I.

IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis Kelamin Anak ke Alamat Pendidikan Agama Suku Bangsa Status Perkawinan RMK Tanggal kunjungan ke poli : An. AR : 7 tahun : Perempuan : 1 dari 1 bersaudara : Marabahan : Tidak sekolah : Islam : Banjar : Indonesia : Belum Kawin : 953872 : 13 September 2011

II.

RIWAYAT PSIKIATRI Diperoleh dari alloanamnesa dari ayah dan ibu pasien pada tanggal 13 September 2011, pukul 10.00 WITA .

a.

Keluhan Utama: Tidak bisa diam

b.

Keluhan tambahan Sulit berkomunikasi

c.

Riwayat Gangguan Sekarang: Sejak umur ± 4 tahun, penderita sulit diam dan sulit diajak bicara (kontak mata bila diajak bicara sangat singkat). Bila bermain mudah bosan, tidak bisa fokus pada satu permainan. Penderita mudah tertarik pada benda yang

bergambar/berwarna menarik meskipun benda tersebut bukan mainan anak-anak. Saat ini di sekolah (TK) penderita sulit bergaul dengan teman sebayanya, sulit diam, dan sulit memusatkan perhatian pada gurunya. Penderita terlihat sedih jika ditinggal ibunya, senang jika ibunya datang. Penderita senang berputar-putar pada sumbu tubuhnya dan sering memukul-mukulkan tangan ke dagunya. Penderita marah bila aktivitas tersebut dihentikan dengan paksa. Penderita bilang bila menginginkan sesuatu.

d. Riwayat Gangguan Sebelumnya: Pada umur 2 tahun penderita baru bisa mengoceh tak beraturan, tidak dapat dimengerti, dan tidak berkomunikasi. Kalaupun menyebut ”mama” bukan berarti memanggil ibunya (bicara ”mama” ke semua orang). Penderita menunjuk-nunjuk bila menginginkan sesuatu. Penderita sering menggerak-gerakkan kedua tangan ke dada atau ke samping seperti mengepak-ngepak dan acuh bila dipanggil. Karena gangguan bicaranya penderita dibawa ke Poliklinik Anak RSHS. Penderita diduga mengidap autis, lalu dirujuk ke Bagian THT RSHS. Setelah dilakukan pemeriksaan, penderita disebut mengalami keterlambatan bicara (speech delayed). e. Riwayat Kehidupan Pribadi: i. Riwayat Antenatal dan Prenatal Selama mengandung penderita, ibu penderita merasa sehat dan kontrol teratur ke bidan. Tidak pernah mengalami pendarahan atau sakit berat. Penderita lahir cukup bulan, letak kepala, spontan, ditolong bidan. Setelah dilahirkan penderita langsung menangis. Berat lahir 3600 gram. ii. Infancy (0 - 1,5 tahun) Basic Trust vs. Mistrust Setelah lahir pucat (-), kuning (-), kebiruan (-), kejang (-). Pasien mendapatkan ASI dari ibunya sampai pasien usia 2 tahun. Sejak bulan pertama pasien mendapatkan ASI dan susu formula. Pada usia 4 bulan pasien mendapat makanan pendamping ASI. Penderita tidak pernah

duduk umur 5 bulan. demam tinggi. Shame & Doubt Penderita sulit untuk diajari. iii. ataupun kejang. menolak makan nasi dan sayur. School Age (6 – 12 tahun) Industry vs. Riwayat Keluarga . Early Childhood (1. Bicara belum jelas namun mampu menirukan nyanyian. Guilt. Pada usia ini pasien masih tidak bisa diam dan harus mendapatkan apa yang diinginkan namun berhenti membuang-buang barang disekitarnya. pasien juga tidak pernah kejang. jalan umur 13 bulan. Inferiority Pasien tidak sekolah karena tidak ada guru khusus yang mampu menangani penderita. acuh bila dipanggil. Pasien juga tidak mau jauh dari ibunya. namun hanya diam saja tanpa mengganggu. Bayi menangis apabila digendong orang asing atau ditempat asing. menyantap makanan dengan nyaman dan terjadwal. tapi hanya terbatas di dalam rumah dan masih dalam pengawasan orang tua. Pada usia ini pasien tidak pernah mengalami sakit berat dan tidak pernah kejang.5 – 3 tahun) Autonomy vs. Jika menginginkan sesuatu pasien hanya menunjuk tanpa berbicara dengan jelas dan marah jika tidak mendapatkannya. iv. Anak mulai tidak bisa diam dan sering membung barang-barang disekitarnya. Pada usia ini anak diberi kebebasan dalam bermain.sakit berat pada usia ini. kontak mata bila diajak bicara sangat singkat dan tidak pernah bermain dengan teman sebayanya. Pada usia ini anak sering dan senang menemani pekerjaan ibunya. Penderita bisa merangkak pada umur 4 bulan. Dan pada usia ini pasien tidak pernah mengalami sakit berat. Preschool Age (3 – 6 tahun) Inisiative vs. Saat tidur bayi tenang. Pada usia ini anak mulai susah makan dan hanya makan ikan dan kue-kue saja. f. v.

Interaksi Orangtua dan Anak . ceria. Perilaku : tampak sehat.Herediter (+) Keterangan : = Pasien = Laki-laki = Wanita = Meninggal g. a. III. dan teman-teman sebayanya. STATUS MENTAL Deskripsi Umum i. banyak bergerak iv. Kesadaran iii. Sikap thd pemeriksa: acuh bila dipanggil. berat badan sesuai : kompos mentis : sangat aktif. Persepsi dan Harapan Orang tua Pasien Ibu penderita berharap penderita bisa seperti anak-anak lain sebayanya. tidak mau diajak bersalaman dan cium tangan. menghindar ketika didekati. keluarga. sulit mempertahankan kontak mata. setidaknya meskipun hiperaktif tapi mampu berinteraksi dengan orangtua. Penderita tidak dimasukkan ke sebuah TK karena tidak ada guru khusus yang mampu menangani. Riwayat Situasi Sekarang Saat ini penderita tinggal bersama keluarga di sebuah rumah. Penampilan Fisik ii. h. b.

Formulasi Biopsikosoial .Sering acuh bila dipanggil. Penilaian dan insight: tidak diketahui IV. dan Pendidikan 1. VI. c. senyum ada. dan Waktu: baik Bicara dan Bahasa i. Kognisi dan Memori: baik k. i. Pervasive Development Disorders Screening Test (PPDST): Tidak dilakukan 2. mau dipeluk-cium. j. jarang bermain dengan temanteman sebayanya. Penderita hanya dekat dan berinteraksi dengan orang tua saja. Orientasi Orang. Mood: Stabil f. menunjuk dan merengek bila menginginkan sesuatu. Penilaian Neuropsikiatrik: tidak dilakukan Tes Perkembangan. mampu menirukan nyanyian e. Perilaku Motorik: Motorik kasar dan motorik halus baik. Psikologis. d. Kuesioner Untuk Anak dengan GPPH Tidak dilakukan. Pikiran dan Persepsi: tidak dapat diketahui h. V. Kata-kata tidak jelas ketika menginginkan sesuatu iii. Skala Derajat Autisme Anak Tidak dilakukan 3. Jarang menjawab bila ditanya ii. sulit mempertahankan kontak mata bila diajak bicara. terkadang masih mengikuti larangan/perintah. Tempat. Hubungan Sosial: Interaksi dengan orangtua baik. Afek: Appropriate g.

