DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................. 3 1.1 Latar Belakang ................................................................................................................... 3 1.2 Tujuan Penelitian ............................................................................................................... 5 1.3 Manfaat Penelitian ............................................................................................................. 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................................... 6 2.1 2.2 Tunanetra ...................................................................................................................... 6 Remaja .......................................................................................................................... 8

2.3.1 Kemampuan Motorik Remaja ...................................................................................... 8 2.4 Kemampuan Motorik Remaja Tunanetra ...................................................................... 9

2.5 Pertanyaan Penelitian ........................................................................................................ 10 BAB III METODE PENELITIAN .............................................................................................. 11 3.1 Metode Pendekatan Masalah............................................................................................. 11 3.2 Unit Analisis ..................................................................................................................... 11 3.2.1 Subjek Penelitian ........................................................................................................ 11 3.2.2 Lokasi Penelitian ....................................................................................................... 12 3.3 Metode Pengumpulan Data ............................................................................................... 12 3.4 Teknik Analisis Data ......................................................................................................... 12 BAB IV PEMBAHASAN ........................................................................................................... 13 4.1 Tahapan Penelitian ............................................................................................................ 13 4.2 Hasil Observasi ................................................................................................................ 14 4.3 Pembahasan Hasil Observasi ........................................................................................... 15 BAB V PENUTUP ...................................................................................................................... 17 5.1 Kesimpulan ....................................................................................................................... 17 5.2 Saran.................................................................................................................................. 17

1

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................. 18 LAMPIRAN 1 ............................................................................................................................. 20 LAMPIRAN 2 ............................................................................................................................. 22 LAMPIRAN 3 ............................................................................................................................. 24

2

BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kemampuan penglihatan sangat berpengaruh terhadap aktivitas kehidupan manusia sehari-hari. Orang yang memiliki kemampuan penglihatan jelas dapat memperoleh informasi lebih banyak dibanding mereka yang mengalami hambatan dalam penglihatan. Tidak hanya proses pembelajaran yang terpengaruh, namun terdapat beberapa aspek lain yang juga terpengaruh oleh hambatan penglihatan. Aspek-aspek yang terkena pengaruh/dampak hambatan penglihatan tersebut meliputi aspek kognisi, kompetensi sosial, keterampilan sosial, bahasa serta orientasi dan mobilitas. Oleh karena itu, informasi-informasi tersebut akan sangat sulit dikuasai oleh anak-anak yang mengalami hambatan penglihatan atau tunanetra. (Nawawi, dkk, 2009) Beberapa hambatan tersebut memiliki implikasi terhadap kemampuan perkembangan bahasa dan kecerdasan kinestetik. Mobilitas adalah kemampuan, kesiapan, dan mudahnya bergerak dan berpindah. Mobilitas juga berarti kemampuan bergerak dan berpindah dalam suatu lingkungan (Nawawi, 2010). Karena mobilitas merupakan gerak dan perpindahan fisik, maka kesiapan fisik sangat menentukan keterampilan tunanetra dalam mobilitas. Gerak/mobilitas dapat dipelajari melalui meniru apa (gerak) yang dilakukan oleh orang lain di sekitarnya. Bagi anak awas mempelajari gerak dengan cara meniru tidak menjadi masalah, namun bagi anak tunanetra merupakan masalah yang besar, Oleh karena itu anak tunanetra harus diajarkan melakukan gerak secara benar dan utuh seperti yang dilakukan oleh orang pada umumnya. Mengajarkan mobilitas secara benar dan utuh merupakan tugas dan tanggung jawab instruktur O&M dan para guru yang menangani anak tunanetra (Nawawi, 2010). Kemampuan motorik atau kemampuan gerak dasar merupakan fenomena yang selalu melekat pada usia anak-anak. Kemampuan motorik berkembang seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan anak. Perkembangan dan pertumbuhan merupakan faktor yang mempengaruhi kemampuan gerak dasar anak. Seperti yang dikemukakan

