You are on page 1of 15

Kiitik Sastia

BAB II
Semiotik (Simiyulujiyyah)
1. %eori Semiotika Secara Umum
a. Peristilahan, Pengertian, Fungsi, dan pemukanya
Semiotic dalam kamus sastra Arab seperti kamus Mustalahat al-Adab karya Majdi
Wahbah disebut dengan ilm al-alamat atau ilmu tanda. di barat, kata semiotic
diperkenalkan oleh Charles Sanders Peirce di Amerika Serikat. di dalam buku-buku teori
atau kritik sastra Arab, seperti di sebut Salah Fadal, selain istilah ilm al-alamat, juga di
kenal dengan istilah ilm al-syarat dan simiyulufiyyah, kata serapan arab dari semiologi,
suatu istilah yang pengertiannya sama dengan semiotic. kata semiologi diperkenalkan oleh
Ferdinand de Saussure di Prancis. Di samping itu, semiotic dalam bahasa Arab juga dikenal
dengan istilah simaiyah (dengan menggunakan ham:ah), yang makna awalnya adalah
sesuatu yang berhubungan dengan Iirasat, Garib Iskandar dan Abd ar-Rahman Bu`ali,
misalnya menggunakan kata simiyaiyyah. Karena banyaknya istilah itu, Salah Fadal
mengusulkan untuk menggunakan kata simiyulufiyyah saja karena dihawatirkan dipahami
secara keliru.
1
Kata terakhir inilah yang dipakai dalam buku ini sebagai penerjemahan kata
semiotic.
Semiotic berasal dari bahasa Yunani, seme, yang berarti penaIsir tanda. Literatur lain
menyebut dari kata semeion, yang berarti tanda. Berdasarkan arti leksikal itu, semiotic
dideIinisikan Aart Van Zoest
2
sebagai ilmu tentang tanda dan segala yang berhubungan
dengannya; cara-cara berIungsinya, hubungannya dengan tanda lain, pengirimnya, dan
penerimaannya oleh mereka yang menggunakannya. Paul Cobley dan Litza Janz
mendeIinisikan semiotic sebagai studi sistematis mengenai produksi dan interpretasi tanda,
bagaimana cara kerjanya, dan apa manIaatnya terhadap kehidupan manusia.
3
Sedangkan
yang dimaksud tanda adalah segala sesuatu yang dapat diamati dan didentiIikasi.

1
Salah Fadal, a:ariyyah al-Binaiyyah fi an-aqd al-Adabi, Tanpa tempat: Dar as-Syuruq, Tth., 297, Roland Bart dkk,
a:ariyyat al-Qiraah.Min al-Binyawiyah ila famaliyah at-talaqqa, terjemahan Abd ar-Raman Bu`ali, Damaskus: Dar al-Hiwar,
2003, dan Garib Iskanda.
2
Aart Van Zoest, 'Interpretasi dan Semiotik, Dalam Panuti Sudjiman dan Aart Van Zoest (Ed.). Serba Serbi
Semiotik. Jakarta: Gramedia, 1996, hlm. 5,9,11.
3
Nyman Kutha Ratna, Teori, Metode, dan Tekhnik Penelitian Sastra, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004, hlm. 97
Kiitik Sastia

Pendapat yang sama disampaikan oleh Umberto Eco. Menurutnya, yang dimaksud
tanda adalah sesuatu atas dasar konvensi masyarakat dapat mewakili sesuatu. Dengan
mengutip pendapat Morris, katanya lebih lanjut, sesuatu menjadi atau dapat menjadi tanda
kalau ditaIsirkan sebagai tanda oleh beberapa interpreter. Jadi, semiotika dengan demikian
tidak hanya menyangkut studi tentang objek tertentu, bahasa misalnya, tetapi studi tentang
objek pada umumnya asalkan objek itu merupakan bagian semiosos, yaitu, proses
pemaknaan tanda, seperti dinyatakan Peirce, yang bermula dari persepsi atas dasar,
kemudian dasar merujuk pada objek, akhirnya terjadi proses interpretan.
4
Berdasarkan
hubungan antara dasar dan objek itu, tanda terbagi pada tiga jenis: indeks, ikon, dan
lambang sebagaimana nanti akan dijelaskan. Lebih lanjut, Eco menerangkan bahwa
semiotika menjadi teori umum tentang kebudayaan dan setiap aspek kebudayaan yang
menjadi sebuah unit semantic dapat dikaji dengan sempurna secara semiotic. Karena itulah,
wajar jika semiotic di pakai sebagai teori untuk studi, bukan saja sastra, mungkin juga yang
lain seperti antropologi dan seni.
Kegunaan semiotic, sebagaimana pendapat Charles Sanders Peirce yang dikutip
Zoest dan Eco, bahwa kita hanya dapat berpikir dengan sarana tanda. Karena itu, tanpa tanda
kita tidak akan dapat berkomunikasi. Tandalah yang memungkinkan kita berpikir,
berhubungan dengan orang lain, member makna pada apa yang ditampilkan oleh alam
semesta. Tanda-tanda dimaksud bukan saja tanda-tanda linguistic, sebagai kategori paling
penting yang mempunyai kelebihan dari sistem tanda lainnya, tetapi juga, seperti telah
disinggung, tanda pada umumnya. Oleh sebab itu, mengingat semiotic merupakan ilmu
tentang tanda, maka lewat semiotika, komunikasi serta signiIikasi menjadi lebih gambling.
Lebih dari itu, menurut Hjelmslev sebagaimana dikutip Meuleman, dalam studi teks,
termasuk didalamnya suatu korpus secara umum, pendekatan semiotik sangat membantu dan
hasilnyapun lebih memuaskan. Ini, karena pendekatan semiotic memandang suatu teks
sebagai keseluruhan dan sebagai sesuatu system dari hubungan-hubungan intern. Pendekatan
tersebut memungkinkan untuk memahami banyak aspek dari suatu teks yang tidak dapat
ditangkap atas dasar suatu analisis yang bertolak dari unsure tertentu yang terpisah dan
berdiri sendiri dari teks yang bersangkutan. Kelebihan lain, menurut Arkoun, adalah bahwa

