P. 1
Kematangan dan Kesiapan Anak dalam Belajar

Kematangan dan Kesiapan Anak dalam Belajar

|Views: 1,456|Likes:
Published by Hanif Al-Ghuroba
berdasarkan lebih dari 10 artikel dan referensi dalam bahasa Inggris dengan pembahasan terkait learn readiness and child maturity. selamat menikmati
berdasarkan lebih dari 10 artikel dan referensi dalam bahasa Inggris dengan pembahasan terkait learn readiness and child maturity. selamat menikmati

More info:

Published by: Hanif Al-Ghuroba on Nov 06, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/12/2014

pdf

text

original

1

TUGAS TERSTRUKTUR DOSEN PENGASUH
PSIKOLOGI PENDIDIKAN Hj. Noor Maulidiyah, MA


KESIAPAN DAN KEMATANGAN ANAK
DALAM BELA1AR








Disusun Oleh :
Sidik Pamungkas : 1001240635





INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI
FAKULTAS TARBIYAH
1URUSAN PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
BAN1ARMASIN
2011


BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Sampai saat ini minat kebanyakan dalam 'kesiapan belajar' (learn readiness) atau dalam
bahasa lain menurut NSW Parenting Center
1
adalah School Readiness (kesiapan sekolah) dan
kematangan anak (child maturity) untuk belajar telah sampai pada tingkat individu. Perhatian
kebanyakan masyarakat khususnya orang tua terutama diIokuskan pada apakah anak tertentu
siap untuk belajar atau sekolah dan bagaimana orang tua anak dan sekolah bisa membuat transisi
(perpindahan dari satu jenjang pendidikan dan pembelajaran dari satu tahap ke tahap yang lebih
lanjut) berlangsung semulus mungkin.
Bagaimana tidak, perhatian yang begitu besar ini nampak pada menjamurnya Lembaga
PAUD
2
yang diselenggarakan oleh lembaga non pemerintah atau swasta. Tidak hanya menjamur
tanpa alasan, namun ini merupakan reaksi balik atas begitu besarnya keinginan orang tua
memasukkan anaknya dalam Lembaga PAUD yang ditujukan untuk mempersiapkan anak-anak
mereka sebelum masuk ke jenjang pendidikan berikutnya.
Bahkan Hellen Newton
3
dalam sebuah esainya berpendapat bahwa anak-anak yang telah
memulai sekolah tanpa kesiapan mengembangkan keterampilan penting, telah diidentiIikasi
sebagai 'beresiko' untuk keberhasilan masa depan mereka baik dari bidang akademis, sosial dan
pekerjaan.
4

Kathy Walker (2005), dalam bukunya, 'What's the Hurry?' menekankan pentingnya
membiarkan anak-anak hari ini cukup waktu untuk matang dan berkembang, dan untuk bisa
mendapatkan pelajaran demi perkembangan sosial dan emosional dari pengalaman hidup
prasekolah mereka, sebelum memulai sekolah.

1
nSW ÞarenLlng CenLer adalah lembaga research dl Lropa yang berfokus pada bldang ÞarenLlng
dan Þslkologl Anak

Lembaga Þendldlkan Anak usla ulnl
3
Pellen newLon adalah penellLl parenLlng darl Larly Llfe loundaLlon
4
Lsal Pellen newLon ber[udul ºlmporLance of School 8eadlness" earlyllfeŦcomŦau
3


Baru-baru ini, khususnya di Kanada, Amerika Serikat dan Inggris, kesiapan anak-anak
untuk sekolah telah diteliti dalam konteks yang lebih luas. Persiapan tidak hanya terkait dalam
beberapa keterampilan pra-membaca dan pra-berhitung spesiIik, bahkan telah diperluas untuk
mencakup kesehatan Iisik, penyesuaian sosial dan emosional, pendekatan anak untuk belajar,
tingkat bahasa, kognisi dan pengetahuan umum.
5

Sebuah perubahan yang lebih radikal kebanyakan masyarakat telah mengakui bahwa
tugas mempersiapkan anak untuk belajar atau sekolah adalah tanggung jawab masyarakat, bukan
hanya tanggung jawab keluarga. 'kesiapan dan kematangan anak dalam belajar' mulai untuk
digunakan sebagai patokan untuk mengukur sejauh mana keberhasilan anak dalam belajar pada
tingkat lanjutan.
















3
School 8eadlness Þaper by nSW ÞarenLlng CenLer
4

BAB II
ISI

A. Pengertian Kematangan dan Kesiapan Belajar
Kematangan anak (child maturity) adalah suatu kondisi yang tampak pada perilaku
seseorang untuk mampu melakukan dan mempelajari sesuatu sesuai dengan tuntutan tugas
perkembangannya.
6
Kematangan psikologis pada anak TK B lebih diIokuskan pada kesiapan
anak untuk masuk ke Sekolah Dasar. Hal ini penting karena anak harus memasuki dunia baru,
dari dunia bermain sambil belajar ke dunia belajar Iormal yang terstruktur dan terorganisir. Anak
dituntut untuk mandiri, disiplin, bertanggung jawab terhadap tugas-tugas yang diberikan guru
dan wajib memenuhi tuntutan-tuntutan akademik Sekolah Dasar. Bila anak TK B belum
memiliki kematangan psikologis, maka kesiapan belajar menuju kelas satu SD akan terhambat.
Kesiapan belajar merupakan pola perilaku yang ditampilkan anak untuk mampu menghadapi
tuntutan dan melaksanakan tugas-tugas di Sekolah Dasar.
Kesiapan sekolah atau school readiness menurut Lewitt dan Baker ( 1995) adalah
'Readiness to learn, generally, has been thought oI as the level oI development at which an
individual (oI any age) is ready to undertake the learning oI speciIic materials.¨
7
Artinya
kematangan sekolah mengacu pada kesiapan anak dalam belajar. Secara umum adalah
merupakan level perkembangan anak tanpa dibatasi usia yang menunjukan kesiapan
anak mengikuti pembelajaran mengenai materi yang lebih spesiIik. Kesiapan anak memang
tidak terpatok pada level usia tertentu, namun orang tua harus lebih jeli dalam mendeteksi
kesiapan anak untuk dapat mengikuti pelajaran secara intens di pendidikan dasar.
Menurut Gredler dalam kamus webster istilah kesiapan (readiness) dideskripsikan
sebagai :
a. Kesiapan mental dan Iisik untuk bertindak atau menerima pengalaman

6
Caecllla Srl Wahyunl dan Cerda kŦ Wanelţ kemotooqoo lslkoloqls Aook 1k 8 Meoojo keslopoo
8elojot Jl 5ekolob uosotţ 4ţ unlka ALma !aya Þress
7
LewlLLţ LŦMŦ Ǝ 8akerţ LŦ SŦ (1993)Ŧ School readlnessŦ 1be fotote of cbllJteoţ
3

b. Tangkas, pantas, cakap dan terampil
c. Respon yang cepat atau cepat tanggap
Dalam bahasan selanjutnya, istilah kesiapan dan kematangan sekolah mempunyai
pengertian yang sama, hal ini didasari oleh pendapat Piaget (dalam Gredler,1992) yang
menyatakan kedua istilah ini mempunyai pengertian yang sama karena kesiapan tidak akan
pernah dapat tercapai tanpa kematangan.
B. Kesiapan Belajar Menurut David Ausubel
Mendiskripsikan kesiapan belajar sebagai kondisi tertentu yang tergantung pada
pertumbuhan dan kematangan serta pengalaman sosial anak. Menurutnya kesiapan sekolah
adalah suatu kondisi di mana:
Anak dapat belajar dengan mudah tanpa ketegangan emosi.
Anak mampu menujukkan motivasinya karena usahanya untuk belajar memberikan hasil
yang sesuai.

. Kesiapan Belajar Menurut Strebel
Strebel (dalam Mangunsong dkk, 1993) mengemukakan tujuh kriteria kematangan
sekolah sebagai berikut:
1. Perkembangan Iisik yang sudah matang sesuai usianya
Perkembangan Iisik meliputi dua hal yang kemampuan anak melakukan motorik kasar
seperti bermain bola, berlari, melompat dan lainnya. Kemampuan motorik kasar memiliki
implikasi pada kematangan Iisik anak secara umum. Artinya semakin anak berhasil menguasai
berbagai keterampilan motorik kasar di usianya makan hal ini dapat meningkatkan kepercayaan
diri akan dalam berbagai hal. Mobilitas anak akan semakin baik sehingga ia akan tertantang dan
siap untuk menguasai hal-hal baru disekitarnya.
Sedangkan keterampilan motorik halus adalah kemampuan anak dalam memanipulasi
tangannya sehingga ia tampak cekataan dan lihai dalam memegang pincil, memegang sendok,
menggambar/menulis, memasukan kancing dan laain sebagainya. Kemampuan motorik halus ini
6

memiliki pengaruh yang kuat untuk melatih anak dalam berkonsentrasi terhada sesuatu. Ketika
anak memiliki kesempatan yang sedikit dalam melatih perkembangan motorik halusnya saat
sebelum sekolah, hal ini akan membuat anak kurang melatih konsentrasinya dalam Iokus
terhadap sesuatu.
2. Derajat ketergantungan pada orangtuanya, terutama sejauh mana keterikatan anak pada
ibunya.
Mengembangan kemandirian anak sebelum masuk sekolah dasar sangat utama. Hal ini
karena ketika anak masuk ke sekolah dasar, anak dituntut untuk mampu melakukan banyak hal
secara mandiri seperti makan, ke kamar mandi, memakai baju dan lain sebagainya. Anak juga
akan lebih banyak menghabikan waktu di sekolah dibandingkan sebelumnya. Rasa puas bermain
dengan ibu dan perasaan yang kuat akan keterikatan dengan ibu akan beralih kepada ketertarikan
dengan rutinitas sekolah. Jika anak masih belum bisa lepas dari orang tua terutama ibu dan ia
terpaksa harus sekolah hal ini berdampang kurang baik bagi perkembangannya.
3. Pemilihan tugas sendiri sesuai dengan minatnya
Anak menunjukan kemandirian dalam membuat keputusan yang menarik untuk dirinya.
ketertarikan yang kuat dalam memilih sesuatu yang ia sukai menunjukkan kesiapan anak dalam
menerima konsekuensi yang akan ia jalani. Anak perlahan memiliki kompetensi untuk
memutuskan sendiri hal yang ia sukai. Akhirnya anak akan belajar untuk dapat beradaptasi
dengan situasi yang baru .
4. Dapat menyelesaikan tugas yang diberikan maupun yang dipilih sendiri.
Anak tampak memiliki komitmen tugas dalam menyelesaikan berbagai tuntutan yang
diberikan pada dirinya, meskipun tidak sesuai dengan pilihannya saat itu. Komitmen terhadap
tugas ini akan menjukkan kesiapan anak dalam menerima berbagai pelajaran di sekolah.

5. Mampu konsentrasi dan perhatiannya terhadap pelajaran.
Tuntutan di SD yang mulai Iokus dalam menyimak pelajaran membutuhkan daya
konsentrasi yang cukup memadai. Ketika anak belum dapat Iokus dan rentang perhaatiannya
7

masih rendah maka ia akan kesulitan dalam mengikuti pelajaran di SD sehingga ia menjadi
kurang tertarik dan tidak dapat menangkap pelajaran dengan baik.
6. Keteraturan dalam berpikir dan bertingkah laku secara sosial, dalam bekerja kelompok
dengan teman-temannya.
Ketika kematangan bersosialisasi telah dimiliki anak sebelumnya maka ia akan semakin
percaya diri dalam berinteraksi dengan anak-anak sebayanya. Hubungan pertemanan yang
hangat dan kemampuan anak dalam bekerja sama dengan kelompok anak semakin percaya diri
dan meningkatkan kapaitas dirinya.
7. Perkembangan mental yang dapat diukur dengan tes intelegensi dan tes kematangan
sekolah
Orang tua juga perlu melakukan deteksi mengenai kesiapan anak untuk dapat bersekolah
dengan melakuan assessment mengenai kematangan sekoah yang dimiliki anak. Beberapa tes
psikologi dapat memprediksi kesiapan anak ketika harus berhadapan dengan situasi belajar di SD
serta hal-hal dirasa menghambat perkembangan anak selama ini.

D. Pandangan Meisels mengenai Pendekatan Teoritis Kesiapan Belajar

1. Nativist and maturationist (ingkunganasa/ankematangan)
Dalam hal ini kesiapan anak dipandang sebagai sesuatu Ienomena yang muncul dari 'dalam
diri anak', yang memiliki dampak baik kecil ataupun besar semuanya berasal dari lingkungan.
Anak berkembang melalui tahap yang bisa diprediksi. Semua anak mengikuti tahapan yang
sama, dengan perbedaan dalam tingkat yang telah di deIinisikan secara subjektiI. Konsep ini
menaIikkan pengaruh eksternal mungkin memiliki Iana sehigga mengatakan bahwa pengaruh
eksternal tidak bisa membawa dampak negatiI dan postitiI terhadap kesiapan anak. Metode ini
sangat lemah bahkan kadang-kadang anak-anak salah diklasiIikasikan sebagai 'tidak siap¨ untuk
belajar, padahal secara psikologis dia siap untuk mulai belajar.


2. Empiricist and Enviromentalist empiris/aningkungan)
Pandangan ini berpendapat bahwa harus ada seperangkat keterampilan yang anak
dapatkan sebelum mereka siap untuk mulai belajar atau sekolah. Fokusnya adalah pada
pembelajaran bukti eksternal, seperti mengetahui warna, bentuk, cara menulis nama seseorang,
huruI abjad dan menghitung sampai sepuluh. Anak-anak dapat dilatih dalam keterampilan dan
menguji kurikulum tugas-tugas tertentu ini akan membantu mencerminkan apakah seorang anak
telah menguasai keterampilan ini atau tidak, yang pada gilirannya mencerminkan kesiapan
sekolah mereka.
3. Social onstructivist konstruktivitassosia)
Konstruktivitas sosial berpendapat bahwa masyarakat dan lingkungan di mana anak
hidup dan tinggal perlu dipertimbangkan dalam rangka memantau kesiapan anak dalam belajar.
Ini menolak gagasan bahwa kesiapan adalah sesuatu dalam diri anak, atau mutlak Iaktor
eksternal yang menyebabkan anak bisa belajar sesuatu. Kesiapan dalam sudut pandang ini dinilai
dengan tolak ukur lingkungan sekitar terhadap anak, keluarga dan lingkungan sosial terbatas
dalam komunitasnya, sehingga penilaian secara umum bergantung kepada kondisi lingkungan
dan masyarakat sekitarnya, namun dalam hal ini perbedaan antara sudut pandang masyarakat
yang satu dengan yang lain sangat memungkinkan terjadinya perbedaan.
8

4. Interactionalist interaksi)
Pandangan ini berpendapat bahwasanya keterampilan, pengetahuan dan kemampuan anak
sangat di pengaruhi oleh interaksinya terhadap masyarakat dan komunitas kecilnya. Dalam artian
di mana tempat anak dibesarakan, dipelihara dan diajarkan. Ini mengintegrasikan pada dua sisi
anak dan masyarkat, penekanannya ada pada perkembangan anak dengan pengakuan bahwa
persepsi individu dalam lingkungan anak adalah bentuk konten dari apa yang diajarkan,
dipelajari dan dihargainya dari masyarakat.
9


Melselsţ SŦ!Ŧ (1999)Ŧ Assessloq keoJloess lo kŦkŦ ÞlanLa Ǝ MŦMŦ Cox (edsŦ) 1be ttoosltloo to
kloJetqotteo 8alLlmoreţ Muť Þaul 8rookes (Lngllsh !urnal)
9
lbld halŦ 49
9

E. Pergeseran Kriteria Kesiapan Belajar
Kebanyakan pada waktu-waktu sebelumnya bahkan juga sekarang kesiapan untuk belajar
selalu di sandarkan pada cukup tidaknya umur anak untuk memulai pembelajaran. Sebelum
memasuki usia tertentu anak biasanya dianggap 'hanya bermain¨. Di negara-negara besar usia
anak benar-benar dianggap siap untuk belajar adalah 5 tahun. Namun ada seruntutat perbedaan
pendapat bahkan menjadi bahan diskusi hangat yang tak kunjung terpecahkan. Sebagai
pemecahan Dockett, Perry and Tracey menjabarkan beberapa domain yang menunjukkan dan
menjadi tolak ukur seorang anak siap untuk sekolah karena mereka sudah menguasai
keterampilan tertentu, sementara domain lain menunjukkan bahwa anak siap perkembangannya
untuk belajar, yaitu, mereka memiliki kedewasaan untuk mengatasi permasalahan belajar yang
diberikan di sekolah.
10

1. Kompetensi Sosial
Adalah kemampuana anak dalam bersosialiasasi dengan linkungan terutama teman
sebayanya dan kemampuan-kemampuan emosional lain yang menunjukkan kematangan
psikologis seorang anak. Kompetensi sosial dapat dilihat dalam beberapa sisi, sebagai berikut:
a. Atribut Individu, contoh : anak selalu dalam suasana hati yang positiI, tidak terlalu
tergantung pada orang dewasa (kaka, ayah atau ibunya), secara ikhlas datang untuk
belajar (bukan karena dipaksa orang tua), memiliki kemampuan untuk berempati
(peduli dengan teman sebaya dan menolong temannya apabila dalam kesusahan),
memiliki dua atau minimal satu hubungan positiI dengan teman sebayanya, mulai
suka melucu dan tidak tampak menyendiri (suka bersosialisasi).
b. Kemampuan Sosial, contoh : anak-anak bersosialisasi dengan teman sebayanya secara
positiI, mereka mampu memberi penjelasan atas hal yang mereka lakukan, tidak
mudah terintimidasi oleh temannya yang mengganggu, mereka memasuki
kelompoknya dan berhasil bersosialisasi dengan baik, mereka mengekpresikan rasa
jenuh tanpa kemarahan, perselisihan dengan teman sebayanya dan tidak merugikan
orang lain, selalu ikut andil dan ingin berpartisipasi dalam setiap kesempatan.

1
uockeLLţ SŦţ Þerryţ 8 Ǝ 1raceyţ uŦ() ettloq teoJy fot scbool
1

c. Atribut Relasi Teman Sebaya, contoh : mereka mampu diterima teman sebayanya,
sering diajak bermain dan mengerjakan sesuatu oleh teman sebayanya dan di anggap
sebagai teman sebayanya adalah teman bahkan sahabat.
11


2. Koordinasi Motorik dan Kesehatan Fisik
Kondisi Iisik yang baik dan sehat serta sistem kooordinasi motorik yang baik juga
menunjang kesiapan anak untuk belajar.
12
Lewitt dan Baker (1995) mereportase bahwasanya
75° guru melaporkan Iisik yang sehat, gizi yang cukup dan istirahat yang tepat mempengaruhi
anak dalam kesiapannya belajar. Menurut Panel Tujuan Pendidikan Nasional USA dan Asosiasi
Nasional untuk Pendidikan Anak, kesehatan Iisik dan perkembangan motorik adalah Iactor kunci
dalam kesiapan belajar
3. Pengaturan Emosi
Contoh mudah dari hal ini adalah anak mampu berbaur dan bersosialisasi dengan teman
sebaya mereka, mampu mengatasi masalah tanpa ibu mereka. Juga termasuk dalam hal
memahami permintan atau perintah. Seperti : duduk dan mendengarkan, mengerjakan apa yang
diminta oleh orang tua dan gurunya, duduk diam dan berkonsentrasi.
4. Keterampilan KognitiI
Rasa ingin tahu yang besar dan mampu menggunakan bahasa yang baik dalam
berkomunikasi acalah salah satu cirri dari domain ini. Kemampuan anak beradaptasi lebih cepat
dalam belajar, semangat untuk belajar dan kemampuan berpartisipasi dalam kegiatan belajar juga
menampakkan anak memiliki kemampuan ini.
5. Pengetahuan dan kemampuan secara umum
Ini sama seperti yang disampaikan Meisels dalam teori Empiricist and Enviromentalist
bahwasanya kesiapan anak untuk belajar musti mengacu pada seberapa pengetahuan dan
kemampuan anak secara umum seperti mengetahui warna, bentuk, cara menulis nama seseorang,

11
McLellanţ uŦLŦ Ǝ kaLzţ LŦCŦ (1)Ŧ Assesslng ?oung Chlldren's CompeLenceŦ
1
ueanţ Aţ AshLonţ ! Ǝ LllloLLţ AŦ (1994)Ŧ Advlce Lo parenLs on early schoollngť whaL AusLrallan
women's magazlnes have Lo sayŦ Aosttolloo Iootool of íotly cbllJbooJ
11

huruI abjad dan menghitung sampai sepuluh. Atau yang lebih umum seperti berpakaian,
membuka tali sepatu, membuka tempat makan siang mengetahui alIabet dan penomoran dan hal-
hal umum lainnya.
13




















13
uavlesţ MŦ Ǝ norLhţ !Ŧ (199)Ŧ 1eachers' expecLaLlons of school enLry sklllsŦ Aosttolloo Iootool
of íotly cbllJbooJ
1

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Dari pemaparan makalah di atas mulai dari pengertian kembatangan dan kesiapan anak
dalam belajar, kemudian ciri-ciri anak yang telah matang dan siap untuk belajar beserta teori-
teorinya, secara singkat dapat kami simpulkan poin-poin untamanya adalah sebagai berikut :
1. Kematangan anak (child maturity) adalah suatu kondisi yang tampak pada perilaku
seseorang untuk mampu melakukan dan mempelajari sesuatu sesuai dengan tuntutan
tugas perkembangannya.
2. Kesiapan sekolah atau school readiness menurut Lewitt dan Baker ( 1995) adalah
'Readiness to learn, generally, has been thought oI as the level oI development at which
an individual (oI any age) is ready to undertake the learning oI speciIic materials. Artinya
kematangan sekolah mengacu pada kesiapan anak dalam belajar. Secara umum adalah
merupakan level perkembangan anak tanpa dibatasi usia yang menunjukan kesiapan
anak mengikuti pembelajaran mengenai materi yang lebih spesiIik.
3. Menurut Gredler dalam kamus webster istilah kesiapan (readiness) dideskripsikan
sebagai : a) Kesiapan mental dan Iisik untuk bertindak atau menerima pengalaman. b)
Tangkas, pantas, cakap dan terampil. c) Respon yang cepat atau cepat tanggap.
4. Menurut Ausubel kesiapan sekolah adalah suatu kondisi di mana: 1) Anak dapat belajar
dengan mudah tanpa ketegangan emosi. 2) Anak mampu menujukkan motivasinya karena
usahanya untuk belajar memberikan hasil yang sesuai.
5. Kesiapan Belajar Menurut Strebel ada 7 yaitu :
a. Perkembangan Iisik yang sudah matang.
b. Derajat ketergantungan terhadap orang tua, terutama sejauh mana keterikatan anak
kepada ibunya.
c. Pemilihan tugas sendiri sesuai dengan minatnya.
d. Dapat menyelesaikan tugas yang diberikan maupun yang dipilih sendiri.
e. Ketepatan prestasi kerja, sehubungan dengan konsentrasi dan perhatiannya terhadap
pelajaran.
13

I. Keteraturan dalam berpikir daan bertingkah laku secara sosial, dalam bekerja kelompok
dan teman-temannya.
g. Perkembangan mental yang dapat diukur dengan tes inteligensi dan tes kematangan
sekolah.

6. Pandangan Meisels mengenai Pendekatan Teoritis Kesiapan Belajar ada 4 macam:
a)Nativist and maturationist (ingkungan asa /an kematangan), b)Empiricist and
Enviromentalist empiris /an ingkungan), c)Social onstructivist konstruktivitas
sosia), d)Interactionalist interaksi).
6. Pergeseran Kriteria Kesiapan Belajar dapat dilihat dalam 5 hal : Kompetensi Sosial,
Koordinasi Motorik dan Kesehatan Fisik, Pengaturan Emosi, Keterampilan KognitiI,
Pengetahuan dan kemampuan secara umum.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->