Di sekolah penderita sulit bergaul dengan teman sebayanya. Penderita mudah tertarik pada benda yang bergambar/berwarna menarik meskipun benda tersebut bukan mainan anak-anak (inatensi). Diagnosis Multiaksial Aksis I Aksis II : Disorders usually diagnosed first in infance. Riwayat keluarga yang pernah menderita gangguan serupa disangkal. ada kakak laki-laki penderita yang juga hiperaktif sewaktu kecil tetapi masih bisa berkomunikasi/bersosialisasi dengan baik. Sejak umur ± 2 tahun. VII. anak ke 3 dari 3 bersaudara. Psikofarmaka X. Karena keluhan tersebut. Prognosis Rifaline (magnesium pemoline) 1x 4 mg Psikoterapi individual Konseling parental Terapi gangguan belajar Group psychotherapy b. Diagnosis Attention Deficit Hiperactivity Disorder (ADHD) IX. penderita dibawa berobat ke poliklinik Anak dan THT RSHS. dan sulit memusatkan perhatian pada gurunya. Psikoterapi : GAF saat pemeiksaan: 100-91 . Hanya saja menurut ibu penderita. penderita sulit diam (hiperaktif). Rencana Terapi a. tidak bisa fokus pada satu permainan. childhood or adolescence : Tidak ada diagnosis Aksis III : Tidak ada diagnosis Aksis IV : Tidak ada diagnosis Aksis V VIII. kontak mata bila diajak bicara sangat singkat.Penderita adalah seorang anak laki-laki berumur 5 tahun. Bila bermain mudah bosan. sulit diam.

Quo ad Vitam ..Quo ad functionam : ad bonam : ad bonam .

Mereka sering gagal mencapai potensinya dan memiliki banyak kesulitan komorbid seperti gangguan perkembangan. ADHD merupakan salah satu kondisi yang paling umum dari kesehatan kronis yang mempengaruhi anak usia sekolah. Kriteria ADHD adalah gangguan neurobehavioral paling umum dari masa kanak-kanak. 2009). Biasanya sejak bayi mereka banyak . Hiperaktif (gangguan dengan aktivitas yang berlebihan) Hiperaktivitas adalah suatu gerakan yang berlebuhan melebihi gerakan yang dilakukan secara umum anak seusianya. Gejala inti ADHD yaitu : 1. Dengan demikian mereka hanya mampu mempertahankan suatu aktivitas atau tugas dalam jangka waktu yang pendek. gangguan belajar spesifik dan gangguan perilaku serta emosional lainnya (Sign. 2. dan tingkat maladaptif dari hiperaktivitas-impulsivitas sendirian (tipe hiperaktif-impulsif dominan). 1994) membedakan antara subtipe diagnostik ditandai dengan tingkat maladaptif dari kedua kurangnya perhatian dan hiperaktivitas-impulsivitas (tipe gabungan). American Psychiatric Association.DISKUSI Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) merupakan gangguan perilaku yang paling banyak didiagnosis pada anak-anak dan remaja. Gejala intinya meliputi tingkat aktivitas dan impulsivitas yang tidak sesuai perkembangan serta kemampuan mengumpulkan perhatian yang terganggu. maladaptif tingkat kurangnya perhatian saja (tipe terutama lalai). Inatensi (gangguan pemusatan perhatian) Inatensi adalah bahwa sebagai individu penyandang gangguan ini tampak mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatiannya. Definisi terbaru dari ADHD pada edisi keempat Diagnostik dan Statistik Manual of Mental Disorders (DSM-IV. Mereka sangat mudah teralihkan oleh rangsangan yang tiba-tiba diterima oleh alat inderanya atau oleh perasaan yang timbul pada saat itu. A. Anak dan remaja yang menderita gangguan tersebut akan sukar menyesuaikan aktivitas mereka dengan norma yang ada sehingga mereka sering dianggap sebagai anak yang tidak baik di mata orang dewasa maupun teman sebayanya. sehingga akan mempengaruhi proses penerimaan informasi dari lingkungannya.

B.bergerak dan sulit untuk ditenangkan. 1996). 2007. Impulsivitas (gangguan pengendalian diri) terus menerus tanpa lelah. Epidemiologi Prevalensi yang dilaporkan pada anak yang mengalami ADHD bervariasi dari 2 sampai 18 persen. Froechlich et al. Mereka tidak mampu mengontrol dan melakukan koordinasi dalam aktivitas motoriknya. 2007) Rasio ADHD pada anak laki-laki dibandingkan dengan anak perempuan yaitu 4:1 ( untuk ADHD yang didominasi oleh hiperaktif) dan 2:1 (untuk ADHD yang didominasi oleh inatensi/kesulitan dalam memusatkan perhatian) (Green et al. (Reiff et al. 2003).. Gerakannya dilakukan perhatian. 2007).6 % (CDC. Hasil survey yang dilakukan oleh National Survey of Children’s Health (NSCH) ada tahun 2007. tergantung pada kriteria diagnostik dan populasi yang dipelajari (Barabaresi et al.2 % dan pada anak perempuan 5. C. Prevalensi ADHD pada anak usia sekolah adalah 8 .. Perilaku ini biasanya menyulitkan yang bersangkutan maupun . Mereka sangat dikuasai oleh perasaannya sehingga sangat cepat bereaksi. 2010). perilaku hiperaktif tampak tidak bertujuan. 3.10 persen. sulit untuk mempertimbangkan atau memikirkan terlebih dahulu perilaku yang lingkungannya. Jika dibandingkan dengan individu yang aktif tapi produktif. sehingga tidak dapat dibedakan gerakan yang penting dan tidak penting. Mereka sulit untuk memberi prioritas kegiatan. 1993.85% anak perempuan telah ADHD (Ford dkk. Barkley. Merikangas et al. Di Inggris. survei dari 10. 2004. prevalensi ADHD untuk anak laki-laki adalah 13. Etiologi akan ditampilkannya. hal tersebut menjadikan ADHD sebagai salah satu gangguan yang paling umum pada masa kanak-kanak (Pliszka. 1999)..62% dari anak laki-laki dan 0. sehingga kesulitan untuk memusatkan Impulsifitas adalah suatu gangguan perilaku berupa tindakan yang tidak disertai dengan pemikiran.438 anak-anak antara usia 5 dan 15 tahun menemukan bahwa 3.

