BAB I PENDAHULUAN

Pengurangan dampak buruk NAPZA untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS dari dan di kalangan penyalahguna NAPZA suntikan (injecting drug user - IDU) dapat dilakukan melalui upaya penanggulangan yang komprehensif. Penanggulangan ini meliputi upaya promotif, preventif, terapi dan rehabilitatif serta dapat diakses oleh setiap individu pengguna NAPZA, termasuk mereka yang terinfeksi HIV. A. Program penanggulangan NAPZA Program penanggulangan NAPZA haruslah merupakan suatu paket kegiatan yang meliputi: 1. Terapi ketergantungan NAPZA, terutama terapi substitusi NAPZA seperti pemberian maintenance metadon, buprenorfin, program therapeutic community , dan terapi rawat jalan. 2. Kegiatan penjangkauan untuk mengakses, memotivasi, dan mendukung IDU yang belum dan tidak sedang menjalani terapi, yang bertujuan untuk mengurangi risiko perilaku seks yang tidak aman dan perilaku penggunaan NAPZA (yang pada akhirnya dapat menghentikan penggunaan NAPZA). 3. Program Jarum Suntik. Program ini telah terbukti dapat mengurangi dampak buruk akibat penggunaan NAPZA suntik dan tidak menimbulkan peningkatan penggunaan NAPZA maupun dampak lainnya terhadap masyarakat. 4. Program pencegahan dan edukasi NAPZA dan HIV/AIDS perlu ditingkatkan, termasuk materi mengenai cara komunikas i, informasi, dan edukasi (KIE). Program ini bertujuan untuk menimbulkan kesadaran dan penyediaan pendidikan yang khusus kepada IDU dan keluarganya mengenai cara penularan dan pencegahan HIV, pelatihan keterampilan hidup (life skills), distribusi kondom, konseling dan tes HIV sukarela dan rahasia ( voluntary and confidential counselling and HIV testing – VCT). 5. Pengobatan, perawatan, dan dukungan dengan melibatkan partisipasi masyarakat bagi IDU yang terinfeksi HIV dan keluarganya. Kegiatan ini termasuk untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang terjangkau, terapi anti-retroviral dan pengobatan infeksi oportunistik, perawatan di rumah, intervensi pencegahan penularan HIV yang efektif, mendapatkan pelayanan sosial dan masalah hukum, dukungan psiko -sosial dan pelayanan konseling.

1

B. Prinsip-prinsip advokasi untuk mencegah penularan HIV dari dan di kalangan IDU 1. Harus dapat menghindari terjadinya peningkatan dampak buruk berupa peningkatan prevalensi HIV/AIDS . 2. Tujuan jangka panjang dan pendek harus seimbang. 3. Dapat mengemukakan bukti berdasarkan hasil penelitian tentang efektifitas pencegahan HIV/AIDS dikalangan IDU. 4. Sasaran advokasi harus spesifik dan metodenya disesuaikan dengan lingkup sosial, budaya, dan politik masyarakat . 5. Ditujukan pada berbagai sektor dan tokoh-tokoh yang ada di masyarakat. 6. Harus dilaksanakan sesegera dan seluas mungkin dengan tetap memperhatikan konteks sosial, politik, dan kemampuan pendanaan. 7. IDU dan ODHA dapat dilibatkan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program. 8. Kegiatan advokasi ini tidak hanya berkonsentrasi pada pencegahan HIV pada kelompok IDU saja namun juga pada perawatan, pengobatan dan dukungan, . 9. Mampu mengangkat isu baru dan memberikan respon terhadap institusi, media, dan yang lainnya dalam menanggapi HIV di kalangan IDU

2

BAB II PENDEKATAN EFEKTIF UNTUK MENCEGAH HIV/AIDS PADA PENGGUNA NAPZA SUNTIK
Epidemi penyalahgunaan NAPZA suntikan dan infeksi HIV yang berkaitan dengan penggunaan jarum suntik secara bersama telah menimbulkan dampak yang serius terhadap kesehatan serta kesejahteraan sosial dan ekonomi di banyak negara. Pada tahun 2002, epidemi ganda ini telah terjadi di Amerika Utara dan Selatan, Eropa Timur, Tengah, dan Barat, Asia Selatan dan Tenggara, dan sedang mulai berkembang di Timur Tengah dan Afrika. Jumlah negara yang melaporkan adanya infeksi HIV di kalangan IDU meningkat dari 54 negara pada 1992 menjadi 120 negara pada 2001. A. CONTOH KASUS 1. Kasus di Indonesia Depkes RI bekerja sama dengan, WHO, UNAIDS dan ASA/FHI/USAID pada tahun 2002 memperkirakan terdapat 159.000 kasus pengguna NAPZA suntik di Indonesia. Dari jumlah tersebut sebanyak 42.750 kasus (33.46 %) diperkirakan positif mengidap HIV/AIDS. Dua penelitian dilakukan baru -baru ini juga menunjukkan angka infeksi HIV dikalangan IDU telah mencapai 15 %. Dalam skala yang lebih luas ini bisa berarti jika 10 % saja dari satu juta pengguna NAPZA terinfeksi HIV maka akan terdapat paling sedikit 100.000 kasus. Sedangkan pihak lain memperkirakan sebanyak 500.000 – 2 juta pengguna NAPZA di Indones ia. Sebagian besar diantaranya menggunakannya dengan cara menyuntik dan sebagian diantaranya melakukan penyuntikan secara bergantian. Pada tahun 2000, 187 narapidana di lembaga pemasyarakatan Krobokan Bali menjalani tes HIV, hasilnya 35 dari 62 (56%) Na rapidana yang mempunyai riwayat memakai NAPZA dengan menyuntik ternyata mengidap HIV positif. Sebuah pusat rehabilitasi di Bali pada tahun 2000 juga telah memeriksa tes HIV pada 14 orang pasien, 8 orang diantaranya HIV positif. Data terakhir dari Puskesmas Kelurahan Kampung Bali-Kecamatan Tanah Abang Jakarta Pusat sampai bulan Juli 2002, telah melakukan konseling tes sukarela (VCT) HIV pada 60 pengguna NAPZA suntik, 56 diantaranya atau 93% dengan hasil HIV positif. 2. Kasus di Negara Lain Ledakan epidemi HIV di kalangan IDU telah terjadi di wilayah yang luas dalam kurun waktu 20 tahun ini, dimulai di New York (USA) pada 1979, diikuti oleh kota -kota besar serupa seperti Edinburg (UK), Bangkok (Thailand), Ho Chi Minh (Vietnam), Santos (Brazil), Odessa (Ukraina), Svetlogorsk (Belarus), Moskow dan Irkutsk (Federasi Rusia) dan Narva (Estonia).

3

program therapeutic community . Namun demikian. di mana epidemi baru mulai muncul pada sekitar 1996. Epidemi HIV dengan pertumbuhan tercepat yang pernah tercatat terjadi di kalangan IDU di Rusia. Epidemi HIV di kalangan IDU dapat mengakibatkan epidemi yang luas di negara yang memiliki jumlah IDU yang banyak. meskipun terjadi ledakan epidemi di kalangan IDU di banyak tempat. dapat membantu IDU mengurangi jumlah penggunaan NAPZA secara signifikan. o perilaku heteroseksual dan homoseksual yang berisiko tinggi. Pada tahun 2002 masyarakat internasional telah mencapai sebuah konsensus mengenai komposisi dari pendekatan -pengurangan dampak buruk NAPZA ini. prevalensi meningkat dari di bawah 10% menjadi lebih dari 60% dalam waktu 6 bulan. hal tersebut juga dapat memicu perluasan epidemi di negara -negara di mana sebagian besar penularan HIV terjadi melalui salah satu jalur kegiatan seks. juga mengurangi timbulnya HIV. dan program abstinensia bagi pasien rawat jalan. Di Eropa Timur. sepakat bahwa kegiatan-kegiatan berikut ini sudah sangat diperlukan pelaksanaannya untuk mencegah penularan HIV/AIDS di kalangan IDU. Kegiatan-kegiatan penjangkauan menjangkau. 4 . antara lain: • • Terapi ketergantungan NAPZA. Di beberapa daerah. serta melintasi negara seperti Myanmar. New York. Sebagai contoh. telah terdapat 80-90% infeksi HIV baru di kalangan IDU pada tahun 2002. pre valensi HIV di kalangan IDU telah melonjak dari di bawah 5% menjadi lebih dari 40% dalam kurun waktu kurang dari 12 bulan. terutama terapi substitusi NAPZA seperti terapi maintenance metadon. Selain itu. Penularan HIV dari dan di kalangan IDU terjadi melalui beberapa cara antara lain : o penggunaan jarum suntik bersama. yang dapat mengarah pada epidemi berikutnya pada kelompok subpopulasi lain di mana perilaku yang berisiko terhadap HIV biasa terjadi. o luka tertusuk jarum suntik dan transfusi darah. diperlambat dan bahkan diturunkan. Di Manipur. dan Brazil dapat diperlambat hingga beberapa tahun. memotivasi.Ledakan juga terjadi melintasi seluruh provinsi seperti Manipur di India dan Yunnan di Cina. o ibu yang terinfeksi HIV kepada bayi yang dikandungnya. o pencampuran NAPZA sebelum digunakan dan adanya ritual tertentu yang berhubungan dengan penyuntikan NAPZA. dan mendukung IDU yang tidak sedang dalam terapi untuk mengurangi perilaku penggunaan NAPZA berisiko dan perilaku seksual berisiko. Dalam kurun waktu 1996 – 2001 kebanyakan bayi yang mengidap HIV di Ukraina dan Federasi Rusia dilahirkan oleh ibu yang juga IDU atau menjadi pasangan seks IDU. dan Dhaka (Bangladesh) telah tetap berada di bawah 5 %. Sedangkan epidemi HIV di kalangan IDU di Nepal. Misalnya prevalensi HIV di beberapa kota di Australia. di Manipur. infeksi dapat dicegah. Dalam makalah yang berjudul “Preventing the transmission of HIV among drug abusers: A position paper of the United Nations System” (2000). Upaya penjangkauan juga ditujukan untuk mengembalikan IDU ke dalam proses terapi untuk mempertahankan kondisi abstinen. badan-badan PBB bersama dengan WHO. London. Edinburgh. dan badan-badan internasional lainnya. Penurunan ini terjadi karena adanya kegiatan khusus melalui pendekatan pengurangan dampak buruk NAPZA untuk menghadapi HIV/AIDS di kalangan IDU. sebesar 45% dari pasangan seksual tetap IDU yang mengidap HIV terinfeksi HIV selama kurun waktu 6 tahun.

Progam ini juga berfungsi sebagai sarana pertemuan antara IDU dengan pengelola program termasuk terapi ketergantungan NAPZA. d) Cakupa n menyeluruh dan komprehensif pada populasi yang dituju merupakan hal yang penting .• Program pertukaran jarum suntik (perjasun) menunjukkan pengurangan dalam perilaku penyuntikan yang berisiko dan penularan HIV. maka respon terhadap epidemi yang efektif akan sulit dilaksanakan. besarnya masalah penyalahgunaan NAPZA serta kecenderungan dan pola infeksi HIV. maka akan terjadi penyebaran yang sangat cepat. f) Permasalahan penyalahgunaan NAPZA tidak dapat hanya ditanggulangi semata-mata dengan upaya penegakan hukum saja. Agar langkah-langkah pencegahan menjadi lebih efektif dalam mengurangi epidemi yang sedang berlangsung. misalnya terapi substitusi NAPZA. h) Fasilitas sarana pelayanan terapi perlu disiapkan dengan berbagai jenis dan metode terapi yang sesuai dengan kebutuhan IDU. perlu menjangkau sebanyak mungkin individu dari populasi yang berisiko. dan rujukan. Pendekatan dengan cara menghukum dapat membuat orang-orang yang membutuhkan perawatan menyembunyikan diri. 5 . prinsip -prinsip dan pendekatan strategis berikut ini dapat digunakan untuk menanggulangi HIV/AIDS di kalangan IDU: a) Perlindungan terhadap hak asasi manusia adalah penting bagi keberhasilan pencegahan HIV/AIDS. sebab begitu HIV masuk ke dalam suatu komunitas IDU. program penanggulangan AIDS. c) Intervensi sebaiknya dilaksanakan berdasarkan hasil penjajakan kebutuhan (need assessment ). konseling. kesehatan sos ial. termasuk penanggulangan kemiskinan serta kesempatan untuk mendapatkan pendidikan dan lapangan pekerjaan dapat mendukung intervensi yang spesifik dengan melibatkan kegiatan-kegiatan multi-disipliner dan menyediakan pelatihan dan dukungan yang memadai . Hal ini termasuk bila hak-hak sipil tidak dihargai. merupakan komponen yang sangat penting dalam mencegah penularan HIV. Berdasarkan kebijakan-kebijakan yang dinyatakan dalam UN Drug Control Convention and Declaration on the Guiding Principles of Drug Demand Reduction. Program ini akan lebih bermanfaat lagi bila dilaksanakan secara terpadu dengan program KIE. b) Pencegahan HIV pada kelompok IDU harus dimulai sedini mungkin. Sarana ini dapat menyediakan berbagai terapi alternatif. dan hak-hak budaya mereka tidak dihargai. g) Upaya untuk menghentikan penularan HIV memerlukan 3 strategi sebagai berikut: • Mencegah penyalahgunaan NAPZA. Program pencegahan HIV dan terapi ketergantungan NAPZA dalam institusi penegakan hukum seperti lembaga pemasyarakatan atau penjara. • Memfasilitasi agar IDU bersedia menjalani terapi ketergantungan NAPZA • Membentuk kelompok-kelompok penjangkauan dengan mengikutsertakan IDU dalam strategi pencegahan HIV yang akan melindungi mereka dan teman-temannya serta keluarganya dari bahaya HIV serta mendorong mereka agar bersedia menjalani terapi ketergantungan NAPZA dan perawatan medis. UN Human Rights documents on UN Health Promotion Policy documents. e) Program pengurangan permintaan (demand reduction) NAPZA dan program pencegahan HIV harus terintegrasi dalam suatu kebijakan kesehatan dan kesejahteraan sosial melalui program promotif-preventif. Lingkungan yang mendukung gaya hidup sehat. Masyarakat menjadi lebih rentan terhadap infeksi bila masalah ekonomi.

5. Penggunaan materi KIE ditujukan untuk menumbuhkan kesadaran akan risiko HIV di kalangan IDU. Penjangkauan IDU dapat dilakukan melalui pendid ikan dengan cara tatap muka mengenai risiko -risiko HIV dan langkah-langkah pencegahannya. m) Program kegiatan intervensi dalam pencegahan HIV di kalangan IDU meliputi: • Menyelenggarakan KIE • Penjangkauan pengguna NAPZA • Pendampingan termasuk : .Cara penyuntikan yang aman .Pendidikan sebaya • Konseling tes HIV secara sukarela dan rahasia (VCT) • Terapi ketergantungan NAPZA • Pelayanan kesehatan dasar dan rujukan • Pertukaran jarum suntik • Penjualan dan distribusi jarum suntik • Terapi substitusi dengan menggunakan metadone. Kebijakan yang mendukung. pelayanan sosial dan hukum. 6 . 2. merupakan sarana utama dalam pencegahan HIV dari dan di kalangan IDU. j) Program pengobatan harus menyediakan pemeriksaan terhadap HIV/AIDS dan penyakit menular lainnya serta memberikan konseling untuk membantu IDU agar dapat mengubah perilaku berisiko atau mencegah risiko terinfeksi k) Program pencegahan penularan HIV juga harus berfokus pada perilaku seksual berisiko di kalangan IDU atau pengguna NAPZA lainnya. B. intervensi pencegahan HIV yang efektif.Pendidikan tentang dampak buruk . Penyediaan terapi substitusi NAPZA dapat membantu IDU dalam mengurangi atau menghentikan penyuntikan NAPZA. perundang-undangan. 4. buprenorphin n) Dukungan dan perawatan yang melibatkan partisipasi masyarakat harus disediakan bagi IDU yang terinfeksi HIV dan keluarganya. serta pendistribusian materi KIE dan upaya pencegahan. PRINSIP-PRINSIP PENGURANGAN DAMPAK BURUK Prinsip-prinsip pelaksanaan program pengurangan dampak buruk NAPZA dalam mencegah in feksi HIV di kalangan IDU adalah : 1. l) Kegiatan penjangkauan dan pendidikan kelompok sebaya di luar fasilitas pelayanan kesehatan diperlukan untuk menjangkau kelompok yang tidak terjangkau oleh fasilitas pelayanan kesehatan tersebut. pendidikan kesehatan serta motivasi di kalangan IDU dan masyarakat sekitarnya. Penyediaan alat suntik yang steril dan zat suci hama seperti cairan pemutih termasuk penyediaan kondom. termasuk kemudahan untuk mendapatkan pelayanan medik yang terjangkau secara ekonomi dan perawatan di rumah.i) Meningkatkan partisipasi aktif kelompok sasaran (IDU) terhadap permasalahan HIV dalam seluruh upaya pengembangan dan pelaksanaan program. dukungan psiko-sosial dan pelayanan konseling. Oleh karena itu perlu adanya sumberdaya yang memadai untuk dapat menjangkau klien yang banyak dimasyarakat . sehingga IDU dengan mudah mendapatkan pelayanan pencegahan HIV. dan advokasi yang terarah dapat memberikan kontribusi dalam mengurangi diskriminasi. 3.

Majelis Umum PBB mempertimbangkan isu-isu HIV/AIDS dan pada UN General Assembly Special Session on HIV/AIDS (UNGASS) Decleration of Commitment yang ditandatangani oleh perwakilan dari 189 negara. dan edukasi. 7 . Komite Narkotika ( Committee on Narcotic Drugs) mengeluarkan suatu resolusi mengenai HIV/AIDS dan penggunaan NAPZA yang mendukung Negara-negara Anggota Komisi untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan dibawah ini: • Meningkatkan upaya-upaya untuk mengurangi permintaan akan NAPZA dan memastikan bahwa paket program penanggulangan secara komprehensif yang terdiri dari langkahlangkah promotif. termasuk komunikasi. begitu pula penelitian dan pengembangan yang terus meningkat. dan rehabilitatif dapat diakses oleh seluruh individu yang menggunakan dan menyalahgunakan NAPZA. UNAIDS telah menempatkan enam makalah mengenai penggunaan NAPZA suntikan dalam Best Practice Collection. dan terapi yang efektif akan membutuhkan perubahan perilaku dan meningkatkan ketersediaan akses pelayanan yang tidak membeda-bedakan. Mengimplementasikan langkah-langkah yang dapat mengurangi atau menghilangkan kebiasaan berbagi peralatan suntik yang tidak steril. Pada tahun 2002.Pada tahun 2001. sebagai upaya terbaik dalam menanggulangi HIV/AIDS di kalangan IDU: • • Memastikan bahwa kebijakan dan strategi nasional mengenai NAPZA dan HIV/AIDS harus sejalan. Program penjangkauan dan program jarum suntik merupakan metode yang efektif dalam mempertahankan prevalensi HIV yang rendah di kalangan IDU. termasuk tidak berhubungan seks sama sekali atau setia pada satu pasangan. menyatakan bahwa: (Paragraf 23). o terapi dini dan efektif untuk infeksi yang ditularkan secara seksual. obat-obatan termasuk terapi anti-retroviral. terapi. peralatan suntik yang steril. o perluasan akses ke fasilitas pelayanan konseling dan tes HIV sukarela dan rahasia. Program ini ditujukan untuk: o mengurangi perilaku berisiko dan mendorong perilaku seksual yang bertanggung jawab. informasi. selaras dan tidak timbul permasalahan hukum untuk keberhasilan program pencegahan HIV di kalangan IDU. etika. termasuk mereka yang terinfeksi HIV/AIDS. Makalah-makalah tersebut mengacu pada hal-hal di bawah ini. pelicin. dan nilai-nilai budaya yang terdapat ditiap negara. memastikan: program pencegahan yang beragam yang mempertimbangkan keadaan lingkungan setempat. perawatan. (Paragraf 52). o perluasan akses penyediaan bahan-bahan penting lainnya. o penyediaan darah untuk transfusi yang aman. Mengakui bahwa strategi-strategi pencegahan. preventif. kondom. • Hingga tahun 2002. antara lain untuk vaksin. diagnosis dan teknologi yang terkait. mikrobisida. Hingga tahun 2005. dalam bahasa yang paling mudah dimengerti oleh kebanyakan masyarakat dan sesuai dengan budayanya. o upaya-upaya pengurangan dampak buruk yang berkaitan dengan penggunaan NAPZA. termasuk kondom bagi lakilaki dan wanita dan peralatan suntik yang steril.

dan dapat menginformasikan fasilitas pelayanan kesehatan dan sosial kepada IDU. Kekuatiran bahwa program metadon maintenance dan program efektif lainnya bukan merupakan bentuk terapi ketergantungan NAPZA yang tepat. Bahkan di negara-negara yang telah melaksanakan satu atau lebih program-program efektif ini. telah terjadi penolakan yang kuat terhadap pengenalan dan pengelolaan program-program efektif ini. C. 8 . antara lain: • • • • • • • Kekuatiran yang tidak terbukti. dan melibatkan masyarakat dalam upaya penanggulangan. Penjajakan cepat (rapid assesment) sebagai suatu metode untuk mendapatkan pemahaman yang cepat mengenai HIV/AIDS dan situasi penggunaan NAPZA di mana intervensi yang efektif dapat dikembangkan. Jumlah ini kurang dari setengah jumlah negara -negara yang mempunyai kasus HIV di kalangan IDU. Penolakan dari pemerintahan daerah dan masyarakat sekitar terhadap pendirian tempattempat untuk pelaksanaan program harm reduction ini dengan alasan bahwa fasilitas-fasilitas pelayanan yang melayani para IDU. mendorong penelitian. sementara pasien “yang tidak berdosa” tidak bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai. Penolakan ini terjadi dalam beberapa b entuk. Pendidikan kelompok sebaya di kalangan IDU dalam pencegahan HIV mencakup pendidikan penjangkauan dan program kelompok sebaya dalam fasilitas terapi ketergantungan. Di sejumlah negara.• • • Program jarum suntik sebagai salah satu cara yang efektif dan murah untuk mengontrol epidemi HIV di kalangan IDU. kegiatan -kegiatan seperti itu seringkali dilakukan dalam ruang lingkup yang sangat kecil atau berupa proyek percontohan saja. Penjelasan berbagai media masa yang membandingkan program yang terlalu “berbaik hati” terhadap para pengguna NAPZA yang tidak bisa diperbaiki lagi. Kritikan bahwa langkah-langkah yang efektif ini terlalu toleran dan seharusnya diganti dengan cara memberi hukuman pada para pengguna NAPZA . Persepsi dari petugas kesehatan sendiri yang beranggapan bahwa pengobatan m edis bagi IDU hanya akan menyia -nyiakan sumber daya yang sudah terbatas dan para pengguna NAPZA dianggap sebagai “sampah masyarakat”. dapat mengurangi kenyamanan lingkungan. bahwa kegiatan pencegahan yang efektif akan meningkatkan jumlah pengguna NAPZA. Panduan tersebut bertujuan agar para politisi dan media menjadi lebih peka terhadap masalah ini. karena dalam program ini penghentian penggunaan NAPZA (abstinensia) bukan merupakan tujuan utama. namun kegiatan-kegiatan efektif yang berhubungan dengan HIV/AIDS dan penggunaan NAPZA suntikan baru dilaksanakan di 55 negara di dunia. Inisiatif regional untuk membantu negara -negara mengadopsi panduan-panduan resmi untuk memfasilitasi kegiatan pencegahan. FAKTOR-FAKTOR PENGHAMBAT PROGRAM Meskipun telah mendapatkan dukungan dari badan-badan internasional dan berbagai kesepakatan internasional. Penolakan dari pihak kepolisian terhadap program jarum suntik yang dianggap bertentangan dengan upaya-upaya penegakan hukum yang melarang pemasokan NAPZA atau melarang ketersediaan peralatan suntik.

mengelola. Istilah lain harm reduction adalah langkah-langkah apa saja yang dapat membantu mengurangi risiko penggunaan NAPZA (sehingga memungkinkan dimasukkannya kegiatan-kegiatan pengurangan pemasokan (supply reduction ) dan pengurangan permintaan (demand reduction). Dalam definisi ini. tidak ada persetujuan internasional mengenai definisi harm reduction ini. Kurangnya kesadaran masyarakat akan efektifitas pendekatan pengurangan dampak buruk NAPZA ini dan manfaatnya dalam mengurangi epidemi HIV di kalangan IDU. Kurangnya pengetahuan di kalangan pembuat kebijakan mengenai seberapa cepat infeksi HIV dapat menyebar di kalangan IDU dan program pengurangan dampak buruk NAPZA . pembuat kebijakan. LSM. Kurangnya pengalaman atau pelatihan mengenai advokasi dan cara pendekatan dikalangan para petugas kesehatan. atau mempromosikan pendekatan pengurangan dampak buruk ini untuk pencegahan HIV/AIDS di kalangan IDU. • • • • • • D. Keyakinan umum di beberapa negara pada mekanisme penegakan hukum dan pendekatan yang semata -mata mengarah pada penghentian total dari penggunaan NAPZA (abstinent only approach) dapat “memecahkan” masalah ketergantungan NAPZA (termasuk infeksi HIV yang berkaitan dengan penggunaan NAPZA). maupun mereka yang sedang berupaya untuk memulai. 9 . Beberapa jenis penolakan yang mungkin terjadi: • Kurang atau terlambatnya pengakuan para politisi maupun birokrat bahwa masalah IDU ini merupakan masalah yang serius. Hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan dan pengalaman tentang masalah yang terkait dengan adiksi NAPZA (khususnya di beberapa negara berkembang dan negara transisi). Kritikan. seringkali berdasarkan pada keterbatasan dan kurangnya pengetahuan tentang program ini.• • Kekuatiran bahwa penekanan pada program pencegahan HIV yang efektif bagi IDU merusak program utama pencegahan NAPZA maupun program terapi ketergantungan NAPZA di negara tersebut. TERMINOLOGI Istilah “harm reduction” telah digunakan secara luas pada tahun 80-an untuk program-program dan kebijakan-kebijakan yang mencoba merespon secara efektif ancaman serius epidemi HIV dari dan di kalangan IDU tersebut. program jarum suntik seringkali dihubungkan sebagai kegiatan -kegiatan harm reduction. Kritikan terhadap pengurangan dampak buruk NAPZA dari pusat-pusat terapi dan lembaga penelitian yang menganggap bahwa sistim penegakan hukum dan terapi ketergantungan NAPZA sebaiknya mengarah pada penghentian tota l (abstinensia). Namun demikian. misalnya pernyataan bahwa program harm reduction ini bertentangan dengan budaya atau ajaran agama yang berlaku. Kurangnya pengalaman atau pelatihan mengenai pengurangan dampak buruk NAPZA di antara para petugas kesehatan dan petugas LSM. ekonomi dan sos ial yang merugikan sebagai akibat dari penggunaan NAPZA . Definisi yang biasa dipakai mengacu pada upaya -upaya untuk mengurangi dampak kesehatan.

Hal yang paling penting dari perdebatan ini. Di beberapa negara. melatih para remaja agar mampu menolak tawaran untuk tidak menggunakan NAPZA. sebagian yang lain lebih menyukai kebalikannya. Demikian pula halnya. Apabila upaya-upaya supply reduction mengabaikan semua pendekatan yang lain. dan sebagian yang lain menyatakan tidak ada bedanya. maka upayaupaya ini disebut sebagai “pendekatan penegakan hukum semata ( law enforcement only approach)” dan ini dinyatakan PBB sebagai upaya yang tidak efektif untuk mengatasi HIV/AIDS di kalangan IDU dan permasalahan lain yang berkaitan dengan penggunaan NAPZA. dipertahankan. dan dikembangkan: seperti yang dapat dilihat pada perjanjian internasional mengenai kebutuhan untuk kegiatan -kegiatan ini. Dalam beberapa konteks. Badan-badan internasional menyetujui bahwa ini merupakan respon yang tepat apabila tindakan yang lain seperti demand reduction dan pengurangan dampak buruk NAPZA (harm reduction) untuk mencegah HIV/AIDS dari dan di kalangan IDU juga dilaksanakan – meskipun ada perbedaan pendapat tentang jenis sumber daya yang harus disediakan untuk ke tiga area ini. dilaksanakan. Karena kelemahan definisi ini dan untuk alasan-alasan politis yang berkaitan dengan pandangan beberapa organisasi maupun individu. sehingga istilah dan kegiatan apapun yang digambarkan dalam istilah ini selalu ditolak. dan mengajak para pengguna NAPZA aktif untuk mau mengontrol. Pemberian istilah pada sejumlah kegiatan adalah untuk menunjukkan bahwa kegiatan-kegiatan ini memiliki tujuan-tujuan yang berbeda (terutama dalam jangka pendek) dan memiliki cara -cara yang berbeda pula dengan pendekatan lain. Sebagian orang yang bergerak dalam penanggulangan HIV di kalangan IDU lebih suka menggunakan istilah “harm reduction” dari pada “risk reduction”. pelaksana advokasi harus berhati-hati dalam mempertimbangkan istilah yang akan digunakan. Istilah lain yang digunakan dalam buku panduan ini merupakan perbedaan antara kebijakan dan strategi yang dikenal sebagai “supply reduction” (misalnya mencegah NAPZA masuk ke suatu negara dan menangkap penjual NAPZA) yang semata -mata merupakan suatu pendekatan pada penegakan hukum. Oleh karena itu.Beberapa penggunaan lain istilah ini juga merujuk pada upaya-upaya untuk mengadakan perubahan terhadap kebijakan mengenai NAPZA (termasuk hukum yang berkenaan dengan penggunaan NAPZA) sebagai langkah penting dalam mengurangi risiko penyalahgunaan NAPZA terhadap individu atau pun masyarakat. adalah kegiatan -kegiatan yang telah disebutkan sebelumnya ini hendaknya dapat dipromosikan. istilah “harm reduction” ini tak dapat diterima secara politis karena dapat diintepretasikan sebagai legalisasi obat-obatan. mengurangi atau menghentikan penggunaan NAPZA) dengan 10 . istilah ‘risk reduction’ lebih banyak digunakan untuk merujuk berbagai kegiatan termasuk yang telah dijelaskan di awal bab ini. Supply reduction mengacu pada berbagai tindakan yang digunakan oleh berbagai negara untuk mengontrol atau menghapus ketersediaan NAPZA dijalur ilegal. masih terdapat perdebatan yang seru mengenai penggunaan istilah “harm reduction”. perbedaan antara penerapan kegiatan-kegiatan demand reduction (mendidik masyarakat tentang masalah penggunaan NAPZA.

pendekatan yang hanya mengarah pada berhenti total dari penggunaan NAPZA (abstinence only approach). 11 . adalah istilah yang diambil dari bidang militer. Istilah ini dikenal sebagai abstinence only approach dan populer terutama di kalangan institusi terapi ketergantungan NAPZA pada tahun 60-an. dan sebagainya. banyak penelitian mengenai keefektifan metode terapi ketergantungan NAPZA. Beberapa istilah lain. meningkatkan keterampilan sosial. metode ini perlu diimbangi dan barangkali malah diganti dengan metode yang lebih membangun peningkatan demokrasi. dalam jangka panjang. sekarang digunak dalam peristilahan politik. Beberapa pelaksana advokasi lebih memilih untuk menghindari istilah militer. Dengan munculnya epidemi HIV di kalangan IDU. organisasi dan individu yang mempercayai bahwa hanya satu tujuan yang bisa diterima dalam terapi ketergantungan NAPZA yaitu bahwa pengguna berhenti ( abstinensia) menggunakan NAPZA selamanya. dan pemahaman yang lebih luas mengenai adiksi dan cara orang menggunakan dan berhenti dari NAPZA. misalnya istilah ”strategi”. perbaikan kekuasaan. perbaikan hak asasi manusia. Buku panduan ini lebih memfokuskan pada metode yang telah terbukti menghasilkan hasil yang cepat dan dramatis. Metode terapi substitusi NAPZA. Pemilihan istilah militer dalam buku panduan ini merefleksikan pengalaman dan pandangan dari banyak ahli pada cara-cara di mana upaya -upaya advokasi yang berhasil telah terjadi perubahan yang besar dalam waktu yang singkat. Untuk advokasi yang cepat dan efektif dalam konteks perluasan pandemi HIV/AIDS yang sangat cepat. bisnis. Istilah-istilah yang pada mulanya digunakan dalam konteks kemiliteran saat ini digunakan sebagai referensi dalam berbagai kegiatan. Para pelaksana advokasi perlu secara seksama mempertimbangkan gabungan yang tepat dari pendekatan jangka pendek dan jangka panjang berdasarkan konteks sosial dan politik di mana mereka bekerja. “kampanye”. Demand reduction . mengurangi perilaku kriminal dan lain-lain sebagai tujuan jangka pendek juga dapat diterapkan. masih ada beberapa pandangan pemerintah. “taktik”. namun tidak begitu halnya dengan abstinent only approach (yang tidak menyertakan terapi substitusi NAPZA dan tujuan terapi jangka pendek lainnya) hal ini dianggap tidak efektif dalam mengatasi HIV/AIDS di kalangan IDU. metode dan ide militer para pemikir politik yang militeris tik dapat menjadi sangat berguna. merupakan bagian penting dari suatu pengurangan dampak buruk NAPZA. an dan advokasi. Upaya untuk mengurangi atau memberhentikan penyuntikan. Program demand reduction merupakan bagian penting dari pengurangan dampak buruk NAPZA dalam mengatasi HIV di kalangan IDU. telah disepakati bahwa dibutuhkan bermacam-macam metode terapi. yang dapat menyebabkan kekuatiran pada beberapa pembaca. Meskipun demikian. Namun demikian. terutama penyediaan berbagai layanan terapi ketergantungan NAPZA termasuk terapi substitusi NAPZA. dapat menjadikan para pengguna berhenti total (total abstinent) sebagai tujuan jangka panjang. “target”.

Departemen Sosial. Birokrat. Kebijakan dapat didefinisikan sebagai cara masyarakat dan institusi mengatasi berbagai isu baik yang tertulis (misalnya undang-undang) ataupun tidak tertulis (misalnya etika.BAB III TINJAUAN DAN PRINSIP-PRINSIP ADVOKASI A. tindakan yang diarahkan pada pengubahan kebijakan. dan perilaku individu. Politisi. APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN ADVOKASI Banyak naskah dan buku panduan telah dihasilkan untuk membantu upaya-upaya advokasi pada program dan kebijakan HIV/AIDS. untuk itu opini dan perilaku dari berbagai kelompok sasaran perlu dipengaruhi. KELOMPOK SASARAN ADVOKASI ANTARA LAIN: • • Pembuat kebijakan di beberapa Departemen termasuk Kesehatan. Kebijakan publik cenderung formal dan tertulis termasuk pernyataan -pernyataan. Masing-masing menggunakan definisi. Kehakiman dan HAM termasuk didalamnya Lembaga Pemasyarakatan. upaya yang terorganisir untuk mempengaruhi pengambilan keputusan. Departemen Pertahanan dan Keamanan. dan langkahlangkahnya sendiri untuk mengarah pada advokasi yang efektif. termasuk para menteri yang bertanggungjawab untuk Departemen di atas. Departemen Dalam Negeri. Definisi advokasi yang paling sederhana adalah : 1. 3. khususnya yang berhubungan dengan HIV/AIDS di kalangan IDU. Semuanya difokuskan untuk memberikan pengalaman kepada orang-orang yang telah melaksanakan advokasi baik yang berhasil maupun tidak. norma sosial). Dapat dicatat bahwa tidak ada padanan yang tepat untuk istilah “advokasi” dalam beberapa bahasa. atau tindakan-tindakan yang dipaksakan oleh pihak-pihak berwenang untuk membimbing atau mengawasi institusi. 12 . Kebijakan dapat bersifat formal (seperti Strategi Nasional Penanggulangan AIDS) atau informal (fakta bahwa beberapa tempat kerja tidak mau memperkerjakan ODHA). masyarakat. posisi atau program-program dari semua jenis institusi. prinsip. Namun demikian. dan berbagai wakil rakyat di DPR yang menangani masalah penggunaan NAPZA dan/atau HIV/AIDS. kebijakan. definisi di atas terlalu umum atau juga sempit bagi yang melaksanakan advokasi untuk pendekatan penanganan HIV/AIDS yang efektif di kalangan IDU. Buku panduan ini merupakan ringkasan dari beberapa pendekatan yang diambil dari berbagai sumber. 2. upaya mempengaruhi kebijakan publik melalui berbagai bentuk komunikasi persuasif. Departemen Keuangan.

Kalangan pers dan medi massa. 13 . dukungan.• • • • • • • • • Kepolisian dan Badan Narkotika Nasional. nasional. dalam kegiatan penjangkauan. HIV/AIDS. a LSM lokal. Jika polisi mau menangkap klien yang berada dalam kegiatan tersebut atau meminta daftar nama dan alamat IDU. tetapi advokasi yang sukses perlu memperoleh dukungan dari semua kelompok sasaran advokasi. Pimpinan informal masyarakat seperti tokoh-tokoh masyarakat baik tingkat lokal atau tingkat nasional. dan perawatan kepada IDU dengan HIV/AIDS. NAPZA. B. dan internasional yang bergerak dalam bidang kesehatan. Para dokter dan petugas kesehatan lainnya khususnya yang tidak memiliki pengalaman bekerja dengan pengguna NAPZA. mempertahankan atau meningkatkan kegiatan-kegiatan tertentu sampai pada suatu tingkatan dimana kegiatan ini akan lebih efektif mencegah infeksi HIV di kalangan IDU dan membantu dalam pengobatan. bahkan akan terjadi peningkatan dampak buruk. hak asasi manusia dan sebagainya. Para pimpinan berbagai agama. Masyarakat sekitar dan anggota keluarga di lokasi program pencegahan atau terapi (termasuk perumahan dan perkantoran). Kelompok-kelompok yang paling penting untuk diadvokasi tergantung dari masalah sosial yang dihadapi. dosen dan komite sekolah Orang-orang yang terlibat dalam kegiatan pencegahan dan terapi ketergantungan NAPZA. Para guru. dan ð Memulai. PRINSIP-PRINSIP ADVOKASI 1. Dengan kata lain advokasi bukanlah merupakan pekerjaan seorang individu saja. Sebagai contoh. maka hal ini akan mengurangi kepercayaan para pengguna NAPZA terhadap kegiatan tersebut. kelompok atau organisasi yang berpengaruh melalui berbagai kegiatan persuasif untuk secepatnya dapat menerapkan pengurangan dampak buruk NAPZA dalam mencegah penyebaran HIV/AIDS dari dan di kalangan IDU. DEFINISI ADVOKASI Advokasi adalah upaya-upaya terpadu yang dilakukan oleh sekelompok individu atau organisasi untuk: ð Meyakinkan seluruh individu. TNI (yang sering kali beranggapan bahwa pendekatan penegakan hukum merupakan satu-satunya cara yang dapat memecahkan permasalahan penggunaan NAPZA dan HIV). polisi hanya dapat memantau kegiatan tersebut. C. penegakan hukum. Kegiatan advokasi harus menghindari terjadinya kesalah pahaman peningkatan dampak buruk Pengurangan dampak buruk NAPZA untuk mencegah HIV/AIDS di kalangan IDU harus dilaksanakan secara terus menerus.

dan politik Dalam banyak hal. Pada situasi seperti ini. kebudayaan. seorang pengguna NAPZA mungkin dapat dibujuk untuk tampil dan dipublikasikan di Televisi. Harus ditujukan pada berbagai sektor dan tokoh masyarakat dengan menggunakan teknik yang berbeda pada saat yang bersamaan. 4. Untuk mencapai tujuan ini dibutuhkan beberapa tahun atau dekade. Kegiatan ini harus dapat menerima kenyataan bahwa IDU ada dalam masyarakat. advokasi disesuaikan dengan situasi masyarakat. untuk mencegah penularan HIV dari dan di kalangan IDU. kemiskinan. regional dan 14 . diskriminasi rasial dan jender. Spesifik dan terarah. Oleh karena itu pelaksana advokasi harus mengerti dasar-dasar pene litian dan mengikuti terus menerus perkembangan dan temuan-temuan baru dalam pencegahan HIV/AIDS terutama di kalangan IDU. 2. Tujuan harus dikaitkan dengan kegiatan yang dapat dibuktikan dengan penelitian Perlu dipastikan bahwa semua kegiatan advokasi yang dilaksanakan dapat dibuktikan berhasil melalui penelitian. Dapat menyeimbangkan tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang Banyak orang berpendapat bahwa penanggulangan penyalahgunaan NAPZA harus dilakukan secara lengkap dan tuntas. advokasi dilakukan pada berbagai individu dan kelompok yang berpengaruh pada waktu yang bersamaan. provinsi. Keberhasilan advokasi tergantung juga pada penggunaan berbagai strategi yang saling melengkapi. budaya. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan penanggulangan masalah sosial lainnya seperti mengatasi pengangguran. kecamatan. Ini berarti bahwa seluruh penyalah guna NAPZA harus berhenti total. Kecuali jika penyalahguna NAPZA tadi telah diberitahu sebelumnya dan memahami secara jelas konsekuensi yang mungkin terjadi atas publikasi tersebut. dan masyarakat dan menyesuaikan kegiatan dengan masalah yang ada. Hal ini dapat menimbulkan masalah yang serius dan perlu dicegah. Para pelaksana advokasi hendaknya mengetahui sistem politik. 5. nasional. sejarah. Sedangkan beberapa pihak berpendapat bahwa tujuan tersebut tak akan pernah tercapai. masalah seksual. kabupaten/kota. 3.Risiko yang timbul pada seseorang dapat juga terjadi selama proses advokasi. berbagai program dan kebijaka n harus segera dimulai. yang harus disesuaikan dengan masalah sosial. dalam upaya untuk mendapatkan perhatian media mengenai hal-hal yang berkaitan dengan HIV dan penyalahgunaan NAPZA. Sebagai contoh. penekanan usaha-usaha advokasi harus difokuskan pada tujuan jangka pendek seperti mencegah penularan HIV di kalangan IDU. Untuk mendapatkan hasil advokasi yang maksimal dengan lingkungan yang mendukung dalam penanggulangan HIV/ AIDS di kalangan IDU. Advokasi hendaknya juga dilihat sebagai proses yang melibatkan kegiatan-kegiatan di setiap tingkat masyarakat mulai dari desa. Akan tetapi.

Meskipun berbagai kegiatan ditekankan pada tingkatan masyarakat tertentu. dan menghasilkan program yang lebih berkualitas untuk memenuhi kebutuhan mereka. Memastikan IDU dan ODHA dilibatkan dalam perencanaan. Pencegahan yang efektif pada akhirnya akan mengurangi permintaan untuk pelayanan pengobatan. dan mengevaluasi kegiatan advokasi dan program-program. Mampu mengangkat isu-isu baru tentang HIV dan memberikan respon terhadap caracara yang dilakukan oleh institusi. melaksanakan. atau mengurangi epidemi apabila dilaksanakan dalam skala yang besar. perawatan. Pengurangan dampak buruk NAPZA hanya dapat mencegah. Apabila keterlibatan IDU dan ODHA membahayakan bila mengikuti pertemuan atau bekerja untuk advokasi dan perencanaan program. media. sangat penting bagi mereka untuk berperan dalam merancang. 8. IDU dan ODHA tidak perlu dilibatkan bila mengarah pada hal yang merugikan mereka seperi diidentifikasi polisi. dan dukungan Pendekatan pencegahan dan perawatan HIV/AIDS dalam beberapa cara saling berkaitan. faktor waktu sangat penting dalam upaya-upaya advokasi. menstabilkan. dan perilaku menyuntik dan seksual berisiko di kalangan IDU. dan pendanaan Karena HIV dapat menyebar dengan cepat di kalangan IDU. Kegiatan advokasi tidak hanya terfokus pada pencegahan HIV di kalangan IDU tetapi juga pada isu-isu mengenai pengobatan. 7.international. Percontohan ini dapat menunjukkan keefektifan kegiatan dalam lingkup lokal (melalui evaluasi). Harus dilaksanakan secepat mungkin dan dalam tingkatan yang seluas mungkin dalam lingkup sosial. keberhasilan advokasi tetap memerlukan kegiatan dengan jangkauan penuh pada setiap tingkatan secara berkesinamb ungan. penahanan. Pelayanan pengobatan yang berkualitas tinggi dan komprehensif akan menciptakan kelompok yang mau menerima p esan-pesan pencegahan. Hal ini mengarah pada perubahan kebijakan dan pengenalan kegiatan pada skala yang efektif. dan yang lainnya dalam menanggapi masalah HIV di kalangan IDU 15 . Pendekatan komprehensif seperti itu akan membantu membangun kepercayaan dan mengurangi stigmatisasi terhadap IDU. Besarnya program tersebut tergantung pada banyak faktor seperti jumlah penyalahguna NAPZA suntik. dan evaluasi pada semua kegiatan dan program-program yang dilaksanakan Sesuai dengan prinsip yang pertama. pelaksanaan. Keterlibatan IDU dan ODHA seperti ini akan meningkatkan percepatan program-program yang efektif. Di tempat dimana IDU dan ODHA dapat terlibat dalam diskusi dengan pihak yang berwenang tanpa membahayakan diri mereka. 6. misalnya melalui wawancara untuk mendapatkan pandangan mereka. penjangkauan dapat mengupayakan cara lain. politik. Misalnya program percontohan harus dilihat sebagai sarana untuk mencapai tujuan akhir. Hasil program percontohan ini sebaiknya dis ebarluaskan kepada individu-individu dan kelompok-kelompok yang berpengaruh. 9. terapi ketergantungan NAPZA yang diwa jibkan atau kekerasan.

seperti menghubungi juru bicara surat kabar tersebut kapan saja. menjadikan sebagai sumber-sumber yang ada untuk memanfaatkan kesempatan tersebut. beberapa peristiwa penting dapat terjadi. Dalam bab sebelumnya. dan kelompok penting lainnya untuk mengatasi setiap penolakan secepatnya. kelompok lain yang menolak akan terus bermunculan. Para pelaksana advokasi perlu memperhatikan peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi dan mencari kesempatan seperti ini. Pada setiap tingkat pelaksanaan advokasi. Sebagai contoh. 16 . tetapi hal ini juga merupakan reaksi terhadap peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi. seorang politisi mungkin menemukan bahwa anaknya menggunakan NAPZA. atau sebuah survei surat kabar mungkin menemukan banyak masyarakat yang prihatin dengan penyalahgunaan NAPZA di kalangan remaja.Proses advokasi tidak hanya dianggap sebatas pada pencapaian tujuan yang ditentukan oleh para pelaksana advokasi. Oleh karena itu para pelaksana advokasi harus siap dengan bukti-bukti dan melibatkan kelompok yang berpengaruh seperti media. Meskipun sebagian dari penolakan ini akan diketahui dan menjadi subyek kegiatan kelompok advokasi. penolakan sering terjadi dalam upaya untuk mencegah HIV/AIDS di kalangan IDU. politisi.

Penilaian indikator proses mungkin lebih penting dan lebih sulit dari pada penilaian indikator dampak. • Analisis : Kelompok atau koalisi advokasi dimulai dengan menganalisis masalah. maka semakin persuasif advokasi akan dilaksanakan. yang dilaksanakan untuk beberapa aspek yang berbeda dari isu pada setiap tingkatan masyarakat secara simultan. Strategi: Pada tahap ini penyelesaian masalah dapat dirumuskan yang mengandalkan analisis untuk mengarahkan. merencanakan. dan memusatkan pada tujuan yang spesifik dan menempatkan upaya advokasi untuk mencapai maksud dan tujuan. A. kemudian memberikan solusi terhadap masalah tersebut dan membangun dukungan untuk tindakan yang dilakukan. Semakin kita dapat menganalisis. Aksi dan Reaksi: Dukungan perlu dibangun untuk perubahan kebijakan. Hal ini akan membantu untuk menciptakan perhatian dan keprihatinan sehingga permasalahan. TAHAPAN ADVOKASI Pengorganisasian dan penggalangan dana: Bentuk kelompok advokasi atau kemitraan serta pendanaan diperlukan untuk keberhasilan suatu advokasi. dan budaya setempat. sehingga kegiatan advokasi perlu disesuaikan dengan masalah politik. belum dan akan dilaksanakan secara teratur dan objektif. yang mengarah pada setiap tahapan advokasi dan evaluasi yang sedang berlangsung. Proses ini dapat dipertimbangkan dalam berbagai cara.BAB IV PROSES ADVOKASI Proses advokasi berhubungan erat dengan proses pembuatan kebijakan. sosial. Apabila ada penolakan perlu dilaksanakan pengulangan secara terus menerus. Evaluasi: Karena advokasi sering memberikan hasil yang tidak lengkap. • • • 17 . akan tetapi perlu memikirkan advokasi sebagai suatu rangkaian tahapan. kelompok yang terlibat. dan kemauan politik akan menjadi satu kesatuan. Proses advokasi biasanya dimulai dengan menentukan permasalahan. tindakan praktis dan sebagainya. kelompok advokasi perlu mengevaluasi kegiatan yang telah. kelompok yang melaksanakan dan tidak melaksanakan kebijakan tersebut. dan semua jalur yang dapat digunakan untuk mendekati orang-orang yang berpengaruh dan pembuat kebijakan. kebijakan-kebijakan yang ada. pemecahan. Evaluasi harus digunakan sebagai langkah pertama dalam menganalisis ulang.

Secara ringkas tahap advokasi dapat digambarkan dalam bagan di bawah ini. Proses advokasi dapat dijabarkan dalam diagram berikut ini:

Pengorganisasian kelompok advokasi

Analisis

Evaluasi

Penggalangan dana

Strategi

Aksi dan Reaksi

B. STUDI KASUS PROSES ADVOKASI 1. Studi kasus – Indonesia Pada akhir tahun 90-an, di Indonesia penyalahgunaan NAPZA suntik meningkat dengan tajam dan HIV telah menyebar di kalangan IDU. Upaya yang telah dilakukan hanya sedikit berpengaruh untuk mencegah epidemi HIV di kalangan IDU. Pemerintah dan LSM tidak begitu mengetahui konsep pengurangan dampak buruk NAPZA di kalangan IDU. Sehingga muncul kekuatiran di antara pemerhati program HIV/AIDS (terutama di kalangan donor, LSM, dan para dokter yang bekerja untuk terapi ketergantungan NAPZA) bahwa para pejabat dan masyarakat Indonesia akan menolak pelaksanaan program pengurangan dampak buruk. Pada 1999, koalisi beberapa donor dan LSM memutuskan untuk membentuk sebuah kelompok advokasi untuk mendesak penerimaan program tersebut di Indonesia. Pada awal 2000, para donor ini mendukung suatu pelatihan mengenai me tode Rapid Assessment and Response (RAR) yang dikeluarkan oleh World Health Organization, yang melibatkan pelatih dari Indonesia dan pelatih internasional. Pelatihan ini menuntun pelaksanaan penjajakan cepat pada IDU yang berhubungan dengan penyebaran HIV di delapan kota besar. Penjajakan cepat ini dirancang

18

untuk mendapatkan informasi bagi pelaksanaan kegiatan advokasi dan mendapatkan data untuk membantu perencanaan intervensi yang efektif. Kegiatan advokasi yang pertama dilakukan adalah mempresentasikan hasil sementara penjajakan cepat ini di hadapan pejabat pemerintahan dan LSM di masing-masing provinsi di mana penjajakan ini dilaksanakan. Tim penjajakan cepat mendapatkan pelatihan lanjutan dari pelatih Indonesia dan internasional untuk mempresentasika n hasil penjajakan ini kepada kelompok yang lebih luas termasuk para politisi dan media. Hasil akhir penjajakan ini dipresentasikan dalam seminar tingkat provinsi dan nasional, sehingga menyebabkan meningkatnya kepedulian pada isu-isu yang berkaitan dengan HIV di kalangan IDU. Dari proses-proses ini, kelompok advokasi yang lebih khusus dibentuk untuk tingkat nasional di Jakarta dan tingkat provinsi di Denpasar-Bali. Kelompok ini mengidentifikasi pelaksana kunci advokasi, pendukung dan kelompok penentang potensial advokasi, dan mengembangkan tujuan advokasi. Tim inti menggunakan hasil penjajakan cepat ini untuk mempengaruhi individu dan kelompok yang berwenang bahwa HIV di kalangan IDU adalah masalah yang serius yang sedang tumbuh di Indonesia dan mendorong pelaksanaan program pengurangan dampak buruk NAPZA. Hasil penjajakan ini didukung oleh hasil studi lain yang menunjukkan adanya kecenderungan infeksi HIV di kalangan IDU dan narapidana yang sudah mengkuatirkan. Karena upaya-upaya advokasi ini, studi di atas mendapatkan perhatian yang luas dari media. Para donor anggota tim advokasi yang dibentuk pertama kali mendanai lokakarya untuk memusatkan perhatian masyarakat dan politisi pada isu ini, dan tokoh politik kunci seringkali dihubungi untuk membangun dukungan terhadap perubahan kebijakan pemerintah, dan pengenalan atau perluasan program -program percontohan penjangkauan, jarum suntik, dan metadon. Pada tahun 2001, sebuah studi tur diselenggarakan di Sydney, Australia, bagi pejabat senior dari peme rintahan dan LSM untuk mendapatkan pelatihan mengenai advokasi terhadap pengurangan dampak buruk NAPZA dan mengunjungi beberapa lembaga yang berhubungan dengan HIV dan NAPZA, perwakilan Departemen Kesehatan, Hakim Pengadilan Tinggi, para politisi, dan polisi senior. Setelah studi tur tersebut, para peserta sepakat membentuk Harm Reduction Steering Committe – HRSC (sebagian besar terdiri dari perwakilan pemerintah) dan Jaringan Harm Reduction Indonesia (Indonesian Harm Reduction Network - IHRN, diketuai ole h sebuah LSM di Bali). Pada pertengahan tahun 2002, ada beberapa kegiatan advokasi untuk harm reduction yang sangat penting di Indonesia: • • • HRSC melakukan pertemuan secara reguler dan membangun hubungan antara staf sektor kesehatan dan polisi dan tokoh m asyarakat. Sedangkan dukungan kesekretariatan diberikan oleh donor untuk pertemuan dan kegiatan steering committee. IHRN menerima dana untuk melakukan capacity building dan kegiatan jejaringan. Ada enam program yang dimulai dilaksanakan di empat kota untuk pendidikan pencegahan HIV melalui kegiatan penjangkauan dan material pencegahan kepada IDU. Program percontohan untuk pertukaran jarum suntik disiapkan untuk tiga tempat di Jakarta dan dua di Denpasar, Bali. Sementara itu Pemerintah Indonesia setuju untuk

19

• •

mempertimbangkan program pertukaran jarum suntik sebagai kebijakan nasional berdasarkan hasil evaluasi terhadap program percontohan tersebut. Dua proyek percontohan program metadon yang sudah disetujui pemerintah pusat dan provinsi dipersiapkan. Kampanye advokasi untuk harm reduction dimulai dengan memilih target sasaran dan melaksanakan pertemuan nasional untuk mengangkat profil pengurangan dampak buruk NAPZA dan mengembangkan kegiatan advokasi yang spesifik yang ditujukan kepada target sasaran. Target p ertama dalam kampanye ini melibatkan polisi, staf penegak hukum (termasuk hakim, pengacara dan petugas penjara), tokoh agama, dan media massa.

2. Studi Kasus – Negara-negara Eropa Tengah dan Timur International Harm Reduction Development (IHRD), program dari Open Society Institute (OSI) yang berkedudukan di New York, merupakan salah satu penyandang dana untuk program metadon dan perjasun di Eropa Timur dan Tengah serta Asia Tengah sejak pertengahan tahun 90-an. Sayangnya, lebih dari 150 program kecil yang telah dilaksanakan tidak direplikasi oleh pemerintah negara -negara di daerah ini. Pada bulan Juni 2001, IHRD mendirikan Inisiatif Kebijakan regional yang mempromosikan filosofi harm reduction, nilai-nilai kesehatan masyarakat, penghormatan terhadap hak a sasi manusia, dan pelaksana advokasi untuk mengubah kebijakan di daerah ini. Inisiatif Kebijakan ini merupakan bagian integral dari tiga strategi IHRD yaitu dukungan layanan langsung; pelatihan dan capacity building; kebijakan publik dan advokasi. Kegiatan ini sangat terkait dengan ketiga komponen di atas. Inisiatif Kebijakan membantu pihak-pihak yang terlibat dalam harm reduction dan membuat ikatan yang baru dan kuat dengan aktifis HAM dan masyarakat. Melalui upaya ini, Inisiatif mengangkat harm reduction sebagai hal yang tidak kontroversial dan tidak marjinal lagi.

Ada beberapa contoh dukungan pemerintah terhadap harm reduction di wilayah ini: • Di Polandia, pemerintah pusat memberi dana kepada pekerja penjangkauan yang menjalankan program pertukaran jarum suntik. • Di Bulgaria, program harm reduction dimasukkan ke dalam Program AIDS Nasional • Di Kyrgyzstan dan Polandia, program metadon telah dilaksanakan. Kegiatan Inisiatif Kebijakan yang dilakukan meliputi: • dukungan untuk pembentukan kelompok mandiri bagi pengguna NAPZA dan ODHA; • dukungan terhadap keterlibatan individu yang berpengaruh dalam kegiatan internasional yang didedikasikan bagi kebijakan NAPZA yang progresif, • studi tur bagi polisi dan pejabat penegakan hukum, pelatihan untuk polisi; dukungan untuk jaringan harm reduction; • advokasi program metadon; • penelitian hukum dan hambatannya terhadap program harm reduction; • publikasi dan distribusi materi harm reduction: • kerjasama aktif dengan program lain seperti OSI, LSM nasional, badan PBB, pe merintah, dan lain -lain. 20

infeksi HIV baru di kalangan IDU masih tinggi. Beberapa LSM internasional menghimbau Departemen Kesehatan agar LSM tersebut diberi ijin melakukan pelatihan mengenai pendekatan efektif untuk mengatasi masalah ini dan mempersiapkan program pe rcontohan. Sehingga pejabat senior pemerintah jarang membicarakan hubungan NAPZA suntik dengan HIV/AIDS. pengadilan. ternyata hanya sedikit organisasi pemerintah maupun LSM yang pernah bekerja sama secara lintas program dan sektor dalam mengatasi masalah HIV dan ketergantungan NAPZA seperti penegak hukum. Pada saat itu. Studi kasus ini akan menjelaskan sebuah negara yang kita sebut sebagai negara X. terutama dalam jangka pendek.3. pernyataan publik yang diterima oleh Departemen Kesehatan berubah menjadi kritikan. Karena reaksi negatif ini. kepolisian. dan lainlain. Ternyata. Studi Kasus: Kegagalan Advokasi di Negara X Pelaksanaan advokasi tidak selalu berhasil. Selama lebih dari satu tahun. merupakan suatu kenyataan bahwa HIV menyebar dengan pesat di kalangan IDU. Ironisnya. Akan tetapi karena program pelatihan dan percontohan sangat menyita waktu sehingga waktu untuk melaksanakan advokasi sangat terbatas. Mitra kerja potensial lainnya tidak yakin pengurangan dampak buruk NAPZA ini akan berhasil dilaksanakan di negara ini. internet atau mesin faks. o Kedua. tidak ada dewan koalisi yang dibentuk untuk melakukan advokasi mengenai program ini. Sebenarnya LSM internasional menyadari sejak awal bahwa advokasi sangat dibutuhkan. pelatihan bagi para professional kesehatan secara ekstensif dilaksanakan. Di samping itu tidak dilakukan kampanye advokasi. Sedangkan 21 . Program pelatihan dan percontohan yang telah dilaksanakan terancam. Kemudian advokasi kepada pejabat lokal dilakukan secara berhasil dan banyak program percontohan didirikan. Sedangkan media yang sebelumnya mendukung berbalik melancarkan kritikan. organisasi keagamaan yang sangat berpengaruh mendukung kritikan terhadap program ini. Hal ini disebabkan karena sedikitnya sumber daya yang tersedia berasal dari pemerintah untuk program tersebut. kemunduran telah terjadi dan mitramitra kerja potensial khawatir keterlibatan mereka dalam program tersebut dapat mengancam program penanggulangan HIV/AIDS yang lain. Hal ini diyakini karena sebelumnya negara X telah menolak ide ini dan baru diterima setelah beberapa tahun kemudian terbukti efektf. Namun. Departemen Kesehatan menyetujui langkah-langkah efektif tersebut menjadi bagian dari Strategi Penanggulangan AIDS. kesejahteraan sosial. Ada lima faktor yang penting untuk dibahas : o Pertama. Sehingga dukungan publik terhadap program ini menjadi semakin sedikit. pemerintah lebih memilih mengalokasikan anggaran pada program lain dan mengabaikan pencegahan HIV di kalangan IDU. Sehingga mitra kerja koalisi kemudian tertarik untuk ikut serta dalam kegiatan ini. Organisasi-organisasi yang seharusnya dapat menjadi mitra kerja potensial seringkali tak mempunyai akses ke komputer. setelah empat tahun pelaksanaan program. Menurut bukti yang ada program tersebut sebenarnya akan berdampak apabila pemerintah menyediakan dana yang memadai untuk pelaksanaan program dalam skala yang luas. Di negara X.

untuk melakukan advokasi yang berhasil perlu dijangkau seluruh individu dan kelompok dalam masyarakat yang mempunyai pengaruh dalam kebijakan HIV/AIDS dan NAPZA dan perlu dimonitor dan disikapi adanya perubahan politik dari kelompok yang berpengaruh. organisasi keagamaan yang disebutkan di atas tidak dilibatkan dalam diskusi mengenai HIV di kalangan IDU. Untuk itu. Sebenarnya ada pemahaman akan kebutuhan untuk mendapatkan persetujuan dari tingkat tertinggi namun tidak ada cara yang efektif yang ditemukan untuk menjangkau kelompok ini. Ternyata berdasarkan penjajakan awal yang dilakukan dalam proyek pelatihan menunjukkann bahwa organisasi keagamaan mempunyai pengaruh yang sedikit dalam masyarakat. o Kelima. o Ketiga. Telah terbukti di banyak negara bahwa kemauan politik kepala negara akan mempunyai dampak yang sangat besar dalam merespon epidemi HIV. Setelah munculnya kritikan ini. Pentingnya polisi untuk kelanjutan jangka panjang dapat dimengerti. Akibat hasil penjajakan awal dan regular lainnya serta sistem monitoring yang lemah. 22 . Tanpa pernyataan yang jelas dari kepala negara. pengaruh organisasi tersebut semakin kuat terhadap masyarakat. Namun. terutama dikaitkan dengan partai politik. sangat penting melibatkan polisi dalam usaha advokasi dan pendidikan sejak awal karena setiap saat mereka dapat menutup program program yang dimulai oleh petugas kesehatan dan LSM. adanya faktor lain berupa kegagalan untuk mencapai pihak tertinggi dalam pemerintahan. tak ada pendekatan yang diambil hingga sebelum organisasi tersebut menyebarluaskan kritikan. Para professional kesehatan dan Departemen Kesehatan di Negara X berada pada tingkat kepentingan politis yang lebih rendah dari pada pejabat kepolisian dan Departemennya. Comment: kedengerannya lebih kontekstual. Ketika organisasi keagamaan tersebut mengkritik pendekatan efektif. dalam kurun waktu hanya lima tahun selama program ini berjalan. Meskipun beberapa upaya advokasi telah dilaksanakan. Kepala Negara X tidak secara terbuka menyetujui pelaksanaan program tersebut.jaringan komunikasi yang dapat digunakan untuk membantu perkembangan kerjasama hanya sedikit. maka para politisi dan pembuat kebijakan akan mendengarkan kritikan-kritikan tersebut. polisi jarang terlibat dalam pelatihan dan proses awal advokasi kecuali pada tingkat lokal di mana program percontohan dilaksanakan. o Keempat. polisi dan organisasi keagamaan percaya bahwa mereka boleh mengkritik pendekatan untuk mengurangi dampak buruk penyalahgunaan NAPZA. namun sumber daya untuk melatih dan mendidik mereka tidak tersedia. publikasi kritikan tersebut dijadikan alat pertahanan organisasi tersebut untuk tak mengubah pendiriannya. Secara ringkas.

Peran dan kegiatan kelompok koordinasi advokasi ini berbeda-beda sesuai dengan situasi di mana kelompok ini beroperasi dan posisinya dalam kelompok tersebut. Disamping itu kelompok ini juga berupaya mempengaruhi pejabat-pejabat yang terkait untuk melaksanakan program-program yang efektif dan memastikan sektor pemerintahan dan LSM bekerja sama memfasilitasi pelaksanaan program ini. tiga. Kelompok nasional ini mempunyai banyak tugas salah satu di antaranya adalah advokasi. Tujuan kelompok ini adalah untuk mendapatkan dukungan masyarakat untuk melaksanaan program ini secara terbuka. Peran kelompok ini adalah: o merencanakan dan mengawasi seluruh tugas -tugas advokasi. dan sebagainya. 23 . Sedangkan kelompok advokasi di tingkat provinsi (di Jakarta dan Denpasar) dibentuk secara khusus guna melakukan advokasi untuk pengurangan dampak buruk NAPZA untuk menghadapi HIV/AIDS di kalangan IDU. KELOMPOK KOORDINASI ADVOKASI Langkah pertama dalam advokasi adalah membentuk kelompok koordinasi advokasi. sebuah kelompok advokasi dibentuk terdiri dari LSM-LSM dan penyandang dana program HIV/AIDS. sepuluh orang atau lebih. Kelompok ini mempunyai tujuan khusus yang lebih terfokus terkait dengan situasi di masing-masing provinsi. o bertindak sebagai juru bicara untuk media dan pihak-pihak lain yang ingin berhubungan dengan kelompok ini. koordinasi akan lebih mudah dilakukan apabila kelompok cukup kecil. o melaksanakan kegiatan-kegiatan advokasi secara khusus.BAB V PEMBENTUKAN KELOMPOK DAN PENDANAAN ADVOKASI A. memastikan pekerja penjangkauan tidak ditangkap polisi. Kelompok ini bisa terdiri dari dua. Selain itu kelompok i i n memberikan edukasi bagi pembuat kebijakan terhadap pengurangan dampak buruk NAPZA untuk menanggulangi HIV/AIDS di kalangan IDU. Biasanya. Kelompok advokasi yang dibentuk di tingkat kabupaten atau kota dibentuk untuk mendapatkan dukungan untuk kegiatan yang sangat spesifik. Tujuan umum kelompok ini adalah melakukan advokasi agar kelompok IDU mendapat perhatian yang lebih besar dalam penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia. Misalnya. pada studi kasus dari Indonesia dalam bab sebelumnya.

kelompok keagamaan. Sedangkan satu LSM lain menyediakan terapi ketergantungan NAPZA dalam bentuk therapeutic community. politisi lokal. badan narkotika narkotika. Sekarang IDU sudah ada di banyak kota dan biasanya berkumpul di berbagai tempat seperti di gudang-gudang kosong. pekerja sosial. Sebenarnya penyalahgunaan NAPZA suntik merupakan hal yang baru. kelompok perempuan. di kolong jembatan. beberapa LSM yang bekerja di bidang HIV/AIDS dan NAPZA. anggota lain bisa dicari dari anggota kepolisian. tokoh masyarakat. dan atau sektor masyarakat lainnya. Keanggotaan kelompok koordinasi advokasi di banyak negara adalah sebagai berikut: • dokter. dan kegiatan-kegiatan spesifik yang akan dilaksanakan. puskesmas. sebuah contoh diberikan di bawah ini: Contoh dari Kota Z Kota Z yang berpenduduk 100. Keahlian-keahlian yang diperlukan biasanya akan teridentifikasi selama penjajakan dan fase analisis. Para politisi dan masyarakat mendesak polisi agar berhasil menghapuskan permasalahan NAPZA ini.Untuk membantu para pembaca mengikuti langkah-langkah advokasi. paling tidak anggota tersebut: • Mampu mema hami dan menginterpretasikan literatur ilmiah 24 . . petugas kesehatan. Sebaiknya kelompok ini dimulai dengan kelom pok kecil saja. Satu LSM mempromosikan kesadaran masyarakat umum terhadap HIV/AIDS kepada semua penduduk kota. pengacara. Para D dokter dan petugas kesehatan di rumah sakit dan puskesmas yang terdapat di wilayah tersebut beserta para pekerja LSM percaya bahwa HIV di kalangan IDU bukan hanya masalah penyalahguna NAPZA dapat berhenti dari penyalahgunaan NAPZA atau pindah dari wilayah tersebut. Banyak IDU mempunyai pekerjaan serabutan dan melakukan tindakan kriminal. organisasi internasional. Polisi merespon dengan cara menangkap para penyalahguna NAPZA atau memaksa I U pergi dari kota tersebut. dan apabila kemudian berkembang perlu mencari orang-orang dengan keahlian khusus yang diperlukan untuk pelaksanaan advokasi. jajaran kepolisian. atau mantan penyalahguna NAPZA. dan beberapa bisnis kecil. KEANGGOTAAN Keanggotaan kelompok koordinasi advokasi tergantung pada masalah sosial budaya di suatu negara. • para IDU dan ODHA. Sepuluh tahun sebelumnya hampir tidak ada orang yang menyalahgunakan NAPZA suntik. keluarga IDU.000 orang mempunyai banyak IDU. Kota ini miskin dan hanya sedikit IDU yang memiliki pekerjaan tetap. • praktisi pengurangan dampak buruk/risiko NAPZA atau staf kesehatan lain seperti perawat atau staf LSM yang bekerja dengan kelompok-kelompok marginal. kalangan bisnis. Namun demikian. Fasilitas kesehatan yang tersedia adalah rumah sakit. B. • Wakil dari media Sebagai tambahan. Tingkat kualitas setiap anggota tidak perlu sama karena setiap anggota dengan latar belakang yang berbeda dapat berpartisipasi aktif. dan di rumah-rumah para IDU itu sendiri.

pemimpin partai politik. pengobatan. Bila memungkinkan salah satu anggota dari kelompok koordinasi advokasi adalah seorang tokoh masyarakat yang mengetahui banyak tentang kesehatan masyarakat. Mampu mengumpulkan dan mempertanggung-jawabkan dana. dan pihak lainnya. pembuat kebijakan. mereka mengadakan pertemuan untuk membahas isu HIV di kalangan IDU. dan dukungan di kalangan IDU. Hal ini karena salah seorang anggota kelompok yang mendirikan rumah singgah tersebut adalah putri Menteri Kesehatan dan cucu Perdana Menteri negara tersebut. Contoh Kota Z Di sebuah wilayah di kota Z. dan pendekatan efektif untuk menanggulangi HIV/AIDS di kalangan IDU. atau selebritis. seorang dokter perempuan yang bekerja di puskesmas dan Pak E. Mungkin yang menjadi pelaksana advokasi adalah orang-orang yang tertarik pada isu mengenai HIV/AIDS dan penyalahgunaan NAPZA suntikan namun kurang memiliki kualifikasi formal seperti gelar atau jabatan. Kadang-kadang perlu memb erikan edukasi kepada anggota kelompok koordinasi advokasi yang potensial mengenai pendekatan-pengurangan dampak buruk NAPZA ini. terdapat dua orang yang sedang membaca jurnal internasional mengenai penyebaran HIV yang cepat di kalangan IDU yaitu Dr A. Karena banyak orang hanya memiliki sedikit atau sama sekali tidak memiliki pengetahuan dalam bidang ini. Sehingga dapat menimbulkan kesulitan kelompok ini untuk akses ke media. seorang putri Presiden juga dapat menjadi seorang pelaksana advokasi untuk pendekatan-pendekatan efektif untuk mencegah HIV/AIDS di kalangan IDU. Setelah menghubungi beberapa rekan mereka yang bekerja di beberapa kantor di sekitar wilayah tersebut. teman. Mengetahui hal tersebut Dr A dan Pak E memutuskan untuk membentuk suatu kelompok advokasi untuk meningkatkan fokus wilayah tersebut pada kegiatan pencegahan HIV. Pak E menjelaskan bahwa kelompok koordinasi advokasi dibutuhkan untuk mengatasi masalah ini karena terdapat banyak hambatan untuk memperkenalkan pengurangan dampak buruk NAPZA. seorang direktur sebuah LSM yang melaksanakan program peningkatan kesadaran umum terhadap HIV di wilayah tersebut. kebutuhan terhadap penanggulangan. perawatan.• • • • Memiliki pengalaman yang berkaitan dengan penyalahgunaan NAPZA dan/atau infeksi HIV baik pribadi. Di salah satu negara di Asia. atau anggota keluarga Memahami pembuatan kebijakan dalam masalah sosial budaya setempat. mantan kepala kepolisian. Dr A mempresentasikan bebera pa temuan penelitian internasional mengenai cara -cara HIV menyebar di kalangan IDU. walaupun terdapat tbanyak antangan politik tapi sebuah LSM mampu memulai program rumah singgah ( drop-in center) bagi IDU. politisi. Sehingga melalui hubungannya dengan para politisi. 25 . Pada pertemuan tersebut. Mampu dan siap bertindak sebagai jurubicara untuk media Kepemimpinan merupakan suatu hal yang penting untuk dipertimbangkan dalam kelompok koordinasi advokasi.

Dalam menetapkan tujuan umum. dan orang-orang yang berpengaruh untuk membentuk sebuah koalisi Kelompok koordinasi advokasi akan mampu menggalang dana atau sumber-sumber lain untuk mendukung kegiatan kelompok ini dalam mencapai tujuannya Contoh dari Kota Z Kelompok advokasi di atas mengadopsi tujuan berikut ini: o meningkatkan manfaat pengurangan dampak buruk pada penyalahgunaan NAPZA suntik di Kota Z o mencegah penularan HIV di kalangan IDU o meningkatkan kualitas ODHA dan OHIDA. kelompok kecil ini bekerja hanya untuk memberikan informasi kepada orang-orang dan organisasi-organisasi yang peduli di wilayah tersebut mengenai adanya kelompok ini dan kebutuhan untuk bekerja pada masalah HIV kalangan IDU. setelah beberapa waktu. Para anggota kelompok perlu membaca dokumen-dokumen mengenai pengurangan dampak buruk NAPZA untuk menghadapi HIV/AIDS di kalangan IDU dan laporan atau penelitian mengenai HIV/AIDS di kalangan IDU. Dengan cara ini. LSM -LSM. C. Dr A dan Pak E mendesak anggota lainnya agar kelompok koordinasi advokasi dibentuk.Beberapa anggota kelompok berpendapat bahwa penempatan fokus pada HIV di kalangan IDU adalah hal yang keliru karena masih ada banyak masalah lain di wilayah tersebut. kelompok ini perlu menjajaki apakah: • • • • Tujuan tersebut mudah dimengerti. Untuk menentukan hal-hal yang spesifik dari pendekatan efektif mana yang paling diperlukan di Kota Z. Akhirnya. pendek dan sederhana Tujuan tersebut akan menarik dukungan banyak orang yang peduli sehingga mau melakukan aksi Tujuan tersebut akan membantu membangun aliansidengan sektor-sektor lain. dua anggota yaitu seorang ibu yang mempunyai anak penyalahguna NAPZA dan seorang jurnalis suratkabar kota setempat memilih untuk bergabung d engan kelompok advokasi tersebut. sebuah koalisi mulai terbentu. Kelompok advokasi tersebut meminta Dr A untuk menjadi juru bicara untuk memimpin pertemuan-pertemuan kelompok tersebut. Awalnya. PENETAPAN TUJUAN Langkah pertama dari kelomp ok di atas adalah menentukan visi atau tujuan umum. 26 . kelompok tersebut telah memutuskan untuk mencari informasi lebih lanjut mengenai NAPZA dan HIV di wilayah tersebut melalui penjajakan.

• Perlu menentukan tujuan khusus yang relatif mudah dilaksanakan pada awal program. pelatihan bersama. 27 . keluarga ODHA dan IDU – untuk meningkatkan dampak koalisi pada pembuatan kebijakan. kelompok sasaran dan cara-cara melakukan kegiatan. sumber informasi dan pendidikan. ia menjadi bagian dari kelompok sasaran advokasi. para profesional. pertemuan. organisasi internasional. mereka mungkin menimbulkan masalah dan perselisihan di antara anggota koalisi. Setiap interaksi dengan orang atau organisasi baru merupakan langkah maju dalam pembangunan koalisi dan analisis. dan memberikan umpan balik yang positif kepada para anggota koalisi. orang tersebut telah menjadi bagian dari koalisi yang bekerja untuk advokasi. dan bila memungkinkan ODHA dan IDU. Beberapa saran untuk pembentukan koalisi: • Perlu melibatkan kelompok dari berbagai jenis sebagai anggota koalisi – seperti LSM. • Laksanakan hubungan komunikasi formal dan informal di antara anggota koalisi seperti laporan.D. dan kegiatan advokasi. • Manfaatkan koalisi untuk berbagi informasi dan menemukan badan penyandang dana yang potensial. Pada saat kelompok memulai untuk bertemu dan melakukan analisis terhadap tujuan umum dan tujuan khusus. akan an semakin besar kemungkinan advokasi tersebut berhasil. Jika seseorang atau sebuah organisasi setuju untuk membantu kelom pok advokasi. • Upayakan agar pertemuan koalisi berlangsung singkat dan tetap. Mengumpulkan anggota kelompok advokasi merupakan langkah dalam pembentukan koalisi. PEMBENTUKAN KOALISI Koalisi d jejaringan kerja adalah dasar dari kegiatan advokasi. BNN. Keberhasilan yang dicapai pada tahap awal ini akan menciptakan kepercayaan dan mempererat kebersamaan koalisi. makan atau minum bersama. • Perlu melakukan komunikasi yang erat dengan anggota koalisi secara pribadi untuk mengenal anggota-anggota lain dan pandangannya (yang mungkin sangat berbeda satu sama lain). dan kemungkinan untuk berpartisipasi dalam pelatihan. Jika ia tidak tertarik atau menentang kegiatan kelompok ini. dan kegiatan. Dirikan sebuah sarana (seperti newsletter atau pertemuan-pertemuan reguler) agar para anggota koalisi tetap terus mendapatkan informasi mengenai kegiatan-kegiatan dan hasil-hasilnya. Pembentukan dan pemeliharaan koalisi memerlukan waktu dan tenaga karena perlu menciptakan hubungan kepercayaan yang baik dengan orang lain. penelitian yang relevan. • Libatkan anggota koalisi yang mempunyai pengaruh kuat dalam semua keputusan. • Membangun hubungan dan jaringan layanan untuk berbagi informasi secara reguler. apablia mereka tidak dilibatkan. sektor pemerintahan. • Berusaha sedapat mungkin untuk membentuk konsensus terhadap keputusan koalisi untuk menimbulkan rasa memiliki terhadap tujuan. tujuan khusus. Makin kuat koalisi. • Perlu pengakuan dan penghargaan peran para pembuat kebijakan dan mitra koalisi. sumberdaya yang tersedia. kelompok tersebut perlu mendiskusikannya dengan orang yang lebih banyak.

dukungan. Identifikasi para ODHA. namun pertemuan tersebut mungkin mempunyai dampak yang besar untuk layanan bagi ODHA dan IDU. dan atau mantan IDU yang diplomatis. dan informasi antar kota dan negara. Beberapa saran untuk melibatkan ODHA. dan individu yang tertarik untuk bertukar pendapat. harus diingat bahwa prinsip dari advokasi ini adalah untuk menghindari peningkatan bahaya bagi IDU dan ODHA. Pertama. dan pragmatis. dan atau mantan IDU.Beberapa metode tertentu perlu digunakan apabila melibatkan ODHA. Artinya ODHA. khususnya. Perlu menimbulkan suatu pendekatan simpatik dari anggota koalisi yang lain untuk menarik respon-respon yang mendukung dari para ODHA. BNN atau badan keamanan masyarakat yang mungkin hadir dalam pertemuan memperkenalkan diri. Namun advokasi tetap merupakan bagian inti dari tugas koalisi. sangat berguna saat memulai pelaksanaan advokasi karena jaringan ini menyediakan hubungan dengan kelompok-kelompok lain di wilayah tersebut yang telah beroperasi sebelumnya. baik dalam koalisi maupun dalam pembuatan rencana dan program advokasi. Pastikan petugas kepolisian. IDU. dan atau mantan IDU harus mengerti risiko yang dapat timbul akibat berbicara di muka umum atau bahkan dalam pertemuan anggota koalisi mengenai penyalahgunaan NAPZA atau status HIV. MEMBUAT JARINGAN UNTUK KEGIATAN ADVOKASI Di luar pembentukan koalisi atau sebagai bagian dari pembangunan koalisi yang lebih besar terdapat tugas m embuat jaringan individu dan organisasi yang tertarik pada pendekatan efektif untuk HIV/AIDS dan penyalahgunaan NAPZA suntikan. Hal ini memberikan kesempatan kepada para pendatang baru dalam advokasi untuk belajar dari kelompok lain yang lebih berpengalaman. dan atau mantan IDU. kelompok advokasi. fasih berbicara. IDU dan atau mantan IDU dalam koalisi. bagi IDU duduk dalam pertemuan yang memakan w aktu lama merupakan hal yang sulit. Sebagai contoh. Kadang-kadang kelompok koordinasi advokasi dan koalisi berkembang menjadi jaringan melakukan kegiatan advokasi. IDU. Pastikan juga para ODHA. • • • E. untu k bertindak sebagai juru bicara dan membantu kelompok advokasi mengidentifikasi dan mencalonkan para juru bicara Tawarkan pelatihan. IDU. Jaringan memungkinkan organisasi. Jaringan regional. IDU. Pada saat kelompok 28 . dan atau mantan IDU mengetahui ada petugas semacam itu menghadiri pertemuan. dan nasehat bagi ODHA. IDU dan atau mantan IDU adalah: • Informasikan sebelumnya kepada para anggota koalisi yang lain mengenai kebutuhan akan “suara” dari kelompok terpapa masalah. Jaringan seperti terapi ketergantungan NAPZA atau jaringan pengurangan dampak buruk NAPZA biasanya mempunyai fokus yang lebih luas daripada advokasi untuk pendekatanpendekatan efektif. pengalaman. IDU. Jaringan seperti FORUM dari kilink terapi ketergantungan NAPZA di Asia Selatan dan jaringan pengurangan dampak buruk (harm reduction) regional telah memainkan peranan penting dalam memulai program pencegahan HIV yang efektif di kalangan IDU dan membantu berbagai program untuk bisa belajar satu sama lain.

Pada tahun 2000 dibentuk pula Jaringan Harm Reduction Argentina (REDARD) dan Organisasi Penyalahguna NAPZA Argentina (RADDUD). Program ini menyebarkan alat-alat untuk penyucihamaan peralatan suntik dan melakukan lokakarya mengenai pengurangan dampak buruk NAPZA untuk HIV/AIDS di kalangan IDU di rumah sakit jiwa di kota tersebut. ornop. dan media dan mempromosikan penelitian di Amerika Latin mengenai isu-isu yang berhubungan dengan HIV/AIDS dan penyalahgunaan NAPZA suntikan. penduduk sekitar. Pada tahun 1999. jaringan juga berguna sebagai media untuk berbagi cerita mengenai keberhasilan dan kegagalan. sebuah program terapi substitusi percontohan dimulai di Rosario. dan penyalahguna NAPZA. masyarakat. Konferensi dan hubungan antara masyarakat sipil. dan universitas ini sangat penting di Argentina dengan peran kunci dari Jaringan Harm Reduction Amerika Latin (RELARD) yang memberikan peluang bagi organisasi-organisasi nasional untuk belajar dari program di negara lain di wilayah mereka. terutama yang bergerak di pencegahan HIV di kalangan gay. yang mengumumkan dan mendiskusikan hasil-hasil konferensi internasional yang kemudian menimbulkan perhatian media lebih lanjut. Konferensi ini merupakan faktor yang penting dalam menarik perhatian pemerintah. Asosiasi Harm Reduction Argentina (ARDA) dibentuk dan. dan organisasi-organisasi lokal yang dilakukan dengan sangat hati-hati. Sebagai hasil dari gerakan dan upaya advokasi oleh koalisi yang terus berkembang tersebut. lesbian. Dukungan dari berbagai organisasi dan gerakan masyarakat ini memudahkan ornop ini dalam menghadapi perlawanan dari pemerintah pusat terhadap harm reduction. Upaya-upaya ini diperkuat setelah Konferensi Internasional mengenai Pengurangan Bahaya yang Berhubungan dengan NAPZA ke-9 dilaksanakan di Sao Paulo (Brazil) pada tahun 1998. Dalam membangun dukungan untuk pertukaran jarum suntik. 29 . yang merekomendasikan agar pendekatan efektif dilaksanakan di seluru h Argentina. Pada tahun 1998. Program di atas sebenarnya telah dimulai di Pusat Penelitian Lanjutan mengenai Penyalahgunaan NAPZA dan AIDS. penjaja seks. Konferensi ini diikuti dengan pertemuan-pertemuan AIDS dan NAPZA di Buenos Aires dan Konferensi Harm Reduction Argentina yang pertama di Rosario.advokasi memulai kegiatannya dan mendapatkan pengalaman. Kementrian Kesehatan mendanai beberapa program dan kampanye komunikasi yang menyangkut pendekatan ini. ornop ini berhubungan dengan organisasi sosial seperti Gerakan Buruh Menganggur yang mencoba merespon kebutuhankebutuhan orang yang menganggur di wilayah lokal (dan banyak IDU yang menganggur). Argentina pada tahun 1994. STUDI KASUS: PEMBANGUNAN KOALISI DI ARGENTINA Ornop Intercambios di Buenos Aires mendirikan program pencegahan HIV di kalangan IDU pada tahun 1998 melalui pembangunan dukungan masyarakat dengan penyalahguna NAPZA. Badan Pengawasan NAPZA Nasional SEDRONAR mengeluarkan sebuah resolusi pada bulan Agustus 2000. Melalui advokasi yang terus menerus program ini mendapatkan dukungan resmi dari gubernur wilayah tersebut. ODHA. Ornop ini mempunyai kebiasaan bekerja dengan jaringan sosial lain. Dukungan badan internasional seperti UNAIDS untuk pendekatan-pendekatan ini juga sangat penting dalam argumentasi-argumentasi koalisi dengan para pejabat pemerintah. Universitas Nasional Rosario.

walaupun semua anggota koordinasi advokasi tidak perlu dibayar untuk melakukan advokasi pendekatan efektif untuk masalah HIV/AIDS di kalangan IDU. Selain itu. Beberapa penyandang dana dengan alasan politik atau 30 . menghadiri pertemuan-pertemuan masyarakat. dana untuk kegiatan advokasi untuk pendekatan efektif pada HIV/AIDS di kalangan IDU seringkali sulit diperoleh. Advokasi akan berjalan lebih cepat dan efektif apabila ditunjang dari segi pendanaan. Buku panduan ini diharapkan akan bermanfaat untuk mendapat perhatian dari para penyandang dana bahwa advokasi adalah investasi yang bermanfaat. namun bermanfaat besar karena biaya advokasi relatif sedikit. melakukan hubungan komunikasi per telepon. Para duta besar seringkali mau menyediakan dana yang tak terlalu besar misalnya sebesar US$ 2000. Penelitian. Sebagai contoh. Untuk beberapa kasus tertentu hal ini memungkinkan. Kelompok advokasi hendaknya memastikan bahwa dana bisa diperoleh dari lebih dari satu donatur. Namun. Perbedaan lain antara penggalian dana untuk advokasi dan program jenis lain adalah sumber pendanaan yang berbeda. Selain itu advokasi dapat menjadi penting untuk keberlangsungan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan. Keuntungan dari penggalian dana untuk advokasi adalah meskipun dana yang didapat hanya sedikit. mereka perlu menyesuaikan pelaksanaan advokasi ini dengan pekerjaan mereka lainnya. para anggota akan mengeluarkan uangnya sendiri atau organisasi akan menggunakan dana yang dialokasikan untuk kegiatan lain menjadi dana untuk kegiatan di atas. PENGGALIAN DANA UNTUK KEGIATAN ADVOKASI Penggalian dana adalah langkah yang penting dan sering dilupakan dalam proses advokasi. konferensi dan program percontohan memerlukan biaya yang lebih besar. setidaknya ada pembayaran kepada paling tidak satu anggota dari kelompok tersebut. Di negara -negara berkembang dan transisi. Akan tetapi untuk mendapatkan dana untuk advokasi berskala besar masih sangat jarang seperti di Indonesia yang dijabarkan dalam bab sebelumnya. Jika tidak diperoleh dana untuk kegiatan-kegiatan tersebut. Hingga akhir tahun 1990-an. atau menggunakan internet untuk mencari informasi yang relevan yang memerlukan pembiayaan.F. Penggalian dana untuk kegiatan-kegiatan advokasi sama dengan penggalian dana untuk programprogram pencegahan dan kegiatan-kegiatan lainnya. Hal ini diperlukan karena kelompok perlu memastikan bahwa kelompok ini mampu melakukan advokasi pada berbagai isu yang berhubungan dengan HIV/AIDS dan penyalahgunaan NAPZA. penjajakan cepat. Meskipun ada kemungkinan beberapa kegiatan advokasi hanya memerlukan biaya sedikit. Sehingga proposal untuk dana yang tidak besar dapat dikirim ke sejumlah penyandang dana yang potensial selama proses advokasi. banyak kegiatan memerlukan dokumen-dokumen untuk para politisi dan media. kenyataannya banyak orang yang perlu dibayar. sumber dana yang potensial yang tidak terlalu besar seperti ini adalah kedutaan negara berkembang. Namun masalah ini telah teratasi dengan semakin banyaknya bukti bahwa advokasi dapat mempercepat proses pelaksanaan pendekatan efektif. sekalipun di negara yang pelaksanaan advokasinya berhasil.

Demikian juga dengan penggalian dana untuk program-program lain. meskipun argumentasi HAM dan ekonomi mungkin juga bermanfaat. p enggalian dana bisa dilakukan dengan mencantumkan daftar kegiatankegiatan yang dapat dilakukan: • Menyelenggarakan acara pengumpulan dana seperti pesta. Jika mungkin. Para anggota kelompok tersebut menyumbangkan waktunya dalam menghadiri pertemuan-pertemuan kelompok itu dan memulai kegiatan-kegiatan dalam dua bab berikutnya. kelompok advokasi sebaiknya mengembangkan hubungan dengan tokoh kunci dari organisasi penyandang dana sehingga argumentasi ini dapat disampaikan secara personal dan informal.alasan lain mungkin tidak ingin kelompok ini memusatkan perhatian pada isu tertentu seperti pertukaran jarum suntik sehingga perlu untuk memperoleh dana dari berbagai sumber lain. disertai dengan permohonan pendanaan. Hal ini berbeda anata satu negara dengan negara lain. Tim penasihat hendaknya menyusun pola permohonan dukungan dana sehingga kelompok dapat merespon pendanaan yang tersedia dengan cepat. Contoh Kota Z Kelompok koordinasi advokasi di kota Z memperoleh dana US$ 1000 untuk melaksanakan penumpulan dana. Pola ini sebaiknya menggunakan argumentasi advokasi yang serupa dengan yang digunakan untuk para profesional kesehatan. konser dan sebagainya • Minta iuran keanggotaan dari para anggota koalisi • Cari sumbangan dari orang -orang kaya • Cari donasi dari perusahaan • Jual barang -barang seperti T-shirt dan lain-lain • Lelang atau adakan undian untuk barang-barang atau jasa yang disumbangkan • Jual ruang iklan pada surat kabar Perlu diperiksa isu-isu legal mengenai pengumpulan. Kemudian kelompok tersebut mulai mengadakan pembicaraan dengan penyandang dana utama program-program HIV/AIDS mengenai apakah kemungkinan mendapatkan dana untuk pelaksanaan proyek advokasi di wilayah tersebut. pengeluaran. malam pertunjukan film. 31 . Sebagai tambahan. dan pelaporan penggunaan dana. sangat penting mengetahui penyandang dana mana tertarik pada program HIV/AIDS atau penyalahgunaan NAPZA.

Alternatif lain. masyarakat. para profesional kesehatan dan kesejahteraan sosial. kondisi kehidupan IDU. Satu versi hendaknya berisi ringkasan dari semua informasi yang dikumpulkan. gambaran situasi HIV/AIDS dan penyalahgunaan NAPZA suntik di negara tersebut akan muncul. pendidikan. dan hakim terhadap IDU dan HIV/AIDS? • Masalah sosial dan budaya. di bawah tema seperti: • “prevalensi HIV dan hepatitis”. usia. dan sebagainya) untuk mendapatkan informasi di atas dan mendapatkan informasi penanganan IDU oleh berbagai instansi kepolisian. 32 . ? Menjajaki faktor -faktor situasional yang mungkin membantu atau menghambat pembentukan dan perluasan program-program yang efektif. Penilaian masalah atau penjajakan mungkin dapat dilaksanakan oleh para anggota kelompok koordinasi advokasi. dan para keluarga IDU terhadap program pengurangan dampak buruk ini? • Masalah kesehatan dan kesejahteraan sosial . latar belakang etnis. organisasi non-pemerintah atau LSM. dan pengetahuan yang dimiliki mengenai situasi HIV/AIDS dan penyalahgunaan NAPZA di negara tersebut. polisi. informasi mengenai layanan yang tersedia. dan lain-lain). Hukum apa yang relevan untuk memulai atau memperluas program-program yang efektif? Apa pandangan kepolisian. dan sebagainya) ? Mengidentifikasi tokoh kunci (penyalahguna NAPZA atau IDU. PENILAIAN MASALAH Langkah berikutnya adalah menentukan parameter masalah yang akan dihadapi dan menentukan tujuan umum dan tujuan khusus advokasi. dan pekerja sosial? • Kemungkinan sumber dana Dari proses ini. • Laporan organisasi-organisasi pemberi layanan (jumlah dan tipe klien terutama yang IDU. • Penelitian-penelitian mengenai perilaku berisiko HIV di kalangan IDU. prevalensi HIV dan hepatitis. tokoh agama. jenis kelamin. BNN. perawat. Apa pandangan para dokter. Faktor-faktor ini termasuk: • Masalah hukum dan penegakan hukum. Informasi ini harus dibuat sebagai laporan dalam berbagai format. dengan cara penjajakan dan respon cepat yang dikeluarkan WHO atau cara penelitian lain bisa digunakan. pendapatan. tergantung pada pengalaman. Apa pandangan pemerintah. ODHA. kesehatan dan kesejahteraan sosial. Pelaksananaan penilaian madalah atau penjajakan meliputi tugas-tugas berikut ini: ? Mengumpulkan data dan infornasi tertulis mengenai: • Karakteristik IDU (jumlah.BAB VI ANALISIS A. keahlian. pengacara.

Kegiatan ini dapat selesai lebih cepat apabila pendanaan memadai. telah mendengar mengenai AIDS. Versi kedua hendaknya dibuat dengan penekanan pada butir-butir yang paling penting yang berhubungan dengan faktor-faktor situasional yang membantu atau menghambat program. tapi gratis di rumah sakit (untuk 12 hari detoksifikasi). • Kebanyakan IDU takut membeli peralatan suntik di apotik (karena polisi berjaga di sekitar apotik tersebut dan menangkap mereka saat mereka keluar dari apotik). Karena kelompok ini tidak mempunyai dana untuk melakukan penjajakan ini. • kurang dari 10% IDU secara teratur menggunakan kondom saat berhubungan seks. 33 . • Empat tempat tidur tersedia di rumah sakit sedangkan di LSM tersedia 20 tempat tidur. • Mereka jarang atau tidak pernah pergi ke rumah sakit atau puskesmas karena para dokter atau perawat d apat mengetahui bahwa mereka penyalahguna NAPZA. pro ses pelaksanaan memakan waktu berbulan-bulan karena universitas dan staf ornop/LSM menyesuaikan kegiatan penjajakan dengan kegiatan-kegiatan mereka yang lain. Faktor-faktor ini hendaknya disusun berdasarkan urutan prioritas. • Para IDU dapat membeli jarum suntik dari dua apotik di daerah itu • Terapi ketergantungan NAPZA (tanpa substitusi NAPZA) tersedia di sebuah LSM dan rumah sakit. tidak merasa takut terhadap AIDS. • dan sebagainya. Laporan ini hendaknya diberikan kepada seluruh anggota kelompok koord inasi advokasi.. • Sebagian besa r IDU yang diwawancarai mengatakan bahwa mereka ingin berhenti menggunakan NAPZA. Penjajakan yang dilakukan di wilayah tersebut telah menemukan adanya kurang lebih 1000 IDU: • 60% dari mereka adalah laki-laki. anggota koalisi serta kepada mereka yang tertarik pada laporan yang lengkap. • 80% berbagi jarum suntik dengan teman-teman mereka secara rutin • 20% telah berbagi peralatan suntik dengan orang asing pada minggu sebelumnya. • “kondisi-kondisi hidup/penghidupan”. • Para IDU memahami bahwa masyarakat menginginkan mereka berhenti menggunakan NAPZA atau keluar dari wilayah tersebut namun mereka merasa tidak mampu menghentikan penyalahgunaan NAPZA dan wilayah tersebut adalah rumah mereka karena mereka tidak mempunyai tempat lain untuk tinggal. • Biaya terapi ketergantungan NAPZA di LSM sama besarnya dengan tiga bulan gaji (untuk enam bulan dalam therapeutic community). Contoh dari Kota Z Kelompok advokasi meminta para peneliti dari sebuah universitas untuk bekerja dengan staf dari beberapa ornop/LSM melakukan penilaiaian masalah dengan cara penjajakan cepat HIV/AIDS dan situasi IDU di wilayah tersebut. dan jarang membeli jarum suntik baru karena mereka lebih suka menggunakan uangnya untuk membeli NAPZA. Laporan ini hendaknya digunakan untuk proses pembuatan tujuan -tujuan khusus di bawah ini.• “perilaku berisiko HIV”.

Hal ini mengarah pada peningkatan penularan HIV di kalangan IDU. Hal ini mengarah pada peningkatan penularan HIV di kalangan IDU dan dari IDU ke pasangan seks mereka. dan penyebaran HIV di kalangan IDU. IDU. Pernyataan-pernyataan ini akan diperlukan untuk menyusun tujuan khusus kelompok advokasi tersebut. Terapi ketergantungan NAPZA tidak dapat diakses oleh sebagian besar IDU sehingga para IDU mendapatkan kesulitan dalam mengurangi atau menghentikan penyuntikan dan penyalahgunaan NAPZA. Para politisi. masyarakat. dan polisi mengetahui sedikit informasi mengenai penyalahgunaan NAPZA. Perumusan masalah dapat menjelaskan parameter umum dari suatu masalah dengan sederhana. Pernyataan isu berfokus pada penyebab-penyebab masalah dan mengarah pada pencarian penyelesaian masalah. karena layanan-layanan ini tidak tersedia di wilayah tersebut. Para IDU tidak kuatir bahwa mereka bisa terkena HIV sehingga kecil kemungkinan mereka mengurangi perilaku berisiko menularkan atau ditulari HIV. 34 . Sebuah contoh dari Kota Z: ? Para IDU sering berbagi jarum suntik karena mereka: • Takut ditangkap dan takut membeli peralatan suntik baru dari apotik • Tidak cukup mendapat pendidikan mengenai HIV/AIDS serta penyebaran dan pencegahannya • Tidak dapat mengakses terapi ketergantungan NAPZA • Tidak dapat mengakses layanan -layanan yang sesuai yang mungkin dapat merespon kebutuhan kesehatan dan kebutuhan lainnya. Beberapa contoh dari Kota Z: • • • • • Para IDU seringkali berbagi jarum suntik.Butir-butir di atas bermanfaat untuk membuat rumusan-rumusan masalah dan isu berdasarkan penjajakan yang dilakukan. sehingga kecil kemungkinannya bahwa kelompok -kelompok ini akan memastikan penerapan pendekatanpengurangan dampak buruk NAPZA. Para IDU jarang menggunakan kondom saat berhubungan seks.

Tanpa sifat-sifat SMART. Tujuan khusus yang bersifat SMART dibuat dengan mempertimbangkan langkah-langkah yang diperlukan. dan kegiatan (activities). melalui upaya:. dan tokoh masyarakat) perlu banyak mempelajari kebutuhan pengurangan dampak buruk NAPZA di wilayah tersebut. sumber daya manusia. Meningkatkan akses bagi para IDU untuk mendapatkan peralatan suntik baru dengan cara meningkatkan akses IDU ke apotik atau memulai program jarum suntik steril. politisi. • • 35 . Keinginan ini mungkin sulit dicapai namun akan membantu semua pihak yang bekerja pada proyek yang sedang dilaksanakan untuk tetap terfokus dan bekerja bersama -sama dengan tujuan yang menyeluruh. Tujuan Khusus adalah hal-hal spesifik yang diharapkan dari suatu pelaksanaan advokasi. TUJUAN KHUSUS YANG BERSIFAT SMART Seringkali terjadi kesalahpahaman perbedaan antara tujuan umum (goal). Kegiatan adalah pekerjaan yang dilakuka n untuk mencapai setiap tujuan khusus. tujuan khusus (objectives). Tujuan khusus merupakan hasil kegiatan kelompok advokasi dan bersifat SMART sebagaimana akan dijelaskan di bawah ini. yaitu: Specific (spesifik): Tujuan harus menyebutkan secara jelas apa yang ingin dicapai oleh program Measurable (dapat diukur): Tujuan harus dapat diukur dengan mudah tanpa harus memakai sumber daya yang besar untuk penelitian dan evaluasi Achievable (dapat dicapai): Tujuan harus dapat dicapai dengan sumber-sumber (keuangan. para IDU harus didorong untuk mengurangi perilaku berisiko terhadap HIV. Kegiatan dirancang secara spesifik untuk membantu anggota kelompok menuju pencapaian tujuan khusus.B. Beberapa tujuan khusus yang muncul dari penjajakan yang dilakukan di Kota Z: Dalam 12 bulan. Tujuan Umum adalah gambaran um mengenai peristiwa yang diinginkan suatu kelompok um pada akhir sebuah pelaksanaan advokasi. Hal utama mengena i tujuan khusus adalah kelompok koordinasi advokasi harus mampu mengukur apakah kelompok tersebut mampu mencapai tujuan khusus. Meningkatkan akses bagi para IDU ke terapi ketergantungan NAPZA yang terjangkau secara ekonomi (baik detoksifikasi maupun therapeutic community) dan meningkatkan pilihan-pilihan terapi (termasuk terapi substitusi NAPZA). dan kelompokkelompok lain di wilayah tersebut (seperti polisi. kalau tidak. Time -constrained (mempunyai batasan waktu): Tujuan harus memiliki batas waktu pencapaiana. • Meningkatkan edukasi: para IDU perlu dihubungi oleh seseorang yang dipercayai dan diberi informasi mengenai penyebaran dan pencegahan HIV. dan lainnya) yang tersedia Relevant (relevan): Tujuan harus berguna untuk keseluruhan proses pencapaian tujuan. Dokter dan petugas kesehatan perlu mengetahui mengenai penyalahgunaan NAPZA dan HIV/AIDS. tujuan khusus (objective ) hanya merupakan tujuan umum (goal). akan sulit diukur.

para pelaksana advokasi di beberapa negara dapat merasakan bahwa kegiatan advokasi yang dilakukan kurang memungkinkan untuk berhasil. ke layanan kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas. kelompok advokasi harus menilaia hal-hal berikut: • • • • • • • Tujuan khusus mudah dimengerti Adanya perbaikan atau perubahan situasi yang akan dicapai dengan pelaksanaan tujuan tersebut Tujuan khusus tersebut dapat dicapai. tujuan khusus yang bersifat SMART dapat menimbulkan kesulitan. Untuk advokasi. Namun demikian. sehingga penjajakan yang kedua setelah 12 bulan akan dapat mengukur apakah perubahan-perubahan yang dicari oleh tujuan khusus ini telah terjadi).• Meningkatkan akses bagi para IDU. (Catatan: semua tujuan khusus ini dapat diukur karena penjajakan telah dilaksanakan sebelumnya. Pencapaian tujuan memang sulit dicapai. Kelompok koordinasi advokasi harus secara seksama mempertimbangkan isu mengenai tujuan khusus yang dapat dicapai: • • • Apakah isu ini sangat sensitif sehingga para pembuat keputusan tidak dapat didekati secara langsung? Apakah sudah ada orang atau koalisi yang telah mencoba melakukan advokasi isu ini? Pelajaran apa yang dapat diambil dari pengalaman mereka? Apakah informasi yang tersedia cukup untuk mempengaruhi para pembuat kebijakan? Jika tidak. Tanpa adanya gerakan sosial dan kemauan politik. tujuan khusus mungkin harus diganti untuk memasukkan pengumpulan informasi lebih lanjut). sistim SMART harus digunakan paling tidak untuk menuntun pengembangan tujuan khusus advokasi. Namun pengalaman para pelaksana advokasi pada isu lain seperti perawatan dan pengobatan bagi ODHA menunjukkan bahwa advokasi berhasil dilakukan pada berbagai masalah. walaupun mendapat tantangan Tujuan khusus ini didukung oleh sejumlah orang sehingga dapat dicapai Pendanaan dapat dikumpulkan untuk mendukung kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan khusus tersebut Pembuat keputusan yang berhubungan dengan tujuan khusus ini dapat diidentifikasi dengan jelas Aliansi dibentuk untuk membantu mencapai tujuan khusus tersebut. terutama mereka yang mengidap HIV. Kelompok koordinasi advokasi harus membuat draft prioritas tujuan khusus. Hal ini disebabkan karena kesulitan dalam menentukan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan khusus dan melakukan pengukuran capaian dengan tidak mengabaikan sejumlah informasi penting mengenai proses advokasi. 36 . Dalam menetapkan tujuan khusus.

instruksi pemerintah. Tahap 2: Memperkenalkan ide atau proposal untuk memecahkan masalah yang telah teridentifikasi. yang perlu untuk diikuti. Jika informasi lebih lanjut diperlukan atau ada syarat-syarat yang perlu dipenuhi. Contoh dari Kota Z 37 . LSM dan lain -lain. dan perundang-undangan. Terutama pada awal proses advokasi. Tahap 4: Keputusan diambil. baik untuk proses formal maupun informal. Tahap 5: Maju ke tahap berikutnya. MEMAHAMI PROSES PEMBUATAN KEPUTUSAN Pertama-tama. proposal tersebut bisa dikerjakan kembali dan prosesnya dimulai lagi. A. Mungkin terdapat peraturan dan prosedur formal cara -cara pembuatan dan perubahan peraturan.BAB VII STRATEGI Kelompok koordinasi advokasi pada tahap ini sudah harus memiliki gambaran yang jelas mengenai masalah-masalah yang akan dihadapi dan draft tujuan khusus untuk advokasi. bisa dilanjutikan ke tingkat pembuatan keputusan selanjutnya atau langsung dilaksanakan. Biasanya keputusan diambil untuk menyetujui atau menolak proposal (baik yang asli maupun yang telah dirubah). Namun kadang-kadang keputusan yang diambil adalah mengupayakan untuk mendapatkan informasi lebih lanjut. Tahap-tahap tersebut adalah: Tahap 1: Mengidentifikasi permasalahan atau isu-isu dalam suatu organisasi baik pemerintahan. adalah penting untuk memahami bagaimana proses pembuatan keputusan di berbagai sektor untuk dapat dipengaruhi oleh kegiatan -kegiatan advokasi. Pelaksana advokasi perlu memahami hal ini a pabila pendekatan formal tersebut terjadi selama proses advokasi. atau menyetujui dengan syarat-syarat tertentu. Ada 5 tahap pembuatan keputusan. Bila proposal ditolak. Jika proposal disetujui. Tahap 3: Pertimbangan. Pada tahap ini. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana agar tujuan-tujuan ini dapat dicapai. biasanya perlu dicari jalur-jalur informal dimana isu-isu mulai diangkat dan keputusan awal diambil. informasi dan syarat-syarat ini perlu dipenuhi dan proposal bisa kembali pada tahap 4. isu ditempatkan pada agenda organisasi tersebut. Permasalahan dan usulan solusinya diberikan kepada para pembuat kebijakan. Usulan di atas didiskusikan dan mungkin diubah oleh para pembuat kebijakan. atau menyetujui sebagian.

Sejumlah besar unsur dan faktor yang tidak tetap dapat mempengaruhi pengambilan keputusan. kepala polisi tersebut mungkin akan lebih simpatik. Tahap 3: DPRD mempertimbangkan proposal tersebut. misalnya: • Jika polisi telah mengetahui proposal tadi dan setuju bahwa hal tersebut memang perlu. kepolisian bertanggungjawab kepada DPRD . DPRD bisa memutuskan untuk mengadopsi meskipun ditentang oleh kepolisian. 38 . mereka akan mendukung proposal tadi sejak pertemuan yang pertama. Sedangkan kepala kepolisian harus memberikan jawaban kepada kepala biro administrasi kota (juga kepada kepala kepolisian nasional). A yang mewakili kelompok advokasi. namun menyetujui pencarian metode yang memungkinkan proyek percontohan dilaksanakan. Tahap 1: Kelompok koordinasi advokasi telah mengidentifikasi suatu masalah mengenai kepolisian yaitu hadirnya polisi di dekat apotik merupakan alasan utama mengapa IDU tidak membeli peralatan suntik baru. Selain itu advokasi yang diperlukan untuk mencapai tujuan mungkin melibatkan banyak proses pembuatan keputusan yang terbeda -beda. Tahap 4: DPRD memutuskan agar polisi tetap melakukan kegiatan sebelumnya.Di Kota Z. Tahap 2: Kelompok koordinasi membuat suatu proposal kepada DPRD untuk meminta polisi menghentikan kegiatan menunggu di dekat apotik selama 6 bulan pelaksanaan program percontohan untuk meningkatkan akses IDU pada peralatan suntik. Biro diminta untuk menyerahkan laporan termasuk rekomendasi untuk pertemuan dengan DPRD berikutnya (di mana pada saat itu proses dimulai lagi dari Tahap 2). Bahkan dalam situasi yang sangat formal seperti contoh di atas. Untuk ini. banyak faktor mempengaruhi suatu keputusan. Kelompok ini telah menginformasikan kepada kepala kepolisian kota tapi kepala polisi mengatakan bahwa ia hanya mengikuti perintah biro administrasi kota. mendengarkan argumen pihak kepolisian. A dan rekan-rekannya dengan kepolisian untuk membahas agar proyek percontohan tetap berjalan tanpa menimbulkan permasalahan bagi kepolisian. • Jika kepala kepolisian kota mempunyai seorang teman dengan anak seorang IDU yang positif HIV. DPRD mungkin tidak akan mengadakan diskusi terhadap proposal tersebut tapi langsung menolaknya. • Jika administrasi kota menolak mentah -mentah untuk mendukung proposal tersebut. dan Dr. Biro administrasi kota terdiri dari wakil masyarakat yang bekerja untuk DPRD. kelompok advokasi perlu mencoba memecahkan proses yang rumit tersebut menjadi bagian yang lebih sederhana. pihak administrasi kota. • Jika kebanyakan anggota DPRD orang-orang yang bersimpati kepada polisi dan tidak tertarik pada masalah-masalah kesehatan. Tahap 5: DPRD meminta biro administrasi kota untuk mengadakan pertemuan antara Dr.

Pendengar sekunder dapat merupakan bagian atau perluasan dari pendengar primer. berlokasi di puskesmas. Pendengar primer dan sekunder Perlu adanya pemanfaatan peta -peta kebijakan untuk menentukan individu atau kelompok yang paling berpengaruh terhadap suatu keputusan. kelompok yang netral yang tak mendukung atau pun menentang. 39 . • Edukasi yang diberikan melalui penjangkauan kepada IDU mengenai peningkatan dalam pilihan terapi ketergantungan NAPZA dan pengurangan biaya yang dibebankan kepada klien . mendorong IDU untuk mencari layanan terapi: hal ini memerlukan adanya suatu program penjangkauan untuk IDU. Contoh dari Kota Z Kelompok koordinasi advokasi telah mengkaji tujuan sebagai berikut ini: Meningkatkan akses bagi IDU untuk mendapatkan terapi ketergantungan NAPZA yang dapat dijangkau (baik detoksifikasi atau therapeutic community) dan meningkatkan rangkaian layanan terapi (termasuk terapi substitusi) Dalam diskusi dengan koalisi yang lebih luas.B. Kelompok ini bisa terdiri dari mitra kerja yang mendukung tujuan advokasi. Pendengar sekunder adalah para individu dan kelompok yang dapat mempengaruhi pembuat keputusan (pendengar primer ). Kunci untuk advokasi adalah menentukan individu atau kelompok mana yang kira -kira akan memiliki pengaruh paling besar pada setiap keputusan dan mencoba untuk membujuk mereka untuk mendukung tujuan-tujuan advokasi. Berdasarkan proses tersebut diatas dapat dibagi jenis pendengar dalam advokasi yaitu: • • Pendengar primer termasuk para pembuat kebijakan dengan kewenangan untuk secara langsung mempengaruhi pencapaian tujuan. PEMETAAN PROSES KEBIJAKAN 1. kelompok tersebut telah memutuskan hal yang akan dicapai adalah dengan pemenuhan tiga sub-tujuan dibawah ini: • Peningkatan pendanaan oleh Dinas Kesehatan kota bagi dua layanan terapi ketergantungan NAPZA untuk memungkinkan penanganan IDU lebih banyak dan mengurangi biaya yang dibebankan kepada klien (dari therapeutic community) • Pengenalan program terapi substitusi percontohan. dan kelompok yang menentang advokasi.

apakah keputusan ini akan memperbesar atau memperkecil kemungkinan masyarakat untuk memilih anggota dewan kota pada pemilihan berikutnya? Pemimpin agama: apakah pemimpin agama berkeberatan atau menyetujui terapi ketergantungan NAPZA? Penyandang dana internasional untuk program HIV/AIDS atau NAPZA: ka rena Kota Z adalah kota yang miskin. Media: anggota DPRD kota ingin mengetahui sikap media terhadap peningkatan pendanaan: apakah reaksi media akan menguntungkan atau tidak? Tokoh masyarakat: anggota DPRD kota adalah orang yang berinteraksi dengan keluarga. para atasan/majikan. para pekerja di seluruh wilayah itu: bagaimana reaksi orang-orang tersebut terhadap keputusan. apakah para penyandang dana akan membayar peningkatan pendanaan selama tiga tahun pertama (sehingga anggota DPRD kota tidak harus mengeluarkan dana dari proyek lain) Kepala Dinas Staf Dinas Kesehatan Kota (seperti di atas) Kesehatan Kota Para peneliti dari Fakultas Kesehatan Masyarakat di universitas terdekat: para profesional sebaya sangat berpengaruh.Kelompok tersebut sekarang melaksanakan latihan pemetaan kebijakan untuk dua sub-tujuan yang pertama (lihat Contoh Peta Kebijakan 1) Peta Kebijakan 1: Contoh dari Kota Z: Siapakah para pendengar advokasi Sub-tujuan 1: Meningkatkan pendanaan bagi dua layanan terapi ketergantungan NAPZA yang sedang berlangsung Pendengar Primer: Sasaran DPRD Kota Pendengar Sekunder: Yang berpengaruh Staf anggota DPRD kota: karena anggota DPRD kota sering kali meminta pendapat dari para staf mereka. Departemen Kesehatan: Dinas Kesehatan Kota biasanya tidak akan membuat keputusan yang menentang kebijakan Departemen Kesehatan Pusat Keluarga dan teman-teman IDU 40 . pelayan toko.

Keluarga dan teman-teman IDU Para dokter/petugas kesehatan lain dan media Tabel di atas menunjukan bahwa keputusan bisa dibuat oleh kelompok kecil namun pendapat kelompok yang lebih luas yang terdiri dari para profesional. Kepala Pukesmas Staf.Sub-Tujuan 2: Pengenalan program percontohan terapi substitusi. Para “Pa kar” nasional dan internasional di bidang HIV/AIDS dan penyalahgunaan NAPZA Para Pemimpin Agama dan Media Para Penyandang Dana internasional untuk program-program HIV/AIDS dan NAPZA Kepala Kepolisian Kota Menteri Kesehatan Kepala Nasional Kepolisian Presiden Para “Pakar” Kepolisian di bidang tindak kejahatan NAPZA Para Kolega kepolisian internasional dan Media Staf dari anggota dewan kota dan Media Para tokoh masyarakat Para pemimpin agama Para penyandang dana internasional untuk program-program HIV/AIDS dan NAPZA DPRD Kota Kepala Dinas Kesehatan Staf Dinas Kesehatan Kota Kota Para Peneliti pada Fakultas Kesehatan Masyarakat di Universitas terdekat Departemen Kesehatan Pusat IDU IDU lain. Menteri Kesehatan Anggota DPRD Kota dan Media Kepala Kepolisian Nasional Anggota DPRD Kota Anggota Kepolisian untuk masalah NAPZA Media Presiden Kepala Kepolisian dan Anggota DPR/MPR lain. Dinas Kesehatan Kota. berbasis di puskesmas. pasien dan masyarakat sekitar puskesmas Para kolega profesional: puskesmas lain. Tabel tersebut juga menunjukkan bahwa adanya perubahan seperti peningkatan pendanaan untuk layanan yang ada 41 . pemimpin agama dan tokoh masyarakat dapat mempengaruhi kelompok pembuat keputusan.

dan lain-lain)? Informasi ini bisa didapatkan dengan beberapa cara: • Pejabat dan selebritis menyatakan opininya melalui media. pidato atau dokumendokumen lain. namun kemungkinan besar dapat mempengaruhi pendengar primer. kelompok advokasi dapat berhasil menarik tiga anggota lagi. Sama halnya di beberapa negara lain. ada kemungkinan untuk mendapatkan kutipan langsung mengenai pandangan mereka tentang NAPZA dan HIV/AIDS 42 . IDU telah membantu pengenalan kegiatan efektif tersebut.dapat menyederhanakan dan mempercepat pelaksanaan kegiatan lain seperti pelaksanaan program terapi substitusi. kelompok advokasi di Kota Z menyadari bahwa kedua kebutuhan ini perlu dilaksanakan (bersama dengan edukasi yang dilakukan melalui kegiatan penjangkauan dan tujuan lain dalam bab sebelumnya) untuk secara efektif menghadapi HIV/AIDS di kalangan IDU di kota tersebut. Hal lain yang perlu dicatat adalah kelompok yang berpengaruh yang perlu digunakan seperti media. pengurangan kriminalitas. dengan membaca koran. IDU dimasukkan sebagai pendengar primer untuk program substitusi karena sangat vital bagi keberhasilan program. Namun demikian. Apakah opini mereka saat ini mengenai HIV/AIDS dan penyalahgunaan NAPZA suntik? Apa kepentingan mereka terhadap isu-isu ini? Apa yang memotivasi mereka? Bagaimana mereka biasanya mempelajari isu -isu baru (melalui hubungan personal. ODHA dan keluarga. dan sebagainya. IDU juga penting dalam pembahasan peningkatan layanan terapi. 2. dua di antaranya adalah ODHA dan IDU. Dengan membaca semua itu secara teliti. Melalui pertemuan dengan IDU. Media bukan pendengar primer untuk ke dua sub-tujuan di atas. Dengan menunjukkan kebutuhan terhadap layanan semacam ini. maka program ini tidak akan menghasilkan dampak terhadap pencegahan HIV. Anggota baru ini mengerjakan berbagai publikasi dan tertarik untuk berbicara pada konferensi dan pertemuan komite. Karena perluasan layanan terapi ketergantungan NAPZA umumnya dianggap sebagai isu yang berhubungan dengan NAPZA dari pada isu yang berhubungan dengan AIDS. IDU dapat memiliki dampak kuat mengenai layanan yang akan dimulai atau diperluas untuk menghadapi HIV/AIDS. para pejabat pemerintah seperti polisi dan militer memiliki pengaruh yang besar sehingga perlu dimasukkan dalam kelompok pendengar sekunder. Apabila ODHA memiliki juru bicara yang tampil di media dan dalam komite untuk para politisi yang berpengaruh. Namun IDU cenderung tidak mempunyai pengaruh selama diskusi yang berhubungan dengan keuangan. perlu untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin mengenai kelompok dan individu tersebut. Jika IDU menolak untuk ikut program ini. Selain itu ODHA merupakan kelompok yang sangat penting untuk pembuatan keputusan mengenai topik -topik ini. Penelitian pendengar kebijakan Saat pendengar primer dan sekunder telah diidentifikasi untuk tujuan tertentu.

sikap terhadap p enyalahgunaan NAPZA. kemungkinan besar pendengar akan memperhatikannya. dirasakan. Perlu mencatat nama -nama jurnalis yang tertarik akan keseimbangan dan kedalaman informasi. beberapa penyalahguna NAPZA telah berhenti menggunakan NAPZA. 43 . penyalahguna NAPZA adalah orang-orang yang tidak waras. a Tahap selanjutnya adalah memetakan apa yang diketahui. protokol. Diskusi kelompok terarah atau Focus Group Discusssion (FGD) dapat digunakan untuk mendapatkan pemahaman mengenai cara berpikir pendengar mengenai topik-topik yang spesifik. kita perlu mengenal orang-orang yang dekat dengan para politisi yang dapat memberikan gambaran yang lebih aktual mengenai pandangan politisi tersebut.• • • • atau topik-topik yang sejenis. Kebijakan-kebijakan resmi yang tertuang dalam perundang-undangan. Ketelitian perlu diperhatikan saat menggunakan teknik ini karena banyak politisi berpikir bahwa mereka perlu dilihat “keras terhadap NA PZA”. Kelompok tersebut perlu terus dijajaki dan pesan-pesan terus dikembangkan dan diteruskan ke par pendengar yang lain. Informasi isu-isu yang tidak berhubungan dengan tujuan khusus kadang-kadang berguna untuk menyusun pesan-pesan persuasif. Sebab sangat berat menyelidiki dan memprediksi beberapa pendengar sekunder khusus. Analisis media dapat membantu memprediksi pandangan media dan masyarakat mengenai beberapa topik. Perlu melakukan penilaian mengenai jurnalis yang menulis artikel-artikel tersebut apakah telah bersikap sensasional atau seimbang. dan ODHA yang telah dilaksanakan sangat bermanfaat untuk mengukur opini masyarakat. strategi. FGD ini dapat melibatkan anggota masyarakat umum atau pendengar tertentu seperti dokter. instruksi pemerintah. penyalahguna NAPZA seharusnya dibuang dari keluarganya. polisi dan sebagainya. rencana. Analisis informasi di atas harus berfokus pada organisasi atau individual apakah telah mendukung tujuan advokasi atau menentang tujuan advokasi. beberapa penyalahguna NAPZA memainkan peran yang bermanfaat dalam masyarakat. penyalahguna NAPZA. Untuk pendengar primer dan sekunder. peraturan. pengacara. dan diyakini oleh para pendengar mengenai isu-isu tersebut yang bisa berhubungan dengan tujuan khusus. Untuk itu. seluruh dokumen yang berkaitan dengan HIV/AIDS dan penyalahgunaan NAPZA suntik perlu dikumpulkan dan dikaji. dan sebagainya. Analisis ini bisa sangat sederhana seperti menghitung jumlah artikel mengenai NAPZA dalam surat kabar selama periode tertentu dan mencatat tema-tema umum artikel tersebut misalnya penyalahguna NAPZA adalah penjahat. Jika tujuan advokasi dapat dikaitkan dengan isu yang sangat diperhatikan oleh pendengar. Survei mengenai penyalahgunaan NAPZA.

Tidak dipecat. Praktek yang dilakukan secara profesional dan baik. • • • Penduduk sekitar Puskesmas • • Belum menentukan Kenyamanan wilayah itu sebagai tempat untuk tinggal sikap. percaya bahwa substitusi malah akan mendatangkan IDU ke wilayah tersebut 44 . telah membaca banyak informasi mengenai terapi substitusi. Peta Kebijakan 2: Contoh dari Kota Z: Apa yang diketahui dan dipikirkan oleh para pendengar? Sub-tujuan2: Pengenalan program percontohan terapi substitusi. Praktek yang dilakukan secara profesional dan baik . Kebanyakan mendukung program. berbasis di puskesmas Pendengar Pengetahuan Keyakinan dan sikap Isu-isu yang diperhatikan pendengar pendengar mengenai oleh pendengar mengenai sub.Contoh dari Kota Z Kelompok koordinasi advokasi melanj tkan latihan pemetaan kebijakan untuk sub-tujuan yang u kedua (lihat Contoh Peta Kebijakan 2 untuk contoh-contoh yang dipilih dari proses pemetaan ini). Kepala puskesmas • Staf puskesmas Beberapa staf puskesmas menghadiri kelompok advokasi.sub-tujuan tujuan Tahu sedikit • Dapat mengerti bahwa kegiatan ini adalah penting. Tidak dipecat. • • • • Kesehatan seluruh penduduk wilayah tersebut. Tidak dikritik media dan Departemen Kesehatan. Setiap anggota staf memperhatikan satu bidang kesehatan khusus. staf lainnya hanya mengetahui sedikit Hampir tak tahu apa-apa. menentang. • Bermacam-macam sikap dari yang sangat mendukung sampai yang tak mendukung. Kuatir mengenai dampak program kepada klien puskesmas (nonIDU) yang lain. Kemungkinan akan dan bekerja.

keberadaan program di wilayah tersebut akan membantu mengurangi penularan HIV di kalangan IDU Belum menentukan sikap. • • • Kesehatan masyarakat secara keseluruhan di seluruh kota. Kepala Dinas Telah mendengar tahu Kesehatan Kota namun sedikit mengenai penelitian atau bagaimana terapi substitusi bekerja • • • • • • • Media Hampir tak tahu apa-apa. Penjualan koran. • • • • • • Kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan di seluruh kota. Tidak dipecat. peristiwa baru dll. Kemungkinan reaksi yang muncul akan beragam. Kemungkinan tertarik akan isunya dan ingin memberikan ulasan. Konflik. • • • Keingintahuan akan hal-hal ilmiah Kenaikan jabatan akademis Publikasi DPRD kota Hampir tak tahu apa-apa. percaya bahwa program ini akan menyelamatkan banyak jiwa. Ulasannya sepertinya berpusat pada kontroversi dan konflik. namun kuatir para pemilih mereka akan menentang program itu. periklanan.Para peneliti Telah membaca penelitian dari internasional universitas • • Mendukung. Buktinya sudah jelas. Praktek yang dilakukan secara profesional dan baik. Pemberian informasi. terutama pada ide baru. Pemilihan/penunjukan kembali. Sangat mendukung program tersebut. 45 . Praktek yang dilakukan secara profesional dan baik Ide-ide baru. Merasa bertanggung jawab untuk menghentikan AIDS di wilayah itu.

Beberapa (terutama para orang tua) menentangnya dan berpikir bahwa uang yang tersedia seharusnya digunakan untuk program yang menghentikan anak -anak muda menggunakan • • • • IDU Telah mendengar mengenai terapi substitusi. Persahabatan. Sangat mendukung. • • Menyuarakan perlawanan terhadap penyalahgunaan NAPZA secara konsisten dan menolong penyalahguna NAPZA. Menyatakan bahwa penyalahgunaan NAPZA adalah dosa Pencegahan kejahatan Menahan penjahat. yakin bahwa program itu akan menolong mereka berhenti menyuntikan NAPZA Keyakinan dan sikap pendengar mengenai subtujuan Kebanyakan dari mereka yang tahu mengenai terapi substitusi sangat mendukung. bebas dari penyalahgunaan NAPZA • 46 . • • Kemungkinan akan menentang. Praktek yang dilakukan secara profesional dan baik Kepala Kepolisian Kota Hampir tak tahu apa-apa. Menjaga amanat rakyat. • • • Bertahan hidup. tapi umumnya pengetahuan yang dimiliki tidak banyak Pengetahuan pendengar mengenai subtujuan Kebanyakan memiliki pengetahuan yang sedikit. • Kemungkinan akan menentang. Percaya bahwa satu-satunya jalan untuk menangani IDU adalah dengan menghukum mereka.Para pemimpin agama (kota) Hampir tak tahu apa-apa. Pendengar • • Isu-isu diperhatikan pendengar yang oleh Teman-teman dan Keluarga IDU • • • Kesejahteraan IDU Bila mungkin.

segala NAPZA. • Sangat mendukung. mau mendanai program percontohan apabila dukungan masyarakat yang memadai dapat diperlihatkan Beberapa sangat mendukung. Kemampuan untuk mempengaruhi kebijakan nasional. macam Para penyandang dana internasional Telah melaksanakan penelitian internasional. Praktek yang dilakukan secara profesional dan baik. • • • • • Reputasi profesional sebagai “pakar” Hubungan dengan institusi-institusi dan orang-orang yang berpengaruh. Dari hasilnya. kebijakan nasional dapat disusun • • Pengurangan kemiskinan Pencegahan HIV/AIDS secara global Para ‘pakar’ Kebanyakaan tingkat nasional memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi. Bidang perawatan kesehatan yang spesifik di seluruh wilayah di negara tersebut. Mendukung suatu ujicoba di Kota Z. tapi tidak yakin kalau substitusi adalah kebijakan nasional yang terbaik. Peduli akan AIDS. Pemilihan/penunjukan kembali. mempunyai tingkat pengetahuan yang tinggi. terutama di Kota Z. telah menyaksikan program substitusi di negara lain dan akan membantu dimulainya program di Kota Z. Menteri Kesehatan Telah mendengar namun tahu sedikit mengenai penelitian atau bagaimana terapi substitusi bekerja • • • • Kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan di seluruh wilayah di negara tersebut. Beberapa sangat menentang dan yakin bahwa program ini “salah” karena tidak menolong IDU berhenti menggunakan NAPZA dengan segera. Staf Menteri Beberapa membaca Kesehatan telah • penelitian internasional • 47 .

Presiden. • • Menjaga amanat rakyat. • Dari proses ini. • Kemungkinan akan menentang. dapat dilihat adanya berbagai pengetahuan. Pemilihan/penunjukan kembali. Dipilih berdasarkan program partai yang memasukkan upaya upaya “Bersikap keras terhadap NAPZA”. • Dibutuhkan penelitian.Kepolisian Nasional Tak diketahui. kontroversial (terutama secara politis). Hampir tak tahu apa-apa. dan kelihatan aneh dibanding dengan kegiatan lainnya yang berhubungan dengan penyalahgunaan NAPZA seperti kegiatan pengurangan pemasokan (Supply reduction) dan permintaan (Deman reduction). dan keyakinan di antara para pendengar di Kota Z dan di tingkat nasional. Kelompok advokasi juga mempunyai beberapa ide mengenai hal yang diketehui dan dirasakan pendengar mengenai isu-isu yang berhubungan dengan tujuan tersebut. 48 . Setelah melengkapi peta kebijakan untuk tujuan dan sub-tujuan kelompok advokasi mempunyai gambaran tentang individu dan kelompok yang dapat membuat atau mempengaruhi keputusankeputusan yang berkaitan dengan tujuan. Serangkaian kegiatan dapat direncanakan untuk menyampaikan pesanpesan advokasi kepada para pendengar ini. secara tetap menjanjikan membersihkan masyarakat dari NAPZA. sikap. Dibutuhkan penelitian. Hal ini merupakan kasus yang sering dijumpai ketika melaksanakan advokasi untuk pendekatan-pengurangan dampak buruk NAPZA (Harm reduction) karena isu yang diangkat melalui berbagai kegiatan sangat kompleks.

Ø dan kebutuhan untuk memulai program substitusi percontohan di puskesmas wilayah itu. Ø pendekatan -pengurangan dampak buru k NAPZA tentang HIV di kalangan IDU. Ø keuntungan terapi bagi IDU dan masyarakat. • 49 . Kegiatan-kegiatan yang telah direncanakan sebaiknya dilaksanakan secara berkesinambungan dan tepat waktu. Rencana aksi sebaiknya dikembangkan dengan memprioritaskan sasaran yang strategis dan berdampak maksimal dengan upaya yang minimal. PERENCANAAN KEGIATAN (ACTION PLANNING) Kegiatan advokasi perlu direncanakan. tujuan khusus advokasi. Seiring dengan berkembangnya kelompok yang mempunyia pemahaman sama maka seluruh mitra kerja perlu didorong agar dapat berpartisipasi secara aktif untuk mencapai tujuan. jadual kegiatan. Untuk sub-tujuan mengenai pelaksanaan program substitusi di puskesmas wilayah tersebut. Cara lain dapat dilakukan dengan mengajak berkunjung pada negara yang telah berhasil melaksanakan untuk studi banding. Contoh dari Kota Z Kelompok koordinasi advokasi sangat senang telah menyelesaikan tujuan-tujuan khusus dan peta kebijakannya. untuk menghadapi pendengar dan tanggapan terhadap pesan -pesan yang disampaikan. kegiatan-kegiatan pokok.BAB VIII AKSI DAN REAKSI A. sasaran advokasi yang diharapkan. rencana aksi sebaiknya mencantumkan setiap kegiatan yang diperlukan. berdiskusi d engan pakar internasional atau melakukan dialog terbuka tentang risiko dan keuntungan program terapi substitusi. Kelompok advokasi yang terkoordinir dengan baik perlu mengembangkan rencana aksi yang menjelaskan situasi. Ø keefektifan terapi substitusi untuk pencegahan HIV dan efek-efek lainnya. Berdasarkan tujuan-tujuan khusus dan kebijakan yang dijelaskan pada bab sebelumnya. dan indikator untuk mengevaluasi kegiatan tersebut. Persuasi: Bagi k elompok yang belum sepaham dengan kegiatan tersebut perlu dilakukan pendekatan secara persuasif dengan berbagai argumentasi. Kelompok ini telah memiliki gambaran yang jelas mengenai kelompok yang akan dilibatkan dalam diskusi dan beberapa kebutuhan yang diperlukan. ada dua kategori kegiatan utama yang diperlukan: • Edukasi: Sasaran perlu diberi edukasi mengenai .

• Identifikasi. • Rencanakan kegiatan yang melibatkan para juru bicara yang kredibel dari organisasi mitra. • Buat catatan keberhasilan d an kegagalan dalam advokasi. Bila ada kontroversi cobalah untuk mengubah kontroversi tersebut menjadi yang menguntungkan. Konsistensi pemberian pesan perlu dilakukan untuk menghindarkan kebingungan pendengar. dan gaya yang mengesankan. Jadi pengulangan adalah hal yang sangat penting. Sebagai contoh: Ø Penduduk di sekitar puskesmas kemungkinan adalah pendengar yang paling memperhatikan mengenai cara puskesmas menangani isu-isu keamanan seperti memastikan obat substitusi tidak dicuri atau diberikan kepada bukan penyalahguna NAPZA dan apakah program baru akan membuat para pengguna NAPZA suntik “nongkrong” di sekitar puskesmas. Ø Kepala Kepolisian Kota kemungkinan paling tertarik mengenai apakah dengan dimulainya program substitusi akan mengurangi kejahatan. • Presentasikan informasi dengan singkat. • Tekankan urgensi dan prioritas aksi yang direkomendasikan • Rencanakan dan adakan peliputan media untuk memberitahu kepada masyarakat mengenai kejadian yang relevan. Perlu diingat bahwa pesan tidak selalu segera didengar. diserap atau dimengerti. dari lokal hingga nasional dan internasional. sedangkan variasi membantu memastikan pendengar tidak bosan.Perlu ada berbagai pesan yang berbeda untuk kelompok pendengar yang berbeda. • Adakan pelatihan dan praktek advokasi. • Tentukan aksi yang dikehendaki dengan jelas sesuai dengan kebijakan yang disepakati. Ø Presiden kemungkinan lebih memperhatikan dampak-dampak ekonomi sebuah epidemi HIV di negaranya. verifikasi fakta dan data kunci untuk mendukung tujuan advokasi. 50 . dan sajikan data baru. • Delegasikan tanggungjawab secara jelas kepada anggota untuk melaksanakan dan memonitor kegiatan . dramatis. • Kembangkan perangkat advokasi yang spesifik untuk mempengaruhi pendengar tertentu • Bekerjalah dengan semua tingkatan. melalui jaringan yang sesuai. Beberapa kiat umum lain mengenai perencanaan dan aksi mencakup: • Sampaikan pesan-pesan dengan konsisten melalui berbagai media dan sumber bagi setiap tujuan khusus advokasi dan setiap pendengar. • Monitor dan respon dengan cepat dan fleksibel pandangan dan gerak-gerik yang tidak sepaham.

Menyiapkan leaflet “politisi”. 3. dengan argumentasiargumentasi untuk program jarum suntik steril. Telah menterjemahkan nya dalam bahasa lokal. 2. Contoh Rencana Aksi: Contoh dari Kota Z (Kutipan) Tujuan khusus A: Dalam 12 bulan.Contoh dari Kota Z Kelompok koordinasi advokasi sekarang sedang melaksanakan berbagai kegiatan sesuai dengan rencana aksi yang disepakati oleh mitra koalisi kelompok ini (lihat Contoh Kutipan Rencana Aksi). Kepala Kepolisian Kota dan 5 staf senior Dr. A ditambah seorang anggota kelompok yang lain 4 minggu Para anggota DPRD kota beserta staf mereka Para politisi Nasional Jurnalis anggota kelompok advokasi 6 minggu • • Telah menerima data penelitian internasional dalam bahasa Inggris. Para pendengar Apoteker Siapa yang bertanggung jawab? Dr A: dibantu oleh asosiasi apotek Diselesai kan dalam waktu? Status • • 4 minggu • • Asosiasi apotek telah setuju untuk menjadi tuan rumah pertemuan. Akan mulai menulis minggu depan. Kegiatan 1. Materi pelatihan disiapkan. Telah membuat perjanjian dengan Badan Narkotika Kota untuk meminta bantuan untuk mengatur pertemuan dengan kepala kepolisian. Undangan disebar kepada para apoteker. Bertemu dengan Kepala Kepolisian Kota untuk membicarakan mengenai operasi yang dilakukan polisi di dekat apotek-apotek dan tempat-tempat pelaksanaan program jarum suntik steril yang diusulkan. 51 . meningkatkan akses bagi IDU untuk mendapatkan peralatan suntik baru dengan cara meningkatkan akses IDU ke persediaan apotik dan memulai program jarum suntik steril. Melatih apoteker mengenai kebutuhan untuk peningkatan akses pada peralatan suntik.

Menulis surat resmi yang meminta penyetujuan untuk memulai terapi substitusi di puskesmas Dewan Kota Dr.4. A 1 minggu • • 52 . Menunggu penyelesaian pembuatan leaflet “politisi”. Seluruh data saat ini telah ditemukan. 2. Menyelidiki status legal dari NAPZA substitusi untuk program yang diusulkan di Puskesmas Siapa yang bertanggung jawab? Seluruh Mahasiswa hukum pendengar di yang membantu kota tersebut kelompok Advokasi Menteri Kesehatan dan Kepolisian Nasional Para pendengar Diselesaikan dalam waktu? Telah selesai Status • • Metadon dan buprenorfin telah didaftar secara resmi dan mungkin digunakan. Kegiatan 1. (setiap pasangan akan menjumpai paling sedikit 3 orang anggota dewan kota dan/atau staf mereka) 12 minggu Belum dimulai. Melobby DPRD Para anggota kota mengenai DPRD Kota program jarum (12 orang) suntik steril dan para staf dengan secara mereka (20 personal bertemu orang) dengan setiap orang anggota dewan dan memberikan informasi mengenai program tersebut. Kepala puskesmas telah menyetujui untuk mengupayakan penyetujuan setelah surat ditulis. Meningkatkan akses bagi para IDU ke terapi ketergantungan NAPZA yang terjangkau secara ekonomi (baik detoksifikasi maupun therapeutic community) dan meningkatkan pilihan-pilihan terapi (termasuk terapi substitusi NAPZA). Tujuan B: Dalam 12 bulan. Seluruh anggota kelompok advokasi bekerja berpasangan. Hambatanhambatan hukum dan biaya-biaya dicantumkan dalam laporan.

Mengadakan pertemuan dengan 4 orang tersebut di tambah dengan 5 orang anggota dewan lainnya untuk melobby program ini sebelum pemilihan dalam waktu 6 minggu.3. Dr. Memberikan penerangan secara ringkas kepada media mengenai program substitusi ini. Telah menghasilkan 2 halaman ringkasan mengenai bukti penelitian untuk terapi subtitusi dan proposal puskesmas. 4. Akan melakukan wawancara eksklusif dengan kepala puskesmas . A tidak lagi dapat menangani seluruh tugas koordinasi advokasi karena pekerjaannya di puskesmas. Karena beban pekerjaan yang meningkat. Seluruh Jurnalis pendengar di Anggota kelompok kota tersebut advokasi 2 minggu • • • Telah mengidentikasi 2 orang jurnalis kunci (seorang dari suratkabar. Mengupayakan persetujuan untuk program substitusi DPRD Kota Kepala puskesmas 5 minggu • • 3 anggota DPRD kota setuju mendukung proposal dan 4 orang menentang. seorang dari TV). Kelompok advokasi juga bekerja dengan kelompokkelompok ODHA di Kota Z untuk menyiapkan lokakarya peningkatan kesadaran media mengenai stigma dan diskriminasi di kalangan ODHA. sedang diupayakan dana dari penyandang dana internasional untuk koordinator advokasi yang bekerja paruh-waktu dan untuk biaya beberapa kegiatan advokasi terutama buklet untuk masyarakat umum dan lokakarya-lokakarya pelatihan bagi polisi. Contoh di atas merupakan seleksi kegiatan yang dilakukan oleh kelompok advokasi dan mitra koalisinya. 53 .

Metadon (atau burprenorfin) perlu secara resmi didaftar di Departemen Kesehatan agar program-program tersebut dapat dimulai. begitu juga halnya dengan seorang wartawan yang menulis sebuah berita mengenai keuntungan pendekatan-pendekatan efektif atau seorang dokter atau peneliti terke muka yang sedang berbicara dalam suatu pertemuan. Suatu contoh pesan: Epidemi HIV/AIDS di kalangan IDU telah terjadi saat ini. Kadangkadang. pesan advokasi harus sederhana. seorang politisi yang berpengaruh memberikan pendidikan sebaya kepada politisi lainnya merupakan medium dan sekaligus sumber. langkah selanjutnya adalah mengembangkan pesan-pesan untuk kegiatan advokasi tersebut. PESAN-PESAN DAN MEDIA Setelah menentukan sasaran pendengar untuk advokasi. Daftarkan metadon secara resmi sekarang” Media adalah sarana untuk menyampaikan sebuah pesan. media bisa juga termasuk sumber pesan. media dan sumber terpisah misalnya ketika seorang wartawan menulis tentang pidato seorang politisi atau tentang hasil penelitian. bagi penyalahguna NAPZA. dan bagaimana? Tujuan dari pesan tersebut adalah untuk menghasilkan aksi sehingga pesannya harus secara jelas menentukan aksi apa yang harus diambil dan oleh siapa. Bila memungkinkan. Ini merupakan langkah yang penting dan penuh risiko namun para IDU dan ODHA anggota kelompok advokasi ini ingin memberikan edukasi kepada masyarakat dan kelompok berpengaruh lainnya mengenai kenyataan hidup dengan HIV dan hidup sebagai IDU. yang mengandung kutipankutipan dari berbagai sumber.IDU dan ODHA anggota kelompok advokasi saat ini cukup percaya diri untuk berbicara mengenai pendekatan-pengurangan dampak buruk NAPZA di seminar-seminar dan pertemuan. Kadang-kadang pesan dapat dipadatkan menjadi slogan seperti: “Metadon berhasilguna: bagi masyarakat. mengapa. 54 . Sebagai contoh. Metadon (atau burprenorfin) efektif dalam mengurangi penyebaran HIV di kalangan penyalahguna NAPZA. dan bagi pencegahan HIV/AIDS. jadi mereka antusias untuk melakukan wawancara. atau ketika para pelaksana advokasi mengembangkan makalah advokasi khusus bagi para pendengar. Pesan-pesan tertentu perlu dibedakan dan dikembangkan untuk pendengar yang berbeda. B. Kelompok advokasi meneliti para jurnalis lokal untuk melihat kemungkinan adanya jurnalis yang dapat menulis cerita yang seimbang dan membantu mencapai tujuan-tujuan kelompok advokasi tersebut melalui wawancara dengan para IDU dan ODHA. pendek dan persuasif mengenai setiap tujuan khusus advokasi: apa yang seharusnya dilakukan.

REAKSI DAN KESINAMBUNGAN Setelah kegiatan advokasi. TV? Ini akan tergantung pada pesan apa yang dirancang untuk pendengar yang mana dan pada akses kelompok advokasi untuk mendapatkan dana dan sumber-sumber lain. (Lampiran B mengandung beberapa argumentasi reaktif ini serta saran argumentasi balasannya). Sebagai contoh. Kejadian semacam itu hendaknya dimonitor secara seksama untuk analisis dan evaluasi yang berkelanjutan. Beberapa elemen penting lain dari pesan dan media termasuk : • Argumentasi dan data yang digunakan untuk membujuk pendengar untuk bertindak atas pesan tersebut. Pesan yang baik seharusnya mengandung kalimat atau ungkapan yang memiliki konotasi positif atau arti tertentu. kelompok advokasi akan menghadapi reaksi dari beberapa individu dan organisasi dalam masyarakat. (lihat lampiran B). Para pelaksana advokasi sebaiknya menghindari “jargon” dan bahasa teknis (kecuali bagi beberapa pendengar tertentu). “keamanan nasional”. beberapa surat kabar secara terus menerus mencari berita – berita sensasional. siaran radio. Jika menggunakan grafik atau diagram. Mengapa tokoh agama telah berbicara? Sudah cukupkah kegiatan advokasi dilakukan pada organisasi-organisasi keagamaan? 55 . sebaiknya menggunakan yang sederhana dan mudah dimengerti. untuk sasaran advokasi. film dokumenter. Kredibilitas sumber: kepada siapa pendengar akan percaya? Format : apakah lebih baik menggunakan makalah diskusi. dan “keuntungan ekonomi”. “masyarakat”. catatan-catatan singkat tentang kebijakan. Dari pada menulis “pilihan terapi ketergantungan NAPZA tengah diperluas untuk mencegah sebuah epidemi HIV”. Mungkin ada beberapa kalimat atau ungkapan yang seharusnya digunakan dalam advokasi akan tetapi mungkin tidak dapat dimengerti oleh sasaran.Bahasa sangatlah penting. seperti “keluarga”. Waktu dan tempat: apakah ada peristiwa (seperti konferensi AIDS) atau tanggal tertentu (seperti Hari AIDS Sedunia atau Hari Anti Narkotika) di mana kemungkinan pesan dapat lebih menarik perhatian? • • • C. mereka mungkin akan menulis “ Departemen Kesehatan bersikap lunak kepada penyalahguna NAPZA” . termasuk kata -kata yang digunakan dalam pesan. “anak-anak”. Masing-masing kejadian akan berdampak pada kegiatan-kegiatan advokasi. Stasiun radio yang terkenal mungkin menggambarkan suatu penekanan pada pelayanan kesehatan terhadap IDU sebagai “suatu aib: bagaimana dengan orang -orang tua di dalam masyarakat kita yang tak berkecukupan untuk makan?” Tokoh-tokoh agama atau politik mungkin menyerang perubahan-perubahan yang mereka lihat sebagai penghancuran “nilai-nilai tradisional”. Argumentasi dan data ini hendaknya sesuai dengan sasaran.

Apakah stasiun radio mewakili suatu bagian yang luas dari masyarakat. dan kapan. semuanya merupakan peluang bagi advokasi. seringkali bermanfaat untuk segera merespon melalui press release dan/atau konferensi media. Jika seorang politisi telah membuat pernyataan yang bertentangan. Kadang-kadang. 56 . komitekomite yang sedang mengadakan pertemuan. barangkali politisi lain yang mendukung dapat didorong untuk membuat pernyataan publik yang mendukung – meskipun dalam beberapa kasus mungkin akan berguna untuk meminta para pendukung mengunjungi politisi yang menentang tersebut dan mendiskusikan isu-isunya jauh dari media untuk mencoba membujuk politisi yang menentang tersebut menjadi seorang pendukung. konferensi-konferensi medis dan hukum. Kejadian yang sedang berlangsung juga hendaknya dimonitor secara terus menerus. misalnya yang terdiri dari LSM-LSM yang bergerak dalam bidang HIV/AIDS. Jika hubungan dengan media secara umum berjalan baik. Antisipasi digambarkan secara jelas misalnya dalam kasus parlemen yang terpilih di mana partai yang memerintah berubah dari waktu ke waktu. Kelompok advokasi harus tetap memperhatikan berbagai laporan yang dipublikasikan. maka masalah-masalah yang besar dapat terjadi ketika ada perubahan pemerintahan. Kelompok advokasi dapat melakukan presentasi atau paparan untuk memberikan laporan-laporan kepada komite. Konferensi medis atau hukum dapat diminta untuk menekankan masalah-masalah HIV spesifik di kalangan IDU dan bagaimana cara yang terbaik untuk mengatasi masalah ini. Advokasi yang berhasil perlu menggunakan peluang-peluang yang ada dan perlu berpikir secara komprehensif. apakah pandanganpandangan ini hanya sebuah cara untuk meningkatkan popularitas dari siaran radio tersebut? Kelompok advokasi harus mempertimbangkan apakah perlu merespon tantangan semacam ini. bagaimana. Kelompok advokasi harus mengantisipasi masalah ini dengan memastikan bahwa pesan-pesan telah disampaikan kepada seluruh politisi. dengan menemui seorang oposisi dan menjelaskan seluruh alasan untuk tujuan-tujuan advokasi. dan bahkan hukum–dapat berubah dengan sangat cepat. Barangkali politisi yang akan menjalankan misi tersebut dapat dibujuk untuk mengunjungi program-program HIV yang efektif di kalangan IDU di negara lain. Kelompok advokasi sebaiknya juga menciptakan peluangnya sendiri dan mengantisipasi perubahan-perubahan yang kemungkinan akan terjadi. tantangan dapat diubah menjadi dukungan atau paling tidak menjadi netral. yang telah dilakukan dan yang belum dilakukan. para politisi yang akan menjalankan misi pencarian fakta di negara-negara lain. sosial. di mana suatu pemerintah telah menandatangani sebuah deklarasi yang menyatakan akan menjalankan pengurangan dampak buruk NAPZA. Harus diingat bahwa kebanyakan tantangan terhadap pengurangan dampak buruk NAPZA muncul dalam suatu lingkungan yang tidak mendapatkan informasi yang lengkap atau terdapat kesalahpahaman. Sebuah contoh misalnya pemanfaatan resolusi-resolusi dan deklarasi-deklarasi PBB. Sifat dasar dari kehidupan modern adalah keadaan-keadaaan–politik. Kelompok advokasi dapat menyampaikan laporan mengenai aksi-aksi yang telah dijanjikan. Pelaksanaan kegiatan tersebut mungkin berisiko dan biasanya harus dilakukan dengan koalisi yang kuat. Jika seluruh kegiatan advokasi telah dilaksanakan kepada partai yang berkuasa namun tidak ada satupun kegiatan advokasi dilaksanakan pada parlemen oposisi.

Transparansi berarti bahwa para mitra koalisi dan yang lainnya terus mendapatkan informasi mengenai kegiatan advokasi. Keberhasilan harus dihargai namun kegagalan juga harus dianalisis untuk melihat pelajaran apa yang bisa diambil oleh kelompok ini. Sebagai contoh. tetapi mereka harus berhati-hati untuk menjaga agar status orang-orang ini tetap rahasia kecuali dengan jelas telah diijinkan oleh individu tersebut untuk membuka status mereka. Mereka sebaiknya menyadari bahwa tindakan mereka mempengaruhi kehidupan orang lain. sub-tujuan khusus dan kegiatan-kegiatan u ntuk 12 bulan mendatang. RISIKO DAN ETIKA Para pelaksana advokasi perlu memastikan bahwa mereka berperilaku etis dan mengikuti prinsip pertama yang dijabarkan dalam Bab II: kegiatan advokasi harus menghindari terjadinya peningkatan risiko. Etika sangat penting karena pelaksana advokasi yang berhasil makin dianggap sebagai seorang ahli. bahwa setiap pemilihan (di mana kelompok advokasi menjadi atau bagian dari sebuah organisasi yang demokratis) adalah adil dan mengikuti peraturan tertulis mengenai pemilihan. Analisis pada kegiatan ini harus sangat teliti. Para politisi mungkin akan mendengarkan pelaksana advokasi tersebut saat yang lain tidak mampu menyampaikan pesannya. 57 . Proses ini memberi para pelaksana advokasi kekuatan yang besar. para pelaksana advokasi bisa mengetahui nama-nama ODHA dan IDU di kotanya. yang harus digunakan secara bertanggung jawab. dan argumentasi yang dikembangkan. Para pelaksana advokasi perlu memenuhi standar praktek yang etis dan legal dalam komunitas mereka dan menolak berpartisipasi dalam kegiatan yang tidak etis atau bisa membahayakan anggota masyarakat. Hal ini seringkali dilaksanakan bersama-sama dengan seluruh anggota koalisi dan pendukungnya. bahwa setiap dana yang diterima dilaporkan dengan cara yang tepat dan sebagainya. D. Pekerjaan yang berdasarkan bukti berarti bahwa kelompok advokasi harus secara terus menerus mencari informasi yang terkini mengenai pengurangan dampak buruk NAPZA untuk HIV/AIDS di kalangan IDU dan selalu menggunakan bukti ini sebagai dasar semua tujuan khusus. Wartawan mungkin akan menulis segala hal yang dikatakan oleh pelaksana advokasi tersebut. Sebuah pembahasan mengenai etika advokasi dapat ditemukan dalam Chapman ( lihat Publikasi dan Situs Internet ). dan waspada terhadap konflik kepentingan dan sesegera mungkin menjernihkan hal tersebut.Proses-proses ini harus disusun dalam pertemuan tahunan atau pertemuan yang lebih sering di mana kelompok advokasi menganalisis keberhasilan atau kegagalannya selama ini dan menentukan tujuan khusus baru. Setelah analisis ini (atau kapan saja selama proses advokasi) saran dapat dicari dari kelompokkelompok advokasi di tempat lain mengenai cara -cara mengatasi masalah tertentu atau argumentasi yang bisa terbukti efektif saat argumentasi sebelumnya telah gagal. Evaluasi (lihat bab berikutnya) harus membantu proses ini. pesan. Cara yang terbaik untuk memastikan sikap yang etis adalah transparansi dalam pelaksanaan kegiatan dan memastikan adanya dasar atau bukti yang kuat untuk semua kegiatan.

sebuah program distribusi kondom dalam sebuah lembaga pemasyarakatan atau sebuah program penjangkauan percontohan hanya akan diperbolehkan oleh sebuah pemerintahan selama masyarakat luas tidak tahu akan program ini. 58 . Kadang-kadang. ini akan menyebabkan penutupan program dan terjadi kemunduran advokasi. Jika kelompok advokasi mengeluarkan pernyataan kepada pers mengenai program tersebut.Kelompok advokasi juga perlu bersikap sensitif terhadap kebutuhan akan program yang efektif. (Lebih jauh mengenai kegiatan-kegiatan advokasi yang spesifik dapat ditemukan dalam Lampiran A).

• kedua. menganalisis laporan dan ulasan media untuk memetakan perubahan pada diskusi publik mengenai isu yang relevan. strategi. perubahan dapat digambarkan dalam perilaku berisiko IDU dan dalam banyak proses yang mempengaruhi perilaku ini. tokoh-tokoh masyarakat. dan pesan. Jika penilaian dilaksanakan pada interval yang teratur. sebagaimana yang telah dikatakan oleh Chapman (lihat Publikasi dan Situs Internet). Namun. “realitas yang kacau balau dari proses advokasi mendapatkan tandingannya dalam upaya menggambarkan. Sebuah alat untuk menjajaki perubahan dalam lingkungan kebijakan telah dirancang oleh Proyek POLICY: alat ini tidak khusus untuk pendekatan efektif dalam menghadapi HIV/AIDS di kalangan IDU namun alat ini mungkin bisa memberikan panduan untuk mereka yang tertarik pada evaluasi dampak (lihat Proyek POLICY: Menjajaki Kenya dalam Publikasi dan Situs Internet ). Evaluasi proses bertujuan memonitor pelaksanaan proses evaluasi sedangkan evaluasi dampak bertujuan untuk menilai dampak dan hasil dari kegiatan advokasi. evaluasi ini mencoba menunjukkan bahwa perubahan apa pun yang diamati pada populasi sasaran dapat dihubungkan dengan proses advokasi. para editor. Ini diperlukan untuk mengkaji strategi dan metode mana yang paling berhasil (dan seharusnya diperluas) ser strategi dan metode mana yang paling tidak berhasil (dan seharusnya dikurangi ta atau disesuaikan). Evaluasi proses menggambarkan dan memonitor cara di mana kegiatan dilaksanakan.BAB IX EVALUASI KEGIATAN ADVOKASI Evaluasi dapat membantu kelompok advokasi untuk menentukan apakah kegiatan telah berhasil dilaksanakan dan apakah ada perubahan yang harus dibuat pada tujuan khusus. Metode lain untuk melaksanakan evaluasi dampak ialah mengulangi penilaian yang telah digambarkan dalam Bab IV. pejabat Departemen Kesehatan. Evaluasi dapat dibagi dalam dua jenis. yaitu evaluasi proses dan evaluasi dampak. menilai. dan dengan secara kritis memikirkan laporan proses advokasi yang ditulis oleh para pelaksana advokasi itu sendiri. para repoter). sebuah tugas yang dia samakan dengan mengurai jaring laba -laba sambil mengenakan sarung tinju. kegiatan. dan mengevaluasi”. Chapman merekomendasikan bahwa evaluasi dampak advokasi dilaksanakan dengan mencoba menemukan perubahan persepsi dar individu kunci sepanjang waktu (seperti petugas kepolisian i senior. Evaluasi juga akan bisa mengukur efek advokasi (sebagai sebuah kegiatan penelitian atau untuk mempengaruhi penyandang dana untuk menyediakan dana bagi kegiatan advokasi selanjutnya). Evaluasi dampak mempunyai dua tujuan utama: • pertama adalah menilai dampak program dan mengetahui dengan pasti sejauh mana tujuan khusus telah dicapai. Masalah utama dengan evaluasi semacam ini adalah menunjukkan dengan jelas 59 .

Jenis evaluasi semacam ini dapat dilaksanakan secara informal pada pertemuan kelompok advokasi atau secara lebih formal dengan menggunakan kuisener terstruktur dan/atau FGD (lihat Sharam untuk beberapa contoh dalam Publikasi dan Situs Internet). sikap dan keyakinan mereka? Apakah ada sasaran advokasi baru untuk diantisipasi? • Apakah pesan yang diberikan menjangkau kelompok sasaran advokasi? Pesan mana yang paling diterima oleh sasaran ? Media dan metode apa yang paling berhasil untuk sasaran yang mana? • Apakah data disajikan secara meyakinkan? Apakah data ini mudah dimengerti? Apakah ada cara yang bisa digunakan untuk memperbaiki penyajian data? • Bagaimana keadaan koalisi advokasi? Apakah anggota koalisi merasa dilibatkan dalam proses advokasi? Apakah mereka merasa (paling tidak sebagian dari anggota koalisi) bertanggung jawab untuk keberhasilan dan kegagalan advokasi? Apakah ada cara untuk meningkatkan partisipasi anggota advokasi dalam kegiatan advokasi? • Peluang-peluang apa yang ada untuk advokasi yang belum didiskusikan? Apakah kelompok advokasi memberikan respon secara cepat dan sesuai pada peluang dan pada tantangan? • Apakah ada kegiatan advokasi lain yang dilaksanakan (yang tidak berhubungan dengan HIV/AIDS dan IDU) yang bisa dijadikan sumber pembelajaran oleh kelompok advokasi? Apakah kegiatan advokasi ini telah mencapai keberhasilan? Apa yang bisa dipelajari dari keberhasilan atau kegagalan mereka? 60 . pada waktu yang telah ditentukan (mungkin setiap enam bulan). Beberapa hal yang perlu didiskusikan: • Apakah tujuan masih sesuai? Apakah ada yang berlebihan? Apakah tujuan baru (atau subtujuan) diperlukan? • Apakah kegiatan yang sedang dilaksanakan terlihat akan mencapai tujuannya? Apakah prioritas kegiatan harus diubah? Apakah ada kegiatan yang harus dihentikan (sehubungan dengan ketidak efektifan atau karena kegiatan ini terlalu menghabiskan banyak waktu dan sumberdaya?) Apakah kegiatan baru perlu ditambahkan? • Dapatkah kelompok advokasi yang sedang berjalan ini mencapai semua kegiatan yang telah didaftar? Apakah diperlukan anggota baru? Apakah diperlukan keahlian baru? • Apakah cukup sumberdaya untuk melaksanakan semua kegiatan? Apakah cukup tersedia dana untuk saat ini dan untuk sisa periode advokasi? Apakah diperlukan penggalian dana lagi? • Apakah ada perubahan pada sasaran advokasi? Apakah kelompok advokasi telah mengetahui lebih banyak mengenai sasaran advokasi? Dapatkah peta kebijakan diperbaharui dengan sasaran advokasi baru dan pengetahuan baru mengenai sasaran. Untuk sebagian besar kelompok advokasi. lebih penting menggunakan evaluasi untuk memeriksa kemajuan dan arah dari kegiatan advokasi.perubahan apa yang telah dihasilkan (atau lebih tepat lagi seberapa besar perubahan ini telah dihasilkan) oleh kegiatan advokasi. kelompok ini dapat menyediakan waktu beberapa jam untuk memikirkan mengenai tujuan dan strategi kelompok ini. Advokasi ini harus dilaksanakan pada basis yang teratur. Sebagai contoh.

Di Indonesia obat ini diberikan di bawah pengawasan dokter atau psikiater yang telah mendapat pelatihan dan memiliki sertifikat. perawatan HIV dan layanan-layanan lainnya. Syndrome – sejumlah tanda dan gejala yang menunjukkan suatu kondisi penyakit tertentu.BAB X DAFTAR SINGKATAN DAN DAFTAR KATA-KATA A. Pemberiaan buprenorfin merupakan bagian dari suatu intervensi yang juga melibatkan konseling. baik karena hal-hal prinsip atau alasan-alasan lain. 61 . Pakistan. Penyuntikan burprenorfin juga merupakan obat pilihan utama di antara para IDU di India. perawatan kesehatan dasar. Abstinensia ( bebas dari penyalahgunaan NAPZA) Menahan diri dari penyalahgunaan NAPZA. Deficiency – kekurangan respon kekebalan terhadap agen penyakit. DAFTAR SINGKATAN IMS KIE LSM ODHA Ornop IDU PS UNAIDS UNGASS VCT WHO : Infeksi Menular Seksual : Komunikasi Informasi Edukasi : Lembaga Swadaya Masyarakat : Orang hidup dengan HIV/AIDS : Organisasi non-pemerintah : Penyalahguna NAPZA suntikan (Injecting Drug User – IDU) : Pekerja Seks : United Nations Program on HIV/AIDS : UN General Assembly Special Session on HIV/AIDS : Voluntary testing and counseling (Konseling dan tes HIV sukarela) : World Health Organisation B. Penjelasan ini bukan definisi resmi WHO. Bangladesh. Immuno – berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh yang memberikan proteksi terhadap agen pem bawa penyakit. heroin) untuk menstabilkan mereka dan mengalihkan penyuntikan atau metode yang berbahaya lainnya menjadi cara yang biasa atau cara oral. dan Nepal. AIDS AIDS adalah singkatan dari: Acquired – tidak diturunkan. Buprenorfin Obat yang digunakan sebagai pengganti untuk membantu penyalahguna opiat (misalnya. DAFTAR KATA-KATA Perlu dicatat bahwa penjelasan yang diberikan di bawah ini semata-mata untuk meningkatkan pemahaman dan pemanfaatan penyalahgunaan terminologi dalam panduan ini.

Dalam bahasa umum. kemampuan. dan kegiatan -kegiatan) Ketergantungan NAPZA Para pemakai yang tergantung pada NAPZA seringkali memiliki kontrol yang lemah dalam memakainya dan terus menggunakannya meskipun terdapat masalah yang bermakna berkaitan dengan NAPZA ini. istilah ini mengacu pada setiap zat yang berpotensi untuk mencegah atau menyembuhkan penyakit atau potensi untuk meningkatkan kesehatan fisik dan mental. Dosis Jumlah suatu zat yang dikonsumsi seseorang dalam periode tertentu Obat (drug) Dalam pengobatan. bahasa dan kebangsaan. istilah ini seringkali mengacu pada obat-obatan terlarang (Narkotika. Budaya Secara luas didefinisikan sebagai kebiasaan dan tingkah-laku dari sekelompok orang. dan pengharapanpengharapan mengenai bagaimana perempuan dan laki-laki seharusnya bersikap dalam berbagai situasi. tradisi. Penyalahguna yang mengalami ketergantungan dapat menjadi toleran terhadap zat tertentu dan dapat mengalami gejala putus zat (“sakau”) jika mereka tidak menggunakan zat itu untuk waktu yang lama. norma-norma. Anak-anak jalanan mungkin dapat dikatakan memiliki lebih dari satu budaya. keyakinankeyakinan. dan kebiasaan.Konseling Merupakan proses komunikasi interpersonal di mana seseorang yang memiliki masalah atau suatu kebutuhan dibantu untuk memahami situasinya dalam upaya untuk menentukan dan menggunakan solusi yang dapat dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan atau mengatasi masalah tersebut. Seorang penyalahguna NAPZA akan mengalami masa transisi yang sulit ketika ia menghentikan suatu zat atau mengurangi jumlah zat yang digunakan setelah pemakaian yang lama atau berlebihan. juga perbedaan dalam nilai-nilai bersama. Psikotropika dan Zat adiktif lainnya). Detoksifikasi Perawatan yang diberikan kepada seseorang yang mengalami ketergantungan selama periode pengurangan atau penghentian obat yang menimbulkan ketergantungan tadi dengan tujuan untuk menghentikan zat dengan aman dan efektif. misalnya budaya orangtua mereka dan beberapa budaya remaja (diwakili oleh kelompok dengan siapa mereka bergaul. 62 . Jender Ide dan pengharapan (norma) bersama yang luas mengenai perempuan dan laki-laki. etnik. Perbedaan dalam budaya dikarenakan adanya perbedaan dalam ras. istilah obat mengacu pada setiap bahan kimia yang merubah proses biokimia atau fisiologi dari jaringan tubuh atau organisme. Ini termasuk karakter-karakter feminin dan maskulin yang khas. yang sering digunakan untuk alasan non -medis (misalnya alasan rekreasional). Dalam farmakologi.

heroin) untuk menstabilkan penyalahgunaan NAPZA mereka dan mengalihkan 63 . pemecahan masalah. obat stimulansia (seperti amfetamin dan kokain). HIV Human Immuno-deficiency Virus menyerang sistem kekebalan dan secara pelahan-lahan menghancurkannya. Beberapa zat seperti bahan bakar yang mengandung timah. Intervensi Dalam materi ini. hubungan interpersonal. Penyuntikan NAPZA berbahaya terutama karena adanya risiko akan hepatitis. menguasai emosi dan mengatasi stress. Tubuh tak dapat mempertahankan diri melawan infeksi dan mengakibatkan suatu kondisi yang dikenal sebagai AIDS.Penyalahgunaan zat berbahaya Pola penyalahgunaan zat yang menyebabkan kerusakan pada kesehatan fisik dan mental termasuk cedera akibat kecelakaan dan penganiayaaan. Penasun (Pengguna NAPZA suntik) mungkin menyuntikkan obatobatan yang legal ataupun tidak. pengambilan keputusan. kontrol emosi atau tingkah laku seseorang. hepatitis B dan C) dan kondisi medis seperti abses/peradangan dan overdosis. terinfeksi virus yang menular melalui darah (seperti HIV. Metadone Obat yang dig unakan sebagai pengganti (substitusi) untuk membantu penyalahguna opiat (misalnya. meningkatkan harga diri. Merek mungkin a menyuntik secara intramuskuler (melalui otot) atau secara intravena (melalui vena/pembuluh darah). atau terapi/perawatan masalah yang berkaitan dengan penyalahgunaan NAPZA dan masalah kesehatan lain. obat depresan (seperti heroin dan benzodiazepines) atau obat-obatan lain seperti steroid. sebuah intervensi didefinisikan sebagai sebuah aksi atau kegiatan yang membantu dalam pencegahan. Ini termasuk pengambilan keputusan. empati. kesadaran akan diri sendiri. persepsi. komunikasi yang efektif. benzena dan pasta koka dapat mengakibatkan rusaknya kesehatan walaupun digunakan dalam jumlah yang sedikit. definisi yang luas dari IDU digunakan untuk mencakup orang-orang yang telah melakukan penyuntikan secara eksperimental atau melanjutkan penyuntikannya sekali-kali dan juga termasuk penyalahguna NAPZA yang telah mengalami ketergantungan hebat yang dapat menyuntik beberapa ka li dalam satu hari. IDU (Injecting Drug User) Seseorang yang menggunakan NAPZA dengan cara menyuntik. modifikasi. Keterampilan Hidup (Life skills) Kemampuan yang memungkinkan individu-individu mengatasi tuntutan dan tantangan kehidupan sehari-hari. Dalam materi -materi ini. Manifestasi khusus dari perubahan tersebut tergantung pada sifat dasar zat yang dikonsumsinya. Intoksikasi Keadaan di bawah pengaruh satu atau lebih zat. Terdapat perubahan pada kewaspadaan. keterjagaan. pemikiran. pemikiran kreatif. Penyalahgunaan NAPZA yang dihisap asapnya dapat mengakibatkan kelainan sistem pernapasan dan luka ba kar. HIV dan infeksi lain dari jarum yang terkontaminasi.

Perilaku yang biasa dan diterima disebut sebagai “norma”. dan air yang digunakan untuk mencampur bubuk heroin) diberikan kepada IDU melalui penjangkauan. Kelompok sebaya untuk seorang IDU biasanya adalah para IDU lain dengan usia yang hampir sama dan tinggal di lingkungan yang sama. para mantan penyalahguna NAPZA atau orang-orang yang dekat dengan komunitas yang menggunakan NAPZA dilatih untuk melaksanakan kegiatan edukasi informal atau mengadakan kegiatan edukasi mengenai berbagai topik yang berkaitan dengan kesehatan para IDU (dalam kelompok kecil atau individual). Seringkali disertai dengan kembali ke tingkat penyalahgunaan NAPZA dan ketergantungan yang telah ada sebelumnya 64 . baik secara sengaja maupun tidak sengaja dalam jumlah yang lebih banyak dari yang biasa digunakan oleh seseorang. Dalam beberapa program. dan dimulai dengan menentukan tujuan yang menguntungkan IDU dengan suatu cara tertentu. unit-unit bergerak seperti mobil van dan bis. perawatan kesehatan dasar. perawatan HIV dan layanan lainnya. klinik atau pos-pos khusus. Kelompok sebaya Orang-orang yang sama dengan ‘dirinya sendiri’. Overdosis bisa mengarah pada kematian. Ini mengakibatkan dampak fisik atau mental yang merugikan secara akut. dan mungkin mengandung konsekuensi jangka pendek atau jangka panjang. Pendidikan sebaya Para IDU. Program Kegiatan spesifik atau bertahap yang direncanakan. Obat ini diberikan di bawah pengawasan dan sebagai bagian dari suatu intervensi yang melibatkan konseling. Kebanyakan program jarum suntik steril termasuk layanan untuk mengumpulkan jarum suntik bekas. Overdosis Penyalahgunaan NAPZA. Jumlah NAPZA yang dapat mengakibatkan kematian berbeda-beda pada setiap individu. Program Jarum Suntik Steril Sebuah intervensi di mana jarum suntik dan peralatan suntik lain (sepe rti kapas beralkohol untuk membersihkan lokasi penyuntikan. dan atau mesin penjualan. Kekambuhan (Relapse ) Kembali menggunakan NAPZA atau minum minuman beralkohol lain setelah suatu periode abstinensia di luar periode detoksifikasi.penyuntikan atau metode penyalahgunaan NAPZA yang berbahaya lainnya menjadi ke cara oral. Masing-masing kelompok sebaya memiliki peraturan sendiri yang tidak tertulis mengenai cara NAPZA digunakan dan mengenai perilaku yang diterima dan tidak diterima. IDU harus memberikan atau didorong untuk memberikan jarum suntik bekas sebelum mereka bisa mendapatkan jarum suntik baru: program ini dis ebut program pertukaran jarum suntik (perjasun).

NAPZA atau komoditas lain. seperti depresi. hostel-hostel. Beberapa zat adalah legal. seperti heroin dan kokain. 65 . atau kekerasan fisik atau seksual di rumah. gemetaran. Anak jalanan Anak jalanan bisa ber arti benar-benar hidup di jalanan . Zat Produk yang mempengaruhi sistem saraf pusat (psikoaktif) seperti proses pikir. kepadatan. perasaan. seperti gedung -gedung yang telah ditinggalkan. dan yang lainnya ilegal. berkeringat. dan tempat lain. seperti obat-obatan yang telah diakui dan rokok. benzodiazepin atau produk industrial seperti lem. Suatu zat dapat berupa obat seperti morfin. masih berhubungan dengan keluarga mereka namun menghabiskan sebagian besar waktu di jalanan karena masalah kemiskinan. Putus zat Masalah -masalah yang dialami oleh seseorang pada penghentian atau pengurangan jumlah penyalahgunaan suatu jenis NAPZA setelah suatu periode penyalahgunaan yang panjang atau berlebihan.Pekerja seks Seseorang yang melayani seks dengan uang. Pekerja seks bisa lakilaki atau perempuan atau transjender/waria. emosi serta sikap dan perilaku. rasa sakit dan lain -lain. ditinggal oleh keluarga mereka atau mereka tidak lagi mempunyai keluarga yang masih hidup. kejang. Zat-zat yang berbeda mempunyai manifestasi spesifik. terpisah dari keluarga mereka dan pindah dari teman ke teman atau hidup di tempat perlindungan.

Web site: http://www.ahrn. Geneva 2000 Burrows D. International Harm Reduction Development (OSI/IHRD) NY 2000. Washington. Arlington. HIV risk reduction in injecting drug users. 39 July/August 2001 Burrows D. In GV Stimson. In: Proceedings of Global Research Network on HIV/AIDS and Drug Use Durban Meeting July 2000. D Des Jarlais and A Ball (Eds) Drug Injecting and HIV Infection: Global C Dimensions and Local Responses UCL Press. Dorabjee J and Wodak A.org/en/aids/aidscap/aidspubs/handbooks/bccpol. Starting and Managing Needle and Syringe Programmes: A guide for Central and Eastern Europe and the newly independent states of the former Soviet Union Open Society Institute.fhi. Dalam bahasa Inggris.soros. Dorabjee J and Wodak A.pdf AIDSCAP Making prevention work: Global lessons learned from the AIDS Control and Prevention (AIDSCAP) Project 1991 -1997. strategies and activities. Rusia. Virginia: Family Health International 2002 Ball A. Walking on two legs: a developmental and emergency response to HIV/AIDS among young drug users in the CEE/CIS/Baltics and Central Asia Region: A review paper UNICEF. Web site: http://www.BAB XI PUBLIKASI DAN SITUS INTERNET AFAO/NAPWA (Australian Federation of AIDS Organizations/ National Association of People Living with HIV/AIDS in Australia) Advocacy Guide to the Asia-Pacific Ministerial Statement on HIV/AIDS Sydney 2002.pdf AIDSCAP Policy and advocacy in HIV/AIDS Prevention Behaviour Change Communications (BCC) Handbook. Advocacy for harm reduction: objectives. National Institute on Drug Abuse. Tidak ada tanggal.org/en/aids/aidscap/aidspubs/special/lessons/chap4.org/harm-reduction/ 66 . Web site:http://www. DC 2001. Ensayos y Experiencas No. London 1998 Burrows D and Alexander G.net/AdvocacyGuideMinisterial. Chapter 4: Policy development and HIV/AIDS prevention: creating a supportive environment for behaviour change. Herramientas para abogar por los derechos de los usuarios de drogas en relacion con la epidemia de VIH/SIDA. Juga diterbitkan dalam bahasa Spanyol sebagai: Burrows D. dan Slovakia. New York NY 10019 USA. Dari OSI/IHRD 400 West 59th St. Policies and interventions to stem HIV-1 epidemics associated with injecting drug use. In: Lamptey PR and Gayle H (Eds) HIV/AIDS Prevention and Care in Resource-Constrained Settings.fhi.html Ball A and Crofts N. 1998 Web site: http://www.

org/docs/AdvocatesGuide -English.gnpplus.Canadian HIV/AIDS Legal Network. hukum kriminal.drugtext. 11-15 March 2002. penjara. HIT Liverpool 1999.edu. Vienna.pdf h ICASO (International Council of AIDS Service Organizations) An Advocate’s Guide to the International Guidelines on HIV/AIDS and Human Rights Toronto 1999. Focuses on the economics of HIV/AIDS prevention and treatment. pekerja seks komersil.pdf Commission on Narcotic Drugs Resolution on HIV/AIDS and Drug Abuse 45th Session. gay dan lesbian.icaso.icaso.pdf h International HIV/AIDS Alliance Advocacy in Action: A toolkit to support NGOs and CBOs responding to HIV/AIDS Brighton 2001 Web site (19 dokumen yang terpisah): http://www. Web site:http://www. Web si e: t http://www. Web site: http://www. Juga tersedia dalam bahasa Perancis dan Spanyol. Vietnam. Chiang Mai. Melbourne/ Chiang Mai 1999. Macfarlane Burnet Centre for Medical Research and Asian Harm Reduction Network. stigma dan diskriminasi. Hanya dalam bahasa Inggris. The Safer Injecting Briefing. providing data.ca/Maincontent/infosheets.org/ungass/advocacyeng.com/web/pb4/eng/4782D096-C740-41A5-AF06-D67C14B46DB8. Crofts N and Reid G.html Costigan G.net/ International AIDS Economics Network. Berbagai macam publikasi termasuk mengenai HIV/AIDS dan IDU.htm 67 . Web site: ttp://www. Manual for reducing drug-related harm in Asia. Web site: http://www. Web site: http://www. Advocacy in public health: roles and challenges International Journal of Epidemiology 2001: 30: 1226-1232. Mathew Street.net/ Derricot J. tools.htm Chapman S.org/books/needle/ Global Network of People Living with HIV/AIDS. Thailand 50200.health. and analysis for researchers and policymakers. Tersedia langsung dari HIT Cavern Walks.org/ ICASO (International Council of AIDS Service Organizations) Advocacy Guide to the Declaration of Commitment on HIV/AIDS Toronto 2001. Jaringan orang yang hidup dengan HIV/AIDS dan sumber-sumber yang berhubungan dengan keterlibatan ODHA dalam advokasi dan program-program. Dalam bahasa Inggris. Liverpool L2 6RE juga dalam Web sitehttp://www.aidsmap. PO Box 235 Phrasingha Post Office. Web site: ttp://www.ahrn.iaen.au/tobacco/worddocs/IJE. Juga tersedia dalam bahasa Perancis dan Spanyol. Tersedia dari Asian Harm Reduction Network.net/drugcontrol. dan Mandarin (dengan edisi-edisi baru dalam bahasa-bahasa di Asia lainnya segera).usyd. Preston A and Hunt N. Web site (termasuk saluran ke Statement and pidato-pidato yang berhubungan): http://ahrn. Thailand.aidslaw. isu-isu yang berhubungan dengan pekerjaan untuk para petugas kesehatan. The Centre for Harm Reduction.

cfm Preston A. Web site: http://www. 20 avenue W Appia. orld Health Organization/UNAIDS Geneva 1997. Web site: http://www.htm Sharma RR.who. Web site: ttp://sara. Tersedia dalam bahasa Inggris dan Rusia.Johns Hopkins Centre for Communications Programs “A” frame for Advocacy. Diakses pada tanggal 7 May 2002.pactworld.kit.com/pubs/AdvocacyManual. Rapid Assessment and Response Guide on Injecting Drug Use.aed. Web site: http://www. Web site: http://www. CH-1211 Geneva 27.cfm?topic=HIV Choose Assessing the HIV/AIDS Policy Environment in Kenya POLICY Project HIV/AIDS Toolkit: Building Political Commitment for Effective HIV/AIDS Policies and Programs Washington DC 2000.uk/ Pact Survival is the First Freedom: Applying Democracy and Governance Approaches to HIV/AIDS work Washington.hivtools. Web site: www. Tidak ada tanggal.int/home/ United Nations preventing the transmission of HIV among drug abusers: A position paper of the UnitedNations System Annex to the Report of 8th Session of Administrative Committee on Co. Indeks dan pengenalan: http://www. An Introduction to Advocacy: Training Guide .unaids. Web site: http://www. Liverpool L2 6RE.lshtm.policyproject. ordination Subcommittee on Drug Control 28-29 September 2000 Web site: http://www.jhuccp.org/books/methadone/ default. Tersedia langsung dari HIT Cavern Walks. Web site: http://www.nl/health/html/aids_.com/byTopic. From WHO/ UNAIDS. Switzerland. Methadone Briefing HIT Liverpool 1997.doc 68 . cost effectiveness studies and mathematical simulation models. Kumpulan yang terdiri dari sembilan halaman web yang memberikan gamba ran singkat langkah -langkah dalam advokasi untuk kesehatan masyarakat.org/Aidscorps/tool_kit.asp London School of Hygiene and Tropical Medicine HIV Tools Research Group: costing guidelines.policyproject. Fitch C and Rhodes T (Eds).org/publications/documents/specific/injecting/Hraids.com/byTopic.org/sara_pubs_list_sara_5.htm h Stimson G.ac. DC 2001 Web site: http://www. USAID Africa Bureau Office of Sustainable Development.drugtext. Mathew Street. Juga dalam bahasa Spanyol dan Perancis. Support for Analysis and Research in Africa. Washington DC 1997.org/pr/advocacy/index.policyproject.stm KIT Health UNAIDS Catalogue for Local Responses to HIV/AIDS Amsterdam.cfm?topic=HIV Choose HIV/AIDS Toolkit: Building Political Commitment POLICY Project Networking for Policy Change: an advocacy training manual Washington DC 1999.htm POLICY Project Assessing the HIV/AIDS Policy Environment in Kenya Washington DC 2000.

Bangladesh.html#inj UNAIDS/ODCCP Drug Abuse and HIV/AIDS: Lessons Learned Case studies Booklet: Central andEastern Europe and the Central Asian States 2001 Web site: http://www.unaids. China.United Nations ACC Guidance Note for United Nations System Activ ities to Counter the World DrugProblem Administrative Committee on Co-ordination.unaids.unaids. 1986 Web site: http://www. Asia region. Nepal. Web site: http://www. Perancis. Rusia). V.org/bestpractice/digest/table.who.pdf UNFPA Advocacy Series Collection. Southern Cone countries (Latin America). Web site: http://www.who. Geneva 2001.org/dpa/frontpagearchive/2001/june/22june01/hiv-aids. Web site: http://www. and Rhodes. Web site: http://www.pdf UNAIDS Best Practice Collection Six best practice studies on HIV/AIDS and injecting drug use in China. Belarus. Web site: http://unaids. Perancis. Web site: http://www.net/Final-Guidance-Note -layed-out2.ahrn.html WHO (World Health Organization)/ UNAIDS The Rapid Assessment and Response Guide on Injecting Drug Use (RAR -IDU) Eds Stimson. 1997 (Juga dalam bahasa Portugis. Fitch. Juga dalam bahasa Spanyol.pdf UNAIDS Drug use and HIV/AIDS UNAIDS Statement presented at the UN General Assembly Special Session on Drugs June 1998 Geneva. Spanyol.unaids.org/UNGASS/index.int/substance_abuse/pubs_prevention_assessment.unfpa. G. Nepal.html UNAIDS/UNDCP Drug use and HIV Vulnerability: Policies in Seven Asian Countries UNAIDS APICT.htm 69 . Geneva.htm Includes: Preventing Infection. dan Rusia.undp.pdf UNAIDS Best Practice Collection: Injecting Drug Users (5 papers covering cost-effectiveness.org/publications/documents/health/access/Drug.unaids.int/hpr/archive/docs/ottawa. C. Asia. and Spanyol).pdf United Nations General Assembly Special Session on HIV/AIDS Declaration of Commitment (dalam bahasa Inggris.org/publications/advocacy. tml#inj h UNDP HIV/AIDS: Implications for Poverty Reduction Background Paper prepared for UNDP for UN General Assembly Special Session on HIV/AIDS 25-27 June 2001. Rusia. Web site: http ://www. Promoting Reproductive Health UNFPA Response to HIV/AIDS WHO (World Health Organization) The Ottawa Charter on Health Promotion Geneva.org/publications/documents/specific/injecting/JC673-DrugAbuse-E. Web site: http://www. and Southern Cone of Latin America) Geneva Web site: http://www.org/bestpractice/digest/table.org/publications/documents/specific/injecting/una99e1. Bangkok 2001.. T.

net/ Asian Harm Reduction Network http://www. Geneva WHO/MSD/MSP/00.lt/ceehrn.voxpopuli. Dalam persiapan JARINGAN-JARINGAN HARM REDUCTION International Harm Reduction Association Jaringan global.org/ Latin American Harm Reduction Network (Spanyol dan Portugis) http://www.harmreduction.au/ 70 . termasuk hubungan ke jaringan-jaringan harm reduction regional dan International Conference on the Reduction of Drug Related Harm http://www. Sexual and Reproductive Health.chr.com/ Central and Eastern European Harm Reduction Network (dalam bahasa Inggris dan Rusia) http://www.ahrn. including HIV/AIDS and STIs.WHO (World Health Organization) Working with Street Children: Introduction A training Package on Substance Use.relard.ihra.14 WHO (World Health Organization) Evidence for Action on HIV Prevention among IDUs 12 papers.net/ Oceania Harm Reduction Coalition (Australasia/ Pacific) http://www.net/ Canadian Harm Reduction Network http://www.canadianharmreduction.asn.org/ Harm Reduction Coalition (USA) http://www.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful