__________________________________________________________

TUGAS Paper Antropologi
“Mboten sah isin, sok atuh dimakan dulu coy!”
(Sebuah Kajian Akulturasi Bahasa di Lingkungan Asrama Putri Fellowship 2009)

Disusun oleh: RIASRI NURWIRETNO 209000053 PSIKOLOGI B

Program Studi Psikologi Fakultas Falsafah dan Peradaban
1

Universitas Paramadina
Tahun 2009
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………………………………… …………………………………..i DAFTAR ISI..................................................................................................................2 1.1 Latar Belakang..................................................................................................3 1.2 Perumusan Masalah..........................................................................................3 1.3 Tujuan Penelitian...............................................................................................3 1.4 Manfaat Penelitian.............................................................................................4 1.5 Sistematika Penulisan.......................................................................................4 2.1 Proses Adaptasi.................................................................................................5 2.2 Bahasa dan Kebudayaan...................................................................................6 2.3 Masyarakat tutur (Speech community).............................................................8 2.4 Proses Akulturasi...............................................................................................9 3.1 Kesimpulan......................................................................................................11 3.2 Saran...............................................................................................................11

2

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Akulturasi kebudayaan terjadi ketika sekelompok dengan manusia dengan dari suatu suatu tertentu dihadapkan unsur-unsur

kebudayaan lain yang sedemikian rupa. Sehingga unsur-unsur kebudayaan itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri. Proses akulturasi semacam ini banyak terjadi di sekitar kita. Salah satunya yaitu terjadi di lingkungan asrama putri Fellowship 2009 yang terletak di daerah Tegal Parang. Dengan beragamnya kebudayaan yang ada maka proses ini terlihat begitu menarik perhatian. Akulturasi yang terjadi tidak hanya pada satu sisi saja, namun dapat diketahui dari berbagai sisi, baik perilaku, kebiasaan, logat dan bahasa. Karena uniknya hasil dari proses akulturasi ini, kemudian hal itulah yang mendasari saya melakukan observasi di lingkungan tersebuut. Satu dari sekian banyak hasil proses akulturasi tersebut yang akan saya jelaskan dalam paper ini, yaitu akulturasi bahasa.

1.2 Perumusan Masalah
Berdasar pada studi kasus yang diangkat, sebelum didakannya observasi maka beberapa rumusan masalah yang terbentuk adalah: 1. Bagaimana awal mula mereka beradaptasi di lingkungan yang baru?
2. Apa pengaruh proses akulturasi bahasa pada kehidupan sehari-hari

mereka?
3. Berapa lama waktu yang diperlukan hingga terbentuknya akulturasi

bahasa?

1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah:
3

1. Mengetahui pola adaptasi di asrama putri Fellowship 2009 2. Melihat hasil dari sebuah proses akulturasi bahasa 3. Mengetahui lamanya sebuah proses akulturasi tersebut berlangsung

1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah: 1. Memaparkan suatu pola adaptasi berkaitan dengan adanya sebuah proses akulturasi 2. Menjelaskan arti pentingnya sebuah bahasa dalam suatu kebudayaan 3. Mengetahui bagaimana sebuah proses akulturasi bahasa terjadi di asrama putri Fellowship 2009

1.5 Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 Latar Belakang Perumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Sistematika Penulisan

BAB IIPEMBAHASAN 2.1 Proses Adaptasi 2.2 Bahasa dan Kebudayaan 2.3 Masyarakat tutur (Speech community) 2.4 Proses Akulturasi BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan
4

