Politik Indonesia di Era Kepemimpinan Rezim Orde Baru

Politik Indonesia di Era Kepemimpinan

Rezim Urde Baru

Bisusun untuk memenuhi nilai tugas mata kuliah
Pendidikan Kewarganegaraan

Bosen:
Noitaza A. Syafinuuuin Bammaua

D|susun C|ehť
Indah ketnon|ngs|h (206000180)
k|asr| Nurw|retno (2090000S3)
Dwy L|nda Su||styan|ngrum (209000128)
S|d|k Au||a kahman (20900031S)
Gama| AŦG


UNIVLkSI1AS ÞAkAMADINA
IAkAk1A
2011
ÞollLlk lndonesla dl Lra kepemlmplnan 8ezlm Crde 8aru

Þ
L
n
u
A
P
u
L
u
A
n


2

Ŧ
PENDAHULUAN


Dewasa ini, rumpun ilmu sosial adalah rumpun ilmu yang memiliki
perkembangan yang sangat pesat serta dinamis. Di dalam ilmu sosial ini, salah satunya
terdapat ilmu tentang politik, ilmu yang kira kira bisa dikatakan sarat dengan tampuk
kekuasaan jika kita membahas dalam konteks negara. Jika kita amati di setiap era atau
zaman, terdapat tokoh paling berpengaruh pada era itu yang menyangkut dengan
konteks kepemimpinan politiknya dalam suatu negara yang dipimpinnya. Banyak sekali
contoh - contoh tipe kepemimpinan transIormasional dan tipe kepemimpinan
transaksional yang layak di jadikan patronase pada setiap individu atau kelompok yang
akan berkecimpung di dunia politik lokal, maupun internasional dengan kancah global.
Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan seorang pemimpin dalam periode
kepemimpinannya pun merupakan indikator hidup dan mati nya suatu negara dalam
melaksanakan pemerintahan dan usaha untuk mempertahankan eksistensinya dalam
dunia perpolitikan dalam negeri maupun tingkat internasional. Pada dasarnya, setiap
negara itu berhak dan mempunyai manuver-manuver politik dalam negeri maupun luar
negerinya dalam mengambil suatu kebijakan publik yang berdampak pada masyarakat
di negara itu sendiri maupun bagi masyarakat globalisasi.
Kepentingan nasional merupakan suatu cerminan dari paham realis yang
berkembang dalam konteks ilmu hubungan internasional, dan merupakan tameng suatu
negara dalam mencapai hasil yang maksimal untuk negaranya. Jika kami analisa, sesuai
dengan judul makalah kami yaitu 'Politik Indonesia di era kepemimpinan rezim Orde
Baru¨ sangatlah cocok jika kami mengkaji secara observatiI tentang situasi politik
Indonesia baik dalam maupun luar negeri.
Di dalam setiap negara, Pemimpin harus mempunyai intuisi sebagai nakhoda
kapal ketika kehilangan arah dalam samudera lepas untuk mengambil keputusan bagi
awak kapalnya. Begitu pula pemimpin negara yang harus bisa mengendalikan suasana
internal politik dalam negeri sehingga dapat dijadikan acuan untuk melancarkan
kebijakan luar negerinya.
ÞollLlk lndonesla dl Lra kepemlmplnan 8ezlm Crde 8aru