cedera otak. Pada studi gen khusus beberapa penemuan menunjukkan bahwa molekul genetika gen-gen tertentu dapat menyebabkan munculnya ADHD. Faktor risiko tidak bertindak dalam isolasi. mengkonsumsi alkohol. Sebagai contoh. maka saudaranya 70-80 % juga beresiko mengalami ADHD. Faktor biologis yang berpengaruh terhadap ADHD yaitu ibu yang merokok. yang mengatakan bahwa terdapat faktor yang berpengaruh terhadap munculnya ADHD : a. Pengaruh genetik Gejala ADHD menunjukkan pengaruh genetik yang cukup kuat. 1. 2.8). 2006). dan terkena racun. Faktor genetika Bukti penelitian menyatakan bahwa faktor genetika merupakan faktor penting dalam memunculkan tingkah laku ADHD. ADHD. yaitu jika orang tua mengalami ADHD. 2003 (dalam MIF Baihaqi &Sugiarmin.7-0. 2000. dan mengkonsumsi heroin selama kehamilan.Menurut Philips et al (2007). Pada anak kembar. Hasil penelitian Faron dkk. jika salah satu mengalami. Pengaruh lingkungan Berbagai faktor yang mempengaruhi perkembangan otak saat perinatal dan anak usia dini berhubungan dengan peningkatan risiko ADHD tanpa gangguan hiperaktif. etiologi ADHD melibatkan saling keterkaitan antara faktor genetik dan lingkungan . tapi berinteraksi satu sama lain. Pengaruh genetik tampaknya mempengaruhi distribusi gejala ADHD di seluruh penduduk dan bukan hanya dalam kelompok sub klinis. Dengan demikian temuan-temun dari aspek keluarga. dan gen-gen tertentu menyatakan bahwa ADHD ada kaitannya dengan keturunan. berat lahir sangat rendah dan hipoksia janin. 2000. risiko ADHD terkait dengan konsumsi alkohol ibu pada kehamilan mungkin lebih kuat pada anak-anak dengan gen transporter dopamin. Satu pertiga dari anggota keluarga ADHD memiliki gangguan. Kuntsi dkk. Twin studi menunjukkan bahwa sekitar 75% dari variasi gejala ADHD di dalam populasi adalah karena faktor genetik (heritabilitas perkiraan 0. Barkley. maka anaknya beresiko ADHD sebesar 60 %. Faktor neurobiologis . b. anak kembar.

6. (pemeriksaan otak dengan teknologi tinggi) menunjukan ada ketidaknormalan pada bagian otak depan. sekolah. penting untuk mengetahui gejala di bawah ini : 1. dapat pula timbul pengaruh yang dramatis di kehidupan keluarga Kriteria diagnosis ADHD and HKD telah diubah dengan masing-masing revisinya di DSM-IV-TR dan ICD10. D. Mungkin akan ada revisi kriteria selanjutnya untuk menunjukkan permasalahan yang menonjol seperti subtipe gangguan. Bagian ini meliputi korteks prefrontal yang saling berhubungan dengan bagian dalam bawah korteks serebral secara kolektif dikenal sebagai basal ganglia. depresi atau anxietas) Morbiditas penyerta meliputi kegagalan akademis. usia onset dan . skizofrenia. 2. dan organisasi respons. dan peningkatan resiko kecelakaan lalulintas pada remaja. delinquency/ kenakalan. Temuan Demikian melalui juga yang MRI penurunan kemampuan pada anak ADHD pada tes neuropsikologis lobus prefrontal. Bagian otak ini berhubungan dengan atensi. fungsi eksekutif. misal : rumah. 5. gangguan psikotik lainnya. lingkungan sosial) Menyebabkan gangguan fungsional yang signifikan Tidak ada penyebab gangguan mental lainnya ( misal : gangguan perkembangan pervasif.Beberapa dugaan dari penemuan tentang neurobiologis diantaranya bahwa terdapat persamaan antara ciri-ciri yang muncul pada ADHD dengan yang muncul pada kerusakan dihubungkan dengan fungsi fungsi lobus prefrontal. Onsetnya sebelum usia 7 tahun (ADHD) atau 6 tahun (HKD) Sudah jelas nampak minimal selama 6 bulan Harus pervasif (ada pada lebih dari 1 setting. penundaan respons. 3. perilaku antisosial. Informasi lain bahwa anak ADHD mempunyai korteks prefrontal lebih kecil dibanding anak yang tidak ADHD. Sebagai tambahan. 4. Diagnosis Untuk menemukan kriteria diagnosisnya. Kerusakankerusakan daerah ini memunculkan ciri-ciri yang serupa dengan ciri-ciri pada ADHD.

diagnosis gangguan hiperkinetik tidak dibuat jika kriteria untuk gangguan tertentu lainnya. Lebih jauh lagi. meliputi keadaaan anietas ditemukan-kecuali jika gangguan hiperkinetik ini merupakan tambahan dari gangguan lainnya. Kriteria diagnosis ICD bersifat lebih terbatas : gejalanya harus ditemukan semua pada lebih dari 1 konteks. Kriteria DSM IV dan ICD-10 saat ini sama. Gangguan pemusatan perhatian (inatensi) : enam (atau lebih) gejala inatensi berikut telah menetap seama sekurang-kurangnya 6 bulan bahkan sampai tingkat . Kriteria DSM-IV-TR untuk attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) A. inkonsisten dengan tingkat perkembangan dan berbeda dengan gangguan mental lainnya. Salah satu (1) atau (2) 1. ada kriteria eksklusi yang sangat terbatas : sedangkan gangguan psikiatrik penyerta yang ada diperbolehkan berdasarkan DSM-IVTR. DSM membagi kriteria menjadi 2 : inatentif dan hiperaktif impulsif.aplikabilitas kriteria melewati batas kehidupan. 2. hiperaktivitas dan impulsivitas. gangguan secara fungsional pada 2 atau lebih konteks. jadi hanya mengkualifikasikan ADHD ‘tipe kombinasi’. Gejalanya juga harus : kronis (selama 6 bulan). ICD dan tipe kombinasi nomenklatur (yang yang tanda berbeda. Table 1. gejalanya Gejala-gejala inatensi yang dan sama hiperaktivitas/impulsivitas). maka tersedia diagnosis untuk predominan (ADHDI) dan hiperaktif (ADHD-H). Maka dari itu gangguan hiperkinetik (ICD-10) menggambarkan suatu kelompok yang membentuk subkelompok berat dari subtipe ADHD kombinasi milik DSM-IV-TR. Gangguan hiperkinetik lebih jauh lagi dibagi menjadi gangguan hiperkinetik dengan atau tanpa gangguan konduksi (gangguan tingkah laku). menggunakan dideskripsikan sebagai bagian dari kelompok gangguan hiperkinetik masa kanak. Jadi DSM disini mengidentifikasi 3 subtipe ADHD: tipe predominan inatentif (gejala khas inatensi namun tidak hiperaktivitas/impulsivitas). dan harus ada inatensi. 1. dengan perbedaan secara primer pada derajat beratnya gejala dan pervasiveness. Enam dari 9 gejala di tiap seksi harus terdapat ‘tipe kombinasi’ dari diagnosis ADHD. tipe predominan hiperaktif impulsif (gejala khas hiperaktivitas/impulsivitas) namun tidak inatensi). maladaptif. Jika gejala tidak mencukupi untuk diagnosis kombinasi.

Sering mengalami kesulitan dalam mempertahankan perhatian terhadap tugas atau aktivitas bermain. b. Sering “siap-siap pergi” atau seakan-akan “didorong oleh sebuah gerakan” f. Sering menghilangkan atau ketinggalan hal-hal yang perlu untuk tugas atau aktivitas (misalnya tugas sekolah. Beberapa gangguan akibat gejala terdapat dalam 2 (dua) atau lebih situasi (misalnya disekolah atau pekerjaan di rumah) D. buku ataupun peralatan) h. Hiperaktivitas a. Sering mengalami kesulitan bermain atau terlibat dalam aktivitas waktu luang secara tenang e. atau kewajiban di tempat kerja (bukan karena perilaku menentang atau tidak dapat mengikuti instruksi) e. pekerjaan. Sering gelisah dengan tangan dan kaki atau sering menggeliat-geliat di tempat duduk b. Sering menjawab pertanyaan tanpa berfikir lebih dahulu sebelum pertanyaan selesai h. c. Sering tidak tampak mendengarkan apabila berbicara langsung d. Sering berbicara berlebihan Impusivitas g. Sering meninggalkan tempat duduk dikelas atau di dalam situasi yang diharapkan anak tetap duduk c. Sering mudah dialihkan perhatiannya oleh stimuladir dari luar. Sering menyela atau mengganggu orang lain (misalnya : memotong masuk ke percakapan atau permainan) B. akademik dan fungsi pekerjaan . Sering mengalami kesulitan dalam menyusun tugas dan aktivitas f. i. Sering lupa dalam aktivitas sehari-hari 2. Hiperaktivitas impulsivitas : enam (atau lebih) gejala hiperkativitas-implusivitas berikut ini telah menetap selama sekurang-kurangnya enam bulan sampai tingkat yang maladaptif dan tidak konsisten dengan tingkat perkembangan. Sering sulit menunggu gilirannya i. Sering menghindari.yang maladaptif dan tidak konsisten dengan tingkat perkembangan. Harus terdapat bukti yang jelas adanya gangguan yang bermakna secara klinis dalam fungsi sosial. membenci atau enggan untuk terlibat dalam tugas yang memiliki usaha mental yang lama ( seperti tugas disekolah dan pekerjaan rumah) g. a. Beberapa gejala hiperaktif-impulsif atau inatentif yang menyebabkan gangguan telah ada sebelum usia 7 tahun C. pekerjaan atau aktivitas lainnya. Sering berlari-lari atau memanjat secara berlebihan dalam situasi yang tidak tepat (pada remaja mungkin terbatas pada perasaan subyektif kegelisahan) d. Sering gagal dalam memberikan perhatian pada hal yang detail dan tidak teliti dalam mengerjakan tugas sekolah. pensil. Sering tidak mengikuti instruksi dan gagal menyelessaikan tugas sekolah.

seperti sekolah. Sering kehilangan hal yang diperlukan untuk tugas-tugas tertentu dan kegiatan. gangguan kecemasan. hanya perasaan gelisah dapat hadir d. Hiperaktif . untuk tingkat yang maladaptif dan tidak konsisten dengan tingkat perkembangan anak: a. Sering gagal mempertahankan perhatian dalam tugas-tugas atau kegiatan bermain d. Sering menunjukkan pola gigih dari aktivitas motorik yang berlebihan yang tidak substansial diubah oleh konteks sosial atau tuntutan 3. Sering gagal untuk memberikan perhatian dekat dengan rincian.Setidaknya tiga gejala hiperaktif telah berlangsung selama minimal 6 bulan. Sering berjalan sekitar atau memanjat berlebihan dalam situasi di mana tidak patut (dalam remaja atau orang dewasa. Apakah sering mudah terganggu oleh rangsangan eksternal j. Kekurangan perhatian . yang memerlukan berkelanjutan mental usaha h. Kriteria ICD-10 untuk gangguan hiperkinetik 1. Apakah sering pelupa dalam rangka kegiatan sehari-hari 2. Apakah sering terlalu berisik dalam bermain atau memiliki kesulitan dalam melakukan tenang di waktu luang kegiatan e.Setidaknya salah satu gejala berikut impulsif telah berlangsung selama minimal 6 bulan. mainan atau alat i.E.Setidaknya enam gejala perhatian telah berlangsung selama minimal 6 bulan. Table 2. tugas. Sering gelisah dengan tangan atau kaki atau menggeliat di tempat duduk b. pensil. buku. Apakah sering terganggu dalam mengatur tugas dan kegiatan g. seperti pekerjaan rumah. Gejala tidak semata-mata selama gangguan perkembangan pervasif. Sering meninggalkan tempat duduk di kelas atau dalam situasi lain di mana sisa duduk adalah diharapkan c. atau membuat kesalahan ceroboh dalam pekerjaan sekolah b. Impulsif . Sering menghindari atau sangat tidak menyukai tugas-tugas. skizopfrenia atau gangguan psikotik lain dan bukan merupakan gangguan mantal lain (gangguan mood. untuk tingkat yang maladaptif dan tidak konsisten dengan tingkat perkembangan anak: a. Sering blurts keluar jawaban sebelum pertanyaan yang telah diselesaikan . untuk tingkat yang maladaptif dan tidak konsisten dengan tingkat perkembangan anak: a. Sering tampak tidak mendengarkan apa yang dikatakan kepadanya e. tugas atau tugas di tempat kerja (bukan karena perilaku oposisi atau kegagalan untuk memahami instruksi) f. pekerjaan atau kegiatan lain c. Sering gagal menindaklanjuti instruksi atau untuk menyelesaikan tugas sekolah. gangguan disosiatif atau gangguan kepribadian) Adapted from Diagnostic and Statistical Manual of Psychiatric Disorders DSM-IV-TR (2000) with permission from the American Psychiatric Association.

Pervasiveness .) 6. Adapted from ICD10: Classification of Mental and Behavioural Disorders (1992) with permission from the World Health Organization E. misalnya. Gangguan belajar . akademis atau pekerjaan.Kriteria harus dipenuhi lebih dari situasi tunggal. Sering menyela atau intrudes pada orang lain (misalnya. Sering gagal menunggu di garis atau menunggu putaran dalam permainan atau situasi kelompok c. Timbulnya gangguan tersebut tidak lebih dari usia 7 tahun. Gangguan tingkah laku (anti sosial) 2. Differensial Diagnosis 1. atau di sekolah baik dan pengaturan lain mana anak-anak yang diamati. (Bukti untuk crosssituationality biasanya akan membutuhkan informasi dari lebih dari satu sumber. tidak akan cukup. Sering berbicara berlebihan tanpa respon yang tepat untuk kendala sosial 4. Ansietas 3. puntung ke percakapan orang lain atau permainan) d. kombinasi dari kurangnya perhatian dan hiperaktif harus hadir baik di rumah maupun di sekolah.b. seperti klinik. 5. misalnya. laporan orang tua tentang perilaku kelas. Gejala dalam 1 dan 3 menyebabkan distress klinis signifikan atau penurunan fungsi sosial.

Tatalaksana Algoritma dasar untuk tatalaksana ADHD (Hill and Taylor.F. 2001) .

Permasalahan mengenai gula halus dan zat makanan tambahan buatan memiliki efek samping pada perilaku anak. masih menjadi konflik. 2007). Namun belum ada bukti yang cukup untuk mendukung pemakaian rutin suplementasi mineral untuk manajemen ADHD (Konofal et al. Intervensi psikososial berdasarkan klinis i. ii.. 2004) . Dalam bukti sekarang ini. Beberapa bukti menyebutkan kadar seng yang rendah pada rambut dan urin berkaitan dengan respon yang buruk terhadap methylphenidate. b.. 2008).. Hal-hal yang bisa diperhatikan dari diet untu anak ADHD/gangguan hiperkinetik. Intervensi psikososial berdasarkan sekolah Anak dengan ADHD/ gangguan hiperkinetik membutuhkan program intervensi sekolah individual meliputi intervensi behavioral dan akademik. antara lain : o o o Bahan makanan aditif Suplementasi asam lemak omega-3 dan omega-6 (Clayton et al. magnesium. 2) Intervensi diet Ada sedikit bukti mengenai keuntungan pemberian suplemen mineral (besi. magnesium (Bilici et al. meskipun belum terdapat studi yang menyebutkan bahwa suplementasi seng dapat memperbaiki respon terhadap obat. Terapi non farmakologis 1) Intervensi Psikososial a. Suplementasi asam lemak esensial mungkin bermanfaat.1. khususnya pada individu yang kadar asam lemak tak jenuhnya rendah. Terapi individual Intervensi psikososial individual tidak direkomendasikan rutin. seng. Intervensi psikososial keluarga Intervensi psikososial tipe bahavioral yang didasarkan pada keluarga direkomendasikan untuk terapi behavioral komorbid. tidaklah mungkin merekomendasikan restriksi atau eliminasi makanan pada anak dengan ADHD (MrCann et al . 2007) Suplementasi besi. seng) pada ADHD/gangguan hiperkinetik.

meskipun psikostimulan memiliki pengaruh yang lebih besar. Klinisi harus menginformasikan keuntungan potensial dan efek samping medikasi. Medikasi tidak direkomendasikan untuk usia pre sekolah. minimal meliputi : nadi. Harus dilakukan penilaian fisik dasar terlebih dahulu sebelum terapi farmakologis dimulai. 2005) Homeopathy (Coulter et al. tekanan darah.. dexamfetamine sulphate dan atomoxetine. Inisiasi terapi farmakologis anak ADHD harus di bawah kendali dokter spesialis. sedangkan dexamphetamine untuk usia 3 tahun atau lebih. 2004) 3) Intervensi komplementer dan alternatif Di antaranya meliputi : o o o o Bach flower remedies (Pintof et al. menyimpulkan bahwa keduanya efektif untuk terapi ADHD. Methylphenidate dan atomoxetine digunakan untuk usia 6 tahun atau lebih.. 2007) Massage theraphy (Khilnani et al. 1) Psikostimulan Studi-studi metanalisis dengan kualitas yang tinggi (durasi minimal 2 minggu) menggunakan psikostimulan (methylphenidate dan dexamphetamine) atau psikostimulant (atomoxetine)... EKG sebaiknya dipertimbangkan pada kasus-kasus tertentu. Psikostimulan yang biasa digunakan di USA adalah methylphenidate (MPH) dan dexamphetamine . Terapi Farmakologis Terdapat 3 obat lisensi untuk terapi ADHD/ gangguan hiperkinetik di Amerika Serikat : methylphenidate hydrochloride. yang telah menjalani pelatihan penggunaan dan monitoring medikasi psikotropik. 2003) Neurofeedback (Beauregard et al. Keuntungan lanjutan dan kebutuhan untuk medikasi dinilai minimal 1 tahun sekali. berat dan tinggi badan dengan grafik centile yang sesuai dalam ukuran parameter.o Antioksidan (Bateman et al. baik psikiatrik anak dan remaja maupun pediatrik. 2006) 4) Intervensi sosial dan komunitas 5) Intervensi multimodal 2..

DEH digunakan untuk anak usia 2 tahun atau lebih. nyeri perut. sedangkan MPH untuk usia 6 tahun atau lebih. sakit kepala dan pening. tambahan kalori Hal yang pertumbuhan menyangkut Jika signifikan (jarang dalam jangka panjang) atau menyebabkan kecemasan pada orang tuanya. Efek samping yang paling sering muncul : insomnia. Tabel 3 : Efek samping psikostimulan dan pilihan manajemen yang disarankan Efek samping Anoreksia. Efek samping akan berkurang dalam waktu 1-2 minggu dari awal terapi dan akan hilang jika terapi dihentikan atau dosisnya diturunkan dan biasanya nampak pada anak usia presekolah. nafsu makan berkurang. Pertimbangkan penggantian ke atomoxetine Kesulitan tidur (bandingkan dengan kesulitan tidur sebelum terapi) . Sebagian besar efek samping psikostimulan jangka pendek sering berkaitan dengan dosis dan bersifat subyektif. upayakan penghentian medikasi saat akhir minggu atau liburan. kontak reguler antara keluarga dan klinisi sangatlah penting karena berkaitan dengan pertanyaan dan penilaian yang diperlukan. Methylphenidate tersedia dalam bentuk immediate atau modified release untuk memfasilitasi medikasi sepanjang hari. penurunan berat badan Pilihan manajemen Berikan obat bersama makanan Pertimbangkan reduksi dosis atau penghentian obat Monitor berat dan tinggi badan menggunakan grafik persentil Edukasi diet. Psikostimulan merupakan terapi lini pertama untuk mengatasi gejala inti ADHD atau gangguan hiperkinetik.nausea.(DEX). DEX efektif untuk mengatasi gejala inti ADHD/ gangguan hiperkinetik. Saat pertama kali memberikan dan menitrasi psikostimulan. Berikan edukasi ‘sleep hygiene’ Kurangi atau hilangkan medikasi malam atau akhir sore (namun catat bahwa beberapa pasien membaik dengan medikasi malam tambahan).

maka tentukan dosis efektif terendah yang menghasilkan efek terapeutik maksimum dan efek samping minimum. Pemberian resep psikostimulan dimulai dengan dosis sekecil mungkin dan titrasi dengan jadwal 2-3 kali sehari. monitor teliti (cek tekanan darah). tingkatkan dosis dengan interval per minggu sampai didapatkan respon yang memuaskan atau efek samping yang mengganggu. Jadwal dosis berdasarkan berat dapat membatasi titrasi dosis yang pas utuk anak yang membutuhkan . tinggi/berat badan dan tekanan darah. rebound behavioural Monitor ketat. Pergerakan involunter. hentikan medikasi. Tes darah sebaiknya dilakukan berdasarkan kebijakan klinisis dan hanya jika diindikasikan secara klinis. pastikan obat dimakan dengan makanan dan edukasi intake cairan. maka perlu dilakukan review secara teratur untuk mengecek tingkat perilaku dan efek sampingnya. Secara tradisional pendekatan pada jadwal obat yang teliti telah dianjurkan dengan regimen yang ditentukan secara empiris. Keadaan berat badan ideal serta pengukuran tinggi badan dan penghitungan centil velocity memungkinkan untuk deteksi dini masalah pertumbuhan yang signifikan. kurangi atau overlap dosis sore hari. Jika persisten. agitasi gangguan piir atau suspek psikosis-jarang terjadi) Iritabilitas. evaluasi komorbid (ODD/CD) Jika telah diberikan dosis efektif. Pemberian berdasarkan sifat respon psikostimulan yang bervariasi memberikan keuntungan bagi beberapa anak yang memerlukan dosis lebih tinggi. Perlu diingat bahwa efek samping psikostimulan berkaitan dengan dosis. Tics Kurangi. Pertimbangkan alternatif lainnya (misal TCA) jika gejalanya berat. atau jika persisten. dan sindrom Tourette Monitoring pre dan post terapi tics. meskipun ini jarang terjadi. belum ditentukan oleh penelitian. Jika persisten. Turunkan atau hentikan medikasi (hentikan jika timbul disforia. turunkan dosis/hentikan medikasi. Keduanya merupakan obat polar yang diekskresikan dengan cepat dan tidak terakumulasi di lemak tubuh. Rekomendasi dosis terutama dosis harian maksimum yang disarankan. Hilangnya spontanitas.Pening dan sakit kepala Bersifat sementara. Respon terhadap MPH dan DEX bervariasi dan tidak dapat diprediksi dengan dasar suatu dosis atau berat badan.

Bagaimanapun juga jika terjadi gangguan tidur.0. maka dosis akhir petang dapat diturunkan atau dihentikan.35 mg/kg/dose Max mg/kg/day 0. dengan dosis pertama pada hari tersebut diberikan antara jam 7 dan jam 8 pagi. Beberapa guru melaporkan bahwa efek dosis dini hari hilang pada pertengahan pagi.7 mg/kg/dose 0. Sebaliknya.0.6 mg/kg/dose Dogin. Pemberian 3 x sehari dan bukannya 2 x sehari memberikan keuntungan pencapaian efek terapi di malam hari.15 . medikasi diteruskan selama 7 hari per minggu untuk memperoleh keuntungan maksimum dengan memperhatikan masalah kontrol perilaku yang terjadi di rumah.8 mg/kg/dose Up to 1 mg/kg/dose 0. metode titrasi dosis tipe pil (fixed pill-type dose titration methods) dapat memaparkan anak yang kecil ke dosis yang tinggi. Jika terdapat gangguan hiperkinetik/ADHD persisten sampai pada usia dewasa atau pada kasus-kasus dimana gejala inti cepat timbul kembali bila psikostimulan . 199730 Methylphenidate 0.3 . Drug holidays selama akhir minggu atau liburan mungkin diperlukan jika terjadi hal serius yang menyangkut pertumbuhan anak. dan potensial menghasilkan efek samping yang tidak diinginkan. Ada sedikit bukti obyektif interferensi mayor pemakaian regimen ini terhadap tidur. 1998 125 AACAP. Pada sebagian besar kasus.dosis yang lebih tinggi untuk mengontrol gejala mereka. Pada kasus yang demikian dosis pertengahan pagi dapat dijadwalkan pada jam 10.1996 126 Max 1.5 mg/kg/day Frekuensi dosis sebaiknya ditentukan berdasarkan masing-masing individu.75 Dexamphetamine 0. 1998 123 Findling and 1998 124 Pliszka. yang mungkin diinginkan untuk proyek PR atau kegiatan malam hari yang sudah direncanakan.0.15 .0.3 mg/kg/dose NHMRC(Ausi).3 .30 – 11 am. sekolah dan masyarakat. Tabel 4: Dose Ranges in Literature for Psychostimulant Treatment Source Block.0.3 . 0.

Saat terapi dimulai. mengganti dengan medikasi lain. 2) Atomoxetine Peresepan atomoxetine untuk individu dibawah 70 kg didasarkan pada berat badannya. Jika tak ada perbedaan yang besar pada anak yang menjalani terapi dan kesukaran perilaku tetap berlanjut. maka terapi bisa dihentikan untk periode yang lama. maka perlu untuk mengevaluasi kembali dosisnya. Psikostimulan tak perlu dihentikan pada onset pubertas karena keefektifannya baik pada remaja dan dewasa. weight loss. signs of liver disease advice. nausea. Tabel 5: Manajemen efek samping atomoxetin Side effects Anorexia.dihentikan. Atomoxetine dimulai dengan dosis awal rendah 0. growth concerns Management options Gastrointestinal effects may be temporary during first few days of treatment.2 mg/kg/hari. Pengaruh atomoxetine bisa tidak nampak selama 4 minggu atau lebih. Monitor height and weight using centile charts. Jaundice. Consider dose reduction.5 mg/kg/hari minimal 7 hari sebelum ditingkatkan ke dosis maintanance 1. Jika tidak ada perbedaan berarti pada perilaku anak saat ia menjalani/ tidak menjalani pengobatan. maka diperlukan terapi jangka panjang. Provide dietetic augmentation. Administer medication with food. keefektifannya akan timbul selama periode 24 jam atau lebih dengan kemungkinan efek yang lebih besar pada 12 jam atau lebih dari waktu setelah minum obat. caloric Stop medication immediately and . Kombinasi awal jangka pendek medikasi psikostimulan mungkin perlu selama fase transisi. atau mengevaluasi ulang strategi psikologis dan behavioralnya.

intoleransi atau inefektif dengan medikasi psikostimulan. Kelompok obat ini lebih berpengaruh pada gejala behavioralnya daripada terhadapa gejala kognitifnya. hypertension Syncope suspected to have cardiac origin Administer at a different time of day or reduce dose. TCAs meliputi : imipramine. nortriptyline and clomipramine. nadi. TCAs memiliki batas keamana yang lebih sempit daripada psikostimulan. efek samping dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan. Atomoxetine direkomendasikan untuk terapi gejala inti ADHD/ gangguan hiperkinetik pada anak yang tidak cocok. agitation Tachycardia. amitriptyline. klinisi harus mereview minimal selama 6 bulan. Monitoring tambahan diperlukan pada penderita yang memiliki resiko kardiovaskuler. Monitor for suicidal ideation. TCAs dipetimbangkan untuk terapi gejala behavioral ADHD/ gangguan hiperkinetik. hepatobilier. clinical worsening of mood and unusual changes in behaviour. desipramine.or biliary obstruction Self harm or suicidal ideation seek specialist help. disertai dengan rentang efek samping potensial yang lebih lebar. 3) Antidepresan trisiklik (TCAs) Merupakan obat yang paling banyak ditemukan dan medikasi nonstimulan yang banyak dipelajari untuk terapi ADHD/ gangguan hiperkinetik. . meliputi penilaian keefektifan. New onset of suicidal behaviour should prompt discontinuation of medication pending further assessment. Reduce dose and monitor effect. Stop medication immediately and seek specialist advice. kejang dan resiko bunuh diri besar. tekanan darah menggunakan grafik persentil. Investigate and consider discontinuation or dose reduction. Pada pemberian atomoxetin. Somnolence Dysphoria.

Pemakaian jangka panjang memerlukan re-evaluasi periodik berkaitan dengan perumbuhan dan perkembangan anak. memiliki potensi kardiotoksik.5 mg/kg/ hari untuk nortriptilin. • Titrasi dosis sedikit demi sedikit dengan interval beberapa hari sambil dimonitor efek sampingnya sampai target kira-kira 1-2 mg/kg/hari untuk imipramin dan amitriptilin serta 0. Pasien dengan compliance yang rendah dapat . agitasi.4-4. Social withdrawal. • Mulai dengan dosis terbagi yang rendah dari imipramine atau amitriptiline (10-25 mg/hari) atau nortriptiline (5-10 mg/hari) dan peringatkan akan efek samping yang mungkin timbul. dan insomnia juga dapat terjadi. • • Jika tingkat dosis telah ditentukan. desipramine. gejala coryzal. amitriptilin dan klormipramin. mania. ngantuk. TCAs khususnya desipramine. dan bingung merupakan tandatanda toksisitas sistem saraf pusat.5-1 mg/kg/ hari untuk nortriptilin. mulut kering ( dengan rasa logam dan asam).3 mg/kg.7-6. depresi. Rencana terapi didasarkan pada kondisi masing-masing individu. mudah lupa. sakit kepala. disertai dengan gejala antikolinergik lainnya. nilai ulang dan tanyakan mengenai efek samping dan perilakunya secara klinis. pemeriksaan kardiovaskuler. Disarankan mengecek EKG dan serum level jika menggunakan dosis di luar batas. sedang 0. menggigil. pening.kg/hari. Iritabilitas. Monitoring EKG sebaiknya dilakukan sebelum dan sesudah terapi. Belum ada konsensus maupun penelitian yang menentukan rekomendasi terapi TCAs dan regimen dosis optimumnya. Efek samping yang biasanya muncul meliputi anoreksia. Dosis harian total rata-rata berdasarkan trial klinis 2. Hal ini meliputi malaise. hiperaktivitas. Dan hati-hati pada pasien yang memiliki riwayat penyakit jantung personal dan keluarga. muntah dan nyeri otot.Antidepresan trisiklik tidak boleh digunakan rutin untuk terapi ADHD/ gangguan hiperkinetik pada anak dan hanya digunakan pada anak yang tidak respon terhadap medikasi yang dianjurkan. Reaksi withdrawal TCAs yang cepat perlu dihindari untuk mencegah influenza like symptoms karena cholinergic rebound. EKG belum berarti bebas dari efek kardiotoksik). letargi dan insomnia.2 mg. dan EKG (nb. namun sebaiknya tetap dilakukan pengukuran berikut : • Vital sign. dengan rentang 0.hari untuk imipramine.

6 mg per hari tergantung respon dan efek samping yang muncul. Belum ada cukup data untuk merekomendasikan obat ini. guanfacine. Antidepresan selain TCAs (reboxetine. Klinisi harus memonitor tekanan darah dan nadi serta tanda-tanda oversedasi. b) Guanfacine Efek samping mayor dari guanfacine adalah sedasi dan fatigue. b. Obat ini dapat mengurangi gejala ADHD.20 mg/kg/ hari. Klonidin dipertimbangkan untuk anak yang tak responsif atau tidak toleransi terhadap psikostimulan atau atomoxetine. Makin ditingkatkan dosisnya. selegiline. gangguan psikiatrik yang memburuk. a. Obat alternatif tersebut meliputi : klonidin. depresi. Penghentian klonidin harus bertahap untuk menghindari adanya rebound phenomenon. buproprion. dan terdapat penurunan yang besar saat dikombinasikan dengan methylphenidate dibandingkan jika diberikan sendiri. SSRIs dan neuroleptik. atau 2 kali sehari dengan dosis total 0.10-0. bupropion) . Dalam sebuah studi. 4) Obat lainnya Pemakaian sejumlah obat alternatif lain dalam manajemen ADHD/ gangguan hiperkinetik harus di bawah pengawasan dokter spesialis. Dapat digunakan sendiri maupun dikombinasikan dengan methylphenidate disesuaikan dengan kasus masing-masing individu. Pemakaian obat alternatif dipertimbangkan jika terdapat gangguan komorbid (misal anxietas. Alpha-2-agonist a) Klonidin Klonidin merupakan agonis alpha-2 adrenergik. tics.individu yang menerima klonidin mengalami penurunan tekanan sistolik yang lebih besar dibanding kontrol dan mengalami sedasi transien serta pening.mengalami periodic self-induced acute withdrawal yang dapat disalahartikan sebagai efek samping obat. Diberikan 3 kali sehari dengan dosis maksimum 0. respon kurang atau efek samping psikostimulan atau TCA). venlafaxine. dosis yang tidah adekuat. dikenal sebagai antihipertensi. Dan hal ini membuat manajemen menjadi sukar. tekanan darah dan nadi akan makin rendah.

Penyebab pasti dan patologi ADHD masih belum terungkap secara jelas. perkembangan otak saat perinatal. Prognosis lebih baik bila didapatkan fungsi intelektual yang tinggi. G. dukungan yang kuat dari keluarga. diantaranya adalah faktor genetik. Anak dengan ADHD pada waktu dewasa sering masih mempunyai gejala agresif dan menjadi pencandu minuman keras/alkoholisme). Antipsikotik d. sosial danpola pengasuhan anak oleh orang . diterima di kelompoknya dan diasuh oleh gurunya serta tidak mempunyai satu atau lebih komorbid gangguan psikiatri. toksisitas potensial pada kombinasi klonidin dan psikostimulan. ADHD merupakan statu kelainan yang bersifat multi faktorial. Banyak faktoryang dianggap sebagai penyebab gangguan ini. Prognosis Gejala hiperaktif akan berkurang pada masa adolescence. Nikotin 5) Terapi obat kombinasi Kombinasi obat meningkatkan resiko interaksi efek samping potensial. setidaknya padadua tempat dan suasana yang berbeda dan kondisi yang sangat umum di antara anak-anak. H. intraventricular conduction delays pada pimozide dan TCAs. ketidakteraturan hormonal. sedangkan gejala impulsive dan emosi yang labil akan menetap. temen teman yang baik.c. Modafinil e. ODD. misal pada peningkatan TCAs pada pemakaian bersama psikostimulan. dan interferensi dengan metabolisme obat seperti warfarin dan beberapa antiepileptik. CD atau gangguan obsesif kompulsif. Seperti halnya gangguan autism. jika dikombinasikan dengan psikostimulan untuk sejumlah kesil anak dengan ADH/ gangguan hiperknetik dan depresi komorbid. lingkungan fisik. Simpulan ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorders) merupakan suatu peningkatan aktifitas motorik hingga pada tingkatan tertentu yang menyebabkan gangguan perilaku yang terjadi. tingkat kecerdasan(IQ). terjadinya disfungsi metabolisme. Fluoxetin (SSRI) dilaporkan efektif tanpa efek samping berlebih.perkembangan otak saat kehamilan.

Cochrane Database of Systematic Reviews. et al. Hazell PL. Dean T.19(2):92-103. Acta Paediatr Suppl 2004. Coulter MK. Warner JO. Rowlandson P. Applied Psychophysiology & Biofeedback 2006. Functional magnetic resonance imaging investigation of the effects of neurofeedback training on the neural bases of selective attention and response inhibition in children with attention-deficit/hyperactivity disorder. Dean ME. Increasing prevalence of parent-reported attention-deficit/hyperactivity disorder among children --. Grant C.31(1):3-20. placebocontrolled study of zinc sulfate in the treatment of attention deficit hyperactivity disorder. How common is attention-deficit/hyperactivity disorder? Towards resolution of the controversy: results from a population-based study. 1996 Bateman B. 2007(4):(CD005648). 2nd ed. Yildirim F. Progress in Neuro-Psychopharmacology and Biological Psychiatry. Eric Taylor. . et al. Yildirmi S. Katusic S. Archives of Disease in Childhood 2004. Deer O. 2003 and 2007. young people and adults. placebo controlled. Acta Neuropsychiatrica. Centers for Disease Control and Prevention (CDC).tua. Barkley RA. The effects of a double blind. Garg ML. DAFTAR PUSTAKA Barbaresi W. Homeopathy for attention deficit/hyperactivity disorder or hyperkinetic disorder.United States. Bekarolu M. Clayton EH. 59:1439. Attention deficit hyperactivity disorder: Diagnosis and management of ADHD in children. Philip Asherson et al. Levesque J. 93:55. guru dan orang-orang yang berpengaruh di sekitarnya. Attention Deficit Hyperactivity Disorder: A Handbook for Diagnosis and Treatment. Melihat penyebab ADHD yang belum pasti terungkap dan ada beberapa teori penyebabnya. New York.et al. maka tentunya terdapat banyak terapi atau cara dalam penanganannya sesuai dengan landasan teori penyebabnya. Colligan R.2004. Tim Kendall . Kandil S. Hutchinson E. NY: Guilford Press.28(1):181-90. 2007. Long chain omega-3 polyunsaturated fatty acids in the treatment of psychiatric illnesses in children and adolescents. Beauregard M. MMWR Morb Mortal Wkly Rep 2010. Double-blind. Bilici M. artificial food colourings and benzoate preservative challenge on hyperactivity in a general population sample of preschool children. Hanstock TL. 2008.89(6):506-11.

World Psychiatry. Moore. Agency for Health Care Policy and Research. Pediatrics 2010. Epstein JN. McCann D. pp: 45-48. 2006. and treatment of attentiondeficit/hyperactivity disorder in a national sample of US children. double-blind Merikangas KR. Prevalence and treatment of mental disorders among US children in the 2001-2004 NHANES. M. Cooper A. 2003 . Lahat E. European Journal of Paediatric Neurology 2005. et al. 1999. Hill P. Dalen L. Food additives and hyperactive behaviourin 3-year-old and 8/9-year-old children in the community: a randomised. Gillberg C.. . D. The 3rd Edition. The worldwide prevalence of ADHD : is it an American condition?. 84: pp 404–409 Khilnani S. Eds. Cortese S. Curr Psychiatry Res 2004.38(1):20-6. Zaim M. David P. et al. J Am Acad Child Adolesc Psychiatry 2007. Barrett A. Taylor. Lanphear BP. Effects of iron supplementation on attention deficit hyperactivity disorder in children. US Department of Health and Human Services.38(152):623 Konofal E. Hernandez-Reif M. 6: 143. London UK. Field T. Bach flowerremedies used for attention deficit hyperactivity disorder inchildren . Heyman E. Practice parameter for the assessment and treatment of children and adolescents with attention-deficit/hyperactivity disorder. Arch Dis Child. Hochman M. 2008 Pintov S. young people and adults. Brody D. 161:857. Rockville. Recent advances in the genetics off attention deficit hyperactivity disorder. Wong. 2: 104-13. E. et al. M. Pliszka S. Marchand M. Pediatr Neurol 2008. Livne A. Arch Pediatr Adolesc Med 2007. Diagnosis and management of ADHD in children. Lecendreux M.9(6):395-8. Schanberg S. Little Black Book of Psychiatry. MD. Atkins. et al. Grimshaw K. Philip Asherson. Sergent J. Karen Bretherton et al. Biederman J. Adolescence 2003. et al. Simon Bailey. Jones and Bartlett Publishers. Crumpler D. 2001. He JP. Deron J.a prospective double blind controlled study. Green. recognition. Prevalence. An auditable protocol for treating attention deficit/hyperactivity disorder. 46:894. Froehlich TE. 125:75. Moore. Diagnosis of Attention Deficit/Hyperactivity Disorder: Technical Review 3. Massage therapy improves mood and behavior of students with attentiondeficit/hyperactivity disorder. Kent L. AACAP Work Group on Quality Issues.Faraone SV.

1993. Banez GA. 2009 . Pediatr Rev.14:455–465 SIGN. Culbert TP. Management of attention deficit and hyperkinetic disorders in children and young people. Edinburgh: Scottish Intercollegiate Guidelines Network.Reiff MI. Children who have attentional disorders: diagnosis and evaluation.