LAPORAN PEMISAHAN DAN IDENTIFIKASI CURCUMIN

IDA BAGUS PUTU NATHA KUSUMA 1008505037 KELOMPOK VII GOLONGAN I

JURUSAN FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS UDAYANA 2011

I.

TUJUAN PERCOBAAN Mahasiswa mampu menerapkan prinsip maserasi dan kolom kromatografi

II. DASAR TEORI Kunyit merupakan tanaman obat yang berupa semak dan termasuk tanaman tahunan. Rimpang dari tanaman kunyit merupakan bagian yang paling sering digunakan ataupun diolah. Klasifikasi dari rimpang kunyit, yaitu : Kingdom Divisi Sub-divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Plantae : Spermatophyta : Angiospermae : Monocotyledoneae : Zingiberales : Zingiberaceae : Curcuma : Curcuma domestica

Kunyit memiliki khasiat sebagai anti inflamasi, anti oksidan, anti mikroba, pencegah kanker, anti tumor, dan menurukan kadar lemak dalam darah dan kolesterol, serta sebagai pembersih darah. Kandungan utama kunyit yaitu kurkumin (Anonim a, 2011). II.1. Maserasi Maserasi merupakan suatu metode pemisahan dengan cara penyarian yang sederhana yang dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari. Maserasi digunakan untuk penyarian simplisia yang mengandung zat aktif yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung zat yang mudah mengembang dalam cairan penyari, tidak mengandung benzoin, stirak dan lain – lain. Cairan penyari yang digunakan dapat berupa air, etanol, air-etanol, atau pelarut lain (Anonim b, 1986). Adapun prinsip-prinsip dasar yang perlu diperhatikan dalam pengerjaan maserasi adalah

1. Merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari yang sesuai selama waktu tertentu, pada temperatur kamar dan terlindung dari cahaya 2. Proses difusi terjadi sampai tercipta keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel 3. Selama proses dilakukan pengadukan dan penggantian cairan penyari 4. Endapan yang diperoleh dipisahkan dan filtratnya dipekatkan. Penyarian dengan metode maserasi memiliki keuntungan dan kerugian. Keuntungannya yaitu cara pengerjaannya mudah dan peralatan yang digunakan sederhana. Sedangkan kerugiannya yaitu pengerjaannya membutuhkan waktu yang relatif lama (Anonim b, 1986). II.2. Kromatografi Kolom Pada proses pemisahan ini campuran yang akan dipisah diletakkan pada bagian atas kolom adsorben yang berada dalam suatu tabung seperti gelas logam ataupun plastik. Pelarut sebagai fase gerak karena gaya berat atau didorong dengan tekanan tertentu dibiarkan mengalir melalui kolom membawa serta pita linarut yang bergerak dengan kecepatan berbeda. Linarut yang telah memisah dikumpulkan berupa fraksi yang keluar dari bagian bawah kolom, sehingga metode ini merupakan kromatografi elusi (Kusmardiyani, 1992). Beberapa hal yang perlu diketahui dalam pengerjaan metode ini antara lain pemilihan jenis pelarut, adsorben, rancangan alat dan sifat bahan yang akan dianalisis. Ada dua cara pengemasan kolom, yaitu cara basah dan cara kering. Cara basah sering digunakan untuk pembuatan kolom silika gel dan cara kering sering digunakan untuk pembuatan kolom alumina (Al2O3). Dalam pemilihan pelarut elusi didasarkan atas faktor-faktor seperti polaritas dan kelarutan.

Pelarut yang umum digunakan meliputi deretan pelarut seperti petroleum eter (PE), karbon tetraklorida, sikloheksana, karbon disulfida, eter, aseton, benzena, ester organik, alkohol, air, piridin, asam asetat, campuran asam atau basa dengan air, alkohol dan piridin (Kusmardiyani, 1992). II.3. Kromatografi Lapis Tipis (KLT) Kromatografi digunakan untuk memisahkan substansi campuran menjadi komponen-komponennya. Seluruh bentuk kromatografi bekerja berdasarkan prinsip ini. Kromatografi lapis tipis adalah teknik pemisahan campuran perbedaan medium berupa berdasarkan kecepatan lempengan Pada lapis senyawa tipis, suatu akan

perambatan komponen dalam kromatografi. kromatografi campuran komponen-komponen

dipisahkan antara dua buah fase yaitu fase diam dan fase gerak. Fase diam akan menahan komponen campuran sedangkan fase gerak akan melarutkan zat komponen campuran. Komponen yang mudah tertahan pada fase diam akan tertinggal. Sedangkan komponen yang mudah larut dalam fase gerak akan bergerak lebih cepat (Haqiqi, 2008). Pada kromatografi lapis tipis memiliki fase diam contohnya silika gel dan fase gerak atau eluen berupa pelarut. Fase gerak mengalir melalui fase diam dan membawa komponen-komponen yang terdapat dalam campuran. Komponen-komponen yang berbeda bergerak pada laju yang berbeda sehingga spot yang terlihat dengan UV akan berbeda-beda pula jaraknya (Haqiqi, 2008). Pada prinsipnya pengerjaan KLT meliputi tahap-tahap pembuatan pelat, penotolan pada pelat, pemilihan adsorben, pemilihan pelarut, pemilihan

sistem

pengembang

yang

cocok,

pengamatan

lokasi

bercak

pada

kromatogram, deteksi dan identifikasi (Kusmardiyani, 1992). III. ALAT DAN BAHAN
A. Alat

-

Alat – alat Gelas Batang Pengaduk Chamber Cawan Porselin Batang Bambu Sarung Tangan Masker Botol Vial yang sudah dikalibrasi dengan volume 5 ml dan diberi nomor I-V Kertas Saring Kolom Kromatografi Toples Kaca Spektrofotometri UV

-

B. Bahan

-

Serbuk Kunyit Etanol 96% Silika Gel N-Heksana Kloroform Plat KLT

-

IV. PROSEDUR KERJA
A.

Pembuatan Ekstrak Curcumae domesticae rhizoma Ditimbang 10 gram serbuk kering Curcumae domesticae rhizoma Dimasukkan ke dalam toples kaca terbungkus kain hitam