8
u
M
u
S
A
n

M
A
S
A
L
A
P


3

Ŧ

#UMUSAN MASALAH

Pembangunan merupakan sebuah usaha, untuk memperoleh kesejahteraan atau
taraI hidup yang lebih baik yang ditunjukkan bagi negara negara yang berkembang.
Pada umumnya, negara-negara berkembang, sangat percaya bahwa pembangunan
adalah pilihan mutlak untuk menciptakan kesejahteraan penduduknya.
Pembangunan juga menyoroti masalah tradisionalisme, bahwa itu adalah suatu
masalah yang semestinya tidak berkembang di zaman globalisasi saat ini. Seperti apa
yang dikatakan W.W.Rostow dalam teori pembangunannya yang sangat menentang
tradisionalism, teorinya tersebut terkenal dengan the five stage scheme, Rostow
berpendapat bahwa masyarakat pada dasarnya adalah tradisional. Dan Tradisional itu
sendiri dianggap sebagai suatu masalah. Untuk itu, tradisional harus di rubah menjadi
modern. Sehingga pembngunan, mutlak di perlukan sebagai prasarat menuju
masyarakat modern.
Pemahaman tentang pembangunan sering diasumsikan sebagi sesuatu yang
dapat menyelesaikan segala persoalan yakni kemiskinan, keterbelakangan, dan masalah
masalah ekonomi dan industri yang dianggap sebagai agent oI change sebagai
perubahan dalam pembaharuan hidup.
Sedangkan menurut HaniI Suranto (2006), bahwa paradigma pembangunan,
yang menjadi landasan pembangunan bagi negara negara dunia ketiga ternyata telah
melahirkan sejumlah problem yang dihadapi berbagai komunitas. Antara lain adalah
hancurnya identitas kultural dan perangkat kelembagaan yang dimiliki komunitas akibat
penyeragaman, hancurnya basis sumber daya alam (ekonomi) komunitas akibat
eksploitasi oleh negara atas nama pembangunan; serta melemahnya kapasitas komunitas
dalam menghadapi problem-problem komunitas akibat dominasi negara. Selanjutnya ia
menyatakan bahwa kondisi-kondisi tersebut menampilkan wujudnya paling nyata dalam
berbagai konIlik antara komunitas dengan Negara. Kondisi inilah yang ternyata
ÞollLlk lndonesla dl Lra kepemlmplnan 8ezlm Crde 8aru

8
u
M
u
S
A
n

M
A
S
A
L
A
P


4

Ŧ
diinginkan oleh para pencetus paham pembangunan, sehingga mereka mampu masuk
dalam kehidupan untuk mengambil keuntungan pribadi, hal yang tidak pernah disadari
oleh para elite pemerintahan, di negara dunia ketiga.
Ketika membicarakan masalah Indonesia dengan mengaitkan akan eksistensi
paham pembangunan di Negara ini, maka yang akan dibicarakan, dalam wacana
Indonesia adalah, pada masa Orde baru, karena masa keemasan paham Pembangunan di
Indonesia, terjadi pada masa Rezim Orde Baru yang sistem pemerintahannya, tidak
dipegang oleh Negarawan, tetapi di pegang oleh militer yang otoriter.
Dari latar belakang tersebut kami bisa mengambil beberapa masalah yang bisa
kami angkat pada makalah yang kelompok kami buat yakni:
1. Bagaimana cara suatu Negara mempertahankan eksistensinya dalam dunia
perpolitikan dalam negeri maupun luar negeri (tingkat Internasional) pada masa
era orde baru?
2. Apa yang menjadi kajian observatiI tentang situasi politik Indonesia baik dalam
negeri maupun luar negeri (Internasional) pada masa orde baru?










ÞollLlk lndonesla dl Lra kepemlmplnan 8ezlm Crde 8aru

L
A
n
u
A
S
A
n

1
L
C
8
l


3

Ŧ
LANDASAN TEO#
PENGE#TAN POLT

Politik adalah bermacam-macam kegiatan dalam suatu sitem politik (atau
negara) yang manyangkut proses menentukan tujuan-tujuan dari sistem itu dan
melaksanakan tujuan itu. Politik selalu menyangkut tujuan-tujuan dari seluruh
masyarakat/5:-ic goas, dan bukan tujuan pribadi seseorang/57ivate goas.
1


Diambil dari berbagai kepustakaan ilmu politik, dapat disimpulkan ada tiga cara
yang pernah digunakan untuk menjelaskan pengertia politik. Pertama,
mengidentiIikasikan kategori-kategori aktivitas yang membentuk politik. Kedua,
menyusun suatu rumusan yang dapat merangkum apa saja yang dapat dikategorikan
sebagai politik. Ketiga, menyusun daItar pertanyaan yang harus dijawab untuk
memahami politik.
2


MEANSME SSTEM POLT

Pengambilan keputusan (/ecision making) mengenai tujuan dari sistem politik
menyangkut seleksi antara beberapa alternative dan penyusinan skala prioritas dari
tujuan-tujuan tersebut. Untuk melaksanakan tujuan tersebut perlu ditentukan
kebijaksanaan-kebijaksanaa umum (5:-ic 5oicies) yang menyangkut pengaturan dan
pembagian (/ist7i-:tion) atau alokasi dari sumber-sumber dan resource yang ada.
Kemudian, untuk melaksanakan kebijaksanaan-kebijaksanaan tersebut diperlukan
adanya kekuasaan (5owe7) dan kewenangan (a:tho7ity), yang akan dipakai baik untuk
membina kerjasama maupun untuk menyelesaikan konIlik yang mungkin timbul dalam
proses ini. cara yang dipakai dapat bersiIat persuasi (meyakinkan) atau jika perlu