3

Sugiyanto (1998) bahwa gerak dasar fundamental adalah gerak-gerak dasar yang berkembangnya sejalan dengan pertumbuhan dan tingkat kematangan anak-anak (Asniarno, 2010). Masa remaja ( sekitar usia 10/11 sampai 14 tahun) peralihan dari masa kanak – kanak, memberikan kesempatan untuk tumbuh, tidak hanya dalam dimensi fisik tetapi juga dalam kompetensi kognitif, sosial, otonomi, harga diri dan keintiman. Periode ini juga memiliki resiko, sebagian remaja mengalami masalah dalam menghadapi berbagai perubahan yang terjadi secara bersamaan dan membutuhkan bantuan dalam mengatasi bahaya saat menjalani masa ini. Masa remaja adalah meningkatnya perbedaan diantara kebanyakan remaja yang menuju ke masa dewasa yang memuaskan dan produktif dan hanya sebagian kecil yang akan menghadapi masalah besar. (Offer, 1987; Offer, Kaiz, Ostrov, dan Albert, 2002; Offer, Offer, dan Ostrov, 2004; Offer & Schonert-Reichl, 1992 dalam Papalia, Olds & Fieldman, 2007). Perkembangan motorik remaja tunanetra cenderung lambat dibandingkan dengan perkembangan anak pada umumnya. Dalam perkembangan perilaku motorik diperlukan koordinasi fungsional antara neuromuscular system berupa sistem syaraf dan otot dan fungsi psikis baik secara kognitif, afektif dan konatif. Remaja tunanetra fungsi neuromuscular systemnya mungkin tidak bermasalah tapi fungsi psikisnya kurang mendukung dan menjadi hambatan dalam perkembangan motoriknya. Hambatan fungsi psikis meliputi pemahaman terhadap realitas lingkungan, kemungkinan mengetahui adanya bahaya dan cara menghadapinya, keterampilan gerak yang serta terbatas serta kurangnya keberanian dalam melakukan sesuatu mengakibatkan kematangan fisiknya kurang dimanfaatkan secara maksimal dalam melakukan aktivitas motorik (Andriyani, 2010). Masalah pembinaan mobilitas/gerak tunanetra serta kemampuan bahasa bukan hanya merupakan tanggung jawab oleh guru O&M saja akan tetapi juga harus menjadi tanggung jawab semua pihak termasuk guru pada umumnya dan orang tua dan keluarga yang berhubungan dengan pendidikan dan rehabilitasi bagi tunanetra. Oleh karena itu, melalui makalah ini kami bermaksud untuk melihat gambaran kemampuan motorik

4

pada remaja tunanetra sebagai informasi dalam proses pembinaan mobilitas/ gerak dan kemampuan motorik pada remaja tunanetra di Panti Bina Netra WyataGuna Bandung.

1.2 Tujuan Penelitian Makalah “Kemampuan motorik pada remaja tunanetra di Panti Bina Netra WyataGuna Bandung” ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana gambaran kemampuan motorik pada remaja tunanetra di Panti Bina Netra WyataGuna Bandung.

1.3 Manfaat Penelitian Makalah “Kemampuan motorik pada remaja tunanetra di Panti Bina Netra WyataGuna Bandung” ini memiliki manfaat sebagai berikut: 1. Sebagai informasi dalam rangka pembinaan kemampuan motorik remaja tunanetra 2. Sebagai referensi dari kajian ilmu lain seperti psikologi perkembangan, psikologi anak berkebutuhan khusus, dll.

5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tunanetra Tunanetra adalah istilah umum yang digunakan kepada seseorang dengan kondisi mengalami gangguan atau hambatan penglihatan. Menurut Soemantri (2006), tunanetra adalah individu yang indera penglihatannya (keduanya) tidak berfungsi sebagai saluran penerima informasi dalam kegiatan sehari-hari seperti halnya orang awas. Menurut Conor, tunanetra mempunyai batasan dalam penglihatan. Individu dengan gangguan penglihatan dapat diketahui dalam kondisi (Soemantri, 2006), diantaranya: a. Ketajaman penglihatannya kurang dari ketajaman yang dimiliki orang awas. b. Terjadi kekeruhan pada lensa mata atau terdapat cairan tertentu. c. Posisi mata sulit dikendalikan oleh syaraf otak. d. Terjadi kerusakan susunan syaraf otak yang berhubungan dengan penglihatan. Batasan tunanetra dari kacamata medis apabila ketajaman penglihatannya tidak lebih dari 20/20 meskipun menggunakan kacamata pembesar dan bidang

penglihatannya tidak melebihi sudut pandang 20 derajat. Batasan penglihatan untuk anak tunanetra dalam bidang pendidikan lebih memfokuskan pada pentingnya fungsi penglihatan terhadap proses pendidikan, seperti tidak dapat secara optimal menyesuaikan metode , materi pelajaran dan lingkungan belajar yang umumnya dapat digunakan oleh orang yang melihat. Secara umum ketunanetraan atau hambatan penglihatan (visual impairment) dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori besar, yaitu buta total (totally blind) dan kurang lihat (Low Vision) (Friend dalam Nawawi, 2010). Seorang yang mengalami low vision menurut WHO apabila: a) memiliki kelainan penglihatan meskipun telah dilakukan usaha pengobatan, b) mempunyai ketajaman penglihatan kuran dari 6/18 ketajaman cahaya, c) luas englihatannya kurang dari 10 derajat dari titik fiksasi. Seseorang dikatakan low vision jika mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugastugas visual, namun dapat meningkatkan kemampuan dalam menyelesaikan tugas-tugas