Ditambahkan dengan 100 ml etanol 96% Ditutup dan didiamkan selama 4 hari sambil berulang diaduk (setiap 1 hari sekali) Setelah 4 hari, sari disaring, ampas diperas Ampas ditambah 25 ml etanol 96%, diaduk dan dibiarkan 3 hari lalu disaring Ekstrak yang diperoleh diuapkan di atas water bath menggunakan cawan porselin yang sudah ditimbang sebelumnya sampai didapat ekstrak kental Cawan porselin yang berisi ekstrak kental ditimbang Ekstrak kental yang diperoleh dihitung B. Pemisahan dengan Kolom Kromatografi 1. Pembuatan Kolom Kromatografi Kolom ditegakkan pada statif

Dimasukkan glass wool sebagai dasar kolom Silika gel ditimbang sebanyak 20 gram

Dituangkan ke dalam gelas beker Ditambah dengan kloroform 50 mL

diaduk sampai terbentuk campuran seperti bubur Bubur silika gel dimasukkan sedikit demi sedikit dengan pipet ke dalam kolom yang berisi 10 mL kloroform dan diusahakan tidak terbentuk gelembung

Kolom disimpan selama 3 hari sebelum siap digunakan 2. Pengisian Cuplikan/Sampel ke dalam Kolom Ekstrak kental yang diperoleh ditambahkan 10 ml etanol 96% Eluen (N-heksana : kloroform : Etanol 96% = 45:45:10) dibuat sebanyak 70 mL Ekstrak yang telah dilarutkan dimasukkan ke dalam kolom kromatografi sedikit demi sedikit melalui dinding

Wadah ekstrak dibilas dengan sedikit eluen Dituangkan kembali ke kolom Kloroform yang berada di bawah larutan ekstrak dikeluarkan melalui keran sambil memasukkan eluen 3. Pemisahan Kolom dielusi dengan eluen sampai keluar eluatnya (kecepatan elusi diatur kurang lebih 1 ml per 5 menit) Eluat ditampung dalam 10 botol vial sebanyak 5 ml Eluat dibungkus dengan plastik ikan dan aluminium foil

C.

Identifikasi kurkumin dengan KLT Eluen (N-heksana : kloroform : Etanol 96% = 45:45:10) dibuat sebanyak 20 mL, kemudian chamber dijenuhkan

Semua fraksi yang telah didapat ditotolkan sebanyak 10µL pada plat KLT silika gel GF254 dengan pipet kapiler 2 µL Plat KLT dimasukkan ke dalam chamber lalu dielusi sampai jarak pengembangan 1 cm dari tepi atas

Plat diangin-anginkan selama 10 menit Diamati di bawah sinar UV 366nm dan sinar matahari Spot atau noda plat dibawah sinar UV 366 nm dan sinar matahari ditandai di atas kertas kalkir dan dihitung Rf masing-masing spot serta ditentukan spot yang diduga kurkumin V. HASIL a. Bobot serbuk kunyit : 10 gram b. Volume etanol 96% yang digunakan untuk maserasi : 100 mL c. Lama proses maserasi: 6 x 24 jam d. Bobot ekstrak kental: 1,4534 gram
e. Rf dan warna spot kurkumin:

Tabel bahan untuk maserasi NO. 1 NAMA BAHAN Serbuk Kunyit JUMLAH 10 gram

2 3 4 5 6

Etanol 96% Etanol 96% Cawan porselen kosong untuk penguapan Cawan porselen + ekstrak kental Ekstrak kental yang diperoleh

100 mL 25 mL 67.4444 gram 68.8978 gram 1,4534 gram

Tabel bahan yang digunakan pada kromatografi kolom NO. 1 2 3 4 5 6 7 8 NAMA BAHAN Silika Gel Kloroform untuk mengisi kolom awal Klorofom untuk membuat bubur silika gel Klorofom untuk pendiaman kolom 1 hari Etanol 96 % untuk melarutkan ekstrak kental Tinggi kolom yang diperoleh Eluen yang digunakan untuk mengelusi N-Heksana : Klorofom : Etanol (45 : 45 : 10) Penambahan eluen untuk mengelusi JUMLAH 20 gram 10 mL 50 mL 10 mL 13,3 cm 50 ml 20 mL

 Pembuatan eluen 70 mL untuk kromatografi kolom :

N-heksana 45  Perhitungan : N-heksana =

: kloroform : etanol 96% : 45 : 10

45 x 70 = 31,5 mL 100

Kloroform

=

45 x 70 = 31,5 mL 100
10 x70 = 7 mL 100

Etanol 96%

=

Tabel bahan yang digunakan pada kromatografi lapis tipis (KLT) NO. 1 2 NAMA BAHAN Etanol 96 % untuk melarutkan fraksi yang kering Eluen yang digunakan untuk mengelusi plat N-Heksana : Klorofom : Etanol (45 : 45 : 10) JUMLAH 10mL 20 mL

 Pembuatan eluen 20 mL untuk kromatografi lapis tipis : N-heksana 45  Perhitungan : N-heksana =
45 x 20 = 9 mL 100

: kloroform : etanol 96% : 45 : 10

Kloroform

=

45 x 20 = 9 mL 100
10 x 20 = 2 mL 100

Etanol 96%

=

Tabel fraksi setelah metode KLT : Fraksi I Spot Di bawah UV 366 nm Rf HRf Warna Keterangan Rf Di bawah sinar matahari HRf Warna Keterangan -

Fraksi II Spot Di bawah UV 366 nm Rf HRf Warna Keterangan Rf Di bawah sinar matahari HRf Warna Keterangan -

Fraksi III Spot 1 Di bawah UV 366 nm Rf 0,49 HRf Warna 49 Hijau Ket. Rf Di bawah sinar matahari HRf Warna Ket. -

terang

Fraksi IV Spot 1 2 3 Di bawah UV 366 nm Rf 0,27 0,36 0,40 HRf Warna 27 36 40 Hijau Terang Hijau Terang Hijau Gelap Ket. Bisdes Des Kur Rf 0,27 0,35 0,45 Di bawah sinar matahari HRf 27 35 45 Warna Kuning muda Jingga Jingga Ket. Bisdes Des Kur