1
Mlrlam 8udlard[oŦ ÞenganLar llmu ÞollLlkţ (!akarLať ÞenerblL Þ1 Cramedla ÞusLaka uLamaţ 2008)
2
SurbakLlţ 8amlanŦ Memahaml llmu ÞollLlkţ (!akarLať Þ1 Craslndoţ 1992)
ÞollLlk lndonesla dl Lra kepemlmplnan 8ezlm Crde 8aru

L
A
n
u
A
S
A
n

1
L
C
8
l


6

Ŧ
bersiIat paksaan (coe7sion). Tanpa unsure paksaan kebijaksanaan ini hanya merupakan
perumusan keinginan (statement of intent) belaka.
3


PENGE#TAN PEME#NTAHAN

Secara etimologi, kata pemerintahan dapat diartikan sebagai badan yang
melakukan kekuasaan memerintah. Kata 'pemerintah¨ mengandung pengertian adanya
du apihak yang memerintah memiliki kewenangan dan pihak yang diperintah memiliki
kepatuhan. Menurut IilsuI Barat John Lock (dalam Ubaidillah,dkk 2000) tujuan asasi
dari pemerintahan tidak lain untuk melindungi HAM. Dengan pengertian lain bahwa
tujuan utama dibentuknya pemerintahan adalah untuk menjaga suatu sistem ketertiban
dimana masyarakat bisa menjalani kehidupan mereka secara wajar.
4
(Ubaidillah, 2000)













3
Mlrlam 8udlard[oŦ ÞenganLar llmu ÞollLlkţ (!akarLať ÞenerblL Þ1 Cramedla ÞusLaka uLamaţ 2008)
4
ubaldlllahţ AŦ Þendldlkan kewargaanť uemokraslţ PAM dan MasyarakaL Madanlţ (!akarLať lAln !akarLa
Þressţ 2000)
ÞollLlk lndonesla dl Lra kepemlmplnan 8ezlm Crde 8aru

Þ
L
M
8
A
P
A
S
A
n


7

Ŧ
PEMBAHASAN
TEO# PENGE#TAN POLT

Di dalam setiap ilmu, pasti terdapat pengertian tentang ilmu tersebut untuk
menjelaskan bagaimana ilmu itu dipakai. Begitu pula ilmu politik, menurut ProI.
Miriam Budiardjo pada bukunya yang berjudul dasar dasar ilmu politik, disebutkan
bahwa ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari politik atau politics atau kepolitikan.
Masih dalam buku yang sama, politik sendiri adalah usaha untuk menggapai kehidupan
yang lebih baik.
5

Kemudian jika kita masuk lagi kedalam teori politik itu sendiri, masih dalam
buku yang sama, teori politik yang merupakan bidang pertama dari ilmu politik adalah
bahasan sistematis dan generalisasi generalisasi dari Ienomena politik. Teori politik
bersiIat spekulatiI sejauh menyangkut norma norma untuk kegiatan politik, tetapi juga
dapat bersiIat menggambarkan (deskriptiI) atau membandingkan (komparatiI) atau
berdasarkan logika.
6

Di dalam ilmu politik itu sendiri, terdapat ide ide yang tentu saja berperan
penting dalam perkembangan ilmu politik itu sendiri. Ide sendiri lahir mengikuti zaman
dan kebutuhan. Ide itu sendiri tak bisa lepas dari norma norma dan nilai yang
berkembang di zamannya. Sebagai bagian dari imu sosial, ilmu politik pun tentu
bersiIat dinamis sesuai dengan kebutuhan zamannya.
Jika kita kaitkan dalam kepemimpinan di era orde baru di bawah kepemimpinan
Presiden Soeharto di Indonesia. Politik yang berkembang pada saat itu adalah dominasi
EksekutiI yang sangat sekali dominan sehingga kontrol dari legislatiI sangatlah lemah
atau bisa dibilang adalah otoriter yang keputusan langsung berada di tangan presiden
sehingga check an/ -aance sama sekali tidak berlaku pada saat itu.