6

tersebut dengan menggunakan strategi visual pengganti, alat-alat bantu low vision, dan modifikasi lingkungan (Corn dan Koenig dalam Nawawi, dkk, 2009). Orang yang termasuk low vision adalah mereka yang mengalami hambatan visual ringan sampai berat. Seseorang dikatakan menyandang low vision atau kurang lihat apabila ketunanetraannya masih cenderung memfungsikan indera penglihatannya dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Saluran utama yang dipergunakanya dalam belajar adalah penglihatan dengan mempergunakan alat bantu, baik yang

direkomendasikan oleh dokter maupun tidak. Jenis huruf yang dipergunakan sangat bervariasi tergantung pada sisa penglihatan dan alat bantu yang dipergunakannya. Latihan orientasi dan mobilitas diperlukan oleh siswa low vision untuk mempergunakan sisa penglihatannya. Totaly Blind (buta total) adalah seseornag yang memiliki hambatan/ tidak berfungsinya indera penglihatan, dimana mata tidak mampu mengolah rangsangan cahaya atau dalam istilah kedokteran disebut dengan visus 0, yaitu tidak dapat melihat dan tidak dapat melihat gerakan tangan pada jarak kurang satu meter (Anonim, (t.th)). Menurut Huebner, Blindness (kebutaan) menunjuk pada seseorang yang tidak mampu melihat atau hanya memiliki persepsi cahaya (Friend, 2005 dalam Nawawi, 2009). Seseorang dikatakan buta (blind) jika mengalami hambatan visual yang sangat berat atau bahkan tidak dapat melihat sama sekali. Kadang-kadang di lingkungan sekolah juga digunakan istilah functionally blind atau educationally blind untuk kategori kebutaan ini. Penyandang buta total mempergunakan kemampuan perabaan an pendengaran sebagai saluran utama dalam belajar. Orang seperti ini biasanya mempergunakan huruf Braille sebagai media membaca dan memerlukan latihan orientasi dan mobilitas (Nawawi, 2009). Menurut Somantri (2006), ketunanetraan dapat disebabkan oleh berbagai faktor baik faktor dalam diri (internal) ataupun faktor dari luar (eksternal). Hal-hal yang termasuk faktor internal yaitu faktor-faktor yang erat hubungannya dengan keadaan bayi selama masih dalam kandungan, kemungkinannya karena faktor gen, kondisi psikis ibu, kekurangan gizi, keracunan obat, dsb. Sedangkan, hal-hal yang termasuk faktor eksternal diantaranya yang terjadi pada saat atau sesudah bayi dilahirkan. Misalnya, kecelakaan, terkena penyakit syphilis yang mengenai matanya saat dilahirkan, pengaruh

7

alat bantu medis saat melahirkan sehingga sistem persyarafannya rusak, kurang gizi atau vitamin, terkena racun, virus trachoma, panas badan yang terlalu tinggi serta peradangan mata karena penyakit, bakteri ataupun virus. Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa tunanetra adalah seseorang yang karena sesuatu hal tidak dapat menggunakan matanya sebagai saluran utama dalam memperoleh informasi dari lingkungannya. Adanya ketunanetraan pada seseorang, secara otomatis ia akan mengalami keterbatasan. Keterbatasan itu adalah dalam hal: (1) memperolah informasi dan pengalaman baru, (2) dalam interaksi dengan lingkungan, dan (3) dalam bergerak serta berpindah tempat (mobilitas). Oleh karena itu, dalam perkembangannya seorang tunanetra mengalami hambatan atau sedikit terbelakang mobilitasnya bila dibandingkan dengan anak normal yang awas.

2.2

Remaja Menurut Papalia, dkk (2007), remaja merupakan masa transisi perkembangan

antara anak-anak dan dewasa yang melibatkan perubahan fisik, kognitif dan psikososial. Menurut Erikson, masa remaja merupakan masa yang dipenuhi dengan krisis identitas.

2.3.1 Kemampuan Motorik Remaja Perkembangan motorik merupakan salah satu perkembangan yang dialami secara pesat dalam masa remaja. Perkembangan motorik merupakan suatu proses aktivitas individu dengan pertumbuhan yang terkondisi diantara jasmani, fisiologi dan psikologi. Perkembangan motorik jasmani berhubungan dengan kekuatan badannya. Pada pertumbuhan fisiologis, refleks motorik akan terkoordinasi secara baik seiring dengan bertambahnya usia melalui perkembangan cerebellum atau otak bagian bawah. (Baraja, 2008) Pola perkembangan psikomotorik dapat dipelajari dan diprediksi searah dengan aktivitas individu dalam pertumbuhannya yang akan menggambarkan adanya motorik kasar dan motorik halus. Motorik halus merupakan suatu aktivitas yang dilakukan anak