Fraksi V Spot 1 2 3 Di bawah UV 366 nm Rf 0,29 0,34 0,44 HRf Warna 29 34 44 Hijau Gelap Hijau Gelap Hijau Gelap Ket. Bisdes Bisdes Kur Rf 0,27 0,35 0,44 Di bawah sinar matahari HRf 27 35 44 Warna Jingga Jingga Jingga Ket. Bisdes Des Kur

Fraksi VI Spot 1 2 Di bawah UV 366 nm Rf 0,27 0,35 HRf Warna 27 35 Hijau Gelap Hijau Gelap Ket. Bisdes Des Rf 0,26 0,32 Di bawah sinar matahari HRf 26 32 Warna Jingga Jingga Ket. Bisdes Bisdes

3

0,45

45

Hijau Gelap

Kur

0,42

42

Jingga

Kur

Fraksi VII Spot 1 2 3 Di bawah UV 366 nm Rf 0,29 0,36 0,39 HRf 29 36 39 Warna Hijau Gelap Hijau Gelap Hijau Gelap Ket. Bisdes Des Des Rf 0,27 0,32 0,44 Di bawah sinar matahari HRf 27 32 44 Warna Jingga Jingga Jingga Ket. Bisdes Des Kur

Fraksi VIII Spot 1 2 3 Di bawah UV 366 nm Rf 0,27 0,44 HRf Warna 27 44 Hijau Gelap Hijau Gelap Ket. Bisdes Kur Rf 0,27 0,32 0,44 Di bawah sinar matahari HRf 27 32 44 Warna Jingga Jingga Jingga Ket. Bisdes Bides Kur

Fraksi IX Spot 1 2 3 Di bawah UV 366 nm Rf 0,32 0,41 0,51 HRf Warna 32 41 51 Hijau Gelap Hijau Gelap Hijau Ket. Bisdes Kur Rf 0,27 0,4 0,50 Di bawah sinar matahari HRf 27 40 50 Warna Jingga Jingga Jingga Ket. Bisdes Kur -

Gelap

Fraksi X Spot 1 2 3 Di bawah UV 366 nm Rf 0,41 0,51 0,61 HRf Warna 41 51 61 Hijau Gelap Hijau Gelap Hijau Gelap Ket. Kur Rf 0,44 0,52 0,61 Di bawah sinar matahari HRf 44 52 61 Warna Jingga Jingga Jingga Ket. Kur -

Keterangan : Bisdes Des Kur : Bisdesmetoksikurkumin : Desmetoksikurkumin : Kurkumin

VI. PERHITUNGAN Perhitungan Rf dan hRf pada pemisahan dengan metode KLT pada pengamatan dengan sinar UV 366 nm :
Rf = Jarak yang ditempuh komponen Jarak yang ditempuh pelarut

hRf = Rf x 100

• Fraksi I • Fraksi II • Fraksi III

: tidak tampak adanya spot : tidak tampak adanya spot :


Rf =

Spot 1
3,9 = 0,49 8

hRf = 0,49 x 100 = 49

• Fraksi IV •

: Spot 1
2,2 = 0,27 8

Rf =

hRf = 0,27 x 100 = 27

Spot 2
2,9 = 0,36 8

Rf =

hRf = 0,36 x 100 = 36

Spot 3
3,2 = 0,4 8

Rf =

hRf = 0,4 x 100 = 40

• •

Fraksi V Spot 1
2,3 = 0,29 8

:

Rf =

hRf = 0,29 x 100 = 29

Spot 2
2,7 = 0,34 8

Rf =

hRf = 0,34 x 100 = 34

Spot 3
3,5 = 0,44 8

Rf =

hRf = 0,44 x 100 = 44

Fraksi VI

:

Spot 1
2,2 = 0,27 8

Rf =

hRf = 0,27 x 100 = 27

Spot 2
2,8 = 0,35 8

Rf =

hRf = 0,35 x 100 = 35

Spot 3
3,6 = 0,45 8

Rf =

hRf = 0,45 x 100 = 45

Fraksi VII

Spot 1
2,3 = 0,29 8

Rf =

hRf = 0,29 x 100 = 29

Spot 2
2,9 = 0,36 8

Rf =

hRf = 0,36 x 100 = 36

Spot 3
3,1 = 0,39 8

Rf =

hRf = 0,39 x 100 = 39

• •

Fraksi VIII Spot 1
2,2 = 0,27 8

Rf =

hRf = 0,27 x 100 = 27

Spot 2
3,5 = 0,44 8

Rf =

hRf = 0,44 x 100 = 44

• •

Fraksi IX Spot 1
2,6 = 0,32 8

Rf =

hRf = 0,32 x 100 = 32

Spot 2
3,3 = 0,41 8

Rf =

hRf = 0,41 x 100 = 41

Spot 3
4,1 = 0,51 8

Rf =

hRf = 0,51 x 100 = 51

Fraksi X

Spot 1
3,3 = 0,41 8

Rf =

hRf = 0,41 x 100 = 41

Spot 2
4,1 = 0,51 8

Rf =

hRf = 0,51 x 100 = 51

Spot 3

Rf =

4,9 = 0,61 8

hRf = 0,61 x 100 = 61

Perhitungan Rf dan hRf pada pemisahan dengan metode KLT pada pengamatan dengan sinar matahari :

Rf =

Jarak yang ditempuh komponen Jarak yang ditempuh pelarut

hRf = Rf x 100

• • • • •

Fraksi I Fraksi II Fraksi III Fraksi IV Spot 1
2,2 = 0,27 8

Rf =

hRf = 0,27 x 100 = 27

Spot 2
2,8 = 0,35 8

Rf =

hRf = 0,35 x 100 = 35

Spot 3
3,6 = 0,45 8

Rf =

hRf = 0,45 x 100 = 45

Fraksi V

Spot 1
2,2 = 0,27 8

Rf =

hRf = 0,27 x 100 = 27

Spot 2
2,7 = 0,34 8

Rf =

hRf = 0,34 x 100 = 34

Spot 3
3,5 = 0,44 8

Rf =

hRf = 0,44 x 100 = 44

• •

Fraksi VI Spot 1
2,1 = 0,26 8

Rf =

hRf = 0,26 x 100 = 26

Spot 2
2,6 = 0,32 8

Rf =

hRf = 0,32 x 100 = 32

Spot 3
3,4 = 0,42 8

Rf =

hRf = 0,42 x 100 = 42

• •

Fraksi VII Spot 1
2,2 = 0,27 8

Rf =

hRf = 0,27 x 100 = 27

Spot 2
2,6 = 0,32 8

Rf =

hRf = 0,32 x 100 = 32

Spot 3
3,5 = 0,44 8

Rf =

hRf = 0,44 x 100 = 44

Fraksi VIII

Spot 1
2,2 = 0,27 8

Rf =

hRf = 0,27 x 100 = 27

Spot 2
2,6 = 0,32 8

Rf =

hRf = 0,32 x 100 = 32

Spot 3
3,5 = 0,44 8

Rf =

hRf = 0,44 x 100 = 44

• •

Fraksi IX Spot 1
2,2 = 0,27 8

Rf =

hRf = 0,27 x 100 = 27

Spot 2
3,2 = 0,4 8

Rf =

hRf = 0,4 x 100 = 40

Spot 3
4,0 = 0,5 8

Rf =

hRf = 0,5 x 100 = 50

Fraksi X

Spot 1
3,5 = 0,44 8

Rf =

hRf = 0,44 x 100 = 44

Spot 2
4,2 = 0,52 8

Rf =

hRf = 0,52 x 100 = 52

Spot 3
4,9 = 0,61 8

Rf =

hRf = 0,61 x 100 = 61

VII. PEMBAHASAN Pada praktikum ini dilakukan proses pemisahan dan identifikasi senyawa kurkumin pada serbuk simplisia Curcumae domesticae Rhizoma. Proses pemisahan ini dilakukan dengan menggunakan tiga metode, yaitu maserasi, kromatografi kolom dan kromatografi lapis tipis (KLT). Metode pertama yaitu maserasi dimana cara penyariannya yang sederhana dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari. Pada proses maserasi ini, penyari yang digunakan adalah etanol karena kurkumin yang bersifat non polar dapat larut dalam etanol. Hal ini dapat terjadi karena etanol memiliki sifat yang cenderung non polar jika dibandingkan dengan air (H2O). Etanol (C2H5OH) memiliki dua gugus berbeda, yaitu gugus hidroksi (OH) yang bersifat polar dan gugus alkana (C2H5) yang cenderung bersifat non polar yang dapat melarutkan kurkumin. Proses pertama saat maserasi yaitu serbuk kunyit ditimbang 10 gram lalu ditambahkan etanol 96% sebanyak 100mL kemudian dimasukkan ke dalam toples kaca yang dibungkus kain hitam agar terlindung dari cahaya. Hal ini perlu dilakukan agar kurkumin tidak mengalami penguraian akibat kontak dengan cahaya. Cairan penyari yaitu etanol 96% akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung analit, analit akan larut dan karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan berisi

analit di dalam sel dengan yang diluar sel, maka larutan yang lebih pekat akan terdesak keluar. Peristiwa ini terjadi berulang-ulang hingga terjadi kesetimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel (Anonim b, 1986) Perendaman ini dilakukan selama 5 hari dengan pengadukan berulang sekali sehari. Perendaman dilakukan agar zat pengotor dapat mengendap sedangkan dilakukan pengadukan tujuannya untuk meratakan konsentrasi di luar butir-butir serbuk simplisia dan menjaga perbedaan konsentrasi sekecilkecilnya antara larutan di dalam sel dan di luar sel (Sudjadi, 1986). Setelah 5 hari, maserat disaring menggunakan corong dan kertas saring. Sebelum digunakan, kertas saring harus dijenuhkan terlebih dahulu dengan menggunakan pelarutnya yaitu etanol 96% dengan menggunakan pipet tetes. Hal ini dilakukan untuk mengkondisikan kertas saring pada corong agar mempermudah dan mempercepat proses penyaringan. Jika tidak dilakukan penjenuhan terlebih dahulu, maka larutan simplisia yang akan disaring akan menjenuhkan kertas saring terlebih dahulu, akibatnya akan memperlambat proses penyaringan. Selanjutnya ampas sisa penyaringan diremaserasi kembali dengan etanol 96% sebanyak 25 ml kemudian didiamkan terendam selama 2 hari dan disaring lagi. Tujuan remaserasi adalah untuk melarutkan analit kurkumin yang tertinggal pada ampas sekaligus mengendapkan zat pengotor pada saat perendaman kembali. Perlu dilakukan remaserasi karena kelemahan maserasi adalah tidak dapat mengekstraksi senyawa analit yang diinginkan dengan sempurna sebab hanya mengandalkan proses difusi pada saat perendaman dan pengadukan. Semua maserat yang telah diperoleh kemudian diuapkan di atas water bath dengan suhu 345oC sampai terbentuk ekstrak kental. Fungsi penguapan maserat adalah untuk menghilangkan etanol pada maserat. Pada proses pemekatan ini dilakukan juga pengadukan, supaya permukaan kontak dengan panas menjadi lebih luas, sehingga suhu di dalam cawan porselen menjadi merata merata. Selain itu, cawan juga diangin-anginkan agar uap pelarut tidak menumpuk di atas cawan porselin sehingga proses pemekatan

ekstrak dapat berlangsung dengan waktu yang seminimal mungkin. Ekstrak kental yang diperoleh adalah 1,4534 gram. Setelah itu ekstrak kental yang ada dalam cawan porselin ditutup dengan aluminium foil agar tidak terkena kontak dari udara luar sehingga pengotor yang ada di udara tidak mengkontaminasi ekstrak kental. Metode selanjutnya yaitu kromatografi kolom. Pada proses pemisahan ini campuran yang akan dipisah diletakkan pada bagian atas kolom adsorben yang berada dalam suatu tabung seperti gelas logam ataupun plastik. Pelarut sebagai fase gerak karena gaya berat atau didorong dengan tekanan tertentu dibiarkan mengalir melalui kolom membawa serta pita linarut yang bergerak dengan kecepatan berbeda. Linarut yang telah memisah dikumpulkan berupa fraksi yang keluar dari bagian bawah kolom, sehingga metode ini merupakan kromatografi elusi (Kusmardiyani, 1992). Ada dua cara pembuatan kromatografi kolom, yaitu cara basah dan cara kering. Dalam praktikum ini, cara yang digunakan yaitu cara basah. Fase gerak atau eluen yang digunakan adalah campuran antara N-heksana: kloroform: etanol 96% (45:45:10). Fase gerak tersebut merupakan pelarut organik yang bersifat nonpolar. Sementara fase diam atau adsorben yang digunakan adalah serbuk silika gel yang bersifat polar. Pembuatan kolom dengan menggunakan cara basah, mula-mula kolom dipasang pada statif agar berdiri tegak lurus. Pada dasar bagian kolom diisi dengan anyaman glass wool agar dapat menahan silika gel yang akan dimasukkan ke dalam kolom. Silika gel yang digunakan dalam praktikum ini adalah 20 gram. Pelarut yang digunakan adalah kloroform sebanyak 50 mL, dan pelarut yang dimasukkan ke kolom adalah 10 mL. Silika gel yang telah ditimbang dimasukkan ke dalam gelas beker dan ditambahkan 50 mL kloroform kemudian diaduk sampai terbentuk bubur silika. Setelah itu bubur silika dimasukkan ke dalam kolom menggunakan corong dan dialirkan turun melalui dinding kolom agar tidak terbentuk rongga udara yang dapat merusak kolom. Bubur silika yang menempel didinding juga harus segera dibilas dengan kloroform untuk mencegah mengerasnya silika gel pada

dinding kolom. Saat pengisian bubur silika ke dalam kolom, keran dapat dibuka dan ditutup sehingga kloroform dapat keluar tetapi pengeluaran eluen dijaga agar silika gel pada kolom tidak kering. Setelah bubur silika dimasukkan semua ke dalam kolom, ditambahkan sejumlah kloroform hingga berjarak beberapa cm dari silika, dimana bertujuan agar silika tidak kering dan tetap terendam. Kemudian bagian atas kolom ditutup dengan plastik ikan dan aluminium foil, agar kloroform tidak menguap. Kemudian kolom didiamkan selama 1-2 hari sebelum digunakan. Pendiaman dilakukan untuk mendapatkan kolom yang homogen dan kompak agar hasil pemisahan yang diperoleh lebih baik. Setelah didiamkan 1-2 hari, tahap berikutnya adalah pengisian cuplikan atau sampel ke dalam kolom. Ekstrak kental dilarutkan terlebih dahulu dalam etanol 96% sebanyak 10mL setelah itu dimasukkan sedikit demi sdikit melalui dinding agar kolom tidak rusak. Wadah ekstrak kental dibilas sedikit dengan kloroform kemudian dimasukkan ke dalam kolom. Setelah itu, keran kolom dibuka untuk mengeluarkan kloroform sambil menambahkan eluen (N-heksana : kloroform : etanol 96% = 45 :45 :10) sedikit demi sedikit kira-kira berbanding lurus dengan pengeluaran kloroform melalui keran dan diusahakan agar eluen tetap berada diatas silika agar silika tidak kering. Setelah kloroform sudah berada di glass wool dan larutan ekstrak berwarna kuning berada diatas glass wool, segera diambil tetesan fraksi pertama sebanyak 5mL dengan menggunakan botol vial sebagai wadah yang telah ditera 5mL. Langkah tersebut dilakukan sampai mendapat 10 fraksi dan kolom tetap dijaga agar tidak kering dengan menambahkan eluen sampai pada fraksi ke-10. Setiap fraksi masing-masing diberikan label agar tidak tertukar. Fraksi-fraksi dalam botol vial dibungkus dengan plastik ikan dan aluminium foil agar tidak terkontaminasi dari udara luar dan tidak terurai akibat kontak dengan cahaya. Sepuluh fraksi yang didapatkan menghasilkan warna yang berbeda-beda, yaitu fraksi I dan II berwarna kuning muda, fraksi III dan IV berwarna kuning tua dan sudah mulai agak pekat. Dan pada fraksi V dan VI berwarna kuning pekat,

sedangkan fraksi VII dan VIII, warnanya kembali mennjadi kuning tua. Dan yang terakhir pada fraksi IX dan X berwarna kuning. Setelah terkumpul semua fraksi, tahap berikutnya yaitu metode pemisahan kromatofrafi lapis tipis (KLT). Kromatografi lapis tipis adalah teknik pemisahan campuran berdasarkan perbedaan kecepatan perambatan komponen dalam medium berupa lempengan kromatografi. Pada kromatografi lapis tipis, komponen-komponen suatu campuran senyawa akan dipisahkan antara dua buah fase yaitu fase diam dan fase gerak. Fase diam akan menahan komponen campuran sedangkan fase gerak akan melarutkan zat komponen campuran. Komponen yang mudah tertahan pada fase diam akan tertinggal. Sedangkan komponen yang mudah larut dalam fase gerak akan bergerak lebih cepat (Haqiqi, 2008). Ada beberapa tahap yang dilakukan pada KLT yaitu penyiapan plat, pemilihan adsorben, pemilihan pelarut, menentukan sistem pengembang yang cocok, pengamatan lokasi bercak pada kromatogram, deteksi dan identifikasi (Kusmardiyani, 1992). Dalam praktikum KLT ini fase diam yang digunakan adalah silika gel GF254 yang bersifat polar dan fase geraknya yaitu pelarut campuran (Nheksana : kloroform : etanol 96% = 45:45:10) yang bersifat non polar. Fase diam silika gel GF254 yang mana G adalah Gypsum (pengikat) biasanya pengikat yang digunakan adalah kalsium sulfat, F adalah Flouresence (panjang gelombang), dan 254 adalah panjang gelombang yang digunakan yaitu 254 nm. Jadi arti GF254 adalah penjerap silika gel dengan pengikat kalsium sulfat dengan ditambahkan indikator yang dapat berflouresensi jika dideteksi pada sinar ultraviolet dengan panjang gelombang 254 nm. Indikator flouresensi adalah senyawa yang memancarkan sinar tampak jika disinari dengan sinar ultraviolet (Gritter, 2011). Sebelum dilakukan penotolan sampel, plat silika yang telah dipotong dengan ukuran 10x10 cm seharusnya dicuci terlebih dahulu dalam chamber

dengan menggunakan pelarut methanol namun dalam praktikum kali ini hal tersebut tidak dilakukan. Pemilihan methanol dibandingkan dengan etanol karena sifat semipolar methanol (CH3OH) dimana mengandung tiga atom H dan satu gugus OH. Karena sifatnya yang semipolar, methanol lebih mampu membersihkan zat-zat pengotor dibandingkan dengan etanol yang bersifat nonpolar. Selain itu methanol lebih cepat menguap dibandingkan etanol 96% yang berisi beberapa bagian air. Setelah dicuci, plat kemudian diaktivasi pada suhu 110° selama 30 menit namun pada praktikum kali ini, plat tidak diaktivasi sesuai panduan praktikum. Pengaktivasian plat ini bertujuan untuk menjaga kelembaban plat dan menghilangkan sisa methanol dan air pada plat. Jika suhu pengaktifan jauh diatas 110°, mungkin terjadi degradasi yang tak bolak-balik pada penjerap dan menyebabkan pemisahan kurang efektif (Gritter, 1991). Setelah itu eluen dibuat dan dimasukkan ke dalam chamber kemudian dijenuhkan. Penjenuhan chamber bertujuan untuk mendapatkan uap dan tekanan yang sama pada chamber. Pada penjenuhan ini dapat digunakan kertas saring yang dilapisi pada dinding chamber sebagai indikator bahwa chamber sudah jenuh. Waktu penjenuhan adalah 30 menit. Sambil menunggu penjenuhan dilakukan penotolan cuplikan atau sampel setiap fraksi sebanyak 10 µL pada plat silika gel GF254. Dalam praktikum, digunakan pipa kapiler untuk penotolan. Pipa kapiler yang digunakan adalah 2 µL, maka banyaknya penotolan yang dilakukan sebanyak 5 x 2µL. Penotolan sampel digunakan sebesar 10 µL karena volume ini merupakan rekomandasi terbaik untuk penotolan secara manual baik untuk data KLT kualitatif dan kuantitatif (Dekker, 2003). Plat yang sudah ditotol dengan cuplikan atau sampel dimasukkan ke dalam chamber yang sebelumnya sudah dijenuhkan. Pengembangan dilakukan dengan memasukkan plat KLT yang telah ditotolkan dengan sepuluh fraksi yang didapat ke dalam chamber. Plat selanjutnya dielusi hingga jarak 1 cm dari tepi atas. Pada praktikum ini, cara pengembangan

yang digunakan adalah ascending (menaik), yaitu pengembangan yang berdasarkan pada daya kapiler (Kusmardiyani dan Nawawi, 1992). Saat pengembangan, chamber ditutup rapat agar eluen tidak menguap. Setelah selesai pengembangan, plat dikeluarkan dari dalam chamber kemudian plat diangin-anginkan agar eluen dalam plat cepat menguap. Setelah itu, plat dideteksi dan diamati di bawah sinar UV366 dan spot digambar pada kertas kalkir yang sebelumnya telah dipotong 10x10cm. Lalu plat juga diamati di bawah sinar matahari dan spot yang terlihat digambar pada kertas kalkir lalu catat hasil dari pengamatan yang dilakukan. Hasil pemisahan yang didapat pada praktikum kali ini kurang baik karena terdapat ekor pada hampir semua spot pada plat. Pembentukan ekor merupakan salah satu gangguan yang dapat kita temukan dalam KLT, dimana pembentukan ekor ini ditandai jika senyawa yang dipisahkan berekor panjang, bukan bercak yang agak bundar. Penyebab utama pembentukan ekor ini adalah cuplikan terlalu banyak atau pembebanan yang berlebih, dan hal ini hanya dapat dihilangkan dengan mengurangi cuplikan (Gitter, 1991).

Gambar yang dilihat di bawah sinar UV366 pada kertas kalkir

spot

• Gambar spot yang dilihat di bawah sinar matahari pada kertas kalkir

Berdasarkan hasil yang didapat dari sepuluh fraksi, terdapat beberapa fraksi yang tidak menghasilkan spot, ada yang menghasilkan 1 spot dan 3 spot. Fraksi yang tidak menghasilkan spot adalah fraksi 1 dan 2. Fraksi 3 hanya

menghasilkan satu spot saja, hal ini terjadi karena ketika penetesan fraksi dari dalam kolom, hanya sedikit sampel yang melewati silika gel dan sisanya kebanyakan eluen. Kemudian fraksi yang menghasilkan 3 spot adalah fraksi IV, V, VI, VII, VIII, IX dan X. Ketiga spot ini adalah senyawa kurkuminoid yang juga merupakan pigmen warna kuning pada kunyit, yaitu kurkumin, desmetoksikurkumin dan bisdesmetoksikurkumin.

Data yang diperoleh dari KLT preparatif adalah nilai Rf yang berguna untuk identifikasi senyawa. Nilai Rf dapat didefinisikan sebagai jarak yang ditempuh oleh senyawa dari titik asal dibagi dengan jarak yang ditempuh oleh pelarut dari titik asal. Oleh sebab itu bilangan Rf selalu lebih

kecil dari 1,0. Setelah dideteksi di bawah sinar UV 366 nm terlihat seluruh spot pada sampel yang berpendar dengan warna yang berbeda-beda, ada yang tampak kuning muda dan ada yang tampak jingga kecoklatan. Dan setelah di amati di bawah sinar matahari langsung, dari semua spot yang ada berpendar warna jingga. Setelah dihitung dan dilihat dari nilai Rf dan Hrf masing-masing spot dapat ditentukan komponen apa saja yang terkandung pada kunyit. Warna Dengan Komponen Kurkumin Desmetoksikurkumin Bisdesmetoksikurkumin ( Egon, 1985) IV/1, UV365 IV/2 Sinar Matahari 40-45 Merah-darah Jingga 35-40 Salmon Jingga 25-35 Merah-jingga muda Kuning hRf

Apabila dilihat berdasarkan nilai Rf dan hRf-nya dan pada pustaka, hasil identifikasi pada kunyit dalam praktikum ini menunjukkan hasil positif adanya senyawa kurkumin, yaitu pada fraksi IV, V, IV, VII, VIII, IX dan X, tetapi warna yang terjadi setelah dideteksi di bawah sinar UV366 tidak seperti pada literatur. Warna yang didapatkan adalah warna coklat, hal ini mungkin terjadi karena plat tidak dicuci dan diaktivasi terlebih dahulu. Berdasarkan hasil pengembangan terjadi tailing (pengekoran) yang menunjukan bahwa hasil pemisahan kurang baik.

Pada fraksi I dan fraksi II tidak didapatkan spot saat dilihat

dibawah sinar UV366 dan sinar matahari.

Pada fraksi III setelah dilihat di bawah pada UV366 tampak 1 spot

yang menampakkan warna hijau terang dengan jarak 3,9 cm dan memiliki nilai hRf 49 yang mana menunjukan tidak adanya kandungan kurkumin pada spot ini, tetapi jika dilihat di bawah sinar matahari tidak tampak adanya spot.

Pada fraksi IV terdapat 3 spot, yaitu :

a.

Spot 1 yang dilihat di bawah UV366 dan sinar matahari

memiliki jarak 2,2 cm dan nilai hRf 27. Spot pada sinar UV 366 menampakkan warna hijau terang, dan pada sinar matahari menampakkan warna kuning muda. Spot ini memiliki kandungan bisdesmetoksikurkumin.
b.

Spot 2 yang dilihat di bawah sinar UV366 memiliki jarak 2,9

cm dan nilai hRf 36 serta pada spot ini menampakkan warna hijau terang. Kemudian jika dilihat dibawah sinar matahari spot memiliki jarak 2,8 cm dengan nilai hRf 35 dan menampakkan warna jingga. Spot ini mengandung desmetoksikurkumin.
c.

Spot 3 yang dilihat di bawah sinar UV366 memiliki jarak 3,2

cm dengan nilai hRf 40 dan spot ini menampakkan warna hijau gelap. Kemudian jika dilihat dibawah sinar matahari spot memiliki jarak 3,6 cm dan nilai hRf 45 dan menampakkan warna jingga. Spot ini mengandung kurkumin. • Pada fraksi V menunjukkan adanya 3 spot
a.

Spot 1 yang dilihat di bawah sinar UV366 memiliki jarak 2,3

cm dan nilai hRf 29. Spot ini menampakkan warna hijau gelap. Kemudian jika dilihat dibawah sinar matahari spot memiliki jarak 2,2 cm dengan nilai hRf 27 dan menampakkan warna jingga. Spot ini mengandung bisdesmetoksikurkumin.
b.

Spot 2 yang dilihat di bawah sinar UV366 memiliki jarak 2,7

cm dan nilai hRf 34. Spot ini menampakkan warna hijau gelap. Kemudian jika dilihat dibawah sinar matahari spot memiliki jarak 2,7 cm dengan nilai hRf 34 dan menampakkan warna jingga. Spot ini mengandung desmetoksikurkumin.
c.

Spot 3 yang dilihat di bawah sinar UV366 memiliki jarak 3,5

cm dan nilai hRf 44. Spot ini menampakkan warna hijau gelap.

Kemudian jika dilihat dibawah sinar matahari spot memiliki jarak 3,5 cm dengan nilai hRf 44 dan menampakkan warna jingga. Spot ini mengandung kurkumin. • Pada fraksi VI menunjukkan adanya 3 spot
a.

Spot 1 yang dilihat dari sinar UV366 memiliki jarak 2,2 cm 27. Spot ini menampakkan warna hijau gelap.

dan nilai hRf

Kemudian jika dilihat dibawah sinar matahari spot memiliki jarak 2,1 cm dengan nilai hRf 26 dan menampakkan warna jingga. Spot ini mengandung bisdesmetoksikurkumin.
b.

Spot 2 yang dilihat dari sinar UV366 memiliki jarak 2,8 cm 35. Spot ini menampakkan warna hijau gelap.

dan nilai hRf

Kemudian jika dilihat dibawah sinar matahari spot memiliki jarak 2,6 cm dengan nilai hRf 32 dan menampakkan warna jingga. Spot ini mengandung desmetoksikurkumin.
c.

Spot 3 yang dilihat di bawah sinar UV366 memiliki jarak 3,6

cm dan nilai hRf 45. Spot ini menampakkan warna hijau gelap. Kemudian jika dilihat dibawah sinar matahari spot memiliki jarak 3,4 cm dengan nilai hRf 42 dan menampakkan warna jingga. Spot ini mengandung kurkumin. • Pada fraksi VII menunjukkan ada 3 spot
a.

Spot 1 yang dilihat di bawah sinar UV366 memiliki jarak 2,3

cm dan nilai hRf 29. Spot ini menampakkan warna hijau gelap. Kemudian jika dilihat dibawah sinar matahari spot memiliki jarak 2,2 cm dengan nilai hRf 27 dan menampakkan warna jingga. Spot ini mengandung bisdesmetoksikurkumin.
b.

Spot 2 yang dilihat di bawah sinar UV366 memiliki jarak 2,9

cm dan nilai hRf 36. Spot ini menampakkan hijau gelap. Kemudian

jika dilihat dibawah sinar matahari spot memiliki jarak 2,6 cm dengan nilai hRf 32 dan menampakkan warna jingga. Spot ini mengandung desmetoksikurkumin.
c.

Spot 3 yang dilihat di bawah sinar UV366 memiliki jarak 3,1

cm dan nilai hRf 39. Spot ini menampakkan warna hijau gelap, yang mana mengandung desmetoksikurkumin. Dan pada spot dilihat dibawah sinar matahari memiliki jarak 3,5 cm dengan nilai hRf 44 dan menampakkan warna jingga, yang mana mengandung kurkumin.

Pada fraksi VIII setelah dilihat pada UV366 menunjukkan 2 spot dan

sedangkan pada dilihat di bawah sinar matahari menunjukkan 3 spot
1. a.

Pada sinar UV366 ada 2 spot Spot 1 memiliki jarak 2,2 cm dan nilai hRf 27. Spot ini

menampakkan warna hijau gelap. Komponen yang terkandung adalah bisdesmetoksikurkumin.
b.

Spot 2 memiliki jarak 3,5 cm dan nilai hRf 44. Spot ini

menampakkan warna hijau gelap. Komponen yang terkandung adalah kurkumin. 2.
a.

Pada sinar matahari ada 3 spot Spot 1 memiliki jarak 2,2 cm dan nilai hRf 27. Spot ini

menampakkan warna jingga. Komponen yang terkandung adalah bisdesmetoksikurkumin.
b.

Spot 2 memiliki jarak 2,6 cm dan nilai hRf 32. Spot ini

menampakkan warna jingga. Komponen yang terkandung adalah desmetoksikurkumin.

c.

Spot 3 memiliki jarak 3,5 cm dan nilai hRf 44. Spot ini

menampakkan warna jingga. Komponen yang terkandung adalah kurkumin. • Pada fraksi IX menunjukkan ada 3 spot
a.

Spot 1 yang dilihat di bawah sinar UV366 memiliki jarak 2,6

cm dan nilai hRf 32. Spot ini menampakkan warna hijau gelap. Kemudian jika dilihat dibawah sinar matahari spot memiliki jarak 2,2 cm dengan nilai hRf 27 dan menampakkan warna jingga. Komponen yang terkandung adalah bisdesmekurkumin.
b.

Spot 2 yang dilihat di bawah sinar UV366 memiliki jarak 3,3

cm dan nilai hRf 41. Spot ini menampakkan warna hijau gelap. Kemudian jika dilihat dibawah sinar matahari spot memiliki jarak 3,2 cm dengan nilai hRf 40 dan menampakkan warna jingga. Komponen yang terkandung adalah kurkumin.
c.

Spot 3 yang dilihat di bawah sinar UV366 memiliki jarak 4,1

cm dan nilai hRf 51. Spot ini menampakkan warna hijau gelap. Kemudian jika dilihat dibawah sinar matahari spot memiliki jarak 4 cm dengan nilai hRf 50 dan menampakkan warna jingga. Spot ini tidak terkandung senyawa kurkumin. • Pada fraksi X menunjukkan ada 3 spot
a.

Spot 1 yang dilihat di bawah sinar UV366 memiliki jarak 3,3

cm dan nilai hRf 41. Spot ini menampakkan warna hijau gelap. Kemudian jika dilihat dibawah sinar matahari spot memiliki jarak 3,5 cm dengan nilai hRf 44 dan menampakkan warna jingga. Komponen yang terkandung adalah kurkumin.
b.

Spot 2 yang dilihat di bawah sinar UV366 memiliki jarak 4,1

cm dan nilai hRf 51. Spot ini menampakkan warna hijau gelap.

Kemudian jika dilihat dibawah sinar matahari spot memiliki jarak 4,2 dengan nilai hRf 52 dan menampakkan warna jingga. Spot ini tidak mengandung senyawa kurkumin.
c.

Spot 3 yang dilihat di bawah sinar UV366 memiliki jarak

4,9 cm dan nilai hRf 61. Spot ini menampakkan warna hijau gelap. Kemudian jika dilihat dibawah sinar matahari spot memiliki jarak 4,9 dengan nilai hRf 61 dan menampakkan warna jingga. Spot ini tidak mengandung senyawa kurkumin.

VIII. KESIMPULAN 1. Pemisahan dari identifikasi kurkumin dilakukan dengan tiga tahap percobaan, yaitu maserasi, kromatografi kolom dan kromatografi lapis tipis. 2. Prinsip maserasi adalah cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dan karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dengan yang diluar sel, maka larutan yang terpekat didesak keluar 3. Prinsip kromatografi kolom sama dengan prinsip kromatografi lapis tipis (KLT) adalah fase diam yang polar akan mengelusi senyawa-senyawa non polar turun bersama fase gerak yang digunakan, sementara senyawa-senyawa polar akan tertahan pada fase diamnya. 4. Jika dilihat dari nilai hRf yang dibandingkan dengan pustaka yang dideteksi pada sinar matahari ditemukkan senyawa kurkumin pada fraksi IV, V, VI, VII, VIII, IX dan X.

5. Jika dilihat dari nilai hRf yang dibandingkan dengan pustaka yang

dideteksi di bawah sinar UV366 ditemukan senyawa kurkumin pada fraksi IV, V, VI, VIII, IX, dan X.
6. Spot pada plat KLT bentuknya tidak bundar dan adanya tailing.

Hal ini disebabkan cuplikan terlalu banyak. 7. Hasil warna pada praktikum ini tidak sesuai dengan pustaka, dikarenakan oleh beberapa faktor pada tahap maserasi kualitas pelarut kurang baik, dan pada KLT tidak adanya proses pencucian dan pengaktivasian plat.

DAFTAR PUSTAKA Anonim a. 2011. Budidaya Kunyit. (Cited: 2011 Sept, 28). Available from : http://www.migroplus.com/brosur/Budidaya%20kunyit.pdf Anonim b. 1986. Sediaan Galenik . Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia Dekker, Marcel. 2003. Basic Technique, Materials, Apparatus. In: Sherma, Joseph., Fried, Bernard., editors. Handbook of Thin-Layer Chromatography, 3th ED. Switzerland: Marcel Dekker Inc. P. 19 Gritter, Roy J, dkk. 1991. Pengantar Kromatografi. Bandung: Penerbit ITB. Haqiqi, Sohibul Himam. 2008. Kromatografi Lapis Tipis. (Cited: 2011 September, 30). Available from: http://d4him.files.wordpress.com / 2009/02/paper-kromatografi-lapis-tipis.pdf Kusmardiyani, Siti dan Nawawi As'ari. 1992. Kimia Bahan Alam. Yogyakarta: Pusat antar Universitas Bidang Ilmu Hayati Stahl, Egon. 1985. Analisis Obat secara Kromatografi dan Mikroskopi. Bandung: Penerbit ITB Sudjaji. 1986. Metode Pemisahan. Yogyakarta: UGM Press