3
Mlrlam 8udlard[oţ ÞenganLar llmu ÞollLlkţ (!akarLať ÞenerblL Þ1 Cramedla ÞusLaka uLamaţ 2008) hlmŦ
13Ŧ
6
lbldţ hlmŦ 23
ÞollLlk lndonesla dl Lra kepemlmplnan 8ezlm Crde 8aru

Þ
L
M
8
A
P
A
S
A
n


8

Ŧ
MEANSME SSTEM POLT

Di Era orde baru, Presiden Soeharto adalah pemimpin yang bekerja berdasarkan
konsep dan mekanisme yang ada. Mekanisme sistem politik yang ada di rezim orde
baru adalah terdapat pengkerdilan partai politik atau bahasa halusnya adalah
penyederhanaan partai politik. Kemudian sebagai wujud dari pembangunan demokrasi
di Indonesia, rezim orde baru juga melaksanakan pemilu, namun lebih terlihat sebagai
Iormalitas karena sudah menjadi rahasia umum bahwa Golkar di bawah kendali
Presiden Soeharto yang akan memenangkan pemilu.
Dalam mekanisme politik zaman Orde Baru partai Islam sedikit demi sedikit
mengalami pasiIikasi, sehingga aspirasi politik Islam makin lama makin surut. Diluar
partai Islam, terdapat pula aspirasi politik yang cukup kuat, namun selalu mendapat
perhatian khusus dan pengawasan yang ketat.
7
Aspirasi politik islam yang bukan dari
partai islam dimaksudkan adalah kelompok islam yang ada pada era itu seperti
Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, FPI, ataupun PERSIS, yang nantinya
Muhammadiyah ini setelah reIormasi membuat partai PAN dan Nahdatul Ulama
membuat PKB.

POLTAL #OLE

Presiden Soeharto memulai orde baru dengan mengubah beberapa kebijakan
politik dalam dan luar negeri Indonesia. Beberapa kebijakan politik yang dilakukan
adalah kebijakan lustrasi. Kebijakan lustrasi adalah kebijakan yang menghukum orang
orang yang terkait dengan Partai Komunis Indonesia( PKI). Sanksi kriminal dilakukan
dengan melakukan Mahkamah Militer Luar Biasa untuk mengadili tersangka .
Sedangkan untuk sanksi non-kriminal diberlakukan dengan melakukan pengucilan

7
hLLpť//se[arahŦflbŦugmŦacŦld/arLdeLallŦphp?ldƹ8 dlakses 13 CkLober 2011
ÞollLlk lndonesla dl Lra kepemlmplnan 8ezlm Crde 8aru

Þ
L
M
8
A
P
A
S
A
n


9

Ŧ
politik. Presiden Soeharto juga mendaItarkan Indonesia menjadi anggota PBB lagi.
Indonesia masuk kembali ke PBB pada tanggal 28 September 1966.
Pada saat zaman Pemerintahan Soeharto , warga Tiong Hoa atau keturunan
tionghoa dilarang berekspresi. Hal ini juga termasuk dalam kebijakan Soeharto untuk
melarang warga Indonesia belajar bahasa Mandarin, merayakan hari imlek, dan
melakukan kesenian Barong Sai. Presiden Soeharto khawatir jika keturunan Tiong Hoa
akan menyebarkan pengaruh Komunis bila dibebaskan berekspresi.
Kebijakan Politik lain yang dilakukan oleh Presiden Soekarno adalah melakukan
transmigrasi besar besaran dari daerah yang padat penduduknya seperti Jawa, Bali, dan
Madura ke daerah yang kurang padat penduduknya seperti Kalimantan, Timor Timor,
Sulawesi, dan Irian Jaya. Kebijakan ini tidak berjalan dengan baik, karena kebijakan ini
menyebabkan marjinalisasi terhadap pendatang. Karena kebijakan ini juga muncul
tuduhan bahwa transmigrasi sama dengan jawanisasi meskipun tidak semua orang yang
ditransmigrasi adalah orang jawa.
Tujuan dari seluruh perubahan kebijakan politik dalam dan luar negeri oleh
Presiden Soeharto adalah untuk membangun dan meningakatka kekuatan ekonomi
Indonesia. Perubahan kebijakan yang dilakukan oleh Presiden Soeharto terbukti
berhasil. Bukti konkretnya adalah Indonesia menjadi macan Asia pada zaman
Pemerintahan Presiden Soeharto. Akan tetapi, meskipun Indonesia mengalami
kemajuan yang sangat pesat pada masa Pemerintahan Soeharto ada banyak kerugian
atau eIek negatiI pada warga Indonesia itu sendiri.

POLT MASA O#DE BA#U

Pelaksanaan awal kehidupan demokrasi pada masa Orde Baru menunjukkan
kemajuan. Namun pada perkembangannya, kehidupan demokrasi di Indonesia tidak
berbeda dengan masa Demokrasi Terpimpin. Kemudian untuk menjalankan Demokrasi
Pancasila maka Indonesia memutuskan untuk menganut sistem pemerintahan
berdasarkan Trias Politika(dimana terdapat tiga pemisahan kekuasaan di pemerintahan
ÞollLlk lndonesla dl Lra kepemlmplnan 8ezlm Crde 8aru

Þ
L
M
8
A
P
A
S
A
n


10

Ŧ
yaitu EksekutiI,YudikatiI, LegislatiI), tetapi kekuasaan itupun tidak terlalu diperhatikan
bahkan cenderung diabaikan.
Berikut ini merupakan penataan kehidupan politik di masa Orde Baru
8
:
Penataan Politik Dalam Negeri

1. Pembentukan Kabinet Pembangunan
2. Pembubaran PKI dan Organisasi masanya
3. Penyederhanaan dan Pengelompokan Partai Politik
4. Pemilihan Umum
Selama masa Orde Baru telah berhasil melaksanakan pemilihan umum
sebanyak enam kali yang diselenggarakan setiap lima tahun sekali.

5. Peran Ganda ABRI
Guna menciptakan stabilitas politik maka pemerintah menempatkan peran ganda
bagi ABRI yaitu sebagai peran hankam dan sosial. Sehingga peran ABRI
dikenal dengan DwiIungsi ABRI.
6. Pemasyarakatan P4
Pada tanggal 12 April 1976, Presiden Suharto mengemukakan gagasan
mengenai pedoman untuk menghayati dan mengamalkan Pancasila yaitu
gagasan Ekaprasetia Pancakarsa. Gagasan tersebut selanjutnya ditetapkan
sebagai Ketetapan MPR dalam sidang umum tahun 1978 mengenai 'Pedoman
Penghayatan dan Pengamalan Pancasila¨ atau biasa dikenal sebagai P4.

7. Mengadakan Penentuan Pendapat Rakyat (Perpera) di Irian Barat dengan
disaksikan oleh wakil PBB pada tanggal 2 Agustus 1969.



8
lndonesla Masa Crde 8aruţ hLLpť//lrwandydasllvaŦblogspoLŦcom/2010/04/lndoneslaŴmasaŴordeŴ
baruŦhLml
ÞollLlk lndonesla dl Lra kepemlmplnan 8ezlm Crde 8aru

Þ
L
M
8
A
P
A
S
A
n


11

Ŧ
Penataan Politik Luar Negeri
Pada masa Orde Baru, politik luar negeri Indonesia diupayakan kembali kepada
jalurnya yaitu politik luar negeri yang bebas aktiI, kebijakan-kebijakan yang ada
seperti:
1. Kembali menjadi anggota PBB.
Indonesia kembali menjadi anggota PBB dikarenakan adanya desakan dari
komisi bidang pertahanan keamanan dan luar negeri DPR GR terhadap
pemerintah Indonesia.

2. Normalisasi hubungan dengan beberapa Negara, seperti: Pemulihan hubungan
dengan Singapura dan Malaysia

SSTEM PEME#NTAHAN O#DE BA#U

Presiden Soeharto memulai "Orde Baru" dalam dunia politik Indonesia dan
secara dramatis mengubah kebijakan luar negeri dan dalam negeri dari jalan yang
ditempuh Soekarno pada akhir masa jabatannya. Orde Baru memilih perbaikan dan
perkembangan ekonomi sebagai tujuan utamanya dan menempuh kebijakannya melalui
struktur AdministratiI yang didominasi militer namun dengan nasehat dari ahli ekonomi
didikan Barat. DPR dan MPR tidak berIungsi secara eIektiI. Anggotanya bahkan
seringkali dipilih dari kalangan militer, khususnya mereka yang dekat dengan Cendana.
Hal ini mengakibatkan Aspirasi rakyat sering kurang didengar oleh pusat. Pembagian
PAD juga kurang adil karena 70° dari PAD tiap provinsi tiap tahunnya harus disetor
kepada Jakarta, sehingga melebarkan jurang pembangunan antara pusat dan daerah.
9