3.2

Saran

DAFTAR PUSTAKA

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Proses Adaptasi
Adaptasi mengacu pada suatu proses yang menyebabkan suatu organisme berhasil menyesuaikan diri dengan baik pada lingkungan yang ada, dan hasil proses tersebut menghasilkan karakteristik-karateristik yang menyebabkan organisme itu cocok dengan perangkat kondisi tertentu dimana organisme-organisme itu terdapat. Dalam jangka waktu tertentu, semua kebudayaan berubah sebagai tanggapan atas hal-hal seperti masuknya orang luar atau terjadinya modifikasi perilaku dan nilai-nilai dalam kebudayaan (William, 1985). Proses adaptasi tersebut dialami ketika seseorang berada di sebuah lingkungan baru. Pada dasarnya manusia memiliki kemampuan masing-masing untuk beradaptasi,hanya saja yang membedakan adalah cepat atau lambatnya proses adaptasi tersebut berlangsung. Dalam kasus ini, terjadi pola adaptasi putri-putri Fellowship yang berasal dari luar pulau. Mereka yang berasal dari luar kota Jakarta harus menghadapi pola adaptasi yang lebih besar dibandingkan dengan putri-putri Fellowship yang berasal dari kota Jakarta. Dari hasil pengamatan yang saya lakukan selama ± satu minggu, putri-putri Fellowship yang datang dari kota besar di luar kota Jakarta lebih mudah beradaptasi dibandingkan dengan putri-putri Fellowship yang berasal dari pesisir. Dalam kasus akulturasi bahasa yang akan dijelaskan selanjutnya, saya mengambil sampel satu kamar untuk di observasi. Kamar tersebut terdiri atas lima orang, masing-masing dari mereka berasal dari
5

daerah

yang

berbeda.

Mereka

berasal

dari

Malang,

Kudus,

Brebes,

Tasikmalaya dan salah satunya berasal darai Jakaarta. Dari kamar inilah tampak sebuah akulturasi bahasa yang dibuktikan dalam percakapan seharihari. Sebelum masuk kepada penjelasan mengenai akulturasi bahasa, maka berikut saya tampilkan terlebih dahulu bahasan tentang bahasa.

2.2 Bahasa dan Kebudayaan
Apakah bahasa itu? Bahasa atau sistem perlambangan manusia yang lisan maupun tertulis untuk berkomunikasi satu dengan yang lain, dalam sebuah karangan etnografi, memberi deskripsi tentang ciri-ciri terpenting dari bahasa yang diucapkan oleh suku bangsa yang bersangkutan, beserta variasi dari bahasa itu. Sedangkan menurut William (1985), bahasa adalah suatu sistem bunyi, yang kalau digabungkan menurut aturan tertentu menimbulkan arti, yang dapat ditangkap oleh semua orang yang berbicara dalam bahasa itu. Ciri-ciri menonjol dari bahasa suku bangsa dapat diuraikan dengan cara tepat, yaitu menempatkannya dalam klasifikasi bahasa-bahasa sedunia pada rumpun, subrumpun,keluarga dan subkeluarga bahasanya yang wajar, dengan beberapa contoh fonetik, fonologi, sintaksis dan semantik, yang diambil dari bahan ucapan bahasa sehari-hari. Perspektif interaksional yang memandang komunikasi sebagai jalan bagi individu-individu untuk mengembangkan dirinya. Perspektif ini juga membahas bahasa atau lambang sebagai hal yang dipertukarkan ketika manusia saling berinteraksi. Adapun makna sebagai hal yang dimiliki bersama, menurut perspektif ini adalah ciptaan situasi sosial. Jadi, makna diperoleh ketika ada kesepakatan antara pihak-pihak yang mempertukankan lambang.

6

Sudah dibuktikan oleh banyak penelitian, bahwa tidak akan ada dua masyarakat yang sama persis di dunia ini. Lingkungan, baik itu lingkungan fisik maupun psikis akan membantu manusia dalam menyesuaikan diri sekaligus membuatnya berbeda satu sama lain. Hal ini berimplikasi juga pada sistem komunikasi yang hidup pada masyarakat tersebut. Setiap masyarakat akan memiliki sistem komunikasi sendiri-sendiri, maka dengan sendirinya, demi kelangsungan hidupnya, setiap masyarakat dapat membentuk kebudayaannya. Bahasa menjadi inti dari komunikasi sekaligus sebagai pembuka realitas bagi manusia. Kemudian, dengan komunikasi, manusia membentuk masyarakat dan kebudayaannya. Sehingga bahasa secara tidak langsung turut membentuk kebudayaan pada manusia.

Kebudayaan sangat berarti banyak bagi masyarakat dan individuindividu di dalamnya, karena kebudayaan mengajarkan manusia untuk hidup selaras dengan alam, sekaligus memberi tuntutan untuk berinteraksi dengan sesamanya. Dari sekian banyak kegunaan budaya, para pakar antropologi budaya percaya bahwa bahasalah yang memegang peranan utama dalam perkembangan budaya manusia. Hal ini karena bahasa merupakan wahana utama untuk meneruskan adat istiadat dari generasi yang satu ke generasi yang lainnya. Kemudian pandangan etnografi menyebutkan bahwa: Bahasa menjadi unsur pertama sebuah kebudayaan, karena bahasa akan menentukan dipahami bagaimana masyarakat yang penggunanya gilirannya mengkategorikan akan memberikan pengalamannya. Bahasa akan menentukan konsep dan makna yang oleh masyarakat, pada pengertian mengenai pandangan hidup yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Dengan kata lain makna budaya yang mendasari kehidupan masyarakat,terbentuk dari hubungan antara simbol-simbol / bahasa.

7

2.3 Masyarakat tutur (Speech community)
Banyak ahli yang telah mencoba untuk mendefinisikan apa yang dimaksud speech community,atau masyarakat tutur ini. Diantara sekian banyak batasan, dapat dikemukakan dua batasan yang dapat digunakan untuk menunjang pada penelitian etnografi komunikasi. Yang pertama menurut Hymes, yang menekankan bahwa semua anggota masyarakat tutur tidak saja sama-sama memiliki kaidah untuk berbicara, tetapi juga satu variasi linguistic. Sedangkan yang kedua, Seville-Troike membicarakan level analisis dimana masyarakat tutur tidak harus memiliki satu bahasa, tetapi memiliki kaidah yang sama dalam berbicara. Jadi batasan utama yang membedakan masyarakat tutur yang satu dengan yang lain adalah kaidah-kaidah untuk berbicara. Sehingga suatu suku bangsa atau kebudayaan bisa saja memiliki dua atau lebih masyarakat tutur. Oleh karena itu seseorang bisa saja masuk ke dalam dua atau lebih masyarakat tutur.

Satu masyarakat tutur pun dapat terbagi lagi ke dalam sub-sub masyarakat tutur. Misalnya masyarakat tutur Sunda terbagi lagi menjadi masyarakat tutur Sunda-Halus, Sunda-Kasar atau Sunda-Preman, dan lain sebagainya. Jadi dalam suatu masyarakat tutur pun, bisa saja terjadi dari masyarakat tutur-masyarakat tutur yang lebih kecil. Hal ini dikarenakan manusia sebagai makhluk sosial sudah terlebih dahulu memberi label pada masing-masing terbentuknya tindakannya. struktur Pemberian label ini setiap berimplikasi struktur pada sosial sosial, selanjutnya

membutuhkan peran dan simbol yang berbeda-beda. Itulah sebabnya penggunaan bahasa pun dapat berbeda-beda antara struktur sosial yang satu dengan struktur sosial yang lain, walaupun berbicara dengan bahasa yang sama.

8

2.4 Proses Akulturasi
Dalam studi kasus mengenai akulturasi bahasa yang dibahas, saya melakukan observasi dan wawancara di lingkungan asrama putri Fellowship 2009. Karena beragamnya kebudayaan sehingga sulit melihat proses akulturasi, maka saya mempersempit ruang lingkup observasi guna melihat hal tersebut secara lebih mendalam. Observasi saya lakukan pada salah satu kamar di asrama tersebut, yang terdiri atas lima orang putri. Mereka berasal dari Kudus, Malang, Brebes, Tasikmalaya dan satu orang dari Jakarta. Akulturasi kebudayaan itu lambat terjadi ketika sekelompok dengan ke manusia dengan dari suatu suatu tertentu laun dihadapkan dan unsur-unsur dalam

kebudayaan lain yang sedemikian rupa. Sehingga unsur-unsur kebudayaan diterima diolah kebudayaan sendiri (Koentjaraningrat,2009). Proses akulturasi yang terjadi tidak hanya dari satu sisi, namun dalam kasus ini saya membahas terjadinya sebuah proses akulturasi bahasa. Untuk mencapai akulturasi tersebut, sebelumnya melalui beberapa tahapan terlebih dahulu. Berawal dari proses adaptasi dari masing-masing individu penghuni kamar tersebut. Kemudian terjadi sosialisasi oleh masing-masing unsur kebudayaan yang mereka anut. Membenarkan pernyataan Koentjaraningrat, lambat laun unsur kebudayaan itu diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri.

Berdasarkan judul paper yang saya buat yaitu, “mboten sah isin, sok atuh dimakan dulu coy!”. Terjadi akulturasi tiga bahasa yakni bahasa Jawa, Sunda dan bahasa gaul yang biasa dipakai dalam percakapan sehari-hari. Kecenderungan pencampuran bahasa ini terjadi dalam percakapan seharihari, hal tersebut terlihat ketika saya melakukan wawancara kepada kelima penghuni kamar. Adanya pencampuran bahasa dapat dikatakan terjadi dalam kurun waktu yang cukup singkat, yakni sekita 3bulan. Pada awalnya mereka
9

mengaku sulit berkomunikasi,namun bulan-bulan berikutnya masing-masing dari mereka dapat menyesuaikan diri dengan ragam bahsa yang digunakan. Kemudian, ketika mereka sudah dapat menerima unsur kebudayaan lain tersebut, secara tidak langsung mereka mengalami proses enkulturasi. Proses enkulturasi adalah proses seorang individu mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya dengan adat, sistem norma, dan peraturan yang hidup dalam kebudayaannya. Ternyata hal ini berkaitan dengan keefektivitasan penggunaan bahasa. Seperti ketika hendak mempersilahkan seseorang maka orang Jawa harus mengatakan dua suku kata yaitu, “monggo”. Sedangkan orang Sunda hanya perlu menyatakan “sok” untuk mempersilahkan. Contoh lain, orang Sunda dapat menunjukkan situasi perasaan untuk menggambarkan “handeueul”, “kaduhung” dan “hanjakal”. Kata “handeueul” tersebut digunakan untuk teman sebaya. Sedangkan dalam bahasa Indonesia cukup menyebut “menyesal” saja. Kata tersebut dapat digunakan untuk teman sebaya, orang yang lebih tua dan juga orang yang lebih muda. Mereka berlima mengaku justru merasa nyaman dengan pencampuran bahasa yang mereka gunakan dalam percakapan sehari-hari. Karena dengan begitu, mereka mempelajari dua bahasa sekaligus. Meskipun dalam hal ini konteksnya hanya sebagian kecil dari bahasa yang dapat dipelajari. Namun, sebenarnya perlu kita ketahui bahwa kita perlu belajar memakai bahasa indonesia secara lebih murni, lebih tepat dalam hubungan kata dengan makna.

BAB III PENUTUP
10

3.1 Kesimpulan
• Terjadi proses akulturasi bahasa dalam jangka waktu yang cukup cepat

di lingkungan asrama putri Fellowship 2009. • Proses akulturasi dipengaruhi oleh kekuatan dari masing-masing unsur kebudayaan. • Bahasa menjadi unsur pertama sebuah kebudayaan, karena bahasa akan menentukan bagaimana masyarakat penggunanya mengkategorikan pengalamannya.

3.2 Saran
• Kita perlu belajar memakai bahasa Indonesia secara lebih murni, lebih

tepat dalam hubungan kata dengan makna. • Diperlukan adanya pendekatan-pendekatan tertentu agar tidak terjadi kesalahan pada proses sosialisasi unsur-unsur kebudayaan. • Untuk mencapai sebuah akulturasi bahasa yang baik perlu adanya kebijaksanaan dari masing-masing unsur kebudayaan yang ada.

DAFTAR PUSTAKA
11

Haviland, William A.1985.Antropologi Jilid 1 . Jakarta: Erlangga Koentjaraningrat.2009.Pengantar Ilmu Antropologi Edisi Revisi 2009.Jakarta: PT Rineka Cipta Kuswarno, Engkus M.S.2008.Etnogarfi Komunikasi.Bandung: Widya Padjajaran Lubis, Mochtar.2001.Manusia Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

12