4
Pariz Pari, 'Semiotik sebagai Metode Analisis Keagamaan, alam Mimbar Budaya dan Agama, Jakarta: IAIN
Jakarta, 1998, hlm. 16, 13-14.
Kiitik Sastia

analisis semiotic, membuat kita mendekati suatu teks, tanpa interpretasi tertentu sebelumnya
atau praanggapan lain.
5

Ada banyak pemuka semiotic. Di antaranya adalah Charles Sanders Peirce (1893-
1914), seorang ahli IilsaIat beraliran pragmatis berkebangsaan Amerika dan Ferdinand de
Saussure (1857-1913), seorang pendiri linguistic modern dan paham strukturalisme
berkebangsaan Prancis. Keduanya merupakan pelopor. Sedangkan pengikut-pengikutnya
yang mengembangkan pikiran keduanya adalah Hjelmslev (1819-1965), seorang
strukturalisme Denmark, Roland Barthes (1915-1980), Ch. Morris, Umberto Eco,
6
dan di
Indonesia Aart van Zoest, seorang ahli semiotic belanda yang beberapa semester menjadi
dosen tamu di Universitas Indonesia.
Dari para pemuka itu, lahirlah teori-teori semiotic. Namun, sampai saat ini yang
menjadi patokan, sebagai teori utama, adalah yang lahir dari dua pelopor semiotic, yaitu
Peirce dan de Saussure, dan satu lagi dari Roland Barthes.
b. Teori Dasar Umum Semiotika, Termasuk di dalamnya untuk Sastra
1)%eori %anda dari Charles Sanders Peirce
Menurut Peirce, semiotika adalah tindakan, pengaruh, atau kerjasama tiga subjek:
tanda, objek, dan interpretan, atau antara penanda, petanda, serta acuannya. Sedangkan yang
dimaksud tanda, Peirce mendeIinisikannya sebagai berikut: 'Saya mendeIinisikan tanda
sebagai apa pun yang ditentukan oleh sesuatu yang lain, yang disebut objek. Jadi,
menurutnya, apapun, Fisik atau pikiran, dapat disebut tanda. Selanjutnya, Pierce melihat
proses pemaknaan tanda secara trikhotomis dan dinamis. Setiap tanda diberi makna oleh
manusia dengan mengikuti proses yang disebutnya semiosis. Yang dimaksud semiosis
adalah proses pemaknaan tanda yang bermula dari persepsi atas dasar, kemudian dasar
merujuk pada objek, akhirnya terjadi proses interpretan. Berdasarkan hubungan antardasar
dan objek itu, Peirce, sebagaimana telah disinggung di atas, membagi tanda menjadi tiga
jenis;
a) Ikon; bila ada hubungan kemiripan identitas antara dasar dan objeknya, misalnya Ioto
sesorang atau peta.

3
Johan H. Meuleman, 'Riwayat Hidup dan Latar Belakang Mohamed Arkoun, Dalam Pengantar untuk Mohamed
Arkoun, alar Islam dan alar Modern, Berbagai Tantangan dan Jalan Baru, Jakarta: INIS, 1994, hlm. 15-16.
6
Riwayat Hidup para pemuka Semiotik beserta karyanya bisa di lihat dalam buku Kris Budiman, Kosa Kata
Semiotikka, Yogyakarta: LKiS, 1999. hlm 23.
Kiitik Sastia

b)Indeks; bila ada hubungan kausal antara dasar dan objeknya, atau bila ada hubungan
eksistensi, misalnya asap indeks dari kebakaran atau tiang penunjuk jalan.
c) Lambang; bila hubungan antara dasar dan objeknya berdasarkan konvensi, misalnya
anggukan kepala untuk menunjukan persetujuan, atau tanda-tanda bahasa, atau rambu-
rambu lalu lintas.
berdasarkan hubungan di atas, bagi peirce tanda adalah representative dan juga
interpretative. Tanda tidak hanya mewakili sesuatu, tetapi juga membuka peluang bagi
penaIsiran kepada yang memakai dan menerimanya.
Mengenai tingkat pemahaman dan keberlakuan suatu tanda, berkaitan dengan tingkat
upaya manusia memahami dunianya. Tingkat yang di maksud ada tiga, yaitu kepertamaan
firstness), kekeduaan secondness), dan keketigaan thirdness). kepertamaan adalah tingkat
kepahaman dan keberlakuan yang bersiIat 'kemungkinan, 'perasaan, atau 'masih
potensial. kekeduaan adalah tingkat pemahaman dan keberlakuan yang sudah
'berkonIrontasi atau berhadapan dengan kenyataan atau merupakan 'pertemuan dengan
dunia luar atau ' apa yang berada. Sedangkan keketigaan adalah tingkat pemahaman dan
keberlakuan yang sudah bersiIat 'aturan atau 'hokum atau 'yang sudah berlaku umum.
7

Dalam konteks sastra Arab, symbol-di mana hubungan antara penanda dan petanda
terjadi karena konvensi sastraterutama banyak terdapat dalam sastra suIistik. Ikon terdapat
dalam gaya bahasa tasyibih atau istiarah, yang penjelasan keduanya ada di muka. Ikon juga
terdapat dalam hubungan antara judul dengan teks sastranya. Sedangkan indeks, antara lain
terdapat dalam mafa: mursal, yang penjelasannya ada di muka, dan juga dalam hubungan
antara sejarah hidup (retrospeksi) pengarang, lingkungan sosialnya, serta visinya dengan
karya sastranya.
Namun, dalam penelitian sastra dengan pendekatan semiotic ala peirce, yang paling
operasional khususnya untuk prosa Iiksi adalah penelitian terhadap indeks. Indeks adalah
bidang yang paling banyak diburu dalam penelitian sastra. Yang dimaksud indeks adalah
tanda-tanda yang menunjukan hubungan sebab akibat. Misalnya untuk mengambil
kesimpulan bahwa tokoh dalam novel yang dikaji seorang dokter, harus dicari istilah-istilah
kedokteran yang sering diucapkannya, alat-alat kedokteran dan jas putih yang biasa
dipakainya, pasien yang diobatinya, dan lain-lain.

7
Salah Fadal, Manahif an-aqd al-Muatsir, Kairo: Dar al-AIaq al`Arabiyah, 1997, hlm. 115-121.
Kiitik Sastia

)%eori penanda dan petanda dari Ferdinand de Saussure
Sebagai seorang pakar linguistic modern, de Saussure memulai teori tandanya
dengan mengatakan bahwa bahasa merupakan system tanda yang mengungkapkan ide-ide
dan dapat dibandingkan dengan tulisan, abjad tuna rungu, ritus simbolik, bentuk sopan
santun, isyarat militer, dan seterusnya. Hanya saja, bahasa adalah yang paling penting
diantara system-sistem ini. Saussure menambahkan bahwa teori tentang tanda linguistic
perlu menemukan tempatnya pada teori yang lebih umum dan untuk hal ini, ia mengusulkan
semiologi.
Baginya, tanda adalah yang mempunyai dua makna. Artinya, tanda dideIinisikan
sebagai kesatuan dari dua unsure: significant dan signifie. Signifiant adalah realitas yang
diserap dari suatu kata (yang diperbalkan atau yang ditulis), dan signifie adalah makna yang
dapat ditemukan dalam kamus.
8
Secara bahasa, signifiant bisa diterjemahkan dengan
penanda dan signifie dengan petanda.
Jelasnya, sebagaimana yang ditulis K.Bertens,
9
significant adalah bunyi yang
bermakna atau coretan yang bermakna. Signifiant merupakan aspek material dari bahasa
(apa yang dikatakan atau didengar dan apa yang ditulis atau dibaca). Sementara signifie
merupakan aspek mental dari bahasa.
Dengan demikian, de Saussure tidak setuju dengan pendapat popular, suatu bahasa
menunjuk pada benda dalam realitas. Kata pohon, misalnya menunjuk pada pohon
Flamboyan yang berdiri disitu. Akan tetapi, ia menekankan bahwa suatu tanda bahasa
bermakna bukan karena reIerensinya pada realitas. Suatu konsep biasanya mendahului kata-
kata.
Yang harus di perhatikan ialah bahwa dalam tanda bahasa yang kongkrit, kedua
unsure penanda dan petanda tadi tidak bisa di lepaskan. Tanda bahasa selalu mempunyai dua
sisi tersebut. Suatu signifiant tanpa signifie tidak berarti apa-apa dan karenanya tidak
merupakan tanda. Sebaliknya, suatu signifie tidak mungkin bisa disampaikan atau ditangkap
lepas dari signifiant. Keduanya bagaikan dua sisi dari sehelai kertas, kata Saussure.
Mengenai hubungan di antara keduanya adalah arbitrer, bukan nature (kesemenaan
absolute). Ini di pertentangkan dengan tanda ' bahasa yang mempunyai motivasi. Tanda

8
Aart Van Zoest, 'ReIleksi atas Semiotik, alam Jurnal Filsafat. Posmodernisme, Jakarta: Unas, 1990, hlm. 55.

K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX, Jilid II, Prancis, Jakarta: Gramedia, 1996, hlm. 180-181
Kiitik Sastia

bahasa jenis tersebut disebut symbol. Pada symbol ada keterkaitan antara signifiant dan
signifie. Timbangan, misalnya merupakan symbol untuk keadilan. Kata timbangan itu tidak
bisa diganti dengan sembarang objek atau petanda. Di samping dua hal diatas, ada juga
tanda bahasa yang tidak semena total. Contohnya seperti kata bilangan Thirteen dan twenty
five, karena di dalamnya terkandung unsure satuan dengan belasan atau satuan dengan
puluhan.
Yang di maksud symbol, menurut de Saussure agaknya sebanding dengan indeks
oleh peirce. Sastrawan terutama sastrawan alegoris (kiasan) atau simbolik banyak
menggunakan bahasa dalam pengertian Peirce.
Konsekuensi dari teori penanda dan petanda dari de Saussure di atas, karenanya,
sangat besar. Hal ini karena teori ini membersihkan bahasa dari segala unsure ekstra lingual
(luar bahasa). Bahasa menjadi otonom. Fenomena bahasa dapat dianalisis dan dijelaskan,
tanpa mendasarkan diri di atas apapun yang letaknya di luar bahasa, seperti subjek yang
berbicara misalnya.

)%eori Mitos dari Roland Barthes dan Paul Ricoeur
Barthes melihat secara eksplisit relasi antara signifiant dan signifie dalam satu system
E-R-C expression-relation-content). Setiap pemakaian tanda mencakup pola E-R-C itu.
Menurutnya, tanda dalam masyarakat dipahami dan ditaIsirkan pada dua system, yaitu (a)
system primer, pada waktu tanda diproduksi dan dipahami pada taraI pertama (disebut
denotasi); (b) system sekunder, pada waktu tanda itu dikembangkan segi expression
(metabahasa)-nya dan pada waktu tanda itu menerima content baru sebagai akibat perluasan
content (disebut konotasi). system primer hanya ada satu, sedangkan system sekunder ada
dua jenis, yaitu konotasi dan metabahasa. Sistem sekunder ini berkembang dalam suatu
masyarakat dan system semiotic sekunder atau tingkat kedua itu disebut Barthes sebagai
mitos.
Konotasi tersebut adalah penilaian yang diberikan oleh pemakai atau penerima tanda
terhadap tanda itu. Dengan menggunakan kerangka teori Hjelmslev, Barthes
menggambarkan konotasi sebagai perluasan content baru. Dengan demikian, relasi (R) E
dengan C menjadi berubah sesuai dengan apa yang diberikan pemakai konotasi. Konotasi ini
dapat di gambarkan sebagai berikut.
Kiitik Sastia


Sistem Sekunder (konotasi)
E2 (R2) C2
E2 (R2) C2
Sistem Primer (bahasa objek)
Sedangkan metabahasa terjadi bila dalam sebuah kebudayaan terjadi pengembangan
segi expression dengan content yang sama dalam system sekundernya. Metabahasa terjadi
pada wilayah ilmu pengetahuan, di mana content tetap di pertahankan hubungannya dengan
expression merupakan expression itu berubah-ubah. Misalnya hal itu terjadi pada
peristilahan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menggunakan berbagai
istilah/nomenklatur (tata nama), tetapi tetap menegaskan kejelasan hubungan (relasi)-nya
dengan content. Jadi, siIat R antara C dan E tetap konsisten bertolak dari bahasa objek pada
system primer. Metabahasa dapat di gambarkan sebagai berikut.
Sistem Sekunder (metabahasa)
E2 (R2) C2
E1 (R1) C2
Sistem Primer (denotasi)
Dalam proses memahami pemitosan makna content), yaitu konotasi, secara
metodologis kita dapat memasukan konsep semiosis berlanjut dari peirce. Dengan demikian,
kita melihat pemitosan terjadi dengan dukungan semiosis berlanjut.
Teori mitos Barthes ini di kembangkan lagi oleh Paul Ricoeur (lahir 1913) dengan
menggunakan symbol, yaitu sesuatu yang memiliki makna ganda. Mitos, kata Ricoeur,
adalah symbol sekunder. Maksudnya cerita yang membeberkan symbol primer. Dalam
pikiran manusia, mitos telah terjadi penyembahan 'idola-idola (segala sesuatu yang di
sakralkan meski tidak layak dipuja).
Dalam semiotic, seperti halnya dalam antropologi, mitos adalah khas kelompok
social tertentu yang menjelaskan berbagai hal utama dalam kehidupannya yang berIungsi
mengarahkan dan meggerakkan tingkah lakunya. Mitos bukanlah serangkaian Iakta
melainkan berbagai symbol atau lambang. Mitos karenanya tidak berarti berita tak benar
belaka. Mitos merupakan hasil pengolahan kembali bebagai peristiwa dan keadaan konkret
Kiitik Sastia 8

yang dialami kelompok tertentu sedemikian rupa sehingga mendapatkan makna lebih dalam
dan umum.
Menurut Aart Van Zoes, mitos adalah sebuah cerita yang di dalamnya sebuah
ideology terwujud. mitos yang rangkai merangkai menjadi mitologi-mitologi memainkan
peran penting dalam kesatuan-kesatuan kebudayaan. Mitos dengan beberapa cara dapat
menyatakan diri sebagai teks. Teks adalah suatu kesatuan dari lambing-lambang yang
berhubungan satu dengan yang lain (ekspresi, muka, sikap, pakaian dan lain-lain). Cerita
yang popular dari zaman modern ini, seperti Batman dan Rambo, tidak kurang mitologisnya
dari mitos-mitos kuno yang terkenal seperti Ramayana dan Mahabarata.
Mengingat sebagaimana di katakana Peirce di atas bahwa apapun, Fisik atau pikiran,
dapat disebut tanda, maka sebagai suatu alat analisis, semiotic bisa digunakan untuk
berbagai bidang ilmu, misalnya arsitektur, perIilman, sandiwara, music, kebudayaan,
interaksi social, psikologi, dan media massa. semiotic yang digunakan dan diperluas dengan
psikologi, sosiologi, dan IalsaIat disebut dengan semiotika ekspansiI. Selain itu, dalam
literature semiotika juga dikenal semiotika cultural (yang digunakan untuk meneliti system
tanda yang berlaku dalam kebudayaan suatu masyarakat), semiotika naratiI (dipakai untuk
mitos dan Iolklore), natural (dipakai untuk tanda yang ada dalam alam), dan Iaunal (untuk
tanda dalam hewan). Karena itu, para peminat semiotikapun menggunakannya untuk
meneliti Ienomena subkultur pun dan Ioto di media, misalnya. Namun demikian, tulisan ini
tidak berpretensi untuk membahas bidang-bidang itu lebih lanjut, apalagi sampai pada
metodologinya yang rumit.
Dari sekian bidang yang bisa dikaji lewat pendekatan semiotic, bidang sastra,
menurut Aart Van Zoest, adalah bidang yang paling menarik karena karakternyas yang unik,
sebagaimana akan dijelaskan nanti. Para ahli semiotic menyebut semiotic yang digunakan
untuk studi sastra sebagai semiotika structural atau strukturalisme semiotic.
10






10
Alex Sobur, Analisis Teks Media, Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotika, dan Analisis
Framing, Bnadung: Rosdakarya, 2001, hlm. 100-101.
Kiitik Sastia 9

. Semiotik dalam kajian sastra
Pandangan Aart van Zoest bahwa bidang sastra adalah bidang yang paling menarik
untuk di kaji dengan pendekatan semiotika di atas bisa dipahami. hal ini karena ada
perbedaan antara bahasa sebagai tanda dan karya sastra sebagai tanda. jurij latman
menyebut bahasa sebagai system tanda primer dan karya sastra sebagai system tanda
sekunder.
11
atau dalam bahasa Barthes, jika bahasa lebih banyak diproduksi dan dipahami
dalam taraI denotasi, karya sastra, terutama puisi, lebih banyak dalam taraI konotasi. system
tanda primer atau denotasi di gunakan untuk berkomunikasi, berpikir, dan
menginterpretasikan segala sesuatu, termasuk bahasa itu sendiri. sedangkan system tanda
sekunder atau konotasi merupakan pemanIaatan bahasa oleh sastrawan untuk merumuskan
pikirannya dalam bentuk tanda bahasa secara artistik. jika arti bahasa di tentukan oleh
konvensi masyarakat, arti karya sastra selain ditentukan oleh konvensi masyarakat juga
konvensi arti sastra itu sendiri. dalam penciptaan sastra, sastrawan pertama kali diikat oleh
arti bahasa, kdiolahnya menjadi sastra sehingga acapkali tidak sama lagi dengan arti di luar
karya sastra. dalam bahasa lain , makna sastra ditentukan oleh konvensi tambahan (konotasi)
atau semiotika tingkat kedua, meskipun tidak lepas sama sekali dari arti bhasannya atau
semiotic tingkat pertama. Dalam bahasa WinIried North, semiotika tingkat pertama disebut
cortex (tingkat struktur makna permukaan) dan semiotik tingkat kedua disebut dengan
nucleus (struktur makna dalam).
Sebagaimana bahasa, karya sastra juga merupakan tindak komunokasi yang
mmelibatkan berbagai komponen. hanya saja jika dalam tindak komunikasi bahasa, yang
dominan terlibat hanya tiga: yaitu komunikator, komunike, maka dalam tindak komunikasi
sastra , menurut prendekatan semiotic , yang terlibat didalamnya banyak. ada delapan
komponen: |pencipta, karya sastra, pembaca, kenyataan atau semesta, system bahasa,
konvensi sastra, variasi bentuk karya sastra, dan nilai keindahan.
12

Karena itu wajar jika karya sastra lebih sebagai system tanda sekunder mengingat
banyaknya Iactor yang terlibat dalam tindak komunikasinya itu,karya sasta juga, menurut
culler, merupakan yang menarik dan kompleks di antara beberapa system tanda, Hal ini
bukan saja karena alas an di atas, tetapi juga karena sastra merupakan eksplorasi dan

11
St. Sunardi, Semiotika egativa, Yogyakarta: Buku Baik, 2002, hlm. 137-206.
12
M. Atar Semi, Anatomi Sastra, Padang: Angkasa Raya, 1989, hlm. 51-52.
Kiitik Sastia

perenungan terus-menerus mengenai pemberian makna dengan segala bentuknya dam
merupakan penaIsiran subjektiI pengarang terhadap pengalaman dan realitasnya. setiap
karya sastra telah menglami deIamiliarisasi dan deotomatisasi, keduanya terjadi karena
penggunaan symbol (ada hubungan berdasarkan konvensi sastra antara bahasa dengan
maknanya), dan indeks (ada hubungan kausal. dalam karya sastra, kata 'malam, hitam, dan
kelam merupakan symbol untuk menyatakan kesusahan dan kesedihan, atau kata bunga,
bulan dan bintang merupakan symbol kegembiraan dan masa depan yang baik dan penuh
kegembiraan juga harapan, dan masih banyak contoh yang lainnya.
Menurut RiIIatere, deIamiliarisasi dan deotonomisasi terjadi dalam tiga bentuk:
O Penggantian arti dengan menggunakan metaIora, baik yang eksplisit maupun implisit
(tasybih dan istiarah).
O Penyimpangan arti karena ambiguitas (semacam tauriyah dalam metode kritik arab)
seperti kata 'hilang bentuk dalam puisi Doa Chairil Anwar; karena kontradiksi
(semacam Tibaq dan muqabalah
13
dalam metode kritik arab) seperti kalimat 'hidup tetapi
mati`dan karena nonsense, seperti puisi-puisi sutardji yang ingin mengembalikan puisi
pada mantra. Dalam sastra Arab,gaya penulisan nonsense ini terdapat dalam penggunaan
kata tambahan (antara lain ma, ba, dan min :aidah) demi qafiyah atau bahr (prosodi
gaya lama).
O Penciptaan arti yang terdapat dalam bentuk visual teks yang secara linguistik tidak punya
arti seperti pembaitan, persajakan (rima), dan lain-lain. dalam sastra arab, penciptaan arti
terdapat dalam bentuk puisi qasidah (dua baris ditulis sejajar) dengan arud (prosodi gaya
lama), rubaiyat (empat baris yang ditulis berjejer ke bawah), muwasysyahat (campuran),
qafiyah (kesuaian akhir kata dalam baris puisi), dan lain-lain.
Dalam konteks deIamilirisasi dan deotonomisasi itu, telaah semiotik berupaya
membuat karya sastra menjadi Iamiliar dan mengantarkan pemahaman terhadap structural
karya sastra secara ontologism. hal ini karena pendekatan semiotic lebih unggul disbanding
dengan pendekatan-pendekatan lain yang tradisional dalam studi sastra, yaitu pendekatan
objektiI, mimetis, ekspresiI, atau reseptiI.
14


13
Tibaq adalah menggunakan dua kata yang maknanya kontradiktiI dan muqabalah adalah menggunakan dua kalimat
yang maknanya kontradiktiI (Ahmad al-Hasyimi, Jawahir al-Balaghah, hal. 266-267)
14
Rachmat Joko Pradopo, Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2003, Cetakan II, hlm. 124-131.
Kiitik Sastia

Pendekatan semiotik berbeda dengan pendekatan-pendekatan itu, menurut MH.
Abrams seperti dikutip A. Teeuw, dalam kritik sastra, pada masa dan kalangan tertentu,
salah satu di antara empat pendekatan ekspresiI merupakan pendekatan yang dominan, dan
pada kalangan kritikus marxis, pendekatan mimetik yang dominan, karena itu, Abrams pada
waktu menerbitkan pertama kali bukunya The Miror and the Lamp tahun 1953, menyerukan
pendekatan menyeluruh terhadap karya sastra. menurut Rene Welek, pendekatan itu disebut
dengan analisis intrinsic (analisis mikro struktur), atau analisis intratekstual dan
ekstratekstual. belakangan pendekatan yang di anggap paling dekat dengan model itu adalah
pendekatan semiotika. dalam pendekatan semiotik, empat pendekatan studi sastra atau dua
langkah analisis itu digabungkan.
Studi sastra lewat pendekatan semiotic akan melahirkan hasil studi yang
komprehensiI. untuk itu, teori semiotic membutuhkan banyak dukungan ilmu bantu lain dan
itu artinya, teori interdisipliner merupakan bagian dari teori semiotika. sisi ini merupakan
kelebihan, karena teori ini membutuhkan kemampuan prima peneliti, kerangka konseptual
yang harus matang, dan bisa membuat peneliti sastra juga tidak Iocus. karena jika karya
sastra sebagai taIsir subjektiI sastrawan terhadap realitas yang di ungkap dalam sebuah karya
sastra bisa sangat kompleks dan banyak. sebab itu, pembatasan kajian sesuai dengan
kecenderungan yang dominan dari karya sastra, terutama kecenderungan isinya, dan
kemampuan peneliti menjadi penting untuk dipertimbangkan.
15


%eori Semiotik Michael Riffatere sebagai %eori yang Cukup Ideal
Teori ini sangat ideal, karena teori ini sangat operasional hingga ke mikro (detail)
teks dan dengannya, hasil studi yang dilakukan menjadi komprehensiI. Hal ini mengingat
menurutnya, ada dua langkah dalam pendekatan semiotic terhadap karya sastra, termasuk di
dalamnya sastra Arab: pembacaan heuristik dan pembacaan hermeneutik atau retroaktiI
(pembacaan ulang).
16

Pembacaan heuristik adalah pembacaan berdasarkan struktur bahasanya atau
berdasarkan system semiotic tingkat pertama. pembacaan heuristik prosa adalah pembacaan
tata bahasa` ceritanya, yaitu pembacaan dari awal hingga akhir cerita secara berurutan.

15
Suwardi Endraswara, Metodologi Penelitian Sastra, Epistemologi Model Teori dan Aplikasinya, Yogyakarta:
Pustaka Widyatama, 2003, hlm. 66.
16
Mlchael 8lffaLere SemloLlcs of oeLry 8loomlngLon lndlana unlverslLy ress 184 hlm 36
Kiitik Sastia

untuk mempermudah pembacaan ini dapat di lakukan denagan pembuatan synopsis cerita
dan cerita yang beralur sorot balik dapat di baca secara alur lurus.
Langkah heuristik sebagai langkah pertama dalam pendekatan semiotic yang
menekankan pada pembacaan Iormal (estetika) dan structural terhadap karya sastra itu bisa
di pahami, karena pendekatan semiotic yang digunakan untuk studi bahasa san sastra disebut
dengan pendekatan semiotika structural atau strukturalisme semiotik.

. Semiotik Struktural dalam Kajian Sastra Arab
Menurut Muhammad Abdul Mun`im KhaIaji, pandangan bahwa kata atau kalimat
sebagai ram: atau tanda yang menjadi pokok bahasan strukturalisme semiotik modern
ternyata telah di kenal dalam teori sastra Abdul al-Qahir al-Jurjani (400-471 H). ia adalah
seorang kritikus besar Arab pada masa klasik, walaupun teorinya lebih ditujukan untuk
memperlihatkan puitika Al-quran. Pandangannya ini agaknya dipengaruhi pandangan Ibnu
jinni (392 H) dalam bukunya al-khasais. Bagi Abdul al-Qahir al-jurjani, sebagaimana
ditulisnya dalam buku Dalail al-I`jaz, laIaz (kata atau kalimat) adalah tanda bagi maknanya,
bagi pikiran; tanda dan mimesis bagi pengalaman dan rasanya. Nilainya ada dalam pikiran
atau rasa yang di tandai (dirujuk)nya itu. Bahasa menurutnya bukanlah sekumpulan kata
atau kalimat, tetapi sekumpulan tanda.
17
Kata atau kalimat dengan maknanya merupakan
hubungan yang tak dapat dipisahkan (system relasi), dan ia menyebutnya dengan sebutan al-
nazam. Al-jurjani mendeIinisikan al-na:am ini sebagai hubungan antara kata yang satu
dengan kata yang lain yang menjadikan yang satu sebagai sebab bagi yang lainnya. Baginya,
keindahan kata bukan pada katanya, tetapi pada Iungsinya sebagai bagian dari kalimat atau
struktur. karena itu, ia bisa disebut sebagai bapak strukturalisme Arab.
Berbeda dengan kaum Iormalis klasik Arab, seperti al-jahiz (w. 253 H / 868 M),
Abu hilal al-Askari (w 395), al-Amidi (w. 371 H), dan Ibnu Khaldun yang mementingkan
lafa: (bentuk kata atau kalimat), Karena nilai sastra menurut mereka terletak pada kreasi
wa:an atau bahr dan diksi , al-jurjani menolak asumsi itu. Ia sebagaimana Ibnu al-Asir (w.
637 H), lebih mementingkan makna ketimbang laIaz.
18
Ia menolak bahwa makna tidaklah
bertambah adalah lafa:. keindahan utama sastra, menurutnya bukan terletk pada bentuk

17
Rahmat Djoko Pradopo, Prinsip-prinsip Kritik Sastra, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1994, hlm. 12.
18
Michael RiIIaterre, Semiotics of Poetry, Bloomington: Indiana University Press, 1984, hlm. 5-6.
Kiitik Sastia

pengucapan, tetapi terutama makna yang di kandungnya. Dalam hal ini, al-jurjani juga lebih
mementingkan ilmu maani dan bayan, ketimbang badi` (al-muhassinat al-laf:iyyah) yang
meskipun membahas makna, tetapi menekankan pada bentuk atau bunyi bahasa. Makna
(aspek batin), baik pikiran, rasa maupun imajinasi, adalah asas bagi ekspresi bahasa sebagai
aspek luar. Sebuah ekspresi sastra tidak bermakna, jika makna yang dikandungnya rusak.
karena itu, makna kata atau kalimat harus ada hubungan dan logikanya, yang di bentuk
karena keserasian bukan saja antar makna kata, tetapi juga antar makna Irase (kalimat). yang
membentuknya adalah nahwu (sintaksis) dan ilmu maani seperti struktur balik (at-taqdim
wa at-takhir), pengkhususan (al-hasr), dan eliptik (ha:f).
Struktur bahasa juga menurutnya, harus merupakan representasi dari pikiran dan jiwa
yang teratur dan koheren. ia juga membahas makna ke dua, baik karena kebiasaan (symbol
dalam bahasa Charles Shanders peirce, ahli semiotika Amerika serikat), keharusan struktur
(indeks dalam bahasa Peirce atau symbol dalam bahasa Ferdinand de Saussure di prancis
ahli semiotika Prancis), dan pengaruh bunyi. Hal ini dalan tradisi sastra Arab yang di bahas
juga oleh al-jurjani terdapat dalam istiarah, kinayah. dan tamsil (perumpamaan)sebagai
bagaian dari ilmu bayan dan untuk bunyi terdapat dalam bagian ilmu badi` (al-muhassinat
al-laf:iyyah), sebagaimana keduanya telah di ungkapkan. karena itu al-jurjani
mementingkan pula tawil dalam pengkajian teks, suatu konsep Arab yang sebanding
dengan hermeneutika modern dalam tradisi Barat yang di tekankan dalam teori
strukturalisme semiotic RiIIaterre.
Meskipun begitu, ia juga mementingkan bunyi musik dalam puisi, arud, bentuk
finas, tasybih, istiarah, dan mafa:. menurutnya, majaz lebih mewadahi pikiran dan jiwa
daripada isti`arah.
19
. Ia melihat majaz sebagai model puncak kebahasaan. Berdasarkan
penjelasaan di atas, bisa di katakana al-jurjani adalah seorang strukturalis semiotic Arab
pertama.
20

Sebagaimana al-jurjani, Abu Hayyan at-tauhidi (375/987) berpendapat bahwa dalam
pengkajian karya sastra, seprang pengkaji tidak saja harus menguasai ilmu balaghah,
21
puisi

1
Salah Fadal, a:ariyah al-Binaiyyah, hlm. 278-249.

Raman Selden, an-a:ariyyah al-Adabiyyah al-Muatsirah, Terjemahan jabir UsIur dari Guide to Contemporary
Literary Theory, Kairo: Dar Quba, 1998, hlm. 179-181.
21
Abdul al-Qahir al-Jurjani, alail al-Ifa: Fi Ilm al-Maani, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Tth., hlm. 199-253-
295-312.
Kiitik Sastia

dan prosa, tetapi juga ta`wil. Jika di bedakan berdasarkan kecenderungannya, jika al-jurjani
adalah seorang strukturalis semiotic, at-Tauhidi adalah seotrang Iormalis semiotik.
22


BAB III
Kesimpulan
Berdasarkan paparan di atas, semiotika atau dalam bahasa Arab simiyulujiyyah
adalah ilmu tentang tanda dan segala yang berhubungan dengannya, cara-cara berIungsinya,
hubungannya dengan tanda lain, pengirimnya, dan penerimaannya oleh mereka yang
menggunakannya. Sedangkan yang di maksud tanda adalah segala sesuatu yang dapat
diamati dan di identiIikasi. Menurut Charles Sanders Peirce, tanda di bagi kedalam tiga
kategori:
a) Simbol (ada hubungan antara penanda dan petanda berdasarkan konvensi/kebiasaan).
b) Ikon (ada hubungan kemiripan identitas).
c) Indeks (ada hubungan kausal).
Bahasa lebih banyak diproduksi dan dipahami dalam taraI denotasi, karya sastra,
terutama puisi, lebih banyak dipahami dan diproduksi dalam taraI konotasi.
23

Yang dimaksud dengan pembacaan heuristic adalah pembacaan berdasarkan struktur
bahasanya atau berdasarkan system semiotic tingkat pertama. Dalam kritik novel atau
cerpen, pembacaan heuristic dilakukan dengan cara membaca novel dari awal hingga akhir
cerita secara berurutan (kronologis) yang didalmnya inhern pembacaan sekilas terhadap
unsure-unsur intrinsic sebagai analisis Iormal, yaitu tokoh, alur, setting, dan gaya bahasa.
Dalam kritik puisi, hal itu dilakukan dengan cara membaca sajak berdasrkan struktur
kebahasaannya.
Sedangkan pembacaan hermeneutic secara ringkas adalah penguraian karya sastra
yang bertolak dari isi dan makna yang tampak menuju makna (pesan) teks novel dan bersiIat
inner, transcendental, dan latent (tersembunyi).





Kiitik Sastia





aftar Pustaka
Salah, Fadal. a:ariyyah al-Binaiyyah fi an-aqd al-Adabi, Tanpa tempat: Dar as-Syuruq,.
Bart, Roland dkk. 2003. a:ariyyat al-Qiraah.Min al-Binyawiyah ila famaliyah at-
talaqqa, terjemahan Abd ar-Raman Bu`ali, Damaskus: Dar al-Hiwar.
Aart, Van Zoest.1996. Serba Serbi Semiotik. Jakarta: Gramedia.
Kutha Ratna, Nyman. 2004. Teori, Metode, dan Tekhnik Penelitian Sastra, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Paris Pari. 1998.'Semiotik sebagai Metode Analisis Keagamaan, alam Mimbar
Budaya dan Agama, Jakarta: IAIN Jakarta.
Mohammad Arkoun. 1994. alar Islam dan alar Modern, Berbagai Tantangan dan
Jalan Baru, Jakarta: INIS.
Kris Budiman. 1999. Kosa Kata Semiotikka, Yogyakarta: LKiS
Salah Fadal. 1997. Manahif an-aqd al-Muatsir, Kairo: Dar al-AIaq al`Arabiyah.
Aart Van Zoest. 1990. 'ReIleksi atas Semiotik, alam Jurnal Filsafat. Posmodernisme,
Jakarta: Unas.
K. Bertens. 1996. Filsafat Barat Abad XX, Jilid II, Prancis, Jakarta: Gramedia.
Alek Sobur. 2001. Analisis Teks Media, Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana,
Analisis Semiotika, dan Analisis Framing, Bandung: Rosdakarya.
St. Sunardi. 2002.Semiotika egativa, Yogyakarta: Buku Baik.
M. Atar Semi. 1989. Anatomi Sastra, Padang: Angkasa Raya.
Ahmad al-Hasyimi, Jawahir al-Balaghah.
Rahmat Joko Pradopo. 2003. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya,
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suwardi Endraswara. 2003. Metodologi Penelitian Sastra, Epistemologi Model Teori
dan Aplikasinya, Yogyakarta: Pustaka Widyatama.
Rahmat Djoko Pradopo. 1994. Prinsip-prinsip Kritik Sastra, Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Michael RiIIaterre. 1984. Semiotics of Poetry, Bloomington: Indiana University Press.
Salah Fadal. a:ariyah al-Binaiyyah.
Raman Selden. 1998. an-a:ariyyah al-Adabiyyah al-Muatsirah, Terjemahan jabir
UsIur dari Guide to Contemporary Literary Theory, Kairo: Dar Quba.
Abdul al-Qahir al-Jurjani, alail al-Ifa: Fi Ilm al-Maani, Beirut: Dar al-Kutub al-
Ilmiyyah.