9
lndonesla Lra Crde 8aruţ dlakses darl hLLpť//lndoneslalndoneslaŦcom/f/2390ŴlndoneslaŴeraŴordeŴbaru/

ÞollLlk lndonesla dl Lra kepemlmplnan 8ezlm Crde 8aru

Þ
L
M
8
A
P
A
S
A
n


12

Ŧ
Sejak tahun 1967, Pemerintah Militer otoriter di Indonesia dibawah Soeharto
menjadi pelaksana teori pertumbuhan Rostow yang merupakan akar dari pembangunan,
dan pada saat itu Pemerintah Indonesia menjadikan landasan pembangunan jangka
panjang yang ditetapkan secara berkala untuk waktu lima tahun ¦ PELITA } sehingga
pada masa Rezim Orde Baru, Indonesia sepenuhnya, mengimplementasikan teori
pembangunan kapitalistik yang bertumpu pada ideology dan teori modernisasi serta
implementasi teori pertumbuhan.
Eksistensi paham Pembangunan, baru terjadi di Indonesia ketika Rezim Orde
Baru berkuasa, sejak terbitnya Surat Perintah Sebelas Maret ¦ Supersemar }. Indonesia
kemudian, menjadikan supersemar sebagai suatu pelaksanaan peemerintahan, sehingga
apapun yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia, demi terwujudnya apa yang disebut
pembangunan, yang mulai dari bergabung dengan IGGI pada tahun 1967.
Ada banyak sekali ketimpangan dengan teori pembangunan Indonesia pada
masa Orde Baru, karena dalam watak pemerintah pada saat itu, bahwa pembangunan
adalah hal yang mutlak dilakukan agar Negara mampu berbicara banyak di dunia
Internasional tanpa memperhatikan aspek lain yang mungkin akan dirugikan dengan
pembangunan tersebut, seperti contoh bahwa pembangunan berkelanjutan yang pernah
dicanangkan di Indonesia tidak punya waktu yang jelas dan tidak terukur sehingga hal
tersebut menimbulkan polemik di bidang ekologi karena dengan program pembangunan
yang terus berlangsung tanpa jangka waktu maka secara otomatis bidang ekologi akan
menjadi sasaran empuk untuk dijadikan lading eksploitasi demi kejayaan pembangunan.
Bangsa Indonesia, tidak pernah menyadari bahwa pembangunan yang
dicetuskan oleh aktor kapitalisme, adalah alat baru mereka, untuk menjajah Negara
Negara dunia ketiga termasuk Indonesia, mereka memakai topeng, dengan konsep yang
membuai bangsa Indonesia, seperti membangun Nation-State dengan basis yang sangat
mapan untuk nilai nilai luhur untuk membangun integritas Nasional, konsep
Merekapun berjalan diatas birokrasi modern,doktrin yang disebarkan di tengah tengah
Negara dunia ketiga adalah bahwa untuk mencapai kehidupan yang lebih baik maka kita
harus bergerak dari kehidupan tradisional menuju ke kehidupan yang serba modern.
Oleh sebab itu, dalam proses peralihan tersebut, pemerintah orde baru, banyak sekali
ÞollLlk lndonesla dl Lra kepemlmplnan 8ezlm Crde 8aru

Þ
L
M
8
A
P
A
S
A
n


13

Ŧ
mengabaikan aspek kehidupan seperti di lingkungan yang di eksploitasi demi apa yang
di namakan Modernisasi, kehidupan masyarakat kecil yang terus terusik kehidupannya
karena sering digusur, demi apa yang namanya keindahan kota meskipun melanggar
Undang undang.
Hal lain yang di abaikan oleh pemerintah pada masa Orde Baru adalah ternyata
mereka mengingkari sendiri UUD 1945 pasal 33 ¦1} yaitu Bumi,Air, Udara dikuasai
oleh Negara dan dipergunakan sebesar besarnya untuk kepentingan rakyat, ketika hal
ini dihubungkan dengan konsep pembangunan Rezim Orde Baru, maka banyak hal yang
terabaikan didalamnya, dimana ketiga dimensi tersebut ternyata dikuasai oleh Negara
namun mereka sendiri yang mendapatkan keuntungan didalamnya. Krisis pada saat itu
pecah ketika keburukan system yang diterapkan oleh Pemerintah, sudah mencapai
puncaknya, utang luar negeri sudah membengkak ,kerusakan di sektor Ekologi sudah
sangat parah, Masyarakat hidup dalam ketidakmenentuan politik, segala sesuatu harus
dikerjakan sesuai dengan keinginan pemerintah.
Pembangunan berjaya di Indonesia sejak dekade 1960-an karena ditopang oleh
tiga kekuatan besar yaitu ABRI, Birokrasi dan Golkar,namun meskipun ketiga unsur
tersebut menggawangi Rezim Orde Baru dengan slogan pembangunannya namun
akhirnya runtuh ketika Stabilitas politik, Ekonomi dan aspek kehidupan lainnya sudah
tidak menentu yang puncaknya berakhir pada kegagalan Ekonomi yang di tandai
dengan the Great depression pada tahun 1997.
10






10
Cagalnya Þenerapan uevelopmenLallsm pada Masa Crde 8aruŦ Cplnl 11 May 2011Ŧ
hLLpť//pollLlkŦkompaslanaŦcom/2011/03/11/gagalnyaŴpenerapanŴdevelopmenLallsmŴpadaŴmasaŴordeŴ
baru/Ŧ
ÞollLlk lndonesla dl Lra kepemlmplnan 8ezlm Crde 8aru

k
L
S
l
M
Þ
u
L
A
n


14

Ŧ
ESMPULAN

Rumpun ilmu social merupakan rumpun ilmu yang memiliki perkembangan
yang sangat pesat serta dinamis. Didalam ilmu social ini, salah satunya terdapat ilmu
tentang politik, yakni ilmu yang bisa dikatakan sarat dengan kekuasaan jika kita
membicarakannya dalam konteks Negara. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan
seorang pemimpin dalam periode kepemimpinannya pun merupakan indikator hidup
dan mati nya suatu negara dalam melaksanakan pemerintahan dan usaha untuk
mempertahankan eksistensinya dalam dunia perpolitikan dalam negeri maupun tingkat
internasional.
Pada dasarnya setiap Negara berhak mempunyai maneuver politik dalam negri
maupun luar negri dalam mengambil suatu kebijakan public yang tentunya berdampak
pada masyarakat di Negara itu sendiri maupun bagi masyarakat globalisasi. Jadi bila
kita analisa lebih dalam dapat diambil suatu masalah yakni mengkaji secara observatiI
tentang situasi politik Indonesia baik dalam maupun luar negri. Karena suatu pemimpin
Negara adalah yang harus bisa mengendalikan suasana Internal politik dalam negri
sehingga dapat dijadikan acuan untuk melancarkan kebijakan luar negrinya.
Setiap Negara harus mempunyai strategi-strategi yang berbeda tentunya dengan
Negara lain, strategi politik yang telah di terapkan dalam Negara tersebut bisa
berdampak bagi masyarakat globalisasi. Pada politik dalam Negeri atau bisa dibilang
Indonesia, memiliki strategi atau maneuver-manuver untuk mempertahankan eksistensi
politik tersebut dengan cara melaksanakan pemilu. Pemilu yang diselenggarakan di
Indonesia didasarkan pada asas LUBER (Langsung, Umum, Bebas, dan Rahasia).
Untuk pelaksanaan strategi politik luar negri Indonesia diupayakan kembali kepada
jaluryaitu politik luar negeri yang bebas aktiI. Untuk itu maka MPR mengeluarkan
sejumlah ketetapan yang menjadi landasan politik luar negeri Indonesia. Dimana politik
luar negeri Indonesia harus berdasarkan kepentingan nasional, seperti permbangunan
nasional, kemakmuran rakyat, kebenaran, serta keadilan. Lalu yang menjadi kajian
observatiI tentang situasi politik dalam negeri maupun luar negeri adalah terletak dalam
penataan dari strategi-strategi politik itu sendiri.
ÞollLlk lndonesla dl Lra kepemlmplnan 8ezlm Crde 8aru

8
L
l
L
8
L
n
S
l


13

Ŧ
#EFE#ENS

Miriam Budiardjo. !enganta7 Im: !oitik. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka
Utama, 2008.
Surbakti, Ramlan. Memahami Im: !oitik. Jakarta: PT Grasindo,1992.
Ubaidillah, A. !en/i/ikan Kewa7gaan. Demok7asi, HAM /an Masya7akat Ma/ani.
Jakarta: IAIN Jakarta Press, 2000.
http://indonesiaindonesia.com/I/2390-indonesia-era-orde-baru/
http://sejarah.Iib.ugm.ac.id/artdetail.php?id÷8

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful