Pengertian Inovasi

Udin Saefudin Sa’ud, Ph.D. (2008). Inovasi Pendidikan, Bandung: ALFABETA Kata “innovation” (bahasa Inggris) sering diterjemahkan segala hal yang baru atau pembaharuan (S. Wojowasito, 1972; Santoso S. Hamijoyo, 1996), tetapi ada yang menjadikan kata innovation menjadi kata Indonesia yaitu “inovasi”. Inovasi (innovation) adalah suatu ide, barang, kejadian, metode yang dirasakan atau diamati sebagai suatu hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat), baik itu beruypa hasil invention maupun diskoveri.

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Pengertian Inovasi Pendidikan

Oleh : Sabarudin, S.Pd
Udin Saefudin Sa’ud, Ph.D. (2008). Inovasi Pendidikan, Bandung: ALFABETA

Inovasi pendidikan adalah suatu perubahan yang baru, dan kualitatif berbeda dari hal (yang ada sebelumnya), serta sengaja diusahakan untuk meningkatkan kemampuan guna mencapai tujuan tertentu dalam pendidikan.

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Pengertian Inovasi Pendidikan
Udin Saefudin Sa’ud, Ph.D. (2008). Inovasi Pendidikan, Bandung: ALFABETA Inovasi pendidikan adalah suatu perubahan yang baru, dan kualitatif berbeda dari hal (yang ada sebelumnya), serta sengaja diusahakan untuk meningkatkan kemampuan guna mencapai tujuan tertentu dalam pendidikan.

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Udin Saefudin Sa’ud, Ph.D. (2008). Inovasi Pendidikan, Bandung: ALFABETA 1. The term innovation is ussually employed in three different contexts. In one context it is synonymeus with invention; that is, it refers to a creative process whereby two or more existing concepts or entities are combined in some novel way to produce a configuration not previously known by the person involved. A person or organization performing this type of activity is usually said to be innovative. Most of the literature on creativity treats the term innovation in this fashion. (Zaltman, Duncan, Holbek, 1973: 3) 2. Innovation is ..... the creative selection, organization and utilization of human and material resources in new and unique ways which will result in the attainment of a higher level of achievement for the defined goals objectives. (Huberman, 1973: 5)

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Udin Saefudin Sa’ud, Ph.D. (2008). Inovasi Pendidikan, Bandung: ALFABETA Dari beberapa definisi inovasi yang dibuat para ahli tersebut, dapat diketahui bahwa tidak terjadi perbedaan yang mendasar tentang pengertian inovasi antara satu dengan yang lain. Jika terjadi ketidaksamaan hanya dalam susunan kalimat atau penekanan maksud, tetapi pada dasarnya pengertiannya sama. Semua definisi tersebut menyatakan bahwa inovasi adalah suatu ide, hal-hal yang praktis, motode, cara, barangbarang buatan manusia, yang diamati atau dirasakan sebagai suatu yang baru bagi seseorang atau kelompok orang (masyarakat). Hal yang baru itu dapat berupa hasil invensi atau diskovery, yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu atau untuk memecahkan masalah.

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Udin Saefudin Sa’ud, Ph.D. (2008). Inovasi Pendidikan, Bandung: ALFABETA Pendidikan kita dewasa ini menghadapi berbagai tantangan dan persoalan, diantaranya: 1. Bertambahnya jumlah penduduk yang sangat cepat dan sekaligus bertambahnya keinginan masyarakat untuk mendapat pendidikan, yang secara kumulatif menuntut tersedianya sarana pendidikan yang memadai. 2. Berkembangnya ilmu pengetahuan yang modern menghendaki dasar-dasar pendidikan yang kokoh dan penguasaan kemampuan terus-menerus, dan dengan demikian menuntut pendidikan yang lebih lama sesuai dengan konsep pendidikan seumur hidup (life long education). 3. Berkembangnya teknologi yang mempermudah manusia dalam menguasai dan memanfaatkan alam dan lingkungannya, tetapi yang sering kali ditangani sebagai suatu ancaman terhadap kelestarian peranan manusiawi.

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Udin Saefudin Sa’ud, Ph.D. (2008). Inovasi Pendidikan, Bandung: ALFABETA Tantangan-tantangan tersebut, lebih berat lagi dirasakan karena berbagai persoalan datang, baik dari luar maupun dari dalam sistem pendidikan itu sendiri, diantaranya: 1. Sumber-sumber yang makin terbatas dan belum dimanfaatkannya sumber yang ada secara efektif dan efisien. 2. Sistem pendidikan yang makin lemah dengan tujuan yang masih kabur, kurikulumnya belum serasi, relevan, suasana belum menarik dan sebagainya. 3. Pengelolaan pendidikan yang belum mekar dan mantap, serta belum peka terhadap perubahan dan tuntutan keadaan, baik masa kini maupun masa yang akan datang. 4. Masih kabur dan belum mantapnya konsepsi tentang pendidikan dan interpretasinya dalam praktik.

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Inovasi dan Modernisasi
Udin Saefudin Sa’ud, Ph.D. (2008). Inovasi Pendidikan, Bandung: ALFABETA Istilah (term) “modern” mempunyai berbagai macam arti dan juga mengandung berbagai macam tambahan arti (connotations). Istilah modern ini digunakan tidak hanya untuk orang-orang tetapi juga untuk bangsa, sistem politik, ekonomi lembaga seperti rumah sakit, sekolah perguruan tinggi, perumahan, pakaian, serta berbagai macam kebiasaan. Pada umumnya kata modern digunakan untuk menunjukkan terjadinya perubahan ke arah yang lebih baik, lebih maju dalam arti lebih menyenagkan, lebih meningkatkan kesejahteraan hidup.

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Udin Saefudin Sa’ud, Ph.D. (2008). Inovasi Pendidikan, Bandung: ALFABETA Beberapa definisi ayau pengertian modernisasi yang dikemukakan para ahli yang dikutip di dalam Francis Abraham (1980: 5) sebagai berikut. 1. Everett Rogers Modernnization in the process by which individuals change from a traditional way of life to a more complex, technologically advanced, and rapidly changing style of live. 2. Black Modernnization is the process by which historycally evolved institutions are adapted to the rapidly change functions that reflect the unprecednted increase in man’s knowledge permitting control over his environment, that accompanied the scientific revolution.

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Udin Saefudin Sa’ud, Ph.D. (2008). Inovasi Pendidikan, Bandung: ALFABETA 3. Lerner Modernnization is simply “a secular trend unilateral direction from traditional to participant life ways”. 4. Marion Levy The measure of modernization the rational inanimate to animate source of power. The higher that ratio, higher is the degree of modernization. 5. Inkeles Described modernity in terms of a number of psycological variables that constitute a kind of mentality characteristic the typical modern man.

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Karakteristik Inovasi Pendidikan
Udin Saefudin Sa’ud, Ph.D. (2008). Inovasi Pendidikan, Bandung: ALFABETA Everett M. Rogers (1993: 14-16) mengemukakan karakteristik inovasi yang dapat mempengaruhi cepat atau lambatnya penerimaan inovasi, sebagai berikut. 1. Keuntungan relatif, yaitu sejauh mana inovasi dianggap menguntungkan bagi penerimanya. 2. Kompatibel (compatibility) ialah tingkat kesesuaian inovasi dengan nilai (values), pengalaman lalu, dan kebutuhan dari penerima. 3. Kompleksitas (complexity) ialah tingkat kesukaran untuk memahami dan menggunakan inovasi bagi penerima. 4. Trialabilitas (trialability) ialah dapat dicoba atau ntidaknya suatu inovasi 5. Dapat diamati (observability) ialah mudah tidaknya diamati suatu hasil inovasi.

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Pengertian Difusi dan Deseminasi inovasi
Udin Saefudin Sa’ud, Ph.D. (2008). Inovasi Pendidikan, Bandung: ALFABETA Difusi ialah proses komunikasi inovasi antara warga masyarakat (anggota sistem sosial), dengan menggunakan saluran tertentu dan dalam waktu tertentu. Deseminasi ialah proses penyebaran inovasi yangh direncanakan, diarahkan, dan dikelola.

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Elemen Difusi Inovasi
Udin Saefudin Sa’ud, Ph.D. (2008). Inovasi Pendidikan, Bandung: ALFABETA Rogers mengemukakan ada 4 elemen pokok difusi inovasi, yaitu: 1) 2) 3) 4) Inovasi Komunikasi dengan saluran tertentu Waktu Warga masyarakat (anggota sistem sosial)

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Pengertian Proses Keputusan Inovasi
Udin Saefudin Sa’ud, Ph.D. (2008). Inovasi Pendidikan, Bandung: ALFABETA Proses keputusan inovasi ialah proses yang dilalui (dialami) individu (unit pengambil keputusan yang lain), mulai dari pertama tahu adanya inovasi, kemudian dilanjutkan dengan keputusan setuju terhadap inovasi, penetapan keputusan menerima atau menolak inovasi, implementasi inovasi, dan konfirmasi terhadap keputusan inovasi yang telah diambilnya.

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Model Proses Keputusan Inovasi
Udin Saefudin Sa’ud, Ph.D. (2008). Inovasi Pendidikan, Bandung: ALFABETA Menurut Rogers, proses keputusan inovasi terdiri dari 5 tahap, yaitu: 1) 2) 3) 4) 5) Tahap pengetahuan (knowledge) Tahap bujukan (persuation) Tahap keputusan (decision) Tahap implementasi (implementation) Tahap konfirmasi (confirmation) Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Proses Inovasi Pendidikan
Udin Saefudin Sa’ud, Ph.D. (2008). Inovasi Pendidikan, Bandung: ALFABETA Proses inovasi pendidikan adalah serangkaian aktivitas yang dilakukan oleh individu atau organisasi, mulai sadar tahu adanya inovasi sampai menerapkan (implementasi) inovasi pendidikan. Kata proses mengandung arti bahwa aktivitas itu dilakukan dengan memakan waktu dan setiap saat terjadi perubahan.

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Strategi Inovasi Pendidikan
Udin Saefudin Sa’ud, Ph.D. (2008). Inovasi Pendidikan, Bandung: ALFABETA Empat macam strategi inovasi pendidikan yaitu: 1) 2) 3) 4) Strategi fasilitatif (facilitative strategies) Strategi pendidikan (re-education strategies) Strategi bujukan (persuasive strategies) Strategi paksaan (power strategies)

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Petunjuk Penerapan Strategi Inovasi Pendidikan
Udin Saefudin Sa’ud, Ph.D. (2008). Inovasi Pendidikan, Bandung: ALFABETA Petunjuk penerapan inovasi pada suatu sekolah dapat diuraikan sebagai berikut. 1. Buatlah rumusan yang jelas tentang inovasi yang akan diterapkan. 2. Gunakan metode atau cara yang memberi kesempatan untuk berpartisipasi secara aktif dalam usaha merubah pribadi maupun sekolah 3. Gunakan berbagai macam alternatif pilihan (option) untuk mempermudah penerapan inovasi. 4. Gunakan data atau informasi yang sudah ada untuk bahan pertimbangan dalam menyusun perencanaan dan penerapan inovasi.

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Udin Saefudin Sa’ud, Ph.D. (2008). Inovasi Pendidikan, Bandung: ALFABETA 5. Gunakan tambahan data untuk mempermudah fasilitas terjadinya penerapan inovasi. 6. Gunakan kemanfaatan dari pengalaman sekolah atau lembaga yang lain. 7. Dunia berbuatlah secara positif untuk mendapatkan kepercayaan. 8. Menerima tanggungjawab pribadi. 9. Usahakan adanya pengorganisasian kegiatan yang memungkinkan terjadinya kepemimpinan yang efektif. 10. Mencari jawaban atas beberapa pertanyaan dasar tentang inovasi di sekolah.

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Pengertian Kurikulum Berbasis Kompetensi
Udin Saefudin Sa’ud, Ph.D. (2008). Inovasi Pendidikan, Bandung: ALFABETA Kopetensi merupakan kemampuan mengerjakan sesuatu yang berbeda dengan sekedar mengetahui sesuatu. Kurikulum berbasis kompetensi merupakan seperangakat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang jarus dicapai siswa, penilaian, kegiatan belajar mengajar dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dan mengembangkan sekolah. (Depdiknas, 2002)

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Pengertian Kurikulum Berbasis Masyarakat
Udin Saefudin Sa’ud, Ph.D. (2008). Inovasi Pendidikan, Bandung: ALFABETA Kurikulum berbasis masyarakat yang bahan dan objek kajiannya kebijakan dan ketetapan yang dilakukan di daerah, disesuaikan dengan kondisi lingkungan alam, sosial, ekonomi, budaya dan disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan daerah yang perlu di pelajari oleh siswa di daerah tersebut.

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Udin Saefudin Sa’ud, Ph.D. (2008). Inovasi Pendidikan, Bandung: ALFABETA Tujuan kurikulum tersebut adalah: 1. Memperkenalkan siswa terhadap lingkungannya, ikut melestarikan budaya termasuk kerajinan, keterampilan yang nilai ekonominya tinggi di daerah tersebut. 2. Membekali siswa kemampuan dan keterampilan yang dapat menjadi bekal hidup mereka di masyarakat, seandainya mereka tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. 3. Membakali siswa agar bisa hidup mandiri, serta membantu orang tua dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Inovasi Kurikulum Berbasis Keterpaduan
Udin Saefudin Sa’ud, Ph.D. (2008). Inovasi Pendidikan, Bandung: ALFABETA Kurikulum terpadu merupakan kurikulum yang memungkinkan siswa baik secara individual maupun secara klasikal aktif menggali dan menemukan konsep dan prinsipprinsip secara holistik bermakna dan otentik. Pendekatan keterpaduan merupakan suatu sistem totalitas yang terdiri dari komponen-komponen yang saling berhubungan dan berinteraksi baik antar komponen dengan komponen maupun antar komponen-komponen dengan keseluruhan, dalam rangka mencapai tujuan yang ditentukan sebelumnya. Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Inovasi Pembelajaran Kuantum
Udin Saefudin Sa’ud, Ph.D. (2008). Inovasi Pendidikan, Bandung: ALFABETA Pembelajaran kuantum dikembangkan oleh Bobby DePorter (1992) yang beranggapan bahwa metode belajar ini sesuai dengan cara kerja otak manusia dan cara belajar manusia pada umumnya. Dengan model SuperCamp yang dikembangkan bersama kawan-kawannya pada awal tahun 1980-an, prinsip-prinsip dan model pembelajaran kuantum menentukan bentuknya. Dalam SuperCamp tersebut, kurikulum dikembangkan secara harmonis dan berisi kombinasi dari tiga unsur, yaitu: keterampilan akademis (academic skills), prestasi atau tantangan fisik (physical challenge), dan keterampilan dalam hidup (life skills). Pembelajaran berdasarkan pada landasan konteks yang menyenangkan dan situasi penuh kegembiraan.

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Landasan Pembelajaran Kuantum
Udin Saefudin Sa’ud, Ph.D. (2008). Inovasi Pendidikan, Bandung: ALFABETA Istilah “Quantum” dipinjam dari dunia ilmu fisika yang berarti interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Maksudnya dalam pembelajaran kuantum, pengubahan bermacam-macam interaksi yang terjadi dalam kegiatan belajar. Interaksiinteraksi ini mengubah kemampuan dan bakat alamiah guru dan siswa menjadi cahaya yang bermanfaat bagi kemajuan mereka dalam belajar secara efektif dan efisien.

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Inovasi Pembelajaran Kompetensi
Udin Saefudin Sa’ud, Ph.D. (2008). Inovasi Pendidikan, Bandung: ALFABETA Kompetensi dapat diartikan sebagai kemampuan dasar yang dapat dilakukan oleh para siswa pada tahap pengetahuan, keterampilan dan bersikap. Kemampuan dasar ini akan dijadikan sebagai landasan melakukan proses pembelajaran dan penilaian siswa. Kompetensi merupakan target, sasaran, standar sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Benyamin S. Bloom (1964) dan Gagne (1979) dalam teori-teorinya yang terkenal itu, bahwa menyampaikan materi pelajaran kepada siswa penekanannya adalah tercapai sasaran atau tujuan pembelajaran (instruksional). Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Inovasi Pembelajaran Kontekstual
Udin Saefudin Sa’ud, Ph.D. (2008). Inovasi Pendidikan, Bandung: ALFABETA Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka (Sanjaya, 2005).

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Konsep Pembelajaran Elektronik Learning
Udin Saefudin Sa’ud, Ph.D. (2008). Inovasi Pendidikan, Bandung: ALFABETA Richard Weiner dalam Websters New Word Dictionary and Communications disebutkan bahwa teknologi informasi adalah pemrosesan, pengolahan, dan penyebaran data oleh kombinasi komputer dan telekomunikasi. Teknologi informasi lebih kepada pengerjaan terhadap data. TI menitik beratkan perhatiannya kepada bagaimana data diolah dan diproses dengan menggunakan kompiter dan telekomunikasi.

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Pengembangan Model Pembelajaran Melalui Internet
Udin Saefudin Sa’ud, Ph.D. (2008). Inovasi Pendidikan, Bandung: ALFABETA Ada tiga bentuk sistem pembelajaran melalui dipertimbangkan sebagai dasar pengembangan sistem mendayagunakan internet, yaitu: 1) Web Course 2) Web Centric Course 3) Web Enhanced Course (Haughey, 1998) internet yang layak pembelajaran dengan

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Kemasan dan Teknologi pembelajaran Melalui Teknologi Informasi
Udin Saefudin Sa’ud, Ph.D. (2008). Inovasi Pendidikan, Bandung: ALFABETA Seiring dengan perkembangan teknologi terutama kemajuan teknologi komunikasi yang menyebabkan sistem penyampaian materi pelajaran dapat dilakukan tanpa harus tatap muka antara guru dengan siswa, akan tetapi bentuk belajar yang terpisah antara guru dengan siswa tetapi dilakukan bersamaan, itulah pembelajaran jarak jauh (distance learning), seperti tutorial computer based, teleconfrence, correspondence cources, we based training dan e-learning.

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Inovasi Pendidikan
Prof. Dr Sudarwan Danim. (2002). “Inovasi Pendidikan Dalam Upaya Peningkatan Profesionalisme Tenaga Kependidikan” Inovasi yang bersumber dari perubahan persepsi, suasana dan makna, umumnya disebabkan penerimaan dan penafsiran individu atas infomasi yang diterimanya dari lingkungan. (Griffin and Mooehead. 1986 dalam Sudarwan Danim, 2002:152).

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Inovasi Pendidikan
Ibrahim, M.Sc. (2002). Inovasi Pendidikan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Jakarta Inovasi (innovation) ialah suatu ide, barang, kejadian, metode yang dirasakan atau diamati sebagai suatu hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat), baik itu berupa hasil invensi maupun diskoveri, yang digunakan untuk mancapai tujuan tertentu atau untuk memecahkan masalah pendidikan.

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Inovasi Pendidikan
Matthew B. Miller (dalam Ibrahim, M.Sc. 2002). Inovasi Pendidikan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Jakarta.
To give more concreteness the universe called “educational innovations” some samples are described bilow. They are organized according to the aspect of a social system with which they appear to be most clearly associated. In most cases the social system involved should be taken to be that of a school or college, although some innovations take place within the context of much larger systems. Komentar: Pendidikan adalah suatu system, maka inovasi pendidikan mencakup hal-hal yang berhubungan dengan komponen system pendidikan, baik system dalam arti sekolah, perguruan tinggi atau lembaga pendidikan yang lain, maupun system dalam arti yang luas misalnya system pendidikan nasional.

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Model Cooperative Learning
COOPERATIVE SCRIPT (DANSEREAU CS., 1985) Skrip kooperatif : metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan bergantian secara lisan mengikhtisarkan, bagian-bagian dari materi yang dipelajari Langkah-langkah : 1. Guru membagi siswa untuk berpasangan 2. Guru membagikan wacana/materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan 3. Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar.

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Model Cooperative Learning
MODEL TWO STAY TWO STRAY (DUA TINGGAL DUA BERTAMU) Dikembangkan oleh Spencer Kagan (1992). 1. Bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatanusia anak didik. 2. Memberi kesempatan kepada kelompok untuk membagikan hasil dan informasi dengan kelompok lain. 3. Banyak kegiatan belajar mengajar yang diwarnai dengan kegiatan-kegiatan individu. 4. Siswa bekerja sendiri dan tidak diperbolehkan melihat pekerjaan siswa yang lain. Padahal kenyataan hidup di luar sekolah kehidupan dan kerja saling bergantung satu dengan yang lainnya. Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Model Cooperative Learning
LANGKAH-LANGKAH : 1. Siswa bekerja sama dengan kelompok berempat seperti biasa. 2. Setelah selesai, 2 orang dari masing-masing kelompok akan meninggalkan kelompoknya dan masing-masing bertamu ke dua kelompok. 3. Dua orang yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi mereka ke tamu mereka. 4. Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan melaporkan temuan mereka dari kelompok lain. 5. Kelompok mencocokkan dan membahas hasil-hasil kerja mereka.

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Citizen and Citizenship
Cogan, John J. and Ray Derricott. (1998). Citizenship Education For the 21st Century: Setting the Context. London: Kogan Page A citizen was defined as ‘a constituent member of society’. Citizenship, on the other hand, was said to be ‘a set of characteristics of being a citizen’. And finally, citizenship education, the underlying focal point of the study, was defined as ‘the contribution of education to development of those characteristics of being a citizen’. (Cogan and Derricott, 1998:13) Komentar Warganegara adalah anggota suatu masyarakat. kewarganegaraan adalah seperangkat karakteristik yang terdapat dalam warganegara. Dan pendidikan kewarganegaraan adalah kontribusi pendidikan untuk mengembangkan karakteristik-karakteristik untuk menjadi warganegara. Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Civic and Citizenship Education
Cogan, J.J. (1999). Developing the Civic Society: The Role of Civic Education. Bandung: CICED. Civic Education “…the foundation course work in school designed to prepare young citizens for an active role in their communities in their adult lives”. Citizenship Education or Education for Citizenship “…both these in school experiences as well as out of school or non formal/informal learning which takes place in the family, the religious organization, community organizations, the media, etc which help to shape the totality of the citizen”. (Cogan, 1999:4) Komentar Civic Education adalah suatu mata pelajaran dasar di sekolah yang dirancang untuk mempersiapkan warganegara muda, agar kelak setelah dewasa dapat berperan aktif dalam masyarakat. Sedangkan Citizenship Education atau Education for Citizenship digunakan sebagai istilah yang memiliki pengertian yang lebih luas yang mencakup pengalaman belajar di sekolah dan luar sekolah seperti rumah, organisasi keagamaan, organisasi kemasyarakatan, media massa dan lain-lain yang berperan membantu proses pembentukan totalitas atau keutuhan sebagai warganegara.

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Civic Education
(Coogan : 1999 : 4 dalam Budimansyah, Winataputra : 2007 : 10) “ … the kinds of course work taking place within the context of the formalized schooling structure.” Komentar : Pendidikan Kewarganegaraan adalah mata pelajaran yang berlangsung dalam struktur formal di sekolah.

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

CIVIC EDUCATION
NU’MAN SOMANTRI (2005) MenggagasPembaharuan Pendidikan IPS Istilah Civics dan Education telah muncul dengan nama masing-masing sebagai berikut: (a) Kewarganegaraan (1956) (b) Civics (1959) (c) Kewarganegaraan (1962) (d) Pendidikan Kewarga Negaraan (1968) (e) Pendidikan Moral Pancasila (1975) (f) Pendidikan Pancasila Kewarganegaraan (1994) (g) Pendidikan Kewarganegaraan (UU No. 20 Tohun 2003)

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Civic Education
Kerr, David. (1999). Citizenship Education: An International Comparison. England: National Foundation for Educational Research-NFER Citizenship or Civics Education is construed broadly to encompass the preparation of young people for their roles and responsibilities as citizens and, in particular, the role of education (through schooling, teaching and learning) in that preparatory process. (Kerr, 1999:2) Komentar Pendidikan kewarganegaraan dirumuskan secara luas mencakup proses penyiapan generasi muda untuk mengambil peran dan tanggung jawabnya sebagai warganegara, dan secara khusus, peran pendidikan termasuk di dalamnya persekolahan, pengajaran, dan belajar dalam proses penyiapan warganegara tersebut. Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Civic Education
Jack Allen,1960, dalam Somantri N.M. 2001: 263 “ Civic Education, property defined, as the product, of the entire program of the school, certainly not simply of the social studies program and assuredly not merely of a course of civics. But civics has an important function to perform, It confronts the young adolescent for the first time in his school experience with a complete view of citizenship functions, as rights and responsibilities in democratic context”. Komentar : PKN didefinisikan sebagai hasil seluruh program sekolah, bukan merupakan program tunggal ilmu-ilmu sosial, dan bukan sekedar rangkaian pelajaran tentang kewarganegaraan. Tetapi kewarganegaraan mempunyai fungsi penting untuk melakukan, yaitu menghadapkan remaja, peserta didik pada pengalaman di sekolahnya tentang pandangan yang menyeluruh terhadap fungsi kewarganegaraan sebagai hak dan tanggung jawab dalam suasana yang demokratis.

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Attributes of Citizenship
Cogan, John J. and Ray Derricott. (1998). Citizenship Education For the 21st Century: Setting the Context. London: Kogan Page The five attributes of citizenship: 1) a sense of identity, 2) the enjoyment of certain rights, 3) the fulfilment of corresponding obligations, 4) a degree of interest and involvement in public affairs, and 5) an acceptance of basic societal values. All five are conveyed through a wide variety of institutions, both governmental and non governmental, including the media, but they are usually seen as a particular responsibility of the school. Citizenship education, in the broadest sense, is an important task in all contemporary societies. (Cogan and Derricot, 1998: 2-3).

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Attributes of Citizenship
Komentar Secara konseptual, seorang warganegara seyogyanya memiliki lima ciri utama, yaitu: jati diri, kebebasan untuk menikmati hak tertentu, memenuhi kewajibankewajiban terkait, tingkat minat dan keterlibatan dalam urusan publik, tingkat dan pemilikan nilai-nilai dasar kemasyarakatan. Kesemuanya disampaikan melalui bermacam institusi, baik pemerintahan maupun nonpemerintahan, termasuk media, tetapi hal tersebut biasanya dilihat sebagai bagian dari tanggung jawab sekolah. Pendidikan kewarganegaraan, dalam pengertian yang luas, adalah tugas yang penting di dalam semua masyarakat masa ini.

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Civic Education
NCCS, 1994 Standard Curriculum for Social Studies Washington … the promotion of civic competence which is the knowledge, skill and attitudes required of students to be able to assume the office of citizen (NCCS, 1994:3) Komentar : Bahwa pendidikan kewarganegaraan yang secara tersurat diartikan sebagai pengemban civic competence atau kemampuan sebagai warganegara yang memerlukan pengetahuan, keterampilan dan sikap untuk berperan serta dalam kehidupan demokrasi.

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Civic Education
Faktor kontekstual yang mempengaruhi definisi dan pendekatan dalam PKn (Kerr : 1999 : 5) Contextual factors which influence the definition of and approaches to citizenship education are : 1. Historical tradition 2. Geographical position 3. Social-political structure 4. Economic system 5. Global trends

Civic Education
Komentar : Faktor-faktor yang mempengaruhi definisi dan pendekatan pendidikan kewarganegaraan adalah : 1. Tradisi historis 2. Letak Geografis 3. Struktur Sosial Politik 4. Sistem ekonomi 5. Trend global

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Global Trends in Civic Education
Patrick, J.J. (1997). ‘Global Trends in Civic Education for Democracy’. ERIC Clearing for Social Studies/Social Science Education, http://www.indiana.edu/ssdc/glotrdig. Patrick (1997) proposed nine global trends that have broad potential for influencing citizenship education in the constitutional democracies of the world. They are: (1) Conceptualising of citizenship education in terms of the three interrelated components of civic knowledge, civic skills and civic virtue. (2) Systematic teaching of core concepts about democratic governance and citizenship. (3) Analysis of case studies by students to apply core concepts or principles. (4) Development of decision-making skills. (5) Comparative and international analysis of government and citizenship. (6) Development of participatory skills and civic virtues through cooperative learning activities. (7) The use of literature to teach civic virtues. (8) Active learning of civic knowledge, skills and virtues. (9) The connection of content and process in teaching and learning of civic knowledge, skills and virtues. Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Komentar : Patrick (1997) mengungkapkan sembilan kecenderungan global yang secara luas biasa berpotensi mempengaruhi pendidikan kewarganegaraan di dalam negara-negara yang menganut faham demokrasi konstitutional. Kecenderungan yang dimaksud adalah: 1. Konseptualisasi pendidikan kewarganegaraan dalam tiga komponen-komponen yang saling berhubungan –pengetahuan kewarganegaraan, keterampilan kewarganegaraan dan kebaikan kewarganegaraan. 2. Pengajaran konsep-konsep inti secara sistematis tentang pemerintah dan kewarganegaraan demokratis. 3. Analisa dari studi kasus oleh para siswa untuk menerapkan prinsip-prinsip atau konsep-konsep inti. 4. Pengembangan keterampilan pengambilan keputusan. 5. Analisis komparatif dan internasional tentang pemerintah dan kewarganegaraan. 6. Pengembangan keterampilan partisipatoris dan kebaikan kewarganegaraan melalui aktivitas belajar kooperatif. 7. Pemakaian literatur untuk mengajarkan kebajikan-kebajikan kewarganegaraan. 8. Mempelajari secara aktif pengetahuan, keterampilan dan kebaikan kewarganegaraan. 9. Menghubungkan antara isi dan proses dalam belajar dan mengajar pengetahuan, keterampilan, dan kebaikan kewarganegaraan. Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Global Citizen
Louise Douglas. (2002). “Global Citizenship”. Citizenship Update Institute for Citizenship. Tersedia di : www.citizen.org.uk/education/resources/html At Oxfam education we feel that our curriculum for global citizenship is an extremely useful planning tool for teachers wanting to help young people make sense of the world and to develop not only knowledge and understanding but also to skills and attitudes to do so. We see a global citizen as someone who: 1. is aware of the wider world and has a sense of their own roles as a world citizen 2. respects and values diversity 3. has an understanding of how the world works economically, politically, socially, culturally, technologically and environmentally 4. is outraged by social injustice 5. participates in and contributes to the community at a large of levels from the local to the global 6. is willing to act to make the world a more equitable and sustainable place 7. takes responsibility for their actions

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Komentar Pada pendidikan Oxfam, kita merasakan bahwa kurikulum untuk kewarganegaraan global telah direncanakan secara ektrem sebagai alat bagi para guru untuk membantu para pelajar memahami dunia dan untuk mengembangkan tidak hanya pengetahuan dan pemahaman tetapi juga keterampilan dan sikap. Kita memandang warganegara global sebagai orang yang: 1. menyadari dunia secara luas dan mempunyai suatu perasaan dari peran-peran mereka sendiri sebagai warga dunia 2. pengakuan terhadap nilai-nilai keberagaman 3. mempunyai satu pemahaman bagaimana dunia bekerja secara ekonomis, politis, sosial, kultural, teknologi dan lingkungan 4. menolak ketidakadilan sosial 5. berpartisipasi dan berperan dalam masyarakat secara luas mulai tingkat lokal sampai global 6. memiliki kemauan untuk bertindak dan membuat dunia sebagai suatu tempat yang patut 7. bertanggungjawab terhadap tindakan-tindakan mereka Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Multidimensional Citizenship
Patricia Kubow, David Grossman and Akira Ninomiya Multidimensional citizenship: educational policy for the 21st Century. p.115

Multidimensional citizenship, this term is intended to describe the complex, multifaceted conceptualization of citizenship and citizenship education that will be needed if citizens are to cope with the challenges. (1999:115) Komentar Kewarganegaraan multidimensional, istilah ini untuk menggambarkan kompleksitas, konseptualisasi bersegi banyak dari kewarganegaraan dan pendidikan kewarganegaraan yang diperlukan warganegara untuk keluar dari tantangan. Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Dimension of Multidimensional Citizenship
Cogan, John J. and Ray Derricott. (1998). Citizenship Education For the 21st Century: Setting the Context. London: Kogan Page The four dimensions embodied in our conceptualization of multidimensional citizenship are personal, social, temporal and spatial. (Cogan and Derricott, 1998:11).

Komentar Dalam pandangan Cogan dan Dericot, kewarganegaraan multidimensional dikonsepsikan atas empat dimensi, yaitu personal, sosial, temporal, dan spatial. Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Karakteristik Warganegara Abad 21
Cogan, John J. and Ray Derricott. (1998). Citizenship Education For the 21st Century: Setting the Context. London: Kogan Page Eight citizens characteristic
1. the ability to look at and approach problems as a member of a global society 2. the ability to work with others in a cooperative way and to take responsibility for one’s roles/duties within society 3. the ability to understand, accept, appreciate and tolerate cultural differences 4. the capacity to think in a critical and systemic way 5. the willingness to resolve conflict and in a non-violent manner 6. the willingness to change one’s lifestyle and consumption habits to protect the environment 7. the ability to be sensitive towards and to defend human rights (eg, rights of women, ethnic minorities, etc), and 8. the willingness and ability to participate in politics at local, national and international levels. (Cogan and Derricott, 1998:115).

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Komentar Karakteristik warganegara abad ke-21 adalah sebagai berikut: 1. kemampuan mengenal dan mendekati masalah sebagai warga masyarakat global 2. kemampuan bekerjasama dengan orang lain dan memikul tanggung jawab atas peran atau kewajibannya dalam masyarakat 3. kemampuan untuk memahami, menerima, dan menghormati perbedaanperbedaan budaya 4. kemampuan berpikir kritis dan sistematis 5. memiliki kepekaan terhadap dan mempertahankan hak asasi manusia (seperti hak kaum wanita, minoritas etnis, dsb 6. kemampuan mengubah gaya hidup dan pola makanan pokok yang sudah biasa guna melindungi lingkungan 7. kemampuan menyelesaikan konflik dengan cara damai tanpa kekerasan 8. kemauan dan kemampuan berpartisipasi dalam kehidupan politik pada tingkatan pemerintahan lokal, nasional, dan internasional. Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Komentar Karakteristik warganegara abad ke-21 adalah sebagai berikut: 9. kemampuan mengenal dan mendekati masalah sebagai warga masyarakat global 10. kemampuan bekerjasama dengan orang lain dan memikul tanggung jawab atas peran atau kewajibannya dalam masyarakat 11. kemampuan untuk memahami, menerima, dan menghormati perbedaanperbedaan budaya 12. kemampuan berpikir kritis dan sistematis 13. memiliki kepekaan terhadap dan mempertahankan hak asasi manusia (seperti hak kaum wanita, minoritas etnis, dsb 14. kemampuan mengubah gaya hidup dan pola makanan pokok yang sudah biasa guna melindungi lingkungan 15. kemampuan menyelesaikan konflik dengan cara damai tanpa kekerasan 16. kemauan dan kemampuan berpartisipasi dalam kehidupan politik pada tingkatan pemerintahan lokal, nasional, dan internasional. Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Faktor Struktural Yang Mempengaruhi Pkn
(Kerr : 1999 : 7) Detailed structure factors in citizenship education, are : 1. Organisation of and responsibilities for education 2. Educational values and aims 3. Funding and regulatory arrangements Komentar : Faktor Struktural yang mempengaruhi PKn adalah : 1. Pengaturan dan tanggung jawab terhadap pendidikan 2. Nilai dan tujuan pendididkan 3. Pengaturan pendanaan dan perundangan

Fungsi PKN
Depdiknas, Proyek PKN & BP (2000: 21) Fungsi PKN sebagai berikut : 1. Mengembangkan dan metestarikan nilai moral Pancasila secara dinamis dan terbuka. Dinamis dan terbuka dalam arti bahwa nitai moral yang dikembangkan mampu menjawab tantangan perkembangan yang terjadi datam masyarakat, tampa kehitançian jati din sebagai bangsa Indonesia yang merdeka, bersatu dan berdaulat; 2. Mengembangkan dan membina manusia Indonesia seutuhnya yang sadar potitik dan konstitusi negara Kesatuan Republik Indonesia ditandaskan Pancasila dan UUD 1945; 3. Membina pemahaman dan kesadaran terhadap hubungan antara warganegara dengan negara, antar warga negara dengan sesama warganegara, dan pendidikan pendahuluan bela negara agar mengetahui serta mampu melaksanakan dengan baik hak dan kewajiban sebagai warganegara. Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Civic Training
Prewitt & Dawson, 1977:141 (dalam Kerr, David. (1999). Citizenship Education: an International Comparison. London: QCA (Qualification and Curriculum authority). We call civics training that part of political education that emphasizes how a good citizen participates in political life of his or her nation. (Prewitt & Dawson, 1977:141 dalam Kerr, David, 1999). Komentar: Inti yang dinyatakan pendapat itu, bahwa civic training (PKn) sebagai bagian pendidikan politik menekankan bagaimana menjadi warga negara yang baik dalam arti mampu berpartisipasi dalam kehidupan politik bangsa (sistem politik nasionalnya). (Prewitt & Dawson, 1977:141). (dalam Kerr, David, 1999) Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Penekanan Dalam Pendidikan Kewarganegaran
(Ace Suryadi : 2004) Empat hal yang harus jadi penekanan dalam Pendidikan kewarganegaran dalam mencapai kompetensi warganegara : 1. Pendidikan Kewarganegaraan bukan merupakan indoktrinasi politik 2. Pendidikan Kewarganegaraan mengembangkan state of mind dalam upaya pembentukan karakter warganegara yang cerdas dan bernalar tinggi 3. Pendidikan Kewarganegaraan adalah suatu proses pencerdasan dengan menekankan pada latihan menggunakan daya nalar dan logika 4. Pendidikan Kewarganegaraan sebagai laboratorium demokrasi, sikap dan perilaku demokratis yang dikembangkan dengan pembelajaran yang demokratis. Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Komponen-komponen Pembelajaran PKn
Beyer (1996 : 107) Tiga komponen pembelajaran PKn yang demokratis menurut Beyer. 1. discovering and nurturing voice; 2. developing sonscieusnes; 3. claiming a new awareness. Komentar : Komponen-komponen pembelajaran PKn yang demokratis adalah : 1. menemukan dan memelihara suara; 2. mengembangkan ketelitian 3. mengaku suatu kesadaran baru Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Komponen PKn
Biggs john (2003) Pend Nilai Moral Dalam dimensi PKn (2006 :154) New Civics yang dikembangkan sekarang di sekolah menyongsong kurikulum KBK adalah pernantapan tiga komponen pokok yaitu: 1. Civic knowledge 2). Civic skill 3). Civic disposition. Komentar : Ketiga aspek diatas merupakan aspek yang tidak bisa dipisahkàn dari satu aspek pada aspek lainnya. Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Approaches to Citizenship Education
Citizenship Education: An International Comparison. Kerr, David. (1999). England: National Foundation for Educational Research-NFER Citizenship education comprises three approaches: (a) Education ABOUT citizenship focuses on providing students with sufficient knowledge and understanding of national history and the structures and processes of government and political life. (b) Education THROUGH citizenship involves students learning by doing, through active, participative experiences in the school or local community and beyond. This learning reinforces the knowledge component. (c) Education FOR citizenship encompasses the other two strands and involves equipping students with a set of tools (knowledge and understanding, skills and aptitudes, values and dispositions) which enable them to participate actively and sensibly in the roles and responsibilities they encounter in their adult lives. This strand links citizenship education with the whole education experience of students. (Kerr, 1999:15-16) Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Komentar : Pendidikan Kewarganegaraan dikonseptualisasikan ke dalam tiga pendekatan 1. Pendidikan TENTANG kewarganegaraan memusatkan perhatian untuk mempersiapkan para siswa dengan pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang sejarah nasional dan struktur-struktur dan proses-proses dari pemerintah dan kehidupan politik. 2. Pendidikan MELALUI kewarganegaraan menitikberatkan pada pelibatan siswa untuk belajar dengan melakukan (by doing), melalui pengalaman-pengalaman yang aktif, berpartisipasi di sekolah atau masyarakat lokal dan di luar. Proses belajar seperti itu diyakini memiliki potensi untuk menguatkan komponen pengetahuan. 3. Pendidikan UNTUK kewarganegaraan mencakup kedua pendekatan (1 dan 2) yang menitikberatkan pada proses memperlengkapi siswa dengan seperangkat alat (pengetahuan dan pemahaman, keterampilan dan sikap, nilai-nilai dan disposisi-disposisi) yang memungkinkan mereka berpartisipasi secara aktif dan pantas di dalam peran-peran dan tanggung-jawab mereka dalam kehidupan dewasa mereka. Pendekatan ini mengaitkan pendidikan kewarganegaraan dengan keseluruhan pengalaman pendidikan para siswa. Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Strategi PembelajaranPKn
Seminar Nasional dan Rakernas PKn 2005 Dalam kurikulum 2004, (2003:12) dijelaskan bahwa praktek belajar kewarganegaraan adalah suatu. Inovasi pembelajaran yang dirancang untuk membantu peserta didik memahami teori kewarganegaraan metalui pengalaman belajar praktekempirik. Dengan adanya praktek, siswa diberikan latihan untuk belajar secara kontekstuaLSementara menurut A. Kosasih Djahiri adalah benar-benar terkontrolterkendali menjurus kepada proses “ Penjinakan” (domesticating) potensi dan kehidupan siswa / masyarakat, jadi bukan kearah memberi kemudahan-kelancaran keberhasilan (facilitating) proses internalisasi-personalisasi substansi serta pembinaan dan pengembangan potensi diri kemampuan belajar.

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Citizenship Education / Education for citizenship
Cogan, 1999:4 dalam Disertasi Winataputra, MA both these in-school experiences as well as out-of school of non-formal / informal learning which takes place in The family. The religious organization, community organizations. The media, etc which help to shape The totality of the citizen’ Komentar : Sebagai pengalamam belajar di sekolah dan diluar sekolah seperti di rumah, dalam orgonisasi keagamaan. dalam organisasi kemasyarakatan, melalui media massa dan lainlain yang berperan membantu peoses pembentukan totalitas atau keutuhan sebagai warganegara” Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Epistemologi PKN
Concluding remarks CICED, 1999 “Civic Education both as the intellectual and educational endeavors are accete as the main vehicle as well as the essence of education for democracy” Komentar : “Dapat dinilai sebagai landasan dan sekaligus sebagai parameter dasar dalam pengembangan epistemology pendidikan Kewarganegaraan sebagai suatu sistem pengetahuan terpadu”

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

PKN yang IdeaI di Indonesia
Somantri,Nu’man M.(2001 :299) Menyatakan bahwa PKn yang sekiranya akan cocok dengan Indonesia adalah sebagai berikut: “Pendidikan Kewarganegaraan adalah program pendidikan yang berintikan demokrasi politik yang diperluas dengan sumber-sumber pengetahuan lainnya, pengaruh pengaruh positip dan pendidikan sekolah, masyarakat, dan orang tua, yang kesemuanya itu diproses guna melatih siswa untuk berfikir kritis, analitis, bersikap dan bertindak dein dalam mempersiapkan hidup demokratis yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Empat isi Pokok PKN
Sapriya & Winataputra. 2004:16 Empat isi Pokok Pendidikan Kewarganegaraan: 1. 2. 3. 4. Kemampuan dasar dan kemampuan kewarganegaraan sebagai sasaran pembentukan. Standar materi kewarganegaraan sebagai muatan kurikulum. Indikator pencapaiun sebagai kriteria keberhasilan pencapaian kemampuan. Rambu—rambu umum pembelajaran sebagai rujukan alternative bagi para guru.

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Tujuan Kewarganegaraan
Somantri, Endang. Seminar Nasional & Rakernas PKN 2005 “Tujuan utama dan kehendak negara yang memprogramkan pendidikan kewarganegaraan ini adalah untuk mengembangkan warganegara yang mengenal, menerima dan menghayati serta menyadari perannya sebagai pengambil keputusan yang bertanggung jawab yang berkenaan dengan peradaban dan moral dalam kehidupan masyarakat yang demokratis seperti prilakunya diatur oleh pninsip-prinsip moral dalam segala situasi. Secara singkat tujuan yang berfokus pada status kewarganegaraannya adalah untuk mengembangkan pribadi manusia yang memiliki kepedulian terhadap pembentukan suatu masyarakat yang adil dan mampu melindingi orang atau mahluk lain dan kekejaman dan sebagai bangsa yang merdeka dan demokratis. Dibeberapa negara tujuan ini didukung oleh UUD, Ketetapan dan peraturan negara masing-masing. (CICED,:73)” Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Tujuan PKn dalam Kurikulum 2004
Arnie Fadjar, 2005:59 Tujuan mata pelajaran PKn dalam kurikulum 2004, adalah memberikan kompetens kepada peserta did dalam hal: 1. Berfikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam rnenanggapi isu-isu kewarganegaraan; 2. Berpartisipasi secara bermutu dan bertanggung jawab, dan secara cerdas dalam kegiatan masyarakat. berbangsa. 3. Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk dan berdasarkan pada karakter-karakter masyarakat Indonesia

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Hakekat PKn
Arnie Fadjar, (2005:56) Secara filosofi, PKn adalah mengkaji bagaimana warganegara bertindak, dalam arti melakukan sesuatu berdasar apa yang diketahui dan dipabami tentang kewarganegaraan yang selanjutnya dapat membuat keputusan-keputusan yang cerdas dan bertanggunq jawab dalam menghadapi berbagai masalah baik pribadi masyarakat, bangsa dan negara. PKn pada hakekatnya adalah suatu yang dilakukan untuk belajar disiplin ilmu-ilmu sosial dan humaniora yang telah diorganisasilcan secara timatis dan akademik dengan penekanan pada pengetahuan dan kemampuani dan tentang hubungan warganegara yang diharapkan dapat diwujudkan dalam perilaku sehari-hari berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Strategi pembelajaran PKn
Arnie Fadjar, 2005:61
Pembelajaran PKn membekali peserta didik sebagai berikut: 1. Pengetahuan tentang hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang meliputi bidang po1itik pemerintahan, nilai-moral budaya bangsa sebagai identitas bangsa, nasionalisme, ekonomi dan nilai-nilai masyarakat lainnya. 2. Pemahaman terhadap hak dan tanggung jawab sebagai warganegara Indonesia yang memiliki identitas/ jati diri sebagai bangsa Indonesia, 3. Pengayaan sumber belajar, bahwa sumber belajar tidak hanya di dalam kelas dan dan buku teks, melainkan diperkaya dengan pengalaman belajar mandiri dan peserta didik yang relevan, baik di sekolah, keluarga. maupun di masyarakat, yang memungkinkan peserta didik dapat belajar dan menemukan sendini bagaimana berperan serta dalam lingkungan masyarakat, bangsa, dan negara dengan menggunakan berbagai media sebagai hasil teknologi. 4. Keteladanan dan nilai-nilai dan prinsip yang dikembangkan dalath PKn melalui sikap dan perilaku sehari-hani, sehingga peserta didik memiliki panutan dalam mewujudkan perilaku yang diharapkan. 5. Hidup bersama deagan orang lain sebagai satu bangsa, bahwa mata pelajaran PKn termasuk dalam rumpun PIPS, menekankan bagaimana manusia sebagai warganegara dapat bekerja sama dengan orang lain, saling menghormati, menghargai

6. Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Citizenship Education
David Kerr, 1999 Citizenship Education : an International Comparison. England: National Foundation for Educational Research-NFER The citizenship education thematic study is designed to enrich our understanding of citizenship education by examining six key aspects: 1. Curriculum aims, organizations and structure 2. Teaching and learning approaches 3. Teacher specializations and teacher training 4. Use of the textbooks and other resources 5. Assessment arrangements 6. Current and future developments Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Komentar: Kelompok Pendidikan studi tematik dirancang untuk memperkaya pemahaman pendidikan kewarganegaraan kita dengan pengujian enam aspek kunci: 1. kurikulum tujuan, struktur dan organisasi 2. pengajaran dan pendekatan belajar 3. pelatihan guru dan spesialisasi 4. penggunaan menyangkut buku teks dan sumber daya lain 5. pengaturan penilaian 6. pengembangan sekarang dan yang akan datang Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Ciri Negara Hukum
Jimly Asshiddiqie (2005 152); Konstitusi & Konstituante, Jokarta MKRI Dicey menguraikan adanya tiga ciri penting Negara Hukum Yang di sebut The Rule of law, yaitu 1) Supremacy of law 2) Equality before law 3) Due process of law Komentar : Tiga ciri Negara menurut AV Dicey: 1) Supremasi hukum, semua masalah diselesaikan dengan hukum 2) Persamaan dalam hukum dan pemerintahan 3) Asas legalitas, segala tindakan pemerintahan harus berdasarkan UU yang sah

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Multidimensional Citizenship
Cogan, JJ.& Derricott, 1998 ; Citizenship For The 21 Century, London: Cogan Page Limited.

Thus the central recommendation emerging from this study is that future education policy must be based upon a conception of what we describe as multi dimensional citizenship appropriate to the needs and demeus of the early part 21 century. This conception must permeate all aspects of education, included curriculum and pedagogy, governance and organization, and school community relationships. (Cogan&Derncot,1998:11) Komentar : Rekomendasi yang disampaikan oleh pusat studi adalah masa depan kebijakan Bidang pendidikan, yaitu harus disesuaikan dengan konsepsi dan jenis yang kita sebut multi dimensionaL Konsepsi ini barus menyebar keseluruh áspek pendidikan yang mencakup kurikulum dan pengajaran, pemerintahan, organisasi Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Pentingnya Pendidikan Democracy
Gandal & Finn (1992:2) Dalam Disertasi Winataputra,2001 “Democracy does not teach it self. I the strengths, benefits and responsibilities of democracy are not mode clear to citizens, they will be ill equipped to defend it Komentar : “Demokrasi tidak bisa mengajarkan sendiri, jika kekuatan kemanfaatan, dan tanggung jawab demokrasi tidak dipahami dan dihayati dengan baik oleh warganegara,” Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Participation and democratic theory
Mansbridge dim Torres (1998:147) Disertasi Winataputra. (2001) “...the major fuction of participation in the theory of participatory democracy is_an educative one, educative in a very widest sense Komentar : Bahwa fungsi utama dan partisipasi dalam pandangan teori demokrasi partisipasi dalam arti yang sangat luas bersifat edukatif. Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Pengertian Demokrasi
Abraham Lincoln & USIS, (1995 :5) Dalam Disertasi Winatapütra. MA The Government from the people by the people for the people Komentar : Demokrasi adalah suatu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat,untuk rakyat ‘

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Pengertian Demokrasi
The Advance learner’s Dictionary of current English (Hornby : 261) dalam Winatautra, Budimansya (2007 : 200)
Democracy is 1. Country with principles of government in which all adult citizens share through their ellected repesentatives 2. Country with government which encourage and alows rights of citizeship such as freedo of speech, religion, opinion, and association, the assertion of rule of law, majority rule, accompanied by respect for the rights of minorities 3. Society in which there is tratment of each other by citizens as equals. Komentar : Bahwa kata demokrasi merujuk pada konsep kehidupan negara atau masyarakat, dimana warganegara turut berpartisipasi dalam pemerintahan melalui wakilnya yang dipilih; pemerintahannya mendorong dan menjamin kemerdekaan berbicara, beragama, berpendaat, berserikat, menegakkan rule of law, adanya pemerintahan mayoritas yang menghormati hak-hak kelompok minoritas ; dan masyarakat yang warganegaranya saling memberi perlakuan yang sama.

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Syarat Pemerintahan Yang Demokratis
Drs. Mustafa Kamal Pasha, B. Ed. Citra karsa mandiri 2002 Syarat untuk terseleggaranya pemerintahan yang demokrasi di bawah rule of the law adalah : 1. Perlindungan konstitusional 2. badan kehakiman yang bebas dan tidak memihak 3. pemilihan umum yang bebas 4. kebebasan untuk menyatakan pendapat 5. kebebasan untuk berserikat/berorganisasi dan beroposisi 6. pendidikan kewarganegaraan (civic education) Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Ciri Warganegara Indonesia Yang Cerdas Dan Agamis
Udin S Winataputra Pelatihan Kerja Calon Instruktur Guru PKn Seluruh Indonesia (1999) Ciri Warganegara Indonesia yang cerdas dan agamis / religius adalah sebagai berikut: 1. Beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa 2. Berfikir kritis-argumentasi dan kreatif 3. Mengemukakan pikiran dan perasaan secara Jernih dan sesuai aturan. 4. Menerima ke-bhineka-an dalam kehidupan. 5. Berorganisasi secara sadar dan bertanggungjawab Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Pendidikan Demokrasi
Isma’un, 2001. dalam Pendidikan Nilai Moral Dalam Dimensi Pendidikan Kewarganegaraan,(2006: 125) Pendidikan demokrasi dalam PKn dilaksanakan melalui pengembangan pada tiga aspek: 1. Kecerdasan dan daya nalar warganegara (civic mtelligence) baik dimensi rasional,emosional,dan spiritual,maupun social cultural. 2. Kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warganegara yang bertanggungjawab (civic responsibility) 3. Kemampuan berpartisipasi warganegara (civic participation) asas dasar tanggungjawab,baik secara individual,secara socia1 sebagai kader pemimpin masa depan yang lebih baik. Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Esensi PKn Indonesia
Concluding Remark Komperensi CICED 1999. “ The development of democratic ideal, values, norm, knowledge, skill. Psychologically and socialy facilitating citizens as. Well as society to perform their respects and responsibility as intelligent and society responsible social acters and leaders of society, (1999:4) Komentar : “Pengembangan ide-ide, nilai-nilai, norma-norma, pengetahuan dan keahlian politik secara psikologi dan fasilitasi umum warganegara sebagai perwujudan rasa hormat dan tanggung jawab masyarakat sebagai pelaku-pelaku sosial dan pemimpin masyarakat yang cerdas dan bertanggung jawab” Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Inti PKN adalah Pendidikan Demokrasi
Sudarsono, 1999 Dalam Conference CICED, 1999 the ideals and values of democracy and their implementations in daily activities at micro as well as macro levels can be regarded as the heart of civil society’ democracy living should be fostered in order that we should be able to establish a good Indonesian civil society”, ...the existing civic education both for school and for society should be reassessed and redesigned”. Komentar : “dari situ dengan tegas tampak adanya kecendrungan yang kuat untuk menetapkan pendidikan demokrasi sebagal intinya dari pendidikan Kewarganegaraan. Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Pendidikan Kewarganegaraan
Drs. Musfafa Karnal Pasha ; Citra Karsa Mandiri, 2002

Pendidikan Kewarganegaraan yang berhasil, akan membuahkan sikap mental yang bersifat cerdas, penuh tanggung jawab dengan perilaku sebagai berikut : a. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta menghayati nilai-nilai Pancasila b. Berbudi pekerti luhur, berdisiplin dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. c. Bersikap rasional, dinamis dan sadar akan hak-hak dan kewajibannya sebagai warganegara. d. Bersikap professional yang dijiwai oleh kesadaran bela negara e. Aktif memanfaatkan ilmu dan teknologi serta setia untuk kepentingan kemanusiaan, bangsa, dan negara. f. Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Misi PKN dengan Paradigma yang direvitalisasi
Sapriya & Winataputra ; Bindung, Rizki Offset, 2004

“Pendidikan demokrasi mengemban tiga fungsi pokok, yaitu : • Mengembangkan kecerdasan warga negera (civic intelligency); • Membina tanggung jawab warga negara (civic responsibility)’ • Mendorong partisipasi warganegara (civic participation)

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Watak Kewarganeraan
Branson (1999) Dalam Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Prof, Dr Hj. Ranidar Darwis, M . Pd. (2003:38) Watak Kewarganegaraan yang utama itu adatah a. menjadi anggota masyarakat yang independent b. mematuhi tanggung jawab personal kewarganegaraan di bidang ekonomi dan politik c. menghormati harkat dan martabat kemanusiaan tiap individu d. berpartisipasi dalam urusan—urusan kewarganegaraan secara efektif dan bijaksana e. mengembangkan berfungsinya demokrasi konstitisional secara sehat. Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Civic Virtues
L. Bray, Bernard and Larry W. Chappel. (2005). “Civic Theater for Civic Education”. In Journal of Political Science Education. Volume 1, Number 1, 2005 (p.83-108). Civic virtues are the qualities of character and personal skills necessary to make the exercise of citizenship meaningful. Civic virtues give us the capacity to exercise our rights, promote our interests and meet our duties. (L. Bray, Bernard and Larry W. Chappel, 2005:86). Komentar Kebajikan-kebajikan kewarganegaraan adalah kualitas dari karakter dan keterampilan-keterampilan pribadi yang diperlukan untuk kebermaknaan latihan kewarganegaraan. Kebajikan-kebajikan kewarganegaraan memberikan kepada kita kapasitas untuk berlatih hak-hak kita, mempromosikan minat kita dan kewajibankewajiban kita. Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Civic Virtues
Quigley, Charles N and Charles F. Bahmueller. (1991). Civitas: A Framework for Civic Education. Calabasas: Center for Civic Education. Virtue is the principle of republican government…Virtue in a republic is love of one’s country, that is, love of equality. It is not a moral virtue, not a Christian, but a public virtue. (Montesquieu, 1948, in Quigley and Bahmueller, 1991:11). Komentar Kebajikan adalah prinsip dari pemerintahan republik…kebajikan dalam republik adalah cinta dari negerinya, cinta persamaan. Kebajikan bukanlah suatu kebajikan moral, bukan kebajikan Kristiani, tetapi kabajikan publik. Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Civic Virtues
Quigley, Charles N and Charles F. Bahmueller. (1991). Civitas: A Framework for Civic Education. Calabasas: Center for Civic Education. In the CIVITAS curriculum framework, civic virtue is described in terms of civic dispositions and civic commitment. 1. Civic dispositions refer to those attitudes and habits of mind of the citizen that are conducive to the healthy functioning and common good of the democratic system. 2. Civic commitments refer to the freely given, reasoned commitments of the citizen to the fundamental values and principles of American constitutional democracy. (Quigley and Bahmueller, 1991:11).

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Komentar Di dalam kerangka kurikulum CIVITAS, kebajikan kewarganegaraan digambarkan dalam istilah disposisi dan komitmen kewarganegaraan. 1. Disposisi kewarganegaraan mengacu kepada sikap dan kebiasaankebiasaan pikiran dari warganegara yang berfungsi bagi sistem demokrasi yang sehat dan kebaikan umum dari. Komitmen kewarganegaraan mengacu kepada kebebasan yang diberikan, komitmen yang rasional dari warganegara terhadap nilai fundamental dan prinsip-prinsip demokrasi konstitutional Amerika.

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Character Education Branson, Margaret Stimmann. (1998). The Role of Civic Education A Forthcoming Education Policy Task Force Position Paper From The Communitarian Network
Learning activities such as the following tend to promote character traits needed to participate effectively. For example:

  

Civility, courage, self-discipline, persistence, concern for the common good, respect for others, and other traits relevant to citizenship can be promoted through cooperative learning activities and in class meetings, student councils, simulated public hearings, mock trials, mock elections, and students courts. Self-discipline, respect for others, civility, punctuality, personal responsibility, and other character traits can be fostered in school and community service learning projects, such as tutoring younger students, caring for the school environment, and participating in voter registration drives. Recognition of shared values and a sense of community can be encouraged through celebration of national and state holidays, and celebration of the achievements of classmates and local citizens. Attentiveness to public affairs can be encouraged by regular discussions of significant current events. Reflection on ethical considerations can occur when studnts are asked to evaluate, take, and defend positions on issues that involve ethical considerations, that is, issues concerning good and bad, rights and wrong. Civic mindedness can be increased if schools work with civic organizations, bring community leaders into the classroom to discuss issues with students, and provide opportunities for students to observe and/or participate in civic organizations. (Branson, 1998:15).

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Komentar
Aktivitas belajar yang dapat meningkatkan ciri-ciri karakter, dalam hal ini termasuk di dalamnya nation and character building, antara lain adalah: 1. Sopan santun, keperwiraan, disiplin pribadi, ketekunan, kepedulian terhadap kepentingan umum, menghormati orang lain, dan sifat-sifat lain yang berhubungan dengan kewarganegaraan dapat dikembangkan melalui kegiatan belajar yang kooperatif dan di dalam pertemuan-pertemuan kelas, dewan pelajar, simulasi dengan pendengar publik, simulasi pemilu, simulasi sidang pengadilan, dan mahkamah pelajar. Disiplin pribadi, menghormati orang lain, sopan santu, tepat waktu, tanggung jawab pribadi, dan karakter-karakter lainnya dapat dipupuk di sekolah dan proyek-proyek belajar pelayanan masyarakat, seperti membantu mengajari siswa yang lebih muda, merawat lingkungan sekolah, dan partisipasi di dalam kepanitiaan pemilu. Pengenalan terhadap nilai-nilai bersama serta kepedulian terhadap masyarakat sekitar dapat didorong melalui perayaan hari-hari libur nasional dan negara bagian, serta perayaan atas prestasi yang telah dicapai oleh teman sekelas ata warga setempat di sekitarnya. Kepedulian terhadap urusan-urusan publik dapat didorong melalui diskusi-diskusi teratur mengenai pentingnya kejadian-kejadian aktual yang sedang berlangsung. Perenungan mengenai masalah-masalah etis dapat terjadi manakala siswa diminta untuk mengevaluasi, mengambil atau mempertahankan suatu pendapat tentang hal-hal yang melibatkan pertimbanga-pertimbangan etis, yakni isu-isu mengenai baik buruk, benar salah. Kepekaan kewarganegaraan dapat ditingkatkan jika sekolah-sekolah bekerjasama dengan organisasiorganisasi kemasyarakatan, mengundang para pemuka masyarakat masuk ke kelas untuk mendiskusikan isu-isu yang sedang berkembang dengan para siswa, serta menyediakan peluang bagi siswa untuk mengamati langsung dan/atau berpartisipasi di dalam organisasi-organisasi kemasyarakatan.

2.

3. 4. 5. 6.

7. Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Character Education
Branson, Margaret Stimmann. (1998). The Role of Civic Education: A Forthcoming Education Policy Task Force Position Paper From The Communitarian Network Character is ultimately who we are expressed in action, in how we live, in what we do – and so the children around us know, they absorb and take stock of what they observe, namely us-we adults living and doing things in a certain spirit, getting on with one another in our various ways. Coles (dalam Branson, 1998:14) Komentar Pada dasarnya, karakter adalah kepada siapa kita mengekspresikan perbuatan kita, bagaimana kita hidup, apa yang kita kerjakan – dan demikianlah anak-anak di sekitar kita mengetahuinya, merekapun kemudian menyerap dan menyimpan hasil pengamatan mereka, yaitu kita para orang dewasa ini hidup dan melakukan sesuatu dengan spirit tertentu, bergaul satu sama lain dengan berbagai cara. Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Pengertian Civics Education
Rosyada,Dede, et al. (2003). PKN (CIVED:) Demokrasi,Hak Asasi Manusia, Masyarakat Madani. Tim ICCEUIN. Jakarta: Prenada Media. Pengertian Civic Education menurut Henry Randall Waite dalam penerbitan majalah The Citizen and Civics (1986) yaitu : “ the science of citizenship, the relation of man, the individual, to man in organized collections, the individual in his relation to the state.” (Rosyada, et al, 2003:5). Komentar: Pengertian pendidikan civics menurut Henry Randall Waite menekankan pada civics sebagai ilmu pengetahuan kewarganegaraan, hubungan manusia, individu, manusia dalam kumpulan organisasi dan hubungan manusia dengan negara. Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

Pengertian Civics Education
Rosyada,Dede, et al. (2003). PKN (CIVED:) Demokrasi,Hak Asasi Manusia, Masyarakat Madani. Tim ICCEUIN. Jakarta: Prenada Media. Pengertian Civic Education menurut Henry Randall Waite dalam penerbitan majalah The Citizen and Civics (1986) yaitu : “ the science of citizenship, the relation of man, the individual, to man in organized collections, the individual in his relation to the state.” (Rosyada, et al, 2003:5). Komentar: Pengertian pendidikan civics menurut Henry Randall Waite menekankan pada civics sebagai ilmu pengetahuan kewarganegaraan, hubungan manusia, individu, manusia dalam kumpulan organisasi dan hubungan manusia dengan negara. Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

ARTI PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
Numan Sumantri (2001:159). Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS Pendidikan kewarganegaraan adalah seleksi dan adaptasi dari lintas disiplin ilmuilmu sosial, ilmu kewarganegaraan, humaniora dan kegiatan dasar manusia yang diorganisasikan dan disajikan secara psikologis dan ilmiah untuk ikut mencapai salah satu tujuan pendidikan IPS. PKn merupakan bagian atau alah satu tujuan pendidikan IPS, yaitu bahan pendidikannya diorganisasikan secara terpadu (integrated) dari berbagai disiplin ilmu sosial, humaniora, dokumen negara, terutama Pancasila, UUD 1945, GBHN dan perundangan negara dan bahan pendidikan yang berkenaan dengan bela negara. PKn adalah program pendidikan yang berintikan demokrasi politik yang diperluas dengan sumber-sumber pengetahuan lainnya, pengaruh-pengaruh positif dari pendidikan sekolah, masyarakat dan orang tua, yang kesemuanya itu diproses guna melatih para siswa untuk berpikir kritis, analitis, bersikap dan bertindak demokratis yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

CIVIC AND CITIZENSHIP EDUCATION
Cogan, J.J. (1999). Developing the Civic Society: The Role of Civic Education. Bandung: CICED.

Civic Education “…the foundation course work in school designed to prepare young citizens for an active role in their communities in their adult lives”. Citizenship Education or Education for Citizenship “…both these in school experiencess as well as out of school or non formal/informal learning which takes place in the family, the religious organization, community organizations, the media, etc which help to shape the totality of the citizen”. (Cogan, 1999:4) Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

KOMENTAR
Civic Education adalah suatu mata pelajaran dasar di sekolah yang dirancang untuk mempersiapkan warganegara muda, agar kelak setelah dewasa dapat berperan aktif dalam masyarakat. Sedangkan Citizenship Education atau Education for Citizenship digunakan sebagai istilah yang memiliki pengertian yang lebih luas yang mencakup pengalaman belajar di sekolah dan luar sekolah seperti rumah, organisasi keagamaan, organisasi kemasyarakatan, media massa dan lain-lain yang berperan membantu proses pembentukan totalitas atau keutuhan sebagai warganegara. Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

KOMENTAR

Civic Education adalah suatu mata pelajaran dasar di sekolah yang dirancang untuk mempersiapkan warganegara muda, agar kelak setelah dewasa dapat berperan aktif dalam masyarakat. Sedangkan Citizenship Education atau Education for Citizenship digunakan sebagai istilah yang memiliki pengertian yang lebih luas yang mencakup pengalaman belajar di sekolah dan luar sekolah seperti rumah, organisasi keagamaan, organisasi kemasyarakatan, media massa dan lain-lain yang berperan membantu proses pembentukan totalitas atau keutuhan sebagai warganegara. Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

CIVIC EDUCATION
Branson, Margaret S. (1998). The Role of Civic Education: A Forthcoming Education Policy Task Force Position Paper from the Communitarian Network. Washington, DC: Center for Civic Education Civic Education is an important component of education that cultivates citizens to participate in the public life of a democracy, to use their rights and to discharge their responsibilities with the necessary knowledge and skills. American schools have advanced a distinctively civic mission since the earliest days of this Republic. It was immediately recognized that a free society must ultimately depend on its citizens, and that the way to infuse the people with the necessary qualities is through education. As one step of this education process, higher education has been assuming the mission to foster citizens with the spirit to lead. The literature on this contribution, and civic education in general, is characterized by its broad time range, its composition of diverse voices from all kinds of participating social units (from individual to government), and the existence of rich international and comparative studies. (Branson, 1998). Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

KOMENTAR
Pendidikan Kewarganegaraan adalah satu komponen pendidikan yang penting yang mengajarkan warganegara untuk mengambil bagian dalam kehidupan demokrasi publik, untuk menggunakan hak-hak mereka dan untuk membebaskan tanggung-jawab mereka dengan pengetahuan dan keterampilan-keterampilan. Sekolah-sekolah Amerika sejak awal Republik ini telah mengedepan suatu misi kewarganegaraan dengan jelas. Suatu masyarakat yang bebas bergantung pada para warganegaranya, dan cara untuk menghasilkan penduduk yang berkualitas adalah pendidikan. Sebagai bagian dari tahap proses pendidikan, pendidikan tinggi mempunyai misi untuk membantu perkembangan para warganegara dengan semangat untuk memimpin. Literatur yang berkontribusi, dan Pendidikan Kewarganegaraan secara umum, ditandai oleh cakupan waktu yang luas, terdiri atas komposisi suara yang berbeda dari partisipasi bermacam-macam unit sosial (dari individu ke pemerintah), dan keberadaan sumber dan studi internasional. Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

ATTRIBUTES OF CITIZENSHIP
Cogan, John J. and Ray Derricott. (1998). Citizenship Education For the 21st Century: Setting the Context. London: Kogan Page The five attributes of citizenship: 1) a sense of identity, 2) the enjoyment of certain rights, 3) the fulfilment of corresponding obligations, 4) a degree of interest and involvement in public affairs, and 5) an acceptance of basic societal values. All five are conveyed through a wide variety of institutions, both governmental and non governmental, including the media, but they are usually seen as a particular responsibility of the school. Citizenship education, in the broadest sense, is an important task in all contemporary societies. (Cogan and Derricot, 1998: 2-3). Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

ATTRIBUTES OF CITIZENSHIP
Cogan, John J. and Ray Derricott. (1998). Citizenship Education For the 21st Century: Setting the Context. London: Kogan Page The five attributes of citizenship: 1) a sense of identity, 2) the enjoyment of certain rights, 3) the fulfilment of corresponding obligations, 4) a degree of interest and involvement in public affairs, and 5) an acceptance of basic societal values. All five are conveyed through a wide variety of institutions, both governmental and non governmental, including the media, but they are usually seen as a particular responsibility of the school. Citizenship education, in the broadest sense, is an important task in all contemporary societies. (Cogan and Derricot, 1998: 2-3). Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

THE AIMS AND/OR FRAMEWORK FOR CITIZENSHIP EDUCATION
Quigley, Charles N, Buchanan Jr., and Bahmueller. (1991). Civitas: A Framework for Civic Education. Calabasas: Center for Civic Education The Center for Citizenship Education of the United States of America proposed the three interrelated components of civic virtues, civic knowledge and civic skills as the aims and/or framework for citizenship education.(Quigley, Buchanan Jr., and Bahmueller, 1991). KOMENTAR CCE mengusulkan tiga komponen yang saling berinterrelasi – kebajikan, pengetahuan, dan keterampilan kewarganegaraan sebagai tujuan dan/atau kerangka Pendidikan Kewarganegaraan. Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

CITIZENSHIP
Fachruddin. (2005). Educating for Democracy: Ideas and Practices of Islamic Civil Society Association in Indonesia. Dissertation at University of Pittsburgh: Not published.

Citizenship refers to an identity or an attribute that encourages individuals to think of themselves as being part of a society or a state. Citizenship is also a fundamental identity that helps situate individuals in society (sense of citizenship) (Hindess, 2003; Lister, Smith & Middleton, 2003). Citizenship is also a status (full membership of a state) conferred by nation states, which carries rights (the horizontal aspect) and responsibilities or consequences (the vertical aspect) (Osler & Starkey, 2002; Zilbershats, 2002: 3). Fachrudin (2005:31) Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

KOMENTAR
Dengan mengutip beberapa pendapat, Fachrudin mengemukakan bahwa kewarganegaraan mengacu pada satu identitas atau atribut yang mendorong individu untuk berpikir tentang diri mereka sebagai bagian dari suatu masyarakat atau suatu negara. Kewarganegaraan adalah juga suatu identitas fundamental yang membantu individu di dalam masyarakat (perasaan kewarganegaraan). Kewarganegaraan adalah juga suatu status (keanggotaan penuh dari suatu negara) yang dirundingkan oleh negara bangsa, yang membawa hak-hak (aspek horisontal) dan tanggung jawab atau konsekuensi-konsekuensi (aspek vertikal).

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

CITIZENSHIP EDUCATION
Cogan, J.J. (1998). ‘Citizenship Education for the 21st Century: Setting the Context’, in J.J. Cogan and R. Derricott, eds. Citizenship for the 21st Century: An International Perspective on Education, Kogan Page, London, pp. 1–20. Citizenship education has been described as ‘the contribution of education to the development of those characteristics of being a citizen’ (Cogan 1998:13), and the ‘process of teaching society’s rules, institutions, and organizations, and the role of citizens in the well-functioning of society’ (Villegas-Reimer 1997:235).

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

KOMENTAR

Pendidikan kewarganegaraan digambarkan sebagai ‘kontribusi pendidikan untuk pengembangan karakteristik-karakteristik warganegara' (Cogan 1998:13), dan 'proses tentang aturan pengajaran masyarakat, institusi, dan organisasi-organisasi, dan peran warganegara dalam masyarakat yang berfungsi secara baik'.

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

MODEL OF THE HISTORY OF CITIZENSHIP
Derek, Heater. (2004). A Brief History of Citizenship. New York University Press, Washington Square, New York. The advent of jurisprudence moved the concept of the ‘citizen’ from the zoon politikon towards the legalis homo, and from the civic or polities toward the bourgeois or burger. It futher brought about some equation of the citizen with the subject, for in defining him as the member of a community of law, it emphasized that he was, in more senses than one, the subject of those laws that defined his community and of the rulers and magistrates empowered to enforce them. (Pocock, 1995 p.38 dalam Derek Heater, 2004 p.3-4).

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

KOMENTAR

Kemajuan ilmu hukum mengalihkan konsep warga Negara dari ‘zoon politikon’ menjadi ‘legalis homo’, dan dari civic atau polites (bahasa Latin dan Yunani untuk kata “warga negara” menjadi bourgeois atau burger. Hal ini selanjutnya membawa banyak persamaanantara warga Negara dengan subjek, karena untuk menentukan dia sebagai subjek dari hukum-hukum yang menjelaskan komunitasnya dan dari para penguasa dan hakim yang diberikan wewenang untuk menjalankan hukum-hukum tersebut.

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

CITIZENS
Aristotle, dalam Derek, Heater. (2004). A Brief History of Citizenship. New York University Press, Washington Square, New York. Citizens, in the common sense of that term, are all who share in the civic life of ruling and being ruled in turn. In the particular sense of the term, they vary from constitution to constitution; and under and ideal constitution they must be those who are able and willing to rule with a view to attaining a way of life according to goodness . He who enjoys the right of sharing in deliberative and judicial office … attains thereby the status of a citizen of his state. (Aristotle, 1948, 1275b dalam Derek Heater, 2004 p.18). Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

KOMENTAR

Warga Negara dalam pengertian umum adalah semua orang yang berbagi dalam kehidupan yang mengatur dan diatur. Dalam pengertian khususnya tentag istilah tersebut akan beragam dari satu konstitusi ke konstitusi lainnya; dan dalam konstitusi yang ideal mereka haruslah orang yang mampu dan berkeinginan untuk mengatur dengan suatu pandangan untuk mencapai cara hidup menurut kebaikan. Dia yang mendapatkan hak untuk berbagi dalam jabatan pengadilan dan perundingan … sehingga mendapat status sebagai warga negara dari negara tersebut. Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

KARAKTERISTIK WARGANEGARA ABAD 21
Cogan, John J. and Ray Derricott. (1998). Citizenship Education For the 21st Century: Setting the Context. London: Kogan Page

Eight citizens characteristic 1. the ability to look at and approach problems as a member of a global society 2. the ability to work with others in a cooperative way and to take responsibility for one’s roles/duties within society 3. the ability to understand, accept, appreciate and tolerate cultural differences 4. the capacity to think in a critical and systemic way 5. the willingness to resolve conflict and in a non-violent manner 6. the willingness to change one’s lifestyle and consumption habits to protect the environment 7. the ability to be sensitive towards and to defend human rights (eg, rights of women, ethnic minorities, etc), and 8. the willingness and ability to participate in politics at local, national and international levels. (Cogan and Derricott, 1998:115). Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

KOMENTAR Karakteristik warganegara abad ke-21 adalah sebagai berikut: 1. kemampuan mengenal dan mendekati masalah sebagai warga masyarakat global 2. kemampuan bekerjasama dengan orang lain dan memikul tanggung jawab atas peran atau kewajibannya dalam masyarakat 3. kemampuan untuk memahami, menerima, dan menghormati perbedaanperbedaan budaya 4. kemampuan berpikir kritis dan sistematis 5. memiliki kepekaan terhadap dan mempertahankan hak asasi manusia (seperti hak kaum wanita, minoritas etnis, dsb 6. kemampuan mengubah gaya hidup dan pola makanan pokok yang sudah biasa guna melindungi lingkungan 7. kemampuan menyelesaikan konflik dengan cara damai tanpa kekerasan 8. kemauan dan kemampuan berpartisipasi dalam kehidupan politik pada tingkatan pemerintahan lokal, nasional, dan internasional Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

DIMENSION OF MULTIDIMENSIONAL CITIZENSHIP
Cogan, John J. and Ray Derricott. (1998). Citizenship Education For the 21st Century: Setting the Context. London: Kogan Page The four dimensions embodied in our conceptualization of multidimensional citizenship are personal, social, temporal and spatial. (Cogan and Derricott, 1998:11). KOMENTAR Dalam pandangan Cogan dan Dericot, kewarganegaraan multidimensional dikonsepsikan atas empat dimensi, yaitu personal, sosial, temporal, dan spatial.

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

CITIZEN AND CITIZENSHIP
Cogan, John J. and Ray Derricott. (1998). Citizenship Education For the 21st Century: Setting the Context. London: Kogan Page

A citizen was defined as ‘a constituent member of society’. Citizenship, on the other hand, was said to be ‘a set of characteristics of being a citizen’. And finally, citizenship education, the underlying focal point of the study, was defined as ‘the contribution of education to development of those characteristics of being a citizen’. (Cogan and Derricott, 1998:13) Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

KOMENTAR

Warganegara adalah anggota suatu masyarakat. kewarganegaraan adalah seperangkat karakteristik yang terdapat dalam warganegara. Dan pendidikan kewarganegaraan adalah kontribusi pendidikan untuk mengembangkan karakteristikkarakteristik untuk menjadi warganegara. Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

CITIZENSHIP
Gould, J. & Kolb, W.L. eds. (1964). A Dictionary of the Social Sciences. New York: The Free Press Gould and Kolb (1964:88) defined citizenship as a ‘relationship existing between a natural person and political society, known as a state, by which the former owes allegiances and the latter protection.’ KOMENTAR Gould dan Kolb menggambarkan kewarganegaraan sebagai suatu ‘hubungan yang ada antara orang dan masyarakat politik secara alami, yang dikenal sebagai suatu negara, dimana pembentuk berhutang kepada kesetiaan-kesetiaan dan perlindungan.' Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

CONCEPTIONS OF CITIZENSHIP
Osborne, Kenneth et al. (1999). “Citizenship Education: An Introduction to Citizenship Education.” The Centre for Canadian Studies at Mount Allison University. http://www.mta.ca/faculty/arts/canadian_studies/english/about/multimedia/citizenship

Most experts agree that citizenship involves a number of interrelated skills, beliefs and actions. Osborne identifies five elements that constitute citizenship and that influence outcomes typically represented in curriculum. These elements are described in the chart on the following page. (Osborne, Kenneth et al., 1999). Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

ELEMENT OF CITIZENSHIP
National Consciousness Or Identity Political Literacy Observance Of Rights And Duties Values General Intellectual Skills

• •

Sense of identity as a national citizen Awareness of multiple identities, such as regional, cultural, ethnic, religious, class, gender Sense of global or world citizenship

• •

Knowledge of the political, legal and social institutions of one’s country Understanding of key political and social issues Necessary skills and knowledge for effective political participation

Understandi ng and belief in basic rights and duties of citizenship • Understandi ng of how to deal with, and if possible resolve conflicts

Underst anding of societal values • Knowled ge and skills to deal with conflictin g values in acceptabl e ways

Literacy and intellectual competence

n Osborne’s view, global citizenship is part of national identity, in which students come to see themselves as members of a world community and learn to balance the claims of nation against claims that transcend national boundaries. Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

KOMENTAR Para ahli setuju bahwa kewarganegaraan melibatkan sejumlah keterampilan yang saling berhubungan, kepercayaan dan tindakan-tindakan. Osborne mengidentifikasi lima unsur-unsur yang melembagakan kewarganegaraan dan mempengaruhi hasil-hasil yang pada umumnya mewakili dalam kurikulum. Unsur-unsur itu sebagaimana tergambar dalam tabel di atas. Dalam pandangan Osborne, kewarganegaraan global adalah bagian dari kepribadian nasional, di mana para siswa datang untuk melihat diri mereka sebagai anggota suatu masyarakat dunia dan belajar untuk menyeimbangkan klaim-klaim tentang bangsa terhadap klaim-klaim bangsa lintas nasional.

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

CITIZEN PARTICIPATION
D’Agostino, Maria J. (2006). Social Capital: Lessons from a Service-Learning Program. Center For Civic Engagement. Park University International Citizen Participation is fundamental to democratic governance. The problem has been addressed in the citizen participation literature in a myriad of ways, including the use of technology to involve citizens in the decision making process. (D’Agostino, 2006:2). KOMENTAR Partisipasi warganegara adalah hal fundamental dalam tata pemerintahan yang demokratis. Masalah sudah ditujukan di dalam partisipasi warganegara dalam banyak cara, termasuk di dalamnya pemakaian teknologi untuk melibatkan warganegara dalam proses pengambilan keputusan. Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

MULTIDIMENSIONAL CITIZENSHIP
Patricia Kubow, David Grossman and Akira Ninomiya Multidimensional citizenship: educational policy for the 21st Century. p.115

Multidimensional citizenship, this term is intended to describe the complex, multifaceted conceptualization of citizenship and citizenship education that will be needed if citizens are to cope with the challenges. (1999:115) KOMENTAR Kewarganegaraan multidimensional, istilah ini untuk menggambarkan kompleksitas, konseptualisasi bersegi banyak dari kewarganegaraan dan pendidikan kewarganegaraan yang diperlukan warganegara untuk keluar dari tantangan.

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

CIVIC EDUCATION
Kerr, David. (1999). Citizenship Education: An International Comparison. England: National Foundation for Educational Research-NFER Citizenship or Civics Education is construed broadly to encompass the preparation of young people for their roles and responsibilities as citizens and, in particular, the role of education (through schooling, teaching and learning) in that preparatory process. (Kerr, 1999:2). KOMENTAR Pendidikan kewarganegaraan dirumuskan secara luas mencakup proses penyiapan generasi muda untuk mengambil peran dan tanggung jawabnya sebagai warganegara, dan secara khusus, peran pendidikan termasuk di dalamnya persekolahan, pengajaran, dan belajar dalam proses penyiapan warganegara tersebut.

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

THE PURPOSE OF CITIZENSHIP EDUCATION
Qualifications and Curriculum Authority. (1998). Education for Citizenship and the Teaching of Democracy in Schools: Final Report of the Advisory Group for Citizenship. (Chair: Bernard Crick). London: QCA. The purpose of citizenship education in schools and colleges is to make secure and to increase the knowledge, skills and values relevant to the nature of participative democracy; also to enhance the awareness of rights and duties, and the sense of responsibilities needed for the development of pupils into active citizens.

Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

KOMENTAR

Tujuan pendidikan kewarganegaraan di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi adalah untuk memberikan kenyamanan dan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan-keterampilan dan nilai-nilai yang relevan dengan hakikat demokrasi partisipatif; juga untuk meningkatkan kesadaran akan hak dan kewajiban, dan perasaan tanggung jawab yang diperlukan untuk pengembangan para siswa menjadi warganegara aktif. Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

THE PURPOSES OF EDUCATION FOR CITIZENSHIP
Osler, A. and Starkey, H. (1996). Teacher Education and Human Rights. London: David Fulton Education for citizenship is concerned with both the personal development of students and the political and social development of society at local, national and international levels. On a personal level, CE is about integration into society. It is about overcoming structural barriers to equality: challenging racism and sexism in institutions, for instance… on political and social level it is about creating a social order that will help provide security without the need for repression. Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

KOMENTAR

Pendidikan kewarganegaraan mempunyai kaitan dengan pengembangan pribadi para siswa dan pengembangan kehidupan politik dan sosial masyarakat tingkat lokal, nasional dan internasional. Pada tingkat personal, Pendidikan kewarganegaraan adalah menitikberatkan pada pengintegrasian ke dalam masyarakat. hal tersebut dimaksudkan sebagai upaya untuk menanggulangi penghalang-penghalang struktural ke arah persamaan: menentang rasisme dan sexisme dalam institusi-institusi, sebagai contoh… pada tingkat sosial dan politis adalah sekitar menciptakan suatu tatanan sosial yang dapat membantu menyediakan kenyamanan tanpa penindasan. Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

A CONTINUUM OF CITIZENSHIP EDUCATION
Kerr, David. (1999). Citizenship Education: An International Comparison. England: National Foundation for Educational Research-NFER Citizenship is conceptualised and contested along a continuum, which range from a minimal to a maximal interpretation (McLaughliin, 1992). Minimal: Thin, Exclusive, Elitist, Civics education, Formal, Content led, Knowledge based, Didactic transmission, Easier to achieve, and measure in practice. Maximal: Thick, Inclusive, Activist, Citizenship education, Participative, Process led, Values based, Interactive interpretation, More difficult to achieve, and measure in practice. (Kerr, 1999:14) Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

KOMENTAR

Pendidikan Kewarganegaraan minimal, didefinisikan secara sempit, hanya mewadahi aspirasi tertentu, berbentuk pengajaran kewarganegaraan, bersifat formal, terikat oleh isi, berorientasi pada pengetahuan, menitikberatkan pada proses pengajaran, hasilnya mudah diukur. Pendidikan Kewarganegaraan maksimal, didefinisikan secara luas, mewadahi berbagai aspirasi dan melibatkan berbagai unsur masyarakat, kombinasi pendekatan formal dan informal, dilabeli citizenship education, menitikberatkan pada partisipasi siswa melalui pencarian isi dan proses interaktif di dalam maupun di luar kelas, hasilnya lebih sukar dicapai dan diukur karena kompleksnya hasil belajar. Oleh : Iwan Sukma Nuricht, S.Pd

APPROACHES TO CITIZENSHIP EDUCATION
Kerr, David. (1999). Citizenship Education: An International Comparison. England: National Foundation for Educational Research-NFER Citizenship education comprises three approaches: 1. Education ABOUT citizenship focuses on providing students with sufficient knowledge and understanding of national history and the structures and processes of government and political life. 2. Education THROUGH citizenship involves students learning by doing, through active, participative experiences in the school or local community and beyond. This learning reinforces the knowledge component. 3. Education FOR citizenship encompasses the other two strands and involves equipping students with a set of tools (knowledge and understanding, skills and aptitudes, values and dispositions) which enable them to participate actively and sensibly in the roles and responsibilities they encounter in their adult lives. This strand links citizenship education with the whole education experience of students. (Kerr, 1999:15-16).

KOMENTAR Pendidikan Kewarganegaraan dikonseptualisasikan ke dalam tiga pendekatan 1. Pendidikan TENTANG kewarganegaraan memusatkan perhatian untuk mempersiapkan para siswa dengan pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang sejarah nasional dan struktur-struktur dan proses-proses dari pemerintah dan kehidupan politik. 2. Pendidikan MELALUI kewarganegaraan menitikberatkan pada pelibatan siswa untuk belajar dengan melakukan (by doing), melalui pengalaman-pengalaman yang aktif, berpartisipasi di sekolah atau masyarakat lokal dan di luar. Proses belajar seperti itu diyakini memiliki potensi untuk menguatkan komponen pengetahuan. 3. Pendidikan UNTUK kewarganegaraan mencakup kedua pendekatan 1) dan 2) yang menitikberatkan pada proses memperlengkapi siswa dengan seperangkat alat (pengetahuan dan pemahaman, keterampilan dan sikap, nilai-nilai dan disposisidisposisi) yang memungkinkan mereka berpartisipasi secara aktif dan pantas di dalam peran-peran dan tanggung-jawab mereka dalam kehidupan dewasa mereka. Pendekatan ini mengaitkan pendidikan kewarganegaraan dengan keseluruhan pengalaman pendidikan para siswa.

FRAMEWORK FOR CITIZENSHIP EDUCATION
Quigley, C.N. Buchanan Jr. J.H. & Bahmueller, C.F. eds. (1991). Civitas: A Framework for Civic Education. Center for Civic Education: Calabasas.
The Center for Citizenship Education of the United States of America proposed the three interrelated components of civic virtues, civic knowledge and civic skills as the aims and/or framework for citizenship education. (Quigley, Buchanan Jr., and Bahmueller, 1991). 1. Civic virtues consists of the traits of character, disposition, and commitments necessary for the preservation and improvement of democratic governance and citizenship. Examples of civic virtues are individual responsibility, self-discipline, integrity, patriotism, toleration of diversity, patience and consistency, and compassion for others. Commitments include, a dedication to human rights, equality, the common good, and a rule of law.

2.

Civic knowledge covers fundamental ideas and information that learners must know and use to become effective and responsible citizens of a democracy. Civic knowledge normally includes types and systems of government, politics, political institutions and processes and the role of citizens in relation to the governance. Civic skills include the intellectual skills required to understand, compare, explain and evaluate various principles and practices of government and citizenship. They also include the participatory skills that enable citizens to monitor and influence public policies (Quiqley 2000).

3.

KOMENTAR

The Center for Citizenship Education Amerika Serikat mengusulkan tiga komponen yang saling berinterrelasi dari kebaikan kewarganegaraan, pengetahuan kewarganegaraan, dan keterampilan kewarganegaraan sebagai tujuan dan/atau kerangka Pendidikan Kewarganegaraan.

1.

2.

Kebaikan kewarganegaraan terdiri dari ciri-ciri dari karakter, disposisi, dan komitmen yang penting bagi pemeliharaan dan perbaikan pemerintahan dan kewarganegaraan demokratis. Contoh-contoh dari kebajikan-kebajikan kewarganegaraan adalah tanggung jawab individu, disiplin diri, integritas, patriotisme, toleransi dalam keragaman, kesabaran dan konsistensi, dan rasa kasihan untuk yang lain. Komitmen-komitmen termasuk, suatu pengabdian terhadap hak azasi manusia, persamaan, kebaikan umum, dan aturan hukum. Pengetahuan kewarganegaraan meliput gagasan dan informasi pokok bahwa para pelajar harus mengetahui dan terbiasa sebagai warganegara yang efektif dan bertanggung jawab dalam suatu demokrasi. Pengetahuan kewarganegaraan secara normal termasuk jenis-jenis dan sistem dari pemerintah, politik, lembaga politik, dan proses dan peran dari para warganegara dalam hubungannya dengan pemerintah. Keterampilan kewarganegaraan termasuk keterampilan intelektual yang diperlukan untuk memahami, membandingkan, menjelaskan dan mengevaluasi berbagai prinsip dan praktek-praktek dari pemerintah dan kewarganegaraan. Termasuk juga keterampilan berpartisipasi yang memungkinkan warganegara untuk memonitor dan mempengaruhi kebijakan-kebijakan publik (Quiqley 2000).

3.

GLOBAL TRENDS IN CIVIC EDUCATION
Patrick, J.J. (1997). ‘Global Trends in Civic Education for Democracy’. ERIC Clearing for Social Studies/Social Science Education, http://www.indiana.edu/ssdc/glotrdig.

Patrick (1997) proposed nine global trends that have broad potential for influencing citizenship education in the constitutional democracies of the world. They are: 1) Conceptualising of citizenship education in terms of the three interrelated components of civic knowledge, civic skills and civic virtue. 2) Systematic teaching of core concepts about democratic governance and citizenship. 3) Analysis of case studies by students to apply core concepts or principles. 4) Development of decision-making skills. 5) Comparative and international analysis of government and citizenship. 6) Development of participatory skills and civic virtues through cooperative learning activities. 7) The use of literature to teach civic virtues. 8) Active learning of civic knowledge, skills and virtues. 9) The connection of content and process in teaching and learning of civic knowledge, skills and virtues.

KOMENTAR:
Patrick (1997) mengungkapkan sembilan kecenderungan global yang secara luas biasa berpotensi mempengaruhi pendidikan kewarganegaraan di dalam negara-negara yang menganut faham demokrasi konstitutional. Kecenderungan yang dimaksud adalah: 1) Konseptualisasi pendidikan kewarganegaraan dalam tiga komponen-komponen yang saling berhubungan –pengetahuan kewarganegaraan, keterampilan kewarganegaraan dan kebaikan kewarganegaraan. 2) Pengajaran konsep-konsep inti secara sistematis tentang pemerintah dan kewarganegaraan demokratis. 3) Analisa dari studi kasus oleh para siswa untuk menerapkan prinsip-prinsip atau konsepkonsep inti. 4) Pengembangan keterampilan pengambilan keputusan. 5) Analisis komparatif dan internasional tentang pemerintah dan kewarganegaraan. 6) Pengembangan keterampilan partisipatoris dan kebaikan kewarganegaraan melalui aktivitas belajar kooperatif. 7) Pemakaian literatur untuk mengajarkan kebajikan-kebajikan kewarganegaraan. 8) Mempelajari secara aktif pengetahuan, keterampilan dan kebaikan kewarganegaraan.

9) Menghubungkan antara isi dan proses dalam belajar dan mengajar pengetahuan, keterampilan, dan kebaikan kewarganegaraan.

TEACHING OF VALUES
Williams, Mary M. (2000). “Models of Character Education: Perspectives and Developmental Issues.” Journal of Humanistic Counseling, Education and Development 39, 1, 32–40. “… it is next to impossible to separate the teaching of values from schooling itself; it is a part of schooling whether people are willing to acknowledge it or not. The question ... is how the educator can influence students’ character development effectively so that the impact is positive.” (Williams 2000:34). KOMENTAR Hampir tak mungkin untuk memisahkan pengajaran nilai dari pendidikan di sekolah; hal itu merupakan suatu bagian dari pendidikan di sekolah apakah orang-orang memiliki kemauan untuk mengakuinya atau tidak. Pertanyaannya ialah bagaimana pendidik dapat mempengaruhi pengembangan karakter siswa secara efektif sehingga berdampak positif.

CONCEPTIONS OF CHARACTER
Lickona, Thomas. (1991). Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. New York, NY: Bantam Books

“Good character consists of knowing the good, desiring the good, and doing the good …” (Lickona, 1991:51) Much of the debate about whether and how to teach for character is tied into a debate about what “character” means. Character can refer to: • personality traits or virtues such as responsibility and respect for others • emotions such as guilt or sympathy • social skills such as conflict management or effective communication • behaviours such as sharing or helping, or • cognitions such as belief in equality or problem-solving strategies. Thomas Lickona, describes character as “a reliable inner disposition to respond to situations in a morally good way. Character so conceived has three interrelated parts: moral knowing, moral feeling, and moral behaviour” (Lickona, 1991:51).

KOMENTAR Menurut Lickona, karakter baik terdiri dari mengetahui yang baik, menginginkan yang baik, dan melakukan yang baik. Sebagian besar perdebatan sekitar apa dan bagaimana mengajar karakter terikat pada suatu debat tentang apa makna "karakter". Karakter dapat mengacu pada: 1. ciri kepribadian atau kebaikan seperti tanggung jawab dan rasa hormat untuk yang lain 2. emosi seperti rasa bersalah atau simpati 3. keterampilan-keterampilan sosial seperti pengendalian konflik atau komunikasi efektif 4. perilaku-perilaku seperti sharing atau membantu, atau 5. pengamatan-pengamatan seperti kepercayaan di dalam persamaan atau strategi memecahkan masalah. Thomas Lickona, menguraikan karakter sebagai "suatu bagian dari disposisi yang dapat merespon terhadap situasi-situasi yang secara moral baik. Karakter mengandung tiga bagian yang saling berhubungan: pengetahuan moral, perasaan moral, dan perilaku moral" (Lickona, 1991:51).

GLOBAL CITIZEN
Louise Douglas. (2002). “Global Citizenship”. Citizenship Update Institute for Citizenship. Available at: www.citizen.org.uk/education/resources/html

At Oxfam education we feel that our curriculum for global citizenship is an extremely useful planning tool for teachers wanting to help young people make sense of the world and to develop not only knowledge and understanding but also to skills and attitudes to do so. We see a global citizen as someone who: 1. is aware of the wider world and has a sense of their own roles as a world citizen 2. respects and values diversity 3. has an understanding of how the world works economically, politically, socially, culturally, technologically and environmentally 4. is outraged by social injustice 5. participates in and contributes to the community at a large of levels from the local to the global 6. is willing to act to make the world a more equitable and sustainable place 7. takes responsibility for their actions.

KOMENTAR Pada pendidikan Oxfam, kita merasakan bahwa kurikulum untuk kewarganegaraan global telah direncanakan secara ektrem sebagai alat bagi para guru untuk membantu para pelajar memahami dunia dan untuk mengembangkan tidak hanya pengetahuan dan pemahaman tetapi juga keterampilan dan sikap. Kita memandang warganegara global sebagai orang yang: 1. menyadari dunia secara luas dan mempunyai suatu perasaan dari peran-peran mereka sendiri sebagai warga dunia 2. pengakuan terhadap nilai-nilai keberagaman 3. mempunyai satu pemahaman bagaimana dunia bekerja secara ekonomis, politis, sosial, kultural, teknologi dan lingkungan 4. menolak ketidakadilan sosial 5. berpartisipasi dan berperan dalam masyarakat secara luas mulai tingkat lokal sampai global 6. memiliki kemauan untuk bertindak dan membuat dunia sebagai suatu tempat yang patut 7. bertanggungjawab terhadap tindakan-tindakan mereka.

EFFECTIVE EDUCATION FOR CITIZENSHIP
Advisory Group on Education and Citizenship and the Teaching of Democracy in Schools. (1998). Education for Citizenship and the Teaching of Democracy in Schools. (Crick Report). London: QCA.
The Citizenship Advisory Group defined ‘effective education for citizenship’ as comprising three separate but interrelated strands. These are to be developed progressively through a young person’s education and training experiences, from pre-school to adulthood (DfEE, 1998:11–13) namely: 1. social and moral responsibility: ‘...children learning from the very beginning self confidence and socially and morally responsible behaviour both in and beyond the classroom, both towards those in authority and towards each other’. This strand acts as an essential pre-condition for the other two strands;

2. 3.

community involvement: ‘...learning about and becoming helpfully involved in the life and concerns of their communities, including learning through community involvement and service to the community’. This, of course, like the other two strands, is by no means limited to children’s time in school; political literacy: ‘...pupils learning about, and how to make themselves effective in, public life through knowledge, skills and values’. Here the term ‘public life’ is used in its broadest sense to encompass realistic knowledge of, and preparation for, conflict resolution and decision making, whether involving issues at local, national, European or global level.

KOMENTAR
Citizenship Advisory Group menggambarkan 'pendidikan kewarganegaraan efektif’ berisian tiga hal yang terpisah namun saling berhubungan. Ini adalah untuk dikembangkan melalui suatu pendidikan dan pelatihan orang muda, mulai pra-sekolah sampai kedewasaan, yakni: 1. tanggung jawab sosial dan moral: '...anak-anak belajar mulai dari kepercayaan diri, tanggung jawab sosial dan moral baik dalam maupun di luar kelas, kedua-duanya ditujukan ke arah pengembangan otoritas dan yang lainnya. Tahapan ini bertindak sebagai satu prasyarat penting untuk dua tahapan yang lainnya; keterlibatan masyarakat: '...belajar tentang dan menjadi dengan bermanfaat melibatkan diri di dalam kehidupan dan consern dengan masyarakat-masyarakat mereka, termasuk belajar keterlibatan dalam masyarakat dan layanan kepada masyarakat'. Hal ini, tentu saja, seperti dua hal yang lain, sama sekali tidak dibatasi pada waktu anak-anak di sekolah; melek politik: '... para murid belajar tentang, dan bagaimana membuat diri mereka efektif di dalam, pengetahuan hidup publik, keterampilan-keterampilan dan nilai-nilai'. Di sini istilah 'hidup publik' digunakan dalam pengertian yang paling luas yang meliputi pengetahuan realistis, dan persiapan untuk, resolusi konflik dan pengambilan keputusan, dengan menyertakan isu-isu lokal, nasional, orang Eropa atau tingkatan global.

2.

3.

Pendidikan Kewarganegaraan
Kamal Pasha, Mustafa.(2002). Citra karsa Mandiri. Terbentuknya masyarakat dapat dibagi menjadi dua : 1. Masyarakat paksaan, seperti negara atau masyarakat tawanan perang. 2. Masyarakat merdeka yang dapat dibagi (a) masyarakat alami (nature) seperti suku, yang bertalian karena adanya darah atau keturunan. (b) masyarakat kultur, terbentuk karena kepentingan keduniaan seperti PT, koperasi, jama’ah mesjid, dan sebagainya. Komentar: Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa makna masyarakat adalah golongan beasar atau kecil, terdiri dari beberapa manusia, yang dengan atau karena sendirinya bertalian secara golongan dan pengaruh mempengaruhinya.

Pendidikan Kewarganegaraan
Kamal Pasha, Mustafa. (2002). Citra karsa Mandiri. Bangsa adalah suatu masyarakat yang mempunyai daerah tertentu yang anggotaanggotanya bersatu karena pertumbuhan sejarah yang sama, karena merasa senasib sepenanggungan, serta mempunyai kepentingan dan cita-cita yang sama. Komentar: Otto Bauer memberikan penjelasan bahwa suatu bangsa terbentuk karena adanya suatu persamaan, satu persatuan karakter, watak, dimana karakter atau watak itu tumbuh dan lahir karena adanya persatuan pengalaman.

Pendidikan Kewarganegaraan
Kamal Pasha, Mustafa. (2002). Citra karsa Mandiri. Negara menurut Roger H. Soltau adalah suatu alat (agency) atau wewenang (autority) yang mengatur atau mengendalikan persoalan-persoalan bersama, atas nama masyarakat, (the state is agency or authority managing or controlling these (common) affairs on behalf of and in the name of the community). Komentar: Sesungguhnya negara adalah alat (tool) yang dibuat oleh masyarakat bangsa, diberi kekuasaan untuk mengatur hubungan antar manusia/kelompok dalam suatu masyarakat bangsa, mengarahkan masyarakat secara bersama-sama ke arah tercapainya tujuan-tujuan dari masyarakat seluruhnya.

Model Bermain Peran
Dahlan, M.D. (1990). Model-model Mengajar (Beberapa Alternatif Interaksi BelajarMengajar). Bandung: CV. Diponegoro. Shaftel & Shaftel (1967) mengemukakan sembilan tahap bermain peran, yakni (1) merangsang semangat kelompok; (2) memilih pemeran; (3) mempersiapkan pengamat; (4) mempersiapkan tahap-tahap peran; (5) pemeranan; (6) mendiskusikan dan mengevaluasi peran dan isinya; (7) pemeranan ulang; (8) mendiskusikan dan mengevaluasi pemeranan-ulang; dan (9) mengkaji kemanfaatannya dalam kehidupan nyata melalui saling-tukar pengalaman dan penarikan generalisasi. (Dahlan, 1990:128) Komentar: Manfaat bermain peran tergantung pada kualitas pemeranan, analisis pemeranan melalui diskusi usai pemeranan dan persepsi siswa terhadap peran dibandingkan dengan kehidupan nyata. Peran guru ialah mengajukan pertanyaan dan komentar kepada para siswa untuk mendorong siswa mengekspresikan perasaan dan gagasan secara bebas, jujur dan saling terbuka.

Pendidikan Kewarganegaraan
Kamal Pasha, Mustafa. (2002). Citra Karsa Mandiri. Menurut Harold J. Laski tujuan negara adalah menciptakan suatu kondisi di mana rakyatnya dapat mencapai terwujudnya keinginan-keinginan secara maksimal (creation of the those condition under which the members of the state my attaint the maximum satisfaction of their desire). Komentar: Masyarakat yang telah bersepakat menyerahkan sebagaian dari hak-hak pribadinya yang tidak mungkin dapat diwujudkan oleh masing-masing individu kepada negara dengan tujuan agar dapat menciptakan kebahagiaan dan kesejahteraan bagi rakyatnya, dapat menciptakan ‘bonum publicum’ atau ‘common good’.

Model Mengajar Inkuiri Sosial
Dahlan, M.D. (1990). Model-model Mengajar (Beberapa Alternatif Interaksi Belajar Mengajar). Bandung: CV. Diponegoro. Tahapan model mengajar inkuiri sosial meliputi: 1) orientasi (pernyataan/pertanyaan tentang masalah sosial), 2) hipotesis (mencari dan merumuskan hipotesis), 3) definisi (menjelaskan dan merumuskan istilah-istilah dalam hipotesis), 4) eksplorasi (menguji hipotesis dengan logika deduksi yaitu menghubungkan hipotesis dengan implikasi dan asumsi), 5) pembuktian (membuktikan hipotesis dengan fakta) dan 6) generalisasi (menyatakan pemecahan masalah yang dapat digunakan). (Dahlan, 1990:173) Komentar: Peran guru yang utama dalam model ini ialah sebagai reflektor bukan sebagai instruktor. Siswa diatur dalam bentuk struktur sosial yang sederhana, berdiskusi secara bebas dan terbuka, dan bertanggung jawab mengadakan penemuan sendiri. Guru membantu siswa menjelaskan kedudukannya dalam proses belajar, cara belajar dan penyusunan rencana siswa.

Pendidikan kewarganegaraan
Drs. Mustafa Kamal Pasha, B.Ed. Citra karsa Mandiri,2002 Fungsi minimum yang mutlak perlu bagi sebuah negara : 1. law and order 2. kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya. 3. pertahanan 4. menegakkan keadilan Komentar: 1. untuk mencapai tujuan bersama dan mencegah bentrok dalam masyarakat. 2. fungsi ini dianggap sangat penting terutama bagi negara berkembang 3. untuk menjaga serangan dari luar 4. hal ini dilaksanakan melalui badan-badan peradilan (M. Budiardjo: 45-46)

Pengertian Ideologi
Kamal Pasha, Mustafa. (2002). Pendidikan Kewarganegaraan. Citra Karsa Mandiri. Secara etimologi ideologi dibentuk dari idea, berarti pemikiran, konsep, atau gagasan, dan logos artinya pengetahuan. Dengan demikian ideologi berarti ilmu pengetahuan tentang ide-ide, tentang keyakinan atau tentang gagasan. Komentar: Sesungguhnya istilah ideologi itu sendiri bersifat netral, tidak memihak kemanapun. Ia dapat digunakan oleh siapa saja, apakah oleh kaum kapitalis, kaum nasionalis, kaum komunis, dan oleh lainnya. Ideologi pada hakekatnya menggambarkan tatanan kehidupan politik yang diyakini sebagai yang ideal, disertai dengan cara-cara, program dan strategi untuk mewujudkan dan memperjuangkannya.

Pendidikan kewarganegaraan
Kamal Pasha, Mustafa. (2002). Citra Karsa Mandiri. Menurut K.C. Wheare dalam bukunya “Modern Constitution” secara garis besarnya suatu konstitusi dapat dibagi menjadi dua, yaitu: 1. Konstitusi yang semata-mata berbicara sebagai naskah hukum, suatu ketentuan yang mengatur ‘the rule of the constitution’. 2. Konstitusi yang bukan saja mengatur ketentuan hukum, tetapi juga mencantumkan ideologi, aspirasi dan cita-cita politik, the statement of idea, pengakuan kepercayaan dari suatu bangsa yang menciptakannya. Komentar: Konstitusi jenis yang kedua menggambarkan filsafat negara yang akan dibentuk, philosofische grondslag, weltanschauung dan ideologi negara. Sebagai contoh konstitusi Amerika serikat, Prancis dan konstitusi-konstitusi Indonesia. Dan biasanya cita-cita politik itu dicantumkan dalam preambule, dalam pembukaan dari suatu konstitusi.

Model of the History of Citizenship
Derek, Heater. (2004). A Brief History of Citizenship. New York University Press, Washington Square, New York. The advent of jurisprudence moved the concept of the ‘citizen’ from the zoon politikon towards the legalis homo, and from the civic or polities toward the bourgeois or burger. It futher brought about some equation of the citizen with the subject, for in defining him as the member of a community of law, it emphasized that he was, in more senses than one, the subject of those laws that defined his community and of the rulers and magistrates empowered to enforce them. (Pocock, 1995 p.38 dalam Derek Heater, 2004 p.3-4).

Komentar :

Kemajuan ilmu hukum mengalihkan konsep warga Negara dari ‘zoon politikon’ menjadi ‘legalis homo’, dan dari civic atau polites (bahasa Latin dan Yunani untuk kata “warga negara” menjadi bourgeois atau burger. Hal ini selanjutnya membawa banyak persamaanantara warga Negara dengan subjek, karena untuk menentukan dia sebagai subjek dari hukum-hukum yang menjelaskan komunitasnya dan dari para penguasa dan hakim yang diberikan wewenang untuk menjalankan hukum-hukum tersebut.

Citizens
Aristotle, dalam Derek, Heater. (2004). A Brief History of Citizenship. New York University Press, Washington Square, New York. Citizens, in the common sense of that term, are all who share in the civic life of ruling and being ruled in turn. In the particular sense of the term, they vary from constitution to constitution; and under and ideal constitution they must be those who are able and willing to rule with a view to attaining a way of life according to goodness . He who enjoys the right of sharing in deliberative and judicial office … attains thereby the status of a citizen of his state. (Aristotle, 1948, 1275b dalam Derek Heater, 2004 p.18).

Komentar

Warga Negara dalam pengertian umum adalah semua orang yang berbagi dalam kehidupan yang mengatur dan diatur. Dalam pengertian khususnya tentag istilah tersebut akan beragam dari satu konstitusi ke konstitusi lainnya; dan dalam konstitusi yang ideal mereka haruslah orang yang mampu dan berkeinginan untuk mengatur dengan suatu pandangan untuk mencapai cara hidup menurut kebaikan. Dia yang mendapatkan hak untuk berbagi dalam jabatan pengadilan dan perundingan … sehingga mendapat status sebagai warga negara dari negara tersebut.

Civic and Citizenship Education
Cogan, J.J. (1999). Developing the Civic Society: The Role of Civic Education. Bandung: CICED. Civic Education “…the foundation course work in school designed to prepare young citizens for an active role in their communities in their adult lives”. Citizenship Education or Education for Citizenship “…both these in school experiencess as well as out of school or non formal/informal learning which takes place in the family, the religious organization, community organizations, the media, etc which help to shape the totality of the citizen”. (Cogan, 1999:4)

Komentar

Civic Education adalah suatu mata pelajaran dasar di sekolah yang dirancang untuk mempersiapkan warganegara muda, agar kelak setelah dewasa dapat berperan aktif dalam masyarakat. Sedangkan Citizenship Education atau Education for Citizenship digunakan sebagai istilah yang memiliki pengertian yang lebih luas yang mencakup pengalaman belajar di sekolah dan luar sekolah seperti rumah, organisasi keagamaan, organisasi kemasyarakatan, media massa dan lain-lain yang berperan membantu proses pembentukan totalitas atau keutuhan sebagai warganegara.

Attributes of Citizenship
Cogan, John J. and Ray Derricott. (1998). Citizenship Education For the 21st Century: Setting the Context. London: Kogan Page The five attributes of citizenship: 1) a sense of identity, 2) the enjoyment of certain rights, 3) the fulfilment of corresponding obligations, 4) a degree of interest and involvement in public affairs, and 5) an acceptance of basic societal values. All five are conveyed through a wide variety of institutions, both governmental and non governmental, including the media, but they are usually seen as a particular responsibility of the school. Citizenship education, in the broadest sense, is an important task in all contemporary societies. (Cogan and Derricot, 1998: 2-3).

Komentar

Secara konseptual, seorang warganegara seyogyanya memiliki lima ciri utama, yaitu: jati diri, kebebasan untuk menikmati hak tertentu, memenuhi kewajibankewajiban terkait, tingkat minat dan keterlibatan dalam urusan publik, tingkat dan pemilikan nilai-nilai dasar kemasyarakatan. Kesemuanya disampaikan melalui bermacam institusi, baik pemerintahan maupun nonpemerintahan, termasuk media, tetapi hal tersebut biasanya dilihat sebagai bagian dari tanggung jawab sekolah. Pendidikan kewarganegaraan, dalam pengertian yang luas, adalah tugas yang penting di dalam semua masyarakat masa ini.

Dimension of Multidimensional Citizenship
Cogan, John J. and Ray Derricott. (1998). Citizenship Education For the 21st Century: Setting the Context. London: Kogan Page The four dimensions embodied in our conceptualization of multidimensional citizenship are personal, social, temporal and spatial. (Cogan and Derricott, 1998:11).

Komentar Dalam pandangan Cogan dan Dericot, kewarganegaraan multidimensional dikonsepsikan atas empat dimensi, yaitu personal, sosial, temporal, dan spatial.

Citizen and Citizenship
Cogan, John J. and Ray Derricott. (1998). Citizenship Education For the 21st Century: Setting the Context. London: Kogan Page A citizen was defined as ‘a constituent member of society’. Citizenship, on the other hand, was said to be ‘a set of characteristics of being a citizen’. And finally, citizenship education, the underlying focal point of the study, was defined as ‘the contribution of education to development of those characteristics of being a citizen’. (Cogan and Derricott, 1998:13) Komentar Warganegara adalah anggota suatu masyarakat. kewarganegaraan adalah seperangkat karakteristik yang terdapat dalam warganegara. Dan pendidikan kewarganegaraan adalah kontribusi pendidikan untuk mengembangkan karakteristik-karakteristik untuk menjadi warganegara.

Multidimensional Citizenship
Patricia Kubow, David Grossman and Akira Ninomiya Multidimensional citizenship: educational policy for the 21st Century. p.115

Multidimensional citizenship, this term is intended to describe the complex, multifaceted conceptualization of citizenship and citizenship education that will be needed if citizens are to cope with the challenges. (1999:115)

Komentar Kewarganegaraan multidimensional, istilah ini untuk menggambarkan kompleksitas, konseptualisasi bersegi banyak dari kewarganegaraan dan pendidikan kewarganegaraan yang diperlukan warganegara untuk keluar dari tantangan.

Karakteristik Warganegara Abad 21
Cogan, John J. and Ray Derricott. (1998). Citizenship Education For the 21st Century: Setting the Context. London: Kogan Page Eight citizens characteristic 1. the ability to look at and approach problems as a member of a global society 2. he ability to work with others in a cooperative way and to take responsibility for one’s roles/duties within society 3. the ability to understand, accept, appreciate and tolerate cultural differences 4. the capacity to think in a critical and systemic way 5. the willingness to resolve conflict and in a non-violent manner 6. the willingness to change one’s lifestyle and consumption habits to protect the environment 7. the ability to be sensitive towards and to defend human rights (eg, rights of women, ethnic minorities, etc), and 8. the willingness and ability to participate in politics at local, national

Komentar Karakteristik warganegara abad ke-21 adalah sebagai berikut: 1. kemampuan mengenal dan mendekati masalah sebagai warga masyarakat global 2. kemampuan bekerjasama dengan orang lain dan memikul tanggung jawab atas peran atau kewajibannya dalam masyarakat 3. kemampuan untuk memahami, menerima, dan menghormati perbedaanperbedaan budaya 4. kemampuan berpikir kritis dan sistematis 5. memiliki kepekaan terhadap dan mempertahankan hak asasi manusia (seperti hak kaum wanita, minoritas etnis, dsb 6. kemampuan mengubah gaya hidup dan pola makanan pokok yang sudah biasa guna melindungi lingkungan 7. kemampuan menyelesaikan konflik dengan cara damai tanpa kekerasan 8. kemauan dan kemampuan berpartisipasi dalam kehidupan politik pada tingkatan pemerintahan lokal, nasional, dan internasional.

Civic Education
Kerr, David. (1999). Citizenship Education: An International Comparison. England: National Foundation for Educational Research-NFER Citizenship or Civics Education is construed broadly to encompass the preparation of young people for their roles and responsibilities as citizens and, in particular, the role of education (through schooling, teaching and learning) in that preparatory process. (Kerr, 1999:2). Komentar Pendidikan kewarganegaraan dirumuskan secara luas mencakup proses penyiapan generasi muda untuk mengambil peran dan tanggung jawabnya sebagai warganegara, dan secara khusus, peran pendidikan termasuk di dalamnya persekolahan, pengajaran, dan belajar dalam proses penyiapan warganegara tersebut.

The Purpose of Citizenship Education
Qualifications and Curriculum Authority. (1998). Education for Citizenship and the Teaching of Democracy in Schools: Final Report of the Advisory Group for Citizenship. (Chair: Bernard Crick). London: QCA. The purpose of citizenship education in schools and colleges is to make secure and to increase the knowledge, skills and values relevant to the nature of participative democracy; also to enhance the awareness of rights and duties, and the sense of responsibilities needed for the development of pupils into active citizens. Komentar Tujuan pendidikan kewarganegaraan di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi adalah untuk memberikan kenyamanan dan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan-keterampilan dan nilai-nilai yang relevan dengan hakikat demokrasi partisipatif; juga untuk meningkatkan kesadaran akan hak dan kewajiban, dan perasaan tanggung jawab yang diperlukan untuk pengembangan para siswa menjadi warganegara aktif.

The Purposes of Education for Citizenship
Osler, A. and Starkey, H. (1996). Teacher Education and Human Rights. London: David Fulton

Education for citizenship is concerned with both the personal development of students and the political and social development of society at local, national and international levels. On a personal level, CE is about integration into society. It is about overcoming structural barriers to equality: challenging racism and sexism in institutions, for instance… on political and social level it is about creating a social order that will help provide security without the need for repression.

Komentar: Pendidikan kewarganegaraan mempunyai kaitan dengan pengembangan pribadi para siswa dan pengembangan kehidupan politik dan sosial masyarakat tingkat lokal, nasional dan internasional. Pada tingkat personal, Pendidikan kewarganegaraan adalah menitikberatkan pada pengintegrasian ke dalam masyarakat. hal tersebut dimaksudkan sebagai upaya untuk menanggulangi penghalang-penghalang struktural ke arah persamaan: menentang rasisme dan sexisme dalam institusi-institusi, sebagai contoh… pada tingkat sosial dan politis adalah sekitar menciptakan suatu tatanan sosial yang dapat membantu menyediakan kenyamanan tanpa penindasan.

A Continuum of Citizenship Education

Kerr, David. (1999). Citizenship Education: An International Comparison. England: National Foundation for Educational Research-NFER Citizenship is conceptualised and contested along a continuum, which range from a minimal to a maximal interpretation (McLaughliin, 1992). Minimal: Thin, Exclusive, Elitist, Civics education, Formal, Content led, Knowledge based, Didactic transmission, Easier to achieve, and measure in practice. Maximal: Thick, Inclusive, Activist, Citizenship education, Participative, Process led, Values based, Interactive interpretation, More difficult to achieve, and measure in practice. (Kerr, 1999:14)

Komentar Pendidikan Kewarganegaraan minimal, didefinisikan secara sempit, hanya mewadahi aspirasi tertentu, berbentuk pengajaran kewarganegaraan, bersifat formal, terikat oleh isi, berorientasi pada pengetahuan, menitikberatkan pada proses pengajaran, hasilnya mudah diukur. Pendidikan Kewarganegaraan maksimal, didefinisikan secara luas, mewadahi berbagai aspirasi dan melibatkan berbagai unsur masyarakat, kombinasi pendekatan formal dan informal, dilabeli citizenship education, menitikberatkan pada partisipasi siswa melalui pencarian isi dan proses interaktif di dalam maupun di luar kelas, hasilnya lebih sukar dicapai dan diukur karena kompleksnya hasil belajar.

Approaches to Citizenship Education
Kerr, David. (1999). Citizenship Education: An International Comparison. England: National Foundation for Educational Research-NFER Citizenship education comprises three approaches: 1. Education ABOUT citizenship focuses on providing students with sufficient knowledge and understanding of national history and the structures and processes of government and political life. 2. Education THROUGH citizenship involves students learning by doing, through active, participative experiences in the school or local community and beyond. This learning reinforces the knowledge component. 3. Education FOR citizenship encompasses the other two strands and involves equipping students with a set of tools (knowledge and understanding, skills and aptitudes, values and dispositions) which enable them to participate actively and sensibly in the roles and responsibilities they encounter in their adult lives. This strand links citizenship education with the whole education experience of students. (Kerr, 1999:15-16).

Komentar Pendidikan Kewarganegaraan dikonseptualisasikan ke dalam tiga pendekatan 1. Pendidikan TENTANG kewarganegaraan memusatkan perhatian untuk mempersiapkan para siswa dengan pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang sejarah nasional dan struktur-struktur dan proses-proses dari pemerintah dan kehidupan politik. 2. Pendidikan MELALUI kewarganegaraan menitikberatkan pada pelibatan siswa untuk belajar dengan melakukan (by doing), melalui pengalaman-pengalaman yang aktif, berpartisipasi di sekolah atau masyarakat lokal dan di luar. Proses belajar seperti itu diyakini memiliki potensi untuk menguatkan komponen pengetahuan. 3. Pendidikan UNTUK kewarganegaraan mencakup kedua pendekatan 1) dan 2) yang menitikberatkan pada proses memperlengkapi siswa dengan seperangkat alat (pengetahuan dan pemahaman, keterampilan dan sikap, nilainilai dan disposisi-disposisi) yang memungkinkan mereka berpartisipasi secara aktif dan pantas di dalam peran-peran dan tanggung-jawab mereka dalam kehidupan dewasa mereka. Pendekatan ini mengaitkan pendidikan kewarganegaraan dengan keseluruhan pengalaman pendidikan para siswa.

Framework for Citizenship Education
Quigley, C.N. Buchanan Jr. J.H. & Bahmueller, C.F. eds. (1991). Civitas: A Framework for Civic Education. Center for Civic Education: Calabasas.
The Center for Citizenship Education of the United States of America proposed the three interrelated components of civic virtues, civic knowledge and civic skills as the aims and/or framework for citizenship education. (Quigley, Buchanan Jr., and Bahmueller, 1991). 1. Civic virtues consists of the traits of character, disposition, and commitments necessary for the preservation and improvement of democratic governance and citizenship. Examples of civic virtues are individual responsibility, self-discipline, integrity, patriotism, toleration of diversity, patience and consistency, and compassion for others. Commitments include, a dedication to human rights, equality, the common good, and a rule of law. 2. Civic knowledge covers fundamental ideas and information that learners must know and use to become effective and responsible citizens of a democracy. Civic knowledge normally includes types and systems of government, politics, political institutions and processes and the role of citizens in relation to the governance. 3. Civic skills include the intellectual skills required to understand, compare, explain and evaluate various principles and practices of government and citizenship. They also include the participatory skills that enable citizens to monitor and influence public policies (Quiqley 2000).

Komentar The Center for Citizenship Education Amerika Serikat mengusulkan tiga komponen yang saling berinterrelasi dari kebaikan kewarganegaraan, pengetahuan kewarganegaraan, dan keterampilan kewarganegaraan sebagai tujuan dan/atau kerangka Pendidikan Kewarganegaraan. 1. Kebaikan kewarganegaraan terdiri dari ciri-ciri dari karakter, disposisi, dan komitmen yang penting bagi pemeliharaan dan perbaikan pemerintahan dan kewarganegaraan demokratis. Contoh-contoh dari kebajikan-kebajikan kewarganegaraan adalah tanggung jawab individu, disiplin diri, integritas, patriotisme, toleransi dalam keragaman, kesabaran dan konsistensi, dan rasa kasihan untuk yang lain. Komitmen-komitmen termasuk, suatu suatu pengabdian terhadap hak azasi manusia, persamaan, kebaikan umum, dan aturan hukum. 2. Pengetahuan kewarganegaraan meliput gagasan dan informasi pokok bahwa para pelajar harus mengetahui dan terbiasa sebagai warganegara yang efektif dan bertanggung jawab dalam suatu demokrasi. Pengetahuan kewarganegaraan secara normal termasuk jenis-jenis dan sistem dari pemerintah, politik, lembaga politik, dan proses dan peran dari para warganegara dalam hubungannya dengan pemerintah. 3. Keterampilan kewarganegaraan termasuk keterampilan intelektual yang diperlukan untuk memahami, membandingkan, menjelaskan dan mengevaluasi berbagai prinsip dan praktekpraktek dari pemerintah dan kewarganegaraan. Termasuk juga keterampilan berpartisipasi yang memungkinkan warganegara untuk memonitor dan mempengaruhi kebijakan-kebijakan publik (Quiqley 2000).

Global Trends in Civic Education
Patrick, J.J. (1997). ‘Global Trends in Civic Education for Democracy’. ERIC Clearing for Social Studies/Social Science Education, http://www.indiana.edu/ssdc/glotrdig.
Patrick (1997) proposed nine global trends that have broad potential for influencing citizenship education in the constitutional democracies of the world. They are: 1. Conceptualising of citizenship education in terms of the three interrelated components of civic knowledge, civic skills and civic virtue. 2. Systematic teaching of core concepts about democratic governance and citizenship. 3. Analysis of case studies by students to apply core concepts or principles. 4. Development of decision-making skills. 5. Comparative and international analysis of government and citizenship. 6. Development of participatory skills and civic virtues through cooperative learning activities. 7. The use of literature to teach civic virtues. 8. Active learning of civic knowledge, skills and virtues. The connection of content and process in teaching and learning of civic knowledge, skills and virtues.

Komentar:
Patrick (1997) mengungkapkan sembilan kecenderungan global yang secara luas biasa berpotensi mempengaruhi pendidikan kewarganegaraan di dalam negara-negara yang menganut faham demokrasi konstitutional. Kecenderungan yang dimaksud adalah: 1. Konseptualisasi pendidikan kewarganegaraan dalam tiga komponen-komponen yang saling berhubungan –pengetahuan kewarganegaraan, keterampilan kewarganegaraan dan kebaikan kewarganegaraan. 2. Pengajaran konsep-konsep inti secara sistematis tentang pemerintah dan kewarganegaraan demokratis. 3. Analisa dari studi kasus oleh para siswa untuk menerapkan prinsip-prinsip atau konsepkonsep inti. 4. Pengembangan keterampilan pengambilan keputusan. 5. Analisis komparatif dan internasional tentang pemerintah dan kewarganegaraan. 6. Pengembangan keterampilan partisipatoris dan kebaikan kewarganegaraan melalui aktivitas belajar kooperatif. 7. Pemakaian literatur untuk mengajarkan kebajikan-kebajikan kewarganegaraan. 8. Mempelajari secara aktif pengetahuan, keterampilan dan kebaikan kewarganegaraan. 9. Menghubungkan antara isi dan proses dalam belajar dan mengajar pengetahuan, keterampilan, dan kebaikan kewarganegaraan.

Teaching of Values
Williams, Mary M. (2000). “Models of Character Education: Perspectives and Developmental Issues.” Journal of Humanistic Counseling, Education and Development 39, 1, 32–40. “… it is next to impossible to separate the teaching of values from schooling itself; it is a part of schooling whether people are willing to acknowledge it or not. The question ... is how the educator can influence students’ character development effectively so that the impact is positive.” (Williams 2000:34). Komentar Hampir tak mungkin untuk memisahkan pengajaran nilai dari pendidikan di sekolah; hal itu merupakan suatu bagian dari pendidikan di sekolah apakah orangorang memiliki kemauan untuk mengakuinya atau tidak. Pertanyaannya ialah bagaimana pendidik dapat mempengaruhi pengembangan karakter siswa secara efektif sehingga berdampak positif.

Conceptions of Character
Lickona, Thomas. (1991). Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. New York, NY: Bantam Books “Good character consists of knowing the good, desiring the good, and doing the good …” (Lickona, 1991:51) Much of the debate about whether and how to teach for character is tied into a debate about what “character” means. Character can refer to: • personality traits or virtues such as responsibility and respect for others • emotions such as guilt or sympathy • social skills such as conflict management or effective communication • behaviours such as sharing or helping, or • cognitions such as belief in equality or problem-solving strategies. Thomas Lickona, describes character as “a reliable inner disposition to respond to situations in a morally good way. Character so conceived has three interrelated parts: moral knowing, moral feeling, and moral behaviour” (Lickona, 1991:51).

Komentar Menurut Lickona, karakter baik terdiri dari mengetahui yang baik, menginginkan yang baik, dan melakukan yang baik. Sebagian besar perdebatan sekitar apa dan bagaimana mengajar karakter terikat pada suatu debat tentang apa makna "karakter". Karakter dapat mengacu pada: 1. ciri kepribadian atau kebaikan seperti tanggung jawab dan rasa hormat untuk yang lain 2. emosi seperti rasa bersalah atau simpati 3. keterampilan-keterampilan sosial seperti pengendalian konflik atau komunikasi efektif 4. perilaku-perilaku seperti sharing atau membantu, atau 5. pengamatan-pengamatan seperti kepercayaan di dalam persamaan atau strategi memecahkan masalah. Thomas Lickona, menguraikan karakter sebagai "suatu bagian dari disposisi yang dapat merespon terhadap situasi-situasi yang secara moral baik. Karakter mengandung tiga bagian yang saling berhubungan: pengetahuan moral, perasaan moral, dan perilaku moral" (Lickona, 1991:51).

Citizen Participation
D’Agostino, Maria J. (2006). Social Capital: Lessons from a Service-Learning Program. Center For Civic Engagement. Park University International Citizen Participation is fundamental to democratic governance. The problem has been addressed in the citizen participation literature in a myriad of ways, including the use of technology to involve citizens in the decision making process. (D’Agostino, 2006:2). Komentar Partisipasi warganegara adalah hal fundamental dalam tata pemerintahan yang demokratis. Masalah sudah ditujukan di dalam partisipasi warganegara dalam banyak cara, termasuk di dalamnya pemakaian teknologi untuk melibatkan warganegara dalam proses pengambilan keputusan.

Global Citizen
Louise Douglas. (2002). “Global Citizenship”. Citizenship Update Institute for Citizenship. Available at: www.citizen.org.uk/education/resources/html
At Oxfam education we feel that our curriculum for global citizenship is an extremely useful planning tool for teachers wanting to help young people make sense of the world and to develop not only knowledge and understanding but also to skills and attitudes to do so. We see a global citizen as someone who: 1. is aware of the wider world and has a sense of their own roles as a world citizen 2. respects and values diversity 3. has an understanding of how the world works economically, politically, socially, culturally, technologically and environmentally 4. is outraged by social injustice 5. participates in and contributes to the community at a large of levels from the local to the global 6. is willing to act to make the world a more equitable and sustainable place 7. takes responsibility for their actions

Komentar: Pada pendidikan Oxfam, kita merasakan bahwa kurikulum untuk kewarganegaraan global telah direncanakan secara ektrem sebagai alat bagi para guru untuk membantu para pelajar memahami dunia dan untuk mengembangkan tidak hanya pengetahuan dan pemahaman tetapi juga keterampilan dan sikap. Kita memandang warganegara global sebagai orang yang: 1. menyadari dunia secara luas dan mempunyai suatu perasaan dari peran-peran mereka sendiri sebagai warga dunia 2. pengakuan terhadap nilai-nilai keberagaman 3. mempunyai satu pemahaman bagaimana dunia bekerja secara ekonomis, politis, sosial, kultural, teknologi dan lingkungan 4. menolak ketidakadilan sosial 5. berpartisipasi dan berperan dalam masyarakat secara luas mulai tingkat lokal sampai global 6. memiliki kemauan untuk bertindak dan membuat dunia sebagai suatu tempat yang patut bertanggungjawab terhadap tindakan-tindakan mereka.

Effective Education for Citizenship
Advisory Group on Education and Citizenship and the Teaching of Democracy in Schools. (1998). Education for Citizenship and the Teaching of Democracy in Schools. (Crick Report). London: QCA.
The Citizenship Advisory Group defined ‘effective education for citizenship’ as comprising three separate but interrelated strands. These are to be developed progressively through a young person’s education and training experiences, from pre-school to adulthood (DfEE, 1998:11–13) namely: 1. social and moral responsibility: ‘...children learning from the very beginning self confidence and socially and morally responsible behaviour both in and beyond the classroom, both towards those in authority and towards each other’. This strand acts as an essential pre-condition for the other two strands; 2. community involvement: ‘...learning about and becoming helpfully involved in the life and concerns of their communities, including learning through community involvement and service to the community’. This, of course, like the other two strands, is by no means limited to children’s time in school; 3. political literacy: ‘...pupils learning about, and how to make themselves effective in, public life through knowledge, skills and values’. Here the term ‘public life’ is used in its broadest sense to encompass realistic knowledge of, and preparation for, conflict resolution and decision making, whether involving issues at local, national, European or global level.

Komentar
Citizenship Advisory Group menggambarkan 'pendidikan kewarganegaraan efektif’ berisian tiga hal yang terpisah namun saling berhubungan. Ini adalah untuk dikembangkan melalui suatu pendidikan dan pelatihan orang muda, mulai pra-sekolah sampai kedewasaan, yakni: 1. tanggung jawab sosial dan moral: '...anak-anak belajar mulai dari kepercayaan diri, tanggung jawab sosial dan moral baik dalam maupun di luar kelas, kedua-duanya ditujukan ke arah pengembangan otoritas dan yang lainnya. Tahapan ini bertindak sebagai satu prasyarat penting untuk dua tahapan yang lainnya; 2. keterlibatan masyarakat: '...belajar tentang dan menjadi dengan bermanfaat melibatkan diri di dalam kehidupan dan consern dengan masyarakat-masyarakat mereka, termasuk belajar keterlibatan dalam masyarakat dan layanan kepada masyarakat'. Hal ini, tentu saja, seperti dua hal yang lain, sama sekali tidak dibatasi pada waktu anak-anak di sekolah; 3. melek politik: '... para murid belajar tentang, dan bagaimana membuat diri mereka efektif di dalam, pengetahuan hidup publik, keterampilan-keterampilan dan nilai-nilai'. Di sini istilah 'hidup publik' digunakan dalam pengertian yang paling luas yang meliputi pengetahuan realistis, dan persiapan untuk, resolusi konflik dan pengambilan keputusan, dengan menyertakan isu-isu lokal, nasional, orang Eropa atau tingkatan global.

Character Education
Branson, Margaret Stimmann. (1998). The Role of Civic Education A Forthcoming Education Policy Task Force Position Paper From The Communitarian Network
Learning activities such as the following tend to promote character traits needed to participate effectively. For example:  Civility, courage, self-discipline, persistence, concern for the common good, respect for others, and other traits relevant to citizenship can be promoted through cooperative learning activities and in class meetings, student councils, simulated public hearings, mock trials, mock elections, and students courts.  Self-discipline, respect for others, civility, punctuality, personal responsibility, and other character traits can be fostered in school and community service learning projects, such as tutoring younger students, caring for the school environment, and participating in voter registration drives.  Recognition of shared values and a sense of community can be encouraged through celebration of national and state holidays, and celebration of the achievements of classmates and local citizens.  Attentiveness to public affairs can be encouraged by regular discussions of significant current events.  Reflection on ethical considerations can occur when studnts are asked to evaluate, take, and defend positions on issues that involve ethical considerations, that is, issues concerning good and bad, rights and wrong.  Civic mindedness can be increased if schools work with civic organizations, bring community leaders into the classroom to discuss issues with students, and provide opportunities for students to observe and/or participate in civic organizations. (Branson, 1998:15).

Komentar
Aktivitas belajar yang dapat meningkatkan ciri-ciri karakter, dalam hal ini termasuk di dalamnya nation and character building, antara lain adalah: 1. Sopan santun, keperwiraan, disiplin pribadi, ketekunan, kepedulian terhadap kepentingan umum, menghormati orang lain, dan sifat-sifat lain yang berhubungan dengan kewarganegaraan dapat dikembangkan melalui kegiatan belajar yang kooperatif dan di dalam pertemuan-pertemuan kelas, dewan pelajar, simulasi dengan pendengar publik, simulasi pemilu, simulasi sidang pengadilan, dan mahkamah pelajar. 2. Disiplin pribadi, menghormati orang lain, sopan santu, tepat waktu, tanggung jawab pribadi, dan karakterkarakter lainnya dapat dipupuk di sekolah dan proyek-proyek belajar pelayanan masyarakat, seperti membantu mengajari siswa yang lebih muda, merawat lingkungan sekolah, dan partisipasi di dalam kepanitiaan pemilu. 3. Pengenalan terhadap nilai-nilai bersama serta kepedulian terhadap masyarakat sekitar dapat didorong melalui perayaan hari-hari libur nasional dan negara bagian, serta perayaan atas prestasi yang telah dicapai oleh teman sekelas ata warga setempat di sekitarnya. 4. Kepedulian terhadap urusan-urusan publik dapat didorong melalui diskusi-diskusi teratur mengenai pentingnya kejadian-kejadian aktual yang sedang berlangsung. 5. Perenungan mengenai masalah-masalah etis dapat terjadi manakala siswa diminta untuk mengevaluasi, mengambil atau mempertahankan suatu pendapat tentang hal-hal yang melibatkan pertimbanga-pertimbangan etis, yakni isu-isu mengenai baik buruk, benar salah. 6. Kepekaan kewarganegaraan dapat ditingkatkan jika sekolah-sekolah bekerjasama dengan organisasiorganisasi kemasyarakatan, mengundang para pemuka masyarakat masuk ke kelas untuk mendiskusikan isu-isu yang sedang berkembang dengan para siswa, serta menyediakan peluang bagi siswa untuk mengamati langsung dan/atau berpartisipasi di dalam organisasi-organisasi kemasyarakatan.

Character Education
Branson, Margaret Stimmann. (1998). The Role of Civic Education: A Forthcoming Education Policy Task Force Position Paper From The Communitarian Network Character is ultimately who we are expressed in action, in how we live, in what we do – and so the children around us know, they absorb and take stock of what they observe, namely us-we adults living and doing things in a certain spirit, getting on with one another in our various ways. Coles (dalam Branson, 1998:14) Komentar Pada dasarnya, karakter adalah kepada siapa kita mengekspresikan perbuatan kita, bagaimana kita hidup, apa yang kita kerjakan – dan demikianlah anak-anak di sekitar kita mengetahuinya, merekapun kemudian menyerap dan menyimpan hasil pengamatan mereka, yaitu kita para orang dewasa ini hidup dan melakukan sesuatu dengan spirit tertentu, bergaul satu sama lain dengan berbagai cara.

Civic Virtues
L. Bray, Bernard and Larry W. Chappel. (2005). “Civic Theater for Civic Education”. In Journal of Political Science Education. Volume 1, Number 1, 2005 (p.83-108). Civic virtues are the qualities of character and personal skills necessary to make the exercise of citizenship meaningful. Civic virtues give us the capacity to exercise our rights, promote our interests and meet our duties. (L. Bray, Bernard and Larry W. Chappel, 2005:86). Komentar Kebajikan-kebajikan kewarganegaraan adalah kualitas dari karakter dan keterampilan-keterampilan pribadi yang diperlukan untuk kebermaknaan latihan kewarganegaraan. Kebajikan-kebajikan kewarganegaraan memberikan kepada kita kapasitas untuk berlatih hak-hak kita, mempromosikan minat kita dan kewajibankewajiban kita.

Human Rights Education
Davies, Lynn. (2000). Citizenship Education and Human Rights Education: Key Concepts and Debates. England: The British Council. Human rights education shall be defined as training dissemination and information efforts aimed at the building of a universal culture of human rights through the imparting of knowledge and skills and the moulding of attitudes. (UN Decade for Human Rights Education Plan of Action). (Davies, 2000:6). Komentar Pendidikan hak azasi manusia seyogyanya didefinsikan sebagai pelatihan dan usahausaha informasi yang ditujukan untuk pembangunan suatu kultur universal dari hak azasi manusia melalui pengetahuan dan keterampilan serta penuangan sikap-sikap.

Civic Education in a Democracy
Branson, Margaret Stimmann. (1998). The Role of Civic Education A Forthcoming Education Policy Task Force Position Paper From The Communitarian Network Civic education in a democracy is education in self government. Democratic self government means that citizens are actively involved in their own governance; they do not just passively accept the dictums of others or acquiesce the demands of others. (Branson, 1998:3). Komentar Pendidikan kewarganegaraan dalam demokrasi adalah pendidikan untuk mengembangkan dan memperkuat dalam atau tentang pemerintahan otonom (self government). Pemerintahan otonom demokratis berarti bahwa warganegara aktif terlibat dalam pemerintahan sendiri; mereka tidak hanya menerima didikte orang lain atau memenuhi tuntutan orang lain.

Multicultural Education
Banks, J. A., & McGee Banks, C. A. (Eds.). (1997). Multicultural education: Issues and Perspectives (3rd ed). Boston: Allyn and Bacon. Multiculturalism can be defined as, “A philosophical position and movement that deems that the gender, ethnic, racial, and cultural diversity of a pluralistic society should be reflected in all of the institutionalized structures of educational institutions, including the staff, the norms, and values, the curriculum, and the student body” (Banks & Banks, 1997: 435). Komentar Multikulturalisme dapat digambarkan sebagai, "Suatu posisi dan gerakan yang filosofis yang menganggap bahwa gender, kesukuan, rasial, dan keanekaragaman budaya dari suatu masyarakat plural harus dicerminkan di dalam semua lembaga pendidikan, termasuk staf, norma-norma, nilai-nilai, kurikulum, dan siswa".

Global Citizenship
Banks, James A. (2004). Teaching for Multicultural Literacy, Global Citizenship, and Social Justice. (Parts of this paper are adapted from: James A. Banks, “Introduction: Democratic Citizenship Education in Multicultural Societies.” In James A. Banks (Editor). Diversity and Citizenship Education: Global Perspectives (pp. 3-15). San Francisco: Jossey-Bass, 2004; and from James A. Banks, “Teaching Literacy for Social Justice and Global Citizenship,” Language Arts, 81 (1), September 2003, pp. 18-19) Citizenship education should help students develop thoughtful and clarified identifications with their cultural communities and their nation-states. It should also help them to develop clarified global identifications and deep understandings of their roles in the world community. Students need to understand how life in their cultural communities and nations influences other nations and the cogent influence that international events have on their daily lives.

Komentar

Pendidikan Kewarganegaraan perlu membantu para siswa mengembangkan pengetahuan dan identifikasi yang jelas tentang masyarakat, budaya dan negara bangsa mereka. Hal tersebut diperlukan untuk menolong mereka dalam mengembangkan identifikasi global dan pemahamanmendalam tentang peran mereka dalam masyarakat dunia. Para siswa perlu memahami bagaimana hidup di dalam masyarakat budaya mereka dan pengaruh satu negara terhadap negara lain serta keyakinan bahwa kejadian internasional itu berakibat pada hidup mereka sehari-hari.

Civic Education
Branson, Margaret S. (1998). The Role of Civic Education: A Forthcoming Education Policy Task Force Position Paper from the Communitarian Network. Washington, DC: Center for Civic Education Civic Education is an important component of education that cultivates citizens to participate in the public life of a democracy, to use their rights and to discharge their responsibilities with the necessary knowledge and skills. American schools have advanced a distinctively civic mission since the earliest days of this Republic. It was immediately recognized that a free society must ultimately depend on its citizens, and that the way to infuse the people with the necessary qualities is through education. As one step of this education process, higher education has been assuming the mission to foster citizens with the spirit to lead. The literature on this contribution, and civic education in general, is characterized by its broad time range, its composition of diverse voices from all kinds of participating social units (from individual to government), and the existence of rich international and comparative studies. (Branson, 1998).

Komentar

Pendidikan Kewarganegaraan adalah satu komponen pendidikan yang penting yang mengajarkan warganegara untuk mengambil bagian dalam kehidupan demokrasi publik, untuk menggunakan hak-hak mereka dan untuk membebaskan tanggung-jawab mereka dengan pengetahuan dan keterampilan-keterampilan. Sekolah-sekolah Amerika sejak awal Republik ini telah mengedepan suatu misi kewarganegaraan dengan jelas. Suatu masyarakat yang bebas bergantung pada para warganegaranya, dan cara untuk menghasilkan penduduk yang berkualitas adalah pendidikan. Sebagai bagian dari tahap proses pendidikan, pendidikan tinggi mempunyai misi untuk membantu perkembangan para warganegara dengan semangat untuk memimpin. Literatur yang berkontribusi, dan Pendidikan Kewarganegaraan secara umum, ditandai oleh cakupan waktu yang luas, terdiri atas komposisi suara yang berbeda dari partisipasi bermacam-macam unit sosial (dari individu ke pemerintah), dan keberadaan sumber dan studi internasional.

Citizenship
Gould, J. & Kolb, W.L. eds. (1964). A Dictionary of the Social Sciences. New York: The Free Press Gould and Kolb (1964:88) defined citizenship as a ‘relationship existing between a natural person and political society, known as a state, by which the former owes allegiances and the latter protection.’

Komentar Gould dan Kolb menggambarkan kewarganegaraan sebagai suatu ‘hubungan yang ada antara orang dan masyarakat politik secara alami, yang dikenal sebagai suatu negara, dimana pembentuk berhutang kepada kesetiaan-kesetiaan dan perlindungan.'

Citizenship Education
Cogan, J.J. (1998). ‘Citizenship Education for the 21st Century: Setting the Context’, in J.J. Cogan and R. Derricott, eds. Citizenship for the 21st Century: An International Perspective on Education, Kogan Page, London, pp. 1–20. Citizenship education has been described as ‘the contribution of education to the development of those characteristics of being a citizen’ (Cogan 1998:13), and the ‘process of teaching society’s rules, institutions, and organizations, and the role of citizens in the well-functioning of society’ (Villegas-Reimer 1997:235). Komentar Pendidikan kewarganegaraan digambarkan sebagai ‘kontribusi pendidikan untuk pengembangan karakteristik-karakteristik warganegara' (Cogan 1998:13), dan 'proses tentang aturan pengajaran masyarakat, institusi, dan organisasi-organisasi,
dan peran warganegara dalam masyarakat yang berfungsi secara baik'.

Dimentions of Multidimensional Citizenship
Kubow, P. Grossman, D. & Ninomiya, A. (1998). ‘Multidimensional Citizenship: Educational Policy for the 21st Century’, in J.J. Cogan & R. Derricott, eds. Citizenship for the 21st Century: An International Perspective on Education, Kogan Page, London, pp. 115-134. Kubow, Grossman and Ninomiya (1998) argued that only a citizenship education that encompasses four interrelated dimensions, namely personal, spatial, social and temporal, will equip students to meet the challenges of the twenty-first century. Komentar Kubow, Grossman dan Ninomiya berpendapat bahwa hanya Pendidikan Kewarganegaraan yang meliputi empat dimensi yang saling berhubungan, yakni personal, spatial, sosial dan temporal, akan mempersiapkan siswa dalam menghadapi tantangan abad ke-21.

The Aims and/or Framework for Citizenship Education
Quigley, Charles N, Buchanan Jr., and Bahmueller. (1991). Civitas: A Framework for Civic Education. Calabasas: Center for Civic Education The Center for Citizenship Education of the United States of America proposed the three interrelated components of civic virtues, civic knowledge and civic skills as the aims and/or framework for citizenship education.(Quigley, Buchanan Jr., and Bahmueller, 1991). Komentar CCE mengusulkan tiga komponen yang saling berinterrelasi – kebajikan, pengetahuan, dan keterampilan kewarganegaraan sebagai tujuan dan/atau kerangka Pendidikan Kewarganegaraan.

Citizenship
Fachruddin. (2005). Educating for Democracy: Ideas and Practices of Islamic Civil Society Association in Indonesia. Dissertation at University of Pittsburgh: Not published. Citizenship refers to an identity or an attribute that encourages individuals to think of themselves as being part of a society or a state. Citizenship is also a fundamental identity that helps situate individuals in society (sense of citizenship) (Hindess, 2003; Lister, Smith & Middleton, 2003). Citizenship is also a status (full membership of a state) conferred by nation states, which carries rights (the horizontal aspect) and responsibilities or consequences (the vertical aspect) (Osler & Starkey, 2002; Zilbershats, 2002: 3). Fachrudin (2005:31)

Komentar

Dengan mengutip beberapa pendapat, Fachrudin mengemukakan bahwa kewarganegaraan mengacu pada satu identitas atau atribut yang mendorong individu untuk berpikir tentang diri mereka sebagai bagian dari suatu masyarakat atau suatu negara. Kewarganegaraan adalah juga suatu identitas fundamental yang membantu individu di dalam masyarakat (perasaan kewarganegaraan). Kewarganegaraan adalah juga suatu status (keanggotaan penuh dari suatu negara) yang dirundingkan oleh negara bangsa, yang membawa hak-hak (aspek horisontal) dan tanggung jawab atau konsekuensi-konsekuensi (aspek vertikal).

Education for Democratic Citizenship
Naval, Concepcion; Print, Murray & Veldhuis, Ruud. (2002). ”Education for Democratic Citizenship in the New Europe: Context and Reform.” European Journal of Education. Vol. 37. No. 2. Education for democratic citizenship aims at developing people’s capabilities of thoughtful and responsible participation as democratic citizens in a political, economic, social, and cultural life (Naval, Print & Veldhuis, 2002: 114). Komentar Pendidikan untuk kewarganegaraan demokratis mengarah kepada pengembangan kemampuan berpartisipasi dan tanggung jawab sebagai warganegara demokratis, dalam kehidupan politik, ekonomi, sosial, dan budaya.

Education for Democratic Citizenship
Fachruddin. (2005). Educating for Democracy: Ideas and Practices of Islamic Civil Society Association in Indonesia. Dissertation at University of Pittsburgh The notions of education for democracy may be classified into the following: a. Developing people’s capabilities of thoughtful and responsible participation as democratic citizens in various spheres of life. b. Providing a set of core values of democracy or democratic attitudes such as respect for reasonable differences, different viewpoints, and human dignity, respect for minority rights, a caring attitude toward others, justice, equality, participation, freedom as requirements of citizens in order to create a democratic society. c. Teaching how to use the concept of democracy in terms of a form of government especially, a democratic government. d. Making citizens ‘political’: citizens believe in, commit to, uphold, and carry out fundamental democratic principles and become effective citizens or politically literate. Fachrudin (2005:40)

Komentar Dalam melukiskan pendidikan untuk kewarganegaraan demokratis, para penulis memberikan penekanan terhadap poin-poin yang berbeda. Pendidikan untuk demokrasi dapat digolongkan sebagai berikut: a. Mengembangkan kemampuan orang-orang tentang pengertian dan partisipasi yang bertanggung jawab sebagai warganegara demokratis dalam berbagai lapisanan kehidupan. b. Menyediakan satu set nilai-nilai inti demokrasi atau sikap-sikap demokratis seperti penghargaan terhadap latar belakang yang berbeda, sudut pandang yang berbeda, dan martabat manusia, penghargaan terhadap hak-hak minoritas, kepedulian terhadap yang lain, keadilan, persamaan, partisipasi, kebebasan sebagai prasyarat warganegara untuk menciptakan masyarakat demokratis. c. Pengajaran bagaimana cara menggunakan konsep demokrasi dalam kaitannya dengan bentuk pemerintahan, terutama pemerintahan yang demokratis. d. Membuat warganegara 'politis': para warganegara yang percaya akan, berkomitmen terhadap, menegakkan, dan membangun prinsip demokrasi fundamental warganegara yang efektif atau warganegara yang melek secara politik.

Democracy and Citizenship
Dobozy B, Eva. (2004). Education in and for Democracy and Human Rights: Moving from Utopian Ideals to Grounded Practice. Dissertation at Murdoch University. The concept of democracy and citizenship are complex and can, therefore, not be encompassed within simple definitions. There are multiple version of democratic citizenship and even these are changing over time, in correspondence with social, economic, and political developments on global and local levels. Thus the concept of democratic citizenship can be depicted as being constantly ‘under construction’ (Veldhuis, 1997). (Fachrudin, 2004:89).

Democracy and Citizenship
Dobozy B, Eva. (2004). Education in and for Democracy and Human Rights: Moving from Utopian Ideals to Grounded Practice. Dissertation at Murdoch University. The concept of democracy and citizenship are complex and can, therefore, not be encompassed within simple definitions. There are multiple version of democratic citizenship and even these are changing over time, in correspondence with social, economic, and political developments on global and local levels. Thus the concept of democratic citizenship can be depicted as being constantly ‘under construction’ (Veldhuis, 1997). (Fachrudin, 2004:89).

Education in and for Democracy and Human Rights
Dobozy B, Eva. (2004). Education in and for Democracy and Human Rights: Moving from Utopian Ideals to Grounded Practice. Dissertation at Murdoch University. The UN resolution declaring the decade for human rights education, 1995-2004 state Human rights education should involve more than provision of information and should constitute a comprehensive life-long process by which people at all levels of development and in all strata of society learn respect for the dignity of others and the means and methods of ensuring that respect in all societies. (United Nations, 1994, General Assembly Resolution 49/184).

Komentar

Resolusi PBB menyepakati bahwa pendidikan hak azasi manusia perlu melibatkan lebih dari sekedar informasi tetapi perlu melembagakan proses yang menyeluruh dimana orang-orang pada semua tingkat pengembangan dan dalam semua strata masyarakat belajar menghargai martabat orang lain dan penghargaan dalam semua masyarakat.

Human Rights Education
Dobozy B, Eva. (2004). Education in and for Democracy and Human Rights: Moving from Utopian Ideals to Grounded Practice. Dissertation at Murdoch University. Dennis Banks. (2000). Notes that simply put, human rights education is all learning that develops the knowledge, skills and values of human rights Komentar Dennis Banks mengemukakan bahwa pendidikan hak azasi manusia adalah semua pembelajaran yang mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan nilainilai dari hak azasi manusia.

Human Rights Education
Dobozy B, Eva. (2004). Education in and for Democracy and Human Rights: Moving from Utopian Ideals to Grounded Practice. Dissertation at Murdoch University

Kofi Annan, secretary general of the united nations, in this message for human rights day 2000 asks: Why is human rights education so important? Because, as it says in the constitution of the united nations educational, scientific, and cultural organisation (UNESCO), ‘since wars begin in the minds of men (sic), it is in the minds of men that the defence of peace must be constructed’. The more people know their rights, and the more they respect those of others, the better the chance that they will live together in peace. Only when people are educated about human rights can we hope prevent human rights violations, and thus prevent conflict, as well (2000).

Komentar

Mengapa pendidikan hak azasi manusia demikian penting? Sejak peperanganpeperangan dimulai dalam pikiran orang (maka), ada pikiran dari orang tentang pertahanan dan perdamaian yang harus dibangun. Semakin banyak orang-orang mengetahui hak-hak mereka, dan semakin banyak mereka menghormati hak yang lain, semakin baik kesempatan bahwa mereka akan hidup bersama-sama secara damai. Hanya ketika orang-orang dididik tentang hak azasi manusia kita dapat berharap mencegah pelanggaran-pelanggaran hak azasi manusia, dan seperti itu juga mencegah konflik.

Human Rights Education
Dobozy B, Eva. (2004). Education in and for Democracy and Human Rights: Moving from Utopian Ideals to Grounded Practice. Dissertation at Murdoch University. Those promoting Human Rights Education must focus on changing the language so that people begin to use the word ‘human rights’ in their everyday lives. In this way, the language of human rights will be incorporated into our culture and thoughts. … Only then will we be able to change what is principally ‘a legal and constitutional law culture’ to a system of laws and a constitution based on human rights. Only then will people …see the need for Human Rights Education. (O’Brien (2000), in Dobozy B, Eva. (2004:119).

Human Rights Education
Dobozy B, Eva. (2004). Education in and for Democracy and Human Rights: Moving from Utopian Ideals to Grounded Practice. Dissertation at Murdoch University. Those promoting Human Rights Education must focus on changing the language so that people begin to use the word ‘human rights’ in their everyday lives. In this way, the language of human rights will be incorporated into our culture and thoughts. … Only then will we be able to change what is principally ‘a legal and constitutional law culture’ to a system of laws and a constitution based on human rights. Only then will people …see the need for Human Rights Education. (O’Brien (2000), in Dobozy B, Eva. (2004:119).

Human Rights in Civic Education
Patrick, John J. (2006). Human Rights in Civic Education. Presented to the Conference on Democracy Promotion and International Cooperation, Sponsored by the Center for Civic Education and the Bundeszentrale fur Politische Bildung in Denver, Colorado, September 25-29, 2006
They are among the qualities needed to teach well about human rights in civic education. First, teach the idea of human rights within a framework of core concepts by which representative democracy is defined and understood internationally. Second, confront the complexity and controversy associated with defining, using, and justifying the idea of human rights in a constitutional and representative democracy. Third, examine the inevitable and ongoing conflict in every genuine constitutional and representative democracy between majority rule and minority rights. Fourth, teach comparatively and internationally about human rights in a constitutional and representative democracy. Fifth, teach the civic dispositions and virtues that enable citizens to secure equal protection for the human rights of everyone in their community through the institutions of constitutional and representative democracy. (Patric, John J, 2006:12).

Komentar Terdapat kualitas yang diperlukan untuk mengajar hak azasi manusia dalam Pendidikan Kewarganegaraan dengan baik. 1. Mengajarkan gagasan tentang hak azasi manusia dalam suatu kerangka konsep inti dimana demokrasi perwakilan digambarkan dan dipahami secara internasional. 2. Menghadapkan kompleksitas dan kontroversi dengan penjelasan, penggunaan, dan pembenaran gagasan hak azasi manusia dalam demokrasi konstitutional dan perwakilan. 3. Menguji konflik berkelanjutan dan tak bisa terelakkan dalam setiap demokrasi konstitutional dan perwakilan antara aturan mayoritas dan hak-hak minoritas. 4. Mengajarkan secara komparatif dan internasional tentang hak azasi manusia dalam demokrasi konstitutional perwakilan. 5. Mengajarkan disposisi dan kebajikan kewarganegaraan tentang perlindungan yang sama terhadap hak asasi manusia dari setiap orang di dalam masyarakat melalui institusi dari demokrasi konstitusional dan perwakilan.

Civic Education
Quigley, Charles N and Charles F. Bahmueller. (1991). Civitas: A Framework for Civic Education. Calabasas: Center for Civic Education. Civic education in a democratic is education in self-government. Self-government means active participation in self-governance, not passive acquiescence in the actions of others. (Quigley and Bahmueller, 1991:3).

Komentar Pendidikan Kewarganegaraan adalah pendidikan dalam pemerintahan otonom, Pemerintahan otonom (sendiri) berarti keikutsertaan aktif di dalam pemerintahan sendiri, bukan persetujuan pasif dalam tindakan-tindakan orang lain.

The Reason and Aim Civic Education
Quigley, Charles N and Charles F. Bahmueller. (1991). Civitas: A Framework for Civic Education. Calabasas: Center for Civic Education. The first and primary reason for civic education in a constitutional democracy is that the health of the body politic requires the widest possible civic participation of its citizens consistent with the public good and the protection of individual rights. The aim of civic education is therefore not just any kind of participation by any kind of citizen; it is the participation of informed and responsible citizens, skilled in the arts of deliberation and effective action. (Quigley and Bahmueller, 1991:3). .

Komentar

Alasan pertama dan utama untuk Pendidikan Kewarganegaraan dalam demokrasi konstitutional adalah bahwa negara hukum yang sehat memerlukan partisipasi warganegara yang luas, yang konsisten dengan warganegara yang baik dan perlindungan hak-hak individu. Tujuan dari Pendidikan Kewarganegaraan tidak hanya segala hal partisipasi warganegara; tetapi keikutsertaan para warganegara secara bertanggung jawab, terampil dalam kesabaran dan tindakan efektif.

Civic Education
Quigley, Charles N and Charles F. Bahmueller. (1991). Civitas: A Framework for Civic Education. Calabasas: Center for Civic Education. No one’s civic potential can be fulfilled without forming and maintaining an intention to pursue the common good; to protect individuals from unconstitutional abuses by government and from attacks on their rights from any source, public or private; to seek the broad knowledge and wisdom that informs judgment of public affairs; and to develop the skill to use that knowledge effectively. Such values, perspectives, knowledge, and skill in civic matters make responsible and effective participation possible. Fostering these qualities constitutes the mission of civic education. (Quigley and Bahmueller, 1991:3)

Komentar

Tak satupun potensi kewarganegaraan dapat dipenuhi tanpa pembentukan dan pemeliharaan terhadap niat untuk mengejar kebaikan umum; perlindungan individu dari pelecehan-pelecehan oleh pemerintah dan dari serangan atas hak-hak mereka dari setiap sumber, publik atau pribadi; untuk mencari pengetahuan dan kebijaksanaan yang luas yang menginformasikan penilaian publik affairs; dan untuk mengembangkan keterampilan dalam menggunakan pengetahuan itu secara efektif. Nilai-nilai seperti itu, perspektif, pengetahuan, dan keterampilan dalam hal kewarganegaraan membuat kemungkinan partisipasi yang bertanggungjawab dan efektif. Mengembangkan kualitas ini merupakan misi Pendidikan Kewarganegaraan.

Civic Education
Quigley, Charles N and Charles F. Bahmueller. (1991). Civitas: A Framework for Civic Education. Calabasas: Center for Civic Education. Virtue is the principle of republican government…Virtue in a republic is love of one’s country, that is, love of equality. It is not a moral virtue, not a Christian, but a public virtue. (Montesquieu, 1948, in Quigley and Bahmueller, 1991:11). Komentar Kebajikan adalah prinsip dari pemerintahan republik…kebajikan dalam republik adalah cinta dari negerinya, cinta persamaan. Kebajikan bukanlah suatu kebajikan moral, bukan kebajikan Kristiani, tetapi kabajikan publik.

Civic Education
Quigley, Charles N and Charles F. Bahmueller. (1991). Civitas: A Framework for Civic Education. Calabasas: Center for Civic Education. In the CIVITAS curriculum framework, civic virtue is described in terms of civic dispositions and civic commitment. 3. Civic dispositions refer to those attitudes and habits of mind of the citizen that are conducive to the healthy functioning and common good of the democratic system. 4. Civic commitments refer to the freely given, reasoned commitments of the citizen to the fundamental values and principles of American constitutional democracy. (Quigley and Bahmueller, 1991:11).

Komentar

Di dalam kerangka kurikulum CIVITAS, kebajikan kewarganegaraan digambarkan dalam istilah disposisi dan komitmen kewarganegaraan. 1. Disposisi kewarganegaraan mengacu kepada sikap dan kebiasaankebiasaan pikiran dari warganegara yang berfungsi bagi sistem demokrasi yang sehat dan kebaikan umum dari. 2. Komitmen kewarganegaraan mengacu kepada kebebasan yang diberikan, komitmen yang rasional dari warganegara terhadap nilai fundamental dan prinsip-prinsip demokrasi konstitutional Amerika.

Caharacteristics of Competent and Responsible Participation
Quigley, Charles N and Charles F. Bahmueller. (1991). Civitas: A Framework for Civic Education. Calabasas: Center for Civic Education.

Civic education’s unique responsibility is not simply to increase participation rates, but to nurture competent and responsible participation. Such participation involves more than merely influencing or attempting to influence public policy. Competent and responsible participation must based upon moral deliberation, knowledge, and reflective inquiry. (Quigley and Bahmueller, 1991:40)

Komentar

Tanggung jawab khas Pendidikan Kewarganegaraan bukan sekedar untuk meningkatkan rata-rata partisipasi, tetapi untuk memelihara partisipasi yang bertanggungjawab dan kompeten. Partisipasi seperti melibatkan lebih dari sekedar untuk mempengaruhi atau mencoba untuk mempengaruhi kebijakan publik. Partisipasi yang bertanggung jawab dan kompeten harus berdasar pada kesabaran moral, pengetahuan, dan reflektif inkuiri.

Civic Virtue
L. Bray, Bernard and Larry W. Chappel. (2005). “Civic Theater for Civic Education”. In Journal of Political Science Education. Volume 1, Number 1, 2005 (p.83-108) Civic virtues are the qualities of character and personal skills necessary to make the exercise of citizenship meaningful Civic virtues give us the capacity to exercise our rights, promote our interests and meet our duties. (L. Bray, Bernard and Larry W. Chappel. 2005:86). Komentar Kebajikan-kebajikan kewarganegaraan adalah kualitas dan karakter dan keterampilan-keterampilan pribadi yang diperlukan untuk kebermaknaan latihan kewarganegaraan. Kebajikan-kebajikan kewarganegaraan memberikan kepada kita kapasitas untuk berlatih hak-hak kita. mempromosikan minat kita dan kewajibankewajiban kita.

Pendidikan Kewarganegaraan
Drs. Mustafa Kamal Pasha, B.Ed. Citra Karsa Mandiri. (2002). Tujuan Wawasan Nusantara keluar adalah turut serta mewujudkan kebahagiaan, ketertiban dan perdamaian bagi seluruh manusia. Dengan demikian dapat dikatakan sesuai dengan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945, wawasan nusantara tidak hanya memperhatikan kepentingan nasional sendiri, melainkan juga ikut serta bertanggung jawab dalam memperhatikan lingkungan serta membina ketertiban dan perdamaian. Komentar Wawasan Nusantara dalam wujud dan wadahnya sebagai suatu Negara kepulauan yang merupakan satu kesatuan. Secara lengkap dapat dirumuskan bahwa isi Republik Indonesia berupa: falsafah Pancasila dan UUD 1945, kemudian wadahnya berupa nusantara, serta sebagai tatalaku Republik Indonesia berupa penerapan UUD 1945.

Civil Society
Welzer, M.U.S. (1999) Rescuing Civil Society, In Dessent, 45.1. “… to complex network of freely formed voluntary associations, apart from the formal governmental institution of the state, acting indepently or partnership with the state agencies a part from the state, civil society is regulated by law. It is a public domain that’s constituted by privat individuals…” (Welzer, 1999). Komentar Civil Society adalah suatu jaringan yang komplek dari lembaga-lembaga swadaya masyarakat di luar pemerintahan negara yang bekerja secara merdeka atau bersama pemerintah yang diatur oleh hukum. Ia merupakan ranah public yang beranggotakan perseorangan.

Arti Pendidikan Kewarganegaraan
Numan Sumantri (2001:159). Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS Pendidikan kewarganegaraan adalah seleksi dan adaptasi dari lintas disiplin ilmuilmu sosial, ilmu kewarganegaraan, humaniora dan kegiatan dasar manusia yang diorganisasikan dan disajikan secara psikologis dan ilmiah untuk ikut mencapai salah satu tujuan pendidikan IPS. PKn merupakan bagian atau alah satu tujuan pendidikan IPS, yaitu bahan pendidikannya diorganisasikan secara terpadu (integrated) dari berbagai disiplin ilmu sosial, humaniora, dokumen negara, terutama Pancasila, UUD 1945, GBHN dan perundangan negara dan bahan pendidikan yang berkenaan dengan bela negara. PKn adalah program pendidikan yang berintikan demokrasi politik yang diperluas dengan sumber-sumber pengetahuan lainnya, pengaruh-pengaruh positif dari pendidikan sekolah, masyarakat dan orang tua, yang kesemuanya itu diproses guna melatih para siswa untuk berpikir kritis, analitis, bersikap dan bertindak demokratis yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Character
Cronbach, Lee J. (1977). Civil Society, In Dessent, 45.1. Character is not accumulation of separate habits and ideas. Character is an aspect of the personality, beliefs, feelings, and actions are linked: to change character is to reorganize the personality. Tiny lessons on principles of good conduct will not be effective if they cannot be integrated with the person’s system of beliefs about himself, about others, and about the good community. (Cronbach, 1977:784). Komentar Karakter sebagai suatu aspek dari kepribadian terbentuk oleh kebiasaan (habits) dan gagasan (ideas) yang keduanya tidak dapat dipisahkan. Untuk membentuk karakter, maka unsure-unsur keyakinan (beliefs), perasaan (feelings), dan tindakan (actions) merupakan unsur-unsur yang saling terkait sehingga untuk mengubah karakter berarti melakukan reorganisasi terhadap kepribadian.

Innovative Vision
Jareonsettasin, Teerakiat. (1999). The Citizen of the New Century: Bangkok: Psychological Perspective. Innovative Visions for the New Century. “We have a crisis of character at the root of all the troubles every where and the crisis has some about as a result of education without refinement of character”. (Jareonsettasin, Teerakiat. (1999). Komentar Upaya perbaikan strategi maupun reorganisasi materi kajian dalam pendidikan karakter bangsa perlu dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan.

National Character
DeVos, George A. (1968). National Character. Dalam Sills. David L (editor). International Encyclopedia of the Social Sciences, New York: The Macmillan Company and the Free Press, V. 11 & 12, p. 14-19 The term “national character” is used to describe the enduring personality characteristics and unique life style found the populations of particular national states. (DeVos, 1968:14). Komentar Istilah karakter bangsa digunakan untuk mendeskripsikan cirri-ciri kepribadian yang tetap dan gaya hidup yang khas yang ditemui pada penduduk negara bangsa tertentu.

Pendidikan Kewarganegaraan
Cholisin, dkk. (2007). Ilmu Kewarganegaraan. Jakarta: Universitas Terbuka. Pendidikan Kewarganegaraan ialah media pengajaran yang akan mengIndonesiakan para siswa secara sadar, cerdas dan penuh tanggung jawab. Karena itu program PKn memuat konsep-konsep umum ketatanegaraan, politik, hukum, negara, serta dari teori umum yang lain yang cocok dengan target tersebut. Dengan kecenderungan sifat teoritis disiplin politik tetap dominan baik dalam program maupun dalam pengajarannya. (Azis Wahab, dalam Cholisin, 2007:11).

Citizenship Education
Jack Allen (dalam Somantri, Nu’man. (2001). Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS. Bandung: PT Remaja Rosda Karya. Citizenship education, properly defined, as the product, of the entire program of the school, certainly not simply of the social studies program, and assuredly not merely of a course of civics. But civis has an important function to perform, it confronts the young adolescent for the first time in his school experience with a complete view of citizenship function as rights and responsibilities in democratic context. Jack Allen (dalam Somantri, 2001:283) Komentar Jack Allen melihat citizenship education sebagai produk dari keseluruhan program pendidikan persekolahan, di mana mata pelajaran civics merupakan unsur yang paling utama dalam upaya mengembangkan warga negara yang baik.

Bidang Pendidikan Kewarganegaraan
Kennedy, K.J. (Ed). (1997). Citizenship Education and the Modern State. London: Falmer Press. Mc Laughlin, T.H. (1992). “Citizenship, Diversity and Education: a Philosophical Perspective”, Journal of Moral Education, 21, 3, 235-50. Bidang pendidikan kewarganegaraan mencakup berbagai istilah termasuk kewarganegaraan, sipil, ilmu sosial, penelitian sosial, ilmu dunia, masyarakat, penelitian tentang masyarakat, kemampuan hidup dan pendidikan moral. Bidang ini juga berkaitan dengan mata pelajaran-mata pelajaran dalam kurikulum wajib dan kurikulum pilihan, termasuk sejarah, geografi, ekonomi, hukum, politik, penelitian lingkungan, pengajaran nilai-nilai, penelitian agama, bahasa dan sains. Rentang istilah dan hubungannya dengan berbagai mata pelajaran tersebut mendasari luas dan kompleksitas masalah yang dipelajari di bidang ini. Luas dan kompleksitas ini merupakan kelebihan sekaligus kekurangan dari PKn. (Kennedy 1997 dan Mc Laughlin (1992).

Civic Training
Prewitt & Dawson, 1977:141 (dalam Kerr, David. (1999). Citizenship Education: an International Comparison. London: QCA (Qualification and Curriculum authority). We call civics training that part of political education that emphasizes how a good citizen participates in political life of his or her nation. (Prewitt & Dawson, 1977:141 dalam Kerr, David, 1999). Komentar: Inti yang dinyatakan pendapat itu, bahwa civic training (PKn) sebagai bagian pendidikan politik menekankan bagaimana menjadi warga negara yang baik dalam arti mampu berpartisipasi dalam kehidupan politik bangsa (sistem politik nasionalnya). (Prewitt & Dawson, 1977:141). (dalam Kerr, David, 1999).

Inovasi Pendidikan
Prof. Dr Sudarwan Danim. (2002). “Inovasi Pendidikan Dalam Upaya Peningkatan Profesionalisme Tenaga Kependidikan” Inovasi yang bersumber dari perubahan persepsi, suasana dan makna, umumnya disebabkan penerimaan dan penafsiran individu atas infomasi yang diterimanya dari lingkungan. (Griffin and Mooehead. 1986 dalam Sudarwan Danim, 2002:152).

Inovasi Pendidikan
Ibrahim, M.Sc. (2002). Inovasi Pendidikan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Jakarta Inovasi (innovation) ialah suatu ide, barang, kejadian, metode yang dirasakan atau diamati sebagai suatu hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat), baik itu berupa hasil invensi maupun diskoveri, yang digunakan untuk mancapai tujuan tertentu atau untuk memecahkan masalah pendidikan.

Inovasi Pendidikan
Matthew B. Miller (dalam Ibrahim, M.Sc. 2002). Inovasi Pendidikan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Jakarta. To give more concreteness the universe called “educational innovations” some samples are described bilow. They are organized according to the aspect of a social system with which they appear to be most clearly associated. In most cases the social system involved should be taken to be that of a school or college, although some innovations take place within the context of much larger systems. Komentar: Pendidikan adalah suatu system, maka inovasi pendidikan mencakup hal-hal yang berhubungan dengan komponen system pendidikan, baik system dalam arti sekolah, perguruan tinggi atau lembaga pendidikan yang lain, maupun system dalam arti yang luas misalnya system pendidikan nasional.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful