar 1945. 1957). Indonesia pelan-pelan bergerak menuju. Lembaga Sosial Sebagaimana diuraikan di atas. Sejak jatuhnya pemerintahan Presiden Soeharto. melainkan banyak juga para “preman”. Otonomi kekuatankekuatan dalam masyarakat tampil menjadi semakin perkasa. Bukan demokrat-demokrat sejati yang muncul.

penembakan di Irian. Lembaga sosial boleh disebut sebagai presentasi persepsi masyarakat yang relatif jujur atau tidak terkooptasi oleh kepentingan penguasa. namun secara cukup mengejutkan ternyata mampu menjaga independensi dan integritas serta mengambil jarak dari pemerintah. Selama keberadaannya. sehingga Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 67 . melainkan harus berani menghadapi berbagai eksaminasi yang dilakukan oleh masyarakat melalui lembaga sosial yang makin menjamur itu. melainkan penalaran oleh uang atau kapital. dan penyerbuan terhadap Kantor Pusat PDI-P. sebagai Sekretaris Jenderal. oleh karena dapat merusak reputasi lembaga sosial yang memang bersungguh-sungguh ingin menjadikan rakyat sebagai raja. yaitu lembaga yang disponsori oleh pemerintah.pemilihan berdasarkan ”kekuatan uang”. Komnas sempat menjadi ikon dan tumpuan harapan masyarakat. seperti dalam Kasus Marsinah. ia justru memanfaatkan jabatannya itu. Sebagai Direktur Jenderal Pemasyarakatan pada waktu itu. Peradilan sekarang tidak dapat lebih lama berlindung di bawah wibawa pemerintah. sehingga lembaga yang benar-benar berkualitas saja yang akan bertahan. Terkadang ada seloroh mengenai adanya lembaga sosial ”pelat merah”. Memang rupa-rupanya tidak sekalian lembaga sosial itu baik dan jujur serta beramanah. Karena reputasinya itu maka di tengah-tengah kuatnya cengkeraman pemerintah. Ia cukup cepat merespons setiap kejadian dugaan pelanggaran HAM. Hal itu memang memprihatinkan. Baharudin Lopa. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas) generasi pertama (1993-2001) sering mendapat sebutan yang demikian itu. melainkan lebih merupakan suatu otonomi yang didasarkan pada penalaran ”apa yang kelompok saya bisa dapat”. oleh karena pada akhirnya akan terjadi seleksi alami. berperan besar dalam memotori gerakan-gerakan Komnas. seperti di jaman pemerintahan Soeharto. Bukan penalaran nurani rakyat. Komnas belum pernah sekalipun bertemu dan menerima ”pesan” dari Presiden Soeharto. Otonomi daerah tidak menyumbang kepada kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. melainkan tercatat pula lembaga yang tidak demikan. Tetapi keadaan seperti itu tak perlu terlalu dirisaukan. turun ke lapangan dan membuat simpulan serta pernyataan yang cukup berani.

Rupa-rupanya kalangan pemerintahan belum dapat membedakan secara baik antara Lopa sebagai Dirjen dan sebagai anggota Komnas yang mandiri. Namun demikian. Universitas yang sarat dengan watak keilmuan. Peluang ini digunakan oleh Komnas untuk ”menggedor” jajaran pemerintah dan ABRI yang melakukan pelanggaran HAM. Selebihnya mereka sangat disibukkan oleh kegiatan mengajar. menjadi konsultan dan lain-lain. tetapi ia tetap memiliki watak untuk disebut sebagai lembaga mandiri dan karena itu dapat digolongkan ke dalam lembaga sosial. menguji dan meneliti. yang terdiri dari para scholar dan peneliti. tetapi masih lebih berada dalam apa yang sering disebut sebagai sebuah ”menara gading”. Sesekali mereka ”turun dari gunung”. seperti Pusat Studi Anti Korupsi pada Universitas Gajah Mada. didasarkan pada kaidah keilmuan yang obyektif. Komunitas Akademi Satu kekuatan sosial yang belum termanfaatkan dengan baik adalah dunia akademi. Komunitas akademi yang ideal adalah independen. Dengan mempertahankan posisi yang demikian itu memang komunitas akademi dapat mempertahankan kejujurannya dalam menelaah berbagai permasalahan dan kalau perlu membuat solusi tindakan. Kendati suatu universitas negeri dibiayai dari anggaran belanja negara. kekuatan tersebut belum benar-benar tampil sebagai suatu kekuatan sosial aset bangsa. apabila diminta sebagai pembicara dalam seminar. tak dapat disetir dan dikooptasi oleh pemerintah. Komunitas akademi memiliki sekalian persyaratan untuk dimasukkan juga ke dalam barisan lembaga sosial. Penampilan yang lebih maju dilakukan melalui pembentukan pusat-pusat kajian.Komnas sering dengan relatif mudah dapat memasuki ranah yang ”dikuasai” pemerintah. dengan begitu ia tetap merupakan aset bangsa yang belum dapat memberikan kontribusi secara optimal terhadap penyelesaian permasalahan masyarakat. bangsa dan negara. jujur dan membuat simpulannya sendiri yang secara relatif tidak dicemari oleh kepentingan tertentu. Komunitas ini melakukan pengamatan (observe) terhadap sekalian hal yang terjadi di masyarakat. Di Indonesia. Itu meru- 68 Bunga Rampai .

..” Kelemahan dan kekurangan tersebut muncul dari proses penerimaan (recruitment) hakim yang terlalu melihat kepada kedekatan seseorang calon dengan eksekutif. Oleh karena ketiadaan keterbukaan. Dikatakan oleh Pompe. “The leadership standards of many Supreme Court Chairmen have fallen far short of the ideal. organisasi pengadilan. Pompe menuliskan seluk beluk perjalanan sejarah Mahkamah Agung yang menyoroti aspek-aspek pengaruh dan intervensi politik terhadap Mahkamah. “This condition. pada tahun 1996. characterized by weak leadership. Dalam hal perekrutan hakim. tidak terdapat keterbukaan dan peranan birokrasi sangat kuat (effectively controlled by the bureaucracy). Penelitian Sebastiaan Pompe Sebastiaan Pompe telah melakukan penelitian yang sangat intensif terhadap dunia pengadilan di Indonesia. Dikatakan oleh Pompe.” Komentarnya terhadap standar profesionalitas adalah.pakan kemubaziran yang disayangkan. which has been largerly directed toward recruiting leaders who have either strong ties to the executive branch of the government or accomodating dispositions. sprang naturally from the nature of recruitment process. Metode yang digunakan sangat kuat berdasarkan fakta. makin menurunnya pengetahuan dan kesepakatan mengenai hukum yang berlaku. Dengan data yang kaya. maka banyak peluang bagi terjadinya hal-hal yang tidak baik (improprieties). khususnya Mahkamah Agung Republik Indonesia. A Study of Institutional Collapse” (Pompe. negeri Belanda.” Banyak Ketua Mahkamah yang tidak menjalankan kepemimpinannya dengan ideal. 2005). Disertasi tersebut (Fifty Years Indonesian Supreme Court. as a number of chairmen have failed to impose institutional values on the Court’s environment and have also failed to enhance internal cohesion and morale. Penelitian tersebut selesai ditulis sebagai disertasi yang dipertahankan di Universitas Leiden. . “This lack of transparency is an important factor in obscuring the personalities of the judges who are recruited and the views which they hold. fungsi pengadilan. 1996) kemudian diterbitkan sebagai buku pada tahun 2005 berjudul “The Indonesian Supreme Court. baik dokumen maupun catatan-catatan wawancara (fact-based research). serta kualitas para hakim. menurunnya perbandingan penge- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 69 .

yang satu menutup pintu bagi masuknya orang luar. bahwa lembaga itu mempunyai kecenderungan kuat untuk berusaha mempertahankan eksistensinya dan dengan demikian juga menyimpan keinginan kuat untuk dengan berbagai cara memberikan legitimasi terhadap eksistensinya itu.tahuan mengenai hukum (comparative legal knowledge) serta menurunnya kedisiplinan pribadi (personal strictness). Pada waktu TGPTPK. capability to incompetence. Dunia pengadilan percaya. menyimpulkan limapuluh tahun sejarah Mahkamah Agung R. Pada bagian akhir dari analisisnya mengenai para hakim. Dalam sosiologi. menyelamatkan keadaan dan menuju masa depan yang lebih baik. integrity to structural corruption.I. Pompe. Sebagian hanya ingin mempertahankan keadaan sekarang. Mereka yang menolak pembukaan pintu bagi hakimhakim (opening up recruitment) yang direkrut dari luar pengadilan beralasan. Dalam dunia pengadilan ada dua kubu. yaitu ”courage turn to cowardice. ingin membawa beberapa Ha- 70 Bunga Rampai . Sindrom ketertutupan itu menghinggapi setiap lembaga apapun. Para hakim diumpamakan isi dari sebuah kantong yang bermacam-macam. bahwa mereka akan mampu menyelesaikan persoalan-persoalannya sendiri. dimana telah terjadi sejumlah kemerosotan. ini dinamakan kesadaran atau perasaan ”in-group” yang membedakan dan mengambil jarak terhadap ”out-group”.” Melihat Pengadilan Dari Luar Optik sosiologi akan mengatakan. ke dalam kata-kata yang padat. Ada semacam resistensi terhadap ”penyerbuan dari luar” yang akan mengguncang kenyamanan kelangsungan hidup lembaga dan para anggota di dalamnya. melainkan karena rekrutmen secara terbuka itu akan membawa persoalan politik masuk ke pengadilan (cut across the political spectrum). and respect to contempt. Barangkali pembubaran Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (TGPTK) merupakan contoh tentang usaha untuk mempertahankan Iembaga sendiri. sedang yang lain menerima gagasan untuk merekrut orang-orang dari luar menjadi hakim. tetapi sebagian lain terdiri dari orangorang yang serius ingin melakukan pembaruan. bukan karena tidak ada orang luar yang mampu duduk di kursi hakim. pada tahun 2000.

Tidak ada lembaga yang diberi kekuasaan seperti itu. pada tahun 80-an (?).kim Agung ke pengadilan. Pertanyaan mendasar selanjutnya adalah. justru dibubarkan. karena adanya berbagai sindrom tersebut di atas. TGPTPK. Tidak mudah untuk melakukan penilaian yang jujur terhadap lembaga sendiri. Kendati demikian. melalui data yang ditemukan di lapangan. Ini memang satu kekecualian. karena umumnya lembaga-lembaga publik lebih suka melegitimasi diri sendiri. sedang polisi untuk menangkap. pada waktu Kepolisian Daerah Jawa Barat. mengadakan satu seminar yang menyoroti pungutan liar poIisi di jalan-jalan. maka. Hakim yang memiliki kecenderungan legalistik akan memutus berdasarkan kacamaKomisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 71 . dengan dakwaan korupsi. Alasan bagi kehadiran tim-tim yang disebut ”independen” di negeri kita dewasa ini. Polri bagaikan membuka boroknya sendiri. Kediktatoran Pengadilan Putusan hakim menjadi krusial. misalnya. seperti pengadilan dan kepolisian. apakah hakim dan polisi tidak dapat melakukan kesalahan? Jawaban terhadap pertanyaan tersebut cenderung memastikan. Ini merupakan cacat yang tidak kecil. karena ditentukan oleh pikiran atau mindset sang hakim. Pimpinan Komisi Kepolisian Nasional (Ketua. jawaban itu diberikan dengan membentuk Komisi Yudisial dan Komisi Kepolisian Nasional. Di Indonesia. maka melalui sebuah judicial review. Dalam seminar tersebut. melihat komposisi keanggotaannya. berupa kekuasaan eksklusif tertentu. menginterogasi dan akhirnya menyerahkannya kepada jaksa untuk diajukan ke pengadilan. komisi-komisi tersebut beIum mandiri benar. Sekretaris). Wakil Ketua. menahan. Banyak kekuasaan diberikan kepada lembaga-Iembaga. untuk sebagian dapat dijelaskan dari hal-hal yang diuraikan di atas. yang bersemangat tinggi untuk memberantas korupsi. Dalam konteks itu. merupakan suatu peristiwa yang cukup luar biasa. Oleh sebab itu diperlukan suatu ”kekuatan-dari-luar” untuk dapat memberikan penilaian yang lebih jujur. Pengadilan diberi kekuasaan untuk memutus suatu perkara. Kalau demikian lalu ”siapa mengawasi pengadilan?” dan ”siapa mengawasi polisi?”. masih dipegang oleh pejabat tinggi dalam pemerintahan.

72 Bunga Rampai . ‘’police justice”. ”Anda mengadili kami. Bukan jaksa atau polisi. Maka terjadilah suatu pengadilan. Penamaan pengadilan dan peradilan yang demikian itu dapat digunakan untuk menggambarkan. maka perkaranya akan ditangani dengan keras dan demikian sebaliknya. Apabila seseorang dengan status sosial rendah menyerang orang dengan status sosial tinggi. Di Georgia. “substantial justice”.ta yang digunakannya itu. orang kedua sesudah Hitler itu mengatakan. atau sosiologi pengadilan. karena kalah perang. risiko itu adalah 15% lebih tinggi daripada baku bunuh antara sesama kulit hitam. Potret yang demikian itu memancing pendapat. Itulah esensi ”Victor’s Justice”. 1989). Sekalian penyebutan itu menggambarkan semacam protes terhadap kekuasaan hakim untuk menentukan siapa salah dan benar. betapa medan pengadilan menjadi ajang pertemuan antara dua alam pikiran. Dengan demikian. di Florida 40% dan di Texas hampir 90% lebih tinggi. Pada waktu Herman Goring melakukan pembelaan. Apapun kacamata yang dipakainya. Saya kira. di Nuremberg. maka andalah yang akan diadili”. dimana alam pikiran yang satu mengadili alam pikiran yang lain. Konflik yang demikian itu dapat juga dilihat dari perspektif sosiologis. manakala pikiran hukum hakim berbeda dengan terdakwa. bahwa pengadilan itu melakukan diskriminasi sosial. Penelitian Donald Black di Amerika Serikat menemukan. Di Ohio. Sebutan pengadilan tersebut diberikan kepada pengadilan Negara-negara Sekutu yang memenangkan Perang Dunia II terhadap para pemimpin Nazi Jerman. sehingga (putusan) hukum itu berbanding lurus dengan status sosial (law varies directly with social status) (Black. yang kalah perang. di atas 30% lebih tinggi. maka risiko untuk dijatuhi hukuman mati melonjak tinggi. maka saat seorang kulit hitam diadili karena membunuh kulit putih di Amerika Serikat. Oleh sebab itu muncul sebutan-sebutan ’’formal justice”. Menarik untuk membicarakan kediktatoran pengadilan dalam kaitan dengan “Victor’s Justice”. hakim memiliki kekuasaan besar untuk memonopoli pembuatan putusan. “street justice” dan lain-lain. Andaikata kami yang menang. pengadilan yang demikian itu dapat juga ditarik ke arah yang lebih tinggi dan menjadi suatu masalah yang bersifat akademis. Situasi yang demikian itu terjadi.

harus dikesampingkan. doktrin dan tidak berselera untuk melihat kenyataan. pada saat kita berpikir untuk melakukan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 73 . Jaksa: Gadis itu sudah mati. Diceritakan adegan menarik dari sebuah film yang didasari oleh semangat menggugat kediktatoran hakim tersebut. Semua bukti mengenai gadis itu. juga pergulatan ideologi. Kekuasaan itu dapat mematahkan usahausaha untuk mencari kebenaran. dan mungkin ke-6 dan ke14 telah dilanggar. karena memiliki kekuasaan besar untuk menentukan siapa salah dan siapa benar. Polisi: Tapi saya tidak tahu hal itu. segalanya sebetulnya sederhana saja. menurut laporan ahli. Anda seharusnya berusaha lebih dulu untuk mendapat hak untuk menggeledah (search warrant). Ilustrasi dari film tersebut menggambarkan betapa pengadilan itu tidak hanya menjadi medan pergulatan hukum. Namun bagaimanapun. Ya. tidak dapat dibawa ke pengadilan. hanya hakimlah yang boleh memutus dan yang lain harus diam. melainkan juga pergulatan kemanusiaan dan dengan demikian. maaf saja. 1997). melalui dialog antara polisi dan hakim (Quirk & Bridwell. Hakim: Pengadilan mengakui kepedulian polisi terhadap nyawa gadis itu. Hakim: Pada hemat saya. penggeledahan terhadap rumah tersangka adalah tidak sah. karena. Hak tersangka yang dijamin oleh Amandemen ke-4 dan ke. sang hakim berpegangan kepada peraturan. tetapi tidak ada alasan untuk membenarkan kekerasan hukum yang telah dilakukan oleh polisi. semua bukti fisik.bahwa yang terjadi di Amerika Serikat adalah ”white’s justice”. Ilmu Hukum yang Terintegrasi llmu hukum niscaya merupakan sumber penting yang perlu ditengok. misalnya.5. sehingga bukti yang diperoleh dari situ. Pengadilan dan hakim sering dianggap diktator. Polisi: Surat penggeledahan? Pada waktu itu saya dihadapkan kepada seorang anak perempuan yang tengah sekarat. pengakuan terdakwa.

Ilmu hukum tidak berhenti. qui peuvent moderer ni la force ni la rigeur”. Langkah dan tindakan konkret dalam hukum memerlukan pencerahan yang datang dari ”the state of the art” dalam ilmu hukum. Puncaknya adalah pada saat sekalian massa perundang-undangan tersebut dihimpun dalam kitab-kitab hukum. Dalam atmosfer seperti itu. dengan catatan penting. Industri. demikian Montesquieu). Ilmu hukum merespons perkembangan tersebut dengan melakukan konsolidasi untuk mengamankan prestasi yang telah dicapai. ilmu hukum tidak boleh keluar dari batas perundangundangan (alles binnen de kader van de wet). Kepastian hukum pun muncul sebagai suatu barang yang nyata dan menjadi ikon. Ilmu hukum menjadi identik dengan ”analytical jurisprudence” atau ”rechtsdogmatiek”. Siasat tersebut dilakukan dengan mengintensifkan pemahaman terhadap jagat hukum yang telah menjadi demikian luas. Maka abad ke-19 pun dikenal sebagai Era Kodifikasi. Abad ke-19 menampilkan dinamika luar biasa dalam perkembangan hukum positif. melainkan berkembang dan bergerak dinamis. maka 74 Bunga Rampai . Perkembangan dalam hukum positif akhirnya memacu pengusaan ilmu hukum. qui prononcent les paroles de la loi. Bidang-bidang hukum baru muncul sebagai bagian dari perkembangan masyarakat yang berkembang cepat pada masa itu. perdagangan. kecuali menjadi corong dari undang-undang (”Les juges de la nation ne sont que les bouches. Hal tersebut dilakukan dengan pengorganisasian dan sistematisasi bahan hukum yang tersedia. Berbicara hukum adalah berbicara mengenai suatu kepastian. Ilmu hukum memusatkan perhatiannya terhadap hukum positif. llmu hukum abad ke-21 niscaya jauh berbeda daripada abad ke-19. llmu hukum merupakan pundi-pundi yang menghimpun sekalian pemikiran dan perkembangan baru dalam pemikiran hukum. transportasi berkembang dengan cepat yang membutuhkan dukungan hukum. Persoalan besar pertama yang dihadapi adalah ”apa sesudah kodifikasi?”. Ia tidak boleh keluar dari medan perundang-undangan. des etres inanimes.reformasi peradilan. Ilmu hukum menjadi terfokus ke dalam. Hakim sama sekali tidak memiliki kekuasaan apapun untuk mengubah dan menafsirkan undang-undang. Pengadilan atau hakimpun tidak boleh berbuat lain.

Memasuki abad ke-20. 1993). bahwa penemuan hukum adalah penerapan hukum. 2004). administrasi negara dan lain-lain). insinyur dan sarjana dari ilmu-ilmu sosial. telah menerbitkan sebuah buku berjudul ”Geintegreerde rchtswetenschap” (”Ilmu hukum yang terintegrasi”. pidana.cara berhukum pun sudah seperti mesin dan tidak berbeda daripada mengerjakan soal matematika. Seorang insinyur geologi telah menganalisis kerusuhan sosial dengan menggunakan disiplin ke-insinyuran-nya. ”Van de rustige verzekerdheid van velen in de 19 de eeuw. misalnya menggugat. Sejumlah dokter. Ilmu hukum juga sibuk untuk membangun struktur dan dari situ disusun bangunan hukum yang didasarkan pada pemisahan sub-disiplin secara ketat (hukum-hukum perdata. Perubahan penting juga terjadi di bidang peradilan yang semula dianggap sekedar sebagai mesin otomat yang menerapkan undang-undang. mengakhiri ilmu hukum abad ke-19.” (Kepastian. Salah satu artikel. Perkembangan terakhir dalam ilmu hukum menunjukkan kecenderungan ke arah struktur yang tidak lagi terkotak-kotak secara ketat. Buku yang berisi kumpulan karangan tersebut menggugat kemapanan pembagian ke dalam berbagai sub disiplin hukum dan menyebutnya sebagai ketinggalan zaman. tata negara. Hukum harus mengikuti masyarakat dan perkembangannya. sebagai ”het hanteren van logische jiguren” (Scholten. dalam memperingati 30 tahun usianya (1993). bukan sebaliknya (Rahardjo. Belanda. Rotterdam. bahwa pengkotakan hukum se- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 75 . dat rechtsvinding is wetstoepassing. ilmu hukum pun mengalami perkembangan dan perubahan penting. telah menyelesaikan disertasinya pada program tersebut. Paul Scholten mengatakan tentang cara berhukum seperti itu. Program doktor ilmu hukum Universitas Diponegoro telah mencoba untuk mencairkan batas-batas yang demikian itu. Program doktor tersebut menuangkannya ke dalam paradigma ”Hukum untuk Manusia”. Fakultas hukum Erasmus. 1954). Perubahan penting terjadi. Suasana kepastian dan kekakuan abad ke-19 tidak dapat dipertahankan 1ebih lama 1agi. tidak banyak lagi sisanya). seperti diterima banyak orang di abad ke-19. is niet zo heel veel overgebleven. Foque et al. sejak mulai rekrutmen para calon doktor (Program doktor. 1995). Dikatakan oleh Scholten.

mau tidak mau. Dalam ”implicit philosophy” seperti itu. Indonesia Memilih Sejak pengadilan dan peradilan itu tidak kedap ideologi. Pengkotak-kotakan ke dalam hukum perdata dan hukum pidana. 2006). bukan suatu kebenaran absolut yang harus diterima dan dijalankan begitu saja. baik terhadap orang lain. dunia kita dibelah oleh dua ideologi. yaitu liberal-individual di satu pihak dan kolektif-kontekstual di pihak yang lain (Rahardjo. tidak ada tempat bagi pemisahan klasik ke dalam hukum publik dan privat abad ke-19. Kehidupan masyarakat tidak berjalan karena mematuhi hukum yang datang dari perintah penguasa. maka perombakan bukan sesuatu yang ditabukan. Indonesia harus membuat pilihan. Secara garis besar. Sejak konstitusi kehidupan kita didasarkan pada visi dan kosmologi yang berbeda dengan yang menjadi dasar bagi penataan peradilan selama ini. Pembelahan tersebut didasarkan pada kosmologi yang berbeda dan yang pada 76 Bunga Rampai . Kehidupan sosial dan hubungan-hubungan dalam masyarakat dewasa ini sudah demikian rumit atau kompleksnya. maka di tengah-tengah lalu lintas ideologi hukum di dunia ini. tidak dapat lagi dilayani oleh pembidangan hukum secara klasik demikian itu.cara klasik ke dalam hukum publik dan hukum privat telah kehilangan legitimasinya. maupun terhadap masyarakat sebagai keseluruhan. Perkembangan dalam ilmu pengetahuan dan ilmu hukum pada khususnya yang demikian itu. pikiran-pikiran tentang ilmu hukum yang terintegrasi itu menolak “rule-book-model of society”. tidak mampu memberikan pelayanan yang baik terhadap masyarakat yang demkian kompleks itu. memberi ilham kepada kita pada waktu berpikir untuk melakukan reformasi peradilan. sehingga untuk menghadapinya. Cara berhukum dalam peradilan yang lama bukan sesuatu yang tak dapat dirombak. Suatu kehidupan bersama yang benarbenar bertahan lama (duurzame samenleving) hanyalah ada manakala didasarkan pada kesadaran para anggota masyarakat terhadap asas-asas dasar dalam kehidupan bersama itu. Dengan mengutip ”implicit philosophy” Ronald Dworkin.

di Tokyo. Sebuah survai mengenai penggunaan hukum kontrak modern di Jepang pada tahun 1970. Lev. yang melakukan penelitian tentang cara berhukum bangsa Indonesia di pengadilan. Hal yang demikian itu menyebabkan bahwa bangsa-bangsa dengan kosmologi dan cara berhukum yang beda. bangsa itu lebih mendahulukan penyelesaian secara Jepang. menemukan. Hukum modern yang melalui berbagai jalan. misalnya mengatakan sebagai berikut. pada waktu menggunakan hukum modern tersebut. 1972). Indonesia telah memilih dan pilihan itu tidak berbeda dengan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa di kawasan Asia Timur. 1984). menyebar ke seluruh penjuru dunia. Penggunaan hukum modern di Korea. Bangsa-bangsa di kawasan Asia Timur. Dengan demikian.akhirnya memunculkan cara berhukum yang beda puIa. juga dirancang untuk menjaga dan mempertahankan ideologi tersebut. memastikan pilihan tersebut (Lev. digunakanlah kontrak yang sudah dibuat (Parker. asas dan doktrin. mengalami banyak kesulitan. yaitu pada dasamya menolak liberalisme-individual dan menerima cara kolektif-kontekstual. yaitu yang mengedepankan musyawarah (“the contract could be abrogated by simply renegotiating with the other party when circumstances dictated”).” (Pyong-Choon. tetapi pada penerapannya. Baru kalau cara ini gagal. bahwa kendatipun Jepang menerima hukum kontrak modern. 1978). disebut oleh PyongChoon sebagai. Daniel S. pada dasarnya berwatak liberalindividual. maka sekalian struktur. An institution that originally served one purpose may find itself twisted around to serve a host of totally different purposes in the adopting culture. “Any institution that leaves its indigenous habitat and gets transplanted to an alien culture invariably undergoes a fundamental change in the process of transplantation. “medievalization of modern institutions of the West”. Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 juga Reformasi Peradilan: Harapan dan Kenyataan 77 . dengan tetap mempertahankan keJepang-annya. Hahm Pyong-Choon. Cara pembengkokan oleh Jepang ini disebut “the Japanese twist” (Ozak. Jepang adalah salah satu bangsa di Asia Timur yang sangat siap untuk menerima penggunaan hukum modern (dan lain-lain) dari Barat. merupakan contoh yang baik tentang bagaimana kesulitan yang harus dihadapi tersebut. 1971).

Kata-kata yang dilontarkan. atau yang lain. watak liberal-individual dari peradilan kita masih kuat. khususnya bagian Pembukaan. baik Leiden. bahwa suatu perubahan mendasar hendaknya dilakukan. Diponegoro memang sedikit banyak telah meyakinkan. yang berbasis nilai dan kosmologi Timur. yaitu agar berakar pada kosmologi dan habitat Indonesia. Kalau kita melihat kepada pembelajaran hukum kita.dikatakan. karena memang itulah amanat Undang-Undang Dasar 1945. Selama ini kita hampir tidak merisaukan amanat yang dipesankan oleh Undang-Undang Dasar kepada kita. pandangan ke Timur lebih diutamakan. Fakultas-fakultas hukum kita belum dapat diandalkan untuk menjadi ”avant-garde”. Di waktu-waktu mendatang. tetapi hampir tidak pernah ke Jepang. menunjukkan. seperti ”peradilan rekonsiliatif’. penataan yang demikian itu perlu dirombak secara mendasar. Harvard. sebaiknya orientasi kita lebih seimbang. maka fakultas-fakultas hukum kita masih belum memiliki kesadaran untuk berubah menuju cara berhukum di pengadilan berdasarkan pembacaan terhadap Undang-Undang Dasar kita. Beberapa penelitian dan disertasi yang ditulis pada Program Doktor Ilmu Hukum Univ. Maka dihadapkan kepada amanat UndangUndang Dasar. Reformasi peradilan sebaiknya dilakukan dengan cukup mendasar. Dengan demikan kita kurang mendapat ilham untuk melakukan reformasi hukum. Reformasi Peradilan Berdasarkan uraian di atas. bahwa ”dibuat Undang-Undang Dasar yang bersifat kekeluargaan”. maka pengadilan dan peradilan kita memang membutuhkan reformasi. bahkan di waktu seperti sekarang ini. Selama ini kita terlalu berpaling ke Barat. Kesenjangan tersebut menimbulkan berbagai komplikasi sewaktu hukum modern itu diterapkan. bahwa memang dirasakan keperluan untuk membangun satu model peradilan lain yang lebih berakar pada kosmologi Indonesia. khususnya peradilan. ”peradilan restoratif’. Sampai hari ini. Sebagaimana diuraikan di muka penataan peradilan kita sekarang masih didasarkan pada ideologi liberal-individual. Pera- 78 Bunga Rampai .

”Realitas obyektif komunitas masyarakat lokal di Sabu yang masih terbilang sederhana. ”Uku merangkum semua lapangan kehidupan. kita memiliki alasan lebih kuat untuk membangun suatu tatanan peradilan yang baru. daya tarik dan manfaat yang ditawarkan lembaga/hukum negara tidak segera diterima. Sejak tahun 1945. selama enampuluh tahun lebih. karena masyarakat harus ’belajar’ lagi mengenal dan memahaminya. sampai kepada kematian.” Pranata yang demikan itu kemudian harus berhadapan dengan hukum nasional. Padahal. 2006). setidaknya kita tidak menghambat penyelenggaraan peradilan yang berbasis kearifan lokal Indonesia itu. Tanya sudah ada pranata uku. seolah-olah segala sesuatunya memang harus berjalan seperti itu. sebagaimana ditulis oleh Bernard L. Tanya. dalam arti sesuatu yang didatangkan dari luar. pranata asli Sabu yang bersifat religius. tetap bekerja. membuat kehadiran hukum negara sebagai sebuah inovasi terasa kian bermasalah.. Praksis yang beda tersebut mencerminkan ”perlawanan” dari suatu pikiran yang lebih mengakar pada habitat sosial asli. seperti ditulis oleh Bernard L. yang memiliki struktur dan watak sosial beda. Perkembangan ilmu hukum yang baru. sewaktu dihadapkan pada penggunaan hukum modern. Dalam proses belajar ini mereka menghadapi masalah yang kompleks . lebih menuju kepada integrasi dan dengan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 79 . yang beda sekali dari pikiran sosial atau ideologi yang mendasari peradilan modern. Dikatakan oleh Tanya. yang notabene adalah hukum modern.dilan di Indonesia. penggunaan hukum modern itu merupakan suatu beban bagi komunitas lokal (Tanya. Di Sabu. peristiwa hubungan-hubungan keluarga.. ”Sebagai sesuatu yang ’baru’. kehidupan. ” Apabila kita belum mampu menata peradilan kita berdasarkan amanat Undang-Undang Dasar secara benar-benar terstruktur.” Lebih lanjut Tanya menulis. maka kita belum dapat menghargai apa yang dilakukan oleh masyarakat tersebut. Padahal pemerintah kolonial Belanda sejak semula sudah melihat risiko penggunaan peradilan modern itu bagi banyak komunitas lokal di Indonesia. karena tidak lain harus didasarkan pada asas kekeluargaan. Setiap kali masyarakat setempat menjalankan praksis yang beda. religi. sebagaimana diuraikan di muka..

80 Bunga Rampai . penyiapan doktrin dan asas. Dengan demikian. sampai ke pengaturan baru dalam beracara. posisi hakim. seperti dalam arsitektur peradilan sekarang. jaksa. juga dikehendaki untuk diubah. maka pikiran kita untuk mereformasi peradilan di Indonesia memiliki legitimasi yang tinggi. Sekalian pekerjaan tersebut tidak dapat hanya dibebankan kepada pengemban kekuasaan formal saja. Ia dimulai dari perubahan paradigma. Disinilah masyarakat ikut serta. tidak menggambarkan arsitektur kekeluargaan yang dikehendaki. Posisi komponen-komponen peradilan yang berhadaphadapan. mewarisi suatu sistem yang hakekatnya bersifat liberal-individual. Perlindungan dan penyelamatan individu serta kemerdekaan indvidu menjadi ideologi. polisi. Lebih daripada itu pembagian.demikian mengurangi pengkotak-kotakan dalam displin dan sub-disiplin. Sudah diuraikan. bahwa sistem peradilan kita dan umumnya negara-negara di dunia. yang antara lain diwakili oleh 1embaga-lembaga sosial. Ideologi kekeluargaan menjadi penentu arah kemana tujuan reformasi peradilan negeri ini. Undang-Undang Dasar 1945 tidak mengikuti ideologi tersebut. melainkan menjadi hajat seluruh bangsa. advokat. penggolongan dan nomenklatur lama juga digugat. komponen-komponen sistem peradilan. Pembangunan suatu sistem peradilan baru tersebut merupakan pekerjaan raksasa. Pembagian ke dalam hukum publik dan privat yang selama beratus-ratus tahun diterima sebagai sesuatu yang absolut dan sakral. melainkan menghendaki sistem peradilan didasarkan pada asas kekeluargaan. dalam sistem peradilan memerlukan penataan kembali. Dengan demikian.

hlm. Cornell University Press.W. Ozaki. 1989. Y Gasset. Jakarta. 2006. Oxford University Press.Y. Hahm.J. Diponegoro. The Korean Political Tradition and Law. Charles E... Asser’s Handleiding tot de beoefening van het Nederlandsch burgerlijk recht. Komisi Yudisial RI. 1997. William J. Geintegreerde rechtswetenschap. Judicial Dictatorship. Zwolle. Foque.E. Jose Ortega.Pencarian..C.). R. N.). Paul. Program Doktor Ilmu Hukum. Muhammadiyah University Press. Pyong-Choon. Parker. 1995. Donald.. 2004. R. 1971.Randall. Zijderveld (red. 1954. L. 1957. The Japanese. - - Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 81 . pp. Tjeenk Willink. Ithaca. A.Daftar Pustaka Black. W. Sociological Justice. Vermont. Satjipto. Jr. An American Perspective. 246-316. Craig. Ladan. Arnhem. Tanya. New Brunswick. 2005.Y. Pompe. Daniel S. Surakarta. Cornell University. 1972. A Cultural Portrait. Lev. Gouda Quint. N. Tokyo.. Tuttle. N. Scholten. 1978. Rutland. Quirk. & Bridwell.Norton. Ithaca.. W. Rene. Robert S. Penerbit Srikandi. “Judicial Institutions and Legal Culture in Indonesia”. Surabaya. E. A Study of Institutional Collapse. Hukum dalam Ruang Sosial.. Seoul Hollym Corporation. dalam Culture and Politics in Indonesia (Claire Holt ed. 1994. Program Doktor Ilmu Hukum Univ. Rahardjo.. The Indonesian Supreme Court. ----------------------. 1984. The Japanese Police System Today. “Algemeen deer” dari Mr. Sebatiaan. 297-328. Kodansha International. Ilmu Hukum . Pembebasan dan Pencerahan. 2006.Y. Rood Pijpers. Semarang. dalam Bunga Rampai Refleksi Satu Tahun Komisi Yudisial Republik Indonesia. The Revolt of the Masses. Merintis Visi Program Doktor Hukum. Bernard L. Transaction Publishers. “Komisi Yudisial untuk Hakim dan Pengadilan Progresif”.

82 Bunga Rampai .

Pada perubahan ketiga Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa Calon Hakim Agung diusulkan oleh Komisi Yudisial kepada DPR untuk mendapat persetujuan guna ditetapkan sebagai Hakim Agung oleh Presiden.Peran Hakim Agung Dalam Penemuan Hukum (Rechtsvinding) dan Penciptaan Hukum (Rechtsschepping) Pada Era Reformasi dan Transformasi M.H. Oleh karena itu Komisi Yudisial berwenang untuk mengusulkan pengangkatan Hakim Agung (Pasal 24B ayat (1)). Tugas hakim/badan peradilan sebagai penyelenggara kekuasaan Kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan Badan Peradilan yang berada dibawahnya dan sebuah Mahkamah Konstitusi. Pendahuluan Dalam suatu negara hukum maka setiap sengketa hukum atau perkara diadili dan diputus oleh suatu Badan Kekuasaan Kehakiman. 4 Tahun 2004 ditentukan bahwa kekuasaan Kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila demi terselenggaranya Negara Hukum RI. Dalam pasal 1 UU No. Hatta Ali. 14 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 83 . S.H. Dengan demikian Badan ini turut mempersiapkan Calon Hakim Agung yang berkualitas. Sesuai Undang-undang No. M. 5 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-undang No.. Institusi yang bersifat mandiri. Putusannya bersifat mengikat apabila telah berkekuatan hukum tetap. merdeka serta netral yang diberi otoritas dan kewibawaan untuk secara bebas mempertimbangkan segala sesuatunya secara adil dan obyektif serta tidak memihak.

hakim sering dihadapkan pada suatu ketentuan yang belum diatur. Maksudnya adalah jika tidak ditemukan hukum tertulis. Produk peraturan perundang-undangan selalu tertinggal dengan dinamika perubahan yang terjadi. yaitu untuk mengisi kekosongan hukum. Mahkamah Agung memiliki beberapa fungsi. hakim wajib menggali hukum tidak tertulis untuk memutus berdasar hukum. Pokok Masalah Dasar hukum peran hakim dapat dilihat pada pasal 28 84 Bunga Rampai . yaitu untuk menilai apakah suatu peraturan perundang-undangan bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Fungsi menguji peraturan perundang-undangan. Fungsi memberi nasehat dan pertimbangan hukum. disebabkan karena terhambatnya upaya mewujudkan sistem hukum nasional yang mantap. yaitu memeriksa dan memutus perkara permohonan kasasi dan peninjauan kembali. Banyak peraturan perundang-undangan warisan kolonial maupun yang baru tidak sesuai dengan perkembangan masyarakat yang penuh dengan dinamika perubahan dan semakin kompleks.Tahun 1985 Tentang Mahkamah Agung. Di lain pihak hakim/badan peradilan tidak boleh menolak untuk memeriksa. yaitu membina dan mengawasi peradilan dan hakim dibawahnya. 3) 4) 5) 6) Fungsi administrasi. hakim sering dihadapkan kepada suatu ketentuan yang belum diatur. Fungsi pengaturan. keuangan dan organisasinya sendiri. yang menyebabkan terhambatnya upaya mewujudkan penegakan hukum. yaitu memberikan nasehat hukum kepada Presiden dalam hal permohonan grasi dan rehabilitasi serta memberi pertimbangan hukum ke lembaga tinggi negara lain. Fungsi membina dan mengawasi. yaitu: 1) 2) Fungsi mengadili. Dalam menjalankan fungsi tersebut. Dalam fungsi mengadili. mengadili dan memutuskan suatu perkara yang diajukan kepadanya dengan dalih bahwa hukumnya tidak ada atau kurang jelas. yaitu mengelola administrasi.

mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat”. Lalu yang terakhir bahwa perlakuan kepada semua orang adalah sama dimuka hukum (equality before the law). Yang berarti bahwa perbuatan hukum oleh penguasa atau individu harus dapat dikembalikan kepada hukum yang berlaku. Pertama adalah hukum harus berperan sebagai panglima. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana cara Hakim Agung menggali dan menemukan sesuatu yang dapat menjadi hukum? Institusi Mahkamah Agung yang merupakan instrumen dalam upaya menegakkan hukum dan kebenaran agar tidak terpaku pada peraturan perundang-un- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 85 . Sebagai institusi. Yang kedua hukum harus berperan sebagai titik tolak kegiatan (center of action). “Menggali” berarti hakim harus terjun ketengah-tengah masyarakat untuk mengenal. P 2002:12). Mahkamah Agung tidak boleh berhenti melakukan inovasi terhadap berbagai ketertinggalan peraturan perundang-undangan yang tidak sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat. Namun agar hakim agung dalam melaksanakan perannya sebagai benteng terakhir penegakan hukum harus didukung pula adanya kemauan politik negara untuk menegakkan supremasi hukum yang berarti bahwa hukum bertindak sebagai panglima.ayat (l) Undang-undang No. tugas penting dari hakim adalah menyesuaikan undangundang dengan perkembangan yang hidup di dalam masyarakat. Seluruh komponen masyarakat sampai kepada penguasa tunduk sepenuhnya kepada hukum. Supremasi Hukum di dalam negara hukum mempunyai 3 (tiga) ciri (menurut Muchsan .dikutip dari Panggabean. Maksudnya adalah supremasi hukum merupakan pilar negara hukum. hakim wajib menafsirkan sehingga dibuat suatu putusan yang adil dan sesuai dengan maksud hukum yaitu adanya kepastian hukum. Dengan kata lain. Jika tidak dapat dijalankan menurut arti katanya. sehingga penegakan hukum (law enforcement) dapat diwujudkan tanpa memandang suku/agama/ ras/golongan. Henry. merasakan dan mampu menyelami perasaan hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman menyatakan “Hakim wajib menggali.

Apabila peraturan perundang-undangan yang belum jelas atau belum mengatur. sekalipun peraturan perundangundangan tidak dapat membantunya.dangan yang telah usang. maka seharusnya dapat mengenal. melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadili” merupakan antisipasi bahwa tidak ada peraturan perundang-undangan yang dapat mencakup keseluruhan kehidupan manusia. Hasil penemuan hukum oleh hakim merupakan hukum karena mempunyai kekuatan mengikat sebagai hukum karena dituangkan dalam bentuk putusan. Sehingga dapat memberi putusan yang sesuai dengan hukum dan rasa keadilan masyarakat. Hakim Agung sebagai penegak hukum dan keadilan wajib menggali. Oleh karena hakim (secara general) merupakan perumus dan penggali dari nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat. Dalam arti menentukan apa yang merupakan hukum. mengadili dan memutuskan suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas. Konflik atau kasus yang harus diselesaikan atau dipecahkan dan untuk itu perlu dicarikan landasan hukumnya. Tidak ada peraturan perundang-undangan yang lengkap dan jelas. maka Hakim Agung harus memahami jalan keluar melalui penemuan hukum (Rechtsvinding). Oleh karena hukumnya tidak lengkap dan tidak jelas. mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat. Juga sebagai pengadilan tingkat terakhir diharapkan mampu melahirkan putusan-putusan (yurisprudensi) yang inovatif yang sesuai dengan rasa keadilan masyarakat. hasil penemuan hukum oleh hakim merupakan sumber hukum juga (yurisprudensi). Jadi dalam penemuan hukum yang penting adalah bagaimana mencari atau menemukan hukumnya untuk peristiwa konkrit. Hakim selalu dihadapkan pada peristiwa konkrit. hakim harus bertindak berdasar inisiatifnya untuk menyelesaikan perkara. Pembahasan Bertitik tolak dari pandangan bahwa “Pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa. Disamping itu. merasakan dan mampu menyelami perasaan hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat. Sistem hukum Indonesia tidak menentukan jenis klasifikasi yurisprudensi tertentu untuk dijadikan sumber hukum. 86 Bunga Rampai .

Mengikuti sistematika J. sehingga yurisprudensi tetap tersebut telah melakukan penciptaan hukum (rechtsschepping). yaitu: 1. harus menguasai metode yang dapat dipergunakan. penafsiran berdasarkan sejarah peraturan perundang-undangan yang bersangkutan. maka keadaan ini Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 87 . 2. kaidah hukum atau ketentuan dalam suatu keputusan kemudian diikuti secara konstan atau tetap oleh para hakim dalam putusannya dan dapat dianggap menjadi bagian dari keyakinan hukum yang umum.A.tetapi dalam praktek peradilan dikenal adanya klasifikasi yurisprudensi biasa dan yurisprudensi tetap. namun tidak ada ketentuan perundang-undangan yang berlaku yang dapat diterapkan. sekalipun hakim dapat menafsirkan.landmark decision karena kaidah hukum itu diterima masyarakat luas sebagai terobosan yang nyata atas suatu konflik hukum yang sudah lama berlangsung. Pontier (dikutip dari Bagir Manan 2004:73). bahwa dalam putusan hakim ditemukan adanya kaedah hukum yang dapat dianggap sebagai . Kedua klasifikasi yurisprudensi itu memerlukan kriteria sendiri agar dengan cara itu dapat ditelusuri sejauh mana hubungan kedua klasifikasi yurisprudensi itu dalam proses penegakan hukum. Sudikno Martokusumo (2001:52) memberikan 2 (dua) kategori. juga tidak ada ketentuan dalam hukum kebiasaan dan hukum adat yang dapat diterapkan. didapat bermacam-macam metode penafsiran (penafsiran berdasarkan tata bahasa atau ilmu bahasa. penafsiran berdasarkan sejarah hukum. Sebagai Hakim Agung. sebagai yurisprudensi tetap. penafsiran teleologis. Yang kedua adalah konstruksi hukum. penafsiran sistematik. yaitu melalui penerapan hukum penafsiran dan konstruksi hukum. penafsiran antisipatif dan penafsiran dinamika-evolutif). Artinya adalah. didalam suatu perkara di pengadilan. Dengan uraian di atas dapat dikatakan bahwa kriteria yurisprudensi tetap adalah telah mentransformasi secara konstan hukum yang hidup dalam suatu masyarakat dan telah diikuti oleh berbagai putusan sebelumnya. Penafsiran atau interpretasi adalah usaha memberi makna suatu atau sejumlah kaidah hukum agar dapat diterapkan secara wajar dalam memecahkan suatu persoalan hukum.

menurut pendapat hakim yang bersangkutan bahwa pengertian hukum itulah yang menjadi dasar. Demikian pula hakim tidak sekedar menerapkan bunyi suatu perjanjian yang merupakan undang-undang bagi pihak-pihak yang membuatnya.mulai menyangkut pada keadaan kekosongan hukum dalam sistem formil hukum. Seseorang memiliki sebidang tanah. keadilan.(dikutip dari Bagir Manan 2004:64) adalah “masyarakat konkrit”. Asas ini menunjukkan bahwa sebagai Hakim Agung tidak boleh semata-mata mencari dan menemukan kebenaran formal. penghalusan hukum Rechtsvervijning (suatu kaedah hukum dapat dirasakan terlalu keras pada saat diterapkan pada keadaan konkrit tertentu. Masyarakat Indonesia meminjam pendapat Holleman . serta Argumentum a contrario (mempersempit jangkauan berlaku suatu peraturan perundang-undangan). Berdasar beberapa ketentuan yang mempunyai persamaan. hakim harus mencari dan menemukan kebenaran materiil. Hingga saat ini sebagian masyarakat Indonesia bukanlah masyarakat formalistik. Hakim bukanlah mulut undang-undang atau mulut hukum positif pada umumnya. wajar dan tidak berlebihan). Konstruksi hukum ini terdiri dari analogi (hakim memperluas penerapan hukum pada keadaan atau peristiwa yang tidak secara eksplisit disebut dalam ketentuan yang berlaku). Apabila penerapan aturan hukum akan bertentangan. Walaupun demikian apabila hakim dihadapkan pada pilihan antara ketentuan hukum tertulis dengan hukum tidak tertulis. hakim membuat suatu pengertian hukum (rechtsbegrip). hakim atau siapapun juga yang menerapkan 88 Bunga Rampai . Dengan kata lain. kepentingan umum dan ketertiban umum. kepentingan umum dan ketertiban umum. sehingga memerlukan penghalusan agar tetap terasa adil. Segala hubungan dan peristiwa hukum dinyatakan dalam wujud yang nyata. apabila bertahun-tahun akan diakui telah menimbulkan hubungan hak atas tanah tersebut. hakim wajib memilih kepatutan. dibuktikan dengan pohon-pohon yang ditanam oleh orang tuanya dan seterusnya. Termasuk dalam perkara-perkara perdata. keadilan. Hakim adalah mulut kepatutan. Kenyataan yang bersangkutan menempati sebidang tanah dengan cara-cara yang dibenarkan oleh tradisi yang berlaku disekelilingnya.

ekonomi dan hukum.hukum. Kemudian makin banyak putusan Mahkamah Agung yang menerima permohonan kasasi praperadilan. Serta ketentuan “Jual beli tidak memutuskan hubungan sewa-menyewa”. sehingga termasuk hibah. 89 . Hakim Agung harus mampu menghasilkan putusan-putusan yang mengarah kepada pembaharuan penemuan hukum berupa yurisprudensi. Program reformasi hukum harus digulirkan secara bersama-sama oleh seluruh anggota masyarakat. Pada era reformasi mengandung arti perubahan untuk perbaikan. yang berhadapan dengan ketentuan hukum positif yang menyatakan tidak ada kasasi untuk praperadilan. yang oleh yurisprudensi diperluas menjadi asas pengasingan (vervreending) tidak memutuskan sewa-menyewa. pewarisan. Namun penerapan ini harus mempertimbangkan hal-hal berikut: a. Koreksi merupakan kenyataan hukum yang hidup dalam masyarakat dan dapat terjadi karena hukum tertulis telah usang atau ada kekosongan tertentu dalam ketentuan hukum tertulis. Contoh kasus adalah pengertian “barang” dalam pidana pencurian termasuk pencurian listrik.R. Jadi reformasi itu timbul secara simultan mencakup aspek kehidupan bernegara di bidang politik. Mengutamakan atau mendahulukan hukum tidak tertulis dilakukan apabila ketentuan hukum tidak tertulis merupakan suatu yang tumbuh kemudian sebagai koreksi atau penafsiran terhadap suatu ketentuan hukum tertulis. Pada situasi ini. Juga hubungan kelamin diluar nikah laki-Iaki dewasa dan perempuan dewasa atas dasar suka sama suka. dan lain-lain bentuk pengasingan. Mengutamakan atau mendahulukan hukum tertulis apabila diketahui atau secara rasional dipahami bahwa ketentuan hukum tertulis merupakan pembaharuan terhadap hukum tidak tertulis atau terjadi transformasi ketentuan hukum tidak tertulis menjadi hukum tertulis. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) tidak mengatur. dimana laki-Iaki si pelaku tidak mau bertanggung jawab ketika perempuan tersebut hamil. harus mengutamakan atau mendahulukan ketentuan hukum tertulis. 1919). Lalu pengertian “Onrechtmatigedaad” hanya dapat dipahami setelah mempelajari yurisprudensi (Arrest H. tetapi berdasar hukum Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan b.

Kasus yang relevan untuk menggambarkan adanya kemungkinan benturan antara aspek keadilan dan kepastian hukum. Sedangkan dalam kasus Pilkada Depok apabila menoleh pada pasal 106 ayat(7) Undang-undang No. yang meliputi 3 (tiga) unsur yaitu: keadilan (gerechtigkeit). tetapi hakim dilarang menjatuhkan putusan atas hal-hal yang tidak dituntut atau mengabulkan putusan lebih dari pada yang dituntut”. Menurut Gustav Radbruch (dikutip dari Bambang Sutiyoso 2006: 6) idealnya putusan harus memuat idee des recht. sangat relevan menggambarkan adanya benturan-benturan antara aspek kepastian hukum dengan keadilan. sehingga pada gilirannya dapat dihasilkan putusan yang berkualitas dan memenuhi harapan para pencari keadilan. sehingga mestinya tidak ada upaya hukum lagi yang dapat digunakan. Tetapi sayangnya putusan Mahkamah Agung tersebut pada tingkat peninjauan kembali telah dikoreksi/ diperbaiki.adat merupakan perbuatan yang tidak patut untuk dilakukan dan harus diberi sanksi. Paparan kedua kasus di atas. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan Peraturan Pemerintah No. yaitu dalam kasus “Kedung Ombo” di Jawa Tengah dan kasus sengketa pemilihan kepala daerah (Pilkada) Depok. kepastian hukum (rechtsicherheit) dan kemanfaatan (zwechtmassigkeit). Mahkamah Agung sendiri dalam instruksinya Nomor KMA/015/lnst/VI/1998 tanggal 1 Juni 90 Bunga Rampai . padahal pasal 178 ayat (3) HIR berbunyi: “Hakim wajib mengadili seluruh bagian gugatan. terutama antara unsur keadilan dengan kepastian hukum yang bisa saja saling bertentangan. tetapi ketika KPUD Depok mengajukan permohonan peninjauan kembali (PK) ke Mahkamah Agung terhadap putusan Pengadilan Tinggi Bandung tersebut pada akhirnya Mahkamah Agung dalam putusannya mengabulkan permohonan Peninjauan Kembali dari KPUD Depok dan membatalkan putusan Pengadilan Tinggi Bandung. Ketiga unsur ini harus dipertimbangkan Hakim dan diterapkan secara proporsional. Putusan Mahkamah Agung dalam kasus Kedung Ombo pada pokoknya melebihi daripada ganti rugi yang dimohon para penggugat. ditafsirkan putusan Pengadilan Tinggi bersifat final dan mengikat. 6 Tahun 2004. Dalam implementasinya terkadang tidak mudah untuk mensinergikan ketiga unsur tersebut.

1 Tahun 1977 (tentang permohonan kasasi) telah menjadi sarana hukum yang menentukan masuknya perkara peradilan agama dan militer ke tingkat perkara kasasi oleh Mahkamah Agung. Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) yaitu satu bentuk edaran dari pimpinan Mahkamah Agung. Sebelum ada ketentuan KUHAP dan Undang-undang. atau kekosongan hukum dengan menerbitkan Surat Edaran atau Peraturan Mahkamah Agung. demi terciptanya kemandirian para penyelenggara kekuasaan kehakiman. Selain itu fungsi Pengaturan Mahkamah Agung diperlukan bagi kelancaran penyelenggaraan peradilan apabila terdapat hal-hal yang belum cukup diatur dalam undang-undang atau terdapat kekurangan. Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) yaitu suatu bentuk peraturan dari Mahkamah Agung ke seluruh jajaran peradilan tertentu yang isinya merupakan ketentuan bersifat hukum beracara. Bentuk pengaturan itu dikenal dalam 2 (dua) bentuk produk yaitu: 1. keseluruh jajaran peradilan yang isinya merupakan bimbingan dalam penyelenggaraan peradilan yang lebih bersifat administrasi.1998 menginstruksikan agar para hakim memantapkan profesionalisme dalam mewujudkan peradilan yang berkualitas. pathos (pertimbangan yuridis yang utama). sosiologis (sesuai dengan tata nilai budaya yang berlaku dalam masyarakat). 1 Tahun 1980 telah digunakan menampung perkara peninjauan kembali karena pada saat itu belum ada peraturan pasal 21 UU No. PERMA No. PERMA No. serta logos (dapat diterima akal sehat). 2. Fungsi pengaturan ini ternyata sangat efektif memperlancar jalannya peradilan. 14 Tahun 1970 tentang Undang-undang Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 91 . dengan menghasilkan putusan hakim yang eksekutable berisikan ethos (integritas). Dalam setiap penemuan hukum seyogyanya putusanputusan badan peradilan disosialisasikan dengan memberi kesempatan kepada publik untuk mengakses putusan-putusan tersebut. filosofis (berintikan rasa keadilan dan kebenaran). terutama dalam hukum acara sebagai pelengkap untuk mengisi kekurangan dan kekosongan tadi. Dengan akses ini mendorong para hakim membuat putusan yang berkualitas dan diterima oleh masyarakat sebagai hukum yang hidup dalam masyarakat.

Masyarakat berkepentingan atas keputusan hakim itu karena masyarakat menginginkan adanya keseimbangan tatanan dalam masyarakat. Bahwa setiap putusan pengadilan harus mengandung unsur kemanfaatan bahwa isi putusan itu tidak hanya bermanfaat bagi pihak berperkara tapi juga bagi masyarakat luas. yang dapat digunakan oleh aparat penegak hukum di lingkungan peradilan. pengalaman yang memadai. Kesimpulan 1. Hakim Agung harus mengisi kekosongan hukum atau hukumnya tidak jelas dengan melakukan penemuan hukum (Rechtsvinding) yang pada gilirannya akan menjadi yurisprudensi tetap menuju penciptaan hukum Bunga Rampai 2. 92 . 1 Tahun 2000 tentang paksa badan dapat dijadikan contoh tentang efektifitas Fungsi Pengaturan Mahkamah Agung mendukung penegakan hukum khususnya untuk mengatasi kebutuhan hukum acara yang saat ini sangat diperlukan menghadapi perilaku para debitur nakal yang sengaja menghindar dari kewajiban melunasi hutang-hutangnya. PERMA No. 5. Pada dasarnya Hakim Agung yang baik bukan sekedar menguasai hukum positif melainkan mengusai pula dengan baik berbagai teori dan doktrin hukum. 4. 3. memiliki integritas. Meningkatkan kualitas hakim dalam melakukan penemuan hukum baru melalui putusan-putusan pengadilan (yurisprudensi) yang digunakan sebagai dasar pertimbangan hukum. 6.Pokok Kekuasaan Kehakiman. Dalam melakukan penemuan hukum hakim menggunakan metode penafsiran dan konstruksi hukum. Perekrutan Hakim Agung harus memiliki kemampuan di bidang hukum. moral dan karakter yang baik. Yang tidak kalah pentingnya suatu hal yang perlu diperhatikan fungsi pembentukan hukum itu sendiri harus memperhatikan kesadaran hukum masyarakat dan tidak tertutup kemungkinan bahwa hukum menciptakan pola-pola baru di dalam masyarakat sehingga pada akhirnya menciptakan kesadaran hukum baru sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan.

7. Meningkatkan mekanisme pertanggung jawaban lembaga pengadilan kepada publik dengan kemudahan akses masyarakat untuk memperoleh putusan pengadilan dan publikasi terhadap setiap pengambilan putusan.(Rechtsschepping). Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 93 . Fungsi Pengaturan Mahkamah Agung berupa Surat Edaran dan Peraturan Mahkamah Agung masih diperlukan guna mengisi kekosongan hukum khususnya hukum acara. 8.

14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung Undang-undang No. Liberty Yogyakarta Sutiyoso.. Henry P -.Daftar Pustaka Van Apeldoorn. Beberapa aspek Sosiologi Hukum. Anton . cetakan kesatu. 2002.cetakan pertama. 2004. Liberty Yogyakarta Panggabean.Kolff N. 2005. Citra Aditya Bakti Mertokusumo. Sudikno -. A . 4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman Undang-undang No. Fungsi Mahkamah Agung Bersifat Pengaturan (Rule Making Power) Tahun 19662003. 2006. Bambang-.J . Hukum Positif Indonesia. Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum. 5 tahun 2004 tentang Perubahan terhadap Undang-undang No. edisi kedua cetakan kedua. Transisi Di Bawah Bayang-Bayang Negara Manan. cetakan pertama. Metode Penemuan Hukum. 2001.V Mertokusumo. L. Bagir -. Henry P-. Sudikno dan Pitlo. 22 tahun 2004 tentang Komisi Yudisial - - 94 Bunga Rampai .cetakan kedua. FH UH Press Salman. Pengantar Ilmu Hukum. 2002. 1957. 1993. Otje dan Susantho. Pustaka Sinar Harapan Komisi Hukum Nasional -. Noordhoff . 8 tahun 2004 tentang Peradilan Umum Undang-undang No. UH Press Yogyakarta Ketentuan Peraturan Perundang-undangan Undangundang Dasar 1945 dan Perubahannya Kitab Undangundang Hukum Pidana Kitab Undang-undang Hukum Perdata Undang-undang No. 1 tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana Undang-undang No. cetakan kedua. edisi pertama. PT. 2004. Fungsi Mahkamah Agung Dalam Praktik Sehari-hari. edisi pertama cetakan pertama. PT Alumni Panggabean. Penemuan Hukum Sebuah Pengantar.

Suatu negara bahkan tidak dapat mengisolasi dirinya dari pergaulan internasionnal. Perkembangan di dalam masyarakat ini juga mempengaruhi perkembangan hukum di suatu negara. lebih mengentalkan kenyataan bahwa hukum nasional suatu negara tidak dapat secara mutlak berdiri sendiri tanpa menghiraukan perkembangan-perkembangan yang terjadi di dunia internasional.Hakim Agung dan Penemuan Hukum (Rechtsvinding) Pada Era Reformasi dan Transformasi Hukum Prof.* Latar Belakang Pernyataan-pernyataan bahwa dunia seakan-akan tidak lagi mengenal batas-batas wilayah Negara. seperti itu permasalahan-permasalahan di dalam masyarakat menjadi lebih rumit dan kompleks. Di dalam era transformasi dan informasi. khususnya di dalam suatu masyarakat yang sedang membangun. DR. Arus informasi menyebabkan permasalahan di dalam suatu negara dapat dibaca bagaikan dalam buku terbuka. telah menjadi kenyataan. terlebih lagi ketika perkembangan teknologi yang semakin canggih.H. “Apabila kita teliti maka semua masyarakat yang sedang membangun dicirikan oleh perubahan bagaimanapun kita mendefinisikan pembangunan itu dan apapun yang kita pergunakan bagi “masyarakat dalam pembangunan. Peranan hukum * Guru Besar Hukum Pidana Universitas Padjadjaran Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 95 . Komariah Emong Sapardjaja. Perjanjian-perjanjian internasional dan dampak ratifikasi konvensi internasional. S.

2.dalam pembangunan adalah menjamin bahwa perubahan itu terjadi dengan cara yang teratur”1 Selanjutnya dikatakan juga oleh Mochtar Kusumaatmadja bahwa: “Ada anggapan yang boleh dikatakan hampir merupakan keyakinan bahwa perubahan yang teratur demikian dapat dibantu oleh perundang-undangan atau keputusan pengadilan atau kombinasi dari kedua-duanya”. hlm. mengadili. kloning. dan mungkin banyak lagi masalah-masalah di dalam masyarakat yang perlu mendapat pemecahan hukumnya. melakukan penemuan hukum sehingga tidak melakukan kesewenang-wenangan hukum yang pada akhirnya justru 1 2 3 Mochtar Kusumaatmaja. dalam kebebasannya. Ibid Lihat pasal 16 Undang-undang Republik Indonesia No. Beberapa contoh mengemuka yang menjadi pemikiran dari para ahli hukum sekarang. 4 tahun 2004 Tentang Kckuasaan Kehakiman 96 Bunga Rampai . dalam kasus-kasus yang terjadi dalam masyarakat yang sedang bereformasi dan transformasi. dan memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas. misalnya. Khususnya bagi persoalan-persoalan yang menjadi kasus konkrit yang dihadapkan kepada seorang hakim untuk mendapatkan penyelesaian. 6 UUPK) Disinilah letak peran hakim (Agung) dalam penemuan hukum (rechtsvinding) dan pembentukan hukum (rechtsschepping). Pokok Masalah 1. kejahatan terhadap kemanusiaan. maka seorang hakim “tidak boleh menolak untuk memeriksa. 1976. bayi tabung. kejahatan cyber. Pembinaan Hukum Dalam Rangka Pembangunan Hukum Nasional. Lcmbaga Penelitian Hukum dan Kriminologi Universitas Padjadjaran.2 Tetapi selalu saja terjadi bahwa ‘undang-undang ketinggalan dari kenyataan-kenyataan masyarakat’ (het recht hink achter de feiten aan‘). melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya”.3.3 (psl. Bagaimanakah syarat-syarat suatu penemuan hukum (rechtsvinding) dan pembentukan hukum (rechtsschepping)? Sejauh manakah hakim. Bandung.

Ia berkenaan dengan pertanyaan-pertanyaan hukum. hlm. hlm. Terkait padanya antara lain diajukan pertanyaan-pertanyaaan tentang penjelasan (tafsiran) dan penerapan aturan-aturan hukum.Arief Sidharta.Pontier. hlm.menimbulkan ketidakadilan. yang lebih atau kurang.7 4 5 6 7 J.4 Sudikno Mertokusumo mengatakan “Apa yang dimaksud dengan penemuan hukum lazimnya adalah proses pembentukan hukum oleh hakim. hlm. Penemuan hukum. Yogyakarta. Liberty. Arti penemuan hukum dan mengapa (seringkali) diperlukan Rechtsvinding menjadi sangat terkenal terutama setelah perang dunia kedua. berkenaan dengan hal menemukan penyelesaian dan jawaban berdasarkan kaidah-kaidah hukum. 1. J. atau aparat hukum lainnya yang ditugaskan untuk penerapan peraturan hukum umum pada peristiwa hukum konkrit”.A.6 Asumsi dasar yang melandasi penemuan hukum tersebut adalah berkaitan dengan pengakuan bahwa tidak semua hukum dapat ditemukan dalam undang-undang. Pontier. op cit. diterjemahkan oleh B. atau ketidakmanfatan? Pembahasan Masalah 1. Bandung. Ibid. Rechtsvinding. Pontier mendefinisikan penemuan hukum sebagai ‘sebuah reaksi terhadap situasi-situasi problematikal yang dipaparkan orang dalam peristilahan hukum’. konflik-konflik hukum atau sengketa-sengketa yuridis. 95 Sudikno Mertokusumo. Labotatorium Hukum Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan. 37. 2001. pandangan tentang penemuan hukum yang dikemukakan oleh Paul Scholten memperoleh banyak pengikut.5 J. Penemuan Hukum.16 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 97 .A. 2001. Penemuan hukum diarahkan pada pemberian jawaban terhadap pertanyaanpertanyaan tentang hukum dan hal pencarian penye1esaianpenyelesaian terhadap sengketa-sengketa konkrit.A. ketidakpastian. dan pertanyaan-pertanyaan tentang makna dari fakta-fakta yang terhadapnya hukum harus diterapkan. secara cermat dan teliti mengemukakan bagaimana terhadap situasi-situasi problematik tertentu seyogyanya harus diberikan reaksi.

Ajaran Sifat Melawan Hukum Materiel dalam Hukum Pidana Indonesia. 17. membuat kata-kata ini.Hal tersebut telah mengemuka sejak lama.. di mana sangat ditentukan oleh unsur-unsur yang terdapat di dalam perumusan deliknya. [. hlm. hlm. Ibid. Hanya katakata itulah yang berhak atas wibawa yang mutlak. brengt deze woorden. dalam Komariah Emong Sapardjaja. geeft er aan hun zin. dan apabila dilanjutkan dengan kata-kata dan Suijling:9 “… behoort hij de abstract geredigeerde wet met de prescripten der volksmoraal aan te vullen en dus altijd de gerechtigheid te oefenen. yang adanya dijamin oleh undang-undang bersama dengan moral rakyat untuk melindungi para pencari keadilan. 16 Ibid. 8 9 10 M. dat op deze woorden reageert. Slechts die woorden hebben aanspraak op absoluut gezag. De delictsomscrijvingen vormen ten opzichte van de gedragsnormen veeler deelstukken van het geheel. hlm. memberikan pada kata-kata itu arti]. Het maatschappelijk leven. Alumni. dan karena itu selalu menyelenggarakan keadilan. tot leven. Dalam hukum pidana yang sangat legistis karena secara fundamental didasarkan pada prinsip legalitas. Bandung.H. Het strafrecht handhaaft de materiele norm jragmentarisch” [Norma-norma perilaku yang tersirat dalam perumusan delik bukan pencerminan yang mencakup seluruh noma-norma materiel.Bregstein. de dode teksten. tanda-tanda mati itu menjadi hidup. [Pembuat undang-undang melahirkan kehendaknya dengan kata-kata. 22 98 Bunga Rampai . Schaffmeister10 menyatakan: “De in delictsomschrijvingen geimpliceerde gedragsnormen zijn geen omvattende weersplegelingen van de gehele materiele norm. welke de wet in vereneging met de volksmoraal aan de Justitiabelen waarborgt”. seperti dikatakan oleh Bregstein8 yang berpendapat: “In woorden belichaamt de wetgever zijn will. Perumusan delik lebih banyak membentuk bagian-bagian daripada merumuskan keseluruhan norma perilaku. hakim harus melengkapi undang-undang yang dirumuskan secara abstrak dengan ketentuan-ketentuan dari moral rakyat. Hukum pidana mempertahankan norma-norma secara fragmentaris]. Kehidupan sosial yang mereaksi kata-kata ini..

antara lain: a. Jadi dia bukanlah ‘mulut undang-undang’ tetapi ‘mulut jiwa undang-undang’].cit. penimbangan kepentingan e. Motivering vonnis Walaupun demikian hakim tidaklah sebebas-bebasnya dapat menggunakan seluruh metode penemuan hukum 11 12 Ibid. 16 Pontier. tetapi disinilah letak peranan hakim selaku penjaga hukum dan keadilan memainkan peranannya. di dalam situasi masyarakat dengan tingkat perkembangan di segala bidangnya sangat tinggi dan kompleks. interpretasi restriktif dan interpretasi ekstensif c. hlm. Menurut Pontier12. penghalusan hukum. hlm. op. (penulis tidak akan menguraikan secara mendalam tentang metode interpretasi karena dalam pelajaran tentang Pengantar Ilmu Hukum telah diperkenalkan metode penafsiran berupa penafsiran gramatikal. Hij is dus niet ‘la bouche de la loi’. teknik penemuan hukum lain berupa: i. penalaran hukum d. metode interpretasi. sejarah hukum. seringkali undang-undang tidak dapat lagi mengantisipasi perkembangan itu. 34 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 99 . penemuan hukum dapat dilakukan melalui metode. sistematis. teleologis. evolutif dinamikal) b. sejarah undang-undang. antisipatif.Dengan demikian. 2. Teknik/metode penemuan hukum dan kebebasan hakim Penemuan hukum dapat dilakukan melalui beberapa cara/teknik/metode. tenzij men daaronder verstaat ‘la bouche de l’esprit de la loi’ [Terhadap kata-kata undang-undang penerap undang-undang memiliki suatu kebebasan yang luas. Oleh karena itu Bregstein11 pernah mengatakan: “Tegenover de worden der wet komt hem echter een vrijheid toe. penerapan atau penafsiran undang-undang secara rasional ii.

13 14 J. hIm. Dengan menggunakan penafsiran sosiologis dan teleologis. terjemahan oleh Tristam Moeliono dan DR.M. sedangkan dalam perkara tata usaha negara dapat dilihat dari permohonan pemohon).M.13 Juga Jescheck14 mengingatkan bahwa penafsiran bisa jadi akan sangat melebar. pasal 362 KUHP tidak mungkin dapat diterapkan. Gramedia. di mana dijelaskan bahwa hatzaai artikelen yang menjadi dasar dakwaan sudah tidak sesuai lagi dengan semangat reformasi. telah memperingatkan bahaya penggunaan logika secara berlebihIebihan dalam upaya menerangkan undang-undang. Penemuan hukum dengan menggunakan metode seperti itu ditemukan dalam kasus Mochtar Pakpahan.Marjanne Termorshuizen. hakim dapat melakukan penafsiran. barulah hakim dapat menemukan hukum yang harus dikemukakan dalam putusan yang definitif. Pertama-tama hendaknya digunakan penafsiran gramatikal. dan dilanjutkan dengan penelusuran sejarah perundang-undangan untuk mengetahui maksud dari pembuat undang-undang tentang diterbitkannya undang-undang tersebut. van der Veen.van der Veen.J. Khususnya penemuan hukum yang hanya didasarkan pada nalar hakim saja dapat menimbulkan kesewenangwenangan terhadap undang-undang itu sendiri. apabila melihat kepada kecanggihan alat-alat yang digunakannya.tersebut untuk menyelesaikan kasus konkrit yang dihadapkan kepadanya. 47 Ibid. Di bidang hukum pidana.J. dalam Jan Remmelink. Barulah apabila undang-undang yang menjadi dasar kasus tersebut tidak jelas. Pertama hendaknya diperhatikan landasan/ norma hukum yang menjadi dasar kasus tersebut (dalam perkara perdata biasanya dapat dilihat dari dasar-dasar gugatan yang diajukan oleh pihak penggugat sedangkan dalam perkara pidana dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum. padahal tujuan akhir dari setiap aturan hukum pidana adalah perlindungan tertib hukum. J. Jakarta. 54 100 Bunga Rampai . Selain itu harus diperhatikan pula fakta konkrit yang diperoleh dari dasar penyelidikannya. Demikian juga dalam kasus BNI 46 New York. yang biasanya diperoleh dari fakta yang terungkap di muka persidangan. Hukum Pidana. hlm. 2003.

6. 3. 9.pasal 4 ayat (1).pasal 6 ayat (2). telah ditetapkan dalam undang-undang tersebut. 5 tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang-undang No. Prinsip presumption of innocence . Dilakukan dengan sederhana. Prinsip legalitas . Prinsip-prinsip penyelenggaraan peradilan dan Kedudukan serta Peranan Hakim Agung Prinsip penyelenggaraan peradilan telah ditetapkan dalam Undang-undang Republik Indonesia No. non.pasal 7. Independent . menetapkankan bahwa: Kekuasaan Mahkamah Agung sebagaimana ditetapkan dalam Undang-undang tersebut adalah: Pasal 28: “Mahkamah Agung bertugas dan berwenang memeriksa Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 101 . Dilakukan “Demi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” . Dilaksanakan sesuai dengan prinsip ne bis in idem – pasal 6 ayat (1).diskriminasi dan imparsial . profesional. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. dan biaya ringan .pasal 8. Jujur. 8. dan wajib menjaga kemandirian peradilan (pasal 33) Khusus berkenaan dengan Mahkamah Agung. Terbuka untuk umum . 2.pasal 9.pasal 4 ayat (2). bahwa hakim adalah pejabat yang melakukan kekuasaan kehakiman yang diatur dalam Undang-undang (pasal 31).pasal 4 ayat (3). 7. dan berpengalaman di bidang hukum (pasal 32). adil. 4.3. Prinsip-prinsip tersebut adalah: 1. 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung. Putusan tentang kesalahan seseorang didasarkan pada keyakinan hakim dengan alat pembuktian yang sah menurut Undang-undang . Hak untuk memperoleh ganti rugi dan rehabilitasi . cepat.pasal 5 ayat (1).pasal 20 Demikian pula dengan kedudukan hakim. yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. dengan syarat-syarat bahwa seorang hakim harus memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela. 5. 10.

dan a. Pasal 30: (1) Mahkamah Agung dalam tingkat kasasi membatalkan putusan atau penetapan pengadilan-pengadilan dari semua lingkungan peradilan. yang dalam melaksanakan tugasnya terlepas dari pengaruh pemerintah dan pengaruhpengaruh lain”. sekaligus pedoman perilaku bagi mereka.. seperti dimuat dalam pasal 2: “Mahkamah Agung adalah Pengadilan Negara Tertinggi dari semua Lingkungan Peradilan.. salah menerapkan atau melanggar hukum yang berlaku... b. memberikan pertimbangan hukum kepada Presiden dalam permohonan grasi dan rehabilitasi” Pasal 37: “ . sengketa tentang kewenangan mengadili. Pasal 31: (1) . Hal tersebut mengisyaratkan pula bahwa putusan Mahkamah Agung adalah putusan yang memberikan penyelesaian definitif sesuai dengan asas lites finiri oportet. lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan yang mengancam kelalaian itu dengan batalnya putusan yang bersangkutan. b. c. permohonan peninjauan kembali putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. menguji peraturan perundang-undangan di bawah Undang-Undang terhadap Undang-undang .. Terlebih-lebih apabila dikaitkan dengan Kedudukan Mahkamah Agung. yang berarti tidak membiarkan sengketa hukum berlarut- 102 Bunga Rampai . dapat memberikan pertimbangan-pertimbangan dalam bidang hukum baik diminta maupun tidak kepada Lembaga Tinggi Negara yang lain” Melihat kepada peraturan perundang-undangan yang memberikan kedudukan istimewa kepada seorang Hakim Agung. memutus: permohonan kasasi. karena: a. c. maka peraturan perundang-undangan yang disebutkan di atas memberikan tugas-tugas mulia yang diembankan kepadanya. Pasal 35: “ .. tidak berwenang atau melampaui batas wewenang.

Jakarta. (alm.)15 pernah mengatakan: “Suatu pengadilan yang bebas dan tidak dipengaruhi merupakan syarat yang ‘indipensable’ bagi negara hukum. antara lain: 1. 3. Kesewenang-wenangan seorang Hakim Agung. sekalipun harus menemukan hukum. dan menjadikannya suatu pembentukan hukum baru melalui yurisprudensi yang terkenal. 2. him. tetapi menyatakannya sebagai perwujudan kebebasan pers. 4. 15 Oemar Seno Adji. b.H. Dalam bidang hukum perdata. Oleh karena itu. Peradilan Bebas Negara Hukum. Pcnerbit Erlangga. antara lain: 1.larut tanpa akhir. Dalam bidang hukum pidana. 275K/Pid/1982. Francis Bacon pemah menyatakan: ”there is no worse torture than the torture of laws” Penemuan hukum dan pembentukan hukum Indonesia yang mengemuka. mantan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia.Cctakan Kedua. Oemar Seno Adji. Mahkamah Agung menolak gugatan Presiden Suharto atas pencemaran nama baik yang dilakukan oleh New York Times dengan pemuatan gambar presiden sebagai joker dalam kartu ‘remi’. S. Bebas berarti tidak ada campur tangan dari kekuasaan eksekutif dan legislati dalam menjalankan fungsi yudiciair. Beberapa penemuan hukum yang pernah ada. terikat pada hukum”. antara lain: a. Ia tidak berarti bahwa ia berhak untuk bertindak sewenang-wenang dalam menjalankan tugasnya. yang memberi arti terhadap kata “perbuatan tidak 4. Dengan demikian Hakim Agung dalam menjalankan tugasnya telah memberikan kepastian hukum dari kasus tersebut. Prof. tidak diperbolehkan .. Putusan Mahkamah Agung RI No. Dikukuhkannya janda sebagai ahli waris. Anak angkat yang memperoleh bagian waris yang sama dengan anak kandung. 46 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 103 . 1985. ia ‘sub-ordinated’. Diperkenankannya seorang wanita yang belum menikah mengangkat anak melalui adopsi.

4. Tetapi berbeda dengan penemuan hukum oleh para ilmuwan hukum sebagai hasil dari penelitiannya. 40/1998 tentang Pers adalah lex speciali dan karenanya dalam kasus tersebut tidak dapat digunakan pasal 310 KUHP tentang penghinaan. Agar tidak menjadi suatu kesewenang-wenangan hukum dan tertibnya pembentukan hukum yang dciptakan karena penemuan hukum. Penemuan hukum adalah sebuah aspek penting dari ilmu hukum (teori hukum) dan praktek hukum. dan “Adam Damiri di Pengadilan HAM” hakim menerima teleconference sebagai cara yang sah dari kehadiran saksi. penemuan hukum oleh hakim harus selalu dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip penyelenggaraan peradiBunga Rampai 2. Dalam kasus “Mochtar Pakpahan” hakim menyatakan bahwa demonstrasi (waktu itu sedang terjadi era reformasi) bukanlah sebagai pemyataan permusuhan terhadap negara sebagaimana terdapat dalam unsur pasal 154 KUHP yang terkenal dengan haatzaai artikelen. 3. Dalam kasus pembobolan dana Bank BNI New York. Dalam kasus “Rahardi Ramelan”. dalam kebebasannya. Penemuan hukum pada dasarnya merupakan kegiatan sehari-hari para yuris.2. sehingga penggunaan alat komputer (dengan menekan satu panel/tombol pada key board komputer) disamakan dengan lichamelijk gedraging. pembentuk undang-undang. hakim memberikan penafsiran luas terhadap unsur “mengambil” dalam tindak pidana pencurian. dan terjadi pada semua bidang hukum baik oleh hakim. 5. Dalam kasus “Bambang Harymurti Tempo” Mahkamah Agung menyatakan bahwa UU No. 104 . dalam praktek hukum hakim harus memberikannya di dalam putusannya dalam jangka waktu yang masuk akal. Simpulan 1. patut dan terce1a dari suatu tindak pidana korupsi”. bahkan ilmuwan hukum. yang bersifat teoritis terhadap suatu masalah hukum tertentu serta tidak terikat dalam batas-batas waktu.

kaidah hukum yang menjadi dasar kasus konkrit yang dihadapkan kepadanya. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 105 . tetap memperhatikan fakta hukumnya. dasar-dasar/norma.lan yang baik. serta mengabstrasikannya. mengharmonisasikan antara fakta dan kaidah hukum tersebut dengan menggunakan metode yang diperkenankan.

eetakan kedua. 2001 - - - 106 Bunga Rampai . diterjemahkan oleh B.. diterjemahkan oleh Tristam P. Komentar atas Pasal-pasal Terpenting dari Kitab Undang-undang Pidana Belanda dan Padanannya dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana Indonesia. Binacipta.Moeliono. Alumni. Ajaran Sifat Melawan Hukum Dalam Hukum Pidana Indonesia. Jan. Liberty. 1972 Oemar Seno Adji. Jakarta. Marjanne .Arief Sidharta. 1985. Studi Kasus tentang Penerapan dan Perkembangannya dalam Yurisprudensi. Panel Diskusi V yang diselenggarakan oleh MAHINDO di Jakarta -bulan Maret 1972.A. Penerbit Erlangga. Bandung. Hukum Pidana. Yogyakarta. 2003 Sudikno Mertokusumo. Remmelink. Rechtsvinding.Termorshuizen. Pontier. Bandung.Daftar Pustaka Komariah Emong Sapardjaja. dan Widati Wulandari. Gramedia Pustaka Utama. J. Universitas Parahyangan. cetakan kedua. tanpa tahun. Penemuan Hukum. Pembinaan Hukum Dalam Rangka Pembangunan Nasional. Penemuan Hukum. Jakarta. 2002 Moehtar Kusumaatmadja. Peradilan Bebas Negara Hukum. Bandung.

kejaksaan (yang melaksanakan tugas penuntutan dan eksekusi putusan pengadilan) dan Pengadilan (yang mengadili) sehingga membentuk jaringan kerja terpadu yang dikenal dengan integreted criminal justice system. Sistem Peradilan Pidana (SPP) terdiri atas sub-sistem yang saling berhubungan antar sub-sistem kepolisian (yang melaksanakan tugas-tugas penyidikan). institusi pengadilan melakukan pengawasan (kontrol) terhadap pelaksanaan tugas dan wewenang instansi sebelumnya seperti penyidikan dan penuntutan. Pada sisi lain.H.Kontribusi Lembaga Kejaksaan Dalam Mempercepat Reformasi Peradilan M. MH. Kapita Selekta Hukum Pidana. Pengadilanlah yang mengkonkritkan hukum. Dalam pandangan ini. Putusan pengadilan merupakan produk badan peradilan yang dimulai dari input 1 2 Anggota Komisi Kejaksaan Republik Indonesia Soedarto. S.2 Menurut pandangan ini. Semua sub-sistem diarahkan kepada tujuan untuk menegakkan tata hukum pidana. penyelenggaraan tata hukum pidana berpusat dan berpuncak pada pengadilan. Penerbit Alumni Bandung. Tugas-tugas penyidikan dan penuntutan bermuara pada pengadilan.. 1 SPP – Bejana Berhubungan Secara dogmatik. pengadilan merupakan institusi penting dalam mengkonkritkan hukum melalui putusan-putusan yang ditetapkannya. Ali Zaidan. Dalam hal ini muncullah pandangan bahwa pengadilan sebagai benteng terakhir pencari keadilan. 1981 halaman 120 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 107 .

hasil yang diperoleh tidak akan selalu selaras dengan tujuan sistem secara keseluruhan. Konsekuensinya. halaman 15 108 Bunga Rampai . Putusan pengadilan merupakan hasil akhir (product) proses hukum sebelumnya. Penerbit Badan Pembinaan Hukum Nasional. Kegagalan suatu sub-sistem akan mempengaruhi subsistem lainnya. tanpa tahun. Penegakan hukum tidak lagi dilihat sebagai penegakan undang-undang an-sich. penegakan hukum hendaklah dipahami sebagai kegiatan yang dilakukan oleh institusi hukum dalam keseluruhan kerangka sosial yang lebih besar. Masalah Penegakan Hukum. Hak Asasi Manusia dalam Sistem Peradilan Pidana. Tanpa keterpaduan dalam sistem akan diperoleh kesulitan dalam mengukur tingkat keberhasilan maupun kegagalan sistem sebelumnya. Keterpaduan antar sub-sistem menjadi jaminan bahwa produk yang dihasilkan akan dijamin obyektifitasnya. Mardjono Reksodiputro. Akibat pengaturan demikian. sub-sub sistem peradilan pidana itu sendiri merupakan sub-sistem yang diikat oleh ketentuan perundang-undangannya masingmasing. Sistem Peradilan Pidana hendaklah dipandang sebagai bagian dari sistem yang lebih besar yakni Sistem Sosial yang lebih rumit dan canggih. Pusat Pelayanan Keadilan dan Pengabdian Hukum (d/h Lembaga Kriminologi) Universitas Indonesia.(yakni kasus hukum). sub-sub sistem peradilan itu akan menentukan sendiri hukum dalam bidang dan tugasnya masing-masing dalam mengejar tujuannya.4 Konsekuensi pernyataan di atas bahwa rumusan-rumusan abstrak dalam undang-undang hanya dipakai seb- 3 4 B. menurut pandangan sosiologis. Sebaliknya.3 Hubungan antar sub-sistem peradilan tersebut membentuk suatu jaringan laksana bejana berhubungan. Jakarta. Akan tetapi sebagai proses sosial yang melibatkan lingkungannya. Oleh karena itu. akan tetapi hendaklah dilihat dari persepektif yang lebih luas. Oleh karena itu kegiatan penegakan hukum tidak dapat hanya dilihat sebagaimana tertera dalam perundangundangan. Kumpulan Karangan buku Ketiga. antar subsistem peradilan terdapat hubungan saling berhubungan. penuntutan dan pengadilan) dan berakhir pada out put yakni putusan pengadilan. Jakarta. processing (penyidikan. 1994 halaman 85 Satjipto Rahardjo. Suatu Tinjauan Sosiologis.

akan mengakibatkan kerawanan yang mengarah kepada fragmentasi dan ketidakefektifan sistem peradilan pidana itu sendiri. yang ingin diketahui lebih jauh adalah bagaimana hukum itu dijalankan. Bahkan pengaruh luar itu sendiri akan menjadikan Sistem Peradilan Pidana menjadi unik. tidak mungkin Sistem Peradilan Pidana tidak terpengaruh atau kedap terhadap pengaruh sub-sistem sosial di luarnya. 1995 halaman 1 La Patra. kepengacaraan dan dengan hukum itu sendiri. digambarkan oleh La Patra sebagai berikut:7 Level 1: Masyarakat (society) Level 2: ekonomi. Keterpaduan sistem itu sendiri akan tercipta manakala semua pihak yang menjadi bagian dari sistem itu bekerja untuk mencapai tujuan tertentu dalam kenyataan. Prentice Hall Inc. pendidikan dan politik Level 3: sub-sistem Peradilan Pidana. An Introduction to the Criminal Justice System and Process. hal ini ditimbulkan karena besarnya pengaruh lingkungan sosial terhadap pencapaian tujuan Sistem Peradilan Pidana tersebut. Adanya independensi antara sistem peradilan pidana dengan sistem sosial. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Dengan demikian. 5 6 7 Alan Coffey et al. tingkah laku yang menjadi latar belakang penegakan hukum dan sejenisnya. Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana. substansial maupun kultural. 1978. Tanpa memperhatikan interrelationship antara sub-sistem di atas.6 Pemahaman terhadap ketiga sinkronisasi ini penting.agai petunjuk saja. Begitu juga hendaknya dilihat kenyataan faktual hubungan interdependensi antara kepolisian dengan kejaksaan. halaman 86 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 109 . Keterpaduan atau sinkronisasi itu sendiri meliputi sinkronisasi struktural. Terlalu banyak faktor yang tidak terungkap jika hanya membaca peraturan hukum tertulis semata. Analizing the Criminal Justice System. teknologi. disebabkan karena apa yang dikatakan sistem Peradilan Pidana pada hakikatnya merupakan sistem yang terbuka (open system).5 Dengan demikian menurut pandangan ini terlihat bahwa adanya undang-undang tidak menjadi jaminan bahwa sistem itu akan berjalan dengan baik. 1974 halaman 5 Muladi. antara kejaksaan dengan pengadilan. dengan lembaga pemasyarakatan. Lexington Books. Semarang. Englewood Cliffs. New Jersey.

Politics and the Administration of Justice. Beverly Hill.Suatu contoh pengaruh sub-sistem politik terhadap bekerjanya Sistem Peradilan Pidana. Kita tidak dapat berbicara penegakan hukum apabila keadilan tiGeorge F. London halaman 20. ekonomi dan budaya tidak dapat diabaikannya ketika proses penegakan hukum itu dijalankan. dengan penerimaan oleh pengadilan. Sage Publications. dapat diasumsikan bahwa proses peradilan merupakan suatu sub-sistem dari sistem politik yang lebih luas. 1985 halaman 26 9 op cit halaman 113 10 Satjipto Rahardjo. akan tetapi dilihat sebagai kegiatan untuk mewujudkan keinginan-keinginan hukum menjadi kenyataan. kepastian hukum dan kemanfaatan. Penerbit CV Sinar Baru. maka keputusan-keputusan politik itupun menjadi sah atau memperoleh legitimasinya. dalam hal mana konflik diselesaikan. melainkan apa yang dilakukan oleh aparatur penegak hukum dalam menghadapi masalah-masalah dalam penegakan hukum. penegakan hukum hendaklah dilihat sebagai suatu proses sosial yang melibatkan lingkungannya. dalam pengertian bahwa penegakan hukum sebagai kegiatan yang menarik lingkungan ke dalam proses tersebut. Cole. maupun yang harus menerima pembatasan-pembatasan dalam bekerjanya disebabkan oleh faktor lingkungan. Sejalan dengan pernyataan ini dikemukakan oleh Satjipto Rahardjo bahwa subsistem politik menggarap masalah penentuan tujuantujuan yang harus dicapai oleh masyarakat serta bagaimana mengorganisasikan dan memobilisasikan sumber daya-sumber daya yang ada untuk mencapainya keputusan-keputusan politik sering dimasukkan atau dirumuskan ke dalam hukum positif.10 Mewujudkan keinginan-keinginan hukum dalam kenyataan dapat diartikan sebagai usaha untuk mewujudkan nilai-nilai dasar di dalam hukum seperti keadilan. Penegakan hukum tidak lagi didefinisikan sebagai penegakan undang-undang belaka.8 Dengan tepat Soedarto mengemukakan bahwa membicarakan masalah penegakan hukum di sini tidak membicarakan bagaimana hukumnya. khususnya dalam hubungan dengan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan untuk dikejar oleh masyarakat. op cit halaman 14 8 110 Bunga Rampai . Bandung.pengadilan menerima masukan dari sektor politik ini dalam bentuk petunjuk tentang apa dan bagaimana ia harus menjalankan fungsinya.9 Faktor-faktor eksternal seperti politik. Dalam perspektif ini. Di lain pihak. lihat buku Beberapa Pemikiran tentang Ancangan antardisiplin dalam Pembinaan Hukum Nasional. Pertimbangan-pertimbangan politik merupakan faktor dalam pengambilan keputusannya. Nilai-nilai dasar ini merupakan fundamental hukum yang esensiil.

John R Blad (ed) Erasmus Universiteit Rotterdam. akan tetapi tidak lain dari kepastian akan peraturan belaka. sebaliknya untuk mewujudkan keadilan terkadang kepastian hukum diabaikan. Makna menanggulangi di sini diartikan sebagai usaha untuk mengendalikan kejahatan agar berada dalam batas-batas toleransi masyarakat. tidak dapat bekerja menurut tujuan yang dicita-citakannya dan SPP memiliki cacat yang 11 L. Pernyataan ini tentu akan mendapat sanggahan dari mereka yang berpendirian normatif.tidak dapat dipandang sebagai kepastian yang hakiki. bahkan dalam batas tertentu nilai-nilai dasar tersebut hendaklah dilihat sebagai nilai antinomik. Sungguh suatu ironi.dak terwujud.A. Kepastian hukum --. bahwa keadilan dan kemanfaatan itu harus dicapai melalui kepastian hukum. apabila demi menjaga suatu kepastian hukum. Part One. SPP terkadang menimbulkan faktor kriminogen. Hukum dengan berbagai pranatanya dibuat untuk memaslahatkan umat manusia dan perlindungan terhadap hak-hak fundamental manusia pula. Sebagai suatu sistem sosial yang lebih besar. Undang-undang dibuat untuk menjaga nilai-nilai keadilan dan kemanfaatan. begitu juga nilai kemanfaatan. hlm 8 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 111 . Dengan demikian nilai daya guna hendaknya menjadi perhatian dalam setiap upaya law enforcement. Louk Hulsman. akan tetapi dalam waktu tertentu nilai kepastian dapat dikorbankan demi mencapai tujuan keadilan. Sistem Peradilan Pidana hendaklah dilihat dalam bingkai yang lebih luas sebagaimana disebutkan di atas. SPP itu sendiri diartikan sebagai sistem dalam suatu masyarakat untuk menanggulangi masalah kejahatan. nilai keadilan harus dikorbankan.yang menjadi tujuan dibuatnya undang-undang. nilai kepastian hukum itu sendiri mengandung masalah yang substansial. Padahal dalam bingkai sosiologis. The Criminal Justice System as a social problem : an abolitionist persepective. Kita tidak dapat berbicara penegakan hukum tanpa melibatkan sub-sub SPP secara keseluruhan. Diantaranya SPP menimbulkan penderitaan. Demi sebuah kepastian hukum terkadang keadilan dikorbankan. Pendekatan sistemik harus menjadi acuan bekerjanya sistem itu dalam rangka penanggulangan kejahatan.

tidak tanggap dan tidak cepat. Keadilan birokratik ini terkadang terlalu prosedural sehingga dalam hal-hal tertentu tidak sejalan dengan keadilan substantif.11 Faktor kriminogen ini hendaknya menjadi perhatian semua pihak yang terlibat dalam sub-SPP kita apabila tujuan akhir penegakan hukum (pidana) adalah untuk mewujudkan kesejahteraan sosial (social welfare). akan tetapi dilakukan melalui sistem birokrasi yang rumit dan canggih. Oleh karena itu pekerjaan penegakan hukum yang dilakukan melalui SPP bukanlah pekerjaan subsumptie otomat alias teknologi pencet tombol. kekakuan. Diantara karakteristik birokrasi (peradilan) misalnya sifat yang non personal. Nilainilai yang menjadi dasar masing-masing pihak terkadang merupakan nilai-nilai antinomik. seperti nilai keadilan dan kepastian hukum. Sebuah pekerjaan besar yang membutuhkan dedikasi dan determinasi. kepentingan pribadi dengan kepentingan umum dan sebagainya. hal ini disebabkan karena usaha pemberian keadilan kepada warga tidak dapat dilakukan oleh warga masyarakat dengan cara-caranya sendiri. Pembicaraan tentang hal ini akan membawa kepada wacana keadilan yang birokratik. konsep.mendasar. sehingga terkadang kepentingan justisiabelen diabaikan. Misalnya kelambanan dalam salah satu sub-sistem peradilan disebabkan beban kerja yang berat dan sumberdaya yang terbatas merupakan penyebab pelayanan kepada pencari keadilan menjadi tidak optimal. Pada sisi yang lain terdapat ungkapan “tegakkan hukum dengan cara-cara menurut hukum” terkadang dalam hal-hal tertentu justru membawa dampak yang tidak produktif. Akan tetapi tindakan untuk merealisasikan nilai-nilai yang terkandung atau yang berada di belakang norma hukum yang hendak ditegakkan itu. Law enforcement yang dilakukan melalui SPP melibatkan sistem birokrasi yang rumit dan canggih. Birokrasi lebih berpegang kepada normanorma yang bersifat formal sehingga terkadang terbelenggu oleh prosedur. Dengan tepat Roeslan Saleh mengemukakan bahwa pekerjaan mengadili (dalam perkara pidana) merupakan pekerjaan pergulatan 112 Bunga Rampai . kelambanan menjadi faktor yang mempengaruhi penegakan hukum itu sendiri. Tugas SPP adalah meramu atau melakukan sintesis antara kedua nilai yang antinomi tersebut. doktrin adagium dan sejenisnya.

populis dan holistik. Kesadaran seperti inilah hendaknya menjadi semangat aparatur yang mengemban tugas penegakan hukum dalam tiap sub Sistem Peradilan Pidana kita. Meskipun unsur keyakinan hakim menjadi faktor yang determinan dalam pembuatan putusan akan tetapi ketentuan hukum acara dan hal hal lain yang relevan hendaklah pula diindahkan. eksekutif dan yudiKomisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 113 .kemanusiaan. Kejaksaan – Kekuasaan Eksekutif Penegasan bahwa Kejaksaan Republik Indonesia merupakan bagian eksekutif power di negeri ini tidak perlu diragukan lagi. Mereka tidak bekerja dalam ruangan yang hampa. akan tetapi merupakan lembaga sosial yang bermakna. Laksana bejana berhubungan. keterpaduan tersebut tidak hanya meliputi hubungan antar sub-sistem dalam SPP tersebut secara tertutup. penuntut umum maupun hakim bekerja dalam suatu keterpaduan yang harmonis. perlindungan hak-hak warganegara dan kerjasama yang produktif. integritas dan komitmen untuk menegakkan hukum seadil-adilnya. Dalam hal ini gagasan untuk tetap menghidupkan forum-forum seperti Makehjapol di tingkat pusat maupun Diljapol di tingkat daerah perlu didukung secara proporsional. Pembagian tradisionil dalam sistem ketatanegaraan legislatif. Forum yang demikian itu untuk melakukan koreksi dan pengayaan terhadap segala sesuatu yang telah dan akan dilaksanakan ke depan. Hal ini disebabkan karena kekuasaan untuk menuntut dan mengeksekusi putusan pengadilan merupakan wewenang absolut kejaksaan. Di samping itu dapat digunakan untuk meminimalisasi berbagai conflict of interest yang mungkin timbul yang disebabkan oleh egoisme sektoral yang berlebihan. Pertemuan dalam forum tersebut dilandasi oleh semangat profesionalisme. di dalam tarik menarik berbagai faktor internal maupun eksternal itulah hakim harus memberikan putusan yang seadil-adilnya. Diharapkan dengan cara demikian SPP tidak menjadi lembaga yang terasing dalam lingkungan sosialnya. Aparat penyidik. akan tetapi membentuk hubungan yang dinamis dengan sistem sosial yang lebih besar yang berada di luarnya. Semua faktor internal (pribadi hakim) dan faktor eksternal (yang diadili) berbaur menjadi satu.

Kejaksaan RI. “Secara jujur harus dikatakan bahwa kebijakan yang berkaitan dengan penegakan hukum. Untuk hal itu. Dengan demikian terjadi hubungan interdependensi antara kebijakan pemerintah dengan tugas-tugas kejaksaan. merupakan faktor yang menyebabkan tidak optimalnya pelaksanaan tugas dan wewenang kejaksaan dalam rangka penegakan hukum. Lihat Marwan Effendi. Posisi dan Fungsinya dari Perspektif Hukum. wacana agar Kejaksaan dilepaskan dari kekuasaan pemerintahan sepatutnya diperhatikan. Sehingga kesan ketidakmandirian 12 13 Pengaturan ini dapat dilihat dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia. Penerbit PT Gramedia. menjadi realitas dalam tataran aplikasinya di lapangan. dapat menempatkan kejaksaan dalam posisi yang dilematik dan vulnerable. Ketidakmandirian kejaksaan dalam melaksanakan tugas penuntutan lebih disebabkan karena faktor perundang-undangan yang dijadikan landasannya. Dalam penanganan kasus korupsi maupun illegal logging misalnya.12 Meskipun dapat dipahami bahwa kedudukan institusi dalam posisi yang demikian itu. melainkan lebih karena terjadinya pemasungan kewenangan”. yang menjadi sorotan negatif akhir-akhir ini.katif telah menempatkan kejaksaan dalam hal ini sebagai bagian dari kekuasaan pemerintahan. Kebijakan demikian membawa kesan bahwa kejaksaan melakukan tebang pilih dalam melakukan tuntutan dalam kasus-kasus tertentu. Dalam dilematik itu kejaksaan harus menentukan sikapnya. Sebagai bagian dari kekuasaan eksekutif kejaksaan harus mampu mengambil sikap dalam posisi yang sulit sekalipun.13 Landasan perundang-undangan dalam tataran konsepsional tadi. Jakarta. di mana melibatkan orang-orang yang mempunyai kuasa politik atau ekonomi terkadang menjadikan kejaksaan sebagai sasaran kritik. Pengaturan seperti ini terkadang menimbulkan indikasi ketidakmandirian kejaksaan di tengah-tengah arus pusaran kepentingan eksekutif. selama itu pula obyektifitas kejaksaan terus menerus dipertanyakan. Ketika itu kesan tebang pilih yang muncul di masyarakat tidak dapat dihindarkan. munculnya lembaga-lembaga lain dengan kewenangan yang berpotensi mereduksi tugas dan wewenang kejaksaan. 2005 halaman 50 114 Bunga Rampai . Di lain pihak. begitu pula dalam undang-undang kejaksaan sebelumnya. bukan semata-mata karena perilaku aparatur kejaksaan. Hal ini disebabkan karena selama kejaksaan berada di bawah bayang-bayang pemerintah.

Pada pihak lain pengaruh sosial politik hendaknya memberikan ruang gerak yang luas kepada kejaksaan untuk melaksanakan tugas dan wewenangnya secara mandiri. Meskipun bukan alasan untuk menjustifikasi kedudukan yang demikian untuk menjadikan kejaksaan tidak independen. jaminan undang-undang yang memberi kemandirian jaksa dalam melaksanakan tugasnya di lapangan tidak berarti banyak jika tidak diikuti dengan semangat mengabdikan segenap jiwa raganya untuk kepentingan tugas penegakan hukum yang diembannya. Selama ini kesan bahwa kejaksaan dapat diintervensi oleh kekuasaan atau partai politik sulit dihindarkan. Begitu juga dengan Alm Baharuddin Lopa yang dengan keberaniannya menyeret pelanggar hukum ke pengadilan dan mengeksekusi terpidana secara cepat. Semuanya tergantung kepada niat. tentu bukanlah alasan pembenar bagi pemerintah untuk mengintervensi pengisian jabatan-jabatan strategis di tubuh kejaksaan. Kebijakan demikian mengundang simpati publik. karena apabila campur tangan itu dilakukan berarti menjadikan lembaga ini berada di bawah bayang-bayang pemerintah. kewajiban bagi jaksa dan aparat kejaksaan dalam 14 Kita tentu masih ingat dengan kebijakan alm Baharuddin Lopa yang “menusakambangankan” terpidana korupsi. Oleh sebab itu terwujudnya due process of law sulit direalisasikan. cukup dengan beberapa lembar kertas saya sudah dapat menjadikan seseorang sebagai terdakwa. tidak perlu setumpuk bukti yang saya butuhkan. Bahkan Lopa berhasil membebaskan kejaksaan dari belenggu formalisme ketika ia mengatakan bahwa “untuk menyeret seorang tersangka korupsi. tekad dan keberanian pimpinan kejaksaan untuk keluar dari kungkungan kekuasaan eksekutif yang mempengaruhi netralitasnya. Institusi ini pernah dipimpin oleh Jaksa Agung Soeprapto yang menunjukkan kemandirian dan keberaniannya menegakkan hukum.14 Kesemuanya tergantung tekad dan keberanian jaksa dalam menjalankan tugasnya secara mandiri.tidak dapat dielakkan. Oleh karena itu pengangkatan jabatan strategis di lingkungan kejaksaan – bahkan Jaksa Agung – haruslah bersandarkan kepada merit system.” demikan katanya pada suatu waktu. Sebagai lembaga yang mengemban tugas penegakan hukum. Sebagai bagian kekuasaan eksekutif. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 115 .

kecuali kepentingan keadilan. instruksi dan sejenisnya merupakan hambatan nyata bagi jaksa dalam melaksanakan tugas-tugas penuntutan. Lihat Yudi Kristiana. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tugas penegakan hukum tidak tergantung kepada kepentingan penguasa atau kepentingan apapun. 116 Bunga Rampai . Oleh karena itu. 2006. Doktrin demikian tidak selaras dengan tuntutan kemandirian dan profesionalisme kejaksaan dalam melaksanakan tugas-tugas penuntutan. seperti 15 Doktrin Kejaksaan adalah satu dan tidak terpisah-pisahkan (‘een an ondelbaar’) layak untuk dipertimbangkan karena mempengaruhi independensi jaksa ketika menjalankan tugas-tugas penuntutan. Penerbit Citra Aditya Bakti. Sistem demikian dapat menyebabkan kejaksaan akan dengan mudah diintervensi oleh kekuasaan.15 Pada sisi lain jaksa tidak dapat melaksanakan tugas-tugas profesionalismenya secara optimal. negara harus menjamin keamanan jaksa agar bebas dari pelbagai gangguan dalam melaksanakan tugas profesinya. Independensi Kejaksaan dalam Penyidikan Korupsi. Di samping itu. Oleh karena itu penetapan kebijakan yang menyangkut institusi kejaksaan hendaklah selain mengacu kepada tuntutan nasional juga harus mengindahkan aspirasi masyarakat yang berkembang secara universal. antara lain jaksa adalah unsur utama dari “agent of the administration of justice” yang harus menjaga martabat profesinya. Bandung. Kewajiban demikian akan mengontrol kejaksaan agar tidak terjebak kepada pertarungan kepentingan yang sempit dan sesaat. kesusilaan dan keharusan menjaga kehormatan dan martabat profesinya di samping terus menerus menggali nilai-nilai hukum yang berkembang merupakan suatu keniscayaan. Dengan adanya jaminan demikian diharapkan jaksa dan kejaksaan pada umumnya dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. hlm 121. “Petunjuk-petunjuk atasan”. Begitu juga sistem keamanan dirinya hendaknya dijamin. Dalam “Guidelines on the Role of Prosecutor” terdapat ketentuan mengenai hal ini. kemanusiaan dan kesejahteraan. hal mendesak untuk dilakukan saat ini misalnya sistem pertanggung jawaban yang berlaku di kejaksaan perlu dilakukan peninjauan kembali.melaksanakan tugasnya mengindahkan norma-norma kesopanan. Di samping itu kemandirian jaksa dalam melaksanakan tugas penuntutan hendaklah dijamin secara utuh.

Kedudukan yang strategis yakni menentukan perkaraperkara apa yang akan dilimpahkan ke pengadilan.16 Akan tetapi dalam undang-undang yang menggantikannya ditegaskan bahwa Kejaksaan adalah lembaga pemerintahan yang melaksanakan kekuasaan negara di bidang penuntutan serta kewenangan lain berdasarkan undang-undang. besarnya tuntutan pidana dan cara bagaimana putusan hakim dijalankan menjadi tanggung jawab kejaksaan sepenuhnya. Keterbatasan sarana. terkadang didasarkan kepada pengamatan yang tidak cermat. Keadaan sarana dan prasarana yang masih minim begitu juga dukungan sumber daya manusia yang tidak proporsional membuat kejaksaan sebagai lembaga yang rentan. wewenang kejaksaan untuk juga mengemban tugas-tugas lain jika ditetapkan dengan undang-undang terkait kedudukan sebagai lembaga pemerintahan layak dipertimbangkan. Anggaran operasional dan anggaran pembangunan yang masih terbatas merupakan kendala yang serius dan hendaknya menjadi prioritas ke depan untuk segera diantisipasi.penetapan standar minimum tugas profesi jaksa atau penyusunan kode perilaku jaksa mendesak untuk direalisasikan dengan mengacu pada Guidlines di atas. Sebagai lembaga pemerintahan yang memiliki wewenang yang luas dalam perkara pidana. di sisi lain keterbatasan-keterbatasan sebagaimana disebutkan 16 Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Nomor 15 Tahun 1961 ini bisa jadi merupakan faktor yang menimbulkan kemandirian kejaksaan pada waktu itu. Di samping masalah yang bersifat struktural tersebut. prasarana dan faktor finansial ini menyebabkan kejaksaan kalah berpacu dengan tuntutan perkembangan zaman. perdata dan tata usaha negara begitu juga tugas dalam bidang ketertiban dan ketenteraman umum. faktor finansial juga menentukan tingkat capaian-capaian yang diperoleh instansi ini. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 117 . Kedudukan sebagai lembaga pemerintahan ini mengakibatkan pelaksanaan tugas dan wewenang kejaksaan berbeda dengan sebelumnya. Dalam undang-undang sebelumnya di sebutkan bahwa Kejaksaan ialah alat negara penegak hukum yang terutama bertugas sebagai penuntut umum. Kritik yang dialamatkan kepada institusi kejaksaan. sehingga dapat melaksanakan tugasnya secara independen.

kejaksaan memiliki kekuasaan dan tanggung jawab untuk membuat kebijakan-kebijakan politik. Kondisi yang lebih trasparan dan obyektif harus diciptakan dan dibakukan secara konkrit. Cole. Sebagaimana legislator dan hakim. diantaranya terdapat instruksi agar kebijakan untuk memberikan dukungan maksimal terhadap upaya-upaya penindakan korupsi yang dilakukan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia. dapat menyebabkan kejaksaan berada dalam ranah politik. 118 Bunga Rampai . op cit halaman 3 George F. Sebagai suatu institusi sosial. Kedudukan sebagai lembaga pemerintahan tersebut. Politics and the Administration of Justice. sehingga merit system dapat berjalan dengan baik. Kebijakan yang ditetapkan oleh kejaksaan merupakan refleksi prioritas nilai-nilai politik yang 17 18 19 George F. Kejaksaan Republik Indonesia dan Komisi Pemberantasan Korupsi dengan cara mempercepat pemberian informasi yang berkaitan dengan perkara tindak pidana korupsi dan mempercepat pemberian izin pemeriksaan terhadap saksi/tersangka. Selama ini sistem reward dan punisment belum terpolakan secara jelas.17 Melalui kewenangan yang dimilikinya. Kondisi demikian tidak hanya terjadi di negeri kita sebagaimana dikemukakan oleh Cole bahwa SPP dalam hal ini juga kejaksaan merupakan lembaga politik. Sistem reward dan punisment tentu harus dilakukan secara transparan dan konsisten.di atas memerlukan tindakan konkrit untuk dilakukan pembenahan sesuai dengan tuntutan yang berkembang saat ini. kejaksaan tidak dapat lepas dari pengaruh-pengaruh sekelilingnya. Kekurangan dan kesalahan di sana-sini tentu tidak akan diabaikan. Cole. akan tetapi hendaknya menjadikan institusi ini berdaya. Sage Publications. 1973 halaman 112 Kebijakan seperti ini dapat kita lihat misalnya dalam Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2004 Tentang Percepatan Pemberatasan Korupsi. Masyarakat tidak boleh membiarkan atau menjadikan kejaksaan sebagai bulan-bulanan ketidakpuasan. sehingga kesan subyektif tidak dapat dihindarkan. Konsistensi ini akan menimbulkan gairah kerja jaksa dan pegawai kejaksaan untuk memberikan darma bakti yang sebaik-baiknya kepada bangsa melalui institusi kejaksaan ini. kejaksaan dapat menentukan perkara-perkara mana yang akan dituntut. Beverly Hills/London.18 Jaksa memiliki kekuasaan diskresioner yang berpengaruh dalam usaha penegakan hukum.

bukan kepentingan politik kelompok tertentu. apabila kemandirian personal ini terwujud seorang jaksa akan memiliki kemandirian yang sepenuhnya tanpa ada intervensi atasan atau pihak-pihak yang berkepentingan lainnya. Dibutuhkan keberanian untuk melaksanakan tugas di tengah-tengah tarik menarik berbagai kepentingan yang dominan pada waktu itu. di samping untuk mengisi jabatan sesuai dengan kebutuhan. perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia dan keadilan akan terabaikan. akuntabilitas kejaksaan harus lebih banyak ditekankan kepada kepentingan publik. Di sinilah pengangkatan dan pemberhentian Jaksa Agung hendaknya dilepaskan dari berbagai kepentingan politik sesaat. yang perlu dilakukan saat ini adalah bagaimana membuat lembaga kejaksaan harus selalu memiliki komitmen pada hukum dan keadilan. Kepentingan untuk menegakkan hukum. Begitu juga harus ada jaminan bagi jaksa terhadap keselamatan diri dan keluarganya dari berbagai ancaman yang mengganggu kemandiriannya sebagai aparatur penegak hukum. Begitu pentingnya tujuan tersebut. Oleh karena itu menurut Harkristuti Harkrisnowo. Pengangkatan Jaksa Agung begitu pula pengisian jabatan-jabatan strategis di lingkungan kejaksaan haruslah didasarkan kepada kepentingan untuk menegakkan nilainilai keadilan dan kemanusiaan yang hakiki. Untuk itu. Di samping kemandirian organisasi/institusional. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 119 . sehingga keberanian dan integritas seorang pimpinan kejaksaan menjadi syarat mutlak di samping keahlian tehnis yuridis yang dimiliki jaksa pada umumnya.19 Di sinilah kejaksaan ternyata tidak cukup bekerja dengan menggunakan norma-norma hukum yang ditetapkan sebelumnya.ditetapkan ketika itu. Itu semua diharapkan akan terwujud. manakala institusi kejaksaan menjadi lembaga negara. kemandirian personal/individual dapat pula ditumbuhkan. Karena apabila kebijakan tersebut tidak diindahkan dapat mengakibatkan kejaksaan terperosok dalam kepentingan kekuasaan yang sempit. Kedudukan sebagai lembaga negara itu akan menciptakan kemandirian yang sesungguhnya bagi kejaksaan untuk melakukan tugas dan wewenangnya tanpa intervensi kekuasaan eksekutif. Dalam melaksanakan tugas penuntutan.

Kita tidak dapat menunggu perubahan undang-undang kejaksaan untuk menciptakan kemandirian demikian. Reformasi Peradilan. KKN sebagai virus yang menggerogoti pembangunan merupakan musuh nyata masyarakat yang harus diberantas hingga ke akarakarnya.Masalah di atas merupakan salah satu diantara sekian masalah yang dihadapi oleh jaksa dan kejaksaan pada umumnya pada waktu menjalankan tugas penuntutan dan tugas-tugas lainnya yang membutuhkan integritas. MA diharapkan dapat mengemban amanah reformasi yang merupakan tuntutan publik yang disuarakan oleh mahasiswa dan segenap lapisan masyarakat yang menginginkan hukum ditegakkan seadil-adilnya. kolusi dan nepotisme (KKN). Akan tetapi kenyataan yang berkembang sesudahnya menunjukkan lembaga ini belum dapat menjawab tuntutan reformasi 120 Bunga Rampai . Penguatan masyarakat sipil saat ini dapat digunakan untuk meningkatkan harkat dan martabat kejaksaan ke arah kemandirian yang sesungguhnya. penguatan civil society saat ini merupakan momentum yang bagus untuk mewujudkan ide-ide tersebut menjadi kenyataan. Pemberdayaan sektor publik dan sektor privat yang tengah berlangsung saat ini hendak-lah dimanfaatkan sebaik-baiknya guna menuju tegaknya supremasi hukum. kita dapat melihat bahwa salah satu tuntutan reformasi yang bergulir hampir satu dasawarsa yang lalu yakni kemandirian badan-badan peradilan yang puncaknya pada Mahkamah Agung (MA). Tuntutan Publik Jika kita mempersempit makna peradilan dengan pengadilan. MA sebagai puncak tertinggi dalam peradilan kita menjadi tumpuan harapan publik terutama dalam penanganan perkara korupsi. Sebagai benteng terakhir keadilan. Perubahan politik apapun yang terjadi tidak akan membawa arti yang signifikan. apabila tidak diikuti dengan usahausaha untuk memandirikan kejaksaan sebagai bagian dalam Sistem Peradilan Pidana pada umumnya sehingga menjadi institusi penegak hukum yang terpercaya. Ekspektasi masyarakat yang begitu kuat selayaknya direspon oleh lembaga ini secara konsisten. Untuk itu perhatian atas semua ini harus dipusatkan agar kemandirian jaksa terwujud.

MA justru menjadi lembaga yang menghambat tuntutan publik untuk tegaknya supremasi hukum. wajah peradilan melalui MA seakan tidak tersentuh reformasi. fakta menunjukkan bahwa lembaga peradilan tidak dapat melepaskan diri dari konfigurasi politik yang terus menerus berkembang. begitu juga di era Orde Baru kekuasaan kehakiman justu dikukuhkan dengan undang-undang sehingga menjadi bagian dari mesin kekuasaan politik Orde 20 Banyak fakta yang menunjukkan bahwa MA merupakan lembaga yang tidak responsif terhadap tuntutan publik demikian. Di bawah rezim demokrasi terpimpin. Bahkan terkesan justru counter produktive maupun over protective terhadap tuntutan publik bagi reformasi peradilan. terungkapnya isu suap di kalangan hakim agung. Fenomena ini jelas menunjukkan resistensi lembaga peradilan terhadap tuntutan reformasi. Kesemua itu menunjukkan betapa masyarakat mempunyai kepedulian yang besar terhadap lembaga ini. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 121 . kekuasaan kehakiman ditempatkan sebagai bagian dari eksekutif. baik ketika Orde Lama dengan demokrasi terpimpin juga Orde Baru dengan demokrasi Pancasila mempunyai standar-standar yang dapat diperbandingkan.20 Meskipun reformasi yang dalam hakikatnya menghendaki perbaikan di semua bidang kehidupan. Alih-alih melaksanakan reformasi di tubuh dunia peradilan. Kedua rezim memiliki kesamaan-kesamaan dalam memberdayakan kekuasaan kehakiman. Dalam beberapa dasawarsa terakhir. Kekuasaan kehakiman tidak otonom dari pengaruh rezim yang berkuasa ketika itu.yang begitu kuat. Berbagai kritik dan saran telah disampaikan. hal ini terlihat dari putusan-putusannya yang kontroversial. lembaga-lembaga peradilan masih asik dengan masalahnya sendiri. Oleh karena itu ungkapan yang dialamatkan kepada mereka yang kritis terhadap peradilan seperti melakukan contempt of court layak dipertanyakan. perpanjangan usia pensiun Ketua MA sampai kepada perseteruannya dengan Komisi Yudisial. Pengalaman dalam dua sistem pemerintahan yang pernah dianut oleh Indonesia. Realitas menunjukkan bahwa konfigurasi kekuasaan kehakiman tidak dapat dilepaskan dari bayang-bayang pemerintah yang tengah berkuasa.

Mahkamah Agung di Bawah Soeharto. Penerbit Pustaka Forum Adil Sejahtera.24 Undang-undang Pokok Kekuasaan Kehakiman merupakan kekalahan kaum reformis yang ketika 21 22 23 24 Hal ini dapat dilihat dari penelitian Benny K Harman. Krisis Peradilan. penerbit Elsam. pemalsuan vonis. kolusi dan nepotisme. Menyoal Kolusi di Mahkamah Agung. Begitu juga dalam kasus Gandhi Memorial School.23 Begitu juga penelitian A Mohammad Asrun yang mengkritisi peranan badan peradilan di bawah bayang-bayang rezim Orde Baru. Jakarta. halaman 450 Salah satu ulasan yang menarik tentang KKN dilingkungan badan Peradilan kita lihatlah buku Menyingkap Kabut Peradilan Kita. Jakarta. memiliki wewenang judicial review.22 Dalam kasus Hanoch Abee Ohee. Konfigurasi Politik & Kekuasaan Kehakiman di Indonesia. hingga isu suap yang melanda badan peradilan tertinggi ini merupakan contoh bahwa lembaga yang disebut sebagai benteng terakhir keadilan ini tidak steril dari korupsi. dengan menempatkan sisi teknis peradilan di bahwa MA. Aldentua Siringoringo dan Tumpal Sihite (Penyunting). 1996 A Muhammad Asrun. halaman 4 122 Bunga Rampai . menurut beliau. tetapi sisi administratif dan finansial di bawah eksekutif. tidak memiliki kewajiban untuk tunduk pada visi dan kepentingan politik pemerintah. Malahan diciptakan dualisme ditubuh badan peradilan. Lembaga peradilan dilumpuhkan sedemikian rupa sehingga tidak mampu mengurus dirinya sendiri dan terlena di bawah bayang-bayang kekuasaan pemerintahan. melaksanakan cita hukum. pemerintahan di era ini telah menghambat independensi kekuasaan kehakiman yang mandiri. Menurut Asrun. para hakim sangat legalistis/positivisme dalam memutus perkara dan para hakim akan mendukung serta terikat pada visi dan kepentingan politik pemerintah.Baru. maka kekuasaan kehakiman cenderung memiliki karakter tidak independen. Ibid. tidak legalistis. MA menganulir putusannya melalui surat sakti Ketua MA yang ditujukan kepada Ketua Pengadilan di Jayapura untuk menunda eksekusi putusan yang telah in kracht van gewijsde. Penerbit Elsam. Sebaliknya jika konfigurasi politiknya otoriter.21 Secara khusus Benny K Harman menyatakan bahwa konfigurasi politik yang demokratis akan melahirkan kekuasaan kehakiman yang independen. Jakarta 1997. memiliki wewenang judicial review yang terbatas. 2004.

para hakim di pengadilan negeri dan pengadilan tinggi tergantung sepenuhnya pada Departemen Kehakiman ketika itu. Tak terkecuali pula dengan MA. Jakarta. Dengan adanya kenyataan tentang masalah organisasi. Penerbit RajaGrafindo Persada. bahwa:”kebebasan yang dimiliki lembaga pengadilan tidak lain merupakan suatu kemandirian yang sangat diperlukan (indispenseble) dan “Conditio Sine Quanon” (harus tidak boleh tidak adanya) karena selain menunjukkan bahwa negara ini adalah Rechtsstaat juga menunjukkan akan adanya jaminan terselengaranya peradilan yang independen guna menegakkan hukum yang berintikan keadilan”. personel. akibatnya akan sulit diharapkan kemandirian mereka ketika menjalankan tugas-tugas yudisial mereka. Hukum & Peradilan. Sebastian Pompe mengemukakan bahwa untuk mereformasi dunia peradilan di Indonesia tidak dapat dilakukan secara fragmentaris akan tetapi meliputi reformasi kebijakan yang bersifat institusional. 2007 halaman 57 Rusli Muhammad. Keterpurukan dunia peradilan disebabkan karena sistem sosial yang karut marut. Karut marut wajah peradilan memperoleh bentuknya yang sempurna manakala kekuasaan eksekutif berhasil merasuki wilayah yudikatif dengan menodai kemandiriannya. administrasi dan keuangan.itu bekerja keras untuk mencegah terulangnya pengebirian kekuasaan di masa rezim Demokrasi Terpimpin. manajemen keuangan. akan tetapi dalam menentukan personalianya tergantung kepada presiden. pendidikan. Walaupun kedudukan sebagai kepala pemerintahan dalam hal ini sukar untuk diabaikan. Usaha reformasi di dunia peradilan diantaranya mencakup reformasi di MA.26 Tindakan demikian jelas melukai perasaan keadilan masyarakat. Potret Lembaga Pengadilan Indonesia. komisi yudisial. Jakarta. Halaman 199 – 200. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 123 . Penerbit Kata Hasta Pustaka. 2006. Arus Pemikiran Konstitusionalisme. Reformasi dalam tubuh peradilan menjadi conditio sine qua non untuk memenuhi tuntutan publik tersebut. kontrak sosial dan reformasi manajemen instrumental. sehingga lembaga peradilan 25 26 Lihat Adnan Buyung Nasution.25 Penentuan Ketua dan Wakil Ketua MA merupakan kewenangan presiden dalam kedudukannya sebagai kepala negara. meskipun lembaga ini tidak seratus persen berada di bawah pemerintahan. peradilan niaga dan peradilan hak asasi manusia.

28 Gagasan peradilan progresif sebagaimana dilontarkan oleh Satjipto Rahardjo hendaklah dilihat sebagai eksemplar atau alternatif keluar dari krisis peradilan saat ini. Fungsi Mahkamah Agung dalam Praktik Sehari-hari. Understanding the Indonesian Blueprints for Court Reform” dalam Jentera. upaya pembenahan ditubuh peradilan harus dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan semua komponen masyarakat. 124 Bunga Rampai .ikut menjadi korbannya. tentang peranan MA dan urgensi reformasi di tubuh MA dapat dibaca buku Henry P Panggabean. Saat ini kita membutuhkan suatu penegakan hukum yang progresif. prosedur dan sekalian doktrin konvensional hendaklah ditanggalkan karena akan menimbulkan kesengsaraan. meskipun kajian terbatas kepada fungsi MA dalam upaya penanggulangan tunggakan perkara dan pemberdayaan fungsi Pengawasan Mahkamah Agung akan tetapi buku ini dapat memberikan kontribusi positif bagi reformasi peradilan. Jakarta. diantaranya “Indonesia Inginkan Penegakan Hukum Progresif” harian Kompas. juga “Mahkamah Agung Reformasi” harian Kompas. ketidak adilan dan kesewenangwenangan. Lembaga-lembaga hukum seperti pengadilan hendaklah membantu manusia untuk menyelesaikan konfliknya sendiri 27 28 Sebastian Pompe. Jum’at. 2001. Sebastian Pompe mengingatkan bahwa reformasi lembaga peradilan ini hendaknya menjadi keprihatinan kita semua. bukan penegakan undang-undang yang secara linear diartikan sebagai penegakan hukum. halaman 60. Tentang gagasan ini dapat dibaca tulisan-tulisan Satjipto Rahardjo. 18 September 1998 dapat dijadikan referensi untuk merintis sistem peradilan progresif itu. Pendekatan tradisional yang selama ini dipraktikkan hendaklah ditinggalkan. oleh karena itu belenggu formalisme. “ Managing Court Reform. Penerbit Sinar Harapan. Peradilan yang progresif ditandai dengan cara-cara yang progresif dalam memandang hukum. Keterlibatan semua komponen sosial agar menjadikan lembaga peradilan menghasilkan daya guna dan hasil guna yang maksimal untuk mewujudkan prinsip negara hukum merupakan sebuah keniscayaan. Di era reformasi ini kita membutuhkan lembaga-lembaga peradilan yang reformis pula. Edisi 15 Tahun IV Januari – Maret 2007. Penegakan hukum hendaklah berpijak kepada kepentingan nilai-nilai kemanusiaan.27 Keterpurukan peradilan haruslah menjadi concern masyarakat seluruhnya. Oleh karena itu.

Jakarta. Kepatuhan hukum yang bersandarkan kepada kesadaran hukum yang hakiki. reformasi di badan peradilan harus dilakukan secara menyeluruh dan integral. hendaklah memulai langkah-langkah progresif ini. MA sebagai lembaga peradilan yang tertinggi di Republik ini. Reformasi itu meliputi elemen struktural (kelembagaan yang terkait pada sistem). Oleh karena itu. antara lain: menjauhi hal-hal yang bersifat fragmentaris dan mengedepankan pendekatan sistemik. konsep kesadaran hukum yang terpadu antara kesadaran hukum penguasa dan perasaan hukum masyarakat. Dalam jangka pendek. Dalam rangka menciptakan independensi peradilan beberapa hal hendaklah menjadi perhatian. akar kulturalnya dan akar religiusnya.dengan menggunakan seluruh kapasitas kemanusiaannya. Secara keseluruhan. elemen substansial (hukum positif yang mendasari jalannya sistem tersebut) dan elemen kultural (pandangan. mengutamakan kebenaran dan keadilan. Penerbit Ghalia Indonesia.29 Dengan cara demikian. bahkan filosofi yang mendukung efektivitas sistem tersebut). sikap. Oleh karena itu. Untuk mencapai tujuan yang demikian luas itu. tindakan reformis itu akan diikuti juga oleh kepolisian dan kejaksaan secara berkesinambungan. hukum tidak mengabdi kepada kepentingan kekuasaan politik. 2002. Penyebab dan Solusinya. Peranan hakim menjadi sentral dalam hubungan kemanusiaan ini. reformasi di jajaran kekuasaan kehakiman yang dimulai dari MA hendaklah mengikuti skala prioritas yang telah ditetapkan sebelumnya. halaman 27. Keterpurukan Hukum di Indonesia. melakukan promosi dan perlindungan hak asasi manusia. Prinsip kemandirian kekuasaan kehakiman ini merupakan prinsip yang diakui secara universil. sistem hukum yang kondusif untuk terciptanya supremasi hukum. semua pihak harus berjuang untuk mengembalikan hukum kepada akar moralitasnya. seperti UN Basic Principles on the Independence of Judiciary (1985). sehingga pengadilan di bawahnya akan melakukan hal yang sama. reformasi struktural dan 29 Achmad Ali. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 125 . diharapkan kepatuhan masyarakat terhadap hukum akan terwujud.

Dengan demikian semangat itu harus menjiwai semua lingkungan badan peradilan di atas. Penerbit The Habibie Center. penuntutan.substansial harus diprioritaskan dan dalam jangka panjang melakukan reformasi kultural. Reformasi struktural tersebut meliputi reformasi kelembagaan di wilayah eksekutif seperti kepolisian. halaman 10 126 Bunga Rampai . reformasi hukum dan peradilan akan memperoleh bentuk yang sesungguhnya. Kekuasaan kehakiman dalam arti ini hendaklah dilihat sebagai suatu bagian yang integral antar sub-sistem peradilan pidana terpadu (integrated criminal justice system) sebagaimana disebutkan di muka yang meliputi subsistem penyidikan. Untuk memenuhi harapan itu dibutuhkan kemampuan hakim dalam memahami hukum melampaui batas-batas teks perundang-undangan. dan Reformasi Hukum di Indonesia. hendaklah dilihat dalam perspektif yang luas. konsekuensinya akuntabilitas hakim tidak hanya sebatas undang-undang akan tetapi secara moral dan sosial. Hak Asasi Manusia. keadilan yang dapat diterima semua pihak karena didasari oleh tanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagaimana kepala putusan yang dibacakannya. Untuk itu pula. Demokratisasi. maka meliputi juga kekuasaan penyidikan dan penuntutan. Jakarta 2002. Pendekatan fragmentaris dan sektoral akan diminimalisasikan. peradilan dan pema- 30 Muladi.30 Melalui pendekatan sistemik ini. Kecerdasan intelektual harus diimbangi pula dengan kematangan spritual. Begitu pula pendekatan legalistik selama ini harus ditinggalkan. Apabila lembaga peradilan diartikan secara luas. kejaksaan dan juga wilayah legislatif seperti Dewan Perwakilan Rakyat. Sinkronisasi atau harmonisasi antar sub-sistem secara keseluruhan akan tercipta. akan tetapi suatu kegiatan yang merupakan proyek besar untuk menciptakan keadilan (sosial). tugas hakim tidak hanya menerapkan undang-undang terhadap perkara yang tengah diadilinya. Dengan demikian terjadinya conflict of interest antar sub-sistem dapat dihindari. Moral and social accountability ini merupakan salah satu karakteristik peradilan yang reformis. Hakekat kekuasaan kehakiman yang merdeka dan mandiri.

maka predisposisi sebagai subyek untuk menentukan pilihan dalam berbagai alternatif tidak dapat diabaikan. nurani dan sebagainya.31 Dalam ide ini. lepas dari kungkungan pemikiran yang legalistik. ungkapan Immanuel Kant layak dikemukakan di sini: ”If justice is gone. Jakarta. Apakah makna semuanya ini? tidak lain predisposisi subyek akan menentukan kemandirian badan peradilan.syarakatan. Ungkapan Taverne layak dikemukakan di sini ketika ia mengatakan: ”berikan saya seorang jaksa yang jujur dan cerdas. saya akan menghasilkan putusan yang adil”. Pengadilan dalam arti luas. Keadilan menjadi tujuan akhir penegakan hukum. Penegakan hukum bukanlah pekerjaan penerapan peraturan dan logika yang secara tradisionil sebagaimana diterapkan selama ini. determinasi. Masalah Penegakah Hukum dan Kebijakan Hukum Pidana dalam Penanggulangan Kejahatan. there is no reason for a man to live longer on earth” oleh karena itu keadilan hendaklah menjadi roh penegakan hukum yang sesungguhnya. penuntut umum dan hakim. Penerbit Kencana Predana Media Group. Kebijakan legislatif atau perundang-undang merupakan wilayah yang strategis untuk menentukan kemandirian kekuasaan kehakiman dalam tataran aplikatif di semua lingkungan peradilan nantinya. Walaupun harus tetap dipahami bahwa kebijakan legislatif ini tidak secara taken for granted terwujud di lapangan. berikan saya seorang hakim yang jujur dan cerdas. 2007 halaman 35 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 127 . maka dengan undang-undang yang paling burukpun. Reformasi peradilan sesungguhnya tergantung kepada predisposisi subyek yang melakukan penegakan hukum (pidana) mulai penyidik. Ketika yang menjalankan kekuasaan kehakiman itu terdiri atas manusia. jika tidak. 31 Barda Nawawi Arief. Kemandirian dan kemerdekaan itu tidak akan berarti banyak apabila hanya dimiliki oleh salah satu subsistem dalam SPP di atas. kebijakan legislatif atau perundang-undangan merupakan tahap awal untuk menentukan kemandirian lembaga ini yang nantinya diikuti oleh taraf aplikatif di lapangan ketika wilayah penegakan hukum in concreto dijalankan. berupaya untuk mewujudkan peradilan progresif di mana kegiatan tersebut hendaklah dilihat sebagai suatu proses yang sarat dengan compassion yang memuat empati.

Reformasi yang sejatinya menjadikan segala sesuatu menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Karena di satu pihak independensi atau impartially kelembagaan hanya dapat terwujud melalui perilaku nyata personal/individu penegakan hukum.Untuk menegakkan hukum secara adil. kalau tidak dikelola secara rasional dapat berbalik menjadi deformasi hukum. penyalahgunaan kekuasaan dipraktikkan secara terang-terangan bahkan dibungkus secara rapi melalui slogan hukum seperti asas legalitas. Jakarta 2007 halaman 29 128 Bunga Rampai . Unsur pelaku penegakan hukum ini tidak bisa diabaikan. karena menyangkut kompetensi dan independensi. Kedua independensi ini harus dilihat sebagai hubungan dialektik.33 Keadaan deformasi hukum itu merupakan bentuk kesewenang-wenangan secara telanjang.32 hukum yang akan ditegakkan haruslah benar dan adil. Kedua. … yang memberi teladan dan menjaga nurani hukum & politik.E Sahetapy. 2005. karena 32 33 Bagir Manan. Ibarat nila setitik rusaklah susu sebelanga. Sistem Peradilan Berwibawa (suatu Pencarian) FH UII Press Yogyakarta. perlindungan hak asasi manusia dan asas praduga tidak bersalah. Komisi Hukum Nasional. merupakan ungkapan tepat untuk menggambarkan bahwa perilaku kelembagaan dimanifestasi melalui perilaku individu. Di atas telah dikemukakan bahwa independensi kekuasaan kehakiman meliputi independensi kelembagaan dan independensi personal/individual. pelaku penegakan hukum yang merupakan kunci utama untuk terwujudnya substantive justice. paling tidak harus dipenuhi beberapa syarat misalnya: pertama. di sisi lain independensi personal/individual terkadang diidentikkan dengan independensi kelembagaan. Keadaan itu tidak dapat dibiarkan berlarut-larut. Suatu aturan hukum akan tidak benar dan tidak adil apabila hanya dibuat untuk kepentingan kekuasaan belaka dan mengandung kesewenang-wenangan. Dan pada akhirnya keterpurukan dunia peradilan menjadi fenomena yang tidak terelakkan. Penyimpangan yang dilakukan oleh oknum peradilan dapat menjadi cermin korupnya lembaga itu secara keseluruhan. halaman 9 J.

Jaksa dan Hakim harus diisi oleh orang-orang yang memiliki integritas pribadi yang kokoh dalam pengabdian tugas-tugasnya demi bangsa. negara dan darma sejarahnya disamping kemampuan intelektual yang mumpuni. Kekuasaan harus ditundukkan kepada hukum bukan sebaliknya. Supremasi hukum akan tumbang dan kesewenang-wenangan akan terjadi dimanamana. Dalam kedudukan sebagai lembaga pemerintahan. akan tetapi dapat dikemukakan bahwa apa yang telah dirintis oleh Hendarman Supandji merupakan langkah yang terbilang berani. iklim politik yang tengah berkembang janganlah justru menjadikan kejaksaan kehilangan independensinya. Masih terlalu dini untuk menilai kinerja Jaksa Agung saat ini. Kemandirian suatu sub-sistem peradilan tidak akan berarti banyak jika tidak diikuti kemandirian sub-sistem lain secara menyeluruh. secara implisit dapat disimpulkan bahwa independensi kekuasaan kehakiman/peradilan merupakan suatu sistem yang integral. Polisi.prinsip negara hukum akan runtuh. Penegak hukum harus mengabdikan dirinya untuk memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dan kebenaran dengan resiko terberat sekalipun. Reformasi hendaknya dijadikan pintu masuk ke arah pembenahan komponen substantif. Secara konseptual. Upaya untuk memproses secara hukum tersangka korupsi dalam skala yang besar membutuhkan dukungan dari sub-sistem politik dan sosial keseluruhan. struktural dan kultural penegakan hukum ke arah yang lebih baik. Kontribusi Kejaksaan Dari paparan di atas. Lembaga politik seperti lembaga perwakilan dan juga partai-partai politik harus memberi dukungan yang setulus-tulusnya terhadap langkah-langkah yang telah diayunkan oleh kejaksaan hatta menyangkut dirinya sendiri sekalipun. kontribusi lembaga kejaksaan untuk mempercepat reformasi peradilan dimulai dengan kebijakan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 129 . sebab jika tidak Kejaksaan Agung hanya bekerja untuk dirinya sendiri alias tidak membawa daya guna dan hasil guna. ketangguhan moral yang tahan uji dan semangat pengabdian yang tinggi. Politisasi lembaga kejaksaan dalam melakukan penuntutan perkara pidana hendaklah dihindarkan oleh siapapun juga dengan motivasi apapun.

mereka yang mempunyai kekuasaan akan berusaha sekuat mungkin untuk menghambat dan atau mempengaruhi kinerja kejaksaan dalam melaksanakan penegakan hukum secara konsisten. Penggarapan komponen substantif dan struktural hendaklah diarahkan kepada pembentukan kultur hukum yang bertujuan untuk menegakkan substantive justice bersandarkan kepada profesionalisme dan integritas yang teruji. 130 Bunga Rampai . Mereka-mereka inilah pendekar hukum yang sesungguhnya. Untuk itulah kemandirian personal harus dilindungi sebaik-baiknya oleh pimpinan kejaksaan. Melakukan penataan terhadap lembaga hukum yang lain secara sistemik termasuk juga lembaga kepengacaraan sehingga tercapai integrated criminal justice system yang sesungguhnya. Kebijakan undang-undang yang menentukan jaksa adalah satu dan tidak terpisah-pisahkan dalam melakukan tugas-tugas penuntutan. Untuk itu sikap vigilantisme hukum harus ditumbuhkan.dalam tataran legislatif atau perundang-undangan dengan menempatkan kejaksaan sebagai lembaga yang independen dari pengaruh kekuasaan apapun. Penguatan masyarakat madani (“Civil Society”) harus diikuti dengan penguatan sistem kelembagaan penegakan hukum ke arah pembentukan kultur hukum yang lebih baik. Hal ini disebabkan karena. Terjadinya ketidakmandirian itu dapat dihindarkan manakala kejaksaan mampu mengambil jarak dengan pihak-pihak yang mempunyai kepentingan dalam penyelesaian suatu perkara. Mereka. karena itu semua pihak harus melepaskan kepentingannya. Independensi itu tidak dalam tataran konsepsi akan tetapi hingga tataran realitas atau operasional di lapangan harus diwujudkan. Mereka yang mengabdikan segenap kemampuannya bagi kejayaan bangsa ini. para jaksa yang bertugas di daerah terpencil jauh dari sorotan media massa dan dengan penuh dedikasi dalam tugasnya merupakan vigilantee yang berjuang untuk kejayaan dan kehormatan profesinya. oleh karena itu pimpinan kejaksaan hendaklah memberikan perhatian yang besar baik menyangkut promosi maupun kompensasi-kompensasi lainnya. Mereka jauh dari tindakantindakan yang bertujuan mencari sensasi atau popularitas untuk dirinya sendiri. akan tetapi mengandung nilai yang positif apabila dikelola. walaupun dalam tataran empiris menimbulkan permasalahan.

maupun pemerintah dan negara pada umumnya. di samping kerja sama lintas sektoral. Di samping kelemahan-kelemahan yang masih ada. Tidak ada hubungan yang liner antara perbaikan penghasilan dengan integritas jaksa ketika melakukan tugas-tugasnya di lapangan. cyber crime yang terkadang melintasi batas-batas negara. tanggung jawab dan dukungan sarana dan prasarana yang memadai. alokasi anggaran untuk menyelesaikan kejahatan-kejahatan di atas. Optimalisasi tersebut membutuhkan dukungan finansial dan sarana serta prasarana yang tidak sedikit serta sumber daya manusia yang baik. illegal logging/ fishing. Begitu juga aspek struktural perlu mendapat perhatian Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 131 . hendaknya dilakukan secara proporsional dan bijaksana. regional dan global. Meskipun harus diakui pula bahwa sistem renumerasi di lingkungan kejaksaan masih membutuhkan perbaikan. Begitu juga penyusunan rule of conduct seperti Code Perilaku Jaksa mendesak untuk dilakukan saat ini untuk memenuhi tuntutan profesionalisme sebaik-baiknya. Oleh sebab itu. membutuhkan kinerja. akan tetapi bukan suatu alasan pembenar bagi jaksa atau pegawai kejaksaan untuk melakukan penyimpangan. Penanganan perkara-perkara yang tergolong perkara penting seperti korupsi. Di samping kejahatan konvensional yang terus menerus meningkat membutuhkan penanganan oleh kejaksaan secara optimal. Semuanya berpulang kepada niat dan ketulusan masing-masing. Permasalahan yang bersifat substantif seperti pembenahan peraturan perundang-undangan yang selaras dengan jiwa/semangat undang-undang kejaksaan yang baru baik menyangkut struktur kelembagaan kejaksaan maupun pelaksanaan tugas dan wewenangnya hendaklah dilakukan secara simultan. keberhasilan-keberhasilan kejaksaan dalam menuntaskan berbagai kasus hendaknya menjadi perhatian semua pihak sehingga penilaian atas kinerja kejaksaan menjadi obyektif. Kebijakan anggaran keuangan yang berbasiskan kinerja hendaklah pula dilihat secara proporsionil dengan mempertimbangkan beban kerja dan tuntutan-tuntutan publik serta besarnya tanggung jawab yang diemban. money loundering. Mempertimbangkan tingkat kesulitan dan kompleksitas masalah yang ditangani.

Komisi Kejaksaan sebagai state auxiliary institution hendaklah dilihat sebagai mitra guna membenahi institusi kejaksaan baik di dalam pengawasan perilaku. Apabila sebagian kecil permasalahan ini telah dituntaskan. efisien dan simultan. sistem pendidikan yang menunjang tugas-tugas profesional jaksa. Kultur yang dibangun itu hendaklah berangkat dari kesadaran untuk melaksanakan tugas secara profesional.yang sungguh-sungguh. transparan dan akuntabel sesuai dengan visi dan misi kejaksaan. Oleh sebab itu fungsi pengawasan internal baik meliputi pengawasan melekat maupun pengawasan fungsional dengan pengawasan eksternal dalam hal ini Komisi Kejaksaan perlu dilakukan secara sinergis. Pembenahan yang bersifat struktural meliputi organisasi dan tata kerja kejaksaan diarahkan kepada upaya untuk mewujudkan lembaga kejaksaan sebagai institusi yang sederhana dan efisien. mulai sistem rekruitmen pegawai kejaksaan. mutasi dan promosi. kelengkapan sarana dan prasarana serta sumber 132 Bunga Rampai . Begitu juga dalam pengelolaan sumber daya manusia harus dilakukan perencanaan dan perhitungan yang matang. kebijakan pembinaan karier. Keunikan ini hendaknya menjadi perhatian pemerintah yang membidangi penataan aparatur negara. kinerja. Dan pembentukan kultur di lingkungan kejaksaan harus dibangun secara utuh sehingga kejaksaan menjadi lembaga yang solid. Optimalisasi produktivitas itu merupakan tuntutan publik yang harus direspon oleh kejaksaan secara bijaksana. sistem penggajian dan tunjangan jabatan harus dilakukan sejalan dengan kebutuhan yang berkembang dan dilakukan secara cermat. Kesederhanaan dan efisiensi tersebut tidak boleh mengurangi produktivitas kerja yang optimal. Meskipun kejaksaan tidak dapat dilepaskan sebagai lembaga publik yang harus mengakomodasi prinsip-prinsip good government juga harus memperhatikan kebutuhan yang spesifik sebagai suatu lembaga penegakan hukum yang mengemban tugas-tugas yang khusus (legal professional organization). Semua pihak harus dilibatkan guna menumbuhkan sense of belonging terhadap institusi kejaksaan. maka pengawasan terhadap jalannya program-program yang telah digariskan harus dilakukan pula secara transparan dan akuntabel. struktur organisasi.

reformasi peradilan menjadi sekedar wacana yang tak bermakna. Pembenahan yang tengah dilakukan oleh kejaksaan diarahkan kepada tujuan untuk mencapai sasaran tuntutan reformasi itu. Reformasi merupakan sebuah ideologi untuk membangun seluruh komponen bangsa ke arah yang lebih baik. Kemandirian dan akuntabilitas itu menjadi standar bagi keberhasilan kejaksaan dalam memenuhi harapan publik dan pelaksanaan tugas dan wewenangnya secara baik. Kejaksaan tidak hanya dituntut untuk merespon tuntutan publik secara cepat tepat dan independen. oleh karena itu independensi kekuasaan kehakiman tergantung kepada faktor-faktor internal lembaga peradilan dan political sphare di sekelilingnya. sebab jika tidak. Akan tetapi kondisi-kondisi internal dan eksternalnya sendiri harus pula diperhitungkan. Dukungan publik untuk menciptakan kemandirian lembaga peradilan merupakan qonditio sine qua non. Jika reformasi di tubuh kejaksaan telah terwujud. Penutup Usaha untuk melakukan reformasi di tubuh peradilan sesungguhnya merupakan perjuangan yang tiada mengenal kata berhenti. Politisasi lembaga peradilan mutlak harus diakhiri. Optimisme itu harus menjadi komitmen nyata kita semua.daya manusia di lingkungan kejaksaan. faktor-faktor itu merupakan variabel yang mempengaruhi kinerja dan hasil yang akan dicapai oleh kejaksaan guna memenuhi ekspektasi publik Dukungan publik terhadap upaya yang dilakukan oleh kejaksaan haruslah diarahkan kepada upaya untuk memberdayakan kejaksaan agar menjadi sub-sistem peradilan yang mandiri dan akuntabel. maka usaha perbaikan di dalam sistem peradilan kita secara keseluruhan akan pula menjadi kenyataan. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 133 .

134 Bunga Rampai .

.* Pendahuluan Salah satu wujud reformasi di bidang penegakan hukum yang cukup signifikan adalah terputusnya hubungan eksekutif dan yudikatif dengan kembalinya pembinaan dan pengawasan hakim di bawah Mahkamah Agung. Lebih dari itu. atas nama koordinasi tidak jarang keadilan dikebiri untuk mendukung kepentingan pemerintah atau yang mengatas namakan kepentingan pemerintah. Dengan biaya yang tidak sedikit Polri telah bersusah payah menangkap dan memeriksa tersangka pembalakan liar. Pandupraja S. Sp.Kontribusi Komisi Kepolisian Nasional Dalam Mempercepat Reformasi Peradilan A. tetapi kemudian dibebaskan oleh Pengadilan. Sikap pengadilan tersebut dianggap men- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 135 . Saat ini kehadiran forum tersebut sangat dibutuhkan khususnya pada saat KUHAP sedang dalam revisi karena dinilai sudah tidak sesuai dengan tuntutan pencari keadilan pasca reformasi.M. Terputusnya koordinasi di antara para penegak hukum lebih disebabkan karena trauma oleh intervensi pihak yang tidak bertanggung jawab dimasa lalu.. sehingga mengganggu independensi instansi peradilan. Efek yang kurang menguntungkan adalah hilangnya forum koordinasi Sistem Peradilan Pidana (SPP) untuk mengefisienkan kinerja antar instansi penegak hukum.H. LL. Bukti terputusnya koordinasi SPP dapat digambarkan dari permintaan petinggi Polri kepada Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) untuk mengkritisi kinerja peradilan terhadap kasus pembalakan liar (illegal logging) yang cenderung mengabaikan kinerja Polri.N.

Sebagai sebuah sistem. Sebaliknya problem di instansi peradilan tidak lepas dari problem masukan yang diterima dari instansi Kejaksaan dan Polri. Padahal kewenangan tersebut sangatlah mendasar dan sekaligus penting untuk menun- 136 Bunga Rampai .jatuhkan wibawa Polri dalam memberantas pembalakan liar. yaitu Kompolnas. Kondisi tersebut dinilai oleh banyak kalangan menjadi latar belakang mengapa Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tidak memiliki kesamaan visi mengenai reformasi SPP melalui komisi-komisi.2/1999 tentang pemisahan TNI-Polri. Ketiganya. namun dapat menginisiasi pembentukan forum antar tiga komisi negara di bidang SPP. Ketidaksamaan visi ini nampak dari perbedaan mendasar pada kewenangan memeriksa (subpoena power) yang tidak dimiliki oleh Kompolnas tetapi dimiliki oleh Komisi Yudisial dan Komisi Kejaksaan. Pada bagian akhir dari tulisan ini akan menekankan pada upaya strategis yang dapat diperankan oleh Community Policing untuk mereduksi gelombang perkara yang melanda lembaga peradilan. problem kinerja pada instansi Polri akan berdampak pada kinerja instansi kejaksaan dan instansi peradilan. yang sama-sama menjalankan fungsi pengawasan diharapkan dapat bersinergi untuk turut mereformasi SPP dengan tetap memperhatikan independensi masing-masing. 4 Tahun 2005 tentang Pemberantasan Penebangan Kayu Secara Illegal di Kawasan Hutan dan Percepatannya di Seluruh Indonesia. Komisi Kejaksaan dan Komisi Yudisial. Kompolnas tidak memiliki hubungan langsung dengan institusi peradilan. Tulisan ini akan menguraikan tentang Kompolnas dan peran strategisnya dalam turut membangun Polri yang professional dan mandiri sebagai bagian dari SPP. Pemisahan yang ingin mengembalikan Polri ke khittah-nya adalah sebagai akibat dari ketidakpercayaan masyarakat terhadap TNI-Polri yang telah disalahgunakan oleh rezim Orde Baru. Sebuah mata rantai yang saling terkait satu sama lain (garbage in garbage out). Eksistensi Kompolnas Sejarah lahirnya Kompolnas didominasi oleh isu keluarnya Polri dari ABRI yang tercermin pada Instruksi Presiden No. Polri terkesan sembrono dan tidak profesional dalam melaksanakan Inpres No.

Keberadaan menteri ex officio tersebut tentu bukan dimaksudkan untuk menjawab persoalan subordinasi semata. Hasil evaluasi kinerja Polri terkait relasi kelembagaan sesuai portofolio masing-masing departemen tersebut dapat menjadi masukan dalam menyusun arah kebijakan Polri yang menjadi kewenangan Kompolnas untuk diajukan kepada Presiden dalam rangka membangun Polri yang profesional dan mandiri (Pasal 39 UU No. sedangkan TNI berada di bawah Depertemen Pertahanan. Berbagai spekulasi sempat mencuat ke permukaan bersamaan dengan pembahasan RUU Polri. tetapi lebih ditujukan untuk memperkaya masukan sebagai pertimbangan Kompolnas dalam merumuskan arah kebijakan Polri (policy maker) bersama-sama dengan pakar kepolisian dan wakil masyarakat (tidak satu pun anggota Kompolnas berasal dari unsur Polri). Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam). Arah kebijakan yang telah dirumuskan agar tidak diarahkan untuk memberi peluang kooptasi satu lembaga terhadap lembaga lain.89/2000. ditambah tiga pakar kepolisian dan tiga wakil masyarakat. Jawabannya Polri disubordinasikan oleh Kompolnas dengan keberadaan tiga menteri ex officio sebagai anggota yaitu. persoalan persoalan yang menghambat sinergi kelambagaan antara Polri dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang dilatarbelakangi oleh perbedaan asas. Misalnya. Menteri Dalam Negeri (Mendagri). Dalam merumuskan arah kebijakan Polri. dan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkum dan HAM). 2 Tahun 2002). Polri menggunakan asas dekonsentrasi sementara Satpol PP yang berinduk kepada Pemerintah Daerah menggunakan asas desentralisasi.jang kewibawaan lembaga pengawas eksternal. seyogyanya masukan menteri ex officio meliputi pula portofolio departemen yang menjadi kompetensinya masing-masing. seperti Polisi Khusus Kehutanan (Polsus Kehutanan) yang izinnya dikeluarkan oleh Menteri Hukum dan HAM. muncul persoalan subordinasi mengapa Polri ditempatkan di bawah Presiden berdasarkan Keputusan Presiden No. Rumusan tersebut lebih diarahkan untuk mendudukan secara Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 137 . Atau persoalan yang menghambat sinergi antara Polri dengan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS). Setelah Polri dipisahkan dari TNI.

Posisi strategis Kompolnas sebagai policy maker tersebut diharapkan dapat menjawab persoalan subordinasi posisi TNI di bawah Departemen Pertahanan. 138 Bunga Rampai . Peraturan Kompolnas Dalam menjalankan mandatnya. Ada 5 jenis keluhan masyarakat yang diatur secara limitative oleh UU Polri: 1) Penyalahgunaan wewenang 2) Dugaan korupsi 3) Pelayanan yang buruk. Kompolnas telah mengeluarkan beberapa peraturan tentang: i) Organisasi dan tata kerja (OTK) ii) Kode Etik iii) Tata Cara Penanganan Saran dan Keluhan Masyarakat (SKM). atau menginstruksikan pemerintah daerah untuk mendukung program program community policing (Polmas). Sejak arah kebijakan Polri yang dipersiapkan oleh Kompolnas berubah bentuk menjadi Peraturan Presiden (atau Instruksi Presiden). 4) Perlakuan diskriminatif. karena berbagai kepentingan dapat berpotensi untuk menunggangi Kompolnas (atau dianggap menunggangi Kompolnas) dalam membuat disain strategis Polri masa datang. Beberapa ketentuan penting yang diatur dalam OTK. Peran policy maker bagi Kompolnas tersebut tentu bukan persoalan yang bisa dianggap sepele oleh Polri. Misalnya mengandung materi muatan yang menginstruksikan pemerintah daerah untuk mendukung kinerja Polri dalam mengamankan Pilkada. 5) Penggunaan diskresi yang keliru. 2 Tahun 2002). Dan Polri tidak memilliki pilihan lain selain menjabarkannya pada level kebijakan teknis. Termasuk menteri terkait lain sesuai dengan materi muatan kebijakan Presiden tersebut.proporsional peranan Polri selaku penjuru dan pengendali urusan keamanan dan mengeliminasi potensi arogansi sektoral yang dapat memposisikan Polri sebagai lembaga superbody. Kesetaraan posisi sesama anggota Kompolnas. maka ia akan menjadi pedoman bagi Polri dalam membuat kebijakan teknis kepolisian (Pasal 38 ayat (1) UU No. Karena setidaknya ada dua departemen dengan portofolionya masingmasing turut merumuskan arah kebijakan Polri yang akan menjadi panduan pimpinan Polri dalam membuat kebijakan teknis kepolisian. 1.

. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 139 . adalah pejabat yang ditunjuk untuk mewakili menteri manakala yang bersangkutan berhalangan hadir). Pasal 38 ayat (2) c UU Polri mengatur bahwa Kompolnas menyampaikan Saran dan Keluhan Masyarakat (SKM) kepada Presiden. Ketentuan di atas menggambarkan bahwa sebagai sesama anggota komisi. Kompolnas dapat berhubungan langsung dengan satuan Polri terkait. maka Kompolnas dapat meminta “gelar perkara“ sesuai ketentuan pasal 25 ayat 3 OTK yang menyatakan “Kompolnas dapat meminta Polri untuk memberikan penjelasan yang berkaitan dengan keluhan masyarakat dalam pertemuan Kompolnas”. 2. .pasal 33 ayat 2 OTK: “Pertemuan Anggota Kompolnas dinyatakan sah apabila dihadiri oleh sekurangkurangnya 5 (lima) orang anggota Kompolnas termasuk Pejabat Penghubung liaison officer/LO” (L. kedudukan menteri tidak lebih tinggi dari anggota non menteri dalam pengambilan keputusan pada Rapat Anggota Kompolnas. namun forum tertinggi yang dapat mengambil keputusan penting Kompolnas adalah Pertemuan Anggota Kompolnas. Apabila Kompolnas tidak dapat menerima atau keberatan terhadap hasil tindak lanjut SKM oleh satuan Polri terkait. UU tidak mengatur hubungan kelembagaan Kompolnas dengan Polri sebelum SKM disampaikan kepada Presiden.Meskipun Ketua Kompolnas adalah Eks Officio Menkopolhukam dan Wakil Ketua Kompolnas adalah Eks Officio Mendagri.O. Kesenjangan tersebut telah dijembatani pada pasal 25 ayat 2 OTK yang berbunyi “Saran dan Keluhan Masyarakat yang diterima oleh Kompolnas disampaikan kepada satuan Polri terkait untuk ditindaklanjuti dan hasilnya disampaikan kepada Kompolnas”.pasal 33 ayat 3 OTK: “Pengambilan keputusan dalam pertemuan anggota Kompolnas dinyatakan sah apabila disetujui oleh sekurang kurangnya 5 (lima) orang anggota Kompolnas”. Pasal tersebut menggambarkan bahwa Kompolnas sangat bergantung dari hasil pemeriksaan internal Polri terhadap SKM yang diterima oleh Kompolnas.

Pasal tersebut menunjukan bahwa Polri sudah kooperatif dalam mendukung eksistensi Kompolnas. Penyimpangan prosedur pinjam pakai barang bukti. tetapi ditangani oleh beberapa instansi di lingkungan Polri dengan alasan karena dilaporkan oleh orang yang berbeda sehingga tersangkanya menjadi berbeda pula. namun belum dijembatani dengan MoU atau Skep Kapolri untuk menindaklanjuti permintaan Kompolnas kepada satuan Polri terkait. mengubah posisi pelapor menjadi tersangka dan lain-lain. 3. Sebagian pengaduan masyarakat yang berjenis penyalahgunaan wewenang oleh aparat penyidik berupa kriminalisasi masalah perdata. Laporan penelitian mahasiswa PTIK angkatan XXXIX-A telah menemukan 11 jenis KKN pada Satuan Organisasi Reserse Kriminal (Reskrim) Polri. korban didaftarkan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Bunga Rampai 140 . Hal ini disebabkan karena buruknya manajemen penyidikan dan dapat dilihat dari. Manakala tidak hadir setelah dipanggil dengan cukup. Yaitu: 1. 4. Potensi penyalahgunaan wewenang oleh aparat Penyidik Polri sangat besar. aparat merasa punya cukup alasan untuk menjebloskan korban dalam tahanan. Penyimpangan prosedur penangguhan penahanan. (ii) Terabaikannya prosedur penanganan perkara dengan berkoordinasi dengan instansi Kejaksaan. Dengan dua bukti tersebut. Sebuah penerapan prinsip kemandirian yang keliru dan cenderung mencederai asas dekonsentrasi. Pengaduan Masyarakat Kompolnas memiliki kewenangan untuk menerima pengaduan dari masyarakat mengenai kinerja aparat Polri. Penyalahgunaan wewenang dapat dibuktikan dengan dibebaskannya tahanan setelah menjalani hukuman selama 60 hari dalam tahanan Contoh kasus DR Chairuddin. 2. Kolusi dalam penyelenggaraan perjudian. Rekayasa penanganan/penindakan kasus pembalakan liar. (iii) Akuntabilitas penyidikan sangat rendah sehingga memungkinkan terjadinya diskriminasi terhadap tersangka. Modus operandi yang digemari aparat dalam menakut-nakuti korban adalah ancaman penahanan. (i) Tidak jarang objek perkara yang sama.

Contohnya adalah persidangan kasus Nurhadi di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Penyimpangan dalam penanganan kasus depo bahan bakar minyak (BBM) illegal. dalam rangka menunggu agar persidangan pokok perkara dapat segera dimulai sebelum acara putusan gugatan praperadilan. temuan berharga tersebut dapat diibaratkan sebagai jenis penyakit polisi yang harus disembuhkan atau dieliminasi oleh Kompolnas ketika merumuskan arah kebijakan Polri untuk disampaikan kepada Presiden. 8. Apabila gugatan praperadilan diterima oleh pengadilan. Penyimpangan dalam penyelidikan dan penyidikan perdaran VCD bajakan. 6. 2. 9. atau (ii) mempercepat mulainya proses pemeriksaan pokok perkara sebelum selesainya pemeriksaan gugatan praperadilan (pasal 82 ayat 1 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 141 . 7. Terjadinya sindikat tindak pidana bidang pertanahan. Karena itu Penyidik akan berupaya keras agar gugatan praperadilan gugur. Ibarat dokter yang sedang mendiagnose penyakit polisi. 11. Penyimpangan penerbitan surat keterangan kehilangan kendaraan bermotor untuk persyaratan klaim asuransi. tentu akan berakibat buruk bagi masa depan karir Penyidik. 10. Penyimpangan proses penyelidikan kasus pidana. Kolusi pengelolaan kegiatan prostitusi. Sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan. Potensi KKN polisi di lembaga peradilan Upaya hukum untuk melindungi tegaknya hukum dan perlindungan hak asasi tersangka dalam pemeriksaan penyidikan terhadap dugaan penyalahgunaan wewenang oleh aparat penyidik Polri adalah melalui gugatan praperadilan (pasal 77 KUHAP). Upaya yang dapat dilakukan oleh Penyidik adalah. (i) menunda-nunda acara persidangan praperadilan. Penyimpangan dalam penanganan kasus-kasus narkoba. Sah atau tidaknya suatu upaya paksa berupa penangkapan atau penahanan.5. Gugatan praperadilan bertujuan untuk menguji: 1.

Contohnya adalah sidang gugatan praperadilan kasus Nurhadi di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. rekomendasi pengaduan masyarakat yang diberikan Kompolnas kepada Polri untuk ditindaklanjuti berpotensi untuk diabaikan. Upaya hukum yang dilakukan oleh kedua keluarga korban yang telah diatur dalam KUHAP adalah melakukan gugatan praperadilan perihal prosedur 142 Bunga Rampai . kasus penembak tersangka yang sedang ditangkap oleh aparat Polri. Selain itu. seperti yang terjadi di Medan dan Jakarta beberapa waktu lalu. (ii) membuat gaduh suasana persidangan seolah-oleh akan terjadi keributan dengan tujuan agar hakim yang mengadili gugatan praperadilan menjadi terprovokasi atau ketakutan. (i) melobi hakim agar berpihak pada kepentingan penyidik yang mendapat dukungan dari tokoh masyarakat dan LSM. Misalnya. Cara di atas agak berbelit-belit dan melibatkan beberapa pihak yang belum tentu berpihak pada kepentingan penyidik. Semakin banyak kewenangan yang dimilikinya akan semakin berperan dalam merespon keluhan masyarakat sehingga akan sangat disegani oleh pihak yang diadukan. menuntut dan mengadili.KUHAP). untuk masalah dugaan korupsi. Cara lain yang relatif lebih ringan adalah. (iii) Tidak segera mengamankan pengadilan manakala dibutuhkan pada saat pengadilan menghadapi demonstran yang brutal. lembaga pengaduan eksternal yang menangani masalah-masalah khusus terdapat pada berbagai komisi negara seperti KPK dan Komnas HAM. Oleh karenanya. Contohnya adalah kasus Suherman di Pengadilan Negeri Medan. Untuk upaya yang kedua Penyidik harus berkolaborasi dengan Jaksa Penuntut. Kompolnas tidak memiliki salah satu dari kewenangan tersebut. Kerjasama dengan Komisi Negara Lembaga pengaduan eksternal terhadap kinerja Polri sudah ada dan tersebar di beberapa instansi pemerintah maupun di lembaga kepresidenan. lembaga departemen seperti Menteri Penertiban Aparatur Negara maupun non departemen seperti Kejaksaan. Lalu mempercepat penunjukan hakim dan selanjutnya mempercepat mulainya proses pemeriksaan pokok perkara. Yang membedakan di antara seluruh lembaga pengaduan tersebut adalah kewenangannya untuk menyelidik dan menyidik (subpoena power).

Kompolnas telah meminta agar Polri memeriksa aparat yang bertanggung jawab terhadap pengaduan tersebut. Padahal antara masalah prosedur penangkapan dan masalah akuntabilitas penembakan korban adalah dua persoalan yang berbeda secara substansi. Penolakan ini seolah-olah turut mengubur akuntabilitas aparat yang menembak korban. Namun. Yang terpenting dalam menempatkan KPK sebagai mitra kerja Kompolnas adalah saran KPK dalam membangun Polri yang bebas dari korupsi. Karena keterbatasan kewenangan. Misal lain adalah pengaduan yang terkait dengan pelanggaran administrasi anggota Polri yang merupakan wewenangan Kompolnas dan Komisi Ombudsman Nasional (KON). keluarga korban mengadukan hal itu kepada Kompolnas guna meminta akuntabilitas aparat Polri yang menembak korban. KPK menjadi penjuru yang merancang secara bertahap reformasi birokrasi yang menghambat pemberantasan korupsi. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia). upaya ini ditolak oleh Pengadilan Negeri di masing-masing wilayah. sesuai kewenangan Kompolnas dalam menerima saran dan keluhan masyarakat.penangkapan. Contoh lain. Dalam pemberantasan korupsi. Kerjasama dengan KPK layak ditingkatkan manakala Kompolnas diabaikan atau bahkan tidak dihargai sebagai lembaga pengawas ekternal. Menanggapi pengaduan tersebut. Apakah akan berkoordinasi dengan instansi Polri. Kalau mencermati kesetaraan posisi sebagai komisi negara. Kejaksaan atau KPK. Kompolnas tidak dapat memanggil paksa aparat tersebut untuk diperiksa. Kompolnas seyogyanya mendahulukan untuk berkoordinasi dengan KPK untuk dapat mengetahui tingkat keseriusan masalah korupsi di tubuh Polri sebagai salah satu penegak hukum. Selanjutnya. Kompolnas memiliki beberapa pilihan untuk menindaklanjuti pengaduan tersebut. perihal pengaduan dugaan korupsi oleh anggota Polri yang disampaikan kepada Kompolnas. Ketika kedua lembaga tersebut sama-sama meneri- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 143 . Tindak lanjut dari permintaan ini tentu sangat tergantung dari kemauan Polri. Manakala diperlukan Kompolnas layak untuk bersinergi dengan Komnas HAM berkaitan dengan kewenangannya untuk memanggil dan memeriksa pihak yang diadukan (Pasal 89 ayat (3) UU No.

maka selayaknya mereka perlu untuk saling berkoordinasi. Koordinasi juga penting untuk menghindari tumpang tindih kewenangan dalam menerima dan menangani pengaduan. peraturan pemerintah. dituntut. Persoalan yang harus disikapi sejak dini oleh para lembaga penerima pengaduan tersebut. (2) Pejabat yang dengan sengaja melakukan perbuatan Bunga Rampai 144 .ma pengaduan. atau diadili tanpa alasan berdasarkan undang-undang atau karena kekeliruan mengenai orangnya atau hukum yang diterapkannya. Kewenangan memeriksa (subpoena power) yang dimiliki oleh beberapa komisi negara seperti Komnas HAM dan KPK sangat penting untuk disinergikan oleh komisi negara yang membutuhkan kewenangan tersebut. 1. peraturan menteri maupun peraturan yang dikeluarkan oleh pimpinan instansi masingmasing. berhak menuntut ganti rugi kerugian dan rehabilitasi. Jangan sampai polisi terlapor akan diperiksa berkali-kali untuk materi pengaduan yang sama oleh instansi yang berbeda-beda. Desakan dan kritik masyarakat untuk merestrukturisasi komisi negara agar penjadi perhatian kita semua. Juga untuk menegakkan asas nebis in idem. Sebagian dari peraturan tersebut sayangnya sangat jarang digunakan secara benar. Di samping alasan pemborosan anggaran juga masalah efektifitas penyidikan. Kompolnas sangat perlu belajar banyak dari KON dalam menangani pengaduan masyarakat. Karena pada umumnya pengaduan dikirim kepada hampir seluruh lembaga terkait. Kata kunci pemborosan seyogyanya menjadi momok bersama. baik dalam bentuk undang-undang. 4 Tahun 2004 tentang Kehakiman Pasal 9 ayat 1 dan 2 berbunyi sebagai berikut: (1) Setiap orang yang ditangkap. Koordinasi antar komisi negara mendesak untuk dilaksanakan dalam rangka mengefisienkan kinerja komisi-komisi negara dalam mengoptimalkan sinergi di antara mereka. ditahan. Pasal 9 UU No. karena telah dinilai sukses oleh masyarakat meski memiliki wewenang yang terbatas seperti Kompolnas. Beberapa pasal menarik Cukup banyak peraturan dalam rangka mengkoreksi kinerja penegak hukum.

yaitu memiliki pengetahuan. Konsekuensi logis bagi seorang notaris/PPAT yang membuat akta adalah yang bersangkutan harus bisa mempertanggungjawabkan setiap kata atau kalimat yang terdapat pada akta notaril yang telah dibuatnya. Konsisten (consistence). Keterkaitan (connection). Konsekuensi apapun baik perdata. ada 4 (empat) indikator kapan seorang polisi disebut profesional: Kompeten (compentence). sikap. 3. yaitu keterkaitan antara pengetahuan. Profesional merupakan kemahiran dan kemampuan tinggi yang didukung oleh pengetahuan. yaitu mencintai bidang tugas yang dilakukan.sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana. 145 . keterampilan dan sikap emosional yang matang. mudah diucapkan tetapi sulit dilaksanakan karena belum ada kesamaan visi mengenai apa yang dimaksud dengan profesional. Komitmen (commitment). Menurut buku panduan HAM untuk anggota Polri. Pasal di atas sepertinya belum pernah diterapkan secara utuh terhadap aparat penegak hukum. keterampilan dan kematangan emosional dalam melaksanakan tugas di bidang masing-masing sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku dan standard pekerjaannya (SOP). Apabila dakwaan jaksa dinyatakan tidak dapat diterima oleh majelis hakim. 2. sementara Jaksa Penuntut diperiksa? Jawaban atas persoalan tersebut bergantung pemahaman Polri terhadap profesionalisme penyidikan dan konsekuensi logis dari sebuah profesi. yaitu satu kata dengan perbuatan secara berkesinambungan. Ketentuan yang umum digunakan adalah PP 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. pidana maupun administratif harus siap dihadapi Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 1. pada umumnya Jaksa Penuntut kasus tersebut langsung dieksaminasi atau diperiksa oleh Asisten Pengawasan Kejaksaan Tinggi. sikap dan keterampilan dengan pekerjaan yang dilakukan. 4. Instansi yang konsisten dalam menerapkan aturan PP 30 Tahun 1980 tersebut adalah kejaksaan. Kata profesional. Bagaimana dengan akuntabilitas aparat polisi apabila yang bersangkutan telah ditangkap dan ditahan? Apakah polisi yang menangkap dan menahan tidak perlu turut bertanggung jawab.

Prinsip partisipasi sebagai salah satu unsur masyarakat madani telah berlaku bagi dunia kedokteran. pemerintah dan konsumen. pidana maupun administratif. pelanggaran disiplin atau pelanggaran etika. dokter. Konsil Kedokteran akan memeriksa pengaduan tersebut apakah terjadi pelanggaran hukum. Selanjutnya pasal 4 dari peraturan tersebut memberi batas waktu bagi aparat untuk memproses sebelum klarifikasi selama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal informasi. saran. Sungguh menjadi dambaan masyarakat madani apabila prinsip partisipasi yang ada pada Konsil Kedokteran juga diadopsi oleh Polri dalam menangani pengaduan masyarakat terhadap anggotanya.oleh yang bersangkutan. Ketika seorang dokter diduga melakukan mal praktek. saran atau pendapat diterima.17 Tahun 2000 tentang Tata Cara Pelaksanaan Peran Serta Masyarakat dan Pemberian Penghargaan Dalam Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. 146 Bunga Rampai . komposisi Konsil Kedokteran terdiri dari perwakilan stakeholder: akademisi. (2) Setiap informasi. Yang menarik. Pasal 3 dan 4 Peraturan Pemeritah No. Community Justice melalui Community Policing Sampai saat ini masyarakat yang tinggal di Meruya masih tetap siaga melakukan perlawanan terhadap segala upa2. saran atau pendapat dari masyarakat … harus disampaikan secara tertulis …. Pasal 3 PP 71/2000 berbunyi sebagai berikut: (1) Informasi. Begitu pula dengan profesi dokter. Kalangan penyidikpenyidik Polri sangat paham bagaimana menginterogasi notaris/PPAT dalam meminta pertanggungjawaban sebagai notaris/PPAT. Setiap tindakan medis yang dilakukan oleh seorang dokter juga membawa konsekuensi baik perdata. Meskipun uang yang didapat tidak sebanding dengan tanggung jawabnya. atau pendapat dari masyarakat harus diklarifikasi dengan gelar perkara oleh penegak hukum. Sayangnya pada saat bersamaan penyidik Polri tidak berpikir bahwa sebagai sesama profesi dirinya juga harus dapat mempertanggungjawabkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang dibuatnya.

Bahkan ia akan tergulung oleh ganasnya ombak samudra peradilan. karena mereka merasa telah membeli secara sah tanah mereka dihadapan pejabat yang sah dan mendapat bukti kepemilikan berupa sertifikat tanah yang dikeluarkan oleh BPN. Bahkan tidak satupun responden yang berpendapat penegakan hukum di Indonesia sudah berjalan baik. “ngurus cempe kelangan sapi”. sosial dan politik. Cara pandang hakim dalam memutuskan kasus tersebut disebut legalisme yang dikomandani oleh Hans Kelsen dan Jhon Austin. Pencari keadilan yang memasuki arena peradilan diibaratkan menceburkan diri dalam gelombang samudra yang menafikan eksistensi kemanusiaan pencari keadilan. Meskipun demikian. 4 Tahun 2004. Stigma yang melekat terhadap dunia peradilan. Kasus Meruya hanya salah satu dari segudang putusan Mahkamah Agung pasca reformasi yang jauh dari rasa keadilan yang menjadi tujuan dari kekuasaan kehakiman seperti yang diamanatkan oleh UU No. Hukum dianggap selalu benar dan adil. Pandangan seperti itu tercermin pula dari hasil penelitian Kompas tanggal 17 Maret 2003 bahwa 86. Untuk mensakralkan putusan hakim. setiap putusan menggunakan irah-irah Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Hukum di atas segalanya.6% responden tidak percaya terhadap kinerja penegakan hukum. tidak jelas mana Utara mana Selatan. Segala daya upaya dikerahkan agar putusan tersebut tidak dapat dilaksanakan. jumlah perkara yang masuk ke pengadilan setiap tahun selalu meningkat sejalan dengan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 147 . maksudnya mengurus perkara senilai anak kambing tapi biaya yang harus dikeluarkan senilai sapi. Faham ini berpendapat bahwa hukum sebagai sistem yang otonom alias lebih superior dibanding dengan sistem lain seperti ekonomi. kasus yang masuk pengadilan dianggap sebagai komoditas. Tiba-tiba muncul putusan Mahkamah Agung yang membatalkan kepemilikan tanah mereka. Hukum harus ditegakkan sekalipun langit akan runtuh. Tidak heran kalau kemudian ada peribahasa Jawa yang berbunyi. Mereka telah tinggal berpuluh tahun di Meruya tanpa ada gangguan dan teguran perihal status hukum kepemilikan tanah mereka.ya untuk menangkal eksekusi Putusan Mahkamah Agung. Ia akan kehilangan arah mengadu nasib diantara badai ombak samudra.

30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Penyelesaian Sengketa. PERMA tersebut dimaksudkan memberi peluang terakhir (meskipun bukan yang paling akhir) bagi para pihak yang bersengketa untuk damai. sehingga jumlah kasus di Mahkamah Agung sudah menggunung. Namun kenyataannya tetap saja mekanisme tersebut tidak berhasil mengurangi secara berarti volume perkara di pengadilan. Upaya terbaru yang dilansir pemerintah untuk mengurangi volume perkara di pengadilan adalah lembaga community policing yang disebut dengan Perpolisian Masyarakat (Polmas) melalui Keputusan Kapolri No. Untuk menanggulangi penumpukan perkara di lembaga peradilan. Dengan harapan agar para pihak yang berperkara akan mencabut gugatannya. Mediasi sengketa perdata lebih dikenal dengan istilah Alternatif Dispute Resolution (ADR). Ketentuan tersebut diperkuat lagi dengan Keputusan Kapolri No. 1 Tahun 2002 dengan judul “Pemberdayaan Pengadilan Tingkat Pertama Dalam Menerapkan Lembaga Damai”. Polmas antara lain bertujuan menyelesaikan pertikaian antar warga dengan difasilitasi oleh petugas kepolisian yang menggunakan mekanisme informal dengan berpegang pada norma-norma sosial setempat dan kesepakatan-kesepakatan lokal oleh masyarakat sekitar (community justice). Upaya tersebut ternyata tidak berhasil menyurutkan gelombang perkara ditingkat banding dan Kasasi. Upaya untuk mengurangi volume perkara di luar pengadilan. Lembaga yang dimaksud adalah Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) untuk urusan arbitrase dan Pusat Mediasi Nasional (PMN) untuk urusan mediasi sengketa perdata.peningkatan kesadaran hukum masyarakat. Pol: SKEP/737/ X/2005 tentang Kebijakan dan Strategi Penerapan Modal Perpolisian Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Tugas Polri. 148 Bunga Rampai . Pol: SKEP/432/VII/2006 tentang Panduan Fungsi Samapta Dengan Pendekatan Perpolisian Masyarakat (Polmas). negara sejak lama telah mengakomodir melalui UU No. 2 tahun 2003 dengan judul “Prosedur Mediasi di Pengadilan” (PERMA). Mahkamah Agung telah menerbitkan Surat Edaran Mahkamah Agung No. Karena itu Mahkamah Agung lalu merubah Surat Edaran tersebut menjadi Peraturan Mahkamah Agung No.

Dalam rangka mengamankan UU Kehutanan No. mengakibatkan Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 149 . Hasil penyidikan aparat Bea Cukai langsung diserahkan kepada Jaksa Penuntut Umum tanpa koordinasi dengan Polri. Posisi Satpol PP menjadi semakin kuat mendukung kewibawaan pemerintah lokal. Keterbatasan jumlah. Setiap masyarakat memiliki karakteristik yang berbeda-beda antara budaya. khususnya televisi sebagai penyumbang terbesar dalam perubahan norma sosial. penerapan asas dekonsentrasi secara rigid mendominasi alasan mengapa Polri terisolasi dari masyarakatnya. Bahkan. tolong menolong. Kekosongan penegakan hukum ditingkat pemerintah lokal kabupaten/kota telah diisi dengan keberadaan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). untuk urusan penegakkan hukum di pelabuhan. Akibatnya terjadi kekosongan penegakan hukum ditingkat pemerintah lokal.41 Tahun 1999.Community Policing Kata community atau masyarakat tidak dapat didefinisikan secara sederhana karena memiliki makna yang berbeda beda dan lingkup yang berbeda-beda untuk setiap orang yang mendefinisikannya. namun tetap saja belum dapat memenuhi harapan masyarakat. Disamping itu. nilai dan masalah yang beraneka ragam di suatu lingkungan pada suatu wilayah tertentu. Kondisi yang sama juga terjadi ditingkat teknis departemental. gotong royong. Polisi Khusus Kehutanan menggantikan posisi Polri untuk urusan teknis kehutanan. Teknologi media komunikasi. Meskipun UU Otonomi Daerah telah memberi peluang bagi Satpol PP untuk mengambil peran dalam penegakkan hukum lokal. mengakibatkan pudarnya norma moral dan sosial. Misalnya nilai nilai kebersamaan. Masyarakat cenderung keluar dari norma-norma sosial yang selama ini dijunjung tinggi. Derasnya arus modernisasi mendorong masyarakat dimanapun untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama yang telah mengakar kuat dalam satu komunitas. Profesionalisasi juga memiliki andil dalam memisahkan masyarakat dari tatanan sosialnya. Polri sudah sangat disibukkan dengan urusan penegakan hukum ditingkat nasional dalam rangka mempertahankan negara kesatuan Republik Indonesia. aparat Bea Cukai telah mengambil alih posisi Polri sesuai UU Bea Cukai. Reformasi tata pemerintahan telah membagi kewenangan antara pusat dan daerah.

Hasil Evaluasi Polmas 2005 oleh Polri telah merekomendasikan agar dukungan pemerintah setempat menjadi variable penting dalam perumusan maupun pengembangan program Polmas. merokok di sembarang tempat. Padahal berbagai peraturan daerah membutuhkan penegak hukum untuk menciptakan lingkungan yang aman. Seperti misalnya. Lombok Barat telah merumuskan pelanggaran dan sanksi bagi perambah hutan lindung sebagai berikut: 150 Bunga Rampai . Situasi tersebut cukup bisa dipahami karena Polmas baru dihidupkan kembali. bangunan liar dan lain lain yang tidak kalah penting daripada urusan menertibkan papan reklame. program Police Goes To Kampung. Program serupa dulu dikenal dengan nama Siskamling.Satpol PP hanya bisa menjaga areal pertokoan dan fasilitas Pemda. Dukungan dapat berupa anggaran maupun legitimasi program dalam bentuk Peraturan Daerah. Saat ini Polmas sedang mencari legitimasi politik dan dukungan pendanaan dari pemerintah daerah. Patroli Komunitas (Ronda). Misalnya terhadap penebangan liar di kawasan hutan lindung. Dukungan pemerintah lokal sangat diperlukan dalam rangka menjaga kesinambungan maupun keberlanjutan program Polmas. Program Polisi Simpatik. Seperti masalah membuang sampah sembarangan. Kinerja Satpol PP sarat dengan kepentingan Pemda. tertib dan bersih. Penelitian LP3ES telah mengangkat temuan bagaimana masyarakat lokal telah berhasil menindak pelanggaran pidana dengan menggunakan kearifan lokal melalui mekanisme Alternatif Dispute Resolution (ADR). Kelompok Mitra Pengaman Hutan (KMPH) di Desa Sesaot. Legitimasi sangat diperlukan dalam rangka membangun kepercayaan masyarakat lokal. Pelanggaran hukum dan Perda Penegakan hukum oleh komunitas telah dapat diselesaikan dengan menggunakan kearifan lokal sesuai kondisi (baca: kebutuhan) masyarakat sekitar. Polmas melalui Forum Kemitraan Polisi Masyarakat (FKPM) baru sebatas memecahkan konflik antar warga maupun antar warga dengan polisi/pejabat setempat. Mereka aktif membersihkan papan reklame yang melanggar aturan apabila tidak membayar pajak papan reklame. Belum terlihat orientasi program ke arah penegakkan peraturan daerah dalam rangka membantu kinerja Satpol PP.

9. - - Bila menebang (mencuri) lebih dari 3 (tiga) kali dengan motif komersial. menakut-nakuti).000). Demikian halnya dengan perzinahan yang diatur dalam pasal 284 KUHP dengan ancaman hukuman selama-lamanya 9 bulan penjara.25. Sanksi pidana perzinahan oleh masyarakat adat di Lombok telah diubah menjadi denda seket kurang sekek kepeng bolong (uang Cina).000 Rupiah”. Pasal ini selalu bertengger di lembar panggilan yang dikeluarkan oleh polisi. Pada dasarnya penangkapan dan penahan yang tidak berdasarkan hukum Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 151 . terlepas dari apakah panggilan tersebut baru panggilan pertama atau bukan. sanksinya cukup meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi di depan warga masyarakat. Pelajaran dari kasus-kasus di atas. dengan jumlah dan volume sesuai kondisi ketika kasus tersebut terjadi.- Bila menebang (mencuri kayu) sekali karena alasan pemenuhan ekonomi keluarga. Masyarakat telah melakukan dekriminalisasi kejahatan pidana menjadi denda. Hal tersebut juga tercermin dalam draft RUU KUHAP Baru. maka didenda menanam pohon 50 kali lipat dari jumlah pohon yang ditebang. kasus perselingkuhan diselesaikan dengan “grosok”. Kasus pencemaran nama baik (gila bibir) yang diancam hukum pidana penjara 9 bulan berdasarkan pasal 310 KUHP. pelanggaran pidana tidak harus diselesaikan dengan ancaman pidana berupa penahanan. Bila menebang (mencuri) lebih dari sekali karena alasan pemenuhan ekonomi keluarga. yaitu keharusan membeli tanah grosok untuk pengerasan jalan. Di desa Munggut. Penahanan bukan lagi cara efektif dalam menegakkan hukum. bahwa upaya paksa berupa penahanan cenderung dikesampingkan. maka dikeluarkan dari tempat tinggalnya di desa. telah diubah menjadi denda satak sekat kurang sekek kepeng bolong (Saat ini uang Cina telah dikonversi menjadi Rp. Padahal upaya paksa pada pasal 216 KUHP menjadi andalan polisi dalam memanggil seseorang (baca. Pasal 216 KUHP berbunyi sebagai berikut “barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang undang oleh Pegawai Negeri berdasarkan tugasnya … diancam dengan pidana penjara paling lama 4 bulan 2 minggu atau denda paling banyak Rp.

Kondisi perparkiran semrawut dan premanisme di tempat-tempat parkir merajalela. agar tercipta ketertiban masyarakat sehingga warga masyarakat merasa nyaman tinggal di Jakarta. denda dan adminstratif. merokok di sembarang tempat. seketika itu juga kepercayaan masyarakat langsung sirna. Berbagai studi kasus di Lombok tersebut di atas diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi FKPM atau lembaga apapun namanya untuk mencari formula penyelesaian masalah di perkotaan meskipun harus 152 Bunga Rampai . usaha penyelenggaraan perparkiran. perubahan terhadap rambu. Ancamannya sanksi pidana kurungan selama lamanya 3 bulan atau denda maksimal Rp. Satpol PP atau FKMP.000. marka parkir. Perda Perpakiran DKI No. Polmas diharapkan merambah ke ranah Perda yang menjadi domain pemerintah daerah. tanda masuk parkir…. (pasal 32 ayat 1 dan 3. Polisi menjadi tidak professional karena mereka menjadi pelaku kejahatan dan tidak lagi sebagai petugas penegak hukum. jauh dari yang didambakan masyarakat pengguna jalan di Jakarta. membangun bangunan liar atau membangun tanpa mengindahkan aturan sempadan jalan sehingga mengganggu jalan dan pemandangan.5. Ketika polisi melakukan pelanggaran HAM dan hukum. Pasal 30 ayat (1) sebagai berikut: “Dilarang dengan cara dan bentuk apapun. (tanpa memperoleh izin dari Gubernur Kepala Daerah.). Namun karena petugas Satpol PP sangat terbatas. Hampir bisa dipastikan tiap daerah telah mengatur dan memberi sanksi bagi warganya yang membuang sampah sembarangan. 5 tahun 1999). Sebagai contoh Peraturan Daerah DKI No. maka ketertiban dan rasa nyaman tinggal di Jakarta sesuai maksud dari pembuat Perda tersebut.5 Tahun 1999 tentang Perparkiran. Contoh peraturan di atas menggambarkan bahwa Pemda telah membuat aturan masalah perparkiran dengan sanksi pidana. Kasus semrawutnya kondisi parkir di Jakarta tersebut menjadi salah satu contoh betapa perlunya keberadaan penegak hukum dengan nama apapun baik polisi.000 dan sanksi adminstratif bagi pengemudi yang parkir sembarangan yaitu 5 kali biaya parkir. melakukan antara lain.alias mengada-ada adalah melanggar HAM.

Kepala Desa menjadi tumpuan apabila terjadi konflik atau sengketa antar warga. Mereka akan mendatangi rumah Kepala Desa kapan saja walau sampai tengah malam. Kepala Desa sebagai Hakim Perdamaian. Demikan halnya di Desa Munggut Lombok (2005). dipersepsikan tidak memiliki interest dibanding kelompok partisan lain. Kompolnas memiliki posisi strategis untuk menginisisasi kerjasama antar komisi negara bidang penegakan hukum seperti Komisi Kejaksaan dan Komisi Yudisial. Namun terhadap pelanggaran hukum atau norma masyarakat (falk law). karena Kepala Desa yang dipilih langsung sudah tidak ada dalam struktur pemerintahan di perkotaan.merubah ancaman sanksi yang diatur oleh Perda. menggunakan pendekatan yang berbeda. Tokoh kunci dalam proses penegakan hukum sangat penting dalam menentukan keberhasilannya. Kalangan akademisi. dianggap lebih memiliki legitimasi dibandingkan dengan tokoh informal seperti Kyai. tokoh masyarakat dan LSM yang kinerjanya masih dapat diterima oleh publik. Kesimpulan 1. Pelanggar hukum harus bersedia menjalankan sanksi denda yang telah ditetapkan berdasarkan kesapakatan masyarakat sekitar. Kombinasi representasi berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) menjadi penting dalam mengatur komposisi lembaga yang memiliki wewenang untuk menyelesaikan konflik di masyarakat (community justice). Masyarakat perkotaan akan memandang lembaga yang merepresentasi banyak kepentingan lebih memiliki legitimasi. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 153 . Hasil survey di Kabupaten Ngawi Jawa Timur (2005) disimpulkan bahwa hampir 80% responden (dari 75 responden) menyerahkan penyelesaian konflik kepada figur Kepala Desa. Community Justice Konflik antar warga masyarakat diselesaikan dengan cara win win solution. tokoh agama. Penyelesaian konflik di masyarakat perkotaan tidak dapat mengandalkan kharisma seorang Kepala Desa. Kepala Desa dituntut untuk memiliki pengetahuan yang lebih dan kearifan sikap agar keputusan yang diambil tidak berat sebelah dan dapat diterima para pihak yang bersengketa sehingga tidak menimbulkan masalah dikemudian hari.

Yaitu lembaga yang menyelesaikan konfik pada masyarakat perkotaan yang merupakan representasi dari berbagai stakeholders. 4. Dengan menurunkan jumlah perkara di lembaga peradilan diharapkan peradilan dapat berbenah diri dalam mereformasi dirinya dan dapat berkonsentrasi untuk menghasilkan putusan yang sesuai dengan rasa keadilan masyarakat. Termasuk dalam mengisi ruang kosong dalam masalah penegakan peraturan daerah. Kurang lebih setara dengan fungsi jury di negara negara yang menganut sistim common law. Salah satu lembaga yang dapat dipromosikan oleh Kompolnas adalah Community Justice sebagai bagian dari Polmas. Kompolnas dapat berperan penting dalam memperkuat peranan Polmas dalam bersinergi dengan unsur-unsur Pemerintah Daerah untuk turut menyelesaikan atau mencegah penumpukan perkara di lembaga peradilan. 3. Dengan keberadaan Menteri Dalam Negeri sebagai anggota Kompolnas. 154 Bunga Rampai .2.

hukum sepanjang pemerintahan Orde Baru telah menjadi instrumen yang melegitimasi setiap tindakan penguasa. M. Lahirnya lembaga yang memiliki kewenangan mengusulkan pengangkatan hakim agung dan pengawasan hakim pemegang kekuasaan kehakiman. Sebagaimana diketahui. Desain pengadilan yang semestinya menempatkan semua orang setara di muka hukum. meski tindakan itu bertentangan dengan hukum. Berbagai pengalaman yang melatari bergulirnya reformasi. di masa itu tidak demikian adanya. Din Syamsuddin * Kelembagaan Komisi Yudisial Republik Indonesia di tahun 2007 ini memasuki usia ke-2 sejak dibentuk pada Agustus 2005. Dalil kehadiran Komisi Yudisial di atas sangat relevan dengan refleksi bangsa Indonesia terhadap perjalanan peradilan sebelum adanya Komisi Yudisial.Peran Serta Elemen Masyarakat Sipil dalam Mendorong Proses Reformasi Peradilan dan Penegakan Hukum Prof. Inisiasi lahirnya lembaga ini tidak lepas dari sejarah peradilan Indonesia yang semakin jauh dari visi dasarnya untuk menegakkan keadilan bagi pihak-pihak yang berperkara atau bagi mereka yang terenggut hak asasinya. dibentuk sebagai mandat konstitusional Undang-Undang Dasar 1945 hasil amandemen. Peradilan juga telah menjadi alat bagi pembungkaman suara kritis masyarakat yang menyatakan keberbedaannya dengan negara. telah memperkuat sumber legitimasi kehadiran * Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Guru Besar Politik Islam Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 155 . Dr.

serta perilaku hakim dalam rangka mewujudkan kebenaran dan keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dengan kehormatan dan keluhuran martabatnya. dalam menjalankan fungsinya sangat bergantung pada laporanlaporan masyarakat. Masyarakat yang terhimpun dalam berbagai organisasi keagamaan. kekuasaan kehakiman yang merdeka dan imparsial (independent and impartial judiciary) diharapkan dapat diwujudkan baik dari segi hukum maupun segi etika. Keberadaan Komisi Yudisial sebagai lembaga pengawas eksternal terhadap hakim. Bahkan masyarakat jauh lebih utama menjadi mitra dibanding hakim-hakim yang menjadi obyek pengawasan. keluhuran martabat. Peran Serta Masyarakat Peran serta masyarakat jelas sangat menentukan keberhasilan reformasi peradilan. dimaksudkan agar warga masyarakat di luar struktur resmi lembaga parlemen dapat dilibatkan dalam proses pengangkatan. Dengan demikian. organisasi masa. sulit bagi Komisi Yudisial memaksimalkan fungsinya. penilaian kinerja.lembaga pengawas para hakim ini. Komisi Yudisial misalnya. tidak bisa disangkal bahwa Komisi Yudisial memainkan peranan penting dalam rangka reformasi peradilan dan penegakan hukum dalam sistem kenegaraan Indonesia. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga dan menegakkan kehormatan. Secara eksplisit. Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama bekerja sama 156 Bunga Rampai . Argumen kehadiran dan karakter kelembagaan Komisi Yudisial sebagaimana dipaparkan di atas. Komisi Yudisial menempatkan masyarakat sebagai mitra utama dalam menjalankan kerja-kerjanya. Tanpa partisipasi masyarakat. dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat selama ini telah menunjukkan peran sertanya dalam berbagai upaya reformasi peradilan dan penegakan hukum. Keberadaan masyarakat sebagai mitra utama bukan hanya dibutuhkan oleh Komisi Yudisial melainkan juga tuntutan reformasi di mana telah menempatkan masyarakat sebagai kelompok strategis dalam memantau peradilan dan penegakan hukum. jelas menuntut adanya keterlibatan masyarakat dalam menjalankan perannya sebagai lembaga negara yang bertugas melakukan pengawasan. dan kemungkinan pemberhentian hakim.

Pemantauan memiliki arti penting dalam rangka memastikan agar setiap kehendak politik yang terakumulasi dalam suatu kebijakan negara diorientasikan sepenuh-penuhnya untuk memberikan keadilan bagi semua orang. Peran serta masyarakat yang paling banyak dilakukan pertama. Ada juga yang berkonsentrasi dalam pemantauan pembentukan perundang-undangan. Terakhir Muhammadiyah beserta ormas-ormas Islam kembali menggerakkan Jihad Melawan Koruptor Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).dengan Kemitraan untuk Pembaruan Tata Pemerintahan yang baik misalnya. adalah melalui kerja-kerja pemantauan dibidang peradilan dan penegakan hukum. termasuk di dunia peradilan. Bahkan peran serta itu belakangan telah diakui urgensi dan signifikasinya. hampir di semua lembaga-lembaga tersebut terdapat bidang atau departemen yang secara khusus menangani soal reformasi peradilan dan penegakan hukum. Mereka yang tergabung dalam Lembaga-lembaga Bantuan Hukum misalnya. karena lembaga-lembaga itu didesain khusus untuk memainkan peran-peran tertentu. Bahkan banyak diantara mereka yang kemudian membangun kemitraan strategis sebagai partner atau bahkan mengasistensi lembaga-lembaga peradilan. secara terus menerus memberikan perhatian pada upaya reformasi peradilan dan penegakan hukum. Kerja pemantauan diharapkan mampu Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 157 . Inisiatif-inisiatif seperti ini jelas dibutuhkan dalam reformasi peradilan dan penegakan hukum. sejak tahun 2004 telah memprakarsai gerakan melawan korupsi di semua lini pemerintahan. Elemen-elemen masyarakat sipil yang berhimpun dalam lembaga swadaya masyarakat diakui memang memiliki peran yang lebih fokus. terdapat juga pusatpusat kajian yang secara ilmiah memberikan inisiatif-inisiatif untuk menjadikan dunia peradilan lebih baik. Di samping lembaga bantuan hukum. Independensi para ilmuwan dan aktivis yang berhimpun dalam pusat-pusat studi telah secara nyata memberikan kontribusi bagi dunia peradilan dan penegakan hukum. karena dunia peradilan dan penegakan hukum merupakan sektor yang sangat berhubungan dengan kepentingan umat dan publik secara umum. Kelompok masyarakat sipil lainnya adalah kalangan perguruan tinggi. pemberantasan korupsi dan lain-lain. Dalam tubuh lembaga-lembaga keagamaan.

peran serta dibidang pengkajian. Bahkan inisiatif lahirnya Mahkamah Konstitusi. Komisi Kepolisian. pelaksanaan dan penegakan maupun dampak dari berbagai prosesproses peradilan dan penegakan hukum. kerja pemantauan juga merupakan bentuk kontrol publik untuk menyeimbangkan kekuatan antara penyelenggara negara atau pemerintahan dengan publik di daerah itu. Ketiga. Sekalipun pengawasan internal di tubuh lembaga peradilan sudah tersedia. Kerja-kerja pemantauan selama ini banyak dilakukan oleh kelompok elemen sipil yang tergabung di dalam lembaga-lembaga swadaya masyarakat. citizen lawsuit. penetapan indikator-indikator pembangunan berbasis hak asasi manusia dan kesetaraan gender.menghimpun fakta-fakta yang baik maupun yang kurang baik dari segi proses penyusunan. kepercayaan publik belum sepenuhnya bisa tumbuh akibat minusnya penindakan jika pengawasan menemukan abuses yang dilakukan oleh para penegak hukum. Pemantauan yang dilakukan oleh elemen masyarakat sipil ini merupakan jawaban atas tidak adanya akuntabilitas yang terlembagakan pada lembaga-lembaga peradilan. Komisi Yudisial. Dalam sistem demokrasi. Komnas Perempuan. dapat dijalankan. Peran ini biasanya banyak dilakukan oleh kalangan perguruan tinggi atau lembaga-lembaga studi yang mengkonsentrasikan diri pada upaya penyediaan konsep-konsep alternatif reformasi peradilan dan penegakan hukum. Mekanisme class action. Komnas HAM. Beberapa capaian yang telah diperoleh adalah kemungkinan justiciability yang bisa diperoleh para pihak yang dirugikan akibat lahirnya sebuah kebijakan negara yang tidak menguntungkannya. dan lain sebagainya merupakan gagasan-gagasan kelompok kritis masyarakat sipil yang kemudian diadopsi oleh negara. adalah sejumlah contoh terobosan yang didorong oleh masyarakat sipil dalam rangka reformasi peradilan dan penegakan hukum. sebagai salah satu prinsip demokrasi. Mereka berhimpun dan mengkonsentrasikan diri pada upaya-upaya memastikan proses peradilan berjalan fair. Komisi Kejaksaan. Komisi Penyiaran. Kedua. Dengan demikian prinsip checks and balances. substansi. peran serta lainnya adalah dalam bentuk kam- 158 Bunga Rampai . Serangkaian exercise yang menerabas tradisi praktik hukum di Indonesia ditawarkan dan diujicobakan.

Namun demikian. Ormas-ormas keagamaan misalnya. lemahnya mekanisme kontrol internal lembaga-lembaga peradilan. Keempat. eksaminasi publik atas putusan-putusan hakim. sulit sekali memeriksa profesionalisme hakim dalam sebuah Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 159 . bisa dilakukan oleh lembaga peradilan yang ada pada level di atasnya sebagai bentuk pengawasan internal atau dilakukan oleh publik sebagai bentuk partisipasi masyarakat dalam memantau dunia peradilan. adalah elemen yang sangat berpotensi melakukan kampanye penyadaran hukum dalam rangka memperkuat kultur hukum masyarakat. Eksaminasi atau dalam bahasa Inggris disebut dengan “examination” diartikan sebagai an investigation. di samping dilakukan oleh Mahkamah Agung. sebenarnya fungsi eksaminasi atas putusan hakim.panye penyadaran hukum. secara konstitusional diperankan oleh Komisi Yudisial. Keteladanan para pemimpin organisasi dan interaksi langsung yang para pemimpin dengan jamaahnya. interrogation. Eksaminasi publik dilakukan terutama untuk melakukan penilaian apakah keputusan-keputusan yang dikeluarkan oleh lembaga peradilan telah memenuhi standar profesional dan prinsip-prinsip penegakan hukum dan hak asasi manusia. atau yang dalam kamus bahasa Inggris-Indonesia sebagai ujian atau pemeriksaan. Akan tetapi Komisi Yudisial hanya memiliki kewenangan mengeksaminasi terkait profesionalisme hukum dan tidak masuk pada substansi perkara yang dipersoalkan. Meskipun kegiatan eksaminasi publik ini tidak memberikan dampak langsung terhadap perkara yang telah divonis. Kebanyakan jenis peran serta ini dilakukan oleh organisasi masyarakat sipil yang memiliki basis masa yang besar. Berangkat dari fakta bahwa judicial corruption belum sepenuhnya teratasi. dalam praktiknya. merupakan media dan instrumen kampanye mengubah paradigma berpikir dan tata tindak yang konstruktif pada upaya-upaya penegakan hukum. sejumlah lembaga swadaya masyarakat dan perguruan tinggi saat ini mempelopori praktik uji putusan hakim maupun produk kerja lembaga peradilan. Sejak lahirnya Komisi Yudisial. inspection. di samping juga melakukan pemantauan dan pengkajian. search. akan tetapi temuan pandangan hukum kelompok di luar mejelis hakim ini akan menjadi pembelajaran yang sangat berarti bagi perkara-perkara lain yang sama.

sejauh mana pertimbangan hukum dari hakim yang memutus perkara tersebut berkesesuaian dengan prinsip-prinsip hukum dan prosedur hukum acara dengan benar. yakni perbaikan peradilan dan penegakan hukum. Catatan yang dapat diajukan dalam memandang peran serta masyarakat sipil dalam reformasi peradilan dan penegakan hukum ini. secara sosio-politik peran serta masyarakat berimplikasi besar terhadap perubahan dunia peradilan. Keberbedaan pendekatan antar elemen juga sering menjadikan pilihan strategi yang berbeda. Reformasi yang digulirkan sejak 1998 telah membuktikan bahwa pengabaian terhadap aspirasi masyarakat telah meminggirkan kekuasaan yang selama ini dianggap kokoh.putusan tanpa menyoal substansinya. serta menakar sejauh mana sebuah putusan telah menyentuh rasa keadilan masyarakat. maka para anggota legislatif 160 Bunga Rampai . Semestinya sinergi harus bisa dibangun. Sasaran utama dari kegiatan eksaminasi ini adalah mendorong para hakim agar membuat putusan dengan pertimbangan yang baik dan profesional. Jaminan akomodasi peran serta masyarakat sekalipun secara yuridis tidak diatur. Jika eksistensi publik dalam dunia peradilan sudah disadari urgensinya. Peran serta kemudian menjadi bagian yang dianggap tidak menarik sebagian elemen masyarakat sipil. Tujuan eksaminasi secara umum adalah untuk mengetahui. sehingga meskipun dengan pendekatan dan strategi yang berbeda. Sikap a priori dan konfrontatif lembaga-lembaga peradilan hanya akan memperburuk citra lembaga peradilan itu sendiri. Dunia peradilan yang menjadi obyek peran serta juga sudah semestinya menyadari betapa membangun aliansi strategis dengan elemen masyarakat sipil adalah hal yang pokok dalam men-delivery keadilan segera sampai ke tengah masyarakat. Untuk memaksimalkan upaya reformasi peradilan itulah maka publik menginisiasi praktik-praktik eksaminasi yang disebut dengan eksaminasi publik. tetap bisa mengarah sasaran yang sama. Karena itu produk Komisi Yudisial sering diabaikan. Menuntaskan kerja reformasi (termasuk di sektor peradilan) jelas tidak bisa lepas dan mengabaikan peran serta masyarakat. seringkali ekpektasi publik tidak terpenuhi oleh lembaga-lembaga peradilan.

Bahkan sebagian besar perguruan tinggi. penegakan hukum hak asasi manusia di Indonesia adalah minusnya kerja-kerja diseminasi publik yang menyadarkan warga tentang pentingnya kerja bersama membangun kelembagaan peradilan yang independen dan akutabel. yang akan menjadi alat efektif untuk melakukan kontrol dan pressure terhadap negara untuk berkomitmen menegakkan hukum. dan berkelanjutan. Hanya menjadi urusan lembaga swadaya masyarakat dan beberapa kelompok sosial kritis lainnya.juga dituntut untuk bisa mengakomodasi berbagai aspirasi publik dalam setiap penyusunan perundang-undangan. baik di kalangan perguruan tinggi. meskipun di beberapa perguruan tinggi telah tumbuh pusat-pusat studi. Minusnya dukungan sosial. Refleksi atas keberadaan lembaga-lembaga kemasyarakatan dan keagamaan dalam memaksimalkan peranannya mendorong reformasi peradilan dan penegakan hukum telah menjadi memicu semua pihak untuk segera berbenah diri secara lebih serius. salah satu penyebab tidak maksimalnya reformasi peradilan. Jika mau diakui. sistematis. Jika kondisi yang demikian ti- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 161 . organisasi masyarakat. diskursus dan praksis peradilan dan penegakan hukum hingga saat ini masih menjadi isu yang elitis. dedikasi dan kesungguhannya masih belum optimal. Harus diakui. Tuduhan ini tidak hanya monopoli aparat negara semata. Tak jarang kemudian. membuat advokasi penegakan hukum seolah-olah hanya menjadi urusan LSM. Masyarakat sipil dituntut untuk menata kerja-kerja ini bukan lagi sebagai seremonial yang berulang akan tetapi lebih implementatif. Diseminasi tentang pentingnya peran serta masyarakat sipil yang meluas akan mampu melahirkan kekuatan kritis dan membangun kesadaran kolektif bangsa. organisasi keagamaan dan komunitas-komunitas lainnya. pilihan diseminasi dan edukasi pentingnya peran serta masyarakat dalam reformasi peradilan dan penegakan hukum. sebagai salah satu kesadaran evaluatif atas ketersumbatan arus reformasi peradilan patut dipertimbangkan. Karena itu. mayoritas masyarakat Indonesia justru balik menuduh LSM yang melakukan provokasi untuk membuat berang sebuah rezim. tapi telah menjalar kepada sebagian besar masyarakat Indonesia.

tapi pengalaman di beberapa negara menunjukkan. Gagasan mendidik pendakwah atau misionaris dalam berbagai agama untuk menjadi pembawa suara keadilan bisa menjadi pilihan kerja yang potensial mampu menghimpun dukungan sosial reformasi peradilan dan penegakan hukum. dikhawatirkan LSM akan kehabisan energi dalam melakukan kerja-kerja advokasinya. Dengan jamaah dan umat yang begitu besar. Memang. lembaga-lembaga keagamaan sebenarnya bisa menjadi kekuatan pengubah sosial yang luar biasa. peradilan yang murah. tidak ada negara yang dengan cumacuma memberikan hak-hak rakyat untuk menikmati kemajuan. Melalui kerja pemberdayaan dan pendampingan. penegakan hukum menjadi tugas dan kewajiban negara.dak segera mendapat respon dan penanganan cepat. Membangun kesadaran kolektif dapat dilakukan dengan melakukan transformasi simultan atas gagasan dan praksis penegakan hukum di lapangan. sering disebut sebagai salah satu agen perubahan. Memperluas basis sosial untuk memperbesar dukungan reformasi peradilan dan penegakan hukum berarti membangun kesadaran kolektif bangsa akan pentingnya reformasi peradilan di Indonesia. pendidikan kesadaran hukum dapat disodorkan sebagai jalan merengkuh dukungan sosial itu. tidak hanya pressure group yang semakin terkikis tapi sinisme masyarakat akibat “instabilitas” yang diciptakan oleh kalangan LSM akan semakin menguat. tapi paling tidak. Kalangan perguruan tinggi. mendorong hukum progresif yang berkeadilan. secara formal perguruan tinggi memiliki kapasitas untuk memproduksi sumber daya manusia yang bisa didesain memiliki kapasitas dan kompetensi tertentu. kompeten. Kedekat- 162 Bunga Rampai . Jika kerja ini tidak dilakukan. Karena itu signifikansi perluasan basis sosial terletak pada perolehan dukungan besar masyarakat Indonesia. Salah satu kapasitas dan kompetensi itu adalah menciptakan generasi terdidik yang peduli dan tergugah untuk melakukan advokasi. dan berkeadilan tanpa diminta dan ditekan. Salah satu sektor yang harus mendapatkan prioritas dalam proses transformatif ini adalah kalangan perguruan tinggi dan dunia pendidikan. Sektor lain yang perlu mendapat perhatian adalah lembaga-lembaga keagamaan. Meskipun predikat ini tidak sepenuhnya genuine.

Lembaga-lembaga peradilan (kejaksaan. Catatan Penutup Keberadaan Komisi Yudisial di dalam ranah kekuasaan kehakiman secara langsung telah menjawab kebutuhan akses publik terhadap dunia peradilan. Bagaimanapun kepercayaan publik terhadap keberhasilan reformasi peradilan dan penegakan hukum adalah indikator utama keberhasilan reformasi peradilan dan penegakan hukum. proses-proses reformasi peradilan dan penegakan hukum. dan lembaga-lembaga penyelidik independen lainnya) juga sudah semestinya menyadari pentingnya kehadiran masyarakat di tengah-tengah peran dan fungsi institusinya sebagai stakeholders yang tidak bisa ditinggalkan. selama bumi ini masih dipijak. kecuali membangun kemitraan strategis dengan elemen masyarakat sipil.an tokoh-tokoh agama dengan umatnya. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 163 . Perlu disadari bahwa keberadaan ormas-ormas baik yang berbasis keagamaan maupun kemasyarakatan memiliki posisi strategis di dalam proses rekayasa sosial untuk melahirkan suatu gerakan sosial dan gerakan moral dalam membangun bangsa. yang dengan mudah mendongkrak popularitas seorang aktivis. Karena itu tidak ada pilihan lain bagi Komisi Yudisal untuk terus meningkatkan intensitasnya melibatkan publik dalam memantau dan memastikan keadilan dapat terberikan. Karena itu tidak ada pilihan lain. Komisi Yudisial telah menjadi jembatan ketidakpuasan publik atas ketidakadilan yang tercabik akibat ulah para mafia peradilan. Pilihan kerja diseminasi wacana reformasi peradilan dan penegakan hukum memang tidak memiliki daya tarik sebagaimana kerja advokasi (litigasi). kepolisian. tapi juga terjustifikasi oleh semua agama dan kepercayaan di dunia ini. Diseminasi merupakan kerja jangka panjang dan investasi kemanusiaan yang akan menjadikan kerja advokasi berkelanjutan. Tidak semata-mata karena peradilan yang baik sebagai sesuatu yang dibutuhkan. akan membuat bahasa hukum dan peradilan menjadi mudah dipahami dan diterima sebagai sebuah keyakinan yang harus diperjuangkan.

Miriam. Maurice. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Political Parties. Gramedia Pustaka Utama. Prof. 1963. 2004. Penerbit Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam). Komisi Yudisial & Reformasi Peradilan. Toward a Comparative Study of Political Parties. 1963. Wiley and Sons. Dasar-Dasar Ilmu Politik. 164 Bunga Rampai . Neuman. 1991. Duverger. Norman and London: University of Oklahoma Press A. The Third Wave: Democratization in the Late Twentieth Century.Daftar Bacaan Samuel P. Chicago University Press.Dr. Huntington. 1996. Jakarta. Budiarjo. Cadre Party and Mass Party. PT. Budiarjo. Gramedia Pustaka Utama. Ahsin Thohari. Chicago. Jakarta. Caucus and Branch. PT. Miriam. Dr. Jakarta. New York. Sigmund. Prof. 1996.

Magister Hukum Pascasarjana Universitas Islam. Magister Hukum dari Universitas Indonesia (1994). F. Dosen Magister Hukum Pascasarjana Universitas Nasional. Chaim Perelman. Jeremy Bentham yang kemudian didukung oleh John Austin menganggap bahwa sistem common law mengandung ketidakpastian dan menyebutnya sebagai “law of the dog”. Pendukung civil law. Dosen Fakultas Hukum USU Medan. Untuk Menghasilkan SDM Penegak Hukum Yang Kompeten dan Profesional Bismar Nasution* Knowledge is power but character is more Perdebatan mengenai sistem mana yang terbaik antara civil law dan common law telah berlangsung selama berabadabad. ed. Jakarta. tahun 2002-sekarang. Dosen Magister Hukum Pascasarjana Sekolah Tinggi Hukum Militer (STHM). Dosen Magister Manajemen Pascasarjana USU Medan.1 Sebaliknya salah satu pendukung sistem common law. Blackshield. Dosen Magister Hukum Pascasarjana Univ. Pengadilan dalam sistem hukum common law. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 165 . tetapi jika manusia itu berbuat kesalahan maka pengadilan langsung menghukumnya. dalam A. tidak memberikan petunjuk bagi manusia bagaimana dia harus bertindak. Dosen Penguji dan Pembimbing Disertasi Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Indonesia. (Sidney: Butterworth.V Hayek mengatakan bahwa sistem common law lebih baik dari pada civil law karena jaminannya * 1 Mendapat Sarjana Hukum dari USU (1983). 1983). 2005. hal 6. tahun 2003-sekarang. Ketua Program Studi Ilmu Hukum dan Ketua Program Doktor Ilmu Hukum Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. tahun 2002. tahun 2001–sekarang. Dosen Magister Hukum Pascasarjana Univ. Pancasila Jakarta. Jakarta. Doktor dari Universitas Indonesia (2001). tahun 1999–sekarang. Krisnadwipayana Jakarta.Reformasi Pendidikan Hukum. tahun 2002-sekarang. Tahun 2006-sekarang. tahun 1987– sekarang.R. Jakarta. tahun 2001–2002. Legal Change Essay in Honor of Julius Stone. Dosen Magister Kenotariatan Pascasarjana USU Medan. tahun 2004-sekarang. Guru Besar Hukum Ekonomi Fakultas Hukum USU (2004). “Legal Ontology and Legal Reasoning”. Dosen Pascasarjana Hukum USU Medan.

sedangkan model kebebasan Perancis berasal dari ajaran Hobbes dan Rousseau yang menekankan pada kebebasan pemerintah untuk mencapai tujuan bersama lihat Paul G. (ST. Istilah stare decisis berasal dari istilah stare decisis et non quieta movere. The Nature of The Judicial Process. Sistem civil law menggunakan kodifikasi sebagai sumber hukum. Mahoney.” lihat W. 40. Minn: West Publishing Co. “The Common Law and Economic Growth: Hayek Might Be Right”. 1969). sedangkan dalam Black’s Law Dictionary diartikan “to adhere to precedents. tahun 1066 dianggap sebagai tahun kelahiran tradisi common law ketika bangsa Norman mengalahkan dan menaklukkan kaum asli (Anglo Saxon) di Inggris.. Kehakiman terjadi sejak tahun 2004 166 Bunga Rampai .2 Untuk lebih memahami pemicu perdebatan di atas cara terbaik adalah dengan menghampirinya dari aspek historis sebagaimana dikatakan Benjamin N.4 Akar perbedaan yang substansial diantara kedua sistem hukum itu terletak pada sumber hukum yang digunakan oleh Pengadilan dalam memutus sebuah perkara. Janice R. adanya independensi hakim atau berada di bawah Mahkamah Agung. hal. Di negara civil law hakim merupakan bagian dari pemerintah.“3 Menurut catatan. Paul. Cordozo “sejarah dalam menerangi masa lalu menerangi masa sekarang. (Vol. 1962). Dunfee. Business and Its Legal Environment. hal 4-7. hal 1406.XXX. Di Indonesia. Sedangkan civil law lahir terlebih dahulu ketika Corpus Juris Civilis of Justinian diterbitkan di Constatinopel pada tahun 533 yang sangat dipengaruhi oleh hukum Romawi. (New Jersey: Prentice-Hall Inc. University of Chicago. hal. sedangkan sistem common law menggunakan putusan hakim sebelumnya sebagai sumber hukum atau yang lebih dikenal dengan doktrin stare decisis. 2001). Cohen dan Arnold J. (London : Yale University Press. 89 Lihat John Henry Merryman. pindah dari naungan Departemen. sehingga dalam menerangi masa sekarang dia menerangi masa depan. Bellace.1999). David B. 1990). and not to unsettle things which are established.pada kebebasan individu dan membatasi kekuasaan pemerintah. Lihat Henry Campbell Black. Rosoff.5 Perbedaan menonjol lainnya menyangkut peran pengadilan. Journal of Legal Studies.6 Hal ini tidak terlepas dari sejarah 2 3 4 5 6 Lebih lanjut Hayek menyatakan bahwa sistem kebebasan di Inggris berasal dari ajaran Locke dan Humme yang menekankan kepada kebebasan individu untuk mencapai tujuan masing-masing. Cardozo. Black’s Law Dictionary. The Civil Law Tradition: An Introduction to the Legal System of Western Europe and Latin America. yaitu “stand by the decision and do not disturb what is settled. hal 504-511 Benjamin N. (California: Stanford University Press.

Kondisi inilah yang kemudian memicu revolusi Perancis yang dipimpin oleh Napoleon.7 Posisi ini membuat pengadilan biasa di Perancis secara prosedural tidak mempunyai wewenang untuk mengkaji kebijakan pemerintah. Perbedaan ini tetap dipertahankan dalam sistem civil law di daerah continental yang mewarisi tradisi Hukum Romawi. para hakim Perancis menjadi musuh masyarakat daripada pembela kepentingan masyarakat karena lebih mendukung kepentingan Raja. namun demikian Pengadilan ini berada dibawah pengawasan Eksekutif. hal 413. Cit.Bailey dan M. Sebelum revolusi.Cit. Mahoney.9 Oleh karenanya kekuasaan untuk menentukan hukum berada pada Mahkamah Agung sebagai pengadilan tertinggi. Op. Dugdale.10 7 8 9 10 John H. (London: Sweet & Maxwell. Introduction to Legal Method. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 167 . 1996). Sistem Hukum Romawi menggambarkan dengan jelas perbedaan antara hukum privat yang mengatur hubungan antara warga negara dan hukum publik yang mengatur hubungan antara warga negara dengan pemerintah.H. Perancis memang telah mengembangkan suatu Pengadilan Tata Usaha Negara yang berwenang men-review Keputusan Pemerintah. Smith & Bailey on The Modern English Legal System. Hal ini membuat kekuasaan pemerintah di negara civil law menjadi sangat dominan. negara common law yang berasal dari tradisi Inggris memiliki lembaga pengadilan yang independen. Pengalaman sebelum masa revolusi tersebut menjadi inspirasi bagi Napoleon dalam meletakkan hakim di bawah pengawasan pemerintahan untuk mencegah “pemerintahan oleh hakim” seperti yang pernah terjadi sebelum revolusi. . hal 39. hal 503 – 512. Lihat Paul G.J. Di Perancis misalnya. Op. Paul G. Raja Stuart kemudian membentuk sebuah pengadilan baru bernama Stuart Chamber yang berada di bawah Kerajaan dan merupakan kepanjangan tangan dari Kerajaan Inggris. hal 508-509 S. (London: Sweet & Maxwell.8 Sebaliknya. Independensi pengadilan ini apabila ditelusuri berawal dari pertentangan antara Hakim Coke dengan King Stuart ketika Kerajaan yang memaksakan kehendaknya untuk mengubah hak properti yang merugikan rakyat. Farrar dan Anthony M.Gunn. Para hakimnya juga didik pada administrative school bersama-sama dengan pegawai negeri lainnya yang nantinya keputusan mereka akan diawasi oleh hakim tersebut.yang melandasi terciptanya perbedaan itu. Mahoney. Setelah revolusi Stuart Chamber ini dibubarkan. 1984). pengadilan membedakan antara kasuskasus yang berhubungan dengan pemerintah dan memberlakukan hukum yang berbeda dengan hukum yang mengatur hubungan sektor privat.

Mahoney. Peranan dosen sangat sentral dalam memberikan pemahaman tentang hukum.Dalam perjalanannya. Sistem pendidikan hukum di negara civil law lebih menekankan kepada metode pengajaran yang bersifat doktrinal. hal 253 168 Bunga Rampai . isi pasal serta pendapat para sarjana. Ibid. Para mahasiswa bersifat pasif dan umumnya diajarkan untuk menghapal perundang-undangan.12 Arah Pendidikan Hukum Perbedaan penerapan hukum di atas berimplikasi terhadap sistem pendidikan hukum di negara-negara penganut kedua sistem hukum tersebut. dan sangat jarang perkuliahan dilakukan untuk membahas suatu kasus. karena umumnya negara-negara civil law berpaham positivisme. hal 508. 2001. sistem pendidikan di negara common law lebih menekankan kepada practical use. Sistem hukum yang 11 12 Paul G. Perbandingan suatu teori atau hukum juga jarang dilakukan. pengalaman menunjukan bahwa negara-negara dengan sistem common law ternyata relatif lebih makmur secara ekonomi dibanding negara dengan sistem civil law. yaitu sistem civil law dan sistem common law.11 Terlepas dari perdebatan di atas. hal. dengan metode pengajaran monolog. Sebaliknya. Hal ini menyebabkan perbandingan hukum dengan negara lain dianggap kurang penting dan kurang mempunyai kekuatan hukum apabila dijadikan landasan pembelaan dalam sebuah peradilan. Op. Cit. sehingga landasan maupun pemikiran tentang hukum hanya berpedoman kepada perundangundangan yang telah terkodifikasi. Perdebatan dan diskusi jarang dilakukan karena selama perkuliahan berlangsung dosen biasanya hanya memberikan penjelasan mengenai teori. Materi yang diberikan adalah isi pasal-pasal dari perundangan-undangan. kombinasi antara konsep Hukum Romawi dan praktik-praktik di lapangan telah membentuk dasar-dasar hukum yang dianut oleh sebagian besar negara di dunia ini. pembimbing dan legal solver terhadap pertanyaan para mahasiswa. dosen berfungsi sebagai narasumber.

Hal ini membuat peran mahasiswa lebih dominan daripada peran dosen. Putusan ini akhirnya akan diuji oleh Mahkamah Agung apakah diterima atau ditolak. sedangkan isi perkuliahan lebih banyak diisi oleh perdebatan dan pendapat dari masing-masing mahasiswa mengenai kasus-kasus yang diberikan oleh dosen. presentasi dan pemaparan para mahasiswa mengenai suatu kasus. Inilah yang membuat para SDM penegak hukum common law selalu melaku- Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 169 . Sebaliknya SDM penegak hukum dari negara common law selalu bersifat kritis dan analistis. konsultasi mengenai suatu permasalahan hukum dilakukan secara individual antara dosen dan mahasiswanya. Sehingga hubungan antara dosen dan mahasiswa di negara common law umumnya sangat dekat. Perundang-undangan bukan harga mati bagi sebuah keadilan. Pemahaman terhadap teori hanya diberikan di awal perkuliahan dengan metode self learning. dia dapat membuat putusan baru tentu dengan argumentasi yang kuat. Sedangkan sisa perkuliahan dilakukan dengan diskusi. membuat perkuliahan difokuskan kepada pembahasan kasus hukum dan putusan pengadilan. Sehingga penyelesaian suatu permasalahan hukum dilakukan dengan pendekatan doktrinal. Mereka hanya memandang suatu permasalahan dengan parameter perundang-undangan. dimana para dosen hanya memberikan pengantar dan referensi buku yang harus dipelajari serta dirangkum oleh para mahasiswa. Dosen hanya berperan sebagai pembimbing dan pengarah diskusi. Adanya perbedaan dalam sistem pendidikan hukum di atas telah menyebabkan perbedaan besar dalam memahami dan menyelesaikan permasalahan hukum. dan tidak jarang mereka menjadi sahabat dalam kehidupan pribadi. Putusan pengadilan itu juga bukan hal yang mutlak harus diikuti. SDM penegak hukum dari negara civil law cenderung bersifat positifis dan rigid dalam menyelesaikan permasalahan hukum. apabila seorang hakim menganggap suatu putusan tidak sesuai lagi dengan perkembangan masyarakat. karena adanya doktrin kalau suatu putusan pengadilan tidak boleh bertentangan dengan putusan pengadilan di atasnya. sehingga sering sekali putusan hakim dijadikan parameter untuk menilai apakah suatu peraturan dapat diterapkan di masyarakat. Sehingga perkuliahan bersifat terbuka.menekankan kepada putusan hakim.

metode pendidikan seperti ini harus diperbaiki terutama pada negara berkembang seperti Indonesia. Pandangan yang bersifat doktrinal dan positivisme mutlak harus segera diminimalkan untuk membentuk SDM penegak hukum yang kritis. Pengajaran yang bersifat doktrinal masih mewarnai pembelajaran hukum di Indonesia. peran Fakultas 170 Bunga Rampai . dimana perekonomiannya belum stabil dan tingkat penyelewengan hukum masih tinggi dan perundang-undangan belum berfungsi maksimal dalam mengikuti dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Tidak jarang mereka melakukan perbandingan hukum untuk menjustifikasi argumen mereka bahwa hukum yang berlaku tidak sesuai lagi diterapkan di masyarakat. sehingga kepercayaan masyarakat terhadap hukum dapat dipulihkan kembali. Gambaran mengenai sistem pendidikan hukum di Indonesia tidak berbeda jauh dengan apa yang telah diuraikan mengenai sistem pendidikan hukum civil law di atas. dimana perundang-undangan yang mengaturnya sudah tidak relevan lagi dengan kondisi masyarakat. Sebagai lembaga yang menghasilkan SDM penegak hukum. Sebaliknya. sehingga pembelajaran relatif lebih terarah. Dari deskripsi di atas tentu kita dapat menyimpulkan bahwa metode pengajaran civil law membuat para SDM penegak hukum berpikir doktrinal.kan analisis dan kritis terhadap hukum. Sehingga apabila terjadi suatu permasalahan hukum. analistis dan responsif terhadap permasalahan hukum. Kelebihan dari metode ini adalah adanya kepastian dalam pemahaman hukum. sehingga penggalian nilai-nilai keadilan juga harus dilakukan disamping pemahaman terhadap peraturan tersebut. Sedangkan kelemahannya adalah metode ini menghasilkan SDM penegak hukum yang lemah akan analisis dan kurang kritis terhadap hukum. metode pengajaran common law menekankan kepada analisis kasus dan diskusi serta untuk selalu bersikap kritis dalam menghadapi permasalahan hukum. Hal ini terjadi karena pembelajaran terfokus pada kodifikasi. para SDM penegak hukum akan gagal mengimplementasikan rasa keadilan masyarakat dalam solusi hukumnya. Sehingga metode ini mempunyai kelebihan dalam menghasilkan para SDM penegak hukum yang kritis dalam menghadapi perubahan di masyarakat. Dalam menghadapi persaingan global.

bahwa jalannya suatu sistem hukum tidak akan pernah lebih baik dari mereka yang menjalankannya. Metodemetode ekonomi pro pasar umumnya diimpor dari negaranegara common law dan juga sistem ekonomi pro pasar lebih kondusif bila didekati dengan institusi hukum yang berasal dari sistem common law. Hal ini disebabkan SDM penegak hukum yang berperan menjalankan hukum bukan hanya berdasarkan cara berpikirnya sendiri. pasarlah yang menjadi panglima. metode pengajaran. Kondisi ini bermula sebagai konsekuensi pendekatan pembangunan yang diterapkan pemerintah. Dalam sistem common law. Padahal L. teaching material atau kurikulum dan kesejahteraan para pengajar. Konsekuensinya tamatan Fakultas Hukum seolah terlempar ke dunia lain. sedangkan sistem civil law peran pemerintah sangat dominan. seperti SDM penegak hukum. Dalam upaya mempercepat pertumbuhan ekonomi. Pembenahan menyeluruh terhadap pendidikan hukum harus segera dilakukan. diperlukan political will yang kuat bagi para petinggi universitas dan pemerintah untuk melakukan pembenahan yang sistematis dalam memperbaiki pendidikan hukum di Indonesia. yaitu sebagai professional school yang harus dapat menggabungkan unsur profesionalisme dan pendidikan hukum dalam pengajarannya. Fakultas hukum di Indonesia harus kembali kepada khitahnya. Seharusnya pendidikan itu pulalah yang memperluas ruang lingkup cara berKomisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 171 . pemerintah menerapkan sistem pembangunan ekonomi pro pasar. It administers justice among men who conduct their own affairs”. Michael Hagger menggambarkan. baik dari peningkatan kualitas SDM. Hal ini tentu tidaklah mudah. Dalam bahasanya Walter Lippmann “in a free society the states does not administer the affairs of men.Hukum sangatlah penting di sini. SDM Penegak Hukum Yang Kompeten dan Profesional Jurang antara dunia akademis dan praktis di Indonesia dalam beberapa dekade terakhir abad ke-20 semakin melebar. metode pengajaran di kampus-kampus masih berorientasi kepada sistem civil law. Pembenahan tersebut harus dilakukan secara serentak. Sementara itu. tetapi berasal dari pendidikan yang diperolehnya dari kuliah semasa di Fakultas Hukum.

(Vol.pikirnya.H.Gunn. 1993). Fakultas Hukum di Inggris dituntut untuk memberikan pemahaman hukum yang komprehensif untuk menyediakan seorang SDM penegak hukum yang kompeten dan profesional. Lihat Antony T.13 Kondisi di atas memaksa kita memikirkan bagaimana Fakultas Hukum dapat melahirkan SDM penegak hukum yang berpengetahuan luas dan memiliki keterampilan hukum yang sesuai dengan sistem ekonomi pro pasar yang dijalankan pemerintah tersebut.14 Memperkenalkan hukum sesuai dengan kenyataan dibutuhkan mengingat Fakultas Hukum sebagai professional school diwajibkan untuk mempersiapkan keterampilan para lulusannya. Kriteria yang ditekankan disini bukanlah metode penilaian terhadap tugas atau lamanya pengajaran tetapi yang dituntut adalah proposi beban kerja mahasiswa dan setidak-tidaknya harus menguasai tujuh dasar pengetahuan 13 14 15 L. Gerakan Law and Economic telah mengubah metode dosen mengajar dan hampir di seluruh subjek hukum pengetahuan praktis ilmu ekonomi merupakan persyaratan. Terlepas setuju atau tidak setuju dengan gerakan ini. dimana terdapat syarat yang sangat ketat dalam penerimaan SDM penegak hukum yang ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan profesi yang lebih tinggi. Ketujuh dasar pengetahuan hukum tersebut adalah: obligations 1. doktrinal dan deskriptif.Cit. Foundation of Equity and the Law of Trust. Untuk perbandingan. obligations 2. hal 182-183 172 Bunga Rampai . Kronman. Bailey dan M. 58. kita dapat melihat sistem pendidikan hukum di Inggris.(Cambridge: Harvard University Press. Foundation of the Law of the European Union. 1972). Op. hal. 33. Foundation of Criminal Law. “The role of Lawyer of development country. The Lost Lawyer Failing Ideals of the Legal Profession. Penggunaan pendekatan ekonomi terhadap hukum (law and economic) dalam pendidikan hukum di Amerika Serikat bersifat permanen yang dimulai sejak tahun 1960an. hal. tetapi harus pula mengajarkan keterampilan menggunakan sains (science) untuk memahami hukum disamping dan memperkenalkan hukum sesuai dengan kenyataan. dan Foundation of Public Law serta Legal Research. kegiatannya dan kesiapannya yang membedakannya pula dengan kalangan lainnya. tentunya staf pengajar di Fakultas Hukum tidak hanya mengajarkan teori atau hal-hal yang normatif sifatnya. Untuk itu.” ABA Journal. Lihat S. Jalan yang harus ditempuh adalah bagaimana menepis kekhawatiran bahwa apa yang diberikan dalam kuliah berbeda dengan hukum dalam kenyataan. Michael Hagger.166-239.J. Foundation of Property Law.

J. Tujuan dari pelatihan ini adalah supaya para lulusannya dapat menguasai pembuatan kontrak dengan kemampuan dan pengetahuan yang cukup untuk mengatasi masalah dan tantangan dengan diawasi oleh instruktur pelatihan. SDM penegak hukum haruslah menguasai ilmu hukum dan praktik-praktik dasar secara keseluruhan untuk dapat disebut sebagai kompeten dan profesional. Adanya anggapan bahwa seorang SDM penegak hukum cukup dibekali kemampuan hukum di bidang tertentu saja harus ditentang. Tahap pertama adalah “tahap akademik” dimana calon harus mempunyai gelar SDM penegak hukum atau sertifikat lulus dari Common Professional Examination (CPE). dimana tidak ada pembedaan antara akademisi dan profesional. seorang calon dua tahap sama seperti syarat menjadi Pengacara. Lihat S. Bailey dan M.Gunn. Untuk dapat menjadi pengacara (Bar). Di sinilah esensi sebenarnya dari profesional school. Kedua tahap ini menyarankan syarat untuk dapat mendaftar menjadi pengacara. Op. seorang calon harus ikut dalam salah satu Inns of Court dan harus memenuhi dan menyelesaikan dua tahap pendidikan. hal 184-185 Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 173 .Cit.16 Gambaran di atas menunjukkan bahwa Fakultas Hukum sebagai profesional school harus mempunyai suatu sistem pendidikan atau metode pengajaran yang mempunyai suatu kurikulum yang tepat untuk menghasilkan SDM penegak hukum yang kompeten dan mempunyai kemampuan profesional yaitu kemampuan praktik.hukum. Syarat pertama yaitu syarat akademik sama seperti persyaratan untuk menjadi Pengacara. Tahap kedua adalah “tahapan pendidikan spesialis atau kejuruan” yang dilakukan dengan mengikuti program the Bar Vocational Course yang diselenggarakan oleh Court School of Law. Sedangkan untuk menjadi konsultan hukum (solicitor). Pendidikan 16 Seorang calon masih harus mempunyai pengalaman selama 12 bulan dengan Pengacara yang mempunyai pengalaman selama 5 tahun. sehingga menimbulkan perbedaan persyaratan untuk dapat menekuni kedua profesi ini. Syarat kedua menuntut calon harus merupakan anggota dari the Law Society dan harus mengikuti dan lulus pelatihan Legal Practice Course Board yang diselenggarakan the Law Society. dimana selama 6 bulan pertama mereka tidak boleh menerima instruksi. Kemampuan akademis merupakan dasar pengajaran sedangkan kemampuan profesional adalah pengembangan teori secara praktik.15 Selain itu Sistem Pendidikan Hukum Lanjutan di Inggris juga dibedakan antara Pengacara (Barrister) dan Konsultan Hukum (Solicitor).H.

286. hal. “A lot of Knowledge is a Dangerous Thing: Will the Legal Profession Survive the knowledge Explosion? dalam Michael Feindel dan Oliver Fuldaner. Arthur yang menyatakan bahwa.” Dalhousie Journal of Legal Studies. “Globalisasi Hukum dan Kemajuan Teknologi: Implikasinya Bagi Pendidikan Hukum dan Pembangunan Hukum Indonesia. Kita harus melihat pada profesional school sejenis. lihat dalam Erman Rajagukguk. karena hal itu akan menghilangkan unsur profesionalisme dalam diri dosen yang pada gilirannya akan menghilangkan unsur esensial Fakultas Hukum sebagai pendidikan profesional. 174 Bunga Rampai . hal. “Access and Specialization in Legal Education and Practice. juga wajib melatih mahasiswanya dengan keterampilan praktis. Pengajaran dapat dilakukan dengan menggabungkan pemahaman terhadap isi pasal. dimana mahasiswa harus bersifat aktif dengan didampingi dan diarahkan oleh dosen agar lebih terarah.” Pidato pada Dies Natalis USU Ke-44. Hal ini dilakukan agar mahasiswa mendapat gambaran mengenai hukum di luar Indonesia. Medan. 20 Nopember 2001. Sisa perkuliahan dilakukan dengan pemahaman suatu peraturan perundangan-undangan yang diikuti dengan pembahasan kasus-kasus yang berkaitan dengan peraturan tersebut. karena mustahil bagi sebuah profesional school mengajarkan pendidikannya jika dosennya tidak mempunyai kemampuan dalam bidang praktik seperti yang telah digambarkan oleh sistem pendidikan hukum di Inggris. Kasus yang dipilih tidak hanya berasal dari dalam negeri tetapi juga diberikan kasus-kasus yang berasal dari luar negeri. Hal ini sejalan dengan H. Untuk membentuk Fakultas Hukum sebagai profesional school. filsafat hukum dan case analysis. W.17 Oleh karena itu adalah suatu kesalahan besar untuk melarang dosen melakukan praktik hukum. Mempersiapkan keterampilan praktis dapat dilakukan dengan menggunakan metode 17 18 H. yaitu Fakultas Kedokteran. Hal ini dilakukan agar para mahasiswa dapat memahami akibat dan konsekwensi hukum yang timbul akibat isi suatu pasal. sehingga mereka dapat membandingkan dan memperluas pandangan mereka terhadap hukum diluar Indonesia. 13. teori dan filsafat hukum dapat dilakukan di awal perkuliahan. Kekhawatiran akan diabaikannya tugas-tugas pendidikan dapat diatasi dengan dibuatnya sebuah rule of the game dengan sanksisanksi yang jelas. Dosen Fakultas Hukum disamping berkewajiban mengajar dan menulis. Pemahaman terhadap doktrin.Arthurs. maka pembenahan metode pendidikan harus dilakukan secara komprehensif dimulai dari perubahan sistem pengajaran yang selama ini bersifat doktrinal. “lawyers must become expert in some field of knowledge and know little about others”.W. dimana para pengajarnya juga melakukan praktik.lanjutan hanyalah memberikan suatu spesialisasi terhadap sebuah bidang yang ingin ditekuni oleh SDM penegak hukum tersebut.

hal. Farrar dan Anthony M.Cit.20 Oleh sebab itu metode case law ini sangat relevan untuk diajarkan kepada para mahasiswa. Cit. Mereka menganggap tugas hakim adalah menerapkan sebuah ketentuan atau prinsip hukum terhadap sebuah situasi fakta tertentu dan berbuat yang benar terhadap situasi tersebut. Op. Kronman.18 Metode case law pertama sekali digunakan di Harvard Law School yang kemudian diikuti oleh seluruh Fakultas Hukum di AS.G. Hal ini penting mengingat isi pasal sebuah perundang-undangan hanyalah “sebuah kata-kata dalam bahasa Indonesia”. John H. Oliver Wendell Holmes bahwa “The life of the Law has not been logic.19 Metode ini merupakan hasil dari judicial reasoning dalam menentukan sebuah kasus dalam sebuah situasi fakta tertentu. Dugdale. Hukum sebagai sumber pengambil keputusan merupakan hal yang mosaic dimana polanya berkembang dengan perkembangan masyarakat. mereka dapat melihat hukum sebagai hukum yang hidup bukan sebagai “black letter rules”. Weeramantry dalam tulisannya “Legal Education for the Age of technology: A Plea for an Interdisciplinary Perspec19 20 Antony T. Sehingga para mahasiswa dapat terhindar dari pemikiran yang positivis dan doktrinal.pengajaran berbasis pembahasan kasus (case law). Op. Diharapkan dengan metode ini mahasiswa dapat mempunyai kemampuan untuk menganalisis dan bersikap kritis dalam menghadapi hukum. 1984. it has been experience” (kelangsungan hidup dari hukum bukanlah melalui logika tetapi melalui pengalaman). untuk dapat “menghidupkannya” maka perlu dikaitkan dengan fakta-fakta yang timbul dari berbagai kasus yang terjadi di masyarakat. karena metode ini dapat mengevaluasi sebuah hukum melebihi dari isi hukum itu sendiri. Seperti yang dikatakan oleh C. Hal ini dengan tepat digambarkan oleh seorang Hakim Agung Amerika yang sangat terkenal. Sehingga para mahasiswa dapat memahami “law behind law” dan dapat memahami hukum yang mendasari isi sebuah putusan bukan hanya memahami isi putusan saja. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 175 . hal 81. Hakim-hakim di Inggris menganggap bahwa fungsi seorang hakim bukanlah menghasilkan sebuah sistem hukum atau sebuah perkerjaan institusional yang menggunakan simetri logika. 170.

maka putusannya akan dengan cepat tidak relevan dengan zaman yang didominasi oleh sains dan tekhnologi”. 30. Lihat. 347-368. Spring 1996). Weeramantry.” Pidato Upacara Pengukuhan Sebagai Guru Besar Pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia. 25.” Wake Forest Law Review. “Empirical Legal Scholarship: Reestablishing a Dialoque Between the Academy and Profession. 17. Hikmahanto Juwana. Lihat. O. 30. 22. Cit.24 Perbandingan hukum tidak hanya dapat dilakukan dengan melakukan studi kepustakaan mengenai hukum di negara lain. tim pengajar di Fakultas Hukum sekarang ini perlu pula menekankan proses belajar mengajar dengan metode legal reasoning yang didasarkan pada penelitian. Depok. perlu mengetahui berbagai peraturan hukum negara lain dan bagaimana ia berjalan dalam perbedaan sistem hukum. (Vol. 10 Nopember 2001. hal.” Wake Forest Law Review. hal. Craig Allen Nard.tive”. hal. Erman Rajagukguk. Op. tetapi juga dilakukan melalui kuliah bersama dengan para mahasiswa di negara lain. Michigan Journal of International Law. Sidney: Butterworth.”22 yang nantinya mengalihkan keahlian hukum dalam kenyataan itu kepada mahasiswa. telah memungkinkan kita untuk melakukan kuliah bersama jarak jauh melalui teleconference dengan mahasiswa di negara lain.21 Oleh karena itu metode ini sangat penting untuk dapat membuat hukum “hidup” tidak hanya di pengadilan seperti yang selama ini terlihat. 1995). mengingat SDM penegak hukum masa kini dalam era globalisasi.23 Penting pula memperkuat muatan pengajaran perbandingan hukum dalam perkuliahan. Hal ini dapat memperluas pengetahuan hukum mahasiswa mengenai hukum di negara lain dengan 21 22 23 24 C. “Legal Education: Observation and Perception From the Bench. Lihat juga. Tepat pula di sini diusulkan agar staf pengajar melakukan “empirical research. Robert R. Bandingkan. hal. (Vol. (Vol. baik karena kebutuhan praktik maupun kesamaan model institusi-institusi hukum dan peraturan-peraturannya. hal 158. budaya dan tradisi. “selama pengadilan kita dipenuhi dengan hakim dan pengacara yang dilatih untuk melihat hukum sebagai “black letter rule”. Op. tetapi juga dalam ruanganruangan kelas dalam perkuliahan di Fakultas Hukum. 24. Merhige Jr. “Legal Education for the Age of technology: A Plea for an Interdisciplinary Perspective” Legal Change. “Hukum Internasional Dalam Konflik Kepentingan Ekonomi Negara Berkembang dan Negara Maju.1995). Tidak kalah pentingnya. hal. Haley. 1983.G. 275. Cit. hal. 746. Erman Rajagukguk. Pesatnya pertumbuhan teknologi. Educating Lawyers for the Global Economy. 176 Bunga Rampai .

Wake Forest School of Law. Charles Himawan. Robert Mac reate. dimana nantinya lahir SDM penegak hukum yang kompeten dan profesional. Kesepuluh keahlian tersebut adalah problem solving. 30 No. terasa dalam pendidikan ilmu hukum belum menjadi kebutuhan.berdikusi langsung mengenai teori maupun praktik hukum dengan mahasiswa atau para pengajar di negara tersebut. “Lecture on Legal Education . Kemampuan untuk mengikuti perkembangan dalam hukum di dunia internasional akan memberikan pemahaman tentang hukum lebih komprehensif. mengumandangkan Symphony Nomor 5 karya Betthoven. understanding of the procedures of litigation and alternative dispute resolution. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 177 . dalam tulisannya “Lecture on Legal Education. dan recognizing and resolving ethical dillemas.” Pidato Pengukuhan sebagai Guru Besar Tetap pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Dalam kaitannya dengan pendekatan disiplin ilmu ekonomi misalnya. hal. counseling. Hal ini sangat penting karena banyak sekali isu-isu baru tentang hukum di tulis dalam jurnal yang berbahasa inggris.26 Oleh karena itu kurikulum pendidikan di Fakultas Hukum harus dirancang untuk dapat mempersiapkan mahasiswa dengan bekal yang cukup untuk tampil di masyarakat sesuai dengan tuntutan masa kini. Hal ini ditandai sudah sejak lama pendidikan ilmu hukum mengumandangkan irama yang berbeda dengan pendidikan ilmu ekonomi. Namun demikian bukanlah tidak mungkin untuk mengumandangkan irama yang satu dengan menggunakan alat musik yang lain. Fasilitas dan peralatan untuk teleconference ini sendiri sudah tersedia di Universitas Sumatera Utara. Vol. setidaknya ada 10 keahlian generik 25 26 27 Selain itu yang tidak kalah penting adalah penguasaan bahasa inggris oleh para dosen dan mahasiswa/i. hal. tanggal 24 April 1991. 262-263. organizing ang managing legal work. oral and written comunicattion.Create untuk menghasilkan SDM penegak hukum yang kompeten. legal research. Perbedaan irama ini serupa dengan perbedaan antara gamelan Bali yang mengumandangkan tari Baris dan New York Philharmonic Orchestra yang. negotiation. Menurut Mc. 2 (1995). 6. Dalam menyusun kurikulum penting kiranya kita memperhatikan apa yang diungkapkan oleh Robert Mac Create. “Pendekatan Ekonomi Terhadap Hukum Sebagai Sarana Pengembalian Wibawa Hukum. factual investigation.” Wake Forest Law Review.25 Selain itu kita juga harus menyadari bahwa bidang hukum yang semakin hari semakin luas sehingga tidak dapat dihindarkan perlunya pendekatan dengan disiplin ilmu lain. Wake Forest School of Law”. Jakarta. legal analysis and reasoning. terutama dalam ketatnya persaingan di dunia global dan tingginya aktivitas perdagangan internasional.

Mata kuliah ini mengajarkan tidak hanya tentang hukum tetapi juga dasar-dasar sains seperti fisika. Misalnya dalam bidang teknologi kita dapat menambahkan mata kuliah wajib pengenalan dalam bidang sains dan society. Untuk mengatasi kesulitan dalam mengajarkan mata kuliah ini. Metode self learning tidak dapat berjalan dengan baik apabila tidak didukung oleh fasilitas perpustakaan yang memadai. termasuk hubungan yang baru di bidang ekonomi. Selain bidang ekonomi.yang harus dimiliki. Ada sebuah pepatah yang menggambarkan pentingnya perpustakaan di luar negeri yaitu. Wereemantry. 27 Oleh karena itu kurikulum pendidikan hukum harus benar-benar disusun untuk mendukung hal ini.G. Hal ini dapat dilakukan dengan menambah mata kuliah ini yang menggabungkan kedua disiplin ilmu di Fakultas hukum. hal 163-165 John H. Perpustakaan merupakan sentral dari aktivitas di sebuah institusi pendidikan di luar kelas. Kemudian menambahkan mata kuliah khusus yang membahas kaitan antara sains dan hukum. Apalagi dari sekarang kita sedang melakukan pembangunan ekonomi. yang menjadikan kebutuhan untuk adanya spesialisasi di bidang hukum tidak dapat dielakkan.Cit. Inilah sebabnya mengapa Law School di luar negeri menyebut perpustakaan sebagai “jantungnya” sebuah institusi pendidikan. Fakultas Hukum idealnya ha- 28 29 Lihat C.28 Hal lain yang tidak kalah penting adalah perpustakaan.Cit. Dugdale. dan lain sebagainya. Fakultas dapat juga mengadakan sebuah program khusus dimana kita mengundang pakar-pakar dari fakultas lain untuk bersama-sama melakukan sebuah research atau program tertentu yang mengaitkan hukum dengan bidang tersebut. Op. Farrar dan Anthony M. bidang teknologi yang saat ini sedang mengalami perkembangannya juga harus diperhatikan dalam menyusun kurikulum. SDM penegak hukum yang lulus dari Fakultas-Fakultas Hukum sekarang ini menghadapi dunia baru. Op.”29 Oleh karena itu. termasuk bidang hukum ekonomi. “a good lawyer is one who knows where to look for the law. fakultas dapat mengundang dosen-dosen tamu dari bidang disiplin ilmu yang berbeda. hal 274 178 Bunga Rampai . biologi.

Sedangkan untuk mengatasi ketimpangan para tenaga pengajar. karena Fakultas Hukum dapat meminta bantuan para alumninya yang telah menjadi praktisi di lapangan untuk menjadi trainer secara sukarela. Selain itu perlu juga diadakan sebuah trainer for trainee untuk para dosen secara rutin dan berkala. Perlu diingat bahwa walaupun buku tersebut bukan edisi terbaru. misalnya melalui kursus atau pembelian buku-buku baru. Selain efektif untuk meningkatkan kualitas pengajar hal ini juga relatif tidak membutuhkan banyak dana. fakultas dapat mengundang para praktisi sebagai dosen tamu di dalam perkuliahan. Adanya pelatihan ini akan memberikan kemampuan praktik langsung dari para praktisi di lapangan kepada para dosen yang belum mempunyai kemampuan tersebut. Dosen tamu yang didampingi oleh dosen tetap dapat membantu para mahasiswa untuk dapat lebih memahami hal-hal yang bersifat praktis di lapangan dan sekaligus berfungsi sebagai “alih pengetahuan. Untuk mencapai pada tingkat pendidikan hukum yang ideal seperti yang digambarkan di atas tentu tidak mudah pula. tetapi juga penting untuk keberlangsungan suatu institusi pedidikan. fakultas selain harus menyediakan dana khusus untuk ini. Perlu diketahui bahwa tiap tahun banyak Fakultas Hukum di luar negeri mengalami over stock karena masuknya edisi-edisi baru dari koleksi buku yang mereka punyai. namun dari segi substansi isinya masih sangat relevan. peningkatan kualitas dosen baru dapat tercapai apabila kesejahteraannya dapat terjamin. Inilah yang biasanya mereka sumbangkan kepada Fakultas-Fakultas hukum di negara lain.” Sedangkan untuk meningkatkan fasilitas perpustakaan. Peningkatan tersebut bukan hanya akan membantu para dosen untuk meningkatkan pengetahuannya. Sementara itu.rus mempunyai sebuah perpustakaan sendiri untuk membantu para mahasiswa dan pengajar untuk lebih memahami hukum. juga dapat meminta bantuan kepada para institusi pendidikan di luar negeri untuk memberikan sumbangan berupa buku-buku ataupun jurnal-jurnal ilmiah baik yang baru maupun yang tidak lagi mereka butuhkan. sangat ditentukan oleh kualitas dosen. terutama dalam pengajaran hal-hal yang bersifat praktik. mengingat hukum bukanlah ilmu pasti yang Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 179 .

Sehingga harapan-harapan dalam reformasi pendidikan hukum untuk melahirkan SDM penegak hukum yang kompeten dan profesional di masa datang ini dapat terwujud. Di sinilah diperlukan jaringan atau koneksi dengan Fakultas Hukum di luar negeri. Penutup Momentum untuk merealisasikan gagasan-gagasan yang telah dikemukakan di muka dapat dibuat sebagai pemikiran reformasi sistem pendidikan dan metode pengajaran. Jaringan dapat dibangun langsung oleh universitas maupun secara individu melalui para dosen-dosen yang sedang melanjutkan pendidikannya di luar negeri. 180 Bunga Rampai .apabila berubah teori-teori yang lama tidak lagi dapat digunakan. Semoga.

Hagger. Depok. Farrar.1995) Merryman. 1990. “Pendekatan Ekonomi Terhadap Hukum Sebagai Sarana Pengembalian Wibawa Hukum. et. Wake Forest School of Law... 1996. Henry Campbell. S. Inc. Business and Its Legal Environment. The Lost Lawyer Failing Ideals of the Legal Profession. Cambridge: Harvard University Press. London: Sweet & Maxwell. Jakarta. ST. “The Common Law and Economic Growth: Hayek Might Be right”.. “Hukum Internasional Dalam Konflik Kepentingan Ekonomi Negara Berkembang dan Negara Maju. Black’s Law Dictionary.” Pidato Pengukuhan sebagai Guru Besar Tetap pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia. O. 1984.( Vol.reate. Himawan. California: Stanford University Press. Merhige Jr. Introduction to Legal Method. L. John Henry. The Nature of The Judicial Process. Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 181 . 1993. (Vol. 10 Nopember 2001. 2001) Mc. Dugdale. XXX. New Jersey: Prentice-Hall. Cardozo. tanggal 24 April 1991. 1995). “Lecture on Legal Education . Paul. (Vol. Smith & Bailey on The Modern English Legal System.Daftar Pustaka Bailey. Hikmahanto. The Civil Law Tradition: An Introduction to the Legal System of Western Europe and Latin America. dan Anthony M.” Pidato Upacara Pengukuhan Sebagai Guru Besar Pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia. London: Sweet & Maxwell. (Vol. 1999.. Charles. Benjamin N.” ABA Journal. Paul G. London: Yale University Press. Robert. 58.all . 2 . Mahoney.” Wake Forest Law Review. (Vol. dan M. University of Chicago. Black. 1972). “Legal Education: Observation and Perception From the Bench.” Wake Forest Law Review. Juwana. 30 No.J. Haley. Antony T.. 1962. Michael. 30. 17. Kronman. Educating Lawyers for the Global Economy.Gunn. Michigan Journal of International Law. Dunfee W.H. Robert R. Spring 1996). Journal of Legal Studies. “The role of Lawyer of development country. John H. Minn: West Publishing Co.

Erman. Weeramantry. Blackshield.G. Chaim..(Vol. “Legal Education for the Age of technology: A Plea for an Interdisciplinary Perspective”. 1983. 20 Nopember 2001. “Empirical Legal Scholarship: Reestablishing a Dialoque Between the Academy and Profession. Sidney: Butterworth. Legal Change. Legal Change Essay in Honor of Julius Stone. Rajagukguk. Craig Allen. 1995).- - 1969. Sidney: Butterworth. 182 Bunga Rampai .R. C. Perelman. dalam A. “Legal Ontology and Legal Reasoning”. 1983. 30.” Wake Forest Law Review. ed.” Pidato pada Dies Natalis USU Ke-44. Nard. “Globalisasi Hukum dan Kemajuan Teknologi: Implikasinya Bagi Pendidikan Hukum dan Pembangunan Hukum Indonesia. Medan.

Bagian Kedua Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan 183 .

184 Bunga Rampai .

dan historis perumusan juridis perlu dipahami secara mendalam dan seksama sehingga dapat dipahami dan dimengerti dengan sebaik-baiknya ketentuan yang terdapat dalam pasal-pasal UUD. Hidayat Nur Wahid.Komisi Yudisial Yang Dicita-citakan Oleh Masyarakat dan Pencari Keadilan Dr. kekuasaan lembaga negara. politis. yang berisi kesepakatan pokok tentang negara. baik dari sudut pandang filosofis. hubungan lembaga negara dengan warga negara. H. MA. UUD tidak dapat dipahami hanya melalui teksnya saja. Secara teoritis. suasana kebathinan yang menjadi latar belakang filosofis. dan perlindungan terhadap hak asasi manusia. politis. Undang-Undang Dasar (UUD) adalah dokumen hukum dan politik (political and legal document) resmi suatu negara. Dalam penyusunan suatu UUD. Namun demikian. hubungan antar lembaga. sosiologis. UUD dapat diubah. mengatur mengenai organisasi negara. tetapi harus memahami konteks dan suasana kebathinan yang mempengaruhi perumusannya. nilai-nilai dan norma dasar yang hidup dalam masyarakat dan dalam praktek penyelenggaraan negara turut mempengaruhi perumusan suatu norma ke dalam naskah UUD.M. sosiologis. sejarah mencatat bahwa dalam implementasinya banyak ditemukan kelemahan-kelemahan yang mengakibatkan munculnya ide untuk melakukan perubahan terhadap ketentuan UUD 1945 guna menutupi kelemahan tersebut. Penetapan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) sejak tahun 1945 telah memungkinkan penyelenggaraan negara yang sejauh mungkin mengedepankan kemakmuran masyarakat. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 185 . Dengan demikian. maupun yuridis.

MPR hasil Pemilu 1999 telah melakukan suatu rangkaian perubahan UUD 1945 dalam empat tahapan yang berkesinambungan. hal ini ditempuh MPR setelah mempertimbangkan secara seksama berbagai aliran paham dan pemikiran masyarakat tersebut. dan penegakan hukum dengan cara yang tidak bertentangan dengan hukum (due process of law). Secara umum. dan perilaku alat negara dan penduduk (warga negara dan orang asing) harus berdasarkan dan sesuai dengan hukum. Apabila hasil perubahan yang dilakukan MPR terwujud dalam bentuk seperti saat ini. bermasyarakat. Perubahan UUD 1945 tersebut dilakukan MPR untuk jangka waktu yang panjang guna menyempurnakan ketentuan fundamental ketatanegaraan Indonesia sebagai pedoman utama dalam mengisi tuntutan reformasi dan memandu arah perjalanan bangsa dan negara pada masa yang akan datang. Perubahan tersebut dilakukan karena MPR-lah berdasarkan UUD 1945 berwenang untuk melakukan perubahan. Paham negara hukum sebagaimana tercantum dalam 186 Bunga Rampai . Masuknya rumusan Negara Indonesia adalah negara hukum mempertegas paham bahwa Indonesia adalah negara hukum. kesetaraan di hadapan hukum (equality before the law). yang diputuskan pada Sidang Umum MPR tahun 1999 sampai dengan Sidang Tahunan MPR tahun 2002. yaitu supremasi hukum (supremacy of law). kebijakan. Salah satu perubahan penting setelah dilakukannya perubahan terhadap UUD 1945 adalah masuknya ketentuan pasal 1 ayat (3) tentang penegasan negara Indonesia adalah negara hukum dan dimuatnya rumusan tentang Hak Asasi Manusia (HAM) pada Bab XA. Konsekuensi ketentuan itu adalah bahwa setiap sikap. dalam setiap negara yang menganut paham negara hukum. kita melihat bekerjanya tiga prinsip dasar. Ketentuan itu sekaligus dimaksudkan untuk mencegah terjadinya kesewenangwenangan dan arogansi kekuasaan. Dengan pertimbangan dan proses pembahasan tersebut. baik dalam penyelenggaraan negara maupun kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. baik yang dilakukan oleh alat negara maupun oleh penduduk.Seiring dengan bergulirnya reformasi. dan bernegara. MPR memandang bahwa UUD 1945 sudah cukup untuk mengatur pelaksanaan kehidupan berbangsa.

Dalam paham negara hukum. dan seimbang. Dalam UUD 1945 terdapat cakupan dasar-dasar normatif yang berfungsi sebagai sarana pengendali terhadap seluruh penyelenggaraan negara menuju arah dan perwujudan cita-cita kolektif bangsa sesuai dengan nilai yang terkandung dalam Pembukaan. adanya prinsip peradilan yang bebas dan tidak memihak yang menjamin persamaan setiap warga negara dalam hukum. hukum ditegakkan menurut prinsip-prinsip demokrasi karena kedaulatan hukum pada pokoknya berasal dari kedaulatan rakyat. di dalamnya terkandung pengertian pengakuan terhadap prinsip supremasi hukum dan konstitusi. masyarakat. Institusi negara dibentuk tidak dengan maksud untuk mengambil alih fungsi-fungsi yang secara alamiah dapat dikerjakan sendiri secara lebih efektif dan efisien oleh institusi masyarakat.ketentuan Pasal 1 ayat (3) terkait erat dengan negara kesejahteraan (welfare state) atau paham negara hukum materiil sesuai dengan bunyi alinea keempat Pembukaan dan ketentuan Pasal 34 UUD 1945. Pelaksanaan paham negara hukum materiil akan mendukung dan mempercepat terwujudnya negara kesejahteraan di Indonesia. dan penyelenggara negara dalam hubungan yang fungsional. Untuk pencapaian tersebut diperlukan adanya suatu kesadaran kolektif rakyat yang tercermin dalam upaya pembentukan masyarakat madani. sinergis. Dalam UUD 1945 dikatakan bahwa Negara Indonesia adalah negara hukum. rakyat diberi kebebasan untuk berkiprah sesuai dengan peradaban yang sesuai dengan nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. hukumlah yang memegang komando tertinggi dalam penyelenggaraan negara. Dalam masyarakat madani. oleh karenanya prinsip negara hukum tidak boleh ditegakkan dengan mengabaikan prinsip-prinsip demokrasi yang diatur dalam UUD. serta menjamin keadilan bagi setiap orang. Institusi negara dibentuk dengan maksud untuk Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 187 . adanya jaminan-jaminan hak asasi manusia. dianutnya prinsip pemisahan dan pembatasan kekuasaan menurut sistem konstitusional yang diatur dalam UUD. Dalam paham negara hukum. Untuk menjamin peradaban bangsa di masa yang akan datang perlu dikembangkan keberdayaan dalam hubungan antara negara.

Dalam negara hukum. Jika kita telaah.makin mendorong tumbuh dan berkembangnya peradaban bangsa Indonesia sesuai dengan cita dan citra masyarakat madani yang maju. melalui kiprah nyata dan berkesinambungan dalam upaya mewujudkan supremasi hukum yang kita inginkan. Hal tersebut disebabkan karena masalah supremasi hukum adalah bukti nyata proses penegakan hukum suatu bangsa. sebutan supremasi hukum menjadi kata yang paling sering diucapkan dan didengar. tanpa terkecuali. Hukum sebagai aturan. Sejak keberhasilan gerakan reformasi melanda bangsa Indonesia. Istilah ini akan selalu menjadi obyek kajian yang menarik dan tidak ada habis-habisnya. ia langsung berada dan bekerja di tengah-tengah masyarakat. kekuasaan yang tidak di- 188 Bunga Rampai . Negara Indonesia adalah negara hukum. maka hal-hal yang bersifat normatif yang terdapat dalam Penjelasan. Keberagaman cita rasa masyarakat yang terkemas dalam budaya tradisional dan modern akan menyatu dalam suatu dimensi hukum. Sudah sepatutnya kita semua. dan kaidah akan selalu mempunyai posisi yang khas. tidak berdasarkan kekuasaan belaka (machtsstaat). Rumusan Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 ini merupakan hasil perubahan ketiga. dimasukkan ke dalam pasal-pasal. Tujuannya untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan (abus de pouvoir) dan penggunaan kekuasaan negara secara sewenang-wenang (detournement de pouvoir). norma. Karena. ikut melibatkan diri dalam usaha bersama mencari jalan keluar memperbaiki permasalahan secara menyeluruh. individu dan negara berdiri sejajar. Hukum berada di atas segalanya termasuk negara. Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 menegaskan. Mengingat Penjelasan UUD 1945 ditiadakan. demokratis dan berkeadilan. Keadilan bagi semua orang harus diperoleh agar masyarakat demokratis dapat mencapai kehidupan yang adil dan damai melalui penegakan hukum. Penegasan Indonesia sebagai negara hukum semula tercantum pada Penjelasan UUD 1945. Inilah yang dinamakan supremasi hukum. sejak Indonesia merdeka tahun 1945 para pendiri bangsa dan rakyat telah sepakat bahwa negara dibentuk berdasarkan hukum (rechtsstaat). Negara diatur oleh konstitusi dan undang-undang. sejahtera lahir dan bathin. mandiri.

Perubahan Undang-Undang Dasar 1945 itu dimaksudkan untuk mempertegas bahwa tugas kekuasaan kehakiman dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yakni untuk menyelenggarakan peradilan yang merdeka. Karenanya. yaitu bahwa baik pemerintah/negara maupun warga negara dalam bertindak harus berdasar atas dan melalui hukum. Pasal 24C. and absolute power corrupts absolutely”. kekuasaan kehakiman atau peradilan yang merdeka. guna menegakkan hukum dan keadilan. Pasal 24C. Bab tentang Kekuasaan Kehakiman menjadi lima pasal sehingga lebih rinci dan lebih lengkap. Sebelum perubahan. Undang-Undang Dasar 1945 telah mengakomodasikannya di dalam Bab tentang Kekuasaan Kehakiman. sedangkan Pasal 25 tetap. Ketentuan ini merupakan perwujudan prinsip Indonesia sebagai negara hukum sebagaimana ditegaskan dalam Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 189 . yaitu Pasal 24 dan Pasal 25. Bab tentang Kekuasaan Kehakiman terdiri atas dua pasal. Pasal 24B. legalitas dalam arti hukum. tidak diubah. ”Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. Setelah diubah. Pasal 24B. sebagaimana tercermin dari bunyi Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 yang menegaskan bahwa.” Dalam penjabaran selanjutnya. Sebagaimana diungkapkan oleh Lord Acton. pemberian jasa hukum/penasehat hukum (access to legal counsel). dan Pasal 25. Pada Perubahan Ketiga (tahun 2001) diputus Pasal 24 [kecuali ayat (3)]. yaitu Pasal 24.batasi oleh hukum implikasinya adalah korup. Pasal 24A. bebas dari intervensi pihak mana pun. Pasal 24A. Pasal 24 ayat (3) diputus pada Perubahan Keempat (tahun 2002). pada setiap negara hukum akan terlihat ciri-ciri adanya: 1) 2) 3) jaminan perlindungan hak-hak asasi manusia. dan proses hukum yang adil (due process of law) adalah merupakan prinsip-prinsip negara hukum. Supremasi hukum tidak hanya berlaku bagi yang lemah tetapi bagi seluruh komponen bangsa termasuk negara (pejabat negara). Khusus yang menyangkut kekuasaan kehakiman atau peradilan yang merdeka. “power tends to corrupt. persamaan di depan hukum (equality before the law).

Wewenang dan hal lain yang terkait dengan MK diatur dalam Pasal 24C. 3) wewenang lainnya yang diberikan oleh undang-undang. yaitu Mahkamah Agung. Artinya. Hal itu sesuai dengan penegasan bahwa Undang-Undang Dasar sebagai puncak dalam tata urutan peraturan perundang-undangan di Indonesia. yaitu Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. Pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar 1945 membutuhkan sebuah mahkamah dalam rangka menjaga prinsip konstitusionalitas hukum. Ada konstitusi negara yang menyatukan fungsi Mahkamah Konstitusi ke dalam Mahkamah Agung. Hal-hal mengenai badan lain itu diatur dalam undang-undang. Sesuai dengan ketentuan Pasal 24A ayat (1).Pasal 1 ayat (3). Pembentukan Mahkamah Konstitusi adalah sejalan dengan dianutnya paham negara hukum dalam Undang-Undang Dasar 1945. dan badan peradilan yang berada di bawahnya. Ketentuan Pasal 24 ayat (3) menjadi dasar hukum keberadaan berbagai badan lain yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman. Dalam praktik tidak ada keseragaman di negara-negara di dunia ini mengenai kewenangan Mahkamah Konstitusi. selain badan kekuasaan kehakiman yang telah ada. Mahkamah Agung mempunyai wewenang: 1) mengadili pada tingkat kasasi. Perubahan ketentuan mengenai Mahkamah Agung dilakukan atas pertimbangan untuk memberikan jaminan konstitusional yang lebih kuat terhadap kewenangan dan kinerja Mahkamah Agung. antara lain lembaga penyidik dan lembaga penuntut. semula disesuaikan dengan sejarah dan kebutuhan setiap negara. tidak boleh ada undang-undang dan peraturan perundang-undangan lainnya yang bertentangan dengan Undang-Undang Dasar. ada pula konstitusi negara yang memisahkannya sehingga dibentuk dua badan kekuasaan kehakiman. Mahkamah Konstitusi-lah yang bertugas menjaga konstitusionalitas hukum tersebut. 2) menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang. Dalam negara hukum harus dijaga paham konstitusional. Pada Pasal 24 ayat (2) dibentuk satu lembaga peradilan baru yaitu Mahkamah Konstitusi. Indonesia menganut paham yang 190 Bunga Rampai .

DPD. Pengaturan dalam undang-undang mengenai badan lain yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman membuPenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 191 . Dengan pembentukan Mahkamah Konstitusi tersebut. yakni legislatif.kedua. DPR. Putusan Mahkamah Konstitusi untuk menyelesaikan perbedaan pendapat di tubuh Mahkamah Konstitusi berdasarkan pertimbangan komposisi keanggotaan hakim konstitusi di Mahkamah Konstitusi yang diharapkan dapat menerapkan prinsip saling mengawasi dan saling mengimbangi. Mahkamah Agung. Komposisi hakim konstitusi di Mahkamah Konstitusi merupakan perwujudan tiga cabang kekuasaan negara. Perbedaan pendapat di dalam Mahkamah Konstitusi sendiri diputuskan melalui mekanisme internal Mahkamah Konstitusi. lembaga negara ini juga berwenang memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar 1945. Masih berkaitan dengan kewenangan Mahkamah Konstitusi. proses dan putusan yang diambil terhadap perkara-perkara yang menjadi wewenangnya dapat dilakukan secara lebih baik karena ditangani oleh badan peradilan yang memang khusus dibentuk untuk menangani perkara yang berkaitan dengan pelaksanaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. dan yudikatif. Pada sisi lain adanya Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi dalam kekuasaan kehakiman lebih mempertegas bahwa praktik pemerintahan selama ini yang membedakan adanya lembaga tertinggi negara dan tinggi negara sudah ditinggalkan karena setiap lembaga menjalankan tugas sesuai dengan fungsi yang diberikan oleh Undang-Undang Dasar. antara lain lembaga penyidik dan lembaga penuntut. yakni dari sembilan anggota hakim konstitusi terdiri atas tiga orang yang diajukan oleh DPR. tiga orang yang diajukan oleh Presiden. Hal-hal mengenai badan lain itu diatur dalam undang-undang. dan BPK. Lembaga negara yang kewenangannya diberikan langsung oleh Undang-Undang Dasar 1945. MPR. antara lain Presiden. Ketentuan Pasal 24 ayat (3) menjadi dasar hukum keberadaan berbagai badan lain yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman. dan tiga orang yang diajukan oleh Mahkamah Agung. eksekutif.

ka partisipasi rakyat melalui wakil-wakilnya di DPR untuk memperjuangkan agar aspirasi dan kepentingannya diakomodasi dalam pembentukan undang-undang tersebut. Adanya ketentuan pengaturan dalam undang-undang tersebut merupakan salah satu wujud saling mengawasi dan saling mengimbangi antara kekuasaan yudikatif, Mahkamah Agung dan badan peradilan di bawahnya serta Mahkamah Konstitusi dengan kekuasaan legislatif DPR dan dengan kekuasaan eksekutif lembaga penyidik dan lembaga penuntut. Selain itu, ketentuan itu dimaksudkan untuk mewujudkan sistem peradilan terpadu (integrated judiciary system) di Indonesia. Perubahan Undang-Undang Dasar 1945 juga membentuk lembaga baru yang berada di lingkungan Kekuasaan Kehakiman, yaitu Komisi Yudisial. Pembentukan Komisi Yudisial ini didasari pemikiran bahwa hakim agung yang duduk di Mahkamah Agung dan para hakim merupakan figur yang sangat menentukan dalam perjuangan menegakkan hukum dan keadilan. Apalagi hakim agung duduk pada tingkat peradilan tertinggi (puncak) dalam susunan peradilan di Indonesia sehingga ia menjadi tumpuan harapan bagi pencari keadilan. Sebagai negara hukum, masalah kehormatan dan keluhuran martabat, serta perilaku hakim merupakan hal yang sangat strategis untuk mendukung upaya menegakkan peradilan yang handal dan realisasi paham Indonesia adalah negara hukum. Untuk itu, perubahan Undang-Undang Dasar 1945 memuat ketentuan mengenai pembentukan lembaga di bidang kekuasaan kehakiman bernama Komisi Yudisial yang merupakan lembaga bersifat mandiri. Menurut ketentuan Pasal 24B ayat (1), Komisi Yudisial berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim. Melalui lembaga Komisi Yudisial itu diharapkan dapat diwujudkan lembaga peradilan yang sesuai dengan harapan rakyat sekaligus dapat diwujudkan penegakan hukum dan pencapaian keadilan yang diputus oleh hakim yang terjaga kehormatan dan keluhuran martabat serta perilakunya. Penegakan hukum dan supremasi hukum antara lain dapat dilihat dari kemandirian kekuasaan kehakiman dan dibersihkannya lembaga peradilan dari korupsi, kolusi, dan

192

Bunga Rampai

nepotisme. Sebagai esensi dalam penegakan hukum, kekuasaan kehakiman sebagai salah satu kekuasaan dalam negara memiliki hubungan yang sangat erat dengan cabang kekuasaan lainnya. Kekuasaan kehakiman berfungsi memutus sengketa hukum yang timbul antara anggota masyarakat satu sama lain dan antara anggota masyarakat dengan pemerintah. Wewenang untuk memutus perkara, tujuan akhirnya adalah untuk mewujudkan ketertiban umum di masyarakat melalui putusan yang adil. Perubahan Undang-Undang Dasar 1945 itu dimaksudkan untuk mempertegas bahwa tugas kekuasaan kehakiman dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yakni untuk menyelenggarakan peradilan yang merdeka, bebas dari intervensi pihak mana pun, guna menegakkan hukum dan keadilan. Perubahan Undang-Undang Dasar telah menjamin adanya kemandirian kekuasaan kehakiman. Dengan kekuasaan kehakiman yang merdeka dan mandiri, lembaga-lembaga negara pemegang kekuasaan tersebut dapat bertindak sesuai dengan koridor hukum yang berlaku sehingga pengalaman buruk implementasi kekuasaan kehakiman sebelum reformasi yang penuh dengan rekayasa penguasa dapat dihilangkan. Keadilan tidak boleh dibedakan atas dasar latar belakang (sosial, ekonomi, politik, ideologi, etnisitas, ras, warna kulit, agama, gender, keyakinan politik, dan apapun). Keadilan harus dapat diraih oleh semua orang (kaya,miskin, sipil,militer, swasta, negeri, rakyat, pemimpin, tua dan muda). Artinya, jika pejabat bersalah dapat dihukum oleh pengadilan dan dituntut ganti rugi. Begitu juga jika masyarakat biasa yang bersalah dapat dituntut dan diproses secara hukum sehingga tercapai tujuan hukum yaitu kepastian hukum dan keadilan. Terkait dengan lembaga peradilan, terdapat dua aspek wewenang pokok mengadili dari kekuasaan kehakiman, yaitu aspek institusional berupa jenis-jenis kelembagaan peradilan yang diserahi kekuasaan kehakiman dan aspek fungsional berupa ragam fungsi yang diserahkan oleh undang-undang kepada badan-badan kekuasaan kehakiman. Melalui reposisi fungsi kedudukan lembaga peradilan dalam undang-undang, saat ini terdapat kemajuan yang menggembirakan dimana seluruh kelembagaan tersebut se-

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial

193

cara bersama-sama telah berkomitmen untuk melakukan pembinaan sumber daya manusia aparatur hukum. Wujud dari upaya tersebut, penyelenggaraan peradilan yang bersih dan bebas sudah menjadi pedoman dalam berperkara. Pasal 24A ayat (3) dan Pasal 24B ayat (1) menegaskan bahwa calon hakim agung diusulkan Komisi Yudisial kepada DPR untuk mendapat persetujuan. Keberadaan Komisi Yudisial tidak bisa dipisahkan dari kekuasaan kehakiman. Dari ketentuan ini ditegaskan bahwa jabatan hakim merupakan jabatan kehormatan yang harus dihormati, dijaga, dan ditegakkan kehormatannya oleh suatu lembaga yang juga bersifat mandiri. Dalam hubungannya dengan Mahkamah Agung, tugas Komisi Yudisial hanya dikaitkan dengan fungsi pengusulan pengangkatan Hakim Agung, sedangkan pengusulan pengangkatan hakim lainnya, seperti hakim Mahkamah Konstitusi tidak dikaitkan dengan Komisi Yudisial. Aparatur penegak hukum yang berperan dalam upaya penegakkan hukum penting dikedepankan independensinya dari pengaruh kekuasaan politik Presiden atau pengaruh dari intitusi manapun juga. Independensi dalam melaksanakan tugas pro-yustisia diperlukan karena jabatan pemerintahan sangat dipengaruhi oleh dinamika politik lima tahunan. Komisi Yudisial sebagai lembaga yang berwenang mengusulkan dan mengawasi pengangkatan hakim agung, kedudukannya sangat penting. Kehormatan dan martabat hakim sebagai penentu dalam proses peradilan patut dijaga mengingat putusan hakim adalah mutlak dan mengikat sebagai dasar aparat penegak hukum bertindak. Komisi Yudisial diharapkan dapat membantu mengatasi berbagai bentuk penyalahgunaan wewenang yang terjadi pada lembaga peradilan melalui pencitraan hakim, dengan demikian dapat mendorong terwujudnya peradilan yang bersih dan berwibawa. Upaya pemilihan hakim yang kompeten melalui seleksi calon hakim agung secara ketat disertai dengan pengawasan perilaku hakim agar senantiasa menjunjung tinggi kehormatan, keluhuran martabat, serta perilakunya. Komisi Yudisial sebagai salah satu institusi dalam menjalankan fungsi kehakiman harus dapat menunjukkan kinerja yang profesional dan mengedepankan komitmen untuk mendorong terbangunnya komitmen dan integritas para

194

Bunga Rampai

hakim sehingga para hakim dalam semua tingkat peradilan dapat menjalankan wewenang dan tugasnya secara sungguh-sungguh dengan berdasarkan kebenaran, rasa keadilan, mentaati peraturan perundang-undangan yang berlaku serta bebas dari intervensi kekuasaan dan menjunjung tinggi kode etik. Dengan kewenangan yang dimiliki Komisi Yudisial, diharapkan dapat mewujudkan mekanisme checks and balances dalam lembaga pemegang kekuasaan kehakiman, sehingga akan membantu terwujudnya peradilan Indonesia yang menegakkan supremasi hukum. Upaya mewujudkan peradilan Indonesia yang profesional dan adil perlu dikedepankan mengingat saat ini terdapat kecenderungan berkurangnya kepercayaan masyarakat dan pencari keadilan terhadap badan peradilan yang disebabkan karena proses peradilan yang dilaksanakan kurang transparan dan kurang berfungsinya organ yang bertugas dalam mengawasi perilaku hakim. Dengan kondisi demikian, melalui tugas dan fungsi, diharapkan Komisi Yudisial dapat mempelopori untuk menciptakan kondisi yang dapat membantu mengoptimalkan peran peradilan sehingga dapat mewujudkan lembaga peradilan yang bersih, bermartabat, dan berwibawa serta menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan. Adanya pengawasan melekat pada perilaku hakim dalam menjalankan tugasnya akan memberikan kontrol yang effektif dalam upaya menegakkan keadilan. Komisi Yudisial harus dapat menjalankan tugasnya untuk merekrut dan mengawasi perilaku hakim agar hakim dalam lembaga peradilan benar-benar memiliki integritas, memiliki kemampuan dalam menyelesaikan kasus, serta dapat mengambil putusan yang sesuai dengan peraturan yang berlaku dan mandiri. Dengan fungsinya tersebut, Komisi Yudisial menjadi pengawal dalam mengoreksi semua penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh hakim, Komisi Yudisial dapat menjadi pelopor utama guna menegakkan keluhuran martabat dan perilaku hakim. Dengan adanya pengawasan yang optimal oleh Komisi Yudisial, maka akan membantu pencitraan hakim dalam penyelenggaraan peradilan. Akhirnya saya ingin menegaskan bahwa pencitraan peradilan melalui itikad dan kesungguhan dari penyeleng-

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial

195

gara negara dalam mengimplementasikan seluruh peraturan secara konsekuen akan mendukung pelaksanaan seluruh ketentuan UUD 1945. Peran lembaga peradilan yang menjunjung tinggi hukum dan kesetaraan dalam hukum akan membantu memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap proses hukum dalam lembaga peradilan. Pencitraan hakim melalui seleksi yang ketat oleh lembaga yang berwenang serta pengawasan yang intensif oleh institusi diluar pengadilan akan mendukung terwujudnya netralitas putusan hakim dan membentuk pencitraan hakim yang profesional dan berwibawa.

196

Bunga Rampai

Sinkronisasi Sistem Perundang-undangan Lembaga Peradilan Dalam Menciptakan Peradilan yang Lebih Baik
Trimedya Panjaitan, SH*

INDONESIA adalah negara hukum. Salah satu prinsip penting bagi Indonesia sebagai negara hukum adalah kekuasaan kehakiman yang merdeka. Prinsip ini menghendaki kekuasaan kehakiman yang bebas dari campur tangan pihak manapun dan dalam bentuk apapun, sehingga dalam menjalankan tugas dan kewajibannya ada jaminan ketidakberpihakan kekuasaan kehakiman kecuali terhadap hukum dan keadilan. Prinsip kekuasaan kehakiman yang merdeka telah ditegaskan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yakni dalam Perubahan (Amandemen) Ketiga UUD 1945. Dalam Pasal 24 ayat (1) dinyatakan kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. Sebelumnya, dalam UUD 1945 praamandemen, prinsip ini diatur dalam Pasal 24 UUD 1945, dan diuraikan lebih lanjut dalam penjelasan Pasal 24 yang berbunyi: “Kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan yang merdeka, artinya terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah. Berhubung dengan itu harus diadakan jaminan dalam undang-undang tentang kedudukan para hakim”.1

*
1

Penulis adalah Ketua Komisi III DPR RI, Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Kutipan dari penjelasan UUD 1945 sebelum amandemen ini untuk menunjukkan bahwa sejak awal, yaitu oleh para pendiri bangsa, telah diterima gagasan adanya lembaga yudikatif yang mandiri dan bebas dari pengaruh kekuasaan lain.

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial

197

Dan khusus untuk kekuasaan kehakiman. 198 Bunga Rampai . Membangun Politik Hukum. Sedangkan Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar. dinyatakan bahwa kekuasaan kehakiman itu dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum. atau secara lebih spesifik melakukan constitutional review) atas undang-undang terhadap UndangUndang Dasar. dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi. Menegakkan Konstitusi. Bunga Rampai Hukum Tata Negara Indonesia. Mahkamah Agung berwenang mengadili pada tingkat kasasi. memutus pendapat DPR bahwa Presiden telah melanggar hal-hal 2 Lihat Sri Soemantri. dan Mahfud MD. menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang. Mahkamah Konstitusi juga mempunyai tugas khusus lain yaitu memutus pendapat DPR bahwa Presiden/Wakil Presiden tidak lagi memenuhi syarat. memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar. Namun pelembagaan berbagai kekuasaan negara di Indonesia jelas menunjukkan adanya keterpengaruhan pada paham Trias Politica. Pada Pasal 24 ayat (2) UUD 1945. lingkungan peradilan militer. memutus pembubaran partai politik. 2006. dinyatakan secara tegas oleh UUD 1945 sebagai kekuasaan negara yang terpisah dari kekuasaan-kekuasaan negara lainnya.2 Kekuasaan kehakiman di Indonesia dilaksanakan oleh Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi dengan kompentensi yang berbeda. lingkungan peradilan tata usaha negara. dan mempunyai wewenang lainnya yang diberikan oleh undang-undang (pasal 24A ayat 1). 1978. dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum (pasal 24C ayat 1).Negara Indonesia berdasarkan UUD 1945 tidak menganut secara penuh paham Trias Politica dan pemisahan kekuasaan. Dengan demikian Mahkamah Konstitusi dimunculkan sebagai lembaga negara dengan tugas melakukan uji materi (judicial review. lingkungan peradilan agama.

memutus sengketa kewenangan antar lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar. Dengan demikian konstitusi telah memberikan landasan hukum yang kuat bagi reformasi di bidang hukum dengan memberikan kewenangan kepada Komisi Yudisial. serta perilaku hakim (pasal 24B ayat 1). serta memutus pembubaran partai politik dan memutus sengketa hasil pemilu. ditambah dengan kewenangan menguji materi perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Sedangkan Mahkamah Agung mengadili perkara-perkara konvensional (perkara-perkara di lingkungan peradilan umum. dan peradilan tata usaha negara). Konstitusi juga memperkenalkan lembaga baru di dalam rumpun kekuasaan kehakiman.tertentu yang disebutkan di dalam Undang-Undang Dasar sehingga mereka dapat diproses untuk diberhentikan. peradilan militer. namun sebagai lembaga pembantu (state auxiliary organ). keluhuran martabat. Sehingga para anggota DPR/MPR RI sebagai representasi dari rakyat menilai perlunya dibentuk Komisi Yudisial (judicial committee) sebagai lembaga pengawas eksternal terhadap kekuasaan kehakiman.3 Hasilnya adalah pengaturan Komisi Yudisial dalam Pasal 24B Perubahan Ketiga UUD 1945 yang ditetap- 3 Lihat keterangan para saksi dari mantan Anggota Panitia Ad Hoc (PAH) I Badan Pekerja MPR dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 005/PUU-IV/2006 dalam perkara permohonan uji materi terhadap UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 199 . Komisi Yudisial bukan merupakan pemegang kekuasaan kehakiman. peradilan agama. untuk melakukan pengawasan terhadap perilaku hakim. Pada awalnya ide dasar pembentukan Komisi Yudisial dilatarbelakangi kekhawatiran akan timbulnya tirani yudisial pasca pemberlakuan sistem satu atap di Mahkamah Agung dan pemberian kemandirian dan kemerdekaan kepada institusi pemegang kekuasaan kehakiman ini. Dalam Konstitusi diatur bahwa Komisi Yudisial merupakan lembaga yang bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan Hakim Agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. yakni Komisi Yudisial. sebagai supporting elemen dalam kekuasan kehakiman.

peralihan harus se- 200 Bunga Rampai . Adapun tentang Mahkamah Agung diatur dalam UU Nomor 5 Tahun 2004 tentang Perubahan atas UU Nomor 14 Tahun 1985. Kebijakan atap tunggal atau one roof system diawali dengan pembuatan Ketetapan MPR Nomor X/MPR/1998 tentang Pokok-pokok Reformasi Pembangunan yang menetapkan kekuasaan kehakiman bebas dan terpisah dari kekuasaan eksekutif. peralihan sudah selesai paling lambat 31 Maret 2004 (pasal 42 ayat 1). Untuk lingkungan peradilan umum dan peradilan tata usaha negara. Untuk peradilan agama. Secara konseptual. administrasi. dan finansial yang sebelumnya diatur oleh eksekutif (Departemen Kehakiman). Dalam UU Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman ditegaskan bahwa organisasi.kan dalam Sidang Tahunan MPR Tahun 2001. Selanjutnya. urusan teknis yudisial dan kepegawaian korps hakim di negeri ini sekarang berada di satu tangan. dan Finansial Lembaga Peradilan dari Departemen Kehakiman ke Mahkamah Agung. kemandirian kekuasaan kehakiman dapat tercapai jika organisasi. dan finansial Mahkamah Konstitusi berada di bawah kekuasaan dan kewenangan Mahkamah Konstitusi. administrasi. sebagaimana telah diubah dan dicabut dengan UU Nomor 4 Tahun 2004 tetang Kekuasaan Kehakiman. sistem satu atap kekuasan kehakiman merupakan unsur penting dari kemandirian kekuasaan kehakiman (judicial independence). Dengan kata lain. tetapi juga menangani organisasi. di tingkat pelaksanaan. dan finansial Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya berada di bawah kekuasaan Mahkamah Agung (pasal 13 ayat 1). administrasi. yang dilaksanakan sejak 31 Maret Tahun 2004. Sedangkan dalam pasal 13 ayat (2) disebutkan bahwa organisasi. Dengan konsep satu atap kekuasaan kehakiman. Perlu digarisbawahi. sepenuhnya menjadi tanggung jawab Mahkamah Agung. administrasi. diatur dalam Keputusan Presiden Nomor 21 Tahun 2004 tentang Pelaksanaan Pengalihan Urusan Organisasi. dan keuangan lembaga peradilan ditangani sendiri oleh institusi pemegang kekuasaan kehakiman. Mahkamah Agung tidak hanya mengurusi pembinaan para hakim. dan peradilan militer. Administrasi. Selanjutnya sistem satu atap diatur dan dijabarkan dalam Undang-undang (UU) Nomor 35 Tahun 1999 tentang Perubahan UU Nomor 14 Tahun 1970.

struktur baru ini bisa memikul beban yang dialihkan dari Departemen Kehakiman ke Mahkamah Agung. Sinkronisasi UU Pengaturan lebih lanjut tentang Komisi Yudisial terdapat dalam UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. kekuasaan negara didominasi oleh kekuasaan eksekutif. Dalam undang-undang ini diatur secara rinci mengenai wewenang dan tugas Komisi Yudisial. Selanjutnya pada sekretariat Mahkamah Agung dibentuk beberapa direktorat jenderal dan kepala badan. Namun. Selama Orde Baru. juga berakar pada sistem pengelolaannya. Jabatan panitera dan sekretaris Mahkamah Agung juga dipisahkan. Putusan MK. serta menangani urusan administratif yang terkait dengan teknis peradilan seperti pembagian perkara. dan mutasi hakim. Sementara dengan UU Nomor 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung. diserahkan kepada wakil ketua nonyudisial yang membawahi ketua muda pembinaan dan ketua muda pengawasan. hal tersebut menjadi sulit dilakukan karena adanya dualisme kendali. dan diharapkan akan memudahkan pengawasan terhadap para hakim. sedangkan pengadilan militer baru diserahkan oleh Panglima TNI pada 1 September 2004. Ketiadaan independensi kekuasaan kehakiman. Diharapkan. Wakil ketua bidang yudisial membawahi ketua muda perdata. yakni ada dua wakil ketua dari sebelumnya hanya satu. dan ketua muda tata usaha negara. realisasinya terlambat. administratif. yakni masih dijalankannya sistem pengelolaan kekuasaan kehakiman oleh pemerintah mengenai bidang-bidang organisasi. Pengadilan agama baru diserahkan oleh Departemen Agama pada 30 Juni 2004. promosi. struktur Mahkamah Agung mengalami perubahan. ketua muda agama. Sedangkan soal administrasi umum termasuk pengawasan.lesai paling lambat 30 Juni 2004 (pasal 42 ayat 2 dan ayat 3). Komisi Yudisial mempunyai tugas mengusulkan pengangkatan Hakim Agung dan wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kePenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 201 . selain karena tekanan rezim yang begitu kuat. ketua muda militer. Sistem satu atap kekuasaan kehakiman ini sesuai dengan tuntutan reformasi. dan finansial. Selama ini. ketua muda pidana.

Mahkamah Konstitusi me- 202 Bunga Rampai . kemudian Komisi Yudisial menggagas kocok ulang Hakim Agung. serta perilaku hakim.hormatan. sebab yang dipermasalahkan oleh pemohon adalah tentang objek pengawasan Komisi Yudisial yaitu para Hakim Agung dan hakim Mahkamah Konstitusi bukan fungsi pengawasannya itu sendiri. Awalnya Komisi Yudisial merasa adanya kesulitan untuk meminta keterangan dari Ketua Mahkamah Agung dalam suatu kasus yang menarik perhatian masyarakat. yakni Hakim Agung dan hakim pada badan peradilan di semua lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung serta hakim Mahkamah Konstitusi. Terhadap permohonan terkait objek pengawasan oleh Komisi Yudisial itu Mahkamah Konstitusi hanya mengecualikan dirinya sendiri dari objek pengawasan. yang diputuskan adalah fungsi atau kewenangan pengawasan terhadap hakim oleh Komisi Yudisial yang sama sekali tidak dimohonkan oleh para pemohon. Dalam putusannya Mahkamah Konstitusi membatalkan fungsi pengawasan Komisi Yudisial karena bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat karena terbukti menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid). sedang Hakim Agung tidak dikecualikan dari objek pengawasan Untuk mengatasi akibat kekosongan hukum yang terlalu lama berkaitan dengan tugas Komisi Yudisial. Amar putusan Mahkamah Konstitusi ini sebenarnya telah memutuskan halhal yang tidak diajukan dalam permohonan judicial review. Dalam perkembangannya pelaksanaan pengawasan terhadap hakim oleh Komisi Yudisial yang didasarkan pada UU Nomor 22 Tahun 2004 dipersoalkan oleh para Hakim Agung. Permohonan judicial review ini dikabulkan sebagian oleh Mahkamah Konstitusi. Konflik berkembang sedemikian rupa hingga berpuncak pada pengajuan uji materi atau judicial review terhadap UU Nomor 22 Tahun 2004 oleh 31 orang Hakim Agung. Para Hakim Agung tersebut meminta agar pasal-pasal dalam UU Nomor 22 Tahun 2004 yang menyangkut kewenangan Komisi Yudisial mengawasi Hakim Agung dan hakim Mahkamah Konstitusi dibatalkan. Ini merupakan buntut dari konflik antara Komisi Yudisial dengan Mahkamah Agung. khususnya yang berkaitan dengan ketentuan mengenai fungsi pengawasan terhadap perilaku hakim. keluhuran martabat.

Menurut Bagir. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 203 . UU Nomor 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung. baik pembentukan undang-undang baru atau undang-undang perubahan/amandemen. harmonisasi. revisi UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial sebaiknya memang tidak secara sepotong-sepotong tapi dilakukan secara komprehensif dalam satu paket dengan revisi seluruh undang-undang di bidang kekuasaan kehakiman.nyatakan UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial harus segera disempurnakan melalui proses perubahan undang-undang sebagaimana mestinya. adalah wilayah legislatif.4 4 Kompas. UU Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. Sebab urusan atau kewenangan pembentukan undang-undang. serta sinkronisasi terhadap berbagai peraturan perundangan-undangan di bidang kekuasaan kehakiman sudah mengemuka di berbagai kalangan. dan undang-undang lain yang terkait dengan sistem peradilan terpadu. yang menyarankan DPR dan Presiden (yang secara bersama-sama memegang kekuasaan membentuk undang-undang) untuk melakukan perubahan terhadap berbagai peraturan perundanganundangan di bidang kekuasaan kehakiman ini sebenarnya tidak lazim. termasuk UU Nomor 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung. dari segi substansi tidak ada masalah dengan saran Mahkamah Konstitusi itu karena sebenarnya wacana atau keinginan melakukan penyempurnaan. Mahkamah Konstitusi juga menyarankan kepada DPR dan Presiden untuk melakukan perbaikan-perbaikan yang bersifat integral dengan juga mengadakan perubahan dalam rangka harmonisasi dan sinkronisasi atas UU Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. termasuk dari Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial. Mahkamah Agung sedang mengkaji hal-hal yang perlu disinkronkan dari delapan undang-undang tentang kekuasaan kehakiman. Namun demikian. Untuk itu. 28 September 2006. Putusan Mahkamah Konstitusi. Mahkamah Agung telah menugasi sejumlah Hakim Agung dan Ikatan Hakim Indonesia untuk melakukan kajian secara mendalam. Menurut Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan. MA: Revisi UU KY agar Dilakukan secara Integral. Perlu Sinkronisasi Semua UU agar Tak Simpang Siur.

Alasannya karena kita masih menghadapi masalah sinkronisasi hukum baik secara horisontal maupun vertikal. UU Peradilan Agama. UU Peradilan Umum. yaitu UU Kekuasaan Kehakiman. UU Peradilan Militer. Badan Legislatif DPR sedang menyiapkan paket Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan atas UU Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana sudah diubah dengan UU Nomor 5 Tahun 2004. RUU tentang Perubahan atas UU Komisi Yudisial dan RUU tentang Perubahan atas UU Mahkamah Konstitusi sudah masuk dalam Prioritas Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Tahun 2007. 19 September 2006. dan kini sedang dalam tahap penyempurnaan setelah menerima masukan dari berbagai pihak terkait seperti Ikatan Hakim Indonesia (Ikahi) dan pakar hukum. RUU tentang Perubahan atas UU Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. dan karenanya perlu didorong agar juga masuk dalam kategori prioritas. 204 Bunga Rampai . secara keseluruhan Komisi Yudisial membahas delapan undang-undang di bidang kekuasaan kehakiman.Pendapat atau keinginan yang sama diungkapkan oleh Komisi Yudisial. yakni 5 6 Disampaikan Pimpinan Komisi Yudisial dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi III DPR RI. antara lain dengan memberikan batasan tentang materi undang-undang yang dapat diajukan permohonan judicial review. UU Mahkamah Konstitusi.5 Ketika membuat revisi atas UU Komisi Yudisial. Terhadap UU Mahkamah Konstitusi. diusulkan tentang perlunya beberapa perbaikan. yaitu UU Peradilan Agama.6 Dengan demikian tinggal RUU tentang Perubahan atas UU Mahkamah Agung dan RUU tentang Perubahan atas UU Kekuasaan Kehakiman yang belum masuk dalam Prioritas Prolegnas 2007. Menyikapi putusan Mahkamah Konstitusi di atas. belum lama direvisi oleh DPR bersama pemerintah. Sementara satu undang-undang lainnya yang masuk rumpun kekuasaan kehakiman. UU Komisi Yudisial. Draf pertama dari ketiga RUU inisiatif DPR itu sudah selesai disusun. dan UU tentang Peradilan Tata Usaha Negara. UU Mahkamah Agung. dan RUU tentang Perubahan atas UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. Lihat Prioritas Program Legislasi Nasional 2007 sesuai dengan Keputusan DPR RI Nomor: 07A/DPR RI-RI/I/2006-2007. misalnya.

dan RUU MA Dalam draft pertama RUU tentang Perubahan atas UU Komisi Yudisial yang disusun oleh Badan Legislatif DPR (posisi draft pada 27 Desember 2006). RUU KY. disampaikan oleh Komisi Yudisial kepada pimpinan Mahkamah Agung dan tembusannya disampaikan kepada Presiden dan DPR. dan sinkronisasi UU Peradilan Militer terhadap berbagai undang-undang di bidang kekuasaan kehakiman lainnya dapat dilakukan melalui pembahasan RUU yang sedang berlangsung di DPR. pemberhentian sementara. Dengan demikian revisi. keluhuran martabat dan perilaku hakim yang tata caranya diatur dalam pasal 22A dan 22B. Penguatan terhadap kedudukan Komisi Yudisial diatur dalam pasal 22C draft RUU yang menyebutkan bahwa Komisi Yudisial dapat membuat keputusan atas dugaan pelanggaran perilaku hakim dengan memberikan teguran tertulis. sehingga menurut hemat penulis belum prioritas untuk direvisi. keputusan dapat berupa: a. b. teguran tertulis. atau pemberhentian permanen. kedudukan Komisi Yudisial diperkuat. pemberhentian sementara. Keputusan tersebut merupakan hasil dari pelaksanaan tugas Komisi Yudisial dalam menjaga dan menegakkan kehormatan. Untuk jelasnya kita lihat bunyi rumusan Pasal 22C ayat (2) draf pertama RUU tentang Perubahan atas UU Komisi Yudisial (selanjutnya disingkat RUU Komisi Yudisial): Dalam hal pelanggaran aturan perilaku hakim dinyatakan terbukti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. harmonisasi. Sedangkan RUU tentang Perubahan atas UU Nomor 31 tahun 1997 tentang Peradilan Militer saat ini sedang dibahas di DPR. RUU MK. Ketentuan ini juga diatur dalam pasal 32A draf pertama RUU tentang Perubahan atas UU Mahkamah Agung (posisi draft pada 27 Desember 2006). atau c. pemberhentian.melalui UU Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan atas UU Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Dalam draft RUU Komisi Yudisial juga dipertegas bahwa Hakim Agung termasuk objek pengawasan Komisi Yudisial bersama hakim pada semua badan peradilan di bawah Mahkamah Agung (pasal 1 angka 4). atau disisipkan di antara pasal 32 dan 33 UU MahkaPenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 205 . Kemudian dalam ayat (3) diatur: Putusan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bersifat mengikat.

UU Kekuasaan Kehakiman juga sudah mencantumkan tentang kedudukan Hakim Agung sebagai objek pengawasan Komisi Yudisial. menurut penulis.mah Agung yang berlaku saat ini. penyusun draft RUU tentang Perubahan atas UU Mahkamah Agung (selanjutnya disingkat RUU Mahkamah Agung) juga telah mengubah bunyi pasal 32 UU Mahkamah Agung dari semula terdiri dari lima ayat menjadi tiga ayat. yakni dalam pasal 34 ayat 3 yang berbunyi: Dalam rangka menjaga kehormatan. yang menyatakan bahwa pengawasan atas perilaku Hakim Agung dilakukan oleh Komisi Yudisial. Ketentuan seperti ini. Ini merupakan upaya sinkronisasi tentang kewenangan pengawasan terhadap hakim dalam peraturan-peraturan perundang-undangan di bidang kekuasaan kehakiman. sesuai putusan Mahkamah Konstitusi. keluhuran martabat serta perilaku hakim agung dan hakim. Untuk diketahui. Sebab sikap Mahkamah Konstitusi 206 Bunga Rampai . Oleh karena itu ketentuan mengenai pelaksanaan kewenangan Komisi Yudisial untuk menjatuhkan sanksi kepada hakim ini termasuk yang masih perlu disinkronisasikan dan diatur teknis pelaksanaannya dalam RUU Mahkamah Agung dan RUU Kekuasaan Kehakiman. dalam RUU Komisi Yudisial memang belum diatur tentang mekanisme pelaksanaan putusan Komisi Yudisial tersebut oleh Mahkamah Agung. selain UU Komisi Yudisial. sebab pengawasan terhadap perilaku hakim merupakan kewenangan Komisi Yudisial. Sejalan dengan itu. Namun. Sementara itu. hakim Mahkamah Konstitusi dikecualikan dari pengawasan Komisi Yudisial dan semua ketentuan yang menyangkut hakim Mahkamah Konstitusi dihapus dalam draft RUU Komisi Yudisial. Sedangkan pencantuman pengaturan kewenangan Komisi Yudisial melakukan pengawasan terhadap Hakim Agung dalam draft RUU Mahkamah Agung merupakan upaya sinkronisasi UU Mahkamah Agung terhadap UU Komisi Yudisial dan UU Kekuasaan Kehakiman. perlu dikaji ulang secara mendalam. pengawasan dilakukan oleh Komisi Yudisial yang diatur dalam undang-undang. Perubahan terpenting adalah menghilangkan ketentuan pasal 32 ayat (2) yang mengatur kewenangan Mahkamah Agung untuk mengawasi tingkah laku dan perbuatan para hakim di semua lingkungan peradilan dalam menjalankan tugasnya.

Sedangkan dalam ayat (2) disebutkan bahwa hakim Mahkamah Konstitusi tidak berwenang melakukan pengujian atas undang-undang yang berkaitan dengan tugas dan wewenang Mahkamah Konstitusi. dan bukan dalam kerangka hubungan checks and balances. dan berwibawa. yakni hanya meliputi undang-undang yang diundangkan setelah perubahan UUD 1945 (pasal 50 ayat 1 RUU Mahkamah Konstitusi). dan memutus permohonan pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar. bersih.7 Ketentuan penting dalam draf pertama RUU tentang Perubahan atas UU Mahkamah Konstitusi (selanjutnya disingkat RUU Mahkamah Konstitusi) yang disusun Badan Legislatif DPR (posisi draft pada 27 Desember 2006). lihat pertimbangan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 005/PUU-IV/2006 dalam perkara permohonan uji materi terhadap UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 207 . mengadili. antara lain. Pasal substantif lainnya adalah pembatasan kewenangan Mahkamah Konstitusi dalam memeriksa. terdapat dalam pasal 45A yang mengatur bahwa Mahkamah Konstitusi tidak boleh memutus perkara melebihi daripada yang diminta sebagaimana dalam surat permohonanannya (ultra petita). Pengaturan dalam pasal 50 RUU Mahkamah Konstitusi ini lebih rinci dan tegas dibandingkan pasal 50 dalam UU Mahkamah Konstitusi yang sudah dicabut atau dibatalkan Mahkamah Konstitusi. Pembatalan itu dilakukan Mahka- 7 Tentang kenapa fungsi pengawasan Komisi Yudisial harus dimaksudkan dalam posisi sebagai suppoting element dan bukan check and balances. apakah pengecualian hakim Mahkamah Konstitusi dari objek pengawasan Komisi Yudisial sudah tepat. antara lain dalam kasus permohonan uji materi terhadap UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial seperti sudah disinggung di atas. Larangan seperti ini dilatarbelakangi adanya putusan Mahkamah Konstitusi yang melebihi permohonan.yang mengecualikan dirinya sendiri dari objek pengawasan Komisi Yudisial ini termasuk kontroversial dan mendapatkan kritikan dari berbagai kalangan. Perlu dikaji. Apapun hasil pengkajian itu penting dicatat bahwa pengawasan oleh Komisi Yudisial yang dimaksud di sini adalah sebagai supporting element dalam rangka mendukung kekuasaan kehakiman yang merdeka.

sedangkan legislative review masuk dalam wilayah kewenangan legislatif atau pembentuk undang-undang. Judicial review merupakan wilayah kewenangan Mahkamah Konstitusi. Termasuk dalam wilayah legislative review adalah review atau penilaian apabila tidak ada kepastian hukum karena adanya undang-undang yang saling bertentangan dengan undang-undang lain. tanpa batasan waktu.8 Sebab jika 8 Lihat Mahfud MD. Perlu dikaji tentang perlunya pembedaan antara judicial review dan legislative review. dengan tambahan adanya ayat (2). telah mengatur pembatasan undang-undang yang dapat dilakukan uji materi oleh Mahkamah Konstitusi dari segi rationne temporis (keberlakuan waktu). Pasca Putusan MK (1): Selamat Datang Kembali Mafia Peradilan. Namun belum diatur pembatasan dari segi rationne materiae (materi pengujian) yang masuk dalam kewenangan Mahkamah Konstitusi. mengadili. dan memutus suatu perkara di mana ia sendiri terlibat (ikut menjadi pihak) di dalamnya”. Dihidupkannya kembali pasal 50 dalam draft RUU Mahkamah Konstitusi. Hukum Online. Dalam penjelasan pasal 50 ayat 2 disebutkan. Dengan membatalkan Pasal 50 yang menganut asas tidak berlaku surut tersebut juga berarti Mahkamah Konstitusi telah memberikan kewenangan kepada dirinya sendiri untuk untuk menguji seluruh undang-undang yang berlaku di Indonesia. sekaligus menutup celah bagi Mahkamah Konstitusi untuk mengatur dirinya sendiri melalui putusan uji materi terhadap undang-undang yang terkait Mahkamah Konstitusi. 208 Bunga Rampai .mah Konstitusi saat memeriksa permohonan uji materi UU Nomor 1 Tahun 1987 tentang Kamar Dagang dan Industri. Dari ketentuan pasal 50 draft RUU Mahkamah Konstitusi tersebut dapat diketahui bahwa DPR. “Hal ini sesuai asas bahwa seorang hakim tidak dapat berlaku adil dalam memeriksa. telah membatasi Mahkamah Konstitusi untuk menguji undangundang yang diundangkan sebelum amandemen UUD 1945. dalam hal ini Badan Legislatif. 27 Agustus 2006. Pembatalan pasal 50 itu dilakukan Mahkamah Konstitusi sebagai pintu masuk untuk dapat memeriksa uji materi terhadap undang-undang yang diundangkan sebelum perubahan atau amandemen UUD 1945 tersebut.

Dari berbagai undangundang di bidang kekuasaan kehakiman. dan Tipikor Selain revisi. antara lain. sedangkan tindak pidana umum yang dilakukan militer masuk jurisdiksi peradilan umum. yang perlu segera dilakukan revisi. harmonisasi. UU Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM). dan yang berwenang melakukannya adalah lembaga legislatif. dan sinkronisasi terhadap undang-undang yang mengatur lembaga pemegang kekuasaan kehakiman (yakni Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi sebagai principal organ) dan Komisi Yudisial (sebagai auxiliary organ dalam kekuasaan kehakiman). dan sinkronisasi. HAM. harmonisasi.terjadi pertentangan antara satu undang-undang dengan undang-undang lainnya maka perlu dilakukan harmonisasi atau sinkronisasi antara undang-undang yang saling bertentangan itu melalui revisi atau perubahan terhadap undang-undang dimaksud. upaya yang sama juga harus dilakukan terhadap berbagai undang-undang yang mengatur tentang badan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung. Sementara Panitia Khusus (Pansus) DPR untuk RUU Peradilan Militer menghendaki agar jurisdiksi peradilan militer dibatasi pada tindak pidana militer. Pembahasan terhadap RUU Peradilan Militer yang merupakan amanat reformasi ini sempat mengalami kebuntuan karena adanya perbedaan pendapat mengenai yurisdiksi peradilan militer yang diatur dalam pasal 9 RUU Peradilan Militer. Sikap DPR ini merujuk pada Ketetapan MPR Nomor VII/ MPR/2000 tentang Peran TNI dan Peran Polri dan UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI yang menegaskan bahwa Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 209 . dan UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang di dalamnya diatur dasar hukum tentang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. adalah UU Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer. Semula Departemen Pertahanan menghendaki agar semua tindak pidana yang dilakukan militer diadili di peradilan militer. Sebagaimana telah disinggung di atas. RUU Peradilan Militer. pembahasan RUU tentang Perubahan atas UU Nomor 31 tahun 1997 tentang Peradilan Militer (selanjutnya disingkat RUU Peradilan Militer) saat ini sedang dilakukan oleh DPR bersama pemerintah.

dan ditegaskan lagi oleh Menteri Pertahanan dalam Rapat 210 Bunga Rampai . Selanjutnya dinyatakan bahwa Ketetapan MPR Nomor VII/MPR/2000 maupun Pasal 65 jo Pasal 74 UU Nomor 34 Tahun 2004 tidak bisa dijadikan dasar penyusunan RUU Peradilan Militer. yaitu ketidakrelaan militer untuk tunduk pada peradilan umum dan disidik oleh polisi. Kemudian dalam Pasal 74 undang-undang yang sama disebutkan Pasal 65 ayat 2 bisa berlaku setelah undang-undang yang baru tentang Peradilan Militer diberlakukan. Dalam Pasal 3 ayat (4b) Ketetapan MPR Nomor VII/MPR/2000 disebutkan: “Prajurit Tentara Nasional Indonesia tunduk kepada kekuasaan peradilan militer dalam hal pelanggaran hukum militer dan tunduk kepada kekuasaan peradilan umum dalam hal pelanggaran hukum pidana umum”. dan tampaknya lebih karena persoalan kultur.TNI selain tunduk pada peradilan militer juga patuh pada peradilan umum. sedangkan apabila melanggar tindak pidana militer akan diadili di peradilan militer. Setelah melalui perdebatan panjang lebih dari satu tahun. atas argumen tersebut. DPR memiliki landasan hukum yang lebih kuat karena merujuk pada Ketetapan MPR Nomor VII/MPR/2000 dan UU Nomor 34 Tahun 2004. pemerintah akhirnya sependapat dengan DPR bahwa militer akan diadili di peradilan umum apabila melakukan tindak pidana umum. khususnya semangat menegakkan prinsip demokrasi dan adanya kontrol sipil pada militer. Sedangkan Pasal 65 ayat 2 UU Nomor 34 Tahun 2004 menyebutkan. Persetujuan itu disampaikan dalam Surat Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono kepada pimpinan DPR tanggal 30 Januari 2007. Menurut pemerintah. Merujuk pada argumen masing-masing pihak. Akan tetapi. Pasal 65 UU No 34 Tahun 2004 itu adalah substansi yang dipaksakan. pemerintah (dalam hal ini Menteri Pertahanan) memberikan jawaban yang mengejutkan. Sementara resistensi TNI (sebagaimana tergambar dalam sikap Menteri Pertahanan) untuk tunduk pada jurisdiksi peradilan sipil memiliki alasan yang lemah. Hal ini juga sesuai dengan semangat reformasi. ”Prajurit tunduk kepada kekuasaan peradilan militer dalam hal pelanggaran hukum pidana militer dan tunduk pada kekuasaan peradilan umum dalam hal pelanggaran hukum pidana umum yang diatur dengan undang-undang”.

Jika prajurit melakukan tindak pidana umum maka diadili di peradilan umum. antara lain. Dalam DIM itu banyak istilah ’Prajurit’ yang kemudian diubah menjadi ’Militer’. Revisi UU Peradilan Militer perlu mempertimbangkan UU Pengadilan HAM mengingat prajurit TNI merupakan salah satu subjek hukum dari jurisdiksi Pengadilan HAM. Perubahan istilah ini dianggap mengandung jebakan. 8 Februari 2007. Perubahan istilah ’Prajurit’ ke ’Militer’ itu dikhawatirkan mengarah ke institusi. Indonesia dapat dicurigai tidak mau menyesuaikan diri dengan standar internasional. Kata ’Prajurit’ itu berkonotasi pada individu. Dalam kurun waktu tersebut. Pansus RUU Peradilan Militer Khawatirkan Isi DIM Baru Pemerintah. yang perlu diperhatikan adalah bahwa revisi UU Peradilan Militer harus mempertimbangkan UU Nomor 26 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM). bukan institusinya. Sehingga dikhawatirkan bisa terjadi kesulitan untuk mengadili individu prajurit yang melakukan tindak pidana umum itu ke peradilan umum. diatur bahwa “setiap orang adalah orang perseorangan. bukan ke arah individu yang melakukan tindak pidana. pemerintah dan DPR secara simultan akan merevisi undangundang terkait. Tapi. tercapainya kesepakatan DPR dengan pemerintah tentang jurisdiksi peradilan militer tidak berarti pembahasan RUU Peradilan Militer akan berjalan mulus. sedangkan ’Militer’ mengarah pada institusinya. Dalam UU Pengadilan HAM.9 Selanjutnya. Pasalnya. kelompok 9 Lihat Republika.Pansus RUU Peradilan Militer. Dalam rapat tersebut Pansus DPR dan pemerintah juga mulai menyepakati adanya masa transisi pemberlakuan UU Peradilan Militer selama dua sampai tiga tahun. 28 Juni 2007 Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 211 . Hal ini bisa mengakibatkan munculnya usulan pembentukan pengadilan internasional dalam kasus kejahatan perang atau kemanusiaan. jika revisi tersebut tidak mempertimbangkan UU Pengadilan HAM. terutama terfokus pada UU Nomor 39 Tahun 1947 tentang Kitab Undang-undang Hukum Pidana Militer berikut hukum acaranya. Saat ini ada persoalan baru berkaitan dengan isi Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) tambahan dari pemerintah.

militer. mengenai dalam tahap mana dalam proses hukum kasus pelanggaran HAM berat diperlukan rekomendasi DPR sebagai syarat untuk pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. dan Kejaksaan Agung di pihak lain. Dalam kasus tersebut Kejaksaan Agung menolak menindaklanjuti hasil penyelidikan Komnas HAM dengan alasan penyidikan tidak bisa dilakukan tanpa didahului pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. Pendapat ini didukung sebagian besar anggota Komisi III DPR.orang. yang menyatakan rekomendasi DPR RI adalah untuk pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. di mana Pengadilan HAM Ad Hoc dibentuk dengan Keputusan Presiden RI berdasarkan rekomendasi DPR RI. Terhadap UU Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM sendiri juga perlu dilakukan revisi atau penyempurnaan. Secara hubungan pasal tidak ada hubungan penyelidikan dan penyidikan dengan pembentukan pengadilan Ad Hoc tersebut sehingga tidak beralasan jika Kejaksaan mengatakan harus 212 Bunga Rampai . baik sipil. Perbedaan pendapat ini telah menyebabkan terjadinya kebuntuan dalam penindaklanjutan proses hukum kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi sebelum adanya UU Nomor 26 Tahun 2000. Kemudian dalam pasal 49 (masuk dalam Bab X tentang Ketentuan Penutup) dinyatakan bahwa ketentuan mengenai kewenangan Atasan Yang Berhak Menghukum dan Perwira Penyerah Perkara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74 dan Pasal 123 Undangundang Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer dinyatakan tidak berlaku dalam pemeriksaan pelanggaran hak asasi manusia yang berat menurut undang-undang ini. antara lain dalam kasus penghilangan orang secara paksa periode 1997-1998. Selama ini terdapat perbedaan penafsiran antara DPR dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) di satu pihak. ketentuan pasal 43 UU Pengadilan HAM yang mengatur tentang rekomendasi DPR untuk pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. namun tidak terbatas pada. komisi yang membidangi hukum dan menjadi pasangan kerja Jaksa Agung RI dan Komnas HAM. maupun polisi yang bertanggung jawab secara individual” (pasal 1 ayat 3). Revisi ini khususnya terhadap. Sementara Komnas HAM berpendapat Jaksa Agung dapat menindaklanjuti hasil penyelidikan Komnas HAM dengan melakukan penyidikan tanpa didahului pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc.

Terkait argumen Komnas HAM yang didukung DPR di atas. Mahkamah Konstitusi menyatakan Pasal 53 UU Nomor 30 Tahun 2002 bertentangan dengan UUD 1945. serta pasal 23 dan 24 (penuntutan). Terhadap perbedaan penafsiran yang meruncing dan menimbulkan kebuntuan hukum ini tentu perlu dicarikan jalan keluar dengan membuat rumusan undang-undang yang lebih tegas dan jelas. khususnya menyangkut pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. dan kewenangan DPR untuk mengusulkan. dapat kita lihat pasal-pasal yang mengatur tentang penyelidikan. Kewenangan penyidikan dan penuntutan ada di tangan Kejaksaan Agung. namun tetap memiliki kekuatan hukum mengi- Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 213 . dan pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. penyidikan. mengeluarkan rekomendasi. dan diatur pada pasal 19 dan 20 UU Nomor 26 Tahun 2000. Keputusan politik DPR baru diperlukan jika hasil penyidikan akan dilanjutkan dengan proses penuntutan di pengadilan dan karena itu harus dibentuk Pengadilan HAM Ad Hoc.ada keputusan politik dari DPR lebih dulu untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan. Kewenangan penyelidikan kasus pelanggaran HAM berat berada di Komnas HAM. Sementara pengaturan tentang pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc diatur dalam pasal 43 yang menyatakan Pengadilan HAM Ad Hoc dibentuk atas usul DPR RI. Sementara revisi terhadap UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendesak untuk dilakukan karena adanya putusan judicial review Mahkamah Konstitusi yang membatalkan pasal 53 UU Nomor 30 Tahun 2002 yang menjadi dasar hukum Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Kejaksaan Agung di bidang penyidikan dan penuntutan. pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. Namun atas argumen tersebut Kejaksaan Agung tetap pada sikapnya yang menolak menindaklanjuti hasil penyelidikan Komnas HAM dalam kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi sebelum adanya UU Nomor 26 Tahun 2000 tanpa didahului oleh keluarnya rekomendasi DPR untuk pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc. yakni pada pasal 21 dan 22 (penyidikan). Dari materi pasal-pasal tersebut diketahui kewenangan Komnas HAM ada di bidang penyelidikan. melalui amandemen atau revisi terhadap UU Nomor 26 Tahun 2000.

Karena itu. 214 Bunga Rampai . bukan di dalam UU KPK seperti saat ini.kat sampai diadakan perubahan paling lambat tiga tahun setelah sejak putusan diucapkan. perkara korupsi dapat disidangkan di dua pengadilan yang berbeda yaitu Peradilan Umum dan Pengadilan Tipikor. Namun. maka seharusnya hanya ada satu pengadilan. Artinya. agar tidak memperlemah semangat (disinsentive) pemberantasan korupsi. agar proses peradilan Tipikor tidak terganggu atau tidak macet. keempat. Untuk meniadakan dualisme yang selama ini terjadi dalam sidang perkara-perkara korupsi. untuk meniadakan 10 Lihat Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 012-016-019/PUU-IV/2006 tentang permohonan uji materi UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. dan. pertama. Asas manfaat dimaksud adalah dapat dilihat dari empat alasan yang dikemukakan oleh Mahkamah Konstitusi. merupakan terobosan yang didasarkan pada aspek manfaat. Sementara dalam konteks sidang perkara korupsi yang berlaku pada saat ini. yakni. Sebab dalam prinsip kepastian hukum. kedua.10 Terlepas dari pro dan kontra mengenai putusan Mahkamah Konstitusi yang membatalkan dasar hukum Pengadilan Tipikor. agar tidak menyebabkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid) yang dapat mengacaukan penanganan perkara tipikor. ketiga. dinyatakan tidak boleh ada dualisme hukum. untuk melakukan penyempurnaan UU KPK dan penataan kelembagaan pengadilan khusus. Putusan ini sesuai dengan Pasal 24A UUD 1945 yang ditafsirkan Mahkamah Konstitusi bahwa pembentukan badan peradilan di bawah Mahkamah Agung harus dilakukan dengan undang-undang. Pengadilan Tipikor harus dibentuk dengan undang-undang tersendiri. putusan Mahkamah Konstitusi tersebut dapat dilihat sebagai putusan yang bertujuan memberikan kepastian hukum. Sementara putusan yang menyatakan Pasal 53 UU KPK tetap mempunyai kekuatan hukum mengikat sampai diadakan perubahan paling lambat tiga tahun terhitung sejak putusan diucapkan. keputusan Mahkamah Konstitusi ini sebenarnya dapat dijadikan momentum untuk menguatkan eksistensi Pengadilan Tipikor melalui dukungan terhadap terbentuknya undang-undang yang khusus mengatur mengenai Pengadilan Tipikor.

jika Pengadilan Tipikor masih dikehendaki eksistensinya. Kejaksaan. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 215 . Pasalnya. atau kedua. keberadaan Pengadilan Tipikor bertentangan dengan konstitusi karena kriteria kekhususan Pengadilan Tipikor menyebabkan terdapat dua pengadilan yang berbeda dalam lingkup yang sama. pada posisi 30 Januari 2007. Menurut Andi Hamzah. maka harus disertai dengan undang-undang yang khusus mengaturnya. Isi draf RUU yang disusun tim yang dibentuk Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) ini memang cenderung membubarkan Pengadilan Tipikor. Kemudian dalam pasal berikutnya (juga belum diberi nomor). Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia. dan penyidik pada Komisi Pemberantasan tindak Pidana Korupsi. ”Penyidikan dalam undang-undang ini dilakukan oleh Kepolisian. Mahkamah Konstitusi tidak secara tegas memerintahkan dibentuknya Pengadilan Khusus 11 Periksa Draft RUU mengenai Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Sehingga selanjutnya seluruh perkara korupsi disidangkan oleh hakim karier yang dididik khusus untuk menangani perkara korupsi di pengadilan umum. dinyatakan bahwa: Dalam waktu paling lambat 1 (satu) tahun setelah UU ini diundangkan ditunjuk hakim khusus untuk tindak pidana korupsi pada setiap pengadilan negeri.dualisme tersebut ada dua pilihan. Andi Hamzah menganut pendapat yang pertama. yakni Pengadilan Tipikor dileburkan ke pengadilan umum. Jika ditinjau putusan Mahkamah Konstitusi dan apa yang sedang digodok oleh Tim Perumus RUU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. sehingga eksistensi Pengadilan Tipikor beserta hakim Ad Hocnya harus ditiadakan. (2) Perkara tindak pidana korupsi yang diterima oleh Jaksa sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dilimpahkan ke pengadilan negeri setempat untuk diperiksa dan diputus oleh majelis hakim khusus tindak pidana korupsi. Kemudian pada pasal yang terletak setelah pasal 36 tapi belum diberi nomor disebutkan bahwa: (1) Hasil penyidikan yang dilakukan oleh penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 diserahkan kepada Jaksa Penuntut Umum. Hal ini tercermin pada pasal 36 draf RUU Tipikor11 yang berbunyi. Tim Perumus Draft RUU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang dipimpin Prof. sebenarnya tidak ada pertentangan antara keduanya.

Karena itu Romli dan beberapa akademisi hukum serta sejumlah LSM membuat tim untuk menyusun draf RUU Pemberantasan Korupsi tandingan. Harus dilakukan kajian mendalam tentang pilihan yang akan diambil untuk meniadakan dualisme yang selama ini terjadi dalam sidang perkara-perkara korupsi. Mahkamah Konstitusi hanya menyatakan. antara lain dari pakar hukum pidana Romli Atmasasmita dan para aktivis lembaga swadaya masyarakat di bidang gerakan antikorupsi. draft versi pemerintah yang mengarah pada pembubaran Pengadilan Tipikor ini mendapat kritikan dari berbagai kalangan. Lagipula. Putusan Mahkamah Konstitusi tidak menghapus keberadaan Pengadilan Khusus Tipikor. Terhadap kritik dari para pengamat dan akademisi hukum serta kalangan LSM ini tentu pemerintah harus membuka diri. dan banyaknya perkara kasasi yang menumpuk di Mahkamah Agung.Tipikor. banyaknya persyaratan administratif yang harus ditempuh saat pendaftaran perkara di pengadilan. Pengadilan yang Lebih Baik Pembenahan lembaga peradilan sangat penting karena saat ini pelayanan lembaga peradilan dianggap sebagian besar masyarakat tidak optimal. banyaknya pungutan di luar biaya administrasi resmi. Tapi. atau melalui peradilan umum. antara lain. melainkan memerintahkan pembentuk undang-undang untuk segera membuat UU Pengadilan Khusus Tipikor. apakah disatukan melalui pengadilan khusus. Pelayanan yang tidak optimal tersebut. Mahkamah Konstitusi memberikan waktu tiga tahun bagi pembentuk undang-undang untuk membuat undang-undang tersendiri itu. Apapun pilihan yang diambil harus dalam kerangka untuk mengefektifkan pemberantasan tindak pidana korupsi. kalau dibentuk Pengadilan Khusus. Mereka menilai Tim Perumus RUU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi telah keliru memahami putusan Mahkamah Konstitusi. harus dengan payung hukum atau undang-undang tersendiri. lambatnya proses penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan oleh kepolisian dan kejaksaan. 216 Bunga Rampai . Dipastikan dalam draf itu terdapat klausul tentang pembentukan Pengadilan Tipikor. kalau tidak maka akan kembali ke pengadilan umum.

Taiwan. pengadilan dipersepsikan meminta suap hingga 100 persen. dan proses peradilan yang harus dilakukan secara terbuka. Badan Pertanahan Nasional. The Global Corruption Report 2007: Corruption in Judicial Systems.id/news/11/tahun/2007/bulan/05/ tanggal/25/id/1125/. serta militer. Peru. Yunani. Kondisi itu menempatkan peradilan Indonesia sejajar dengan Albania. dan pajak 76 persen. mengembalikan kewenangan Komisi Yudisial untuk memperkuat fungsi pengawasan hakim. imigrasi. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 217 . Menurut hasil survei Global Corruption Report 2007. Moldova. bea dan cukai. kebebasan memperoleh akses informasi. polisi 78 persen. http://www. khususnya 12 Periksa Tranparency International Indonesia. Transparency International Indonesia mengeluarkan tujuh rekomendasi yaitu reformasi sistem peradilan yang mencegah campur tangan eksekutif atau legislatif.ti. BPN 84 persen. yang menyatakan bahwa tingkat inisiatif lembaga peradilan dalam meminta suap secara langsung mencapai 100 persen dari seluruh interaksi. Temuan itu juga sesuai dengan hasil Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia 2006 yang dirilis Transparency International Indonesia pada Februari 2007.Masih buruknya wajah lembaga peradilan ini dapat dilihat dari hasil survei terkini. imigrasi 90 persen. disusul bea dan cukai 95 persen. sekaligus seolah mengkonfirmasikan kebenaran rahasia umum tentang adanya lingkaran penyalahgunaan wewenang di lembaga peradilan yang dikenal dengan istilah mafia peradilan. Dalam IPK itu. pajak. Hasil survei itu paling tidak merupakan indikasi bahwa praktik suap memang terjadi di lembaga peradilan. survei menemukan bahwa lembaga vertikal. dan memperkuat eksistensi pengadilan Tipikor.or. Rekomendasi berikutnya adalah memperkuat seleksi Hakim Agung oleh Komisi Yudisial. seperti polisi. empat lebih di antara sepuluh keluarga Indonesia mengaku harus menyuap demi mendapatkan keadilan. dan Venezuela. Meksiko. yaitu hasil survei Global Corruption Report 200712 yang diluncurkan oleh Transparency International Indonesia. Maroko. peradilan. Saat itu. masih korup. penetapan gaji yang berdasarkan pengalaman dan kemampuan. Berdasarkan laporan tersebut. Hasil survei ini oleh berbagai kalangan.

polisi. dan sinkronisasi berbagai perundang-undangan yang terkait dengan kekuasaan kehakiman yang memiliki tujuan 13 Lihat artikel Satjipto Rahardjo berjudul Mafia Pengadilan. jaksa. sinyalemen. Sebab hakim di Indonesia dapat disuap untuk memperlambat atau mempercepat proses hukum di pengadilan. 218 Bunga Rampai . diungkapkan pakar hukum senior Satjipto Rahardjo dengan mengutip temuan mantan Hakim Agung Asikin Kusumah Atmaja dan Adi Andojo. dianggap mencerminkan gagalnya reformasi peradilan di Indonesia.13 Asikin pernah memaparkan angka yang mengejutkan. Kita harus mengakui bahwa secara institusional memang telah terjadi perubahan dalam dunia peradilan. dibutuhkan komitmen bersama dari hakim. dan advokat sebagai catur wangsa penegak hukum untuk membersihkan korupsi di dunia peradilan. antara lain. praktik korupsi tampaknya masih merupakan kebiasaan yang terus saja terjadi dan kemudian dipotret oleh Transparency International. mempengaruhi rekannya sesama hakim. Sedangkan Adi Andojo pernah membeberkan secara rinci praktek negatif di Mahkamah Agung.pengamat hukum dan aktivis lembaga swadaya masyarakat. Karena itu hakim. Komitmen dari para aparat penegak hukum ini mendukung atau seiring dengan proses revisi. dan advokat harus mempunyai komitmen dan visi yang sama tentang bagaimana mengakhiri praktik suap dan atau praktek mafia peradilan lainnya di pengadilan. Kompas edisi 5 Januari 1995. jaksa. atau persepsi tentang buruknya kondisi peradilan sebenarnya bukan hal baru karena sudah mengemuka sejak lama. Sementara kalangan lain ada yang mempertanyakan akurasi dari metode survei yang dilakukan Transparency International Indonesia. Berangkat dari titik itu. Namun. pendapat. termuat dalam buku Sisi-sisi Lain dari Hukum di Indonesia. atau menjatuhkan putusan tertentu. 2006. Penerbit Buku Kompas. Adanya praktek suap di lembaga peradilan ini. Apalagi temuan. Penulis sendiri berpandangan bahwa hasil survei Transparency International Indonesia harus diterima sebagai otokritik. yaitu hampir separuh dari tiga ribu hakim di Indonesia berbuat tidak benar. harmonisasi. Polri. menerima atau menolak permintaan banding.

peningkatan kualitas moral dan integritas hakim dan aparat penegak hukum lainnya. dan komitmen dari aparat penegak hukum itu sendiri dalam mewujudkan lembaga peradilan yang merdeka. peningkatan peran masyarakat dan lembaga legislatif dalam bentuk pengawasan dan kontrol yang ketat terhadap perilaku hakim dan aparat penegak hukum lainnya.akhir untuk mewujudkan peradilan yang lebih baik. Catatan: . penerapan sistem rekruitmen hakim dan Hakim Agung yang lebih transparan melalui uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test). bersih. terwujudnya lembaga peradilan yang transparan dan akuntabel dengan didukung oleh aparat penegak hukum yang bersih akan mendorong tercapainya penyelenggaraan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. khususnya dalam rangka penegakan hukum di Indonesia. Adanya upaya untuk melakukan reformasi di lingkungan lembaga peradilan diharapkan akan dapat memberikan hasil yang positif. Keberadaan Komisi Yudisial dan beberapa lembaga independen lainnya yang mempunyai fungsi sebagai pengawas terhadap lembaga pengadilan dan lembaga penegak hukum lainnya diharapkan dapat menciptakan lembaga peradilan yang lebih akuntabel dan bersih. dan berwibawa. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 219 . penyediaan sarana dan prasarana hukum yang mendukung penyelenggaraan proses peradilan yang adil dan transparan. Sebab untuk mewujudkan sistem peradilan yang transparan dan adil dapat dilakukan melalui pembenahan sistem peradilan untuk mewujudkan sistem peradilan terpadu (integrated criminal justice system). termasuk dalam bidang pemberantasan tindak pidana korupsi. Dan.Artikel ini disusun untuk memenuhi permintaan Komisi Yudisial terkait penerbitan Buku Bunga Rampai Volume Dua.

220 Bunga Rampai .

yaitu mengusulkan pengangkatan Hakim Agung dan wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Komisi ini oleh konstitusi diberi kewenangan mengusulkan pengangkatan hakim agung dan kewenangan lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. tepatnya pada Pasal 24B yaitu adanya Komisi Yudisial. dan keanggotaan Komisi Yudisial diatur dengan undang-undang.DPR dan Perubahan Atas Undang-Undang Komisi Yudisial Oleh : F. Soekarno. Pendahuluan Amandemen Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) membawa konsekuensi terhadap perubahan sistem ketatanegaraan Republik Indonesia. keluhuran martabat serta perilaku hakim.X. Pasal 24B ayat (4) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Undang-undang ini mengatur tugas dan wewenang Komisi Yudisial. keluhuran martabat serta perilaku hakim. 1 A. Hakim yang dimaksud disini adalah Hakim Agung dan hakim pada badan peradilan disemua lingkungan 1 2 3 Ketua Badan Legislasi DPR RI RI Pasal 24B ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.2 Adapun susunan. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 221 . kedudukan. Dalam Amandemen ketiga. menginternalisasi kelembagaan baru di dalam Bab IX (Kekuasaan Kehakiman). S.H.3 Amanat konstitusi tersebut ditindaklanjuti dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. yang salah satunya adalah dalam bidang kekuasaan kehakiman.

c) melakukan pemeriksaan terhadap dugaan pelanggaran perilaku hakim. b) meminta laporan secara berkala kepada badan peradilan berkaitan dengan perilaku hakim. Dalam melaksanakan tugas pengawasan tersebut. menjaga kerahasiaan keterangan yang karena sifatnya merupakan rahasia Komisi Yudisial dan tidak boleh mengurangi kebebasan hakim dalam memeriksa dan memutus perkara. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial.4 Dalam melaksanakan kewenangan mengusulkan pengangkatan Hakim Agung. khususnya yang berkaitan dengan ”pengawasan hakim” yang diatur dalam Bab III. 22 Tahun 2004. dan e) membuat laporan hasil pemeriksaan yang berupa rekomendasi dan disampaikan kepada Mahkamah Agung dan/ atau Mahkamah Konstitusi serta tindasannya disampaikan kepada Presiden dan DPR. Adapun kewenangan lain yang berkaitan dengan menjaga dan menegakkan kehormatan. keluhuran martabat serta perilaku hakim. 222 Bunga Rampai . d) memanggil dan meminta keterangan dari hakim yang diduga melanggar kode etik perilaku hakim. Komisi Yudisial mempunyai tugas pengawasan dan pengusulan penjatuhan sanksi terhadap hakim kepada Pimpinan Mahkamah Agung atau Mahkamah Konstitusi. c) menetapkan calon Hakim Agung. Pasal 20 dan 4 5 Lihat pengertian hakim pada Pasal 1 angka 5 UU No. dapat berupa teguran tertulis. b) melakukan seleksi terhadap calon Hakim Agung. Komisi Yudisial dapat: a) menerima laporan masyarakat tentang perilaku hakim.5 Dalam melaksanakan pengawasan tersebut. Komisi Yudisial wajib menaati norma hukum dan ketentuan peraturan perundang-undangan. Namun dalam perjalanannya Undang-undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial dimohonkan judicial review oleh 31 Hakim Agung yang menganggap hak dan kewenangan konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya UU No. Usul penjatuhan sanksi sesuai dengan ketentuan Pasal 23 UU No. Komisi Yudisial mempunyai tugas: a) melakukan pendaftaran calon Hakim Agung.peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung serta hakim Mahkamah Konstitusi. dan mengajukan calon Hakim Agung ke DPR. pemberhentian sementara atau pemberhentian. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial.

Hakim sebagai obyek pengawasan Komisi Yudisial yang menyangkut Hakim Agung. khusus yang menyangkut hakim Mahkamah Konstitusi dinyatakan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. B. Pasal 23 ayat (3). serta yang berkaitan dengan ”usul penjatuhan sanksi” yang diatur dalam Pasal 21. Pengawasan terhadap pelaksanaan kode etik hakim konstitusi dilakukan oleh Majelis Kehormatan yang tersendiri sesuai dengan ketentuan Pasal 23 Undangundang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. Pasal 22 ayat (1) huruf e.Pasal 22 ayat (1) huruf e dan ayat (5). Berdasarkan permohonan tersebut. Pasal 22 ayat (5). Pasal 23 ayat (2) dan ayat (3) serta ayat (4). Pasal 24 ayat (1) dan Pasal 25 ayat (3) dan ayat (4) dihubungkan dengan Pasal 1 angka 5 undang-undang tersebut. sebagai pelaksanaan Pasal 24C ayat (6) UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. hakim pada badan peradilan di semua lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung dan Hakim Mahkamah Konstitusi sebagaimana yang dimaksud pada Pasal 1 angka 5 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. Pasal 25 ayat (3) sepanjang mengenai kata-kata ”dan/atau Mahkamah Konstitusi”. Mahkamah Konstitusi dengan Putusan Nomor 005/PUU-IV/2006. juga berkaitan dengan pengaturan prosedur pengawasan hakim. Pasal 23 ayat (2). Putusan Mahkamah Konstitusi tersebut selain menandaskan obyek pengawasan Komisi Yudisial. Kekosongan Hukum Jika dilihat lebih lanjut. Pasal 21. bertentangan dengan Undangundang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. sehingga tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Alasan yang dikemukakan oleh Mahkamah Konstitusi adalah: a. Pasal 24 ayat (1) sepanjang mengenai kata-kata ”dan/atau Mahkamah Konstitusi”. menyatakan Pasal 1 angka 5 sepanjang mengenai kata-kata ”Hakim Mahkamah Konstitusi”. dan Pasal 25 ayat (4) sepanjang mengenai kata-kata ”dan/ atau Mahkamah Konstitusi”. Pasal 20. Pasal 23 ayat (5). Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 223 .

Mahkamah Konstitusi berpendapat bahwa hal ini tidak bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Jakarta.6 Berkaitan Hakim Agung sebagai obyek pengawasan Komisi Yudisial. Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI. Beliau menyatakan bahwa ”. Pengadilan Agama. 254. Hakim Pengadilan Umum. tidaklah ditemukan dasar-dasar konstitusional yang meyakinkan. Dapat saja pembentuk undang-undang menentukan bahwa hakim agung termasuk ke dalam pengertian hakim yang perilaku etiknya diawasi oleh Komisi Yudisial secara eksternal. 224 Bunga Rampai .Komisi Yudisial bertugas menjaga (preventif) dan menegakkan (korektif dan represif) kehormatan. Persoalan yang berkaitan dengan pertanyaan apakah ”hakim” menurut Pasal 24B ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pengadilan Tata Usaha Negara. bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 6 Jimly Asshiddiqie. Dengan demikian hakim yang harus dijaga dan ditegakkan kehormatannya..b. Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia. meliputi pengertian hakim agung atau tidak. keluhuran martabat dan perilakunya mencakup Hakim Agung. dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 005/PPU-IV/2006. 2006. dan Pengadilan Militer serta termasuk Hakim Konstitusi”. keluhuran martabat serta perilaku semua hakim di Indonesia. Kedudukan Mahkamah Konstitusi sebagai lembaga pemutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh undang-undang dasar. tidak lagi terganggu sebagai akibat dimasukkannya hakim konstitusi sebagai obyek pengawasan Komisi Yudisial. hlm. Hal ini tidak sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Jimly Asshiddiqie dalam bukunya ”Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia”. secara tegas telah menyatakan keberlakuan Pasal 1 angka 5 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2004 sepanjang mengenai kata-kata ”hakim Mahkamah Konstitusi”. Terlepas pro dan kontra terhadap hakim Mahkamah Konstitusi dan Hakim Agung sebagai obyek pengawasan Komisi Yudisial..

Mahkamah Konstitusi menyatakan: a. terutama dalam pelaksanaannya. secara struktural kedudukan Komisi Yudisial memang diposisikan sederajat dengan Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. menyebabkan semua ketentuan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang pengawasan menjadi kabur (obscuur) dan menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid) dalam pelaksanaannya.Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. apa objek yang diawasi. Na- c. b. serta bagaimana proses pengawasan itu dilaksanakan. Adapun yang berkaitan dengan pengaturan prosedur pengawasan hakim. Konsepsi pengawasan yang terkandung dalam UndangUndang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial didasarkan atas paradigma konseptual yang tidak tepat. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 225 . dalam kesimpulan putusannya. Perumusan Pasal 13 huruf b juncto Pasal 20 UndangUndang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial mengenai wewenang lain sebagai penjabaran dari Pasal 24B ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menggunakan rumusan kalimat yang berbeda sehingga menimbulkan masalah dalam penormaannya dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial yang menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid). Untuk hal yang terakhir ini. tidak jelas dan tegas menentukan siapa subjek yang mengawasi. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial terbukti tidak rinci mengatur mengenai prosedur pengawasan. sehingga menimbulkan penafsiran yang juga tidak tepat. instrumen apa yang digunakan. Hal tidak jelas dan tidak rincinya pengaturan mengenai pengawasan dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial serta perbedaan dalam rumusan kalimat seperti dimaksud pada butir a di atas. yaitu seolah-olah hubungan antara MA dan KY berada dalam pola hubungan “checks and balances” antarcabang kekuasaan dalam konteks ajaran pemisahan kekuasaan (separation of powers).

Lagi pula komisi ini berurusan dengan soal kehormatan. bukan dengan lembaga peradilan atau lembaga kekuasaan kehakiman secara institusional. segala ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial yang menyangkut pengawasan dinyatakan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat karena terbukti menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid). 2006. keluhuran martabat dan perilaku hakim. hlm. Dengan demikian terjadi kekosongan hukum yang berkaitan dengan tugas Komisi Yudisial. melainkan lembaga penegak etika kehakiman (the enforcer of the rule of judicial ethics and good conduct). 187-188. khususnya yang berkaitan dengan ketentuan mengenai pengawasan perilaku hakim. Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) sebagai institusi yang mempunyai kewenangan 7 Lihat. Komisi Yudisial lebih merupakan lembaga etika daripada lembaga hukum. Komisi Yudisial meskipun fungsinya terkait dengan kekuasaan kehakiman. Komisi Yudisial bukanlah lembaga penegak norma hukum (code of law). Jimly Asshiddiqie. C.mun demikian. Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI.7 Komisi Yudisial bukan merupakan lembaga penegak hukum (the enforcer of the rule of law). Inisiasi Legislasi Untuk mengatasi permasalahan tersebut (adanya kekosongan hukum). meskipun secara struktural kedudukannya sederajat dengan Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. 226 Bunga Rampai . melainkan lembaga penegak norma etik (code of ethics). tetapi tidak menjalankan fungsi kekuasaan kehakiman. Komisi Yudisial bersifat penunjang (supporting system) terhadap dan dalam cabang kekuasaan kehakiman. tetapi secara fungsional peranannya bersifat penunjang (auxiliary) terhadap lembaga kekuasaan kehakiman. Jakarta. Lembaga negara yang mempunyai fungsi kehakiman atau menjalankan fungsi peradilan tertinggi adalah Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. Terhadap fungsi kekuasaan kehakiman. Perkembangan dan Konsolidasi Lembaga Negara Pasca Reformasi. Berdasarkan apa yang dinyatakan dalam kesimpulan putusan Mahkamah Konstitusi sebagaimana tersebut di atas.

ide pembentukan Komisi Yudisial dalam rangka pengawasan eksternal dimunculkan. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 227 . keluhuran martabat dan perilaku hakim. Selama ini (sebelum Amandemen III UUD 1945 dan lahirnya UU Komisi Yudisial). Kelembagaan ini bersifat mandiri atau independen untuk menjamin efektifitas kerjanya.dan kekuasaan membentuk undang-undang. b) independen dalam menjalankan tugas yang tidak boleh diintervensi oleh lembaga-lembaga lain yang mempunyai kepentingan 8 9 10 Lihat ketentuan Pasal 20 ayat (1) dan ayat (2) UUD 1945. keluhuran martabat dan perilaku hakim hanya dilakukan secara internal oleh para hakim sendiri. maka inisiasi perubahan terhadap Undang-undang Komisi Yudisial tersebut diikuti dengan Perubahan Undang-undang Mahkamah Agung (Undang-undang Nomor 14 Tahun 1985 sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-undang Nomor 5 Tahun 2004) dan Undang-undang Mahkamah Konstitusi (Undangundang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi). Oleh karena itu.10 Independen disini dimaknai: a) independensi terhadap subyek yang ia awasi. Pengawasan internal yang dilakukan oleh majelis kehormatan hakim di Mahkamah Agung tersebut dirasakan kurang efektif. yaitu para hakim tanpa adanya intervensi dari pimpinan Mahkamah Agung. upaya menjaga dan menegakkan kehormatan.8 berinisiasi melakukan pembenahan dan perbaikan terhadap Undangundang Komisi Yudisial dimaksud. keluhuran martabat dan perilaku hakim menjadi syarat mutlak yang diperlukan dalam sistem demokrasi konstitusional. Dalam Keputusan DPR RI Nomor 07 A/DPR-RI/I/2006-2007.9 Perubahan tersebut diharapkan dapat mendudukkan fungsi. (2) Setiap Rancangan Undang-undang dibahas oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden untuk mendapatkan persetujuan bersama. RUU tentang Perubahan UU Komisi Yudisial dan RUU Perubahan UU Mahkamah Konstitusi menjadi prioritas pembahasan Tahun 2007. Lihat ketentuan Pasal 24B ayat (1) UUD 1945. Kehormatan. yang menyatakan : (1) Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk undang-undang. Agar perubahan ini dapat terintegrasi dengan baik terhadap undang-undang lain khususnya di lingkungan kekuasaan kehakiman. tugas dan kewenangan Komisi Yudisial dalam menjaga dan menegakkan kehormatan.

000 orang dapat dijaga dan ditegakkan sebagaimana mestinya. sangatlah penting karena para hakimlah yang harus diawasi perilakunya oleh Komisi Yudisial. Mengenai independensi Komisi Yudisial terhadap pihak lain (yang mempunyai kepentingan tertentu). eksekutif ataupun kekuatan partai politik untuk mempengaruhi kinerja kekuasaan kehakiman yang merdeka. keluhuran martabat dan perilaku hakim.tertentu. antara lain sebagai berikut: 1. Dengan dijadikannya Komisi Yudisial sebagai external auditor. juga harus dipertahankan. Dari pemikiran inilah konstruksi perubahan Undangundang Komisi Yudisial akan dilakukan. Komisi Yudisial tidak boleh menjadikan dirinya alat politik bagi lembaga legislatif. diharapkan pengawasan menjadi efektif. Karena pada prinsipnya. Oleh karena itu jangan sampai Komisi Yudisial sebagai lembaga pengawas perilaku hakim dipergunakan atau membiarkan dirinya dipakai oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengganggu kemerdekaan hakim. keluhuran martabat dan perilaku para hakim diseluruh Indonesia yang berjumlah lebih dari 6. Mengenai independensi dari dan terhadap para hakim dan lembaga Mahkamah Agung. ada beberapa pilihan-pilihan atau alternatif konsepsi maupun paradigmatig yang nantinya akan menjadi pilihan politis maupun yuridis. keberadaan Komisi Yudisial justru sangat penting artinya agar kehormatan. Siapakah yang dimaksud dengan “hakim” dalam konstiBunga Rampai 228 . Pilihanpilihan dimaksud merupakan jawaban dari permasalahanpermasalahan yang muncul dan berkembang. tidak seperti sebelumnya dimana diantara sesama hakim justru terjadi hubungan saling membela dan melindungi yang menyebabkan pengawasan tidak efektif. Sejalan dengan perkembangan yang ada dan sekaligus sebagai pengayaan materi yang akan menjadi bahan kajian yang selanjutnya akan disarikan dalam norma. Namun demikian tidak berarti dengan menjadi external auditor Komisi Yudisial menjadi lawan atau musuh para hakim. eksistensi hakim dan lembaga kekuasaan kehakiman terletak antara lain pada independensi dan imparsialitasnya. Komisi Yudisial adalah mitra bagi Mahkamah Agung dalam menjaga dan menegakkan kehormatan. Bagi Mahkamah Agung.

berarti kewenangan untuk menjatuhkan sanksi? 12. serta perilaku hakim? Bagaimana pelaksanaan wewenang Komisi Yudisial dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Apakah pengawasan terhadap perilaku hakim dapat dilakukan dengan cara mengkaji putusan Pengadilan? 11. baik oleh Mahkamah Agung maupun oleh Komisi Yudisial. serta perilaku hakim? Siapa yang menetapkan dan menegakkan kode etik dan perilaku hakim? Apa saja ruang lingkup pengawasan terhadap hakim? Bagaimana pelaksanaan pengawasan terhadap hakim yang tidak bertentangan dengan prinsip independensi peradilan? Bagaimana penerapan prinsip akuntabilitas dan transparansi dalam pengawasan terhadap hakim? Apa pengertian dan ruang lingkup “perilaku hakim”? Apakah perilaku tersebut mencakup baik di dalam kedinasan maupun di luar kedinasan? Apa yang dijadikan pedoman dalam melakukan pengawasan atas perilaku hakim? 3. 5. 8. Apakah kewenangan melakukan pengawasan terhadap hakim. Siapa yang melakukan pengawasan terhadap (perilaku anggota) Komisi Yudisial? D. Apakah arti kewenangan Komisi Yudisial dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. 7. Namun saya menyadari hal ini Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 229 . 9. yang sedikit banyak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagaimana tersebut di atas. keluhuran martabat. 6. Bagaimana seharusnya hubungan antara Mahkamah Agung dengan Komisi Yudisial? 13. 10. Pokok-Pokok Pikiran Perubahan Undang-Undang KY Di bawah ini akan diuraikan pokok-pokok pikiran yang dapat memperkaya pemahaman dalam perubahan Undangundang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. keluhuran martabat.tusi yang menjadi obyek pengawasan Komisi Yudisial? 2. 4.

Dari sistimatika penempatan ketentuan mengenai Komisi Yudisial sesudah pasal yang mengatur tentang Mahkamah Agung yaitu Pasal 24A dan sebelum pasal yang mengatur tentang Mahkamah Konstitusi yaitu Pasal 24C. 1 Siapakah yang dimaksud dengan “hakim” dalam konstitusi yang menjadi obyek pengawasan Komisi Yudisial? Sementara ini saya sependapat dengan apa yang diputus oleh Mahkamah Konstitusi bahwa hakim konstitusi tidak termasuk obyek pengawasan Komisi Yudisial. Hal ini dapat dipastikan dengan bukti risalah-risalah rapat-rapat Panitia Ad Hoc I Badan Pekerja MPR maupun dari keterangan para mantan anggota Panitia Ad Hoc tersebut dalam persidangan bahwa perumusan ketentuan mengenai KY dalam Pasal 24B UUD 1945 memang tidak pernah dimaksudkan untuk mencakup pengertian hakim konstitusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24C UUD 1945. sudah dapat dipahami bahwa ketentuan mengenai Komisi Yudisial pada Pasal 24B UUD 1945 itu memang tidak dimaksudkan untuk mencakup pula objek perilaku hakim konstitusi sebagaimana diatur dalam Pasal 24C UUD 1945. Hal tidak tercakupnya pengertian perilaku hakim konstitusi dalam apa yang dimaksud dengan perilaku hakim menurut Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 tersebut juga terdapat dalam ketentuan UU MK dan UU KK yang dibentuk sebelum pembentukan UU KY. Dalam UU MK. ketentuan mengenai KY dalam Pasal 24B UUD 1945 memang tidak berkaitan dengan ketentuan mengenai MK yang diatur dalam Pasal 24C UUD 1945.mungkin belum terlalu komprehensif dan tentunya terus akan dilakukannya pengayaan kajian dan pemutakhiran. untuk fungsi pengawasan terhadap perilaku Hakim Konstitusi ditentukan adanya lembaga Majelis Kehormatan yang diatur secara tersendiri dalam Pasal 23 UU 230 Bunga Rampai . Hal ini didasari pada pemikiran: Jika ditinjau secara sistematis dan dari penafsiran berdasarkan “original intent” perumusan ketentuan UUD 1945. Adapun Hakim Agung dan hakim pada badan peradilan disemua lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung merupakan obyek pengawasan Komisi Yudisial. berdasarkan masukan dan pemikiran dari semua pihak.

dibentuknya Mahkamah Konstitusi berdasarkan UUD 1945 adalah dalam rangka menjamin agar UUD 1945 dilaksanakan dengan sebaikbaiknya. termasuk dalam konteks hubungan-hubungan konstitusional antarlembaga negara. S. melainkan hakim karena jabatannya. Dalam keseluruhan mekanisme pemilihan dan pengangkatan para Hakim Konstitusi yang diatur dalam UUD 1945 juga tidak terdapat keterlibatan peran KY sama sekali.D. Mahfud M.H. LL. maka kewenangan Mahkamah Konstitusi sebagai lembaga pemutus sengketa kewenangan konstitusional lembaga negara menjadi terganggu dan terjebak ke dalam anggapan sebagai pihak yang tidak dapat bersikap imparsial. Hakim Konstitusi pada dasarnya bukanlah hakim sebagai profesi tetap.. baik dari segi legal policy pembuat UU maupun dari segi constitutional morality.. salah satu kewenangan yang diberikan kepada Mahkamah Konstitusi sebagaimana dimaksud oleh Pasal 24C ayat (1) UUD 1945. adalah untuk memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945.MK. Dengan demikian. berbeda halnya dengan hakim biasa. Dengan menjadikan Hakim Konstitusi sebagai objek pengawasan oleh KY.M. Oleh karena itu. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 231 . S. ketentuan yang memperluas pengertian perilaku hakim dalam Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 mencakup perilaku Hakim Konstitusi dapat mengebiri kewenangan dan menghalang-halangi pemenuhan tanggungjawab Mahkamah Konstitusi dalam menjaga konstitusionalitas mekanisme hubungan antarlembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945. Dr. Demikian pula Pasal 34 ayat (3) UU KK sama sekali tidak menentukan bahwa Hakim Konstitusi menjadi objek pengawasan oleh KY..H. dan Denny Indrayana. menurut Prof. yang bersangkutan masing-masing kembali lagi kepada status profesinya yang semula.D. Selain itu. Berkaitan dengan Hakim Agung. bahwa Hakim Agung. Padahal. Ph. Hakim Konstitusi hanya diangkat untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan setelah tidak lagi menduduki jabatan Hakim Konstitusi.. khususnya apabila dalam praktik timbul persengketaan kewenangan antara KY dengan lembaga lain.

dan terutama prinsip konstitusi itu sendiri. Independensi harus berjalan seiring dengan akuntabilitas.termasuk pengertian hakim yang menjadi objek pengawasan KY. Hakim Agung adalah Hakim. tidak cukup beralasan untuk mengecualikan hakim agung. adalah sesuatu yang ideal jika hakim agung memiliki integritas dan kualitas yang sedemikian rupa sesuai dengan Pasal 24A ayat (2) UUD 1945. dan kategoris dilakukan. demikian pula Hakim Agung tidak selalu berasal dari hakim. kontekstual. Akan menjadi ganjil untuk menafsirkan bahwa Hakim Agung tidak masuk dalam kategori Hakim dan karena posisinya yang berada di puncak hierarki peradilan lalu menjadi tidak tunduk pada pengawasan. faktanya Hakim Agung sendiri merupakan anggota Ikatan Hakim Indonesia (IKAHI) dan bahwa hakim agung adalah hakim. sesuai dengan prinsip akuntabilitas. Di samping itu. maka penafsiran apakah hal itu bertentangan dengan Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 bukanlah hanya dari teks maupun konteksnya secara gramatikal melainkan juga dari konteks sosial yang lebih luas. seseorang yang pada saat diangkat sebagai Hakim Agung memiliki integritas yang tinggi. Jika kewenangan KY untuk mengusulkan Hakim Agung yang berkualitas dengan integritas yang tinggi dan perilaku tidak tercela. pengertian umum. teleologis. Tambahan pula. Secara universal hal demikian telah menjadi norma. Oleh karena itu. tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak menjadikan Hakim Agung termasuk ke dalam objek pengawasan. akan menghasilkan Hakim Agung yang juga mempunyai martabat dan perilaku yang tidak tercela sehingga secara moral memiliki legitimasi untuk tidak diawasi lagi dan bahkan menjadi pengawas hakim di bawahnya. Jika dimaksudkan karena MA sebagai pengawas tertinggi peradilan maupun tingkah laku dan perbuatan hakim. Dari segi kewenangan pengawasan apakah hakim agung itu diawasi. Prinsip persamaan di depan hukum (equality before the law) dan non-diskriminasi tidak mendukung pendirian tersebut. tidak pernah dipersoalkan. tetapi bukan berarti hakim agung terbebas dari pengawasan dalam rangka mendukung terciptanya 232 Bunga Rampai . dalam perjalanan karier selanjutnya bisa saja berubah. serta ketentuan yang mengaturnya berbeda. Bagaimanapun tafsiran secara tekstual.

walaupun dalam batas-batas tertentu dapat diartikan sebagai pengawasan. khususnya para ahli hukum. keluhuran martabat. Hakim dimaksud adalah dalam pengertian sebagai individu di luar maupun di dalam kedinasan. Berkaitan dengan Kewenangan Komisi Yudisial dapat diinternalisasi pemikiran-pemikiran sebagai berikut: Berdasarkan ketentuan Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 dinyatakan bahwa Komisi Yudisial bersifat mandiri. serta perilaku hakim. keluhuran martabat. Penilaian terhadap putusan hakim yang dimaksudkan sebagai pengawasan di luar mekanisme hukum acara yang tersedia adalah bertentangan dengan prinsip res judicata pro veritate habetur yang berarti apa yang telah diputus oleh hakim harus dianggap sebagai benar (de inhoud van het vonnis geld als waard). ulasan dalam jurnal hukum (law review). untuk menilai putusan hakim melalui kegiatan ilmiah dalam forum atau media ilmiah. Dalam UU Komisi Yudisial yang di-judicial review kemarin memang penjabaran konsep pengawasan menimPenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 233 . serta perilaku yang baik. seperti seminar. agar hakim memiliki kehormatan. atau kegiatan ilmiah lainnya.peradilan yang bersih dan berwibawa bagi terwujudnya rule of law. melainkan terhadap individu fungsionaris hakim. mempunyai kewenangan pokok mengusulkan pengangkatan Hakim Agung. juga memiliki wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Kewenangan tersebut. 3. bukanlah kewenangan untuk melakukan pengawasan terhadap lembaga peradilan dan teknis justisial. 2. apabila suatu putusan hakim dianggap mengandung sesuatu kekeliruan maka pengawasan yang dilakukan dengan cara penilaian atau pun koreksi terhadap hal itu harus melalui upaya hukum (rechtsmidellen) menurut ketentuan hukum acara yang berlaku. Sehingga. Prinsip sebagaimana diuraikan di atas tidak mengurangi hak warga negara. Norma pengawasan yang berlaku universal di semua sistem hukum yang dikenal di dunia terhadap putusan pengadilan adalah bahwa putusan pengadilan tidak boleh dinilai oleh lembaga lain kecuali melalui proses upaya hukum (rechtsmidellen) sesuai dengan hukum acara.

bukan kemandirian yang Bunga Rampai 5. dan perilaku hakim.. Karena Komisi Yudisial bukan merupakan pelaksana kekuasaan kehakiman.” dan dalam Pasal 2 UU Komisi Yudisial diartikan bahwa Komisi Yudisial dalam pelaksanaan wewenangnya bebas dari campur tangan atau pengaruh kekuasaan lain. Dalam ketentuan Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 ditegaskan bahwa “Komisi Yudisial bersifat mandiri.bulkan ketidakpastian karena yang seharusnya menjadi objek dari ”wewenang lain” Komisi Yudisial menurut Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 adalah pelaksanaan kode etik dan kode perilaku hakim dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. dan dengan demikian dapat dihindari adanya kerancuan. akan menimbulkan kerancuan dan lebih jauh akan menimbulkan ketidakpastian hukum yang dapat berimplikasi lumpuhnya sistem peradilan. Berkaitan dengan hubungan antara Komisi Yudisial dan Mahkamah Agung bukan merupakan hubungan dalam konsepsi checks and balances seperti layaknya hubungan antar cabang-cabang kekuasaan negara (eksekutif.. dan terutama perilaku hakim. dan yudikatif). legislatif. Untuk itu dalam konsep perubahan UU KY seharusnya dijelaskan norma yang mengatur tentang pengertian dan ruang lingkup perilaku hakim. Hal ini harus dimaknai sebagai kemandirian kelembagaan dalam mengambil keputusan. keluhuran martabat. yang secara tegas tidak berwenang melakukan pengawasan yang menyangkut hal-hal yang bersifat teknis yustisial dan teknis administratif. sehingga terdapat batasan yang jelas yang dapat dijadikan pegangan yang pasti. keluhuran martabat. termasuk kepastian siapa yang membuat kode etik dan perilaku dimaksud. melainkan hanya meliputi penegakan kehormatan dan keluhuran martabat serta perilaku hakim. 234 . terutama yang menyangkut kaidah-kaidah materiilnya.. baik oleh pihak yang mengawasi maupun yang diawasi. keluhuran martabat. dan perilaku hakim. Ketiadaan rumusan yang jelas tentang kehormatan. melainkan hanya sebagai supporting organ. 4. Untuk itu dalam Perubahan UU Komisi Yudisial akan dirumuskan ukuran untuk menilai kehormatan.

6. dikatakan bahwa suatu code of conduct menetapkan tingkah laku atau perilaku hakim yang bagaimana yang tidak dapat diterima dan mana yang dapat diterima. Kewenangan Komisi Yudisial dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. keluhuran martabat. Dengan suatu code of conduct. hanya karena alasan bahwa pengambilan keputusan didasarkan pada fakta-fakta yang diperoleh melalui kerjasama atau koordinasi dengan pelaku kekuasaan kehakiman sendiri (dalam hal ini adalah Mahkamah Agung). Secara umum. Code of conduct akan mengingatkan Hakim mengenai perilaku apa yang dilarang dan bahwa tiap pelanggaran code of conduct mungkin akan menimbulkan sanksi. Tetapi perlu terlebih dahulu dijawab pertanyaan. Etik adalah tujuan ideal yang dicoba untuk dicapai yaitu untuk sedapat mungkin menjadi hakim yang terbaik. Dengan demikian. Setiap hakim harus mengetahui bahwa ia tidak dapat berperilaku di bawah standar yang ditetapkan.bersifat perorangan anggota Komisi Yudisial. apakah ada perbedaan antara kode etik dan kode perilaku. keluhuran martabat serta perilaku hakim antara Komisi Yudisial dengan Mahkamah Agung. kemandirian Komisi Yudisial harus dimaknai sebagai kebebasan dari campur tangan dan pengaruh kekuasaan lain dalam pengambilan keputusan dalam pelaksanaan wewenang pengusulan calon hakim agung maupun dalam rangka pelaksanaan wewenang lain menurut UUD 1945. Artinya. Komisi Yudisial tidak dapat dikatakan tidak mandiri. Tetapi ada pertimbangan-pertimbangan etik yang mendorong tercapainya cita-cita atau harapan tersebut. akan dimungkinkan bagi hakim maupun masyarakat untuk Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 235 . dalam hubungan dengan permohonan a quo. serta perilaku hakim harus merujuk kepada code of ethics dan/atau code of conduct. atau dengan kata lain terdapat campur tangan dari pihak luar atau kekuasaan lain. Etik berkenaan dengan harapan atau cita-cita. berarti merujuk pada Kode Etik Hakim Indonesia. Sehingga tidak salah jika ada hubungan kerjasama yang baik dalam menjaga dan menegakkan kehormatan. Etik berbeda dari perilaku yang dilarang. Oleh karena itu. Code of conduct merupakan satu standar.

Tujuan adanya kode etik ini adalah: a) sebagai alat pembinaan dan pembentukan karakter hakim serta pengawasan tingkah laku hakim. menambah urgensi tentang perlunya pengaturan mengenai etik dan tingkah laku (ethics and conduct) hakim dan tata cara penjagaan dan penegakannya dalam suatu Kode Etik dan Tingkah Laku Hakim sebagai tolak ukur pengawasan. Berlakunya norma secara bersamaan demikian.dapat mengatakan bahwa mereka mengetahui apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan hakim. dan norma agama. maka untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi. Meskipun benar bahwa code of conduct berbeda dari code of ethics. in casu oleh organisasi profesi hakim baik oleh Mahkamah Agung ataupun oleh IKAHI. code of ethics merupakan sumber nilai dan moralitas yang akan membimbing hakim menjadi hakim yang baik. Dari kode etik kemudian dirumuskan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh atau tidak layak dilakukan oleh hakim di dalam maupun di luar dinas. Jadi setelah dibentuk suatu code of conduct. lebih baik. bukan oleh Komisi Yudisial. tetapi oleh beberapa macam norma secara bersamaan. Penindakan atau pemberian sanksi atas pelanggaran Kode Etik dan 236 Bunga Rampai . sebagaimana kemudian dijabarkan ke dalam code of conduct. bukan oleh lembaga lain. dan d) menumbuhkan kepercayaan masyarakat pada lembaga peradilan. Seringkali suatu perbuatan diatur tidak hanya dengan satu macam norma. b) sebagai sarana kontrol sosial. pencegah campur tangan ekstra judicial dan pencegahan timbulnya kesalahpahaman antar sesama anggota dengan masyarakat. akan tetapi menurut pemahaman saya. c) memberikan jaminan peningkatan moralitas hakim dan kemandirian fungsional hakim. Langkah berikutnya adalah mengembangkan suatu kode etik yang akan memberi motivasi bagi hakim meningkat ke jenjang yang lebih tinggi. norma etik. Kode etik itu dalam lingkungan profesi dibuat dan disahkan oleh organisasi profesi itu sendiri. di mana suatu perbuatan tercela dilarang baik oleh norma hukum. mungkin diinginkan untuk membentuk satu kode etik. lebih efektif dalam melayani masyarakat. maupun menegakkan rule of law. 7.

E. yang berakhir dengan saran (rekomendasi) kepada organisasi profesi. Pengawasan dapat dirinci dalam beberapa kegiatan. pemeriksaan. Namun perlu saya sampaikan bahwa pokok-pokok pikiran ini bukan merupakan representasi pemikiran dan sikap Badan Legislasi DPR RI dalam arti kelembagaan. Penutup Demikian pokok-pokok pikiran yang dapat saya sampaikan dalam melihat dan mencermati Perubahan Undang-undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial yang saat ini sedang diagendakan pembahasannya oleh Badan Legislasi Dewan Perwakilan Republik Indonesia yang masuk dalam Program Legislasi Nasional Prioritas Tahun 2007. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 237 . dalam hal ini Mahkamah Agung. Untuk itu saya sangat menyadari. juga dapat dilakukan oleh pihak di luar profesi. yang merupakan salah satu unsur dari profesionalisme. namun lebih merupakan hasil telaahan dan pemikiran pribadi penulis. Sementara itu. mungkin tulisan ini belum begitu komprehensif. dan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak pada umumnya. melalui transparansi dan akuntabilitas. pengawasan atas pelaksanaan Kode Etik dan Perilaku selain dapat dilakukan oleh organisasi profesi. misalnya pemanggilan. Namun mudah-mudahan dapat memberikan kontribusi dalam rangka pengayaan dan pendalaman materi untuk perubahan Undang-undang Komisi Yudisial pada khususnya. penilaian.Perilaku juga dilakukan oleh organisasi profesi. Hal ini dimaksudkan dalam rangka memenuhi tanggung jawab sosial (social responsibility).

238 Bunga Rampai .

konstitusi adalah semua asas hukum. S. Wheare menjelaskan. dan James Bryce menyatakan. Selain itu. konstitusi berfungsi mengawasi pelaksanaan pemerintahan (pengawasan konstitusional). serta Ivor Jenning mengemukakan. Yang sulit adalah ketika tulisan itu dikaitkan dengan suatu masalah hukum dan politik yang dialami oleh satu atau beberapa lembaga negara. Jika K. Couwenberg mengatakan. C. sebab pada dasarnya UUD 1945 (konstitusi) telah menggariskan tugas-tugas pokok semua lembaga negara. Hal ini dapat disimak dari beberapa pendapat pakar yang secara tepat melahirkan beberapa perspektif penting tentang fungsi konstitusi. konstitusi adalah aturan hukum yang menetapkan kerangka dasar dari suatu negara dan mengatur tentang susunan pemerintahan. aturan hukum dan lembaga-lembaga yang berhubungan dengan susunan dan arah perkembangan kehidupan bersama yang terorganisasikan secara kenegaraan. Yang menjadi Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 239 . bahwa konstitusi berfungsi menetapkan lembaga-lembaga negara dan mengatur fungsi dan batas haknya. Dijelaskan kemudian.Gerak dan Langkah Nyata Komisi Yudisial Dalam Mengemban Amanat UUD 1945 Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi John Pieris Sebuah tulisan yang bersifat kajian kritis mengenai suatu lembaga negara yang terkait dengan UUD 1945 sebenarnya tidak terlalu sulit. Dari berbagai perspektif itu. maka sebenarnya UUD 1945 sebagai konstitusi (hukum dasar) telah mengatur halhal penting mengenai semua lembaga negara khususnya tentang kewenangannya. hukum konstitusi merupakan basis atau landasan dari sistem hukum negara yang bersangkutan. W.

yang tunduk pada pembatasan konstitusional. Menyimak judul tulisan yang diminta oleh KY kepada penulis. asas legalitas adalah asas yang dipakai untuk menjamin asas-asas lainnya. Pandangan Friedrich cukup menarik. Seperti yang dikatakan Lunshof (1989:7). Itulah faham legalisme dan konstitusionalisme yang dianut sampai sekarang. belum tentu dapat dilaksanakan dengan baik. Sejalan dengan itu.soal adalah. maka tidak dapat dihindari. sebenarnya telah mengatur fungsi-fungsi serta pembatasan kekuasan dari semua lembaga negara. apa yang diamanatkan oleh konstitusi. yaitu Gerak dan Langkah Nyata KY dalam Mengemban Amanat UUD 1945 Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi. Jika berpegang pada asas legalitas dan gagasan konstitusionalitas. khususnya Komisi Yudisial (KY). Mungkin juga konstitusi tidak secara jelas merumuskan ketentuan mengenai kewenangan sebuah lembaga negara. dengan segala keterbatasannya. Carl J. Mahkamah Agung (MA) dan Mahkamah Konstitusi (MK). Friedrich (1967) menjelaskan. sebaiknya pemerintah itu juga harus tunduk pada pembatasan konstitusional. walaupun ketentuan tersebut dianggap tidak sempurna. sebab sekali pun pemerintah mendapat mandat dari rakyat dan bertindak atas nama rakyat. konstitusionalisme adalah sebuah gagasan yang menganggap pemerintah sebagai suatu kumpulan aktivitas yang diselenggarakan atas nama rakyat. antara lain asas pembatasan kekuasaan pemerintah dan hak-hak asasi. terkesan ada tiga hal krusial yang menonjol. UUD 1945 sebagai konstitusi tertulis (written constitution) atau sebagai hukum yang tertinggi (Grundgesetz) yang kekuatan mengikatnya melebihi undang-undang biasa. Juga dikatakannya. Pertama. agar terhindar dari penyalahgunaan kekuasaan. di satu pihak UUD 1945 telah menggariskan kewenangan KY 240 Bunga Rampai . semua ketentuan yang telah dirumuskan di dalam UUD 1945 harus dijalankan. Hal itu diperlukan sebagai jaminan bahwa kekuasaan yang diperlukan untuk pemerintahan tersebut tidak disalahgunakan oleh mereka yang mendapat tugas untuk memerintah. dan perlindungan hukum terhadap yang berkuasa. Terlepas dari asumsi demikian. pemberian wewenang kepada pemerintah. adanya pengawasan pengadilan terhadap pelaksanaan kekuasaan yang dijalankan oleh pemerintah.

dan Mahkamah Konstitusi telah memutus permohonan tersebut dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 005/PUUIV/2006 yang diucapkan dalam Sidang Pleno Mahkamah Konstitusi yang terbuka untuk umum pada hari Rabu. “Dalam melaksanakan wewenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf b Komisi Yudisial mempunyai tugas melakukan pengawasan terhadap perilaku hakim dalam rangka menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga perilaku hakim”. yang berbunyi. Ketidaksetujuan dan penolakan MA atas beberapa ketentuan. Pasal 20. ternyata MK telah memutuskan. tidak termasuk mengawasi hakim MK. Kedua. pihak KY tetap bergerak mengayunkan langkah nyata. tentunya dengan segala resiko (perlawanan) yang dihadapi untuk mengemban amanat UUD 1945. bahwa terjadi pertentangan dan perbedaan signifikan antara norma hukum pengawasan hakim agung antara KY dengan MA. MK berpendapat seperti itu karena. tanggal 23 Agustus 2006. Hal inilah yang melatarbelakangi diajukannya permohonan Penguijian UndangUndang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial dan Pengujian Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ke Mahkamah Konstitusi. pengawasan terhadap hakim MK tidak diamanatkan oleh UUD 1945 (Pasal 24B ayat (1)). Ketiga. bahwa kewenangan yang dimiliki KY untuk mengawasi hakim-hakim. Seperti diketahui.walaupun ketentuan yang mengatur kewenangan KY untuk mengawasi semua hakim (di MA dan MK) tidak maksimal. dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 005/PUU-IV/2006 tersebut. terutama mengenai pengawasan hakim agung oleh KY telah membuktikan. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 241 . Mahkamah Konstitusi telah memutuskan: Menyatakan permohonan para Pemohon dikabulkan untuk sebagian: Menyatakan: Pasal 1 angka 5 sepanjang mengenai kata-kata “hakim Mahkamah Konstitusi”.

Pasal 22 ayat (5). yang berbunyi. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 89. yang berbunyi. membuat laporan hasil pemeriksaan yang berupa rekomendasi dan disampaikan kepada Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi. Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi wajib memberikan penetapan berupa paksaan kepada badan peradilan atau hakim untuk memberikan keterangan atau data yang diminta”. Pasal 23 ayat (3). usul pemberhentian hakim diajukan oleh Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi kepada Presiden paling lambat 14 (empat belas) hari sejak pembelaan diri ditolak oleh Majelis Kehormatan Hakim”. Pasal 22 ayat (1) huruf e. “Usul penjatuhan sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan huruf c diserahkan oleh Komisi Yudisial kepada Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi”. yang berbunyi. “Dalam hal badan peradilan atau hakim tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (4). Pasal 25 ayat (3). dan Pasal 25 ayat (4).- Pasal 21. Pasal 24 ayat (1). “Dalam hal pembelaan diri ditolak. serta tindasannya disampaikan kepada Presiden dan DPR”. Komisi Yudisial: e. “Dalam rangka menjaga Bunga Rampai - - - - - - - 242 . bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. yang berbunyi. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4415). Komisi Yudisial bertugas mengajukan usul penjatuhan sanksi terhadap hakim kepada pimpinan Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi”. sepanjang mengenai kata-kata “dan/atau Mahkamah Konstitusi”. yang berbunyi. Pasal 34 ayat (3). “Untuk kepentingan pelaksanaan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf b. yang berbunyi. “Dalam melaksanakan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20. Pasal 23 ayat (5).

dengan pertimbangan: Bahwa apabila ditinjau secara sistematis dan dari penafsiran berdasarkan “original intent” perumusan ketentuan UUD 1945.kehormatan. sebagai berikut. Pasal 25 ayat (3). Pasal 20. Menyatakan: Pasal 1 angka 5 sepanjang mengenai kata-kata “hakim Mahkamah Konstitusi”. antara lain. Hal tidak tercakupnya pengertian perilaku hakim konstitusi dalam apa yang dimaksud dengan perilaku hakim menurut Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 tersebut juga terdapat dalam ketentuan UUMK dan UUKK yang dibentuk sebelum Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 243 . 21. tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. 23 ayat (2). ketentuan mengenai KY dalam Pasal 24B UUD 1945 memang tidak berkaitan dengan ketentuan mengenai MK yang diatur dalam Pasal 24C UUD 1945. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4358). UndangUndang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 8. keluhuran martabat serta perilaku hakim agung dan hakim. dan Pasal 25 ayat (4). 23 ayat (5). 22 ayat (1) huruf e. sepanjang mengenai kata-kata “dan/atau Mahkamah Konstitusi”. Pasal 24 ayat (1). tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. 23 ayat (3). Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Republik Indonesia Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 8. pengawasan dilakukan oleh Komisi Yudisial yang diatur dalam undang-undang”. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4415). Undang-Undang Republik Indonesia Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 89. bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Mahkamah Konstitusi dalam Putusannya menyatakan bahwa Hakim Konstitusi tidak diawasi oleh Komisi Yudisial. - Amar putusan tersebut di atas didasarkan pada pertimbangan. 22 ayat (5). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4358).

Atau. yang mengatur pengawasan tentang Hakim Konstitusi. Karena itu Indonesia memang harus memiliki sebuah sistem pembuatan hukum terpadu (integrated law making system). Selain itu. Hakim Konstitusi hanya diangkat untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan setelah tidak lagi menduduki jabatan Hakim Konstitusi. MK.pembentukan UUKY. MA dan KY mengenai pengawasan terhadap hakim-hakim pada semua lingkungan dan strata lembaga peradilan. Dalam UUMK. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. Demikian pula Pasal 34 ayat (3) UU Kekuasaan Kehakiman sama sekali tidak menentukan bahwa Hakim Konstitusi menjadi objek pengawasan oleh KY. Dalam keseluruhan mekanisme pemilihan dan pengangkatan para Hakim Konstitusi yang diatur dalam UUD 1945 juga tidak terdapat keterlibatan peran KY sama sekali. sekiranya kalau ada pasal khusus di dalam UU No. jika ada ketentuan pengawasan hakim agung dan hakim-hakim lain di dalam lingkungan kekuasaan kehakiman yang diatur secara jelas di dalam UU No. Sebagai misal. melainkan hakim karena jabatannya. Dengan begitu. maka tidak akan terjadi konflik antara KY dan MA. 24 Tahun 2003. serta UU No. DPR dan Presiden sebagai pembentuk UU No. maka proses penegakan hukum secara terpadu (integrated law enforcement process) mengenai pengawasan terhadap perilaku hakim-hakim juga akan terlaksana dengan baik. Itulah sebabnya. Hakim Konstitusi pada dasarnya bukanlah hakim sebagai profesi tetap. maka diperlukan keterpaduan (integrasi) dalam merumuskan norma-norma hukum yang sama pada beberapa undang-undang yang saling terkait. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. Tidak berlebihan jika dikatakan. maka konflik (pertentangan) antara MK dan KY tidak perlu terjadi. yang bersangkutan masing-masing kembali lagi kepada status profesinya yang semula. untuk fungsi pengawasan terhadap perilaku Hakim Konstitusi ditentukan adanya lembaga Majelis Kehormatan yang diatur secara tersendiri dalam Pasal 23 UUMK. 244 Bunga Rampai . 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman tidak begitu cermat merumuskan norma-norma hukum yang terkait secara tepat tentang pengawasan hakim. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi dan UU No. misalnya keterpaduan di dalam pembuatan UU tentang KK. berbeda halnya dengan hakim biasa.

Mekanisme upaya hukum (rechtsmiddlen) terkendala oleh perilakuperilaku hakim yang tidak cukup memiliki kemampuan etik. atau tidak memiliki akhlak mulia untuk mewujudkan keadilan bagi masyarakat. Haruslah dipahami. pengawasan internal tidak bisa diharapkan mampu membongkar mafia peradilan selama ini. apalagi yang menguntungkan dirinya. Banyak hakim (tidak semua) memihak kepada merekamereka yang berkedudukan penting atau orang-orang yang memiliki uang dalam jumlah yang besar. Banyak kasus (perkara) yang ditangani hakim PN. Ini merupakan sebuah upaya mendesak dan sistematik untuk mereformasi kekuasaan peradilan. Penjahat-penjahat korporasi dan ekonomi yang merampok uang negara acap kali dilindungi dan diberikan perlakuan khusus. sementara terpidana dari kelas bawah tidak dihargai hak asasinya. sebab. tidak bisa disangkal. keluhuran martabat serta perilaku hakim. banyak mendatangkan ketidakadilan bagi pencari keadilan (justice seekers). 14 Tahun 1985 sesungguhnya adalah pengawasan yang bersifat internal. lemahnya pengawasan terhadap hakim dapat mendorong hakim bisa berbuat apapun. adalah untuk menjaga dan menegakkan kehormatan. Artinya hakim agung diawasi oleh lembaga MA. khususnya peradilan umum yang selama ini tidak menjalankan fungsinya secara benar. sekalipun pihakpihak itu terbukti melakukan perbuatan melawan hukum. bukan rahasia lagi. Mentalitas birokrasi pemerintah dan lembaga-lembaga negara yang lain juga sulit melakukan pengawaan internal. manipulasi penyalahgunaan jabatan yang merugikan negara dan rakyat. Dengan kata lain. PT dan MA. Hakim dan hukum lalu berpihak secara ekstrim dan arogan kepada kaum bor- Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 245 . korupsi.Pengawasan hakim sebagaimana dirumuskan di dalam Pasal 32 UU No. Agak sulit memang. karena budaya korupsi dan penyelewengan atau perbuatan melawan hukum (onrechtmatigedaad) sudah sangat sulit diperbaiki. Karena itu kejahatan yudisial sulit dihindari. Dapat diduga. bahwa alasan pembentukan KY di dalam UUD 1945. jika hakim agung diawasi oleh institusi di mana ia berada di dalamnya. salah satu faktor rendahnya mentalitas dan moralitas hakim karena para hakim terbebas dari pengawasan yang efektif. moral dan spiritual.

14 Tahun 1985 tentang MA melegitimasi kekuasaan MA sebagai kekuasaan terpusat dan personal. Sistem politik birokratik telah merasuk jauh menusuk sampai ke pusat-pusat kekuasaan (termasuk yudikatif). UU No. tapi bagaimana menghimpunnya”. Hampir sama dengan Anderson. bahwa MA tidak mau diawasi oleh lembaga negara apa- 246 Bunga Rampai . “bukan masalah bagaimana menggunakan kekuasaan. hanya pengawasan internal oleh MA. dan ini sangat sulit diawasi. mungkin ada sedikit harapan. Bahkan ada wacana dari Bagir Manan sebagai Ketua MA. bahwa sistem politik birokratik terpusat pada mereka yang memegang kekuasaan negara sebagai majikan. yang sulit diawasi dari luar (eksekutif dan legislatif). terutama pada lembaga-lembaga peradilan. jika kekuasaan yang dipegang dan dikendalikan oleh seorang atau sekelompok orang dalam tubuh birokrasi di Indonesia memang sulit diawasi. perlu ada sebuah mekanisme untuk mengawasi hakim seperti itu. seorang ilmuwan politik Amerika Serikat yang menulis “Bureaucratic Polity” tentang Indonesia berpendapat. bahwa kekuasaan cenderung terpusat di tangan seseorang atau sekelompok orang. bahwa kekuasaan eksternal bisa diandalkan untuk mengawasi birokrasi. baik secara internal. Karl Jackson. sulit juga diawasi oleh Komisi Yudisial. maupun eksternal. Keberpihakan hukum bisa saja dilakukan dengan cara menyalahi teknis yudisial dan administratif yang menguntungkan orang-orang tertentu dan merugikan pihak lain yang tidak berdaya. karena kolusi juga bisa terjadi antar hakim dengan pimpinan MA. Kesulitannya adalah. Kalau ada pilihan di antara kedua jenis pengawasan itu. karena dipastikan tidak akan efektif. sebab prinsip ini berpotensi melindungi kesalahan hakim dan ada alasan menolak untuk diawasi. Tidak bisa diharapkan. Tulisnya lebih lanjut. Ini merupakan sebuah indikasi. Maka berdasarkan teori tersebut tidak dapat dielakkan. Dengan begitu agak sulit untuk mengawasi birokrasi kekuasaan kehakiman.juasi dan mencampakkan rakyat kecil yang miskin. Karena itu. bahwa Ketua MA dapat merangkap menjadi Ketua KY. Prinsip res judicate pra veritate habetur (apa yang telah diputuskan oleh hakim harus dianggap sebagai benar) yang dipegang para hakim cukup berbahaya. Seperti apa yang dikatakan Benedict Anderson.

pun. Masalahnya sebenarnya tidak terlalu pelik, jika Pasal 24B UUD 1945 dapat diamandemen agar KY bisa mengawasi perilaku hakim pada semua lingkungan peradilan. Tidak bisa dihindari, bahwa ada masalah-masalah teknis yudisial dan administratif yang dapat merugikan pencari keadilan. Jika ada kesalahan substansial dan mungkin prosedural yang dirancang secara sistematis oleh seorang hakim, maka dapat disimpulkan, hakim tersebut tidak memiliki perilaku yang terpuji. Hakim tersebut tidak boleh tidak, harus diperiksa. Jadi sebenarnya tidak salah seluruhnya jika KY dapat masuk pada hal-hal yang bersifat teknis administratif dalam memeriksa hakim. Jika ada komitmen seperti itu, mengapa tidak dicoba untuk dibuat norma hukumnya? Bukankah teori, sistem dan doktrin hukum bisa berubah atau diubah untuk bisa merakit sebuah kebenaran dalam mewujudkan keadilan yang sejati, supaya hakim-hakim bisa menjadi Law Prophets. Untuk itu dapat dibenarkan dan sebaiknya demikian, KY harus mengusulkan amandemen terhadap Pasal 24B UUD 1945. Usul perubahan dari KY sebaiknya menyangkut tidak saja pengangkatan hakim agung, tetapi juga mengusulkan pemberhentian hakim agung. Hal (kewenangan) yang sama juga harus dilakukan terhadap pengangkatan dan pemberhentian hakim konstitusi. Artinya adalah, bahwa kewenangan KY itu harus dilihat dalam perspektif penguatan wibawa lembaga peradilan atau perwujudan supremasi kekuasaan kehakiman. Selain itu, perlu diperluas struktur organisasi KY sampai ke daerah-daerah, agar KY daerah dapat menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim pengadilan negeri dan pengadilan tinggi. Ini tidak bertentangan dengan UUD 1945, sebab sesuai dengan Pasal 24B ayat (4), dijelaskan, bahwa susunan, kedudukan, dan keanggotaan KY diatur dengan undang-undang. Jadi undang-undang tentang KY yang baru harus mengatur hal ini. KY juga harus diberikan peran untuk mengawasi panitera-panitera pada semua jenjang organisasi kekuasaan kehakiman. Hal ini penting, sebab bukan rahasia lagi, mafia peradilan sulit diberantas, karena para panitera sering menjadi calo (broker) dan penagih uang dari pihak-pihak yang berperkara.

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial

247

Sambil menunggu amandemen terhadap UUD 1945 dan revisi UU tentang KY, MK dan MA, gerak dan langkah nyata KY dalam mengemban amanat UUD 1945 pasca putusan MK harus lebih ditingkatkan lagi. Putusan MK tidak boleh membuat KY menyurutkan peran historisnya untuk menegakkan supremasi hukum, keadilan, kebenaran serta mewujudkan supremasi kekuasaan kehakiman di Indonesia. Pada saatnya nanti KY akan tampil sebagai sosok yang lebih berwibawa untuk menegakkan wibawa negara hukum yang berkarakter.

Penulis adalah Dosen dan Ketua Program Pascasarjana FH-UKI Mantan Anggota Komisi Konstitusi

248

Bunga Rampai

Gerak dan Langkah Nyata Komisi Yudisia Dalam Mengemban Amanat UUD 1945 Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi
John Pieris

Sebuah tulisan yang bersifat kajian kritis mengenai suatu lembaga negara yang terkait dengan UUD 1945 sebenarnya tidak terlalu sulit, sebab pada dasarnya UUD 1945 (konstitusi) telah menggariskan tugas-tugas pokok semua lembaga negara. Hal ini dapat disimak dari beberapa pendapat pakar yang secara tepat melahirkan beberapa perspektif penting tentang fungsi konstitusi. Jika K. C. Wheare menjelaskan, konstitusi adalah aturan hukum yang menetapkan kerangka dasar dari suatu negara dan mengatur tentang susunan pemerintahan, dan James Bryce menyatakan, bahwa konstitusi berfungsi menetapkan lembaga-lembaga negara dan mengatur fungsi dan batas haknya, serta Ivor Jenning mengemukakan, konstitusi berfungsi mengawasi pelaksanaan pemerintahan (pengawasan konstitusional). Selain itu, S. W. Couwenberg mengatakan, konstitusi adalah semua asas hukum, aturan hukum dan lembaga-lembaga yang berhubungan dengan susunan dan arah perkembangan kehidupan bersama yang terorganisasikan secara kenegaraan. Dijelaskan kemudian, hukum konstitusi merupakan basis atau landasan dari sistem hukum negara yang bersangkutan.

Penulis adalah, Dosen dan Ketua Program Pascasarjana FH-UKI Mantan Anggota Komisi Konstitusi

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial

249

Dari berbagai perspektif itu, maka sebenarnya UUD 1945 sebagai konstitusi (hukum dasar) telah mengatur halhal penting mengenai semua lembaga negara khususnya tentang kewenangannya. Yang sulit adalah ketika tulisan itu dikaitkan dengan suatu masalah hukum dan politik yang dialami oleh satu atau beberapa lembaga negara. Yang menjadi soal adalah, apa yang diamanatkan oleh konstitusi, belum tentu dapat dilaksanakan dengan baik. Mungkin juga konstitusi tidak secara jelas merumuskan ketentuan mengenai kewenangan sebuah lembaga negara. Terlepas dari asumsi demikian, UUD 1945 sebagai konstitusi tertulis (written constitution) atau sebagai hukum yang tertinggi (Grundgesetz) yang kekuatan mengikatnya melebihi undang-undang biasa, dengan segala keterbatasannya, sebenarnya telah mengatur fungsi-fungsi serta pembatasan kekuasan dari semua lembaga negara, khususnya Komisi Yudisial (KY), Mahkamah Agung (MA) dan Mahkamah Konstitusi (MK). Jika berpegang pada asas legalitas dan gagasan konstitusionalitas, maka tidak dapat dihindari, semua ketentuan yang telah dirumuskan di dalam UUD 1945 harus dijalankan, walaupun ketentuan tersebut dianggap tidak sempurna. Itulah faham legalisme dan konstitusionalisme yang dianut sampai sekarang. Seperti yang dikatakan Lunshof (1989:7), asas legalitas adalah asas yang dipakai untuk menjamin asas-asas lainnya, antara lain asas pembatasan kekuasaan pemerintah dan hak-hak asasi. Juga dikatakannya, adanya pengawasan pengadil-an terhadap pelaksanaan kekuasaan yang dijalankan oleh pemerintah, pemberian wewenang kepada pemerintah, dan perlindungan hukum terhadap yang berkuasa. Sejalan dengan itu, Carl J. Friedrich (1967) menjelaskan, konstitusionalisme adalah sebuah gagasan yang menganggap pemerintah sebagai suatu kumpulan aktivitas yang diselenggarakan atas nama rakyat, yang tunduk pada pembatasan konstitusional. Hal itu diperlukan sebagai jaminan bahwa kekuasaan yang diperlukan untuk pemerintahan tersebut tidak disalahgunakan oleh mereka yang mendapat tugas untuk memerintah. Pandangan Friedrich cukup menarik, sebab sekali pun pemerintah mendapat mandat dari rakyat dan bertindak atas nama rakyat, sebaiknya pemerintah itu juga harus tunduk pada pembatasan konstitusional,

250

Bunga Rampai

agar terhindar dari penyalahgunaan kekuasaan. Menyimak judul tulisan yang diminta oleh KY kepada penulis, yaitu Gerak dan Langkah Nyata KY dalam Mengemban Amanat UUD 1945 Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi, terkesan ada tiga hal krusial yang menonjol. Pertama, di satu pihak UUD 1945 telah menggariskan kewenangan KY walaupun ketentuan yang mengatur kewenangan KY untuk mengawasi semua hakim (di MA dan MK) tidak maksimal. Kedua, pihak KY tetap bergerak mengayunkan langkah nyata, tentunya dengan segala resiko (perlawanan) yang dihadapi untuk mengemban amanat UUD 1945. Ketiga, ternyata MK telah memutuskan, bahwa kewenangan yang dimiliki KY untuk mengawasi hakim-hakim, tidak termasuk mengawasi hakim MK. MK berpendapat seperti itu karena, pengawasan terhadap hakim MK tidak diamanatkan oleh UUD 1945 (Pasal 24B ayat (1)). Ketidaksetujuan dan penolakan MA atas beberapa ketentuan, terutama mengenai pengawasan hakim agung oleh KY telah membuktikan, bahwa terjadi pertentangan dan perbedaan signifikan antara norma hukum pengawasan hakim agung antara KY dengan MA. Hal inilah yang melatarbelakangi diajukannya permohonan Penguijian UndangUndang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial dan Pengujian Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ke Mahkamah Konstitusi, dan Mahkamah Konstitusi telah memutus permohonan tersebut dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 005/PUUIV/2006 yang diucapkan dalam Sidang Pleno Mahkamah Konstitusi yang terbuka untuk umum pada hari Rabu, tanggal 23 Agustus 2006. Seperti diketahui, dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 005/PUU-IV/2006 tersebut, Mahkamah Konstitusi telah memutuskan: Menyatakan permohonan para Pemohon dikabulkan untuk sebagian: Menyatakan : Pasal 1 angka 5 sepanjang mengenai kata-kata “hakim Mahkamah Konstitusi”; Pasal 20, yang berbunyi, “Dalam melaksanakan wePenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial

251

-

-

-

-

-

-

wenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf b Komisi Yudisial mempunyai tugas melakukan pengawasan terhadap perilaku hakim dalam rangka menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga perilaku hakim”; Pasal 21, yang berbunyi, “Untuk kepentingan pelaksanaan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf b, Komisi Yudisial bertugas mengajukan usul penjatuhan sanksi terhadap hakim kepada pimpinan Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi”; Pasal 22 ayat (1) huruf e, yang berbunyi, “Dalam melaksanakan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20, Komisi Yudisial: e, membuat laporan hasil pemeriksaan yang berupa rekomendasi dan disampaikan kepada Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi, serta tindasannya disampaikan kepada Presiden dan DPR”; Pasal 22 ayat (5), yang berbunyi, “Dalam hal badan peradilan atau hakim tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (4), Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi wajib memberikan penetapan berupa paksaan kepada badan peradilan atau hakim untuk memberikan keterangan atau data yang diminta”; Pasal 23 ayat (3), yang berbunyi, “Usul penjatuhan sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan huruf c diserahkan oleh Komisi Yudisial kepada Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi”; Pasal 23 ayat (5), yang berbunyi, “Dalam hal pembelaan diri ditolak, usul pemberhentian hakim diajukan oleh Mahkamah Agung dan/atau Mahkamah Konstitusi kepada Presiden paling lambat 14 (empat belas) hari sejak pembelaan diri ditolak oleh Majelis Kehormatan Hakim”; Pasal 24 ayat (1), Pasal 25 ayat (3), dan Pasal 25 ayat (4), sepanjang mengenai kata-kata “dan/atau Mahkamah Konstitusi”; Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 89. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4415), bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik IndoneBunga Rampai

252

Pasal 24 ayat (1). 22 ayat (1) huruf e. keluhuran martabat serta perilaku hakim agung dan hakim. Amar putusan tersebut di atas didasarkan pada pertimbangan. 21. “Dalam rangka menjaga kehormatan. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4358). sepanjang mengenai kata-kata “dan/atau Mahkamah Konstitusi”.- - - sia Tahun 1945. Menyatakan: Pasal 1 angka 5 sepanjang mengenai kata-kata “hakim Mahkamah Konstitusi”. Mahkamah Konstitusi dalam Putusannya menyatakan bahwa Hakim Konstitusi tidak diawasi oleh Komisi Yudisial. Pasal 25 ayat (3). antara lain. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4415). 23 ayat (3). 23 ayat (2). yang berbunyi. bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pasal 20. tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Republik Indonesia Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 8. 23 ayat (5). tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. UndangUndang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 8. dengan pertimbangan: Bahwa apabila ditinjau secara sistematis dan dari penafsiran berdasarkan “original intent” perumusan ketentuan UUD 1945. Pasal 34 ayat (3). dan Pasal 25 ayat (4). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4358). 22 ayat (5). Hal tidak tercakupnya pengertian perilaku hakim konstitusi dalam apa yang dimaksud dengan perilaku hakim Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 253 . pengawasan dilakukan oleh Komisi Yudisial yang diatur dalam undang-undang”. Undang-Undang Republik Indonesia Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 89. ketentuan mengenai KY dalam Pasal 24B UUD 1945 memang tidak berkaitan dengan ketentuan mengenai MK yang diatur dalam Pasal 24C UUD 1945. sebagai berikut.

Demikian pula Pasal 34 ayat (3) UU Kekuasaan Kehakiman sama sekali tidak menentukan bahwa Hakim Konstitusi menjadi objek pengawasan oleh KY. Karena itu Indonesia memang harus memiliki sebuah sistem pembuatan hukum terpadu (integrated law making system). Selain itu. MA dan KY mengenai pengawasan terhadap hakim-hakim pada semua lingkungan dan strata lembaga peradilan. MK. Dengan begitu. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman tidak begitu cermat merumuskan norma-norma hukum yang terkait secara tepat tentang pengawasan hakim. Tidak berlebihan jika dikatakan. melainkan hakim karena jabatannya. maka konflik (pertentangan) antara MK dan KY tidak perlu terjadi. serta UU No. 24 Tahun 2003. Dalam UUMK. Dalam keseluruhan mekanisme pemilihan dan pengangkatan para Hakim Konstitusi yang diatur dalam UUD 1945 juga tidak terdapat keterlibatan peran KY sama sekali. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi dan UU No. yang bersangkutan masing-masing kembali lagi kepada status profesinya yang semula. maka tidak akan terjadi konflik antara KY dan MA. sekiranya kalau ada pasal khusus di dalam UU No. Itulah sebabnya. Hakim Konstitusi hanya diangkat untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan setelah tidak lagi menduduki jabatan Hakim Konstitusi. Sebagai misal. maka proses penegakan hukum secara ter- 254 Bunga Rampai . Atau.menurut Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 tersebut juga terdapat dalam ketentuan UUMK dan UUKK yang dibentuk sebelum pembentukan UUKY. maka diperlukan keterpaduan (integrasi) dalam merumuskan norma-norma hukum yang sama pada beberapa undang-undang yang saling terkait. misalnya keterpaduan di dalam pembuatan UU tentang KK. DPR dan Presiden sebagai pembentuk UU No. jika ada ketentuan pengawasan hakim agung dan hakim-hakim lain di dalam lingkungan kekuasaan kehakiman yang diatur secara jelas di dalam UU No. Hakim Konstitusi pada dasarnya bukanlah hakim sebagai profesi tetap. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. yang mengatur pengawasan tentang Hakim Konstitusi. berbeda halnya dengan hakim biasa. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. untuk fungsi pengawasan terhadap perilaku Hakim Konstitusi ditentukan adanya lembaga Majelis Kehormatan yang diatur secara tersendiri dalam Pasal 23 UUMK.

Artinya hakim agung diawasi oleh lembaga MA. Ini merupakan sebuah upaya mendesak dan sistematik untuk mereformasi kekuasaan peradilan.padu (integrated law enforcement process) mengenai pengawasan terhadap perilaku hakim-hakim juga akan terlaksana dengan baik. Mentalitas birokrasi pemerintah dan lembaga-lembaga negara yang lain juga sulit melakukan pengawaan internal. tidak bisa disangkal. lemahnya pengawasan terhadap hakim dapat mendorong hakim bisa berbuat apapun. Banyak kasus (perkara) yang ditangani hakim PN. karena budaya korupsi dan penyelewengan atau perbuatan melawan hukum (onrechtmatigedaad) sudah sangat sulit diperbaiki. korupsi. Haruslah dipahami. manipulasi penyalahgunaan jabatan yang merugikan negara dan rakyat. apalagi yang menguntungkan dirinya. salah satu faktor rendahnya mentalitas dan moralitas hakim karena para hakim terbebas dari pengawasan yang efektif. 14 Tahun 1985 sesungguhnya adalah pengawasan yang bersifat internal. Dapat diduga. banyak mendatangkan ketidakadilan bagi pencari keadilan (justice seekers). pengawasan internal tidak bisa diharapkan mampu membongkar mafia peradilan selama ini. Agak sulit memang. jika hakim agung diawasi oleh institusi di mana ia berada di dalamnya. bahwa alasan pembentukan KY di dalam UUD 1945. bukan rahasia lagi. Penjahat-penjahat korporasi dan ekonomi yang merampok uang negara acap kali dilindungi dan diberikan perlakuan khusus. sementara terpidana dari Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 255 . keluhuran martabat serta perilaku hakim. atau tidak memiliki akhlak mulia untuk mewujudkan keadilan bagi masyarakat. moral dan spiritual. khususnya peradilan umum yang selama ini tidak menjalankan fungsinya secara benar. Mekanisme upaya hukum (rechtsmiddlen) terkendala oleh perilakuperilaku hakim yang tidak cukup memiliki kemampuan etik. sekalipun pihakpihak itu terbukti melakukan perbuatan melawan hukum. PT dan MA. Banyak hakim (tidak semua) memihak kepada merekamereka yang berkedudukan penting atau orang-orang yang memiliki uang dalam jumlah yang besar. adalah untuk menjaga dan menegakkan kehormatan. Dengan kata lain. Pengawasan hakim sebagaimana dirumuskan di dalam Pasal 32 UU No. Karena itu kejahatan yudisial sulit dihindari. sebab.

Karl Jackson. baik secara internal. Keberpihakan hukum bisa saja dilakukan dengan cara menyalahi teknis yudisial dan administratif yang menguntungkan orang-orang tertentu dan merugikan pihak lain yang tidak berdaya. bahwa Ketua MA dapat 256 Bunga Rampai . Kalau ada pilihan di antara kedua jenis pengawasan itu. seorang ilmuwan politik Amerika Serikat yang menulis “Bureaucratic Polity” tentang Indonesia berpendapat. jika kekuasaan yang dipegang dan dikendalikan oleh seorang atau sekelompok orang dalam tubuh birokrasi di Indonesia memang sulit diawasi. perlu ada sebuah mekanisme untuk mengawasi hakim seperti itu. bahwa kekuasaan eksternal bisa diandalkan untuk mengawasi birokrasi. Sistem politik birokratik telah merasuk jauh menusuk sampai ke pusat-pusat kekuasaan (termasuk yudikatif). terutama pada lembaga-lembaga peradilan.kelas bawah tidak dihargai hak asasinya. Bahkan ada wacana dari Bagir Manan sebagai Ketua MA. mungkin ada sedikit harapan. karena kolusi juga bisa terjadi antar hakim dengan pimpinan MA. sulit juga diawasi oleh Komisi Yudisial. karena dipastikan tidak akan efektif. Maka berdasarkan teori tersebut tidak dapat dielakkan. Prinsip res judicate pra veritate habetur (apa yang telah diputuskan oleh hakim harus dianggap sebagai benar) yang dipegang para hakim cukup berbahaya. yang sulit diawasi dari luar (eksekutif dan legislatif). Dengan begitu agak sulit untuk mengawasi birokrasi kekuasaan kehakiman. Hampir sama dengan Anderson. hanya pengawasan internal oleh MA. tapi bagaimana menghimpunnya”. Kesulitannya adalah. Karena itu. maupun eksternal. dan ini sangat sulit diawasi. Hakim dan hukum lalu berpihak secara ekstrim dan arogan kepada kaum borjuasi dan mencampakkan rakyat kecil yang miskin. 14 Tahun 1985 tentang MA melegitimasi kekuasaan MA sebagai kekuasaan terpusat dan personal. “bukan masalah bagaimana menggunakan kekuasaan. bahwa sistem politik birokratik terpusat pada mereka yang memegang kekuasaan negara sebagai majikan. Tidak bisa diharapkan. Seperti apa yang dikatakan Benedict Anderson. UU No. sebab prinsip ini berpotensi melindungi kesalahan hakim dan ada alasan menolak untuk diawasi. bahwa kekuasaan cenderung terpusat di tangan seseorang atau sekelompok orang. Tulisnya lebih lanjut.

Selain itu. tetapi juga mengusulkan pemberhentian hakim agung. Artinya adalah. bahwa susunan. KY harus mengusulkan amandemen terhadap Pasal 24B UUD 1945. bahwa kewenangan KY itu harus dilihat dalam perspektif penguatan wibawa lembaga peradilan atau perwujudan supremasi kekuasaan kehakiman. sebab sesuai dengan Pasal 24B ayat (4). bahwa MA tidak mau diawasi oleh lembaga negara apapun. Tidak bisa dihindari. jika Pasal 24B UUD 1945 dapat diamandemen agar KY bisa mengawasi perilaku hakim pada semua lingkungan peradilan. sebab bukan rahasia lagi. Jadi undang-undang tentang KY yang baru harus mengatur hal ini. KY juga harus diberikan peran untuk mengawasi panitera-panitera pada semua jenjang organisasi kekuasaan kehakiman. supaya hakim-hakim bisa menjadi Law Prophets. Hal (kewenangan) yang sama juga harus dilakukan terhadap pengangkatan dan pemberhentian hakim konstitusi. Jadi sebenarnya tidak salah seluruhnya jika KY dapat masuk pada hal-hal yang bersifat teknis administratif dalam memeriksa hakim. Ini merupakan sebuah indikasi. agar KY daerah dapat menjaga dan menegakkan kehormatan. sistem dan doktrin hukum bisa berubah atau diubah untuk bisa merakit sebuah kebenaran dalam mewujudkan keadilan yang sejati. mengapa tidak dicoba untuk dibuat norma hukumnya? Bukankah teori. hakim tersebut tidak memiliki perilaku yang terpuji. dan keanggotaan KY diatur dengan undang-undang. Hakim tersebut tidak boleh tidak. Jika ada komitmen seperti itu. perlu diperluas struktur organisasi KY sampai ke daerah-daerah. maka dapat disimpulkan.merangkap menjadi Ketua KY. Hal ini penting. Jika ada kesalahan substansial dan mungkin prosedural yang dirancang secara sistematis oleh seorang hakim. harus diperiksa. kedudukan. bahwa ada masalah-masalah teknis yudisial dan administratif yang dapat merugikan pencari keadilan. Ini tidak bertentangan dengan UUD 1945. keluhuran martabat. dijelaskan. Usul perubahan dari KY sebaiknya menyangkut tidak saja pengangkatan hakim agung. serta perilaku hakim pengadilan negeri dan pengadilan tinggi. mafia peradilan sulit Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 257 . Masalahnya sebenarnya tidak terlalu pelik. Untuk itu dapat dibenarkan dan sebaiknya demikian.

kebenaran serta mewujudkan supremasi kekuasaan kehakiman di Indonesia. MK dan MA. Sambil menunggu amandemen terhadap UUD 1945 dan revisi UU tentang KY.diberantas. keadilan. 258 Bunga Rampai . karena para panitera sering menjadi calo (broker) dan penagih uang dari pihak-pihak yang berperkara. gerak dan langkah nyata KY dalam mengemban amanat UUD 1945 pasca putusan MK harus lebih ditingkatkan lagi. Pada saatnya nanti KY akan tampil sebagai sosok yang lebih berwibawa untuk menegakkan wibawa negara hukum yang berkarakter. Putusan MK tidak boleh membuat KY menyurutkan peran historisnya untuk menegakkan supremasi hukum.

yaitu pemerintahan diciptakan untuk melindungi kebebasan yang dimiliki oleh individu berdasarkan eksistensi individu itu. MS. MH.Pentingnya Peran Komisi Yudisial Berdasarkan Pendekatan Geopolitik dan Geostrategi Indonesia Prof. Latar Belakang. dan hak untuk mendapatkan perlindungan yang sama di depan hukum. dan baik masyarakat maupun pemerintahan tidak dapat mencabutnya. Ermaya Suradinata. Hak-hak ini tidak hancur ketika masyarakat sipil diciptakan. adalah menetapkan suatu prinsip dasar bagi berdirinya pemerintahan negara yang demokratis. kebebasan berserikat.. Rumusan kebebasan yang dikemukakan oleh para filsuf zaman pencerahan abad ke-17 dan ke-18. Deklarasi Kemerdekaan yang dikemukakan oleh Thomas Jefferson. DR. Contoh hak-hak yang tidak dapat dicabut meliputi kebebasan berbicara dan berpendapat.H. S. kebebasan beragama dan keyakinan. untuk menjalankan pemerintahan negara yang baik tariklah hukum yang bermoral. hak-hak alamiah yang tidak dapat dicabut adalah karunia Tuhan. Dalam masyarakat demokratis juga menyatakan hak-hak sipil seperti hak untuk mendapatkan pengadilan yang jujur. Sedangkan Soekarno Presiden pertama Republik Indonesia. pemerintahan dalam suatu demokrasi tidak memberikan kebebasan dasar yang disebut Jefferson. Sedangkan landasan intelektual demokrasi konstitusional modern dalam geopolitik diletakan selama zaman Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 259 .

Dalam pernyataannya tentang hukum alam itu. warganya berhak menggulingkan rezim itu dan membentuk suatu pemerintahan baru. kata Locke. adalah suatu aspek rangkaian takdir Ilahi. Warga negara wajib patuh pada undang-undang dan mempertahankan kesejahteraan umum dari pelanggaran asing semuanya demi kebaikan bersama. dalam 260 Bunga Rampai . suatu gerakkan filosofis abad 18 yang ditandai dengan penolakan terhadap gagasan-gagasan sosial.Pencerahan Eropa. Pada tahun 1690 Locke menerbitkan bukunya yang sangat berpengaruh Two Treaties of Government (Dua Risalah Tentang Pemerintahan). Emmanuel Kant di Jerman dan Thomas Jefferson serta Benjamin Franklin di negeri yang kemudian bernama Amerika Serikat. Dalam teori hukum alam Locke mengilhami satu generasi filsuf zaman Pencerahan di Eropa dan dunia baru. Montesquieu.dari Jean Jacques Rousseau di Perancis sampai David Hume di Skotlandia. John Locke. legislatif. dan menjamin hak-hak dasar semua orang. ujar Locke. Dalam L’Esprit des Lois (Semangat hukum). Hukum alam identik dengan hukum Tuhan. dan yudikatif. Untuk mengamankan hak-hak ini. percaya pada pemerintahah Republik berdasarkan pada persetujuan dari yang diperintah. dalam pernyataannya bahwa semua pemerintahan yang sah bertumpu pada persetujuan dari yang diperintah. termasuk hak atas hidup. dan politik yang tradisional yang penekanannya pada rasionalisme. agama. John Locke membantah pengakuan bahwa pemerintah teristimewa monarki. dan ahli hukum dan filsuf Perancis. Tapi penerusnya yang paling terkemuka adalah Montesquieu. Dua pemikiran yang berpengaruh adalah filosuf Inggris. dan termasuk hak untuk memiliki harta benda serta menikmati hasil kerja sendiri. yang terbit pada tahun 1748. yang seperti halnya Locke. kebebasan tertentu. mendukung pemisahan dan penyeimbangan kekuasaan antara cabang-cabang eksekutif. manusia dalam masyarakat sipil mengadakan kontrak dengan pemerintah mereka. John Locke. Locke juga menyatakan jika suatu pemerintahan menjadi tanpa hukum dan sewenang-wenang. Montesquieu. mengubah secara besar-besaran pembahasan mengenai teori politik dan mendorong perkembangan lembaga-lembaga demokrasi. tapi bukan pada demokrasi yang didirikan atas kekuasaan mayoritas.

mayoritas etnik. mereka yang menjalankan sistem peradilan pidana mempunyai kekuasaan yang berpotensi melakukan penyalahgunaan dan menjadi tirani. harta mereka dirampas. dan sering tanpa pernah dikenai tuduhan resmi. Frank menjelaskan. dan mereka disiksa. tidak rahasia. bukan sesuatu yang dipaksakan kepada mereka. Holden). baik undangundang maupun demokrasi terlayani. Kaya atau miskin. dipenjarakan. sekalipun tidak langsung. Apakah syarat pokok bagi proses hukum Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 261 . Frank menulis. Dalam kehidupan negara yang demokratis tidak dapat menjamin bahwa kehidupan akan memperlakukan setiap orang dengan sama. mereka menyerahkan diri sebagai pembuat undang-undang itu. semuanya berhak atas perlindungan yang sama di depan hukum. Setiap masyarakat sepanjang sejarah. Namun ahli hukum konstitusi John P. dengan pembagian kekuasaan antara Presiden. Masyarakat demokratis tidak dapat menerima penyalahgunaan seperti ini. Jika undang-undang ditetapkan oleh rakyat yang selanjutnya harus mematuhinya. negara wajib melayani secara rata dan sama seluruh rakyatnya. tapi aturan prosedur yang digunakan negara untuk melaksanakan undang-undangnya harus terbuka dan jelas. Warga negara suatu demokrasi tunduk pada hukum karena mereka mengakui bahwa. atau minoritas agama. dan ia tidak mempunyai tanggung jawab untuk melakukan hal itu. ”Dalam keadaan apapun negara tidak boleh memaksakan ketidaksamaan tambahan. Setiap negara harus mempunyai kekuasaan untuk memelihara ketertiban dan menghukum tindak pidana. sewenang-wenang atau tunduk pada manipulasi politik oleh negara. Persamaan hak di depan hukum. Atas nama negara.” Tak seorangpun berada di atas hukum yang bagaimanapun. sekutu politik negara atau lawan. Doktrin ini juga membantu membentuk landasan filosofis bagi konstitusi AS. banyak individu. adalah landasan pokok bagi masyarakat yang adil dan demokratis manapun. Kongres.pemerintahan sebagai cara untuk menjamin kebebasan individu. diasingkan dan dihukum mati tanpa dasar hukum. merupakan ciptaan rakyat. atau perlindungan yang sama oleh hukum sebagaimana sering disebut. dan Kehakiman (dalam Jeannes s.

berkembangnya kehidupan politik yang liberal. MPR. membawa berbagai perubahan yang mendasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal tersebut dapat kita lihat (DPR. mereka juga harus segera dilepaskan. melahirkan perilaku politik yang juga liberal.yang wajar dalam demokrasi? Rumah siapa saja tidak boleh dimasuki dan digeledah oleh polisi tanpa perintah pengadilan yang menunjukkan adanya alasan kuat untuk menggeledah itu. Dalam perjalanan sebagai bangsa yang berdaulat. Ideologi dan konstitusi negara bagi suatu negara yang berdaulat seperti Negara Republik Indonesia ini. Berkaitan dengan perkembangan ini ruang pemerintah muncul kekuatan-kekuatan baru yang dapat menggeser kedudukan seorang Presiden. berdasarkan doktrin yang disebut Habeas corpus. sejak lengsernya Soeharto sebagai Presiden dari panggung politik. Tak seorangpun boleh ditahan tanpa tuduhan yang jelas dan tertulis. dan merinci tuduhan pelanggaran itu. menunjukkan adanya pasang surut. DPRD Kabupaten/Kota) yang berdampak sulitnya untuk membangun kesamaan visi dan misi Nasional antar politisi dalam me- 262 Bunga Rampai . Perubahan-perubahan ini jelas apabila diamati kenyataan di lapangan: Pertama. DPRD Provinsi. dikatakan demikian karena ideologi akan memberikan warna terhadap bentukbentuk yang ada dalam konstitusi negara. Pasang surut ini diwarnai oleh perubahan-perubahan sesuai tuntut-an politik. Bukan saja orang berhak mengetahui hakikat sebenarnya tuduhan itu. Ketukan tengah malam oleh polisi rahasia tidak mempunyai tempat dalam demokrasi. yang bergulir bagaikan bola salju. dan konstitusi negara akan memberikan model terhadap implementasi ideo-logi dalam birokrasi pemerintahan dalam penyelenggaraan negara terutama penyelenggaraan fungsi lembaga negara. kita tidak lagi memiliki seorang pemimpin yang sentralistik sekaligus sangat menentukan. DPD. begitu pengadilan mendapati bahwa tuduhan itu tanpa dasar atau penahanannya tidak sah. Reformasi politik yang terjadi sejak tahun 1997. merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. implementasi ideologi dan konstitusi negara sebagaimana termuat dalam sejarah. Kedua.

maka ideologi dan konstitusi negara bagi bangsa Indonesia mempunyai peranan yang sangat penting. Dikatakan demikian karena dalam Pasal 37 tersebut secara tegas dinyatakan bahwa ”untuk mengubah UUD sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota harus hadir. 2000. Memperhatikan perkembangan politik era reformasi yang berkaitan dengan perubahan UUD NRI Tahun 1945. Sebagai kelompok sosial yang besar. apabila merujuk pada UUD NRI tahun 1945. Karena mempunyai landasan: Pertama. Selanjutnya pada ayat (2) dinyatakan bahwa ”putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota yang hadir”. keanekaragaman itulah ciri jati diri bangsa Indonesia yang tidak dimiliki oleh bangsa Malaysia.” Peranan Ideologi dan Konstitusi Negara dalam Geopolitik dan Geostrategi Indonesia. 2001. seiring dengan perkembangan politik tersebut. namun bagi bangsa Indonesia dengan kemajemukannya sangat berbeda seperti kita tahu tentang perbedaan budaya. dengan kata lain ada amanat pada penerus bangsa ini untuk tidak mempermasalahkan konstitusi yang mereka buat. Ketiga. Dengan citra jati diri inilah suatu bangsa dapat memberikan ciri yang khas yang dapat dibedakan dengan negara lainnya.nangani dan memahami makna NKRI. seperti bangsa Indonesia dan Malaysia. Pasal 37 ayat (1) tidak bertentangan. Bunyi dan Pasal 37 ayat (1) dan (2). oleh karena itu dapat dikatakan bahwa ideologi dan konstiPenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 263 . berkembang pula keinginan sebagian elit politik yang berpengaruh dengan cara yang sistemik dan damai melakukan perubahan terhadap UUD NRI Tahun 1945. organisasi bangsa mempunyai kebutuhan untuk memiliki citra jati dirinya. sejak awal telah mengisaratkan adanya penyesuaian pasal-pasal yang ada dalam UUD 1945 dengan perkembangan yang ada. yang sampai saat ini sudah empat kali perubahan (Tahun 1999. berkaitan dengan realitas dan eksistensi bangsa kita. jelas mengindikasikan bahwa para Pendiri RI (Founding Fathers). berperan sebagai citra jati diri bangsa. adat maupun bahasa yang berbeda dari mulai Sabang sampai Merauke. dan 2002). Memperhatikan peranan tersebut di atas. walaupun berasal dari satu rumpun.

Oleh karena senantiasa berupaya untuk merealisasikan dalam kehidupan bersama. Ketiga. sehingga dapat diharapkan generasi muda akan terus melanjutkan perjuangan generasi pendahulunya untuk mencapai cita-cita dan tujuan nasional bangsa Indonesia. Dengan adanya ideologi dan konstitusi sebagai hukum dasar. sebagaimana telah dirumuskan dalam Ideologi dan Konstitusi (UUD Tahun 1945). Di sini ideologi dan konstitusi menjadi sumber inspirasi dan cita-cita hidup bersama. maka dibutuhkan suatu pedoman yang dapat memayungi dan berlaku untuk keseluruhan komponen bangsa yang ada. Hal tersebut diperlukan sebagai peraturan yang tertinggi karena beragamnya komponen yang juga mempunyai adat istiadat tersendiri. maka dapat diantisipasi sedemikian adanya persepsi yang berbeda terhadap suatu peraturan perundang-undangan. Keempat. dengan ideologi dan konstitusi dapat menjembatani hubungan antara keduanya. Kedua. dan dipandang sebagai suatu kebesaran dan kemuliaan bersama dengan ideologi manusia mengejar keluhuran. yang akan dijadikan dasar pengambilan keputusan bagi para hakim. berperan sebagai jembatan penghubung antara generasi tua sebagai pendiri bangsa (fouding fathers) dengan generasi penerus. berperan untuk menemukan keyakinan akan kebenaran perjuangan bersama akan satu kesatuan yang berpegang teguh pada ideologi dan konstitusi tersebut. Generasi muda yang telah mengalami masamasa perjuangan untuk mendirikan bangsa dengan negara. Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia dalam menyelenggarakan fungsi kenegaraan merupakan hal yang sangat pen- 264 Bunga Rampai . Merupakan suatu hal yang alami terjadi pergantian generasi antara generasi terdahulu dengan generasi muda. jika negara mempunyai kedaulatan yang utuh dalam menjaga eksistensinya dan mewujudkan reformasi birokrasi pemerintahan khususnya reformasi peradilan.tusinya melekat pada jati diri bangsa. Karena itu keberadaan ideologi dan konstitusi yang berdaulat merupakan sesuatu yang mutlak. dan mematuhi segala ketentuan yang diatur dalam konstitusi. berperan sebagai hukum dasar yakni sebagai pedoman utama dalam pembuatan peraturan perundangundangan yang akan diperlakukan kepada segenap komponen bangsa.

Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 265 . 3. dan mempertahankan demokrasi atas dasar ini bermakna bahwa demokrasi adalah sistem terbaik untuk menegakkan keadilan. dan sistematis dalam empat kali perubahan UUD NRI Tahun 1945. bertahap. pada empat sidang MPR sejak Tahun 1999. dan ini jarang sekali dikesampingkan pada saat kebijaksanaan dibuat. Perkembangan Hukum Dasar Geopolitik dan Geostrategi Indonesia. Reformasi sesungguhnya memberikan ruang yang besar untuk terjadinya perubahan menuju penyelenggaraan negara yang lebih demokratis. Pengaturan tentang hak asasi manusia. Demokrasi memberikan kesempatan kepada setiap kelompok dan kepentingan yang cukup besar mengajukan wakilnya.ting dan mendasar. sejak perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pengaturan tentang susunan ketatanegaraan yang bersifat fundamental. 2. mengalami perubahan yang sangat fundamental. integral. dan keadilan. Pengaturan tentang pembagian dan pembatasan tugastugas ketatanegaraan yang juga bersifat fundamental. serta negara hukum yang demokratis. Dalam konstitusi biasanya memuat aturan minimal materi yang mencakup: 1. sampai dengan 2002. kepentingan yang merasa dirugikan. keterbukaan. yang menciptakan keadilan yang relatif. karena dapat menyuarakan persoalannya dan sanggup mengumpulkan kekuatan dengan mempengaruhi para pemilih dengan berbagai cara yang diakui dan absah. Pada akhirnya mungkin dapat dikatakan bahwa orang-orang yang merasa diperlakukan tidak adil dalam suatu sistem demokrasi maka akan terhibur kalau mereka memperhatikan sistem-sistem politik lain. selanjutnya perubahan itu diwujudkan secara komprehensif. dan juga akuntabilitas tinggi serta diharapkan terwujudnya Good Governance. Menegakkan keadilan sering dianggap sebagai inti moralitas politik. Demokrasi juga menyangkut kompromi atau harmoni politik dengan jalan menyelesaikan tuntutan-tuntutan atau suara-suara yang saling bertentangan. Sedangkan kemungkinan terjadinya ketidak-adilan dalam negara demokrasi jauh lebih kecil dibanding pada negara dimana kebebasan politik ditindas dan tidak ada satupun jaminan politik.

Sedangkan perubahan pada materi yang kedua dan ketiga. dan dibentuknya lembaga negara baru. setelah perubahan bab IX menjadi 5 pasal dan 19 ayat. 28B. 28C. dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum. Selanjutnya terbangun adanya 2 lembaga negara baru yaitu Mahkamah Konstitusi. merupakan hasil reformasi khususnya di bidang peradilan. Mahkamah Konstitusi (MK). antara lain perubahan pada Bab IX yang mengatur Kekuasaan Kehakiman. serta perilaku hakim. 28E. sehingga sebagai lembaga negara baru Komisi Yudisial masih harus menghadapi resistensi yang berat terutama dalam menghadapi hakim agung. keluhuran martabat. memutus pembubaran partai politik. dalam kehidupan sistem kekuasaan kehakiman.Contoh pengaturan hak asasi manusia telah ditambahkannya pasal hak asasi manusia. serta untuk memberantas maraknya praktek mafia peradilan. yaitu Dewan Perwakilan Daerah (DPD). yang mempunyai kewenangan mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar. yaitu pasal 28A. untuk menegakkan hukum dan keadilan. hakim di bawah Mahkamah 266 Bunga Rampai . 29H. dan Komisi Yudisial (KY). memutus sengketa kewenangan Lembaga Negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar. 28F. Sedangkan lembaga baru yang kedua adalah Komisi Yudisial yang merupakan pilar kehidupan untuk menentukan roh moral para hakim agung. 28G. 28I. Paradigma lama sistem paradilan kita masih kental. 28D. Perubahan yang sangat mendasar dalam hukum dasar Geopolitik dan Geostrategi Indonesia. Menelaah Komisi Yudisial dari satu sudut pandang Geopolitik dan Geostrategi Indonesia tidak terlepas dengan pemahaman kita tentang politik dan strategi dalam melakukan reformasi hukum/peradilan. Diubahnya kedudukan dan kewenangan Majelis Permusyawaratan Rakyat. Keberadaan Komisi Yudisial. Awalnya dalam Bab IX hanya terdiri 2 pasal dan 3 ayat. hal tersebut sebagaimana dalam perubahan ketiga UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. menegakkan kehormatan. yaitu: dihapuskannya lembaga negara Dewan Pertimbangan Agung. dan 28J.

yang menyatakan bahwa terdapat ambivalensi dalam hukum dan demokrasi. Yang dimaksud dengan sistem Geopolitik dan Geostrategi Indonesia adalah Wawasan Nusantara sebagai Geopolitik Indonesia dan Ketahanan Nasional sebagai Geostrategi Indonesia. tetapi kebangsaan saya adalah peri-kemanusiaan” (My nationalism is humanity). melainkan selalu harus selalu berorientasi terhadap masalah-masalah rasional baik ideal maupun riil. dan bernegara secara universal dituangkan ke Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 267 . dalam arti demokrasi dan kebebasan tidak selalu berjalan beriringan. Hal tersebut sejalan dengan prinsip civic morality. untuk menjaga kedaulatan dirinya. Keduanya dikembangkan sebagai suatu konsepsi maupun sebagai realisme atas dasar perkembangan politik nasional. jika kita melibatkan budaya. sistem ketatanegaraan maupun sistem pemerintahan. tanpa harus menjadi lembaga yang menyendiri. maupun hakim konstitusi. Jika kita kaitkan fenomena tersebut dalam sistem kemasyarakatan dan pemerintahan. pemahaman civic morality harus dituangkan dalam bentuk kewajiban lembaga Komisi Yudisial. mengusulkan formula untuk menghilangkan ambivalensi dengan konsep aturan etika global yang merupakan rumusan seni politik sejati dengan menggabungkan politik riil dengan politik kontemporer dalam pembentukan civic morality suatu bangsa. untuk secara antisipatif mengawal negara sebagai negara hukum dengan segala sumber daya yang kita miliki. Atas dasar hal tersebut. yang diucapkan oleh Mahatma Gandhi. yang hidup dan tidak berada dalam ruang hampa. maka hal ini sangat terkait dengan tesis Harbermas. Mengacu pada prinsip tersebut penerapan hukum yang didasarkan pada civic morality dalam kehidupan bermasyarakat. toleransi dan hukum.Agung. ”Saya seorang nasionalis. Menjawab hal ini Hans Kung. Komisi Yudisial dalam Sistem Geopolitik dan Geostrategi Indonesia. dan sesama bangsa di dunia. oleh karena itu harus solid dan dapat mendorong proses akselarasi reformasi peradilan pada tataran fungsi dan tugas serta tingkatan para hakim. serta dengan cermat menyikapi karakter dan perubahan pola interaksi peradaban manusia dalam rangka menjaga martabat kemanusiaan.

spiritual. Mahkamah Agung (MA). Berdasarkan sumber tersebut. F Strong dan S. dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum. sesuai dengan tesisnya Donovan yang merujuk filsafat kata rekonsiliasi dalam kitab Vulgata. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).Wuest. yang dimaksud dengan lembaga negara pada pasal tersebut yaitu. J. yaitu rasionalitas. tersebut adalah basis geopolitik dan geostrategi suatu bangsa yang bermakna sebagai suatu upaya untuk memperoleh kekuatan bangsa dalam menjaga nasionalisme dan penegakkan hukum secara berkelanjutan. Sistem ketatanegaran mempunyai cakupan yang lebih luas dibanding dengan sistem pemerintahan. sebagaimana dikemukakan oleh C.dalam bentuk empat pola tindak. Witman & J. L. Lahirnya sistem pemerintahan parlementer dan sistem pemerintahan presidensiil. didasarkan pada Pasal 24C ayat (1) yaitu menyatakan: Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar. Institusi lembagalembaga negara tersebut. Presiden dan Wakil Presiden. Mahkamah Konstitusi (MK). Dalam sistem ketatanegaran terbentuk sistem hubungan antar lembaga-lembaga negara. memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UndangUndang Dasar. Berdasarkan Pasal 24C Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. memutus pembubaran partai politik. maupun yudikatif. lembaga negara adalah institusi yang diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945. Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Civic morality. dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). 268 Bunga Rampai . serta berpartisipasi aktif dalam hubungan kerja antar lembaga negara sebagai upaya mencapai cita-cita nasional. budi pekerti dan toleransi dalam semangat rekonsiliasi. kecuali dalam sistem pemerintahan negara. Komisi Yudisial (KY). legislatif. yang mencakup keseluruhan lembaga-lembaga negara termasuk eksekutif. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Dalam sistem pemerintahan selalu terkait dengan hubungan antara lembaga eksekutif dan lembaga legislatif. dan dikenal dalam bahasa Inggris disebut ”Cabinet Government” dan sistem ”Presidential Government” atau juga ”The fixed executive system”.

dan kekuasaan kehakiman juga terkait pada keberadaan cita negara hukum/Rechstaat. yang tentunya Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 269 . atau kekuasaan yudikatif mempunyai konsekuensi logis menentukan adanya hakim sebagai subyek pelaksana dari kekuasaan kehakiman. dan bentuk negara amat sangat tergantung oleh paham atau sistem Kedaulatan Rakyat/Volkssouvereineteit (sumber Sutjipno). Ditarik dari keberadaan hakim juga terkait dengan keberadaan kekuasaan kehakiman. Sehubungan prinsip tersebut bagaimana keterkaitannya dengan geopolitik dan geostrategi Indonesia khususnya diimplementasikan dalam Undang-Undang Dasar Tahun 1945. atau kekuasaan yudikatif. kedelapan lembaga negara tersebut berkedudukan setingkat sama. dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (Pasal 1 ayat (2). khususnya perubahan ketiga. Sedangkan sebutan lembaga negara tertinggi sebelum perubahan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu Majelis Permusyawaratan Rakyat. didasarkan pada: Kedaulatan adalah di tangan rakyat. Keberadaan kekuasan kehakiman. Kedudukan lembaga-lembaga negara didasarkan atas tugas dan kewenangannya. Majelis Permusyawaratan Rakyat adalah penjelmaan seluruh rakyat Indonesia.yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar 1945. dan begitu seterusnya bahwa eksistensi negara hukum tergantung pada keberadaan bentuk negara republik. Majelis Permusyawaratan Rakyat tidak lagi menjadi lembaga negara tertinggi. Selanjutnya setelah reformasi berjalan terjadilah perubahan Undang-Undang Dasar 1945. Presiden dan Wakil Presiden dipilih oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat dengan suara yang terbanyak (Pasal 6 ayat (2). Pasal 1 ayat (2) diubah. sehingga berbunyi: Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut UndangUndang Dasar”. Dengan demikian juga setelah perubahan terhadap Undang-Undang Dasar selain tidak ada lembaga negara tertinggi juga tidak ada lagi lembaga tinggi negara. Berdasarkan perubahan terhadap Pasal 1 ayat (2). selaku hukum tata negara Indonesia. Dengan demikian. Demikian juga Komisi Yudisial dan ketujuh lembaga negara lainnya berkedudukan sama setingkat/sederajat. Kekuasaan Negara yang tertinggi di tangan Majelis Permusyawaratan Rakyat (Penjelasan Umum tentang sistem Pemerintahan Negara).

hasil perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. ayat (2). kedudukan. Selanjutnya Kewenangan Komisi Yudisial. (3) Anggota Komisi Yudisial diangkat dan diberhentikan oleh Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Rumusan sebagai berikut: Pasal 24B (1) Komisi Yudisial bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. dan keanggotaan Komisi Yudisial diatur dengan undang-undang. Ketentuan ini didasarkan pemikiran bahwa hakim agung yang duduk di MA dan para hakim merupakan figur yang sangat menentukan dalam perjuangan menegakkan hukum dan keadilan. rumusan kewenangan Komisi Yudisial (KY) sebagaimana tercantum dalam Pasal 24B ayat (1). Ini menunjukkan peran politik begitu dominan. sangat menentukan manusia sebagai hakim yang mempunyai hati nurani tinggi. namun lolosnya calon hakim agung yang diseleksi oleh Komisi Yudisial belum mendapat jaminan untuk seluruhnya diterima oleh DPR-RI terutama Komisi III. (4) Susunan. keluhuran martabat. serta perilaku hakim. (2) Anggota Komisi Yudisial harus mempunyai pengetahuan dan pengalaman di bidang hukum serta memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela. Berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. masalah kehormatan dan 270 Bunga Rampai . ayat (3). Apalagi hakim agung duduk pada tingkat peradilan tertinggi (puncak) dalam susunan peradilan di Indonesia sehingga ia menjadi tumpuan harapan bagi pencari keadilan. dan ayat (4).mengalami perubahan yang sangat fundamental terutama pada pasal-pasal dan ayat-ayatnya. dan merupakan tantangan berat bagi Komisi Yudisial untuk menunjukkan bahwa calon hakim agung yang diusulkan betul-betul dapat dipertanggungjawabkan dan diterima sebagai calon yang telah memenuhi persyaratan termasuk persyaratan dari sisi politis. Sebagai negara hukum.

Komisi Yudisial berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai kwenangan lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta perilaku hakim. perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. ”sebelum Komisi Yudisial terbentuk. dan berpikir jernih untuk memutuskan calon hakim agung yang bermoral. sebelumnya merupakan wewenang Mahkamah Agung. reformis. Outsourcing kinerja Komisi Yudisial ini dapat terwujud manakala semua anggota Komisi Yudisial solid. ”calon hakim agung diusulkan Komisi Yudisial kepada DPR untuk mendapatkan persetujuan dan selanjutnya ditetapkan sebagai hakim agung oleh Presiden”. Sedangkan pada Pasal 20A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menentukan. berdasarkan Pasal 80A Undang-Undang nomor 5 Tahun 2004 Tentang perubahan Atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985. proporsional. Menurut ketentuan Pasal 24B ayat (1).keluhuran martabat. Menurut ketentuan tersebut. memuat ketentuan mengenai pembentukan lembaga di bidang kekuasaan kehakiman bernama Komisi Yudisial (KY) yang merupakan lembaga yang bersifat mandiri. tentang Kekuasaan Kehakiman. memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela adil. pengajuan calon hakim agung dilakukan Mahkamah Agung untuk mendapatkan persetujuan DPR dan selanjutnya ditetapkan sebagai hakim agung oleh Presiden”. Untuk itu. Ujian berat bagi Komisi Yudisial saat ini adalah untuk pertama kalinya bangsa Indonesia memberikan kewenangan penuh untuk menjaring para calon hakim agung yang diselenggarakan oleh Komisi Yudisial. komitmen untuk Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 271 . profesional. Kewenangan yang sangat besar yang diberikan kepada Komisi Yudisial merupakan tantangan besar untuk dapat mewujudkan hakim agung yang profesional dan proporsional. Melalui Komisi Yudisial diharapkan dapat diwujudkan lembaga peradilan yang sesuai dengan harapan rakyat sekaligus dapat diwujudkan penegakkan hukum dan pencapaian keadilan yang diputus oleh hakim yang terjaga kehormatan dan keluhuram martabat serta perilakunya. serta perilaku hakim merupakan hal yang sangat strategis untuk mendukung upaya menegakkan peradilan yang handal dan realisasi paham Indonesia adalah negara hukum.

tidak heran kalau masih terjadi kendala dalam sistem peradilan kita yang tentunya harus dapat diselesaikan oleh kita. melainkan bisa menjadi milik siapa saja. sehingga diperlukan suatu tolak ukur apakah seseorang tadi didalam menjalankan tugasnya telah memiliki wawasan yang luas dan jauh menjangkau rasa cinta tanah air. agar kita dapat memberikan rasa adil dan sejahtera pada seluruh komponen bangsa Indonesia. dan perlu dipikirkan wadah konsultasi lembaga yudisial tanpa mengurangi kemandirian dari tugas dan fungsi serta tanggung jawab masing-masing lembaga. sehingga kerja sama dengan lembaga-lembaga yang mempunyai fungsi yudikatif sangat dibutuhkan. untuk memperkuat kemandirian Komisi Yudisial. berwa- 272 Bunga Rampai . Komisi Yudisial lahir dari hasil reformasi. dan mempunyai budi pekerti luhur. dan menjadikan pondasi dalam sistem peradilan di Indonesia. saat ini masih dalam proses transisi dibutuhkan orientasi-orientasi baru terutama pemahaman tentang geopolitik dan geostrategi Indonesia yang begitu cepat perubahannya. harus dijunjung tinggi norma-norma lokal sebagai pondasi kehidupan sistem peradilan Indonesia. Bukan hanya pemimpin tingkat nasional sampai pada terendah. Tentu kita sebagai bangsa Indonesia yang berdaulat dan mempunyai jati diri Geopolitik dan Geostrategi Indonesia. agar kita dapat membangun sistem peradilan yang mandiri dan dilandasi pada jati diri bangsa kita sendiri. dalam memperkuat Negara Indonesia adalah Negara Hukum. (hal tersebut perlu dikaji lebih mendalam). dan memahami serta mengerti betul tentang cara kerja dan kultur peradilan yang lama. maka peran budaya juga tidak bisa dilepaskan sebagai pilar kekuatan Komisi Yudisial.memberantas mafia peradilan. Dalam hubungannya dengan budaya. sangat diperlukan karena selama ini telah terjadi dan terbentuk di Indonesia sistem hukum modern yang melahirkan watak liberal. Negara hukum Indonesia sampai saat ini masih diwarnai oleh pengaruh budaya liberal. Profesionalitas tidak hanya dimiliki oleh kelompok tertentu saja. karena bangsa Indonesia ini penuh dengan keanekaragaman. proses pembangunan budaya berhukum yang baru (paradigma baru budaya berhukum) yang diciptakan oleh Komisi Yudisial.

selain tentu moral dan etika profesinya yang harus dijunjung. yang akan menentukan calon-calon hakim agung. untuk melakukan perbaikan dan langkah strategis untuk memberantas mafia peradilan yang bertentangan dengan norma dan etika peradilan. diperlukan suatu sharing pengalaman dan mensinergikan menjadi kekuatan wewenang Komisi Yudisial. Penutup Hasil reformasi dan demokrasi. keluhuran martabat. Dalam rangka untuk mewujudkannya diperlukan orientasi baru. serta perilaku hakim. mempunyai peran yang sangat vital di bidang peradilan. serta perilaku hakim. dari mulai hakim agung sampai pada hakim pengadilan negeri. Wawasan kebangsaan dan kenegarawanan.wasan kebangsaan. sebagai wujud nyata sifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. yaitu melakukan revitalisasi yang sebelumnya wewenang tersebut menjadi wewenang lembaga Mahkamah Agung. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 273 . dan mempunyai komitmen tinggi terhadap keutuhan wilayah kedaulatan negara Republik Indonesia. kenegarawanan. di bidang peradilan memberikan peluang yang besar bagi bangsa Indonesia. Fungsi pengawasan yang dilakukam oleh Komisi Yudisial sebagai lembaga negara yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Semua elemen bangsa harus dapat memahami dan mengerti serta melaksanakan apa yang menjadi wewenang Komisi Yudisial sebagai lembaga negara baru yang telah diberikan wewenang berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Demikian juga para anggota Komisi Yudisial. dan merupakan lembaga negara baru yang masih belum tersosialisasikan kepada seluruh elemen bangsa baik yang berada di dalam lembaga negara lainnya maupun di dalam masyarakat luas. maksudnya antara lain memiliki kandungan kecintaan terhadap tanah air bangsa Indonesia yang sangat kuat. Komisi Yudisial harus dapat membangun ideologinya sendiri. keluhuran martabat.

Cal Stanford University Press. Satjipto. Ermaya suradinata. Russak & Company. Mackinder and The Defence of The West. 1966. B. Strong. 2006. Mahfud MD.1961. The Supreme Court in The Govermental Process. Gray. Jakarta. Bandung. Jakarta. NY. C. PT Rinneke Cipta. The Judicial Decision. Howars. New Jersey. The English Language Book Society. Demokrasi. Permasalahan Aktual dan pentingnya Geopolitik dan Geostrategi Indonesia. “Hukum Progresif. Coins s. Moh. Global Geostrategy. The Judiciary. 2005. 2005. The United States Supreme Court. Prentice Hall. Blout. Modern Political Constitution. ”Menjaga Jarum Sejarah Amandemen UUD.W. 1996. New York University Press. Mahfud MD. Crane. London. Sri Soemantri. 2006. 2005. Program Pascasarjana Universitas Jayabaya. Jakarta.1. 2005. Taylor & Prancis. “Hukum yang Membebaskan”. 1996. 274 Bunga Rampai . Rahardjo.2000.Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia. 2006. Prosudur dan system Perubahan Konstitusi. 1 No. Stanford.F. Bintan Regen. 2007. dalam Jurnal hokum Progresif. Richard A. Lemhannas RI Jakarta. Henry J. The Geopolitics Of The Nuclear Era New York. Bunga Rampai Refleksi Satu Tahun. Saragih. Sdigwick and Jackson Limited. Vol. Sekretariat Jenderal MPR RI.. Wasserstrom. 1997. Penerbit suara Bebas. Hukum Dasar Geopolitik dan Geostrategi Dalam Kerangka Keutuhan NKRI. Komisi Yudisial Republik Indonesia. NY.Daftar Pustaka Abraham. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Ermaya suradinata. PT Alumni. Toword a Theory of Legal Justification. Moh.” tulisan disiapkan untuk buku HUT Mahkamah Konstitusi Tahun 2006. Cooper Phillip. dan Ball. Inc. Jakarta.

harapan masyarakat pada KY bukan hanya mencari dan menemukan sosok calon hakim agung yang kredibel atau menjaga perilaku hakim dari perbuatan tercela. Padahal. Mengusulkan pengangkatan Hakim Agung dan menegakkan kehormatan hakim. Pendahuluan Pasal 22B Ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 (UUD) menegaskan eksistensi Komisi Yudisial (KY) yang bersifat mandiri dan berwenang mengusulkan hakim agung. Kehadiran berbagai lembaga negara baru seperti KY telah menandai berjalannya proses transisi menuju demokratisasi yang sesungguhnya. Sayang. dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. yang justru berasal dari lembaga yang seharusnya secara bersama menegakkan harkat dan martabat peradilan. sebetulnya KY telah berhasil membangun budaya kontrol yang membuat para hakim lebih berhati-hati. merupakan kewenangan KY yang amat krusial. keluhuran martabat. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 275 . dalam perjalanan pelaksanaan tugas dan wewenang KY mendapat hambatan.Memulihkan Kewenangan Komisi Yudisial Dengan Melibatkan Kemitraan (Jejaring) di Daerah Marwan Mas A. serta perilaku hakim. melainkan juga rekomendasi KY untuk memberi sanksi hakim-hakim nakal dapat menimbulkan efek jera. Dalam melakukan pengawasan terhadap hakim. Kehadiran KY pada hakikatnya dimaksudkan menjawab tuntutan masyarakat agar prinsip-prinsip demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan terakomodasi melalui lembaga yang akuntabel dan independen.

kewenangan komisi ini jauh lebih signifikan karena memiliki kewenangan yang cukup luas seperti rekrutmen hakim. managemen organisasi. termasuk bagaimana peran mitra KY memberikan informasi dalam mendukung pelaksanan tugas dan wewenang KY. Proses tersebut berawal dari panitera yang meregister dan membagikan perkara kepada hakim. keberadaan komisi semacam ini sudah merupakan hal yang jamak dan dibutuhkan. Peran mitra di daerah. mutasi. tetapi juga panitera yang mendaftar perkara. Di negara-negara Eropa Selatan seperti Perancis.Kiranya perlu dipahami bahwa pembentukan KY selain diarahkan untuk menciptakan sebuah lembaga pengawas dalam kekuasaan yudikatif. Berbagai kasus yang terungkap ke publik. paling tidak diharapkan memberikan dampak positif dalam mengefektifkan pelaksanaan tugas dan wewenang KY. dan pendisiplinan hakim. juga bermakna untuk menjaga dan menegakkan kehormatan. Italia. dan berakhir pada hakim yang memeriksa dan menjatuhkan putusan. Salah satu cara untuk mengawasi perilaku hakim. mulai dari sumber daya manusia. mestinya objek pengawasan KY tidak hanya hakim. tetapi juga panitera dan administrasi. soal penyimpangan hakim tidak berdiri sendiri tetapi terdesain dalam suatu mafia yang amat sulit dibuktikan. Pemilahan dan penentuan prioritas pembenahan menjadi sangat penting dipahami oleh mitra yang dibangun. dan Spanyol. maka tugas dan wewenang KY perlu ditunjang oleh mitra di daerah. penyimpangan di lingkungan peradilan yang merugikan masyarakat tidak hanya menyangkut hakim. sumber daya penunjang dan sebagainya. KY telah membangun kemitraan (jejaring) di daerah-daerah. mengajukan calon ketua MA. Sebab sudah menjadi rahasia umum. Di sejumlah negara. keluhuran martabat. dan memberikan masukan dalam pengangkatan ketua/wakil ketua MK. Untuk menunjang proses peradilan yang lebih bermartabat. pengawasan. Kompleksitas permasalahan yang melingkupi pengadilan Indonesia. meskipun berbeda pada pelaksanaan fungsi dan perannya. KY memberikan rekomendasi untuk pemberhentian hakim. peran pegawai peradilan yang mengontak pengacara atau pencari keadilan. promosi. Di Afrika Selatan. 276 Bunga Rampai . serta perilaku hakim.

Oleh karena itu. perlu pemulihan kewenangan KY untuk mengungkapkan modus operandi dan upaya pemberantasan mafia peradilan. Desain ini mirip dengan fungsi yang diberikan kepada Judicial Commission di New South Wales. Dalam kondisi demikian. KY tidak berwenang memeriksa aspek teknis yudisial seperti kemampuan hakim menangani perkara. Sementara keputusan KY berkaitan dengan pelanggaran perilaku hakim hanya berupa rekomendasi yang intinya mengusulkan penjatuhan sanksi. pembuatan daftar persidangan. seperti prosedur penerimaan perkara dan registrasi perkara. kualitas putusan. sederhana dan cepat. karena dalam realitasnya telah menghilangkan akses keadilan bagi masyarakat dan pencari keadilan. tenggang waktu penyelesaian perkara. Begitu juga terhadap penanganan administrasi peradilan. Salah satu upaya tersebut adalah perlunya penguatan pengawasan dan peran serta masyarakat dalam mengontrol praktek peradilan. Australia. dan eksekusi. pembuatan laporan Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 277 . kearsipan perkara. akuntabel dan berwibawa. Sayang.B. Reformasi peradilan sebagai agenda utama KY tidak akan berhasil seperti yang diharapkan. KY sebagai lembaga negara yang mandiri berkepentingan dan berkomitmen untuk terus menjalin kerjasama dengan berbagai elemen masyarakat. KY dipersepsikan dalam UUKY untuk tidak mencampuri teknik yudisial. sehingga memerlukan jaringan kerjasama dalam rekrutmen calon hakim agung dan pengawasan terhadap para hakim. dibutuhkan peran masyarakat melalui mitra yang dibentuk KY untuk terlibat langsung dalam mendukung pelaksanaan tugas dan wewenang KY. penyusunan berita acara pemeriksaan (BAP). Para pencari keadilan begitu sulit mendapatkan pelayanan peradilan yang jujur. Pentingnya pengawasan hakim dari pengaruh mafia peradilan. terutama yang concern terhadap proses reformasi peradilan demi terciptanya sistem peradilan yang bersih. serta perilaku hakim. Memang secara legalistik. Memulihkan Kewenangan KY Dalam menjaga dan menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat. termasuk proses persidangan yang murah. pembukuan keuangan perkara. rekomendasi KY tidak mendapat respon positif MA sehingga ide awal pembentukan KY dalam UUD tidak berjalan sebagaimana mestinya.

adanya intervensi atau campur tangan dari pihak luar. Wewenang KY mengawasi perilaku hakim demi menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat hakim. hakim bisa berkolusi dengan kekuasaan untuk memenangkan suatu perkara. Mitra (jejaring) KY yang ada di daerah merupakan representasi pengawasan masyarakat. Penyebab maraknya korupsi di lembaga peradilan (judicial corruption) yang mesti jadi perhatian mitra KY di daerah. sebab memeriksa dan memutus perkara merupakan sebuah tanggung jawab seperti “kemampuan menangani perkara” yang memberikan keadilan. Berdasarkan laporan 32 negara yang dimuat 278 Bunga Rampai . Pertama. Sukses atau tidaknya pengawasan KY. menjadi taruhan kepercayaan masyarakat pada lembaga peradilan. Kesemuanya diarahkan untuk meningkatkan prestasi kerja hakim dalam menyelesaikan perkara dengan cepat. khususnya eksekutif dan legislatif untuk mempengaruhi putusan hakim. dapat dilihat pada dua aspek. Mitra atau jejaring yang ada di masyarakat dapat menjadi mata dan telinga KY. jika ada fakta-fakta perilaku hakim yang tercela dalam berkas perkara yang berakibat dikeluarkannya putusan. KY dapat mengapresiasi perilaku hakim yang menyimpang dengan melakukan interpretasi. penyuapan yang dapat terjadi sepanjang proses peradilan. Pada aspek ini. memang tidak sampai pada soal “teknis yudisial” karena terkait independensi hakim (independence of judiciary) dalam memeriksa dan memutus perkara. Pemeriksaan KY terletak pada penilaian hakim terhadap fakta-fakta persidangan yang dituangkan dalam putusan dengan menelusuri apakah terjadi penyimpangan perilaku hakim. dan eksekusi peraturan. dan kualitas putusan harus dapat dirasakan oleh pencari keadilan. Penilaian atas perilaku hakim dalam menangani perkara yang ternyata menuai keberatan pencari keadilan merupakan bagian dari tanggung jawab hakim. Namun. Kedua. sebagai bagian dari pengawasan masyarakat terhadap hakim. berkas perkara dapat saja diperiksa KY. Kedua aspek ini tetap dipegang oleh pengawas internal MA.perkara. Intervensi model ini telah membudaya melalui forum musyawarah pimpinan daerah (Muspida) yang memberi ruang bagi eksekutif dan legislatif untuk mempengaruhi lembaga peradilan. jujur.

kewenangan KY untuk menjaga dan menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat hakim telah diamputasi oleh putusan MK Nomor: 005/PUU-IV/2006 tanggal 23 Agustus 2006. mempengaruhi rekan sesama hakim atau sekedar menjatuhkan putusan tertentu. Salah satu yang menghambat efektivitas pelaksanaan tugas dan wewenang KY adalah timbulnya sikap MA yang merasa kewenangan pengawasannya diambil alih KY. Jika yang menjadi tujuan adalah tegaknya martabat hakim. Justru MA dapat memanfaatkan KY untuk membantu menegakkan martabat hakim. sebagian hakim dapat disuap untuk memperlambat atau mempercepat proses pengadilan. sedangkan KY melakukan pengawasan eksternal untuk menumbuhkan tanggung jawab hakim sebagai benteng terakhir penegakan supremasi hukum dengan memeriksa dan memutus perkara secara benar dan adil. yang mengakibatkan maraknya korupsi di pengadilan. UU Nomor 5 Tahun 2004 tentang Perubahan atas UU Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung (UUMA). terkesan telah membonsai kewenangan KY sehingga perlu dipulihkan dengan mensinkronkan UUKY. Temuan KY dalam memeriksa perilaku hakim yang menyimpang yang kemudian direkomendasikan kepada MA.” tandasnya. dan UU Nomor 24 Tahun 2002 tentang Mahkamah Konstitusi (UUMK). seharusnya direspons positif. termasuk pengawasan fungsional oleh Dewan Kehormatan Hakim Agung. bertujuan untuk menjaga dan menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat hakim. pengawasan dari aspek administrasif berkaitan dengan proses peradilan tetap ada pada MA.dalam Global Corruption Report 2007. Fungsi pengawasan MA bersifat internal. Sayang. Posisi KY sebagai pengawas eksternal yang bersifat independen. Efektivitas pengawasan hakim seharusnya berjalan sinergis. Padahal. Pemulihan kewenangan KY dalam menjaga dan mengawasi perilaku hakim harus terakomodasi dalam perubahan UUMA dan UUMK. kehadiran KY tidak perlu dianggap sebagai rival. Kewenangan KY mengawasi hakim dan hakim konstitusi sebagaimana dimaksud dalam UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial (UUKY). Sinkronisasi ketiga UU selain dimaksudkan memulihkan ke- Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 279 . “Faktor kedua inilah yang paling krusial. menerima atau menolak permintaan banding.

Para hakim Konstitusi tidak digolongkan sebagai hakim seperti hakim MA dengan alasan demi independensi dalam memeriksa dan menjatuhkan putusan. Keberadaan hakim konstitusi yang tidak termasuk dalam pengertian hakim yang dapat diawasi perilaku etiknya oleh KY merupakan putusan diskriminatif. Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 menyiratkan bahwa KY hanya dapat mengawasi pelaksanaan kode etik dan kode perilaku hakim dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan hakim. Menurut MK. KY tidak berwenang mengawasi hakim yang berkaitan dengan teknis yudisial. MK adalah lembaga negara yang paling steril dari sentuhan pengawasan dari luar dirinya (pengawasan ekstern). Dalam pertimbangan hukumnya. Pertama. Putusan MK yang mencabut pengawasan KY terhadap dirinya (hakim konstitusi) merupakan tindakan yang berlebihan. Saat ini. Putusan MK yang perlu diapresiasi menyangkut kewenangan KY pada Kamis 23 Agustus 2006 terdiri dari dua bagian. hal tersebut menyebabkan adanya penafsiran yang tidak tepat. MK secara sistematis melemahkan fungsi dan peran KY dengan cara ”membonsai” kewenangan KY dalam mengawasi perilaku hakim. Kedua. yaitu mengenai putusan hakim atas suatu perkara. MK menilai. MK secara arogan telah mengabaikan prinsip checks and ba-lances yang menjadi roh bangunan kelembagaan negara dengan tidak rela diawasi dan dijaga kehormatan dan perilakunya oleh lembaga lain. tetapi hanya diawasi sendiri oleh temannya sesama hakim. pengawasan atas pelaksanaan kode etik hakim konstitusi dilakukan Majelis Kehormatan sesuai dengan ketentuan Pasal 23 UU MK sebagai pelaksanaan Pasal 24C Ayat (6) UUD. pengawasan dari dalam tidak maksimal. juga menambal kekosongan hukum di bidang pengawasan terhadap badan peradilan dan hakim yang dilakukan KY seperti diperintahkan Pasal 24B Ayat (1) UUD. Padahal. KY tidak berwenang mengawasi hakim MK. Praktik mafia peradilan diperkirakan akan semakin menjadi-jadi karena perilaku hakim tidak lagi diawasi dan dikontrol oleh lembaga lain (KY). bahwa penilaian perilaku dilakukan dengan penilaian putusan. 280 Bunga Rampai .wenangan KY.

tak pelak akan semakin menjadi-jadi di kalangan hakim. Sedangkan tidak diberi peluang menerima hadiah sesuai “sumpah hakim”. bahkan ada yang diproses di pengadilan. kalau pada aspek lain ada ketentuan yang membolehkan hakim menerima hadiah yang berlawanan dengan sumpahnya. Apalagi perseteruan MA-KY selama ini cukup memprihatinkan. Kresna Menon dan hasilnya direkomendasikan kepada MA agar yang bersangkutan diberhentikan sementara selama satu tahun untuk tidak menangani perkara. Alih-alih menjaga harkat dan martabat hakim. Hadiah sebagai penghalusan suap (gratifikasi) dalam kode etik yang dibuat MA. Bila hakim terpaksa harus menaati dua versi pedoman perilaku hakim (Code of Conduct). Penolakan Ketua MA bersaksi ternyata disikapi KY dengan memeriksa ketua majelis hakim. apalagi kalau memang diberi peluang. Malahan tiga anggota hakim non-karir diganti dan kini diperiksa Pengadilan Tinggi Jakarta karena walk out dalam lima kali Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 281 . tidak sedikit oknum hakim yang menerima suap dalam menangani perkara seperti terungkap di media. Keduanya diberi wewenang hal yang sama. dan realitas menunjukkan terciptanya potensi rivalitas yang mengarah pada krisis kelembagaan. Satu Pedoman Perilaku Hakim Pasal 14 UU Nomor 22/2004 tentang Komisi Yudisial sebagai derivasi Pasal 24B UUD 1945 menegaskan.C. Di lain pihak. KY mempunyai wewenang menjaga dan mengawasi perilaku hakim. tetapi lagi-lagi diabaikan MA. tetapi tak satupun dari enam rekomendasi KY yang direspon MA. UUMA juga mengatur bahwa MA berwenang pula melakukan pengawasan terhadap kecakapan hakim dan perbuatan tercela dari hakim. tidak menutup kemungkinan ada hakim yang akan mencari peluang untuk keuntungan sendiri dengan melanggar salah satu pedoman perilaku hakim. seperti pada soal rekrutmen hakim agung atau saat Ketua MA mengabaikan enam rekomendasi KY untuk menghukum hakim yang telah diperiksa karena melakukan penyelewengan. Adanya dua versi pedoman perilaku hakim. maka rivalitas kewenangan akan kontra-produktif. Harini Wijoso. Termasuk saat Ketua MA dihambat ketua majelis hakim Pengadilan Khusus Korupsi untuk hadir bersaksi dalam sidang perkara suap pegawai MA oleh pengacara Probosutedjo.

Penerapan dua pedoman perilaku hakim sudah pasti akan menimbulkan implikasi hukum yang pada akhirnya mengancam kewibawaan MA-KY. Kalau pedoman perilaku hakim versi MA membolehkan 282 Bunga Rampai .sidang yang bersikukuh agar Ketua MA dihadirkan bersaksi. kedua lembaga negara dalam lingkungan peradilan ini diharapkan berperan aktif dalam menjaga keluhuran peradilan. MA seakan lembaga yang kebal dari sentuhan pengawasan lembaga lain atau pengawasan masyarakat dengan mengabaikan konstitusi.perlu duduk bersama merancang dan menetapkan satu pedoman perilaku hakim. Perlu kesadaran dan keprihatinan bersama antara MA dengan KY dalam melihat dan menyikapi persoalan penegakan hukum. terlebih adanya tudingan mafia peradilan. padahal konstitusi dan UUKY memberi kewenangan untuk mengawasi dan memeriksa hakim-hakim nakal. Tidak akan efektif kalau masingmasing membuat pedoman perilaku hakim. termasuk nantinya pada pedoman perilaku hakim yang dibuat KY. Padahal. Sebaliknya. dan MK --yang hakimnya mestinya juga diawasi KY. kode etik versi KY akan diabaikan. Resistensi MA terhadap rekomendasi KY. Tetapi para hakim juga sudah maklum kalau rekomendasi KY akan diabaikan MA seperti nasib enam rekomendasi KY. KY. Demi independensi. Rivalitas kewenangan dalam mengawasi perilaku hakim akan semakin memperpuruk citra lembaga peradilan Indonesia. wibawa KY akan jatuh dan tidak lebih dari “macan kertas” yang tidak bergigi. Tentu saja para hakim akan mengikuti kode etik yang dibuat MA sebagai lembaga yang menaunginya. Penyatuan dalam satu atap korps hakim (tidak lagi secara administrasi berada di bawah Menteri Kehakiman dan HAM). juga akan memberi peluang untuk dimanipulasi. meskipun nantinya bisa dipanggil untuk diperiksa KY dan kemungkinan akan direkomendasikan ke MA agar diberi sanksi. Mestinya Ketua MA lebih peka atas berbagai keborokan di lingkungan peradilan. karena selain membingungkan hakim. Dalam kondisi demikian. tidak lebih dari sikap “arogansi” MA yang selalu berlindung di balik jubah independensi. MA. baiknya dijadikan momentum oleh MA untuk memperbaiki institusi peradilan yang selama ini disoroti publik.

Bahkan. dan aparat hukum menerima gratifikasi. Jika masing-masing membuat pedoman perilaku hakim dengan subjek yang sama. hakim yang menerima sesuatu atau hadiah selain termasuk gratifikasi juga dinilai sebagai unprofessional conduct. Ketua MA.. Pedoman perilaku hakim versi MA dikecam berbagai kalangan karena memuat ketentuan yang membolehkan seorang hakim menerima hadiah dari pihak lain. Ketua MA boleh saja beralasan tidak akan berpengaruh pada independensi hakim. tidak menerima apa pun yang patut diduga berkaitan dengan jabatan . bertentangan dengan Pasal 12B UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang melarang penyelenggara negara. memberi peluang bagi hakim menerima hadiah (gratifikasi) sangat riskan dan berbahaya. ternyata menoleransi hakim menerima hadiah dari orang yang berperkara. Sebab. untuk ”.. karena akan menghambat pemberantasan judicial corruption yang terstruktur dan institusional. Pedoman perilaku hakim versi MA menetapkan 10 pedoman perilaku hakim. Bagir Manan (Media Indonesia. Pernyataan ini telah mereduksi harapan publik agar hakim memiliki integritas yang tinggi. hakim boleh saja menerima hadiah asalkan jumlahnya wajar dan tidak ada tendensi mempengaruhi hakim dalam memeriksa dan menjatuhkan putusan.” Olehnya itu. Alasan membolehkan hakim menerima hadiah terkesan dibuat-buat dan menggelikan. akan semakin memperlebar jurang perbedaan yang pada akhirnya hanya akan merugikan penegakan hukum yang bersandar pada rasa keadilan masyarakat. tentu tidak lagi proporsional di tengah upaya merebut kembali citra peradilan Indonesia. karena selain menghindari rivalitas dan krisis kelembagaan. dan pada sub-bagian berperilaku jujur. yaitu untuk menghindari kekecewaan orang dan tidak tega menolak pembe- Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 283 . tetapi alasan yang diberikan tidak sesederhana itu.hakim menerima hadiah. misalnya sekotak kue atau sepotong kain batik biasa. 27/6/2006) menyatakan... pegawai negara. Di sinilah dituntut kesadaran keduanya (termasuk MK) untuk secara bersama membuat satu pedoman perilaku hakim. juga mewujudkan sinergi dan saling menghormati wewenang.. MA mengabaikan sumpah hakim. apalagi dari pihak yang berperkara.

Hukum tidak selalu dimaknakan “machine justice” sehingga hakim harus menjaga hak-hak komunitas dan konstitusionalitas rakyat. juga perlu perhatian KY. memotivasinya untuk berani melaporkan rekam jejak para calon hakim agung yang sedang diseleksi KY dan DPR. Rivalitas dan perseteruan MA-KY mestinya sudah harus berakhir dengan duduk bersama merancang satu pedoman perilaku hakim. tetapi sesuatu yang bersifat cair yang perlu dihidupkan oleh pelaksana hukum. DPR telah memilih enam hakim agung dari 18 284 Bunga Rampai . bahkan pada 6 Juli 2007. calon hakim agung dan para hakim dapat terjaga integritas dan kredibilitasnya dalam menyelenggarakan peradilan yang memihak pada rasa keadilan masyarakat. Munculnya polemik atas hasil rekrutmen KY terhadap calon hakim agung. Timbul pertanyaan. Paling tidak.rian yang dapat menyakiti hati orang yang memberi. Penutup Untuk lebih memaknai tugas dan wewenang KY. Di dalamnya selalu ada ruang ekstra (leeway) yang dapat digunakan untuk menghidupkan nilai-nilai kehidupan sosial dan rasa keadilan masyarakat. serta perilaku hakim yang menyimpang. Pedoman perilaku hakim yang masing-masing dibuat oleh KY dan MA. mana yang harus dipatuhi para hakim? Apakah pedoman perilaku hakim yang dibuat lembaganya (MA) atau pedoman perilaku hakim yang dibuat KY sebagai lembaga yang memang diberi wewenang oleh konstitusi untuk mengawasi perilaku hakim? D. maka mitra (jejaring) KY yang ada di daerah harus dilibatkan secara maksimal. hakim-hakim di republik ini sering hanya mendahulukan kepentingan perutnya ketimbang mengimplementasikan rasa keadilan masyarakat. Untuk mengefektifkan pelaksanaan tugas dan wewenang KY. Hanya dengan cara itu. hanya akan menambah kekisruhan dalam mengawasi perilaku hakim. perlu menyimak kritikan Charles Sampford (1998) dalam teori ”the disorder theory of law” yang memandang hukum tidak identik dengan bangunan yang penuh keteraturan logis-rasional. Berbagai survei dan pengaduan masyarakat yang terungkap di media massa menyebutkan. Kendati proses seleksi calon hakim agung telah dilakukan KY.

serta keluhan sejumlah calon hakim agung yang berasal dari hakim karir yang mengikuti tes. Termasuk jumlah dana yang amat besar digunakan dalam seleksi.calon yang diajukan KY. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 285 . bahwa mereka direndahkan oleh tim seleksi KY dari cara bertanya yang terkesan menyudutkan. Keberatan salah seorang anggota KY atas penetapan 12 calon hakim agung yang merasa tidak dilibatkan dalam rapat pleno. seyogyanya diapresiasi agar tidak terulang di kemudian hari. tidak berarti KY harus berpuas diri.

286 Bunga Rampai .

sehingga tidak heran apabila dalam sebuah media nasional pernah disebutkan bahwa seorang koruptor yang “merampok” uang negara milyaran rupiah hukumannya tidak beda jauh dengan seorang yang maling 4 karung bawang merah di pasar. Apabila dirangkum dalam suatu kesimpulan umum. berbagai kontroversi tersebut dapat dilihat mulai dari lambatnya proses penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan oleh kepolisian dan kejaksaan dalam penanganan suatu kasus.H. sipir penjara dan advokat). banyaknya pungutan di luar biaya administrasi resmi saat kasus telah masuk ke pengadilan. S. proses penundaan persidangan tanpa alasan yang jelas sampai kepada pelaksanaan putusan pengadilan yang kadang kala tidak jelas waktunya. Semua hal tersebut diperparah dengan sering munculnya putusan pengadilan yang tidak mencerminkan rasa keadilan masyarakat. pegawai administrasi dengan pangkat tertinggi sampai dengan pangkat terendah di lembaga penegakan hukum. sampai dengan kalangan in- 1 Tenaga Ahli Komisi Yudisial Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 287 . 1 Pendahuluan Peradilan Indonesia saat ini dipenuhi kontroversi demi kontroversi. jaksa.Urgensi dan Fungsi Pembentukan Jejaring di Daerah Oleh Komisi Yudisial Asep Rahmat Fajar. Selain itu dari berbagai penelitian yang dilakukan oleh berbagai lembaga swadaya masyarakat diperoleh data bahwa aktor-aktor yang terlibat pun sudah demikian luas. hakim. yaitu dimulai dari seluruh aparat penegak hukum (polisi.

pemalsuan. kinerja aparat penegak hukum sekarang ini memang berada pada titik nadir yang cukup mengkhawatirkan. pemanfaatan kepentingan umum untuk kepentingan pribadi. Sebagai suatu sistem.telektual yang menjadi saksi ahli. pertimbangan yang keliru. Fakta yang secara selintas disebutkan di atas menyebabkan berbagai laporan lembaga di dalam maupun luar negeri yang menyebutkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat korupsi tertinggi di dunia menjadi cukup valid dan tidak dapat disanggah sama sekali. ancaman. penghilangan data atau berkas pengadilan. dalam laporannya menunjukkan bahwa Indonesia termasuk negara yang berada pada posisi yang cukup memprihatinkan berkaitan dengan kinerja aparat pada lembaga penegakan hukumnya. Praktek-praktek judicial corruption ini secara kolektif dikenal dengan sebutan mafia peradilan. favoritisme. 2 Komite Penyelidikan dan Pemberantasan Korupsi. secara umum adalah tindakan-tindakan yang menyebabkan ketidakmandirian lembaga peradilan dan institusi hukum (polisi. sikap tunduk kepada campur tangan luar/dalam pada saat memutus perkara karena adanya tekanan. 288 Bunga Rampai . Bahkan Daniel Kauffmann yang secara khusus menyoroti praktek korupsi di lembaga peradilan. kompromi dengan advokat serta tunduk kepada kemauan pemerintah dan partai politik.2 Bentuk-bentuk korupsi di lembaga peradilan sendiri menurut deklarasi International Bar Association (IBA). seperti suap. Berbagai keluhan baik dari masyarakat dan para pencari keadilan seolah-olah sudah tidak dapat lagi menjadi media kontrol bagi para penegak hukum tersebut untuk kemudian melakukan berbagai perbaikan yang signifikan bagi terciptanya suatu kinerja yang ideal dan sesuai dengan harapan masyarakat. Sedangkan secara khusus dapat dilakukan dalam bentuk mencari atau menerima berbagai macam keuntungan atau janji berdasarkan penyalahgunaan kekuasaan kehakiman atau perbuatan lainnya. conflict of interest. jaksa. Kolusi dan Nepotisme (KP2KKN) Jawa Tengah. perubahan dengan sengaja berkas pengadilan. nepotisme. memperlambat proses pengadilan. hakim dan advokat). Panduan Melawan Mafia Peradilan”. “Katakan Tidak.

Sebagian kalangan menganggap bahwa permasalahan tersebut tidak dapat dilepaskan dari lemahnya sistem pengawasan. Selain itu Sujamto (ahli manajemen lainnya) mendefinisikan pengawasan sebagai segala usaha dan kegiatan untuk mengetahui dan menilai kenyataan yang sebenarnya mengenai pelaksanaan tugas atau kegiatan apakah sesuai dengan yang semestinya atau tidak. Adapun unsur-unsur dari pengawasan tersebut setidaknya meliputi enam hal. maka makna yang terkandung di dalam pengertian pengawasan tersebut berhubungan erat dengan kesatuan tanggung jaPenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 289 . apabila dikaitkan dengan aparat penegak hukum. cepat. dan prinsip yang dianut. Pengawasan: Prinsip dan Aktor Yang Terlibat Menurut Fayol (salah seorang perintis ilmu manajemen) pengawasan adalah upaya memeriksa apakah semua terjadi sesuai dengan rencana yang ditetapkan. tata cara atau prosedur dalam melakukan pengawasan) dan 6. transparan dan mengedepankan nilai-nilai keadilan di sisi lain terlihat sudah sangat sulit untuk diterapkan dan ditemui dalam lembaga dan aparat penegak hukum yang ada saat ini. 5. tujuan (untuk memastikan bahwa pelaksanaan suatu tugas maupun hasilnya sesuai dengan perencanaan) Sehubungan dengan berbagai teori pengawasan tersebut.Secara praktek. yaitu: 1. 3. Juga dimaksudkan untuk mengetahui kelemahan dan kesalahan agar dapat dihindari kejadiannya di kemudian hari. Kelemahan sistem tersebut pada gilirannya mengakibatkan pola manajemen sumber daya manusia dan manajemen administrasi di lembaga-lembaga penegak hukum tersebut menjadi berjalan tidak optimal/ obyektif. 2. mekanisme (urutan. dan biaya ringan di satu sisi dan terciptanya suatu peradilan yang bersih. dan sebagainya). subyek (pengawas atau orang yang mengawasi). penggunaan anggaran. perintah yang dikeluarkan. obyek (orang yang diawasi). teori pengadilan yang mempunyai asas sederhana. 4. kebijakan dan ketentuan atau peraturan (dasar dilakukanya pengawasan berikut aturan mainnya). ruang lingkup pengawasan (hal-hal yang diawasi seperti kinerja pegawai.

Mekanisme pengawasan melalui proses yang sangat panjang. 3. yang mengakibatkan proses pencarian data dan informasi pendukung menjadi cukup terhambat. sehingga tidak berjalan dengan efektif. yaitu:3 1. esprit de corps) dari obyek pengawasan. 4. 3. 2. solidaritas (in group feeling. 2. 3 Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia (Mappi). diperlukan suatu sistem pengawasan agar dapat mendeteksi dan memeriksa pelanggaran.wab yudisial (judicial responsibility) yang mengandung tiga dimensi pertanggungjawaban. Berdasarkan teori di atas terdapat beberapa permasalahan dalam sistem pengawasan bagi aparat penegak hukum di Indonesia. Pada beberapa lembaga penegak hukum belum ada ketentuan yang memadai yang mengatur pedoman bagaimana seorang aparat penegak hukum seharusnya berperilaku (code of conduct). mekanisme pengawasan tidak transparan dan akuntabel sehingga masyarakat yang mengajukan laporan/ pengaduan tidak mengetahui tindak lanjut dari laporan/pengaduan mereka. baik perilaku di dalam kedinasan maupun di luar kedinasan. 290 Bunga Rampai . antara lain adalah: 1. tanggung jawab administrasi (administrative responsibility). merespon laporan atau pengaduan masyarakat dan menindaklanjuti dengan obyektif hasil pemeriksaan dan laporan masyarakat tersebut. “Administrasi Peradilan : Lembaga Pengawasan Sistem Peradilan Terpadu”. tanggung jawab prosedural (procedural responsibility) yang menuntut ketelitian atau akurasi hukum acara yang dipergunakan dan tanggung jawab substansi (substantif responsibility) yang berhubungan dengan ketepatan pengkaitan antara fakta dan hukum yang berlaku. Melihat permasalahan yang masih ada sampai saat ini dalam sistem pengawasan aparat penegak hukum kita.

Terdapat beberapa hal penting yang harus dijadikan sebagai prinsip. Selanjutnya untuk akuntabilitas indikator dan parameter yang dapat menjadi acuan pada tahap proses pembuatan adalah pembuatan sebuah keputusan harus dibuat secara tertulis dan tersedia bagi setiap masyarakat yang membutuhkan. akuntabilitas dan partisipatif. adanya kejelasan dari sasaran kebijakan yang diambil. dengan konsekuensi mekanisme pertanggungjawaban jika standar tersebut tidak terpenuhi. konsistensi maupun kelayakan dari target operasional yang telah ditetapkan maupun prioritas dalam mencapai target tersebut. Sedangkan pada tahap sosialisasi kebijakan. artinya sesuai dengan prinsip-prinsip administrasi yang benar maupun nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. adanya mekanisme untuk menjamin bahwa standar telah terpenuhi. serta standar yang berlaku.Untuk mengoptimalkan sistem pengawasan aparat penegak hukum tersebut. yaitu transparansi. Parameter yang dapat digunakan untuk mengukur prinsip transparasi terdiri dari mekanisme yang menjamin sistem keterbukaan dan standarisasi dari semua prosesproses pelayanan publik. maupun proses-proses di dalam sektor publik. dan sudah sesuai dengan visi dan misi organisasi. pembuatan keputusan sudah memenuhi standar etika dan nilai-nilai yang berlaku. akses publik pada informasi atas suatu keputusan setelah keputusan dibuat Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 291 . beberapa indikator untuk menjamin akuntabilitas publik adalah penyebarluasan informasi mengenai suatu keputusan. akurasi dan kelengkapan informasi yang berhubungan dengan caracara mencapai sasaran suatu program. mekanisme yang memfasilitasi pertanyaan-pertanyaan publik tentang berbagai kebijakan dan pelayanan publik. salah satu hal yang paling utama adalah partisipasi publik. maupun media komunikasi personal. mekanisme yang memfasilitasi pelaporan maupun penyebaran informasi maupun penyimpangan tindakan aparat publik di dalam kegiatan pelayanan publik. Dalam hal ini prinsip transparansi ini hanya akan menjadi wacana semata jika tidak didukung oleh adanya perlindungan hukum terutama bagi publik yang tertuang dalam suatu Undang-undang tentang Kebebasan Memperoleh Informasi dan Perlindungan Saksi. melalui media massa.

berpendapat atau memutuskan sikap secara menyakinkan dan tepat. Lucas and Pring. yang bersifat terbuka dan inklusif sebagai tempat publik menyampaikan keinginannya. masyarakat tidak dapat mengakses informasi-informasi tertentu yang penting untuk menjalankan peran di atas. 292 Bunga Rampai . Adapun untuk prinsip partisipasi agar dapat terlaksana dibutuhkan beberapa langkah awal sebagai inisiatif dari lembaga penegak hukum yakni mengeluarkan informasi yang dapat diakses oleh publik. maka masyarakat tidak memiliki ‘amunisi’ untuk berargumentasi. dan perhatian pemerintah pada pengarahan dan ajakan pada publik untuk berpartisipasi. apabila kita menginginkan suatu sistem pengawasan yang cukup optimal. kemampuan publik untuk terlibat dalam penegakan hukum. hal. ketersediaan sistem informasi manajemen dan monitoring hasil yang telah dicapai oleh pemerintah.4 Logikanya cukup sederhana. keterlibatan publik dalam merancang dan melaksanakan penegakan hukum. Dan tanpa jaminan hak memperoleh informasi. maka salah satu titik lemah dalam pengawasan yaitu tidak adanya parameter dan koridor yang jelas untuk melakukan pengawasan dan tidak diterapkannya prinsip-prinsip dasar good governance harus 4 Peter Davies. Dalam hal ini partisipasi publik dalam pengambilan keputusan hanya dapat efektif dan berarti (meaningful) jika masyarakat memiliki informasi yang memadai. 2002). Sedangkan tolak ukur penilaian pelaksanaan dari prinsip partisipatif yang dapat digunakan adalah keterlibatan publik melalui terciptanya nilai dan komitmen para aparat. adanya wadah dan saluran untuk menampung partisipasi publik yang representatif. the Aarhus Convention and the European Union” dalam Human Rights in Natural Resources Development. eds. 157.dan mekanisme pengaduan masyarakat. (Oxford: Oxford University Press. “Public Participation. Oleh karenanya. menyelenggarakan proses konsultasi untuk menggali dan mengumpulkan masukan-masukan dari publik dalam kegiatan publik. by Zillman. mendelegasikan otoritas tertentu kepada pengguna jasa layanan publik seperti proses perencanaan dan penyediaan panduan bagi kegiatan masyarakat dan layanan publik. terarah dan dapat terkontrol. Tanpa informasi.

“ Membuka Ketertutupan Pengadilan”. 31 tahun 1999 sendiri. Prinsip ini pula yang sepertinya paling fasih dikuasai oleh para hakim. prinsip ini paling sering dibicarakan. Peran serta masyarakat diakui memiliki peran penting dalam upaya pencegahan dan penegakan hukum terhadap tindak pidana korupsi. Di berbagai forum yang membahas lembaga peradilan. hakim menganggap ia dapat melakukan apa saja tanpa perlu mempertanggungjawabkannya kepada publik dan pada akhirnya menjalankan proses peradilan yang sesat.5 Selain itu. Namun di sini perlu disadari bahwa pengawasan berbasis masyarakat bukanlah pengawasan yang langsung jadi dan berjalan dengan sistemik. prinsip ini sepertinya dianggap lebih penting dibandingkan prinsip pengadilan yang terbuka (prinsip yang mendorong lahirnya akuntabilitas pengadilan). Tidak perlu diperdebatkan lagi bahwa memang prinsip independensi peradilan adalah salah satu prinsip penting untuk melahirnya proses peradilan yang fair. Sebab saat ini sering kali karena tidak jelasnya kedua hal tersebut para pelaku mafia peradilan senantiasa berlindung di balik klaim otoritas independensi lembaganya. pengawasan yang dilakukan haruslah pengawasan yang berbasis masyarakat. baik di dalam maupun di luar negeri. baik karena merupakan prinsip yang dianggap penting di dunia. meningkatkan peran serta masyarakat dalam sistem pengawasan menjadi tidak dapat ditawar-tawar lagi. melainkan melalui proses bertahap yang mencakup pendidikan. sebagai wujud dari berbagai teori yang telah dipaparkan di atas.secepatnya diperbaharui. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Hal ini diakui dalam Konvensi PBB melawan korupsi 2003 (UN Convention Against Coruption. Padahal kita menyadari betul bahwa independensi tanpa akuntabilitas dapat kita umpamakan sebagai “cek kosong yang bisa diisi apa saja”. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 293 . memperoleh dan memberikan informasi bahwa di suatu daerah atau instansi telah terjadi praktek korupsi.2003) dan dalam Undang-undang No. maupun karena mungkin prinsip ini menguntungkan para hakim. Assegaf dan Josi Khatarina. penyadaran.6 5 6 Rifqi S. dan perubahan budaya hukum. Undang-undang ini memberi kebebasan kepada masyarakat untuk mencari. Dalam hal ini basis masyarakat yang dimaksud adalah mereka yang berkepentingan langsung yaitu korban (termasuk didalamnya kelompok masyarakat yang peduli dengan isyu ini). Jangan sampai dengan alasan independensi. Namun permasalahannya.

23. Namun usaha ini dipandang belum tentu mampu menyelesaikan masalah yang ada dan bahkan dipandang dapat menimbulkan monopoli kekuasaan di lembaga tersebut. Usaha ke arah peradilan yang lebih baik tersebut sebelumnya juga dilakukan dengan menciptakan sistem satu atap (One Roof System) yaitu memberikan kewenangan di bidang administrasi. Dibentuknya Komisi Yudisial pada perubahan ke-3 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan reaksi terhadap kegagalan sistem peradilan yang ada untuk menciptakan peradilan yang lebih baik. Naskah Akademik dan Rancangan UndangUndang Tentang Komisi Yudisial. minimnya gaji hakim (pegawai) serta anggaran pengadilan. 22 tahun 2004 tentang Komisi Yudisial oleh Pemerintah dan DPR. 22 tahun 2004 memberikan wewenang bagi Komisi Yudisial untuk mengusulkan pengangkatan Hakim Agung pada DPR dan menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga perilaku hakim. h.Jejaring: Mitra Komisi Yudisial Dalam Pengawasan Rendahnya integritas sebagian hakim hanyalah sebagian dari masalah yang menyelimuti lembaga peradilan. aksesibilitas pengadilan.7 Situasi dan kekhawatiran tersebut mendorong terbentuknya gagasan ke arah pembentukan lembaga independen 7 Mahkamah Agung Republik Indonesia. Sedangkan UU No. MPR (dengan dorongan kelompok masyarakat sipil) pada tahun 2002 menetapkan perlunya pembentukan Komisi Yudisial dalam konstitusi yang kemudian disusul dengan pengundangan UU No. Konstitusi tepatnya pasal 24B Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 memberikan landasan hukum yang kuat bagi reformasi bidang hukum yakni dengan memberikan kewenangan pada Komisi Yudisial untuk mewujudkan cheks and balances. Kualitas sebagian hakim yang rendah (salah satunya disebabkan karena kelemahan proses rekrutmen dan promosi hakim). adalah beberapa ilustrasi lain permasalahan yang harus menjadi agenda pembenahan. 2003. struktur organisasi. keuangan dan organisasi kepada Mahkamah Agung. Sebagai salah satu upaya menjawab sebagian permasalahan di atas. 294 Bunga Rampai .

Dengan demikian kedudukan Mahkamah Agung. Dalam rangka merealisasikan gagasan tersebut dibentuklah Komisi Yudisial yang diharapkan dapat mengawasi serta mengimbangi (checks and balances) pelaksana kekuasaan kehakiman sehingga dapat mendorong terciptanya peradilan yang lebih baik di masa mendatang. informasi. Komisi Yudisial diberi wewenang oleh Undang-Undang Dasar untuk mengawasi perilaku hakim. Semua lembaga negara adalah sederajat. Komisi Yudisial dan Mahkamah Konstitusi adalah sama yaitu sama-sama mendapat kewenangan atribusi dari Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. hakim agung dan hakim konstitusi. tidak ada lagi pembagian lembaga negara tertinggi dan lembaga tinggi negara. komitmen dan program aksi bersama dalam menciptakan peradilan yang bersih (clean judiciary). Dalam kaitan ini Komisi Yudisial telah menegaskan pentingnya peranan elemen-elemen masyarakat tersebut untuk memiliki pengetahuan. Kehadiran peradilan yang bersih dengan putusannya yang adil merupakan kebutuhan bersama baik masyarakat maupun pemerintah. Buruknya dunia peradilan tentu juga terkait dengan proses rekrutmen dan peningkatan karir hakim yang lemah (yang tidak didasarkan pada basis data dan analisis kinerja/ putusan) serta tidak terlacaknya perilaku hakim. Diaturnya Komisi Yudisial dalam Pasal 24B Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menunjukkan bahwa lembaga ini merupakan lembaga negara yang mendapat atribusi kekuasaan langsung dari Undang-Undang Dasar. Sebagai lembaga negara yang mandiri. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tidak mengenal istilah lembaga negara utama (main) dan lembaga negara penunjang (supporting). Sebagaimana diketahui sejak perubahan ke-3 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Upaya untuk memperbaiki dunia peradilan yang merupakan salah satu semangat kelahiran Komisi Yudisial tentu memerlukan dukungan penuh dari elemen-elemen civil society. yang membedakan satu sama lain adalah kewenangannya.yang berada di luar Mahkamah Agung yang dapat mengimbangi agar tidak terjadi monopoli kekuasaan pada lembaga tersebut. Hakim- Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 295 .

adalah kurangnya partisipasi publik dalam menjaga dan menegakan kehormatan. serta perilaku hakim bertolak dari dua pemikiran dasar. semestinya bebas dari putusan-putusan bermasalah. 296 Bunga Rampai .sementara di sisi lain terwujudnya peradilan yang “bersih dan “berwibawa” serta yang memungkinkan perlakuan yang sama bagi 8 Data terakhir yang dimiliki penulis adalah jumlah hakim sebanyak 6178 orang yang tersebar di 341 kabupaten/kota. hasil dari program perbaikan dunia peradilan pada akhirnya akan dan harus dirasakan secara luas dan nyata oleh seluruh masyarakat. Ketersediaan basis data hakim akan sangat membantu dalam peningkatan kinerja dan karir hakim. Kesadaran terhadap pentingnya optimalisasi publik dalam menjaga dan menegakan kehormatan. Komisi Yudisial mungkin dapat menyusun strategi dan metode untuk melakukan riset putusan hakim atau melakukan investigasi perilaku hakim guna memperoleh basis data di atas. bahwa di satu sisi “penyimpangan” peradilan pada akhirnya akan menempatkan masyarakat sebagai “korban –dengan harga yang sangat mahal. Apalagi. Terlebih lagi hakim-hakim yang akan direkrut menjadi hakim agung.8 tentu mencari data di atas sangat sulit dicapai. keluhuran martabat serta perilaku hakim (di semua lingkungan dan jenjang pengadilan). Pembentukan jejaring berangkat dari berbagai permasalahan di atas dan pemikiran bahwa salah satu faktor penyebab terjadinya “penyimpangan” peradilan –yang muncul dalam bentuk “mafia peradilan”. mengefektifkan. Hal itu hanya bisa dilakukan melalui suatu proses yang sistematis dengan metodologi yang jelas. keluhuran martabat. kehadiran elemen masyarakat berbasis perguruan tinggi. Oleh sebab itu. LSM.hakim yang putusannya tidak baik bahkan diindikasi kuat ada pengaruh pihak berperkara tentu perlu diketahui sejak dini baik untuk keperluan pembinaan ataupun penjatuhan sanksi. dan ormas keagamaan akan dapat mendukung. dan memperkuat upaya di atas. namun dengan keterbatasan lembaga Komisi Yudisial yang hanya ada di tingkat nasional. sementara lembaga-lembaga peradilan berada di setiap provinsi dan kabupaten dengan lebih dari 6000 orang hakim yang tersebar di lebih dari 300 kabupaten/kota.

Medan (mencakup wilayah Aceh. memang telah ada majalah yang berisi putusan pengadilan tetapi sangat deskriptif dan kurang analitis. Pada kesempatan ini mungkin perlu disampaikan juga bahwa sampai saat ini telah dilakukan penyusunan nota kesepahaman dengan beberapa lembaga negara dan kalangan masyarakat yang berasal dari elemen Perguruan Tinggi. 4. tidak tumpang tindih. Jambi. Sulbar. Sulut) 9 Laporan Tahunan Komisi Yudisial Republik Indonesia tahun 2006 Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 297 . Pada saat ini. 6. 2. Komisi Yudisial telah berhasil membentuk jejaring di seluruh Indonesia yang pada saatnya akan merupakan elemen terdepan dalam melakukan kajian putusan hakim (untuk melihat kualitas) dan melakukan investigasi perilaku hakim (untuk melihat integritas) di seluruh Indonesia. Berdasarkan jaringan yang ada ini maka upaya yang dilakukan akan sistematis. Dalam hal ini penyusunan nota kesepahaman tersebut diawali dengan lokakarya pembentukan jejaring Komisi Yudisial di 7 regional. Sulteng. dan cukup lengkap. 5. dan Jatim) Mataram (mencakup wilayah NTB. maka dapat dihasilkan analisis atas putusan-putusan yang baik yang dapat menjadi literatur penting dalam peningkatan kemampuan para hakim dalam menangani perkara. yaitu:9 1. Jateng. DKI Jakarta. Jabar. Bangka Belitung. Kalbar. Bengkulu. Lampung) Malang (mencakup wilayah Banten. Sementara itu ada juga majalah yang berisi analisis putusan tetapi karena dilahirkan bukan dari lembaga negara resmi maka kurang menjadi rujukan bagi para hakim. 3. Kaltim) Kendari (mencakup wilayan Sulsel. NTT dan Bali) Pontianak (mencakup wilayah Kalsel. DIY Yogyakarta.semua pihak di muka hukum (equality before the law) juga menuntut adanya peran publik yang optimal. Sumbar. Selama ini. Kalteng. Organisasi Masyarakat serta Lembaga Swadaya Masyarakat. Riau dan Kepulauan Riau) Palembang (mencakup wilayah Sumsel. Sultra. Gorontalo. Sumut. Berdasarkan telaah putusan hakim yang akan dijalankan.

2. Ambon (mencakup wilayah Maluku. 11 Organisasi Masyarakat. c. 4. Sebagai tindak lanjut dari disusunnya berbagai nota kesepahaman tersebut. 2. Penelitian sesuai dengan tema/topik yang telah disepakati oleh kedua pihak. Bidang-bidang lain yang dianggap perlu dan disepakati oleh masing-masing pihak. Pengawasan perilaku hakim. Teradvokasinya masyarakat pencari keadilan (terutama masyarakat korban) untuk dapat memperjuangkan hakhaknya. Sedangkan hasil yang diharapkan dengan adanya jejaring dan program-programnya adalah: 1. Terintegrasinya gerakan antara negara dan kalangan masyarakat sipil yang mempunyai tujuan untuk melakukan reformasi peradilan dan pemberantasan mafia peradilan. Papua dan Irjabar). Pemberian penghargaan bagi hakim yang berprestasi.7. Tersusun dan tersedianya data base hakim (baik dalam hal kualitas maupun integritas) yang selanjutnya dapat dijadikan sebagai informasi awal bagi Komisi Yudisial pada saat melaksanakan: a. antara lain meliputi bidang: 1. 3. Pembangunan jaringan advokasi masyarakat. Adapun ruang lingkup kerjasama yang berhasil disepakati antara Komisi Yudisial dengan elemen-elemen tersebut di atas. Penelitian putusan hakim di masing-masing daerah. 55 Lembaga Swadaya Masyarakat. Maluku Utara. Pertukaran informasi yang dilakukan atas dasar kesepakatan kedua pihak. 5. b. 6. 2. 39 Fakultas Hukum PTN dan PTS. 3. Dengan nota kesepahaman yang telah disepakati adalah: 1. Komisi Yudisial dengan jejaring dae- 298 Bunga Rampai . 3. Investigasi perilaku hakim di masing-masing daerah. Seleksi calon hakim agung.

Oleh sebab itu. profesional. sehingga putusan pengadilan yang diucapkan dengan irah-irah “Demi Keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” mengandung arti bahwa kewajiban menegakkan hukum. berwibawa. mampu menegakkan hukum serta dapat memberikan kepastian hukum dan keadilan merupakan conditio sine qua non atau persyaratan mutlak dalam sebuah negara yang berdasarkan hukum. Sebagai salah satu langkah untuk mewujudkan lembaga peradilan dan hakim seperti disebutkan di atas. dan secara vertikal dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Komisi Yudisial sebagai lembaga yang diberi amanat oleh konstitusi Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 299 . menyatakan tidak sah tindakan sewenang-wenang pemerintah terhadap masyarakat. Sebagai aktor utama lembaga peradilan. Komisi Yudisial juga telah melakukan penyusunan nota kesepahaman dengan beberapa lembaga negara yang wilayah tugasnya cukup terkait dengan tugas dan wewenang Komisi Yudisial. Melalui putusannya.rah sampai saat ini telah melakukan berbagai acara untuk proses penyamaan persepsi dan penyamaan metodologi guna menyongsong berbagai program yang akan dan sekarang sedang dilaksanakan. kebenaran dan keadilan itu wajib dipertanggungjawabkan secara horizontal kepada semua manusia. di mana setiap orang sama kedudukannya di depan hukum dan hakim. Penutup Pengadilan yang mandiri. mencabut kebebasan warga negara. Sebab hanya pengadilan yang memiliki semua kriteria tersebut di ataslah yang dapat menjamin pemenuhan hak asasi manusia. Selain itu. sampai dengan memerintahkan penghilangan hak hidup seseorang. dan peran hakim menjadi sangat penting. Kewenangan hakim yang sangat besar itu menuntut tanggungjawab yang tinggi. semua kewenangan yang dimiliki oleh hakim harus dilaksanakan dalam rangka menegakkan hukum. terlebih dengan segala kewenangan yang dimilikinya. posisi. sebagai bentuk penguatan kelembagaan yang lain. netral (tidak berpihak). kebenaran dan keadilan tanpa pandang bulu dengan tidak membeda-bedakan orang seperti diatur dalam lafal sumpah seorang hakim. seorang hakim dapat mengalihkan hak kepemilikan seseorang.

300 Bunga Rampai . Hal tersebut selain dilandasi oleh kesadaran bahwa dua pekerjaan tersebut adalah bukan pekerjaan yang ringan. juga disebabkan pemahaman bahwa mafia peradilan adalah merupakan musuh bersama yang telah memberikan dampak negatif yang luar biasa besar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karenanya.untuk menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga perilaku hakim menempatkan diri sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari komunitas negara dan masyarakat sipil yang mempunyai agenda melakukan reformasi peradilan dan pemberantasan mafia peradilan. gerakan bahu membahu secara sistematis dan berkesinambungan antar JEJARING dalam suatu JARINGAN kerja menjadi hal yang tidak dapat ditawar dan ditunda-tunda lagi.

Christine S.H. hlm 9. Komisi Yudisial sudah langsung menerima pengaduan dari masyarakat.S.. Cetakan kedua.H. S. “Ilmu Negara”.H. * 1 Penulis adalah Kepala Pusat Data dan Pelayanan Informasi Komisi Yudisial Republik Indonesia Prof. 2004. Andi Djalal Latief. Hal ini terbukti beberapa saat setelah anggota Komisi Yudisial mengucapkan sumpah dihadapan Presiden sebagai Kepala Negara. Kansil. * Pendahuluan Ditengah maraknya praktek “mafia peradilan” di Bumi Pertiwi ini. PT Pradnya Paramita Jakarta. M. S.. tidaklah dapat dipungkiri bahwa lembaga ini ternyata memberikan secercah harapan bagi para pencari keadilan. C. lahirlah sebuah lembaga Negara baru yaitu Komisi Yudisial.Urgensi Pembuatan Database Hakim Sebagai Media Penunjang Pelaksanaan Wewenang dan Tugas Komisi Yudisial Ir. haruslah dipahami arti dari definisi “Negara” serta tujuan dibentuknya negara itu sendiri..T Kansil. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 301 .T. Drs. Walau menuai pro dan kontra serta mendapatkan resistensi dari Mahkamah Agung (MA). Kandidat Pilkada kota Depok (Nur Mahmudi Ismail) adalah orang pertama yang datang untuk melaporkan buruknya kerja dan kinerja lembaga pengadilan. MS. Untuk sampai pada pemahaman betapa pentingnya keberadaan Komisi Yudisial Republik Indonesia (KYRI) beserta kewenangannya dalam struktur ketatanegaraan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam menjamin hak warga Negara.

H. R. Oleh kodrat.H.H. Edisi revisi. Jakarta. M. Christine S. Istilah “negara” kadang-kadang digunakan dalam pengertian yang sangat luas untuk menunjuk “masyarakat” atau bentuk khusus dari masyarakat. Hal ini banyak disebabkan oleh fakta bahwa para penulis yang berbeda membahas masalahmasalah yang sangat berbeda di bawah satu nama yang sama dan bahkan penulis yang sama pun tanpa disadari menggunakan istilah yang sama dengan pengertian yang berbedabeda. atau wilayah yang mereka diami. hlm 225. 302 Bunga Rampai . mengatakan: Negara ialah suatu organisasi manusia atau kumpulan manusiamanusia yang berada di bawah suatu pemerintahan yang sama. menurut Hans Kelsen terkadang definisi “Negara” dibuat sangat sulit oleh aneka ragam objek yang biasa dinyatakan secara tegas oleh istilah negara itu sendiri. suatu organisasi kekuasaan/kewibawaan).T. sedangkan menurut Prof. hlm 36.“Negara” menurut pandangan Prof. Drs. 2007. Prof. Somardi “General Theory of Law and State”. Kansil. misalnya pemerintah. Cetakan kedua.. S. “bangsa”. “lmu Negara”. negara 2 3 Hans Kelsen. S. karena negara mempunyai tugas yang paling mulia yaitu memanusiakan manusia. alih bahasa-Drs.A Logemann adalah: De Staats is een gezags organizatie (Negara ialah. PT Pradnya Paramita.H. dan itulah salah satu sebab mengapa negara sebagai persekutuan hidup menempati jenjang yang paling tinggi.3 sedangkan menurut Aristoteles negara yang ideal itu adalah negara yang memanusiakan manusia. S.1 Masih terdapat banyak definisi terhadap istilah “Negara” sehingga. Dr. Augustinus menyatakan. J. Tetapi istilah itu pun sangat sering digunakan dalam pengertian yang sangat sempit untuk menunjuk suatu organ khusus masyarakat. tujuan Negara adalah dihubungkan dengan cita-cita manusia hidup di alam kekal yaitu sesuai yang diinginkannya. Bee Media Indonesia. maka haruslah pula dipahami tujuan dibentuknya sebuah “Negara” itu sendiri.2 Setelah sedikit diketahui apa yang dimaksud dengan istilah “Negara” maka selanjutnya dalam konteks pentingnya keberadaan Komisi Yudisial dalam sebuah negara hukum.H. Djokosutono. 2004. atau para subyek pemerintah.T Kansil. C...S.

S.ada dan terbentuk bukan sekedar agar manusia dapat hidup didalamnya. karena hanya moralitas yang demikian itulah yang membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya. Rapar. Salah satu yang terpenting adalah 4 DR. Dr. dan kekuasaan harus tunduk pada hukum.M cita Negara hukum Indonesia adalah: 1) bahwa dalam Negara hukum.V. Cetakan Pertama. Keberhasilan manusia mencapai tingkat kebajikan tertinggi itu haruslah terlihat lewat moralitas yang terpuji. Mochtar Kusumaatmadja. Itu berarti bahwa di dalam negara manusia seyogyanya dapat mencapai tingkat kebajikan yang tertinggi.D. Dengan kata lain. Manusia yang benar-benar bermoral dan yang berarti pula benar-benar berkualitas akan senantiasa siap sedia melakukan segala sesuatu yang terbaik dan mulia. artinya kekuasaan itu tunduk pada hukum. Ini dapat berarti bahwa Negara Republik Indonesia adalah Negara yang berdasarkan atas hukum yang demokratis berdasarkan pada Pancasila dan UUD 1945. moralitaslah yang memberi kualitas khusus bagi manusia sehingga manusia itu adalah manusia yang tidak sama dengan makhluk yang lain. “Filsafat Politik Aristoles” C. Lalu kemudian timbul pertanyaan apakah ciri-ciri dari cita Negara hukum Indonesia. Negara Indonesia berdasarkan atas hukum bukan berdasarkan atas kekuasaan belaka. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 303 . manusia dimampukan untuk mencapai tingkat pertumbuhan dan perkembangan yang semaksimal mungkin.H. Secara popular dikatakan bahwa Negara hukum adalah Negara berdasarkan hukum. 2) Ada prinsip-prinsip lain yang berkaitan dengan prinsip pokok di atas.D. Th. kekuasaan itu tidak tanpa batas. tetapi agar manusia itu benar-benar memanusia di dalam negara dan lewat hidup dan bernegara.4 Menjadi jelas bahwa apapun definisi dari negara itu. menurut Prof. Rajawali. 1988. Ph. hlm 43. Seperti kita ketahui bersama dan dinyatakan secara tegas dalam UUD 1945 adalah bahwa...H. J. Di dalam dan lewat hidup bernegara. LL. sebenarnya terbentuknya sebuah negara itu seharusnya dan seyogyanya adalah bertujuan untuk mensejahterakan rakyat atau manusia yang menjadi warga dari sebuah negara itu sendiri. Jakarta.

Terbentuknya Komisi Yudisial RI Perjalanan Bangsa Indonesia dimulai pada saat dikumandangkannya lagu Indonesia Raya serta berkibarnya Sang Saka Merah-Putih pada tanggal 17 Agustus 1945 serta dengan disahkannya UUD 1945 pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI menjadi dasar Negara kita. pengamalan serta pelaksanaan hak dan kewajiban Negara Indonesia haruslah menjamin hak asasi setiap warga negara melalui penyelenggara Negara dan lembaga negaranya. “Konsep-Konsep Hukum Dalam Pembangunan”. Mochtar Kusumaatmadja itu terlihat bahwa. kedudukan sosial dan kekayaan. Mochtar Kusumaatmadja. Masih ada di antara kita yang secara sadar telah melakukan penjajahan dalam bentuk yang lebih hina “jual-beli putusan” dan mengingkari hak sesama anak bangsa. hlm 180. Kehadiran Komisi Yudisial di Bumi Pertiwi yang berfungsi sebagai lembaga checks and balances terhadap lembaga peradilan merupakan langkah tepat dalam rangka untuk menjamin terpenuhinya rasa keadilan bagi sebanyak-banyak warga negara. 304 Bunga Rampai . LL.M. Keadaan 5 Dr. 2006.H. PT Alumni.. Dikatakan secara lain. Terungkapnya kasus-kasus penyalahgunaan wewenang (abuse of power) oleh hakim serta pejabat peradilan lain yang banyak dipublikasikan oleh berbagai media massa seolah menjadi cerminan dari lemahnya integritas moral dan perilaku hakim serta pegawai lembaga peradilan. agama. Hukum sebagai salah satu pilar berbangsa dan bernegara yang mendasari UUD 1945 telah mereka abaikan demi kepentingannya sendiri. Cetakan kedua. S. penghayatan.5 Dari pernyataan Prof. namun nampaknya bangsa ini belum juga beranjak dewasa dan menyadari arti dari kata merdeka itu sendiri. Bandung. Hari memang telah silih berganti sejak kemerdekaan. berarti bahwa hukum memperlakukan semua orang sama tanpa perbedaan yang didasarkan atas ras (keturunan).bahwa dalam Negara hukum semua orang sama di hadapan hukum.

Keadaan ini membuat masyarakat pencari keadilan memandang bahwa lembaga peradilan sebagai suatu sistem dianggap sudah tidak bersih dan kurang berwibawa. “Demokrasi Terpimpin” serta “Demokrasi Pancasila”. tetapi juga telah terjadi di lingkungan Mahkamah Agung sebagai penyelenggara kekuasaan kehakiman yang tertinggi. Dengan sifat UUD 1945 yang “supel. seolah-olah UUD 1945 adalah sebuah karya agung tanpa kelemahan. rakyat bicara. Keadaan ini membuat masyarakat pencari keadilan menjadi patah arang dan bosan menggantungkan harapannya kepada pemerintah dan lembaga peradilan. Jika diperhatikan salah satu kesalahan pemerintahan Orde Baru saat itu adalah dengan ditabukan dan disakralkannya UUD 1945 untuk dirubah. Perlahan namun pasti keinginan untuk melakukan perubahan semakin memuncak. apakah ada kepastian hukum dari UUD seperti itu? Apalagi bila pertanyaan itu dikaitkan dengan pernyataan bahwa Negara Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum bukan berdasarkan atas kekuasaan belaka. Akhirnya karena desakan yang begitu kuat Orde Baru yang menjalankan roda pemerintahan saat itu pun tumbang. itu tuntutan mereka. akan tetapi hal ini juga membuat UUD 1945 dapat diinterpretasikan dan diimplementasikan ke dalam berbagai struktur politikpemerintahan yang berbeda-beda: “Demokrasi Parlementer. Oleh karena itu. pada tahun 1968 muncul ide pembentukan Majelis Pertimbangan Penelitian Hakim (MPPH) yang berfungsi untuk memberikan pertimbangan dalam mengambil keputusan akhir mengenai saran-saran dan atau usul-usul yang berkenaan dengan pengangkatan. promosi. yang dinyatakan secara tegas dalam UUD 1945 itu sendiri. pemberhentian dan tindakan/hukuman jabatan para hakim. Namun ide tersebut tidak berhasil dimasukkan dalam undang-undang tentang Kekuasaan Kehakiman. kepindahan. Akhirnya pada tahun 1998 setelah sekian lama bungkam. Kelemahan ini dapat terlihat dengan singkatnya UUD Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 305 . Kenyataan ini menimbulkan sebuah pertanyaan yang amat mendasar terhadap UUD 1945. Reformasi total. singkat dan fleksibel” memang membuatnya mudah mengikuti perkembangan jaman.ini tidak saja terjadi di lingkungan pengadilan negeri dan pengadilan tinggi.

Nanti kita membuat UUD yang lebih sempurna dan lengkap…. MPR harus dibentuk. UUD memang hanya dimaksudkan untuk mengatur hal yang pokok-pokok saja dan hanya berlaku sementara. Soekarno sebagai Ketua PPKI memberikan kata sambutannya.. bahwa UUD ini adalah UUD Sementara. Adnan Buyung Nasution. “…Tuan-tuan semuanya tentu mengerti. pada saat pengesahan UUD 1945 oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945. 4 Aturan Peralihan dan 2 Aturan Tambahan) dan menurut penjelasan resminya. Kurang sempurnanya UUD 1945 ini sebenarnya juga dikuatkan dalam rumusan Aturan tambahan UUD 1945 itu sendiri yang berbunyi: “Enam bulan sesudah berakhirnya perang Asia Timur Raya. memberikan porsi kekuasaan yang begitu besar kepada presiden. dan enam bulan sesudah dibentuk. kelompok kepentingan dan penekan) Kedua.”6 Terlihat jelas dalam rumusan itu bahwa sejak awal memang para penyusun UUD 1945 sudah menyadari bahwa UUD yang mereka buat secara kilat itu (hanya dalam tempo dua hari) belumlah sempurna dan harus diperbaiki. sekalipun di dalam penjelasan 6 7 Dr. inilah revolutie grondwet. Buku I. “Arus Pemikiran Konstitusionalisme. Beliau mengemukakan beberapa alasan.7 Kelemahan yang terdapat pada UUD 1945 ini dikatakan oleh Adnan Buyung Nasution sebagai loop hole.H. di dalam rumusannya. Iur. kita tentu akan mengumpulkan kembali MPR yang dapat membuat UUD yang lebih lengkap dan sempurna… Tuan-tuan tentu mengerti. S. Kalau boleh saya memakai perkataan: ini adalah UUD kilat! Nanti kalau kita telah bernegara dalam suasana yang lebih tenteram. bahwa barangkali boleh dikatakan pula. yaitu: Pertama. Tata Negara”. Akibatnya.1945 (hanya terdiri dari 37 pasal. UUD Kilat. UUD 1945 306 Bunga Rampai . bahwa UUD yang kita buat sekarang ini adalah UUD sementara. Kata Hasta Pustaka. Jakarta. MPR harus bersidang untuk menetapkan UUD baru”. Keadaan ini tergambarkan pula ketika Ir. tidak memberikan tempat bagi keberadaan infrastruktur demokrasi (seperti partai politik.

Kata Hasta Pustaka. Ini terlihat dari rumusan yang berbunyi: “… ditetapkan dengan UU” di akhir sejumlah pasal UUD 1945.UUD 1945 dikatakan bahwa pemerintahan tidak bersifat absolutisme (kekuasaan yang tidak terbatas) dan negara Indonesia tidak berdasar kekuasaan belaka. 4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman diterapkanlah sistem satu atap (one roof system) pada dunia 8 Dr. niscaya sangat sulit tercipta balance of power apalagi checks and balances diantara cabang-cabang pemerintahan.5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Dalam kondisi kekuasaan Lembaga Kepresidenan yang begitu besar. Inilah karakteristik penting lainnya dari UUD 1945. maka para pemimpin negeri ini berusaha melakukan perbaikan dengan melakukan perubahan terhadap beberapa UndangUndang yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman seperti: UU No.14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung. Adnan Buyung Nasution. Iur. rumusan seperti ini memungkinkan dominasi eksekutif dalam pembentukan dan pelaksanaan UU. Seiring dengan itu untuk memberantas “mafia peradilan” dan menjamin terpenuhinya hak rakyat dan agar beberapa kesalahan para pemimpin terdahulu tidak terulang.8 Namun pada kenyataannya UUD 1945 dalam keadaan seperti inilah yang dipertahankan oleh pemerintahan Orde Baru untuk melanggengkan kekuasaannya. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 307 . Ketiga. UU No. “Arus Pemikiran Konstitusionalisme. S. namun dengan begitu besarnya kekuasaan Lembaga Kepresidenan. Tata Negara”. Melalui UU No.H. Buku I. Sebenarnya setelah terjadinya “revolusi” oleh mahasiswa pada tahun 1998 yang mengakibatkan tumbangnya pemerintahan Orde Baru. Jakarta. arah menuju perbaikan struktur ketatanegaraan Indonesia sudah mulai tampak dengan diperbaikinya UUD 1945 melalui empat tahapan amandemen. 2 tahun 1986 tentang Peradilan Umum serta UU No. begitu banyak loop holes yang terdapat di dalam rumusan pasal-pasal UUD 1945.. yakni memusatkan kekuasaan di tangan presiden (concentration of power upon the president) sebagai kepala pemerintahan sekaligus kepala negara.

personalia dan keuangan yang tadinya dipegang oleh eksekutif melalui Menteri Hukum dan HAM diserahkan sepenuhnya kepada Mahkamah Agung melalui Undang-Undang Pokok Kekuasaan Kehakiman. M. bersih. pada Sidang Tahunan MPR tahun 2001 yang membahas amandeman ketiga Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. yakni suatu sistem ajaran tentang kenyataan atau gejala-gejala yang dihadapi. agar cita-cita untuk mewujudkan pengadilan yang jujur.H.. Sehingga pada tahun 1998-an muncul kembali dan menjadi wacana yang semakin kuat dan solid. Soerjono Soekanto. untuk membentuk lembaga mandiri sebagai pengawas eksternal terhadap lembaga pengadilan. 2) Hukum sebagai disiplin. Kewenangan manajemen administrasi. yakni pengetahuan yang tersusun secara sistematis atas dasar kekuatan pemikiran. karena dunia pengadilan kita menjadi tidak dapat tersentuh oleh lembaga lain. yakni pedoman atau patokan sikap 308 Bunga Rampai .A. termasuk di dalamnya dibentuk Komisi Yudisial yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. Keadilan serta Hakim Banyak sarjana yang mencoba untuk mendefinisikan apa itu hukum dan mungkin definisi hukum itu sebanyak para pemikirnya. namun ada baiknya disimak pendapat Prof Dr. serta perilaku hakim. dan profesional dapat tercapai.peradilan. tentang hukum. jika dikaitkan dengan pendapat masyarakat. Malah memperparah. Beliau berpendapat: 1) Hukum sebagai ilmu pengetahuan. Hukum. transparan.. Namun penerapan sistem satu atap sebagai salah satu upaya menciptakan independensi pengadilan dan imparsial hakim agar terhindar dari campur tangan penguasa tidak mengurangi ruang gerak “mafia peradilan” serta tidak juga dapat meningkatkan integritas moral serta profesionalitas hakim. S. Oleh karena itu. keluhuran martabat. disepakati beberapa perubahan dan penambahan pasal yang berkenaan dengan kekuasaan kehakiman. Berdasarkan pada amandemen ketiga itulah dibentuk Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial yang disahkah di Jakarta pada tanggal 13 Agustus 2004. 3) Hukum sebagai kaedah.

Hanya atas dasar pemahaman yang jelas tentang hubungan-hubungan yang membentuk tata hukum tersebut bahwa hakikat hukum dapat dipahami dengan sempurna. Tidak mungkin untuk memahami hakikat hukum hanya dengan memperhatikan satu peraturan saja. Cetakan kedua. hal ini terjadi karena dengan dijebloskan ke penjara.H.”Sendi-Sendi Ilmu Hukum dan Tata Hukum”. hlm 2. Somardi “General Theory of Law and State”. latar belakang pendidikan dsb. Namun hukum bukan satu peraturan semata. 2002. budaya. Sedangkan Hans Kelsen berpendapat.. dan Prof. Hans Kelsen.11 Kedua kata itu. seperti kadang-kadang dikatakan demikian.. S.10 Sementara itu kata keadilan berasal dari kata adil yang dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia berarti: sama berat.H. tidak berat sebelah atau tidak memihak. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 309 .A. sehingga hukum itu akan tampak adil namun hanyalah bagi golongan tertentu saja. apalagi di Indonesia yang terdiri dari begitu banyak suku bangsa. 1993. Edisi revisi. Namun demikian kedua kata itu juga tidak dapat dipisahkan karena hukum tidak dapat dipisahkan dari konsep keadilan itu sendiri. hlm. alih bahasa-Drs. Dr. karena bila kedua kata itu dicampur-adukan maka ia akan menjadi suatu kecenderungan ideologi serta politik.tindak atau perikelakuan yang pantas atau diharapkan. Hukum adalah seperangkat peraturan yang harus kita pahami dalam satu kesatuan yang sistemik.9 dll.. Balai Pustaka. mereka akan merasakan tempat tinggal 9 10 11 Prof. hukum adalah suatu tata perbuatan manusia. hukum dan keadilan tidak dapat dicampur-adukan jadi satu dengan yang lainnya. Hubungan yang mempersatukan berbagai peraturan khusus dari suatu tata hukum perlu dimaknai agar hakikat hukum dapat dipahami. Dapat kita ambil contoh masyarakat pedalaman Papua. Purnadi Purbacaraka. 3. Soerjono Soekanto. S. M. disana mereka akan menjadi amat bahagia bila dijebloskan ke penjara. “Tata Perbuatan” mengandung arti suatu sistem aturan. “Kamus Besar Bahasa Indonesia”. agama. 2007. PT Citra Aditya Bakti. Bee Media Indonesia. cetakan VI. hlm 8. Memang tidaklah mungkin menjadikan suatu tata aturan tertentu menjadi adil dan membahagiakan bagi semua pihak. keduanya haruslah dilihat dari sudut ilmiah.

sehingga ia dapat melakukan penemuan hukum (rechtsvinding). Dalam kaitan itu ada baiknya pula dicermati pendapat Prof. Oleh karenanya hakim dikatakan sebagai “perpanjangan tangan Tuhan di dunia”. Bagi penduduk pedalaman Papua akan lebih menyakitkan bila mereka diharuskan mengganti kerugian akibat perbuatannya dengan seekor babi. Nilai keadilan itu amat bergantung pada latar belakang diri masing-masing pencari keadilan. tidak sama dengan seorang yang merampok dan membunuh hanya untuk kesenangan belaka. tentang jabatan hakim. karena pada jabatan hakim melekat status sebagai seorang penegak hukum dan pemberi keadilan di dunia. Oleh karena itu berkenaan dengan tugas hakim untuk menerapkan hukum secara benar serta memberikan keadilan yang sebesar-besarnya kepada sebanyak-banyaknya individu. maka seorang hakim dituntut untuk memiliki pengetahuan luas.yang lebih layak dari pada tempat tinggalnya. tidak akan mungkin semua pembunuh dihukum dengan hukuman yang sama. Jimly Asshiddiqie. dan mereka pun tidak perlu bersusah payah untuk mencari makan. Jadi jelaslah bahwa jabatan hakim tidak dapat dipisahkan dari konsep hukum dan keadilan. Selain itu seorang hakim juga harus memiliki integritas moral yang baik. Dr. Jadi.H. Seorang yang merampok dan membunuh karena harus membayar biaya rumah sakit anaknya. karena pembunuhan sebagai suatu tindakan penghilangan nyawa orang lain itu amat dipengaruhi sebuah peristiwa yang melatar-belakanginya. serta penciptaan hukum (rechtsschepping) bila tidak terdapat peraturan perundangan-undang terhadap setiap perkara yang sedang ditanganinya. 310 Bunga Rampai . Seekor babi pada pedalaman Papua amatlah tinggi nilai ekonomisnya. Menjadi bertolak belakang bila penjeblosan ke penjara ini diterapkan pada masyarakat kota besar. yang beranggapan bahwa penjeblosan ke dalam penjara adalah bentuk perampasan hak asasi manusia yang dibenarkan oleh Undang-Undang. Demikian pula dengan delik pembunuhan. sehingga ia dapat memberikan keadilan yang sebesar-besarnya kepada sebanyak-banyaknya pencari keadilan berdasarkan hati nuraninya. S. setiap manusia atau pencari keadilan akan mempunyai nilai sendiri tentang keadilan dan kebahagiaan.

pengetahuan. keluhuran martabat. 85. dan perilaku hakim.hakim melaksanakan tugas bukan lagi sebagai individu. keluhuran martabat. Wewenang dan Tugas Komisi Yudisial Dalam UUD 1945 dengan jelas dinyatakan bahwa Komisi Yudisial bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. bukan orang mencari kerja. Pegawai negeri adalah pelayan sedangkan hakim itu bukan pelayan tetapi jabatan kehormatan. Sehingga seharusnya hakim tidak direkrut dengan proses seperti penerimaan pegawai negeri. Bekasi. dan yang kedua: Menjaga dan menegakkan kehormatan. Jimly tersebut dapatlah ditarik kesimpulan bahwa bila terdapat hakim yang melakukan penyimpangan terhadap hukum dan rasa keadilan maka terdapat dua kemungkinan yang mendasarinya. Dr. S. yaitu: 1) Kurangnya pengetahuan hakim yang bersangkutan. Karena itu hakim selayaknya bukan pegawai negeri. yang disahkan di Ja- 12 Pemikiran Prof.12 Dari pendapat Prof. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 311 ..H. Jimly Asshiddiqie. maka orang yang diangkat menjadi hakim adalah paling terhormat. yaitu pertama: Mengusulkan pengangkatan hakim agung. dan pengalaman seperti orang yang sudah menjadi dosen atau advokat terkenal yang bekerja sungguh-sungguh dengan segala kehormatan jabatan ini. sebagaimana tercantum dalam Undang Undang Nomor 22 tahun 2004 Tentang Komisi Yudisial. 2007. Yang menjadi hakim bukanlah orang yang mencaricari kerja. Agar Komisi Yudisial dapat menjalankan tugasnya maka disusunlah dengan rinci wewenang dan tugas Komisi Yudisial. hlm. Yang dapat diangkat menjadi hakim adalah orang yang memiliki kehormatan. tetapi sebagai institusi. Dan oleh karena itu gajinya lebih tinggi dari eksekutif dan legislatif. Hal ini jelas mengindikasikan bahwa wewenang Komisi Yudisial ada dua. “Konstitusi dan Ketatanegaraan Indonesia Kontemporer”. Cetakan Pertama. The 13 Biography Institute. serta perilaku hakim. dan 2) Belum memuaskannya tingkat kesejahteraan hakim yang bersangkutan.

22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial maka kewenangan Komisi Yudisial meliputi: Mengusulkan pengangkatan Hakim Agung kepada DPR RI. Mengajukan usul penjatuhan sanksi terhadap hakim kepada pimpinan Mahkamah Agung. Berdasarkan pasal 20 dan pasal 23 UU No.13 Dalam kaitan dengan mengusulkan pengangkatan hakim agung. Komisi Yudisial mempunyai tugas: Melakukan pendaftaran calon hakim agung. Seleksi administratif menyangkut kelengkapan persyaratan administrasi.karta pada tanggal 13 Agustus 2004 oleh Presiden Republik Indonesia serta dicatatkan pada lembaran negara Republik Indonesia tahun 2004 nomor 89 dan tambahan lembaran negara Republik Indonesia nomor 4415. keluhuran martabat. daftar harta kekayaan serta sumber penghasilan. Menjaga dan menegakkan kehormatan.” 312 Bunga Rampai . seleksi kualitas dan kepribadian. keluhuran martabat serta perilaku hakim. karya ilmiah dan legal case problem solving yang topiknya ditentukan oleh Komisi Yudisial. Menetapkan calon hakim agung. Dalam kaitan dengan menjaga dan menegakkan kehormatan. ijazah asli atau yang telah dilegalisir. Pelaksanaan pengawasan terhadap perilaku hakim. Komisi Yudisial mempunyai tugas: Melakukan pengawasan terhadap perilaku hakim. dan Nomor Pokok Wajib Pajak. Seleksi yang dimaksudkan disini adalah seleksi administratif. serta perilaku hakim.22 Tahun 2004 Tentang Komisi Yudisial. serta pemeriksaan kesehatan untuk melihat keadaan kesehatan yang dapat menghambat atau meniadakan kemampuan (disability) dalam menjalankan tugas sebagai Hakim Agung. sekurang-kurangnya: daftar riwayat hidup. diwujudkan dalam bentuk: penerimaan laporan pengaduan masyarakat tentang perilaku hakim. termasuk riwayat pekerjaan. permintaan laporan secara 13 “Undang-Undang No. Melakukan seleksi terhadap calon hakim agung. Mengajukan calon hakim agung kepada DPR. surat keterangan sehat jasmani dan rohani dari dokter rumah sakit pemerintah. Sedangkan seleksi kualitas dan kepribadian menyangkut penilaian karya 2 tahun terakhir.

Disamping upaya pengawasan yang dikemukakan di atas yang lebih merupakan upaya represif. Disinilah pentingnya dukungan data base hakim yang akurat. pemeriksaan terhadap dugaan pelanggaran perilaku hakim. pembuatan laporan hasil pemeriksaan yang berupa rekomendasi disampaikan kepada Mahkamah Agung. Database Hakim sebagai Elemen Pendukung Penting Dalam rangka melaksanakan tugas serta wewenang yang diamanatkan oleh UUD 1945 yang penjabarannya di dalam UU Nomor 22 tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. Disamping itu. Pemberhentian sementara. Sedangkan Usul Penjatuhan sanksi terhadap hakim kepada Mahkamah Agung disesuaikan dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan. lembaga Negara ini perlu didukung oleh database hakim yang dapat menyajikan informasi secara cepat dan akurat.berkala kepada badan peradilan berkaitan dengan perilaku hakim. profesionalitas dan integritas hakim serta pengajuan usul pemberian penghargaan atau promosi terhadap hakim berprestasi saja. Komisi Yudisial juga diharapkan dapat melakukan upaya preventif agar tidak terjadi penyimpangan perilaku hakim dengan mengusulkan pemberian penghargaan bagi hakim berprestasi kepada Mahkamah Agung. dan tindasannya kepada Presiden dan DPR. Pemberian penghargaan maupun sanksi dimaksudkan untuk memotivasi hakim agar mempunyai kinerja lebih baik serta mampu menjaga kehormatan. Dengan demikian Komisi Yudisial dapat memberikan dukungan untuk melakukan pembinaan dalam rangka peningkatan pengetahuan. dan Pemberhentian. sehingga rasa keadilan yang didambakan masyarakat dapat lebih terpenuhi. profesionalitas dan integritas hakim serta pengajuan usul pemberian penghargaan terhadap hakim berprestasi. Tidak hanya untuk kepentingan melakukan pembinaan dalam rangka peningkatan pengetahuan. sehingga dapat diketahui secara pasti tingkat pengetahuan (skill) dan profesionalitas serta integritas dari setiap hakim. juga sangat bermanfaat dalam melakukan seleksi calon hakim agung. pemanggilan dan permintaan keterangan dari hakim yang diduga melanggar kode etik perilaku hakim. tetapi juga untuk mePenguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 313 . agar Komisi Yudisial dapat melakukan pemetaan terhadap hakim. keluhuran martabat dan perilakunya. dapat berupa: Teguran tertulis.

minimal dapat dibagi dalam 5 kategori. Data Kekayaan Adalah data kekayaan hakim ditujukan untuk mengetahui besaran kekayaan yang dimiliki oleh hakim yang 314 Bunga Rampai . pekerjaan anak. yaitu: Data primer mengenai pribadi hakim. profesionalitas dan integritas. Data dan informasi mengenai integritas. Data Keluarga. Informasi tentang aktivitas hakim dan keluarga. Data base hakim yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan wewenang dan tugas Komisi Yudisial. penentuan data item yang membentuk database rekam jejak hakim harus dibuat memenuhi kebutuhan di atas. riwayat pendidikan dan pekerjaan kedinasannya. Oleh karena itu. Data Keluarga Adalah data dan informasi yang ada kaitannya dengan keluarga hakim. Dari database inilah akan mudah kita telusuri hakimhakim mana yang layak berdasarkan kemampuan pengetahuan (skill). Sesuai dengan pepatah. seperti biodata. Data primer mengenai pribadi hakim Adalah data dan informasi yang ada hubungan langsung dengan diri hakim tersebut. baik mengenai jati dirinya maupun yang terkait dengan data kedinasan hakim.lihat rekam jejak hakim dalam rangka seleksi calon hakim agung. anak. skill dan profesionalitas. Selain itu informasi tentang keluarga ini sangat penting untuk melihat kondisi sesungguhnya dari kehidupan keluarga hakim yang bersangkutan. untuk menggambarkan keadaan hakim secara utuh sangat diperlukan. Data dan informasi tersebut meliputi suami atau isteri. pekerjaan isteri atau suami. dari rekam jejak (track record) yang ada pada dirinya. bahwa untuk melihat perilaku seseorang maka dapat dilihat bagaimana ia berperilaku di dalam keluarga dan masyarakat. Dalam hal ini keluarga memegang peranan penting untuk membentuk karakter jiwa maupun perilaku termasuk pribadi hakim. dan data serta informasi lainnya yang terkait isteri atau suami dan anak. menjadi program komisi ini untuk mempromosikan hakim tersebut. Data Kekayaan. Hakim-hakim yang memiliki track record baik.

Ketidaktaatan dalam membayar pajak merupakan cermin kelalaian dari warganegara untuk menyumbangkan kekayaannya bagi pembangunan bangsa. untuk mengetahui bagaimana kekayaan dan sumber-sumber kekayaan yang dimiliki oleh hakim. Namun demikian. istri.bersangkutan. Bila hakim memiliki kekayaan yang besar. Kebiasaan keluarga ini ada kemungkinan mempunyai kaitan dengan pembentukan sifat dan karakter hakim tersebut. apakah Hakim juga memiliki kesadaran/ ketaatan untuk membayar pajak dari kekayaan yang dimilikinya? Informasi tentang aktivitas hakim dan keluarga Adalah informasi mengenai aktivitas di luar kedinasan yang biasa dilakukan oleh hakim dan keluarganya baik yang positif maupun yang negatif. jika ada jaringan bisnis dan keterlibatan hakim dalam jaringan bisnis tersebut Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 315 . meskipun terkadang kekayaan tersebut didapat dengan cara yang tidak halal. acap kali orang tersebut lupa akan kewajiban sebagai warga negara dalam mengelola kekayaan yang dimilikinya. Hal ini secara tidak langsung dapat mencerminkan integritas yang dimiliki oleh Hakim. Dengan memiliki informasi aktifitas ini setidaknya dapat diperoleh gambaran mengenai perilaku yang bersangkutan dan keluarganya (orang tua. anak) kesenangan terhadap mahluk hidup atau benda-benda tertentu gaya hidup hakim atau keluarga kedekatan (afiliasi) dan bentuk keterlibatannya pada sebuah organisasi politik tertentu. Unjuk kekayaan menjadi sebuah gaya hidup tersendiri untuk memperlihatkan gengsi seseorang. maka perlu diketahui darimana dan dengan cara bagaimana kekayaan tersebut diperoleh? Selain itu. Data atau informasi yang perlu direkam dalam database antara lain meliputi: • • • • • kebiasaan yang sering dilakukan oleh hakim maupun keluarga (orang tua. Data atau informasi yang perlu direkam dalam hal ini adalah terkait dengan harta hakim. istri mapun anak). Adagium bahwa “kekayaan seseorang dapat mempengaruhi gaya hidup (life style) dari orang tersebut” agaknya sangat melekat dalam budaya hidup di Indonesia.

Untuk mengukur tingkat kualitas dan integritas seseorang bukan hal yang mudah. baik yang bersumber dari media maupun dari lingkungan kerja mengenai sepak terjang si hakim. Kualitas tanpa integritas bisa membuahkan kerusakan. maka salah satunya bisa dilihat dari pengalaman dari hakim pada saat menangani perkara. kurang lebih alat (instrument) untuk menilainya adalah apakah hakim pernah terlibat kasus (skandal) yang melanggar norma baik norma hukum maupun kesusilaan? Selain persoalan kualitas dan integritas. Prinsipnya. Keduanya menjadi satu kesatuan yang saling melengkapi dan menjadi prasyarat utama yang harus dimiliki oleh hakim. hakim yang profesional senantiasa taat azas baik di dalam kedinasan maupun di luar kedinasan. khususnya perkara hukum. sedangkan integritas tanpa kualitas tidak akan terlalu banyak memberi perubahan dalam memperbaiki kondisi lingkungan (peradilan). informasi penting lain yang perlu di dapat dari seorang hakim adalah mengenai profesionalitasnya selama menjalankan pekerjaan di dalam kedinasan maupun di luar kedinasan. Kualitas berhubungan dengan kemampuan (capability) teknis yudisial maupun manajerial hakim tersebut dalam menangani persoalan. Meski demikian keduanya bukan sesuatu yang tidak dapat dinilai. Sedangkan integritas berkaitan dengan erat dengan karakter kejiwaan (perilaku) yang diterjemahkan dalam perilaku hidup sehari-hari. Informasi lain yang berkaitan dengan hakim. Sedangkan untuk menilai bagaimana integritas hakim. Bila kualitas berkenaan dengan masalah kemampuan. melainkan juga dilihat bagaimana hakim pada saat di luar kedinasan. Data atau informasi yang perlu direkam dalam data base rekam jejak hakim terkait dengan hal di atas. skill dan profesionalitas Kualitas dan integritas (moral) adalah materi paling penting untuk menilai bagaimana pribadi seorang hakim. khususnya dalam penanganan perkara hukum. antara lain meliputi: informasi mengenai pernah tidaknya hakim terlibat sebuah kasus (hukum maupun kesusilaan). Profesionalitas hakim tidak hanya diukur pada saat hakim mengemban pekerjaannya di dalam kedinasan. pengalaman hakim terhadap penanganan 316 Bunga Rampai .Data dan informasi mengenai integritas.

buku bacaan. agar data atau informasi yang disimpan dalam database tersebut. guna meningkatkan kualitas atau pengetahuan. penentuan data item perlu dilakukan dengan sangat cermat. karena dengan tersedianya database hakim. profesionalisme dan integritas hakim.kasus. kepatuhan hakim dalam melaksanakan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. hakim lebih sering mengulur-ulur jadwal sidang?). Komisi Yudisial dapat melakukan pemetaan terhadap hakim. keluhuran martabat serta perilaku hakim. melakukan seleksi calon hakim agung dan pengawasan terhadap hakim guna menjaga dan menegakkan kehormatan. disiplin dalam sidang (apakah hakim tersebut tepat waktu dalam melaksanakan sidang atau sebaliknya. database ini juga dapat menjadi sumber informasi rekam jejak hakim yang sangat bermanfaat di dalam mendukung pelaksanaan kewenangan dan tugas-tugas Komisi Yudisial yaitu. Bentuk dukungan yang bisa diberikan dapat berupa pelatihan. Pertama. Penutup Akhir kata ada beberapa catatan penting yang harus diperhatikan berkenaan dengan pembangunan database (rekam jejak) hakim. Dengan terbangunnya database hakim ini. Komisi Yudisial dapat dengan secara akurat menentukan bentuk dukungan yang perlu diberikan kepada hakim untuk melakukan pembinaan dalam rangka peningkatan pengetahuan. pengajuan usul pemberian penghargaan terhadap hakim berprestasi dan lain sebagainya. prestasi kerja atau penghargaan yang pernah diperoleh. jalan-jalan. Selain itu. hasil karya ilmiah yang pernah dihasilkan. khususnya di dalam pembuatan putusan. belanja. profesionalitas dan integritas hakim. kehadiran hakim di kantor. memang merupakan data atau Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 317 . dalam hal tingkat pengetahuan (skill) dan profesionalitas serta integritas moral dari setiap hakim. dsb). kebiasaan hakim dalam memanfaatkan barang-barang inventarisasi kantor (misalnya apakah kendaraan dinas/jabatan sering digunakan untuk keperluan di luar kantor: arisan. Urgensi pembangunan Database (rekam jejak) hakim Kebutuhan akan database ini sangat penting sifatnya.

agar informasi yang disajikan terpercaya. Dengan demikian data atau informasi yang tersimpan dapat dijamin akurasi dan integritasnya. data dan/atau informasi yang simpan di dalam database harus betul-betul diperhatikan tingkat akurasinya. agar data atau informasi hanya dapat diakses oleh orang yang berhak. Pengamanan yang diterapkan tidak hanya di level aplikasi atau perangkat lunak dan jaringannya. keamanan data dan informasi yang tersimpan dalam database merupakan hal yang sangat penting diperhatikan. Kedua. Ketiga.informasi yang penting dan diperlukan di dalam mendukung pelaksanaan kewenangan dan tugas Komisi Yudisial. sesuai dengan tingkat kewenangannya. 318 Bunga Rampai . tetapi juga pengaman secara fisik perlu diperhatikan.

S. Editor/Penyunting : 1. S. Si. Redaktur Pelaksana : M. Berthine Sumarah Sudiono.H.H.H. 4..E. Hasyim. Achmad Dardiri. 2. M. M. M. H.H. S. Arnoldus Johannis Day. Ak 9. S. Anna Suhanah 7. 2. Kom 5. Danardono. Saiful Rachman. 8. Ak. Sulasman. S. Arnis Duwita Purnama. S.. H. S. S. Sos 9..H. Amir Syarifudin. 5.H.Redaksi Penanggung Jawab : Drs. Arif Budiman.H. S.H. IP. S. S. 3.. Abdy Koro. Muzayyin Mahbub. H. Frida Aprilia. S. S. 4. Andi Djalal Latief. 6.E. M. 7.S. Si. Redaktur : Hermansyah. Hendro Sukmono. Ir. Wakil Redaksi Pelaksana : Tatang Suryaman Sekretariat : 1. M. S. M. 3. M.E.H. 8.H. Drs. Eddy Hary Susanto. S. Drs. Romlah Pelupessy. 6. Penguatan Kelembagaan Komisi Yudisial 319 .H.M. Asep Rachmat Fajar. S. Niniek Ariyani. S. Kom.

320 Bunga Rampai .