8

dengan menggunakan keterampilan-keterampilan tangan maupun kakinya seperti menulis, merangkai, menyusun benda menjadi teratur, dsb. Sedangkan, motorik kasar yaitu suatu aktivitas yang dilakukan anak dengan menggunakan anggota tubuh dan ototnya untuk suatu tindakan seperti, mengangkat suatu benda, mendorong, melompat, memanjat, dsb. (Baraja, 2008)

2.4

Kemampuan Motorik Remaja Tunanetra Jan et al. (Kinglesy dalam Nawawi, 2010) mengemukakan bahwa anak-anak

yang mengalami ketunanetraan yang parah dengan sistem saraf yang sehat, yang belum pernah diberi kesempatan cukup memadai untuk belajar keterampilan motorik, sering mengalami keterlambatan dalam perkembangannya. Sering kali mereka lemah, daya koordinasinya buruk, berjalannya goyah, dan kedua belah kakinya senantiasa "bertukar tempat". Apabila berjalan kakinya diseret dan tangannya menjulur ke depan. Best (dalam Nawawi dkk, 2009) mengemukakan bahwa anak-anak tunanetra tidak dapat dengan mudah memantau mobilitasnya (gerakannya) dan oleh karenanya dapat mengalami kesulitan dalam memahami apa yang terjadi bila mereka menggerakkan atau merentangkan anggota tubuhnya, membungkukkan atau memutar tubuhnya. Karena mereka tidak dapat melihat gerakan orang lain dengan jelas, mereka tidak bisa mengamati bagaimana orang duduk, berdiri, dan berjalan serta kemudian menirukannya. Maka mereka akan memiliki lebih sedikit kerangka acuan/pola (term of reference), dan mungkin tidak akan menyadari apa artinya "duduk tegak", berjalan kaki melangkah dan tangan diayun, sehingga terjadi keserasian gerak antara kaki, tangan, dan tubuh ketika sedang berjalan. Dampak lain ketunanetraan dapat dilihat pada postur tubuh dan gaya jalan. Akibat ketunanetraan biasanya ia berjalan dengan kaki diseret karena ingin menditeksi jalan yangberlubang, tangan menjulur ke depan karena kalau menabrak sesuatu lebih baik tangan dulu yang menabrak daripada kepala, perut ke depan agar dapat menopang tubuh secara keseluruhan. Kondisi seperti ini akan membentuk Gaya jalan dan postur tubuh yang jelek,dada dan bahu menyempit, postur tubuh bungkuk, kaki bengkok, dll. Kondisi ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Perlu penanganan yang tepat dan

9

profesional. Oleh karena itu tanpa intervensi dan pembinaan mobilitas/gerak yang tepat, benar, dan utuh anak tunanetra tidak akan memiliki mobilitas yang baik. Secara psikologis akan menimbulkan rasa tidak percaya diri (Nawawi, 2010). Berikut tahapan perkembangan perilaku motorik permulaan dalam kaitannya dengan penglihatan (Soemantri, 2006), diantaranya: 1. Tahap Sebelum Berjalan Pertumbuhan dan perkembangan jasmani bersifat chepalocaudal atau mulai dari kepala ke arah kaki. Akibat ketunanetraan, gangguan atau hambatan yang terjadi dalam perkembangan koordinasi tangan dan koordinasi badan akan berpengaruh pada perilaku motorik tunanetra di kemudian hari (setelah dewasa). (Soemantri, 2006) 2. Tahap Berjalan Salah satu keterbatasan yang palin menonjol pada tunanetra ialah kemampuan dalam berpindah-pindah tempat. Namun demikian, kekurangmampuan ini dapat minimalkan melalui manipulasi lingkungan tempat tunanetra berada, yaitu melalui penciptaan lingkungan yang lebih berarti yang memungkinkan mereka mampu mengembangkan pertumbuhan jasmani dan geraknya secara bebas dan aman. Hambatan-hambatan dalam perkembangan motorik tunanetra berhubungan erat dengan ketidakmampuannya dalam penglihatannya yang selanjutnya berpengaruh terhadap faktor psikis dan fisik. Manifestasinya tampak pada bagaimana cara berjalan dan menggerakan tangannya. Pada saat berjalan, orang tunanetra sering tampak kaku, tegang, lamban atau pelan, disertai dengan perasaan was-was dan kehati-hatian. Begitu pula pada saat mereka menggunakan tangannya untuk melakukan suatu aktivitas

tertentu yang belum familiar serta gerakan-gerakan tubuh yang kurang harmonis. (Soemantri, 2006) 2.5 Pertanyaan Penelitian Terkait dengan latar belakang dan focus kajian dari penelitian ini, maka yang menjadi pertanyaan dalam penelitian ini adalah bagaimana kemampuan motorik seorang remaja tunanetra di Panti Bina Netra Widya Guna, Bandung.

10

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Metode Pendekatan Masalah Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Creswell (2005) mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai suatu proses penelitian ilmiah yang ditujukan untuk memahami masalah-masalah manusia dalam konteks sosial dengan menciptakan gambaran-gambaran menyeluruh dari kompleks yang disajikan,

melaporkan pandakan terperinci dari para narasumber, serta dilakukan dalam setting yang alamiah tanpa adanya intervensi apapun dari peneliti.

3.2 Unit Analisis 3.2.1 Subjek Penelitian Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling yang termasuk kedalam non probability sampling, artinya responden sengaja dipilih berdasarkan karakteristik yang telah ditetapkan dan sesuai dengan tujuan penelitian.

Karakteristik responden dalam penelitian ini, yaitu:

a. Remaja tuna netra b. Mengikuti kelas rehabilitasi sosial atau pendidikan formal di Panti Bina Netra Wyata Guna

11

3.2.2 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Panti Bina Netra Wyata Guna. Panti Bina Netra Wyata Guna beralamatkan di Jalan Padjajaran No. 52, Bandung 40171. Pengambilan data dilakukan di Asrama Putri Cempaka. Lokasi tersebut dipilih untuk memenuhi karakteristik responden dalam penelitian ini.

3.3 Metode Pengumpulan Data Penelitian ini merupakan penelitian dengan metode pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi. Herdiansyah (2010)

mendefinisikan observasi sebagai suatu kegiatan mencari data yang dapat digunakan untuk memberikan suatu kesimpulan atau diagnosis. Adapun metode observasi yang digunakan yakni behavioral checklist. Herdiansyah (2010) mendefinisikan behavioral checklist sebagai suatu metode dalam observasi yang mampu memberikan keterangan mengenai muncul atau tidaknya perilaku yang diobservasi dengan memberikan tanda cek (√) jika perilaku yang diharapkan muncul. Dalam pelaksanaan metode tersebut, tim peneliti terlibat secara langsung selama proses pengambilan data.

3.4 Teknik Analisis Data Dalam penelitian ini, langkah-langkah yang digunakan dalam menganalisis data yaitu:

a. Reduksi data, yakni pengumpulan semua data yang diperoleh kemudian dipilih sesuai kebutuhan penelitian. b. Membuat kesimpulan dari data.

12

BAB IV

PEMBAHASAN 4.1 Tahapan Penelitian Tahapan awal dari penelitian ini adalah melakukan konsultasi dengan dosen pengajar mengenai judul penelitian serta langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan dalam melaksanakan penelitian sebelum kami mengunjungi Panti Bina Netra Widya Guna. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai tunanetra, kami mencari informasi mengenai gambaran kemampuan motorik tunanetra melalui berbagai referensi. Berbagai referensi tersebut digunakan sebagai dasar dari dibentuknya suatu definisi operasional. Kemudian disusunlah indikator serta item-item yang terkait dengan penjelasan pada definisi operasional. Indikator serta item-item inilah yang diolah kedalam bentuk checklist behavior yang akan digunakan dalam mengumpulkan data ketika proses observasi berlangsung serta membantu kami untuk memberikan suatu interpretasi. Tahapan pelaksanaan penelitian yakni ketika proses observasi berlangsung. Dalam hal ini metode yang digunakan adalah checklist behavior yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan motorik tunanetra. Pada tahap awal penelitian telah disusun indikator serta item-item yang kemudian diolah ke dalam bentuk checklist behavior, hal inilah yang dijadikan sebagai pedoman dalam berlangsungnya proses observasi. Indikator-indikator tersebut meliputi cara berjalan, postur tubuh dan gerakan tangan. Subjek observasi berjumlah satu orang yang memenuhi kriteria serta kebutuhan penelitian. Proses observasi berlangsung di ruang tamu Asrama Putri Cempaka, Panti Bina Netra WyataGuna Bandung. Observasi dilakukan sebanyak satu kali pada tanggal 24 Mei 2011 pada pukul 14.30-15.00. Selama proses observasi, peneliti tidak hanya melihat subjek dari jauh, namun juga terlibat langsung dalam perbincangan dengan subjek. Seperti meminta tolong subjek berjalan kaki ke arah kamarnya untuk mengambil sesuatu serta untuk menuliskan huruf Braille pada selembar kertas.

13

4.2 Hasil Observasi Penelitian dengan judul “Kemampuan Motorik pada Remaja Tunanetra” ini menggunakan metode observasi dengan checklist behavior untuk melihat kemampuan motorik pada remaja putri tuna netra yang tinggal di asrama Panti Bina Netra WyataGuna Bandung. Proses observasi dilakukan di ruang tamu Asrama Putri Cempaka, yakni salah satu asrama putri yang ada di Panti Bina Netra WyataGuna Bandung. Berdasarkan pada definisi operasional, indikator yang dijadikan pedoman dalam proses observasi yakni pada cara berjalan, postur tubuh dan gerakan tangan. Subjek dalam penelitian ini yakni remaja putri tunanetra yang tinggal di Asrama Putri Cempaka Panti Bina Netra WyataGuna Bandung. Subjek merupakan remaja putrid berusia 14 tahun dengan ketidakmampuan melihat secara total, dapat dikatakan subjek merupakan induvidu dengan totally blind. Sebelum observasi dimulai, subjek sedang bermain bersama teman-temannya di kamar. Kemudian kami ajak keluar menuju ruang tamu asrama. Saat itulah proses observasi telah dimulai, yakni observasi pada cara subjek berjalan kemudian mengarah pada indikator-indikator lainnya. Proses observasi berlangsung selama kurang lebih 20 menit. Menurut hasil observasi yang dilakukan, subjek memenuhi 9 item dari 12 item yang tersedia. Pada indikator cara berjalan, item-item yang terpenuhi dalam tabel checklist behavior yaitu tubuhnya sempoyongan dan tangannya menjulur ke depan saat berjalan, subjek juga melangkah dengan ragu. Pada indikator postur tubuh, keempat item dalam tabel checklist behavior terpenuhi yakni dada dan bahu menyempit, postur tubuh bungkuk, kaki bengkok dan perut membusung ke depan. Selanjutnya pada indikator gerakan tangan, item-item yang terpenuhi yakni meraba-raba ketika hendak mengambil sesuatu, ketika berjalan tangan terkadang menjulur ke depan/meraba-raba. Berdasarkan hasil observasi yang telah dijabarkan diatas serta merujuk kepada tiga indikator dalam definisi operasional remaja tunanetra, baik cara berjalan, postur tubuh serta gerakan tangan, dapat disimpulkan subjek mempunyai kemampuan motorik yang kurang baik. Sebab berdasarkan pada hasil dari tabel checklist behavior menunjukkan lebih sedikit item yang diberi checklist pada kolom “tidak”. Sehingga lebih banyak item pada kolom “iya” yang terpenuhi.

14

4.3 Pembahasan Hasil Observasi Hambatan dalam penglihatan menimbulkan beberapa kesulitan bagi subjek. Beberapa kesulitan sebagai dampak dari ketunanetraan dapat dilihat dari cara berjalan dan postur tubuh. Kesulitan subjek untuk bergerak seperti tubuhnya sempoyongan, tangannya menjulur ke depan dan melangkah dengan ragu ketika berjalan. Subjek memiliki postur tubuh dengan bahu dan dada menyempit, badannya bungkuk, kakinya bengkok serta perutnya agak membusung ke depan. Hambatan penglihatan ini juga berpengaruh pada kemampuan motorik halusnya, sehingga mereka masih perlu merabaraba dan merasakannya ketika hendak mengambil sesuatu, serta kemampuannya dalam menulis. Best (dalam Nawawi dkk, 2009) mengemukakan bahwa anak-anak tunanetra tidak dapat dengan mudah memantau mobilitas (gerakannya), pernyataan tersebut relevan dengan hasil dari observasi pada penelitian ini. Pada indikator cara berjalan, subjek memenuhi item-item yakni tubuhnya sempoyongan dan saat berjalan tangannya menjulur ke depan, hal ini menunjukkan bahwa subjek berusaha mengatur mobilitas (gerakannya). Meskipun saat berjalan subjek sudah tidak lagi menyeret kedua kakinya, namun ketika melangkah subjek terlihat melangkah dengan ragu. Selain dari indikator cara berjalan, item-item pada indikator postur tubuh juga menunjukkan hasil yang cukup signifikan. Dada dan bahu subjek menyempit, postur tubuhnya bungkuk, kakinya bengkok tidak seperti remaja normal lainnya serta perutnya agak membusung ke depan. Hal tersebut mungkin saja terjadi karena mereka tidak dapat melihat gerakan orang lain dengan jelas, mereka tidak bisa mengamati bagaimana orang duduk, berdiri, dan berjalan serta kemudian menirukannya. Menurut Best (dalam Nawawi,2009), individu tunanetra akan memiliki lebih sedikit kerangka acuan/pola (term of reference), dan mungkin tidak akan menyadari apa artinya "duduk tegak", berjalan kaki melangkah dan tangan diayun, sehingga terjadi keserasian gerak antara kaki, tangan, dan tubuh ketika sedang berjalan. Indikator terakhir dari definisi operasional sedikit banyak menunjukkan itemitem pada gerakan motorik halus, seperti kemampuan untuk mengambil sesuatu, kemampuan dalam menulis serta koordinasi gerakan tubuh. Hasil observasi

15

menunjukkan bahwa subjek memenuhi salah satu item pada indikator gerakan tangan yakni meraba-raba saat hendak mengambil sesuatu. Hal ini terlihat saat subjek hendak mengambil alat menulis huruf Braille di kamarnya. Meskipun sudah mampu menulis dengan huruf Braille, namun subjek masih tampak kesulitan menggerakkan tangannya untuk membentuk satu kalimat tertentu dengan menggunakan huruf Braille. Setelah selesai menulis, subjek juga mengecek kembali hasil tulisannya dan ia menemukan kesalahan pada penulisan kalimatnya. Kesulitan yang tampak dapat diakibatkan oleh kurangnya stimulus serta informasi yang didapat oleh subjek sebagai individu yang tunanetra. Sehingga hal tersebut akan mempengaruhi perkembangannya terutama pada kemampuan motorik. Berdasarkan penelitian oleh Jan et al. (Kinglesy dalam Nawawi, 2010) yang mengemukakan bahwa anak-anak yang mengalami ketunanetraan yang parah dengan sistem saraf yang sehat, apabila belum pernah diberi kesempatan cukup memadai untuk belajar keterampilan motorik, maka akan sering mengalami keterlambatan dalam perkembangannya. Hal ini membuktikan bahwa individu tunanetra akan mungkin mengalami keterlambatan dalam perkembangannya apabila dibandingkan dengan perkembangan pada individu normal seusianya.

16

BAB V

PENUTUP 5.1 Kesimpulan Dari observasi yang telah dilakukan melalui teknik checklist behavior untuk melihat kemampuan motorik didapatkan beberapa kesimpulan bahwa subjek memiliki kemampuan motorik yang “kurang baik”. Ketunanetraan yang dialami subjek berpengaruh pada perkembangannya, terutama dalam kemampuan motorik. Sehingga perkembangan subjek mengalami keterlambatan jika dibandingkan dengan

perkembangan motorik pada remaja seusianya.

5.2 Saran 1. Menambah sarana dan prasrana untuk pengembangan kemampuan motorik, baik motorik kasar maupun motori halus. 2. Mengadakan kegiatan-kegiatan yang dapat merangsang kemampuan motorik remaja tunanetra. 3. Memberikan kesempatan bagi remaja tunanetra untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan motorik yang mereka miliki. 4. Membimbing remaja tunanetra agar dalam proses perkembangannya tidak mengalami keterlambatan yang kian jauh dengan remaja seusianya. 5. Untuk penelitian selanjutya, sebaiknya menggunakan metode dengan teknik pengumpulan data yang lebih lengkap dan terperinci. Karena diperlukan itemitem yang lebih spesifik pada kemampuan motorik remaja tunanetra, sehingga dalam pengkajiannya dapat dilakukan dengan lebih mendalam.

17

DAFTAR PUSTAKA

Andriyani. (Desember 2010). Perkembangan Motorik Anak Tunanetra. Diakses dari andriyani003.blogspot.com/2010/12/perkembangan-motorik-anaktunanetra_11.html tanggal 01 Mei 2011 Asniarno, Fica. (2010). “Pengaruh Gerak Dasar pada Pendidikan Jasmani Adaptif dalam Meningkatkan Kemampuan Motorik Anak Tuna Rungu di SLB B/C Yayasan Pembina Sekolah Luar Biasa (YPLSB) Kartasura Tahun 2009”. Diakses dari eprints.uns.ac.id/194/ tanggal 1 Mei 2011 Baraja, Abubakar. 2008. Psikologi Perkembangan: Tahapan-tahapan dan Aspekaspeknya dari 0 tahun sampai akil baligh. Jakarta: Studia Press Creswell, John W. 2005. Educational Research: Planning, Conducting, and Evaluating Quantitative and Qualitative Research. New Jersey: Pearson Education International Herdiansyah, Haris. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif Untuk Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta: Salemba Humanika Nawawi, Ahmad, dkk. (2009). “Pentingnya Orientasi dan Mobilitas Bagi Tunanetra”. Diakses dari makalah dalam file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND.../Gaya_Jalan_ Tunanetra.pdf tanggal 1 Mei 2009 _______. (2010). “Analisis Mobilitas Tunanetra”. Diakses dari makalah dalam file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND.../Gaya_Jalan_ Tunanetra.pdf tanggal 1 Mei 2009 Papalia, D. E, Sally W. O. dan Ruth D. F. 2008. Human Development. Edisi 10. New York: McGraw-Hill Sarwono, Sarlito W. 2007. Psikologi Remaja. Jakarta: Salemba Humanika

18

Soemantri, T. Sutjihati. 2006. Psikologi Anak Luar Biasa. Bandung: PT. Refika Aditama Sunanto, Juang. 2008. “Bahasa dan Ketunanetraan”. Universita Pendidikan Indonesia jurusan Pendidikan Luar Biasa Tarsidi, Didi. (4 Maret 2009). “Dampak Ketunanetraan terhadap Pembelajaran Bahasa”. Diakses dari slbk-batam.org/cetak.php?id=98 tanggal 1 Mei 2011

19

LAMPIRAN 1 –Kemampuan Motorik Remaja TunanetraDefinisi: Menurut Soemantri (2006), tunanetra adalah individu yang indera penglihatannya (keduanya) tidak berfungsi sebagai saluran penerima informasi dalam kegiatan seharihari seperti halnya orang awas. Motorik kasar yaitu suatu aktivitas yang dilakukan anak dengan menggunakan anggota tubuh dan ototnya untuk suatu tindakan seperti, mengangkat suatu benda, mendorong, melompat, memanjat, dsb. Sedangkan, motorik halus merupakan suatu aktivitas yang dilakukan anak dengan menggunakan keterampilan-keterampilan tangan maupun kakinya seperti menulis, merangkai, menyusun benda menjadi teratur, dsb. (Baraja, 2008). Best (dalam Nawawi dkk, 2009) mengemukakan bahwa anak-anak tunanetra tidak dapat dengan mudah memantau mobilitasnya (gerakannya) dan oleh karenanya dapat mengalami kesulitan dalam memahami apa yang terjadi bila mereka menggerakkan atau merentangkan anggota tubuhnya, membungkukkan atau memutar tubuhnya. Definisi Operasional : Remaja tunanetra adalah individu yang memiliki keterbatasan penglihatan. Kemampuan motorik renaja tunanetra berupa kemampuan motorik kasar dan halus yang menyatu dalam postur tubuh dan gaya jalan seorang individu. Indikator kemampuan motorik remaja tunanetra diuraikan sebagai berikut: a. Berjalan Tubuhnya sempoyongan Tangan menjulur ke depan Kaki diseret Kedua belah kaki senantiasa bertukar tempat Melangkah dengan ragu

20

b. Postur Tubuh Dada dan bahu menyempit Postur tubuh bungkuk Kaki bengkok Perut membusung ke depan

c. Gerakan tangan Meraba-raba ketika hendak mengambil sesuatu Kesulitan dalam menggerakkan tangan untuk menulis Ketika berjalan tangan cenderung menjulur kedepan Antara gerakan tangan dan badan dalam melakukan sesuatu cenderung kurang harmonis

21

LAMPIRAN 2 Checklist Behavior –Kemampuan Motorik Remaja Tunanetra-

Nama Subjek Nama Observer

: Harti : Riasri

Hari,tanggal Waktu

: Selasa, 24 Mei 2011 : 14.40 – 15.00 WIB

Situasi

: Subjek sedang bermain dengan teman sekamarnya di kamar. Saat kami datang, kami menyapanya dan memintanya untuk keluar kamar untuk berbincang-bincang. Akhirnya, subjek menghampiri kami ke ruang tamu.

Petunjuk

: Berilah tanda checklist (√) pada kolom isian „ya‟ jika perilaku dalam indikator tersebut muncul pada subjek dan beri checklist pada „tidak‟ jika perilaku dalam indikator tersebut tidak muncul pada subjek.

No. Perilaku yang Muncul 1 2 3 4 Tubuhnya sempoyongan Tangan menjulur ke depan Kaki diseret Kedua belah kaki senantiasa bertukar tempat

Ya √ √

Tidak

Keterangan

√ 5 Melangkah dengan ragu √

22

6 7 8 9 10

Dada dan bahu menyempit Postur tubuh bungkuk Kaki bengkok Perut membusung ke depan Meraba-raba ketika hendak mengambil sesuatu

√ √ √ √

√ 11 Kesulitan dalam menggerakkan tangan untuk menulis √ Menulis Braille huruf

12

Antara gerakan tangan dan badan dalam melakukan sesuatu cenderung kurang harmonis √

Interpretasi: Kesimpulan: Subjek dikatakan memiliki kemampuan motorik baik jika indikator

“tidak” lebih banyak diberikan tanda checklist daripada indikator “ ya” Subjek dikatakan mempunyai kemampuan motorik cukup baik jika indikator “tidak” sama banyaknya diberikan tanda checklist daripada indikator “ ya” Subjek dikatakan mempunyai kemampuan motorik kurang baik jika indikator “tidak” lebih sedikit diberikan tanda checklist daripada indikator “ya”.

23

LAMPIRAN 3 Dokumentasi Proses Observasi

The Beautiful “Harti”

Harti and me =D

Iis, Harti and me…

Harti in Action!!

24

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful